1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Agama

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Agama bersumber nilai-nilai illahiah, dan bukan hasil pikiran atau kreasi
manusia. Artinya agama itu berdasarkan wahyu allah yang dibawa oleh manusia yang
terpilih. Namun tidak bisa dielakan bahwa manusia tidak terlepas dari budaya, yang
hasilkan oleh pikiran manusia. Agama dan ajarannya berkembang terus menerus
hingga tersebar sampai pada para pemeluknya seluruh dunia.
Dalam realitas kehidupan manusia tidak sendiri sebagai individunya terlepas
dari lingkungan yang melingkupinya. Manusia sebagai individu merefleksikan
dirinya pada lingkungan disekitarnya, baik lingkungan alam maupun lingkungan
kemasyarakatannya. Dengan menjalani hubungan sesama manusia, setiap individu
melebarkan dirinya dengan masyrakat.
Manusia perorangan di dalam hidupnya tidak pernah mempertahankan
individulitetnya secara mutlak sebagaimana yang digambarkan menurut Gittle
“bahwa sekolompok tentara sedang tidur belumtentu dinamakan masyrakat atau
disebut kelompok sosial, telah terompet ditiup berbunyi, kemudian tentara tersebut
menjadi sadar dan segera membentuk suatu kesatuan atau kelompok, baru dapat
disebutkan kelompok masyrakat”.
Jadi, masyarakat terwujud oleh karena terbentuk oleh individu-individu yang
berada dalam keadaan sabar, individu yang hilang ingatan yang pikirannya rusak,
1
individunya bertapa belum dapat menjadi menjadi anggota masyrakat yang permanen
kecuali meraka yang mengingatkan dirinya dengan individu lain baru dapat disebut
individu sebagai anggota masyrakat atau mahluk sosial.
Dalam lingkungan masyarakat interaksi sosial merupakan faktor utama dalam
kehidupan sosial. Interaksi sosial merupakan hubungan yang dinamis melibatkan
hubungan antara orang perorangan, kelompok dengan kelompok, maupun antara
orang dan kelompok manusia (Soejono Soekanto, 2001: 67). Individu itu bukan
berarti manusia itu sebagai kesatuan yang terbatas, melainkan sebagai manusia
perorangan, oleh karena itu individu berstatus sebagai anggota masyrakat, sebab
individu itulah yang menyebakan timbulnya kelompok.
Kelompok-kelompok manusia yang hidup yang berinteraksi dalam suatu
daerah tentu dimana dengan istilah komunitas. Keberatan suatu manusia dilandasi
oleh adanya persamaan yang berdasar sebagai suatu karekteristik yang berada dari
ras, agama, dan suku bangsa. Dalam sebuah hubungan antara manusia satu sama lain
itu bisa disebut denga interaksi sosial terjalin adanya sebuah proses komunikasi
antara sesama manusia.
Dalam al-Qur‟an surat Al-hujarat ayat 13 berbunyi demikian “hai manusia,
sesungguhnya kami menciptakan kamu dari laki-laki seorang perumpuan dan
menjadikan kamu berbangsa dan suku-suku supaya kamu saling mengenal.
Sesungguhnya orang yang mulia diantara kamu di sisi allah ilah orang yang paling
bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya allah maha mengetahui lagi maha
mengenal”
2
Dari ayat diatas menjelaskan bagaimana proses sosial yang akan terjalin
sebuah interaksi sosial antar umat manusia yang berbangsa dan bersuku. Meskipun
berbeda suku bangsa dan interaksi antar umat itu sangat dianjurkan. Proses interaksi
itu dapat dibedakan dari isi kepentingan, tujuan atau maksud tertentu yang sedang
dipelajari. Dalam kehidupan manusia masyrakat berfungsi dalam dua tataran, yang
pertama, sebagai subjek. Kedua sebagai Ojek. H. Bonner dalam bukunya Abu
Ahmadi (1999 : 54) interaksi sosial adalah hubungan antara dua individu atau lebih,
dimana kelakukan individu yang satu mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki
kelakuan individu yang lain atau sebaliknya ( H Abu Ahmadi,1999:54).
Hal ini sebenarnya merupakan untungan yang besar bagi manusia, sebab
dengan adanya dua macam fungsi yang memiliki itu timbul kemajuan. Kemajuan
dalam hidup masyarakat jika manusia ini hanya sebagai objek semata-semata maka
hidupnya tidak mungkin lebih tinggi dari pada kehidupan benda-benda mati, sehingga
kehidupan manusia ta mungkin timbul kemajuan. Sebaliknya, andaikan manusia ini
hanya sebagai subjek semata-mata ia tak mungkin bisa hidup bemasyrakat (tak bisa
bergaul dengan masyakat lain) sebab pergaulan baru terjadi apabila adanya give and
take dari masing-masing anggota masyrakat tidak dapat dipisahkan dan selalu
berinteraksi atara satu dengan yang lainya.
Sehubungan dengan interaksi kelompok tertentu satu kesatuan dan biasanya
tidak menyangkut prbadi anggotanya secara khusus. Dari sekian banyak landasan
yang menjadikan karekterisitik tersebut suatu kelompok, salah satunya adalah
landasan budaya yang bernuansa keagamanan. Landasan budaya yang bernuansa
3
keagamaan ini merupakan suatu hal yang menarik dalam penelitian ini, karena
perbedaan masyrakat terutama pada segi interaksi sosial antara agama dan budaya.
Dalam keadaan demikian, maka secara langsung maupun tak langsung,sebuah
keterpaduan anatara masyarakat agama dan budaya yang diarahkan oleh sistem nilainilai yang berdasarkan agama terhadap budaya masyrakat. Melihat kenyataan yang
ada pada kehidupan masyarakat panjalu. Dimana wilayah tersebut ada sebuah proses
budaya yang nuansa agama berupa acara adat ngumbah keris yang dkenal dengan
nama “nyangku”.yang dimana acara nyangku tersebut terlihat, adanya pengunaan
simbol-simbol dan wujud budayanya yang dilaksanakan dengan penuh kesadaran,
pemahaman, serta penghayatan yang tinggi. Secara turun menurun dari suatu generasi
kegenerasi yang berikutnya (Herususanto, 1991:1). Meskipun sekarang sudah
terpengaruhi oleh moderenisasi.
Kecamatan Panjalu Kabupaten Ciamis merupakan tempat tumbuhnya dan
perkembangan prosesi (ngumbah keris) dengan kata lain “nyangku” yang berada di
tengah-tengah kehidupan masyrakat yang mayoritas beragama islam, tetapi disana
terjadi interaksi sosial atau hubungan sosial antara prosesi upacara tersebut dengan
masyarakat.
Bahasa sebagai alat komunikasi tajam yang memungkinkan perkembangan
dari sistem pembagian kerja serta interaksi antara warga kelompok. Berkaitan dengan
fenomena yang ada,pada proses ”nyangku” (ngumbah keris) yang rutin dilakukan
pada bulan robiulawal tahun hijriah ini di Kecamatan Panjalu Kabupaten Ciamis,
penulis ingin manganalisis sejauh mana wujud interaksi budaya dan agama yang
4
terjadi melalui sosio-antropologi dalam penelitian yang berjudul: ”AKOMODASI
BUDAYA DAN AGAMA DALAM PROSES ADAT NYANGKU” (studi kasus
dalam proses adat nyangku Kecamatan Panjalu Kabupaten Ciamis)
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan masalah
penelitian sebagai berikut :
1. Bagaimana Latar Belakang Nyangku di kecamatan Panjalu?
2. Apakah proses “nyangku” ini merupakan Akomodasi dari budaya dan agama
di Kecamatan Panjalu?
3. Bagaimana pandangan ulama dan masyrakat terhadap proses “nyangku” ini di
Kecamatan Panjalu?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian ini dapat disusun
sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui bagaimana latar belakang sejarah Nyangku” di kecamatan
Panjalu
2. Untuk mengetahui apakah proses “nyangku” ini merupakan Akomodasi dari
budaya dan agama di Kecamatan Panjalu
3. Untuk mengetahui bagai mana pandangan ulama dan masyarakat terhadap
proses “nyangku” ini di Kecamatan Panjalu
5
D. Kerangka pemikiran
Diantara fungsi agama bagi individu dan masyarakat, agama itu bisa
mengontrol prilaku manusia dalam sehari-harinya, di samping itu pula agama
berfungsi sebagai kerangka moral bagi seorang individu atau masyarakat yang
membentuk pola pikir dan tingkah laku dalam berhubungan dengan tuhan dan
manusianya. Dengan adanya adanya kerangka moral ini manusia akan bertindak
menurut tata aturan yang terkandung dalam agamanya.
Agama berkaitan dengan usaha-usaha manusia untuk mengukur dalamnya,
makna dari keberadaan sendiri dan keberadaan alam semesta. Agama telah
menimbulkan khayalan yang paling luas dan juga digunakan untuk membenarkan
kejaman orang yang luar biasa terhadapa orang lain. Agama dapat membangkitkan
kebahagian batin yang paling sempurna, dan juga permasalahan takut dari negeri,
namun agama juga melibatkan dirinya dalam masalah-masalah kehidupan sehari-hari
didunia ini. Namun agama juga berfungsi melepaskan belenggu-belenggu adat atau
kepercayaan manusia yang sudah asing.
Agama bisa juga disebutkan sebagai pengontrolan sosial yang berfungsi untuk
memberikan acuan atau aturan bagi manusia manusia bertingkah laku di
masyarakatnya. Fungsi pengontoral sosial disini adalah ketersedian suatu perangkat
nilai moral keagamaan yang akan mengendalikan seorang ke arah nilai-nilai moral
sesuai dengan aturan-aturan dalam agama. Agama memberikan lambang-lambang
kepada manusia yang lambang-lambang tersebut maka dapat diungapkan, hakekat
6
pengalaman susah diungkapkan. Sesuatu
pelenggran terbatasan-batasan ini
mempunyai satu konsekuensi tertentu dalam rangka teoritis agama yang
memunculkan adalah suatu sangsi yang bersifat moral, terutama pada aturan
masyarakat yang ada dalam sistem ketatanegaraannya tidak berdasarkan pada azasazas keagamaan.
Timbulnya agama budaya dalam alam pikiran manusia adalah dikarenakan
adanya getaran jiwa yang dusebut “emosi keagamaan” atau “religion emosional ”
menerut Koentjronungrat emosi keagamaan ini biasanya dialami setiap manusia,
walapun getaran emosi itu mungkin hanya berlangsung untuk beberapa detik saja,
kemudian menghilang lagi. Adanya emosi keagamaan itulah yang mendorong orang
melakukan tindakan-tindakan yang bersifat religi (Koentjaraningrat,1999:394).
Dalam pengungkapan tersebut terdapat kesulitan lebih jauh yaitu bahwa
pemeluk-pemeluk agama mungkin khawatir jika sikap mental pengajian agama
dengan pemeluknya. Pemeluk tentu saja dikendalikan oleh kesetian, keyakinan, dan
kekaguman kewajiban pengkaji adalah mencari kebenaran meskipun demikian dalam
mencari kebenaran tersebut dia harus mengendalikan dan menggunakan semua
perasaan dan emosinya dan tidaka malah bebas sama sekali, karena itu sikap
pengajian pemeluk agama harus tetap berada dalam batas kepribadian sebagai
individu.
Pada masyrakat yang budayanya masih sederhana apa yang timbul dari emosi
keagamaan, kemudian diajarkan dan diwariskan secara tradisional kepada anak-anak
cucu sahabat berkenaan dalam bentuk ungkapan, derita berirama, dongeng-dongeng
7
suci, dan sebagainya sesuai dengan lisan menyampaikan. Pada masyarakat yang
sudah maju budayanya, sudah mengenal aksara, maka kepercayaan-kepercayaan itu
ada yang di tulis dalam bentuk yang masih sederhana, dari daun-daun, kayu-kayu
atau bambu menjadi buku-buku kesastraan suci dan disucikan atau dikeramatkan.
Hasilnya yang timbul dari akal pikiran manusia dan bentuk-bentuk nyata,
dengan maksud agar emosi keagamaan tetap bergelora, agar keyakinan dan
kepercayaan terhadap yang gaib tetap kuat bertahan, agar acara dan upacara
keagamaan berjalin sebagaimana mestinya, agar keyakinan dan kebenarankebenaraan menurut ajaran agama dan kepercayaan masing-masing berkembang
meluas dikalangan umat manusia, maka terjadilah berbagai bentuk budaya agama.
Dalam sebuah hubungan antara budaya dan agama satu sama lain itu bisa
disebut interaksi sosial itu terjalin karena adanya sebuah proses komunkasi antara
manusia dalam kehidupan sehari-hari. Bentuk proses sosial umum dari sosiologi
agama adalah interaksi sosial, oleh karena itu interaksi sosial merupakan syarat
umum terjadinya aktivitas-aktivitas sosial. Hubungan antara orang perorang dengan
kelompok atau dua orang manusia bertemu atu sudah bisa disebut interaksi sosial
pada saat itu (Soejono, 2001:61).
Proses perkembangan kebudayaan pada umat manusia pada umumnya dan
bentuk-bentuk kebudayaan yang sederhana, sehingga terbentuk yamh makin lama
makin kmplek, yaitu elolusi budaya (cultural evolution) kemudian ada proses
penyebaran kebudayaan-kebudayaan secara geografi terbawa oleh perpindahan
bangsa-bangsa di muka bumi, yaitu proses difusi (difusion) manusia mempunyai
8
bakat yang terkembang dalam gennya untuk mengembangkan berbagai macam
perasan,harsat,nafsu, serta emosi dalam keperbadiannya individunya, tetapi wujud
dan pengaktipan dari berbagai macam isi kepribadiannya itu sangat dipengruhi, oleh
berbagai macam isi stimulan yang dalam sekitaran alam dan lingkungan sosial
maupun budayanya.
Dalam proses sosial kita mengenal interaksi atau aksi, dan yang kita amati
apabila individu-individu dan kelompok bertemu dan mengendalikan sistem
hubungan, apa yang terjadi bila perubahan-perubahan tersebut mengganggu cara
hidup yang telah ada (soekanto, 67:2001). Apabila dua orang atau lebih saling
beerhubungan mengadakan interaksi, maka akan terjadi apa yang dinamakan dengan
proses sosial, proses ini terdapat terjadi antara orang yang sama lainya memberikan
dengan proses sosial, proses ini dapat terjadi orang yang sama lainya memberikan
dorongan kepada yang lain, yang dibalas dengan reaksi timbal balik (Salimudin,
1999:65).
