8 BAB II KAJIANPUSTAKA A. Resiliensi 1. Pengertian Resiliensi

advertisement
8
BAB II
KAJIANPUSTAKA
A. Resiliensi
1. Pengertian Resiliensi
Istilah resiliensi diintrodusir oleh Redl pada tahun 1969 dan
digunakan untuk menggambarkan bagian positif dari perbedaan individual
dalam respons seseorang terhadap stres dan keadaan yang adversity
(penderitaan) lainnya (Smet, 1990 dalam Desmita, 2009).
Menurut Henderson & Milstein, 2003 (Desmita, 2009) menyatakan
resiliensi diadopsi sebagai ganti dari istilah-istilah yang sebelumnya telah
digunakan oleh para peneliti untuk menggambarkan fenomena, seperti :
invulnerable (kekebalan), invincible (ketanggungan), dan hady (kekuatan),
karena dalam proses menjadi resilien tercakup pengenalan perasaan sakit,
perjuangan dan penderitaan. Resiliensi merupakan proses dinamis dimana
individu menunjukkan fungsi adaptasi dalam menghadapi adversity
(kesengsaraan) yang berperan penting bagi dirinya (Schoon, 2006 dalam
Nasution 2011).
Grotberg, (1999) secara sederhana mengartikan resiliensi sebagai
kemampuan manusia untuk menghadapi, mengatasi, mendapatkan kekuatan
dan bahkan mampu mencapai transformasi diri setelah mengalami
kesengsaraan. Resiliensi merupakan fenomena relatif yang tergantung pada
8
Studi Deskriftif Kuantitatif..., Hemi Argiyana, Psikologi UMP, 2014
9
interaksi
kompleks
antara faktor individu
dan lingkungan hidup
(Schoon,2006 dalam Nasution 2011).
Menurut Reivich dan Shatte, (2002) yang di tuangkan dalam
bukunya
“The
Resiliency
Factor”
menjelaskan
resiliensi
adalah
kemampuan untuk mengatasi dan beradaptasi terhadap kejadian yang berat
atau masalah yang terjadi dalam kehidupan. Bertahan dalam keadaan
tertekan, dan bahkan berhadapan dengan adversity (penderitaan) yang
dialami dalam kehidupannya.
Resiliensi bukan hanya untuk mereka yang mengalami keterpurukan
saja tetapi menyangkut semuanya baik yang telah mengalami trauma
ataupun belum sehingga resiliensi adalah kesehatan emosional yang di
lengkapi
dengan
kesuksesan
dalam
menghadapi
tantangan
dan
menyembuhkan dalam keterpurukan (Goldstein dan Brooks, 2002).
Resiliensi akan membuat seseorang berhasil menyesuaikan diri
dalam berhadapan dengan kondisi yang tidak menyenangkan, serta dapat
mengembangkan kompetensi sosial, akademis dan vikasional sekalipun
berada di tengah kondisi stress yang hebat (Desmita, 2005).
Dari berbagai pengertian resiliensi yang telah dipaparkan dapat
disimpulkan bahwa resiliensi adalah daya lentur atau kemampuan
seseorang,
kelompok,
masyarakt
yang
memungkinkannya
untuk
menghadapi, mencegah, meminimalkan dan bahkan menghilangkan
dampak-dampak yang merugikan dari kondisi yang tidak menyenangkan
menjadi suatu hal yang wajar untuk diatasi.
Studi Deskriftif Kuantitatif..., Hemi Argiyana, Psikologi UMP, 2014
10
2. Aspek-aspek Resiliensi
Reivich dan Shatte, 2002 (dalam Nasution, 2011), memaparkan
tujuh aspek dari rsiliensi, aspek-aspek tersebut adalah :
a.
Regulasi Emosi
Regulasi emosi adalah kemampuan untuk tetap tenang bila
mengalami tekanan. Orang-orang yang resiliensi menggunakan
seperangkat ketrampilan yang sudah matang yang membantu mereka
mengontrol emosi, perhatian dan perilakunya. Regulasi diri penting
untuk membentuk hubungan akrab, kesuksesan di tempat kerja dan
mempertahankan kesehatan fisik.
Perlu diketahui bahwa tidak semua emosi perlu dikontrol.
Ekspresi emosi, negatif atau positif, adalah sehat dan konstruktif,
ekspresi emosi yang tepat merupakan bagian dari resiliensi.
