Untitled

advertisement
BLOK
GASTROINTESTINAL


Enterotoxigenic E. coli (ETEC)
penyebab diare pada bayi, traveler's diarrhea
Pd dewasa sembuh sendiri 1-3 hari
MIKROBIOLOGI





Escherichia coli

mempunyai faktor kolonisasi pd epitel usus halus 
gen faktor kolonisasi terkait plasmid





-


Enteropathogenic E. coli (EPEC)
Penyebab diare (cair) pada bayi dan anak di negara
berkembang  self-limited atau kronis
Faktor virulensi : Bfp (bundle-forming pili), intimin &
TIR (translocated intimin receptor)  attachment pd
sel epitel usus halus  perusakan microvillus
-
-





Enterohemorrhagic E. coli (EHEC)
Menghasilkan Verotoksin menyerupai toksin Shiga
(dr shigella)
Setelah attachment dg mukosa usus besar 
produksi toksin efek pd epithelium usus  diare
Penyebab kolitis hemoragik dan hemolytic uremic
syndrome (HUS)  reseptor verotoksin terdapat di
renal epithelium  gagal ginjal akut
Isolat tersering E. coli O157:H7 dan O26 (O, Ag pada
lipopolisakarida. H, Ag pada flagel), sorbitol (-)
Sumber penularan daging giling, susu
Flora normal
Batang, gram(-)
Pada endo (kemampuan meragi
lactose): kilat logam
Virulensi: pili
Manifestasi klinis:
Septisemia: asal infeksi adalah
infeksi saluran kemih atau
penjalaran kuman dari usus
Infeksi saluran kemih: penyebab
80% kasus; kuman hemolisin (+),
tahan serum, faktor virulensi pili P
Meningitis pada neonatus: E. coli
K1
Gastroenteritis (Diare) karena E.
coli





Enteroinvasive E. coli (EIEC)
Diare pd daerah dg tingkat hygiene ↓, pd anak
malnutrisi
Penyebab diare serupa dengan shigellosis, epitel
mukosa kolon rusak
Diare berdarah akut disertai : malaise, nyeri kepala,
demam ↑ & nyeri abdomen
Laktosa (-), tes Sereny (+), leukosit pd feses
Patogenesis:
E.coli menempel pada brush border → masuk kedalam
sel epitel usus halus secara endositosis → melisis
vakuola dan berkembang biak → menginvasai sel-sel
epitel lain → kerusakan jaringan → inflamasi, nekrosis,
Enteroaggregative E. coli (EAEC)
Kuman mampu menempel pada biakan sel dan
membentuk agregat (stacked brick) plasmidassociated fimbriae
Penyebab diare akut / kronis pada anak, diare tanpa
darah & tidak menginvasi mukosa
Memproduksi toksin  LT  hemolisin
Diffuse-aggregative E. coli (DAEC)
Menghasilkan alpha hemolysin & cytotoxic necrotizing
factor 1
Diare pada anak
RANGKUMAN BLOK GIT | SITI FARHANAH AULIA
1
Salmonella
Morfologi




Batang, gram (-), gerak (+), anaerob fakultatif
Tidak meragi laktosa, sukrosa
Menghasilkan H2S
Tahan suhu pembekuan

Hospes


Manusia: S. Typhi, S. paratyphy ABC
Babi: S. cholera-suis



Antigen:
Somatic (O) → heat stabile (tahan panas) & resisten alcohol
Surface (K) → Vi antigen → factor virulensi
Flagel (H) → protein heat labile → S. enterica serovans (c:
enteriditis, typhi) → peritrich flagel
Sapi  S. dublin
Domba  S. abortus suis
6
9
Dosis infektif S. typhii: 10 -10
Salmonellosis








Enterokolitis
Masa inkubasi: 12-36 jam
Bakteri invasi mukosa usus & multiplikasi
Dapat melewati mukosa ke sal. Limf / Peredaran darah → sistemik
Demam, nyeri abdomen, kram, diare
1jt salmonella/ 1gr feses
Mortalitas <1% banyak di bayi dan manula
Sembuh bbrp hari (tp bbrp masih ada di feses selama 6 bulan)
Kontaminasi: daging, telur, reptile (kura2), ungags, telur tidak/kurang matang




Onset: 6-48jam
Muntah, sakit perut, diare, demam
Durasi: 2 hari- 1minggu sembuh spontan
P. lab:
feses (+) salmonella
isolasi bakteri: Gaal kultur
serologi: tes widal (hanya utk demam enteric)
pathogenesis
S. entereditis
↓ sitotoksin (invasi mukosa)
Nempel di epitel ileum
↓
Penetrasi dalam sel & migrasi ke lamina propia pd ileocaecal
↓
Berkembang biak pada folikel limfoid
↓
Hyperplasia & hipertrofi retikuloendotelial
↓
PMN, infeksi hanya di GIT
↓
Respons inflamasi
↓
PG terlepas → cAMP ↑ → sekresi cairan>>→ DIARE
Pathogenesis
Salmonella masuk
Penetrasi
Ke jaringan
Difagosit oleh makrofag
dan neutrofil
Multiplikasi di dlm sel usus
Sekresi air dan
elektrolit>>
diare
Ke peredaran darah

terapi:
demam enteric dan bakterimia → antibiotic: kloramfenikol, ampisilin,
thrimetropim, sulfametoxazol, sefalosporin,
enterokolitis: diare berat (ganti cairan dan elektrolit), Antibiotik akan
memperpanjang gejala klinis dan lamanya ekskresi kuman
carier: kholisistektomi & antibiotic
RANGKUMAN BLOK GIT | SITI FARHANAH AULIA
2
Shigella
Morfologi
Penyakit








Batang, Gram (-), gerak (-), kapsul (-)
Anaerob fakultatif
Tidak meragi laktosa, kecuali S. sonnei
Shigellosis
Transmisi: fecal-oral route
1-2
Dosis infeksi: sangat infeksius: Shigella: 10
Masa inkubasi: 1-7 hari
Gejala dapat muncul 12 jam setelah ingesti
Vibrio
 gram negative
 Batang bengkok










Antigen
 Komplex
 Ag O → membagi shigella menjadi 40 serotype

Virulensi
 Endotoxin → semua shigella memiliki krn gram (-)
 Exotoxin → hanya di miliki oleh S. dysentriae yaitu SHIGA TOXIN
Shiga toxin: meningkatkan sekresi air dan mempengaruhi SSP
Sehingga exotoxin sangat antigenic
Tertelan lalu masuk ke GI track
↓
Berkembang dalam lumen usus
↓
Menempel dan menginvasi sel mukosa (Sifatnya invasive dan
inflamatorik)
↓
Lamina propia → peradangan dan perdarahan → Diare berdarah
↓
Mikroabses dan thrombosis kapiler
↓
Nekrosis jaringan
↓
Ulkus
 nyeri perut
 Demam
 Tenesmus


Pathogenesis
Manifestasi Klinis
Kolera: V. Cholera
Infeksi kulit pada luka terbuka: V. fulnificus, byk dikaitkan pd imunosupersif
Infeksi yang dikaitkan dengan kontaminasi raw seafood: V. parahemolyticus
Masa Inkubasi: rata-rata: 12-24 jam
Durasi:1 sd 7 hari
8
Dosis infeksi besar : 10 karena akan mati olh Hcl
Penularan dari manusia ke manusia: jarang
Faktor resiko: sanitasi yang buruk
Faktor resiko terbanyak: kontaminasi air dan makanan , dapat juga melalui
“seafood” mentah
Infeksi terjadi, apabila mikroorganisme mampu melewati pertahanan asam
lambung (alkaline loving)
Ag O membagi v.cholera menjadi 2 serotype:
O1, yang dibagi menjadi classic dan el tor. O1 lebih banyak
menyebabkan epidemik
O139
O1 dan O139 Menghasilkan toxin
Non O1 dan O139 tdk menghasilkan toxin
Toxin kolera menyebabkan sel mukosa hipersekresi air dan elektrolit
↓
Kehilangan air yang banyak → dehidrasi
*non invasive dan non inflammatory*
 diare: air cucian beras krn mengandung elektrolit
RANGKUMAN BLOK GIT | SITI FARHANAH AULIA
3
Diagnosis
Imunitas
Terapi
Komplikasi
 Diare (cair)  berlanjut dengan diare disertai darah & lendir serta
tenesmus
 Durasi 4 hari, bisa 10 hari / lebih
 Berat  S. dysenteriae; paling ringan  S. sonnei
 Bacteremia : 4% ,Reactive arthritis 1-2%
 S. dysenteriae dihubungkan dgn HUS
 Antimotility drugs dihubungkan dengan toxic megacolon
 self-limited disease
Kultur dan Identifikasi:
 Bahan pemeriksaan: feses
 Media Thiosulfate citrate bile salts sucrose (TCBS)
 Pemeriksaan langsung  adanya sel radang
Kalau (+) : warna jadi kuning (v. cholera) kalau ttp hijau
 Diagnosa laboratorium  isolasi bakteri penyebab
(parahemolyticus)
 Sesudah infeksi dapat dideteksi antibodi
 Ig A mungkin dapat mencegah infeksi ulang
 Individu yg pernah menderita shigellosis, dapat terinfeksi kembali oleh
Shigella type lain
 Ringan  tidak perlu antibiotic
 Ringan: tdk perlu antibiotic
 Berat  antibiotik, terutama pada usia muda dan lansia
 Berat: dehidrasi, butuh antibiotic
 Beri cairan
 Shigella flexneri: dapat berlanjut menjadi “Reiter's syndrome” yang
ditandai dengan nyeri persendian, iritasi pada mata, nyeri berkemih 
dapat berlanjut menjadi arthritis kronik
 S. dysenteriae type 1: dapat berlanjut menjadi Hemolytic uremic
syndrome (HUS), yang ditandai dengan diare yang berat, nyeri perut,
muntah dan urine bercampur darah. Hal ini dihubungkan dengan efek
dari Shiga toxin.
RANGKUMAN BLOK GIT | SITI FARHANAH AULIA
4
VIRUS DIARE
ROTAVIRUS
 Penyebab penting gastroenteritis akut pada bayi, anak pra
sekolah, dewasa
 Double stranded RNA virus
 Menyebabkan diare jg pd mamalia, dan burung
 Menyebabkan penyakit disemua usia tp gejala yg parah byk
pd nenonatus dan anak kecil
 Infeksi asimptomatik biasa di dewasa dan anak yg lbh besar
 Infeksi simtomatik biasa di org >60
 Mortality rate di anak dgn malnutrisi
 Banyak terjadi saat dingin
 Inkubasi 24-48jam diikuti dengan gejala muntah dan diare
dan demam rendah
 Diagnosis dengan mikros electron atau dengan deteksi
rotavirus di feses menggunakan ELISA atau assay
 Vaksin tersedia utk anak
SIFAT VIRUS
 Virion: icosahedral, kapsomer, berkulit tunggal
 Genom: Ds RNA, linier, 11 segmen
 Protein: 9 protein structural,core berisi bbrp enzim
 Envelope: tidak ada tp punya pseudoenvelope, tdp
selama morfogenesis partikel
 Replikasi: sitoplasma
 Ciri khas: penyusunan genetic terjadi mudah penyebab
utama diare pada bayi
STRUKTUR ANTIGEN  Struktur protein luar (pseudomembran)
VP4→viral hemaglutinin, bs menghemaglutinasi sdm
VP7→ antigen subgroup
 Inner core:
VP6→ Antigen subgroup, antigen determinant penting
VP1,2,3
 Grup A-F
D,E,F → tdk ditemukan pada manusia
A→ diare ringan pd anak dan dewasa
B → dichina, diare pd anak, diare ringan pd dws
 15 serotipe
6 berdasarkan AB thd VP& (P tipe)
9 berdasarkan VP4 (G tipe)
 9 serotipe rotavirus manusia
 5 serotipe rotavirus hewan
 Rotavirus grup A→ gastroenteritis pd manusia
PATOGENESIS
 Resiko infeksi:
Anak usia 3 tahun, maks umur 6-48bulan
Sering pd anak usia 5bulan → penurunan imunitas didapat dari
ibu
Ditemukan pd petugas militer, pekerja medis, sebabkan
“travelers diarrhea”
Tidak terjadi reinfeksi pada anak dan dws
Penularan antar manusia→ fecal oral, makanan, muntahan, air
 virus→ villi usus(VP4)→ replikasi pada sitoplasma sel usus, masuk
dengan cara endositosis (merusak mekanisme transport) → NSP4
(enterotoksin , merangsang sekresi) → virus + sel usus yang rusak
masuk lumen usus → feses
 eksresi virus berakhir 2-12 hari → sehat bila nutrisi baik
 diare (3-8minggy) → kelemahan asborbsi natrium dan glukosa akibat
kerusakan villi usus
GEJALA KLINIS




bayi dan anak→ demam, muntah, diare, dehidrasi
diare cair tanpa darah dan lender
kasus berat → gejala neurologi
pada anak dgn immunodefisiensi → berminggu-bulan
DIAGNOSIS




