gugatan perbuatan melawan hukum oleh debitor kepada pemenang

advertisement
GUGATAN PERBUATAN MELAWAN HUKUM OLEH DEBITOR
KEPADA PEMENANG LELANG DAN PIHAK BANK
SETELAH DIKELUARKANNYA BERITA ACARA LELANG
A Lawsuit Illegal Actions By Debitor To The Winner Auctions And
The Bank After The Issuance News Event Auction
E Journal
Disusun Dalam Rangka Menyusun Tesis S2
Nama : Fahmi Amalyah Kadir, S.H
NIM : 11010214410275
PROGRAM STUDI MAGISTER KENOTARIATAN
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
FEBRUARI 2016
GUGATAN PERBUATAN MELAWAN HUKUM OLEH DEBITOR
KEPADA PEMENANG LELANG DAN PIHAK BANK
SETELAH DIKELUARKANNYA BERITA ACARA LELANG
A Lawsuit Illegal Actions By Debitor To The Winner Auctions And
The Bank After The Issuance News Event Auction
E Journal
Diajukan Sebagai Syarat Untuk Memperoleh Gelar Magister
Kenotariatan
PEMBIMBING :
Dr. Yunanto, S.H, M.Hum.
PROGRAM STUDI MAGISTER KENOTARIATAN
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
FEBRUARI 2016
GUGATAN PERBUATAN MELAWAN HUKUM OLEH DEBITOR
KEPADA PEMENANG LELANG DAN PIHAK BANK
SETELAH DIKELUARKANNYA BERITA ACARA LELANG
A Lawsuit Illegal Actions By Debitor To The Winner Auctions And
The Bank After The Issuance News Event Auction
E Journal
Diajukan Sebagai Syarat Untuk Memperoleh Gelar Magister
Kenotariatan
Dosen Pembimbing,
SURAT PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini, FAHMI AMALYAH KADIR, SH,
dengan ini menyatakan hal-hal sebagai berikut:
1. Tulisan dalam jurnal ini adalah hasil karya sendiri dan belum pernah
dimuat atau di publikasikan di jurnal atau majalah ilmiah lainnya.
Pengambilan karya orang lain dalam jurnal ini dilakukan dengan
menyebutkan
sumbernya
sebagaimana
tercantum
dalam
Daftar
Pustaka.
2. Tidak keberatan untuk dipublikasikan oleh Magister Kenotariatan
Universitas
Diponegoro
dalam
E-Jurnal
untuk
kepentingan
akademik/ilmiah yang non komersial sifatnya.
3. Saya bersedia untuk menerima sanksi apapun bilamana terbukti tulisan
ini merupakan hasil karya orang lain.
ABSTRAK
GUGATAN PERBUATAN MELAWAN HUKUM OLEH DEBITOR
KEPADA PEMENANG LELANG DAN PIHAK BANK
SETELAH DIKELUARKANNYA BERITA ACARA LELANG
Pelaksanaan Eksekusi Hak Tanggungan berdasarkan Undang-Undang
Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan, memberikan wewenang kepada
pemegang Hak Tanggungan untuk menjual obyek Hak Tanggungan atas
kekuasaan sendiri melalui Pelelangan Umum serta mengambil pelunasan
piutangnya dari hasil penjualan tersebut. Pemegang Hak Tanggungan hanya
dengan mengajukan permohonan kepada Kepala Kantor Pelayanan Kekayaan
Negara dan Lelang (KPKNL) setempat dimana obyek jaminan berada, untuk
pelaksanaan pelelangan umum dalam rangka eksekusi obyek Hak Tanggungan
tersebut tanpa perlu meminta Penetapan Ketua Pengadilan Negeri Setempat.
