PROCEEDING INTERNATIONAL CONFERENCE OF

advertisement
PROCEEDING INTERNATIONAL CONFERENCE OF
COMMUNICATION, INDUSTRY AND COMMUNITY
Cetakan ke-1, Februari 2016
Hak cipta dilindungi oleh Undang-Undang
Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau
Seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit
Editor:
Widayatmoko, Septia Winduwati
Desain dan tata letak:
Xenia Angelica
Cetakan ke-1, Jakarta, FIKom UNTAR 2016
ix-385 hlm, ukuran 7,17 x 10,12 inch
ISBN: 978-602-74139-1-7
Diterbitkan oleh:
Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara
Jl. Letjen S. Parman No. 1
Jakarta Barat 11440
i
PROCEEDING INTERNATIONAL CONFERENCE OF
COMMUNICATION, INDUSTRY AND COMMUNITY
Reviewer:
Ahmad Djunaidi
Asep Muhtadi
Atwar Bajari
Chairy
Dorien Kartikawangi
Eko Harry Susanto
Endah Murwani
I Nengah Duija
Juliana Abdul Wahab
Kurniawan Hari Siswoko
Nurdin Abd Halim
ii
KATA PENGANTAR
International Conference of Communication, Industry and Community
atau ICCIC mengajak untuk melihat fenomena dan realitas sosial. Pertumbuhan
pesat di sektor ini telah bersinggungan dengan praktek perkembangan teknologi
informasi dan komunikasi yang bersinggungan dengan praktik perkembangan
media industri serta komunitas di kehidupan masyarakat yang sangat dinamis.
Ilmu komunikasi tidak dapat disangkal memiliki kontribusi besar pada
perkembangan bisnis dan usaha bidang industri, baik di segi pemasaran,
pengembangan branding dan image serta pembangungan masyarakat.
Pada kesempatan ini International Conference Of Communication,
Industry And Community mengundang seluruh akademisi; praktisi baik dari pihak
industri komersial, pihak pemerintah dan praktisi media; mahasiswa, dan peneliti,
untuk berpartisipasi dalam Call For Paper ICCIC 2016. Penyelenggaraan
International Conference Of Communication, Industry And Community dapat
terselenggara berkat kerjasama antara Fakulras Ilmu Komunikasi Universitas
Tarumanagara berkolaborasi dengan Universiti Sains Malaysia dan Institut Hindu
Dharma Negeri di Bali. Subtema dalam International Conference Of
Communication, Industry And Community adalah media industry, Public
Relations, communication & community, marketing communication,
communication tourism industry and creative economy.
Setiap paper yang masuk ke dalam prosiding ICCIC telah melalui
serangkaian proses review oleh tim reviewer yang berasal dari delapan institusi
berbeda. Jumlah paper yang diterima dalam ICCIC 2016 berjumlah 135 paper
yang dibagi kedalam empat jilid buku prosiding.
Akhirnya kami mengucapkan terima kasih kepada pimpinan Universiti
Sains Malaysia dan Institut Hindu Dharma Negeri, pihak sponsor, media
partners, tim reviewer, Pimpinan Universitas, dan panitia yang telah bekerja
keras untuk mewujudkan konferensi ini terlaksana.
Ketua Pelaksana ICCIC 2016
Suzy Azeharie
iii
KATA PENGANTAR
Suatu kehormatan bagi Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas
Tarumanagara untuk dapat menyelenggarakan acara International Conference Of
Communication, Industry And Community berkolaborasi dengan Universiti Sains
Malaysia dan Institut Hindu Dharma Negeri. Konferensi internasional ini
diselenggarakan sebagai wahana untuk mengembangkan dan berbagi
pengetahuan khususnya di bidang Ilmu Komunikasi.
Dewasa ini, Ilmu Komunikasi menjadi salah satu kajian yang semakin
menarik perhatian khalayak terlebih lagi dengan hadirnya media baru sebagai
salah satu sarana potensial dalam meningkatkan peradapan manusia di berbagai
aspek kehidupan. Tidak dapat dipungkiri bahwa Ilmu Komunikasi telah banyak
memberikan kontribusi bagi perkembangan industri dan masyarakat.
Di industri media selain perkembangan media arus utama (mainstream)
kemunculan portal media online menunjukkan pemanfaatan konvergensi media
yang banyak diminati khalayak. Media baru serta pengaplikasian Ilmu Marketing
Komunikasi juga dimanfaatkan oleh pihak industri, baik industri kecil, menengah
maupun besar guna meningkatkan pelayanan dan memaksimalkan eksistensinya
di dunia persaingan bisnis sekaligus untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat. Di kalangan masyarakat, Ilmu Komunikasi dianggap mampu untuk
membedah isu-isu sosial dan budaya yang ada. Ilmu Komunikasi juga
dimanfaatkan untuk mengembangkan komunitas yang kuat dan mampu bersaing
di dunia internasional.
Pada kesempatan ini, selayaknya saya menyampaikan terima kasih
kepada seluruh pihak yang telah membantu dan mendukung terlaksananya acara
ini – pimpinan Universiti Sains Malaysia dan Institut Hindu Dharma Negeri,
pihak sponsor, media partners, tim reviewer, Pimpinan Universitas, dan panitia
yang telah bekerja keras untuk mewujudkan konferensi ini terlaksana.
Plh Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi UNTAR.
Widayatmoko
iv
PANITIA ICCIC
Penanggung Jawab
Ketua Steering Committee
Wakil Ketua SC
: Dr. Eko Harry Susanto, M.Si
: Drs. Widayatmoko, MM, M.Ikom
: Dr. Riris Loisa, M.Si
Panitia Pelaksana
Ketua
Wakil Ketua
Sekretaris
Bendahara
Koordinator Humas
Sponsorship dan LO
Publikasi & Dokumentasi
Koordinator Acara
Perlengkapan
: Dra. Suzy S. Azeharie, M.A., M.Phil
: Septia Winduwati, S,Sos., M.Si
: Lusia Savitri Setyo Utami, S.Sos., M.Si
: Candra Gustinar
: Yugih Setyanto, S.Sos, M.Si
: Wulan Purnama Sari, S.Ikom., M.Si
: Xenia Angelica Wijayanto, S.H., M.Si
: Sinta Paramita, SIP, MA
: Ady Sulistyo
v
DAFTAR ISI
REVIEWER
KATA PENGANTAR Ketua Panitia ICCIC
KATA PENGANTAR Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi UNTAR
PANITIA ICCIC
i
ii
iii
iv
Lokalisasi Sistem Penyiaran Di Aceh: Analisis Terhadap Harapan,
Peluang Dan Tantangan
Hamdani M. Syam, Khairulyadi, Bukhari
1 – 17
Lisensi Sebagai Alternatif Strategi Bisnis Media Cetak Olahraga
Di Indonesia
Narayana Mahendra Prastya
18 – 30
Manajemen Radio Islam: Pergulatan AntaraIdeologi
Dan Eksistensi
Puji Hariyanti
31 – 42
Logika Jangka Pendek Jurnalisme Online (Studi Kasus
Replubika Online)
Ratna Puspita
43 – 57
Dampak Penggunaan Smartphone Pada Perubahan
Perilaku Anak
Taufik Suprihatini
58 – 68
Situs Online Dating Sebagai Sarana Membangun Hubungan
Romantis Berkomitmen
Reni Dyanasari, Tatya Mutiara Annisa
69 – 79
Gaya Hidup Dan Perilaku Seksual Pengguna Cybersex
(Studi Kasus: Pada Mahasiswa Di Kota Padang)
Elva Ronaning Roem
80 – 93
Fenomena Perilaku Narsisme Di Instagram
(Studi Fenomenologi Laki-Laki Metroseksual)
Welly Wirman, Emia Vintanta Kb, Eoudia Stefanie
94 –104
Ujaran Kebencian: Membangun Literasi Era Digital
Benedictus A.S
105 –113
vi
Pengalihan Ekspresi Wajah Dengan Emoticon Media Sosial
(Studi Kasus: Penggunaan Stiker Pada Aplikasi Line)
Cicy Amelia, Desy Kurnia Wati
114–124
Long Distance Communications (Ldc) (Perilaku Penggunaan
Line Bagi Pasangan Hubungan Jarak Jauh)
Feby Diani Bosma, Cicilia Margarettha
125–135
Konsep Diri Stalker Di Media Sosial
(Study Kasus Stalking Mantan Kekasih)
Vindriana Adios, Randi Saputra
136–144
Tingkat Literasi Media Internet Mahasiswa Konsentrasi Ilmu
Komunikasi Dan Media Pascasarjana Ilmu Komunikasi
Fisipol Ugm
Clara Novita Anggraini
145–159
Media Digital Dalam Menciptakan Kesadaran Bermedia
(Studi Kasus: Sanggar Ananda)
Meilani Dhamayanti
160–166
Wattpad: Aplikasi Media Sosial, Media Convergence And
Participatory Culture
Fatma Dian Pratiwi
167–174
Penggunaan Tahapan E-Learning Dalam Sistem Pembelajaran
Mahasiswa Dan Identifikasi Permasalahan Sistem E-Learning
Berliana Sinaga, Devriani Rasitha Davron
175–185
Memahami Wacana “Korban” Pada Konflik Personal
Selebgram Perempuan
Hapsari Dwiningtyas Sulistyani
186–198
Representasi Opini Publik Di Media Sosial (Kasus Meme
Bekasi Di Media Sosial Path Dan Twitter)
Fitrie Handayani, Siti Dewi Sri Rs, Wira Respati
199–207
Aktivitas Budaya Partisipatif Remaja Dalam Menggunakan
Media Baru
Endah Murwani, Indiwan Seto W, .Joice Caroll S
208–220
Imbangi Hegemoni Jurnalisme Mainstream Melalui
Jurnalisme Warga
Feri Ferdinan Alamsyah
221–233
vii
Apa Yang Memungkinkan Jurnalisme Warga Terselenggara?
Kajian Terhadap Minat, Motivasi, Dan Jejaring Sosial Online
Devie Rahmawati
234–240
Citizen Journalism Di Koran Konvensional (Studi Deskriptif Isi
Rubrik Citizen Journalism Di Koran Tribun Jogja)
Yanti Dwi Astut, Lukman Nusa
241–250
Representasi Media Dalam Menampilkan Masa Lalu:
Studi Media Memori Atas Berita Penyelesaian
Kasus-Kasus Pelanggaran Ham
Doddy Salman
251–257
Komodifikasi Wartawan Dalam Industri Media
Metha Madonna
258–264
Persaingan Stasiun Televisi Dengan Internet Untuk Meraih Iklan
M. Adi Pribadi, M. Gafar Yoedtadi, Kurniawan Hs
265–274
Radio Komunitas Dan Pemberdayaan Masyarakat Perdesaan
Ika Yuliasari, Euis Komalawati
275–287
Keterlibatan Audiens Dengan Media Personae
(Studi Pada Proses Terbangunnya Hubungan Semu Antara
Penggemar Dengan Idola Dalam Program Acara Running Man)
Desideria Lumongga Dwihadiah Leksmono
288–299
Pengukuran Afek (Mood) Secara Kuantitatif Sebagai
Motivasi Individu Dalam Mengkonsumsi Media Hiburan Interaktif
Mochammad Kresna N
300–310
Kekuatan Media Massa Televisi Dan Konteks
Sosial Budaya Dalam Mengkonstruksi Relasi Jender
Sri Budi Lestari
311–320
Membaca Pilihan Penonton Pada Program Acara Ftv
Di Televisi Swasta Indonesia
Rama Kertamukti, Niken Puspitasari
321–331
Alay Sebagai Bagian Dari Industri Media
Dicky Andika
332–338
viii
Pelanggaran Etika Dalam Kerja Jurnalistik Di Industri
Media Indonesia (Pemetaan Kasus-Kasus Pelanggaran Etika
Dan Kode Etik Oleh Jurnalis Indonesia)
Bonaventura Satya Bharata
339–353
Ledakan Maklumat Dan Teknologi Komunikasi
Baru Di Bawah Bayu
Intan S. Ibrahim, Nor Hs, Juliana A. Wahab, Suhaimi S
354–363
Karikatur-Karikatur Charlie Hebdo: Ekspresi Kebebasan
Atau Kebencian?
Triyono Lukmantoro
364–377
Konstruksi Realitas Bencana Pada Berita Banjir Jakarta
Suraya
378–385
ix
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
LOKALISASI SISTEM PENYIARAN DI ACEH: ANALISIS TERHADAP
HARAPAN, PELUANG DAN TANTANGAN
Hamdani M. Syam, Khairulyadi, Bukhari,
Prodi Ilmu Komunikasi dan Prodi Sosiologi FISIP Universitas Syiah Kuala
[email protected], [email protected],
[email protected]
Abstract
Broadcast media not only as a medium of entertainment, but could serve as a
medium that can be used for the development of a country. The aim of this study
was to investigate the localization of the broadcasting system in Aceh. The
research focuses on three aspects: first, the aspect of hope that examines what
people's expectations related to the localization of the broadcasting system in
Aceh. Second, aspects of opportunities including reviewing opportunities that are
owned by the Aceh regional localization system that enables broadcasters to run
in Aceh. Third, aspects of the challenges that examines the factors that challenge
the localization of broadcasting in Aceh is hard to be executed. To get the results
of the study, researchers used a qualitative approach to data collection through
in-depth interviews, focus group discussions and analysis of documentation. The
research results obtained are aspects of the expectations that people had great
expectations for the government of Aceh in order to carry out regulation of
broadcast content to broadcasters that broadcast in Aceh because according to
them the broadcast that had been obtained did not fit with the context of the
Acehnese people who are running the Islamic law. Aspects of the opportunities
that the Aceh government legislation already provides opportunities for the Aceh
government to regulate broadcast content broadcasting in Aceh so that it fits
with the context of Islamic shari'ah that is being run in Aceh. Aspects of the
challenge that is no small part of society, especially media practitioners so that
the setting was not done because it would hamper the public to obtain
information widely.
Keywords: Localization, Broadcasting, Aceh
Abstrak
Media penyiaran bukan saja sebagai media hiburan, tetapi bisa berfungsi sebagai
media yang dapat digunakan untuk pembangunan sesuatu negara. Penelitian ini
bertujuan meneliti mengenai lokalisasi sistem penyiaran di Aceh. Untuk meneliti
hal tersebut, maka penelitian ini menfokuskan pada tiga aspek yaitu pertama,
aspek harapan yaitu mengkaji apa saja harapan masyarakat terkait dengan
lokalisasi sistem penyiaran di Aceh. Kedua, aspek peluang yaitu mengkaji
peluang yang dimiliki oleh daerah Aceh sehingga lokalisasi sistem penyiaran
memungkinkan untuk dijalankan di Aceh. Ketiga, aspek tantangan yaitu
mengkaji faktor-faktor tantangan sehingga lokalisasi penyiaran di Aceh sulit
untuk bisa dijalankan. Untuk mendapatkan hasil penelitian, peneliti
menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui
1
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
wawancara mendalam, FGD dan analisis dokumentasi. Adapun hasil penelitian
yang didapatkan adalah aspek harapan yaitu masyarakat sangat menaruh harapan
kepada pemerintah Aceh agar dapat melakukan pengaturan isi siaran kepada
lembaga penyiaran yang bersiaran di Aceh karena menurut mereka siaran yang
selama ini didapatkan tidak sesuai dengan konteks masyarakat Aceh yang sedang
menjalankan syariat Islam. Aspek peluang yaitu undang-undang pemerintah
Aceh sudah memberikan peluang kepada pemerintah Aceh untuk mengatur isi
siaran lembaga penyiaran yang bersiaran di Aceh agar isinya sesuai dengan
konteks syari’at Islam yang sedang dijalankan di Aceh. Aspek tantangan yaitu
ada sebagian kecil masyarakat terutama praktisi media agar pengaturan itu tidak
dilakukan karena hal itu akan menghambat masyarakat untuk mendapatkan
informasi secara luas.
Kata Kunci: Lokalisasi, Penyiaran, Aceh
Pendahuluan
Media penyiaran dalam suatu negara bukan saja sebagai media hiburan,
namun ia berfungsi sebagai alat yang dapat digunakan untuk mencetuskan
pembangunan. Banyak para pakar sains sosial mengatakan media penyiaran
dapat digunakan sebagai alat pembangunan suatu negara. Sebab media penyiaran
dapat digunakan sebagai media literasi, media sosialisasi, informasi dan sebagai
media pembelajaran lainnya. Media penyiaran mampu berfungsi sebagai alat
yang membantu mempercepatkan proses pembangunan baik dari segi kebendaan
maupun moral. Banyak hasil penelitian dan penulisan yang telah dibuat oleh
sebagian besar para pakar bidang ilmu sosial mengakui media penyiaran sebagai
alat yang mampu mempengaruhi kehidupan sosial. Media penyiaran dapat
membantu pembangunan negara untuk berubah tingkah laku manusia
(Karthigesu 1994; McDaniel 1994; Asiah Sarji 1996; Karimov 1998; Boyd 1999;
Johari Achee 2000; Hermin Indah Wahyuni 2000; Khiabany 2010; Ayish 2010;
Henry Subiakto 2011).
Aceh sebagai daerah yang sedang menerapkan Syari’at Islam dalam
segala aspek kehidupan masyarakat, dan sebagai daerah yang sedang
membangun terutama selepas konflik dan tsunami, maka Aceh memerlukan apa
saja alat yang boleh membantu mempercepat proses pembangunan. Media
penyiaran telah lama dikenali oleh para pakar sains sosial sebagai alat yang
paling fleksibel untuk tujuan ini, karena media penyiaran mempunyai kekuatan
yang besar dalam masyarakat dan mampu mengarahkan masyarakat untuk
melakukan sesuatu perubahan, pandangan dan keyakinan. Namun demikian,
hingga sekarang Pemerintah Aceh belum memberikan perhatian yang signifikan
terhadap persoalan ini. Padahal apabila dilihat dalam undang-undang penyiaran
yaitu Undang-Undang Penyiaran No. 32 Tahun 2002 yaitu pada pasal 6 dan
Undang-Undang Pemerintah Aceh pada pasal 153, bahwa Aceh mempunyai
peluang untuk membentuk penyiaran secara tersendiri. Maka itu, penelitian ini
mengkaji mengenai lokalisasi sistem penyiaran di Aceh dari tiga aspek yaitu
pertama, aspek harapan yaitu mengkaji apa saja harapan dan tanggapan
2
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
masyarakat Aceh terkait dengan lokalisasi sistem penyiaran di daerah Aceh.
Kedua, aspek peluang yaitu mengkaji mengenai peluang yang dimiliki oleh
daerah Aceh untuk menerapkan lokalisasi sistem penyiaran di daerah ini. Ketiga,
aspek tantangan yaitu mengkaji mengenai aspek tantangan yang dimiliki oleh
daerah Aceh untuk menjalankan lokalisasi sistem penyiaran di Aceh.
Tinjauan Pustaka
Konsep Perubahan Masyarakat
Masyarakat modern yang wujud pada hari ini bukanlah wujud secara
tiba-tiba, tetapi ia telah melalui proses dan berbagai peringkat perubahan dengan
menggunakan berbagai pendekatan. Media penyiaran sebagai salah satu
pendekatan yang digunakan dalam mewujudkan perubahan sikap manusia.
Hakikat perubahan dan modernisasi yang berlaku pada hari ini tidak
berlaku secara sendiri tapi ia berhubungan dengan faktor-faktor lain.
Kemampuan media penyiaran, terutama televisi dalam mempengaruhi
masyarakat telah banyak diteliti. Penelitian-penelitian yang dibuat Head (1974;
1976) di peringkat awal, sehingga penelitian yang dilakukan oleh Karthigesu
(1994), McDaniel (1994), Karimov (1998), Johari Achee (2000), Khiabany
(2010), Ayish 2010, dan Henry Subiakto (2011) sebagai contoh. Semuanya
dalam penelitian mereka menyentuh aspek media penyiaran. Para peneliti
tersebut juga telah menyentuh mengenai dampak yang ditinggalkan oleh media
penyiaran terhadap khalayak pada suatu negara. Secara umum para peneliti
dalam bidang penyiaran ini mengakui bahwa penyiaran ada meninggalkan
pengaruh dalam mewujudkan perubahan masyarakat.
Oleh karena itu, dengan meninjau semula secara sistematis hubungan
antara penyiaran dan perubahan masyarakat, khususnya perubahan sikap
masyarakat, kedudukan penyiaran sebagai saluran difusi yang boleh
meninggalkan pengaruh yang kuat kepada khalayak dapat diperhatikan secara
serius lagi. Sekurang-kurangnya penelitian ini dapat membantu baik memperkuat
kepercayaan yang telah ada, atau mewujudkan rasa kepercayaan yang tinggi
dalam membuat spekulasi-spekulasi mengenai kemampuan penyiaran dalam
proses perubahan masyarakat terutama perubahan sikap dan keyakinan manusia.
Lokalisasi Penyiaran di Indonesia
Lokalisasi media penyiaran terutama media televisi adalah isu yang
masih hangat diperbincangkan di kalangan masyarakat Indonesia sejak pasca
disahkannya Undang-Undang No. 32 tahun 2002 tentang Penyiaran. UndangUndang Penyiaran ini dibuat untuk mengantikan Undang-Undang Penyiaran
tahun 1997. Dengan penggantian undang-undang penyiaran ini, telah mengubah
sistem penyiaran di Indonesia dari sistem sentralisasi kepada sistem
desentralisasi. UU No. 32/2002 lebih bersifat desentralisasi, sementara UU No.
24/1997 bersifat sentralisasi.
3
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Menurut Ade Armando (2011), pasca disahkan UU No.32/2002, tidak
ada lagi istilah televisi swasta nasional. Semuanya televisi adalah lokal dan
berjaringan. Pada awalnya, landasan kuat lahirnya Undang-Undang Penyiaran
tahun 2002 tersebut diawali dari keinginan pemerintah untuk mewujudkan peran
civil society dalam mengatur media penyiaran. Pemerintah melimpahkan
kewenangan tersebut kepada masyarakat melalui badan legislator yang bernama
Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), baik di tingkat pusat maupun daerah,
anggotanya terdiri dari unsur-unsur masyarakat.
Ide awal untuk mewujudkan sistem lokalisasi penyiaran dilandasi oleh
pemikiran diversity of ownership dan diversity of content terhadap sistem
penyiaran di Indonesia. Dalam hal diversity of ownership, menurut Ade Armando
(2011), dengan kehadiran UU No 32/2002 ini, masyarakat di daerah mempunyai
kesempatan untuk memiliki lembaga penyiaran baik radio maupun televisi secara
tersendiri. Undang-Undang Penyiaran ini juga memberikan kesempatan kepada
masyarakat daerah untuk mendirikan stasiun televisi lokal yang berorientasi
kedaerahan guna mengimbangi hegemonisasi siaran televisi Jakarta. Menurut
Ade Armando (2011), banyak program siaran televisi Jakarta didominasi unsur
seks, darah, dan mistik. Kemudian dalam hal diversity of content, menurut Ade
Armando (2011), dengan tumbuhnya televisi-televisi lokal daerah, harapannya
televisi menjadi lebih dekat dengan kebutuhan pemirsanya, adanya penyeimbang
atas derasnya siaran Jakarta yang jauh dari akar dan tradisi kebudayaan daerah,
serta potensi-potensi lokal yang ada di daerah menjadi tersalurkan, yang
kemudian pada akhirnya akan menambahkan peluang lapangan pekerjaan.
Amanah UU No. 32 tahun 2002 mengenai lokalisasi sistem penyiaran,
Pasal 6 ayat 1 dan 3 dan Pasal 31 ayat 1, yakni:
Pasal 6
Ayat 1
Penyiaran diselenggarakan dalam satu sistem penyiaran
nasional.
Ayat 3
Dalam sistem penyiaran nasional terdapat lembaga
penyiaran dengan pola jaringan yang adil dan terpadu
yang dikembangkan dengan membentuk stasiun jaringan
dan stasiun lokal.
Pasal 31
Ayat 1
Lembaga penyiaran yang menyelenggarakan jasa
penyiaran radio atau jasa penyiaran televisi terdiri atas
stasiun penyiaran jaringan dan/atau stasiun penyiaran
lokal.
Hal yang menarik disini, menurut Hinca Pandjaitan (2008) adalah stasiun
televisi. Dengan ada kedua pasal ini, sudah tidak ada lagi stasiun televisi
nasional Indonesia. Tapi yang ada sejumlah televisi lokal yang kemudian
membentuk jaringan. Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Al-Faqih
(2007). Menurutnya, ke depan tidak dikenal lagi dengan istilah televisi nasional,
yang ada adalah televisi-televisi berdasarkan kedudukannya. RCTI, ANTV, TPI,
Indosiar, Trans TV dan stasiun televisi swasta nasional lain yang ada sekarang
4
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
akan dikategorikan sebagai televisi Jakarta. Apabila televisi swasta nasional ini
ingin menyiarkan siaran ke daerah-daerah, maka ia harus bekerjasama dengan
stasiun televisi lokal yang ada di daerah tersebut. Bila televisi swasta nasional ini
tidak mau berjaringan dengan televisi-televisi lokal yang sudah ada ataupun ada
daerah yang belum mempunyai televisi lokal, maka mereka diperbolehkan dan
dianjurkan oleh Pemerintah untuk membuat local company, dalam kepemilikan
sahamnya ada sebagian milik mereka dan ada sebagian milik orang daerah. Ini
bermaksud, izin penyelenggaraan penyiaran yang akan diberikan pada local
company akan mempertimbangkan sejauhmana orang daerah mendapat
kedudukan yang layak dalam perusahaan tersebut.
Menurut Al-Faqih (2007), apabila posisi pengambil keputusan masih
sepenuhnya dipegang oleh para pemodal Jakarta, kepentingan daerah tidak akan
dapat terakomudasikan dalam sistem siaran berjaringan ini. Amanah dan tujuan
UU No. 32 tahun 2002 adalah supaya orang-orang daerah yang terlibat dalam
sistem ini mampu menjadi penyalur kepentingan masyarakat daerah.
Apabila dicermati, negara Indonesia mempunyai luas wilayah yang
cukup besar, terdiri dari banyak suku bangsa dan agama yang mendiami
sebanyak 34 provinsi, dengan budaya yang sangat berbeda-beda pula. Maka
menurut Ade Armando (2011), ide pemerintah melalui UU No. 32 tahun 2002
terkait dengan lokalisasi sistem penyiaran merupakan sesuatu ide yang bagus,
perlu mendapat dukungan yang baik dari semua kalangan masyarakat Indonesia
baik akademisi, politikus, dan bahkan hingga ibu rumah tangga. Menurut Ade
Armando (2011), kehadiran televisi di tingkat lokal akan memberikan alternatif
tontonan yang dapat mengakomodasikan khazanah lokalitas tersendiri. Faktor ini
masih sangat kurang didapatkan pada televisi swasta nasional Jakarta yang ada
sekarang. Kemudian, menurut Agus Sudibyo (2009), televisi Jakarta telah
mencitrakan diri sebagai bagian dari model kebudayaan dunia yang lebih bersifat
global, kadang-kadang ini sangat bertentangan dengan nilai-nilai moral dan
budaya daerah-daerah tertentu.
Fuziah Kartini Hassan Basri (2009), dalam penelitiannya telah
menjelaskan mengenai peranan yang dimainkan oleh media penyiaran dalam
mempengaruhi kehidupan masyarakat. Media penyiaran dikatakan ikut terlibat
dalam mengubah warna kehidupan sosial. Misalnya, peningkatan perbuatan
kriminalitas, pemerkosaan, seksualitas dan berbagai persoalan negatif lainnya.
Dalam hal lain, media penyiaran turut dipuji karena mampu berfungi sebagai alat
yang membantu mempercepat proses perubahan dan pembangunan suatu negara
baik dari segi materil maupun spritual.
Metodologi
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif. Menurut Pawito
(2007), penelitian kualitatif adalah penelitian yang bersifat kemanusiaan karena
menepatkan manusia sebagai alat pengukuran data. Menurut Rachmat
Kriyantono (2009:56) mengatakan penelitian kualitatif adalah penelitian yang
5
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
tidak menggunakan prosedur statistik. Bertujuan untuk menjelaskan fenomena
dengan sedalam-dalamnya.
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah melalui
wawancara mendalam, Focus Group Discussion FGD) dan analisis dokumen.
Selain itu penelitian ini merujuk juga pada data-data dari penelitian terdahulu dan
literatur lainnya yang dianggap relevan dan mendukung penelitian ini.
Semua data yang didapat melalui wawancara mendalam, Focus Group
Discussion dan analisis dokumen, kemudian dibuat kategorisasi yang
berhubungan dengan penelitian ini. Adapun yang menjadi langkah-langkah
analisis data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Semua data yang diperoleh di lapangan dikumpulkan, kemudian dibuat
dalam bentuk trianggulasi. Data itu seterusnya direduksi dan dipilih halhal pokok sesuai dengan kategorisasi penelitian.
2. Setelah itu, data yang diperoleh tersebut direalisasikan menurut
permasalahan yang ingin diteliti bagi memudahkan penulis menganalisis
dalam bentuk uraian.
3. Selanjutnya penulis membuat kesimpulan akhir terkait dengan lokalisasi
sistem penyiaran di Aceh baik dari segi harapan masyarakat, peluang dan
tantangan.
Hasil Temuan dan Diskusi
Harapan Masyarakat
Harapan masyarakat didapatkan melalui Focus Group Discusion (FGD)
dengan masyarakat yang bertempat tinggal di Banda Aceh dan Aceh Besar. Ada
dua harapan masyarakat yang signifikan terkait penyiaran di Aceh yaitu harapan
mengenai kualitas isi siaran dan harapan mengenai peran pemerintah Aceh
terhadap lembaga penyiaran di Aceh.
Pertama, kualitas isi siaran. Masyarakat secara umum berpendapat
bahwa isi siaran lembaga penyiaran khususnya televisi yang saat ini disiarkan
masih jauh dari harapan masyarakat. Banyaknya intensitas siaran yang tidak
mendidik seperti sinetron dan tayangan-tayangan midnight. Menurut kebanyakan
kelompok masyarakat yang dilakukan FGD mengatakan, kualitas isi siaran
televisi nasional tidak mencerminkan dengan nilai masyarakat Aceh yang sedang
menerapkan syariat Islam. Apalagi siaran-siaran di atas jam tujuh malam,
tontonan yang tidak mendidik, bahaya bagi anak-anak yang nantinya akan
meniru adegan-adegan tersebut. Peserta FGD mengatakan, menyayangkan
siaran-siaran bagus dan sesuai dengan syari’at Islam hanya muncul ketika bulan
Ramadhan tiba sehingga setelah bulan Ramadhan usai, siaran kembali tidak
mendidik sehingga sangat sulit untuk para orang tua memilih siaran yang
membolehkan anak-anaknya menonton. Mereka juga mengatakan, ada juga
siaran-siaran televisi swasta nasional yang sesuai dengan nilai-nilai syari’at Islam
seperti Hafiz Al-Qur’an, Mozaik Islam, On The Spot, Islam itu indah. Namun
siaran seperti ini sangat sedikit mendapatkan porsi siaran dalam televisi nasional
yang bersiaran di Aceh.
6
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Peserta FGD juga mengatakan, penerapan syari’at Islam yang telah
berlaku di Aceh sejak tahun 2002, belum mampu dijawab oleh mayoritas isi
siaran lembaga penyiaran yang bersiaran di daerah ini. Sebab kebanyakan
lembaga penyiaran di Aceh masih bersifat nasional. Aceh belum mempunyai
lembaga penyiaran sendiri. Masyarakat Aceh hanya menjadi konsumen saja
terhadap siaran-siaran yang ada pada media penyiaran yang mereka punya di
rumah-rumah. Aturan yang mengatur tentang isi siaran terhadap lembagalembaga penyiaran yang bersiaran di Aceh juga belum ada sehingga akan sangat
mempengaruhi terhadap isi siaran tersebut. Maka kebanyakan peserta FGD
mengatakan merasa kecewa dengan isi siaran lembaga penyiaran selama ini
karena ketidaksesuai dengan Aceh yang sedang menjalankan syari’at Islam.
Kedua, peran pemerintah Aceh terhadap lembaga penyiaran di Aceh.
Mengenai isi siaran yang tidak mendidik dan kekerasan sampai pada siaran yang
ketidaksesuaian dengan penerapan syari’at Islam di Aceh tentulah harus menjadi
tanggung jawab bersama khususnya pemerintah Aceh dan lembaga penyiaran
yang bersiaran di daerah ini. Menurut peserta FGD, pemerintah harus lebih
memperhatikan lagi manfaat yang sebenarnya dari lembaga penyiaran terutama
televisi kepada masyarakat, jangan sampai pihak pengusaha itu tidak lagi
menyiarkan nilai-nilai Islam di dalam lembaga penyiaran mereka. Peserta FGD
bersetuju apabila pemerintah Aceh memblok siaran-siaran yang tidak sesuai
dengan penerapan syari’at Islam dan digantikan dengan siaran yang lebih
berkualitas dan sesuai dengan penerapan syari’at Islam di Aceh. Pemerintah
Aceh harus dapat mengganti atau menyiapkan materi-materi tontonan yang
bagus.
Kemudian, masalahan regulasi dan penerapannya juga belum
sepenuhnya dilakukan oleh pemerintah. Kebanyakan masyarakat mengharapkan
pemerintah seharusnya tegas terhadap penyiaran. Maka perlu dibuat aturan yang
jelas, supaya penerapan syariat Islam di Aceh tidak terganggu oleh lembaga
penyiaran yang bersiaran di daerah ini. Untuk lebih mendukung penerapan
syariat Islam yang sedang berlangsung, maka Aceh perlu lembaga penyiaran
ataupun ada aturan yang bisa mengatur lembaga penyiaran yang bersiaran di
Aceh.
Peluang
Dari aspek peluang untuk lokalisasi sistem penyiaran di Aceh, itu tidak
terlepas dari pemberian otonomi khusus kepada Aceh melalui Undang-Undang
Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. Dengan adanya otonomi
khusus tersebut, Aceh mendapatkan kewenangan secara khusus dalam bidang
penyiaran. Hal ini disebutkan dalam pasal 153 ayat (1), (2), (3) dan (4), yaitu:
(1) Pemerintah Aceh mempunyai kewenangan menetapkan ketentuan di
bidang pers dan penyiaran berdasarkan nilai Islam.
(2) Dalam rangka melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksudkan
pada ayat (1), Pemerintah Aceh berkoordinasi dengan Komisi
7
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Penyiaran Indonesia Daerah Aceh menetapkan pedoman etika
penyiaran dan standar program siaran.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai hal sebagaimana dimaksudkan pada
ayat (1) diatur dengan Qanun Aceh.
(4) Kewenangan lain di bidang pers dan penyiaran bagi pemerintah
Aceh, selain diatur dalam ayat (1) dan (2), dilakukan dengan
berpedoman pada peraturan perundang-undangan.
Dari pasal 153 ayat (1) di atas, bermaksud bahwa pemerintah Aceh
mempunyai kewenangan untuk mengatur bidang penyiaran di wilayah
pemerintahannya. Namun sebagaimana juga yang disebutkan dalam pasal 153
ayat (2) dan (4) di atas, pengaturan dalam bidang penyiaran yang dilakukan oleh
pemerintah Aceh hanya sebatas menetapkan pedoman etika penyiaran dan
standar program siaran. Sementara untuk bidang lainnya dalam bidang penyiaran,
pemerintah Aceh harus berpedoman kepada peraturan perundang-undangan yang
berlaku di negara Indonesia. Maka dengan begitu, bentuk otonomi yang
diberikan pemerintah pusat untuk pemerintahan Aceh dalam bidang penyiaran
adalah hanya sebatas menetapkan etika penyiaran dan standar program siaran
bagi lembaga-lembaga penyiaran yang beroperasi di daerah ini.
Pemberian otonomi bidang penyiaran kepada pemerintah Aceh ada
kaitannya juga dengan aspek penyelanggaraan otonomi daerah yang
dilaksanakan negara Indonesia setelah reformasi. Maka bidang penyiaran
termasuk bidang yang diotonomikan sejak diterapkan undang-undang penyiaran
yang baru mengantikan Undang-Undang Penyiaran 1997. Hal ini dapat dilihat
pada konsideran menimbang haruf (c) Undang-Undang Penyiaran 2002,
disebutkan bahwa:
Untuk menjaga integrasi nasional, kemajemukan masyarakat Indonesia
dan terlaksananya otonomi daerah, maka perlu dibentuk sistem penyiaran
nasional yang menjamin terciptanya tatanan informasi nasional yang adil,
merata, dan seimbang guna mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh
rakyat Indonesia.
Apabila dilihat dalam sistem penyiaran yang berlaku secara nasional.
Maka otonomi bidang penyiaran untuk daerah Aceh ada hubungkait dengan
sistem penyiaran yang berlaku di negara ini. Dengan diterapkan Undang-Undang
Penyiaran 2002, pemerintah pusat mengubah sistem penyiaran yang berlaku di
Indonesia dari sistem terpusat kepada sistem penyiaran lokal atau berjaringan.
Dengan perubahan sistem penyiaran itu, bermakna masyarakat daerah sudah
dibenarkan untuk memiliki penyiaran yang berkedudukan di daerahnya sendiri.
Hal ini seperti termaktub dalam pasal 6 ayat (1), (2) dan (3), Undang-Undang
Penyiaran tahun 2002 yaitu:
(1) Penyiaran diselenggarakan dalam satu sistem penyiaran nasional.
(2) Dalam sistem penyiaran nasional sebagaimana dimaksud dalam ayat
(1), negara menguasai spektrum frekuensi radio yang digunakan
8
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
untuk
penyelenggaraan
penyiaran
guna
sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat.
(3) Dalam sistem penyiaran nasional terdapat lembaga penyiaran dan pola
jaringan yang adil dan terpadu yang dikembangkan dengan
membentuk stasiun jaringan dan stasiun lokal.
Kemudian pada pasal 31 ayat (1), (2) dan (3) disebutkan juga, yaitu:
(1) Lembaga penyiaran yang menyelenggarakan jasa penyiaran radio atau
jasa penyiaran televisi terdiri atas stasiun penyiaran jaringan dan/atau
stasiun penyiaran lokal.
(2) Lembaga Penyiaran Publik dapat menyelenggarakan siaran dengan
sistem stasiun jaringan yang menjangkau seluruh wilayah negara
Republik Indonesia.
(3) Lembaga Penyiaran Swasta dapat menyelenggarakan siaran melalui
sistem stasiun jaringan dengan jangkauan wilayah terbatas.
Dengan sistem penyiaran lokal atau berjaringan, maka akan wujud siaransiaran yang lebih dekat dengan masyarakat daerah setempat. Keadaan demikian
akan membuat potensi daerah akan tersalurkan melalui lembaga penyiaran yang
ada di daerah berkenaan. Hal ini juga yang menjadi dasar pembentukan otonomi
bidang penyiaran untuk daerah Aceh.
Satu hal yang menarik diberikan perhatian dalam sistem penyiaran yang
berlaku secara nasional adalah mengenai sistem penyiaran televisi swasta di
Indonesia. Hal ini ada kaitan juga mengenai otonomi bidang penyiaran di negara
ini. Sebelum berlaku Undang-Undang Penyiaran 2002, sepuluh stasiun televisi
swasta di Indonesia yaitu SCTV, RCTI, MNCTV, Indosiar, ANTeve, Metro TV,
Trans TV, TV One, Trans7 dan Global TV, disebutkan sebagai televisi swasta
nasional. Kemudian kesepuluh stasiun ini dibenarkan untuk melakukan
jangkauan siaran secara nasional yaitu ke seluruh daerah yang ada di Indonesia.
Kemudian, apabila berlaku Undang-Undang Penyiaran 2002, kesepuluh stasiun
swasta tersebut tidak dikatakan lagi sebagai stasiun televisi swasta nasional,
tetapi dikatakan sebagai televisi lokal dengan mempunyai jangkauan siaran
secara terbatas sesuai dengan wilayah jangkauan siaran yang telah ditetapkan.
Menurut Ade Armando (2010), apabila stasiun televisi swasta tersebut berada di
Jakarta, maka jangkauan siarannya adalah Jakarta dan sekitarnya. Jika stasiun
televisi swasta ini menginginkan siarannya dapat diterima di daerah tertentu,
maka ia harus menggunakan perantaraan dengan stasiun televisi yang berada di
daerah bersangkutan. Misalnya, agar siaran stasiun televisi RCTI yang berada di
Jakarta dapat ditangkap siarannya di Aceh, maka di daerah Aceh harus ada
stasiun televisi yang berfungsi sebagai anggota jaringan RCTI tersebut. Begitu
juga apabila RCTI ingin melakukan siaran ke seluruh wilayah yang ada di
Indonesia, maka RCTI juga harus memiliki jaringan stasiun televisi RCTI di
seluruh wilayah Indonesia.
9
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Keadaan yang berlaku terhadap sistem penyiaran secara nasional memberi
pengaruh juga terhadap bentuk penyiaran di Aceh. Maka amat wajar apabila
pemerintah pusat memberikan otonomi dalam bidang penyiaran hanya sebatas
pada penetapan etika penyiaran dan standar program siaran terhadap lembagalembaga penyiaran yang bersiaran di Aceh. Maka itu maksud otonomi penyiaran
yang disebutkan dalam pasal 153 adalah hanya sebatas mengatur etika penyiaran
yang sesuai dengan konteks masyarakat Aceh.
Salah satu maksud dari pasal 153 dalam UUPA adalah pemerintah pusat
telah membenarkan pemerintah Aceh menjadikan Islam sebagai landasan dalam
menetapkan ketentuan di bidang penyiaran di daerahnya. Hal tersebut terkait
dengan menerapkan syariat Islam di daerah ini.
Pemerintah Aceh mempunyai kewenangan untuk menjadikan media
penyiaran sebagai media pembelajaran dan penyampaian informasi sesuai nilainilai syariat Islam yang sedang dijalankan di daerah Aceh. Apabila dianalisis
secara mendalam mendapatkan bahwa ada tiga hal yang menjadi alasan mengapa
Islam menjadi landasan pembentukan penyiaran di Aceh. Hal pertama adalah
Aceh mendapatkan kewenangan untuk menjalankan syariat Islam dalam
kehidupan bermasyarakat. Keadaan demikian telah membuat segala sesuatu yang
ingin dilakukan di Aceh disesuaikan dengan nilai-nilai Islam.
Hal kedua yang menyebabkan Islam menjadi landasan pembentukan
penyiaran di Aceh adalah berkaitan dengan siaran televisi swasta di Jakarta yang
bersiaran di daerah Aceh kebanyakan siarannya tidak sesuai dengan nilai-nilai
budaya dan agama masyarakat Aceh yang sedang menjalankan syariat Islam,
terutama berkaitan dengan siaran hiburan. Siaran televisi swasta Jakarta
kebanyakan siarannya mengandung unsur seks, kekerasan, pemerkosaan dan
percintaan. Berdasarkan hasil kajian Naskah Akademik yang dilakukan Sayid
Fadhil et al. (2010), mengatakan siaran televisi swasta nasional kebanyakan
memutarkan berita gosip dan siaran yang bernuansa glamor dan hedonistik.
Program film dan drama penuh kebohongan, khayal, mimpi, seks, mistik dan
kekerasan. Walaupun ada juga program dan siaran yang baik, tetapi belum
banyak yang sesuai dengan nilai-nilai kehidupan masyarakat Aceh. Keadaan
demikian amat membimbangkan akan kerusakan generasi Aceh. Maka sebab itu
sehingga pemerintah Aceh merasa perlu untuk mengatur siaran dari lembaga
penyiaran yang bersiaran di Aceh. Dalam wawancara dengan Muhammad
Hamzah (2015), mengatakan bahwa siaran televisi swasta nasional Jakarta yang
bersiaran di Aceh terkadang siarannya jauh daripada nilai-nilai masyarakat Aceh
yang Islami. Apabila qanun tentang penyiaran Aceh lahir, semua siaran yang
masuk ke daerah Aceh akan dipilih yang sesuai dengan konteks masyarakat
daerah ini. Kalau ada siaran yang tidak sesuai akan ditutup kemudian diganti
dengan siaran lain.
Kemudian hal ketiga yang menyebabkan Islam menjadi landasan
pembentukan penyiaran di Aceh adalah ada perubahan dalam sistem penyiaran
nasional dari sistem terpusat kepada sistem penyiaran lokal atau berjaringan.
Perubahan itu telah memberi kekuasaan kepada pemerintah daerah di Indonesia
untuk mengatur siaran-siaran yang sesuai dengan konteks daerahnya. Maka
10
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
dengan adanya sistem siaran berjaringan itu telah memberikan peluang kepada
pemerintah Aceh untuk mengatur lembaga penyiaran yang bersiaran di daerah
Aceh agar disesuaikan dengan budaya, nilai dan cara pandang masyarakat Aceh.
Persoalan tersebut telah membuat pemerintah Aceh bersama KPI Aceh untuk
merancang pengaturan penyiaran berlandaskan Islam.
Tantangan
Sebenarnya gagasan untuk pembentukan qanun penyiaran di Aceh sudah
dimulai sejak tahun 2008, tetapi hingga sekarang draf itu qanun itu belum pernah
dibahas oleh pihak Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA). Sejak proses
penyiapan draf rancangan qanun penyiaran telah dilakukan oleh Komisi
Penyiaran Indonesia Aceh (KPIA), ada beberapa kritik dari sebagian masyarakat
Aceh terkait dengan kepentingan qanun tersebut. Barangkali ini bisa dikatakan
sebagai tantangan dalam proses melakukan kewujudan qanun tersebut di Aceh.
Walaupun pihak KPI Aceh pada tanggal 29 Januari 2010 telah menyerahkan draf
rancangan qanun tersebut kepada pihak eksekutif yaitu Dinas Perhubungan
Komunikasi, Informasi dan Telematika, namun hingga sekarang qanun itu belum
juga terwujud.
Ketika proses pembahasan draf qanun ini terjadi pertentangan dari pelaku
media terutama mereka yang bernaung dalam Aliansi Jurnalis Independen (AJI).
Ketika pemerintah Aceh bersama KPI Aceh pada tahun 2008 merancang draf
qanun penyiaran Islami di Aceh pihak AJI melakukan penolakan. Melalui hasil
rekomendasi pada 25 Januari 2009, AJI mengambil sikap untuk menolak
pembentukan dan kehadiran qanun tersebut di Aceh. Kemudian pada acara
diskusi yang bertema “Mengkaji Gagasan Qanun Tentang Pers dan Penyiaran
Islami” yang berlangsung di Hall Madina I Hotel Hermes Palace, Banda Aceh
pada 3 Februari 2008, pihak AJI mengatakan bahwa Undang-Undang No. 40
tahun 1999 tentang Pers, Undang-Undang No. 32 tahun 2002 tentang Penyiaran
dan sejumlah peraturan lainnya seperti Undang-Undang No. 44 tahun 2008
tentang Pornografi, Kode Etik Jurnalistik, Peraturan KPI tentang Pedoman
Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran sudah amat membantu untuk
melakukan pengawasan terhadap siaran media penyiaran di Aceh, sehingga tidak
perlu lagi qanun penyiaran yang akan bertentangan dengan peraturan yang lebih
tinggi. Menurut mereka yang berada dalam organisasi AJI bahwa dari sejumlah
pengaturan yang telah disebutkan itu telah dinyatakan bahwa pers harus jujur
dalam pemberitaan, harus berbicara sesuai dengan fakta dan tidak menonjolkan
hal-hal yang bersifat seks. Mereka yang tergabung dalam AJI sangat bimbang
kalau qanun penyiaran Islami akan menjadi penghalang terhadap kebebasan pers
dan menghambat penyampaian informasi kepada masyarakat umum dengan
sejumlah aturan yang mengatur di Aceh.
Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Aceh, Said Firdaus (2015),
ketika diwawancara mengatakan bahwa untuk memudahkan pelaksanaan syariat
Islam di Aceh, maka pemerintah Aceh perlu membuat peraturan mengenai media
penyiaran yang bersiaran di daerah ini. Meskipun demikian, KPI pusat telah
menerapkan peraturan penyiaran secara nasional. Program-program televisi yang
11
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
berbau pornografi juga dilarang dalam aturan itu. Namun menurutnya, terdapat
perbedaan pemahaman dan konteks tentang makna program televisi yang berbau
pornografi. Maka itu yang perlu ditegaskan lagi dalam qanun penyiaran di Aceh.
KPI memiliki peraturan secara nasional. Mungkin peraturan itu belum terlalu
menjurus terhadap Aceh.
AJI juga menentang mengenai bidang pers diatur oleh Komisi Penyiaran
Indonesia (KPI). Padahal KPI hanya mempunyai tugas mengurus bidang
penyiaran. Sementara pers mempunyai organisasi tersendiri, kode etik sendiri
dan mempunyai undang-undang sendiri. Tapi menurut Said Firdaus (2015),
apabila berbicara isi siaran, apapun itu apabila sudah dimasukkan dalam media
penyiaran maka itu sudah ada kewenangan KPI untuk ikut campur tangan.
Tantangan mengenai qanun penyiaran Islami juga muncul dari mereka yang
bernaung dalam Masyarakat Komunikasi dan Informasi (MAKSI). Pada acara
diskusi dengan tema “Rencana Pemberlakuan Qanun Penyiaran Aceh: Masalah
dan Ancaman?” yang diselenggarakan pada 26 Mei 2010 di Diamond 3 Room,
Hotel Nikko di Jakarta. Pada acara diskusi itu, MAKSI menilai draf qanun
penyiaran yang telah dihasilkan KPI Aceh tersebut mempunyai sejumlah pasal
yang dapat menghambat masyarakat untuk mendapatkan informasi melalui media
penyiaran. Qanun itu memberi kesan seolah-olah lembaga penyiaran di Aceh
hanya untuk kepentingan umat Islam saja. Hal ini dianggap amat bertentangan
dengan prinsip-prinsip demokrasi dan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang
menghargai perbedaan agama. MAKSI menilai draft qanun penyiaran di Aceh
yang disusun oleh KPI Aceh bermaksud untuk mengatur lembaga penyiaran di
Aceh agar dapat menghormati pelaksanaan syariat Islam yang berlaku di daerah
ini. Namun apabila ditelusuri dari maksud peraturannya, rancangan qanun
tersebut hanya mengandung ketentuan-ketentuan yang menjadikan penyiaran
ditujukan untuk kepentingan umat Islam saja seperti yang disebutkan dalam pasal
5, antara lain ialah lembaga penyiaran wajib menyiarkan azan shalat lima waktu,
tanda waktu berbuka puasa dan imsak pada bulan Ramadhan, siaran langsung
shalat Jumat, pengajian Alqur’an atau dakwah Islam menjelang sampai waktu
shalat magrib, pengajian Alqur’an pada waktu mau mengudara dan tutup siaran,
menghentikan siaran dari Jakarta semasa azan tiba, mengawal siaran yang tidak
sesuai dengan nilai-nilai Islam, menyiarkan syariat Islam dan peringatan hari-hari
besar Islam.
Kemudian pada pasal 6 ayat (1) dalam draf rancangan qanun tersebut,
melarang siaran langsung program penggalangan dana, pendidikan, dokumentari,
film, drama, feature (berita investigasi), lagu, musik, iklan, pelayanan kesehatan,
kuis, selain untuk kepentingan Islam. Sementara pada ayat (2), melarang siaran
interaktif ketika waktu shalat tarawih berlangsung. Program yang menjurus
dakwah agama selain agama Islam juga dilarang. Perayaan hari valentine atau
hari yang sejenis dengannya yang tidak sesuai dengan nilai Islam, budaya dan
masyarakat Aceh juga dilarang disiarkan di Aceh. KPI Aceh juga melarang
siaran yang menyiarkan rekaan ulang perbuatan kriminal, mesum, khalwat dan
pelecehan seksual. Siaran iklan selain produk berlogo halal dan pakaian yang
bertentangan dengan syariat Islam juga dilarang dalam rancangan qanun ini.
12
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Menurut pasal 7 ayat (2), penyiar, presenter, reporter dan semua yang terlibat
dalam program acara siaran berkewajiban memakai pakaian yang sopan atau
pakaian Islami serta melestarikan pakaian adat Aceh. Berdasarkan pasal 12 draf
qanun ini akan dibentuk Lembaga Sensor Daerah. Maka setiap film, drama,
iklan, program komedi, musik, klip video, feature, dan dokumentari wajib
mendapatkan tanda kelulusan dari Lembaga Sensor Daerah. Selain itu, pada pasal
13 disebutkan bahwa setiap program siaran harus mendapat rekomendasi
kelayakan yang dibuat oleh KPI Aceh atas pertimbangan dari Majelis
Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh dan Majelis Adat Aceh (MAA).
Draf qanun ini juga memberi peluang untuk memenjarakan produk pers
khususnya produk pers media penyiaran dengan sejumlah pasal-pasal yang ada di
dalamnya. Apabila ada pihak media penyiaran yang tidak mematuhi dengan maksud
qanun tersebut selain dikenakan denda administrasi sebagaimana disebutkan pada
pasal 24 ayat (1) dan (2). Kemudian dikenakan juga denda penjara yaitu minimal 3
bulan paling banyak 1 tahun dan dikenakan denda minimum Rp 25 juta atau
maksimum Rp 50 juta sebagaimana disebutkan juga pada pasal 25 dalam Draf
Rancangan Qanun Program dan Isi Siaran Lembaga Penyiaran di Aceh.
Pasal 24 ayat (1) dan (2) tersebut, yaitu:
(1) Setiap lembaga penyiaran yang melanggar ketentuan Qanun Program
dan Isi Siaran Lembaga Penyiaran di Aceh sebagaimana dimaksudkan
dalam pasal 5 ayat (1, 2, 3, 4), pasal 6 ayat (1, 2, 3, 4, 8), pasal 7 ayat
(1, 2), pasal 9 ayat (1, 2), pasal 10 ayat (1, 2, 3), pasal 11 ayat (1, 2, 3),
pasal 12 ayat (1, 2), pasal 14 ayat (3), pasal 15 ayat (5), pasal 16 ayat
(1, 2, 3), pasal 21 ayat (2), pasal 22 ayat (1, 5) akan dikenakan sanksi
administrasi.
(2) Sanksi administrasi sebagaimana dimaksudkan pada ayat (1) dapat
berupa:
a. Teguran tertulis oleh KPI Aceh;
b. Penghentian sementara mata acara yang bermasalah;
c. Penghentian mata acara tersebut oleh KPI Aceh;
d. Pencabutan dan/atau pembatalan rekomendasi kelayakan dari KPI
Aceh;
e. Tidak diberikan rekomendasi kelayakan perpanjangan izin
penyelenggaraan penyiaran (IPP) oleh KPI Aceh;
f. KPI Aceh dan pemerintah Aceh mengusulkan kepada KPI pusat
dan Menteri Komunikasi dan Informasi untuk membatalkan
dan/atau mencabut izin penyelenggaraan penyiaran.
Pasal 25 tersebut, yaitu:
Setiap lembaga penyiaran yang melanggar ketentuan Qanun Program dan
Isi Siaran Lembaga Penyiaran di Aceh sebagaimana yang dimaksudkan
dalam pasal 6 ayat (5, 6, 7), pasal 8 ayat (1, 2, 3, 4, 5), pasal 14 (4, 6), pasal
15 (1, 2, 3, 4) diancam dengan hukuman berupa kurungan paling lama 1
(satu) tahun, paling singkat 3 (tiga) bulan dan/atau denda paling banyak Rp.
13
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
50.000.000,- (lima puluh juta rupiah), paling sedikit Rp. 25.000.000,- (dua
puluh lima juta rupiah).
Maka itu MAKSI, AJI dan beberapa kalangan pelaku media ketika acara
Diskusi Publik yang dilaksanakan oleh KPI Aceh pada tanggal 6 hingga 7
Oktober 2015 di Aula Balai Monitoring Aceh, masih terdengar suara penolakan
terhadap draf rancangan qanun penyiaran tersebut. Kalangan pelaku media
tersebut memintakan kepada pihak eksekutif, legislatif dan KPI Aceh untuk
membuat pengkajian ulang mengenai draf rancangan qanun berkenaan.
Kemudian memintakan juga dalam melakukan pembahasan mengenai qanun ini
supaya melibatkan masyarakat secara luas agar isinya sesuai dengan keinginan
masyarakat Aceh secara keseluruhan, sekaligus tidak bertentangan dengan
demokrasi penyiaran yaitu Undang-Undang Pers tahun 1999, Undang-Undang
Penyiaran 2002, Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (S3SPS) yang dibuat oleh KPI pusat yang berlaku secara nasional.
Simpulan
Sebagian besar masyarakat mengatakan bahwa siaran lembaga penyiaran
di Aceh terutama lembaga penyiaran televisi isi siarannya tidak sesuai dengan
nilai-nilai masyarakat Aceh yang sedang menjalankan syariat Islam. Mereka
mengharapkan agar memerlukan turun tangan pemerintah Aceh supaya bisa
melakukan regulasi terkait dengan pengaturan isi siaran terhadap lembagalembaga penyiaran di Aceh. Mereka sangat menaruh kebimbangan dengan masa
depan anak-anaknya kalau terus menerus menonton siaran-siaran yang tidak
memberikan manfaat terhadap moral dan pendidikan anak-anaknya.
Lokalisasi sistem penyiaran di Aceh dari maksud yang disebutkan dalam
pasal 153 Undang-Undang Pemerintah Aceh dapat disimpulkan bahwa penyiaran
di Aceh tidak terlepas dari sistem penyiaran yang berlaku dalam negara
Indonesia. Pemberian otonomi bidang penyiaran terhadap Aceh melalui UndangUndang Pemerintahan Aceh ada kaitan pula dengan sistem penyiaran yang
berlaku dalam negara ini. Undang-Undang No. 32 tahun 2002 yang mengatur
bidang penyiaran di negara Indonesia lahir lebih awal dari Undang-Undang
Pemerintahan Aceh yang lahir pada tahun 2006. Di mana dalam undang-undang
penyiaran tersebut sudah memberi peluang kepada daerah untuk membentuk
sistem penyiaran tersendiri yang sesuai dengan konteks daerahnya.
Namun ketika daerah Aceh mendapatkan keistimewaan untuk
melaksanakan syariat Islam, maka Peraturan KPI mengenai Pedoman Perilaku
Penyiaran dan Standar Program Siaran belum cukup mampu untuk mengatur
program dan isi siaran lembaga penyiaran yang bersiaran di Aceh, sehingga Aceh
memerlukan peraturan di peringkat daerahnya sendiri. Walaupun peraturan KPI
tersebut berlaku secara nasional, tapi tidak secara khusus mengatur program dan
isi siaran lembaga penyiaran yang bersiaran di Aceh, sehingga dengan demikian
masih banyak siaran di lembaga penyiaran swasta nasional yang tidak sesuai
dengan konteks masyarakat Aceh yang sedang melaksanakan syariat Islam.
14
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Daftar Pustaka
Ade Armando. 2011. Televisi Jakarta di Atas Indonesia: Kisah Kegagalan
Sistem Televisi Berjaringan di Indonesia. Yogyakarta: Bentang.
Agus Sudibyo. 2009. Kebebasan Semu: Penjajahan Baru di Jagat Media.
Jakarta: PT Kompas Media Nusantara.
Al-Faqih. 2007. TV Jakarta, Bersiaplah Berjaringan. http://seputar-penyiaran.
blogspot.com/2006/10/10/kpi-menegur-industri-berlalu.html. Diakses: 28
Februari 2014.
Asiah Sarji. 1996. Pengaruh Persekitaran Politik dan Sosio Budaya Terhadap
Pembangunan Radio Malaya di Antara Tahun 1920-1959. Desertasi. Bangi:
Universiti Kebangsaan Malaysia.
Ayish, M. 2010. Arab State Broadcasting System in Transition: the Promise of
the Public Service Broadcating Model. Middle East Journal of Culture
Communication. Vol. 3(2): 9-25.
Boyd, D. 1999. Broadcasting in the Arab World. Ames: Iowa State University
Press.
Fuziah Kartini Hassan Basri. 2009. Televisyen dan Islam Hadhari: Potensi dan
Kekangan. Dalam Mohd. Safar Hasim dan Zulkiple Abd. Ghani
(penyunting). Komunikasi di Malaysia: Suatu Penelitian Awal, Pendekatan
Islam Hadhari. Bangi: Institut Islam Hadhari, Universiti Kebangsaan
Malaysia.
Haris Herdiansyah. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif Untuk Ilmu-Ilmu
Sosial. Jakarta: Salemba Humanika.
Head, S., W. 1976. Broadcasting in America: a Survey of Television and Radio.
Boston: Houghton Miffin Company.
Head, S., W. 1974. Broadcasting in Africa: a Continental Survey of Radio and
Television. Philadelphia: Temple University Press.
Henry Subiakto. 2011. Kontestasi Wacana Civil Society, Negara dan Industri
Penyiaran Dalam Demokratisasi Sistem Penyiaran Pasca Orde Baru. Jurnal
Masyarakat, Kebudayaan dan Politik. Vol. 24(1): 24-34.
Hermin Indah Wahyuni. 2000. Televisi dan Intervensi Negara: Konteks Politik
Kebijakan Publik Industri Penyiaran Televisi pada Era Orde Baru.
Yogyakarta: Media Pressindo.
Hinca Pandjaitan. 2008. Pemusatan Kepentingan Stasiun Televisi.
http://makasar-updating.blogspot.com/2008/03/uu-penyiaran-dan-pemusatankepemilikan. html. Diakses: 28 Februari 2014.
Husni Jalil. 2005. Kedudukan qanun dalam peraturan perundang-undangan
negara
Indonesia.
http://www.acehrecoveryforum.org/id/download/arf_artikel_husnijalil_kedudukan-qanun.pdf [8 Agustus 2010].
Iswandi Syahputra. 2013. Rezim Media: Pergulatan Demokrasi, Jurnalisme, dan
Infotainment dalam Industri Televisi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
15
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Johari Achee. 2000. Berita Televisyen dan Pembangunan Negara: Kajian Kes
Radio Televisyen Brunei. Bandar Seri Begawan: Dewan Bahasa dan Pustaka
Brunei.
Karimov, A. 1998. Radio and TV Broadcasting in Uzbekistan During the Years
of Independence. Dalam Mohd. Safar Hasim, Samsuddin A. Rahim dan
Bobir Tukhtabayev (penyunting). Mass Media and National Development:
Experiences of Malaysia and Uzbekistan. Kuala Lumpur: International
Center for Media Studies.
Karthigesu, R. 1994. Sejarah Perkembangan Televisyen di Malaysia (19631983). Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
Khiabany, G. 2010. The Politics Broadcasting: Continuity and Change,
Exspansion and Control. Dalam Gholam Kiabany. Iranian Media: The
Paradox of Modernity. New York: Routledge.
McDaniel. 1994. Broadcasting in the Malay World: Radio, Television, and Video
in Brunei, Indonesia, Malaysia and Singapore. New Jersey: Ablex
Publishing Company.
Pawito. 2007. Penelitian Komunikasi Kualitatif. Yogyakarta: LKis.
Rachmat Kriyantono. 2006. Teknik Praktis Riset Komunikasi: Disertai Contoh
Praktis Riset Media, Public Relations. Advertising, Komunikasi Organisasi,
Komunikasi Pemasaran. Jakarta: Prenada Media Group.
Undang-Undang Republik Indonesia No. 24 tahun 1997 tentang Penyiaran.
Undang-Undang Republik Indonesia No. 32 tahun 2002 tentang Penyiaran.
Undang-Undang Republik Indonesia No. 11 tahun 2006 tentang Pemerintahan
Aceh.
Biografi Penulis
Dr. Hamdani M. Syam, MA, lahir di Mns. Awe (Aceh Utara), 16
Agustus 1978. Dosen program studi Ilmu Komunikasi di Fakultas Ilmu Sosial
dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Syiah Kuala. Menamatkan program Doktor
pada Program Ilmu Komunikasi di Fakultas Ilmu Sosial dan Kemanusiaan
Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM). Beberapa tulisan yang telah
dipublikasi dengan judul: Persepsi Masyarakat Kota Banda Aceh Terhadap
Komunitas Punk Di Kota Banda Aceh; Penyiaran Dalam Pembangunan Negara:
Antara Kebebasan dan Regulasi; Globalisasi Media dan Penyerapan Budaya
Asing, Analisis pada Pengaruh Budaya Populer Korea Di Kalangan Remaja
Kota Banda Aceh. Aktif di beberapa organisasi seperti ISKI, Asosiasi Pendidikan
Tinggi Ilmu Komunikasi (ASPIKOM) dan Himpunan Indonesia untuk
Pengembangan Ilmu-Ilmu Sosial (HIPIIS).
Khairulyadi, MHSc lahir di Paloh Aceh Pidie pada tanggal 30 Mei
1977. Dosen program studi Sosiologi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Syiah Kuala. Menamatkan program Sarjana (S1) pada Universitas
Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry pada tahun 2000 dalam bidang Perbandingan
Hukum. Kemudian pada tahun 2008 menamatkan program Masters (S2) pada
International Islamic University of Malaysia dalam bidang Sosiologi dengan tesis
16
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
berjudul Assimilation and Ethnic Identity of Malays of Acehnese Origin In
Malaysia. Beberapa tulisan yang telah dipublikasikan dengan judul yaitu Media
dan Perubahan Sosial; Motivasi Pendatang Etnik Jawa ke Banda Aceh Pasca
Tsunami: Studi Komunikasi Antarbudaya Para Pekerja Informal Kelas
Menengah ke Bawah.
Bukhari, MHSc lahir di Pidie pada tanggal 24 Mei 1975. Dosen
program studi Sosiologi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas
Syiah Kuala. Menamatkan program Sarjana (S1) pada Universitas Syiah Kuala
dalam bidang Ekonomi Manajemen pada tahun 1999. Kemudian menamatkan
program Masters (S2) pada tahun 2007 dalam bidang Sosiologi di International
Islamic University of Malaysia dengan tesis berjudul Occupational Mobility
Among Indonesian Immigrans in Malaysia: With Special Referent to Acehnese
Immigrants. Artikel yang telah dipublikasikan berjudul adalah Modal Sosial
Solusi Pertumbuhan Ekonomi Masyarakat.
17
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
LISENSI SEBAGAI ALTERNATIF STRATEGI BISNIS MEDIA CETAK
OLAHRAGA DI INDONESIA
Narayana Mahendra Prastya
Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya,
Universitas Islam Indonesia Yogyakarta
[email protected]
Abstract
Sports print media business in Indonesia decline in recent years. In the last two
years, a number of sports print media ended their publication. In general, print
media at the national level is decline. But at the local level, the print media
business still has good prospects. In the narrower context, public interest to local
sports news quite high. This is an opportunity for sport print media business
development. This paper discuss the business strategies that may be applied by
the national sport print media in order to reach local market. The data in this
study using literature sources related to sports media and media management.
The authors give recommendations that licensing strategies can be an alternative
print media sports business strategy in Indonesia. In this strategies, national
sport print media become licensor for local media. Licensing strategies have
excess financial savings and do not require strict supervision. National sport
print media does not need to spend much money to cover the issue of local issues.
Instead the local media that are partners obtain news national news on a regular
basis. The challenge is the difference in the quality of its resources and potential
conflicts of distribution of profits that may arise.
Keywords: media business, media management, print media, sports media
Abstrak
Bisnis media cetak olahraga di Indonesia menunjukkan kelesuan. Dalam dua
tahun terakhir, tercatat sejumlah media cetak olahraga berhenti terbit, termasuk
yang merupakan media yang memiliki pengalaman. Padahal sebelumnya media
cetak olahraga sempat bermunculan. Media cetak olahraga tersebut memiliki
cakupan nasional. Secara umum media cetak di tingkat nasional memang tengah
mengalami penurunan. Namun di tingkat lokal, bisnis media cetak masih punya
prospek bagus. Dalam konteks yang lebih sempit yakni olahraga, minat
masyarakat untuk berita olahraga lokal cukup tinggi. Hal ini merupakan peluang
bagi pengembangan bisnis media cetak olahraga.Tulisan ini membahas tentang
strategi bisnis yang dapat dilakukan oleh media cetak olahraga dalam rangka
mearih pasar lokal. Data dalam penelitian ini menggunakan sumber sumber
kepustakaan yang berkaitan dengan media olahraga dan manajemen media.
Selanjutnya penulis memberikan rekomendasi bahwa strategi lisensi dapat
menjadi alternatif strategi bisnis media cetak olahraga di Indonesia. Media cetak
olahraga nasional menjadi lisensor/pemberi lisensi, berpartner dengan media
lokal. Lisensi memiliki kelebihan lebih menghemat biaya dan tidak memerlukan
pengawasan yang ketat. Media cetak olahraga nasional tidak perlu mengeluarkan
18
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
biaya untuk meliput isu isu lokal. Sebaliknya media lokal yang menjadi partner
memperoleh berita berita nasional secara rutin. Tantangannya adalah perbedaan
kualitas sumber daya yang dimiliki serta adanya potensi konflik tentang
pembagian keuntungan yang mungkin muncul.
Kata kunci: bisnis media, manajemen media, media cetak, media olahraga
Pendahuluan
Masyarakat Indonesia sangat menyukai olahraga. Sepakbola,
bulutangkis, olahraga otomotif (MotoGP atau balap mobil), basket, merupakan
cabang olahraga yang cukup digemari. Dengan situasi tersebut, maka asumsinya
bisnis hal hal seputar olahraga memiliki prospek yang bagus, karena sudah pasti
banyak konsumennya.
Kegemaran akan olahraga bakal meningkatkan kebutuhan informasi
mengenai olahraga. Kebutuhan informasi merupakan lahan bisnis bagi media.
Bagi media, konten olahraga merupakan salah satu tema yang menjajikan
pembaca dalam jumlah yang besar.
Itu berarti, bisnis media olahraga cukup menjanjikan, karena dalam
beberapa tahun terakhir, bermunculan media media olahraga dalam berbagai
platform. Dalam platform media cetak misalkan, harian olahraga mulai
menggeliat dengan kehadiran harian BOLA dan Tribun Super Ball dalam kurun
waktu 2013 dan 2014. Sebelumnya TopSkor, terbit perdana tahun 2005,
“sendirian” di pasar harian olahraga.
Dalam platform online, bermunculan media yang mengkhususkan diri
untuk berita olahraga, seperti msports.net, sportsatu.com, juara.net dan bola.com.
Media asing pun ikut meramaikan kompetisi media online olahraga di Indonesia.
Contohnya Goal Indonesia, yang merupakan salah satu edisi dari situs induk
Goal. Pengelola Goal adalah Perform Group, perusahaan multimedia sports
content berbasis internet dan platform digital asal Inggris. Goal telah berkembang
dengan cakupan lebih dari 200 negara dan memiliki 36 edisi dalam 17 bahasa
termasuk Indonesia (Mariatna, 2014: 3).
Namun kenyataannya bisnis media olahraga tidak semulus yang
diperkirakan. Dalam dua tahun terakhir yakni 2014 dan 2015, setidaknya ada dua
media cetak olahraga di Indonesia berhenti terbit, yakni tabloid Soccer dan harian
olahraga Bola. Sebagai tambahan informasi, tutupnya tabloid Soccer juga diikuti
dengan penghentian operasional dari website www.duniasoccer.com, website
berita sepakbola yang juga dikelola oleh redaksi tabloid Soccer. Untuk harian
Bola, harian tersebut berusia tidak sampai tiga tahun dari sejak edisi perdana
diluncurkan. Di dunia pertelevisian misalkan, tayangan Sport7 pagi di stasiun
televisi Trans7 sudah tak lagi mengudara sejak Oktober 2014. Penyebab Soccer
dan Sport7 berhenti, karena secara bisnis dipandang sudah tidak menguntungkan
lagi (Hasbi, 2014).
Dengan kondisi ini, lalu bagaimana sebaiknya strategi bisnis bagi media
cetak olahraga di Indonesia? Mengapa media cetak? Karena secara umum media
cetak tengah berada dalam fase penurunan akibat perkembangan teknologi yang
19
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
memunculkan pesaing berupa alternatif media-media baru yang lebih diminati
karena lebih mudah dan murah. Namun di sisi lain, media cetak dipandang masih
memiliki peluang untuk menggarap pasar pembaca yang belum terkena penetrasi
internet.
Data dalam penelitian ini menggunakan studi pustaka yang berasal dari
media-media olahraga serta literatur mengenai manajemen media. Dari studi
kepustakaan kemudian penulis mencoba memberikan masukan mengenai strategi
bisnis apa yang dapat digunakan bagi media cetak olahraga di Indonesia.
Dari hasil pembahasan tersebut, penulis menyimpulkan sebuah gagasan
bahwa strategi lisensi dapat menjadi salah satu alternatif bagi bisnis media cetak
olahraga di Indonesia. Lisensi memiliki kelebihan lebih menghemat biaya dan
tidak memerlukan pengawasan yang ketat. Media cetak olahraga nasional tidak
perlu mengeluarkan biaya untuk meliput isu isu lokal. Sebaliknya media lokal
yang menjadi partner memperoleh berita berita nasional secara rutin.
Tantangannya adalah perbedaan kualitas sumber daya yang dimiliki serta adanya
potensi konflik tentang pembagian keuntungan yang mungkin muncul.
Tinjauan Pustaka
Perkembangan Bisnis Media Cetak Olahraga di Indonesia
Semenjak reformasi tahun 1998, ratusan surat kabar baru muncul. Jika
pada tahun 1997 tercatat 167 surat kabar, pada tahun 2008 jumlah ini
berkembang pesat menjadi 515 surat kabar. Atau dengan kata lain, terjadi
kenaikan sebesar 208% dari segi jumlah pemain pasar. Namun, lain lagi jika
bicara mengenai audience share atau dalam terminologi media cetak disebut
readership. Meskipun jumlah pemain pasar atau produsen naik signifikan, jumlah
konsumen atau pembaca surat kabar dari tahun 1998 ke 2008 justru mengalami
penurunan 2,6% sebanyak 300 ribu orang. Industri yang berada pada fase decline
adalah industri surat kabar. Penurunan performa surat kabar dipengaruhi oleh
faktor perkembangan teknologi yang memunculkan pesaing berupa alternatif
media-media baru yang lebih diminati karena lebih mudah dan murah (Nastiti,
2011: 25)
Kehadiran internet dianggap merupakan salah satu penyebab media cetak
surat kabar menjadi tersisih. Namun, perlu diingat bahwa penetrasi internet
belum menjangkau mayoritas penduduk di Indonesia. Penetrasi Internet di
Indonesia pada Agustus 2013 yang masih berkisar antara 40 juta - 85 juta
pengguna (penetrasi Internet di Indonesia sebesar 16,7 - 35,4 persen); sedangkan
jumlah oplah/tiras seluruh media cetak di Indonesia mencapai 21 juta eksemplar
(artinya tingkat penetrasi media cetak di Indonesia baru mencapai 8,75 persen);
sedangkan komposisi penduduk Indonesia yang berjumlah sekitar 240 juta jiwa;
masih terbuka peluang bisnis untuk mengembangkan industri media cetak di
Indonesia (Supadiyanto, 2013: 691).
Harus diakui, faktanya berita olahraga merupakan “menu wajib” bagi
setiap media. Berita olahraga dapat meningkatkan jumlah konsumen media,
terlebih lagi ketika berlangsung event event tertentu seperti Piala Dunia, final
20
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Liga Champions Eropa, balap MotoGP, SEA Games, atau event di mana
Indonesia ikut serta di dalamnya.
Contohnya Kompas merupakan harian dengan mengangkat pemberitaanpemberitaan umum— yang mencatat sejarah dengan mencapai tiras 500 ribu
lembar, berkat pemberitaan Piala Dunia 1986. Tidak hanya pemberitaan, apabila
Kompas membikin kuis mengenai Piala Dunia, bisa ada satu juta kartu pos
pengirim jawaban yang masuk (Hasbi, 2014).
Mundur sekitar 60 tahun ke belakang, surat kabar lokal Yogyakarta,
Kedaulatan Rakyat pada tahun 1962 menerbitkan “Madjalah Sport” yang
memiliki tagline “Madjalah Lembaran Berisikan Chusus Olah-Raga”. Majalah
yang terbit setiap Selasa itu mematok biaya Rp8,5 per bulan bagi warga
Yogyakarta dan sekitarnya yang ingin berlangganan. “Madjalah Sport” terbit
karena jumlah halaman berita olahraga yang hanya satu halaman yang dimiliki
oleh Kedaulatan Rakyat saat itu. Space tersebut dirasa kurang untuk menampung
berita berita olahraga yang ada (Hasbi, 2014).
Berita olahraga hadir di media cetak baik itu media cetak yang
membahas semua berita (koran umum) dan media cetak yang membahas khusus
mengenai olahraga. Di Indonesia, semua harian memiliki rubrik khusus olahraga
sebanyak 2-4 halaman. Sementara media cetak yang membahas khusus mengenai
olahraga, pada umumnya berformat tabloid atau majalah. Untuk format tabloid
atau majala misalkan ada tabloid BOLA, majalah Main Basket, hingga beberapa
produk asing berbahasa Indonesia seperti Four Four Two atau Inside United.
Top Skor merupakan pionir dan salah satu harian khusus olahraga yang
masih eksis hingga saat ini. Top Skor mencuri perhatian ketika berada di posisi 4
readership share surat kabar dengan jumlah 745 ribu pembaca di tahun 2007.
Sebagai surat kabar baru (terbit perdana tahun 2005), Top Skor langsung mampu
merebut pembaca sebesar 8%. Keberhasilan tersebut diasumsikan akibat genre
yang diambilnya. Dengan genre koran olahraga, Top Skor mampu membidik
target pasar yang spesifik, yaitu para penikmat olahraga (Nastiti, 2011:6).
Kompetisi harian olahraga mulai menggeliat dengan kehadiran harian
BOLA dan Tribun Super Ball dalam kurun waktu 2013 dan 2014. Harian BOLA
merupakan produk baru dari tabloid olahraga BOLA, sementara Tribun Super
Ball adalah produk baru dari harian umum Tribun. Sebelumnya Super Ball
merupakan nama rubrik olahraga di harian Tribun. Mulai tahun 2014 Super Ball
dijual terpisah, dan rubrik olahraga di harian umum Tribun berubah nama
menjadi Super Sport. Harian BOLA dan Super Ball membuat Top Skor yang
selama hampir sepuluh tahun menjadi pemain tunggal, menjadi memiliki pesaing.
Fokus dari BOLA dan Top Skor adalah pembaca di kawasan Jabodetabek dan
Jawa Barat, sementara Super Ball berusaha meraih pasar di berbagai kota di
Indonesia dengan cara menyajikan berita sepakbola lokal (Anshari “& Prastya,
2014; Pramesti, 2014).
“Kontestan” kompetisi harian olahraga di Indonesia berkurang satu usai
pada 31 Oktober 2015 harian BOLA memutuskan untuk berhenti terbit. Dalam
penjelasaannya, Harian BOLA menyebut “atas berbagai pertimbangan dan
perhitungan, kami terpaksa menghentikan kelangsungan hidup Harian BOLA”,
21
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
sembari menjelaskan bahwa sebenarnya mereka sudah unggul dalam penguasan
pasar dibanding “dua produk serupa” dan telah menjadi “market leader di harian
olahraga nasional” (“Notasi Redaksi” harian BOLA edisi No.III/118, SabtuMinggu 31 Oktober-1 November 2015, hal.11. Edisi tersebut merupakan edisi
terakhir harian BOLA). BOLA sendiri masih memiliki produk media cetak berupa
tabloid yang terbit setiap hari Kamis. Selepas mengakhiri Harian BOLA, BOLA
kembali menghidupkan BOLA edisi Sabtu mulai 7 November 2015
Pasar Lokal bagi Masa Depan Media Cetak
Di era digital, surat kabar diperkirakan akan mati. Di Amerika Serikat,
hal tersebut sudah mulai terjadi. Di Indonesia, mungkin terlalu dini untuk
mengatakan itu. Tetapi kejadian di mana harian Bola berhenti terbit; atau dalam
situasi yang menimpa harian umum misalkan saat harian Jurnal Nasional dan
Jakarta Globe berhenti terbit, juga bisa dipahami sebagai pertanda bahwa surat
kabar tengah menuju kematian.
Namun nada optimistis tetaplah ada. Yang akan tutup memang surat
kabar dengan cakupan nasional. Tetapi bagi surat kabar lokal, kondisinya justru
sebaliknya. Bisa dikatakan, pasar lokal merupakan masa depan bagi surat kabar.
Di Indonesia ada pergeseran model distribusi dari koran nasional ke
koran regional. Di medio awal tahun 2000-an, koran regional naik dari 20 judul
menjadi 138 judul. Koran nasional yang didistribusikan antarkota dan
antarpropinsi bersaing dengan koran regional yang diterbitkan hanya dalam kota
di lingkup propinsi (Adiprasetyo, 2007: 240-241)
Data Serikat Penerbit Suratkabar SPS (tahun 2007-2008) menujukkan
bahwa media cetak tetap menjadi fenomena kota-kota besar. Sebanyak 71%
media cetak beredar di Jakarta, dan hanya 29% beredar di luar Jakarta (Siregar,
2010: 13-14). Sementara data dari Media Scene (tahun 2008) menunjukkan
media lokal menguasai pasar di daerah masing masing. Sebagai contoh, banyak
yang menilai bahwa Kompas merupakan koran terbesar di Indonesia. Namun
faktanya, Kompas menjadi nomor satu hanya di Jakarta. Di wilayah lain,
pembaca Kompas selalu kalah dari koran terbesar di daerah itu, misal di
Bandung: Pikiran Rakyat, di Medan: Pos Metro, dan di Makassar: Fajar
(Armando, 2011:14).
Karena pertumbuhan media cetak dalam sepuluh tahun terakhir masih
terpusat di kota besar, berarti kota kota kecil merupakan potensi pasar yang dapat
dikembangkan bagi penerbitan media cetak. Menurut Rahayu (2010) isu lokal
dipandang penting dalam kajian ekonomi dan manajemen media karena lokal
merupakan lokasi di mana praktek konkrit media terjadi. Di level ini interaksi
antara media dengan audiens berlangsung. Di Malaysia dan Singapura misalkan,
institusi media lokal melakukan adaptasi format terhadap program asing agar
lebih sesuai dengan konteks Asia dan selera lokal. Di wilayah lokal, produk
media lokal mendominasi pasar dibandingkan dengan produk asing. Dominasi
tersebut terutama adalah berita dan hiburan (hal. 49-51).
Bagi media cetak nasional, menggarap konten lokal (Supadiyanto, 2013:
695) merupakan peluang bisnis. Secara umum potensi iklan lokal di daerah
22
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
cukup besar, yakni sekitar Rp 1-2 juta rupiah per hari (Wangkar, 2013: 122).
Secara khusus mengenai media olahraga, sudah banyak sekali situs berita/media
online berbahasa Indonesia yang mengangkat berita olahraga luar negeri. Bahkan
untuk konteks sepakbola, sejumlah klub sepakbola dari Eropa seperti Juventus,
Inter Milan, Arsenal, dan lain lain telah memiliki website resmi dan/atau media
sosial resmi yang berbahasa Indonesia..
Namun begitu konten lokal ini belum digarap secara baik oleh harian
olahraga di Indonesia. Harian harian olahraga di Indonesia lebih sering
menjadikan sepakbola Eropa sebagai berita utama sekaligus konten berita yang
paling dominan.
Padahal tuntutan untuk berita olahraga lokal cukup tinggi. Faktor inilah
yang akhirnya membuat media lokal menggunakannya untuk meraih sebuah
keuntungan. Akhirnya media lokal banyak membuat rubrik olahraga menjadi
rubrik dengan space banyak halaman disertai grafis serta warna-warna yang
menarik. Peranan media lokal dinilai penting dalam memberikan informasi pada
masyarakat termasuk dalam olahraga. Pengambilan isu-isu spesifik di tingkat
lokal memberikan variasi sendiri dan sangat cocok untuk masyarakat yang
memiliki kedekatan geografis serta emosional di daerah tersebut (Pramesti, 2014:
83-86).
Hasil Temuan dan Diskusi
Tantangan Menembus Pasar Lokal bagi Media Cetak Olahraga di Indonesia
Animo masyarakat tentang berita olaharaga lokal, teruama sepakbola,
sangat tinggi. Batasan lokal dalam konteks sepakbola adalah batas geografis.
Keberadaan kompetisi berbasis kedaerahan melahirkan keterbentukan jejaring
pengelola klub, ofisial, pemain, penonton, atas dasar simpul-simpul geografis
(Junaedi, 2014: 10-13).
Bagi masyarakat, berita tentang tim dari kota asal mereka, itu lebih
penting daripada berita mengenai tim tim besar dari kota lain. Sekali pun tim
tersebut tidak berlanga di kompetisi kasta tertinggi, tidak memiliki pemain
bintang, dan minim atau bahkan tidak memiliki prestasi (Anshari & Prastya,
2014).
Tidak mudah bagi media nasional untuk menembus pasar lokal. Bahkan
kompetisi yang terjadi dengan media lokal pun bisa menjurus ke persaingan tidak
sehat (Wangkar, 2013: 108). Harian BOLA mengklaim memiliki brand yang
kuat. Brand Bola memang pemain lama di bisnis media cetak olahraga, karena
sudah terbit sejak 1984 sebagai tabloid. Namun saat menyajikan produk baru
berupa harian, mereka menghadapi tantangan yang besar (Anshari & Prastya,
2014).
Selama terbit, harian BOLA sempat menerbitkan edisi khusus di
Bandung, bernama harian BOLA edisi Bandung. Berita sepakbola lokal
didominasi oleh berita khusus Persib Bandung. Bahkan cover dan headline
adalah mengenai Persib Bandung. Namun saat hal tersebut belum sempat
berlanjut ke kota lain, harian BOLA sudah berhenti terbit.
23
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Dari segi penyajian harian BOLA juga berbeda dengan tabloid BOLA.
Harian BOLA menyajiakan berita dengan format straight news, menggunakan
kata kata yang ringkas, panjang berita lebih singkat, dan menampilkan lebih
banyak foto, ilustrasi, tabel, serta infografis. Singkatnya, harian BOLA berformat
view paper. Ini berbeda dengan tabloid BOLA yang lebih banyak menyajiakn
berita berupa ulasan, berita yang disajikan juga lebih panjang daripada harian,
dan menggunakan format penulisan news story. Tidak jarang wartawan tabloid
BOLA juga memberikan interpretasinya terhadap fakta yang diberitakan.
Yang menjadi tantangan bagi tabloid BOLA adalah SDM di bagian
redaksi, di mana edisi tabloid dan edisi harian dikerjakan oleh orang yang sama.
Yang membedakan hanyalah posisi-posisi personelnya, misalkan di harian
menjabat sebagai Redaktur namun di tabloid menjabat sebagai reporter begitu
pula sebaliknya. SDM di redaksi BOLA sendiri memiliki basic pola kerja sebagai
tabloid. Meski sama-sama media cetak, namun pola kerja tabloid dan harian tentu
saja berbeda, dan membutuhkan pendekatan yang berbeda.
Kesulitan juga dialami oleh TopSkor. Status sebagai pionir harian
olahraga di Indonesia, tidak membuat mereka bisa dengan mudah menembus
pasar lokal. TopSkor sejauh ini baru bisa menembus pasar di kota Bandung dan
sekitarnya. Sementara di kota lain, Yogyakarta misalkan, TopSkor dijual dengan
harga promosi yakni Rp 2.500,00. Padahal, di header TopSkor tertulis, harga jual
Rp 4.000,00 di luar kawasan Jabodetabek dan Bandung (Anshari & Prastya,
2014)
Sebagian besar dari harian olahraga tersebut merupakan media nasional.
Untuk menembus pasar lokal, mereka menghadapi tantangan besar karena sudah
ada pemain lama, yakni media media lokal. Tentu saja logika penentuan
kelayakan berita, atau nilai berita antara media nasional dan media lokal bakal
berbeda.
Sebagai contoh Jawa Pos, perusahaan media nasional yang memiliki
jaringan kuat di daerah. Namun pembaca akan kesulitan menemukan berita
sepakbola lokal di rubrik olahraga Jawa Pos. Rubrik sepakbola lokal pun
kebanyakan akan dipenuhi berita berita tentang Persebaya Surabaya. Meski klub
tersebut praktis tidak ada aktivitas karena masih bermasalah dengan dualisme
kepemilikan pun, berita tentang Persebaya tak pernah absen, bahkan kadang
menjadi headline di rubrik “Sportainment”, nama rubrik olahraga Jawa Pos. Itu
berarti, pembaca Jawa Pos di kota selain Surabaya, “dipaksa” untuk membaca
berita tentang Persebaya. Seperti dituliskan Wangkar (2013: 109), Jawa Pos
memposisikan diri sebagai “koran nasional yang terbit dari Surabaya”. Hal ini
menunjukkan bahwa Jawa Pos, meski mengklaim diri sebagai koran nasional,
namun tidak dapat melupakan akar mereka yakni Surabaya. Di Jawa Pos,
pemberitaan mengenai sepakbola lokal mereka hadirkan melalui halaman Radar.
Itu pun hanya ketika kompetisi berjalan. Halaman Radar adalah halaman khusus
memuat berita lokal di tempat di mana Jawa Pos terbit. Misalkan di Jawa Pos
yang terbit di Yogyakarta dilengkapi dengan suplemen Radar Jogja, yang terbit
di Solo dilengkapi suplemen Radar Solo, dan sebagainya.
24
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Satu terobosan dilakukan oleh Tribun Super Ball, yakni dengan
menghadirkan halaman khusus berita sepakbola lokal di mana Tribun Super Ball
tersebut terbit (Pramesti, 2014: 79). Berita tersebut ditempatkan di halaman
belakang. Jadi contohnya, halaman terakhir Tribun Super Ball yang terbit di
kawasan D.I.Yogyakarta akan berisi berita mengenai PSS Sleman, PSIM
Yogyakarta, dan/atau Persiba Bantul; halaman terakhir Tribun Super Ball yang
terbit di kawasan Jawa Tengah akan menyajikan berita mengenai Persis Solo,
PSIS Semarang, PPSM Magelang, dan/atau PSCS Cilacap; dan sebagainya.
Keunggulan Lisensi bagi Pengembangan Bisnis Media Cetak Olahraga
Nasional
Dalam profil perusahaan TopSkor tertulis “...sedang mencari mitra
usaha untuk mengembangkan pasarnya baik dukungan iklan dan distribusi”.
Point menarik kalimat tersebut yakni “mencari mitra usaha untuk
mengembangkan pasar” (http://topskor.co.id//halaman/hal/tentang-kami, diakses
13 November 2015). Bagi harian olahraga nasional, merebut pasar lokal tentu
tidak bisa sendirian. Sendirian artinya membangun kantor biro perwakilan di kota
lain, kemudian mengupayakan Sumber Daya Manusia (SDM) untuk mengelola
kantor biro perwakilan tersebut, mencari iklan sendiri, melakukan riset pasar
secara rutin, dan lain-lain. Aktivitas aktivitas tersebut tentu saja menuntut biaya,
tenaga, dan waktu yang tinggi. Hal tersebut tentu secara bisnis kurang
menguntungkan.
Ketika media nasional memutuskan untuk mengelola media lokal sendiri,
maka tantangan yang dihadapi adalah efisiensi pengelolaan. Salah satu
konsekuensinya adalah standar gaji karyawan sangat rendah, lebih rendah dari
kualifikasi karyawan itu sendiri. Perlu menunggu hingga keuntungan akhir tahun
untuk memperoleh gaji yang minimal sesuai kebutuhan. Bagi perusahaan, butuh
waktu setidaknya lima tahun untuk meraih laba (Wangkar, 2013: 112, 122-123).
Itu sebabnya media nasional membutuhkan mitra, yang dapat
memudahkan kerja dari harian olahraga nasional dari segi SDM, distribusi, iklan,
dan perluasan pasar. Namun kerjasama dengan mitra juga bukan hal yang mudah.
Kerjasama antara Kompas dengan Sriwijaya Post misalkan, diwarnai problem
tentang manajemen SDM dan pengelolaan keuangan. Dalam hal manajemen
SDM, kerjasama itu membuat posisi-posisi penting diisi orang-orang dari
Kompas Gramedia. Dalam pengelolaan keuangan, pihak Kompas Gramedia
berkehendak untuk menangani hal tersebut karena mereka adalah pemegang
saham mayoritas. Kondisi ini membuat pemegang saham lain merasa dirugikan.
Di internal, karyawan pun terpecah. Singkatnya, permasalahan itu berujung pada
konflik (Wijaya, 2013: 170-175).
Bagaimana sistem kemitraan yang efisien? Pemberian lisensi bisa
menjadi salah satu alternatif bagi media cetak nasional yang hendak memperluas
pasar ke berbagai kota di Indonesia. Lisensi adalah salah satu bentuk dari sistem
dari waralaba. Yang membedakan adalah dalam lisensi, pewaralaba (franchisee)
tetap bisa beroperasi dengan namanya sendiri, dan nama pengwaralaba tetap bisa
tampil (Khumarga, 2002: 19). Dalam sistem waralaba, pengwaralaba (franchisor)
25
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
memiliki memiliki akses permodalan untuk berbagi biaya dengan franchisee
dengan resiko yang relatif lebih rendah. Hal ini menguntungkan bagi franchisor
untuk melakukan ekspansi (Sudarmiatin, 2011: 4).
Adanya strategi bisnis lisensi tidak perlu membuat media cetak olahraga
nasional harus mengeluarkan biaya untuk mendirikan biro daerah, atau mengirim
wartawan untuk mencari liputan di daerah secara rutin. Strategi lisensi dapat
menekan biaya operasional dan biaya untuk Sumber Daya Manusia. Dengan
lisensi, berita berita lokal langsung mendapat pasokan dari media lokal yang
menjadi partner. Berita yang dihasilkan dari partner media lokal pun bisa lebih
baik, karena dilakukan oleh para wartawan media lokal tersebut -- yang
asumsinya sudah paham tentang isu isu apa yang menarik untuk dikembangkan.
Keuntungan tak semata diperoleh media cetak olahraga nasional selaku
pemberi lisensi. Bagi media lokal yang menjadi mitra, bisnis lisensi juga
menguntungkan mereka untuk memperoleh berita berita nasional secara
eksklusif. Di samping secara konten, kehadiran lisensi dari media nasional dapat
meningkatkan nama/merk dari media lokal tersebut.
Melalui strategi bisnis lisensi, media cetak olahraga nasional juga tidak
perlu terlalu disibukkan melakukan fungsi pengawasan secara ketat terhadap
partner bisnis, karena perjanjian lisensi tidak harus menuntut hubungan yang erat
dan berkesinambungan dari kedua belah pihak. Relatif longgarnya fungsi
pengawasan, membuat media cetak olahraga nasional selaku pemberi lisensi
dapat menghemat biaya (sebagai perbandingan fungsi pengawasan di bisnis
jaringan media daerah, baca Wangkar, 2013: 111). Lisensor (pemberi lisensi)
jarang meminta ataupun mendapatkan kewenangan pengawasan operasional yang
setingkat dengan kewenangan pengwaralaba (franchisor) (Khumarga, 2002: 20)
Lisensi sebenarnya bukan hal asing dalam media olahraga di Indonesia.
Contohnya majalah Liga Italia yang bekerjasama dengan majalah Football Italia
dan selanjutnya Guerin Sportivo (keduanya dari Italia); Planet Football yang
bekerjasama dengan majalah sepakbola Don Balon (Spanyol) (Hasbi, 2014).
Sebagai catatan, majalah Liga Italia dan Planet Football saat ini sudah tidak
terbit.
Saat ini harian olahraga nasional yang masih melakukan kerjasama
berupa lisensi adalah TopSkor, dengan La Gazzetta dello Sport (Italia) dan
MARCA (Spanyol). Kerjasama ini membuat TopSkor memperoleh berita berita
dan ulasan eksklusif mengenai sepakbola Italia dan Spanyol dari dua mitra kerja
tersebut. Itu sebabnya berita berita tentang Liga Italia, Liga Spanyol, menjadi
menu utama dari TopSkor. Kerjasama lisensi ini membuat TopSkor tidak perlu
menambah sumber daya manusia untuk memperkuat harian mereka, terutama
untuk meng-cover berita berita luar negeri. Wartawan internal TopSkor dapat
fokus untuk berita berita olahraga di Indonesia. Dari sisi ekonomis, hal tersebut
akan meningkatkan keuntungan dalam hal bisnis redaksional (Anshari & Prastya,
2014)
Memang, saat ini adalah era internet. Berita berita olahraga dari luar
negeri bisa dengan mudah diakses oleh media, baik itu yang gratis mau pun
berlangganan. Namun kerjasama lisensi TopSkor ini menghadirkan sentuhan lain
26
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
dalam penyajian berita terutama dari Italia dan Spanyol. Pasalnya, wartawan
olahraga di Eropa pada umumnya tidak sekadar menyajikan fakta, namun juga
memberikan analisis secara mendalam dari berbagai sudut pandang. Dalam
istilah jurnalistik olahraga, mereka adalah pundit. Tentunya analisis ini akan
berbeda jika dibandingkan analisis yang dilakukan oleh wartawan internal
TopSkor, dengan mengandalkan sumber sumber dari internet.
Kelemahan, Hambatan dan Tantangan dalam Strategi Bisnis Lisensi
Secara konseptual, strategi bisnis lisensi menguntungkan. Bagi pemberi
lisensi, mereka akan lebih irit biaya. Namun yang harus diwaspadai adalah
strategi ini juga bukannya tanpa cacat. Data tentang bisnis waralaba dan lisensi di
Indonesia (tahun 2009) menunjukkan rata-rata pertumbuhan bisnis franchise
lokal mencapai 8-9% per tahun, sedangkan franchise asing 12-13% per tahun.
Namun perbedaan tingkat kegagalan dari keduanya sangat mencolok yaitu
sebesar 50-60% untuk franchise lokal dan hanya 2-3% untuk franchise asing. Hal
ini menunjukkan bahwa antusias masyarakat untuk membuka bisnis franchise
belum dibarengi dengan kehati-hatian dan kejelian dalam pengelolaan
(Sudarmiatin, 2011: 4).
Tantangan yang mungkin muncul adalah adanya “jarak” antara harian
olahraga nasional selaku pemberi lisensi dengan harian lokal selaku penerima
lisensi. “Jarak” tersebut muncul dalam hal strategi bisnis, kualitas dari sumber
daya yang dimiliki mencakup: sumber daya manusia, sumber daya teknologi,
metode atau cara dalam bekerja, dan lain-lain. Tantangan lain adalah secara
kultural media nasional masih “enggan” (misal baca Armando, 2011: 166-168)
bekerjasama dengan media lokal karena adanya berbagai perbedaan tersebut.
Selanjutnya adalah
Upaya untuk Memanfaatkan Peluang Lisensi
Meskipun pengawasan tidak terlalu ketat dan tidak perlu mengadakan
SDM, pemberi lisensi hendaknya tetap memberikan dukungan kepada pemegang
lisensi, baik itu di fase awal kerjasama atau pun ketika kerjasama tengah berjalan.
Bentuk bentuk dukungan ini dapat mengadopsi dari sistem waralaba
(Sudarmiatin, 2011: 21-22).
Media cetak olahraga nasional selaku pemberi lisensi perlu juga
memberikan pelatihan bagi sumber daya manusia di redaksi media lokal yang
menjadi mitra. Secara teknik jurnalistik, sebenarnya pelatihan tidak terlalu perlu
dilakukan. Asumsinya, SDM di media lokal yang menjadi mitra sudah
mengetahui teknik dasar jurnalistik.
Namun sebagai bentuk “tanggungjawab” dari media cetak olahraga
nasional terhadap mitra kerjanya, pelatihan teknis juga perlu dilakukan, meski
tidak rutin. Pelatihan ini lebih ke arah bagaimana menyepakati pola kerja
redaksional, mekanisme deadline, pembagian tugas dan kewenangan, ukuran
kualitas berita, dan lain-lain. Selain memuluskan kerja kedua media, dengan
pelatihan ini harapannya media lokal yang menjadi mitra memperoleh tambahan
pengetahuan yang dapat berguna untuk peningkatan kualitas kerja mereka
27
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
nantinya. Dengan adanya peningkatan kualitas kerja, maka otomatis harian
olahraga nasional yang menjadi pemberi lisensi dapat lebih mudah dalam
mengawasi.
Pelatihan juga bisa diperluas ke unit unit organisasi media di luar redaksi,
pelatihan untuk riset pemasaran dan konsumen, pengembangan teknologi
informasi IT, workshop menyusun perencanaan pengembangan bisnis, workshop
pengelolaan komunikasi pemasaran terpadu, dan sebagainya. Bagi media lokal,
ini bermanfaat karena mereka mendapatkan ilmu tambahan tentang pengelolaan
media nasional.
Simpulan
Minat masyarakat terhadap berita olahraga cukup tinggi. Hal ini dapat
dimanfaatkan oleh industri media untuk memperoleh keuntungan finansial.
Melalui pemberitaan mengenai olahraga, perusahaan media punya peluang untuk
meningkatkan jumlah pembaca/penonton.
Peluang tersebut juga dimiliki oleh media cetak. Di waktu lalu, berita
olahraga terbukti sukses menambah jumlah pembaca media cetak. Bagaimana
dengan saat ini? Kemajuan teknologi memungkinkan pembaca/penonton
memperoleh informasi dengan lebih mudah dan murah. Media cetak menghadapi
persaingan sengit terutama dengan media online.
Guna menghadapi tantangan kompetisi tersebut, perusahaan media cetak
memerlukan pendekatan lain dalam kebijakan redaksionalnya yakni dengan
mengangkat berita mengenai olahraga lokal. Konten lokal merupakan peluang,
mengingat kebanyakan pemberitaan didominasi berita tentang kompetisi olahraga
di luar negeri. Meski merupakan favorit pembaca, tetapi apabila terlalu banyak
informasi tentang kompetisi olahraga luar negeri tersebut dapat menimbulkan
kejenuhan. Di sisi lain, berita olahraga lokal pun memiliki peminat yang banyak.
Kebijakan redaksional tersebut tentu harus diiringi dengan strategi bisnis
yang mendukung. Pada umumnya, perusahaan media membuka kantor biro di
kota lain untuk memperluas pasar di kota tersebut. Strategi itu memiliki
kelemahan yakni membutuhkan biaya yang banyak. Guna memperluas pasar
lokal, perusahaan media cetak dapat melakukan bisnis lisensi dengan media di
kota yang tengah dituju. Dengan lisensi, biaya operasional di tingkat lokal dapat
lebih ditekan.
Namun begitu strategi ini juga memiliki sejumlah kelemahan.
Pengalaman membuktikan bahwa kerjasama antar media, tidak selalu
berlangsung dengan lancar. Bahkan beberapa di antaranya berujung konflik.
Tulisan ini berisi mengenai gagasan mengenai penggunaan strategi
lisensi dalam pengembangan bisnis media cetak olahraga di Indonesia. Hal
tersebut menjadikan data dan analisis masih berada pada aspek makro sehingga
memerlukan penelitian lanjutan guna mengonfirmasi gagasan ini. Dua tema besar
mengenai peneltian selanjutnya, yakni mengenai lisensi bagi bisnis media secara
umum dan mengenai manajemen media cetak olahraga.
28
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Pertama, mengenai lisensi dapat melakukan penelitian tentang praktek
bisnis lisensi di media media yang ada di Indonesia, yang bekerjasama dengan
media lain. Kedua, mengenai manajemen media cetak olahraga, penulis
memberikan saran tentang penelitian mengenai komunikasi pemasaran dalam
meraih pasar dan pengiklan di tingkat lokal, dan riset terhadap pembaca media
cetak olahraga. Riset pembaca tersebut dapat berupa kesadaran merk (brand
awareness) terhadap media olahraga. Tema lain adalah faktor-faktor yang
mempengaruhi pengambilan keputusan dalam pembelian media olahraga.
Daftar Pustaka
Adiprasetyo, Agung. 2007. "Mengapa Bicara Soal "Kematian" Surat Kabar?"
dalam KOMPAS Menulis dari Dalam. (Editor: St. Sularto).Jakarta: Penerbit
Buku Kompas
Anshari, Faridhian & Prastya, Narayana Mahendra. 2014. “Membaca Kompetisi
Surat Kabar Olahraga di Indonesia dengan Pendekatan S-C-P”, prosiding The
1st Indonesia Media Research Award Summit (IMRAS) 2014: Tren Pola
Konsumsi Media di Indonesia (ISBN 978-602-96140-2-2)
Armando, Ade. 2011. Televisi Jakarta di Atas Indonesia: Kisah Kegagalan
Sistem Televisi Berjaringan di Indonesia. Yogyakarta: Bentang
Hasbi, Sirajudin. 2014. “Jejak Sepakbola di Media”. Pindai Media, 18 November
2014. URL: http://pindai.org/2014/11/18/jejak-sepak-bola-dalam-media/ ,
diakses 30 Oktober 2015
Junaedi, Fajar. 2014. Merayakan Sepakbola: Fans, Identitas, dan Media.
Yogyakarta: Buku Litera
Khumarga, D. 2002. "Penelitian tentang Waralaba Franchise Apakah Merupakan
Salah Satu Bentuk Perjanjian Tertentu yang Diatur dalam KUHP Perdata",
Law
Review,
Vol
II,
No,
1,
Juli.
URL:
http://ojs.uph.edu/index.php/LR/article/download/30/27,
diakses
10
November 2015
Mariatna, Sandy. 2014. “Manajemen Redaksi Media Online: Studi Kasus
Manajemen Redaksi Goal Indonesia sebagai Portal Berita Sepakbola
Berbasis Virtual Management”. Skripsi. Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas
Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
Nastiti, Aulia Dwi. 2011. Potret Industri Media Massa di Indonesia dalam
Kerangka Analisis Ekonomi Media. Jakarta: Program Studi Komunikasi
Media Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia. URL:
http://www.scribd.com/doc/67051026/Potret-Industri-Media-Massa-DiIndonesia-Dalam-Kerangka-Analisis-Ekonomi-Media#scribd , diakses 10
November 2015
Pramesti, Olivia Lewi. 2014. "Olah Raga, Media, dan Audiens: Pespektif Media
Lokal dalam Meliput Isu Olahraga" dalam Sport, Komunikasi dan Audiens:
Arena Olahraga dalam Diskursus Ekonomi-Politik, Bisnis, dan Cultural
Studies. (Editor: Fajar Junaedi, Bonaventura Satya Bharata & Setio Budi
HH). Yogyakarta: Departemen Litbang ASPIKOM
29
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Rahayu. 2010. "Ekonomi dan Manajemen Media: Perkembangan Kajian,
Otokritik, dan Eksplorasi terhadap Isu Lokalitas" dalam Potret Manajemen
Media di Indonesia. (Editor: Dyah Hayu Rahmitasari). Yogyakarta: Total
Media dan Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia
Siregar, Amir Effendi. 2010. "Kajian dan Posisi Manajemen Media serta Peta
Media di Indonesia" dalam Potret Manajemen Media di Indonesia. (Editor:
Dyah Hayu Rahmitasari). Yogyakarta: Total Media dan Program Studi Ilmu
Komunikasi Universitas Islam Indonesia
Sudarmiatin. 2011. “Praktik Bisnis Waralaba Franchise di Indonesia, Peluang
Usaha dan Investasi”. Pidato Pengukuhan Guru Besar dalam Bidang Ilmu
Manajemen pada Fakultas Ekonomi. Disampaikan dalam Sidang Terbuka
Senat Universitas Negeri Malang (UM), Tanggal 28 April 2011. URL:
http://library.um.ac.id/images/stories/pidatogurubesar/2011/Praktik%20Bisni
s%20Waralaba%20Franchise%20Di%20Indonesia%20Peluang%20Usaha%2
0Dan%20Investasi.pdf. , diakses 10 November 2015
Supadiyanto. 2013. “Implikasi Teknologi Digital dan Internet (Paperless
Newspaper) pada Industri Media Cetak di Indonesia” , Prosiding Seminar
Nasional:
Menuju
Masyarakat
Madani
URL:
http://dppm.uii.ac.id/dokumen/seminar/2013/G.Supadiyanto.pdf
, diakses
22 Januari 2014
Wangkar, Max. 2013. "Jawa Pos adalah Dahlan Iskan" dalam Dapur Media :
Antologi Liputan Media di Indonesia. (Editor: Basil Tri Haryanto & Fahri
Salam). Jakarta: Pantau
Wijaya, Taufik. 2013. "Baku Hantam Palembang" dalam Dapur Media : Antologi
Liputan Media di Indonesia. (Editor: Basil Tri Haryanto & Fahri Salam).
Jakarta: Pantau
30
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
MANAJEMEN RADIO ISLAM : PERGULATAN ANTARA IDEOLOGI
DAN EKSISTENSI
Puji Hariyanti
Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi, FPSB, Universitas Islam Indonesia
[email protected]
Abstract
There is no Islamic mass media were able to accommodate all Islamic groups in
Indonesia. Conflict of the spirit of Islam in media management with the media
capitalism make the most of the Islamic mass media did not survive. Islamic
radio became one of the da’wah media that still survive. Some surviving Islamic
radio is community radio, which has a lot of limitations in creativity programs,
human resources, infrastructure, funds and the range of the broadcast.
Meanwhile other Islamic radio who is a private radio station are switching from
the radio with da’wah content to regular one. This study wants to examine more
deeply about Islamic radio management with research objects Radio Unisia
Yogyakarta. This study uses descriptive qualitative method. The collection of data
through observation and interviews. The results showed that Radio Unisia as
da’wah radio have proved its existence with a 100% Islamic content and high
quality program for Muslims.
Keyword: media management, Radio Unisia, Islamic ideology
Abstrak
Belum ada media massa Islam yang mampu mewadahi seluruh kelompok Islam
di Indonesia. Selain itu adanya benturan semangat manajemen untuk menjaga
konsistensi pada ideologi Islam dengan sistem kapitalisme media membuat
sebagian besar media massa Islam tidak bertahan. Radio Islam menjadi salah satu
media dakwah yang masih bertahan. Beberapa radio Islam yang masih bertahan
adalah radio komunitas, yang tentunya memiliki banyak keterbatasan, mulai dari
kreativitas program, sumber daya manusia, infrastruktur dan dana serta jangkauan
siaran. Sementara itu radio Islam lainnya yang merupakan radio swasta banyak
yang beralih dari radio dengan konten dakwah ke konten dan segmen yang lebih
umum. Penelitian ini ingin mengkaji lebih dalam tentang potret manajemen radio
Islam dengan obyek penelitian Radio Unisia Yogyakarta. Metode penelitian yang
digunakan metode kualitatif. Pengambilan data dengan observasi dan wawancara.
Hasil penelitian menunjukkan Radio Unisia sebagai radio dakwah telah
membuktikan eksistensinya dengan menyiarkan 100% isi siaran yang islami dan
program yang bermutu bagi umat Islam.
Kata kunci: Manajemen media, radio Unisia, ideologi Islam
Pendahuluan
Media Massa Islam, ―Save Our Soul‖!, demikian judul artikel yang
ditulis M. Amien Rais (Ibrahim, et.al, 2005:360-366). Di dalamnya dituliskan
31
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
bagaimana bangsa Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim namun belum
memiliki media massa Islam yang cukup representatif dan bisa diandalkan.
Padahal media Islam bisa berfungsi tidak hanya sebagai juru bicara umat Islam
secara keseluruhan tetapi juga akan mempunyai fungsi konstruktif dalam rangka
integrasi umat Islam.
Kondisi media Islam di Indonesia yang ditulis M. Amien Rais satu
dasawarsa yang lalu nampaknya belum mengalami perubahan. Sampai saat ini
belum ada media Islam yang cukup representatif mewakili kepentingan umat
Islam. Yang terjadi justru beberapa media Islam beralih segmentasi menjadi
media massa umum dan ada juga yang tidak lagi beroperasi karena pimpinannya
terjun ke dunia politik. Hal ini berbanding terbalik dengan semakin bertambah
kompleksnya tantangan dakwah umat Islam. Seharusnya media Islam yang
dikelola dengan baik akan sangat membantu gerakan dakwah Islam di Indonesia.
Pada media cetak, sampai saat ini, masyarakat mengenal surat kabar
harian Islam berskala nasional yang mempunyai komitmen pada umat Islam
yakni Republika. Kendati banyak kritik tertuju pada Republika, namun sejauh ini,
nampaknya surat kabar harian ini masih cukup konsisten dalam mengusung misi
dakwah Islam.
Ada juga majalah Islam bulanan seperti Ummi, Annida, Sabili, Tarbawi,
Tarbiyah, dan Hidayah. Beberapa majalah tersebut masih bertahan kendati
eksistensinya hanya pada sekelompok Muslim saja. Beberapa majalah Islam yang
masih eksis juga menerbitkan edisi online, sementara yang lainnya menghilang.
Sedangkan media televisi Islam belum ada yang menjangkau siaran
nasional. Hanya ada beberapa televisi lokal yang bernuansa Islam (tidak
sepenuhnya siaran Islami seperti Aditv di Yogyakarta) dan selebihnya televisi
yang menggunakan sistem penyiaran satelit di mana siarannya hanya bisa
ditangkap dengan menggunakan antena parabola, seperti Rodja TV dan Rasil TV.
Media Islam yang relatif lebih banyak secara kuantitas dibanding media
Islam lainnya adalah radio Islam atau biasa dikenal dengan radio dakwah. Ada
beberapa radio dakwah yang berupa lembaga penyiaran swasta seperti Radio MQ
FM (Bandung dan Yogyakarta), Radio Rodja 756 AM (Jakarta), namun radio
dakwah paling banyak berupa radio komunitas.
Studi tentang manajemen media selama ini lebih banyak pada televisi,
mulai dari studi tentang kepemilikan, konvergensi, sampai dengan analisis isi
program televisi. Studi tentang manajemen radio sepertinya memang kurang
diminati sebagaimana halnya eksistensi radio yang selalu menjadi nomer dua
setelah televisi.
Padahal sebagai media massa, radio menjadi media yang relatif paling
baik dari sisi keberagaman kepemilikan dan isi medianya.(Siregar, et.al, 2010:
27). Sedangkan menurut Alvin Toffler dalam (Herweg & Ashley,2004:351) radio
adalah media –lebih dari yang lain—dapat memenuhi tuntutan komunikasi masa
depan, yaitu interaktivitas, mobilitas, keselarasan, daya hubung, dan globalisasi.
Walaupun tidak dapat dipungkiri, radio sebagai media penyiaran
mendapatkan kritik. Rivers, et.al (2008: 335) menuliskan pada era 1930 - 1940an
kritik terhadap radio tertuju pada praktik pemrograman atau penyusunan siaran
32
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
bukan oleh penyiarnya, namun oleh pengiklan. Kedua, penuhnya gelombang
siaran dengan aneka iklan, sehingga pendengar kesulitan menikmati acara
kesukaannya tanpa ganguan iklan. Ketiga, radio cenderung mengabaikan
program-program penting, program hiburan yang disiarkan tidak selalu bermutu.
Terakhir, kritik pada radio menyangkut terbatasnya pilihan program bagi
pendengar, pada beberapa radio program yang disiarkan cenderung sama dan
monoton. Kondisi radio yang dikritik oleh Rivers nampaknya masih berlaku
sampai sekarang.
Studi manajemen media kali ini ingin melihat potret manajemen radio
khususnya radio Islam atau radio dakwah dan ruang lingkup penelitian sementara
dibatasi pada radio Islam yang berada di Yogyakarta. Radio Unisia merupakan
salah satu radio dakwah yang didirikan oleh Yayasan Badan Wakaf Universitas
Islam Indonesia. Radio Unisia sejak awal pendiriannya diperuntukkan sebagai
media dakwah yang khusus memberikan pencerahan bagi masyarakat. Studi ini
diharapkan bisa menjadi studi awal untuk melihat potret manajemen radio islam
di daerah lain di Indonesia.
Tinjauan Pustaka
Media Islam sebagai media alternatif dakwah
Berbicara tentang media Islam, ada dua persetujuan yang disepakati
dalam konferensi internasional pertama wartawan dan pekerja media muslim di
Jakarta september 1981.
―Pertama, aturan berperilaku yang islami hendaknya menjadi dasar bagi
setiap pekerja media muslim dalam kegiatan jurnalistiknya dan, kedua,
kepribadian Islam. Kedua hal tersebut sangat menekankan pada konsolidasi
keimanan individu muslim pada prinsip etika dan nilai-nilai Islam sebagai
kewajiban utama media muslim.‖(Aslam dalam Ibrahim, et.al,2005:259)
Sehingga media Islam didefinisikan menjadi media yang diperuntukkan
bagi umat Islam, berisikan tentang kaum muslim dan dunia Islam pada umumnya
serta dibuat berdasarkan perspektif Islam. Definisi ini membatasi media-media
yang di buat negara-negara Barat dengan perspektif sekuler, sosialis, dan
komunis kendatipun berisikan tentang Islam bukan sebagai media Islam.
Jalaluddin Rakhmat memiliki beberapa definisi terkait media Islam.
Pertama, media Islam adalah media yang pada tataran simbolik menggunakan
nama Islam dan menyatakan dirinya sebagai media Islam. Kedua, media massa
tersebut tidak menggunakan simbol-simbol Islam, tetapi secara tersirat
dipersepsikan orang bahwa media tersebut mengemban misi Islam. Ketiga, media
massa yang tidak memakai lambang-lambang Islam, tidak juga secara eksplisit
membawa misi Islam, tetapi di media tersebut banyak orang islam yang berupaya
memasukkan gagasan-gagasan keislaman mereka sehingga mewarnai program
siaran atau wacana dalam media massa tersebut. (Rakhmat dalam Ibrahim, et.al
,2005:491-492)
33
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Dalam hal ini penulis menggunakan definisi yang pertama dan kedua,
bahwa yang dapat dikatakan sebagai media Islam adalah media yang baik itu
menggunakan nama Islam atau tidak, yang menyatakan diri sebagai media Islam
atau tidak, tetapi yang jelas mempunyai misi Islam. Jadi yang menjadi obyek
penelitian adalah media Islam yang benar-benar mempunyai misi dakwah
Islamiyah, fokusnya pada radio dakwah.
Radio dakwah yang dimaksud adalah radio yang komposisi siarannya
100% dakwah. Karena beberapa radio sebenarnya ada juga yang menyelipkan
konten dakwah dalam siarannya, namun tidak dominan, bercampur dengan
konten-konten lainnya seperti musik barat, musik dangdut, infoinment, dan lain
sebagainya yang tidak sesuai dengan nilai Islam.
Beberapa radio dakwah merupakan radio komersil atau radio siaran
swasta, namun lebih banyak radio dakwah yang merupakan radio komunitas.
Nampaknya tantangan lebih besar dihadapi radio dakwah komersil karena dalam
sistem pengelolaan media, mau atau tidak, harus berhadapan dengan sistem
kapitalisme dan berurusan dengan iklan untuk menunjang eksistensinya.
Sementara itu manajemen harus selektif terhadap iklan yang tayang karena tidak
bisa sembarangan menerima iklan yang tidak sesuai dengan syariat Islam.
Sedangkan radio dakwah komunitas yang tidak bersifat komersil. Radio
komunitas tidak bergantung pada iklan untuk menunjang kelangsungan hidupnya.
Radio komunitas lebih mengandalkan pendanaan dari komunitas dan sumbersumber dana alternatif selain iklan. Namun bukan berarti radio dakwah
komunitas tidak mengalami kendala. Sebagai radio komunitas biasanya
mengalami kendala di dalam jangkauan siaran yang terbatas dibanding radio
komersil. Selain itu radio komunitas juga biasanya tergantung pada partisipasi
komunitasnya, sehingga muncul masalah sumber daya manusia yang
mengoperasikan radio yang biasanya kurang profesional.
Baik sebagai radio siaran komersil maupun sebagai radio komunitas,
radio dakwah dapat dijadikan media alternatif bagi umat Islam ditengah
maraknya media arus utama yang menyajikan konten yang jauh dari ajaran Islam.
Radio dakwah bisa menjadi media yang menguatkan semangat keberagamaan
muslim Indonesia yang belakangan semakin nampak.
Berbicara mengenai media alternatif biasanya diidentikkan dengan media
yang produknya berlawanan dengan produk-produk media arus utama. Downing
menjelaskan bahwa media alternatif pada dasarnya merupakan perwujudan
resistensi khalayak terhadap media arus utama. Oleh karena itu untuk menilai
keberhasilannya bukan pada ukuran persentase khalayak dan pendapatannya
tetapi pada kemampuannya untuk membuka dialog dalam ruang publik yang ada
di level komunitas atau melalui jaringan sosial yang ada (Maryani,2011: 65)
Radio dakwah Islam sebagai media alternatif harus mampu menyediakan
produk-produk Islami yang selama ini jarang ditemukan di radio-radio
konvensional. Radio dakwah harus menjadi radio yang istimewa di telinga
audiensnya dengan spirit keislaman yang diusung. Dengan pengelolaan yang
baik, radio dakwah bisa meningkatkan partisipasi umat muslim untuk
memperkuat eksistensi jaringan radio dakwah di negri ini utuk mengawal gerakan
34
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
sosial spiritual di kalangan umat Islam serta mengkonter konten-konten media
non Islam yang menyerang Islam. Eksistensi radio dakwah menjadi penting
dalam upaya membentuk citra Islam.
Manajemen Radio Islam
Mengadopsi definisi Suhandang (2007:14) tentang manajemen pers
dakwah yaitu proses kerja jurnalistik lembaga masyarakat (berbentuk pers
maupun lembaga dakwah atau lembaga kemasyarakatan lainnya) untuk mencapai
masyarakat Islami yang madani. Maka manajemen radio Islam juga bisa diartikan
sebagai proses kerja penyiaran radio Islam atau radio dakwah untuk mencapai
masyarakat Islam yang madani.
Prinsip utama dari manajemen pers dakwah yang juga bisa diterapkan
dalam radio dakwah ada empat. Pertama, proses kerjanya mengarah pada
pencapaian tujuan dakwah. Kedua, metode yang digunakan dalam upaya
mencapai tujuan dakwah dimaksud adalah jurnalistik, dalam hal ini jurnalistik
radio. Ketiga, sesuai dengan inti dari manajemen yaitu berupa organisasi,
lembaga dakwah atau jamaah. Keempat, menggunakan manajemen yang Islami
sesuai dengan akidah dan syariah yang diajarkan Islam.
Morissan menjelaskan bahwa keberhasilan mengelola media penyiaran
sejatinya ditopang oleh kreativitas manusia yang bekerja pada tiga pilar utama
yang merupakan fungsi vital yang dimiliki setiap media penyiaran yaitu teknik,
program dan pemasaran (Morissan, 2009: 125)
Mengelola media penyiaran memiliki tantangan tersendiri, karena selain
harus memenuhi keuntungan perusahaan, menghadapi kompetitor, juga harus
memperhatikan kepentingan masyarakat di mana media tersebut berada. Selain
itu media penyiaran juga dituntut harus mampu melaksanakan berbagai fungsi,
antara lain sebagai media informasi, media pendidikan dan media hiburan
Bahkan sebenarnya fungsi substansial radio bukan hanya ketiga fungsi di
atas, informasi, pendidikan, dan hiburan saja. Fred wibowo menuliskan radio
dapat dikatakan bermanfaat hanya jika bisa melaksanakan fungsi membangun
kehidupan yang semakin berkebudayaan, menjadikan kehidupan manusia insani.
(2012: 31). Tanpa fungsi ini radio siaran dapat dimanfaatkan untuk kepentingankepentingan tertentu yang menjadikan medium ini kehilangan fungsi
substansinya
Oleh karena itu, jika merujuk pada pengertian media Islam, maka media
penyiaran Islam, berarti harus memperhatikan kepentingan umat Muslim.
Kendati sebagai media harus menjalankan fungsi informasi dan hiburan namun
pemilihan format dan komposisi siaran tidak boleh menyiarkan informasi dan
hiburan yang menyimpang dari ajaran Islam dan sebaiknya tidak mencampur
adukkan dengan program yang tidak Islami. Bahkan dalam pemasaran atau
pemilihan iklan juga tidak boleh sembarangan, karena akan merusak citra media
Islam tersebut.
35
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Ada beberapa aspek utama yang harus diperhatikan dalam manajemen
radio siaran (Prayudha, 2013: 9), yaitu: pendirian lembaga penyiaran radio,
perusahaan radio secara hukum yang berlaku, program siaran, manajemen
sumber daya manusia, teknik dan keuangan.
Dalam pendirian lembaga penyiaran radio dapat diketahui sejarah dan
latar belakang pendirian radio tersebut, dinamika kondisi masyarakat di wilayah
layanan siar, kondisi lembaga penyiaran lainnya, segmentasi serta proyeksi
pertumbuhan segmen. Biasanya radio dakwah diinisiasi atau didirikan oleh
lembaga dakwah , pondok pesantren, maupun jamaah tertentu. Hal ini perlu
dipersiapkan dengan jelas karena akan menyangkut visi, misi, dan tujuan radio
dakwah. Pendiri juga harus memperhatikan dinamika kondisi masyarakat di
sekitar untuk menjaga eksistensi radio dakwah di masa yang akan datang.
Aspek yang kedua menyangkut kepemilikan radio dan permodalan untuk
operasional radio. Aspek yang ketiga adalah program siaran. Beberapa yang perlu
diperhatikan dalam program siaran adalah segmentasi, format dan komposisi
siaran. Dalam aspek ini akan terlihat apakah radio yang berlabel Islam benarbenar memiliki format dan komposisi siaran dengan konten-konten islami atau
konten islam hanya sebagai pemanis saja.
Aspek selanjutnya aspek teknik yang lebih mempertimbangkan dan
merencanakan studio produksi dan siaran, spesifikasi pemancar, menara, antena,
dan sarana prasarana penunjang siaran lainnya.
Aspek keuangan menyangkut proyeksi pendapatan iklan bagi lembaga
penyiaran radio swasta, dan proyeksi dana-dana operasional bagi radio
komunitas. Sedangkan aspek manajemen sumber daya manusia, perlu
dipertimbangkan kebutuhan agar roda organisasi lembaga penyiaran radiao bisa
berjalan optimal. Struktur organisasi, jumlah kepegawaian, data komisaris,
direksi, dan beberapa posisi penting lainnya seperti: penanggung jawab
penyiaran, teknik, pemasaran, dan keuangan.
Prinsip manajemen pada media penyiaran mengadopsi prinsip
manajemen secara umum yang memiliki empat fungsi: perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan dan pengevaluasian. Morissan (2009: 130)
menjelaskan perencanaan mencakup kegiatan penentuan tujuan media penyiaran
serta mempersiapkan rencana dan strategi yang akan digunakan untuk mencapai
tujuan tersebut. Dalam perencanaan termasuk di dalamnya menyiapkan visi, misi,
tujuan, rencana strategis dan rencana operasional.
Pengorganisasian merupakan proses penyusunan struktur organisasi yang
sesuai dengan tujuan organisasi, sumber daya yang dimiliki dan lingkungan yang
melingkupinya. Aspek penting dalam pengorganisasian adalah departementalisasi
dan pembagian kerja.
Fungsi manajemen penyiaran ketiga adalah pengarahan. Fungsi ini
merangsang antusiasme karyawan untuk melaksanakan tanggung jawab mereka
secara efektif. Pengarahan meliputi kegiatan pemberian motivasi, komunikasi,
kepemimpinan, dan pelatihan.
36
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Fungsi terakhir adalah fungsi pengawasan yang mana fungsi ini
merupakan proses untuk mengetahui ketercapaian tujuan organisasi yang telah
disusun pada saat perencanaan. Proses ini harus terukur agar perencanaan
berjalan efektif dan efisien.
Pada prinsinya manajemen radio Islam tetap mengadopsi prinsip-prinsip
manajemen media massa secara umum, hanya saja pada pelaksanaannya tidak
boleh bertentangan dengan akidah dan syariat yang diajarkan Islam. Karena
selain fungsi manajerial di atas, radio dakwah juga mengemban fungsi dakwah.
Fungsi dakwah yang dapat diperankan yaitu menjaga agar radio dakwah
selalu berpihak pada kebaikan, kebenaran, dan keadilan universal sesuai dengan
fitrah dan kehanifan manusia, dengan selalu taat pada kode etiknya (Arifin, 2011:
95). Sebagai radio dakwah, tidak boleh menyiarkan berita bohong, pornografi,
sensasi, dan segala sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Semua isi
siaran radio dakwah hendaknya mengajak berbuat baik dan mencegah perbuatan
jahat, sesuai dengan tujuan dakwah.
Metodologi
Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang potret
manajemen radio khususnya radio Islam atau radio dakwah. Radio Unisia dipilih
sebagai obyek penelitian karena radio ini salah satu radio yang memiliki
komitmen dalam dakwah selain itu radio ini lebih mengedepankan ilmiah dilihat
dari kacamata islam, menghadikan ustad sesuai dibidangnya yang memiliki
pengetahuan agama kuat. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah
deskriptif kualitatif dengan paradigma konstruktivisme.
Teknik pengumpulan data berupa observasi dan wawancara dengan
Direktur Radio Unisia, Drs.Kecuk Sahana. Sumber sekunder berupa studi
pustaka, dan data online. Analisis data pada penelitian ini sesuai yang dijelaskan
Sugiyono (2007: 246) terdiri dari proses pengumpulan data, reduksi data,
penyajiaan data pengambilan kesimpulan dan verifikasi.
Hasil Temuan dan Diskusi
Pemaparan tentang manajemen radio Unisia berikut ini diolah
berdasarkan hasil wawancara dengan Direktur Radio Unisia, Drs.Kecuk Sahana
dan dari dokumen pendirian radio Unisia.
Radio Unisia memiliki visi sebagai radio Pendidikan dan Dakwah
Islamiyah Modern dan Post Modern, Mencerdaskan Bangsa terpercaya dalam
Informasi, Mengedepankan Ilmu Pengetahuan, Budaya dan Kaidah ke Islaman‖ –
― rahmatan lil alamin‖.
Visi tersebut kemudian dirumuskan dalam misi radio Unisia sebagai
berikut:
1. Radio yang mampu menyampaikan informasi yang benar, jujur, berimbang
dan tidak berpihak.
37
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
2. Menjadi sarana pendidikan, dakwah yang berbudaya, santun dan
menyejukan.
3. Membentuk dan memperdayakan masyarakat, komunitas dalam rangka peningkatan kualitas hidup, sehingga dapat menjadi sentra informasi, aktivitas
dan wadah kegiatan di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah.
4. Mengokohkan ukhuwah islamiyah masyarakat muslim Daerah Istimewa
Yogyakarta dan Jawa Tengah
5. Perusahaan yang mampu memberikan manfaat bagi semua pihak sesuai peran
dan tanggung jawabnya.
6. Perusahaan yang keberadaannya dapat memberikan nilai tambah terhadap
lingkungan sekitarnya.
Meskipun Radio Unisia adalah radio dakwah yang didirikan sebagai
Lembaga Nirlaba (bukan untuk mencari keuntungan), namun persyaratan untuk
mendapatkan ijin siaran Lembaga/ Badan Penyelenggara Siaran Swasta
diharuskan berbentuk Badan Hukum. Pengurus Yayasan Badan Wakaf UII
penempatan saham dalam PT.UNISIA MEDIA UMAT sebesar 97,5% dan 2,5%
PT.Radio Prima Unisi Yogya. Pada tanggal 16 September 2014, Surat Keputusan
Menteri HAM RI Nomor: AHU-17564.AH. 01.01.Tahun 2014 Tentang
Pengesahan Badan Hukum Perseroan PT.Unisia Media Umat berhasil
didapatkan.
Radio Unisia mengalami kendala dalam hal ijin siaran. Berhubung
sampai saat ini Pemerintah belum menerbitkan PP (Peraturan Pemerintah)
tentang pengaturan penyelenggaraan Penyiaran Radio difrekuensi AM
(Amplitudo Modulasi), menyebabkan tidak terakomodasinya penataan dan
penerbitan ijin Siaran AM. Sehingga pengajuan ijin Radio Unisia hingga saat ini
mengalami kemandegkan, meskipun proses ijin siaran sudah dijalannya.
Tidak dimilikinya legalitas ijin siaran mengakibatkan beberapa persoalan
bagi Radio Unisia, diantaranya Radio Unisia diminta untuk menghentikan siaran
karena menggunakan perangkat STL (Stasiun Transmitter Link) yaitu pemancar
penghubung siaran antara studio Jl.Demanganbaru kelokasi pemancar di Pondok
UII Seturan tidak berijin. Masalah lain tertundanyanya pengurusan Sertifisasi
Alat /Pemancar sebagai syarat legalnya ijin penggunaan perangkat pemancar,
Belum adanya pemetaan penataan chanel (frequensi) AM secara tetap, sehingga
Radio Unisia masih bersiaran menggunakan chanel sementara.
Namun hal ini bisa diatasi dengan menggunakan jaringan internet (STL
IP) dipakailah Digigram Pyko STL-IP sebagai penghantar siaran studio
kepemancar. Perangkat yang digunakan harus diimport dari luar negeri sehingga
harus menyisihkan dana besar dan menunggu pemesanan yang cukup memakan
waktu. Dengan menggunakan audio digital, kualitas audio siaran Radio Unisia
lebih baik dibanding sebelumnya. Besarnya dana yang harus dikeluarkan cukup
menjadi masalah karena Radio Unisia hanya berasal dari pendanaan yayasan.
Radio Unisia juga menyediakan sarana streaming difasilitasi melalui
jaringan UII Net. Alamat website adalah: www.radiounisia.com. Tampilan radio
streaming juga dapat diakses melalui perangkat ponsel pintar. Dengan alamat:
38
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
m.radiounisia.com siaran bisa diakses secara mobile. Disamping melalui alamat
mobile tersebut, radio juga bisa diaksses secara mudah melalui alamat-alamat
radio streaming dunia di: TuneIn, NuxRadio, Blackbarry dll.
Program siaran yang telah diproduksi Radio Unisia antara lain : Hadis,
Fiqih, Tafsir, Kajian, Sirah, Pencerahan, Mutiara Iman, Motivasi Zakat, Kasanah,
Musuah Insiklopedi Islam, Inspirasi Qolbu.
Beberapa program baru tengah diproduksi antara lain: Fiqih Politik,
Remaja dan Islam, Perbandingan Mazhab, Ekonomi Syariah sedangkan acara
yang tengah dipersiapkan : Pendidikan Islam, Tasawuf. Keseluruhan siaran dalam
bentuk rekaman / tunda.
Setiap acara-acara peringatan keagaamaan, Ramadhan, Muharam,
Qurban dll, dipersiapkan materi - materi khusus seperti pada Ramadhan disiarkan
siaran Tarawih setiap malam dari Masjid Baitul Qohar Kampus UII Cik Ditiro,
Ceramah setiap menjelang Sahur dan Buka Puasa. Menjelang pelaksanaan
Qorban membuat paket talkshow pelaksanaan penyembelihan dan penerangan
hewan yang sehat dll.
Selain bahan siaran diproduksi sendiri, Radio Unisia juga bekerjasama
dengan pihak luar dan masjid masjid yang memiliki bahan siaran yang memadai,
seperti PPA Darul Quran, Dompet Duafa, Masjid Besar Kauman, Masjid Suhada,
Masjid Al Hidayah, Masjid Ulil Albab dll.
Gambar 1: Ruang Siaran Talkshow & Ruang Siaran rekaman Radio Unisia
Keberadaan siaran Radio Unisia di masyarakat Yogyakarta mulai
mendapat tanggapan positif, masyarakat dan mahasiswa mulai merespon acara
dengan cara menelpon dan mengirimkan sms, e mail, dan bbm, umumnya
menanyakan sesuatu masalah berkaitan dengan materi siaran. Tanggapan
terhadap siaran juga diberikan pendengar secara langsung pada para pemateri saat
berjumpa langsung.
Materi siaran juga mendapat tanggapan positif dari para guru-guru agama
dilingkungan SMU, menurut mereka bahan siaran sering menjadi rujukan para
dai muda dan guru-guru disekolah. Respon mulai muncul dari kalangan
mahasiswa,
39
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Untuk memperluas pengenalan pada masyarakat Yogyakarta terhadap
Radio Unisia melakukan pemasangan pemasangan poster, balio kecil, baner,
pembagian selebaran diberbagai masjid-masjid dan fakultas dilingkungan UII,
Masjid-masjid Besar di Yogya, Swalayan-toko muslim. Melakukan broadcast
lewat BBM maupun Twitter. Materi siaran Radio Unisia juga disiarulangkan di
Radio Unisi 104,5 FM setiap pagi (04.30-05.00) dengan demikian informasi
Unisia dapat disebarluaskan melalui Radio UNISI.
Gambar 2: Contoh Poster Radio Unisia
Radio Unisia sudah mampu membuktikan eksistensinya sebagai radio
dakwah. Dengan isi siaran yang 100% bermuatan dakwah, radio Unisia
memposisikan dirinya sebagai radio yang mempunyai komitmen untuk ber amar
ma’ruf nahyi munkar. Dengan dukungan dari masyarakat serta pengelolaan
manajemen yang baik, bukan tidak mungkin, Radio Unisia bisa menjadi radio
dakwah yang bisa diandalkan dan bisa membuka jaringan radio dakwah di kotakota lain di Indonesia. Sehingga bisa membuktikan bahwa radio dakwah yang
tetap konsisten dalam mengusung misi Islam bisa tetap eksis dan diterima di
masyarakat.
Kendala legalitas ijin siaran yang masih terus diperjuangan hendaknya
tidak menjadi penghalang bagi radio Unisia untuk terus menyajikan siaran yang
bermutu bagi umat Islam. Karena seperti yang dikritik Rivers, pendengar radio
sesungguhnya menginginkan program-program yang bermutu dan mendidik.
Pendengar juga bosan dengan siaran radio yang seragam. Dan radio dakwah bisa
muncul sebagai radio alternatif untuk mengatasi kejenuhan pendengar. Selain
bisa menghibur, isi siaran yang mendidik dan memberikan manfaat akan menarik
pendengar untuk mendengarkan radio dakwah.
Selama ini radio dakwah, apalagi radio dakwah komunitas identik
dengan kelompok Islam tertentu sehingga pendengarnya pun jadi tersegmentasi.
Ada anggapan bahwa radio dakwah tertentu hanya untuk komunitas tertentu.
Sehingga sulit menjalin kerja sama antar sesama radio dakwah. Padahal misi
radio dakwah sama yaitu menyebarkan nilai-nilai kebaikan dan mencegah
keburukan.Jika semua radio dakwah yang ada di Indonesia, baik radio siaran
40
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
swasta maupun komunitas bisa bekerja sama dan membentuk jaringan radio
dakwah, maka gerakan dakwah Islam di Indonesia bisa maju dengan signifikan.