Identifikasi virus: feses/rectal swab
ELISA
Latex agglutination
Polyacrylamide gel electrophoresis → grup A/ non grup A
RANGKUMAN BLOK GIT | SITI FARHANAH AULIA
5
TERAPI
 Deteksi: ELISA, Immunoflourescent
 Mengganti cairan dan eletrolit yang hilang → cegah
dehidrasi
 Asi → pada bayi →24 jam stlh onset
 Makanan bergizi→ laktosa bebas KH→ 24 jam setelah
onset
 Minuman rendah sodium, omol tinggi
 Jangan jus buah dan softdrink
 Antivirus

PENCEGAHAN







Cegah infeksi fecal oral
Bayi→ eksresi virus pada feses 4-7hari stlh onset
Penderita dgn gangguan imun: 30hari atau lbh
Hyigiene perawatan bayi
Virus tahan pd permukaan tangan, air, terkontaminasi selama
beberapa hari
Resisten desinfektan biasa, diinaktif dgn klorin
Cuci tangan, sebelum dan sesudah tangani pasien dan bayi
RANGKUMAN BLOK GIT | SITI FARHANAH AULIA
6
INFEKSI NON DIARE
Morfologi
Transmisi
Virulensi
Pathogenesis
Manifestasi
Helicobacter pylori
Spiral, lekukan hanya 1-3
Panjang 0.5 ×5 μm
5-7 flagel diujung, bergerak seperti corkscrew
o
Inkubasi 3-6 hari di suhu 37 C
pH optimum 6-7
termasuk mikroaerofilik organisme: membutuhkan sedikit oksigen
oxidase (+) katalase (+)
menghasilkan urease
menyebabkan akut dan kronik gastritis
merupakan predisposes ulkus peptikum, kanker gaster, dan MALT
lymphoma
 fecal oral: dari feses ke mulut
 gastric oral: pada petugas kesehatan setelah melakukan endoskopi
 oral-oral: muntahan pasien, pengunaan alat makan
 perantara air: air yang terkontaminasi bakteri dari feses
 zoonosis
 kolonisasi: flagella, urease, adhesin
 merusak jaringan: proteolitik enzim, sitotoksin, urease, phospholipase
A, alcohol dehidrogenase
 pertahanan: intrasel survailens, superoxide dismutase, catalase,
membentuk cocoid form (dorman/ tahan lama di tubuh)
helicobacter menghasilkan urease dimana urease mengubah urea
menjadi karbondioksida dan ammonia
↓
Akibatnya kondisi disekitarnya menjadi netral
↓
Bisa bertahan di pH lambung yang rendah dan berkembang biak di gaster
↓
Melekat di sel epitel dengan adhesion \
↓
Setelah melekat dia menghasilkan sitotoksin menyebabkan lisis sel epitel
lambung










Leptospirosis (weil disease)
 hospes reservoir: tikus
 2 tipe berdasarkan antigen
- L. interrogans sensu lato (>240 serovar, 24 serogroups)
- L. biflexa sensu lato (>60 serovars)
 Spiral, lekukan banyak
 Panjang: 0.1 x 6-20 m
 Bergerak
 Mempunyai 2 aksial filament di ujungnya seperti kait
o
 Obligat aerob, pertumbuhan lambat. Suhu optimum 30 C
 Dinding sel bakteri gram (-), tapi sangat tipis jadi bila diwarnai kurang terlihat
nyata jadi menggunakan mikroskop lapang gelap. Kalai diwarnai pake silver
 indirect: melalui perantara lingkungan seperti melalui urin tikus
 direct: dari binatang yg terinfeksi lalu kontak dengan manusia, biasanya
masuk melalui luka

Belum jelas kenapa bisa sampai menimbulkan gejala multisystem, tp diduga
karena factor virulensi yaitu hemolysin, Lig A, Lig B, LPS
Apabila tidak diatasi:
Akan menjadi kronik aktif gastritis→ atrofi gaster → achlorgia
(ketidakseimbangan pH di dalam gaster → intestinal metaplasia
(pertumbuhan sel yang abnormal → dysplasia → kanker gaster
 sakit perut bagian atas
 mual muntah, sendawa sering, kembung
RANGKUMAN BLOK GIT | SITI FARHANAH AULIA
7
 kehilangan nafsu makan, perut cepat penuh
 kehiangan BB
 kasus yang parah menyebabkan perdarahan
 Anikterik leptospirosis
Septisemik stage
3-7 hari demam
Imun stage
Setelah satu minggu terbentuk
AB, leptospira dibersihkan dari
darah sehingga demam turun.
Gejala:
Meningitis, uvelitis, rash,
demam
Gejala:
Myalgia, sakit kepala, nyeri
perut, muntah, conjunctiva
suffusion, demam
 Ikterik leptospirosis
Peralihan antara tahap septisemik dan imun tidak terlihat karena tidak terlihat
penurunan demam, yang berarti didalam tubuh sangat sedikit membentuk AB
Imunitas
Diagnosis
 Menyebabkan hemorrhage (perdarahan di paru), jaundice, gagal ginjal,
myocarditis
Bisa menyebabkan autoimun dengan cara beradaptasi dengan 
lingkungannya,
 Pada pH 7 → menghasilkan lewis Ag sehingga tubuh
mengeluarkan Ab anti-lewis yang bisa memicu kerusakan
jaringan dan menginduksi auto reaktif T cell → AUTO IMUN
 Pada pH 5 → menghasilkan complex O-chain membentuk
lewis antigen X dan Y kemudian muncul → menyerupai
mukosa gaster manusia → h. pylori menjadi invisible dan
meyebabkan autoreaktif t cell → AUTOIMUN
 Pada pH 4 → menghasilkan urease mengubah urea menjadi
karbondioksida dan ammonia, dimana ammonia bersifat
toxic bagi epitel sel sehingga menyebabkan lisisnya epitel sel
→ lesi mukosa → AUTOIMUN
sample
 Non invasive test
Urea breath test
 Darah: pada satu minggu pertama, setelah satu minggu leptospira didarah
Stool antigen
sudah ke ginjal atau sudah dihilangkan AB
Serology (elisa), mengambil fase akut dan konvalesen untuk  Serum: melihat titer AB pada fase akut dan konvalesen
melihat titel Ab kalau ada kelainan titel 4x→ infeksi
 Urin: setelah 5 hari
 Endoskopik based test
 Postmortem: organ dari org yang meninggal krn leptospira di kultut
Rapid urease test: (+) merah (-) kuning
 CSF: setelah 5 hari munculnya gejala
Histologi
Kultur: agara brucella + 5% darah kuda atau BHI + 7% darah kuda
Cara pemeriksaan
diinkubasi dengan kondisi oksigen 5-10% atau Co2 5-12% 5-7 hari  Mendeteksi AB:
o
pada suhu 37 C
Microscopic Agglutination Test (MAT) (+): terlihat aglutinasi dibawah
mikroskop → gold standard
ELISA: melihat titer AB
IgM stick: pada awal infeksi, krn igM dibentuk pertama kali
RANGKUMAN BLOK GIT | SITI FARHANAH AULIA
8
Microcapsule Agglutination Test (MCAT) (+) aglutinasi
 Mendeteksi AG
Kultur, dari darah/urin di media EMJH or Korthof medium. Ini merupakan
definitive diagnosis tp masa inkubasi lama
PCR: sensitifitas tinggi
Loop-mediated isothermal amplification (LAMP)
Terapi
 Kombinasi antibiotic + inhibtor pompa proton
Contoh  amoksilin, metronidazol, omeprazol
Menurut WHO
1. Ada pertumbuhan pada kultur
 Kasus ringan: amoxicillin, ampicillin, doxycycline, eritromicin
 Kasus berat: penisilin iv, tp dapat menimbulkan rekasi Jarisch-Herxheimer
yaitu rx tubuh yg timbul krn obat
Pencegahan
1. Control pencegahan sumber infeksi: peningkatan kualitas lingkungan,
sanitasi
2. Rute Transmisi: memotong rute transmisi, menggunakan pelindung dr
bakteri pada saat banjir
3. Infeksi atau penyakit pada manusia: penyuluhan
RANGKUMAN BLOK GIT | SITI FARHANAH AULIA
9
Keracunan Makanan












Pendahuluan
Keracunan makanan (food poisoning) terjadi apabila seseorang mengkonsumsi
makanan yang terkontaminasi. Ini lebih tepat disebut food associated infection.
Keracunan makanan yang sebenarnya (true food poisoning) terjadi sesudah
mengkonsumsi makanan yang mengandung toksin yang berupa bahan kimia atau
toksin dari bakteri (preformed toxin); eg. S. aureus; Clostridium botulinum.
Perbedaan endotoxin dan exotoxin:
Endotoxin merupakan bagian dari LPS
Pada yang disebut food associated infection makanan bisa berfungsi sebagai:
Perantara untuk masuknya mikroba ke manusia
Tempat berkembang biaknya bakteri untuk mencapai jumlah yang cukup
(infective dose) sehingga bisa menyebabkan penyakit.
Umumnya penyakit sifatnya ringan, tapi dapat juga berat
Gejala: mual, muntah, diare, sakit perut yang terjadi cepat (dalam waktu 48 jam)
sesudah makan.
Investigasi kasus keracunan makanan
jumlah orang yang sakit
Gejala yang timbul (erat hubungannya dengan dugaan kuman etiologinya):
muntah; diare; pusing, sakit kepala dan gangguan pada sistem syaraf pusat.
Mengetahui/mencatat awal waktu mengkonsumsi makanan/minuman
tersangka, dan awal waktu timbulnya gejala/manifestasi sakit.
Pendataan semua jenis makanan yang dikonsumsi 24 jam sebelum gejala sakit
timbul, dan makanan yg dikonsumsi selama 4 hari sebelumnya
Staphylococcus aureus
Enterotoksin S. aureus:

8 macam toksin, yang teridentifikasi
adalah enterotoksin A – E
Enterotoksin A yang dikaitkan dengan
keracunan makanan
Sifat toxin: Termostabil, maka apabila
makanan dipanaskan bakterinya mati, tp
enterotoksinnya tetap hidup.
Bekerja pada SSP  muntah, pusat
muntah: medulla oblongata
Inkubasi 3 – 6 jam sesudah makan;
sembuh dalam waktu 24 jam
Makanan umumnya kadar garam tinggi,
daging, ikan, cream, saus
Clostridium botulinum
Eksotoksin menyebabkan botulisme:
Macam: Food-borne botulism,
Infant botulism, Wound botulism
Toxin bekerja pada motor end
plate→ lumpuh
Gejala berupa flaccid paralysis
(penglihatan ganda, kesulitan
bernafas) timbul sesudah 12 – 36
jam sesudah ingesti makanan.
Berlangsung 2 – 6 hari dan dapat
fatal kalau kena otot2 pernafasan
Kalau toxin sudah menempel pada
reseptor, anti toxin sudah tidak
bisa bekerja. Jadi kalau sudah ada
gejala dikasih anti toxin tidak byk





