HUBUNGAN PERSALINAN PREMATUR DENGAN KEJADIAN

advertisement
HUBUNGAN PERSALINAN PREMATUR DENGAN KEJADIAN ASFIKSIA
NEONATORUM DI RSUD UNGARAN
KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2014
Dewi Maya Sari*), Masruroh**), Rosalina***)
*) Alumnus Program Studi D-IV Kebidanan STIKES Ngudi Waluyo Ungaran
**) Staf Pengajar Program Studi Diploma IV Kebidanan STIKES Ngudi Waluyo Ungaran
***) Staf Pengajar Program Studi Keperawatan STIKES Ngudi Waluyo Ungaran
ABSTRAK
Persalinan prematur adalah persalinan dengan usia kehamilan kurang dari 37 minggu
atau berat bayi kurang dari 2500 gram. Bayi yang lahir dini, organ-organ tubuhnya belum
cukup matang sehingga sukar baginya untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan di luar
rahim. Kemampuan paru-parunya yang belum sempurna seringkali mengakibatkan hambatan
dalam sistem pernapasan. Asfiksia neonatorum adalah kegagalan bayi baru lahir untuk
bernapas secara spontan dan teratur. Tujuan peneliti adalah mengetahui hubungan persalinan
prematur dengan kejadian asfiksia neonatorum di RSUD Ungaran Kabupaten Semarang
Tahun 2014.
Penelitian menggunakan desain penelitian analitik korelatif dengan pendekatan cross
sectional sebagai populasi bayi yang lahir spontan di RSUD Ungaran Kabupaten Semarang
pada bulan Januari-Desember tahun 2014 sejumlah 589 bayi. Sebagai sampelnya 464 bayi
menggunakan teknik purposive sampling. Data diperoleh dari data sekunder catatan rekam
medik. Analisa data menggunakan uji chi square test. Hasil penelitian dari 464 bayi lahir
spontan yang mengalami persalinan prematur sejumlah 61 bayi (13,1%), dan yang mengalami
asfiksia neonatorum sejumlah 122 bayi (26,3%). Ada hubungan yang signifikan antara
persalinan prematur dengan kejadian asfiksia neonatorum di RSUD Ungaran Kabupaten
Semarang dengan ρ-value =0,001< α (0,05).
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan perlu adanya upaya bagi ibu bersalin
untuk melakukan pemeriksaan kehamilan secara teratur selama kehamilan dan bersalin di
tenaga kesehatan sehingga dapat dideteksi secara dini apabila adanya resiko-resiko dalam
kehamilan dan untuk menurunkan angka persalinan prematur dan kejadian asfiksia
neonatorum.
Kata kunci: Persalinan prematur, Asfiksia neonatorum, Bayi baru lahir
ABSTRACT
Preterm labor is a condition if the labor with gestational is less than 37 weeks or birth
weight less than 2500 grams. The organs of an infant born prematurely are not mature
enough which can be difficult for him to adapt to life outside the womb. The rudimentary
ability of the lungs often results problems in the respiratory system. Neonatorum Asphyxia is
the failure of the newborn to breathe spontaneously and regularly. The purpose of this study
is to find the correlation between preterm labor and the incidences of neonatorum asphyxia at
Ungaran Public Hospital Semarang Regency in 2014.
This was an analytical correlative research with cross sectional approach. The
population in this study was all infants born spontaneously at Ungaran Public Hospital
Semarang Regency in January-December 2014 as many as 589 infants. The samples in this
study were 464 infants sampled by using purposive sampling technique. The data were
obtained from secondary data of medical records. The data were analyzed with chi square
test. The results of this study of 464 infants born spontaneously, there were 61 infants (13.1%)
having preterm labor. And there were 122 infants (26.3%) having neonatorum asphyxia.
There was a significant correlation between preterm labor and neonatorum asphyxia at
Ungaran Public Hospital Semarang Regency with ρ-value=0.001 α (< 0.05).
Based on the results of this study, the mothers are expected to make regular antenatal
care visits during pregnancy and childbirth to health providers so that it can be detected
earlier if there are risks in pregnancy and to reduce the number of preterm labors and
neonatorum asphyxia.