Menjadikan budak emosi akan mengganggu resiliensi dan membuat
orang-orang menjauhi kita.
b.
Impuls Control (pengendalian implus)
Orang yang mampu mengontrol dorongannya, menunda
pemuasan kebutuhannya, akan lebih suksess secara sosial dan
akademis. Orang yang kurang mampu mengontrol dorongan berarti
memiliki „id‟ yang besar dan „superego” yang kurang. Hasrat
hedonistik menguasai pikiran rasional. Pola khasnya adalah merasa
bergairah ketika mendapatkan pekerjaan baru, melibatkan diri
sepenuhnya, namun tiba-tiba kehilangan minat.
Studi Deskriftif Kuantitatif..., Hemi Argiyana, Psikologi UMP, 2014
11
Regulasi dan impuls control berhubungan erat. Kuatnya
kemampuan seseorang dalam mengontrol dorongan menunjukan
kecenderungan seseorang untuk memiliki kemampuan tinggi dalam
regulasi emosi. Orang yang mampu mengontrol dorongan dengan baik
secara signifikan akan lebih sukses sosial maupun akademis.
c.
Optimisme
Orang yang memiliki resiliensi adalahorang yang optimis.
Mereka yakin bahwa kondisi dapat berubah menjadi lebih baik.
Merekamemiliki harapan ke masa depan dan yakin bahwa mereka
dapat mengatur bagian-bagian dari kehidupan mereka. Memiliki
kemungkinan yang kecil mengalami depresi, berprestasi lebih baik di
sekolah, lebih produktif dalam pekerjaan, dan berprestasi di berbagai
bidang.
Optimisme menyiarkan bahwa seseorang memiliki keyakinan
akan kemampuannya mengatasi adversity (penderitaan), yang
mungkin muncul di masa depan. Hal ini merefleksikan sense of
efficacy (rasa mampu), keyakinan akan kemampuan memecahkan
masalah sendiri dan memimpin diri sendiri.
d.
Causal analysis (analisis penyebab masalah)
Causal analysis menunjukan bahwa seseorang memiliki
kemampuan untuk mengidentifikasi penyebab masalahnya secara
akurat. Jika seseorang mampu mengidentifikasi penyebab masalah
Studi Deskriftif Kuantitatif..., Hemi Argiyana, Psikologi UMP, 2014
12
secara akurat, maka ia tidak akan melakukan kesalahan yang sama
terus menerus.
e.
Empati
Empati menunjukan bagaimana seseorang mampu membaca
sinyal-sinyal dari orang lain mengenai kondisi psikologis dan
emosional mereka, melalui isyarat nonverbal, untuk kemudian
menentukan apa yang dipikirkan dan dirasakan orang lain. Empati
sangat berperan dalam hubungan sosial dimana seseorang ingin
dimengerti dan dihargai. Seseorang yang rendah empatinya, walaupun
memiliki tujuan yang baik, akan cenderung mengulangi pola perilaku
yang tidak resiliensi.
f.
Self –Efficacy (efeksi diri)
Self-Efficacy menggambarkan perasaan seseorang tentang
seberapa efektifnya ia berfungsi di dunia ini. Hal itu menggambarkan
keyakinan bahwa kita dapat memecahkan masalah, kita dapat
mengalami dan memiliki keberuntungan dan kemampuan untuk
sukses. Mereka yang tidak yakin tentang kemampuan akan mudah
tersesat.
g.
Reaching Out (peningkatan aspek positif)
Resiliensi bukan sekedar kemampuan mencapai aspek positif
dalam hidup. Resiliensi merupakan sumber daya untuk mampu keluar
dari kondisi sulit (reaching out) merupakan kemampuan seseorang
untuk bisa keluar dari “zona aman” yang di milikinya. Individu-
Studi Deskriftif Kuantitatif..., Hemi Argiyana, Psikologi UMP, 2014
13
individu yang memiliki kemampuann reacing out tidak menetapkan
batas yang kaku terhadap kemampuan-kemampuan yang mereka
miliki. Mereka tidak terperangkap dalam suatu rutinitas, mereka
mimilki rasa ingin tahu dan ingin mencoba hal-hal baru, dan mereka
mampu untuk menjalin hubungan dengan orang-orang baru dalam
lingkungan kehidupan mereka.
