HUBUNGAN KEJADIAN KETUBAN PECAH DINI DENGAN

advertisement
HUBUNGAN KEJADIAN KETUBAN PECAH DINI DENGAN KEJADIAN
ASFIKSIA PADA BAYI BARU LAHIR DI
RSUD AMBARAWA TAHUN 2014
ARTIKEL
Untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai gelar
Sarjana Terapan Kebidanan
Oleh
KOMSIYATI
NIM. 030113b021
PROGRAM STUDI DIV KEBIDANAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN NGUDI WALUYO
FEBRUARI 2015
Hubungan Kejadian Tuban Pecah Dini dengan Kejadian Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir di RSUD Ambarawa | 1
LEMBAR PENGESAHAN ARTIKEL
Artikel penelitian yang berjudul Hubungan Kejadian Ketuban Pecah Dini dengan
Kejadian Asfiksia di RSUD Ambarawa Tahun 2014” yang disusun oleh :
Nama : Komsiyati
Nim
:030113b021
Program Studi : DIV Kebidanan
Telah disetujui dan disahkan oleh pembimbing utama skripsi Program Studi D IV
Kebidanan STIKES Ngudi Waluyo.
Ungaran, Maret 2015
Pembimbing Utama
Eko Susilo,S.Kep.,Ns.,M.Kep
Hubungan Kejadian Tuban Pecah Dini dengan Kejadian Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir di RSUD Ambarawa | 2
Hubungan Kejadian Ketuban Pecah Dini dengan Kejadian asfiksia pada Bayi Baru
Lahir di RSUD Ambarawa
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Ngudi Waluyo
Program Studi Diploma IV Kebidanan
Komsiyati
ABSTRAK
Ketuban pecah dini mempengaruhi kejadian asfiksia akibat terjadinya
oligohidramnion,kondisi ini akan mempengaruhi janin karena sedikitnya volume air
ketuban yang menyebabkan tali pusat tertekan oleh bagian tubuh janin akibatnya aliran
darah dari ibu ke janin berkurang sehingga bayi mengalami hipoksia atau gangguan
pertukaran O2 hingga fetal distress dan berlanjut menjadi asfiksia pada bayi baru lahir.
Infeksi, Hipoksia, Asfiksia,Intra Uterine Fetal Dead (IUFD), Morbiditas dan Mortalitas
Perinatal merupakan ancaman apabila ketuban pecah dini tidak segera ditangani. Insiden
ketuban pecah dini di RSUD Ambarawa periode Januari- Desember 2014 sangatlah tinggi
sebanyak (31,2%) responden. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan
kejadian ketuban pecah dini dengan kejadian asfiksia pada bayi baru lahirdi RSUD
Ambarawa.
Jenis penelitian ini menggunakan deskriptif analitik dengan menggunakan design
cross sectional. Populasi dari penelitian ini semua ibu bersalin spontan yang tercatat di
RSUD Ambarawa, sampel yang diambil sebesar 398 responden dengan teknik Purposive
Sampling dengan alat ukur yang digunakan yaitu menggunakan data sekunder catatan
Rekam Medik RSUD Ambarawa (Master Table). Analisis data menggunakan Chi-square.
Hasil penelitian menunjukan ibu yang mengalami ketuban pecah dinisebanyak
(31,2%) responden yang mengalami kejadian asfiksia sejumlah 86 responden (69,4%),
Sedangkan ibu yang tidak KPD sebanyak 274 orang (68,8%)yang mengalami kejadian
asfiksia sejumlah 43 orang (15,7%). Ada Hubungan Antara Kejadian Ketuban Pecah
Dini Dengan Kejadian Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir di RSUD Ambarawa periode
Januari-Desember 2014, dengan (p<(0,05)).
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh diperlukan informasi mengenai
penting tanda bahaya kehamilan seperti ketuban pecah dini yang sangat penting untuk
segera ditangani oleh tenaga kesehatan.
Kata Kunci : kejadian ketuban pecah dini, kejadian asfiksia
Kepustakaan : 18 (2001-2011)
ABSTRACT
Premature rupture of membrane affects to asphyxia due to oligohydramnios, this
condition will affect the fetus for the small volume of amniotic fluid which causes the
Hubungan Kejadian Tuban Pecah Dini dengan Kejadian Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir di RSUD Ambarawa | 3
cord depressed by fetal organs as a result of blood flow from the mother to the fetus is
reduced so that the baby suffered hypoxia or oxygen-exchange disruption so that fetal
distress and continues be asphyxia in the newborn. Infection, hypoxia, asphyxia,
Intrauterine Fetal Dead (IUFD), perinatal morbidity and mortality is a threat if premature
rupture of membrane not treated immediately. The incidence of premature rupture of
membrane at Ambarawa Public Hospital in the period of January-December 2014 is
(31.2%) cases. This study aims to examine the correlation between premature rupture of
membrane and the incidence of asphyxia in newborns at Ambarawa Public Hospital.
