skripsi rachmawati - Repository UIN Jakarta

advertisement
ANALISIS PERBEDAAN PERSEPSI ANTARA PENGGUNA
JASA AKUNTAN PUBLIK DENGAN AKUNTAN PUBLIK
TERHADAP ADVERTENSI JASA AKUNTAN PUBLIK
OLEH:
ROCHMAWATI
NIM: 206082004005
JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1431 H/ 2010 M
i
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama
: Rochmawati
Tempat / Tanggal Lahir
: Lamongan, 19 Juni 1986
Agama
: Islam
Warga Negara
: Indonesia
Status
: Belum Menikah
Alamat
: Jl. Abadi No. 98 Pondok Karya
Pondok Aren-Tangerang
No. Tlp/Hp
: 021-73880159 / 08561794135
Pendidikan
: - MI Assafiiyah Lamongan
(1993-1998)
- SMP N I Lamongan
(1999-2001)
- MA. MAMBAST Gersik
(2002-2005)
- UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (2006-2010)
Demikian Daftar Riwayat Hidup ini saya buat dengan sebenar-benarnya.
ii
ABSTRACT
Rochmawati, the tittle of the skripsi the perception between the public
accountant service users towards the public accountantes service advertisiment of
accountancy investigation of the Faculty of Economics and Business Sciences
Syarif Hidayatullah State Islanic University Jakarta 2010 M/ 1431 H.
The research is purpose to know the perception between the public accontant
and the public accountant service users toward the public accountant service
advertisement. This is a comparatif research using purposively sampling. The
data is achieved by giving questionnaires to ninety respondent consist of thirty
public acountants and sixty public accountant for service users in the first two is
enterprice and bank.
The result of this research indicates that there isn’t significant of
differencial perception between publicb chartered accountant with company to
the advertising of public chartered accountant service besided that there is
differensial perception between public charterd accontant service. So, the write
finds the differensial perception between company and bank to the advertising of
public chartered accountant service.
Keywords:
perception, public accountant,
advertisiment public accontant.
iii
public
accountant
service,
ABSTRAK
Rochmawati, judul skripsi Analisis Perbedaan Persepsi antara Pengguna
Jasa Akuntan dengan Akuntan Publik terhadap Advertensi jasa Akuntan publik.
Strata Satu (S-1). Jurusan Akuntansi Kosentrasi Audit pada Fakultas Ekonomi dan
Bisnis Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta 2010 M/1431 H.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan persepsi antara
Pengguna Jasa Akuntan Publik dengan Akuntan Publik terhadap Advertensi Jasa
Akuntan Publik, dan bersifat Komparatif dengan menggunakan Purposif
sampling. Data diperoleh dengan menyebarkan angket terhadap 90 responden
yang terdiri dari 60 pengguna jasa akuntan publik dan 30 akuntan publik, dimana
pengguna jasa akuntan publik di bagi menjadi dua yang pertama perusahaan dan
yang kedua bank.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan persepsi yang
signifikan antara akuntan publik dengan perusahaan terhadap advertensi jasa
akuntan publik. Selain itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat
perbedaan persepsi antara akuntan publik dengan bank terhadap advertensi jasa
akuntan publik. Terdapat perbedaan persepsi antara perusahaan dengan bank
terhadap advertensi jasa akuntan publik.
Kata kunci: persepsi, pengguna jasa akuntan publik, akuntan publik, advertensi
jasa akuntan publik.
iv
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim………..
Alhamdulillahi rabbil’alamin, dengan segala kerendahan hati, puji dan
syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas segala limpahan karunia dan
hidayah-NYA penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Sholawat serta salam
semoga tetap tercurahkan kepada baginda besar Muhammad SAW keluarga dan
para sahabatnya yang telah menjadi jalan bagi para umatnya dalam menenpuh
keselamatan dan kebahagiaan dengan berbagai ilmu pengetahuan yang benar.
Skripsi ini berjudul “Analisis perbedaan persepsi antara pengguna jasa
akuntan publik dengan akuntan publik terhadap advertensi jasa akuntan publik”.
Penulisan skripsi ini dimaksudkan untuk memenuhi salah satu syarat mencapai
gelar sarjana ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Jurusan Akuntansi UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh sempurna, baik penyusunan,
pengalaman, dan kemampuan yang penulis miliki. Oleh karena itu saran menuju
perbaikan sangat penulis harapkan. Dalam penyusunan skripsi ini, penulis juga
tidak luput dari berbagai masalah dan menyadari sepenuhnya bahwa keberhasilan
yang diperoleh bukanlah semata-mata hasil usaha penulis sendiri, melainkan
berkat bantuan, dorongan, bimbingan dan pengarahan yang tidak ternilai harganya
dari pihak lain. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih yang tak
terhingga kepada:
1. Kedua orang tua Bapak Nurawi yang selalu bekerja keras guna kesuksesan
anak-anaknya dan Ibu Kasmonah sebagai pembimbing utama dan penasehat
v
yang telah membesarkan sehinga penulis menjadi anak yang berguana serta
tiada henti memberikan rasa cinta, perhatian, kasih sayang, dukungan moril,
spiritual dan material yang tulus dan tak terhingga “Rohma sayang kalian ”.
2. Adikku Muhajir makasih ya buat semangat yang kau berikan buat mbak.
Pesan mbak jangan malas belajar, teruslah meraih mimpi masa depanmu
masih panjang, jangan kecewain Ibu sama Bapak.
3. Adhabi yang selalu menemaniku dalam pembuatan skripsi ini, dan selalu
memberikan dukungan, semangat baik moril maupun spiritual, makasih buat
waktu yang selalu kau berikan untukku. Ukhibu ilika walau bai’dan minni…..
4. Paman serta tanteku yang dibintaro maupun ditegalrotan. Terima kasih atas
segala bantuan dan dukungan kalian semua.
5. Bapak Dr. Amilin, SE, Ak, M.Si. sebagai pembimbing I yang selalu memberi
arahan dan bimbingan setiap permasalahan dan kesulitan yang penulis hadapi
dalam menyelesaikan skripsi.
6. Bapak Drs. Abdul Hamid Cebba, Ak, CPA dosen pembimbing II atas waktu
yang telah diluangkan untuk membimbing dan memotivasi penulis.
7. Bapak Prof. Dr. Abdul Hamid,MS. selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan
Bisnis (FEB).
8. Bapak Afif Sulfa, SE., Ak., M.Si., selaku Ketua Jurusan Akuntansi.
9. Ibu Yessi Fitri SE, Ak., M.Si., selaku Sekertaris Jurusan Akuntansi.
10. Semua Dosen yang telah memberikan ilmunya yang tidak bisa disebutkan
namanya satu per satu, semoga Allah SWT membalas kebaikan Bapak dan Ibu
vi
dan semoga ilmu yang telah diberikan dapat bermanfaat dan dapat kami
terapkan serta kami amalkan.
11. Seluruh jajaran Staf Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri
Syarif Hidayatullah.
12. Segenap pihak yang telah bersedia mengisi kuesioner penulis dan memberikan
kemudahan kepada penulis dalam melakukan riset.
13. Sri, Ika, Asep, Misba, Nova, Iqbal teman-teman seperjuangan dalam
menyelesaikan skripsi, saling memotivasi dan membantu sehingga kita dapat
menyekesaikan sesuai rencana
14. Indah, ka Iwan, ka Edy makasih banget buat bantuanya dalam menyelesaikan
tugas akhir ini.
15. Cicih, Ratna, Rina, Fida, pa Harto dan teman-teman yang lain yang tidak
sisebutkan namanya tetap semangat terus untuk nyelesain skripsinya.
Semoga Allah SWT memberikan pahala di akhirat dan balasan didunia
dengan balasan yang lebih tinggi. Akhir kata, penulis mengharapkan semoga
skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang memerlukan.
Jakarta, Juni 2010
Penulis
vii
DAFTAR ISI
Lembar Pengesahan Skripsi.............................................................................
i
Lembar Pengesahan Ujian Komprehensif......................................................
ii
Daftar Riwayat Hidup ...................................................................................... iii
Abstract.............................................................................................................. iv
Abstrak...............................................................................................................
v
Kata Pengantar ................................................................................................. vi
Daftar Isi ............................................................................................................ ix
Daftar Tabel....................................................................................................... xi
Daftar Gambar .................................................................................................. xii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah......................................................................
1
B. Perumusan Masalah ............................................................................
5
C. Tujuan dan Manfaat ............................................................................
6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Persepsi .............................................................................................
7
B.
Kode etik akuntan ............................................................................. 10
C.
Iklan................................................................................................... 19
D.
Iklan dalam kode etik ........................................................................ 27
E.
Akuntan publik.................................................................................. 32
F.
Pengguna jasa akuntan publik........................................................... 34
G.
Penelitian terdahulu........................................................................... 37
H.
Kerangka pemikiran .......................................................................... 38
I.
Hipotesis............................................................................................ 39
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A . Ruang lingkup penelitian ................................................................. 40
viii
B.
C.
D.
E.
Metode penentuan sampel ................................................................
Metode pengumpulan data ...............................................................
Metode analisis.................................................................................
Operasional variabel penelitian ........................................................
40
41
41
46
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Objek Penelitian .................................................. 50
B.
Hasil Uji Instrumen Penelitian.......................................................... 53
C.
Interpretasi......................................................................................... 60
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ....................................................................................... 62
B.
Implikasi............................................................................................ 63
C.
Saran.................................................................................................. 65
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 66
Lampiran ........................................................................................................... 70
ix
DAFTAR TABEL
No
Keterangan
Halaman
3.1
Operasional Variabel Penelitian.............................................................
47
4.1
Data Sampel Penelitian ..........................................................................
50
4.2
Karakteristik Responden Akuntan Publik..............................................
51
4.3
Karakteristik Responden Pengguna Jasa Akuntan Publik .....................
52
4.4
Hasii Uji Validitas..................................................................................
53
4.5
Hasil Uji Reabilitas ................................................................................
54
4.6
Hasil Uji Asumsi Klasik ........................................................................
55
4.7
Hasil Uji Statistik Non parametric Kolmogorov-Smirnow....................
56
4.8
Hasil Ujiunivariate Analysis Of Variance..............................................
57
4.9
Hasil Ujilevene’s Test Of Equality Of Error Variance ..........................
57
4.10 Hasil Uji Test Of Between-Subject Effects ...........................................
58
4.11 Hasil Uji Multiple Comparisons ............................................................
59
4.12 Hasil Uji Homoggeneus .........................................................................
60
x
DAFTAR GAMBAR
No
Keterangan
Halaman
2.1 Skeme Kode Etik dengan Kepercayaan Masyarakat ..........................
11
2.2 Kerangka Pemikiran.............................................................................
38
xi
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sejalan dengan tuntutan perkembangan lingkungan bisnis, berbagai
perbaikan dan penyempurnaan Standar Akuntansi Keuangan, Standar
Profesional Akuntan Publik maupun Kode Etik Akuntan Indonesia terus
dilakukan. Salah satunya pernyataan Etika Profesi Nomor 4 tahun 1994
tentang pelarangan advertensi jasa akuntan publik, telah direvisi dengan aturan
Etika Profesi Nomor 250 Tahun 2008 yang memperbolehkan KAP melakukan
promosi dan kegiatan lainnya.
Kode etik profesi akuntan publik Tahun 2008 yang diberlakukan pada
tanggal 01 Januari Tahun 2011 di dalamnya dijelaskan tentang ancaman
terhadap kepatuhan pada prinsip dasar etika profesi mendapatkan suatu
perikatan melalui iklan atau bentuk pemasaran lainnya, sebagai contoh
ancaman kepentingan pribadi terhadap kepatuhan profesional dapat terjadi
ketika jasa profesional hasil pekerjaan atau produk yang ditawarkan tidak
sesuai dengan prinsip perilaku profesional.
Setiap praktisi tidak boleh mendeskriditkan profesi dalam memasarkan
jasa profesionalnya, setiap praktisi harus
bersikap jujur dan tidak boleh
melakukan tindakan–tindakan sebagai berikut: Pertama, membuat pernyataan
yang berlebihan mengenai jasa profesional yang dapat diberikan kualifikasi
yang dimiliki atau pengalaman yang telah diperoleh. Kedua membuat
1
pernyataan yang merendahkan atau melakukan perbandingan yang tidak di
dukung bukti terhadap hasil pekerjaan praktisi lain. Jika praktisi memiliki
keraguan atas tepat tidaknya suatu iklan atau bentuk pemasaran lainya, maka
praktisi harus melakukan konsultasi dengan organisasi profesi.
Pelanggaran Kode Etik ini menimbulkan permasalahan apakah akuntan
publik harus beriklan atau tidak, informasi apa saja yang seharusnya dimuat
jika mereka beriklan dan media apa saja yang sebaiknya digunakan (Hite dan
Fraser, 1998). Apakah konsumen akan beranggapan bahwa advertensi oleh
akuntan publik tidak etis dan harus dihindari ataukah sebaliknya, konsumen
akan menghargai informasi dalam advertensi dan memilih akuntan publik
yang menawarkan keunggulannya.
Secara umum iklan merupakan cara penyampaian pesan melalui media
tertentu seperti: majalah, surat kabar, radio, televisi, dan surat yang bertujuan
untuk mempengaruhi orang untuk membeli produk atau jasa, atau untuk
menghasilkan reaksi tertentu (Kotler, 2000:31). Iklan bagi KAP bisa menjadi
media yang efektif untuk menyediakan informasi bagi calon klien mengenai
jasa yang tersedia (Payamta, 2002). Seiring dengan perkembangan bisnis
yang semakin kompleks, auditor dituntut untuk semakin meningkatkan
kompetensi dan profesionalitas dalam menjalankan perannya. Di Indonesia,
isu tentang iklan bagi akuntan publik telah menjadi suatu perdebatan pada
rapat sidang komisi kode etik kongres VI tahun 1990 di Jakarta yang
menghasilkan sebuah gagasan untuk memperbolehkan akuntan publik
2
memasang iklan jasa akuntan publik dengan batasan-batasan tertentu, tetapi
gagasan ini ditolak oleh sidang pleto (Iskak, 2000:8).
Dalam kongres VII IAI di Bandung, diputuskan bahwa iklan bagi kantor
akuntan publik di Indonesia tetap dilarang, kecuali untuk hal yang bersifat
pemberitahuan yang jelas tercantum dalam aturan Etika Profesi No. 4
mengenai iklan bagi kantor akuntan publik (Iskak, 2000:8-11). Seperti dikutip
dalam (Rilis Pers, 2008:15-8) melalui Keputusan Menteri Keuangan Nomor:
481/KM.1/2008 terdapat beberapa kantor akuntan publik yang dibekukan
perizinannya karena melakukan pelanggaran terhadap Standar Auditing (SA)
Standar Professional Akuntan Publik (SPAP). Pelanggaran tersebut dikatakan
sebagai pelanggaran berat sebagaimana dalam ketentuan pasal 63 ayat (3)
tentang jasa akuntan publik, sehingga dikenakan sangsi pembekuan izin.
Ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan para pengguna jasa
akuntan publik hanya tertarik untuk menggunakan jasa akuntan publik yang
sudah dikenal antara lain ( Payamta, 2002 ):
1. Para pengguna jasa sudah terbiasa menggunakan jasa akuntan publik yang
sudah dikenal, dan enggan berpindah pada kantor akuntan publik yang
lain.
2. Para pengguna jasa enggan berpindah kepada akuntan publik lainnya
karena yakin terhadap kemampuan kantor akuntan publik yang dipilihnya.