Wolin dan Wolin, 1994 (dalam Sawitri, Hartati dan Setyowati
2010) mengemukakan tujuh aspek utama yang dimiliki oleh individu,
yaitu:
1. Insight
Insight yaitu proses perkembangan individudalam merasa,
mengetahui, dan mengerti masalalunya untuk mempelajari
perilaku-perilaku yang lebih tepat.
2. Independence
Independence yaitu kemampuan untuk mengambil jarak
secara emosional maupun fisik dari sumber masalah (lingkungan
dansituasi yang bermasalah).
3. Relationships
Individu yang resilien mampumengembangkan hubungan
yang jujur, saling mendukung dan berkualitas bagi kehidupan,
memiliki role model yang baik.
Studi Deskriftif Kuantitatif..., Hemi Argiyana, Psikologi UMP, 2014
14
4. Initiative
Initiative yaitu keinginan yang kuat untuk bertanggung jawab
terhadap hidupnya.
5. Creativity
Creativity yaitu kemampuan memikirkan berbagai pilihan,
konsekuensi, dan alternative dalam menghadapi tantangan hidup.
6. Humor
Humor adalah kemampuan individu untukmengurangi beban
hidup dan menemukan kebahagiaan dalam situasi apapun.
7. Morality
Morality adalah kemampuan individu untuk berperilaku atas
dasar hati nuraninya. Individu dapat memberikan kontribusinya dan
membantu orang yang membutuhkan.
Penelitian ini akan menunjuk pada tujuh aspek resiliensi dari
Revich dan Shatte (2002), yaitu : regulasi emosi, impuls control
(pengendalian implus), optimisme, causal analysis (analisis penyebab
masalah), empati, self-efficacy (efeksi diri), reaching out (peningkatan
aspek positif).
3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Resiliensi
Nasution (2011) memaparkan tiga faktor yang mempengaruhi
resiliensi, yaitu:
Studi Deskriftif Kuantitatif..., Hemi Argiyana, Psikologi UMP, 2014
15
a.
Diri Sendiri
Zirman dan Arunkumar (Nasution, 2011) mengatakan bahwa
anak yang mampu selamat dari lingkungan penuh resiko adalah mereka
yang memiliki rasa percaya diri yang tinggi, ketrampilan coping, serta
mampu menghindari situasi beresiko, maupun bertarung dan bangkit
dari ketidak beruntungannya.
b.
Keluarga
Untuk mencapai resiliensi dibutuhkan orang-orang yang
signifikan untuk membantu pencapaiannya, salah satunya adalah
keluarga. Seseorang tidak akan mampu mencapai resiliensi seorang diri.
Dibutuhkan orang-orang lain yang signifikan untuk bisa membantu
individu memiliki resiliensi. Salah satunya adalah kelauarga, keluarga
merupakan sisitem pendukung bagi setiap anggota kelauarga dan
merupakan “kendaraan” menuju individu yang resiliensi (Vanbreda,
2001, dalam Nasution 2011).
c.
Lingkungan
Schoon, 2006 (Nasution, 2011) mengatakan bahwa resiliensi
didasarkan pada hubungan timbal-balik dan dua arah antara individu
dan lingkungannya. Orang yang memiliki resiliensi mampu memonitor
kondisi emosi orang lain.
Dari penjelasan di atas ada tiga fektor yang mempengaruhi
resiliensi yaitu diri sendiri, keluarga, dan lingkungan.
Studi Deskriftif Kuantitatif..., Hemi Argiyana, Psikologi UMP, 2014
16
B. Remaja Putus Sekolah
1. Pengertian Remaja
Remaja dalam arti adolescence berasal dari kata lain adolescere
yang artinya tumbuh ke arah kematangan (Muss, 1968 dalam Sarwono,
2011). Kematangan di sini tidak hanya berarti kematangan fisik, tetapi
terutama kematangan sosial-psikologis.
Hall (Santrock, 2007) seorang sarjana psikologi Amerika
Serikatyang oleh beberapa buku teks disebut sebagai Bapak Psikologi
Remaja medefiisikan masaadolesence (remaja) adalahmasapergolakan
yang di penuhi oleh konflik dan perubahan suasana hati.