Kenyataannya Lelang Eksekusi barang Jaminan merupakan “momok”
yang sangat menakutkan sebagai upaya paksa penyelesaian kewajiban debitur
terhadap kreditur. Debitur tidak secara sukarela menerima pelaksanaan lelang
eksekusi barang jaminan yang diberikan hak tanggungan kepada kreditur dan
pada saat obyek Hak Tanggungan tersebut akan di eksekusi, sebelum
pelelangan maupun setelah pelelangan dilaksanakan, debitur mengajukan
gugatan atas adanya perbuatan melawan hukum terhadap lelang eksekusi
barang jaminan atau membuat perlawanan (verzet) kepada Ketua Pengadilan
Negeri setempat dengan maksud menunda atau membatalkan lelang eksekusi
barang jaminan
Berdasarkan hal-hal tersebut maka permasalahan yang akan diteliti
dalam penelitian ini adalah : Bagaimana perlindungan hukum bagi pemenang
lelang dengan adanya gugatan perbuatan melawan hukum oleh debitur dan
Bagaimana upaya hukum yang dapat dilakukan oleh pihak pemenang lelang
setelah dikeluarkannya berita acara lelang.
Metode pendekatan yang digunakan adalah pendekatan yuridis normatif
dengan spesifikasi deskriptif analitis, Pengumpulan data dilakukan dengan
penelitian kepustakaan atau studi dokumen yang ditujukan hanya pada
peraturan-peraturan yang tertulis atau bahan hukum yang lain.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa melakukan
penyelesaian kredit macet dengan menggunakan media lelang melalui KPKNL
tidak selalu berjalanan dengan lancar. Alasan yang sering digunakan debitur
untuk menggugat antara lain mengenai nilai limit yang terlalu rendah (tidak
manusiawi), Hutang belum jatuh tempo, KPKNL yang dianggap tidak berwenang
melaksanakan eksekusi Hak Tanggungan, atau adanya niat baik dari debitur
untuk menyelesaikan kewajibannya. Upaya menyelesaikan kredit macet dengan
cara lelang milik debitur yang menggugat pelaksanaan lelang eksekusi Hak
Tanggungan melalui KPKNL, pihak bank nya memilih untuk melakukan lelang
eksekusi Hak Tanggungan melalui Pengadilan Negeri setempat.
Kata Kunci: Gugatan PMH Debitor, Pemenang Lelang, Berita Acara Lelang
ABSTRACT
A LAWSUIT ILLEGAL ACTIONS BY DEBITOR
TO THE WINNER AUCTIONS AND THE BANK
AFTER THE ISSUANCE NEWS EVENT AUCTION
The term illegal actions not only what directly unlawful, but also what
directly breaking by another for the rule of law in decency, religious and
manners.
The auction based on undang-undang number 4 years regarding the rights
to 1996, giving authority to holders of the responsibility for the right to sell
objects dependent on power itself through public auction and taking
repayment piutangnya from the dealership.Holders of the responsibility of
only apply to the service station the wealth of the country and auction
(kpknl) local security whereby objects be, for the auction common in order
to the right to object without to request the order of the head local court.
The auction is a problem is just an awful as an effort to force against the
resolution debtor creditors.Debtors are not voluntarily received the auction
execution collateral given the right to to the creditors and when objects
rights in the responsibility of the execution, before and after auction
auction implemented, debtors arguing for the illegal actions against
auction execution collateral or making resistance (verzet) to the local court
with intent delay or cancel auction execution collateral.
Based on these things so problems subjects in this research is: how legal
protection for the winning bidder the a lawsuit illegal actions by a debtor
and how legal remedy that can be carried out by the winner of the auction
after the issuance news event auction.
A method of the approach that was used is the approach juridical
normative , the data collection was done by research literature or study
documents devoted only on the regulations written or material the law of
another .
Based on the research done can be concluded that do the completion of
non-performed credit with uses the media auction process through kpknl
not always berjalanan smoothly .The reasons often used of a debtor to
sues among others about value limit that is too low ( inhuman ) , debt had
not matured , kpknl that are not authorized implement execution formal
use of hak tanggungan , and the good intentions from a debtor to settle
their obligations . Efforts to resolve stuck credit with bidding property of a
debtor was being sued the auction execution right through kpknl
responsibility , the bank his chosen to carry auction right through the
responsibility of local court .
