Perencanaan Penganggaran Pembangunan

advertisement
Perencanaan
Pembangunan Daerah
Yenny Sucipto
Direktur Resource Centre
Sekretariat Nasional
Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran
Landasan Hukum Perencanaan Pembangunan Daerah
UU No. 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara
UU No. 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional
UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah
UU No. 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan
Pusat dan Daerah
PP No. 58 tahun 2005 tentang Pedoman Keuangan Daerah
Permendagri No. 13 tahun 2006 tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah digantikan Permendagri 59
tahun 2007
SEB Musrenbang
Surat Edaran Bersama Mendagri dan
Bappenas yang dikeluarkan setiap tahun digantikan tahun
2007 dengan Permendagri no 26/2007 dan sekarang berganti
lagi dengan Permendagri no. 30/2008
Alur penyusunan perencanaan daerah
Dijabarkan
Pedoman
RPJP
Nasional
RPJM Nasional
Diacu
RKP Pusat
Diperhatikan
Pedoman
RPJP Daerah
Dijabarkan
RPJM Daerah
20 tahun
5 tahun
RKP Daerah
Pedoman
Penyusunan
RAPBD
1 tahun
Diacu
Pedoman
Renstra SKPD
Renja - SKPD
5 tahun
Pedoman
1 tahun
Tahapan Perencanaan Pembangunan Daerah
Tahap
Rencana Pembangunan Jangka
Panjang Daerah (RPJPD)
Penyusunan
Isi
Dasar Hukum
Mengacu pada RPJP
Nasional
Visi, Misi dan Arah
Pembangunan Daerah
Peraturan Daerah
Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Daerah (RPJMD)
Penjabaran visi misi
program kepala daerah
Berpedoman pada RPJP
Daerah dan
memperhatikan RPJM
Nasional
Strategi pembangunan
daerah, kebijakan umum,
arah kebijakan keuangan
daerah, program SKPD, lintas
SKPD, kewilayahan dan lintas
kewilayahan, yang memuat
kegiatan dalam kerangka
regulasi dan kerangka
anggaran
Peraturan Daerah
atau Peraturan Kepala
Daerah
Rencana Strategis Satuan Kerja
Perangkat Daerah
Berpedoman pada RPJM
Daerah
Visi-misi, tujuan, strategi dan
kebijakan, program-program
dan kegiatan indikatif
Keputusan Kepala
SKPD
Rencana Kerja
Pemerintah/Pembangunan
Daerah (RKPD)
Penjabaran RPJMD,
mengacu pada RKP
Prioritas pembangunan
daerah, rancangan kerangka
ekonomi makro daerah, arah
kebijakan keuangan daerah,
program SKPD, lintas SKPD,
kewilayahan dan lintas
kewilayahan, yang memuat
kegiatan dalam kerangka
regulasi dan kerangka
anggaran
Peraturan Kepala
Daerah
Rencana Kerja Satuan Kerja
Perangkat Daerah (Renja SKPD)
Penjabaran Renstra SKPD
Kebijakan SKPD, program
dan kegiatan pembangunan
Keputusan Kepala
SKPD
Tahapan Perencanaan Pembangunan Tahunan Daerah
TAHAPAN
Musrenbang desa/kel
Musrenbang Kecamatan
Forum SKPD Kab/Kota
Musrenbang Kab/Kota
Penetapan RKPD
Jadual (bulan)
Pelaku/Aktor
Keluaran
Januari
1.Komponen Masyarakat (individu
maupun kelompok)
2.Aparat desa/kel dan kecamatan
3.Bappeda dan PMD
4.Lembaga Profesi dalam desa/kel
1.Dokumen program prioritas desa/kel serta sumber
pendanaannya
2.Daftar nama delegasi untuk mengikuti Musrenbang
Kecamatan.
Februari
1.Delegasi desa/kel
2.Wakil masyarakat tingkat kecamatan
3.Aparat kecamatan
4.Lembaga profesi
5.Perwakilan BAPPEDA
6.Dinas/SKPD
7.Anggota DPRD Dapil bersangkutan.