Pemeriksaan
1. Bahan pemeriksaan
 Bahan pemeriksaan dari pasien dan makanan tersangka:
Muntahan; feses; usap dubur (Bahan kontrol berasal dari orang yang tdk sakit)
Darah
Biopsi (kalau smp meninggal)
Sisa makanan dan minuman
 Bahan baku makanan, tempatnya (missal: bekas tmp insektisida)
 Sampel yang berasal dari food handler(orang yang mengelola makanan)
2. Penanganan sampel
 Menerapkan prinsip penangan sampel mikrobiologik untuk isolasi bakteri
 Yang harus diperhatikan:
Cara pengambilan: hindarkan kontaminasi dari luar
Wadah: steril tnp bahan pengawet
o
Transportasi bahan: sesegera mungkin, kalau jauh suhu harus 4 c menggunakan
termos.
Pelabelan
3. Pemeriksaan mikrobiolgi
 Metode pemeriksaan tergantung:
Informasi yang berasal dari klinisi
Data survailance
 Pemeriksaan:
Isolasi dan identifikasi mikroba
Total plate count: menghitung jumlah bakteri dari 1gr sampel berisi brp bakteri
Deteksi toksin, Uji toksisitas (mis. percobaan binatang)
Salmonella
Vibrio parahaemolyticus
Bukan s. typhi dan paratyphi
 Sumber adalah produk laut yang
terkontaminasi dan dimakan mentah
Makanan: daging, telur, ikan, makanan
dg protein tinggi
 Karna vibrio suka di kadar garam yang
tinggi
Gejala:
timbul 12 – 36 jam sesudah makan  Penyebab gastroenteritis acute, dengan
Berupa muntah dan diare
gejala sakit perut berat dan diare ringan
yang timbul 2 – 96 jam.
Sakit berlangsung 2 – 7 hari
Sumber kontaminasi feses manusia dan  Bakteri mati dengan suhu pemasakan
biasa
hewan
RANGKUMAN BLOK GIT | SITI FARHANAH AULIA
10










Clostridium perfringens
Strain C. perfringens menghasilkan
enterotoksin
Sel vegetative masuk ke traktus
digestivus, mengalami sporulasi dan
menghasilkan toksin
Enterotoksin menyebabkan hipersekresi
cairan jejunum dan ilium  diare tanpa
muntah
Gejala timbul 6 – 18 jam sesudah
makan.
Sakit berlangsung 1 – 2 hari
Terapi simtomatis





berfungsi
Menghasilkan 7 macam eksotoksin
harus dalam keadaan anaerob, yang
menyebabkan penyakit pada manusia
adalah A, B, E dan F.
Tahan terhadap enzim pencernaan
o
Toxin Rusak pada pemanasan 80 C,
selama 30 min
Makanan yang dikaitkan:
Makanan awetan dalam kaleng
Makanan yang terkontaminasi
spora bakteri
Bacilus cereus
Aerob gram (+), punya spora
Tumbuh pada suhu kamar
Diasosiasikan dengan makanan tinggi
karbohidrat (nasi goreng)  Chinese
restaurant syndrome
Ada 2 tipe:
Diare
Emetik
Diagnosis mikrobiologik bila ditemukan
bakteri sejumlah 100.000/gr sampel



Escherichia coli
E. coli dapat menyebabkan diare.
Sumber penularan makanan yang
terkontaminasi feses. Umumnya daging
dan produk pertenakan
ETEC; EPEC; EHEC; EIEC











Listeria monocytogenes
Sumber makanan: susu, keju, sayuran
(dipupuk dengan kotoran ternak)
Gol yang rentan adalah wanita hamil
muda bisa abortus, hamil tua lahir
normal tp bbrp hari timbul gejala; lansia
dan pasien yg daya kekebalannya
rendah.
Gejalanya bisa ringan sampai berat.
Penyimpanan makanan dalam suhu
dingin tidak menghambat pertumbuhan
bakterinya.
Morfologi: batang, Gram (+), gerak (+)
Kultur: agar Mueller-Hinton; fakultatif
anaerob
Penularan: Melalui makanan yang
terkontaminasi
Serotipe penting: IVb
Perinatal human listeriosis
(granulomatosis infantiseptica  infeksi
intra uterin
Eraly onset – intrauterin sepsis
Late onset – meningitis
Listeriosis dewasa:
Meningoensefalilis
Bakteremia
Terapi: ampisilin, eritromisin
RANGKUMAN BLOK GIT | SITI FARHANAH AULIA
11
HEPATITIS
Infeksi beberapa virus dapat menyebabkan peradangan pada hati, yang ditandai dengan gejala klinis:
 Asimptomatis
 Simtomatis: badan terasa lelah, demam, nyeri persendian, anoreksia, sakit kepala, gejala gastrointestinal seperti mual (nausea) dan muntah (vomiting), rasa tidak enak dan nyeri
pada perut, diare dan bisa diikuti jaundice yaitu fase kuning (ikterik) pada kulit, sclera, membran mukosa.
 Jika 6 bulan setelah infeksi tidak sembuh total→penyakit hepatitis beralih menjadi fase kronis (hepatitis kronis)
A
B
C
D
E
MORFOLOGI
 Merupakan virus RNA,  Merupakan factor utama  Flavivirus (+) stranded RNA
 Terdiri
dari
partikel  RNA virus tdk berenvelop
DAN
single stranded, polaritas
penyakit hati dan karsinoma  Mempunyai 6 genotypes
berdiameter
35nm  Positive
stranded
RNA
KOMPONEN
positif
hepatoseluler
dikelilingi oleh HBsAg
genom
 Genotip 1-4 prognosis buruk
VIRUS
 berat molekul 2,25-2,28x  Menunjukan 3 bentuk virus
dan respon thd interferon  Genom dari virus sangat  Sangat labil dan sensitive
106 dalton.
yang mengandung HBsAg yang
kecil dan terdiri dari single  Hanya bisa dikultur
terapi
berlainan (dgn mikro electron)
stranded RNA
 Simetris
ikosahedral,
bulat
pleomorfik
diameter 27-32 nm dan - Partikel
berdiameter 22nm
tidak mempunyai selubung.
Tubuler/filamentosa
Coinfection:
 Mempunyai
protein
berdiameter
22nm
dengan
Severe acute disease
termina VPg pada ujung 5’
panjang
dapat
lebih
200nm,
Kecil kemungkinan
dan poli (A) pada ujung 3’
dihasilkan
dari
produksi
HBsAg
mjd kronik
 Atas dasar sifat fisik dan
yang berlebihan
kimianya,
virus
ini
Superinfection
digolongkan
sebagai - Partikel dane.
Biasanya mjd HCV
 Envelope
mengandung
enterovirus 72, urutan
kronik
HBsAg.
nukleotida dan asam amino
Resiko tinggi menjadi
 nukleokapsid
yang
HAV cukup jelas untuk
penyakit hati kronik
mengandung HBcAg.
memasukkan
virus ini
Biasanya
hepatitis
menjadi genus pikornavirus
 Partikel dane dapat rusak
akut
yang
baru
yaitu
oleh deterjen non ionic
Heparnavirus
untuk melepaskan core
yang mengandung genom
 Lemak bersifat stabil jika
ds DNA, suatu antigen
diberi perlakuan dengan
o
terlarut (HBeAg) dapat
eter, asam dan panas (60 C
dilepas dari core melalui
selama
1
jam).
perlakuan deterjen kuat.
Infektivitasnya
dapat
bertahan paling sedikit 1  Double strain DNA virus
bulan setelah dikeringkan  Replikasi melibatkan enzim
dan disimpan pada suhu
reverse transcriptase
o
25 C dengan kelembaban  4 phenotypes dari HBsAg
relatif 42% atau selama
(permukaan): adw, adr, ayw,
bertahun-tahun pada suhu
ayr
o
-20 C.
 HBcAg single serotype
 Virus
HAV
dapat  Virion dan HBsAg stabil pada
diinaktivasi dengan :
RANGKUMAN BLOK GIT | SITI FARHANAH AULIA
12
1.
SUMBER
CARA INFEKSI


TRANSMISI



o
Otoklaf (121 C selama
suhu -200C selama lebih dari
20 menit)
20 tahun dan stabil dalam
2. Sinar ultraviolet (1
pembekuan dan pencairan
menit pada 1,1 watt)
berulang-ulang.
3. Formalin
(1:4000  Virus stabil pada suhu 370C
wt/vol selama 3 hari
selama 60 menit dan tetap
pada 37oC).
viabel setelah dikeringkan dan
0
4. Klorine (10-15 ppm
disimpan pada suhu 25 C
selama 30 menit)
selama sekurangnya satu
5. Sodium
hipoklorit
minggu.
0,5% selama 15 menit 
6. 6. Pemanasan kering
selama lebih dari 6 jam, tetapi
(180oC selama 1 jam)
infektivitas HBV menjadi hilang
7. Pendidihan dalam air  HBsAg dan HBV tidak rusak thd
selama 5 menit
ultraviolet
Feses
 Darah/cairan tubuh
Fecal oral
 Perkutan
 Permukosa
Kontak secara langsung
 Sexual: pekerja sex dan
homosexual
Melalui makanan dan air

Parenteral: IVDA, petugas
Melalui suntikan
kesehatan,
tattoo,
body
piercing
 Perinatal: ibu dgn HBeAg (+)→
virusnya
aktif,
dapat
menularkan
HBV
pada
anaknya









Darah/cairan tubuh
Perkutan
Permukosa
Transfuse atau transplantasi
dari donor yang terinfeksi
Pengguna obat suntik
Hemodialysis
Sexual atau penghuni rumah
yang kontak dgn org dgn antiHCV (+)
Sex bebas
Lahir dari ibu yang terinfeksi
HCV





Darah/cairan tubuh
Perkutan
Permukosa
Perkutan: suntik
Permukosa: sex
 Feses
 Fecal oral

REPLIKASI VIRUS:
 Virion HBV melekat pada
suatu
reseptor
di
perm.hepatosit.
HBsAg
melepaskan
selubungnya
didalam nucleus enzim seluler
yang tidak teridentifikasi
mengkonversi DNA untai
ganda parsial menajdi DNA
lingkaran kobalen terttp (ccc
DNA). ccc DNA berperan sbg
template.
 Suatu aktifitas RNase H dari
polymerase
memindahkan
RANGKUMAN BLOK GIT | SITI FARHANAH AULIA
13
MASA INKUBASI 

DIAGNOSIS

LABORATORIUM
Rata-rata 30 hari
Range 15-50 hari
Infeksi akut: menemukan
IgM-HAV diserum dengan
EIA
 Past infection: ditentukan
dengan mendeteksi IgGHAV
 Kultur
sel:
sulit
membutuhkan waktu 4
minggu,
tidak
rutin
dilakukan
 Deteksi langsung: EM, feses
RT-PCR. Dapat mendeteksi
penyakit
lbh
awal
dibanding
serologi
tp
jarang di lakukan
 Metode pilihan untuk
mengukur antibody HAV:
- Radioimunoasai: antigen
HAV ditemukan didalam
hati, feses, empedu,
dan darah
- ELISA
- Hemaglutinasi
perlekatan imun
 Titer
HAV
tertinggi
ditemukan pada tinja kirakira 1-2 minggu sebelum
ditemukan kelainan enzim
hati.
INFEKSI KRONIK  Tidak
KOMPLIKASI
 Fulminant hepatits
 Cholestatic hepatitis
 Relapsing Hepatitis
EPIDEMIOLOGI  Tidak ada factor resiko di
banyak kasus
 Banyak menyerang anak
usia 5-14 tahun
template RNA karena DNA
untai negative sdg disintesis
 Rata-rata 60-90 hari
 Range 45-180hari
 Konsentrasi virus hepatitis B:
- Tinggi: darah, serum, exudat
luka
- Moderat: semen, cairan
vagina, saliva
- Rendah:
urin,
feses,
keringat, airmata, asi
 HBsAg digunakan sebagai
marker infeksi
 HBsAb
digunakan
sbg
imunitas infeksi HBV
 Anti HBc IgM: marker infeksi
akut
 Anti HBc IgG: infeksi kronik
 HBeAg: indikasi replikasi virus
aktif dan infektif
 Anti Hbe: virus tidak lagi
replikasi. Meskipun pasien
masih positif HBsAg
 HBV DNA: indikasi replikasi
aktif, lebih akurat dari HBeAg.
Untuk memonitor terapi
 Rata rata 6-7minggu

 Range 2-26minggu
 HCV-Ab digunakan untuk 
mendiagnosis hepatitis C. tdk
berguna utk fase akut yang
membutuhkan
plg
tdk
4minggu
setelah
infeksi
sebelum antibody hilang
 HCV-RNA: PCR dan branched
DNA dapat digunakan utk
mendeteksi infeksi HCV di
fase akut. Tapi, biasa
digunakan utk monitoring
respon terapi antivirus
 HCV-Ag: EIA dan HCV antigen
digunakan sm sperti tes HCVRNA tp lbh mudah dibawa
 Viral load: pasien dgn viral
load yang tinggi memiliki
prognosis yang buruk. Viral
load dpt juga memonitor
respon thd IFN theraphy
 Rata-rata 40 hari
 Range 16-60hari