Simpulan
Radio Unisia Yogyakarta adalah salah satu contoh radio yang mengelola
sumber daya yang dimilikinya untuk kepentingan dakwah. Radio ini memiliki
visi dan misi dakwah islamiyah. Hal tersebut tercermin dalam komposisi siaran
yang 100% islami. Radio ini bisa menjadi representasi radio Islam yang bisa
menjaga ideologi dan eksistensinya di dunia penyiaran tanah air. Kendati masih
ada kendala terkait ijin siaran, radio ini masih bisa mencari solusi untuk tetap bisa
menyiarkan syiar Islam untuk umat Islam di Yogyakarta dan sekitar. Sehingga
masyarakat mempunyai alternatif media yang menyiarkan program-program yang
mendidik dan memberikan pencerahan.
Radio dakwah menjalankan fungsinya sebagai media informasi, media
pendidikan, media hiburan, dan media dakwah. Radio dakwah sebagai media
alternatif harus mampu menyediakan program-program Islami yang selama ini
jarang ditemukan di radio-radio konvensional. Radio dakwah bisa meningkatkan
partisipasi umat muslim untuk memperkuat eksistensi jaringan radio dakwah di
negri ini utuk mengawal gerakan sosial spiritual di kalangan umat Islam.
Daftar Pustaka
Arifin, Anwar. (2011). Dakwah Kontemporer: Sebuah Studi Komunikasi.
Yogyakarta: Graha Ilmu
Herweg, Godfrey W., Ashley Page Herweg. (2004). Revolusi Pemasaran Radio.
Jakarta: Kantor Berita Radio 68H
Ibrahim, Idy Subandy, et.al. (2005). Media dan Citra Muslim: Dari Spiritialitas
untuk Berperang menuju Spiritualitas untuk Berdialog. Yogyakarta: Jalasutra
Maryani, Eni. (2011). Media dan Perubahan Sosial: Suara Perlawanan Melalui
Radio Komunitas. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Morissan.(2009). Manajemen Media Penyiaran: Strategi Mengelola Radio &
Televisi. Jakarta: Kencana
Prayudha, Harliantara Harley, Andy Rustam M. (2013). Radio is Sound Only:
Pengantar & Prinsip Penyiaran Radio di Era Digital. Jakarta:
Broadcastmagz
Rivers, William L., et.al. (2008). Media Massa dan masyarakat Modern. Jakarta:
Kencana
Siregar, Amir Effendi, et.al. (2010). Potret Manajemen Media di Indonesia.
Yogyakarta: Total Media
Sugiyono. (2007). Metode Penelitian Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta
Suhandang, Kustadi.(2007). Manajemen Pers dakwah: Dari Perencanaan
Hingga Pengawasan. Bandung: MARJA
Wibowo, Fred. (2012). Teknik Produksi Program Radio Siaran: mengenal
Medium dan Program Siaran Radio. Yogyakarta: Grasia Book Publisher
41
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Biografi Penulis
Puji Hariyanti, S.Sos., M.I.Kom adalah staf pengajar di program studi
Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Indonesia, fokus di bidang minat
komunikasi strategis. Alumni S1 dari Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas
Diponegoro dan S2 Magister Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. Penulis
melakukan beberapa penelitian terkait media dan komunikasi dakwah. Pernah
menjadi editor buku Media Islam: Kajian Media dan Audiens, dan menulis artikel
di beberapa buku, jurnal, dan media online.
42
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
LOGIKA JANGKA PENDEK JURNALISME ONLINE (STUDI KASUS
REPUBLIKA ONLINE)
Ratna Puspita
[email protected]
Abstract
This thesis aims to reveal the impact of the new capitalism on online journalism.
The new capitalism is built with short-term logic, that the process should be fast
to gain an advantage. This research uses a critical paradigm and a case study as
a research strategy. Data were collected through interviews, observation, and
analysis of the news. Data analysis methods, namely short-term logic belong to
Richard Sennett. Determination encourage enterprise technology is constantly
changing, so bring political uselessness and consumption put the news as a
commodity. Journalism is characterized by short-term quick news, stripping,
sensational, share content, hot topics, and viewers. The short-term logic in order
to returns the yellow journalism to the new media and exploitation journalists.
Keywords: new capitalism, short-term logic, online journalism
Abstrak
Tesis ini bertujuan mengungkap dampak kapitalisme baru terhadap jurnalisme
online. Kapitalisme baru dibangun dengan logika jangka pendek, yaitu proses
harus berlangsung dengan cepat untuk mendapatkan keuntungan. Penelitian ini
menggunakan paradigma kritis dan studi kasus sebagai strategi penelitiannya.
Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan analisis berita. Metode
analisis data, yaitu logika jangka pendek milik Richard Sennett. Determinasi
teknologi mendorong perusahaan terus berubah sehingga memunculkan
ketidakgunaan dan politik konsumsi yang menempatkan berita sebagai
komoditas. Jurnalisme jangka pendek ditandai dengan berita ringkas, stripping,
sensasional, berbagi konten, topik terhangat, dan viewers. Logika jangka pendek
mengembalikan jurnalisme kuning ke media baru dan mengeksploitasi wartawan.
Kata Kunci:Kapitalisme baru, logika jangka pendek, jurnalisme online
Pendahuluan
Latar Belakang Masalah
Musikus Ahmad Dhani melaporkan 17 media online ke Dewan Pers pada
21 Juli 2014. Sebanyak 17 media online tersebut memberitakan tentang ‘janji’
Dhani untuk memotong kemaluannya kalau Joko Widodo (Jokowi) memenangi
Pemilihan Umum Presiden 2014.
Ketika melapor, Dhani (2014) menyatakan pemberitaan tersebut sebagai
fitnah. Media online tersebut telah menulis berita berdasarkan sumber yang tidak
43
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
kredibel. Dia pun mempertanyakan mengapa 17 media online tersebut
mengambil bahan berita dari sumber fiktif.1
Beberapa media online yang dilaporkan Dhani tidak termasuk media
online yang menghasilkan produk jurnalistik. Namun, sebagian lainnya
merupakan media online yang menjadi ranah Dewan Pers, yaitu Liputan6.com,
Republika Online, Haionline, Okezone, Merdeka.com, Detikforum,
Kapanlagi.com, dan Kompasiana.2
Kasus tersebut menunjukkan media online telah mengabaikan verifikasi
dan konfirmasi ketika memuat berita. Padahal, media online terikat pada prinsip
jurnalistik yang mengharuskan adanya pemeriksaan dan verifikasi fakta agar
tidak menyajikan berita fiktif.
Bill Kovach dan Tom Rosentiels (2001) menyatakan esensi jurnalisme
adalah disiplin verifikasi. Verifikasi membedakan karya jurnalisme dengan
hiburan, propaganda, fiksi, atau seni. Disiplin verifikasi dilakukan dengan cara
mewawancarai lebih banyak sumber berita dan meminta komentar dari berbagai
pihak. (Kovach dan Rosentiels, 2001:85)
Kemunculan media online seharusnya mendorong kreativitas wartawan.
Sebab, media online melengkapi kekurangan surat kabar yang memiliki ruang
terbatas. Setiap halaman di surat kabar hanya dapat memuat lima sampai enam
berita. Setiap berita hanya dapat memuat paling banyak 4.000 karakter.
Media online tidak memiliki batasan halaman dan karakter. Tidak ada
lagi berita layak yang tidak bisa naik dengan alasan kekurangan ruang di koran.
Wartawan pun dapat memilih angle atau sudut pandang berita yang lebih
bervariasi. Wartawan juga dapat menuangkan ide dan menulis dengan lebih
bebas karena tidak ada batasan karakter.
Awalnya, wartawan pun menyambut baik konsep tersebut dan optimistis
sinergi antara media cetak dan media online bakal berjalan. Kendati demikian,
sindrom logika jangka pendek mengubah harapan tersebut. Sindrom logika
jangka pendek ini merupakan buah dari kapitalisme baru. Kapitalisme baru
merujuk pada era di mana nilai mata uang tidak stabil, meningkatnya penggunaan
teknologi komunikasi massa lewat meledaknya dot.com, dan siklus pada 1990an.
Istilah ‘kapitalisme baru’ bukan berarti menunjukkan tujuan yang berbeda dari
pemilik modal. Tujuan kapitalisme baru tidak berbeda dengan kapitalisme era
Karl Marx, yaitu mencari keuntungan bagi pemilik modal. (Doogan, 2009:2;
Sennett, 2006:40)
Tujuan Penelitian
Tekanan teknologi dan ekonomi serta wajah jurnalisme media online di
Indonesia ini membuat penulis tertarik. Karena itu, penulis ingin melihat
beberapa hal yang dirumuskan melalui pertanyaan berikut ini: Bagaimana
1
http://www.tempo.co/read/news/2014/07/21/219594731/berita-potong-kelamin-ahmaddhani-ke-dewan-pers
2
http://www.tribunnews.com/pemilu-2014/2014/07/21/ahmad-dhani-laporkan-17-mediaonline-ke-dewan-pers
44
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
kapitalisme baru yang memunculkan logika jangka pendek berdampak
pada praktik jurnalisme online di Indonesia?
Beranjak dari rumusan masalah di atas, penelitian ini bertujuan
mendeskripsikan determinasi ekonomi dan teknologi berdampak pada jurnalisme
online di Indonesia. Jurnalisme online mengadopsi logika jangka pendek (shortterm thinking) sehingga tidak sadar wartawan bekerja hanya untuk kepentingan
kapitalisme.
Tinjauan Pustaka
Logika Jangka Pendek
Logika jangka pendek (short-term thinking) merupakan konsep milik
Richard Sennett dalam bukunya The Culture of the New Capitalism (2006).
Sennett (2006:176-177) menyatakan bahwa logika jangka pendek menekankan
pada proses cepat dengan mencurigai kelambanan dan bentuk-bentuk
perkembangan berkelanjutan atau ajeg.
Logika jangka pendek menuntut proses berlangsung cepat, instan, dan
tidak terlambat. Proses yang berjalan lambat dan ajeg dapat mengindikasikan
kegagalan dan bisa menghambat tujuan perusahaan.
Logika jangka pendek merupakan buah dari kapitalisme baru. Istilah
‘kapitalisme baru’ bukan berarti menunjukkan tujuan yang berbeda dari pemilik
modal. Tujuan kapitalisme baru tidak berbeda dengan kapitalisme era Marx, yaitu
mencari keuntungan bagi pemilik modal. (Sennett, 2006:40).
Sennett menyodorkan argumen bahwa budaya kapitalisme baru bergerak
tidak berbeda dengan era Karl Marx, ketika lapisan sosial hanya tersusun antara
kelas pekerja dan pemilik modal. Pada kapitalisme baru, ekonomi masih menjadi
struktur utama yang menentukan dasar kehidupan individu dan masyarakat.
Perbedaannya terletak pada cara mendapatkan keuntungan.
Kapitalisme baru ditandai dengan pemilik modal yang menginginkan
hasil jangka pendek dibandingkan jangka panjang. Pemilik modal atau investor
lebih berkepentingan pada keuntungan jangka pendek lewat harga saham
daripada keuntungan jangka panjang dalam dividen. Pemilik modal yang
berorientasi pada hasil jangka panjang ini menunjukkan ketidaksabaran. Sennett
pun menggunakan istilah milik Bennet Harrison, yaitu kapitalisme tidak sabar
(impatient capital). (Sennett, 2006:5-7 & 39-40)
Pemilik modal yang tidak sabar akan memastikan perusahaan
berorientasi pada tujuan dan hasil jangka pendek. Perusahaan harus dapat
berubah dan beradaptasi dengan tren untuk mencapai tujuan jangka pendek.
Pemilik modal pun akan memastikan perusahaan melakukan proses yang
berlangsung dan tidak terlambat.
Perusahaan yang berorientasi jangka pendek akan mendorong pekerja
beradaptasi dengan perubahan dan tren. Kapitalisme baru pun mendorong para
pekerja juga mengadopsi logika yang sama dengan para pemilik modal, yaitu
logika jangka pendek.
45
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Sennett (2006:5-7) mengatakan, semua pekerja yang berpikir dengan
logika jangka pendek bahwa dia akan kaya dengan mengembangkan potensinya
dan tidak menyesali apapun. Ketika seorang pekerja berorientasi jangka pendek
maka dia bersedia melepaskan pengalaman masa lalu. Ini yang kemudian
memunculkan prinsip ketidakgunaan dalam budaya kapitalisme baru.
Pekerja merasa tidak berguna ketika dia tidak bisa beradaptasi dengan
berbagai perubahan. Pekerja pun terdorong untuk selalu beradaptasi dan
mengikuti tren terbaru agar perusahaan tetap menganggapnya berguna.
Ketidakgunaan ini membuat pekerja khawatir akan kehilangan pekerjaan.
Perubahan yang tiba-tiba dalam sebuah perusahaan akan memproduksi
kecemasan dan kegelisahan. Budaya kapitalisme baru pun tidak mendatangkan
pencerahan, melainkan mendorong terjadinya kerusakan struktural di masyarakat.
Sebab, kapitalisme tidak sabar gagal menciptakan komunitas yang menekankan
pada hubungan tatap muka berdasarkan kepercayaan dan solidaritas. Kapitalisme
baru membuat hubungan harus terus diperbaharui, alam komunal di mana setiap
peka terhadap kebutuhan orang lain (Sennett, 2006:177 & 2).
Kapitalisme baru atau kapitalisme tidak sabar didasarkan pada logika
jangka pendek yang mendorong setiap individu, baik itu pemilik modal, kelas
menengah atau buruh intelektual, dan pekerja, untuk mencari keuntungan dan
kekayaan pribadi. Pada era kapitalisme baru, perusahaan mendorong pekerja
beradaptasi dengan perubahan dan menerapkan pola kerja dinamis. Perubahaan
terus-menerus ini menyebabkan pekerja merasa tidak aman sehingga kapitalisme
baru pun mengacaukan nilai-nilai di masyarakat.
Jika dikaitkan dengan penelitian ini maka logika jangka pendek
mendorong perusahaan media online, termasuk pemilik media online dan
wartawan media online, hanya mengejar keuntungan dan kekayaan pribadi.
Perusahaan media online harus beradaptasi dengan perubahan-perubahan dan
mengikuti tren terbaru, termasuk perubahan teknologi. Proses selanjutnya,
wartawan media online akan mengadopsi logika jangka pendek tersebut.
Perubahan mendadak itu menyebabkan kekacauan nilai-nilai dan prinsip
sehingga media online gagal menjadi pencerah bagi publik.
Sennett (2006:12) menjelaskan bagaimana kerusakan struktural yang
didasari logika jangka pendek terjadi dalam tiga hal, yaitu perubahan-perubahan
dalam institusi atau organisasi, pekerja yang semakin teralienasi, dan perilaku
konsumsi masyarakat.
Komodifikasi Media Online
Dallas Smythe mengumpakan berita sebagai ‘makan siang gratis’.
Perusahaan media menyajikan berita dengan tujuan untuk membujuk calon
pembaca dan mempertahankan perhatian mereka. Sebagai ‘makan siang gratis’,
menyatakan, berita ditulis sesuai selera calon pengunjung media online agar
mereka tertarik mengunjungi situs. (Smythe dalam Durham & Kellner: 2006:242)
Upaya membujuk pembaca ini mengantarkan pada proses komodifikasi
khalayak. Perusahaan media mendefinisikan khalayak sebagai komoditas karena
industri-industri ingin memperlihatkan keberadaan mereka. Industri ingin
46
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
mengukur ide penonton. Perusahaan media memiliki kepentingan memvalidasi
ide penonton agar memiliki makna dan koheren. Jika perusahaan media tidak
dapat menentukan karakteristik khalayak untuk memvalidasi investasi oleh
pendukung dan pengeluaran oleh pengiklan maka mereka tidak memiliki bisnis.
(Mosco, 2009:12; Wayne, 2003:87)
Komodifikasi khalayak terjadi ketika pemasang iklan membayar
khalayak media dalam ukuran dan kualitas tertentu agar perusahaan media
tersebut mendapat pemasukan. Herman dan Chomsky (1994) menyatakan bahwa
sebagian besar media massa memiliki ketergantungan pada pemasukan iklan dan
ini lah yang menekan bentuk konten media. (Wayne, 2003:83)
Christian Fuchs (dalam McQuail, 2010:97) menggunakan pendekatan
ekonomi politik media untuk meneliti komodifikasi di internet. Fuchs yang
mengembangkan ide Smythe menyatakan pondasi ekonomi internet berada pada
komodifikasi pengguna platform akses gratis. Kendati demikian, bukan berarti
internet tidak melakukan komodifikasi khalayak.
Fuchs (2012) menyatakan akses atau konten konten memang tidak dijual
sebagai komoditas, namun perusahana media melakukan komoditas dalam
bentuk lain seperti mengkomodifikasi data pengguna internet. Para pengiklan
tidak hanya tertarik dengan waktu yang dihabiskan pengguna internet, namun
konten yang bersifat user-generated dan kebiasaan-kebiasaan pengguna internet.
Data para pengguna seperti informasi mengenai berbagai hal yang diunggah,
jaringan sosial, hobi mereka, data demografis, laman-laman yang dikunjungi, dan
interaksi dijual kepada para pengiklan sebagai komoditas.
Para wartawan juga tidak lepas dari komodifikasi karena menukar
kemampuan menulis dengan upah. Komodifikasi wartawan terjadi karena
wartawan memiliki nilai tambah. Nilai tambah tersebut melekat pada berita yang
ditulis, diedit, dan diunggah oleh wartawan. Mosco (2009) menyatakan bahwa
peran wartawan sebagai pekerja yang diupah telah meningkat secara signifikan di
perusahaan media.
Penulis memahami bahwa perusahaan media telah melakukan
komodifikasi. Proses komodifikasi yang dilakukan, yaitu penyajian berita untuk
menjaring banyak pembaca. Media online menyajikan berita untuk mendapatkan
banyak pembaca. Selanjutnya, perusahaan media online menjual data mengenai
pembaca ini kepada para pengiklan. Dalam proses ini, wartawan menukar
kemampuannya menulis dengan menulis berita-berita yang dapat menjaring
berita sebanyak-banyaknya.
Metodologi
Penulis berencana menunjukkan bagaimana kapitalisme baru yang
dibangun dengan logika jangka pendek berdampak terhadap jurnalisme media
online di Indonesia. Penulis juga ingin mengungkapkan upaya perusahaan
mencari keuntungan di media online berdampak terhadap praktik kerja wartawan
di media online. Penulis berasumsi jurnalisme media online lebih sering
mengedepankan pesan-pesan sensasional karena wartawan tanpa disadari bekerja
47
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
untuk keuntungan perusahaan. Penulis melihat kondisi itu memunculkan
ancaman terhadap masa depan jurnalistik di Indonesia berdasarkan praktik yang
berlaku di media online. Sebab, jurnalisme media online berada dalam situasi
dilematis, yaitu sebagai sarana pendidikan dan sebagai sarana yang menjual
pesan sensasional. Berdasarkan hal tersebut, penulis menggunakan paradigma
kritis dalam penelitian ini.
Agus Salim mengutip Dedy N Hidayat (2006:72) mengatakan, paradigma
kritis mentakrifkan ilmu sosial sebagai proses kritis mengungkap the real
structure di balik ilusi dan kebutuhan palsu yang ditampakkan dunia materi, guna
mengembangkan kesadaran sosial untuk memperbaiki kondisi kehidupan subyek
penelitian. Penulis akan menggambarkan logika yang mendasari penyajian berita
di media online. Penulis juga akan berusaha mengungkap perusahaan media
online telah ‘memaksa’ wartawan bekerja keras demi keuntungan pemilik modal.
Namun, wartawan tidak menyadari proses tersebut karena kepatuhannya terhadap
proses kerja di media online. Penulis berharap hasil penelitian ini dapat
mengembangkan kesadaran sosial untuk memperbaiki kondisi kehidupan subyek
penelitian.
Metode penelitian dalam ilmu sosial, yaitu kualitatif dan kuantitatif.
Penulis ingin menunjukkan praktik kerja di media massa yang diatur oleh motif
mencari keuntungan. Data untuk penelitian ini bukan merupakan data yang bisa
diukur dengan statistik. Karena itu, penelitian ini menggunakan metode kualitatif
yang memberi peluang yang besar bagi dibuatnya interpretasi-interpretasi
alternatif.
Penggunaan metode kualitatif juga sejalan dengan paradigma kritis. Agus
Salim (2006:80) mengatakan, paradigma kritis memandang hubungan antara
periset dan objek sebagai hal yang tidak terpisahkan. Paradigma kritis
menekankan konsep subjektivitas dalam melakukan penelitian. Penelitian
kualitatif menekankan pada subyektivitas peneliti.
John W Creswell (2010:4-5) menjelaskan penelitian kualititatif
merupakan metode untuk mengeksplorasi dan memahami makna yang-oleh
sejumlah individu atau sekelompok orang-dianggap berasal dari masalah sosial
atau kemanusiaan. Proses penelitian kualitiatif ini melibatkan upaya-upaya
penting, seperti mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan prosedur-prosedur,
mengumpulkan data yang spesifik dari partisipan, menganalisis data secara
induktif mulai dari tema khusus ke tema umum, dan menafsirkan data.
Penelitian kualitatif menekankan pada pertanyaan penelitian untuk
mengarahkan peneliti. Pertanyaan penelitian menunjukkan konsep-konsep dalam
permasalahan penelitian. Menurut Robert K Yin (2002:7), pertanyaan penelitian
dapat membantu peneliti menentukan strategi penelitian yang akan digunakan.
Penulis mengajukan pernyataan, bagaimana kapitalisme baru yang menghasilkan
logika jangka pendek berdampak terhadap jurnalisme online?
Menurut Yin, penulis dapat menggunakan strategi studi kasus kalau
mengajukan pertanyaan ‘bagaimana’ atau ‘mengapa’. Yin (2002:9) menjelaskan
pertanyaan ‘bagaimana’ lebih mengarah pada hasil temuan yang eksplanatoris.
48
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Temuan tersebut berkenaan dengan kaitan-kaitan operasional yang menuntut
pelacakan waktu tersendiri, dan bukan sekedar frekuensi atau kemunculan.
Yin (2002:13) menyatakan syarat pemilihan studi kasus sebagi strategi
studi kasus tidak hanya berdasarkan pertanyaan penelitian yang dimulai dengan
‘bagaimana’ atau ‘mengapa’. Syarat lainnya, yaitu pertanyaan penelitian
diarahkan terhadap serangkaian peristiwa kontemporer sehingga peneliti hanya
memiliki peluang yang sangat kecil atau tidak mempunyai peluang sama sekali
untuk melakukan kendali terhadap peristiwa tersebut.
Penelitian ini terkait dengan logika yang mendasari praktik kerja di
media online berdampak pada jurnalisme online. Penulis berpendapat logika yang
mendasari praktik kerja di media online merupakan hal yang kontemporer atau
kekinian. Masalah tersebut masih berlangsung hingga kini. Penulis juga
menempatkan praktik kerja di media online yang menjadi subyek penelitian
sebagai kasus. Berdasarkan argumen tersebut, penelitian ini akan menggunakan
studi kasus sebagai strategi penelitian.
Creswell (2010:2) mengatakan, studi kasus merupakan strategi penelitian
di mana peneliti menyelidiki dengan cermat suatu program, peristiwa, aktivitas,
proses, atau sekelompok individu. Kasus-kasus dibatasi oleh waktu dan aktivitas.
Penulis akan menyelidiki dengan cermat aktivitas dan proses penyajian berita
media online. Aktivitas tersebut meliputi peliputan dan pengunggahan berita.
Untuk menentukan subyek penelitian, penulis memilih perusahaan media
online yang bisa memberikan data dan fakta paling kaya. Penulis memilih
Republika Online yang termasuk media online tertua di Indonesia. Republika
Online juga merupakan media online yang terafiliasi dengan media cetak, yaitu
Republika.
Penulis akan melakukan wawancara mendalam dengan wartawan
Republika Online serta observasi di Republika Online. Wartawan Republika
Online yang menjadi narasumber dalam penelitian ini, yaitu Redaktur Nasional
Erik Purnama Putra, Redaktur Nasional Esthi Maharani, Wakil Redaktur
Pelaksana Joko Sadewo, dan Redaktur Pelaksana Maman Sudiaman.
Penulis juga akan melakukan analisis isi terhadap berita-berita yang
ditayangkan Republika Online dalam periode waktu 7 sampai 10 Mei 2015.
Penulis memilih berita berdasarkan isu yang menjadi perhatian (hot topic)
Republika Online pada periode waktu tersebut. Isu-isu yang menjadi hot topic
pada kurun tersebut, yaitu desain kafe milik putra Presiden Joko Widodo, Gibran
Rakabuming Raka, kontroversi Sabda Raja Sulta Hamengku Buwono X, dan
prostitusi artis.
Penulis akan menganalisis berita dan wawancara dengan wartawan
Republika Online dengan logika jangka pendek milik Richard Sennett.
Hasil Temuan dan Diskusi
Republika Online Harus Terus Berubah
Republika Online merupakan situs berita pertama di Indonesia. Selama
13 tahun, Republika Online menjadi medium yang memuat ulang atau duplikasi
49
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
berita-berita yang telah dimuat di Harian Republika dengan cara lengkap. Tujuan
utama penerbitan Republika versi internet adalah untuk melayani pembaca yang
tidak terjangkau distribusi koran cetak dan untuk pembaca yang berada di luar
negeri.
Tujuan Republika Online tersebut seperti pernyataan Marshall McLuhan
bahwa medium atau teknologi untuk memperluas fungsi karena adanya
keterbatasan. Pada awal penerbitannya, Republika Online memperluas fungsi
distribusi Harian Republika sehingga masyarakat yang tidak terjangkau bisa
membaca berita-berita yang ditulis oleh wartawan Republika. Namun, Republika
Online tidak memperluas fungsi menyampaikan berita dengan cepat.
Determinasi teknologi dan ekonomi membuat Republika Online harus
mengubah tujuan tersebut. Determinasi teknologi, yaitu meningkatnya
penggunaan teknologi komunikasi. Determinasi ekonomi karena adanya tekanan
mendapatkan keuntungan.
Republika Online tidak bisa lagi hanya memperluas fungsi distribusi
Harian Republika. Republika Online harus pula memperluas fungsi
menyampaikan berita dengan cepat. Republika Online harus menjadi medium
yang berbeda dari Harian Republika dan menayangkan berita-berita berbeda
setiap detik.
Republika Online menganggap bahwa adaptasi tersebut sesuatu yang
wajar dan harus dilakukan karena perkembangan teknologi komunikasi. Sebab,
penggunaan teknologi komunikasi seperti telepon pintar, yang memungkinkan
setiap orang mengakses informasi di mana saja dan kapan saja, semakin
meningkat.
Semua harus ikut perkembangan teknologinya. Sekarang semua
orang pakai gagdget, enggak punya waktu untuk beli koran, ya udah tinggal
ekspansi aja ke media yang bisa diakses banyak orang. Peluangnya lebih
besar, pasarnya lebih besar. Dari online, bisa hidup juga. Bisa punya
pendapatan juga. Peluang bisnisnya memang ada. (Esthi Maharani, 2015)
Republika Online pun beralasan bahwa berbagai perubahan tersebut
untuk memenuhi kebutuhan pembaca atas informasi, dan berekspresi. Alasan
memenuhi kebutuhan pembaca tersebut merupakan kesadaran palsu yang
dibentuk kapitalisme baru. Determinasi teknologi tidak berjalan sendirian,
melainkan beriringan dengan determinasi ekonomi. Bahkan, ekonomi menjadi
landasan utama Republika Online mengubah tujuan utama penerbitan di internet.
Republika Online beradaptasi dengan perkembangan teknologi komunikasi,
mengubah tujuan utama penerbitan versi internet, melakukan perubahan struktur
dan pola kerja, untuk mendapatkan keuntungan bagi perusahaan dan terutama
pemilik modal (kapitalisme).
Dorongan beradaptasi dengan teknologi pun membuat Republika Online
melakukan perubahan struktur dan pola kerja. Ada dua hal yang menjadi
perhatian penulis untuk menunjukkan perubahan Republika Online berdasarkan
motif ekonomi, yaitu mencari keuntungan pemilik modal. Pertama, Republika
Online harus menjadi organisasi yang fleksibel sehingga mampu beradaptasi dan
50
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
melakukan perubahan terus-menerus. Kedua, perusahaan yang terus mengalami
perubahan membuat wartawan harus mampu berubah. Namun, perubahanperubahan tersebut memunculkan kecemasan (insecurity). Kecemasan itu
membuat wartawan berpikir dia bekerja demi kesejahtraan dirinya. Wartawan
tidak menyadari sebenarnya dia bekerja hanya keuntungan pemilik modal. Dalam
kondisi ini, wartawan pun teralienasi ketika melakukan pekerjaannya.
Determinasi ekonomi menuntut perusahaan untuk berubah, termasuk
perusahaan media massa. Perubahan yang dilakukan oleh perusahaan, di
antaranya adopsi perkembangan teknologi terbaru. Ini yang mempertemukan
determinasi ekonomi dan teknologi. Perusahaan media massa seperti Republika
harus beradaptasi dengan perkembangan teknologi komunikasi massa, yaitu
internet.
Ketika banyak orang menggunakan gadget maka penetrasi internet
meningkat. Ini membuka peluang bisnis bagi perusahaan media cetak untuk
melakukan ekspansi ke internet. Perusahaan media massa harus mengembangkan
media online menjadi entitas bisnis yang menguntungkan. Karena itu, Republika
pun mengikuti tren media cetak harus mengembangkan media online.
Ini industri yang tidak bisa kita lawan juga. Trennya media cetak
harus memiliki online. Mau enggak mau harus dikembangin, kedua-duanya
harus dikembangin. (Erik Purnama Putra, 2015)
Perubahan layanan berita Republika Online, yaitu dari medium yang
mempromosikan Harian Republika menjadi medium yang mengandalkan
kecepatan, mengubah penyajian berita. Republika Online menyajikan berita
dengan cepat, breaking news, stripping, dan pendek.
Republika Online ketika itu hanya mempromosikan berita-berita
yang ada di koran. Semua berita yang muncul di koran ditempel di media
online, tapi tidak ada berita yang model seperti sekarang, yang breaking
news, kecepatan mengikuti peristiwa baru. (Joko Sadewo, 2015)
Wartawan pun harus beradaptasi dengan cara kerja tersebut yang sesuai
dengan penyajian tersebut. Wartawan harus siap dengan pola kerja yang dinamis
dan berubah setiap saat. Ketika berita disajikan dengan cara breaking news
karena kecepatan berita harus mengikuti peristiwa baru maka wartawan pun
dituntut agar tidak ketinggalan menyajikan berita. Reporter tidak lagi berhadapan
dengan tenggat pengiriman berita (deadline) pada sore hari seperti yang berlaku
pada surat kabar, melainkan tenggat ‘setiap saat’.
Reporter harus segera mengirimkan berita setelah dia mendapatkan fakta,
baik peristiwa maupun komentar dari seorang narasumber. Reporter harus
kembali mengirimkan tulisan untuk melengkapi berita pertama. Ketika komentar
narasumber terlalu panjang, reporter juga harus bisa mengirimkannya secara
terpisah-pisah. Reporter pun harus terbiasa berpikir cepat, mengirimkan berita
dengan cepat, dan menuliskan informasi ringkas dengan cara memenggal
informasi karena berita harus segera ditayangkan.
51
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Reporter juga harus mengadopsi tren perangkat teknologi ketika
mengirimkan berita. Perangkat teknologi yang menjadi tren, yaitu perangkat yang
fleksibel dan dapat dibawa ke mana saja. Wartawan tidak bisa lagi mengolah
berita dengan perangkat yang tidak fleksibel seperti komputer desktop. Tuntutan
menyajikan berita dengan cepat mewajibkan wartawan menggunakan telepon
seluler pintar, tablet, atau netbook. Perangkat itu juga harus terkoneksi dengan
internet agar wartawan tidak mengalami kendala pengiriman berita dengan cepat.
Pengiriman berita dengan cepat tidak cukup bagi perusahaan. Wartawan
juga ‘terpaksa’ sepakat dengan konsep multiplatform, yaitu kewajiban menyuplai
berita untuk media cetak dan media online. Determinasi teknologi memunculkan
kecemasan profesi wartawan media cetak akan punah. Kecemasan profesi
wartawan cetak akan punah menggambarkan adanya ketakutan menghilangnya
keterampilan. Adanya kekhawatiran keterampilannya akan punah (skill
extinction) memunculkan prinsip ketidakgunaan (Sennett, 2006:4). Jika tidak
berguna maka wartawan bisa kehilangan pekerjaan.
Wartawan mengikuti logika perusahaan bahwa konsep multiplatform
merupakan jalan tengah agar profesi wartawan media cetak tetap langgeng dan
media online bisa mendatangkan keuntungan. Padahal, wartawan sedang
dimanfaatkan demi kepentingan bisnis pemilik modal.
Jurnalisme dengan Logika Jangka Pendek
Motif mencari keuntungan mendorong perusahaan media online untuk
menjadi institusi yang tidak kaku dan fleksibel. Perusahaan media online harus
mampu melakukan perubahan terus-menurun untuk beradaptasi dengan tren
terbaru, termasuk perkembangan teknologi.
Perusahaan yang fleksibel, pola kerja dinamis, dan keharusan
mengadopsi teknologi terbaru mendorong wartawan tidak lagi menyelesaikan
pekerjaan berdasarkan kemampuan yang dimiliki, melainkan tugas yang harus
diselesaikan. Logika jangka pendek membuat wartawan mengadopsi kepribadian
konsumen, yaitu berusaha mengkonsumsi tren terbaru. Gairah konsumsi
menggerakan pola konsumsi wartawan.
Selanjutnya, perusahaan media online dan wartawan menempatkan
informasi sebagai barang dagangan. Kuantitas informasi menjadi lebih penting
dalam komunikasi (Sennettt, 2006:172). Informasi yang mengandalkan kuantitas
dibandingkan kualitas ini pun meminggirkan prinsip jurnalisme yang sudah
berlangsung bertahun-tahun, sebelum perkembangan mdia online.
Kapitalisme baru yang dibangun dengan logika jangka pendek pun
berdampak pada penerapan prinsip dan nilai-nilai jurnalisme. Penulis akan
menunjukkan kekacauan penerapan prinsip jurnalisme oleh media online melalui
dua poin: jurnalisme dengan logika jangka pendek dan dilema wartawan.
Republika Online berusaha menyajikan berita sesuai dengan karakteristik
dan keinginan pembaca. Pembaca media online mengakses berita menggunakan
gadget atau perangkat teknologi yang mudah dibawa (mobile) dan terkoneksi
dengan internet. Ini mendorong media online hanya mengikuti logika penyajian
berita berdasarkan karakter internet, yaitu kecepatan. Kecepatan pun menjadi
52
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
‘dewa’ bagi perusahaan media online. Sebab, kecepatan menyajikan atau
mengunggah berita ini juga merupakan upaya untuk menarik dan
mempertahankan perhatian pembaca.
Saya melihatnya, (kecepatan) itu karena ngejar rating, viewer, dan
persepsi masyarakat bahwa media ini sering duluan sehingga bisa jadi media
rujukan. …Karena jualan media online itu kan kecepatan, bikin berita duluan,
isu yang enggak digarap media lain. Untuk menarik pembaca, kecepatan
nomor satu.
Logika jangka pendek ini membuat media online berada dalam tuntutan
agar tidak terlambat menyajikan berita, tidak didahuli media lain. Penyajian
berita mengandalkan kecepatan, yaitu kecepatan pengiriman berita mengikuti
peristiwa baru. Berita-berita dikirim dan diunggah dalam jeda waktu sedekat
mungkin dengan peristiwa yang terjadi atau wawancara narasumber.
Penyerahan konten terhadap karakteristik pembaca ini menunjukkan
transformasi berita menjadi komoditi atau barang dagangan. Berita yang menjadi
‘barang dagangan’ bukan berarti media online menjual berita kepada pembaca.
Pembaca bisa mengakses berita-berita Republika Online dengan gratis. Namun,
pembaca akan mempertahankan perhatiannya kalau penyajian berita sesuai
dengan keinginannya.
Media online menjadikan berita seperti apa yang disebut Dallas Smythe,
‘makan siang gratis’ untuk membujuk calon pembaca dan mempertahankan
perhatian mereka. Sebagai ‘makan siang gratis’, Smythe (dalam Meenakshi Gigi
Durham, Douglas M. Kellner: 2006:242) menyatakan, berita ditulis sesuai selera
calon pengunjung media online agar mereka tertarik mengunjungi situs.
Media online akan mendapatkan keuntungan dengan menjual data
pembaca kepada pengiklan. Agar pengunjung situs tidak turun, media online
mengadopsi logika jangka pendek. Ada enam hal untuk memahami penyajian
jurnalisme online mengikuti logika jangka pendek, yaitu berita ringkas, stripping,
sensasional, berbagi konten atau sharing content, topik terhangat (hot topic),
serta clickers dan viewers.
Simpulan
Media online berlomba menyiarkan yang sensasional atau superfisial
meski harus mengorbankan prinsip-prinsip jurnalisme agar pembaca, clickers,
atau viewers tidak mengalami penurunan. Persaingan membuat media online
menghalalkan semua cara untuk menyajikan berita paling cepat dan isu yang
berbeda.
Berita senasional dan bombatis merupakan bentuk terendah jurnalisme.
Straubhaar, LaRose, dan Lucinda Davenport (2014:484) juga menyatakan bahwa
sensasionalisme merupakan cara untuk memuaskan selera yang buruk.
Sensasionalisme juga bukan hal yang baru dalam dunia jurnalisme.
Sensasionalisme telah menjadi karakteristik jurnalisme kuning yang muncul
ketika Joseph Pulitzer dari New York World William Randolph Hearst dan New
53
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
York Journal bersaing memperbutkan sirkulasi atau oplah surat kabar. Persaingan
keduanya semakin memanas sehingga kedua surat kabar memanfaatkan segala
cara untuk mengubah berita yang membosankan menjadi sensasional. Kedua
surat kabar itu pun mengandalkan cerita penuh sensasi, detail seksual, dan grafis
pada 1890an.
Jurnalisme kuning adalah gaya jurnalistik yang digunakan untuk
mengumpulkan pembaca yang lebih banyak sehingga menekankan pada foto dan
pilihan cerita yang sensasional, dan sering kali hoax dan wawancara palsu. Hal
ini menyebabkan wartawan untuk melupakan etika karena mereka menggunakan
bahasa yang berbunga-bunga atau dengan kata lain penurunan kualitas jurnalistik
(Straubhaar, LaRose, dan Lucinda Davenport, 2014:95).
Tidak hanya jurnalisme kuning, kapitalisme baru pun telah menempatkan
wartawan sebagai sumber daya untuk dieksploitasi, bukan sebagai modal yang
perlu diperbaharui melalui pelatihan. Kapitalisme baru menukar kreativitas
wartawan dengan uang.
Penulis menyadari bahwa masih ada banyak hal yang belum diungkapkan
dari media online. Karena itu, penulis menganggap perlu ada penelitian lanjutan
terkait media online. Perlu ada penelitian lanjutan untuk mengetahui kredibilitas
media online terkait dengan konten yang mereka tawarkan dan terkait juga
dengan etika jurnalisme media online. Penelitian lanjutan lainnya terkait dengan
laman penyedia konten analisis seperti Alexa, Effective Measure, dan Google
Analytic. Penelitian lainnya seperti kanibalisme media cetak dan media online.
Saran praktis, perusahaan media online harus mengubah pola kerja yang
menempatkan wartawan sebagai pekerja untuk dieksploitasi. Perusahaan media
online harus mengubah penilaian pada produktivitas. Sebab, sistem tersebut
memunculkan ketidakadilan dan justru memenjara wartawan pada keharusan
mengirim berita sebanyak-banyaknya.
Daftar Pustaka
Buku
Agus, Salim. 2005. Teori dan Paradigma Penelitan Sosial. Yogyakarta: Tiara
Wacana.
Berkman, Robert I, dan Christopher A Shumway. 2003. Digital Dilemmas:
Ethical Issues for Online Media Professionals. Iowa: Iowa State Press.
Borden, Sandra. 2010. Journalism as Practice: MacIntyre, Virtue Ethics and the
Press. York: Routledge.
Boiko, Bob. 2005. Content Management Bible (2nd Edition). Indianapolis: Wily
Publishing.
Craig, Richard. 2005. Online Journalism: Reporting, Writing, and Editing For
New Media. Thomson-Wadsworth.
Creswell, John W. Penerjemah Achmad Fawaid. 2009 (Edisi Ketiga). Research
Design: Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed.
Denzin, NK, dan Lincoln YS (Ed). 1994. Handbook of Qualitative Research.
London: Sage Publication.
54
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Dominick, Joseph R. 2009 (tenth edition). The Dynamics of Mass
Communication: Media in the Digital Age. New York: McGraw-Hill.
Doogan, Kevin. 2009. New Capitalism?: The Transformation of Work.
Cambridge: Polity Press.
Durham, Meenakshi Gigi, dan Douglas M Keller. 2006. Media and Cultural
Studies: Keyworks. Blackwell Publishing.
E Kristi, Poerwandari. 2007 (edisi ketiga). Pendekatan Kualitatif untuk
Penelitian Perilaku Manusia. Depok: Lembaga Pengembangan Sarana
Pengukuran dan Pendidikan Psikologi (LPSP3).
Fidler, Roger. 2003. Terjemahan Hartono Hadikusumo. Mediamorfosis:
Memahami Media Baru. Yogyakarta: Bentang Budaya.
Flew, Terry. 2005 (Second Edition). New Media: An Introduction. Oxford:
Oxford University Press.
Grant, August E, dan Jennifer H Meadows (Ed). 2010 (12th edition).
Communication Technology Update and Fundamentals. Oxford: Focal Press.
Griffin, EM. 2012 (eight edition). A First Look at Communication Theory. New
York: McGraw-Hill.
Haryatmoko. 2007. Etika Komunikasi: Manipulasi Media, Kekerasan, dan
Pornografi. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Ignatius, Haryanto. 2014. Jurnalisme Era Digital: Tantangan Industri Media
Abad 21. Jakarta: Kompas.
Kovach, Bill, dan Tom Rosentiel. Terjemahan Yusi A Parenom. 2006. The
Elements of Journalism. Jakarta: Yayasan Pantau.
Littlejohn, Stephen W, dan Karen Foss (Ed). 2009. Encyclopedia of
Communication Theory. California: Sage Publication.
Margawati, Van Eymeren. 2014. Media Komunikasi dan Dampaknya terhadap
Kebudayaan: Analisis Atas Pandangan Herbert Marshall McLuhan. Jakarta:
Pusat Kajian Filsafat dan Pancasila.
McLuhan, Marshall. 2001. Understanding Media: The Extensions of Man.
London and New York: Routledge.
McQuail, Denis. 2010 (Sixth Edition). Mass Communication Theory. Sage
Publications.
Patton, Michael Quinn. 2002 (Third Edition). Qualitative Research and
Evaluation Methods. Sage Publication.
Mosco, Vincent. 2009. The Political Economy of Communication. Sage
Publications.
Postman, Neil. 1993. Technopoly: The Surrender of Culture to Technology. New
York: Random House.
Sennet, Richard. 2006. The Culture of the New Capitalism. New Haven dan
London: Yale University Press.
Strubhaar, Joseph. LaRose, Robert. Davenport, Lucinda. 2013 (Seventh Edition).
Media Now: Understanding Media, Culture, and Technology. Boston:
Wadsworth.
55
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Van Dijk, Jan AGM. 2006. The Network Society: Social Aspects of New Media.
Second Edition. London: Sage Publication.
Wayne, Mike. 2003. Marxism and Media Studies: Key Concepts and
Contemporary Trends. London dan Virginia: Pluto Press.
Yin, Robert K. Terjemahan M Djauzi Mudzakir. 1996. Studi Kasus: Desain dan
Metode. Jakarta: Rajawali Pers.
Jurnal
Babe, Robert. 2008. Innis and the Emergence of Canadian
Communication/Media Studies. Global Media Journal, Volume 1, Issue 1, pp.
9-23. http://www.gmj.uottawa.ca/0801/inaugural_babe.pdf.
Burkitt, Ian. 2005. Situating Auto/biography: Biography and Narrative in the
Times and Places of Everyday Life. Auto/Biography 2005; 13: 93–110.
http://autobiography.stanford.clockss.org/aub_2005_13_2/10.1191_0967550
705ab025oa.pdf.
Comor, Edward. Harold Innis and the Bias of Communication. Taylor and
Francis Group Journals. www.tandfonline.com/doi/pdf/10.1080/713768518.
Dahlan, M Alwi. 2012. The New Media and Islam: Communication
Characteristics and Dynamics. Journal Communication Spectrum, Volume 2
Nomor 2 Februari-Juli 2012.
Fuchs, Christian. 2012 Dallas Smythe Today - The Audience Commodity, the
Digital Labour Debate, Marxist Political Economy and Critical Theory.
Prolegomena to a Digital Labour Theory of Value. tripleC: Cognition,
Communication, Co-operation Journal. Volume 10 Issue 2 p. 692-740.
http://citeseerx.ist.psu.edu/viewdoc/download?doi=10.1.1.477.2523&rep=rep
1&type=pdf.
Mosco, Vincent. Current Trends in the: Political Economy of Communication.
Global Media Journal -- Canadian Edition, Volume 1, Issue 1, pp. 45-63,
2008. http://www.gmj.uottawa.ca/0801/inaugural_mosco.pdf.
Publikasi Online
J. Heru Margianto dan Asep Syaefullah. November 2013. Media Online:
Pembaca, Laba, dan Etika Problematika Praktik Jurnalisme Online di
Indonesia. Jakarta: Aliansi Jurnalis Independen Indonesia. Diunduh pada 5
September 2014.
Berita
Anwar Khumaini. Merdeka.com 7 Februari 2014 19:05 WIB. Digempur media
online,
media
cetak
di
Indonesia
makin
ditinggal.
http://www.merdeka.com/peristiwa/digempur-media-online-media-cetak-diindonesia-makin-ditinggal.html diakses pada 21 Oktober 2014.
Alan Pamungkas. Okezone.com. Kamis, 24 Juli 2014 20:03 WIB.
http://celebrity.okezone.com/read/2014/07/24/33/1017776/dewan-pers-namabaik-ahmad-dhani-harus-dipulihkan diakses pada 21 Oktober 2014
56
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Anindya Lanindya Legia Putri. Tempo.co. Senin, 21 Juli 2014 20:09 WIB. Berita
Potong
Kelamin,
Ahmad
Dhani
ke
Dewan
Pers.
http://www.tempo.co/read/news/2014/07/21/219594731/berita-potongkelamin-ahmad-dhani-ke-dewan-pers diakses pada 21 Oktober 2014
Erik Purnama Putra. Republika.co.id. Rabu, 26 Juli 2014 10:54 WIB. Ahmad
Dhani Bersumpah Potong Kemaluan Kalau Jokowi Menang Menang?
http://www.republika.co.id/berita/pemilu/berita-pemilu/14/07/21/n8sdiuahmad-dhani-bersumpah-potong-kemaluan-kalau-jokowi-menang
diakses
pada 16 November 2014
INA. Kompas.com. Jumat, 17 Desember 2010 09.23 WIB. Perangkat Pemasaran
Saat
Ini
http://regional.kompas.com/read/2010/12/17/09233276/Perangkat.Pemasaran
.Saat.Ini diakses pada 14 November 2014
Willem Jonata, Willy Widianto. Tribunews.com. Senin, 21 Juli 2014, pukul
19:53 WIB. Ahmad Dhani Laporkan 17 Media Online ke Dewan Pers.
http://www.tribunnews.com/pemilu-2014/2014/07/21/ahmad-dhani-laporkan17-media-online-ke-dewan-pers diakses pada 21 Oktober 2014
57
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
DAMPAK PENGGUNAAN SMARTPHONE PADA PERUBAHAN
PERILAKU ANAK
Taufik Suprihatini
Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UNDIP
[email protected]
Abstract
Rapid technological developments give a particular impact on use of
smartphone. Most recent applipcation or innovation that has always appeared
make active smartphone users try to update old application in order to open the
latest features. It is consciously or unconsciously, the users of this smartphone
has entered into a virtual world without limits of space and time. Because of the
advantages of this media, smartphone users have penetrated to kindergarten,
elementary and junior high schools students, especially those in urban areas.
Most of them are already equipped a smartphone by their parents. For adults, the
use of smartphone are likely to be controlled according to their desire and need.
But what about the use of smartphone by children? Those who have recently
grow and develop a very large curiosity, they might not be able to release the
smartphone from his grasp. When the use of smartphone to be so intense, then
what is the impact of smartphone on the social aspects, related to the children's
behavior. This aim of this study is to describe of the impact of smartphones
usage on children behavior changes. The researcher used survey research
method. Media Equation Theory and Uses and Gratification Theory are theories
that are used to assess the study. The population of study was all students in SMP
Negeri 1 Semarang, aged 13-15 years as sample. The sampling technic used was
probability sampling, with a simple random sampling method with the
assumption that all students have a smartphone. The researcher concluded that
the intensity of the students in SMP Negeri 1 in using Smartphone is not too high
and the duration in using Smartphone is not too long. It related to applications of
smartphone that are frequently opened i.e listening to music, self photos, take
photos with friends, sms, play games, calculator, Line, Instagram, Film,
Facebook, BBM, e-mail. Children who are already using a smartphone intensely
have difficulty to share their time. It causes negative behaviors such as lack of
concentration to study, a lot of time is spent just to play games, too lazy to do to
tasks / homeworks. Because the smartphone have become part of students daily
activities, then when the students are not using smartphone in a single day, many
feelings occurred to them such anxious feelings because they can not
communicate with the parents, anxious feeling because they can not
communicate with friends, feeling confused about what to do and feeling like
something is missing. But behind the negative impact arising from the use of
smartphone, actualy smartphones can provide benefits for the children, such as
to help them to do the tasks or homeworks, help to find out the latest information,
find information from the outside world easily, they will not unresponsive to
58
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
technology, obtain various facilities to support their daily lives, and as a
information center in scientific activities,
Key words: Smartphone, Changes in behavior, children
Abstrak
Perkembangan teknologi yang demikian pesat memberikan imbas khususnya
pada penggunaan smartphone. Aplikasi terbaru atau inovasi yang selalu muncul
menjadikan para pengguna aktif smartphone berusaha untuk memperbaharui
aplikasi yang lama agar selalu dapat membuka fitur-fitur terbaru. Disadari atau
tidak, para pengguna smartphone ini sudah masuk kedalam sebuah dunia maya
tanpa batas ruang dan waktu. Karena kelebihan yang ada pada media ini,
menyebabkan pengguna smartphone sudah merambah kepada anak-anak TK,SD
dan SMP khususnya yang berada di perkotaan. Mereka sebagian besar sudah
dibekali smartphone oleh orang tuanya.Bagi orang dewasa, penggunaan
smartphone kemungkinan besar dapat dikendalikan sesuai dengan keinginan atau
kebutuhannya. Namun bagaimana penggunaan smartphone ini oleh anak-anak.
Mereka yang baru saja tumbuh dan berkembang, dan rasa keingintahuannya
masih sangat besar bisa jadi tidak bisa melepaskan dari genggamannya. Apabila
penggunaan smartphone menjadi begitu intens, lalu sejauhmana dampak
smartphone pada aspek-aspek sosial, terkait dengan perilaku anak. Penelitian ini
bertujuan untuk mendeskripsikan Dampak Penggunaan Smartphone Pada
Perubahan Perilaku Anak. Media Equation Theory dan Uses and Gratifications
Theory merupakan teori yang digunakan untuk mengkaji penelitian ini, dengan
metode penelitian survai. Populasi penelitian adalah seluruh siswa di SMP
Negeri 1 Semarang, dengan sampel anak yang berusia 13-15 tahun.Teknik
pengambilan sampel yang digunakan adalah probability Sampling, dengan
metode simple random sampling dengan asumsi semua siswa
memiliki
smartphone. Dalam penelitian ini diambil kelas 7 dan kelas 8, dimana masingkelas ada 9 kelas dan masing-masing kelas berjumlah 32 orang. Dengan
menggunakan rumus Frank Lynch, diperoleh jumlah responden sebesar 85
orang. Penelitian ini menyimpulkan bahwa anak-anak di SMP Negeri 1
Semarang memiliki intensitas menggunakan Smartphone cukup tinggi, dengan
durasi yang cukup lama. Intensitas yang cukup tinggi terkait dengan aplikasi
yang sering dibuka yakni mendengarkan musik, mengambil foto sendiri,
mengambil foto dengan teman, SMS-an, game, kalkulator, Line, Instagram,
Film, Facebook- an, BBM, e-mail/g-mail. Anak-anak yang sudah begitu intens
menggunakan smartphone, sangat sulit bagi mereka untuk membagi waktu,
sehingga menimbulkan perilaku negatif seperti kurangnya konsentrasi untuk
belajar, banyak waktu yang dihabiskan hanya untuk bermain game, juga sikap
malas mengerjakan tugas / PR. Karena smartphone dirasakan sudah menjadi
bagian dari aktivitas sehari-hari, maka ketika anak-anak tidak menggunakan
smartphone dalam satu hari saja berbagai perasaan muncul dalam dirinya seperti
perasaan cemas karena tidak dapat berkomunikasi dengan orangtua, perasaan
cemas karena tidak bisa berkomunikasi dengan teman perasaan bingung mau
berbuat apa, dan perasaan seperti ada yang hilang. Namun dibalik dampak
59
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
negatif yang muncul akibat penggunaan smartphone, ternyata smartphone juga
dapat memberikan manfaat bagi anak-anak seperti dapat membantu mereka
mengerjakan tugas atau PR, dapat membantu untuk mengetahui informasi terkini,
dapat mengetahui infomasi dari dunia luar dengan mudah, tidak akan gagap
teknologi, memperoleh berbagai fasilitas untuk menunjang kehidupan mereka
sehari-hari, sebagai sumber informasi dalam kegiatan ilmiah,
Kata kunci: Smartphone, perubahan perilaku , anak
Pendahuluan
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rasa keprihatinan peneliti akan
banyaknya pengguna smartphone dikalangan anak-anak. Hampir setiaphari
mereka bermain dengan smartphone tanpa henti, seolah-olah hanya smartphone
tempat mereka bermain.Telepon pintar yang sering disebut dengan telepon
seluler, handphone, smartphone atau gadget sekarang ini bukanlah barang
mewah,karena hampir setiap individu memilikinya dan jumlah yang dimilikinya
cukup fantatstis, ada yang memiliki lebih dari 1 buah. Sebagaimana yang
dikatakan Dirjen Informasi dan Komunikasi bahwa jumlah gadget yang beredar
di Indonesia saat ini mencapai 240 juta. Angka ini melebihi jumlah penduduk di
tanah air yang hanya di kisaran 230 juta. Secara total, tingkat penggunaannya
mencapai 67%. Menurut Freddy H. Tulung di Pontianak selaku Dirjen Informasi
dan
Komunikasi
Publik
Kemenkominfo,
Pulau
Jawa
mendominasi kememilikan smartphone dengan rata-rata dua gadget per orang.(
http://sidomi.com/175258/jumlah-gadget-di-indonesia-melebihi-total-populasipenduduk/ diunduh tgl 31 Januari 2016, pk. 21.28)
Julukan yang diberikan masyarakat tidaklah salah karena media tersebut
benar-benar dapat memberikan kepuasan bagi pemiliknya, karena segala rencana,
keinginan, harapan atau kebutuhannya semuanya tanpa terkecuali dapat
terpenuhi, seakan akan media tersebut memahami apa yang dirasakan
pemiliknya.
Dengan kehidupan yang semakin modern ini menjadikan
keberadaan media pintar ini semakin digandrungi karena kelebihan dan
kemampuan yang melekat dan menjadikan segala aktivitas seolah-olah menjadi
lebih praktis dan mudah. Kemampuan yang dimilikinya antara lain sebagai sarana
berkomunikasi secara langsung maupun melalui sms, selain itu juga dapat
bekerja layaknya sebuah komputer dimana dengan fungsi PDA (personal digital
assistant), diantaranya dapat untuk mengirim email/g-mail mengakses web,
mengakses facebook, twitter, blackberry messanger, memutar musik, film,
bermain games, membuat video dsb. Dengan demikian hadirnya beragam fitur
menarik ini semakin "mengikat" pengguna agar terus bermain
dengan smartphone-nya sehingga bisa menjadi kecanduan. Kecanduan
menggunakan smartphone bukan hal yang baik. Menurut informasi yang dilansir
laman Press Examiner, Kamis (1/10/2015), kecanduan menggunakan smartphone
secara berlebih disebut dalam istilah nomophobia, yakni semacam gangguan
yang terjadi ketika penggunanya khawatir saat ia tidak memegang smartphone-
60
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
nya. (tekno.liputan6.com/read/2329307/ makin-banyak-remaja-di-asia-yangkecanduan-smartphone, diakses tgl 31 Januari 2016, pk. 21.37).
Kecanduan menggunakan smartphone ini dapat dilihat pada di setiap
rumah, dimana di dalam rumah masing-masing anak asyik memainkankan
smarthphonenya, seakan-akan tidak ingin kehilangan waktu walau se detikpun.
Sehingga ketika para pengguna smartphone ini dikatakan sudah mulai
kecanduan, maka akan menimbulkan perasaan-perasaan tertentu yang tentunya
merugikan diri mereka sendiri. Meski dari berbagai media yang ada masyarakat
masih mengandalkan televisi sebagai media utama dibanding media lain untuk
mengakses informasi, namun Smartphone masih berada di posisi kedua dan radio
di
tempat
ketiga.(http://sidomi.com/175258/jumlah-gadget-di-indonesiamelebihi-total-populasi-penduduk/diakses tgl 31 Januari 2016, pk 21.30). Hal ini
berarti smarthphone masih menjadi andalan yang utama untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya. Dengan adanya rasa kekhawatiran apabila tidak
menggunakan smarthphone dalam satu hari terutama pada anak-anak, tentunya
hal ini akan berdampak pada perubahan perilaku mereka dalam kesehariannya.
Artinya kecanduan menggunakan smarthphone secara intens pastinya akan
merubah pola perilaku dan pola pikir mereka. Dari uraian diatas peneliti ingin
mengetahui sejauhmana dampak penggunaan smartphone yang digunakan secara
intens pada perubahan perilaku pada anak-anak di kota Semarang.
Tinjauan Pustaka
Media Equation Theory
Teori ini diperkenalkan oleh Byron Reeves dan Clifford Nass dalam
tulisannya The Media Equation: How People Treat Computers, Television, and
New Media Like Real People and Places pada tahun 1996. Media Equation
Theory ingin menjawab persoalan mengapa orang-orang secara tidak sadar dan
bahkan secara otomatis merespons apa yang dikomunikasikan media, seolah-olah
(media itu) manusia. Menurut asumsi teori ini, media diibaratkan manusia. Teori
ini memperhatikan bahwa media juga bisa diajak berbicara. Media bisa menjadi
lawan bicara individu seperti dalam komunikasi interpersonal yang melibatkan
dua orang dalam situasi face to face. Ketika manusia berbicara (meminta
pengolahan data) dengan komputer, seolah-olah komputer itu manusia. Manusia
juga menggunakan media lain untuk berkomunikasi. Bahkan manusia berperilaku
secara tidak sadar seolah-olah media itu manusia. Sebagaimana dalam
komunikasi interpersonal, misalnya, manusia bisa belajar dari orang lain, bisa
dimintai nasihat, bisa dikritik, bisa menjadi penyalur kekesalan atau kehimpitan
hidup. Apa yang bisa dilakukan pada manusia, hal ini juga bisa dilakukan oleh
media massa. Layaknya manusia, media bisa melakukan apa saja yang
dikehendakinya bahkan bisa jadi lebih dari itu.
Selanjutnya media bahkan dianggap seperti kehidupan nyata (media and
real life are the same). Melalui komputer manusia bisa berbuat apa saja, bisa
mencari hiburan dengan permainan yang disediakan, manusia bisa menjelajah ke
seluruh dunia dengan perantaraan internet, manusia bisa berkirim surat secara
61
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
cepat melalui e-mail dengan teman yang ada di negara lain, dan bisa
menghabiskan waktu berjam-jam untuk mencari kebutuhannya. Teori ekuasi
media menemukan kebenarannya ketika digunakan untuk mengamati aktivitas
manusia. (Nurudin, 2007:178-181)
Media Siber sebagai Media Komunikasi
Internet merupakan media komunikasi yang penting, karena salah satu
dari karakteristik tersebut adalah sifat jejaring (network). Jejaring ini tidak hanya
diartikan sebagai infrastruktur yang menghubungkan antar komputer dengan
perangkat keras lainnya, namun juga menghubungkan antar individu (Hasan dan
Thomas, 2006, 2005: 16; Gane dan Beer, 2008:16 dalam Nasrullah, 2014:75).
Hubungan atau jejaring itu tidak hanya bertipe koneksi dengan dua individu,
tetapi juga bisa melibatkan jumlah individu yang bahkan tidak dibatasi.
Karakter yang kedua yaitu interaksi. Interaksi atau interactivity merupakan
konsep yang sering digunakan untuk membedakan antar media baru digital
dengan media tradisional yang menggunakan analog (Graham, 2004; Lev
Manovich, 2001; Spiro Kiouis, 2002 dalam Nasrullah, 2014 : 76). Bagi Graham
interactivity merupakan salah satu cara yang berjalan diantara pengguna dan
mesin (teknologi) dengan memungkinkan para pengguna maupun perangkat
saling terhubung secara interaktif. Kehadiran teknologi komunikasi pada
dasarnya memberikan kemudahan bagi siapapun yang menggunakan teknologi
untuk saling berinteraksi, saling terhubung dalam waktu yang bersamaan, bahkan
teknologi telah mewakili kehadiran dan/atau keterlibatan fisik dalam
berkomunikasi. Teknologi telah memediasi segala aktivitas manusia. Perbedaan
wilayah misalnya tidak lagi menjadi kendala bagi 2 orang untuk melakukan
komunikasi secara langsung; kehadiran skype, situs, perbincangan langsung (live
chat) melalui video memungkinkan
diantara pengguna untuk saling
berkomunikasi langsung sekaligus melihat ekspresi wajah mereka melalui
webcam atau kamera yang terhubung ke internet (Graham 2004:11, dalam
Nasrullah, 2014: 76)
Smartphone
Teknologi telepon genggam berkembang tidak hanya sebagai perangkat
untuk berkomunikasi seperti telepon atau SMS semata, namun alat ini kini telah
dilengkapi oleh perangkat yang memungkinkan warga bisa terkoneksi dengan
internet (smartphone). Perangkat telepon pintar (smartphone) umumnya
dilengkapi dengan dengan kamera untuk mengambil foto atau merekam video,
perangkat perekam suara, perangkat lunak mulai dari mengolah dokumen hingga
foto, dan juga sambungan internet. Provider atau penyedia layanan ini juga
menyediakan semacam toko aplikasi yang bisa diunduh oleh pengguna untuk
mendukung koneksi layaknya komputer pribadi (personal computer).Aplikasi
pesan melalui telepon genggam atau bahkan melalui telepon pintar (smartphone)
juga bisa dilihat dari cara kerja seperti Line, Kakao Talk, atau WhatsApp yang
menampilkan tidak hanya pesan (percakapan) teks, tetapi juga data pesan yang
beragam dari audio, visual dan sebagainya. Meski cara kerja dari aplikasi ini bisa
62
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
juga dimasukkan dalam kategori peer-to-peer atau chatroom serta dapat pula
diakses melalui perangkat komputer tablet, namun desain aplikasi ini lebih
banyak dimanfaatkan pada perangkat telepon genggam. (Nasrullah, 2014:31)
Uses and Gratifications Theory
Herbert Blumer dan Elihu Katz sebagai orang pertama yang
mengenalkan teori ini pada tahun 1974 dalam bukunya The Uses on Mass
Communications: Current Perspectives on Gratification Research mengatakan
bahwa pengguna media memainkan peran aktif untuk memilih
dan
menggunakan media tersebut. Pengguna media berusaha untuk mencari sumber
media yang paling baik didalam usaha memenuhi kebutuhannya, dengan kata lain
pengguna mempunyai pilihan alternatif untuk memuaskan kebutuhannya. Teori
Uses and Gratificaions lebih menekankan pada pendekatan manusiawi dalam
melihat media massa. Artinya manusia itu mempunyai otonomi, wewenang untuk
memperlakukan media. Menurut Blummer dan Katz bahwa tidak hanya ada satu
jalan bagi khalayak untuk memilih media. Konsumen media mempunyai
kebebasan untuk memutuskan bagaimana (melalui media mana) mereka
menggunakan media dan bagaimana media itu akan berdampak pada dirinya.
Manusia bisa memahami interaksi orang dengan media melalui pemanfaatan
media (uses) oleh orang itu dan kepuasaan yang diperoleh (gratification).
Gratifikasi yang sifatnya umum antara lain pelarian dari rasa khawatir, peredaan
rasa kesepian, dukungan emosional, perolehan informasi, dan kontak sosial.
Teori ini juga menyatakan bahwa media dapat juga mempunyai pengaruh jahat
dalam kehidupan. (Nurudin, 2007: 192-193)
Uses and Gratifications Theory (kegunaan dan kepuasan) merupakan
salah satu bentuk efek sekunder yang ditimbulkan saluran komunikasi massa.
Menurut Swanson (1979) ide dasar yang melatarbelakangi efek ini adalah bahwa
audience aktif dalam memanfaatkan media massa. Individu tidak secara spontan
dan otomatis merespons pesan-pesan media massa. Individu menggunakan isi
media tersebut untuk memenuhi tujuan mereka di dalam usaha menikmati media
massa. Tujuan tersebut akan disesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan
individu masing-masing. Jika kebutuhan sudah terpenuhi melalui saluran
komunikasi massa, berarti individu mencapai tingkat “kepuasan” (Keith
R.Stamm dan John E. Bowes, 1990 dalam Nurudin, 2007: 210-211).
Metodologi
Metode penelitian yang digunakan adalah metode survai dengan
mengintegrasikan pendekatan penelitian deskriptif kuantitatif dan kualitatif.
Dalam penelitian ini lebih menekankan pada pendekatan kuantitatif, sedangkan
pendekatan kualitatif digunakan untuk mendapatkan jawaban yang lebih dalam.
Adapun populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa di SMP Negeri 1
Semarang.
Sedangkan sampel penelitian adalah anak remaja yang berusia 13-15
tahun yang masih duduk dibangku SMP di kota Semarang dan menggunakan
63
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Smartphone secara intens, dengan teknik pengambilan sampel Probability
Sampling, dengan metode simple random sampling. Dalam penelitian ini diambil
kelas 7 dan kelas 8, dimana masing-kelas ada 9 kelas dan masing-masing kelas
berjumlah 32 orang. Jumlah keseluruhan adalah 576 orang
Dengan menggunakan rumus Frank Lynch, maka jumlah responden yang
diperoleh 85 orang
Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara secara
terstruktur dan semiterstruktur.
Analisis dan Interpretasi Data menggunakan Uji Reliabilitas dan uji
validitas. Pada uji reliabilitas ini, akan dilihat apakah suatu kuesioner tepat,
konsisten, dan dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data.
Pada riset deskriptif, analisis data yang digunakan adalah analisis univariat yakni
analisis terhadap satu variabel dan menggunakan statistik deskriptif (Kriyantono,
2010:168). Statistik deskriptif digunakan untuk menggambarkan peristiwa,
perilaku atau objek tertentu lainnya antara lain dengan Tabel (Distribusi)
Frekuensi, Tendensi Sentral, dan Standar Deviasi.
Kualitas Penelitian (goodnes criteria) diukur dengan instrumen yang
valid dan reliabel. Intrumen yang valid artinya alat ukur yang digunakan untuk
mendapatkan data (mengukur) itu valid. Dengan kata lain instrumen tersebut
dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Instrumen yang
reliabel adalah instrumen yang bila digunakan untuk mengukur beberapa kali
untuk mengukur obyek yang sama akan menghasilkan data yang sama.
Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini memiliki kelemahan antara lain tidak fleksibel, ada
pertanyaan tidak terjawab karena responden dalam penelitian ini adalah para
siswa SMP yang kurang dapat mengingat informasi atau menjawab pertanyaan
secara baik dan benar
Hasil Temuan dan Diskusi
Responden yang mayoritas perempuan (53 orang), sebagian besar berusia
13 tahun (41 orang/ 48,23%) dan 12 tahun (34 orang/40%), sisanya berusia 14
tahun (8 orang/9,41%) dan 11 tahun (2 orang/2,35%). Sebagian besar responden
menggunakan smartphone dengan brand Samsung (38,82 % ) dan OPPO
(12,94%), dan sisanya menggunakan brand Asus, Xiaomi, Apple, Smartfren,
lenovo dll. Alasan mereka memiliki smartphone karena memberikan manfaat
yang cukup banyak yakni dapat membantu mengerjakan tugas atau pekerjaan
rumah (80%), dapat membantu untuk mengetahui informasi terkini (52,94%),
tidak gagap teknologi (52,94%), memperoleh berbagai fasilitas untuk menunjang
kehidupan mereka sehari-hari (50,59%), mencari sumber informasi dalam
kegiatan ilmiah mereka (50,59%), merasa lebih mudah bergaul dengan teman
mereka (41,18%)
Faktor yang mempengaruhi responden memiliki smartphone adalah
saudara (60%), teman (56,47%) dan orang tua (50,59%). Waktu yang digunakan
64
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
untuk menggunakan smartphone seringkali pada siang, sore dan malam hari,
sedangkan pagi hari responden mengatakan kadang-kadang saja. Intensitas
Penggunaan smartphone yang paling lama adalah <10 kali 38,82%, dan 11-20
kali adalah 30,58%, Durasi sekali menggunakan adalah 30 menit (35,29%), > 1
jam (28,23%), 1 jam (25,88%), Aplikasi yang sering dibuka adalah
mendengarkan lagu/musik (100%), mengambil foto (94,11%), SMS (91,76%),
game (90,59%), kalkulator (84,71%), Line (82,35%), Instagram (77,64%), Film
(71,76%), Facebook (71,76%), BBM (67,06), e-mail/g-mail (67,05%),
musik/lagu (45,88%), mengambil gambar teman (45,88%), mengambil gambar
teman (38,82%),
Hal - hal yang terjadi saat asyik sendiri dengan smartphone mereka,
kurangnya konsentrasi untuk belajar (77,65%), menghabiskan waktu hanya untuk
bermain game (77,65%), malas mengerjakan tugas / PR (54,12%), malas
mengerjakan pekerjaan rumah (40%). Hal-hal yang dirasakan apabila tidak
menggunakan smartphone dalam satu hari adalah ada perasaan cemas karena
tidak dapat berkomunikasi dengan orangtua (80%), ada perasaan cemas karena
tidak bisa berkomunikasi dengan teman (62,35%), perasaan bingung mau berbuat
apa (58,82%), seperti ada yang hilang (54,12%).
Diskusi
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa dari 85 responden,
sebanyak 38,82% menggunakan smartphone sebanyak < 10 kali, sedangkan yang
lebih dari 10 kali hanya 30,58 %. Meskipun frekuensi penggunaan smartphone
rendah, namun mereka memanfaatkan penggunaan smartphone semaksimal
mungkin. Hal ini terbukti dengan banyaknya aplikasi atau fitur yang dibuka
seperti mendengarkan musik (100%), mengambil foto (94,11%), SMS (91,76%),
game (90,59%), kalkulator (84,71%), Line (82,35%), Instagram (77,64%), Film
(71,76%), Facebook (71,76%), BBM (67,06), e-mail/g-mail (67,05%),
musik/lagu (45,88%), mengambil gambar bersama teman (45,88%), mengambil
gambar teman (38,82%). Bahkan ketika responden asyik dengan smartphone
mereka, mereka menjadi memiliki perilaku yang kurang baik seperti kurangnya
konsentrasi untuk belajar (77,65%), menghabiskan waktu hanya untuk bermain
game (77,65%), malas mengerjakan tugas / PR (54,12%), malas mengerjakan
pekerjaan rumah (40%). Hal ini seperti yang dinyatakan dalam Media Equation
Theory bahwa media diibaratkan manusia, media juga bisa diajak berbicara.
Media bisa menjadi lawan bicara individu seperti dalam komunikasi
interpersonal yang melibatkan dua orang dalam situasi face to face. Ketika
manusia berbicara (meminta pengolahan data) dengan komputer, seolah-olah
komputer itu manusia. Bahkan manusia berperilaku secara tidak sadar seolaholah media itu manusia. Sebagaimana dalam komunikasi interpersonal, misalnya,
manusia bisa belajar dari orang lain, bisa dimintai nasihat, bisa dikritik, bisa
menjadi penyalur kekesalan atau kehimpitan hidup.
Penelitian yang dilakukan Beauty Manumpil, Yudi Ismanto, Franly
Onibala mengenai Hubungan penggunaan Gadget Dengan Tingkat Prestasi Siswa
65
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
di SMA Negeri 9 Manado 2015 menunjukkan bahwa dari 41 responden sebanyak
18 responden menggunakan gadget lebih dari 11 jam perhari dan gadget
digunakan untuk browsing bahkan paling banyak digunakan untuk bermain game
online dan untuk mengakses berbagai media sosial yang ada ( Instagram, Path,
Facebook, twitter), mereka cenderung memiliki gadget untuk mengikuti trend
yang ada saat ini (Hasella, 2013).Penggunaan gadget yang terlalu lama dapat
berpengaruh pada konsentrasi anak, selama jam pelajaran berlangsung dapat
dilihat dampak dari tingkat prestasi anak di sekolah, dalam Internasional Journal
Of Neuroscience bahwa gadget / Handphone dapat menganggu fungsi kerja otak
manusia yaitu dengan melemahnya daya kerja otak atau lemah otak. Sebagaian
besar yakni 30 responden menggunakan gadget untuk mengakses berbagai media
sosial yang ada seperti Path, Instagram, Facebook, Twitter dan berbagai media
sosial yang ada lainnya hal ini dapat berpengaruh buruk terhadap tingkat prestasi
siswa. Di dalam penelitian juga ditemukan bahwa 22 (53,7 %) responden yang
jarang menggunakan gadget, 20 (48,8 %) responden mendapatkan nilai tinggi,
sedangkan 2 (4,9%) responden mendapatka nilai rendah, selain itu 10 (24,4 %)
responden diantaranya mendapat nilai tinggi sedangkan 9 (22,0 %) responden
lainnya mendapat niai rendah. Dalam penelitian juga didapatkan 30 (73,2 %)
responden menggunakan gadget untuk mengakses media sosial sedangkan 11
(26,8 %) responden lainnya menggunakan gadget untuk menyelesaikan tugas
sekolah. Penggunaan gadget dikarenakan tuntutan trend saat ini yang menuntuk
mereka untuk aktif dalam dunia internet atau media sosial, oleh karena itu pada
saat jam pelajaran, mereka juga sering menggunakan gadget unutk menutupi rasa
bosan karena jam pelajaran yang panjang. Hal ini menyebabkan bahwa sebagaian
materi yang dijelaskan oleh guru tidak lagi diserap dengan baik karena siswa
tidak mampu berkonsentrasi lagi dengan pelajaran yang sedang berlangsung,
yang dapat berakibat pada nilai akademik siswa, juga siswa menjadi jarang
berkomunikasi dengan temannya karena lebih asik dengan gadget miliknya. Pada
Sains Journal tahun 2013 membahas tentang penggunaan gadget yang berkebihan
dapat berdampak buruk buat kesehatan, seperti mata kering, gangguan tidur, sakit
pada leher, obesitas karena tidak teraturnya jadwal makan akibat keasikan
bermain gadget.(ejoural Keperawatan (e-Kep) Volume 3. Nomor 2. April 2015,
diunduh tgl 30 Januari, pk 9.41)
Smartphone kini menjadi suatu kebutuhan bagi banyak orang dan beraneka ragam
golongan menggunakannya. Penggunanyapun tidak hanya dari kalangan professional, bahkan
siswa SMP pun sudah tak asing lagi dengan media ini. Banyak manfaat yang diperolehnya antara
lain dapat menghubungi teman atau orang tua lebih mudah, dapat mengakses akun jejaring sosial
atau blog langsung oleh mereka sendiri, mencari bahan pelajaran dari situs-situs di internet.Hingga
saat ini, smartphone masih menjadi trend para remaja di Indonesia, Trend ponsel pintar ini
memang telah menguasai pikiran para pelajar di Indonesia, bahkan tiada hari yang terlewati
tanpa ponsel pintar. Hingga apabila dikatakan bahwa anak-anak cenderung kecanduan memang
demikian faktanya
66
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Simpulan
Smartphone sebagai handphone pintar dengan bermacam-macam fitur canggih
didalamnya, saat ini sudah menjadi trend dan gaya hidup di lingkungan masyarakat. Meski
penggunaan smartphone rendah, namun smartphone tetap memiliki dampak positif dan negatif
bagi para pengguna smartphone itu sendiri. Dampak positif dari penggunaan smarthphone adalah
membantu mengerjakan tugas atau pekerjaan rumah, dapat membantu untuk
mengetahui informasi terkini, tidak gagap teknologi, memperoleh berbagai
fasilitas untuk menunjang kehidupan mereka sehari-hari, mencari sumber
informasi dalam kegiatan ilmiah mereka, merasa lebih mudah bergaul dengan
teman mereka.
Sedangkan dampak negatif dari penggunaan smartphone adalah
kurangnya konsentrasi untuk belajar, menghabiskan waktu hanya untuk bermain
game, malas mengerjakan tugas / PR , malas mengerjakan pekerjaan rumah
Daftar Pustaka
Baran, Stanley J, and Davis, Dennis K, 1995, Mass Communication Theory,
Foundations, Ferment, and Future,Wadsworth Publishing Company,
Belmont, California
Baran, Stanley J, and Davis, Dennis K, 2000, Mass Communication Theory,
Foundations,Ferment, and Future,Wadsworth Publishing Company,
Belmont, California
Dudley, William, 2005, Mass Media, Opposing Viewpoints Series, Greenhaven
Press, United States of America
Frey, Lawrence R, and Botan, Carl H, Friedman, Paul G., Kreps, Gary L, 1991,
Investigating Communication, An Introduction to Research Methods,
Prentice Hall, Inc.A Division of Simon & Schuster Englewood Cliffs, New
Jersey 07632
Griffin, EM, 2000, A First Look At Communication Theory, Fourth Edition, The
McGraw-Hill Companies, Inc.The United States of America
Kriyantono, Rachmat, 2010, Teknik Praktis Riset Komunikasi, Kencana Prenada
Media Group, Jakarta
Littlejohn, Stephen W. And Foss, Karen A., 2009, Teori Komunikasi, Edisi 9,
Penerbit Salemba Humanika, Jakarta
Nasrullah, Rulli, 2014, Teori dan Riset Media Siber (cybermedia), Edisi Pertama,
Penerbit Kencana Prenadamedia Group, Jakarta
Nurudin, 2007, Pengantar Komunikasi Massa, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta
Paxson, Peyton, 2010, Mass Communications and Media Studies, An
Introduction, The Continuum International Publishing Group Inc 80 Maiden
Lane, New York, NY 10038
Singarimbun, M dan Effendi, Sofyan, 1989, Metode Penelitian Survey, PT
Pustaka LP3ES Indonesia, Jakarta
Sugiyono, 2009, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, Penerbit
Alfabeta Bandung
67
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Website
http://sidomi.com/175258/jumlah-gadget-di-indonesia-melebihi-total-populasipenduduk/ diunduh tgl 31 Januari 2016, pk. 21.28
tekno.liputan6.com/read/2329307/makin-banyak-remaja-di-asia-yang-kecanduan
smartphone, diakses tgl 31 Januari 2016, pk. 21.37
ejoural Keperawatan (e-Kep) Volume 3. Nomor 2. April 2015, diunduh tgl 30
Januari, pk 9.41
Biografi Penulis
1. Nama Lengkap
2. Tempat dan Tanggal Lahir
3. Pekerjaan
: Dra Taufik Suprihatini M.Si
: Semarang, 2 Maret 1953
: Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP,
UNDIP
4. AlamatRumah
5. Telp./Fax
6. NomorHP
7.AlamatKantor
8. Telp./Fax
9. Mata Kuliah yang diampu
68
: Perum. BPI Blok G No. 1 Ngaliyan, Semarang
: (024) 7604842
: 08164887113
: Jl. Prof. H. Soedarto, SH No. 1 Tembalang
Semarang
: (024) 7465408
: 1. Komunikasi Budaya
2. Pengantar Ilmu Komunikasi
3. Komunikasi dan Perubahan Sosial
4. Komunikasi Massa
5. Komunikasi Organisasi
6. Etika dan Filsafat Komunikasi
7. Pengantar Ilmu Sosial
8. Jurnalistuk Media Baru
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
SITUS ONLINE DATING SEBAGAI SARANA MEMBANGUN
HUBUNGAN ROMANTIS BERKOMITMEN
Reni Dyanasari, Tatya Mutiara Annisa
Universitas Pembangunan Jaya (UPJ) - Bintaro
[email protected], [email protected]
Abstract
In two years later, online dating is one of famous medium to find a couple in
Indonesia. It’s happened of internet users improvement. Urban society thinks that
it’s more effective to find a couple via internet. If the couple feel comfortable they
will discuss to meet personaly at the real world. Local online dating from
Indonesia; Setipe.com, is one of competitive website that has a loyal users who
feels satisfied to get a matched until they build a commited romantic relationship.
Reza Thalib as a CEO and founder of Setipe.com has an unique selling point with
“algoritma cinta” (love algorithm). Setipe.com has a target to increase users
until 1.000.000 at the end of 2015 (Vemale, 2015). This research use the concept
of through the step of romantic growth.This research will use qualitative method
with case study approaches to find “how a relationship can standed from online
dating?”, specially for commited romantic relationship. Resercher will find a
data by in-depth interview with couples who has commited romantic relationship
that started with online dating, then the data from in-house psychologist and
product manager Setipe.com to know more about the system or feature that can
matched many couple in Indonesia until they build a commited romantic
relationship. This research find the fact that couple was througt the step of
romantic growth with or without that sequence. It’s because of the sequence of
every human who build romantic relationship is different. Focus on online dating
users that meet each other via Setipe.com and they have an interested then they
agree to continue their relationship into the real world until commited romantic
relationship level. The role of Setipe.com that has a system or feature that could
matched the couple based on their analitic system. This research share the
information about commited romantic relationship that happed because of online
dating. It’s suitable for urban society that has limited time to choose and find
their parther in life via internet. That method considered to get an impact to meet
their couple in effective time.
Key Words: Online Dating, Romantic Relationship, Couple.
Abstrak
Situs online dating mulai ramai dibicarakan terutama pada dua tahun belakangan
ini di Indonesia. Hal tersebut dibarengi dengan peningkatan jumlah pengguna
internet Indonesia yang juga terus meningkat. Kehidupan masyarakat urban
menganggap pencarian pasangan dapat lebih efektif dilakukan melalui dunia
maya. Hubungan romantis dijajaki melalui dunia maya terlebih dahulu untuk
selanjutnya menjadi bahan pertimbangan untuk diwujudkan di dunia nyata. Tidak
hanya situs online dating internasional, berbagai situs online dating lokal hasil
69
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
karya anak bangsa mampu bersaing untuk memperoleh pengguna setia yang
merasa sangat terbantu dengan kehadiran situs tersebut hingga mengantarkan
banyak pasangan ke gerbang pernikahan. Setipe.com situs online dating yang
dibangun oleh Razi Thalib memiliki keunikan tersendiri melalui algoritma cinta
yang dimilikinya. Setipe.com memiliki target untuk meningkatkan jumlah
pengguna sebanyak 1.000.000 pengguna pada akhir tahun 2015 (Vemale, 2015).
Peneliti melihat tahapan dalam perkembangan hubungan romantis sebagai salah
satu konsep yang dapat diaplikasikan untuk melihat perkembangan dalam
membangun hubungan romantis pada online dating. Penelitian ini dilakukan
dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi
kasus, untuk mengetahui bagaimana suatu hubungan dapat terbentuk melaui situs
online dating yang berakhir dengan suatu hubungan romantis yang berkomitmen.
Pemaparan mengenai hubungan romantis yang berkomitmen melalui situs online
dating akan diperoleh melalui wawancara dengan pengguna Setipe.com serta
wawancara dengan in-house psychologist dan product manager Setipe.com untuk
memperoleh pemaparan tentang sistem algoritma yang membuat pengguna dapat
memperoleh pasangan yang tepat hingga membentuk hubungan romantis
berkomitmen. Penelitian ini menemukan bahwa beberapa pasangan telah
melewati beberapa tahapan perkembangan hubungan romantis yang terbentuk
melalui online dating. Para pasangan tersebut tidak secara berurutan melalui
tahap tersebut dan tidak pula melalui keseluruhan tahap pada tahapan yang ada.
Penelitian ini memberikan informasi mengenai pembentukan hubungan romantis
berkomitmen melalui online dating yang disesuaikan dengan kebutuhan
masyarakat urban untuk dapat menyeleksi calon pasangannya secara online
karena keterbatasan waktu yang dimiliki. Penyeleksian tersebut dianggap tidak
sia-sia karena mampu mengasilkan hubungan yang berkomitmen.
Kata Kunci: Online Dating, Kencan Online, Hubungan Romantis, Pasangan.
Pendahuluan
Perkembangan internet dan teknologi memberikan dampak dan pengaruh
terhadap beragam aspek di dunia, mulai dari bisnis, pendidikan hingga gaya
hidup masyarkat yang ada. Perubahan dan perkembangan dalam beberapa aspek
dikehidupan ini sangat dipengaruhi dari internet dan teknologi. Hal tersebut
memunculkan banyak tren-tren yang kini hadir dengan berbagai tujuan dan
manfaatnya. Salah satunya adalah kemunculan online dating sebagai bentuk
pemanfaatan teknologi sebagaimedia perantara untuk membangun sebuah
hubugan. Online dating memberikan kemudahan bagi banyak pihak, terutama
bagi mereka yang sudah waktunya menjalin sebuah hubungan yang romantis dan
berkomitmen, tetapi tidak kunjung mendapatkan pasangan yang diharapkan.
Situs online dating mulai marak digunakan di Amerika Serikat pada
sekitar tahun 2007, dimana berbagai situs yang menyediakan layanan pencarian
pasangan secara online bermunculan seperti OkCupid, Lovestruck.com,
eHarmony, Match.com dan sebagainya. Situs online dating sendiri muncul
pertama kali pada bulan april tahun 1995 yang diprakarsai oleh Gary Kremen
70
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
dengan nama situs Match.com yang dinobatkan sebagai situs online dating
terbesar didunia. (Business Insider, 2011). Match.com sendiri kini melayani 24
negara di dunia dalam 15 bahasa yang berbeda dengan misi membantu para
lajang menemukan pasangan dan hubungan romantic yang mereka cari dan
harapkan selama ini. (Match, n.d.). Di Indonesia sendiri, online dating mulai
ramai dibicarakan pada akhir tahun 2014 dimana situs online dating lokal
Setipe.com, meningkat kepopulerannya ditengah kalangan pengguna internet. Hal
ini dibuktikan dengan adanya peningkatan pengguna yang berjumlah dua kali
lipat yakni dari 83.000 pengguna menjadi 200.000 pengguna pada awal tahun
2015. Seperti yang dilansir oleh CEO dan Founder Setipe.com, Razi Thalib,
Setipe memiliki target untuk meningkatkan jumlah pengguna sebanyak 1.000.000
pengguna pada akhir tahun 2015 (Vemale, 2015). Setipe.com merupakan situs
online dating lokal yang diciptakan oleh Razi Thalib dan tim co-founder untuk
memudahkan para lajang dalam mencari pasangan atau jodoh mereka masingmasing. Dalam melakukan pencarian pasangan untuk para lajang Indonesia,
Setipe.com dibantu oleh seorang pakar psikolog, Pingkan Rumondor, S.Psi.,
M.Psi, dalam membuat pertanyaan-pertanyaan mengenai kepribadian pengguna
dengan rumus atau sistem algoritma sehingga pengguna dapat mengenal diri
sendiri dan juga Setipe dapat merekomendasikan pasangan yang cocok dengan
berdasarkan aspek fisik, intelektual, dan emosional yang sesuai dari hasil tes
kepribadian dan kriteria pasangan pengguna (Setipe, n.d).
Online dating saat ini menjadi hal yang sudah dapat diterima oleh banyak
orang di Indonesia, pernyataan tersebut juga diperkuat dengan jumlah pengakses
atau pengguna online dating pada setipe.com yang merupakan situs kencan
online terbesar di Indonesia yang meningkat, pada desember 2013 lalu, jumlah
penggunanya sudah mencapai 80.000 anggota dengan presentase 45% wanita dan
55% pria dengan usia mayoritas 20-30 tahun. (Vemale.com)
Kehadiran online dating yang sudah sejak puluhan tahun lalu di Amerika
Serikat, memunculkan pernyataan dan sebuah fakta dalam buku Modern
Romance ; Aziz Ansari yang mengatakan bahwa online dating menjadi syarat
utama jika ingin dikatakan sebagai seorang modern single. Modern Single yang
erat kaitannya dengan perkembangan teknologi dan internet sebagai media utama
dalam kehidupannya.
Dengan adanya perkembangan teknologi dan internet, perubahan gaya
hidup dan mencari pasangan, maka akan timbul berbagai permasalahan baru dan
budaya-budaya baru yang akan berdampak pada aspek-aspek kehidupan lainnya
dan dalam penelitian ini, peneliti ingin melihat bagaimana tahapan- tahapan
dalam perkembangan sebuah hubungan mulai dari tahap awal hingga menjadi
sebuah hubungan yang romantis dan berkomitmen. Tujuan penelitian ini adalah
untuk mengetahui tahapan perkembangan sebuah hubungan yang romantis dan
berkomitmen dengan melalui online dating.
71
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Tinjauan Pustaka
Terkait dengan latar belakang permasalahan yang terjadi mengenai
online dating yang berkembang saat ini. Penelitian ini menggunakan teori
menurut Julia T. Wood mengenai hubungan romantis dan berkomitmen dan juga
tahapan perkembangan dalam hubungan.
Menurut Julia T. Wood hubungan romantis yang berkomitmen adalah
hubungan antar-individu yang berasumsi bahwa mereka akan secara mendasar
dan terus-menerus menjadi bagian dari hidup orang lain, Hubungan yang bersifat
sukarela. Kita tidak memilih keluarga, tetangga atau rekan kerja, tetapi kita
memilih teman intim kita. Hubungan yang romantis dan berkomitmen dibuat dan
dibangun oleh orang-orang unik yang taktergantikan. Hubungan yang romantis
dan berkomitmen melibatkan perasaan romantis dan seksual, yang bukan
merupakan tipikal hubungan dengan rekan kerja, teman atau sekedar tetangga
(Wood, 2013: 288).
Hubungan romantis dan berkomitmen terdiri dari tiga dimensi:
keintiman, komitmen dan hasrat. (Acker&Davis, 1992; Hendrick & Hebdrick,
1989).
1. Hasrat
Hasrat digambarkan sebagai perasaan positif yang intens dan gejolak
yang kuat untuk orang lain. Hasrat tidak hanya terbatas pada perasaan
seksual dan sensual. Sebagai perasaan seksual, hasrat melibatkan
emosi yang luar biasa, spiritual dan interaksi intelektual. Harapan dan
emosi yang tinggi untuk terlibat dalam cinta adalah percabangan dari
hasrat, hal tersebut yang menyebabkan munculnya sensasi-sensasi
tertentu saat mencintai seseorang.
2. Komitmen
Komitmen adalah intensitas untuk tetap terlibat dalam hubungan.
Komitmen berbeda dengan cinta. Cinta adalah perasaan yang didasari
penghargaan terhadap keterlibatan kita dengan orang lain. Komitmen
adalah keputusan untuk tetap berada dalam hubungan tersebut.
Semakin banyak kita berinvestasi dalam hubungan, semakin besar
komitmen yang kita berikan (Lund, 1985; Rusbult, Drigotas &
Verrete, 1994). Komitmen memberikan fondasi yang lebih kokoh
untuk kehidupan bersama. Komitmen adalah kebulatan tekad untuk
tetap bersama walaupun diterpa masalah, perselisihan, kegelisahan
sporadic dan hasrat yang menurun. Komitmen juga termasuk dalam
menerima tanggung ajwab untuk menjaga hubungan (Swidler, 2001)
Hasrat terjadi tanpa adanya usaha, komitmen berupa sebuah
keinginan. Hasrat adalah perasaan; komitmen adalah pilihan. Hasrat
dapat memudar karena perselisihan dan masalah; komitmen tetap
kokoh. Hasrat muncul saat ini dan akan memudar, komitmen akan
mengikat dan berlanjut ke masa depan.
72
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
3. Keintiman
Keintiman adalah perasaan dekat, terhubung dan kelembutan.
Keintiman mendasari hasrat dan komitmen (Acker & Davis, 1992;
Brehm et al., 2001; Hasserbrauck & Fehr, 2002). Keintiman terkait
dengan hasrat karena sama-sama melibatkan perasaan yang sangat
kuat. Hubungan antara keintiman dan hasrat adalah komitmen, yaitu
mengikuti partner tidak hanya pada saat ini saja, tetapi juga sepanjang
waktu. Keintiman adalah perasaan yang kekal dan perasaan hangat
untuk orang lain. Hal ini yang membuat satu sama lain nyaman dan
menikmati saat bersama, bahkan saat tidak terjadi apapun didalam
hubungan (Wood, 2013: 289-290). Sebuah hubungan yang romantis
dan berkomitmen memiliki berbagai aspek yang melandasinya.
Diantaranya adanya hasrat, komitmen dan keintiman yang harus
terdapat didalam sebuah hubungan tersebut. Ketiga aspek tersebut
menjadi satu-kesatuan yang saling melengkapi dalam terbentuknya
sebuah hubungan hingga hubungan tersebut dapat dikatakan sebagai
sebuah hubungan yang romantic dan berkomitmen. Hubungan yang
romantic dan berkomitmen tidak hanya sebuah pernyataan biasa dan
bukan hanya perasaan cinta biasa, tetapi sebuah perasaan memiliki
yang dilandasi tanggung jawab, rasa mencintai dan juga kedekatan
yang intim satu sama lain.
Tahap Perkembangan Hubungan
Dalam prosesnya, sebuah hubungan romantis berkomitmen akan
mengalami perkembangan sejak tahap awal memulai hubungan tersebut.
Layaknya perkembangan lainnya, dalam hubungan-pun akan menemui step yang
semakin meningkat atau bahkan menurun dikemudian hari.
Tahap awal adalah tahap pertumbuhan dalam tahap pertumbuhan ini
terdapat langkah-langkah yang sangat penting dalam terbentuknya sebuah
hubungan yang romantis dan berkomitmen. Pertama, Individualitas, setiap dari
kita adalah individu dengan kebutuhan, tujuan, gaya mencintai, kecenderungan
mempersepsi dan kualitas yang mempengaruhi apa yang kita cari dalam
hubungan. (Wood, 2013 : 293)
Tahap kedua adalah komunikasi yang mengundang, dimana orang-orang
memberi tanda bahwa mereka tertarik untuk berinteraksi; selama tahap ini
mereka juga menanggapi undangan dari orang lain. Kita juga dapat mengundang
interaksi di chat room atau situs yang didesain untuk mempertemukan orangorang baru. Makna terpenting dari komunikasi yang mengundang adalah
menemukan tingkatan hubungan, bukan tingkatan konten. (Wood, 2013:294)
Tahap ketiga adalah komunikasi yang mengeksplorasi, tahap ini
merupakan tahap ketiga dari eskalasi romantismedan tahap ini focus pada
pertukaran informasi. Pada tahap ini orang-orang mencari tahu minat umum dan
menjadikannya bahan untuk berinteraksi. Pada tahap ini mulai mencoba untuk
mengurangi ketidakpastian mengenai orang lain sehingga kita mulai
mengevaluasi kemungkinan hubungan yang lebih serius.(Wood, 2013:295)
73
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Tahap keempat adalah mengintensifkan komunikasi atau bisa disebut
sebagai fase euphoria untuk menekankan intensitas dan kesenangannya. Selama
tahap ini, partner menghabiskan semakin banyak waktu bersama dan mereka
mulai kurang bergantung pada struktur eksternal, seperti film dan pesta. Mereka
melibatkan diri dalam hubungan dan merasa waktu kebersamaan tidaklah cukup.
Pembukaan lebih mendalam muncul, biografi personal diisi dan partner belajar
dengan pesat mengenai perasaan dan pikiran orang lain. Hal ini menurunkan
ketidakpastian mengenai satu sama lain dan muncul keinginan mengenai
hubungan jangka panjang (Berger, 1987; Berger & Gudykunst, 1991). (Wood,
2013 : 295-296)
Tahap kelima adalah tahap merevisi komunikasi, tidak terjadi disemua
hubungan romantic, tetapi penting saat dibutuhkan. Selama tahap ini, pasangan
melihat hubungan denga lebih realistis. Masalah disadari dan pasangan
mengevaluasi apakah mereka ingin melaluinya. (Wood, 2013:296)
Tahap terakhir dalam perkembangan adalah keterikatan intim atau
komitmen. Pada tahap ini berupa keputusan untuk menetap di dalam hubungan.
Sebelum adanya komitmen, pasangan tidak mengasumsikan bahwa hubungan
mereka akan berlanjut selamanya. Dengan komitmen, hubungan menjadi
anugerah, bersama dengan pengaturan aspek lain dalam hidup mereka.
Tahap dan langkah setelah melewati proses perkembangan dalam
hubungan adalah tahap Navigasi. Navigasi adalah proses yang berjalan pada
komitmen untuk hidup bersama melewati kondisi naik dan turun, suka maupun
duka. Pasangan secara terus-menerus mengatur, berusaha melewati masalah,
menemukan masalah baru dan mengakomodasi perubahan di dalam kehidupan
individual dan hubungan mereka. Selama navigasi, pasangan secara terusmenerus mengalami ketegangan dari perbedaan yang muncul, yang tidak dapat
dipecahkan semuanya. Saat partner menanggapi perbedaan ide, mereka merevisi
dan menyaring sifat hubungan itu sendiri. (Wood, 2013: 296-297)
Metodologi
Penelitian ini akan menggunakan metode pendekatan penelitian
kualitatif. Penelitian kualitatif menurut Creswell (1998) adalah sebuah proses
penelitian ilmiah yang dimaksudkan untuk memahami permasalahanpermasalahan manusia dalam konteks sosial dengan menciptakan gambaran
menyeluruh dan kompleks yang disajikan, melaporkan pandangan terperinci dari
para sumber informasi, serta dilakukan dalam setting yang alamiah tanpa adanya
intervensi apapun dari peneliti (Herdiansyah, 2010:8).
Dalam Yin (2009), riset studi kasus mencakub studi tentang suatu kasus
dalam kehidupan nyata, dalam konteks atau setting kontemporer (Creswell,
2014:135). Seperti yang dikatakan Creswell (2014:135-136), studi kasus adalah
pendekatan kualitatif yang penelitinya mengeksplorasi kehidupan nyata, sistem
terbata kontemporer (kasus) atau beragam sistem terbatas (berbagai kasus),
melalui pengumpulan daya yang detail dan mendalam yang melibatkan beragam
sumber informasi majemuk (misalnya pengamatan, wawancara, bahan audio
74
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
visual, dokumen, dan berbagai laporan, dan melaporkan deskripsi kasus dan tema
kasus. Oleh karena itu penelitian ini masih penelitian studi kasus tahap awal yang
nantinya akan dilanjutkan kembali guna memperoleh kesimpulan yang lebih
maksimal dari data majemuk.
Unit analisis merupakan satuan penelitian. Unit analisis dapat berupa
seorang individu, kelompok, perilaku, ataupun informasi (Maryati & Suryawati
2006:111). Unit analisis dalam penelitian ini merupakan informasi yang
diperoleh dari teks-teks artikel yang ditulis dan dipublikasikan oleh media massa
online/ digital yang didalamnya berisi tentang kutipan pengalaman dari para
pegguna situs online dating mengenai tahapan pembentukan hubungan romantis
tang telah dilaluinya. Artikel/ tulisan tersebut akan memiliki kriteria sebagai
berikut:
a. Artikel ditulis oleh media digital lokal / nasional.
b. Artikel dipublikasikan pada tahun 2010 – 2015
Bentuk data kualitatif yang baru terus bermunculan dalam literatur, tetapi
semua bentuk tersebut dapat dikelompokan menjadi empat tipe informasi dasar:
pengamatan (mulai dari non partisipan hingga partisipan), dokumen (dari yang
bersifat pribadi hingga yang bersifat publik), dan bahan audiovisual (mencakub
foto, CD, dan VCD). Krueger dan Casey (2009) membahas penggunaan data
internet termasuk ruang obrolan (chat-room) dan papan buletin. Mereka
membahas bagaimana mengelola data internet dan bagaimana mengembangkan
pertanyaan-pertanyaan untuk data tersebut. Di samping itu, Stewart dan Williams
(2005) membahas penggunaan data online untuk riset sosial (Creswell, 2014:
219-221).
Studi literatur merupakan salah satu bentuk metode pengumpulan data
yang sering dilakukan dalam penelitian kualitatif dengan melihat atau
menganalisis dokumen-dokumen tertentu yang dibuat oleh subjek penelitian atau
orang lain yang memiliki hubungan dekat dengan subjek (Herdiansyah,
2010:146).
Analisis naratif merujuk pada sekumpulan metode untuk menafsirkan
teks yang sama-sama memiliki bentuk paparan. Data yang dikumpulkan dalam
studi naratif perlu dianalisis untuk cerita yang hendak mereka tuturkan, kronologi
dari peristiwa yang tidak terungkap dan titik-titik balik atau epiphanies (Creswell,
2014: 263).
Salah satu pendekatan naratif adalah proses yang disajikan Yussen dan
Ozcan (1997) yang melibatkan analisis data teks untuk lima unsur dari unsur alur
(yaitu karakter, setting, problem, aksi, dan resolusi) (Creswell, 2014: 266).
Dalam suatu penelitian, penelitian harus bisa dinilai dengan suatu ukuran.
Ukuran penilaian tersebut memiliki perbedaan masing-masing tergantung dengan
metodologi atau pendekatan penelitian seperti apa yang digunakan. Ukuran
kualitas dari sebuah penelitian terdapat pada kesahihan atau validitas data yang
dikumpulkan selama penelitian berlangsung. Dalam penelitian kualitatif,
penilaian validitas terjadi ketika proses pengumpulan data sedang berlangsung
dan juga pada saat analisis-interpretasi data. Jenis-jenis validitas data dari
penelitian kualitatif menurut Kriyantono (2009) adalah kompetensi subjek riset,
75
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
trustworthiness, intersubjectivity Agreement, dan Conscientization (Kriyantono,
2009:70). Berikut metode pengujian data yang akan digunakan dalam penelitian
ini.
Penelitian ini menggunakan analisis triangulasi yakni menganalisis
jawaban subjek dengan meneliti kebenarannya dengan data empiris atau sumber
data lain yang tersedia. Cara ini digunakan untuk menguji kebenaran dan
kejujuran subjek dalam mengungkapkan realitas menurut apa yang dialami,
dirasakan, atau dibayangkan. Dalam penelitian ini, cakupan triangulasi yang lebih
ditekankan antara lain adalah triangulasi sumber dan triangulasi teknik.
Triangulasi sumber:membandingkan dan mengecek ulang derajat
kepercayaan suatu informasi yang diperoleh dari sumber yang berbeda. Dalam
penelitian ini, jumlah subjek penelitian yang akan dijadikan objek adalah tiga
artikel yang memaparkan tahapan hubungan romantis.
Adapun batasan dari penelitian ini antara lain adalah penelitian ini hanya
terbatas pada tahapan perkembanagan hubungan romantis melalui situs online
dating dan tidak membahas permasalahan lain secara lebih dalam.
Hasil Temuan dan Diskusi
Berdasarkan tinjauan pustaka yang telah dipaparkan sebelumnya peneliti
akan menjabarkan hasil analisis isi yang telah ditemukan sebelumnya melalui
pemaparan berdasarkan teori tahapan perkembangan hubungan romantis.
Tahapan ini tidak bersifat baku dan pasti dilewati oleh seluruh pasangan. Hasil
temuan peneliti juga tidak menemukan keseluruhan tahap dalam perkembangan
hubungan, peneliti akan membahas berdasarkan tahapan yang ditemui dalam
artikel.
Individulitas
Pada tahap ini individu mengenali diri dan kebutuhannya akan sebuah
hubungan romantis, sebelum membangun hubungan dengan pihak lain. Seperti
hasil temuan peneliti dari situs CNN.com yang dipublikasikan pada 9 Oktober
2015 memaparkan bahwa Marcel (bukan nama sebenarnya) merupakan kaum
LGBT. Menurut Marcel, dia merasa kesulitan mencari jodoh yang mengeri
dirinya, oleh karena itu dia merasa cukup nyaman untuk mengenal dirinya lebih
dalam dan mencari calon pasangan yang tepat untuknya melalui situs online
dating. "Kalau mencari di dunia nyata yang sama seperti saya jumlahnya kecil,"
tuturnya saat dihubungi CNN Indonesia melalui sambungan telepon, Kamis
(9/10) (CNN, 2014). Selain itu dia juga merasa lebih mengenal dirinya karena
fitur situs online dating yang memunculkan banyak pertanyaan-pertanyaan
sebelum dipertemukan dengan calon pasangan yang cocok untuk benar-benar
mengevaluasi diri sehingga mengetahui kebutuhan akan pasangan, dan pasangan
yang sesuai. Menurut Marcel di situs yang dia ikuti ada pertanyaan-pertanyaan
yang bisa membuatnya semakin mengenal diri sendiri. Tak hanya itu lewat
pertanyaan tersebut ia mengatakan dapat menilai kepribadian orang lain (CNN,
76
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
2014). Dalam tahap ini, hubungan belum terjalin dan mempersiapkan untuk
menjalin hubungan.
Komunikasi Mengundang
Calon pasangan satu sama lain mulai bertemu dan berkenalan baik secara
langsung maupun online. Dalam online datang calon pasangan akan
dipertemukan melalui internet/ situs online dating yang mereka gunakan.
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Vemale.com (2015), pasangan Delly
dan Gita dipertemukan melalui situs online dating setipe.com, mereka mulai
berkenalan di bulan Februari 2014. Tahap komunikasi mengundang
memungkinkan pasangan bertukar informasi dan mencari kesamaan, hingga
menunjukan ketertarikan. Hal terlebut juga pernah dialami Marcel. Sebelum
bertemu dengan orang tersebut, ia telah saling berkirim pesan dan bertukar nomor
ponsel dengan perantara situs kencan (CNN, 2014).
Komunikasi Mengeksplorasi
Tahap ini memungkinkan pertukaran informasi lebih dalam dan
meningkatkan kualitas hubungan. Setelah berkenalan Gita dan Delly dapat
dikatakan memasuki tahap pendekatan atau penjajakan secara online (Vemale,
2015). Marcel dan calon pasangannya juga melakukan kopi darat setelah bertukar
kontak sebelumnya (CNN.com).
Mengintensifkan Hubungan
Setelah melalui tiga tahapan diatas, calon pasangan masuk tahap euforia
yang selalu meningkatkan kesenangan dalam hubungan. Hal tersebut dilakukan
Delly dan Gita. Delly memutuskan untuk terbang ke Jakarta pada Juli 2014 untuk
mengenal Gita lebih jauh (Vemale, 2015). Tahap ini pasangan memiliki
keinginan untuk menghabiskan waktu bersama.
Komitmen
Tahap merevisi komunikasi memang tidak selalu dilewati oleh semua
pasangan, terutama bagi pasangan yang yang tidak menemui kendala atau konflik
berarti dalam menuju komitmen. Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya
bahwa tahapan ini tidak baku dan sangat dimungkinkan pula untuk terjadi tidak
berurutan. Hal ini terjadi pada salah satu pasangan yang membangun hubungan
melalui online dating. Delly dan Gita sudah memutuskan untuk berkomitmen
(berpacaran) sebelum mereka berdua saling bertemu (Vemale,2015).
Navigasi
Tahap navigasi dimaknai proses yang berjalan pada komitmen untuk
hidup bersama melewati kondisi naik dan turun, suka dan duka. Tahapan ini
umumnya di Indonesia dimaknai sebagai pertunangan hingga pernikahan.
Pasangan Delly dan Gita memecahkan rekor perjodohan tercepat dari situs online
dating setipe.com karena perkenalan bulan Februari 2014 dan bulan Juli 2014
Delly memutuskan untuk bertemu orang tua Gita dan segera melamar untuk
77
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
bertunangan (Vemale.com). Tahap ini juga dialami oleh Ade dan Vera yang
bertemu melaui situs setipe.com. dan baru saja melangsungkan pernikahan, berita
ini dipublikasikan oleh liputan6.com pada 2 April 2015.
Berdasarkan tahapan peneliti hubungan yang dilalui dari sumber terbatas
belum menemui tahap kemunduran. Situs online dating juga dianggap dapat
memenuhi hasrat para pencari cinta yang bermasalah dengan masalah waktu dan
geografis. “Setipe.com sangat mempermudah saya, mungkin ini adalah cupid di
masa modern.” ujar Delly (Liputan 6, 2015). Selain itu keintiman juga dapat
terbina melalui online dating dengan berbagai fitur yang dimilikinya. Hal itulah
yang memungkinkan penggunanya dimungkinkan membangun komitmen dalam
hubungan romantis hingga tahap navigasi.
Simpulan
Simpulan dari penelitian ini adalah perkembangan teknologi yang terjadi
saat ini memberikan dampak bagi banyak aspek, salah satunya cara mencari
pasangan hidup yang dilakukan melalui jaringan internet atau bersifat online.
Adanya online dating memberikan banyak kemudahan bagi banyak pihak,
sehingga mereka merasakan kemudahan dalam memulai atau menjalin sebuah
hubungan yang romantis dan berkomitmen. Tahapan-tahapan dalam
perkembangan hubungan tergambar dari awal permulaan dalam sebuah online
dating. Tahapan yang terdapat dalam tahapan perkembangan hubungan, bersifat
dinamis dan tidak baku, sehingga dalam sebuah hubungan tidak harus selalu
keseluruhan tahapan dilalui atau tidak harus berurutan dari awal hingga akhir.
Proses tahapan ini berbeda-beda dalam setiap hubungannya, tidak setiap
hubungan memiliki dan melewati tahapan-tahapan yang sama. Penelitian ini
membuktikan bahwa online dating bermanfaat bagi masyarakat modern dan
perkotaan, karena bersifat fleksibel ditengah kesibukan warga perkotaan yang
padat dan tidak memiliki banyak waktu untuk mencari jodoh atau sekedar
memulai sebuah hubungan dengan orang baru atau lawan jenisnya.
Saran bagi peneliti selanjutnya, agar lebih mendalam membahas
mengenai online dating, membahas mengenai medianya, gaya komunikasinya
dan proses lengkap terjadinya sebuah pertukaran komunikasi dalam online
dating.
Daftar Pustaka
Creswell, John W. (2014). Penelitian Kualitatif & Desain Riset. Pustaka Pelajar,
Yogyakarta, Indonesia.
Herdiansyah, Haris. (2010). Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: Salemba
Humanika.
Kriyantono, Rachmat. (2009). Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: PT
Kencana Prenada Media Group.
Maryati, Kun & Suryawati, Juju. (2006). Sosiologi Untuk SMA dan MA kelas X.
Jakarta: Penerbit Erlangga.
78
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Wood, Julia T. (2013). Komunikasi Interpersonal : Interaksi Keseharian.
Salemba Humanika, Indonesia.
CNN. (2014). Kencan online atau kilat, sah-sah saja. Diakses Pada 15 Januari
2016
dari
www.cnnindonesia.com/hiburan/20141009172124-2415941/kencan-online-atau-kilat-sah-sah-saja/
Liputan 6. (2015). Cari Jodoh Melalui Situs Dating OnlineMenjadi Tren Baru.
Diakses
pada
15
Januari
2016
dari
http://www.liputan6.com/read/2206185/cari-jodoh-melalui-situs-datingonline-menjadi-tren-baru/
Match.
AboutMatch.com.
Dikutip
dari
http://www.match.com/help/aboutus.aspx?Iid=4
Setipe. (n.d). Tentang Kami. Dikutip dari https://setipe.com/about
Vemale. (2015). Setipe.com Berhasil Mengubah Stigma Online Dating. Dikutip
dari http://www.Vemale.com/relationship/love/78624-setipe-com-berhasilmengubah-stigma-online-dating.html
79
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
GAYA HIDUP DAN PERILAKU SEKSUAL PENGGUNA CYBERSEX
(STUDI KASUS: PADA MAHASISWA DI KOTA PADANG)
Elva Ronaning Roem
Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas
Andalas
[email protected]
Abstract
This research studying how the effect online media on a person's lifestyle.
Cybersex user online in this research are students of many university in Padang.
Indirectly, they experiencing poor sexual behavior after interacting in the media
online. This habbit became a lifestyle that is difficult to remove in their lives. The
results of this research, on average tend to be closed cybersex users about their
behavior. This is due that cybersex activities are regarded as deviant behavior
that violates social norms and values in society. By using a social penetration
theory, revealed that students who play online games first just to find friendship
only in new media, but this should be a continuity and a way of life because of
sexual behavior that they do among themselves without the knowledge of others
in the online world.
Keywords: Lifestyle, Cybersex, Social Penetration.
Abstrak
Penelitian ini membahas tentang bagaimana pengaruh dunia online dalam
perkembangan new media di Kota Padang yang sangat berpengaruh pada gaya
hidup seseorang dilingkungannya. Pengguna cybersex online yakni dalam
penelitian ini adalah rata-rata mahasiswa dikota Padang yang berasal dari
berbagai perguruan tinggi, secara tak langsung mengalami prilaku seksual yang
buruk setelah berinteraksi dengan dunia maya dalam bermain games online.
Kebiasaan ini menjadi gaya hidup yang sulit untuk di lepaskan dalam kehidupan
mereka. Hasil penelitian menggungkapkan, rata-rata pengguna cybersex
cenderung tertutup mengenai perilaku mereka. Hal ini disebabkan bahwa
kegiatan cybersex yang dianggap sebagai prilaku menyimpang yang melanggar
nilai dan norma sosial yang ada di masyarakat. Dengan menggunakan pisau
bedah teori Penetrasi sosial terungkap bahwa mahasiswa yang bermain games
online awalnya hanya untuk mencari pertemanan saja dalam new media, namun
hal tersebut menjadi keterusan dan menjadi gaya hidup karena prilaku seksual
yang biasa mereka lakukan antara sesamanya tanpa diketahui orang lain dalam
dunia online.
Kata Kunci: Gaya Hidup, Cybersex, Penetrasi Sosial.
Pendahuluan
Keberadaan internet dewasa ini merupakan bagian yang tak dapat
dipisahkan dalam pergerakan kehidupan manusia. Kenyataan ini sangat terlihat
80
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
jelas, bahwa pelan-pelan internet pada akhirnya merevolusi cara berkomunikasi
manusia, menembus jarak, ruang dan waktu, bahkan fenomena yang tak dapat
disangkal dunia nyata seakan telah diganti dengan dunia maya, semua orang
dapat bertemu tanpa terpisahkan oleh jarak yang jauh.
Internetpun disesuaikan dengan kebutuhan penggunanya. Dibalik
manfaat postif internet yang dikenal dengan istilah new media dalam
keilmuwannya, banyak mendatangkan hal-hal yang berguna dan menambah
pengetahuan yang tinggi bagi penggunanya. Namun dibalik sisi positif tersebut,
internet juga memiliki sisi negatif yang jika tidak bisa dikendalikan dalam
pemakaiannya dapat membuat seseorang menjadi buruk. Salah satunya adalah
pengaksesan pornografi. Tjiptono dan Santoro dalam Nainggolan, mengatakan,
tujuan yang buruk dalam penggunaan internet adalah mengakses situs-situs
porno. (Naiggolan, 2008: 50).
Situs-situs porno saat ini memang bisa diakses langsung tanpa perlu izin.
Banyak jenis situs porno yang terdapat dalam internet. Bahkan pemerintahpun
hingga kini belum mampu untuk menutup situs-situs porno secara keseluruhan
yang muncul di new media. Bentuk situs porno tersebutpun jenisnya beragam,
mulai dari video, gambar-gambar erotis bergerak serta game yang bertemakan
seksual. Tidak butuh waktu lama untuk belajar membuka situs pornografi di
internet. Cukup dengan sekali klik situs saja semua bisa bisa terlihat dengan cepat
dan jelas. Apalagi saat ini banyak warung-warung internet yang berlebel “Play
Game Online 24 Hour” yang dibuka mengundang anak-anak dibawah umur
untuk bisa mengakses permainan apa saja yang mereka inginkan, dan semuanya
terhubung dengan koneksi internet. Dan tak jarang dalam permainan game online
tersebut juga memuat unsur seksual atau pornografi.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh berbagai media,
menunjukkan bahwa sebagian besar pengakses internet mengaku pernah
mengunjungi situs porno (Asiku, 2005: 7). Bentuk perilaku cybersex, bermacammacam jenisnya, diantaranya adalah mengakses pornografi di internet (seperti
gambar, video, cerita teks, majalah, film, dan game). (Carners, Delmonico, dan
Griffin 2001: 120). Kebeadaan cybersex telah mengubah gaya seks manusia.
Sebelum ada internet manusia mengenal seks sebatas hubungan intim nyata,
bersentuhan fisik. Setelah ada internet, orang bisa berhubungan intim tanpa harus
bersentuhan. Menurut (Daneback, Cooper, dan Mansson, bahwa yang paling
banyak menggunakan internet untuk tujuan seksual adalah remaja yang beranjak
dewasa (2002: 70). Kebiasaan melihat situs porno yang dilakukan remaja
beranjak dewasa seperti mahasiswa yang dilakukan terus menerus akan menjadi
sebuah habbit, atau kebiasaan bagi pengguna tersebut, karena mendatangkan
kepuasaan tersendiri bagi diri mereka.
Kebiasaan ini juga didukung bahwa banyak software gratis yang bisa
diakses dengan mudah dengan menggunakan new media tersebut. kebiasaan ini
lah yang menyebabkan seseorang menjadikannya sebagai gaya hidup. Mereka tak
bisa lepas dari hasrat biologis yang merangsang nafsu mereka untuk terus melihat
hal-hal yang bersifat pornografi. Menurut Kotler, gaya hidup adalah pola hidup
seseorang di dunia yang di ekspresikan dalam aktivitas, minat, dan opininya.
81
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Gaya hidup menggambarkan “keseluruhan diri seseorang” dalam berinteraksi
dengan lingkungannya. (Kotler, 2002: 192).
New media dan gaya hidup saat ini menjadi sesuatu yang tidak bisa
dipisahkan bagi remaja yang mulai beranjak dewasa. Salah satunya adalah
penggunakan handphone dengan akses internet. Tanpa internet mereka dianggap
tidak gaul dan tidak moderen. Melihat fenomena ini dapat kita lihat bahwa saat
ini sedang terjadi revolusi dengan hadirnya generasi yang selalu menginginkan
kemudahan saat mengakses informasi.
Kota Padang, merupakan kota semi Metropolitan yang juga terkenal
dengan tingkat religius yang tinggi, kendati demikian jumlah keberadaan
pengguna cybersex di Kota ini cukup tinggi, dan rata-rata pengguna berasal dari
kalangan mahasiswa. Pengaksesan internetpun disesuaikan dengan keinginan
pribadi mereka. Zaman yang serba canggih memungkinkan pengguna cybersex
dapat mengakses internet kapanpun dan dimanapun mereka sukai baik dengan
menggunakan komputer, laptop maupun notebook yang terkoneksi dengan
internet atau dengan melalui handphone yang mempunyai aplikasi khusus
internet.
Dalam penggunaan teknologi canggih tersebut, pengguna cybersex
biasanya mengakses internet secara sembunyi-sembunyi. Hasil penelitian
Meirianita (2014), Pengguna cybersex dikota Padang juga tidak banyak yang
terbuka mengenai kebiasaan mereka yang sering melakukan kegiatan tersebut
kepada orang lain. Selain merasa malu karena ketahuan, perilaku seksual bagi
mereka juga masih dianggap tabu dan masuk dalam perbuatan menyimpang
(2014: 5).
Hasil penelitian Meirianita tersebut menjadi hal yang menarik perhatian
penulis untuk meneliti lebih lanjut, bahwa saat ini mahasiswa di Kota Padang
memiliki angka yang cukup tinggi dalam tingkat seksualitas melalui online salah
satunya adalah sebagai pengguna cybersex. Hal ini mungkin didorong oleh
banyak faktor. Namun gaya hidup menjadi sesuatu yang tidak bisa dilepaskan
dari kebiasaan cybersex. Untuk ini tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat
bagaimana sesungguhnya bentuk gaya hidup dan perilaku seksual pengguna
cybersex dikota Padang dengan mengambil mahasiswa sebagai informan
penelitian sebagai pengguna cybersex tersebut.
Tinjauan Pustaka
Kecenderungan perilaku mengakses situs porno menurut Young
dipengaruhi beberapa faktor internal yang berasal dari kondisi personal individu
dapat dibagi menjadi dua yaitu faktor kepribadian; seperti tipe kepribadian dan
kontrol diri, dan faktor situasional yang merujuk pada riwayat kesehatan dan
kehidupan seks. (Young dan Rodgers, 1998: 125). Keberadaan situs porno juga
didukung dengan munculnya new media atau yang akrab disebut dengan internet.
New media adalah perantara baru. Namun pengertian secara istilah
adalah perubahan media yang dulu dalam media yang terbentuk dari interaksi
antara manusia, komputer dan internet secara khususnya. Termasuk di dalamnya
82
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
adalah web,blog,online social network yang menggunakan komputer sebagai
medianya. Pandangan terhadap new media dapat berpengaruh positif dan negatif.
Berpengaruh positifnya info dari media sangat mudah dan sangat cepat,dapat di
akses di mana pun serta mendapatkannya sangat lah murah. Pengaruh negatif new
media terhadat manusia adalah info dari media tersebut tanpa batas dan dapat
masuknya budaya luar melalui media baru ini, jika tidak di dasarkan kepada ilmu
pengetahuan maka akan menimbulkan hal-hal yang negatif terhadap masyarakat.
(https://adilalaras.wordpress.com/2014/10/03/new-media/)
Menurut Denis McQuail dalam bukunya Teori Komunikasi Massa, ciri
utama media baru adalah adanya saling keterhubungan, aksesnya terhadap
khalayak individu sebagai penerima maupun pengirim pesan, interaktivitasnya,
kegunaan yang beragam sebagai karakter yang terbuka, dan sifatnya yang ada di
mana-mana. (2011:43). Sementara itu Perubahan utama yang berkaitan dengan
munculnya media baru yakni: Digitalisasi dan konvergensi atas segala aspek
media, Interaksi dan konektivitas jaringan yang makin meningkat, Mobilitas dan
deklokasi untuk mengirim dan menerima, Adaptasi terhadap peranan publikasi
khalayak, Munculnya beragam bentuk baru „pintu‟ (gateway) media, Pemisahan
dan pengaburan dari „lembaga media‟ (McQuail, 2011:151).
Media baru yang bersifat negatif salah satunya adalah penggunaan
cybersex. Cybersex adalah adalah bertemunya dua orang atau lebih melalui
jaringan computer/internet dimana mereka saling mengirim pesan tentang sex
dan berpura-pura sedang mengalami/menjalani sex yang sebenarnya. Menurut
Mark Slauka, Dalam cybersex pelaku melalui pesan teks, suara atau video saling
mengirim pesan yang merangsang dirinya sendiri dan pasangannya untuk
mencapai orgasme seksual. Cybersex biasanya diikuti dengan masturbasi.
Intensitas pertemuan pasangan atau kelompok pelaku cybersex didasari
kemampuan para pelaku menggambarkan fantasi sex mereka baik melalui audio,
video dan yang paling sering adalah teks (chatting). (Slauka, 1993: 34).
Dalam hal ini bentuk perilaku cybersex yang seringkali terlihat adalah
real time dengan pasangan fantasi atau chatting yang memuat obrolan erotis
dengan teman chat di ruang mengobrol juga banyak diperbincangkan saat ini,
bahkan beberapa orang sampai menggunakan kamera web untuk melihat
pasangan mereka di ruang ngobrol (Carvalheira & Gomes, 2002: 40). Cooper dan
Griffin-Shelley dalam Daneback, Cooper, & Mansson, mengatakan bahwa pada
beberapa kasus, mereka saling tukar menukar gambar mereka sendiri atau
gambar-gambar erotis dan gambar-gambar bergerak yang mereka dapat dari web
internet. Biasanya orang yang terlibat dalam kasus ini tidak pernah ketemu
sebelumnya di dunia nyata. Percakapan yang di lakukan oleh mereka mulai dari
godaan dan kata-kata kotor untuk memberikan gambaran bahwa mereka sedang
melakukan hubungan seksual, dan tak jarang dari mereka yang dapat merasakan
orgasme, baik itu hanya dengan berfantasi (Daneback, Cooper, & Mansson,
2005: 62).
Menurut Goldberg, seks menjadi bagian yang penting dan selalu diadopsi
oleh teknologi baru. Kehadiran internet seks adalah sebagai media eksploitasi
erotika dan pornografi. Internet juga menyediakan program seksual yang
83
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
bervariasi mulai dari layanan yang pasif seperti gambar porno sampai pada yang
paling aktif, yaitu partisipasi langsung lewat interaktif video dan berbicara
seksual di dalam ruang obrolan online (Goldberg, 2008: 40). Pengguna seks
dalam media internet disebut dengan cybersex. Cybersex adalah hubungan erotik
yang terjadi di alam maya. Internet relay service merupakan salah satu sarana
chatting room yang sering digunakan pengguna Internet. Cybersex sering juga
disebut internet sex atau komputer sex. Seiring perkembangan teknologi, fasilitas
untuk terbang ke alam maya pun ikut berkembang. Dulu tampilan chatting room
hanya sederhana, kini tersedia berbagai pilihan background, dari musik, web cam
sampai layanan internet phone. Membuat pelanggan internet merasa lebih
nyaman dan betah. (http://www.luvseks.com/2011/06/mengenal-lebih-dalamtentang-cybersex.html).
Dalam lingkungan sosial, Pengguna Cybersex sesungguhnya telah
mempraktikkan teori Penetrasi sosial. Dalam teori Penetrasi Sosial yang di
kemukakan Altman dan Taylor dalam Bungin, dalam lingkungan sosial semua
makhluk hidup memiliki proses dimana orang saling mengenal satu dengan yang
lainnya. Penetrasi sosial merupakan hubungan yang bertahap, dimulai dari
komunikasi basa-basi yang tidak akrab dan terus berlangsung hingga menyangkut
topik pembicaraan yang lebih pribadi dan akrab, seiring dengan berkembangnya
hubungan. (Bungin, 2008: 264).
Jika dikaitakan dengan teori Penetrasi Sosial, pengguna cybersex, pada
tahap awal memang berusaha menjalin hubungan yang bertahap, dimulai dari
komunikasi basa-basi dengan lawan chatt seks mereka jika ada, dan selanjutnya
bila telah akrab akan berlanjut hingga ke pembicaraan yang lebih seri tentang
seksualitas, hingga akhirnya melakukan prilaku seksual tersebut meski melalui
media maya.
Dalam keilmuwannya, Altman dan Taylor dalam Griffin menyebutkan
penetrasi sosial berbicara tentang membandingkan sebuah bawang dan manusia
sebagai analogi untuk menjelaskan bagaimana orang melalui interaksi saling
mengelupas lapisan-lapisan informasi mengenai diri masing-masing. Setiap
lapisan yang terdapat pada bawang merupakan sebuah struktur penetrasi
seseorang hingga pada akhirnya mereka mengungkap dirinya. (Griffin, 2012:
114)
Dalam penelitian Meirinita (2014), tentang Self Disclosure Pengguna
Cybersex Kepada Peer Group Mengenai Perilaku Seksualnya disebutkan
Pengungkapan diri (self disclosure) merupakan hal yang penting dalam suatu
hubungan karena self disclosure dapat meningkatkan komunikasi yang efektif.
Self disclosure yang dilakukan oleh pengguna cybersex kepada peer group-nya
yang bukan pengguna cybersex tidak langsung terjadi dalam satu waktu, tetapi
mereka melakukannya secara bertahap seiring perkembangan hubungan mereka
dengan peer group (2014: 78). Bila dikaitkan dengan teori Penetrasi Sosial,
penelitian Meirina melihat bahwa, informan pengguna cybersex juga melakukan
pengungkapan diri secara bertahap. Mulai dari mengungkapkan hal-hal yang
bersifat sangat khusus atau hal-hal umum untuk diketahui orang banyak, hingga
bergerak menuju hubungan yang sangat dekat yang mengungkapkan hal-hal yang
84
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
lebih bersifat pribadi. Self disclosure yang terjadi antara informan pengguna
cybersex dan peer group-nya berbeda struktur lapisannya. Namun perkembangan
hubungannya tetap bergerak dari pengungkapan mengenai hal-hal umum menuju
pengungkapan mengenai hal yang lebih pribadi (private).
Sementara itu dalam Jurnal Psikologia-online, yang dilakukan oleh Noni
Novika Sari dan Ridhoi Meilona Purba (2012) yang berjudul Gambaran Perilaku
Cybersex Pada Remaja Pelaku Cybersex Di Kota Medan, menyatakan bahwa
mayoritas remaja pelaku Cybersex melakukan setidaknya empat perilaku
cybersex setelah melihat tayangan pornografi di media online. Perilaku seks
tersebut adalah kombinasi perilaku online sexual compulsivity, online sexual
behavior social, online sexual behavior isolation, dan interest in online sexual
behavior sebagai kombinasi perilaku terbanyak untuk tujuan rekreasi. Sementara
itu situs yang paling banyak dikunjungi oleh subjek penelitian untuk mencari
materi seksual adalah Youtube Porno, Youporn, Tube8, Google, World Sex, Lalat
X, Red Tube, Americasex, dan Ceritaseks. Hasil penelitian juga menyebutkan
remaja pengguna cybersex di kota Medan melakukan cybersex secara berulang,
dan sulit untuk berhenti atau tidak dapat mengendalikan diri untuk tidak
melakukannya tetapi hal ini dilakukan hanya untuk hiburan semata. Saat mereka
memiliki waktu luang, cybersex merupakan alternative hiburan yang dapat
mereka nikmati.
Dalam relis sebuah media online, Androlog dari Fakultas Kedokteran,
Universitas Katolik Fu Jen, Taiwan Dr. Han Sun Chiang, MD menyebut bahwa
dalam sebuah penelitian yang dilakukan di Taipei terungkap sekitar 57 persen
para siswa ini telah terbiasa dan merasa nyaman berkencan dengan orang asing
lewat internet dan bahkan melakukan hubungan seksual dalam semalam. Yang
memprihatinkan, sekitar 5 persen dari mereka bahkan telah terbiasa dengan
hubungan seksual. (http://velocityvelas.blogdetik.com/2011/04/17/pengertiancyber-sex-di-era-sekarang).
Dalam perkembanganya, tak jarang pengguna cybersex, terkadang
dikatakan sebagai orang yang telah melakukan prilaku menyimpang. Kartini
Kartono menyebutkan perilaku menyimpang merupakan tingkah laku yang
menyimpang dari tendensi sentral atau ciri-ciri karakteristik rata-rata dari rakyat
kebanyakan. Pelaku seks komersial termasuk kelompok orang yang memiliki
perilaku menyimpang dalam kehidupan bermasyarakat. Adapun faktor penyebab
perilaku menyimpang yang dilakukan pelaku seks komersial disebabkan
beberapa faktor.
Kartini Kartono
menyatakan faktor-faktor tersebut antara lain:
Sosialisasi Nilai-nilai Sub kebudayaan Menyimpang, Pengaruh lingkungan dan
media massa, Sikap mental yang tidak sehat, Ketidaksanggupan menyerap
norma, Kegagalan dalam proses sosialisasi, Ketidakharmonisan dalam keluarga,
Pelampiasan rasa kecewa, Dorongan kebutuhan ekonomi, Keinginan untuk
dipuji, Proses Belajar yang Menyimpang, Adanya Ikatan Sosial yang berlainan.
(Kartini, Kartono, 2005: 15).
85
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Kebiasaan yang berulang terus menerus dalam melihat hal-hal yang
berisfat pornografi dalam dunia online, akhirnya menjadi sebuah gaya hidup yang
sulit untuk dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari, Secara umum dapat diartikan
sebagai suatu gaya hidup yang dikenali dengan bagaimana orang menghabiskan
waktunya (aktivitas), apa yang penting orang pertimbangkan pada lingkungan
(minat), dan apa yang orang pikirkan tentang diri sendiri dan dunia di sekitar
(opini). Sedangkan menurut Minor dan Mowen gaya hidup adalah menunjukkan
bagaimana orang hidup, bagaimana membelanjakan uangnya, dan bagaimana
mengalokasikan waktu (Mowen, 2002: 282).
Menjadi Cyberseks saat ini di Indonesia juga didukung dengan pola gaya
hidup seseorang yang tak lepas dari gairah seks yang tinggi, dan terlalu penasaran
dengan hal-hal yang bersifat seksualitas. Apalagi didukung dengan akes
penggunaan internet yang mudah dan murah pada masa sekarang. Kebiasaan
yang terus diulang-ulang tersebut menjadi susah untuk dihilangkan dan pada
akhirnya menjadi sebuah gaya hidup yang sulit untuk dilepas. Suratno dan
Rismiati menyebutkan gaya hidup adalah pola hidup seseorang dalam dunia
kehidupan sehari-hari yang dinyatakan dalam kegiatan, minat dan pendapat yang
bersangkutan. Gaya hidup inilah akhirnya mencerminkan seseorang secara
keseluruhan bagaimana cara pribadinya dalam berinteraksi dengan lingkungan
(Rismawati dan Surtano, 2001: 174).
Metodologi
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian
kualitatif. Metode penelitian kualitatif adalah jenis penelitian yang temuantemuannya tidak diperoleh melalui prosedur kuantifikasi, perhitungan statistik,
atau bentuk cara-cara lainnya yang menggunakan ukuran angka.
Kualitatif berarti sesuatu yang berkaitan dengan aspek kualitas, nilai atau
makna yang terdapat dibalik fakta. Kualitas, nilai atau makna hanya dapat
diungkapkan dan dijelaskan melalui linguistik, bahasa, atau kata-kata. Oleh
karena itu, bentuk data yang digunakan bukan berbentuk bilangan, angka, skor
atau nilai; peringkat atau frekuensi; yang biasanya dianalisis dengan
menggunakan perhitungan matematik atau statistik (Creswell, 2014: 166). Jenis
penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian studi kasus.
Menurut Creswell dalam studi kasus kualitatif, seseorang dapat menyusun
pertanyaan maupun sub pertanyaan melalui isu dalam tema yang dieksplorasi,
juga sub pertanyaan tersebut dapat mencakup langkah-langkah dalam prosedur
pengumpulan data, analisis dan konstruksi format naratif. (Creswell, 2014: 172).
Pada penelitian ini peneliti mengamati interaksi yang terjadi pada
pengguna cybersex. Peneliti menggunakan metode kualitatif studi kasus,
dimaksudkan agar peneliti dapat mengetahui bagaimana sesungguhnya perilaku
informan penelitian, sehingga menjadikan media online sebagai tempat
pelampiasan nafsu mereka, dan menjadi gaya hidup yang sulit untuk dilepaskan.
Informasi ini peneliti peroleh melalui hasil wawancara mendalam dan observasi
partisipan.
86
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Mahasiswa dipilih menjadi informan dalam penelitian ini. Mahasiswa
pengguna internet aktif tersebut dipilih secra teknik purposive sampling. Menurut
Sugiyono, purposive sampling adalah teknik penentuan sampel dengan
pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2009: 85). Subjek yang dipilih berdasarkan
kriteria tertentu sesuai dengan masalah dan tujuan penelitian. Kriteria informan
yang peneliti ambil yaitu para pengguna cybersex yang mau terbuka dalam
menceritakan kebiasaan mereka setelah melihan dan menggunakan cyberseks.
Pencarian informan peneliti dapatkan dari guide yang memang
mengetahui dan mengenal teman-temannya yang sering melakukan chatt seks
serta memiliki kebiasaan buruk melakukan seks didunia maya setelah terangsang
dengan website-website apa yang mereka buka. Peneliti hanya menggunakan
tiga orang informan saja karena keterbatasan peneliti dalam menemukan
informan penelitian. Selain itu tidak banyak pengguna cybersex yang mau
terbuka serta mengungkapkan diri kepada orang lain yang bukan pengguna
cybersex, sehingga peneliti menemukan kesulitan untuk mendapatkan informan
yang mau terbuka untuk mengungkapkan mengenai perilaku mereka.
Pertimbangan peneliti memutuskan untuk menggunakan tiga orang informan saja
juga karena tiga orang informan ini telah memenuhi tujuan penelitian. Dalam
penelitian peneliti melakukan studi kepada pengguna cybersex yang merupakan
seorang mahasiswa yang ada di kota Padang.
Hasil Temuan dan Diskusi
Perilaku Seksual Pengguna Cybersex
Sesuatu yang tidak diragukan lagi, bila banyak orang mengasosiasikan
internet dengan seks, sebab dari berbagai penelitian didapat hasil bahwa situssitus internet yang orientasinya seksual termasuk yang paling banyak dilihat
peselancar dunia maya. Namun mencari dan menikmati berbagai situs seks yang
memiliki konten pornografi secara berkelanjutan mengakibatkan seseorang
menjadi terbiasa dan akhirnya membawa diri seseorang tersebut melakukan
perilaku seksual.
YS, salah satu informan dalam penelitian ini mengaku, menjadikan
internet menjadi medianya dalam mengeksplorasi fantasi seksual. Mahasiswa
yang duduk pada semester tiga salah satu perguruan tinggi negeri di Kota padang
menyebutkan lebih rinci bahwa internet merupaka media yang sangat aman dan
pribadi baginya dalam perilaku seksual terhadap dirinya sendiri.
Sementara itu BR informan lainnya, mengaku aktif sebagai pengguna
cybersex sejak 2 tahun terkahir (2014 lalu) mengakses situs seks awalnya untuk
penyaluran gairah seksual saja. Namun kebiasaan buruk tersebut terus diulangnya
hanya untuk mendapat kepuasaan sesaat sehingga melahirkan perilaku seksual
kecanduan seks siber (cybersex). Kecanduan seks bagi dir BR yang berusia 20
tahun ini, didorong karena berperilaku tertentu terus menerus.
