perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id commit to user BAB II

advertisement
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Tinjauan tentang Perjanjian dan Perjanjian Kredit
1. Pengertian Perjanjian
Menurut Prof. Sri Soedewi Masychoen Sofwan memberikan batasan
perjanjian adalah sebagai suatu perbuatan hukum dimana seorang atau lebih
mengikatkan diri seorang lain atau lebih lainnya. Menurut Prof. Dr. R. Wirjono
Prodjodikoro memberikan batasan pengertian perjanjian adalah suatu
perbuatan hukum mengenai harta benda kekayaan antara dua pihak, dimana
satu pihak berjanji untuk melakukan sesuatu hal atau untuk tidak melakukan
suatu hal, sedangkan pihak lain berhak menuntut pelaksanaan janji tersebut.
Selain itu, menurut KRMT. Tirtidiningrat, S.H., perjanjian adalah suatu
perbuatan hukum berdasarkan kata sepakat diantara dua orang atau lebih untuk
menimbulkan akibat-akibat hukum yang diperkenankan oleh Undang-undang.1
Perjanjian dirumuskan dalam Pasal 1313 KUHPerdata, yaitu suatu
perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap
satu orang atau lebih lainnya. Ketentuan pasal ini kurang tepat, karena ada
beberapa kelemahan yang perlu dikoreksi. Kelemahan-kelemahan tersebut
adalah sebagai berikut:2
1) Hanya menyangkut sepihak saja;
2) Kata perbuatan mencakup juga tanpa konsensus;
3) Pengertian perjanjian terlalu luas; dan
4) Tanpa menyebut tujuan.
Berdasarkan alasan-alasan di atas ini maka perjanjian dapat dirumuskan
sebagai berikut:
1
2
hlm. 224
Evi Ariyani, Hukum Perjanjian, ctk Pertama, Ombak, Yogyakarta, 2013, hlm. 1-2
Abdulkadir Muhammad, Hukum Perdata Indonesia, PT. CitraAditya Bakti, Bandung, 2000,
commit to user
14
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
15
“Perjanjian adalah suatu persetujuan dengan mana dua orang atau lebih saling
mengikatkan diri untuk melaksanakan suatu hal mengenai harta kekayaan.”3
Apabila diperinci, maka perjanjian itu mengandung unsur-unsur sebagai
berikut:
1) Ada pihak-pihak, sedikit-dikitnya dua orang (subjek);
2) Ada persetujuan antara pihak-pihak itu (konsensus);
3) Ada objek yang berupa benda;
4) Ada tujuan bersifat kebendaan (mengenai harta kekayaan);
5) Ada bentuk tertentu, lisan atau tulisan.
2. Syarat-syarat Sahnya Perjanjian
Perjanjian yang sah adalah perjanjian yang memenuhi syarat-syarat
yang ditetapkan oleh Undang-Undang. Perjanjian yang sah diakui dan diberi
akibat hukum (legally concluded contract). Menurut Pasal 1320 KUHPerdata,
suatu perjanjian adalah sah, apabila memenuhi empat syarat sebagai berikut:4
1) Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya.
Dengan sepakat dimaksudkan bahwa para pihak yang mengadakan
perjanjian itu harus bersepakat, setuju mengenai hal-hal yang pokok dari
perjanjian yang diadakan itu. Apa yang dikehendaki oleh pihak yang satu,
juga dikehendaki pihak lain.
2) Kecakapan untuk membuat suatu perikatan.
Menurut Pasal 1329 KUHPerdata: “tiap orang berwenang untuk
membuatperikatan, kecuali jika ia dinyatakan tidak cakap untuk hal itu”.
Menurut Pasal 1330 KUHPerdata, yang tidak cakap untuk membuat
perjanjian ada tiga golongan, yaitu :
a) anak yang belum dewasa;
3
Ibid., hlm. 225
Djaja S. Meliala, Perkembangan Hukum Perdata tentang Benda dan Hukum Perikatan, ctk
Pertama, Nuansa Aulia, Bandung, hlm. 91-95
4
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
16
b) orang yang berada di bawah pengampuan; dan
c) perempuan bersuami.
Sekarang ini, setelah dikeluarkannya Surat Edaran Mahkamah Agung
Nomor 3 Tahun 1963 dan setelah berlakunya Undang-Undang Perkawinan
Nomor 1 Tahun 1974, tinggal dua golongan yang tidak cakap membuat
perikatan, yaitu anak yang belum dewasa dan orang yang berada di bawah
pengampuan (curatele).
3) Suatu hal tertentu.
Mengenai suatu hal tertentu maksudnya ialah bahwa objek perjanjian harus
tertentu, setidak-tidaknya harus dapat ditentukan (Pasal 1333 KUHPerdata).
Dan, barang-barang yang baru akan dikemudian hari pun dapat menjadi
objek suatu perjanjian (Pasal 1334 KUHPerdata).
4) Suatu sebab yang halal.
Maksudnya ialah bukan hal yang menyebabkan perjanjian, tetapi isi
perjanjian itu sendiri. Isi perjanjian tidak boleh bertentangan dengan undangundang, kesusilaan, maupun ketertiban umum (Pasal 1337 KUHPerdata).
Syarat yang pertama dan kedua di atas disebut syarat subjektif, karena
menyangkut pihak-pihak yang membuat perjanjian dan apabila syarat ini tidak
terpenuhi maka perjanjian atau kontrak tersebut dapat dibatalkan. Syarat ketuga
dan keempat adalah syarat objektif karena menyangkut objek perjanjian dan
apabila syarat tersebut tidak terpenuhi maka perjanjian atau kontrak batal demi
hukum.5
Suatu perbuatan hukum batal, berarti bahwa karena adanya cacat hukum
mengakibatkan tujuan perbuatan hukum tersebut menjadi tidak berlaku. Pada
perbuatan hukum dapat mengandung cacat yang sifat cacat tersebut dapat
berbeda-beda. Dengan adanya cacat yang berbeda menimbulkan sanksi yang
berbeda pula. Perbedaan utama mengenai kebatalan adalah batal demi hukum
5
Evi Ariyani, op.cit., hlm. 10
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
17
(van rechtswege nietig) dan dapat dibatalkan (vernietigbaar). Pada keadaan
tertentu dengan adanya cacat tertentu diberikan sanksi batal demi hukum.
Perbuatan hukum tersebut oleh undang-undang tidak mempunyai akibat hukum
sejak terjadinya perbuatan hukum tersebut. Perbuatan hukum yang
mengandung cacat, tetapi penentuan apakah perbuatan hukum tersebut menjadi
sah atau batal bergantung pada keinginan orang tertentu menyebabkan
perbuatan hukum tersebut dapat dibatalkan.6 Dengan batalnya suatu perbuatan
hukum, maka perbuatan hukum tersebut tidak mempunyai akibat hukum.
Akibat batal dapat berakibat terhadap siapa pun, dapat pula hanya berlaku
terhadap orang tertentu, serta dapat pula hanya batal sebagian.7
3. Pengertian Perjanjian Kredit
Kata “kredit” berasal dari bahasa latin yaitu Credere yang berarti
kepercayaan. Oleh karena itu, dasar dari kredit adalah kepercayaan yang
diberikan seseorang (kreditor) kepada orang lain dan percaya bahwa si
penerima kredit tersebut (debitor) akan melunasi segala sesuatu yang telah
disepakati bersama.8 Pasal 1 angka (11) Undang-Undang Nomor 10 Tahun
1998 tentangPerbankan memberikan definisi tentang kredit :“Kredit adalah
penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu,
berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank
dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi hutangnya
setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga”.
Perjanjian kredit adalah perjanjian yang dibuat bersama antara kreditor
dan debitor atas sejumlah kredit, dimana kreditor berkewajiban untuk
memberikan uang atau kredit kepada debitor, dan debitor berkewajiban untuk
membayar pokok dan bunga, serta biaya-biaya yang lainnya sesuai dengan
6
Herlien Budiono, Kumpulan Tulisan Hukum Perdata di Bidang Kenotariatan, ctk Ketiga,
Citra Aditya Bakti, Bandung, 2012, hlm. 364-365
7
Ibid, hlm 366
8
Jamal Wiwoho, op.cit., hlm. 87
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
18
jangka waktu yang telah disepakati antara keduanya.9 Unsur-unsur perjanjian
kredit adalah:10
a. Adanya subjek hukum;
b. Adanya objek hukum;
c. Adanya prestasi;
d. Adanya jangka waktu.
Perjanjian kredit menurut hukum perdata Indonesia merupakan salah
satu dari bentuk perjanjian pinjam-meminjam sebagaimana yang diatur dalam
Pasal 1754-1769 KUHPerdata. Akan tetapi, dalam praktik perbankan yang
modern, hubungan hukum dalam kredit bukan lagi semata-mata berbentuk
perjanjian pinjam-meminjam, melainkan adanya campuran dengan bentuk
perjanjian yang lainnya, seperti perjanjian pemberian kuasa dan perjanjian
lainnya.11
4. Subjek dan Objek Perjanjian Kredit
Para pihak dalam perjanjian kredit adalah debitor dan kreditor. Kreditor
dalam Pasal 1 angka 4 dan 5 Rancangan Undang-Undang Perkreditan
Perbankan adalah bank yang menyediakan kredit kepada debitor berdasarkan
perjanjian kredit. Debitor adalah badan hukum atau badan lainnya yang
menerima kredit dari kreditor berdasarkan perjanjian kredit. Objek dalam
perjanjian kredit adalah sejumlah uang tertentu yang sistem pembayarannya
dilakukan
secara
mengangsur
dalam
jangka
waktu
tertentu
sesuai
kesepakatan.12
5. Fungsi Perjanjian Kredit
9
Evi Ariyani,op.cit., hlm. 59
Salim HS, Perkembangan Hukum Kontrak di Luar KUHPerdata, Raja Grafindo Persada,
Jakarta, 2006, hlm. 78
11
Muhamad Djumhana, Hukum Perbankan di Indonesia, ctk Keenam, edisi revisi, Citra
Aditya Bakti, Bandung, 2012, hlm. 441
12
Evi Ariyani, op.cit., hlm. 60-61
10
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
19
Menurut Sutarno perjanjian kredit memiliki fungsi sebagai berikut :13
1) Perjanjian kredit sebagai alat bukti bagi kreditor dan debitor yang
membuktikan adanya hak dan kewajiban timbal balik antara bank sebagai
kreditor dan debitor.
2) Perjanjian kredit dapat digunakan sebagai alat atau sarana pemantauan atau
pengawasan kredit yang sudah diberikan, karena perjanjian kredit berisi
syarat dan ketentuan dalam pemberian kredit dan pengembalian kredit.
Untuk mencairkan kredit dan penggunaan kredit dapat dipantau dari
ketentuan perjanjian kredit.
3) Perjanjian kredit merupakan perjanjian pokok yang menjadi dasar dari
perjanjian ikutannya yaitu pengikatan jaminan.
4) Perjanjian kredit hanya sebagai alat bukti biasa yang membuktikan adanya
hutang debitor.
6. Pengertian Kredit Perbankan
Bank merupakan salah satu lembaga keuangan yang paling penting dan
besar perannya dalam kehidupan masyarakat. Dalam menjalankan perannya,
maka bank bertindak sebagai salah satu bentuk lembaga keuangan yang
bertujuan memberikan kredit dan jasa-jasa keuangan lainnya. Pada hakekatnya
pengertian kredit yang diartikan oleh Perbankan sebagai pemberi kredit
(kreditor) dalam menjalankan perannya wajib mendasarkan pada sesuatu
kebijakan untuk selalu tetap memelihara keseimbangan yang tepat antara
keinginan untuk memperoleh keuntungan dalam bentuk tingkat bunga pada satu
sisi dengan tujuan likuiditas dan solvabilitas bank.14
Analisis kredit harus cermat memperhitungkan nilai jaminan dengan
nilai kredit yang akan diberikan bank kepada debitornya karena sebagaimana
13
Sutarno, Aspek-aspek Hukum Perkreditan pada Bank, Alfabeta, Bandung, 2004, hlm. 12
Muhamad Djumhana, op.cit., hlm 418
14
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
20
dinyatakan oleh Shleifer and Vishny :15 “theories predict that the distressed
liquidation of assets by hedge funds results in a large drop in asset prices.”
(Kesalahan memprediksi jaminan maka dapat menimbulkan kesusahan dalam
eksekusi kredit macet). Kredit macet adalah kredit yang mengalami kesulitan
pelunasan akibat adanya faktor-faktor atau unsur kesengajaan atau karena
kondisi di luar kemampuan debitor.16
Hal ini diperlukan karena kredit yang diberikan oleh bank mengandung
resiko sehingga dalam pelaksanaannya bank harus memperhatikan asas-asas
perkreditan yang sehat. Pentingnya diperhatikan segi likuiditas dan solvabilitas
oleh pihak bank dalam kegiatan perkreditan, karena segi likuiditas tersebut
merupakan hal yang penting dari bank dalam hal menyangkut kemampuan bank
tersebut dalam meminjam terbayarnya utang-utang jangka pendeknya.
Sedangkan pentingnya solvabilitas dalam hal bank tersebut diharapkan
mempunyai kemampuan untuk melunasi semua utangnya (baik jangka pendek
maupun jangka panjang). Solvabilitas bank juga bergantung pada masingmasing nasabahnya, sehingga untuk menjaga solvabilitas bank maka bank
harus berhati-hati dan harus menyelidiki dulu apakah si calon peminjam
(debitor) itu sungguh-sungguh dapat dipercaya dan juga dapat diandalkan. Cara
menyelidikinya dengan melalui analisa kredit yang ditujukan kepada si calon
debitor dengan mengemukakan persyaratan-persyaratan tertentu dan acuan
yang telah baku pada dunia perbankan.17
7. Berakhirnya Perjanjian
Pasal 1381 KUHPerdata disebutkan beberapa cara untuk berakhirnya
suatu perjanjian :18
15
Shleifer and Vishny yang ditulis oleh Xavier Gabaix, Arvind Krishnamurthy, and Olivier
Vigneron, “Limits of Arbitrage : Theory and Evidence from The Mortgage-Backed Securities Market”,
The Journal of Finance, Vol. LXII, No. 2, April 2007
16
Siamat Dahlan, Manajemen Bank Umum, Intermedia, Jakarta, 1993, hlm. 303
17
Ibid.
18
Evi Ariyani, op.cit., hlm. 23
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
21
a. Pembayaran
b. Penawaran pembayaran tunai disertai dengan penitipan
c. Pembaharuan utang
d. Perjumpaan utang
e. Percampuran utang
f. Pembebasan utang
g. Musnahnya benda yang terutang
h. Pembatalan
i. Berlakunya syarat batal
j. Kadaluarsa
Berakhirnya perjanjian tidak diatur secara tersendiri dalam UndangUndang, tetapi hal itu dapat disimpulkan dari beberapa ketentuan yang ada
dalam Undang-Undang tersebut. Berakhirnya suatu perjanjian tersebut
disebabkan oleh :19
a. Ditentukan terlebih dahulu oleh para pihak, misalnya dengan menetapkan
batas waktu tertentu, maka jika sampai pada batas yang telah ditentukan
tersebut, mengakibatkan perjanjian hapus;
b. Undang-Undang yang menetapkan batas waktunya suatu perjanjian;
c. Karena terjadinya peristiwa tertentu selama perjanjian dilaksanakan;
d. Salah satu pihak meninggal dunia;
e. Adanya pernyataan untuk mengakhiri perjanjian yang diadakan oleh salah
satu pihak atau pernyataan tersebut sama-sama adanya kesepakatan untuk
mengakhiri perjanjian yang diadakan;
f. Putusan hakim yang mengakhiri suatu perjanjian yang diadakan;
g. Telah tercapainya tujuan dari perjanjian yang diadakan oleh para pihak.
19
Kartini Muljadi dan Gunawan Widjaja, Seri Hukum Harta Kekayaan: Hak Tanggungan,
Prenada Media, Jakarta, 2005, hlm. 43
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
22
8. Hapusnya Perjanjian Kredit
Pasal 1381 KUHPerdata mengatur cara hapusnya perikatan, dapat
diberlakukan pada perjanjian kredit bank. Umumnya, perjanjian kredit bank
berakhir karena :20
a. Pembayaran
Pembayaran (lunas) ini merupakan pemenuhan prestasi dari debitor, baik
pembayaran utang pokok, bunga, denda, maupun biaya-biaya lainnya yang
wajib dibayar lunas oleh debitor. Pembayaran lunas ini baik karena jatuh
tempo kreditnya atau karena diharuskannya debitor melunasi kreditnya
secara seketika dan sekaligus. Pasal 1382 KUH Perdata menyebutkan
kemungkinan pembayaran utang (pelunasan) dilakukan oleh pihak ketiga
kepada pihak berpiutang (kreditor), sehingga terjadi penggantian
kedudukan atau hak-hak kreditor oleh pihak ketiga. Berdasarkan pasal 1400
KUH Perdata, terjadinya subrogasi bisa karena perjanjian atau subrogasi
demi undang-undang yang diatur lebih lanjut dalam pasal 1401-1402 KUH
Perdata. Pembaruan utang terjadi dengan jalan mengganti utang lama
dengan utang baru, debitor lama dengan debitor baru, dan kreditor lama
dengan kreditor baru. Bila utang lama diganti dengan utang baru terjadilah
penggantian objek perjanjian yang disebut dengan novasi objektif, utang
lama lenyap.
b. Subrogasi
(Subrogatie)
Pasal
1382
KUH
Perdata
menyebutkan
kemungkinan pembayaran utang (pelunasan) dilakukan oleh pihak ketiga
kepada pihak berpiutang (kreditor), sehingga terjadi penggantian
kedudukan atau hak-hak kreditor oleh pihak ketiga. Berdasarkan pasal 1400
20
Mariam Darus Badrulzaman, Sutan Remy Sjahdeini, Heru Soepraptomo, Faturrahman
Djamil, Taryana Soenandar, Kompilasi Hukum Perikatan, PT Citra Aditya Bakti, Bandung, 2001, hlm.