This was a descriptive-analytical study with cross sectional approach. The
population of this study was all women with spontaneous delivery which recorded at
Ambarawa Public Hospital. The samples in this study were 398 respondents that sampled
by using the purposive sampling technique and the instruments used secondary data of
medical records at Ambarawa Public Hospital (Master Table). The data were analyzed by
using Chi-square test.
The results of this study indicate that the women who have premature rupture of
membrane are (31.2%) cases, who suffered from asphyxia as many as 86 respondents
(69.4%), while women who have not premature rupture of membrane as many as 274
women (68.8%), who suffered from asphyxia as many as 43 respondents (15.7%). There
is a correlation between the premature rupture of membrane and the incidence of
asphyxia in newborns at Ambarawa Public Hospital in the period of January to December
2014, with p-value of 0.000 <α (0.05).
Based on these results it is necessary to know about the danger signs of
pregnancy such as premature rupture of membrane which is very important to be treated
by health professionals.
Keywords
: Premature rupture of membrane, asphyxia
Bibliographies : 18 (2001-2011)
(29,23%) dan masalah kesehatan
PENDAHULUAN
Ukuran keberhasilan suatu
lainnya selama periode perinatal
pelayanan kesehatan salah satunya
(Depkes RI, 2010).
tercermin dari penurunan angka
Pada Periode Intranatal,
kematian bayi (AKB) sampai batas
masalah bayi disebabkan oleh
angka terendah yang dapat dicapai
adanya infeksi dan perlukaan saat
sesuai dengan kondisi dan situasi
lahir.
Infeksi
lebih
sering
setempat serta waktu.Berdasarkan
dikarenakan kuman misalnya pada
Survei Demografi dan Kesehatan
keadaan ketuban pecah dini, partus
Indonesia (SDKI) tahun 2012, angka
lama dan pada ibu yang menderita
kematian bayi (AKB) sebesar 40 per
gonorea.Insiden KPD di Indonesia
1000 kelahiran hidup. Sedangkan
berkisar 4,5% sampai 7,6% dari
target MDG’s periode 1990-2015
seluruh kehamilan, angka tersebut
yaitu 23 per 1000 kelahiran hidup,
meningkat setiap tahunnya hal ini
hal ini menunjukkan bahwa
yang harus diperhatikan oleh tenaga
kematian bayi di Indonesia masih
medis agar angka kejadian KPD
tinggi.
dapat dikendalikan. Sedangkan pada
Penyebab tingginya angka
masa postnatal biasanya kelanjutan
kematian bayi antara lain karena
dari masalah/ gangguan pada masa
pertumbuhan janin yang lambat
antenatal dan intranatal (Jumiarni,
(23,53%), kurangnya oksigen dalam
2011).
rahim (hipoksia intra uterine)
Selain itu ketuban pecah
(21,24%) dan kegagalan bernafas
dini akan mengakibatkan terjadinya
secara spontan dan teratur pada saat
oligohidramnion, kondisi ini akan
lahir atau beberapa saat setelah lahir
mempengaruhi
janin
karena
(asfiksia neonaturum) yaitu sebesar
sedikitnya volume air ketuban akan
Hubungan Kejadian Tuban Pecah Dini dengan Kejadian Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir di RSUD Ambarawa | 4
menyebabkan tali pusat tertekan
oleh bagian tubuh janin akibatnya
aliran darah dari ibu ke janin
berkurang sehingga bayi mengalami
hipoksia atau gangguan pertukaran
O2 hingga fetal distress dan
berlanjut menjadi asfiksia pada bayi
baru lahir (Kasim, 2010).
Gangguan pertukaran O2
pada janin dalam kandungan sangat
dimungkinkan
mempengaruhi
kondisi bayi saat lahir, kondisi
umum bayi segera setelah lahir
inilah yang dimaksud kesejahteraan
bayi baru lahir. Adapun indikator
kesejahteraan bayi baru lahir ada
lima yaitu, pernafasan, frekuensi
denyut jantung, warna kulit, respon
reflex dan tonus otot bayi yang
dinilai dengan menggunakan metode
apgar skor (Prawirohardjo, 2002).