MM, informan penelitian ini juga menuturkan dirinya bisa berjam-jam
setiap hari menghabiskan waktu untuk menjelajah situs seks. Dan MM sering
melakukan masturbasi hanya dengan melihat gambar-gambar porno yang
87
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
merangsang atau melakukan chat seks dengan komunitas mereka.
Cooper, Delmonico, dan Burg (dalam Carners, Delmonico & Griffin,
2001) mengatakan bahwa individu yang mengakses materi seksual untuk
memenuhi rasa ingin tahu atau untuk hiburan dan merasa puas dengan
ketersediaaan materi seksual yang diinginkan. individu melakukan cybersex
semata-mata untuk kenikmatan fisik yang mana orgasme merupakan tujuan
utamanya (dalam Widyastuti, 2009).
Alasan Melakukan Cybersex
Media online sebagai salah satu sarana media baru yang muncul seiring
kemajuan internet. Munculnya media baru ini berpengaruh terhadap perilaku
penyimpangan sosial, khususnya terhadap perilaku seksual kelompok usia remaja
menuju dewasa. Cybersex, saat ini telah menjadi sebuah fenomena seksual yang
berkembang sangat pesat, terutama di kota-kota besar dimana internet semakin
mudah diakses. Kendati kota Padang dikenal sebagai kota yang masuk dalam
kategori religius, namun tidak mentup praktik perilaku seksual yang dilakukan
oleh kelompok usia muda. Kondisi ini ditambah pula semakin menjamurnya situs
porno, fasilitas chatting yang menawarkan webcam dan telepon internet.
YS mengaku, menjadi kecanduan sebagai pengguna cybersex, karena
secara berulang menggunakan fasilitas internet guna pemuasan hasrat seksualnya.
Situs-situs yang sering dilihatnya adalah gambar porno, dan cerita-cerita dengan
topik “seksual” lewat dunia maya. YS juga menyebutkan Cybersex menawarkan
kemudahan, dimana pelakunya tidak perlu takut dikenali masyarakat bila
mengunjungi prostitusi, mengunjungi sex shop, serta identitas di dunia maya pun
dapat dikaburkan.
YS juga menyebutkan saat ini, fasilitas cybersex sangat terjangkau, dan
internet juga cukup murah. Fasilitas chatting gratis, begitu pula materi-materi
porno yang terkandung dalam berbagai situs porno juga banyak yang dapat
dilihat tanpa biaya hingga dapat di-download dengan cepat. Menurut YS salah
satu konten cybersex yang sering diselancarnya adalah, bermain game online seks
yang terhubung dengan pengguna cybersex lainnya dibelahan dunia, YS merasa
sangat puas dalam melakukan fantasi Cybersex karena dalam dunia game online
pengguna bisa menentukan kriteria fisik lawan jenis yang diinginkan.
Keisengan Melihat Situs Porno Menjadi Gaya Hidup
Tidak hanya itu saja, keisengan BR, salah satu informan penelitian ini
menceritakan, dirinya semakin tidak bisa mengendalikan diri karena kebiasaan
yang pada akhirnya menjadi gaya hidupnya hingga kini untuk menjadi pengguna
cybersex. Menurut BR, keisengan dirinyanya tersebut selalu dimulai dengan
menggunakan fasilitas webcam sex, Multimedia-software: game erotis, video
porno dan melakukan chatt dengan orang luar negeri bahkan sering kali
melakukan oral ketika chatt bersama kelompok cybersex lainnya melalui online.
BR mengaku, situs porno saat ini dalam penggunaannya sangat mudah untuk
diakses. Apalagi konten-kontennya bisa dikonsumsi secara publik dari berbagai
golongan sosial tanpa memandang usia, pekerjaan, jenis kelamin.
88
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Sementara itu MM, Selalu merasa bersalah usai berselancar seks didunia
maya. Meskipun ia sering menghabiskan menghabiskan banyak uang untuk
mengakses situs-situs porno yang berbayar, namun ia bersikap sangat pendiam,
karena selalu takut tertangkap basah oleh orang lain ketika sedang menyalurkan
hasrat seksualnya.
Proses Tahapan Perkembangan Hubungan Pengguna Cybersex dengan
Komunitasnya dalam Teori Penetrasi Sosial.
Hubungan Pengguna Cybersex dengan Komunitasnya dalam Teori
Penetrasi Sosial. Salah satu infoman MM menyebutkan, selama menjadi
pengguna cybersex mereka memiliki kelompok tertutup dalam mengakses
cybersexs dalam dunia online. Bahkan memungkinkan mereka melakukan seks
tidak hanya melalui game online saja tetapi bisa langsung secara nyata. Mereka
berkenal dan akhirnya menjadi akrab karena sama-sama pengguna cybersex
dalam dunia maya. Hasil penelitian yang telah penulis dapatkan menunjukkan
bahwa proses keterbukaan yang dilakukan pengguna cybersex kepada
komunitasnya seperti yang dikemukakan oleh Altman and Taylor. Keterbukaan
atau self disclosere dilakukan secara bertahap dalam perkembangan hubungan
dan melalui pengelupasan lapisan-lapisan informasi mengenai diri masingmasing.
Lapisan pertama yang terjadi antara pengguna Cybersex dengan
komunitasnya ini sesuai dengan asumsi teori penetrasi sosial atau onion theory
yang dipaparkan oleh Altman dan Taylor (1973, dalam Rohim, 2009: 84) bahwa
hubungan komunikasi diantara orang dimulai pada tahapan pengungkapan
informasi yang umum dan bergerak pada sebuah hubungan yang lebih intim.
Pada tahap kedua dalam proses keterbukaan diri dengan cybersex lainnya,
biasanya pengguna cybersex mengungkapkan hal-hal mengenai nilai-nilai dan
kepercayaan yang dimiliki. MM dan YS mengaku selama menjalin hubungan
pertemanan bersama komunitas cybersex yang beda jenis kelamin lainnya
mereka, sebenarnya jarang membicarakan persoalan nilai-nilai agama dan
kepercayaan.
Pada lapisan ketiga Pengguna Cybersex mulai menunjukkan konsep diri
yang dimilikinya. Dalam penelitian ini BR salah seorang informan
mengungkapkan dirinya, bahwa dirinya sering membuka cybersex di internet
bukan atas kehendaknya sendiri, tapi karena suatu hari tidak sengaja melihat
banyak video yang mengandung pornografi dalam sebuah situs yang dibukanya.
Karena kebiasaan akhirnya BR sering mengakses dan men-download kontenkonten porno tersebut . Sejak saat itu, ia memutuskan untuk tidak bisa sehari saja
untuk tidak membuka internet. Dirinya kecanduan untuk melihat hal-hal yang
bersifat seksualitas. BR berusaha bergabung dalam sebuah komuniktas cybersex
yang ditemukannya melalui media sosial.
Semakin erat hubungan pertemanan BR dengan komunitas cybersexnya
semakin membuat dirinya menjadi bergairah dan terbiasa. BR mengaku karena
keseringan melihat situs-situs porno, dirinya pun pernah melakukan hubungan
suami istri dengan sesama teman cybersexnya setelah menonton video porno.
89
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Pada lapisan kelima, pengguna cybersex mengungkapkan mengenai tujuan dan
keinginan yang ingin dicapainya. BR, MM dan YS menceritakan bahwa mereka
melakukan kegiatan cybersex karena didorong oleh rasa penasarannya terhadap
kegiatan seksual terpuaskan. Kegiatan cybersex juga dianggap sebagai suatu
pengetahuan yang bisa dipraktikkan pada pasangan mereka kelak setelah
menikah.
Setelah melakukan keterbukaan mengenai konsep dirinya sebagai
pengguna cybersex, para informan mengaku lebih luwes dalam menjalin
perteman antar sesama mereka hubungan, bahkan mereka mengaku jika chatt
terjadi dalam dunia maya, antar komunitas cybersex, mereka selalu berdiskusi
dan mulai menceritakan hal-hal yang lebih pribadi kepada teman-teman tertutup
mereka tersebut. Seperti halnya pengungkapan mengenai tujuan dan ketakutan
yang terjadi pada lapisan kelima dan keenam dalam proses tahapan keterbukaan
diri antar cybersex.
Pada lapisan yang terakhir, rata-rata informan mengaku, merasa takut
dan khawatir tentang keadaan mereka dengan lingkungan sosialnya seperti
keluarga. Mereka juga merasa sangat berdosa dan tersadar telah melakukan
prilaku menyimpang dalam hidup mereka. Dari penjelasan di atas dapat dilihat
bahwa proses pengungkapan diri seseorang tidak berbeda-beda dan tidak selalu
harus melalui semua lapisan yang ada seperti yang disebutkan dalam teori
penetrasi sosial atau The Union Theory. Proses pengungkapan diri mengenai
konsep diri, yang merupakan lapisan paling dalam menurut The onion theory,
bisa saja terjadi di tengah-tengah tahapan. Hal ini disebabkan oleh faktor
intensitas pertemuan yang dialami pengguna cybersex terhadap perilaku seksual
menyimpang mereka.
Selain itu, dapat dilihat bahwa hubungan yang terjadi antara informan
penggguna cybersex dengan komunitas tertutupnya merupakan hubungan yang
berkembang. Hubungan pertemanan mereka tidak berhenti sampai di situ,
melainkan berlanjut bahkan menjadi semakin akrab. Pada hubungan mereka yang
berkembang ini, pengungkapan lebih banyak terjadi. Seperti yang menjadi
prinsip dasar teori ini yang menyatakan bahwa hubungan yang berkembang
memiliki lebih banyak pengungkapan yang terjadi dari pada hubungan yang
kurang berkembang (Littlejohn, 2009: 293).
Dalam perkembangan hubungan yang terjadi, juga tidak terjadi seperti
sebuah garis lurus yang bergerak dari sesuatu yang umum ke sesuatu yang
pribadi. Hubungan dapat berkembang dalam berbagai cara, yang seringkali
bergerak maju dan mundur dalam membagi informasi pribadi. Seperti ketika
terjadi konflik atau perbedaan pendapat yang terjadi di antara mereka yang
mengakibatkan hubungan mereka sedikit merenggang. Hubungan mereka yang
sedikit merenggang itu bukan berarti hilang begitu saja. Hubungan pertemanan
mereka akan kembali bergerak maju dan konflik yang terjadi telah hilang ataupun
dilupakan. Hal ini sesuai dengan gagasan Altman dan Taylor yang
mengemukakan bahwa menurut teori penetrasi sosial (Littlejohn, 2009: 293)
sebuah proses yang berputar dan dialektis. Disebut berputar karena proses ini
90
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
bekerja dalam siklus yang maju mundur, dan disebut dialektis karena melibatkan
pengaturan yang tak pernah habisnya antara yang umum dan yang pribadi.
Simpulan
Kebiasaan yang buruk dalam menggunakan media baru ke arah negatif,
dapat nimbulkan masalah serius jika sampai kecanduan. Penggunaan media baru
memang tidak bisa dikontrol dan diawasi secara ketat, namun pengendaliannya
bisa dilakukan melalui diri sendiri. Dalam penelitian ini pengguna Cybersex
yakni yang dilakukan mahasiswa dibeberapa perguruan tinggi di Kota Padang,
telah kehilangan lost control pada diri mereka, disebabkan atas beberapa faktor,
diantaranya adalah, kebiasaan yang terus menerus melakukan selancar pada situssitus porno di Internet.
Pengguna Cybersex ini juga memiliki komunitas tertutup yang jumlahnya
tidak diketahui. Melalui chatt tertutup mereka bisa melakukan perbuatan
menyimpang seksual salah satu dengan berfantasi Cybersex menggunakan game
online, dimana pengguna Cybersex bisa menentukan kriteria fisik lawan jenis
yang diinginkan. Pada penelitian ini, informan pengguna cybersex juga
melakukan pengungkapan diri secara bertahap seperti lapisan bawang yang
terdapat dalam The Union Theory atau teori Penetrasi Sosial.
Adapun saran yang ingin peneliti berikan dalam penelitian ini,
mahasiswa yang memiliki perilaku buruk dalam memanfaatkan internet sebagai
cybersex diharapkan bisa merubah perilaku mereka dengan memperdalam agama
kepercayaannya masing-masing serta mengurangi kegiatan melakukan aktivitas
cybersex karena memberikan pengaruh dan dampak yang buruk terhadap diri
sendiri. Orangtua juga dianjurkan untuk mengawasi putra-putri mereka dalam
pergaulan anak-anak mereka. Untuk penelitian lebih lanjut, sebaiknya peneliti
perlu melakukan penelitian tentang berapa besar dampak media online dalam
Cybersex tidak hanya dari kelompok mahasiswa namun juga remaja yang rentan
dengan prilaku seksual mulai dari pendidikan dasar hingga tingkat pendidikan
atas.
Daftar Pustaka
Buku
Asiku, Ahmad D. (2005). Cybersex: Finally Exposed. Jakarta: Mahenjo Daro
Publishing. [e-book]
Bungin, Burhan. (2008). Sosiologi Komunikasi: Teori, Paradigma, dan
Discourse Teknologi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Carners, P. J., Delmonico, D. L., & Griffin, E. J. (2001). In the shadows of the
net. Center City: Hazelden Foundation.
Cooper, A. (2002). Sex and the internet. U.S.A: Brunner-Routledge
Carvalheira, A. A., & Gomes, F.A. (2002). Cybersex in Portuguese chatrooms a
study of sexual behaviors related to online sex. Brunner-Routlege.
91
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Creswell, John W. Research. (2014). Design: Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif,
dan Mixed. Jakarta: Pustaka Pelajar
Denis McQuail. (2011). Teori Komunikasi Massa. Jakarta: Salemba Humanika.
Daneback, Cooper, & Mansson (2004). An internet study of cybersex
participants. Business
Media, Inc.
Golberg, P. D. (2004). An Exploratory Study About The Impacts That Cybersex
(The Use Of The Internet For Sexual Purposes) Is Having On Families And
The Practices Of Marriage And Family Therapists. Tesis master yang tidak
dipublikasikan, Virginia Polytechnic Institute and State University, Falls
Church, Virginia, U.S.A.
Kartini, Kartono. (2001). Patologi Sosial. Jakarta : Rajawali Press.
Littlejohn, Stephen W. (2009). Theories Of Human Communication, Fifth
Edition, Wadsworth Publishing Company, Belmont Californea.
Minor, Michael, Mowen, John C. (2002). Perilaku Konsumen. Jakarta: Erlangga
Slouka, Mark. (1999). Ruang Yang Hilang: Pandangan Humanis Tentang
Budaya Cyber Space Yang Merisaukan. Bandung: Mizan.
Rohim, Syaiful. (2009). Teori Komunikasi, Perspektif, Ragam, dan Aplikasi.
Jakarta: Rineka Cipta.
Sugiyono. (2009). Metode Penelitian Bisnis (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif).
Bandung: Alfabeta.
Suratno dan Rismiati (2001). Teori Gaya Hidup. Yogyakarta : Kanisius.
Young, K. S. (1996.). Internet Addiction : The Emergence Caught in The Net.
New York : John Willey & Sons.
Widyastuti. (2009). Kesehatan Reproduksi. Yogyakarta: Fitra Maya
Karya Ilmiah
Meirianita, Aldina. (2014). Self Disclosure Pengguna Cybersex Kepada Peer
Group Mengenai Perilaku Seksualnya (Studi Pada Mahasiswa Di Kota
Padang). Padang: Universitas Andalas
Jurnal
Purba, Meilona, Ridhoi& Sari, Novika, Noni Sari Ridhoi, (2012). Gambaran
Perilaku Cybersex Pada Remaja Pelaku Cybersex Di Kota Medan. Dimuat
dalam Psikologia-online, 2012, Vol. 7, No. 2 Tahun 2012.
Website
https://adilalaras.wordpress.com/2014/10/03/new-media/)
http://www.kompasiana.com/priskasp/new-media-sebagai-perubahan-gaya
hidup_55100008813311cf36bc5fda
http://www.luvseks.com/2011/06/mengenal-lebih-dalam-tentang-cybersex.html).
http://munawarohnainggolan.blogspot.com/
Wawancara
Informan YS, Padang Maret- July 2015
92
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Informan BR, Padang Maret- July 2015
Informan MM, Padang Maret- July 2015
Biografi Singkat Penulis
Elva Ronaning Roem, lahir di Pekanbaru 30 Maret 1980, saat ini sedang
mengikuti Program Pascasarjana Doktor Ilmu Komunikasi FIKOM Universitas
Padjadjaran. Bekerja sebagai dosen tetap di Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP
Universitas Andalas. Penulis aktif melakukan penelitian tentang Kajian media dan
budaya, masalah-masalah Sosial, serta Gender. Sering menjadi penyaji makalah
dalam Seminar nasional dan Internasional dan tulisan karya ilmiah banyak dimuat
dalam jurnal nasional terakreditasi dan lokal. Saat ini sedang menggarap buku
tentang Suara Pelaku Seks Komersial yang Tertindas yang diadopsi dari hasil
penelitiannya. Penulis juga aktif dalam kegiatan ISKI dan ASPIKOM serta Forum
Dosen Indonesia (FDI).
93
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
FENOMENA PERILAKU NARSISME DI INSTAGRAM
(STUDI FENOMENOLOGI LAKI-LAKI METROSEKSUAL)
Dr. Welly Wirman, S.IP., M.Si, Emia Vintanta K Br S, Eoudia Stefanie
Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik, Jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Riau
[email protected], [email protected],
[email protected]
Abstract
The use of social media lead some changes in social, cultural and human
behavior. One of them is encourage the emergence of narcissism behavior. Act of
narcississm can be defined as an excessive love toward oneself. Chaplin
(Kristanto, 2012) revealed that people who like to taking pictures and show it to
others, then upload it into their social networking as narcissism. The act of
narcissism related to photography content. This is making instagram as one of
popular social media in visual facilities become the widespread of narcissism
behavior which affects not only women but also men, especially – in this city life
nowadays – metrosexual men. The term of metrosexual men refer to men that
care so much about their personal appearance. This type of men have been
classified as effeminate type of men compared to men in general concept. Not
only that, they have been deemed to have narcissistic lifestyle. From this
phenomenon, a research being conducted by using descriptive qualitative
approach and phenomenological theory that focus on someone’s motive in doing
social action with metrosexual men as informant. Besides that, we also conducted
research on how metrosexual men define their narcissism behavior in instagram.
Through this research, we obtained result that the in-order to motive of using
instagram is based on their desire to promote themselves and achieve economic
opportunities. Therefore, they try to present themselves as a fashionable and
trendy person through their preferred photography style in order to attract the
attention of others. Meanwhile the because of motive of narcissism behavior in
instagram is due to their hobby of take pictures and the influence of their friends
who were also so narcissistic in instagram. Then, the informant define their
narcissism behavior as a lifestyle, something fun and profitable.
Keywords: Instagram, Narcissim, Metrosexual, Motive.
Abstrak
Penggunaan media sosial menimbulkan perubahan sosial, budaya dan perilaku
manusia. Salah satunya, yaitu mendorong timbulnya perilaku narsisme. Perilaku
narsisme sendiri diartikan sebagai perilaku yang menunjukan perasaan cinta
terhadap diri sendiri yang berlebihan. Chaplin (Kristanto, 2012) mengungkapkan,
bahwa mereka yang sering berfoto ria untuk dipamerkan kepada orang lain, salah
satunya dengan diunggah ke dalam jejaring sosial miliknya disebut sebagai
narsisme. Berhubungan erat dengan konten fotografi, membuat media sosial
populer berfasilitaskan konten visual dan audiovisual instagram menjadi sarana
merebaknya perilaku narsisme. Perilaku narsisme di instagram ini tidak hanya
94
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
menerpa kaum perempuan saja, melainkan juga kaum pria terutama – dari
kehidupan kota saat ini – pria metroseksual. Istilah pria metroseksual sering
disebutkan pada pria yang begitu peduli akan penampilan pribadinya. Pria tipe ini
dinyatakan sebagai tipe pria yang lebih kemayu dari pada konsep pria pada
umumnya. Selain itu, mereka juga dinilai memiliki gaya hidup yang narsistik.
Atas fenomena ini, penelitian pun dilakukan dengan menggunakan pendekatan
deskripstif kualititatif dan teori fenomenologi yang berpusat pada motif
seseorang dalam melakukan tindakan sosial dengan informan pria metroseksual.
Selain itu, dilakukan juga penelitian mengenai pemaknaan pria metroseksual
terhadap perilaku narsismenya di instagram. Melalui penelitian ini, diperoleh
hasil bahwa in-Order to motive penggunaan instagram didasarkan pada keinginan
mereka untuk mempromosikan diri dan meraih peluang ekonomis. Oleh
karenanya, mereka mencoba menampilkan diri mereka sebagai pribadi yang
modis dan trendi melalui preferensi gaya berfoto agar menarik perhatian orang
lain. Sementara Because of Motive perilaku narsis disebabkan oleh hobi atau
kesukaan diri untuk berfoto dan karena pengaruh dari teman juga yang ternyata
juga begitu narsis di instagram. Kemudian, para informan memaknai perilaku
narsismenya di instagram sebagai gaya hidup, sesuatu yang menyenangkan dan
menguntungkan.
Kata kunci: Instagram, Narsisme, Metroseksual, Motif.
Pendahuluan
Salah satu bentuk perkembangan teknologi berbasis internet yang
populer adalah media sosial. Dengan fasilitasnya yang interaktif, cepat dan
meluas, media sosial secara nyata mampu menarik banyak pengguna internet
lewat kemampuannya dalam penciptaan dan pertukaran konten kepada pengguna
lainnnya. Seperti di Indonesia, dengan jumlah pengguna internet mencapai 88,1
juta pada 2014 lalu, akses media sosial menjadi hal paling sering dilakukan oleh
netter Indonesia (APJII, 2015). Lambat laun, penggunaan media sosial
menimbulkan perubahan sosial, budaya dan perilaku manusia.
Salah satu bentuk perubahan sosial yang terjadi atas hadirnya media
sosial ialah perilaku narsisme. Fasilitas media sosial sebagai sarana bersosial dan
interaksi secara global, mengarahkan para penggunanya untuk mengekspresikan
dan mengekspos mengenai siapa diri mereka. Hal ini dilakukan melalui tulisan
dalam status, bahkan mengunggah foto maupun video yang bersifat privat
sekalipun. Alhasil perilaku narsisme menjadi hal tidak terhindarkan. Seperti yang
marak terjadi dalam salah satu media sosial 10 besar dunia (Global Web Indeks,
2015), instagram.
Sebagai media sosial dengan fokus berbagi konten dalam bentuk visual,
instagram menjadi sarana bagi timbulnya perilaku narsisme. Sebab perilaku
narsisme berhubungan dengan hasrat untuk menyalurkan aktivitas dan
penampilan fisik melalui fotografi. Sebagaimana layanan yang instagram berikan.
Yang mana para penggunanya diajak berkreasi dengan mengunggah berbagai
jenis foto dan video berdurasi maksimal 15 detik demi menampilkan sesuatu
95
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
yang mungkin memperoleh tanda like maupun follower (pengikut) yang banyak.
Lebih jauh Chaplin (Kristanto, 2012) mengungkapkan, bahwa kata Narsisme atau
Narsis, sering disebutkan pada mereka yang seringkali membanggakan dirinya
sendiri atau mereka yang sering berfoto ria untuk dipamerkan kepada orang lain,
salah satunya dengan diunggah ke dalam jejaring sosial miliknya.
Perilaku narsisme di media sosial pun sudah berlaku universal. Tidak
memandang latar belakang sosial, ekonomi maupun gender. Dan yang menarik
perhatian peneliti dari kehidupan kota saat ini adalah pria metroseksual. Dikenal
sebagai women-oriented men, pria metroseksual adalah pria sejati namun
mempunyai kepedulian besar pada penampilan layaknya seorang perempuan
(Leman, 2008: 106). Mereka dengan percaya diri mampu menampilkan sisi
femininnya dengan melakukan perawatan diri lewat berbagai macam produk
seperti wewangian, perawatan rambut dan kulit, tubuh – yang secara tradisional
dikenal sebagai produk kaum hawa. Mereka juga dikenal memiliki gaya hidup
hedonis, rela mengeluarkan biaya demi kebutuhan penampilan dirinya. Sehingga,
tidak heran bila pria metroseksual mempunyai perilaku narsisme dan kini
merambah lewat penggunaan instagram. Yang mana, konten fotografi yang
mereka unggah tersebut cenderung mempromosikan diri lewat gaya hidupnya,
prestasi, keindahan fisik dan penampilan yang mereka miliki, sebagaimana
pandangan tentang perilaku narsisme menurut John & Robins (Buffardi &
Campbell, 2008).
Atas sejumlah hal inilah, tim peneliti tertarik melakukan penelitian
dengan ruang lingkup yang mencakup pada motif dan makna diri dari fenomena
perilaku narsisme oleh pria metroseksual di instagram berdasarkan studi
fenomenologi.
Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini: bagaimana fenomena
perilaku narsisme pria metroseksual di Instagram, dengan identiifkasi sebagai
berikut:
1. Bagaimana motif pria metroseksual berperilaku narsisme di instragram?
2. Bagaimana pria metroseksual memaknai perilaku narsismenya di instagram?
Penelitian ini mempunyai beberapa tujuan :
1. Mengetahui motif dibalik perilaku narsisme pria metroseksual di instagram;
2. Mengetahui bagaimana pria metroseksual memaknai perilaku narsismenya di
instagram.
Tinjauan Pustaka
Perilaku Narsisme
Robert Kwick (dalam Sunaryo, 2004: 3) mendefinisikan perilaku sebagai
tindakan suatu organisme yang dapat diamati dan bahkan dapat dipelajari.
Perilaku seseorang itu ditentukan oleh berbagai kebutuhan untuk memenuhi suatu
tujuan atau tindakan akhir yang paling disukai dari suatu objek. Perilaku itu
terjadi karena adanya dorongan-dorongan yang kuat dari diri dalam diri
seseorang itu sendiri sesuai dengan apa yang dipikirkan, dipercayai dan apa yang
dirasakan.
96
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Narsisme didefinisikan sebagai pecinta diri, punya ketertarikan terhadap
diri sendiri, membanggakan diri sendiri termasuk keunggunalan atau kemampuan
secara mental dan fisik (Juju & Sulianta, 2010:28). Narsisme sudah berlaku
universal dalam penggunaan media sosial. Menurut Chaplin (Kristanto, 2012),
kata Narsisme atau Narsis, sering disebutkan pada mereka yang seringkali
membanggakan dirinya sendiri atau mereka yang sering berfoto ria untuk
dipamerkan kepada orang lain, salah satunya dengan diunggah ke dalam jejaring
sosial miliknya.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa perilaku narsisme
merupakan sebuah tindakan seseorang yang menunjukkan rasa kecintaan
terhadap diri dan terkesan membanggakan diri, yang terkadang diekspresikan
secara berlebihan dengan kesan mempromosikan diri lewat gaya hidupnya,
prestasi, keindahan fisik dan penampilan yang mereka miliki Terutama lewat
penggunaan media sosial saat ini. Survei dari Pew Internet & American Life
Project menyatakan, 54% pengguna internet punya kebiasaan mengunggah potret
dirinya ke dalam Facebook, Twitter, atau jejaring sosial lainnya
http://health.kompas.com/read/2013/12/18/1151301/Apa.Kata.Psikolog.soal.Foto
.Narsis.di.Jejaring.Sosial.). Sehingga indikator perilaku narsisme yang akan
dimaksud diidentifikasi melalui konten visual berupa fotografi yang dengan
sengaja diunggah ke media sosial.
Pria Metroseksual
Secara etimologis, kata metroseksual berasal dari kata Yunani, yaitu
metropolis yang artinya ibu kota plus seksual. Lebih jelasnya didefinisikan
sebagai sosok narsistik dengan penampilan dandy, yang jatuh cinta tidak hanya
terhadap diri sendiri, tetapi juga gaya hidup urban.
Kartajaya (2007:213) menyebutkan pria metroseksual sebagai pria
normal yang segi emosionalnya semakin berkembang; pria yang semakin
mampu mengekspresikan emosi dan perasaannya secara lembut. Mereka lebih
senang ngobrol dan memiliki berkomunikasi lebih baik daripada pria
kebanyakan. Dari yang paling nyata terlihat, pria metroseksual sangat
fashionable serta sangat memperhatikan penampilan diri. Secara lebih jauh pria
metroseksual dideskripsikan sebagai laki-laki yang cinta setengah mati tak
hanya terhadap dirinya, tetapi juga gaya hidup kota besar yang dijalaninya
(Simpson dalam Kartajaya dkk., 2004).
Jadi, pria metroseksual adalah pria yang senang merawat diri, peduli
akan penampilan, mempunyai minat dalam fashion dan kehidupan perkotaaan.
Ciri-ciri Pria Metroseksual
Beberapa ciri pria metroseksual dikemukakan oleh Kartajaya dkk.
(2004). Yaitu:
a) Pada umumnya hidup dan tinggal di kota besar dimana hal ini tentu
berkaitan dengan kesempatan akses informasi, pergaulan dan gaya hidup
yang dijalani.
97
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
b) Berasal dari kalangan berada dan memiliki banyak uang karena banyaknya
materi yang dibutuhkan sebagai penunjang gaya hidup dijalani.
c) Memiliki gaya hidup urban dan hedonis.
d) Secara intens mengikuti perkembangan flutsion di majalah fashion.
Makna Diri
Makna diri merupakan salah satu komponen dari konsep diri.
Sebagaimana konsep diri terdiri atas bagaimana cara kita melihat diri sendiri
sebagai pribadi, bagaimana kita merasa tentang diri sendiri, dan bagaimana kita
menginginkan diri sendiri menjadi manusia sebagaimana yang kita harapkan.
Konsep diri bukan merupakan bawaan, melainkan berkembang dari
pengalaman yang terus menerus dan terus terdiferensiasi. Sehingga makna diri
yang dimiliki oleh seseorang berkembang pula dari pengalaman yang dimiliki
olehnya. Makna diri yang dimaksud ialah bagaimana seseorang memandang
dirinya atau memaknai dirinya maupun perilakunya.
Sedangkan Centi (1993) mengemukakan konsep diri (self concept) tidak
lain tidak bukan adalah gagasan tentang diri sendiri, konsep diri terdiri dari
bagaimana kita melihat diri sendiri sebagai pribadi menjadi manusia sebagaimana
yang di harapkan.
Teori Fenomenologi Alfred Schutz
Fenomenologi berasal dari bahasa Yunani phainomai yang berarti
“menampak”. Phainomenon menunjuk pada “yang menampak”. Fenomena tiada
lain adalah fakta yang disadari, dan masuk ke dalam pemahaman manusia.
Fenomenologi mempelajari fenomena yang tampak di depan kita, dan
bagaimana penampakannya (Kuswarno, 2009: 1). Fenomenologi merupakn
metode yang berusaha untuk memahami bagaimana seseorang mengalami dan
memberi makna pada sebuah pengalaman.
Menurut Schutz, tugas fenomenologi adalah menghubungkan antara
pengetahuan ilmiah dengan pengalaman sehari-hari. Dengan kata lain
mendasarkan tindakan sosial pada pengalaman, makna dan kesadaran. Yang
mana menurutnya, tindakan sosial merupakan tindakan yang berorientasi pada
perilaku orang atau oran lain pada masa lalu, sekarang dan akan datang.
Tindakan sosial inilah yang kemudian dicoba dimaknai melalui interpretasi atau
penafsiran guna memperjelas atau memeriksa makna yang sesungguhnya
(Kuswarno, 2009: 18).
Untuk menggambarkan keseluruhan tindakan seseorang, Schutz
mengelompokannya dalam dua fase, yaitu:
a) Because of motives (well of motive), yaitu tindakan yang merujuk pada masa
lalu. Dimana, tindakan yang di lakukan oleh seseorang pasti memiliki alasan
dari masa lalu ketika ia melakukannya. Motif ini disebut pula sebagai motifsebab.
b) in-order-to-motive (Um zu Motiv), yaitu motif yang merujuk pada tindakan
di masa yang akan datang. Dimana, tindakan yang di lakukan oleh seseorang
98
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
pasti memliki tujuan yang telah di tetapkan. Motif ini disebut pula sebaagai
motif-untuk atau motif-tujuan.
Metodologi
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan
pendekatan fenomenologi. Lokasi penelitian adalah Fakultas Ilmu Sosial dan
Ilmu Politik Universitas Riau (FISIP UR). Alasan pemilihan lokasi penelitian ini
karena FISIP UR dikenal sebagai fakultas dengan mahasiswanya yang cukup
high class dibandingkan fakultas lainnya. Kemudian, dengan fokus pada bidang
politik dan sosial, mahasiswa FISIP dibimbing untuk peduli akan penampilan dan
mahasiswanya juga memiliki kesadaran akan penggunaan media sosial yang
besar, terutama jurusan Ilmu Komunikasi, Hubungan Internasional dan
Pariwisata.
Waktu penelitian sekitar 3, 5 bulan, mulai pertengahan Oktober 2015
hingga awal Januari 2016 dengan 10 informan yang memenuhi, baik pria
metroseksual maupun perilaku narsisme di instagram. Adapun jenis data
penelitian yang digunakan adalah sebaga berikut:
1) Data primer yang diperoleh dengan cara wawancara langsung dengan
informan dan observasi pada keseharian dan akun instagram para informan.
2) Data sekunder tersusun dalam bentuk dokumen dan referensi yang peneliti
peroleh dari dokumentasi pria metroseksual yang memiliki perilaku narsisme
di instagram.
Hasil Temuan dan Diskusi
Berdasarkan penelitian yang dilakukan, diperoleh hasil bahwa informan
memiliki orientasi metroseksual dan perilaku narsisme yang berbeda di dalam
akun instagramnya. Walaupun telah dijelaskan sebelumnya bahwa pada dasarnya
setiap pria metroseksual mempunyai perilaku narsisme dalam dirinya. Penulis
pun mengelompokkan perbedaan tersebut dalam tiga tipe/kategori:
1. Body oriented Metrosexual men
Mereka pria metroseksual yang berorientasi pada penampilan bentuk
tubuh yang ideal. Mereka adalah tipe yang senang berolahraga atau pergi ke
fitness. Dalam akun instagram, mereka juga tidak canggung mengunggah foto
yang memamerkan keindahan tubuh mereka dan aktivitas mereka di pusat
kebugaran.
99
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Gambar 1: Body Oriented Metrosexual Men
2. Fashion oriented Metrosexual men
Pria metroseksual tipe ini berorientasi pada tampilan luar seperti gaya
berpakaian. Terkadang mereka bisa disebut sebagai fashion addict, mempunyai
pengetahuan akan tren busana dan selera berpakaian yang bisa dikatakan unik
serta menonjol dibandingkan pria kebanyakan. Tubuh bagus atau yang idealis,
sehat, dan bugar bukan menjadi fokus mereka layaknya tipe pertama. Dalam akun
instagram, mereka senang memposting foto mengenai gaya busana harian
mereka.
Gambar 2: Fashion Oriented Metrosexual Men
100
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
3. Mix Metrosexual men
Pria metroseksual tipe ini merupakan campuran dari tipe pertama dan tipe
kedua. Dalam artian, memiliki orientasi pada performa tubuh dan gaya pakaian.
Mereka dengan tipe ini memilih gaya hidup sehat sekaligus tampilan trendi.
Gambar 3: Mix Oriented Metrosexual Men
Motif pria metroseksual berperilaku narsisme di instagram
Motif menunjuk pada alasan seseorang melakukan sesuatu. Penelitian ini
menemukan motif pria metroseksual berperilaku narsisme di instagram, dengan
identifikasi sebagai berikut:
1. Because of Motive (Motif Sebab)
a. Hobi
Semua informan (10 orang) menyatakan bahwa dasar, motif mereka
berperilaku narsis lewat konten visual di instagram karena hobi berfoto.
Tidak jarang mereka berfoto sebanyak mungkin demi hasil terbaik,
kemudian memilih salah satunya untuk diunggah. Kemudian 2 diantaranya
mengaku memang sangat menyukai dunia fashion sehingga perilaku narsis
mereka disebabkan oleh keinginan mereka bereksplorasi mengenai hobinya
tersebut. Selain itu, seorang diantara 10 informan mengaku bahwa dirinya
hobi pada hal-hal baru. Sehingga, sedapat mungkin dia mencoba
memposting foto sesuai tren atau gaya baru di instagram.
b. Di ajak teman
Sebanyak 4 orang informan mengaku berperilaku narsis oleh karena
ajakan dari teman atau pengaruh dari teman. Yang mana, kebanyakan dari
101
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
teman mereka, sudah banyak menggunakan instagram dan mempunyai gaya
foto yang narsis pula. Sehingga para informan yang berinteraksi dalam
lingkungan tersebut memiliki pola penggunaan instagram yang sama pula.
2. In order to motive (Motif Tujuan)
a. Promosi diri
Sebanyak 7 orang informan mengaku berperilaku narsis dengan tujuan
untuk promosi diri, ingin dikenal atau bahkan terkenal. Oleh karena itu
mereka menampilkan berbagai kelebihan mereka sebagai pria yang trendi,
berkelas, tampan, mapan sebagaimana pria metroseksual itu.
b. Sarana Ekonomi
Sebanyak 5 orang informan mengaku berperilaku narsis dengan tujuan
untuk mendapatkan peluang bisnis. Yang mana lewat jumlah follower
mereka dapat memperoleh peluang menjadi bintang iklan atau endorse..
Makna Perilaku Narsisme di Instagram bagi Pria Metroseksual
Pria metroseksual memaknai perilaku narsisme di instagram sebagai hal
berikut:
1. Gaya Hidup
Mereka memandang perilaku narsisme di instagram ini adalah gaya
hidup dan sudah menjadi hal biasa serta umum pula. Menurut mereka hal ini
sesuai dengan tujuan dari media sosial instagram yang memang untuk unggahmenggungah konten fotografi kita, menunjukkan siapa kita dan identitas yang
dibawa dalam nama akun kita. Jadi segalanya tentang diri kita.
2. Sesuatu yang Menyenangkan
Mereka merasa bahwa foto-foto yang narsis unggahan mereka sebagai
ajang eksplorasi diri mereka. Sehingga mereka mampu mengekspresikan
dirinya dalam foto-foto yang bebas, menarik dan sesuai dengan apa yang
diinginkan. Di mana instagram mampu memenuhi kebutuhan mereka dalam
mengekspresikan dirinya yang mungkin tidak bisa dilakukan di dunia nyata.
Terutama dengan adanya follower dan like yang mampu memberikan dorongan
dan nilai tambahan pada setiap foto yang diunggah.
3. Sesuatu yang Menguntungkan
Mengunggah foto narsis di instagram merupakan sesuatu yang cukup
menguntungkan. Selain bisa terkenal juga bisa memperoleh pekerjaan dan juga
apresiasi dari followers. Seperti endorse, menjadi bintang iklan, dll. Beberapa
informan secara konsisten menampilkan konten yang sama dengan tujuan untuk
menarik perhatian orang yang ahli dalam bidang tersebut sehingga menjadi
peluang kerja baginya.
Diskusi
Perkembangan teknologi, membuat perubahan pada gaya hidup. Alhasil
berimplikasi pada perubahan sosial, budaya dan perilaku manusia. Tidak seorang
pun dapat lepas dari dorongan akan perubahan tersebut. Seperti fenomena pria
metroseksual di perkotaan. Yakni, pria normal yang begitu telaten dalam menjaga
penampilan dirinya. Untuk penampilannya, mereka rela mengeluarkan biaya pada
102
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
sejumlah produk – identik milik wanita dulunya – yang kian merambah dengan
tulisan “for men”. Besarnya kepedulian mereka akan penampilan diri mereka
menyebabkan setiap pria metroseksual ini memiliki gaya hidup yang narsis, yang
mencintai diri mereka. Perilaku narsisme ini kemudian merambah di media
sosial. Manifestasi tersebut dapat dilihat dari foto yang diunggah di akun
instagram – media sosial populer berfasilitas visual – mereka. Alhasil sering kali
kita temui di instagram, sejumlah pria metroseksual dengan apik dan berani
mengunggah foto dirinya dalam kesan feminis atau terjaga penampilannya
layaknya wanita.
Dari penelitian ini, para informan mengakui perilaku narsisme yang
ditujukan lewat foto yang diunggah di instagram sebagai hal umum dan
sewajarnya dilakukan dalam media sosial. Anggapan ini juga tampaknya menjadi
corak penggunaan instagram bagi kebanyakan orang. Sehingga sudah kita akui
biasa pula bila orang mengekpos apa yang mereka miliki, gaya hidup mereka,
keseharian diri mereka pula di dalam instagram. Tatkala menampilkan hal yang
dipandang narsis tersebut juga banyak disenangi serta membangkitkan perhatian
netizen. Oleh karena itu, adanya kecenderungan peniruan dalam penggunaan
media sosial instagram.
Terlepas dari pandangan umum di atas, bagaimana baiknya kita melihat
fenomena perilaku narsisme pria metroseksual di instagram ini?
Simpulan
1. Motif pria metroseksual berperilaku narsis lewat foto unggahannya di
instagram, yaitu a) because of motive: hobi dan diajak teman; b) in order to
motive: promosi diri dan sarana ekonomi.
2. Pria metroseksual memaknai perilaku narsismenya di instagram sebagai gaya
hidup, sesuatu yang menyenangkan dan sesuatu yang menguntungkan.
Walaupun perilaku narsisme sudah menjadi hal umum di media sosial,
namun sebaiknya tetap menjaga batasan. Sebab perilaku narsisme yang
berlebihan akan menyebabkan timbulnya individu yang individualis. Tidak hanya
pria metroseksual, tetapi para pengguna media sosial sebaiknya menguasai diri.
Daftar Pustaka
APJII. 2015. Profil Pengguna Internet Indonesia 2014. Jakarta: Asosiasi
Penyelenggara Jasa Internet Indonesia.
Buffardi, L. E. & Campbell, W.K. (2008). Narcissism and Social Networking
Web Sites. Personality and Social Psychology Bulletin, Vol. 34 No. 10.
(Online). (http://psp.sagepub.com), diunduh 26 Oktober 2015.
Global Web Index. Q3 2015. GWI Social Summary: GlobalWebIndex’s quarterly
report
on
the
latest
trends
in
social
networking.
(http://insight.globalwebindex.net/social), diunduh pada 3 Januari 2015.
Juju, Dominikus dan Feri Sulianta. 2010. Hitam dan Putih Facebook. Jakarta: PT
Elex Media Komputindo.
103
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Kartajaya, H.. Yuswohady. Madyani. D.,Christynar, M. & Indrio. B.D. (2004).
Metrosexuals in Venus : Pahami Perilakunya. Bidik Hatinya, Menangkan
Pasarnya. Jakarta : Mark Plus & Co.
Kartajaya, Hermawan. 2007. Hermawan Kartajaya on Marketing Mix. Bandung:
Penerbit Mizan.
Kristanto, S. (2012). Tingkat Kecenderungan Narsistik Pengguna Facebook.
Journal of Social and Indutrial Psychology 1 (1). (Online).
(http://journal.unnes.ac.id), diunduh 26 Oktober 2015.
Kuswarno, Engkus. 2009. Metode Penelitian Komunikasi Fenomenologi:
Konsepsi, Pedoman, dan Contoh
Penelitiannya. Bandung: Widya
Padjadjaran
Leman. 2008. The Best Chinese Strategies. Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Utama.
Sunaryo. 2004. Psikologi untuk Keperawatan. Jakarta: EGC.
Biografi Penulis
Dr. Welly Wirman, S.IP., M.Si merupakan dosen tetap di jurusan Ilmu
Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau. Beliau
merupakan lulusan S1 Hubungan Internasional FISIP UR tahun 1995.
Melanjutkan studi S2 dan S3 di Universitas Padjajaran dan taman pada tahun
2002 dan 2012. Kini, beliau menjabat sebagai ketua jurusan Ilmu Komunikasi
FISIP UR.
Emia Vintanta lahir di Kota Medan pada tanggal 31 Juli 1995. Saat ini
tercatat sebagai salah satu mahasiswi Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP
Universitas Riau konsentrasi Hubungan Masyarakat angkatan 2013. Sebelumnya
menjalani jenjang pendidikan SD Methodist, SMP Putri Cahaya hingga SMA
Swasta Cahaya di Medan.
Eoudia Stefanie dilahirkan di Surabaya pada tanggal 20 November 1995.
Saat ini tercatat sebagai salah satu mahasiswi Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP
Universitas Riau konsentrasi Hubungan Masyarakat angkatan 2013. Sebelumnya
menjalani jenjang pendidikan SD hingga SMA di Sekolah Kristen Kalam Kudus
Pekanbaru.
104
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
UJARAN KEBENCIAN: MEMBANGUN LITERASI ERA DIGITAL
Benedictus A.S
Universitas Pelita Harapan
[email protected]
Abstract
The development of technology nowadays promote a change from the way
individuals communicate either through face-to-face interaction and the
interaction thattec occurs interface, through writing. One form of the
technological development is the existence of a web 2.0 platform that establishes
an individual as a contributor in interaction with other humans, meaning that the
individual could be creator of the message than the user. Therefore, the ability to
manage the means of expression and followed the norms and rules in the surf in
the virtual world became the foundation for the ability of digital literacy. This
paper seeks to provide a description to prevent interaction with the speech of
hatred in some cases the speech of hatred that has been going on and attempts to
portray the way of prevention through digital literacy.
Keywords: platform web 2.0, contributor, hate speech, digital literacy
Abstrak
Kemajuan teknologi mendorong terjadinya perubahan dari cara individu dalam
berkomunikasi baik melalui interaksi tatap muka maupun interaksi yang terjadi
antarmuka, melalui tulisan. Salah satu perkembangannya adalah keberadaan
platform web 2.0 yang menetapkan individu menjadi kontributor dalam interaksi
dengan manusia lain, artinya individu bisa menjadi pencipta pesan selain
pengguna. Oleh karena itu kemampuan untuk mengelola cara berekspresi dan
mengikuti norma dan aturan dalam berselancar di dunia virtual menjadi pijakan
untuk mengetahui kemampuan melek digital. Tulisan ini berusaha memberikan
deskripsi untuk mencegah interaksi dengan ujaran kebencian pada beberapa kasus
mengenai ujaran kebencian yang sudah terjadi dan coba digambarkan mengenai
cara untuk pencegahan melalui melek digital.
Kata Kunci: platform web 2.0, contributor, ujaran kebencian, melek digital
Pendahuluan
Perkembangan teknologi hingga sekarang mencapai era informasi pada
akhirnya mendorong perubahan dari tata cara dan sistem perbincangan yang
terjadi antar manusia. Sebelumnya kita bisa berbicara secara tatap muka
langsung, namun era informasi penggunaan medium menjadi faktor pembedanya,
inilah yang bisa kita katakana sebagai komunikasi yang termediasi (mediated
communication). Karakteristik sebuah komuunikasi yang termediasi adalah
adanya sifat jejaring (network) serta sifat interaktivitas. Kedua sifat ini
mengindikasikan bahwa era informasi, jarak, ruang, dan waktu sudah tidak
dibatasi sehingga keterkaitan satu individu dengan individu lain kuat dan
105
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
interaktivitas sangat cepat, sehingga bisa dikatakan bahwa satu pesan yang
dikirim atau disampaikan melalui sebuah laman atau melalui internet bisa
„diketahui‟ oleh individu yang berada dalam sistem jaringannya, apalagi dengan
adanya media sosial, seperti Facebook, Twitter, Path, ataupun lainnya.
Menjamurnya media sosial, seperti data yang dikeluarkan oleh We Are
Social dalam www.id.techinasia.com, memperlihatkan bahwa terdapat 1,86
miliar pengguna aktif media sosial di seluruh dunia dan aplikasi yang paling
banyak digunakan adalah WeChat dengan 272 juta pengguna aktifnya. Lalu,
bagaimana dengan Indonesia ? We Are Social juga merilis hasil datanya yang
mengatakan bahwa dari total populasi 251 juta jiwa, pengguna internet adalah
kurang lebih 38 juta jiwa (15 %) dan pengguna media sosial paling banyak
adalah Facebook sebesar 62 juta dengan pengguna ponsel aktif adalah 281 juta
(mengindikasikan bahwa seorang individu mempunyai lebih dari satu ponsel
aktif). Kemudian bagaimana kita membaca data yang dirilis ini ? Data yang
dirilis bila dikaitkan dengan karakteristik dari internet, maka bisa
mengindikasikan bahwa pergerakan dari dinamika komunikasi antar manusia
sangat cepat dan banyak, dan bisa mengindikasikan pula bahwa implikasi dari
penggunaan media sosial akan sangat besar. Misalnya saja baru-baru ini terdapat
kasus terorisme di Jalan M.H. Thamrin, Jakarta, maka penyiaran berita mengenai
peristiwa dan pesan ketidaktakutan melalui tagar (#kamitidaktakut,
#wearenotafraid) tersampaikan dengan cepat. Lalu, bagaimana bila pesan bersifat
ujaran kebencian disampaikan melalui media sosial ?
Fenomena mengenai ujaran kebencian sudah banyak terjadi di Indonesia,
misalnya saja kasus Florence Sihombing di Yogyakarta yang memaki-maki
SPBU, kemudian tukang tusuk sate yang memaki-maki Presiden Joko Widodo
dan berujung pada permintaan maaf dari tukang sate tersebut. Dari data yang
didapatkan mulai tahun 2013 ke 2014 terjadi kenaikan sekitar 53 persen (41
kasus dari 72 kasus UU ITE) dengan angka rata-rata hingga Oktober 2014
pelaporan sebanyak 4 kasus, seperti dikutip dari laman id.techinasia.com
(diunduh, 18 Januari 2016). Masih dari laman yang sama diketahui bahwa
terdapat 92 %1 dilaporkan dengan defamasi (pencemaran nama baik) yang sesuai
dengan pasal 27 ayat 3 UU ITE, sedangkan sisanya 5 % mengenai pasal
penistaan agama dan 1 % mengenai pengancaman. Kemudian bila menggunakan
media sosial, maka Facebook menempati urutan pertama media yang
menyampaikan ujaran kebencian sebanyak 49 %.
Besarnya pelaporan mengenai ujaran kebencian, khususnya pencemaran
nama baik mengindikasikan bahwa fenomena ini menarik untuk dikaji dan
diangkat sebagai sebuah wacana analisis. Tulisan ini berusaha memberikan
1
Pelanggaran untuk Pasal 27 UU ITE bukan hanya pelanggaran yang berdiri
sendiri, namun juga dikenakan bersamaan dengan pasal lainnya dengan rincian
adalah Pasal 27 ayat 3 sebesar 59 %, Pasal 27 ayat 3 + KUHP 310-311 sebesar 33
%, Pasal 27 ayat 3 UU ITE dan Pasal 28 ayat 2 UU ITE sebesar 5 %, sedangkan
sisanya 1 % adalah KUHP 310-311 dan Pasal 29 UU ITE (sumber :
id.techniasia.com, 2 desember 2014, diunduh 18 Januari 2016)
106
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
deskripsi untuk mencegah interaksi dengan ujaran kebencian pada beberapa kasus
mengenai ujaran kebencian yang sudah terjadi dan coba digambarkan mengenai
cara untuk pencegahan melalui melek digital.
Tinjauan Pustaka
Ujaran kebencian (Hate speech) banyak didefinisikan oleh berbagai
pemikir antara lain School of Peacemaking and Media Technology in Central
Asia dikatakan bahwa scara luas pengertian ujaran kebencian (hate speech)
adalah “.. refers to a range of negative discourse that incites hostility”;
sedangkan menurut Lawrence, Matsuda, Delgado, & Crenshaw, 1993, p.1,
kemudian Tajfel & Turner, 1986 :1 seperti dikutip dari Jones, Remland, &
Sanford (2007 : 41) mengatakan bahwa “ hate speech is defined as “words that
are used as weapons to ambush, terrorize, wound, humiliate, and degrade”, also
directed at injuring person’s social identity”. Dari ketiga definisi diatas dapat
terlihat beberapa konsep yang berkaitan dengan ujaran kebencian yakni adanya
kata atau wacana yang sifatnya negatif atau menyerang atau menyakiti atau
mendegradasikan identitas dari seseorang. Sehingga bisa dikatakan sekali seorang
individu masuk dalam sebuah komunitas, maka identitas dari individu tersebut
melekat pada dirinya.
Definisi lain mengenai ujaran kebencian ditulis sebagai hasil kerjasama
antara The Programme in Comparative Media Law and Policy, Universitas
Oxford dengan Addis Ababa University (2014) mengatakan bahwa ujaran
kebencian bisa dianalisis melalui 3 cara pandang, yakni Concept, context, and
transmission. Konsep fokus pada pemahaman mengenai ujaran kebencian itu
sendiri dan ujaran seperti apa yang bisa dikategorikan sebagai ujaran kebencian;
konteks fokus pada bentuk situasi dan kondisi dimana ujaran tersebut terjadi;
terakhir, transmisi fokus pada media yang digunakan untuk membahas mengenai
penyebaran ujaran kebencian tersebut.
Lalu apakah definisi dari ujaran kebencian secara konvensional berbeda
dengan ujaran kebencian secara digital atau online. Facebook sebagai sebuah
media sosial mengatakan bahwa ujaran kebencian dikatakan sebagai berikut :
“Content that attacks people based on their actual or perceived race,
ethnicity, national origin, religion, sex, gender, sexual orientation, disability
or disease is not allowed.” They also add a significant note: “We do,
however, allow clear attempts at humor or satire that might otherwise be
considered a possible threat or attack. This includes content that many
people may find to be in bad taste”
Kemudian Twitter, seperti dikatakan oleh Lina Lanpiere, bahwa Twitter
tidak mempunyai mengatakan mengenai ujaran kebencian sebagai berikut
“publish or post direct, specific threats of violence against others”; sedangkan
Youtube tidak memperkenankan adanya ujaran kebencian dan mereka
memberikan definisi mengenai ujaran kebencian sebagai,”speech which attacks
or demeans a group based on race or ethnic origin, religion, disability, gender,
107
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
age, veteran status and sexual orientation/gender identity”. Lalu, google
memberikan pengertian mengenai ujaran kebencian dalam aturan mengenai User
Content and Conduct Policy yang mengatakan bahwa,” do not distributes content
that promotes hatred or violence toward groups of people based on their race or
ethnic group, religion, disability, gender, age, veteran status, or sexual
orientation/gender identity”.
Dari media sosial diatas bisa tergambarkan bahwa mereka sebenarnya
sudah menempatkan bahwa ujaran kebencian merupakan sebuah definisi yang
sudah tertera dan diperuntukkan untuk pengguna agar menghindari hal yang erat
hubungannya dengan ujaran kebencian. Kondisi lainnya bisa terlihat secara garis
besar bahwa pemahaman mengenai ujaran kebencian tidak berbeda antara ujaran
konvensional di media konvensional maupun di media digital. Hal
membedakannya hanya medium yang digunakan, sehingga karena perbedaan
tersebut cara untuk melakukan kajian mengenai ujaran kebencianpun akan
berbeda pula.
Dalam satu tulisannya, salah seorang pemerhati Indonesia, Mark
Woodward
(2012),
seperti
dikutip
dalam
laman
http://dennyjaworld.com/ayomajukanindonesia/post/10, diunduh 25 Januari 2016, pernah
meletakkan ujaran kebencian sebagai bagian dari contentious discourse. Khusus
terkait isu agama, Woodward membedakan contentious discourse ke dalam
empat rentang, berdasarkan sejauh mana seseorang atau suatu kelompok
mendorong kekerasan fisik atau simbolik terhadap kelompok agama lain akibat
ujaran (atau wacana, discourse) yang dikemukakan:
1. Dialog/diskusi terkait perbedaan agama,
2. Pengutukan unilateral terhadap keyakinan dan praktik keagamaan lain,
3. Justifikasi kekerasan secara implisit (dengan dehumanisasi dan
demonisasi terhadap orang atau kelompok lain),
4. Provokasi kekerasan secara eksplisit.
Menurut Woodward, level 1 dan 2 di atas masih berada dalam lingkup
civil discourse karena keduanya tidak mengancam yang lain, baik secara implisit
maupun eksplisit. Ujaran kebencian berada di level 3 dan 4 dan sudah
mengancam, merendahkan martabat yang lain (tidak menganggapnya sebagai
manusia, dehumanisasi) dan lebih jauh lagi menyetankan yang lain (menganggap
yang lain sebagai jahat atau nista) dan karena itu harus dihancurkan. Pada tahap
ini, kompromi dan negosiasi hampir mustahil dilakukan dan aksi-aksi kekerasan
bahkan dibenarkan.
Sedangkan kalau kita merujuk pada Surat Edaran yang dikeluakan oleh
Kapolri No. SE/6/X/2015 mengatakan bahwa ujaran kebencian adalah
“Menurut surat edaran tesebut, ujaran kebencian adalah tindak pidana yang
berbentuk, penghinaan, pencemaran nama baik, penistaan, perbuatan tidak
menyenangkan, memprovokasi, menghasut, penyebaran berita bohong, dan
semua tindakan di atas memiliki tujuan atau bisa berdampak pada tindak
diskriminasi, kekerasan, penghilangan nyawa, dan atau konflik sosial.
Aspeknya meliputi suku, agama, aliran keagamaan, keyakinan dan
108
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
kepercayaan, ras, antar golongan, warna kulit, etnis, gender, kaum difabel,
dan orientasi seksual”
Artinya kalau kita coba menggabungkan antara keseluruhan pemahaman
mengenai ujaran kebencian, maka bisa didapatkan bahwa pemikiran mengenai
ujaran kebencian berkaitan dengan ujaran negative kepada orang lain sehingga
orang lain merasa bahwa dirinya mengalami kondisi yang didominasi oleh pihak
lain. Karena kondisi didominasi inilah yang mendorong keinginan untuk
mempertahankan dirinya sehingga kemungkinan terjadinya perlawanan akan
sangat besar. Oleh karena untuk menciptakan atau terbangunnya sebuah integrasi,
maka diperlukan adanya sebuah literasi atau melek dalam berinteraksi apalagi
menggunakan media sosial atau di era digital ini.
Literasi Media Digital
Pembahasan mengenai ujaran kebencian memang tidak akan terlepas
dari bagaimana isi pesan tersebut dikonstruksikan dan pada akhirnya tidak
terlepas dari pengaruh individu yang melakukan konstruksi tersebut. Individu
yang melakukan konstruksi tentu saja kita dapat telusuri dari pengalaman
interaksi yang ia lakukan (field of experiences) serta kerangka rujukan yang ia
miliki (frame of reference), sehingga bisa dikatakan bahwa individu tidak
membawa hasil pemikirannya sendiri, namun hasil pemikiran yang sudah bersifat
bias atau subjektif. Subjektifitas dalam menyampaikan isi pesan tentu saja
banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal dan internal, seperti kondisi
lingkungan ketika ia berinteraksi atau bahkan kondisi diri ketika interaksi terjadi.
Literasi media menurut Potter (2005:22) adalah seperangkat cara
pandang aktif kita untuk menampilkan diri kita pada sebuah media dalam rangka
untuk menafsirkan makna pesan yang kita hadapi. Potter (2005) juga secara
terbuka mengatakan bahwa terminologi „literasi‟ dikaitkan dengan media cetak
atau dalam hal ini adalah dikaitkan dengan kemampuan membaca ; begitupun
yang dikatakan oleh Lanham (1995:198) mengatakan bahwa konsep „literasi‟
secara semantik berarti „kemampuan untuk membaca dan menulis‟ atau dapat
dikatakan sebagai kemampuan untuk memahami informasi yang disampaikan.
Namun karena penulis menggunakan kasus yang berkaitan dengan pesan di
internet, maka lebih tepat kalau menggunakan konsep literasi digital, yakni
sebuah konsep yang mengaitkan pesan tersebut mediumnya.
Buckingham (2003) membagi literasi media ke dalam 4 aspek
konseptual, yakni representasi, bahasa, produksi dan pengguna (audiences).
Representasi merujuk pada penggambaran mengenai dunia dimana ada pemilihan
dan interpretasi realitas, bahasa menunjukkan kemampuan tidak hanya untuk
menggunakan bahasa, tetapi juga memahami bagaimana bahasa itu bekerja. Dua
aspek konseptual lainnya adalah produksi merujuk pada mengenai interaktan
dalam komunikasi dan kenapa terjadi, dan terakhir pengguna merujuk pada
tingkat perhatian mengenai posisi dirinya. Keempat aspek konseptual ini
merupakan langkah kritikal untuk mencoba menggali mengenai literasi pada
media digital.
109
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Namun, hal yang perlu diperhatikan ketika kita ingin mencapai individu
pengguna yang melek secara digital, seperti dikatakan oleh Lankshear & Noble
(2008) bahwa orang yang melek secara digital adalah orang yang bisa bergerak
cepat atau bergeser dari satu medium ke medium lainnya – mengetahui ekspresi
yang akan ditampilkan disesuaikan dengan pengetahuan yang dimilikinya dan
terampil dalam menampilkan informasi yang khalayak-pun mudah untuk
mengakses dan memahaminya.
Hasil Temuan dan Diskusi
Seperti dikatakan oleh Woodward (2012) bahwa ujaran kebencian itu
masuk ke dalam sebuah wilayah wacana yang disebutnya sebagai „contentious
discourse‟ atau sebuah wacana yang kontroversial. Pemahaman mengenai
kontroversial ini bisa dipahami sebagai sebuah kondisi dimana sebuah ujaran
tidak sesuai dengan aturan, norma, adat istiadat, maupun sistem keyakinan yang
ada di masyarakat atau bisa dikatakan sebagai sebuah wacana yang menimbulkan
degradasi kepada individu maupun kelompok yang pada akhirnya akan
mendorong terjadinya disintegrasi. Damar Junianto seperti dikutip dalam
http://www.wakoka.co.id/surat-edaran-kepolisian-tentang-ujaran-kebencian-hatihati-dengan-ucapan-dimedia-sosial-haters/,
diunduh 25
Januari
2016,
memberikan contoh bahwa pernah ada seorang pembicara memberikan ilustrasi
bahwa autis itu karena bermain gawai.
Contoh lainnya seperti diungkapkan oleh http://harianbernas.com/berita1836-Tolak-Ujaran-Kebencian-di-Masyarakat.html, diunduh 25 Januari 2016,
bahwa “belakangan ini seorang pengguna facebook mengirim komentar yang
rasis dan menghasut. Pengguna facebook itu mengekspresikan kemarahannya
dengan mengatakan ingin berburu dan menyembelih orang berdasarkan
kebenciannya terhadap ras tertentu”. Kedua contoh diatas menandakan bahwa
ujaran kebencian bisa merusak seseorang atau komunitas yang pada akhirnya
berujung pada konflik bahkan bisa terjadi disintegrasi. Pertanyaannya akan
muncul bagaimana caranya kita bisa melek media secara digital ? Apakah perlu
kembali untuk memahami cara berkomunikasi atau cara penyampaian pesan
kepada orang lain ?
Melek Media Digital
Paul Gilster (1997) secara sederhana mengatakan bahwa literasi digital
adalah literasi untuk era digital. Oleh karena pemikiran tentang era digital selalu
dikaitkan dengan masyarakat informasi dimana masyarakat menggunakan
berbagai macam sumber digital, seperti adanya kemampuan untuk memilih,
kompleksitas informasi, serta konstruksi sebagai seorang kontributor. Berikutnya
yang perlu diperhatikan adalah bahwa melek digital adalah sebuah keterampilan
untuk mengetahui cara melakukan tindak komunikasi, mengenali aturan yang
berkaitan dengan tindakan komunikasi sehingga ketika manusia berkomunikasi,
maka manusia mempunyai keterampilan untuk memilah, memilih, dan
menentukan kata dan kalimat yang akan digunakan.
110
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Seperti kita ketahui bahwa ketika manusia berkomunikasi satu dengan
lainnya, maka manusia selalu ada dalam sebuah aturan. Dalam berkomunikasi,
maka terdapat dua aturan penting untuk terciptanya komunikasi yang baik, yakni
Constitutive rules dan Regulative Rules. Regulative Rules adalah sebuah aturan
dalam berkomunikasi menurut aturan tertentu, biasanya aturan itu adalah aturan
yang sudah diketahui atau sudah menjadi „common sense‟ diantara orang yang
melakukan komunikasi. Aturan regulative ini adalah aturan yang sifatnya sesuai
dengan norma, nilai, maupun adat istiadat sehingga ketika manusia
berkomunikasi, maka ia sudah mengetahui cara melakukan komunikasi dengan
orang lain. Sedangkan, constitutive rules adalah aturan dimana kita memaknai
pesan yang kita interaksikan dengan orang lain dan memaknai pesan tersebut
tergantung dari konteksnya.
Kalau kita mengetahui kedua aturan tersebut dan diaplikasikan dalam
dunia digital, maka yang perlu diketahui terlebih dahulu adalah aturan-aturan
yang diperlukan dalam melakukan interaksi di dunia digital. Menurut Virginia
Shea dalam http://www.albion.com/netiquette/introduction.html, diunduh 25
Januari 2016) mengatakan bahwa aturan dalam dunia digital bisa dinamakan
dengan „netiquette‟ atau bisa dikatakan sebagai kepanjangan dari etiket di dunia
digital (net + etiquette). Dalam dunia digital seperti dikatakan oleh Shea bahwa
anda mungkin dapat menyerang orang lain tanpa ada maksud apapun atau anda
mungkin salah paham akan apa yang orang lain katakan dan kemudian
menyerang orang lain walau tanpa maksud. Sehingga bisa dikatakan bahwa
ketika kita berinteraksi di dunia digital, kita bisa secara mudah melupakan
dengan siapa kita berinteraksi dan karena itu pesan yang kita sampaikan-pun
seolah-olah merupakan pesan yang berlalu begitu saja.
Virginia Shea memberikan 10 etiket dalam melakukan interaksi di dunia
virtual (http://www.albion.com/netiquette/corerules.html, diunduh 25 Januari
2016), yakni :
1. Remember the Human
2. Adhere to the same standards of behavior online that you follow in your
real life
3. Know where you are in cyberspace
4. Respect other’s people time and bandwidth
5. Make yourself look good online
6. Share expert knowledge
7. Help keep flame wars under control
8. Respect other’s people privacy
9. Don’t abuse your power
10. Be forgiving of other’s people mistakes
Kesepuluh aturan diatas memperlihatkan bahwa keterampilan dalam
menggunakan internet sebagai sarana interaksi di dunia digital mutlak untuk
diperlukan. Aturan nomor 1 memperlihatkan bahwa dalam berinteraksi di dunia
digital yang kita hadapi adalah layar dalam hal ini Personal Computer (PC), layar
sentuh di telepon selular, atau bahkan layar pada notebook kita. Ketika kita
111
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
menghadapi layar, maka yang harus kita pahami adalah kita bukan berhadapan
dengan layar tetapi kita berhadapan dengan manusia dibalik layar. Oleh karena
itu kita harus mengingat bahwa yang perlakukanlah orang lain, seperti yang
orang lain lakukan untuk kita. Kalau kita mengingat pernyataan tersebut, maka
keinginan untuk menyakiti orang lain tidak akan terjadi.
Aturan dan tata cara lain untuk menjaga dan mempertahankan
terciptanya sebuah interaksi melingkupi aturan diatas bisa dilakukan oleh sebuah
Badan yang mengelola lalu lintas interaksi di dunia digital maupun diri sebagai
penggunanya. Misalnya saja untuk diri sendiri maka pengguna harus mengetahui
bahwa dirinya adalah seorang kontributor. Seorang kontributor adalah seorang
yang tidak hanya sebagai pengguna, tetapi juga sebagai pencipta dari konten yang
dibuatnya. Sebagai pencipta dari sebuah konten, menurut Kurbalija (2010:146),
maka konsekuensinya pengguna harus mempunyai kemampuan untuk
mengidentifikasi, menyaring, dan menandai situs yang “tidak pantas”. Dengan
melakukan penyaringan, maka pengguna bertindak sebagai „gatekeeper‟ bagi
dirinya sendiri dan dengan demikian konsekuensi dari pesan yang disampaikan
adalah tanggungjawab pengguna pribadi sekaligus memperlihatkan kehati-hatian
pengguna dalam menyampaikan konten pesan kepada orang lain.
Hal lain yang patut diketahui oleh kita sebagai contributor dari sebuah
web dalam dunia digital adalah pemahaman mengenai prinsip kebebasan dalam
berekspresi. Kebebasan dalam berekspresi pada sebuah Web adalah bukan
kebebasan dalam arti sebebas-bebasnya dan boleh menyampaikan pesan apapun,
namun kebebasan dalam hal ini adalah kebebasan yang sifatnya terbatas dan
bertanggungjawab. Seperti tercantum dalam Kovenan Internasional tentang HakHak Sipil dan Politik (www.hukumonline.com, diunduh 18 Januari 2016), Pasal
19) tertulis kesepakatan sebagai berikut :
1. Setiap orang berhak untuk berpendapat tanpa campur tangan.
2. Setiap orang berhak atas kebebasan untuk menyatakan pendapat; hak ini
termasuk kebebasan untuk mencari, menerima dan memberikan informasi dan
pemikiran apapun, terlepas dari pembatasan- pembatasan secara lisan, tertulis,
atau dalam bentuk cetakan, karya seni atau melalui media lain sesuai dengan
pilihannya.
3. Pelaksanaan hak-hak yang dicantumkan dalam ayat 2 pasal ini menimbulkan
kewajiban dan tanggung jawab khusus. Oleh karenanya dapat dikenai
pembatasan tertentu, tetapi hal ini hanya dapat dilakukan sesuai dengan
hukum dan sepanjang diperlukan untuk:
(a) Menghormati hak atau nama baik orang lain; (b) Melindungi keamanan nasional atau ketertiban umum atau
kesehatan atau moral umum. Oleh karena itu bisa dikatakan bahwa keterampilan untuk melek secara
digital tidak hanya berkaitan dengan aturan yang melingkupi penggunaannya,
namun juga kemampuan untuk memaknai pesan yang disampaikan oleh manusia
dibelakang layar, pada titik ini aturan yang bersifat konsitutif tercipta.
112
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Pemaknaan terhadap digital sebagai alat dan digital sebagai sumber pesan dimana
manusia yang mempunyai motif berinteraksi dengan manusia lainnya.
Simpulan
Ujaran kebencian merupakan sebuah motif pesan yang disampaikan oleh
seorang individu kepada individu lain dengan tujuan untuk menyerang orang lain,
mendominasi orang lain bahkan bisa menciptakan disintegrasi apabila berkaitan
dengan sebuah kelompok atau bangsa. Untuk menciptakan sebuah ujaran yang
tidak menyerang orang lain atau kelompok lainnya, oleh karena itu keterampilan
untuk melek secara digital mutlak diperlukan. Virginia Shea mendorong 10
aturan untuk meningkatkan keterampilan dan melek secara digital ditambah
dengan aturan mengenai hak-hak sipil sebagai warga Negara yang bisa dikenakan
kepada pengguna dalam berinteraksi. Hal yang juga perlu diperhatikan dalam
berinteraksi adalah 2 (dua) aturan penting, yakni regulative rules dan constitutive
rules.
Daftar Pustaka
Jones, Tricia S., Remland, Martin S., & Rebecca Stanford. (2007) Interpersonal
Communication : Through The Life Span, Houghton Mifflin Company, NY
Kurbalija, Jovan. (2010). Tentang Tata Kelola Internet : Sebuah Pengantar. CV
Goentor Printing.
Potter, James W. (2005). Media Literacy, 3rd edition. Sage Publications, NY.
The Programme in Comparative Media Law and Policy. (2014). Universitas
Oxford dengan Addis Ababa University
Damar Junianto : http://www.wakoka.co.id/surat-edaran-kepolisian-tentangujaran-kebencian-hati-hati-dengan-ucapan-dimedia-sosial-haters/, diunduh 25
Januari 2016
Virginia Shea : (http://www.albion.com/netiquette/corerules.html, diunduh 25
Januari 2016)
http://harianbernas.com/berita-1836-Tolak-Ujaran-Kebencian-diMasyarakat.html, diunduh 25 Januari 2016
(www.hukumonline.com,
diunduh
18
Januari
2016)
(http://www.albion.com/netiquette/corerules.html, diunduh 25 Januari 2016)
http://www.albion.com/netiquette/introduction.html, diunduh 25 Januari 2016)
Biografi Penulis
Sebagai Pengampu di Universités Pelita Harapan dan mendapatkan gelar
s3 dari Universitas Padjajaran Bandung. Pada saat ini mengampu mata kuliah
Teori Komunikasi, Metode Penelitian Komunikasi sera Media dan Budaya.
Penulis sekarang ini tertarik pada masalah-masalah yang berkaitan dengan dunia
digital, baik itu mengenai dampak maupun isi yang disampaikan dari digital
media
113
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
PENGALIHAN EKSPRESI WAJAH DENGAN EMOTICON MEDIA
SOSIAL (STUDI KASUS: PENGGUNAAN STIKER PADA APLIKASI
LINE)
Cicy Amelia, Desy Kurnia Wati
Ilmu Komunikasi Universitas Riau
[email protected], [email protected]
Abstract
Social media nowadays is taking a big role in the life of the gadget’s users. One
of multiple social media that pretty much in demand by Indonesians is an
application called Line: Free Calls & Messages. The facilities that available
such as Sticker, serves as a replacement for face expressions, or replacing a
message in the dimension of a person's face. Stickers means to represent emotion
of the sender when interacting. People who send message with stickers, can be
completely honest or dishonest. Dishonest means what the sender express and
feel doesn’t match with the sticker that their sent. The temporary observations
that come up from this phenomenon was like the distant of interpersonal
communications, misunderstanding and the ineffectiveness of the communication
process. With using descriptive qualitative method and supported by the Popular
Culture and Symbolic Interaction Theory. Results from this study are to think
positive and disclosure of self-concept that eroded, and taking conclusions too
early and unilateral about the purpose of message that sender gave through Line.
Keywords: Line, Stickers, Expression, Diversion.
Abstrak
Media sosial dewasa ini sudah mengambil peran besar dalam kehidupan
pengguna gadget. Salah satu media sosial yang cukup banyak diminati oleh
masyarakat Indonesia adalah aplikasi Line : Free Calls & Messages. Fasilitas
tambahan seperti stiker, berfungsi sebagai pengganti ekspresi wajah atau
pengalihan pesan dalam dimensi wajah seseorang atau tokoh tertentu. Stiker
merupakan sarana untuk mewakili suasana hati atau emosi si pengirim pada saat
berinteraksi. Ekspresi sipengirim pesan dengan stiker yang dipakai, bisa benarbenar jujur atau berkedok jujur. Berkedok jujur maksudnya apa yang si pengirim
ekspresikan dan rasakan tidak sesuai dengan perwakilan stiker yang dikirim.
Pengamatan sementara yang timbul dari pemanfaatan stiker ini seperti
memberikan pengaruh renggangnya hubungan interpersonal, kesalahpahaman
dan ketidakefektifan proses komunikasi. Menggunakan metode deskriptif
kualitatif dengan didukung oleh teori Budaya Populer dan teori Interaksi
Simbolik. Hasil dari penelitian ini adalah terkikisnya konsep diri untuk berpikir
positif dan terbuka dan pengambilan kesimpulan terlalu dini dan sepihak tentang
maksud penyampaian pesan seseorang melalui chat Line tersebut.
Kata kunci: Line, Stiker, Ekspresif, Pengalihan.
114
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Pendahuluan
Di era teknologi komunikasi terkini, gadget sudah menjadi kebutuhan
masyarakat. Smartphone bukan lagi termasuk barang mahal. Smartphone sendiri
sudah ada di genggaman masing-masing manusia mulai dari pelajar, mahasiswa,
pekerja kantoran, guru, artis, pengacara, teknisi, satpam, buruh bangunan, dan
lain sebagainya. Apa artinya? Ini memberikan kesan bahwa telepon genggam
berupa smartphone sudah menjadi kebutuhan hampir pokok dalam kehidupan
manusia. Apa yang dibawanya? Hal menarik apa yang disuguhkan? Keberadaan
smartphone sendiri merupakan salah satu elemen penting memenuhi kebiasaan
kekinian manusia modern. Elemen tersebut berupa smartphone, aplikasi-aplikasi
chat, aplikasi media sosial, jaringan internet dan kuota kartu internet. Kini kita
berbicara mengenai salah satu elemen tersebut, yaitu aplikasi chat atau aplikasi
media sosial. Media sosial didefinisikan sebagai alat elektronik yang tersedia
untuk membantu mempercepat dan meningkatkan kemampuan kita dalam
berhubungan, berkomunikasi dan berkolaborasi dengan orang lain (Kassotakis, L.
Jue, Marr, 2010: 44).
Layanan berbagai aplikasi yang disuguhkan, mempermudah para user
(pengguna) untuk memilih dan menggunakan aplikasi tersebut. Dari berbagai
macam bentuk aplikasi yang ada, pembagian untuk aplikasi chat atau aplikasi
media sosial diantaranya yang sudah berkembang pesat di Indonesia adalah Line:
Free Calls & Messages. Aplikasi buatan Korea Selatan ini telah menarik banyak
minta warga Indonesia untuk menggunakan jasanya. Line memfokuskan pada
layanan chat, diiringi pengadaan group chat, timeline, official account, dan lainlain. Wajah Line pada awalnya dikenal masyarakat dengan fasilitas stiker yang
berkarakter. Dimulai dari karakter Brown, Cony, James, Moon, Sally, dan masih
banyak yang lainnya hingga sekarang sudah diikuti oleh karakter-karakter wajah
artis-artis Indonesia dimana tiap stiker mereka memiliki konsep dan cerita nya
masing-masing. Sebut saja seperti Syahrini, Chelsea Olivia, Raisa, Afgan, Joe
Taslim dan banyak lagi artis lainnya.
Bertukar pesan melalui media, Line menyuguhkan wadah media tersebut
dengan menopang pada kecanggihan alat teknologi dan bantuan jaringan internet.
Komunikasi interpersonal maupun komunikasi kelompok yang tersedia sudah
tidak memerlukan saling bertemunya para pelaku komunikasi tersebut. Namun
seiring berjalannya waktu, banyak fenomena yang terjadi. Diantaranya adalah
salah paham, variasi makna dan lain-lain.
Keunikan dari Line dapat dilihat dari stikernya. Stiker ini dapat membuat
percakapan lebih ekspresif ketika mengirim kepada lawan bicara, karena banyak
sekali stiker yang dipilih untuk mengekspresikan perasaan atau emosi. Stiker
yang dibagikan beragam dan lucu-lucu.
Tingginya minat masyarakat terhadap penggunaan Line khususnya
mahasiswa merupakan sebuah fenomena yang menarik untuk diteliti. Terkait
dengan fenomena yang terjadi maka dari itu, penulis tertarik untuk memberi judul
“Pengalihan Ekspresi Wajah Dengan Emoticon Media Sosial (Studi Kasus:
Penggunaan Stiker Pada Aplikasi Line)”. Tujuan penelitian untuk meneliti kasus
115
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Line sebagai tindakan kesalahpahaman dalam pengiriman stiker dan mengetahui
bagaimana pengaruh melalui karakter Line yang di bagikan.
Tinjauan Pustaka
Budaya Populer (Tony Bennet)
Budaya Pop selalu berubah dan muncul secara unik di berbagai tempat
dan waktu. Budaya pop membentuk arus dan pusaran, dan mewakili suatu
perspektif interdependent-mutual yang kompleks dan nilai-nilai yang
memengaruhi masyarakat dan lembaga-lembaganya dengan berbagai cara.
Budaya pop oleh Antonio Gramsci (1971) dikaitkan dengan konsep
hegemoninya, mengacu pada cara kelompok dominan dalam suatu masyarakat
mendapatkan dukungan dari kelompok subordinasi melalui proses
kepemimpinan.
Munculnya budaya populer dipahami sebagai tempat bersatunya praktik
kehidupan sehari-hari dengan tekanan dari luar. Bagi Bennet, budaya populer
khususnya dipahami sebagai tempat berinteraksinya kemampuan dan potensi
kehidupan sehari-hari untuk memahami dunia dengan kemampuan konvensi
untuk memasukkan berbagai makna dan menolak kebenaran makna lainnya
(Tester, 2003:25).
Ciri-ciri budaya populer mengandung kata tren, yang artinya disukai oleh
banyak orang. Lalu adanya keseragaman bentuk, dimana hal-hal yang nge-tren
diikuti oleh yang lain. Adaptabilitas, yaitu sebuah budaya populer yang mudah
diadopsi dan dinikmati banyak orang.Dan yang terakhir profitabilitas, dimana
dari sisi ekonomi budaya populer berpotensi menghasilkan keuntungan yang
besar bagi industri yang mendukungnya.
Kebudayaan popular berkaitan dengan masalah keseharian yang dapat
dinikmati oleh semua orang atau kalangan orang tertentu seperti mega bintang,
kendaraan pribadi, fashion, model rumah, perawatan tubuh, dan sebagainya.
Menurut Ben Agger Sebuah budaya yang akan masuk dunia hiburan maka
budaya itu umumnya menempatkan unsure popular sebagai unsure utamanya.
Budaya itu akan memperoleh kekuatannya manakala media massa digunakan
sebagai penyebaran pengaruh di masyarakat (Burhan Bungin, 2009:100).
Teori Interaksi Simbolik (Herbert Mead)
Interaksi simbolik pertama kali diperkenalkan oleh Herbert Mead tahun
1934 di Universitas Chicago Amerika Serikat (Suprapto, 2002: 127). Menurut
Mead interaksi sosial dalam masyarakat terjadi dalam bentuk utama yaitu: (1)
Percakapan isyarat (interaksi non-simbolik) dan (2) Penggunaan simbol-simbol
penting (interaksi simbolik). Pernyataan tersebut menegaskan bahwa penekanan
interaksi simbolik adalah pada simbol, sebab disini orang coba memahami makna
atau maksud dari suatu aksi yang dilakukan satu dengan yang lainnya.
Asumsi dasar teori interaksionisme simbolik menurut Herbert Mead
dalam Suorapto (2002: 140) adalah: (1) Manusia bertindak terhadap benda
berdasarkan “Arti” yang dimilikinya, (2) Asal-muasal arti atas benda-benda
116
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
tersebut muncul dari interaksi sosial yang dimiliki seseorang, (3) Makna yang
demikian ini diperlakukan dan dimodifikasi melalui proses interpretasi yang
digunakan oleh manusia dalam berurusan dengan benda-benda lain yang
diterimanaya. Ketiga asumsi tersebut kemudian melahirkan pokok-pokok
pemikiran interaksi simbolik yang menjadi ciri-ciri utamanya yaitu: (1) Interaksi
simbolik adalah proses-proses formatif dalam haknya sendiri, (2) Karena hal
tersebut maka ia (interaksi simbolik) membentuk proses terus-menerus yaitu
proses pengembangan atau penyessuaian tingkah laku, dimana hal ini dilakukan
melalui proses dualisme, definisi dan interpretasi, (3) Proses pembuatan
interpretasi dan defenisi dari tindakan satu orang ke orang lain berpusat dalam
diri manusia melalui interaksi simbolik yang menjangkau bentuk-bentuk umum
hubungan manusia secara luas (Suprapto, 2002; 163).
Metodologi
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif.
Kualitatif adalah penelitian bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa
yang dialami subjek penelitian secara holistic dan dengan cara deskripsi dalam
bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah yang
memanfaatkan metode ilmiah.
Sebagai penelitian kualitatif yang menggunakan manusia sebagai
instrument utama penelitian, penulis menggunakan teknik wawancara dan
observasi selama satu bulan. Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa FISIP
UR sebanyak 45 orang angkatan 2013. Objek penelitian ini adalah kegiatan
komunikasi yang terjadi melalui media, khususnya pengguna aplikasi Line.
Data primer merupakan data langsung diperoleh dari sumber data
pertama lokasi penelitian atau objek penelitian. Data opini dapat berupa subjek
secara individual atau kelompok observasi terhadap karakteristik benda (fisik),
kejadian kegiatan dan hasil suatu pengujian tertentu. Data pendukung berupa
jurnal, dokumen, serta tulisan yang berhubungan dengan cakupan penelitian
(Bungin, 2005: 119).
Hasil Temuan dan Diskusi
Pertanyaan seperti “Akun FB nya apa?” atau “Pin BB nya berapa?”
sudah lumrah didengar di era teknologi sekarang. Kini ada yang baru tambahan
daripada daftar untuk pertanyaan mendapatkan informasi pribadi seseorang, yaitu
“ID Line nya apa?”. Line, menjadi salah satu aplikasi terfavorit yang dipakai oleh
khalayak pengguna smartphone untuk akun media sosial agar mudah dihubungi
via media. Hubungan komunikasi interpersonal disediakan oleh fasilitas chat
antar kontak Line, hubungan komunikasi kelompok disediakan oleh fasilitas
chatroom group yang bisa di invite dengan maksimal 200 member, ataupun
komunikasi massa yang disediakan oleh fasilitas timeline dengan membuat
status-status pribadi dan bisa di share dan dilihat oleh seluruh kontak Line yang
terdaftar di profilnya.
117
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Dari semua fasilitas yang disuguhkan Line, memang sedikit banyak
masih mempunyai kemiripan dengan aplikasi-aplikasi serupa. Namun yang
menjadi daya tarik tersendiri oleh Line disini adalah Stiker yang berkarakter dan
bervariasi gambar serta bentuknya. Perwakilan ekspresi wajah-wajah yang
disuguhkan pun bisa dilakukan dengan mudah hanya dengan sekali click, maka
akan mewakili penyampaian pesan daripada dengan cara mengetik pesannya.
Sudah menjadi budaya populer di usia-usia yang memiliki kebutuhan tinggi akan
informasi jarak jauh untuk mempunyai ID Line dan menggunakan Line.
Manusia bertindak terhadap benda berdasarkan “arti” yang dimilikinya.
Sesuai dengan asumsi dari teori interaksi simbolik bahwa manusia sebenarnya
lebih memperhatikan bentuk-bentuk simbolik dalam berkomunikasi. Untuk
berkomunikasi secara verbal pun dapat terjadi berdasarkan “pengamatan” dan
“analisis” dari seseorang terhadap simbol-simbol disekitarnya. Line, dalam hal ini
juga tidak lepas dari simbol-simbol yang ada melalui penciptaan stiker-stiker
untuk pengalihan ekspresi wajah. Dalam waktu belakangan ini, pada akhirnya
fenomena penggunaan stiker Line menjadi beragam.
Penggunaan stiker dalam chat Line pun tidak terelakkan. Beragamnya
mimik wajah yang tersedia dan mudah didapat akan memberikan ketertarikan
sendiri oleh para pengguna Line. Hal ini juga didukung dengan sudah banyaknya
versi dan variasi stiker yang ada, seperti karakter Brown, Cony, James, Moon,
Sally, bahkan sampai pada tokoh-tokoh artis Indonesia. Iwan Fals dengan
mengusung cerita sampaikan pesan melalui kata-kata dalam lagunya. Atau stiker
versi Chelsea Olivia khusus untuk perayaan Natal dan Tahun Baru, atau bahkan
positive spirit yang diwakili oleh wajah sang tokoh motivator Indonesia, Mario
Teguh. Berbagai variasi, berbagai bentuk apakah stiker bergerak, stiker audio,
atau stiker bergerak dan audio juga sudah ada dalam fasilitas stiker Line.
Pemilihan ekspresi wajah yang ada dalam Line sudah menimbulkan
fenomena-fenomena baru. Diantaranya adalah pengalihan ekspresi wajah yang
benar-benar jujur atau berkedok jujur. Benar-benar jujur bisa bermaksud seperti
perwakilan perasaan sesungguhnya atau perwakilan ekspresi sesungguhnya.
Penggunaan penyampaian pesan secara tulisan dirasa tidak afdhol kalau tidak
diiringi dengan penambahan stiker yang serupa dengan isi pesan. Ada lagi
kejadian serupa dimana percakapan didalam Line yang saling berbalas stiker,
namun tetap mempunyai makna meskipun tidak ada diiringi oleh pesan
tulisannya.
118
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Gambar 1: Percakapan Berbalas Stiker yang Tetap Komunikatif
Sementara berkedok jujur atau dengan kata lain bohong, dimana stiker
yang dikirim oleh pengirim terkadang tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya
dirasakan. Hal-hal yang bisa mengakibatkan bagaimana pengalihan ekspresi
wajah melalui stiker ini bisa berkedok jujur, dikarenakan oleh beberapa faktor.
Diantaranya adalah situasi dan kondisi dalam chat, kedekatan hubungan antara
para pelaku komunikasi, sifat, peran dan posisi seseorang dalam hubungannya
dengan lawan bicara dan tentu saja kurangnya pemahaman akan ekspresi
nonverbal lawan bicara karena komunikasi dilakukan melalui media. Yang pada
akhirnya, tidak sedikit yang akan memilih mewakilkan ekspresi wajah dalam
dimensi stiker meskipun tidak sesuai dengan keadaan realita yang dialaminya,
atau hanya memilih asal stiker, atau sekedar memberi respon berupa stiker agar
tidak dianggap mengacuhkan, atau hanya ingin percakapan tersebut segera
berakhir.
Misalkan saat suasana dalam chat sedang kurang baik atau kesal,
pengakhiran stiker yang dipilih adalah stiker bermakna senang (tertawa) padahal
yang terjadi adalah kekesalan. Namun jalan tersebut dipilih dengan alasan agar
tidak terlalu kelihatan bahwa sebenarnya si pengirim sedang kesal dengan
penerima pesan, atau agar percakapan tersebut segera berakhir.
Selain itu, adanya gangguan dalam proses komunikasi tentu tetap terjadi.
Seperti kejadian dimana noise timbul oleh ketidakstabilan jaringan internet,
mengakibatkan urutan conversation menjadi tidak runtut seperti yang seharusnya
sehingga saat stiker yang sedari awal sudah dipilih namun lama sampai ke
tujuan, bisa jadi akan salah tempat percakapan dan akhirnya salah pemaknaan
dan timbullah salah paham. Contoh lain misalkan disaat sedang melayani chat
dari lebih satu orang/ chat group, peralihan urutan ruang chat yang diatur Line
119
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
berdasarkan waktu sampainya isi chat, tidak menutup kemungkinan pesan yang
ingin disampaikan ke A justru tersampaikan dalam ruang chat orang lain.
Fenomena ini menjadi semakin berpeluang besar terjadi manakala gaya
hidup menggunakan aplikasi chat Line semakin lama semakin menjamur dengan
banyaknya kontak-kontak Line dan pembentukan grup-grup chat pun tak
terelakkan, mulai dari grup organisasi, grup teman sepermainan, grup kelompok
tugas, grup klub-klub, grup alumni, grup kelas, grup kerja satu tim, grup sesama
dosen, grup asal dari suatu daerah yang sama, dan banyak lagi. Banyaknya
bagian-bagian dari dalam diri individu untuk berperan sesuai dengan
hubungannya dengan seseorang atau dalam suatu komunitas, makin menyulitkan
individu tersebut untuk menempatkan diri sendiri pada posisi apa, karena
interaksi Line tidak selalu berlangsung disaat kita ada waktu senggang.
Berawal dari hal kecil yang penulis uraikan diatas, bisa memberikan efek
negatif diantaranya perasaan menduga-duga, kesalahan memaknai sesuatu dan
lain-lain. Intuisi manusia tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk
dibohongi. Penggunaan stiker yang tidak wajar dalam suasana yang
sesungguhnya justru akan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru, praduga
atas hal-hal yang berkaitan, menebak-nebak, yang merumuskan segala
kemungkinan yang ada tetapi tetap tidak dengan cara menghubungi yang
bersangkutan secara langsung karena keadaan chat yang sudah dirasa tidak sesuai
dengan realita sebenarnya. Hal ini tentu akan memberikan kesenjangan dalam
bersosialisasi diantara mereka, dan akan diperparah jika masing-masing pada
dunia nyata jarang bertemu face to face. Anggapan tentang lawan bicara akan
selalu berdasar pada keadaan chat yang tidak real lagi dan permainan-permainan
pikiran tentang maksud sebenarnya dari lawan bicara.
Sticker akan mempengaruhi area otak yang sesuai dan benar-benar dapat
memicu emosi. Secara tidak sadar, dengan melihat stiker yang dikirimkan
melalui Line ternyata sudah merangsang volume otak yang akan memicu emosi.
Pemaknaan tentang nonverbal seseorang dalam proses komunikasi, pada
kenyataannya tetap memberikan banyak arti tergantung pribadi tiap individu
dalam memaknainya. Saat berkomunikasi tatap muka saja sudah pasti terjadi
kesalahpahaman makna, apalagi komunikasi melalui media. Walaupun tujuan
pengadaan stiker adalah untuk memberikan efek yang lebih real terhadap mimik
wajah seseorang, nyatanya pengadaan stiker juga memberikan efek lain yang ke
arah negatif jika salah menyimpulkan maknanya.
Fenomena lainnya yang timbul dari penggunaan Line adalah ekspresif
dan tidak ekspresifnya seseorang dalam penggunaan stiker Line. Disaat
kebanyakan pengguna Line memiliki kebiasaan memakai stiker sebagai
perwakilan ekspresi wajah atau pelengkap pesan, namun ada yang memanfaatkan
fasilitas ini untuk mengirimkan stiker dalam jumlah banyak untuk jarak waktu
yang dekat. Ungkapan spam stiker mulai bermunculan dan diperuntukkan bagi
orang-orang yang menggunakan jasa stiker Line lebih banyak. Karena banyaknya
tema stiker yang tersedia, maka kebiasaan tersebut menjadi mudah dilakukan.
Meskipun banyak tema stiker, tetapi pasti ada beberapa ekspresi stiker yang
mewakilkan hal serupa. Misalnya seperti ekspresi marah dalam stiker karakter
120
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Brown, juga ada di karakter Cony. Pemberian stiker dalam jumlah banyak yang
mengandung makna ekspresi sama namun hanya berbeda tema, adalah salah satu
kebiasaan seorang yang ekspresif menggunakan Line.
Gambar 2: Contoh Spam Stiker Karakter Moon
Apa yang terjadi selanjutnya? Spam stiker mulai benar-benar mewakili
arti spam, yaitu pengiriman pesan secara bertubi-tubi tanpa dikehendaki oleh
penerimanya. Menurut Kamus Bahasa Inggris Oxford, spam adalah “Pesan tanpa
arti atau tidak pantas dikirim ke internet pada sejumlah newsgroup atau
pengguna”. Cerita baru pun dimulai, dimana orang yang termasuk spammer, akan
mengurangi keseriusan dalam percakapan di Line. Pada umumnya memang
tujuan mereka untuk melakukan hal tersebut adalah untuk “meramaikan”, atau
membuat heboh, atau menciptakan suasana seru, dan sejenisnya. Pengalihan
ekspresi melalui stiker sudah mulai terkikis disini, dimana akhirnya orang-orang
berkesimpulan bahwa kegiatan spam stiker adalah kegiatan untuk memancing
lawan bicara agar lebih peduli dengan chat Line daripada ekspresi sebenarnya
stiker tersebut.
Dalam memenuhi kebutuhannya untuk melakukan spam stiker, akhirnya
mulai muncul keinginan untuk menambah koleksi stiker. Dalam layanan Line,
pemilikan stiker sudah diatur melalui berbagai cara. Diantaranya ada Free
Stickers, Official Stickers, dan Creators Stickers. Untuk mendapatkan Free
Stickers hanya langsung di download atau dengan syarat add akun-akun tertentu.
Namun untuk Official Stickers dan Creators Stickers, maka pengguna Line harus
“membeli”. Pembelian didasarkan pada jumlah coin yang dimiliki. Bagaimana
cara mendapatkan coin tersebut? Bisa dengan mendownload aplikasi-aplikasi
game yang ditawarkan, atau menonton video-video tertentu, dan yang terakhir
121
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
adalah dengan mentrasfer sejumlah uang dalam bentuk pulsa. Pada tahap ini, bagi
sebagian orang menganggap itu hal yang diluar kewajaran namun bagi para
pemakai jasa tersebut, hal itu tergolong wajar sejauh kepuasan mereka terpenuhi.
Gambar 3: Salah Satu Koleksi Stiker Berbayar
Selain untuk memenuhi kebutuhan mereka untuk spam stiker atau hanya
sekedar dengan alasan stiker-stiker itu menarik dan lucu, kepemilikan akan suatu
stiker yang tidak dipunyai oleh orang lain menjadi ciri tersendiri bagi
pemakainya. Orang-orang yang dalam skala beberapa kali melihat mereka
menggunakan stiker yang bercoin, akan menandai stiker tersebut sebagai
perwakilan gambaran diri dari orang itu. Penandaan seseorang terhadap stiker
yang dimiliknya, menjadi fenomena lain dalam penggunaan stiker di Line ini.
Dengan kecanggihan teknologi yang sudah memudahkan masyarakat kini
dalam berkomunikasi, untuk tiap aspek nya tetap memberikan pengaruh positif
dan negatif. Memang jarak dan waktu sudah tidak menjadi halangan lagi, namun
ternyata usaha untuk mengurangi gangguan-gangguan yang ada justru
memunculkan gangguan-gangguan baru yang tetap berujung pada tidak
efektifnya penyampaian pesan. Jadi, teknologi kah penentu efektifnya
komunikasi?
Simpulan
Manusia akan semakin senang dengan bebagai hal yang di anggapnya
mencari perhatian orang. Perhatian orang tentu akan tertuju pada kebiasaankebiasaan atau budaya yang banyak diminati, hingga tersebutlah istilah budaya
populer. Dan budaya apakah yang sedang populer kini? dalam kalangan
122
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
mahasiswa, untuk saling bertukar informasi akhirnya menyerah pada kehebatan
media sosial diantaranya adalah Line. Teknologi yang digunakan pun selalu
didasarkan pada budaya yang diminati dan dianggap kekinian oleh masyarakat.
Line merupakan aplikasi yang luar biasa menyenangkan, pengalaman
dalam memakainya sungguh sesuai dengan pasar Asia. Kalau anda mencari
sebuah aplikasi chat yang menarik, Line merupakan pilihan yang terbaik. Untuk
menggunakan Line, tidak dipungut bayaran. Tetapi anda harus siap dengan
kelengkapan elemennya seperti smartphone, jaringan internet, dan tentu saja
lawan bicara yang harus menggunakan aplikasi serupa.
Penggunaan stiker-stiker dalam Line, telah menimbulkan berbagai
fenomena. Diantaranya adalah ketidaksesuaian antara ekspresi stiker yang
dikirim dengan ekspresi realita, munculnya pribadi yang ekspresif dan tidak
ekspresif menggunakan Line, dan terakhir menimbulkan pribadi yang maniak
untuk mengoleksi stiker-stiker yang berbayar.
Sebagai masyarakat yang tingal didalam era kecanggihan teknologi,
justru banyak hal yang harus di filter. Karena sejatinya, teknologi selain
memudahkan urusan manusia, ia juga memunculkan masalah. Dalam
menghadapi masalah tersebut lah sebenarnya peran manusia yang cerdas dan
melek media dituntut. Ambil yang positif, dan tinggalkan yang negatif. Kalimat
tersebut tidak akan pernah berubah dalam praktik kehidupan sehari-hari.
Masyarakat cerdas harus pandai mengambil sikap disaat ia berada dalam
kungkungan teknologi komunikasi yang ada. Dengan begitu, maka manusia tidak
akan kalah oleh nikmatnya suguhan teknologi yang baik maupun yang buruk,
guna penyambung lorong untuk keberlangsungan hidup bermasyarakat yang tetap
memiliki hakikat berkehidupan.
Daftar Pustaka
Bungin Burhan (2009) Sosiologi Komunikasi. Jakarta: Kencana Prenada Media
Group
Jue, Arthur L., Jackie Alcalde Marr, Mary Ellen Kassotakis (2010). Social media
at work: how networking tools propel organizational performance (edisi ke 1 st ed) San Fransisco, CA: Jossey Bass
Nurudin (2004). Komunikasi Massa. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Yogyakarta
Irawan, Atria Ramadanty (2014). Metode Penelitian.
Suprapto, Riyadi (2002). Interaksi Simbolik: Perspektif Sosiologi Modern.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Tester, Keith (2003). Media, Budaya dan Moralitas. Jakarta: Juxtapose dan
ta:Kreasi Wacana
123
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Lampiran
Biografi Penulis
Cicy Amelia dilahirkan di Merangin, Kabupaten Kampar pada 28
November 1994.Sekarang cercatat sebagai salah satu mahasiswi Jurusan Ilmu
Komunikasi FISIP Universitas Riau semester 5.Menyelesaikan pendidikan di
SDN 009 Langgini, SMP N 2 Bangkinang, dan terakhir di SMAN 8 Pekanbaru
pada tahun 2013.Selain sebagai mahasiswi aktif kuliah, penulis juga sedang
menjabat sebagai Kepala Divisi Infokom dalam organisasi HIMAKOM periode
2014-2015.
Desy Kurnia Wati dilahirkan di Bono Tapung 13 Maret 1997. Sekarang
tercatat sebagai mahasiswi Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UR semester 3
Menyelesaikan pendidikan SD 005 Tandun, SMP Negeri 4 Tandun dan SMA 1
Ujungbatu. Selain sebagai mahasiswa aktif kuliah, penulis juga sebagai
bendahara umum di (Fisip Scientific Club) periode 2015-2016, kru tetap di
Tabloid Tekad periode 2015-2016.
124
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
LONG DISTANCE COMMUNICATIONS/LDC (PERILAKU
PENGGUNAAN LINE BAGI PASANGAN HUBUNGAN JARAK JAUH)
Feby Diani Bosma, Cicilia Margarettha S
Ilmu Komunikasi, Universitas Riau
[email protected], [email protected]
Abstract
Line is an instant messenger or chatting application which categorized in nonconventional mass communication media. Line become a trend for every internet
user, no exception used by long distance relationship couples. Line is one
alternative communication for couples who have a long distance relationships
with able to overcome the limitations of distance and time. So it can make the
couple with long-distance relationships interact more easily. This causes a real
impact to line user couple’s behavior. Seeing this phenomenon, researcherwant
to do research using qualitative descriptive approach. Using the CMC by Wood's
theory that describes the interactions of human communication withmedia
communications in an Internet network. From this study showed that couples who
have a long distance in relationship experienced many changes in behavior
where they assume that media is an effective means used in communication with
their partner. They show individualist attitudes and less concerned with the
social environment. In addition, the perpetrators of long distance relationship
show behavior dependence on their social media, that they always monitor or
access their line accounts periodically and they also restrict other to use
theirgadgets. In daily life, they are more comfortable communicating face-to-face
communication than using the gadgets.
Keywords: Long Distance Relation, Long Distance Communications, Line,
Behavior.
Abstrak
Line merupakan aplikasi instant messenger atau chatting yang dikategorikan ke
dalam media komunikasi massa non konvensional. Line menjadi tren bagi setiap
pengguna internet, tidak terkecuali digunakan oleh pasangan long distance
relationship. Penggunaan line yang merupakan salah satu alternatif komunikasi
bagi pasangan yang menjalin hubungan jarak jauh mampu mengatasi batasan
jarak dan waktu. Sehingga memungkinkan pasangan dengan hubungan jarak jauh
berinteraksi secara lebih mudah. Hal ini menimbulkan dampak yang nyata dalam
perilaku penggunaan line itu sendiri bagi pasangan tersebut. Melihat fenomena
ini, peneliti pun berkeinginan melakukan penelitian dengan menggunakan
pendekatan deskriptif kualitatif. Menggunakan teori CMC oleh Wood yang
menjelaskan tentang interaksi komunikasi manusia dengan komputer atau media
komunikasi dalam suatu jaringan internet. Dari penelitian ini diperoleh hasil
bahwa pasangan yang menjalani hubungan jarak jauh banyak mengalami
perubahan pada perilakunya dimana mereka menggangap bahwa media adalah
alat yang efektif digunakan dalam berhubungan dengan pasangannya.
125
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Menunjukkan sikap individualis dan kurang peduli dengan lingkungan sosialnya.
Selain itu, terdapat perilaku ketergantungan oleh pelaku hubungan jarak jauh
terhadap media sosialnya dengan melakukan pemantauan atau mengakses akun
line-nya secara periodik serta membatasi penggunaan handphone atau gadget
oleh orang lain. Dalam kesehariannya, mereka lebih menyenangi komunikasi
tatap muka daripada menggunkan media sebagai saluran komunikasnya.
Kata kunci: Long Distance Relation, Long Distance Communications, Line,
Perilaku.
Pendahuluan
Seiring dengan perkembangan teknologi, jenis komunikasi pun
berkembang. Teknologi komunikasi dapat membawa seorang individu melintasi
batas ruang dan waktu serta mendapatkan informasi melalui internet yang tidak
didapat sebelumnya. Penggunaan internet sangat dibutuhkan dalam bertukar
informasi dan berkomunikasi secara cepat tanpa ada batasan wilayah, ruang dan
waktu. Kemunculan media baru memberikan dampak yang besar terhadap
kehidupan manusia. Media baru secara langsung telah merubah pola kehidupan
masyarakat, budaya, cara berfikir, dan hampir segala aspek dalam kehidupan
manusia. Media baru ini memberikan kemudahan bagi penggunanya untuk
melakukan komunikasi dengan orang lain.
Social media (media sosial) merupakan salah satu media online yang
sangat populer saat ini. Keberadaan media sosial semakin mempermudah
manusia dalam bersosialisasi dan berinteraksi dengan sesama manusia. Termasuk
didalamnya adalah hubungan antar pribadi. Salah satu bentuk hubungan antar
pribadi yang menggunakan media sosial sebagai media komunikasinya adalah
pacaran. Menurut Daniel Taruli Asi Harahap (2008:1) Pacaran adalah proses
pengenalan atau latihan kesetiaan. Setiap orang menjalin hubungan istimewa
dengan orang lain yang disayangi sebagai sepasang kekasih. Dan setiap pasangan
menghendaki kedekatannya antara satu sama lain, bahkan kalau bisa setiap saat.
Namun dari kenyataan yang terjadi suatu pasangan harus terpisahkan
oleh jarak dan mengalami pacaran jarak jauh (long distance relationship) karena
suatu alasan misalkan sedang menuntut ilmu atau mendapat kesempatan untuk
mengikuti program beasiswa internasional yang menuntut pasangan pergi
meninggalkan kota atau negara asal untuk menuntut ilmu ke kota atau negara
lain. Selama ini banyak yang beranggapan negatif terhadap hubungan pacaran
jarak jauh. Sebagian besar orang banyak yang meragukan keberhasilannya
dikarenakan keterbatasan waktu untuk saling bertemu dan berkomunikasi secara
langsung. Namun dengan semakin berkembangnya teknologi komunikasi, jarak
bukanlah menjadi hambatan dalam menjalin hubungan dengan pasangan.
Komunikasi antarpribadi yang sebelumnya merupakan komunikasi tatap
muka secara langsung (face to face), kini dapat dimediasi oleh alat, sehingga
seseorang tidak harus selalu bertatap muka dengan lawan bicaranya pada saat
berkomunikasi.
126
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Penggunaan instant messenger memudahkan penggunannya untuk
melakukan pengiriman pesan sebagai penganti fungsi SMS via telepon menjadi
pesan singkat via internet yang jauh lebih murah dan praktis. Salah satu aplikasi
instant messenger yang kini tengah naik pamornya di Indonesia adalah Line.
Line merupakan aplikasi instant messenger atau chatting yang dibentuk
di tahun 2011. Dalam perkembangannya, line mengalami pembaharuan dengan
berbagai fitur menarik seperti layanan free call dan video call. Salah satu fitur
yang menjadi ikon line adalah stiker dengan karakter-karakter yang lucu dan
menarik. Melalui stiker ini, para penggunanya dapat mengekspresikan pesan
mereka. Selain itu, hal menarik dari line adalah disediakan fasilitas berupa
aplikasi-aplikasi program seperti game, aplikasi kamera, dan platform sosial
media milik line sendiri. Bahkan platform tersebutjuga memiliki timeline dan
homepage, mirip dengan Facebook. Jadi, line tampaknya telah memberikan
sejumlah paket lengkap dari apa konsep sebuah media yang tidak rumit namun
tetap memiliki fitur lengkap.
Berbagai fitur pendukung dan praktis dari line tersebut telah banyak
digunakan oleh berbagai kalangan, terkhususpasangan kekasih yang menjalani
hubungan jarak jauh. Hal ini menjadi alternatif bagi pasangan yang menjalin
hubungan jarak jauh karena line merupakan sarana komunikasi yang cukup
efektik, praktis dimana pasangan jarak jauh dapat melalukan komunikasi kapan
saja dan mereka dapat mengekspresikan apa yang dirasakan olehnya terhadap
pasangannya. Inilah yang menyebabkan pasangan jarak jauh menggunkan line
sebagai sarana komunikasi.
Tanpa disadari penggunaan line pada akhirnya menimbulkan dampak
positif dan negatif bagi para penggunanya, karena tidak lepas dari media dan pola
interaksi komunikasi yang digunakan. Terkhusus pasangan jarak jauh yang
menggunakan line sebagai media komunikasi mereka. Sebab pada dasarnya
media komunikasi akan di jadikan sarana dalam berkomunikasi dengan harapan
hubungan yang terjalin dapat terpelihara dengan baik.
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka peneliti ingin
mengetahui bagaimana perilaku penggunaan line yang diungkapkan pasangan
mahasiswa/i, di mana dalam hal ini peneliti memfokuskan penelitian terhadap
mahasiswa/i yang sedang menjalin hubungan pacaran jarak jauh ataupun pernah
menjalin hubungan pacaran jarak jauh dan menggunakan media komunikasi Line
sebagai perangkat komunikasinya.
Tinjauan Pustaka
Perilaku Komunikasi
Perilaku komunikasi yang dibentuk berdasarkan pemaknaan terhadap
sesuatu hal atau peristiwa merupakan sebuah proses yang berurutan dan
berkelanjutan. Kita kemudian melihat dan menyadari bahwa perilaku manusia
selalu berkembang dan berubah, pengalaman masa lalu menjadi faktor utama
yang berperan penting dalam mengubah perilaku manusia. Atribut perilaku
komunikasi seperti kebiasaan, aksesoris yang dikenakan, istilah verbal yang
127
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
digunakan dan budaya merupakan beberapa point yang cukup sering digunakan
dalam meneliti mengenai perilaku komunikasi.
New Media (Media Baru)
Mediabaru yang dibahas disini adalah berbagai perangkat teknologi
komunikasi yang berbagi ciri yang sama selain baru dimungkinkan dengan
digitalisasi dan ketersediaannya yang luas untuk penggunaan pribadi sebagai alat
komunikasi. Secara umum, media baru telah disambut (juga oleh media lama)
dengan ketertarikan yang kuat, positif dan bahkan pengharapan serta perkiraan
yang bersifat eforia, serta perkiraan yang berlebihan mengenai signifikansi
mereka (Rossler, 2001).
Line
Line adalah salah satu aplikasi messenger untuk smartphone, tablet, atau
gadget yang diciptakan oleh NHN Corp, perusahaan komunikasi berpusat di
Seoul, Korea Selatan.NHN Corp juga mengoperasikan Naver, mesin pencari
online terbesar di Korea Selatan. Line diluncurkan pada 23 Juni 2011 oleh
NHNcabang Jepang setelah terjadinya gempa bumi di Jepang. NHN Jepang
menyadari kerusakan besar di sistem komunikasi dan menemukan bahwa
layanan data akan bekerja lebih efisien. Maka, mereka memutuskan membuat
aplikasi yang bisa diakses melalui smartphone, tablet dan deskop untuk
melakukan instant messaging secara gratis. Pemberian nama line sendiri
terinspirasi dari antrean banyak orang di telepon publik setelah gempa terjadi di
Jepang.
Komunikasi dan Hubungan Antar Pribadi
Menuurut Kathleen S.Verderber el al (2007), komunikasi antar pribadi
merupakan proses melalui nama mana orang menciptakan dan mengelolah
hubungan mereka, melaksanakan tanggung jawab secara timbal balik dalam
menciptakan makna. Lebih lanjut ia menjelaskan sebagai berikut: Pertama,
komuniksi antar pribadi sebagai proses. Proses merupakan rangkaian sistematis
prilakuyang bertujauan yang terjadi dari waktu ke waktu atau berulang kali.
Kedua komunikasi antar pribadi bergantung kepada makna yang diciptakan oleh
pihak yang terlibat. Ketiga, melalui komunikasi kita menciptakan dan
mengelolah hubungan kita. Tanpa komunikasi hubungan tidak akan terjadi.
Hubungsn dimulai atau terjadi apabila anda pertama kali berinteraksi dengan
seseorangan. Berulang kali, melalui interaksi-interaksi Anda dengan orang itu
anda menentukan secara berkelanjutan sifat dari hubungan tersebut yang akan
terjadi. Apakah hubungan tersebut akan menjadi pribadi atau sebalikknya, menjdi
romantis atau platonis, sehat atau tidak sehat, tergantung atau saling
tergantungan. Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut diatas
bergantung kepada bagaimana orang-orang dalam hubungan tersebut berbicara
dan berprilaku terhadap satu sama lain.
128
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Berbeda dengan kedua ahli komunikasi antar pribadi tersebut diatas,
Richard L. Weaver II (1993) tidak memberikan definisi komunikasi antarpribadi
melainnkan menyebutkan karakteristik-karakteristik komunikasi antarpribadi.
Menurutnya terdapat delapan karakteristik-karakteristik dalam komunikasi
antarpribadi, yaitu:
a. Melibatkan paling sedikit dua orang..
b. Adanya umpanbalik atau feedback.
c. Tidak harus tatap muka. Komunikasi antar pribadi tidak harus tatap muka.
Bagi komunikasi antar pribadi yang sudah terbentuk, adanya saling pengertian
antara dua individu, kehadiran fisik dalam berkomunikasi tidaklah terlalu
penting.
d. Tidak harus bertujuan.
e. Menghasilkan beberapa pengaruh atau effect.
f. Tidak harus melibatkan atau menggunakan kata-kata.
g. Dipengaruhi oleh konteks.
h. Dipengaruhi oleh kegaduhan atau noise.
Rahmat (2008:79) mengemukakan hubungan antar pribadi erat kaitannya
dengan konsep diri yang vital bagi perkembangan kepribadian. Lebih lanjut
dijelaskan konsep diri berpengaruh pada perilaku manusia, bagaimana anda
memandang diri anda dan bagaimana orang lain memandang anda, akan
mempengaruhi pola-pola interaksi anda dengan orang lain. Cangara (2011:32)
mendefinisikan hubungan antar pribadi ialah proses komunikasi yang
berlangsung antara dua orang atau lebih secara tatap muka.
Pacaran
Berpacaran (dating) dikenal sebagai suatu bentuk hubungan intim atau
dekat antara laki‐laki dan perempuan. Ikhsan (2003) membedakan pengertian
pacaran kedalam tiga versi pandangan, yaitu (a) pacaran adalah rasa cinta yang
menggebu‐gebu pada seseorang; (b) pacaran adalah identik dengan kegiatan seks,
sehingga jika seseorang berpacaran lebih sering diakhiri dengan hubungan seks
yang dilakukan atas dasar suka sama suka, tanpa adanya unsur pemaksaan; dan
(c) pacaran adalah sebuah ikatan perjanjian untuk saling mencintai, percaya
mempercayai, saling setia dan hormat‐menghormati sebagai jalan menuju
mahligai pernikahan yang sah. Dikatakan bahwa pandangan ketiga inilah yang
paling banyak dianut.
Di dalam pacaran individu dapat belajar berkomunikasi secara
heteroseksual, membangun kedekatan emosi, kedekatan fisik, dan mengalami
proses pendewasaan kepribadian (Gambit, 2000). Agar fungsi pacaran dapat
dicapai secara optimal maka diperlukan sikap‐sikap yang mendukung. Pacaran
merupakan proses pematangan pada pasangan untuk hidup berkeluarga (Adi,
2000). Dalam masa pacaran individu dimungkinkan akan lebih mengenal
karakter masing‐masing pribadi.
129
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Long Distance Relationship (LDR)
Lydon, Pierce, dan O’Regan (1997) membedakan antara pacaran jarak jauh
dan pacaran jarak dekat. Pacaran jarak jauh adalah hubungan pacaran yang terjadi
pada dua orang yang tinggal pada dua kota yang berbeda. Sedangkan pacaran
jarak dekat adalah hubungan pacaran yang terjadi pada dua orang yang tinggal
pada kota yang sama.
Pacaran jarak jauh adalah sebuah hubungan dimana kesempatan untuk
berkomunikasi sangatlah terbatas dalam persepsi individu masing-masing yang
menjalani dikarenakan batasan geografis dan individu di dalamnya terdapat
ekspektasi untuk melanjutkan hubungan intim yang dekat menurut Stafford
(2005:7). Turner dan Helms (1995) mengatakan, hubungan jarak jauh adalah
hubungan antara dua pihak yang saling berkomitmen dimana keduanya tinggal
terpisah minimal sejauh tiga jam tempuh kendaraan darat dan tidak dapat bertemu
ketika mereka saling membutuhkan. Menurut Rohlfing (dalam Shantz dan
Hartup, 1992) dalam penelitiannya mengenai hubungan pacaran jarak jauh,
bahwa hubungan pacaran jarak jauh memiliki sisi negatif, yaitu dapat
menimbulkan perasaan kecewa dan bahkan stres. Dalam penelitian ini Long
Distance Relationship (LDR) atau hubungan jarak jauh yang kami maksud adalah
ikatan antara dua orang yang membentuk suatu hubungan romantisme yang
keduanya dibatasi oleh batasan geografis. Menurut Coleman (2000) dalam
penelitiannya, pikiran dan perasaan yang muncul dalam hubungan jarak jauh,
membutuhkan suatu alat komunikasi yang efektif untuk memperlancar suatu
hubungan, seperti telepon dan Internet. Tetapi komunikasi itu sendiri dapat
menjadi penyebab putusnya hubungan pasangan. Bird dan Melville (1994)
mengatakan bahwa dengan komunikasi yang lebih intensif, pasangan menjadi
lebih mampu memahami satu sama lain sehingga keintiman di antara mereka juga
semakin erat terjalin (Bird & Melville, 1994). Rohlfing (dalam Shantz dan
Hartup, 1992) menyebutkan dalam penelitiannya mengenai hubungan pacaran
jarak jauh bahwa individu yang menjalani hubungan ini cenderung memiliki
pengharapan yang tinggi akan kualitas waktu yang dihabiskan bersama pasangan.
Teori Computer Mediated Communication (CMC)
Wood (2005:227) menyatakan, keadaan dimana segala bentuk komunikasi
dan perilaku manusia dapat diubah dengan cara saling bertukar informasi melalui
ini disebut Computer Mediated Communication (CMC). Computer Mediated
Communication menurut A.F Wood dan M.J Smith adalah segala bentuk
komunikasi antar individu, individu dengan kelompok yang saling berinteraksi
melalui computer dalam suatu jaringan internet. CMC mempelajari bagaimana
perilaku manusia dibentuk atau diubah melalui pertukaran informasi
menggunakan media computer.
Dalam perkembangannya komunikasi lewat media computer terjadi
peleburan antara komunikasi mediation (perantara) dan immediate (langsung).
Mediation mengacu pada proses pertukaran pesan dimana pesan disampaikan
melalui perantaraan media bentuk teknologi dari yang paling sederhana seperti
kertas, sampai teknologi canggih seperti komputer internet. Immediate
130
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
merupakan proses komunikasi tatap muka secara langsung tanpa adanya media
perantara apapun. Jadi disini masalah pilihan dan efektifitas tidak lagi menjadi
perdebatan yang signifikan.
Perdebatan mengenai efektif tidaknya penggunaan komunikasi langsung
dan lewat media sudah terjadi sejak masa Socrates dan muridnya yaitu Plato,
mereka filsuf Yunani yang pada waktu itu sangat menantang perkembangan
teknologi kertas sebagai media penyampaian pesan. Mereka menyatakan bahwa
ide dan pemikiran murni harus disampaikan secara lisan langsung kepada
komunikan tanpa adanya perantara apapun. Teknologi tulis sebagai penyampaian
pesan dikhawatirkan digunakan untuk menggeser makna pesan sehingga dapat
menipu massa. Plato percaya bahwa gagasan murni individu tidak dapat
didefinisikan ke dalam bentuk teks. Akibatnya, sebagaian kebudayaan besar
yunani lenyap ditelan jaman.
Realitasnya, dengan semakin berkembangnya teknologi komunikasi,
komunikasi langsung tidak lagi menjadi wacana paling penting. Dengan kata lain
untuk memberikan umpan balik terhadap pesan dari komunikator, komunikan
tidak harus bertemu secara langsung. Dengan adanya Line sebagai media
penyampai pesan menberikan pengaruh signifikan bagi pola komunikasi
pasangan Long Distace Relationship.
Metodologi
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif, dimana
peneliti akan memberikan pemaparan atau gambaran umum yang lebih detail
mengenai bagaimana perilaku yang ditimbulkan akibat komunikasi yang terjadi
pada pasangan jarak jauh melalui media komunikasi Line.
Metode Penelitian kualitatif adalah penelitian yang dapat menjelaskan
dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktivitas sosial, sikap kepercayaan,
presepsi seseorang atau kelompok terhadap sesuatu, selaras dengan Nana
Syaodin (2010) menjelaskan bahwa penelitian kualitatif adalah suatu penelitian
yang ditujukan untuk mendeskripsikan dan menganalisia fenomena, peristiwa,
aktivitas sosial, sikap, kepercayaan, presepsi, pemikiran orang secara individual
maupun kelompok.
Penelitian ini menggunakan dua jenis data, data primer dan data
sekunder. Data primer pada penelitian ini berupa pengamatan dan wawancara.
Sementara data sekunder atau data pendukung berupa jurnal, dokumen, surat
kabar serta tulisan yang berhubungan dengan cakupan penelitian. Untuk
menganalisis data penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan analisis
deskriptif. Dimana proses analisa yang dilakukan dalam pendekatan ini dilakukan
sejak pengumpulan data di lapangan dan analisa intensif dilakukan setelah
berakhirnya pengumpulan data lapangan.
Analisis data diartikan sebagai upaya mengolah data menjadi informasi,
sehingga karakteristik atau sifat-sifat data tersebut dapat dengan mudah dipahami
dan bermanfaat untuk menjawab masalah-masalah yang berkaitan dengan
kegiatan penelitian. Analisis data pada penelitian ini yaitu dengan proses mencari
131
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara,
catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke
dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun
ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan
membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh orang lain dan diri sendiri.
Model analisis data dalam penelitian ini mengikuti konsep Miles and Huberman.
Maka pada penelitian ini tim peneliti melakukan penelitian dengan
menggunakan metode wawancara, observasi, dan dokumentasi yang kemudian
data hasil dari penelitian akan digabungkan sehingga saling melengkapi.
Hasil Temuan dan Diskusi
Gaya hidup manusia pada zaman sekarang ini tidak akan pernah lepas
dari teknologi. Perkembangan teknologi yang sangat pesat saat ini, seakan-akan
memudahkan dan memanjakan manusia dalam menjalankan aktivitas
kehidupannya. Pada dasarnya, mereka hanya ingin menyesuaikan kebutuhan
hidupnya dari manfaat perkembangan teknologi itu sendiri. Salah satunya
membantu dalam menjalin hubungan dengan orang lain meskipun terpisah ribuan
kilometer dan zona waktu yang berbeda. Berkomunikasi pun menjadi semudah
membalikkan telapak tangan.
Media sosial adalah salah satu perkembangan teknologi yang memiliki
andil besar dalam memberikan kemudahan bagi manusia untuk berkomunikasi
dan bersosialisasi. Salah satu media sosial yang paling populer dikalangan
pengguna internet adalah situs jejaring sosial seperti facebook, twitter, skype,
path, dan line. Media sosial yang populer saat ini adalah aplikasi line. Line
sendiri dikembangkan oleh NAVER yaitu pengembang asal jepang, yaitu aplikasi
messenger pengirim pesan cepat seperti BBM, whatsapp, dll. Pengguna line
dapat berhubungan dengan pengguna line lainnya dengan gratis, namun dapat
digunakan jika memiliki paket internet. Dengan menggunakan line, kita dapat
melakukan chatting, free call, video call, dan masih banyak fitur lainnya. Line
merupakan salah satu aplikasi yang dapat digunakan pada komputer, laptop, HP
(biasanya android) atau Tablet, Notebook/Netbook maupun Iphone.
Salah satu bentuk hubungan yang menggunakan aplikasi line sebagai
media komunikasinya adalah hubungan pacaran. Istilah pacaran memang sudah
tidak asing lagi di telinga kita. Di dalam pacaran memerlukan adanya komitmen,
terutama pada pasangan yang menjalin hubungan jarak jauh atau long distance
realationship (LDR). Komunikasi yang terjadi diantara pasangan LDR sangat
tergantung kepada media. Karena sangat tidak mungkin untuk bertemu secara
langsung mengingat jarak yang menghalangi. Tidak seperti pasangan pada
umumnya yang berada di satu daerah. Mereka dapat bertemu kapanpun mereka
inginkan. Sedangkan pada pasangan LDR mereka harus menahan rasa rindu
sampai bertemu di satu saat yang jangka waktunya tidak pasti.
Dari hasil temuan yang didapatkankan melalui wawancara dengan
beberapa informan, media yang paling sering mereka gunakan adalah line
dibandingkan media sosial lainnya, dengan alasan bahwa line menyediakan
132
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
banyak fitur yang mendukung komunikasi pasangan yang memiliki hubungan
jarak jauh. Line juga memiliki banyak jenis sticker-sticker yang menarik dan
ekspresif yang dapat menggambarkan ekspresi mereka saat berkirim pesan.
Kemudian fitur free call dan video call yang membuat mereka lebih mudah
berbicara satu sama lain kapanpun mereka inginkan. Video call membantu
mereka dalam berkomunikasi tidak hanya melalui audio, namun juga secara
visual. Hal ini membuat mereka merasa tetap dekat walaupun sebenarnya saling
berjauhan.
Namun dengan frekuensi penggunaan line yang cukup sering, mereka
merasakan adanya perubahan terhadap diri mereka secara tidak langsung. Mereka
menjadi kurang peduli terhadap lingkungan sekitar karena lebih fokus
menggunakan gadget untuk terus berkomunikasi dengan pasangan. Kemudian
mereka juga mendapatkan protes dari teman-teman yang merasa terabaikan,
karena waktu berkumpul bersama mereka menjadi kurang efektif akibat
penggunaan handphone demi menghubungi pasangan itu sendiri.
Dampak lainnya dari pola penggunaan line, kehidupan keseharian
mereka menjadi berubah. Seperti kurangnya waktu untuk beristirahat pada malam
hari karena bertelefon hingga lupa waktu. Kemudian pada saat siang hari mereka
lebih memilih melakukan video call dan melewatkan jam makan siang dengan
alasan video call pada siang hari lebih mendapatkan pencahayaan yang bagus
dibandingkan pada malam hari. Mereka juga sangat membatasi penggunaan
gadget dan media sosial mereka seperti line oleh orang lain. Karena menurut
mereka hal itu merupakan privasi yang tidak boleh sampai dilihat oleh orang lain.
Dan mereka menjaga agar media sosial mereka tidak dibajak oleh teman-teman
mereka karena dapat menimbulkan dampak yang tidak baik seperti pertengkaran
kecil dengan pasangan mereka.
Tetapi mereka tetap lebih menyenangi komunikasi secara langsung atau
tatap muka karena mereka dapat melihat ekspresi dari pasangan mereka,
sedangkan komunikasi melalui media tidak dan bisa saja berbohong seperti saat
mengirimkan sticker tertawa ternyata mereka sedang menangis.
Berdasarkan teori CMC, menurut Wood (2005:227) menyatakan,
keadaan dimana segala bentuk komunikasi dan perilaku manusia dapat diubah
dengan cara saling bertukar informasi melalui ini disebut Computer Mediated
Communication (CMC). Dalam teori CMC mempelajari bagaimana perilaku
manusia dibentuk atau diubah melalui pertukaran informasi menggunakan media
computer. Realitasnya, dengan semakin berkembangnya teknologi komunikasi,
komunikasi langsung tidak lagi menjadi wacana paling penting. Dengan kata lain
untuk memberikan umpan balik terhadap pesan dari komunikator, komunikan
tidak harus bertemu secara langsung. Dengan adanya Line sebagai media
penyampai pesan memberikan pengaruh signifikan bagi pola komunikasi
pasangan Long Distace Relationship.
133
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Simpulan
Dari hasil yang didapatkan peneliti menemukan bahwa informan sangat
membutuhkan line sebagai alat komunikasinya dalam menjalani LDR (Long
Distance Relationship) untuk berkomunikasi. Dengan menggunakan line
berkomunikasi akan jauh lebih mudah daripada media lainnya. Dibandingkan
dengan SMS untuk berkirim pesan mereka lebih senang menggunakan fitur
chatting pada line karena memiliki sticker yang menarik. Melalui fitur free call,
berbicara dapat dilakukan kapan saja dan melalui video call pasangan LDR bisa
bertatap muka untuk melepas rasa rindu. Penggunaan line sangatlah efektif dan
efisien karena pengguna tidak perlu sering-sering mengisi pulsa dan hanya perlu
membeli paket internet saja. Namun penggunaan line ini seringkali memunculkan
sikap individualis bagi penggunanya. Jarak membuat pasangan LDR
mengharuskan mereka menguhubungi pasangan secara terus menerus dengan
menggunakan media dan membuat pasangan LDR pun menjadi kurang peduli
terhadap lingkungan sekitarnya.
Beberapa saran yang ingin diberikan penulis dalam penulisan ini yaitu:
pertama saran penelitian, studi kasus mengenai perubahan perilaku melalui line
bagi pasangan jarak jauh ini tentu masih memiliki banyak kekurangan dan
memerlukan perbaikan. Diharapkan nantinya akan ada penelitian lanjutan
mengenai hal tersebut yang dapat menggali fakta lebih luas lagi. Kedua saran
dalam kaitan praktis, individu-individu yang melakukan komunikasi melalui
media komunikasi sosial untuk lebih bijaksana memilih media komunikasi yang
digunakan dengan mempertimbangkan manfaatnya agar dapat berjalan dengan
baik.
Daftar Pustaka
Ardhianita, Iis, dan Andayani, Budi. Kepuasan Pernikahan
Ditinjau dari
Berpacaran dan Tidak Berpacaran.Jurnal Psikologi Volume, 32 (2): 101111.
Budyatna, Muhammad, dan Geniem, Mona, Leila(2011). Teori Komunikasi
Antarpribadi. Jakarta: Kencana.
Hamdi, Saepul, Hamdi, dan Baharuddin, E(2014). Metode Penelitian Kualitatif
Aplikasi dalam Pendidikan. Yogyakarta: Deepublish.
Lydon, J., Pierce, T., dan O’Regan, S(1997). Coping with Moral Commitment to
Long-Distance Dating Relationships. Journal of Personality and Social
Psychology, 73 (1): 104-113.
McQuail, Denis (1986). Teori Komunikasi Massa: Suatu Pengantar, (edisi
kedua).Jakarta: Airlangga.
Severin, Werner, dan James(2008). Teori Komunikasi (Sejarah, Metode, dan
Terapan di Dalam Media Massa). Jakarta: Kencana.
Shantz, C.U, dan W.W. Hartup (1992). Conflict in Child Adolescence
Development. New York: McGraw Hill Inc.
Supratiknya, A, Dr. (1999). Komunikasi Antarpribadi. Tinjauan Psikologis,
134
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
cetakan keempat. Yogyakarta: Kanisius.
Yunarinrin.2014. Aplikasi Social Media Line. Diakses pada 15 Januari 2016
padapukul 17:40)
Lampiran
Gambar 1: Wawancara dengan narasumber 1
Gambar 2: Wawancara denganNarasumber 2
Biografi Penulis
Feby Diani Bosma dilahirkan pada tanggal 7 Januari 1996 di Padang,
Sumatera Barat. Merupakan mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi FISIP
Universitas Riau dengan konsentrasi Manajemen Komunikasi. Mendapatkan
peringkat 5 pada Ujian Nasional tingkat SMK se-Kota Pekanbaru. Memiliki
minat dan bakat dalam dunia design dan pernah menjadi finalis l’cheese
sketchwalk competition. Saat ini menjabat sebagai bendahara umum pada Klub
Montage Ilmu Komunikasi dan anggota Dinas Minat Bakat dan Kreatifitas Badan
Eksekutif Mahasiswa FISIP UR periode 2015-2016.
Cicilia Margarettha S dilahirkan pada tanggal 2 Maret 1995 di
Bukittinggi, Sumatera Barat. Sekarang merupakan mahasiswa jurusan Ilmu
Komunikasi FISIP Universitas Riau dengan konsentrasi Hubungan Masyarakat.
Saat ini aktif diberbagai organisasi yang ada di FISIP Universits Riau.
135
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
KONSEP DIRI STALKER DI MEDIA SOSIAL
(STUDY KASUS STALKING MANTAN KEKASIH)
Vindriana Adios, Randi Saputra
Ilmu Komunikasi Universitas Riau
[email protected], [email protected]
Abstract
Social media nowdays being exits on people life, seems like a necessary to share
our informations to social media and give probability to people looks our activity
on cyber world. Many phenomenon coming, one of it is about stalking. Stalking is
the activity to find out information about someone on social media without owner
account knowing. Stalking will happend cause many factors, one of them causes
a problem between stalker and someone their stalk and feel dignity to talk. It
ussual happen with a couple after breakup on a relationship. This research
intend to knowing self-concept of people who stalk their ex via social media with
high intensity and still stalk altough make them more sick and brokenheart. This
research using Reduction Uncertainty Theory with descriptive qualitative
methods. The result is the Ex- girl/boyfriend stalkers on high intensity is for fullfil
necesary information about someone loved, there is high curiosity about ex
feelings to stalker and it happend causes loose feelings pasca breakup because
changed communication patterns and decreasing intensity of communication
drastically.
Keyword: Stalker, Ex-girl/boyfriend, Social media
Abstrak
Media sosial hari ini menjadi eksis di kehidupan manusia, membagi informasi
tentang diri kita ke media sosial adalah suatu kebutuhan sehingga membuka
peluang kepada orang-orang untuk melihat aktifitas kita di dunia maya. Banyak
fenomena yang terjadi, satu diantaranya adalah stalking. Stalking adalah aktifitas
untuk mencari tau informasi tentang seseorang di media sosial tanpa pemilik
akun mengetahui. Stalking dapat terjadi karena banyak faktor diantaranya karena
telah terjadi konflik antara stalker dan pemilik akun dan merasa gengsi untuk
berkomunikasi langsung. Hal ini kerap terjadi pada pasangan yang baru saja
putus dari berpacaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsep diri dari
orang orang yang stalking mantannya di media sosial dengan intensitas tinggi dan
tetap stalking meski membuat mereka semakin patah hati. Penelitian ini
menggunakan teori pengurangan ketidakpastian, konsep diri, dengan metode
deskriptif kualitatif sehingga membuat penulis menemukan bahwa Konsep diri
para stalker mantan dengan intensitas yang tinggi adalah bentuk usaha untuk
memenuhi kebutuhan informasi tenang orang yang dicintainya, terdapat
keingintahuan yang tinggi tentang perasaan mantan terhadap si stalker. Hal ini
dipicu karena rasa kehilangan pasca putus sebab pola komunikasi berubah drastis
dan berkurangnya intensitas komunikasi secara drastis.
Kata Kunci: Stalker, Mantan kekasih, Media Sosial
136
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Pendahuluan
Kemajuan teknologi informasi hari ini seolah mampu menembus ruang
dan waktu. Media sosial adalah salah satu produk dari kemajuan teknologi
informasi yang membuat orang-orang memiliki dunia baru untuk saling
berinteraksi. Media sosial memberikan pola komunikasi yang baru dan berbeda,
menuntut setiap orang untuk membagi informasi tentang aktifitasnya sehari hari
di dunia maya sehingga menjadi bahan untuk saling berinteraksi.
Berbagai fitur yang dihadirkan, membuat masing masing sosial media
memiliki karakternya masing masing. Fitur like dan komen yang selalu hadir
disosial media menjadi jendela untuk saling berinteraksi. Chris Garret dalam
website pribadinya Chrisg.com menyatakan bahwa media sosial adalah alat, jasa
dan komunikasi yang memfasilitasi hubungan antara orang satu dengan yang
lainnya serta memiliki kepentingan atau ketertarikan yang sama.
Hadirnya media sosial membawa warna baru pada peradaban manusia
khususnya dalam aktifitas berkomunikasi. Istilah global village menjadi semakin
eksis ditengah masyarakat menandakan bahwa media sosial dianggap sebagai
dimensi kedua kehidupan manusia selain dunia nyata. Dalam penelitian yang
dilansir oleh CNN Indonesia bahwa remaja usia kuliah (19 - 25 tahun) hari ini
menghabiskan waktunya hingga 10 jam dalam dunia maya. Hal ini menandakan
bahwa dunia maya menjadi tempat untuk menghabiskan waktu bukan sekedar
hiburan atau kebutuhan tersier semata.
Seiring eksistensinya dan antusiasme netizen dalam menggunakannya,
menghadirkan berbagai fenomena hangat dan menarik, salah satunya adalah
stalking. Stalking atau menguntit adalah kegiatan mengintip kegiatan seseorang
disosial media baik diketahui atau tanpa diketahui oleh orang yang memiliki
akun. Sementara itu definisi stalking memiliki makna yang luas, Meloy dalam
bukunya Psikologi Of Stalking mengatakan bahwa stlaking merupakan perilaku
kriminal ketika seseorang memburu atau mengejar orang lain lebih dari batas
kewajaran secara obsesif sehingga menjadi ancaman dan berpotensi
membahayakan. Sementara itu stalking yang dimaksudkan disini adalah kegiatan
sekedar membuka akun tanpa ada kegiatan membahayakan.
Berbagai alasan timbul dari seorang stalker untuk melakukan aksinya.
Namun pada umumnya disebabkan rasa ingin tahu oleh sipemilik akun namun
ada hal yang menghalangi untuk menanyakan langsung. Banyak hal yang dapat
menjadi penghalang untuk berkkomunikasi langsung, gengsi adalah salah
satunya. Rasa gengsi dapat timbul dari berbagai alasan diantaranya adalah
konflik yang terjadi pada si stalker dan orang yang di stalkingnya namun tetap
penasaran dengan perkembangan yang terjadi tersebut. Sehingga fitur sosial
media hadir untuk memenuhi kebutuhan informasi tersebut tanpa harus
menanggung rasa gengsi. Sehingga kegiatan stalking mulai menjadi aktifitas
yang hampir selalu dilakukan oleh pengguna sosial media. Tak terkecuali netizen
yang baru saja putus cinta.