279
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
23
KUH Perdata, terjadinya subrogasi bisa karena perjanjian atau subrogasi
demi undang-undang yang diatur lebih lanjut dalam pasal 1401-1402 KUH
Perdata. Pembaruan utang terjadi dengan jalan mengganti utang lama
dengan utang baru, debitor lama dengan debitor baru, dan kreditor lama
dengan kreditor baru. Bila utang lama diganti dengan utang baru terjadilah
penggantian objek perjanjian yang disebut dengan novasi objektif, utang
lama lenyap.
c. Pembaruan Hutang (Novasi)
Dalam hal ini terjadi pergantian subjeknya, maka jika diganti debitornya
disebut novasi subjekti pasif, jika diganti krediturnya disebut novasi
subjektif aktif. Pada umumnya pembaruan utang yang terjadi dalam dunia
perbankan adalah dengan mengganti atau meperbarui perjanjian kredit bank
yang ada dengan perjanjian kredit yang baru. Otomatis perjanjian kredit
yang lama berakhir dan tidak berlaku lagi. Pasal 1413 KUH Perdata
menyebutkan 3 cara untuk melakukan novasi, yaitu:
Kompensasi adalah perjumpaan dua utang, yang berupa benda-benda yang
ditentukan menurut jenis (generieke ziken), yang dipunyai oleh dua orang
atau
pihak
secara
timbale
balik,
dimana
masing-masing pihak
berkedudukan baik sebagai kreditor maupun debitor terhadap orang lain,
sampai jumlah terkecil yang ada diantara kedua utang tersebut. Dasarnya
disebutkan dalam pasal 1425 KUH Perdata. Dikatakan jika dua orang saling
berhutang satu pada yang lain maka terjadilah antara mereka suatu
perjumpaan utang-piutang, dengan mana utang-hutang antara kedua orang
tersebut
dihapuskan.
Kondisi
ini
dijalankan
bank
dengan
cara
mengkonpensasi barang jaminan
1) dengan membuat suatu perikatan utang baru yang menggantikan
perikatan utang lama yang dihapuskan karenanya,
2) dengan cara expromissie, yakni mengganti debitur lama dengan debitur
baru,
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
24
3) mengganti debitur lama dengan debitur baru sebagai akibat perjanjian
baru yang diadakan
d. Perjumpaan Utang (Kompensasi)
Kompensasi adalah perjumpaan dua utang, yang berupa benda-benda yang
ditentukan menurut jenis (generieke ziken), yang dipunyai oleh dua orang
atau
pihak
secara
timbale
balik,
dimana
masing-masing pihak
berkedudukan baik sebagai kreditor maupun debitor terhadap orang lain,
sampai jumlah terkecil yang ada diantara kedua utang tersebut. Dasarnya
disebutkan dalam pasal 1425 KUH Perdata. Dikatakan jika dua orang saling
berhutang satu pada yang lain maka terjadilah antara mereka suatu
perjumpaan utang-piutang, dengan mana utang-hutang antara kedua orang
tersebut
dihapuskan.
Kondisi
ini
dijalankan
bank
dengan
cara
mengkonpensasi barang jaminan debitur dengan utangnya kepada bank,
sebesar jumlah jaminan tersebut yang diambil alih tersebut.
B. Tinjauan tentang Jaminan
1. Pengertian Jaminan dan Fungsi Jaminan
Pengertian jaminan menurut Mariam Darus Badrulzaman adalah suatu
tanggungan yang diberikan oleh seorang debitor dan atau pihak ketiga kepada
kreditor untuk menjamin kewajibannya dalam suatu perikatan. Adapun
Suyanto, ahli hukum perbankan mendefinisikan jaminan adalah penyerahan
kekayaan atau pernyataan kesanggupan seseorang untuk menanggung
pembayaran kembali suatu utang. Di sisi lain, Hartono Hadisaputro
berpendapat bahwa jaminan adalah sesuatu yang diberikan kepada kreditor
untuk menimbulkan keyakinan bahwa kreditor akan memenuhi kewajiban yang
dapat dinilai dengan uang yang timbul dari suatu perikatan.21
21
Adrian Sutedi, op.cit., hlm. 20
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
25
Kashadi memberikan pengertian jaminan adalah adalah suatu yang
diberikan kepada kreditor untuk menimbulkan keyakinan bahwa debitor akan
memenuhi kewajiban yang dapat dinilai dengan uang yang timbul dari suatu
perikatan.22 Menurut Sri Soedewi Masjhoen Sofwan hukum jaminan adalah
mengatur konstruksi yuridis yang memungkinkan pemberian fasilitas kredit,
dengan menjaminkan benda-benda yang dibelinya sebagai jaminan. Peraturan
demikian harus cukup menyakinkan dan memberikan kepastian hukum bagi
lembaga-lembaga kredit, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Adanya
lembaga jaminan dan lembaga demikian, kiranya harus dibarengi dengan
adanya lembaga kredit dengan jumlah, besar, dengan jangka waktu yang lama
dan bunga yang relatif rendah. Menurut J. Satrio mengartikan hukum jaminan
adalah peraturan hukum yang mengatur jaminan-jaminan piutang seorang
kreditur terhadap debitur. Menurut Salim HS jaminan yaitu keseluruhan dari
kaidah-kaidah hukum yang mengatur hubungan hukum antara pemberi dan
penerima jaminan dalam kaitannya dengan pembebanan jaminan untuk
mendapatkan fasilitas kredit.23
Menurut Pasal 1131 KUHPerdata, maka yang dimaksud dengan
jaminan, ialah : meliputi seluruh kekayaan debitor yang sudah ada maupun
yang baru akan ada di kemudian hari, sehingga tanpa harus diperjanjikan secara
khusus, benda-benda tersebut sudah menjadi jaminan bagi seluruh utang-utang
debitor.24 Secara umum, Pasal 1131 KUHPerdata memberikan jaminan kepada
kreditor, yaitu atas segala kebendaan debitor menjadi tanggungan untuk segala
perikatannya. Berdasar pada ketentuan Pasal 1132 KUHPerdata, para kreditor
mempunyai hak tuntut dengan urutan yang sama atas harta kebendaan debitor
yang berarti bahwa, baik tagihan lama maupun baru, besar maupun kecil jumlah
22
Kashadi, Hak Tanggungan dan Jaminan Fidusia, Badan Penerbit Undip, Semarang, 2000,
hlm. 1
23
Noor Saptanti, Hukum Jaminan Bahan Ajar Mahasiswa Program Studi Magister
Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta, 2013
24
Djaja S. Meliala, op.cit., hlm. 42
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
26
tagihannya akan disamakan urutan penagihannya (paritas creditorum), kecuali
terdapat alasan yang sah untuk didahulukan.25
Fungsi dari jaminan adalah untuk menjaga kelancaran pengembalian
dana yang diikat dengan hak jaminan. Pada prinsipnya jaminan yang baik dapat
dilihat dari kemudahan untuk memperoleh kredit dari bank, tidak melemahkan
potensi ekonomi penerima kredit untuk meneruskan usaha dan memudahkan
kreditor untuk memperoleh pelunasan atas utang debitor.26
2. Unsur-unsur Jaminan
Unsur-unsur yang terdapat dalam hukum jaminan antara lain:27
a. Adanya kaidah hukum
Kaidah hukum dalam bidang jaminan, dapat dibedakan menjadi 2 macam,
yaitu :
1) kaidah hukum jaminan tertulis
Kaidah hukum jaminan tertulis adalah kaidah-kaidah yang terdapat
dalam peraturan perundang-undangan, traktat, dan yurisprudensi.
2) kaidah hukum jaminan tidak tertulis
Kaidah hukum jaminan tidak tertulis adalah kaidah-kaidah hukum
jaminan yang tumbuh, hidup, dan berkembang dalam masyarakat. Hal
ini terlihat pada gadai tanah dalam masyarakat yang dilakukan secara
lisan;
b. Adanya pemberi dan penerima jaminan
Pemberi jaminan adalah orang-orang atau badan hukum yang
menyerahkan barang jaminan kepada penerima jaminan. Yang bertindak
sebagai pemberi jaminan ini adalah orang atau badan hukum yang
membutuhkan fasilitas kredit. Orang ini lazim disebut dengan debitur.
25
Herlien Budiono, op.cit, hlm. 102
Subekti, Jaminan-jaminan untuk Pemberian Kredit Menurut Hukum Indonesia, Citra Aditya
Bakti, Bandung, 1991, hlm. 19
27
Noor Saptanti, Hukum Jaminan Bahan Ajar Mahasiswa Program Studi Magister
Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta, 2013
26
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
27
Penerima jaminan adalah orang atau badan hukum yangmenerima barang
jaminan dari pemberi jaminan. Yang bertindak sebagai penerima jaminan ini
adalah orang atau badan hukum. Badan hukum adalah lembaga yang
memberikan fasilitas kredit, dapat berupa lembaga perbankan dan atau
lembaga keuangan nonbank.
c. Adanya jaminan
Pada dasarnya, jaminan yang diserahkan kepada kreditur adalah
jaminan materiil dan imateriil. Jaminan materiil merupakan jaminan yang
berupa hak-hak kebendaan seperti jaminan atas benda bergerak dan benda
tidak bergerak. Jaminan imateriil merupakan jaminan nonkebendaan.
d. Adanya fasilitas kredit
Pembebanan jaminan yang dilakukan oleh pemberi jaminan bertujuan
untuk mendapatkan fasilitas dari bank atau lembaga keuangan nonbank.
Pemberian kredit merupakan pemberian uang berdasarkan kepercayaan,
dalam arti bank atau lembaga keuangan nonbank percaya bahwa debitur
sanggup untuk mengembalikan pokok pinjaman dan bunganya. Begitu juga
debitur percaya bahwa bank atau lembaga keuangan nonbank dapat
memberikan kredit kepadanya.
3. Pengikatan Jaminan
Untuk memberikan kedudukan yang kuat dan aman kepada kreditor
(bank), didahulukan pembayaran piutangnya dari kreditor-kreditor konkuren,
diperlukan pengikatan agunan secara khusus. Hak untuk didahulukan diantara
kreditor yang timbul antaralain pembebanan Hak Tanggungan, Jaminan
Fidusia, gadai, hipotek (kapal laut dan kapal terbang).Jaminan benda tidak
bergerak yang berupa hak atas tanah yaitu Hak Tanggungan (Undang-undang
Nomor4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Bendabenda Yang Berkaitan Dengan Tanah), Jaminan benda bergerak yaitu lembaga
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
28
Fidusia ( Undang-undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia, dan
Jaminan benda tak bertubuh yaitu Cessi atau Gadai.28
4. Penggolongan Jaminan
Jaminan dapat digolongkan menjadi beberapa yaitu:29
a. Jaminan berdasarkan Undang-undang dan berdasarkan Perjanjian
Jaminan berdasarkan Undang-Undang ada dalam Pasal 1131
KUHPerdata, jaminan berdasar perjanjian yaitu terjadinya karena adanya
perjanjian jaminan dalam bentuk gadai, Jaminan Fidusia, Hak Tanggungan
dan jaminan perorangan serta garansi bank.
b. Jaminan Umum dan Jaminan Khusus
Jaminan umum meliputi pengertian untuk semua kreditor (kreditor
konkuren) dan untuk seluruh harta kekayaan artinya tidak ditunjuk secara
khusus yaitu yang ditentukan dalam Pasal 1131 KUHPerdata. Jaminan
khusus yaitu hanya untuk kreditor tertentu (kreditor preferen) dan benda
jaminannya ditunjuk secara khusus (tertentu) yaitu Gadai, Fidusia, Hak
Tanggungan apabila orang/Badan Hukum yaitu penanggungan atau misal
garansi bank.
c. Jaminan Kebendaan dan Jaminan Perorangan
Jaminan yang bersifat kebendaan yaitu jaminan yang berupa hak mutlak
atas suatu benda yaitu hak milik.Maka sifat jaminan kebendaan juga
termasuk kedalam sifat-sifat dari hak kebendaan yang meliputi:30
1) Bersifat absolute, dapat dipertahankan kepada siapa saja.
28
Noor Saptanti, Hukum Jaminan Bahan Ajar Mahasiswa Program Studi Magister
Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta, 2013
29
Noor Saptanti, Hukum Jaminan Bahan Ajar Mahasiswa Program Studi Magister
Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta, 2013
30
Djuhaendah Hasan, Lembaga Jaminan Kebendaan Bagi Tanah Dan Benda Lain Yang
Melekat Pada Tanah Dalam Konsepsi Penerapan Asas Pemisahan Horisontal, Citra Aditya Bakti,
Bandung, 1996, hlm. 62
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
29
2) Droit de Suit, selalu mengikuti bendanya, dimana hak tersebut terus
mengikuti bendanya dimanapun juga barang tersebut berada, hak itu
terus mengikuti orang yang mempunyainya.
3) Asas prioriteit bahwa yang terjadi lebih dulu didahulukan dalam
pemenuhannya, maka yang terjadi dulu tingkatannya lebih tinggi
daripada yang terjadi kemudian.
4) Asas Publisitas, bahwa pendaftaran benda merupakan bukti dari
kepemilikan.
5) Dapat dipindahtangankan atau dialihkan secara penuh.
Jaminan perorangan adalah jaminan yang menimbulkan hubungan
langsung
pada
perorangan
tertentu
(Pasal
1820
KUHPerdata:
Penanggungan). Jaminan perorangan (dalam arti yang luas) dapat
diklasifikasikan dalam 3 (tiga) golongan, yaitu :
1) Jaminan Pribadi (Personal Guarantee)
2) Jaminan Perusahaan (Corporate Guarantee)
3) Garansi Bank (Bank Guarantee)
d. Jaminan atas Benda Bergerak dan Benda Tidak Bergerak
Jaminan berupa benda bergerak lembaga jaminannya Gadai dan
Fidusia.
Jaminan
berupa benda tidak bergerak dahulu
Hipotek,
Credietverband dan sekarang Hak Tanggungan.
e. Jaminan dengan Menguasai Bendanya dan Tanpa Menguasai Bendanya
Gadai tidak pesat pertumbuhannya karena terbentur syarat inbezit
stellingyang dirasakan berat oleh debitor yang justru memerlukan benda
yang dijaminkan untuk menjalankan pekerjaan atau usahanya.Pada Fidusia
dan Hak Tanggungan, jaminan tanpa menguasai bendanya menguntungkan
debitor sebagai pemilik jaminan karena tetap dapat menggunakan benda
jaminan dalam kegiatan pekerjaannya atau usahanya.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
30
C. Tinjauan tentang Hak Tanggungan
1. Pengertian Hak Tanggungan
Pada hakekatnya pemberi dan penerima kredit serta pihak lain yang
terkait mendapat perlindungan melalui suatu lembaga hakjaminan yang kuat
dan memberikan kepastian hukum bagi semua pihak yang berkepentingan.
Undang-Undang Hak Tanggungan yaitu Undang-undang Nomor 4 Tahun 1996
telah diundangkan pada tanggal 9 April 1996 dan berlaku sejak diundangkan.
Undang-undang ini merupakan pelaksanaan dari Pasal 51 Undang-undang
Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria. UndangUndang Hak Tanggungan tidak mencabut undang-undang tentang hipotek
dalam Buku Kedua KUHPerdata Indonesia, namun menyatakan bahwa
ketentuan mengenai hipotek yang tertulis dalam KUHPerdata tidak berlaku lagi
sepanjang mengenai pembebanan Hak Tanggungan pada Hak atas Tanah (Pasal
29 UUHT).31
Pengertian
Hak
Tanggungan
menurut
Undang-undang
Hak
Tanggungan diatur dalam Pasal 1 butir 1 yang menyatakan bahwa :32
“Hak Tanggungan adalah hak jaminan yang dibebankan pada hak atas tanah
sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang
Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria, berikut atau tidak berikut benda-benda
lain yang merupakan satu kesatuan dengan tanah itu, untuk pelunasan utang
tertentu, yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada kreditor
tertentu terhadap kreditor-kreditor lain.”
2. Asas-asas Hak Tanggungan
Ada beberapa asas dari hak tanggungan yang perlu dipahami betulyang
membedakan Hak Tanggungan ini dari jenis dan bentuk jaminan-jaminan utang
yang lain. Bahkan yang membedakannya dari hipotik yang digantikannya.
