BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. MP-ASI 1

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. MP-ASI
1. Pengertian
Makanan pengganti ASI (MP-ASI) merupakan proses transisi dari
asupan yang semata berbasis susu menuju ke makanan yang semi
padat. Pengenalan dan pemberian MP-ASI harus dilakukan secara
bertahap baik bentuk maupun jumlahnya, sesuai dengan kemampuan
pencernaan bayi/anak. ASI hanya memenuhi kebutuhan gizi bayi
sebanyak 60% pada bayi usia 6-12 bulan. Sisanya harus dipenuhi
dengan makanan lain yang cukup jumlahnya dan baik gizinya . Oleh
sebab itu pada usia 6 bulan keatas bayi membutuhkan tambahan gizi
lain yang berasal dari MP-ASI (Mufida, dkk, 2015) . MP-ASI biasanya
diberikan kepada neonatus dengan proses menyusui >1 jam setelah
lahir dengan alasan ASI belum keluar atu alasan tradisi . Pemberian
MP-ASI dapat diberikan oleh penolong persalinan atau oleh orang tua
dan keluarga neonatus . Berdasarkan uraian tersebut MP-ASI yang
diberikan pada neonatus sebelum ASI ibu keluar selama 1 – 2 hari
seperti susu, madu, air kelapa, pisang, air tajin, dan air nasi (Riskesdas,
2013) .
2. Pengelompokan MP-ASI
Menurut buku kuliah 1 ilmu kesahatan anak (Cetakan 11.2007),
MP-ASI dikelompokan menjadi beberapa bagian yaitu :
12
13
a. Menurut rasanya : manis dan netral. Contohnya adalah susu
formula, susu bubuk , ataupun susu kental manis yang dapat
dibuat sendiri yang dikeluarkan oleh suatu pabrik susu, dan
juga dapat menggunakan air putih sebagai MP-ASI
b. Menurut pH cairan. Baik yang sudah diasamkan ataupun
yang tidak diasamkan.
c. Menurut kadar nutrient. Contohnya adalah MP-ASI yang
mengandung rendah lemak ataupun rendah laktosa.
d. Menurut bahan utama sumber protein. Contohnya adalah
MP-ASI yang terbuat dari keledai seperti susu kedelai.
Biasanya banyak digunakan untuk bayi yang mempunyai
alergi pada susu formula.
e. Menurut maksud penggunaan. Baik yang digunakan sebagai
pengganti ASI untuk program diet dengan bayi yang
mempunyai penyakit metabolik bawaan tertentu sehingga
memerlukan
pengobatan,
ataupun
digunakan
sebagai
pelenkap ASI.
f. Menurut komposisi nutrient. Contohnya seperti susu formula
yang mempunyai nutrient hampir sama dengan ASI, ataupun
yang mempunyai nutrient lengkap daripada ASI.
14
3. Faktor yang mempengaruhi ibu dalam pemberian MP-ASI pada anak
usia 0-6 bulan
a. Pekerjaan Ibu
Bekerja adalah kegiatan melakukan pekerjaan dengan
maksud memperoleh atau membantu memperoleh penghasilan atau
keuntungan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Masyarakat pekerja
memiliki peranan dan kedudukan yang sangat penting sebagai
pelaku dan tujuan pembangunan, dimana dengan berkembangnya
IPTEK dituntut adanya Sumber Daya Manusia (SDM) yang
berkualitas dan mempunyai produktifitas yang tinggi sehingga
mampu meningkatkan kesejahteraan (Siregar,2010). Praktek
pemberian makan pada bayi dari ibu bekerja di rumah sama dengan
pada ibu yang tidak bekerja.