1.Dokumen Rencana Kerja Kecamatan beserta pendanannya
2.Daftar nama delegasi kecamatan untuk mengikuti Forum
SKPD dan Musrenbang Kab/kota.
Pertengahan Februari
Maret
Mei
1.Delegasi kecamatan
2.Kelompok masyarakat ditingkat
kab/kota
3.Dinas/SKPD diKab/Kota
4.Bappeda Kab/kota
5.Anggota DPRD Kab/Kota
6.LSM dan ahli/profesional
1.Rancangan Renja-SKPD berdasarkan hasil Forum
SKPD yang memuat kerangka regulasi dan kerangka
anggaran SKPD.
2.Kegiatan Prioritas beserta pendanaannya
3.Daftar delegasi untuk mengikuti Musrenbang
Kab/Kota.
1.Delegasi kecamatan
2.Wakil kelompok /lembaga masyarakat
tingkat kab/kota
3.Dinas/SKPD diKab/Kota
4.Bappeda
5.Anggota DPRD dari Komisi
6.Lembaga Profesi dan akademisi
1.Penetapan arah kebijakan, prioritas pembangunan, dan
plafon/pagu dana balik berdasarkan fungsi/SKPD.
2.Daftar kegiatan prioritas yang sudah dipilah berdasarkan
sumber pembiayaan dari APBD Kabupaten/Kota; APBD
Provinsi, APBN, dansumber pendanaan lainnya.
3.Daftar usulan kebijakan/regulasi pada tingkat pemerintah
Kabupaten/Kota,Provinsi dan/atau Pusat.
4.Rancangan pendanaan untuk Alokasi Dana Desa.
1.Kepala Daerah
2.Bappeda
3.Dinas/SKPD
Dokumen RKPD memuat :
Rancangan kerangka ekonomi daerah
Prioritas pembangunan dan kewajiban daerah
Rencana kerja yang terukur dan pendanaannya,
baik yang dilasanakan langsung oleh pemerintah
pemerintah daerah maupun dengan melibatkan
partisipasi masyarakat.
Tahapan penyusunan RPJMD dan Renstra SKPD
Tahap 1
Menyiapkan rancangan awal RPJMD
Setelah kepala daerah (gubernur/bupati/walikota) dilantik, maka tugas kepala Bappeda sebagai
pelaksana teknis perencanaan daerah segera menyusun rancangan awal RPJMD berdasarkan
visi,misi dan program kepala daerah. Hasilnya diserahkan kepada masing-masing SKPD sebagai
pedoman penyiapan rancangan renstra SKPD. Waktu penyusunan dilakukan 1 bulan setelah
kepala daerah dilantik.
Tahap 2
Menyiapkan rancangan renstra SKPD
Kepala satuan kerja perangkat daerah (SKPD/dinas) menyiapkan rancangan renstra SKPD sesuai
dengan tugas. Hasilnya diserahkan kepada bappeda sebagai bahan menyusun rancangan RPJMD.
Waktu dilaksanakan paling lambat 2 bulan kepala daerah dilantik.
Tahap 3
Pelaksanaan musyawarah rencana pembangunan
Untuk penyusunan rencana pembangunan dengan melibatkan kelompok kepentingan, kepala
bappeda menyelenggarakan musrenbang pada tingkat kabupaten yang diikuti oleh unsur-unsur
penyelenggara negara dan mengikutsertakan masyarakat.
Dan dilaksanakan paling lambat 2 bulan setelah kepala daerah dilantik.
Tahap 4
Penyusunan rancangan akhir rancangan RPJMD/Pentapan RPJMD
Berdasarkan hasil musrenbang jangka menengah, kepala bappeda menyusun rancangan akhir
RPJMD. Hasilnya kemudian ditetapkan oleh kepala daerah, yang ditetapkan paling lambat 3 bulan
setelah kepala daerah dilantik.