Keywords: a lawsuit illegal actions , the winning bidder , on reports
auctio
1. PENDAHULUAN
Kaidah hukum positif yang mengatur mengenai lelang yang
ada selama ini kurang mendukung perkembangan lelang sebagai
lembaga jual beli dan kurang memberi perlindungan kepentingan
hak-hak pembeli lelang atas barang yang dibelinya. Karena hukum
lelang yang ada kurang rasional, khususnya peraturan lelang
kurang memiliki suatu kualitas “normatif” yang umum, 1belum dapat
memecahkan semua problem praktis yang bersifat hukum sehingga
sering terjadi gugatan dengan cara penjual mengajukan gugatan
atas adanya perbuatan melawan hukum terhadap eksekusi barang
jaminan
atau
membuat
perlawanan
(verzet)
kepada
Ketua
Pengadilan Negeri setempat dengan maksud untuk menunda atau
membatalkan lelang eksekusi barang jaminan.Perlindungan hukum
terhadap pembeli lelang berarti adanya kepastian hukum hak
pembeli lelang atas barang yang dibelinya melalui lelang.Penjual
seharusnya bertanggung jawab sepenuhnya atas kerugian yang
ditimbulkan.
Berdasarkan Pasal 1365 KUHPerdata pihak yang dirugikan
cukup membuktikan bahwa kerugian yang diderita adalah akibat
perbuatan melawan hukum tergugat, tidak disyaratkan perbuatan
tersebut merupakan perbuatan melawan hukum terhadap orang
yang dirugikan. Masalah hubungan sebab akibat menjadi isu sentral
1
Purnama Tioria Sianturi, Perlindungan Hukum Terhadap Pembeli Barang
Jaminan Tidak Bergerak Melalui Lelang,(Bandung: Mandar Maju, 2013), Hlm. 6.
dalam
perbuatan
melawan
hukum,
karena fungsinya
untuk
menentukan apakah seseorang harus bertanggung jawab secara
hukum atas tindakan yang mengakibatkan kerugian pada orang lain.
Pelaksanaan
Eksekusi
Hak
Tanggungan
berdasarkan
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan,
memberikan wewenang kepada pemegang Hak Tanggungan untuk
menjual obyek Hak Tanggungan atas kekuasaan sendiri melalui
Pelelangan Umum serta mengambil pelunasan piutangnya dari hasil
penjualan tersebut. Pemegang Hak Tanggungan hanya dengan
mengajukan
permohonan
kepada
Kepala
Kantor
Pelayanan
Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) setempat dimana obyek
jaminan berada, untuk pelaksanaan pelelangan umum dalam
rangka eksekusi obyek Hak Tanggungan tersebut tanpa perlu
meminta Penetapan Ketua Pengadilan Negeri Setempat.
Kenyataannya Lelang merupakan “momok” yang sangat
menakutkan sebagai upaya paksa penyelesaian kewajiban debitur
terhadap
kreditur.
Debitur
tidak
secara
sukarela
menerima
pelaksanaan lelang eksekusi barang jaminan yang diberikan hak
tanggungan kepada kreditur dan pada saat obyek Hak Tanggungan
tersebut akan di eksekusi, sebelum pelelangan maupun setelah
pelelangan dilaksanakan, debitur mengajukan gugatan atas adanya
perbuatan melawan hukum terhadap lelang eksekusi barang
jaminan
atau
membuat
perlawanan
(verzet)
kepada
Ketua
Pengadilan Negeri setempat dengan maksud menunda atau
membatalkan lelang eksekusi barang jaminan.