 Ya
 Sirosis hepatis
 Karsinoma hepar
 Ya

 Ya

 Tidak




 Meminum
air
yang
terkontaminasi
 Banyak pada ibu hamil
 Transmisi orang ke orang
RANGKUMAN BLOK GIT | SITI FARHANAH AULIA
14
PENCEGAHAN
 Meningkat pada: travelers,
homosexual,pengguna obat
suntik
 Pre-Exposure
 Vaksinasi:
untuk
pekerja  Screening
donor
Travelers yang mendatangi
medis, rutin untuk nenonatus
organ, dan jaringan
wilayah
dengan
HAV  Hepatitis B immunoglobulin:
endemic
untuk melindungi orang yg
 Post-exposure
terexpose
Hepatitis
B.
- Rutin: penghuni rumah
neonates yang ibunya HBsAg
dan yang kontak langsung
dan HBeAg (+)
- Kondisi tertentu: lembaga  Screening donor darah.
spt tempat penitipan anak
- Sumber
exposure:
makanan yang disiapkan
oleh org yg terinfeksi
darah,  HBV-HDV coinfection
 Hindari meninum air yang
Sebelum/sesudah
kontak
kemurniannya tdk jelas.
profikasis utk mencegah  Tidak
konsumsi
kerang
infeksi HBV
mentah, buah atau sayuran
 HBV-HDV superinfection
yang tdk dikupas atau yang
Edukasi utuk mengurangi
disiapkan oleh travelers
kontak dgn org yang  IG yang disiapkan dari donor
terinfeksi HBV kronil
di Negara western tidak
mencegah infeksi
 Khasiat IG dari donor di
endemic area tidak diketahui
RANGKUMAN BLOK GIT | SITI FARHANAH AULIA
15
PARASITOLOGI
NEMATODA USUS: STH dan Non-STH
Ascaris lumbricoides
PENYAKIT
Ascariasis
MORFOLOGI  Jantan: ekor melingkar
 Betina: ekor runcing
HABITAT
 Rongga Usus halus
BENTUK
 Telur matang
INFEKTIF
CARA INFEKSI  Tertelan telur matang
SIKLUS HIDUP
Necator americanus dan
Trichuris trichiura
Ancylostoma duodenale
Nekatoriasis dan Ankilostomiasis
Trikuriasis
 Necator:
punya
sepasang  Bentuk menyerupai cambuk
benda kitin , spt S
 Jantan: ekor lurus
 Ancylostoma: 2 psg gigi, spt C  Betina: ekor melingkar
Strongyloides stercoralis
Enterobius vermicularis
Strongilodiasis
enterobiasis atau oksiuriasis
 Yang parasite betinanya,  Bentuk seperti parutan
mempunyai
kemampuan
kelapa
parthenogenesis
 Tidak membutuhkan tanah
 rongga Usus halus, tetapi mulut  Caecum atau kolon asendens  Mukosa
menempel pada mukosa usu
jejunum
halus
duodenum
 Larva filariform
 Telur matang
 Larva Filariform
 Larva menembus kulit
 Tertelan telur matang
 Larva menembus kulit
dan  rongga caecum, usus besar
dan
usus
halus
yangberdekatan
dengan
rongga sekum (makanannya
isi usus
 Telur matang
Siklus tidak langsung: jika telur
jatuh pada tanah berpasir maka
dia akan menetas dan dewasa
ditanah dl baru cari hospes
 Tertelan telur matang
Telur matang tertelan
↓
Menetas diusus halus
↓
Larva turun kedaerah caecum
dan menjadi dewasa
↓
Kopulasi jantan dan betina
↓
Jantan mati, betina bertelur
di daerah perianal
↓
Dalam waktu 6 jam telur
menjadi matang
RANGKUMAN BLOK GIT | SITI FARHANAH AULIA
16
Siklus Autoinfeksi:
MANIFESTASI  larva
KLINIS
- pada saat berada di paru
- batuk, demam, eosinofilia
- rontgen → infiltrat yg
menghilang dlm 3minggu
- sindrom Loeffler




 cacing dewasa

 asimptomatik (85%)
 gangguan usus ringan
 derajat
berat
→ 
malabsorbsi, obstruksi usus
 saluran empedu, apendiks / 
bronkus →operatif
DIAGNOSIS
 Telur pd tinja

 Keadaan berat: cacing keluar 
lwt mulut
PENCEGAHAN  Cuci tangan sblm makan
Kalau ada obstipasi sekitar 3
hari
↓
Sehingga larva rabditiform yang
harusnya sudah keluar bersama
feses berubah menjadi larva
filariform
↓
Larva filariform menembus
dinding usus ikut peredaran
darah
↓
Reinfeksi → autoinfeksi
 creeping eruption: kelainan  pruritus ani (gatal pada
kulit akibat masuknya larva
daerah anus) karna gerakan
filarifom
cacing betina yang ke anus
bertelur. Dirasakan pada
 ringan→ asimptomatik
malam hari → gangguan
 sedang→ rasa sakit spt
tidur
tertusuk2 di epigastrium
tengah & tdk menjalar
 berat→ dpt ditemukan di
seluruh traktus digestivus dan
larva di berbagai alat dalam
(paru, hati, empedu)
 immunocompromised→
disseminated strongyloidiasis
larva
 larva
tdk
menimbulkan
manfestasi
perubahan kulit akibat larva
menembus kulit: ground itch  Dewasa: bagian anterior
menembus mukosa caecum
perubahan paru biasanya
dan kolon menyebabkan
ringan
perlukaan
shg
ada
oral penyakit wakana
perdarahan
dewasa→ anemia hipokrom  Kronis:
mikrositer (karena menghisap  sindrom disentri (diare
dengan darah, disertai
darah)
menesmus ani atau nyeri
gejala tgt : - spesies & jumlah
saat defekasi)
cacing

anemia
gizi penderita (Fe dan prot)
 penurunan BB
 Prolaps rectum (turun)
tinja segar →telur
 telur pada feses
 tinja segar: larva rabditiform
tinja lama→ larva rabditiform
 tina lama: larva filariform
 Memakai alas kaki
 Cuci tangan sebelum makan
 Mirip cacing tambang
 anal swab (pada bangun
tidur sebelum buang air)
karna telur tdk akan
ditemukan di feses

RANGKUMAN BLOK GIT | SITI FARHANAH AULIA
17
CESTODA USUS









cacing dewasa → saluran usus vertebrata
larva→ jaringan vertebrata dan invertrebrata
semua spesies bersifat parasite
memanjang menyerupai pita ( 3mm – 10 m), pipih dorsoventral
badan cacing dewasa terdiri atas :
1. skoleks (kepala) : alat untuk melekat, dilengkapi dengan batil isap atau dengan lekuk isap
dan rostellum (penonjolan)
2. leher : tempat pertumbuhan badan
3. strobila : rangkaian segmen/proglotid (imatur: tdk ditemukan alat kelamin, matur:
ditemukan ovarium, tetis dan gravid: ditemukan telur bisa lepas sendiri)
bersifat hermafrodit
tidak mempunyai saluran pencernaan
telur dilepaskan bersama proglotid/keluar sendiri melalui lubang uterus. Embrio dalam telur disebut onkosfer.
cara infeksi : menelan telur atau larva infektif
Diphyllobothrium latum
Taenia saginata
Penyakit
 Difilobotriasis
 Taeniasis saginata
 Hospes definitif : manusia
 Hospes definitif
: manusia
 Hospes reservoar : anjing, kucing, walrus, singa  Hospes perantara
: bovidae (sapi dan
laut, beruang, babi & serigala
kerbau)
Morfologi
 Cacing dewasa dlm tubuh bisa smp 10m
 cacing dewasa Panjang max: 12m
 Skolek: 2 lekuk isap
 skolek: 4 batil isap
 Lubang genital di bagian tengah
 rostelum tanpa kait
 proglotid gravis: persegi panjang
 percabangan uterus: 15-30cabang
Siklus hidup
Telur di feses
↓
Matang (berisi embrio) diair
↓
Menetas menjadi coracidia
↓
Coracidia dimakan oleh Cyclops atau diastomus (HP
1) akan berubah menjadi procercoid
Telur/proglotid di feses, proglotid bisa keluar
sendiri tanpa feses
↓
Jatuh ke rumput, rumput di makan sapi
↓
Menetas di sal. Cerna sapi larva menembus
dinding usus, ikut aliran darah dan limf masuk ke
semua jaringan paling sering di otot paha dan
Taenia solium
 Taeniasis solium (kalau ditemukan cacing dewasa)
dan sistiserkosis (kalau ditemukan larva)
 Hospes definitif : manusia
 Hospes perantara : manusia dan babi
 cacing dewasa panjang max 8m
 skolek: 4 batil isap
 rostelum tanpa kait
 proglotid gravis: segi empat
 percabangan uterus: 7-12cabang
telur/proglotid difeses
↓
jatuh ke rumput, dimakan babi
↓
Menetas di sal. Cerna babi larva menembus
dinding usus, ikut aliran darah dan limf masuk ke
semua jaringan paling sering di otot
↓
RANGKUMAN BLOK GIT | SITI FARHANAH AULIA
18
↓
HP 1 dimakan oleh HP 2 (ikan salem), di tubuh HP2
berubah menjadi plerocercoid
↓
Manusia makan ikan salem yang kurang matang
↓
Didalam usus halus menghasilkan larva, skoleknya
menempel di mukosa usus halus dan menghasilkan
strobili
↓
Cacing dewasa di rongga usus halus
Bentuk infektif
Cara infeksi:
Manifestasi klinis
 Plerocercoid
 Memakan ikan yang mengandung plerocercoid
yang dimasak tdk matang
punggung
↓
Diotot berubah menjadi sistiserkus bovis (cacing
gelembung)
↓
Daging sapi kurang matang dimakan oleh manusia
↓
Di usus halus sistiserkus pecah, kepala nya keluar
dan menempel di dinding usus halus dan menjadi
dewasa
 Sistiserkus bovis
 Memakan daging sapi mentah yang mengandung
sistiserkus bovis
 Akut: Tidak spesifik, mual muntah, nafsu makan  Ileus obstrutikus bila >1 cacing
turun, diare, obstipasi
 Keluar proglotid tanpa bareng feses
 Kronik: anemia hiperkrom makrositik karena
 Gejala GI track
cacing menyerap vit. B12, penurunan BB
Diotot berubah menjadi sistiserkus selulose
↓
Daging babi kurang matang dimakan oleh
manusia
↓
Di usus halus sistiserkus pecah, kepala nya
keluar dan menempel di dinding usus halus dan
menjadi dewasa
↓
Taeniasis solium





Diagnosis
Pencegahan
 Menemukan Telur / proglotid dalam tinja
 Memasak ikan sampai matang
 Telur/Proglotid di tinja, proglotid spontan
 Direndam laktofenol → hitung percabangan
uterus di proglotid
 Memasak danging sapi sampai matang




telur/proglotid difeses
↓
jatuh ke rumput, termakan oleh manusia
↓
Menetas di sal. Cerna manusia larva menembus
dinding usus, ikut aliran darah dan limf masuk ke
semua jaringan paling sering di otot
↓
Diotot berubah menjadi sistiserkus selulose
↓
sistiserkosis
Sistiserkus selulosa/telur
Taeniasis solium: memakan daging babi mentah
yang mengandung sistisekus bovis
Sistiserkosis: tertelan telur
taeniasis solium (gejala klinis ringan)
 nyeri ulu hati, mencret, mual, obstipasi dan
 sakit kepala
 ileus /obstruksi usus
 penurunan BB dan diare
sistiserkosis (tergantung organ yang dihinggapi da
intensitas infeksi)
 sistiserkosis cerebral
 sistiserkosis muscular
 sistiserkosis ocular
 sistiserkosis subcutaneous
taeniasis solium : menemukan telur & proglotid
sistiserkosis : biopsy, CT scan, serologi
bisa menderita dua2nya
RANGKUMAN BLOK GIT | SITI FARHANAH AULIA
19
Protozoa Usus
Entamoeba Histolytica
Protozologi