Alur / Tahapan penyusunan RKPD dan Renja SKPD
Tahap 1
Menyiapkan rancangan awal RKPD
Kepala Bappeda sebagai pelaksana teknis perencanaan daerah segera menyusun rancangan awal
RKPD berpedoman pada dokumen RPJMD. Hasilnya diserahkan kepada masing-masing SKPD
sebagai pedoman penyiapan rencana kerja SKPD.
Penyiapan rancangan dilakukan pada awal tahun atau paling lambat bulan januari
Tahap 2
Menyiapkan rancangan renja SKPD
Kepala satuan kerja perangkat daerah (SKPD/dinas) menyiapkan rencana kerja SKPD sesuai
tugas pokok dan fungsinya yang berpedoman pada dokumen renstra SKPD. Hasilnya diserahkan
kepada bappeda sebagai bahan menyusun rancangan RKPD.
Penyiapan rencana kerja SKPD dihasilkan paling lambat bulan februari
Tahap 3
Pelaksanaan musyawarah rencana pembangunan
Agar penyusunan rencana pembangunan melibatkan kelompok kepentingan, kepala bappeda
menyelenggarakan musrenbang mulai tingkat desa/kelurahan sampai kabupaten dengan
mengikutsertakan masyarakat.
Dalam siklus perencanaan, kegiatan musrenbang dilaksanakan pada 3 tahapan mulai dari tingkat
desa/kelurahan, tingkat kecamatan dan kabupaten. Adapun waktu pelaksanaannya :
1. Musrenbang desa/kelurahan dimulai awal januari
2. Musrenbang kecamatan dilaksanakan pada bulan februari
3. Musrenbang kabupaten dilaksanakan pada bulan maret
Tahap 4
Penyusunan rancangan akhir rancangan RKPD
Berdasarkan hasil musrenbang, kepala bappeda menyusun rancangan akhir RKPD. Hasilnya
kemudian ditetapkan dalam bentuk keputusan kepala daerah.
Perencanaan Penganggaran
Tahunan Daerah
PRINSIP – PRINSIP PENGANGGARAN
a. Partisipasi Masyarakat
Pengambilan keputusan dalam proses penyusunan dan penetapan APBD harus dapat
melibatkan partisipasi masyarakat.
b. Transparansi dan Akuntabilitas Anggaran
APBD yang disusun harus dapat menyajikan informasi secara terbuka dan mudah
diakses oleh masyarakat meliputi tujuan, sasaran, sumber pendanaan pada setiap
jenis/objek belanja serta korelasi antara besaran anggaran dengan manfaat dan hasil
yang ingin dicapai dari suatu kegiatan yang dianggarkan. Oleh karena itu, setiap
pengguna anggaran harus bertanggung jawab terhadap penggunaan sumber daya
yang dikelola untuk mencapai hasil yang ditetapkan.
c. Disiplin Anggaran
Beberapa prinsip dalam disiplin anggaran yang perlu diperhatikan antara lain bahwa
(1) Pendapatan yang direncanakan merupakan perkiraan yang terukur secara
rasional, yang dapat dicapai untuk setiap sumber pendapatan. Sedangkan belanja
yang dianggarkan merupakan batas tertinggi pengeluaran belanja; (2) Penganggaran
pengeluaran harus didukung dengan adanya kepastian tersedianya penerimaan
dalam jumlah yang cukup dan tidak dibenarkan melaksanakan kegiatan yang belum
tersedia atau tidak mencukupi kredit anggarannya dalam APBD/Perubahan APBD; (3)
Semua penerimaan dan pengeluaran daerah dalam tahun anggaran yang
bersangkutan harus dianggarkan dalam APBD dan dilakukan melalui rekening kas
daerah.
d.Keadilan Anggaran
Pajak daerah, retribusi daerah, dan pungutan daerah lainnya yang dibebankan
kepada masyarakat harus mempertimbangkan kemampuan untuk membayar.