Ibu yang bekerja dengan meninggalkan rumah 2 kali lebih
besar kemungkinannya memperkenalkan susu botol pada bayinya
dalam waktu dini dibanding yang bekerja tanpa meninggalkan
rumah dan 4 kali dibanding ibu yang tidak bekerja. Pertukaran jam
kerja yang kaku, tidak tersedianya tempat penitipan anak, jarak
lokasi bekerja yang jauh dan kebijakan cuti melahirkan yang
kurang mendukung menyebabkan ibu harus meninggalkan bayinya
selama beberapa jam sehingga sulit untuk menyusui on demand
(Pernanda, 2010) . Status pekerjaan juga menjadi salah satu alasan
pemberian MP-ASI dini. Status pekerjaan yang semakin baik dan
15
sosial ekonomi keluarga yang meningkat inilah yang menyebabkan
dan memudahkan ibu untuk memberikan susu formula dan MPASI pada anak dibandingkan dengan pemberian ASI eksklusif
(Ratih, 2013) .
b. Pendapatan
Pendapatan adalah salah satu faktor yang berhubungan
dengan kondisi keuangan yang menyebabkan daya beli untuk
makanan tambahan menjadi lebih besar . Tingkat penghasilan
keluarga berhubungan dengan pemberian MP-ASI dini. Penurunan
prevalensi menyusui lebih cepat terjadi pada masyarakat golongan
ekonomi menengah ke atas (Harahap, 2013) . Menurut penelitian
Zulfanetti di Jambi, ibu-ibu dengan penghasilan keluarga Rp.260000 –Rp.360.000 yang memberikan MP-ASI berupa susu formula
sebesar 30%, 26% pada ibu-ibu dengan pendapatan keluarga
sebesar
Rp.361.000-Rp.560.000,
sedangkan
ibu-ibu
dengan
pendapatan keluarga lebih dari Rp.561.000 memberikan MP-ASI
berupa susu formula sebesar44% (Pernanda, 2010) .
c. Pendidikan
Tingkat pendidikan juga merupakan salah satu faktor yang
mempengaruhi persepsi seseorang untuk lebih mudah menerima
ide-ide dan teknologi yang baru (Notoatmodjo, 2010) . Domain
pengetahuan erat kaitanya dengan usia dan tingkat pendidikan
seseorang. Tingkat pendidikan yang rendah atau sedang akan
16
mempengaruhi pengetahuan dan pemahaman responden tentang
pemberian MP-ASI rendah dan sebaliknya tingkat pendidikan
tinggi dan tinggi sekali akan menjadikan pengetahuan dan
pemahaman responden tentang pemberian MP-ASI pada bayi usia
6-12 bulan lebih baik (Sunaryo, 2010).
d. Pengetahuan
Pengetahuan para ibu juga berhubungan dengan sumber
informasi yang ibu dapatkan dari mitos dan media massa. Ibu
menyatakan bahwa penyebab pemberian MP-ASI dini pada bayi
mereka dikarenakan adanya kebiasaan ibu dalam memberikan MPASI turun temurun dari orang tuanya seperti pemberian bubur nasi
dan bubur pisang pada saat upacara bayi (aqiqah) yang telah
mencapai usia tiga bulanan. Tidak hanya itu saja, ibu menyatakan
juga tertarik akan iklan susu formula yang sekarang ini sedang
gencar-gencarnya
dilakukan
oleh
produsen
susu
(Ginting,
Sekawarna dan Sukandar, 2013) .
e. Budaya/Suku
Pada suku- suku ataupun adat tertentu terdapat beberapa hal
yang berkaitan dengan pemberian MP-ASI terlalu dini,sehingga
terdapat kegagalan dalam pemberian ASI eksklusif. Sosial Budaya,
Sosio budaya (culture) setempat biasanya sangat berpengaruh
terhadap terbentuknya perilaku seseorang (Ratih, 2013) .
17
f. Dukungan petugas kesehatan
Dukungan petugas kesehatan dan gencarnya pemberian
susu formula juga menyebabkan terjadinya penurunan jumlah ASI
eksklusif. Petugas kesehatan saat ini mulai banyak yang melakukan
pemberian susu formula dan produk bayi lainnya tanpa
berdasarkan indikasi medis hanya berdasarkan pada keuntungan
finansial (Kristianto & Sulistyani, 2013) .
g. Mitos dan mertua
Beberapa mitos yang sering terjadi disekitar lingkungan
kita adalah pada saat hari pertama hingga hari ketiga, ketika ASI
belum keluar maka bayi perlu mendapatkan cairan untuk membuat
bayi tidak merasa haus. Karena kurangnya pengetahuan ini, maka
banyak para ibu yang memberikan susu formula ataupun MP-ASI
seperti air putih , teh, air kelapa kepada bayi mereka sebelum
waktunya.