Secara timbal balik antara budaya dan agama itu melalui proses, dimana
proses interaksi timbal balik melalui simbol-simbol yang terjadi dalam sebuah ucapan
keagaman tertentu, di dalam masyrakat yang melakukan upacara keagamaan yang
akan terjadi interaksi simbolik, bisa dilakukan dengan menggunakan bahasa sebagai
salah satu simbol yang terpenting, melalui syarat-syarat simbol ini bukan merupakan
fakta-fakta sudah terjadi, melainkan simbol bisa berbeda dalam sebuah proses yang
kontinu.
9
Interaksi sosial merupakan kunci proses sosial di masyarakat. Karena dengan
mewujudkan sebuah interaksi sosial inilah terjadi berbagai macam bentuk aktivitas
kemasyarakatan. Dengan aktivitas dinamis ini masyarakat akan terus bergerak ke arah
menuju suatu tujuan dinama aktivitas tersebut, merupakan proses dalam interaksi
sosial ini akan menciptakan suatu bentuk pola interaksi sosial budaya sebelumnya.
Dalam interaksi sosial ini hubungan-hubungan yang terjadi tidak hanya
mengarah pada hubungan-hubungan yang bersifat positif, tetapi juga mengarah
kehubungan yang bersifat negatif. Semua anggota masyarakat
pada dasarnya
menginginkan adanya suatu bentuk interaksi sosial di lingkungannya senantiasa
mengarah pada interaksi sosial bersifat konstruktif dan desstruktif. Dimana sebuah
masyarakat yang dikenal dengan nuansa agama budaya.
Sebagai suatu proses, akomodasi mewujudkan pada usaha-usaha untuk
mengadakan suatu pertentangan yaitu usaha-usaha untuk menciptakan kesetabilan.
Akomodasi itu suatu proses dalam hubungan-hubungan sosial yang sama artinya
dengan adaptasi (adaftasion) yang digunakan oleh para-para ahli menyesuaikan
dirinya dengan alam sekitarnya.
Disamping terjadinya stabilitas dalam beberapa bidang, mungkin sekali
bentuk-bentuk pertentangan dalam bidang-bidang lainya masih tertiggal, benih-benih
pertentangan yang bersifat telat tadi, sewaktu-waktu akan menimbulkan pertentangan
baru.
Dengan
demikian
akomodasi
bagi
pihak-pihak
tertentu
dirasakan
menguntungkan bagi sebagian pihak, sebaliknya agak menekan bagi pihak-pihak
tertentu di rasakan menguntungkan bagi kelangsungan hidupnya dalam bermasyrakat,
10
sebaliknya agak menekan bagi pihak-pihak lain lantaran campur tangannya
kekuasaan tertentu dalam masyarakat (Soejono, 1999:82-89).
Bagaimana pun bentuk sosial yang terjadi, akan mengambil bentuk kepada
interaksi sosial yang berupa kerjasama (cooperation), persaingan (competition) dan
tantangan (conflick), begitu pula dalam mewujudkan sebuah inreaksi agama dan
budaya dimana pada penelitian ini akan mengikuti pola yang sama sebagaimana
diuraikan dalam kerangka pemikiran diatas.
Untuk lebih mudah dalam pemahaman terhadapa interaksi sosial antara
budaya dan agama yang ada di Kecamatan Panjalu. Ringkasan kerangka pikir dapat
digambarkan pada bagian sebagai berikut:
Agama
Budaya
Persinggungan
Akomodasi
Asimilasi
alkulturasi
E. Langkah-Langkah Penelitian
Mengacu pada yang dicapai dalam penelitian yang akan dilakukan adalah sebagai
berikut :
11
1. Penentuan lokasi
Karena dalam penelitian ini sudah ditentukan ruang lingkup objek
penelitiannya yaitu tradisi „Nyangku” pada masyarakat Desa Panjalu Kabupaten
Ciamis, maka penulis memusatkan penelitiannya di daerah tersebut, karena penulis
menganggap seluruh data yang diperlukan dalam penelitian ini ada di daerah
tersebut.
a. Adanya Upacara Nyangku yang akan diteliti
b. Terapat tokoh agama yang dapat di ambil penjelasan sebagai sumber data
2. Metode Penelitian
Guna memperoleh informasi sesuai yang terumuskan dalam permasalahan
atau tujuan penelitian perlu suatu desain atau rencana menyeluruh tentang urutan
kerja penelitian dalam bentuk suatu rumusan operasional suatu metode ilmiah, rincian
gagasan-gagasan besar keputusan sebagai suatu pilihan beserta dasar atau alasanalasan ilmiahnya. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metodologi deskriptis
analitis melalui jenis penelitian pendekatan sejarah (historical approach). Metode
sejarah adalah proses menguji dan menganalisa secara kritis rekaman dan
peninggalan masa lampau (Gottschalk, 1985 : 32). Selain itu untuk mendapatkan data
konkrit peneliti juga melakukan penelitian lapangan (field research) melalui
wawancara dengan beberapa orang yang penulis anggap kompeten dan dapat
dipercaya dalam memberikan data yang penulis butuhkan. Kemudian dengan datadata tersebut penulis akan mencoba mengolah
dan menganalisis dari data yang
12
terkumpul dengan metode analisis ini (content anlysis) yaitu dengan menilai dan
mengidentifikasikan data serta menganilisisnya lebih lanjut.
3. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian, metode pengumpulan data yang akan digunakan adalah: 1.
wawancara (interview) 2 observasi (observation) 3 dokumenter (secondary sources)
Sementara kaitanya dengan penelitian dalam skipsi ini akan menggunakan :
a. Wawancara (interview) kepada beberapa responden dan informasi yang
terlibat langsung dalam penelitian ini pihak ulama, orang yang melakukan
upacara tersebut, kuncen dan masyrakat Kecamatan Panjalu Kabupaten
Ciamis.
b. Observasi (observation) peneliti akan meng-Cross check-an data dari
wawancara dengan gejala atau fenomena riil di lapangan. Untuk itu metode
observasi akan sangat membantu memberika informasi dan data secara nyata.
c. Berikutnya adalah dokumentar untuk mendapatkan data sekunder (secondary
sources) metode ini digunakan untuk mendapat beberapa data administratif,
informasi dan dokumen-dukumen yang berkaitan dengan kegiatan penelitian
di Kecamatan Panjalu Kabupaten Ciamis.
d.
Dalam penelitian ini
disamping data dari
lapangan, penulis
juga
menyempurnakannya dengan studi kepustakaan dengan maksud untuk
memperoleh teori-teori dan informasi yang berkaitan dengan hal-hal yang
13
penulis teliti. Studi kepustakaan ini diambil dari beberapa buku, jurnal, artikel,
yang berhubungan dengan tradisi upacara adat.
4. Analisis Data
Dalam pengolahan (processing) dan analisis data (analysis), pertama-tama
diperlukan adalah proses pemeriksaan data (editing) yang terkumpul, guna
memastikan pelengkapan informasi dan data sesuai dengan kebutuhan penelitian
setelah pemeriksaan selanjutnya adalah analisis data yang sudah terkumpul. Karena
sifat penelitian ini kualitatif deskriptif maka bentuk dari hasil atau hasil dari analisis
adalah berupa gambaran deskripsi dan fakta yang di bangun dari pengumpulan datadata tadi. Hasil analisis data, kemudian di konfirmasikan dengan teori-teori sosiologi
yang berkaitan dengan tema yang dikaji.
14
BAB II
ANALISIS TEORITIS TENTANG INTERAKSI SOSIAL TIMBAL BALIK
ANTARA BUDAYA DAN AGAMA
A. Pengetian Agama Dan Budaya
A.1 Pengertian Agama
Seperti yang kita ketahui agama merupakan tiang kehidupan, bias sebagai
pengontrol, dan bias disebut candu. Agama adalah risalah yang disampaikan tuhan
kepada Nabi sebagai petunjuk bagi manusia dan hukum-hukum sempurna untuk
dipengaruhi oleh manusia dalam menyelenggarakan tata cara hidup yang nyata serta
mengatur hubungan dan tanggung dengan dan tanggung jawab kepada allah, darinya
sebagai hamba Allah, manusia dan masyarakat serta alam sekitar.
Agama sebagai sumber nilai merupakan petunjuk, pedoman dan pendorongan
bagi manusia untuk memecahkan berbagai masalah kehidupannya, seperti dalam ilmu
Agama, Politik, Sosial, dan Budaya. Sedangkan yang terbentuk pola motivasi, tujuan
hidup dan prilaku manusia yang menuju kepada keridhoan Allah.
Dengan demikian, budaya itu dilahirkan dari agama islam sehingga tidaklah
akan menjadi masalah kalau agama dianggap sebagai bagian dari budaya. Agama
islam adalah agama. Sebagaimana yang dikatakan oleh mukti Ali yang dikutip oleh
H. Endang saefudin ansori bahwa paling sedikit ada tiga macam yang mempengaruhi
upaya agama, yaitu:
15
1. Karena pengalaman agama itu adalah soal batiniah dan sujektif juga
sangat individual.
2. Bahwa barang kali tidak ada orang yang berbicara begitu semangat dan
emosional lebih dari pada artinya agama selalu emosi yang kuat sekali
sehingga sulit memberikan arti kalimat agama itu.
3. Bahwa konsepsi tentang agama akan di pengaruhi oleh tujuan orang yang
memberikan pengertian agama itu (H. Endang Saefudin Ansori, 1972: 9).
Pengertian agama menurut bahasa sangsekerta agama berarti bekalaan.
Maksud kearah tujuan yaitu kearah yang lbh Dzat Maha Tinggi. Sedangkan menurut
bahasa Indonesia umumnya dianggap ekuivanlen dengan kata agama religion dalam
bahasa inggris religi dalam bahasa Belanda dan kata din dalam bahasa arab.
Pengertian dari kata religi adalah ikatan manusia dengan sesuatu tentang gaib.
Sedangkan pengertian agama menurut W.J.S Poewardiminta adalah segenap
kepercayaan kepada tuhan, dewa dan sebagainya serta gengan ajaran kebaktian dan
kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan itu.
Menurut Durkheim, bahwa dasar-dasar dari adanya agama itu adalah sebagai
berikut:
a.
Bahwa yang menjadi sebab adanya dan berkembangannya kegiatan
keagamaan pada manusia sejak ia berada di muka bumi adalah
dikarenakan adanya suatu „getaran jiwa‟ yang mnimbulkan „emosi
16
keagamaan‟. Timbulnya getaran jiwa itu karenakan rasa sentimen di
dalam masyarakatnya.
b.
Rasa sintimen kemasyarakatan itulah yang menyebabkan timbulnya
emosi keagamaan, sebagai pangkal tolak dari sikap tindak dan
prilaku keagaamaan. Sikap prilaku keagamaan itu tidak selamanya
berkobar dalam arti nurani manusia, oleh karenanya ia harus
dipelihara dan dikorbankan agar tidak terjadi lemah dan tanpa
semangat.
c.
Emosi
keagaamaan
yang
timbul
karena
rasa
sentimen
kemasyarakatan itu membutuhkan adanya maksud dan tujuan. Tujuan
yang bagaimanakah sifatnya yang menyebankan adanya daya tarik
dari emosi keagamaan itu, bukanlah sifat yang luar biasa, aneh,
megah, ajaib, menarik dan sebagiannya, tetapi ialah adanya
tanggapan umum dari masyarakat pendukung.
d.
Objek yang sakral biasanya merupakan lambang dari masyarakat.
Menurutnya pengertian „emosi keagamaan‟ dan „sentimen kemasyarakatan‟
sebagaimana dikemukakan diatas adalah pengertian dasar yang merupakan inti dari
setiap agama. Menentukan bentuk lahir dari suatu agama di masyarakat tentu, yang
menunjukan
ciri-
cirri
perbedaan
yang
nyata
berbagai
agama
didunia.
(H.Hilman,1993 : 36-38).
17
Kemudian menurut Hasbie Ash Shiddieqie yang kutipan oleh Abuy Sadikin
adalah:
Agama adalah suatu kesimpulan peraturan yang di tetapkan allah
untuk menarik dan menentukan para umat yang berkala kuat, yang suka tunuk dan
patuh kepada kebaikan, upaya mereka untuk memperoleh kebahagian dunia,
kejayaan dan kesentosaan akhirat, negeri yang abadi supaya dapat mendalami surga
jannatul khulib,mencapai dan kenikmatanserta kelezatan yang taka dad tolak
bandingannya serta kekal selamanya. ( Abuy Sadikin, 1986: 16)
Dalam hal ini juga akan dikemukan pendapat Harun Nasutrion bahwa
pengertian agama di beri definisi, yaitu:
1. Pengakuan terhadap adanya hubungan manusia dengan kekuatan gaib
yang harus dipatuhi.
2. Pengetahuan terhadap adanya kekuatan gaib yang menguasai manusia.
3. Mengikatkan diri pada sesuatu hidup yang mengandung pengakuan pada
suatu sumber yang ada di luar diri manusia dan yang mempengaruhi
perbuatan-perbuatan manusia.
4. Kepercayaan pada sesuatu kekuatan gaib yang menimbulkan cara hidup
tertentu.
5. Suatu sistem tingkah laku atau cade of conduct yang berasal dari kekuatan
gaib.
6. Pengakuan
terhadap
adanya
kewajiban-kewajiban
yang
diyakini
bersumber pada kekuatan gaib.
7. Pemujaan terhadap kekuatan gaib yang timbul dari perasaan lemah dan
perasaan takut dari kekeuatan terhadap kekuatan yang timbul dari
18
kekuatan terhadap kekuatan misterius yang terdapat dalam alam sekitar
manusia.
8. Ajaran-ajaran yang mewahyukan Tuhan kepada manusia melalui seoarang
Rasul
(Harun Nation, 1984: 40).
Selain itu juga yang di kemukakan oleh H. Endang saefudin Ansori (1982: 2)
yang mengambil dari pendapat Ustad Munawar Chalil adalah agama berasala dari
kata (daana-yadiinu - diinan menurut lugat kata itu mempunyai arti bermacammacam antara lain, seperti:
1.
Cara atau adat kebiasaan.
2.
Peraturan.
3.
Undang-undang.
4.
Tha‟at atau patuh.
5.
Menunggalkan ketuhanan.
6.
Pembalasan.
7.
Perhitungan.
8.
Hari kiamat.
9.
Nasehat.