Dalam mengalokasikan belanja daerah, harus mempertimbangkan keadilan
dan pemerataan agar dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa
diskriminasi pemberian pelayanan.
e. Efisiensi dan Efektivitas Anggaran
Dana yang tersedia harus dimanfaatkan dengan sebaik mungkin untuk dapat
menghasilkan peningkatan pelayanan dan kesejahteraan yang maksimal guna
kepentingan masyarakat.
f. Taat Azas
APBD penyusunannya harus tidak boleh bertentangan dengan peraturan
perundang-undangan yang lebih tinggi, kepentingan umum dan peraturan
daerah lainnya.
kerangka kebijakan yang melandasi prinsip transparansi,
partisipasi dan akuntabilitas pada perencanaan penganggaran:
No
1
Landasan Yuridis
Transparansi
Partisipasi
Akuntabilitas
Kemakmuran rakyat
dapat tercapai
dengan keterlibatan
rakyat dalam proses
penganggaran karena
rakyat lebih
mengetahui
kebutuhannya
Anggaran ditujukan
untuk sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat
UUD 1945
Pasal 30 dan 31
mengisaratkan
bahwa Akuntabilitas
keuangan negara
berorientasi pada
hasil
Pengelolaan
keuangan negara
yang transparan
membuka ruang
terdistribusinya
anggaran untuk
pemenuhan
kebutuhan dasar
masyarakat.
Pasal 22 ayat 1 dan
2 mengisaratkan
adanya uji publik
terhadap RUU
Asas keterbukaan
dapat membuka
ruang bagi
masyarakat untuk
ikut terlibat dalam
proses pembentukan
undang-undang
sehingga dapat
melahirkan produk
undang-undang yang
berpihak pada
masyarakat.
87
2
3
UU. 17/2003 Tentang
Keuangan Negara
UU 10/2004 Tentang
Pembuatan Peraturan
Perundang-undangan
Pasal 3 ayat (1)
menegaskan bahwa
Keuangan Negara
dikelola secara
transparan
Pasal 5 huruf g bahwa
Pembentukan UndangUndang menganut asas
keterbukaan
Pasal 53 bahwa
Masyarakat berhak
memberikan masukan
terhadap rancangan
undang-undang.
Keterangan
No
4
5
Landasan Yuridis
UU 32/2004 Tentang
Pemerintah Daerah
Transparansi
Partisipasi
Akuntabilitas
•Pasal 23 ayat (2) bahwa
keuangan daerah dikelola
secara transparan dan
akuntabel
•Pasal 137 butir g bahwa
pembentukan Perda
menganut asas keterbukaan
•Pasal 178 ayat 1 dan 2
menyebutkan bahwa
pengelolaan barang daerah
dilaksanakan secara
transparan
Pasal 139 ayat (1)
Masyarakat berhak
memberikan masukan
secara lisan atau tertulis
dalam rangka penyiapan
atau pembahasan
rancangan Perda
Pasal 184 ayat 2 dan
3 menegaskan bahwa
akuntabilitas
keuangan daerah
berorientasi pada
hasil
Pasal 2 ayat (4) huruf d,
pasal 5 ayat 3, pasal 6
ayat 2, pasal 7 ayat 2,
Pasal 11 ayat (1), pasal 16
ayat (2), pasal 22
mengisaratkan bahwa
Penyusunan rencana
kerja pembangunan
mengikutsertakan
masyarakat.
UU 25/2004 Tentang
Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional
6
PP No. 68 tahun 1999
Tentang Penyelenggaraa
Negara Yang Bersih dari
KKN
Pasal 2 ayat (1) huruf a bahwa masyarakat memiliki Hak
mencari, memperoleh, dan memberikan informasi
mengenai penyelenggaraan negara
7
PP 58 tahun 2005
Pengelolaan Keuangan
Daerah
Pasal 4 bahwa Keuangan
daerah dikelola secara
transparan
Keterangan
Kebutuhan dasar
masyarakat didaerah
dapat terpenuhi
melalui perencanaan
dan penganggaran
yang melibatkan
masyarakat
Perencanaan
pembagunan yang
tepat sasaran dapat
tercapai dengan
melibatkan
masyarakat dalam
penyusunan rencana
kerja pembangunan
Prinsip pemerintahan
yang bersih dapat
tercapai dengan
keterlibatan
masyarakat dalam
pengawasan
pemerintahan
No
8
9
Landasan Yuridis
Transparansi
Akuntabilitas
Pasal 18 ayat 1 dan dan 2
mengisaratkan bahwa
Masyarakat secara
perorangan maupun
kelompok dan atau
organisasi masyarakat dapat
melakukan pengawasan
terhadap penyelenggaraan
pemerintah daerah baik
lansung maupun tidak
lansung.
