PROSIDING KONFERENSI NASIONAL HUKUM TATA

advertisement
PROSIDING
KONFERENSI NASIONAL HUKUM TATA NEGARA Ke-3
“DEMOKRATISASI PARTAI POLITIK DI INDONESIA”
Padang-Bukittinggi, 5-8 September 2016
EDITOR:
Feri Amsari, S.H., M.H., L.LM.
Charles Simabura, S.H., M.H.
Khairul Fahmi, S.H., M.H.
TIM PENYUSUN:
M Nurul Fajri, S.H., M.H.
Mochtar Hafiz., S.H.
DITERBITKAN OLEH:
Pusat Studi Konstitusi (PUSaKO) Fakultas Hukum Universitas Andalas
Gedung Bersama, Lt. 2 Fakultas Hukum Universitas Andalas
Kampus Limau Manis, Padang
Email: [email protected]
Telp/Fax: (0751) 775692
www.pusako.or.id
KATA PENGANTAR
Berangkat dari pengalaman Konferensi Nasional Hukum Tata Negara ke-1 dan
ke-2, Konferensi Nasional Hukum Tata Negara ke-3 memang direncanakan dan
diupayakan untuk dapat secara langsung melibatkan pihak-pihak yang notabene
merupakan para pengambil keputusan atau yang mempengaruhi dalam setiap-setiap
pengambilan keputusan dalam sistem ketatanegaraan di Indonesia. Agar hasil dari
kegiatan Konferensi Nasional Hukum Tata Negara ke-3 ini mendapatkan muara yang
tepat dan sesuai dengan apa yang dharapankan. Dengan mengangkat tema
“Demokratisasi Partai Politik di Indonesia”, sedari awal agenda Konferensi Nasional
Hukum Tata Negara ke-3 telah menargetkan untuk memberikan ruang seluas-luasnya
namun berimbang kepada semua pihak untuk menentukan arah demokratisasi di tubuh
partai politik. Sehingga tujuan dari penyelenggaran konferensi ini sebagai salah satu
upaya untuk mewujudkan terciptanya demokratisasi di tubuh partai politik di
Indonesia bergulir dari pelbagai arah.
Mulai dari Wakil Presiden, HM. Jusuf Kalla, Menteri Dalam Negari, Tjahjo
Kumolo, Menteri Hukum dan HAM, Yossona H. Laoly, perwakilan Partai Politik atau
Politisi, Akademisi dari berbagai latar belakang keilmuan, Praktisi, Tokoh Masyarakat
serta perwakilan Non Goverment Organization serta kalangan terdidik lainnya yang
tidak hanya berasal dari Indonesia dengan berbagai latar belakang yang relevan terlibat
dalam menyampaikan pokok-pokok pikirannya tentang bagaimana mewujudkan
demokratisasi partai politik di Indonesia. Prosiding ini menyajikan hampir seluruh
catatan proses Konferensi Nasional Hukum Tata Negara ke-3, mulai dari makalah
hingga seluruh gagasan-gagasan dan perdebatan yang muncul dari setiap sesi selama
kegiatan berlangsung (memorie van toelichting). Termasuk juga pernyataan sikap dalam
bentuk kesimpulan dan saran Konferensi Nasional Hukum Tata Negara ke-3 yang lahir
dan dirumuskan oleh para peserta yang hadir dan dibacakan pada sesi menjelang
penutupan koferensi. Dengan begitu, prosiding Konferensi Nasional Hukum Tata Negara
ke-3 ini diharapkan mendapatkan tempatnya sebagai rujukan sejarah dalam mencari,
mendalami serta memahami suasana kebatinan atau dinamika yang terjadi (original
intent) melalui pihak-pihak yang telah memberikan sumbangsih pemikirannya selama
Konferensi Nasional Hukum Tata Negara ke-3 ini diselenggarakan. Khususnya
menyangkut segala upaya dan perjalanan untuk mewujudkan demokratisasi partai
politik di Indonesia.
Prosiding Konferensi Nasional Hukum Tata Negara ke-3 ini tentulah memiliki
berbagai kekurangan, kesalahan atau kekeliruan. Untuk itu, saran dan masukan dari
semua pihak sangatlah dibutuhkan untuk kebaikan dikemudian waktu. Akhir kata,
sebagai tujuan dan cita-cita yang paling luhur, semoga prosiding ini dapat memberikan
sumbangan yang signifikan untuk memperkaya khazanah keilmuan di bidang Hukum
Tata Negara.
Padang, November 2016
Pusat Studi Konstitusi (PUSaKO)
Fakultas Hukum Universitas Andalas
DAFTAR ISI
Pembukaan Konferensi Nasional Hukum Tata Negara 3
Notulensi ....................................................................................................................................................... 1
Keynote Speech
Dr. Yassona H. Laoli................................................................................................................................... 36
Seminar Tantangan Demokrasi Internal Partai Politik
Notulensi ....................................................................................................................................................... 42
Notulensi Parallel Group Discussion Panel 1
Memetakan Permasalahan Demokrasi Partai ................................................................................ 58
Notulensi Parallel Group Discussion Panel 2
Demokrasi Partai Dalam Penyelesaian Sengketa Internal dan Hubungan Pusat
Dan Daerah Partai...................................................................................................................................... 106
Notulensi Parallel Group Discussion Panel 3
Sumber, Pengelohan dan Pengawasan Dana Partai ..................................................................... 147
Penyampaian Kesimpulan
Notulensi ....................................................................................................................................................... 232
Penutupan Konferensi Nasional Hukum Tata Negara 3
Notulensi ....................................................................................................................................................... 247
Makalah Parallel Group Discussion Panel 1
Sulardi
Membangun Demokratisasi Melalui Mekanisme Pemilihan Ketua Partai Politik ............ 248
Muhammad Fauzan Azim
Memperbaiki Hulu Demokrasi Melalui Penataan Sistem Pemilihan ketua
Partai Politik ................................................................................................................................................ 264
Muhammad Husen Db
Proses Pemilihan Ketua Partai yang Demokratis .......................................................................... 286
Rafli Fadilah Achmad
Gagasan Penyempurna Musyawarah Nasional Partai Politik Sebagai Upaya
Meningkatkan Taraf Demokrasi Berbangsa .................................................................................... 298
Syafrida Rachmawaty Rasahan
Demokrasi Ala Partai Politik Di Indonesia ; Membandingkan Proses Pemilihan Ketua
Umum Partai Demokrat Rentang Tahun 2010-2015 (Mencari Pola Regenarasi
Pimpinan Partai Politik Yang Ideal) ................................................................................................... 314
Ridho Imawan Hanafi
Demokrasi Internal Partai: Ketika Partai Memilih Pemimpinnya .......................................... 328
Awaludin Marwan
Pemilihan Ketua Partai Dari Sudut Hak Politik Minoritas: Studi Perbandingan Indonesia
dan Belanda.................................................................................................................................................. 348
Beni Kharisma Arrasuli
Demokrasi Internal Partai Proses Pemilihan Ketua Partai Yang Demokratis ................... 360
Cakra Arbas
Demokratisasi Dalam Menjaring Pemimpin Partai Politik ........................................................ 374
Fajlurrahman Jurdi
Hegemoni Aliansi Oligarki Dalam Pemilihan Ketua Umum Partai Politik ........................... 390
Kurniawan S
Proses Pemilihan Ketua Umum Partai............................................................................................... 407
M. Adnan Yazar Zulfikar
Partai Politik Sebagai Inkubator Demokrasi ................................................................................... 425
Siti Marwiyah
Dampak Pemilihan Tidak Demokratis Di Internal Partai Terkait Penentuan Kandidat
Pemimpin ...................................................................................................................................................... 445
Abd. Wachid Habibullah
Mekanisme Penentuan Calon Presiden Dan Calon Wakil Presiden Di Internal Partai
Politik Dalam Pemilihan Umum Serentak ........................................................................................ 458
Adventus Toding
Menggagas Jembatan Emas Partai Politik ........................................................................................ 475
Andrian Habibi
Pemilihan Demokratis Berbasis Strata Perkaderan Partai Dalam Mengusung Calon
Legislatif dan Eksekutif Daerah............................................................................................................ 489
Asrinaldi
Masihkah Partai Politik Demokratis? Memahami Proses Pencalonan Kepala Daerah
Dalam Pilkada Serentak .......................................................................................................................... 504
Catur Wido Haruni
Menentukan Kandidat Pilpres, Pileg, dan Pilkada Oleh Parpol secara Demokratis........ 523
Dian Agung Wicaksono
Eksistensi Politik Dinasti Dalam Demokratisasi Partai Politik ................................................ 542
Dian Bakti Setiawan
Rekrutmen Pengisian Jabatan Politik Dalam Mekanisme Internal Partai Politik ............. 557
Dri Utari Christina Rachmawati
Primordialisme Dalam Rekruitmen Calon Presiden (Analisis Kritis Partai Politik Sebagai
Mesin Pemilu) ............................................................................................................................................. 571
Fatkhul Muin
Budaya Demokrasi Dan Political Recruitment Partai Politik Terhadap Calon Anggota
Legislatif ........................................................................................................................................................ 600
Fritz Edward Siregar
Kaderisasi, Jabatan Dan Pemimpin ..................................................................................................... 616
Gunawan Muhamad
Pelaksanaan Demokrasi Substantif Di Internal Partai Dalam Menata Pengusungan
Kandidat Yang Representatif Pada Pemilihan Legislatif ............................................................ 636
Hasyim Asy’ari
Mendemokratiskan Partai Politik: Desentralisasi Pencalonan Dalam Pilkada .................. 649
Ilham Aldelano Azre
Dilema Oligarki Dan Otonomi Parpol Daerah Terkait Penetuan Kandidat Dalam
Pemilihan Umum........................................................................................................................................ 666
Inna Junaenah
Tanggung Jawab Partai Politik Untuk Menetapkan Standar Kualifikasi Kandidat Anggota
Legislatif ........................................................................................................................................................ 681
Muhammad Fauzan
Peran Partai Politik Dalam Mewujudkan Pemerintahan Yang Bersih (Alternatif Model
Rekruitmen Calon Anggota Dpr/Dprd Oleh Partai Politik Pada Masa Yang Akan
Datang)........................................................................................................................................................... 704
Mahesa Rannie
Pembatasan Praktek Nepotisme Partai Politik Pada Saat Pemilihan Kepala Daerah di
Indonesia ....................................................................................................................................................... 721
Masduri
Penguatan Kaderisasi Sebagai Upaya Membangun Demokratisasi Pencalonan Anggota
Partai Politik Pada Pemilihan Legislatif Dan Eksekutif............................................................... 748
Sunny Ummul Firdaus
Konstruksi Hukum Penentuan Kandidat Pilkada Oleh Partai Politik Secara ................... 765
Wegik Prasetyo
Mencari Kerangka Ideal Seleksi Kandidat Partai Politik ............................................................ 773
Heroik Pratama Muttaqin
Merancang Model Rekrutmen Politik yang Demokratis ............................................................. 790
Zulkifli Aspan
Mengagas Sanksi Bagi Parpol Terhadap Keterlibatan Kader Dalam Korupsi Dan Politik
Uang ................................................................................................................................................................ 807
Khoirunnisa Nur Agustyati
Tantangan Dalam Meningkatkan Keterwakilan Perempuan Di DPR .................................... 823
Rizki Jayuska
Tanggung Jawab Partai Politik Terhadap Rekrutmen Kandidat Kepala ........................... 843
Makalah Parallel Group Discussion Panel 2
Dodi Nur Andryan
Solusi Yang Konstitusional Dan Demokratis Untuk Menyelesaikan Sengketa Internal
Partai Politik Di Indonesia...................................................................................................................... 859
Zulva Asma Vikra
Hubungan Kepengurusan Partai Politik Dalam Konteks Reformasi Sistem Kepartaian Di
Indonesia ....................................................................................................................................................... 878
Imam Ropii
Musyawarah Sebagai Forum Penyelesaian Sengketa Internal Partai
Yang
Demokratis ................................................................................................................................................... 891
Achmad Fachrudin
Penyelesaian Sengketa Internal Partai yang Demokratis ....................................................... 909
Ardilafiza
Penyelesaian Sengketa Internal Partai Politik Melalui Mahkamah Partai Politik ............ 928
Bactiar
Penguatan Peran Mahkamah Partai Dalam Penyelesaian Konflik Internal Partai
Politik ............................................................................................................................................................. 938
Bambang Ariyanto
Desentralisasi Pengelolaan Partai Politik (Upaya Penataan Kelembagaan Partai Politik
Menuju Partai .............................................................................................................................................. 950
Emy Hajar Abra
Efektifitas Mahkamah Partai Dalam Negara Demokrasi ............................................................ 967
Fadli Ramadhanil
Demokratisasi Penyelesaian Sengketa Kepengurusan Partai Politik ................................. .. 985
Fauzin
Penguatan Mahkamah Partai Sebagai Alternatif Penyelesaian Perselisihan Partai Politik
Yang Demokratis ..................................................................................................................................... 998
Ibrahim
(De)Sentralisasi Partai Politik : Dari Problem Ke Opsi Penguatan Otonomi ................... 1011
Ikaputri Reffaldi
Penyelesaian Perselisihan Kepengurusan Partai Politik Di Era Reformasi ..................... 1024
Ilhamdi Taufik
Kepengurusan Partai Politik Pusat dan Daerah .......................................................................... 1040
Luthfi Widagdo Eddyono
Desentralisasi Partai Politik: Sebuah Kajian Original Intent Dan Pemaknaan Sistematik
UUD 1945 ................................................................................................................................................... 1051
Maria Madalina
Manajemen Konflik Internal Partai Guna Mewujudkan Partai Politik Yang
Demokratis ................................................................................................................................................ 1070
Nuruddinhady
Penyelesaian Sengketa Internal Partai Yang Demokratis Dalam Membangun Sistem
Kepartaian Yang Modern ..................................................................................................................... 1086
Putra Perdana
Politik Hukum Pembentukan Mahkamah Partai Politik Untuk Menyelesaikan Sengketa
Internal Partai Politik yang Demokratis di Indonesia .............................................................. 1099
Rosita Indrayati
Penyelesaian Sengketa Internal Partai Politik Yang Demokratis Dalam Sistim
Ketatanegaraan Indonesia................................................................................................................... 1115
Sirajuddin
Desain Penyelesaian Sengketa Internal Parpol Berbasis Keadilan Substantif Dalam
Bingkai Hukum Progresif..................................................................................................................... 1137
Tamrin
Relasi Politik Nasional Dan Daerah Susunan Pengurus Partai Politik ............................... 1155
Yuliani Iriana Sitompul
Penyelesaian
Sengketa
Internal
Partai
Politik
Di
Indonesia:
Problem
Dan Tantangannya ................................................................................................................................. 1173
Esty Ekawati
Soliditas Partai Kebangkitan Ban Gsa Pasca Konflik Internal Tahun 2008 ..................... 1193
Makalah Parallel Group Discussion Panel 3
Almas Ghaliya Putri Sjafrina
Urgensi Pembenahan Keuangan Partai Politik Melalui Subsidi Negara Dan Dorongan
Demokratisasi Internal ......................................................................................................................... 1209
Purnomo S. Pringgodigdo
Bantuan Keuangan untuk Pendidikan Politik di Kota Surabaya .......................................... 1226
Epri Wahyudi
Menggagas Keuangan Partai Politik Dan Tata Kelelonya (Menegakkan Prinsip
Transparansi Dan Akuntabilitas) ..................................................................................................... 1243
Ida Budhiati
Memperkuat Kelembagaan Parpol : Laporan Hasil Audit Keuangan Sebagai Syarat
Pendaftaran Partai Politik Calon Peserta Pemilu ....................................................................... 1261
Raden Mas Jerry Indrawan
Pendanaan Partai Politik Oleh Negara:Mekanisme Pemberian Dana Publik Kepada Partai
Politik .......................................................................................................................................................... 1271
Ali Asrawi Ramadhan
Menakar Demokrasi Tanpa Transparansi Keuangan Partai Politik .................................... 1285
Mei Susanto
Model Pendanaan Partai Politik Menuju Partai Politik Yang Terbuka Dan Modern .... 1295
Muhtar Said
Menjaga “Marwah” Partai Politik Melalui Transparansi Keuangan .................................... 1313
Oly Viana Agustine
Redesain Sumber Pendanaan Partai Dalam Menciptakan Laporan Keuangan Yang
Akuntabel Dan Transparan ................................................................................................................. 1325
Purnomo S. Pringgodigdo
Bantuan Keuangan untuk Pendidikan Politik di Kota Surabaya .......................................... 1339
Ramlan Surbakti
Reformasi Keuangan Partai Politik .................................................................................................. 1356
Reza Syawawi
Keterbukaan Keuangan Partai Politik............................................................................................. 1365
Septi Nur Wijayanti
Corporate Political Responsibility (CPR) Sebagai Upaya Mewujudkan Demokratisasi
Keuangan Partai Politik ........................................................................................................................ 1376
Veri Junaidi
ANOMALI PENDANAAN DAN REKRUTMEN POLITIK DI INDONESIA: Profile Pendanaan
dan Rekrutmen oleh Partai Politik di Indonesia......................................................................... 1397
Wirahospita
Indeterminasi Peran Parpol (Studi Kasus Fenomena Penguatan Munculnya Jalur
Independen).............................................................................................................................................. 1417
M.Iwan Satriawan
Demokrasi Dua Wajah Partai Politik di Indonesia: Upaya Mewujudkan Transparansi
Dana Partai ................................................................................................................................................ 1438
Abdul Wahid
Transparansi Keuangan Partai Politik Demi Mewujudkan Demokrasi Internal Partai
Politik .......................................................................................................................................................... 1453
Edita Elda
Pencegahan Korupsi Politik Melalui Transparansi Pendanaan Partai ............................... 1467
NOTULENSI PEMBUKAAN
KONFERENSI NASIONAL HUKUM TATA NEGARA KE-3
DEMOKRATISASI PARTAI POLITIK
CONVENTION HALL UNIVERSITAS ANDALAS PADANG
5 SEPTEMBER 2016
MC
Notulen
: Masni Fansuri
: Dzikra Atiqa
Menyanyikan lagu indonesia raya (Pukul: 13.15)
KATA SAMBUTAN
Prof. Dr. Saldi Isra,S.H. Direktur Pusat Studi Konstitusi (PUSaKO) Fakultas
Hukum Universitas Andalas Padang
Assalamualaikum wr.wb,salam sejahtera bagi kita semua, yang sama-sama kita
hormati bapak wakil presiden, bapak Dr. Jusuf Kalla yang sama-sama kita hormati
bapak
menteri
dalam
negeri,
menteri
aparatur
negara
reformasi
dan
birokrasi,menteri pekerjaan umum dan perkembangan rakyat, bapak ketua DPD RI,
bapak gubernur,bapak rektor,bapak dekan yang sama-sama kami hormati, khusus
kepada Prof. Bagir Manan yang nantinya akan memberikan keynote speach setelah
dibukanyanya acara oleh bapak wakil presiden.
Hadirin sekalian yang saya hormati, izin kan saya melaporkan kegiatan Konferensi
Nasional Hukum Tata Negara yang hari ini secara resmi akan dibuka oleh wakil
presiden jusuf kalla. Ini merupakan konferensi hukum tata negara ke-3 yang secara
reguler dialaksanakan oleh pusat studi konstitusi universitas andalas, ini adalah
konferensi hukum tata negara ketiga, yang pertama dilaksanakan di Sawahlunto tiga
tahun yang lalu dengan topik pemilihan umum serentak,dan beberapa rekomendasi
1
telah disampaikan kepada lembaga yang memiliki otoritas untukmembuat UU, tahun
lalu dilaksanakan juga dengan topik seleksi pejabat publik, jadi kita membuat design
baru bagaimana seleksi pejabat publik seperti KPK komisi yudisial dan segala macam.
Hari ini bapak ibu yang berbahagia dan kami hormati, sengaja kami memilih topik
tentang demokratisasi partai politik karena dasar substantifnya ada, kita tau kalau
dibaca UUD hasil perubahan, parpol memiliki tempat yang sangat strategis untuk
semua posisi-posisi penting di negara ini, ditengah substansi konstitusi yang seperti
itu, muncul kritik bagi parpol, banyak pandangan negatf kepada parpol, sementara
disisi lain infrastruktur negara ini tidak bisa kita abaikan didalam konstitusi, oleh
karena itu, kita kalangan perguruan tinggi khususnya kami dari pusat studi
konstitusu
fakultas
hukum
universitas
andalasmerasa
berkewajiban
untuk
melakukan penelitian mendalam tentang apa yang terjadisaat ini, kira-kira
bagaimana perbaikan dan reformasi parpol yang dapat kita tawari, dan nanti akan
kita sampaikan kepada pemegang otoritas. Didalam konferensi yang ketiga ini,
sengaja kita memberikan fokus kepada empat hal:
1. Bagaimana mendisigned reformasi internal partai politik?
2. Bagaimana cara desentralisasi partai poltik?
3. Bagaimana cara menyelesaikan sengketa internal partai politik?
4. Bagaimana cara pengelolaan keuangan didalam partai politik?
Empat hal ini bapak wakil presiden akan dibahas didalam koferensi hukum tata
negara nanti, dan kami berterimakasih kepada pihak-pihak yang telah membantu
kami melaksanakan kegiatan ini,ada kementrian hukum dan HAM,ada yayasan tahir
foundation yang memberikan perhatian kepada hal-hal yang seperti ini, yang
dipimpin oleh bang todung mulya lubis, yang sudah menfasilitasi semua kegiatan ini,
kami sedang melakukan penelitian dengan cara mengunjungi hampir 15 provinsi di
Indonesia dan kami yang menanyai parpol di 15 provinsi tersebut dan menanyai
bagaimana pendapat mereka tentang parpol di masa yang akan datang. Penelitian
nanti akan kami sampaikan sebagian didalam konferensi ini, dan kami juga
berterimakasih kepada IFES Indonesia, thanks to David yang sudah menyediakan