Keywords: Preterm labor, Neonatorum asphyxia, newborn
PENDAHULUAN
Angka Kematian Bayi (AKB)
merupakan salah satu indikator untuk
mengetahui derajat kesehatan disuatu
negara seluruh dunia. AKB di Indonesia
masih cukup tinggi berdasarkan SDKI
(Survei Demografi dan Kesehatan
Indonesia) angka kematian bayi (AKB)
pada SDKI 2007 sebanyak 40 kematian
per 1.000 kelahiran hidup (KH) dan pada
tahun 2008-2012 adalah 32 kematian per
1.000 kelahiran hidup (KH) angka ini telah
turun dari SDKI tahun 2007, namun
penurunan ini masih jauh dari target
MDGs (Millenium Development Goals)
ke-4 tahun 2015 dimana AKB diharapkan
turun menjadi 23 per 1.000 KH
(BAPPENAS, 2013).
Data dari Dinas Kesehatan Kabupaten
Semarang 2013 Angka Kematian Bayi
(AKB) sebesar 11,95 per 1.000 KH dan
tahun 2012 Angka Kematian Bayi (AKB)
sebesar 13,19 per 1.000 KH mengalami
2
penurunan
sebesar
1,24%.
Angka
Kematian Bayi (AKB) disebabkan oleh
BBLR (34%), asfiksia (24%), infeksi
(23%), prematur (11%), dan lain-lain (8%)
(Profil Kesehatan Kabupaten Semarang,
2013).
Asfiksia neonatorum adalah kegagalan
bayi baru lahir untuk bernapas secara
spontan dan teratur sehingga menimbulkan
gangguan lebih lanjut, yang mempengaruhi
seluruh metabolisme tubuhnya. Keadaan
depresi pernapasan yang dimaksud adalah
keadaan asfiksia yang terjadi kesulitan
untuk mempertahankan pernapasan normal
yang menyebabkan gangguan tonus otot
(Manuaba, 2009).
Beberapa faktor yang menjadi
penyebab terjadinya asfiksia pada bayi
baru lahir, diantaranya adalah faktor dari
ibu yaitu, hipoksia pada ibu, usia ibu
kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35
tahun, paritas jumlah anak yang dilahirkan,
dan penyakit yang diderita ibu seperti
hipertensi dan hipotensi. Kemudian faktor
Hubungan Persalinan Prematur Dengan Kejadian Asfiksia Neonatorum Di RSUD Ungaran
Kabupaten Semarang Tahun 2014
plasenta yaitu, plasenta previa, dan solusio
plasenta. Faktor dari janin yaitu, prematur,
kehamilan ganda, gangguan tali pusat. Dan
faktor dari persalinan yaitu, persalinan
buatan/persalinan anjuran, dan partus lama
yaitu persalinan lebih dari 18 jam
(Desfauza, 2008).
Persalinan prematur merupakan hal
yang
berbahaya
karena
potensial
meningkatkan kematian perinatal sebesar
65-75%, umumnya berkaitan dengan berat
lahir rendah. Berat lahir rendah dapat
disebabkan oleh kelahiran prematur dan
pertumbuhan janin yang terhambat,
keduanya sebaiknya dicegah karena
dampaknya yang negatif; tidak hanya
kematian perinatal tetapi juga morbiditas,
potensi generasi akan datang, kelainan
mental dan beban ekonomi bagi keluarga
dan bangsa secara keseluruhan. Persalinan
prematur adalah persalinan yang terjadi
pada kehamilan kurang dari 37 minggu
(antara 20 – 37 minggu) atau dengan berat
janin kurang dari 2500 gram (Nugroho,
2012).
Komplikasi yang ditimbulkan dari
persalinan prematur adalah morbiditas
tinggi yang diantaranya menyebabkan
asfiksia RDS (Respiratory Distress
Syndrome), tumbuh kembang tak normal.
Serta
mortalitas
yang
diantaranya
menyebabkan
asfiksia
berat
RDS,
perdarahan
intraventrikel,
trauma
persalinan, dan infeksi organ vital
(Manuaba, 2009).