Sosial media menjadi tempat untuk berinteraksi tak terkecuali
berkomunikasi dengan pasangan kekasih. Seolah menjadi trend untuk update foto
137
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
dan status di sosial media bersama kekasih. Ketika suatu hubungan harus
berakhir, jejak disosial media perlahan tentu harus dihapus. Pasca konflik
penyebab putus membuat keduanya mengalami perubahan pola komunikasi
secara drastis, serta intensitas berkomunikasi yang menurun pasca putus. Hal ini
yang memicu seseorang tidak terbiasa dengan perubahan iklim komunikasi yang
tercipta. Sehingga ingin tetap mendapatkan informasi seputar kekasihnya tanpa
harus menanggung gengsi yakni dengan cara stalking. Namun tak jarang para
stalker cendrung menyakiti dirinya pasca stalking karena informasi yang
didapatkan tak sesuai harapan. Namun keingin tahuan yang besar membuat
mereka tetap melakukannya seolah sebuah kepuasan untuk menyakiti dirinya
sendiri. Untuk itu penulis sangat tertarik meneliti dan ingin menyelami lebih
dalam tentang Konsep Diri Stalker Di Media Sosial (Study Kasus Stalking
Mantan Kekasih).
Tinjauan Pustaka
Konsep Diri
Menurut Hurlock (dalam Nia, 2011 : ) konsep diri adalah konsep
seseorang dari siapa dan apa dia itu. Konsep ini merupakan bayangan cermin,
ditentukan sebagian besar oleh peran dan hubungan dengan orang lain, dan apa
yang kiranya reaksi orang lain terhadapnya. Konsep diri mencakup citra diri fisik
dan psikologis. Citra diri fisik biasanya berkaitan dengan penampilan, sedangkan
citra diri psikologis berdasarkan atas pikiran, perasaan, dan emosi.
Song dan Hattie (dalam Nia, 2011 : ) mengemukakan bahwa konsep diri
terdiri atas konsep diri akademis dan non akademis. Selanjutnya konsep diri non
akademis dapat dibedakan menjadi konsep diri sosial dan penampilan diri. Jadi
menurut Song dan Hattie, konsep diri secara umum dapat dibedakan menjadi
konsep diri akademis, konsep diri sosial, dan penampilan diri.
Menurut Burns (dalam Erawati, 2011 : ) konsep diri adalah suatu
gambaran campuran dari apa yang kita pikirkan, orang-orang lain berpendapat
mengenai diri kita, dan seperti apa diri yang kita inginkan.
Menurut William D. brooks yang dikutip oleh Jalaludin Rakhmad (1985:
125) yang menyatakan konsep diri merupakan persepsi individu terhadap dirinya
sendiri yang bersifat psikis dan sosial sebagai hasil interaksi dengan orang lain.
Menurut (Mulyana, 2000:7) menyatakan konsep diri adalah pandangan
individu mengenai siapa diri individu, dan itu bisa diperoleh lewat informasi
yang diberikan lewat informasi yang diberikan orang lain pada diri individu.
Sementara dalam hal ini konsep diri seorang stalker yang suka menguntit
mantan kekasihnya dengan intensitas yang tinggi meski sering tersakiti dengan
kepuasan informasi yang rendah. Sebab informasi yang didapat disosial media
memiliki akurasi rendah akibat konsep diri seseorang disosial media dan dunia
nyata sangat berbeda.
138
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Reduction Certainty Theory
Teori pengurangan ketidakpastian atau Uncertainty Reduction Theory
dikemukakan oleh Charles Berger dan Richard Calabrese pada tahun 1975. Inti
dari teori Pengurangan Ketidakpastian adalah untuk mengurangi ketidakpastian
antara dua orang. Cara untuk mengurangi ketidakpastian adalah dengan mencari
informasi melalui komunikasi dengan orang lain.
Teori ini menyatakan bahwa ada dua tipe dari ketidakpastian dalam yaitu
ketidakpastian kognitif dan ketidakpastian perilaku. Ketidakpastian kognitif
adalah tingkatan ketidakpastian yang dihubungkan dengan keyakinan dan sikap.
Ketidakpastian perilaku adalah berkenaan dengan luasnya perilaku yang dapat
diprediksikan dalam situasi yang diberikan.
Terdapat dua proses dalam mengurangi ketidakpastian, yaitu proaktif dan
retroaktif. Pengurangan ketidakpastian proaktif terjadi ketika seseorang berpikir
sebelum melakukan komunikasi dengan orang lain. Contohnya ketika seseorang
yang baru putus cinta ada pergolakan dalam dirinya. Terdapat banyak
ketidakpastian yang ingin dicari tahu, sehingga memilih untuk memikirkannya
sendiri dan berekspektasi bahkan diam diam mencari informasi tanpa interaksi
seperti stalking.
Pengurangan ketidakpastian retroaktif terjadi ketika menjelaskan perilaku
setelah perjumpaan. Contohnya adalah dengan menanyakan langsung dengan
orang atau dalam kasus ini adalah mantan kekasihnya. Mereka menanyakannya
secara langsung tanpa gengsi dan diam. Seperti berani like atau comment demi
mendapatkan feedback dari mantan.
Asumsi Teori Pengurangan Ketidakpastian
Teori pengurangan ketidakpastian memiliki beberapa asumsi dasar yang sesuai
dengan kasus stalking mantan, yaitu:
1. Orang mengalami ketidakpastian dalam latar interpesonal. Sebelum kita
berinteraksi, kita memiliki berbagai harapan kepada lawan bicara kita.
Pasca putus keduanya memiliki rasa ingin bertanya tanya dengan respon
kekasih dan mantan kekasihnya. Terkhusus untuk pasangan kekasih yang
pertama kali mengalami putus mereka akan memasuki fase baru dalam
hubungan, dan bertanya tanya latar belakang mantan kekasihnya
menghadapi putus cinta dan reaksinya, sehingga melakukan stalking.
2. Ketidakpastian adalah keadaan yang tidak mengenakkan, menimbulkan
stress secara kognitif.Pasca putus selain mengalami kegalauan, pasangan
kekasih yang sulit untuk berkomunikasi intens pra putus akan sulit untuk
mendapatkan informasi akurat tentang kekasihnya, sehingga tersendatnya
informasi tersebut membuat ketidakpastian semakin banyak, dan
ketidakpastian itu membuat stress, sehingga dapat dikatakan kegalauan
yang dialami oleh sepasang kekasih yang baru putus adalah kurangnya
kepastian.
3. Kuantitas dan sifat informasi yang dibagi oleh orang lain akan berubah
seiring berjalannya waktu. Diawal putus akan terjandi penurunan drastis
dengan kuantitas pesan dan informasi, sifat informasi yang didapatkan
dari stalking dan terima langsung akan berbeda rasanya.
139
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Metodologi
Jenis dan Pendekatan Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif, yaitu penelitian yang
dilakukan untuk memberikan gambaran yang lebih detail mengenai suatu gejala
atau fenomena dengan menggunakan pengamatan secara mendalam tentang suatu
fenomena atau realita. Metode ini mempunyai prinsip objektivitas, dimana
prinsip ini menganggap bahwa terdapat keteraturan atau hukum-hukum yang
dapat digeneralisasikan dalam fenomena sosial. Karena itu, penelitian ini
mensyaratkan bahwa penelitian harus membuat jarak dengan objek atau realitas
yang diteliti (Wimmer dan Dominick, 2002:102)
Berbeda dengan penelitan kuantitatif yang menekankan pada survey,
penelitian kualitatif bermuara pada studi kasus. Adapun tujuan dari penelitian
deskriptif (Rakhmat, 2005:25) adalah:
 Mengumpulkan informasi aktual secara rinci yang melukiskan gejala yang
ada.
 Mengidentifikasikan masakah atau memeriksa kondisi dan praktek-praktek
yang berlaku.
 Membuat perbandingan atau evaluasi.
 Menentukan apa yang dilakukan orang lain dalam menghadapi mesalaha
yang sama dan belajar dari pengalaman mereka untuk menetapkann
rencana dan keputusan pada waktu yang akan datang.
Lokasi dan Jadwal Penelitian
 Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian dilakukan secara random di sosial media, dan mencari
informan secara random.
 Waktu Penelitian
Waktu penelitian adalah tanggal bulan dan tahun dimana kegiatan
penelitian tersebut dilakukan. Untuk penelitian ini peneliti menetapkan waktu
penelitian selama sebulan dari tanggal 1 Desember 2015 – 20 Januari 2016.
Populasi Dan Sample
Populasi
Populasi adalah keseluruhan jumlah yang terdiri atas obyek atau subyek
yang mempunyai karakteristik dan kualitas tertentu yang ditetapkan oleh peneliti
untuk diteliti dan kemudia ditarik kesimpulannya.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pengguna sosial media
terutama twitter dan instagram.
Sample
Sampel adalah bagian dari sejumlah karakteristik yang dimiliki oleh
populasi yang digunakan untuk penelitian. Bila populasi besar, peneliti tidak
mungkin mengambil semua untuk penelitian misal karena keterbatasan dana,
tenaga, dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari
140
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
populasi itu. Apa yang dipelajari dari sampel, kesimpulannya akan dapat
diberlakukan untuk populasi. Untuk itu sampel yang diambil dari populasi harus
betul-betul mewakili dan harus valid, yaitu bisa mengukur sesuatu yang
seharusnya diukur.
Pengambilan sampel yang peneliti lakukan adalah menggunakan
purposive sample, dimana penelitian sampel berdasarkan pada karakteristik
tertentu yang dianggap mempunyai sangkut pautnya dengan karakteristik
populasi yang sudah diketahui sebelumnya (Ruslan, 2003:157)
Dalam penelitian ini peneliti akan mengambil sampel stalker mantan di
twitter dan instagram saja.
Jenis Dan Sumber Data
Sumber data adalah subjek dari mana asal data penelitian itu diperoleh.
Apabila peneliti misalnya menggunakan kuesioner atau wawancara dalam
pengumpulan datanya, maka sumber data disebut responden, baik tertulis
maupun lisan. Berdasarkan sumbernya, data dibagi menjadi:
a. Data Primer adalah data yang dihimpun secara langsung dari sumber
data pertama di lokasi penelitian (Bungin, 2005:122). Data ini masih
baku dan memerlukan pengolahan lebih lanjut. Data primer
merupakan data yang biasanya diperoleh dari responden melalui
kuisioner, kelompok fokus dan panel, atau juga data hasil
wawancara peneliti dengan narasumber. Dalam penelitian ini data
primer adalah data informasi yang diambil langsung dari hasil
wawancara kepada stalker mantan sosial media twitter dan
instagram di pekanbaru.
b. Data sekunder adalah data pendukung penulis yang didapat dari
bacaan-bacaan atau laporan-laporan peneliti terdahulu biasanya
berupa arsip kepustakaan. Data sekunder ini disebut juga data
tersedia. Dalam penelitian ini berupa data-data referensi dari pustaka
dan buku pendukung lainnya.
Teknik Pengumpulan Data
a. Wawancara
Menurut nazir (dalam Bungin, 2005:126) wawancara atau interview
adalah sebuah proses memperoleh keterangan untuk tujuan
penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara
pewawancara dengan responden atau orang yang diwawancarai,
dengan atau tanpa menggunakan pedoman wawancara.
Wawancara juga merupkan salah satu instrumen yang digunkaan
untuk menggali data secara lisan. Hal ini harus dilakukan secara
mendalam agar kita mendapatkan data yang valid dan detail.
Teknik wawancara digunakan untuk mewawancarai para gepeng,
guna memperoleh informasi apakah mereka mempunyai akun
instagram, twitter dan path atau tidak. Sehingga peneliti bisa
141
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
memilih mana siswi yang bisa dijadikan sampel dan mana yang
tidak.
b. Dokumentasi
Merupakan upaya menggali data-data yang berhubungan dengan
penelitian yang berasal dari surat kabar, buku-buku, majalah, artikel,
brosur, atau wacana pada internet dan lain-lain. Setiap data
diperoleh dikumpulkan dan digunakan sebagai bahan penunjang di
dalam penelitian.
Hasil Temuan dan Diskusi
Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis melalui wawancara
secara mendalam dan observasi langsung. Hal yang ditemukan adalah terjadi
perbedaan significant antara stalker lelaki dan stalker perempuan. Hal ini terjadi
karena konsep mencintai bagi stalker dan lawan jenis berbeda. Begitu pula
dengan efek patah hati serta media sosial yang mereka sukai.
Para stalker yang berjenis kelamin pria cendrung lebih suka melakukan
stalking dengan sosial media, mereka merasa lebih dipuaskan dengan informasi
secara visual dalam hal ini gambar. Mereka menganngap pasca putus foto di
instagram dapat menunjukkan bagaimana keadaan terkini mantan kekasih
mereka.
Salah satu informan pria kami FM, mahasiswa 23 tahun mengatakan
bahwa baginya meski instagram sangat rentan ketahuan stalking dengan fitur tap
dua kali sama dengan love, baginya itu tidak masalah.
“Ya kalau buat aku, instagram itu bikin kita nemuin kondisi real mantan
kita, apakah dia baik-baik aja. Dan bikin lebih lega...”
Bagi FM, stalking mantan kekasih adalah untuk kepuasan informasi
pribadinya, sekaligus melepas rindu akibat komunikasi yang tersendat pasca
putus. Ia pun menjelaskan memberikan like atau comment langsung lebih kepada
kepuasan pribadinya untuk menjalin komunikasi, kalaupun tidak mendapat
feedback dari sang mantan tidak masalah. Terpenting baginya isi hatinya
tersampaikan dan postingan foto diinstagram cukup menjelaskan keadaan
mantannya.
“..Kalau aku stalking emang karena lagi kangen, dan kasih like atau
comment biasanya dengan sengaja. Kalaupun gak dibales ya gapapa,
buat aku sih yang penting isi hatiku tercurahkan hehe..”
Lalu ia mengungkapkan bahwa stalking mantan biasanya sering
dilakukan 1 minggu pasca putus karena 1 hari putus masih memiliki konflik dan
cendrung menghindar.
“... Baru putus banget ya males lah stalking, kan masih marahan atau
masih ada konflik. Jadi butuh jeda waktu, kalau 1 minggu atau 1 bulan
pasti di stalking, apalagi gak kontakan. Kangen soalnya, dan kepo juga
hehe..”\
142
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
FM mengaku frekuensi stalking mantan sesuai personal mantannya dan
kesan yang ditinggalkan. Semakin mengesankan seorang mantan, maka akan
semakin sering di stalking. FM mengaku sempat sehar 12 kali stalking
mantannya.
“... Mantan pernah hapus semua kontak, untuk gak diblokir, jadinya
masih suka stalking. Akhirnya seminggu full liatin akun dia aja. Meski
dikunci, akhirnya inget deh ada email dan hubungin doi via email, jayus
baget yak..
Sementara itu berbeda dengan informan wanita kami ED seorang
mahasiswi 20 tahun. ED mengaku lebih suka stalking mantan dengan
menggunakan sosial media twitter. Baginya twitter dapat memberikan informasi
secara akurat tentang apa yang sedang dirasakan sang mantan. ED mengaku lebih
minati twitter karena informasi secara aksara tersebut mampu menunjukkan
informasi akurat karena tertuliskan perasaannya. Sementara instagram hanya
memberikan gambar yang ambigu.
“..Kalau twitterkan kata kata tuh, jadi informasinya lebih akurat, tau dia
lagi mention mentionan sama siapa, apa yang dia retweet pasti dia
banget, kalo ig kan gambar dan masih ambigu infonya”
ED mengatakan bahwa instagram rentan like dan baginya ketahuan
stalkin adalah hal yan memalukan sehingga twitter lebih dirasa nyaman sebagai
media untuk stalking.
“... Ih ig ituh double tapnya sensi banget, ketauan kan gengsi, lagian
kalo twitterkan susah kalo mau retweet atau apa juga tombolnya gak
langsung, expand dulu, jadi twitter banget banget deh buat stalk”
ED menyatakan pernah stalk mantan sambil nangis dan tetep mau stalk
lagi karena kepo. Hal itu terjadi karena gengsi menanyakan langsung seputar
kedekatan mantan dan gadis di foto yang ada diinstagram akun mantannya.
Padahal ternyata itu sepupu si mantan yang dia gak pernah ketemu sebelumnya.
“... Iyah lagian ig ituh ambigu parah, aku pernah nangis gara gara
ngeliat foto mantan sama cewek, kaya iya banget pacarnya. Lebih cantik
lagi eeeeh.. ternyata bukan, itu sepupunya. Sempat ketauan salah kan
gengsi parah”
ED mengaku melakukan stalking 22 jam nonstop di time line twitter
mantannya karena hari itu mantan rajin sekali update dan terfokus pada itu saja,
hal ini menunjukkan media twitter yang update secara cepat membuat
penggunanya terfokus pada informasinya terutama bagi stalker
“... Hari itu dia banyak update karna dia ulang tahung, jadi ada foto
sureprice juga, 22 jam nonstop gamau ketinggalan timeline, tiap yang
dia retweet aku stalking. Apalagi kalau cewek. “
143
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Sehingga dapat dijelaskan bahwa masing masing konsep diri stalker,
dipengaruhi oleh latar belakang sang stalker. Perbedaan gender ternyata
mempengaruhi cara pandang seseorang dalam melakukan stalking termasuk
dalam pemilihan media sosial yang digunakan untuk stalking.
Simpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah:
1. Perubahan pola komunikasi dan intensitas berkomunikasi antara stalker
dan mantannya menjadi pemicu umum dan utama seseorang melakukan
stalking
2. Pemilihan media, motifasi, dan cara mereka melakukan stalking ternyata
dapat dibedakan oleh perbedaan gender.
3. Stalking mantan dengan intensitas tinggi dikarenakan banyaknya
ketidakpastian yang tidak terjawab akibat putusnya komunikasi
interpersonal dan gengsi untuk menjalin kembali pasca putus.
4. Stalking disosial media cendrung kurang akurat karena konsep diri
seseorang didunia maya dan dunia nyata cendrung berbeda.
Daftar Pustaka
\
Littlejohn, Stephen W & Karen A. Foss. 2011. Teori Komunikasi; Theories of
Human Communication. Jakarta : Salemba Humanika.
West, Richard & Turner, Lynn H. 2012. PengantarTeoriKomunikasi
:Analisisdan Aplikasi; Jakarta : SalembaHumanik
Meloy, J R. 1998. Psikology of Stalking: Clinical and forensik perspektif. CA:
Akademic press
Kriyantono, Rahkmad. 2008. Teknuk Praktis Riset Komunikasi.Jakarta : Kencana
https://chrisg.com diakses pada tanggal 11 januari 2016 pukul 23:47
Biografi Penulis
Azhar Saputra; lahir di Dumai 12 April 1993. Saat ini sedang menjalani
studi S1 jurusan ilmu komunikasi FISIP Universitas Riau. saat ini sedang
menjabat sebagai Direktur Utama Sigma Entertainment, pernah meraih juara 2
pada ajang duta fisip 2013.
Vindriana Adios; dilahirkan di Payakumbuah 13 Maret 1995. Saat ini
sedang menjalani studi s1 jurusan ilmu komunikasi FISIP Universitas Riau.
Pernah menjadi finalis Mawapres 2015 Universitas Riau, menjuarai debat bahasa
antar mahasiswa se Universitas Riau tahun 2014 dan mengikuti travelling and
teaching 1000 guru regional Riau.
144
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
TINGKAT LITERASI MEDIA INTERNET MAHASISWA
KONSENTRASI ILMU KOMUNIKASI DAN MEDIA PASCASARJANA
ILMU KOMUNIKASI FISIPOL UGM
Clara Novita Anggraini
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gajah Mada
[email protected]
Abstract
The development of information and communication technology continues to
evolve without being able to avoid. Positive impact is always followed by a
negative impact of human hegemony, cause dependence and various new
diseases in the information age. One way to cope is media literacy.
Unfortunately the Indonesian people's knowledge about media literacy has
not been adequate. Students, as an iron stock and agent of change in the
nation's is required to have the ability of media literacy. This study aims to
determine the level of internet media literacy Student of Communication
sciences and Media Studies Graduate Program in Communication Sciences
UGM, they are actively using the Internet as well as studying the
development of information and communication technology in daily lectures.
Using quantitative descriptive research type, survey methods with
descriptive survey, this study resulted in that the level of internet media
literacy students are at medium levels, with the acquisition of diverse skill
levels in each category. Thus, the thesis that the higher the level of
education a person it will be the literate is failed because of the results of
this study. As Potter (2001) said, media literacy can not just arise, but must
be nurtured from an early age. Therefore, considering the media literacy
education in particular become urgent, to face the challenges of
globalization so that Indonesian people do not continue to be swayed by the
flow of information.
Keywords: the level of media literacy, internet, communication science
graduate student
Abstrak
Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi terus berkembang tanpa
bisa kita hindari. Dampak positifnya selalu diikuti oleh dampak negatif yang
menghegemoni manusia, menyebabkan ketergantungan dan berbagai
penyakit baru di era informasi. Salah satu cara untuk mengatasinya adalah
literasi media. Sayangnya pengetahuan masyarakat Indonesia mengenai
literasi media belum memadai. Mahasiswa, sebagai agen perubahan calon
penerus bangsa wajib memiliki kemampuan literasi media. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui tingkat literasi media internet Mahasiswa
Konsentrasi Ilmu Komunikasi dan Media Program Pascasarjana Ilmu
Komunikasi UGM, mereka yang aktif menggunakan internet serta mengkaji
perkembangan teknologi komunikasi dan informasi dalam perkuliahan
145
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
sehari-hari. Menggunakan tipe penelitian deskriptif kuantitatif dengan
metode survey dan jenis survey deskriptif, penelitian ini menghasilkan
bahwa tingkat literasi media internet mahasiswa berada pada level sedang,
dengan perolehan yang beragam pada setiap kategori keterampilan. Dengan
demikian, thesis bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka
akan semakin literat menjadi gagal karena hasil penelitian ini. Seperti yang
dikatakan Potter (2001), literasi media tidak bisa muncul begitu saja,
melainkan harus dipupuk sejak dini. Oleh karena itu, mempertimbangkan
pendidikan literasi media secara khusus menjadi urgent, untuk menghadapi
tantangan globalisasi agar masyarakat Indonesia tidak terus terombangambing oleh arus informasi.
Kata Kunci: tingkat literasi media, internet, mahasiswa pascasarjana ilmu
komunikasi
Pendahuluan
Nomophobia adalah jenis phobia yang ditandai ketakutan berlebihan jika
seseorang kehilangan ponselnya (Mayasari, 2014). Sebuah studi yang dilakukan
perusahaan pengesahan keamanan, SecurEnvoy, menyatakan bahwa nomophobia
telah menjadi penyakit yang umum di zaman sekarang. Sebanyak 66 persen dari
objek penelitian terbukti mengidap penyakit ini (Nomophobia, Kelainan
Psikologis Akibat Ketergantungan terhadap Ponsel, 2014). Perkembangan
teknologi komunikasi dan informasi terus berkembang tanpa bisa dihindari.
Dampaknya bagai dua sisi mata uang. Positif dengan semua kebermanfaatannya
dalam kehidupan manusia, negatif jika kecanggihan teknologi dan informasi ini
berbalik mengendalikan manusia itu sendiri, seperti fenomena no moblie phone
phobia ini.
Dalam menghadapi pemilu 2014, kekhawatiran akan meningkatnya
golongan putih dari kalangan pemilih muda disebabkan oleh belum mampunya
pemerintah dan elemen partai politik memberikan pendidikan politik yang
bermakna. Yang sering muncul malah manuver, saling intrik, dan kasus-kasus
kriminal dalam politik diberbagai media massa yang notabene dimiliki para
pemain politik itu sendiri. Hal ini menyebabkan masyarakat menjadi apatis
terhadap politik, kalangan muda malah semakin takut dan menjauh dari politik
(www.rockthevoteindonesia.org). Di internet, dengan karakter tanpa batasan
ruang dan waktu, terpaan serupa dapat muncul setiap waktu. Padahal pemilu
adalah moment penentu nasib masa depan sebuah bangsa. Demikian besarnya
dampak terpaan kekaburan informasi melalui berbagai teknologi komunikasi.
Sementara itu, anak-anak dan remaja dinilai secara psikologis belum
memiliki kematangan memadai (Herlina, 2011). Akibat beredarnya video mesum
”Ariel”, berita8.com memberitakan Komisi Perlindungan Anak Indonesia
(KPAI) mencatat 40 anak jadi korban perkosaan. Selain menjadikan anak korban,
materi pornografi juga berdampak buruk bagi perkembangan anak yang
mengonsumsinya seperti kecanduan, mengganggu tumbuh kembang, dan
membuat anak ingin meniru adegan porno. Dampak materi pornografi, lebih
146
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
berbahaya daripada narkoba (Selasa, 06 Juli 2010). Konten kekerasan media
mempunyai peran krusial dalam pertumbuhan kesehatan anak-anak dan remaja.
Sebuah hasil penelitian di Yogyakarta menunjukkan pentingnya pendidikan
literasi media untuk anak oleh orang tua: “They (muslim families) realized that
parental regulation of media consumption at home was more important and
effective, because media consumption is based on individual needs and beliefs”
(Rahayu, 2013).
Tetapi sayangnya masih banyak orang dewasa yang diharapkan dapat
mengedukasi dan melindungi anak serta remaja dari dampak buruk media massa
belum memiliki pengetahuan yang memadai, baik tentang dampak yang
ditimbulkan maupun cara mengatasinya. Menurut Wiratmo, perbedaan latar
belakang publik pengakses media membedakan kemampuannya memilih dan
memahami berbagai konten yang ditawarkan (Wiratmo, 2011, hal. 44). Oleh
karena itu pendidikan literasi media bagi semua orang sangat penting. Bahkan
para akademisi memunculkan beragam pemikiran tentang literasi media. Mereka
menegaskan bahwa literasi media seharusnva diperlakukan sebagai isu kebijakan
publik, isu budaya kritikal, seperangkat alat pedagogis untuk guru sekolah dasar,
saran untuk orang tua atau sebuah topik kajian ilmiah (Rahardjo, 2012),
mengingat dampak negatif media massa yang semakin tidak terbendung.
Sebagai agen penerus bangsa dan kaum terdidik, mahasiswa harusnya
mampu memahami, menganalisis, dan mengkritisi efek negatif perkembangan
teknologi komunikasi dan informasi. Sayangnya malah banyak mahasiswa yang
ikut terhegemoni. Kebergantungan pada gadget mengakibatkan penyalahgunaan.
Misalnya, mereka menggunakan tabletnya untuk bermain game saat proses kuliah
berlangsung (http://news.liputan6.com). Hasil pengamatan Mazdalifah (2011,
hal. 74) ternyata belum banyak mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP USU yang
memahami apa sebenarnya literasi media. Potter (dalam Tim peneliti PKMBP,
2013, hal. 16) mengatakan bahwa literasi media diperlukan ditengah kejenuhan
informasi, tingginya terpaan media, dan berbagai permasalahan dalam informasi
tersebut yang mengepung kehidupan kita sehari-hari. Semakin media literate
seseorang, maka semakin mampu orang tersebut melihat batas antara dunia nyata
dengan dunia yang dikonstruksi oleh media. Oleh karena itu, mahasiswa sebagai
generasi muda penerus tampuk kepemimpinan, wajib menguasai literasi media.
Kirsh (2012, hal. 295) mengkritik penelitian literasi media selama ini
dalam tiga hal. Pertama, banyak studi pembuktian timbulnya perilaku agresif
akibat terpaan kekerasan content media massa belum mengukur agresifitas itu
sendiri. Kedua, efektifitas jangka panjang dari penelitian yang
mendokumentasikan berbagai gerakan literasi media belum pernah dilakukan.
Ketiga, kebanyakan penelitian berfokus pada televisi, belum pada media massa
lainnya. Di Indonesia sendiri penelitian literasi media sejatinya sudah mulai
banyak dilakukan, meskipun belum menjamur. Seperti yang dilakukan oleh
(Rahayu, 2013) dalam “Muslim Families Mediating Childrens Television and
Internet Use in Indonesia”. Hasil penelitian ini menjabarkan parental mediation,
pendidikan literasi mediayang dilakukan oleh keluarga muslim sebagai entitas
terbesar di Indonesia. Berfokus pada peran ibu, penelitian Rahayu menghasilkan
147
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
tiga point, yaitu media use and control in the muslim, role of muslim mother in
parental mediation of children’s media use,dan the influence of religious beliefs.
Kemudian Manuhoro (2012), dalam ”Memahami Pengalaman Literasi
Media Guru PAUD”, studi kasus pada Gugus Matahari Kecamatan Bandungan,
Kabupaten Semarang, memotret pendidikan literasi media bagi anak usia dini,
menunjukkan bahwa pengetahuan guru tentang media massa yang didapat secara
natural merupakan lokus personal yang relevan dengan pengandaian khalayak
aktif. Meski struktur pengetahuan dan skill tidak lengkap, namun dari lokus
personal guru dapat dikembangkan sebuah bangunan pemberdayaan literasi
media dengan melibatkan guru, orang tua dan lingkungannya dapat memperkaya
metode pendidikan literasi media bagi anak usia dini. Hasil penelitian ini hampir
serupa dengan yang dilakukan oleh Binark & Bek (2007, hal. 757) di Turki.
Penelitian ini menunjukkan bahwa para guru belum pernah diberikan pelatihan
khusus mengenal media literasi, meskipun sudah menerapkan pendidikan media
literasi. Banyak negara seperti Turki, Inggris, Kanada, Australia, dan Jepang
sudah memasukkan literasi media kedalam kurikulum sekolah, sehingga banyak
studi yang berfokus pada literasi media di sekolah. Walaupun belum menjadi
kurikulum, mulai banyak sekolah swasta dan berbagai gerakan atau program
literasi media bermunculan di Indonesia.
Dalam penelitiannya ”Literasi Media Berbasis Komunitas”, Wiratmo
(2011, hal. 63) menemukan bahwa beberapa komunitas yang menjadi objek
penelitian termasuk salah satunya komunitas mahasiswa belum media literat.
Begitu juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Arif (2013, hal. 20) kepada
mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi IAIN Sunan Ampel Surabaya
menghasilkan bahwa tingkat literasi media mahasiswa tergolong medium, dengan
tingkat kekritisan yang masih rendah. Selanjutnya, penelitian yang dilakukan
oleh Mazdalifah (2011, hal. 76) mengenai ”Mengembangkan Literasi Media di
Perguruan Tinggi” menunjukkan hasil ketertarikan mahasiswa Ilmu Komunikasi
FISIP USU akan kajian dan penerapan kurikulum literasi media dalam
pembelajaran, masih jauh untuk sampai pada pengukuran tingkat literasi media
mahasiswa. Mengingat masih kurangnya penelitian yang mengukur efektivitas
atau tingkat literasi media, penelitian ini akan melengkapi dengan mengukur
tingkat literasi media mahasiswa dengan jenjang yang lebih tinggi, yaitu
mahasiswa Konsentrasi Ilmu Komunikasi dan Media Program Pascasarjana Ilmu
Komunikasi UGM dan berfokus pada penggunaan media internet, dimana seluruh
mahasiswa yang menjadi objek penelitian ini memiliki perangkat untuk
mengakses internet.
Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana tingkat
literasi media internet mahasiswa Konsentrasi Ilmu Komunikasi dan Media
Program Pascasarjana Ilmu Komunikasi UGM? Tujuan dari penelitian ini adalah
untuk mengetahui konsumsi internet, pemahaman literasi media, dan tingkat
literasi media internet mahasiswa Konsentrasi Ilmu Komunikasi dan Media
Program Pascasarjana Ilmu Komunikasi UGM.
148
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Tinjauan Pustaka
Menurut Potter (2001), literasi media adalah sebuah perspektif yang
secara aktif kita pakai ketika menerpa diri dengan media massa untuk
menginterpretasikan makna pesan yang kita hadapi. Kita membangun perspektif
kita dari struktur pengetahuan. Untuk membangun struktur pengetahuan kita, kita
butuh alat dan bahan baku. Bahan baku adalah informasi dari media dan dari
dunia nyata. Penggunaan aktif berarti bahwa kita memperhatikan pesan dan
berinteraksi secara sadar dengan pesan-pesan itu (2001:4). Secara sederhana tim
peneliti PKMBP merangkum 7 skill yang dibutuhkan untuk meraih kesadaran
ktritis bermedia melalui literasi media oleh Potter, yaitu analisis, evaluasi,
pengelompokkan, induksi, deduksi, sintesis, dan abstraksi. Kemampuan analisis
menuntut kita untuk mengurai pesan ke dalam elemen-elemen yang berarti.
Evaluasi adalah membuat penilaian atas makna elemen-elemen tersebut.
Pengelompokan atau grouping adalah menentukan elemen-elemen yang memiliki
kemiripanan elemen-elemen yang berbeda untuk dikelompokkan ke dalam
kategori-kategori yang berbeda. Induksi adalah mengambil kesimpulan atas
pengelompokkan diatas kemudian melakukan generalisasi atas pola-pola elemen
tersebut ke dalam pesan yang lebih besar. Deduksi menggunakan prinsip-prinsip
umum untuk menjelaskan sesuatu yang spesifik. Sintesis adalah mengumpulkan
elemen-elemen tersebut menjadi satu struktur baru. Abstraksi adalah menciptakan
deskripsi yang singkat, jelas, akurat untuk menggambarkan esensi pesan secara
lebih singkat dari pesan aslinya (2013:9). Hasil penelitian Ioana Literat (2014)
menunjukkan bahwa secara khusus orang-orang yang mengkonsumsi dan
memproduksi informasi di media baru secara ekstensif mempunyai literasi media
baru yang tinggi. Para mahasiswa yang menjadi objek penelitian ini merupakan
pengakses aktif internet berkaitan dengan masa aktif dan bidang ilmu yang
sedang digeluti saat ini.Dengan keaktifan mengakses ini, idealnya para
mahasiswa ini literat terhadap media internet.
Sosiawan (2011:1) dalam kajian “Internet Sebagai Media Komunikasi
Interpersonal Dan Massa” menunjukkan bahwa internet memiliki tiga fasilitas
utama yang digunakan dalam berkomunikasi, yaitu electronic mail (e-mail), web
site, dan relay chatt (chatting). Mengenai waktu penggunaan internet yang sangat
berpengaruh terhadap tingkat literasi media internet mahasiswa, SWA-Mark Plus
& Co (dalam Rachdianti, 2011:16) merumuskan temuannya pada 1.100 orang
pengguna internet, menggolongkan tipe-tipe pengguna internet berdasarkan lama
waktu yang digunakan: pengguna berat (heavy users) adalah individu yang
menggunakan internet selama lebih dari 40 jam per bulan, pengguna sedang
(medium users) adalah individu yang menggunakan internet 10-40 jam per bulan,
dan pengguna ringan (light users), yaitu individu yang menggunakan internet
tidak lebih dari 10 jam per bulan.
149
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Metodologi
Tipe penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dan metode penelitian
adalah metode survei. Pemilihan metode ini didasarkan atas penggunaan
kuesioner sebagai instrumen pengumpulan data, untuk memperoleh data tingkat
literasi media mahasiswa Konsentrasi Ilmu Komunikasi dan Media Program
Pascasarjana Ilmu Komunikasi UGM. Jenis survei yang digunakan adalah survei
deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Konsentrasi Ilmu
Komunikasi dan Media Program Pascasarjana Ilmu Komunikasi UGM angkatan
genap 2013-2014 yang berjumlah 15 orang. Para mahasiswa ini telah
mempelajari media dan perkembangan teknologi komunikasi informasi beserta
dampaknya secara khusus. Bidang keilmuan ini menyebabkan mereka wajib
memiliki dan berinteraksi dengan teknologi komunikasi informasi internet.
Sampel penelitian ini mengambil keseluruhan jumlah populasi yaitu 15 orang.
Mereka adalah para mahasiswa yang masih aktif menjalani perkuliahan, berada di
semester pertama, sehingga kesehariannya sangat dekat dengan pengkajian dan
penggunaan internet. Teknik sampling yang digunakan adalah sensus atau total
sampling, yaitu sebuah riset survei dimana periset mengambil seluruh anggota
populasi sebagai responden (Kriyantono, 2008, hal. 159). Pengumpulan data
penelitian ini dilakukan menggunakan kuesioner, daftar pertanyaan yang harus
diisi oleh responden. Kuesioner yang digunakan adalah jenis angket tertutup
dimana responden tinggal memilih jawaban yang telah disediakan peneliti.
Kemudian dilengkapi dengan angket terbuka, dimana responden mempunyai
kebebasan untuk menjawab tanpa adanya alternatif jawaban yang diberikan
periset (Ibid, hal. 95-96), agar data yang diperoleh peneliti lebih komprehensif.
Uji reliabilitas dalam penelitian ini menggunakan teknik reliabilitas Tes Uraian.
Untuk menghitung reliabilitas tes bentuk uraian dapat dilakukan dengan
menggunakan rumus Cronbach-Alpha, setelah melalui pengujian, di dapat nilai
reliabilitas adalah 0.937:
Cronbach's
Alpha
N of Items
.937
50
Tabel 1. Reliability Statistics
Sedangkan uji validitas yang dilakukan dalam penelitian ini adalah
validitas konstruksi. Validitas ini mencakup hubungan antara instrumen
penelitian dengan kerangka teori untuk meyakinkan bahwa pengukuran secara
logis berkaitan dengan konsep-konsep dalam kerangka teori (Ibid, hal. 148).
Peneliti mendefinisikan secara operasional konsep yang dapat diukur melalui
studi literatur. Yaitu teori literasi media oleh Potter (2001) yang diurai dengan
jelas kerangka-kerangkanya. Data yang dikumpulkan adalah data primer, yaitu
data yang dikumpulkan langsung oleh peneliti kepada responden melalui
kuesioner. Teknik analisis data adalah analisis data deskriptif dengan
150
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
memanfaatkan software SPSS (Bungin, 2011, hal. 258). Dengan jenis analisis
univariat, yaitu analisis terhadap satu variabel, jenis yang digunakan pada riset
deskripstif dan menggunakan statistik deskriptif (Ibid, hal. 166). Berikut
operasionalisasi konsep literasi media internet mahasiswa Konsentrasi Ilmu
Komunikasi dan Media Program Pascasarjana Ilmu Komunikasi UGM angkatan
genap 2013-2014:
Variable
Indikator
Skala
Instrumen
pengukuran
Pengukuran
Tingkat literasi
Konsumsi media
Skala nominal
Kuesioner
media internet
internet
dan skala
mahasiswa
interval
Menganalisa
Skala interval
Kuesioner
Mengevaluasi
Skala interval
Kuesioner
Pengelom pokkan
Skala interval
Kuesioner
Induksi
Skala interval
Kuesioner
Deduksi
Skala interval
Kuesioner
Sintesis
Skala interval
Kuesioner
Abstraksi
Skala interval
Kuesioner
Tabel 2 Operasionalisasi Konsep Literasi Media Internet Mahasiswa
Konsentrasi Ilmu Komunikasi dan Media Program Pascasarjana Ilmu
Komunikasi UGM Angkatan Genap 2013-2014
Hasil Temuan Dan Diskusi
Beberapa temuan dalam penelitian ini adalah:
A. Jumlah waktu penggunaan internet dalam satu hari oleh mahasiswa lebih
tinggi (126,8 jam) dibandingkan dengan konsumsi media massa lainnya
(televisi (16,25 jam), buku/majalah (19,4 jam), games (29,8 jam)).
Gambar 1: Konsumsi Media Massa Mahasiswa
jumlah waktu konsumsi media
massa 15 mahasiswa (dalam jam)
29.8
internet
televisi
19.4
16.25
126.8
media cetak
games
Akan tetapi pada fungsinya lebih banyak digunakan mahasiswa untuk
belajar/bekerja (52,5 jam). Data selanjutnya menunjukan bahwa rata-rata
151
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
waktu penggunaan internet adalah untuk: belajar/bekerja 3,5 jam/hari;
mengisi waktu luang 2,6 jam/hari; dan mencari hiburan 2,3 jam/hari. SWAMark Plus & Co (Rachdianti, 2011) menggolongkan tipe-tipe pengguna
internet berdasarkan lama waktu yang digunakan: pengguna berat (≥ 81
menit/hari); pengguna sedang (21-80 menit/hari); dan pengguna ringan (≤ 20
menit/hari). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa para mahasiswa
Pascasarjana merupakan pengguna berat internet.
Gambar 2: Konsumsi Internet Mahasiswa
konsumsi internet mahasiswa
(dalam jam)
belajar/beke
rja
35.06667
52.5
mengisi
waktu
hiburan
39.23333
B. Setengah dari jumlah keseluruhan mahasiswa menyatakan cukup familiar
dengan istilah literasi media. Tetapi dalam pemahamannya masing-masing,
peneliti menilai pemahaman ini belum utuh. 27% mahasiswa tidak dapat
menjelaskan definisi media. Beberapa jawaban abstrak seperti agar tidak
dibodohi media (7%) dan pendidikan bermedia (13%). Selebihnya (53%)
menjawab beberapa keterampilan literasi media seperti: menganalisa (6%);
memahami media (7%); menganalisa dan mengevaluasi (13%); mengakses
media (13%); mengakses, memahami, dan mengevaluasi (7%); dan
menyaring informasi (7%). Merujuk pada definisi literasi media milik Potter
(2001), literasi media adalah sebuah perspektif yang secara aktif kita pakai
ketika menerpa diri dengan media massa untuk menginterpretasikan makna
pesan yang kita hadapi. Perspektif ini muncul melalui keterampilan analisis,
evaluasi, pengelompokkan, induksi, deduksi, sintesis, dan abstraksi.
Sehingga 53% jawaban mahasiswa yang berupa beberapa keterampilan ini
tidak bisa dianggap salah. Sebagaimana juga definisi menurut National
Association for Literasi media Education, literasi media merupakan
kemampuan
mengakses,
menganalisis,
mengevaluasi,
dan
mengkomunikasikan informasi dalam berbagai bentuk (Tim peneliti
PKMBP, 2013, p. 18).
Kedua jawaban abstrak yang muncul belum cukup untuk dibenarkan sebagai
pemahaman literasi media. Pendidikan bermedia dan agar tidak dibodohi
media adalah tujuan/peran literasi media itu sendiri. Dengan literat kita dapat
memfilter diri dari pengaruh negatif media (Wiratmo, 2011, hal. 44), oleh
karena itu pendidikan literasi media menjadi urgent.
152
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Gambar 3: Pemahaman Literasi Media Mahasiswa
C. Tingkat Literasi Media Internet
Gambar 4: Rata-Rata Keterampilan Literasi Media Mahasiswa
Analisis
Dari skala 1-5, rata-rata kemampuan menganalisis mahasiswa yang
peneliti turunkan dalam: mencari kebenaran di internet tentang isu yang beredar
di lingkungan sekitar; merumuskan elemen perbedaan informasi dari berbagai
situs; menyimpulkan elemen terpenting dari perbedaan tersebut; mengabaikan
informasi yang tidak dibutuhkan saat browsing; memperhatikan frekuensi
kemunculan sebuah informasi dalam sebuah situs, berturut-turut adalah adalah
3,2; 3; 3,4; 3,8; 2,8. Data menunjukkan bahwa kurva tertinggi cenderung ke arah
angka 5 (selalu melakukan analisis, tingkat literasi tinggi), meskipun kebanyakan
frekuensi tertinggi berada pada angka 3 (kadang-kadang menganalisis, tingkat
literasi sedang) dan 4 (sering melakukan, tingkat literasi tinggi). Kecuali pada
153
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
keterampilan analisis “mengabaikan informasi yang tidak dibutuhkan saat
browsing”, 6 dari 15 orang berada di angka 4, 5 orang berada di angka 5.
Gambar 5: Salah Satu Kurva Kategori Analisis
Dengan demikian, terutama merujuk pada angka rata-rata, dapat
disimpulkan bahwa kemampuan analisis mahasiswa Pascasarjana berada pada
level sedang.
1. Evaluasi
Hasil temuan menunjukkan masing-masing rata-rata keterampilan
evaluasi oleh mahasiswa: membandingkan frekuensi kemunculan pesan
dengan realitas kekinian (2,7); memeriksa kebenaran statement pakar
dalam informasi (3,1); memikirkan sebab dieksposenya sebuah informasi
di dalam situs (3); memikirkan fungsi informasi di luar kebutuhan pribadi
(2,8); memperhatikan pengemasan/struktur bahasa/konten informasi
(3,6); menghubungkan pengemasan pesan dengan target audiens media
(3,2); memperhatikan etika pemuatan informasi (3,1); menentukan nilai
moral dalam sebuah informasi (3,1). Meskipun angka rata-rata dominan
berkisar pada angka 3 (tingkat literasi sedang), standar deviasi kategori
ini lebih luas, berkisar antara 0,8-1,25. Sehingga didapati seringkali
frekuensi tertinggi berada pada angka 4, tetapi letak puncak kurva
berkisar di angka 3 dan menuju angka 4. Maka dapat disimpulkan bahwa
tingkat lietrasi media mahasiswa Pascasarjana dalam kategori evaluasi
adalah sedang cenderung tinggi.
2. Pengelompokkan
Nilai rata-rata keterampilan pengelompokkan mahasiswa adalah: mencari
informasi yang sama pada situs lain (3,5); mencari persamaan dan
perbedaan informasi dari berbagai situs (3,2); menganalisa perbedaaanperbedaan yang didapatkan untuk memilih yang terpenting (3,1);
membandingkan perbedaan terpenting tersebut dengan realitas saat ini
(3,1); membandingkan perbedaan terpenting dengan realitas masa lampau
(2,8); membandingkan perbedaan terpenting berbagai situs dengan
kepemilikan media (3,3); membandingkan frekuensi kemunculan
154
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
3.
4.
5.
6.
informasi yang sama di situs lain (2,6); memikirkan tujuan pengemasan
pesan dengan kepentingan pemilik media (3,1); memikirkan sedikitnya
dua penyebab kejadian dalam informasi (2,8).
Sama dengan keterampilan analisis, kurva keterampilan pengelompokkan
cenderung menuju angka 5 (tingkat literasi tinggi), meskipun frekuensi
tertinggi masing-masing berada pada angka 3 (tingkat literasi media
sedang) dan 4 (tingkat literasi media tinggi). Sehingga didapatkan
kesimpulan bahwa pada keterampilan pengelompokkan, tingkat literasi
mahasiswa Pascasarjana dapat dikatakan sedang cenderung tinggi.
Deduksi
Dalam kateori deduksi, rata-rata nilai yang diperoleh untuk
menghubungkan konglomerasi media dengan konten pesan adalah 3,5
dengan standard deviasi 0,99. 9 dari 15 orang berada pada angka 4
(tingkat literasi media tinggi). Untuk dapat menjelaskan pada orang lain
mengenai konglomerasi media tersebut pada orang lain, diperoleh ratarata angka 3,3 dengan standard deviasi 1,033. 5 orang berada pada angka
3 (tingkat literasi media sedang), 6 orang berada pada angka 4 (tingkat
literasi media tinggi). Sehingga didapatkan kesimpulan bahwa tingkat
literasi media mahasiswa Pascasarjana pada kategori deduksi adalah
sedang cenderung tinggi.
Induksi
Pada kategori induksi, dalam menghubungkan realitas yang ditemui
dengan informasi di media, diperoleh angka rata-rata 2,5 dengan standard
deviasi 1,06. Frekuensi tertinggi ada pada angka 3 (tingkat literasi media
sedang) disusul angka 2 (tingkat literasi media rendah). Dalam
kemampuan menjelaskan pada orang lain mengenai hubungan realitas
dengan informasi di media, diperoleh rata-rata 2,8 dengan standard
deviasi 0,83. Frekuensi tertinggi ada pada angka 3 (literasi media
sedang). Sehingga dapat disimpulkan bahwa tingkat literasi media pada
kategori induksi adalah rendah cenderung sedang.
Sintesis
Pada kategori sintesis, nilai rata-rata yang diperoleh adalah: memberi
feedback langsung pada informasi negatif di internet (2,3); memberi
feedback langsung pada konten positif di internet (2,3); merumuskan
solusi terhadap konten negatif tersebut (3); membuat tulisan hasil
analisa/evaluasi pesan media (2,87); dan dapat menebak arah/jalan cerita
informasi (2,9). Pada kategori ini letak kurva dominan berada diantara
angka 2 (tingkat literasi media rendah) dan cenderung menuju angka 3
(tingkat literasi media sedang), dengan standard deviasi berkisar antara
0,59-0,97. Sehingga dapat disimpulkan literasi media pada kategori
sintesis adalah rendah cenderung sedang.
Abstraksi
Rata-rata nilai yang diperoleh untuk kategori abstraksi: membicarakan
konten positif internet pada orang-orang di lingkungan sekitar (3,3);
membagikan pendapat mengenai konten negatif media di internet (3);
155
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
membagikan pendapat mengenai konten positif media di internet (3,3);
kebiasaan membagikan hasil pemikiran di internet (2,7). Perolehan
frekuensi tertinggi mulai dari angka 2, 3, dan 4 sehingga letak kurva pada
kategori ini cukup beragam, terletak pada angka 2 menuju angka 3
(tingkat literasi rendah cenderung sedang), tepat di angka 3 (sedang), dan
angka 3 menuju angka 4 (sedang menuju tinggi). Meskipun demikian,
data tetap menunjukkan bahwa tingkat literasi media pada kategori
abstraksi adalah sedang.
Dari pemaparan temuan penelitian diatas, didapatkan tingkat literasi
media internet mahasiswa Pascasarjana untuk masing-masing kategori adalah:
sedang untuk kategori analisis dan abstraksi; sedang cenderung tinggi untuk
kategori evaluasi, pengelompokkan, dan deduksi; rendah cenderung sedang untuk
kategori induksi dan sintesis. Dominasi ditunjukkan oleh tingkat sedang. Hasil ini
menunjukkan bahwa tingginya tingkat pendidikan tidak berkorelasi dengan
tingginya tingkat literasi media seseorang. Ditambah lagi, objek penelitian
merupakan mahasiswa aktif yang kesehariannya mengkaji media massa serta
informasi di dalamnya. Hasil yang sama juga didapatkan oleh Arif (2013) yang
meneliti tingkat literasi media berbasis kompetensi individual mahasiswa FDIK
IAIN Sunan Ampel Surabaya, data menunjukkan bahwa kisaran persentase
kemampuan mengakses media berada pada persentase 67%-71%, menganalisis
dan mengevaluasi mahasiswa antara 21%-68%, aktif memproduksi konten dan
partisipasi sosial antara 20%-85%, sehingga diperoleh kesimpulan bahwa tingkat
literasi media mahasiswa berada pada pada level sedang atau medium.
Mahasiswa pada penelitian Arif berada pada jenjang pendidikan strata 1, tetapi
memperoleh hasil yang sama dengan temuan peneliti pada mahasiswa jenjang
pendidikan strata 2. Hal ini berbanding terbalik dengan pemikiran Zamroni &
Sukiratnasari (2011, hal. 89) yang mengatakan bahwa tingkat literasi biasanya
berhubungan dengan tingkat pendidikan dan daya kritis masyarakat. Makin tinggi
pendidikan dan daya kritis seseorang, makin tinggi tingkat literasinya. Tingkat
pendidikan ternyata tidak berbanding lurus dengan tingkat literasi media
seseorang.
Belajar dari negara-negara maju yang tingkat literasi medianya sudah
tinggi, jika ditilik dari sejarah media massa kemunculan radio (Briggs & Burke,
2006, pp. 189-198) pada 1895 ditemukan oleh Marconi, pada 1899 radio
digunakan untuk meliput pertandingan yacht piala amerika, kemudian digunakan
untuk mengirimkan pesan pada 1901. Tahun 1904 radio menjadi headline karena
melaporkan penahanan seorang pembunuh yang melarikan diri dari Inggris ke
Kanada melalui laut. Delapan tahun kemudian, radio kembali menghebohkan
masyarakat dengan menangkap pesan-pesan SOS dari peristiwa tenggelamnya
Titanic dan melaporkannya ke gedung putih. Tahun 1925, setelah dimulainya
siaran radio, Beam and Broadcast (A.B.Morse), siaran radio menceritakan kisah
perkembangan radio dalam catatan kantor paten tentang penemuan-penemuan
terhadulu dan sedang dipakai pada masa itu. Pada tahun 1920 Marconi
menyiarkan konser yang langsung disambut tidak ramah oleh pihak militer,
karena dianggap dapat mengganggu pesan-pesan pertahanan, dan juga mengubah
156
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
arti teknologi tidak lagi sebagai “abdi umat manusia”, hingga izin siaran ditarik.
Pada tahun 1921, konser kembali disiarkan dengan dalih konser amal agar dapat
diterima pihak yang menentang fungsi hiburan radio. Pada saat ini belum nampak
tanda-tanda akan mendapat jumlah pendengar yang banyak. Selanjutnya pada
1923 disiarkan sandiwara radio yang pertama, Cyrano De Bergerac. Dapat kita
lihat bahwa kemunculan fungsi hiburan pada radio tidak serta muncul. Sebelum
dapat diterima masyarakat luas, malah sempat ditentang karena dianggap
mengaburkan fungsi informasi, meskipun lama-kelamaan respon yang diberikan
masyarakat berkembang menjadi sangat positif. Fungsi hiburan baru muncul
setelah 21 tahun sejak radio pertama kali digunakan.
Dapat disimpulkan bahwa masyarakat Amerika dan Eropa pada saat itu
menikmati fungsi informasi radio selama 21 tahun. Lengkap dengan pengalaman
kontroversi kemunculan fungsi hiburan, iklan (pergeseran fungsi untuk
kepentingan bisnis), konvergensi radio dengan surat kabar, serta bentuk-bentuk
acara siaran yang muncul susul-menyusul sesuai dengan kepentingan khalayak
setempat sehingga pilihan acara bagi pendengar menjadi beragam. Masyarakat
Amerika dan Eropa menikmati proses pembelajaran yang diakibatkan oleh
kemunculan media massa radio.
Masyarakat Indonesia tidak memiliki sejarah yang sama dengan kedua
negara tempat lahirnya revolusi media tersebut, sehingga kita seolah mengalami
“serbuan” berbagai teknologi informasi dan komunikasi (Wiratmo, 2011, hal.
45). Belum selesai menikmati fungsi informasi kita sudah langsung diserbu
fungsi hiburan media yang akhirnya mendominasi dan melupakan fungsi pokok
hadirnya kemajuan TIK sendiri, yaitu untuk membantu manusia, bukan malah
membuat manusia kehilangan otoritas diri. Abrar menegaskan mengenai
kedudukan manusia terhadap TIK: “Yang menjadi pengontrol pesan adalah
khalayak” (2003).
Hasil penelitian yang diperoleh dalam penelitian ini menunjukkan bahwa
literasi media memang tidak bisa muncul tiba-tiba, tetapi harus dibangun sedari
kecil. Jenjang pendidikan yang lebih tinggi ternyata belum cukup untuk bisa
membuat seseorang menjadi literat. Serangkaian kemampuan literasi media
mempunyai sifat yang sangat terstruktur dan saling menunjang akan tercapainya
keterampilan tingkat lanjut. Masing-masing kategori keterampilan literasi media
juga sangat sistematis dan rapat. Meskipun seringkali kita melakukan masingmasing kategori ini tanpa disadari dalam kehidupan keseharian (Potter, 2014),
pada kenyataannya tidak mudah untuk menjadi literat. Maka menjadi wajar bila
beberapa negara maju memasukkan literasi media ke dalam agenda kurikulum
pendidikan, seperti Jepang, Korea, dan Turki.
Simpulan
Pertama, konsumsi tertinggi media massa mahasiswa adalah internet
dengan fungsi dominan pada kepentingan belajar/bekerja, mahasiswa
Pascasarjana ini merupakan pengguna berat internet. Kedua, 53% objek
penelitian memiliki pemahaman yang tidak utuh terhadap literasi media,
157
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
sementara 47% lainnya belum paham. Ketiga, meskipun secara aktif
menggunakan dan mengkaji perkembangan TIK serta dampak yang
ditimbulkannya, tingkat literasi media internet mahasiswa adalah sedang, tidak
berbeda dengan hasil penelitian pada mahasiswa S1. Pada kategori keterampilan
tertentu bahkan menjadi rendah cenderung sedang. Hal ini menunjukkan bahwa
kemampuan literasi media yang memang cukup kompleks harus dibangun
perlahan sejak kecil. Dengan demikian thesis mengenai semakin tinggi
pendidikan seseorang akan semakin literat terhadap media menjadi gagal dengan
adanya hasil penelitian ini.
Rekomendasi dari peneliti adalah selayaknya literasi media masuk
menjadi agenda kurikulum pendidikan di Indonesia. Karena melalui pendidikan
sejak dini literasi media dapat menjadi budaya dan nilai yang menetap dalam
kehidupan keseharian masyarakat Indonesia. Di sisi lain, temuan keberagaman
tingkat literasi media internet pada masing-masing kategori yang cenderung turun
naik masih perlu dikaji lebih jauh dalam penelitian selanjutnya. Selain itu, faktorfaktor penyebab tinggi rendahnya tingkat literasi media objek penelitian belum
tergambar dalam penelitian ini.
Daftar Pustaka
Nomophobia, Kelainan Psikologis Akibat Ketergantungan terhadap Ponsel.
(2014). Dipetik Juni 29, 2014, dari http://www.jagatreview.com
Abrar, A. N. (2003). Teknologi Komunikasi: Perspektif Ilmu Komunikasi.
Yogyakarta: LESFI.
Arif, M. (2013). Tingkat Literasi Media Berbasis Kompetensi Individual
Mahasiswa Fakultas Dakwah Dan Ilmu Komunikasi Iain Sunan Ampel
Surabaya. Dipetik Juni 12, 2014, dari Uinsby.ac.id
Binark, & Bek. (2007). How Rural Schoolchildren and Teachers Read TV
Dramas: A Case Study on Critical Literasi media in Turkey. Dipetik April
29, 2014, dari http://uex.sagepub.com
Briggs, A., & Burke, P. (2006). Sejarah Sosial Media dari Gutenberg Sampai
Internet. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Bungin, B. (2011). Metodologi Penelitian Kuantitatif. Jakarta : Prenada Media.
Herlina, D. (2011). Gerakan Literasi Media Indonesia. Yogyakarta: Rumah
Sinema.
Kirsh, S. J. (2012). Children, Adolescents, And Media Violence: A Critical Look
At The Research. Thousand Oaks: Sage Publications, Inc.
Kriyantono, R. (2008). Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Kencana.
Manuhoro, R. (2012). Memahami Pengalaman Literasi Media Guru PAUD
(Studi Kasus pada Gugus Matahari Kecamatan Bandungan, Kabupaten
Semarang). Dipetik April 29, 2014, dari Repository Undip:
http://eprints.undip.ac.id
Mayasari, L. (2014). Dipetik Juni 29, 2014, dari Tidak Bisa Jauh dari Ponsel?
Anda Mungkin Menderita Nomophobia: http://health.detik.com
Mazdalifah. (2011). Mengembangkan Literasi Media di Perguruan Tinggi. Dalam
158
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
D. Herlina, Gerakan Literasi Media Indonesia (hal. 66-82). Yogyakarta:
Rumah Sinema.
Potter, W. J. (2001). Media Literacy. California: Sage Publications.
Potter, W. J. (2014). Media Literacy (Seventh Edition). USA: SAGE.
Rachdianti, Y. (2011). Hubungan Antara Self-Control Dengan Intensitas
Penggunaan Internet Remaja Akhir. Dipetik Juli 1, 2014, dari
http://repository.uinjkt.ac.id
Rahardjo, T. (2012). Mernahami Literasi Media (Perspektif Teoritis). Dalam
Rahardjo, & dkk, Literasi Media Dan Kearifan Lokal. eprints.undip.ac.id.
Rahayu. (2013). Muslim Families Mediating Children's Television and Internet
Use in Indonesia. Global Science and Technology Forum (GSTF) Journal on
Media and Communication1(1), 36-43.
Tim peneliti PKMBP. (2013). Model-Model Gerakan Literasi Media Dan
Pemantauan Media di Indonesia. Yogyakarta: PKMBP dan Yayasan TIFA.
Wiratmo, L. B. (2011). Literasi Media Berbasis Komunitas. Dalam D. Herlina,
Gerakan Literasi Media Indonesia (hal. 44-65). Yogyakarta: Rumah Sinema.
Zamroni, M., & Sukiratnasari. (2011). KPID DIY Membumikan Literasi Media
Bagi Masyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam D. Herlina,
Gerakan Literasi Media Indonesia (hal. 83-100). Yogyakarta: Rumah
Sinema.
Biografi penulis
Clara Novita Anggraini. Perempuan berdarah Palembang ini adalah
Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi UGM angkatan 2013 genap dan
merupakan alumni Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro angkatan 2005.
Mengambil konsentrasi Ilmu Komunikasi dan Media, saat ini Ia mengerjakan
thesis berjudul “Literasi Media dan Penyebaran Informasi Hoax” sebagai tindak
lanjut penelitian yang dimuat dalam prosiding ini. Karyanya yang pernah dimuat
antara lain “Akankah Bandeng Semarang Menghilang Karena Rob” di Radio
BBC London Siaran Indonesia (2007), “Saatnya Mahasiswa Berpolitik” di Media
Indonesia (2008), “Penerapan Parental Mediation dikalangan Dosen FISIP
Undip” (penelitian, 2008), dan “Sekolah Bisa Atasi Dampak Buruk Televisi
Pada Anak” di Lombok Pos (2013) serta beberapa feature di Buku Keluaran
Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa. Pernah menjadi relawan pengajar di
pelosok Dompu NTB, saat ini Ia mengabdi di TPA Al-Ittihaad Sleman dan aktif
mengkaji tentang Literasi Media.
159
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
MEDIA DIGITAL DALAM MENCIPTAKAN KESADARAN BERMEDIA
(STUDI KASUS: SANGGAR ANANDA)
Meilani Dhamayanti
Mahasiswa S3 di Pasca Sarjana Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas
Padjadjaran
[email protected]
Abstract
The digital age has given new changes for mankind in every way. The advantages
of digital media in the speed of information and can penerate space and time
have made the digital media is more superior than other medias. Many
organizations utilize digital media to promote the programs and its intution.
Sanggar Ananda have used media digital to promote their program to build
awareness of media (literacy media). The goal of reseach to know how Sanggar
literasi Ananda use media digital in their program of literacy media and know
the obstacle their programs. This article used communication thories, social
media and CMC (Communication Mediated Computer). This research use
methodology of qualitative. The technique of research are observation and
interview and documentation. Writer is interview one informan, she is a founder
and activist Sanggar literasi Ananda. The conclution is Sanggar literasi Ananda
has utilized media digital to support their program. Their obstacles are person
who knows and capable in digital media and funds.
Keywords: media digital, literasi media
Abstrak
Era digital telah memberikan perubahan kepada umat manusia dalam segala hal.
Kelebihan media digital dalam kecepatan informasi serta kemampuan menembus
ruang dan waktu telah menjadikan media berinternet ini menjadi primadona
dalam banyak hal. Pemanfaatan media internet juga dilakukan berbagai
organisasi untuk melakukan mempromosikan program programnya. Sanggar
literasi Ananda di Jawa Tengah memanfaatkan media digital dengan tujuan
menciptakan kesadaran dalam bermedia (literasi media). Penelitian ini bertujuan
bagaimana sanggar literasi Ananda memanfaatkan media digital untuk
mendukung kegiatannya melakukan literasi media. Tujuan lainnya dari penelitian
ini adalah mengetahui hambatan hambatan dalam menjalankan program dengan
menggunakan media digital. Tulisan ini mempergunakan teori-teori komunikasi,
media sosial dan CMC (communication mediated computer). Adapun metodelogi
yang dipergunakan adalah kualitatif. Teknik pengumpulan data yang dilakukan
adalah dengan melakukan observasi dan wawancara mendalam. Penulis
mewawancarai narasumber, yaitu pendiri sekaligus pengurus sangar Ananda.
Selain itu teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah dengan riset
dokumentasi. Kesimpulan sementara dari penelitian ini adalah Sanggar Ananda
telah memanfaatkan media digital untuk memperkenalkan lembaga serta
program-programnya. Hambatan tentu yang ditemukan adalah keterbatasan sdm
160
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
(sumber daya manusia) yang memahami teknloginya serta pendanaan untuk
dukungan program literasi.
Kata Kunci: media digital, literasi media
Pendahuluan
Manusia dan informasi tidak dapat dipisahkan . Kebutuhan manusia akan
informasi membuat manusia sangat tergantung pada media, khususnya media
massa. Kehadiran media massa telah memberikan kemudahan pada manusia
untuk mendapatkan berbagai hal diantaranya hiburan. Sajian hiburan yang
diberikan media massa membuat media sangat diminati oleh banyak orang.
Siaran tentang sepak bola, sinetron, musik menjadi program yang paling banyak
diminati oleh masyarakat.
Bagi lembaga media memenuhi kebutuhan masyarakat akan informasi itu
menjadi tanggungjawabnya. Hal ini mengingat media memiliki fungsi sebagai
hiburan, edukasi, tanggungjawab sosial dan lainnya sebagainya. Kemasan
informasi yang memikat masyarakat akan meningkatkan minat masyarakat
terhadap media yang otomatis berdampak pada nilai ekonomis media tersebut.
Semakin tergantung masyarakat pada sajian media maka pemasukan untuk media
tersebut semakin tinggi.
Televisi sebagai media yang dapat dilihat dan didengat memiliki
keunggulan yang membuat penikmat acara televisi menjadi tertarik. Gambar dan
suara yang hidup membuat sebuah kejadian dan peristiwa menjadi seakan nyata.
Alhasil tidak heran bila berbagai usia betah duduk berlama lama di depan
televisi. Sederet acara yang diminati masyarakat adalah sinetron, musik, kartun
animasi, komedi merupakan acara acara yang memiliki rating tinggi. Nilai
ekonomis yang dimiliki program program yang berrating tinggi membuat media
berlomba lomba dalam menyajikan acara yang diminati masyarakat. Tuntutan ini
membuat media menyajikan program yang lebih banyak bernuansa hiburan serta
kurang mendidik. Hal ini bisa dilihat bagaimana televisi menyajikan lebih
banyak porsi hiburan dibandingkan program yang mendidik.
Pelanggaran media dalam penyiaran memang telah disikapi oleh KPI
(Komisi Penyiaran Indonesia). Dalam tugasnya mengawasi acara acara televisi di
Indonesia, KPI terhitung telah menegur banyak stasiun televisi serta program
seperti Bukan 4 mata, YKS, Manusia harimau, catatan hati seorang istri dan
masih banyak lagi. KPI yang didirikan pemerintah ini pada prinsipnya berupaya
agar media tetap pada koridornya untuk menjalankan tugas dan
tanggungjawabnya dalam menyediakan informasi yang sehat dan mendidik untuk
masyarakat.
Pengawasan terhadap media bukanlah menjadi tanggungjawab
pemerintah ataupun KPI semata. Diperlukan dukungan dan kerjasama dari
berbagai pihak dalam mengkritisi keberadaan media yang menyimpang. Sangat
diperlukan lembaga yang dapat melakukan kegiatan literasi media dalam
pencerdasan terhadap masyarakat agar kritis dan selektif dalam menikmati media.
Literasi media diharapkan dapat meminimalkan dampak media sekaligus
161
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
mencerdaskan bangsa. Saat ini tercatat cukup banyak lembaga literasi di
Indonesia. Namun demikian keberadaannya sangat belum begitu dirasakan
mengingat dampak serta banyaknya tingkat pelanggaran media di Indonesia.
Pengaruh media televisi yang sangat kuat dan jauh dari unsur pendidikan
membuat lembaga literasi sangat diperlukan untuk mencerdaskan masyarakat. Di
satu sisi keberadaan media digital yang cukup kompleks memberi pengaruh
beragam juga sangat perlu dikritisi. Terlebih semua orang mengetahui kekuatan
media digital dapat melebihi media massa lainya.
Media digital yang memiliki kekuatan menembus ruang dan waktu serta
unggul dalam kecepatan seringkali digunakan pula untuk kegiatan lembaga,
diantaranya adalah kegiatan literasi. Seperti yang dilakukan oleh Sangar Ananda
yang memanfaat media digital untuk mendukung kegiatan literasi yang
dilakukannya. Sanggar Ananda yang berlokasi di Tulungagung didirikan pada
tanggal 1 Agustus 2008 yang juga merupakan lembaga literasi pertama di
Tulungagung. Adapun tujuannya adalah mendorong terciptanya dukungan untuk
budaya literasi, khususnya membaca, menulis dan mendokumentasi. Tahun 2015
kemarin Sanggar Ananda mendapat penghargaan sebagai TBM Kreatif .
Penghargaan diberikan atas dasar keberhasilan Sanggar Ananda melakukan
literasi media dan memajukan minat membaca masyarakat setempat. Dalam
melakukan kegiatan literasi Sanggar Ananda mengandalkan media digital untuk
mendukung kegiatannya.
Dari latar belakang tersebut di atas, penulis memiliki tujuan dalam mini
riset ini, yaitu untuk mengetahui bagaimana pemanfaatan media digital dalam
kegiatan literasi media yang dilakukan sanggar Ananda.
Tinjauan Pustaka
Media Literasi
Masyarakat mungkin belum begitu memahami konsep atau istilah media
literasi. Secara sederhana, media literasi pada dasarnya merupakan kepedulian
masyarakat terhadap dampak buruk dari media, khususnya media massa.
Perkembangan teknologi komunikasi, khususnya berkenaan dengan keberadaan
media massa, di samping memberikan manfaat untuk kehidupan manusia ternyata
juga memberikan dampak lain yang kurang baik. Beberapa dampak tersebut
antara lain (1) Mengurangi tingkat privasi individu, (2) Meningkatkan potensi
kriminal, (3) Anggota suatu komunitas akan sulit dibatasi mengenai apa yang
dilihat dan didengarnya, (4) internet akan mempengaruhi masyarakat madani dan
kohesi sosial, serta (5) Akan overload-nya informasi (Fukuyama dan Wagner,
2000).
Para ahli pun memiliki konsep yang beragam tentang pengertian Media
Literasi, Mc Cannon mengartikan Media Literacy sebagai kemampuan secara
efektif dan secara efesien memahami dan menggunakan komunikasi massa
(Strasburger & Wilson, 2002). Ahli lain James W Potter (2005) mendefinisikan
Media Literacy sebagai satu perangkat perspektif dimana kita secara aktif
162
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
memberdayakan diri kita sendiri dalam menafsirkan pesan-pesan yang kita terima
dan bagaimana cara mengantisipasinya.
Media Sosial
Media sosial adalah sebuah media online, dengan para penggunanya bisa
dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog,jejaring
sosial, wiki, forum dan dunia virtual. Blog, jejaring sosial dan wiki merupakan
bentuk media sosial yang paling umum digunakan oleh masyarakat di seluruh
dunia. Andreas Kaplan dan Michael Haenlein mendefinisikan media sosial
sebagai "sebuah kelompok aplikasi berbasis internet yang membangun di atas
dasar ideologi dan teknologi Web 2.0 , dan yang memungkinkan penciptaan dan
pertukaran user-generated content". (Kaplan: 2010 : 52)
Ciri-ciri Media Sosial
Menurut Gamble Media sosial mempunyai ciri - ciri sebagai berikut :
 Pesan yang di sampaikan tidak hanya untuk satu orang saja namun bisa
keberbagai banyak orang contohnya pesan melalui SMS ataupun internet
 Pesan yang di sampaikan bebas, tanpa harus melalui suatu Gatekeeper
 Pesan yang di sampaikan cenderung lebih cepat di banding media lainnya
 Penerima pesan yang menentukan waktu interaksi
Metodelogi
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian
kualitatif deskriptif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang menekankan
pada kualitas atau hal yang terpenting dari sifat suatu barang atau jasa. Hal
terpenting dari suatu barang atau jasa berupa kejadian atau fenimena atau gejalah
sosial adalah makna dibalik kejadian tersebut yang dapat dijadikan pelajaran
berharga bagi suatu pengembangan konsep teori (Satoari dan Komariah,
2009:22).
Sehingga dapat ditarik kesimpulan metode penelitian kualitatif deskriptif
adalah penelitian yang dilakukan untuk mengumpulkan suatu informasi menurut
pandangan peneliti atau secara subjektif melalui persepsi dan kinerja individu,
kelompok serta organisasi yang dikaji secara komprehensif dan holistik dengan
cara deskriptif atau dengan merangkai dan menyusun data-data yang tersedia,
yang berupa kata-kata, bahasa dan gambar bukan angka-angka yang sesuai
melalui hasil observasi atau pengamatan secara alamiah.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode penelitian deskriptif
kualitatif dengan tujuan memberikan suatu gambaran tentang bagaimana Pola
komunikasi antar terapis dengan anak autis dalam meningkatkan kemampuan
berinteraksi. Menurut Denzin dan Lincoln, penelitian kualitatif adalah penelitian
yang menggunakan latar alamiah, dengan maksud menafsirkan fenomena yang
terjadi dan dilakukan dengan jalan melibatkan berbagai metode yang ada. Metode
yang dimaksud adalah wawancara, pengamatan, dan pemanfaatan dokumen
(Denzin dan Lincoln (Moleong), 2007:5).
163
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Wawancara merupakan suatu cara untuk mendapatkan informasi dan data
yang diperlukan dengan cara bertanya jawab secara langsung, antara peneliti
dengan individu yang berkaitan dengan penelitian. Maksud mengadakan
wawancara seperti ditegaskan oleh Lincoln dan Guba (1985:226) antara lain :
mengkonsruksi mengenai orang, kejadian, organisasi, perasaan, motivasi,
tuntutan, kepedulian dan lain-lain. (Moleong, 2007:186). Pelaksanaan
pengumpulan data di lapangan, peneliti sosial dapat menggunakan metode
wawancara mendalam. Dalam hal ini wawancara dilakukan kepada Tjut Zakiyah
Anshari atau dikenal Mbak Kiki.
Hasil Temuan dan Diskusi
Sanggar Ananda yang berlokasi di Tulungagung didirikan pada tanggal
1 Agustus 2008 yang juga merupakan lembaga literasi pertama di Tulungagung.
Adapun tujuannya adalah mendorong terciptanya dukungan untuk budaya
literasi, khususnya membaca, menulis dan mendokumentasi. Tahun 2015
kemarin Sanggar Ananda mendapat penghargaan sebagai TBM Kreatif .
Penghargaan diberikan atas dasar keberhasilan Sanggar Ananda melakukan
literasi media dan memajukan minat membaca masyarakat setempat. Dalam
melakukan kegiatan literasi Sanggar Ananda mengandalkan media digital untuk
mendukung kegiatannya. Sanggar literasi Ananda merupakan lembaga literasi
pertama di Tulungagung. Saat ini ada lembaga sejenis di Tulung agung , yaitu
komunitas sastra Jawa Tri Wida, dan beberapa komunitas yang baru selama 2
tahun terakhir ini lahir, namun masih belum memunculkan diri ke publik.
Kehadiran Lembaga literasi Sanggar Ananda adalah tidak lepas dari
kiprah dan pengalaman pribadi pendirinya, yaitu Tjut Dzakiyah Anshari atau
lebih dikenal Mbak Kiki.
“Saya besar dalam keluarga yang dibiasakan dengan membaca dan menulis,
hingga keduanya menjadi bagian penting namun menyenangkan dalam
kehidupan pribadi saya. Alasan yang paling utama: seluruh pengetahuan
akarnya adalah pada budaya baca, tulis, dan dokumentasi. Budaya itulah
yang menguatkan identitas sebuah bangsa hingga terbangunnya sebuah
peradaban. Gagasan besar inilah yang melatarbelakangi, dan kemudian kami
urai menjadi cita-cita kecil di tingkat lokal sebagai wujud
kontribusinya,”Jelas Mbak Kiki.
Target sasaran Secara khusus pada anak-anak, dibawah usia 18 tahun,
secara umum, dewasa. Mengapa orang dewasa karena dengan pertimbangan
orang dewasa memiliki tingkat pendidikan sudah cukup tinggi dan baik, yang
tentunya memiliki kemampuan mengkritisi media. Hal ini sejalan dengan
pengertian media literasi menurut para ahli yang telah dijelaskan sebelumnya.
Dari pendapat para ahli tersebut sangat jelas bahwa memang media
literasi sebaiknya dimiliki oleh orang dewasa, karena hanya orang dewasa yang
memiliki persyaratan tersebut. Di satu sisi, orang dewasa juga berperan dalam
keluarga dan masyarakat.
164
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
“Saya katakan orang dewasa, bukan hanya orangtua. Guru, seluruh anggota
keluarga yang dewasa, wajib lebih dahulu melek media. Selanjutnya, mereka
mau tidak mau harus menjadi sahabat bagi yang lebih muda dalam
memanfaatkan media. Karena, anak-anak takkan pernah kenal media jika
tidak diperkenalkan oleh orang dewasa. Sayangnya, ketika mengenalkan
media, orang dewasa tak serta merta mengenalkan bagaimana mereka dapat
aman dengan media itu”, Kata Mbak Kiki.
Kegiatan literasi sanggar Ananda yang utama adalah pendampingan
menulis dan pengembangluasan minat membaca. Dari kedua kegiatan itulah,
literasi informasi dan media juga kita lakukan. Misal dengan cara mendiskusikan
apa yang mereka tonton dari TV, baca dan lihat dari internet, dan kemudian
diramu menjadi ide tulisan. Dari diskusi dan menuliskan itu mulailah proses
menimbang dan mengkaji tayangan, informasi, gambar, hingga secara perlahan
mereka akan melakukan penilaian, lalu memilah dan memilih mana yang baik
untuk kepentingan mereka. Kepentingan mereka yang kita tanamkan adalah
“menulis yang menginspirasi – menulis yang keren”.
Dalam aktifitasnya, Sanggar literasi Ananda juga memanfaatkan media
sosial untuk literasi? Dengan cara mempunyai FB fanpage Sanggar Kepenulisan
PENA Ananda CLUB. Pemanfaatan Media sosial menurut Mbak Kiki adalah
alternatif yang paling memungkinkan untuk melakukan publikasi ketika media
arus utama tidak terjangkau oleh kami. Awalnya, pemanfaatan medsos adalah
untuk publikasi, namun kemudian berkembang sebagai media komunikasi,
bahkan pembelajaran yaitu dengan adanya Pelatihan dan Kelas Menulis Online.
Dengan demikian jangkauan Pena Ananda Club tidak hanya terbatas untuk warga
wilayah Tulungagung saja.
Menurut Mbak Kiki hambatan jaringan internet, sudah tidak lagi
dirasakan. Pena Ananda yang berdomisili masih dekat dengan perotaan, dengan
wilayah geografis yang landai sehingga pembangunan infrastruktur relatif
terjangkau dengan mudah; jaringan internet sudah terpenuhi. Pertama, SDM
merupakan tantangan yang besar, baik secara kuantitas maupun kualitas. Pena
Ananda sedang berupaya melakukan perengkuhan relawan yang memiliki
komitmen tinggi. Kedua, adalah anggaran.Diluar kegiatan kampanye secara
online, kampanye offline pun sudah dirancang untuk dilaksanakan. Tidak hanya
sekedar menempel pada kegiatan pelatihan dan kelas menulis saja, namun ada
kegiatan khusus untuk melek media, melalui kampanye ataupun pembelajaran
pemanfaat media secara cerdas, kreatif, dan produktif. Sayangnya, untuk
kegiatan-kegiatan literasi semacam ini, belum dianggap kegiatan yang seksi dan
marketable, sehingga sulit untuk mendapatkan mitra sponsor dan donatur.
Dalam pengelolaan media online, penulisan artikel banyak dilakukan
oleh Mbak Kiki. Isi dari Fanpage itu adalah lebih kepada program sanggar literasi
Ananda serta tulisan tulisan yang bersifat positif dan mengandung pendidikan.
“Untuk update termasuk sering. Dalam sehari dapat beberapa kali tulisan.
Hanya saja mayoritas tulisan berasal dari saya,”tutur Mbak Kiki.
165
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Saat ini banyak orang memanfaatkan media online untuk kegiatan
lembaganya. Begitupula ada banyak lembaga sejenis yang juga menggunakan
media online. Sanggar Ananda memiliki strategi cara meraih pengunjung, yaitu
dengan mempopulerkan fanpage melalui kegiatan offline , diantaranya adalah:
a. Melalui Cangkruk Baca dan Kreasi, yang dilaksanakan di ruang publik
tepatnya di aloon-aloon Tulungagung. Ruang terbuka ini memungkinkan
warga untuk melihat kegiatan membaca.
b. Sekarang ini sepanjang tahun 2016, Pena Ananda bersama dengan
pemuda literasi Tulungagung akan mengenaldekatkan model ini ke
beberapa pelosok Tulungagung. Minggu (10/01/2016) lalu telah dimulai
ke lereng gunung Wilis, yaitu dusun Beji, Desa Geger, Kecamatan
Sendang, yang berjarak sekitar 30 km dari pusat kota. Jum’at
(15/01/2016) ini akan ke wilayah pantai Sine dengan jarak yang sama
dari pusat kota, dan akan kami lanjutkan ke wilayah-wilayah lainnya.
c. Kegiatan-kegiatan di sanggar secara insidental dapat menjadi penyegar
yang menghadirkan warga secara besar, misalnya beberapa lomba
sederhana, mendongeng bersama senja, berkarya dengan daur ulang
limbah, dsb.
Menurut Teh Kiki lebih memberi dampak negatif dibanding positif
adalah Media online. Karena siapapun dapat mengakses dengan cepat, mudah,
murah, kapan saja. Bahkan media ini juga menyajikan tvsmart yang tak lagi harus
pilih dan tonton di rumah atau kamar pribadi, tapi dimana saja dan kapan saja.
Berkaitan dengan pendanaannya, sanggar literasi Ananda selama 7 tahun lebih
ini, seluruh kegiatan masih didanai dengan dana pribadi pengelola, saving dari
pelatihan dan kelas menulis.
Simpulan
Sanggar literasi Ananda melakukan literasi dengan menggunakan
berbagai media. Penggunaan media online yaitu fanpage mempermudah Sanggar
literasi Ananda dalam melakukan kegiatan literasi hal ini disebabkan ada
beberapa keunggulan media online, diantaranya adalah jangkauan yang luas,
cepat serta bisa menembus waktu. Namun demikian ada beberapa hambatan yang
ditemukan dalam menggunakan fanpage sebagai media literasi yaitu keterbatasan
SDM yang menguasai media digital tersebut..
Saran: Sangat baik jika masalah SDM dapat disiasati dengan memberi
pelatihan tentang keterampilan pengelolaan media digital. Dengan demikian
sukarelawan akan memiliki keterampilan yang baik tentang media digital. Di satu
sisi, Sanggar literasi Ananda juga dapat memanfaatkan jenis media digital atau
media online yang lainnya yang memang tidak mahal sesusai dengan kemampuan
lembaga, seperti blog website.
166
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
WATTPAD: APLIKASI MEDIA SOSIAL
MEDIA CONVERGENCE AND PARTICIPATORY CULTURE
Fatma Dian Pratiwi
Program Studi Ilmu Komunikasi, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
[email protected]
Abstract
This article tend to describe the development of communication and informastion
technology, especially in the field of Literature. There are books and novel that
can be produced, shared as well as consumed within one application called
Wattpad. In this application, one have the possibility to produce a novel, short
story or a poem that can be consumed by anyone for free. In the same time this
one also has the ability to consumes other product and share them. Studied from
the perspective of media convergence and cultural participatory, the Wattpad
application become the right case study to describe how media right now not just
in single form but many. And how the consumer of the media will no longer just
have the role as a consumer buat also as the producer and distributor as well.
Keyword: Wattpad, Media Convergence, Participatory Culture
Abstract
Artikel ini memaparkan tentang perkembangan teknologi komunikasi dan
informasi, terutama di ranah literatur. Berupa buku dan novel yang saat ini dapat
diproduksi, dibagikan sekaligus dikonsumsi dalam sebuah aplikasi yang disebut
Wattpad. Dalam aplikasi ini memungkinkan seseorang memroduksi sebuah karya
novel, cerita pendek ataupun puisi yang dapat dikonsumsi oleh berbagai pihak
tanpa dikenakan biaya. Pada saat yang sama seseorang tersebut juga dapat
mengonsumsi karya penulis lain dan bahkan membagikannya. Dikaji
menggunakan perspektif media convergence dan cultural partisipatory, aplikasi
Wattpad menjadi studi kasus yang tepat untuk menggambarkan betapa saat ini
media tidak lagi berbentuk tunggal melainkan banyak. Dan bagaimana konsumen
media tidak lagi hanya berperan sebagai konsumen akan tetapi pada saat yang
sama dia bertindak sebagai produsen sekaligus distributor.
Kata Kunci: Wattpad, Media Convergence, Participatory Culture
Pendahuluan
Kehidupan yang modern salah satunya ditandai dengan semakin pesatnya
perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Dan percepatan
perkembangan ini telah membentuk peradaban baru kehidupan manusia yang
dibentuk oleh karakteristik media baru. David Holmes (2005:13) memaparkan
lompatan besar ini dengan menjabarkan pemahaman yang lebih jauh mengenai
The Second Media Age, yang tidak hanya menjadi bagian dari evolusi sarana
media komunikasi atau dengan kata lain bukan hanya sebuah hasil pergeseran
167
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
dari tautan perkembangan zaman-zaman penting, namun juga sebagai sebuah
level integrasi komunikasi dari beragam medium komunikasi.
Bentuk media konvensional dikombinasikan dengan bentuk yang baru
telah merubah pola konsumsi, kehidupan manusia itu sendiri sekaligus
lingkungan masyarakat yang ditinggali. Ilustrasi sederhananya adalah ketika
seseorang menggunakan telepon genggamnya untuk mengunduh email, kemudian
memberi suara untuk salah seorang kontestan sebuah ajang pencarian bakat,
menonton video klip sebuah lagu atau hanya sekedar mendengarkan musik, telah
merasakan pengalaman berpadunya media massa konvensional menjadi bentuk
media baru melalui jaringan teknologi dan telekomunikasi.
Sebagaimana yang dituliskan Hjarvard (2008) memaparkan masyarakat
pada abad ini telah terserap ke dalam media, hingga media tidak dapat lagi
dipisahkan dengan budaya dan kehidupan atau institusi sosial. Media atau
teknologi komunikasi tidak dapat dilihat semata-mata sebagai sarana yang
digunakan institusi, kelompok atau individu.
Berbicara mengenai media cetak, dirunut dari sejarahnya tidak dapat
dilepaskan dari ditemukannya alat cetak oleh Guttenberg. Dan ini menjadi
tonggak sejarah media cetak yang merupakan lingkaran yang berkesinambungan
dari inovasi teknolog, kompetisi di antara bentuk-bentuk baru dan penggunaan
media, meningkatnya permintaan pasar, tumbuhnya literasi dan perubahan
masyarakat disebabkan oleh media.
Tren teknologi saat ini bergeser dari era chapbook –buku kecil yang
dijual pedagang asongan- menuju ebook –buku elektronik. Tiga evolusi era
komputer dalam memengaruhi industri penerbitan buku : digitasi buku cetak oleh
Google, dampak Kindle terhadap penerimaan e-books dan penerbitan buku
berdasarkan permintaan (Straubhaar, LaRose and Davenport, 2012 :68). Saat ini
dengan adanya toko buku virtual semacam Amazon.com, moda pembelian buku
beralih dari yang sebelumnya, para pembeli mendatangi toku buku, memilih buku
kemudian membelinya. Saat ini tidak lagi. Pembeli buku berselancar memilih
buku mana yang akan dipilih dan akhirnya dibeli tanpa harus meninggalkan
rumah sama sekali.
Tren terbaru saat ini adalah kemunculan aplikasi-aplikasi media sosial
pembacaan dan penulisan novel semacam goodread.com dan wattpad.com yang
memungkinkan seseorang menulis, membaca dan membagikan sebuah hasil
tulisan, berupa novel, cerita pendek atau puisi. Seseorang harus mendaftarkan diri
terlebih dahulu dan akan mendapatkan sebuah akun yang di namai sesuai
keinginan yang bersangkutan. Penulis novel dapat mengunggah hasil karyanya,
kemudian berinteraksi dengan pembacanya melalui kolom komentar yang
disediakan, sekaligus dapat pula membaca karya penulis lain dan menjadi
follower atau followed. Mekanismenya sama dengan aplikasi media sosial lain
semacam Facebook, Instagram ataupun Twitter, perbedaanya terletak pada apa
yang diunggah, diunduh ataupun dibagikan. Jika Facebook berkutat dengan
berbagi kegiatan ataupun sesuatu yang sedang dipikirkan (what’s on your mind),
begitu pula halnya dengan Twitter. Instagram adalah media sosial yang
berhubungan dengan mengunggah, mengunduh dan berbagi hasil karya fotografi.
168
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Sedangkan Wattpad adalah media sosial yang berhubungan dengan mengunggah,
mengunduh dan membagikan karya literatur berupa novel, cerita pendek ataupun
puisi dalam berbagai genre.
Artikel ini akan memusatkan pada aplikasi media sosial Wattpad
berdasarkan pada survey sederhana yang dilakukan terhadap sejumlah mahasiswi
program studi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga
Yogyakarta. Rata-rata mereka mengonsumsi Wattpad dibandingkan aplikasi
sejenis yang lain. Oleh karena itu, artikel ini akan memusatkan aktivitas
memroduksi, mengonsumsi dan membagi konten media berupa novel pada
aplikasi media sosial Wattpad. Akan dikaji menggunakan sudut pandang media
convergence untuk melihat berpadunya beberapa bentuk media menjadi satu, dan
participatory culture untuk melihat praktek konsumsi media berbasis media baru.
Tinjauan Pustaka
Aplikasi Media Sosial Wattpad
Dalam lamannya https://www.wattpad.com, menyebutkan definisi
Wattpad is a place to discover and share stories : a social platform that connect
people through words. It is a community that spans borders, interests, languages.
With Wattpad, anyone can read or write on any device : phone, tablet or
computer.
Sementara itu Margaret Atwood, seorang penulis buku, membagi
pendapatnya tentang wattpad di https://www.guardian.com. Dia menuliskan,
wattpad was just another story-sharing application that using your computer,
tablet or phone – you can post your own writing. No one need to know how old
you are, what your social background is, or where you live. Your readers can be
anywhere and anyplace that maybe far far away.
Genre dalam Wattpad ada beberapa macam. Romance, Chicklit, Science
Fiction, Fantasy, Action, Adventure, Classic, Fanfiction, General Fiction,
Historical Fiction, Horror, Humor, Mystery/Thriller, Non-Fiction, Paranormal,
Poetry, Random, Short Story (cerita pendek), Spiritual, Teen Fiction, Vampire
dan Werewolf.
Seseorang dapat memilih dalam genre apa dia akan mengunggah
karyanya, ataupun untuk sekedar membaca. Jika dia sering beraktivitas dalam
genre tertentu, maka Wattpad akan memberikan semacam rekomendasi bacaan
apa yang akan dia konsumsi atau produksi. Jika dia telah memilih, dia dapat
memasukkan bacaan yang dia pilih ke dalam Library/perpustakaan sehingga dia
dapat membaca dalam waktu tidak terbatas. Selain itu, untuk meminimalkan
ruang penyimpanan data dalam gadgetnya, maka bacaan yang telah dipilih
tersebut dimasukkan ke dalam Archive/arsip. Banyak ditemui seseorang
membaca sebuah novel yang sama berulang kali, sehingga archive/arsip dibuat
untuk keperluan tersebut.
169
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Media Convergence
Secara sederhana, konvergensi media adalah penggabungan atau menyatunya
saluran-saluran keluar (outlet) komunikasi massa seperti media cetak, radio,
televisi, internet bersama dengan teknologi-teknologi portabel dan interaktifnya,
melalui berbagai platform presentasi digital. Selanjutnya jika lebih
disederhanakan lagi, konvergensi media adalah bergabungnya atau
terkombinasinya berbagai jenis media, yang sebelumnya dianggap terpisah dan
berbeda (misalnya komputer, televisi, radio, surat kabar), ke dalam sebuah media
tunggal. (Munandar, academia.edu)
Dalam bukunya, book Media Convergence: Networked Digital Media in
Everyday Life, Graham Meikle and Sherman Young mengamati bahwa
konvergensi dapat diamati dalam 4 dimensi:
 Technological, sebuah kombinasi dari computing, communications
dan content (isi) diantara bentuk media digital network ;
 Industrial—sebuah ikatan dari institusi media yang telah berdiri di
dalam lingkungan media digital, dan tumbuhnya perusahaan
berbasis digital semacam Google, Apple, Microsoft dan yang
significant media content providers;
 Social—munculnya media jaringan sosial semacam Facebook,
Twitter and YouTube, dan tumbuhnya konten yang diciptakan oleh
pengguna
 Textual—penggunaan dan memadukan kembali media ke dalam
apa yang telah dinamakan model ‗transmedia‘, ketika cerita dan
konten media (sebagai contoh, suara, gambar, teks tertulis) yang
disebar
melalui bentuk banyak media
media platforms
(http://www.alrc.gov.au/publications/3-media-convergence-andtransformed-media-environment/media-convergence-and-transform)
Lebih jauh, konvergensi media bergerak dan tumbuh berkat adanya
kemajuan teknologi akhir-akhir ini, khususnya dari munculnya Internet dan
digitalisasi informasi. Konvergensi media ini menyatukan dari dimensi teknologi
―tiga-C‖ (computing, communication, content). Sedangkan dalam dimensi Sosial,
munculnya social media. Berdasarkan penggabungan ini maka, disaat audiens
media lama baik itu pembaca maupun pemirsa, tidak dapat memberikan umpan
balik secara langsung. Tidak demikian halnya dengan audiens media baru,
mereka dapat memberikan umpan balik karena mereka dapat berinteraksi dengan
media massa bahkan mengisi konten media massa. Audiens dapat mengontrol
kapan dan dimana dan bagaimana mereka mengakses dan berhubungan dengan
informasi dalam berbagai jenisnya.
Participatory Culture
Participatory culture refers to the new style of consumerism that emerges
in this environment (Jenkins dalam Durham and Kellner, 2006 : 554). Jika media
convergence berkaitan dengan konsumen yang telah belajar cara baru berinteraksi
dengan media, maka participatory culture bergerak lebih maju pada bentuk
170
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
konsumen berpartisipasi pada menciptakan dan membagikan narasi media.
Konsumen media ingin menjadi produser media, sementara produser media ingin
menjaga dominasi tradisional mereka atas konten media (Ibid)
Hasil Temuan dan Diskusi
Wattpad dilihat dari perspektif Media Convergence
Dilihat dari 4 dimensi media convergence seperti yang dituliskan Graham
Meikle and Sherman Young, Dalam bukunya, book Media Convergence:
Networked Digital Media in Everyday Life, aplikasi media sosial Wattpad
menjadi representasi konvergensi media komunikasi yang termasuk ke dalam
dimensi sosial. Berkaitan dengan karakteristik Wattpad yang memungkinkan
penggunanya untuk menghasilkan tulisan, mengunggah, kemudian membaginya.
Selain itu juga dapat saling berbagi komentar pada kolom yang disediakan.
Salah satu contoh novel yang ada di media sosial Wattpad adalah The
Mischivous Mrs. Maxfield yang telah dibaca hampir 32 juta orang.
Gambar 1: Cover Novel The Mischivious Mrs. Maxfield
Pengarangnya adalah seseorang yang memiliki akun dengan nama
@ninyatippet. Dalam deskripsi profilnya, dia menyatakan berasal dari Kanada
yang memulai kegemarannya menulis sejak duduk di bangku sekolah menengah
umum. Jika seseorang menjadi follower akun @ninyatippet, maka dia akan selalu
171
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
mendapatkan informasi yang berkaitan dengan segala aktivitas yang dilakukan
oleh @ninyatippett ini. Terutama yang berkaitan dengan hasil karya yang dia
unggah dalam akun media sosial Wattpad miliknya.
Pada gambar diatas terdapat tiga fitur yang dapat dimanfaatkan oleh
pengguna. Kolom read, untuk membaca. Pengguna tinggal mengklik kolom read
ini untuk membaca novel yang dia pilih. Jika dia belum dapat menyelesaikan
novel tersebut dalam satu waktu, maka dia dapat memasukkannya ke dalam
kolom in library sehingga dia dapat membacanya di waktu yang lain. Sedangkan
kolom send, digunakan jika ingin mengirimkan novel ini kepada teman atau
orang-orang yang dia anggap akan menyukai novel ini sama seperti dirinya.
Selain membaca, seseorang juga dapat memberi komentar pada kalimat
yang dia anggap menarik untuk dikomentari. Novel The Mischivious Mrs.
Maxfield ini termasuk novel yang memiliki basis penggemar yang cukup massiv,
sehingga tidak mengherankan jika komentar yang diberikan juga termasuk
banyak. Salah satu contohnya ada pada gambar di bawah ini.
Gambar 2: Contoh Komentar yang Terdapat Dalam Novel
Seperti terlihat dalam gambar, jumlah komentar pada satu kalimat,
―Charlotte Maxfield was mine, and mine forever‖, berjumlah sekitar 798
komentar. Salah satu contohnya adalah komentar pemilik akun
@Itwasonlyadream801, yang menuliskan komentar, ―I can never get tired if this
book, a true fairytale indeed. Still reading and loving it after years of rereading
this book over and over again”
Seluruh aktivitas yang ada dalam aplikasi media sosial Wattpad ini
adalah gratis. Semata-mata digunakan dengan tujuan saling berbagi hasil karya
172
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
literatur untuk mengasah kemampuan yang dimiliki. Jika jumlah pembaca dan
komentator banyak, dalam hitungan ribu bahkan juta, maka dapat dipastikan
novel tersebut masuk dalam kategori populer. Tidak menutup kemungkinan akan
ada penerbit yang tertarik untuk menerbitkannya dalam format paperback dan
dipasarkan melalui toko buku online semacam amazon.com.
Wattpad dilihat dari perspektif Participatory Culture
Akan memulai pembahasan ini dengan satu pertanyaan dari ranah kajian
sosiologi media, bagaimanakah media memengaruhi masyarakat dan kultur?
Tidak semata-mata akan membahas secara luas, akan tetapi dilihat dari perspektif
participatory culture yang berlandaskan pada suksesi media baru yang
memungkin average citizens atau warga negara biasa untuk berpartisipasi dalam
melakukan pengarsipan, anotasi, apropriasi, transformasi dan resirkulasi konten
media (Jenkins dalam Durham and Kellner, 2006 :554).
Aplikasi media sosial Wattpad memungkinkan seseorang tanpa
mengindahkan asal usul biologis, biografis, sosial ekonomi, dapat melakukan
segala praktek yang berhubungan dengan konten media dalam hal ini produk
literatur berupa novel tanpa ada hambatan yang berarti.
Kemampuan untuk memamerkan produksi kultur akar rumput inilah
kemudian memunculkan semacam kegairahan tentang ekspresi diri dan
kreativitas. Sesuatu yang di masa lalu menjadi tidak mungkin, saat ini menjadi
peluang yang semakin luas. Tidak sedikit dari penulis yang menuangkan hasil
karyanya pada media sosial Wattpad menjadi seorang penulis profesional, yang
menjadikan kemampuan menulisnya sumber pendapatan secara ekonomi.
Simpulan
Terdapat satu persilangan antara media convergence dan participatory
culture ketika membahas tentang aplikasi media sosial Wattpad. Bahwa kultur
masyarakat digital berubah seiring dengan berkembangnya teknologi komunikasi
dan informasi yang memungkinkan seseorang untuk melakukan praktek
produksi, konsumsi dan distribusi dalam waktu yang bersamaan dan dari media
yang satu berupa smart phone, ataupun tablet dan Ipad.
Jika dilihat dari kaca mata optimistik, fenomena ini akan menjadi sesuatu
yang menjanjikan. Memberikan ruang bagi kaum yang selama ini tidak memiliki
akses pada konten media, sekarang mereka dapat melakukannya dengan tak
terbatas.
Akan tetapi jika dilihat dari kacamata pesimistik, apa yang terjadi
mungkin dapat menjadi ancaman terutama untuk pemiliki budaya yang telah
mapan, apakah akan memberi ruang yang seluas-luasnya bagi para kreator akar
rumput ini untuk mengekspresikan dirinya dan berkreasi sebebas mungkin tanpa
ada aturan yang diberikan.
173
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Daftar Pustaka
Durham, Gigi Meenakshi and Douglas M. Kellner (ed). Media and Cultural
Studies KeyWork. 2006. Blackwell Publishing, Australia
Hjarvard, S. 2008. The Mediatization of Society : A Theory of the Media as
Agents of Social and Cultural Change. Nordicom Review 29, pp.105-134
Holmes, David.2005. Communication Theory : Media, Technology and Society.
Sage
Straubhaar, Joseph, Robert LaRose, Lucinda Davenport. 2012. Media Now 7th.
Understanding Media, Culture, and Technology.Wadsworth
Internet
https://www.wattpad.com,
https://www.guardian.com.
(http://www.alrc.gov.au/publications/3-media-convergence-and-transformedmedia-environment/media-convergence-and-transform
Biografi Penulis
Penulis lahir di surakarta, 7 maret 1975, saat ini menjadi staf pengajar
prodi ilmu komunikasi uin sunan kalijaga yogyakarta. Mendapatkan gelar s1 ilmu
komunikasi universitas sebelas maret surakarta, dan gelar s2 ilmu komunikasi
universitas sebelas maret surakarta. Saat ini sedang menempuh pendidikan
doktoral pada program pasca sarjana kajian budaya dan media universitas gadjah
mada yogyakarta
174
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
PENGGUNAAN TAHAPAN E-LEARNING DALAM SISTEM
PEMBELAJARAN MAHASISWA DAN IDENTIFIKASI
PERMASALAHAN SISTEM E-LEARNING
Berliana Naftali Esmalia Sinaga, Devriani Rasitha Davron
Universitas Pembangunan Jaya
[email protected], [email protected]
Abstract
Technology is very important for human life. The development of technology give
a new touch on every aspect of human life. One aspect that greatly influenced is
the educational aspect. Along with the development of technology, new media
such as the Internet began to be applied in education, especially male and female
students at the university. The presence of new media, improving the interaction
faster and easier in the lives of students and mahasiwi. The development of new
media in education is also called e-learning. The existence of a new concept in
the learning system can be a study to look at the relationship between the
development of new media in the stage of e-learning system to academic
achievement that can be achieved by a student or a student. The aim of this study
was to determine the stage of implementation of e-learning systems in student
learning systems and identification of problems that occur. This research is a
descriptive study using quantitative methods. This study may found an
informations that will study the problems and constraints related to e-learning
system that has been applied in accordance with the existing stages. The object of
research to be taken are students of the University Building Jaya, which has the
characteristics of students who are already aware of technological developments.
The student population at the University Building Jaya amounted to 600 people,
the technique of this research is random sampling, samples taken are as many as
168 students. The data collection method to be used is to use a questionnaire with
a significance level of 0.05%. Questionnaires will be distributed using a Likert
scale as a measure of measurement data. Before the distribution of the
questionnaire study will begin with pilot testing taking as many as 30 people.
After the validity of the data will be analyzed through the SPSS program. Results
of the data to be retrieved is expected to be accurate data to look at various
aspects that affect the stages of e-learning in student scores. To examine the
relationship of e-learning system, this study wanted to assess at this stage
whether that was done by male and female students in applying e-learning system
on learning methods. Then the results obtained are the validity of 26 questions
and reliability of 0.6 indicates that the e-learning phases of the highest and have
been applied by the students of the University Building Jaya was 75.80% at the
design stage or stages of data collection and to create a data resume from the
data that has been searched on the internet. The research team found the
existence of problems that occur, 85.5% of the students are still not able to
implement the fourth phase of the e-elarning system that is in the deployment
phase by using scientific papers. This is evident from the data that only 14.5% of
175
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
students who have made any scientific work as a pattern in the spread of the data
after doing a search on the internet. Problems seen from the student’s lack of
knowledge about access accurate information such as the use academia.edu that
accessed only by 18% of students.
Keywords: Students, learning system, new media, e-learning, e-learning phases
Abstrak
Teknologi merupakan hal yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Adanya
perkembangan teknologi memberikan sentuhan baru di setiap aspek kehidupan
manusia. Salah satu aspek yang sangat dipengaruhi adalah aspek pendidikan.
Seiring perkembangan teknologi, media baru seperti internet mulai diterapkan
dalam pendidikan terutama mahasiswa dan mahasiswi di universitas. Adanya
media baru, meningkatkan adanya interaksi yang lebih cepat dan mudah di
kehidupan mahasiswa dan mahasiwi. Perkembangan media baru di dunia
pendidikan disebut juga dengan e-learning. Adanya konsep baru dalam sistem
pembelajaran dapat menjadi satu kajian untuk melihat adanya hubungan antara
perkembangan media baru dalam tahapan sistem e-learning terhadap prestasi
akademik yang dapat diraih mahasiswa atau pun mahasiswi. Tujuan dari
penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan tahapan sistem e-learning
dalam sistem pembelajaran mahasiswa dan identifikasi permasalahan yang
terjadi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan
metode kuantitatif. Penelitian ini dapat menjadi data yang akan mengkaji
permasalahan maupun kendala terkait sistem e-learning yang sudah diterapkan
sesuai dengan tahapan yang ada. Objek penelitian yang akan diambil adalah
mahasiswa dan mahasiswi Universitas Pembangunan Jaya yang memiliki
karakteristik mahasiswa yang sudah sadar akan perkembangan teknologi.
Populasi mahasiswa pada Universitas Pembangunan Jaya adalah sebesar 600
orang, dengan teknik random sampling, sampel yang diambil adalah sebanyak
168 mahasiswa. Metode pengambilan data yang akan digunakan adalah dengan
menggunakan kuesioner dengan taraf signifikansi 0,05%. Kuesioner yang akan
disebarkan menggunakan skala likert sebagai takaran pengukuran data. Sebelum
penyebaran kuesioner penelitian akan dimulai dengan pengambilan pilot testing
sebanyak 30 orang. Setelah itu validitas data akan dikaji melalui program SPSS.
Hasil data yang akan diambil diharapkan mampu menjadi data akurat untuk
melihat berbagai aspek yang mempengaruhi tahapan e-learning dalam mencetak
prestasi mahasiswa. Untuk mengkaji hubungan sistem e-learning, penelitian ini
ingin mengkaji sampai pada tahap apakah yang sudah dilakukan oleh mahasiswa
dan mahasiswi dalam menerapkan sistem e-learning pada metode pembelajaran.
Maka hasil penelitian yang didapatkan adalah dengan validitas 26 pertanyaan dan
reabilitas 0,6 menunjukkan bahwa tahapan e-learning yang paling tinggi dan
sudah diterapkan oleh mahasiswa dan mahasiswi Universitas Pembangunan Jaya
adalah 75,80% berada pada tahap design atau tahap pengumpulan data dan
membuat resume data dari data yang sudah dicari. Tim peneliti menemukan
adanya permasalah yang terjadi, bahwa 85,5% mahasiswa masih belum mampu
menerapkan tahap ke-empat sistem e-elarning yaitu dalam tahap penyebaran
176
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
dengan menggunakan karya ilmiah. Hal ini terlihat dari data bahwa hanya 14,5 %
saja mahasiswa yang sudah menjadikan karya ilmiah sebagai pola dalam
penyebaran data setelah melakukan pencarian di internet. Permasalahan terlihat
dari kurangnya pengetahuan akan akses informasi yang akurat seperti
penggunaan academia.edu yang diakses hanya oleh 18% mahasiswa.
Kata Kunci: Mahasiswa, Sistem belajar, Media baru, e-learning, tahapan elearning
Pendahuluan
Latar Belakang
Setiap individu di masyarakat pasti membutuhkan pendidikan untuk
mendukung kegiatannya sehari-hari. Pendidikan sendiri bisa didapat dari kegiatan
formal dan non-formal. Umumnya, jika berbicara pendidikan formal, setiap
individu pertama kali akan mengalami pendidikan pada strata taman kanak-kanak
kemudian sekolah dasar yang terdiri dari enam tahun, sekolah menengah pertama
yang terdiri dari tiga tahun, sekolah menengah atas yang terdiri dari tiga tahun,
dan strata terakhir adalah bangku kuliah. Menurut Ardiyansyah Yuniar Firdaus,
pendidikan formal menjadi salah satu faktor pembentuk karakter dan sikap bagi
seseorang untuk kehidupannya mendatang. (Dalam Kompasiana, 2014)
Bangku kuliah merupakan pendidikan dimana setiap individu sudah
mulai menentukan masa depannya. Pada bangku kuliah pula individu mulai
dituntut mandiri dalam kegiatan belajarnya. Pada era seperti sekarang ini, metode
belajar yang digunakan mahasiswa adalah menggunakan internet. Menurut
kompasiana.com, internet memang mampu mengubah berbagai aspek dari
kehidupan. Keunggulan internet yang cepat dan praktis untuk digunakan
membuat para penggunanya merasa puas dan ketagihan menggunakan internet.
Internet memang merupakan media baru mampu mengkonvergensi hal-hal
tradisional menjadi modern. Perkembangan pesat internet mampu menjadikan
internet sebagai media baru yang berkuasa. Croteau (1997:12) menyatakan
bahwa media baru ini muncul akibat inovasi teknologi dalam bidang media
meliputi televisi kabel, satellites, teknologi optic fiber dan komputer.
Media baru internet pun terus berkembang seperti munculnya media
sosial. Menurut data Tempo tahun 2014, pengguna internet khususnya remaja
menggunakan internet untuk sosial media, dari 30 juta pengguna, 84,2 persen
mengakses sosial media.
Internet mampu menjadi hiburan bagi masyarakat khususnya pelajar dan
mahasiswa. Melalui internet seseorang dapat mencari tahu informasi terkait
konten yang menarik dan mampu menumbuhkan kesenangan untuk dirinya.
Melalui internet seseorang dapat mengakses informasi tanpa batas seperti film,
video, artikel, dan lain sebagainya yang menjadi penghibur untuk diri sendiri.
Salah satu inovasi internet yang berkaitan dengan pendidikan adalah
metode pembelajaran e-learning. E-learning adalah pembelajaran yang dilakukan
menggunakan teknologi salah satunya menggunakan internet. Internet memang
memiliki pengaruh besar salah satunya dapat dilihat dari perkembangan metode
177
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
e-learning. Menurut Dr. P Nagarajan dan Dr. G, Wiselin Jiji, metode
pembelajaran e-learning mampu membentuk pribadi mahasiswa yang independen
dan ontime, meningkatkan kemampuan membaca dan menulis, dan menciptakan
beberapa ruang pribadi.
Rumusan Masalah
Kami ingin menggambarkan tahapan dan mengidentifikasi masalah
yangdi hadapi mahasiswa dalam penggunaan E-Learning.
Tujuan
Mengetahui sejauh mana mahasiswa dapat menggunakan E-Learning dari
segi tahapan dan identifikasi masalah yang dalam kegiatan belajarnya.
Ruang Lingkup
Penelitian ini memilih objek penelitian yaitu mahasiswa dan mahasiswi
Universitas Pembangunan Jaya sebagai responden untuk mengkaji tahapan sistem
e-learning di universitas dengan melihat sampai manakah tahapan e-learning
yang sudah dilewati oleh mahasiswa dan mahasiswi UPJ.
Tinjauan Pustaka
Karena adanya perkembangan teknologi yang mempengaruhi kehidupan
manusia, proses kehidupan kita pun juga akan disesuaikan seiring
berkembangnya teknologi tersebut. Salah satu aspek kehidupan manusia yang
penting adalah pendidikan dan pengatahuan. Menurut buku Theory and Practice
Of Online Learning oleh Terry Anderson (2004:5) Sistem pembelajaran manusia
semakin berkembang dari waktu ke waktu, tahap pertama diawali dengan sumber
informasi dari televisi, radio, dan media cetak, lalu tahap kedua, mulai muncul
teknologi komputer dimana pada tahap ini dinamakan database semantic
learning. Tahap yang ketiga lah yang merupakan kombinasi dari dua tahap diatas,
dimana ada kombinasi antara video, audio, komputerisasi bahkan interaksi
langsung antara individu yang ada. Sehingga, adanya tahap yang ketiga ini
memberikan perubahan terhadap sistem belajar mahasiswa ataupun mahasiswi.
E-learning secara umum, merupakan sistem pembelajaran yang
menggunakan “elektronik” atau teknologi sebagai media yaitu video, audio dan
komputerisasi. Sistem teknologi itu sendiri, dibagi menjadi dua tipe ada yang
dinamakan Technology Based Learning dan Technology Web Learning.
Menurut Sivasailam Thiagarajan, Dorothy S. Semmel, dan Melvyn I.
Semmel dalam bukunya Instructional Development for Training Teachers of
Exeptional Children terdapat model pembelajaran 4D dengan tahapan sebagai
berikut :
178
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Tabel 1. Tahapan Empat Metode Belajar Siswa E-learning Oleh
Thiagarajan.
Tahap pertama dari pembelajaran e-learning adalah define
(pendefinisian). Tahap pendefisinian merupakan keadaan dimana seseorang
mulai menetapkan dan mendefinisikan syarat-syarat atau dasar-dasar dalam
sebuah pembelajaran. Inilah tahap dimana seseorang menentukan materi-materi
apa saja yang akan dicari melalui internet. Tahap kedua adalah design
(perancangan) yang bertujuan untuk merancang berbagai alat atau perangkat
pembelajaran dengan melalui empat tahap yaitu penyusunan standar tes,
pemilihan media, pemilihan format, dan membuat rancangan awal. Tahap
peracangan adalah keadaan dimana seseorang mengumpulkan informasi dan
menyusunnya sesuai dengan yang dibutuhkan serta sudah menentukan media apa
yang akan digunakan sehingga sesuai dengan konten yang hendak dicari. Tahap
ketiga adalah develop (pengembangan) yaitu tahapan yang bertujuan untuk
menghasilkan konsep yang sudah dikembangkan melalui dua langkah yaitu
pengujian oleh ahli (validasi) dan uji coba pengembangan. Pada tahap ini,
seseorang mulai menganalisis bahan-bahan atau data terkait tugas yang sudah
didapatkan kemudian mengujinya apakah hal tersebut benar atau salah. Tahap
terakhir dari model 4D adalah disseminate (penyebaran). Tahap penyebaran
adalah mepromosikan dan melakukan sharing data atau konsep agar bisa diterima
oleh individu maupun kelompok.
A) Tahap Definisi ( Define)
Tahap ini adalah tahap awal yang bisa pengguna internet lakukan saat
melakukan sistem e-learning dalam proses belajar. Pada saat seseorang
melakukan pencarian data ada yang mengikuti secara sistematis baik itu
dari penggunaan kata kunci, frase, objek dokumen, dan di tahap ini para
pengguna memiliki satu tujuan yang sama yaitu menemukan data dengan
cepat dan relevan. (Purwono : 2008) Pada tahap ini lah pengguna atau
dalam kasus ini kita sebut sebagai mahasiswa, melakukan pencarian data
sesuai dengan materi yang ingin dipelajarinya.
B) Tahap Merancang ( Design)
Tahap ini adalah tahap ketika pengguna mulai mengumpulkan,
menyatukan, bahkan mencatat kembali data yang ditemukan di awal. Hal
ini dilakukan setelah data yang diawal sudah ditemukan, lalu data atau
179
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
informasi tadi harus disimpan agar tidak hilang dan tersusun dalam satu
media yang bisa membantu pengguna mengumpulkan data tersebut.
Mahasiswa dan mahasiswi tentu sudah membuat perancangan dengan
mengumpulkan data tadi dan akan dijadikan sebagai data yang valid
nantinya.
C) Tahap Perkembangan ( Develop)
Tahap ini adalah tahap dimana pengguna, mulai mengobservasi,
menganalisis, dan memastikan apakah data yang sudah ditemukan tadi
sesuai dan bisa dinyatakan valid untuk keperluan belajar mahasiswa.
Apabila valid, biasanya pengguna akan melanjutkan ke tahap berikutnya.
Namun, apabila tidak maka idealnya pengguna harus mulai dari awal
yaitu tahap pencarian data atau definisi.
D) Tahap Penyebaran ( Dissaminate)
Tahap yang terakhir adalah tahap ketika pengguna sudah benar-benar
memastikan, menyusun, dan mengobservasi data hingga valid, dan
akhirnya pengguna akan melakukan yang dinamakan penyebaran.
Penyebaran ini tentu dengan tujuan baik, yaitu membagi informasi
dengan orang lain demi pemecahan suatu masalah. Hal ini sering juga
disebut sosialisasi dengan menyebarluaskan informasi yang berisi data
lengkap sesuai dengan apa yang sudah dianggap valid oleh pengguna (
Purwono:2008)
Implikasi sistem E-learning sangat dibutuhkan untuk penerapannya pada
mahasiswa dan mahasiswi. Hal yang perlu diperhatikan menurut buku Theory
and Practice Of Online Learning:2004, Metode yang ada dalam sistem elearning harus disesuaikan dengan gaya belajar mahasiswa sehingga, metode
yang ada bisa diserap oleh mahasiswa/i dengan mudah. interaksi yang terjadi di
dunia internet yang sangat cepat dan interaktif yang bisa memicu penyebaran
informasi sangat cepat dan tidak terarah. Sehingga, Mahasiswa dan mahasiswi
harus diberikan sosialisasi metode yang ideal dalam sistem e-learning pada saat
belajar.
Metodologi
Metode penelitian merupakan data elektronik, yang digunakan dalam
sebuah data yang mengandung, cerita, pesan, dan segala penjabaran data yang
didasari oada hasil pencarian data yang akurat. Ada dua macam penelitian,
penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif. Penelitian ini menggunakan
metode penelitian kuantitatif, yaitu metode penelitian yang menekankan
analisisnya pada angka yang diperoleh dengan menggunakan perhitungan
statistik atau data kualitatif yang diangkakan (Sugiyono 2003:14). Proses
penelitian ini dimulai dengan observasi berupa pengalaman pendahuluan
terhadap fenomena-fenomena dalam penggunaan internet pada mahasiswa. Kami
menentukan variabel penelitian kami yaitu tahapan e-learning dalam sistem
belajar mahasiswa. Responden yang kami pilih untuk penelitian ini adalah
mahasiswa-mahasiswi Universitas Pembangunan Jaya sebagai sampel. Setelah
180
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
penentuan sampel, kami akan melakukan survey. Survey merupakan rancangan
untuk menjelaskan fenomena, perilaku, dengan mengkaji sampel dari sebuah
populasi. (Creswell 2009:174). Selanjutnya, masalah yang dapat kami kaji
dengan teori lalu di akhiri dengan kesimpulan. Maka dari itu didalam penelitian
ini, kami akan melakukan survey dengan tujuan agar kami dapat melihat pada
tahap atau level mana kan paramahasiswa menggunakan internet untuk
mendukung mereka dalam proses belajar. Selain itu kami ingin mengkaji ragam
masalah yang dapat terjadi di dalam proses pembelajaran e-learning. Sehingga,
kami dapat mendeksripsikan dan menarik kesimpulan dari hasil survey yang
kami lakukan. Intinya pada saat melakukan penelitian, tim peneliti harus jelas
menampilkan posis. (Creswell 2014:66). Tim kami memilih desaign penelitian
yang berbentuk kuantitatif dikarenakan penelitian kami untuk melihat tahapantahapan dalam penggunaan e-learning sehingga kami membutuhkan banyak
responden untuk penelitian kami dan teknik kuantitatiflah yang paling sesuai
untuk jenis penelitian yang kami buat. Teknik penelitian kami yang berbentuk
kuantitatif tersebut kami menggunakan metode cross-sectional kami memilih
metode tersebut dikarenakan kami ingin melifat faktor dan dampak dari
penggunaan e-learning dalam kehidupan asli mahasiswa di Universitas
Pembangunan Jaya.
Hasil Temuan dan Diskusi
Berdasarkan hasil penelitian, kuesioner yang disebar adalah sebanyak
186 responden. Dari 186 responden kami telah menerima 186 data jawaban
kuesioner. Artinya kami telah mengumpulkan 100% data responden mahasiswa
Universitas Pembangunan Jaya yang terdiri dari sepuluh program studi di
Universitas Pembangunan Jaya. Total kuesioner yang digunakan adalah 100%.
Dari keseluruhan jawaban kuesioner, kami sudah mendapatkan data yang valid
tanpa adanya missing value. Responden dengan jenis kelamin laki-laki adalah
sebanyak 86 orang yaitu dengan persentase 46,2% sedangkan responden dengan
jenis kelamin perempuan sebanyak 100 orang dengan persentase 53,8%. Hal ini
membuktikan bahwa demografi mahasiswa – mahasiswi UPJ jenis kelamin
perempuan memang lebih banyak dibandingkan laki-laki.
Responden dengan penggunaan gadget kurang dari 5 jam sebanyak 25
orang yaitu dengan persentase 13,4% sedangkan responden dengan pemakaian
gadget 5-8 jam perhari sebanyak 89 orang dengan persentase 47,8%. Sedangkan
responden dengan penggunaan gadget lebih dari8 jam perhari sebanyak 25 orang
dengan presentase 38.2%. Hal ini membuktikan bahwa demografi mahasiswa –
mahasiswi UPJ menggunakan gadget rata-rata 5-8 jam perhari.
Jika dilihat dari data diatas, terlihat bahwa seluruh responden dengan
suka rela mengeluarkan pengeluaran khusus penggunaan internet. Sehingga dapat
disimpulkan faktor ekonomi bukanlah hal utama yang mendasari mahasisawa
tidak menggunakan sistem E-learning. Dari 186 responden 85 diantaranya atau
45,7% hanya menggunakan Handphone sebagai alat komunikasi para responden.
dan 10 responden aau 5,4% diantaranya hanya menggunakan laptop sebagai alat
181
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
komunikasi yang responden gunakan dan 3 orang atau 1,6% hanya menggunakan
tablet sebagai alat komunikasi yang mereka gunakan. Terdapat pula 69 responden
yang menggunakian handphone dan laptop dalam kegiatan komunikasi yang
mereka lakukan atau dapat dikatakan mencapai 37,1%. Dan terdapat pula 3 orang
atau sebesar 1,6% responden yang memiliki handphone dan tablet secara
bersamaan.menurut dara diatas juga mendapatkan data bahwa terdapat 1
responden atau sebesar 5% yang memiliki alat komunikasi yang berbentuk laptop
dan tablet secara bersamaan. Dan yang terakhir tercatat bahwa 15 responden
atau sebesar 8,1% responden memiliki ketiga dari alat komunikasi tersebut baik
itu handphone,tablet, maupun laptop.
Hasil penelitian yang menjawab rumusan masalah kami, terlihat dari data
berikut yang sesuai dengan hasil analisis dan kuesioner yang disebarkan.
80%
70%
60%
50%
40%
30%
75.80%
60%
69.60%
57.70%
20%
10%
0%
Define
Design
Develop
Disseminate
Tabel 1. Hasil Gambaran Tahapan E-learning Pada Mahasiswa
Universitas Pembangunan Jaya
Tabel diatas menggambarkan bahwa mahasiswa dan mahasiswi UPJ
sudah melalui ke-empat tahapan e-learning. Data diatas menunjukkan bahwa
75,8% responden sudah melakukan tahap design atau dapat diartikan mahasiswa
sudah melakukan pengumpulan data dan melakukan resume terhadap data yang
dicarinya. Keunikan dari data ini adalah, mahasiswa tidak mencari data dengan
akurat yaitu pada tahapan pertama, bahwa ada beberapa mahasiswa belum
mampu melakukan pencarian data secara utuh dan menjadikan pencarian data
sebagai pola belajar mereka yang utama. Ada beberapa mahasiswa yang memang
sudah melakukan pemanfaatan ke-empat tahapan, namun pemanfaatan ini belum
dijadikan pola oleh mahasiswa dan mahasiswi, hal ini dibuktikan oleh hasil
penelitian yang kami analisis bahwa hanya 14,5% dari mahasiswa yang sudah
sangat setuju dan sering melakukan ke-empat tahapan e-learning sebagai pola
belajar mereka.
Berdasarkan data terkait dengan identifikasi masalah, kepemilikan
gadget, maupun pengetahuan akan media di internet bukan menjadi sumber
masalah atau kendala bagi pola sistem belajar e-learning di mahasiswa. Karena
182
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
berdsarkan data, seluruh responden sudah sangat sadar akan teknologi dan
mengetahui fungsi dari internet sendiri. Hal ini dibuktikan dengan data hasil
penelitian kami bahwa, dari 10 program studi yang ada sebanyak 85 responden
memiliki alat komunikasi berupa handphone, sebanyak 10 responden memiliki
alat komunikasi berupa laptop, 3 responden memiliki alat komunikasi berupa
tablet, 69 responden memiliki alat komunikasi berupa handphone dan laptop, 3
responden memiliki alat komunikasi berupa handphone dan tablet, 1 responden
memiliki alat komunikasi berupa laptop dan tablet, serta 15 responden memiliki
alat komunikasi berupa laptop, handphone, dan tablet.
Hal ini berarti setiap responden pasti memiliki alat komunikasi yang akan
memudahkan mereka dalam pengerjaan tugas bahkan banyak pula dari responden
yang memiliki lebih dari satu alat komunikasi yang memiliki arti bahwa
kemungkinan besar para responden dapat menggunakan internet secara aktif dan
berkala terkait dengan pemanfaatan tugas.
Maka, permasalahan yang sangat mendukung dalam menghambat pola
sistem pembelajaran e-learning adalah dari pemanfaatan internet itu sendiri.
Bagaimana mahasiswa melakukan penggunaan internet untuk kegiatan akademik,
dan permasalahan biasanya datang dari ketidaktahuan mahasiswa terkait dengan
cara mengakses data yang baik. Hal ini dikarenakan tidak adannya dukungan dari
sistem kurikulum universitas dan juga bimbingan dalam menerapkan keempatsistem e-learning tersebut. Karena berdasarkan data, 90% mahasiswa dan
mahasiswi UPJ menggunakan situs-situs seperti CNN.co.id dan Detik.com
sebagai situs pencarian data yang mereka gunakan. Hal ini menunjukkan bahwa
metode pengaksesan data yang dilakukan masih bergantung pada situs-situs yang
memang sangat mudah untuk digunakan, sangat cepat untuk diakses, dan data ini
bisa menjadi sumber permasalahan. Karena, mahasiswa dan mahasiswi akan
mudah percaya dengan adanya informasi yang terlalu cepat dan mudah untuk
didapatkan. Idealnya mahasiswa bisa menerima, mencari dan menganalisis
informasi dari sumber manapun dengan baik dan akurat.
Untuk mendukung penambahan data agar lebih lengkap dan akurat, ada beberapa
pilihan penelitian lanjutan yang terkait dengan penelitian ini.
1. Penelitian sistem e-learning pada setiap program studi di Universitas
Pembangunan Jaya agar dapat mengkaji lebih dalam setiap pola belajar
di internet pada setiap program studi yang memiliki kompetensi dan
pola belajar yang berbeda-beda
2. Penelitian terhadap dosen atau pembimbing di universitas karena
sesuai dengan teori e-learning. Salah satu komponen penting dalam
penerapan e-learning adalah panduan dari pembimbing di universitas.
Kedua penelitian lanjutan ini bisa melengkapi dan mendukung penerapan
e-learning dalam sistem belajar mahasiswa dan menambah identifikasi
permasalahan dari kendala yang dihadapi oleh mahasiswa.
183
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Simpulan
Berdasarkan hasil kuesioner, penerapan sistem belajar e-learnig di
kalangan mahasiswa memang sudah terjadi. Mahasiswa-mahasiswi UPJ sudah
menyadari adanya internet dan sudah memanfaatkan untuk kegiatan belajar
namun pemanfaatan tersebut masih belum maksimal. Mahasiswa dan mahasiswi
memang sudah berada pada tahap ke empat dari pola sistem e-learning yaitu
tahap Disseminate. Namun, tahap disseminate tersebut masih belum dijadikan
pola seutuhnya terhadap sistem belajar mahasiswa. Hal ini terbukti dari salah satu
komponen tahap disseminate mengenai karya ilmiah.Terlihat dari data yang
sudah dianalisis bahwa mahasiswa masih belum menjadikan karya ilmiah sebagai
media untuk menyebarluaskan hasil data yang dicari lewat internet. Sesuai
dengan penelitian yang kami lakukan, mahasiswa-mahasiswi Universitas
Pembangunan Jaya paling tinggi berada pada tahap design data ini dibuktikan
dengan hasil penelitian kami yang menyatakan dari 100% responden, 75,80%
sudah berada pada tahap design yang artinya ada pada tahap dimana mahasiswa
sudah melakukan pencarian data dan mengumpulkan data dengan cara mengetik
ulang. Menurut teori Sivasailam Thiagarajan, Dorothy S. Semmel, dan Melvyn I.
Semmel dalam bukunya Instructional Development for Training Teachers of
Exeptional Children pada tahap ini, mahasiswa sudah bisa memilih media yang ia
gunakan untuk mencari data yang ingin dia gunakan di internet.
Tim peneliti juga telah menemukan data ternyata, kepemilikan gadget,
maupun pengetahuan akan media di internet bukan menjadi sumber masalah atau
kendala bagi pola sistem belajar e-learning di mahasiswa. Karena berdsarkan
data, seluruh responden sudah sangat sadar akan teknologi dan mengetahui fungsi
dari internet sendiri. Seluruh responden juga sudah memahami bagaimana
mengakses internet lewat media yang mereka miliki. Menurut data yang kami
temukan, mahasiswa UPJ belum menjadikan tahap develop dan disseminate
sebagai pola dalam sistem pembelajaran mereka, menurut teori Sivasailam
Thiagarajan, Dorothy S. Semmel, dan Melvyn I. Semmel dalam bukunya
Instructional Development for Training Teachers of Exeptional Children
menyatakan bahwa adanya ketidaktertarikan terhadap pendalaman pola sistem
belajar e-learning di kalangan mahasiswa. Selain itu, kurangnya komponen
sistem e-learning seperti kurikulum pendidikan yang diterapkan melalui dosen
atau pembimbing akademik maupun infrastruktur di unversitas juga kerap
menjadi masalah dalam pembelajaran sistem e-learning di kalangan mahasiswa.
Dari penelitian yang sudah kami lakukan ada beberapa saran dan
pertanyaan yang belum kami terapkan untuk mendukung penelitian kami.
Pertama, penyebaran yang kami lakukan masih belum merata di setiap prodi. Ada
beberapa prodi yang kuotanya lebih banyak seperti Ilmu komunikasi dan juga
psikologi. Di penelitian lainnya kami akan mencoba untuk menggunakan nonrandom sampling agar lebih terukur. Contohnya dengan membatasi setiap
program studi dengan jumlah yang diinginkan. Selain itu, kuesioner yang kami
buat belum mengidentifikasikan persentase penggunaan internet untuk hiburan.
Padahal dengan begitu kami bisa melakukan perbandingan dengan pemanfaatan
184
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
e-learning. Sepeti halnya konten atau informasi yang sering mereka buka lewat
internet. Bahkan, tingkat ketertarikan responden dalam menggunakan internet
sebagai media belajar atau pendukung dari sistem belajar mereka di universitas.
Selain itu saran yang kami berikan untuk pengidentifikasian masalah adalah
adanya penerapan komponen e-learning dalam kurikulum universitas sehingga,
dosen maupun pembimbing akademik bisa lebih mengarahkan mahasiswa dalam
melakukan penerapan e-learning. Selain itu, adanya perbaikan infrastruktur
dengan cara menambahkan peralatan komputer di perpustakaan, lalu koneksi
internet yang baik.
Saran-saran ini bisa diterapkan di penelitian lanjutan atau selanjutnya
dari penerapan atau pemanfaatan sistem e-learning terhadap pola belajar
mahasiswa. Bahkan identifikasi apakah sistem e-learning bisa membantu
mahasiswa dan mahasiswi dalam mencetak prestasi mereka.
Daftar Pustaka
Anderson, Terry.(2004).Theory and Practice of Online Learning. Canada: USA.
John W. Craswell.(2014).Research design. Newyork : Sage.
Prof.Dr.Sugiyono.(2013).Metode
Kualitatif,Kuantitatif,
dan
R
dan
d.Bandung:Alfabeta.
Thiagarajan, Sivasailam, dkk. (1974). Instructional Development for Training
Teachers of Exceptional Children. Indiana University : Indiana.
Biografi Penulis
Nama
: Berliana Naftali Esmalia Sinaga
Usia
: 21 Tahun
Alamat
: Jl Waru Komplek Mahogany grove Blok c No 6 Tangerang
Selatan
Status Pekerjaan : Mahasiswa
Institusi
: Universitas Pembangunan Jaya
Organisasi
: HIMAKOM UPJ 2015/2016
185
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
MEMAHAMI WACANA “KORBAN” PADA
KONFLIK PERSONAL SELEBGRAM PEREMPUAN
Hapsari Dwiningtyas Sulistyani
Jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Diponegoro
[email protected]
Abstract
Being a "victim" of injustice is one main discourse strategy used by some women
in dealing with their personal conflicts. Predominantly, researches on women's
issues still focus on the position of women as victims. The main concepts used in
this research are dualism logics and the discourse of “victim” in women studies.
Both concepts emerge from the dominant social construction that places men in a
more dominant, strong, and powerful positions than women. The dualistic logic
can be seen in the use of language including women’s language in social media.
Instagram is one of the social media that provide opportunities for marginalized
groups to express and share ideas. Some people gain fame by having many
followers on instagram or refer as selebgram. The focus of this research is
analyzing texts in two instagram accounts (NE and RRK). Both accounts involve
in personal conflicts. The study uses textual analysis to describe the language
logics used by NE and RRK in uttering their arguments in their instagram
accounts. The results indicate that the dualistic logic in their instagram accounts
is in line with the dominant construction of good and bad women. The dualistic
logic can be seen in their instagram texts (images and captions) particularly that
are related to the following themes: women’s social position, love, body and
desire.
Keywords: Social Media, Power Feminism, Victim Feminism
Abstrak
Menjadi “korban” ketidakadilan merupakan salah satu cara pembelaan diri yang
dilakukan oleh beberapa perempuan ketika menghadapi konflik personal. Secara
dominan penelitian dan pembahasan permasalahan perempuan, termasuk di
Indonesia, masih fokus kepada posisi perempuan sebagai korban. Konsep utama
yang akan dikaji di dalam penelitian ini adalah pemikiran dualisme maskulin dan
wacana perempuan sebagai korban. Kedua konsep tersebut muncul dari
pemaknaan sosial mengenai perbedaan seksual yang menempatkan laki-laki pada
posisi yang lebih dominan, kuat, dan berkuasa. Sedangkan perempuan memiliki
karakteristik yang sebaliknya seperti; subordinat, lemah, dan dikuasai. Logika
dualisme tersebut bisa terlihat di dalam penggunaan bahasa sehari-hari termasuk
di media sosial. Instagram adalah salah satu media sosial yang memberikan
peluang bagi masyarakat kebanyakan untuk mengekspresikan diri dan berbagi
pemikiran. Beberapa orang bahkan menjadi terkenal karena memiliki banyak
pengikut di instagram atau disebut sebagai selebgram. Fokus analisis dari
penelitian ini adalah akun instagram dari NE dan RRK di mana keduanya terlibat
di dalam konflik personal. Konflik personal yang dialami oleh perempuan
186
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
seringkali berubah menjadi wacana publik ketika perempuan tersebut menjadikan
media sosial sebagai sarana untuk menjelaskan posisi mereka. Penelitian ini
menggunakan tekstual analisis untuk melihat bagaimana logika kebenaran yang
digunakan oleh akun instagram NE dan RRK baik itu melalui foto dan penjelasan
foto ketika merujuk kepada konflik personal yang mereka hadapi. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa logika dualisme masih digunakan untuk
memposisikan diri mereka sebagai korban terutama pemikiran yang sejalan
dengan konstruksi dominan mengenai perempuan baik-baik (yang
tersakiti/menjadi korban sehingga harus dibela) dan perempuan tidak baik-baik
yang secara sosial dianggap pantas untuk mendapatkan hukuman. Logika
dualisme terutama bisa dilihat pada teks-teks (foto dan keterangan foto) yang
bertema: posisi perempuan, cinta, ekspresi tubuh dan ekspesi hasrat.
Kata Kunci: Wacana Korban, Media Sosial, Power Feminism
Pendahuluan
Menjadi korban ketidakadilan tampaknya menjadi strategi utama
beberapa perempuan untuk mempertahankan posisi tawar mereka ketika
mengalami konflik personal. Wacana korban tersebut sejalan dengan kritik yang
ditujukan kepada gerakan feminis yang lebih memberi perhatian pada posisi
perempuan sebagai ”korban” subordinasi di dalam masyarakat patriarki. Fokus
pada posisi perempuan sebagai korban dikhawatirkan justru bisa membuat
perempuan tidak mampu untuk meraih kuasa. Oleh sebab itu, beberapa pemikir
feminis gelombang ketiga menyarankan gerakan feminisme untuk lebih fokus
kepada memberikan kesempatan perempuan untuk meraih kuasa.
Salah satu perspektif feminis yang mencoba keluar dari posisi perempuan
sebagai korban adalah “power feminism,” yaitu pandangan feminisme yang
mulai merubah fokus perhatian dari posisi perempuan sebagai korban (victim)
menuju ke arah emansipasi perempuan untuk meraih “kuasa.” Salah satu faktor
yang oleh para pemikir power feminism dianggap memiliki potensi untuk
merubah posisi perempuan sebagai korban adalah bahasa perempuan. Posmodern
feminis salah satu bidang yang mengkaji bagaimana bahasa bisa menjadi sarana
untuk merubah posisi sosial perempuan. Namun sayangnya pendekatan
feminisme tersebut belum secara jelas menunjukkan bagaimana perubahan sosial
tersebut bisa berlaku di dalam konteks sehari-hari. Fokus teori-teori tersebut pada
upaya menciptakan bahasa perempuan ”baru” yang lepas dari bahasa bapak
(male-oriented language) menunjukkan bahwa teori-teori tersebut dikembangkan
atas dasar pengalaman perempuan kulit putih Barat. Kajian-kajian posfeminis
lebih berupaya menunjukkan bagaimana bahasa yang seharusnya digunakan
perempuan, namun belum secara jelas menunjukkan bagaimana bahasa tersebut
bisa diterapkan pada masyarakat yang masih mengangap bahasa dominan sebagai
bahasa yang tidak perlu dipertanyakan lagi. Maraknya media sosial memberikan
kesempatan bagi perempuan untuk berekpresi di luar bahasa maskulin dominan.
Ruang lingkup dari penelitian ini merujuk pada ekspresi logika bahasa
perempuan di dalam media sosial instragram. Sehingga tujuan utama dari
187
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
penelitian ini adalah mendeskripsikan logika bahasa perempuan di dalam akun
instagram ketika mengalami konflik personal.