PP 20 tahun 2001
Tentang Pembinaan dan
Pengawasan atas
Penyelenggaraan
Pemerintahan Daerah
Permendagri 13 tahun
2006 Tentang
Pengelolaan Keuangan
Daerah
Partisipasi
Pasal 4 ayat 7
Keuangan Daerah
dikelola secara
Transparan merupakan
prinsip keterbukaan
yang memungkinkan
masyarakat untuk
mengetahui dan
mendapatkan akses
informasi seluasluasnya tentang
keuangan daerah
Pasal 4 ayat 8
Keuangan Daerah
dikelola secara
bertanggung jawab
merupakan
perwujudan
kewajiban seseorang
untuk
mempertanggungjaw
abkan pengelolaan
dan pengendalian
sumber daya dan
pelaksanaan
kebijakan yang
dipercayakan
kepadanya dalam
rangka pencapaian
tujuan yang telah
ditetapkan
Keterangan
Gambar. Komponen-komponen Demokratisasi Anggaran di Tingkat Lokal
GOAL
Kesejahteraan & Keadilan
Pertumb
uhan
Pemerat
aan &
Kesemp
atan
Kerja
Penangg
ulangan
Keadilan
Jender
Keberlan
jutan
Kemiskin
an
Substansi/ Cakupan
Prosedur
& Kelembagaan
Kelembagaan dan Proses-proses Demokrasi Anggaran
(Perluasan dan Pendalaman Praktek Demokrasi)
Aktor Politik
Birokrasi
Kelompok
Fungsional
Media Massa
Aktor
Komponen-komponen demokratisasi pengangaran mencakup, aktor, prosedur dan
kelembagaan, substansi dan cakupan, dan tujuan akhir yang akan dicapai dalam
mewujudkan kesejahteraan dan keadilan. Peran aktor dalam demokratisasi
penganggaran merupakan pihak-pihak yang berkepentingan dalam
penganggaran yang dipengaruhi oleh budaya warga (civic culture), komitmen
politik pengambil kebijakan serta kapasitas birokrasi. Sementara prosedur dan
kelembagaan demokratisasi anggaran mencakup transparansi, partisipasi dan
akuntabilitas.
A. Transparansi, prinsip transparansi dioperasionalkan dengan membuka akses
publik seluas-luasnya terhadap proses perencanaan penganggaran.
Pengumuman jadwal forum-forum Mursrenbang di tingkat kelurahan atau
desa,
kecamatan, kab/kota, propinsi, dan pembahasan anggaran
Publikasi dokumen-dokumen perencanaan anggaran; RPJPD, RPJMD,
RKPD, hasil evalusi program tahun lalu, KUA, strategi prioritas dan plafon,
RKA-SKPD, RAPBD, APBD, hasil-hasil pada setiap forum (Musrenbang
kelurahan, kecamatan, kabupaten/kota dan propinsi).
Transparansi plafon anggaran untuk setiap sektor dan spacial kecamatan
dapat mengeliminir ekspektasi yang berlebihan pada usulan perencanaan
yang diajukan.