10. Agama.
19
A.2 pengertian budaya
Kiranya sanagtlah sulit untuk mendefinisikan seuatu yang dapat diakui dan
diterima oleh semua kalangan begitu pula dengan “kebudayaan” seorang pengarang
yang menulis seperti Koetjaraningrat udah banyak mendefinisikan kebudayaan yang
tak terbatas, bahkan tidak dapat menutupi kemungkinan untuk lahir definisi-definisi
yang baru di kemudian hari. Hal tersebut tidak lah memungkinkan, karena
kebudayaan adalah merupakan keseluruhan total dari apa yang pernah di hasilkan
oleh mahluk yang bernama manusia, yang menguasai planet di muka bumi ini.
Dengan demikian dapat dimengerti mengapa konsep kebudayaan ini
sedemikian rupa ruang lingkupnya sehingga seolah-olah tak dapat dibatasi atau
didefinisikan.”Kebudayaan” berasal dari bahasa sangsekerta “Buddayah” atau akal,
yaitu bentuk jamak dari “Buddhi” yang artinya “Budi” dan “akal”, sehingga kata
kebudayaan dapat diartikan “hal-hal yang bersangkutan dengan akal”.
P.J Zoetmulder dalam buku koentjaraningrat kata budaya sebagai suatu
pertimbangan dari budi-daya”, yang berarti”daya dari budi”, sedangkan kebudayaan
adalah hasil dari cipta, rasa dan karsa. Karena itu ia membedakan “budaya” dari
„kebudayaan” lain pula istilah Antopologi budaya, menurut koentjaringrat perbedaan
itu ditiadakan, sehinggga kata budaya indentik dengan kata” kebudayaan” atau
merupakan singgahan kata “kebudayaan” yang berati sama.
Salam sebuah buku pengantar ilimu sosiologi soejono soekanto seorang tokoh
barat E.B. Tailor mengatakan bahwa kebudayaan adalah komplek yang mencakup
pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan20
kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang lain mencakup semua yang didapatkan
atau dipelajari oleh manusia. Sebagai anggota masyarakat.
Definisi kebudayaan yang dikemukakan oleh R. Lionton bahwa kebudayaan
adalah konfigurasi tingkah laku yang dipelajari sari hasil tingkah laku yang unsur
penbentukannya didukung dan diteruskan oleh anggota masyarakat tertentu.
Sehubungan dengan penelitian ini penulis mengutip definisi “ kebudayaan “
menurut . C. Klukhoha dan W.H. Kelly (Harsojo 1968: 93). Mencoba merumuskan
definisi kebudayaan sebagai hasil dari tanya jawabnya dengan para ahli Antropologi,
ahli Psikologi, ahli Filsapat dan ahli Hukum yang merumuskan sebagai berikut
adalah:‟Kebudayaan pola hidup yang tercipta dalam sejarah yang mengeksplisit,
impelisit, rasional, dan non rasional, yang terdapat pada setiap waktu sebagai
pedoman potensial bagi tingkah laku manusia‟.
Banyaknya pendapat para sarjana tentang unsur-unsur kebudayaan, oleh C.
Kluckhohn dianalisis dengan menunjukan pada inti pendapat-pendapat sarjana, yang
menyimpulkan adanya tujuh unsur kebudayaan yang dianggap sebagai cultural –
universals, yaitu:
a. Peralatan dan perlrngkapan hidup manusia
b. Mata pencaharian hidup dan sistem-sistem ekonomi.
c. Sistem kemasyarakatan
d. Bahasa.
e. Kesenian.
f. Sistem pengetahuan.
g. Religi.
21
Timbulnya agama budaya dalam alam pikiran manusia adalah dikarenakan
adanya getaran jiwa yang disebut „ emosi keagamaan‟ atau „religion emotion‟
menurut koentraningrat emosi keagamaan ini biasanya pernah dialami setiap
manusia, walaupun getaran emosi itu mungkin hanya berlangsung untuk beberapa
detik saja, untuk kemudian menghilang lagi. Adanya emosi keagamaan itulah yang
mendorong orang melakukan tindakan-tindakan yang bersifat religi.
Jadi yang melatar belakangi terjadinya berprilaku keagamaan, percaya kepada
yang ghaib atau maha ghaib, adalah dikarenakan adanya dorongan emosi keagamaan
dalam batin manusia itu sendiri.
Budaya agama yaitu hasil-hasil pikiran dan prilaku budaya manusia yang
menyangkut keagamaan. Budaya keagamaan tersebut sesuai dengan ajaran agama
dan kepercayaan masing-masing, ada yang dalam benak manusia berdasarkan
kehendak yang di wahyukan tuhan kepada para nabi, dan ada yang muncul dalam
benak manusia berdasarkan emosi keagamaan pribadi manusia itu sendiri.
Konsep tersebut adalah menyangkut sistem keyakinan dan kepercayaan
terhadapa yang ghaib, yang mana antara ajaran agama dan kepercayaan yang satu
berbeda dari yang lain (H.Hilman, 1993: 26).
Setiap kebudayaan mempunyai sifat-sifat hakikat sebagai berikut:
a.
Kebudayaan terwujud dan tersalurkan dari prilaku manusia
b.
Kebudayaan telah ada lebih dahalu mendahului lahirnya sesuatu generasi
tertentu, dan tidak akan mati dengan habisnya usia generasi yang
bersangkutan.
22
c.
Kebudayaan diperlukan oleh manusia dan diwujudkan dalam tingkahlakunya.
d.
Kebudayaan mencakup aturan-aturan yang berisikan kewajiban, tindakantindakan yang diterima, dan ditolak, tindakan-tindakan yang diizinkan.
Dari ungkapan-ungkapan tersebut,penulis menyimpulkan bahwa dibalik
perbedaan tersebut terdapat satu kesamaan bahwa kebudayaan itu ilah ciptaan
manusia, dengan kata lain esensi dari masing-masing definisi itu adalah manusia
dengan berbagai aspeknya.
A.3 pengertian Masyarakat
Istilah masyarakat merupakan pengertian yang abstrak menunjukan kepada
sejumlah
manusia.
Istilah
masyarakat
berasal
dari
bahasa
arab
yaitu:…………………..” yang berarti pergaulan atau persekutuan dalam bahasa
inggris adalah society
Penulis menguraikan masyarakat kedalam beberapa pengertian menurut tokoh
sebagai berikut:
Pendapat M. Munawar Soelaeman, agama dalam bahasa inggris masyarakat
disebut society, asal kata socies yang berarti kawan. Adapun kata” masyarakat berasal
dari bahasa arab “……..” artinya bergaul. Untuk arti yang lebih khusus masyarakat
disebut pula kesatuan sosial, yang mempunyai ikatan-ikatan kasih sayang yang erat.
(M. Munawar Soelaeman, 1989: 13)
23
Seorang tokoh barat aguste comte dalam buku pengantar ilmu sosiologi
Soejono Soekanto mengenai masyarakat,masyarakat adalah suaatu kesatuan
manusia yang hidup dalam suatu ikatan dan norma yang melahirkan suatu setruktur
dan organisasi sosial masyarakat.
Menurut pendapat Hasan Saddely, yaitu „ masyarakat adalah golongan besar
atau kecil terdiri dari beberapa manusia dengan sendirinya bertalian secara
golongan dan pengaruh mempengaruhi antara satu dengan yang lainnya (Hilman
Hadi Kusuma, 1993: 31).
Sedangkan pengertian masyarakat yang dikemukakan oleh Soejono Soekanto
disebut sebagai “ Society” yaitu suatu sistem sosial yang menghasilkan kebudayaan
(Soejono Soekanto, 1999: 466).
Selain itu Abu Ahmadi dalam bukunya “ Psikologi sosial” mengutip beberapa
tokoh barat diantaranya.
R. Lionton, masyarakat adalah setiap pokok yang telah cukup lama hidup dan
bekerja sama, sehingga mereka itu dapat mengorganisasikan dirinya dengan fikiran
tentang dirinya sebagai satu kesatuan sosial dengan batasan-batasan tertentu (Abu
Ahmadi, 2001: 35).
Kemudian J.L. Gillin dan J.P Gillin mengatakan bahwa masyarakat adalah
kelompok manusia yang terbesar dan mempunyai kebiasaan, tradisi, sikap, dan
perasaan persatuan yang sama. Masyarakat itu mempunyai pengelompokanpengelompokan yang lebih kecil.
24
B. Pengertian Interaksi Sosial Timbal Balik Dan Timbulnya Interaksi
Membahas mengenai interaksi sosial dari bentuk umumnya proses sosial itu
adalah interaksi sosial dalam pekembangan masyarakat yang memilki wujud yang
sedemikian rupa, yang mempunyai dinamika, dinamika disebabkan karena para
warganya mengadakan hubungan satu dengan yang lainnya, baik dalam bentuk orang
perorang
maupun
kelompok
sosial,
sebelum
hubungan-hubungan
tersebut
mempunyai bentuk yang kongkrit, terlebih dahulu akan dialami sesuatu proses ke
arah bentuk kongkrit sesuai dengan nilai-nilai sosial dan budaya adalah dalam
masyarakat.
Interaksi sosial merupakan kata majemuk dan sudah menjadi baku untuk
istilah ilmu sosial, maka untuk mempelajari dan mengerti pengertian dari kata
tersebut tidak perlu milih-milih dua kata dari kata pemisahan hanya merencanakan
pengertian yang dimaksud.
Pengertian interaksi sosial sangat terkait dengan keberadaan manusia itu
sendiri sebagai mahluk sosial, yaitu sebagai mahluk yang tidak mungkin mampu
memenuhi segenap kebutuhan hidupnya dengan seorang dari secara sempurna.
Sehingga manusia memerlukan sentuhan-sentuhan pergaulan dengan sesama
manusia. Seorang sosiologi barat yaitu H. Bonner yang berpendapat yang diketik
ulang oleh ( Gerungan 1997: 58). Memberikan pengertian tentang interaksi sosial
sebagai hubungan sosial antara dua indidvidu atau lebih dengan individu, dimana
25
kelakuan individu yang satu mempengaruhi, menggugah atau memperbaiki kekuatan
yang lain atau sebaliknya.
Coller Mac Millan (1999:492) menerangkan bahwa interaksi social sebagai
sesuatu yang tidak terlepas dari perkataan bahwa manusia sebagai “social” yaitu yang
berhubungan timbal balik antara dua atau lebih manusia yang dapat berlangsung
secara perorangan, kelompok, individu, atau si pelaku. Hal ini menunjukan hubungan
yang dimaksud semata-mata terlepas dari akal yang sehat.
Sedangkan seorang sosiolog Indonesia Soejono soekanto menerangkan bahwa
interaksi merupakan proses dari hubungan timbale balik antara individu dengan yang
lainnya. Hubungan itu dapat secara berkelompok antar perorangan maupun antara
kelompok dengan perorangan.
George simmel mendefinisikan dan menganalisis bentuk-bentuk yang
berulang atau pola-pola sosiasi (sociation) sosiasi itu berarti proses dimana
masyarakat itu terjadi sosiasi meliputi timbal balik, mempunyai proses ini, di mana
individu saling berhubungan dan saling mempengarhi, masyarakat itu sendiri muncul.
Pola interaksi timbal balik mereka saling mempengaruhi dan berhubungan.
Pendekatan ini mengusahakan keimbangan antara pandangan nominal (yang
hanya individu yang rill) dan pandangan realis atau teori organic (yang
mengemukakan bahwa kenyataan social itu bersifat indefenden dari individu yang
membentuknya). (Robert M. Z , 1994:257)
Dengan memperhatikan beberapa pengertian yang d lontarkan oleh para ahli
diatas, maka dapat kesimpulan bahwa interaksi social pada dasarnya merupakan
26
hubungan timbal balik antara manusia dengan manusia yang lainya, yang dapat
berlangsung secara perorangan atau pun secara kelompok, baik secara langsung
maupun tidak langsung.
Adapun proses hubungan timbal balik dalam interaksi social sangat
memungkinkan manusia untuk berubah-ubah tergantung kepada kekuatan yang
dimilikinya serta kekuatan yang ditimbulkan dari pihak lainnya. Perubahan seperti itu
sangat tergantung kepada banyaknya factor, terutama karekteristik pelaku itu sendiri
serta situasi dan kondisi yang melingkupi dirinya pada saat berinteraksi baik dengan
agama maupun dengan budaya yang ada di lingkungan masyarakat.
Adapun berbicara tentang sebab-sebab timbulnya interaksi social, berarti
membicarakan esensi manusia secara psikologi. Sebab hal ini sangat berkaitan
dengan manusia dengan segala perangkatyang dimilikinya. Kecendrungan utama dari
timbulnya interaksi social adalah aspek kejiwaan manusia. Dasarnya sudah barang
tentu dari pemikiran bahwa manusia itu merupakan mahluk social yaitu yang
membutuhkan sesame manusia lainnya. Manusia pun tidak akan luput dari
kebudayaan yang dimilikinya.
Pendapat Ibnu Kholdun yang dikutip oleh ( Rulsan 1987: 13) bahwa manusia
merupakan mahluk yang sesantiasa membutuhkan bantuan dan pertolongan dari
sesamanya, karena itu tidak mungkin manusia dapat hidup seorang diri dengan
mengasingkan dirinya. Dia tetap memerlukan lainnya
Aristoteles menyebutkan bahwa manusia sebagai “ Being Society”, yang
berkonatasi bahwa manusia merupakan mahluk yang bersandar dan tergantung
27
kepada yang lainnya, ketergantungan itu dapat secara langsung maupun tidak
langsung. Jadi dengan uraian diatas tersebut semakin jelas bahwa utamanya
timbulnya interaksi social adalah sifat nurani manusia itu sendiri.
Factor lain yang menimbulkan interaksi social adalah kewajiban manusia ang
senantiasa ingin terus maju dan selalu tidak merasa puas. Dan untuk memenuhi
kebutuhan yang lain diharapakan, maka dari situlah mulai timbul interaksi social.
Interaksi social merupakan kunci dalam proses social di masyarakat. Karena dengan
mewujudkan sebuah interaksi sosial inilah terjadi berbagai macam bentuk aktivitas
kemasyarakatan.
Dengan aktivitas-aktivitas dinamis ini masyarakat akan terus bergerak kearah
menju suatu tujuan dimana aktivitas tersebut, merupakan proses dalam interaksi
social ini akan menciptakan suatu proses dalam interaksi social yang lain. Sebagai
suatu sintesa dan interaksi-interaksi social budaya sebelumnya, itulah yang
merupakan menyebabkan timbulnya interaksisosial antara manusia dengan manusia
lainya, baik secara pribadi maupun individu dengan kelompok, kelompok dengan
individu, kelompok dengan kelompok.