3. Para pengguna jasa tidak tahu tentang kantor akuntan publik selain yang
sudah dipilih.
3
Alasan pengguna jasa akuntan publik memakai jasa kantor akuntan
publik karena alasan pertama dan kedua tidak menjadi masalah, karena
pemilihan terhadap kantor akuntan publik sepenuhnya hak klien. Berbeda jika
klien tidak memilih suatu kantor akuntan publik karena tidak tahu adanya
kantor akuntan publik yang lain beserta jasa-jasa yang dapat diberikan, dalam
hal ini perlu dipertanyakan: “Apakah suatu Kantor Akuntan Publik perlu
untuk memasang advertensi berkenaan dengan jasa yang diberikannya?”.
Kondisi tersebut mendorong akuntan publik mencari cara penyampaian pesan
yang efektif untuk menyediakan informasi bagi calon klien mengenai yang
tersedia Cooper et. al, (1999) dalam Payamta (2002)
Pelarangan memasang iklan bagi KAP sebelumnya telah ada bersamaan
dengan dirumuskannya konsep awal aturan kode etik IAPI yang pertama tahun
1972, menjelang kongres IAPI ke-2, bahkan jauh sebelum kongres IAPI yang
pertama. Dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir ini, hasil kongres
mengalami beberapa perubahan dan penyempurnaan. Kelonggaran yang
terjadi pada kode etik IAPI menimbulkan permasalahan-permasalahan berikut
pertama, apakah KAP harus beriklan atau tidak. Kedua informasi apa yang
seharusnya dimuat jika mereka beriklan dan media apa yang sebaiknya
digunakan. Ketiga, apakah konsumen akan beranggapan bahwa advertensi
dan memilih akuntan yang menawarkan keunggulannya. Secara umum iklan
merupakan cara penyampaian pesan melalui media tertentu seperti: Majalah,
surat kabar, radio, televisi dan surat yang bertujuan untuk mempengaruhi
4
orang untuk membeli suatu produk atau jasa, atau untuk menghasilkan reaksi
tertentu (Kotler, 2000:31).
Penelitian ini merupakan replikasi dari penelitian Payamta (2000).
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah pada populasi
penelitian. Populasi penelitian sebelumnya adalah di Jawa Tengah yang
berpendidikan S1 akuntansi, sedangkan penelitian ini menggunakan populasi
pengguna jasa akuntan publik dan akuntan publik yang berada di Jakarta.
Iklan bagi suatu KAP bisa menjadi media yang efektif untuk menyediakan
informasi bagi klien mengenai jasa yang tersedia. Berdasarkan latar belakang
tersebut, penulis tertarik untuk membuat penelitian ini yang berjudul
“Analisis Perbedaan Persepsi antara Pengguna Jasa Akuntan Publik
dengan Akuntan Publik terhadap Advertensi Jasa Akuntan Publik”.
B. Perumusan Masalah
Masalah penelitian ini adalah untuk mengukur
perbedaan persepsi
pengguna jasa akuntan publik dan akuntan publik terhadap advertensi jasa
akuntan publik sehingga perumusan masalahnya adalah “Apakah terdapat
perbedaan persepsi antara pengguna jasa akuntan publik dengan akuntan
publik terhadap advertensi jasa akuntan publik?”
5
C. Tujuan dan Manfaat
1. Tujuan dari penelitian.
Berdasarkan perumusan masalah diatas, penelitian ini bertujuan untuk
memperoleh bukti empiris tentang perbedaan persepsi antara pengguna
jasa akuntan publik dengan akuntan publik terhadap advertensi jasa
akuntan publik.
2. Manfaat Penelitian
a.
Bagi kantor akuntan publik
Memberikan masukan bagi kantor akuntan publik mengenai persepsi
pengguna jasa akuntan publik terhadap advertensi jasa akuntan publik
yang dilakukan.
b.
Bagi pengguna jasa akuntan publik
Membantu perusahaan untuk mengetahui manfaat dan peranan dari
advertensi jasa akuntan publik.
c.
Bagi masyarakat
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat khususnya mahasiswa UIN
dan bagi pembaca pada umumnya, dalam pengembangan pengetahuan
mengenai persepsi akuntan publik dan pengguna jasa akuntan publik
terhadap advertensi jasa akuntan publik. Penelitian ini dapat menjadi
bahan pelengkap atau informasi yang diperlukan untuk melakukan
penelitian sejenisnya.
6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Persepsi
Persepsi adalah suatu proses pengenalan atau identifikasi sesuatu
dengan menggunakan panca indera. Menurut Sasanti (2003) dalam Tour
Indonesia Cultur (2008). Kesan yang diterima individu sangat tergantung pada
seluruh pengalaman yang telah diperoleh melalui proses berfikir dan belajar,
serta di pengaruhi oleh faktor yang berasal dari dalam diri individu. Menurut
Sabri (1993) dalam Tour Indonesia Cultur (2008), persepsi didefinisikan
sebagai aktivitas yang memungkinkan manusia mengendalikan rangsanganrangsangan yang sampai kepadanya melalui alat inderanya, menjadikannya
kemampuan itulah dimungkinkan individu mengenali milleu (lingkungan
pergaulan) hidupnya.
Proses persepsi
terdiri dari dua tahap. Pertama, terjadi pada
pengideraan diorganisir berdasarkan prinsip-prinsip tertentu. Tahapan kedua
diinterpresikan dan dievaluasi. Mar’at
yaitu stimulasi pada penginderaan
(1981)
dalam Tour Indonesia Cultur (2008) mengatakan bahwa persepsi
adalah suatu proses pengamatan seseorang yang berasal dari suatu kondisi
secara terus menerus dan dipengaruhi oleh informasi baru dari lingkungannya.
Riggio (1990) dalam Tour Indonesia Cultur (2008) juga mendefinisikan
persepsi sebagai proses kognitif baik lewat penginderaan, pandangan,
penciuman dan perasaan yang kemudian ditafsirkan.
7
Berdasarkan pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa persepsi
merupakan proses pengenalan, identifikasi, pengamatan, baik melalui
penginderaan maupun pandangan yang berasal dari kondisi terus menerus dan
dipengaruhi oleh lingkungan hidupnya.
1. Faktor-Faktor yang mempengaruhi persepsi
Aryant (1995) dalam Tour Indonesia Cultur (2008) mengemukakan
bahwa persepsi dipengaruhi oleh faktor pengalaman, proses belajar,
cakrawala, dan pengetahuan terhadap objek psikologis. Aryanti (1995)
mengemukakan bahwa persepsi ditentukan juga oleh faktor fungsional
dan struktural. Beberapa faktor fungsional atau faktor yang bersifat
personal antara lain kebutuhan individu, pengalaman, usia, masa lalu,
kepribadian, jenis kelamin, dan lain-lain yang bersifat subjektif. Faktor
struktural atau faktor dari luar individu antara lain: lingkungan keluarga,
hukum-hukum yang berlaku, dan nilai-nilai dalam masyarakat. Jadi,
faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi terdiri dari faktor personal dan
struktural. Faktor-faktor personal antara lain: pengalaman, proses belajar,
kebutuhan, motif dan pengetahuan terhadap objek psikologis. Faktorfaktor struktural meliputi: lingkungan keadaan sosial, hukum yang berlaku,
dan nilai-nilai dalam masyarakat. Pelaku orang lain akan menarik
kesimpulan tentang penyebab perilaku tersebut. Atribusi dapat terjadi bila
suatu kejadian yang tidak biasa menarik perhatian seseorang. Suatu
kejadian memiliki konsekuensi yang bersifat personal. Seseorang ingin
8
mengetahui motif yang melatar belakangi orang lain (Shaver, 1988, dalam
Tour Indonesia Cultur, 2008).
2. Elemen persepsi
Brems & Kassini (1999) dalam Tour Indonesia Cultur (2008),
mengatakan bahwa persepsi sosial memiliki beberapa elemen, yaitu:
a. Person, yaitu orang yang menilai orang lain.
b. Situasional, urutan kejadian yang terbentuk berdasarkan pengalaman
orang untuk menilai sesuatu.
c. Behavior, yaitu sesuatu yang dilakukan oleh orang lain.
3.
Pandangan mengenai proses persepsi, yaitu:
Persepsi sosial, berlangsung cepat dan otomatis tanpa banyak
pertimbangan. Orang membuat kesimpulan tentang orang lain dengan
cepat berdasarkan penampilan fisik dan perhatian sekilas. Persepsi sosial
adalah sebuah proses yang kompleks. Orang mengamati perilaku orang
lain dengan teliti hingga diperoleh analisis secara lengkap terhadap person,
situasional, behavior.
Berdasarkan penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa persepsi
dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor tersebut adalah: penggalaman, proses
belajar, fungsional dan struktural. Persepsi juga mempunyai beberapa elemen
yang dapat mempengaruhi persepsi tersebut.
9
B. Kode Etik Akuntan
Profesi akuntan publik merupakan profesi kepercayaan masyarakat.
Dari profesi akuntan publik, masyarakat mengharapkan penilaian yang bebas
dan tidak memihak terhadap informasi yang disajikan oleh manajemen
perusahaan dalam laporan keuangan. Profesi akuntan publik bertanggung
jawab untuk menaikkan tingkat keandalan laporan keuangan perusahaan
sehingga masyarakat memperoleh informasi keuangan yang andal sebagai
dasar pengambilan keputusan.
Guna menunjang profesionalismenya sebagai akuntan publik maka
auditor dalam melaksanakan tugas auditnya harus berpedoman pada standar
audit yang ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Publik Indonesia (IAPI), yakni:
standar umum, standar pekerjaan lapangan dan standar pelaporan. Standar
umum merupakan cerminan kualitas pribadi yang harus dimiliki oleh seorang
auditor yang mengharuskan auditor untuk memiliki keahlian dan pelatihan
teknis yang cukup dalam melaksanakan prosedur audit. Sedangkan standar
pekerjaan lapangan dan standar pelaporan mengatur auditor dalam hal
pengumpulan data dan kegiatan lainnya yang dilaksanakan selama melakukan
audit serta mewajibkan auditor untuk menyusun suatu laporan atas laporan
keuangan yang diauditnya secara keseluruhan. Namun selain standar audit,
akuntan publik juga harus mematuhi kode etik profesi yang mengatur perilaku
akuntan publik dalam menjalankan praktek profesinya baik dengan sesama
anggota maupun dengan masyarakat umum. Kode etik ini mengatur tentang
tanggung
jawab
profesi,
kompetensi
10
dan
kehati-hatian
profesional,
kerahasiaan, perilaku profesional serta standar teknis bagi seorang auditor
dalam menjalankan profesinya (Hardi, 2010).
Kode etik akuntan merupakan seperangkat prinsip moral dan
pelaksanaan aturan yang memberikan pedoman kepada akuntan publik dalam
berhubungan dengan klien, masyarakat dan akuntan lain. Kode etik ini akan
berdampak pada kepercayaan publik terhadap kualitas jasa yang diberikan,
seperti yang dinyatakan dalam (Payamta, 2002), bahwa profesi yang diberikan
pelayanan jasa pada masyarakat harus memiliki kode etik yang merupakan
seperangkat prinsip moral dan mengatur tentang perilaku profesional.
Pengertian tersebut dapat digambarkan dalam bentuk skema sebagai berikut:
Gambar 2.1
Skema Hubungan Kode Etik dengan Kepercayaan Masyarakat
(Sumber: Agoes, 2004)
Kode
Etik
Prilaku
Profesi
Mutu
Jasa
Kepercayaan
masyarakat
Internasional Federation of Accountants (IFAC 2000) menyatakan etika
sebaiknya berdasarkan prinsip yang mengatur seorang akuntan. Prinsip
tersebut
adalah:
integritas,
obyektivitas,
kemampuan professional dan prilaku etika.
a. Integritas.
11
independensi,
kepercayaan,
Untuk mempertahankan dan memperluas kepercayaan masyarakat,
anggota KAP harus melaksanakan semua tanggung jawab profesional
dengan kepekaan integritas yang paling tinggi.
b. Objektivitas.
Dalam menjalankan tugasnya, anggota KAP harus mempertahankan
integritas dan objektivitas, harus jauh dari benturan kepentingan, dan tidak
boleh membiarkan terjadinya faktor salah saji material (material
misstatement) yang diketahuinya.
c. Independensi.
Independensi merupakan salah satu komponen etika yang harus dijaga
oleh akuntan publik. Independensi berarti bahwa auditor harus jujur, tidak
mudah dipengaruhi dan tidak memihak kepentingan siapapun, karena ia
melakukan pekerjaannya untuk kepentingan umum. Auditor berkewajiban
untuk jujur tidak hanya pada manajemen dan pemilik perusahaan, namun
juga kepada kreditor dan pihak lain yang meletakkan kepercayaan pada
pekerjaan auditor tersebut (Hardi, 2010). Dalam menjalankan tugasnya
anggota KAP harus selalu mempertahankan sikap mental independensi
dalam memberikan jasa profesi sebagaimana diatur dalam Standar
Profesional Akuntansi Publik yang ditetapkan oleh IAPI. Sikap
Independensi tersebut harus meliputi fakta (in facts) maupun dalam
penampilan (in appearance).
d. Kepercayaan.
12
Anggota KAP harus menerima kewajiban untuk bertindak mendahulukan
kepentingan masyarakat, menghormati kepercayaan masyarakat, dan
bersikap profesional.
e. Standar-standar Teknis.
Dalam menjalankan praktek dalam masyarakat, Anggota KAP harus
mematuhi prilaku professional. (Code Of Professional Conduct)
f.
Kemampuan Profesional.
Anggota harus mematuhi standar tehnis dan etika profesi, berusaha keras
untuk terus-menerus meningkatkan kompetisi dan mutu jasa, dan
melaksanakan tanggung jawab profesi sesuai dengan kemampuan.
g. Prilaku Etika.
Keberadaan kode etik menyatakan secara eksplisit beberapa kriteria
tingkah laku yang khusus terdapat pada profesi. Di samping itu dengan
adanya kode etik anggota profesi akuntan lebih terdapat anggotanya.
Dalam Bab VII pasal 10 Kode Etik Akuntan Indonesia disebutkan
bahwa “Kode Etik Akuntan berlaku bagi seluruh Anggota Ikatan Akuntan
Indonesia”. Dengan demikian kewajiban untuk mematuhi Kode Etik ini tidak
harus terbatas pada akuntan yang menjadi Anggota Ikatan Akuntan Publik
Indonesia saja, tetapi meliputi semua orang yang bergelar akuntan. Bagi
akuntan, kode etik merupakan prinsip moral yang mengatur hubungan antara
sesama rekan dengan masyarakat, kepercayaan masyarakat, pemerintah dan
dunia usaha terhadap cara pelaporan, nasehat yang diberikan serta jasa-jasa
13
yang diberikan, ditentukan oleh keahlian kebebasan bertindak dan berpikir,
serta integritas moral akuntan. Etika profesi akuntan di Indonesia diatur dalam
Kode Etik Akuntan Indonesia. Kode etik ini mengikat para anggota IAPI
disatu sisi dan dapat dipergunakan oleh akuntan lainnya yang bukan dan
belum menjadi anggota IAPI di sisi lainnya. Di Indonesia, penegakkan kode
etik dilaksanakan oleh Institute Akuntan Publik Indonesia dan Dewan Standar
Profesi Akuntan Publik untuk menggembangkan dan menetapkan suatu
standar profesi dan kode etik profesi yang berkualitas yang berlaku bagi
profesi akuntan publik.
Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI, 2008:1) menyatakan etika
sebaiknya berdasarkan prinsip yang mengatur seorang akuntan. Prinsip
tersebut adalah:
a. Integritas.