Pada tahun 1974 (Sarwono, 2011) WHO memberika definisi tetang
remaja yag lebih bersifat konseptual. Dalam definisi tersebut dikemukaka
tiga kriteria, yaitu biologis, psikologis, dan sosial ekoomi, sehigga secara
legkap definisi tersebut sebagai berikut remaja adalah :
a. Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukan tanda-tanda
seksual sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual.
b. Individu mengalami perkembangan psikologis dan pola identifikasi dari
kanak-kanak menjadi dewasa.
c. Terjadi peraliha dari ketergatungan sosial-ekonomi yang penuh kepada
keadaan yang relatif lebih mandiri.
Selanjutnya WHO membagi kurun usia dalam 2 bagian yaitu
remaja awal 10-14 tahun dan remaja akhir 15-20 tahun. Sedangkan
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sendiri menetapkan usia 15-24 tahun
Studi Deskriftif Kuantitatif..., Hemi Argiyana, Psikologi UMP, 2014
17
sebagai usia pemuda (youth) dalam rangka keputusan PBB untuk
menetapkan
tahun
1985
sebagai
Tahun
Pemuda
Internasional
(Sanderowitz dan Paxman, 1985 dalam Sarwono, 1994).
Dapat disimpulkan dari penjelasan yang sudah di paparkan
sebelumnya remaja adalah masa yang di tandai oleh kematangan seksual,
pola identitas dari kanak-kanak menjadi dewasa, relatif lebih mandiri
dengan pembagian usia 10-24 tahun.
2. Aspek-aspek Perkembangan Remaja
Aspek-aspek perkembangan remaja menurut Lener & Hultsch,1983
(Agustini, 2006) yaitu :
a. Perubahan Fisik
Rangkaian perubahan yang paling jelas yang nampak di alami
oleh remaja adalah perubahan biologis dan fisiologis. Hormon-hormon
baru diproduksi oleh kelenjar endokrin, dan ini membawa perubahan
dalam ciri-ciri seks primer dan memunculkan ciri-ciri seks sekunder.
Gejala ini memberi isarat bahwa fungsi reproduksi atau kemampuan
untuk menghasilkan keturunan sudah mulai bekerja.
b. Perubahan Emosionalitas
Akibat langsung dari perubahan fisik dan hormon tadi adalah
perubahan dalam aspek emosionalitas pada remaja sebagai akibat dari
perubahan fisik dan hormonal dan juga pengaruh lingkungan yang
terkait dengan perubahan badaniah.
Studi Deskriftif Kuantitatif..., Hemi Argiyana, Psikologi UMP, 2014
18
Hormonal menyebabkan perubahan seksual dan menimbulkan
dorongan-dorongan dan perasaan-perasaan baru. Keseimbangan
hormonal yang baru menyebabkan individu merasakan hal-hal yang
belum pernah dirasakan sebelumnya. Keterbatasannya secara kognitif
mengolah
perubahan-perubahan
baru
tersebut
bisa
membawa
perubahan besar dalam flukturasi emosinya. Dikombinasikan dengan
pengaruh-pengaruh sosial yang juga senantiasa berubah, seperti
tekanan dari teman sebaya, media masa, dan minat pada jenis seks lain,
remaja menjadi lebih terorientasi secara seksul.
c. Perubahan Kognitif
Remaja tidak lagi terikat pada realitas fisik yang konkrit dari
apa yang ada, remaja mulai mampu berhadapan dengan aspek-aspek
yang hipotetis dan abstrak dari realitas.
d. Implikasi Psikososial
Secara psikologis proses-proses dalam diri remaja semuanya
tengah mengalami perubahan, dan komponen-komponen fisik,
fisiologis, emosional, dan kognitif sedang mengalami perubahan besar.
Pada saat remaja menghadapi semua kepribadian tersebut, yaitu
pada saat di mana remaja sangat tidak siap untuk berkutat dengan
kerumitan dan ketidakpastian, berikutnya muncul faktor-faktor lain
yang menimpa dirinya. Remaja dalam masyarakat kita secara tipikal
dituntut untuk membuat suatu pilihan, suatu keputusan tentang apa
yang akan dia lakukan bila dewasa.
Studi Deskriftif Kuantitatif..., Hemi Argiyana, Psikologi UMP, 2014
19
Aspek perkembangan menurut Hill, 1983 (Agustini, 2006)
yaitu :
1. Perubahan fundamental biologis menyangkut tampilan fisik.
Perubahan ini mengakibatkan remaja harus menyesuaikan
diri terhadap lingkungan di sekitarnya. Perubhan fisik ini juga
berpengaruh terhadap self image remaja dan juga menyebabkan
perasaan tentang diri pun berubah. Hubungan dengan keluarga
ditampilkan remaja dengan menunjukan privacy yang cukup tinggi.
