Strategi Community Relations dalam Membentuk Perilaku Khalayak

advertisement
Kalbisocio,Volume 2 No.2 Agustus 2015
ISSN 2356 - 4385
Strategi Community Relations
dalam Membentuk Perilaku Khalayak
Dewanti Pertiwi1), Davis Roganda Parlindungan2)
Ilmu Komunikasi, Institut Teknologi & Bisnis Kalbis
Jalan Pulomas Selatan Kav 22 Jakarta Timur 13210
1)
Email: [email protected]
2)
Email: [email protected]
Abstract: Community relations is a form of corporate social responsibility to the environment that
should be able to develop the community. Therefore, community relations must be sustainable and
long-term. As did PT Kalbe Farma, as a pharmaceutical company, Kalbe held one of the activities
of the community relations through the program held in SDN PHBS Sukaresmi 06 Cikarang Selatan.
This research aims to know the strategies undertaken by PT Kalbe Farma in running community
relations through PHBS program in 06 Sukaresmi SDN with qualitative methods and colleted data by
in-depth interview, observation and documentation. From the result of this research, strategies that
conducted by Kalbe, first first is to select the audience that was in the ring one Kalbe factory. Secondly,
by implementing the four pillars Kalbe ( health, education, environment and infrastructure ) into the
program and the last is by empowering employees to play an active role in PHBS program.
Keywords: corporate social responsibility, community relatis, public relations, healthy behavior
Abstrak: Community relations merupakan bentuk tanggung jawab sosial perusahan terhadap
lingkungannya yang seharusnya dapat mengembangkan masyarakat. Oleh sebab itu, community
relations harus bersifat sustainable dan berjangka panjang. Seperti yang dilakukan PT Kalbe Farma,
sebagai perusahaan yang bergerak dibidang kesehatan, Kalbe mengadakan salah satu kegiatan
community relations melalui program PHBS yang diadakan di SDN Sukaresmi 06 Cikarang Selatan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi yang dilakukan oleh Kalbe dalam menjalankan
community relations untuk mengubah perilaku khalayak melalui program PHBS di SDN Sukaresmi 06
dengan metode kualitatif serta pengumpulan data yang berupa wawancara mendalam, observasi dan
dokumentasi. Dari hasil penelitian ini, strategi yang dilakukan Kalbe yang pertama adalah dengan
memilih khalayak yang berada di ring satu pabrik Kalbe, yaitu di Kelurahan Cikarang Selatan.
Kedua, dengan mengimplementasikan keempat pilar kalbe (kesehatan, pendidikan, lingkungan dan
infrasturktur) ke dalam program ini dan terakhir adalah dengan memberdayakan karyawan agar
berperan aktif dalam program PHBS ini.
Kata kunci: tanggung jawab sosial, hubungan komunitas, public relation, perilaku hidup sehat
I. PENDAHULUAN
Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah
satu unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan
sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia,
sebagaimana dimaksud dalam Pancasila dan UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945. Berkaitan dengan hal itu, Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang
Kesehatan menyatakan bahwa derajat kesehatan
masyarakat yang setinggi-tingginya dicapai melalui
pembangunan kesehatan (Kemenkes RI, 2011 : 34).
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia
selaku instansi yang menjadi ujung tombak
kesehatan masyarakat Indonesia mempunyai
misi untuk mewujudkan masyarakat sehat yang
mandiri dan berkeadilan. Visi ini dikukuhkan dan
dituangkan kedalam empat misi yang salah satunya
adalah meningkatkan kesehatan masyarakat melalui
pemberdayaan masyarakat, termasuk swasta dan
masyarakat madani.
Misi
pembangunan
kesehatan
tersebut
diwujudkan
dengan
menggerakkan
dan
memberdayakan masyarakat untuk memiliki Perilaku
Hidup Bersih dan Sehat atau disingkat PHBS.
Karena pada umumnya setiap masalah kesehatan
disebabkan tiga faktor yang timbul secara bersamaan,
yaitu (1) adanya bibit penyakit atau pengganggu
132
1. Dewanti Pertiwi (Komu).indd 132
25/02/2016 13:54:10
Dewanti Pertiwi, Strategi Community Relations dalam Membentuk Perilaku ...
lainnya; (2) adanya lingkungan yang memungkinkan
berkembangnya bibit penyakit; dan (3) adanya
perilaku hidup manusia yang tidak peduli terhadap
bibit penyakit dan lingkungannya. Oleh sebab itu,
sehat dan sakitnya seseorang sangat ditentukan oleh
perilaku hidup manusia itu sendiri (Kemenkes RI,
2011: 36).
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
merupakan program yang dilaksanakan oleh
Kementrian Kesehatan dalam upaya mengubah
perilaku masyarakat agar mendukung peningkatan
derajat kesehatan. PHBS ini dilaksanakan di
berbagai tatanan sosial seperti rumah tangga, tatanan
pendidikan, tatanan tempat umum dan tatanan
fasilitas kesehatan. Salah satu tatanan sosial yang
berpengaruh terhadap pembentukan perilaku hidup
bersih dan sehat adalah di tatanan pendidikan,
terutama pada pendidikan Sekolah Dasar. Sebagai
lembaga pendidikan yang berperan penting dalam
pembentukan perilaku anak, ternyata masih banyak
masalah kesehatan yang terdapat di Sekolah Dasar
(SD), sebanyak 86% murid memiliki masalah pada
gigi, 53% tidak biasa potong kuku, 42% murid yang
tidak biasa menggosok gigi, dan 8% murid yang
tidak mencuci tangan sebelum makan. Selain itu
data penyakit yang diderita oleh anak sekolah terkait
perilaku seperti cacingan adalah sebesar 60 – 80 %,
dan caries gigi sebesar 74,4% (Kemenkes RI 2008
menurut penelitian Nadia, 2012 : 56).
Masalah-masalah kesehatan dan penyakit yang
diderita oleh anak tersebut dapat diatasi dan dicegah
dengan penerapan PHBS. Oleh sebab itu, penting
bagi lembaga untuk memberikan pendidikan dan
pengetahuan tentang PHBS kepada siswa-siswi SD
agar mereka dapat mempraktekkan dan membiasakan
diri untuk berperilaku hidup bersih dan sehat sejak
dini. Dalam hal ini, meskipun program PHBS
dilaksanakan oleh pemerintah tetapi tidak menutup
kemungkinan bagi pihak swasta baik organisasi profit
maupun non profit untuk turut mengkampanyekan
perilaku hidup bersih dan sehat.