Setiap praktisi harus tegas dan jujur dalam menjalin hubungan profesional
dan hubungan bisnis dalam melaksanakan pekerjaan.
b. Objektivitas.
Setiap
praktisi
tidak
boleh
membiarkan
subjektivitas,
benturan
kepentingan, atau pengaruh tidak layak (undue influence) dari pihak lain
untuk mempengaruhi pertimbangan profesional atau pertimbangan
bisnisnya.
c. Kompetensi serta sikap kecermatan dan kehati-hatian profesional
(professional competence and due care).
14
Setiap praktisi wajib memelihara pengetahuan dan keahlian profesionalnya
pada suatu tingkatan yang dipersyaratkan secara berkesinambungan,
sehinga klien atau pemberi kerja dapat menerima jasa profesional yang
diberikan secara kompeten berdasarkan perkembangan terkini dalam
praktek, perundang-undangan, dan metode pelaksanaan pekerjaan. Setiap
praktisi harus bertindak secara profesional dan sesuai dengan standar
profesi dan kode etik yang berlaku dalam memberikan jasa profesionalnya.
d. Kerahasiaan.
Setiap praktisi wajib menjaga kerahasiaan informasi yang diperoleh
sebagai hasil hubungan profesional dan hubungan bisnisnya, serta tidak
boleh mengungkapkan informasi tersebut kepada pihak ketiga tanpa
persetujuan dari klien atau pemberi kerja, kecuali jika terdapat kewajiban
untuk mengungkapkan sesuai dengan ketentuan hukum atau peraturan
lainnya yang berlaku. Informasi rahasia yang diperoleh dari hubungan
profesional dan hubungan bisnis tidak boleh
digunakan oleh praktisi
untuk keuntungan pribadinya atau pihak ketiga.
e. Prilaku profesional.
setiap praktisi wajib mematuhi hukum dan peraturan yang berlaku dan
harus menghindari semua tindakan yang dapat mendiskriditkan profesi.
Pengawasan terhadap Kode Etik diharapkan dapat dilakukan sendiri
oleh para anggota dan pimpinan KAP. Hal ini tercermin dalam rumusan Kode
Etik Akuntan Indonesia pasal 1 ayat 2 yang berbunyi “Setiap anggota harus
mempertahankan integritas dan objektivitas dalam melaksanakan tugasnya, ia
15
akan bertindak jujur, tegas, dan tanpa prestasi”. Dengan mempertahankan
objektivitas, ia akan bertindak adil, tanpa dipengaruhi tekanan atau permintaan
pihak tertentu atau kepentingan pribadinya. Pembaharuan Kode Etik Akuntan
Indonesia dilaksanakan pada tanggal 29 april Tahun 2009 dan diberlakukan
pada tanggal 1 Januari Tahun 2010. Kemudian, dengan pertimbangan bahwa
berhubung sosialisasi Kode Etik tersebut belum dilakukan secara maksimal
dan komprehensif kepada anggota IAPI serta pihak-pihak lain yang terkait,
maka pengurus IAPI memutuskan bahwa pemberlakuan Kode Etik ditunda
menjadi efektif sejak tanggal 1 Januari 2011 (Hardi, 2010).
Surat pemberitahuan IAPI perihal penundaan pemberlakuan Kode Etik
Profesi Akuntan Publik tanggal 31 Desember 2009 bahwa diharapkan di
Tahun 2010 Dewan Standar Profesi bekerjasama dengan Badan Pelaksana
Pendidikan IAPI akan melaksanakan sosialisasi Kode Etik secara gencar dan
menyeluruh sehingga implementasi Kode Etik tersebut dapat berlangsung
tepat waktu. Sehubungan dengan penundaan masa berlakunya Kode Etik
tersebut, maka dalam melakukan pekerjaannya, anggota IAPI tetap
berpedoman kepada Aturan Etika yang terdapat dalam buku Standar
Profesional
Akuntan
Publik
(SPAP)
tahun
2001
sampai
dengan
diberlakukannya Kode Etik yang baru.
IAPI kembali menyempurnakan susunan Kode Etik Profesi Akuntan
Indonesia dengan memasukkan unsur-unsur tambahan dan menuai berbagai
peraturan-peraturan yang dianggap sudah tidak relevan dengan perkembangan
zaman. Dalam Internasional Federation Of Accounting (IFAC:2000),
16
dikatakan bahwa dalam kode etik bagi akuntan professional, ungkapanungkapan ini muncul dalam penekanan saat digunakan pertama kali dan
memiliki pengertian yang ditentukan bagi etika-etika tersebut, meliputi :
a. Pengiklanan: Ditujukan pada masyarakat mengenai informasi bagaimana
pelayanan dan keahlian yang disediakan oleh akuntan publik, dengan
sebuah pandangan untuk mendapatkan bisnis yang professional.
b. Klien Audit: Klien audit akan selalu mencakup bagian yang berkaitan
dengan entitas disuatu perusahaan.
c. Persetujuan Audit: Sebuah persetujuan audit untuk menyediakan sebuah
tingkat kepastian yang tinggi, dimana pernyataan keuangan terbebas dari
kesalahan. Seperti sebuah persetujuan berdasarkan Standar Auditing
International. Hal ini mencakup audit berdasarkan Undang-Undang
dimana sebuah pemeriksaan di syaratkan oleh peraturan nasional atau
peraturan lainnya.
d. Jaminan Kerja: Sebuah keterkaitan dalam memandang ketika sebuah
perusahaan melakukan sebuah persetujuan jaminan.
e. Persetujuan
Penjamin:
Sebuah
perjanjian
yang
diadakan
untuk
menyediakan.
1) Sebuah kepastian tingkat tinggi dimana masalah subjek dijelaskan
dalam setiap bahan yang terkait dengan kriteria yang sesuai atau
2) Sebuah tingkat menengah dari kepastian dimana masalah subjek
adalah masuk akal dalam kondisi tersebut.
17
Setiap bidang profesi tentunya harus memiliki aturan-aturan khusus atau
lebih dikenal dengan istilah “Kode etik profesi”. Dalam bidang akuntansi
sendiri salah satu profesi yang ada yaitu akuntan publik. Sebenarnya selama
ini belum ada aturan baku yang membahas mengenai kode etik untuk profesi
akuntan publik. Namun demikian, baru-baru ini salah satu badan yang
memiliki fungsi untuk menyusun dan mengembangkan standar profesi dan
kode etik profesi akuntan publik yang berkualitas dengan mengacu pada
Standar Internasional yaitu Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI) telah
mengembangkan dan menetapkan suatu standar profesi dan kode etik profesi
yang berkualitas yang berlaku bagi profesi akuntan publik di Indonesia. Kode
Etik Profesi Akuntan Publik (Kode Etik) ini terdiri dari dua bagian, yaitu
Bagian A dan Bagian B. Bagian A dari Kode Etik ini menetapkan prinsip
dasar etika profesi dan memberikan kerangka konseptual untuk penerapan
prinsip tersebut. Bagian B dari Kode Etik ini memberikan ilustrasi mengenai
penerapan kerangka konseptual tersebut pada situasi tertentu.
Kode Etik ini menetapkan prinsip dasar dan aturan etika profesi yang
harus diterapkan oleh setiap individu dalam kantor akuntan publik (KAP) atau
jaringan KAP, baik yang merupakan anggota IAPI maupun yang bukan
merupakan anggota IAPI, yang memberikan jasa profesional yang meliputi
jasa assurance dan jasa selain assurance seperti yang tercantum dalam standar
profesi dan kode etik profesi. Untuk tujuan Kode Etik ini, individu tersebut di
atas selanjutnya disebut ”Praktisi”. Anggota IAPI yang tidak berada dalam
KAP atau Jaringan KAP dan tidak memberikan jasa profesional seperti
18
tersebut di atas tetap harus mematuhi dan menerapkan Bagian A dari Kode
Etik ini. Suatu KAP atau Jaringan KAP tidak boleh menetapkan kode etik
profesi dengan ketentuan yang lebih ringan dari pada ketentuan yang diatur
dalam Kode Etik ini.
Setiap Praktisi wajib mematuhi dan menerapkan seluruh prinsip dasar
dan aturan etika profesi yang diatur dalam Kode Etik ini, kecuali bila prinsip
dasar dan aturan etika profesi yang diatur oleh
perundang-undangan,
ketentuan hukum, atau peraturan lainnya yang berlaku ternyata berbeda dari
Kode Etik ini. Dalam kondisi tersebut, seluruh prinsip dasar dan aturan etika
profesi yang diatur dalam
perundang-undangan, ketentuan hukum, atau
peraturan lainnya yang berlaku tersebut wajib dipatuhi, selain tetap mematuhi
prinsip dasar dan aturan etika profesi lainnya yang diatur dalam Kode Etik ini.
C. Iklan
1. Pengertian iklan
Iklan merupakan suatu investasi ekonomis, dan bagi kebanyakan
perusahaan dan organisasi non profit, iklan merupakan sebuah investasi
yang dianggap sangat menguntungkan (Shimp, 2000). Iklan adalah alat
promosi yg tertua. Iklan sangat menyolok (menarik perhatian orang) dan
sangat kontroversial. Sebagai contoh sebuah bentuk dari promosi disebut
publisitas adalah bukan iklan karena tidak ada yang membayar. Contohnya
Dian Sastrowardoyo muncul untuk di wawancarai seputar film perdananya
di acara Showbis Metro TV bertujuan untuk mempromosikan film
19
terbarunya. Apakah ini iklan? Tentu saja tidak karena produser atau studio
film tidak membayar acara show di Metro TV tersebut. Tetapi jika
produser studio film mengiklankan filmnya pada televisi dan surat kabar
dan bentuk komunikasi tersebut pihak studio film membayar pada media
tersebut itu sudah pasti adalah iklan.
2. Fungsi iklan
Menurut Shimp (2000), iklan sangat penting karena memiliki fungsi
komunikasi yang kritis, yaitu:
a. Menginformasikan.
Iklan membuat konsumen sadar akan adanya produk baru, memberikan
informasi mengenai merek tertentu, dan menginformasikan
karakteristik serta keunggulan suatu produk. Pada tahap awal dari
kategori produk, iklan sangat diperlukan untuk membangun
permintaan primer. Iklan merupakan bentuk komunikasi yang efisien
karena mampu meraih khalayak luas dengan biaya yang relatif rendah.
b. Membujuk.
Tujuan ini sangat penting pada tahap persaingan, dimana perusahaan
ingin membangun permintaan selektif untuk produk tertentu (Kotler,
2000:578). Beberapa iklan menggunakan comparative advertising yang
memberikan perbandingan atribut dari dua atau lebih merek/produk
secara eksplisit. Iklan yang efektif akan membujuk konsumen untuk
mencoba menggunakan/mengkonsumsi suatu produk. Kadang-kadang
iklan dapat mempengaruhi permintaan primer yang membentuk
20
permintaan untuk seluruh kategori produk. Seringkali iklan ditujukan
untuk membangun permintaan sekunder yaitu permintaan untuk merek
perusahaan tertentu.
c. Mengingatkan.
Iklan dapat membuat konsumen tetap ingat pada merek/produk
perusahaan. Ketika timbul kebutuhan yang berkaitan dengan produk
tertentu, konsumen akan mengingat iklan tentang produk tertentu.
Maka konsumen tersebut akan menjadi kandidat pembeli. Iklan dengan
tujuan mengingatkan ini sangat penting untuk produk matang (Kotler,
2000:579).
d. Memberikan Nilai Tambah.
Iklan memberikan nilai tambah terhadap produk dan merek tertentu
dengan cara mempengaruhi persepsi konsumen. Iklan yang efektif
akan memberikan nilai tambah produk sehingga produk dipersepsikan
lebih mewah, lebih bergaya, lebih bergengsi, bahkan melebihi apa
yang ditawarkan oleh produk lain, dan secara keseluruhan memberikan
kualitas yang lebih baik dari produk lainnya.
e. Mendukung Usaha Promosi Lainnya.
Dapat digunakan sebagai alat pendukung usaha promosi lainnya
seperti sebagai alat untuk menyalurkan sales promotion, pendukung
sales representative, meningkatkan hasil dari komunikasi pemasaran
lainnya. Disamping itu, menurut (Tellis, 1998) periklanan memberikan
dampak terhadap produksi massal dibutuhkan kemampuan suatu
21
perusahaan untuk melayani pasar yang luas. Perusahaan harus
memberi merek produknya dengan nama yang unik sehingga
konsumen melakukan permintaan terhadap suatu barang tertentu. Jadi,
produksi massal dan pemasaran dapat menguntungkan bila telah
memiliki merek. Produksi massal membutuhkan kemasan yang baik.
Sehingga perusahaan dapat memberi merek pada kemasan dengan
desain dan nama yang unik. Oleh karena itu iklan merupakan alat
komunikasi perusahaan terhadap konsumen untuk menyampaikan
kualitas produk yang unik yang dapat dilihat dari kemasan unik dan
merek produk yang dihasilkan.
3. Pengaruh iklan
Peranan periklanan dalam masyarakat banyak menimbulkan
beberapa kontrofersi. Namun uraian ini hanya dapat mengevaluasi
beberapa hal kritis dari iklan, antara lain (Shimp, 2000):
a. Iklan membujuk konsumen untuk membeli produk walaupun
berlawanan dengan keinginan mereka.
b. Iklan secara khusus dapat membedakan produk yang dihasilkan oleh
berbagai perusahaan dan dapat membangun loyalitas konsumen
terhadap suatu merek.
c. Iklan bertindak sebagai pencegah bagi perusahaan baru untuk
memasuki pasar tertentu.
d. Iklan memungkinkan pihak pengiklan (produsen) untuk menaikkan
harga relatif terhadap produk yang tidak diiklankan.
22
4. Karakteristik iklan
Iklan memiliki tiga karakterisitik penting yang memungkinkan tidak
terlihat dari segi analisis statis yaitu (Shimp, 2000):
a. Iklan merupakan alat yang relatif murah dimana perusahaan dapat
menyampaikan kepada konsumen mengenai keberadaan suatu produk.
b. Iklan dengan skala besar memungkinkan perusahaan manufaktur untuk
menghasilkan produksi massal dengan biaya yang murah. Pasar yang
luas memungkinkan perusahaan untuk memahami skala ekonomis.
c. Iklan membangun identitas merek untuk produk perusahaan tertentu.
Semakin baik kualitas dan pemasaran produk tersebut maka semakin
tinggi permintaan konsumen dan semakin besar pemasukan perusahaan
dari iklan.
Iklan disebut juga advertensi. Ada tiga istilah yang umum dipakai di
Indonesia untuk menyebut advertising, yaitu: reklame, advertensi, dan iklan.
Reklame berasal dari bahasa Belanda yang dieja sebagai reclame. Kata iklan
juga berasal dari bahasa Perancis reclamare. Advertensi berasal dari bahasa
Belanda advertentie yang juga mengacu pada bahasa Inggris advertising.
Sedangkan iklan yang umum dipakai dalam bahasa Melayu berasal dari
bahasa Arab I'lan atau I'lanun yang secara harfiah berarti informasi.
Banyak definisi diberikan bagi kata periklanan, akan tetapi salah satu
yang paling sederhana dengan harapan agar tidak terjadi perdebatan soal ini.