2. Transisi Kognitif
Menurut Keating, 1990 (Agustini, 2006) perubahan dalam
kemampuan berfikir, remaja telah memilikikemampuan yang lebih
baik dari anak dalam berpikir mengenai situasi secara hipotetis,
memikirkan sesutu yang belum terjadi tetapi akan terjadi. Remaja
telah mampu berpikir tentang konsep-konsep yang abstrak seperti
pertemanan, demokrasi, moral. Teransisi Sosial
Perubahan dalam status sosial membuat remaja mendapatkan
peran-peran baru dan terikat pada kegiatan-kegiatan baru. Semua
masyarakat membedakan antara individu sebagai anak dan individu
yang siap memasuki masa dewasa.
Berdasarkan pemaparan di atas dapat disimpilan bahwa ada 4
aspek perkembangan remaja yaitu perubahan fisik, perubahan
emosionalitas, perubahan kognitif, implikasi psikososial.Aspekaspek tersebut bisa menjadi salah satu penyebab individu yang
Studi Deskriftif Kuantitatif..., Hemi Argiyana, Psikologi UMP, 2014
20
resiliensi karenaresiliensi menggunakan seperangkat ketrampilan
yang sudah matang yang membantu mereka mengontrol emosi,
perhatian dan perilakunya (Reivich dan Shatte, 2002).
Menurut Masten dan Shoon, 2006 (Nasution, 2011) resiliensi
dikatakan berhasil bila respon yang diberikan sesuai dengan
harapan lingkungan sosial dengan acuhan tugas perkembangan
pada tahap perkembangan tertentu.
3. Kategori Remaja
Santrock, (2007) membagi kategori remaja menjadi tiga, yaitu :
a. Masa remaja
Priode transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dengan masa
dewasa yaitu usia 10 tahun – 14 tahun, yang melibatkan perubahanperubahan biologis, kognitif, dan sosial-emosional. Tugas pokok
remaja adalah mempersiapkan diri memasuki masa dewasa.
b. Masa remaja awal
Kurang lebih berlangsung di masa sekolah menengah pertama atau
sekolah menengah akhir dengan usia 14 tahun – 17 tahun dan
perubahan pubertal terbesar terjadi di masa ini.
c. Masa remaja akhir
Kurang lebih terjadi pada pertengahan dewasa yang kedua dari
kehidupan yaitu umur 17 tahun – 22 tahun. Minat, karir, pacaran, dan
Studi Deskriftif Kuantitatif..., Hemi Argiyana, Psikologi UMP, 2014
21
eksplorasi identitas sering kali lebih menonjol di masa remaja akhir
dibandingkan di masa remaja awal.
Dapat di simpulkan dari penjekasan di atas bahwa kategori remaja
di bagi menjadi tiga yaitu masa remaja, masa remaja awal dan masa
remaja akhir.
4. Definisi Remaja Putus Sekolah
Putus Sekolah adalah belum sampai tamat namun sekolahnya
sudah keluar, jadi seseorang yang meninggalkan sekolah sebelum tamat,
berhenti
sekolah,
tidak
dapat
melanjutkan
sekolah
(Anonim,
1993).Menurut Yuda, (2011)anak putus sekolah adalah keadaan dimana
anak mengalami keterlantaran karena sikap dan perlakuan orang tua yang
tidak memberikan perhatian yang layak terhadap proses tumbuh kembang
anak tanpa memperhatikan hak–hak anak untuk mendapatkan pendidikan
yang layak.
Putus sekolah adalah suatu masalah serius selama beberapa
dasawarsa. Banyak murid putus sekolah mengalami kekurangankekurangan pendidikan yang menghambat kesejahteraan ekonomi dan
sosial merekan di kehidupan dewasa mereka. Beberapa kemajuan telah
dicapai, angka putus sekolah bagi kelompok etnis minoritas yang tinggi di
kota-kota besar dan berpenghasilan rendah masih cukup tinggi. Untuk
mengurangi angka putus sekolah, lembaga-lembaga masyarakat khususnya
Studi Deskriftif Kuantitatif..., Hemi Argiyana, Psikologi UMP, 2014
22
sekolah harus mengatasi hambatan-hambatan antara pekerjaan dengan
sekolah (Santrock, 1995).