Siklus hidup
Hospes Definitif: manusia
Prevalensi tinggi di tropic dan subtropik, di Negara sosioekonomi rendah dan sanitasi buruk
Virulensi: enzim
 Gal lectin
 Cysteine proteinase
menginvasi mucus
 Amoebapores
Tertelan Kista matang (inti4)
Keluar bersama feses
duodenum
Inti 4 ( u/ diagnosis)
Ekskitasi, keluar jadi
`
Tropozoid, dan bermultiplikasi
ke kolon (dengan peristaltic)



Gejala klinis

Inkubasi: 2-4 minggu
>90% asimptomatik
Nyeri abdomen dan diare
berdarah & lendir





Diagnosis




Melekat pd perm.
Kriptus kolon
Perbanyak
diri
Melisis perm.
Epitel kolon
Jadi
ulkus
Membtk kista
inti 1→ inti 2
Intestinal amebiasis:
 Extra intestinal amebiasis:
 Akut: 1 bulan, disentri amebik dgn frekuensi, urgensi, feses
 1-3 bulan setelah onset (5%intestinal menjadi extraintestinal)
berdarah sedikit, tenesmus
 Trofozoid masuk aliran darah dan menyebar ke bagian tubuh
lain
 Kronik: >1bulan, diare & konstipasi lemas, BBturun
Ciri ulkus: seperti botol, bawahnya lebar
 Paling sering: liver (amebic liver abscess = ALA) → disertai
(menggaung). Karena trofozoid ada di
demam, nyeri perut kanan, hepatomegali biasanya tidak ada
dinding dan dasar ulkus sehingga melisis
diare
terus menerus ulkus melebar
 Pembentukan amebama:
Ulkus bersatu → jadi sinus → jadi perforasi →
 Reaksi granulomatosa→ lesi pseudotumoral, nekrosis,
bisa jadi vistula
inflamasi, edema mukosa&submukosa kolon
Ulkus tersering di caecum, ileo caecal, recto sigmoid.
 Dapat obstruksi usus → striktur
Karena gerakan peristaltik melambat → penempelan tropozoid makin
besar
Komplikasi intestinal amebiasis:
 Menyebar melalui perkontinuitatum: vistula rectovagina, ulcer
perianal, peritonitis, syok, kematian
 Hematogen: extra intestinal amebiasis
Pada feses: trofozoid amoebic yang menelan eritrosit
Entamoeba Coli
Entamoeba Histolytica
Kista matang:
Inti banyak (>5), lebih Inti (>3), lebih kecil
Biopsi: identifikasi trofozoid di jaringan
besar
Deteksi kista
Kista
Inti bersebrangan
Inti berdampingan
Pemeriksaan penunjang:
 Kolonoskopi
RANGKUMAN BLOK GIT | SITI FARHANAH AULIA
20




Epidemiologi dan pencegahan

Aspirasi abses liver
USG
Serologi: titer AB tinggi → invasi amebiasis
Membedakan histolitika dan dispar:
 Pada isoenzim: hexokinase partikel
 Ag: epitop spesifik (dgn Ab monoklonal)
 DNA blotting: sequence differences in the rDNA
Epidemiologi:
- Transmisi dari makanan atau air yang terkontaminasi feses
- Silent carrier (ada di usus eksitasi kista, ≠ gejala) dan sumber
infeksi

Pencegahan:
- Minum air yang dimasak
- Cuci dan kupas buah dan sayur
- Lindungi makanan dari lalat
- Cuci tangan setelah BAB dan sebelum menyiapkan makanan
Giardia lamblia (giardiasis)
Morfologi


Siklus hidup
Pathogenesis dan gejala




Habitat: usus halus
Hospes definitive: manusia, kera, rodentia, anjing, kucing
2. Kista
- Oval 18-12 µ
- Dinding tipis dengan SP terpisah
- Inti 2-4
- Ada sisa makanan di median body
1. Trofozoid
- Seperti buah pear, anterior bulat
- Dorsal convex & sis ventral pipih dengan
diskus pengisab
- 12-15µ dengan 2 inti (mengandung
karyosome)
- 4 pasang flagel dari axonema
- Median body ditengah
- Flagel: 3 pasang, 2 atas, 2 tengah, 2
bawah
Tertelan Kista pada makanan dan minuman → trofozoid membelah secara longitudinal→ membentuk kista baru → trofozoid dan kista keluar
bersama feses
Orang terinfeksi dari menelan kista giardia dari makanan dan  Ringan: asimtomatik
minuman terkontaminasi
 Diarre dengan feses tipe steatorrheic (diare lemak)
Inkubasi 1-2minggu
 Kromp abdomen
≠ invasi ke jaringan
 Mual, muntah
Makan sekresi mucus
 Dehidrasi
 Kronik: malabsorbsi, kegagalan absorbsi, gangguan b12
RANGKUMAN BLOK GIT | SITI FARHANAH AULIA
21
Diagnosis


Trofozoid pada feses diare/aspirasi duodenal
Kista dibentul diurut
Morfologi




Hospes definitive: manusia, babi, monyet
Protozoa usus terbesar
60-70μ
Habitat: colon, >>caecum

Pewarnaan:
- Trichoine feses tidak begitu jelas
- Kultur terlihat jelas
Balantidium Coli (balantidosis/balantidiasis)

Trofozoid:

- Oval, ditutupi silia
- Sistostoma diujung anterior & sitopyge
dujung posterior
- Nucleus (makro: spt ginjal, mikro:
spherical)
- Reproduksi: pembelahan transversal &
konjugasisexual
Kista
- Spherical, ovoid, 60μ, makronukleus
jelas terlihat
- Pada feses: bertahan 1-2 hari suhu
ruangan
- Untuk pertahanan diri
Siklus hidup
Kista tertelan bersama makanan/
minuman yang terkontaminasi
Seksual = singami
Jadi trofozoid
Beberapa ada yang
invasi ke dinding kolon
Pathogenesis


Asexual= belah tranversal
Membentuk kista (hanya
sebagai pertahanan diri, ada
makro&mikronukleus
Cara infeksi: tertelan kista
Eksitasi: diduodenum dan biasanya tinggal di lumen host
RANGKUMAN BLOK GIT | SITI FARHANAH AULIA
22


Gejala, diagnosis, epid




Tropozoid dapat invasi mukosa caecum dan colon → ulcerasi
Tropozoid mensekresi hyaluronidase enzym: kolitis dengan banyak abses
Gejala:
Diagnosis
Ringan: asimtomatik
 Jika pasien bekerja dekat babi
Akut: disentri
 Trofozoid di tinja/biopsi
Kronik: diare+konstipasi
 Kista pada feses padat
Nyeri abdomen, mual, bb<<
Epidemiologi
 Zoonosis
 Dipengaruhi oleh sanitasi dan kebersihan
lingkungan
 Dapat
dicegah
dengan
meningkatkan
kebersihan, bab pada tempatmya
Coccodia
Cryptosporidium
Penyakit
Penyebaran geografi


Cyprtosporidiosis
kosmopolit


Hospes definitive
Prevalensi
Siklus hidup


manusia dan hewan
>>anak ; AIDS 12-48%
Ookista dinding tebal tertelan


Autoinfeksi (ookista)
Sporozoit → trofozoid
Merozoid ← meront tipe I
Cyclospora cayetanensis
Cyclosporiosis
kosmopolit: >> Negara
berkembang (tropic&subtopic)
manusia
Semua usia; >>anak
Ookista sporula
↓
Ekistasi
↓
Ookista unsporula
↓
Feses




Cystoisospora belli/Cystoisospora hominis
Isosporiasis/cystoisosporiasis
kosmopolit
manusia dan hewan
Jarang pada orang ; >>AIDS
Ookista dengan sporozoid tertelan
Merozoid
Aseksual
Sporozoid
Meront tipe II → merozoid
seksual
makro dan mikor gamet
Ookista difeses
Ziget ← makro dan mikro gamet





Ookista dinding tipis → auto infeksi
Ookista dinding tebal → feses
Sphrenical 4-5 μ
2 macam ookista (dinding tebal dan tipis)
Ookista: infektif saat di ekistasi
Sel membrane epitel GIT
Menelan ookista dari air atau makanan
Masa inkubasi
Gejala



2-10 hari (+ 7 hari)
Diare air, ≠darah, ≠mukus
Mual muntah
Imunokompromais

kolera – seperti diare → dehidrasi; sal napas dan system
hepato bilier (+)
Mofologi
Sporogony
Habitat
Cara infeksi









Butuh hari-minggu untuk
selesai sporulasi
Intraseluler: usus halus
Menelan ookista dari air atau
makanan
+ 1 minggu
diare air, nyeri perut
mual muntah
myalgia, demam rendah, lemas










Bentuk ovoid 20-33 μ
Butuh 1-5 hari untuk jadi ookista matang
Menelan ookista dari air atau makanan
diare
kram perut
infeksi ringan dan self limiting disease
Diare dapat berat
RANGKUMAN BLOK GIT | SITI FARHANAH AULIA
23
Diagnosis
Ookista di feses
Epidemiologi


Pakai acid fast stain


Sulit dibedakan dengan sel yeast→ dengan teknij acid fast
training, antibody fluorescent direct, PCR
Hewan bisa jadi sumber infeksi

>>terjadi pada wisatawan



Minum air masak
Ookista resisten thd klorine
Personal hygiene semua buah/ sayur hrs di cuci dgn air bersih



Minum air masak
Ookista resisten thd klorine
Personal hygiene semua buah/
sayur hrs di cuci dgn air bersih





Pencegahan
Unstained or iodine – stained direct smear:
menggunakan mikroskop cahaya
Hewan bisa jadi sumber infeksi
Self limiting disease
Minum air masak
Ookista resisten thd klorine
Personal hygiene semua buah/ sayur hrs di cuci
dgn air bersih
Blastocystis hominis (blastocystosis)
Morfologi
Siklus hidup


Hospes reservoir: babi / anjing
Polimor: vacuolar, granular, ameboid, kista
Vacuolar
Granular
Multivakuolar&avacuolar
 Mengandung sel
 Mengandung byk granula  Mengandung vakuola
sphrenical dengan 1
kecil di sitoplasma/ di
kecil/ ≠vakuola didalam
vakuola besar
sentral vakuola
sel kecil
 4-15μm, diameter;
 5-8μm diameter
multiple nuclei (bs smp 4)  1-2 nukleus
 Bentuk terbanyak
B.hominis
Tertelan kista tebal
Ruptur
Vakuolar
Ameboid
 Sangat jarang (btk
ireguler)
 Pseudopodia
 2,6-7,8μm diameter
 Vakuola sentral besar bisa
ada/≠
multivakuolar
Prekista
ameboid
Mitosis
Kista
Keras,resistive,
3-10μm diameter
Dinding tebal, enkapsulasi
Struktur mengandung byk
vakuola
 1-2nuklei




Skizogoni
Kista tipis
Prekista
Keluar host


Gejala
Asimtomatik dan simtomatik
Infeksi berat: diare air, nausea, nyeri
abdomen, perianal pruritus, banyak
flatus

Kista tebal
Diagnosis
Sampel feses di mikroskop

Skizogoni
Epidemiologi
Tropis dan subtropis

Pencegahan
Cuci tangan dengan sabun sebelum
memegang makanan dan setelah dari
toilet
Hindari air/makanan yang terinfeksi

Pencegahan
hati2 ketika memegang cairan tubuh dan

Microsporidia

Morfologi
Obligat intraseluler

Patogenesis dan gejala
Kebanyakan enteroxytozoon kieneusi →

Diagnosis
adanya spora di feses dan duodenum-
RANGKUMAN BLOK GIT | SITI FARHANAH AULIA
24




Keci (1,5-2,5mmx2,5-4mm)
Oval/silinder
Punya dinding spora 2 lapis yang tebal
Siklus hidup→ aseksual(skizogoni)&
seksual(sporogony)



dienterosit usus halus
encephalitozoon intestinalis → lamina
propria
ke2 nya menyebar lwt epitelium ke VU
dan pancreas dan vesica fellea
sebabkan diare persisten

jejenum (pewarnaan trichrome
modifikasi, giemsa influrosent)
mikroskop elektron (gold standard)

personal hygiene
cuci tangan utk cegah infeksi primer.
ILMU PENYAKIT DALAM
GANGGUAN SALURAN CERNA BAGIAN ATAS