Periklanan adalah kegiatan komunikasi yang dilakukan pembuat barang, atau
23
pemasok jasa dengan masyarakat banyak atau sekelompok orang tertentu yang
bertujuan untuk menunjang upaya pemasaran. Komunikasi dilakukan dengan
menggunakan: gambar, suara atau kata-kata, gerak atau bau yang disalurkan
melalui media atau secara langsung. Berdasarkan pengertian ini maka Biro
Iklan adalah lembaga usaha yang memberikan jasa periklanan bagi siapa yang
membutuhkan baik perorangan, perusahaan pembuat barang atau pemasok
jasa, bahkan pemerintah. Oleh karena bentuk pelayanan periklanan meliputi
berbagai jenis kegiatan maka dilihat dari skala usahanya ada berbagai ukuran
sebuah biro iklan.
Sebuah biro iklan yang mendukung predikat ini adalah biro yang
mempunyai kapasitas untuk memberi pelayanan di tiga bidang yaitu:
konsultasi komunikasi pemasaran, pelayanan perencanaan dan pemesanan
media, serta pelayanan kreatif. Pelayanan konsultasi pemasaran merupakan
barisan terdepan yang berhadapan langsung dengan pihak pemakai jasa
periklanan. Minat yang disampaikan oleh sebuah perusahaan atau perorangan
pada sebuah biro iklan akan diterima oleh para pakar pemasaran yang mampu
berdialog dengan manajer pemasaran dari perusahaan yang membutuhkan jasa
iklan.
Berkembangnya pendidikan ilmu ekonomi telah banyak memberi
dorongan bagi pertumbuhan kualitas perusahaan periklanan di Indonesia.
Kehadiran modal asing dan kegiatan memproduksi barang-barang yang
berasal dari luar negeri telah menghadirkan kegiatan pemasaran global yang
dampaknya sangat menentukan kemampuan para pakar pemasaran di sebuah
24
biro iklan dalam berbicara pada tingkat pengetahuan pemasaran yang bersifat
internasional.
Sektor kedua yang menunjang predikat ‘full service’ adalah media.
Seperti hadirnya para pakar pemasaran maka perkembangan biro iklan di
Indonesia juga sangat ditentukan oleh meningkatnya kualitas pelayanan
perencanaan dan pemesanan media. Peningkatan ini tidak lepas dari
perkembangan industri media yang telah berlangsung sejak dua dekade ini.
Tumbuhnya pemancar komersial di segenap penjuru tanah air, masing-masing
dengan gaya dan cara pendekatan yang berbeda. Terbitnya puluhan majalah
baru mulai dari yang bersifat umum hingga majalah yang khusus bicara soal
rambut, mobil, konstruksi dan komputer. Terbitnya surat kabar yang
berdomisili di ibu kota negara, ibu kota propinsi atau ibu kota kabupaten,
masing-masing dengan garapan berita yang beda ruang lingkupnya. Adanya
pilihan yang diberikan oleh industri media dan tantangan untuk menemukan
rancangan media yang efektif dan terjangkau oleh biaya periklanan yang
disediakan oleh perusahaan pemakai jasa iklan, serta riset dan penelitian yang
dilakukan oleh perusahaan yang khusus bergerak dalam bidang jasa riset telah
ikut memberikan masukan yang sangat menunjang kualitas pelayanan jasa
perencanaan media. Fakta ini telah memberi warna khusus bagi kegiatan
periklanan sebagai kegiatan komunikasi yang dilakukan secara tepat arah dan
terukur.
Sektor ketiga yang juga ikut mendukung predikat Full Service adalah
pelayanan jasa kreatif. Pelayanan jasa kreatif merupakan bagian akhir dari
25
mata rantai proses terciptanya sebuah iklan sebelum disalurkan ke media.
Karena kegiatan dan proses kreatif memberikan wujud bagi sebuah iklan atau
pesan maka sering orang mengira bahwa lahirnya iklan ada di tangan seniman.
Pandangan keliru ini telah banyak mendorong banyak seniman yang
mendirikan biro iklan dan dalam perkembangan selanjutnya lebih sering
mengalami kegagalan. Dibandingkan dengan peran sektor pemasaran dan
sektor media, maka peran sektor kreatif masih jauh tertinggal. Sikap dan
wawasan yang berkembang diantara para praktisi disektor kreatif bila kita
amati secara objektif masih terpaku pada kaidah-kaidah atau aturan-aturan
yang sederhana dan sempit. Sebagian besar dari iklan-iklan yang kita temui di
media masih berputar-putar di sekitar penonjolan benefit product/consumer
yang ditampilkan apa adanya. Cara lain yang paling mudah dilakukan adalah
dengan menciptakan iklan dengan memanfaatkan strategi Before-After,
Sebelum makan obat dan sesudah makan obat. Sikap bangsa Indonesia yang
paternalistik sering disalahartikan dengan menerapkan strategi testimonial
orang-orang yang terkenal. Kehadiran perusahaan periklanan internasional di
Indonesia sedikit banyak telah memperkenalkan praktek-praktek kreatif yang
sedikit lebih maju. Format-format pengembangan kreatif yang telah teruji
mulai diperkenalkan kepada para pakar bidang kreatif.
Advertensi menjadi bahan perdebatan dan diskusi menarik ketika
digunakan dalam dunia profesi. Sebagian besar kaum professional, dan dapat
menurunkan kualitas jasa profesi. Namun ada pula professional yang
berpendapat bahwa advertensi yang baik justru akan meningkatkan rasa
tanggung jawab sehingga kualitas jasa profesi tetap terjaga.
26
D. Iklan dalam Kode Etik
Well, et.al (1996) dalam Masli (2000:36) mengungkapkan bahwa iklan
merupakan segala bentuk pesan tentang suatu produk jasa yang disampaikan
melalui media, dibiayai oleh pemrakarsa yang dikenal, yang bertujuan untuk
mengajak atau mempengaruhi masyarakat.
Menurut Masli (2000) iklan mempunyai empat elemen, yaitu:
1. Mengeluarkan biaya
2. Merupakan prestasi tidak langsung
3. Digunakan untuk mendukung suatu produk atau jasa
4. Dikeluarkan oleh pihak tertentu seperti: lembaga, perusahaan, termasuk
didalamnya perusahaan yang bergerak dibidang jasa seperti kantor akuntan
publik.
Semenjak disahkannya aturan etika profesi nomor 502 yang
mengizinkan kantor akuntan publik untuk memasang iklan dan melakukan
kegiatan pemasaran jasanya dan mencari klien sepanjang tidak merendahkan
citra profesi, para akuntan publik mulai memanfaatkan sebagai sarana untuk
mamasarkan jasa dan mencari klien.
Iklan yang diperbolehkan menurut etika profesi nomor 502 tahun 2000,
bagi sebuah kantor akuntan publik (KAP), adalah:
1. Iklan yang bersifat pemberitahuan seperti pindah alamat, telepon, fax, dan
telex.
27
2. Merekrut pegawai dan staf, baik untuk kantornya sendiri maupun untuk
kliennya.
3. Memasang iklan untuk penjualan perusahaan atau asset klien akuntan
publik dalam kapasitasnya profesinya pada saat bertindak sebagai
likuiditor.
4. Memasang iklan untuk seminar dan perantaran bagi masyarakat umum,
kecuali yang diselenggarakan secara gratis.
Iklan yang tidak diperbolehkan menurut aturan etika profesi nomor 502 tahun
2010 bagi sebuah Kantor Akuntan Publik (KAP) adalah:
1. Seorang akuntan publik memberikan janji yang muluk- muluk.
2. Menggambarkan seolah-olah dapat mempengaruhi keputusan penjabat
pengadilan, instansi pengatur, atau badan instansi lain yang serupa.
3. Memberikan pernyataan yang tidak didukung oleh fakta yang dapat
dibuktikan kebenarannya.
4. Membuat perbandingan dengan akuntan lainnya yang tidak didasarkan
pada fakta yang dapat diverifikasi.
5. Membuat pernyataan bahwa jasa profesional spesifik sedang atau akan
diberikan dengan upah tertentu, dan calon klien tidak diberitahu mengenai
kemungkinan ini.
6. Membuat pernyataan yang dapat mengakibatkan orang lain tertipu atau
salah menafsirkan.
7. Menawarkan jasa secara tertulis, kecuali atas permintaan calon klien yang
bersangkutan.
28
8. Memiliki staf pemasaran yang khusus mencari klien secara door to door
Dalam melakukan advertensi jasa akuntan publik kantor akuntan publik
juga harus memperhatikan beberapa variabel yang perlu diperhatikan dalam
beriklan diantaranya adalah sebagai berikut (Payamta,2002):
1. Image profesi.
Merupakan kode etik akuntan publik, dalam melaksanakan tugas auditnya
setiap auditor harus berpedoman pada standar audit yang ditetapkan oleh
Ikatan Akuntan Publik Indonesia, oleh karenaya dalam melakukan iklan
setiap kantor akuntan publik perlu mempertimbangkan image profesi
akuntan publik.
2. Kualitas jasa.
Kualitas audit adalah probabilitas dimana seorang auditor menemukan dan
melaporkan tentang adanya suatu pelanggaran dalam sistem akuntansi
kliennya. Probabilitas penemuan suatu pelanggaran tergantung pada
kemampuan teknikal auditor dan independensi auditor tersebut. auditor
dengan kemampuannya akan dapat menemukan suatu pelanggaran dan
kuncinya adalah auditor tersebut harus independen. Tetapi tanpa informasi
tentang kemampuan teknik (seperti pengalaman audit, pendidikan,
profesionalisme, dan struktur audit perusahaan), kapabilitas dan
independensi akan sulit dipisahkan.
3. Harga jasa.
29
Harga merupakan salah satu penentu keberhasilan suatu perusahaan karena
harga menentukan seberapa besar keuntungan yang akan diperoleh
perusahaan dari penjualan produknya baik berupa barang maupun jasa.
Menetapkan harga terlalu tinggi akan menyebabkan penjualan akan
menurun, namun jika harga terlalu rendah akan mengurangi keuntungan
yang dapat diperoleh organisasi perusahaan. Harga jasa yang yang
ditanggung penggun jasa akuntan publik akan menyebabkan advertensi
jasa akuntan publik meningkat.
4. Kesadaran konsumen.
dengan adanya advertensi jasa akuntan publik, pengguna jaa akuntan
publik akan lebih mengetahui jasa-jasa yang ditawarkan olek KAP jika
KAP beriklan. Setelah mengetahui tingkat kesadaran konsumen akan
pentingnya advertensi maka pengguna jasa akuntan publik dapat dengan
mudah memperoleh informasi mengenai KAP.
5. Ukuran KAP.
Kualitas audit merupakan sesuatu yang abstrak sehingga sulit diukur dan
hanya dapat dirasakan oleh pengguna jasa audit. Ukuran KAP sebagai
proksi kualitas membedakan KAP menjadi KAP besar dan KAP kecil.
Pembedaan tersebut dilakukan berdasarkan jumlah klien yang dilayani
oleh suatu KAP, jumlah rekan atau anggota yang bergabung, serta total
pendapatan yang diperoleh dalam satu periode.
6. Persaingan antar KAP.
30
Advertensi akan menimbulkan persaingan antar KAP, persaingan antar
KAP tidak menjada masalah asalkan persaingan itu bersifat sehat dan
bertanggung jawab antar KAP.
7. Intervensi pemerintah.
Dengan diperbolehkanya advertensi jasa akuntan publik memungkinkan
intervensi pemerintah dalam profesi akuntan.
8. Media advertensi.
Dalam periklanan, pesan yang disampaikan secara cepat kepada konsumen
atau khalayak yang luas dan tersebar, dimana pesan yang disampaikan
melalui media elektronik (radio, TV) dan media cetak (surat kabar,
majalah), karena media faktanya muncul untuk meyakinkan tingkah laku,
nilai dan maksud pengirim adalah kepentingan lebih besar dari pada
penerima. Dalam komunikasi massa, komunikasi yang terjadi adalah satu
arah, sedangkan media advertensi yang sesuai ialah melalui majalah
internasional.
9. Jenis jasa yang ditawarkan.
Dengan adanya advertensi jasa akuntan publik memberikan kemudahan
kepada pengguna jasa akuntan publik untuk mengetahui jasa yang
ditawarkan oleh kantor akuntan publik. Jasa konsultan manajemen,
kompilasi laporan keuangan, serta jasa konsultan perpajakan merupakan
jenis jasa yang ditawarkan oleh kantor akuntan publik dan diminati oleh
pengguna jasa akuntan publik.
31
E. Akuntan Publik
1. Pengertian Akuntan Publik
Akuntan publik adalah profesi yang mempunyai posisi yang unik,
pada suatu posisi mendapatkan honor dari klien, tetapi jika ia
melaksanakan praktek publik (public practice) harus bersikap independent
(tidak memihak kepada salah satu pihak baik klien maupun pihak lain).
Charmichael (1996:39) dalam Dewi (2005) memberikan definisi
akuntan publik sebagai berikut: Akuntan adalah profesi yang terdiri atas
landasan kepercayaan masyarakat. Dengan demikian, dalam melaksanakan
tugasnya akuntan harus mengutamakan kepentingan masyarakat,
pemerintah dan dunia usaha. Keputusan Menteri Keuangan Republik
Indonesia No.470/KMK.017/1999 sebagaimana diubah dengan Keputusan
Menteri Keuangan Republik Indonesia N0.17/PMK.01/2008 memberikan
definisi akuntan publik adalah sebagai berikut: Akuntan publik adalah
akuntan yang telah memperoleh izin dari Menteri untuk memberikan jasa
sebagaimana diatur dalam keputusan Menteri Keuangan”.
Berdasarkan definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa akuntan
publik adalah profesi yang terdiri atas landasan kepercayaan masyarakat
yang dibayar oleh klien, tapi dalam pelaksanaan tugasnya harus
32
professional, dan bertanggung jawab serta harus mengutamakan
kepentingan masyarakat, pemerintah, dan dunia usaha.
2. Akuntan publik sebagai suatu profesi
Akuntan publik adalah suatu profesi, karena:
a. Memiliki spesialisasi pengetahuan dan pendidikan khusus
Untuk mendapatkan kualisifikasi sebagai seorang akuntan, harus
terlebih dahulu memiliki pendidikan resmi. Di Indonesia seseorang
disebut akuntan sesuai dengsn UU No. 34 tahun 1954 tentang gelar
dan sebutan lulusan perguruan tinggi diberikan kepada seseorang yang
telah memiliki gelar akademik (lulusan Fakultas Ekonomi Jurusan
Akuntansi), dan telah menempuh Pendidikan profesi akuntansi, dan
memiliki nomor registrasi akuntansi. Ketentuan tentang
penyelengaraan pendidikan profesi akuntansi akan diterapkan oleh
Direktur Jendral Pendidikan Tinggi.
b. Memiliki persyaratan tertentu untuk profesi tersebut dan diatur oleh
UU sebagai pihak Independent yang diemban oleh akuntan publik,
terus memiliki persyaratan yang ketat untuk menjadi akuntan publik
agar masyarakat tidak benar-benar dirugikan. Di Indonesia persyaratan
untuk menjalankan praktek sebagai akuntan publik yang sebelumnya
diatur dalam Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No.
33
359/KMK.06/2003 tentang akuntan publik tidak berlaku lagi dan
diganti dengan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No.
17/PMK.O1/2008 tentang jasa akuntan publik.
c. Memiliki Kode Etik. Agar akuntan publik dapat diterima di
masyarakat baik sebagai individu atau kelompok perlu aturan etika
yang mengatur bidang moral. IAPI telah menyusun kode etik akuntan
Indonesia dan telah beberapa kali disempurnakan, terakhir pada
kongres IAPI ketujuh tanggal 20 September 1994. Perubahan yang
paling terbaru adalah tahun 2009 yang diberlakukan pada tahun 2011.
d. Memiliki organisasi profesi. Untuk diakui sebagai profesi, akuntan
telah membentuk organisasi profesi yaitu Ikatan Akuntan Publik
Indonesia (IAPI) yang telah didirikan sejak tahun 1957. Fungsi
organisasi profesi tersebut adalah sebagai sentral operasi dalam
perumusan perbaikan, termasuk memperbaiki spesialisasi pengetahuan,
tanggung jawab pada masyarakat, kode etik dan lain sebagainya.