Seperti yang dilakukan PT Kalbe Farma, sebagai
perusahaan yang bergerak di bidang kesehatan, PT
Kalbe Farma turut mengkampanyekan PHBS di
Sekolah Dasar sebagai wujud dari tanggung jawab
sosial perusahaan. Program PHBS ini termasuk
salah satu bentuk kegiatan community relations,
karena khalayak dari program ini adalah siswa-siswa
SDN Sukaresmi 06 Kecamatan Cikarang Selatan,
Kabupaten Bekasi, yang berada dekat dengan
kawasan pabrik PT. Kalbe Farma. Sehingga bila
ditinjau dari lokasinya, SDN Sukaresmi 06 termasuk
dalam komunitas PT. Kalbe Farma karena berada di
lokasi yang sama.
Program PHBS yang dilakukan di SDN
Sukaresmi 06, Cikarang Selatan ini berlangsung pada
bulan April hingga Juni 2013 dengan serangkaian
acara yang diadakan setiap minggu. Rangkaian acara
ini mengacu pada indikator PHBS di tatanan sekolah,
yaitu menggosok gigi, mencuci tangan menggunakan
sabun, mengonsumsi makanan sehat, membuang
sampah di tong sampah yang sesuai dengan jenisnya,
olahraga dan lingkungan sekolah yang bersih. Jadi,
setiap minggunya PT. Kalbe Farma mengusung tema
sesuai dengan indikator PHBS di tatanan sekolah
satu per satu. Adanya program PHBS yang dibuat
tidak hanya sekedar untuk menjaga hubungan baik
perusahaan dengan komunitas yang berada disekitar
kawasan industri, tetapi lebih jauh dari itu, perusahaan
memiliki tanggung jawab sosial dalam membangun
komunitas yang berada disekitarnya agar bisa
berkembang. Pengembangan yang dilakukan pada
program ini lebih mengarah pada perubahan perilaku
siswa-siswi SDN Sukaresmi 06, Cikarang Selatan,
Bekasi, agar bisa berpola hidup bersih dan sehat.
Sehingga, sebelum melaksanakan program PHBS
ini PT Kalbe Farma tentunya memiliki perencanaan
program, strategi dan tahapan-tahapan hingga
akhirnya program yang berbasis community relations
ini dilaksanakan di SDN Sukaresmi 06, Cikarang
Selatan, Bekasi. Oleh sebab itu, peneliti tertarik
untuk melakukan penelitian yang berjudul “Strategi
Community Relations dalam Membentuk Perilaku
Khalayak.”
Bedasarkan latar belakang yang telah diuraikan,
maka permasalahan yang dikemukakan penelitian ini
adalah bagaimana strategi PT Kalbe Farma dalam
menjalankan community relations melalui program
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di SDN Sukaresmi
06 Cikarang Selatan? Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui strategi apa saja yang dilakukan oleh
PT Kalbe Farma dalam menjalankan community
relations melalui program Perilaku Hidup Bersih dan
Sehat di SDN Sukaresmi 06.
II. METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Kata metodologi (methodology) secara garis
besar dapat diartikan sebagai keseluruhan cara
berpikir yang digunakan peneliti untuk menemukan
jawaban atas pertanyaan-pertanyaan penelitian.
Dengan demikian, metodologi meliputi cara pandang
dan prinsip berpikir mengenai gejala yang diteliti,
133
1. Dewanti Pertiwi (Komu).indd 133
25/02/2016 13:54:10
Kalbisocio,Volume 2 No.2 Agustus 2015
pendekatan yang digunakan, prosedur ilmiah yang
ditempuh, termasuk dalam mengumpulkan data,
analisis data dan penarikan kesimpulan (Pawito,
2008: 83). Menurut Kriyantono (2010: 56-57) riset
kualitatif bertujuan untuk menjelaskan fenomena
dengan sedalam-dalamnya melalui pengumpulan data
sedalam-dalamnya. Riset ini tidak mengutamakan
besarnya populasi atau sampling bahkan populasi
atau samplingnya sangat terbatas. Jika data yang
terkumpul sudah mendalam dan bisa menjelaskan
fenomena yang diteliti, maka tidak perlu mencari
sampling lainnya. Disini yang lebih ditekankan
adalah persoalan kedalaman (kualitas) data bukan
banyaknya (kuantitas) data.
Menurut Noor (2013: 34-37), dalam penelitian
kualitatif, peneliti merupakan instrumen kunci. Oleh
sebab itu peneliti harus memiliki bekal teori dan
wawasan yang luas sehingga dapat menguasai bidang
yang ditelitinya dengan baik. Landasan teori dalam
penelitian ini dimanfaatkan sebagai pemandu agar
fokus penelitian sesuai dengan fakta dilapangan.
Selain itu, landasan teori juga bermanfaat untuk
memberikan gambaran umum latar penelitian
dan sebagai bahan pembahasan hasil penelitian.
Penelitian kualitatif berangkat dari teori menuju data,
memanfaatkan teori yang ada sebagai bahan penjelas
dan berakhir dengan suatu teori.
Penelitian kualitatif memiliki 6 jenis yaitu
studi deskriptif, studi kasus, biografi, fenomenologi,
grounded theory dan etnografi. Penelitian ini berjenis
studi deskriptif. Melalui penelitian deskriptif, peneliti
berusaha mendeskripsikan peristiwa dan kejaidan
yang menjadi pusat perhatian tanpa memberikan
perlakuan khusus terhadap peristiwa tersebut.
Secara umum, teknik pengambilan sampel
terbagi menjadi dua yaitu probabilty sampling dan non
probability sampling. Probability sampling adalah
teknik pengambilan sampel yang memberikan peluang
yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk
dipilih menjadi anggota sampel. Teknik ini meliputi
simple random sampling, proportionate startified
random sampling, disproportionate stratified
random dan sampling area (cluster). Sedangkan
non probability sampling adalah teknik pengambilan
sampel yang tidak memberi peluang/kesempatan
yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk
dipilih menjadi anggota sampel. Teknik ini meliputi
sampling sistematis, kuota, aksidental, purposif,
jenuh dan snowball (2013: 42-44),
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan
teknik non probabilty sampling, karena tidak semua
karyawan PT Kalbe Farma terlibat dalam PHBS
sehingga karyawan-karyawan maupun pihak lain
yang tidak terlibat dalam proses perencanaan PHBS
tidak mempunyai kesempatan untuk dijadikan
sampel/informan. Peneliti menentukan informan
secara purposif yaitu memilih pihak-pihak yang
memiliki kompetensi, mempunyai data, dan memiliki
keterkaitan dengan permasalahan dan tujuan dari
penelitian kampanye Perilaku Hidup Bersih dan
Sehat. Informan ataupun sumber data adalah pihakpihak dari PT. Kalbe Farma yang berkepentingan
dan bertanggung jawab terhadap jalannya kampanye
PHBS di SDN Sukaresmi 06.