4. Tujuan MP-ASI
a. Mencapai tumbuh kembang yang optimal baik dari perkembangan
fisik, motorik, dan perkembangan intelektual.
b. Menghindari terjadinya kekurangan gizi
c. Mencegah terjadinya malnutrisi
d. Menghindari terjadinya penyakit
e. Mencegah defisiensi zat besi, zinc, kalsium, vitamin A, vitamin C,
dan asam folat yang dapat mempengaruhi proses tumbuh kembang
18
5. Pola pemberian MP-ASI pada anak 0-6 bulan
Menurut Dinkes dalam Puspita 2011, Berikan hanya ASI saja
sampai berumur enam bulan (ASI Eksklusif). Kontak fisik dan
hisapan bayi akan merangsang produksi ASI terutama 30 menit
pertama setelah lahir. Pada periode ini ASI saja sudah dapat
memenuhi kebutuhan gizi bayi. Berikan ASI dari kedua payudara.
Berikan ASI dari satu payudara sampai kosong, kemudian pindah ke
payudara lainnya . Kolostrum jangan dibuang tetapi harus segera
diberikan pada bayi. Walaupun jumlahnya sedikit, namun sudah
memenuhi kebutuhan gizi bayi pada hari-hari pertama. Waktu dan
lama menyusui tidak perlu dibatasi dan frekuensinya tidak perlu
dijadwal (diberikan pagi, siang, dan malam hari). Serta sebaiknya
jangan memberikan makanan atau minuman (air kelapa, air tajin,
airteh, madu, pisang dan lain-lain) pada bayi sebelum diberikan ASI
karena sangat membahayakan kesehatan bayi dan mengganggu
keberhasilan menyusui .
6. Syarat pemberian MP-ASI
Menurut
Badan
koordinasi
Keluarga
Berencana
Nasional,
Direktorat kelangsungan Hidup Ibu, Anak pada tahun 2005 dalam
Ayu TP. 2011, pemberian MP-ASI benar – benar dipastikan pada
balita usia 6 bulan hingga 2 tahun. Pemberian MP-Asi ini diberikan
dalam jumlah dan kualitas yang cukup secara bertahap sesuai dengan
umur
dan
koondisi
balita
termasuk
melihat
pada
sistem
19
pencernaannya. MP-ASI merupakan segala bentuk makanan ataupun
minuman yang memiliki cakupan gizi yang diperlukan bayi, sehingga
nasi bukan satu0satunya sumber karbohidrat yang amat penting dalam
pemenuhan gizi seimbang didalamnya.
7. Indikator bahwa bayi siap menerima MP-ASI
Indikator bahwa bayi siap untuk menerima MP-ASI menurut
KEMENKES RI 2012 antara lain :
a. Kemampuan bayi untuk mempertahankan kepalanya untuk tegak
tanpa disangga .
b. Menghilangnya refleks menjulurkan lidah
c. Bayi mampu menunjukkan keinginannya pada makanan dengan
cara membuka mulut, lalu memajukan anggota tubuhnya ke depan
untuk mrnunjukkan rasa lapar, dan menarik tubuh ke belakang atau
membuang muka untuk menunjukkan ketertarikan pada makanan.
d. Bayi bersemangat untuk mengambil makanan dan mencoba untuk
meraihnya.
e. Kelihatan menyukai rasa-rasa baru.