semuanya. Kami berharap kepada bapak wakil presiden, hasil dari kegiatan ini
nantinya akan di formulasikan untuk naskah akademik untuk merevisi UU parpol,
2
dan kita akan serahkan kepada bapak menteri dalam negeri, kepada bapak menteri
hukum dan HAM dan kami akan memberikannya juga kepada parpol-parpol yang
menduduki bangku parlemen untuk menjadikan acuan dalam mengambil keputusan,
itu merupakan tujuan konferensi nasional tahun ini. Tahun ini, berbarengan dengan
pelaksanaan konstitusi juga berbarengan dengan pemberian anugerah konstitusi
Moh. Yamin, jadi kami mencari orang-orang yang meiliki jasa dan pemikiran yang
jelas tentang pandangan dan perkembangan konstutisi di negara ini. Tahun ini ada
empat kriteria yang kita pilih;
1. Life time achivement, orang yang tidak pernah mengabdi kepada
perkembangan hukum tata negara.
2. Karya monumental hukum tata negara.
3. Ada journalist yang memberikan fokus kepada perkembangan hukum tata
negara.
4. Ada pemikir muda hukum tata negara.
Besok malam pak wakil presiden, acara itu akan dilaksanakan di Bukittinggi dalam
acara gala dinner yang akan diikuti oleh semua peserta konferensi, yang insyaallah
besok akan dihadiri oleh bapak gubernur, dan bapak ketua DPD RI.
Itulah kira-kira yang bisa kita sampaikan, saya berterimakasih kepada semua pihakpihak yang telah membantu semuanya terjadi, ada kementerian Hukum dan HAM, ada
Tahir foundation, ada walikota Sawahlunto,ada Bank BNI 46, dan kita berharap ini
akan menjadi agenda tahunan untuk mendiskusikan isu-isu ketatanegaraan, setelah
ini saya berharap bapak menteri dalam negeri akan membukakan pintunya juga
untuk PUSAKO untuk mengkaji isu-isu konstitusi ini.
Demikian yang dapat kami sampaikan, wassalamualaikum wr.wb..
3
KATA SAMBUTAN
Prof. Tafdil Husni, SE. MBA.Phd
REKTOR UNIVERSITAS ANDALAS
Pukul: 13.25
Assalamualaikum wr.wb..
Yang sama-sama kita hormati, bapak wakil presiden beserta rombongan, yang kami
hormati bapak pimpinan lembaga tinggi negara ketua DPD, kemudian bapak menteri,
kemudian yang kami hormati bapakibuk pejabat pusat, yang jugakita hormati bapak
gubernur sumatera barat, yang kami hormati tamu undangan, dan juga keynote
speech kepada bapak prof. Bagir Manan, dan seterusnya kepada semua hadirin yang
berbahagia.
Pertama kita tidak henti-hentinya memanjatkan rasa puji dan syukur kita kepada
Allah SWT, yang telah memberikan kesehatan kepada kita sehingga kita telah dpat
berkumpul dalam acara pembukaan konferensi nasional hukum tata negara ini.
Bapak ibuk yang sama-sama saya hormati,dalam rangka lustrum UNAND ke-12, dan
juga Fakultas Hukum yang ke-13, cukup banyak kegiatan akademik maupun non
akademik yang dilakukan pada siang ini , dalam rangka berkontribusi terhadap
perkembangan hukum nasional. Pusat Studi Konstitusi fakultas Hukum yang diketuai
oleh Prof. Saldi Isra mengambil bagian dalam konferensi hukum tata negara ke-3,
kami sebagai pimpinan berkomitmen untuk terus menjalin hubungan atas
penyelenggaraan kegiatan ini. Tidak hanya saat ini saja tapi juga saat diadakan
konferensi yang pertama dan kedua yang sebelumnya.
Kami berharap agar konferensi hukum tata negara ini memberikan kontribusi yang
beharga bai pembangunan demokrasi dan sistem ketatanegaraan indonesia, khusus
terhadap demokratisasi parpol. Bapak ibuk yang terhormat, kami Universitas Andalas
sangat berbangga kepada Fakultas Hukum Universitas Andalas yang telah mampu
menyelenggarakan kegiatan ini yang menyediakan dan menghadirkan ahli-ahli srta
pakar-pakar hukum tata negara, dan ilmu politik dari seluruh Indonesia, tidak hanya
4
itu, kegiatan ini juga dihadiri oleh perwakilan negara sahabat, bahkan ahli konstitusi
dari politik dan ketatanegaraan lainnya, di Belanda, Australia, Canada, dan Jerman.
Peserta yang hadir bukan hanya dari kalangan kampus, tetapi juga dihadiri oleh
praktisi pemerintahan maupun non pemerintahan, terutama yang konsen pada
pembangunan partai politik. Konferensi multi pihak dalam kegiatanini sangat
dibutuhkan, karena beban ini tidak hanya menjadi beban pemerintah, tetapi juga
menjadi beban bagi semua piihak,termasuk akademisi, praktisi politik, aktivis, dan
masyarakat sipil. Bapak wapres, bapak menteri dalam negeri, para undangan yang
kami hormati, konferensi ini selain merupakan diskusi ilmiah juga merupakan ajang
silaturahmi diantara para pihak yang berkepentingan terutama para pejabat pembuat
kebijakan, terutama lembaga negara yang mengambil kebijakan dalam sesi-sesi di
konferensi nantinya. Sehingga apa yang dapat dihasilkan dapat langsung
terkomunikasikan kepada para pihak pembuat kebijakan. Dalam koferensi ini
diharapkanbukan hanya menjadi naskah akademik, tetapi dapat menjawab
permasalahan sekitar parpol di negeri ini.
Bapak ibuk yang kamihormati, dimasa yang akan datang kegiatan serupa ini dapat
dilaksanakan setiap yahunnya bukan hanya dalam skop nasional tetapi juga dalam
skop internasional. Kegiatan ini guna mendukung visi Universitas Andalas untuk
menjadi universitas yang terkemuka dimasa yang akan dtang, kemudian kamii juga
akan berterimakasih kepada pihak-piihak terutama bapak wakil presiden yang telah
meluangkan waktu untuk membuka kegiatan ini, terimakasih kepada bapak menteri,
ketua lembaga pimpinan negara, serta semua utusan yang sama-sama kami hormati.
Kami ucapkan maaf yang sebesar-besarnya atas semua kesalahan dan kekurangan
atas penyelenggaraan acara ini.
Saya akhiri dengan wabillahi taufik walhidayah assalamualaikum wr.wb..
5
KATA SAMBUTAN
Dr.(H.C) H.M. Jusuf Kalla
Wakil Presiden Republik Indonesia
Pukul:13.33
Assalamualaikum wr.wb
Yang saya hormati saudara ketua DPD, keluarga hukum tata negara, bapak rektor,
bang todung mulya lubis, pusat kajian konstitusi pusako.
Marilah kita selalu bersyukur kepada Allah SWT, yang telah mengizinkan kita
menghadiri acara ini.
Berbicara tentang ketatanegaraan tentu banyak ahli yang berada disini. System
ketatanegaraan ini bersifat dinamis. Maka dari itu karena system ketatanegaraannya
yang dinamis maka sistem hukumnya pun dinamis. Indonesia telah mencoba
berbagai system yang berat, 45 UU kita, kita memakai sistem presidensial, kita tidak
terlalu puas, kita beralih ke federal dengan RIS walau lamanya 10 bulan, kita menjadi
negara federal. Indonesia timur itu presidennya ada di maldi sedangkan perdana
menterinya ada di Makassar katanya. Tidak puas kita membikin UU sementara yang
kita tiru adalah negara-negara barat yang menganut sistem parlementer, lahirnya
kabinet bisa jatuh dalam 1 tahun, 6 bulan kebijakannya. Pokoknya kalau parlementer
bukan mencari bagaimana berlangsungnya tapi dari fikirannya. Kemudian tahun 49
balik lagi ke yang pertama, kemudian orde baru tetap dengan sistem yang sama,nulai
dengan jegiatan demokratis, ada 10 partai,12 partai tapi akhirnya juga otoriter.
Kembalilagi kepa UUD 45. Jadiitulah perjalanan ketatanegaraan negara Indonesia ini.
Yang hampir semua sistem sudah kita coba. Demokrasi bukanlah system yang
sempurna dalam ketatanegaraannya tetapi paling kurang kekurangannya diantara
banyak sistem. Dan juga kita kalu berbicara tentang kepartaian sejak maklumat
november pak Hatta dan yang lain merumuskan, partai tumbuh 10, kemudian naik
lagi sampai puncaknya pada pemilu. Dari 12 partai kemudian diplih menjadi 3 supaya
lebih mudah. Ini terbukti adanya dinamika sistem ketatanegaraan kita pernah kita
coba. Bahwa dari semua pengalaman itu apa yang paling efektif maka itu yang kita
pakai. Memang tidak mudah karena inti dari parpol adalah mencapai tujuan,
6
sedangkan inti dari akademisi adalah mencari kebenaran, tapi saya kira itu adalah ciri
bagaimana mendapatkan kebenaran demi mencapai tujuan bersama. Pertanyaan
yang tadi telah disampaikan, kita emua menyadari bahwa dalam demokrasi tentu
parpol merupakan inti dari permasalahan demokrasi. Ada juga demokrasi tanpa
partai dalam pemilihan kepala desa ini hanya perumpamaan yang kecil saja, karena
tidak mungkin semua orang memilih seseorang ataupun pemilihan senat tidak
memerlukan partai. Tapi artinya adalah, partai adalah suatu fondasi dalam
ppelaksanaan demokrasi itu sendiri.
Pertanyaannya sekarang ialah, partai sebagai fondasi demokrasi, tentu demokrasi
partai harus lebih dulu berdemokrasi. Inilah yang menjadi masalah pada saat
sekarang ini, bahwa partai itu lebih demokratis agar demokratis. Memang tidak
mudah apabila kita sangat permanen, apabila biaya politik di Indonesia tidak ada
yang menanggung. Saya ini berbicara sebagai mantan ketua umum partai. Kenapa
banyak kritikan kepada keuaumum partai, tentu salah satu yang menjadi perdebatan
adalah karena biaya politik di indonesia. Semua partai memilki biaya yang besar
untuk mempertahankan sistem ketatanegaraan bangsa ini. Itulah kegiatan dan
masalahyang ada dibidang parpol. Namun, partai juga dapat demokratis, karena
dalam pengambilan keputusan dalam parpol sangat demokratis.
Tetapi disaat pengambilan suara dianggap demokrasi didalam parpol tersebut.
Demokrasi dilihat dari pengambilan keputusan. Harus adanya system yang jelas dan
harus disetujui bersama.
Yang pertama apabila itu menyangkut kegiatan nasional, maka itu harus di putuskan
dalam munas, kalau etnis didalam etnis, kalau subjektif maka kita putuskan didalam
pengurus. Kalau bersifat orang kita putuskan
secara bersama. Dengan adanya
pengambilan keputusan itu maka dapat dikatakan hampir demokratis. Dan akibat
demokratis biayanya sedikit, akibat biayanya yang sedikit maka dapat lebih
demokratis lagi. Itulah perputaran partai dalam demokratis. Dan saya
secara
pengalaman selama lima tahun kepemimpinan saya berjalan dengan baik. Karena itu,
demokrasi adalah dalam hal pengambilan keputusan untuk memilih orang, itu intinya
sebenarnya.
7
Dewasa ini kalau ingin mencalonkan diri sebagai gubernur atau bupati, partai
menjadi rebutan untuk mendapatkan fondasi.
Jadi akibatnya adlah bukan lagi
mendorong kader tapi melihat partai untuk mencalonkan seseorang.Semua link
harus mempunyai hak yang terbatas untuk merekomendasikanseseorang atau kader
untuk menjadi gubernur dan harus memiliki tim pengurus pusat,pengurus tingkat
satu.
Pengurus tingkat pusat hanya memiliki 20%,pengurus tngkat satu 40%, dan
pengurus tingkat dua 20%. Sebaliknya kalau ingin mencalonkan calon tingkat 2
seperti bupati, maka 40% ada ditingkat dua itu, 20% tingkat satu, dan pusat 20%.
Artinya tidak ada satu pun pihak yang otoriter. Itulah cara pengambilan keputusan di
dalam parpol yang demokratis. Apabila sudah berjalan seperti ini maka anda tidak
akan dipilih berdasarkan uang hak terkorup yang ada.
Salah satu hal yang menyebabkan banyak partai sulit untuk berdemokratisasi adalah
karena uang. Solusinya sebenarnya sederhana dengan adanya biaya partai.
Sebenarnya saya juga kurang percya dengan biaya besar. Sehingga tidak perlu adanya
biaya besar.
Yang kedua, soal pemerataan pihak. Semua anggota DPR tidak boleh menyumbang
untuk mendanai partai. Apa akibatnya? Akibatnya ialah, ia tidak boleh
mengatasnamakan partai untuk mencari proyek. Karena menurut surat menteri tidak
ada satu pun anggota DPR berbicara proyek pada siapa pun.
Tapi kemudian muncul pertanyaan darimana partai mendapatkan dana? Ia dari
anggota yang mampu, yang bisa meyumbang. Maka dari itu tidak ada satupun
anggota DPR GOLKAR yang mampu ditangkap KPK pada jaman 2004-2005. Yang
terjadi adalah didalam segelumit kasta bukan parpol. Termasuk tidak ada satupun
menteri di dalam kabnet waktu saya ada tidak melakukan itu.
Semua UU yang di sahkan dari tahun 1999-2003 semua satu pikiran bahwa
pemerintah atau birokrat menjadikan itu caea awal berfikir. Semua lembaga ataupun
pemerintahan yang diatur dalam UU tersebut harus diawasi oleh publik.
8
Semua lembaga/institusi yang dibuat UU harus diawasi oleh public dan public harus
menjadi peka dalam semua isu-isu tentang semua keadaan dalam bernegara.
Sehingga bukan kepentingan politik yang dikemukakan tetapi kesejahteraan
rakyatlah yang menjadi nomor satu.
Mudah-mudahan konferensi ini akan memperbaiki pemikiran dan menyadarkan kita
serta memberikan pemahaman bahwa parpol itu harus demokratis disaat ajang
pemilihan. Jadikan parpol itu sebagai ajang demokratis dan dapat menjalankan
tugasnya dengan baik.
Suatu
kehidupan
Negara
tidak
akan
sehat
tanpa
adanya
perasaan
nasionalisme/bersatu. Demokrasi akan tumbuh dalam kehidupan yang progresif.
Demikianlah yang dapat saya sampaikan termakasih.
Pembukaan sekaligus pemukulan gong oleh wakil presiden jussuf kalla.
9
KATA SAMBUTAN
Tjahjo kumolo, S.H.
Menteri Dalam Negeri
Pukul:13.55
Assalamualakum wr.wb
Yang saya hormati seluruh hadirin yang hadir.
Izinkan saya menyampaikan beberapapoin kesimpulannya saja dulu
Poin kesimpulan:
1. Pemerintah membuka forum komunikasi dengan harapan bahwa urgensi
penguatan peranan parpol.
2. Perlunya entitas nasionalisasi parpol yang lebih matang sebagai pilar tentang
demokrasi yang harus semakin modern.
3. Dibutuhkan sebuah postur parpol yang lebih matang, dan harus mampu
mengambil sebuah peran disebuah lini yang telah kita dengar bersama.
4. Parpol diharapkan dapat menjadi acuan dan diterima didalam masyarakat
yang makin modern.
5. Parpol sebagai pilar demokrasi untuk menjaga demokrasi untuk menjaga
pilkada serentak pada tahun 2019.
Ini adalah kelima pengantar yang sudah kami susun dalam kesimpulan yang telah
dibicarakan oleh pembicara sebelumnya.
Kurung waktu semasa saya menjadi anggota DPR yaitu 30tahun memang banyak
proses penjungkirbalikan sistem ketatanegaraan kita ini. Timbul pertanyaan dari
saya, Kita membutuhkan atau harus melahirkan sebuah system yang bisa
menyesuaikan dengan system ketatanegraan pada saat sekarang ini. Dari proses
orba-reformasi dianggap tidak konsisten dalam menentukan system pemerintahan di
Indonesia terjadi penjungkirbalikkan system ketatanegaraan ini, apakah sistem
parlementer atau sistem yang lain. Memang benar penguatan lembaga negara ini
tergantung dengan penguatan parpol. PDIP system komando yang didemokrasikan.
Kalau tidak ada rakyat bung karno mhon maaf maka tidak bisa menjadi ketua umum,
10
mentok jadi sekjen. Pernah PDIP pecah menjadi lima, toh partai itu tidak bisa
mendapatkan apa-apa. Beda dengan GOLKAR, HANURA muncul, gerindra bisa berdiri
sendiri. Memang PDIP lahir dari partai nasionalis itu benar. Penentuan ketua DPR
atau pimpinan DPR memang itu hak preogratif dari ketum. Maka dari itu dari issueissue ini yag akan dibhas dalam forum ini ini sangat menarik sekali. Bagaimana
membangun demokratisasi didalam tubuh parpol. Mempersiapkan revisi UU pemilu,
Ada 13 revisi UU yang akan disiapkan. Perdebatan pun masih ada antara adanya
sistem tertutp dan terbuka atau kombinasi keduanya. Proses ini yang nantinya akan
membawa kepada pemilu serentak ini nanti dimohonkan kepada prof bagir mana,
dan prof mahfud yang berpengalaman di MK. Belum lagi masalah ketum parpol, kami
bekerjasama dengan KPKuntuk bisa melaksanakn proses ini. Recuitment ini yang
saya kira harus memiliki sistem yang jelas. Periapan pemilu serentak yang akan
dilaksanakan pada tahun 2019 didahului dengan proses pemilihan KPU dan
BAWASLU, saya sudang mengambil sikap, tidak ada satupun menteri yang ngkra.
Kalau untuk pemilu, otomatis ketua panselnya adalah mendagri. Mungkin banyak
yang protes kenapa mendagri menjadi ketua pansel. Kalau tidak salah ketua pansel
yang ditunjuk presiden adalah Prof. Saldi. (audiens bertepuk tangan)
Mungkin Prof mahfud juga harus menjelaskan, dengan putusan MK dengan sistem
yang demokratis tadi, menjungkirbalikan parpol tapi ya jalan sistem yang ditentukan
tadi. Apakah ini fair, bisa ia bisa tidak. Anggota partai saya hanya untuk menjadi
anggota DPR RI terbesar saya cek dia habis 49 milyar rupiah, terkecil memang
habisnya ada yang 80 juta rupiah. Kemarin kami door to door semua parpol, yang
memiliki sistem terbuka itu adalah PAN, tapi pak zulkifli mengatakan ada yang
terbuka ada yang tertutup. Semua rekomendasi dari forum ini nanti apa yang akan
kita pakai. Memperkuat hak kedaulatan parpol. Dapat menjamin produk dari sebuah
sistem ini dengan produk yang berkualitas.
Kelima kesimpulan tadi dari pemerintah dikira dapat menjawab pertanyaan politik
yang ada di Indonesia. Bagaimana hakekat demokrasi, esensi demokrasi, dan fisikfisik dari demokrasi itu sendiri. Kemudian perkembangan politik yang tadi pak
wapres sampaikan dari sebuah era reformasi disini, saya kira perlu ditelaah dengan
baik, kemudian ada tambahan parpol kedepannya seperti perindo, partai idaman, PSI.
11
Saya kira sebagai institusi demokrasi, yang memegang peranan penting dalam proses
demokrasi, wajar parpol harus menempatkan posisinya secara aktif, dan kreatif
dalam menjalankan tugasnya. Sayakira ini kuncinya, kalau tidak regradasiini akan
lenyap. Banyak juga kepala daerah yang sters maslah anggaran, bagianproyek, sampai
muncul masalah BANSOS, dan hibah, pajak, dan anggaran daerah. Nah yang rawan
iniharus kita awasi selalu. Saya ingin membangun adanya hubungan yang efektif
antara pusat dan daerah. Agar efisien dan mempercepat era reformasi dan birokrasi
di Indonesia. Dan dalam konteks ini memperkuat parpol juga menjadi slah satu hal
yang penting untukkita laksanakan. Intinya adalah pemerintah terbuka, ini harus
selesai. Dari kita merdeka, kita belum mempunyai sistem yang konsisten dan
dilaksanakan dengan baik. Dan harapannya sistem ini diperkuat untuk menghasilkan
insan yang amanah dan kuat dalam menjalankan tugas negara ini. Saya kira ini yang
dapat saya sampaikan, saya harap hasil rekomendasi ini dapat menjadi acuan bagi
kita bersama untuk menjalankan tugas yang baik bagi negara ini. Agar dari masa
reformasi sampai sekarang tidak ada catatan yang tidak enak dalam bernegara
sehingga dapat dijalankan dengan baik. Sebagai contohnya saja, masalah antara SBY
dengan Megawati yang ada, artinya masyarakat berfikir ah karena ibukmega masih
belum ikhlas, padahal bukan itu permasalahan secara prinsip, masalahnya apa/
tunggutanggal mainnya..(audiense tertawa). Ya karena saya sedang menyusun buku
karena saya saksi hidup. Tanya saja Prof mahfud dalam hal pemilihan ketua MPR,
pada saat bertemu mendadak muncullah pak guntur, ini sebenarnya bukan masalah
megawati dan SBY, ini adalah masalah besar bung karno. Prinsip bagi keluarga kami.
Kenapa pada saat itu soeharto yang menjadi presiden didit untuk bertemu susahnya
setengah mati. Pak harto sakit, sampai meninggal disaat pak habibie ingin melayat
susahnya minta ampun untuk dapat melihat. Sebenarnya tidak ada masalah prinsip
disini, ini hanya masalah karakter dan budaya. Pak harto orang jawa, habibie
sulawesi, mungkin tersinggung tapi tidak ada niat apa-apa. Saya menulis buku juga
beretika, saya tanya kepada pak habibi,”pak boleh gak saya tulis”?,dan pak habibie
pun menjawab tidak ada masalah. Sama juga pada saat pak harto meminta kepala staf
angkata darat sebagai wapres, sebagai presiden pak habibi mengatakan siapsaya
laksanakan perintah pak harto. Tapi pak hartoada embel-embelnya. Ditolak pasti ada
asas-asas yang tidak terpenuhi. Zaman buk megawati jadi presiden saya ditugaskan,
12
“tjahjo tolong kamu ke nusa kambangan, karena anak cucunya pakharto di nusa
kambanga tolong dirikan helypad” supaya pak harto dapat melihat anaknya dan
cucunya sigit pada saat itu. Kok tidak ada dendam, dendamitu adalah urusan bapak
ku dan dia. Samajuga pada saat jokowi saat adanya diajukan panglima TNI dan
mantan ajudan kesayangannya buk mega jadi wapres, tau-tau gajadi masalahnya
sepele.
Sekarang mari kita bangun indonesia, ini pesan moralnya. Mudah-mudhan kedepan
akan lebih baik lagi. Yang terakhir setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap
pemimpin itu akan dimintai pertanggungjawaban, sedikit apapun parpol pada masy
daerah
dan
indonesia,
asslamualaikum wr. wb
sekian
terimakasih
wabillahi
taufik
walhidayah
13
KEYNOTE SPEECH
Merancang Demokrasi Internal Partai Politik
Prof. Dr. Bagir Manan, S.H, MCL
Ketua Mahkamah Agung Periode 2001-2008
Pukul:14.30
Assalamualaikum wr.wb,yang terhormat, prof saldi, prof mahfud, bapak rektor, prof
todung, dan bapak mendagri.
Ketika – melalui Dr. Susi – disampaikan pesan Prof. Saldi meminta saya berdiri di
hadapan Bapak-bapak dan Ibu-ibu berbicara tentang “Demokratisasi Partai Politik”,
saya menyampaikan reaksi spontan.
Pertama; apakah Prof Saldi tidak salah tema? Barangkali tema yang sedang
bergejolak di hati rakyat banyak adalah: “Apakah ada konsep atau gagasan dalam
Negara RI yang besar dan dihuni orang banyak ini, kita bangun RI yang demokratis
tanpa partai politik? Pertanyaan rakyat banyak ini bukan tanpa kearifan. Sampai hari
ini mereka merasakan, baik negara apalagi rakyat banyak, belum memperoleh
apapun dari partai politik. Yang ada, rakyatlah yang selalu “diminta” mengantarkan
partai politik cq orang-orang partai politik atau orang yang didukung partai politik
duduk dan menikmati privelege kekuasaan.
Kedua; baik dalam perjalanan praktis maupun teoritis, saya (yang sedang berdiri di
hadapan anda) selalu berada di luar pagar soal-soal politik dan partai politik. Tetapi,
barangkali Prof. Saldi sedang rindu pada konsep: “Hubungan antara keawaman dan
orisinalitas”. Dalam dunia ilmu pengetahuan ada pandangan: “Makin awam
seseorang, makin orisinal pendapatnya dan mencerminkan hati nuraninya”. Hukum
besi “hati nurani” adalah senantiasa sebagai cermin kebenaran, ketulusan dan anti
kebohongan”. Hati nurani adalah kejujuran. Barangkali Prof. Saldi berpendapat, salah
satu persoalan penting yang kita hadapi adalah: “Makin langkanya sikap, tingkah laku
yang dituntun hati nurani, melainkan oleh kepentingan, baik atas nama merasa
berjasa untuk melanjutkan kekuasaan, sebagai anggota trah, ataupun sebagai cara
memperbaiki kualitas hidup, dan martabat dengan segala privilege yang harus
melekat atau dilekatkan”.
1. Partai Politik dan Demokrasi
14
Sejak tumbuh paham dan praktik demokrasi perwakilan (representative
democracy)
atau
demokrasi
tidak
langsung
(indirect
democracy)
dalam
penyelenggaraan negara (representative government), kehadiran partai politik
merupakan suatu kemestian: “The life of democratic state is built upon the party
system”.1 Harus diakui, dalam perkembangan lebih jauh, penyelenggaraan negara
dengan sistem perwakilan tidak hanya “diwakili” melalui partai politik, tetapi dikenal
juga “perwakilan golongan” (organisasi) non partai politik, seperti perwakilan kaum
pekerja, kaum petani, daerah (model MPR RI sebelum perubahan UUD 1945). 2
Bahkan, dikenal juga perwakilan etnis tertentu (etnis minoritas), seperti pernah
diatur dalam UUDS 1950.3
Demokrasi, bukan saja bermakna partisipasi publik, tetapi merupakan tatanan
yang timbul dari dan untuk menjamin keberagaman atau kebhinekaan, seperti
keragaman ideologi, keragaman budaya, keragaman sosial, ekonomi atau agama.
Sistem partai tunggal tidak memberi tempat pada keragaman. Sistem partai tunggal
bertentangan dengan demokrasi. Beberapa bulan setelah Proklamasi Kemerdekaan
Indonesia ada gagasan untuk mendirikan partai tunggal. Namun, gagasan itu
ditentang. Bahkan kemudian keluar Maklumat Pemerintah bulan November 1945
yang menganjurkan pendirian partai-partai politik.
Dalam kenyataan, tidak selalu partai politik merupakan cerminan demokrasi,
seperti sistem partai tunggal atau partai dominan, dalam sistem otoriter yang
menjalankan sistem politik monolitik.
Sigmund Neumann mengatakan:
“Such an initial description, to be sure, indicates that the very definition of party
supposes a democratic climate and hence makes it a misnomer in every dictatorship.
A one party system (le parti unique) is a contradiction in itself. Only the co-existence