B.1 Proses Interaksi
Yang dimaksud dengan proses interaksi social adalah hal-hal yag lebih dari
sebagai aktivitas psikoligi dan aktivas kelakuan pada individu-individu perorangan.
Ini berarti prose situ seendiri membicarakan tentang pengaruh yang timbulkan oleh
adanya interaksi social.
28
Sebenarnya membicarakan tentang proses interaksi social yang merupakan
persoalan yang merupakan persoalan yang luas, padanya terangkum aneka masalah
yang cukup komplek. Tetapi hal itu dapat di bedakan dari faktor-faktor yang
mendasarinya. Menurut Gerungan ada empat faktor yang mendasarinya baik secara
tunggal maupun bergabung yaitu:
1. Faktor Simpati
2. Faktor Imitasi
3. Faktor Sugesti
4. Faktor Indentifikasi
Dengan melihat faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya proses interaksi
social, maka jelaslah bahwa proses interaksi social itu tidak dapat berlangsung begitu
saja secara sekaligus. Melainkan bertahap sesuai dan kondisi yang ada serta
kewajiban orang-orang yang bersangkutan.
Kenudian dalam prosesnya yang di capai dapat pula menghasilkan akibatakibat berlainan. Antara lain dapat mengakibatkan nilai-nilai kerja sama yang atau
solidaritas, pertentangan-pertentangan atau kompetensi. Sehingga dari proses
hubungan timbale balik di dalam kelompok sedikit yang dapat memotivasi sikapsikap lahiriah.
Selain soladaritas juga bertentangan sebagai akibat yang timbul oleh interaksi
social yang bertentangan arah dan kadar kekuatannya kira-kira sama. Sedangkan
29
kopentensi atau persaingan merupakan salah satu dampak dari adanya interaksi social
baik positif maupun negative.
Interaksi social merupakan kunci dalam proses social di masyarakat. Karena
dengan mewujudkan sebuah interaksi social inilah terjadi berbagai macam bentuk
aktivitas kemasyarakan. Dengan aktivitas-aktivitas dinamis ini masyarakat akan
bergerak kearah menuju suatu tujuan dimana aktivitas tersebut, merpakan proses
dalam interaksi social ini akan menciptakan suatu bentuk pola interaksi social yang
lain. Sebagai suatu sintesa dan interaksi-interaksi social dan budaya sebelumnya.
Dalam proses kita mengenal interaksi atau aksi, dan aksi yang kita amati,
apabila individu-individu dan kelompok-kelompok bertemu dan mengendalikan
system hubungan, apa yang terjadi yang telah ada, apabila dua orang atau lebih saling
berhubungan mengadakan interaksi, maka akan terjadi apa yang dinamakan dengan
proses social, proses ini dapat terjadi antara orang yang sama lainnya memberikan
dorongan kepada yang lain, yang dibalas dengan reaksi timbal balik.
B.2 Syarat dan Bentuk Interaksi Sosial
Syarat interaksi itu adalah tidak akan mungkin jika tidak ada yang di
pengaruhi dua syarat ini di antara syarat interaksi social.
1. Adanya kontak social
2. Adanya komunikasi
Kata kontak social berasal dari basaha latin con atau cum ( yang artinya samasama) dan tongo ( yang artinya menyuntuh), jadi secara harfiah adalah bersama-sama
30
menyentuh, secara spesifik. Kontak baru terjadi apabila terjadi hubungan badaniah,
oleh karena itu orang dapat mengadakan hubungan dengan pihak lainya. (Soejono
Soekanto, 1991)
Kontak social dapat berlangsung dengan tiga hal ini :
1. Antara orang perorang
2. Antara orang perorangan suatu kelompok manusia atau sebaliknya
3. Antara kelompok manusia dengan kelompok lainnya.
Kontak social tersebut dapat pula bersifat positif atau negative, yang bersifat
positif mengarah pada suatu kerja sama, sedangkan negative mengarah pada suatu
pertenangan sama sekali tidak menghasilakan suatu interaksi social.
Suatu kontak social dapat pula bersifat primer atau pun sekunder. Kontak
social primer terjadi apabila yang mengadakan hubungan berlangsung bertemu dan
berhadapan muka, sedangkan yang sekunder memerlukan sesuatu pengantar.
Artinya apabila yang penting adalah dari komunikasi, dengan adanya
kominikasi tersebut, sikap-sikap dan perasaan suatu kelompok manusia atau orang
perorangan dapat di ketahui oleh kelompok-kelompok lain atau orang-orang lainnya,
dengan demikian komunikasi memungkin kerja sama antara kelompok-kelompok
orang perorangan atau pun antara kelompok-kelompok manusia dan memang
komunikasi merupakan salah satu syarat terjadinya kerjasama.
31
B.3 Bentuk Interaksi
Bentuk-bentuk interaksi social itu adalah kerjasama (cooperation), persaingan
(compettion), konflik (conflict), mungkin bagaimana menyelesaikan masalah bentuk
interaksi itu? Sebenarnya penyelesaian tersebut hanya akan dapat diterima, sementara
waktu proses mana dimana akomodasi (akomodation) dan ini berarti bahwa berdua
belah pihak belum tentu puas sepenuhnya, suatu keadaan dapat di anggap sebagai
bentuk ke empat dari interaksi social.
Bagaimana pun bentuk social yang terjadi, akan mengambil bentuk kepada
interaksi social yang berupa kerjasama (cooperation), persaingan (compettion), dan
pertentangan (conflik), begitu pula dalam mewujudkan sebuah interaksi agama dan
budaya dimana penelitian ini akan mengikuti pola yang sama.
Bentuk proses social umum social agama adalah ineteraksi social oleh karena
itu interaksi social merupakan syarat utama terjadinya aktivitas-aktivitas social
hubungan antara orang perorang, perorang dengan kelompok dan kelompok dengan
kelompok itu merupakan interaksi social dimana bila interaksi mesti ada ada orang
peorang dan kelompok. Dua orang manusia bertemu itu sudah menjadi proses dimana
interaksi itu berlangsung bisa disebut interaksi social pada saat itu, karena ada
komunikasi antara individu. (Soejono,67:2001)
Bentuk pokok interaksi social tersebut tidak perlu merupakan sesuatu
kontinta, di dalam arti bahwa interaksi itu dimulai dengan kerjasama yang dengan
individu-individu menjadi persaingan serta memincuk terjadinya pertikaian yang
untuk akhirnya sampai pada akomodasi.
32
Gilin dan Gilin menurut mereka ada dua macam proses social yang timbul
sebagai sebab akibat adanya interaksi social yaitu:
1. Proses yang asosiatif (proses association)
Yang terbagi kedalam tiga bentuk yaitu:
a. Akomodasi
b. Asosiasi
c. Akulturasi
2. Proses yang diasosiasikan yang mencakup
a. Persaingan
b. Persaingan yang meliputi kontraversi dan pertentangan atau pertikaian
(conflik)
Suatu kerja sama dalam interaksi social itu untuk mengambarkan bentukbentuk interaksi social atas dasar bahwa segala macam bentuk interaksi social
tersebut dapat di kembalikan pada kerja sama. Kerja sama ini di maksud sebagai
salah satu usaha bersama antara seorang perorang atau pun kelompok manusia untuk
mencapai satu atau beberapa tujuan bersama. Bentuk kerja sama tersebut berkembang
apabila orang dapat digerakan untuk mencapai suatu bersama dan harus adanya
kesadaran bahwa tujuan tersebut di kemudian hari mempunyai manfaat bagi sesama.
Kerjasama timbul karena orientasi orang perorangan terhadap kelompoknya
(in-grup-nya) dan kelompok lainya (out- grup-nya) kerja sama mungkin akan
bertambah kuat apabila luar yang mengancam atau adanya tindakan-tindakannya luar
33
yang menyinggung kesetian di dalam kelompok, dalam dari seoarang atau
segolongannya.
Dalam teori-teori sosiologi akan dapat di jumpai beberapa bentuk kerja sama
yang bisa di berinama kerja sama (cooperation). Kerja sama tersebut lebih jauh
dibedakan lagi dengan kerja sama spontan (spontanis cooperation), kerja sama
langsung (derektif cooperation) kerja sama tradisional (tradisional cooperation),
yang terutama adalah kerja sama yang serta merata yang kedua merupakan hasil dari
perintah atasan atau penguasa. Sedangkan yang ketiga merupakan kerja sama atas
dasar tertentu dan yang keempat merupakan bentuk kerja sama sebagai bagian atau
unsure dari system social.
Sehubungan dengan pelaksaan kerja sama ada lima
1. Kerukunan
2. Bargaining
3. Ko-optasi (co-optation)
4. Kualisi (cualition)
5. Join-venture
C. Akomodasi (Accomodation)
Istilah akomodasi dipergunakan dua arti yaitu untuk menunjukan proses.
Akomodasi yang menunjukan pada suatu keadaan berarti orang perorangan atau
kelompok manusia dalam kaitannya dengan norma-norma social dan nilai-nilai social
yang berlaku didalam masyarakat
34
Menurut Gillen dan Gillen dalam buku Soejono Soekanto akomodasi adalah
suatu pengertian yang digunakan oleh para ahli sosiologi untuk menggambarkan
suatu proses dalam hubungan-hubungan social yang sama artinya dengan pengertian
adaptasi yang dipergunakan biologi untuk menunjukan proses dimana mahlukmahluk hidup menyesuaikan dirinya dalam alam sekitar.
Sebagai suatu proses, Akomodasi mewujudkan pada usaha-usaha untuk
mengadakan suatu pertentangan yaitu usaha-usaha menciptakan kesetabilan.
Akomodasi itu sesuatu proses dalam hubungan-hubungan social yang sama artinya
dengan adaptasi (adaptasion) yang digunakan para-para ahli menyesuaikan diri
dengan sekitarnya.
Disamping kerja stabilitas dalam beberapa bidang, mungkin sekali bentukbentuk pertentangan dalam bidang-bidang lainnya masih tertinggal, benih-benih
pertentangan yang bersifat telat tadi, sewaktu-waktu akan menimbulkan pertentangan
baru.
Dengan
demikian
akomodasi
bagi
pihak-pihak
tertentu
dirasakan
menguntungkan bagi sebagian pihak, sebaliknya agak menekan bagi pihak-pihak
tertentu dirasakan menguntungkan bagi kelangsungan hidupnya dalam dimasyrakat,
sebaliknya agak menekan bagi pihak-pihak lain lantaran campur tangannya kekuasan
tertentu dalam masyarakat. (Soejono,82-89:2001)
C.I. Tujuan dari Akomodasi
Tujuan dari akomodasi dalam bentuk interaksi social itu adalah
1. Untuk mengurang pertentangan antara orang-perorang ataupun
kelompok-kelompok manusia sebagai akibat perbedaan faham
35
2. Mencegah meledaknya suatu pertentangan sementara wakyu maupun
secara temporer.
3. Untuk memungkinkan terjadinya kerja sama antara kelompokkelompok social yang hidup terpisah akibat faktor-faktor social
psikolog dan kebudayaan.
4. Mengusahakan peleburan antara kelompok-kelompok social yang
terpisah
C.2. Bentuk-bentuk Akomodasi
Bentuk akomodasi sebagai suatu proses mempunyai beberapa bentuk yaitu;
1. Coercion,sebagai suatu bentuk Akomodasi yang prosesnya di
laksanakan oleh karena adanya paksaan coertcion merupakan bentuk
Akomodasi,dimana salah satu pihak berbeda dalam keadaan yang
lebih,bila di bandingkan dengan pihak lawan.Pelaksanaanya dapat di
lakukan secara fisik, maupn secara psikolog.
2. Compromise,adalah bentuk akomodasi dimana fihak yang terlibat
saling mengurangi timbulnya interaksi social agar tercapai suatu
penyelisihan terhadap penyelisihan yang ada.
3. Arabitration,merupakann suatu cara untuk mencapai compromise apa
bila pihak-pihak yang terhadap tidak sanggup mencapainya sendiri.
36
4. Smediantion,hampir menyerupai arbitration pada mediatation di
undanglah fihak ketiga yang netral dalam persoalan perselisihan yang
ada.
5. Conclition,adalah suatu usaha untuk mempertahankan penemuan ke
inginan dari fihak-fihak yang berselisih demi tercapainya suatu
persetujuan sama.
6.
Toletation, juga sering di namakan tolerant partipation ini merupakan
suatu bentuk Akomodasi tanpa persetujuan yang formal bentuknya
7. Stalemate, merupakan suatu akomodasi di mulai pihak-pihak yang
bertentangan karena mempunyai kekuatan yang seimbang berhenti
pada suatu titik tertentu dalam melakukan pertentangannya
8. Adjucation, yaitu penyelesaian perkara atau sangketa di pengadilan
Dengan uraian bentuk akomodasi diatas menggambarkan bahwa bentuk
akomodasi itu berbeda dan bermacam-macam untuk kita pelajari jadi kesimpulan dari
bentuk akomodasi ini adalah suatu dimana mempertahankan dimana salah satu fihak
berbeda dalam keadaan yang lebih, bila dibandingkan dengan fihak lawan tanpa
mengurangi timbulnya inreraksi social agar tercapai suatu penyelisiahan terhadap
perselisihan yang ada demi tercapainya suatu pertujuan sama.
C.3. Hasil-hasil Akomodasi
Dari bentuk akomodasi interaksi social akan menghasilkan beberapa
diantaranya:
37
1. Usaha-usaha sebanyak mungkin menghindar diri dari bentuk-bentuk
pertentangan yang baru guna pentingnya intergrasi masyarakat
2. Menekan opsisi
3. Kordinasi perbagai kepribadian yang berbeda
4. Perubahan dari lembaga-lembaga ke masyarakat agar sesuai dengan keadaan
yang baru
5. Perubahan-perubahan kependudukan
6. Membuka jalan kearah asimilasi (Soejono Soekanto, 2001 :)
Sebagai suatu proses, akomodasi mewujudkan pada usaha-usaha untuk
mengadakan suatu pertentangan yaitu usaha-usaha untuk menciptakan kesetabilan
dalam kehidupan bermasyarakat. Akomodasi itu suatu proses dalam hubunganhubungan social yang sama artinya dengan adaptasi (adaftasion) yang digunakan oleh
para-para ahli menyesuaikan dirinya dengan alam sekitarnya.