Oleh karena itu, penulis merasa perlu untuk mengangkat
permasalahan tersebut menjadi sebuah penelitian yang berjudul :
“GUGATAN
PERBUATAN
MELAWAN
HUKUM
OLEH
DEBITOR KEPADA PEMENANG LELANG DAN PIHAK
BANK SETELAH DIKELUARKANNYA BERITA ACARA
LELANG”
2. PERMASALAHAN
Dalam Penulisan ini permasalahan yang dibahas adalah :
a. Bagaimana perlindungan hukum bagi pemenang lelang
dengan adanya gugatan perbuatan melawan hukum oleh
Debitur?
b. Bagaimana upaya hukum yang dapat dilakukan oleh pihak
pemenang
lelang
jika
hasil
lelang
dibatalkan
setelah
dikeluarkannya berita acara lelang?
3. METODE PENELITIAN
Metode
pendekatan
yang
akan
digunakan
dalam
penulisan hukum ini adalah yuridis normatif, yakni penelitian
kepustakaan atau studi dokumen yang dilakukan atau ditujukan
hanya pada peraturan-peraturan yang tertulis atau bahan hukum
yang lain.2 Bahan utama yang akan ditelaah adalah bahan hukum
primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier.3
4. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
a. Perlindungan Hukum Bagi Pemenang Lelang Dengan
Adanya Gugatan Perbuatan Melawan Hukum Oleh Debitur.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan diketahui
bahwa
melakukan
menggunakan
penyelesaian
media
lelang
kredit
melalui
macet
Kantor
dengan
Pelayanan
Kekayaan Negara dan lelang tidak selalu berjalanan dengan
lancar. Alasan yang sering digunakan debitur untuk menggugat
antara lain mengenai nilai limit yang terlalu rendah (tidak
manusiawi), Hutang belum jatuh tempo, KPKNL yang dianggap
tidak berwenang melaksanakan eksekusi Hak Tanggungan,
atau adanya niat baik dari debitur untuk menyelesaikan
kewajibannya akan tetapi pihak kreditur dengan semena-mena
tidak
memberikan
waktu
untuk
debitur
menyelesaikan
kewajiban tersebut.
KPKNL memberikan perlindungan hukum bagi debitur
yaitu dengan adanya peraturan mengenai penetapan nilai limit
lelang dan masa berlaku dari penilaian obyek jaminan.
2
Bambang Waluyo, 1996,Metode Penelitian Hukum, Jakarta: Sinar Grafika,
Hlm.13.
3
Nico Ngani, 2012,Metode Penelitian dan Penulisan Hukum, Yogyakarta: Pustaka
Yustitia, Hlm.179.
Peraturan tersebut dituangkan dalam PMK 106/PMK.06/2013
Tertanggal 26 Juli 2013, dan sebagai pedoman bagi Pejabat
lelang dalam memverifikasi dokumen terkait laporan penilaian
atau penaksiran sebagai dasar penetapan nilai limit di
terbitkanlah Surat Edaran Direktur Jenderal Nomor SE4/KN/2014 tanggal 08 September 2014 tentang Masa Berlaku
Laporan Penilaian atau Penaksiran sebagai Dasar Penetapan
Nilai Limit dalam Pelaksanaan Lelang. Diatur pula dalam PMK
106/PMK.06/2013 bahwa hanya pihak ketiga selain debitor/
tereksekusi dan suami atau istri debitor/ tereksekusi yang dapat
membatalkan pelaksanaan lelang Eksekusi Hak Tanggungan.
Dan biasanya gugatan dari pihak ketiga tersebut memuat
tentang permasalahan kepemilikan atas jaminan yang akan
dilelang
b. Upaya Hukum Yang Dapat Dilakukan Oleh Pihak Pemenang
Lelang Setelah Dikeluarkannya Berita Acara Lelang Apabila
Lelang di Batalkan.
Bahwa untuk menyelesaikan kredit macet dengan
cara lelang milik debitor yang terdapat gugatan atas
pelaksanaan lelang melalui KPKNL, pihak bank nya memilih
untuk melakukan lelang melalui Pengadilan Negeri setempat.