31
Tan Thong Kie, Studi Notariat dan Serba serbi Praktek Notaris, ctk. Pertama, Ichtiar Baru
van Hoeve, Jakarta, 2007, hlm. 213-214
32
Pasal 1 butir 1 Undang-undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan Atas Tanah
Beserta Benda-benda Yang Berkaitan Dengan Tanah
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
31
Asas-asas tersebut tersebar dan diatur dalam berbagai Pasal dari Undangundang Hak Tanggungan. Asas-asas Hak Tanggungan tersebut adalah :33
a. Hak Tanggungan memberikan kedudukan yang diutamakan bagi kreditor
pemegang Hak Tanggungan (Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Hak
Tanggungan);
b. Hak Tanggungan tidak dapat dibagi-bagi (Pasal 2 Undang-Undang Hak
Tanggungan);
c. Hak Tanggungan hanya dapat dibebankan pada hak atas tanah yang telah ada
(Pasal 8 ayat (2) Undang-Undang Hak Tanggungan);
d. Hak Tanggungan dapat dibedakan selain atas tanahnya juga berikut bendabenda yang berkaitan dengan tanah tersebut (Pasal 4 ayat (4) UndangUndang Hak Tanggungan);
e. Hak Tanggungan dapat dibedakan juga atas benda-benda yang berkaitan
dengan tanah yang baru akan ada di kemudian hari (Pasal 4 ayat (4) UndangUndang Hak Tanggungan);
f. Perjanjian Hak Tanggungan adalah perjanjian accesoir (Butir 8 Penjelasan
Umum Undang-Undang Hak Tanggungan);
g. Hak Tanggungan dapat dijadikan jaminan untuk utang yang baru akan ada
(Pasal 3 ayat (1) Undang-Undang Hak Tanggungan);
h. Hak Tanggungan dapat menjamin lebih dari satu utang (Pasal 3 ayat (2)
Undang-Undang Hak Tanggungan);
i. Hak Tanggungan mengikuti objeknya dalam tangan siapapun objek Hak
Tanggungan itu berada (Pasal 7 Undang-Undang Hak Tanggungan);
j. Di atas Hak Tanggungan tidak dapat dilakukan sita oleh pengadilan;
k. Hak Tanggungan hanya dapat dibebankan atas tanah yang tertentu (Pasal 8
dan Pasal 11 ayat (1) huruf e Undang-Undang Hak Tanggungan);
33
St. Remy Sjahdeini, Hak Tanggungan Asas-asas, Ketentuan-ketentuan Pokok, dan Masalah
yang Dihadapi oleh Perbankan (Suatu Kajian Mengenai Undang-undang Hak Tanggungan), ctk.
Pertama, Alumni, Bandung, 1999, hlm. 15-46
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
32
l. Hak Tanggungan wajib didaftarkan (Pasal 13 Undang-Undang Hak
Tanggungan);
m. Hak Tanggungan dapat diberikan dengan disertai janji-janji tertentu (Pasal
11 ayat (2) Undang-Undang Hak Tanggungan);
n. Objek Hak Tanggungan tidak boleh diperjanjikan untuk dimiliki sendiri oleh
pemegang Hak Tanggungan bila debitor cidera janji (Pasal 12 UndangUndang Hak Tanggungan);
o. Pelaksanaan eksekusi Hak tanggungan mudah dan pasti (Pasal 6 UndangUndang Hak Tanggungan).
3. Subjek Hak Tanggungan
Berdasarkan Pasal 8 dan Pasal 9 Undang-Undang Hak Tanggungan,
bahwa Pemberi Hak Tanggungan (debitor) adalah orang-perorangan atau badan
hukum yang mempunyai kewenangan untuk melakukan perbuatan hukum
terhadap objek Hak Tanggungan yang bersangkutan. Kewenangan untuk
melakukan perbuatan hukum terhadap objek Hak Tanggungan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) harus ada pada pemberi Hak Tanggungan pada saat
pendaftaran Hak Tanggungan dilakukan. Pemberi Hak Tanggungan adalah
sebagai pihak yang menjaminkan objek Hak Tanggungan.
Pemegang Hak Tanggungan (kreditor) adalah orang-perseorangan atau
badan hukum yang berkedudukan sebagai pihak yang berpiutang. Pemegang
Hak Tanggungan adalah sebagai pihak yang menerima Hak Tanggungan
sebagai jaminan dari piutang yang diberikannya. Kredior diberikan hak untuk
menjual atas kekuasaan sendiri sesuai dengan yang telah diperjanjikan dalam
Akta Pemberian Hak Tanggungan untuk dijual melalui pelelangan umum.
Disamping itu, kreditor juga mempunyai hak memohonkan kepada pengadilan
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
33
untuk
mengeksekusi
Hak
Tanggungan
berdasarkan
Sertifikat
Hak
Tanggungan.34
4. Objek Hak Tanggungan
Sehubungan dengan adanya persyaratan tersebut, yang merupakan
objek Hak Tanggungan adalah sebagai yang disebut dalam Pasal 4
dihubungkan dengan Pasal 27, yaitu:
a. Yang ditunjuk oleh UUPA (Pasal 4 ayat (1)):
1) Hak Milik;
2) Hak Guna Usaha;
3) Hak Guna Bangunan (Pasal 25, 33 dan 39 UUPA).
b. Yang ditunjuk oleh Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1985 tentang
Rumah Susun (Pasal 27) :
1) Rumah Susun yang berdiri di atas tanah Hak Milik, Hak Guna
Bangunan dan Hak Pakai yang diberikan oleh Negara, dan
2) Hak Milik atas Satuan Rumah Susun yang bangunannya berdiri di atas
tanah hak-hak yang disebut di atas.
c. Yang ditunjuk oleh UUHT (Pasal 4 ayat (2)) :
Hak Pakai atas tanah Negara yang menurut ketentuan yang berlaku
wajib didaftar dan menurut sifatnya dapat dipindahtangankan. 35
Di samping itu, objek Hak Tanggungan tidak hanya tanahnya saja tetapi
juga dapat berikut dengan benda-benda yang berkaitan dengan tanah seperti
yang ditentukan dalam Pasal 4 ayat (4) Undang-undang Hak Tanggungan, yang
menyatakan bahwa objek Hak Tanggungan adalah hak atas tanah berikut
bangunan, tanaman, dan hasil karya yang telah ada atau yang akan ada yang
merupakan satu kesatuan dengan tanah tersebut, yang merupakan milik
Andhyka Muchtar, “Eksistensi dan Kedudukan Kreditur Hak Tanggungan dalam
Kepailitan”, Jurnal Repertorium, Edisi 2, Juli-Desember 2014, hlm. 25-26
35
Kelompok Studi Hukum Bisnis Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, op.cit., hlm. 10-11
34
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
34
pemegang hak atas tanah, yang pembebanannya dengan tegas dinyatakan dalam
Akta Pemberian Hak Tanggungan.
Objek Hak Tanggungan dapat dibebani dengan lebih dari satu Hak
Tanggungan guna menjamin pelunasan lebih dari satu utang (Pasal 5 Butir 1
Undang-undang Hak Tanggungan). Apabila objek Hak Tanggungan dibebani
lebih dari satu Hak Tanggungan, peringkat masing-masing Hak Tanggungan
ditentukan menurut tanggal pendaftarannya pada kantor pertanahan. 36
5. Tata Cara Pemberian Hak Tanggungan dan Pendaftaran Hak
Tanggungan
a. Tata Cara Pemberian Hak Tanggungan
Menurut Pasal 10 ayat (2) Undang-undang Hak Tanggungan, setelah
dibuat dan ditandatanganinya perjanjian pokok berupa perjanjian utang
piutang atau perjanjian lain yang menimbulkan hubungan utang piutang,
maka dilanjutkan dengan pemberian Hak Tanggungan yang dilakukan
dengan pembuatan Akta Pemberian Hak Tanggungan (APHT) yang dibuat
oleh PPAT sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Prosedur pemberian Hak Tanggungan :37
1) Didahului janji untuk memberikan Hak Tanggungan sebagai jaminan
pelunasan utang tertentu, yang merupakan tak terpisahkan dari perjanjian
utang piutang.
2) Dilakukan dengan pembuatan Akta Pemberian Hak Tanggungan (APHT)
oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) sesuai peraturan perundangundangan yang berlaku.
3) Apabila objek Hak Tanggungan berupa hak atas tanah yang berasal dari
konversi hak lama yang telah memenuhi syarat didaftarkan, akan tetapi
36
Djaja S. Meliala,op.cit., hlm. 54-56
Noor Saptanti, Hukum Jaminan Bahan Ajar Mahasiswa Program Studi Magister
Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta, 2013
37
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
35
belum dilaksanakan, pemberian Hak Tanggungan dilakukan bersamaan
dengan permohonan pendaftaran hak atas tanah yang bersangkutan.
b. Tata Cara Pendaftaran Hak Tanggungan
Kewajiban pendaftaran pemberian Hak Tanggungan dinyatakan
dalam angka 7 Penjelasan Umum atas UUHT, bahwa pemberian Hak
Tanggungan yang dituangkan dalam APHT harus diikuti dengan kewajiban
pendaftaran dengan cara dibukukan dalam buku tanah di Kantor Pertanahan,
yang sekaligus menentukan saat lahirnya Hak Tanggungan. Selanjutnya,
kewajiban pendaftaran pemberian Hak Tanggungan ditegaskan dalam Pasal
13 ayat (1) UUHT yang menyatakan bahwa pendaftaran Hak Tanggungan
dalam buku tanah di Kantor Pertanahan tersebut, dilakukan dalam rangka
memenuhi asas publisitas.Karena pada saat penandatanganan APHT, Hak
Tanggungan masih belum lahir, yang baru lahir yaitu “janji” untuk
memberikan Hak Tanggungan.Hak Tanggungan baru lahir pada saat APHT
nya didaftarkan dalam buku tanah di Kantor Pertanahan. Untuk itu
pemberian Hak Tanggungan harus atau wajib diikuti dengan tindakan
pendaftaran dalam buku tanah di Kantor Pertanahan, yang merupakan
prasyarat mutlak bagi lahirnya Hak Tanggungan dan sekaligus mengikatnya
Hak Tanggungan terhadap pihak ketiga.38
6. Pembebanan Hak Tanggungan
a. Surat Kuasa Membebankan Hak Tanggungan
Penjelasan Umum angka 7 dan penjelasan Pasal 15 ayat (1) UUHT
dinyatakan bahwa pemberian Hak Tanggungan wajib dilakukan sendiri
oleh Pemberi Hak Tanggungan dengan cara hadir dihadapan PPAT.
Apabila karena suatu sebab tidak dapat hadir sendiri dihadapan PPAT,
38
Noor Saptanti, Hukum Jaminan Bahan Ajar Mahasiswa Program Studi Magister
Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta, 2013
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
36
maka wajib menunjuk pihak lain sebagai kuasanya dengan Surat Kuasa
Membebankan Hak Tanggungan (SKMHT) yang berbentuk akta autentik.
Pembuatan SKMHT selain oleh Notaris juga ditugaskan kepada
PPAT, karena PPAT ini yang keberadaannya sampai pada wilayah
kecamatan dalam rangka pemerataan pelayanan di bidang pertanahan.
Notaris berwenang membuat SKMHT untuk tanah-tanah di seluruh
wilayah Indonesia, maka PPAT hanya boleh membuat SKMHT untuk
tanah-tanah yang berada di dalam wilayah jabatannya terutama di tempattempat dimana tidak ada Notaris yang bertugas. Surat Kuasa tersebut harus
diberikan langsung oleh pemberi Hak Tanggungan dan wajib memenuhi
persyaratan mengenai muatannya sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 15
ayat (1) UUHT. Jika SKMHT tidak dibuat sendiri oleh pemberi Hak
Tanggungan atau tidak memenuhi persyaratan tersebut pada Pasal 15 ayat
(1) UUHT, maka Surat Kuasa yang bersangkutan batal demi hukum,
artinya Surat Kuasa itu tidak dapat digunakan sebagai dasar pembuatan
Akta Pemberian Hak Tanggungan. 39
b. Akta Pemberian Hak Tanggungan
Akta Pemberian Hak Tanggungan (APHT) mengatur persyaratan
dan ketentuan mengenai pemberian Hak Tanggungan dari debitor kepada
kreditor sehubungan dengan utang yang dijaminkan dengan Hak
Tanggungan. Pemberian Hak ini dimaksudkan untuk memberikan
kedudukan yang diutamakan kepada kreditor yang bersangkutan (kreditor
preferen) daripada kreditor-kreditor lain (kreditor konkuren). Pemberian
Hak Tanggungan sebagai jaminan pelunasan utang debitor kepada kreditor
sehubungan dengan perjanjian pinjaman atau kredit yang bersangkutan.
Tata cara pembebanan Hak Tanggungan dimulai dengan tahap
pemberian Hak Tanggungan di hadapan PPAT yang berwenang yang
39
Adrian Sutedi, op.cit.,hlm. 60-61
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
37
diatur dalam Pasal 13 ayat (2) UUHT. Selanjutnya dibuktikan dengan
APHT dan diakhiri dengan tahap pendaftaran Hak Tanggungan di kantor
pertanahan setempat.Dari ketentuan Pasal 13 ayat (2) UUHT, bahwa
kewajiban pendaftaran Hak Tanggungan ada di tangan PPAT dan
didaftarkan
selambat-lambatnya
7
(tujuh)
hari
kerja
setelah
penandatanganan APHT tersebut ke Kantor Pertanahan setempat.
Berdasarkan Pasal 14 ayat (1) UUHT disebutkan bahwa sebagai
tanda bukti adanya Hak Tanggungan, Kantor Pertanahan menerbitkan
sertifikat Hak Tanggungan sesuai dengan peraturan perundang-undangan
yang berlaku. Di dalam APHT disebutkan syarat-syarat spesialitas, jumlah
pinjaman, penunjukan Objek Hak Tanggungan, dan hal-hal yang
diperjanjikan (Pasal 11 ayat (2) UUHT) oleh kreditor dan debitor, termasuk
janji roya parsial (Pasal 2 ayat (2) UUHT) dan janji penjualan objek Hak
Tanggungan di bawah tangan (Pasal 20 UUHT).40 Penjelasan Pasal 11
UUHT tersebut mengemukakan bahwa ketentuan ini menetapkan isi yang
sifatnya wajib untuk sahnya Akta Pemberian Hak Tanggungan. Tidak
dicantumkan secara lengkap hal-hal yang disebut pada Pasal ini dalam
Akta Pemberian Hak Tanggungan mengakibatkan akta yang bersangkutan
batal demi hukum.
7. Hapusnya Hak Tanggungan
Hak Tanggungan yang membebani tanah dan/atau bangunan dapat
hapus sebagaimana diatur dalam Pasal 18 UUHT, apabila terjadi hal-hal
sebagai berikut :41
a. Utang yang dijamin sudah lunas;
b. Hak
Tanggungan
tersebut
dilepaskan
pemegangnya;
40
Ibid, hlm. 72-73
Irma Devita, op.cit.,hlm. 70
41
commit to user
secara
sukarela
oleh
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
38
c. Pembersihan Hak Tanggungan berdasarkan penghapusan penetapan
peringkat yang telah ditetapkan oleh Ketua Pengadilan Negeri;
d. Hapusnya hak atas tanah yang dibebani dengan Hak Tanggungan.
Dalam Pasal 22 UUHT ditegaskan bahwa setelah Hak Tanggungan
hapus, kantor pertanahan harus mencoret catatan Hak Tanggungan tersebut
pada buku tanah hak atas tanah dan sertifikatnya. Pencoretan ini disebut
dengan roya Hak Tanggungan. Akibatnya pencoretan ini Hak Tanggungan
dinyatakan tidak berlaku lagi. Permohonan pencoretan ini diajukan oleh
pihak debitor atau yang berkepentingan dengan melampirkan sertifikat
Hak Tanggungan yang telah diberi catatan dari kreditor bahwa utangnya
sudah lunas atau telah dilepaskan oleh kreditor. Apabila kreditor tidak
memberi pernyataan lunas, pihak yang berkepentingan dapat mengajukan
permohonan perintah pencoretan dari Ketua Pengadilan Negeri yang
wilayah
hukumnya
meliputi
tempat
Hak
Tanggungan
didaftar.
Permohonan pencoretan diajukan pada Kepala Kantor Pertanahan dengan
melampirkan surat penetapan dari pengadilan.42
8. Eksekusi Hak Tanggungan
Salah satu ciri dari Hak Tanggungan adalah mudah dan pasti
pelaksanaan eksekusinya.Hak eksekusi atas objek Hak Tanggungan berada
pada tangan pihak kreditor (pemegang Hak Tanggungan). Ketentuan yang
tercantum dalam Pasal 20 ayat (1) UUHT menyatakan bahwa apabila
debitor cidera janji, maka :
a. Hak pemegang Hak Tanggungan pertama untuk menjual objek Hak
Tanggungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, atau
b. Titel eksekutorial yang terdapat dalam sertifikat Hak Tanggungan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (2), objek Hak Tanggungan
Imma Indra Dewi Windajani, “Hambatan Eksekusi Hak Tanggungan di Kantor Pelayanan
Kekayaan Negara dan Lelang Yogyakarta”, Mimbar Hukum, Edisi Khusus, November 2011, hlm. 125
42
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
39
yang dijual melalui pelelangan umum menurut tata cara yang ditentukan
dalam peraturan perundang-undangan untuk pelunasan piutang
pemegang Hak Tanggungan dengan hak mendahulukan daripadaa
kreditor-kreditor lainnya.