Pengumuman kepada masyarakat jumlah usulan yang diterima dan ditolak,
dan penjelasan ditolaknya usulan, termasuk pada tahap mana usulanusulan tersebut dihilangkan. Diperlukan mekanisme manajemen informasi
hasil-hasil perencanaan pada forum-forum sebelumnya (feed back
B. Partisipasi, prinsip partisipasi harus diakomodir dalam setiap tahapan perencanaan
penganggaran
Partisipasi masyarakat diakomodasi dalam proses perencanaan dan
penganggaran. Oleh karena itu, perlu dipertimbangkan penyatuan institusi
penanggungjawab perencanaan penganggaran (Bappeda, Sekda, TAPD) dalam
mengantisipasi terjadinya overlapping.
Musrenbang Desa/Kelurahan dan Kecamatan tidak hanya dihadiri oleh elit-elit
dikomunitas seperti aparat RT dan RW melainkan dibuka secara luas kepada
warga.
Forum SKPD dan Musrenbang Kabupaten/Kota yang membahas perencanaan
sektoral dari masing-masing unit kerja membuka ruang keterlibatan warga dari
kelompok profesi dan masyarakat penerima manfaat atau dampak dari kebijakan
pembangunan yang akan dilakukan
Delegasi warga dari hasil Musrenbang menjadi utusan warga yang akan terlibat
dalam pembahasan anggaran sampai dengan pengesahan.
3.
Akuntabilitas, azas umum akuntabilitas dilakukan pada setiap tahapan penganggaran:
Akuntabilitas anggaran berdasarkan kinerja pelayanan berdasarkan RPJMD, dan
renstra SKPD yang terukur
Berdasarkan UU Keuangan Negara, Gubernur bertanggungjawab terhadap
pencapaian indikator outcome sedangkan unit kerja bertanggunjawab terhadap
barang/jasa yang dihasilkan (output)
Akuntabilitas juga perlu ada dalam tahap perencanaan, sebelum RAPBD disahkan
perlu dilakukan uji publik atau tanggapan warga terhadap RAPBD apakah mampu
menjawab problem dari warga. Perlu dilakukan audit proses perencanaan yang
telah dilakukan melihat rasionalitas perencanaan yang dihasilkan dan memberikan
sanksi kepada eksekutif dan legislatif yang melakukan rekayasa perencanaan
untuk memperkaya kelompok atau pribadi.
Tahapan Penganggaran Pembangunan Tahunan Daerah
TAHAPAN
Penyusunan rancangan
KUA
Pembahasan dan
penetapan rancangan
KUA
Jadwal
(bulan)
Sumber
Keluaran
Awal Juni
1.Kepala daerah
2.TPAD (Sekda,Bappeda dan
Kepala SKPD)
Hasil Penjaringan Aspirasi
Masyarakat, RKPD, RPJMD,
Renstra SKPD, Dokumen
APBD, KUA dan PPA tahun
lalu.
Mengacu pada dokumen RKPD, Pemda
menyusun Dokumen rancangan KUA
memuat :
Target kinerja yang
terukur dari program
program yang akan
dilaksanakan
berdasarkan urusan
pemerintahan daerah
Proyeksi pendapatan
daerah, alokasi belanja,
dan pembiayaan daerah
beserta asumsi-asumsi
kebijakan fiskal daerah
Akhir Juni – awal
Juli
1.TAPD (Bappeda dan SKPD)
2.Panitia anggaran DPRD
Rancangan KUA
Dokumen kesepakatan Rancangan KUA
antara TPAD dan Panitia anggaran DPRD
Penyusunan dan
pembahasan rancangan
PPAS
Akhir Juli
Penyusunan dan
penetapan RKA-SKPD
Agustus
Evaluasi RKA-SKPD
September
Pelaku/Aktor