38
BAB III
ANALISIS EMPIRIS TERHADAP AKOMODASI BUDAYA DAN AGAMA
DALAM PROSES “ NYANGKU”
A. Kondisi Objektif Kelurahan Desa Panjalu
Panjalu merupakan sebuah desa yang terletak di Kecamatan Panjalu yang
merupakan bagian wilayah Utara Kabupaten Ciamis, Propinsi Jawa Barat, Panjalu
juaga merupakan Ibukota Kecamatan Panjalu. Lokasi Panjalu yang berbatasan
langsung dengan Kawali dan Galuh juga menunjukkan keterkaitan yang erat dengan
Kemaharajaan Sunda karena menurut Ekadjati (93:75) ada empat kawasan yang
pernah menjadi ibukota Sunda yaitu: Galuh, Parahajyan Sunda, Kawali, dan Pakwan
Pajajaran.
Keadaan prasarana jalan menuju Panjalu cukup baik, dari arah Barat maupun
arah Timur. Dari arah Barat terutama Bandung melalui Ciawi jaraknya sekitar 100
km, dari arah Timur laut yaitu Cirebon/ Kuningan melalui Panawangan Kawali
jaraknya sekitar 75 km. Sedangkan dari arah timur melalui Ciamis jaraknya sekitar 30
km. Kota kecil ini menyimpan berbagai ceritra yang menarik dan terpelihara baik
secara lisan maupun tertulis yakni dari ceritra rakyat maupun babad.
Secara geografis wilayah Kabupaten Ciamis berada pada 108020' sampai
dengan 108040' Bujur Timur dan 7040'20" Lintang Selatan. Wilayah sebelah Utara
berbatasan dengan Kabupaten Majalengka dan Kabupaten Kuningan, sebelah Barat
39
dengan Kabupaten Tasikmalaya Kota Tasikmalaya, sebelah Timur dengan Kota
Banjar dan Propinsi Jawa Tengah, dan sebelah Selatan dengan Samudra Indonesia.
Mulai tahun 2003 wilayah Kota Administratif Banjar terpisah dari wilayah
Kabupaten Ciamis dan berubah status menjadi Kota Banjar, dengan terpisahnya
wilayah tersebut luas Wilayah Kabupaten Ciamis berkurang disbanding dengan
keadaan tahun 2002 yaitu dari 255.910 ha menjadi 244.479 ha. Wilayah selatan
Kabupaten Ciamis berbatasan langsung dengan garis pantai Samudra Indonesia yang
membentang di 6 kecamatan dengan panjang garis pantai mencapai 91 km. Dengan
adanya garis pantai tersebut, maka Kabupaten Ciamis memiliki wilayah laut 67. 340
ha yang berada di 6 Kecamatan.
Kabupaten Ciamis terdiri dari 36 Kecamatan dan 345 desa/ Kelurahan
Keadaan alam di Kabupaten Ciamis cukup potensial untuk pertanian dan pariwisata
karena merupakan jalur tranportasi antar kota maupun antar propinsi selain memiliki
pantai Pangandaran yang sangat indah sehingga menjadi primadona wisatawan
domestik dan mancanegara.
Komoditi unggulan Kabupaten Ciamis dari subsektor perikanan laut
diantaranya lobster, kakap merah, bawal, udang jerbung dan layur. Di subsektor
budidaya ikan air tawar diantaranya gurame, nila gift dan udang alah.Selanjutnya di
subsektor tanaman pangan terdapat potensi duku, salak,cabe dan jagung. Untuk
subsektor peternakan mempunyai komoditi unggulan sapi, ayam ras dan domba. Dari
subsektor perkebunan yang potensinya menonjol adalah cengkeh, kakao, lada dan
kelapa.
40
Selain kaya akan potensi Pertanian, Kabupaten Ciamis juga mempunyai
komoditi unggulan di sector pariwisata alam terutama keindahan pantai dan
peninggalan sejarah kerajaan Galuh yang didukung oleh potensi seni budaya seperti
wayang golek, calung dan seni sunda lainnya.
Sebelah Utara
: a. Kabupaten Majalengka
b. Kabupaten Kuningan
Sebelah Barat
: c. Kabupaten Tasikmalaya dan Kota Tasikmalaya
Sebelah Timur
: d. Kota Banjar dan Propinsi Jawa Tengah
Sebelah Selatan
: e. Samudera Indonesia
A.2 Keadaan Penduduk Desa Panjalu
Wilayah Desa Panjalu pada tahun 2010/2011 mempunyai jumlah penduduk
seluruhnya 7879 jiwa, yang terdiri dari Laki-laki 3833 Jiwa dan Perempuan 4046
Jiwa dan terdapat 1879 KK. Adapun perincian jumlah penduduk menurut usia yang
nenurut sensus aparat pemerintahan Desa Panjalu pada Tahun 20010/2011 yang
:sesuai dengan keadaan dan kondisi masyarakat Desa Panjalu sebagai berikut:
41
Tabel 1.1
JUMLAH PENDUDUK MENURUT UMUR
Umur
Jumlah
Umur
Jumlah
Umur
Jumlah
0-12 bulan
38
20 tahun
21
40 tahun
45
1 tahun
20
21 tahun
14
41 tahun
41
2 tahun
70
22 tahun
10
42 tahun
21
3 tahun
31
23 tahun
31
43 tahun
61
4 tahun
15
24 tahun
21
44 tahun
43
5 tahun
20
25 tahun
17
45 tahun
12
6 tahun
30
26 tahun
11
46 tahun
23
7 tahun
28
27 tahun
13
47 tahun
61
8 tahun
17
28 tahun
20
48 tahun
23
9 tahun
30
29 tahun
13
49 tahun
23
10 tahun
20
30 tahun
26
50 tahun
20
11 tahun
17
31 tahun
23
51 tahun
26
12 tahun
21
32 tahun
18
52 tahun
30
13 tahun
15
33 tahun
20
53 tahun
54
14 tahun
70
34 tahun
17
54 tahun
45
15 tahun
30
35 tahun
20
55 tahun
65
16 tahun
21
36 tahun
16
56 tahun
16
17 tahun
26
37 tahun
11
18 tahun
12
38 tahun
17
19 tahun
12
39 tahun
12
Sumber Data Sensus dari Tahun 2010/2011
42
Dapat dilihat dari tabel yang sesuai dengan umur warga masyarakat Desa
Panjalu Kecamatan Panjalu Kabupaten Ciamis, rata-rata umur ynag paling banyak
sekitar 70 prang yang berumurnya 15, tingkat yang paling banyak dibandingkan
dengan umur 22 Tahun yang berkisar 10 Orang.
Dengan begitu bisa disimpulkan dalam tabel yang ada diatas menunjukan
bahwa umur yang paling banyak adalah sekitar umur 15 dan umur 55 Tahun, hasil ini
merupakan hasil dari sensus Tahun 2010/2011 di Desa. Panjalu Kecamatan Panjalu
Kabupaten Ciamis.
Tabel 1.2
JUMLAH PENDUDUK MENURUT AGAMA
No
Agama/Kepercayaan
Jumlah
1
Islam
7879
2
Kristen
Tidak ada
3
Budha
Tidak ada
4
Hindu
Tidak ada
5
Katolik
Tidak ada
Sumber Data Sensus dari Tahun 2010/2011
Sedangkan jumlah penduduk masyarakat etnik sunda di Desa Panjalu
sebanyak 7805 orang, yang terdiri dari 4717 kepala keluarga. Untuk sarana
peribadatan bagi masyarakat Desa Panjalu Kecamatan Panjalu Kabupaten Ciamis itu
memiliki tempat peribadatan adalah Mesjid dan Musola.
43
Sedangkan sarana keagamaan khususnya penganut agama islam, sangadah
baik dan cukup merata, dengan jumlah mesjid dan musola yang banyak di setiap
dusun. Ini menandakan adanya kegiatan keagamaan khususnya agama islam dengan
pengajian di setiap mesjid dan musolah.
Tabel 1.3
JUMLAH SARANA PERIBADATAN
No
Sarana Peribadatan
Jumlah
1
Mesjid
13 Buah
2
Mushola
34 Buah
3
Gereja
Tidak ada
4
Wihara
Tidak ada
5
Pura
Tidak ada
Sumber Data Sensus dari Tahun 2010/2011
Dalam sarana, keagamaan, terutama agama Islam dikatakan cukup baik. Oleh
karena itu jumlah kegiatan yang bernafaskan agama yang kurang baik. Di Desa
Panjalu tidak hanya memiliki satu keyakinan tetapi ada keyakinan yang lain. Umum
keagamaan dalam keyakinan tidak memmbuHm konflik sosial di masyarakat. Itu
semua ter alin dalam suatu pola interaksi sosial dikalangan masyarakat dalam
kehidupan sehari-hari.
44
Tabel 1.4
JUMLAH SARANA OLAH RAGA
No
Sarana OlahRaga
Jumlah
1
Lapangan Bola
1 Buah
2
Lapangan Bulu Tangkis
3 Buah
3
Meja Pingpong
10 Buah
4
Lapangan Voli
9 Buah
5
Lapangan Golf
Tidak ada
6
Lapangan Basket
Tidak ada
Sumber Data Sensus dari Tahun 2010/2011
Dapat dilihat dari table di atas untuk sarana olahraga sudah cukup memadai
untuk kawasan pedesaan, tidak terlalu kurang untuk daerah olahraga, cukupnya
lapangan sepak bola, lapangan bulu tangkis,lapangan basket dan meja pingpong
Tabel 1.5
JUMLAH MATA PENCAHARIAN
No
Mata Pencaharian
Jumlah
1
Petani
4640 orang
2
Buruh tani
3570 orang
3
Pengrajin
11 orang
4
Pedagang
425 orang
5
Sopir
78 orang
Sumber Data Sensus dari Tahun 2010/2011
45
Dapat kita lihat dari tabel diatas menunjukan jumlah mats pencaharian yang
dimiliki oleh sebagian besar warga Desa Panjalu adalah petani. Terlihat dalam tabel
sekitar 4640 orang warga sebagi petani dan sebagain besar sebagi buruh tani. Karena
sebagian besar wilayah Desa Panjalu ini adalah pesawahan yang terhampar lugs
sekitar 250 ha. Semua itu ladang pesawahan yang mesti digarap oleh para petani.
Tabel 1.5
JUMLAH KEPEMILIKI TANAH
No
Kepemilikan Tanah
Jumlah
1
Tanah Rumah Keluarga
4640 ha
2
Tanah Milik
992 ha
3
Milik Kurang 0,5
2855 ha
4
Milik Kurang 0,5-1,0
15 ha
5
Milik Kurang 1,0
8 ha
Sumber Data Sensus dari Tahun 2010/2011
Sesuai dengan data diatas bahwa jumlah kepemilikan tanah yang didapat oleh
tiap pemilik tanah, tanah milik sekitar 992 ha yang dimiliki oleh tiap warga yang
miliknya kurang sekitar 2878 ha lahan pertanian. Dapat dihasilkan berapa ton padi
yang dihasilkan setiap warga setiap kali panen.
46
B. Seajarah atau Latar Belakang “Nyangku” di Desa Panjalu
B.1. Kehidupan Keagamaan dan Keprcayaan
Panjalu berasal dari kata jalu (bhs. Sunda) yang berarti jantan, jago, maskulin,
yang didahului dengan awalan pa (n). Kata panjalu berkonotasi dengan kata-kata:
jagoan, jawara, pendekar, warrior (bhs. Inggeris: pejuang, ahli olah perang),dan
knight (bhs.Inggris: kesatria, perwira).
Nama Panjalu sendiri mulai dikenal ketika wilayah itu berada dibawah
pemerintahan Prabu Sang Hyang Rangga Gumilang, sebelumnya kawasan Panjalu
lebih dikenal dengan sebutan Kabuyutan Sawal atau Kabuyutan Gunung Sawal.
Istilah Kabuyutan identik dengan daerah Kabataraan yaitu daerah yang memiliki
kewenangan keagamaan (Hindu) seperti Kabuyutan Galunggung atau Kabataraan
Galunggung.
Kabuyutan adalah suatu tempat atau kawasan yang dianggap suci dan
biasanya terletak di lokasi yang lebih tinggi dari daerah sekitarnya, biasanya di bekas
daerah Kabuyutan juga ditemukan situs-situs megalitik (batu-batuan purba)
peninggalan masaprasejarah.Kekuasaan Kabataraan (Tahta Suci), Pendiri Kerajaan
Panjalu adalah Batara Tesnajati yang petilasannya terdapat di Karantenan Gunung
Sawal. Mengingat gelar Batara yang disandangnya, maka kemungkinan besar pada
awal berdirinya Panjalu adalah suatu daerah Kabataraan sama halnya dengan
Kabataraan Galunggung yang didirikan oleh Batara Semplak Waja putera dari Sang
Wretikandayun (670-702), pendiri Kerajaan Galuh.
47
Sejak zaman purba, masa-masa awal pengaruh Hindu, di Panjalu telah berdiri
suatu kerajaan dengan pusat pemerintahan di Karantenan, suatu dataran di lereng
Gunung Syawal, sekitar 7 km arah selatan Kota Panjalu sekarang. Pendiri kerajaan ini
adalah tokoh leluhur Panjalu bernama Prabu Batara Tisnajati, beliau dikenal sebagai
seorang raja yang berilmu tinggi, mengajarkan “Sajatining Hirup” dan “Sajatining
Manusia” mengupas tentang hakikat manusia dan alam lingkungan serta bagaimana
manusia harus hidup di dunia ini berdasarkan jati dirinya itu. pada awal pendiriansnya
Kerajaan Karantenan telah bersifat Padepokan (perguruan) tempat orang menuntut
ilmu dan syiar keagamaan yang diajarkan oleh Prabu Batara Tisnajati dan sebagai
pusat kegiatan politis. Sepeninggal Prabu Batara Tisnajati dikenal beberapa tokoh
terkemuka penguasa kerajaan ini seperti : Batara Raya, Karimun Putih, Marangga
Sakti, hingga kemudian Prabu Rangga Gumilang.