Tinjauan Pustaka
Media sosial memberi kesempatan bagi kelompok-kelompok marginal
termasuk perempuan untuk menyuarakan pendapat, ide, dan sudut pandang yang
selama ini tidak terdengar. Menurut Genz dan Brabon (2009), teks-teks feminis
baru membahas hubungan antara perempuan dan kuasa. Teks-teks tersebut
berargumen bahwa feminis sebaiknya kembali lagi melihat fokus awal
pergerakan perempuan yaitu berbagai permasalahan material mengenai
ketidaksejajaran. Kunci dari gerakan feminisme baru adalah memisahkan
personal dari politis (merupakan tanda yang menunjukkan perbedaan dengan
feminis gelombang kedua) dan pengurangan fokus terkait perempuan sebagai
korban. Menurut Genz dan Brabon (2009), penulis-penulis seperti Naomi Wolf,
Katie Roiphe, dan Rene Denfeld juga mendiskusikan perbedaan antara
“feminisme korban” (victim feminism) dan “feminisme kuasa” (power feminism),
mereka berpendapat bahwa perempuan sebenarnya memiliki kemampuan untuk
mendefinisikan diri mereka sendiri. Kuasa adalah sebuah hubungan.
Kuasa tampak di dalam perbedaan dan merupakan dinamika antara
kontrol dan dikontrol, antara wacana dan subjek, dan diciptakan oleh wacana
(Foucault dalam Weedon, 1992:113). Kuasa diterapkan di dalam wacana, tempat
di mana subjek-subjek individu dibentuk dan diatur. Penguasaan dan kesadaran
terhadap tubuh seseorang, misalnya, dapat diperoleh sebagai efek dari investasi
kuasa di dalam tubuh: pergi ke tempat kebugaran, olah raga, pembentukan otot,
dan perayaan keindahan tubuh (Foucault, 1980). Beragam hubungan kuasa
integral di dalam ruang di mana mereka beroperasi. Hubungan-hubungan tersebut
menciptakan pengaturannya sendiri dan merupakan sebuah proses perjuangan
dan konfrontasi untuk merubah, memperkuat, ataupun melakukan membalikkan
yang berlangsung terus menerus. Berbagai hubungan kuasa bisa membentuk
sebuah rantai atau sebuah sistem, dan juga sebaliknya membuat keterputusan atau
kontradiksi yang mengisolasikan satu sama lain. Kuasa juga merupakan sebuah
strategi yang memunculkan efek tertentu. Rancangan umum atau kristalisasi
institusional dari strategi kuasa bisa dilihat di dalam aparatur-aparatur negara,
formulasi hukum, dan di dalam berbagai hegemoni sosial (Foucault dalam
Weedon, 1992:113).
Kebergantungan feminis gelombang kedua terhadap status
perempuan sebagai korban yang dianggap sebagai faktor pemersatu secara politis
dipandang sebagai sesuatu yang melemahkan dan ketinggalan zaman, dan oleh
sebab itu sebaiknya digantikan dengan power feminism yang lebih menekankan
pada kuasa yaitu; seksual tanpa rasa bersalah, kebebasan berpikir, kenyamanan
mencintai, dan percaya diri untuk mengungkapkan pendapat (Wolf dalam Genz
dan Brabon, 2009). Bahasa merupakan sarana yang penting untuk bisa membuat
perempuan bisa secara bebas mengungkapkan perasaan dan pikirannya.
188
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Bahasa perempuan adalah cara bicara yang secara ideologis
terkait dengan perempuan dan konstruksi femininitas. Bahasa perempuan
menunjukkan bagaimana perempuan menegosiasikan pemahaman mengenai
jender yang bersifat ideologis dengan kondisi sosial maupun budaya yang
dialaminya. Dengan kata lain, percakapan sehari-hari dari perempuan bisa
menunjukkan posisi sosialnya di dalam suatu komunitas (Hall, 2004:171-178).
Pengaitan bahasa perempuan dengan femininitas membuat munculnya beberapa
pemikiran yang mencoba menunjukkan karakteristik feminin pada bahasa
perempuan. Seperti yang diungkapkan oleh Deborah Cameron dan Don Kulick
(2003:47-51) mengenai penelitian Lakoff terkait bahasa yang menunjukkan
beberapa karakteristik dari bahasa perempuan antara lain:
- Perempuan menampilkan bentuk-bentuk intonasi yang lebih beragam
dibandingkan laki-laki.
- Perempuan lebih banyak menggunakan eufimisme dan kata-kata yang
mengacu kepada sesuatu yang kecil/mungil dibandingkan laki-laki.
- Perempuan lebih banyak menggunakan bentuk-bentuk ekspresif yang
menggambarkan ekspresi emosional (bukan evaluasi intelektual)
dibandingkan laki-laki, seperti: cantik, mengagumkan.
- Perempuan menggunakan bahasa yang menujukkan sesuatu yang kurang
akurat: barangkali, seperti.
- Perempuan lebih menggunakan bahasa yang berputar dibanding laki-laki
[“Jadi…; „Saya tidak begitu tahu, tapi mungkin…‟].
- Suara perempuan lebih mendesah dibandingkan laki-laki.
- Di dalam percakapan, perempuan lebih sering diinterupsi, dan lebih
jarang mengusulkan topik-topik yang menjadi bahan pembicaraan.
- Perempuan lebih sopan dan tidak langsung ke sasaran ketika berbicara.
- Gaya komunikasi perempuan cenderung kolaboratif bukan kompetitif.
- Perempuan lebih banyak memanfaatkan komunikasi non verbal (melalui
bahasa tubuh dan intonasi dibandingkan laki-laki.
- Perempuan lebih berhati-hati untuk bicara secara “benar”, menggunakan
tata bahasa yang lebih baik dan lebih sedikit bahasa vulgar dibandingkan
laki-laki.
Secara sekilas karakteristik bahasa perempuan tidak terkait dengan isu
perbedaan seksual maupun seksualitas, namun menurut Cameron dan Kulick
(2003: 47-51), terdapat hubungan antara femininitas yang disimbolkan oleh
women language dan posisi perempuan di dalam hubungan heteroseksual.
Karakteristik bahasa perempuan menurut Lakoff adalah bentuk-bentuk
yang sangat sopan dan penghindaran terhadap kata-kata umpatan yang kasar
(menggunakan kata “fudge” bukan kata-kata seperti “damn” atau “shit”),
menaikkan intonasi pada kalimat-kalimat deklaratif, menambahkan kata tanya
pada proposisi-proposisi di mana keabsahan pembicara sebenarnya tidak perlu
dicek (“Hari yang indah, iya kan?”) dan kata-kata yang trivial seperti “lovely”,
dan “divine” (Cameron dan Kulick, 2003:47-51). Kecenderungan yang terlihat
dari karakteristik bahasa perempuan adalah penggunaan ungkapan atau tuturan
yang membuat pembicara terdengar tidak begitu yakin, kurang percaya diri dan
189
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
lemah. Kaplan (dalam Kramarae, 1981) percaya bahwa jika perempuan
memahami kembali bahasa yang berlaku akan memungkinkan mereka untuk bisa
melihat bagaimana hubungan perempuan dengan bahasa dan budaya dapat
dirubah. Sifat media sosial yang interaktif dan bisa diakses dengan mudah bisa
memberi kesempatan bagi perempuan untuk bersuara. Penelitian ini berupaya
untuk melihat apakah pola pikir dualisme yang berasal dari dominasi maskulin
masih mewarnai bahasa perempuan ketika mereka berkomunikasi di media sosial
mengenai konflik personal yang mereka alami.
Metodologi
Penelitian ini adalah penelitian desktiptif kualitatif dengan menggunakan
tekstual analisis yang tidak mengacu pada nilai-nilai keseragaman maupun
sebuah upaya untuk merubah struktur besar. Pernyataan teoritis yang terdapat
pada penelitian ini lebih mengacu kepada cara pandang yang mengacu bahwa
permasalahan yang ada di dalam masyarakat telah terdistorsi oleh hubungan
kuasa yang terlibat di dalam konstruksi permasalahan tersebut (Heiner, 2006).
Melalui analisis tekstual Barthes penelitian ini melihat makna denotatif dan
konotatif dari dua akun instagram dua selebgram perempuan (NE dan RRK) yang
mengalami konflik personal.
Hasil Temuan dan Diskusi
Dua akun instagram yang dianalisis di dalam penelitian ini adalah akun
instagram RRK dan NE. RRK dan NE memiliki banyak pengikutnya setelah
mereka terlibat konflik personal yang berkaitan dengan hubungan romantis
dengan seorang pria bernama ZRD. Konflik keduanya berawal dari liburan
berdua yang dilakukan oleh RRK dan ZRD selama 12 hari di Eropa. Menurut
RRK, ZRD mengaku tidak memiliki pasangan sehingga RRK bersedia merubah
jadwal liburannya untuk bisa liburan bersama ZRD. Padahal, di sisi lain, ZRD
ternyata sudah memiliki calon istri yang bernama NE. NE memutuskan untuk
tidak percaya dengan cerita perselingkuhan tersebut dan tetap percaya bahwa
calon suaminya tidak memiliki hubungan dengan RRK. Penelitian ini
menganalisis posisi yang dimunculkan oleh NE dan RRK melalui akun istagram
mereka. Analisis teks dilakukan dengan melihat tiga tema utama yaitu: posisi
perempuan dan cinta, ekspresi tubuh, dan ekspresi hasrat.
Posisi Perempuan dan Memaknai Cinta
Pemaknaan posisi perempuan di dalam hubungan berpasangan dan cinta
tampaknya tidak bisa jauh dari pola pikir dualisme yang menempatkan
perempuan pada posisi subordinat. Menurut Luce Irigaray (2004:8), perbedaan
seksual diawali dari kondisi di mana subjek selalu ditulis sebagai laki-laki (man),
dan itu dianggap sebagai hal yang universal atau netral. Meskipun kenyataannya
hal tersebut tidak netral melainkan memiliki pretensi seksual (seksis).
Keseluruhan permasalahan ruang dan waktu harus dipertimbangkan untuk
190
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
mengkaji secara mendalam mengenai perbedaan seksual. Awalnya, terdapat
ruang dan penciptaan ruang. Tuhan, atau para dewa menciptakan ruang dan
waktu ada di dalamnya, untuk melayani keberadaan ruang (Irigaray, 2005:8).
Laki-laki telah menjadi subjek dari wacana, baik itu di dalam konteks teori,
moralitas, ataupun politik. Pada konteks masyarakat barat, jender dari Tuhan,
pelindung semua subjek dan semua wacana selalu maskulin dan paternal. Pola
pikir laki-laki sebagai pemimpin dan pelindung tampaknya ditunjukkan oleh NE
ketika mengunggah foto menggunakan seragam yang menunjukkan posisinya
sebagai calon istri TNI. Penampilan sebagai calon istri yang diakui secara sah
oleh profesi suami juga menjadi sarana untuk mengukuhkan citra pasangan
“resmi” sehingga perempuan lain yang memiliki hubungan khusus dengan calon
suaminya adalah pengganggu. Dengan kata lain, NE menempatkan diri menjadi
korban yang hubungan harmonisnya diganggu oleh RRK.
Gambar 1: Posisi Pendamping “Resmi”
Secara denotatif makna yang muncul dari foto dan caption yang
diunggah oleh NE adalah pas foto pasangan yang akan dipasang di dompet
(menambah koleksi foto di dompet). Namun secara konotatif foto tersebut
mengindikasikan makna bahwa NE memiliki posisi sebagai pasangan resmi yang
diakui oleh calon suami dan tempat kerja suami. Makna konotatif tersebut
semakin jelas di dalam komen yang diberikan oleh followers NE. Kata kunci “ibu
Persit” menunjukkan posisi calon istri resmi yang nantinya akan bergabung
dengan kelompok istri-istri para suami yang berprofesi sebagai tentara. Komentar
yang memojokkan dan menghina kepada RRK mengindikasikan bahwa sebagai
calon istri resmi dan “normal”, NE dianggap sebagai korban yang
kebahagiaannya diganggu oleh RRK. Pada sisi yang lain, RRK dipersepsi
sebagai “orang gila” yang tidak tahu diri. Melalui unggahan foto yang
menunjukkan posisi sbagai pasangan resmi dari ZRD, NE juga menempatkan
dirinya sebagai korban yang diganggu hubungannya oleh RRK.
Posisi sebagai calon pendamping yang baik juga ditampilkan melalui
kegiatan domestik yang dilakukan sebagai bagian pelatihan sebagai istri yang
“baik.” Hal tersebut sejalan dengan pendapat Irigaray (2005:8) yang menyatakan
perempuan selalu berada di dalam ritual domestifikasi minoritas: memasak,
merajut, bordir, dan menjahit. NE adalah seorang perempuan yang memiliki
191
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
pendidikan tinggi dan lulusan luar negeri. Namun demikian, NE menunjukkan
bahwa dia tetap melakukan beberapa ritual domestik dalam rangka untuk menjadi
calon istri yang “ideal.” “Pelatihan” ritual domestik yang diunggah NE di
instagram antara lain: setrika dan memasak.
Gambar 2: Ritual Pendamping “Ideal”
Beberapa kali NE mengunggah foto yang menunjukkan kegiatankegiatan domestik yang dilakukannya. Secara denotatif status instagram NE
(yang menampilkan: foto masakan, foto NE sedang memasak, dan keterangan
gambar) memunculkan makna NE sedang belajar memasak beberapa jenis
masakan. Secara konotatif jika digabungkan dengan berbagai komentar yang ada
maka makna pada level kedua adalah; belajar masak merupakan suatu upaya
untuk bisa menjadi istri yang “baik.” Dengan kata lain, pelatihan pekerjaanpekerjaan domestik adalah sarana yang menunjukkan upaya untuk menjadi istri
yang ideal.
Berbeda dengan NE yang diakui sebagai pasangan resmi, posisi RRK
yang tidak diakui oleh pihak laki-laki membuat RRK memunculkan wacana
bahwa dia menjadi korban yang diberi janji untuk dinikahi tetapi kemudian
diingkari. Beberapa kata kunci yang digunakan oleh RRK adalah; tanggung
jawab, dinikahi, dan menuntut pemenuhan janji. RRK menghadapi berbagai
cercaan yang diberikan oleh simpatisan NE. RRK membela diri dengan
memberikan penekanan pada posisinya sebagai korban yang tidak tahu hubungan
NE dan ZRD ketika mereka pergi liburan bersama di Eropa.
192
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Gambar 3: Memaknai Tanggung Jawab dan Posisi Korban
Secara denotatif foto, dan keterangan yang menyertai foto tersebut
menunjukkan bahwa RRK menuntut untuk dinikahi secara agama dan aturan
TNI. Sedangkan makna konotatif menunjukkan bahwa menjadi istri TNI
merupakan kebanggaan tersendiri bagi beberapa perempuan tertentu.
Kebanggaan tersebut membuat beberapa perempuan berharap untuk bisa menjadi
istri TNI dan mau berkorban agar bisa menjadi istri TNI. RRK mau berkorban
untuk merubah tiket pesawat dan hotel agar bisa berlibur bersama ZRD selama
12 hari.
Selain posisi di dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan,
pengakuan cinta juga menjadi wacana yang penting bagi perempuan. Cinta
menjadi fokus utama hidup perempuan adalah hasil dari penanaman ideologi
yang dilakukan oleh berbagai aparatur ideologi seperti; dongeng, media massa
dan bahkan buku-buku pelajaran di sekolah. NE mengunggah foto yang
menunjukkan pernyataan cinta dari ZRD yang dilengkapi tanggal pernyataan
cinta tersebut.
Gambar 4: Pengakuan Cinta
193
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Gambar di atas tidak hanya menunjukkan pernyataan cinta tetapi juga
menyerang RRK dengan menyebutkan bahwa foto-foto yang diunggah oleh RRK
adalah foto-foto masa lalu sedangkan apa yang dibina oleh NE dan ZRD adalah
saat ini. Makna konotatif dari gambar di atas adalah saat ini NE adalah pasangan
yang “sebenarnya” dari ZRD. RRK, di sisi yang lain, juga menunjukkan bukti
cinta yang terbina dengan ZRD.
Gambar 5: “Korban” Cinta
Makna yang diindikasikan dari foto yang diunggah RRK adalah janji dan
tanda cinta yang diberikan oleh ZRD kepadanya. Menurut Karla Mantila
(2004:30-31), bahkan seorang perempuan yang mempelajari dan setuju dengan
pemikiran-pemikiran feminis sekalipun bisa terjebak di dalam hubungan
percintaan yang tidak sehat atau tidak sejajar. Mantila berpendapat hal ini
disebabkan karena dibanding dengan pemikiran feminis yang ada pada diri
seorang perempuan, sosialisasi mengenai cinta, perasaan dan hasrat jauh lebih
mendalam. Kondisi tersebut disebabkan karena sosialisasi mengenai normalitas
“cinta” sudah dimulai semenjak kecil dan dilakukan oleh orang-orang terdekat
bagi perempuan (keluarga). Salah satu cara untuk membebaskan dari belenggu
“cinta” adalah membuat pemaknaan mengenai cinta yang tercipta dari
pengalaman tubuh perempuan sehingga memungkinkan munculnya makna cinta
yang beroposisi dengan pemikiran patriarki mengenai bagaimana seharusnya
perempuan. Namun, tidak mudah untuk bisa keluar dari makna dominan
mengenai cinta. NE dan RRK bahkan mengekspresikan cinta mereka terhadap
ZRD melalui ekspresi tubuh dan hasrat.
Ekspresi Tubuh
Tubuh perempuan secara terus menerus dijadikan sebagai obyek baik
sebagai hal yang suci di mana tubuh harus tertutup tidak menunjukkan aurat yang
merupakan penanda perempuan baik-baik ataupun tubuh perempuan juga
menjadi penanda perempuan “tidak baik” ketika menggunakan baju terbuka.
Selain itu tubuh juga bisa menunjukkan kecantikan seperti apa yang diinginkan
194
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
oleh suatu komunitas. Konstruksi tubuh yang diinginkan tentu tidak sama antara
komunitas yang satu dengan yang lain. Bagaimana perempuan menampilkan
tubuhnya merupakan penanda dari posisi sosial perempuan di komunitas tersebut.
Tubuh juga merupakan sarana ekspresi perempuan untuk mengkomunikasikan
siapa dirinya. Serangan yang diarahkan kepada RRK oleh pengikut NE lebih
banyak berkaitan dengan usianya yang sudah lebih dari 40 tahun sehingga
tubuhnya disebut sebagai keriput, bergelambir, dan tidak seksi lagi. RRK
menjawab serangan tersebut dengan mengunggah foto-foto yang menunjukkan
bagian-bagian tubuhnya seperti; wajah, paha, dan dada.
Gambar 6: Ekspresi Tubuh
RRK menyatakan bahwa dirinya adalah “hot sexy mom”, dia bahkan
menyatakan bahwa tubuhnya membuat ZRD terpikat sehingga sekamar berdua
ketika liburan di Eropa. RRK ingin menunjukkan bahwa tubuhnya tidak kalah
seksi dari NE yang jauh lebih muda darinya. NE, di sisi yang lain, juga
mengunggah foto yang menunjukkan ekpresi tubuh menandingi ekspresi tubuh
dari RRK.
195
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Gambar 7: Ekspresi Tubuh
NE tampaknya menonjolkan tubuh yang lebih muda dibandingkan
dengan RRK. Bahasa verbal yang dominan adalah bahasa yang memiliki cara
berpikir yang berorientasi pada logika laki-laki. Pengalaman bertubuh dari
perempuan seringkali tidak bisa diekspresikan melalui bahasa verbal yang
dominan. Kondisi ini membuat perempuan harus memanfaatkan bahasa yang
bersifat non verbal termasuk mengekspresikan perasaan dan juga resistensi
mereka melalui berbagai tindakan yang berkaitan dengan tubuh mereka. Namun
demikian jika kita lihat dari ekpresi tubuh NE dan RRK, mereka masih
menggunakan logika dualisme (tua-muda, seksi-tidak seksi) dan menggunakan
logika tersebut untuk menyerang perempuan yang dianggap sebagai pesaing.
Ekspresi Hasrat
Menurut Kullick (2003), hasrat untuk pengakuan, keintiman, pemenuhan
erotis bukanlah hal yang spesifik kepada jenis orang dengan orientasi seksual
tertentu. Berbagai hal spesifik yang terkait dengan kelompok atau jenis orang
tertentu mengindikasikan hal khusus yang mereka inginkan dan juga merupakan
cara pengkodean budaya dalam rangka menunjukkan keinginan/hasrat tersebut.
Hasrat seksual seorang laki-laki kepada perempuan, misalnya, disampaikan
melalui serangkaian kode-kode semiotik yang secara secara sadar ataupun tidak
dilakukan melalui cara penyampaian yang dikenali. Kode-kode tersebut dikenali
karena merupakan tanda-tanda yang terus diulang dan berputar di dalam
kehidupan sosial. Kode-kode yang terus diulang pada berbagai konteks membuat
kita bisa mengenali hasrat sebagai hasrat. Dengan kata lain, hasrat tidak bisa
dipahami dengan baik hanya dengan mengandalkan maksud/keinginan individu
saja (Kulick, 2003:119-141). Hasrat adalah permasalahan hubungan kuasa dan
berbagai domain sosial/budaya. Secara dominan perempuan diaggap sebagai
kelompok yang lebih pasif secara seksual dibandingkan laki-laki. Logika ini
tampaknya juga digunakan oleh RRK untuk memposisikan dirinya sebagai
korban rayuan dari ZRD sehingga mau berhubungan intim dengan ZRD.
196
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Gambar 8: Ekspresi Hasrat
Banyak faktor yang ikut mempengaruhi cara seseorang
mengkomunikasikan hasrat. Terkait dengan fenomena tersebut maka penelitian
ini di dalam memaknai ekspresi hasrat perempuan tidak hanya akan mengkaji
yang terucap namun juga akan melihat represi dan motivasi di dalam hubunganhubungan kuasa yang terjadi. Melakukan intertekstual dengan berbagai kondisi,
sejarah, modal yang dimiliki oleh semua individu yang terlibat di dalam arena
sosial akan membantu pemahaman terhadap hal-hal yang tidak terucap secara
jelas di dalam ekspresi hasrat. Pembicaraan mengenai hasrat tidak bisa lepas dari
pendisiplinan tubuh feminin dan seksualitas perempuan.
Simpulan
Media sosial seperti instagram memang bisa memberi kesempatan
kelompok marginal untuk bersuara. Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa
tidak mudah untuk bisa keluar dari pola pikir dualisme yang secara dominan telah
menjadi habitus bahasa sehari-hari perempuan. Analisis teks dari dua selebgram
perempuan menunjukkan bahwa ketika perempuan terlibat konflik tema-tema
seperti posisi sosial, cinta, ekspresi tubuh, dan ekspresi hasrat menjadi topik
utama yang digunakan untuk menunjukkan cara pandang dan posisi tawar
(modalitas) yang mereka miliki. Meskipun media sosial bisa memberikan
kesempatan kepada perempuan untuk lebih bebas bersuara tetapi tampaknya
banyak perempuan yang masih menggunakan pola pikir dualisme ketika mereka
mengalami koflik personal.
Daftar Pustaka
Cameron, D. K., Don. (2003). Language and Sexuality. Cambridge: Cambridge
University Press.
Genz, S. B., Benjamin A. (2009). Postfeminism: Cultural Texts and Theories.
Edinburgh: Edinburgh University Press.
197
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Hall, K. (2004). Language and Marginalized Places. In M. Bucholtz (Ed.),
Language and Woman's Place: Text and Commentaries (pp. 171-178).
Oxford: Oxford University Press.
Heiner, R. (2006). Social problems: an introduction to critical constructionism (2
ed.). New York: Oxford University Press.
Irigaray, L. (2005). Aku, Kamu, Kita: Belajar Berbeda. Jakarta: KPG.
Kramarae, C. (1981). Women and Men Speaking. Rowley: Newbury House
Publishers.
Kulick, D. (2003). Language and Desire. In J. H. M. Mayerhoff (Ed.), The
Handbook of Language and Power (pp. 119-141). Maiden: Blackwell
Publishing.
Mantila, K. (2004). When Love Hits the Fan. Off Our Backs, 34(5/6), 30-31.
McHugh, N. A. (2007). Feminist Philosophies A–Z. Edinburgh: Edinburgh
University Press.
Weedon, C. (1992). Feminist Practice and Poststucturalist Theory. Oxford:
Blackwell Publishers..
Biografi Singkat Penulis
Hapsari Dwiningtyas Sulistyani adalah dosen Jurusan Ilmu
Komunikasi, FISIP, UNDIP. Penulis lahir di Banjarnegara, 23 Juli 1975. Penulis
bergabung menjadi tenaga pengajar di Undip sejak tahun 1998. Mata kuliah yang
diampu oleh penulis antara lain: Komunikasi Gender, Manajemen Pemasaran
Sosial, Pengantar Ilmu Komunikasi, Komunikasi Kelompok, Human Relations,
dan Media dan Isu-isu Minoritas. Pendidikan S1 dari penulis ditempuh di Jurusan
Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro, S2 di Communication and Cultural
Studies, Curtin University of Technology, dan S3 di program pasca sarjana Ilmu
Komunikasi, Universitas Indonesia. Fokus utama penelitian dan publikasi dari
penulis adalah tema-tema yang berkaitan dengan bidang: media, budaya, dan
gender.
198
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
REPRESENTASI OPINI PUBLIK DI MEDIA SOSIAL
(KASUS MEME BEKASI DI MEDIA SOSIAL PATH DAN TWITTER)
Fitrie Handayani, Siti Dewi Sri Ratna Sari, Wira Respati
Marketing Communication Department, BINUS University
[email protected]; [email protected]; [email protected]
Abstract
The fast pacing technology and internet offer more channels/media to express
one’s opinion. Social media becomes popular alternative for expressing opinion.
Cases show how personal opinion that were posted in social media easily became
viral and trending topics in society. Expression of thought is perfectly facilitated
by meme in social media. Object examined in this study is meme about social
condition in Bekasi. This study aims at revealing how meme in social media
(Path and Twitter) represents public opinion. A qualitative descriptive method is
applied to analyse issues that are expressed by meme about Bekasi and the
purpose of distributing them in social media. The result shows that issues that
being concerned were about distance, bad traffic, extreme hot temperature and
bumpy roads. The purpose of using meme is because it is funny and easily get
response. The result also shows that responding to a meme by retweeting or
repathing do not necessarily means agreement to the issues.
Keywords: public opinion, representation theory, social media, meme
Abstrak
Berkembangnya teknologi dan internet, menyebabkan media untuk
mengekspresikan pendapat semakin beragam. Media sosial menjadi alternatif
populer dalam mengekspresikan pendapat. Banyak kasus opini pribadi yang
diunggah di media sosial kemudian menjadi viral dan menjadi diskusi di
masyarakat. Pernyataan ekspresi dengan sempurna difasilitasi oleh media sosial
dalam bentuk meme (baca: mim). Salah satu kasus pemanfaatan meme sebagai
ekspresi tentang kondisi sosial adalah meme tentang Bekasi. Penelitian ini
bertujuan untuk mengungkap bagaimana representasi opini publik yang tersebar
melalui meme di media sosial, seperti Path dan Twitter. Penelitian ini akan
menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa isu yang diangkat melalui meme adalah tentang: jauh, macet, panas dan
jalan rusak. Adapun tujuan menyebarkan meme adalah karena lucu dan agar
mendapat respon. Hasil wawancara juga menunjukkan bahwa dengan meretweet
atau merepath suatu meme bukan berarti setuju dengan isu dimaksud.
Kata Kunci: opini publik, teori representasi, media sosial, meme
Pendahuluan
Komunikasi merupakan suatu proses yang dinamis, yang selalu
berkembang seiring perkembangan zaman. Dengan teknologi komputer dan
internet sebagai media baru telah menambah bahkan mengubah cara komunikasi
199
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
manusia.. Media untuk mengekspresikan pendapat semakin beragam. Media
sosial menjadi alternative popular dalam mengekspresikan pendapat. Banyak
kasus opini pribadi yang diunggah di media sosial kemudian dengan cepat
menyebar dan menjadi diskusi di masyarakat. Diskusi ini kemudian menjadi
viral dan menimbulkan pro dan kontra dan berkembang menjadi opini publik.
Pemanfaatan media sosial saat ini menjadi tempat bagi masyarakat
menyampaikan opini publik dari suatu isu yang dianggap melukai rasa keadilan
masyarakat atau yang bersifat human interest.
Tahun 2012-2015, media sosial telah banyak digunakan individu ataupun
kelompok untuk mengungkapkan pendapat (opini) mengenai kejadian dalam
masyarakat yang cukup mengundang perhatian masyarakat diantaranya adalah
kasus Koin untuk Prita, dan Koin untuk Balqis. Kasus Rasyid Rajasa anak
seorang menteri yang menjadi tersangka utama kecelakaan maut di sebuah ruas
Jalan Tol di Jakarta. Lalu, kasus Florence yang mengungkapkan kekesalannya
terhadap Jogjakarta di Path yang menimbulkan reaksi luas dari masyarakat Jogja.
Opini merupakan expressed statement yang bisa diucapkan dengan katakata, juga bisa dinyatakan dengan isyarat atau cara-cara lain yang mengandung
arti dan segera dapat dipahami maksudnya (Arifin, 2010). Pernyataan ekspresi
yang marak dan dengan sempurna difasilitasi oleh media sosial adalah meme.
Akhir-akhir ini geliat visual di dunia internet Indonesia tengah berada pada
tingkatan yang masif. Puluhan hingga ratusan citraan foto bergerak-berseliweran
setiap hari di media sosial kita. Citraan-citraan tersebut biasanya disertai dengan
teks-teks dengan gaya kritik menggelitik. Isu yang disampaikan pun merupakan
representasi dari kejadian-kejadian populer yang sedang ramai menjadi
perbincangan masyarakat, meskipun tidak jarang juga mengangkat isu keseharian
seperti tentang percintaan, pengalaman hidup, pendidikan, sampai agama.
Citraan-citraan tersebut disebut dengan meme (baca: mim) atau internet meme.
Salah satu kasus kritik sosial yang disebarkan melalui meme adalah kritik
tentang Bekasi. Meme yang lucu namun sarat kritik merupakan pernyataan
ekspresi masyarakat . Meme tentang Bekasi merupakan representasi opini
masyarakat tentang kondisi jarak tempuh, kemacetan, suhu panas dan transportasi
di Bekasi. Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan
penelitian yang berjudul “REPRESENTASI OPINI PUBLIK DI MEDIA
SOSIAL TENTANG KONDISI BEKASI (STUDI KASUS MEME BEKASI DI
MEDIA SOSIAL PATH DAN TWITTER)
Tujuan dari penelitian ini secara khusus adalah untuk memahami
bagaimana opini yang berkembang di masyarakat tentang kondisi yang kurang
nyaman tentang Bekasi diekspresikan melalui penyebaran meme di media sosial
Path dan Twitter. Penelitian ini juga bertujuan untuk memahami alasan
mengangkat isu tersebut melalui meme sehingga menjadi wacana di kalangan
netizen. Adapun secara umum penelitian ini dimaksudkan untuk mendapatkan
jawaban dari permasalahan komunikasi yang sedang berkembang sehingga dapat
digunakan dalam mengembangkan dan menjawab permasalahan komunikasi dan
mengembangkan teori-teori dalam kajian komunikasi yang sejenis dengan hasil
penelitian yang akan dilaksanakan nantinya.
200
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Tinjauan Pustaka
Teori Representasi
Dalam kajian mengenai media, Graeme Burton (2008: 19)
mendefinisikan representasi sebagai sebuah konsep yang merujuk pada presentasi
media terhadap berbagai kelompok sosial, yang dikategorikan dengan banyak
cara-antara lain melalui gender, etnisitas, umur, dan kelas sosial. Secara lebih
spesifik Stuart Hall mengatakan bahwa representasi adalah proses
pengkonstruksian identitas kelompok-kelompok sosial oleh media (Burton, 2008:
32).
Konsep representasi ini berkaitan dengan stereotip dan pembuatan
makna. Apa yang direpresentasikan pada kita melalui media, adalah maknamakna tentang dunia, cara kita memahami dunia (Burton, 2008:133). Contoh
stereotip dalam representasi pada meme adalah letak Bekasi yang berada diantara
bumi dan matahari. Representasi semacam itu menunjukkan panasnya suhu
Bekasi yang dikarenakan tatakota yang kurang tepat sehingga lahan hijau kurang.
Proses representasi tidak sekedar membuat suatu identitas menjadi tampak nyata,
tetapi sesungguhnya merekalah yang membuat identitas itu (Webb, 2009:10).
Opini Publik
Cutlip dan Center (Olli: 2007) menyatakan bahwa opini publik adalah
sejumlah akumulasi pendapat individual tentang suatu isu dalam pembicaraan
secara terbuka dan berpengaruh terhadap sekelompok orang.
Opini atau pendapat dipahami sebagai jawaban atas pertanyaan atau
permasalahan yang dihadapi dalam suatu situasi tertentu. Walau validitasnya
lebih tipis dibanding pengetahuan positif, namun lebih kuat dari dugaan atau
sekedar kesan. Sebagaimana diformulasikan Robert E.Lane dan David O.Sears
(1965) “..an opinion is an answer that is given to a question in a given situation.”
Dan ditambahkan Kimbal Young dalam Arifin (2010) “opinion means a belief or
a conviction more verifiable and stronger in intensity than a mere hunch or
impression but less valid than truly verifiable or positive knowledge.”
Opini merupakan expressed statement yang bisa diucapkan dengan katakata, juga bisa dinyatakan dengan isyarat atau cara-cara lain yang mengandung
arti dan segera dapat dipahami maksudnya (Arifin, 2010).
R.P Abelson (dalam Ruslan 1999) bahwa untuk memahami proses
pembentukan opini seseroang dan Publik berkaitan erat dengan sikap mental
(Attitude), persepsi (perception) yaitu proses pemberian makna dan hingga
kepercayaan tentang sesuatu (belief).
Meme
Istilah meme pertama kali diperkenalkan oleh seorang ahli biologi asal
Britania Raya, Richard Dawkins. Akar katanya berasal dari bahasa Yunani, yakni
mimesis, yang berarti tiruan. Dawkins memaknai meme sebagai suatu unit
informasi budaya (berupa pemikiran, ide, gagasan, kebiasaan, lagu, fesyen) yang
membentuk pola-pola kebudayaan tertentu. Ia menganalogikan meme dengan
201
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
gen, gen seperti yang ada di tubuh manusia.. Dalam bukunya yang berjudul The
Selfish Gene dijelaskan jika gen bereplika dari satu tubuh pada tubuh
keturunannya, sedangkan meme bereplika dari kognisi manusia yang satu ke
kognisi manusia lainnya melalui berbagai media, misalnya melalui interaksi
manusia, iklan, video, gambar, ceramah, buku, dan lain-lain.
Dalam konteks
budaya visual internet, khususnya fotografi digital, meme diciptakan melalui
proses replikasi dan modifikasi dari citra-citra fotografis yang telah tersedia di
mesin google. Sang kreator biasanya hanya tinggal melengkapi foto temuannya
itu dengan teks, atau dengan mengurangi dan menambahkan elemen gambar
melalui proses olah digital sederhana, tergantung kesesuaian konteks informasi
apa yang ingin disampaikan. Setelah proses penciptaan selesai, meme foto atau
gambar akan disebar dan menyebar melalui layanan share, retweet, atau repost di
media sosial.
Metodologi
Penelitian ini dilakukan degan pendekatan kualitatif deskriptif melalui
metode observasi. Objek penelitiannya adalah meme di media sosial Path dan
Twitter yang mengangkat tentang Bekasi. Selain itu juga akan dilakukan
wawancara mendalam untuk mengetahui alasan menyebarkan meme di media
sosial.
Wawancara dilakukan secara tatap muka. Jika tidak memungkinkan
melalui tatap muka, wawancara dilakukan melalui daftar pertanyaan secara
terstruktur melalui email. Proses analisis data melalui reduksi data sebelum
dilakukan interpretasi. Penelitian ini menggunakan metode analisis triangulasi,
yaitu: triangulasi data (menggunakan data hasil wawancara) dan triangulasi teori
(menggunakan tinjauan pustaka untuk menginterpretasikan hasil wawancara).
Informan dalam penelitian ini dipilih berdasarkan aktivitasnya di media
sosial. Semua informan dalam penelitian ini telah aktif di media sosial lebih dari
4 tahun, bahkan tiga diantara mereka telah menjadi digital influencer atau tokoh
yang memiliki pengaruh di media sosial (dilihat dari impact postingan mereka,
peran mereka sebagai buzzer dan jumlah follower nya).
Nama
Informan
Usia
(thn)
Pekerja
an
Domisili
Mulai kenal
Media Sosial
Wicaksono
@ndorokakun
g
45
Penggiat
Media
Tangeran
g
Derry Yan
@derry_yan
@pejuangkuis
22
Karyawa
n Swasta
Bekasi
2004 (blog),
Twitter & FB
(lupa)
Path (2012)
2011 (Twitter
dan Path)
202
Media
Sosial
yang Aktif
Twitter,
Path
Twitter
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Yuna Davina
@ydavina
Yustina Tantri
@yustinaw
37
Karyawa
Jakarta
2009 (Twitter)
n Swasta
2012 (Path)
30
Penggiat
Jakarta
Media
dan
Penulis
Tabel 1. Data informan
Hasil Temuan dan Diskusi
Path
Twitter
Isu-isu yang diangkat melalui meme Bekasi
Dari hasil observasi yang dilakukan, ada beberapa kategori isu yang
diangkat dalam meme tentang Bekasi. Isu-isu tersebut merupakan representasi
kondisi Bekasi yang dirasakan: jauh, macet, panas, jalan rusak. Semua informan
menyebutkan isu yang sama, yaitu jauhnya jarak antara Jakarta-Bekasi. Ketika
dielaborasi lebih lanjut, „jauh‟ ini cenderung kepada lamanya „jarak tempuh‟
yang diperlukan untuk menuju Bekasi.
Beberapa meme bahkan dapat diinterpretasi ke dalam beberapa isu. Hal
ini terjadi karena isu-isu tersebut bisa sangat berkaitan dan berdampak satu sama
lain, misalnya karena jalanan rusak maka lalu lintas menjadi tersendat sehingga
waktu tempuh menjadi lama sehingga terasa jauh.
Gambar 1: Salah Satu Meme Yang Mengangkat Isu Jauh Dan Macet
203
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Yustina dari Awesometrics mengatakan bahwa meme-meme tersebut
menyiratkan kritikan, atau keluhan publik, termasuk dari warga Bekasi sendiri,
khususnya soal tata perkotaan. Pembangunan perumahan dan mal yang sangat
pesat justru memunculkan berbagai masalah seperti kemacetan, jalan raya yang
rusak disana-sini. Kondisi yang kian hari kian parah ini berdampak juga pada
udaranya yang makin tercemar, sehingga hawa di kawasan Bekasi makin panas.
Faktor yang menyebabkan meme Bekasi menjadi trending
Media Sosial yang dinamis memungkinkan beredarnya berbagai opini
secara cepat. Tidak banyak dari ratusan bahkan ribuan opini tersebut yang
menarik perhatian publik secara massif. Hampir semua informan mengatakan
faktor yang menyebabkan suatu meme menjadi trending (ramai dibahas) adalah
karena lucu. Wicaksono menganggap adanya kecenderungan netizen untuk
me’like’, ‘share’ atau ‘retweet’ segala hal di media sosial, tanpa selalu memiliki
maksud tertentu. Menurut istilah Wicaksono, para netizen seperti itu disebut
generasi ‘clicking monkey’. Akibatnya, apapun yang dibagikan di media sosial
menjadi lebih cepat menyebar, mengundang lebih banyak perhatian bahkan
kemudian menjadi trending.
Alasan menggunakan meme untuk mengekspresikan opini
Menurut Yustina Tantri dari Awesometric “Meme bisa merangkum satu
hingga lebih pesan atau kritikan, dan bentuknya lebih menarik untuk disebarkan
karena ada gambar, foto, dan quote yang “menyentil”. Karenanya, meme yang
disebarkan di media sosial lebih cepat viral daripada sekadar kata-kata.”
Wicaksono menyampaikan bahwa orang membuat meme untuk merespon
terhadap situasi yang mereka lihat. Biasanya tidak ada maksud serius. Pada
kasus meme Bekasi, alasan penyebaran meme lebih karena lucu. Menurut Yuna,
penggunaan meme juga bisa menjadi jalan untuk seseorang menjadi „terkenal‟
ketika meme buatannya di repath/retweet oleh pengguna sosial media. Hal senada
juga diungkapkan Derry (@derry_yan), yang ikut memposting dan membuat
meme tentang Bekasi agar eksis, tidak ketinggalan trend dan agar meninggalkan
jejak di media sosial
Seperti apa yang telah disampaikan oleh Mc Luhan medium is the
message, komputer dan internet sebagai media yang membawa pesan berupa teks
dan gambar yang khusus telah membentuk cara-cara manusia berbagi
pengalaman dan berkomunikasi. Hampir semua informan setuju bahwa
ketertarikan mereka terhadap meme adalah karena visualisasi berupa teks dan
gambar yang lucu.
Pendapat tentang meme dan opini publik
“Opini public bisa muncul dalam bentuk meme. Meme adalah salah satu
wujud opini publik”. ungkap Wicaksono. Hal yang senada juga disampaikan para
informan lainnya.. Hal ini sesuai dengan yang disampaikan Arifin (2010) yaitu
“Opini merupakan expressed statement yang bisa diucapkan dengan kata-kata,
juga bisa dinyatakan dengan isyarat atau cara-cara lain yang mengandung arti dan
segera dapat dipahami maksudnya.”
204
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Moore (2004:55) berpendapat akar dari proses pembentukan opini adalah
sikap (attitude). Sikap adalah perasaan atau suasana hati seseorang mengenai
orang, organisasi, persoalan atau objek. Sikap menggambarkan predisposisi
seseorang untuk mengevaluasi masalah kontroversional dengan cara
menyenangkan ataupun tidak menyenangkan. Secara singkat, sikap adalah suatu
cara untuk melihat situasi. Sikap yang diungkapkan adalah opini. Latarbelakang
kebudayaan, ras, dan agama seringkali menentukan sikap seseorang.
Representasi Kondisi melalui gambar dan teks
Semua informan setuju bahwa ketertarikan mereka terhadap meme
adalah karena visualisasi berupa teks dan gambar yang lucu. Teks dan gambar
yang disajikan dalam meme merupakan representasi dari kondisi/keadaan di
dunia nyata. Representasi yang terdapat dalam meme Bekasi antara lain:
1. Penggambaran „jauh‟nya jarak antara Bekasi dan Jakarta diwakili oleh
gambar dan teks antara lain:
- Menggunakan Apollo atau sejenis pesawat luar angkasa untuk pergi ke
Bekasi
- Diperlukan persiapan waktu lama bahkan berhari-hari untuk bepergian
dari Bekasi ke Jakarta
2. Penggambaran suhu di Bekasi diwakili oleh gambar dan teks antara lain
- Posisi Bekasi yang berada diantara bumi dan matahari (lebih dekat ke
matahari) sehingga lebih panas
3. Penggambaran kondisi jalan-jalan di Bekasi diwakili oleh gambar dan teks
antara lain:
- Jika lagi jalan tiba-tiba melewati jalan yang rusak artinya sudah berada di
Bekasi
4. Penggambaran „macet‟ nya dari dan menuju Bekasi diwakili oleh gambar dan
teks antara lain:
- Penyesalan orang yang baru membeli rumah di Bekasi karena harus
berangkat ke tempat kerja dinihari kalau tidak ingin terjebak macet
Gambar 2: Meme Tentang Jalan Rusak Di Bekasi
205
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Simpulan
Dari hasil penelitian dan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa
media sosial banyak dimanfaatkan untuk mengekspresikan pendapat/opini
pribadi. Ekspresi pribadi ini juga kini banyak dituangkan dalam bentuk meme,
berupa kombinasi gambar dan kata-kata yang lucu, sehingga mudah menarik
perhatian masyarakat. Representasi opini yang dituangkan melalui meme ini
lebih digandrungi karena bisa multi interpretasi dan ….
Kecenderungan untuk mereplika atau meneruskan meme ternyata tidak
selalu berbanding lurus dengan „persetujuan‟ terhadap isu yang diangkat dalam
meme. Kecanggihan gadget dan koneksi internet membuat orang cenderung
membagi segala hal yang mereka dapatkan di media sosial, tanpa selalu ada
maksud serius. Kebutuhan untuk meninggalkan jejak di media sosial lebih
menjadi faktor para netizen untuk meneruskan (retweet/repath) meme yang
mereka dapatkan.
Meme dapat merupakan wujud opini yang ada di masyarakat. Namun
karena dinamisnya media sosial, isu yang diangkat meme cenderung tidak
bertahan lama, karena akan selalui ada hal baru yang diangkat di media sosial.
Karena itu dampak dari meme yang berupa kritik sosial pun tidak akan signifikan
bagi perubahan kebijakan publik.
Perkembangan internet dan media sosial telah membawa beberapa
fenomena baru dalam pola komunikasi. Hal ini membuka banyak peluang untuk
dapat dilakukan riset. Oleh karenanya, dari hasil penelitian disini perlu dilakukan
riset dan kajian yang lebih mendalam tentang perkembangan dan budaya manusia
dalam berkomunikasi melalui saluran internet terutama melalui media sosial.
Daftar Pustaka
Safko, Lon. (2010). The Social Media Bible: Tactics, Tools & Strategies for
Business Success. New Jersey: Wiley
Griffin, EM. (2012). A First Look at Communication Theory. McGraw-Hill.
NewYork.
Kriyantono, R. (2006). Teknis Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Kencana.
Samovar.Richard E. Porter dan Edwin McDaniel.2006. Intercultural
Communication. Belmont: Thomson Learning.
Livingstone, Sonia (2007). Handbook of New Media Sage Publications London:.
McQuail, Dennis. (2005). Mass Communication Theory; Fifth Edition.
Oxfordshire: Alden Press.
Nasrullah, Rulli. (2014). Cetakan Ke II. Komunikasi Antarbudaya: di Era
Budaya Siber. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Wibowo, Indowan Seto Wahyu. (2014). New Media dan Multikulturalisme.
Jurnal Ultimacomm Vol.1 1979-1232.
206
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Biografi Penulis
Penulis lahir di Jakarta 16 Oktober 1974. Saat ini aktif menjadi dosen di
Universitas Bina Nusantara. Penulis mendapatkan gelar sarjana teknik industri di
Universitas Trisakti pada tahun 1998 dan mendapatkan gelar master marketing
komunikasi di Universitas Indonesia pada tahun 2003.
207
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
AKTIVITAS BUDAYA PARTISIPATIF REMAJA DALAM
MENGGUNAKAN MEDIA BARU
Endah Murwani, Indiwan Seto Wibowo, Joice Caroll Siagian
Universitas Multimedia Nusantara
[email protected]
Abstract
This research is motivated digital natives growing phenomenon in Indonesia. The
new media has become a center for the life of young people who provide ease of
access and interaction opportunities wider and faster to build a social network, a
means of expression, share ideas and opinions. The potential use of this new
media form a community of convergence that leads to a participatory culture and
allows people to become prosumer - producers and consumers. The question is
whether digital natives Indonesia has been using new media optimally to be an
innovator, producer or contributors can change the media environment? This
study aims to identify the youth participatory cultural activities, in this case the
high school students in Jakarta. Reference the underlying concept of this study is
the participatory culture of new media from Henry Jenkins is classified in the
category of affiliation, expression, collaborative problem solving and circulation.
The study used survey method, by taking a sample of 200 high school students in
Jakarta through multistage sampling technique. The results showed that: 1)
affiliate activity has been carried out by joining the various social networks; 2)
While the expression activity which produces creative content, not many high
school students do. The position they still tend as a connoisseur and observer
creative contents; 3) For the activity of collaboration - although limited in scope
but has already done the Jakarta high school students, especially in cooperation
complements and completing school assignments; 4) For the circulation activity a form of participatory culture which distributes the flow of information, do a lot
of activities that are particularly podcasting download music, movies, programs.
While blogging is still less do. Therefore a literacy about forms of participatory
culture that is more productive content creation.
Keywords: partisipatory culture, affiliation, expression, collaboration,
sirculation
Abstrak
Penelitian ini dilatarbelakangi fenomena tumbuhnya digital natives di Indonesia.
Media baru telah menjadi tempat pusat bagi kehidupan anak-anak muda yang
memberikan akses kemudahan dan kesempatan interaksi yang semakin luas dan
cepat untuk membangun jejaring sosial, sarana berekspresi, berbagi gagasan dan
pendapat. Potensi penggunaan media baru ini membentuk masyarakat
konvergensi yang mengarah pada budaya partisipatif dan memungkinkan orangorang menjadi prosumer - produsen sekaligus konsumen. Persoalannya adalah
apakah digital natives Indonesia telah menggunakan media baru secara optimal
untuk menjadi inovator, produser atau kontributor yang bisa merubah lingkungan
208
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
media ? Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi aktivitas budaya
partisipasif para remaja, dalam hal ini pelajar SMA di DKI Jakarta. Acuan
konsep yang mendasari penelitian ini adalah budaya partisipatif media baru dari
Henry Jenkins yang diklasifikasikan dalam kategori afiliasi, ekspresi, pemecahan
masalah kolaboratif dan sirkulasi. Penelitian menggunakan metode survey,
dengan mengambil sampel 200 pelajar SMA di DKI Jakarta melalui teknik
multistage sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1) aktivitas afiliasi
telah dilakukan dengan bergabung dalam berbagai jejaring sosial; 2) Sedangkan
aktivitas ekspresi yang menghasilkan konten kreatif, belum banyak dilakukan
para pelajar SMA. Posisi mereka masih cenderung sebagai penikmat dan
pengamat konten-konten kreatif; 3) Untuk aktivitas kolaborasi – meskipun dalam
lingkup terbatas tetapi sudah dilakukan para pelajar SMA DKI Jakarta, terutama
dalam kerjasama melengkapi dan menyelesaikan tugas-tugas sekolah; 4) Untuk
aktivitas sirkulasi – bentuk budaya partisipatif yang mendistribusikan aliran
informasi, aktivitas yang banyak dilakukan adalah podcasting terutama
mengunduh musik, film, program acara. Sedangkan blogging masih kurang
dilakukan. Oleh karenanya diperlukan literasi tentang bentuk-bentuk budaya
partisipatif yang lebih produktif yaitu kreasi konten.
Kata Kunci: budaya partisipatif, afiliasi, ekspresi, kolaborasi, sirkulasi
Pendahuluan
Fenomena digital natives sedang tumbuh di Indonesia. Hal ini tampak
tergambar dari data statistik yang dikeluarkan oleh www.internetworldstats.com
yang menunjukkan bahwa pengakses internet di wilayah Asia, Indonesia
menempati urutan kelima setelah China, Jepang, India, dan Korea Selatan. Data
yang dilansir oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) juga
menunjukkan pertumbuhan penggunaan internet di Indonesia terus meningkat.
Tahun 2014 penetrasi pengguna internet di Indonesia telah mencapai 88,1 juta
orang atau 34.9% dari total penduduk Indonesia. Berdasarkan usia pengguna,
hampir setengah dari total jumlah pengguna internet di Indonesia yakni 49%
adalah berusia 18-25 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa segmen pengguna
internet di Indonesia adalah mereka yang termasuk dalam kategori digital natives.
Sedangkan alat yang digunakan untuk mengakses internet mayoritas
menggunakan telepon selular (85%).
Demikian pula dari sisi penggunaan media komunikasi, jejaring sosial
telah mengubah cara orang berinteraksi. Jejaring sosial telah menggeser
penggunaan email dan messenger sebagai sarana orang berkomunikasi.
Munculnya jejaring sosial baru yang menawarkan layanan fitur-fitur lebih
lengkap menggeser juga jejaring sosial yang telah ada sebelumnya. Bila 2-3
tahun yang lalu facebook dan twitter masih bertengger sebagai jejaring sosial
dengan jumlah pengguna terbanyak. Akan tetapi, saat ini para remaja berangsurangsur beralih ke jejaring sosial dan layanan aplikasi berbasis web seperti
Instagram, Path, Snapchat dan LINE. Data yang dilansir bulan Agustus 2015
209
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
memperlihatkan trend penggunaan media LINE oleh para remaja, menempatkan
Indonesia menjadi negara ke 3 terbesar penggunaan LINE.
Hasil penelitian diatas memperlihatkan bahwa media baru telah menjadi
tempat pusat bagi kehidupan sosial dan budaya anak-anak muda. Kekuatan besar
media baru ini telah digenggam oleh anak-anak muda. Dunia masa depan adalah
dunia para digital natives. Budaya dan gaya hidup masa depan adalah budaya dan
gaya hidup digital natives. Bagi mereka, media baru memberikan akses
kemudahan dan kesempatan interaksi yang semakin luas dan cepat untuk
membangun jejaring sosial, sarana berekspresi, berbagi gagasan dan pendapat.
Menurut Livingstone (2002 : 2) media baru membuka kesempatan bagi
partisipasi demokratis dan komunitas untuk berkreativitas, ekspresi diri dan tak
terbatasnya pengetahuan dapat mendukung keberagaman, perbedaan dan debat
yang sehat. Bahkan Jenkins (2006) melihat potensi penggunaan media baru ini
akan memunculkan budaya partisipatif yang memungkinkan orang-orang menjadi
prosumer - produsen sekaligus konsumen.
Paparan diatas memperlihatkan bahwa budaya partisipatif ini sangat
potensial sehingga remaja perlu dikembangkan kemampuan untuk menjadi
produser, kreator dan distributor yang mumpuni. Persoalannya, apakah digital
native Indonesia hanya berbangga sebagai pengguna internet dan jejaring sosial
terbesar ? apakah digital native Indonesia telah menggunakan media baru secara
optimal untuk menjadi inovator, produser atau kontributor yang bisa merubah
lingkungan media ?
Untuk itu, penelitian ini bertujuan mengidentifikasi aktivitas budaya
partisipatif remaja melalui jejaring sosial ke dalam kategori afiliasi, ekspresi,
pemecahan masalah kolaboratif dan sirkulasi
Tinjauan Pustaka
Jenkins (2006) menyatakan bahwa sifat interaktivitas teknologi
mendorong munculnya budaya partisipatif. Lebih lanjut Jenkins memaparkan
bahwa budaya partisipatif adalah budaya dimana orang-orang (baik sebagai
pribadi maupun publik) tidak dapat bertindak sebagai konsumen saja, tetapi juga
menjadi kontributor atau produser (prosumers). Internet memungkinkan orang
secara pribadi untuk menciptakan dan mempublikasikan media melalui internet.
Budaya baru ini menghubungkan internet yang digambarkan sebagai web 2.0.
Dalam budaya partisipatif ‘orang-orang muda secara kreatif merespon signalsignal elektronik dan komoditas-komoditas budaya’
Meningkatnya akses ke internet telah menjadi suatu bagian integral
dalam ekspansi budaya karena meningkatkan kemampuan orang bekerja
kolaboratif yakni mengembangkan dan menyebarkan berita, ide dan karya-karya
kreatif dan berhubungan dengan orang yang memiliki tujuan dan kepentingan
yang sama. Potensi budaya partisipatif untuk keterlibatan dan ekspresi kreatif
telah diteliti oleh Jenkins. Budaya partisipatif dianggap potensial karena 1)
hambatan untuk ekspresi artistik dan keterlibatan anggota termasuk relatif
rendah; 2) adanya dukungan yang kuat untuk menciptakan dan membagi kreasi
210
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
dengan orang lain; 3) kepercayaan diantara para anggota tentang cara mereka
saling memberi kontribusi; 4) adanya tingkat koneksi sosial dengan orang lain
Dalam budaya partisipatif, konsumen aktif berhubungan dengan
partisipan lainnya untuk merubah lingkungan media. Teknologi baru menjadi alat
dalam suatu „multimedia sandbox‟ yang memberdayakan konsumen menjadi
kreator, artis dan visioner.
Seseorang dengan mudah mengedit video,
memanipulasi grafik dan menempatkan di YouTube. Bagi Jenkins “the power of
participation comes not from destroying commercial culture, but from writing
over it, modding it, amending it, expanding it, adding greater diversity of
perspective, and then re-circulating it, feeding it back into the mainstream
media.”
Bentuk-bentuk budaya komunikasi partisipatif menurut Jenkins : 1)
Afiliasi – keanggotaan formal dan informal dalam kelompok atau komunitas
online seperti facebook, twitter ataupun mailing list; 2) Ekspresi – menghasilkan
bentuk-bentuk kreatif baru seperti fan fiction; 3) Penyelesaian Masalah
Kolaboratif – bekerjasama dalam tim, formal dan informal – untuk melengkapi
tugas dan mengembangkan pengetahuan baru (misal melalui Wikepedia); 4)
Sirkulasi – membentuk aliran media (seperti podcasting atau bogging).
Sebuah budaya partisipatif juga merupakan salah satu di mana para
anggotanya percaya dengan kontribusi mereka, dan merasa memiliki kesamaan
derajat hubungan sosial satu sama lain. Setidaknya, mereka peduli dengan apa
yang orang lain pikirkan mengenai apa yang mereka ciptakan (Jenkins, 2007: 3).
Metodelogi
Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh gambaran umum (deskripsi)
tentang aktivitas budaya partisipatif para pelajar SMA dalam jejaring sosial.
Metode survey dipilih dalam penelitian ini dengan menggunakan kuesioner
sebagai alat pengumpulan data yang pokok dan disebarkan pada para pelajar
SMA di DKI Jakarta
Populasi penelitian ini adalah seluruh pelajar SMA di DKI Jakarta.
Pelajar SMA dipilih sebagai obyek penelitian, dengan pertimbangan sebagai
berikut : 1) pelajar SMA termasuk dalam kategori usia remaja; 2) pelajar SMA
merupakan digital native yang diasumsikan lahir dan tumbuh dalam era media
baru; 3) pelajar SMA potensial untuk dikembangkan budaya partisipatif dalam
komunitas on line.
Mengenai dipilihnya wilayah DKI Jakarta, penelitian ini merujuk pada
hasil survey APJII tahun 2014 bahwa pengguna internet didominasi oleh mereka
yang tinggal di wilayah urban Indonesia. Artinya, fenomena gaya hidup digital
native bertumbuh di Jakarta sebagai kota urban dan metropolitan.
Dari data yang diperoleh Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta terdapat
sebanyak 116 SMA Negeri dan 426 SMA Swasta yang tersebar di 5 wilayah
kotamadya DKI Jakarta. Sedangkan teknik penarikan sampel dalam penelitian ini
menggunakan teknik probabalitas, yakni area sampling. Lima kotamadya yang
ada di DKI Jakarta diasumsikan sebagai area. Dalam upaya memperoleh
211
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
keterwakilan dari berbagai kondisi, pemilihan sampel dilakukan melalui beberapa
tahap. Langkah-langkah pengambilan sampel dilakukan dengan prosedur sebagai
berikut
a. Langkah pertama menentukan 2 SMA (SMA Negeri dan SMA Swasta)
yang berada di masing-masing wilayah kotamadya. Pemilihan dilakukan
secara acak atas sekolah yang berada pada masing-masing wilayah
kotamadya.
Langkah ini menghasilkan 10 SMA Negeri dan SMA Swasta yang berada di
5 wilayah kotamadya di DKI Jakarta yaitu : SMA Negeri 112, SMA Tunas
Muda, SMA Negeri 8, SMA Islam Al Azhar 1, SMA Negeri 68, SMA
Muhamadiyah 1, SMA Negeri 81, SMA Kristen Penabur 7, SMA Negeri 45,
SMA Don Bosco.
b. Langkah kedua memilih sampel secara acak dari populasi di SMA NegeriSMA Swasta terpilih. Jumlah sampel ditentukan berdasarkan populasi dari
masing-masing SMA Negeri-SMA Swasta yang terpilih di wilayah
kotamadya DKI Jakarta yaitu sebanyak 200 responden.
Kuesioner disebarkan kepada responden terpilih dalam rentang waktu
dari tanggal 26 Agustus – 15 September 2015.
Hasil Temuan dan Diskusi
Pemetaan aktivitas budaya partisipatif responden dalam menggunakan
media baru dikategorikan menjadi : 1) Afiliasi, penggunaan media baru
menjadikan keanggotaan formal maupun informal dalam komunitas online; 2)
Ekspresi, penggunaan media baru menghasilkan bentuk-bentuk kreatif baru; 3)
Penyelesaian masalah kolaboratif - penggunaan media baru untuk bekerjasama
dalam tim, baik secara formal maupun informal, untuk menyelesaikan tugas dan
mengembangkan pengetahuan baru. 4) Sirkulasi, media baru digunakan untuk
membentuk sirkulasi media.
Afiliasi
Hasil penelitian memperlihatkan seluruh responden telah bergabung
dalam keanggotaan dari berbagai jejaring sosial seperti Path, Instagram,
Snapchat, Twitter maupun layanan aplikasi web seperti LINE dan Whatsapp.
Jejaring sosial yang digunakan para remaja mengalami pergeseran, Facebook dan
Twitter mulai ditinggalkan dan beralih ke LINE, Instagram, Path dan Snapchat.
Dari berbagai jejaring sosial, responden paling aktif menggunakan
aplikasi LINE. Hampir seluruh responden (90.6%) mengaku setiap hari membuka
dan aktif terlibat dalam LINE. Aktivitas yang dilakukan mayoritas responden
dalam menggunakan LINE adalah untuk chatting dan mengecek group-group
LINE. Hasil diskusi terbatas dengan FGD terungkap pula bahwa mereka
tergabung dalam group-group LINE untuk memudahkan komunikasi diantara
mereka terkait dengan tugas-tugas sekolah, kepanitiaan, dan sebagainya.
Instagram merupakan jejaring sosial yang aktif digunakan responden,
hasil penelitian menunjukkan bahwa 62.5% responden aktif menggunakan
212
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Instagram setiap hari. Aktivitas yang dilakukan ketika menggunakan Instagram
adalah untuk posting foto dan video, ‘stalking’ – mengikuti aktivitas seseorang
melalui akun Instagram dengan melihat foto-foto yang diposting. Bagi para
pelajar yang hobi fotografi dan videografi, media sosial Instagram merupakan
media yang digunakan untuk unjuk karya kreatif fotografi dan videografi, bahan
perbandingan dan sarana belajar dengan teman-teman dalam jejaring sosial
Instagram.
Temuan menarik yang ditemukan dalam penelitian ini adalah
menurunnya keaktifan dalam menggunakan jejaring sosial Twitter dan Facebook.
Dari 182 responden yang memiliki akun Twitter, hanya 25.2% responden yang
masih aktif setiap hari membuka Twitter.
Fenomena ini merupakan anti
klimaks dimana pada tahun 2012-2013 pengguna twitter di Indonesia termasuk
peringkat 3 pengguna terbanyak di dunia dan pengguna yang aktif berkicau.
Akan tetapi tanda-tanda Twitter mulai ditinggalkan para remaja sudah mulai
tampak pada tahun 2014, ketika mulai muncul aplikasi-aplikasi lainnya. Temuan
ini semakin memperkuat data dari Digital Spy (Antara News 29 Oktober 2015)
dimana pertumbuhan jumlah pengguna tahun ke tahun dilaporkan hanya 8% per
akhir September 2015, angka yang jauh lebih sedikit dibanding tahun 2014
dengan pertumbuhan 23%.
Demikian pula halnya dengan jejaring Facebook yang lebih dulu
mengalami nasib serupa Twitter – mulai ditinggalkan responden. Temuan
penelitian menunjukkan hanya 10.7% dari 173 responden yang memiliki akun
facebook aktif menggunakan Facebook setiap hari.
Grafik 1: Keaktifan dalam Jejaring Sosial
100
80
60
40
20
0
Setiap hari
4-6 kali seminggu
2-3 kali seminggu
Sekali seminggu
Namun secara garis besarnya, aktivitas yang dilakukan responden dalam
jejaring sosial sebagian cenderung dapat dikategorikan pasif - hanya untuk
„stalking‟ yakni memantau atau mengikuti aktivitas yang dilakukan pengguna
jejaring sosial. Aktivitas berbagi konten seperti informasi, pengetahuan,
pengalaman, ide, foto, video masih belum optimal. Oleh karenanya, meskipun
seluruh responden sudah bergabung dalam jejaring sosial dan komunitas online,
213
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
potensi untuk mengoptimalkan afiliasi sebagai bentuk budaya partisipatif ini
perlu segera dilakukan.
Ekspresi
Bentuk budaya partisipatif yang kedua adalah ekspresi, penggunaan
media baru menghasilkan bentuk-bentuk kreatif baru seperti Fan Fiction, Fan
Vdeo, Fan Art, Updated Photo, Zine, Mush-up,Moding dan skining.
Grafik 2: Budaya Partisipatif : Aktivitas Ekspresi
Hasil penelitian menunjukkan hanya 18% responden mengaku pernah
menulis Fan Fiction yang biasa disingkat FanFic. FanFic ini merupakan sebuah
karya yang dibuat oleh penggemar (fans) berdasarkan pada kisah, karakter atau
setting yang sudah ada. FanFic bisa berlaku untuk film, TV, komik, novel,
selebritis dan karakter terkenal lainnya yang diceritakan menurut persepsi
mereka. Selebihnya mereka hanya penikmat dan pengamat FanFic atau disebut
sebagai silent reader, melalui situs-situs blog komunitas FanFic yang paling
terkenal yaitu www.fanfiction.com atau www.fanfiction.net yang merupakan
komunitas terbesar penulis FanFic dunia.
Sedangkan untuk Fan Video, sebesar 36% responden pernah membuat
fan video. Selebihnya para responden menjadi penikmat fan video. Sementara
untuk Fan Art, sebanyak 16% responden yang telah menghasilkan suatu hasil
karya seni yang berdasarkan pada suatu karakter/kostum/cerita. Untuk updated
photo, sebanyak 38% responden menyatakan pernah melakukannya dengan
aplikasi-aplikasi seperti Photoshop, Corell Draw, atau aplikasi yang ada dalam
telepon selular, seperti InstaMag,
Bentuk ekspresi lainnya adalah Zine, yakni suatu bentuk publikasi yang
diterbitkan oleh pembuatnya – otonom dan non komersial. Hasil penelitian
menunjukkan hanya 11% responden yang pernah membuat Zine. Sedangkan
modding – suatu bentuk ekspresi yang berkaitan dengan memodifikasi/mengedit
telepon seluler baik software maupun hardware. Sebanyak 13% responden
mengaku pernah melakukan aktivitas modding dengan memodifikasi telepon
214
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
seluler yang standar menjadi lebih lengkap. Selain itu, ada yang pernah
melakukan modding games.
Bentuk budaya partsipatif ekspresi lainnya adalah Mashup – aplikasi web
yang mengkombinasikan data lebih dari satu sumber ke dalam satu aplikasi yang
terintegrasi. Mashup bisa dilakukan untuk music maupun video. Music Mashup
merupakan teknik menggabungkan dua lagu atau lebih menjadi satu lagu secara
online, sedangkan Video Mashup adalah teknik pengeditan video secara online
yang menggabungkan berbagai sumber seperti videoklip, suara, lagu, foto, grafik
mupun efek khusus yang diolah dan ditampilkan menjadi video yang lebih
lengkap. Dari data yang terkumpul di lapangan, hanya 10% responden yang
menyatakan pernah melakukan mashup video dan musik.
Secara keseluruhan hasil penelitian memperlihatkan belum optimalnya
aktivitas para pelajar SMA di DKI Jakarta menghasilkan konten kreatif dan
inovatif, terutama menulis Fan Fiction, Zine, Modding dan Mashup. Posisi para
pelajar masih cenderung sebagai penikmat dan pengamat bentuk-bentuk kreatif
tersebut. Bentuk ekspresi budaya partisipatif ini perlu dikembangkan sehingga
para pelajar SMA DKI Jakarta bisa menjadi creator dan innovator bukan hanya
sebagai silent reader.
Penyelesaian Masalah Kolaborasi
Hasil penelitian memperlihatkan kolaborasi sebagai bentuk budaya
partisipatif sudah dilakukan para siswa SMA DKI Jakarta, terutama dalam
kerjasama melengkapi dan menyelesaikan tugas-tugas sekolah. Selain itu,
sebagian sudah melakukan kolaborasi project melalui keanggotaan mereka dalam
komunitas online, terutama untuk alternative gaming. Meskipun sifat kolaborasi
ini masih dalam lingkup sekolah dan komunitas, setidaknya akan memberikan
peluang untuk melakukan kolaborasi dalam lingkup lebih luas.
Grafik 3: Budaya Partisipatif – Penyelesaian Masalah Kolaboratif
Sirkulasi
Bentuk budaya partisipatif yang keempat adalah sirkulasi – kegiatan
membentuk aliran informasi dalam media baru. Salah satu bentuk sirkulasi media
215
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
adalah blogging dan podcasting. Blogging adalah aplikasi web yang berupa
tulisan atau gambar – sebagai suatu cara mengkomunikasikan gagasan, pikiran
atau ide-ide. Penelitian ini hanya menemukan hanya 25.5% dari 200 siswa SMA
di DKI Jakarta yang memiliki blog pribadi. Beberapa orang yang memiliki blog
pribadi mengaku sudah tidak aktif lagi untuk memposting informasi dan karya
diri sendiri.
Grafik 5: Budaya Partisipatif – Sirkulasi melalui Blog/Website
Aktivitas lain yang termasuk kategori blogging adalah memposting
informasi di website atau blog orang lain dan memberikan comment di situs web
atau blog orang lain. Hasil penelitian menunjukkan hanya 26.5% responden yang
pernah melakukannya. Demikian pula dengan aktivitas memberikan komentar di
web dan blog orang lain, lebih dari separuh responden (59%) mengaku tidak
pernah melakukan aktivitas tsb.
Dari 51 responden yang memiliki blog pribadi, data yang terkumpul
menunjukkan sebanyak 45,1% responden memposting seminggu sekali di blog
pribadinya. Hal-hal apa saja yang diposting oleh responden di blog pribadinya ?
Menurut penuturan responden, yang diposting biasanya adalah kegiatan yang
dilakukan di sekolah, pengalaman menarik dan unik.
Bentuk budaya partisipasi sirkulasi lainnya adalah Podcasting yang
merupakan jenis media digital terdiri dari serangkaian episodic audio, video
radio, PDF atau file ePub berlangganan dan download melalui sindikasi web atau
streaming secara online ke komputer atau telepon seluller. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa 43% responden telah melakukan aktivitas download
program acara TV maupun radio dalam computer atau telepon seluler dengan
streaming online. Sedangkan untuk download lagu, music, pidato, ceramah, dan
sebagainya – sebanyak 86% responden pernah melakukan aktivitas download ini,
terutama melalui Youtube.
216
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Grafik 6: Budaya Partispatif Sirkulasi- Podcasting
Data-data yang tertera dalam table diatas, memperlihatkan bahwa
aktivitas upload karya sendiri baik berupa music, video, puisi, dan sebagainya
dilakukan seminggu sekali oleh 36.6% dari 41 responden, 24.4% responden
melakukannya hanya sebulan sekali.
Sedangkan
frekuensi
responden
mengunggah karya orang lain dalam penelitian ini mencapai 60 responden. Dari
60 responden yang pernah mengunggah karya orang lain, sebanyak 45%
melakukannya seminggu sekali dan 18.3% responden melakukannya 2x
seminggu. Sebaliknya, responden yang melakukan aktivitas download sebanyak
172 orang. Temuan penelitian memperlihatkan lebih dari setengah jumlah
responden (54.7%) melakukan download music/video, dsb bahkan 39%
responden melakukannya 2x seminggu. Sementara responden yang pernah
melakukan aktivitas download program acara TV dan radio online, 47.9%
diantaranya melakukan download setiap minggu.
Benang merah yang dapat ditarik dalam penelitian ini adalah aktivitasaktivitas penggunaan media baru masih cenderung sebatas sebagai consumer,
belum mengarah pada prosumer (produser sekaligus consumer) dan budaya
partisipatif. Dari pemetaan penggunaan media baru dan bentuk budaya
partisipatif diatas, dapat dikatakan tingkat penggunaan media baru termasuk
tinggi akan tetapi aktivitas-aktivitas yang dilakukan masih sebatas pada content
exchange bukan pada content creation. Artinya, konsep budaya partisipatif dan
konsep prosumer (producer-consumer) belum sepenuhnya terwujud.
Simpulan
Untuk menjawab tujuan penelitian ini, maka simpulan yang dapat ditarik
dari hasil penelitian ini adalah teridentifikasinya aktivitas-aktivitas budaya
partisipatif melalui penggunaan media baru yang dilakukan para siswa SMA
kedalam 4 kategori budaya partisipatif yaitu:
1) Afiliasi – aktivitas afiliasi telah dilakukan para pelajar SMA yang tergabung
dalam berbagai jejaring sosial. Aktivitas yang dilakukan dalam jejaring sosial
217
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
cenderung pasif, hanya untuk „stalking‟ yakni memantau atau mengikuti
aktivitas yang dilakukan pengguna jejaring sosial. Untuk itu, perlu ditingkatkan
kemampuan kultural para siswa dalam berinteraksi.
2) Ekspresi – bentuk budaya partisipatif yang menghasilkan konten kreatif
seperti Fan Fiction, Zine, Modding dan Mashup ini belum banyak dilakukan para
pelajar SMA. Posisi mereka masih cenderung sebagai penikmat dan pengamat
konten-konten kreatif.
3) Penyelesaian Masalah Kolaborasi - sudah dilakukan para siswa SMA DKI
Jakarta, terutama dalam menyelesaikan tugas-tugas sekolah. Aktivitas kolaborasi
yang masih belum banyak dilakukan para siswa adalah menyunting Wikipedia
dan diskusi dalam forum online;
4) Sirkulasi – bentuk budaya partisipatif yang mendistribusikan aliran informasi,
salah satunya melalui aktivitas blogging masih kurang dilakukan para siswa SMA
karena tidak banyak siswa yang memiliki blog pribadi. Untuk aktivitas
podcasting terutama mengunduh musik, film, program acara, dan sebagainya
sudah banyak dilakukan
Implikasi dari simpulan diatas mengerucutkan perlunya literasi tentang
pentingnya mengembangkan budaya partisipatif dalam jejaring sosial. Potensi
penggunaan jejaring sosial oleh para remaja sangat besar, sehingga potensi para
remaja perlu dikembangkan menjadi creator, innovator dan produser yang dapat
merubah lingkungan media. Selain itu, untuk mengembangkan budaya kolaborasi
dan sirkulasi – para guru bisa mengoptimalkan kemampuan kolaborasi dan
sirkulasi melalui pelajaran dan tugas-tugas yang diberikan pada para siswa.
Demikian pula dengan orang tua yang dapat ikut berkontribusi mengembangkan
budaya partisipatif melalui sosialisasi nilai-nilai.
Ucapan Terima Kasih
Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada Direktur Riset dan
Pemberdayaan Masyarakat Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian
Ristek dan Pendidikan Tinggi, yang telah membiayai penelitian ini melalui
skema Hibah Bersaing. Ucapan yang sama juga kami sampaikan kepada Rektor
dan Direktur LPPM Universitas Multimedia Nusantara yang telah memberikan
dukungan selama proses pelaksanaan penelitian.
Daftar Pustaka
Buku
Consalvo, Mia & Charles Ess. 2011. The Handbook of Internet Studies.
Blackwell
Publishing Ltd.
Jenkins, Henry. 2006 Convergence Culture: Where Old and New Media
Collide.NYU Press
___________, 2007. Confronting the Challenges of Participatory Culture: Media
Education for the 21stCentury. Chicago: MacArthur Foundation.
218
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
McQuail, Denis. 2010. Mass Communication Theory, 6th edition, LondonThousand Oaks-New Delhi, Sage Publications, 2010.
Lister, Martin, Jon Dovey, Seth Giddings, Iain Grant, Kieran Kelly. 2009. New
Media : A Critical Introduction. Second Edition. London & New York :
Routledge
Livingstone, Sonia & Lievrouw, Leah A. 2002. Handbook of New Media: Social
Shaping and Social Consequences of ICTs, London : Sage Publications
Mueller, Bryan. 2014. Particapatory Culture on Youtube : A Case Study of the
Multichannel Network Machinima, London : [email protected]
Pacey, Arnold. 2003. The Culture of Technology. MIT Press.
Palfrey, John. dan Gasser, Urs. 2008. Born Digital: Understanding the First
Generation of Digital Natives.New York.
Potter, James W. 2008. Media Literacy 4th ed. Thousand Oaks: Sage
Publications.
Safko, Lon. 2010. The Social Media Bible. Tactics, Tools, and Strategies for
Business Success. Second Edition. New Jersey : John Wiley & Sons, Inc
Straubhaar D. Joseph, Robert LaRose & Lucinda Davenport. 2015. Media Now :
Understanding Media, Culture and Technology, 9th edition, Thomson
Wadsworth,
Tapscott, Don.2009. Grown up digital. How the net generation is changing your
world. United States : Mc Graw Hill
Wood, Andrew F. & Matthew J. Smith, 2005. Online Communication : Linking
Technology, Identity and Culture, Lawrence Erlbaum Associate
Jurnal
Christine, Larabie. 2011. Participatory Culture and The Hidden Costs of Sharing.
The McMaster Journal of Communication vol 7, Issue I, 2011.
https://journals.mcmaster.ca/mjc/article/.../222
Hardey, Marrian. Generation C : content, creation, connections and choice.
International Journal of Market Research, vol 53 no 6, 2011.
http://www.ijmr.com/AboutIJMR/Samples/Sample2.pdf
Joanna Goode, The digital identity divide: how technology knowledge impacts
college
students.
New
Media
&
Society May
2010. 12: 497513, doi:10.1177/1461444809343560
Tomasello, Tami K. & Youngwon Lee & April P. Baer. „New media‟ research
publication trends and outlets in communication, 1990-2006. New Media &
Society June 2010 12: 531-548, doi:10.1177/1461444809342762
Biografi Penulis
Endah Murwani
S1 : Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Diponegoro Semarang
S2 : Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Indonesia Jakarta
S3 : Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Indonesia Jakarta
Dosen Universitas Multimedia Nusantara Tangerang
219
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Indiwan Wahyu Seto Wibowo
S1 : Ilmu Komunikasi FISIPOL Universitas Gajah Mada Yogyakarta
S2 : Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Indonesia Jakarta
S3 : Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Indonesia Jakarta
Dosen Universitas Multimedia Nusantara Tangerang
Joice Caroll Siagian
S1 : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Bandung
S2 : Kebijakan Publik Fakultas Ilmu Sosial Universitas Padjadjaran Bandung
Sedang menempuh S3 Ilmu Komunikasi di UNPAD
Dosen Universitas Multimedia Nusantara Tangerang
220
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
IMBANGI HEGEMONI JURNALISME MAINSTREAM MELALUI
JURNALISME WARGA
Feri Ferdinan Alamsyah
Prodi Ilmu Komunikasi FISIB, Universitas Pakuan Bogor
[email protected]
Abstract
In Indonesia, the hegemony of mainstream journalism clearly visible especially
when the media broadcasting live footage events of 2014 presidential election.
The media implied that the information broadcasted puts more weight to certain
party. It shows as if the media taking sides by carrying certain interest. This
broadcast practise in contrary to the spirit of journalism which supposed to be in
serve for public interest.This study focuses on how citizen journalism can
counterbalance the hegemony of mainstream journalism. Through the theory of
social construction from Berger and Luckmann, citizen journalism constructed
simultaneously with aspects of externalization, objectivation and internalization.
That citizens or society could apply citizen journalism on the basis willing to
share, which run continuously, so it becomes a habit and finally the society has
certain purport against him that have concern for the situation surrounding.
Citizen journalism is an activity to collect, process and communicate information
through public areas, both virtual and conventional. This activity is carried out
by citizens that are laymen and amateurs to the activity. Citizen journalism can
counterbalance the hegemony of mainstream journalism. He gave alternative
information to the public about an event. In addition, citizen journalism also
supplements the information had not submitted the mainstream mass media, so
that the information is displayed in full.
Keyword: citizen journalism, hegemony
Abstrak
Di Indonesia, hegemoni jurnalistik mainstream terlihat secara jelas ketika
menyiarkan peristiwa pemilihan presiden pada 2014 lalu. Secara tersirat,
sejumlah media menyiarkan informasi yang memenangkan salah satu pihak.
Seolah-olah media massa ditumpangi kepentingan tertentu, seolah-olah berpihak
pada satu selompok. Hal ini bertolak belakang dengan semangat jurnalisme yang
seyogyanya mengabdi kepada kepentingan masyarakat. Penelitian ini fokus pada
bagaimana cara jurnalisme warga dapat mengimbangi hegemoni jurnalisme
mainstream.Melalui teori konstruksi sosial dari Berger dan Luckmann,
jurnalisme warga dikonstruksi secara simultan dengan aspek eksternalisasi,
objektivasi dan internalisasi. Bahwa warga atau masyarakat melakukan
jurnalisme warga atas dasar senang berbagi yang dijalankan terus menerus
sehingga menjadi kebiasaan dan akhirnya masyarakat mempunyai pemaknaan
tertentu terhadap dirinya yang mempunyai kepedulian terhadap situasi sekitarnya.
Jurnalisme warga adalah kegiatan mengumpulkan, mengolah dan menyampaikan
informasi melalui wilayah publik, baik secara virtual maupun konvensional.
221
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Kegiatan ini dilakukan oleh warga yang sifatnya awam dan amatir terhadap
kegiatan tersebut. Jurnalisme warga dapat mengimbangi hegemoni jurnalisme
mainstream. Ia memberikan informasi alternatif bagi masyarakat mengenai
sebuah peristiwa. Selain itu, jurnalisme warga juga melengkapi informasi yang
tidak sempat disampaikan media massa mainstream, sehingga informasi
ditampilkan secara utuh.
Kata Kunci: jurnalisme warga, hegemoni
Pendahuluan
Latar Belakang Masalah
Musim pilpres terakhir pada 2014 lalu bisa menjadi salah satu contoh
ketidakobjektifan media massa dalam pemberitaan. Aroma keberpihakan sangat
terasa ketika Tvone dan Metro tv memberitakan masing-masing calon presiden.
Tvone dinilai berpihak pada calon presiden Prabowo Subianto dan Hatta Radjasa,
sementara Metro tv berpihak kepada calon presiden Joko Widodo dan Jusuf
Kalla. Akibat keberpihakkan mereka, beberapa kali Komisi Penyiaran Indonesia
(KPI) sempat melayangkan surat peringatan pemberian sanksi administratif
teguran tertulis kepada kedua stasiun televisi tersebut. Selain itu, KPI juga
memberikan rekomendasi kepada Kementerian Komunikasi dan Informatika
(Kemenkominfo) untuk melakukan evaluasi atas Izin Penyelenggaraan Penyiaran
(IPP). Diantaranya, teguran tertulis untuk Tvone dan Metro tv itu bertanda No.
1225/K/KPI/05/14 yang dilayangkan pada 30 Mei 2014.
Media daring Tempo (2 Juni 2014) juga mengungkapkan pernyataan
anggota KPI Iddy Muzzayad, berdasarkan pemantauan Komisi Pemilihan Umum
(KPU) yang dilakukan pada 19-25 Mei 2014, Metro tv memberikan porsi yang
lebih banyak kepada pasangan Capres Joko Widodo dan Jusuf Kalla yang
totalnya mencapai 187 kali, angka ini jauh di atas tayangan pemberitaan
pasangan Capres Prabowo dan Hatta Radjasa yang hanya 110 kali. Sebaliknya,
Tvone dalam periode ini, menampilkan pemberitaan pasangan Capres Prabowo
dan Hatta Radjasa sebanyak 153 kali, sementara pasangan Capres Joko Widodo
dan Jusuf Kalla muncul 79 kali.
Dari kasus tersebut, rasanya tidak berlebihan jika kita menyimpulkan
bahwa media massa, khususnya di Indonesia secara tidak langsung telah berpihak
kepada kepentingan tertentu. Meskipun tetap menampilkan fakta dan data dari
setiap informasi yang diberitakan, namun pemilihan porsi dan jumlah berita yang
terkesan memihak pada kepentingan tertentu membuat media massa sudah tidak
objektif lagi.
Sementara itu, di sisi lain kini berkembang konsep jurnalisme warga.
Secara sederhana, jurnalisme warga diartikan bahwa kegiatan jurnalistik yang
dilakukan oleh masyarkat biasa. Masyarakat ini mungkin saja awam dengan
kegiatan tersebut. Dalam beberapa kesempatan, sering pula disebut sebagai
amatir. Namun, meski demikian, kegiatan jurnalisme warga saat ini tidak bisa
dipandang sebelah mata.
222
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Ruang Lingkup
Kajian dalam penelitian ini akan difokuskan pada seberapa besar kualitas
jurnalisme warga seandainya bisa mengimbangi jurnalisme mainstream. Sesuai
dari contoh di atas, maka jurnalisme warga tidak bisa dipandang sebelah mata,
dalam beberapa hal, produk jurnalisme warga memberikan efek signifikan, tak
kalah dengan efek dari jurnalisme maintstream. Berangkat dari pemahaman
tersebut, maka muncul pertanyaan berikut:
1. Apa definisi dan konsep jurnalisme warga?
2. Apakah jurnalisme warga dapat mengimbangi jurnalisme mainstream?
Tujuan Penelitian
1. Mengetahui definisi dan konsep jurnalisme warga.
2. Mengetahui jurnalisme warga dapat mengimbangi
mainstream.
jurnalisme
Tinjauan Pustaka
Komunikasi Massa
Komunikasi massa adalah komunikasi yang menggunakan media massa,
baik cetak (surat kabar, majalah) atau elektronik (radio, televisi) yang dikelola
oleh suatu lembaga atau orang yang dilembagakan, yang ditunjukkan kepada
sejumlah besar orang yang tersebar di banyak tempat, anonim dan heterogen.
(Mulyana, 2001: 75)
Komunikasi massa adalah komunikasi melalui media massa, jelasnya
merupakan singkatan dari komunikasi media massa. Pengertian komunikasi
massa dibatasi pada penggunaan media massa, seperti surat kabar, majalah, radio,
televisi atau film. (Effendy, 2007: 20)
Konteks komunikasi massa menyasar khalayak dalam jumlah besar.
Komunikasi kepada khalayak yang luas dengan menggunakan saluran media
massa berupa surat kabar, video, cd-rom, komputer, tv, radio dan sebagainya.
Komunikasi massa juga bisa dilakukan pada media-media baru seperti, e-mail,
internet, televisi kabel digital, pesan instan (IM) dan telepon genggam. (West dan
Turner, 2008: 41)
Jurnalisme Warga
Tamburaka (2013: 244) Jurnalisme warga adalah aktivitas peliputan
berita yang dilakukan oleh warga dari tempat kejadian.
Hamdani (2014: 47) jurnalisme warga atau publik atau jurnalisme
partisipatif (juga dikenal dengan nama jurnalisme demokratik) adalah partisipasi
aktif warga dalam mengoleksi, melaporkan, menganalisis dan menyebarluaskan
berita dan informasi. Jurnalisme warga adalah bentuk khusus dari media warga
yang informasinya berasal dari warga itu sendiri.
D. Lasica dalam tamburaka (2013: 245) klasifikasi jurnalisme warga:
 partisipasi audiens (komentar pengguna melampirkan liputan berita
media, blog pribadi, cuplikan foto atau video yang
223
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7





ditangkap/direkam mobile cameras, atau berita lokal yang ditulis
oleh warga atau komunitas).
Berita independen dan informasi website (Consumer Reports, the
Drudge Report).
Partisipasi penuh dalam situs berita media (NowPublic, OhmyNews,
DigitalJournal.com, GroundReport).
Kolaborasi dan kontribusi terhadap situs berita media (Slashdot,
Kuro5hin, Newsvine).
Bentuk lain dari “thin media.” (mailing lists, email newsletters).
Website penyiaran pribadi (video broadcast sites such as KenRadio).
Menurut Jay Rosen dalam Tamburaka (2013: 244) bahwa jurnalisme
warga adalah
“the people formerly knowns as audience, “who” were on the
receiving end of a media system that ran one way, in a
broadcasting pattern, with high entry fees and a few firms
competing to speak very loudly while the rest of population
listened in isolation like that all.... the people formerly known as
the audience are simply the public made realer, less fictional,
more able, less predictable.
Pada dasarnya jurnalisme warga dikenal juga sebagai khalayak/audiens
sebagai bagian dari rantai berita media yang mampu menyuarakan secara jelas
aspirasinya secara sederhana. Dengan kata lain, pandangan ini menegaskan jika
khalayak tidak hanya menjadi konsumen informasi di media massa, melainkan
mereka juga mampu menjadi produsen informasi.
Hegemoni
Hegemoni berasal dari kata Yunani, hegemon yang berarti pemimpin,
konsep yang dikembangkan seorang komunis asal Italia Antonio Gramsci. Sesuai
definisinya, hegemoni merujuk pada dominasi kepemimpinan sebuah wilayah
(negara atau kota) terhadap wilayah-wilayah lain. Sesuai yang dikatakan T.J
Jackson Lears dalam jurnalnya:
Hegemony as “the spontaneous” consent given by the great
masses of the population to the general direction imposed on
social life by the dominant fundamental group; this consent is
“historically” caused by the prestige (and concequent
confidence) which the dominant group enjoys because of it’s
position and function in the world of production (Lears, 200: 568)
Gramsci dikembangkan atas dasar dekonstruksi terhadap konsep-konsep
Marxis ortodoks. Secara umum, hegemoni adalah sebuah dominasi kekuasaan
suatu kelas sosial terhadap kelas sosial lainnya.
Pada perkembangannya, konsep hegemoni diartikan menjadi dua
pengertian. Versi pertama menurut Marxis Ortodoks yang beranggapan bahwa
224
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
kebudayaan manusia semata-mata cerminan dari dasar ekonomi masyarakat.
Sementara, Gramsci fokus pada upaya untuk mengadakan perubahan sosial
secara radikal dan revolusioner, yang mengandung isu-isu kultural seperto
pluralisme, multikultural dan budaya marginal.
Teori Konstruksi Sosial
The Sosial Construction of Reality. A Treatise in the Sociological of
Knowledge adalah istilah kontruksi sosial atas realitas yang menjadi terkenal
sejak diperkenalkan oleh Peter L. Berger dan Thomas Luckmann (1966:75)
dalam menggambarkan proses sosial individu, yang melalui tindakan dan
interaksinya menciptakan secara terus menerus suatu realitas yang dimiliki dan
dialami bersama secara subjektif.
Realitas sosial dijelaskan dengan memisahkan pemahaman akan
“kenyataan” dan “pengetahuan”. Realitas diartikan sebagai kualitas yang
terdapat dalam realitas-realitas yang diakui memiliki keberadaan “being” yang
tidak tergantung kepada kehendak kita sendiri. Sedangkan “pengetahuan”
didefinisikan sebagai kepastian bahwa realitas-realitas itu nyata dan memiliki
karakteristik yang spesifik. (Berger & Luckmann, 1990:1)
Realitas sosial yang dimaksud oleh Berger dan Luckmann terdiri dari
realitas objektif, realitas simbolik dan realitas subjektif. Realitas objektif adalah
realitas yang terbentuk dari pengalaman di dunia objektif yang berada di luar diri
individu, dan realitas ini dianggap sebagai kenyataan. Realitas simbolik
merupakan ekspresi simbolik dari realitas objektif dalam berbagai bentuk.
Sedangkan realitas subjektif adalah realitas yang terbetuk sebagai proses
penyerapan kembali realitas objektif dan simbolik ke dalam individu melalui
proses internalisasi.
Hasil Temuan dan Diskusi
Seperti pagi-pagi sebelumnya, Asep selalu bangun pukul lima.
Mengambil air wudhu, shalat, mandi, sarapan lalu bergegas menuju kantor.
Kantor tempat ia bekerja hanya berjarak 800 meter saja, oleh sebab itu, Asep
selalu berjalan kaki dari rumahnya. Pagi ini tidak seperti biasanya, baru berjalan
200 meter, ketika ia melewati persimpangan di ujung jalan, orang sudah ramai
mengerubuti salah satu pabrik pembuatan petasan yang meledak dan terbakar
sejak dini hari.
Di sela-sela keramaian kebakaran itu, Asep malah mengeluarkan telepon
pintarnya, lalu mengaktifkan fitur kamera yang ada di dalamnya. Ia mulai
berkeliling, mengambil gambar dari segala sudut. Orang-orang yang saling bantu
mengestafetkan air, petugas pemadam kebakaran, korban yang dievakuasi dan
tentu saja bangunan yang terbakar lengkap dengan api yang membelalak tak luput
dari sorotan kamera. Selepas mengambil gambar, ia lalu bertanya pada orang
sekitar termasuk ketua RT dan kepala pemadam yang bertugas di situ, Asep
bertanya mengenai kapan tepatnya kebakaran terjadi, bagaimana awalnya, siapa
pemilik pabrik, berapa kerugian yang ditaksir, berapa korban yang jatuh dan lain-
225
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
lain. Selepas itu, ia langsung melanjutkan perjalanan lagi menuju kantornya.
Setiba di kantor, karena jadwal masuk masih lama, Asep mengotakngatik telepon pintarnya. Ia ternyata tengah mengolah data video kebakaran yang
sudah ia ambil, lengkap dengan narasi mengenai penjelasan kebakarannya.
Setelah itu, ia mengirimkan ke jejaring media sosial dan ke media massa yang
mengakomodasi konten-konten pemberitaan yang bersumber dari masyarakat.
Penggalan kisah tersebut, saat ini mulai menjadi aktivitas yang biasa.
Tidak hanya informasi sebuah peristiwa, orang-orang juga bisa menuangkan ide
atau gagasan ke dalam tulisan, foto, video dan bentuk media lainnya, lalu
berupaya untuk mengunggah ide tersebut ke semua media yang mengakomodasi
fitur unggah. Bisa blog, twitter, facebook, youtube, instagram, path, atau bahkan
media massa terkemuka. Kegiatan ini lazim disebut jurnalisme warga atau citizen
journalism.
Seiring dengan perkembangan teknologi, jurnalisme warga juga turut
berkembang. Kemunculan teknologi yang memudahkan manusia untuk merekam
dan menyebarkan informasi memengaruhi minat warga pada kegiatan jurnalistik.
Misalnya, perkembangan konsol telepon genggam yang kini sudah bisa
mengakomodasi aktivitas komunikasi. Manusia dengan sangat mudah bisa
merekam semua aktivitas, salah satunya merekam kegiatan perjalanan liburan.
Kegiatan mereka saat di candi Borobudur misalnya, dari kegiatan tersebut,
mereka bisa bercerita mengenai keunikan dan sejarah berdirinya candi. Setelah
merekam, mereka bisa langsung mengunggah materi tersebut ke situs-situs media
sosial yang sudah terafiliasi dengan konsol telepon pintar mereka. Atau untuk
beberapa orang, ada yang mengirimkan materi tersebut ke beberapa media massa
yang menerima kontribusi konten dari masyarakat. Dengan demikian, masyarakat
lain dapat menyaksikan dan mengetahui informasi mengenai candi Borobudur.
Di Indonesia, menurut Suparyo (2008) dalam Hamdani (2014: 12)
dijelaskan bahwa jurnalisme warga sangat dipengaruhi oleh kegiatan radio siaran.
Pada tahun 1983, radio Surabaya memiliki program siaran informasi lalu lintas.
Program tersebut berkembang menjadi konsep interaktif, konsep ini mengubah
cara kerja radio yang awalnya satu arah (dari radio ke pendengar) menjadi dua
arah atau interaktif (memberikan kesempatan pendengar untuk aktif memberikan
informasi dan menyampaikan pendapat).
Dalam ranah komunikasi, secara sederhana jurnalisme warga adalah
kegiatan jurnalistik yang dilakukan oleh warga. Warga yang tadinya bersikap
hanya menerima atau memperoleh informasi dari media massa, kini mereka
menjadi pihak yang memberikan informasi. Dengan kata lain, warga yang
tadinya hanya menjadi komunikan, kini mereka juga berperan sebagai
komunikator.
Gambar 1: Bagan Komunikasi Pada Jurnalisme Warga
Komunikator
226
Komunikan
Komunikan
Komunikan
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Konstruksi Kegiatan Jurnalisme warga
Berdasarkan ilustrasi di atas, kegiatan jurnalisme warga bisa
dikategorikan menjadi dua: yakni, jurnalisme warga yang berbasis situs media
sosial dan jurnalisme warga berbasis media massa. Keduanya mempunyai
karakter dan cara kerja yang berbeda, namun keduanya tetap mempunyai efek
yang relatif sama.
Merujuk pada Berger dan Luckmann, realitas sosial merupakan
konstruksi sosial yang diciptakan oleh pengalaman individu yang tidak
terpisahkan dengan masyarakat. Penciptaan sosial ini terbangun melalui tiga
momen dialektis yang simultan, yakni, Eksternalisasi, objektivasi dan
internalisasi.
Eksternalisasi
Eksternalisasi adalah penyesuaian diri dengan sosio-kultural sebagai
produk manusia, (society is a human product). Eksternalisasi adalah suatu
pencurahan kedirian manusia terus menerus ke dalam dunia, baik dalam aktivitas
fisis maupun mentalnya. Eksternalisasi merupakan keharusan antropologis;
keberadaan manusia tidak mungkin berlangsung dalam lingkungan interioritas
yang tertutup dan tanpa gerak. Keharusan antropologis itu berakar dalam
kelengkapan biologis manusia yang tidak stabil untuk berhadapan dengan
lingkungannya. (Berger dan Luckmann, 1990: 75)
Proses eksternalisasi dalam kegiatan jurnalisme warga ketika warga atau
masyarakat mulai melakukan pengumpulan, pengolahan dan menyebarkan
informasi yang mereka dapatkan melalui media-media yang tersedia, baik itu
media massa ataupun media sosial.
Senang berbagi menjadi motif utama masyarakat Indonesia dalam
melakukan jurnalisme warga. Kepala pengembangan bisnis dan pertumbuhan
Path Andreas Bezamat (2013) menjelaskan dalam media daring liputan6.com
bahwa Indonesia berada di posisi tiga besar pengguna jejaring sosial path.
Menurutnya, orang Indonesia senang berbagi setiap aktivitas sehari-hari yang
dilakukannya, mengunggah foto, video dan komentar cukup banyak.
Kemunculan beragamnya media memungkinkan masyarakat untuk
menyebarkan informasi membuat mereka mudah untuk melakukan jurnalisme
warga.
Objektivasi
Objektivasi adalah interaksi sosial dalam dunia intersubjektif yang
dilembagakan atau mengalami institusionalisasi, (society is an objective reality).
Semua aktivitas manusia yang terjadi dalam eksternalisasi, menurut Berger dan
Luckmann (1990:75-76), dapat mengalami proses pembiasaan (habitualisasi)
yang kemudian melembaga (institusionalisasi).
Kegiatan jurnalisme warga dilakukan secara terus-menerus dengan
frekuensi yang relatif konsisten. Artinya, pelaku-pelaku komunikasi dalam
kegiatan jurnalisme warga mengalami proses pembiasaan (habitualisasi) yang
kemudian melembaga (institusional). Seperti gemar dan rajin mengunggah
227
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
informasi dalam bentuk apapun melalui media sosial maupun media massa.
Internalisasi
Internalisasi adalah individu mengidentifikasi diri di tengah lembagalembaga sosial atau organisasi sosial di mana individu tersebut menjadi
anggotanya, (man is social product). Masyarakat dipahami sebagai kenyataan
subjektif yang terbentuk dari internalisasi. Internalisasi adalah suatu pemahaman
atau penafsiran individu secara langsung atas peristiwa objektif sebagai
pengungkapan makna. Berger dan Luckmann (1990: 87) menyatakan, dalam
internalisasi, individu mengidentifikasikan diri dengan berbagai lembaga sosial
atau organisasi sosial dimana individu menjadi anggotanya.
Proses internalisasi dalam kegiatan jurnalisme warga dapat dilihat saat
pelaku jurnalisme warga melakukan aktivitas jurnalisme. Ia merpakan individu
yang menjadi anggota dari produk sosial, yakni masyarakat. Ia mempunyai
pemaknaan tertentu terhadap dirinya sebagai bagian dari masyarakat dengan
memahami peristiwa objektif yang terjadi di sekitarnya. Umumnya, karena ia
merasa peduli dengan apa yang terjadi dengan sekitarnya maka ia harus
melakukan sesuatu, sesuatu tersebut dalam hal ini dilakukan dengan kegiatan
jurnalisme warga.
Peristiwa bencana tsunami di Aceh adalah salah satu contoh bagaimana
warga menjadi sumber informasi yang sangat utama dalam pemberitaan bencana
tersebut. Banyak sekali gambar-gambar video yang berasal dari masyarakat (juru
kamera amatir) untuk menggambarkan kedahsyatan tsunami.
Masih hangat dalam ingatan, peristiwa yang baru saja terjadi, yakni
pengeboman pos polisi dan kedai kopi yang berlokasi di pusat perbelanjaan
Sarinah di Jakarta, orang-orang yang berada di sekitar lokasi kejadian segera
mengabadikan peristiwa dan mengunggah ke media sosial dan media massa.
Dengan mengunggah konten tersebut, mereka sudah mempunyai kepedulian
terhadap peristiwa tersebut. Seolah-olah mempunyai kewajiban untuk
menginformasikannya, laiknya jurnalis profesional.
Gambar 2: Konstruksi Tindakan Pelaku Jurnalisme Warga
JW
Pelaku JW
Eksternalisasi
Adaptasi
Objektivasi
Habitualisasi
Internalisasi
Identifikasi diri
Jurnalisme warga dilakukan
masyarakat karena
mempunyai kebiasaan
senang berbagi, khususnya
informasi.
Jurnalisme warga dilakukan
secara terus-menerus dengan
frekuensi yang konsisten,
sehingga menjadi sarana
informasi alternatif selain dari
media massa mainstream
Masyarakat mempunyai
pemaknaan tertentu
terhadap dirinya yang
mempunyai kepedulian
terhadap situasi sekitarnya
sehingga ingin berbagi
228
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Jurnalisme Warga Imbangi Jurnalisme mainstream
Untuk menjelaskan bagaimana jurnalisme warga dapat mengimbangi
jurnalisme mainstream akan lebih baik jika berangkat dari membedakan antara
kedua konsep tersebut. Kusnadi dan Priono (2010: 5-6) dalam jurnalnya
mengutip penjelasan Badio (2009) mengenai perbedaan karakteristik jurnalisme
warga dengan jurnalisme mainstream.
Jurnalisme Warga
Pewarta (reporternya) adalah pembaca, khalayak
ramai, siapapun yang mempunyai informasi atas
sesuatu
2. Siapa pun dapat memberikan komentar, koreksi,
klarifikasi atas berita yang diterbitkan
3. Biasanya non-profit oriented
4. Masih didominasi oleh media-media daring
(online)
5. Memiliki
komunitas-komunitas
yang sering
melakukan gathering
6. Walaupun ada kritik, tidak ada persaingan
antarpenulis (reporter)
7. Tidak membedakan pewarta profesional atau amatir
8. Tidak ada seleksi ketat terhadap berita-beritanya
9. Ada yang dikelola secara profesional ada pula yang
dikelola secara amatir
10. Pembaca dapat langsung berinteraksi dengan
penulisnya melalui kotak komentar atau e-mail.
1.
Jurnalisme Mainstream
1. Reporternya adalah karyawan
khusus
yang digaji
dan
bekerja secara profesional
sesuai bidangnya
2. Koreksi, klarifikasi, atau pun
komentar
hanya
dapat
diberikan melalui 6 birokrasi
dan pemuatannya pun melalui
proses seleksi ketat
3. Berorientasi pada profit
4. Didominasi oleh media cetak
5. Berjalan satu arah, tidak
pernah
melibatkan
masyarakat
jika
tidak
menguntungkan
6. Selalu bersaing dengan media
lain
7. Tidak memberi kesempatan
pada reporter amatir, bahkan
membedakan
antara
wartawan biasa
dengan
senior
8. Semua beritanya diseleksi
secara ketat
9. Pengelolaannya profesional
10. Tidak ada interaksi langsung
antara
pembaca
dengan
penulis, jika ada komentar,
koreksi,
atau
klarifikasi,
semuanya
harus
melalui
meja redaktur
Tabel 1. Perbedaan Karakteristik Jurnalisme Warga dan Jurnalisme
Mainstream
Dari perbedaan tersebut, maka bisa kita bisa temukan kelebihan dan
kekurangan dari keduanya. Jurnalisme warga biasanya dikelola secara amatir,
frekuensi pengunggahan informasi terkadang tidak konsisten karena seringkali
dilandasi kehendak hati. Ditambah dengan pembubuhan identitas pembuat atau
pengunggah yang samar bahkan anonim. Perbuatan seperti ini membuat
informasi dari pelaku jurnalisme warga kerap diragukan kebenarannya dan tidak
dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam mengunggah informasi, seorang pelaku jurnalisme warga jarang
229
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
memberikan seleksi terhadap fakta dan data yang dihasilkan di lapangan.
Informasi ditampilkan apa adanya, tanpa memikirkan dampak yang akan terjadi
dari masyarakat yang membaca atau melihat informasi tersebut secara utuh.
Misalnya ketika di lapangan, seorang jurnalis warga memotret korban
pengeboman yang tubuh dan darahnya bercecer. Tanpa pikir panjang ia langsung
mengunggah foto tersebut, foto yang polos tanpa dibubuhi efek mozaik atau blur.
Di sisi lain, pemberian informasi yang utuh tanpa sensor sesungguhnya
memberikan alternatif atau pilihan pada masyarakat untuk mencerna informasi
tersebut. Oleh sebab itu, jurnalisme warga juga bisa melatih masyarakat untuk
cerdas memilih informasi yang tepat mengenai sebuah pemberitaan.
Karakteristik jurnalisme warga yang hampir tidak berorientasi pada profit
atau keuntungan, membuat jurnalis-jurnalis warga tidak mudah digiring untuk
menambah, mengurangi atau membelokkan informasi sehingga bisa
menguntungkan pihak-pihak tertentu.
Komunikasi antara pelaku jurnalisme warga dengan masyarakat yang
membaca produk jurnalistiknya biasanya lebih interaktif ketimbang di jurnalisme
maintream. Pembaca bisa dengan mudah memberikan kritik terhadap informasi
dari jurnalis warga melalui fasilitas komentar di masing-masing situs. Artinya,
melalui jurnalisme warga, masyarakat dapat menambah pemahaman mengenai
bagaimana cara menampilkan informasi secara baik dan benar. Karena baik
pelaku jurnalisme warga maupun pembacanya mendiskusikan baik dan buruk
dari informasi yang diunggah tersebut. Selain itu, konsep ini melatih masyarakat
untuk lebih peka terhadap proses pengolahan informasi menjadi berita. Mereka
menjadi tahu mengenai berita yang digemari dan berita yang tidak digemari, serta
berita yang menyebabkan konflik atau tidak. Dengan demikian, baik jurnalis
warga maupun pembacanya dapat menggunakan media sebagai sarana
komunikasi dengan baik dan benar.
Media massa mainstream biasanya kurang mengindahkan berita-berita
lokal dan daerah, karena letak kantor pusatnya berada di Jakarta. Seringkali porsi
informasi dari Jakarta lebih besar ketimbang informasi-informasi dari daerah.
Berita-berita dari Jakarta dianggap sebagai isu nasional. Jurnalisme warga yang
mempunyai sistem lebih ringan memungkinkan pengangkatan isu-isu kedaerahan
menjadi ranah nasional. Misalnya, mengangkat tema-tema mengenai tempattempat yang belum tersambangi atau terakses oleh media mainstream nasional
dan lokal. Selain membuka akses daerah, melalui jurnalisme warga, pandanganpandangan masyarakat yang tinggal di luar pulau Jawa bisa lebih terdengar.
Meskipun tidak berorientasi pada profit, Jurnalisme warga sangat
potensial untuk menghasilkan profit. Misalnya jika berbasiskan jejaring sosial,
seorang netizen yang aktif mengunggah informasi orisinal di situs blogger atau
youtube dapat menghasilkan keuntungan. salah satunya melalui fasilitas dari
situs-situs terkait yang memungkinkan pemasangan iklan. Bisa juga dari media
massa mainstream sendiri yang membuka kesempatan untuk pelaku jurnalisme
warga menampilkan beritanya, mereka biasanya diberi kompensasi tertentu
seandainya beritanya ditampilkan, misalnya program “Citizen Journalism” yang
diusung NET TV.
230
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Potensi
Tantangan
1. Melengkapi informasi dari media 1. Pengguna dengan identitas
mainstream
samar atau anonim membuat
2. Memberikan pilihan atau alternatif bagi
kredibilitas
komunikator
khalayak media
lemah
3. Melatih masyarakat menjadi melek 2. Efek yang tidak terkontrol
media
3. Lemahnya regulasi
4. Melatih masyarakat peka terhadap 4. Kurangnya
konsistensi
informasi / peduli
frekuensi pengunggahan
5. Promosi kedaerahan
5. Pengetahuan
minim
6. Mendidik masyarakat lebih pintar
mengenai
kegiatan
7. Eksistensi
jurnalistik
8. Enterpreunership
Tabel 2: Potensi dan Tantangan Jurnalisme Warga
Simpulan
1. Jurnalisme warga adalah kegiatan mengumpulkan, mengolah dan
menyampaikan informasi melalui wilayah publik, baik secara virtual
maupun konvensional. Kegiatan ini dilakukan oleh warga yang sifatnya
awam dan amatir terhadap kegiatan tersebut.
2. Jurnalisme warga dapat mengimbangi hegemoni jurnalisme mainstream.
Ia memberikan informasi alternatif bagi masyarakat mengenai sebuah
peristiwa. Selain itu, jurnalisme warga juga melengkapi informasi yang
tidak sempat disampaikan media massa mainstream, sehingga informasi
ditampilkan secara utuh. Sifatnya yang non-profit, membuat informasi
yang ditampilkan jurnalisme warga tidak bisa digiring pihak-pihak
tertentu.
Saran
1. Jurnalisme warga pada dasarnya mempunyai manfaat yang luar biasa,
sayangnya dalam penyampaiannya seringkali disampaikan oleh
pengguna yang samar atau anonim, sehingga kredibilitasnya diragukan.
Oleh sebab itu, sebaiknya pelaku jurnalisme warga wajib menggunakan
identitas asli.
2. Pemerintah membuat regulasi yang bisa mengatur dan melindungi pelaku
jurnalisme warga dalam bentuk undang-undang dan kode etik seperti
pada jurnalisme mainstream.
3. Pemerintah dan jurnalis profesional bisa lebih mendidik masyarakat
untuk lebih melek media, misalnya cara berbahasa di wilayah publik,
mengetahui cara memilih informasi yang tepat untuk diunggah dan
mengetahui etika jurnalistik sehingga mereka cerdas dalam menggunakan
media di wilayah publik.
231
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Daftar Pustaka
Berger, Peter L. and Thomas Luckmann. (1966). The social of Reality: A Treatise
in the Sociology of Knowledge. Garden City, NY: doubleday. Diterjemahkan
oleh Basari, Hasan., 1990. Tafsir sosial atas Kenyataan: Sebuah Risalah
tentang Sosiologi Pengetahuan. Jakarta LP3ES
DeVito, Joseph A. (1997). Komunikasi Antarmanusia Kuliah Dasar. Terjemahan
Agus Maulana. Jakarta. Professional books.
Effendy, Onong Uchajana. (2007). Ilmu Komunikasi, Teori dan Praktek. PT
Remaja Rosda Karya. Bandung.
Hamdani, Firmansyah S. (2014). Panduan Jurnalisme Warga untuk Mendorong
Peningkatan Pelayanan Publik. USAID-Jakarta
Mufid, Muhammad. (2009). Etika dan Filsafat Komunikasi. Kencana Prenada
Media Group, Jakarta
Mulyana, Deddy. (2001). Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. PT. Remaja Rosda
Karya. Bandung.
Subiakto, Henry dan Rachmah Ida. (2014). Komunikasi Politik, Media dan
Demokrasi. Kencana Prenadamedia Group, Jakarta
Tamburaka, Apriadi. (2013). Literasi Media Cara Cerdas Bermedia Khalayak
Media Massa. PT Raja Grafindo Persada Jakarta
West, Richard dan Lynn H. Turner. (2008). Pengantar Teori Komunikasi,
Analisis dan Aplikasi. Salemba Humanika. Jakarta.
Sumber lain
Hidayat, Dedy N. Konstruksi Sosial Industri Penyiaran : Kerangka Teori
Mengamati Pertarungan di Sektor Penyiaran, Makalah dalam diskusi “UU
Penyiaran, KPI dan Kebebasan Pers, 8 Desember 2015
Kusnadi dan M. Priono. (2010). Citizen Journalism Indonesia: Suatu Wujud dari
Demokratisasi di Indonesia. E-Jurnal dalam www.pustaka.ut.ac.id (15
Januari 2016)
Lears, T.J. Jackson. 2000. The Concept of Cultural Hegemony: Problems and
Possibilities, 6 Januari 2016
Undang-undang nomor 32 tahun 2002 tentang penyiaran
Undang-undang nomor 40 tahun 1999 tentang pers
http://nasional.tempo.co/read/news/2014/06/25/078588020/dekan-unpad-tak-adamedia-massa-yang-netral (diakses 22 Desember 2015)
http://www.merdeka.com/peristiwa/terkait-berita-pilpres-kpi-ancam-cabut-izintvone-dan-metrotv.html (diakses 22 Desember 2015)
http://tekno.liputan6.com/read/649283/alasan-path-jadi-favorit-orang-indonesiasuka-berbagi (diakses 16 Januari 2016)
http://www.kpi.go.id/index.php/lihat-terkini/38-dalam-negeri/32106pemberitaan-tidak-netral-kpi-pusat-tegur-metro-tv-dan-tv-one (diakses 23
Desember 2015)
http://www.tempo.co/read/news/2014/06/02/269581863/memihak-capres-kpitegur-lima-stasiun-tv (diakses 23 Desember 2015)
232
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
http://www.cnnindonesia.com/teknologi/20151218100935-185-99057/laranggojek-kebijakan-menhub-jonan-jadi-guyonan/ (diakses 31 Desember 2015)
http://www.antaranews.com/berita/535822/jokowi-akan-panggil-menhub-terkaitpelarangan-gojek (diakses 31 des 2015)
Biografi Penulis
Feri Ferdinan Alamsyah, dilahirkan 24 Mei 1982 di Cililin, Kabupaten
Bandung, Jawa Barat. Menyelesaikan pendidikan S2 di Universitas Padjadjaran
Bandung pada tahun 2013. S1 selesai pada tahun 2006. Saat ini aktif sebagai staf
pengajar dengan kompentensi Penyiaran di program studi Ilmu Komunikasi,
FISIP Universitas Pakuan Bogor.
233
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
APA YANG MEMUNGKINKAN JURNALISME WARGA
TERSELENGGARA? KAJIAN TERHADAP MINAT, MOTIVASI, DAN
JEJARING SOSIAL ONLINE
Devie Rahmawati
Laboratorium Vokasi Komunikasi, Universitas Indonesia
[email protected]
Abstract
Citizen journalism is a pretty interesting contemporary development of
journalism. Journalism is not done by professional journalists but by the citizens.
The question is, if it does not run with the principles of professionalism, then
what encourages ordinary citizens to write articles that are classified as citizen
journalism? Why a citizen-based journalism coverage actually have more depth
than professional journalism. By examining some of the sites were quite
successful in implementing citizen journalism, the authors wanted to show that
the reward received by the author is not limited to money. Social recognition that
is now possible with the rise of social media allows authors citizen journalism
gained prestige and privilege that encourage continued and continue to write
again.
Keywords: citizen journalism, social acknowledgement, professional journalism
Abstrak
Citizen journalism adalah perkembangan kontemporer yang cukup menarik dari
jurnalisme. Jurnalisme tidak dilakukan oleh wartawan profesional melainkan oleh
warga. Pertanyaannya, apabila tak dijalankan dengan asas-asas profesionalitas,
maka apa yang mendorong warga awam menuliskan artikel-artikel yang
tergolong sebagai citizen journalism? Mengapa sejumlah liputan jurnalisme
berbasis warga justru mempunyai kedalaman yang lebih ketimbang jurnalisme
profesional. Dengan mengkaji beberapa situs yang cukup sukses menerapkan
citizen journalism, penulis ingin memperlihatkan bahwa reward yang diterima
oleh penulis tidak sebatas uang. Pengakuan sosial yang kini dimungkinkan
dengan maraknya media sosial memungkinkan penulis citizen journalism
memperoleh prestise dan privilese yang mendorongnya untuk terus dan terus
menulis lagi.
Kata Kunci: Citizen Journalisme, pengakuan sosial, jurnalisme profesional
Pendahuluan
Citizen journalism atau jurnalisme warga merupakan satu buzzword yang
cukup marak pada masa-masa awal media daring di Indonesia. Premisnya sendiri
memang cukup menarik. Pemberitaan dari media massa tidak lagi ditentukan oleh
kantor media maupun redaksi. Warga dapat ambil andil dalam melaporkan,
menulis, serta menelaah hal-hal aktual yang terjadi di sekeliling mereka. Dalam
salah satu definisinya yang dicetuskan oleh Bowman dan Wilis (2003), ia
234
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
merupakan jurnalisme di mana ―warga memainkan peranan yang aktif dalam
proses penghimpunan, pelaporan, analisis, dan diseminasi berita serta informasi.‖
Aspek partisipasi merupakan kata kunci yang penting ditonjolkan di sini.
Jurnalisme warga, sejak awal kemunculannya sampai dengan saat ini,
mengusung banyak harapan dari para aktor. Ia dianggap sebagai satu bentuk
jurnalisme yang dapat menjadi alternatif kalau bukan tandingan dari jurnalisme
profesional. Dalam pandangan Terry Flew, terdapat tiga elemen yang
memberikan ancang-ancang untuk kemunculan jurnalisme warga. Ketiganya
antara lain penerbitan terbuka, penyuntingan kolaboratif, serta informasi yang
terdistribusi (Flew 2005). Tiga elemen ini dianggap tidak ada dalam jurnalisme
konvensional dan mendesak satu konsep baru, jurnalisme warga, untuk muncul.
Secara lebih gamblang, terdapat pandangan yang menekankan jurnalisme warga
memang merupakan jurnalisme alternatif (Atton 2003). Ia dapat dikatakan
demikian lantaran memberikan tantangan terhadap praktik jurnalisme yang sudah
terlembaga dan terprofesionalkan oleh media arus utama. Pengarusutamaan
media merupakan situasi yang tidak melulu dipandang sehat, pasalnya, media
arus utama mempunyai kecenderungan untuk mereproduksi berita secara
monolitik sepanjang topik bersangkutan memiliki nilai jual yang tinggi. Media
arus utama dianggap didikte oleh prinsip ekonomi.
Namun seiring bermunculannya harapan terhadap praktik jurnalisme
warga, skeptisme pun turut berkembang. Pertanyaan pun lantas muncul terhadap
premis bahwa jurnalisme berbasis partisipatif voluntaristik akan mendorong
praktik jurnalisme berkembang ke arah yang lebih baik. Satu arus di antara
berbagai arus kritik yang menghunjam jurnalisme warga mempertanyakan perihal
kualitasnya. Tom Grubisich (2005), sebagai contoh, menganggap jurnalisme
warga memiliki defisit dibandingkan jurnalisme konvensional dalam hal
kualitasnya. Hal ini wajar mengingat mereka yang bekerja untuk melakukan
pemberitaan bukan hanya tidak terlatih melainkan juga tidak menjadikannya
sebagai sumber penghidupan serta tak melewati jenjang karier di sana.
Pandangan lain datang dari David Simon yang mengkritik bahwa para hobiis tak
mungkin menggantikan jurnalis terlatih. Menurutnya, pelembagaan profesional
merupakan sesuatu yang ditujukan untuk menyediakan sumber daya manusia
yang terlatih di bidangnya, dan demikianlah halnya dengan jurnalisme
profesional dan media massa.
Kritik kedua mengkritik perihal objektivitas dari jurnalisme warga.
Jurnalisme warga dianggap cenderung subjektif dan bahkan rentan bias serta
penyimpangan-penyimpangan. Wartawan media massa lazim dilatih untuk
melakukan pengecekan seara berimbang. Dengan melakukan wawancara lebih
dari satu sumber serta memeriksa ulang wawasan yang sudah didapat, jurnalisme
konvensional mengembangkan satu metode yang dianggap reliabel sehingga
orang-orang semestinya dapat mengandalkan informasi yang terlaporkan di
dalamnya. Selain itu, nama besar media bersangkutan juga menjadi taruhan
apabila berita yang ditulis terbukti keliru; selain juga dengan adanya institusi
besar yang menaungi sang wartawan, pengkritikan maupun penggugatan terhadap
pemberitaan keliru senantiasa terbuka. Para jurnalis warga, di sisi lain, tak
235
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
memiliki institusi formal yang menaunginya dan dengan sendirinya diasumsikan
mereka tak memiliki beban untuk mempertanggungjawabkan apa yang
dilaporkannya seberat para jurnalis profesional. Di samping itu pula, dalam
praktiknya portal-portal jurnalisme warga memang lazim dipergunakan untuk
melakukan kampanye hitam maupun penyebaran kabar-kabar fitnah oleh pihakpihak anonim.
Baik dalam kritik pertama maupun kritik kedua, kita dapat menarik
benang merah, keduanya menganggap jurnalisme warga tak dapat disejajarkan
dengan jurnalisme profesional. Dua bentuk jurnalisme ini tak mungkin
disetarakan dari sisi reliabilitas serta kualitasnya. Namun, pada paper ini saya
ingin mengulas relevansi kritik-kritik tersebut dengan mengangkat beberapa
praktik yang masih masuk dalam koridor jurnalisme warga yang saat ini
berkembang. Beberapa situs berita yang hidup melalui jejaring komunitas
menunjukkan bahwa kualitas berita yang ditayangkan justru mempunyai kualitas
yang dimiliki oleh situs berita pada umumnya. Saya ingin memperlihatkan
variabel apa sajakah yang mempunyai kontribusi dalam memungkinkan
jurnalisme warga tertentu memiliki kualitas penulisan yang eksepsional. Penulis
sadar bahwa sebagian dari jurnalisme warga masih belum cukup memadai untuk
dikatakan sebagai jurnalisme yang bernas. Oleh karena itu melalui kajian ini,
saya berharap dapat menemukan aspek-aspek yang mengondisikan penulisanpenulisan voluntaristis sehingga menjadi bentuk diseminasi informasi yang dapat
dibandingkan dengan jurnalisme profesional dan bahkan melampauinya.
Gairah dan Kekomunitasan
Pada saat kita menyebut jurnalisme warga, situs yang paling pertama
terbayang mungkin tak lain portal semacam Kompasiana, Indonesiana,
jurnalisme warga Liputan 6, dan portal-portal lain yang menginduk kepada media
pada umumnya. Bayangan ini sama sekali tidak keliru. Portal-portal semacam ini
pun tak jarang menghasilkan tulisan-tulisan yang memang dapat dipuji
kualitasnya. Namun, apa yang dapat kita pelajari dari portal-portal semacam ini
adalah kualitas daripada jurnalisme warga biasanya sangat ditentukan oleh gairah
sang penulis itu sendiri. Dari beberapa penulis yang lebih menonjol ketimbang
yang lainnya, tampak bahwa kualitas tulisannya terasah karena adanya perasaan
ketidaknyamanan pada diri sang penulis sendiri alih-alih adanya mekanisme
pengawasan dari redaktur atau kurator.
Akan tetapi, satu hal yang dapat disayangkan dari situs portal yang
menginduk ke situs berita semacam demikian adalah jumlah tulisan yang tidak
dapat diandalkan jauh lebih banyak lagi. Portal-portal ini tidak membangun satu
sistem yang memungkinkan tulisan-tulisan terseleksi berdasarkan kualitasnya dan
bukan hal yang sulit untuk memahami alasannya, pasalnya, apa yang menjadi
orientasi dari portal semacam adalah jumlah anggota serta besaran lalu lintas
situsnya. Apa yang dituliskan oleh para anggota di laman mereka, alih-alih
sesuatu yang dapat dikatakan informasi yang bermanfaat untuk publik luas serta
teruji, lebih menyerupai catatan serta komentar pribadi. Upaya-upaya peliputan
tak akan ditemukan. Banyak yang berefleksi kepada pengalaman atau perasaan
236
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
pribadi untuk melakukan penulisan. Kita mungkin untuk mendapatkan tulisan
yang baik yang hasilnya dapat dibandingkan dengan apa yang disusun oleh para
jurnalis profesional papan atas. Akan tetapi, tulisan tersebut pun belum tentu
akan menjadi tulisan yang menonjol di antara tulisan-tulisan para anggota
lainnya; proses penentuan mana tulisan yang akan menonjol maupun yang tidak
biasanya ditentukan dari popularitas artikel dan artikel yang berangkat dari
informasi palsu pun, sepanjang ia memikat perhatian banyak orang, akan menjadi
artikel yang menonjol.
Dari kasus-kasus berbagai portal ini kita, memang, bisa menunjuk gairah
sang penulis untuk menulis menjadi satu variabel penentu jurnalisme berkualitas
karena ia mendorong sang penulis sendiri menjadi pengawas ketat akan
kebernasan tulisannya. Anggota yang sudah dianggap sebagai sumber informasi
otoritatif di Kompasiana akan berusaha untuk terus-menerus menjaga reputasinya
tersebut dan dengannnya ia akan tak henti-hentinya berusaha untuk menyuplai
informasi-informasi yang dapat dipercaya. Di sinilah gairah pribadi untuk
menjadi sosok yang diandalkan, diutamakan bermain. Namun, kebanyakan di
antara penulis yang ada tetap saja menulis dengan kualitas yang tak bisa
diandalkan. Informasi yang ditayangkan cenderung klise atau mengulang sumber
informasi yang sudah ada. Untuk itu, kita nampaknya perlu untuk melihat
beberapa situs lain di luar situs utama ini
Beberapa situs berita yang dapat segera menjadi contoh dari apa yang
saya ajukan adalah IndoProgress, JakartaBeat, Pabrikultur, Cinema Poetica,
Selasar, dan beberapa lainnya yang akan saya sebutkan seiring penulisan ini.
Media-media tersebut sangat bertumpu pada komunitas pembaca serta penulisnya
yang tak memperoleh bayaran sebagaimana seorang jurnalis profesional.
Keterlibatan para proponen di dalamnya didorong oleh gairah mereka terhadap
isu yang diangkat oleh media-media tersebut. Satu hal ini sama dengan hal yang
mendorong para anggota eksepsional portal seperti Kompasiana untuk terusmenerus mempublikasikan pandangannya di situs bersangkutan. Mereka yang
terlibat dan menjadi seseorang yang setara dengan jurnalis warga adalah mereka
yang merasa memiliki tanggung jawab dan berusaha menunaikannya sepenuhnya.
Kini, perkenankan saya mengulas beberapa dari antara situs yang
dianggap berhasil menjaga proses kurasinya sehingga tulisan yang bermunculan
dapat dipastikan memenuhi kaidah citra bernas. Situs IndoProgress, sebagai
misal, merupakan media alternatif yang mengajukan gagasan-gagasan kritis.
Kebanyakan tulisan yang ditampilkan di situs tersebut adalah ulassan terhadap
situasi sosial yang berkembang serta kebijakan dari sudut pandang yang kritis.
Tulisan-tulisan yang tampil bukan hanya memiliki artikulasi gagassan yang
memadai, pengutipan sumber data yang baik melainkan juga memiliki nuansa
akademik yang cukup kental. Ada satu kultur intelektual yang berkembang dalam
situs ini dan hal ini jarang akan ditemukan pada situs-situs lain mana pun.
Sementara Pabrikultur berisi ulasan-ulasan alternatif tentang berbagai hal
bertema kebudayaan. Para kontributor dari Pabrikultur adalah para jurnalis yang
ingin meluangkan waktu mereka untuk menyediakan tulisan yang memberikan
wawasan lain kepada para pembaca, dan hasilnya adalah ulasan-ulasan ekstensif
237
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
dan mendalam yang tak akan kita temukan di media tempat para wartawan
bersangkutan bekerja secara profesional. Selain itu, kita juga mendapati Jakarta
Beat. Jakarta Beat dirintis oleh peneliti dan wartawan Indonesia ketika tengah
berkuliah di Amerika Serikat. Awalnya berfokus mengulas perihal musik, Jakarta
Beat kemudian melibatkan ulasan-ulasan populer lainnya dan apa yang dapat
dengan mudah kita temukan dari ulasan-ulasannya adalah perspektif yang tajam
serta orisinil tentang apa-apa yang dikaji para penulisnya. Kemudian ada
CinemaPoetica. Situs ini merupakan satu situs yang berkonsentrasi pada ulasan
film. Film-film diulas dengan gaya telaahan lebih mudah kita temukan
padanannya di antara para pengkritik film cakap luar negeri alih-alih di antara
rubrik-rubrik ulassan film berbagai media dalam negeri. Ulasan-ulasan yang
mereka lakukan menyenangkan untuk dibaca serta jauh lebih mendalam.
Kendati terdapat beberapa penulis tetap untuk situs-situs semacam ini,
mereka tetap menerima tulisan dari pihak-pihak yang ingin mengirimkan
tulisannya. Dengan pola semacam ini—ditambah reputasi tiap situs ini yang
sudah cukup mumpuni di bidangnya—artikel yang masuk pun tidak sedikit.
Setelahnya, artikel masih akan melalui proses penyuntingan dan penulis tak
jarang masih harus melakukan revisi berarti untuk tulisannya. Masing-masing
situs dianggap sebagai sumber informasi berotoritas di antara komunitasnya.
CinemaPoetica dianggap sebagai referensi kajian film yang mumpuni
sebagaimana IndoProgress menjadi rujukan mahasiswa untuk memperoleh kajian
kritis tentang isu-isu sosial aktual di Indonesia. Ditambah dengan adanya proses
review terhadap tulisan yang ada oleh para redaktur yang disegani di bidangnya,
tulisan yang diterima masuk dalam situs-situs ini akan dianggap tulisan yang
cukup baik. Penulis pun, dengan demikian, akan menuntut diri mereka sendiri
untuk menghasilkan tulisan yang tajam, menarik, memenuhi kualifikasi.
Apa yang kita temukan di sini sebenarnya masih mengingatkan kita
dengan pola yang berkembang di antara para akademisi. Di antara para
akademisi, terdapat kultur kolegial yang cukup kental. Masing-masing akademisi
biasanya mengembangkan serta memeriksa hasil kerjanya sendiri melalui para
koleganya. Dalam praktik yang dapat disebut jurnalisme warga ini, kita
menemukan para pelapor memiliki kecenderungan untuk memantapkan kualitas
tulisannya karena ia harus menayangkannya di antara para kolega yang
dianggapnya berotoritas dalam bidang yang digelutinya.
Dengan demikian, di sini kita menjumpai uang atau penghargaan
profesional tak selalu menjadi reward atau piala paling utama untuk mendirikan
kultur menulis serta mendiseminasikan warga yang baik. Kultur ini dapat muncul
melalui reward dalam bentuk lain. Di sini, bentuk reward yang kita jumpai
berlaku sebenarnya adalah pengakuan. Pengakuan dari pihak yang dianggap
mempunyai wewenang menentukan mana tulisan yang dianggap dalam bidang
serta komunitasnya. Gairah terlibat dalam isu yang digeluti komunitas serta
komunitas itu sendiri rupanya merupakan variabel yang sangat berperan dalam
memastikan tulisan yang baik dihasilkan oleh para jurnalis warga ini.
238
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Hasil Temuan dan Diskusi
Berada dalam era media sosial, kita sebenarnya dapat dengan mudah
meraba pola yang digunakan oleh media-media warga bersangkutan untuk
merampungkan kontennya tanpa mensyaratkan sumber daya yang berlimpah.
Bahkan, sumber daya yang mereka miliki pada kenyataannya cukup minim.
Kita sadar bahwa Facebook tak pernah memproduksi kontennya sendiri.
Demikian juga halnya dengan Twitter, Path, Instagram. Semua informasi yang
berseliweran dalam situs mereka dan mengundang orang untuk terus-menerus
berkunjung serta tak henti-hentinya mendatangkan anggota baru untuk mendaftar,
kalau kita cermati secara seksama, bukanlah produk dari pihak pengelola media
sosial itu sendiri. Apa yang mereka lakukan sejauh ini hanyalah menerapkan satu
algoritma sehingga apa yang diunggah oleh para pengguna akan tertata sendiri
untuk pengguna lain dalam format yang ramah untuk mereka. Untuk
mengentalkan gambaran ini, kita dapat melihat pada fakta bahwa mereka tidak
memberikan penghargaan profesional sama sekali kepada para pengunggah
informasi bersangkutan.
Apa yang dilakukan oleh media-media sosial untuk memastikan situsnya
terus-menerus didatangi? Media-media sosial bersangkutan menyusun alogaritma
yang bergulir sendiri sehingga yang terjadi adalah otokurasi di mana konten yang
bagus akan terus-menerus tampil di laman newsfeed depan banyak orang dan
mendatangkan pengakuan dalam bentuk ―like‖ secara terus-menerus. Jumlah like
yang diperoleh, pada berbagai kasus, mendorong seseorang untuk terus menerus
mengunggah sesuatu ke jejaring media sosialnya. Mereka melakukan satu kerja
cuma-cuma yang dapat mempromosikan media sosial bersangkutan dan pada saat
yang sama dilakukan dengan kerelaan yang sangat tinggi.
Kita sebenarnya dapat menemukan pola seperti ini pada situs-situs yang
mengedepankan informasi berkualitas yang diproduksinya sendiri. Mereka
diganjar sama halnya dengan yang diberikan media sosial—dengan pengakuan
yang diorganisir dalam sistem yang dibangunnya. Melalui cara yang demikian,
rupanya, tulisan serta laporan berkualitas terbaik dapat dihasilkan dan malah pada
taraf tertentu lebih efektif ketimbang sistem yang dibangun oleh media massa.
Bagi saya, hal ini sepatutnya menjadi pembelajaran bukan hanya untuk
menumbuhkan lebih jauh jurnalisme warga di Indonesia. Ia juga dapat berguna
untuk memberi masukan terhadap jurnalisme profesional di Indonesia yang
rentan melakukan kekeliruan. Pengecekan jurnalisme profesional ini pun dapat
terbilang minim. Pada kasus pemboman di Sarinah tempo hari, misalkan, salah
satu stasiun TV memberitakan rumor yang belum bisa dikonfirmasi sama sekali
dan akhirnya terbukti keliru. Masih banyak hal yang perlu dipelajari bukan hanya
oleh jurnalisme warga melainkan oleh jurnalisme konvensional di bawah sana.
Daftar Pustaka
Atton, Chris. 2003. What is "alternative journalism"? Journalism: Theory,
Practice and Criticism 4,
239
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Bowman, S. and Willis, C. "We Media: How Audiences are Shaping the Future
of News and Information." 2003, The Media Center at the American Press
Institute.
Flew, Terry. 2005. New media: An introduction. South Melbourne, Vic. ; New
York: Oxford University Press.
Grubisich, T. "Grassroots journalism: Actual content vs. shining ideal." October
6, 2005, USC Annenberg, Online Journalism Review.
Biografi Penulis
Devie Rahmawati, Dosen Tetap Program Komunikasi Vokasi UI
ini adalah seorang praktisi komunikasi dalam bidang Public Relations (PR)
yang telah meniti karir professional selama 15 tahun (tahun 2000 – sekarang)
dengan menjadi seorang jurnalis; konsultan PR; PR di korporasi dan NGO
nasional dan global; event manager tamu-tamu internasional; pendiri portal
nasional dan lembaga riset.
240
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
CITIZEN JOURNALISM DI KORAN KONVENSIONAL
(STUDI DESKRIPTIF ISI RUBRIK CITIZEN JOURNALISM DI KORAN
TRIBUN JOGJA)
Yanti Dwi Astuti, Lukman Nusa
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
[email protected], [email protected]
Abstract
This research was motivated by the presence of citizen journalism that was
originally to be a trend in online media. Recognizing the magnitude of the
potential of citizen journalism pushed one conventional media Jogja Tribune
newspaper to collaborate with citizen journalism by giving a special page for
citizen journalists through one of the columns that are named rubric Citizen
Journalism. This becomes interesting because of the merger of two opposites is
between freedom of expression in the information by filtering information of
citizen journalism done by the manager of the Tribune newspaper Jogja. Various
citizen journalist content delivered through one of his columns that rubric Citizen
Journalism in select and published by the management section. News content that
appear on the rubric in every time of publication only 1-2 posts. In fact, in a day
of citizen journalists who sends news to Tribune managers. Then came the
question how the image contents of the section on Citizen Journalism Tribune
newspaper Jogja? This research uses descriptive qualitative method. Data
collections by observation, in-depth interviews and a literature review. The
concept of content management is divided into the planning, organizing,
implementing and monitoring. Descriptive analysis showed that the content of the
rubric Citizen Journalism presenting diverse themes with interesting and fresh
content. Then Tribune Jogja is active role in selecting and editing the contents of
text that is sent from residents. Citizen journalism in the newspaper that there is
very limited by the room and there is no interaction and debate between
journalists critical of its citizens. However, many managers do not set the theme
of the news that sent residents. In addition research findings also indicate that
the manager has made use of Jogja Tribune on citizen journalism that was
becoming a trend in society for economic interests by making use of the content
and citizen journalists to attract readers and advertisers. It can be concluded that
citizen journalism is in Jogja Tribune newspaper is covered by the industry
centered vortex profit and loss.