of at least one other competitive group makes a political party real. Still the fact
remains that the term has been widely used by modern autocrats and for a very
obvious reason: to keep the semblance of a “people rule” in their post-dictatorship.
1
Harold J. Laski, Grammar of Politics, Yale University Press, 1925, hlm 295.
Pasal 2 ayat (1) UUD 1945 sebelum perubahan berbunyi: “Majelis Permusyawaratan Rakyat
terdiri atas anggota-anggota Dewan Perwakilan Rakyat ditambah dengan utusan-utusan dari
daerah-daerah dan golongan-golongan menurut aturan yang ditetapkan oleh Undang-Undang”.
3
Pasal 58 ayat (1) UUDS 1950 berbunyi: “Golongan-golongan kecil Tionghoa, Eropa, dan Arab
akan mempunyai perwakilan dalam Dewan Perwakilan Rakyat dengan berturut-turut sekurangkurangnya 9, 6, dan 3 anggota”.
2
15
But it is also true that even the totalitarian party depends upon a functioning
opposition. If one does not exist, it must still be assumed by the dictators, since under
monolithic rule the dictatorial must constantly justify the existence in view of the
ever present threat of counter revolution, hidden or imaginary through its
organization may be. The opposition party is the raison d’etre of dictatorial
movement and its all pervasive controls through institutions, propaganda, and
terror”.4
Meminjam istilah “faction” dari Madison, dapatlah dikatakan, kehadiran
partai-partai politik dalam sistem demokrasi merupakan konsekuensi, bahkan
bawaan (nature) pengakuan dan jaminan partisipasi golongan-golongan (faction)
yang hidup dalam masyarakat. Walaupun sebagai konsekuensi dari pengakuan dan
jaminan golongan-golongan masyarakat, dihadapi pula persoalan apabila terlalu
banyak partai atau lebih dari dua partai (multy party system). Mengapa?
Salah satu ajaran yang telah diketahui umum menyatakan: “sistem multi partai
(partai banyak) memang lebih mencerminkan demokrasi atau sekurang-kurangnya
lebih demokratik”. Sistem ini memberikan peluang pada setiap kelompok atau
golongan, bahkan perorangan mengaktualisasikan partisipasi dalam politik dan
penyelenggaraan pemerintahan. Benarkah itu? Belum tentu. Hal ini didasarkan pada
alasan-alasan sebagai berikut.
Paling tidak terdapat tiga aspek yang akan menjadikan sistem partai banyak
tidak benar-benar efektif sebagai sarana atau proses demokrasi.
Pertama; dari sudut rakyat. Sistem partai banyak dapat menimbulkan kesulitan bagi
rakyat untuk menentukan pilihan. Kesulitan makin bertambah karena partai yang
4
Harry Eckstein and David E. Apter (ed), Comparative Politics: A Reader, New York, Free Press,
1968, hlm 351.
“Deskripsi (gambaran) di atas sesungguhnya menunjukkan pengertian (definisi) partai politik dalam
suasana demokrasi, dan karena itu (definisi tersebut) tidak cocok (tidak dapat) dipergunakan
dalam sistem kediktatoran. Sistem partai tunggal menyiratkan suatu kontradiksi dalam dirinya
sendiri (kontradiksi dengan makna atau pengertian partai politik). Hanya apabila ada koeksistensi
dengan sekurang-kurangnya satu kelompok kompetitif lain yang akan menunjukkan partai politik itu
benar-benar ada. Meskipun demikian, sebutan partai politik tetap dipergunakan secara luas oleh
penguasa otokrasi, dengan suatu alasan dasar: untuk menunjukkan keterkaitan dengan
“pemerintahan rakyat” pada masa setelah pemerintahan kediktatoran. Tetapi juga benar, bahwa
sistem kepartaian totaliter tergantung pada berfungsinya oposisi. Jika tidak ada, para diktator akan
mengasumsikan oposisi itu ada, karena dalam pemerintahan monolitik, partai-partai yang bersifat
kediktatoran harus senantiasa menemukan pembenaran bahwa kontra-revolusi selalu ada, baik
yang tersembunyi maupun sekedar khayalan belaka. Partai oposisi menjadi “raison d’etre” gerakan
kediktatoran dan sistem pengawasan tanpa batas melalui berbagai badan, propaganda, dan teror”.
16
banyak itu tidak memiliki garis politik yang jelas, baik ideologi maupun program yang
akan dijalankan, kecuali sekedar berusaha duduk dalam badan perwakilan atau
pemerintahan. Orientasi partai hanya terbatas melihat politik sebagai suatu bentuk
dan proses kekuasaan, dalam arti memperoleh dan mempertahankan kekuasaan.
Kedua; dari sudut partai. Sistem partai banyak menimbulkan persaingan yang
semakin “kencang” antar partai. Dalam demokrasi – sepanjang persaingan dilakukan
atas dasar etika berdemokrasi yang mewadahi “exchange of ideas” – memang
merupakan suatu kemestian. Tetapi ketika persaingan sekedar mengumpulkan suara,
akan muncul pasar jual beli suara (the money can buy), sekedar memunculkan
penampilan tanpa isi seperti “kegarangan mengkritik atau berargumentasi”,
memunculkan orang-orang semata-mata karena dikenal publik seperti di panggungpanggung infotainment atau entertainment. Di pihak lain, bagi mereka yang diajak,
merupakan panggung publikasi dan peluang. Tentu saja, ada diantara mereka yang
datang karena “panggilan hati” dan oleh karenanya mengisi diri untuk memenuhi
segala syarat dan bertanggung jawab kepada publik.
Ketiga; dari aspek negara. Dalam hubungan dengan negara, sistem partai banyak
bertalian dengan pengambilan keputusan di badan perwakilan rakyat, seperti
parlemen, dan sistem pemerintahan, yaitu sistem parlementer, presidensil atau
sistem campuran (dual system atau hybrid system). Sistem partai banyak umumnya
menyebabkan pembahasan memakan waktu lama (tidak efisien), keputusan adalah
hasil kompromi, bahkan hasil dagang sapi (koehandel). Badan perwakilan menjadi
badan yang tidak efektif mewakili kepentingan rakyat banyak.
Dari segi sistem pemerintahan, sistem partai banyak lazim dipertalikan dengan
sistem
pemerintahan
parlementer
dimana
eksistensi
dan
keberlangsungan
pemerintah atau kabinet tergantung pada kepercayaan dan dukungan mayoritas
anggota parlemen. Pengalaman Perancis antara tahun 1946-1958 (sebelum UUD
1958 yang berlaku hingga sekarang dengan segala perubahannya) dan Indonesia
antara tahun 1950-1959 (sebelum kembali ke UUD 1945), sistem partai banyak
menimbulkan
instabilitas
pemerintahan.
Pembentukan
kabinet
penyelenggaraan program dilakukan dalam suasana serba “dagang sapi”.
maupun
Perlu dicatat, suasana yang agak unik pengalaman parlementer Indonesia
(1950-1959). Pertama; kejatuhan kabinet (kabinet mengembalikan mandat) tidak
17
semata-mata karena mosi tidak percaya dari Parlemen. Dalam beberapa peristiwa,
Kabinet mengembalikan mandat karena ada perbedaan pandangan yang tajam
dengan Kepala Negara. Menurut tatanan konstitusional yang berlaku, Presiden yang
hanya sebagai Kepala Negara semestinya tidak mencampuri jalannya pemerintahan.
Tidak demikian yang terjadi. Mengapa? Presiden yang secara konstitusional hanya
sebagai Kepala Negara adalah juga pemimpin bangsa yang bertanggung jawab atas
seluruh peri kehidupan bangsa, sehingga merasa berkewajiban turut serta dalam
urusan penyelenggaraan pemerintahan. Campur tangan Presiden tidak hanya
terbatas pada jalannya pemerintahan, melainkan termasuk pembentukan kabinet
yang mendapat dukungan mayoritas partai di DPR. Salah satu pengalaman campur
tangan tersebut adalah yang popular dikenal dengan gagasan “Kabinet Kaki Empat”.
Kedua; acapkali juga terjadi, Kabinet mengundurkan diri karena tekanan ekstra
parlementer daripada mosi tidak percaya dari DPR.
Namun perlu dicatat, sekalipun dalam sistem parlementer, sistem partai
banyak tidak serta merta identik dengan instabilitas pemerintahan. Di beberapa
negara, seperti Kerajaan Belanda, sistem parlementer yang disertai sistem partai
banyak dan kabinet senantiasa dibentuk atas dasar koalisi partai-partai, namun
pemerintahan senantiasa stabil. Mengapa? Pertama; tidak ada perbedaan yang tajam
antar partai politik, antara lain, karena biasanya tidak ada perbedaan yang bersifat
ideologi antar anggota koalisi. Perbedaan hanya terbatas pada kebijakan, program,
dan cara-cara mewujudkan program. Kedua; kearifan berdemokrasi cq berpolitik,
baik di lembaga-lembaga politik (seperti partai politik), kematangan masyarakat, dan
kematangan pelaku politik. Perbedaan dimaksudkan untuk menemukan yang lebih
baik, bukan untuk hegemoni kekuasaan. Ketiga; rakyat secara umum telah sejahtera,
sehingga tidak mudah dipergunakan sebagai alat politik, seperti mobilisasi politik.
Kesejateraan merupakan faktor penting mewujudkan homogenitas sosial yang akan
saling menjaga dan harmoni. Keempat; partai-partai politik senantiasa meyakini
krisis yang terjadi akan dibayar mahal, baik secara politik, sosial dan ekonomi.
MacIver menyatakan: “Without the spirit of nationalism, or at least without the
recognition of the unity of people, it is hard to lay a sure foundation of democracy.
18
Democracy did develop in areas where progressive culture and economic advantage
went together”.5
Secara doktriner, dalam sistem pemerintahan presidensil, kehadiran sistem
partai banyak tidak berpengaruh pada stabilitas pemerintahan karena tidak
mengenal hubungan pertanggungjawaban antara pemerintah dan parlemen yang
diduduki anggota dari partai politik. Persoalan tidak pada stabilitas, melainkan pada
efektifitas pemerintahan. Beberapa waktu yang lalu, media memuat keterangan:
“Dalam praktik Presiden tidak mudah mendapat dukungan DPR dan hal ini yang
berpengaruh pada efektifitas pemerintahan”. Ada dua sumber hambatan dalam hal
ini.
Pertama; penyakit bawaan sistem pemisahan kekuasaan (separation of powers).
Harold J. Laski melukiskan hal ini dengan menyatakan: “… American President is at
odds with Congress and that even happen when his own party is in power”.6 Pernyataan
ini disandingkan dengan sistem yang tidak menjalankan pemisahan kekuasaan,
melainkan pembagian kekuasaan (division of powers), bahkan diffusion of powers
(seperti Inggris) cq sistem pemerintahan parlementer: “It measures an essential coordination of effective government”.7
Kedua; praktik yang sedang berjalan di Indonesia yang meliputi:
(1) Sistem partai banyak yang tidak memiliki “coherent policy”, bahkan tidak
memiliki program yang definitif, selain sekedar mempunyai wakil yang duduk
dalam pemerintahan.
(2) Sistem pemilihan proporsional – sekalipun dengan modifikasi – menyebabkan
beberapa hal, antara lain:
a. Sebaran suara pemilih yang mengakibatkan tidak ada mayoritas mutlak.
b. Tidak ada hubungan antara pemilih dan wakil.
c. Meskipun dalam sistem presidensil, tetapi Presiden akan selalu
menghadapi aneka ragam sikap di DPR (tidak mayoritas).
5
MacIver, The Web of Government, MacMillan Company, 1947, hlm 176, 189.
Tanpa semangat nasionalisme atau sekurang-kurangnya tanpa pengakuan terhadap persatuan
rakyat, sangatlah sulit meletakkan dasar demokrasi yang benar. Demokrasi berkembang dalam
wilayah-wilayah dimana budaya progresif dan kemajuan ekonomi berjalan secara bersama-sama.
6
Harold J. Laski, op., cit, hlm 299.
7
Ibid.
19
Mengapa negara modern membutuhkan partai politik? Partai politik sebagai
instrumen atau alat mewujudkan demokrasi – seperti ditulis Laski – seharusnya
menjalankan peran:
Pertama; “… parties arrange the issues…selection the problems as more urgent… and to
present solutions of them which may be acceptable to the citizen body”.8 Peran ini
menurut Laski, sebagaimana disampaikan oleh Lowell sebagai “the broker of ideas”.
Kedua; “… organizes persons to advocate its own view of their meaning”.9
Dapat pula ditambahkan peran sebagai urutan selanjutnya yang diutarakan
oleh David E. Apter:10
Ketiga; “offer political choices… provide a peaceful selection of alternative government
…offer differences in view any policy priorities”.11
Selain tiga peran di atas, terdapat fungsi lain partai politk:
Keempat; memilih calon-calon yang akan dipilih atau didudukkan sebagai
penyelenggara negara dan pemerintahan (calon anggota DPR, DPRD, Presiden, Wakil
Presiden, Gubernur, Bupati Walikota).
Kelima; “trachtenn het overheidsbeleid te beinvloeden door kandidaten voor formeel
vertegenwoordigende lichamen te stellen”.12
Peran partai politik dalam penyelenggaraan negara seperti disebutkan di atas,
tidak berjalan sepihak. Di sisi lain, peran itu ditentukan oleh sistem politik (“… whose
rise and fall is depended in large measure upon the nature of the political system”).13
Partai dalam sistem politik demokrasi akan berbeda dengan partai dalam sistem
otoriter. Pertanyaannya, mungkinkah partai politik menjadi instrumen demokrasi
dan menjalankan peran di atas, apabila partai politik itu sendiri tidak demokratis?
Dalam kasus Indonesia, ukuran ini ditentukan oleh kenyataan partai politik dan
sistem politik yang sedang berjalan atau dijalankan.
8
Partai-partai menata isu-isu, memilih persoalan-persoalan yang lebih mendasar dan
menyampaikan pemecahan yang dapat diterima oleh warga. Bahkan dalam ungkapan Lowell
disebut sebagai perantara atau agen berbagai ide.
9
Mengajak orang-orang untuk mendukung pandangan sesuai dengan kehendak partai yang
bersangkutan.
10
Harry Eckstein dan David E. Apter, op., cit , hlm 327.
11
Menawarkan alternatif-alternatif politik, menyediakan seleksi alternatif pemerintahan secara
damai, menawarkan pandangan-pandangan dan prioritas kebijakan yang berbeda.
12
Berusaha mempengaruhi kebijakan pemerintah melalui calon wakil di badan perwakilan rakyat.
Rosenthal, et., al, Openbaar Bestuur, Tjeen Willink, Alphen, Netherlands, 1977, hlm 212.
13
Harry Eckstein dan David E. Apter, loc., cit.
20
2. Partai Politik Indonesia Sebagai Kenyataan
Uraian di bawah ini akan didahului dengan beberapa catatan yang bersifat
kesejarahan partai politik di Inggris dan di Indonesia. Catatan kesejarahan ini perlu
berdasarkan beberapa alasan.
Pertama; suatu ketika kita mendapat seruan “jangan sekali-kali meninggalkan
sejarah”. Keputusan Presiden RI No. 24 Tahun 2016 tentang Hari Lahir Pancasila
adalah sebuah contoh betapa pentingnya sejarah dan mengetahui sejarah. Di
Bandung, sampai hari ini, di banyak sudut jalan utama, berdiri gambar Alm Bung
Karno yang disertai tulisan: “1 Juni, hari lahir Pancasila”.
Kedua; untuk mengetahui sejauhmana partai politik kita yang ada sekarang ini masih
serupa benar dengan partai politik di masa lalu. Tidak lekang karena panas, tidak
lapuk karena hujan.
Pertama; David E. Apter melukiskan partai politik Inggris abad 18 sampai awal
abad ke 19 sebagai:
“Corruption, the buying and selling of political office and rampant patronage
was the by-product of party politics. Nor did the parties have consistent political
ideologies”.14
Tetapi kemudian ada perubahan, yang dilukiskan oleh David E. Apter sebagai:
“Disciplined parties, effective parliamentary organization, a high standard of
ethics, all these now characterize the British political party system in spite of
occasional lapses from political virtue and internal cohesion”.15
Kedua; Herbert Feith mendeskripsikan partai politik Indonesia tahun 1950-an:
1. Tentang sistem partai banyak.16
14
Ibid, hlm 328.
Korupsi, jual beli jabatan politik dan merajalelanya patronage (partai menjadi tempat berlindung)
merupakan produk sampingan partai politik. Termasuk pula (pada waktu itu) tidak ada partai politik
yang konsisten terhadap ideologi politik.
15
Ibid.
Disiplin partai, pengorganisasian parlemen yang efektif, standar etik yang tinggi, merupakan
karakteristik sistem partai politik Inggris saat ini, meskipun sekali-kali masih tergelincir dari
kebajikan berpolitik dan keterpaduan internal.
16
Herbert Feith, The Decline of Constitutional Democracy in Indonesia, Equinox Publishing 2006,
hlm 122.
21
“The multy party pattern of the pre-war nationalist movement had re-emerged
in November 1945, when the Republic’s government had formally called for the
establishment of parties. Influenced by the model of the Netherlands and other
continental countries with multy party system, the leaders of the Republic did
not expect or hope for a system of only two parties”.17
2. Tentang peran partai tahun 1950-an.18
2.1. “… to break down the political and psychological barriers with divided “non’s”
from “co’s” those who had not cooperated with the Dutch in the revolutionary
period from those who had. And they provided the “co’s” with a means of
clearing their names”.19
2.2. “Even more important, parties now had important patronage function… In
effect the parties obliged the government to distribute its stone of material and
status rewards largely through them… government posts, business
opportunities, overseas trips, houses, and cars tended to go chiefly to those
with party connections… Parties were principal channel of access to the
bureaucracy”.20
3. Tentang keanggotaan partai21
“To be a party members was to be modern, politically conscious – an alert citizen
aware of the important of nationality. And to be an office bearer of a party was to be
a man of prestige, for political distinction had become probably the most important
source of status in society as a whole. It was furthermore, a step toward greater
17
Pola sistem partai banyak yang ada pada masa sebelum perang kemerdekaan muncul kembali
pada November 1945 saat Pemerintah Republik Indonesia menganjurkan secara resmi
pembentukan partai-partai politik. Terpengaruh oleh sistem di Belanda, dan beberapa negara
Eropa daratan yang menerapkan sistem partai banyak, para pemimpin Republik ini tidak
menghendaki sistem dua partai.
18
Ibid.
19
Untuk memutus hambatan-hambatan politik dan psikologis yang terbagi antara pro dan kontra –
[yaitu] antara mereka yang tidak bekerjasama dengan Belanda saat revolusi kemerdekaan dan
mereka yang bekerjasama – Pemerintah menyediakan cara untuk membersihkan nama mereka.
20
Bahkan yang lebih penting, partai-partai politik mempunyai fungsi penting sebagai
pelindung…efeknya, partai politik mewajibkan Pemerintah membagi anggaran dan penghargaan
status kepada mereka [partai politik]…jabatan-jabatan pemerintahan, kesempatan-kesempatan di
lapangan bisnis, perjalanan luar negeri, rumah-rumah serta mobil-mobil terutama diperuntukkan
bagi mereka yang mempunyai koneksi atau hubungan dengan partai politik…partai menjadi
penghubung penting terhadap akses ke birokrasi.
21
Ibid, hlm 124.
22
prestige, both the prestige of being a higher echelon party leader and that of holding
a high office of state to which one had come through nomination by one’s party …
party were a principal means by which one’s status ambitious could be realized”. 22
4. Tentang kepemimpinan partai23
“At first sight it would seem that parties were dominated by their top leaders, by the
small group of men having close personal acquaintance with one another and
influenced at the highest levels of the government”.24
Bagaimana deskripsi-deskripsi di atas (masih) tercermin dalam kepartaian di
Indonesia? Ada yang lebih suram atau lebih baik?
1. Tentang korupsi
Ditinjau dari pelaku, korupsi dapat dibedakan: korupsi di lingkungan birokrasi,
korupsi di lingkungan penegakan hukum, korupsi di lingkungan lembaga politik,
dan korupsi yang melibatkan pranata di luar tiga lingkungan tugas yang telah
disebutkan, seperti korupsi oleh lembaga bisnis atau luar bisnis. Walaupun tidak
pasti sebagai “produk sampingan”, ada korupsi yang dapat dipertalikan dengan
partai politik, seperti:
a. Korupsi yang melibatkan sejumlah gubernur, bupati, walikota. Meskipun
mereka pejabat di lingkungan birokrasi, tetapi sebagian mereka adalah
anggota partai politik dan proses pencalonan serta pemilihan tidak terlepas
dari partai politik (political appointee).
b. Korupsi yang melibatkan pimpinan partai atau anggota DPR, tidak mungkin
terlepas dari partai politik.
2. Tentang jabatan politik dan jabatan lain.
22
Menjadi anggota partai haruslah bersikap modern dan mempunyai kesadaran politik – seorang
warga negara yang selalu sadar atas pentingnya kebangsaan. Dan menjadi pengurus sebuah
partai haruslah orang yang berwibawa, dengan mana kemampuan politik tersebut menjadi salah
satu sumber penting bagi status [seseorang] dalam sebuah masyarakat secara keseluruhan.
Lebih-lebih, menuju pada tahap selanjutnya mendapatkan kewibawaan yang lebih tinggi, baik
kewibawaan sebagai pimpinan tertinggi partai dan pemegang jabatan pemerintahan melalui
nominasi partainya…partai menjadi cara utama untuk merealisaskan ambisi seseorang.
23
Ibid.
24
Pada mulanya tampak partai-partai sangat didominasi oleh pimpinan-pimpinan tertinggi, oleh
sekelompok kecil anggota yang mempunyai hubungan personal yang sangat dekat dan saling
mengenal satu sama lain, dan berpengaruh pada jajaran tertinggi pemerintahan
23
Dalam praktik, umum diketahui adanya jual beli jabatan politik. Keterlibatan
partai politik dapat terjadi:
a. Kepada publik hampir selalu diperdengarkan ungkapan “money politics”, atau
uang perahu yang harus disetorkan calon kepada partai, atau ungkapanungkapan lainnya.
b. Pengangkatan pejabat negara melalui DPR (mekanisme “fit and proper test”),
akan bernuansa “politicking”, dan dapat mendorong para calon tidak hanya
mencari dukungan dari anggota DPR, tetapi juga fraksi-fraksi di DPR, bahkan
partai politik. Ada pula sebagian orang yang menggunakan partai politik dan
duduk di lembaga politik atau pemerintahan melalui partai politik sematamata sebagai peluang untuk, misalnya, memiliki akses dengan birokrasi,
pusat-pusat kegiatan ekonomi negara, dan lain sebagainya.
Mungkin dapat ditambah dengan hal-hal lain. Tetapi mengapa hal-hal
semacam itu terjadi?
Pertama; faktor internal. Ada berbagai faktor internal yang menjadi kenyataan atau
wajah partai politik kita sekarang ini.
1. Banyak partai
Reformasi membuka kembali sistem partai banyak (multi partai yang tidak
terbatas seperti yang terjadi di masa Revolusi sampai tahun 1960-an). Di masa
Orde Lama ada penyederhanaan kepartaian (partai) menjadi 10 partai melalui
Perpres No. 7 Tahun 1960 tentang Syarat-syarat dan Penyederhanaan
Kepartaian dan Perpres No. 2 tahun 1962 tentang Larangan Organisasi Yang
Tidak Sesuai Dengan Kepribadian Indonesia. PSI dan Masyumi termasuk partai
yang terlarang. Demikian pula, Murba yang dibekukan.
Di masa Orde Baru, Pemerintah mewajibkan partai-partai yang ada dari masa
Orde Lama, bergabung sehingga hanya ada 3 partai, yakni PPP, PDI dan
SEKBER GOLKAR. SEKBER GOLKAR sangat kukuh menyatakan diri bukan
partai politik. Suatu bentuk “manipulasi”, karena organisasi ini melakukan
kegiatan yang lazim sebagai partai politik, seperti ikut dalam pemilihan umum
serta mendudukkan anggota dalam organisasi negara (legislatif dan eksekutif).
Di masa Reformasi, selain yang berdiri sejak masa awal Reformasi, setiap
menjelang pemilihan umum ada pendaftaran partai politik baru. Partai yang
24
dalam pemilihan umum tidak memenuhi “electoral threshold” tinggal
mengubah nama dan mendaftar sebagai partai baru.
2. Tidak ada konsistensi antara idelogi dengan aktifitas politik.
Reformasi menghidupkan kembali partai atas dasar ideologi atau keyakinan
tertentu. Di masa Orde Baru, hanya Pancasila yang boleh menjadi dasar
ideologi partai dan organisasi sosial. Lagi-lagi hal ini hanya sekedar supaya
mempunyai “hak hidup”. Semua partai atau organisasi memang menyebut
“berdasarkan Pancasila”, tetapi biasanya ada embel-embel seperti “semangat
ke-Islaman”, “nasionalisme”, dan lain-lain. Peluang ini memang tidak
“disalahkan”. Selain itu, Pancasila sebagai ideologi belum berisi ajaran
(doktrin), melainkan sekedar sebagai “filosofische grondslag”. Itulah yang
terjadi hingga hari ini, sehingga baik partai maupun dalam penyelenggaraan
negara, tidak tampak adanya comprehensiveness dan kebijakan yang koheren
(coherent policy) dalam melaksanakan Pancasila. Suatu ketika, sistem ekonomi
etatisme disebut berdasarkan Pancasila. Begitu pula sistem ekonomi yang