Dalam penelitian kualitatif, penentuan unit
sampel penentuan unit sampel/informan sudah
dianggap cukup dan memadai apabila data sudah
jenuh, yaitu peneliti sudah tidak memperoleh data
yang baru dari berbagai informan. Bila pemilihan
informan benar-benar jatuh pada subyek yang
menguasai situasi sosial yang diteliti (obyek), maka
merupakan keuntungan bagi peneliti, karena tidak
memerlukan banyak sampel/informan lagi sehingga
penelitian tersebut tidak memakan waktu yang
banyak. Jadi, yang menjadi kepedulian bagi peneliti
kualitatif adalah tuntasnya perolahan informasi
dengan keragaman variasi yang ada, bukan banyaknya
sampel sumber data (Sugiyono, 2013: 221)
B. Teknik Pengumpulan Data
Menurut Kriyantono (2010: 42), data primer
adalah data yang diperoleh dari sumber data pertama
atau tangan pertama dilapangan. Sumber data ini
bisa responden atau subjek riset, dari hasil pengisian
kuesioner, wawancara dan observasi. Dalam
mengumpulkan data primer ini peneliti menggunakan
wawancara mendalam dan observasi partisipatif.
Didalam observasi partisipatif, peneliti terlibat
dengan kegiatan sehari-hari yang digunakan sebagai
sumber data yang sedang diamati atau yang digunakan
sebagai sumber data penelitian. Sambil melakukan
pengamatan, peneliti ikut melakukan apa yang
dilakukan oleh sumber data, dan ikut merasakan suka
dukanya. Dengan observasi partisipan ini, maka data
yang diperoleh akan lebih lengkap, tajam, dan sampai
mengetahui pada tingkat makna dari setiap perilaku
yang tampak. Observasi ini dapat digolongkan
menjadi empat, yaitu partisipatif pasif, partisipatif
moderat, observasi terus terang dan tersamar, dan
observasi lengkap. Peneliti menggunakan observasi
moderat, peneliti dalam mengumpulkan data ikut
observasi partisipatif dalam beberapa kegiatan tetapi
tidak semuanya (Sugiyono, 2013: 227).
Menurut Kriyantono (2010: 102), wawancara
mendalam adalah salah satu cara mengumpulkan data
134
1. Dewanti Pertiwi (Komu).indd 134
25/02/2016 13:54:10
Dewanti Pertiwi, Strategi Community Relations dalam Membentuk Perilaku ...
atau informasi dengan cara langsung bertatap muka
dengan informan agar mendapatkan data lengkap
dan mendalam. Wawancara ini dilakukan dengan
frekuensi tinggi (berulang-ulang) secara intensif.
Pada wawancara ini, pewawancara relatif tidak
mempunyai kontrol atas respons informan, artinya
informan bebas memberikan jawaban.
Data sekunder adalah data yang bukan
diusahakan sendiri pengumpulannya oleh peneliti
misalnya berupa data dari biro statistik, artikel
majalah, koran, keterangan-keterangan atau publikasi
lainnya yang berhubungan dengan masalah penelitian.
Data ini juga dapat diperoleh dari data primer
penelitian terdahulu yang telah diolah lebih lanjut
menjadi bentuk-bentuk seperti tabel, grafik, diagram,
gambar, dan sebagainya sehingga menjadi informatif
bagi pihak lain (Kriyantono, 2010: 42). Data sekunder
yang dikumpulkan oleh peneliti adalah dokumentasidokumentasi yang dimiliki oleh PT Kalbe Farma.
C. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah analisis data kualitatif, mengikuti
konsep yang diberikan Miles and Huberman. Miles
and Huberman mengemukakan bahwa aktivitas dalam
analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan
berlangsung secara terus menerus pada setiap tahapan
penelitian sampai tuntas, dan datanya sampai jenuh.
Aktivitas dalam analisis data yaitu data reduction,
data display dan conclusion drawing/verification
(Pawito, 2008: 104).
Reduksi data (data reduction) bukan asal
membuang data yang tidak diperlukan, melainkan
merupakan upaya yang dilakukan oleh peneliti
selama analisis data dilakukan dan merupakan
langkah yang tak terpisahkan dari analisis data.
Langkah reduksi data melibatkan beberapa tahap.
Tahap pertama, melibatkan langkah-langkah editing,
pengelompokkan dan meringkas data. Pada tahap
kedua, peneliti menyusun kode-kode dan catatancatatan (memo) mengenai berbagai hal, termasuk
yang berkenaan dengan aktivitas serta proses-proses
sehingga peneliti dapat menemukan tema-tema,
kelompok-kelompok, dan pola-pola data. Catatan
yang dimaksudkan disini adalah gagasan-gagasan atau
ungkapan yang mengarah pada teorisasi berkenaan
dengan data yang ditemui. Catatan mengenai data
atau gejala tertentu dapat dibuat sepanjang satu
kalimat, satu paragraf atau mungkin sepanjang satu
paragraf. Kemudian pada tahap terakhir dari reduksi
data, peneliti menyusun rancangan konsep-konsep
(mengupayakan konseptualisasi) serta penjelasan-
penjelasan berkenaan dengan tema, pola atau
kelompok-kelompok data bersangkutan. Dalam
komponen reduksi data ini kelihatan bahwa peneliti
akan mendapatkan data yang sangat sulit untuk
diidentifikasi pola serta temanya, atau mungkin
kurang relevan untuk tujuan penelitian sehingga datadata bersangkutan terpaksa harus disimpan (diredusir)
dan tidak termasuk yang akan dianalisis.
Komponen kedua analisis interaktif dari Miles
dan Huberman, yakni penyajian data (data display)
melibatkan langkah-langkah mengorganisasikan
data, yakni menjalin (kelompok) data yang satu
dengan (kelompok) data yang lain sehingga seluruh
data yang dianalisis benar-benar dilibatkan dalam
suatu kesatuan karena dalam penelitian kualitatif
biasanya beraneka ragam perspektif dan terasa
bertumpuk maka penyajian data pada umumnya
diyakini sangat membantu proses analisis. Dalam
hubungan ini, data yang tersaji berupa kelompokkelompok atau gugusan-gugusan yang kemudian
saling dikait-kaitkan sesuai dengan kerangka teori
yang digunakan. Penting diingat disini bahwa
kegagalan dalam mengupayakan display data secara
memadai akan menyulitkan peneliti dalam membuat
analisis-analisis. Gambar-gambar dan diagram yang
menunjukkan keterkaitan antara gejala satu dengan
gejala lain sangat diperlukan untuk kepentingan
analisis data.
Pada komponen terakhir, yakni penarikan
dan
pengujian
kesimpulan
(drawing
and
verifying conclusions), peneliti pada dasarnya
mengimplementasikan prinsip induktif dengan
mempertimbangkan pola-pola data yang ada dan atau
kecenderungan dari display data yang telah dibuat.