Gangguan transport O2
tersebut
akan
mengakibatkan
hilangnya sumber glikogen pada
jantung yang mempengaruhi fungsi
jantung,
terjadinya
asidosis
metabolik
mengakibatkan
menurunnya sel jaringan termasuk
otot jantung sehingga menimbulkan
kelemahan jantung, dan pengisian
udara alveolus yang kurang adekuat
menyebabkan
tetap
tingginya
resistensi pembuluh darah paru,
sehingga sirkulasi darah ke paru dan
sistem
sirkulasi
tubuh
lain
memgalami gangguan, Berdasarkan
hal tersebut sangat dimungkinkan
lamanya ketuban pecah dini akan
semakin
menyebabkan
janin
mengalami gangguan transport O2
(hipoksia) sehingga mempengaruhi
kesejahteraan bayi baru lahir yang
tercermin pada rendahnya nilai
apgar skor. Jumlah skor rendah pada
tes
menit
pertama
dapat
menunjukkan bahwa bayi yang baru
lahir ini membutuhkan perhatian
medis lebih lanjut tetapi belum tentu
mengindikasikan
akan
terjadi
masalah jangka panjang, khususnya
jika terdapat peningkatan skor pada
tes menit kelima. Jika skor Apgar
tetap dibawah 3 dalam tes
berikutnya (10, 15, atau 30 menit),
maka ada risiko bahwa anak tersebut
dapat mengalami kerusakan syaraf
jangka panjang dan risiko kecil
kerusakan otak (Judarwanto, 2012).
Berdasarkan
survey
langsung yang dilakukan di RSUD
Ambarawa pada bulan Januari 2015
terdapat 3 ibu melahirkan dengan
Ketuban Pecah Dini, 2 dari ibu yang
melahirkan dengan ketuban pecah
dini
tersebut
bayi
yang
dilahirkannya mengalami asfiksia
sedangkan yang tidak asfiksia
sebanyak 1 orang.
Berdasarkan
studi
pendahuluan yang di lakukan di
RSUD Ambarawa bagian Rekam
Medik pada periode Januari sampai
Desember 2014, di peroleh data ibu
bersalin sebanyak 929 orang. Ibu
yang mengalami ketuban pecah dini
(KPD) sebanyak 236 orang, dimana
dari 236 ibu bersalin dengan ketuban
pecah dini yang melahirkan bayi
dengan Asfiksia sebanyak 145
orang. Dari 145 bayi dengan
Asfiksia 7 diantara nya meninggal
dunia. Sedangkang ibu bersalin
dengan ketuban pecah dini yang
melahirkan bayi nya tidak Asfiksia
sebanyak 91 orang. Diperoleh pula
sebanyak 203 bayi mengalami
asfiksia tidak disebabkan karena
ketuban pecah dini..
Dari fenomena diatas maka
penulis
tertarik
melakukan
penelitian
tentang
Hubungan
Kejadian Ketuban Pecah Dini
dengan Kejadian Asfiksia Pada Bayi
Baru Lahir Di RSUD Ambarawa
Tahun
2014
KERANGKA KERJA PENELITIAN
Kerangka Teori
a. Faktor Ibu
1) Preeklampsia dan eklampsia
2)
3)
4)
5)
6)
Perdarahan abnormal
Partus lama atau partus macet
KETUBAN PECAH DINI
Demam selama persalinan
Kehamilan serotinus
Hubungan Kejadian Tuban Pecah Dini dengan Kejadian Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir di RSUD Ambarawa | 5
Gambar 2.1 Kerangka Teori
(Mitayani, 2011), (Manuaba: 2010), (Prawirohardjo,2008).
Kerangka Konsep
Variabel Independent
Gambar 2.1 Kerangka Konsep
Ketuban Pecah Dini (KPD)
Hipotesa
Hipotesis dalam penelitian ini
adalah : “Ada hubungan kejadian
ketuban pecahdini (KPD) dengan
kejadian
Asfiksia
di
RSUD
Ambarawa Tahun 2014”
METODE PENELITIAN
Jenis dan Desain Penelitian
Jenispenelitianiniadalahdesk
riptifanalitik,Desainstudiataurancan
ganpenelitian
yang
Variabel Dependent
Asfiksia
digunakanadalahCross
Sectional
(SeksionalSilang).
Populasi
Populasi dalam penelitian
ini adalah semuaibu bersalin
spontan yang tercatat di RSUD
Ambarawa
selamaperiode
Januari sampai Desember 2014
yaitu sebanyak 416 orang.
Sampel
Hubungan Kejadian Tuban Pecah Dini dengan Kejadian Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir di RSUD Ambarawa | 6
Teknikpengambilansampe
l
yang
digunakanadalah purposive
sampling.