F. Pengguna Jasa Akuntan Publik
1. Pengertian pengguna jasa akuntan publik
Pengguna jasa akuntan publik adalah perusahaan, investor maupun
pihak-pihak yang berkepentingan dalam laporan keuangan. Sedangkan
laporan keuangan itu sendiri diperlukan oleh beberapa pihak diantaranya:
a. Bagi pemilik perusahaan dan pemegang saham, laporan keuangan
dapat digunakan untuk menilai keberhasilan pengelolah perusahaan di
34
dalam mengelolah perusahaanya dan digunakan untuk melihat laba
yang diperoleh perusahan.
b. Bagi pengelolah perusahaan, laporan keuangan berguna untuk
mengambil keputusan dalam mengelola perusahaan.
c. Bagi kreditor, kreditor menggunakan laporan keuangan untuk
mengukur kemampuan perusahaan membayar utang atau beban bunga.
d. Bagi investor, laporan keuangan bagi investor berguna untuk melihat
kondisi keuangan perusahaan dimasa yang akan datang.
e. Bagi pemerintah, instasi pemerintah yang paling berkepentingan
terhadap laporan keuangan perusahaan adalah kantor Inspeksi Pajak,
untuk mengetahui laba pajak dan pajak perusahaan yang terutang
(Dewi, 2005).
Dalam perkembangan dunia usaha yang semakin maju, setiap
perusahaan harus mengambil keputusan dengan tepat sesuai dengan tujuan
perusahaan. Suatu perusahaan baik itu perusahaan perseroan maupun
berbentuk badan hukum tidak dapat menghindarkan diri dari pihak lain.
Pihak-pihak di luar perusahaan memerlukan informasi mengenai
perusahaan untuk mengambil keputusan tentang hubungan mereka dengan
perusahaan terkait. Umumnya mereka mendasarkan keputusan mereka
berdasarkan informasi yang disajikan oleh manajemen dalam laporan
keuangan perusahaan. Adanya kepentingan untuk memperoleh informasi
inilah yang menyebabkan timbul dan berkembangnya profesi akuntan
publik (Dewi, 2005).
35
2. Faktor-faktor akuntan publik dalam menerima klien
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengguna jasa akuntan publik dalam
memilih kantor akuntan publik. Menurut agus (1989) dalam Dewi (2005)
faktor-faktor yang mempengaruhi perusahaan dalam memilih kantor
akuntan publik adalah sebagai berikut:
a.
Reputasi kantor akuntan publik
Biasanya, para pemakai laporan keuangan akan segera mengenal
bahwa suatu kantor akuntan yang dipilih memang benar-benar
mempunyai kecakapan yang cukup dan integritas yang tinggi
memberikan jaminan kepada para banker dan ekskutif lembaga
keuangan lainnya, atau calon investor untuk bahan masukan kepada
mereka sebelum suatu keputusan dikeluarkan.
b.
Kualitas personel yang ditugaskan
Kualitas personel yang ditugas untuk menyelesaikan pekerjaan di
suatu perusahaan merupakan faktor yang paling penting. Latar
belakang pendidikan dan pengalaman sebelumnya individu-individu
tersebut merupakan unsur penting dalam proses penilaian.
c.
Macam jasa yang ditawarkan
Selain memberikan jasa audit yang berkaitan dengan pemeriksaan atas
kewajaran laporan keuangan yang telah disusun pihak manajemen
perusahaan, akuntan publik juga dapat memberikan jasa-jasa lainnya
kepada perusahaan. Macam jasa tersebut antara lain meliputi:
konsultasi manajemen, konsultasi pajak, pelayanan akuntansi dan
36
pelayanan administrasi pembukuan. Oleh sebab itu, pemilihan suatu
kantor akuntan yang mampu memberikan pelayanan jasa untuk
keperluan sekarang dan di masa yang akan datang mungkin
merupakan salah satu faktor yang perlu dipertimbangkan.
d.
Keahlian dalam industri tertentu
Suatu kantor akuntan yang memiliki keahlian khusus dalam bidang
industri tertentu, akan lebih mampu memberikan jasa yang lebih baik
dibandingkan kantor lain yang belum pernah sama sekali menangani
bidang tersebut. Hal ini juga akan meningkatkan jaminan bahwa
perusahaan akan mendapatkan kualitas jasa yang lebih baik terutama
dalam kenaikan saran-saran perbaikan sistem pengendalian intern
perusahaan.
e.
Sikap bebas tidak memihak
Sikap independent atau sering kita artikan sebagai suatu sikap bebas
tidak memihak merupakan salah satu faktor lain yang tidak boleh kita
tinggalkan dalam proses pemilihan ini. Adanya hubungan bisnis
antara kantor akuntan dengan pegawai, direktur, atau pemegang
saham utama dari perusahaan yang diperiksa kadang-kadang
menimbulkan kerugian pihak luar mengenai sikap bebas kantor
akuntan tersebut.
G. Penelitian Terdahulu
37
Penelitian serupa telah dilakukan oleh Arndt dan Hanks (1976), Darling
(1977), Sellers dan Sollomont (1978), Heisemidt dan Elfrink (1991), Gamble,
et,al .(2000).
Sementara di Indonesia penelitian tentang advertensi telah dilakukan
oleh Ambarriani (1996), Prabowo (1998), Lay (1998), Munawer (2000),
Nasyiah Hp dan Payamta (2002), dalam Sutiani (2008). Hasil penelitian itu
menunjukan adanya perbedaan pendapat antara akuntan publik dan pengguna
jasa akuntan publik. Sutiani (2008) meneliti tentang perbedaan sikap antara
akuntan publik dan pengguna jasa akuntan publik terhadap advertensi. Hasil
penelitian Sutiani (2008) menunjukkan adanya perbedaan sikap antara akuntan
publik dengan pengguna jasa akuntan publik terhadap advertensi.
H. Kerangka Pemikiran
Variabel dependen dalam penelitian ini adalah advertensi jasa akuntan
publik sedangkan variabel independenya adalah perusahaan, bank dan akuntan
publik. Dalam penelitian ini ingin membandingkan persepsi antara akuntan
publik, perusahaan dan bank terhadap advertensi jasa akuntan publik. Untuk
itu dalam penelitian ini akan dirumuskan dalam kerangka pemikiran berikut:
Gambar 2.2
Kerangka Pemikiran
Akuntan
punlik
akuaaa
38
Perusahaan
ppp
advertensi
Bank
I. Hipotesis
Penelitian ini berdasarkan suatu pemikiran bahwa advertensi dapat
mempengaruhi suatu perusahaan dalam memilih kantor akuntan publik. Oleh
sebab itu sejauh mana hubungan antara pengguna jasa akuntan publik dimana
pengguna jasa akuntan publik ini dibagi menjadi dua yang pertama adalah
perusahaan dan yang kedua adalah bank dengan akuntan publik tentang
advertensi jasa akuntan publik
Dalam perumusan hipotesis dapat dijabarkan sebagai berikut:
H10 : Tidak terdapat perbedaan persepsi yang signifikan antara perusahaan
dengan akuntan publik terhadap advertensi jasa akuntan publik.
H20
:
Tidak terdapat perbedaan persepsi yang signifikan antara bank dengan
akuntan publik terhadap advertensi jasa akuntan publik.
H30 : Tidak terdapat perbedaan persepsi yang signifikan antara perusahaan
dengan bank terhadap advertensi jasa akuntan publik.
39
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Ruang Lingkup Penelitian
Populasi penelitian ini adalah akuntan publik dan pengguna jasa akuntan
publik, sebagai pihak pengambil keputusan perusahaan. Penelitian ini adalah
penelitian komparatif, yang bertujuan untuk menguji apakah terdapat
perbedaan persepsi antara pengguna jasa akuntan publik dengan akuntan
publik terhadap advertensi jasa akuntan publik.
B. Metode Penentuan Sampel
Prosedur penentuan sampel dalam penelitian ini adalah gabungan dari
metode probabilitas dan metode non-probabilitas. Metode probabilitas yaitu
dengan menggunakan metode pemilihan sampel area (area sampling) dengan
kriteria adalah akuntan publik dan pengguna jasa akuntan publik yang bekerja
pada kantor akuntan publik wilayah Jakarta. Sedangkan metode nonprobabilitas yaitu menggunakan purposif sampling dengan kriteria sampling,
responden yang mempunyai pengalaman kerja lebih dari 1 tahun. Penelitian
menggunakan purposif sampling berdasarkan pertimbangan yang merupakan
tipe pemilihan sampel secara acak yang informasinya diperoleh dengan
pertimbangan tertentu.
40
C. Metode Pengumpulan Data
Penentuan metode pengumpulan data dipengaruhi oleh jenis dan sumber
data penelitian yang dibutuhkan. Cara yang dilakukan dalam mengumpulkan
data sebagai berikut:
1.
Penelitian Lapangan (Field Research)
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data primer yang
berkaitan dengan masalah yang diteliti. Pengumpulan data dengan
menggunakan kuesioner, yaitu dengan cara memberikan kuesioner
tersebut kepada akuntan publik (KAP) dan pengguna jasa akuntan publik
yang berada di wilayah jakarta. Kuesioner disebarkan dengan cara
datang langsung ke kantor akuntan publik dan pengguna jasa akuntan
publik yang dituju dan melalui bantuan beberapa perantara (contact
person).
2. Penelitian Kepustakaan (Library Research)
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data-data sekunder yang
dijadikan sebagai tinjauan pustaka. Hal ini dilakukan dengan cara
mempelajari dan mengumpulkan data-data baik yang berasal dari bukubuku, catatan-catatan kuliah, maupun literatur-literatur yang terkait.
D. Metode Analisis
41
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis
statistik, sehingga pengujian yang dilakukan adalah Uji kualitas data, Uji
asumsi klasik, Uji hipotesis sebagai berikut:
1. Uji Kualitas Data
Data yang akan digunakan dalam penelitian ini harus terlebih dahulu
dilakukan uji validitas dan uji reliabilitas. Tujuannya adalah untuk
mengetahui sejauh mana penelitian ini dapat diteruskan dan layak untuk
dilakukan penelitian lebih lanjut.
a. Uji Validitas
Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu
kuesioner. Suatu kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan pada
kuesioner mampu untuk mengungkapkan suatu yang akan diukur oleh
kuesioner tersebut (Ghozali, 2005:45). Pengujian ini memastikan
bahwa masing-masing item pertanyaan dalam kuesioner akan
terklasifikasi pada variabel-variabel yang telah ditentukan (Construct
Validity). Menurut Ghozali (2005:47), suatu variabel dikatakan valid
jika nilai korelasi pearson lebih besar dari pada 0,05 dan nilai
signifikasi lebih kecil dari pada nilai alpha (α) yang ditentukan.
Penelitian ini menggunakan nilai alpha sebesar 0,05 karena nilai alpha
0,05 cukup signifikan. Pengujian validitas ini menggunakan korelasi
yaitu dengan cara membandingkan nilai r hitung dengan r tabel .
b. Uji Reliabilitas
42
Pengujian reliabilitas bertujuan untuk mengukur suatu kuesioner yang
merupakan indikator dari variabel atau konstruk. Suatu kuesioner
dikatakan reliabel atau handal jika jawaban dari responden terhadap
pertanyaan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu (Ghozali,
2005:41). Pengujian reliabilitas yang digunakan adalah One Shot atau
pengukuran sekali saja, dan kemudian hasilnya dibandingkan dengan
pertanyaan lain dan mengukur konstruk tertentu menunjukan tingkat
reliabilitas yang digunakan adalah teknik cronbach alpha yaitu
pengujian yang paling umum digunakan. Suatu variabel dikatakan
realibel jika menunjukkan nilai cronbach alpha lebih besar dari 0,06
(Nunnally, 1967 dalam Ghozal, 2005:42).
2. Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik yang digunakan penelitaian ini adalah uji
normalitas. Uji normalitas dalam penelitian dilakukan dengan tujuan untuk
menguji apakah model regresi, variabel pengganggu atau residual
memiliki distribusi normal dan mengetahui apakah hasil penyebaran data
penelitian dengan menggunakan model penelitian yang ditetapkan
memenuhi asumsi normal atau tidak. Uji normalitas dapat diamati dari
nilai Zskewness dan Zkurtosis dan membandingkan dengan nilai kritis. Uji
normalitas juga dapat diamati dari nilai Kolmogroov-Smirno. Kuesioner
dapat dikatakan normal jika nilai Z hitung > dari nilai Z tabel dan pada
tingkat signifikan 0,05 nilai Z tabel sebesar 1,96.
3. Uji Hipotesis
43
Pengujian hipotesis dimaksudkan untuk mengetahui apakah terdapat
perbedaan persepsi antara akuntan publik dan pengguna jasa akuntan
publik terhadap advertensi jasa akuntan publik atau tidak ada perbedaan
persepsi yang signifikan antara akuntan publik dengan pengguna jasa
akuntan publik terhadap advertensi jasa akuntan publik. Ada beberapa
teknik pengujian yang dapat dilakukan untuk uji hipotesis. Adapun teknik
pengujian hipotesis yang diajukan menggunakan Analisis Of Variance
(ANOVA).
Analisis Of Variance merupakan metode untuk menguji hubungan
antara satu variabel dependen (skala metrik) dengan satu atau lebih
variabel independen (skala nonmetrik atau katagorikal dengan katagori
lebih dari dua). Hubungan antara satu variabel dependen dengan satu
variabel independen disebut One Way ANOVA.
ANOVA digunakan untuk mengetahui pengaruh utama (main effect)
dan pengaruh interaksi (interaction effect) dari variabel independen sering
disebut faktor terhadap variabel dependen metrik. Pengaruh utama atau
main effect adalah pengaruh langsung variabel independen terhadap
variabel dependen. Sedangkan pengaruh interaksi adalah pengaruh
bersama atau ( join effect ) dua atau lebih variabel independen terhadap
variabel dependen.
Untuk dapat menggunakan uji statistik ANOVA harus dipenuhi
beberapa asumsi dibawah ini:
44
a. Homogenity of variance: variabel dependen harus memiliki variance
yang sama dalam setiap kategori variabel independen. Jika terdapat
lebih dari satu variabel, maka harus ada homogeneity of variance di
dalam cell yang dibentuk oleh variabel independen kategorikal. SPSS
memberikan tes ini dengan nama Levene’s Test Of Homogeneity Of
Variance. Jika nilai levenes test signifikan (probalitas < 0,05) maka
hipotesis nol akan ditolak bahwa group memiliki variance yang
berbeda dan hal ini menyalahi asumsi. Jadi yang dikehendaki adalah
tidak dapat menolak hipotesis nol atau hasil levene test tidak signifikan
(probabilitas > 0,05).
b. Random sampling: untuk tujuan uji signifikasi, maka subjek di dalam
setiap grup harus diambil secara random.
c. Multivariate normality: untuk tujuan uji signifikasi, maka variabel
harus mengikuti distribusi normal multivariate. Variabel dependen
terdistribusi secara normal dalam setiap kategori variabel independen.