menempatkan kapital dan pasar sebagai jalan menuju kesejahteraan dianggap
sebagai bagian dari sistem Pancasila.
3. Pendorong kelahiran partai (motif mendirikan partai).
Ada sejumlah pendorong atau motif mendirikan partai, antara lain:
a. Sebagai upaya “pemurnian kembali ideologi” yang selama ini terabaikan
atau sebagai sesuatu yang harus (diwajibakan) untuk dijauhi.
b. Akibat ketidakpuasan atau perpecahan didalam partai yang ada. Hal ini
umumnya terjadi akibat perebutan hegemoni dan kepemimpinan didalam
partai, atau ada unsur idealistik sebagai “koreksi” terhadap partai atau
semata-mata karena peluang internal yang tidak memadai.
c. Dorongan untuk tetap mempunyai peran dan memperoleh dukungan
dalam upaya memantapkan atau memperoleh bagian kue kekuasaan.
d. Hampir selalu menghadapkan “figur pribadi” seperti “tokoh perlawanan”,
penampilan yang mempesona publik, berasal dari keturunan tokoh
tertentu, dan lain-lain “personal performance”. Karena itu – seperti
disebutkan di atas – tidaklah mengejutkan, suatu partai didirikan tanpa
suatu tuntunan “comprehensive policy”, apalagi program yang akan
25
diperjuangkan dan dijalankan. Tidak pula mengherankan, partai-partai
tumbuh menjelang pemilihan umum dan pemilihan Presiden, karena
orientasi utama adalah sekedar mendudukkan anggota atau pendukung
dalam susunan organisasi negara atau pemerintahan.
4. Kepemimpinan oligarkis.
Merupakan suatu kenyataan, setiap organisasi, baik negara maupun swasta,
dijalankan atau dikelola oleh sedikit orang (the minority). Ada dua corak
kepemimpinan oleh yang sedikit, yaitu atas dasar “oligarkisme” atau
“elitisme”. Apa bedanya? Oligarkisme bertolak dari ukuran “ingroup” dan
“outgroup” yang bertolak dari “spoil system”, seperti “berjuang bersama”,
ikatan kepentingan, keturunan, atau loyalitas. Dalam tatanan “elitisme”,
ukuran “ingroup” dan “outgroup” dapat bergeser didasarkan pada prinsip
“meritisme”, terutama yang berkaitan dengan expertise, responsibility, dan
accountability.
Walaupun telah cukup banyak pengelola partai kita yang dapat digolongkan
sebagai elit, tetapi kepemimpinan tetap didasarkan pada tatanan oligarkisme.
Bukan expertise, responsibility, dan accountability yang berada di depan,
melainkan tunduk pada pimpinan. Tidak heran, kalau kepada kita
diperdengarkan ungkapan “menunggu keputusan Bapak/Ibu pimpinan”.
5. Rekruitmen keanggotaan dan representasi partai pada jabatan publik.
Orientasi utama partai-partai politik adalah “mempunyai orang” dalam
lembaga-lembaga publik (badan perwakilan dan pemerintahan). Hal ini sangat
mempengaruhi rekruitmen, yaitu sekedar “menemukan orang” yang dapat
menarik publik tanpa perlu dipertalikan dengan sistem rekruitmen sebagai
kader partai. Pola ini “bertemu buku” dengan orang-orang yang mencari
peluang untuk ikut dalam kekuasaan karena merasa mempunyai nama,
memiliki modal, atau sebagai peluang melapangkan kepentingannya. Karena
itu – seperti telah dicatat di atas – orang-orang partai di badan perwakilan
(DPR, DPRD), gubernur, bupati dan walikota, selain tidak paham benar
mengenai pekerjaannya, juga diadili karena pelanggaran hukum. Hal ini
26
berbeda dengan deskripsi Feith tentang anggota dan pemimpin partai tahun
1950-an:
“To be a party member was to be modern, politically conscious – an alert
citizen aware of the important of nationality. And to be an office bearer
of a party was to be a man of prestige, for political distinction had
become probably the most important source of status in society as a
whole.25
(Menjadi anggota partai haruslah bersikap modern dan mempunyai
kesadaran politik – seorang warga negara yang selalu sadar atas
pentingnya kebangsaan. Dan menjadi pengurus sebuah partai haruslah
orang yang berwibawa dengan mana kemampuan politik tersebut
menjadi salah satu sumber penting bagi status [seseorang] dalam
sebuah masyarakat secara keseluruhan.
Kedua; faktor eksternal. Seperti halnya faktor internal, dijumpai beberapa faktor yang
mempengaruhi performance partai politik di Indonesia.
1. Faktor tatanan dan sistem politik
a. Praktik sistem pemerintahan
Secara konstitusional, sistem pemerintahan presidensil semestinya tidak
banyak pengaruh partai terhadap susunan dan kebijaksanaan Pemerintah.
Tetapi karena ada praktik “wakil resmi” partai dalam Kabinet, partai
menjadi sangat berperan dalam penyelenggaraan pemerintahan. Bahkan,
partai – meskipun dalam pemilihan Presiden dan Wakil Presiden – tidak
mencalonkan atau mendukung orang yang kemudian menjadi Presiden
dan Wakil Presiden, tetapi berlomba untuk duduk dalam Kabinet.
Akibatnya, Kabinet menjadi multi wajah yang menyulitkan adanya satu
“coherent
policy”
pemerintahan.
yang
Efektifitas
akhirnya
menjadi
berpengaruh
makin
sulit
pada
karena
efektifitas
pimpinan
pemerintahan sendiri tidak membekali diri dengan comprehensive policy
dan program yang harus dijalankan oleh semua anggota Kabinet.
25
Akibatnya, menteri bekerja menurut “gagasan dan kemauan sendiri”.
Ibid.
27
b. Praktik sistem pemilihan umum
Walaupun telah diadakan modifikasi, seperti proporsional tertutup dan
electoral threshold, sistem ini – apalagi di Indonesia dengan wilayah luas
dan penduduk banyak – akan tetap menimbulkan hal-hal sebagai berikut:
(1) Menjadi pendorong tumbuhnya sistem partai banyak.
(2) Rakyat (pemilih) tidak mengenal calon yang mereka pilih. Atau dengan
kata lain, ada jarak antara pemilih dan yang dipilih.
(3) Calon tidak memikul kewajiban mengetahui daerah pemilihannya.
Akibatnya, calon lebih berorientasi pada persoalan nasional.
(4) Kekuatan politik di badan perwakilan akan terpecah. Walaupun tidak
mempunyai konsekuensi terhadap stabilitas pemerintahan, tetapi
mendorong terjadinya koehandel yang sangat berpengaruh pada
efektifitas pemerintahan.
(5) Sistem partai banyak yang disertai sistem pemilihan proporsional
mendorong persaingan tidak sehat antar partai politik yang
menimbulkan “money politics”.
(6) Didorong keinginan memperoleh suara sebanyak-banyaknya untuk
menduduki kursi badan perwakilan dan jabatan-jabatan yang dipilih
langsung (terutama di tingkat daerah), selain money politics, para calon
yang diutamakan yaitu para “vote getter”, bukan kader-kader partai
yang berkualitas. Politik oligarki atas dasar spoil system tidak hanya di
lingkungan internal partai, tetapi juga dalam mengisi jabatan-jabatan
publik yang dipilih. Isteri dan anak gubernur, bupati ataupun walikota,
diusahakan untuk menduduki jabatan-jabatan tersebut. Begitu pula,
keanggotaan pada badan-badan perwakilan menunjukkan praktik yang
mirip.
c. Kekuasaan DPR yang hampir tanpa batas.
Kekuasaan DPR yang hampir tiada batas merupakan alat efektif
kepentingan partai. Salah satu sasaran perubahan UUD 1945 yaitu
menggeser “executive heavy” yang dipandang sebagai sumber kekuasaan
otoritarian. Di pihak lain, untuk menjamin demokrasi, DPR diperkuat
sehingga menjadi “legislative heavy”, baik di bidang legislatif, anggaran,
28
maupun pengawasan. Sayangnya, dalam praktik penguatan ini hanya
mengenai hak anggaran dan pengawasan. Sedangkan pelaksanaan
kekuasaan legislatif sangat tidak memuaskan, baik jumlah maupun
kualitas. Penguatan DPR tidak lagi sekedar lebih menegaskan checks and
balances. Bukan saja antara Presiden dan DPR, tetapi juga dengan lembagalembaga negara lain, seperti prosedur pencalonan pimpinan dan anggota
lembaga negara dan lembaga pemerintahan yang harus melalui
persetujuan dan konfirmasi (consent and confirmation) DPR.
Meskipun disebut “perwakilan rakyat” (DPR, DPRD), tetapi secara nyata
DPR (termasuk DPRD) adalah representasi partai politik. Penguatan
DPR adalah penguatan partai politik. Meskipun melalui Mahkamah
Konstitusi memungkinkan calon “independen”, dalam kenyataan, calon
Presiden dan Wakil Presiden sangat ditentukan partai politik. Partai politik
menjadi lebih kuat karena dalam Kabinet diberi tempat menteri sebagai
wakil resmi partai (supra). Tidak berlebihan, meminjam ungkapan Lord
Bryce mengenai Parlemen Inggris: “Parlemen itu kekuasaannya tidak
terbatas, kecuali mengubah kelamin perempuan menjadi laki-laki atau
kelamin laki-laki menjadi perempuan”. Dengan demikian kita dapat
melihat “bersatunya” kekuasaan DPR yang sekaligus kekuasaan partai
politik. Pertanyaannya, “apakah menyatunya DPR dan partai politik
berjalan paralel dengan penguatan demokrasi dalam makna pemerintahan
dari, oleh, dan untuk rakyat”?
2. Faktor sosial
Dalam makna sosial, demokrasi adalah “partisipasi rakyat” yang dilaksanakan
secara bebas dalam penyelenggaraan negara. Kebebasan itulah yang sebenarnya
menjadi galih (inti dasar) demokrasi. Kalau tidak ada kebebasan, partisipasi tidak
lain dari mobilisasi. Pertanyaannya, “apakah keikutsertaan rakyat – seperti dalam
pemilihan umum dan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden – adalah suatu
bentuk partisipasi atau mobilisasi?
Paling tidak, sejak Orde Lama sampai hari ini, rakyat belum berkesempatan
secara bebas menjalankan partisipasi sebagai wujud “equality among the equals”,
29
yang ada adalah mobilisasi. Di masa Orde Lama, mobilisasi dilakukan atas nama
“revolusi belum selesai”, “melawan imperialisme dan neo-kolonialisme”,
“melawan tujuh setan desa”, dan lain-lain jargon. Di masa Orde Baru, mobilisasi
dilakukan atas nama “demi pembangunan”, “stabilitas politik”, “asas tunggal”, dan
lain-lain.
Bagaimana di masa Reformasi? Mobilisasi dijalankan dengan money politics.
Kalau di Inggris pada abad 17 dan awal abad 18 dikenal ungkapan “buying and
selling political office”. Sejak Reformasi, selain jual beli jabatan melalui hal-hal
seperti “uang perahu”, juga terjadi jual beli suara pemilih (buying and selling
electoral vote). Rakyat juga membangun diri menjadi “political economist”, kemana
suara diberikan tergantung pada bayarannya.
3. Demokrasi Partai Politik Indonesia
Perlukah demokratisasi partai politik? Jika perlu, “mengapa dan apa bentuk
demokratisasi itu”? Demokratisasi diperlukan karena – seperti ditulis Laski – “the life
of democratic State is built upon the party system”.26 Agar dapat melaksanakan fungsi
dalam negara demokrasi, partai politik harus menjalankan demokrasi dalam dirinya
sendiri. Persoalannya, demokrasi itu memiliki masalah bawaan sendiri. Semua kita
sangat familiar dengan ungkapan MacIver yang menyatakan “democracy without end”
atau “democracy has never been completely achieved”. Ungkapan yang lebih baru
menyatakan:
“Democracy is everywhere praised, yet nowhere achieved. As an ideal, it has
become the dominant political aspiration in the world today. As a practice it
remains flawed, subject to new and serious challenges. Paradoxically it seems
that democracy at the beginning of a new millennium is at one and the same
time triumphant and in crisis”.27
26
Harold J. Laski, op., cit, hlm 295.
Ricardo Blaug and John Schwarzmantel (eds), Democracy: A Reader, Edinburg University Press
Ltd, 2001, hlm 1.
Demokrasi dijunjung dimana-mana, meskipun tidak tercapai dimanapun. Sebagai sebuah
idealisme, demokrasi menjadi aspirasi politik yang dominan di dunia saat ini. Sebagai sebuah
praktik, demokrasi masih mengandung berbegai kekurangan. Adalah berlawanan, pada awal
milenium demokrasi menjadi pemenang namun saat yang bersamaan mengalami krisis.
27
30
Secara institusional, banyak faktor yang ikut ambil bagian dalam menentukan
keberhasilan, kegagalan atau krisis demokrasi. Selain faktor-faktor dalam organisasi
negara itu sendiri (institusi politik dan institusi non politik), tidak kalah penting
adalah peran institusi – terutama institusi politik – di luar organisasi negara (partai
politik, civil society, pers, dan lain-lain).
Dimana peran partai politik? Seperti dikutip di atas, partai politik merupakan
unsur yang tidak dapat dipisahkan dalam penyelenggaraan negara. Partai politik yang
menyeleksi calon-calon yang akan duduk di badan perwakilan, calon presiden dan
wakil presiden, calon gubernur, bupati, dan walikota. Secara tidak langsung partai
politik berperan mengisi jabatan-jabatan yang diisi melalui “fit and proper test” oleh
DPR. Diharapkan juga, partai politik melakukan seleksi persoalan yang perlu
mendapat prioritas dalam penyelenggaraan negara dan pemerintahan.
Dalam kaitan dengan demokrasi agar partai politik berperan membangun,
memelihara, mengembangkan dan menjauhkan negara dari krisis demokrasi,
diperlukan partai politik yang demokratis. Demokratis disini diartikan, baik
institusional, mekanisme, maupun demokrasi sebagai nilai.
Bagaimana semestinya wujud partai yang demokratis? Lagi-lagi, memelihara
dan menjaga partai demokratis atau usaha demokratisasi partai menghadirkan
institusi, mekanisme, dan demokrasi sebagai nilai, tidak semata-mata urusan dan
tanggung jawab internal partai. Tidak kalah penting adalah sistem dan kenyataan
politik, sosial, ekonomi, maupun budaya.
Seandainya keadaan dan kenyataan partai politik seperti yang dicatat di atas
itu benar atau setidak-tidaknya ada “nuansa” semacam itu (seluruh atau sebagian),
memang dihadapi tuntutan mewujudkan partai yang demokratis. Untuk itu perlu
upaya demokratisasi partai.
Dalam demokrasi tidak semestinya ada “ketergantungan yang mempribadi”.
Institusi dan mekanisme harus “impersonal dan zakelijk”, jauh dari oligarkisme. Untuk
mewujudkan hal tersebut, partai harus memiliki platform perjuangan yang terbuka
dan jelas yang meliputi garis-garis ideologis (sesuatu yang menjadi cita-cita dan
tujuan), mempunyai “coherent policy” dan comprehensive program yang akan
diperjuangkan dan dilaksanakan dalam mewujudkan cita-cita bangsa dan negara.
31
Garis-garis yang bersifat ideologis tidak selalu dalam makna doktrin, tetapi landasanlandasan ideal yang akan menjadi bintang pemandu partai.
Pertama; meskipun dalam suasana demokrasi ada keterbukaan membentuk partai,
tetapi sesuai dengan sebutannya sebagai partai politik, memang tidak mungkin
terlepas dari peran ikut serta atau berusaha mempengaruhi pengelolaan negara.
Tetapi kehadiran partai yang demokratis tidak semata-mata mendudukkan orang
partai dalam pengelolaan negara (partai sekedar alat berkuasa), tetapi bertanggung
jawab mewujudkan asas, kaidah, cita-cita dan tujuan bernegara. Selain ada tuntunan
yang bersifat ideologis atau doktrin yang bukan sekedar filosofischegrondslag,
coherent policy dan comprehensive program, setiap partai harus menjalankan.
Kedua; partai politik – baik sebagai pranata demokrasi maupun sebagai pengelola
demokrasi – harus menjunjung tinggi demokrasi sebagai nilai yang berisi, antara lain,
keterbukaan (openness), kepemimpinan demokratis (baik dalam rekuitmen maupun
dalam menjalankan kepemimpinan), ada mekanisme kontrol publik, dan bertanggung
jawab, menjauhi spoil system dan mengutamakan merit system.
Ketiga; rekruitmen pendukung partai. Partai tidak sekedar sebagai wadah melahirkan
dan membentuk politisi, melainkan harus melahirkan negarawan, sekurangkurangnya politisi yang memiliki kenegarawanan, yaitu pemimpin yang bertanggung
jawab dan senantiasa berpihak kepada publik. Pendukung partai atau rekruitmen
mendukung partai tidak sekedar secara nominal sebagai “orang partai”, secara
materil hanya mengejar kekuasaan. Akibatnya, tidak ada disiplin partai, lompat pagar
sesuai dengan peluang. Negarawan, disiplin, dan bertanggung jawab kepada publik
harus ditempatkan sebagai kewajiban setiap orang partai. Kewajiban hanya akan
terlaksana sebagaimana mestinya apabila ada kesadaran menjunjung etika. Pada
tingkat terakhir, ketaatan pada tuntunan etikalah yang akan menentukan kualitas
demokrasi. Selama tuntunan etika dijunjung tinggi, selama itu pula pranata,
mekanisme, dan nilai demokrasi akan tetap tegak dan berfungsi. Itulah beberapa
faktor internal yang akan menopang upaya demokratisasi partai politik.
Keempat; peran partai politik sebagai “the broker of ideas” dapat meningkatkan mutu
bangsa menjadi bangsa yang maju dan sejahtera. Kita mengenal banyak konsep,
banyak teori membangun bangsa yang berkualitas, maju dan sejahtera, tidak
terkecuali dalam demokrasi. Untuk memungkinkan menentukan pilihan, selain
32
partisipasi publik, partai politik harus dapat menjadi perantara, bahkan sumber ide
membangun bangsa yang bermutu, maju dan sejahtera secara demokratis. Hal ini
hanya mungkin terjadi apabila partai politik dalam suasana demokratis, seperti
keterbukaan, responsif dan senantiasa berorientasi pada kepentingan publik. Dalam
peri kehidupan yang demokratis, harus tumbuh keinsyafan bahwa kekuasaan
bukanlah tugas, tetapi alat untuk mewujudkan cita-cita publik cq cita-cita bernegara,
yaitu masyarakat “gemah ripah loh jinawi, tata tenterem kerto raharjo”, masyarakat
sejahtera, adil dan makmur.
Bagaimana faktor eksternal? Sejauhmana faktor eksternal mempengaruhi
demokratisasi partai politik?
Pertama; faktor politik cq sistem politik.
Dapat terjadi, penggunaan suatu instrumen demokrasi justru menghambat
perkembangan demokrasi. Pada kesempatan ini akan disinggung “sistem kepartaian”
dan “sistem pemilihan umum”.
1. Sistem kepartaian
Sejak masa kolonial, Indonesia menjalankan sistem sistem partai banyak atau
multi partai. Begitu pula di masa merdeka (sejak Maklumat Pemerintah bulan
November 1945). Herbert Feith menyatakan, para Founding Fathers demikian
pula selanjutnya, memang menghendaki sistem partai banyak. Mengapa?
Secara
universal,
ada
anggapan
partai
banyak
lebih
demokratis,
memungkinkan partisipasi rakyat secara lebih luas. Bagi rakyat Indonesia
yang baru mengenal tanggung jawab politik, ditengah-tengah keterbelakangan
dan kemiskinan, kehadiran partai banyak malah membingungkan dan
menimbulkan ketidakpastian memilih partai-partai yang benar-benar (akan)
memperjuangkan nasib rakyat. Rakyat bukan subyek, melainkan sekedar
obyek legistimasi kekuasaan.
2. Sistem pemilihan umum.
Sejak 1955, Indonesia menerapkan sistem pemilihan umum proporsional,
mulai dari yang “murni” sampai ke berbagai bentuk modifikasi. Telah
dikemukakan
sistem
pemilihan
proporsional
tidak
mendorong
penyederhanaan kepartaian, melainkan makin banyak partai. Sejak Reformasi,
setiap kali pemilihan umum selalu hadir partai baru. Ada pendapat ekstrim,
33
mereka yang terpilih melalui sistem proporsional tidak benar-benar mewakili
pemilih. Pemilih tidak mengenal mereka. Karena itu, kecuali mereka yang
benar-benar sebagai “the budding politician” atau “the budding statemen”, tidak
akan mempunyai atau membawa gagasan untuk diperjuangkan. Keadaan ini
makin dipersulit jika tidak ada demokrasi dalam partai politik. Calon yang
kemudian terpilih menjadi wakil, semata-mata atas kehendak dalam
lingkungan oligarki partai, baik atas dasar spoil system atau orang-orang yang
dapat mengumpulkan sebanyak-banyaknya suara (karena memiliki panggung
publik). Di sejumlah negara, misalnya Belanda, sistem proporsional
menghasilkan wakil-wakil berkualitas. Selain karena calon berkualitas, juga
sangat ditentukan oleh tatanan partai yang demokratis. Baik ditinjau dari
tatanan kepartaian, kualitas publik, dan kualitas calon, semestinya bukan
sistem proporsional yang dijalankan. Tetapi hampir dapat dipastikan,
perubahan sistem pemilihan umum sulit diterima karena berkaitan dengan
eksistensi partai.
Kedua; faktor sosial-budaya.
Dalam makna politik, faktor budaya dan sosial kita sekaligus mewarisi tatanan
demokrasi (kehidupan desa) dan feodalisme. Ditengah-tengah kemiskinan dan
keterbelakangan, disertai orientasi kekuasaan yang makin menguat, unsur-unsur
demokrasi makin surut. Feodalisme yang disertai kecenderungan otoritarianisme
makin nyata. Rakyat bukan participant, tetapi sekedar obyek mobilisasi.
Ketiga; faktor ekonomi.
Ekonomi disini bertalian dengan kesejahteraan umum (public welfare). MacIver
dalam bukunya The Web of Government mengatakan demokrasi tidak akan
berkembang pada masyarakat yang terbelakang dan miskin. Sedangkan Engels pada
saat pemakaman Marx menyampaikan: “…that human being must first of all eat, drink,
shelter and cloth themselves before they can turn their attention to politics, science, art
and religion”. Adam Smith sebagai penggagas kapitalisme liberal menyatakan: “No
society can surely flourishing and happy, of which by far the greater part of the number
are poor and miserable”.
Demokrasi, termasuk demokrasi partai politik tidak mungkin berkembang
dalam masyarakat yang miskin, terbelakang, dan papa. Kalau kita berharap
34
demokrasi, termasuk demokrasi dalam partai politik berkembang, program
membangun kesejahteraan umum merupakan suatu kemestian.
Terima kasih
Penutupan : oleh MC
35
SEMINAR KONFERENSI NASIONAL HUKUM TATA NEGARA KE-3
TANTANGAN DEMOKRASI INTERNAL PARTAI POLITIK
Hotel Novotel Bukittinggi. 6 September 2016
Pembukaan oleh MC
KEYNOTE SPEECH
Dr. Yassona H. Laoli.
Menteri Hukum dan HAM Republik Indonesia
Yang kami hormati menteri hukum dan ham sumbar, para senior dan peserta
konferensi yang kami banggakan, bapak ibuk hadirat yang kami muliakan.
Puji dan syukur kepada Allah SWT Tuhan YME keberkahan dan kesehatanyang
menghadiri KHTN.
Sebelum dimulai mari kitadengarkan perancangan demokrasi internasional partai
politik bersama mentri hukum dan ham RI Bapak Simon Laoli, kepada bapak kami
persilahkan dengan segala hormat.
Assalamualaikum Wr Wb
Salam sejahtera untuk kita semua. Yang saya hormati direktur pusako Prof. Saldi Isra
dan segenap panitia penyelenggara, dari Fahmi Idris, dan hadir disini, ketua IFES
Belanda Prof. Hans Kummeling thank you for coming sir, pembicara yang hadir
pembicara yang hadir Mr……… thank you for coming. Pak dekan FH, pak Tadung
Mulya Lubis yang hadir dan seluruh hadirin yang saya muliakan dan terkhusus para
peserta KHTN ke-3 pada hari ini kita ucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa
karena atas ksrunianya kita dapat bertemu disini untuk menghadiri acara KNHTN ke3. Kmi menyambut baik atas kegiatan hari ini, mandate konstitusi UUD RI 1945 telah
menegaskan bahwa kedaulatan berada ditangan rakyat dan dilaksanakan menurut
UUD sesuai bab 7B pasal 2E ayat 3…………adalah parpol pemilihan umum terhadap
kepala negara dan kepala daerah adalah parpol bukti dari penegakan embrio
demokrasi, parpol juga merupakan orang yang bersifat nasional dan dibentuk oleh
36
sekelompok WNI secara sukarela atas dasar persamaan kehendak dan cita”
perjuangan kepemimpinan maupun anggotanya, masyarakat bangsa dan negara serta
maupun anggotanya, serta memelihara kesatuan RI, berdasarkan pancasila danUUD
1945.
Dan partai politik baik secara konstitusi, baik pada tingkat kab/kota provinsi,
nasional, program rakyatnya adalah medium untuk reqruitment parpol. Pada
umumnya parpol di Indonesia, itu difungsikan sebagai mesin politik untuk merebut
kekuasaan sedemikian rupa. Namun saat ini perpolitikan Indonesia menganut asas
prinsip modern, sebagai sebuah partai yang mengapresiasikan kepentingan
masyarakat mengenyapingkan kepentingan berpolitik dalam bentuk demokrasi
kebijakan menjadi senuah agenda yang bisa mendapat dukungan rakyat disaat
pemilu.
Bapak ibuk sekalian yang saya hormati, pembaharuan partai politik di Indonesia
merupakan cita-cita yag ideal, dan akan lebih baik ketika parpol menjadi lebih baik
suksesi kepemimpinan dan proses kaderisasi parpol saat banyak bergantung pada
figure tertentu dan juga pola demokrasi yang seharusnya sudah mulai bergeser
menuju kea rah yang lebih terbuka lebih demokratis, lebih kompetitif, dan
berdasarkan demokrasi. Disisi lain pola demokrasi yang terpusat saat mengambil
keputusan akan bergantung pada figure yang berada dipucuk pemimpin pusat, hal ini
akan sangat berpengaruh pada moralisasi kader, atau calon wakil rakyat yang