Hasil studi pendahuluan yang di
lakukan penulis di RSUD Ungaran
Kabupaten Semarang pada tanggal 30
April 2015 mendapatkan data bulan
Januari-Desember tahun 2013 sebanyak
725 ibu bersalin, yang mengalami
persalinan prematur sebanyak 43 orang
(5,9%), dan jumlah bayi yang mengalami
asfiksia sebanyak 93 orang (12,8%)
sedangkan pada tahun 2014 sebanyak 611
ibu bersalin, yang mengalami persalinan
prematur sebanyak 73 orang (11,9%) dan
jumlah bayi yang mengalami asfiksia
sebanyak 126 orang (20,6%). Data ibu
bersalin bulan Desember 2014 sebanyak
48 orang, yang mengalami persalinan
prematur sebanyak 10 orang (20,8%). Ibu
yang mengalami persalinan prematur dan
bayinya asfiksia diantaranya sebanyak 5
orang (50%), ibu yang mengalami
persalinan prematur dan bayinya BBLR
sebanyak 3 orang (30%), dan ibu yang
mengalami persalinan prematur dan
bayinya infeksi sebanyak 2 orang (20%).
Rumusan Masalah
Adakah
Hubungan
Persalinan
Prematur dengan Kejadian Asfiksia
Neonatorum di RSUD Ungaran Kabupaten
Semarang Tahun 2014?
Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini antara lain untuk:
1) Mengetahui gambaran persalinan
prematur di RSUD Ungaran Kabupaten
Semarang Tahun 2014; 2) Mengetahui
kejadian asfiksia neonatorum di RSUD
Ungaran Kabupaten Semarang Tahun
2014; 3) Mengetahui hubungan persalinan
prematur dengan kejadian asfiksia
neonatorum di RSUD Ungaran Kabupaten
Semarang Tahun 2014.
Manfaat Penelitian
Bagi Pihak RSUD Ungaran, dapat
menambahkan
informasi
mengenai
hubungan persalinan prematur dengan
kejadian asfiksia neonatorum.
Selain itu, diharapkan bisa menjadi
bahan informasi masyarakat untuk
mengetahui hubungan persalinan prematur
dengan kejadian asfiksia neonatorum.
METODOLOGI PENELITIAN
Desain Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam
penelitian ini adalah penelitian yang
bersifat
analitik
korelatif
dengan
pendekatan cross sectional.
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di RSUD
Ungaran Kabupaten Semarang pada
tanggal 6 - 12 Agustus 2015.
Hubungan Persalinan Prematur Dengan Kejadian Asfiksia Neonatorum Di RSUD Ungaran
Kabupaten Semarang Tahun 2014
3
Populasia dan Sampel
Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah
seluruh bayi yang lahir spontan yang
tercatat di RSUD Ungaran Kabupaten
Semarang pada bulan Januari – Desember
tahun 2014 sejumlah 589 bayi.
Sampel
Teknik pengambilan sampel yang
digunakan
dalam
penelitian
ini
menggunakan teknik purposive sampling
dengan
tidak
berdasarkan
strata,
kelompok, atau acak, tetapi berdasarkan
pertimbangan tertentu yang dibuat oleh
peneliti sendiri. Sampel dalam penelitian
ini adalah sejumlah 464 bayi yang lahir
spontan di RSUD Ungaran Kabupaten
Semarang pada bulan Januari-Desember
2014.
Pengumpulan Data
Jenis data yang diambil dalam
penelitian ini adalah data sekunder yang
diperoleh dari data buku register Rekam
Medik RSUD Ungaran tahun 2014.
Instrument yang digunakan dalam
penelitian ini adalah lembar observasi data.
Lembar observasi dirancang dan diisi
sendiri oleh peneliti dengan melihat buku
register Rekam Medik RSUD Ungaran
tahun 2014.
Analisis Data
Analisis Univariat
Analisa univariat adalah untuk
mengetahui tabel distribusi frekuensi dari
populasi masing-masing variabel yang
diteliti.
Analisis Bivariat
Analisis bivariat dalam penelitian ini
adalah untuk mengetahui hubungan
persalinan premature dengan kejadian
asfiksia neonatorum. Penelitian ini
menggunakan uji statistik Chi Square Test.