Dalam pada itu di Gunung Bitung bertahta Ratu Galuh Pusaka bernama Prabu
Sanghyang Cipta Permana Dewa, Raja Galuh Nyakrawati Ing Nusa Jawa. Beliau
memiliki tiga orang anak, ketiganya lahir di Ciriung Cipanjalu, salah satu putri dan
dua orang putra yaitu “Sanghyang Ratu Permana Dewi, Sanghyang Ponggang, Sang
Rumanghyang dan Sanghyang Bleg Tambleg Raja Gulingan”. Ketiganya memiliki
ilmu (ajaran) yang berbeda serta sepakat untuk mengembangkan ajaran-ajaran yang
dimilikinya itu, khusus di wilayah Kerajaan Galuh. Ratu Ponggang Rumaghyang
dengan Aji (ilmu) kadugalan dan kawedukan(kesaktian) pergi ke Telaga. Bleg
Tambleg Raja Gulingan dengan aji (ilmu) keduniawian (materialistis) berangkat
48
menuju Kuningan, sedangkan Sanghyang Ratu Permanadewi dengan membawa aji
(ilmu) kerahayuan tinggal di Panjalu. Di Panjalu, Ratu Permanadewi diperistri oleh
Prabu Rangga Gumilang, pemegang tahta Kerajaan Panjalu lama di Karantenan
Gunung Syawal. Dengan hubungan perkawinan itu, bertemulah nilai-nilai ajaran
Galih Pusaka dengan nilai-nilai ajaran Panjalu lama yang dirintis Prabu Barata
Trisnajati diatas.
Bersama
Prabu
Rangga
Gumilang,
Ratu
Permanadewi
kemudian
memindahkan ibu kota kerajaanya dari Karatenan (Batu Datar Gunung Syawal) ke
Citatah Dayeuh Luhur Panjalu 5 Km arah utara Kota Panjalu sekarang. Pemindahan
ibu kota kerajaan tersebut didasarkan atas pertimbangan untuk mengembangkan
kerajaan. Bersama dengan pemindahan Ibu kota Kerajaan Panjalu diatas mulailah ratu
Permanadewi merintis dan membangun tatanan Kerajaan baru dengan meletakkan
dasar-dasar kerahayuan sebagai pedoman hidup warga dan filsafat kerajaan. Kerajaan
inilah yang kemudian dinamakan kerajaan Soko Galuh Panjalu. Dengan ibukota
kerajaan ini adalah Dayeuh Luhur, terletak di dataran tinggi diatas Kota Panjalu
sekarang.
B.2. Zaman pengaruh masuknya Islam
Masuknya Agama Islam ketatar sunda umumnya dan khususnya di Panjalu
Ciamis mengakibatkan runyuhnya peradaban Sundawiwitan yang telah di
bangunsejak abad-6 Masehi. Panjalu merupakan daerah pertama di tatar sunda
Ciamisyang menerima Islam setelah kerajaan Panjalu dipimpin oleh Sanghyang
Borosngora purta ke dua Prabu Sang Hyang Cakra Dewa, setah belajar Ilmu Sejati.
49
Ajaran Islam yang diperoleh adalah langsung dari Tanah Suci Mekah Al Mukaromah,
tidak melalui Iran, India atau Gujarat atau daerah kultur lain sebagai pelantara, Islam
sudah sejak awal abad ke-7 dipelajari oleh mastarakat Panjalu. Hal ini merupakan
Keberhasilan Sanghyang Prabu Borosngora belajar Ilmu ke Islaman yang langsung
didapat dari gurunya Baginda Ali. RA dan membawa air zam-zam dalam Gayung
kerancang (bolong/ berlubang-lubang) secara penuh tanpa tercecer keluar, merupakan
ukura keberhasilan Beliau menimba ilmu sejati sebagaimana yang diharapkan
ayahnya. Ilmu yang membawa keberhasilan itu adalah Ajaran Agama Islam. Syi‟ar
Islam dilakukan secara damai (Fentration fasifique) dalam berbagai cara dari atas
(keraton) ke bawah (warga masyarakat) baik melalui dakwah pendidikan dan
pengajaran (perguruan, padepokan) maupun melalui struktur birokrasi serta langkah
yang terakhir ini lebih efektif, karena disamping ajaran Karahayuan mengandung
dasar-dasar filosofis yang bersesuaian dengan ajaran Islam, kesederhanaan konsepkonsep ajaran Islam yang terintegrasikan dalam praktek kehidupan merupakan
petunjuk yang gampang dicerna warga (tidak rumit) fleksibel dengan keunggulankeunggulan tertentu yang dapat dialami langsung olehwarga.
Ajaran Islam di Tatar Sunda selain telah mengubah keyakinan seseorang dan
komunitas masyarakat Sunda juga telah membawa perubahan sosial dan tradisi yang
telah lama dikembangkan orang Sunda. Penyesuaian antara adat dan syariah
seringkali menunjukkan unsur-unsur campuran antara Islam dengan kepercayaan
sebelumnya. Hal tersebut dapat dipahami karena para penyebar Islam dalam tahap
awal menggunakan strategi dakwah akomodatif dengan
50
mempertimbangkan sistem religi yang telah ada sebelumnya. Perjumpaan Islam
dengan Budaya Sunda tidak melanggengkan tradisi lama seperti Sunda Wiwitan dan
tidak memunculkan ajaran baru seperti Agama Djawa Sunda dan aliran kepercayaan
Perjalanan adalah adaptasi antara Islam
sebagai ajaran agama dengan tradisi budaya yang melekat di masyarakat. Hal
ini dapat dipahami karena umumnya dalam tradisi budaya masyarakat Muslim di
tanah Jawa oleh Mark R. Woodward disebut Islam-Jawa, adaptasi unsur-unsur tradisi
dengan Islam tampak sekali, misalnya adaptasi budaya dalam penamaan bulan.
Bulan-bulan dalam tradisi Jawa termasuk juga Sunda sebagian mengadaptasi bulan
Hijriah yaitu Sura (Muharram), Sapar (Shafar), Mulud (Rabiul Awwal), Silih/Sawal
Mulud (Rabiul Akhir), Jumadil Awal (Jumadil Awwal), Jumadil Akhir (Jumadil
Akhir), Rejeb (Rajab), Ruwah (Sya'ban), Puasa (Ramadan), Sawal (Syawal),
Kapit/Hapit (Zulkaidah), dan Rayagung/Raya Agung (Zulhijah). Islamisasi di tatar
Sunda selain dibentuk oleh 'penyesuaian' juga dibentuk melalui media seni yang
digemari masyarakat. Ketika ulama masih sangat jarang,kitab suci masih barang
langka, dan kehidupan masih diwarnai unsur mistis, penyampaian ajaran Islam yang
lebih tepat adalah melalui media seni dalam upacara-upacara tradisi.
Salah satu upacara sekaligus sebagai media dakwah Islam dalam komunitas
Sunda yang seringkali digelar adalah pembacaan wawacan dalam upacara-upacara
sacral tertentu seperti “Nyangku” tujuh bulanan, keliwonan, marhabaan, kelahiran,
dan cukuran. Seringnya dakwah Islam disampaikan melalui wawacan ini melahirkan
banyak naskah yang berisi tentang kisah-kisah kenabian, seperti Wawacan Carios
51
Para abi.Riwayat nyangku tak lepas dari keberadaan Situ Lengkong, dan sebuah
pulau kecil di tengahnya, Nusa Gede. Di Nusa Gede yang luasnya 9 hektar ini,
terdapat makam yang disakralkan, yakni makam Prabu Hariang Kencana, seorang
raja Panjalu. Tokoh sentral Nyangku, Situ Lengkong, dan Nusa Gede, sejatinya
adalah pangeran Borosngora. Ia adalah salah seorang Raja Panjalu, ayah Prabu
Hariang Kencana. Jiwa pangeran Borosngora-lah, yang melekat erat pada masyarakat
Panjalu.
Masyarakat Panjalu meyakini bahwa berkat Borosngoralah terbentuk Situ
Lengkong yang luasnya sekitar 60 hektar. Konon, saat Borosngora masih berstatus
putra mahkota, ia diperintah ayahnya, Prabu Sanghiang Cakra Dewa, untuk
menyempurnakan ilmunya. Akhir pengembaraan, membawanya ke tanah suci Mekah,
dan mendalami Agama Islam.
Pedang milik Prabu Sanghyang Borosngora adalah pedang pemberian
Sayyidina Ali bin Abi Thalib, sahabat Rasulullah SAW. Pedang tersebut ia dapatkan
ketika Borosngora berkunjung ke Mekkah. Di pedang itu juga diukir kalimat dengan
tulisan arab yang berbunyi “Inilah pedang milik Sayyidina Ali Karamallahu
Wajhahu”.
Saat kembali ke Panjalu, Borosngora membawa pulang air zamzam, pakaian
kesultanan, pedang, ciss, dan langsung menggantikan ayahnya sebagai raja. Dengan
naik tahtanya Borosngora ini, maka mulai saat itu pula, Panjalu berubah dari
Kerajaan Hindu menjadi sebuah Kerajaan Islam. Pada masa pemerintahannya inilah,
Situ Lengkong terbentuk. Air zamzam yang dibawa dari Mekah ditumpahkan di atas
52
pasir yaitu Lembah Pasir Jambu, dan tak dinyana lembah itu serta merta dialiri air,
yang akhirnya membentuk danau. Itulah Situ Lengkong
Upacara Nyangku merupakan tradisi masyarakat setempat untuk menghormati
leluhur raja Panjalu bernama Borosngora yang biasa dilaksanakanan setiap bulan
Maulud, pada minggu keempat (hari Senin/Kamis akhir bulan Maulud).Sanghyang
Prabu Borosngora merupakan Raja Sunda pertama yang memeluk Islam dan diyakini
mendapat ajaran langsung dari menantu Nabi, Baginda Sayiddina Ali di Mekkah AlMukarromah. Prabu Borosngora tidak saja mampu mengislamkan warga kerajaan dan
masyarakat Panjalu, tetapi juga ke berbagai tempat di tanah air.
Dikatakannya, ritual Nyangku tersebut sebagai penghormatan yang diawali
dengan ziarah ke makam Prabu Hariang Kencana, seorang raja Panjalu atau disebut
pangeran Bongosngora yang di makamkan di Situ Lengkong di Desa Panjalu.
Sanghyang Borosngora menyebarkan agama Islam kepada rakyat Panjalu yang ketika
itu masih beragama Hindu dan berbudaya Hindu yang masih cukup kental. Maka
perubahan dengan menghilangkan budaya Hindu tersebut secara sepenuhnya tidak
dapat dilakukan sekaligus melainkan secara bertahap, mengingat rakyat Panjalu
adalah rakyat jelata yang memiliki taraf pemikiran yang masih awam saat itu. Dalam
budaya Hindu, selalu ada kepercayaan bahwa ada „berkah‟ di dalam setiap ritual yang
dilakukan. Maka dari itu, dalam upacara nyangku pun banyak terjadi salah tafsir
menganggap air cucian keris dapat mendatangkan berkah dan kesalahan tersebut
berlanjut secara turun temurun hingga kini. Padahal kepercayaan tersebut hanyalah
sisa-sisa peninggalan budaya Hindu yang masih melekat pada masyarakat Panjalu
53
kala itu.
Sedangkan makam Prabu Hariang Kencana, memiliki riwayat sendiri. Prabu
Hariang Kencana adalah putra Borosngora, yang akhirnya memimpin Kerajaan
Panjalu, dan menurunkan raja-raja Panjalu berikutnya. Borosngora sendiri terus
berkelana ke berbagai daerah. Ia sulit diketahui keberadaannya, bahkan ketika beliau
wafatpun jenazahnya entah dimakamkan dimana. Borosngora memang tidak ingin
makamnya dikeramatkan. Akhirnya makan Prabu Hariang Kencana di Nusa Gedelahyang diziarahi. Sementara warisan Borosngora, berupa benda-benda pusaka seperti
ciss atau pedang panjang berkait, dan berbagai senjata lainnya, tetap tersimpan rapi.
Setiap Bulan Maulud benda-benda pusaka peninggalan Pangeran Borosngora
ini dikeluarkan, diperlihatkan dan dibersihkan. Ritual ini seperti amanat leluhur
Panjalu, yang tersurat di Gerbang Nusa Gede. Satu diantaranya, rakyat Panjalu harus
suci. Ritual inilah yang dikenal dengan Nyangku atau dalam bahasa Arab Yanko,
yang bermakna membersihkan.
C. Akomodasi Budaya dan Agama Dalam Proses “Nyangku”
C.1 Pelaksanaan Upacara “nyangku” Kecamatan Panjalu
Dijelaskan di atas bahwa setiap Bulan Maulud benda-benda pusaka
peninggalan Pangeran Borosngora ini dikeluarkan, diperlihatkan dan dibersihkan.
Ritual ini seperti amanat leluhur Panjalu, yang tersurat di Gerbang Nusa Gede. Satu
diantaranya, rakyat Panjalu harus suci. Ritual inilah yang dikenal dengan Nyangku
atau dalam bahasa Arab Yanko, yang bermakna membersihkan.
54
Di Panjalu, Nyangku bermakna membersihkan benda-benda pusaka
peninggalan Pangeran Borosngora. Dalam arti yang lebih luas, upacara ini bermakna
pembersihan diri manusia. Sesungguhnya manusia terlahir dalam keadaan bersih,
sehingga harus kembali dalam keadaan bersih pula.
Air yang digunakan untuk mencuci pusaka diambil dari tujuh mata air,
seluruhnya terletak di sekeliling desa Panjalu. Ketujuh mata air ini konon tidak
pernah kering, sekalipun di musim kemarau. Hanya Kuncen dan sesepuh desa-lah
yang berhak mengambil air di sini. Memasuki mata air, tidak lupa mereka
mensucikan diri dengan berwudhu, dan berdoa. Sikap santun ini adalah wujud
kesucian yang dijunjung pada manusia dan airnya. Air yang telah dituang ke dalam
kendi, kemudian dibawa menuju makam leluhur yang merupakan guru dari para Raja
Panjalu. Tangan-pun kembali ditengadahkan, memanjatkan doa bagi para leluhur.
Adapun tujuh sumber mata air, yaitu:
1. Sumber air Situ Lengkong
2. Sumber air Karantenan Gunung Sawal
3. Sumber air Kapunduhan (makam Prabu Rahyang Kuning)
4. Sumber air Cipanjalu
5. Sumber air Kubang Kelong
6. Sumber air Pasanggrahan
7. Sumber air Bongbang Kancana
Di mata masyarakat Panjalu, Nyangku adalah hari besar, meski tak sebesar
Idul Fitri. Acara dipusatkan di Bumi Alit, tempat dimana pusaka Prabu Borosngora
55
disimpan. Doa-doa telah dikumandangkan sejak dini hari. Bumi Alit merupakan
bangunan sakral berbentuk bujur sangkar, simbol kabah. Pusaka yang disimpan di
dalamnya tak dapat dijamah oleh siapapun, kecuali Kuncen dan kerabat keturunan
Prabu Borosngora. Warga yang ingin berdoa mengambil posisi di luar Bumi Alit.