Alasan-alasan putus sekolah adalah kematian, sakit, pindah tempat
tinggal, pindah sekolah di tempat yang sama, kelakuan tidak baik, tidak
teratur bersekolah, bekerja, melampaui batas umur 17 tahun, dan sebab
lainnya yang tidak di ketahui. Putus sekolah yang relatif tinggi antara lain
disebabkan kurikulum sekolah yang tidak memikat perhatian murid.
Gedung sekolah yang mirip dengan gedung yang tidak menarik.
Kurikulum tidak memperhatikan minat dan kebutuhan anak. Guru-guru
tidak dipersiapkan untuk memotivasi anak dan mengembangkan bakat
mereka secara maksimal (Nasution, 2011).
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa remaja putus
sekolah adalah remaja mengalami keterlantaran sehingga belum sampai
tamat namun sekolahnya sudah keluar.Alasan-alasan putus sekolah adalah
kematian, sakit, pindah tempat tinggal, pindah sekolah di tempat yang
sama, kelakuan tidak baik, tidak teratur bersekolah, bekerja, melampaui
batas umur 17 tahun, dankurikulum sekolah yang tidak memikat perhatian
siswa.
C. Kerangka Berfikir
Salah satu dari permasalahan yang dihadapi bangsa ini adalah adanya
remaja yang putus sekolah. Bila tidak segera ditangani permasalahan ini
Studi Deskriftif Kuantitatif..., Hemi Argiyana, Psikologi UMP, 2014
23
kemungkinan akan menjadi beban keluarga, masyarakat serta akan menjadi
masalah yang cukup besar bagi kemajuan negara ini.
Putus sekolah adalah belum sampai tamat namun sekolahnya sudah
keluar, jadi seseorang yang meninggalkan sekolah sebelum tamat, berhenti
sekolah, tidak dapat melanjutkan sekolah (Anonim, 1993).Remaja putus
sekolah lebih banyak menganggur, dan yang berhasil mendapatkan pekerjaan
mendapatkan upah lebih rendah dari pada yang memiliki ijazah. Masalahmasalah putus sekolah antara lain kematian, sakit, pindah tempat tinggal,
pindah sekolah di tempat yang sama, kelakuan tidak baik, tidak teratur
bersekolah, bekerja, melampaui batas umur 17 tahun, dan kurikulum sekolah
yang tidak memikat perhatian murid (Nasution, 2011).
Putus sekolah adalah masalah besar bagi pemerintah, banyaknya anak
putus
sekolah
berpotensi
menambah
angka
pengangguran.Resiliensi
merupakan kemampuan beradaptasi terhadap situas-situasi yang sulit dalam
kehidupan (Reivich & Shatte, 2002).
Remaja yang mampu membawa dirinya ke dalam lingkungan
masyarakat dan mampu bekerja dengan keadaan putus sekolah adalah remaja
yang memiliki resiliensi yang tinggi dengan dibutuhkan aspek-aspek resiliensi
menurut Reivich & Shatte, (2002) yaitu
regulasi emosi, impuls control
(pengendalianimplus), optimisme, causal analysis (analisis penyebab masalah),
empati, self-efficacy (efeksi diri), reaching out (peningkatan aspek positif).
Sedangkan remaja putus sekolah yang tidak mampu membawa dirinya ke
Studi Deskriftif Kuantitatif..., Hemi Argiyana, Psikologi UMP, 2014
24
dalam lingkungan masyarakat dengan keadaan putus sekolahnya remaja
tersebut mempunyai resiliensi yang rendah.
Revich & Shatte, (2002) telah melakukan penelitian ilmiah lebih dari
50 tahun, membuktikan bahwa resiliensi adalah kunci dari kesuskesan kerja
dan kepuasan hidup. Resiliensi yang dimiliki seorang individu, mempengaruhi
kinerja individu tersebut baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan
masyarakat, memiliki efek terhadap kesehatan individu tersebut secara fisik
maupun mental, serta menentukan keberhasilan individu tersebut dalam
berhubungan dan berinteraksi dengan lingkungannya.
Berdasarkan paparan di atas dapat di simpulkan dengan gambar
kerangka berpikir, sebagai berikut :
Studi Deskriftif Kuantitatif..., Hemi Argiyana, Psikologi UMP, 2014
Download