-
-
Dyspepsia fungsional
Fungsional: gejala spt dyspepsia
tp endoskopi normal
Organic: endoskopi kelainanan
Suatu keadaaan yang kronik atau
berulang perasaan tdk enak di
abdomen bagian atas
Keluhan subjektif, brp mual,
kembung, cepat kenyang, nyeri
Dyspepsia fungsional dibagi
menjadi 3 tipe:
1. Dyspepsia seperti ulkus:
nyeri sp ulkus tp gada ulkus
2. Dyspepsia tipe dismotilitas:
keluhan kembung, cepat
kenyang
3. Dyspepsia
campuran:
campuran tipe seperti ulkus
dan dismotilitas
Terapi:
terutama non farmakologi spt
puasa, mengindari makanan yg
merangsang, diet dgn makan
sering tp porsi dikit
farmakologi:
antasida
(membuat suasana basa),
sucrafate (bekerja saat dalam
keadaan lambung asam, utk





-
-
-
Berhubungan dengan asam lambung
Dyspepsia Organik
GERD
Disebut tukak apabila terjadi robekan mukosa
 Terjadi adanya reflux asam labung shg timbul rasa
berdiameter 5 mm atau lebih dengan kedalaman
dada terbakar
sampai ke submukosa, atau bila ditemukan nekrosis  Menyebabkan esophagitis kerusakan mukosa
yang lebih dalam dari muscularis mucosa
esofagus sehingga menyebabkan heartburn.
Robekan yang kurang dari 5mm disebut dengan
 malam hari atau dalam posisi berbaring.
erosi asalkan secara histopatologi nekrosis yang
 berhubungan dengan kelainan SEB
terjadi hanya smp muscularis mucosa
 NERD: gejala sm spt GERD tp endoskopi normal,
Ulkus Gaster
Ulkus Duodenum
Suatu borok menganga  Gambaran Klinis
PATOFISIOLOGI
dengan pinggir edema  Rasa sakit timbul saat  Gangguan mekanisme sfingter esophagus bawah
disertai indurasi dengan
pasien merasa lapar
(SEB):
dasar tukak tertutupi
atau saat puasa
1. Tekanan SEB <6mmHg (Hipotonik):
oleh
debris,
yang  Rasa
Penyakit hernia hiatal (lambung naik ke atas di
sakit
bisa
terletak di daerah gaster
rongga torak), menggangu fungsi SEB terutama
membangunkan
90% di antrum dan
saat menelan
pasien tengah malam
kurvatura minor
 Rasa
sakit
hilang - Factor hormonal (kolesitokinin, sekretin), dapat
menurunkan tek. SEB spt yg tjd stlh makan
Gambaran klinis
setelah makan atau
berlemak
Rasa
sakit/perih
minum antacid
setelah
makan/  Sakit didaerah kanan - Kehamilan dan penggunaan pil kb yang
mengandung progesterone/esterogen. Bbrp
bertambah
berat
garis tengah perut
antibiotic jg bs
nyerinya
setelah
2. Mekanisme acid clearance esophagus:
pemberian makan
pembersihan dari esophagus berkurang
Nyeri
dirasakan
- Gravitasi : abis makan lsg tidur, dianjurkan
disebelah
kiri
tdr menggunakan bantal yg tinggi
abdomen bagian atas
- peristaltic, salivasi berlebihan, bikarbonat
Keluhan anoreksia dan
intrinsic oleh esophagus
penurunan BB
LPR
 Naiknya asam lambung hingga
kedaerah
sal.
Pernafasan
tepatnya pd laringofaring
 Menyebabkan
iritasi
dan
perubahan jaringan pada daerah
laring,
sehingga
tidak
menyebabkan esofagitis dan
heart burn.
 refluks bisa terjadi sepanjang
hari atau dalam posisi berdiri.
 Menyebabkan kelainan sfingter
esofagus bagian atas
 Gejala:
- Disfonia kronik / Parau
kronik, intermiten, pagi hari
- Kelelahan pita suara
- Sekresi mukus, warna jernih
- Batuk, wheezing
- Kesulitan menelan / disfagia
- Sensasi gumpalan dalam
mulut bagian belakang
- Halitosis (mulut berbau)
 Komplikasi:
- Laringitis berulang
- Suara serak kronik
- Laringospasme paroksismal
- Granuloma
RANGKUMAN BLOK GIT | SITI FARHANAH AULIA
25
melindungi mukosa lambung)
-
Anemia
perdarahan
akibat
3.
daya perusak isi lambung dan pengosongan
lambung: org hamil, menstruasi
 Gejala
- Heartburn
- Regurgitasi (mulut terasa asama/pait)
- Nyeri epigastrium
- Disfagia
- Odinofagia
- Gejala ekstraseofagial: nyeri dada bukan krn
jantung kalau GERD hanya di sekitar dada dan
EKG normal, faringitis/laryngitis, bronchitis,
asma bronkial
 Komplikasi:
- Striktur (semakin menyempit)
- Barret’s esophagus, hati2 kanker karna trmsk
precancer
 Terapi:
Terapi empiris (PPI test):
 Terapi:
Tukak gaster atau tukak duodenum - Dosis ganda, selama 1-2minggu
- Dilakukan pd pasien GERD tanpa melalakukan
mempunyai respons terhadap terapi sama.
endoskopi
Tetapi, tukak gaster biasanya lebih besar dan
luas, akibatnya waktu yang dibutuhkan untuk - (+) bila 1minggu >75% keluhan hilang
- (-) harus dilakukan endoskopi
pengobatan lebih lama
NonMedikaMentosa:
Strategi pengobatan GERD
Istirahat
- Dosis ganda, 12minggu
Pola makan sedikit tp sering
- Selanjutnya tgt beratnya kerusakan mukosa
- Esophagitis ringan: on demand therapy (kalau
Medikamentosa:
nyeri saja minum obat
Antasida
Sedang-berat: maintenance therapy smp 6
Obat penangkal kerusakan mukus
bulan
Antagonis reseptor H2
PPI :
Strategi pengobatan NERD
 Ulkus gaster 8 minggu
- Dosis standard, 4-8minggu
 Ulkus duodenum 6 minggu
- Setelah diberikan obat inisial, dilakukan on
demand terapi
-
Karsinoma sel skuamosa
Batuk persisten
Asma, pneumonia, bronkitis,
bronkiektasis
Sinusitis
Hambat penyembuhan luka
akibat
penggunaan
instrumen alat kedokteran
(co: ET) atau ISPA.
RANGKUMAN BLOK GIT | SITI FARHANAH AULIA
26
RANGKUMAN BLOK GIT | SITI FARHANAH AULIA
27
SKEMA PENATALAKSANAAN LINI PERTAMA
Umur < 45 tahun tanpa
tanda-tanda bahaya
Usia > 45 atau < usia 45
tahun dengan tandatanda bahaya
DISPEPSIA
Terapi empiris selama 2 minggu
- Antasid
H2 antagonis
- Penghambat Pompa
Proton (PPI)
- Obat-obat prokinetik
(memperbaiki motilitas
lambung, supaya pasien
tdk mual atau muntah)
mis: donferidon
DISPEPSIA (-),
gejala hilang
TERAPI DIHENTIKAN
DISPEPSIA(+),
tdk ada
perbaikan,
atau kambuh
lagi
TERAPI ON DEMAND
Setelah 2 minggu
tidak ada
perbaikan
SEROLOGI (tervalidasi scr local), serologi H. pylori yg di test IgM
+
ENDOSKOPI
-
Kalau gaada
endoskopinya
UBT/HpSA
-
+
TERAPI ERADIKASI
RUJUK
Internis, internis plus,
Gastroenterologist atau dokter
anak dengan fasilitas endoskopi
GAGAL
RANGKUMAN BLOK GIT | SITI FARHANAH AULIA
28
IKTERUS
DEFINISI:
 Perubahan warna kulit dan mukosa menjadi kuning, yang disebabkan oleh peningkatan kadar bilirubin dalam darah
 Nilai normal bilirubin total 0,3 – 1 mg/dl, bilirubin indirek biasanya lebih byk sekitar 0,7. Sisanya direk
 Ikterus terjadi bila bilirubin (± 2-2,5 mg/dl), namun awam dapat melihat ikterus bila > 5 mg/dl
 Pada peningkatan karoten, warna kuning hanya terlihat di kulit dan tidak terlihat di mata
 Gejala ini dapat terdeteksi dengan kadar bilirubin yang lebih rendah pada pasien yang kulitnya putih dan yang menderita anemia berat
 Sebaliknya, gejala ikterus sering tidak terlihat jelas pada orang-orang yang kulitnya gelap atau yang menderita edema
 Jaringan sklera kaya dengan elastin yang memiliki afinitas yang tinggi terhadap bilirubin, sehingga ikterus pada sklera biasanya merupakan tanda yang lebih sensitif untuk
menunjukkan hiperbilirubinemia daripada ikterus yang menyeluruh
 Tanda dini yang serupa untuk hiperbilirubinemia adalah warna urin yang gelap, yang terjadi akibat ekskresi bilirubin lewat ginjal dalam bentuk bilirubin glukuronid
 Pada ikterus yang mencolok, kulit dapat berwarna kehijauan karena oksidasi sebagian bilirubin yang beredar menjadi biliverdin. Efek ini sering terlihat pada kondisi dengan
hiperbilirubinemia terkonjugasi berlangsung lama atau berat seperti sirosis.
PRA HEPATIC




1. IKTERUS HEMOLITIK
Akibat umur eritrosit yang memendek shg Hb yang
dipecah↑ → bilirubin I (tdk larut air) yang dilepaskan
↑↑
normal : produksi bilirubin sebanyak 300 mg per
hari
produksi bilirubin ↑↑ → ikterus.
Sebagai usaha tubuh untuk mengurangi kadar bilirubin I
ini, penyerapan ke dalam sel hati meningkat dan
ekskresi bilirubin oleh sel hati juga meningkat
Akibatnya terjadi:
bilirubin I ↑
pembentukan urobilinogen dalam saluran cerna ↑,
selanjutnya diserap kembali dan dikeluarkan
melalui urin (urin menjadi lebih kuning)
kadar urobilinogen dalam urin dan tinja ↑
bilirubin urin (-)
Penyebabnya:
Hemolisis intravaskular : Anemia hemolitik familial,
Anemia sickle cell, Thalasemia mayor, Anemia
defisiensi vitamin B 12 dan Anemia defisiensi asam
folat. (kalau ada pasien kuning Hb↓ kemungkinan
anemia hemolitik, tp kalau normal bukan)
Penyakit infeksi : Malaria (menyebabkan kerusakan
sdm), Leptospirosis, Tifus
Toksin eksogen : obat-obatan, bahan kimia
Toksin endogen : reaksi transfusi, eritroblastosis
HEPATIC




1. KERUSAKAN SEL PARENKIM HATI
jumlah bilirubin yang belum terkonjugasi yang masuk ke
dalam hati tetap normal, namun karena kerusakan sel
hati dan duktuli intra hepatik, maka terjadi :
kesukaran pengangkutan bilirubin di dalam hati
kesukaran bilirubin untuk berkonjugasi
kesukaran ekskresi bilirubin
Akibatnya terjadi:
pengeluaran bilirubin yang tidak sempurna melalui
duktus hepatikus
regurgitasi pada duktuli empedu intra hepatik yang
mengalami obstruksi
pada pemeriksaan lab didapatkan:
bilirubin I dan II ↑ kadar kurang lebih sama
sterkobilin feses sedikit (pucat)
urin mengandung bilirubin dan sedikit urobilinogen
Etiologi:
- hepatitis : virus, bakteri dan parasit
- sirosis hati
- tumor : karsinoma, sarkoma
- bahan kimia : fosfor, arsen, reaksi obat
- hepatitis alkoholik
- perlemakan hati (NASH)
- penyakit lain : hemokromatosis, hipertiroid
- ikterus pasca bedah
2.
PASCA HEPATIC
 IKTERUS OBSTRUKTIF = KOLESTATIS
 Bendungan di dalam saluran empedu → empedu dan
bilirubin yang sudah mengalami konjugasi tidak dapat
dialirkan ke dalam usus halus → kenaikan kadar
bilirubin konjugasi (bil II) di serum dan juga bilirubin
dalam urin, tetapi tidak dijumpai urobilinogen dalam
urin dan tinja
 Gambaran klinis
- kulit dan mukosa terutama sklera mata kuning tua
atau kuning kehijauan
- kulit tampak banyak bekas garukan, karena
pruritus
- tinja berwarna akolis (pucat seperti dempul)
karena tidak mengandung sterkobilin
PENURUNAN KECEPATAN BILIRUBIN OLEH SEL
RANGKUMAN BLOK GIT | SITI FARHANAH AULIA
29
-
fetalis
Gejala penyakit lain : Leukemia, Limfoma Hodgkin,
Karsinoma