Dari ketentuan Pasal 20 ayat (1) UUHT dapat diketahui, bahwa terdapat 2
(dua) cara atau dasar eksekusi objek Hak Tanggungan, yaitu:43
a. Berdasarkan parate eksekusi (parate executie) sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 6 UUHT.
b. Berdasarkan titel eksekutorial yang terdapat dalam sertifikat Hak
Tanggungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (2) UUHT.
Pasal 6 Undang-undang Hak Tanggungan menyatakan bahwa
apabila debitor cidera janji, Pemegang Hak Tanggungan pertama
mempunyai hak untuk menjual objek Hak Tanggungan atas kekuasaan
sendiri, melalui pelelangan umum serta mengambil pelunasan piutangnya
dari hasil penjualan tersebut. Pemegang Hak Tanggungan pertama tidak
perlu meminta persetujuan terlebih dahulu dari pemberi Hak Tanggungan
dan tidak perlu pula meminta penetapan Ketua Pengadilan Negeri setempat
untuk melakukan eksekusi tersebut. Cukuplah apabila pemegang Hak
Tanggungan pertama itu mengajukan permohonan kepada Kepala Kantor
Lelang Negara setempat untuk pelaksanaan pelelangan umum dalam
rangka eksekusi objek Hak Tanggungan tersebut, karena kewenangan
pemegang Hak Tanggungan pertama itu merupakan kewenangan yang
diberikan oleh undang-undang (kewenangan tersebut dipunyai demi
hukum), Kepala Kantor Lelang Negara harus menghormati dan mematuhi
kewenangan tersebut.44
43
Noor Saptanti, Hukum Jaminan Bahan Ajar Mahasiswa Program Studi Magister
Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta, 2013
44
Sutan Remy Sjahdeni, Hak Tanggungan (Asas-asas, Ketentuan-ketentuan Pokok dan
Masalah yang dihadapi oleh Perbankan), Alumni, Bandung, 1999, hlm 164-165
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
40
Melalui Pasal 6 UUHT, pembuat undang-undang bermaksud untuk
memberikan suatu kedudukan yang kuat kepada pemegang Hak
Tanggungan, yaitu dengan memberikan suatu hak yang sangat ampuh,
yang disebut parate eksekusi. Parate eksekusi itu dilaksanakan tanpa
meminta fiat dari Ketua Pengadilan Negeri. Karenanya pelaksanaan parate
eksekusi tidak mendasarkan kepada ketentuan dalam Pasal 224 HIR dan
258 RBg sebagaimana disebutkan dalam Penjelasan Umum angka 9 dan
Penjelasan atas Pasal 14 ayat (2) dan ayat (3) UUHT.45
Selanjutnya dalam Pasal 14 ayat (2) UUHT disebutkan bahwa
sertifikat Hak Tanggungan sebagaimana tanda bukti hak tersebut memuat
irah-irah dengan kata-kata "DEMI KEADILAN BERDASARKAN
KETUHANAN YANG MAHA ESA", dan dalam Pasal 14 ayat (3) UUHT
menyebutkan bahwa sertifikat Hak Tanggungan tersebut mempunyai
kekuatan eksekutorial yang sama dengan putusan pengadilan yang telah
memperoleh kekuatan hukum tetap dan berlaku sebagai pengganti grosse
acte Hypotheek sepanjang mengenai hak atas tanah.
Pelaksanaan eksekusi objek Hak Tanggungan juga dapat
didasarkan kepada titel eksekutorial sebagaimana tercantum dalam
sertifikat Hak Tanggungan. Sertifikat Hak Tanggungan dapat menjadi
dasar pelaksanaan eksekusi Hak Tanggungan. Dengan menunjukkan bukti,
bahwa debitor ingkar janji dalam memenuhi kewajibannya, diajukan
permohonan eksekusi oleh kreditor (pemegang Hak Tanggungan) kepada
Ketua Pengadilan Negeri, dengan menyerahkan sertifikat Hak Tanggungan
yang bersangkutan sebagai dasarnya. Eksekusi akan dilaksanakan atas
perintah dan dengan pimpinan Ketua Pengadilan Negeri tersebut, melalui
pelelangan umum yang dilakukan oleh Kantor Lelang Negara.46
45
Noor Saptanti, Hukum Jaminan Bahan Ajar Mahasiswa Program Studi Magister
Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta, 2013
46
Boedi Harsono, Hukum Agraria di Indonesia, Djambatan, Jakarta, 1997, hlm. 412
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
41
Penjualan objek Hak Tanggungan dapat dilakukan di bawah tangan
atas kesepakatan para pihak, jika dengan demikian akan dapat diperoleh
harga tertinggi yang menguntungkan semua pihak (Pasal 20 ayat (2)
UUHT). Pelaksanaan penjualan jaminan di bawah tangan ini harus
didahului dengan pemberitahuan kepada pihak-pihak terkait dan
diumumkan dalam 2 (dua) surat kabar yang terbit di daerah tempat lokasi
tanah dan bangunan berada. Hal ini dilakukan minimal 1 (satu) bulan
sebelum penjualan dilakukan, serta tidak ada sanggahan dari pihak
manapun. Apabila tidak dilakukan, penjualan dapat dikatakan batal demi
hukum sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Pasal 20 UUHT. 47
Pembentukan UUHT melarang pelaksanaan eksekusi objek Hak
Tanggungan tidak mengikuti cara atau prosedur yang diatur dalam Pasal
20 ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) UUHT, maka cara demikian dinyatakan
batal demi hukum. Ketentuan larangan mengadakan cara eksekusi objek
Hak Tanggungan yang bertentangan dengan cara yang diatur dalam Pasal
20 ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) UUHT secara tegas dinyatakan dalam
Pasal 20 ayat (4) UUHT.
9. Sifat Perjanjian Pembebanan Hak Tanggungan
Sifat
perjanjian
jaminan
lazimnya
dikonstruksikan
sebagai
perjanjian yang bersifat accessoir yaitu senantiasa merupakan perjanjian
yang dikaitkan dengan perjanjian pokok. Dalam praktek perbankan,
perjanjian pokoknya itu berupa perjanjian pemberian kredit dengan
kesanggupan
memberikan
jaminan.
Kemudian
diikuti
perjanjian
penjaminan tersendiri yang merupakan tambahan (accessoir) yang
dikaitkan dengan perjanjian pokok tersebut.48
47
Irma Devita, op.cit.,hlm. 62
Sri Soedewi Masjchoen Sofwan, Hukum Jaminan di Indonesia Pokok-pokok Hukum
Jaminan dan Jaminan Perorangan, ctk Kelima, Liberty, Yogyakarta, 2011, hlm. 37
48
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
42
Kedudukan perjanjian penjaminan yang dikonstruksikan sebagai
perjanjian accessoir itu menjamin kuatnya lembaga jaminan tersebut bagi
keamanan pemberian kredit oleh kreditor. Dana sebagai perjanjian yang
bersifat accessoir memperoleh akibat-akibat hukum seperti halnya
perjanjian accessoir yang lain, yaitu :49
a. Adanya tergantung pada perjanjian pokok;
b. Hapusnya tergantung pada perjanjian pokok;
c. Jika perjanjian pokok batal – ikut batal;
d. Ikut beralih dengan beralihnya perjanjian pokok;
e. Jika perutangan pokok beralih karena cessie, subrogasi maka ikut
beralih juga tanpa adanya penyerahan khusus.
Berdasarkan Penjelasan Umum Undang-Undang Hak Tanggungan
Butir 8 menyatakan bahwa Hak Tanggungan menurut sifatnya merupakan
ikutan atau accessoir pada suatu piutang tertentu, yang didasarkan pada
suatu perjanjian utang piutang atau perjanjian lain, maka kelahiran atau
keberadaannya
ditentukan
oleh
adanya
piutang
yang
dijamin
pelunasannya. Dalam hal piutang yang bersangkutan beralih kepada
kreditor lain, Hak Tanggungan yang menjaminnya,karena hukum beralih
pula kepada kreditor tersebut. Demikian juga, Hak Tanggungan menjadi
hapus karena hukum, apabila karena pelunasan atau sebab-sebab lain,
piutang yang dijaminnya menjadi hapus.
D. Tinjauan tentang Wanprestasi
1. Pengertian Wanprestasi
49
Ibid
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
43
Wanprestasi berarti ketiadaan suatu prestasi, dan prestasi berati suatu hal
yang harus dilaksanakan sebagai isi dari suatu perikatan. Wanprestasi dapat
terwujud 4 (empat) macam, yaitu :50
a. Pihak debitor sama sekali tidak melakukan prestasi;
b. Pihak debitor terlambat melakukan prestasi;
c. Pihak debitor salah/keliru dalam melakukan prestasi;
d. Pihak debitor melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh
dilakukan.
Wanprestasi merupakan lembaga hukum yang memegang peranan penting
dalam hukum perdata, karena mempunyai akibat hukum yang sangat penting,
yang biasanya dikaitkan dengan masalah pembatalan perjanjian dan atau ganti
rugi (Pasal 1243 jo. Pasal 1266 dan 1267 KUHPerdata).51 Salah satu cara untuk
menetapkan debitor wanprestasi adalah dengan melancarkan pernyataan lalai
yang diwujudkan dalam bentuk suatu somasi/surat peringatan.
2. Penggantian Kerugian
Debitor yang melakukan wanprestasi berkewajiban untuk memberikan
penggantian kerugian yang ditimbulkan wanprestasi tersebut. Tentang ganti rugi
ini dalam BW diatur dalam Buku III Bab I, Bagian IV Pasal 1243 s/d 1252 BW.
Istilah resmi yang dipakai dalam BW untuk penggantian kerugian itu ada tiga (3),
yaitu: konstan, schaden, interessen (pengganti beaya, kerugian dan bungabunga).52 Penggantian kerugian yang diatur dalam BW adalah penggantian
kerugian yang timbul dari tidak dipenuhinya perikatan yang berdasarkan
perjanjian, bukan perikatan yang berdasarkan undang-undang. Dengan kata lain
yang diatur dalam BW adalah penggantian kerugian karena wanprestasi,
sehingga dengan demikian kerugian yang ditimbulkan karena onrechtmatige
50
Setiono, Hukum Perikatan Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Burgerlijk
Wetboek), ctk Pertama, UNS Press, Surakarta, 2012, hlm. 13
51
J. Satrio, Wanprestasi menurut KUHPerdata,Doktrin,dan Yurisprudensi, ctk Kedua, Citra
Aditya Bakti, Bandung, 2014, hlm. 21
52
Setiono, op.cit., hlm. 21
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
44
daad tidak diatur. Penyelesaian dalam hal kerugian yang ditimbulkan karena
onrechtmatige daad adalah dengan mengadakan penafsiran terhadap peraturanperaturan tentang kerugian yang timbul dari wanprestasi.53
E. Tinjauan tentang Overmacht (Keadaan Memaksa / Force Mayeur)
1. Pengertian Overmacht
Keadaan memaksa atau force majeur, menurut Subekti adalah seorang
debitur yang dituduh lalai dan dimintakan supaya kepada-nya diberikan hukuman
atas kelalaiannya, ia dapat membela diri dengan mengajukan beberapa macam
alasan untuk membebaskan dirinya dari hukuman-hukuman itu. Pembelaan
tersebut, yaitu mengajukan tuntutan adanya keadaan memaksa (overmacht atau
force majeur). Sementara, Riduan Syahrani menjelaskan overmacht sering juga
disebut force majeur yang lazimnya diterjemahkan dengan keadaan memaksa
danada pula yang menyebut dengan “sebab kahar”.54
Overmacht ialah peristiwa yang terjadi di luar kesalahan debitor setelah
dibuat perikatan yang debitor tidak dapat memperhitungkannya lebih dahulu
pada saat dibuatnya perikatan atau sepatutnya tidak dapat memperhitungkannya
dan yang merintangi pelaksanaan perikatan. Debitor harus mengemukakan
tangkisan (eksepsi) keadaan memaksa. Hakim dalam jabatannya tidak boleh
menolak tuntutan karena dikemukakan tangkisan itu oleh debitor. Jadi, dengan
adanya overmacht perikatannya masih tetap tidak lenyap hanya berhenti. Hal ini
penting adanya overmacht yang bersifat sementara, sebab dalam overmacht yang
sementara apabila overmacht nya telah berhenti, perikatannya berlaku
kembali.55Overmacht diatur dalam Pasal 1245 BW. Akibat overmacht:56
53
Ibid
Hermawan Lumba dan Sumiyati, “Pertanggungjawaban Perusahaan Ekspeditur Kepada
Konsumen Berdasarkan UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen”, Mimbar Keadilan,
Edisi : Januari-Juni 2014, hlm 76.
55
Ibid, hlm. 31
56
Ibid, hlm. 31-32
54
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
45
a) Kreditor tidak lagi dapat meminta pemenuhan prestasi;
b) Debitor tidak lagi dapat dinyatakan lalai dan karenanya tidak wajib
memberikan ganti rugi;
c) Resiko tidak beralih pada debitor;
d) Kreditor tidak dapat menuntut pembatalan perjanjian timbal balik.
2. Teori-teori Overmacht
Terdapat dua golongan teori tentang overmacht, yaitu :57
a) Teori Objektif
Menurut teori ini, debitor dapat menggunakan keadaan memaksa sebagai
alasan tidak berprestasi jika pemenuhan prestasi bagi setiap orang tidak
mungkin secara mutlak. Contoh : debitor dalam suatu perjanjian diharuskan
menyerahkan seekor kuda, tetapi sebelum saat penyerahan di tengah
perjalanan disambar petir sehingga kuda tersebut mati.
b) Teori Subjektif
Dalam teori subjektif ini, ketidakmungkinan subjektif dibagi dalam dua
golongan, yaitu :
1) Debitor yang bersangkurtan tidak mungkin memenuhi prestasi. Misalnya :
debitor tiba-tiba sakit atau jatuh miskin;
2) Pemenuhan prestasi secara teoritis masih dimungkinkan, tetapi secara
praktis apabila dipenuhi akan sangat memberatkan debitor.
Jadi, teori subjektif memperhatikan keadaan pribadi daripada debitor pada waktu
terjadinya overmacht, misalnya kesehatan dan kemampuan keuangannya.
F. Tinjauan tentang Eksekusi
1. Pengertian Eksekusi
57
Setiono, op.cit., hlm. 33
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
46
Bertitik tolak dari ketentuan Bab Kesepuluh Bagian Kelima HIR atau
Titel Keempat Bagian Keempat RBG, pengertian eksekusi sama dengan
tindakan “menjalankan putusan”. Menjalankan putusan pengadilan, tiada lain
daripada melaksanakan isi putusan pengadilan, yakni melaksanakan “secara
paksa” putusan pengadilan dengan bantuan kekuatan umum apabila pihak yang
kalah (tereksekusi atau pihak tergugat) tidak mau menjalankannya secara
sukarela.58
Putusan Pengadilan yang dieksekusi adalah putusan Pengadilan yang
mengandung perintah kepada salah satu pihak untuk membayar sejumlah uang,
atau juga pelaksanaan putusan hakim yang memerintahkan pengosongan benda
tetap. Putusan Pengadilan yang dapat dilaksanakan adalah putusan yang
mempunyai kekuatan eksekutorial. Ada pun yang memberikan kekuatan
eksekutorial padaputusan Pengadilan terletak pada kepada putusan yang
berbuyi “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”. Di samping
itu putusan Pengadilan yang mempunyai titel eksekutorial adalah putusan yang
bersifat atau yang mengandung amar “condemnatoir”, sedangkan putusan
Pengadilan yang bersifat deklaratoir dan constitutif tidak dilaksanakan
eksekusi karena tidak memerlukan eksekusi dalam menjalankannya.
Menurut Sudikno Mertokusumo, eksekusi pada hakekatnya tidak lain
ialah realisasi daripada kewajiban pihak yang kalah untuk memenuhi prestasi
yang tercantum dalam putusan Pengadilan tersebut. Pihak yang menang dapat
memohon eksekusi pada Pengadilan yang memutus perkara tersebut untuk
melaksanakan putusan tersebut secara paksa (execution force).59
2. Macam-macam Eksekusi
58
M. Yahya Harahap,Ruang Lingkup Permasalahan Eksekusi Bidang Perdata,ctk
Keempat,Sinar Grafika, Jakarta, 2009, hlm 6
59
Tazkiatun Nafs Az Zahra, Eksekusi dalam Hukum Acara Perdata,
http://itskiyanafs.blogspot.com/2013/11/eksekusi-dalam-hukum-acara-perdata.html, diakses pada hari
Jum’at, tanggal 6 maret 2015, pukul 23.40 wib
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
47
Pada dasarnya ada 2 (dua) bentuk eksekusi ditinjau dari segi sasaran
yang hendak dicapai oleh hubungan hukum yang tercantum dalam putusan
pengadilan yaitu : 60
a. Eksekusi riil.