Purposive
samplingmerupakan
pengambilan sampel secara
sengaja
sesuai
dengan
persyaratan
sampel
yang
diperlukan. Semua populasi
dijadikan sampel, Sampel dalam
penelitian ini adalah semua Ibu
bersalin spontan yang tercatat di
RSUD
Ambarawa,
yaitu
sebanyak 398 orang.
Persyaratan sampel dalam
penelitian ini dengan kriteria
inklusi dan kriteriaeksklusi
sebagai berikut:
a. Kriteria inklusi
Kriteria
Inklusi
adalah karakteristik umum
subjek dari suatu populasi
target yang terjangkau yang
akan diteliti (Sastroasmoro
(2003). kriteria inklusi yang
digunakan dalam bentuk
penelitian ini adalah sebagai
berikut :
1) Ibu
yang
bersalin
spontan
2) Usiakehamilancukupbul
an/aterm
(usiakehamilanantara
37-42
minggu)
DefinisiOperasional
No Variabel
1.
Independen :
Ketuban Pecah
Dini
Definisi
Ketuban pecah dini
adalah
keadaan
pecahnya
selaput
ketuban
sebelum
inpartu,
dengan
pembukaan
servik
pada
primipara
sebelum 3 cm dan
pada
multipara
sebelum
5
cm
dengan
interval
waktu 6-12 jam
terhitungdariharipertam
ahaidterakhir.
b. KriteriaEksklusi
Kreterian eksklusi
merupakan kriteria dimana
subjek penelitian tidak dapat
mewakili sampel karena
tidak memenuhi syarat
sebagai
sampel
(Sastroasmoro,2003).
kriteria
eksklusi
yang
digunakan dalam penelitian
ini adalah sebagai berikut :
1) Ibu bersalin premature
2) Ibu bersalin dengan
perdarahan
3) Ibu bersalin dengan
partus lama
4) Ibu bersalin dengan pre
eklamsi-eklamsi
5) Ibu bersalin serotinus
6) Persalinan
dengan
tindakan : vakum, seksio
caesar, forcep
ANALIS DATA
Variabel
Bebas
(Independenvariable)
Variabel independen dalam
penelitian ini adalah kejadian
ketubanpecahdini.
Variabel terikat (Dependen
variable)
Variabel terikat dalam penelitian
ini adalah kejadian Asfiksia.
Alat Ukur
Hasil Ukur
Skala
Master tabel - Ketuban
Nominal
dari catatan
pecah dini
rekam medis - Tidak ketuban
pasien
pecah dini
Hubungan Kejadian Tuban Pecah Dini dengan Kejadian Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir di RSUD Ambarawa | 7
2.
setelah
ketuban
pecah
Dependen
: Suatu
keadaan
Asfiksia
dimana bayi baru
Neonatorum
lahir tidak dapat
segera
bernafas
secara spontan dan
teratur setelah lahir
Master tabel Di ukur dari skor APGAR
dari catatan
rekam medis
pasein
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Nominal
Hasil Penelitian
Analisis Univariat
Distribusi Frekuensi Berdasarkan Kejadian Ketuban Pecah Dini pada Ibu
Bersalin Spontan di RSUD Ambarawa, Januari-Desember 2014
Kejadian
KPD
KPD
Tidak
KPD
Jumlah
Frekuensi
124
274
Persentase
(%)
31,2
68,8
398
100,0
Berdasarkan tabel di
atas, dapat diketahui bahwa dari
398 responden ibu bersalin yang
tercatat di RSUD Ambarawa,
sebagian besar ibu tidak
mengalami kejadian ketuban
pecah dini, yaitu sejumlah 274
orang (68,8%). Sedangkan ibu
bersalin
yang
mengalami
ketuban pecah dini sejumlah 124
orang (31,2%).
Distribusi Frekuensi
Berdasarkan Kejadian Asfiksia
pada Bayi Baru Lahir di RSUD
Ambarawa, Januari-Desember
2014
Berdasarkan tabel di
atas, dapat diketahui bahwa dari
398 responden ibu bersalin yang
tercatat di RSUD Ambarawa,
sebagian besar ibu tidak
mengalami kejadian Asfiksia,
yaitu sejumlah 269 orang
(67,6%). Sedangkan ibu bersalin
yang
mengalami
asfiksia
sejumlah 129 orang (32,4%).