Menjelang puncak upacara Nyangku, Kuncen menyiapkan segala kebutuhan
untuk mencuci pusaka. Seperti jeruk nipis guna menghilangkan karat, arang untuk
mengeringkan setelah dicuci, dan daun kelapa untuk membungkus kembali pusaka
dan juga kemenyan. Kemudian, sesepuh adat, dan keturunan kerajaan Panjalu lainnya
memasuki Bumi Alit.
Setelah keluar dari Bumi Alit, prosesi rombongan pembawa pusaka dimulai.
Tidak semua dari ratusan pusaka milik Panjalu dibawa ke upacara Nyangku. Hanya
pusaka pokok, yaitu pedang, stok komando, kujang dan gong kecil milik Prabu
Borosngora, dan beberapa keris lainnya yang ikut dalam prosesi. Selama prosesi,
suara musik gembyungan khas Panjalu, dimainkan empat belas pria berbusana serba
ungu. Benda-benda pusaka yang tersimpan di Bumi Alit itu antara lain adalah:
1. Pedang, cinderamata dari Baginda Ali RA, sebagai senjata yang digunakan
untuk pembela diri dalam rangka menyebarluaskan agama Islam.
2. Cis, berupa tombak bermata dua atau dwisula yang berfungsi sebagai senjata
pelindung dan kelengkapan dalam berdakwah atau berkhutbah dalam rangka
menyebarluaskan ajaran agama Islam.
3. Keris Komando, senjata yang digunakan oleh Raja Panjalu sebagai penanda
kedudukan bahwa ia seorang Raja Panjalu.
56
4. Keris, sebagai pegangan para Bupati Panjalu.
5. Pancaworo, digunakan sebagai senjata perang pada zaman dahulu.
6. Bangreng, digunakan sebagai senjata perang pada zaman dahulu.
7. Gong kecil, digunakan sebagai alat untuk mengumpulkan rakyat pada zaman
dahulu.
8. Kujang, senjata perang khas Sunda peninggalan seorang petapa sakti bernama
Pendita
Bahan-bahan lain yang diperlukan dalam pelaksanan upacara Nyangku adalah
tujuh macam sesaji termasuk umbi-umbian, yaitu:
1. Tumpeng nasi merah
2. Tumpeng nasi kuning
3. Ayam panggang
4. Ikan dari Situ Lengkong
5. Sayur daun kelor
6. Telur ayam kampung
7. Umbi-umbian
Selanjutnya disertakan pula tujuh macam minuman, yaitu:
1. Kopi pahit
2. Kopi manis
3. Air putih
4. Air teh
5. Air Mawar
6. Air Bajigur
57
7. Rujak Pisang
Kelengkapan prosesi adat lainnya adalah sembilan
payung dan kesenian
gembyung untuk mengiringi jalannya upacara.
Tujuan perjalanan rombongan ini adalah Situ Lengkong. Sebetulnya jarak
antara bumi alit dan situ lengkong tidak terlalu jauh, hanya 200-an meter. Namun
langkah para peserta prosesi yang perlahan, ditambah minat masyarakat mengikuti
acara ini, membuat jarak sesingkat ini ditempuh dalam waktu hampir 1 jam. Di situ
Lengkong, beberapa buah perahu telah siap menyeberangkan mereka ke Nusa Gede.
Di Nusa Gede, rombongan mendatangi makam Prabu Hariang Kencana, putra Prabu
Borosngora, sebagai wujud penghormatan kepada leluhur Panjalu.
Inti upacara Nyangku dimulai setelah rombongan kembali dari Nusa Gede. Di
balai desa, pusaka-pusaka dibuka. Mulai dari tali yang posisinya tepat pada gagang
pedang, kain putih seperti kain kafan sebanyak tujuh lapis, tali lainnya sepanjang
kurang lebih 50 meter, hingga terakhir daun kelapa muda kering.
Pembersihan pusaka dimulai dengan menggosokkan jeruk nipis, guna
menghilangkan karat. Barulah kemudian disiram air suci. Inti upacara Nyangku ini
menjadi pusat perhatian masyarakat, yang memadati balai desa. Mereka berharap
terciprat air cucian keris, yang diyakini membawa berkah.
Dari balai desa, pusaka kembali diarak menuju Bumi Alit. Seluruh ritual
merupakan gambaran proses kehidupan manusia. Mulai dari pusaka dikeluarkan dari
Bumi Alit, yang melambangkan kelahiran bayi dari rahim ibunya, proses arak-arakan
perlambang kehidupan itu sendiri, hingga dikembalikannya pusaka ke dalam Bumi
58
Alit, yang sama dengan kembalinya manusia ke dalam liang lahat.
Di dalam bumi alit, keluarga keturunan Kerajaan Panjalu mengembalikan
pusaka ke tempat penyimpanannya. Dengan demikian, tuntaslah seluruh ritual
upacara Nyangku. Pusaka telah bersih, masyarakat Panjalu-pun diyakini telah bersih,
telah suci, seperti amanat para leluhur mereka.
Kuncen Panjalu mengatakan bhawa upacara nyangku sudah dilakukan sejak
dulu sudah di lakukan karena dari dulu nenek moyangnya sudah turun temurun
sampai sekarang mewariskannya (wawancara dengan H. Atong kuncen Panjalu).
Selain kuncen tadi hal serupa dikatakan oleh seorang warga yang selalu mengikuti
prosesi tersebut atuh cep nyangku mah,aki keur leutik ge geus aya” (sudah dari dulu
bernama Amang yang dari fisiknya sudah telihat tua beliau mengatakan “ geus ti
baheula upacara nyangku itu,waktu aki masih kecil suadah ada).(wawancara dengan
amang warga sekitar )
Upacara nyangku ini dilakukan secara rutin setiap tahunnya dengan maksud
memperingati serta menghargai sesuatu yang menjadi pokok sejarah dalam peradaban
budaya masyarakat panjalu karena sebagian warga yakin dengan prosesi upacara
tersebut adanya suatu maksud tertentu dari pada kerajaan panjalu itu sendiri yaitu
sebagai sarana penyebaran islam.
Agama meiliki pandangan pada upacara ini bahwa upacara ini tidak
memberikan respon yang tidak baik, tapi mengarah kepada yang positip, masyarakat
panjalu melakukan upacara tesebut secara turun temurun dari sejak pertama
dikukuhkannya peradaban islam oleh prabu sanghyang borosngora sampai dengan
59
sekarang.
Sesuai dengan pendapat E.B Tailor dalam bukunya Soejono Soekanto (2001191) mengatakatan bahwa kebudayaan adalah komplek yang mencakup pengetahuan,
kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan kemampuan
serta kebiasaan-kebiasaan yang lain mencakup semua yang didapatkan atau di
pelajari oleh manusia.
Jadi kebudayaan itu sebuah adat istiadat, hukum serta kemampuan yang di
pelajari oleh manusia yang ada dimuka bumi. Timbulnya agama dan budaya dalam
alam pikiran manusia adalah dikarenakan adanya getaran jiwa yang disebut „emosi
keagamaan‟ atau „relegion emotion‟. Menurut koentjaraningrat emosi keagamaan ini
biasanya pernah di alami oleh setiap manusia, walau pun geteran emosi itu mungkin
hanya berlangsung untuk beberapa detik saja, untuk kemudian menghilang lagi.
Adanya emosi keagamaan itulah mendorong orang melakukan tindakan-tindakan
yang bersifat religi.
Kebudayaan yang telah terjadi di Kecamatan Panjalu ini merupakan sebuah
adat istiadat yang sudah melekat dalam kehidupan masyarakatnya yang tak mungkin
untuk dipisahkan dengan kehidupan, meskipun kehidupan mereka serba modern tapi
masyarakat Kecamatan Panjalu masih memelihara adat istiadat dengan baik.
Upacara Nyangku ini merupakan yang sangat sacral di kehidupan masyarakat
yang sifat masyarakatnya yang beragama islam, tapi masih ada upacara yang sudah
lama dari sejak zaman Sanghyang Prabu Borosngora masih saja di lakukan, tapi
masih saja mempercayai symbol-simbol yang memiliki yang mistis dalam
60
melaksanakan upacara Nyangku.
Upacara adat Nyangku ini mirip dengan upacara Sekaten di Yogyakarta juga
Panjang Jimat di Cirebon, hanya saja selain untuk memperingati hari kelahiran Nabi
Muhammad SAW, acara Nyangku juga dimaksudkan untuk mengenang jasa Prabu
Sanghyang Borosngora yang telah menyampaikan ajaran Islam kepada rakyat dan
keturunannya.
Dengan upacara yang di lakukan oleh masyarakat Panjalu itu merupakan
suatu tradisi yang sudah melekat dalam diri manusia yang mesti melakukan upacara
ini dengan baik dan hikmat, sampai kapan pun kegiatan upacara ini tidak akan hilang
karena masyarakat itu masih saja melakukan upacara ini dengan biasa melakukan dan
tidak ada paksaan.
Sampai sekarang ini upacara seperti itu masih saja di lakukan, meskipun
upacara itu masih melekat dalam diri kehidupan masyarakat itu mereka lakukan
apabila pada Hari Senin atau Kamis terakhir Bulan Maulud (Rabiul Awal). Dilihat
latar belakangnya yang pernah di teliti dalam melaksanakan Upacara Nyangku,
sampai kapan pun akan terus dilestarikan, meski generasi muda sekarang sudah tidak
mengerti mengenai kebudayaan ini.
2.1 Cara Membersihkan Benda Pusaka
Sebelum melakukan Upacara inti yaitu "Nyangku", Mulai dari tali yang
posisinya tepat pada gagang pedang, kain putih seperti kain kafan sebanyak tujuh
lapis, tali lainnya sepanjang kurang lebih 50 meter, hingga terakhir daun kelapa muda
kering. Pembersihan pusaka dimulai dengan menggosokkan jeruk nipis, guna
61
menghilangkan karat. Barulah kemudian disiram air suci menurut kuncen H Atong
(wawancara dengan seorang Kuncen H. Atong kuncen Panjalu di pada 19 Nopember
2011).
Cara pembersihan benda pusaka yang penting jangan benda tersebut sampe
karat, kalau masalah pembersihan menurut H. Atong tidak perlu memakai apa-apa tak
perlu memakai apa atau apalah yang terpenting adalah pembersihan benda pusaka itu
tersebut harus benar.
Soejono Soekanto dalam buku pengantar sosiologi (2001:34), Agust Comte
berpendapat mengenai masyarakat, Masyarakat adalah suatu kesatuan manusia yang
hidup dalam suatu ikatan dan norma yang melahirkan suatu struktur dan organisasi
social masyarakat.
Interaksi menurut soejono soekanto menerangkan bahwa interaksi merupakan
dari hubungan timbal balik antara individu dengan lainya. Hubungan itu dapat
secara berkelompok atau antar perorangan maupun antara kelompok perorangan.
Seluruh ritual merupakan gambaran proses kehidupan manusia. Mulai dari
pusaka dikeluarkan dari Bumi Alit, yang melambangkan kelahiran bayi dari rahim
ibunya,
proses
arak-arakan
perlambang
kehidupan
itu
sendiri,
hingga
dikembalikannya pusaka ke dalam Bumi Alit, yang sama dengan kembalinya
manusia ke dalam liang lahat.
Hal ini diperkuat oleh Dhavamony yang "mengetegori prilaku religi yang
komplementer hanya akan ditentukan terorganisasi didalam rangkaian-rangkaian
khusus yang disebut upacara. Maka upacara-upacara itu sendiri dengan keyakinan
62
mereka merupakan dari kelompok-kelompok lebih besar yang di sebut lembagalembaga Kultur" dalam hal ini upacara dan ritual, kalau ritual itu sangat berkaitan
,dengan pengertian mistis, pola pikiran yang dihubungkan dengan perasaan tidak
diperolehkan lewat pengamatan logis yang akhirnya upacara ritual Nyangku ini hanya
di rasakan oleh pars pelakunya dengan perasaan, malah bagian dari pengalaman
keagamaan dengan simbol-simbol.(Ahmad Thn 2002 "pemandian benda-benda
keramat")
Selanjutnya benda tersebut dibuka yang di bungkus dengan kain kapan, tujuh
sumber mata air dicampur dengan air perasan jeruk nipis. minyak kelapa. Unsurunsur tersebut memilki symbol-simbol dan mempunyai arti yang penting dalam
upacara ini.
Dari simbol keagamaan, melalui simbol-simbol yang tedadi dalam sebuah
upacara keagamaan tertentu daldm masyarakat dengan interaksi simbolik. Dalam
buku Teori sosiologi moderen dan klasik, yang ditulis ulang oleh Robert, menurut
Georg Simmel mendefinisikan dan menganalisis bentuk-bentuk yang bedulang atau
pola-pola sosiasi (sociation) sosiasi itu berarti proses dimana masyarakat itu tedadi
sosiasi meliputi interaksi timbal balk mempunyai proses ini, di mana individu Baling
berhubungan dan Baling mempengaruhi, masyarakat itu sendiri muncul. Pola
interaksi timbal balik dimana mereka Baling mempengaruhi dan berhubungan.
Pendekatan ini mengusahakan keseimbangan antara pandangan nominal (yang
percaya hanya individu yang rill) dan pandangan realis atau teori organik (yang
mengemukakan bahwa kenyataan sosial itu bersipat indefenden dari individu yang
63
membentuknya itu bisa dilakukan dengan mengunakan bahasa sebagai salah satu
simbol yang terpenting, melalui syarat-syarat simbol ini bukan merupakan fakta-fakta
yang sudah terjadi melainkan simbol hanya sebagai alat.
Kegunaan kain putih (kafan) adalah unsur penting dalam upacara nyangku ini,
menurut kuncen Atong unsur pertama ini yang ada dalam upacara Nyangku ini
“maksudna si pedang eta th meh te gampang kotor atau karahaan kan di kumbahna
ge satahun sakali, ges amanat ti luluhur, gs baretona,kudu di bungkus kain kapan
kan jalma ge ari ges maot di bungkus” supaya benda tersebut gak terkena debu atau
gak gampang kotor pas waktu di simpan kembali, dan bersihkan benda tersebut
setahun sekali, dan kembali lagi kepada manusia kalau kelat mati bakal di selimuti
dengan kain kafan tersebut.