Analisis of variance yang digunakan untuk membandingkan nilai
rata-rata tiga atau lebih sampel yang tidak berhubungan adalah pada
dasarnya adalah menggunakan F test yaitu estimate between groups
variance atau (mensquares) dibandingkan dengan estimase within groups
variance atau secara rumus sebagai berikut:
F=
Between groups estimated variance atau mean squares
Within groups estimated variance atau squares
45
Total variance dalam variabel dependen dapat di pandang memiliki 2
komponen yaitu variance yang berasal dari variabel independen dan
variance yang berasal dari faktor lainya. Variance dari faktor lain ini
sering disebut error atau residual variance. Jika between group
(explained) variance lebih besar dari pada within group (residual)
variance, maka nilai F rasio akan tinggi yang berarti perbedaan antara nilai
means terjadi secara acak. Dalam pengujian hipotesis akan menghasilkan
univariate analysis of variance, levene’s test of equality of error
variances, tests of between-subjects effects, multiple comparisons.
Sedangkan hasil multiple comparisons akan menghasilkan tukey HSD dan
Bonferroni, karena hasil tukey maupun bonferroni sama maka yang di
pakai dalam penelitian ini adalah hasil tukey.
E. Operasional Variabel Penelitian
Operasional variabel memberikan batasan dan penjelasan mengenai
variabel yang digunakan dalam penelitian. Operasional variabel yang
digunakan dalam penelitian ini adalah advertensi jasa akuntan publik yaitu
jasa yang diberikan oleh akuntan publik melalui media iklan. Advertensi jasa
akuntan publik yang baik yaitu tidak palsu, tidak menyesatkan, dan dapat
diterima atau diperkenankan dalam profesi akuntan. Advertensi merupakan
suatu investasi yang dianggap sangat menguntungkan (Shimp, 2000).
Instrumen pengukuran variabel akuntan publik dikembangkan oleh
James H. Sellers dan Paul J. Solomon (1978), dan pernah digunakan oleh
46
Sutiani (2008). Variabel yang diteliti adalah advertensi jasa akuntan publik.
Variabel ini akan diukur dengan menggunakan skala interval 5 poin, mulai
dengan skor terendah angka 1 (satu) dan tertinggi 5 (lima). Untuk jawabannya
yaitu sangat tidak setuju (STS) = skor 1, tidak setuju (TS) = skor 2, ragu-ragu
(N) = skor 3, setuju (S) = skor 4, dan sangat setuju (SS) = skor 5. variabel
yang digunakan untuk mengukur responden para akuntan publik dan
pengguna jasa akuntan publik terhadap advertensi jasa akuntan publik.
Variabel penelitian ini dijabarkan dalam tabel 3.1:
Table 3.1 Operasional Variabel Penelitian
Variabel
Sub
Variabel
Image
Advertensi Profesi
Jasa
Akuntan
Publik
Kualitas
Jasa
No
1
2
3
4
5
Harga Jasa
6
Indikator
Skala
Image profesi akuntan
publik akan rusak oleh
advertensi jasa akuntan
publik yang
bertanggungjawab
Advertensi jasa akuntan
publik akan meningkatkan
kualitas pelayanan jasa oleh
akuntan di masyarakat
Advertensi jasa akuntan
publik akan meningkatkan
kualitas jasa akuntansi dan
audit
Advertensi jasa akuntan
publik akan meningkatkan
kualitas jasa
profesionalisme antar
akuntan
Advertensi jasa akuntan
publik dapat menurunkan
kualitas pelayanan jasa oleh
akuntan publik di
masyarakat
Harga jasa ditanggung oleh
komsumen akan mengalami
penurunan jika suatu KAP
Interval
47
Variabel
Sub
Variabel
No
7
8
Kesadaran
Konsumen
9
10
Ukuran
KAP
11
12
Persaingan
antar KAP
13
14
Intervensi
Pemerintah
15
Indikator
melakukan advertensi
Advertensi jasa akuntan
publik menyebabkan harga
jasa yang akan ditanggung
pengguna jasa akuntan
publik
Harga jasa ditanggung oleh
konsumen akan mengalami
peningkatan jika suatu KAP
melakukan advertensi
Pengguna jasa akuntan
publik akan lebih
mengetahui ketersediaan
jasa-jasa akuntan publik
yang ditawarkan oleh KAP
jika KAP beriklan
Advertensi jasa akuntan
publik memberikan
informasi KAP lebih
transparan dan obyektif
KAP kecil akan merasakan
manfaat yang lebih besar
dengan advertensi jasa
akuntan publik
dibandingkan dengan KAP
besar
KAP besar akan merasakan
manfaat yang lebih besar
dengan advertensi jasa
akuntan publik
dibandingkan dengan KAP
kecil
Advertensi jasa akuntan
publik akan menimbulkan
persaingan yang tidak sehat
Advertensi jasa akuntan
publik akan menimbulkan
persaingan yang sehat dan
bertanggung jawab
Dengan diizinkannya
advertensi jasa akuntan
publik, memungkinkan
intervensi pemerintah dalam
profesi akuntan dapat
48
Skala
Variabel
Sub
Variabel
No
Indikator
meningkat
16
Media
Advertensi
17
18
Jenis Jasa
yang
Ditawarkan
19
20
21
22
Intervensi pemerintah dalam
profesi akuntan tidak akan
meningkat meskipun
advertensi diizinkan
Media advertensi yang
sesuai dengan advertensi
jasa akuntan publik ialah
melalui majalah
professional
Media advertensi yang
sesuai dengan advertensi
jasa akuntan publik ialah
melalui surat kabar, TV, dan
internet
Jasa konsultan manajemen
banyak diminati oleh
pengguna jasa akuntan
publik dapat memberikan
kebijakan mengenai suatu
perusahaan
Pengguna jasa akuntan
publik banyak
menggunakan jasa akuntan
publik untuk jasa kompilasi
laporan keuangan
Jasa konsultan perpajakan
banyak diminati oleh
pengguna jasa akuntan
publik karena dapat
memberikan masukan
mengenai perpajakan pada
suatu perusahaan
Jasa audit banyak diminati
oleh pengguna jasa akuntan
publik karena dapat
memberikan hasil laporan
audit secara objektif dan
bertanggung jawab
49
Skala
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Objek Penelitian
1. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di empat Kantor Akuntan Publik dan lima
belas pengguna jasa akuntan publik. Pengguna jasa akuntan publik terdiri
dari dua kelompok. Kelompok pertama adalah perusahaan dan kelompok
kedua adalah bank yang terdiri dari 10 di perusahaan dan 4 di bank yang
ada di wilayah jakarta dan sekitarnya.
Pengumpulan data dilaksanakan melalui penyebaran kuesioner
penelitian secara langsung maupun melalui perantara kepada responden.
Pernyebaran kuesioner dilaksanakan selama bulan April 2010 yang berada
di DKI Jakarta.
2. Karakteristik Responden
Berikut ini disajikan karakteristik responden sebagai berikut:
Tabel 4.1
Data Sampel Penelitian
No
1
Keterangan
Akuntan
Publik
%
30
30
Jumlah kuesioner
100
Pengguna
jasa
Akuntan
Publik
60
%
100
100
60
100
yang disebarkan
2
Kuesioner yang bisa
diolah
Sumber: data primer yang telah diolah.
50
Kuesioner dibagikan berjumlah 90 buah dengan tingkat proporsi
pembagian sebagai berikut:
a. Akuntan Publik
Jumlah keseluruhan kuesioner yang disebarkan adalah sebanyak 30
kuesioner dan jumlah kuesioner yang kembali adalah 30 kuesioner atau
100% (lihat tabel 4.1).
b. Pengguna Jasa Akuntan Publik
Jumlah kuesioner yang disebarkan adalah 60 buah kuesioner dimana
30 buah ke perusahaan dan 30 buah ke bank
dan yang kembali
berjumlah 60 buah atau 100%. (lihat tabel 4.1).
Tabel 4.2
Karakteristik Responden Akuntan Publik
No
Keterangan
Jumlah
%
1.
Jenis Kelamin
a. Laki – laki
16
60
b. Perempuan
14
40
Sumber: data primer yang telah diolah.
Karakteristik responden akuntan publik dijelaskan dalam tabel 4.2.
Dalam tabel 4.2 terlihat bahwa jumlah kuesioner yang kembali sebanyak
30 buah, terdiri dari responden laki–laki sebanyak 16 orang dan responden
perempuan sebanyak 14 orang atau dalam prosentase 60% untuk
responden laki–laki dan 40% untuk responden perempuan.
51
Tabel 4.3
Karakteristik Responden Pengguna Jasa Akuntan Publik
No
Keterangan
1
Perusahaan
2
Jumlah
Persentase (%)
a. Laki-laki
15
50
b. Perempuan
15
50
a. Laki-laki
13
30
b. Perempuan
17
70
Bank
Sumber: data primer yang telah diolah
Pada tabel 4.3 disajikan karakteristik responden pengguna jasa
akuntan publik yang terdiri dari responden yang bekerja diperusahaan dan
responden yang bekerja di bank. Responden diperusahaan terdiri dari 15
orang laki–laki dan 15 orang perempuan atau 50% perempuan dan 50%
laki-laki. Sedangkan responden dibank terdiri dari 13 orang laki-laki dan
17 orang perempuan atau 30% laki-laki dan 70% perempuan.
52
B. Hasil Uji Instrumen Penelitian
1. Hasil Uji Validitas
Berikut ini disajikan tabel hasil uji validitas dengan menggunakan
korelasi.
Tabel 4.4
Hasil Uji Validitas
Corrected ItemTotal Correlation
Soal-1
Soal-2
Soal-3
Soal-4
Soal-5
Soal-6
Soal-7
Soal-8
Soal-9
Soal-10
Soal-11
Soal-12
Soal-13
Soal-14
Soal-15
Soal-16
Soal-17
Soal-18
Soal-19
Soal-19
Soal-20
Soal-21
Soal-22
Sumber: data primer
.265
.570
.577
.265
.349
.277
.530
.487
.360
.622
.438
.458
.476
.569
.636
.458
.600
.535
.587
.587
.542
.617
.499
Cronbach's
Alpha if Item
Deleted
.895
.886
.886
.888
.892
.893
.887
.888
.891
.885
.889
.889
.889
.886
.884
.890
.885
.887
.886
.886
.887
.885
.888
keterangan
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan korelasi yaitu
membandingkan nilai r hitung dengan nilai r tabel dimana nilai r tabel
adalah 0,175. Suatu kuesioner dikatakan valid jika nilai Corrected Item-
53
Total Correlation lebih besar dari 0,175. Tabel 4.4 menunjukkan semua
item pertanyaan kuesioner dikatakan valid karena nilai dari Corrected
Item-Total Correlation lebih besar dari 0,175.
2. Hasil Uji Reabilitas
Pada tabel 4.5 berikut ini disajikan hasil uji reabilitas data dengan
menggunakan One Shot.
Tabel 4.5
Hasil Uji Reabilitas
Cronbach's Alpha
Cronbach's Alpha Based
on Standardized Items
N of Items
.893
22
.893
Sumber: data primer
Tabel 4.5 menunjukkan nilai croanbach’s alpha atas variabel
advertensi sebesar 0,893 sehingga dapat disimpulkan bahwa pernyataan
dalam kuesioner ini reliabel karena mempunyai nilai croanbach’s alpha
lebih besar dari 0,6.
3. Hasil Uji Asumsi Klasik
Sebelum data yang diperoleh diolah untuk dianalisis lebih lanjut,
maka terlebih dahulu dilakukan uji normalitas. Pada tabel 4.6 berikut ini
disajikan hasil uji asumsi klasik dengan dengan menggunaka Zskewness
dan Zkurtosis.
54
Tabel 4.6
Hasil Uji Asumsi Klasik
Descriptive Statistics
N
Skewness
Kurtosis
Statistic Statistic Std. Error Statistic Std. Error
Unstandardized
Residual
Valid N (listwise)
Sumber: Data primer
91
.056
.253
-1.242
.500
91
Dari nilai Zkewness dan kurtosis ini dapat dihitung nilai Zskewness
dan Zkurtosis sebagai berikut.
Zskewness =
0.056
6 / 91
= 0.218089
Zkurtosis =
1.242
24 / 91
= 2.418448
Berdasarkan hasil perhitungan Zskewness dan Zkurtosis pada tabel
4.6 dapat diketahui nilai Zskewness jauh dibawah nilai tabel sebesar 1,96
sedangkan nilai Zkurtosis diatas 1,96 jauh diatas nilai tabel. Karena nilai
Zskewnes data dibawah nilai tabel maka data tidak terdistribusi secara
normal. Oleh karena itu data akan diperbaiki dengan pengujian yang lain
dengan menggunakan uji statistik non-parametrik kolmogorov-smirnov
(K-S) pada tabel 4.7 sebagai berikut.
55
Tabel 4.7
Hasil Uji Statistik Non-Parametrik Kolmogorov-Smirnov
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized
Residual
N
91
Normal Parametersa
Mean
Std. Deviation
Most Extreme Differences
.0000000
28.56604935
Absolute
.119
Positive
.074
Negative
-.119
1.137
Asymp. Sig. (2-tailed)
.151
a. Test distribution is Normal.
Berdasarkan hasil pengujian non parametrik kolmogrov-smirnov
pada tabel 4.7 dapat diketahui besarnya nilai kolmogrov-smirnov adalah
1.137 dan signifikan pada 0,151 (lebih dari 0,05), hal ini berarti data
terdistribusi secara normal.
4. Hasil Uji Hipotesis
Dalam pengujian hipotesis ini menggunakan anova. Uji hipotesis
dilakukan dengan menguji setiap butir pertanyaan yang telah dilakukan
dalam uji validitas, reabilitas, dan uji asumsi klasik. Untuk mengetahui
hasil dari penelitian ini maka setiap variabel dikelompokkan pada tabel
4.8.
56
Tabel 4.8
Hasil Uji Anova
Univariate Analysis of Variance
Between-Subjects Factor
Responden
Akuntan Publik
Perusahaan
Bank
N
30
30
30
Dalam tabel 4.8 menjelaskan responden adalah variabel independen
sedangkan N adalah jumlah kuesioner yang di sebar. Adapun untuk
mengetahui tingkatan responden dari akuntan publik, perusahaan dan bank
dapat dilihat pada tabel 4.1. Setelah penggolongan dilakukan maka untuk
selanjutnya adalah pengujian levene’s test of equality of error variance
dimana hasil pengujiannya dapat dilihat seperti tabel 4.8 sebagai berikut:
Tabel 4.9
Hasil Uji Anova
Levene's Test of Equality of Error Variances
F
2.705
Sumber: Data primer
df1
2
df2
87
Sig.
.073
Pada tabel 4.8 hasil uji levene test menunjukan bahwa nilai F test
sebesar 2.705 dan probabilitas sebesar 0,073 yang berarti tidak signifikan
pada 0,05. Oleh karena hasil pengujian levene test menunjukkan tidak
signifikan pada 0,05 berarti hipotesis nol yang menyatakan variance sama
tidak dapat ditolak. Apabila nilai signifikan kurang dari 0,05 maka
hipotesis nol dapat diterima. Oleh karena pengujian levene’s ini dapat
57
diterima maka dapat dilanjutkan pada pengujian test of between seperti
tabel 4.10 di bawah ini.
Tabel 4.10
Hasil Uji Anova
Hasil Uji Tests of Between-Subjects Effects
Source
Type III Sum
of Squares
df
Mean
Square
F
Corrected
3968.689(a)
2
1984.344
24.527
Model
Intercept
542113.611
1 542113.611 6700.653
VAR00002
3968.689
2
1984.344
24.527
Error
7038.700 87
80.905
Total
553121.000 90
Corrected Total
11007.389 89
R Squared = .361 (Adjusted R Squared = .346)
Sig.