III. PEMBAHASAN
Sebuah perusahaan pasti memiliki visi, misi dan
tujuan. Hal ini penting karena visi, misi dan tujuan
adalah sebuah pedoman atau landasan kemana
perusahaan akan melangkah, apa yang ingin dicapai
dan ingin seperti apa perusahaan tersebut dalam
lima atau sepuluh tahun mendatang. Visi, misi dan
tujuan juga berperan dalam menciptakan sinergi
antar departemen-departemen yang ada didalam
perusahaan agar dapat menjalankan tugasnya masingmasing tetapi bertitik pada ujung yang sama, yaitu
visi dari perusahaan tersebut.
Seperti PT Kalbe Farma, Kalbe mempunyai
visi menjadi perusahaan produk kesehatan Indonesia
terbaik yang didukung oleh inovasi, merek yang
kuat, dan manajemen yang prima. Visi ini disokong
135
1. Dewanti Pertiwi (Komu).indd 135
25/02/2016 13:54:10
Kalbisocio,Volume 2 No.2 Agustus 2015
dengan misinya yaitu meningkatkan kesehatan untuk
kehidupan yang lebih baik. Agar visi dan misi ini
dapat terwujud, maka perlu adanya sinergi antar
setiap divisi yang ada di Kalbe dalam menjalankan
tugas-tugasnya. Salah satunya yang berperan
besar dalam menjalankan misi perusahaan adalah
Corporate Social Responsibility (CSR) yang berada
dibawah Divisi Corporate Communication. Untuk
menjalankan misi tersebut agar tetap sejalan dan
sesuai, CSR Kalbe memiliki tujuan yang terbagi
menjadi dua yang ditinjau dari khalayaknya, yaitu
internal dan eksternal. Tujuan internal dari CSR adalah
menanamkan kesadaran sosial karyawan, sedangkan
tujuan eksternal adalah memberikan pelayanan sosial
kepada stakeholder
Di Indonesia, pelaksanaan CSR mulai marak
dilaksanakan setelah adanya perundang-undangan
yang ditetapkan pada tahun 2007, yaitu UU Nomor
40 tahun 2007 pasal 74 ayat 1 yang berbunyi
“Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di
bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam
wajib melaksanakan Tanggung Jawab Sosial dan
Lingkungan.”
Meskipun demikian, Kalbe melaksanakan CSR
tidak semata-mata karena peraturan perundanganundangan tersebut. Jauh sebelum ditetapkannya UU
tersebut, diumurnya yang sudah 47 tahun, Kalbe
melaksanakan CSR dengan mengadakan berbagai
pengobatan gratis. Kegiatan CSR ini didasari oleh
kesadaran Kalbe untuk melakukan suatu wujud
tanggung jawabnya terhadap stakeholder, sesuai
dengan nilai Panca Sradha yang kedua yaitu
kesadaran.
Menurut Azheri (2011: 88-90), suatu perusahaan
dalam menjalankan CSR dibedakan menjadi dua,
yaitu atas dasar responsibility dan liabilty. Dalam
pengertian dan penggunaan praktisnya, liability lebih
merujuk pada pertanggungjawaban hukum, yaitu
tanggung gugat karena kesalahan yang dilakukan
oleh subjek hukum. Sedangkan responsibility lebih
mengarah pada pertanggungjawaban sosial. Dapat
disimpulkan bahwa dalam melaksanakan CSRnya,
PT Kalbe termasuk kedalam responsibility, karena
Kalbe melakukan kegiatan CSR atas dasar kesadaran
dan kesukarelaannya dalam menunjukkan tanggung
jawabnya kepada stakeholder.
Pada perusahaan Kalbe, divisi Public relations
bernama Corporate communications. Corporate
Communications ini dibagi menjadi tiga bagian,
yaitu external communications yang salah satunya
berhubungan dengan media, internal communications
yang berhubungan dengan internal Kalbe seperti
anak perusahaan-anak perusahaan yang dimiliki
Kalbe dan Corporate Social Responsibility yang
berhubungan dengan sosial. Ketiga bagian Corporate
Communications itu masing-masing menjalankan
peran dan fungsi public relations di dalam perusahaan.
Jika ditinjau secara teori, Corporate
communication di Kalbe memang menjalankan peran
PR sebagai mana yang dikemukan oleh Onong (1992)
yang terdapat dalam buku Kampanye Public Relations
(Ruslan, 2007: 9-10) adalah sebagai berikut:
1. Menunjang kegiatan manajemen dalam mencapai
tujuan organisasi
2.Membina hubungan harmonis antara organisasi
dengan publik internal dan publik eksternal
3.
Menciptakan komunikasi dua arah dengan
menyebarkan informasi dari organisasi kepada
publiknya dan menyalurkan opini publik kepada
organisasi
4.
Melayani publik dan menasihati pimpinan
organisasi demi kepentingan umum.
5.Operasionalisasi dan organisasi public relations
adalah bagaimana membina hubungan harmonis
antara organisasi dengan publiknya, untuk
mencegah terjadinya rintangan psikologis, baik
yang ditimbulkan dari pihak organisasi maupun
dari pihak publiknya.
Menurut Iriantara (2007: 61), telah terjadi
pergeseran filosofi dalam cara menjalankan bisnis yang
membawa perubahan dalam cara pandang terhadap
publik atau komunitas. Apalagi kini, manajemen
strategis yang diterapkan dalam pengelolaan
organisasi sehingga lingkungan eksternal organisasi
pun dipandang sama pentingnya dengan lingkungan
internal organisasi dalam proses pencapaian tujuan.
Dalam konteks ini, terjadi perubahan peran PR dalam
menjalin hubungan dengan komunitas. Implementasi
konsep CSR yang salah satu dimensinya berkenaan
dengan keterlibatan komunitasnya, mendorong
praktisi PR untuk bisa bekerja sama-sama demi
kemaslahatan bersama. Hubungan komunitas tidak
lagi dibangun dengan membagi-bagikan sumbangan
atau memberikan sponsorship belaka melainkan
bisa dalam bentuk keterlibatan dalam program atau
kegiatan pengembangan masyarakat (community
development).
Dengan demikian, strukturisasi Corporate
communications Kalbe yang dipisah menjadi tiga
bagian didasarkan oleh publik yang dihadapinya,
salah satunya adalah divisi CSR yang berhadapan juga
bekerjasama dengan masyarakat sekitar dalam suatu
community relations yang berujung pada community
development. Oleh sebab itu, Kalbe memiliki
136
1. Dewanti Pertiwi (Komu).indd 136
25/02/2016 13:54:10
Dewanti Pertiwi, Strategi Community Relations dalam Membentuk Perilaku ...
kegiatan-kegiatan CSR yang berupa philantrophy
dan sustainabiliy serta empat pilar khusus dalam
menjalankan CSR:
1. Kesehatan, sejalan dengan kegiatan usaha utama
Kalbe dan keyakinan Perseroan bahwa akses
pada layanan kesehatan merupakan hak bagi setiap
individu;
2.