Analisis Bivariat
Hubungan
Kejadian
KPD
dengan Kejadian Asfiksia pada
Bayi Baru Lahir di RSUD
Ambarawa, Januari-Desember
2014
Berdasarkan tabel di
atas, dapat diketahui bahwa ibu
yang mengalami KPD yang
mengalami kejadian asfiksia
sejumlah 69,4%, sedangkan ibu
yang
tidak
KPD
yang
mengalami kejadian asfiksia
sejumlah (15,7%).
Berdasarkan uji Chi
Square diperoleh nilai χ² hitung
109,779 dengan p-value 0,000.
Kejadian Frekuensi Persentase
Asfiksia
(%)
Asfiksia 129
32,4
Tidak
269
67,6
Asfiksia
Jumlah
398
100,0
Oleh karena p-value = 0,0001<
α (0,05), maka disimpulkan
bahwa ada hubungan yang
signifikan ketuban pecah dini
(KPD) dengan kejadian asfiksia
pada bayi baru lahir di RSUD
Ambawa tahun 2014. Dari hasil
Kejadian Asfiksia
Total
Kejadian
p-value OR
Tidak
KPD
Asfiksia
Asfiksia
f
%
f
%
f
%
KPD
86 69,4 38
30,6 124 100 0,0001 12,158
Tidak
43 15,7 231 94,3 274 100
KPD Hubungan Kejadian Tuban Pecah Dini dengan Kejadian Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir di RSUD Ambarawa | 8
Jumlah
129 32,4 269
67,6 398 100
uji juga diperoleh nilai Odds
Ratio sebesar 12,158, ini artinya
ibu dengan KPD beresiko
mengalami asfiksia 12,158 kali
lebih besar dibandingkan dengan
ibu yang tidak KPD.
Analisis Univariat
1. Kejadian Ketuban Pecah Dini
(KPD)
Berdasarkan
hasil
penelitian didapatkan bahwa
dari 398 responden ibu bersalin
spontan yang tercatat di RSUD
Ambarawa, sebagian besar
responden tidak mengalami
kejadian ketuban pecah dini,
yaitu 274 orang (68,8%).
Sedangkan responden yang
mengalami ketuban pecah dini
sejumlah 124 orang (31,2%).
Ketuban Pecah Dini
(KPD) adalah pecahnya kulit
ketuban sebelum waktunya
melahirkan.Gejala yang terlihat
pada kejadian ketuban pecah
dini yaitu cairan ketuban keluar
secara tiba-tiba dari liang
vagina dalam jumlah banyak,
tak
dapat
ditahan
atau
dihentikan. Cairan ketuban
berwarna putih agak keruh,
mirip air kelapa muda karena
bercampur dengan lanugo atau
rambut halus pada janin dan
mengandung verniks caseosa,
yaitu lemak pada kulit bayi
(Manuaba,2010).
Pada saat belum ada
pembukaan servik ketuban
yang pecah tidak menimbulkan
rasa sakit, pegal-pegal, mulas,
dan sebagainya. Semakin cepat
ditangani, semakin kecil risiko
terjadinya komplikasi, seperti
infeksi kuman dari luar,
persalinan
prematur
atau
kurang
bulan,
gangguan
peredaran darah atau tali pusat
yang bisa menyebabkan kondisi
gawat janin dan kematian janin
akibat
tali pusat
yang
tertekan,
dan
oligohidramnionyakni
cairan
ketuban kurang dari jumlah
yang dibutuhkan, atau bahkan
habis (Fadlun, 2011).
Pada
saat
ketuban
pecah, paparan kuman yang
berasal dari vagina akan lebih
berperan dalam infeksi janin.
Pada keadaan ini, kuman dari
vagina naik ke kavum uteri,
melekat
pada
desidua
(menimbulkan
desidualitis),
lalu terjadi penyebaran infeksi
ke selaput khorion dan amnion
(menimbulkan
khorioamnionitis)
dan
berkembang
menjadi
khoriovaskulitis (infeksi pada
pembuluh darah fetal) serta
amnionitis. Bila cairan amnion
yang septik teraspirasi oleh
janin
akan
menyebabkan
pneumonia kongenital, otitis,
konjungtivitis
sampai
bakterimia
dan
sepsis
(Manuaba, 2008).
Keadaan infeksi pada
bayi
baru
lahir,
akan
meningkatkan
kebutuhan
metabolisme anaerob makin
tinggi,
sehingga
ada
kemungkinan
tidak
dapat
dipenuhi oleh aliran darah dari
plasenta. Hal ini menimbulkan
aliran nutrisi dan O2 tidak
cukup, sehingga menyebabkan
metabolisme janin menuju
metabolisme
anaerob
dan
terjadi penimbunan asam laktat
dan piruvat yang merupakan
hasil akhir dari metabolisme
anaerob. Keadaan ini akan
menimbulkan kegawatan janin
(fetal distress) intrauteri yang
akan berlanjut menjadi asfiksia
neonatorum pada bayi baru
lahir (Manuaba, 2008).