Keywords: Citizen journalism, Content of rubric Citizen Journalism,
Management Redaction
Abstrak
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya citizen journalism yang pada awalnya
menjadi tren di media online. Menyadari besarnya potensi jurnalisme warga
mendorong salah satu media surat kabar Jogja Tribune konvensional untuk
berkolaborasi dengan jurnalisme warga dengan memberikan halaman khusus
241
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
untuk jurnalis warga melalui salah satu kolom yang diberi nama rubrik Citizen
Journalism. Hal ini menjadi menarik karena penggabungan dua lawan adalah
antara kebebasan berekspresi dalam informasi dengan menyaring informasi dari
jurnalisme warga dilakukan oleh pengelola surat kabar Tribune Jogja. Berbagai
konten jurnalis warga yang disampaikan melalui salah satu kolom bahwa rubrik
Citizen Journalism di pilih dan diterbitkan oleh bagian manajemen. konten berita
yang muncul di rubrik di setiap saat publikasi hanya 1-2 posting. Bahkan, dalam
satu hari dari jurnalis warga yang mengirim berita ke manajer Tribune. Lalu
muncul pertanyaan bagaimana isi gambar dari bagian atas koran Citizen
Journalism Tribun Jogja? Penelitian ini menggunakan metode deskriptif
kualitatif. koleksi data dengan wawancara observasi, mendalam dan kajian
literatur. Konsep manajemen konten dibagi ke dalam perencanaan,
pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan. analisis deskriptif menunjukkan
bahwa kandungan rubrik Citizen Journalism menyajikan tema yang beragam
dengan konten yang menarik dan segar. Kemudian Tribune Jogja adalah peran
aktif dalam memilih dan mengedit isi teks yang dikirim dari warga. Citizen
journalism di koran bahwa ada sangat terbatas oleh ruang dan tidak ada interaksi
dan perdebatan antara wartawan kritis warganya. Namun, banyak manajer tidak
menetapkan tema berita yang dikirim warga. Selain temuan penelitian juga
menunjukkan bahwa manajer telah membuat penggunaan Jogja Tribune pada
jurnalisme warga yang menjadi tren di masyarakat untuk kepentingan ekonomi
dengan memanfaatkan konten dan warga wartawan untuk menarik pembaca dan
pengiklan. Dapat disimpulkan bahwa jurnalisme warga di koran Jogja Tribune
ditutupi oleh industri berpusat laba vortex rugi.
Kata Kunci: Citizen journalism, isi Citizen journalism, manajemen redaksi
Pendahuluan
Menyadari besarnya potensi yang dimiliki jurnalisme warga mendorong
salah satu media konvensional yaitu koran Tribun Jogja untuk ikut berkolaborasi
dengan jurnalisme warga dengan memberikan halaman khusus bagi jurnalis
warga lewat salah satu rubriknya yang diberi nama rubrik Citizen Journalism.
Rubrik ini lahir beriringan dengan awal terbitnya Tribun Jogja yaitu pada 11
April 2011. Rubrik ini merupakan media jurnalisme warga yang disediakan
pengelola Tribun Jogja dan menjadi icon pembeda dengan koran lokal yang ada
di Jogja lainnya. Seluruh warga boleh mengirimkan laporan berita disekitar
mereka kepada pengelola Tribun Jogja. Saat ini memang jurnalisme warga tengah
menjadi tren yang menjadi idola masyarakat di media online. Tribun Jogja
melihat kekuatan jurnalisme warga yang sebenarnya dapat memberikan berbagai
keuntungan finansial bagi industri media. Sehingga media konvensional ikut
memanfaatkan tren ini dengan menyediakan media jurnalisme warga dalam koran
mereka.
Disini koran Tribun Jogja mencoba menayangkan konten (isi) yang
dikirimkan oleh warga melalui rubrik Citizen Journalism nya. Konten yang
dimuat adalah konten yang menuliskan sesuatu yang fresh dan menarik seperti
242
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
seni budaya, entertainment, promosi hingga pengalaman-pengalaman pribadi
seseorang ketika melakukan perjalanan wisata keluar negeri. Namun sebelum
konten tersebut dimuat dalam rubrik, pengelola terlebih dahulu melakukan
penseleksian terhadap konten-konten berita tersebut. Mengingat dalam seharinya
terdapat lebih dari 3 konten yang dikirimkan oleh jurnalis warga kepada
pengelola. Sedangkan rubrik Citizen Journalism tersebut hanya menayangkan
satu atau dua konten berita jurnalis warga dalam setiap penerbitannya.
Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi kesalahan dalam pemaknaan
jurnalisme warga oleh pengelola Tribun Jogja. Karena pada dasarnya jurnalisme
warga merupakan sebuah bentuk partisipasi aktif masyarakat untuk menyuarakan
pendapat secara leluasa, interaktifitas, tidak terbatasi oleh halaman (unlimited
space), tidak ada persaingan antar penulis, dan tidak adanya penseleksian ketat
terhadap konten beritanya. Namun dalam penerapannya di koran Tribun Jogja
melalui rubrik Citizen Journalism nya, karakter dari jurnalisme warga tersebut
nyaris tidak terpenuhi dengan baik.
Realitas empiris yang telah digambarkan di atas justeru memperlihatkan
secara gamblang bagaimana industri media hanya sekedar memanfaatkan jurnalis
warga yang saat ini tengah menjadi tren dalam masyarakat namun tidak
memperhatikan prinsip-prinsip dasar yang terkandung dalam jurnalisme warga
itu sendiri. Padahal idealnya media diharapkan dapat menciptakan dan
memperluas ruang publik.
Hal ini dianggap menarik oleh penulis karena menggabungkan dua hal
yang berlawanan yaitu antara kebebasan menyampaikan informasi dalam
jurnalisme warga dengan penyaringan informasi yang dilakukan oleh pengelola
koran konvensional. Berdasarkan fenomena tersebut, pada akhirnya mendorong
peneliti untuk menggambarkan bagaimana isi dari rubrik Citizen Journalism di
koran Tribun Jogja?
Jurnalisme Warga
Terdapat beberapa istilah yang biasa digunakan untuk menunjuk pada arti
jurnalisme warga seperti grassroot journalism (jurnalisme akar rumput),
participatory journalism (jurnalisme partisipasi), civic journalism (jurnalisme
kewarganegaraan), dan public journalism (jurnalisme publik). Dua istilah terakhir
(civic journalism dan public jurnalism) adalah satu model jurnalisme yang
merupakan cikal bakal lahirnya jurnalisme warga. Dalam Jurnalisme warga,
antara produsen dan konsumen berita tidak bisa lagi diidentifikasi secara rigid
karena setiap orang dapat memerankan keduanya (Gillmor, 2004:12-15).
Shayne Bowman dan Chris Willis (2003:48), mendefinisikan jurnalisme
warga sebagai:
“…the act of citizens playing an active role in the process of collecting,
reporting, analyzing, and disseminating news and information. The intent of
this participation is to provide independent, reliable, accurate, wideranging and relevant information that a democracy requires”.
243
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Steve Outing (2005) memilah jurnalisme warga kedalam 11 kategori
seperti berikut ini:
1. Membuka ruang untuk menampung komentar publik. Pembaca bisa
bereaksi, memuji, mengkritik, atau menambahkan bahan tulisan jurnalis
profesional. Ruang ini berupa surat pembaca pada media konvensional,
dan berupa kolom komentar pada media online.
2. Menambahkan pendapat masyarakat menjadi bagian dari artikel jurnalis
profesional. Bentuk ini diadopsi oleh oleh media mainstream atau media
online berita yang tidak berbasis warga.
3. Kolaborasi antara jurnalis profesional dengan warga non jurnalis yang
dinilai memiliki kemampuan pengetahuan pada materi yang akan
dibahas. Bentuk ini dapat ditemui pada media konvensional seperti The
Spokesman-Review/APME reader panel.
4. Bloghouse, website yang mengundang pembaca untuk ikut membaca.
5. Newsroom citizen „transparency‟ blogs. Blog yang dibuat oleh organisasi
media untuk lebih transparan terhadap pola kerja media. Pada blog ini
pembaca dapat memasukkan kritikan, pujian, ataupun keluhan atas
pekerjaan media.
6. Stand alone citizen journalis site-dengan proses editing yaitu website
yang dibangun atas dasar kontribusi sepenuhnya dari komunitas, terpisah
dari media pemberitaan namun memiliki editor yang melakukan fungsi
editorial. Misalnya, Mymissourian (Columbia, Mo, student-run site).
7. Stand-alone citizen journalism site tanpa proses editing. Segala tulisan
yang dikirimkan warga tidak diedit oleh editor. Warga bebas untuk
menuliskan apa saja yang ingin mereka tuliskan. Seperti
www.DailyHeights.com.
8. Stand alone citizen journalism website dengan tambahan edisi cetak yang
didisribusikan satu kali dalam satu minggu dengan menyisipkannya pada
surat kabar harian atau majalah mingguan, atau membagikannya secara
sporadik ke rumah-rumah. Contoh, My Town (The Daily Camera,
Boulder, Colo).
9. Hybrid: Pro+Citizen Journalism. Mengkombinasikan jurnalisme warga
dengan pekerja profesional. Warga mengendalikan isi websitenya dan
memindahkannya ke edisi cetak dengan bantuan editor. Disini ada peran
para editor dalam menilai dan memilih berita yang akan diangkat ke
halaman utama. Contoh OhMyNews
10. Penggabungan antara jurnalis profesional dan jurnalis warga dalam satu
atap, seperti yang diaplikasikan pada Radio Elshinta.
11. Model Wiki, pembaca betindak sebagai editor. Siapa saja diberi
kesempatan untuk menulis artikel, serta memberi tambahan atau
komentar terhadap artikel yang terbit.
Pada penelitian ini, 11 lapisan CJ yang dikemukakan oleh Outing diatas
akan dipakai sebagai salah satu titik pedoman analisa untuk mengetahui CJ yang
menjadi obyek penelitian masuk pada area lapisan tidak.
244
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Manajemen Redaksional
Redaksi bertanggung jawab untuk membuat konten agar sesuai dengan
ideologi yang diusung oleh media. Keredaksian media massa sendiri masih
terbagi dalam beberapa jabatan khusus untuk pendelegasian tugas secara lebih
detail. Jabatan tersebut antara lain pemimpin redaksi, sekretaris redaksi, redaktur
pelaksana, redaktur, wartawan, dan koresponden (Totok Djuroto, 2002:12).
1. Karakteristik Redaksional
Redaksi ialah bagian atau sekumpulan orang dalam sebuah
organisasi perusahaan media massa (cetak, elektronik, online) yang
bertugas untuk menolak atau mengizinkan pemuatan sebuah tulisan atau
berita melalui berbagai pertimbangan, di antaranya ialah bentuk tulisan
berupa berita atau bukan, bahasa, akurasi, dan kebenaran tulisan
(Djunaedhi, 1991).
Dari definisi di atas, secara ringkas dapat disimpulkan bahwa
redaksi ialah sekumpulan orang tim atau tim kerja (team work) dalam
sebuah organisasi media massa yang bekerja sama dan bersinergi untuk
mencapai tujuan bersama yang tugas utamanya ialah mempertimbangkan
atau memilih berita mana yang layak muat dan tidak layak muat baik dari
segi bahasa, akurasi maupun kebenaran tulisan. Kesemuanya itu akan
dipertimbangkan oleh redaktur pada sebuah media, ada beberapa dasar
pertimbangan media untuk menyiarkan atau tidaknya suatu peristiwa,
diantaranya adalah pertimbangan Ideologis, Politik dan Ekonomi
(Djunaedhi, 1991).
2. Tahapan Manajemen Redaksional
Menurut Conrand C. Fink, kekuatan dan daya tarik sebuah media
cetak dimata pembaca adalah terletak pada berita dan informasi yang
disajikan (Conrad C. Fink. 1988). Sebelum disajikan, terlebih dahulu
melalui proses yang terdiri dari tahapan yang telah dipersiapkan, dan
menjadi tanggungjawab bidang redaksional beserta unsur-unsur yang
terkait di dalamnya dalam mengelola penerbitan tersebut. Tahapantahapannya adalah Perencanaan (Planning), Pengorganisasian
(Organizing), Pelaksanaan (Actuating) dan Pengawasan (Controlling).
Metodologi
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang menurut Denzin dan
Lincoln (2009:2) penelitian kualitatif memiliki ciri bahwa data yang disajikan
dalam bentuk deskripsi yang berupa teks naratif, kata-kata, ungkapan, pendapat,
gagasan yang dikumpulkan oleh peneliti dari beberapa sumber sesuai dengan
teknik atau cara pengumpulan data. Kemudian data di kelompokkan berdasarkan
kebutuhan dengan pendekatan interpretatif terhadap subjek selanjutnya dianalisis.
Penelitian menggunakan 3 teknik pengumpulan data, yaitu wawancara mendalam
(in depth interviewing) berdasarkan interview guide yang telah dipersiapkan,
observasi langsung dan pemanfaatan dokumen tertulis.
245
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Mekanisme analisis penelitian ini adalah menggambarkan isi dalam
rubrik Citizen Journalism dan menggambarkan manajemen redaksional di Koran
Tribun Jogja. Analisis tersebut akan mengarahkan pada pemaparan yang lebih
konkrit tentang pengelolaan isi rubrik Citizen Journalism koran Tribun Jogja.
Untuk melihat keunikan dari fenomena terkait pertanyaan penelitian ini, maka
pemilihan contoh kasus dilakukan dengan prosedur sebagaimana digunakan
dalam metode deskriptif dengan jenis studi kasus atau case study (2009). Analisis
dilakukan sejak data terkumpul, yaitu dengan mereduksi (memilah-milah) data,
penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Kemudian analisis data berhenti
bersamaan dengan selesainya penelitian.
Hasil Temuan dan Diskusi
Isi Rubrik Citizen Journalism dalam Koran Tribun Jogja
Menurut hasil temuan data di lapangan menunjukkan bahwa isi dalam
rubrik Citizen Journalism di Koran Tribun Jogja sepanjang edisi 2011-2013
dalam setiap harinya lebih kurang berjumlah 3-4 item yang dikirimkan oleh
warga yang kemudian dilakukan seleksi oleh pengelola redaksi rubrik ini. Isi
rubrik Citizen Journalism ini mayoritas cenderung lebih pada topik-topik ringan
seputar hiburan, traveling, gaya hidup, kuliner dan laporan kegiatan sebuah
lembaga seperti beberapa contoh tulisan dalam isi rubrik yang berjudul “Death
Valley dan Indian” ditulis oleh Bernadus Supranyoto, WNI di California, tulisan
ini masuk kategori traveling yang menceritakan kisah mengenai WNI yang
mengunjungi Death Valley (lembah kematian) di AS dengan pemandangannya
yang menarik, kemudian “Mengedukasi Pengguna Gadget” ditulis oleh Anton
Trianto, masuk dalam kategori gaya hidup, tulisan ini menceritakan maraknya
penggunaan notebook, smartphone yang membawa efek positif maupun negative.
Setelah itu isi rubrik dengan tema kuliner “Saya Kangen Berat Masakan
Indonesia” ditulis oleh Kurnia Nurul Hidayat menceritakan tentang Pengalaman
seorang pelayar rute Jepang, China dan Korea yang merindukan masakan
Indonesia. Kemudian isi rubrik yang mempromosikan lembaga bisnisnya pada
tulisan “Terobosan Bisnis Dot.Com” oleh Anggit Tut Pinilih Owner
mbakdiskon.com. Seorang pebisnis muda yang memperkenalkan cara baru bisnis
dot-com untuk mendapatkan berbagai deal menarik yaitu mbakdisko.com dengan
menawarkan diskon besar dan berbagai merchandise.
Meskipun begitu isi rubrik ini juga beberapa kali menampilkan tema
yang mengangkat tentang isu-isu ekonomi, politik, sosial, pendidikan dan agama
seperti pada tulisan “Duri Pendidikan” yang ditulis oleh Dwi Astuti Dharma
Putri, dimuat pada edisi 24 Juni 2011. Berita ini masuk kategori pendidikan
dengan tema ” Menceritakan mengenai terjalnya dunia pendidikan di Indonesia,
terbukti dengan kerap berubahnya peraturan system pendidikan oleh
pemerintah”. Isi rubrik tentang politik terdapat pada berita yang dituliskan oleh I
Gede Ery Purwaka yang berjudul “Mendidik Calon Pemimpin” tulisan ini
mengkritisi pemerintah mengenai ketidakberdayaan masyarakat sipil Indonesia
yang saat harus berhadapan langsung dengan kekuatan negara dan pasar. Pada
246
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
kategori sosial dengan tema ”Mengenai permasalahan-permasalahan yang
hinggap pada perempuan terutama relasi sosialnya dengan laki-laki” tulisan ini
mencoba untuk mengkaji permasalahan-permasalahan yang sering terjadi pada
perempuan yang belum menunjukkan trend perbaikan bahkan terkesan stagnan.
Kategori dengan tema-tema politik, ekonomi, sosial dan agama sangat jarang
muncul, pengelola Tribun lebih mengedepankan tulisan yang berisikan berita
ringan dan yang menghibur.
Nilai- nilai jurnalisme warga belumlah tampak jelas dalam rubrik ini.
Ditambah lagi jarang nya terdapat berita yang ada perdebatannya baik itu
perdebatan masalah ekonomi, sosial, hukum dan politik dalam topik beritanya
menambah kekurang optimalan nilai jurnalisme warga dalam rubrik ini. Pada
prakteknya ketiga kriteria isi berita rubrik yang bebas, terdapat perdebatan dan
terdapat ideology driven memanglah belum mencapai titik maksimal dikarenakan
beberapa aturan yang lazimnya berlaku pada media konvensional yaitu adanya
managemen redaksi dan agenda setting media yang bermain, ini semua mengikuti
kepentingan sebuah industry media yaitu kepentingan ideology, politik dan
ekonomi. Kebijakan tersebut sangatlah mempengaruhi isi dari sebuah media
cetak konvensional dalam hal ini rubrik Citizen Journalism.
Pengelolaan Isi Rubrik Citizen Journalism Koran Tribun Jogja
Pada tahap perencanaan, pengelola Tribun telah melakukan perencanaan
yang matang terhadap rubrik Citizen Journalism. Hal ini dari terlihat dari
kebijakan pengelola Tribun berkolaborasi dengan junalisme warga yang tengah
menjadi tren di masyarakat khususnya kalangan anak muda. ini sejalan dengan
target marketing Tribun yang berorientasi kepada pembaca muda. Selain itu
rencana design dan rencana penentuan tema pun sesuai dengan selera anak muda
yaitu design koran yang colourfull dan pengangkatan tema konten berita yang
menarik. Tema dalam konten berita di rubrik Citizen Journalism mayoritas
membahas mengenai entertainment, seni budaya, pariwisata dan hal-hal menarik
lainnya yang dikirimkan oleh jurnalis warga.
Pada Pengorganisasian (Organizing), pengelola Tribun telah menerapkan
posisi personal sesuai kapasitas dan fungsinya serta melakukan tugas dan peran
yang diberikan. Ini terlihat pada bidang redaksi yang berfungsi untuk
memperbaiki berita dari wartawan dan memeriksa ulang artikel-artikel serta
mengelompokkan artikel berita berdasarkan jenis-jenis topic berita, pengelola
merekrutnya melalui rekruitmen khusus. Untuk pemimpin redaksi, ada sebagian
personil yang di ambil dari grup Tribun yang sudah exist sehingga hanya transfer
tempat saja. Misalnya dari Tribun Jabar. Ini semata untuk membuat proses
penerbitan menjadi cepat karena pihak pengelola mengganggap mereka ini sudah
mengenal konsep penerbitan Koran. Sedangkan pada tahap pelaksanaan produksi
konten rubrik Citizen Journalism dalam penelitian ini, pengelola membaginya
menjadi empat tahapan yaitu meliputi Input berita, Seleksi berita, Keputusan
memilih berita dan Aplikasi nilai berita melalui persyaratan teknis yaitu hanya
mengambil konten berita yang diproduksi oleh jurnalis warga yang memiliki
unsur-unsur nilai berita sesuai standarisasi pengelola Tribun.
247
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Bentuk jurnalisme warga yang terjadi di koran Tribun ini dapat
diklasifikasikan ke dalam bentuk citizen journalism menurut Steve Outing yakni
bentuk Standalone citizen journalism site, dan Hybrid: pro + citizen journalism.
Stand-alonecitizen journalism site, adalah yang melalui proses editing.
Sumbangan laporan dari warga, biasanya tentang hal-hal yang sifatnya sangat
lokal, yang dialami langsung oleh warga. Editor berperan untuk menjaga kualitas
laporan, dan mendidik jurnalis warga tentang pemilihan topik-topik yang menarik
dan layak untuk dilaporkan. Dalam rubrik ini semua kiriman dari warga akan
melalui proses editing untuk nantinya ditayangkan. Sedangkan Hybrid: pro +
citizen journalism adalah suatu kerja organisasi media yang menggabungkan
pekerjaan jurnalis profesional dengan jurnalis warga. Disini redaksi sebagi
jurnalis professional melakukan pendampingan dari tahap produksi hingga
produksi, nantinya dalam tahap pasca produksi yakni proses editing hanya
redaksi yang mengolahnya.
Dan yang terakhir pada tahapan Pengawasan (controlling), Kegiatan
jurnalisme warga dalam program ini tidak banyak peraturan yang mengikat atau
membatasi karya warga, Koran Tribun Jogja sebagai media penyalur disini
berperan dalam menyebarkan secara luas informasi dari warga juga sebagai
kontrol terhadap liputan warga dengan bertanggung terhadap liputan tersebut.
Pengelolaan Isi Rubrik Citizen Journalism Berujung Pada Berbagai
Pemanfaatan
Berdasarkan temuan penelitian, jurnalisme warga di koran konvensional
melalui rubrik Citizen Journalism ini ternyata juga tidaklah terlepas dari
kepentingan dan pemanfaatan. Jurnalis warga disini diberdayakan oleh pengelola
untuk menjalankan roda media sementara industry media hanya membangun
perangkatnya dalam hal ini melalui rubrik Citizen Journalism. Pengelola rubrik
memiliki kepentingan tersembunyi dalam menyediakan media jurnalisme warga.
Ini masuk dalam kategori komodifikasi media yang oleh Vincent Mosco (1996)
di perkenalkan dalam tiga bentuk komodifikasi media atau pemanfaatan media
yaitu pemanfaatan isi (konten), pemanfaatan khalayak sebagai konsumen dan
pemanfaatan khalayak sebagai pekerja.
Pertama, pada pemanfaatan isi (konten) media, pengelola mengandalkan
warga dalam hal memproduksi isi dan memanfaatkannya. Isi yang tertuang di
dalam rubrik merupakan liputan-liputan yang luput oleh industry media.
Mayoritas isi dari rubrik bertemakan entertainment, pariwisata, seni dan budaya
yang menyajikan cerita-cerita menarik baik dari luar dan dalam negeri. Bahkan
dalam salah satu kasusnya menunjukkan bahwa isi di rubrik Citizen Journalism
tidak hanya di produksi dan dikirimkan oleh khalayak ke pengelola namun
pengelola mengambilnya secara langsung melalui blog di media online tanpa
permisi. Selain itu, pada perkembangannya media jurnalisme warga yang ada di
Tribun berkembang tidak hanya terdapat pada rubrik Citizen Journalism saja,
namun berkembang menjadi satu halaman penuh dengan nama i-Tribunners yang
berisi media jurnalisme dalam bentuk lain yang diberi nama rubrik facebooker
bicara dan rubrik tuit…tuit. Pada bentuk media jurnalisme warga yang baru ini
248
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
pemanfaatan isi pun tak luput terjadi, semua isinya di ambil secara langsung dari
media online Tribun dan dipublikasikan ke dalam rubrik facebooker bicara dan
rubrik tuit…tuit..
Kedua, pemanfaatan jurnalis warga sebagai konsumen, artinya media
jurnalis warga digunakan oleh industry media untuk menjual sekaligus
menjadikan rubrik Citizen Journalism sebagai sasaran pengiklan. Halaman yang
memuat media jurnalisme warga dengan tambahan beberapa rubriknya di koran
Tribun tersebut dijual kepada perusahaan maupun agensi periklanan dengan daya
tawar bahwa rubrik tersebut adalah ruang publik yang menawarkan informasi
segar dan menarik agar perusahaan dan pihak pengiklan memasang iklan di koran
mereka. Selain itu, penambahan media jurnalisme warga pada halaman Tribun
juga bertujuan untuk mendapatkan konsumen yang banyak dengan strategi
pemunculan foto diri para jurnalis warga. Dengan cara itu pengelola
memanfaatkan warga sebagai konsumen, karena warga akan senang jika foto
dirinya dimuat dalam koran dan akan membeli koran tersebut.
Ketiga, pemanfaatan warga sebagai pekerja dalam rubrik Citizen
Journalism Tribun Jogja. Disini jurnalis warga dijadikan pekerja oleh pengelola
Tribun. Jurnalis warga melakukan pengumpulan dan pelaporan berita kepada
masyarakat dengan sukarela (free labour). Padahal koran merupakan industry
media yang mencari dan menghasilkan keuntungan. Maka
dengan
memanfaatkan jurnalis warga industri media tersebut akan mendapatkan
keuntungan yang lebih besar.
Simpulan
Berdasarkan atas analisis dan pembahasan yang telah dilakukan maka,
hasil penelitian menunjukkan bahwa isi rubrik Citizen Juurnalism memiliki tema
yang beragam mulai dari tema-tema ringan hiburan, traveling, gaya hidup,
kuliner dan laporan kegiatan sebuah lembaga, tema ini memiliki frekuensi
kemunculan yang besar. Sedangkan pada tema-tema isi rubrik dengan kategori
ekonomi, sosial, pendidikan, politik, budaya dan agama sangat jarang
dimunculkan. Tribun membebaskan setiap warga untuk memproduksi berita,
namun harus mematuhi syarat-syarat yang telah ditentukan dalam rubrik. Disini
editor sangat berperan dalam rubrik Citizen Journalism. Berdasarkan hasil
penelitian ternyata rubrik ini diselimuti oleh beberapa kepentingan yaitu
kepentingan ideology, politik dan ekonomi media. Padahal pada dasarnya
jurnalisme warga itu bebas dalam hal menyampaikan informasi. Namun ketika
jurnalisme warga diterapkan dikoran konvensional keterlibatan editor (pengelola)
tidak dapat terhindarkan. Pengelola media tersebut masih memiliki kekuasaan
dalam hal menyeleksi dan menentukan konten jurnalis warga yang akan diangkat
ke dalam rubrik Citizen Journalism. Dalam pengelolaan isi rubrik Citizen
Journalism melaliu 4 tahapan yaitu tahapan perencanaan (planning),
pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (actuating) dan pengawasan
(controlling). Dengan temuan ini, maka tipologi jurnalisme warga yang ada di
rubrik Citizen Journalism koran Tribun Jogja masuk dalam tipe jurnalisme warga
249
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
bentuk Standalone citizen journalism site yang melalui proses editing, dan
Hybrid: pro + citizen journalism yaitu suatu kerja organisasi media yang
menggabungkan pekerjaan jurnalis profesional dengan jurnalis warga.
Daftar Pustaka
Bowman, Shayne dan Chris Willis. 2003. We Media. United States of America:
The Media Center at The American Press Institute.
Djuroto, Totok, 2004, Manajemen Penerbitan Pers, Bandung : PT Remaja
Rosdakarya Offset
Gillmor, Dan, 2004, We The Media: Grassroots Journalism by the People, for
the People, California: O’Reilly Media, Inc.
Kurniawan, Junaedhie, 1991, Ensiklopedi Pers Indonesia, Jakarta: PT. Gramedia
Pustaka Utama
Lincoln, & Denzin. 2009. Handbook of Qualitatif Research. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
McQuail, Denis. 2008. McQuail‟s Mass Communication Theory. (5th edt),
London: Sage publication.
Mosco, Vincent, 1996, The Political Economy of Communication, London: Sage
Publication
Smythe, Dallas W, 1997, “Communication: Blindspot of Western Marxism”,
Canadian Journal of Political and Social Theory, Vol. 1, No.3, hal. 1-27.
Djuraid N, Husnun, 2013, Optimisme masa depan media cetak, diakses 15
Januari 2014 dari http://padangekspres.co.id/?news=nberita&id=3517
Outing, Steve. 2005, 15 Juni. The 11 layers of Citizen Journalism, diakses 15
Agustus,
2013,
dari
http://www.poynter.org/content/content_view.asp?id=83126
250
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
REPRESENTASI MEDIA DALAM MENAMPILKAN MASA
LALU:STUDI MEDIA MEMORI ATAS BERITA PENYELESAIAN
KASUS-KASUS PELANGGARAN HAM
Doddy Salman
Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara
[email protected]
Abstrak
The media is the main source of recording,constructing, archiving and
disseminating public and private history in the 21st century (Garde-Hansen,
2011: 1). Media generally obsessed with topicality and focus on the latest events,
here and now. But actually at the same time the media plays a role as an agent
and a source of reminders in situations diverse society. This study investigates
how the mass media to form and cultivate the memory of the settlement of past
human rights violations. The corpus of this research is the text of the news
published by Kompas daily discourse relating to the settlement of cases of
serious human rights violations. The news text published in the reign of Joko
Widodo (inaugurated October 20, 2014) Daily Kompas chosen as a source of
news text because it is a national daily with a circulation of two million readers
through 530 thousand copies per day (http://profile.print.kompas.com/
profile/).The news text will be analyzed using critical discourse analysis (CDA)
from Fairclough. This study tries to analyze using Fokasz Nikosz and Kopper
Akosz thesis The Media and Collective Memory Places and milieus of
Remembering.
Keywords: media, memory, human rights
Abstrak
Media adalah sumber utama mencatat (recording), mengonstruksi (constructing),
menyimpan (archiving) dan menyebarluaskan (disseminating) sejarah publik
maupun pribadi pada abad 21 (Garde-Hansen,2011:1). Media umumnya terobsesi
dengan aktualitas dan fokus pada peristiwa terbaru, di sini (here) dan sekarang
(now). Namun sesungguhnya pada saat yang sama media memainkan peran
sebagai agen dan sumber pengingat dalam situasi masyarakat yang
beragam. Penelitian
ini
ingin
mengetahui
bagaimana media
massa membentuk dan mengolah memori dari penyelesaian pelanggaran HAM
masa lalu. Korpus penelitian ini adalah teks berita yang dimuat harian Kompas
yang berkaitan dengan wacana penyelesaian kasus-kasus pelanggaran hak asasi
manusia berat. Teks berita tersebut terbit dalam masa pemerintahan Joko
Widodo (dilantik 20 Oktober 2014) Harian Kompas dipilih sebagai sumber teks
berita karena merupakan harian nasional dengan dua juta pembaca melalui tiras
530 ribu eksemplar setiap harinya (http://profile.print.kompas.com/profil/). teks
berita tersebut akan dianalisi dengan menggunakan analisis wacana kritis
(Critical Discourse Analysis atau (CDA) dari Fairclough. Penelitian ini mencoba
menganalisis dengan menggunakan tesis Fokasz Nikosz dan Kopper Akosz
251
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
dalam tulisannya The Media and Collective Memory Places and Milieus of
Remembering
Kata Kunci: media, memori, HAM
Pendahuluan
Memori dalam konteks sosial menjadi tesis Maurice Halbwach dalam
karyanya On Collective Memory. Menurut Halbwach memori selalu bersifat
sosial. Memori individu (personal) selalu memiliki relasi dengan memori kolektif
(bersama) (Halbwach,1992:43).
Dalam konteks inilah upaya penyelesaian kasus-kasus HAM sebagai
kerja penting kabinet kerja Presiden Joko Widodo(Jokowi) menjadi menarik
untuk dianalisis dalam perspektif studi memori. Dalam pidato kenegaraan 14
Agustus 2015 Jokowi menginginkan agar generasi mendatang tidak memikul
beban sejarah masa lalu.( http://news.liputan6.com/read/2293713/isi-lengkappidato-kenegaraan-perdana-presiden-jokowi).
Penelitian ini ingin mengetahui bagaimana media massa membentuk dan
mengolah memori dari penyelesaian pelanggaran HAM masa lalu. Korpus
penelitian ini adalah teks berita yang dimuat harian Kompas yang berkaitan
dengan wacana penyelesaian kasus-kasus pelanggaran hak asasi manusia berat.
Teks berita tersebut terbit dalam masa pemerintahan Joko Widodo (dilantik 20
Oktober 2014) Harian Kompas dipilih sebagai sumber teks berita karena
merupakan harian nasional dengan dua juta pembaca melalui tiras 530 ribu
eksemplar setiap harinya (http://profile.print.kompas.com/profil/). Surat kabar
yang terbit pertama kali 28 Juni 1965 ini mengusung moto Amanat Hati Nurani
Rakyat. Adapun 7 judul teks berita terpilih yang akan dianalisis adalah:
Pemerintah bertekad tuntaskan kasus lama (Kompas, 22 April 2015); Langkah
nonyudisial disepakati (Kompas, 22 Mei 2015); Presiden pastikan penuntasan
kasus masa lalu (Kompas, 29 Mei 2015); Komisi Gabungan bertugas selama
setahun (Kompas, 12 Juni 2015); Sudah saling memaafkan (Kompas, 26 Juni
2015); Militer ikut komite penyelesaian pelanggaran HAM berat (Kompas, 3 Juli
2015); Komite jangan jadi arena cuci tangan (Kompas, 6 Juli 2015).
Tinjauan Pustaka
Bangsa lahir tidak dengan sendirinya, namun bermula dari komunitas
imajiner (imagined community) bersamaan dengan sejarah yang diangankan.
Modernitas merusak komunitas yang melakukan pengingatan (milleux de
memoire) dan menciptakan situs memori (lieux de memoire).Meskipun demikian
hasrat untuk mengingat tetap ada walau tradisi mengingat di masyarakat
berangsur lenyap. Situs memori merujuk pada tempat terjadinya suatu peristiwa
bersejarah (Monumen Jogja Kembali,misalnya), pemimpin kharismatis (patung
Proklamator,misalnya), perayaan nasional (maraknya bendera merah putih di
bulan Agustus,misalnya) yang memungkinkan masyarakat mengingat mitos dan
tafsir atas identitas komunitas.
252
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Di sisi lain media fokus kepada kekinian sehingga menjadi antithesis
tradisi.Meskipun demikian media memelihara keberlanjutan dan memelihara
kohesi masyarakat sebagai kendaraan mengingat di masa modern. Ada peristiwa
yang berkaitan dengan hari bersejarah, tokoh kharismatis, atau perayaan nasional
yang diliput media. Di sinilah media ambil bagian secara sadar membentuk masa
lalu dan membentuk opini masyarakat tentang masa lalu. Media bergabung dalam
etos zaman untuk mencatat dan mendokumentasikan. Di sinilah media secara
sadar terlibat dalam membentuk masa lalu dan mengingat.
Penelitian ini mencoba menganalisis dengan menggunakan tesis Fokasz
Nikosz dan Kopper Akosz dalam tulisannya The Media and Collective Memory
Places and Milieus of Remembering. Ada tiga tesis yang diajukan Fokasz Nikosz
dan Kopper Akosz saat mengaitkan antara media dengan memori kolektif.
Tesis pertama adalah: media menjaga keberlangsungan antara masa
lalu dan masa kini melalui kebaruan/keaktualitasan (topicality). Logika
operasional media berbasiskan berita dan tak ada berita. Informasi berganti
menjadi berita jika ada kebaruan. Berita hari ini menjadi bukan berita esok hari.
Proses menjadi berita sendiri beragam walau ada pola umum yang selalu sama
khususnya pada peristiwa yang sudah diagendakan/terjadual. Misalnya pada
peristiwa pemilihan umum(pemilu). Ketika jelang pemilihan umum maka berita
seputar pemilihan umum akan banyak diberitakan sementara jika pemilu usai
maka intensitas dan jumlah beritanya pun menurun. Jika dijadikan kurva maka
kemungkinan akan terjadi kurva bel (perlahan naik, ada puncak, kemudian
menurun). Ini artinya jumlah berita bertambah dan setelah puncaknya jumlahnya
turun. Jika kurva S yaitu kurya yang perlahan naik lalu mendatar setelah
puncaknya artinya jumlah berita naik dan setelah puncak berita tetap muncul
namun dengan jumlah yang sama.Inilah yang disebut ada berita berganti menjadi
tidak ada berita (news turn to no-news). Inilah yang bisa diidentifikasikan sebagai
waktu horizon (time-horizon) media.Suatu periode ketika suatu topik berita
kehilangan perhatian media
Tesis kedua adalah: media menjaga keberlangsungan antara masa
lalu dan masa kini melalui evergreen topic (topik yang selalu dicari
audiens). Selain kebaruan media juga memiliki repetisi, pengulangan. Topik
tertentu yang muncul setiap waktu tertentu, Program berita tertentu yang muncul
rutin sesuai waktu tertentu adalah ritual yang dimiliki media. Melalui ritual
tersebut media menciptakan makna dan signifikansi. Topik-topik yang selalu
diangkat oleh media walau dengan intensitas tinggi atau rendah dapat kita sebut
“evergreen” (topik yang selalu dicari audiens kapan pun).
Tesis ketiga adalah: media menjaga keberlangsungan antara masa
lalu dan masa kini dengan menampilkan sensasi. Kriteria sensasi adalah tak
terduga, istimewa, menghebohkan (shocking) atau skandal. Unsur utama kriteria
sensasi adalah emosi yang intensif. Emosi yang sensitif adalah pengalaman
kolektif yang menyatukan komunitas. Sensasi, walau sesaat, memaksa
masyarakat bersatu dan ini mirip dengan metafora Nora, mileus of memory
(millieux de memoire).
253
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Metodologi
Ke-7 teks berita akan dianalisis dengan menggunakan analisis wacana
kritis (Critical Discourse Analysis atau (CDA) dari Fairclough. Analisis wacana
kritis sendiri memiliki karakteristik tersendiri : wacana dipahami sebagai sebuah
tindakan; analisis wacana kritis mempertimbangkan konteks, situasi, peristiwa
dan kondisi; menempatkan wacana dalam konteks sosial tertentu; selalu
menyertakan elemen kekuasaan (power) dan mengungkap ideologi yang
tersebunyi dari teks tersebut (Eriyanto,2009:8-13). Penelitian ini mengasumsikan
bahwa bahasa (lisan maupun tulisan) adalah bagian tak terpisahkan dari
kehidupan sosial sehingga secara dialektikal memiliki interkoneksi dengan
elemen lain kehidupan sosial (Fairclough,2003;13).
Kerangka
kerja
(framework)
CDA
memiliki
6
langkah
(Fairclough,2003:125): Fokus pada permasalahan sosial yang memiliki aspek
semiotik, Identifikasi halangan yang dapat diselesaikan, mempertimbangkan
social order (jaringan kerja praktis) dalam konteks kebutuhan masalah,
identifikasi kemungkinan penyelesaian halangan merefleksi tahap 1-4 secara
kritis
Hasil Temuan dan Diskusi
Setiap upaya yang berkaitan dengan masa lalu itu menyakitkan, penuh
resiko dan tidak selalu sukses (Zurbuchen,2005:11). Zurbuchen memang benar.
Pemberitaan pelanggaran hak asasi manusia di masa lalu di Indonesia, walaupun
menarik, namun tidaklah mudah diungkapkan. Tujuh berita yang memuat upaya
penyelesaian pelanggaran hak asasi manusia bersinggungan dengan masa lalu.
Sebagai lembaga yang hidup dalam masyarakat, media memang tidak bisa lepas
dari pengaruh masyarakatnya. Agenda media selalu bersinggungan dengan
agenda publik. Begitu juga dengan persoalan masa lalu. Memori nasional yang
terbentuk melalui penulisan sejarah telah menciptakan sekaligus
mengkonstruksikan ideologi penguasa yang tanpa sadar menjadi bagian memori
nasional. Dengan membandingkan antara ideologisasi sejarah nasional zaman
Soekarno dan Soeharto terlihat bahwa kedua rezim berusaha menciptakan
generasi yag mengalami amnesia sejarah (Ningsih,2013:17).
Penyelesaian pelanggaran hak asasi manusia masa lalu lebih
menitikberatkan kepada hasil dari pada proses. Sebagaimana kutipan berita
berikut:
Tahap pertama adalah menelaah apakah hasil penyelidikan Komnas HAM
dapat ditindaklanjuti dengan penyidikan dan penuntutan oleh Kejaksaan
Agung. Kejagung lalu membuat gelar perkara bersama secara terbuka
untuk memilah kasus yang diselesaikan yudisial atau non-yudisial. Proses
selanjutnya merancang mekanisme penyelesaian melalui komite gabungan
pengungkap kebenaran dan rekonsiliasi dengan keputusan presiden atau
peraturan presiden.Tahap kedua, komite mulai bekerja setelah Presiden
Jokowi berpidato pada 15 Agustus 2015, dilanjutkan dengan pencarian
254
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
serta pengungkapan kebenaran, dan diakhiri pernyataan Presiden pada 10
Desember 2015.Tahap ketiga, pemerintah memulihkan dan merehabilitasi
korban pelanggaran HAM berat dan keluarganya. Presiden Jokowi akan
menyampaikan hal tersebut dalam Pidato Kenegaraan pada 16 Agustus
2016 yang menyatakan kasus pelanggaran HAM berat masa lalu sudah
diselesaikan sebaik-baiknya (Komite gabungan bertugas selama setahun,
Kompas,12 Juni 2015).
Penitikberatan kepada hasil adalah formalisme hukum sejatinya
mengabaikan rasa keadilan,khususnya para korban tindakan pelanggaran HAM
(Haryatmoko,Kompas 23 Juli 2015). Jika dikaitkan dengan tesis Fokasz Nikosz
dan Kopper Akosz saat mengaitkan antara media dengan memori kolektif maka
Kompas bertindak sebagai media yang menjaga keberlangsungan antara masa
lalu dan masa kini dengan menampilkan sensasi. Berita berjudul Militer ikut
komite Meskipun diakui pula kasus-kasus pelanggaran hak asasi manusia di
Indonesia cenderung melibatkan pihak militer.
"Pihak
militer
penting
untuk
terlibat
dalam
mengungkap
kebenaran.Akhirnya, Pak Moeldoko (Panglima TNI Jenderal Moeldoko)
hadir juga dalam rapat koordinasi ini.Pada dua rapat sebelumnya, tidak
pernah hadir. Tadi Pak Moeldoko juga sudah mulai membuka dialog
terkait penyelesaian ini," kata Ketua Komisi Nasional HAM Nur Kholis,
Kamis (2/7), di Kompleks Kejaksaan Agung, Jakarta (Kompas, 3 Juli 2015)
Melibatkan pihak militer dalam penyelesaian kasus pelanggaran hak
asasi manusia menjadikannya bersifat paradoks. Di satu sisi militer diduga
terlibat dalam pelanggaran HAM di sisi lain militer bertindak sebagai bagian dari
penyelesaian kasus yang diduga melibatkan dirinya.Kebenaran yang seharusnya
terungkap dan sejak awal diwacanakan menjadi turun harkat sekedar formalitas
hukum.
Penekanan pada formalitas hukum ditransformasikan dengan terminologi
menyelesaikan kasus pelanggaran HAM secara non yudisial.Dalih yang
disampaikan pemerintah lewat Jaksa Agung adalah sulitnya mencari saksi-saksi
kasus pelanggaran HAM masa lalu.
Jaksa Agung HM Prasetyo mengungkapkan, pengambilan keputusan untuk
menyelesaikan perkara ini dengan pendekatan nonyudisial dilandasi
kesulitan mencari bukti dan saksi. "Terutama untuk kasus-kasus yang
sudah lama, seperti kasus pada 1965," kata Prasetyo.(Kompas, 6 Juli
2015).
Terminologi penyelesaian secara non yudisial termuat secara berulang
kali dalam pemberitaan yang dimuat Kompas. Penyelesaian non yudisial merujuk
kepada penyelesaian kasus di luar pengadilan.Proses ini membuat proses
pedagogis masyarakat menghadapi narasi masa lalu terabaikan.Proses hukum
yang mengabaikan rasa keadilan berarti tidak peduli terhadap aspek pedagogis
peradilan. Menurut Haryatmoko (Kompas, 23 Juli 2015) proses penegakan
255
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
hukum bisa membantu mengusik kesadaran publik untuk becermin kadar
keterlibatan dirinya. Setiap orang diajak memeriksa nuraninya sehingga
mencegah dorongan mengulangi masa lalu yang kelam tanpa kritik. Jadi proses
hukum memiliki fungsi pedagogis bagi masyarakat agar tidak mudah terhasut
sehingga kritis terhadap penegak hukum yang sewenang-wenang
Dari tujuh berita yang dimuat Kompas maka hanya berita berjudul
Komite jangan jadi arena cuci tangan (Kompas, 6 Juli 2015) yang memuat opini
yang berpihak kepada para korban pelanggaran HAM. Berita tersebut memuat
pernyataan-pernyataan para peneliti dan aktivis hak asasi manusia yang
mengingatkan agar proses penyelesaian kasus-kasus pelanggaran HAM haruslah
dilandasi prinsip pertanggungjawaban hukum dan pemenuhan kewajiban negara
kepada korban sehingga bukan menjadi sarana lari dari tanggung jawab.
"Jangan sampai pembentukan komite ini justru menjadi ajang cuci tangan
bagi Kejaksaan Agung untuk mengambangkan proses hukum yang sudah
berjalan. Komnas HAM sudah memiliki hasil penyelidikannya, itu tidak
bisa dikesampingkan," kata peneliti Lembaga Studi dan Advokasi
Masyarakat (Elsam), Wahyudi Djafar, saat diskusi "Pelanggaran HAM
Masa Lalu: Usulan Pelembagaan untuk Penyelesaian yang
Berkeadilan",(Kompas,6 Juli 2015).
Media sejatinya bisa menjadi sarana pembelajaran masyarakat untuk
memahami masa lalu.Lewat media, masyarakat bisa belajar memahami masa
silam khususnya melawan kelupaan dan penglupaan sejarah. Agar hal terbut
terwujud masyarakat harus dibiasakan menyampaikan narasi memori yang
dimilikinya ke ruang publik (baca:media massa). Sehingga diharapkan
pemahaman publik atas dirinya makin kaya dan mendorong lahirnya identitas
bersama (Hardiman,2005:180)
Simpulan
Surat kabar Kompas dalam menampilkan berita penyelesaian kasus
HAM cenderung mengaitkan masa lalu dengan masa kini dengan menggunakan
sensasi.Pengambilan narasumber yang lebih dominan pihak pemerintah
mengindikasikan narasi penguasa menjadi pegangan uatama dalam
pemberitaan.Hal ini menyebabkan posisi korban pelanggaran HAM cenderung
termajinalkan.Jika Kompas dapat memposisikan sebagai agen memori maka
seharusnya masa lalu dan masa kini dapat tampil melalui topik yang aktual dan
topik yang selalu abadi (evergreen topic).
Daftar Pustaka
Ball, Mike et al (eds) (1999).Acts of Memory:Cultural Recal in The
Present.University Press of New England:Hanover
Budiawan (2015). Sejarah sebagai Humaniora.Penerbit Ombak:Yogyakarta
256
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Connell, I. (1980). Television news and the social contrast. In S. Hall, D.
Hobson,
A. Lowe, & P. Willis (Eds.), Culture, media, language: Working papers in
cultural
studies, 1972–1979 (pp. 139–156). London: Hutchinson.
Edy, Jill A.(2006).Troubled Past:News and the Collective Memory of Social
Unrest.Temple University Press:Pennsylvania USA
Eriyanto (2009). Analisis Wacana:Pengantar Analisis Teks Media.
Cet.VII.Penerbit LKiS:Yogyakarta.
Fairclough, Norman.( 2003).Analysing Discourse Textual Analysis for social
research.Routledge UK London.
Fentress,James and Chris Wickham (1992).Social Memory.Blackwell
Publisher:Oxford UK
Foucault,Michel (2009). Arkeologi Pengetahuan. Penerbit:IRCiSoD:Yogyakarta.
Halbwach, Maurice (1992). On Collective Memory. Lewis A.Coser (trans).The
University of Chicago Press:Chicago
Hardiman,F.Budi.(2005). Memahami Negativitas:Diskursus tentang Massa,
Teror dan Trauma.Penerbit Kompas:Jakarta
Haryatmoko,J.(2005).Reorganising Collective Memory and Creating Public
Space: Towards Cultural and Religious Transformation in Indonesia dalam
Cultural Traditions and Contemporary Chalenges in South East Asia.
Warayuth Sriwarakuel et al (Eds).The Council for Reseach in Values and
Philosophy:USA
DISCOURSE ON HUMAN RIGHTS IN THE United STATES AND CHINA,
Critical Discourse Studies, 4:1, 75-94, DOI: 10.1080/17405900601149491
McGregor, Katherine E.(2013). Memory Studies and Human Rights in Indonesia
dalam Asian Studies Review Vol.37, No.3,350-361.Routledge
Nikosz,Fokasz dan Kopper Akoz .The Media and Collective Memory Places and
Milieus of Remembering.Peripato Research Group (tanpa tahun).
Ningsih, Widya Fitria.(2013).Politik Memori dan Ideologisasi Sejarah Nasional:
Masa Soekarno dan Soeharto dalam Sejarah dan Memori: Titik Simpang dan
Titik Temu. Budiawan (ed).Penerbit Ombak:Yogyakarta.
Nora,Pierre (1989).Between Memory and History. Representations
No. 26, Special Issue: Memory and Counter-Memory (Spring, 1989), pp. 7-24
Wertsch, James ( 2004).Voices of Collective Remembering.Cambridge University
Press:Cambridge UK
Zurbuchen, Mary S.(2005).Historical Memory in Contemporary Indonesia dalam
Beginning to Remember:The Past in Indonesian Present. Mary S Zurbuchen
(ed).Singapore University Press:Singapore.
Sumber online
http://news.liputan6.com/read/2293713/isi-lengkap-pidato-kenegaraan-perdanapresiden-jokowi
https://www.hrw.org/news/2015/08/14/reconciliation-should-not-sideline-justice
257
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
KOMODIFIKASI WARTAWAN DALAM INDUSTRI MEDIA
Metha Madonna
Universitas Bhayangkara Jakarta
[email protected]
Abstract
The rapid development of the mass media to force everyone (people) get
information from various directions. This condition is used by the media to
disseminate information as possible. Even for investors who have an interest,
media tame like a horse that can be ridden anywhere at will of the owner. The
development of the use of Themedia is not only in keeping the imaging and
defend a position, more than it can for the promotion, the promotion of products
and activities that are political and other commercial. In Indonesia the
development of the mass media is influenced by several factors such as capital
owners, managers of media and political activity that is increasingly familiar
with the media. In the end the media have become an industry that has a target to
sell each sheet page, but the economic activities of the mass media are often in
conflict with the ideals of journalists which basically work is the work
ofprofessional journalists. On the other hand should be run in a
professional work, but on the other hand required to meet the wishes of the boss
in this case the owners of capital who has a big hand in determining the topics to
be discussed at every piece of newspaper pages on a daily basis. Media is an
industry that is highly commercial character, where each sheet page worth
selling, as a result of media companies should be required to be able to look for
revenue or sources of funds as much as possible in addition to selling circulation.
Including a tool or partner authorities, politicalparties, leaders, companies,
institutions and individuals for imaging facilities and promotion. The impact
occurred commodification of workers, whichinvolve journalists in fulfilling the
desires of the capital, in the form of five models: as a facilitator, adv. agencies,
newspaper vendors, lobbyists and campaign brokers (brokers)
Key Words: Media Industry, Reporter Comodification, Independence
Abstrak
Pesatnya perkembangan media massa memaksa setiap orang (individu)
mendapatkan informasi dari berbagai arah. Kondisi ini dimanfaatkan oleh media
untuk menyebarkan informasi sebaik mungkin. Bahkan bagi pemilik modal yang
mempunyai kepentingan, media layaknya seekor kuda jinak yang dapat
dikendarai kemanapun sesuka hati si pemiliknya. Perkembangan pemanfaatan
media tidak hanya dalam menjaga pencitraan dan mempertahankan suatu posisi,
lebih dari itu bisa untuk promosi jabatan, promosi produk dan kegiatan yang
bersifat politis dan komersil lainnya. Di Indonesia sendiri perkembangan media
massa dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti pemilik modal, pengelola media
dan kegiatan politik yang semakin hari semakin akrab dengan media. Pada
akhirnya media telah menjadi sebuah industri yang memiliki target untuk menjual
258
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
setiap lembar halamannya, namun kegiatan ekonomi media massa seringkali
berbenturan dengan idealisme wartawan dimana pada dasarnya pekerjaan jurnalis
merupakan pekerjaan yang profesional. Pada sisi lain harus menjalankan kerjanya
secara profesional tapi di pihak lain dituntut untuk memenuhi keinginan atasan
dalam hal ini pemilik modal yang mempunyai andil besar didalam menentukan
topik yang akan dibahas pada setiap helai halaman surat kabar di setiap harinya.
Media adalah sebuah industri yang sangat bersifat komersil, dimana setiap lembar
halamannya bernilai jual, akibatnya perusahaan media harus dituntut harus
mampu mencari pemasukan atau sumber dana sebesar-besarnya selain menjual
oplah. Termasuk menjadi alat atau mitra penguasa, partai politik, tokoh,
perusahaan, lembaga dan individu untuk sarana pencitraan dan promosi.
Dampaknya terjadi komodifikasi pekerja yaitu melibatkan wartawan dalam
memenuhi keinginan pemilik modal, dalam bentuk lima model: sebagai
fasilitator, agen iklan, penjual koran, pelobi dan calo promosi (broker).
Kata Kunci: Industri Media, Komodifikasi Wartawan, Independensi
Pendahuluan
‘Booming’ media di Tanah Air tidak lepas dari peran seorang teknokrat,
BJ Habibie dan veteran Yunus Yosfiah ketika menjabat sebagai presiden RI dan
menteri penerangan di era reformasi. Meski usia kepemimpinan Habibie tidak
lebih dari enam bulan, tapi kebijakannya yang mencabut Undang-Undang nomor
11 Tahun 1966 tentang kewajiban perubahan pers bagi pengusaha media untuk
memiliki SIUPP (Surat Izin Usaha Penerbitan Pers) nyatanya membawa dampak
besar hari ini. Bukan saja lahirnya, banyak media baru yang sebagian besar
berhaluan politik seperti Tabloid Amanat (diterbitkan DPP Partai Amanat
Nasional). Syiar (PKS), AKSI, OBOR dst. Tapi juga media cetak lainnya dengan
beragam isi dan format segera bertebaran di masyarakat sebagai kelanjutan
euforia kebebasan pers yaitu Tabloid Pop dan POWER, majalah Cosmopolitan
hingga Playboy untuk jenis majalah dewasa. Lalu media olahraga seperti majalah
Sportif, LIGA, MOBIL MOTOR, BERKUDA dll. Termasuk entertainment dan
musik seperti Dangdut, Tabloid O, Dangdut, BINTANG INDONESIA, Gossip,
ROCK, dll serta beragam media lainnya yang berupaya mengisi ceruk pasar di
negara dengan populasi rakyat terbesar ke-5 di dunia.
Booming tidak saja terjadi di arena penerbitan media cetak, tapi juga
merambah di pentas penyiaran (broadcasting). Ditambah stasiun televisi swasta
nasional bermodal besar muncul di pesawat televisi; seperti GLOBAL TV,
LATIVI (kini TV ONE), METRO TV dll. Belum lagi tambah stasiun lokal yang
didanai Pemerintah Daerah (Pemda) atau swasta seperti JAK TV, BANTEN TV,
RTV dll.
Kehadiran media cetak maupun elektronik pasca reformasi tentu saja
disambut antusias masyarakat. Selain memberi pencerahan dalam hal
pengetahuan soal politik, kesehatan, hiburan atau informasi terkini, pada sisi lain
kehadiran media baru, menggairahkan bisnis penerbitan dan penyiaran.
259
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Bahkan boleh dikatakan bukan lagi sekedar bisnis, tapi media telah
bermetamorfosis menjadi sebuah industri nasional yang padat modal dan banyak
menarik investor. Karena aktivitas bisnis maka tidak lagi terbatas pada ongkos
cetak, harga kertas izin operasional atau biaya hak siar, namun industri media
juga menyangkut iklan. Sosialisasi kebijakan dan percetakan yang ujungnya
pendapatan yang menggiurkan.
Pernyataan tersebut dipertegas kembali oleh Henry Subiakto dan Rachmah
Ida (2012:83) bahwa dalam perkembangan pers tidak lagi sekadar sebagai
institusi sosial dan politik. Pers telah menjadi lahan bisnis dan tempat orang
berusaha. Para pelaku ekonomi banyak yang mulai merambah pada sektor pers
dengan berbagai kepentingan ekonomi dan politiknya. Bahkan menurut Metha
Madonna (2013:30) dapat dibuat sebuah sintesa yaitu, 1.Narasumber
berhubungan dengan wartawan akan menghasilkan informasi atau berita.
2.Industri berhubungan dengan media akan menghasilkan iklan. 3.Partai politik
atau tokoh berhubungan dengan media akan menghasilkan pencitraan.
Demikian pesatnya perkembangan industri media nasional, apalagi
aktivitas bisnis ini tidak cuma pada jualan informasi, tapi juga produksi isi
(content). Produksi tayangan talk show, infotainment atau reality show pastinya
melibatkan sebuah Production House (PH) yang di dalamnya melibatkan pemilik
modal, pekerja seni, produksen barang seni, artis dan banyak lagi. Artinya uang
bergulir tidak saja di perusahaan media, tapi juga usaha bisnis seputar yang
teraviliasi.
Begitu juga di penerbitan media cetak, iklan adalah sumber kehidupan
utama. Divisi iklan pada sebuah media cetak juga berkaitan dengan perusahaan
periklanan (adverstising) sebagaimana PH, sebuah perusahaan adverstising juga
banyak melibatkan orang selain pemasang iklan seperti pekerja pekerja seni,
fotografer, disainer grafis dst. Ditambah iklan semi komersial yang bersifat
seperti sosialisasi dan publikasi kebijakan publik.
Pastinya butuh dana besar untuk membangun sebuah perusahaan media
yang profitable.Besarnya biaya bukan saja pada penyediaan sarana seperti
gedung, peralatan kantor dan hardware, tapi paling banyak menyedot dana adalah
operasional perusahaan seperti gaji/honorarium SDM, Upgrade teknologi,
distribusi, komunikasi serta tidak ketinggalan ongkos publikasi.
Ketersediaan dana menjadi fundamental dalam operasional sebuah
penerbitan maupun broadcasting. Karena bila terputus sekali saja terbitan atau off
siaran beberapa menit saja, artinya peluang dan pendapatan hilang! Mengapa
demikian? Bagi pemasang iklan di media cetak, jika tidak terbit sesuai jadwal
artinya tidak sesuai dengan target pasar.
Sama halnya dengan hilangnya siaran beberapa menit saja melewatkan
momentum tertentu yang disasar pemasang iklan. Setiap PH, biro adverstising
maupun perusahaan pemasang iklan telah melakukan riset, minimal melakukan
analisa awal tentang jam-jam tayang efektif atau hari-hari dimana konsumen
yang dituju diperkirakan sedang aktif menonton stasiun televisi tertentu atau
waktu baca media cetak tertentu.
260
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Begitu besarnya pengeluaran uang maka konsekuensinya perusahaan
harus menyiapkan petty cash (dana tunai) guna menjga konsistensi operasional
penerbitan atau penyiaran. Uang tunai dalam jumlah besar mutlak tersimpan di
rekening perusahaan media, bahkan kalau perlu dalam bentuk tunai yang
tersimpan di safety box!.
Selanjutnya persaingan dalam merangkul pemasangn iklan pun kian
panas. Mulai dari paket iklan, murah dengan durasi atau waktu pemuatan lebih
panjang, sampai promo gratis dan sponsorship kegiatan. Persaingan perebutan
pemasangan iklan berlangsung jor-joran, mulai dari menurunkan tarif, servis
tayang pemuatan dirancang menarik seperti lama waktu (durasi) atau frekuensi
intens. Akibatnya perusahaan media yang tak mampu bersaing akan terlempar
dari kompetisi dan ditinggalkan pemasang iklan.
Menurunnya pemasang iklan, artinya pendapatan berkurang, korelasinya
kegiatan operasional akan terhambat, mulai dari tersendatnya gaji pegawai,
tunggakan tagihan biaya produksi dan lain sebagainya. Ujungnya kondite kerja
menurun, kualitas produksi juga rendah. Padahal dalam hukum ekonomi media,
content (isi) yang bagus akan menarik perhatian pembaca, jumlah pembaca yang
banyak artinya mengundang pemasang iklan yang banyak.
Sejumlah perusahaan media telah merasakan dampak merosotnya iklan,
sebut saja seperti Jurnal Nasional, Sinar Harapan, Harian Umum Pelita mulai
mengalami penurunan oplag akibatnya terpaksa beberapa kali tidak terbit karena
minimnya dana yang masuk lewat iklan, selain memang karena pemilik modal
tak berdaya lagi mengeluarkan dana segar bagi bisnis media yang tergolong padat
modal tersebut.
Solusinya pihak manajemen/perusahaan harus mencari terobosan agar
pemasang iklan termasuk kalau perlu investor, mau menambah uangnya salah
satu kuncinya yaitu kedekatan pemilik dengan industri pemasang iklan atau
faktor hubungan kedekatan wartawan dengan narasumber menjadi alternatif
menjaring iklan.
Ruang lingkup dalam penelitian ini adalah perubahan peran dan fungsi
wartawan (komodifikasi) untuk mendukung kelancaran pencarian sumber dana
perusahaan pers baik dalam bentuk iklan, suntikan modal, donasi, pembelian
oplag dalam jumlah besar sampai dengan barter. Adapun tujuan penelitian ini
yaitu untuk mengungkapkan telah terjadinya komodifikasi pekerja pers
(wartawan) demi menunjang kerberlangsungan hidup media industri itu sendiri.
Tinjauan Pustaka
Ekonomi politik media
mengemukakan ketergantungan ideologi pada kekuatan ekonomi dan
mengarahkan perhatian penelitian pada analisis empiris terhadap struktur
pemilikan dan mekanisme kerja kekuatan pasar media. Salah satu kelemahan
pendekatan politik-ekonomi ialah unsur-unsur media yang berada dalam kontrol
politik tidak begitu mudah dijelaskan dalam pengertian mekanisme kerja pasar
bebas.
261
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Walaupun pendekatan ini memusatkan perhatian pada media sebagai
proses ekonomi yang menghasilkan komoditi (isi), pendekatan ini kemudian
melahirkan ragam pendekatan baru yang menarik, yaitu ragam pendekatan yang
menyebutkan bahwa media sebenarnya menciptakan khalayak dalam pengertian
bahwa media mengarahkan perhatian khalayak ke pemasang iklan dan
membentuk perilaku publik media sampai pada batas-batas tertentu (Smythe,
1977).
Kemudian Henry Subiakto dan Rachmah Ida (2012) bahwa dalam
perkembangan pers tidak lagi sekedar sebagai institusi sosial dan politik. Pers
telah menjadi lahan bisnis dan tempat orang berusaha. Para pelaku ekonomi
banyak yang mulai merambah sektor pers dengan berbagai kepentingan ekonomi
dan politiknya.
Institusi media harus dinilai sebagai bagian dari sistem ekonomi yang
juga bertalian erat dengan sistem politik. Kualitas pengetahuan tentang
masyarakat, yang diproduksi oleh media untuk masyarakat, sebagian besar dapat
ditentukan oleh nilai tukar pelbagai ragam isi dalam kondisi yang memaksakan
perluasan pasar dan juga ditentukan oleh kepentingan ekonomi para pemilik dan
penentu kebijakan (Garnham, 1979).
Berbagai kepentingan di atas berkaitan dengan kebutuhan untuk
memperoleh keuntungan dari hasil kerja media sebagaimana dengan keinginan
bidang usaha dalam memperoleh laba, sebagai akibat dari adanya kecenderungan
monopolistis dan proses integrasi, baik secara vertikal maupun horizontal.
Dengan demikian media tergantung pada kebijakan pemilik dan condong kian
komersil. Konsekuensi keadaan seperti itu tampak dalam wujud berkurangnya
jumlah sumber media independen, terciptanya konsentrasi pada pasar besar,
munculnya sikap masa bodoh terhadap calon khalayak pada sektor kecil.
Komodifikasi Pekerja Pers
Vincent Mosco (2009) mengatakan 'the particular form that product take
when their production is principally of transforming use values into exchange
value' yaitu proses mengubah barang dan jasa menjadi komoditas atau barang
dagangan sebagai alat untuk mendapatkan keuntungan (bagaimana mengubah
nilai guna menjadi nilai tukar).
Jadi dijelaskan bahwa proses komodifikasi erat kaitannya dengan produk,
sedangkan proses produksi erat dengan fungsi atau guna pekerjanya. Pekerja
telah menjadi komoditas dan telah dikomodifikasikan oleh pemilik modal.
Dengan demikian komodifikasi adalah sebuah bentuk komersialisasi segala
bentuk nilai dari buatan manusia.
Namun realitanya komodifikasi bukan saja atas motif pemilik modal, tapi
juga karena inisiatif pekerjanya sendiri (wartawan). Seperti halnya fenomena
kegiatan wartawan yang mencari tambahan dengan menjadi perantara acara
(broker). Tentunya keberadaan wartawan broker sepertinya cukup membantu
narasumber yang ingin melakukan publikasi tanpa biaya yang besar.
Fenomena komodifikasi pekerja pers (wartawan) bukan saja terjadi
karena faktor eksternal yaitu karena tekanan pemilik modal atau kebutuhan
262
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
perusahaan. Tapi pada sisi lain menurut Pamela J. Shoemaker dan Stephen D.
Reese dalam buku Werner J. Severin dan James W. Tankard, Jr (2011) terdapat
juga alasan secara internal yaitu dari dalam diri individu wartawan itu sendiri.
Metodologi
Berkaitan dengan penelitian ini, maka metodologi yang digunakan untuk
mengkaji dan menganalisis berbagai pertemuan menggunakan pendekatan
kualitatif. Dimana Penelitian kualitatif merupakan sebuah pendekatan yang tidak
menekankan pada angka, melainkan tetapi terfokus pada hasil pengumpulan data
di lapangan yang dilakukan melalui proses wawancara secara individu dan
intensif, investigasi, pengamatan secara mendalam maupun dokumen resmi
lainnya. Jadi tujuan dari penelitian kualitatif adalah untuk menggambarkan
realita empirik secara detail, rinci, dan mendalam di balik sebuah fenomena yang
terjadi di dunia jurnalistik.
Hasil Temuan dan Diskusi
Berdasarkan observasi dan investigasi di lapangan terdapat beberapa bentuk
komodifakasi pekerja pers (wartawan) seperti Fasilitator yaitu wartawan
berfungsi sebagai fasilitator yaitu menjadi penghubung antara perusahaan dengan
narasumber. Kemudian sebagai Agen Iklan yaitu wartawan diperbantukan untuk
mencari iklan. Wartawan sebagai Agen Koran dimana wartawan juga
diperbantukan untuk memasarkan dan menjual koran. Wartawan juga harus bisa
menjadi Pelobi yaitu wartawan digunakan sebagai pelobi dan terakhir wartawan
harus bisa menjadi calo promosi (broker).
Simpulan
Ditemukan komodifikasi wartawan di sejumlah perusahaan penerbitan
pers. Dengan demikian sepatutnya wartawan secara individu harus bisa bekerja
secara profesional dan mengedepankan independensi.
Daftar Pustaka
Buku
Haryanto, Ignatius. (2006). The New York Times: Menulis Berita Tanpa Takut
atau Memihak. Jakarta:Yayasan Obor Indonesia.
Herman, Edward.S. (2002). The Political Economy of the Mass Media. Inggris:
Pantheon.
McManus, John H. (1994). Market-Driven Journalism: Let The Citizen Beware?.
New Delhi:Sage Publications.
Mosco, Vincent. (2009). The Political Economy of Communication. Second
Edition. California:SAGE Publications India Pvt Ltd.
263
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Shoemaker, Pamela.J. & Stephen D. Reese. (1991). Mediating the Message
Theories of Influences on Mass Media Content. New York & London:
Longman Publishing Group.
Tesis
Madonna, Metha. (2013).”Independensi Wartawan Menghadapi Pemasang Iklan
(Studi Kasus: Komodifikasi Pekerja Pers di Surat Kabar TOP)”. IISIP
Jakarta.
Biografi Penulis
Metha Madonna, kelahiran Bogor 18 Agustus 1976, saat ini bertugas
sebagai Dosen di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Bhayangkara Jakarta
(UBJ) sejak 2013 dan kini juga berprofesi sebagai konsultan media dan
komunikasi di PT Merah Biru Oranye. Sebelumnya wanita keturunan Minang ini
berprofesi sebagai jurnalis di sebuah surat kabar nasional di Ibukota Jakarta
selama 13 tahun. Pengalamannya selama menjadi wartawan selain melakukan
peliputan kerap kali menjuarai berbagai lomba penulisan baik tingkat regional
maupun nasional, diantaranya pada 2006 mendapatkan Penghargaan dari Kepala
Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Bapak Margani M. Mustar untuk penulisan berita
pendidikan terbanyak. Kemudian pada 2007 Juara III Tingkat Nasional, untuk
kategori penulisan berita pendidikan dengan judul 'Memperluas Pendidikan di
Rumah Ibadah' pada saat Menteri Pendidikan Bambang Sudibyo.
Menyelesaikan program studi pasca sarjana Magister Ilmu Komunikasi
(S2) di Institut Ilmu Sosial dan Politik (IISIP) Jakarta pada 2013, dimana
sebelumnya menyelesaikan sarjana ilmu sosial (S1) di kampus yang sama 2001.
Disamping itu dirinya aktif di berbagai organisasi diantaranya di Forum
Wartawan Pendidikan (Fortadik) sebagai Bendahara, Forum Wartawan Kesra
(Forwara) sebagai Sekretaris II dan sebagai anggota di Masyarakat Penulis Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi (Mapiptek) serta masih aktif sebagai Ketua Yayasan
Cahaya Kuntum Bangsa.
Ibu dari dua putri yaitu Azzuri Raja Neesha (12 tahun) dan Laviola Putri
Azizah (8 tahun) dan suami yang bernama Ariya Hadi Paula S.Sos dan saat ini
berdomisili di Jalan Raya Lenteng Agung Jakarta Selatan. Email:
[email protected] Handphone:082122575668/021.92070991.
264
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
PERSAINGAN STASIUN TELEVISI DENGAN INTERNET UNTUK
MERAIH IKLAN
Muhammad Adi Pribadi, M. Gafar Yoedtadi, Kurniawan Hari Siswoko
Fikom Universitas Tarumanagara
[email protected], [email protected], [email protected]
Abstract
The development of technology particularly in mass media has started to change
the habit of Indonesian society in finding information and communications. They
are no longer seeking information from television, radio, newspapers or
magazine but the Internet. The social media becomes an attraction for Internet
users as they can interact one another through this media, the function of which
cannot be found in traditional media. Advertisers are aware of the shift in
society's habit in using the Internet as a medium to communicate and to seek
information and so they adapt the condition. They start marketing
communication through the Internet to help ease the people in seeing the goods
and services on offer. When advertisers start using the Internet as a tool of
communication with the public, they also begin to dump other media such as
television. For television companies, this condition is a challenge especially on
how to keep the advertisers keep putting ads. One way taken by television
companies is to integrate television with the Internet particularly in content. Such
strategy is taken to maintain the number of audience that keep looking for latest
data so that it will convince the advertisers that television remains a choice.This
research reveals the efforts by television companies in Indonesia in keeping
producers of goods and services to stay putting ads on television. The research
involves deep interviews with high officials from three private television
companies which are included in AC Nielsen’s list of top 10 television
companies.
Keywords: TV, Internet, marketing
Abstrak
Perkembangan teknologi media Massa mulai merubah prilaku masyarakat
Indonesia dalam mencari informasi dan berkomunikasi. Mereka tidak hanya
mencari informasi melalui televisi, radio, koran dan majalah tetapi internet
menjadi media yang digunakan oleh masyarakat. Media sosial menjadi daya tarik
tersendiri bagi para pengguna internet karena mereka bisa berinteraksi satu sama
lain dengan media ini, dimana fasilitas ini tidak ditemukan pada media
tradisional. Pengiklan melihat perkembangan perilaku masyarakat yang mulai
menggunakan internet sebagai media untuk berkomunikasi dan mencari
informasi sehingga para pengiklan perlu beradaptasi dengan kondisi tersebut.
Mereka mulai melakukan komunikasi pemasaran melalui internet untuk
mempermudah masyarakat dalam melihat barang dan jasa yang ditawarkan.
Disaat pengiklan mulai menggunakan internet sebagai alat komunikasi dengan
target khalayaknya, Mereka juga mulai meninggalkan media lainnya seperti
265
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
televisi. Bagi para pengelola media televisi, Kondisi ini menjadi tantangan
tersendiri bagi stasiun televisi dalam mempertahankan dan mencari pengiklan di
televisi karena iklan adalah sumber pendapatan usaha. Salah satu cara yang
dilakukan pengelola televisi adalah mengintegrasikan televisi dengan internet
untuk mengelola kontennya. Strategi ini dilakukan untuk mempertahankan
jumlah pemirsa yang selalu mencari data terkini sehingga bisa meyakinkan
pengiklan, jika televisi masih menjadi pilihan pemirsa. Penelitian ini
mengungkap upaya yang dilakukan oleh pengelola media televisi di Indonesia
dalam mempertahankan para produsen barang dan jasa untuk tetap beriklan di
Televisi. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus dengan
wawancara mendalam kepada para pejabat tinggi di tiga stasiun televisi swasta,
yang masuk dalam 10 besar stasiun televisi berdasar ukuran AC Nielsen.
Kata Kunci: TV, Internet, Marketing
Pendahuluan
Iklan masih menjadi sumber pendapatan terbesar bagi televisi saat ini
dibandingkan dengan media lainnya. Menurut Nielsen Advertising Information
Service, stasiun televisi di Indonesia masih mendapatkan pendapatan tertinggi
dari iklan dibandingkan dengan koran, majalah dan internet (Persatuan
Perusahaan Periklanan Indonesia. 2015). Hal ini menunjukkan banyak produsen
di Indonesia masih percaya menggunakan media televisi sebagai tempat yang
tepat untuk mengenalkan dan mengingatkan kembali merek dan produk mereka.
Iklan diartikan oleh Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I)
sebagai segala bentuk penyampaian pesan atas produk yang disampaikan melalui
media, dan dibiayai oleh pemrakarsa yang dikenal, untuk sebagian atau seluruh
masyarakat (P3I, 2015). Dari pemahaman ini, televisi bukan satu-satunya media
yang digunakan oleh produsen untuk menciptakan kesadaran atas keberadaan
merek dan produk tetapi terdapat media lain seperti radio, koran, majalah, media
luar ruang, internet dan masih banyak lagi sehingga produsen tidak hanya
menggunakan televisi sebagai media.
Stasiun televisi tidak hanya memperhitungkan stasiun televisi lain untuk
mendapatkan pengiklan tetapi harus memperhitungkan media lain yang
cenderung berkembang dari tahun ke tahun. Radio, majalah, dan koran tidak
menjadi masalah bagi stasiun televisi untuk bersaing meraih iklan karena
pengiklan mulai meninggalkan media-media tersebut untuk beriklan setiap
tahunnya. Namun para pengembang situs berita dan non berita menjadi ancaman
tersendiri bagi stasiun televisi untuk meraih pengiklan karena jumlah pengguna
internet di Indonesia meningkat setiap tahunnya sehingga pengiklan bisa melihat
internet sebagai media lain selain televisi untuk beriklan.
Produk yang dihasilkan melalui media internet tidak berbeda dengan
televisi. Berita, sinetron, film, hiburan, pendidikan, agama, olah raga dan masih
banyak lagi program bisa ditawarkan oleh internet. Persaingan televisi dengan
internet menjadi lebih ketat karena kemampuan internet memberikan informasi
266
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
dimana saja, informasi bersifat global, penyebaran informasi yang cepat dan
kemampuan untuk berinteraksi diantara pengguna internet.
Kemampuan internet menjadi pilihan menggiurkan bagi para pengiklan
karena daya jangkau yang luas untuk menyebarkan informasi tetapi mereka tidak
mengeluarkan biaya yang besar dibandingkan beriklan melalui televisi. Misalnya,
youtube.com telah digunakan oleh pengiklan Indonesia untuk menginformasikan
merek dan produk kepada masyarakat lokal dan global.
Tentu ini menjadi hal yang perlu diantisipasi oleh statusiun televisi
karena perkembangan internet membuat koran Washington post tidak terbit di
Amerika Serikat. Pembaca koran Washington Post yang berkurang signifikan
membuat pengiklan lebih memilih internet sebagai media tempat beriklan
dibandingkan koran tersebut. Namun begitu, Washington Post tetap menyediakan
berita dalam bentuk online
Penelitian ini ingin mengungkap upaya stasiun televisi dalam
mempertahankan keberadaanya agar tidak ditinggalkan pengiklan yang menjadi
sumber pendapatan mereka
Tinjauan Pustaka
Target Khalayak
Jumlah penduduk indonesia hingga tahun 2014 adalah 253.609.643 orang
(Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia. 2015). Indonesia yang terdiri dari
kepulauan dengan 34 provinsi membuat jumlah penduduk tidak merata di satu
daerah dibandingkan dengan daerah lainnya sehingga banyak produsen perlu
memperhitungkan daerah-daerah yang memiliki jumlah penduduk yang banyak
sebagai daerah sasaran komunikasi pemasaran. Persatuan Perusahaan Periklanan
Indonesia (2015) membuat enam pengelompokkan kota-kota yang memiliki
jumlah penduduk yang banyak, hingga tahun 2011, seperti Jakarta (9.769.000
orang), Surabaya (2.787.000), Bandung (2.429.000), Medan (2.118.000 orang),
Semarang (1.573.000 orang) dan Palembang (1.455.000 orang). Kota-kota seperti
ini menjadi daerah sasaran para pengiklan karena memiliki jumlah penduduk
yang besar.
Dari data-data ini, pengiklan bisa menentukan media apa yang bisa
digunakan untuk berkomunikasi dengan mereka. Misalnya, jika target pasarnya
adalah ke enam daerah ini maka pengiklan bisa memilih televisi dan internet
karena kedua media ini memiliki daya jangkau yang luas untuk menyebarkan
informasi. Radio dan koran bisa menjadi pilihan lain untuk beriklan karena
beberapa stasiun radio dan koran memiliki banyak cabang di daerah seperti koran
KOMPAS yang dijual tidak hanya di Jakarta tetapi dijual juga di 34 provinsi di
Indonesia.
Televisi
Perkembangan stasiun televisi di Indonesia memiliki keunikan tersendiri
dibandingkan dengan stasiun televisi dari luar negeri karena kebijakan
267
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
pemerintah Indonesia di era orde baru menyebabkan pertumbuhan stasiun televisi
berjalan lambat.
Televisi Republik Indonesia (TVRI) adalah televisi pertama di Indonesia
yang berdiri sejak tahun 1962 hingga sekarang (Persatuan Perusahaan Periklanan
Indonesia. 2005. Namun sejak berdiirnya hingga tahun 1987, TVRI menjadi satusatunya media televisi yang dikendalikan pemerintah dalam memberikan
informasi untuk pemirsa di Indonesia. Pada tahun 1988 muncul RCTI (Rajawali
Citra Televisi Indonesia). RCTI menjadi stasiun televisi swasta pertama yang ada
di Indonesia. Sejak berdirinya RCTI menjadi inspirasi bagi pengusaha lain untuk
mendirikan televisi swasta seperti Surya Citra Televisi (SCTV), Televisi
Pendidikan Indonesia (TPI), ANTV, INDOSIAR, METRO TV, TRANS TV dan
masih banyak lagi. Menurut catatan AC Nielsen, hingga juni 2014, Stasiun
televisi yang sering ditonton oleh masyarakat Indonesia adalah RCTI, SCTV,
INDOSIAR, ANTV, MNCTV, Metro TV, Trans TV, Global TV, Trans 7, TV
One, TVRI, KOMPAS TV, dan RTV (Persatuan Perusahaan Periklanan
Indonesia, 2015).
Stasiun televisi di Indonesia dibagi menjadi dua kelompok tayangang
oleh AC Nielsen yaitu tayangan berita dan tayangan bukan berita. Stasiun televisi
yang masuk dalam kategori tayangan berita diartikan bahwa televisi tersebut
lebih banyak memberikan informasi berita dibandingkan informasi yang bukan
berita sedangkan stasiun televisi yang masuk dalam tayangan bukan berita
memberikan informasi lebih banyak berisi hiburan, film, agama, olah raga dll
dibandingkan berita.
Kebiasaan pemirsa televisi di kanal Televisi bukan berita menghabiskan
waktu hingga 776 jam dalam periode Januari hingga desember 2014 sedangkan
pemirsa televisi berita menghabiskan waktu hingga 840 jam menurut AC Nielsen
(Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia. 2015). Dari data ini terlihat, lebih
banyak pemirsa Indonesia yang memilih untuk menonton di televisi – televisi
berita daripada televisi-televisi bukan berita.
Para pengiklan mempertimbangkan media yang digunakan untuk
beriklan bergantung kepada kebiasaan target pasarnya dalam mencari informasi.
Dilihat dari kebiasaan pengiklan menurut Nielsen Advertising Information
Service, televisi tetap menjadi favorit pengiklan dibandingkan dengan koran, dan
majalah selama periode tahun 2008 hingga 2014 (Persatuan Perusahaan
Periklanan Indonesia. 2015).
Dilihat dari pertumbuhan pendapatan menurut Nielsen Advertising
Information Service (Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia. 2015),
pendapatan periklanan stasiun televisi memang mengalami pertumbuhan setiap
tahunnya tetapi dilihat dari selisih pertumbuhan pendapatan dari iklan, periode
tahun 2013 - 2014 adalah yang terkecil jika dibandingkan dengan lima periode
sebelumnya. Hal yang sama terjadi pada radio, selisih pertumbuhan pendapatan
dari iklan dalam periode 2013-2014 adalah yang terkecil dibandingkan dengan
enam periode sebelumnya. Yang mengkhawatirkan adalah majalah karena mulai
periode 2012, pendapatan iklan di majalah mengalami penurunan hingga tahun
2014.
268
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Lima besar merek yang banyak mengeluarkan biaya untuk beriklan di
televisi dalam periode tahun 2013 hingga 2014, menurut Nielsen Advertising
Information Service, adalah INDOMIE mencapai Rp 914.681.180.000,
SEDAAP mencapai Rp 590.654.300.000, CLEAR ANTI KETOMBE mencapai
Rp 585.092.050.000, MASTIN mencapai Rp 585.097.990.000 dan WALL’S
PADDLE POP mencapai biaya iklan Rp 402.958.600 (Persatuan Perusahaan
Periklanan Indonesia, 2015).
Sudah menjadi suatu hal yang wajar jika pengiklan menggelontorkan
dana yang tidak sedikit untuk beriklan di televisi karena mereka menyadari
kekuatan media televisi untuk mempengaruhi pemirsanya. Banyak teori-teori
komunikasi massa menunjukkan kemampuan media televisi dan media massa
yang lainnya untuk mempengaruhi pemirsanya. Proses komunikasi massa yang
dipaparkan oleh Harold Lasswell menjadi inspirasi dalam membuat perencanaan
komunikasi massa, yang terdiri dari siapa (who), berkata apa (says what),
melalui saluran apa (in which channel ), kepada siapa (to whom), dengan efek apa
(with what effect) (Ardianto, komala, Karlinah, 2009; Bryant, Thompson,
Finklea, 2013). Teori pembelajaran sosial yang dipopulerkan oleh Albert
Bandura menunjukkan bahwa masyarakat belajar dan berprilaku seperti yang ada
di televisi (Ardianto, Komala, Karlinah, 2009). Melihat kedua teori ini,
kemampuan merencanakan pesan memang menjadi penentu dalam keberhasilan
untuk mempengaruhi target khalayak tetapi televisi memiliki kekuatan tersendiri
yang mampu mempengaruhi pemirsanya.
Internet
Internet menyediakan informasi yang sama dengan televisi tetapi
informasi yang diberikan bisa diterima kapan dan dimana saja oleh penggunanya
sehingga Internet memberikan nilai lebih dibandingkan televisi. Namun begitu,
Internet memiliki kelemahan seperti masih lemahnya tingkat akurasi informasi
dan pertanggung jawabannya kepada masyarakat sehingga masyarakat sering
dibikin khawatir oleh informasi yang belum jelas karena setiap individu memiliki
kemampuan untuk menyampaikan informasi dengan penuh tanggung jawab dan
tidak bertanggung jawab sedangkan televisi memiliki kewajiban untuk
menyampaikan informasi yang harus dipertanggung jawabkan kepada
masyarakat.
Jumlah pengguna internet mengalami peningkatan dari tahun ketahun.
Menurut Roy Morgan, Pengguna internet di Indonesia, hingga juni 2014,
berjumlah 19.766.000 orang dimana 55 persen diantaranya adalah pria dan 45
persen adalah perempuan. Pria menggunakan internet selama 13 jam dalam
sehari sedangkan perempuan bisa menghabiskan waktu selama 12 jam untuk
internet. Dari segi pendidikan terdapat enam persen masih berada di bangku
sekolah dasar, 18 persen berpendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP), 60
persen menjalani Sekolah Menengah Atas (SMA) dan 16 persen menjalani
pendidikan tinggi/universitas (Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia, 2015).
269
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Sepuluh besar kegiatan pengguna internet di Indonesia di tahun 2014,
secara berurut menurut Nielsen Consumer & media View, adalah berkaitan
dengan social networking, mencari informasi di laman, bermain, mengunduh
program, mencari berita, mencari informasi produk, layanan pendidikan, mencari
berita luar negeri, dan surat elektronik (Persatuan Perusahaan Periklanan
Indonesia. 2015)
Melihat kondisi demografi dan psikografi pengguna internet, internet
menjadi media yang perlu digunakan oleh pengiklan untuk kegiatan komunikasi
pemasaran. Internet memberi kemampuan kepada pengiklan untuk melakukan
interaksi kepada target penggunanya. Media sosial adalah sarana yang terdapat
pada internet yang dapat digunakan untuk oleh perusahaan untuk berinteraksi
dengan pelanggan. Pengiriman pesan dalam bentuk tertulis, gambar, suara dan
video bisa dilakukan dengan menggunakan sosial media. Sosial media di
kelompokkan menjadi tiga yaitu komunitas online dan forum, bloggers, dan
social network (facebook, twitter, dll) (Kotler dan Keller, 2012).
Komunitas online biasanya dibuat oleh konsumen. Melalui komunitas
online, produsen bisa memperkenalkan dan memperkuat hubungan dengan
konsumen dengan memberi dukungan informasi kepada komunitas online yang
berkaitan dengan merek produsen. misalnya komunitas merek Apple yang
diselenggarakan oleh perusahaan Apple dan masyarakat untuk menyediakan
informasi dan berdiskusi berkaitan dengan produk-produk Apple kepada target
khalayaknya yang telah menjadi anggota komunitas (Kotler dan Keller, 2012).
Blogs adalah jurnal online yang terus diperbaharui setiap waktu.
Produsen perlu membuat blogs khusus berkaitan dengan produk-produk yang
dimilikinya karena banyak konsumen yang mencari informasi tentang produk
sebelum mereka membeli. Selain itu, para konsumen dapat melihat tanggapan
dari para konsumen atas informasi yang diberikan oleh produsen sebagai bahan
pertimbangan mereka untuk membeli produk (Kotler dan Keller, 2012).
Social network banyak dimiliki oleh perusahaan – perusahaan untuk
melakukan komunikasi dengan konsumen. Pada umumnya perusahaan memiliki
facebook untuk melakukan komunikasi pemasaran dengan para konsumennya
dan twitter sebagai sarana pendukung komunikasi lainnya (Kotler dan Keller,
2012).
Berbicara mengenai efek internet terhadap konsumen dalam komunikasi
pemasaran beberapa ilmuwan sempat meragukan efektifitasnya. Larry Percy,
John R Rossiter dan Richard Elliot (2004) adalah para peneliti yang sempat
meragukan efektifitas internet dalam komunikasi pemasaran. Namun dengan
berjalannya waktu, Percy dan Elliot (2012) mengakui efektifitas komunikasi
pemasaran melalui internet.
Metodologi
Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan
pendekatan metode Studi Kasus. Wawancara mendalam dengan tiga perwakilan
stasiun televisi yang masuk dalam kategori 10 besar, dari AC Nielsen, menjadi
270
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
strategi peneliti untuk mengungkap upaya tiga stasiun televisi dalam menghadapi
perkembangan internet di Indonesia agar stasiun televisi tetap menjadi pilihan
untuk beriklan.
Jabatan pihak-pihak yang diwawancara adalah mereka yang berada pada
posisi pemimpin redaksi dan manajer. nama stasiun televisi dan nama pihakpihak yang diwawancara dirahasiakan untuk menjaga privasi mereka dalam
bekerja di masing-masing stasiun televisi. Narasumber pertama dianggap sebagai
perwakilan dari stasiun televisi A, Narasumber kedua menjadi perwakilan dari
stasiun televisi B, dan narasumber ketiga menjadi perwakilan dari stasiun
televisi C.
Wawancara untuk setiap peserta dilakukan sebanyak dua kali.
Wawancara pertama adalah untuk mendapatkan informasi dari para narasumber
sedangkan wawancara kedua adalah untuk mengklarifikasi kembali informasi
yang telah diterima peneliti dari hasil wawancara pertama dengan para
narasumber untuk meyakinkan peneliti dan narasumber bahwa data-data dari para
narasumber adalah benar.
Hingga saat ini, peneliti telah melakukan wawancara mendalam kepada
satu narasumber sehingga hasil penelitian yang disampaikan pada seminar ini
masih bersifat sementara.
Hasil Temuan dan Diskusi
Dari data wawancara menunjukkan bahwa narasumber pertama dari
stasiun televisi A menyadari adanya upaya masyarakat untuk mencari informasi
dari internet selain televisi. Berikut adalah petikan wawancaranya
Saya melihatnya…eee…media internet itu sudah menguasai semua aspek
kehidupan apalagi media ya jadi eee itu sebuah keniscayaan ya jadi tidak
bisa ditolak dalam dunia yang terus bergerak seperti ini..eee..dan semua
dikendalikan oleh internet…eee…apalagi anak jaman sekarang gitu ya
..eee…ya nyaris mereka itu tergantung pada dunia internet, dunia online.
Saya punya anak kelas tiga SMA nyaris tidak pernah nonton TV karena
semua ada digenggaman dia jadi dia dikamar aja, dia tahu perkembangan
TV tapi dia melihatnya dari internet kan bisa dengan satu genggaman
tangan ini atau di HP
Narasumber mengungkapkan bahwa stasiun televisi perlu mengantisipasi
perubahan ini agar tidak ditinggalkan oleh pemirsanya seperti yang terjadi pada
surat kabar atau koran yang ada di Indonesia yang ditinggalkan oleh para
pembacanya.
Sekarangkan..eee… media print media cetak ya meskipun tidak semua
tetapi …eee.. beberapa sudah termasuk di amerika mas adi tahulah soal
gulung tikarnya sebuah media cetak di Indonesia sudah mulai juga kan
yang Jakarta Globe dan sinar harapan. Jakarta Globe beberapa hari lalu
sudah tutup juga jadi ya itu salah satu indikasi bahwa siapa yang tidak
mengikuti perkembangan teknologi akan digilas.
271
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Stasiun televisi melakukan beberapa perubahan untuk mengantasipasi
perubahan masyarakat dalam mencari informasi yaitu dengan cara berintegrasi
dengan internet sehingga kelemahan yang dimiliki oleh stasiun televisi dalam
kecepatan menyampaikan informasi dan interaksi dengan pemirsanya bisa
dihilangkan. Berikut adalah kutipannya
………Saya yakin hanya televisi jauh lebih siap melakukan perubahan itu
yang akan tetap lead (memimpin) sebagai… eee … media industri televisi.
Jadi TV terrestrial boleh jadi…eee… mulai surut. Kita juga akan
merasakan mungkin dalam tahun kedepan sih masih (bertahan) tapi saya
nggak tahu dalam 10 tahun kedepan jangan-jangan sudah berubah eee
tetapi kan televisi tidak hanya terrestrial sekarang sudah mulai masuk di
handphone di…eee…. tab entah nanti kemana lagi. Kalo di desktop sih
sudah lama sudah ada nah sehingga industri televisipun sudah semestinya
untuk ikut masuk kedalam…eee… menggunakan teknologi internet itu dan
yang Saya tahu ya untuk di Indonesia ini eee dua perusahaan media
televisi yang lebih siap memasuki itu adalah stasiun televisi kami serta
MNC, yang lain Saya belum melihat ada integrasi ya…....
Pemahaman integrasi antara televisi dan internet adalah ketika televisi
menyampaikan berita kepada pemirsanya, disaat yang bersamaan informasi yang
terdapat pada televisi disampaikan secara langsung melalui media internet. Pada
umumnya, stasiun televisi yang lain menyampaikan informasi pada televisi
terlebih dahulu, kemudian informasi tersebut baru disampaikan melalui internet,
hal ini tidak bisa disebut sebagai integrasi antara televisi dan internet. berikut
adalah kutipannya
“…..kemudian kaya eee TV DEF juga punya tetapi itu bukan-bukan
dijadikan sebagai wahana untuk mengintegrasikan dunia terrestrial
dengan dunia online saya masih melihatnya berita yang ada di TV
DEF kemudian dimasukkan kedalam online….”
Untuk menciptakan integrasi antara televisi dan internet membutuhkan
alat-alat dengan teknologi terkini dengan nilai investasi yang besar sehingga
perlu banyak pertimbangan sebelum membeli teknologi tersebut. Berikut adalah
kutipannya
….. Perkembangan teknologi (televisi) itu kan sama seperti perkembangan
hp gitu kan tiap tahun berubah-ubah teknologi TV juga sama alat-alat itu
jadi ketika kan alat-alat itu juga mahal. Alat-alat seperti (itu) bukan jutajuta lagi tapi miliar tapi ketika kita membelanjakan sesuatu untuk studio
untuk alat-alat yang terkoneksi kemana-mana itu miliaran sehingga ketika
kita mau membeli itu jangan misalnya tahun depan saya mau beli jangan
barang yang sudah dipake setahun dua tahun terakhir tetapi barang yang
baru mucul tetapi barang-barang yang akan dipake lima tahun kedepan
jadi ya investasinya akan mahal jadi harus berfikir seperti itu nah eee
karena NET TV sama Kompas TV baru sehingga alat-alat baru, orangorangnya juga dari berbagai TV itu memang dengan semagnat baru untuk
272
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
membuat entitas yang baru sehingga sangat gampang muncul NET TV
yang terintegrasi diantara tv dan juga online eee ya itu internet dan
terrestrial bergabung disitu
Upaya untuk meyakinkan pengiklan untuk beriklan di telivisi dilakukan
dengan berbagai upaya seperti bagian marketing mendatangi para pengiklan dan
meyakinkan mereka bahwa stasiun televisinya masih menjadi pilihan pemirsa.
Berikut adalah kutipannya
…ini lo stasiun kami punya program-program bagus dsb” tolak ukurnya
apa ya share tadi. Kitakan tolak ukurnya AC NIELSEN nah ketika kita
yakinkan dalam lima tahun terahir liputan6 nomer satu lo, mereka bilang
“apa ukurannya?”, ini nielsen dan patokan produsenpun sama Nielsen
juga…
Simpulan
Dari hasil wawancara, kesimpulan sementara persiapan salah satu stasiun
televisi dalam menghadapi persaingan dengan para pengembang internet untuk
mendapatkan iklan adalah
1.
Mereka Menyadari perubahan prilaku pemirsa televisi yang juga
mencari informasi melalui internet.
2.
Televisi perlu mengintegrasikan dengan internet agar pemirsa televisi
tetap setia. Dengan menjaga jumlah pemirsa, para pengiklan tetap
percaya untuk menggunakan televisi dalam beriklan
3.
Upaya untuk mengintegrasikan televisi dengan internet memerlukan
dana investasi yang banyak dan harus jeli dengan perkembangan
teknologi agar teknologi yang sudah dibeli bisa mendukung integrasi
antara TV dan internet dalam jangka panjang.
4.
Bagian pemasaran perlu melakukan jalinan komunikasi secara
langsung kepada pengiklan untuk meyakinkan mereka bahwa
beriklan di televisi masih mampu mencapai harapan mereka, dengan
memperlihatkan data-data yang dipercaya oleh pengiklan, seperti AC
NIELSEN.
.
Penelitian ini masih berjalan sehingga kesimpulan yang dihasilkan masih
bersifat sementara. Peneliti merasa yakin dengan hasil penelitian ini setelah
melakukan wawancara mendalam kepada dua televisi swasta yang lain untuk
melihat kesiapan televisi swasta di Indonesia dalam menghadapi persaingan dari
pemilik laman berita dan bukan berita untuk meraih pengiklan.
Daftar Pustaka
Ardianto, Elvinaro., Komala, Lukiati., Karlina, Siti. 2009. Komunikasi Massa:
Suatu Pengantar. Simbiosa. Bandug.
273
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Bryant, Jennings., Thompson, Susan., Finklea, Bruce. 2013. Fundamentals of
Media Effect. Waveland Press. United States of America
Kotler, Philip., Keller, Kevin Lane. 2012. Marketing Management. Pearson. USA
Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia. 2015. Indonesia Media Guide 2015.
Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia. 2005. Indonesia Media Guide 2005.
P3I. 2015. Diunduh dari www.p3i-pusat.com, pada tanggal 8 Januari 2015
Percy, Larry., Rossiter, John R., Elliot, Richard. 2004 Strategic Advertising
Management. Oxford University Press. USA
Percy, Larry., Elliot, Richard. 2012. Strategic Advertisng Management. Oxford
University Press. USA
Biografi Penulis
Muhammad Adi Pribadi, SE., MIB., MComm adalah seorang dosen di
Fakultas ilmu komunikasi, Universitas Tarumanagara. Beliau dipercaya untuk
mengajar pada konsentrasi periklanan. Pendidikan terakhir yang pernah di jalani
adalah di University of Sydney, Australia, dengan mendapat dua gelar strata dua
yaitu Master of International Business dan Master of Commerce
Drs. M. Gafar Yoedtadi Msi adalah seorang dosen yang mengajar di
Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara. Beliau mengajar pada
konsentrasi Jurnalistik. pendidikan terakhir yang pernah dijalani adalah S2
Komunikasi Pasca Sarjana di Universitas Indonesia, Indonesia
Kurniawan Hari Siswoko, SIP., M.A adalah seorang dosen yang
mengajar di Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Tarumanagara. Beliau
mengajar pada konsentrasi jurnalistik. pendidikan terakhir yang pernah di jalani
adalah strata dua di Ateneo De Manila University, Manila. Filipina.
274
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
RADIO KOMUNITAS DAN PEMBERDAYAAN
MASYARAKAT PERDESAAN
Ika Yuliasari, Euis Komalawati
Universitas Jayabaya, Universitas Jayabaya
[email protected], [email protected]
Abstract
This article describes about the existence of community radio as an information
agent in rural area in Yogyakarta. As a social change agent and empowerment
media, the operation of community radio linked with the concept of structuration.
In this research, there are two community radios that has built by people in
Gadingsari village (Bantul Regency) and Kaliagung village (Kulon Progo
Regency) more ten years ago. Paworo FM (Gadingsari village) and Trisna Alami
FM (Kaliagung village) are known as the community radio which disemminate
information continuosly. A qualitative approach and constructivism paradigm
used to interpret the living world and emphasize the significance of social
reality.Furthermore, this research used data collection techniques such as
interview, observation, focus group discussion, and documentation. Ethnography
of communication has been applied as an attempt to explore the behavior and
communication pattern of media practice. The implementation of social semiotics
carried out some important discourse of development information in those
villages.
Keywords: development communication, community radio, information agent,
empowerment
Abstrak
Artikel ini mengemukakan tentang eksistensi radio komunitas sebagai agen
informasi perdesaan di wilayah Yogyakarta. Sebagai agen perubahan sosial dan
media pemberdayaan, operasionalisasi radio komunitas dapat dikaitkan dengan
konsep sturkturasi. Dalam penelitian ini, terdapat dua radio komunitas yang
didirikan oleh warga Desa Gadingsari Kabupaten Bantul dan warga Desa
Kaliagung Kabupaten Kulon Progo. Radio Paworo FM di Desa Gadingsari dan
Trisna Alami FM di Desa Kaliagung dikenal sebagai radio komunitas yang
melakukan diseminasi informasi secara berkesinambungan. Pendekatan kualitatif
dan paradigma konstruktivisme digunakan untuk menginterpretasikan dunia
kehidupan dan menekankan pada signifikansi tentang realitas sosial. Penelitian
ini menggunakan teknik pengumpulan data seperti wawancara, observasi, diskusi
kelompok , dan dokumentasi. Etnografi komunikasi dilakukan sebagai upaya
untuk menelusuri perilaku dan pola komunikasi dalam praktek
media.Penggunaan metode analisis semiotika bertujuan untuk memperoleh luaran
wacana tentang informasi pembangunan di desa.
Kata kunci: komunikasi pembangunan, radio komunitas, agen informasi,
pemberdayaan
275
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Pendahuluan
Pembangunan memiliki potensi dalam peningkatan kualitas hidup
masyarakat dan mendukung perubahan sosial. Model pembangunan Trickle
Down Effect seperti yang diterapkan di negara ketiga memberikan beberapa
implikasi buruk bagi masyarakat dunia ketiga seperti di kawasan Asia dan
Amerika Latin. Mosse (2007: 27).
Pasca reformasi, Pemerintah RI menetapkan kebijakan UU No.40 tahun
1999 tentang Pers dan UU No. 32 tahun 2002 tentang Penyiaran. Momentum
kebebasan informasi publik dan transparansi publik hadir di Indonesia dan
mengindikasikan adanya keterbukaan dan transformasi sistem informasi.
Demikian pula sistem informasi yang dikembangkan harus mendukung program
pembangunan di berbagai wilayah perkotaan dan perdesaan.
Pemberdayaan masyarakat perdesaan dalam program pembangunan
kualitas hidup menunjukkan bahwa masyarakat berperan bukan sekedar obyek
tetapi juga sebagai subyek pembangunan. Dibutuhkan langkah strategis untuk
menggapai tujuan pemberdayaan masyarakat, sehingga partisipasi masyarakat
dapat dibangkitkan untuk mendorong „pembangunan‟ kehidupan mereka sendiri.
Gagasan pemberdayaan berpijak pada istilah keberdayaan individu.
Dengan demikian pemberdayaan bertujuan meningkatkan keberdayaan dari
mereka yang dirugikan. Wrihatnolo (2007:75) mengemukakan bahwa
keberdayaan mencakup unsur-unsur seperti kemampuan individu untuk bertahan,
mengembangkan diri, dan mencapai kemajuan.
Nasution (2007: 103) menjelaskan bahwa komunikasi pembangunan
memiliki kontribusi bagi masyarakat dalam menemukan norma baru, mendorong
partisipasi dalam pengambilan keputusan, mengubah struktur kekuasaan pada
masyarakat yang bercirikan tradisional, dan menciptakan kesetiaan pada nilainilai lokal tradisional.
Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 2005 memuat ketentuan bahwa
media komunitas bersifat independen, nonkomersial, dan diharapkan dapat
menggalang partisipasi komunikasi warga desa (Kemenkominfo, 2011: 393).
Kementerian Komunikasi dan Informatika RI mencanangkan Program Desa
Informasi yang disinergikan dengan program Desa Dering (desa yang memiliki
telepon), Desa Pinter (desa yang memiliki akses internet), Pusat Layanan Internet
Kecamatan (PLIK), Mobil Pusat Layanan dan Internet Kecamatan (M-PLIK),
Media Komunitas, dan Kelompok Informasi Masyarakat. Kemitraan program
pembangunan daerah dengan sinergi media komunikasi di daerah terpencil,
wilayah perbatasan, dan komunitas telah ditentukan dalam Peraturan Menteri
Kominfo RI Nomor: 07/per/m.kominfo/6/2010.
Leeuwis (2009: 89) menjelaskan bahwa media komunikasi dapat
dipergunakan untuk intervensi komunikatif dengan selektivitas khalayak.
Pemilihan jenis media komunitas dan target khalayak akan mempengaruhi ide
yang akan dikomunikasikan, strategi komunikasi, penentuan peran pekerja
komunikasi, dan identifikasi masalah komunikasi.
276
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Di Provinsi DI Yogyakarta telah dirintis organisasi JRKY (Jaringan
Radio Komunitas Yogyakarta) yang memiliki 80 jaringan radio komunitas.Radio
komunitas didirikan dan tumbuh dalam komunitas masyarakat (CRI, 2009: 47).
Latar belakang pendirian JRKY adalah mendukung potensi radio komunitas
sebagai media komunikasi lokal yang bersifat independen, nonkomersial, dan
melayani kepentingan komunitas. Permasalahan komunikasi yang muncul di
perdesaan pada umumnya adalah kesenjangan informasi, keterbatasan media
komunikasi, dan rendahnya respon masyarakat terhadap media komunitas.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, mengindikasikan
adanya permasalahan dalam pengembangan radio komunitas yakni: rendahnya
respons masyarakat dan tidak tersedianya fasilitas teknologi (Wahyono, 2011:
42), hegemoni pemerintah dalam proses informasi (Subarkah, 2012: 13),
resistensi radio komunitas dengan kemunculan masyarakat organik (Maryani,
2007: 56), dan keterkaitan bahasa etnik sebagai sarana transformasi kultural dari
aspek wacana media (Liswijayanti, 2005: 69; Johnson, 2001: 168; Deuze, 2006:
280; Georgiou, 2001: 311).
Tulisan ini mengemukakan kajian terhadap dua radio komunitas di
Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), yakni: Radio Paworo Buana
Mahawira FM di Desa Gadingsari Kecamatan Sanden Kabupaten Bantul dan
Radio Trisna Alami FM di Desa Kaliagung Kecamatan Sentolo Kabupaten Kulon
Progo. Wilayah Kecamatan Sanden terletak di pesisir selatan Kabupaten Bantul.
Warga desa di wilayah Sanden berinisiatif untuk mendirikan radio
Paworo FM sebagai pusat informasi dengan motivasi publikasi mitigasi bencana
alam dan berkembang menjadi radio komunitas yang melakukan diseminasi
informasi di bidang perikanan dan kelautan, kesehatan, dan budaya. Pengelola
media komunitas mengutamakan prinsip independen, nonpartisan, dan
nonkomersial. Keterbatasan informasi di tingkat lokal menjadi pertimbangan
pengelola radio komunitas untuk memenuhi kebutuhan informasi warga desa
dengan muatan kearifan lokal.
Radio Trisna Alami FM di Desa Kaliagung merupakan radio komunitas
petani yang berdiri atas prakarsa warga desa dan Lembaga Swadaya Masyarakat
(LSM) Lestari Mandiri. Sebagian besar warga desa memiliki mata pencaharian
sebagai petani dan buruh tani. Kebutuhan informasi di bidang pertanian mutlak
dibutuhkan karena warga desa bertahan hidup di wilayah yang berbukit dan
kesulitan memperoleh air.
Berdasarkan latar belakang dan permasalahan yang diuraikan, artikel ini
bertujuan untuk memperoleh luaran sebagai berikut:
1. Analisis eksistensi radio komunitas sebagai media pemberdayaan
masyarakat perdesaan.
2. Analisis peranan radio komunitas dalam upaya pemberdayaan
masyarakat di perdesaan.
277
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Tinjauan Pustaka
Konsisten dengan peranan media komunitas, Jankowski (2002: 36)
menekankan penggunaan radio komunitas untuk memberikan kesempatan
bersuara bagi kelompok marjinal dan komunitas-komunitas yang jauh dari pusat
kota besar. Empat konsep yang harus diperhatikan adalah: karakteristik
komunitas, karakteristik individu, aspek media komunitas, dan penggunaan
media komunitas.
Wilkins dan Mody seperti dikutip oleh Manyozo (2012: 112)
menjelaskan bahwa komunikasi pembangunan merupakan proses dan strategi
intervensi untuk mencapai perubahan sosial yang diinisiasi oleh institusi dan
komunitas.
Masyarakat pedesaan memiliki karakter agraris, meskipun beberapa
masyarakat pedesaan bercirikan kehidupan yang penuh aktivitas ekonomis. Desa
merupakan kawasan lingkungan yang memiliki penduduk kurang dari 2.500
orang yang berada dalam suatu lingkungan dimana penduduknya sebagian besar
memiliki ketergantungan pada sektor pertanian dan memiliki hubungan yang
akrab dan serba informal di antara sesama warganya (Soekanto, 2005: 37).
Ife (2008: 130) menjelaskan bahwa gagasan pemberdayaan
(empowerment) merupakan sentral dari strategi keadilan sosial dan hak asasi
manusia. Keberdayaan individu merupakan kemampuan individu masyarakat
dalam membangun keberdayaan masyarakat. Dengan demikian pemberdayaan
bertujuan meningkatkan keberdayaan dari mereka yang dirugikan.
Merujuk pada pemikiran Giddens (2010: 32), struktur sosial dapat
berubah karena adanya reproduksi tindakan berulang agen. Agen manusia (level
mikro) dan struktur sosial (level makro) secara kontinu saling berhubungan satu
sama lain. Tulisan ini menekankan pada aspek signifikansi dimana wacana media
mendukung proses pemberdayaan warga desa. Interaksi antara media komunitas
sebagai agen komunikasi dengan struktur sosial memiliki peranan dalam
mengkonstruksikan realitas. Pegiat radio komunitas adalah individu-individu
yang mengonstruksikan realitas berita sebagai materi siaran radio komunitas.
Berger dan Luckmann (1990: 46) mengungkapkan bahwa realitas dibentuk dan
dikonstruksi oleh individu dengan upaya dan bentuk berbeda-beda, hal tersebut
disebabkan karena adanya perbedaan pengalaman, preferensi, tingkat pendidikan,
dan lingkungan sosial.
Metodologi
Paradigma secara ilmiah merupakan sistem berpikir secara keseluruhan
melibatkan asumsi-asumsi dasar, pertanyaan-pertanyaan penting yang harus
dijawab, teknik riset yang digunakan, dan memberikan contoh tentang riset
ilmiah yang baik (Neuman, 2003: 117).
Penulis melakukan kajian tentang eksistensi radio komunitas dan proses
signifikansi media komunitas berkaitan dengan wacana pemberdayaan
masyarakat. Secara ontologis penelitian ini akan mengungkapkan realitas
278
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
berdasarkan pemaknaan aktor dan khalayak media komunitas di desa. Informasi
yang dikomunikasikan melalui berita yang disiarkan radio komunitas merupakan
serangkaian produk teks komunikasi dan dikonstruksikan oleh para aktor.
Paradigma yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah paradigma
konstruktivis. Denzin dan Lincoln (2009: 157) menjelaskan tentang pandangan
kalangan konstruktivis yang menekankan pada sistem-sistem representasi,
praktik-praktik sosial dan material, aturan-aturan diskursus, dan efek-efek
ideologis. Goodness Criteria untuk penelitian ini berdasarkan pada paradigma
konstruktivisme. Kriteria tersebut adalah trustworthiness (dapat dipercaya) dan
authenticity. Authenticity adalah proses dimana peneliti dapat membangkitkan
empati dengan aktor, sehingga dapat menggali informasi sesuai keyakinan, pola
pikir, dan keinginan aktor penyusun pesan media serta kepada masyarakat
penerima pesan.
Pengumpulan data dilakukan pada bulan April-Agustus 2015 sesuai
pendekatan penelitian kualitatif (Creswell, 2010: 267) yakni: merekam teks
berita, wawancara pegiat radio komunitas, wawancara komunitas pendengar
radio, focus group discussion (FGD), observasi terhadap operasionalisasi media
komunitas dan perilaku komunikasi. Sebagai data pendukung digunakan
beberapa sumber, yakni monografi Desa Gadingsari Kecamatan Sanden tahun
2014, monografi Desa Kaliagung Kecamatan Sentolo 2014, Katalog Biro Pusat
Statistik Kabupaten Bantul 2014, Katalog Biro Pusat Statistik Kabupaten Kulon
Progo 2014, Himpunan Peraturan Perundang-undangan di Bidang Penyiaran
2011, arsip naskah berita radio komunitas, arsip naskah iklan radio komunitas,
arsip media komunitas, dokumentasi Komisi Penyiaran Indonesia tentang Izin
Penyelenggaraan Penyiaran, dan berita media massa. Studi pustaka dilakukan
dengan menelusuri jurnal, hasil penelitian, buku, dan rujukan ilmiah yang
berkaitan dengan topik penelitian. Triangulasi data dilakukan dengan proses
mengecek ulang data yang diperoleh dengan menjumpai narasumber yang
berkompeten di bidang media penyiaran, pemangku kebijakan pembangunan
diperdesaan, pemerhati media komunitas, lembaga swadaya masyarakat, dan
budayawan Jawa.
Analisis wacana dilakukan dengan metode analisis semiotika Halliday.
Analisis semiotika Halliday diterapkan untuk menganalisis naskah siaran berita
media komunitas seperti wacana di bidang mitigasi bencana alam, perikanan dan
kelautan, pertanian, kesehatan, dan budaya. Analisis wacana dilaksanakan dengan
membedah tiga aspek utama seperti medan wacana, pelibat wacana, dan sarana
wacana. Etnografi komunikasi dilakukan dengan mengamati pola komunikasi
pengelola media dan komunitas pendengar radio komunitas. Peneliti secara
optimal melakukan pengamatan selama satu bulan di masing-masing lokasi untuk
mendukung implementasi metode etnografi komunikasi.
Hasil Temuan dan Diskusi
Berdasarkan tujuan penulisan artikel ini, dikemukakan hasil temuan
sebagai berikut.
279
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Sekilas tentang wilayah penelitian
Penelitian dilakukan di Provinsi DI Yogyakarta pada dua lokasi berbeda,
yakni di Desa Gadingsari Kecamatan Sanden Kabupaten Bantul dan Desa
Kaliagung Kecamatan Sentolo Kabupaten Kulon Progo. Berdasarkan penelusuran
data sekunder, peneliti menyajikan data demografi dan topografi dari dua desa
tersebut.
Luas wilayah Kecamatan Sanden adalah 2.316 Ha (4,5% dari luas
wilayah Kabupaten Bantul) dan membawahi 4 (empat) wilayah desa administratif
yakni: Gadingharjo, Gadingsari, Srigading, dan Murtigading (BPS Bantul
,2014:5). Desa Gadingsari terletak di wilayah pesisir selatan Samudera Indonesia.
Luas wilayah Desa Gadingsari adalah 6.414.033,94 Ha dengan dominasi wilayah
pemukiman (3.483.760 Ha) dan persawahan (2.930.190 Ha). Menilik dari
luasnya areal persawahan, jumlah keluarga petani berjumlah 2.145 keluarga dari
2.890 keluarga yang memiliki lahan pertanian. Berdasarkan data sumber daya
manusia, jumlah penduduk total sebesar 12.196 orang dan 4.397 Kepala Keluarga
(KK). Penduduk usia 18-56 tahun yang bekerja berjumlah 2.548 orang. Di
wilayah Desa Gadingsari, warga desa berprofesi sebagai buruh tani (2.462
orang), petani (2.138 orang), pengrajin (1.398 orang), karyawan pemerintah
(1.294 orang), karyawan perusahaan swasta (1.353 orang), dan sisanya adalah
buruh migran, Pegawai Negeri Sipil, seniman, POLRI, purnawirawan, peternak,
nelayan, dan TNI. Tingkat pendidikan masyarakat di Desa Gadingsari yang
terbanyak dimiliki adalah lulusan SD/sederajat (2.975 orang), lulusan
SLTP/sederajat (1.375 orang), lulusan SMU/sederajat (892 orang), lulusan D1D3 (347), lulusan S1 (161 orang), dan sisanya adalah pelajar SD, pelajar SMP,
pelajar SMU, serta mahasiswa (Monografi Desa Gadingsari, 2014: 12).
Kecamatan Sentolo merupakan bagian dari wilayah administratif
Kabupaten Kulon Progo dengan luas area sebesar 5.265,340 Ha dan
menunjukkan angka prosentase sebesar 8,09% dari luas area kabupaten.
Kecamatan Sentolo berpenduduk 47.926 jiwa yang mendiami wilayah
administratif pemerintahan 8 (delapan) desa, yakni: Demangrejo, Sri Kayangan,
Tuksono, Sulamrejo, Sukoreno, Kaliagung, Sentolo, dan Banguncipto (BPS
Kulon Progo, 2014 : 9).
Secara geografis, Kecamatan Sentolo berada di wilayah Kulon Progo
yang berada di daerah datar dan dikelilingi pegunungan yang sebagian besar
terletak pada wilayah utara. Desa Kaliagung memiliki luas wilayah sebesar
717,1105 Ha (13,6194% dari wilayah Kecamatan Sentolo). Sebagian besar
wilayah Desa Kaliagung dikelilingi oleh perbukitan dengan ketinggian tanah
pemukiman dan persawahan yang tidak datar.
Secara administratif, Kaliagung memiliki dusun berjumlah 12 (dua belas)
yaitu: Kemiri, Degung, Kleben, Jetak, Kaliwilut, Tegowanu, Ngrandu,
Banyunganti Lor, Banyunganti Kidul, Kaligalang, dan Nglotak. Jumlah
penduduk di wilayah Desa Kaliagung adalah 6144 orang dengan komposisi
jumlah perempuan 3.161 orang dan laki-laki 2983 orang. Profesi yang digeluti
oleh penduduk Desa Kaliagung sebagian besar adalah petani. Uraian profesi
penduduk Kaliagung adalah sebagai berikut: petani (1523 orang), mengurus
280
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
rumahtangga (742 orang), pelajar dan mahasiswa (978 orang), karyawan swasta
(698 orang), buruh harian (224 orang), buruh tani dan ternak (206 orang),
wiraswasta (145 orang), guru (25 orang), dan profesi lain sebagai pedagang,
tukang, Pegawai Negeri Sipil (PNS), Tentara Nasional Indonesia (TNI),
perangkat desa, dan sopir. Tingkat pendidikan sesuai urutan jenjang pendidikan
warga desa adalah: Pascasarjana (7 orang), Sarjana (200 orang), lulusan SMU
(1309 orang), lulusan SMP (936 orang), lulusan SD (1.701 orang), belum tamat
SD (674 orang), dan sisanya lebih dari 1.000 orang tidak mengenyam bangku
pendidikan (Monografi Desa Kaliagung, 2014: 12).
No
Kategori
Paworo FM
1
Latar belakang Peristiwa bencana alam
pendirian
gempa bumi di pesisir
selatan di Provinsi DIY
tahun 2006 Berdirinya
radio di prakarsai oleh
warga
desa
di
Kecamatan Sanden dan
sekitarnya
2
Operasionalisasi
Media :
Organisasi
Memiliki
struktur
media
organisasi dan bersifat
independen
Legalitas
Sedang mempersiapkan
pengajuan izin penyiaran
ke Komisi Penyiaran
Informasi Daerah DIY .
Pengelolaan
Organisasi
media
dikelola oleh pegiat
media yakni warga desa
secara mandiri dengan
koordinasi pemerintah
desa . Pengelola Radio
Paworo
diantaranya
adalah
warga
desa
Sanden yakni: Ng, BS,
Mar, AH, dan Rob.
Beberapa penyiar radio
yang aktif mengudara
adalah: Les, BS, SD, P,
S, Su, D, dan M.
Pembiayaan
Trisna Alami FM
Motivasi untuk menyiarkan
informasi pertanian di wilayah
yang terletak di perbukitan dan
pegunungan .
Radio berdiri pada tahun 2003
dengan prakarsa
Lembaga
Swadaya Masyarakat Lestari
Mandiri (Lesman) dan warga
desa Kaliagung
Memiliki struktur organisasi
dan bersifat independen
Sudah
mengurus
izin
penyiaran ke Komisi Penyiaran
Indonesia Daerah (KPID) DIY
dan menunggu hasil Evaluasi
Dengar Pendapat.
Pengelolaan
radio
Trisna
Alami FM dilaksanakan secara
mandiri oleh warga desa
dengan koordinasi Kelompok
Tani di wilayah Kaliagung dan
pemerintah desa.
Koordinator
radio
Trisna
Alami FM adalah Gi, seorang
pegiat radio komunitas. Radio
Trisna Alami FM beroperasi
dengan dukungan teknisi dan
penyiar yaitu: Yu, Bek, Riy,
Wah, Ek, Rat, Im, dan Sla
Pembiayaan operasionalisasi
radio Trisna Alami diperoleh
281
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Kemitraan
3
4
5
6
7
8
282
operasionalisasi
radio
Paworo diperoleh dari
bantuan
pemerintah
Desa Gadingsari dan
warga desa.
Pemerintah
desa,
BKKBN,
Puskesmas
Sanden, pengusaha dan
pedagang
lokal
di
lingkungan desa, Forum
Pengurangan
Resiko
Bencana
(FPRB)
Kabupaten
Bantul,
Perguruan Tinggi, dan
Komunitas
Monitor
Paworo
dari bantuan warga desa.
Pemerintah desa (Kelurahan
Kaliagung), Dinas Pertanian
dan Kehutanan Kulon Progo,
Jaringan Radio Komunitas
Yogyakarta,
BKKBN,
pengusaha dan pedagang di
lingkungan desa, Gabungan
kelompok tani (Gapoktan)
Sido Mulyo Kaliagung, dan
Kelompok Tani di wilayah
Kaliagung,
komunitas
pendengar radio.
Frekuensi dan Frekuensi siaran pada Frekuensi siaran pada I07,7
jangkauan
107,9 FM
FM
wilayah siaran
Waktu
dan Nonstop ( 24 jam )
19.00- 24.00 WIB Lokasi
lokasi siaran
Lokasi
siaran
di siaran di sekretariat Kelompok
kompleks
Kelurahan Tani “Tani Mulya” Desa
Gadingsari , Sanden .
Ngrandu, Kaliagung, Sentolo.
Wacana siaran Budaya, Informasi cuaca Pertanian,
agama,
iklan
radio
dan iklim, perikanan, layanan masyarakat, iklan
agama , iklan lokal lokal nonkomersial, informasi
nonkomersial, informasi pemerintah desa, dan hiburan.
dari pemerintah desa,
dan hiburan
Bahasa
yang Bahasa Jawa Krama Bahasa Jawa Krama Inggil dan
dipergunakan
Inggil
dan
bahasa bahasa Indonesia
Indonesia
Target khalayak Warga desa berusia 30- Warga desa berusia 20-65
65 tahun dan memiliki tahun dan memiliki target
target khalayak yang khalayak para petani di desa.
profesinya beragam
Kolaborasi
Memanfaatkan komputer Menggunakan
perangkat
teknologi
dan jaringan internet komputer dan internet sebagai
informasi
sebagai bagian sistem pendukung siaran, namun
komunikasi
informasi internet di belum terjalin dengan sistem
(TIK)
desa Gadingsari.
internet desa.
Siaran
dilaksanakan Siaran
dilakukan
secara
secara interaktif dengan interaktif
dengan
sarana
fasilitas telepon.
telepon.
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
9
Hambatan
Biaya operasionalisasi
media,
perizinan,
frekuensi siaran yang
terbatas, dan kaderisasi
pengurus media belum
optimal.
Tabel 1. Eksistensi Radio Paworo FM
Biaya operasionalisasi media,
perizinan, frekuensi yang
terbatas,
dan
kaderisasi
pengurus
media
belum
optimal.
dan Trisna Alami FM
Peranan Radio Komunitas dalam Pemberdayaan Masyarakat
1. Radio komunitas melakukan diseminasi informasi di bidang mitigasi
bencana, perikanan dan kelautan, pertanian, budaya, dan kesehatan.
Selaras dengan proses signifikansi, penulis menyajikan tabel analisis wacana
sesuai metode analisis semiotika Halliday. Berita yang disajikan pada periode
bulan Mei 2015 telah dianalisis dengan tiga unsur wacana seperti medan
wacana, pelibat wacana, dan sarana wacana. Hasil analisis berita Radio
Paworo FM dapat dilihat pada Tabel 2.
No
1
Kategori Penyiar
Bahasa
Informasi
pengantar
Prakiraan BS
Bahasa
cuaca dan
Indonesia
mitigasi
bencana
2
Perikanan
dan
kelautan
Les
Bahasa
Jawa
3
Ngungak
Budaya
RD
Bahasa
Jawa
Unsur analisis semiotika sosial
Halliday
Medan wacana adalah gempa bumi,
sistem peringatan dini banjir di DIY,
puting beliung di DIY.
Pelibat
wacana
adalah
Badan
Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
(BMKG), Tribun Jogja, ahli iklim dan
cuaca Universitas Gadjah Mada
(UGM)
Sarana wacana tidak dijumpai dalam
penyajian berita
Medan wacana adalah pranata mangsa
(ketentuan musim dalam penanggalan
budaya Jawa).
Pelibat wacana adalah Dinas Perikanan
dan Kelautan DIY, nelayan di pesisir,
dan pendengar di pesisir.
Sarana wacana adalah pranata mangsa,
ulam awis awis medal. Les jarang
menggunakan metafora.
Medan wacana adalah petangan dinten
sae, piwulang basa Jawa, lan parikan.
Pelibat wacana adalah pendengar siaran
Ngungak Budaya.
Sarana
wacana
adalah
blarak
disampirke, orang aring, reca kayu,
timun sigarane.
283
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
4
Kesehatan
Ngad
Ad
Bahasa
Indonesia
dan Jawa
Medan
wacana
adalah
sanitasi
lingkungan dan pencegahan demam
berdarah.
Pelibat wacana adalah Puskesmas
Sanden,
Fakultas
Kedokteran
Universitas Kristen Duta Wacana
(UKDW) Yogyakarta, dan pendengar
radio.
Sarana wacana tidak dipergunakan
dalam
pengomunikasian
berita
kesehatan.
Tabel 2. Hasil analisis semiotika berita mitigasi bencana, perikanan dan
kelautan, budaya, dan kesehatan Radio Paworo FM 2015
Berdasarkan hasil wawancara dan FGD, penyusunan naskah berita
dilakukan oleh penyiar dan pengelola dengan referensi laman BMKG, bahan
pendidikan dan pelatihan dinas perikanan dan Kelautan DIY, Dinas Kesehatan
Kabupaten Bantul, bacaan pedoman filosofi budaya Jawa, dan pengalaman hidup
sehari-hari. Hasil analisis berita Radio Trisna Alami FM dapat dilihat pada tabel
3 di bawah ini
Kategori Penyiar Bahasa
Unsur analisis semiotika Halliday
Informasi
pengantar
Pertanian Bek
Jawa
Medan wacana adalah pranata mangsa ,
Yud
kegiatan Gapoktan Agungmulyo, pembuatan
Gi
biostarter, pembuatan kompos, modernisasi
pertanian, irigasi, lahan pertanian, minuman
herbal.
Pelibat wacana adalah pengelola radio Trisna
Alami FM, pemerintah Desa Kaliagung,
Dinas Pertanian dan Kehutanan Kulon Progo,
Kementerian Pertanian, BP3K, KP4K,
Gapoktan Agungmulyo.
Sarana wacana adalah metafora pranata
mangsa, tirta sat, watak wantunipun,
nggrengsengaken
Tabel 3. Hasil analisis semiotika berita pertanian Radio Trisna Alami FM
2015
Penyusunan naskah berita pertanian dikonstruksikan dengan materi dari
bahan pendidikan dan pelatihan Dinas Pertanian dan Kehutanan Kulon Progo,
materi penyuluhan pertanian, pedoman tatacara musim , dan pengalaman seharihari sebagai petani
2. Radio komunitas menjalin kemitraan dengan pihak terkait seperti Forum
Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kabupaten Bantul, Pemerintah Desa
284
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Gadingsari, Pusat Kesehatan Masyarakat Kecamatan Sanden, Perguruan
Tinggi, Dinas Pertanian dan Kehutanan Kulon Progo, Pemerintah Desa
Kaliagung, Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Agung Mulyo, Badan
Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), pengusaha di desa, dan
kelompok monitor atau pendengar radio komunitas. Bentuk kemitraan yang
terjalin bersifat independen dimana mitra kerja tidak mengintervensi
operasionalisasi radio komunitas baik secara ekonomi maupun secara politik.
Prinsip
radio komunitas untuk menginformasikan ide atau gagasan
berkenaan dengan solusi masalah di perdesaan tetap menjadi dasar
penyelenggaraan program siaran.
3. Pegiat radio komunitas terlibat dalam kegiatan kemitraan dan langsung
terjun ke lapangan berbaur dengan warga desa . Sebagai contoh adalah pada
saat dilakukan sosialisasi pola tanam oleh Dinas Pertanian dan Kehutanan
Kulon Progo, Bek selaku penyuluh pertanian swadaya sekaligus penyiar
Radio Trisna Alami FM turut melakukan sosialisasi program pertanian .
Simpulan
Berdasarkan uraian hasil analisis dapat diajukan simpulan sebagai
berikut:
a. Radio komunitas Paworo FM dan Trisna Alami FM tetap bertahan
sebagai radio di perdesaan yang bersifat nonkomersial, nonpartisan,
dan independen. Hambatan yang dihadapi adalah faktor pembiayaan,
perizinan, frekuensi siaran, dan kaderisasi pengelola.
b. Peranan radio komunitas dalam pemberdayaan masyarakat desa
adalah menyelenggarakan program siaran
sesuai kebutuhan
informasi warga desa, menjalin kemitraan dengan pihak terkait
program pemberdayaan, dan keterlibatan langsung pegiat media
dalam program pemberdayaan.
Saran yang dapat diajukan adalah peningkatan upaya kaderisasi
pengelola media, proses perizinan yang lebih mudah, alokasi frekuensi yang
memadai , dan adanya dukungan teknologi informasi bagi media komunitas.
Daftar Pustaka
Berger P, & Luckmann T. (1990). Tafsir Sosial atas Kenyataan (terjemahan).
Jakarta: LP3ES.
[BPS]Biro Pusat Statistik .( 2014). Bantul Dalam Angka. Yogyakarta : BPS
Kabupaten Bantul
[BPS]Biro Pusat Statistik .(2014). Kabupaten Kulon ProgoDalam Angka.
Yogyakarta : BPS Kulon Progo
Creswell W (2010). Research Design: Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan
Mixed.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
[CRI] Combine Resource Institution. (2009). Radio Komunitas dan Pelayanan
Publik. Yogyakarta: CRI.
285
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Denzin NK, Lincoln YS. (2009). Handbook of Qualitative Research. California:
Sage Publications, Inc.
Deuze M. (2006). Ethnic Media, Community Media, and Participatory Culture. J
Sage. 7(3). 262-280.
Georgiou M. (2001). Crossing The Boundaries of The Ethnic Home: Media
Consumption and Ethnic Identity Construction in The Public Sphere. Sage.
63(4). 311-328.
Giddens A. (2010). Teori Strukturasi. Dasar-Dasar Pembentukan Struktur Sosial
Masyarakat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Jankowski NW. (2002). Community Media in the Information Age. Hampton:
Hampton Press.
Johnson K. (2001). Media, Culture, Society: Media and Social Change, The
Modernizing Influences of Television in Rural India. Sage. 23(2). 147-169.
Ife J, & Tesoriero F. (2008). Community Development, Alternatif Pengembangan
Masyarakat di Era Globalisasi (terjemahan). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
[Kemenkominfo] Kementrian Komunikasi dan Informasi RI. (2011). Himpunan
Peraturan Perundang-Undangan di Bidang Penyiaran 2002 – 2007. Jakarta:
Kemenkominfo.
Leeuwis C. (2009). Komunikasi untuk Inovasi Perdesaan. Berpikir Kembali
tentang Penyuluhan Pertanian. Yogyakarta: Kanisius.
Liswijayanti F. (2005). Media dan Identitas Etnis Tionghoa. J Thesis .1(1). 6988.
Manyozo L. (2012). Media, Communication, and Development. India: Sage
Publications India.Pvt. Ltd.
Maryani E. (2007). Resistansi Komunitas melalui Media Alternatif. Disertasi.
Jakarta: Universitas Indonesia.
Monografi Desa Kaliagung. (2014). Monogrofi Semester II (Juli – Desember)
Tahun 2014. Kulon Progo.
Mosse JC. (2007). Gender dan Pembangunan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Nasution Z. (2007). Komunikasi Pembangunan: Pengenalan Teori dan
Penerapannya. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Neuman LW. (2003). Social Research Methods: Qualitative and Quantitative
Approaches.5thedition. New York: Allyn and Bacon.
Soekanto S. (2005). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Press.
Subarkah A. (2012). Radio Komunitas dan Kegagalannya sebagai Media Counter
Hegemony: Studi Kasus Radio Angkringan dan Radio Panagati di Provinsi
DI Yogyakarta. J Communication Spectrum. 2(1). 13-29.
Wahyono SB. (2011). Optimalisasi Desa Informasi melalui Penguatan
Kelembagaan. IPTEK KOM.13 (2). 1-42.
Wrihatnolo RR. (2007). Manajemen Pemberdayaan: Sebuah Pengantar dan
Panduan untuk Pemberdayaan Masyarakat. Jakarta: PT Elok Komputindo.
286
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Lampiran
Siaran pertanian Radio Trisna Alami
Paworo FM
Siaran Ngungak Budaya Radio
Biografi Penulis
Ika Yuliasari ,lahir di Yogyakarta tanggal 22-Juli -1974. Menyelesaikan
jenjang pendidikan S1 di jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah
Mada(1999), jenjang S2 di Departemen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas
Indonesia(2007), dan sedang menyelesaikan studi S3 dengan kajian Komunikasi
Pembangunan Pertanian dan Perdesaan Institut Pertanian Bogor (IPB). Saat ini
bekerja sebagai dosen tetap di FIKOM Universitas Jayabaya Jakarta dan
melakukan penelitian tentang media lokal dengan dana Direktorat Jenderal
Pendidikan Tinggi.
Euis Komalawati, lahir di Jayapura 9 Oktober 1976. Dosen Tetap di
Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Jayabaya (2000 – sekarang). Pendidikan
terakhir diselesaikan di Program Doktor Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia
tahun 2015, menamatkan studi Magister Ilmu Komunikasi di Universitas
Indonesia tahun 2007 dan studi Sarjana diraihnya di Fakultas Ilmu Komunikasi
Universitas Padjadjaran tahun 1999. Selain mengajar, ia juga aktif melakukan
penelitian pada kajian media studies, film, dan political economy yang didanai
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Disamping mengajar dan meneliti, saat
ini ia juga dipercaya sebagai Wakil Bendahara Umum Ikatan Sarjana Komunikasi
Indonesia (ISKI) dan Ketua Bidang Hubungan Masyarakat Asosiasi Pendidikan
Tinggi Ilmu Komunikasi (ASPIKOM) Wilayah Jabodetabek
287
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
KETERLIBATAN AUDIENS DENGAN MEDIA PERSONAE (STUDI
PADA PROSES TERBANGUNNYA HUBUNGAN SEMU ANTARA
PENGGEMAR DENGAN IDOLA DALAM PROGRAM ACARA
RUNNING MAN)
Desideria Lumongga Dwihadiah Leksmono
Universitas Pelita Harapan
[email protected],[email protected]
Abstract
Running Man is a variety show which becoming the latest part of Korean
Popular Culture’s product after the popularity of Korean Drama and Korean
Pop (K-Pop). As a product of pop culture which made based on the market’s
taste, variety show also has to observe the target market’s desire from an
entertainment product. Audience who love the variety show has different
characteristics than casual audience, therefore they are called fans. The different
characteristics lay on the involvement of emotional and intellectual capabilities’
of fans. Because of the emotional and intellectual capabilities involvement, the
fans think that they have special relations with the media personae, in which the
relations are not real, called Pseudo Relationship. The fans’ involvement consist
of four processes which are: Transportation, Parasocial Interaction (PSI),
Identification and Worship.
Key Words: pseudo relationship, fans, media personae, running man
Abstrak
Running Man adalah sebuah program varietas yang merupakan bagian dari
produk budaya populer Korea Selatan dan muncul paling akhir sesudah
kepopuleran drama seri TV Korea (Korean Drama) dan musik pop Korea (KPop). Sebagai sebuah produk budaya pop yang dibuat berdasarkan selera pasar,
program varietas juga dibuat dengan memperhatikan kehendak penonton yang
menggemari program hiburan. Penonton yang menggemari program varietas
Running Man memiliki ciri yang berbeda dengan penonton biasa karena adanya
keterlibatan emosi dan intelektual dalam aktivitas menonton. Keterlibatan emosi
dan intelektual para penggemar ini menyebabkan mereka merasa seolah-olah
memiliki hubungan. Hubungan tersebut bukanlah hubungan yang nyata
(hubungan semu) dengan figur yang ditampilkan media, yang biasa dikenal
dengan istilah media personae. Keterlibatan penggemar yang merupakan audiens
dari program varietas Running Man dengan media personae dapat dilihat dalam
empat tahapan proses : Transportasi, Parasocial Interaction (PSI), Identification
dan Worship.
Kata kunci: hubungan semu, penggemar, media personae, running man
288
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Pendahuluan
Latar Belakang
Penelitian tentang pengaruh media pada audiens maupun pengaruh dari
figur yang tampil di media baik figur imajinatif seperti tokoh kartun atau tokoh
dalam sebuah cerita novel maupun figur publik seperti selebritis dan artis pada
audiens sudah banyak dibahas selama ini. Akan tetapi penelitian bagaimana
audiens terlibat dengan tokoh yang ditampilkan dalam media ataupun bagaimana
audiens memahami lalu mengolah sebuah tontonan sebagai sesuatu yang menarik
dan memberikan manfaat menurut audiens sendiri, belum banyak diamati dalam
penelitian-penelitian komunikasi, penelitian-penelitian seperti ini bertitik tolak
dari studi tentang audiens (Audience Studies).
Dalam penelitian ini yang didasarkan pada studi tentang audiens, yang
menjadi fokus adalah keterlibatan audiens atau penonton sebuah program acara
TV dengan figur yang ditampilkan di media. Figur yang dimaksudkan dalam
penelitian ini adalah artis atau aktor yang menjadi tokoh utama dalam sebuah
program varietas (variety show) yang berasal dari Korea Selatan. Program yang
dimaksud adalah Running Man, sebuah program varietas yang menampilkan
berbagai permainan yang harus dilakukan secara berkelompok dengan
menekankan pada unsur humor dari berbagai aksi pemainnya.
Running Man merupakan sebuah program varietas yang paling lama yang
pernah diproduksi stasiun TV Seoul Broadcasting System (SBS) karena telah
berusia lima tahun sejak pertama kali diproduksi tahun 2010 dan hingga saat
tulisan ini dibuat dari hasil penulusuran peneliti sudah mencapai lebih dari 280
episode dan setiap pengambilan gambar selalu mengambil tempat di berbagai
lokasi landmark yang unik dan khas pemandangannya. Running Man dibintangi
oleh delapan orang aktor dan artis sebagai pemain tetap yaitu Yoo Jae-suk, Ji
Suk-jin, Kim Jong-kook, Gary, Haha, Song Ji-hyo, dan Lee Kwang-soo yang
menjadi pemain tetap. Dalam setiap episode program ini sering mendatangkan
bintang-bintang tamu para artis K-Pop seperti G Dragon, Tae Yang dari Big
Bang, para artis yang tergabung dalam Girls’ Generation (Taeyeon, Hyoyeon,
Seohyun,Yoona, Yuri, Jessica), Choi Siwon, Kim Hee Chul, Shindong dan
Eunhyuk dari Super Junior. Di Indonesia Running Man diputar oleh stasiun
Rajawali Televisi (RTV) sejak Februari 2015 setelah sebelumnya hanya dapat
disaksikan di saluran TV berlangganan yaitu Sony Entertainment Television dan
LBS TV Drama.