Hubungan hukum yang hendak dipenuhi sesuai dengan amar atau
diktum putusan, yaitu melakukan suatu tindakan nyata atau tindakan riil.
Contoh eksekusi riil antaralain : penyerahan barang, pengosongan,
pembongkaran, melakukan suatu perbuatan.
Mengenai eksekusi riil atas objek Hak Tanggungan yang telah dijual,
baik dalam hal melalui Pengadilan Negeri berdasarkan Pasal 224 HIR
ataupun melalui kekuasaan sendiri berdasarkan Pasal 6, karena tidak diatur
didalam UUHT. Pelaksanaan eksekusi riilnya tunduk kepada ketentuan
umum dalam Pasal 200 ayat (11) HIR yaitu jika pemberi Hak Tanggungan
tidak mau atau enggan mengosongkan /meninggalkan objek Hak
Tanggungan yang telah dijual lelang kepada Pembeli Lelang, pemegang
Hak Tanggungan semula atau Pembeli Lelang, dapat meminta kepada
Ketua Pengadilan Negeri untuk mengosongkannya. Dan berdasarkan
permintaan itu, Ketua Pengadilan Negeri mengeluarkan atau menerbitkan
surat penetapan yang berisi perintah kepada juru sita supaya melakukan
eksekusi riil berupa pengosongan objek tersebut. Jika perlu dengan bantuan
polisi. Dengan demikian maka berdasarkan ketentuan Pasal 200 ayat (11)
HIR, eksekusi riil untuk mengosongkan objek Hak Tanggungan yang
dijual lelang cukup dalam bentuk permintaan kepada Ketua Pengadilan
Negeri dan tidak perlu dalam bentuk gugatan perdata.
b. Eksekusi pembayaran uang.
Hubungan hukum yang mesti dipenuhi sesuai dengan amar putusan,
melakukan pembayaran sejumlah uang. Eksekusi pembayaran sejumlah
60
M. Yahya Harahap, op.cit., hlm. 23
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
48
uang tidak hanya didasar atas putusan pengadilan, tetapi dapat juga
didasarkan atas bentuk akta tertentu yang oleh undang-undang disamakan
nilainya dengan putusan yang memperoleh kekuatan hukum yang tetap,
yaitu : grosse akta pengakuan hutang, sertifikat hak tanggungan dan
jaminan fidusia.
Pada umumnya eksekusi pembayaran sejumlah uang bersumber dari
perjanjian utang atau penghukuman membayar ganti kerugian yang timbul
dari “wanprestasi” berdasarkan Pasal 1243 juncto Pasal 1246 KUHPerdata
atau yang timbul dari “perbuatan melawan hukum” berdasarkan Pasal 1365
KUHPerdata.
Pasal 1243 KUHPerdata menyebutkan :
“Penggantian biaya, rugi dan bunga karena tak dipenuhinyha suatu
perikatan, barulah mulai diwajibkan, apabila si berutang, setelah
dinyatakan lalai memenuhi perikatannya, tetap melalaikannya, atau jika
sesuatu yang harus diberikan atau dibuatnya, hanya dapat diberikan atau
dibuat dalam tenggang waktu yang telah dilampaukannya.”
Pasal 1246 KUHPerdata menyebutkan :
“Biaya, rugi dan bunga yang oleh si berpiutang boleh dituntut akan
penggantiannya, terdirilah pada umumnya atas rugi yang telah dideritanya
dan untung yang sedianya harus dapat dinikmatinya, dengan tak
mengurangi pengecualian-pengecualian serta perubahan-perubahan yang
disebutkan Pasal berikutnya”
Pasal 1365 KUHPerdata menyebutkan :
“Tiap perbuatan melanggar hukum, yang membawa kerugian kepada
seorang lain, mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan
kerugian itu, mengganti kerugian tersebut”
Jika debitor tidak bersedia untuk melunasi pembayaran sejumlah uang
yang dihukumkan kepadanya secara sukarela, terbuka kewenangan
pengadilan menjalankan putusan secara paksa melalui eksekusi, dengan
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
49
jalan penjualan lelang harta kekayaan debitor yang kemudian hasilnya
akan dipergunakan untuk memenuhi kewajiban debitor. Dengan kata lain
eksekusi pembayaran sejumlah uang dapat juga diartikan sebagai
pelaksanaan hak-hak kreditor dalam perutangan yang tertuju terhadap harta
kekayaan debitor, manakala perutangan itu tidak dapat dipenuhi secara
suka rela oleh debitor.61
Pelaksanaan akan pemenuhan haknya terhadap benda-benda tersebut
diperlukan berbagai tata cara dan penahapan yang dibarengi dengan
berbagai persyaratan antara lain dimulai dari peringatan atau teguran, sita
eksekusi (executorial beslag) dan baru dilakukan penjualan lelang serta
penyerahan uang penjualan lelang kepada kreditor. Dengan kata lain
penjualan lelang dan penyerahan uang hasil penjualan merupakan tahapan
akhir dari proses ekesekusi pembayaran sejumlah uang. Syarat adanya titel
eksekutorial ini diadakan demi perlindungan bagi debitor terhadap
perbuatan yang melampaui batas dari kreditor. Pelaksanaan beslag
eksekutorial dapat timbul karena berdasarkan keputusan hakim yang dibuat
dalam bentuk eksekutorial (Pasal 430 Reglement of de Rechtsvordering)
yang memutuskan bahwa debitor harus membayar sejumlah pembayaran
tertentu atau prestasi tertentu. Sebagai pengecualian, dapat juga eksekusi
dilakukan tanpa mempunyai titel eksekutorial ialah dengan melalui parate
executie atau eksekusi langsung.62
Dalam hal pengecualian tersebut, termasuk didalamnya adalah eksekusi
terhadap grosse akta hipotik dan grosse akta pengakuan utang sebagaimana
Djoko Achmad Pitoyo, “Pelaksanaan Parate Eksekusi Hak Tanggungan dengan Cara
Penjualan Tidak Melalui Lelang Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia
Nomor 300/KMK.01/2002 di PT. Bank BPD Jateng Cabang Karanganyar”, Tesis Program Studi Ilmu
Hukum Pascasarjana UNS, 2006, hlm. 47-48
62
Djoko Achmad Pitoyo, “Pelaksanaan Parate Eksekusi Hak Tanggungan dengan Cara
Penjualan Tidak Melalui Lelang Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia
Nomor 300/KMK.01/2002 di PT. Bank BPD Jateng Cabang Karanganyar”, Tesis Program Studi Ilmu
Hukum Pascasarjana UNS, 2006, hlm. 48
61
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
50
diatur didalam Pasal 224 HIR dan Pasal 258 Rbg. yaitu eksekusi yang
dijalankan pengadilan bukan berupa putusan pengadilan yang telah
memperoleh kekuatan hukum yang tetap tetapi eksekusi untuk
melaksanakan isi perjanjian yang dibuat oleh para pihak dihadapan Notaris
yang menggunakan irah-irah “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan
Yang Maha Esa”, jadi merupakan penyimpangan dan pengecualian
eksekusi terhadap putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum yang
tetap.
“Yahya Harahap mengidentifikasikan ada 3 (tiga) perbedaan yang
mendasar antara Eksekusi Riil dan Eksekusi Pembayaran Uang, yaitu :63
a. Eksekusi Riil Mudah dan Sederhana, sedang Eksekusi Pembayaran Uang
Memerlukan Tahap Sita Eksekusi dan Penjualan Eksekusi.
Secara teoritis dalam eksekusi riil tidak diperlukan prosedur dan formalitas
yang rumit, dalam arti cara eksekusinya sangat sederhana dan tinggal
menjalankan keputusan pengadilan, sehingga eksekusinya tidak diatur
secara terinci dalam undang-undang. Berbeda dengan eksekusi pembayaran
uang yang harus melalui berbagai tahap untuk melaksanakannya dan
diperlukan syarat serta tata cara yang tertib dan terperinci, agar jangan
sampai terjadi penyalahgunaan yang merugikan para pihak. Secara garis
besar pelaksanaan eksekusi pembayaran uang melalui tahap proses
executoriale beslag dan dilanjutkan dengan penjualan lelang yang
melibatkan kantor lelang.
b. Eksekusi Riil Terbatas Putusan Pengadilan, sedang Eksekusi Pembayaran
Uang meliputi Akta Yang Disamakan Dengan Putusan Pengadilan.
Jika dilihat dari bentuk timbulnya eksekusi, maka eksekusi riil hanya
mungkin terjadi dan diterapkan berdasarkan putusan pengadilan, sedangkan
dalam eksekusi pembayaran uang tidak hanya terbatas pada putusan
63
M. Yahya Harahap, op.cit., hlm. 25-27
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
51
pengadilan saja, tetapi dapat juga didasarkan pada bentuk akta tertentu yang
oleh undang-undang “disamakan” nilainya dengan putusan pengadilan.
c. Sumber Hubungan Hukum Yang Dipersengketakan.
Dilihat dari sumber hubungan hukum yang disengketakan, pada umumnya
eksekusi riil adalah upaya hukum yang mengikuti persengketaan “hak
milik” atau persengketaan hubungan hukum yang didasarkan atas
perjanjian jual beli, sewa menyewa atau perjanjian melaksanakan suatu
perbuatan. Adapun eksekusi pembayaran sejumlah uang, dasar hubungan
hukumnya sangat terbatas sekali, semata-mata hanya didasarkan atas
persengketaan “perjanjian utang-piutang” dan ganti rugi berdasarkan
wanprestasi, dan hanya dapat diperluas berdasarkan ketentuan Pasal 225
HIR dengan nilai sejumlah uang apabila tergugat enggan menjalankan
perbuatan yang dihukumkan dalam waktu tertentu”.
Menurut Sudikno Mertokusumo membagi jenis eksekusi dalam tiga
kelompok :64
a. Membayar sejumlah uang, diatur pada Pasal 196 HIR dan Pasal 208 RBG;
b. Melaksanakan suatu perbuatan, berdasarkan Pasal 225 HIR, Pasal 259
RBG;
c. Eksekusi Riil, berdasarkan Pasal 1033 RV.
3. Tata Cara Eksekusi
Beberapa tata cara pelaksanaan eksekusi, antaralain :65
a. Eksekusi riil terhadap putusan yang telahberkekuatan hukum tetap:
1) Adanya permohonan dari Pemohon (pihak yang menang) dalam hal
putusan telah berkekuatan hukum tetap baik putusan tingkat
Pengadilan Negeri yang diterima oleh kedua belah pihak yang
64
Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara Perdata Indonesia, Liberty, Yogyakarta, 1998, hlm.
200
65
www.pa-tasikmalaya.go.id/arsip/unduh-arsip/54, diakses pada hari Sabtu, tanggal 30 Januari
2016, pukul : 22.11 WIB
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
52
berperkara, putusan perdamaian, putusan verstek yang terhadapnya
tidak diajukan verzet atau banding, putusan Pengadilan Tinggi yang
diterima oleh kedua belah pihak dan tidak dimohonkan kasasi dan
putusan Mahkamah Agung dalam hal Kasasi.
2) Selanjutnya Ketua Pengadilan Negeri mengeluarkan Penetapan
aanmaning/teguran terhadap pihak yang kalah untuk melaksanakan isi
putusan yang berkekuatan hukum tetap dalam jangka waktu 8
(delapan) hari setelah pihak yang kalah dipanggil untuk ditegur (8 hari
adalah batas maksimum (Pasal 196 HIR atau Pasal 207 RBG) yang
dibuat dengan berita acara aanmaning.
3) Apabila pihak yang kalah setelah ditegur tidak mau menjalankan
putusan, Ketua Pengadilan Negeri mengeluarkan penetapan perintah
eksekusi sesuai amardalam putusan, perintah menjalankan eksekusi
ditujukan kepada Panitera atau Jurusita dan dalam pelaksanaannya
apabila diperlukan dapat meminta bantuan kekuatan umum yang
dibuat dengan berita acara pelaksanaan isi putusan.
b. Eksekusi pembayaran sejumlah uang terhadap putusan yang telah
berkekuatan hukum tetap :
1) Proses pelaksanaan isi putusan pembayaran sejumlah uang mengikuti
sebagaimana eksekusi riil.
2) Selanjutnya setelah pihak yang kalah diaanmaning dan tidak juga
melaksanakan isi putusan, maka Ketua Pengadilan mengeluarkan
penetapan perintah untuk lelang eksekusi, perintah ditujukan kepada
Panitera atau Jurusita dan dalam pelaksanaannya dibantu oleh KPKNL
(Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang).
3) Sebelum mengeluarkan penetapan Perintah Lelang eksekusi, Ketua
Pengadilan Negeri berdasarkan permohonan Pemohon terlebih dahulu
menyita eksekusi objek yang akan dilelang(Pasal 197 ayat (1) HIR),
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
53
apabila dalam putusan telah ada sita atau Conservatoir Beslag, maka
Conservatoir Beslag secara otomatis menjadi Sita eksekusi.
4) Selanjutnya dalam prosesdan tata caralelang mengikuti aturan yang
diatur oleh Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor :
106/PMK.06/2013 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri
Keuangan Nomor : 93/PMK.06/2010 tentang Petunjuk Pelaksanaan
Lelang.
c. Eksekusi terhadap Hak Tanggungan :
1) Eksekusi Hak Tanggungan dilaksanakan seperti eksekusi pembayaran
sejumlah uang terhadap putusan Pengadilan yang berkekuatan hukum
yang tetap.
2) Eksekusi dimulai dengan teguran dan berakhir dengan pelelangan yang
dibebani Hak Tanggungan.
3) Setelah dilakukan pelelangan terhadap objek yang dibebani Hak
Tanggungan dan uang hasil lelang diserahkan kepada Kreditor, maka
Hak Tanggungan yang membebani objek tersebut akan diroya dan
diserahkan kepada pembeli lelang secara bersih dan bebas dari semua
beban.
4) Apabila Debitor/Terlelang tidak mau menyerahkan objek yang telah
dilelang, maka berlaku ketentuan yang terdapat dalam Pasal 200 ayat
(1) HIR.
5) Selanjutnya berdasarkan Pasal 200 ayat (1) HIR, pembeli lelang dapat
memohon kepada Ketua Pengadilan Negeri untuk melaksanakan
eksekusi pengosongan terhadap objek lelang yang telah dibelinya dari
penghunian debitor/Termohon Eksekusi atau siapapun yang mendapat
hak dari padanya serta barang-barang yang ada didalamnya.
6) Sebagai tindak lanjut dari permohonan tersebut, selanjutnya diproses
eksekusi sebagaimana eksekusi riil terhadap Putusan berkekuatan
hukum tetap.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
54
G. Tinjauan tentangLelang
1. Pengertian Lelang
Vendu Reglement (Stbl. Tahun 1908 Nomor 189 diubah dengan Stbl.
1940 Nomor 56) yang masih berlaku saat ini sebagai dasar hukum lelang
menyebutkan pengertian lelang yang diterjemahkan dalam Himpunan
Peraturan Perundang-undangan Republik Indonesia menyebutkan :
“Penjualan Umum adalah pelelangan atau penjualan benda-benda yang
dilakukan kepada umum dengan harga penawaran yang meningkat atau
menurun atau dengan pemasukan harga dalam sampul tertutup, atau kepada
orang-orang yang diundang atau sebelumnya diberitahu mengenai pelelangan
atau penjualan itu atau diizinkan untuk ikut serta, dan diberi kesempatan untuk
menawar harga, menyetujui harga yang ditawarkan atau memasukkan harga
dalam sampul tertutup.”
Peraturan teknis yang utama mengenai pelaksanaan lelang yang saat ini
berlaku, Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor :
106/PMK.06/2013 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor
: 93/PMK.06/2010 tentang Petunjuk Pelaksanaan Lelang yang dimaksud
Lelang adalah penjualan barang yang terbuka untuk umum dengan penawaran
harga secara tertulis dan/atau lisan yang semakin meningkat atau menurun
untuk mencapai harga tertinggi, yang didahului dengan Pengumuman Lelang.
Pengertian lelang menurut pendapat Polderman (sebagaimana dikutip
oleh Rochmat Soemitro) dalam disertasinya tahun 1913 berjudul “Het
Openbare aanbod” menyebutkan bahwa : “Penjualan Umum adalah alat untuk
mengadakan perjanjian atau persekutuan yang paling menguntungkan untuk si
penjual dengan cara menghimpun peminat dengan syarat :
a. Penjualan harus selengkap mungkin
b. Ada kehendak untuk mengikat diri
c. Pihak lainnya (pembeli) yang akan mengadakan/melakukan perjanjian
tidak dapat ditunjuk sebelumnya.”
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
55
Sedangkan menurut Roell (Kepala Inspeksi Lelang Jakarta Tahun
1932), bahwa “penjualan umum adalah suatu rangkaian kejadian yang terjadi
antara saat mana seseorang hendak menjual sesuatu atau lebih dari satu barang,
baik secara pribadi maupun dengan perantaraan kuasanya, memberikan
kesempatan kepada orang-orang yang hadir melakukan penawaran untuk
membeli barang-barang yang ditawarkan sampai kepada saat dimana
kesempatan lenyap.”
Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa
lelang adalah penjualan barang di muka umum yang didahului dengan upaya
pengumpulan peminat melalui pengumuman yang dilakukan oleh dan atau
dihadapan pejabat lelang dengan pencapaian harga yang optimal melalui cara
penawaran lisan naik-naik atau turun-turun dan atau tertulis. Pengertian lelang
harus memenuhi unsur-unsur berikut :66
a. Penjualan di muka umum ;
b. Didahului dengan upaya pengumpulan peminat melalui pengumuman ;
c. Dilakukan oleh dan atau dihadapan pejabat lelang ;
d. Harga terbentuk dengan cara penawaran lisan naik-naik atau turun-turun
dan atau tertulis.
2. Jenis Lelang
Jenis lelang dibedakan berdasarkan sebab barang dijual dan penjual
dalam hubungannya dengan barang yang akan dilelang.67 Sifat lelang ditinjau
dari sudut sebab barang dilelang dapat dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu :
a. Lelang Eksekusi, adalah lelang untuk melaksanakan putusan/penetapan
pengadilan atau dokumen yang dipersamakan dengan itu sesuai dengan
perundang-undangan yang berlaku.
66
Purnama Tioria Sianturi, Perlindungan Hukum Terhadap Pembeli Barang Jaminan Tidak
Bergerak Melalui Lelang, ctk Kedua, Edisi Revisi, Mandar Maju, Bandung, 2013, hlm. 51-54
67
Ibid., hlm. 56
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
56
b. Lelang Non Eksekusi, adalah lelang selain lelang eksekusi yang meliputi
lelang non eksekusi wajib dan lelang non eksekusi sukarela.
1) Lelang Non Eksekusi Wajib adalah lelang untuk melaksanakan
penjualan barang milik Negara/daerah dan kekayaan Negara yang
dipisahkan sesuai peraturan yang berlaku.
2) Lelang Non Eksekusi Sukarela adalah lelang untuk melaksanakan
kehendak perorangan atau badan untuk menjual barang miliknya.
3) Sifat lelang ditinjau dari sudut penjual dalam hubungannya dengan
barang yang akan dilelang dapat dibedakan, yaitu :
4) Lelang yang sifatnya wajib, yang menurut peraturan perundangundangan wajib melalui Kantor Lelang.
5) Lelang yang sifatnya sukarela, atas permintaan masyarakat.
3. Asas-asas Lelang
Asas hukum sebagai pikiran dasar peraturan konkrit pada umumnya bukan
tersurat melainkan tersirat dalam kaedah atau peraturan hukum konkrit. Asas
hukum bukan merupakan hukum konkrit, melainkan merupakan pikiran dasar
yang umum dan abstrak, atau merupakan latar belakang peraturan konkrit yang
terdapat dalam dan di belakang setiap sistem hukum yang terjelma dalam
peraturan perundang-undangan dan putusan hakim yang merupakan hukum
positif dan dapat diketemukan dengan mencari sifat-sifat atau ciri-ciri yang
umum dalam peraturan konkrit tersebut.68
Asas-asas lelang antara lain :69
a. Transparansi (Transparency/Publicity)
Keterbukaan dalam pelelangan. Hal ini tampak antara lain dari adanya
keharusan bahwa setiap pelelangan didahului dengan pengumuman lelang.
Di samping untuk menarik peserta lelang sebanyak mungkin,
68
Sudikno Mertokusumo, Penemuan Hukum Sebuah Pengantar, ctk Kelima, Universitas
Atma Jaya Yogyakarta, Yogyakarta, 2010, hlm. 7
69
Murtadho, Peraturan Lelang, Surakarta, Bahan Ajar Program Studi Kenotariatan UNS, 2014
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
57
pengumuman lelang juga dimaksudkan sebagai kontrol sosial dan
perlindungan publik.
b. Persaingan (Competition)
Para peserta lelang bersaing dan peserta dengan penawaran tertinggi yang
sudah mencapai atau di atas harga limit yang akan dinyatakan sebagai
pemenang.
c. Kepastian(Certainty)
Independensi Pejabat Lelang seharusnya mampu membuat kepastian
bahwa penawar tertinggi dinyatakan sebagai pemenang dan bahwa
pemenang lelang yang telah melunasi kewajibannya akan memperoleh
barang beserta dokumennya.
d. Pertanggungjawaban(Accountability)
Pelaksanaan lelang dapat dipertanggungjawabkan karena Pemerintah
melalui Pejabat lelang berperan untuk mengawasi jalannya lelang dan
membuat akta autentik yang disebut Risalah Lelang.
e. Efisiensi (Efficiency)
Lelang dilakukan pada suatu saat dan tempat yang ditentukan dan transaksi
terjadi pada saat itu juga maka diperoleh efisiensi biaya dan waktu, karena
dengan demikian barang secara cepat dapat dikonversi menjadi uang.
4. Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL)
a. Sejarah KPKNL
Pada tahun 1971 struktur organisasi dan sumber daya manusia
Panitia Urusan Piutang Negara (PUPN) tidak mampu menangani
penyerahan piutang negara yang berasal dari kredit investasi.
Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 11 Tahun 1976 dibentuk Badan
Urusan Piutang Negara (BUPN) dengan tugas mengurus penyelesaian
piutang negara sebagaimana Undang-Undang Nomor 49 Prp Tahun 1960
tentang Panitia Urusan Piutang Negara, sedangkan PUPN yang
merupakan panitia interdepartemental hanya menetapkan produk hukum
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
58
dalam pengurusan piutang negara. Untuk mempercepat proses pelunasan
piutang negara macet, diterbitkanlah Keputusan Presiden Nomor 21
Tahun 1991 yang menggabungkan fungsi lelang dan seluruh aparatnya
dari lingkungan Direktorat Jenderal Pajak ke dalam struktur organisasi
BUPN, sehingga terbentuklah organisasi baru yang bernama Badan
Urusan Piutang dan Lelang Negara (BUPLN).
Menteri
Keuangan
memutuskan
bahwa
tugas
operasional
pengurusan piutang Negara dilakukan oleh Kantor Pelayanan Pengurusan
Piutang Negara (KP3N), sedangkan tugas operasional lelang dilakukan
oleh Kantor Lelang Negara (KLN). Selanjutnya, berdasarkan Keputusan
Presiden Nomor 177 Tahun 2000 yang ditindaklanjuti dengan Keputusan
Menteri Keuangan Nomor 2/KMK.01/2001 tanggal 3 Januari 2001,
BUPLN ditingkatkan menjadi Direktorat Jenderal Piutang dan Lelang
Negara (DJPLN) yang fungsi operasionalnya dilaksanakan oleh Kantor
Pengurusan Piutang dan Lelang Negara (KP2LN).
Reformasi Birokrasi di lingkungan Departemen Keuangan pada
tahun 2006 menjadikan fungsi pengurusan piutang negara dan pelayanan
lelang digabungkan dengan fungsi pengelolaan kekayaan negara pada
Direktorat Pengelolaan Barang Milik/Kekayaan Negara (PBM/KN)
Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb), sehingga berdasarkan
Peraturan Presiden Nomor 66 Tahun 2006 tentang Perubahan Keempat
atas Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2005 tentang Unit Organisasi
dan Tugas Eselon I Kementerian Republik Indonesia, DJPLN berubah
menjadi Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN), dan KP2LN
berganti nama menjadi Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
59
(KPKNL) dengan tambahan fungsi pelayanan di bidang kekayaan negara
dan penilaian.70
b. Kedudukan, Tugas dan Fungsi KPKNL
Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 135/PMK.01/2006
tentang Organisasi dan Tata Kerja Instansi Vertikal Direktorat Jenderal
Kekayaan Negara Pasal 29 ayat (1) bahwa Kantor Pelayanan Kekayaan
Negara dan Lelang (KPKNL) adalah instansi vertikal Direktorat Jenderal
Kekayaan Negara yang berada di bawah dan bertanggungjawab langsung
kepada Kepala Kantor Wilayah.
Selanjutnya, dalam Pasal 30 menyatakan bahwa KPKNL mempunyai
tugas melaksanakan pelayanan di bidang kekayaan negara, penilaian,
piutang negara, dan lelang. Dalam melaksanakan tugas, KPKNL
menyelenggarakan fungsi yang diatur dalam Pasal 31, antaralain:
1) inventarisasi, pengadministrasian, pendayagunaan, pengamanan
kekayaan negara;
2) registrasi, verifikasi dan analisa pertimbangan permohonan
pengalihan serta penghapusan kekayaan negara;
3) registrasi penerimaan berkas, penetapan, penagihan, pengelolaan
barang jaminan, eksekusi, pemeriksaan harta kekayaan milik
penanggung hutang/penjamin hutang;
4) penyiapan bahan pertimbangan atas permohonan keringanan jangka
waktu, dan/atau jumlah hutang, usul pencegahan dan penyanderaan
penanggung hutang dan/atau penjamin hutang, serta penyiapan data
usul penghapusan piutang negara;
5) pelaksanaan pelayanan penilaian;
6) pelaksanaan pelayanan lelang;
70
https://www.djkn.kemenkeu.go.id/page/sejarah, diakses pada tanggal 19 Maret 2015, hari
Kamis, pukul : 23 59 WIB
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
60
7) penyajian informasi di bidang kekayaan negara, penilaian, piutang
negara dan lelang;
8) pelaksanaan penetapan dan penagihan piutang negara serta
pemeriksaan kemampuan penanggung hutang atau penjamin hutang
dan eksekusi barang jaminan;
9) pelaksanaan pemeriksaan barang jaminan milik penanggung hutang
atau penjamin hutang serta harta kekayaan lain;
10) pelaksanaan bimbingan kepada Pejabat Lelang;
11) inventarisasi, pengamanan, dan pendayagunaan barang jaminan;
12) pelaksanaan
pemberian
pertimbangan
dan
bantuan
hukum
pengurusan piutang negara dan lelang;
13) verifikasi dan pembukuan penerimaan pembayaran piutang negara
dan hasil lelang;
14) pelaksanaan administrasi Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan
Lelang.
5. Pejabat Lelang
Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor
: 106/PMK.06/2013 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan
Nomor : 93/PMK.06/2010 tentang Petunjuk Pelaksanaan Lelang, pasal 1
angka 14, Pejabat Lelang adalah orang yang berdasarkan peraturan
perundang-undangan diberi wewenang khusus untuk melaksanakan penjualan
barang secara lelang. Pejabat Lelang yang melaksanakan lelang wajib
membuat berita acara lelang yang disebut Risalah Lelang.71
Pejabat lelang terdiri dari :
a. Pejabat Lelang Kelas I
71
Pasal 77 ayat (1) Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor :
106/PMK.06/2013 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor : 93/PMK.06/2010
tentang Petunjuk Pelaksanaan Lelang
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
61
Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia
Nomor 174/PMK.06/2010 tentang Pejabat Lelang Kelas I, Pasal 1 angka
2, Pejabat lelang kelas I adalah Pejabat Lelang pegawai Direktorat
Jenderal Kekayaan Negara yang berwenang melaksanakan Lelang
Eksekusi, Lelang Non Eksekusi Wajib, dan Lelang Non Eksekusi
Sukarela atas permohonan Penjual/Pemilik Barang. Pejabat Lelang Kelas
I merupakan pegawai negeri sipil di lingkungan Direktorat Jenderal
Kekayaan Negara di Kementerian Keuangan Repulik Indonesia, yang
diangkat dan diberhentikan oleh Direktur Jenderal atas nama Menteri
sebagai Pejabat Lelang. Pejabat Lelang Kelas I dapat melaksanakan
lelang atas permohonan Balai Lelang, meskipun di wilayah kerjanya
terdapat Pejabat Lelang Kelas II.
b. Pejabat Lelang Kelas II
Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia
Nomor 175/PMK.06/2010 tentang Pejabat Lelang Kelas II, Pasal 1 angka
2, Pejabat lelang kelas II adalah Pejabat Lelang swasta yang berwenang
melaksanakan Lelang Noneksekusi Sukarela atas permohonan Balai
Lelang atau Penjual/Pemilik Barang. Pejabat Lelang Kelas II diangkat
dan diberhentikan oleh Direktur Jenderal atas nama Menteri untuk masa
jabatan 3 (tiga) tahun dan dapat diperpanjang kembali. Pejabat Lelang
Kelas II berkantor di Balai Lelang swasta.
6. Penjual dan Pembeli Lelang
a. Penjual Lelang
Pemohon lelang (penjual) adalah perorangan atau badan
hukum/usahayang berdasarkan peraturan perundang-undangan atau
perjanjian berwenang menjual barang secara lelang. Penjual dapat
berstatus pemilik barang, kuasa pemilik barang atau orang/badan yang
oleh Undang-undang atau peraturan yang berlaku diberi wewenang untuk
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
62
menjual barang yang bersangkutan. Definisi pemilik barang adalah
perorangan atau badan hukum/usaha yang memiliki hak kepemilikan atas
suatu barang yang dilelang.
b. Peserta dan/atau Pembeli Lelang
Pembeli Lelang dapat diartikan orang atau badan hukum/usaha
yang mengajukan penawaran tertinggi yang mencapai atau melampaui
nilai limit yang disahkan sebagai pemenang lelang oleh Pejabat Lelang.72
Pembeli ditetapkan oleh Pejabat Lelang. Pembeli wajib membayar harga
lelang, Bea Lelang dan Uang Miskin serta pungutan lainnya. Apabila
Pembeli tidak memenuhi kewajibannya tersebut, Pejabat Lelang
membatalkan penetapannya sebagai Pembeli. Pembeli yang tidak
memenuhi kewajibannya tersebut tidak boleh mengikuti lelang di seluruh
Indonesia dalam waktu 6 (enam) bulan.
Perpindahan hak kepada Pembeli Lelang merujuk pada
administrasi pembayaran uang hasil lelang. Pembeli memenuhi syaratsyarat
pembayaran
yang
diwajibkan
kepadanya.
Berdasarkan
pembayaran itu, kepadanya diberi bukti atau surat keterangan oleh Kantor
Lelang, yang menyatakan Pembeli telah memenuhi semua kewajiban
pembayaran.
Peralihan hak kepada Pembeli Lelang, tidak dengan sendirinya
terjadi pada saat Pembeli dinyatakan dan disahkan Pejabat Lelang
sebagai
pemenang.
Pernyataan
dan
pengesahan
itu,
belum
mengakibatkan peralihan hak secara efektif karena hal itu baru
merupakan proses ke arah perolehan hak secara yuridis. Perolehan hak
baru terjadi menurut hukum :73 Setelah Pembeli Lelang memenuhi syarat
lelang, terutama pelunasan pembayaran uang hasil lelang, yang
72
73
Murtadho, Peraturan Lelang, Surakarta, Bahan Ajar Program Studi Kenotariatan UNS, 2014
M. Yahya Harahap,op.cit., hlm 161
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
63
dibuktikan dengan surat keterangan pelunasan dari Kantor Lelang. Surat
keterangan itu diberikan kepada Pembeli, maka saat itu, barulah secara
formil dan materiil terjadi peralihan hak ke tangan Pembeli.
Sesuai dalam Pasal 526 Rv (Reglement of de Rechtsvordering)
yang berbunyi : Hak milik barang yang dilelang berpindah ke tangan
Pembeli berdasarkan pengumuman kutipan daftar pelelangan yang tidak
dapat dibuktikan selain dengan menunjukkan bukti tertulis yang
dikeluarkan oleh Kantor Lelang yang menyatakan bahwa telah dipenuhi
semua syarat pembelian.
Pembeli Lelang yang beritikad baik dalam konteks putusan
pengadilan, mengenai pandangan hakim dalam berbagai putusan
mengenai
Pembeli Lelang yang beritikad baik diartikan sebagai
berikut:74
1) Pembeli yang beritikad baik karena Pembeli melaksanakan semua
ketentuan sehubungan dengan pelaksanaan lelang;
2) Pembeli yang beritikad baik, karena Pembeli membeli melalui
lelang umum;
3) Pembeli yang beritikad baik, karena
Pembeli yang bertindak
dengan prinsip kehati-hatian, melakukan penelitian secara seksama
atas syarat-syarat penjual lelang.
4) Pembeli yang beritikad baik, karena Pembeli sebagai penangkap
lelang umum.
5) Pembeli yang beritikad baik, karena membeli barang dalam proses
lelang tersebut benar telah terjadi secara wajar.
6) Pembeli yang beritikad baik, karena membeli lelang secara hukum.
74
Murtadho, Peraturan Lelang, Surakarta, Bahan Ajar Program Studi Kenotariatan UNS, 2014
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
64
H. Tinjauan tentang Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang
Pendaftaran Tanah
1. Pengertian Pendaftaran Tanah
Pendaftaran tanah merupakan proses administrasi yang dilakukan oleh
Kantor Pertanahan dalam pengumpulan dan pengolahan data fisik dan data
yuridis serta penyajian bidang-bidang tanah yang sudah ada haknya dan hak
milik atas satuan rumah susun dengan menerbitkan tanda bukti hak yang
berfungsi sebagai alat bukti yang kuat.75 Guna meningkatkan pembangunan
nasional yang berkelanjutan, maka perlu adanya dukungan kepastian hukum di
bidang pertanahan,
yaitu
adanya
penyelenggaran
pendaftaran
tanah
berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomo 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran
Tanah yang merupakan penjabaran dari ketentuan yang lebih tinggi (UndangUndang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan dasar Pokok-Pokok Agraria).