2. Kejadian Asfiksia
Berdasarkan
hasil
penelitian diketahui bahwa dari
398 responden ibu bersalin
spontan yang tercatat di RSUD
Hubungan Kejadian Tuban Pecah Dini dengan Kejadian Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir di RSUD Ambarawa | 9
Ambarawa, sebagian besar
responden tidak melahirkan
bayi Asfiksia, yaitu sejumlah
269 orang (67,6 %). Sedangkan
responden yang melahirkan
bayi asfiksia sejumlah 129
orang (32,4%).
Secara klinis tandatanda asfiksia adalah denyut
jantung janin yang lebih cepat
dari 160x/menit atau kurang
dari 100x/menit, serta adanya
pengeluaran
mekonium.Jika
DJJ normal dan terdapat
mekonium, maka janin mulai
asfiksia.Jika DJJ lebih dari
160x/menit dan ada mekonium
maka janin sedang asfiksia.Jika
DJJ kurang dari 100x/menit dan
ada mekonium maka janin
dalam
keadaan
gawat.
Kenaikan DJJ janin diakibatkan
Bila
plasenta
mengalami
penurunan fungsi akibat dari
perfusi ruang intervilli yang
berkurang, maka penyaluran
oksigen dan ekskresi CO2 akan
terganggu
yang
berakibat
penurunan PH atau timbulnya
asidosis (Kristiyanasari, 2010).
Bradikardi merupakan
mekanisme perlindungan agar
jantung bekerja lebih efisien
sebagai
akibat
hipoksia.Hipoksia pada fetus
dapat merangsang kontraksi
kolon sehingga menyebabkan
keluarnya mekonium ke dalam
cairan amnion. Kadang hal ini
diikuti oleh fetal distres karena
kekurangan
oksigen
yang
mengakibatkan
aspirasi
mekoneum ke dalam paru-paru
yang dapat mengakibatkan
obstruksi bronkus pneumonitis
(Rukiyah,2010).
Penyebab
tingginya
angka kematian bayi antara lain
karena pertumbuhan janin yang
lambat (23,53%), kurangnya
oksigen dalam rahim (hipoksia
intra uterine) (21,24%) dan
kegagalan bernafas secara
spontan dan teratur pada saat
lahir atau beberapa saat setelah
lahir (asfiksia neonaturum)
yaitu sebesar (29,23%) dan
masalah kesehatan lainnya
selama
periode
perinatal
(Depkes RI, 2010).
Pada Periode Intranatal,
masalah bayi disebabkan oleh
adanya infeksi dan perlukaan
saat lahir. Infeksi lebih sering
dikarenakan kuman misalnya
pada keadaan ketuban pecah
dini, partus lama dan pada ibu
yang
menderita
gonorea.Sedangkan pada masa
postnatal biasanya kelanjutan
dari masalah/ gangguan pada
masa antenatal dan intranatal
(Jumiarni, 2011).
A. Analisis Bivariat
Berdasarkan
hasil
penelitian yang telah dilakukan
pada 398 responden didapatkan
hasil
ada
hubungan
secara
signifikan antara kejadian Ketuban
Pecah Dini (KPD) dengan kejadian
asfiksia pada bayi baru lahir di
RSUD
Ambarawa
Tahun
2014.Hasil uji Chi Squere diperoleh
nilai χ2 hitung 109,779 dengan pvalue 0,000. Oleh karena itu pvalue = 0,0001< α (0,05), maka dari
perhitungan tersebut Ho ditolak
yang berarti ada hubungan yang
signifikan antara variabel kejadian
Ketuban Pecah Dini (KPD) dengan
kejadian asfiksia pada bayi baru
lahir di RSUD Ambarawa Tahun
2014. Dari hasil uji juga diperoleh
nilai Odds Ratio sebesar 12,158 ini
artinya ibu dengan KPD beresiko
mengalami asfiksia 12,158 kali
lebih besar dibandingkan dengan
ibu yang tidak KPD.
Ketuban Pecah Dini akan
mengakibatkan
oligohidramnion
yang menekan tali pusat hingga
terjadi asfiksia atau hipoksia.