f. Bayi sudah bisa membawa makanan sendiri dalam genggaman
tangannya
8. Dampak Pemberian MP-ASI pada anak usia 0-6 bulan
MP-ASI ini berbahaya karena makanan ini dapat menggantikan
kolostrum sebagai makanan bayi yang paling awal . bayi mungkin
terkena diare karena faktor sistem pencernaan yang belum siap
20
menerima MP-ASI, septisemia dan meningitis, bayi mungkin
menderita intoleransi terhadap protein di dalam susu formula tersebut,
serta timbul alergi misalkan eksim . pemberian MP-ASI sangat
merugikan karena akan menghilangkan rasa haus bayi serta malas
menyusui atau “bingung puting ibu” (Riskesdas, 2013) . Selain
mengalami gangguan diatas, dapat timbul efek samping lain, yaitu
berupa kenaikan berat badan yang terlalu cepat sampai terjadi obesitas,
bisa juga anak mengalami alergi dari makanan yang dikonsumsi (Sari,
2013) .
B. Perilaku
1. Pengertian perilaku
Perilaku adalah suatu kegiatan seseorang yang dapat diamati baik
secara langsung maupun tidak langsung. Perilaku menjadi salah satu
faktor yang dapat mempengaruhi kesehatan individu, kelompok dan
juga masyarakat (Nursalam, 2008).
2. Macam-macam perilaku
Notoatmodjo 2010 berpendapat bahwa perilaku manusia dibedakan
menjadi 2. Perbedaan ini didasarkan pada respon seseorang terhadap
stimulus, yaitu :
a. Perilaku tertutup
Perilaku tertutup dapat diartikan bahwa perilaku seseorang
terhadap suatu hal cenderung tertutup atau tidak secara
langsung. Perilaku yang ditunjukan belum dapat diamati oleh
21
orang lain, perilaku ini masih berupa presepsi, perhatian dan
pengetahuan sikap seseorang tersebut.
b. Perilaku terbuka
Perilaku dapat berupa tindakan riil atau nyata dan terbuka
dari seseorang terhadap suatu hal. Perilaku terbuka ini sudah
bisa atau dapat diamati oleh orang lain dan respon yang jelas
berupa tindakan atau praktek yang nyata.
3. Proses adaptasi perilaku
Menurut Efendi,Ferry&Makhfudli (2010) terdapat suatu proses
sebelum terjadinya proses adaptasi perilaku baru, yaitu :
a. Awareness (kesadaran), yakni orang tersebut menyadari dalam arti
mengetahui stimulus (objek) terlebih dahulu.
b. Interest , yakni orang mulai tertarik kepada stimulus.
c. Evaluation (menimbang-nimbang baik dan tidaknya stimulus
tersebut bagi dirinya). Hal ini berarti sikap responden sudah lebih
baik lagi.
d. Trial, orang telah mulai mencoba prilaku baru.
e. Adoption, subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan
kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus.
Perubahan perilaku tidak selalu melewati tahap –tahap diatas.
Apabila penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku melalui proses
seperti ini didasari pengetahuan, kesadaran dari sikap positif, maka
perilaku tersebut akan bersifat langgeng. Sebaliknya, apabila perilaku
22
tersebut tidak didasari oleh pengetahuan dan kesadaran maka tidak
akan berlangsung lama (Notoatmodjo, 2012).
4. Faktor yang mempengaruhi perilaku
Perilaku memiliki beberapa faktor yang mempengaruhi , yaitu :
a. Kepercayaan
Kepercayaan adalah suatu keyakinan seseorang yang
diperolehnya secara monolog sehingga menjadi suatu keyakinan
yang mendukung berbagai pencapaian tujuan hidupnya (Wibowo,
2008).
b. Sikap
LIPI
2007
(lembaga
Ilmu
Pengetahuan
Indonesia)
mengatakan bahwa sikap adalah gabungan perasaan dan keyakinan
yang berkaitan dengan suatu objek dan cenderung bertindak
kepada objek tersebut dengan cara tertentu.
c. Pengetahuan
Pengetahuan
adalah
hasil
dari tahu
melalui
proes
penginderaan dengan pancaindra manusi yaitu pendengaran,
penglihatan, perasa, prnghidi, dan peraba serta pengetahuaan
merupakan domain terpenting dalam pembentukan perilaku
seseorang (Makfudi&Effendi, 2010).