Seperti saran yang diberikan oleh pihak KPKNL. Hal ini juga
dapat
digunakan
apabila
ada
ketidak
sesuaian
atau
perubahan dari fisik dari obyek yang dijaminkan. Prosedur
pelaksanaan lelangnya hampir sama dengan prosedur lelang
obyek Hak Tanggungan
atas
kekuasaan
sendiri
oleh
pemegang Hak Tanggungan pertama. Bedanya adalah yang
menjadi
penjual dan yang berhadapan dengan KPKNL
adalah Pengadilan Negeri.
Penyelesaian kredit macet melalui Lelang di Pengadilan
Negeri setempat minim resiko terjadinya gugatan, karena setiap
tahapan yang dilalui dilaksanakan berdasarkan penetapan oleh
Ketua Pengadilan Negeri. Dan apabila obyek jaminan tersebut
terjual, pihak pembeli/pemenang lelang mempunyai kepastian
akan memperoleh dan menguasai obyek jaminan lelang yang
sudah dibelinya, ini dikarenakan dalam proses lelang di
Pengadilan
Negeri
Ketua
Pengadilan
Negeri
juga
mengeluarkan surat perintah pengosongan untuk dilaksanakan
oleh jurusita dan bila perlu dengan bantuan kepolisian, jika
debitur yang obyek jaminannya disita tidak mau menyerahkan
dengan sukarela pada pembeli/ pemenang lelang.
5. SIMPULAN
a. Alasan atau Dasar dari Pembatalan Lelang Eksekusi Hak
Tanggungan yang disebabkan oleh adanya Gugatan Debitur di
Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL)
Tegal, antara lain :
1) Nilai Limit lelang yang terlalu rendah, pelaksanaan lelang
atas kredit macet dilaksanakan sebelum jatuh tempo
perjanjian kredit, tata cara/prosedur pelaksanaan lelang
yang tidak tepat, misalnya pemberitahuan lelang yang
tidak tepat waktu, pengumuman tidak sesuai prosedur
dan lain-lain;Pihak ketiga pemilik barang baik yang terlibat
langsung
dalam
penandatanganan
perjanjian
kredit
ataupun murni sebagai penjamin hutang;
2) Ahli waris terkait masalah harta waris, proses penjaminan
yang tidak sah;
3) Salah satu pihak dalam perkawinan, terkait masalah harta
bersama, proses penjaminan yang tidak sah;
4) Pembeli lelang terkait hak pembeli lelang untuk dapat
menguasai barang yang telah dibeli/pengosongan.
5) Parate
executie
yang
dilaksanakan
oleh
KPKNL
bertentangan dengan hukum, ini berdasarkan Putusan
Mahkamah Agung No. 3021 K/Pdt/1984 tanggal 30
Januari 1984.
b. Upaya Kreditur dalam Pelaksanaan Lelang Eksekusi Hak
Tanggungan yang Objek Jaminannya dalam Proses Gugatan,
yaitu memilih menyelesaikan kredit macet tersebut dengan
lelang eksekusi hak Tanggungan melalui Pengadilan Negeri
setempat, alternatif penyelesaian kredit macet ini diatur dalam
Pasal 20 Ayat (1) huruf b Undang-undang Hak Tanggungan.
Dengan tetap
berusaha/berupaya menawarkan dan mencari
peminat untuk membeli obyek jaminan tersebut, sehingga pada
saat pelelangan terjadi sudah ada peminat yang akan membeli
obyek jaminan tersebut, dan tidak perlu dilakukan lelang ulang.
Dan tidak menutup kemungkinan kreditur masih bisa berusaha
untuk menyelesaikan kredit macet tersebut dengan cara
penjualan secara bawah tangan dengan persetujuan atau
bernegosiasi dengan pihak debitor pada saat mediasi.