Terdapat
hubungan
antara
terjadinya gawat janin dan derajat
oligohidramnion, semakin sedikit
Hubungan Kejadian Tuban Pecah Dini dengan Kejadian Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir di RSUD Ambarawa |
10
air ketuban, janin semakin gawat
(Rahayu, 2009).Cairan amnion
berfungsi sebagai sawar proteksi
terhadap infeksi asenden vagina,
memungkinkan pergerakan bebas
janin, tempat mengapungnya tali
pusat sehingga tidak terjadi
kompresi
tali
pusat
yang
menyebabkan terhambatnya aliran
darah yang mengandung O2 dari ibu
ke janin. Kompresi tali pusat akan
menimbulkan fetal distress. Tali
pusat penting dalam penyaluran
pertukaran gas oksigen dan
karbondioksida antara janin dan
plasenta, plasenta adalah tempat di
mana terjadinya pertukaran darah
maternal dan janin (Manuaba,
2008).
Berdasarkan hasil analisis
data diperoleh bahwa ibu yang
mengalami ketuban pecah dini
tetapi bayi yang dilahirkan tidak
asfiksia sebanyak 38 responden
(30,6%). Hal ini disebabkan karena:
1. Faktor plasenta
Plasenta
merupakan
akar janin untuk menghisap
nutrisi dari ibu dalam bentuk
O2, asam amino, vitamin,
mineral dan zat lain dan
membuang sisa metabolisme
janin dan O2. Pertukaran gas
antara
ibu
dan
janin
dipengaruhi oleh luas kondisi
plasenta. Fungsi plasenta akan
berkurang
jika
terjadi
kekurangan
air
ketuban
sehingga
tidak
mampu
memenuhi kebutuhan O2 dan
menutrisi metabolisme janin.
Semakin lama pecahnya kulit
ketuban semakin besar resiko
keringnya
cairan
ketuban
sehingga resiko terjadinnya
infeksi semakin tinggi serta
kemampuan untuk transportasi
O2 dan membuang CO2 tidak
cukup sehingga metabolisme
janin berubah menjadi anaerob
dan akhirnya asidosis dan PH
darah turun (Mitayani, 2011).
2. Faktor psikologi dan psikis
Faktor psikologi dan psikis
ibu
pada
persalinan
pervaginam/spontan.Pada
persalinan
spontan,
janin
dilahirkan dengan kekuatan dan
tenaga ibu sendiri. Pertolongan
pada tahap persalinan ini di
perlukan asuhan sayang ibu,
dukukangan moril tidak boleh
tergesa-gesa
sehingga
ibu
bersalin merasa rileks dalam
mengatur pernafasan, kebutuhan
pertukaran O2 dari ibu kejanin
pun terpenuhi (Manuaba,2010).
Berdasarkan hasil analisis
data diperoleh bahwa ibu yang
tidak mengalami ketuban pecah
dini tetapi bayi yang dilahirkan
asfiksia sebanyak 43 responden
(15,7 %). Hal ini disebabkan
oleh:
a. Depresi
pusat
pernafasan pada bayi
baru lahir
Depresi pusat
pernafasan pada bayi
baru
lahir
kemungkinan
dapat
terjadi
karena
pemakaian
obat
analgesi/ anastesi yang
berlebihan. Analgesia
dan anastesi obstetrik
maternal
diberikan
untuk menghilangkan
nyeri akibat kontraksi
uterus dan kelahiran
pervaginam
atau
perabdominam.Idealny
a
analgesia
dan
anastesia
obstetrik
tidak
boleh
memperburuk kontraksi
uterus, usaha meneran
ibu atau mengganggu
kesejahteraan ibu dan
janin (Manuaba, 2008).
b. Factor
presentasi
puncak kepala
Factor
resiko
presentasi
puncak
kepala
yang
tidak
terduga seperti pada
Hubungan Kejadian Tuban Pecah Dini dengan Kejadian Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir di RSUD Ambarawa |
11
presentasi muka juga
memungkinkan
terjadinya gawat janin,
karena partus tidak
maju sehingga bayi
mengalami
fetal
distress dan mengarah
ke hipoksia janin dan
berakhir pada asfiksia
bayi
baru
lahir
(Prawirohardjo, 2008).
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Hasil penelitian didapatkan
bahwa dari 398 responden
sebagian besar responden tidak
mengalami kejadian ketuban
pecah dini, yaitu 68,8 % (274
responden).
Sedangkan
responden yang mengalami
ketuban pecah dini sejumlah
31,2 % (124 responden).
2. Hasil penelitian dapat diketahui
bahwa dari 398 responden
sebagian besar responden tidak
mengalami kejadian Asfiksia,
yaitu sejumlah 67,6% (269
responden).