.000
.000
.000
Berdasarkan tabel 4.10 hasil output SPSS memberikan nilai F
hitung sebesar 6 700.653 untuk intercept dan signifikan pada 0.05 begitu
juga dengan variabel advertensi
dengan nilai F sebesar 24.527 dan
signifikan pada 0.05. Oleh karena variabel advertensi signifikan pada 0,05
maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan persepsi antara
akuntan publik dengan pengguna jasa akuntan publik terhadap advertensi
jasa akuntan publik. Besarnya nilai adjusted R squared 0,346 yang
mempunyai arti bahwa variabilitas advertensi jasa akuntan publik yang
dapat dijelaskan oleh variabilitas persepsi akuntan publik dan pengguna
jasa sebesar 34.6 %. Dari hasil pengujian
Tests of Between-Subjects
Effects dapat dilakukan pengujian Multiple Comparison yang hasilnya
dapat dilihat pada tabel 4.11 sebagai berikut.
58
Tabel 4.11
Hasil Uji Anova
Hasil Uji Multiple Comparisons
(I)
(J)
Mean
VAR0 VAR0 Difference
0002 0002
(I-J)
Lower
Bound
Tukey
1.00
HSD
2.00
3.00
1.00
3.00
3.00 1.00
2.00
Sumber: Data primer
2.00
Std.
Error
Upper
Bound
-1.9667 2.32242
-14.9667(*)
1.9667
-13.0000(*)
14.9667(*)
13.0000(*)
2.32242
2.32242
2.32242
2.32242
2.32242
Sig.
Lowe
r
Boun
d
.675
95% Confidence
Interval
Upper
Bound
-7.5044
Lower
Bound
3.5711
.000 -20.5044 -9.4289
.675 -3.5711 7.5044
.000 -18.5378 -7.4622
.000
9.4289 20.5044
.000
7.4622 18.5378
Berdasarkan tabel 4.11 dapat dijelaskan bahwa hasil uji
menjelaskan bahwa terdapat perbedaan persepsi antara akuntan publik
dengan pengguna jasa akuntan publik baik perusahaan maupun bank
terhadap advertensi jasa akuntan publik. Rata-rata perbedaan persepsi
terhadap advertensi jasa akuntan publik antara akuntan publik dengan
perusahaan sebesar 1,9967 dan secara statistik tidak signifikan dengan
p=0,675 (jauh diatas 0,05). Rata-rata perbedaan persepsi advertensi antara
akuntan publik dengan bank sebesar 14,9667 dan secara statistik signifikan
dengan p=0.000. Sedangkan rata-rata perbedaan persepsi advertensi antara
perusahaan dan bank sebesar 13.0000 dan secara statistik signifikan
dengan p=0.000. Dari hasil pengujian Multiple Comparisons dapat
dilakukan pengujian homogeneous yang hasilnya dapat dilihat pada tabel
4.12 yang ada di bawah ini.
59
Tabel 4. 12
Hasil Uji Anova
Hasil Uji Homogeneous
Responden
Tukey
HSD(a,b)
N
1
Akuntan Publik
Subset
2
30
Perusahaan
30
Bank
30
Sig.
The error term is Mean Square(Error) = 80.905.
1
71.9667
73.9333
.675
86.9333
1.000
a Uses Harmonic Mean Sample Size = 30.000.
b Alpha = 05.
Berdasarkan tabel 4.12 dapat dijelaskan bahwa nilai
rata-rata
persepsi advertensi untuk kategori akuntan public (71,9667) dan
perusahaan (73.9333) dengan nilai signifikansi sebesar 0,675 dan berada
pada satu subset. Hal ini berarti bahwa tidak terdapat perbedaan persepsi
antara akuntan publik dan perusahaan terhadap advertensi akuntan publik.
Subset dua dalam tabel 4.12 merupakan nilai rata-rata persepsi
untuk bank sebesar 86,9333 dengan signifikansi 1,000. Karena berada
dalam subset yang berbeda dengan persepsi akuntan publik dan
perusahaan, maka bisa disimpulkan bahwa terdapat perbedaan persepsi
antara bank dengan akuntan publik dan perusahaan.
C. Interpretasi
Hipotesis pertama menyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan
persepsi yang signifikan antara perusahaan dengan akuntan publik terhadap
60
advertensi jasa akuntan publik. Hasil penelitian ternyata mendukung hipotesis
tersebut. Hal ini bisa dilihat dalam tabel 4.12 yang menunjukkan bahwa
persepsi akuntan publik dengan persepsi perusahaan yang berada pada subset
yang sama. Penelitian ini mendukung penelitian sebelumnya oleh Sutiani
(2008). Dalam penelitian ini tidak ada perbedaan persepsi antara perusahaan
dengan akuntan publik karena antara perusahaan dengan akuntan publik
mempunyai pandangan yang sama mengenai advertensi jasa akuntan publik.
Hipotesis kedua menyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan persepsi
yang signifikan antara bank dengan akuntan publik terhadap advertensi jasa
akuntan publik. Hasil penelitian ternyata tidak mendukung hipotesis yang
diajukan. Hal ini berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara persepsi
bank dan akuntan publik dikarenakan antara akuntan publik dengan bank tidak
mempunyai persamaan pandangan mengenai advertensi jasa akuntan publik.
Hipotesis ketiga menyatakan bahwa Tidak terdapat perbedaan persepsi
yang signifikan antara perusahaan dengan bank terhadap advertensi jasa
akuntan publik. Hasil penelitian ternyata tidak mendukung hipotesis yang
diajukan. Hal ini berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara persepsi
perusahaan dan bank dikarenakan antara perusahaan dengan bank tidak
mempunyai persamaan pandangan mengenai advertensi jasa akuntan publik.
61
BAB V
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Berdasarkan pada data yang diperoleh maupun hasil analisis yang telah
dilakukan, maka dapat diambil kesimpulan mengenai analisis perbedaan
persepsi antara pengguna jasa akuntan publik dengan akuntan publik
terhadap advertensi jasa akuntan publik yaitu sebagai berikut:
1. Tidak terdapat perbedaan persepsi yang signifikan antara akuntan publik
dengan perusahaan terhadap advertensi jasa akuntan publik.
2. Terdapat perbedaan persepsi yang signifikan antara akuntan publik
dengan bank terhadap advertensi jasa akuntan publik.
3. Terdapat perbedaan persepsi yang signifikan antara perusahaan dengan
bank terhadap advertensi jasa akunta publik.
4. Advertensi dalam kantor akuntan publik diperbolehkan menurut aturan
etika profesi nomor 502 sepanjang tidak merendahkan etika profesi.
5. Iklan yang tidak diperbolehkan menurut aturan etika profesi nomor 502
bagi sebuah kantor akuntan publik adalah:
a. Seorang akuntan publik memberikan janji yang muluk- muluk
b. Menggambarkan
seolah-olah
dapat
mempengaruhi
keputusan
penjabat pengadilan, instansi pengatur, atau badan instansi lain yang
serupa.
62
c. Memberikan pernyataan yang tidak didukung oleh fakta yang dapat
dibuktikan kebenarannya.
d. Membuat perbandingan dengan akuntan lainnya yang tidak
didasarkan pada fakta yang dapat diverifikasi.
e. Membuat pernyataan bahwa jasa profesional spesifik sedang atau
akan diberikan dengan upah tertentu,
dan calon klien tidak di
beritahu mengenai kemungkinan ini.
f. Membuat pernyataan yang dapat mengakibatkan orang lain tertipu
atau salah menafsirkan.
g. Menawarkan jasa secara tertulis, kecuali atas permintaan calon klien
yang bersangkutan.
h. Memiliki staf pemasaran yang khusus mencari klien secara door to
door.
B.
Implikasi
1. Hasil pengujian hipotesis menyatakan bahwa hipotesis nol diterima dan
ditolak, yang berarti tidak terdapat perbedaan persepsi yang signifikan
antara
akuntan
publik
dengan
pengguna
jasa
akuntan
publik
(perusahaam) terhadap advertensi jasa akuntan publik dan terdapat
perbedaan persepsi yang signifikan antara akuntan publik dengan
pengguna jasa akuntan publik (bank) terhadap advertensi jasa akuntan
publik. Hal ini berarti persepsi antara akuntan publik dan pengguna jasa
akuntan publik terdapat dua jawaban yang pertama ditolak (bank), dan
63
diterima (perusahaan). Persepsi
ini terletak pada pandangan serta
penilaian mereka terhadap image profesi, kualitas jasa, harga jasa
kesadaran komsumen, ukuran KAP, persaingan antar KAP, intervensi
pemerintah, media advertensi dan jenis jasa yang ditawarkan.
2. Setiap akuntan publik berkewajiban untuk mematuhi kode etik dalam
setiap tindakan akuntan publik berdasarkan prinsip yang mengaturnya,
prinsip tersebut adalah Integritas, Objektivitas, Kompetensi serta sikap
kecermatan dan kehati-hatian profesional (professional competence and
due care), Kerahasiaan, Prilaku profesional.
3. Akuntan publik dan pengguna jasa akuntan publik berpendapat bahwa
jenis jasa yang ditawarkan akuntan yang pantas dalam melakukan
program periklanan, dan media yang pantas untuk advertensi ialah
majalah professional. Hal ini karena melihat dukungan yang positif
akuntan publik dan pengguna jasa akuntan publik sehingga akuntan
publik dapat segera melakukan advertensi dengan berpegang pada etika
bisnis, sehingga konsumen dan calon konsumen dapat mengetahui secara
lebih detail jenis jasa yang ditawarkan KAP dan menggunakan jasa
pemasaran untuk menjadi media yang menyediakan informasi bagi calon
klien sehingga advertensi akan menjadi efektif.
4. Tidak ada larangan bagi kantor akuntan publik dalam beriklan selama
iklan tersebut sesuai dengan aturan etika Ikatan Akuntan Publik
Indonesia.
64
C.
Saran
1. Bagi kantor akuntan publik sebelum melakukan periklanan sebaiknya
selalu berpedoman pada aturan etika No. 502 yang diberlakukan pada
tahun 2011 mendatang. Dengan melihat dukungan persepsi akuntan publik
sendiri dan pengguna jasa akuntan publik. Pelaksanaan advertensi perlu
pertimbangan kualitas jasa, jenis jasa dan media advertensi yang sesuai.
2. Dalam melakukan advertensi, sebaiknya akuntan publik selalu berpegang
pada etika profesi agar kekhawatiran akan segala dampak negatif
advertensi bisa dihindari.
3. Untuk mengurangi berbagai dampak negatif advertensi dalam melakukan
iklan sebaiknya KAP berpedoman pada aturan etika IAPI Nomor 502
Tahun 2008 yang diberlakukan Tahun 2011 mendatang. Aturan mengenai
periklanan bagi kantor akuntan publik yang terbaru belum dikeluarkan
oleh dewan standar Ikatan Akuntan Publik Indonesia. Hasil penelitian ini
dapat menjadi salah satu acuannya.
4. Dengan adanya pemberlakuan iklan bagi akuntan publik, pengguna jasa
akuntan publik dapat mencari kantor akuntan publik yang sesuai dengan
kriteria pengguna jasa akuntan publik selama kantor akuntan publik
tersebut tidak menyalahi kode etik akuntan publik.
65
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Hamid, “Panduan Penulisan Skripsi”, Cetakan I, Grafika Karya Utama,
Jakarta, 2005.
Agoes, Sukirno, “Auditing (Pemeriksaan Akuntansi Oleh Kantor Akuntan
Publk)”, Edisi Ketiga, Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas
Indonesia, Jakarta,2004.
Allen, Paul W, dan Denny R. Arnold, “How To Developmen an Advertising
Program for Accounting Practece”, Dalam The Journal, April 1991 PP.
32-35.
Arens, Alvin dan James K. Loebbecke, “Auditing An Integral Approach”, New
Jersey, Prectice-Hall Inc 5th edition, 1995.
Charmichel, Douglas R, John J, Wilindham dan Carol A, Schaller, “Auditing
Concering Advertising”, The CPA Journal, April 1990 PP.96-99.
Darling, John L, “Attitude Toward Advertising By Accountants. The Journal of
Accountancy. February 1977:48-53.
Sari, Dewi Purnama,” Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perusahaan Dalam
Memilih Kantor Akuntan Publik,” Skripsi Fakultas Ekonomi Universitas
Widyatama, 2005.
Ghozali, Imam, “Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS, Badan
Penerbit Universitas Diponegoro”, Semarang, 2005.
Gibson, James L, John M, Ivancevich dan James H. Donelly, Jr, “Organization
Behavior, Structure, Process” , Boston, Irwin, 9th edition, 2001.
Hardi, 03-01-2010, ”Penundaan Berlakunya Kode Etik Akuntan Publik,” Melalui
http://.www html, diakses 05-02-2010.
66
Hair, Joseph F Jr, Ralph E Anderson, Ronald L Tatham dan William C Black,
“Multivariate Data Analisis”, Prentice Hall International Inc, 5th ed, 1998.
Heischmidt, Kenneth. A dan John Elfink. “The Changing Attitudes Toward
Advertising”. Jounal of Advertising, June 1991 :73-80.
Hite, Robert. E. dan Cynthia Fraser. Meta-Analysis of Attitudes Toward
Advertising by Professionals. Jounal of Marketing. Vol-52 July 1998 : 95105.
Husaini usman, ”Pengantar Statistik”, PT Bumi Aksara Jakarta, 2006.
Internasional Federation Of Accounting (IFAC), “Code of Ethics For Professional
Accountants”, 2000.
Indra Wijaya Kusuma, “Behevioral Reseach In Accounting (BRIA)”, Jurnal Bisnis
dan Akuntansi, Vol. 5, No. 2, Agustus 2003:147-166.
Iskak, Jamaludin, ”Larangan Iklan dalam Aturan Etika Profesi”, Media
Akuntansi, No. 11 / Th.VII/Juli 2000:8-11
Institut Akuntan Publik Indonesia,” Kode Etik Akuntan Publik”, Salemba Empat,
Jakarta, 2008.
Jaguar Eko Prasetio, “Persepsi Perusahaan Asing dan Perusahaan Dalam Negeri
yang tidak Go Publik”, JAAI, Vol 5/Juni 2001:39-54.
Koko Nakula Djatikusumo, “Upaya Meningkatkan Kualitas Jasa Firma Akuntan
Publik”, Edisi No. 40, Media Akuntansi, 2002:2-13.
Laudan, David L dan Albert J. Delle Bitta, “Consumer Behavior”, New York
Mcgraw Hill Inc, 1993.
67
Marts, John A. “Honeycutt, Jr., Earl D, dan Kenan, Jane A, “How CPA Firm
Market Their Servicer”. The Journal Of Accountancy. February 1989, PP.
111-113.
Masli, RTS, “Sudah Waktunya Larangan Iklan Dihilangkan”, Media Akuntansi,
No 9/T VII/ Mei 2000 : 36.
Nur Indriantoro, “Metodologi Penelitian Bisnis”, Cetakan 2, BPFE Yogyakarta,
2002:97-107.
Prabowo, Tommy, “Akuntan Beriklan, Efektifkah?”, Media Akuntansi, No.
17/April-Mei, 2001:44.
Payamta, “Sikap Akuntan Publik Terhadap Advertensi Akuntan Publik”, SNA 5,
September 2000 PP. 544-599.
Rilis Perss 17-06-2009, “Delapan Auditor Terkena Sangsi Pembekuan”, Melalui
http://.www html, Diakses 07-01-2010.