HASIL PENELITIAN
Analisis Univariat
Persalinan Prematur
Tabel 1
Distribusi
Frekuensi
Berdasarkan
Persalinan Prematur di RSUD Ungaran
Kabupaten Semarang, 2014
Persalinan
Frekuensi Persentase
Prematur
(%)
Prematur
61
13,1
Tidak Prematur
403
86,9
Jumlah
464
100,0
Kejadian Asfiksia Neonatorum
Tabel 2
Distribusi Frekuensi Berdasarkan Kejadian
Asfiksia Neonatorum di RSUD Ungaran
Kabupaten Semarang, 2014
Asfiksia
Frekuensi Persentase
Neonatorum
(%)
Asfiksia
122
26,3
Tidak Asfiksia
342
73,7
Jumlah
464
100,0
Analisis Bivariat
Tabel 3
Hubungan Persalinan Prematur dengan Kejadian Asfiksia Neonatorum di RSUD Ungaran
Kabupaten Semarang, 2014
Kejadian Asfiksia Neonatorum
Total
Persalinan Prematur
Ya
Tidak
ρ-value
f
%
F
%
f
%
Prematur
40
65,6
21
34,4
61
100
0,000
Tidak Prematur
82
20,3
321
79,7
403
100
Jumlah
122
26,3
342
73,7
464
100
Berdasarkan uji Chi Square Test
diperoleh p-value 0,000. Oleh karena p4
value = 0,000 < α (0,05), disimpulkan
bahwa ada hubungan yang signifikan
Hubungan Persalinan Prematur Dengan Kejadian Asfiksia Neonatorum Di RSUD Ungaran
Kabupaten Semarang Tahun 2014
antara persalinan prematur dengan
kejadian asfiksia neonatorum di RSUD
Ungaran Kabupaten Semarang.
preeklamsia dan gamelly adalah faktor
resiko kelahiran prematur sedangkan jarak
kehamilan, anemia ibu dan riwayat abortus
bukan merupakan faktor resiko.
PEMBAHASAN
Analisis Univariat
Persalinan Prematur
Bayi yang tidak mengalami persalinan
prematur sejumlah 403 bayi (86,9%),
sedangkan
bayi
yang
mengalami
persalinan prematur sejumlah 61 bayi
(13,1%). Responden RSUD Ungaran tahun
2014 yang mengalami persalinan prematur
dikarenakan beberapa faktor seperti
perdarahan
pada
kehamilan
baik
dikarenakan plasenta previa atau solusio
plasenta, KPD, eklamsia, penyakit yang
diderita ibu dan riwayat prematur.
Hal ini sesuai dengan teori yang
menyatakan bahwa kondisi selama
kehamilan yang berisiko terjadinya
persalinan prematur adalah faktor janin
dan plasenta seperti perdarahan trimester
awal, perdarahan antepartum, KPD,
kehamilan ganda/gamely, polihidramnion.
Faktor ibu seperti penyakit berat pada ibu,
diabetes mellitus, preeklampsia/hipertensi,
kelainan bentuk uterus/seviks, riwayat
persalinan prematur/abortus berulang. Bayi
prematur ini sering pula disertai dengan
komplikasi, baik kelainan jangka pendek
maupun jangka panjang. Kelainan jangka
pendek yang sering terjadi adalah : RDS
(Respiratory
Distress
Syndrome),
perdarahan intra/periventrikular, NEC
(Necrotizing Entero Cilitis), sepsis.
Kelainan jangka panjang sering berupa
kelainan neurologic seperti serebral palsi,
retinopati, retardasi mental, juga dapat
terjadi disfungsi neurobehavioral dan
prestasi sekolah yang kurang baik
(Sarwono,2009).
Hal diatas sesuai dengan hasil
penelitian bahwa Novhita Paembonan
(2013) dengan judul Faktor Resiko
Kejadian Kelahiran Premature Di Rumah
Sakit Ibu Dan Anak Siti Fatimah Kota
Makasar. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa riwayat kelahiran prematur,
Asfiksia Neonatorum
Bayi yang mengalami kejadian
asfiksia neonatorum sejumlah 122 bayi
(26,3%), bayi yang mengalami asfiksia
neonatorum dikarenakan beberapa faktor
seperti faktor ibu yaitu usia dan paritas ibu,
faktor janin seperti prematur, dan janin
kembar, faktor plasenta dan faktor
persalinan seperti persalinan lama dan
persalinan buatan. Sesuai dengan data di
RSUD Ungaran tahun 2014 bahwa angka
kejadian prematur adalah 61 kasus,
gamelly 8 kasus, kelainan plasenta baik
plasenta previa atau solusio plasenta
sejumlah 13 kasus, persalinan dengan VE
43 kasus dan persalinan dengan presentasi
bokong (manual aid) 9 kasus.