Sebelumnya pendaftaran tanah sudah diatur dalam Peraturan Pemerintah
Nomor 10 Tahun 1961 tentang Pendaftaran Tanah, tetapi tidak dapat lagi
sepenuhnya mendukung tercapainya hasil yang lebih nyata dari sebelumnya,
sehingga perlu penyempurnaan.76
Pengertian pendaftaran tanah berdasarkan dalam Pasal 1 angka 1
Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran tanah yaitu:
rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh Pemerintah secara terus menerus,
berkesinambungan
dan
teratur,
meliputi
pengumpulan,
pengolahan,
pembukuan, dan penyajian dan pemeliharaan data fisik dan data yuridis, dalam
bentuk peta dan daftar, mengenai bidang-bidang tanah dan satuan-satuan rumah
susun, termasuk pemberian surat tanda bukti haknya bagi bidang-bidang tanah
yang sudah haknya dan hak milik atas satuan rumah susun serta hak-hak
Ana Silviana, “Kajian Tentang Kesadaran Hukum Masyarakat dalam Melaksanakan
Pendaftaran Tanah”, Pandecta Research Law Journal, Edisi No.1, Vol.7, Januari 2012, hlm.112
76
Konsideran pada pembukaan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang
Pendaftaran Tanah
75
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
65
tertentu yang membebaninya. Sedangkan dalam Pasal 3, pendaftaran tanah
bertujuan untuk memberikan kepastian hukum dan perlindungan hukum kepada
pemegang hak atas suatu bidang tanah, satuan rumah susun dan hak-hak lain
yang terdaftar dan dengan mudah membuktikan dirinya sebagai pemegang hak
yang bersangkutan. Kemudian dalam Pasal 4 untuk memberikan kepastian dan
perlindungan hukum tersebut kepada pemegang hak yang bersangkutan
diberikan sertifikat hak atas tanah.
2. Prosedur Pendaftaran Pemindahan Hak melalui Lelang
Peralihan hak melalui pemindahan hak dengan lelang diatur dalam Pasal
41 Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah.
Syarat sahnya lelang hak atas tanah untuk kepentingan pendaftaran pemindahan
haknya ada dua, yaitu :77
a. Syarat Materiil
Pemegang hak atas tanah berhak dan berwenang lelang hak atas tanah, dan
pembeli lelang harus memenuhi syarat sebagai pemegang (subjek) hak dari
hak atas tanah yang menjadi objek lelang.
b. Syarat Formil
Dalam rangka pendaftaran pemindahan hak, maka lelang hak atas tanah
harus dibuktikan dengan berita acara atau risalah lelang yang dibuat oleh
pejabat dari Kantor Lelang.
Dibuatnya Berita Acara Lelang atau Risalah Lelang oleh Pejabat dari
Kantor lelang, maka pada saat itu telah terjadi pemindahan hak atas tanah dari
pemegang haknya semula sebagai penjual lelang kepada pihak lain sebagai
pembeli lelang. Pemindahan hak tersebut hanyalah diketahui oleh kedua belah
pihak. Pihak ketiga tidak mengetahui adanya lelang tersebut, agar pihak ketiga
77
Urip Santoso, Pendaftaran dan Peralihan Hak atas Tanah, ctk Keempat, Kencana, Jakarta,
2014, hlm 388.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
66
mengetahuinya, maka lelang tersebut harus didaftarkan ke Kantor Pertanahan
setempat karena pendaftaran tanah mempunyai sifat terbuka.
Prosedur Pendaftaran pemindahan hak atas tanah melalui lelang ke
Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota adalah sebagai berikut :78
a. Permintaan Surat Keterangan Pendaftaran Tanah;
b. Pelaksanaan Lelang Hak atas Tanah;
c. Permohonan Pendaftaran Pemindahan Hak melalui Lelang;
d. Pencatatan Pemindahan Hak melalui Lelang;
e. Penyerahan Sertifikat Hak atas Tanah.
Berdasarkan Pasal 53 Undang-undang Nomor 24 Tahun 1997 tentang
Pendaftaran Tanah disebutkan bahwa Pendaftaran peralihan hak tanggungan
dilakukan dengan mencatatnya pada buku tanah serta sertifikat hak tanggungan
yang bersangkutan dan pada buku tanah serta sertifikat hak yang dibebani
berdasarkan surat tanda bukti beralihnya piutang yang dijamin karena cessie,
subrogasi, pewarisan atau penggabungan serta peleburan perseroan.
I. Tinjauan tentang Perlindungan Hukum
1. Pengertian Perlindungan Hukum
Perlindungan hukum adalah suatu perlindungan yang diberikan kepada
subjek hukum ke dalam bentuk perangkat baik yang bersifat preventif maupun
yang bersifat represif, baik yang lisan maupun yang tertulis. Perlindungan
hukum sebagai suatu gambaran tersendiri dari fungsi hukum itu sendiri, yang
memiliki konsep bahwa hukum memberikan suatu keadilan, ketertiban,
kepastian, kemanfaatan dan kedamaian.79
78
Ibid., hlm 388
http://tesishukum.com/pengertian-perlindungan-hukum-menurut-para-ahli/ diakses pada hari
Kamis tanggal 19 Februari 2015, pukul 17:30 WIB
79
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
67
Menurut Satjipto Raharjo mendefinisikan perlindungan hukum adalah
memberikan pengayoman terhadap hak asasi manusia (HAM) yang dirugikan
orang lain dan perlindungan itu diberikan kepada masyarakat agar dapat
menikmati semua hak-hakyang diberikan oleh hukum. Sedangkan menurut
Theresia Geme mengartikan perlindungan hukum adalah berkaitan dengan
tindakan negara untuk melakukan sesuatu dengan (memberlakukan hukum
negara secara eksklusif) dengan tujuan untuk memberikan jaminan kepastian
hak-hak seseorang atau kelompok orang.80
Menurut Philipus M. Hadjon, dalam merumuskan prinsip perlindungan
hukum bagi rakyat Indonesia, landasan berpijaknya adalah Pancasila sebagai
dasar ideologi dan dasar falsafah negara. Pengakuan dan perlindungan terhadap
harkat dan martabat manusia dikatakan bersumber pada Pancasila, karena
pengakuan dan perlindungan terhadapnya secara intrinsik melekat pada
Pancasila. Selain bersumber pada Pancasila prinsip perlindungan hukum juga
bersumber pada prinsip negara hukum.81
2. Bentuk Perlindungan Hukum
Secara teoritis, bentuk perlindungan hukum dibagi menjadi 2 (dua)
bentuk, yaitu :
a. Perlindungan yang bersifat preventif.
Perlindungan hukum yang preventif merupakan perlindungan hukum yang
sifatnya pencegahan. Perlindungan memberikan kesempatan kepada rakyat
untuk mengajukan keberatan atas pendapatnya sebelum suatu keputusan
pemerintahan mendapat bentuk yang definitif. Sehingga perlindungan
80
Salim H.S & Erlies Septiana Nurbaini, Penerapan Teori Hukum pada Penelitian Tesis dan
Disertasi, ctk Pertama, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2013, hlm. 262
81
http://tesishukum.com/pengertian-perlindungan-hukum-menurut-para-ahli/ diakses pada
hari Kamis tanggal 19 Februari 2015, pukul 17:30 WIB
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
68
hukum ini bertujuan untuk mencegah terjadinya sengketa dan sangat besar
artinya bagi tindak pemerintah yang didasarkan pada kebebasan bertindak.
Dan dengan adanya perlindungan hukum yang preventif ini mendorong
pemerintah untuk berhati-hati dalam mengambil keputusan yang berkaitan
dengan asas freies ermessen, dan rakyat dapat mengajukan keberatan atau
dimintai pendapatnya mengenai rencana keputusan tersebut.
b. Perlindungan yang bersifat represif.
Perlindungan hukum yang represif berfungsi untuk menyelesaikan apabila
terjadi sengketa. Indonesia dewasa ini terdapat berbagai badan yang secara
parsial menangani perlindungan hukum bagi rakyat, yang dikelompokkan
menjadi 2 (dua) badan, yaitu :
1) Pengadilan dalam lingkup peradilan umum ;
2) Instansi pemerintah yang merupakan lembaga banding administrasi.
Penanganan perlindungan hukum bagi rakyat melalui instansi
pemerintah yang merupakan lembaga banding administrasi adalah permintaan
banding terhadap suatu tindak pemerintah oleh pihak yang merasa dirugikan
oleh tindakan pemerintah tersebut. Instansi pemerintah yang berwenang untuk
mengubah bahkan dapat membatalkan tindakan pemerintah tersebut.82
J. Teori Hukum
Teori Hukum dalam Bahasa Inggris disebut dengan Theory of Law yang
mempunyai kedudukan yang sangat penting di dalam proses pembelajaran maupun
di dalam penerapan hukum karena dengan adanya teori hukum, dapat membantu
dalam kerangka pemecahan berbagai persoalan.83 Teori Hukum adalah cabang ilmu
hukum yang membahas atau menganalisis tidak sekedar menjelaskan atau
menjawab pertanyaan atau permasalahan secara kritis ilmu hukum maupun hukum
positif dengan menggunakan metode interdisipliner. Teori hukum dapat lebih
82
Salim H.S & Erlies Septiana Nurbaini, op.cit., hlm. 264-265
Salim H.S & Erlies Septiana Nurbaini, Penerapan Teori Hukum pada Penelitian Tesis dan
Disertasi Buku Kedua, ctk PertamaRaja Grafindo Persada, Jakarta, 2014,hlm. 5
83
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
69
mudah digambarkan sebagai teori-teori dengan pelbagai sifat mengenai objek,
abstraksi, tingkatan refleksi dan fungsinya. 84
1. Teori Perlindungan Hukum
Kepentingan manusia, adalah suatu tuntutan yang dilindungi dan
dipenuhi manusia dalam bidang hukum. Hukum sebagai perlindungan
kepentingan manusia berbeda-beda dengan norma-norma yang lain. Karena
hukum itu berisi perintah dan/atau larangan, serta membagi hak dan kewajiban.
Sudikno Mertokusumo mengemukakan tidak hanya tentang tujuan hukum,
tetapi juga tentang fungsi hukum dan perlindungan hukum. Ia berpendapat
bahwa:85
Dalam fungsinya sebagai perlindungan kepentingan manusia hukum
mempunyai tujuan. Hukum mempunyai sasaran yang hendak dicapai.
Adapun tujuan pokok hukum adalah menciptakan tatanan masyarakat yang
tertib, menciptakan ketertiban dan keseimbangan, dengan tercapainya
ketertiban di dalam masyarakat diharapkan kepentingan manusia akan
terlindungi. Tercapainya tujuan itu hukum bertugas membagi hak dan
kewajiban antar perorangan didalam masyarakat, membagi wewenang dan
mengatur cara memecahkan masalah hukum serta memelihara kepastian
hukum.
Teori perlindungan hukum merupakan teori yang mengkaji dan
menganalisis tentang wujud atau bentuk atau tujuan perlindungan, subjek
hukum yang dilindungi secara objek perlindungan yang diberikan oleh hukum
kepada subjeknya.86 Unsur-unsur yang tercantum dalam definisi teori
perlindungan hukum itu meliputi :
a. Adanya wujud atau bentuk perlindungan atau tujuan perlindungan;
b. Subjek hukum;
c. Objek perlindungan hukum.
84
Sudikno Mertokusumo, Teori Hukum, ctk Keenam, edisi revisi, Cahaya Atma Pustaka,
Yogyakarta, 2012, hlm. 86
85
Salim H.S & Erlies Septiana Nurbaini, op.cit., hlm 269
86
Ibid., hlm 263
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
70
Prinsip perlindungan hukum bagi rakyat terhadap tindak pemerintahan
bertumpu dan bersumber dari konsep tentang pengakuan dan perlindungan
terhadap hak-hak asasi manusia karena menurut sejarahnya di Barat, lahirnya
konsep-konsep tentang pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi
manusia diarahkan kepada pembatasan-pembatasan dan peletakan kewajiban
pada masyarakat dan pemerintah.87 Dalam merumuskan prinsip-prinsip
perlindungan hukum bagi rakyat (di Indonesia), landasannya adalah Pancasila
sebagai dasar ideologi dan dasar falsafah negara. Konsepsi perlindungan
hukum bagi rakyat bersumber pada konsep-konsep pengakuan dan
perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia dan konsep-konseprechstaat dan
rule of law. Prinsip perlindungan hukum bagi rakyat (di Indonesia) adalah
prinsip pengakuan dan perlindungan terhadap harkat dan martabat manusia
yang bersumber pada Pancasila dan prinsip negara hukum yang berdasarkan
Pancasila.88Sejalan dengan ini, teori perlindungan hukum menurut Philipus
M.Hadjon bahwa Perlindungan Hukum adalah perlindungan akan harkat dan
martabat, serta pengakuan terhadap hak-hak asasi manusia yang dimiliki oleh
subjek hukum berdasarkan ketentuan hukum dari kesewenangan.89
Sarana perlindungan hukum bagi rakyat dibedakan dua macam, yaitu :
perlindungan hukum yang preventif dan perlindungan hukum yang represif.
Pada perlindungan hukum yang preventif, kepada rakyat diberikan kesempatan
untuk mengajukan keberatan (inspraak) atau pendapatnya sebelum suatu
keputusan pemerintah mendapat bentuk yang definitif. Dengan demikian,
perlindungan hukum yang preventif bertujuan untuk mencegah terjadinya
sengketa, sedangkan sebaliknya perlindungan hukum yang represif bertujuan
untuk menyelesaikan sengketa. Perlindungan hukum yang preventif sangat
87
Philipus M. Hadjon, Perlindungan Hukum Bagi Rakyat di Indonesia, Edisi Khusus,
Peradaban, Surabaya, 2007, hlm. 33
88
Ibid., hlm. 19
89
Philipus M. Hadjon, Perlindungan Hukum Bagi Rakyat di Indonesia, Bina Ilmu, Surabaya,
1987, hlm. 3
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
71
besar artinya bagi tindak pemerintahan yang didasarkan kepada kebebasan
bertindak karena dengan adanya perlindungan hukum yang preventif
pemerintah terdorong untuk bersikap hati-hati dalam mengambil keputusan
yang didasarkan pada diskresi. Dengan pengertian yang demikian, penanganan
perlindungan hukum bagi rakyat oleh Peradilan Umum di Indonesia termasuk
kategori perlindungan hukum yang represif.90
2. Teori Kepastian Hukum
Kepastian hukum sebagai salah satu tujuan hukum dapat dikatakan sebagai
bagian dari upaya mewujudkan keadilan. Bentuk nyata dari kepastian hukum
adalah pelaksanaan atau penegakan hukum terhadap suatu tindakan tanpa
memandang siapa yang melakukan. Dengan adanya kepastian hukum setiap
orang dapat memperkirakakan apa yang akan dialami jika melakukan tindakan
hukum tertentu. Kepastian diperlukan untuk mewujudkan prinsip persamaan
dihadapan hukum tanpa diskriminasi.91Kata ”kepastian” berkaitan erat dengan
asas kebenaran, yaitu sesuatu yang secara ketat dapat disilogismekan secara
legal-formal. Melalui logika deduktif, aturan-aturan hukum positif ditempatkan
sebagai premis mayor, sedangkan peristiwa konkret menjadi premis minor.
Melalui sistem logika tertutup akan serta merta dapat diperoleh konklusinya.
Konklusi itu harus sesuatu yang dapat diprediksi, sehingga semua orang wajib
berpegang kepadanya. Dengan pegangan inilah masyarakat menjadi tertib.
Oleh sebab itu, kepastian akan mengarahkan masyarakat kepada ketertiban.92
Kepastian hukum akan menjamin seseorang melakukan perilaku sesuai
dengan ketentuan hukum yang berlaku, sebaliknya tanpa ada kepastian hukum
maka seseorang tidak memiliki ketentuan baku dalam menjalankan perilaku.
90
Philipus M. Hadjon, op.cit., hlm. 2-3
Moh. Mahfud MD, Penegakan Hukum DanTata Kelola Pemerintahan Yang Baik, Bahan
pada Acara Seminar Nasional “Saatnya Hati Nurani Bicara” yang diselenggarakan oleh DPP Partai
HANURA. Mahkamah Konstitusi Jakarta, 8 Januari 2009.
92
Sidharta, Meuwissen Tentang Pengembanan Hukum, Ilmu Hukum, Teori Hukum dan
Filsafat Hukum, PT Refika Aditama, Bandung, 2007, hlm 8
91
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
72
Menurut Gustav Radbruch sebagaimana di kutip Sudikno Mertokusumo,
terdapat dua macam pengertian kepastian hukum, yaitu kepastian hukum oleh
hukum dan kepastian hukum dalam atau dari hukum. Hukum yang berhasil
menjamin banyak kepastian hukum dalam masyarakat adalah hukum yang
berguna, dan kepastian hukum dalam hukum tercapai apabila hukum tersebut
sebanyak-banyaknya dalam undang-undang.93
Gustav Radbruch mengemukakan 4 (empat) hal mendasar yang
berhubungan dengan makna kepastian hukum, yaitu :
a. Pertama, bahwa hukum itu positif, artinya bahwa hukum positif itu adalah
perundang-undangan.
b. Kedua, bahwa hukum itu didasarkan pada fakta, artinya didasarkan pada
kenyataan.
c. Ketiga, bahwa fakta harus dirumuskan dengan cara yang jelas sehingga
menghindari
kekeliruan
dalam
pemaknaan,
di
samping
mudah
dilaksanakan.
d. Keempat, hukum positif tidak boleh mudah diubah.