Pendidikan, yang fokus pada inisiatif
pengembangan pendidikan, sebagai salah satu
faktor kunci kemajuan sebuah bangsa;
3.
Lingkungan, yang bertanggung jawab pada
pelaksanaan
komitmen
Perseroan
untuk
memelihara lingkungan yang sehat untuk hidup
yang lebih baik;
4.Sarana dan Prasarana, realisasi dari keputusan
Kalbe untuk turut berperan dalam pembangunan
infrastruktur untuk meningkatkan akses pada
layanan kesehatan, pendidikan dan lingkungan
yang
berkualitas, berdasarkan prinsip
pembangunan bersama masyarakat.
A. Analisis Perencanaan Program
Dalam perencanaaan program, Iriantara (2011:
109-110) membaginya kedalam dua bagian, yaitu
perencanaan strategis dan perencanaan operasional.
Perencanaan strategis bersifat jangka panjang. Dalam
konteks program community relations, perencanaan
strategis tak bisa dipisahkan dari rencana strategis
organisasi secara keseluruhan. Rencana strategis
organisasi secara keseluruhan itu kemudian
dijabarkan ke dalam rencana strategis bagian atau
divisi PR organisasi itu. Pada salah satu bagian dari
rencana strategis PR itulah dikembangkan rencana
strategis untuk program community relations. Karena
itu selalu ada keterkaitan antara tujuan organisasi dan
tujuan dalam program-program community relations
dari organisasi.
Teori yang diberikan oleh Iriantara diatas sejalan
dengan apa yang dilakukan oleh Kalbe dalam proses
perencanaan program, yaitu dengan menyesuaikan
tujuan perusahaan secara umum. Lima tahun kedepan
ini scientific persuit, dengan misi perusahaan improve
health for a better life sehingga semua program yang
dibuat harus sesuai dengan misi dan tujuan tersebut.
Perencanaan program selanjutnya dimatangkan
dan dideskripsikan lagi dengan menentukan strategi.
Strategi merupakan suatu arah dan kebijaksanaan
untuk pencapaian tujuan organisasi, yang melibatkan
peran dan tanggung jawab anggota. Dalam
menetapkan strategi ini kurun waktu pelaksanaan
kita tetapkan berdasarkan program jangka panjang
dan jangka pendek. Dalam perencanaan ini harus
dapat dilaksanakan serta di-implementasikan secara
konsisten, dan hasil yang ingin dicapai benar-benar
memenuhi sasaran yang akhirnya akan dievaluasi
keberhasilannya(http://www.bunghatta.ac.id/
artikel/192/perencanaan-program-dan-penyusunanusulan-kegiatan.html, diakses 27 Januari 2014)
Strategi yang dilakukan Kalbe adalah dengan
menggunakan sumber daya yang dimiliki. Jadi,
Kalbe melibatkan karyawan-karyawannya untuk
melaksanakan community relations. Selain itu, Kalbe
juga mencari partner dari pihak luar untuk mencari ide
apa saja program yang akan baik untuk dilaksanakan
sesuai dengan visi, misi dan tujuan Kalbe.
Strategi ini tentunya sejalan dengan tujuan
internal dari CSR Kalbe, yaitu menumbuhkan
kesedaran dan kepedulian sosial karyawan. Selain
itu, hal ini juga memberikan manfaat baik kepada
perusahaan, maupun kepada karyawan secara
individu. Seperti di dalam buku Community
Relations Konsep dan Aplikasinya (Iriantara, 2007:
67), Rogovsky (2000: 17) menyebutkan manfaat
keterlibatan komunitas dan perusahaan yaitu:
1.Reputasi dan citra organisasi yang lebih baik
2.Lisensi untuk beroperasi’ secara social
3.Memanfaatkan pengetahuan dan tenaga local
4.Keamanan yang lebih besar
5.Infrastuktur dan lingkungan sosio-ekonomi yang
lebih baik
6.Menarik dan menjaga personel berkaliber tinggi
untuk memiliki komitmen yang tinggi
7.Menarik tenaga kerja, pemasok, pemberi jasa dan
mungkin pelanggan lokal yang bermutu
Dalam
menentukan
khalayak
sasaran
community relations, ada dua hal yang menjadi
bahan pertimbangan dan prioritas Kalbe. Pertama,
penentuan khalayak sasaran yang akan dibina lebih
diprioritaskan kepada komunitas yang berada di
ring satu Kalbe, yaitu satu kelurahan. Lalu ring
dua, ring tiga dan berikutnya. Hal ini dikarenakan
adanya peraturan dari Kementrian Lingkungan
Hidup terkait Proper (Program Penilaian Peringkat
Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan
Hidup) yang menyangkut lisensi dan kemudahan
izin beroperasi. Kedua, penentuan khalayak ini
disesuaikan juga dengan visi dan misi perusahaan.
B. Analisis Tahapan Community Relations
Menurut Iriantara (2007: 79-80), community
relations bisa dipandang berdasarkan dua pendekatan.
Pertama, dalam konsep public relations lama yang
memposisikan organisasi sebagai pemberi donasi,
137
1. Dewanti Pertiwi (Komu).indd 137
25/02/2016 13:54:10
Kalbisocio,Volume 2 No.2 Agustus 2015
maka program community relations hanyalah
bagian dari aksi komunikasi dalam proses public
relations. Bila berdasarkan fakta dan perumusan
masalah ditemukan bahwa permasalahan yang
mendesak adalah menangani komunitas, maka dalam
perencanaan akan disusun program community
relations. Ini kemudian dijalankan melalui aksi dan
komunikasinya saja.
Ada pun pendekatan yang kedua adalah dengan
memposisikan komunitas sebagai mitra. konsep
komunitasnya tidak hanya sekedar kumpulan orang
yang berdiam di sekitar wilayah operasi organisasi.
Community relations dianggap sebagai program
tersendiri yang merupakan wujud dari tanggung jawab
sosial organisasi. Disini, organisasi menampilkan sisi
sebagai suatu lembaga sosial yang bersama-sama
dengan komunitas berusaha untuk memecahkan
masalah yang dihadapi oleh komunitas. Organisasi
dan komunitas sama-sama memberi sumber daya
yang dimilikinya untuk memecahkan permasalahan
dan mencapai tujuan kemaslahatan bersama.