menjadi salah satu factor kunci dari pembangunan parpol.
Kita melihat pembaharuan ini dari tingkat kab/kota/daerah, provinsi maupun tingkat
nasional, kualitasnya yang sebetuknya diperlukan. Saya melihat terjadi kecendrungan
penurunan kualitas dari pada parpol ini berbelit-belit.
Saya kira perlu sumbangan pikiran dadi bapak ibu sekalian bagaimana membuat
demokrasi yang dilahirkan dari partai” politik bangsa baik dari segi kualitas SDM dan
jugasoal integritas dan idealism dalam memimpin bangsa dan negara, selanjutnya
dalam kajian nasionalism public yang terdapat dalam hal ini sudah diatur dalam UUD
1945, AD dan ART masing” dari parpol yang berada ditangan dan juga dimungkinkan
dalam aturan dasar rumah tangga parpol yang diatur oleh pusat baik secara symbolis
37
maupuntidak. Artinya, ada perlu penegasan pengaturan dalam AD ART parpol
termasuk saya kira didalamnya, melihat perkembangan parpol melalui UU parpol
perlu kita pikirkan bersama. Kedewasaan parpol dalam menyelesaikan konflik
internanya barangkali juga kami punya pengalaman seharusnya parpol yang sudah
dipilih harus mampu menyelesaikan persoalan internalnya. Hari ini juga adasatu
parpol yang hamper sama persoalannya melahirkandua produk.
Tapi saya ras perlu pengaturan kembali secara terbaik, saya terlibat melahirkan UU
parpol, terimakasih pak senior melahirkan UU parpol yang membentuk mahkamah
partai yang mengatasi persoalan dasar konflik internal. Parpol sebelumnya dengan
tidak mempengaruhi ekonomi, saya mengambil referensi itu lahir dari pemikiran kita
sehingga kita membentuk mahkamah parpol, dalam kasus baik p3 maupun golkar,
penyelesaian melalui mahkamah partai politik juga menimbulkan persoalan oleh
karenanya barangkali dalam proses ini perlu kita tekankan bersama tidak hanya
dalam UU.
Dalam proses pengambilan keputusan dalam parpol baik DPR maupun presiden dan
wakil presiden, calon kepala daerah dan wakil kepala daerah masih terdapat
perbedaan pendapat yang tajam, antara pengurus 1 dengan yang lainnya, juga antara
pusat dan daerah. Hal ini mengajukan pada kita bersama bahwa mechanism
pengambilan keputusan dalam parpol dalam kepengurusan mengatakan adayang
dimaksud dan fair.
Bapak ibu sekalian perlu juga saya sampaikan mengenai sengketa parpol, saya kira
bisa dalam perbedaan pendapat pengurus, penyelesaianya melalui internal partai
ataupun melalui jalur internal partai yang berlarut-larut diharapkan diselesaikan
dengan adil dan demokrasi.
Tetapi pengalaman seperti itu selalu penyelesaian internal itu menyangkut kadanngkadang tidak hanya hubungan pusat daerah disatu politik mempunyai dua tingkatan
pada tingkatan nasional dan pada tingkatan provinsi pada tingkat kab/kota.
Seharusnya parpol yang aktif dan modern.
Pengalaman saya juga hanya system terbuka yang menimbulkan persaingan yang
lebih hebat dari kerjasama. Persaingan internal partai lebih tajam daripada persoalan
38
antar internal partai politik. Sehingga apa yang terjadi, banyak pertarungan” yang ada
dibeberapa daerah.
Kalo kita lihat parpol yang baru yang berbicara tentang idiologi partai yang sedang
gencar mengambil reqruitment anggota” baru dan saat ini masih ya partai” baru
misalnya dan dipertimbangkan sebenarnya masuk parpol karna idiologi parpol atau
apa. Jadi sebenarnya masuk parpol karena idiologi parpol atau apa jadi sebenarnya
banyak pertanyaan” yang membuat kita bertanya. Memperjuangkan kekuasaan
politik yang hendak diraih ini soal” yangsaya kira, filosofinya harus kita jawab.
Dalam hal ini saya kira bapak ibu apa yang saya sampaikan beberapa hal tentang
penegasan pembaruan parpol dan pembahasan UU parpol, harus dirumuskan
terbentuknya UU yang sesuai dengan konteks penegakan parpol. Jadi dasar suatu
pembentukan system politik juga memiliki moralitas, relevan ddengan system parpol.
1. Pengambilan keputusan yang demokratis, transparan dan adil. Saat ini parpol,
saat ini seharusnya parpol benar” menjadi wadah bagi pengurus parpol,
demokrasi khususnya yang tergabung dalam parpol.
2. Penyelesaian sengketa parpol untuk menyelesaikan perselisihan parpol.
3. Dalam konteks pemikiran rakyat, parpol yang punya visi platform yang jelas
bagi masyarakat.
Ada beberapa yang memiliki sekolah parpol perlu untuk pengkaderan parpol. Dan
ada juga pertarungan antar popularitas, lebih mementingkan popularitas dari
kumpulan parpol menjadi magnet saat pemilihan kita perlu memikirkan secara
baik.
Orang” yang baik akan tersingkir jika tidak punya moralitas, kalau kita lihat baik
pemilihan pemimpin maupun presiden yang punya pemahaman yang cukup.
4. Mempertimbangkan keputusan MK dalam pemilihan calon-calon pemimpin
rakyat harus diusulkan oleh parpol, sehingga dapat terlaksana dengan baik.
Barangkali konferensi ini perlu juga nelahirkan bagaimana melaksanakan
pemilihan umum. Pelaksanaan pemilu yang dilakukan didaerah yang utamanya
pemilihan” legisllatif pada tingkat partai, dibanyak daerah, barangkali semua
39
daerah pertarungan parpol benang” hal yang panas dalam merebut kuasa pada
tangan kecamatan.
Saya kira ini banyak persoalan yang saya hadapi dipastikan tidak jarang anggota
DPRD tidak memperoleh kursi parpol. Jadi kalau sudah ada koalisi, kita semua perlu
menyaksikan persoalan” seperti ini, itu jamak terjadi dari beberapa teman” parpol.
Bapak ibu sekalian kiranya pada kesempatan ini saya ucapkan terimakasih kepada
ketua pelaksana KNHTN dan pemberian Anugerah Konstitusi M. Yamin serta
memberikan kesempatan kepada saya untuk memberikan keynote speech kepada
saya. Semua dari kita mendapatkan pengakuan yang bermanfaat juga bagi bangsa dan
negara.
Terimakasih atas perhatiannya.
Assalamualaikum Wr Wb
40
SEMINAR TANTANGAN DEMOKRASI INTERNAL PARTAI POLITIK
Moderator
: Prof. Dr. Yuliandri,S.H.,M.H
Narasumber :
-
Prof Dr. Saldi Isra,S.H (Guru Besar Hukum Tata Negara Fakultas Hukum
-
Prof. Dr. Syamsuddin Haris (Kepala Pusat Penelitian Politik (P2P) LIPI)
-
Dr. Fahmi Idris (Politikus Senior Partai Golkar)
-
Universitas Andalas)
Laode M. Syarif. PhD (Pimpinan KPK)
Moderator : Penyerahan cendera mata kepada Bapak Mentri Hukum dan HAM, oleh
Bapak Dekan Fakultas Hukum Universitas Andalas.
Bapak Mentri yang kami hormati, dan hadirin yang kami muliakan. Marilah kita
melangkah ke acara utama, seminar Konferensi Nasional Hukum Tata Negara.
Mari kita perkenalkan narasumber pada hari ini,
1. Bapak Dr. Fahmi Idris
2. Bapak Dr. Syamshudin Haris
3. Bapak Prof. Dr. Saldi Isra
4. Sementara yang memancing diskusi adalah Bapak Prof. Dr. Yuliandri SH, MH
Kepada para pembicara dan pemancing diskusi dipersilahkan. Dan selanjutnya acara
akan saya serahkan kepada saudara moderator, Bapak Prof. Dr. Yuliandri SH MH,
silahkan Prof..
Prof. Yuliandri:
Terimakasih,
Assalamualaikum Wr, Wb.
Hadirin peserta seminar KNHTN pada pagi ini, langsung saja kita serahkan kepada
narasumber untuk memberikan 10 hingga 15 menit untuk pemaparan pemikirannya.
Tapi sebelum itu kita undang terlebih dahulu saudara Fery Amsari untuk
menyampaikan secara ringkas hasil penelitian dari Pusako Unand yang berkaitan
dengan konferensi ini. Silahkan kepada saudara Fery…
41
Fery Amsari: (Penyampain Laporan Hasil Penelitian PUSaKO)
Bismillah hirahmanirrahim
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabara khatuh
Ibu / Bapak sekalian yang saya hormati, saya mewakili team yang terdiri dari Bapak
Kairul Fahmi, Bapak Charles Simabura, itu dia dua paling belakang yang jelek.
Kemudian saya mewakili Prof. Saldi Isra. Dua hal yang membedakan saya dengan prof
Saldi adalah beliau adalah seorang professor tetap sedangkan saya adalah seorang
profokator tetap. Untuk itu izinkanlah saya menyampaikan hasil pemikiran kami
bersama dan penelitian dari Pusat Study Konstitusi.
Kita melakukan study dibeberapa daerah di Indonesia. Di NTB, di Jogja, di Pontianak,
dan beberapa wilayah lain di Indonesia yang bisa bapak ibu lihat dalam hasil
penelitian yang akan kita share didalam flash disk.
Penelitian ini harapannya adalah ada 5 point yang harus kita penuhi sesuai dengan
tingkatannya ;
1. Memacu perspektif bahwa parpol sangatlah penting bagi kita. Nasib kita
ditentukan oleh Partai Politik.
2. Melalui penelitian ini kita harapkan adanya dukungan moral pemerintah
terhadap parpol melalui negara maupun badan hukum partai itu sendiri.
3. Adanya transparansi parpol. Jika sebuah parpol ingin memiliki banyak
dukungan dari public, tentu parpol harus memiliki transparansi.
4. Timbulnya demokrasi internal partai. Jika suatu negara ikut terlibat, tapi
parpol tidak demokratis, maka akan banyak kerugian yang menimpa partai
politik terseut.
5. Partai politik diharapkan benar-benar hadir ditengah-tengah masyarakat dan
menjadi wadah demokrasi penyampaian aspirasi public dimasyarakat, dan
lembaga perwakilan.
Hasil penelitian dibeberapa daerah itu intinya terdiri dari partai politik, anggota
partai politik, masyarakat, dosen, dll, lengkaplah disana, yang paling banyak adalah
LSM 64 persen, partai politk dan anggota [partai politik mencapai 36 persen.. ada
ebberapa hal yang akan kita singgung, dan itu berkaitan dengan tema kita padahari
ini dan diharapkan mampu memacu demokrasi internal partai politik., dimana
42
1. Yang pertama, partai diharapkan melakukan demokrasi atau membuat system
demokrasi dalam pemilihan ketua.
2. Kedua, melakukan demokrasi dan pembentukan karakterr calon pemimpin,
kepala daerah, bisa kita terapkan diparpol. Bukan dengan kandidat yang
memiliki uang terbanyak kemudia mereka dapat maju sebagai kepala daerah.
Kita juga melihat bagaimana partai menentukan kandidat legislative.
Pemilihan prresiden, bagaimana kedepannya partai dapat menentukan
kandidat calon-calon mentrisecara demokratis.
3. Kemudian bagaimana partai betul-betul mampu menyelesaikan segala
persoalan sengketa internal partai, sehingga demokrasi benar-benar hidup
didalam partai.
Apa yang terjadi saat ini, ibu bapak kita ketahui bahwa ada UU yang begitu
meresahkan kita semua bagi parpol, hukum tata negara, dan orang politik,
bahwasannya sengketa partai dilakukan oleh mahkamah partai, kecuali yang tidak
puas boleh melakukan banding keluar. Final dan binding tapi kok pakai kecuali. Ini
satu-satunya yang terjadi.
Ada yang mengahrapkan, mencalonkan diri, harapan banyak orang adalah adanya
pemilihan pengurus partai yang tidak ditangan satu orang yaitu orang yang
mencalonkan melalui pemilu pilkada, pilpres, harus menjadi anggota partai politik
tertentu.
Orang-orang tertentu, yang tidak mengecewakan partai politik, baru bisa
mencalonkan diri. Itu syarat-syaratnya, sudah disalin ke flashdisk, nanti silahkan
diperdebatkan.
Next. Ini tentang mekanisme mencalonkan diri. Dengan berbagai konsep, konsep pak
JK atau konsep pak JOKOWI.
Pemilihan calon presidennya, mau konferensi tapi malah tidak seperti konferensi.
Berikutnya ini yang kita tanyakan kepada peserta kita untuk diperdebatkan, prelukan
prinsip hukbungan pusat dengan daerah? Sebaiknya dijawab Ya. Sebagian besar
dijawab Ya. Apa prinsipnya?
Apakah hubungan partai politik itu tersentralistii atau otonom? Itu yang menjadi
pertanyaan kiota adalah hasil dari mayoritas partai adalah otonom, ini sola debat,
43
siapakah yang berhak menyelesaikan masalah internal parpol? Ada kemudian yang
menyerahkan kemahkamah partai, sehingga dilakukan penyelesaian secara internal.
Berikutnya,
Soal keuangan partai. Sebagian menjawab melalui APBN Anggaran negara. Sebagian
lagi mengatakan berasal dari iuran anggota. Ini bisa mix antara APBN dengan iuran
anggota.
Berikut, kalau dari hasil penelitian Prof. Ramlan, Fahmi idris, Parpol diharapkan
dibiayai oleh negara. Apa konsekuensinya? Partai politik harus terbuka. Melaporkan
untuk apa dana partai politikm di gunakan? Apakah wajib dilaporkan/ dan sebagian
besar mengatakan Ya. Dan ini merupakan partai poltik sendiri yang menjawabnya.
Saya kira itu dulu, terimakasih, assalamualaikum Wr. Wb.
Prof. Yuliandri:
Saya persilahkan kepada pembicara pertama:
Demokrasi parpol Indonesia, saya kira bisa kita mulai dari permasalhan dokumen
Hak Asasi Manusia, demokrasi saat ini, pemilihan umum merupakan salah satu
tindakan kita dalam berdemokrasi.
Ada permasalhan serius. Persepakatan mengenai ideology negara pada saat itu,
melakukan manufer. Kalau diberi perpanjangan waktu, maka perlukan perundinganperundingan demokrasi dan pimpinan partai.
Pembukaan itu berdasarkan aturan yang ada melalui dokrin presiden era ini disebut
era pemerintahan sementara, dimana digunakan UUD 1950 saat itu, ideology system
pemerintahan.
Jadi apa yang saya ketahui, hanya ada satu dua partai politik yang mendeklarasikan
ideologinya secara kongkrit, mereka membagi ideology dasar dan ideology yang
dilakukan dalam proses perjuangan, selebihnya menepatkan pancasila sebagai
ideology parpol
Saudara sekalian, berbagai dinamika yang pernah terjadi dalam partai politik seperti
transsaksionalisme dan sebagainya. Padahal era 1945-1955 yang berkembang bukan
parpolnya. Tapi ideology yang dianut oleh mereka meniadakan hal itu, ada nilai-nilai
yang lebih utama, lebih tinggi menjadi dasar perjuangan.
44
Untuk mencapai impian, perlu dilakukan pemusnahan sifat-sifat yang merubah
kehidupan partai, kalau kita mau maju partai politik dan uang itu berat. Dan
kemudian pada tahap pemilihan anggota dewan juga begitu, tanpa uang tidak aka
nada keputusan-keputusan yang memungkinkan seseorang menjadi calon gubernur,
walikota, calon anggota DPR, dan sebagainya, perkembangan ini, negarea modern dan
kaya.
Ada istilah, membeli anggota dewan. Dalam satu partai terdiri dari fraksi-fraksi,
emmebli dengan harga cukup tinggi, terlibat korupsi. Konflik parpol memang sangat
signifikan, tapiitu tidak terbuka dan internal, tapi penyelesaian internal tidak
memuaskan sama sekali. Kita punya bayak cara utnuk menyelesaikannyapersoalan
parpol ini. Kita bisa menyelesaiakn persoalan ini bersama –sama. Dengan
melimpahkan berbagai gagasan-gagasan utama dalam penyelesaian senggeta parpol
yang semua itu sebenarnya bisa di dikte.
Cirri-ciri bagaimana presiden bisa didikte dengan baik, apakah itu tidak menjadi
permasalahn internal?
Terimakasih.
Prof. Yuliandri:
untuk yang kedua saya persilahkan kepada Prof. Dr. Syamsudin Haris. Seorang
peneliti dari LIPI. kepada beliau dipersilahkan dengan segala hormat.
Prof Syamsudin Haris:
Terimakaish prof. Yuliandri.
Assalamualaikum Wr. Wb.
Saya diminta untuk berbicara mengenai demokrasi internal partai politik beserta
tantangannya. Dalam diskusi kami masalah partai politik, ada dua pendekatan yang
bisa digunakan.
1. Melihat partai politik sebagai pilar utama dalam demokrasi kita
2. Melihat partai politik dalam system kepartaian yang berlaku.
Nah, kalau kita melihat partai politik sebagai pilar, apakah parpol bisa menjadi solusi
bagi kita? Bukan lagi sebagai persoalan yang kita hadapi.
45
Kader-kader partai politik kita yang menajdi pasien semakin mudah bermain
didalam. Itu dalam konteks kita melihat parpol sebagai pondasi, dimana kita melihat
partai politkk dalam system kepartaian. Dalam system partai yang kita anut.
Memfasilitasi terbentuknya system kepartaian pemerintahan yang berlandaskan
konstitusi presidensil, jadi apakah system multi partai sungguh-sungguh memang
efisien? Ini pertanyaan classic sesungguhnya.
Kita melihat partai politik sebagai patria system, sejauh mana kita melihat kompetisi
antar parpol, didalam sebuah system kepartaian. Sungguh-sungguh menghasilakn
orang-orang yang ebnar-benar bekerja utnuk rakyat, untuk kepentingan umum. Nah,
saya piker itu titik tolak kita dan saya dalam meyampaikan makalah ini, nah coba kita
liaht yang oertama.
Kita melihat permasalahn parpol itu komplek sekali. Serta apa yang sydah dimuatkan
oleh pemberitaan yang ada selama ini. Yang pertama adalah masalah ideology.
Masalah flatfom. Semua parpol punya ideology. Tapi ideology itu berhenti hanya
menjadi sebuah ideology yang tertulis, yang disimpan dengan rapi dikantor parpol.
parpol punya ideology, tapi hanya untuk memenuhi persyaratan undang-undang
bahwa harus punay AD/ ART dan seterusnya. Kadang sulit untuk membedakan
ideology anatra satu parpol dengan yang lainnya.PAN yang tidak mau diakui sebagai
partai Islamdan PKB sebagai partai Islam.
Parpol kita tidak memeiliki komitment dan moralitas. Betapa parpol itu kini dikelola
secara kaki lima, padahal mau jadi pemimpin bintang lima. Nah, kemudian yang tidak
kalah penting adalah potret kepemimpinnan yang personal. Sebagai pemimpin partai,
khususnya yang berposisi di ketua umum, adalah pemilik atau pemegang saham
terbanyak.yah kita bisa menyebut bahwa banyak partai yang demikian. Sehingga jika
mendiskusikan tantangan demokrasi masa depan, tantangan utama adalah
bagaimana mengalih kepemimpinan partai dari individu pemilik modal, menjadi
sungguh-sungguh demokratis. Karena bagaimana pun, seperti yang diamanatkan oleh
umdang-undang, parpol adalah badan hukum public yang tidak dimiliki oleh individu.
Yang sedang menjabat sebagai ketua umum. Nah, tantangan yang bisa kiat fikirkan
konteksnya demokrasi, mengambil alih parpol dari individu-individu pemilik modal
kepada anggota sesuai undang-undang.
46
Saya setuju dengan gagasan mengenai pembiayaan negara terhadap partai politik,
negara memberikan subsidi ini juga menyangkut konsteks pengambil alihan
kepentingan.
parpol tidak memiliki komitment atau moralitas yang jelas, pada umumnya parpol
tidur panjangn selama masa dua pemilu. Ketika pada saatnya pemilu terkaget-kaget.
Kadang dalam pencalonan bersifat instan. Padahal dalam politik membangun
masyarakat tidak mungkin dilakukan secara instan.
Problem internalisasi dan perwakilan. Suara vocal parpol membentuk kepentingan
politik dan kaderisasi. Parpol hanya punya link untuk menangani kaderisasi tapi tidak
dilakukan. Sehingga lagi-lagi parpol panic menjelang pilkada.
Contoh, fenomena PDIP dalam pencarian pemimpin DKI Jakarta 2017. Contoh yang
sangat jelas bagaimana parpol panic menjelang pemilu atau pilkada. Ada seleksi
internal, test bahkan wawancara, dan lain sebagainya. Tapi ini tidak dipakai. PDIP
mengundang maju yang berminat.
Kemudian juga ada indikasi sinyal bahwa PDIP juga mendukung pak Ahok untuk
maju. ini menunjukkan bahwa parpol dikelola secara kaki lima, padahal hendak
menajdi pemimpin bintang lima.
Problem yang tidak kalah penting adalah bagaimana kita mendesentralisasikan
otoritas parpol, ini harus disentralisasikan kepengurus wilayah tertentu. Bagaimana
pilkada calon yang berduit dengan yang dicari oleh masyarakat? Mana yang dipilih?
Tantangan lain adalah bagaimana supaya pemilihan kandidat pasangan calon itu
melalui tahap-tahap demokrasi, melalui konvensi atau pemilihan pendahuluan.
Saat ini LIPI bekerja sama dengan KPK menyusum peraturan kode etik bagi parpol
dan politisi.. apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Nah, mudah-mudahan kode
etik parpol itu bisa membantu.
Dalam konteks system kepartaian yang berlaku, sungguh-sungguh memfasilitasi hasil
pemilu yang demokratis. salahs atu upaya tentu saja bagaimana kita menata ulang
system pemilu kita.
Contoh, pemilu serentak 2019. Namun, sayangnya, skema 2019 sama dengan skema
2014 yang kini harusnya tidak demikian, dengan membedakan PJ nasional dengan
daerah.
47
Amanat UU no 10 tahun 2016 tentang pilkada, seolah sudah memfinalkan sebab
pilkada serentak nasional dianggarkan tahun 2024. Ini tantangan bagi kita dalam
mengingatkan pemerintah agar mengasuh kebijakan yang benar-benar sesuai
kebutuhan kita.
Demokratisasi partai poltiik itu hanya akan menjadi deretan keinginan. Jadi kita
harus mendesak pemerintah untuk melakukan pemabharuan dan perubahan.
Didukung televise, media, Pusat studi konstitusi, dan lain sebagainya.
Sekian, terimakasih.
Prof. Yuliandri:
Terimakasih Prof. Syamsuddin Haris. Terakhir kita minta pemaparan dari Prof. Dr.
Saldi Isra. beliau lahir di solok, sekarang sebagai guru besar Hukum Tata Negara
Fakultas Hukum Universitas Andalas. Baik, kami eprsilahkan dengan segala hormat,
Prof. Saldi Isra:
Baik, terimakasih Prof. Yuliandri, Bang Fahmi Idris, Prof. Samsudin Haris. Dan hadirin
sekalian yang saya hormati. Saya akan melanjutkan presentasi yang tadi disampaikan
oleh Ferry Amsari. Soal hasil penelitian. Karena kegiatan ini bermuara pada desain
undang-undang parpol.
Partai politik sesungguhnya, pekerjaan yang terkait masyarakat banyak. Oleh karena
itu bapak ibu sekalian, kita mendeteksi salah satu kelemahan mendasar dari UU
parpol yang ada saat ini dan sebelumnya UU parpol terlalu sulir mengatur soal-soal
yang memiliki implikasi luas terhadap public.
Terlalu banyak aturan dalam parpol yang pada akhirnya mendelagasikan urusan –
urusan parpol yang mengatur pengelolaan urusan public kedalam anggaran dasar
dan ART parpol. Yang kita tahu kalau kongres parpol mereka hamper tidak serius
mengatur substansi AD/ ART nya.
Biasanya beitu kongres selesai, terpilih ketua umum atau sekretaris umum, kongres
dianggap selesai. Tidak ada diskusi bagaimana partai bisa menggali ketentuan parpol
agar bisa mencapai tujuan partai poltiik dan oleh karena itu kita melakukan
48
pendesainan baru yang nanti kami pikirkan. Di rencana UU parpol adalah
memberikan wilayah yang jauh lebih detail kepada pengaturan soal-soal parpol, ajdi
memang ada wilayah yang kita serahkan ke parpol, tapi ada wilayah yang detail
diatur dalam UU.
Misalnya kalau bkita bicara soal point yang disampaikan oleh Ferry Amsari, hasil
penelitian sementara itu, soal bagaimana mendesentralisasikan parpol. Yang disebut
oleh semua pembicara. Pembicara mentri hukum dan HAM, bapak Fahmi Idris, dan
Prof. Syamsudin Haris, desentralisasi menajdi kebutuhan yang tidak dioatur. Kita
bicara desentralisasi. Tapi partai politik yang menjadi penggerak negara tidak mau
mendesentralisaskan kewenakan kepartaiannya ke yang lebih rendah.
Contoh, bukti ketika mencalonkan, itu tidak selesai urusannya hanay di kabupaten
dan kota saja. Dan tidak selesai dipengurus tngkat provinsi saja. Namun hingga
pengurus tingkat pusat. Itu prinsip yang ahrus dibuat lebih detail dan pernak-pernik
nya diatur dalam anggaran dasar dan ART parpol.
Jebakan yang ada hari ini adalah, pemimpin yang dihasilkan bukan orang yang bisa
menjawab kebutuhan politik pada hari itu. Disitu peran UU bagaimana membuat
desain bagaimana tidak hanya mencerminkan keinginan partai tapi juga keinginan
public, serta pengurus partai.
Contoh lain, yang menurut penelitian pusako sangat penting, yaitu soal keuangan
parpol. Kami berfikir soal keuangan harus didesain tingkat UU parpol. Jadi untuk
mengatur keuangannya harus diatur sedemikian rupa. Untuk mencegah penanam
modal menguasai parpol, jadi dana APBN itu harus jadi lebih besar kepartai poltiik.
Sekarang dana yang ebrasal dari partai politk kan luarbiasa kecil, dan jika dana itu
saja yang diharapkan parpol, parpol bisa apa?
Kami merencakan ada dua system keuangan partai politik yang dating dari APBN,
1. Alokasi pertama adalah kalau partai politik yang lolos menjadi peserta
pemilihan umum, maka semua partai itu akan mendapatkan jumlagh dana
yang sama untuk semua partai. Dan kita coba menghitung, paling tidak dana
itu dapat memenuhi paling tidak 50 – 60 persen dari kebutuhan parpol untuk
pelaksanaan keseharian partai poltik. Angkatnya masih kita diskusikan. Itu
49
yang pertama, jadi kalau ada 10 partai politik menjadi peserta pemilu, jadi itu
dianggarkan sama juga untuk semua parpol.
2. Dana yang didapat di APBN tergantung hasil pemilihan suara dipemilu itu
nanti yang membedakan dana yang diperoleh oleh sartu partai dengan partai