289
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Gambar 1: Berbagai Permainan Dalam Tayangan Running Man
Penonton di Indonesia sangat menggemari Running Man karena humor
yang terkandung di dalam tiap aksi permainan yang dilakukan oleh pemain tetap
dan bintang tamu, terlebih lagi karena seluruh pemain dan tamu berwajah tampan
dan cantik sehingga tidak masalah bagi mereka jika telihat konyol dan bodoh
dalam tiap episode (Yee, 2013). Mereka bukan lagi hanya menjadi penonton
sebuah tayangan program TV biasa akan tetapi telah menjadi penggemar dari
program varietas dari Korea karena tidak pernah melewatkan setiap tayangan
yang diputar. Sebagaimana penggemar produk budaya populer lainnya maka
penggemar Running Man ini juga mayoritas adalah remaja dan anak-anak muda
yang senang dengan hiburan yang mengandung humor dan tingkah konyol.
Karena itulah ketika program ini sempat berhenti ditayangkan para
penggemar di tanah air beramai-ramai menuliskan protesnya di berbagai media
sosial milik stasiun-stasiun TV dan media sosial yang khusus dibuat oleh para
penggemar (fanbase social media). Akun media sosial milik stasiun TV yang
menyiarkan Running Man dipenuhi dengan protes menggunakan tanda pagar
(hashtag) seperti #saverunningman dan ketika akhirnya pengumuman tentang
penayangan kembali maka tagar seperti #runningmanisbackonRTV? memenuhi
media sosial (Dwifantya, 2015). Bahkan dari pengamatan peneliti pada akun
media sosial milik LBS TV Drama dan twitter fanbase Running Man hingga
bulan Februari 2016 ini masih banyak penggemar yang meminta untuk Running
Man diputar kembali oleh stasiun TV tersebut.
Gambar 2: Protes Penggemar di media sosial tentang Penghentian
Tayangan Running Man
290
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Protes yang demikian menandakan bahwa program varietas ini memang
memiliki penggemar yang setia dengan jumlah yang tidak sedikit di Indonesia,
sehingga begitu program dihentikan tayangannya, protes langsung datang
bertubi-tubi. Dari situlah produsen Running Man mengetahui bahwa mereka
memiliki penggemar yang setia dalam jumlah yang cukup banyak di Indonesia
hingga mereka pernah melakukan pengambilan gambar di Taman Safari
Indonesia di Cisarua bulan Oktober tahun 2014. Sebelumnya pada awal tahun
yang sama para pemain Running Man juga pernah ke Indonesia dan mengadakan
pertandingan persahabatan melawan kesebelasan Indonesia All Star di Stadion
GBK Jakarta yang mengundang penonton memadati stadion layaknya sebuah
pertandingan sepakbola sesungguhnya.
Mengapa sebuah program varietas seperti ini dapat menarik penggemar
hingga menjadi audiens setia di tengah-tengah banyaknya program varietas
lainnya di berbagai stasiun TV di Indonesia? Jika dilihat kembali program
varietas merupakan produk unggulan terbaru yang dihasilkan oleh produsen
media hiburan dari Korea Selatan sesudah Korean Drama atau K-Drama dan
Korean Pop Music (K-Pop) terlebih dulu populer dan mendunia. Sebagai sebuah
produk terbaru yang menjadi bagian dari penyebaran budaya populer Korea
Selatan (untuk selanjutnya disebut Korea saja) program varietas menyebar ke
berbagai negara dan menarik banyak penggemar walaupun baru beberapa tahun
saja, seperti Running Man yang berhasil meraih 39 penghargaan sebagai produk
hiburan terbaik dan terpopuler dalam beberapa tahun sejak pertama kali
diproduksi tahun 2015 (Choe, 2015; Yip, 2013: 1; Whitman, 2013).
Melalui program varietas Korea seperti Running Man ini, produsen
budaya populer Korea ingin menunjukkan berbagai lokasi indah khas negaranya,
makanan lokal dan perilaku serta kebiasaan orang Korea (Yip, 2015) untuk
menarik perhatian penonton internasional. Strategi ini sebenarnya juga telah
dijalankan oleh berbagai K-Drama yang populer ke seluruh dunia sejak kurang
lebih tahun 2002. Karena kepopuleran K-Drama maka nama Korea terangkat dan
dikenal ke seluruh dunia termasuk Indonesia (Jung, 2013). Sebagai sebuah
produk budaya pop, program varietas ini juga harus memperhatikan selera pasar.
Lingkup Permasalahan
Seperti telah dikemukakan sebelumnya yang dimaksudkan sebagai para
penggemar dalam penelitian ini adalah mereka yang merupakan penonton setia
program varietas Running Man, bukan penonton biasa (casual audience) yang
menonton bilamana memiliki kesempatan.
Perbedaan antara penonton biasa dan penggemar selain pada intensitas
menonton tayangan program juga pada intensitas keterlibatan emosi dan
intelektual saat menikmati tayangan program yang digemari, karena menonton
TV sebagai penggemar melibatkan tingkatan perhatian yang berbeda dari
penonton biasa (Jenkins, 1992: 56).
Penggemar atau dalam istilah Bahasa Inggris disebut fans (yang
merupakan singkatan dari fanatic) memiliki keterlibatan perasaan yang
mendalam dengan figur yang ditampilkan oleh media, perasaan mendalam
291
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
tersebut meliputi kekaguman, kecintaan dan memuja segala sesuatu yang
berkaitan dengan figur yang mereka tersebut. Karena keterlibatan perasaan
penggemar yang mendalam pada figur yang ditampilkan di media maka mereka
juga dapat dipengaruhi oleh figur tersebut.
Dalam keterlibatan penggemar tersebut ada empat proses tahapan yang
akan menggambarkan bagaimana mereka dapat terlibat dan dipengaruhi dengan
figur yang ditampilkan media yang disebut dengan istilah media personae.
Brown (2015: 259-260) dan Guse (2015) menjelaskan tentang ke empat
proses keterlibatan audiens dengan media personae yang meliputi: Transportation
(transportasi), Parasocial Interaction (PSI), Identification (identifikasi) dan
Worship (pemujaan), ke empat proses yang dijabarkan oleh ke dua ahli tersebut
yang akan dibahas dalam penelitian ini dalam kaitannya dengan hubungan yang
dibangun oleh penonton yang menggemari Running Man dengan para pemain
yang menjadi bintang dalam program varietas tersebut.
Tujuan Penelitian
Sehingga tujuan penelitian ini dilakukan adalah untuk menganalisa:
Bagaimana keterlibatan penggemar program Running Man dengan media
personae yang terjadi dilihat melalui empat proses keterlibatan yang meliputi
Transportation, Parasocial Interaction (PSI), Identification dan Worship? Dan
Bagaimana hubungan semu dapat terbangun antara penggemar program Running
Man dengan media personae?
Tinjauan Pustaka
Keterlibatan Audience (Audience Involvement)
Yang dimaksud dengan keterlibatan audiens adalah tingkat respon
psikologis dari seseorang terhadap pesan yang dimediasi atau persona/ karakter
yang dimediasi, keterlibatan yang dimaksud adalah sebuah proses yang dinamis
yang menghubungkan antara mengkonsumsi media dan memproduksi bersama
(co produksi) media melalui interaksi termediasi (Brown, 2015).
Konsep tentang keterlibatan dalam riset komunikasi yang berakar pada
ilmu sosial memfokuskan perhatian terutama pada pengalaman individual
mengkonsumsi media bukan pada pengalaman secara kolektif atau pada mereka
yang bersama-sama mengkonsumsi media. Rubin & Perse (1987) menjelaskan
bahwa keterlibatan meliputi aspek-aspek kognitif, afektif dan partisipasi
behavioral karena terpaan media (media exposure).
Transportation
Dalam proses pertama yang termasuk dalam keterlibatan audiens ini
menjelaskan tentang bagaimana audiens/ penonton terlibat dalam narasi yang
sedang ditampilkan di media oleh figur yang tampil (media personae).
Transportasi yang dimaksud di sini adalah keterlibatan (penonton) dengan cerita
dan keterlibatan dengan karakter yang ada dalam cerita (Green & Brock dalam
Brown, 2015). Yang terjadi di sini adalah penonton/ audiens begitu ikut terlibat
292
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
dalam cerita/ narasi seolah-olah mereka sendiri yang sedang berperan dalam
cerita yang sedang ditampilkan di media.
Dalam proses transportasi ini, audiens atau penonton terlibat secara
emosional dan psikologis dengan narasi/ cerita dan karakter yang ada di
dalamnya dan audiens sering berimajinasi bahwa mereka sendiri berada di
hadapan media personae (figur/ karakter yang ditampilkan dalam narasi).
Parasocial Interaction/ PSI (Interaksi Parasosial) dan Kaitannya dengan
Hubungan Semu
Konsep Parasocial Interaction (PSI) atau Interaksi Parasosial menjadi
sebuah konsep yang dipahami dalam ranah ilmu komunikasi dan studi media
setelah diperkenalkan oleh Horton dan Wohl dalam artikel mereka di tahun 1956.
Menurut ke dua ahli tersebut pemahaman tentang PSI pada awalnya adalah
seperti interaksi tatap muka yang dapat terjadi antara karakter yang ada di media
dengan audiensnya (Ballantine & Martin, 2005: 198). Audiens yang dimaksud
adalah penonton atau pengguna media massa sedangkan karakter yang ada di
media dapat meliputi penyiar, artis dan aktor maupun selebritis.
Karakteristik dari PSI antara lain bersifat komunikasi satu arah/ non
dialektik, dikontrol oleh figur yang tampil di media, penonton dapat menarik diri
kapan saja dari hubungan tersebut dan bebas memilih bentuk hubungan berbeda
yang ditawarkan (Laken,2009: 6). Bentuk hubungan berbeda misalnya dengan
menganggap figur yang tampil di media sebagai anggota keluarga, kekasih,
teman sahabat bahkan musuh. Sedangkan komunikasi satu arah atau non
dialektik yang dimaksud di sini adalah komunikasi yang terjadi hanya dari pihak
figur yang ditampilkan di media yang mengetengahkan sebuah narasi dan
mengkontrol narasi yang dikirimkan melalui media kepada audiens. Oleh karena
itu fFigur yang tampil di media menjadi seolah-olah dikenal dekat oleh audiens
karena narasi yang ditampilkannya disukai, dinikmati dan dipahami oleh audiens
(Ruddock, 2007: 125).
Sehingga Parasocial Interaction (PSI) jika ditilik secara harfiah dari asal
katanya dalam bahasa Indonesia, para- artinya bukan atau di luar atau melampaui,
sedangkan sosial berarti kumpulan orang-orang atau masyarakat, jadi PSI adalah
sebuah interaksi atau hubungan yang bukan dibangun dengan orang (lain) atau
dapat dikatakan sebuah hubungan yang semu.
Media Personae
Konsep media personae tidak dapat dipisahkan dari diskusi tentang PSI
karena istilah personae adalah bagian dari konsep parasosial. Personae adalah
karakter fiksi yang ditampilkan di media yaitu figur yang dengan siapa
penggemar membangun hubungan parasosial dan personae hadir bagi audiens
hanya dalam interaksi atau hubungan parasosial (Laken, 2009 :7). Horton dan
Wohl (1956) menjelaskan bahwa personae tidak ada dalam bentuk hubungan
sosial yang lain di luar media. Audiens mengenal personae seolah mengenal
teman sendiri dan hal itu diperoleh dari pengamatan dan interpretasi langsung
293
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
dari penampilan personae (di media), gerakan tubuh dan suara serta percakapan
dan tingkah laku dalam beragam situasi.
C.G. Jung sebagaimana dikutip Brown (2015: 261) mendefinisikan
personae sebagai aktor atau pejabat terkenal, selebritis, peran sosial dan citra
seseorang. Lebih lanjut Brown juga mendefinisikan bahwa personae dapat juga
tokoh nyata atau fiksi yang dijumpai melalui berbagai bentuk interaksi yang
dimediasi (interaksi secara tidak langsung atau melalui media). Sehingga dapat
dikatakan bahwa yang dimaksud dengan media personae adalah selebritis atau
tokoh/ figur baik nyata maupun imajinatif yang menjadi karakter dalam suatu
narasi/ cerita yang digemari oleh penonton/ audiens.
Identification
Dalam proses Identifikasi ini yang terjadi adalah adaptasi dari perilaku
yang dilakukan oleh media personae oleh audiens, karena dalam tahap ini terjadi
pengaruh sosial di mana ada internalisasi tingkah laku, kepercayaan (beliefs) dan
nilai dari obyek yang diidentifikasikan yaitu media personae kepada audiens
dalam hal ini adalah penonton. Proses identifikasi terjadi jika penonton
mengambil peran media personae sehingga ada perasaan kedekatan dan
hubungan emosional dengan karakter/ figure yang ditampilkan di media (Cohen
dalam Brown, 2015).
Lebih lanjut dijelaskan bahwa dalam proses identifikasi terjadi dengan
cepat dan cepat berlalu dengan intensitas yang berbeda-beda. Selama proses ini
audiens membayangkan diri sendirilah yang menjadi karakter itu dan
menggantikan identitas pribadinya sesuai dengan peran karakter yang ada dalam
narasi/ cerita. mereka ingin meniru satu atau lebih kualitas yang ditunjukkan oleh
karakter.
Worship
Dalam proses ini yang diamati adalah keterlibatan penonton dengan
media personae yang begitu kuat di mana penonton memandang bahwa selebritis
atau media personae dengan status dan perhatian yang kurang lebih sama dengan
yang seharusnya diberikan kepada Tuhan. Hal ini terjadi karena penonton yang
merupakan konsumen media cenderung mengidolakan selebritis personae hingga
pada tingkatan di mana keterlibatan tersebut sudah sama tingkatannya dengan
pemujaan/ penyembahan (worship).
Dalam proses worship ini Maltby, Giles et al (2005) membagi pemujaan
(worship) kepada selebritis/ media personae dalam tiga tingkatan : tingkatan
rendah (low level) berfokus pada nilai hiburan – sosial darimedia personae,
seperti mengikuti kehidupannya melalui media, membicarakan tentang selebritis
yang dipujanya dengan orang lain dan senang berkumpul bersama orang lain
yang memiliki ketertarikan yang sama dengan media personae yang dipuja.
Tingkatan menengah fokus pada intensitas perasaan pribadi yang dimiliki
audiens terhadap media personae atau selebritis yang dikagumi, misalnya dengan
menganggap dan berpikir bahwa sang selebritis adalah pasangan hidupnya atau
menjadi orang yang terobsesi dengan hal-hal mendetil tentang kehidupan pribadi
294
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
sang selebritis. Tingkatan ke tiga adalah tingkatan yang abnormal dan berbahaya
karena kesediaan audiens melakukan apapun untuk menyenangkan media
personae.
Metodologi
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif
dengan metode deskriptif. Adapun metode pengumpulan data dilakukan dengan
melakukan in depth interview kepada para informan dalam penelitian ini, yaitu
anak muda dan remaja yang menjadi penggemar Running Man dan setia selalu
menonton setiap tayangannya bahkan beberapa orang diantara informan sudah
menonton program ini sejak pertama kali ditayangkan di Indonesia. Selain itu
peneliti juga melakukan observasi non partisipan di mana peneliti ikut menonton
program tayangan bersama dengan informan secara terpisah untuk mendapatkan
gambaran dengan lebih jelas bagaimana keterlibatan informan secara emosional
dan psikologis dengan pemain selama tayangan.
Adapun jumlah informan dalam penelitian ini sebanyak empat orang.
Penggemar yang diwawancarai dalam penelitian ini juga pernah menonton acara
Running Man Fan Meeting dan Asia Dream Cup di Jakarta tahun 2014 yang lalu.
Hasil Temuan dan Diskusi
Dalam bagian ini secara umum akan dijelaskan temuan yang didapatkan
peneliti mengenai gambaran keterlibatan audiens dengan media personae yaitu
selebritis yang menjadi pemain dalam program varietas Running Man.
Informan 1 : NAL
Perempuan, berusia 17 tahun dan berdomisili di Jakarta Selatan, saat ini menjadi
siswa kelas XI sebuah SMA swasta. NAL sudah lama menjadi penggemar K-Pop
terutama grup boyband seperti EXO, Big Bang dan BTS. Menonton program
Running Man sejak awal secara tidak sengaja karena selalu memutar saluran TV
berbayar di stasiun khusus yang menyiarkan acara-acara dan konser K-Pop dan
saat ada pengumuman acara baru NAL mencoba menonton dan langsung
menyukai.
Menurut NAL pemain yang paling disukai dan menjadi idolanya adalah
Jong Kook yang pura-pura hebat dan Gary yang sangat lucu dan bodoh karena
selalu tertipu pemain lain. Saat menonton NAL sering berteriak-teriak memberi
arahan dan komentar kepada pemain sambil bertepuk tangan. NAL belum pernah
mengunjungi Korea karena itulah ia senang dengan pemandangan yang menjadi
lokasi shooting Running Man yang selalu berganti-ganti. NAL memiliki
keinginan berkunjung ke Korea dan mendatangi tempat-tempat shooting tersebut.
NAL ingin memiliki pacar seperti Gary yang kocak dan bercita-cita ikut acara
Fan Meeting jika Running Man kembali berkunjung ke Jakarta.
295
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Informan 2: EW
Laki-laki berusia 19 tahun, berdomisili di Bogor, saat ini menjadi mahasiswa
semester 4 di sebuah PTS. EW mengaku menyukai program Running Man karena
idolanya Yoona salah satu anggota girlband SNSD menjadi bintang tamu.
Menurut EW dia baru mengetahui bahwa Yoona adalah seorang yang lucu,
sporty dan bisa melawak setelah menonton acara Running Man ini. Sejak
menonton Yoona menjadi bintang tamu dalam program ini EW lalu menjadi
penggemar setia Running Man. Bahkan EW membeli kaos souvenir resmi secara
online saat Running Man berkunjung ke Indonesia. EW paling menyukai Song
Jihyo di antara para pemain tetap Running Man karena menurut dia Jihyo dapat
mengimbangi pemain laki-laki saat berlomba dalam setiap games yang diadakan.
Saat menonton EW hanya sesekali mengomentari kecurangan yang dilakukan
oleh para pemain, EW sangat terhibur dengan tayangan Running Man karena
permainan yang dinilainya sering aneh-aneh.
Informan 3 : EV
Perempuan, berusia 17 tahun berdomisili di Jakarta Barat dan saat ini masih
menjadi siswa kelas XI. EV merupakan teman les dari NAL dan mereka berdua
sama-sama menggemari Running Man sehingga setiap kali mereka bertemu saat
les, EV dan NAL selalu berdiskusi tentang program Running Man yang baru
mereka saksikan. EV awalnya adalah penggemar K-Drama karena mamanya
adalah penggemar setia film drama seri Korea, karena mendengar lagu-lagu
sound track film drama EV lalu menggemari K-Pop. Idola EV adalah Shinee dan
Super Junior. Sama dengan NAL, EV menonton Running Man sejak pertama kali
tayang karena dia sudah terlebih dulu setia menonton stasiun yang memutar
program Running Man. EV mengkoleksi kaos-kaos resmi Running Man, ia juga
ikut menonton pertandingan persahabatan di GBK antara Indonesian All Stars
dengan tim Running Man. EV mengidolakan Song Joongki yang menurut dia
sangat tampan dan pintar. EV juga berencana kuliah ke Korea agar dapat bertemu
dengan idolanya tersebut dan berharap dapat menjadi pacar Song Joongki.
Informan 4: VY
Perempuan berusia 19 tahun berdomisili di Bandung saat ini menjadi mahasiswa
program D3 di sebuah kampus swasta di Jakarta. VY menggemari acara Running
Man sesudah menonton bersama teman-teman kampusnya, sebelumnya VY tidak
terlalu mempedulikan K-Pop walaupun saat itu sedang populer. VY
mengidolakan Haha di antara pemain Running Man lainnya karena menurut dia
Haha adalah personil yang paling lucu di antara yang lain. VY juga menilai
bahwa Haha adalah yang pemain yang paling tampan dibanding pemain Running
Man lainnya. VY selalu menonton acara Running Man di antara kesibukannya
belajar. Di kamarnya VY memiliki beberapa poster bergambar para pemain
Running Man yang ditempel di dinding. Saat menonton VY sering kali berteriakteriak dan tertawa terbahak-bahak melihat permainan para personil Running Man
terutama Haha yang diidolakannya.
296
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Simpulan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan audiens dengan media
personae lebih pada proses transportation, identification dan low level worship,
sedangkan Parasocial Interaction hanya terjadi pada informan perempuan.Untuk
mendapatkan gambaran tentang pola keterlibatan audiens sebaiknya ada
penelitian tentang ke empat proses dengan responden lebih banyak dan metode
kuantitatif sehingga akan tampak jelas pola keterlibatan penggemar yang ada di
Indonesia dengan selebritis yang menjadi media personae dan tingkat kedalaman
masing-masing proses dapat terlihat lebih jelas.
Daftar Pustaka
Aquina, Dwifantya. (2015, 11 Februari). Running Man New Season Tayang di
RTV
Pekan
Ini.
Diambil
dari
http://rtv.co.id/read/entertainment/1825/running-man-new-season-tayang-dirtv-pekan-ini
Aquina, Dwifantya. (2015, 14 Februari). Running Man New Season Hadir di RTV
Hari Ini. Diambil dari http://rtv.co.id/read/entertainment/1884/running-mannew-season-hadir-di-rtv-hari-ini
Ballantine, Paul W & Martin, Brett AS. (2005). Forming Parasocial Relationship
in Online Communities. NA – Advances in Consumer Research Volume 32,
eds. Geeta Menon and Akshay R. Rao, Duluth, MN : Association for
Consumer Research
Biany.
(2015).
Hello,
Running
Man.
Diambil
dari
https://www.users.miamioh.edu/BIANY2/IM5201
Bordelon, Lance. (2014). “Les Miserables: Twitter Revolution” A Study of Fan
Activity, Parasocial Relationship and Audience- Persona Interaction. Thesis
Master. The Manship School of Mass Communication, Louisiana State
University
Brown, William J. (2015). Examining Four Processes of Audience Involvement
With Media Personae : Transportation, Parasocial Interaction,
Identification, and Worship. Journal of Communication Theory, Vol. 25 No.
3, August 2015
Choe,
Grace.
(2015).
PAS
6
:
Running
Man.
https://sites.psu.edu/rclyunieverse/2015/10/08/pas-6-running-man
Dwihadiah, Desideria L. (2015). Media dan Imperialisme Budaya: Studi pada
Subkultur Penggemar K-Pop di Indonesia. Universitas Indonesia: Program
Pasca Sarjana Departemen Ilmu Komunikasi
Dwihadiah, Desideria L.& Mayasari, Fitria. (2014). The Influence of Korean Pop
Music (K-Pop) Towards Y Generation in Indonesia.. Jakarta: Universitas
Indonesia & Universitas Pelita Harapan, The 4th Korean Studies Association
of Southeast Asia International Conference,18-20 January 2014
Epstein, Joseph. 2005. Celebrity Culture. The Hedgehog Review, Vol. 7 No.1
297
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Gailbraith, Patrick W & Karlin, Jason G. (2012). Introduction: The Mirror of
Idols and Celebrity. In Gailbraith, Patrick W & Karlin, Jason G (Eds), Idols
and Celebrity in Japanese Media Culture. New York: Palgrave MacMillan
Guse, Emily M. (2015). Extending the Examination of Audience Involvement
with Media Personae. Journal of Communication Theory. Vo. 25 No. 3, Aug
2015
Hakim, Faturrahman.(2015, 14 Desember). K-Pop Bantu Talenta Muda
Indonesia dalam Bermusik. Koransindo.com
Hallyu: The Flow and Spread of Korea: Korean Pop Music. (n.d.). Diambil dari
http://sites.duke.edu/hallyu/korean-pop-music/
Hong, Euny. 2014. The Birth of Korean Cool: How One Nation is Conquering
The World Through Pop Culture. New York: Picador Books
Karlin, Jason G. (2012).Through a Looking Glass Darkly: Television Advertising,
Idols and The Making of Fan Audiences. In Gailbraith, Patrick W. & Karlin,
Jason G (Eds), Idols and Celebrity in Japanese Media Culture. New York:
Palgrave MacMillan
Kertapati, Lesthia & Tasya Paramitha. (2014, 25 Oktober). Taman Safari
Indonesia,
Episode
Favorit
Bintang
Running
Man.
http://life.viva.co.id/news/read/551522-taman-safari--indonesia--episodefavorit-bintang-running-man
Kim, Myung O.& Jaffe, Sam. (2013). The New Korea: Mengungkap Kebangkitan
Ekonomi Korea Selatan. Jakarta: Elex Media Komputindo
Kim, Regina.(2011). South Korean Cultural Diplomacy and Efforts to Promote
The ROK’s Brand Image in The United States and Around The World.
Stanford Journal of East Asian Affairs, Vol. 11 No.1
Laken, Amanda. (2009). Parasocial Relationships with Celebrities: An Illusion of
Intimacy.Thesis Master. Las Vegas: University of Nevada.
Leung, Sarah. (2012). Catching The K-Pop Wave: Globality in The Production,
Distribution, and Consumption of South Korean Popular Music. Senior
Capstone Project. New York: Vassar College
Maltby, J, Giles, DC, Barber, L & McCutcheon, LE. (2005). Intense-Personal
Celebrity Worship and Body Image.: Evidence of A Link Among Female
Adolescents. British Journal of Health Psychology, Vol. 10, p. 17-32
Marboen, Ade. (2015, 14 Desember). Badan Ekonomi Kreatif Akan Kawal
Investor Korea Selatan. Antaranews.com
Nugroho, Suray A. (2011). Apresiasi K-pop di Kalangan Generasi Muda
Yogyakarta: Studi Kasus Pengunjung K-Pop Festival UKDW 2010. Diambil
dari http://www.academia.edu.
Oh, Ingyu & Lee, Hyo Jung. (2013). K-Pop in Korea: How The Pop Music
Industry is Changing A Post-Developmental Society. Cross Current: East
Asian History and Culture Review E-Journal, No. 9. California: Berkeley.
Rubin, RB & Perse, EM. (1987). Audience Activity and Soap Opera Involvement
: A Uses and Gratifications Involvement. Human Communication Research
Vol. 14, 246 -268
Ruddock, Andy. (2007). Investigating Audiences. London: Sage Publications
298
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Siriyuvasak, U & Hyunjoon,Shin. (2007). Asianizing K-Pop: Production,
Consumption and Identification Patterns Among Thai Youth. Inter-Asia
Cultural Studies 8:1 (2007): 109-36
Sun Jung. (2013, 18 Oktober). Social Distribution: K-pop Fan Practices in
Indonesia and the “Gangnam Style” Phenomenon. International Journal of
Cultural Studies
Sun Jung. 2011. Race and Ethnicity In Fandom: Praxis. Artikel dalam Jurnal
Transformative Works and Cultures, Vol. 8 tahun 2011, diakses dari
http://journal.transformativeworks.com/index.php/twc/rt, Diakses 26 Juni
2013
Whitman, Allie. (2013, 20 November). Kolor Me Korean: Korean Variety Show
Games.
https://sites.psu.edu/alliewhitmanrcl/2013/11/20/korean-varietyshow-games
Yang, Danni. (2015). The Introduction of South Korean Reality Shows in The
Chinese
Market
(thesis
master).
Diambil
dari
https://idea.library.drexel.edu/.../ introduction
Yip, Wai Yee. (2013, 24 Oktober). The Winning Formula for Running Man’s
Roaring Success. http://www.straitstimes.com/lifestyle/entertainment/fromthe-straits-times-archives-the-winning-formula-for-running-mans-roaring
Yip, Wan Yee (Willa). (2015). Entertainment Ideological of Reality Show –
Running Man. Diambil dari www.academia.edu
5 Variety Show Korea yang Terkenal di Indonesia. (n.d). Diambil dari:
https://www.selasar.com/budaya/5-variety-show-korea-yang-terkenal-diindonesia
Biografi Penulis
Penulis adalah dosen tetap di Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP
Universitas Pelita Harapan dan sudah mengabdi di tempat yang sama sejak tahun
1999 sebagai dosen tidak tetap hingga tahun 2001, dan akhirnya menjadi dosen
tetap sejak tahun 2002. Sebelumnya penulis berkarier di sebuah perusahaan
minuman berskala internasional. Latar belakang pendidikan penulis: Sarjana
Linguistik dari Jurusan Bahasa & Sastra Inggris, FISIP Universitas Airlangga,
Magister Sains dari Program Manajemen Komunikasi, FISIP Universitas
Indonesia dan Doktor Ilmu Komunikasi dari Departemen Ilmu Komunikasi,
FISIP Universitas Indonesia. Ketertarikan pada budaya populer Korea membuat
penulis melakukan berbagai penelitian yang berfokus pada produk budaya pop
Korea dan sejak tahun 2007 mempresentasikan penelitian yang dibuatnya baik di
Sydney, Jakarta dan Dubai. Tahun 2015 penulis diangkat sebagai Presiden untuk
Regional Indonesia bagi World Association for Hallyu Studies (WAHS), sebuah
asosiasi yang berpusat di Seoul, Korea dan beranggotakan para peneliti dan
akademisi yang memfokuskan perhatiannya pada pengaruh Hallyu ke seluruh
dunia dalam berbagai bidang termasuk bidang komunikasi.
299
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
PENGUKURAN AFEK (MOOD) SECARA KUANTITATIF SEBAGAI
MOTIVASI INDIVIDU DALAM MENGKONSUMSI MEDIA HIBURAN
INTERAKTIF
Mochammad Kresna N
Universitas Indonesia
[email protected]
Abstract
One person's motivation in consuming entertainment media is to set the mood, as
proposed in theory by Peter Vorderer entertainment media. For example, when
someone was in a bad mood often encountered individuals listen to music to set
the mood. In regulating mood by Peter Vorderer not always change the mood sad
perk but in regulating mood also possible to maintain the feeling of sadness to
protracted or maintain a feeling of joy. In the book Theory of Mass
Communication Baran and Davis (2009) that there is limited research in proving
Mood Management Theory (Theory of Management Mood) that can only be done
by an experimental method because it is considered quite difficult to define the
limits a person's mood. Disadvantages of experimental methods compared to the
survey in general can only test a small amount of treatment (treatment) so it is
difficult to test a number of variables and the relationship between the variables
that influence each other in a theoretical model. But the researchers found in the
journal of psychology how to measure quantitatively mood, so the research on
motivation in consuming entertainment media can be done by survey method to
test a certain theoretical models that will be presented in this discussion.
Keywords: media interactive, media consumption motivation, communication
theory
Abstrak
Salah satu motivasi seseorang dalam mengkonsumsi media hiburan adalah untuk
mengatur suasana hatinya, seperti yang dikemukakan dalam teori media
entertainment oleh Peter Vorderer. Sebagai contoh, ketika suasana hati seseorang
sedang buruk sering dijumpai individu tersebut mendengarkan musik untuk
mengatur suasana hatinya. Dalam mengatur suasana hati menurut Peter Vorderer
tidak selalu merubah suasana hati yang sedih menjadi gembira namun dalam
mengatur suasana hati juga dimungkinkan menjaga perasaan sedih sampai
berlarut-larut atau mempertahankan perasaan gembira. Di dalam buku Teori
Komunikasi Massa Baran dan Davis (2009) bahwa terdapat keterbatasan
penelitian dalam membuktikan Mood Management Theory (Teori Manajemen
Suasana Hati) yang hanya bisa dilakukan dengan metode eksperimen karena
dinilai cukup sulit untuk mendefinisikan batasan suasana hati seseorang.
Kekurangan metode eksperimen dibandingkan dengan survey pada umumnya
hanya bisa menguji sejumlah kecil perlakuan (treatment) sehingga sulit untuk
menguji sejumlah variabel dan hubungan di antara variabel yang saling
mempengaruhi dalam suatu model teoritik. Namun peneliti menemukan dalam
300
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
jurnal ilmu psikologi bagaimana mengukur suasana hati secara kuantitatif,
sehingga penelitian mengenai motivasi dalam mengkonsumsi media hiburan
dapat dilakukan dengan metode survey untuk menguji sebuah model teoritik
tertentu yang akan disajikan dalam pembahasan ini.
Kata Kunci: media interaktif, motivasi konsumsi media, teori komunikasi
Pendahuluan
Salah satu kebutuhan manusia dalam hidup adalah kebutuhan akan
hiburan. Menurut Sayre hiburan bisa didapatkan baik secara langsung seperti
menonton konser musik secara live maupun melalui media seperti menonton
acara di televisi, bermain video game dan mendengarkan musik melalui radio
(Sayre, 2002: 2). Apabila berbicara mengenai entertainment atau hiburan dalam
konteks teori media dan masyarakat maka tidak boleh dilupakan bahwa
entertainment merupakan salah satu tugas atau fungsi media dalam masyarakat
(Mc Quail, 2010: 99), selain itu juga perlu diingat kembali sejarahnya bahwa
salah satu dari empat fungsi utama dari komunikasi yang disempurnakan oleh
Wright (1960) adalah hiburan/ entertainment.
Hal itu mengapa fungsi media sebagai penyedia hiburan menjadi penting
untuk diteliti. Salah satu teori dalam ilmu komunikasi yang membahas mengenai
hiburan melalui media adalah Teori Media Entertainment. Melalui model teori
media entertainment yang dikemukakan oleh Peter Vorderer terdapat beberapa
hal yang menjadi motivasi seseorang ketika mengkonsumsi materi hiburan untuk
mendapatkan enjoyment atau kenikmatan melalui media, yaitu: escapism, mood
management serta achievement dan competition. Namun metode penelitian dalam
membuktikan motivasi mood management ketika mengkonsumsi hiburan melalui
media masih terbatas pada metode eksperimen karena terdapat beberapa asumsi
dari para ahli yang menggap sulit untuk mengkuantifikasi perasaan seseorang.
Studi mengenai mood management sebagai motivasi seseorang dalam
mengkonsumsi media hiburan pada umumnya menggunakan bentuk penelitian
eksperimen. Namun metode eksperimen memiliki kelemahan hanya bisa menguji
satu atau dua buah variabel untuk melahirkan sebuah model. Selain itu juga
sengaja diberikan sejumlah perlakuan (treatment) sehingga tidak sesuai dengan
realitas yang terjadi di lapangan. Pada pembahasan mengenai mood management
kali ini peneliti memilih untuk menggunakan metode survey karena lebih
memungkinkan peneliti untuk menguji sejumlah variabel dan hubungan di antara
variabel yang mempengaruhi enjoyment experiences dalam suatu model teoritik.
Dengan menggunakan survei maka peneliti bisa menguji lebih banyak variabel
yang mempengaruhi enjoyment experiences dalam mengkonsumsi media hiburan.
Penggunaan metode ini bukan tanpa dasar, berawal dari model sirkumfleks afek
yang dikemukakan oleh James A. Russel (Russel, 1980: 1161) dengan
pengembangan dari peneliti maka perasaan seseorang sangat mungkin
dikuantifikasi lewat penalaran kognitif. Pada penelitian ini sampel yang dipilih
adalah mahasiswa dengan media hiburan yang dipilih adalah video game,
pertimbangannya adalah penelitian tentang media interaktif masih perlu banyak
301
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
dilakukan pengembangan dibandingkan dengan media non interaktif yang sudah
lebih banyak dilakukan, karena kehadirannya yang lebih awal dibandingkan
media interaktif.
Tinjauan Pustaka
Media Entertainment
Banyak teori yang mengulas media dan dampaknya seperti hypordemic
theory, uses and gratifications theory, cultivation theory dan lain sebagainya.
Sebagian besar membahas dampak dari media namun belum banyak pembahasan
yang terjadi ketika mengkonsumsi media. Seperti kenapa seorang individu bisa
menghabiskan waktu berjam-jam bahkan berhari-hari untuk bermain game,
kenapa seseorang lebih memanfaatkan waktunya untuk menonton sinetron di
televisi atau sekedar mendengarkan musik. Salah satu teori yang bisa
menjelaskan hal ini adalah teori media entertainment.
Seperti pada judul diatas bahwa enjoyment atau kenikmatan adalah inti
dari media entertainment. Ketika seseorang lebih memilih menonton acara
hiburan, bermain game dan lain sebagainya yang berkaitan didalamnya maka
dijelaskan dalam teori ini ketika mengkonsumsi sebuah media terjadi sensasi
kenikmatan (pleasure/ enjoyment) di dalamnya. Motivasi seseorang
mengkonsumsi media untuk mendapatkan enjoyment tersebut diantaranya:
1. Escapism, seseorang ingin mengkonsumsi media bisa jadi karena ingin
mencari pelarian dari kepenatan dan rutinitas sehari-hari, yang akrab di
masyarakat Indonesia dengan kata-kata seperti “mau cari hiburan,
bosen”.
2. Mood management, berikutnya seseorang mengkonsumsi media juga
karena ingin mengatur “mood” atau suasana hatinya. Contohnya ketika
menonton sebuah acara humor bisa jadi mood yang sedang kesal berubah
menjadi senang atau ketika kita mendengarkan lagu ketika sedang sedih
dan terus larut dalam kesedihan bersama lagu tersebut.
3. Seseorang mengkonsumsi media karena kompetisi, pembuktian diri atau
meraih sebuah pencapaian. Contohnya seseorang yang bermain game
untuk mencapai poin dan tingkat kesulitan tertentu.
Mengukur Afek Secara Kuantitatif
Menurut Stephen Robbins afek adalah sebuah istilah umum yang
mencakup beragam perasaan yang dialami orang. Afek adalah sebuah konsep
yang meliputi baik emosi maupun suasana hati (mood). Emosi adalah perasaanperasaan intens yang ditujukan kepada sesorang atau sesuatu. Suasana hati
(mood) adalah perasaan-perasaan yang cenderung kurang intens dibandingkan
emosi dan seringkali tanpa rangsangan konstektual. Berikut tabel penjelasan yang
lebih rinci untuk melihat perbedaan keduanya:
302
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
No
Emosi
No
Suasana Hati (Mood)
1
Disebabkan oleh kejadian
1
Sebabnya seringkali umum &
spesifik
tidak jelas
2
Sangat cepat dalam durasi detik
2
Lebih lama dari emosi (jam atau
atau menit
hari)
3
Bersifat spesifik dan banyak
3
Lebih umum
4
Disertai oleh ekspresi wajah yang 4
Tidak disertai oleh ekspresi yang
jelas
jelas.
5
Bersifat berorientasi tindakan
5
Bersifat Kognitif
Tabel 1. Perbedaan Emosi dan Mood
Model afek ini dihadirkan sebagai cara untuk ahli psikologi agar dapat
menghadirkan kembali struktur dari pengalaman afektif sebagai representasi dari
struktur kognitif yang orang awam gunakan dalam mendefinisikan afek. Bukti
yang mendukung diperoleh dengan memasukkan 28 kata sifat yang merujuk
kepada afek. Keadaan-keadaan afektif tidak bersifat independen antara satu
dengan yang lain, akan tetapi terlihat berhubungan dalam sebuah sistem. Tidak
hanya itu, seringkali struktur yang sama juga akan digunakan dalam menafsirkan
bukti non-verbal terkait keadaan afektif, yang mencakup ekspresi wajah, nada
bicara, kesalahan pengucapan, tindakan jelas, muka yang memerah atau tanda
apapun yang dapat memunculkan petunjuk. Struktur kognitif tersebut juga akan
digunakan dalam mendefinisikan dan melaporkan keadaan perasaan seseorang.
Contoh sederhananya adalah petunjuk kognitif mata melotot, muka memerah
adalah untuk menggambarkan afek marah.
Pada awalnya James A. Russel membagi 8 (delapan) kata-kata yang
menggambarkan afek menjadi 4 kuadran seperti gambar yang ada pada halaman
selanjutnya:
Gambar 1: Kata yang Menggambarkan Afek
303
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Dalam menggambarkan perasaan tidak hanya terbatas pada 8 atau 28
kata, namun berjumlah 512 kata. Seluruh 512 kata tersebut dikategorikan dengan
melakukan FGD dan analisis faktor sehingga terbagi menjadi 4 kuadran dan
beberapa kata seperti yang ada di bawah ini:
Gambar 2: Model yang telah di sempurnakan
Berbekal dari Jurnal A Circumplex Model of Affect dan bahan kuliah
dari Prof. Dr. Umi Narimawati, M.Si. maka peneliti membuat dimensi dan
indikator variabel mood management yang terangkum dalam tabel di bawah ini:
Variabel
Dimensi
Indikator
Tegang
Gugup
Arousal
Tertekan
Marah
Awas
Mood Management Theory
Senang
Teori manajemen suasana hati
Pleasure
Gembira
(Zillmann, 2003) memprediksi
Bahagia
bahwa individu akan memilih
konten media yang menjanjikan
Puas
untuk mengoptimalkan suasana
Tenteram
Sleepiness
hati mereka. Mengoptimalkan
Rileks
bisa menjadi perasaan tersebut
Tenang
lebih dalam atau merubahnya.
Sedih
Depresi
Bosan
Misery
Capai
304
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Contoh pertanyaan dalam kuesioner:
1. Suasana hati saya saat ini sedang sedih, saya bermain game agar saya:
a. tetap merasa sedih seperti saat saya sebelum bermain game (Skor 1)
b. merasa lebih sedih dari sebelumnya (Skor 2)
c. tidak merasa sedih lagi (Skor 3)
Tabel 2. Operasionalisasi Konsep Mood Management
Dalam menuangkan variabel yang ada ke dalam pertanyaan kuesioner,
peneliti kembali kepada definisi operasional teori manajemen suasana hati yaitu
apabila seseorang mengoptimalkan atau merubah suasana hatinya tentu akan
mendapatkan skor yang lebih tinggi daripada mempertahankan suasana hati yang
sama.
Metodologi
Peneliti akan menggunakan metode yang berbeda dalam penelitian ini
untuk menyempurnakan dan menguji kembali model yang sudah ada, apakah
juga sesuai apabila diterapkan pada kultur di Indonesia. Penelitian ini masih ada
pada tahap uji validitas dan reliabilitas kepada 30 responden, menggunakan
paradigma positivistik dan pendekatan kuantitatif (survey) untuk menunjukkan
variabel-variabel yang diteliti dan menguji relavansi suatu teori.
Pertimbangannya yang pertama, metode survei lebih memungkinkan peneliti
untuk menguji sejumlah variabel dan hubungan di antara variabel yang
mempengaruhi enjoyment experiences dalam suatu model teoritik. Apabila
dibandingkan dengan metode eksperimen pada umumnya hanya bisa menguji
sejumlah kecil perlakuan (treatment) dan juga variabel-variabel lain diluar
variabel teoritik.
Nantinya populasi dalam penelitian ini populasinya adalah Mahasiswa di
wilayah DKI Jakarta. Mahasiswa dipilih untuk mewakili remaja di Jakarta karena
menurut Pardede (Pardede, 2002: 138), masa remaja akhir ditandai dengan
persiapan untuk peran sebagai orang dewasa, termasuk klarifikasi tujuan
pekerjaan dan internalisasi suatu sistem nilai pribadi sehingga mahasiswa
dipandang paling tepat untuk mewakili remaja tahap akhir dengan usia maksimal
21 tahun. Selain itu, apabila diterapkan indikator mood tersebut pada usia remaja
akan lebih valid dan reliabel daripada diterapkan kepada anak-anak.
Uji validitas dan reliabilitas dilakukan dengan bantuan perangkat lunak
SPSS 19. Uji validitas dengan melihat Product Moment Correlation dan uji
reliabilitas dengan melihat nilai Alpha Cornbach harus lebih besar dari 0,5.
Hasil Temuan dan Diskusi
Dari 16 indikator mood management kesemuanya lulus uji reliabilitas
dengan nilai Alpha Cornbach sebesar 0,743. Namun dari 16 indikator hanya 11
indikator saja yang valid. Selanjutnya, ketika ke 5 indikator tersebut dihilangkan
305
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
reliabilitasnya meningkat menjadi sebesar 0,840. Lima indikator tersebut adalah
afek awas, tegang, sedih, depresi dan bosan.
Berdasarkan hasil Focus Group Discussion (FGD) dan catatan dari
responden peserta uji validitas dan reliabilitas indikator awas dan tegang menjadi
tidak valid karena responden tidak mengetahui maksud dari kata awas dan lebih
baik diganti menjadi waspada. Berikutnya afek tegang menjadi tidak valid dalam
penelitian ini karena mereka bermain game untuk mendapatkan sensasi
ketegangan bukan karena sebelumnya mereka sudah merasa tegang. Untuk
indikator sedih, depresi dan bosan terletak pada satu dimensi yaitu misery atau
kesedihan yang asumsinya untuk mengatur suasana hatinya mereka lebih
memilih media lain seperti mendengarkan lagu atau menonton film.
Apabila hanya berhenti pada uji validitas dan reliabilitas saja tentunya
masih belum menjawab bagaimana jika indikator yang valid dan reliabel dari
mood management dan escapism diregresikan dengan variabel enjoyment untuk
melihat pengaruhnya demi menguji kebenaran sebuah teori. Berikut tabelnya:
Model
1
R
.220a
Model Summary
Adjusted R
R Square
Square
.048
.014
Std. Error of
the Estimate
12.43691
ANOVAb
1
Sum of
Squares
df
Mean Square
F
Sig.
220.019
1
220.019
1.422
.243a
4330.948
28
154.677
4550.967
29
a. Predictors: (Constant), TotMMrev
b. Dependent Variable: Totenjrev
Tabel 3. Hasil Regresi Variabel Mood Management dan Variabel Enjoyment
Model
Regression
Residual
Total
Model Summary
Model
1
306
R
.575a
R Square
.330
Adjusted R
Std. Error of the
Square
Estimate
.306
10.43319
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
ANOVAb
Sum of
Squares
df
Mean Square
F
Sig.
1503.128
1
1503.128
13.809
.001a
3047.839
28
108.851
4550.967
29
a. Predictors: (Constant), Tesc
b. Dependent Variable: Totenjrev
Tabel 4. Hasil Regresi Variabel Escapism dan Variabel Enjoyment
Model
1
Regression
Residual
Total
Dari hasil regresi di atas terlihat bahwa tidak ada pengaruh yang
signifikan motivasi mood management untuk mendapatkan enjoyment dalam
mengkonsumsi media hiburan khususnya game. Namun escapism mempengaruhi
sebesar 33% sebagai motivasi seseorang mengkonsumsi media hiburan untuk
mendapatkan enjoyment.
Simpulan
Walaupun penelitian ini dilakukan dengan metode lain yaitu survey
(bukan eksperimen), penelitian ini berhasil membuktikan hipotesis teori media
entertainment yang dikemukakan oleh Peter Vorderer benar adanya. Bahwa
terdapat motivasi escapism dalam bermain game untuk mendapatkan enjoyment
namun motivasi individu untuk mengatur mood dengan bermain game tidak
terbukti. Berikut kutipannya:
Although escapism may play some role in an individual decision to select
and play a computer game, mood management hardly appears to be the
reason a player would identify as the motive that triggers and guides his
or her actions. (Vorderer 2004: 400).
Selain itu dalam penelitian ini juga terbukti bahwa suasana hati seseorang
dapat dikuantifikasi. Walaupun sifatnya afektif suasana hati bisa terdeteksi secara
kognitif misalnya dari parameter-parameter di setiap individu bisa mengukur afek
individu lain apakah sedang marah, senang, bosan, atau tegang. Misalnya saja
perasaan sedih terwakili dengan wajah murung dan menitikan air mata. Parameter
kognitif itulah yang digunakan untuk mengkuantifikasi afek seseorang dengan
mengkategorikannya menjadi 4 (empat) kuadran yang terbukti secara
metodologis melalui ilmu psikologi. Hal tersebut juga memperkuat ilmu
komunikasi sebagai ilmu interdisipliner.
Keterbatasan dalam penelitian ini adalah masih pada tahap uji reliabilitas
dan validitas namun sudah memenuhi persyaratan bahwa studi korelasional dan
kausal minimal 30 sampel. Nantinya untuk mendapatkan sampel dalam penelitian
ini akan dilakukan secara acak dengan jumlah sesuai dengan aturan perhitungan
sampel dari jumlah populasinya. Berikutnya untuk indikator yang tidak valid
307
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
akan disempurnakan dan dilakukan pengujian kembali agar indikator-indikator
yang ada sesuai dengan definisi operasional variabelnya dan bisa diandalkan.
Saran untuk penelitian selanjutnya adalah mengeksplorasi motivasi lain
seseorang dalam mengkonsumsi media hiburan interaktif untuk
menyempurnakan teori media entertainment dengan variasi variabel lain maupun
demografi populasinya.
Daftar Pustaka
Baran, Stanley J., and Dennis K. Davis. (2005). Mass Communication Theory
Foundations, Ferment, and Future). Belmont: Wadsworth.
McQuail, D. (2010). McQuail's mass communication theory. London: Sage
Publications.
Pardede, Nancy. (2002). Tumbuh Kembang Anak dan Remaja. Jakarta: Sagung
Seto.
Posner, Jonathan; Russell, James A.; Peterson, Bradley S. (2005). The circumplex
model of affect: An integrative approach to affective neuroscience, cognitive
development, and psychopathology. Development and Psychopathology, Vol
17(3), 715-734.
Robbins, S. P., & Judge, T. (2007). Organizational behavior (6th Ed.). New
Jersey: Prentice Hall.
Russell, J. A. (1980). A circumplex model of affect. Journal of Personality and
Social Psychology, 39, 1161–1178.
Sayre, S. (2002). Entertainment marketing and communication: selling branded
performance people and places. New Jersey: Pearson Prentice Hall.
Vorderer, P., Klimmt, C. & Ritterfeld, U. (2004). Enjoyment: At the Heart of
Media Entertainment. Communication Theory, 14, 388-408.
Zillmann, D. (2000b). The coming of media entertainment: The psychology of its
appeal. New Jersey: Erlbaum.
Lampiran
Regresi Escapism & Enjoyment:
Model
1
R
.575a
Model
1
Regression
Residual
Total
308
Model Summary
Adjusted R
R Square
Square
.330
.306
ANOVAb
Sum of Squares
df
1503.128
1
3047.839
28
4550.967
29
Std. Error of
the Estimate
10.43319
Mean Square
F
1503.128 13.809
108.851
Sig.
.001a
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Coefficientsa
Unstandardized
Coefficients
B
Std. Error
50.989
5.805
2.223
.598
Model
1
(Constant)
Tesc
Standardized
Coefficients
Beta
.575
t
8.783
3.716
Sig.
.000
.001
Regresi Mood Management & Enjoyment:
Model
1
Model
1
R
.220a
Regression
Residual
Total
Model Summary
Adjusted R
R Square
Square
.048
.014
ANOVAb
Sum of Squares
df
220.019
1
4330.948
28
4550.967
29
Std. Error of
the Estimate
12.43691
Mean Square
220.019
154.677
F
1.422
Sig.
.243a
Coefficientsa
Model
1
(Constant)
TotMMrev
Unstandardized Coefficients
B
Std. Error
51.942
16.444
1.035
.868
Standardized
Coefficients
Beta
.220
t
3.159
1.193
Sig.
.004
.243
a
Reabilitas dan Validitas Mood Management:
Reliability Statistics
Cronbach's
Alpha
N of Items
.840
11
Correlations
mm2
mm3
1
.626**
.199
.000
.293
30
30
30
.626**
1
.553**
.000
.002
30
30
30
mm1
mm1
mm2
Pearson Correlation
Sig. (2-tailed)
N
Pearson Correlation
Sig. (2-tailed)
N
mm4
.354
.055
30
.725**
.000
30
mm5
.354
.055
30
.725**
.000
30
mm6
.274
.143
30
.596**
.001
30
309
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
mm3
mm4
mm5
mm6
mm7
mm10
mm11
mm12
mm16
Tmm
Pearson Correlation
Sig. (2-tailed)
N
Pearson Correlation
Sig. (2-tailed)
N
Pearson Correlation
Sig. (2-tailed)
N
Pearson Correlation
Sig. (2-tailed)
N
Pearson Correlation
Sig. (2-tailed)
N
Pearson Correlation
Sig. (2-tailed)
N
Pearson Correlation
Sig. (2-tailed)
N
Pearson Correlation
Sig. (2-tailed)
N
Pearson Correlation
Sig. (2-tailed)
N
Pearson Correlation
Sig. (2-tailed)
N
.199
.293
30
.354
.055
30
.354
.055
30
.274
.143
30
.106
.576
30
.171
.366
30
.171
.366
30
.171
.366
30
.161
.396
30
.486**
.006
30
.553**
.002
30
.725**
.000
30
.725**
.000
30
.596**
.001
30
.485**
.007
30
.165
.384
30
.165
.384
30
.165
.384
30
.139
.465
30
.710**
.000
30
1
30
.932**
.000
30
.649**
.000
30
.628**
.000
30
.294
.114
30
.141
.456
30
.141
.456
30
.141
.456
30
.238
.206
30
.765**
.000
30
.932**
.000
30
1
30
.583**
.001
30
.697**
.000
30
.468**
.009
30
.152
.424
30
.152
.424
30
.152
.424
30
.255
.174
30
.789**
.000
30
.649**
.000
30
.583**
.001
30
1
30
.324
.081
30
.134
.481
30
.152
.424
30
.152
.424
30
.152
.424
30
.096
.615
30
.661**
.000
30
.628**
.000
30
.697**
.000
30
.324
.081
30
1
30
.559**
.001
30
.125
.512
30
.125
.512
30
.125
.512
30
.209
.267
30
.655**
.000
30
Biografi Singkat Penulis
Mochammad Kresna N lahir pada tanggal 22 November 1987 di Jakarta.
Setelah menamatkan pendidikan SMA, penulis melanjutkan studi di Jurusan Ilmu
Komunikasi Universitas Indonesia pada tahun 2006. Pada tahun 2010 penulis
melanjutkan pendidikan S2 di jurusan Manajemen Komunikasi Korporasi
Universitas Indonesia dan sekaligus terjun ke dunia profesional menjadi Praktisi
Public Relations di beberapa perusahaan multi nasional dan pada tahun 2013
aktif menjadi dosen ilmu komunikasi. Saat ini penulis sedang dalam tahap proses
menyelesaikan studi S3 di Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia.
310
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
KEKUATAN MEDIA MASSA TELEVISI DAN KONTEKS SOSIAL
BUDAYA DALAM MENGKONSTRUKSI RELASI JENDER
Sri Budi Lestari
Ilmu Komunikasi-FISIP UNDIP
[email protected]
Abstract
Television’s intervention in society increasing because the audio-visual owned
made television has both creation, and strength persuasive capable of effecting
emotion audience. Unfortunately features is less accompanied by the efforts
adequate from various parties to make it information and a pleasant media most
educative. The television’s power constructed message especially in exploit
women almost in any exposure often discussed. Women who are in the domestic
sector became the main target market of television offerings are entirely based on
personal tastes producer, not a creative work. Using a critical paradigm that is
descriptive qualitative as well as the use of reception theory, reader - response
theory, muted theory and feminist media studies analyzed by analysis of reception
that takes informan from different strata domicile. The research found: that
gender relations in the household informant gedongan interpreted as roles that
have been awakened and manifested since the wedding and sharing to achieve
harmony in the household. . As for the township’ informant still oriented
patriarchal ideology, which puts the inferiority of women with attitude
stereotypes weak, timid, submissive and dependent on others. Similarly, in the
family decision-making, women still must be obedient and responsible in their
domestic role.
Keywords: Women, gender and mass media
Abstrak
Intervensi televisi dalam kehidupan masyarakat semakin meningkat karena
kekuatan audio-visual yang dimiliki menjadikan televisi memiliki sisi kreasi,dan
kekuatan persuasif yang mampu mempengaruhi emosi khalayak. Sayangnya
keistimewaan ini kurang diimbangi dengan upaya yang memadai dari berbagai
pihak untuk menjadikannya media informasi sekaligus media hiburan paling
edukatif. Kekuatan televisi dalam mengkonstruksi pesan terutama dalam
mengeksploitasi perempuan hampir dalam setiap tayangannya sering
diperbincangkan. Perempuan yang berada di sektor domestik menjadi pasar
sasaran utama dari sajian televisi yang sepenuhnya berdasarkan selera pribadi
produser, bukan karya kreatif. Menggunakan paradigma kritis yang bersifat
deskriptif kualitatif serta menggunakan reception theory, reader – response
theory, muted theory dan feminist media studies ini dianalisis dengan analisa
resepsi yang mengambil narasumber dari strata domisili berbeda. Penelitian ini
menemukan : bahwa relasi jender dalam rumahtangga informan gedongan
dimaknai sebagai pembagian peran yang sudah terbangun dan dimanifestasikan
sejak pernikahan dan saling berbagi untuk mewujudkan harmoni dalam
311
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
rumahtangganya. Sedang bagi informan perkampungan masih berorientasi pada
ideologi patriarkhi, yang menempatkan inferioritas perempuan dengan stereotipe
sikap lemah, penakut, penurut, dan tergantung dengan orang lain. Demikian pula
dalam pengambilan keputusan keluarga, perempuan tetap harus patuh dan
bertanggungjawab pada peran domestiknya.
Kata Kunci: Perempuan, jender dan media massa
Latar Belakang
Perkembangan teknologi komunikasi disatu sisi membawa konsekuensi
berkembangnya segala aspek kehidupam sosial, khususnya terkait perkembangan
media massa. Sementara disisi lain dunia pertelevisian di Indonesia turut
berkembang, ditandai dengan munculnya berbagai stasiun televisi swasta
nasional maupun lokal sekaligus deregulasi pertelevisan Indonesia yang lebih
baik dari sebelumnya. Sayangnya kemunculan stasiun televisi swasta baik yang
tayang secara nasional maupun lokal saat ini dirasakan belum mampu
menghadirkan tayangan program yang berkualitas dan bermuatan pendidikan.
Demikian pula halnya dengan penayangan informasi serta hiburan saat ini belum
mampu ditayangkan secara proporsional. Kalaupun ada, program tersebut masih
sangat terbatas jumlahnya.
Media dikatakan mampu menstimuli individu untuk menikmati sajian
pesan atau program yang ditampilkan. Isi media juga mampu menjadi wacana
perbincangan (penerimaan khalayak) yang menarik apabila dikaitkan dengan
konteks budaya misalnya efek dramatisasi visual yang ditimbulkan; pemirsa
mampu mengontruksi makna sesuai dengan teks dan konteks.
Sampai saat ini media massa masih secara rutin menayangkan gambaran
tentang perempuan dalam banyak konten programnya; mulai dari iklan, diskusi,
lawak serta mayoritas sinetron tidak luput menggambarkan tentang kehidupan
sosial maupun individu seorang perempuan. Kesemua gambaran tersebut
umumnya masih memosisikan perempuan dalam ranah yang tidak
menguntungkan, mereka selalu berada di wilayah domestik ataupun second liner,
dalam posisi yang marjinal.
Tayangan komedi yang menjadi perhatian dalam tulisan ini merupakan
hasil peneltian salahsatu tayangan sinetron yang beberapa waktu lalu sempat
mengundang kontroversi baik dari masyarakat pemirsa maupun beberapa
peringatan KPI yang ditujukan pada stasiun televisi penayangnya. Sinetron –
sinetron yang bertujuan mengundang tawa penonton di layar kaca saat ini makin
marak ditemui hampir pada setiap stasiun televisi lokal maupun nasional. Acaraacara komedi yang ditayangkan umumnya dikemas dengan beragam cara baik
pentas komedi, talk show dengan gaya komedi, hingga sinetron yang
mengandung banyak unsur komedi. Tidak hanya itu, tayangan-tayangan tersebut
mengambil porsi yang cukup besar dari jam tayang televisi dalam sehari. Bahkan,
beberapa stasiun televisi swasta mengisi jam tayang prime time (pkl. 19.0021.00) beberapa hari dengan tayangan komedi.
312
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Menurut Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), secara nasional komedi
menjadi salah satu dari lima besar jenis tayangan yang paling banyak diadukan
(Kompas, 29/12/2012). Bahkan di Yogyakarta, menurut KPID DIY, dalam kurun
waktu Januari-November 2012, komedi juga menjadi tayangan yang paling
banyak mendapatkan pengaduan yakni sebanyak 578 aduan dalam periode
tersebut; jika dilihat sekilas, fenomena maraknya tayangan tersebut karena
berbanding lurus dengan permintaan (demand) pasar atau penonton. Selama suatu
acara masih disukai dan diminati penontonnya maka acaranyapun masih akan
terus berlanjut. Namun apakah sesederhana itu logikanya mengingat porsi
penayangannya di layar televisi relatif tinggi, sementara televisi hingga kini
masih menjadi media penyiaran paling favorit dan berpengaruh karena sifatnya
yang audio-visual-„langsung‟ (Riswandi, 2009:2).
Televisi adalah media massa utama yang saat ini terdapat dihampir setiap
rumah penduduk, televisi sudah menjadi media domestik. Sebagai media
penyiaran (broadcast media) memberikan kontribusi dalam membangun ritme
stabil untuk kehidupan sehari-hari melalui program yang ditayangkan setiap hari
sepanjang tahun. Rumah tangga menjadi ruang sosial pertama kali dikembangkan
pada masa borjuis periode awal modernitas, ketika tempat kerja dan rumah
menjadi terpisah. Dalam budaya Barat pemisahan ini menjadi dasar yang
signifikan, rumah yang awalnya memperoleh status sebagai 'inner' zona intim,
dimana didalamnya terdapat hubungan dekat, kehangatan, kasih sayang dan
kepekaan diantara anggotanya, berlawanan dengan kehidupan di luar rumah,
menjadi berbeda sejak kehadiran televisi (Gripsrud , 2002:25). Televisi adalah
sebuah fenomena, sebuah tanda bahwa rumah sekarang menjadi tempat yang jauh
lebih kompleks dan kontradiktif daripada sebelumnya. Hubungan serta budaya
antara ruang publik dan pribadi terus berubah dan televisi terkait dengan hal ini.
Televisi terlibat dalam perjuangan kekuasaan antara ibu, ayah dan anak-anak
(yang mengendalikan remote), baik dalam program faktual dan fiksi, dengan
opera sabun sebagai genre utama dalam kategori fiksi. Informasi politik,
ekonomi, perdagangan dan kehidupan budaya masyarakat masuk ke ruang
pribadi dan lebih dihargai dari sebelumnya.
Uraian tersebut menyiratkan betapa media khususnya televisi menguasai
kehidupan setiap individu saat ini, hingga tidak terbayangkan jika dalam sehari
saja seseorang samasekali tidak berelasi dengan media apapun. Ketergantungan
setiap individu dengan media saat ini memunculkan adanya inter relasi diantara
keduanya yang pada gilirannya memungkinkan munculnya perbedaan
penerimaan (resepsi) pada setiap program yang disuguhkan oleh media.
Ruang lingkup tulisan ini ingin mengurai hasil penelitian yang
mendeskripsikan bagaimana televisi dengan kemampuan audio visualnya mampu
mengukuhkan budaya patriarkhi dalam mengkonstruksi relasi jender yang sudah
tertanam sebagai kesepakatan oleh mayoritas etnis di Indonesia. Adapun tujuan
penelitian ingin melihat bagaimana penerimaan perempuan dalam konteks sosial
yang berbeda memaknai relasi jender yang terdapat dalam salahsatu suguhan
sinetron tayangan televisi.
313
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Sinetron komedi yang diambil sebagai kasus terkait relasi jender, ditulis
dan disutradarai oleh Imam Tantowi yang tertarik pada rumor disebagian
masyarakat Indonesia tentang suami suami yang takut pada istri mereka, sehingga
pria-pria dalam kelompok ini biasanya dijuluki sebagai anggota asosiasi suami
yang takut istri mereka atau ikatan suami-suami takut istri (isti). Sinetron komedi
“Suami-suami Takut Istri” ini menceritakan tentang kekuasaan dan kendali kaum
perempuan (para istri) terhadap kaum laki-laki (para suami).
Hal yang membuat sinetron komedi ini berbeda dari yang lain adalah,
tayangan yang semula dianggap hanya sebagai hiburan dan tontonan santai,
sebenarnya melibatkan konsep jender yang menjelaskan bahwa sifat-sifat
perempuan dan laki-laki yang dikonstruk secara sosial maupun kultural
sebenarnya merupakan sifat yang dapat dipertukarkan. Jadi sikap maskulin yang
selalu diidentikkan dengan kekuasaan, agresif dan kuat bukanlah mutlak hanya
dimiliki oleh laki-laki, begitu juga sikap feminin yang sering diidentikkan dengan
sikap lemah, penakut, selalu menurut, dan tergantung dengan orang lain tidak
hanya dimiliki oleh kaum perempuan.
Keberadaan sinetron komedi ini bila dilihat sekilas, tampaknya sudah
berhasil mematahkan budaya patriarkhi yang selalu menempatkan perempuan
sebagai subordinat; akan tetapi bila dicermati lebih dalam sinetron komedi
“SSTI” secara tidak langsung juga menggambarkan sosok subordinat perempuan,
ditunjukkan dari sekian banyak istri yang ada hanya ada satu perempuan yang
mampu untuk bekerja disektor publik. Gambaran ini sekaligus menyiratkan
bahwa sudah sewajarnya perempuan hanya berkutat di wilayah domestik.
Sikap kuasa dan sewenang-wenang para istri memang sangat ditonjolkan
dalam sinetron ini, sehingga penonton tidak terlalu memperhatikan bagaimana
sosok subordinat perempuan direpresentasikan. Bila dalam sinetron komedi lain
kondisi perempuan selalu berada pada posisi second line, selalu dianggap negatif
dan selalu ditempatkan pada posisi yang kurang menyenangkan, peran
perempuan dalam tayangan ini secara tidak langsung juga menggambarkan hal
yang serupa (negatif), walaupun perempuan ditampilkan maskulin, yang
diperlihatkan dengan adanya sikap kuasa dan agresif serta kedudukannya telah
dipertukarkan menjadi di atas laki-laki. Bahkan dalam budaya tertentu dijelaskan
bahwa perempuan yang menunjukkan karakteristik maskulin bukanlah
perempuan yang sesungguhnya (Tong, Rosemarie, Anne Donchin 2004 : 51).
Jadi, walaupun peran dan kedudukannya telah dipertukarkan, keberadaan
perempuan dalam sinetron komedi tersebut jauh dari karakter ideal yang selama
ini didamba oleh banyak perempuan, karena ketika perempuan berada di wilayah
publik, ataupun ia mampu setara dengan suaminya, bukan berarti ia kemudian
menjadi sosok yang sangat mengerikan dan menindas laki-laki. Inilah pemutar
balikan yang terjadi, sangat berbeda dengan fakta yang ada di sebagian besar
masyarakat Indonesia yang menganut budaya patriarkhi.
314
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Tinjauan Pustaka
Hasil penelusuran terhadap kajian-kajian tentang sinetron „SSTI‟ terdapat
pada beberapa penelitian sebelumnya yang pernah dilakukan, antara lain tentang
„Representasi Dominasi Perempuan dalam Rumah Tangga‟: Analisis tekstual
terhadap Sinetron komedi “SSTI”, yang dilakukan oleh Sri Kusumo Habsari,
Fitria Akhmerti Primasita dan Taufiq Al Makmun (2011) , bertujuan
mendeskripsikan bagaimana dominasi perempuan dalam rumahtangga
direpresentasikan, apakah untuk mendukung feminisme atau melestarikan
patriarkat pada sitkom “SSTI” dan konsekuensi sosial politis dari eksploitasi
terhadap citra perempuan sendiri, citra laki-laki dan relasi jender. Hasil analisis
secara deskriptif kualitatif dengan menerapkan pendekatan tekstual dan kajian
budaya feminis menunjukkan:
bahwa dominasi perempuan direpresentasikan dan dieksploitasi
untuk melestarikan ideologi patriarkat dengan menyajikan secara
negatif kekuasaan perempuan sebagai dominasi yang semu, bukan
sebagai kekuasaan yang menghasilkan penghormatan terhadap
para perempuan yang berkuasa. Cara para perempuan tersebut
menunjukkan kekuasaan juga dikontruksi secara negatif, yaitu
dengan melakukan bentuk kekerasan dalam rumahtangga. Hasil
analisis juga menunjukkan bahwa konsekuensi logis dari kontruksi
negatif dominasi perempuan dalam rumahtangga ini adalah citra
negatif bagi perempuan yang berkuasa dan relasi jender, namun
mempertahankan citra positif laki-laki,yang dengan demikian
ideologi patriarkat dipertahankan. (Jurnal HUMANIORA,vol
23,Oktober 2011.hlm 256-268)
Sebuah studi penting tentang konsumsi media dan jender adalah
karya Ien Ang, yang melihat popularitas Dallas dikalangan pemirsa
perempuan dalam bukunya Watching Dallas (1985). Di salahsatu majalah
perempuan
dia memperlihatkan pertanyaan
tentang ketertarikan
perempuan dalam serial tersebut dan dia menerima jawaban yang
mendasari studinya dalam bentuk respon yang diterima para pemirsa
perempuan, yang dapat diidentifikasi dalam tiga jenis, yaitu: ideologi
budaya massa pemirsa yang menyukai program ini menyatakan bahwa
Dallas merupakan potret keberhasilan sekelompok kecil kelas tinggi
Amerika dalam budaya televisi populer; ironisnya meskipun penonton
mengetahui bahwa serial tersebut tidak menarik akan tetapi mereka tetap
ingin melihat karena orang lain juga melihat. Meskipun mereka mungkin
mengakui bahwa yang mereka lihat itu adalah 'sampah' namun ideologi
populisme yang didasarkan pada rutinitas masyarakat 'sehari-hari' dan
pengalaman 'kesenangan' yang mereka dapatkan dari menonton Dallas,
lebih mendasari keinginan mereka untuk tetap menonton (Rayner ,Wall
and Kruger, 2004:137).
315
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Beberapa penelitian lain yang menunjukkan adanya dikotomi
antara laki laki dan perempuan dalam mengonsumsi acara-acara televisi
juga ditemukan dalam penelitian seorang feminis Dorothy Hobson (1982)
yang telah mencoba untuk memahami popularitas opera sabun
“crossroads” dengan mempelajari para penonton di rumah saat mereka
melihat program tersebut. Hobson mengamati bagaimana program tersebut
sesuai dengan struktur peran di rumah mereka, sementara opera sabun
yang biasa sebagai cemoohan telah menjadi pelarian yang fantastis bagi
penontonnya. Hobson dalam Downing,Mohammadi and Sreberny
(1990:239) selanjutnya menemukan bahwa penonton perempuan tertarik
dalam resolusi masalah bersama program ini karena terdapat dalam
kehidupan nyata. Dia juga menyimpulkan bahwa penonton bukanlah
penerima pasif tetapi pencipta teks aktif, yaitu mereka mengulas alur cerita
pada ide dibalik cerita dan membangun satu pemahaman dari kerangka
cerita yang tidak disertakan. Penyelesaian mereka yang simpatik pada
serial tersebut berperan penting pada perubahan bentuk teks menjadi
sesuatu yang relevan dan bermakna bagi mereka.
Penelitian penonton berdasarkan jender berlangsung lebih dari
setengah abad, meskipun limapuluh tahun yang lalu terdapat pandangan
kontradiktif pada jenis produk budaya populer yang dikonsumsi
perempuan seperti sinetron. Sebagai contoh, studi yang dilakukan Arnheim
(1944); Warner & Henry (1948) dalam “Women and Media” Byerly, M
Carolyn and Karen Ross (2006:57) mengidentifikasi tipikal konsumen
opera sabun radio adalah kelas pekerja perempuan berpendidikan rendah
dan kemungkinan untuk maju terbatas. Selanjutnya sumber yang sama juga
menyebutkan bahwa pada periode yang sama Herzog (1944) mengatakan
bahwa perempuan disemua kelas sosial menikmati sinetron. Namun,
terdapat sedikit kesepakatan lebih tentang karakteristik yang khas dari
penonton perempuan, bahwa mereka biasanya sudah menikah dan berusia
antara 18– 35 tahun, dengan pendidikan tertentu .
Analisis Herzog dari konsumen sinetron
lebih "positif"
dibandingkan penelitian lain karena dia berpendapat bahwa penonton
sinetron digunakan untuk belajar tentang aspirasi kelas menengah, nilainilai dan perilaku. Penelitian berikutnya dilakukan oleh Compesi (1980)
dalam Byerly, Carolyn M dan Karen Ros (2006:57) yang mulai
mengonsep khalayak sinetron dengan pendidikan lebih tinggi daripada
penelitian sebelumnya, yang masih ditandai bahwa mereka adalah
perempuan yang secara sosial terisolasi, menonton sinetron untuk
melarikan diri dari kebosanan hidup mereka.
Di Indonesia analisis resepsi terhadap khalayak perempuan pernah
dilakukan, diantaranya oleh Rachmah Ida (th 2005) yang meneliti
fenomena perempuan kampung menonton tayangan sinetron dan
representasi figur-figur perempuan konstruksi realitas sosial kaum
perkotaan. Billy Sarwono pada tahun yang sama meneliti bagaimana ibu
rumah tangga kelas menengah di Jabotabek memberikan pemaknaan
316
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
terhadap karir politik Presiden Megawati Soekarno Putri sebagai presiden
perempuan di Indonesia melalui permberitaan di media massa. Hasil
penelitian dari dua peneliti tersebut menunjukkan bahwa para penonton
bersifat dinamis, aktif dan memperlihatkan perilaku budaya yang tidak
monoton atau pun pasif.
Penelitian ini antaralain mengacu pada reception theory, reader – response
theory, muted theory dan feminist media studies..
Metodologi
Studi yang bersifat kualitatif ini tidak mengutamakan besarnya
populasi ataupun sampel. Menggunakan analisis resepsi yang mencoba
mengungkap berbagai interpretasi atas isi media oleh sejumlah kecil
penonton atau pembaca (Downing, 1990: 162). Situs penelitian mengambil
lokasi perumahan dan perkampungan di kecamatan Tembalang kota
Semarang, dengan pemilihan subyek sesuai rekomendasi AGB Nielsen
dalam newsletter yang diterbitkan tahun 2009, bahwa penonton sinetron
SSTI mayoritas perempuan, berusia diatas 40 tahun dari kalangan kelas
menengah, serta mengacu pada penelitian-penelitian terdahulu dimana
penonton perempuan mayoritas menyukai sinetron (cerita fiksi, opera
sabun).
Hasil Temuan dan Diskusi
Penelituan ini ingin melihat bagaimana penerimaan perempuan
dalam konteks sosial yang berbeda memaknai relasi jender yang terdapat
dalam SSTI, salahsatu suguhan sinetron tayangan televisi.
Para perempuan narasumber penelitian tidak sependapat dengan konstruksi
media yang ditayangkan dalam sinetron SSTI. Baik narasumber di perumahan
maupun perkampungan menolak gambaran tersebut karena gambaran konstruksi
media tidak sesuai dengan realita dalam konteks sosial mereka.
Gambaran tentang perilaku perempuan maskulin yang identik dengan
sikap berkuasa, agresif dan kuat tidak disepakati oleh para informan di kedua
lokasi. Konstruksi media yang mempertukarkan sifat laki-laki dengan perempuan
justru dimaknai informan di perumahan sebagai olok-olok, mereka sadar jika
gambaran tersebut tetap menempatkan bahkan memperkuat posisi perempuan
pada second line, selalu ditempatkan pada posisi yang kurang menyenangkan,
peran perempuan dalam tayangan ini secara tidak langsung juga menggambarkan
hal yang negatif, walaupun perempuan ditampilkan maskulin.
Demikian pula pada informan di perkampungan memaknai relasi jender
tidak identik dengan sikap berkuasa dan menang-menangan, sebagaimana
konstruksi media dalam tayangan sinetron SSTI. Mereka berharap tetap ada rasa
saling menghormati diantara laki-laki dan perempuan dalam relasi jender.
317
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Temuan selanjutnya merekomendasikan bahwa informan perumahan
memandang relasi
jender sebagai suatu kerjasama antara laki-laki dan
perempuan, yang sudah terbangun sejak mereka berumah tangga. Meskipun
realitanya mereka adalah para perempuan yang bekerja di sektor publik,
konstruksi media dalam sinetron bukanlah keadaan yang mereka harapkan;
mereka lebih sepakat dengan nilai-nilai budaya patriarkhi yang telah tertanam
dan menjadi kesepakatan sosial.
Pandangan para informan mendukung tulisan Reeves and Baden
(2000:10) bahwa relasi jender (Gender Relation) adalah relasi kuasa yang
hirarkis antara laki-laki dan perempuan dan merupakan relasi kuasa yang
cenderung merugikan perempuan. Relasi jender yang terjadi secara simultan ini
ditandai dengan kerjasama, ketertautan, saling mendukung, konflik, bahkan
perpisahan dan persaingan yang terjadi karena perbedaan dan ketidaksetaraan.
Hal ini terkait dengan bagaimana kuasa (power) didistribusikan diantara laki-laki
dan perempuan, dimana relasi jender yang hirarkis seringkali dianggap sebagai
relasi yang „normal‟, meskipun relasi tersebut dibentuk secara sosial dan budaya
dan bisa berubah dari waktu ke waktu.
Diskriminasi terhadap perempuan yang terus terjadi di berbagai belahan
dunia masih menunjukkan bahwa pemahaman serta usaha-usaha untuk
mewujudkan relasi jender yang setara masih banyak menemukan kendala.
Kuatnya budaya patriarkhi (budaya yang didasarkan pada kekuasaan laki-laki)
menjadikan perempuan pada strereotipe, peran, dan posisi yang termarginalkan.
Karenanya terwujudnya relasi yang seimbang (kesetaraan gender) antara laki-laki
dan perempuan dalam segala aspek kehidupan yang dilandasi nilai-nilai
kemanusiaan tanpa adanya inferioritas jenis kelamin di satu sisi dan superioritas
jenis kelamin di sisi lainnya saat ini masih merupakan dambaan mayoritas
perempuan dalam perwujudannya.
Jender penting pada saat berlangsungnya produksi makna,
kepentingannya tergantung pada bagaimana pemirsa bernegosiasi dengan
orientasi mereka dalam produksi makna tersebut ( Littlejohn, Foss, 2008:306).
Masih sejalan dengan pemahaman jender untuk membedakan antara karakteristik
serta penggambaran perempuan dan laki-laki. Cheris Kramarae dalam muted
group theory (Littlejohn dan Foss,2008:116) menghubungkan implikasi bahasa
dan jender untuk pertamakalinya dan mengembangkan dimana pesan
memperlakukan perempuan dan laki-laki dengan cara berbeda. Kramarae
mencatat pentingnya bahasa dalam menginterpretasikan pengalaman, baginya
setiap bahasa memiliki relasi kekuasaan yang tertanam didalamnya; mereka yang
merupakan bagian dari sistem bahasa dominan cenderung memiliki persepsi,
pengalaman, dan cara berekspresi kedalam bahasa. Kramarae percaya bahwa
bahasa adalah „buatan' dan dengan demikian diwujudkan lebih pada perspektif
maskulin dari feminin.
Selanjutnya Kramarae juga mengungkapkan gagasan bahwa kekuatan
sosial yang sebagian besar mengatur penciptaan bahasa seringkali didalamnya
tertanam pembungkaman terhadap perempuan dengan cara yang mendalam. Pada
pengujian lebih lanjut, namun tampaknya menguat bahwa budaya bahasa
318
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
sebenarnya memiliki bias laki-laki yang melekat, bahwa laki-laki menciptakan
makna bagi kelompok, dan bahwa suara feminin ditekan atau 'diredam'.
Shirley Ardener
pada sumber yang sama menyebutkan bahwa
pembungkaman perempuan ini menyebabkan ketidak mampuannya untuk
mengekspresikan diri mereka fasih dalam bahasa laki-laki. Keheningan
perempuan memiliki beberapa manifestasi dan sangat jelas dalam wacana publik.
Perempuan merasa kurang nyaman dan kurang ekspresif dalam situasi publik
daripada laki-laki, mereka merasa lebih nyaman dalam situasi pribadinya.
Akibatnya, perempuan memantau komunikasi mereka sendiri lebih intens
daripada laki-laki. Perempuan cenderung melihat apa yang mereka katakan dan
menerjemahkan apa yang mereka rasakan dan berpikir dalam istilah laki-laki.
Ketika makna maskulin dan feminin dalam ekspresi konflik, maskulin cenderung
menang karena adanya dominasi laki-laki dalam masyarakat. Hasilnya adalah
wanita menjadi bungkam.
Uraian muted teori dianalogikan dalam temuan yang menunjukkan
bahwa konstruksi media adalah bahasa laki-laki yang memperkuat posisinya
dengan menampilkan suatu kondisi berbeda dengan budaya patriarkhi yang telah
tertanam pada mayoritas masyarakat. Jadi, walaupun peran dan kedudukan
perempuan telah dipertukarkan, keberadaan perempuan dalam sinetron komedi
tersebut jauh dari karakter ideal yang selama ini didamba oleh banyak
perempuan, karena ketika perempuan berada di wilayah publik, ataupun ia
mampu setara dengan suaminya, bukan berarti ia kemudian menjadi sosok yang
sangat mengerikan dan menindas laki-laki.
Simpulan
Kekuatan media dalam konstruksi relasi jender tidak sejalan dengan
pemaknaan para perempuan sebagai audience. Pemaknaan berbeda ini dilandasi
dengan kuatnya konteks sosial dan budaya patriarkhi yang sudah tertanam secara
turun menurun. Relasi jender dimaknai sebagai kesetaraan yang didasari adanya
saling mnghormati antara perempuan dan laki-laki. Demikian pula relasi ini juga
menuntut adanya kebersamaan, kerjasama dan saling berbagi antara laki-laki dan
perempuan yang disepakati saat membangun keluarga.
Bagi penggiat media perlu dioertmbangkan agar dalam setiap produksi
acara berorientasi pada bias jender. Temuan ini mempunyai implikasi penting
bagi studi-studi resepsi audien, yaitu resepsi audien tidak cukup digali dari
resepsi individual namun juga harus disertai resepsi kelompok.
Daftar Pustaka
Byerly, Carolyn M and Karen Ross, 2006, Women and Media A Critical
Introduction, First published 2006 by Blackwell Publishing Ltd.
Danesi, Marcel. 2009. “Dictionary of Media and Communications”. NewYork
Copyright by M.E. Sharpe, Inc 80 Business Park Drive, Armonk
319
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Downing, John, Ali Mohammadi and Annabelle Sreberny-Mohammadi,1990,
“Questioning The Media: A Critical Introduction”. California, Sage
Publication
Gripsrud, Jostein, 2002, “Understanding Media Culture” ,Oxford University
Press, Inc.
Littlejohn, Stephen W and Karen A.Foss, 2008, ” Theories of Human
Communication, ninth edition, USA, Thomson Wadsworth, Publishing
Company.
Rayner Philip, Peter Wall and Stephen Kruger, 2004, Media Studies:The
Essential Resource, London and New York, Routledge.
Riswandi. 2009. “Dasar-Dasar Penyiaran”. Jakarta: Graha Ilmu & Universitas
Mercu Buana
Tong, Rosemarie and Anne Donchin , 2004, Linking Visions: Feminist Bioethics,
Human Rights, And The Developing World, Rowman and Littlefield.
Kamus
Dictionary of Media Studies,2006, A & C Black, London
Jurnal
Sri Kusumo Habsari, Fitria Akhmerti Primasita dan M.Taufiq AM. 2011,
“Representasi Dominasi Perempuan dalam Rumah Tangga”, Analisis
Tekstual terhadap sitkom Suami-suami Takut Istri. Jurnal Humaniora,
volume 23,nomor 3, Oktober .ISSN 0852-0801
Newsletter : AGB Nielsen Media Research, November 2009
Reeves, Hazel and Baden, Sally, 2000, BRIDGE-development gender , Gender
and Development: Concepts and Definitions, report no. 55, Institute of
Development Studies University of Sussex.
Biografi Singkat Penulis
Menamatkan studi S1 jurusan Publisistik di Undip dan mengabdi di
perguruan tinggi yang sama sejak tahun 1980. Menyelesaikan S2 dalam bidang
ilmu-ilmu sosial jurusan Sosiologi di UGM. Menyelesaikan S3 dalam bidang
Kajian Budaya dan Media di UGM. Menikah dengan drs.Didiek Samadikun,Msi
dan dikaruniai tiga orang anak, semuanya laki-laki, yang pertama menyelesaikan
S3 Ilmu Lingkungan di UGM dan diwisuda bersama ibunya, yang kedua senior
Architect di PT.Ciputra Recidence Citra Raya, dan yang ketiga bekerja di BTN
kantor pusat Jakarta.
320
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
MEMBACA PILIHAN PENONTON PADA PROGRAM ACARA FTV
DI TELEVISI SWASTA INDONESIA
Rama Kertamukti, Niken Puspitasari
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
[email protected], [email protected]
Abstract
This research is motivated by the position measurement rating which is very
important for television in Indonesia. Figures rating is the number of people who
watch a particular program on television stastiun is a very important position in
the world of television Indonesia. For television, rating the main reference,
perhaps even the only one in designing television programs, because the popular
media in Indonesia is television. Of all the existing communication media,
television is the most influential in human life. Though the audience is not
passive, there is hope the audience is supposed to be more readable Television in
producing events like FTV program to be studied. The method used in this study
is the Method Mix, beginning with a survey to know the audience votes on
impressions FTV program aired, and then be done with open-ended questions on
the assessment that they have done on the questionnaire. Rate the audience on a
television program may be a reference for society, the television industry, and
advertisers to determine the willingness of the audience at the starting point.
Keywords: audience measurement, rating, TV program
Abstrak
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh posisi pengukuran rating yang sangat penting
bagi televisi di Indonesia. Angka rating adalah jumlah orang yang menonton
program acara tertentu di stastiun televisi adalah menempati posisi sangat penting
di dunia televisi Indonesia. Bagi televisi, rating menjadi acuan utama, bahkan
mungkin satu-satunya dalam merancang program televisi, karena media popular
di Indonesia adalah televisi. Dari semua media komunikasi yang ada, televisi lah
yang paling berpengaruh pada kehidupan manusia. Padahal penonton tidaklah
pasif, ada harapan yang dimiliki penonton yang seharusnya lebih dibaca Stasiun
Televisi dalam memproduksi Program Acara seperti FTV yang akan diteliti.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Mix Method,
diawali dengan survey untuk mengetahui penilaian penonton atas tayangan
program acara FTV yang tayang, kemudian dilakukan dengan pertanyaan terbuka
atas penilaian yang telah mereka lakukan pada kuesioner. Penilaian penonton
pada program televisi ini bisa menjadi rujukan bagi masyakarat, industri televisi,
dan pengiklan untuk mengetahui kemauan penonton pada titik awal.
Kata Kunci: Pengukuran Audience, Rating, Program TV
321
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Pendahuluan
Di zaman modern saat ini, perkembangan teknologi informasi semakin
pesat. Untuk mendapatkan informasi pun semakin mudah dan cepat. Media
massa adalah salah satu sarana untuk mendapatkan informasi. Informasi yang
diterima pun harus di telaah dengan baik agar makna dari informasi tersebut
dapat diterima dengan seutuhnya. Televisi merupakan salah satu media massa
yang menarik banyak perhatian masyarakat. Informasi yang diterima melalui
televisi ditampilkan dalam format audio visual, yang berarti gabungan antara
suara dan gambar. Televisi tidak hanya sebagai sarana untuk mendapatkan
informasi saja, namun dapat menjadi sarana hiburan. Salah satu program yang
paling menarik untuk dilihat adalah program tayangan drama atau FTV. FTV
adalah Film televisi (bahasa Inggris: television movie atau lebih sering dikenal
sebagai FTV jenis film yang diproduksi untuk televisi yang dibuat oleh stasiun
televisi ataupun rumah produksi berdurasi 120 menit sampai 180 menit dengan
tema yang beragam seperti remaja, tragedi kehidupan, cinta dan agama. Film
layar lebar yang ditayangkan di televisi tidak dianggap sebagai FTV. FTV sendiri
merupakan sebuah tayangan program cerita dalam sebuah media massa televisi
yang dibuat berdasarkan sebuah naskah cerita yang telah disusun sedemikan rupa,
sehingga cerita tersebut menarik bagi penonton nya. Tayangan berupa FTV ini
sangat menarik bagi masyarakat pada umumnya, cerita FTV ini dibuat lebih
banyak drama, sehingga masyarakat mengikuti hingga akhir tayangan program
FTV tersebut untuk mengetahui cerita keseluruhannya.
Di Indonesia, perkembangan industri televisi ditengah persaingan yang
ketat. Stasiun televisi berlomba-lomba menyajikan acara-acara yang menarik.
Mulai dari acara musik, FTV, FTV, reality show, feature, dan berita. Sajian acara
FTV pun menjadi acara yang menjual saat ini. Banyak stasiun televisi yang
menyajikan FTV. Dengan berbagai tema mereka jual dengan beragam. Bahkan
keseragaman tema cerita seringkali menjadi lomba bagi para stasiun televisi di
Indonesia dalam mencari perhatian penonton. berdasarkan kriteria lembaga rating
AC Nielsen, tayangan ini cukup menjanjikan sebagai salah satu gacoan stasiun
televisi dalam meraih rating. Pada minggu ke 47( 22-28 Nopember 2015),
sejumlah FTV masuk dalam peringkat 100 besar acara dengan raihan rating dan
share tertinggi. Ternyata SCTV yang dikenal sebagai pelopor FTV memiliki 19
program FTV yang ada di 100 besar Program berating tertinggi. Sementara
Televisi lain seperti Indosiar (6 FTV), MNC TV (3 FTV) dan RCTI (3 FTV).
Atau dari 100 program tersebut total ada 31 tayangan FTV atau 30 persen
berjenis film atau sinetron lepas alias selesai tanpa seri atau lanjutan. Di SCTV
sendiri ada 26 judul FTV yang ditayangkan pada minggu ke 47, sementara
lainnya Indosiar (17 judul), RCTI (7 judul), MNC TV (12 judul termasuk
tayangan FTV buatan India), Trans TV (3 judul),dan Trans 7 (4 judul termasuk
tayangan luar). Total lebih dari 60 FTV dalam minggu ke 47 ditayangkan,dan 50
persen masuk ke 100 besar acara berating tinggi (RPTI, 2015).
Pengembangan cerita program FTV sebenarnya mencakup
pengembangan kreatif, pengembangan naskah, konsep perencanaan dan
322
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
pembuatan, proses produksi, dan aplikasi langsung dalam proses syuting. Cara
pengembangan tersebut harus benar- benar diperhatikan dan dilihat dalam waktu
tertentu dan bukan hanya dengan proses yang sebentar saja. Pengembangan
program menjadi suatu kekuatan bagi keberhasilan program FTV itu sendiri, para
stasiun TV menginginkan program yang disajikan berbeda dengan program yang
lain yang ada di stasiun TV di Indonesia. Dalam penelitian ini peneliti ingin
mengetahui ketertarikan tema cerita penonton dalam menonton FTV di televisi
swasta di Indonesia. Peneltian ini diharapkan menjadi masukan dan memberikan
kontribusi bagi televise swasta di Indonesia dalam menerapkan strategi
komunikasi tema cerita yang tepat untuk sebuah FTV yang akan diproduksi dan
mengetahui ketertarikan penonton di Indonesia.
Design Penelitian
Sampel responden yang disertakan dalam survei ini adalah seorang ahli,
merujuk kepada orang yang mengikuti (menonton) televisi dan bisa memberikan
penilaian atas program televisi. Penelitian ini akan melibatkan 90 orang
responden di kota Yogyakarta. Teknik penarikan sampel yang dipakai adalah
sampel acak bertahap (multistage random sampling). Responden yang disertakan
dalam survei ini harus mempunyai karakteristik atau persyaratan sebagai berikut:
Pendidikan minimal SMA, Paham mengenai acara televisi dan bisa menilai
secara kritis program acara televisi. Responden dapat diambil dari ibu rumah
tangga, pengajar, aktivis LSM, dan sebagainya. Alur penganalisasn data pertama
responden diminta untuk menilai setiap program acara untuk masing-masing
indikator, dengan memberikan skor 1 hingga 10, di mana 1 adalah sangat buruk
dan 10 adalah sangat baik. Total skor dengan demikian adalah 10 hingga 100.
Masing-masing nilai skor untuk masing-masing aspek kategori kualitas itu
nantinya, bisa dibuat rata-rata dan dibuat indeks untuk masing-masing program
televisi. Dimana suatu program televisi nantinya bisa dikategorikan ke dalam 4
penilaian umum; sangat bagus, bagus, buruk dan sangat buruk.
Dalam analisis penilaian program ini akan dipaparkan secara mendetail
bagaimana penilaian yang dilakukan oleh responden terhadap tema cerita
program FTV secara umum dengan memaparkan beberapa kategori program
siaran TV yang sudah dinilai berdasarkan aspek-aspek kualitas dengan
menggunakan nilai rentang kualitas. Titik perhatian dari penelitian ini adalah
kualitas dari suatu FTV yaitu seberapa baik dan berkualitas suatu cerita yang
diusung. Kualitas yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kualitas dalam arti
sosial, kegunaan atau fungsi dari suatu program acara dalam masyarakat.
Tinjauan Pustaka
Komunikasi
Secara epistemologis, istilah kata komunikasi berasal dari bahasa latin,
yakni communication dan bersumber dari kata communis yang berarti “sama”.
Jika diartikan secara sederhana, berarti komunikasi adalah sebuah proses yang
bermuara pada usaha untuk mendapatkan kesamaan makna dan pemahaman pada
323
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
subjek yang melakukan proses komunikasi tersebut. Menurut Dr. Everett
Kleinjan dari East West Center Hawaii, komunikasi merupakan bagian kekal dari
kehidupan manusia seperti halnya dengan bernafas, jadi sepanjang manusia ingin
hidup, maka ia perlu berkomunikasi (Cangara, 2003: 1). Wilbur Schramm
menyatakan bahwa komunikasi dan masyarakat adalah dua kata yang tidak dapat
dipisahkan karena kedua aspek itu saling melengkapi dalam pelaksanaannya.
Sedangkan Harold Lasswell juga mengatakan bahwa cara terbaik untuk
menerangkan kegiatan komunikasi adalah dengan menjawab pertanyaan “siapa berkata apa - melalui saluran apa - kepada siapa - dengan efek apa” Harold
D.Laswell menyebutkan hal yang menyebabkan manusia berkomunikasi, yaitu:
a. Hasrat manusia untuk mengontrol lingkungannya
b. Upaya manusia untuk dapat beradaptasi dengan lingkungannya
c. Upaya untuk melakukan transformasi warisan sosial
Jika dilihat dari definisi komunikasi yang telah diuraikan sebelumnya,
maka pada dasarnya komunikasi dapat dilihat dari berbagai dimensi yakni
sebagai proses, sebagai simbolik, sebagai sistem dan sebagai multi-dimensional.
Maka tidak heran bila komunikasi juga mempunyai tujuan yang sangat universal.
Tujuan dari sebuah proses komunikasi yaitu:
a. Untuk mengubah sikap (to change the attitude)
b. Untuk mengubah opini dan/pendapat/pandangan (to change the
opinion)
c. Untuk mengubah perilaku (to change the behaviour)
d. Untuk mengubah masyarakat (to change the society)
Oleh sebab itu, komunikasi dapat berjalan baik dan lancar jika pesan
yang disampaikan seseorang yang didasari dengan tujuan tertentu dapat
diterimanya dengan baik dan dimengerti.
Komunikasi Massa
Komunikasi massa adalah studi ilmiah tentang media massa beserta
pesan yang dihasilkan,pembaca/pendengar/penonton yang akan coba diraihnya
dan efeknya terhadap mereka. Sejak diketemukannya media cetak, langkah
aktivitas komunikasi mulai menanjak
cepat. Apalagi dengan penemuan
telegraph, semua itu menjadi kenyataan. Walaupun bukan sebagai media massa
komunikasi, peralatan ini menjadi elemen penting bagi akumulasi teknologi yang
akhirnya akan mengarahkan masyarakat memasuki era media massa elektronik.
Sehingga muncullah era dunia motion picture yang sering kita sebut sebagai filmfilm bioskop dan televisi. Pada permulaan abad ke-20, film-film bioskop dan
televisi menjadi bentuk hiburan keluarga. Hal ini diikuti dengan pengembangan
radio rumah tangga pada tahun 1920-an dan pada tahun 1940an diikuti dengan
pengembangan televisi rumah tangga (Nurudin, 2004:56). Hal ini menunjukkan
peralihan kemampuan manusia dalam berkomunikasi yang ditunjukkan
dengan”revolusi” komunikasi yang sedang terjadi sepanjang keberadaan
manusia. Dan juga pertumbuhan media massa telah terjadi dengan sangat luar
324
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
biasa akhir-akhir ini yang ditunjukkan dengan penayangan peristiwa-peristiwa
besar didunia melalui media massa.
Media massa yang dimaksud adalah media massa yang dihasilkan oleh
teknologi modern. Komunikasi yang menggunakan media massa atau komunikasi
yang “mass mediated”. Dalam hal ini, juga perlu membedakan massa dalam arti
umum dengan massa dalam arti komunikasi massa. Kata massa dalam hal ini
lebih mendekati arti secara sosiologis. Dengan kata lain, massa yang dimaksud
adalah kumpulan individu yang berada di suatu lokasi tertentu. Massa dalam
komunikasi massa lebih menunjuk pada penerima pesan yang berkaitan dengan
media massa. Dengan kata lain, massa yang dalam sikap dan perilakunya
berkaitan dengan peran media massa. Oleh karena itu, massa disini menunjuk
kepada khalayak, audience, penonton atau pembaca. Jadi dapat ditarik
kesimpulan, bahwa komunikasi massa diartikan sebagai jenis komunikasi yang
ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen, dan anonim
melalui media cetak atau elektronik, sehingga pesan yang sama dapat diterima
secara serentak dan sesaat (Ardianto, 2004: 7).
Perlu kita ketahui bahwa komunikasi massa mempunyai titik tekan dan
bahasan tersendiri. Misalnya Wilbur Schramm (1958) dalam bukunya
Introduction of Mass Communication Research menunjukkan, beberapa
penelitian yang dilakukan pada tahun1920-an dan 1930-an memusatkan
perhatiannya pada analisis sejarah surat kabar dan majalah atau deskripsi
interprestasi pesan media (Nurudin, 2004: 57). Bahkan dalam jurnal ilmiah tertua
komunikasi Journalism Quaterly dikemukakan bahwa wilayah kajian jurnalistik
dan komunikasi massa bisa ditekankan pada sejarah, hukum dan analisis isi
media.
Banyak definisi tentang komunikasi massa yang telah dikemukakan para
ahli komunikasi. Dalam hal ini kata “massa” lebih menunjuk pada penerima
pesan yang berkaitan dengan media massa. Dengan kata lain, “massa” menunjuk
pada khalayak, audience, penonton, pemirsa, atau pembaca. Menurut Michael W
Gamble dan Teri Kwal Gamble (1986), sesuatu bisa didefininisikan sebagai
komunikasi massa jika mencakup (Nurudin, 2013:8) :
a). Komunikator dalam komunikasi massa mengandalkan peralatan modern untuk
menyebarkan atau memancarkan pesan secara cepat kepada khalayak yang
luas dan tersebar. Pesan-pesan itu disebarkan melalui media modern antara
lain surat kabar, majalah, televisi, dan lain-lain.
b). Komunikator dalam komunikasi massa dalam menyebarkan pesan-pesannya
bermaksud mencoba berbagi pengertian dengan jutaan orang yang saling
tidak kenal atau mengetahui satu sama lain.
c). Pesan adalah publik. Artinya bahwa pesan ini bisa didapatkan dan diterima
oleh banyak orang. Karena itu, diartikan milik publik.
d). Sebagai sumber, komunikator massa biasanya organisasi formal seperti
jaringan, ikatan, atau perkumpulan. Jadi komunikatornya tidak berasal dari
seseorang tapi lembaga yang biasanya berorientasi pada keuntungan bukan
organisasi sukarela atau nirlaba.
325
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
e). Komunikasi massa dikontrol oleh gatekeeper (pentapis informasi), artinya,
pesan-pesan yang disebarkan atau dipancarkan dikontrol oleh sejumlah
individu dalam lembaga tersebut sebelum disiarkan lewat media massa.
f). Umpan balik dalam komunikasi massa sifatnya tertunda yang artinya umpan
balik dari pesan yang kita sampaikan tidak langsung terlihat.
Sedangkan menurut Josep A Devito mengartikan komunikasi massa
adalah komunikasi yang ditujukan kepada massa, kepada khalayak yang luar
biasa banyaknya dan komunikasi yang disalurkan oleh pemancar-pemancar yang
audio atau yang visual. Hal ini dipertegas lagi oleh Alexis Tan yang menyatakan
bahwa komunikator dalam komunikasi. Ciri-ciri komunikasi massa yang pertama
adalah komunikatornya melibatkan lembaga serta bergerak dalam organisasi
yang kompleks. Contohnya saja jika komunikasi massa dilakukan menggunakan
media televisi, maka komunikator yang dilibatkan banyak sekali, mulai dari
orang-orang yang menyiapkan acara dibalik layar seperti produser, reporter,
camera person sampai ke hal yang sangat teknis seperti make up, floor director,
lighting man, sutradara, petugas audio dan lain sebagainya.
Komunikasi massa merupakan suatu proses yang melukiskan bagaimana
komunikator menggunakan teknologi media massa guna menyebarluaskan pesannya melampaui jarak untuk mempengaruhi khalayak dalam jumlah yang banyak.
Severin (Ardianto, 2004 :32) mengemukakan bahwa pengertian komunikasi
massa pada intinya merupakan komunikasi yang menggunakan saluran (media)
untuk menghubungkan komunikator dengan komunikan secara massal, bertempat
tinggal jauh, heterogen, anonim, dan menimbulkan efek-efek tertentu. Harold D
Laswell (dalam Ardianto & Komala, 2004 : 33), seorang ahli politik di Amerika
Serikat mengemukakan suatu ungkapan yang sangat terkenal yaitu formula yang
menentukan proses komunikasi massa. Dengan menjawab pertanyaan :
Who (siapa)?
Says what (berkata apa)?
In which channel (melalui saluran apa)?
To whom (kepada siapa)?
With what effect (dengan efek apa)?
Dalam proses formula Laswell, secara langsung menggambarkan bahwa
proses komunikasi memerlukan media. Komunikasi massa media televisi ialah
proses komunikasi antara komunikator dan komunikan (massa) melalui sebuah
sarana, yaitu televisi bersifat periodik. Dalam komunikasi massa tersebut,
lembaga penyelenggara komunikasi bukan secara perorangan, melainkan
melibatkan sejumlah orang dengan organisasi yang kompleks serta pembiayaan
yang besar. Karena media televisi bersifat transitory (hanya meneruskan) maka
pesan-pesan yang disampaikan melalui komunikasi massa media tersebut hanya
dapat didengar dan dilihat sekilas (J.B Wahyudi, 1991 dalam Kuswandi, 1996 :
16).
326
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Televisi Sebagai Komunikasi Massa
Salah satu media dalam komunikasi adalah televisi. Dari semua media
komunikasi yang ada, televisilah yang paling berpengaruh pada kehidupan
manusia (Ardianto, 2004: 125). Istilah televisi terdiri dari dua suku kata, yaitu
“tele” yang berarti jauh dan “vision” yang berarti penglihatan. Televisi adalah
salah satu bentuk media komunikasi massa yang selain mempunyai daya tarik
yang kuat, disebabkan unsur-unsur kata, musik, dan sound effect, juga memiliki
keunggulan yang lain yaitu berupa unsur visual berupa gambar hidup yang
menimbulkan pesan yang mendalam bagi pemirsanya dalam usaha untuk
mempengaruhi khalayak dengan mengubah emosi dan pikiran pemirsanya.
Penayangan sebuah program televisi bukan hanya bergantung pada
konsep penyutradaraan atau kreatifitas penulisan naskah, melainkan sangat
bergantung pada kemampuan profesionalisme dari seluruh kelompok kerja di
dunia broadcast dengan seluruh mata rantai divisinya. Format acara televisi
merupakan suatu perencanaan dasar suatu konsep acara televisi yang akan
menjadi landasan kreatifitas dan desain produksi yang akan terbagi dalam
beberapa kriteria utama yang disesuaikan dengan tujuan dan target pemirsa acara
tersebut. Jadi, harus dilakukan eksploitasi dalam format acara televisi yang
terancang dan terencana.
Ada tiga bagian dari format acara televisi yaitu:
1. Fiksi (drama), yaitu acara televisi yang diproduksi dan dicipta melalui proses
imajinasi kreatif dan kisah drama fiksi yang direkayasa dan dikreasi ulang.
Format yang digunakan merupakan interpretasi kisah kehidupan yang
diwujudkan dalam suatu runtutan cerita dalam sejumlah adegan
2. Non fiksi (non drama), yaitu format acara televisi yang diproduksinya dan
penciptanya melalui proses pengolahan imajinasi kreatif dan realitas
kehidupan tanpa harus menginterpretasi ulang dan tanpa harus menjadi dunia
khayalan. Non drama bukanlah runtutan cerita fiksi dari setiap pelakunya.
Contohnya: konser musik, reality show, dan talkshow.
3. Berita, yaitu sebuah format acara televisi yang diproduksi berdasarkan
informasi dan fakta atau kejadian dan peristiwa yang berlangsung pada
kehidupan sehari-hari. Format ini memerlukan nilai faktual dan aktual yang
disajikan dengan ketepatan dan kecepatan waktu dimana dibutuhkan sifat
liputan yang independen. Contohnya, berita ekonomi, liputan siang dan
laporan olahraga (Naratama, 2004:62-66).
Uses and Gratifications Theory (Model Kegunaan dan Kepuasan)
Pendekatan uses and gratification untuk pertama kali dijelaskan oleh
Elihu Katz (1959) dalam suatu artikel sebagai reaksi bahwa penelitian
komunikasi tampaknya mati. Teori uses and gratification ini menunjukkan
bahwa yang menjadi permasalahan utama bukanlah bagaimana media mengubah
sikap dan perilaku khalayak tetapi bagaimana media memenuhi kebutuhan
pribadi dan social khalayak. Jadi, khalayak atau pemirsa televise dianggap aktif
dan menggunakan media sebagai tujuan yang khusus baginya (Efendi, 1993:289).
Dengan kata lain pengguna media adalah pihak yang aktif dalam proses
327
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
komunikasi. Pengguna media berusaha untuk mencari sumber media yang paling
baik di dalam usaha memenuhi kebutuhannya, teori ini mengansumsikan bahwa
pengguna mempunyai pilihan alternative untuk memuaskan kebutuhan.
Teori uses and gratification lebih menekankan pada pendekatan
manusiawi dalam melihat media massa, artinya manusia itu mempunyai otonomi,
wewenang untuk memperlakukan media (Nurudin, 2013:192). Tidak hanya satu
jalan bagi khalayak untuk menggunakan media, banyak alas an khalayak untuk
menggunakan media. Konsumen media mempunyai kebebasan untuk
memutuskan bagaimana-lewat media mana mereka menggunakan media dan
bagaimana media itu akan berdampak pada dirinya.
Mengapa pula khalayak aktif memilih media? Alasannya adalah karena
masing-masing orang berbeda tingkat pemanfaatan media tergantung reference
dan experience mereka.
Teori ini beroperasi dalam beberapa cara seperti bagan dibawah (Nuruddin,
2013:194):
Lingkungan Sosial :
- ciri-ciri
Demografis
- Afiliasi Kelompok
- ciri-ciri
Kebutuhan Khalayak:
- Kognitif
- Afektif
- Integratif Personal
- Integratif Sosial
- Pelepasan Ketegangan
Sumber Pemuasan
Kebutuhan yang
berhubungan
dengan non Media
Pemuasan
Kebutuhan
Penggunaan Media
Massa
Hasil Temuan dan Diskusi
Penelitian ini tidak masuk dalam ranah estetis menilai kualitas suatu
program acara dari aspek teknis artistitik dari suatu acara, misalnya tata
pengambilan gambar, cerita, skenario, akting para pemain dan sebagainya.
Kualitas di sini dilihat dari sejauh mana tema cerita FTV telah memenuhi
ketertarikan pada penonton, terlepas dari apakah suatu program acara itu secara
estetis baik atau bukan. Populasi dari penelitian ini adalah semua FTV yang
ditayangkan di 15 stasiun televisi nasional (ANTV, Global, Indosiar, MetroTV,
MNCTV, RCTI, SCTV, TransTV, Trans7, TVOne, NET-TV, Kompas TV,
Rajawali TV dan TVRI) dengan penarikan sampling pada setiap program acara.
Program acara FTV merupakan salah satu program unggulan dari stasiun
televisi yang memperoleh perhatian yang signifikan dari masyarakat. Sungguh
pun demikian, dari data yang diperoleh berdasarkan aspek kualitas menunjukan
bahwa sebagian besar penilaian responden menunjukan bahwa program acara
tersebut di nilai tidak berkualitas. Berdasarkan hasil data yang diperoleh dari
responden, pada kategori Program FTV hampir rata-rata responden memberikan
nilai bahwa program tersebut sangat tidak berkualitas. Hal ini bisa dilihat bahwa
penilaian yang terbanyak pada setiap aspek kualitas adalah di dominasi oleh nilai
sangat tidak berkualitas. Sebagai contoh, pada aspek kualitas hiburan yang sehat,
hampir 62,2 % dari jumlah responden memberikan nilai sanggat tidak berkualitas
dibanding dengan penilaian yang lain. Selain itu, pada aspek kualitas lain seperti
328
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
aspek kualitas edukatif juga mendapatkan penilaian tidak berkualitas dengan
prosentase 62,2% dari keseluruhan responden yang berjumlah 90 orang. Paparan
lebih jelas kita bisa lihat pada tabel skor penilaian dibawah ini berdasarkan aspek
kualitas.
Angka itu tidak menilai apakah program acara itu penting atau tidak, baik
atau tidak bagi bagi pemirsa. Karenanya rating hanya mencerminkan program
acara yang disukai oleh masyarakat. Hal ini karena orientasi utama dari stasiun
televisi adalah membuat program acara yang angka ratingnya tinggi dengan
harapan bisa menarik minat pengiklan. Ketiga, dengan motivasi membuat
program acara yang mempunyai rating tinggi, kerap kali stasiun televisi tidak
memperhitungkan dampak suatu program bagi publik. Pemirsa televisi di
Indonesia mempunyai sikap kurang kritis terhadap media televisi. Pemirsa
televisi masih banyak yang tidak bisa membedakan mana program acara yang
bagus dan mana yang jelek. Lebih lanjut pemirsa televisi juga belum banyak
menyadari dampak dari televisi terhadap keluarga terutama anak-anak.
NO
1
2
3
4
5
6.
7
8
9
10
11
12
13
14
15
Aspek Kualitas Tema Cerita
Memperkokoh
persatuan
dan
kesatuan bangsa
Membentuk jati diri
bangsa
Indonesia
yang bertaqwa dan
beriman
Membangun mental
mandiri
Informatif
Edukatif
Hiburan yang sehat
Perekat sosial/ empati
sosial
Transfer
budaya,
nilai-nilai bangsa dan
kearifan lokal
Pengawasan
Menghormati nilainilai
kesukuan,
agama, ras, dan antar
golongan
Menghormati
nilai
dan norma kesopanan
dan kesusilaan
Menghormati
kehidupan publik
Menghormati
kehidupan pribadi
Melindungi
kepentingan
anakanak dan/atau remaja
Melindungi
orang
atau
kelompok
1
24
2 3
36 26
2
5 Err
2 1
15
52 18
3
2 1
90
21
45 18
6
1
90
12
27
13
11
30
56
56
37
12
2
6
12
1
1 1
2 1
1
90
90
90
90
18
34 35
3
1
90
19
12
34 31
25 38
6
13
1
2 1
90
90
16
44 26
2
2
90
17
39 28
5
1 1
90
16
39 27
7
1 1
90
34
40 9
7
1
90
16
52 15
7
1
90
36
16
13
30
4
Jml
90
329
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
16
17
18
19
20
masyarakat tertentu
Tidak
bermuatan
seksual
Tidak
bermuatan
kekerasan
Tidak
bermuatan
mistik, horor, dan
supranatural
Tidak
bermuatan
rokok, napza, dan
minuman berakohol
Tidak
bermuatan
perjudian
8
21 50
8
3
1
90
14
20 34
19
3
1
90
9
36 20
22
3
1
90
5
10 29
32
14
1
90
5
25 14
32
14
1
90
Tabel 1. Penilaian Tema Cerita Program Sinetron
Skor penilaian yang paling tinggi diberikan oleh responden, Nilai angka
dalam kolom: 1: Sangat tidak berkualitas, 2: Tidak berkualitas, 3: Antara Berkualitas
dan tidak Berkualitas, 4: Berkualitas, 5: Sangat Berkualitas. Responden sebagai
penonton FTV, merasakan hal-hal yang menjadi tema cerita seringkali tidak
melindungi penonton secara kualitas tema. Penonton televisi di Indonesia masih
memperhatikan kualitas tema cerita, tidak banyak penilaian sangat berkualitas
diberikan kepada tayangan FTV, hanya penilaian bahwa tema cerita tidak memuat
rokok penilaiannya tinggi, karena memang sangat tidak ditolerir menayangkan secara
visual di televisi. Untuk yang lainnya dinilai rendah. Bahkan FTV tidak berpihak pada
anakanak secara tema padahal sering mengambil porsi waktu pada jam anak-anak
menonton.
Simpulan
Berdasarkan hasil data yang diperoleh dari responden, pada FTV hampir
rata-rata responden memberikan nilai bahwa tema cerita FTV tersebut tidak
berkualitas dalam menyajikan cerita. Hal ini bisa dilihat bahwa penilaian yang
terbanyak pada setiap aspek kualitas adalah di dominasi oleh nilai sangat tidak
berkualitas.
Daftar Pustaka
Ardianto, Elvinaro dan Lukrati. 2004. Komunikasi Massa Suatu Pengantar.
Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
Cangara, Hafied. 2003. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: Raja Grafindo
Persada
Nurudin. 2004. Komunikasi Massa. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Nurudin. 2014. Pengantar Komunikasi Massa. Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Naratama. 2004. Menjadi Sutradara Televisi. Jakarta: Grasindo.
Effendi, Onong Uchjana. 1993. Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi, Bandung:
PT. Citra Aditya Bakti.
330
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
https: atau atau www.facebook.com atau RatingProgramTelevisiIndonesia
http: atau atau en.wikipedia.org atau wiki atau Film_industry
Biografi Penulis
Penulis pertama Rama Kertamukti lahir di Jombang, 26 Oktober 1972.
Mendapatkan gelar Sarjana Manajemen Komunikasi di Universitas Padjadjaran
pada tahun 1996 dan menyelesaikan studi master di bidang Desain Komunikasi
Visual di Institute Seni Jakarta pada tahun 2007. Sejak tahun 2010 aktif menjadi
dosen di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Penulis kedua Niken Puspitasari lahir di Pontianak, 11 Januari 1983.
Pada tahun 2007 mendapatkan gelar sarjana Hubungan Internasional di
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta. Kemudian pada tahun
2009 menyelesaikan gelar master Ilmu Komunikasi di Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta.
331
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Alay Sebagai Bagian dari Industri Media
Dicky Andika
Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana Jakarta
[email protected]
Abstract
The phenomenon of young people with clothing mimic the style of the artist and
perform movements unique to the music programs and talk shows on television
swasata. Their position was laid out to get the current image variations program
the event. They are the one spectator fee or often referred to as "Alay". Alay is an
acronym of "child kites" that in fact his dirty blond. Existence is a dynamic
process, a "being" or "ridiculous". Alay existence as viewers of television
programs is the existence of a program which require viewers to enliven an
event. The method used in this research is a case study to give a detailed
description of the background, characteristics and characters typical of the case,
or from individuals who later of distinctive properties above that will be the case
of a general nature. This study uses data collection through interviews,
observation, and literature or documentation data.Teknik collection of data
analysis using triangulation. From the results of research and discussion can be
concluded that the existence of a television program that tracks the spectator
becomes the most important part of the program. Because the audience paid
(Alay) is needed to enliven the program itself so that the program becomes lively
atmosphere and meet the needs of the image to make it look more crowded.
Keywords: mass media, audience, television
Abstrak
Fenomena anak muda dengan pakaian meniru gaya artis dan melakukan gerakangerakan unik pada program musik dan talkshow di televise swasata. Posisi
mereka ditata untuk mendapatkan variasi gambar saat program acara tersebut
berlangsung. Mereka lah penonton bayaran atau yang sering disebut dengan
istilah “alay”. Alay merupakan akronim dari “anak layangan” yang notabene-nya
dekil dan berambut pirang. Eksistensi adalah suatu proses yang dinamis, suatu
“menjadi” atau “mengada”. Eksistensi alay sebagai penonton program televisi
adalah keberadaan dimana suatu program membutuhkan penonton untuk
memeriahkan suatu acara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah
studi kasus untuk memberikan gambaran secara rinci tentang latar belakang,
sifat-sifat serta karakter-karakter yang khas dari kasus, ataupun dari individu
yang kemudian dari sifat-sifat khas diatas yang akan dijadikan hal yang bersifat
umum. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data melalui
wawancara, pengamatan, dan studi pustaka atau dokumentasi pengumpulan
data.Teknik analisis data menggunakan triangulasi sumber. Dari hasil penelitian
dan pembahasan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa eksistensi alay
sebagai penonton program televisi menjadi bagian terpenting dalam suatu
program. Karena penonton bayaran (alay) sangat dibutuhkan untuk memeriahkan
332
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
program itu sendiri agar atmosfer program tersebut menjadi hidup dan memenuhi
kebutuhan gambar agar terlihat lebih ramai.
Kata Kunci: Media Massa, Penonton, Televisi
Pendahuluan
Kajian tentang audiens televisi banyak bergeser pada abad kedua puluh,
jauh dari keprihatinan tentang bagaimana audiens massa (atau audiens khusus
seperti anak–anak) dipengaruhi oleh televisi. Kajian ini mencakup teori pengaruh
atau efek-biasanya tidak sesuai dengan fakta dan didominasi oleh minat terhadap
seks, kekerasan, dan politik. Hasil evolusi teknologi baru seperti teknologi radio,
film, televisi, dan internet telah mewujudkan berbagai penonton seperti penonton
film, penonton televisi dan sebagainya. Penonton memiliki peranan penting,
penonton atau audien dianggap sebagai agen prima yang penting terhadap
industri media massa. Kebanyakan produk yang dihasilkan oleh industri media
berasal dari penonton dengan melibatkan penonton dengan jumlah yang besar
(Burton, 2000: 45).
Definisi penonton yang biasa disebut dengan istilah penerima, sasaran,
pembaca, pendengar, pemirsa, audience, decoder atau komunikan. Penonton
adalah salah satu aktor dari proses komunikasi. Karena itu unsur penonton tidak
boleh diabaikan, sebab berhasil tidaknya suatu program televisi ditentukan oleh
penonton (Cangara, 2007: 157).
Menurut Burton (2000: 300) Penonton dibagi menjadi dua bagian, yaitu
penonton yang terkonstruksi dan penonton aktif. Penonton yang terkonstruksi
adalah dalam konteks membuat penonton bermakna, yakni dalam hal mengajak
orang ke hadapan televisi. Mereka hanya ada didepan layar. Industri mencari
jalan untuk mendapatkan mereka dan menggambarkan mereka ketika mereka ada
disana. Deskripsi yang dipakai bersifat kualitatif dan kuantitatif.
Sedangkan penonton aktif adalah terdapat proses mental aktif yang
dilakukan oleh audiens pada saat menonton. Mengurai kode (decoding) televisi,
membaca teks, melibatkan pemahaman terhadap kode-kode yang beraneka ragam
dalam medium polisemik ini. Tetap duduk tidak sama dengan aktif. Teori
kegunaan dan gratifikasi (uses anad gratification theory) kerap dipakai untuk
memahami jenis aktivitas terinternalisasi ini (Burton, 2000: 303).
Dari beberapa media massa yang ada saat ini, televisi masih menjadi
media massa yang digemari oleh masyarakat, hal ini disebabkan televisi sebagai
media massa sangat dirasakan manfaatnya. Televisi telah menjadi bagian tak
terpisahkan dari kehidupan manusia. Banyak orang yang menghabiskan
waktunya lebih lama didepan televisi dibandingkan dengan waktu yang
digunakan untuk ngobrol dengan keluarga atau pasangan mereka. Bagi banyak
orang, televisi adalah teman, televisi menjadi cermin perilaku masyarakat dan
televisi menjadi candu (Morissan, 2005:1).
Proses jual-beli pemirsa televisi ini akan sedikit berbeda logika dengan
penonton program tersebut secara langsung. Stasiun televisi tidak bisa menjual
penonton tipe ini kepada korporasi atau biro iklan. Alih-alih menjual, stasiun
333
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
televisi justru membeli sejumlah penonton yang seperti ini. Mereka dibayar untuk
tepuk tangan, teriak-teriak, bersorak, ketawa-ketawa.
Alay secara harfiah berasal dari kata “a” dan “Lay” yang merupakan
akronim dari Anak Layangan, yang notabene-nya dekil (berkulit hitam
kepanasan) dan berambut pirang matahari (rambut merah karena kepanasan).
Alay pada awalnya dianggap sebagai pola hidup remaja kelas menengah ke
bawah yang mengenakan dandanan trendy ala artis namun seadanya lengkap
dengan gadget dan asesorisnya untuk sekedar mejeng dan gaya-gayaan (Shinta,
2011: 13).
Penonton bayaran pada sebuah media televisi dihadirkan karena mudah
diarahkan sesuai image satu acara, lebih tertib, dan selain itu kehadiran penonton
dalam satu acara televisi sangat penting, bahkan tidak kalah pentingnya dengan
pengisi acara. Penonton yang ekspresif, ramai dan mudah diarahkan membuat
acara lebih hidup. Namun kendalanya tidak semua penonton seperti itu. Mereka
akan dengan mudah diminta untuk bersorak, tepuk tangan, ketawa-ketawa atau
bahkan menampilkan wajah sedih oleh pengarah acara. Berdasarkan uraian latar
belakang permasalahan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui alay sebagai bagian dari Industri Media.
Tinjauan Pustaka
Televisi adalah sebuah pengalaman yang kita terima begitu saja. Kendati
demikian, televisi juga merupakan sesuatu yang membentuk cara berfikir kita
tentang dunia. Televisi merupakan aktivitas industri dan sebentuk teknologi.
Pandangan ini lebih tertarik pada kontrol sosial (dan kekuasaan) para perusahaanperusahaan televisi, pada globalisasi, pada implikasi perubahan teknologi
terhadap masyarakat (dan audiens). Televisi pada hakikatnya adalah sebuah
fenomena kultural, sekaligus medium dimana sepenggal aktivitas budaya
menjamah kita di dalam rumah (Burton, 2000: 2).
Menurut Elvinaro (2007: 137) banyak pakar memberikan pendapat
tentang fungsi televisi bagi kehidupan masyarakat, namun dari banyaknya
pendapat tersebut dapat disimpulkan tentang fungsi televisi, yaitu:
1. Sebagai media informasi
2. Sebagai media pendidikan
3. Sebagai media hiburan, dan
4. Sebagai media promosi
Televisi sebagai media massa mempunyai banyak kelebihan dalam
penyampaian pesan dibandingkan media massa lainnya, karena pesan yang
disampaikan melalui gambar dan suara secara bersamaan dan hidup, sangat cepat
dan dapat menjangkau ruang yang sangat luas.
Televisi sebagai media hiburan menyajikan banyak program. Menurut
Morissan (2005: 208-213) mengatakan bahwa program hiburan adalah segala
bentuk siaran yang bertujuan untuk menghibur penonton dalam bentuk musik,
334
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
lagu, cerita dan permainan. Program yang masuk dalam kategori hiburan adalah
drama, musik, permaianan (games).
a. Drama: pertunjukan (show) yang menyajikan cerita mengenai kehidupan
atau karakter seseorang atau beberapa orang (tokoh) yang diperankan oleh
pemain (artis) yang melibatkan konflik serta emosi.
b. Musik: program yang dapat ditampilkan dalam dua format yaitu video klip
ataupun konser. Program musik ini sangat ditentukan oleh kemampuan artis
untuk menarik penontonnya. Baik itu dari segi kualitas suara maupun
penampilan artis tersebut.
c. Permainan (games): bentuk permainan yang melibatkan sejumlah orang baik
secara individu atau kelompok yang saling bersaing unruk mendapatkan
sesuatu.
Daya tarik televisi yang sangat luar biasa juga menimbulkan pengaruh
yang sangat kuat akan dampak dari sebuah televisi. Kekuatan untuk membentuk
opini masyarakat secara global dan cepat akan menciptakan efek-efek yang luarbiasa yang mampu mengubah dan mempengaruhi perilaku pemirsanya harus
diimbangi dengan lahirnya kebijakan maupun etika dalam mengatur media ini
agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya.
Televisi merupakan bagian dari media massa. Menurut Burhan Bungin
(2008: 85), Media massa memiliki beberapa peranan diantaranya:
1. Sebagai intitusi pencerahan masyarakat, yaitu perannya sebgai media
pendidikan. Media massa menjadi media yang setiap saat mendidik
masyarakat supaya cerdas, terbuka pikirannya dan menjadi masyarakat yang
maju.
2. Media massa menjadi media informasi, yaitu media yang setiap saat
menyampaikan informasi kepada masyarakat. Dengan informasi yang
terbuka, jujur, dan bener disampaikan media massa kepada masyarakat,
maka masyarakat akan menjadi masyarakat yang kaya akan infromasi
masyarakat yang terbuka dengan informasi, dan masyarakat akan menjadi
informati, masyarakat yang dapat menyampaikan informasi dengan jujur
kepada media massa.
3. Media massa sebagai hiburan, sebagai agent of change (institusi pelopor
perubahan) media massa juga menjadi institusi budaya yaitu institusi yang
setiap saat menjadi corong kebudayaan.
Selanjutnya secara spesifik peran media massa saat ini lebih menyentuh
persoalan – persoalan yang terjadi dimasyarakat secara aktual (Bungin, 2005:
86), yaitu:
1. Harus lebih spesifik dan proposional dalam melihat sebuah persoalan,
sehingga mampu menjadi media edukasi dan media informasi sebagaimana
diharapkan oleh masyarakat.
2. Dalam memotret realitas media massa harus fokus pada realitas masyarakat
bukan pada kekuasaan yang ada dimasyarakat itu sehingga informasi tidak
menjadi propaganda kekuasaan
335
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
3.
4.
Sebgai lembaga pendidikan, media massa harus dapat memilah kepentingan
pencerahan dengan kepentingan media massa sebgai lembaga produksi.
Media massa harus juga menjadi early warning system. Hal ini terkait
dengan peran media massa sebagai media informasi, dimana lingkungan saat
ini menjadi sumber ancaman.
Alay secara harfiah berasal dari kata “a” dan “Lay” yang merupakan
akronim dari Anak Layangan, yang notabene-nya dekil (berkulit hitam
kepanasan) dan berambut pirang matahari (rambut merah karena kepanasan).
Alay muncul pada tahun 2000-an yang pada awalnya dianggap sebagai pola
hidup remaja kelas menengah ke bawah yang mengenakan dandanan trendy ala
artis namun seadanya lengkap dengan gadget dan asesorisnya untuk sekedar
mejeng dan gaya-gayaan (Shinta, 2011, 13).
Metodologi
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi
kasus, dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Metode penelitian ini
dilaksanakan dengan melakukan wawancara secara mendalam.
Studi kasus merupakan salah satu metode penelitian ilmu sosial yang
lebih cocok bila pokok pertanyaan suatu penelitian berkenaan dengan “how” atau
“why”, bila penelitian hanya memiliki sedikit peluang untuk mengontrol
peristiwa – peristiwa yang akan di selidiki dan bagaimana fokus penelitiannya
terletak pada fenomena kontemporer (masa kini) di dalam konteks kehidupan
nyata (Yin, 1995).
Hasil Temuan dan Diskusi
Kehadiran penonton dalam satu acara televisi sangat penting, bahkan tidak
kalah pentingnya dengan pengisi acara. Tanpa adanya penonton bayaran (alay)
akan terlihat sepi dan monoton. Bahkan dari hasil pengamatan peneliti, hampir
semua acara televisi yang menghadirkan penonton menggunakan jasa penonton
bayaran (alay). Satu dari sekian stasiun televisi yang seringkali menggunakan jasa
penonton bayaran (alay) disetiap programnya adalah program-program di ANTV
seperti program talk show Mel’s Update dan program musik Mantap.
Berdasarkan hasil pengamatan, program “Mel’s Update dan Mantap” di ANTV
adalah program yang tidak lepas dalam menggunakan jasa penonton bayaran
(alay), penggunaan penonton bayaran (alay) digunakan untuk memancing
penonton yang berada di rumah agar dapat merasakan atmosfer acara yang
sedang berlangsung.
Keberadaan penonton bayaran (alay) mampu mempengaruhi penonton
yang ada di rumah seakan apa yang ditampilkan di lokasi sangat ramai. Mereka
dipekerjakan untuk memeriahkan acara. Kebutuhan gambar dilayar memang
menjadi kebutuhan utama. Semakin meriah dan ramai, maka program tersebut
akan menarik minat pemirsa di rumah.
336
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Dari hasil wawancara yang didapat, karena penayangan program Mel’s
Update dan Mantap ditayangkan secara “live”, penonton bayaran (alay) menjadi
hal penting, penonton bayaran (alay) dimanfaatkan untuk menjaga kestabilan
ramainya acara dari awal hingga akhir acara.
Faktor-faktor penentu kemeriahan dan keramaian dianggap penting
selama proses produksi suatu program televisi. Penonton dapat menjadi kunci
untuk meningkatkan daya tarik khalayak atau audien di rumah ketika ditayangkan
di televisi. Daya tarik ini ditujukan untuk meningkatkan rating dan share acara
yang bersangkutan dan akhirnya menarik pengiklan.
Penonton bayaran atau alay ini sangat diperlukan karena sulit untuk
mencari penonton biasa yang mau meramaikan sebuah acara televisi. Penonton
bayaran (alay) juga lebih mudah diatur karena itulah tugas mereka. Mereka akan
mudah diminta bersorak, tepuk tangan, ketawa, atau bahkan menampilkan wajah
sedih.
Dari hasil wawancara yang didapat, motivasi penonton bayaran (alay)
yang sebagai penonton bayaran juga bermacam-macam. Mulai dari yang murni
soal uang, ingin masuk televisi, mengisi waktu luang atau bahkan yang
menjadikan profesi penonton bayaran ini sebagai batu loncatan untuk menjadi
artis.
Bayaran untuk penonton bayaran ini pun bermacam-macam, tergantung
dari ara stasiun televisi yang mengundang. Umumnya mereka dibayar antara 25
ribu hingga 100 ribu per acara dan dalam sehari mereka dapat menjadi penonton
bayaran untuk 2-3 acara yang berbeda..
Penonton bayaran (alay) selalu dituntut untuk tampil menarik dan meriah.
Mereka mau tidak mau atau suka tidak suka akan menuruti tuntutan tersebut
untuk tetap bisa menerima bayaran. Selain itu, hal ini pun telah menjadi lapangan
pekerjaan baru atau bisa dikatakan sebagai profesi, karena dengan menjadi
penonton bayaran mereka dapat memperoleh penghasilan untuk memenuhi
kebutuhan hidup mereka sehari-hari.
Simpulan
Kesimpulan dari penelitian secara keseluruhan berikut ini:
1. Keberadaan alay atau penonton bayaran ini adalah warna baru dalam dunia
pertelevisian, adanya alay atau penonton bayaran sangat membantu saat
proses produksi berlangsung untuk mencapai hasil yang diinginkan. Alay
atau penonton bayaran banyak membantu beberapa item yang tercetus dari
sebuah ide kreatif, misalnya “gimmick”. Alay atau penonton bayaran tersebut
akan siap menjalankan tugasnya dengan baik.
2. Motivasi penonton bayaran atau alay ini awalnya adalah ingin meramaikan
saja dan membuat meriah acara tersebut, selain itu mereka juga ingin bertemu
dengan artis dan mencari uang, karena tidak ada kegiatan apa-apa akhirnya
menjadi penonton bayaran. Hal ini pun telah menjadi lapangan pekerjaan
baru atau bisa dikatakan sebagai profesi mereka, karena dengan menjadi
337
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
penonton bayaran mereka dapat memperoleh penghasilan untuk memenuhi
kebutuhan hidup mereka sehari-hari.
Daftar Pustaka
Ardianto, Elvinaro, (2007), Komunikasi Massa, Simbiosa Rekatama Media,
Bandung
Bungin, Burhan, (2008), Sosiologi Komunikasi, Jakarta, kencana.
Burton, Graeme, (2000), Membincangkan Televisi, Jalasutra, Yogyakarta
Cangara, Hafied (2007), Pengantar Ilmu Komunikasi, PT. RajaGrafindo Persada,
Jakarta
K. Yin, Robert, (2003), Studi Kasus Design dan Metode, PT. RajaGrafindo
Persada,
Morrisan, (2005), Jurnalistik Televisi, Ramdina Prakarsa, Jakarta
, (2005), Media Penyiaran, Ramdina Prakarsa, Tangerang
Moleong Lexy J, (2007), Metode Penelitian Kualitatif, Rosdakarya, Bandung,
Jakarta
Mulyana, Deddy, (2005)Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, PT. Remaja
Rosdakarya, Bandung
Riswandi, (2009), Ilmu Komunikasi : Graha Ilmu, Ygyakarta
Shinta, Ayu, (2011), Handbook Alay “Kamus Pintar Bahasa Alay”, Araska,
Yogyakarta
Biografi Penulis
Dicky Andika, lahir Palembang pada tanggal 14 april 1982. Menempuh
pendidikan sarjana S1 di Universitas Islam Negeri Syarif Hidatullah pada tahun
2000-2004, dan melanjutkan pendidikan pascasarjana Departemen Ilmu
Komunikasi Universitas Indonesia pada tahun 2005-2007. Sekarang sebagai
dosen tetap Fakultas Ilmu Komunikasi dan menjabat sekretaris Fakultas Ilmu
Komunikasi Univ. Mercu Buana Jakarta. Aktif sebagai peneliti dan pengapdian
masyarakat di Universitas Mercu Buana Jakarta. Serta aktif menjadi pembicara
dalam kajian Literacy media dan komunikasi antar budaya dan komunikasi
politik. Penghargaan yang pernah diraih yaitu Dosen Terbaik Universitas Mercu
Buana Jakarta Tahun 2012. Organaisasi aktif sebagai pengurus ISKI PUSAT
sebagai ketua Dept. Organisasi dan aktif sebagai pengurus ASPIKOM
JABODETABEK Bidang Kurikulum. email: [email protected]
338
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
PELANGGARAN ETIKA DALAM KERJA JURNALISTIK DI INDUSTRI
MEDIA INDONESIA (PEMETAAN KASUS-KASUS PELANGGARAN
ETIKA DAN KODE ETIK OLEH JURNALIS INDONESIA)
Bonaventura Satya Bharata
(Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP-Universitas Atma Jaya Yogyakarta)
[email protected]
Abstract
Journalism is an activity to do news coverage (news gathering), news writing
(news writing), and the issuance of the news (news publishing). News generated
normally be widely publicized through various media used, whether in print,
electronic media, and online media. Impact of the news can be very broad and
significant. Because of the journalistic work in contact with many people and
have broad impact for the community, no doubt this process can not escape from
the demands of ethics. Ethics became a kind of guidance or guidelines for
journalistic work, so that the news generated a factual news, accurate, and
proportionate. However, for Indonesia, it is not easy to uphold journalistic ethics
is given so much importance and pressure that played during the journalistic
process takes place. Intense competition and the situation boils down to
economic interests, the interests of owners of media for imaging of politics,
pressure repression community groups, and also pressure governments often
make journalistic be prone ethics violations.
Keywords: journalist, journalism, ethics
Abstrak
Jurnalistik merupakan kegiatan untuk melakukan peliputan berita (news
gathering), penulisan berita (news writing), dan penerbitan berita (news
publishing). Berita yang dihasilkan biasanya akan dipublikasi secara luas melalui
berbagai media yang digunakan, baik media cetak, media elektronik, dan media
online. Dampak berita pun bisa sangat luas dan signifikan. Karena pekerjaan
jurnalistik bersinggungan dengan banyak orang dan berdampak luas bagi
masyarakat, tidak pelak proses ini tidak dapat melepaskan diri dari tuntutan etika.
Etika menjadi semacam panduan atau pedoman bagi kerja jurnalistik, agar berita
yang dihasilkan merupakan berita yang faktual, akurat, dan proporsional. Akan
tetapi, untuk di Indonesia, tidak mudah menegakkan etika jurnalistik ini
mengingat demikian banyak kepentingan dan tekanan yang bermain selama
proses jurnalistik berlangsung. Situasi kompetisi yang ketat dan bermuara pada
kepentingan ekonomi, kepentingan pemilik media untuk pencitraan politik,
tekanan represi kelompok-kelompok masyarakat, dan juga tekanan pemerintah
sering membuat kerja jurnalistik menjadi rawan pelanggaran etika.
Kata Kunci : jurnalis, jurnalistik, etika, dan kode etik
339
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Pendahuluan
Berita sebagai produk dari proses jurnalistik telah menjadi salah satu
kebutuhan masyarakat. Di beberapa negara maju yang sudah melek informasi
bahkan jumlah tiras suratkabar mampu melebihi jumlah penduduknya (Siregar,
2014: 5). Walau di beberapa tempat di belahan dunia yang lain, suratkabar
mengalami penurunan tiras bahkan penutupan versi cetak suratkabar karena
derasnya perkembangan teknologi dan informasi, namun berita sebagai produk
jurnalistik sekiranya tidak akan pernah mati. Perkembangan teknologi ini justru
memberikan bentuk-bentuk baru bagi produk jurnalistik.
Produk jurnalistik memiliki posisi sentral dalam kehidupan manusia dan
masyarakat karena perannya yang tidak kecil bagi kehidupan. Ketika anggota
masyarakat berlangganan suratkabar misalnya, hal ini bukan hanya karena
adanya dorongan untuk memenuhi kebutuhan informasi. Akan tetapi hal ini
terjadi karena adanya kebutuhan untuk dapat memposisikan diri dalam kehidupan
(Siregar, 1998: 19). Maksudnya dengan mendapatkan informasi dari berita,
masyarakat mampu menentukan apa yang sebaiknya harus dilakukan pada situasi
dan kondisi tertentu.