Teori menyatakan bahwa bayi dengan
asfiksia neonatorum akan beresiko
mengalami beberapa komplikasi pada otak
seperti hipoksia, edema serebri, jantung
dan paru, kelainan pada system pencernaan
dan ginjal (Maryunani, 2009). Asfiksia
juga akan mengganggu perkembangan
bayi pada tahap selanjutnya hal ini sesuai
dengan hasil penelitian Respatiningrum
(2012) dengan judul Hubungan Kejadian
Asfiksia
Neonaturom
dengan
Perkembangan Bayi Usia 6-12 Bulan di
Ruang
Anggrek
RSUD
Kota
Tanjungpinang Tahun 2012, dengan hasil
penelitian menunjukkan bahwa ada
hubungan kejadian asfeksia neonaturom
dengan perkembangan bayi usia 6-12
bulan dengan p-value =0,000.
Analisis Bivariat Hubungan Persalinan
Prematur dengan Kejadian Asfiksia
Neonatorum
Bayi yang lahir prematur di RSUD
Ungaran Kabupaten Semarang sebagian
besar mengalami asfiksia neonaturum hal
ini dikarenakan pada kelahiran prematur
organ-organ tubuh bayi termasuk sistem
pernafasan bayi belum sempurna, paru-
Hubungan Persalinan Prematur Dengan Kejadian Asfiksia Neonatorum Di RSUD Ungaran
Kabupaten Semarang Tahun 2014
5
paru bayi belum matang sehingga beresiko
mengalami kegagalan dalam proses
pernafasan secara spontan di luar rahim
sehingga bayi mengalami asfiksia. Selain
itu bayi prematur tidak menghasilkan
surfaktan dalam jumlah yang memadai
sehingga alveolus paru tidak dapat
berkembang
dengan
baik
yang
menyebabkan terjadinya asfiksia pada bayi
Hal ini sesuai dengan teori yang
menyatakan bahwa bayi yang lahir dini,
organ-organ tubuhnya belum cukup
matang sehingga sukar baginya untuk
menyesuaikan diri dengan kehidupan di
luar rahim. Kemampuan paru-parunya
yang
belum
sempurna
seringkali
mengakibatkan hambatan dalam sistem
pernapasan (Kasdu, 2005). Teori lain
menjelaskan bahwa bayi baru lahir agar
bisa bernafas dengan bebas, ketika lahir
kantung udara (alveoli) harus dapat terisi
oleh udara dan tetap terbuka. Alveoli bisa
membuka lebar karena adanya suatu bahan
yang disebut surfaktan, yang dihasilkan
oleh paru-paru dan berfungsi menurunkan
tegangan permukaan. Bayi prematur
seringkali tidak menghasilkan surfaktan
dalam jumlah yang memadai, sehingga
alveolinya tidak tetap terbuka. (Marmi
dkk, 2011).
Hal ini sesuai dengan penelitian Ratih
Indah Kartikasari (2010) yang berjudul
Hubungan Faktor Risiko Multiparitas
dengan Persalinan Preterm Di RSUD Dr.
Soegiri Lamongan. Hasil penelitian ini
menunjukkan sebagian besar subjek
penelitian merupakan kelompok usia 31-35
tahun (56,7%), umur kehamilan 37-40
minggu (50%) dan terdiri dari 38 pasien
paritas tinggi.
Penelitian juga menunjukkan bahwa
terdapat 21 bayi (34,3%) yang lahir
prematur tetapi tidak mengalami asfiksia
hal ini dapat dikarenakan berbagai faktor
salah satunya di RSUD Ungaran telah
dilakukan pencegahan terhadap terjadinya
asfiksia neonatorum pada bayi prematur
dengan memberikan kortikosteroid pada
24 jam sebelum bayi lahir hal ini dapat
membantu dalam proses pematangan paru.