23
C. Kebudayaan
1. Pengertian budaya
Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki
bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke
generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk
sistem agama, adat - istiadat (Michelleaugustine, 2015) . Sebagai
pengetahuan yang dipelajari dan disebarkan, kultur menjadi suatu
petunjuk bagi seseorang dalam berpikir, bersikap dan bertindak
sehingga menjadi suatu pola yang mengekspresikan siapa mereka. Hal
tersebut diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya (Lestari
,Widodo & Sumardino, 2014) .
2. Dimensi budaya
Orang-orang di setiap masyarakat harus memahami berbagai
konsep yang mendasar bagi kehidupan manusia. Dimensi budaya
adalah keyakinan bahwa orang memegang sifat manusia tentang
bawaan, hubungan sosial, hubungan antara manusia dan alam, waktu,
dan aktivitas (Kluckhohn & Strodtbeck 1961). Beberapa hal yang
termasuk dimensi budaya :
a.
Keyakinan
Keyakinan
diri
adalah
perasaan
individu
mengenai
kemampuan dirinya untuk membentuk perilaku yang relevan
dalam
situasi-situasi
khusus
yang
mungkin
tidak
dapat
diramalkan dan mungkin menimbulkan stres (Bandura,1986).
24
b.
Sifat manusia
Sifat manusia dapat dipahami sebagai bawaan buruk, baik ,
atau campuran baik dan buruk. Pemahaman ini keduanya
tercermin dalam dan diciptakan oleh keyakinan agama.
c.
Hubungan sosial
Hubungan sosial ada di semua masyarakat, tetapi dipahami
dan terstruktur berbeda. Hubungan dengan orang lain dapat
didekati dengan dua cara dasar : individualistically atau
collectivistically. Dalam budaya individualistis (misalnya, Eropa
Barat, Anglo-Amerika, Afrika Amerika), orang cenderung
berusaha menuju kemerdekaan, keunikan, ekspresi diri, dan
menekankan pada nilai-nilai individual, seperti kekuasaan dan
pencapaian pribadi. Dalam budaya kolektif (misalnya, Afrika,
Asia, Timur Tengah, Latino), orang cenderung berusaha
menekankan nilai-nilai kebersamaan, seperti kerjasama dan
tanggung jawab kepada kelompok. Meskipun individualisme dan
kolektivisme tidak saling eksklusif, orang umumnya memilih satu
dari pendekatan di atas (Hofstede dkk 1980).
d.
Hubungan dengan alam
Hubungan antara manusia dan alam dapat digambarkan
sebagai penaklukan alam, selaras dengan alam, atau penguasaan
atas alam. Hubungan ini tercermin dalam bagaimana masyarakat
25
memanfaatkan sumber daya alam, melindungi atau kerusakan
lingkungan, dan merespon bencana alam.
e.
Waktu
Budaya dapat fokus pada saat ini, masalalu atau masa
depan. Fokus pada saat ini menghasilkan aliran alami dengan
kejadian hari. Penekanan pada masa depan menghasilkan
perencanaan dan penjadwalan. Sedangkan fokus pada masa lalu
ditampilkan dalam menghormati orang tua seseorang dan leluhur.
f.
Aktivitas
Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan
berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula
disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari
aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan
kontak, serta bergaul dengan manusialainnya menurut pola-pola
tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret,
terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan
didokumentasikan (J.j. Hoenigman, 2015).
3. Ciri – ciri kebudayaan
Ciri- ciri kebudayaan menurut Hafidz 2010 yaitu : Budaya
terbentuk melalui interaksi yang berkesinambungan yang saling
mempengaruhi dan terus menerus berubah (adaptive interactions),
merupakan sesuatu yang ada pada seluruh kelompok budaya
bersangkutan (shared elements), dialihkan dari satu waktu ke waktu
26
berikutnya, dari generasi ke generasi (transmitted accross time periods
and generations) .