Berdasarkan pendekatan kedua ini, menurut
Iriantara (2007:80), dengan menggunakan tahapantahapan public relations yang bersifat siklis maka
program dan kegiatan community realtions organisasi
pun akan melalui tahapan-tahapan berikut:
1.Pengumpulan fakta
2.Perumusan masalah
3.Perencanaan dan pemograman
4.Aksi dan komunikasi
5.Evaluasi
Berdasarkan
tahapan-tahapan
yang
dikemukakan oleh Iriantara ini, hasil wawancara
penulis dengan informan I, Bapak Victor Taruli
menyimpulkan bahwa Kalbe dalam merencanakan
program community relationsnya, khususnya
program PHBS yang dilakukan di SDN Sukaresmi 06
ini sesuai dengan tahapan teori community relations.
Berikut penjabarannya:
1. Pengumpulan Fakta
Dalam mengumpulkan fakta, perusahaan
mencari tahu apa yang menjadi masalah sosial yang
dihadapi masyarakat dan bagaimana cara perusahaan
mencari tahu masalah sosial tersebut. Permasalahan
sosial penting diketahui untuk menentukan langkah
dan solusi apa yang akan dijalankan oleh perusahaan
dalam hal community relations.
Pada program PHBS ini, Kalbe sengaja mengajak
pihak luar untuk menggarap program. Pihak ketiga
yang melaksanakan program ini adalah Nurani Dunia,
sebuah lembaga nonprofit yang menyelenggarakan
bantuan kemanusiaan yang diketuai oleh Imam B.
Prasodjo, PhD. Dari data sekunder yaitu dokumentasi
yang berupa proposal yang berjudul “Program
Pengembangan Masyarakat Responsif di Cikarang
Selatan, Bekasi, Jawa Barat” yang diajukan oleh
pihak Nurani Dunia selaku partner, permasalahan
sosial yang terjadi di SDN Sukaresmi 06 adalah
kesenjangan antara sekolah swasta yang memiliki
perlengkapan sekolah yang sangat memadai untuk
belajar dengan sekolah negeri atau sekolah swasta
lokal yang perlengkapan belajarnya sangat terbatas,
tetapi memiliki banyak siswa. Hal ini dikarenakan
SDN Sukaresmi 06 ini berada di Cikarang Selatan
yang merupakan salah satu kawasan industri di
wilayah Jabodetabek, sehingga perekonomian di
Cikarang Selatan berkembang cukup pesat namun
juga memiliki menjadi masalah sosial berupa adanya
kesenjangan sosial yang cukup tinggi antara penduduk
lokal dan penduduk pendatang.
Dalam Laporan Pertanggungjawaban Nurani
Dunia per bulan Oktober – Desember 2010, Nurani
Dunia mengidentifikasi masalah-masalah sosial yang
terjadi dengan menggunakan metode diskusi internal,
kunjungan lapangan, pemetaan dan pendataan,
diskusi publik dan wawancara, studi pustaka dan
studi banding, serta presentasi.
2. Perumusan Masalah
Menurut Iriantara (2007: 82) dalam merumuskan
masalah itu kita harus mulai memfokuskan pada
komunitas organisasi. Bila komunitasnya dirumuskan
secara sederhana, berarti komunitas berdasarkan
lokasi yakni komunitas sekitar wilayah operasi
organisasi. Namun bila komunitasnya dipandang
sebagai struktur interaksi maka komunitas tersebut
lepas dari pertimbangan lokasi, tetapi lebih pada
pertimbangan kepentingan.
Dalam program PHBS ini Kalbe berfokus pada
komunitas berdasarkan lokasi, hal ini merupakan
strategi Kalbe dalam menjalankan CSR. Yaitu dengan
menentukan target khalayak bedasarkan ring. SDN
Sukaresmi 06 terletak pada ring satu Kalbe yang
berada satu kelurahan.
3. Perencanaan dan Pemograman
Dari dokumentasi proposal “Pengembangan
Masyarakat Responsif di Kecamatan Cikarang
Selatan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat”,
pengembangan sekolah sehat di SDN Sukaresmi
adalah sebagai berikut:
a. Program MCK Sehat
Program MCK sehat adalah program untuk
mendukung sarana MCK yang sehat dan layak bagi
lingkungan sekolah. Pada program lanjutan ini,
138
1. Dewanti Pertiwi (Komu).indd 138
25/02/2016 13:54:11
Dewanti Pertiwi, Strategi Community Relations dalam Membentuk Perilaku ...
beberapa kegiatan yang akan dilakukan adalah:
1.Perbaikan WC lama sebelah barat
2.Pembuatan jalan dan kanopi ke arah MCK yang
dibuat tahun 2011
3.Pengadaan tempat cuci tangan di depan kelas
4. Pengadaan sarana kampanye tentang MCK Sehat
(Kampanye)
5.Lokakarya dan penyuluhan pengelolaan MCK
Sehat
6. Lomba tentang MCK Sehat
b. Program Taman Sehat
Program Taman Sehat adalah program
keberlanjutan taman sehat yang telah dilakukan pada
tahun 2011, yaitu:
1.Penataan lanjutan sarana penghijauan taman,
termasuk taman sayur, taman hias dan taman obat
2.Pengadaan halaman multifungsi yang digunakan
untuk upacara, bermain dan olahraga
3.Pengadaan sarana kampanye Taman Sehat
4.Lokakarya dan penyuluhan Taman Sehat
5.Lomba tentang Taman Sehat
c. Program Pengelolaan Sampah
1.Penambahan tempat pembuangan sampah
2.Pembangunan tempat pengelolaan kompos dan
pemilahan sampah sekolah
3.Pengadaan sarana paket daur ulang sampah
(handycraft)
4.Pengadaan kampanye pengelolaan sampah
5.Lokakarya dan penyuluhan pengelolaan sampah
6.Lomba tentang pengelolaan sampah
d. Program Kantin Sehat
Program ini berusaha mengembangkan budaya
kantin yang sehat. Pada program lanjutan ini, kegiatan
yang akan dilakukan adalah:
1.Pengadaan kampanye Kantin Sehat
2.Lokakarya dan penyuluhan Kantin Sehat
3.Lomba tentang Kantin Sehat
e. Program Kegiatan Belajar Mengajar Sehat
Program ini mendukung berlangsungnya
kegiatan belajar mengajar dikelas secara efektif
dengan mengenalkan program KBM Sehat. Kegiatan
yang akan dilaksanakan adalah:
1.Pengaktifan keterlibatan orang tua
2.Pelatihan manajemen kelas
3.Pengadaan pojok perpustakaan sehat
4.Pengadaan sarana kampanye hidup sehat
5.Lomba tentang KBM Sehat
Jadi, agenda besar dalam program ini tidak
hanya mengkampanyekan PHBS saja, tetapi juga
membangun infrastuktur yang mendukung pola
perilaku hidup bersih dan sehat. Sehingga siswa-siswi
yang telah mendapatkan edukasi tentang pola hidup
bersih dan sehat dapat mempraktekkannya langsung
karena infrastrukturnya sudah mendukung. Dengan
demikian, dalam satu program ini sudah mencakup
empat pilar yang dimiliki Kalbe, yaitu dari segi
pendidikan, kesehatan, lingkungan dan infrastuktur.