Scriffman, Leon G dan Leslie Lazar Kanuk, “Consumern Behavior”, New
Jwersey, Prentice – Hall Inc., 7 th edition, 2000.
Sekaran, Uma “Research Methods for Businessi A Skill-Building Approach”
(edition, John Wiley dan Sons, Inc., New York, 1992),,2nd.
James H dan Paul J. Solomon, “CPA Advertising, Opinion of the Profession”,
The Journal of Accountancy, February 1978 ,70-76.
Shim, 22-04-2008, “Manajemen Promsi”, Melalui http://.www html diakses
07-01-2010.
Stevwn, Robert E, David L, Loudon, C William McConkey dan Paul Dunn,
“Accountans dan Advertising”, The National Publik Accountant,
September 1992, PP 46-51.
68
Singgih Santoso, “Menguasai Statistik di Era Informasi dengan SPSS 14”, PT
Gramedia, Jakarta, 2006.
Suliyanto, “Analisis Data Dalam Aplikasi Pemasaran”, Galia Indonesia, 2005.
Sutiani, “Perbedaan sikap akuntan publik dan pengguna jasa akuntan publik
terhadap advertensi jasa akuntan publik”, Skripsi FEIS Uin Syarif
Hhidayatullah, Jakarta, 2008.
Tour Indonesia Cultur, 01- 05-2008, ”Pengertian Persepsi”, Melalui http://.www
html, diakses 03-01-2010.
69
DATA NAMA RESPONDEN
Nama Kantor Akuntan Publik
Drs. Rasin, Ichwan dan Rekan
Alamat
Gd. Jaya Lt 5. Jl. M. H. Thamrin No.
12 Jakpus 10340.
Riza Wahono dan Rekan
Jl. Anggrek Raya No. 9 Jakarta Barat
Muhammad Sofyan dan Rekan
Jl. Bintaro Utama 3A Rukan Viktorian
Blok BB9.
Usman dan Rekan
Jl. Panjang Kebayoran Lama Jakarta
Selatan
DATA NAMA RESPONDEN
Nama Bank
Muamalat Indonesia
Alamat
Jl. Insinyur Juanda Masjid Fatullah
No. 95 Ciputat
Ekonmi
Komplek Rukan Bintaro 3 Jl. Bintaro
Utama Sektor 3 Tangerang 15223
Bukopin
Jl. Mandar Raya Sektor 3A No. 18
Rukan Bintaro Tangerang
Bni
Rukan Bintaro Sektor III A. Blok D
No. 40
70
DATA NAMA RESPONDEN
Nama Perusahaan
Rio dan Associates Advocated dan
Legal Consultants
Alamat
Wisma Tamara 6 F1., Rm 603 Jl.
Jenderal Sudirman Kav. 24 Jakarta
12920
PT. Popy Darsono
Jl. Mayestik Raya No. 478 Jakarta
Selatan
PT. BA-ABB
Jl. Salemba Raya Gd. Kenari Baru
Jakarta Pusat
Pos dan Giro
PT. Djamaludin dan Ass
Jl. Pasar Baru No. 34 Jakarta Pusat
Jl. Kramat Pulo Dalam 1 Senen
Jakarta Pusat
PT. Multi Pulung dan Appolo
Jl. Srengseng Raya No. 9A Jakarta
Barat
PT. Bintang Abadi Jaya
Jl. Salemba Raya Gd. Kenari Lama
Blok Atas
PT. Maestro
Jl. Salemba Raya Gd. Kenari Lama
Blok Atas
PT. Panel Abadi
Jl. Salemba Raya Gd. Kenari Lama
Blok Atas
Badan Meteologi Klimatologi dan
Geofisika
Jl. H. Abdul Gani No. 05, Kampung
Bulak Cempaka Putih Ciputat
71
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
FAKULTAS EKONOMI DAN ILMU SOSIAL
JURUSAN AKUNTANSI
PENGANTAR
Dalam rangka penyelesaian tugas akhir sebagai mahasiswa Program Strata
Satu Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, saya:
Nama
: Rochmawati
Nim
: 206082004005
Fak/Jur
: Ekonomi dan Ilmu Sosial/Akuntansi
Bermaksud melakukan penelitian ilmiah untuk menyusun skripsi dengan
judul analisis perbedaan persepsi antara pengguna jasa akuntan publik dengan
akuntan publik terhadap advertensi jasa akuntan publik. Sehubungan dengan hal
tersebut saya sangat mengharapkan kesediaan bapak/ibu/saudara untuk meluangkan
waktunya sejenak untuk mengisi beberapa pertanyaan pada kuesioner ini.
Data yang diperoleh hanya akan digunakan untuk kepentingan penelitian
dan tidak untuk digunakan sebagai penilaian kinerja ditempat bapak/ibu/saudara
bekerja, sehingga saya akan menjaga kerahasiaan sesuai dengan etika penelitian.
Peneliti sangat mengharapkan kepada semua pihak yang
terpilih sebagai
responden dalam penelitian ini dapat bekerja sama dalam memberikan informasi
serta jawaban atas pertanyaan secara benar, jujur, dan objektif. Tidak ada jawaban
yang salah atau benar dalam pilihan anda, karena tujuan kuesioner ini adalah
untuk
meminta
persepsi/pendapat
anda.
Terima
kasih
atas
kesediaan
bapak/ibu/saudara meluangkan waktu untuk mengisi kuesioner guna membantu
kelancaran penelitian ini.
Jakarta, 30 Maret 2010
Pembimbing I
Dr. Amilin, SE, Ak.,Msi
Pembimbing II
Drs. Abdul Hamid Cebba, Ak, CPA
72
Peneliti
Rochmawati
CARA PENGISIAN KUESIONER
Saudara cukup memberikan tanda silang (X) pada pilihan jawaban yang
tersedia (rentan angka 1 sampai 5) sesuai dengan pendapat saudara. Setiap
pertanyaan mengharapkan hanya satu jawaban dan bila memilih jawaban 'lainlain' maka diharapkan untuk memberikan keterangan lebih lanjut. Setiap jawaban
akan mewakili tingkat kesesuaian dengan pendapat saudara:
1 = sangat tidak setuju (STS)
2 = tidak setuju (TS)
3 = netral (N)
4 = setuju (S)
5 = sangat setuju (SS)
Untuk angka yang tidak ada pilihanya, Saudara diminta untuk menjawab
pertanyaan sesuai dengan kondisi yang dialami pada pekerjaan ini.
73
IDENTITAS RESPONDEN
1. Nama KAP
:……………….
2. Nama Responden
:……………….
3. Usia Responden
:
20-30 Tahun
31-40 Tahun
> 40 tahun
4. Jenis Kelamin
:
Laki-Laki
Perempuan
5. Jenjang Pendidikan :
D3
SI
S2
S3
6. Jabatan dalam KAP :…………………
7. Lama bekerja diKAP :
< 5 Tahun
> 5 Tahun
74
IDENTITAS RESPONDEN
1. Nama Perusahaan
: ……………………...
2. Nama Responden
: ………………………
3. Usia Responden
:
20-30 Tahun
31-40 Tahun
> 40 tahun
4. Jenis Kelamin
:
Laki-Laki
Perempuan
5. Jenjang Pendidikan
:
D3
SI
S2
S3
6. Jabatan dalam Perusahaan
: ..................................
7. Lama kerja diperusahaan
:
< 5 Tahun
> 5 Tahun
75
IDENTITAS RESPONDEN
1. Nama Bank
: ……………………...
2. Nama Responden
: ………………………
3. Usia Responden
:
20-30 Tahun
31-40 Tahun
> 40 tahun
4. Jenis Kelamin
:
Laki-Laki
Perempuan
5. Jenjang Pendidikan
:
D3
SI
S2
S3
6. Jabatan dalam Bank
: ..................................
7. Lama kerja dalam Bank
:
< 5 Tahun
> 5 Tahun
76
DATA KUESIONER
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
Pertanyaan
Image Profesi
Apakah image profesi akuntan publik akan
rusak oleh advertensi jasa akuntan publik yang
bertanggung jawab
Kualitas Jasa
Apakah advertensi jasa akuntan publik akan
meningkatkan kualitas pelayanan jasa oleh
akuntan dimasyarakat
Apakah advertensi jasa akuntan publik akan
meningkatkan kualitas jasa akuntansi dan audit
Apakah advertensi jasa akuntan publik akan
meningkatkan kualitas jasa profesionalisme
antar akuntan
Apakah advertensi jasa akuntan publik dapat
menurunkan kualitas pelayanan jasa oleh
akuntan publik dimasyarakat
Harga Jasa
Apakah harga jasa ditanggung oleh komsumen
akan mengalami penurunan jika suatu KAP
melakukan advertensi
Apakah advertensi jasa akuntan publik
menyebabkan harga jasa yang akan ditanggung
pengguna jasa akuntan publik
Apakah harga jasa ditanggung oleh komsumen
akan mengalami peningkatan jika suatu KAP
melakukan Advertensi
Kesadaran Konsumen
Apakah pengguna jasa akuntan publik akan
lebih mengetahui ketersediaan jasa-jasa akuntan
publik yang ditawarkan oleh KAP jika KAP
beriklan
Apakah advertensi jasa akuntan publik
memberikan informasi KAP lebih transparan
dan obyektif
Ukuran KAP
Apakah KAP kecil akan merasakan manfaat
yang lebih besar dengan advertensi jasa akuntan
publik dibandingkan dengan KAP besar
Apakah KAP besar akan merasakan manfaat
yang lebih besar dengan advertensi jasa akuntan
publik dibandingkan dengan KAP kecil
77
STS TS
N
S
SS
No Pertanyaan
Persaingan antar KAP
13 Apakah advertensi jasa akuntan publik akan
menimbulkan persaingan yang tidak sehat
14 Apakah advertensi jasa akuntan publik akan
menimbulkan persaingan yang sehat dan
bertanggung jawab
Intervensi Pemerintah
15 Apakah dengan diizinkannya advertensi jasa
akuntan publik, memungkinkan intervensi
pemerintah dalam profesi akuntan dapat
meningkat
16 Apakah intervensi pemerintah dalam profesi
akuntan tidak akan meningkat meskipun
advertensi diizinkan
Media Advertensi
17 Apakah media advertensi yang sesuai dengan
advertensi jasa akuntan publik ialah melalui
majalah professional
18 Apakah media advertensi yang sesuai dengan
advertensi jasa akuntan publik ialah melalui
surat kabar, TV, dan internet
Jenis Jasa yang ditawarkan
19 Apakah jasa konsultan manajemen banyak
diminati oleh pengguna jasa akuntan publik
dapat memberikan kebijakan mengenai suatu
perusahaan
20 Apakah pengguna jasa akuntan publik banyak
menggunakan jasa akuntan publik untuk jasa
kompilasi laporan keuangan
21 Apakah jasa konsultan perpajakan banyak
diminati oleh pengguna jasa akuntan publik
karena dapat memberikan masukan mengenai
perpajakan pada suatu perusahaan
22 Apakah jasa audit banyak diminati oleh
pengguna jasa akuntan publik karena dapat
memberikan hasil laporan audit secara obyektif
dan bertanggung jawab
78
STS TS
N
S
SS
Hasil Uji Validitas
Scale
Mean if
Item
Deleted
VAR00001
VAR00002
VAR00003
VAR00004
VAR00005
VAR00006
VAR00007
VAR00008
VAR00009
VAR00010
VAR00011
VAR00012
VAR00013
VAR00014
VAR00015
VAR00016
VAR00017
VAR00018
VAR00019
VAR00020
VAR00021
VAR00022
74.7778
74.0667
74.0556
73.9778
74.6333
74.6667
74.2778
74.1778
73.5778
73.8889
74.0556
74.1444
74.6444
73.9222
74.2222
74.1556
73.8333
73.8333
73.7444
73.7778
73.7889
73.6111
Scale
Variance if
Item
Deleted
Corrected
Item-Total
Correlation
116.961
111.658
111.873
113.101
116.212
117.730
113.731
113.519
117.483
111.246
114.165
113.496
111.333
112.095
109.343
114.043
111.691
112.230
112.192
113.478
111.427
112.870
.265
.570
.577
.477
.349
.277
.530
.487
.360
.622
.438
.458
.476
.569
.636
.437
.600
.535
.587
.542
.617
.499
Squared
Cronba
Multiple
ch's
Correlation Alpha if
Item
Deleted
.322
.895
.716
.886
.736
.886
.559
.888
.312
.892
.395
.893
.664
.887
.578
.888
.366
.891
.704
.885
.523
.889
.461
.889
.540
.889
.754
.886
.665
.884
.472
.890
.541
.885
.536
.887
.703
.886
.620
.887
.615
.885
.530
.888
Hasil Uji Reabilitas
Cronbach's
Alpha
Cronbach's N of Items
Alpha
Based on
Standardize
d Items
.893
.893
22
79
Hasil Uji Asumsi Klasik
Descriptive Statistics
N
Skewness
Statistic Statistic
Unstandardized
Residual
91
Valid N (listwise)
91
Kurtosis
Std.
Error
.056
Statistic
.253
Std. Error
-1.242
.500
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized Residual
N
91
Normal Parametersa
Mean
.0000000
Std. Deviation
Most Extreme Differences
28.56604935
Absolute
.119
Positive
.074
Negative
-.119
1.137
Asymp. Sig. (2-tailed)
.151
a. Test distribution is Normal.
Hasil Uji Hipotesis
Between-Subjects Factors
N
VAR00002 1.00
30
2.00
30
3.00
30
80
Levene's Test of Equality of Error Variances(a)
F
df1
df2
Sig.
2.705
2
87 .073
Tests of Between-Subjects Effects
Type III
df
Mean
Sum of
Square
Squares
Source
Corrected
Model
Intercept
3968.689(a)
2
1984.344
542113.611
1 542113.611
VAR00002
3968.689
2
1984.344
Error
7038.700
87
80.905
Total
553121.000
90
Corrected Total
11007.389
89
a R Squared = .361 (Adjusted R Squared = .346)
F
24.527
6700.65
3
24.527
Sig.
.000
.000
.000
Multiple Comparisons
(I)
VAR0
0002
Tukey
HSD
1.00
2.00
3.00
Bonfer 1.00
roni
2.00
3.00
(J)
VAR0
0002
2.00
Mean
Difference
(I-J)
Std.
Error
Sig.
Lower
Bound
Upper
Bound
Lower
Bound
95% Confidence
Interval
Upper
Bound
Lower
Bound
-1.9667
2.32242
.675
-7.5044
3.5711
3.00
1.00
3.00
1.00
2.00
2.00
-14.9667(*)
1.9667
-13.0000(*)
14.9667(*)
13.0000(*)
2.32242
2.32242
2.32242
2.32242
2.32242
.000 -20.5044
.675 -3.5711
.000 -18.5378
.000
9.4289
.000
7.4622
-9.4289
7.5044
-7.4622
20.5044
18.5378
-1.9667
2.32242
1.000
-7.6360
3.7027
3.00
1.00
3.00
1.00
2.00
-14.9667(*)
1.9667
-13.0000(*)
14.9667(*)
13.0000(*)
2.32242
2.32242
2.32242
2.32242
2.32242
.000 -20.6360
1.000 -3.7027
.000 -18.6694
.000
9.2973
.000
7.3306
-9.2973
7.6360
-7.3306
20.6360
18.6694
81
Multiple Comparisons
Homogeneous Subset
VAR00002
N
1
Tukey
1.00
HSD(a,b)
2.00
3.00
Sig.
Subset
2
30
71.9667
30
30
73.9333
.675
82
1
86.9333
1.000
Download