4. Unsur - unsur kebudayaan
Unsur unsur kebudayaan menurut Kluckhohn dalam bukunya
Universal Categories of Culture (1953)
a. Sistem Bahasa
Bahasa merupakan sarana bagi manusia untuk memenuhi
kebutuhan sosialnya untuk berinteraksi atau berhubungan dengan
sesamanya. Menurut Keesing (1999:64), kemampuan manusia
dalam membangun tradisi budaya, menciptakan pemahaman
tentang fenomena sosial yang diungkapkan secara simbolik, dan
mewariskannya kepada generasi penerusnya sangat bergantung
pada bahasa. Dengan demikian, bahasa menduduki porsi yang
penting dalam analisa kebudayaan manusia.
b. Sistem Pengetahuan
Sistem pengetahuan dalam kultural universal berkaitan
dengan sistem peralatan hidup dan teknologi karena sistem
pengetahuan bersifat abstrak dan berwujud di dalam ide manusia.
Sistem pengetahuan sangat luas batasannya karena mencakup
pengetahuan manusia tentang berbagai unsur yang digunakan
dalam kehidupannya. Banyak suku bangsa yang tidak dapat
bertahan hidup apabila mereka tidak mengetahui dengan teliti pada
musim-musim apa berbagai jenis ikan pindah ke hulu sungai.
27
Selain itu, manusia tidak dapat membuat alat-alat apabila tidak
mengetahui dengan teliti ciri ciri bahan mentah yang mereka pakai
untuk membuat alat-alat tersebut. Tiap kebudayaan selalu
mempunyai suatu himpunan pengetahuan tentang alam, tumbuhtumbuhan, binatang, benda, dan manusia yang ada di sekitarnya .
c. Sistem Sosial
Unsur budaya berupa sistem kekerabatan dan organisasi
sosial merupakan usaha untuk memahami bagaimana manusia
membentuk masyarakat melalui berbagai kelompok sosial.
Menurut Koentjaraningrat 2010 tiap kelompok masyarakat
kehidupannya diatur oleh adat istiadat dan aturan-aturan mengenai
berbagai macam kesatuan di dalam lingkungan di mana dia hidup
dan bergaul dari hari ke hari. Kesatuan sosial yang paling dekat
dan dasar adalah kerabatnya, yaitu keluarga inti yang dekat dan
kerabat yang lain. Selanjutnya, manusia akan digolongkan ke
dalam tingkatan - tingkatan lokalitas geografis untuk membentuk
organisasi sosial dalam kehidupannya .
d. Sistem Peralatan
Hidup dan teknologi manusia selalu berusaha untuk
mempertahankan hidupnya sehingga mereka akan selalu membuat
peralatan atau benda-benda tersebut. Perhatian awal para
antropolog dalam memahami kebudayaan manusia berdasarkan
unsur teknologi yang dipakai suatu masyarakat berupa benda-
28
benda yang dijadikan sebagai peralatan hidup dengan bentuk dan
teknologi yang masih sederhana. Dengan demikian, bahasan
tentang unsur kebudayaan yang termasuk dalam peralatan hidup
dan teknologi merupakan bahasan kebudayaan fisik .
e. Sistem Mata Pencaharian
Hidup mata pencaharian atau aktivitas ekonomi suatu
masyarakat menja difokus kajian. Penelitian etnografi mengenai
sistem mata . pencaharian mengkaji bagaimana cara mata
pencaharian suatu kelompok masyarakat atau sistem perekonomian
mereka untuk mencukupi kebutuhan hidupnya
f. Sistem Religi
Asal mula permasalahan fungsi religi dalam masyarakat
adalah adanya pertanyaan mengapa manusia percaya kepada
adanya suat kekuatan gaib atau supranatural yang dianggap lebih
tinggi daripada manusia dan mengapa manusia itu melakukan
berbagai cara untuk berkomunikasi dan mencari hubunganhubungan dengan kekuatan-kekuatan supranatural tersebut. Dalam
usaha untuk memecahkan pertanyaan mendasar yang menjadi
penyebab lahirnya asal mula religi tersebut, para ilmuwan sosial
berasumsi bahwa religi suku-suku bangsa di luar Eropa adalah sisa
dari bentuk-bentuk religi kuno yang dianut oleh seluruh umat
manusia pada zaman dahulu ketika kebudayaan mereka masih
primitif.