Sedangkan
responden yang mengalami
asfiksia sejumlah 32,4 % (129
responen).
3. P-value = 0,0001< α (0,05) ada
hubungan anatara Kejadian
Ketuban Pecah Dini dengan
Kejadian Asfiksia Pada Bayi
Baru Lahir di RSUD Ambarawa
tahun 2014. Diperoleh nilai
Odds Ratio sebesar 12,158 ini
artinya ibu dengan KPD
beresiko mengalami asfiksia
12,158
kali
lebih
besar
dibandingan dengan ibu yang
tidak KPD.
B. Saran
1. Bagi RSUD Ambarawa
Diharapka Rumah sakit dapat
memberikan informasi dan
masukan bagi petugas kesehatan
di
Rumah
sakit
dalam
manajemen proses persalinan
sesuai dengan protab terutama
dalam menangani kejadian
ketuban pecah dini dan kejadian
asfiksia.
2. Bagi STIKES Ngudi Waluyo
Diharapkan menjadi bahan
bacaan dan tambahan informasi
tentang hubungan kejadian
ketuban pecah dini dengan
kejadian asfiksia
3. Bagi peneliti
Dapat
meningkatkan
ketrampilan, pengetahuan, dan
pengalaman
dalampenerapan
ilmu yang didapat selama
pendidikan
khususnya
metodologipenelitian mengenai
hubungan kejadian ketuban
pecah dini dengan kejadian
asfiksia
4. Bagi pembaca
Dapat menambah pengetahuan
bagi pembaca serta masukan
bagi
peneliti
jika
akan
melakukan penelitian lebih
lanjutan
DAFTAR PUSTAKA
Departemen
Kesehatan
Republik
Indonesia.2010.
Buku
Kesehatan Ibu dan Anak.
Jakarta. Depkes RI
Fadlun J. 2011. Kasus Emergency
Kebidanan.Yogyakarta. Graha
Pustaka
Judarwanto. 2012. Asuhan Neonatus
Bayi Dan Balita. Jakarta.
Salemba Medika
Jumiarni I. 2001.Penatalaksanaan Bayi
Baru Lahir. Jakarta. EGC
Kasim. 2010. Buku ajar neonatologi.
Edisi 1. Badan Penerbit IDAI.
Jakarta
Hubungan Kejadian Tuban Pecah Dini dengan Kejadian Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir di RSUD Ambarawa |
12
Kristiyanasari. 2010. Penatalaksanaan
Bayi Baru Lahir. Yogyakarta.
Pustaka Pelajar
Penelitian Kedokteran dan
Kesehatan.Edisi 3. Jakarta:
Salemba Medika
Manuaba. 2010. Ilmu kebidanan.
Penyakit kandungan & keluarga
berencana untuk pendidikan
bidan.Jakarta : EGC
Sastroasmoro S. 2008. Dasar-Dasar
Metodologi Penelitian Klinis.
Jakarta: Sagung Seto
Mitayani A. 2011. Penatalaksanaan
Ketuban
Pecah
Dini.
Yogyakarta. Nuha Medika
Notoatmodjo.S.2010.Metodologi
Penelitian Kesehatan.Jakarta :
Rineka cipta
SurveiDemografi Kesehatan Indonesia.
2012. Angka kematian bayi dan
balita. Jakarta. SDKI
Hidayat.A.A..2007.Metode Penelitian
Kebidanan Teknik Analisa Data.
Jakarta : Salemba Medika
Novita. 2011. Penatalaksanaan Bayi
Baru
Lahir.
Yogyakarta.
Pustaka Pelajar
Prawirahardjo.
S.
2008.
Ilmu
Kebidanan.Jakarta : Penerbit
Yayasan Bina Pustaka Profil
Kesehatan Indonesia
Prawirahardjo.
S.
2010.
Ilmu
Kebidanan.Jakarta : Penerbit
Yayasan Bina Pustaka Profil
Kesehatan Indonesia
Rahayu dkk. 2009. Manajemen Asfiksia.
Jakarta.
Perkumpulan
Perinatologi Indonesia
Rukiyah D. 2010.Buku Ajar Asuhan
Neonatus
Bayi
dan
Balita.Yogyakarta.
Pustaka
Pelajar
Saryono.2011. Besar Sampel Dan Cara
Pengambilan Sampel Dalam
Hubungan Kejadian Tuban Pecah Dini dengan Kejadian Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir di RSUD Ambarawa |
13
Hubungan Kejadian Tuban Pecah Dini dengan Kejadian Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir di RSUD Ambarawa |
14
Download