6
Sesuai dengan teori bahwa bila bayi
berisiko lahir prematur yang kurang dari
34 minggu pemberian kortikosteroid 24
jam sebelum lahir menjadi prosedur rutin
yang dapat membantu maturasi paru-paru
bayi dan mengurangi komplikasi sindrom
distress pernafasan (Marmi & Rahardjo,
2012). Lebih lanjut hasil penelitian juga
menunjukkan bahwa terdapat 82 (20,3%)
bayi tidak prematur mengalami asfiksia
neonaturum. Hal ini dikarenakan adanya
faktor lain yang mempengaruhi asfiksia
neonaturum selain bayi prematur teori
menjelaskan bahwa terdapat beberapa
faktor
penyebab
terjadi
asfiksia
neonatorum seperti faktor ibu yang
meliputi hipoksia pada ibu, usia ibu,
paritas dan penyakit yang diderita ibu.
Faktor plasenta seperti plasenta previa dan
solusio plasenta. Faktor janin seperti
kehamilan ganda dan gangguan tali pusat
serta faktor persalinan seperti partus lama
dan persalinan buatan. (Desfauza, 2008).
Hasil penelitian ini mendukung
penelitian sebelumnya oleh Fani Marta
Selly (2010) dengan judul Faktor-faktor
Yang Berhubungan Dengan Kejadian
Asfiksia Neonatorum Di RSUP. DR. M.
DJAMIL Padang Tahun 2010 dengan hasil
penelitian faktor-faktor yang berhubungan
dengan kejadian asfiksia neonatorum
antara lain umur ibu 20-35 tahun (80%),
paritas 1 dan ≥4 (55%), ibu tidak memiliki
penyakit selama kehamilan (67,5%), dan
melahirkan dengan tindakan (55%).
Keterbatasan Penelitian
Metode pengumpulan data hanya
melihat data sekunder yang ada dari remak
medik dimana terkadang peneliti tidak
mendapatkan data yang lengkap, tulisan
pada rekam medik yang kurang jelas
sehingga peneliti harus melihat pada
sumber lain seperti buku register pasien di
bangsal serta tidak ada keterangan yang
lengkap penyebab dari persalinan prematur
dan kejadian asfiksia neonatorum.
Hubungan Persalinan Prematur Dengan Kejadian Asfiksia Neonatorum Di RSUD Ungaran
Kabupaten Semarang Tahun 2014
KESIMPULAN
Persalinan prematur di RSUD
Ungaran Kabupaten Semarang pada bulan
Januari-Desember tahun 2014 sebagian
besar yang mengalami persalinan prematur
sejumlah 61 bayi (13,1%).
Bayi yang lahir spontan yang tercatat
di RSUD Ungaran Kabupaten Semarang
pada bulan Januari-Desember tahun 2014
sebagian besar yang mengalami kejadian
asfiksia neonatorum sejumlah 122 bayi
(26,3%).
Ada hubungan persalinan prematur
dengan kejadian asfiksia neonatorum di
RSUD Ungaran Kabupaten Semarang
Tahun 2014 dengan p-value =0,001.
SARAN
Pihak RSUD Ungaran, diharapkan
meningkatkan kualitas pelayanan di
Rumah Sakit terutama dalam usaha
mencegah terjadinya persalinan prematur
dan penanganan persalinan prematur
seperti dengan memberikan konseling pada
ibu hamil agar selalu rutin memeriksakan
kehamilannya/antenatal
care
(ANC)
meskipun tidak ada keluhan minimal
dilakukan 4 kali kunjungan.
Institusi
Pendidikan
hendaknya
digunakan sebagai masukan untuk
memberikan informasi kepada mahasiswa
guna menambah wawasan tentang
persalinan prematur dengan kejadian
asfiksia neonatorum.
Diharapkan bagi peneliti selanjutnya
untuk mengembangkan penelitian dengan
meneliti variabel lain yang berhubungan
dengan kejadian asfiksia neonatorum
seperti partus lama, persalinan buatan,
kehamilan ganda, dan gangguan tali pusat.
DAFTAR PUSTAKA
[1] BAPPENAS, 2013. Draft Final
Laporan
Pecapaian
Tujuan
Pembangunan Milenium di Indonesia
2013.
[2] Bobak, Irine, M. 2004. Buku Ajar
Keperawatan Maternitas, Edisi 4.
Jakarta : EGC.
[3] Cunningham, F,G, dkk. 2006.