29
g. Kesenian
Perhatian ahli antropologi mengenai seni bermula dari
penelitian etnografi mengenai aktivitas kesenian suatu masyarakat
tradisional. Deskripsi yang dikumpulkan dalam penelitian tersebut
berisi mengenai benda-benda atau artefak yang memuat unsur seni,
seperti patung, ukiran,dan hiasan .
5. Budaya Jawa dalam pemberian MP-ASI
Pulau jawa merupakan pulau terpadat di Indonesia, hampir 60%
dari peduduk Indonesia berada di Pulau Jawa. Sebagai penduduk
terpadat, Jawa juga menjadi suku bangsa terbesar di Indonesia. Seperti
halnya suku bangsa lain, suku bangsa Jawa juga memiliki banyak
ritual adat yang mengikat anggotanya salah satunya dalam pemberian
MP-ASI pada bayi. Berikut upacara adat yang dilakukan masyarakat
Jawa dalam kelahiran menurut teks platenabum Yogyakarta 30 :
a. Makanan pantangan ibu pada proses kehamilan : Ibu hamil
tidak boleh makan pisang yang berdempet akan menyebabkan
anaknya kembar siam, ngidam adalah perilaku khas perempuan
hamil yang menginginkan sesuatu makanan atau sifat tertentu
terutama di awal kehamilannya jika tidak dituruti maka
anaknya akan mudah mengeluarkan air liur, jangan makan ikan
agar bayinya tidak bau amis, dilarang memakan nanas
dipercaya menyebabkan gugurnya bayi.
30
b. Upacara Adat Tahnik dan Brokohan : Rangkaian upacara ini
berupa Tahnik artinya suapan pertama dari makanan yang
diberikan pada bayi yang baru lahir. Pada umumnya, makanan
yang akan ditahnik terlebih dahulu dilumat atau dihaluskan,
kemudian diberikan kepada sang bayi sambil menggosokgosokkannya kelangit-langit mulut . Terkadang makanan yang
akan diberikan juga diberi madu dengan maksud sebagai
pelatihan bagi sang bayi untuk dapat makan, memberikan
rangsangan terhadap makanan dan minuman, dan menjaga
kondisi fisik dan kesehatan bayi agar tahan terhadap serangan
penyakit. Kemudian dilanjutkan
memendam ari-ari atau
plasenta si bayi. Setelah itu dilanjutkan dengan membagikan
sesajen brokohan kepada sanak saudara dan para tetangga.
c. Pelaksanaan Aqiqah : Setelah upacara-upacara dilangsungkan,
kemudian pada bulan ke tiga dilanjutkan dengan acara
penyembelihan kambing, mencukur rambut bayi dan memberi
nama. Bayi diberikan bubur susu ataupun pisang kerok karena
bayi dianggap sudah mampu untuk menerina MP-ASI saat
upacara 3 bulanan tersebut (Ratih, 2013) .
d. Selain itu MP-ASI pada bayi berusia 0-6 bulan antara lain
minum air putih alasannya agar mulut bayi bersih, minum
madu atau gula merah agar lidah bayi terangsang rasa manis,
minum kopi sebanyak satu sendok makan tujuannya agar bayi
31
tidak mudah slep (kejang) . Hal ini sudah menjadi kebiasaan,
sehingga pada akhirnya dapat mendorong masyarakat untuk
berperilaku sesuai dengan kebiasaaan yang ada (Sari, 2013) .
e. Upacara babaran yaitu dengan menyuapkan bubur yang berasal
dari tepung beras pada bayi yang baru lahir. Upacara ini di
yakini dapat menghindari penderitaan dari ibu dan bayi.
f. Pemberian air tajin bagi bayi yang kirang dari 6 bulan.
Masyarakat percaya air tajin dapat membuat bayi cerdas
nantinya dan imun tubuh bayi menjadi kuat.
Download