Dalam menjalankan program-program yang
telah direncanakan, Kalbe menyediakan fasilitas
demi keberlangsungan program. Fasilitas yang
disediakan adalah dengan pembangunan infrastruktur
yang dapat mendukung siswa-siswi untuk berperilaku
hidup bersih dan sehat. Seperti pembuatan wastafel
guna mendorong mereka untuk rajin bercuci tangan,
pembuatan kantin sehat guna mendukung mereka
untuk memakan makanan sehat. Oleh sebab itu,
program yang berbasis community development ini
tidak bisa dijalankan dalam waktu yang pendek.
Program ini memiliki enam rangkaian acara,
berdasarkan pada enam indikator yang telah ditetapkan.
Dengan siswa yang berjumlah 1.200 orang, tentunya
Kalbe harus mengerahkan sumber daya manusia
yang cukup banyak. Seperti yang telah dijelaskan
sebelumnya, program ini melibatkan pihak ketiga
yaitu Nurani Dunia sebagai tim assessment. Program
ini pun diusulkan dan dipelopori oleh Nurani Dunia,
Kalbe yang memfasilitasi. Namun, sesuai dengan
tujuan internal CSR Kalbe yang ingin menanamkan
kesadaran sosial karyawan, sehingga karyawan Kalbe
diikut sertakan melalui employee engagement. Selain
itu, Kalbe juga mengajak mahasiswa Kalbis Institute
sebagai sukarelawan, hal ini termasuk employee
engagement karena Kalbis Institute berada dalam satu
umberella company dengan Kalbe. Sukarelawansukarelawan kemudian akan menjadi komunikator
yang menjelaskan materi di kelas-kelas. Oleh sebab
itu, sebelum hari pelaksanaan PHBS, mereka di latih
terlebih dahulu.
Khalayak sasaran dari program ini adalah
anak-anak SD yang berusia 6 – 12 tahun, sehingga
untuk menjelaskan materi yang bertolak ukur pada
perubahan pola perilaku mereka, menurut Bapak
Victor Taruli, Kalbe mempunyai taktik khusus agar
pesan yang disampaikan dapat diterima oleh mereka.
Yaitu, dari segi materi Kalbe menyiapkan materi yang
dapat diterima anak-anak dengan mudah, seperti
dengan menyisipkan film-film.
Dari segi komunikator, setiap kegiatan di
kelas minimal ada dua volunteer agar tidak terjadi
kekosongan dan dapat saling mengisi acara. Serta
dalam penyampaiannya, Kalbe memiliki konsep
139
1. Dewanti Pertiwi (Komu).indd 139
25/02/2016 13:54:11
Kalbisocio,Volume 2 No.2 Agustus 2015
edutainment, karena anak-anak memiliki rentang
waktu duduk diam yang pendek, maka kita ajak
mereka untuk selalu berinteraksi dengan bernyanyi,
berjoget serta mengadakan kuis dengan memberikan
mereka rewards.
4. Aksi dan Komunikasi
Menurut Iriantara (2007: 83), aspek aksi
dan komunikasi inilah yang menjadi watak yang
membedakan kegiatan community relations dalam
konteks PR dan bukan PR. Watak PR ditampilkan
lewat kegiatan komunikasi yang bersifar dua arah
yang bertujuan untuk membangun dan menjaga
reputasi dan citra organisasi di mata publiknya.
Karena itu, dalam program community relations
selalu ada aspek bagaimana menyusun pesan yang
ingin disampaikan kepada komunitas, serta melalui
media apa dan dengan cara yang bagaimana.
Teori tersebut sejalan dengan yang dilakukan
Kalbe, karena dalam eksekusinya, pesan yang ingin
disampaikan pada program PHBS ini adalah enam
indikator yang telah diadopsi oleh Kalbe di SDN
Sukaresmi 06, Cikarang Selatan, Bekasi, yaitu cuci
tangan, sikat gigi, pembuangan sampah, 5R, makanan
sehat dan olahraga. Agar pesan ini dapat sampai,
diterima dan diserap oleh target khalayak yang masih
berumur 6 – 12 tahun, Kalbe menggunakan konsep
edutaiment yang menciptakan komunikasi dua arah,
sehingga peserta pun dilibatkan dalam kegiatan ini.
Untuk mendukung konsep edutaiment,
Kalbe menggunakan beberapa media yang
dibutuhkan,seperti laptop, LCD dan speaker karena
media tersebut dapat mendukung penampilan materi
yang berupa film dan powerpoint yang berisi gambargambar.
5. Evaluasi
Evaluasi adalah bagian terakhir yang harus
dilakukan dalam mengakhiri sebuah program.
Dengan adanya evaluasi, kita bisa menentukan
apakah program ini berhasil atau tidak dan bagaimana
keberlanjutan program ini kedepannya. Dalam
konteks community relations, pengevaluasian bukan
hanya dilakukan terhadap penyelenggaraan program
atau kegiatan belaka, melainkan juga mengevaluasi
bagaimana sikap komunitas terhadap organisasi
(Iriantara, 2007: 84).
Pada eksekusinya, pengevaluasian program
PHBS yang dilakukan oleh Kalbe dan Nurani
Dunia ini kurang menuju pada konteks evaluasi
community relations seperti yang ada pada teori. Hal
ini dikarenakan pihak Kalbe maupun Nurani Dunia
hanya mengukur perilaku peserta (siswa-siswi SDN
Sukaresmi 06, Cikarang Selatan, Bekasi) terhadap
pola hidup bersihnya saja, mereka tidak mengevaluasi
feedback dan citra apa yang diperoleh perusahaan
atas keberlangsungannya program ini.
Jadi, tolak ukur keberhasilan program ini
adalah kembali dari penggunaan dan maintanance
infrastuktur yang telah didirikan untuk mendukungnya
pola hidup bersih dan sehat. Program PHBS ini telah
berjalan lancar sebagaimana yang direncanakan,
oleh sebab itu program ini akan diteruskan dengan
melakukan ekspansi ke lima sekolah lainnya
yang berada di ring satu Kalbe, yaitu di kelurahan
Sukaresmi. Kedepannya, dari enam sekolah yang
turut melaksanakan PHBS ini akan dibandingkan
dan diadakan kompetisi, sekolah manakah yang
melaksanakan PHBS paling baik.