6. SARAN
a. Guna untuk mewujudkan perlindungan hukum terutama bagi
pembeli
lelang,
maka
diperlukan
adanya
pembaharuan
peraturan lelang oleh pemerintah yaitu dengan cara melakukan
perombakan terhadap norma-norma dalam Vendu Reglement
karena norma-norma didalamnya sudah tidak relevan lagi
dalam perkembangan hukum yang pesat saat ini, juga
peraturan teknis pelaksanaan lelang agar tidak menimbulkan
celah hukum yang merugikan bagi pihak debitur, kreditur,
pemenang lelang, serta pihak-pihak lain yang berkepentingan.
Untuk menunjang perlindungan hukum secara preventif yang
masih belum ada maka pejabat lelang dan pembeli lelang harus
lebih cermat, teliti dan berhati-hati dalam proses pelaksanaan
lelang terutama dalam hal keabsahan dokumen-dokumen
terkait obyek lelang.
b. Adanya upaya hukum yang dapat dilakukan oleh pihak-pihak
yang merasa dirugikan telah memberikan celah untuk adanya
bantahan/gugatan/keberatan
meskipun
risalah
lelang
seharusnya telah mempunyai kekuatan hukum tetap namun
dalam prakteknya pembeli lelang eksekusi hak tanggungan
dapat dibatalkan berdasarkan putusan pengadilan. Hal ini
bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada pihak lain
yang merasa dirugikan atas penjualan lelang tersebut. Upaya
hukum yang telah disediakan untuk kedua belah pihak telah
disediakan dan jelas hal ini untuk menunjang tercapainya tujuan
hukum yaitu keadilan dan juga kepastian hukum tidak hanya
pada sisi pemenang lelang namun juga untuk sisi penjual lelang
maupun pihak ketiga yang dirugikan.
c. Penjual dalam hal ini Kreditur dalam menentukan nilai limitnya
agar memperhatikan asas kepatutan/kewajaran. Karena selama
ini ada indikasi, pihak bank kreditur dalam memohon lelang ada
indikasi
menjual
hutang
dan
bukan
kewajaran harga barang yang dijual.
berusaha
mencari
d. Penetapan nilai limit/harga limit sebaiknya menggunakan jasa
appraisal independen untuk menaksir harga dari obyek Jaminan
yang akan dilelang. Penilaian oleh apraisal independen tanpa
memiliki kepentingan atas kreditor dan debitur. Yang dijamin
kenetralannya dan profesional dalam melaksanakan penilaian
serta tidak ada konflik kepentingan dengan barang yang
dinilainya.
e. KPKNL hendaknya terus melakukan pembinaan kepada pejabat
lelang khususnya dan pegawai pada imimnya yang terkait
dengan pelaksanaan lelang. Bedah kasus/gelar perkara pada
KPKNL
dalam
perkara
yang
dihadapi
yang
ada
kompleksitasnya perlu dilakukan. Tata kelola persuratan yang
terkait dokumen pelaksanaan lelang mutlak diperlukan dalam
mempersiapkan pra lelang dan pasca lelang. TIdak hanya
lengkap namun rapi.
DAFTAR PUSTAKA
A. BUKU
Ali H. Zainudin, 2011, Metode Penelitian Hukum, Jakarta: Sinar
Grafika, hal.23.
Anggoro Teddy, Hak Tanggungan Parate Eksekusi : Hak Kreditur,
Yang menderogasi Hukum Formil (Suatu Pemahaman Dasar
dan
Mendalam)
http://www.groups.yahoo.com/group/Notaris_Indonesia/message
/5105
Badrulzaman Mariam Darus, KUHPerdata Buku III Hukum Perikatan
dengan Penjelasan, Edisi Kedua, Bandung,Alumni. 1996.
Fuadi Munir, Perbuatan Melawan Hukum, Bandung : PT. Citra Aditya
Bakti, 2002.
Harahap M. Yahya, Ruang Lingkup Permasalahan Eksekusi Bidang
Perdata, Jakarta: Gramedia, 1994.
Kadir Muh. Abdul, 2004, Hukum dan Penelitian Hukum, Bandung: PT.
Citra Aditya Bakti, hal.82.