HATI
Penyebab:
- Sindroma Gilbert:
 Suatu kelainan bawaan pasien sering terlihat
kuning, terjadi gangguan penyerapan kecepatan
bilirubin oleh sel hati dan gangguan konjugasi
 gejala terlihat pada masa pubertas
 faktor pencetus: stress, kelelahan, asupan kalori
rendah, ada penyakit lain
 virus marker (-)
- Obat-obatan:
 novobiosin, zat kontras untuk kolesistografi
Lab:
- kadar bilirubin II meningkat
- kadar bilirubin total < 3 mg/dl
- tidak terjadi peningkatan kadar urobilinogen dalam
urin
Terapi :
- Fenobarbital untuk S. Gilbert
3. PENURUNAN KONJUGASI BILIRUBIN
Penyebab:
- Sindroma Crigler-Najjar I dan II:
 terjadi defisiensi enzim glukoronil transferase
(mengubah bilirubin I jadi II)
 timbul pada bayi baru lahir dan menetap seumur
hidup
 Obat-obatan:
 Pregandiol, Novobiosin, kloramfenikol,
gentamisin
Lab:
- kadar bilirubin I meningkat
- kadar bilirubin total dapat mencapai > 20 mg/dl
- tidak terjadi peningkatan kadar urobilinogen dalam
urin dan feses
- defisiensi total: empedu menjadi tidak berwarna
dan feses berwarna pucat, tidak terdapat
urobilinogen di urin
- defisiensi parsial: empedu dan feses tetap
berwarna, masih terdapat urobilinogen di urin
Sindroma
Sindroma
Sindroma
CrigleCrigleGilbert
RANGKUMAN BLOK GIT | SITI FARHANAH AULIA
30
Kadar
Bilirubin
Empedu
Glukoronil
transferase
Kern icterus
Prognosis
Efek
fenobarbital
pada
bilirubin
Najar tipe
I
25-48mg%
Najar tipe
II
6-25mg%
Kuning
muda
-
Kuning
Biasanya
Jarang
Jelek
-
Baik
Menurun
smo 48mg/dl
Sedikit
1-6mg%
Tampak
normal
Kurang
Tdk
pernah
Baik
Menurun
smp
normal
RANGKUMAN BLOK GIT | SITI FARHANAH AULIA
31
TUMOR HATI
TUMOR JINAK








Tumor jinak hati dapat berasal dari semua sel hati
Jarang mengancam nyawa dan bukan kanker
Ditemukan pada semua umur, sebagian besar dewasa
Penyebab:
Hormon
Penyakit hati alkoholik
Defisiensi -1 anti tripsin (biasanya utk diparu, dampak batuk kering)
Hemokromatosis
Tirosinemia
Komplikasi: perdarahan, keganasan
Adenoma hepatocellular
Hemangioma Cavernosum
Asal: dr sel kelenjar
 Asal: pembuluh darah
Frekuensi :
 Tumor hati jinak yang paling sering
- Insiden 1/1juta/tahun, terutama
ditemukan, prevalensinya 0,5-7 %
pada wanita
 Terutama terdapat pada perempuan
- Meningkat pada DM, kehamilan,  Biasanya terdeteksi sewaktu di lakukan
tirosinemia
pencitraan abdomen atau secara tidak
Peningkatan risiko
sengaja waktu pembedahan
Hormonal
 Gejala akibat tumor raksasa (diameter > 4
Penggunaan kontrasepsi oral
cm): nyeri abdomen karena trombosis dan
yang lama
tekanan dengan organ sekitarnya,
terdengar dengungan vena di atas tumor
TUMOR GANAS







Tumor ganas primer hati = tumor yang berasal dari jaringan hati sendiri
- Karsinoma hepatoseluler (hepatoma maligna) : berasal dari jaringan parenkim
hati
- Karsinoma kholangioseluler (kholangiokarsinoma = kholangio maligna) : berasal
dari duktus biliaris
- Sarkoma : berasal dari jaringan ikat
- Hemangio-endotelioma maligna atau hemangioblastoma : berasal dari jaringan
pembuluh darah, kasusnya sangat jarang
Tumor ganas sekunder hati = berasal dari metastasis tumor organ lain ke hati :
lambung, kolon, paru-paru, pankreas, dll
KARSINOMA HEPATOSELULER
dapat menyerang semua umur, tetapi biasanya pada usia lanjut
pria lebih banyak yang terkena
ETIOLOGI
- sirosis hati (hiperplasia noduler → adenoma multipel → karsinoma multipel)
- hepatitis B (plg srg) dan C
- hemokromatosis
- faktor nutrisi : defisiensi protein
- zat karsinogen : aflatoksin (pada kacang2an,oncom)
- infeksi : clonorchiasis, schistosomiasis
- genetika (keturunan)
tipe:
- tipe noduler: hati membesar dengan nodul yang bermacam-macam besar dan
bentuknya (multi noduler), disertai sirosis
- tipe massif: bentuk massif dan yang besar hanya pada salah 1 nodul saja
(mononoduler massif), biasanya di lobus kanan. Kadang-kadang pada lobus kanan
terdapat tumor yang massif dan pada lobus kiri terdapat bentuk sirosis
- tipe difus: besarnya hati masih dalam batas normal tapi seluruhnya terisi oleh sel
karsinoma yang difus dan kadang susah dibedakan dengan sirosis portal
Metastasis
- Metastasis intra hepatik
 di dalam sel hati sendiri karna hati organ yang plg banyak pemb. darah, 1 lobus
atau ke lobus yang lain
 berbentuk tumor yang multipel
 hematogen, tapi bisa limfogen atau infiltrasi langsung
 tidak bisa di radiasi, krn hati radioresisten
- Metastasis ekstra hepatik
 Kel. limfe : hilus hati, mediastinum, kel. servikal
 vena besar : v. hepatika, v. porta atau v. kafa inferior → trombosis sekunder
RANGKUMAN BLOK GIT | SITI FARHANAH AULIA
32
SINDROMA PARANEOPLASTIK
Kumpulan gejala sekunder yang timbul akibat keganasan bukan hanya kanker hati
(terutama kanker paru). Disebabkan oleh protein ektopik yang dihasilkan oleh sel
kanker, yaitu hormon peptid, protein fetal dan enzim, yang menyebabkan hipoksia
jaringan.

hipoksia jaringan + substansi toksik pada karsinoma → menyebabkan gangguan
regulasi sentral di daerah diensefalon dan hipotalamus → menimbulkan
manifestasi klinis: polisitemia (krn mengganggu eritropoetin), hipoglikemi,
hiperglikemi, ginekomasti
Lab:
-
 atrium kanan → jaringan paru-paru → emboli paru
 peritoneum → asites hemorargik
 paru dan pleura → efusi pleura, pleuritis
 sal. cerna : lambung, duodenum, kdg empedu, pankreas
 limpa atau kelenjar adrenal
 tulang : tulang iga atau vertebra
GEJALA KLINIS
KELUHAN
- nyeri di perut kanan atas, tumpul, terus menerus, sering tidak hebat tapi dapat
bertambah berat bila bergerak, nyeri disebabkan oleh :
 pembesaran hati
 peregangan kapsula Gibsoni (kapsul yg melapisi hati)
 rangsangan pada peritoneum
HB turun
↑ leukosit
↑ LED (pd keganasan pasti meningkat)



Tes biokimia:
-
benjolan di perut kanan atas atau di epigastrium dapat disertai atau tanpa nyeri
perut
- perut membuncit (asites) karena sirosis hati, penyebabnya:
 penyebaran ke dalam peritoneum hati
 trombosis vena porta
- Keluhan lain
 badan makin lemah
 nafsu makan berkurang atau hilang
 perasaan selalu penuh di perut
 berat badan cepat menurun
 BAK seperti teh
 mata menguning
 perasaan demam
 pada keadaan lanjut dapat terjadi muntah darah dan BAB berwarna hitam
PEMERIKSAAN FISIK
Hepatomegaly
Hepatic bruit dan kadang friction rub
Asites
Splenomegaly
Spider navy sekitar dada, dan caput medusa di umbilicus
Icterus, palmar eritema, suhu badan menaik
RADIOLOGI
-
↑ SGOT, SGPT, alkali posfatase
↓ albumin
bila terdapat sirosis : ↓ kolesterol dan trigliserida
lanjut : kolestasis intra hepatal → ↑ bilirubin → ikterus
Serologis:
-
nyeri bertambah hebat bila terjadi :
perihepatitis
penekanan pada diafragma
ruptur daerah tumor
alfafetoprotein (AFP): tumor marker hati
o AFP 20-400 ng/ml : dapat oleh penyakit hati yang lain seperti
hepatitis sub akut, hepatitis kronik, sirosis hati dan kanker hati
metastatis
o AFP 400 – 1000 ng/ml : sangat mencurigakan karsinoma
hepatoseluler
o AFP > 1000 ng/ml : sudah pasti menderita karsinoma hepatoseluler


RANGKUMAN BLOK GIT | SITI FARHANAH AULIA
33
-


Foto toraks : peninggian diafragma kanan dan ada tidaknya gambaran metastasis
di paru
Foto polos abdomen : massa tumor di perut kanan atas
USG : membedakan bentuk KHP yaitu noduler, masif atau soliter, difus dan
bentuk campuran
133
99m
Sintigrafi : dengan radionukleotida I atau Tc
Angiografi hepatika : kateterisasi arteri hepatika
BIOPSI (gold standard)
Biopsi jarum membuta (blind needle biopsy) : dilakukan pada tempat yang
benjolannya teraba paling keras
Biopsi jarum terpimpin (guided needle biopsy): dgn bantuan USG dll
PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan Umum: bila tumor masih kecil
Sitostatika: tumor sdh besar dgn cara IV(jarang), Intra atrial lsg ke hati lwt a.
femoralis, lsg membunuh kanker
Operasi
RANGKUMAN BLOK GIT | SITI FARHANAH AULIA
34
FARMAKOLOGI
ANTELMINTIK