IV. SIMPULAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi apa
yang dilakukan Kalbe dalam menjalankan community
relations melalui program PHBS yang dilaksanakan di
SDN Sukaresmi 06, Cikarang Selatan, Bekasi. Setelah
data dikumpulkan dan di analisa bedasarkan langkah
dari model Miles dan Huberman, maka pada langkah
terakhir yang merupakan penarikan kesimpulan ini,
penulis menyimpulkan bahwa strategi-strategi yang
dilakukan Kalbe adalah :
1.Kalbe memilih SDN Sukaresmi 06, Cikarang
Selatan, Bekasi, karena sekolah ini terletak di
ring satu pabrik Kalbe. Pada prinsipnya, segala
aktivitas community relations yang dilakukan,
Kalbe memiliki sistem ring. Ring satu Kalbe
adalah wilayah yang satu kelurahan dengan basis
Kalbe yaitu di Kelurahan Cikarang Selatan. Hal ini
berdampak positif bagi Kalbe. Seperti yang telah
dijelaskan di bab sebelumnya, dalam pelaksanaan
community relations Kalbe memiliki dua tujuan,
yaitu untuk branding atau menciptakan citra yang
baik dimata publik dan untuk melaksanakan aturanaturan yang telah ditetapkan oleh Kementrian
Lingkungan Hidup melalui PROPER (Program
Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam
Pengelolaan Lingkungan Hidup) agar perusahaan
dapat mendapatkan izin operasi dan lisensi.
Kedua hal ini dapat dicapai oleh Kalbe dalam
melaksanakan program PHBS.
2.Bedasarkan empat pilar CSR yang menjadi
landasan Kalbe dalam melakukan kegiatan
CSR, program PHBS ini memiliki cakupan yang
menyeluruh dan holistik. Keempat pilar dapat
terlaksana dan saling berkaitan. Antara pilar
kesehatan, lingkungan, pendidikan dan infrastuktur
140
1. Dewanti Pertiwi (Komu).indd 140
25/02/2016 13:54:11
Dewanti Pertiwi, Strategi Community Relations dalam Membentuk Perilaku ...
ini bersinergi satu sama lain karena program PHBS
ini tidak hanya semata-mata mengajarkan dan
memberikan edukasi kepada siswa-siswi untuk
berpola perilaku bersih dan sehat saja, tetapi
juga Kalbe menyediakan fasilitas agar PHBS ini
dapat berjalan dan diterapkan dalam kehidupan
sehari-hari. Fasilitas yang diberikan yaitu dengan
membangun infrastruktur yang sesuai dengan
indikator PHBS yang telah ditentukan, yaitu
wastafel untuk memfasilitasi siswa-siswi bercuci
tangan, pengadaan tong sampah yang dipisahkan
bedasarkan jenis sampahnya agar mereka tidak
lagi membuang sampah sembarangan serta dapat
membedakan jenis-jenis sampah, pembangunan
kantin sehat, pembuatan MCK yang bersih,
pemberian alat-alat kebersihan dan peremajaan
lingkungan sekolah yang dilakukan secara
bersama-sama antar pihak sekolah, siswa-siswi
dan sukarelawan Kalbe pada saat kegiatan PHBS
yang kelima.
3. Dalam melaksanakan program yang membutuhkan
banyak sumber daya manusia ini, Kalbe
memanfaatkan dan melibatkan karyawannya
untuk turut aktif dan berpartisipasi secara sukarela
mengeksekusi program ini. Hal ini sesuai dengan
teori community relations yang telah dibahas dan
juga membuktikan bahwa strategi yang digunakan
sudah tepat dan sesuai dengan tujuan CSR Kalbe
pada konteks internal, yaitu untuk menanamkan
kesadaran sosial karyawan.
Kriyantono, R. (2010). Teknik Praktis Riset Komunikasi.
Jakarta: Kencana.
Lattimore, D, et al. (2010). Public Relations Teori dan Praktik.
Jakarta: Salemba Humanika
Noor, J. (2013). Metodologi Penelitian: Skripsi, Tesis,
Disertasi dan Karya Ilmiah. Jakarta: Kencana.
Pawito. (2008). Penelitian Komunikasi Kualitatif. Cet.6.
Yogyakarta: LkiS.
Pedoman Pembinaan PHBS. (2011). Jakarta: Kementrian
Kesehatan.
Rachman, N. M. et. al. (2011). Panduan Lengkap Perencanaan
CSR. Jakarta: Penebar Swadaya.
Ruslan, R. (2007). Kiat dan Strategi Kampanye Public
Relations. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif
dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Widjaja. (2010). Komunikasi: Komunikasi dan Hubungan
Masyarakat. Ed.1, Cet.6. Jakarta: Bumi Aksara.
Kementrian Kesehatan RI (2011). Pedoman Pembinaan
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat.
Kriyantono, R. (2010). Teknik Praktis Riset Komunikasi.
Jakarta: Kencana.
Fajri, Choirul. (2011). “Community Relations Pabrik Gula/
Pabrik Spritus Madukismo Kasihan Bantul (Studi
Kasus Tentang Strategi Community Relations Pabrik
Gula/Pabrik Spritus Madukismo Kasihan Bantul
Dalam Membina Hubungan Baik Dengan Masyarakat
Sekitar)”. Jurnal Komunikator Vol. 2, Yogyakarta.
Nadia. (2012), “Hubungan Pelaksanaan Program Usaha
Kesehatan Sekolah terhadap Perilaku Hidup Bersih
dan Sehat Pada Siswa SDN 13 Seberang Padang V. DAFTAR RUJUKAN
Annual Report PT Kalbe Farma. (2012). Jakarta, Kalbe Farma
Azheri, B. (2012). Coorporate Social Responsibility: Dari
Voluntary Menjadi Mandatory. Jakarta: Rajawali Pers.
Efendy, O. U. (2005). Ilmu Komunikasi, Teori dan Praktek.
Cet.19. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Iriantara, Y. (2007). Community Relations Konsep dan
Aplikasinya. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
Utara”. Penelitian Keperawatan Komunitas pada
Fakulas Keperawatan, Universitas
Andalas,
Padang.
Henry Nasution. “Perencanaan Program dan Penyusunan
Usulan Kegiatan”. [Online]. Diakses 27 Januari
2014
dari
http://www.bunghatta.ac.id/artikel/192/
perencanaan-program-dan-penyusunan-usulankegiatan.html
Jefkins, F. (2004). Public Relations. Jakarta: Erlangga
Kementrian Kesehatan RI (2011). Pedoman Pembinaan
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat.
141
1. Dewanti Pertiwi (Komu).indd 141
25/02/2016 13:54:11
Download