Machmud Syahrul, Penegakan Hukum dan Perlindungan Hukum bagi
Dokter yang Diduga Melakukan Medikal Malpraktek, (Mandar
Maju: Bandung, 2008), hlm. 185
Meleong J. Lexy, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung : Remaja
Rosdakarya, 1993), hal 35.
Nasution Bismar, 2003, disampaikan pada “Dialog Interaktif tentang
Penelitian Hukum dan Hasil penulisan Penelitian Hukum”Pada
“Makalah Akreditasi” fakultas Hukum USU, hal.1
Ngani Nico, 2012,Metode Penelitian dan
Yogyakarta: Pustaka Yustitia, hal.179.
Penulisan
Hukum,
Projodikoro R. Wirjono, Perbuatan Melanggar Hukum, Bandung:
Sumur 1994.
Prisnt Darwin, Strategi Menyusun Dan Menangani Gugatan Perdata,
Citra Aditya Bakti, 2002, Hlm 134-135.
Saebani Beni Ahmad, 2000,Metode Penelitian Hukum, Bandung:
Pustaka Setia, hal.100.
Sianturi Purnama Tioria, Perlindungan Hukum Terhadap Pembeli
Barang Jaminan Tidak Bergerak Melalui Lelang, Bandung:
Mandar Maju, 2013.
Sibarani Bactiar, Majalah Hukum Privatisasi Lelang, Jurnal Keadilan,
Jakarta : Volume 4 Nomor 1, Tahun 2005/2006.
Soehartono Irawan, 1999,Metode Penelitian Sosial Suatu Teknik
Penelitian Bidang Kesejahteraan Sosial lainnya, Bandung:
Remaja Rosda Karya, hal.63.
Soekanto Soerjono dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif
Suatu Tinjauan Singkat, Edisi I Cet ke VII, Jakarta: Raja Grafindo
Persada, 2003.
Soemitro Rochmant, Peraturan dan Instruksi Lelang, edisi ke-2
Bandung: PT Eresco, 1987.
Waluyo Bambang. Penelitian
Sinar Grafikan. 1996.
Hukum
Dalam
Praktek.
Jakarta:
B. Peraturan Perundang-undangan.
 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata);
 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan
atas Tanah beserta benda-benda yang berkaitan dengan Tanah.
 Vendu Reglement (Undang-undang Lelang) stbl. 1908 No. 189;
 Vendu Intructie (Peraturan Pemerintah tentang Pelaksanaan
Lelang) stbl. 1908 No. 190;
 Peraturan
Menteri
Keuangan
No.
93/PMK.06/2010
tentang
Petunjuk Pelaksaan Lelang;
 Peraturan Menteri Keuangan No.
Perubahan
atas
Peraturan
106/PMK.06/2013 tentang
Menteri
Keuangan
Nomor
93/PMK.06/2010 tentang Petunjuk Pelaksaan Lelang;
 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 174/PMK.06/2010 tentang
tentang Pejabat Lelang Kelas I;
 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 158/PMK.06/2013 tentang
Perubahan
atas
Peraturan
Menteri
Keuangan
Nomor
174/PMK.06/2010 tentang Pejabat Lelang Kelas I;
 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 175/PMK.06/2010 tentang
Pejabat Lelang Kelas II;
 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 159/PMK.06/2013 tentang
Perubahan
atas
Peraturan
Menteri
Keuangan
Nomor
175/PMK.06/2010 tentang Pejabat Lelang Kelas II;
 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 176/PMK.06/2010 tentang
Balai Lelang;
 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 160/PMK.06/2013 tentang
Perubahan
atas
Peraturan
Menteri
Keuangan
Nomor
176/PMK.06/2010 tentang Balai Lelang;
 Peraturan Direktur Jenderal Kekayaan Negara Nomor 6/KN/2013
tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Lelang;
 Yurisprudensi Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor
323/K/Sip/1968;
 Yurisprudensi Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor
821/K/Sip/1974.
Download