Obstetric Williams, Ed. 23, Vol.2.
Jakarta : EGC.
[4] Dinas Kesehatan Provinsi Jawa
Tengah. 2012. Profil Kesehatan Jawa
Tengah. Dinas Kesehatan Jawa
Tengah.
http://www.dinkesjatengprov.go.id/do
kumen/2013/SDK/Mibankes/Profil
2012/BAB_I-VI_2012_fix.pdf.
[Diakses tanggal 25 Maret 2015].
[5] Dinas
Kesehatan
Kabupaten
Semarang. 2013. Profil Kesehatan
Kabupaten Semarang. Semarang:
Dinkes Kabupaten Semarang.
[6] Fani Marta Selly. 2010. Faktor-faktor
Yang Berhubungan Dengan Kejadian
Asfiksia Neonatorum Di RSUP. DR.
M. DJAMIL Padang Tahun 2010.
From: repository unand.ac.id
[7] Hidayat, Aziz Alimul. 2007. Metode
Penelitian Kebidanan dan Teknik
Analisis Data. Jakarta: Salemba
Medika.
[8] Kasdu, D. 2005. Kesehatan Wanita.
Jakarta: Puspa Swara.
[9] Krisnadi.
2009.
Prematuritas.
Bandung: Refika Aditama
[10] Manuaba, Ida Bagus Gde. 2009.
Patologi Obstetri. Jakarta: Buku
kedokteran EGC.
[11] Mochtar, Rustam. 2012. Sinopsis
Obstetri: Obstetri Fisiologi, Obstetri
Patologi, Ed.3, jilid 1. Jakarta: Buku
Kedokteran EGC.
[12] Marmi, Rahadjo, K. 2012. Asuhan
Neonatus Bayi Balita dan Anak
Prasekolah. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar
[13] Muslihatun, Wafi Nur. 2010. Asuhan
Neonatus
Bayi
dan
Balita.
Yogyakarta: Fitramaya.
[14] Nugroho,
T.
2012.
Patologi
Kebidanan.
Yogyakarta:
Nuha
Medika.
[15] Nursalam.
2013.
Konsep
dan
Penerapan Metodologi Penelitian
Hubungan Persalinan Prematur Dengan Kejadian Asfiksia Neonatorum Di RSUD Ungaran
Kabupaten Semarang Tahun 2014
7
Ilmu Keperawatan. Jakarta: Salemba
Medika
[16] Notoatmodjo, S. 2012. Metodologi
Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka
Cipta.
[17] Novhita Paembonan. 2013. Faktor
Resiko Kejadian Kelahiran Prematur
Di Rumah Sakit Ibu Dan Anak Siti
Fatimah Kota Makasar. From:
repository.unhas.ac.id
[18] Prawirohardjo, Sarwono. 2009. Ilmu
Kandungan. Jakarta: Yayasan Bina
Pustaka.
[19] Ratih Indah Kartikasari. 2010.
Hubungan Faktor Risiko Multiparitas
Dengan Persalinan Preterm Di
RSUD. Dr. Soagiri Lamongan. From:
eprints.uns.ac.id
8
[20] Sudarti Fauziah & Haikhi. 2013.
Asuhan Kebidanan Neonatus Risiko
Tinggi dan Kegawatan. Yogyakarta:
Nuha Medika
[21] Sumarah, dkk. 2009. Perawatan Ibu
Bersalin. Yogyakarta: Fitramaya.
[22] Sukarni, Icesmi. 2014. Patologi:
Kehamilan, Persalinan, Nifas, dan
Neonatus Resiko Tinggi. Yogyakarta:
Nuha Medika.
[23] Sugiyono. 2010. Statistika Untuk
Penelitian. Bandung: Alfabeta.
[24] Saryono. 2013. Metodologi Penelitian
Kualitatif dan Kuantitatif dalam
Bidang Kesehatan. Yogyakarta: Nuha
Medika.
[25] ZR Arief dan Kristyanasari, W. 2009.
Neonatus dan Asuhan Keperawatan
Anak. Yogyakarta: Nuha Medika.
Hubungan Persalinan Prematur Dengan Kejadian Asfiksia Neonatorum Di RSUD Ungaran
Kabupaten Semarang Tahun 2014
Download