lainnya. Karna hitungan nya adalah jumlah suara yang diperoleh dalam
penghitungan suara di pemilu legislative.
Dengan dua system ini Bapak / Ibu sekalian, kita menganggap sekitar 75 – 80
persen kebutuhan partai politik bisa terpenuhi. Sisanya baru dicari oleh partai
politik. Dan mana sumber yang halal itu pun ditentukan secara tegas didalam UU
partai Politik. Tapi kami tidak berhentiu disitu, bang Mahfud, kalau dana yang
masuk dari APBN dengan jumlah yang banyak dalam partai politik, mengelolaan
keuangannya pun harus jauh lebih baik, bagaimana caranya? Kita merencanakan
misalnya, ini masih dalam tahap perdebatan, disetiap kepengurusan DPD itu ada
orang dari badan pemeriksa keuangan. BPKP yang dimiliki oleh pemerintah yang
kemudian dipekerjakan di DPD partai politik untuk pengontrol semua dana yang
berasal dari apbn. Jadi bukan per partai lagi. Ini merupakan kecendrungan semua
negara agar proses keuangan partai poltik menjadi lebih baik. Orang BPKP
didistribusikan ke lembaga-lembaga negara.
ita berfikir partai politk melakukan apa yang harus dilaklukan oleh lembaga
negara. Kemudian pengeluarannya itu dikontrol oleh orang yang ditugaskan oleh
negara dipartai politik itu. Karena apa? Proses pengawasan negara itu juga akan
bermuara pada penilaian terhadap partai politik, apakah dia bisa memenuhi wajar
tanpa pengecualian atau Wajar dengan pengecualian, apakah didiskualifikasi lain?
Kalau uang negara yang banyak itu sudah digelontorkan kepada partai politik,
harus ada transparanitas dan implikasi hukum. Apa misalnya? Partai secara
berturut-turut, dua atau tiga tahun, dalam periode lima tahun, laporan
keuangannya disliner, dia kehilangan hak untuk menjadi peserta pemilu
berikutnya.
Nah, uang yang banyak itu diikuti dengan hukum yang baru, agar partai bisa
mengelola dengan baik, karena prinsip – prinsip pengelolaan keuangan negara itu
50
akan di ikuti oleh partai politik. Nah, inibisa menjadi isu yang mungkin bisa segera
di cermati oleh partai politik, tapi soal penegakan hukumnya, kita pastikan
terlebih dahulu. Kita menyadari bahwa masih banyak kekurangan dari gagasan
ini.
Kita tidak mau kehilangan uang dengan jumlah yang banyak jika kemudian tidak
ada sanksi yang diterapkan terhadap partai poltik. Nah, kira-kira inilah
rancanangan baru refisi undang-undang yang nanti akan kita siapkan. jadi setelah
pertemuan ini, kami akan mempersiapkan apa, naskah akademis itu, lalu sebagian
kita nanti akan dilibatkan lagi dalam mendiskusikan lebih lanjut sebelum nanti
diserahkan kepada mentri Hukum dan Ham, Mentri dalam negeri, dan kita juga
akan melibatkan partai-partai politik untuk mendiskusikan gagasan ini, sembari
mendeskripminasi hasil penelitian ini kepada partai poltik. Kalau ini bisa di
dilakukan, kita berharap partai politk bisa tumbuh menjadi jauh lebih sehat. Jadi
annti ada dana APBN yang kalau di salurkan ke DPP itu nanti akan didistribusikan
kepada pengurus ditingkat provinsi dan kabupaten dan kota juga. Tapi ada juga
beban dari APBD provinsi kabupaten kota terhadap kepengurusan partai yang
eksis di daerah tersebut, jadi Bapak / Ibu sekalian, kami percaya kalau ini buisa
dilakukan kita punya mesin pemotong yang tajam untuk mengurangi pengaruh
para pemodal masuk ke prtai poltik, sepanjang desain baru ini bisa di kelola
dengan baik dari A-Z, artinya uang diluncurkan banyak tapi juga ada sanksi yang
dibebankan kepartai politik.
Nah, itu saya sengaja mendetail pengaturan ditingkat UU. Soal keuangan partai
politik itu kita atur hamper selesai ditingkat UU. Jadi diranah AD/ART akan kita
batasi sedemikian rupa. Kira-kira itu yang akan kami lakukan kedepan. Terima
kasih, Assalamualaikum Wr, Wb.
Prof. Yuliandri :
Terimakasih Prof. Saldi atas penjelasan lanjut mengenai hasil penelitian yang
dilakukan oleh pusat studi konstitusi.
51
Baik untuk selanjutnya kita masih punya waktu sekitar lima belas menit, kita beri
kesemoatan untuk dua pertanyaan. Disebelah kiri ada sau, kemudian di tengah,
mohon singkat aja, silahkan, sebut nama dan asalnya dari mana
Penanya 1:
Nama : Inna Junainah
Asal
: Fakultas hukum Universitas Pajadjaran
Terimakasih pak yuliandri. assalamualaikum Wr. Wb. Nama saya Inna Junainah dari
Fakultas hukum Universitas Padjajajaran. Saya menagkap tadi memberikan sejumlah
anggaran yah, yang jadi pertanyaan saya, barangkali untuk form yang sementara,
sepertinya ini solusi yang baik yang dibentuk oleh Prof. Saldi. tapi apakah apa yang
dianggarrkan negara itu ada resikonya ? sampai disini saya melihat kalau semua
diberkan anggaran yang cukup besar, apakah ini tidak akan menjadikan partai politik
sebagai infrastruktur baru ? kemudian yang kedua apakah perlu cleanitasi waktu dan
substansi? Saya agak kawatir dengan komitment partai politik yang masih kurang,
saya kawatir juga kalau dengan skema yang tadi, uang APBN berkurang, mainan
politik didalam pun ada. Rrancangan UU nya pun pada akhirnya supremasinya dari
partai politik. itu konsekuensi ditingkat parlemen. saya perlu penegasan skema yang
dikeluarkan prof saldi. Terimakasih prof.
Penanya 2:
Nama : Siryajudin
Asal
: Fakultas Hukum Setiadarma Malang
Terimakasih. saya kira menarik sekali apa yang disampaikan oleh para pembicara.
Saya melihat soal partai politik dari pengurusan, sengketa dan sebagainya adalah
ranah oligarkis kepartaian hari ini. Yang menjadi pertanyan besar adalah apakah
bagaimana disisi lain kemudian kita ingin membangun akuntalibitas transparansi
mobilitas partai politik, sementara rakyat sudah cukup apatis dengan keeberadaan
partai poltik. Jadi ketika rakyat ditanya pendapatnya tentang hal begini, sementara
rakyat sudah apatis dengan partai. Nah sementara kita ingin membawa partai itu
52
kepada pemilik partai dan pemilih itu snediri. Nah, terkait dengan itu tadi
disampaikan oleh prof. saldi bahwa ada bantuan negara dan sebagainya. saya kira
paham betul bagaimana internal partai. Pertanyaan saya adalah bagaimana partai
yang lolos pemilihan legislative itu menolak pemberian dana dari APBN itu. nah, jika
menolak, tidak ada kewajiban untuk melaporkan keuangan partai politik itu. Nah
kalau keputusan, ada salah satu partai yang menjawab menolak, karena mereka gak
mau
ribet
dalam
masalah
assalamualaikum Wr. Wb.
keuangan.
Saya
piker
itu
saja,
terimakasih.
Penanya 3
Nama :...
Asal
:...
Kalau saya melihat dibanyak negara besar di Asia, partai politik memang agak
dihindari oleh masyarakat. Dan saya melihat penelitian yang dilakukan oleh Pusako,
dan ini memang tentang kewenangan partai politik. Ini permasalahan yang ada
diseluruh dunia. Bukan hanya Indonesia. Memang ada usaha yang disebut dalam UU
yang mengatur refoemasi pendanaan. memang upaya ini dilakukan untuk mencegah
begitu banyak uang yang tidak transparan atau akuntable yang masuk ke partai
politik. Tetapi upaya ini saya pikir berhubungan dengan putusan mahkamah agung
diamerika
yang
tidak
memberikan
batasan
apapun
kepada
penyumbang-
penyumbang untuk memberikan sumbangan kepada partai politik. Nah, ini yang
terjadi. sehingga banyak orang jor-joran. Pertanyaan saya adalah, kalau memang kita
memberikan kewajiban untuk mendanai partai politik, semua mendapat equal yang
sama, dan ada tambahan untuk kursi yang didapat di legislative, bagus, saya setuju.
Tapi apakah itu berarti sumbangan corporate asing itu di stop, kalau itu tidak
dihentikan, artinya, koalisi partai politik tidak akan pernah berhenti. Apalagi
sumbanagn itu belum tentu bisa dibatasi jumlahnya.
Nah, kedua kita mesti menyadari fenomena lain dari UU partai politik. Yang demikian
sekarang ini ada disebut supertax yang dilakukan oleh pihak ketiga. Ini juga
merupakan suatu persoalan. Ini kan sumbangan itu bentuk lain dari ideologisme. Nah
pertanyaan saya bagaimana kita mengantisipasi supertax tidak melalui kader, tapi
melalui orang ketiga yang digunakan untuk kampanye? Membantu partai tersebut,
53
membantu kandidat tersebut. Nah ini yang belum kita bahas sejauh itu. Tapi saya
mohon kita mengantisipasi potensi-potensi yang terjadi seperti ini.
Prof Yuliandri:
Terimakasih. Cukup 3 yaa. nanti pertanyaan selanjutnya bisa ditanaykan disesi grup
parallel.
Baik, kita masih punya waktu sekitar lima menit untuk menjawab pertanyaanpertanyaan tadi. Silahkan prof. saldi
Respon:
Fahmi idris:
Saya sangat yakin bahwa dana partai yang dipakai dari pemerintah itu akan dengan
senang hati diterima oleh partai politk. Kalau ada yang menolak, seperti yang
dicontohkan tadi, tentu yang berangkutan mempermasalahkan perannya. Tentu form
laporan itu disiapkan oleh perintah sesuai dengan peringkatnya. Yang penting adalah
dana itu harus dipertanggungjawabkan, diaudit dengan baik oleh parpol maupun
pihak independent pihak ketiga. Kemudian Keuangan parpol ini memang
mengandung pro kontra. Prokontra dalam pengertian pemanfaatannya. Contoh nya
dana parpol untuk pemilu. Bangaimana dana parpol untuk pipres dan pilkada.
Apakah dana untuk pemilu, pilpres, atau pilkada, dapat diselenggarakan oleh parpol
itu sendiri? Kalau itu, tidak menyelesaikan masalah secara mendasar
Parpol memang diberi kebebeasan menggunakan dana tersebut. Tetapi saya setuju
didalam pengelolahannya ada pelaporan oleh orang yang masuk dalam parpol tadi.
Dalam penggunaannya memang harus ada pihak ketiga. Bukan soal percaya atau
tidak percaya. Uang negara adalah uang rakyat sehingga pertanggung jawabannya
lebih besar. Sehinngga harus transparan. Dana dari pemerintah dan dana dari pihak
lain juga harus diaudit dengan transparan, ketat dan sanksi yang tegaas. Seberapa
besar dana tersebut. Ini memang suatu proses kultur yang terjadi dimasyarakat kita,
khususnya masyarakat partai politik. Jika terima duit diam diam saja kecuali jika
terjadi ott. Harus diubah, bahwa uang memang harus dipertanggung jawabkan.
Terimakasih.
54
Syamsudin:
Mungkin ini sekaligus masukan untuk Pusako. Saya pikir, Saya setuju dengan
pendekatan sangat signifikan subsidi dana negara, ini negara, bukan pemerintah,
negara terhadap partai politik. Untuk memenuhi kebutuhan partai politick itu sendiri.
Tapi saya pikir kalau untuk kebutuhan, angkanya itu tidak melebihi 30-40 persen.
Bukan diatas 50 persen. Sebab bagaimanapun, Parpol juga butuh otonomi dalam
memperoleh dana. dana lain bukan hanya dari pemerintah. Hal lain yang saya
pertimbangkan adalah yang namanya subsidi negara tidak selalu dalam bentuk uang
case. Subsi bisa dalam bentuk fasilitas negaraterhadap parpol seperti untuk
kampanye pemilu pilkada, pilpres, dan seterusnya. Penggunaan media pemerintah
untuk kampanye. Kemudian juga, Hal yang tidak kalah penting bagaimana
pemenuhan kebutuhan partai melalui subsidi negara dilakukan secara bertahap.
Artinya angka yang saya sebut 30-40 persen itu untuk babak pertama. Ketika pemilu
besok. Mhungkin pemilu pertama sekitar 10 persen. Ini sebagai pemebelajaran
bagipartai politik.
Apakah parpol bisa akuntabel atau tidak. Mungkin 10 tahun
kedepan bisa menajdi 20 persen, sehingga tidak bersifat sekaligus. Yang lain tentu
saja terkait yang disampaikan oleh Bung Sirajudin, saya pikir ya, Parpol tidak bisa
menolak subsidi negara jika itu menjadi kebijakan negara dalam UU. Terimakasih,
Prof. saldi:
Terimakasih. Setiap masukan tadi akan kami catat di team juga masih ada perdebatan
soal besar dan segalanya. Tapi soal skema itu sudah bulat kami di pusat studi
konstitusi. Yang masih diperdebatkan itu adalah berapa dan segala macamnya. Kami
masih mencari angka dengan merujuk kebeberapa penelitian. Salah satu nya adalah
penelitian yang dilakukan di 4 daerah oleh fery junaidi dan kawan-kawan mengenai
keuangan partai politik. Bagi kami, jika ini dikelola didorong menjadi refisi, kami
harus memiliki mensiapkan kerja extra. Apa kerja ekstra yang kami siapkan?
Rancangan soal keuangan partai itu, itu diikuti linear A-Z, jadi jangan hanya mau
mengambil keuangan, tapi sanksi tidak mau. Sehingga dalam proses legislasi kita, ini
Akan dikomunikasikan dengan pemerintah. Karena pemerintah sebagai pihak,
khususnya kepada president, bahwa ini akan menjadi paket. Jadi kalau mau uangnya
55
saja, tidak mau sanksinya, konsep ini harus ditolak. Solusi dan sanksi, tidak dapat
dipisahkan. Lalu pertanyaannya? sumber dana lain tidak boleh?
Sumber dana lain boleh. Apa jenisnya dan berapa besarnya, kemana dimasukkan itu
diatur dalam UU partai Politik. Makanya tadi kita berfikir, ada orang yang paham
betul soal keuangan. Semua dana akan amsuk disistu. Dan akan didistribusikan
kepada badan pembangunan pemeriksaan keuangan BPKP. Akan diawasi oleh badan
pengawas dan penerimaan dana partai. Itu yang harus dilakukan dalam soal-soal
seperti ini.
Nah, problem kita adalah system hukum kita diranah politik membedakan antara
uang partai dengan uang kampanye. Kalau partai itu diatur dalam UU partai politi,
kalau kampanye di UU pemilu. Ini akan didiskusikan lebih lanjut. Menurut kami
Penelitiaan pusako beranggapan bahwa dana harus beriringan baik itu untuk partai
dengan untuk pemilu. Dan sekarang ICW sedang mempelajari bagaimana mengatur
soal dana partai politik. Jadi penelitian Pusako akan beriringan dengan penelitian
ICW. Dan kita berharap, sebelum itu dilaunching ke public, sebagian kita yang ada
disini, pasti akan terlibat membahas lebih rinci konsep-konsep yang ditawarkan itu,
sekaligus apa implikasinya jika itu dijadikan produk hukum. Tentu itu harus
didiskusikan hingga hal yang sedemikian. Saya memang sengaja, tadi yang
diamanatkan oleh pak Charles, bang fahmi, dan Ferry Amsari, tolong yang
dikedepankan adalah soal dana. Bagaimana respon peserta konferensi soal dana itu.
Dan nantik akan dibagi dalam form yang lebih kecil.
Terimakasih, wabilahi taufik walhidayah,
Assalamualaikum Wr. Wb.
Prof. Yuliandri:
Alhamdulillah seminar konferensi ini dapat diselesaikan. Akhirnya kami sebagai
moderator mengucapkan terimakasih atas pemaparan yang disampaikan oleh beliau.
Dr. Fahmi Idris, Dr. syamsudin Haris, dan Prof. Dr. Saldi Isra
Akhirnya, wabilahi taufik walhidayah, Assalamualaikum Wr. Wb.
56
Penyerahan cendera mata kepada narasumber. Plakat dari fakultas hukum. Dan
cendra mata dalam tas putih adalah cendra mata dari komisi pemberantasan korupsi.
57
NOTULENSI
PARALLEL GROUP DISCUSSION RUANGAN 1
Tema: Memetakan Permasalahan Demokrasi Partai
1. SESI 1 (Pukul 10.00-12.30)
Moderator
: Ferri Amsari
Dengan narasumber :
-
Notulen: Dzikra Atiqa
Prof. Todung Mulya Lubis
Henk Kumeling
Moderator: Ferri amsari
Assalamualaikum wr wb,
Marilah sama-sama kita panjatkan rasa puji dan syukur kita kepada tuhan semesta
alam yakninya allah swt. Selamat siang kepada seluruh rekan-rekan yang telah
menghadiri fokus groupdiscusion pada siang hari ini. Ini adalah sesi pertama yang
akan disampaikan olehduanarasumber kita yaitu pro. Henk kumeling dan prof.
Tdodung mulya lubis.
Baiklah untuk pemaparan pertama akan disampaikan oleh bang todung mulya lubis,
beliau merupakan salah satu pengurus penting di yayasan tahir foundation. Kawankawan bercanda tajir foundation. Silahkan yang maubertanya untuk kegiatan
keilmuannya dapat didukung oleh yayasan tahir foundation setelah pertemuan ini.
Silahkan bang mulya untuk menyampaikan materinya sekitar 15-20 menit. Nantijuga
prof. Kummeling akan menyampaikan pandangannyadalam forum ini. Lalu kita
lanjutkan dengan sesi diskusi. Ingat, forum PGD pertama ini adalah forum diskusi.
Silahkan bang mulya.
Prof. Dr. Todung Mulya Lubis
Terimakasih pak ferri, karena saya bagian dar yayasan tajir foundation,,(audiense
tertawa)
Kedua, dia agak lupa tadi menyebutkan saya hanya dua gelar LLM ,sebenarnya ada
tiga. Satu dari Harvard Law school, dua california, yang ketiga adalah laki-laki malam.
58
Saya hanya akan menghilight saja sebenarnya. Sebetulnya kita semua tau dalam
diskusi dan kemaren pada saat saudara tjahjo purnomo dan pak jussuf kalla, kita
sudah mendapatkan gambaran sebenarnya di indonesia. Bagaimana demokrasi
internal partai itu di Indonesia. Yang penting dalam konteks Indonesia dengan sistem
multi partai yang begitu beragam ini, pertanyaan utamanya adalah apabila kita
menginginkan demokras internal partai adalah, bagamana kita merebut kekuasaan
partai itu menjadi milik publik. Bukan menjad milik oligarki, bukan menjadi milik
keluarga, bukan menjadi milk PT swasta,karena seolah-olah ini menjadi pemilik
saham. Nah bagaimana anda dapat bicara tentang demokrasi partai kalau yang
mengatur itu sudah ada dari atas. Saya kemaren hampir meninggalkan ruangan
ketika tjahjo purnomo mengatakan parpolnya batasnya hanya sekjen, sebetulnya itu
kontrahnya soekarno, nah itu sih bukan demokrasi lagi itu. Tapi kan dia ga sendirian,
ada partai lain yang sama-sama kuat.
Jadi saudara-saudara semua, Partai politik adalah tempat warga negara berkumpul
menyatukan presepsi, untuk berebut jabatam-jabatan kepemimpinan/publik dan
menjadi ajang atau wadah utntuk bertukar pikiran tetapi secara demokratis. Itu
merupakan kebutuhan yang mutlak untuk mendemokratisasi parpol kalau dia ingin
mendapatkan calon-calon yang demokratis. Nah, saya tidak mengatakan bahwa
calon-calon itu adalah yang paling baik atau sangat ideal. Banyak calon-calon yang
dipilih dari bawah secara demokratis sehingga tidak capable,tidak qualifite untuk
menjadi pemimpin. Tapi that is the cost that you have to pay to society. Dalam negara
demokrasi,mungkin saja you came out with the stupid leaders, yang terjadi pada
Amerika saat ini, kita melihat donald trump. Begitu terkenal dengan public
sentiments, tapi banyak yang bilang kalau dia gangerti apa-apa kok, dia ga ngerti
segala macem-macem tentang perkembangan, dia tidak pesoma. Tapi apakah itu
sebagai
orientasinya?
Tidak,
jadi
jabatan-jabatan
publik
apakah
itu
eksekutif,legislatif, saya memasukkan yudikatif itu karena dalam beberapa negara,
hakim juga ada yang dipilh. Tidak semua negara
yang hakimnya tidak
dipilih,memang ada dibeberapa negara bagian, dan jabatan-jabatan lainnya memang
membutuhkan internal demokrasi leaving the particulars. Nah apakah demokrasi
internal dalam parpol di Indonesia, sudah ada atau tidak?
59
Saya open minded kepada kita semua, kita tidak bisa hanya membicarakan tentang
demokrasi nternal tanpa memikirkan tentang demokrasi eksternal. Pasti ada
kaitannya dengan yang lain, karena ini satu sama lain saling kait berkait. Tadi Prof.
Saldi juga mengatakan tentang kauangan partai, gamungkin juga kita mebicarakan
tentang demokrasi internal kalau demokrasi internal itu decanded terhadap donaturdonatur yang bisa mendikte partai tersebut. Jadi at the end of the day, why we are
able to internal demokrasi of party, karena parpol harus mempunyai kesiapan
logistik atau nggak? Kalau tidak ada kesiapan logistik sangat sulit untuk membangun
demokrasi internal partai politik tersebut. Kalau kita berasumsi, bahwa kita dapat
membawa demokrasi kedalam tubuh demokrasi parpol, saya sudah mulai memancing
diskusi, anda ingin memilih jalan yang seperti apa?
Karena kalau buat saya, saya adalah seorang universalist. Saya tidak percaya dengan
demokrasi lokal. Demokrasi yang adjektif bukanlah demokrasi, seperti demokrasi
pancasila, itu bukanlah suatu demokrasi. Demokrasi pembangunan, itu bukanlah
suatu demokrasi. Demokrasi terpimpin bukan demokrasi. Buat saya demokrasi is the
demokrasi universal judulnya/rulenya. Nah, kalau kita membicarakan tentang
partisipasi seperti yang telah dipaparkan dengan bagus oleh bapak ferri
tadi,demokrasi itu harus partisipatoris, kita berbicara mengenai buttom up interest
come from the buttom local society. Anggota-anggota itu tidak keberatan untuk
menentukan siapa yang akan jadi ketua partai, siapa yang akan menjadi calon bupat
atau walikota atau calon gubernur. Tetapi persoalan kita adalah, ketepatan publik di
Indonesia sepertiyang kita ketahui tadi, penentuan calon-calon tersebut tidak di
tingkat kabupaten/kota,tidak ditingkat provinsi. Penentuan itu ada di Jakarta, nah
saya kebetulan mempunyai banyak teman dari pemimpin partai dan dapat dlihat
bahwa partai ini adalah merupakan kendaraan bisnis bagi pemimpin-pemimpin
partai. Semua orang harus bayar untuk dapat pencalonan itu,untuk dapat
rekomendasi.
Nah kemaren ya pak jussuf kalla bicara, keberhasilan dia dalam membangun
demokratisasi didalam tubuh parpol. Saya juga melihat bahwa yang dikatakannya
kemaren itu tidak 100% benar. Kita dapat melihat ketika JK dicalonkan sebagai calon
presiden, saya membayangkan akan ada suara-suara yang datang dari bawah, yang
partisipatoris, tapi ternyata itu menjadi monopoli dari ketua umum partai. Dan itu
60
yang kita lihat pada Prabowo Subianto, dan tidak ada bedanya dengan apa yang
terjadi pada zaman soeharto dulu.
Nah jadi saudara-saudara, political culture kita dari dahulu memang masih belum
berubah. Kalau saya melihat bahwa mungkin, sebelum kita berbicara tentang
demokrasi parpol bertingkat pada tingkat kabupaten/kota,provinsi, dan nasional,
kita dapat melihat they are the challenge gitu yang akan kita hadapi. Tantangan kita
apa? Pertama dan utama sekali kalau saya lihat, sebetulnya kalau dualisme partai
politik itu sangat luar biasa nampaknya, partai keluarga yang kuat. Nah, ketidak
inginan saya saat saya dimintauntuk menjadi anggota dewan pembina partai politik
pada zaman presiden Susilo bambang yudhoyono, walaupun saya sudah mengikuti
rapat satu kali pada saat itu, karena saya tidak kuat melihat adanya federalisme pada
partai tersebut. Coba bayangkan PDIP, mau nggak anda masuk kedalam partai
tersebut, walaupun PDIP lah yang berkuasa pada saat ini rupanya itu yang pertama,
dan yang kedua meretifikasi partai politik. Nah kita berbicaratentang yang kedua,
sangat populer, politik uang. Politik uang masuk dalam prosespartai politik, betulbetul mensabotir nilai-nilai demokrasi dalam parpol itu sendiri. Dan di Amerka juga
kejadian sih, di TV menceritakan tentang macam-macam kejadian. Saya membaca
buku sebenarnyayang berjudul the lawyer crazy, buku ini merupakan buku yang
sangat bagus dimana disi menceritakan dimana adanya high class politics di Amerika
itu luar biasa terjadi. Kita juga mungkin high class politics yang terjadi di Indonesia.
Disana luar biasa jumlahnya gitu loh, jadi ni yang terjadi sebenarnya saudarasaudara, saya juga tidak dapat menduga dan mengantisipasi, digitalization of
democracy dalam 10 tahun yang akan datang. What will happen of digitalization of
democracy. Nah apakah kita akan kehilangan suara kita, i don’t know, and i don’t have
the answer.
Satu fenomena lagi yag mungkin dapat kita simak di Indonesia, adalah
kepercayaan,atau agama terutama islam dalam politik. Islam politik kalau menurut
saya it all the respect bagi teman-teman yang percaya dengan itu, itu sebenarnya
bertentangan dengan demokrasi, secara diametal. Jad saudara-saudara, ini
merupakan hal yang ingin saya kemukakan kalau kita berbicara tentang demokrasi
internal pada tubuh parpol, baik dalam penentuan ketua, DPC,ketua DPP, ketua
umum partai, ini semua menjadi problema yang kita hadapi. Yang menjadi kendala
61
dalam demokrasi parpol tersebut. Nah mudah-mudahan PUSako yang merupakan
kiblat hukum tata negara, ferri pasti senang (audiens tertawa). Dia tadi sudah
komplain, bang UI itu kok diam-diam aja sih katanya, ia karena UI itu sudah membley
karena semuanya itu sudah berpindah kepada UNAND, dan tidak ada salah dengan
itu.(audiense tertawa). Jadi UI mesti complement ya pada PUSaKO untuk
keberhasilan mereka ini. Mungkin saya berhenti sampai disini terimakasih. (audiense
bertepuk tangan).
Moderator: Feri Amssari
Memperkenalkan background Prof hank kumelling
Prof. Henk kumelling:
Okay, Thankyou very much. Mr. moderator … It was hihihi lengthy of introduction.