Antelmintik / obat cacing: digunakan u memberantas / mengurangi cacing dlm lumen usus atau jaringan tubuh
Sebagian besar antelmintik efektif terhadap parasit2 tertentu Perlu diagnosis jenis infeksi cacing dgn tepat sebelum menggunakan obat
Sebagian besar diberikan oral, ada yg dosis tunggal (Single Dose /SD), ada yg efektif u bbrp cacing, ada yang perlu pencahar
Mekanisme kerja:
Bekerja sebagai agonis asetilkolin nikotinik ganglionik menyebabkan kontraksi otot cacing  c/ pirantel pamoat, oxantel pamoat
Bekerja langsung / tidak langsung sebagai agonis GABA  paralisis flasid (kendur)  c/ piperazin
Bekerja pada kanal ion klorida  c/ ivermektin
NEMATODA
NEMATODA USUS/JARINGAN
CESTODA
DIETILKARBAMAZID
MEBENDAZOL
NIKLOSAMID
Obat pilihan I filariasis: menghilangkan mikrofilaria  Spektrum paling luas, ES <<
 Terpilih u/ cacing pita pd manusia & hewan
W.bancrofti, B.malayi,Loa loa dari peredaran drh dgn  Efektif u/ cacing gelang, kremi, tambang, pita & T.  Cacing akan dirusak sebagian skoleks & segmen akan
cepat
trichiura, trichostrongylus,
untuk taeniasis &
dicerna  tidak ditemukan di feses
S.stercoralis  efek bervariasi
O. volvulus dws & mikrofilaria (nodulus), mikrofilaria
 Indikasi: T.solium, T.saginata,D.latum, H.nana
W. bancrofti (hidrokel) : ++
 Mybbkan kerusakan struktur subselular & hambat  T.solium: harus diberikan pencahar, spy proglotid yg
sekresi asetilkolinesterase cacing, hambat ambilan
Cara kerja:
mengandung telur tdk pecah → cegah sistiserkosis
- Menurunkan aktivitas otot cacing → paralisis
glukosa →deplesi glikogen
 ES: niklosamid sangat sedikit diserap→ hampir bebas ES
→mudah terusir dr tempatnya.
 Cacing mati perlahan, efek memuaskan → 3 hr  Aman u/ kehamilan, malnutrisi, pasien dgn keadaan
- Perubahan permukaan membran mikrofilaria →
pemberian obat
umum buruk
lebih mudah dihancurkan oleh hospes
 Sterilitas telur T.trichiura, tambang, askaris
 Tablet kunyah 500 mg, dimakan dlm keadaan perut
Pemberian topikal diserap konjungtiva → bunuh  Larva matang tdk terpengaruh
kosong
mikrofilaria dlm humor akuosa (cairan mata)
 Absorbsi buruk, melewati abs. lintas pertama.  SD: dws 2 g, anak >34 Kg 1,5 g, <34 Kg 1 g
Absorbsi di usus: cepat, kadar puncak 1-2 jam, distribusi
cepat→bioavaibilitas sistemik ↓↓, ekskresi lewat urin  Merupakan alternatif setelah ivermektin utk T. saginata,
ke jaringan merata (kec: lemak), wkt paruh: 30 jam
48 jam. Absorbsi ↑↑ bila diberikan makanan berlemak
D.latum & H.nana
diekskresi melalui urin, pemberian berulang: akumulasi  Absorbs yang buruk ini justru membantu kerja obat, krn  Niklosamid tdk merusak telur T.solium yg ada di segmen
ES: relatif aman pd dosis terapi spt pusing, malaise,
target ada di usus
 telur terlepas ke lumen usus  sistiserkosis  Perlu
nyeri sendi, anoreksia, muntah →merangsang  Tdk menyebabkan efek toksis sistemik→ aman u/
pemberian pencahar 1-2 jam sesudah menelan obat
SSP→reversibe (kalau obat dihentikan ES hilang)
anemia, malnutrisis
terakhir
Reaksi alergi: bukan krn obatnya, tp akibat parasit /  ES: diare, sakit perut ringan→sementara
 Sistiserkosis mengurangi manfaat niklosamid
substansi yg dilepas oleh parasit
 Tikus  embriotoksik & teratogenik
 T. saginata tdk perlu pencahar
Gejala rx alergi: sakit kepala, malaise, udem kulit, gatal  KI: kehamilan trimester I, anak < 2 th. Tp pd anak KI
hebat, papular rush, peningkatan KGB inguinal,
disingkirkan krn efek obat lebih dibutuhkan
NIRIDAZOL
hiperpireksia,
takikardi
→
beri
antihistamin,  Indikasi : enterobiasis, trichiurasis, ascariasis, kista  Sgt efektif u/ S. haematobium
kortikosteroid
hidatid (dosis tinggi), intestinal capilariasis
 Menyebabkan kerusakan gonad schistosome, shg steril
Sediaan: tablet oral 50,100,200 mg
 Sediaan: tablet 100 mg, sirup 10 mg/ ml
dan tdk akan berkembang biak.
W.bancrofti,B.malayi,Loa loa → 2 mg/KgBB, 3 x hr, 10-  Dosis 2 x 100 mg/hr, 3 hr → ascariasis, trikuris, cacing  Absorbsi cepat, kadar plasma rendah
30 hr.
tambang, diulang 3 mggu
 ES: anoreksi, diare, sakit perut→ stop pengobatan →
Pengobatan massal: 5-6 mg/KgBB 1 hr/mggu / per bulan  T.solium→2 x 300 mg, 3-4 hr
hilang
2-12 dosis + Albendazol 400mg
 Kista hidatid: 50 mg/KgBB/ hr dlm 3 dosis selama 3  KI: kehamilan, def.enzim G6PD, epilepsi, psikosis, gangg.
RANGKUMAN BLOK GIT | SITI FARHANAH AULIA
35









WHO: tidak lagi digunakan utk terapi onkosersiasis

INVERMECTIN

Obat terpilih u/ onkosersiasis, berefek pd mikrofilaria di 
jaringan & rongga mata, embriogenesis cacing betina,
F. bancrofti  efek sama dengan dietilkarbamazin

Margin of safety lebar, T ½ 10 – 12 jam, ekskresi via
feses, tdk melewati sawar otak
SD: 200 mcg/KgBB; dosis diulang tiap 3 bulan s.d 12 bln

KI: kehamilan
ES: > ringan, demam, pruritus,nyeri: otot, sendi, kepala, 
kelj. Limfe, hipotensi
Terapi Onkosersiasis  hari I setelah single dose  
reaksi Mazotti : demam, nyeri kepala, pusing, 
mengantuk, lemas, ruam, gatal-gatal, mialgia, artralgia, 
hipotensi, takikardi,limfangitis, limfadenitis, edema
perifer

Reaksi Mazotti  timbul krn mikrofilaria yang mati,
bukan karena toksik obatnya













bulan
Visceral larva migrans; 200-400 mg/hr; 5hr

Enterobius: 100 mg SD diulang 2 mggu

Cimetidine m↑ konsentrasi dlm drh, karbamazepin m↓
kadar dlm darah
Pengulangan obat: utk mematikan telur2 yg masih 
tersisa

PIPERAZIN
Efektif u/ Ascaris & Enterobius

Blokade
respon otot cacing thdp asetilkolin → 
paralisis→ cacing mudah dikeluarkan

Batas keamanan lebar

ES: mual, muntah, nyeri perut, nyeri kepala, alergi
Over dosis; inkordinasi / kelemahan otot, vertigo, sulit 
bicara , bingung → hilang bila obat stop
KI: epilepsi→memperkuat efek kejang, kehamilan,
gangguan faal hati & ginjal

Ascariasis:dws 3,5 g/x/hr, anak 75 mg/KgBB , 2 hr
berturut-turut
Kremi : 65 mg/KgBB/hr, selama 7 hr, diulang setelah 1 - 
2 minggu

PIRANTEL PAMOAT

Efektif: cacing gelang, tambang, kremi, T. orinetalis
Menimbulkan depolarisasi pd otot cacing → mati dlm
keadaan spastis (masih kaku)

Absorbsi di usus tdk baik → efek selektif pd cacing
ES: jarang, ringan; gangguan sal . Cerna, demam, nyeri 
kepala
Kehamilan, anak < 2 th→tdk dianjurkan

Tdk boleh digunakan bersama piperazin→ efek
berlawanan. Krn piperazin menyebabkan mati paralisis

Hati-hati: pdrt rwyt penykt hati → karna meningkatkan
SGOT
Tablet 250mg,125 mg,sirup 50 mg/ ml
SD; 10 mg/KgBB, dpt diberikan setiap saat, tdk 
terpengaruh makanan

Enterobiasis  diulang setelah 2 minggu
Terapi N. americanus sedang & berat→ diberikan 3 hari 
berturut-turut
faal hati, ginjal, jantung
Dosis 25 mg/KgBB terbagi 2 x , 5-7 hr
Indonesia (-)
OKSAMNIKUIN
Efektif u/ S.mansoni dewasa & larva: S.haemobium &
S.japonikum < efektif
Cacing keluar dr pblh drh mesenterika → hati→♂
menetap, ♀kembali & tdk bertelur
Absorbsi cepat, dpt dihambat o/ makanan,
ES:pusing, kantuk, kejang pd rwyt epilepsi
KI; Kehamilan, epilepsi, gagal jtg, ginjal
Dosis tunggal 12-15 mg/KgBB; <30 Kg 20 mg/KgBB
dalam dosis terbagi 2 x; 2-8 jam
Masih digunakan di Amerika Selatan
METRIFONAT
Senyawa organofosfat  prodrug: dikonversi mjd
diklorvos  penghambat kuat asetilkolinesterase
(memecah asetil kolin, neurotransmitter parasimpatis)
Sbg alternatif utk S.haematobium,
tidak efektif utk
S.mansoni & S.japonicum
Kadar puncak 1-2 jam, T ½ 1,5jam
ES: gejala kolinergik ringan: mual, muntah, diare, nyeri
perut, bronkospasme, sakit kepala, berkeringat, lelah,
hipersalivasi, pusing  terjadi dlm 30 menit  12 jam
Jangan diberikan pada orang yg baru terpapar
insektisida, obat penghambat kolinesterase, ibu hamil
Obat pelumpuh otot harus disingkirkan, minimal 48 jam
setelah metrifonat
Dosis 7,5-10mg/kgBB diberikan 3 kali dengan interval 14
hari
Efektif utk profilaksis pd anak di daerah endemik dgn
pemberian 1 bulan sx
PRAZIKUANTEL
Spektrum lebar,efektif:cestoda& trematoda
Cara kerja:
- p↑ aktivitas otot cacing → paralisis→lepas
Vaskuolisasi & vesikulasi regumen cacing →isi keluar→
pertahanan hospes dipacu→rusak
RANGKUMAN BLOK GIT | SITI FARHANAH AULIA
36


















TIABENDAZOL
Spektrum lebar, efektifitas Tinggi utk
askariasis,
strongiloidiasis,oksiurasis, larva migrans kulit, trikuriasis
& trikonosis akut
menghambat enz. Asetilkolinesterase, pd hewan coba:
membunuh sebagian larva (Trichinella spiralis) dlm otot
Memiliki efek imunosupresi & anti - inflamasi→
mengurangi gejala krn parasit
Absorbsi cepat diusus, dapat diserap melalui kuli: kadar
max 1 jam
ES: anoreksia, mual ,muntah, diare, pusing, sakit
kepala,lelah, kantuk
Dilaporkan: perianal rashes, tinitus, hiperglikemi,
konvulsi, hematuri, ikterus, kerusakan hati, Sindrom
steven Johnson (rx alergi)
Terpilih u/ S.stercoralis, cutaneus larva migrans.
Cacing tambang, kremi, ascaris, trikuris → tdk
dianjurkan, ada obat alternatif yg lebih aman
(mebendazol, pirantel pamoat)
Dosis standar: 2 x 25 mg/KgBB 2 – 5 hari, diberikan PO,
dikunyah, sehabis makan
Cutaneus larva migrans→salep tiabendazol 15 % selama
5 hr
KI: anak BB < 15 Kg, kehamilan, pasien dgn aktivitas yg
memerlukan kewaspadaan krn menyebabkan ngantuk
pusing






PO absorbsi baik, kadar max 1- 2 jam, ekskresi melalui
urin dlm 24 jam
Dpt mencapai cairan serebrospinal
ES:sakit perut, anoreksia, pusing, sakit kepala
Jangan diberikan pd ibu hamil & menyusui, pdrt yg
memerlukan kewaspadaan dlm tugasnya
Sistiserkosis→ pengobatan harus di RS; ES: nyeri kepala,
bingung, ngantuk
neurocysticercosis→ES oleh karena dosis obat↑↑ &
matinya parasit
Jangan digunakan :
- ocular cysticercosis→ kehancuran parasit dpt
sebabkan cacat menetap
- anak umur < 4 th→ data klinis belum mendukung
ALBENDAZOL
Bekerja menghambat sintesis mikrotubulus  M<
ambilan glukosa scr irreversibel  parasit mati
perlahan2 krn kekuranngan glikogen
Spektrum lebar, efektif u/ cacing kremi, gelang, trikuris,
tambang, S.stercoralis, merusak telur cacing gelang,
tambang & trikuris
Memiliki efek larvasid  hydatid, cysticercosis,
N.americanus
PO absorbsi cepat diusus, absorbsi meningkat bila
disertai makanan berlemak, T ½ 8-9 jam, distribusi
jaringan, cairan empedu, LCS, kista hydatid
Dosis dws & anak > 2 th : 400 mg SD bersama makan,
RANGKUMAN BLOK GIT | SITI FARHANAH AULIA
37






c.kremi ulangi: 2 mggu
N. americanus, S.stercoralis : 3 hr
Neurocysticercosis: 15 mg/KgBB/hr, 1 bln: pemberian
steroid (utk atasi inflamasi) M absorbsi albendazol
Cutaneus larva migrans 200-400mg
ES terapi singkat jarang: gangg GI, mual , nyeri kepala,
lesu, insomnia.
ES terapi lama (kista hidatid 3 bln) alopesia,
leukopenia, Peningkatan enz. Aminotransferase 
reversibel, nyeri abdomen
Toksisitas hewan: diare, anemia, depresi sumsum
tulang, tes fungsi hati abnormal, hipotensi, embriotoksik
& teratogenic
RANGKUMAN BLOK GIT | SITI FARHANAH AULIA
38
Download