Peran sentral produk jurnalistik ini berjalan seiring dengan fungsi media
sebagai salah satu bentuk komunikasi massa. Salah satu fungsi komunikasi massa
adalah pengawasan (surveillance). Fungsi pengawasan maksudnya adalah fungsi
mengingatkan akan adanya potensi-potensi peristiwa atau kejadian krusial di
masyarakat (Dominick, 2011: 31). Misalnya potensi bencana alam, potensi situasi
ekonomi yang dapat memburuk, potensi wabah penyakit, potensi bahaya
terorisme, dan sebagainya. Ketika berita menginformasikan adanya potensipotensi kejadian ini, tentu masyarakat mampu berjaga-jaga untuk melakukan
tindakan antisipasi.
Adanya fungsi dan peran penting dari produk jurnalistik ini sekaligus
membuat posisi jurnalis atau wartawan yang bekerja di belakangnya menjadi
penting dan istimewa. Seperti yang dinyatakan Ashadi Siregar (1998: 21) bahwa
di satu pihak seorang jurnalis atau wartawan memang bertugas untuk
merekonstruksi peristiwa tertentu yang diyakini perlu untuk diketahui
masyarakat. Di sisi lain peristiwa tersebut diberitakan karena ia sebagai jurnalis
atau wartawan sebenarnya telah menerima mandat dari masyarakat untuk
melakukan proses rekonstruksi peristiwa sehingga bermanfaat bagi masyarakat.
Mandat ini diberikan berdasarkan kepercayaan bahwa jurnalis atau wartawan
tersebut memang mampu (baik dari sisi keahlian, intuisi, atau pengalaman) untuk
melakukan proses rekonstruksi tersebut.
Akan tetapi dalam realitasnya, tidak semua jurnalis atau wartawan
mampu menjaga mandat istimewa ini. Tengok saja media penyiaran pada saat
Teror Bom Thamrin 14 Januari 2016. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI)
memberikan teguran tertulis kepada beberapa televisi swasta dan radio swasta
Jakarta karena beberapa tindak pelanggaran, seperti menyiarkan berita tidak
akurat (belum diverifikasi) mengenai lokasi bom di Jakarta dan penyiaran korban
bom yang vulgar (tanpa teknik blur) sehingga penonton televisi dapat melihat
340
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
dengan sangat jelas bagaimana wujud korban bom tersebut. Wakil ketua Komisi
Penyiaran
Indonesia
(KPI),
Idy
Muzayyad
(dalam
http://www.kpi.go.id/index.php/lihat-terkini/38-dalam-negeri/33157-liputanledakan-di-kawasan-thamrin-kpi-minta-televisi-dan-radio-sampaikan-beritaakurat diakses tanggal 16 Januari 2016) menyatakan bahwa liputan berita yang
tidak akurat dan penayangan korban bom secara vulgar tentu dapat lebih memicu
kepanikan warga.
Tidak hanya pada media penyiaran televisi dan radio saja. Media online
pun banyak yang masih bermasalah. Dewan Pers bahkan menyampaikan bahwa
dari 2000 media onlile yang ada, hanya 10 persen atau tepatnya 211 saja yang
sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalistik walaupun mereka tetap mengaku sebagai
media
berita
online
(sumber
:
http://www.news.detik.com/read/2016/01/20/160939/3122996/10/dewan-persada-2000-media-online-hanya-211-yang-sesuai-kaidah-jurnalistik diakses tanggal
20 Januari 2016). Tentu dapatlah dibayangkan bagaimana kualitas berita yang
dihasilkan, bila dalam prosesnya tidak menaati kaidah-kaidah jurnalistik.
Bagaimana pula berita yang tidak taat kaidah jurnalistik ini dapat menjadi
pedoman atau panduan bagi masyarakat untuk menjalani kehidupannya ?
Di titik inilah sekiranya wacana mengenai etika jurnalisme dan kode etik
masih relevan untuk diperbincangkan. Ketidakakuratan pemberitaan, penayangan
korban teror yang vulgar, dan diabaikannya kaidah-kaidah jurnalistik dalam
proses news gathering dan news writing senyatanya adalah bagian dari persoalan
etika dan kode etik. Tulisan ini mencoba untuk mendeskripsikan beberapa bentuk
pelanggaran etika dan kode etik yang terjadi pada realitas jurnalistik di Indonesia.
Tulisan ini berangkat dari permasalahan sederhana, yakni apa dan bagaimana
pelanggaran etika dan kode etik berlangsung di beberapa lembaga media di
Indonesia ?
Tinjauan Pustaka
Etika berasal dari bahasa Yunani ‘ethos’ yang berarti adat kebiasaan,
pemakaian, atau karakter. Etika merefleksikan ide atau gagasan masyarakat
mengenai apa yang benar dan apa yang salah. Etika juga sering dideskripsikan
sebagai satu unit prinsip-prinsip atau kode etik moral atau pedoman perilaku
yang digunakan oleh manusia untuk melakukan suatu tindakan tertentu (Day,
2006: 3). Sedangkan etika menurut Franz Magnis Suseno (2001: 6) adalah
refleksi sistematis berkaitan dengan pendapat-pendapat, norma-norma, dan
istilah-istilah moral.
Ada juga yang menyatakan bahwa etika dalam konteks jurnalistik
merupakan cabang filsafat yang membantu jurnalis untuk menentukan apa yang
benar dalam aktivitas atau praktek jurnalistik mereka. Etika seharusnya
memberikan sejumlah prinsip atau pedoman bagi jurnalis yang dapat digunakan
untuk memutuskan mana tindakan yang benar dan mana tindakan yang salah,
mana tindakan yang baik dan mana tindakan yang buruk, mana tindakan yang
341
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
bertanggung jawab dan mana tindakan yang tidak bertanggung jawab (Itule dan
Anderson, 2008: 469).
Bill Kovach dan Tom Rosentiel menuliskan seperangkat etika atau
sejumlah pedoman perilaku dalam jurnalistik bagi para jurnalis di Amerika
Serikat pada tahun 2001 dan dibukukan dalam The Elements of Journalisme,
What Newspeople Should Know and The Public Should Expect. Buku yang telah
diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa ini berangkat dari kegelisahan Kovach
akan praktek jurnalisme di Amerika Serikat yang dirasakan semakin lama
semakin jauh dari tujuan ideal jurnalisme. Kovach bersama Rosenstiel
menuliskan sembilan pedoman perilaku atau etika yang sebaiknya dihayati dan
dilaksanakan dengan baik oleh mereka yang memang memiliki keinginan kuat
menjadi jurnalis.
Adapun ke sembilan elemen tersebut adalah (1). Kewajiban pertama
jurnalisme adalah pada kebenaran, (2). Loyalitas jurnalisme adalah kepada warga
(citizens), (3). Intisari jurnalisme adalah disiplin verifikasi, (4). Para prakstisi
jurnalisme harus dapat menjaga independensi terhadap sumber berita, (5).
Jurnalisme harus berlaku sebagai pemantau kekuasaan, (6). Jurnalisme harus
menyediakan forum publik untuk kritik maupun dukungan warga, (7). Jurnalis
harus mampu membuat hal yang penting menjadi menarik dan relevan, (8).
Jurnalis harus menjaga agar berita komprehensif dan proporsional, dan akhirnya
(9). Para praktisi jurnalis harus diperbolehkan mengikuti nurani mereka (Kovach
dan Rosentiel, 2003: 6).
Bentuk praktis atau kongkret dari etika biasanya akan muncul dalam
wujud kode etik. Kode etik biasanya dimiliki oleh kelompok-kelompok profesi
tertentu. Selama ini kita mengenal kode etik dokter, kode etik apoteker, kode etik
advokat atau pengacara, kode etik guru dan dosen, dan sebagainya. Sebagai
sebuah profesi yang diakui masyarakat, jurnalis juga memiliki kode etik. Roy L.
Moore dan Michael D. Murray (2012: 110) menyatakan bahwa kode etik
merupakan standar pedoman perilaku bagi anggotanya biasanya disusun oleh
organisasi profesi tertentu. Terdapat kode etik jurnalis yang berlaku umum,
seperti kode etik jurnalis Indonesia (KEJI). Kode etik ini disepakati oleh
beberapa organisasi profesi jurnalis yang ada di Indonesia. Selain itu ada pula
kode etik yang disusun oleh masing-masing kelompok profesi jurnalis yang ada,
seperti misalnya kode etik Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), kode etik
Asosiasi Jurnalis independen (AJI), dan kode etik Ikatan Jurnalis Televisi
Indonesia (IJTI).
Fungsi penting dari kode etik jurnalis profesional adalah membantu
menguraikan dan mengingatkan kembali para jurnalis mengenai pilihan-pilihan
moral yang sangat mungkin mereka hadapi dalam proses jurnalistik. Kode etik
jurnalis ini memberikan sentuhan tanggung jawab dan apa yang diharapkan oleh
jurnalis ketika menjalankan tugas-tugas mereka (Jacquette, 2007: 3). Pada
akhirnya kode etik jurnalis profesional memberikan sejumlah pedoman apa yang
seharusnya dilakukan oleh jurnalis ketika mereka menjalankan tugasnya dalam
sebuah proses jurnalistik.
342
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Kode Etik Jurnalis Indonesia misalnya. Kode etik ini berisi 11 pasal yang
telah disepakati bersama oleh 29 asosiasi jurnalis di Indonesia pada tahun 2006
lalu. Pasal 1 kode etik ini berbicara tentang wartawan Indonesia yang sebaiknya
bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang dan tidak
beritikad buruk. Sedangkan pasal 2 menyatakan bahwa wartawan Indonesia
menempuh cara-cara profesional dalam melaksanakan tugas jurnalistik.
Kemudian pasal 4 berisi tentang wartawan Indonesia tidak membuat berita
bohong, fitnah, sadis, dan cabul. (Syah, 2011: 173)
Demikian pula kode etik jurnalis yang tergabung dalam organisasi
Aliansi Jurnalis Independen Indonesia (AJI Indonesia). Kode etik ini memiliki 21
butir pedoman bagi jurnalis AJI Indonesia dalam melaksanakan tugasnya.
Beberapa di antaranya : butir (1). Jurnalis menghormati hak masyarakat untuk
memperoleh informasi yang benar; butir (5). Jurnalis memberikan tempat bagi
pihak yang tidak memiliki kemampuan dan kesempatan untuk menyuarakan
pendapat mereka; butir (10). Jurnalis menggunakan cara yang etis dan profesional
untuk memperoleh berita, gambar, dan dokumen; dan butir (14). Jurnalis tidak
menjiplak. (sumber: http://aji.or.id/read/kode-etik.html, diakses tanggal 16
Januari 2016).
Metodologi
Sumber tulisan untuk artikel ilmiah ini bersumber pada penelitian yang
bersifat deskriptif. Metode penelitian deskriptif berarti teknik penelitian yang
berupaya memaparkan data dengan sistematis, akurat, dan mendalam (Rakhmat,
2001: 24). Penelitian ini juga hanya bersifat menjelaskan peristiwa yang diteliti,
tanpa berupaya mencari hubungan antar gejala atau hipotesis.
Penulis mencoba menggambarkan beberapa bentuk pelanggaran etika dan
kode etik sekaligus melakukan diskusi mengenai bentuk-bentuk pelanggaran
tersebut didialogkan dengan beberapa konsep etika dan kode etik yang berlaku.
Sumber data berasal dari hasil wawancara focus group discussion (FGD)
terhadap delapan mahasiswa aktif FISIP Universitas Atma Jaya Yogyakarta yang
melakukan kuliah magang di beberapa industri media baik cetak maupun
elektronik dalam kurun waktu tahun 2014-2015. Menurut Monique Hennink,
Inge Hutter, dan Ajay Bailey (2011: 136), FGD merupakan diskusi interaktif
antara enam sampai delapan peserta yang diseleksi dan dipandu oleh seorang
moderator terlatih serta fokus membahas isu tertentu.
Hasil Temuan Data Dan Diskusi
Berbasis pada hasil wawancara penelitian melalui focus group discussion
(FGD), ditemukan beberapa bentuk pelanggaran etika dan kode etik jurnalistik.
Adapun beberapa bentuk pelanggaran tersebut adalah sebagai berikut :
343
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Narasumber Berita Fiktif
Salah satu bentuk pelanggaran yang terjadi pada saat proses peliputan
berita (news gathering) khususnya pada berita televisi, adalah narasumber berita
fiktif. Narasumber berita fiktif ini maksudnya adalah mengada-adakan
narasumber berita yang sebenarnya tidak ada atau tidak berhasil ditemukan dalam
proses liputan berita. Seperti yang diketahui, salah satu teknik peliputan berita
yang sering digunakan dalam jurnalistik televisi adalah wawancara. Wawancara
dilakukan kepada narasumber tertentu biasanya dilakukan untuk melengkapi atau
bahkan menguatkan deskripsi berita yang akan disampaikan. Jarang sekali
ditemui berita televisi dilakukan tanpa adanya dialog atau wawancara dengan
narasumber ini.
Akan tetapi dalam operasional di lapangan, reporter jurnalistik televisi
tidak selalu berhasil menemukan narasumber yang dimaksud dalam setiap proses
peliputan berita. Pada titik ini, tidak jarang tim liputan, yakni reporter,
kamerawan, dan bahkan driver liputan mendesain adanya narasumber fiktif guna
melengkapi deskripsi berita.
Biasanya terkait dengan metode vox-pop dalam peliputan berita. Vox-pop
itu kan ibaratnya pendapat warga atau anggota masyarakat tentang
sebuah keadaan atau situasi. Nah ... pernah suatu kali liputan tentang
kenaikan harga sembako menjelang hari raya Lebaran. Salah satunya itu
telur ayam. Tim liputan diminta untuk mencari pendapat warga yang
dirugikan atas kenaikan ini, khsususnya pemilik warung makan.
Misalnya pendapat warga yang biasanya buka rumah makan jadi susah
mendapatkan telur ayam. Tetapi sampai di lapangan, nggak ada warga
merasa keberatan dengan naiknya harga telur ayam tersebut. Warga
merasa bahwa kenaikan tersebut merupakan hal yang wajar, yang pasti
terjadi rutin pada saat menjelang hari raya. Jadi karena nggak dapat
narasumber yang dimaksud dan sudah mulai dikejar deadline, jadi ya
terus reporternya minta tolong sama ibu-ibu di pasar buat pura-pura
mereka mau beli telur ayam tapi keberatan. Jadi pas diwawancara
nantinya, ibunya ini diminta menjawab sama seperti yang disuruh. Jadi
seperti diskenario begitu (wawancara FGD dengan Anggit Pramesti,
mahasiswa magang di stasiun televisi swasta Jakarta, pada 15 Desember
2015).
Seperti yang dituturkan oleh Anggit Pramesti ini yang melakukan kuliah
magang di sebuah stasiun televisi swasta di Jakarta, jelas terjadi bagaimana
dalam sebuah liputan berita, tim liputan dengan secara sengaja melakukan
manipulasi narasumber berita, berupa narasumber fiktif. Sebenarnya tidak
ditemukan warga yang merasa keberatan dengan kenaikan harga telur ayam
tersebut karena menganggap bahwa kenaikan harga tersebut memang sudah pasti
terjadi pada saat menjelang hari raya, sama seperti tahun-tahun sebelumnya.
Tetapi karena dalam berita televisi membutuhkan fakta penguat agar berita tidak
tampak subyektif, maka disusunlah narasumber fiktif untuk memberikan
344
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
tambahan fakta bahwa kenaikan harga telah memunculkan keberatan warga
tersebut menjadi benar adanya.
Pelanggaran seperti ini ternyata sudah jamak dilakukan oleh tim liputan
berita televisi dan diyakini sebagai sebuah tindakan yang lumrah. Bahkan bila
tidak berhasil menemukan narasumber fiktif tersebut, tim liputan berita bisa saja
meminta bantuan pada mahasiswa yang sedang magang atau driver tim liputan
untuk berperan sebagai narasumber fiktif tersebut. Tentu hal ini disesuaikan
antara usia narasumber dengan tema berita yang sedang diangkat.
Nggak cuma itu sih. Misalnya tim liputan nggak dapat narasumber untuk
vox pop, maka nanti anak-anak maganglah yang disuruh pura-pura
menjadi narasumber. Bahkan driver tim liputannya kadang-kadang juga
diminta (menjadi narasumber). Dan seperti itu redaksinya tahu, kalau
yang menjadi narasumber itu anak magang atau itu driver-nya.
Tanggapannya hanya “nanti kalau mau seperti itu, jangan (mahasiswa
atau driver) yang ini lagi, nanti takutnya ada penonton yang tahu.
(wawancara FGD dengan Anggit Pramesti, mahasiswa magang di stasiun
televisi swasta Jakarta, pada 15 Desember 2015).
Masalah narasumber fiktif ini tentu meningatkan kita pada kasus serupa
di beberapa tahun lalu, ketika sebuah stasiun televisi swasta Jakarta akhirnya
pernah ketahuan menggunakan cara ini. Kasus tersebut adalah pada berita
makelar kasus (markus) di kepolisian. Ketika itu memang sedang marak
pemberitaan mengenai makelar jual beli kasus (markus). Sebuah stasiun televisi
swasta Jakarta bahkan berani membayar seseorang untuk berpura-pura menjadi
seorang makelar kasus. Kasus ini terbuka ketika narasumber fiktif tersebut
berhasil dicokok oleh pihak kepolisian dan akhirnya mengaku bila ia hanya
dibayar oleh stasiun televisi untuk berpura-pura menjadi narasumber berita yang
sedang disiarkan.
Penggunaan narasumber fiktif tentu tidak diperbolehkan dalam proses
jurnalisme. Kovach dan Rosenstiel (2003: 37) menyatakan bahwa kewajiban
jurnalisme adalah pada kebenaran. Kebenaran di sini tentu juga mengacu pada
pemahaman bahwa fakta-fakta dalam jurnalisme harus benar adanya. Denis
McQuail dalam buku lawasnya Media Performance, Mass Communication and
The Public Interest (1992: 197) menyatakan bahwa kebenaran (truth) merupakan
aspek penting dari faktualitas (factuality) di samping aspek relevansi (relevance)
dan derajat informasi (informativeness) untuk membangun obyektivitas
(objectivity) sebuah berita. Dengan demikian berita yang berbasis pada
narasumber fiktif tentu tidak berkesesuaian etika jurnalisme yang ada.
Dramatisasi Peristiwa.
Selain narasumber fiktif, pelanggaran etika dan kode etik yang lain
adalah dramatisasi peristiwa. Dramatisasi peristiwa merupakan upaya dari
pengelola pemberitaan suatu media untuk mengemas peristiwa agar lebih tampak
menarik untuk disimak. Jadi sebuah peristiwa layak berita biasa, namun dibuat
menjadi lebih menarik agar mendapatkan perhatian dari audiens. Berbeda dengan
345
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
framing dalam jurnalistik yang juga merupakan upaya pekerja media untuk
membuat berita menjadi lebih menarik, dalam dramatisasi persitiwa ini
bagaimana peristiwa tersebut diberikan tambahan fakta yang sebenarnya tidak
sesuai dengan peristiwa aslinya.
Pernah terjadi pada kasus seorang bapak yang berniat menjual ginjalnya
untuk biaya menebus ijazah kelulusan anaknya. Awalnya tidak ada cerita
bahwa si bapak ini hendak bertemu dengan Presiden Jokowi untuk
menyampaikan niatnya ini. Si bapak ini sebenarnya juga tahu kalau
nggak mungkin bisa ketemu Presiden Jokowi. Tetapi ketika diundang ke
studio untuk wawancara, si bapak ini diminta untuk mempunyai niat
bertemu Presiden. Jadi dialog didesain sedemikian rupa, dan jawabanjawaban pertanyaan si bapak ini sudah di-skenario hingga terkesan lebih
mengena. (wawancara FGD dengan Anggit Pramesti, mahasiswa magang
di stasiun televisi swasta Jakarta, pada 15 Desember 2015)
Kejadian mendramatisasi peristiwa ini mirip dengan narasumber fiktif
pada pelanggaran sebelumnya. Narasumber berita awalnya hanya murni ingin
menjual ginjalnya saja untuk menebus ijazah kelulusan anaknya yang ditahan
pihak sekolah. Akan tetapi agar peristiwa ini tampak lebih menarik, didesainlah
peristiwa tersebut dengan mengimbuhkan adanya keinginan si bapak tersebut
untuk bertemu Presiden Jokowi dalam melaksanakan niatnya tersebut. Ini tentu
dilakukan agar peristiwa ini menjadi lebih menarik perhatian pemirsa
dibandingkan dengan hanya keinginan untuk menjual ginjal semata.
Bila menilik pada kode etik jurnalis Indonesia dan kode etik Asosiasi
Jurnalis Independen Indonesia (AJI Indonesia), tentu peristiwa ini bisa disebut
sebagai pelanggaran. Kode etik AJI Indonesia butir pertama misalnya,
menyatakan bahwa jurnalis menghormati hak masyarakat untuk memperoleh
informasi yang benar sumber : http://aji.or.id/read/kode-etik.html, diakses tanggal
16 Januari 2016). Kode etik jurnalis Indonesia pasal 1 juga menyatakan bahwa
wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita akurat,
berimbang, dan tidak beritikad buruk. Pada bagian penafsiran pasal 1 butir kedua
(b) disebutkan bahwa akurat berarti dipercaya benar sesuai dengan keadaan
obyektif ketika peristiwa itu terjadi (Syah, 2011: 174).
Komersialisasi Ruang Berita
Bila sebenarnya di dunia jurnalistik terdapat konsep firewall (dinding api
atau pagar api) untuk memilah dengan tegas antara kepentingan bisnis dengan
kepentingan redaksional di ruang berita (newsroom), namun dalam kenyataannya
praktek jual beli ruang berita kepada pihak-pihak tertentu juga terjadi di
newsroom suratkabar lokal atau suratkabar daerah. Dalih argumentasi yang
digunakan biasanya adalah kerja sama antara manajemen redaksi dengan lembaga
tertentu. Dasar argumentasi ini tentu merupakan eufimisme semata, karena pada
kenyataannya, lembaga yang diajak atau mengajak kerja sama tersebut membayar
sejumlah uang untuk dapat muncul di ruang berita suratkabar.
346
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Di suratkabar tempat saya magang, beberapa kali melakukan kerja sama
dengan beberapa lembaga tertentu. Istilahnya adalah sistem kontrak.
Wartawan senior di suratkabar ini menjelaskan bahwa hal tersebut
sebagai kerja sama antara suratkabar yang bersangkutan dengan beberapa
lembaga, misalnya dengan dinas pendidikan atau pemerintah daerah
(entah pemprov atau pemkot). Akan tetapi apapun namanya, keterikatan
ini tentu mempengaruhi isi berita. Isi berita menjadi dangkal, dan
terkesan hanya seremoni belaka ketika memberitakan instansi-instansi
tersebut. Celakanya adalah ketika instansi tersebut memiliki masalah,
masalah hukum misalnya, maka suratkabar ini akhirnya tidak mampu
menjaga jarak ketika melakukan proses pemberitaan. (Wawancara FGD
dengan Nancy Sitorus, mahasiswa magang di sebuah suratkabar lokal di
Provinsi Jambi, pada 15 Desember 2015).
Kejadian ini menunjukkan bahwa secara kelembagaan wartawan atau
jurnalis gagal mempertahankan independensi ruang berita (newsroom) sesuai
yang diamanatkan oleh Kovach dan Rosentiel (2003: 119). Bila jurnalis tersebut
merupakan anggota AJI Indonesia, maka wartawan tersebut gagal memenuhi
butir 6 dan 7 kode etik AJI Indonesia. Butir 6 menyebutkan bahwa jurnalis
mempertahankan prinsip-prinsip kebebasan dan keberimbangan dalam peliputan,
pemberitaan, serta kritik dan komentar. Sedangkan pasal 7 berbunyi jurnalis
menolak segala bentuk campur tangan pihak manapun yang menghambat
kebebasan pers dan independensi ruang berita (sumber : http://aji.or.id/read/kodeetik.html, diakses tanggal 16 Januari 2016).
Lalu bagaimana caranya suratkabar tersebut mencari lembaga-lembaga
yang bisa diajak untuk melakukan sistem kontrak atau kerja sama ? Ternyata
wartawan-wartawan di suratkabar tersebut tidak hanya bertugas mencari dan
menulis berita ketika melakukan proses jurnalistik. Bila berkenan dan ingin,
wartawan-wartawan ini juga dapat dimintakan bantuannya untuk mencari iklan
dalam bentuk apapun, entah iklan baris, iklan ruang, advertorial, bahkan juga
kerja sama atau sistem kontrak seperti yang diceritakan di atas.
Satu hal yang unik di suratkabar ini adalah wartawan selain bertugas
mencari dan menulis berita, mereka dapat juga mencari calon pengiklan
agar mau memasang iklan (apapun bentuknya) di suratkabar.
Keberhasilan untuk mendapatkan pengiklan ini dapat merupakan
penghasilan tambahan bagi si wartawan yang membawa pengiklan
tersebut. (Wawancara FGD dengan Nancy Sitorus mahasiswa magang di
sebuah suratkabar lokal di Provinsi Jambi, pada 15 Desember 2015).
Dalam manajemen marketing atau pemasaran di lembaga media massa,
sebenarnya dikenal adanya istilah advertorial. Advertorial (dalam Lane, King,
Reichert, 2011: 509) merupakan bentuk periklanan yang disajikan dalam gaya
bahasa jurnalistik. Gaya penulisan advertorial mirip dengan penulisan produk
jurnalistik, namun isinya bukanlah berita, melainkan promosi mengenai lembaga,
kegiatan, ataupun pandangan tertentu. Karena tetap merupakan bentuk iklan,
347
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
maka perlakuannya pun tetap merupakan bagian dari promosi dan pemasaran.
Pada saat diterbitkan di suratkabar misalnya, posisinya pun ada di bagian iklan,
tidak bercampur dengan berita.
Itu juga mengapa ada konsep firewall (pagar api atau dinding api) dalam
jurnalistik. Firewall merupakan batas antara manajemen redaksional dengan
manajemen bisnis dalam sebuah lembaga media (Harsono, 2010: 45). Artinya
adalah bahwa tidak boleh ada campur aduk antara urusan bisnis dengan
redaksional, demikian pula sebaliknya. Praktek firewall dalam jurnalistik ini
bahkan bisa berupa batas jelas di halaman suratkabar mana bagian yang diisi oleh
berita dan mana bagian yang diisi oleh iklan. Biasanya ditunjukkan dalam garis
pemisah yang jelas antara berita dengan iklan.
Eksploitasi Teknik Pengumpulan Fakta Berita
Observasi, wawancara, dan riset dokumentasi merupakan teknik-teknik
pengumpulan fakta yang dilakukan oleh jurnalis dalam proses news gathering.
Teknik-teknik inilah yang membantu jurnalis untuk memperoleh bahan baku
berita yang pada tahap berikutnya siap untuk ditulis, diedit, dan diterbitkan atau
disiarkan. Integritas jurnalis diperlukan dalam proses ini. Akan tetapi pelanggaran
terhadap cara memperoleh bahan baku berita ini juga pernah terjadi
Redaktur pernah meminta saya untuk melakukan liputan tentang
peristiwa budaya. Kebetulan di Jogja waktu itu kan ada acara Kirab
Budaya dan event ini merupakan event tahunan. Namun entah mengapa,
tulisan saya tentang kirab budaya ini tidak jadi diterima. Redaktur
menggantinya dengan mengutip dari internet mengenai acara Kirab
Budaya tersebut. Seharusnya kan ketika mengutip dari internet, wartawan
perlu menjelaskan kepada pembaca bahwa tulisan berita tersebut
bersumber dari situs-situs tertentu di internet. Tetapi kalau saya
perhatikan, tidak ada pemberitahuan kepada pembaca mengenai hal ini.
Gaya tulisannya juga lebih bernuansa bahwa berita tersebut ditulis
melalui observasi bukan melalui riset dokumentasi. Padahal si redaktur
ini tidak hadir di acara tersebut. (Wawancara FGD dengan Mechtildis
Wieke, mahasiswa magang di suratkabar nasional biro Yogyakarta, pada
15 Desember 2015).
Ironisnya ternyata tidak media ini saja yang melakukan hal seperti di
kutipan wawancara di atas, namun banyak media cetak lain juga melakukan hal
ini. Artinya penulisan berita sebenarnya tidak berbasis pada teknik observasi,
akan tetapi hanya sebatas pada riset dokumentasi melalui penelusuran situs-situ
tertentu di internet. Akan tetapi gaya penulisan yang dilakukan lebih
mengesankan bahwa tulisan berita ini diambil dengan metode observasi.
Keberanian wartawan untuk melakukan cara ini memang tidak berlaku untuk
semua jenis berita. Teknik-teknik ini lazim dilakukan untuk berita dengan
kategori berita ringan atau soft news.
Suratkabar ini tidak takut melakukan hal seperti ini karena ternyata
banyak media lain yang melakukan hal yang serupa. Tetapi memang
348
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
mereka beraninya hanya pada berita-berita pada tataran soft news saja.
Khususnya berita-berita yang berbasis pada event tahunan, seperti acara
Kirab Budaya. Event tersebut biasanya tidak banyak perubahan dalam
penyelenggaraannya dari tahun ke tahun. (Wawancara FGD dengan
Mechtildis Wieke, mahasiswa magang di suratkabar nasional biro
Yogyakarta, pada 15 Desember 2015).
Bila redaktur dari lembaga suratkabar ini merupakan anggota AJI
Indonesia, tentu ini merupakan bentuk pelanggaran terhadap butir 14 kode etik
AJI Indonesia. Butir 14 menyatakan bahwa jurnalis tidak boleh menjiplak
sumber: http://aji.or.id/read/kode-etik.html, diakses tanggal 16 Januari 2016)..
Sekaligus redaktur ini melanggar pasal 2 kode etik jurnalis Indonesia (KEJI)
yang berbunyi bahwa wartawan Indonesia menempuh cara-cara profesional
dalam melaksanakan tugas jurnalistik. Pada penjelasan penafsiran pasal 2 ini
disebutkan juga bahwa wartawan tidak melakukan plagiat, termasuk menyatakan
hasil liputan wartawan lain sebagai karya sendiri (Syah, 2011: 174).
Intervensi Pemilik Media
Intervensi pemilik media dalam proses jurnalistik sebenarnya bukan
cerita baru di industri media Indonesia. Intervensi pemilik media terjadi karena
banyaknya pemilik media yang mempunyai kepentingan atas pemberitaan media
terutama yang menyangkut kepentingan pribadi si pemilik media tersebut.
Apalagi dalam beberapa tahun terakhir, ketika banyak pemilik media turun
gelanggang ke dunia politik, media massa semakin memiliki posisi krusial untuk
memuluskan tujuan dari si pemilik media tersebut.
Intervensi pemilik media pada isi berita biasanya muncul dalam bentuk
tidak langsung atau bersifat hegemonik. Artinya pekerja media yang dalam hal
ini adalah jurnalis biasanya sudah memahami apa yang sekiranya diinginkan oleh
si pemilik media terutama ketika peristiwa yang diberikan jelas-jelas menyangkut
kepentingan si pemilik media atau bahkan si pemilik media tersebut sedang
menjadi subyek pemberitaan. Selain itu jurnalis meyakini bahwa hal tersebut
merupakan sebuah kewajaran.
Jadi misalnya dalam Pemilu 2014 kemarin, stasiun televisi kami memiliki
program yang dinamakan sebagai Program Khusus (ProgSus). Produser
di redaksi menjelaskan bahwa program khusus seperti ini wajar dimiliki
oleh stasiun televisi tersebut karena stasiun televisi lain yang pemilik
medianya terjun ke politik juga memiliki program siaran serupa. Yang
menjadi narasumber biasanya ya direksi dan komisaris di televisi masingmasing. Produser juga sampaikan bahwa ini nggak salah juga, karena
lembaga media ini dimiliki oleh pemilik media yang posisinya adalah
direksi dan komisaris di lembaga media tersebut. Jadi progsus ini
nantinya akan memberitakan berita-berita orang yang terlibat di kegiatan
direksi, komisaris, istri pemilik medianya bahkan partai politik di mana
direksi atau komisaris atau juga pemilik media aktif di dalamnya.
349
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
(wawancara FGD dengan Anggit Pramesti, mahasiswa magang di stasiun
televisi swasta Jakarta, pada 15 Desember 2015)
Akan tetapi yang menjadi unik di sini adalah bahwa intervensi pemilik
media tersebut di titik-titik tertentu ternyata sering pula berupa tindakan nyata.
Maksudnya pemilik media ikut serta dalam proses jurnalistik yang sedang
berlangsung. Hal ini terutama terjadi, bila peristiwa yang diberitakan menyangkut
di pemilik media tersebut.
Misalnya ketika pemberitaan mengenai Pemilu 2014 kemarin, redaksi
memberitakan si pemilik media yang kebetulan menjadi pengurus dari
partai politik tertentu dalam sebuah peristiwa. Sering kali via
sekretarisnya tahu-tahu menelepon bahwa “maaf mbak, bapak mau lihat
dulu naskahnya sebelum diterbitkan”. Dan bila si bapak ini ternyata tidak
berkenan, maka ketika naskah berita ini dikembalikan ke redaksi,
sekretarisnya juga akan menyampaikan bahwa “naskahnya jangan kayak
gini mbak, tapi kayak gitu sesuai dengan keinginan bapak” (Wawancara
FGD dengan Mechtildis Wieke, mahasiswa magang di suratkabar
nasional biro Yogyakarta, pada 15 Desember 2015)
Upaya menanamkan citra positif si pemilik media di mata publik
menyebabkan news room sering menjadi tidak independen. Pekerja media dalam
hal ini para jurnalis yang bekerja di lembaga-lembaga media tersebut sering
akhirnya tidak berkutik ketika pemberitaan media harus sesuai dengan arah
kepentingan si pemilik media. Para pekerja media sering terpaksa mengamini
keinginan si pemilik media walaupun sebenarnya mereka paham benar bahwa hal
tersebut tidak sesuai dengan idealisme tujuan jurnalistik. Di titik tertentu ada
keinginan untuk melakukan resistensi, namun lebih sering untuk tidak
dilaksanakan karena tekanan ekonomi yag kuat di kalangan para jurnalis.
Muaranya sesama pekerja media tersebut hanya mampu mengeluh di belakang
kantor.
Iya cuma bisa mengeluh di belakang saja sih, di pantry misalnya. Mereka
saling berkeluh kesah, semacam bentuk keberatan kalau media mereka
hanya menampilkan parpol si pemilik media secara terus-menerus. Ada
keinginan untuk melawan, tapi belum punya kekuatan. (Wawancara FGD
dengan Stephanus Aranditio, mahasiswa magang di stasiun televisi
swasta Jakarta. Pada 15 Desember 2015)
Intervensi pemilik media ternyata tidak hanya untuk kepentingan politik
semata, namun intervensi tersebut bisa terjadi dalam rangka kepentingan
ekonomi media itu sendiri. Liputan terpaksa dilakukan karena ada instruksi
langsung dari pemilik media, walaupun bila ditelaah berbasis pada kaidah-kaidah
jurnalistik, terkadang liputan tersebut sama sekali tidak memiliki kekhasan untuk
diberitakan.
Yang lucu itu ketika saya diperintahkan untuk meliput ultah seorang oma
(baca: nenek). Saya tanya ke mentor saya, kenapa oma ini harus diliput ?
350
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Jawabannya ya itu karena disuruh pemilik media. Oma itu temannya
pemilik media ini. Saya masih bertanya lebih lanjut, kenapa harus diliput
majalah ini ? apa relevansinya, ya ? Mentor saya menjawab, sebenernya
lebih untuk menjaga relasinya antara si oma ini dengan si pemilik media,
supaya dibeli majalahnya. Oma ini kebetulan memiliki jaringan luas
dengan hotel-hotel dan para pelaku industri wisata di Yogyakarta. Nah ....
karena oma ini punya pengaruh yang cukup luas dan mampu untuk
mempromosikan majalah ini, sosok oma ini perlu diliput. (Wawancara
FGD dengan Ratna Patria, mahasiswa magang di majalah berita bulanan
wisata di Yogyakarta, pada 15 Desember 2015)
Intervensi pemilik pada proses jurnalisme jelas merupakan pelanggaran
pada etika jurnalisme, khususnya berbicara mengenai independensi ruang berita
(news room). Bill Kovach dan Tom Rosentiel (2003: 119) jelas menyampaikan
bahwa para jurnalis harus memiliki kebebasan dari sumber yang mereka liput.
Dalam hal ini, kebetulan yang menjadi sumber berita atau sumber liputan adalah
aktivitas dan profil dari pemilik media. Pemilik media yang dengan hegemonik
atu bahkan turun langsung di ruang redaksi, tentu merupakan upaya untuk
mempengaruhi kebebasan jurnalis dalam melaporkan peristiwa.
Jurnalis tentu menjadi tidak berdaya menghadapi situasi ini karena pada
dasarnya jurnalis adalah juga karyawan dari lembaga si pemilik media. Bahkan
untuk mereka yang menyadari dan keberatan akan situasi ini, mereka juga tidak
dapat mengikuti kata hati atau nuraninya masing-masing. Padahal Bill Kovach
dan Tom Rosentiel (2003: 233) mengamanatkan bahwa jurnalis harus
diperbolehkan mengikuti hati nurani mereka ketika berada dalam posisi dilematis
semacam ini.
Simpulan
Sebenarnya masih banyak lagi kasus-kasus pelanggaran etika jurnalistik
yang unik terjadi dalam proses news gathering dan news writing. Walaupun tidak
semua jurnalis atau wartawan Indonesia melakukan tindak pelanggaran ini,
namun tentunya ini menjadi keprihatinan tersendiri tidak hanya bagi kalangan
jurnalis dan juga bagi masyarakat selaku audiens dari media. Masyarakat atau
publik tentu memiliki harapan untuk mendapatkan informasi berita yang baik dan
akurat. Akan tetapi bila ternyata terdapat pelanggaran etika yang bermuara pada
manipulasi, tentu publik patut ragu akan kualitas produk jurnalistik yang
dihasilkan.
Bila menilik deskripsi pelanggaran di atas, perlu pula dipahami bahwa
pelanggaran etika yang terjadi bukan hanya karena faktor individu jurnalis yang
ada di lapangan semata, tetapi juga berlangsung secara sistemik. Pelanggaran
yang terjadi juga melibatkan individu manajemen redaksi bahkan hingga ke
pemilik media. Oleh karena itu, kesadaran mengenai pentingnya etika jurnalitik
perlu dipahami tidak hanya oleh jurnalis yang berada di lapangan saja, namun
juga oleh semua pihak yang terlibat dalam proses jurnalistik itu sendiri.
351
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Daftar Pustaka
Buku
Day, Louis Alvin. (2006). Ethics in Media Communication (5th Ed). Belmont:
Thomson Wadsworth
Dominick, Joseph R. (2011). The Dynamics of Mass Communication : Media in
Transition (11th Ed). New York: McGraw-Hill International
Harsono, Andreas. (2010). Agama Saya adalah Jurnalisme. Yogyakarta:
Penerbit-Percetakan Kanisius
Hennink, Monique, Inge Hutter, and Ajay Bailey. (2011). Qualitative Research
Methods. London: Sage Publications
Itule, Bruce D. and Douglas A. Anderson. (2008). News Writing and Reporting
for Today’s Media. New York: McGraw Hill
Jacquette, Dale. (2007). Journalistic Ethics, Moral Responsibility in The Media.
New Jersey: Pearson Education-Prentice Hall
Kovach, Bill dan Tom Rosentiel. (2003). Sembilan Elemen Jurnalisme, Apa yang
Seharusnya Diketahui Wartawan dan yang Diharapkan Publik. Jakarta:
Yayasan Pantau
Lane, Ron. Karen King and Tom Reichert. (2011). Kleppner’s Advertising
Procedure (18th Ed). New Jersey: Prentice Hall
McQuail, Denis. (1992). Media Performance, Mass Communication and The
Public Interest. London: Sage Publication
Moore, Roy L. and Michael D. Murray. (2012). Media Law and Ethics (4th Ed).
New York: Routledge
Rakhmat, Jalaluddin. (2001). Metode Penelitian Komunikasi, Dilengkapi Contoh
Analisis Statistik (9th Ed): Bandung. CV Rosda Karya
Siregar, Amir Effendi. (2014). Mengawal Demokratisasi Media: Menolak
Konsentrasi, Membangun Keberagaman. Jakarta: Penerbit Buku Kompas
Siregar, Ashadi. (1998). Bagaimana Meliput dan Menulis Berita untuk Media
Massa. Yogyakarta: Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerbitan
Yogyakarta (LP3Y)
Suseno, Franz Magnis (2001). Etika Jawa. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama
Syah, Sirikit. (2011). Rambu-Rambu Jurnalistik, dari Undang-Undang hingga
Hati Nurani. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Sumber Internet
http://www.kpi.go.id/index.php/lihat-terkini/38-dalam-negeri/33157-liputanledakan-di-kawasan-thamrin-kpi-minta-televisi-dan-radio-sampaikan-beritaakurat
http://www.news.detik.com/read/2016/01/20/160939/3122996/10/dewan-persada-2000-media-online-hanya-211-yang-sesuai-kaidah-jurnalistik
http://aji.or.id/read/kode-etik.html
352
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Biografi Penulis
Bonaventura Satya Bharata, SIP, M.Si, lahir di Jakarta, 5 Agustus 1971.
Menamatkan studi S-1 di Jurusan Ilmu Komunikasi FISIPOL-UGM Yogyakarta
(1990-1995) dan S-2 di Pasca Sarjana Manajemen Komunikasi-Ilmu Komunikasi
UI Jakarta dengan spesialisasi Manajemen Media (2001-2003). Tercatat sebagai
Dosen Tetap di Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP-Universitas Atma Jaya
Yogyakarta (1998-sekarang). Sempat pula menjadi konsultan dan trainer untuk
materi Media Relations bersama Jogja Education Partners (JEP) pada 20072010. Sekarang sedang menjadi trainer Kementerian Komunikasi dan Informatika
untuk program Training for Trainer (TOT) Competency Based Training (CBT)
Methodology (2015-sekarang). Menjadi salah satu kontributor penulis untuk
beberapa buku, seperti Metode Penelitian Komunikasi :Teori dan Aplikasi
(2005), Quo Vadis Televisi : Masa Depan TV dan TV Masa Depan (2010), Mixed
Methodoloy dalam Penelitian Komunikasi (2011), Mozaik Indonesia : Catatan
atas Fenomena Komunikasi, Politik, Sosial, dan Hukum di Indonesia (2012),
Komunikasi dan Konflik (2012), Sport, Komunikasi, dan Audiens (2014), dan
Komunikasi untuk Membangun Masyarakat Daerah (2014). Menulis pula artikel
opini di beberapa suratkabar lokal Yogyakarta, seperti Radar Jogja, Harian
Jogja, dan Bernas Jogja.
353
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
LEDAKAN MAKLUMAT DAN TEKNOLOGI KOMUNIKASI BARU DI
BAWAH BAYU
Intan Soliha Ibrahim, Nor Hissam Sulaiman, Juliana Abdul Wahab, Suhaimi
Salleh
Universiti Malaysia Sabah, Universiti Sains Malaysia
[email protected]
Abstract
Multimedia Super Corridor (MSC) is a government platform towards penetration
of information technology to the public through various mediums. Among these is
the medium of print media (newspapers and magazines), electronic media (TV
and radio), interactive media (online and digital broadcasting). In an era of
spreading and sharing of information, the public should enrich themselves with
information. This paper discusses and examines the explosion of new information
and communication technologies in Sabah. Through observation, Sabah was
among the states that are lagging behind in terms of ICT compared with other
states in Malaysia. Therefore, the scope of discussion include accessibility and
information literacy in Sabah which is influenced by two main indicators of
technological change and involve the public awareness on the importance of
information. Technological changes occur as a result of the request and also
influenced by the growing economy. Public awareness of the importance of the
dissemination and use of information lead to an explosion of information
happening in Sabah, Sabah although a bit behind in terms of ICT compared with
other states in Malaysia. However, it does not negate the geographic factor
among the causes of the failure of the explosion of information in Sabah
especially in rural and remote areas. The explosion of new information and
communication technologies eventually have an impact on the people of Sabah,
especially in terms of community development, and social mentality. The
research used the quantitative and qualitative methodologies. Location study
involving four zones in Sabah.
Keywords: technology, Sabah and SDC
Abstrak
Koridor Raya Multimedia (MSC) merupakan platform kerajaan ke arah
ketembusan teknologi maklumat kepada masyarakat melalui pelbagai medium.
Antara medium tersebut adalah media cetak (akhbar dan majalah), media
elektronik (TV dan radio), media interaktif (online dan penyiaran secara digital).
Dalam era penularan dan perkongsian maklumat, masyarakat Malaysia harus
memperkayakan diri dengan maklumat. Makalah ini membincangkan dan
meneliti ledakan maklumat dan teknologi komunikasi baru di Sabah. Menerusi
pemerhatian, Sabah merupakan antara negeri yang agak ketinggalan dari aspek
ICT berbanding negeri lain di Malaysia. Oleh itu, skop perbincangan meliputi
ketersampaian dan kecelikan maklumat di Sabah yang dipengaruhi oleh dua
indikator utama iaitu perubahan teknologi dan melibatkan kesedaran masyarakat
354
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
mengenai kepentingan maklumat. Perubahan teknologi berlaku akibat adanya
permintaan dan turut dipengaruhi oleh faktor ekonomi yang semakin
berkembang. Kesedaran masyarakat terhadap pentingnya penyaluran dan
penggunaan maklumat menyebabkan ledakan maklumat berlaku di Sabah,
walaupun Sabah agak ketinggalan dari aspek ICT berbanding negeri lain di
Malaysia. Namun, tidak menafikan faktor geografi antara penyebab kepada
kegagalan ledakan maklumat di Sabah terutamanya di kawasan desa dan
pedalaman. Ledakan teknologi maklumat dan komunikasi baru ini akhirnya
memberikan impak kepada penduduk Sabah terutamanya dari aspek
pembangunan masyarakat, mentaliti dan sosial. Kajian ini menggunakan dua
metodologi iaitu kuantitatif dan kualitatif. Lokasi kajian melibatkan empat zon di
Sabah.
Kata Kunci: Ketembusan maklumat, perubahan teknologi, Sabah dan SDC
Pendahuluan
Koridor Raya Multimedia (MSC) merupakan platform kerajaan ke arah
ketembusan teknologi maklumat kepada masyarakat melalui pelbagai medium.
Antara medium tersebut adalah media cetak (akhbar dan majalah), media
elektronik (TV dan radio), media interaktif (online dan penyiaran secara digital).
Dalam era penularan dan perkongsian maklumat, masyarakat Malaysia harus
memperkayakan diri dengan maklumat (Sumber: Wawasan 2020, 1991:36) dan
atas dasar tersebut MSC dilancarkan pada 1 Ogos 1996. MSC menjadi mercu
kemajuan bangsa dan Malaysia selaras dengan pembentukan wawasan 2020. Tun
Dr.Mahathir Mohamed, mantan Perdana Menteri Ke-4 Malaysia
bertanggungjawab dalam memperkenalkan Wawasan 2020 dan MSC.
Selepas 12 tahun Koridor Raya Multimedia dilaksanakan, Datuk Seri
Abdullah Ahmad Badawi, mantan Perdana Menteri Malaysia ke-5 melancarkan
Koridor Pembangunan Sabah (SDC) pada 29 Januari 2008. Sebelum menyertai
Malaysia pada tahun 1963, Sabah dikenali sebagai Borneo Utara. Uniknya Sabah
berbanding semenanjung Malaysia adalah mempunyai lebih 50 etnik dan bahasa.
Sejarah negeri Sabah turut dicatat dalam sejarah negara Brunei dan Malaysia.
Pada abad ke-15 Sabah dipimpin oleh kerajaan Brunei sebelum diberikan kepada
pihak British. Bentuk muka bumi (topografi) Sabah menarik kerana bergunungganang dan mempunyai kawasan hutan tebal.
Oleh itu, SDC ditubuhkan atas dasar inisiatif kerajaan bagi meningkatkan
kualiti kehidupan penduduk Sabah dengan memacu pertumbuhan ekonomi
Sabah, mempromosikan keseimbangan wilayah, dan menghapuskan jurang antara
bandar dan luar bandar. Ini penting dalam memastikan pengurusan lestari bagi
sumber negeri Sabah.
Tempoh perlaksanaan SDC dijangka selama 18 tahun, bermula dari tahun
2008 sehingga 2025. Sabah dijangka boleh meningkatkan pembangunan dalam
semua aspek sama ada sosial, ekonomi, fizikal dan alam sekitar. Antara salah satu
wawasan yang ingin dicapai adalah menjadikan Sabah sebuah negeri mahir
teknologi yang menggunakan dan memperagakan teknologi dalam usaha
355
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
meningkatkan kualiti kehidupan seharian. Manakala misi SDC adalah untuk
meningkatkan keupayaan penerimaan ilmu dan inovasi serta memupuk ‘daya
fikir kelas pertama’ (sumber: Koridor Pembangunan Sabah, 2008: 23).
Menerusi pemerhatian, Sabah merupakan antara negeri yang agak
ketinggalan dari aspek ICT berbanding negeri lain di Malaysia. Terdapat dua
faktor utama yang menyumbang kepada fenomena ini iaitu faktor geografi
(topografi) dan aspek teknologi (akses kepada peralatan). Isu ini membawa
kepada ketersampaian dan kecelikan maklumat di Sabah.
Tinjauan Pustaka
Kajian ICT menyumbang kepada pembangunan negara dan masyarakat.
Justeru, menerusi pangkalan data Krisalis Discovery terdapat 20,338,258 kajian
mengenai ICT secara umumnya dan terdiri daripada pelbagai disiplin ilmu.
Ledakan teknologi komunikasi maklumat menjadi pendokong utama kepada
proses pembangunan negara sama ada dalam bandar dan luar bandar (Berita
Harian, 2003). Dalam konteks kajian ini, ledakan maklumat merujuk kepada
ketembusan maklumat di seluruh kawasan di negeri Sabah dan tujuan
penggunaan ICT di kawasan pedalaman Sabah. Ini kerana penggunaan ICT
dalam ketersampaian dan kecelikan maklumat adalah selaras dengan konsep SDC
dalam membangunkan Sabah. Selain itu, faktor geografi (topografi) dan akses
mendapatkan maklumat merupakan cabaran kepada ketersampaian dan kecelikan
maklumat di Sabah.
Menurut Wan Mustama (2004) ini memperlihatkan unsur keupayaan
perhubungan teknologi maklumat seperti televisyen, radio, email, dan akhbar
online kepada masyarakat. Terdapat tiga unsur dalam teknologi maklumat dan
komunikasi di Sabah iaitu yang pertama melibatkan manusia yang mana
masyarakat menggunakan ICT untuk tujuan pembangunan kemahiran dan
pendidikan. Keduanya, unsur infrastruktur yang mana melibatkan penggunaan
rangkaian dan peralatan yang mampu milik dan ketiga adalah aplikasi yang
merujuk kepada interaktiviti dan hiburan. Untuk itu, dalam usaha mewujudkan
komuniti yang celik maklumat di Sabah, pengemblengan usaha dari semua pihak
(kerajaan dan swasta) penting untuk mencapai objektif SDC.
Metodologi
Untuk mendapatkan maklumat mengenai ketembusan dan kecelikan
maklumat di Sabah, kajian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan
kualitatif. Pendekatan kuantitatif adalah dengan menggunakan borang soalselidik sebagai instrumen utama dalam mendapatkan data. Manakala pendekatan
kualitatif diaplikasi untuk tujuan mendapatkan maklumat yang mendalam dan
menyokong dapatan kajian kuantitatif bagi tujuan validasi. Bagi tujuan
persampelan dan kutipan data, pilot study telah dilakukan terlebih dahulu bagi
tujuan menguji reliabiliti dan validiti soal-selidik. Untuk tujuan itu, sebanyak 50
orang responden telah dipilih daripada zon bandaraya Kota Kinabalu. Jumlah
356
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
keseluruhan responden yang terlibat dalam kajian ini adalah seramai 822
responden.
Manakala lokasi kajian terdiri daripada Zon A (Kota Kinabalu, Kota
Marudu, Kudat, Kota Belud dan Ranau-Kundasang), Zon B (Keningau, Sipitang,
Tenom dan Beaufort), Zon C (Beluran dan Sandakan) serta Zon D (Semporna,
Tawau dan Sebatik). Rajah 1.1 menunjukkan peta lokasi kajian.
Gambar 1: Peta Lokasi Kajian
Kaedah analisis data yang digunakan adalah analisis statistikal dan
spatial yang diaplikasi bagi tujuan menguji set data, analisis deskriptif, Principle
Component Analysis (PCA) dan GIS spatial interpolation. Hanya keputusan yang
mencapai tahap signifikasi 95% dan keatas diinterpretasi oleh penyelidik.
Hasil Temuan dan Diskusi
Saluran Teknologi Maklumat Di Sabah
Schramm dan Porter (1982:343) menyatakan ketersampaian dan
kecelikan maklumat sebenarnya melibatkan banyak saluran (medium) dan
pengguna. Oleh itu, ketersampaian dan kecelikan maklumat banyak bergantung
kepada peranan sesebuah saluran sebagai medium perantara dan penyampai.
Menurut Katz (2003:4), seiring dengan perkembangan teknologi, medium
tersebut menjadi lebih sofistikated untuk meningkatkan kualiti kehidupan
masyarakat malah memainkan peranan yang penting dalam membentuk
perlakuan masyarakat (what we do, where we go or how we behave).
Jika ditelusuri sejarah teknologi maklumat dan komunikasi (ICT)
sebenarnya bermula dengan teknologi percetakan iaitu suratkhabar dan majalah.
Menurut De Fleur dan Ball-Rokeach (1977, dalam Samsuddin A. Rahim,
2003:49) kertas mula digunakan sebagai alat tulis bagi menggantikan kulit
357
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
kambing yang digunakan sebagai kertas tulis atau ‘parchment’ dalam dunia Islam
pada kurun yang kelapan. Dari dunia Islam, penggunaan kertas mula tersebar ke
dunia Barat, terutama apabila suku Moors menakluki Sepanyol. Dari kurun
tersebut hinggalah mesin cetak dicipta pada kurun ke-15, kebanyakan tulisan
hanyalah tersebar dalam kalangan golongan yang tertentu sahaja, terutama
golongan agama, elit politik dan para cendiakiawan.
Daripada perkembangan teknologi cetak kurun ke-19, komunikasi massa
dikatakan telah mengalami satu revolusi pada kurun ke-20. Pada kurun tersebut
teknologi media elektronik mulai berkembang. Pada dekad pertama kurun ke-20,
wayang gambar mulai diperkenalkan sebagai satu corak hiburan keluarga.
Kemudian pada tahun 1920-an, radio telah mulai dicipta dan menembusi ruang
tamu setiap rumah di Barat dan tidak lama kemudian televisyen muncul (Walter
I. Romanow & Walter C. Soderlund, 1996). Dengan adanya penciptaan inovasi,
saluran seperti suratkhabar, majalah, radio, dan televisyen mula mengalami
evolusi dari aspek teknologi (dari teknologi analog (tradisional) kepada teknologi
digital) apabila muncul teknologi maklumat.
Saluran teknologi maklumat menjadi perantara penting bagi memastikan
ketersampaian maklumat kepada masyarakat di Sabah. Jadual 1.1 merupakan
medium yang menjadi saluran penyampaian maklumat di Sabah hasil daripada
dapatan kajian.
Saluran
Internet
Jenis
 E-mel
 Pelayar Web
 Bilik Sembang (IRC)
 Kumpulan Berita
 Mesej Segera (Instant Messaging)
 Sidang Video (Videoconferencing)
Majalah
 Tradisional
 Online
Suratkhabar
 Tradisional
 Online
Radio
 Radio Analog (FM & AM)
 Radio Satelite (Astro)
 Radio Internet
Televisyen
 Free-to-air (FTA)
 Satelite (Astro)
 Television Receive-Only (TVRO)
Tabel 1. Jenis Saluran Teknologi Maklumat di Sabah
Saluran dalam Jadual 1.1 disediakan oleh pihak Kerajaan dan swasta bagi
memastikan ketersampaian maklumat, hiburan, dan pendidikan kepada
masyarakat di Sabah bagi menghasilkan masyarakat yang celik penggunaan ICT.
Justeru itu, SDC diperkenalkan bagi membantu dalam merapatkan jurang digital
358
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
antara kawasan bandar dan luar bandar. Saluran dalam jadual 1.1 merupakan
saluran yang turut digunakan di Malaysia kecuali penggunaan television-receiveonly (TVRO). TVRO merujuk kepada TV parabola. Penggunaan TVRO di
Semenanjung Malaysia adalah tidak dibenarkan, begitu juga di Sabah dan
Sarawak. Namun begitu, atas faktor geografi (bentuk muka bumi Sabah) dan
akses penerimaan teknologi yang lemah telah menyumbang kepada penggunaan
TVRO di Sabah sebagai sebuah saluran untuk masyarakat mendapatkan
maklumat dan hiburan.
Ketembusan & Kecelikan Maklumat Di Sabah
Sehingga kini, perkembangan ICT di Sabah masih ketinggalan
berbanding dengan negeri lain di Malaysia. Antara saluran popular yang sering
digunakan oleh penduduk Sabah, bagi mendapatkan maklumat dan hiburan
adalah surat khabar, radio, televisyen (FTA, Astro & TVRO) dan internet.
Gambar 2: Akses Maklumat
Gambar 1.2 menunjukkan sebab kepada penggunaan saluran tersebut
adalah untuk mendapatkan akses kepada pendidikan dan maklumat, isu-isu
semasa, isu keagamaan dan budaya, dokumentari dan program antarabangsa.
Akses ini adalah mengikut jantina dan mendapati bahawa akses kepada hiburan
menerusi rancangan antarabangsa adalah tinggi berbanding akses kepada
pendidikan dan maklumat. Kecenderungan kedua-dua jantina dalam memilih
hiburan adalah selari dengan item Teori Kegunaan dan Pemuasan iaitu
melepaskan diri daripada tekanan (escapism) setelah penat berkerja dan belajar.
Namun begitu, tetap ada kekangan untuk sesetengah penduduk Sabah
dalam mendapatkan akses kepada penggunaan ICT. Faktor geografi yang
bergunung-ganang dan berhutan tebal menyumbang kepada kesukaran untuk
mendapatkan akses tersebut di kawasan pedalaman Sabah. Terutamanya akses
penggunaan yang melibatkan transmisi analog dan satelit tidak dapat menembusi
sesetengah kawasan pedalaman. Perkara ini merupakan punca sesetengah
kawasan pedalaman di Sabah agak ketinggalan dan terpaksa menggunakan
359
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
alternatif akses penggunaan ICT yang lain. Sebagai contohnya, siaran televisyen
FTA (free-to-air) yang terdiri daripada RTM 1, RTM 2, TV3,NTV7, TV 8 dan
TV 9 tidak dapat diterima disesetengah kawasan di Sabah terutamanya di
Beluran, dan beberapa kawasan pedalaman di Keningau. Ini dapat dibuktikan
melalui dapatan kajian dalam rajah 1.3.
Gambar 3: Penggunaan FTA
Berdasarkan rajah 1.3, dapat dijelaskan bahawa penggunaan siaran FTA
tidak begitu memberangsangkan di kawasan Sandakan, dan Tawau. Penggunaan
siaran FTA yang rendah dikawasan tersebut turut disebabkan oleh faktor
topografi (keadaan muka bumi). Sebaliknya, penggunaan siaran FTA lebih
berpengaruh di kawasan Pantai Barat (Kota Kinabalu, Ranau & Kudat). Untuk
tidak ketinggalan, penduduk yang tidak dapat menerima siaran FTA terpaksa
mencari alternatif lain seperti menggunakan perkhidmatan TVRO (parabola) atau
ASTRO bagi mendapatkan maklumat dan hiburan dari perkhidmatan tersebut. Ini
dapat dibuktikan melalui rajah 1.4 mewakili corak penggunaan Astro dan rajah
1.5 mewakili corak penggunaan TVRO.
360
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Gambar 4: Penggunaan ASTRO
Gambar 5: Penggunaan TVRO
Berdasarkan rajah 1.4 dan 1.5, penggunaan TVRO adalah lebih tinggi
berbanding Astro di kawasan pedalaman Sabah. Dapatan kajian menerusi temu
bual mendapati bahawa faktor geografi (topografi) mempengaruhi pemilihan
penggunaan saluran. Ini kerana, jarak antara bandar dan pekan bagi sesebuah
kawasan pedalaman adalah sangat jauh dan mengambil masa dua hingga tiga jam
bagi perjalanan sehala. Oleh itu, masyarakat pedalaman lebih memilih TVRO
kerana tidak perlu membuat pembayaran setiap bulan seperti Astro dan dalam
masa yang sama tidak ketinggalan daripada mendapat maklumat dan hiburan.
Dalam kata lain, penggunaan TVRO adalah lebih bersifat ekonomikal daripada
aspek masa dan jarak bagi penduduk pedalaman Sabah.
Hal ini membuktikan bahawa ledakan teknologi maklumat dan
komunikasi (ICT) di Sabah memberi kesedaran kepada penduduknya untuk
mendapat akses kepada maklumat tanpa mengira jenis saluran yang digunakan.
361
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Bagi membangunkan perkembangan ICT di Sabah, SDC telah mengambil
inisiatif untuk memastikan Sabah bersedia dan berupaya mengikuti
perkembangan ICT supaya industri berkaitan kekal berdaya saing di samping
mengurangkan jurang digital desa dan Bandar. Walaupun infrastruktur
merupakan fokus penting SDC, segala usaha akan dilakukan untuk memastikan
pelaksanaan dijalankan dalam keadaan mampan dan mesra alam sekitar (Sumber:
Koridor Pembangunan Sabah, 2008:125).
Ledakan ini menyebabkan berlakunya ketersampaian dan kecelikan
maklumat dalam kalangan masyarakat. Terdapat dua indikator; 1) perubahan
teknologi, dan 2) kesedaran masyarakat mengenai kepentingan maklumat.
Perubahan teknologi ini disebabkan oleh faktor ekonomi dan wujudnya
permintaan daripada masyarakat. Manakala, kesedaran masyarakat mengenai
kepentingan maklumat didorong oleh faktor keinginan untuk menguasai sesuatu
bidang.
Hal ini kerana teknologi maklumat dan komunikasi (ICT) merupakan
satu keperluan dalam kehidupan harian masyarakat dalam membuat urusan sama
ada di sektor kerajaan, swasta mahupun persendirian (pendidikan dan
sebagainya). Indikator perubahan teknologi dan kesedaran masyarakat ini
disokong oleh Gates (Taylor, 1996:1) yang menyatakan perubahan teknologi
akan menyebabkan masyarakat berubah dari aspek menjalankan aktiviti harian,
serta masyarakat mula belajar untuk menguasai sesuatu bidang dan belajar untuk
mencari ketenangan (hiburan).
Simpulan
Ledakan teknologi komunikasi dan maklumat telah menyumbang kepada
ketembusan dan kecelikan maklumat dalam kalangan masyarakat di Sabah. Atas
kesedaran itu, masyarakat mengambil pelbagai inisiatif untuk memperkasakan
diri dengan ilmu dan maklumat melalui pelbagai jenis medium (TVRO, FTA,
radio analog, radio digital, Internet, dan akhbar), walaupun terdapat kekangan
daripada aspek geografi dan akses peralatan. Untuk itu, pihak berkuasa seperti
badan kerajaan perlu meningkatkan keupayaan transmisi FTA dan capaian
internet di kawasan pedalaman Sabah bagi memastikan kawasan pedalaman
Sabah tidak ketingalan dalam mendapatkan informasi. Selain itu, pihak Astro
perlu menyediakan satu kemudahan seperti kiosk pembayaran di kawasan
pedalaman Sabah yang jauh daripada pekan bagi memudahkan golongan tersebut
melanggan kemudahan TV dan radio satelit.
Rujukan
Berita Harian. (2003) ICT Penggerak utama pembangunan bandar. Dipetik
daripada aplikasi.kpkt.gov.my
Katz, H. 2003. The Media Handbook. Lawrence Erlbaum Associates: United
States of America.
Rangka Tindakan Koridor Pembangunan Sabah 2008-2025.
362
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Samsuddin A. Rahim. 2003. Asas Komunikasi. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa
dan Pustaka.
Schramm, Wilbur & Porter, William E. 1982. Men, Women, Messages, and
Media: Understanding Human Communication, 2nd ed. New York:
HarperCollins Publisher.
Syahruddin, A.A. (2010). Kempen dan Pembujukan. Universiti Malaysia Sabah.
Wawasan 2020. 1991. Ucapan Dato’ Seri Dr.Mahathir Mohamad. Malaysian
Business Council.
Walter I. Romanow & Walter C. Soderlund.(ed.). 1996. Media Canada: An
Introductory Analysis. Toronto: Copp Clark Ltd
Wan Mustama Wan Abd Hayat (2004). Integrasi ICT dalam pengurusan dan
kepimpinan pendidikan: Isu dan Cabaran. Jurnal Pengurusan dan
Kepimpinan Pendidikan, 14 (2).
Biografi Penulis
Intan Soliha Ibrahim adalah pensyarah muda di Fakulti Kemanusiaan,
Seni dan Warisan, Universiti Malaysia Sabah dan merupakan pelajar Doktor
Falsafah di Pusat Pengajian Komunikasi, Universiti Sains Malaysia.
Nor Hissam Sulaiman adalah pensyarah di Universiti Utara Malaysia
dan merupakan pelajar Doktor Falsafah di Pusat Pengajian Komunikasi,
Universiti Sains Malaysia.
Juliana Abdul Wahab adalah pensyarah kanan Bahagian Filem dan
Penyiaran di Pusat Pengajian Komunikasi, Universiti Sains Malaysia.
Suhaimi Salleh adalah pensyarah kanan di Fakulti Kemanusiaan, Seni dan
Warisan, Universiti Malasyia Sabah.
363
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
KARIKATUR-KARIKATUR CHARLIE HEBDO:
EKSPRESI KEBEBASAN ATAU KEBENCIAN?
Triyono Lukmantoro
Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Diponegoro Semarang
[email protected]
Abstract
Caricatures not only give funny effects. The drawings that are interpreted as
contain humor and criticism present debates about freedom of expression and
hate speech. The phenomenon can be seen when the office of Charlie Hebdo on
Paris, France, was attacked by terrorists. The tragic event happened on January
7, 2015, several days after the tabloid presented Prophet Mohammed caricature.
Twelve people became victims of the deadly attack, ten of them are members of
Charlie Hebdo editors and two others are the police. In fact, Charlie Hebdo not
only satirizes the groups of Islam, but also the Jewish and the Christians. It can
be stated that the Charlie Hebdo caricatures actually offense the others by
mocking and even harassing. On the one aspect, sarcastic criticism can be
considered as usual act, even fair and reasonable. It is because in European
countries, the basic principle is individualism. But, on the other aspect,
caricatures that exist in any countries, Paris, France, no exception, surely are
read by people who are interested. Even more the caricatures evoke controversy.
The Charlie Hebdo caricatures can no longer be assessed as freedom of
expression, but as the expression of hate speech. It is because the caricatures
express honor killings for the others based on religious. The Charlie Hebdo cases
give contemplations that caricatures are journalism products. In the ethical
perspective, caricatures makers must consider morality standard of communities.
Caricatures admittedly quip the certain communities while give humor. But, if
caricatures too nosy and harassing the others, tragedy will be happened.
Expressly to be declared that hate speech can not be justified by excusing as
freedom of expression.
Keywords: caricatures, Charlie Hebdo, freedom of expression, hate speech
Abstrak
Karikatur-karikatur tidak hanya mampu memberikan efek kelucuan. Ternyata,
berbagai gambar yang dianggap memuat humor dan kritik itu menghadirkan
perdebatan tentang kebebasan berbicara (freedom of expression) dan ujaran
kebencian (hate speech). Fenomena itu dapat dilihat ketika kantor redaksi tabloid
Charlie Hebdo di Paris, Prancis, diserang para teroris. Peristiwa tragis itu terjadi
pada 7 Januari 2015, beberapa hari setelah media itu memuat karikatur Nabi
Muhammad. Dua belas orang menjadi korban serangan mematikan itu, sepuluh di
antaranya adalah anggota redaksi Charlie Hebdo dan dua orang lainnya adalah
polisi. Sebenarnya, Charlie Hebdo tidak hanya menyerang kelompok Islam,
melainkan juga kaum Yahudi dan Nasrani. Sejumlah karikatur yang dimuat
Charlie Hebdo justru memberikan keinginan menyerang pihak lain dengan
364
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
mengolok-olok dan bahkan melecehkannya. Pada satu aspek, hal yang dapat
ditegaskan adalah mengritik dengan gaya sarkastik dianggap sebagai ekspresi
yang biasa saja, bahkan wajar dan masuk akal. Hal ini disebabkan bahwa di
negara-negara Eropa, prinsip dasar yang dianut adalah individualisme. Pada
aspek lain, karikatur-karikatur yang dimuat di sebuah negeri, tidak terkecuali
Paris, Prancis, pasti akan dikonsumsi oleh orang-orang yang berkepentingan dari
seluruh penjuru dunia. Terlebih lagi ketika karikatur-karikatur itu menimbulkan
kontroversi. Dengan demikian, karikatur-karikatur Charlie Hebdo tidak hanya
dapat dinilai sebagai sebentuk ekspresi kebebasan. Namun, melainkan juga
realisasi dari ujaran kebencian. Sebab, karikatur-karikatur itu memperlihatkan
secara eksplisit perendahan martabat kepada pihak lain atas dasar keagamaan.
Hal yang dapat direnungkan dari kasus ini adalah karikatur-karikatur merupakan
produk jurnalistik. Dalam perspektif etika, para pembuat karikatur itu pun harus
mempertimbangkan standar moralitas masyarakat. Karikatur-karikatur memang
dilandasi maksud untuk menyindir seraya menebarkan kelucuan. Tapi, kalau
karikatur-karikatur itu terlalu nyinyir dan melecehkan pihak lain, hal yang
muncul adalah tragedi. Artinya ialah ujaran kebencian tidak bisa dibenarkan dan
dipermaklumkan dengan berdalih sebagai kebebasan berekspresi.
Kata kunci: karikatur, Charlie Hebdo, kebebasan berekspresi, ujaran kebencian
Pendahuluan
Charlie Hebdo tidak pernah berhenti membuat kontroversi. Buktinya
adalah pada 7 Januari 2016, setahun persis ketika kantor redaksi tabloid itu
diserbu para teroris, diturunkanlah edisi peringatan tragedi berdarah itu. Sampul
depan secara jelas menghadirkan sebuah karikatur yang mendeskripsikan “Tuhan
sebagai teroris membawa pistol”. Karikatur itu diberi judul “Satu tahun berlalu:
Pembunuh masih di luar sana”. Osservatore Romano, surat kabar Vatikan,
mengecam karikatur itu. Koran ini berkata: "Dalam pandangan Charlie Hebdo,
ada paradoks menyedihkan dari dunia yang semakin sensitif tentang menjadi
benar secara politis, hampir ke titik mengejek, namun tidak ingin mengakui atau
menghormati pemeluk iman yang percaya kepada Tuhan, tak menghiraukan
agama" (Republika.co.id edisi Kamis, 7 Januari 2016, 08:32 WIB). Tentu saja,
ada lontaran rasa penyesalan terhadap apa yang dijalankan Charlie Hebdo.
Tabloid itu seolah-olah tidak pernah mengenal jera dan terkesan mengundang
provokasi kalangan para penganut agama dari mana saja.
Memainkan karikatur untuk mengundang perhatian, atau memancing rasa
penasaran, bahkan telah dijalankan Charlie Hebdo seminggu setelah serbuan
teroris itu masih dalam ingatan. Karikatur yang menggambarkan Nabi
Muhammad, sekali lagi, ditampilkan. Kali ini tokoh itu dihadirkan sedang
membawa tanda bertuliskan “Saya adalah Charlie” di bawah judul “Semua
Dimaafkan”. Edisi perdana sesudah penyerbuan itu memang laku keras. Tapi,
sejumlah pihak menyampaikan kecaman dan menganggap Charlie Hebdo sudah
menjalankan penghinaan dan bertindak provokatif. Sebenarnya, Charlie Hebdo
bukan terbitan yang laris. Bahkan, dengan angka cetak dalam kisaran 60.000
365
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
eksemplar dan penjualan sekitar 30.000 setiap hari, tabloid ini dikategorisasikan
sebagai media marjinal (Kompas edisi Kamis, 15 Januari 2015). Mungkin saja
begitulah teknik atau muslihat yang dijalankan Charlie Hebdo untuk menarik
perhatian publik. Memasang karikatur yang menggambarkan tokoh agama
tertentu untuk mengundang kontroversi dan provokasi. Dampaknya adalah
oplahnya melonjak tinggi. Tapi, tentu saja, dalih komersial itu gampang
disanggah. Charlie Hebdo berprinsip mengkritik keyakinan apa pun adalah
wajib.
Ideologi dalam konteks permainan karikatur yang ditunjukkan oleh
Charlie Hebdo tidak bisa sekadar dilihat sebagai keyakinan terhadap kebenaran.
Ideologi untuk mengritik, mengolok-olok, dan bahkan merendahkan agama mana
pun telah menjadi keimanan tersendiri bagi tabloid ini. Prinsip yang dikerahkan
adalah aksi-aksi antagonistik terhadap aneka agama yang dipandang irasional.
Artinya adalah menggugat dan menjungkirbalikkan tokoh-tokoh yang dipandang
suci oleh para penganut agama telah menjadi bukan sekadar kredo, melainkan
agama yang harus juga didukung secara militan. Sebenarnya, ada ironi yang
terdapat dalam prinsip semacam itu: kemutlakan keyakinan dihadapi pula dengan
sikap absolutisme pada kepongahan dengan cara memainkan karikatur-karikatur.
Menertawakan kebenaran pihak lain sambil menyanggah dalam dirinya tidak
boleh pula ditertawakan. Tapi, begitulah Charlie Hebdo. Tidak sedikit orang
yang mendukungnya begitu serius.
Seusai penyerangan yang mengakibatkan korban tewas dan juga terluka,
hampir semua komentar yang muncul adalah menyesalkan kejadian itu. Presiden
Prancis Francois Hollande menyatakan kejadian itu sebagai “sebuah tindakan
yang luar biasa barbar baru saja terjadi di Paris terhadap sebuah media”. Hal itu
dinilai sebagai bertentangan dengan kebebasan berekspresi. Perdana Menteri
Inggris David Cameron menyatakan bahwa “Kita membela kejujuran untuk
kebebasan menyampaikan pendapat dan demokrasi”. Presiden Amerika Serikat
Barack Obama selain mengecam pelaku aksi teror, juga mengemukakan bahwa
kejadian itu adalah serangan terhadap kebebasan menyampaikan pendapat dan
kebebasan pers. Vatikan melalui juru bicaranya, Ciro Benedettini,
mengemukakan bahwa aksi teror itu adalah kekejaman ganda karena menyerang
orang dan juga kebebasan pers. Bahkan, kalangan pemimpin Muslim Prancis pun
mengecam penyerangan tersebut dan menyebutnya sebagai serangan terhadap
kebebasan pers (Kompas edisi Kamis, 8 Januari 2015). Tidak ada satu pun
komentar yang membenarkan serangan teror yang telah menumpahkan banyak
darah itu. Sebab, memang, teror atas nama agama atau Tuhan sekalipun tidak bisa
dibenarkan. Komentar para tokoh dunia pun sangat mengecam, terlebih lagi
ketika kebebasan berekspresi direpresi dan dibikin mati.
Memang benar bahwa aksi teror itu sengaja dirancang kalangan
pelakunya untuk menghabisi para pembuat karikatur di Charlie Hebdo. Seorang
dokter yang merawat korban selamat kepada CNN mengatakan, penyerang
memisahkan laki-laki dan perempuan, lalu memanggil nama-nama kartunis yang
akan ditembak (Kompas edisi Jumat, 9 Januari 2015). Kalangan pelaku teror itu,
dengan demikian, sengaja membuat tangan-tangan mereka berlumur darah. Para
366
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
teroris itu, tentu saja, sangat tersinggung dengan ulah para pencipta karikatur
yang telah berulang kali membuat gambar-gambar yang merendahkan tokohtokoh yang demikian sakral. Di tangan-tangan kalangan karikaturis itu, para
tokoh yang dianggap suci dan tanpa dosa itu justru sekadar dijadikan bahan
lelucon atau olok-olokan. Maka, hanya peluru yang pantas dihadiahkan kepada
mereka. Itulah cara berpikir para teroris itu.
Perlakuan para teroris yang begitu keji itu dikecam banyak pihak.
Kalangan penulis dan kartunis dari seluruh penjuru dunia menunjukkan
kesedihan dan solidaritas melalui pena atau pensil yang digambarkan dalam
perbandingan dengan senapan. Di media sosial, dunia memperlihatkan solidaritas
mereka terhadap tabloid itu dengan memasang hashtag #JeSuisCharlie atau
“Saya adalah Charlie”. Sejumlah harian di Inggris mendukung rekan Prancis
mereka dengan cara mendesak mereka tidak mengekang semangat provokasi
Charlie Hebdo yang telah terkenal itu. Beberapa media menggambarkan aksi
teror berdarah terhadap tabloid itu sebagai “Perang pada Kebebasan”, “Serangan
pada Kebebasan”, dan “Serangan pada Demokrasi” (Kompas edisi Jumat, 9
Januari 2015). Kalangan pendukung kebebasan berekspresi mengutuk keras aksi
teror tidak berperikemanusiaan itu. Sebenarnya tidak hanya mereka yang
mengecam keras. Siapa pun yang memiliki nalar waras akan menunjukkan dan
berbuat hal yang sama. Tidak selayaknya aneka coretan karikatur itu dibalas
dengan tembakan senapan bertubi-tubi yang telah menewaskan banyak nyawa
dan mengancam kebebasan. Tidak sepantasnya pena atau pensil dibalas dengan
bedil yang mematikan.
Hanya saja, pada sisi yang lain, ternyata Charlie Hebdo juga memiliki
sejarah dan kontroversi yang panjang dengan karikatur-karikaturnya. Tabloid itu
diposisikan sebagai ahli waris pengkritik era abad ke-18. Hugh Schofield,
seorang jurnalis BBC, menyatakan bahwa Charlie Hebdo adalah bagian dari
tradisi mulia dalam jurnalisme Prancis yang dengan berani mengecam skandal
Marie Antoinette yang lantas menimbulkan Revolusi Prancis. Tradisi yang
diwarisi tabloid ini adalah gabungan radikalisme sayap kiri dengan kemesuman
yang cenderung provokatif. Banyak tokoh dunia yang telah dibuat satirenya oleh
Charlie Hebdo, dari mantan Presiden Perancis Nicolas Sarkozy yang
dideskripsikan mirip vampir sakit, Paus Benediktus XVI yang berpelukan dengan
pengawal Vatikan, sampai satire terhadap Nabi Muhammad, Yesus, dan ibunya,
Maria (Kompas edisi Jumat, 9 Januari 2015). Di “tangan-tangan kreatif” para
karikaturis Charlie Hebdo, siapa saja tanpa perlu dikecualikan, bisa dijadikan
materi tertawaan.
Uraian mengenai serangan teroris terhadap kantor redaksi Charlie Hebdo
tidak bisa hanya dipandang sebagai persoalan terorisme itu sendiri. Salah satu isu
yang layak dibicarakan dalam konteks demikian adalah kebebasan berekspresi
(freedom of expression). Tapi, persoalan kebebasan berekspresi itu sendiri harus
mendapatkan problematisasi. Sebabnya adalah dalam lingkup persoalan itu
pastilah bergulir pertanyaan: Apakah kebebasan berekspresi dapat digunakan
sebagai dalih yang membenarkan untuk mengolok-olok dan merendahkan pihak
lain? Apakah kebebasan berekspresi dapat dikerahkan tanpa mengenal batas,
367
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
termasuk juga merendahkan martabat dan keyakinan pihak-pihak lain?
Bukankah, dengan begitu, kebebasan berekspresi dapat juga digunakan sebagai
topeng yang memberikan justifikasi untuk melontarkan ujaran kebencian (hate
speech)? Atau, dapat saja dikemukakan bahwa ujaran kebencian itu sengaja
dibungkus dan memang disembunyikan secara rapi dalam wujud yang bernama
kebebasan berekspresi.
Tujuan dari penulisan ini adalah: Pertama, mendeskripsikan peristiwa
penyerangan terhadap kantor redaksi Charlie Hebdo. Kedua, membahas
karikatur-karikatur yang ditampilkan Charlie Hebdo. Dan, ketiga, membahas
kontroversi antara kebebasan berekspresi dan ujaran kebencian
Tinjauan Pustaka
Karikatur bukan sekadar gambar yang berisi kelucuan. Karikatur diyakini
mempunyai kemampuan untuk mengemukakan kritik, sindiran, dan bahkan aneka
serangan yang tajam kepada pihak-pihak tertentu yang tidak disukai. Karikatur
tidak sama dengan gambar yang berkedudukan sekadar sebagai ilustrasi atau pun
dekorasi dalam penerbitan surat kabar, tabloid, maupun majalah. Posisi karikatur
dapat independen dan bahkan menjadi menu utama dalam pemberitaan media.
Hal itu mengandaikan bahwa karikatur mampu memuat pesan-pesan politik yang
tidak tergantung dengan tulisan-tulisan yang dihadirkan sebagai pemberitaan.
Bahkan, ada sejumlah penerbitan media yang isinya adalah karikatur-karikatur
saja. Charlie Hebdo, misalnya, sengaja menampilkan isu-isu politik, sekaligus
menyerang pihak lain secara provokatif, melalui karikatur-karikatur yang secara
rutin digulirkannya.
Karikatur, sebagaimana diuraikan Oxford Advanced Learner’s
Dictionary 7th Edition (2010: 224), memiliki pengertian sebagai gambar atau
lukisan yang lucu tentang seseorang dengan cara melebih-lebihkan bagian-bagian
tertentu mereka. Karikatur dapat juga dimengerti sebagai sebuah deskripsi
tentang seseorang atau sesuatu yang menjadikannya nampak konyol dengan
melebih-lebihkan sejumlah karakteristik mereka. Melalui definisi ini dapat
diartikan bahwa ciri khas utama karikatur adalah menampilkan apa yang menjadi
ciri khas yang dimiliki seseorang semakin ditonjol-tonjolkan dalam
penggambarannya. Politisi yang memiliki ukuran dagu panjang, misalnya, akan
semakin mudah dikarikaturkan karena ciri khusus tersebut. Demikian pula politisi
yang berhidung bulat layaknya jambu bangkok akan dihadirkan sesuai dengan
spesifikasi bagian tubuhnya yang istimewa tersebut. Melalui penggambaran
dalam karikatur itulah, maka tampang-tampang mereka lekas bisa dikenali dan
pada saat yang sama digunakan untuk mengolok-oloknya.
Karikatur muncul di Paris pada abad ke-18, yang bagi para penulis, kaum
pengritik, dan kalangan sejarawan sosial pada generasi Romantik atau Realis,
dipakai sebagai medium untuk mendekatkan jarak antara seni dengan kehidupan.
Karikatur mengadopsi temuan caricatura di Italia—pelebih-lebihan bagianbagian dari wajah dan tubuh secara grafis untuk menimbulkan efek kelucuan—
dan mengombinasikannya dengan repertoar metafor visual, personifikasi, dan
368
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
atribut-atribut alegoris. Karikatur merupakan sebentuk tampilan untuk menyerang
pula tampilan (Wechsler, 1983: 317-318). Dalam karikatur terdapat keinginan
untuk menjalankan peniruan terhadap ciri-ciri wajah dan bagian-bagian tubuh
tokoh tertentu. Itulah yang menjadikan karikatur pasti menghasilkan tampilan.
Hanya saja, tampilan wajah dan tubuh yang sudah membentuk karikatur itu
digunakan untuk menyerang balik sosok-sosok yang telah ditirunya tersebut.
Serangan yang dilontarkan karikatur itu memang tajam, namun dipadukan
dengan efek kelucuan yang mampu menimbulkan perasaan geli.
Terdapat perbedaan antara karikatur dengan kartun. Karikatur berkenaan
dengan representasi yang sangat aneh (grotesque) dan lucu dengan maksud untuk
mencemooh atau mengejek keburukan-keburukan atau kebodohan-kebodohan
dari seseorang dengan cara melebih-lebihkan melalui perangkat-perangkat imaji
grafis. Kartun bisa dipahami sebagai teknik-teknik “pembangunan” dan
“pembongkaran” melalui presentasi grafis terhadap aktor-aktor di atas panggung
manusia. Dalam pemahaman metodologis, kartun memiliki nilai yang netral.
Sebaliknya, karikatur pasti bersifat negatif. Efek senyum yang dihadirkan
karikatur bisa beraneka rupa, dari senyum alami hingga nyengir kuda (Streicher,
1967: 431-432). Karikatur pasti agresif karena memang berkeinginan untuk
menyerang dan menelanjangi seseorang yang dianggap terlalu berkuasa dan
bertindak sewenang-wenang.
Dengan sendirinya karikatur mempunyai watak politis dan sosial. Secara
politis, karikatur menyerang pihak-pihak lain yang dianggap musuh dengan daya
yang begitu agresif. Siapa pun musuh itu bakal dihabisi dan ditelanjangi. Secara
sosial, karikatur dianggap mampu menyuarakan suara masyarakat yang selama
ini terbungkam. Tidak ada karikatur yang bercorak personal karena dalam diri
gambar ini yang disuarakan adalah aspirasi-aspirasi masyarakat kebanyakan.
Karikatur dalam kedudukan demikian mampu menjadi penanda pada setiap
zaman tertentu. Ketika secara sosiologis masyarakat berada dalam penindasan
rezim agama yang demikian otoriter, maka tokoh-tokoh agama yang dianggap
sakral sekalipun pasti akan diserang habis-habisan. Fundamentalisme agama akan
dilawan semakin sengit dengan fundamentalisme karikatur yang siap mencemooh
dan mengolok-olok.
Karikatur-karikatur yang dimaksudkan untuk menjalankan kritik mampu
tumbuh secara subur ketika kebebasan berekspresi mendapatkan jaminan. Tentu
saja, kebebasan berekspresi dimengerti sebagai kebebasan yang dimiliki
seseorang untuk menyampaikan segala aspirasi yang dikehendakinya ke dalam
ruang-ruang sosial. Tidak ada pembatasan yang menjadikan kebebasan itu
mengalami defisit. Demikian pula ketika karikatur-karikatur dipahami sebagai
sarana komunikasi untuk membuktikan tentang kebebasan berekspresi, maka
berbagai gambar yang diidentikkan dengan humor itu dapat dibuat dan serentak
dengan itu diakses oleh setiap orang. Pihak mana pun tidak boleh menghalanghalangi, melarang, dan bahkan mengancam keselamatan jiwa dari para pembuat
karikatur-karikatur itu.
369
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Kebebasan berekspresi bukan sekadar keleluasaan untuk menyampaikan
pikiran atau usulan tertentu. Secara tegas bahkan dinyatakan kebebasan
berekspresi mencakup juga semua jenis media komunikasi. Kebebasan
berekspresi dimiliki secara hak oleh khalayak yang secara potensial berekspresi,
dan bukan sebagai hak pembicara. Kebebasan berekspresi diimplikasikan oleh
tujuan-tujuan pemerintah dalam menindas ekspresi daripada efek-efek
penindasan itu (Alexander, 2005: 7-11). Dalam kasus ditampilkannya karikaturkarikatur oleh berbagai jenis media, maka di situlah bukti kebeasan berekspresi
itu memang masih ada. Ketika khalayak memberikan respon yang bagus terhadap
karikatur-karikatur yang ditampilkan, sekalipun karikatur itu demikian nyinyir
terhadap keyakinan atau agama tertentu, maka karikatur-karikatur itu dianggap
masih layak untuk dikonsumsi oleh lingkup sosialnya. Terlebih lagi ketika
pemerintah, sebagai wakil dari kekuasaan rakyat, masih memperbolehkan
karrikatur-karikatur itu beredar secara leluasa.
Ketika karikatur-karikatur itu dianggap mampu mengungkap kebenaran
dan merealisasikan otonomi individual, maka karikatur-karikatur semacam itu
masih berada dalam ruang demokrasi. Sebabnya adalah kebebasan berekspresi
harus memiliki dasar bersama yang kuat. Kebebasan berekspresi harus tetap terus
dilindungi apabila mampu menunjukkan salah satu aspek atau kombinasi dari tiga
aspek berikut ini, yakni kebenaran, demokrasi, dan otonomi individual. Sehingga,
kebebasan berekspresi harus dilindungi apabila memberikan kontribusi terhadap
kebenaran atau pertumbuhan pengetahuan publik, tetap beroperasinya bentuk
pemerintahan yang demokratis, atau memungkinkan bagi individu-individu untuk
menjalankan realisasi-diri (Moon, 2000: 8-9). Karikatur-karikatur tetap harus
dapat dilindungi dan para penciptanya wajib benar-benar mendapatkan proteksi
apabila ketiga prinsip itu hendak digapai secara maksimal.
Namun, persoalannya tidaklah semudah itu. Sebabnya adalah dapat saja
kebebasan berekspresi dijadikan kedok atau tameng untuk bersembunyi dari
kritik pihak-pihak lain. Karikatur-karikatur yang dimaksudkan untuk melontarkan
aneka sindiran dan serangan yang tajam itu didasari oleh keinginan untuk
mengemukakan kebencian terhadap pihak lain yang tidak disukainya. Kebencian
dalam konteks ini bukan sekadar sebentuk ketidaksukaan, melainkan sebagai
dorongan untuk terus-menerus mengolok-olok, mengejek, dan merendahkan
pihak lain karena didasari alasan-alasan yang bercorak primordial, seperti
keyakinan atau ras atau etnisitas. Kebencian itu disulut oleh perbedaan yang
menganggap diri sendiri sebagai lebih unggul dan pihak lain layak untuk
dimusnahkan, atau setidaknya terus diserang dan tanpa henti dipermalukan,
karena dianggap lebih rendah. Kebencian itu mampu dikemas dalam aneka
media, termasuk di dalamnya adalah karikatur.
Dalam konteks demikian, maka karikatur dapat saja digunakan sebagai
sarana untuk mengekspresikan kebencian. Pada titik itulah muncul persoalan
tentang ujaran kebencian. Secara konseptual, ujaran kebencian adalah pernyataan
yang menjelek-jelekkan, melecehkan, mengintimidasi, atau menghasut dengan
dasar kebencian seseorang atau kelompok tertentu dengan berdasarkan pada
karakteristik, seperti ras, etnisitas, agama, jender, atau orientasi seksual. Kata
370
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
“ujaran” dalam hal ini tidak sebatas tulisan atau pernyataan-pernyataan verbal,
melainkan juga dalam bentuk representasi-representasi gambar atau simbolsimbol. Dalam konteks ujaran kebencian, kebebasan berekspresi dapat dibatasi
oleh hak-hak orang lain, dengan berlandaskan pada hak-hak martabat,
kehormatan, dan kesederajatan (Brison, 2013). Kebebasan berekspresi tidak dapat
dimutlakkan, terlebih lagi ketika hal itu terjadi dalam masyrakat majemuk. Setiap
individu atau kelompok yang memiliki keunikan-keunikan primordial harus tetap
dihormati keberadaannya. Pelecehan terhadap mereka dengan berdalih pada
kebebasan berekspresi merupakan siasat yang sama sekali tidak bisa diterima.
Karikatur-karikatur yang semula dianggap sebagai wujud dari kebebasan
berekspresi tidak dapat dibiarkan diproduksi apabila isinya adalah ujaran
kebencian. Karikatur-karikatur itu dapat saja dipandang sebagai bukti dari
beroperasinya pemerintahan yang demokratis. Namun, apakah berbagai karikatur
itu menghadirkan kebenaran atau pengetahuan yang sehat bagi publik dan
mampu mendorong realisasi-diri dari individu-individu lain yang merasa terus
diserang? Ujaran kebencian merupakan sisi lain yang sedemikian gelap dari
kebebasan berekspresi.
Hasil Temuan dan Diskusi
Karikatur-karikatur yang ditampilkan Charlie Hebdo adalah satire tajam
yang diarahkan kepada kelompok-kelompok lain, terutama kalangan beragama.
Satire, demikian Merriam-Webster Dictionary (2004) menjelaskan, adalah
lelucon, ironi, atau sarkasme yang digunakan untuk mengungkapkan kejahatan
maupun kebodohan. Ketika tabloid ini menampilkan sejumlah tokoh yang
dianggap sakral oleh penganut keyakinan tertentu, maka dengan sendirinya figurfigur yang sangat dihormati itu diposisikan pula sebagai orang-orang yang jahat
dan bodoh. Hanya saja, figur-figur itu dihadirkan demikian jenaka untuk
memancing tawa yang begitu membahana. Inilah penjungkirbalikan yang
dijalankan secara demikian telak. Siapa pun, apalagi tokoh-tokoh dari kelompok
beragama, suatu ketika nanti akan menjadi bahan olok-olok yang sebegitu konyol
dalam karikatur-karikatur tabloid itu.
Dalam satire, sebagaimana diuraikan LeBoeuf (2007), ada tiga
karakteristik yang dapat dikenali. Pertama, kritik. Satire selalu merupakan kritik
terhadap sejumlah bentuk perilaku manusia, kejahatan, atau pun kebodohan.
Kritik ini dimaksudkan mengajak khalayak untuk melihatnya sebagai penuh
penghinaan dan mendorong perubahan sosial. Kedua, ironi. Satire memakai ironi,
seringkali dengan cara yang lucu, untuk menunjuk secara langsung masalahmasalah yang terdapat pada perilaku tertentu yang sedang dikritik. Dan, ketiga,
implisit. Satire bukanlah pernyataan yang terbuka karena memang tidak
dimaksudkan ungkapan eksplisit. Satire membongkar aneka perilaku yang jelasjelas sudah absurd. Penggambaran yang serba terselubung itu dapat dilihat pada
deskripsi tokoh-tokoh tertentu dengan cara berlebih-lebihan, sehingga telah
keluar dari konteks yang normal. Pada dasarnya karikatur menciptakan
keberlebihan untuk menampilkan yang implisit.
371
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Hanya saja pada saat tokoh-tokoh dari agama tertentu, yang demikian
dihormati oleh pengikutnya, sengaja dijadikan obyek karikatur, maka persoalan
besar muncul. Memang benar bahwa aksi-aski tertentu dari kaum fundamentalis
yang menjalankan teror pantas dikritik dan dikutuk. Namun, apakah
menempatkan kalangan figur yang dihormati sebagai sasaran kritik yang kasar
layak dijalankan? Terlebih lagi ketika tokoh-tokoh agama itu dijadikan bahan
banyolan untuk mampu menimbulkan efek kejenakaan yang luar biasa. Di situlah
persalan penghormatan terhadap kelompok beragama menjadi relevan
dibicarakan. Karikatur-karikatur itu, karena telah dibebani keinginan untuk
menjalankan kritik dan menertawakan pihak-pihak beragama, telah terpelanting
menjadi penghinaan yang begitu vulgar. Sifat implisit, yang menunjukkan
ketersembunyian yang memancing kecerdasan publik, akhirnya menjadi
kekasaran yang ditargetkan menghina keyakinan pihak lain.
Lebih tegas dapat dikemukakan bahwa karikatur-karikatur Charlie
Hebdo merupakan ungkapan-ungkapan cercaan yang direalisasikan dalam tuturan
visual. Biasanya cercaan diformulasikan dalam bahasa verbal. Cercaan (slur)
adalah sebutan-sebutan yang begitu melecehkan yang sengaja diarahkan kepada
beberapa individu atau kelompok dengan berbasis pada ras, nasionalitas, agama,
atau pun orientasi seksual (Bianchi, 2014) yang bisa dikemukakan secara
deskriptif atau pun ekspresif (Croom, 2011). Dapat saja dinyatakan bahwa
karikatur-karikatur itu sekadar memberikan deskripsi tentang tokoh-tokoh agama
tertentu. Namun, karena karikatur pada prinsipnya ialah memberikan sindiran
untuk mengungkapkan kejahatan dan ketololan seseorang, maka apa yang
deskriptif itu memiliki maksud ekspresif. Karikatur tidak sekadar
menggambarkan, juga memberikan penilaian.
Karikatur-karikatur memang identik dengan kelucuan. Itulah yang
membuat karikatur-karikatur Charlie Hebdo juga dianggap bermuatan humor.
Hanya saja, humor itu sendiri bukanlah konsep yang tunggal. Humor memang hal
yang membuat seseorang tertawa. Namun, tertawa yang dimunculkan itu bukan
berasal dari sumber yang misterius. Pada konteks demikian, humor memiliki tiga
teori, yakni superioritas yang berarti humor sebagai menertawakan pihak lain
yang dianggap berposisi lebih rendah; inkongruitas yang bermakna humor
sebagai menertawakan karena ada sesuatu atau pun perilaku tertentu yang
menunjukkan keganjilan; dan humor sebagai katup pelepasan yang membebaskan
manusia dari situasi sosial dan politik yang penuh kepengapan (Morreall, 2009).
Dalam kaitan dengan karikatur-karikatur Charlie Hebdo, apa yang ditampilkan
ialah gambar-gambar yang bermaksud mengkritik dan menertawakan pihak lain.
Hanya saja karena pokok persoalan yang disoroti adalah agama beserta tokohtokohnya, maka para pembuat karikatur-karikatur Charlie Hebdo sengaja
memposisikan diri lebih tinggi daripada phak-pihak yang secara terus-menerus
dikritiknya. Pada konteks itulah Charlie Hebdo menempatkan diri sebagai pihak
yang superior, yang berkuasa dan tentu saja merasa lebih beradab, dibandingkan
pihak-pihak lain. Mereka yang ditertawakan dalam karikatur-karikatur Charlie
Hebdo itu sengaja ditempatkan sebagai sekelompok atau kawanan manusia yang
demikian inferior. Itulah satire getir yang diproduksi oleh tabloid itu.
372
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Obyek yang menjadi target serangan Charlie Hebdo, pada akhirnya,
adalah agama. Secara sosiologis, agama bukanlah keyakinan yang bersifat
personal. Hal itu disebabkan bahwa keyakinan yang terdapat pada agama telah
mengalami proses pelembagaan secara sosial. Salah satu karakteristik agama
adalah basis pada daya yang dianggap memiliki kesakralan, sesuatu yang
diperlakukan sebagai hal yang suci, dan diproteksi dalam berbagai ritual. Lebih
dari itu semua, agama juga mempunyai kekuatan untuk memberikan jawabanjawaban terhadap aneka pertanyaan yang bersifat terakhir (ultimate questions).
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak mampu didapatkan jawabannya dari penjelasan
ilmiah maupun nalar yang bercorak sekuler (Andersen dan Taylor, 2011: 331332). Demikianlah, maka dalam agama selalu ada sosok-sosok yang begitu
dihormati dan dimuliakan. Tidak hanya itu, bagi kalangan penganut agama,
terdapat sekian banyak jawaban yang tidak dapat ditemukan dalam eksplanasi
ilmiah maupun nalar, konsep takdir misalnya.
Ketika kekuatan yang demikian sakral, lantas diporakporandakan begitu
rupa dalam berbagai karikatur yang sekadar menciptakan olok-olok yang sangat
merendahkan, maka terjadilah penjungkirbalikan martabat. Di situlah dapat
dijelaskan tentang sebab-musabab aksi-aksi teror yang terjadi pada kantor redaksi
Charlie Hebdo. Aksi-aksi keji yang dijalankan oleh kalangan teroris itu tidak
dapat dipermaklumkan dan jelas-jelas layak untuk dikecam dan sangat tidak
pantas untuk mendapatkan puja-puji. Namun, ketika olok-olok itu sudah
melampaui batas kewajaran, teror yang begitu kejam pun tidak dapat
dihindarkan. Terlebih lagi, ketika Charlie Hebdo telah dianggap menjalankan
blasphemy, yakni menyerang, melukai, dan menghancurkan keyakinan agama
(Nash, 2007). Boleh saja terdapat anggapan bahwa dunia ini telah mengalami
sekulerisasi, sehingga apa pun yang berkenaan dengan blasphemy telah
dipandang tidak relevan lagi. Tapi, dalam dunia yang sekuler itu masih terdapat
orang-orang yang menganut keyakinan tertentu. Di situlah justru sekulerisasi
menunjukkan kedewasaannya ketika tetap bertoleransi terhadap siapa pun yang
masih berkeyakinan pada kekuatan-kekuatan yang dilihat sebagai hal yang sakral
dan tidak dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan maupun nalar yang sehebat apa
pun. Itulah makna menghargai agama dan para penganutnya dalam dunia yang
sedemikian beragam keyakinan dan ideologinya ini.
Apa yang dilakukan Charlie Hebdo melalui aneka karikaturnya yang
begitu menyerang agama itu justru berpunggungan dengan liberalisme. Justru
liberalisme tidak bermusuhan dengan keyakinan dan bahkan mampu hidup
berdampingan. Liberalisme, sebagaimana dijelaskan oleh Bunin dan Yu (2004:
385-386), adalah sebuah teori politik dan sosial yang secara fundamental
menekankan pada prioritas kebebasan dan kesederajatan individu-individu.
Masyarakat dan pemerintah wajib melindungi dan mendorong kebebasan
individu daripada merintanginya. Menjadi mandat pemerintah untuk
menghormati hak-hak ndividual. Kemajemukan dan sifat keanekaragaman
masyarakat harus didorong. Masyarakat harus dalam keadaan setara dan
berkeadilan dalam distribusi berbagai peluang dan sumberdaya. Proses politik
373
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
harus melalui prosedur yang adil dan jujur untuk memecahkan perdebatan ketika
berbagai kepentingan dari individu-individu mengalami perbenturan.
Ketika Charlie Hebdo tidak sepakat dengan berbagai keyakinan yang
ada, maka tidak semestinya tabloid itu melakukan berbagai tindakan provokatif
dengan mengerahkan karikatur-karikaturnya. Dalam konteks liberalisme sebagai
paham dasar yang diyakini secara luas di Eropa, maka seharusnya berbagai
perbedaan dengan alasan apa pun, termasuk keyakinan atau ideologi, tidak dapat
diselesaikan dengan berbagai muslihat. Karikatur-karikatur tidak layak digunakan
sebagai alat pembenar untuk menyerang pihak lain hanya karena beberapa bagian
dari penganut keyakinan agama itu menjalankan aksi-aksi terorisme.
Menjalankan kritik secara provokatf dalam situasi demikian justru menghasilkan
aksi-aksi kontraproduktif. Karikatur-karikatur, pada puncaknya, dibalas dengan
teror yang demikian brutal. Pena atau pensil berbalas dengan senapan. Jelas ini
bukanlah dialog, melainkan sebentuk pengkhianatan terhadap liberalisme yang
selama ini digelorakan.
Terlebih lagi apabila dalil yang dipakai adalah kebebasan berekspresi.
Hak untuk menyatakan gagasan secara bebas dalam konteks itu tidak dapat
berlaku secara mutlak dan asal-asalan. Sebabnya adalah kebebasan berekspresi
itu sendiri pada dasarnya dapat dibatasi dan dikesampingkan. Di bawah kondisikondisi yang demikian tidak baik, pemerintah dapat saja melakukan pembatasan
dan bahkan pengesampingan terhadap kebebasan berekspresi itu. Secara
gamblang dapat diberi penegasan bahwa warga negara memang mempunyai hak
kebebasan berekspresi. Hanya saja pemerintah dapat saja membatasinya dengan
tujuan mencegah ancaman terhadap tatanan publik, keamanan negara, atau pun
pihak-pihak ketiga yang harus mendapatkan perlindungan, misalnya saja anakanak (Cohen-Almagor, 2001: xiii). Kebebasan berekspresi tidak bisa berlaku
absolut. Ada sejumlah keadaan yang menjadikan kebebasan ini harus ditunda
karena berkonsekuensi dengan keburukan.
Kebebasan berekspresi itu, secara otomatis, dapat ditunda dan bahkan
tidak diberlakukan untuk beberapa waktu justru untuk menegakkan filosofi
liberalisme itu sendiri. Selain dari perspektif liberalisme, kebebasan berekspresi
juga dapat dikritik melalui paham filsafat yang dikemukakan Emmanuel Levinas
(1906-1995). Filosof Prancis itu mengemukakan konsep tentang Wajah. Apa
yang disebut sebagai Wajah dalam konteks ini bukanlah suatu hal yang bercorak
fisis maupun empiris. Wajah adalah orang lain sebagai lain, orang lain menurut
keberlainannya. Dalam uraian selanjutnya dapat dikemukakan bahwa orang lain
ini bukan merupakan bagian dari totalitas. Orang lain ini tidak bisa dimasukkan
dalam suatu keseluruhan. Orang lain ini selalu tinggal tersendiri, selalu
mempertahankan otonomi, dan kepadatan yang tidak terselami (Bertens, 2006:
320).
Dalam sudut pandang filsafat Levinas ini siapa yang disebut Orang Lain
adalah berbagai komunitas atau pemeluk keyakinan agama tertentu. Pihak yang
berada dalam kekuasaan sehingga mampu menciptakan totalitas adalah kalangan
karikaturis Charlie Hebdo sebagai kekuatan yang selalu ingin merengkuh serta
menundukkan yang lain. Melalui berbagai karikatur yang provokatif itu menjadi
374
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
terlihat secara eksplisit bahwa Charlie Hebdo menempatkan diri sebagai Aku
yang selalu hendak menyamakan pihak-pihak lain berada di luar Sang Aku. Jika
mereka tidak sudi dan tidak mampu dijadikan sebagai bagian dari Sang Aku
tersebut, maka apa yang dijalankannya adalah melakukan olok-lok, melecehkan,
merendahkan, dan bahkan membuat berbagai hujatan yang sedemikian kasar dan
vulgar. Untuk menunjukkan kekuatannya, maka Sang Aku berupaya bersembunyi
dalam kredo yang disebut secara bertubi-tubi sebagai kebebasan berekspresi.
Padahal, itu semua tak lebih sebagai dalih dan muslihat untuk melakukan
dominasi terhadap yang lain.
Penjelasan lain yang dapat juga digunakan untuk menyanggah karikaturkarikatur Charlie Hebdo sebagai realisasi dari kebebasan berekspresi adalah etika
dalam berkomunikasi. Sebab, komunikasi tidak sekadar persoalan teknis
mengirim dan menerima pesan dari komunikator kepada komunikan. Dalam
komunikasi terdapat implikasi etis yang tidak mungkin dapat disanggah lagi.
Salah satu isu etika dalam komunikasi ialah hormat terhadap pihak yang lain.
Maksudnya adalah dalam berkomunikasi dengan siapa pun, maka kalangan
partisipan dalam komunikasi harus memperlihatkan penghargaan dan kepatutan
terhadap pihak lain, sekalipun mereka tidak setuju dengan pendapat-pendapat
pihak lain (Verdeber, Verdeber, dan Sellnow, 2010: 14-15). Apa yang terjadi
pada Charlie Hebdo tidaklah demikian. Daripada tabloid ini memberikan
penghormatan terhadap pihak lain yang memiliki keyakinan atau agama tertentu,
justru yang dilakukannya adalah melecehkannya dengan berkedok pada hak
warga untuk menggunakan kebebasan berekspresi.
Simpulan
Kasus teror begitu brutal yang terjadi pada Charlie Hebdo adalah sebuah
tragedi yang berkenaan dengan kebebasan berekspresi. Karikatur-karikatur yang
dihadirkan tabloid itu menunjukkan provokasi yang demikian tajam terhadap
agama dan para penganutnya. Kalangan tokoh agama yang selama ini dijunjung
tinggi karena dipandang sangat suci, justru dalam genggaman karikatur-karikatur
Charlie Hebdo tidak lebih menjadi obyek olok-olokan yang pantas dianggap
jenaka dan mengundang tawa yang membahana. Persoalan penting lain yang
harus ditegaskan adalah karikatur-karikatur merupakan produk jurnalistik yang
tetap harus memperhatikan etika. Dalam konteks itu, para pembuat karikatur
harus melihat standar-standar moral yang ditetapkan oleh komunitas-komunitas
tertentu. Terlebih lagi, komunitas-komunitas itu dapat mengakses karikaturkarikatur yang diciptakan pihak mana pun melalui kemajuan teknologi internet.
Hal lain yang menjadi persoalan utama pada kasus Charlie Hebdo adalah
perdebatan tentang kebebasan berekspresi dan ujaran kebencian. Secara tegas
dapat dikemukakan bahwa karikatur-karikatur yang telah diproduksi tabloid itu,
terutama yang berkenaan dengan perendahan martabat dan pelecehan kehormatan
terhadap tokoh-tokoh agama tertentu, bukanlah sebentuk kebebasan ekspresi,
melainkan lontaran ujaran kebencian yang dijalankan secara eksesif. Kebebasan
berekspresi tidak dapat digunakan sebagai selubung yang menyajikan
375
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
pembenaran untuk mengekspresikan kebencian. Tapi, membalas karikaturkarikatur yang meluapkan kebencian dengan aksi-aksi teror yang brutal pun sama
sekali tidak bisa dibenarkan.
Daftar Pustaka
Alexander, Larry (2005). Is There A Right of Freedom of Expression.
Cambridge:Cambridge University Press.
Andersen, Margaret L. dan Howard F. Taylor (2011). Sociology: The Essentials
6th Edition. Belmont, California: Wadsworth.
Bertens, K. (2006). Filsafat Barat Kontemporer: Jilid II Prancis, Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama.
Bianchi, Claudia (2014). Slurs and Appropriation: An Echic Account. Journal
ofPragmatics 66, hal. 35-44.
Brison, Susan (2013). Hate Speech. The International Encyclopedia of
Ethics,disunting oleh Hugh LaFollette, hal. 2332-2342.
Bunin, Nicholas dan Jiyuan Yu (2004). The Blackwell Dictionary of
WesternPhilosophy. Malden, MA: Blackwell Publishing.
Cohen-Almagor, Raphael (2001). Speech, Media and Ethics: The Limits of
FreeExpression. New York: Palgrave.
Croom, Adam M. (2011). Slurs. Language Sciences 33, hal. 343-358.
Kompas (2015). Teror Terburuk, 12 Orang Tewas Tertembak. Kamis, 8 Januari.
____________. Perancis Waspada, Dua Pelaku Diburu. Jumat, 9 Januari.
____________. Dunia Kecam Penembakan. Jumat, 9 Januari.
____________. Sejarah Panjang Satire “Charlie Hebdo”. Jumat, 9 Januari.
____________. Laku Keras Sekaligus Dikecam. Kamis, 15 Januari.
LeBoeuf, Megan (2007). The Power of Ridicule: An Analysis of Satire. Senior
Honors Projects. Paper 63. http://digitalcommons.uri.edu/srhonorsprog/63
Moon, Richard (2000). The Constitutional Protection of Freedom of
Expression.Toronto: University of Toronto Press.
Morreall, John (2009). Comic Relief: A Comprehensive Philosophy of
Humor.Malden, MA: Wiley Blackwell.
Nash, David (2007). Blasphemy in the Christian World: A History. Oxford:
Oxford University Press.
Oxford Advanced Leaner’s Dictionary (7th ed.). (2010). Oxford: Oxford
University Press.
Republika.co.id (2016). Surat Kabar Vatikan Kecam Edisi Spesial Charlie
Hebdo. Kamis 7 Januari, 08:32 WIB.
Streicher, Lawrence H (1967). On a Theory of Political Caricature. Comparative
Studies in Society and History, Vol. 9. No. 4 (Jul.), hal. 427-445.
The Merriam-Webster Dictionary (2004). Springfield, MA: Merriam-Webster.
Verderber, Kathleen S., Rudolph F. Verderber, dan Deanna D. Sellnow
(2010).Communicate!
13th Edition, Canada: Wadsworth.
Wechsler, Judith (1983). The Issue of Caricature. Art Journal, Vol. 43, No. 4
(Winter), hal. 317-318.
376
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Biografi Penulis
Triyono Lukmantoro, lahir di Kudus pada tanggal 11 Desember 1970.
Menempuh pendidikan di Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas
Diponegoro Semarang (1997) dan Sosiologi Sekolah Pascasarjana UGM
Yogyakarta (2006). Sejak 1998 mengajar di Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP
Undip dan mengampu beberapa mata kuliah, antara lain Sosiologi Komunikasi,
Etika Profesi Komunikasi, Media dan Kajian Budaya, dan Komunikasi
Pembangunan. Hobinya membaca esai-esai politik, kebudayaan, dan prosa.
Beberapa artikelnya pernah dimuat di Kompas, Sinar Harapan, Koran Tempo,
Koran Sindo, Jawa Pos, Media Indonesia, Republika, Suara Pembaruan, Suara
Merdeka, Solopos, dan Wawasan. Saat ini, tinggal di Perumahan Pudak Payung
Sejati Blok B No. 21 Semarang.
377
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
KONSTRUKSI REALITAS BENCANA PADA BERITA BANJIR
JAKARTA
Suraya
Staf Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina Jakarta
[email protected]
Abstract
Province of DKI Jakarta experienced flood almost every year. Flood not only
caused from geographical aspect, but also the human behavior as well. Mass
Media has the power by language to form a reality construction. This research
was done in order to understand how Media Indonesia’s construct their news
coverage concerning DKI Jakarta’s flood phenomena. This Research used
Qualitative perspective and the method used Pan and Kosicki’s Framing
Analysis in four structures, such as Syntaxes, Script, Thematic, and Rhetorical.
Research resulted that, (1) Syntaxes structure In Media Indonesia shows Flood in
Jakarta disturbs citizens’ activity therefore government’s special attention is
needed. (2) Script Structure shows that Media Indonesia’s construction focused
on the flood and citizen’s activity. (3) Thematic Structure shows that Media
Indonesia give the impression of how bad the citizen of Jakarta’s activity was
disturbed because of the heavy rain. (4) Rhetorical Structure shows that Media
Indonesia fixated on the citizen of Jakarta’s as active subject and the flood victim
as passive object. Summary: Media show the differences on how they construct
their news depend on their ideology. Recommendation: Government need to
optimize UU Pokok Pers. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), media-related
NGOs, practitioner (media workers), and scholars need to focus on
centralization issues concerning journalism of disaster reporting.
Keyword: Flood, Disaster Journalism, Framing, Media Indonesia
Abstrak
DKI Jakarta selalu diwarnai banjir setiap tahunnya. Hal ini terjadi karena letak
geografis dan sikap manusianya. Media massa yang memiliki kuasa lewat
bahasanya melakukan konstruksi realitas. Oleh karena itu, penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui konstruksi pemberitaan pemberitaan banjir di Ibu
Kota Jakarta di Media Indonesia. Penelitian mengunakan pendekatan kualitatif
dengan metode analisis framing perspektif Pan dan Kosicki yang dibagi ke dalam
empat struktur, antara lain: sintaksis, skrip, tematik, dan retoris. Hasil penelitian
menunjukan: (1) Struktur sintaksis Media Indonesia menonjolkan banjir Jakarta
yang mengganggu aktivitas warga dan mendapat perhatian khusus dari
pemerintah. (2) Struktur skrip diketahui Media Indonesia hanya merekonstruksi
peristiwa banjir dan aktivitas warga (3) Struktur tematik Media Indonesia
memberikan kesan kacaunya aktivitas warga Kota Jakarta karena hujan deras. (4)
Struktur retoris, Media Indonesia menonjolkan warga Jakarta sebagai subjek
yang aktif dan korban sebagai objek penderita yang pasif. Kesimpulan : Media
Indonesia menframing bencana banjir Jakarta sebagai bencana nasional dalam
378
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
pemberitaannya. Saran : pemerintah mau menjalankan pelaksanaan UU Pokok
Pers tentang keberpihakan Media. Komisi Penyiaran Indonsia (KPI), LSM
pemerhati media, praktisi (pekerja media) dan akademisi memberikan perhatian
lebih terhadap isu sentralisasi khususnya menyangkut jurnalisme bencana.
Kata Kunci: Banjir, Jurnalisme Bencana, Framing, Media Indonesia
Pendahuluan
Di Indonesia, bencana alam dibagi menurut status dan tingkatannya
menjadi bencana nasional dan daerah atau local. Bencana Banjir di Jakarta pada
tahun 2014 ditetapkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)
sebagai bencana nasional. Menurut data Pusdalops BPBD DKI Jakarta, dampak
banjir Jakarta sejak 14 Januari hingga 21 Januari 2014 jumlah terdampak 34
kecamatan, 100 kelurahan, 444 RW, 1.227 RT, 38.672 KK, dan 134.662 jiwa.
Pengungsi sebanyak 62.819 jiwa di 253 titik. Korban jiwa 12 orang meninggal
dunia baik terdampak langsung maupun tindak langsung. (bnpb.go.id)
Berdasarkan kondisi Indonesia yang rawan terhadap bencana tersebut,
peran media sangatlah diharapkan. Masyarakat memerlukan informasi yang
terkait dengan bencana. Seperti: jumlah korban, wilayah terdampak, sampai pada
bagaimana menyalurkan bantuan kepada para korban. Disinilah media
memainkan perannya untuk menyiarkan informasi dan memberikan pengaruh
kepada masyarakat. Selain itu, media bisa memberikan informasi secara rinci
dan cepat sehingga dapat mempengaruhi para pengambil kebijakan.
Menurut Nazaruddin (2008:1) “Dalam situasi bencana, informasi yang
disampaikan media massa akan menjadi the first, the most important, bahkan the
only one information yang akan membentuk pengetahuan masyarakat”. Informasi
yang disampaikan kepada masyarakat berupa pemberitaan di media massa.
“Berita (news) berasal dari kata new (baru) dengan konotasi kepada hal-hal yang
baru. Segala yang baru merupakan informasi yang penting bagi khalayak”.
(Tamburaka, 2012:134) Berita disebut Eriyanto sebagai “Realisme ala
positivistik. Dalam pembingkaian pemberitaan merupakan laporan seuah
peristiwa nyata, paling tidak bukan cerita fiktif dengan tokoh dan setting yang
juga fiktif.
Begitupula dengan bingkai berita yang dikonstruksikan oleh media massa
akan mempengaruhi masyarakat dalam memahami realitas yang
direpresentasikan oleh media massa, begitu pula oleh Media Indonesia. Penelitian
ini akan menganalisis teks media dengan pendekatan Pan dan Kosicki (Eriyanto,
2002:251) yang terdiri dari empat struktur besar : 1) struktur sintaksis; 2) struktur
skrip; 3) struktur tematik; 4) struktur retoris. Sehingga apabila media massa telah
menyampaikan berita secara jujur, adil dan bermanfaat bagi khalayaknya maka
akan berdampak positif secara nyata.
Berdasarkan hal tersebut maka pertanyaan yang akan dijawab dalam
penelitian ini sebagai berikut: bagaimana Media Indonesia mengkonstruksikan
realitas bencana dalam pemberitaan Banjir di Jakarta?
379
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Tinjauan Pustaka
Perhatian masyarakat terhadap suatu isu sangat bergantung pada
kesediaan media massa member tempat pada isu itu (De Fleur dan Ball Rokoeach
dalam Halim, 2013:94). Ibnu Hamad menyatakan bahwa medi adinilai memiliki
peran sebagai agenda setter. Lebih jauh Hamad merinci dalam tiga strategi
pengkonstruksian Discourse, yakni : signing, framing dan priming. Strategi
signing dalam praktik membuat sebuah wacana adalah dengan cara memilih katakata, angka, gambar dan lain-lain tanda bahasa dan merangkainya hingga
membentuk wacana yang dianggapnya mampu mengkonstruksi realitas. Strategi
framing atau praktik pemilihan kata yang (tidak) akan dimasukan ke dalam
wacana merupakan hal yang tidak terelakan dalam membuat wacana.
Penyebabnya, di satu sisi karena fakta yang terkait dengan realitas sering lebih
banyak dibandingkan dengan tempat dan waktu yang tersedia. Di sisi lain,
pemilahan dan pemilihan itu dilakukan berdasarkan pertimbangan tertentu yang
digunakan oleh si pembuat wacana, baik factor internal maupun eksternal.
Strategi priming adalah strategi mengatur ruang atau waktu untuk
pempublikasian wacana di hadapan khalayak.
Konstruksi realitas social yang disajikan oleh media massa secara
sederhana bisa membentuk opini publik, seperti yang diungkapkan oleh Hamad
(2004:16)), yakni : (1) menggunakan symbol-simbol; (2) melaksanakan strategi
pengemasan pesan; (3) melakukan fungsi agenda media. Hal ini seperti yang
diungkapkan di atas, bahwa ketiga media melakukan agendanya dengan memilih
isu yang paling penting dijadikan headline, maka apa yang dianggap penting oleh
media akan dianggap penting pula oleh masyarakat. Ketika, isu itu sudah
dianggap penting oleh masyarakat, maka akan terbentuklah opini publik.
Ibnu Hamad (2004:16) selanjutnya menjelaskan mengenai pemilihan
symbol (fungsi bahasa): apapun symbol yang dipilih akan mempengaruhi makna
yang muncul. Fungsi lainnya adalah untuk menyadarkan pendengar akan sesuatu
yang dinyatakan untuk kemudian supaya memikirkannya. Tanda-tanda dan
symbol-simbol dalam hal ini adalah berita, gambar dan foto pemberitaan banjir di
Jakarta yang disajikan di Kompas dan Media Indonesia.
Media melakukan strategi pengemasan pesan, atas nama kaidah
jurnalistik, peristiwa yang panjang, lebar, dan rumit, dicoba “disederhanakan”
melalui mekanisme pembingkaian (framing) fakta-fakta dalam bentuk berita
sehingga layak terbit atau layak tayang. Untuk kepentingan pemberitaan tersebut,
komunikator massa seringkali hanya menyoroti hal-hal yang “penting”
(mempunyai nilai berita) …. Cara membentuk wacana di media massa adalah
dengan mengemas (packaging) realitas ke dalam sebuah struktur sehingga sebuah
isu mempunyai makna. DI dalamnya terhimpun sejumlah fakta pilihan yang
diperlakukan sedemikian rupa – atas dasar frame tertentu – sehingga ada fakta
yang ditonjolkan, disembunyikan, bahkan dihilangkan satu urutan cerita yang
mempunyai makna. Analisis ini membantu kita melihat secara lebih mendalam
bagaimana pesan diorganisir, digunakan dan dipahami (Hamad, 2004:21).
380
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
Pemberitaan bencana banjir di Jakarta dapat diasumsikan dikemas
sedemikian rupa oleh para pekerja media sehingga da fakta-fakta yang
ditonjolkan, disembunyikan bahkan bisa jadi dihilangkan sehingga maknanya
menjadi berbeda. Inilah yang bisa kita katakana sebagai konstruksi realitas yang
dikemas oleh media.
Pemberitaan di media massa tidak lahir begitu saja, ada beberapa proses
yang harus dilalui, sejak dari pencarian bahan berita sampai layak disiarkan. Hal
inilah yang disebut sebagai pembentukan konstruksi realitas. Hamad (2004:11)
menjelaskan tentang proses konstruksi realitas, prinsipnya setiap upaya
“menceritakan” (konseptualisasi) sebuah peristiwa, keadaan, atau benda.. adalah
usaha mengkonstruksi realitas.
Proses konstruksi realitas yang dibedah dalam penelitian ini
menggunakan analisis framing dengan perspektif Zhongdang Pan dan Gerald M.
Kosicki. Eriyanto (2002:3) menyatakan analisis framing dapat digunakan untuk
mengetahui bagaimana realitas dikonstruksi oleh media. Dengan cara dan teknik
apa peristiwa ditekankan dan ditonjolkan. Apakah dalam berita itu ada bagian
yang dihilangkan, luput atau bahkan disembunyikan dalam pemberitaan. Disini
realitas social dimaknai dan dikonstruksi dengan makna tertentu, peristiwa
dipahamid engan bentukan tertentu. Haislnya, pemberitaan media pada isi
tertentu atau wawancara dengan orang-orang tertentu. Semua elemen tersebut
tidak hanya bagian dari teknik jurnalistik, tetapi menandakan bagaimana
peristiwa dimaknai dan ditampilkan. Artinya media mampu membawa
khalayaknya memaknai realitas melalui teks yang sudah dibingkai oleh para
pekerja medianya sesuai dengan ideology yang dimiliki oleh media tersebut.
Framing oleh Pan dan Kosicki (Eriyanto, 2002:252) didefinisikan
sebagai proses membuat suatu pesan lebih menonjol, menempatkan informasi
lebih daripada yang lain sehingga khalayak tertuju pada pesan tersebut. Pan dan
Kosicki menggunakan empat struktur besar analisisnya, yaitu : (1) struktur
sintaksis, sintaksis berhubungan dengan bagaimana wartawan menyusun
peristiwa-pernyataan, opini, kutipan, pengamatan atas peristiwa ke dalam bentuk
susunan umum berita. Ia mengamati bagaimana wartawan memahami peritiwa
yang dapat dilihat dari cara menyusun fakta ke dalam bentuk umum berita; (2)
struktur skrip, skrip berhubungan dengan bagaimana wartawan mengisahkan atau
menceritakan peristiwa ke dalam bentuk berita; (3) struktur tematik, tematik
berhubungan dengan bagaimana wartawan mengungkapkan pandangannya atas
peristiwa ke dalam proposisi, kalimat atau hubungan antar kalimat yang
membentuk teks secara keseluruhan dan (4) struktur retoris. Retoris berhubungan
dengan bagaimana wartawan menekankan arti tertentu ke dalam berita.
Metodologi
Penelitian ini menggunakan analisis framing Pan dan Kosicki dengan
pendekatan kualitatif konstruktivis. Penelitian ini bersifat deskriptif. Kedudukan
peneliti sebagai pengamat yang memungkinkan peneliti untuk mengumpulkan
data dengan mengoptimalkan kemampuan peneliti dari segi motif, kepercayaan,
381
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
perhatian, perilaku tak sadar, kebiasaan, dan sebagainya. Pengumpulan data
dilakukan dengan mengkliping pemberitaan banjir Jakarta baik di Kompas
maupun Media Indonesia dari tanggal 5-25 Januari 2014. Bahan penelitian ini
sebanyak 248 berita Banjir di Media Indonesia dan 185 berita di Kompas, dengan
unit Analisisnya keseluruhan tanda-tanda pada teks berita. Analisa data
dilakukan dengan mengolah teks berita tentang berita bencana banjir yang telah
dipilih menggunakan analisis framing Pan dan Kosicki.
STRUKTUR
SINTAKSIS
Cara wartawan menyusun
fakta
SKRIP
Cara
wartawan
mengisahkan fakta
TEMATIK
Cara wartawan menulis
fakta
RETORIS
Cara
wartawan
menekankan fakta
PERANGKAT
FRAMING
Skema Berita
Kelengkapan Berita
Detail,
Koherensi,
Bentuk Kalimat, Kata
Ganti
Leksikon,
Grafis,
Metafora
UNIT YANG DIAMATI
Headline,
Lead,
latar
informasi, kutipan sumber,
pernyataan, penutup
5W + 1 H
Paragraf, proposisi, kalimat,
hubungan antar kalimat
Kata, Idiom, gambar/foto,
grafik
Tabel 1. Skema Analisis Framing Pan dan Kosicki
Hasil Temuan dan Diskusi
Struktur Sintaksis. Menonjolkan persoalan banjir yang terjadi di
beberapa titik di Kota Jakarta beserta sebab dan akibatnya. Berita ditampilkan
secara rinci sehingga beberapa berita tidak memiliki nilai informasi. Berita banjir
Jakarta dijadikan sebagai persoalan besar karena mengganggu arus lalu lintas di
Kota Jakarta hingga mengganggu aktivitas warga. Narasumber diambil secara
adil dari berbagai pihak (berimbang) walaupun hampir secara keseluruhan
memberi pernyataan dengan tone positif. Salah satu narasumber dari NTMC
Polri merupakan sumber yang capable melaporkan informasi arus lalu lintas di
titik-titik banjir kota Jakarta. Kesan memprihatinkan dibangun melalui
wawancara dan pernyataan reporter. Persoalan Jakarta ditonjolkan sebagai
persoalan Indonesia sehingga harus menjadi perhatian bersama. MI membingkai
kondisi bencana banjir Jakarta sebagai persoalan darurat. MI membangun
perspektif bahwa pemerintah propinsi sudah “hadir” dalam penanganan bencana
banjir di Jakarta. MI mengarahkan berita sebagai bencana alam yang terjadi
karena siklus cuaca sedangkan Pemprof DKI Jakarta sudah berusaha menangani
dampak hujan deras
Struktur Skrip. Menonjolkan aspek where untuk menginformasikan
lokasi bencana yang terkena dampak hujan deras. Aspek Why : menjelaskan latar
belakang pembatalan pembangunan sodetan oleh pemprof DKI Jakarta. Aspek
How: Merekonstruksi detai peristiwa ke dalam berita untuk menjelaskan
382
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
bagaimana peristiwa berlangsung. Aspek Who : Aktor utama pemberitaan adalah
Pemprov DKI Jakarta. Dua aspek yang tidak ditonjolkan adalah When dan What,
artinya tidak terlalu member perhatian pada peristiwa apa yang terjadi dan kapan
kejadian tersebut berlangsung.
Struktur Tematik. MI membangun tema aktivitas warga kota Jakarta
yang kacau karena hujan deras yang mengakibatkan banjir dan macet. Imajinasi
khalayak dibangun mengenai betapa besarnya masalah dan dampak dari hujan
deras di Jakarta. Manajemen penanganan banjir yang sudah hampir maksimal
oleh pemprov DKI Jakarta. Konstruksi tematik penyebab banjir adalah system
drainase buruk dan hujan deras. Siklus alam yang selalu terjadi setiap akhir
hingga awal tahun seolah menjadi “kambing hitam” dari kegagalan pemprov
menangani masalah banjir. Konstruksi tematik mengenai akibat hujan deras
adalah banjir dan macet yang sangat mengganggu aktivitas warga Jakarta.
Membingkai kerja pemprov DKI Jakarta sudah baik dan akan segera mengatasi
masalah banjir.
Struktur Retoris. Media Indonesia lebih banyak menggunakan kata :
Masih terendam banjir: kata “masih” mengartikan banjir sudah merendam
pemukiman sejak berita ini belum ditayangkan. Kata : Korban Banjir : orang
yang menderita karena suatu kejadian dalam hal ini banjir. Kata: Tetap Bertahan:
Masih harus terus hidup dalam ketidaknyamanan. Kata: Tidak punya pilihan:
banjir membuat warga harus tidur di bantaran rel atau pengungsian. Kata:
Langganan banjir: pemukiman yang seringkali terkena banjir. Mengguyur: Air
yang turun dalam jumlah yang sangat banyak. Selain itu, kata : genangan air:
aliran air yang berhenti. Kata : terpaksa harus menuntun sepeda motor: digunakan
sebagai ganti kata mogok. Kalimat ini terdengar lebih dramatis karena “terpaksa”
berarti melakukan sesuatu yang sangat tidak diinginkan. Sedangkan “harus
menuntun” menggambarkan usaha yang dilakukan pengendara. Kata Saking
luasnya : kata sangking untuk menggambarkan luas area yang tidak biasa. Kata
Mirip sungai adalah kiasan untuk menggambarkan luasnya wilayah yang
tergenang banjir. Kata kiasan yang bersifat hiperbola ini “banjir” menjadi
terdengar lebih dramatis. Kata kepadatan digunakan sebagai kata ganti macet.
“Padat” seolah tanpa celah, sedangkan penggunaan kata “macet” adalah hal yang
biasa. Kata Mega Proyek : menyatakan proyek yang besar. Kata tanda tanya
besar : masalah banjir adaah persoalan yang belum terjawab sejak lama. Kata
Resah dan khawatir adalah gambaran emosi warga Bidara Cina. Kata Jeritan :
penggunaan kata ini sangat hiperbola untuk menggambarkan ketidak setujuan
pihak tertentu mengenai pembangunan sodetan CIliwung-Cisadane.
MI Menggunakan kata “ibukota” sebagai kata ganti “Jakarta”. Hal ini
menggambarkan bahwa bencana banjir di Jakarta sebagai bencana nasional
(Indonesia), sehingga membangun kesadaran masyarakat untuk ikut merasakan
isi berita bencana banjir Jakarta menjadi perhatian bersama. MI menggunakan
kata dan konotasi hiperbola untuk menggambarkan besarnya bencana yang
sangat mengganggu aktivitas warga Jakarta. MI menggunakan Majas Totem Pro
Parte sebagai permainan bahasa dalam kalimat “Indonesia Darurat Bencana” dan
“Ibu Kota Banjir”. MI juga menggunakan kata yang menekankan warga Jakarta
383
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
sudah biasa menghadapi bencana banjir, dan kata yang menggambarkan pemprov
DKI Jakarta telah melakukan penanganan banjir secara luar biasa
Ada beberapa fakta yang ditonjolkan : (1) Banjir Jakarta disebabkan oleh
gejala alam; (2) Walaupun sudah menjadi bencana langganan, banjir tetap sangat
mengganggu aktivitas warga; (3) Bagaimana kondisi pengungsi dan pengungsian
di Jakarta; (4) Polisi tetap merupakan pelayan masyarakat di tengah situasi
bencana; (5) Pemprov DKI Jakarta sudah melakukan kerja maksimal untuk
menanggulangi banjir dan mendapatkan dukungan dari masyarakat.
Pembingkaian berita ini bukan hanya memberikan pemahaman kepada
masyarakat tentang bencana alam itu sendiri, namun juga tentang kinerja
pemerintah dalam penanganan bencana. Hal ini juga membuktikan bahwa media
massa memiliki keberpihakan kepada pemerintah. Media massa yang dimiliki
oleh salah satu pengusaha ataupun yang berafiliasi pada salah satu partai politik,
akan memperlihatkan keberpihakan atau kontra-nya kepada pemerintah. Media
Indonesia yang kepemilikannya dimiliki oleh Surya Paloh yang dalam hal ini
sebagai ketua partai politik Nasional Demokrat (Nasdem) sangat memperlihatkan
keberpihakannya dalam pemberitaan bencana alam banjir.
Analisa terhadap gambar atau foto-foto yang dimuat di Media Indonesia
menghasilkan sebagai berikut: peranan polisi khususnya polisi lalu lintas
ditonjolkan positif oleh Media Indonesia. Gambar diambil secara long shot oleh
fotografer yang menggambarkan polisi dengan latar banjir dan macet. Hal ini
mengkonstruk citra polisi sebagai pelayan dan pengayom masyarakat sekalipun
berada di tengah bencana. MI juga menggambarkan genangan air yang luas dan
mengganggu lalu lintas. MI menggambarkan kondisi pengungsi di daerah
pengungsian yang memprihatinkan melalui gambar pengungsian di atas rel dan
lokasi banjir yang mobilisasinya menggunakan perahu. Foto yang
menggambarkan “kerja” instansi-instansi tertentu seperti polisi dan petugas
kesehatan.
Simpulan
Media Indonesia dalam membingkai pemberitaannya mengenai bencana
banjir telah memberikan informasi secara rinci dan lengkap mengenai wilayah
yang terkena banjir dan macet. Media Indonesia menonjolkan besarnya dampak
hujan deras di Jakarta yang banyak mengganggu aktivitas warga dan penanganan
bencana oleh pemerintah propinsi DKI Jakarta yang sudah maksimal. Berita
mengenai kondisi pengungsi dan situasi warga di pengungsian diinformasikan
secara lengkap. Banjir Jakarta di konstruk sebagai bencana Indonesia yang
“langganan” terjadi akibat hujan deras dan akans egera diatasi oleh pemerintah
propinsi DKI Jakarta.Pemerintah sudah “hadir” dalam persoalan banjir Jakarta.
Polisi berperan aktif dalam situasi banjir. Berita mengkonstruksikan polisi
sebagai pihak yang selalu siaga untuk masyarakat. Banjir merupakan bencana
alam langganan, sudah biasa terjadi bahkan menyenangkan bagi anak-anak.
Bencana Jakarta sebagai bencana nasional. Media Indonesia membangun tema
mengenai kacaunya aktivitas warga kota Jakarta karena hujan deras yang
384
International Conference of Communication, Industry, and Community. Bali, 3-4 Maret 2016
ISBN: 978-602-74139-1-7
menyebabkan banjir dan macet. Penyebab banjir adalah gejala alam dan
pemerintah propinsi sudah melakukan manajemen penanganan bencana secara
maksimal. Peneliti menyimpulkan Media Indonesia belum sepenuhnya
melakukan jurnalisme bencana dalam memberitakan bencana banjir di Jakarta.
Daftar Pustaka
Buku
Eriyanto (2002) Analisis Framing : Konstruksi, Ideologi dan Politik Media,
Yogyakarta: LKiS Yogyakarta
Halim, SYaiful (2013) Postmodifikasi Media, Yogyakarta : Jalasutra
Hamad, Ibnu (2004) Konstruksi Realitas Politik dalam Media Massa : Sebuah
Studi Critical Discourse Analisis terhadap Berita-Berita Politik, Jakarta:
Granit
Haryatmoko (2003) Etika Politik dan Kekuasaan, Jakarta : Kompas
Iriantara, Yosal (2009) Literasi Media : Apa, Mengapa, Bagaimana, Bandung :
Simbiosa Rekatama Media
Junaedi, Fajar (2013) Jurnalisme Penyiaran dan Reportase Televisi, Jakarta :
Kencana Persada Media
Nazaruddin, Muzayin (2008) Jurnalisme Bencana : Analisis Wacana Kritis
terhadap berita-berita Bencana di Harian Kompas, JawaPos, Kedaulatan
Rakyat dan Bernas Jogja, Yogyakarta
Sumadiria, Haris (2005) Jurnalistik Indonesia, Menulis Berita dan Feature,
Panduan Praktis Jurnalis Profesional. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya
Tamburaka, Apriadi (2012) Agenda Setting Media Massa, Jakarta : Rajawali
Press
Internet
www.bnpb.go.id
Biografi Penulis
Dr. Suraya, M. Si., M.M was born on November 27, 1968 as the eldest
daughter to her parent’s five children. Author’s get her bachelor degree in 1991
from the Jakarta Institute of Social and Political Science (IISIP) in 1987, through
Communication Studies Faculty, majoring in Journalistic. She continued her
study onto the Graduate program of Communication Studies in the University of
Indonesia (