Dokumen kesepakatan
rancangan PPAS menjadi PPA
yang memuat prioritas program
dan anggaran masing-masing
program menurut urusan wajib
dan pilihan pemerintah daerah
Dokumen kesepakatan KUA dan
PPA
1.TAPD (Bappeda dan SKPD)
2.Panitia anggaran DPRD
Kebijakan Umum APBD
Masing-masing SKPD
Kebijakan Umum APBD,
PPA, dan SE KDH tentang
plafon anggaran
Dokumen RKA SKPD yang memuat
rencana pendapatan, pembiayaan dan
belanja berdasarkan prestasi kerja
Kepala SKPD dan Tim
anggaran Kabupaten/kota
Kebijakan Umum APBD,
PPA, dan SE KDH tentang
plafon anggaran
Dokumen hasil evaluasi RKA masingmasing SKPD
TAHAPAN
Pengajuan
Raperda tentang
APBD ke DPRD
Pembahasan
RAPBD
Jadwal
(bulan)
Oktober
November
Pelaku/Aktor
Sumber
Keluaran
Pemerintah dan DPRD
RKPD, Hasil
Musrenbang, Renja
SKPD, Hasil
penjaringan Aspirasi
Dokumen kesepakatan
rancangan APBD yang diusulkan
pemerintah daerah untuk
dibahas di DPRD
DPRD
SKPD
RKPD, Hasil
Musrenbang, Renja
SKPD, Hasil
penjaringan Aspirasi
Nota kesepakatan DPRD atas
rancangan APBD
Kesesuaian dengan
peraturan perundangundangan dan tidak
bertentangan dengan
kepentingan umum
Dokumen hasil evaluasi atas
RAPBD untuk ditetapkan
menjadi perda APBD
Evaluasi RAPBD
November
Gubernur/Mendagri
Penetapan APBD
Desember
Kepala daerah
DPRD
Penjabaran APBD
Paling lambat
1 bulan
setelah
ditetapkan
Kepala daerah
DPRD
Dokumen Perda APBD
Perda APBD
Dokumen PerKaDa Penjabaran
APBD, DPA SKPD
Kalender Perencanaan Penganggaran
Tahunan
MUSRENBANGNAS
RPJMD
Rancangan
RKP
Mei
Apr
•Prioritas pemb,
•Pagu indiakatif
berdasar fungsi
SKPD, sumber
dana & Wilayah
kerja
Rancangan
RKPD Prov Mei
MUSRENBANG
PROV
Rancangan
Awal RKPD
Apr
Rancangan
RKPD
Okt
Musrenbang RKPD/
MUSRENBANGDA
Rancangan
Ahir RKPD
Penetapan
RKPD
RAPBD
Mar
Mei
KUA &
PPAS
Jun
Renstra
SKPD
Rancangan
Renja SKPD
Feb.
Renja
SKPD
Forum
SKPD
Feb/Mar
MUSRENBANG Feb.
Kecamatan
MUSRENBANG
Desa/Kel.
Jan
RKASKPD
Apr
Pokok-pokok
Pikiran
DPRD
Agt
Aktor-aktor Dalam Perencanaan Penganggaran
Hubungan dan Pendekatan
Perencanaan -Penganggaran
Perencanaan Tanpa Penganggaran
->Mimpi
Penganggaran Tanpa Perencanaan
-->Pemborosan
Pendekatan: Politik, Teknokratis, Top
Down, Bottom-up, Partisipatif
KEGAGALAN DALAM
PERENCANAAN DAN
PENGANGGARAN
=
MERENCANAKAN KEGAGALAN
& KEBOCOCORAN ANGGARAN
TUGAS KELOMPOK
Dari Landasan Normatif tersebut,
Bagaimana realisasi di daerah masing2
(Kelompok di bagi 4 sesuai daerahnya)
Lembar Diskusi Kelompok
Panduan Diskusi:
1.Diskusikan celah atau peluang pada tahapan-tahapan penganggaran mana saja warga dapat terlibat
2.Siapa aktor kunci pada setiap tahapan penganggaran tersebut
3.Strategi apa yang dapat dilakukan warga agar dapat terlibat atau mempengaruhi setiap tahapan tersebut
4.Identifikasi permasalahan-permasalahan yang terjadi dalam penyusunan anggaran dan bagaimana seharusnya
Tabel Isian Diskusi
Aktor Kunci
Celah/Peluang Tahap
Strategi Warga
Download