Dari unsur yang pertama ini, merupakan unsur yang sangat mendukung
terjadinya upacara Nyangku ini sampai kapan pun upacara nyangku ini akan
terlaksana, karena masyarakat sendiri ikut serta melaksanakan dan sampai kapan pun
upacara ini gak akan hilang di panjalu sudah turun temurun.
Unsur yang kedua adalah tujuh sumber mata air yang ada dalam upacara
Nyangku ini air “manfaatna kur ngumbah nu aya dina pedang” maksud dari
perkataan kuncen itu adalah hanya untuk supaya membersihkan benda tersebut.
Unsur yang kedua ini merupkan unsur yang penting apabila unsur ini tidak
ada maka upacara ini tidak memiliki simbol-simbol yang sangat penting dalam
melakukan upacara, maka oleh karena itu upacara ini akan dilakukan dengan baik.
Unsur yang ke tiga adalah unsur yang ada dalam upacara Nyangku ini adalah
64
Jeruk Nipis, jeruk nipis ini merupakan unsure simbolis dari upacara nyangku ini,
jeruk nipis adalah menghilangkan karatan yang ada benda tersebut “te karahaan”
artinya supaya benda tersebut tidak berkarat supaya tahan lama pas waktu di simpan
kembali.
Simbol dari kebudayaan adalah memilki unsur yang berkaitan dengan
terjadinya upacara Nyangku ini sampai kapan pun upacara nyangku ini karena
upacara ini merupakan banyak dukungan akan terlaksana, karena masyarakat sendiri
ikut serta melaksanakan dan sampai kapan pun upacara ini gak akan hilang di panjalu
sudah turun temurun.
Unsur yang ke empat adalah minyak kelapa atau minyak sayur ini merupakan
symbol dari upacara ini, arti symbol ini adalah supaya benda tersebut mengkilap
“meh herang” menurut kuncen yang di wawancara.
Unsur yang ke empat ini, merupakan yang sangat mendukung terjadinya
upacara Nyangku ini sampai kapan pun upacara nyangku ini karena upacara ini
merupakan banyak dukungan akan terlaksana, karena masyarakat sendiri ikut serta
melaksanakan dan sampai kapan pun upacara ini gak akan hilang di panjalu sudah
turun temurun.
Dengan unsur-unsur yang telah di uraikan di atas, simbol- simbol dari semua
unsur yang ada dalam Upacara Nyangku ini memiliki interaksi antar satu dengan
yang lainnya, sebagaimana yang terjadi antara unsur satu dengan unsur yang lainnya
itu berkaitan. Colley Mac Millar (1997:492) menerangkan bahwa interaksi sosial
sebagai sesuatu yang tidak terlepas dart perkataan bahwa manusia sebagai "sosial "
65
yaitu yang berhubungan timbal balik antara dua atau lebih manusia yang dapat
berlangsung secara perorangan, kelompok, individu, atau si pelaku.
Georg Simmel mendefinisikan dan menganalisis bentuk-bentuk yang
berlulang atau pola-pola sosiasi (sociation) sosiasi itu berarti proses dimana
masyarakat itu terjadi sosiasi meliputi interaksi timbal balik, di mana individu saling
berhubungan dan saling mempengaruhi, masyarakat itu sendiri muncul. Pola interaksi
timbal balik dimana mereka saling mempengaruhi dan berhubungan.
Selain unsur yang memiliki simbol dalam upacara keagamaan ini juga, tapi
unsur mistis yang terjadi dalam upacara ini, menurut masyarakat panjalu upacara ini
sudah benen-bener sakral dan tidak bisa di ubah karena sudah dari nenek moyang
atau turun temurun dulu melakukan hal seperti itu, masyarakat sekitar hanya
menjalankan kegiatan upacara itu dengan tidak tahu akhimya karena kegiatan itu
hanya sebagai rasa sukurnya mereka memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Adapun ritual pembersihan benda-benda pusaka tersebut hanyalah sebagai bentuk
penghormatan masyarakat kepada Sanghyang Borosngora sebagai penyebar agama
Islam di tatar Panjalu.
Dengan
melakukan
sukurnya
mereka
memperingati
kelahiran
Nabi
Muhammad SAW. Adapun ritual pembersihan benda-benda pusaka tersebut hanyalah
sebagai bentuk penghormatan masyarakat kepada Sanghyang Borosngora sebagai
penyebar agama Islam di tatar Panjalu.
Georg Simmel mendefinisikan dan menganalisis bentuk-bentuk yang
berlulang atau pola-pola sosiasi (sociation) sosiasi itu berarti proses dimana
66
masyarakat itu tedadi sosiasi meliputi interaksi timbal balik, mempunyai proses ini, di
mana individu saling berhubungan dan saling mempengaruhi, masyarakat itu sendiri
muncul. Pola interaksi timbal balik dimana mereka saling mempengaruhi dan
berhubungan.
Pendekatan ini mengusahakan keseimbangan antara pandangan nominal (yang
percaya hanya individu yang rill) dan pandangan realis atau teori organic (yang
mengemukakan bahwa kenyataan social itu bersipat indefenden dari individu yang
membentuknya). (Robert M. Z ,1994:257)
Upacara ini sudah biasa di lakukan oleh masyarakat panjalu ini sebagai salah
satu kegiatan keagaman yang telah terjadi sejak leluhur lahir maka, tidak pernah yang
tidak melakukan upacara ini hampir setiap masyarakat melakukan Upacara ini apabila
biasa dilaksanakan oleh masyarakat Panjalu setiap hari Senin atau Kamis terakhir di
Bulan Maulud (Rabiul Awwal). Hal ini dimaksudkan untuk memperingati hari
lahirnya Nabi Muhammad SAW, yakni pada tanggal 12 Rabiul Awwal upacara ini.
Baik itu dikalangan masyarakat yang memiliki uang maupun masyarakat yang
paspasan upacara ini pasti akan terlaksana karena upacara ini memang udah menjadi
bagian dari ritualitas kehidupan masyarakat, yang tidak bisa di lepaskan dari kegiatan
ini karena aparat pemerintaahan setempat mendukung kegiatan ini, sedangkan para
ulama pun tidak mempersoalakan kegiatan upacara Nyangku ini.
Jadi baik dari kalangan manapun dan organisasi manapun upacara ini akan
tetap terlaksana dengan baik dengan hikmat dan tidak membuat masyarakat
mendapatkan konflik atau keriucuhan akibat mengadakan upacara ini, masyarakat
67
menyambut upacara ini dengan gembira yang tidak memiliki kericuhan atau pun
dendam yang ada, pati mereka mengadakan upacara ini dengan rukun.
Jadi interaksi antara budaya dan agama yang terjadi dimasyarakat Kecamatan
Panjalu Kabupaten Ciamis ini dengan proses nyangku ini, jadi budaya agama , yaitu
basil-basil pikiran dan prilaku budaya yang menyangkut keagamaan. Budaya agama
tersebut sesuai dengan ajaran agama dan kepercayaan masing-masing, ada yang
dalam benak manusia berdasrkan kehendak yang diwahyukan Tuhan kepada para
Nabi, dan ada yang muncul dalam benak manusia berdasarkan emosi keagamaan
pribadi manusia sendiri.
Konsep tersebut adalah menyangkut sistem kenyakinaan dan kepercayaan terhadap
yang ghaib, yang mana antara ajaran agama dan kepercayaan yang satu berbeda dari
yang lain. (H.Hilman, 1993: 26)
Terjadi wujud interaksi antara masyarakat agama dengan budaya tersebut
merupakan sebuah fenomena yang terjadi di panjalu tersebut, merupakan sesuah
proses dari interaksi social budaya, dimana masyarakat beragama dengan budaya
yang sudah melekat dalam kehidupan kesehariannya itu tetap berhubungan dengan
dan berinteraksi, yang Baling harmonis dan saling toleran.
2.2 Tujuan Upacara Nyangku”
Nyangku bertujuan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Adapun ritual pembersihan benda-benda pusaka tersebut hanyalah sebagai bentuk
penghormatan masyarakat kepada Sanghyang Borosngora sebagai penyebar agama
Islam di tatar Panjalu. Selain itu, pembersihan „pakarang‟ tersebut bertujuan untuk
68
merawat peninggalan sejarah agar tidak hilang atau bahkan terlupakan dimakan
zaman.
Pelaksanaan upacara itu juga sesungguhnya memiliki substansi yang sama
dengan upacara bendera setiap hari Senin atau setiap tanggal 17 Agustus; sama-sama
menjalankan peringatan dan penghormatan terhadap sejarah. Pengagungan terhadap
benda-benda pusaka sama halnya dengan pengagungan terhadap bendera dan
lambang negara. Perbedaan dari keduanya adalah nilai-nilai yang terkandung dalam
pelaksanaan kegiatan tersebut. Ada nilai-nilai nasionalisme dalam upacara
kenegaraan dan ada nilai-nilai spiritual dalam upacara ritual adat. Jika melihat dari
perspektif demikian, maka kita tidak perlu terlalu sarkastik untuk menilai upacara
ritual nyangku atau yang sejenisnya sebagai tindakan kemusyrikan.
Berbicara mengenai kemusyrikan, hal tersebut bukan terletak pada
pelaksanaan upacaranya, melainkan pada penafsiran individu. Alasan yang pertama
didasarkan pada informasi bahwa upacara adat nyangku telah ada sejak masa
pemerintahan Sanghyang Borosngora yang notabene telah memahami agama Islam
sampai telah mampu pergi ke kota Mekkah. Sehingga tentu tidak ada maksud dari
Sanghyang Borosngora untuk „menyisipkan‟ kemusyrikan ke dalam upacara tersebut.
menurut sesepuh Panjalu yang juga masih keturunan Prabu Borosngora, R. H. Atong
Cakradinata, didampingi putranya R. H. Edi Hernawan Cakradinata, tujuan dari
kegiatan adat nyangku pada zaman dahulu adalah untuk membersihkan benda pusaka
kerajaan Panjalu sebagai salah satu visi penyebaran agama Islam.
Selanjutnya saling menghormati dan saling mengurus kelestarian budaya yang
69
ada di Indonesia. Upacara Nyangku merupakan tradisi masyarakat setempat untuk
menghormati leluhur raja Panjalu bernama Borosngora, dalam upacara ini ada hal
dengan
benda-benda
peninggalan
tersebut,
sehingga
mereka
bermaksud
melanggengkan serta meneruskan tradisi dan budaya peninggalan borosngora.
Upacara nyangku ini masih dilestarikan oleh masyarakat panjalu karena untuk
menghormati leluhurnya, oleh karena itu upacara ini tidak akan pernah hilang sampai
kapan pun kerena terlihat begitu antusias masyarakat panjalu dengan upacara
nyangku yang ada di Indonesia ini.
D.Persepsi ulama dan Masyarakat setempat terhadap Upacara “Nyangku”
1 Persepsi Ulama Setempat mengenai Upacara Nyangku
Menurut ulama masyarakat Desa Panjalu melaksanakan upacara seperti itu
tidak terlalu di persoalkan itu hanya memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Adapun ritual pembersihan benda-benda pusaka tersebut hanyalah sebagai bentuk
penghormatan masyarakat kepada Sanghyang Borosngora sebagai penyebar agama
Islam di tatar Panjalu.
Mensukuri sebagian nilai yang dimiliki oleh manusia itu merupakan suatu
yang sangat penting itu adalah keharusan. Ulama setempat tidak melarang
melaksanakan upacara Nyangku ini, karena ini tidak akan menduakan Allah SWT
atas ini memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW sebagai bentuk
penghormatan masyarakat kepada Sanghyang Borosngora sebagai penyebar agama
Islam di tatar Panjalu, apabila memiliki maksud upacara ini memeng bertujuannya hal
70
yang lain dan tidak memperbolehkan menyembah pada benda-benda yang
disekutukan Allah ini adalah yang disimbolkan saja, dalam upacara Nyangku ini
hanya sebagai memperingati, dan membersihkan diri.
Dalam pelaksanaan Upacara Nyangku ini, yang terlihat dari tatacara dan
pelaksananya memeng relevan dengan kebudayaan Hindu dan Budha, karena adanya
beberapa benda yang menjadi sebagai alat penghormatan masyarakat kepada
Sanghyang Borosngora sebagai penyebar agama Islam di panjalu.
Akan tetapi
pihak ulama setempat telah berusaha meluruskan dan
menerangkan kepada masyarakat dalam melakukan upacara Nyangku ini dengan
keyakinan, ketika akan dimulainya upacara ritual tersebut. Kemudian memang ciri
dari kebudayaan tempo dulu dengan secara turun temurun dan dilaksanakan sampai
sekarang, tetapi jangan sampai terselip keyakinan dalam hati, apabila mereka
menyadari
melakukan
upacara
tersebut
merupakan
suatu
bentuk
yang
menyimpangan, tapi semua terserah dengan keyakinan masing-masing.
71
BAB IV
KESIMPULAN
Dari uraian diatas penulis mengemukakan mengenai “ Akomodasi Budaya
dan Agama dalam proses Nyangku” (studi kasus di kecamatan Panjalu Kabupaten
Ciamis) penulis dapat menarik kesimpulan :
1. Masyarakat panjalu merupakan masyarakat yang masih kuat memenggang
kepercayaan pada sifat yang budaya upacara Nyangku, sebagai
peninggalan dari lelehur mereka dari sejak dulu. Upacara Nyangku ini
untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Adapun ritual
pembersihan benda-benda pusaka tersebut hanyalah sebagai bentuk
penghormatan masyarakat kepada Sanghyang Borosngora sebagai
penyebar agama Islam di tatar Panjalu. Selain itu, pembersihan „pakarang‟
tersebut bertujuan untuk merawat peninggalan sejarah agar tidak hilang
atau bahkan terlupakan dimakan zaman.
2. Latar belakang proses Nyangku
a. Sejarah Nyangku
b. Cara membersihkan Benda Pusaka diantaranya: Kain Kafan, tujuh
sumber mata air,jeruk nipis. minyak kelapa.
c. Tujuan Nyangku
3. Pandangan ulama dan masyarakat yang mengadakan upacara Nyangku,
terlaksananya upacara ini pun tidak terlalu kontra mereka merasa tidak
terganggu dengan adanya upacara ini, meraka lebih erat kekeluargaan
72
antar warga masyarakat, menurut ulama tidak mengharamkan karena
agama tidak melarang, karena semuanya itu rasa sukur kepada maha
pencipta yaitu allah yang telah memberikan keselamatan
73
Download