Pendapat Gustav Radbruch tersebut didasarkan pada pandangannya bahwa
kepastian hukum adalah kepastian tentang hukum itu sendiri. Kepastian hukum
merupakan produk dari hukum atau lebih khusus dari perundang-undangan.
Berdasarkan pendapatnya tersebut, maka menurut Gustav Radbruch, hukum
positif yang mengatur kepentingan-kepentingan manusia dalam masyarakat
harus selalu ditaati meskipun hukum positif itu kurang adil.94
93
Jarot Widya Muliawan, Tinjauan Kritis Regulasi dan Implementasi P3MB, Pustaka Ifada,
Malang, 2014, hlm. 22
94
Memahami Kepastian (Dalam) Hukum
https://ngobrolinhukum.wordpress.com/2013/02/05/memahami-kepastian-dalam-hukum/ diakses pada
tanggal 15 November 2015, Hari Senin, pukul 20.35
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
73
Kepastian hukum seperti yang dikemukaan oleh Jan M. Otto sebagimana
dikutip oleh Sidhartabahwa kepastian hukum dalam situasi tertentu
mensyaratkan sebagai berikut:95
1. Tersedia aturan-aturan hukum yang jelas atau jernih, konsisten dan mudah
diperoleh yang diterbitkan oleh kekuasaan negara.
2. Bahwa instansi-instansi penguasa (pemerintahan) menerapkan aturanaturan hukum tersebut secara konsisten dan juga tunduk dan taat kepadanya.
3. Bahwa mayoritas warga pada prinsipnya menyetujui muatan isi dan karena
itu menyesuaikan perilaku mereka terhadap aturan-aturan tersebut.
4. Bahwa hakim-hakim (peradilan) yang mandiri dan tidak berpihak
menerapkan aturan-aturan hukum tersebut secara konsisten sewaktu mereka
menyelesaikan sengketa hukum.
5. Bahwa keputusan peradilan secara konkrit dilaksanakan.
Kelima syarat yang dikemukaan Jan M. Otto tersebut menunjukan bahwa
kepastian hukum dapat dicapai jika substansi masyarakat. Aturan hukum yang
mampu menciptakan kepastian hukum adalah hukum yang lahir dari
mencerminkan budaya masyarakat. kepastian hukum yang seperti inilah yang
disebut dengan kepastian hukum yang sebenernya.
Menurut Mochtar Kusumaatmadja menyatakan bahwa untuk menciptakan
ketertiban diusahakan adanya kepastian hukum dalam pergaulan manusia di
masyarakat. Tidak mungkin manusia dapat mengembangkan bakat dan
kemampuan yang diberikan Tuhan kepadanya secara optimal tanpa adanya
kepastian hukum.96
Menurut Sudikno Mertokusumo, kepastian hukum adalah jaminan bahwa
hukum dijalankan, bahwa yang berhak menurut hukum dapat memperoleh
95
Sidharta, Moralitas Profesi Hukum Suatu Tawaran Kerangka Berfikir, Refika Aditama,
Bandung, 2006. hlm 85
96
Carl Joachim, Filsafat Hukum Persfektif Historis, Nuansa dan Nusamedia, Bandung, 2004,
hlm 239
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
74
haknya dan bahwa putusan dapat dilaksanakan. Walaupun kepastian hukum
erat kaitannya dengan keadilan, namun hukum tidak identik dengan keadilan.
Hukum bersifat umum, mengikat setiap orang, bersifat menyamaratakan,
sedangkan
keadilan
bersifat
subjektif,
individualistis,
dan
tidak
menyamaratakan.97
Kepastian hukum merupakan pelaksanaan hukum sesuai dengan bunyinya
aturan, sehingga masyarakat dapat memastikan bahwa hukum dilaksanakan.
Dalam memahami nilai kepastian hukum yang harus diperhatikan adalah bahwa
nilai itu mempunyai relasi yang erat dengan instrumen hukum yang positif dan
peranan negara dalam mengaktualisasikannya pada hukum positif. Kepastian
hukum menghendaki adanya upaya pengaturan hukum dalam perundangundangan yang dibuat oleh pihak yang berwenang dan berwibawa, sehingga
aturan-aturan itu memiliki aspek yuridis yang dapat menjamin adanya kepastian
bahwa hukum berfungsi sebagai suatu peraturan yang harus ditaati.98
3. Teori Bekerjanya Hukum dan Penerapannya
Pada umumnya norma-norma yang beroperasi dalam sebuah sistem
hukum. Bekerjanya hukum adalah masyarakat yang akan mempengaruhi
faktor-faktor atau kekuatan sosial mulai dari tahap pembuatan sampai
pemberlakuan. Pengaruh sosial atau perilaku sosial akan masuk dalam proses
legislasi seperti peraturan. Peraturan dikeluarkan diharapkan sesuai dengan
keinginan secara efektif dari peraturan tersebut tergantung dari kekuatan sosial
seperti budaya hukum yang baik, maka hukum akan bekerja dengan baik.99
Sebaliknya apabila kekuatan sosial kurang, maka hukum tidak akan bisa
bekerja, karena masyarakat sebagai elemen bekerjanya hukum. Dalam
97
Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum Suatu Pengantar, Atmajaya Yogyakarta,
Yogyakarta, 2007, hlm 160
98
Fernando M. Manullang, Menggapai Hukum Berkeadilan Tinjauan Hukum Kodrat dan
Antinomi Nilai, Kompas, Jakarta, 2007, hlm 95
99
M. Khozim, Sistem Hukum Prespektif Ilmu Sosial, ctk Kelima, Nusa Media, Bandung,
2013, hlm. 52 “Terjemahan dari : Lawrence M. Friedman, The Legal System a Social Science
Prespective, Russel Sage Foundation, New York, 1975”
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
75
penerapanya Penulis menggunakan teori hukum yang dikembangkan Lawrence
M. Friedman untuk menjawab permasalahan dalam rumusan yang terdiri 3
(tiga) unsur yaitu :100
a. Struktur adalah keseluruhan institusi hukum beserta aparaturnya, jadi
lembaga lelang dan Badan Pertanahan Nasional bagaimana cara
bekerjanya, bagaimana kompetensinya, bagaimana pembagian tugas dan
wewenangnya, sehingga dalam rangka struktural masing-masing lembaga
tidak boleh bertentangan.
b. Substansi adalah keseluruhan aturan (peraturan perundang-undangan)
yang menyangkut Undang-undang Hak Tanggungan Nomor 4 Tahun 1996
tentang Hak Tanggungan atas Tanah beserta Benda-benda yang berkaitan
dengan Tanah dan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang
Pendaftaran Tanah, serta Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia
yang berkaitan dengan Lelang.
c. Budaya adalah sikap dan sistem hukum yang di dalamnya terdapat
kepercayaan, nilai, pikiran serta harapan. Sikap orang terhadap hukum
yang mencakup kepercayaan akan nilai, pikiran atau ide harapan orang
tersebut. Pengertian budaya hukum dapat dikatakan adalah berupa sikap,
nilai-nilai, dalil-dalil, kepercayaan dan pendapat yang dipercayai oleh
masyarakat dalam suatu sistem hukum dan menjadi bagian penting yang
mendorong faktor penghambat pembentukan hukum maupun penegakan
hukum.
Pendapat Penulis juga dikuatkan dengan Jo Carillo yang sependapat
dengan teori Lawrence M. Friedman, dinyatakan bahwa : “according to
Friedman, law has its own culture a legal culture that can interact with media
100
Ibid.,hlm 15-16
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
76
to transform popular images into legal dress and shape”.101 (Sistem yang
dibangun oleh hukum tidak boleh bertentangan antara satu dengan yang lainnya
agar tujuan terciptanyasistem tersebut terwujud. Menurut Jo Corillo jangan
hanya hukum bertransformasi dan dipengaruhi oleh budaya yang kemudian
menjadi kebiasaan, lebih dari itu meski hukum tidak dapat dilepaskan dari
budaya, namun struktur dan substansi hukum yang ada hendaknya berjalan
seimbang).
K. Penelitian yang Relevan
Penelitian hukum yang sejenis juga telah dilakukan oleh beberapa penulis.
Perbedaan antara penelitian yang telah dilakukan sebelumnya dengan penelitian ini
digambarkan dalam bentuk tabel seperti berikut:
No
1
PENELITIAN RELEVAN
Penelitian Tesis, Tahun
2006, dengan judul
PERBEDAAN HASIL PENELITIAN
DJOKO ACHMAD
AYU SORAYA
PITOYO
Jo Cariilo, “links and choices : popular legal culture in the work of Lawrence M.
Friedman”, Southern California Interdisciplinary Law Journal, Vol. 17 : 1, 2007, hlm. 4
101
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
77
Pelaksanaan Parate
Membahas alasan
Membahas
Eksekusi Hak Tanggungan
debitor dan kreditor
mengenai jaminan
dengan Cara Penjualan
memilih parate
perlindungan
Tidak Melalui Lelang
eksekusi hak
hukum terhadap
Berdasarkan Surat
tanggungan dengan
pembeli lelang
Keputusan Menteri
cara penjualan
dalam pelaksanaan
Keuangan Republik
dibawah tangan atas
eksekusi hak
Indonesia Nomor
kredit macet yang
tanggungan, karena
300/KMK.01/2002 di PT.
diserahkan kepada
dalam prakteknya
Bank BPD Jateng Cabang
Panitia Urusan
pembeli lelang
Karanganyar
Piutang Negara
belum mendapat
(PUPN) berdasarkan
jaminan
SK. Menteri
perlindungan
Keuangan No.
hukum, ketika
300/KMK.01/2002 di
pembeli lelang
PT. Bank BPD.
sudah
Jateng Cabang
memenangkan
Karanganyar, karena
objek lelang,
memberikan
perlindungan hukum
bagi para pihak.
Kendala lebih pada
perbedaan persepsi
atas kewenangan
yang dimiliki oleh
PUPN.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
78
No
2.
PENELITIANRELEVAN
PERBEDAAN HASIL PENELITIAN
Penelitian Tesis, Tahun
AGNES WIDYA
2010, dengan judul
YUDYASTANTI
Penjualan Objek Hak
Tanggungan Melalui
Lelang dan Pelaksanaan
Pendaftaran Hak Atas
Tanah yang Berasal dari
Lelang di Kabupaten
Banjarnegara
AYU SORAYA
Membahas
Membahas
mengenaiLelang
mengenai
Eksekusi Obyek
jaminan
Hak Tanggungan
perlindungan
yang dilakukan
hukum terhadap
KPKNL bersifat
pembeli lelang
Paratee Eksekusi
dalam
berdasarkan
pelaksanaan
Pasal 6 UUHT.
eksekusi hak
Proses
tanggungan,
pendaftaran
karena dalam
tanah yang
prakteknya
berasal dari
pembeli lelang
penjualan lelang
belum mendapat
hanya dapat
jaminan
dibuktikan
perlindungan
dengan adanya
hukum, ketika
Risalah Lelang
pembeli lelang
yang dibuat oleh
sudah
Pejabat
memenangkan
Lelang.Hambata
objek lelang,
n yang
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
79
NO
3.
PENELITIANRELEVAN
PERBEDAAN HASIL PENELITIAN
Penelitian Tesis, Tahun
DODY SAFITRA
AYU SORAYA
keabsahan dokumen
Membahas
persyaratan lelang,
mengenai jaminan
penyerahan barang
perlindungan hukum
bergerak dan/atau
terhadap pembeli
barang tidak
lelang dalam
bergerak. Risalah
pelaksanaan
lelang merupakan
eksekusi hak
akta otentik dimana
tanggungan, karena
akta otentik
dalam prakteknya
memberikan
pembeli lelang
perlindungan
belum mendapat
kepada pemenang
jaminan
lelang.
perlindungan
2012, dengan judul
Perlindungan Hukum
terhadap Pemenang
Lelang Sukarela di Balai
Lelang Swasta PT.
Triagung Lumintu
Semarang
hukum, ketika
pembeli lelang sudah
memenangkan objek
lelang, kemudian
terdapat hambatan
yaitu ketika
melaksanakan proses
peralihan hak atas
tanah
terjadipemblokiran.
Solusi atas hambatan
tersebut agar
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
80
tercapai adanya
kepastian hukum.
NO
4.
PENELITIANRELEVAN
Jurnal Nasional Kertha
PERBEDAAN HASIL PENELITIAN
NI KADEK AYU
Negara Volume. 02
PURNAMA DEWI
Nomor. 05 Oktober 2014,
& NI MADE ARI
dengan judul Perlindungan
YULIARTINI
AYU SORAYA
Hukum Terhadap
Pemenang Lelang Terkait
Kepemilikan Tanah
Secara Absentee Akibat
Pemindahan Hak Atas
Tanah Karena Lelang
Objek Hak Tanggungan.
Membahas
Membahas mengenai
mengenai
jaminan perlindungan
kepemilikan tanah
hukum terhadap
secara absentee
pembeli lelang dalam
akibat pemindahan
pelaksanaan eksekusi
hak atas tanah
hak tanggungan,
karena lelang yang
karena dalam
dimenangkan oleh
prakteknya pembeli
subjek hukum
lelang belum
diluar kecamatan
mendapat jaminan
dan perlindungan
perlindungan hukum,
hukum terhadap
ketika pembeli lelang
pemenang lelang
sudah memenangkan
terkait kepemilikan
objek lelang,
tanah secara
kemudian terdapat
absentee akibat
hambatan yaitu ketika
menindahan hak
melaksanakan proses
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
81
atas tanah karena
peralihan hak atas
lelang objek hak
tanah terjadi
tanggungan adalah
pemblokiran. Solusi
terdapat dalam
atas hambatan tersebut
Pasal 3 PP 224
agar tercapai adanya
Tahun 1961
kepastian hukum.
tentang
Pelaksanaan
Pembagian Tanah
dan Pemberian
Ganti Rugi.
Tabel 1.Perbedaan Penelitian Penulis
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
82
L. Kerangka Berpikir
Perbankan
(Kreditor)
Nasabah
(Debitor)
Perjanjian
Kredit
Hak Tanggungan
(Undang-undang
Nomor 4 Tahun 1996)
Kredit Macet
EKSEKUSI
Kantor Pelayanan Kekayaan
Negara dan Lelang
Pembeli Lelang
Perlindungan Hukum
Pembeli Lelang preventif
Risalah Lelang
Pendaftaran Kantor
Pertanahan
Pemblokiran
Perlindungan Hukum
Pembeli Lelang
Bagan 1. Kerangka Pemikiran
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
83
Keterangan :
Debitor dan kreditor dalam mengajukan pinjaman pemberian kredit
membuat perjanjian kredit. Selain dibuat perjanjian kredit juga diperlukan
adanya jaminan. Jaminan yang berupa benda tidak bergerak (hak atas tanah)
diatur dalam Undang-undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan
atas Tanah beserta Benda-benda yang berkaitan dengan Tanah. Kredit yang
diberikan dengan jaminan berupa hak atas tanah dituangkan dalam Akta
Pemberian Hak Tanggungan (APHT) yang dibuat dihadapan Pejabat Pembuat
Akta Tanah (PPAT). APHT didaftarkan di Kantor Pertanahan setempat
sehingga keluar sertifikat Hak Tanggungan sebagai bukti pemilikan hak yang
asli. Ada kalanya debitor melakukan wanprestasi sehingga menimbulkan kredit
macet. Pemegang Hak Tanggungan dapat menjual objek Hak Tanggungan
melalui pelelangan umum berdasarkan titel eksekutorial yang dimilikinya.
Proses pelaksanaan Lelang diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Republik
Indonesia Nomor: 106/PMK.06/2013 tentang Perubahan atas Peraturan
Menteri Keuangan Nomor: 93/PMK.06/2010 tentang Petunjuk Pelaksanaan
Lelang.Pelaksanaan lelang yang akan dibahas adalah lelang yang dilakukan
oleh Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang. Setelah pelaksanaan
lelangselesai, maka PembeliLelang memperoleh risalah lelang sebagai bukti
otentik untuk melakukan proses peralihan hak di Kantor Pertanahan setempat.
Hambatan yang sering muncul dalam praktik ketika sedang melaksanakan
proses peralihan hak atas tanah adalah terjadi bentuk perlawanan dari pihak
yang merasa dirugikan atas eksekusi Hak Tanggungan. Berupa pemblokiran
sertifikat hak atas tanah yang kepemilikan haknya sudah beralih ke Pembeli
Lelang,denganmengajukan permohonan gugatan di Pengadilan yang dilakukan
oleh pihak yang terlibat langsung maupun oleh pihak ketiga. Oleh karena itu,
pengkajian penulisan tesis adalah mengenai bentuk perlindungan hukum
terhadap PembeliLelang Hak Tanggungan dan solusi untuk menyelesaikan
hambatan yang terjadi tersebut.
commit to user
Download