What I am going to do is simply talking things .. constitutional Law … and therefore
this is thetitle of my presentation and I present it without a little paper the issue that
had handed out to you in the coming days of the flashdisk.
And what we’ll do this afternoon is this, briefly points out the headlights so to say in
my presentation. And thankyou for coming all its very crowded room and we had a
little joke before we started whether not because of Professor Todung was here or
Feri Amsari or myself and I concluded that it was professor Todung was the most
important person in our … well let start.
I was already introduced my presentation as a very simple structure I will introduce
to you the key questions, I deliver some comparative observation and I will share
with you some ya well of experience from the Netherlands. And I think all the
concluding remark. Well … all of the expression of the party is over … the news of
several decade especially by social sciences people thought that of that because the
lost of membership a lot of political parties in the western part of the world also with
instrument of direct democracy the use of ICT internet etc. Perhaps the entire
structure of the party become obsolete not necessary anymore. But we all know that
the party is still there and it will stay there is my prediction. We also need and will
ever need an intermediary structure between the citizens and the government make
sure that all the wishes of the people are articulated that the use of democracy toward
62
governmental structure articulated as we said that way citizens can also participated
in process lets not forget political parties is also very permanent and very dominant
role the recruitment of national decision makers to members of parliament,
governors, mayors and etc. so when the parties is so important and still so important
because its contribute to the decisions of the decision makers it makes their decisions
acceptable and if those a problem of the political parties and there is a problem with
political parties that … of the political parties, I decide that nothing beats the law of
membership. Though they are articulated demands of the ordinary system of the
society. Its not the case that they are more busy with ya well self appointments,
cooperation etc. and the party elites … the decisions all by them self. Not taking care
of the wishes and demand of society. And if the parties are so important isn’t there a
need to regulate them to also from a constitutional law perspective to regulate them.
Well I’ll go to my comparative observation when you come to the issue of regulating
political parties. Ya well that the key issue is, is there a constitutional law for political
parties to autonomy. And there is no universal … that. We heard already there
something about that this morning. All over the world constitution and courts very
greatly and … are not but party should … abroad general constitution right to
autonomy. And there are indeed two sides of the spectrum. The one extremes is
Germany has a very strong party regulation also a very detail provision in the
constitution and the constitutional court in Germany explicitely said something which
already mention by professor Todung Mulya, he said they said we’ll take this
seriously I say the party will be structured from the bottom up. That is that the
members must excluded from the decision making process and the basic quality of its
member as well as the freedom to join or to leave the political parties must be
guaranteed. So that’s a very strong regulation very detailed in the constitutional court
… upholding that position. And of course it is have to do with the bad experiences
Germany had that Nazi regime. On the other hand of the spectrum, we have states
where there is no constitutional provision and practically no legislation and the
example of that is united states of America. And there are general two reason for such
a position first of all there is this general hostility, historical hostility one can say
toward political parties. Because political parties were considered to be sectarian,
partisan the size of elements in political parties and there is also this argument of
63
political liberality. In order to fulfill their function as political party in articulating the
of population. And they also are responsible for taking an accountable over decision
making. And … and therefore they should be completely freed from ... and … that’s the
idea behind their political liberality. And therefore there should be enormous
freedom with regard for starting the political party toward content, toward activities
and also toward internal organization subject. And there’s also the case in the
Netherlands at least to enlargic standard to an elaborated autonomy. But there is also
another reason behind this all, which is one of them I think for every constitution of
reform constitutional changing regulation. That is that constitutional change and
change its legislation only occurs when there is explicit force explicit drive explicit
need for subject change. And if there is no specific need for change then there is no
regulation. … you can see in general that what they well established democracy in
general have hardly any regulation on political parties. Because they think at least up
until now that they need to have such regulation and on the other hand we have the
younger democracy and we see this also in the northern America in the sub-Sahara
Africa, you see this in the eastern part of the Europe they have a very strong
regulation on intra-party organization . and it’s always do when it comes to eastern
Europe that they had this experience of this one party, communist party, or in some
cases two party system. And they want to abolish that idea, and they also very strict
in regulating political parties are doing what they are about. And there is some … as
you can say that is established in younger democracy but on the other hand what we
can see history takes its own course. And democracy as been told by many is never
finished or never complete. You never stop thinking about the quality of your
democracy. And what you see in many western countries as well is that there is a big
debate on the quality of democracy. And like the politics in the united states of
America as already mentioned this morning and there is a big debate whether or not
such a country with no regulation on political party whatsoever. And there should not
be a change in that. Because when you look at the procedures now at the nomination
procedures for the presidential candidates introduces candidates that don’t have a
large support amongst its ordinary population. In fact there is a lot of evidence, that
ordinary citizens are completely … to politics. So therefore they have to rethink
there’s democracy of their party as well and come up with some ideas for the
64
nomination process. So I’ve never stop thinking that is also the case in the
Netherlands to that case. As I already mentioned, we take a liberality approach when
it comes to political party, there’s hardly any regulations. There is some regulation
when it comes to party registration and the electoral council, which I am responsible
for that. But there is very minimal approach to that because ya well you have to be in
association with members and you have to go to a notary and came up with all this
internal regulation and you have to because you have to be in association, you have to
have at least 2 members. Because its already create in the Netherlands association
with only 2 members and that’s it. And that’s all regulated as association that has
typed and regulated in the civil code. So very ya very organized according to civil code
but if you want to have state subsidies for your activities, then you have to at least
have 1000 members. And as long as more members come in, you get extra subsidy
and there is also extra subsidy for youth organization and political parties, there’s
extra subsidies for research institute for political party and there’s also extra … when
you have international cooperation as in political party. So it could mean that
subsidies that in need some regulation and many political parties want indeed to have
such a … . There’s only one party that don’t want to have subsidy which the party of
this popular person and perhaps know the guy because he’s all over the place and
travel in more places and that’s a very blond guy, this Mr. Wilders and it’s a party
which consist only 2 members, which is the natural person and mr. Wilder himself
has created a foundation Mr. Wilders and in the Netherlands when it comes to
membership of association you can have natural person as a member and also legal
person as a member. So he by himself has created a let’s just say one party a one
person party. And he doesn’t want to have state subsidies because he don’t want to
have members. So therefore he’s the odd one out but then again this types of parties
populates parties with strong leaders, fit in a historical traditions in many countries.
But every now and then popular party are strong leaders and no members. And even
this parties are presented themselves in as being very democratic even more
democratic than the other party. See that ya well we are in direct contact with the
citizens but there is no intermediate structures no party members that want to have
influence etc. no we say in direct contact with the citizens and therefore we are more
democratic than the other ones. And it all comes down of course this kind of parties
65
with the quality of party leader to find the correct candidates, any cases that we see in
at least large part of the world and especially in the Netherlands this parties fall apart
because there is no mechanism in the party to solve internal conflicts so problems
between the candidates and the party leader ya there’s no mechanism there’s only
the party leaders decides and the only way out in this kind of conflict literally is to
lead the party. And what we see in the Netherlands over decades they come up this
popular party and then they crumble down and they lost the seat because they lost
popular vote or these internal conflicts and then they go. And in general we can see in
large part of the world and also in the Netherlands the tendency towards more
internal democracy in these parties. And in the Netherlands ironically they started
after the rise of not as popular party. It was in 2002 that the famous now famous but
deceased Mr. Pim Fortuyn and perhaps you heard about him, because he was
murdered during election time. And it was the first political murdered we have in the
Netherlands since the 16th century. We never had it before. And although he was dead
police was still out there in general elections and the party of Mr. Pim Fortuyn in a lot
of seats. And the other party was like, “what’s happening here?” they didn’t
understand what’s going on. And in order they were completely taken by surprise by
the rise of this populates party and then ya well the southern chief of … they couldn’t
understand and in the end many parties come to the conclusion that they had lost
contact with the demand and the wishes of the citizens and the important way of
solving this problems this contact problem was to improve the contact with the
ordinary members of the political parties. And all this party started with
experimenting and with new internal decision making … all the nomination
candidates and party leaders. I will give you some examples indeed in the
Netherlands it quite accustomed now as many other countries as well that there is a
strict decision that the political and the chair of the party so not the power in one
hand. The party nominee at the top position as president and prime minister in our
case cannot be the same person as the chair of the party. What we also see that
there’s lot of extra influences created by … the members the party leaders in may
parties are voted or elected by member. And we’re using all kind of modern methods
and in most cases international internet voting … is quite common. And in some
political parties even non members are allowed to participate in party election and in
66
that way by ways to some extent, you can also test whether or not this political
parties leaders and also have largest support among the rest of the population.
Whether or not they can be successful in the general election. And then the same goes
for the nominations of candidates, you must know that we have also proportional
legislation in Netherlands but on a national level and no specifics regions there are
no district as I must say and in many cases members are the ones that finally decides
on the nominations of candidates there is in some parties we have ... we have also
have a say in that in the nominations of candidates but in general the membership…
and other way of doing it is that … in many cases political parties allow parties to
decide on the manifesto and what I agree to say what is going on in the content of the
party. And we see that on the level of the union
Moderator: Feri Amssari
....
Donal Faris:
Terimakasih prof todung dan henk kumeling, memang banyak beberapa kajian yang
berkaitan langsung dengan politikal party ini. Dari beberapa kajian ini oia mohon
maaf saya merasa sudah terkenal hahaha (audiense tertawa) perkenalkan saya donal
faris koordinator devisi korupsi politik di indonesia coruption corps. Dari diskusi
yang dari awal tadi saya semakin yakin bahwa problem demokrasi di internal parpol
itu adalah reaksi dari problem pendanaan dari partai itu sendiri, bahkan ini termasuk
adalah lanjutan dan turunan dari permasalahan pendanaan tersebut. Dari banyak
aspek yang telah di sampaikan seharian ini, ada kongres, ada kaderisasi, dimana
melaksanakan kongres kalau tidak ada dana yang memadai, bagaimana kalau
melakukan kaderisasi kalau tidak ada dana,tidak mungkin uangnya datang dari langit.
Dan pola itu sebenarnya sudah menguat dan membentuk belakangan ini yang hadir
pada saat 98. Harapan publik yaitu munculnya partai-partai baru dengan wajah baru
adalah alternatif dalam parpol untuk memunculkan ideologi ini maka muncullah
slogan ekspeksi dan lainnya. Tapi problemnya munculnya adanya sitem yang semakin
buruk karena munculnya partai baru kita ambil contoh, ada cuman di forum ini aja,
mudah-mudahan tidak ada quotes kalau ada temen-temen media juga, kita ambil
contoh saja ada beberapa partai baru seperti nasdem, perindo itu kan lahir dari
kelompok-kelompok yang secara ekonomi sudah kuat dan sangat matang sekali,
67
mereka bergeser masuk politikkemaren secara informal saya juga sudah berbicara
kepada prof henk menceritakan di Belanda itu justru para pebisnis itu enggan untuk
masuk kedalam dunia politik. Di Indonesia justru yang terjadi adalah adanya
kontradiksi, orang kalau sudah mapan ekonomi, kemaren saya juga sudah berbicara
di Asian Electoral Forum fenomena ini, orang yang sudah mapan di bdang ekonomi
dulu dimasa soekarno khususnya itu berada dibelakang layar partai politik mereka
justru hadir dengan wajah pengusaha masuk politik, dan mereka berusaha menguasai
entitas di partai politik dan menjadi agregasi kepada yang bersangkutan sehingga
seluruh teori parpol itu sudah terkonsentarlisasi dan kuat secara ekonomi. Kita
masuk kedalam aspek yang lain sebenarnya penting untuk memetakan persoalan
demokratisasi di internal partai ini. Menurut saya kita harus berbicara dua aspek
kalau berbicara tentang demokratisasi di internal 1 demokratisasi partai, satu
demokratisasi yang memang levelnya di internal parpol dan kemudian dia yang
berlaku, dan yang kedua, demokratisasi yang berlangsung dan berlaku di eksternal
partai politik itu sendiri. Kalau di internal partai politik kita bisa memetakan seperti
pemilihan ketum,pemilihan dari cabang-cabang parpol itu adalah berbicara tentang
problem yang ada di internal parpol, dan pembicara sudah banyak menjelaskann itu,.
Yang kedua, yang sudah disampaikan oleh prof saldi tadi pagi ini, adalah problem
yang di pengisian jabatan-jabatan publik. Itu terjadi di rezim pemilu,dan rezim non
pemilu yang terjadi di rezim pemilu seringkali kami karena pak henk bekerja di
suantik anti korupsi, kita mendengar isu-isu dan slogan anti korupsi berapa kandidasi
nyaitu dilakukan oleh parpol. Problem di Indonesia adalah kita tidak punya tools
yang kuat baik secara turent dan organisasi kelembagaan untuk bisa mentrecking
informasi, dan menindaklanjuti hal-hal tersebut. Kalau itu dilakukan oleh pejabat
publik dan penyelenggara negara, maka UU tindak pidana korupsi di Indonesia bisa
menjadi alternatif juga untuk menyelesaikan persoalan itu. Tapi malangnya pengurus
parpol itu adalah orang yang bukanlah pejabat publik dan penyelenggara negara, baik
diatur dalam UU penyelenggara negara maupun yang diatur secara pacta di dalam UU
parpol juga tidak menjadikan dia penyelenggara publik dan negara. Terakhir dari
saya, untuk problem demokratisasi ini memerlukan pendekatan yang berbeda baik
yang terjadi di rezim pemilu dan juga di rezim pemilu itu sendiri. Usulan pak henk
sangat menarik sekali kalau kita bicara dan tadi juga saya sampaikan bahwa
68
memastikan kewenangan-kwenangan itu ada dan melekat pada cabang-cabang di
Indonesia,kab/kota, dan provinsi di Indonesia. Dan di problem rezim pemilu ini
merupakan problem yang besar sekali karena putaran uang justru banyak sekali
terjadi disini. Di rezim pemilu tentu bukan hanya berbicara di UU parpol, tapi juga
bagaimana mereborn pemilu itu secara lebih utuh tentunya. Di Indonesia juga kita
tidak punya federal election comision, di beberapa negara lain sebagai comperatif
taiwan dia punya UU pendanaan politik, yang hadir semenjak tahun 2004 dan mereka
memiliki sistem yang lebih baik, dan memonitor dana-dana yang terjadi di parpol itu
sendiri. Bahkan satu tahun pasca pemilu dana kampanye masih bisa di audit kalau
menemukan sumber dan
dana yang ilegal tapi. Tetapi di Indonesia kita tidak
mempunyai itu. BAWASLU hari in di revisi UU pilkada. Mereka juga kelabakan
mengatur UU yang baru tersebutdan menggerakkan aturan yang baru terseut. Nah ini
adalah tantangan sebenarnya tentang kelembagaan dan realisasi di Indonesia, sekali
lag perbaikannya di komprehensif di isu yang kedua ini pada rezim pemilu. Itu kirakira moderator, assalamualaikum wr.wb.
Moderator: Feri Amssari
Terimakasih dan kita lanjut kepada mak pipit.
Bifitri susanti:
Baik terimakasih moderator, ada beberapa isu yang saya angkat disini. Suatu
perdebatan yang saya kira pertanyaan besarnya adalah to regulate or not to regulate,
dan terimakasih kepada prof todung mulya lubis dan prof henk yang telah
menyapaikan beberapa hal di perdebatannya terutama di persoalan where establish
democracy dengan new atau brand establish demokratis. Tapi saya kira kalau
memang mau didorong terus pada forum ini sampai juga nanti mendorong sampai
nanti adanya rekomendasi dari forum yang kongkrit, saya juga ingin ikut mendorong
bahwa kita juga memiliki satu UU parpol yang memang dikomprehensif dan lebih
kuat begitu. Dan salah satu argumen yang saya kira akan sangat kuat adalah, kalau
konteksnya adalah kebebasan berserikat, semuanya kita bandingkan saja UU yang
ormas organisasi yang pantas atau bukan ya,tapi pertanyaannya UU emas yang kita
tahu, tapi sebgai perbandingan saja, dia mengatur dengan sangat rinci begitu. Ormas
69
harus seperti apa, mekanisme internalnya harus bagaimana dan seterusnya. Memang
dia mendapatkan tantangan juga dan termasuk yang mendorong supaya tidak terlalu
lebih mengatur, tapi kita bisa pakai sebagai perbandingan begitu. Kita bisa lihat kalau
konteksnya adalah orang-orang yang tidak setuju dengan rincian yang terlaludalam
dengan UU partai adalah kebebasan berserikat. Karena ormas tidak bekerja dengan
pejabat atau jabatan publik,ini akan dapat menjadi dampak langsung,salah satunya
adalah ini tentang jabatan-jabatan publik. Untuk menyasar misalnya anggota DPR,
DPD dan seterusnya ampai presiden, bahkan jugadalamkonteks pemilihan pejabat
publik. Tadi prof kumelling menguraikan soal contoh-contoh yang bisa diatur,
transparansi,keanggotaan,..internal. dansaya kira yang menarik juga adalah
contohnya untuk melakukan pendidikan politik, ini yang saya kira yang belum masuk,
dan kalau saya sedikit lebih mengingat-ingat yang yang menarik misalnya yang ada di
jerman, dalam suatu kunjungan keluarga di Jerman beberapa waktu lalu, saya juga
sangat terkesan dengan adanya partai bajak laut ya. Saya terkesan karena dia di mall
begitu dan anak saya sangat senang sekali, karena anak saya pakai baju bajak laut dan
mereka memakai atribut bajak laut dan sebagainya. Dan ini untuk menandakan
bahwa adanya kebebasan berserikat, dan mereka ada mengatur terkait pendanaan
parpol, kemudia terkait dapat atau tidak kursi di parlemen. Mereka di pemilu jerman
2009 sudah dapat kursi, ganyampe kursinya, apa namanya untuk tresh out, dan untuk
pemilihan di parlemen .. juga tidak dapet ininya.tapi dia dibiarkan untuk tumbuh
sampai mereka bekerja dihari berikutnya untuk bisa dapat kursi tadi gitu. Nah saya
juga berpkir, barangkali kita tidak menghalangi untuk orang membuat partai, tapi
apakah mereka bisa mendudukan orang-orang dalam jabatan publik itu yang saya
kira menjadi pertanyaan. Dan saya kira apa yang diatur di jerman cukup enarik,
sebenarnya hampir 10 tahun yang lalu pernah ada upaya untuk menerjemahkan UU
parpol yang ada di jerman. Waktu itu saya ikut mengeditnya, mungkin nanti kalau ada
yang bisa saya kirim kepusako kalau memang ingin mendalami praktik ini.
Kemudian yang kedua,mungkin sudah di snggung juga oleh donal yaitu jadi dua ya,
untuk struktur internal partai dan kemudian untuk jabatan-jabatan publik yang akan
ditempati, sebenarnyaintinya disitu, yaitu dua dua topik yang harus kita sasar begitu,
nah yang dua ini tidak banyak dibicarakan padahal pentingnya sangat luar biasa. Ini
misalnya pemilihan hakim agung pilihan KPK sebentar lagi KPU lagi ya, jadi
70
pentingnya sangat luar biasa, jadi saya kira apakah ini masuk kedalam UU parpol, tapi
ini pertanyaan besar, tapisaya kira initerlalu rinci utntuk masuk kedalam situ. Tapi
paling tidak akan sulit untuk mengajukan mekanisme partai yanterlalu rumit,terlalu
exshausted kalau ini adalah istilah yang sangat sering untuk terjadi. Tapi kita harus
endorong supaya adanya transperansi dan partisipasi paling tidak yang instan dalam
tanda kutip seperti itu. Misalnya donal,saya,dan teman-teman dalam pemilihan KPK
seperti itu,lebih melihat kepada parpol,sebenarnya itu sah-sah saja tapi kami tau juga
ada yang pake uang, tapi kami tau juga kami ga pake uang ada yang barter
jabatan,bahkan ada yang barter kasus ya kalau di KPK barang kali. Ini yang mesti
dibuka,dbuat pengaturan yang transparan,lobi boleh untuk jabatan-jabatan publik,
tapi harus transparan dan partisipasi nah ini yang perlu didorong. Terakhir tapiini
penting juga, begini saya dari tadi berusaha mencari-cari soal-soal perempuan dan
tentang disabilitas. Karena nanti merekalah yang akan memperjuangkan hak dari
kaumnya. Dan regulasi pemilihan ini harus ada yang legalnya dan harus
mempuniatau menghasilkan orang-orang yang berkualitas. Bukan hanya orang-orang
yang memiliki mobilitas yang mudah seperti istri pejabat,anak,atau kerabatnya
pimpinan partai. Maka kita harus merubah nepotisasi yang ada di negara kita.
Iwan satriawan:


Saya setuju dengan prof todung bahwa parpol itu kebanyakan adalah milik
oligarki, pemegang modal dan kapital.

Saya kurang setuju apabila demokrasi itu secara demokrasi universal

liberal.

Saya tidak setuju dengan universal demokratis,karena bisa di jabarkan ke
Karena tidak masuk dalam unites of the society.
Demokrasi itu
bukan hanya datang dari parpol tapi sekarang NU dan
Muhammadiyah sudah mengambil andil bagi keberkanjutan atau dalam

pengambilan keputusan di legislative.

religius masyarakat.
Hukum itu datang dari kombinasi dari aspirasi sosial masyarakat dengan
Prof santoso mengatakan bahwa kita harus mengkoreksi demokrasi kita
sekarang, karena kita tidak memakai politik amerika tapi seharusnya kita
71
memakai politik indonesia. Karena rohnya didalam konstitusi itu adalah


pancasila.
Apa yang seharusya kalau memang bukan hanya demokrasi saja?
Seperti apa demokrasi yang diinginkan?
Moderator: Feri Amssari
Oke sudah saya pikir ini yang terakhir karena nanti kita akan lebih banyak berdiskusi
pada sesi kedua nanti. Dan nanti akan di sampaikan juga tanggapan dari parpol.
Innah junaenah:
Saya kira saya akan memberikan suatu informasi,mungkin bapak ibuk sudah
mendengarnya, ada suatu indeks demokrasi yang telah diteliti oleh BAPEMNAS yaitu
penyusunan di jawa barat. Nah diantara dari sekian parpol di jawa barat hanya dua
parpol yang memiliki program pengkaderan, tapi itu terlepas darijenjangnya seperti
apa, kualitasnya seperti apa,terlepas dari itu. Nah contohnya saja di jawa barat
dengan populasi seperti itu, lalu bagaiman di provinsi yang lain. Kemudian saya ingin
mengkonfirmasi kepada prof henk, rasanya dalam publikasi di parlemen di
netherland ada yang dari jalur independent saya kira ya, saya berekspektasi dengan
kehadiran independen ini di parlemennya tentu mendorong parpol untuk
meningkatkan kualitasnya dari pada jalur yang satu ini. Pertanyaan saya apakah itu
menjadi motivasi parpol ini di sana atau tidak, supaya indonesia bisa melihat dan
mempelajari juga tentang itu. Nah kalau ia apakah regulasi parpol itu. Terimakasi pak
feri..
Indra nurben:


Demokratisasi parpol ini kepentingan siapa?

Parpol ini dibiayai oleh negara sama rata menurut prof.saldi isra

jabatan.
Tidak semua orang di parpol itu brengsek dan seperti memperjual belikan
Usul kepada PUSaKO, bagaimana menjadikan parpol ini seperti membangun
perguruan tinggi. Yang didanai oleh negara,sehingga nanti akan menghasilkan
insan yang berkualitas. Sehingga nanti akan bermitra dengan pemerintah.
72
Maka dariitu pemerintah mempunyai tanggung jawab untuk memberikan

pembelajaran kepada parpol.

proposional menjadi calon kandidat yang akan maju.

pengabdiannya dapat dibayarkan ke pemerintah.

atau minimal harus S 1, atau sudah ada di parpol selama 3-4 tahun.

Sehingga pemerintah jangan mengajukan orang yang tidak qualifite dan
Bagaimana pemerintah memberi pinjaman seperti KUR, sehingga 5 tahun
Adanya regulasi yang jelas bagi calon yang akan maju. Seperti melihat dari
Jangan terlalu menyalahkan parpol.
Saya memohon kepada prof todung untuk memberikan pelajaran kepada
masyarakat republik, untuk menjadi kemitraan pemerintah menjadi anggota
legislative.
Jawaban atau tanggapan:
Prof. Todung Mulya Lubis:
Saya menggarisbawahi tentang donal tadi bahwa tidak adanya kemerdekaan logisitk
parpol, tidak adanya sumber dana yang cukup pada parpol. Ini akan menjadi
dependent karena dikuasai oleh pemegang kekuasaan dan pengusaha yang memiliki
modal yang cukup. Maka dua aspek inilah yang akan mengrogoti values of democracy
leaving the party system. Ketika partai harus memilih ketua umum, calon bupati,
walikotamdan gubernur toh mereka harus berkompromi dengan pemilik modal. Jadi
apabila kita tidak bisa menyelesaikan logistikal politicak party system, selama itu kita
tidak akan dapat bermimpi untuk mewujudkan internal democracy leaving the party
system. Persoalannya di indonesia adalah, indonesia adalah negara yang besar. Harus
ada pengaturan yang jelas mengenai donasi-donasi dari phak swasta,kecuali memang
tidak diatur. Parpol di indonesia ini sangat oligarki, tapi mungkin ada beberapa yang
tidak, karena penentuannya tidak berdasarkan hak feto, tetapi pemilik sahamnya
adalah yang prioritas. Bagaimana soal internal demokrasi di parpol itu kita buat, itu
sih pertanyaan yang dapat kita jawab sangat jeli kalau kita mau. Nah sekarang iniyang
menjadi concernnya adalah adanya campur tangan dari pengusaha. Parpol ini sudah
di rancang oleh pengusaha karena pengusaha itu memiliki kebutuhan bisnis yang
banyak. Nah pertanyaannya kenapa harry tanoe itu membuat parpol, padahal beliau
73
sudah sangat mapan secara financial. Itu sih sudah dapat kita jawab dan lihat
bersama alasannya. Partisipasi itu masih jauh dari itu. Negara kita ini masihnegara
nepotism. Dulu pendidikan parpol itu jalan,ada juga kaderisasinya. Bagaimana
pengkaderisasian ini berfungsi kalau kita diikat oleh kepentingan uang. Akhirnya
yang masuk adalah yang tidal berkualitas. Kita menginginkan lebih banyak regulasi
atau, tidakada regulasinya, itu juga akan mmenjadi sesuatu pertimbangan anggaran
juga.
Prof. Henk kumelling
....
2. SESI 2 (13.30-16.00)
Moderator
: Fritz Siregar
Dengan narasumber
-
Patrick ziegenhein
-
Peserta dengan makalah terpilih
Notulen
:
Niko harjanto
: Dzikra atiqa
Di indonesia ini banyak posisi publik, kemudian partai itu mempunyai kuasa untuk
menempatkannya. Dan yang kita kenal ado capres, menterii, caleg,gubernur, bupati
dan walikota masih banyak lagi sebenarnya beberapa posisi yanng ada di kalangan
pejabat publik. Kemudian, komisaris BUMN,itu memiliki posisi yang praktis
danstruktural. Nah, meskipun secara hukum itukita ini adalah equality before the law,
kita berbicara tentang kandidasi pejabat publik. Sering kali equality before the law,
itu sekarang biasanya hanya sebuah slogan saja. Dan dari tadi kitajuga mendengar
bagaimana pengaruh capital pengaruh uang kedekakatan secara pemikiran dan
seterusnya itu bisa membuat perubahan itu tdak ada. Nah ini yang saya kira menjadi
hal penting dalam kajian-kajian, jadi bagaiman demokrasi
itu sendiri bisa
menyabotase equality before the law. Sekali lagi kita harus menyadari bahwa we are
not equal, memang kalaukita berbicara tentang politik, kita akan menumakan materi
seperti kenapa perempuan itu lebih sedikit jumlahnya, atau peluang kmenangannya
itu lebih sedikit. Soalnya orang-orang dengan latar belakang tertentu lebih tinggi
74
keterpilihannya dari yang lain misalkan di dalam populasi dan seterusnya itu. Kita
harus ingat bahwa topik yang menjadi ingkra tentang pembicaraan kita pada siang ini
adalah tentang partai politik, kalau kita melihat defenisi dari parpol itu sendiri bisa
satu buku kita menyimpulkannya. Tapi saya mengambl yang beberapa saja, yang saya
kira baik itu perspektif ekonomi,kelembagaan, in the end parpol itu membicarakan
tentang keinginannya untuk menang. Menang untuk memenangkan jabatan-jabatan
publik. Jadi kalau parpol itu didirikan hanya untuk memberikan kritik atau segala
macem, ada 3 literatur tentang parpol ada sicking party,politisy sicking ini biasanya
mereka tetap mempunyai aspirasi untuk memenangkan kompetisi. Yang berfokusnya
kepada menang saya kira adalah menjadi ambigu karena menang itu tidak bisa
dilakukan secara total karena itu fairplay kok . Tapi pada saat menjelang kompetisi
itu akan banyak hal-hal yang akan hal yang berperang seperti adanya media,
modal,kemudian kualitas-kualitas tentang kandidatnya,yang selalu berperan. Ini yang
saya kira bahwasannya membuat parpol ini terkadang kurang demokrasi. Saya
pernah ada penelitian di ukraina sekitar 3 bulan kebetulan mewawancari beberapa
pengurus partai yang ada di ukraina dan menjadi perbandingan bagi negara kita. Jadi
itu juga sama mereka mencoba untuk berada pada rulenya itu juga tidak bisa,
kemudian mereka harus melakukan impovisasi dan bersikap survive , karena kalu
nngak partainya akan habis. Apalagi kalau istilahnya itu prosesuor dari pemilihan
party in the past. Demokrasi atau pemilihan partai itu memang berbicara mengenai
sepuluh tahun terakhir, kalau saya melihat literatur di beberapa negara pernah
mengalami peningkatan, peningkatan atensi dan political rule dibeberapa negara.
Misalnya di Porugis, Spain, UK, partai-partai politik disana setelah banyak mengalami
kekalahan dari segi membership,kinerja politik dan segala macem, mereka mencoba
untuk melakukan modifikasi internal,dengan membuka proses seleksi ketua
pimpinan parpol. Kemudian mereka menukar tata kelola organisasi dan mereka juga
lebih meresponshipbaik itu dari dukungan internal-internal. Kemudian mereka juga
mengadakan perubahan-perubahan dalam hal sirkulasi elitnya. Biasanya mereka
berkutat pada hal yang aman atau potensi kemenangannya tinggi dan segala macam,
dan sekarang sudah mulai muncul pertimbangan-pertimbangan, lebih baik tidak
menang sekarang tapi untuk long time akan lebih baik. Jadi itu yang memang adanya
tarikan-tarikan antara pragmantisme dengan political long tirm itu memang susah
75
diubah. Kemudian pengalihan hal yang strategis banyak dibuka. Kalau dulu misalnya
diputuskan oleh political party atau selection comite,sekarang banyak juga di
produksi atau model-model yang seperti relaction dan seterusnya. Nah, mengapa
demokratis itu dapat berjalan, memang itu kembali pada hal yang memenangkan
survivor dari partai itu. Kemudian salah satu yang dapat dijual oleh partai itu adalah
simbol-simbol partai dan pimpinan partai. Jadi pimnpinan partai itu harus menjadi
aset dari intern partai. Dan proses pengisiannya pun harus banyak melibatkan
masyarakat itu yang pertama, sehingga disaat mereka sudah menduduki posisi
minimal sudah ada traditional suporter dan yang konsikuen yang sudah siap untuk
membantu pimpinan parpol tersebut. Kemudian kalau parta yang sudah kalah
strategi dan seterusnya, pergantian pimpinan partai itu nerupakan sebuah kebutuhan
dari generasi dan seterusnya. Kemudian juga, ini juga yang menjadi alasan salah
satunya kenapa pemilihan pimpinan partai itu cenderung pemilihan bertukar itu
karena memang dulu partai misalnya GOLKAR sangat kuat dengan representasi
dengan dana dan seterusnya,dn yang lain kurang. Nah ini yang saya kira menjadi oleh
karena itu pembukaan dari proses seleksi adalah untuk agar partai ini lebih
representatif. Selain itu, demokratisasi didalam partai itu juga sudah meningkat
akuntabilitas didalam partai tersebut. Jadi legitimasi parpol itu tidak menurun.
Makanya banyak yang berbicara bahwa parpol itu hanya menjadi EO,bahkan hanya
menjadi cheerleader,salah satunya banyak yang menjadi team maker, karena banyak
visi dari partai itu sudah banyak yang dapat disubtitusidengan lembaga-lembaga
yang lain. Saya kira pendidikan parpol itu banyak diberikan oleh icw dan lainnya.
Daripada dari parpol itu sendiri. Salah satunya saya berharap adanya keingnan dari
parpol untuk melakukan edukasi politik yabg anti korupsi, dan saya kira lebih banyak
CSO,PUSaKO dan lainnya. Saya kira CSO ini lebih bagus-bagus, lebh banyak yang baru-
baru dan segar dan berkualitas juga. Ada partai sosmed,partai relawan dan partaipartai yang memiliki legal formal yang secara kinerja lebih terasa seperti itu, dan
seterusnya.
Mengapa demokrasi internal di parpol itu sangat sulit, karena kita melihat parpol ini
hanya suatu institusi demokrasi, istilahnya selalu terkait dengan sistem politiknya
sendiri dan penyusunan kepartaiannya. Kalau kita tidak menempatkan analisa kita
kepada tiga level ini minimal, maka biasanya kita akan mendapatkan apa namanya
76
legitimasi permasalahan atau permasalahan sebenarnya. Jadi kalau yang kita pahami
partai hanya sebagai politik tidak menjadi bagian dari sub sistem partai,atau
subsistem dari papol, maka kita mungkin akan cenderung dengan partai yang harus
menjadi partai berdemokratik. Tapi ketika kita akan menerapkan, gaada yang mau
terlibat dan terlalu serius ia kan? Untuk kita ini, kebanyakan menamakan politikal
party jadi ada unsur kegembiraannya dan segala macem. Hal-hal yang harus kita
pahami mulai dari sekarang adalah arah tentang politiknya, ini yang disinggung oleh
kemenkumham,dan
dari
segi
kepartaiannya
baru
kita
memakai
politkal
sederhana.dan sistem kepartaiannya yang sangat berkapasitas,atau kita mau
menggunakan sistem kepartaian yang sangat restriktif atau bahkan mereka memakai
hal-hal yang lebih bagus atau setrusnya ataupun sistem berorientasi. Saat ini di
indonesia saya kira berbicara tentang politikal parti yang sangat membuat parpol ini
akan sangat terbebani dan seterusnya, atau karena parpol ini menjadi kepentingan
nasional,kecuali ada aja. Itu overeight costnya sangat tinggi. Itu ada perwakilannya
diseluruh provnsiada 50% kuota di banyak kegiatan oleh karena itu, kalau ciri dari
partai yang harus melaksanakan tugasnya itu adalah berkaitan misalnya dengan
subsidi negara,dibaca juga oleh oligarki dan kapital. Sebenarnya banyak pendekatan
juga. Kalau kita melihat bagaimana internal dipartai ini bisa kita dorong dengan
krisis, nah ini sebenarnya membuka peluang misalnya adanya perbaikan-perbaikan
di AD/ART dalam tata kelompok tersebut supaya kolektif insentif itu dapat dikelola
dengan baik. Jangan sampai tata kelolapartai tersebut yang bertanggungjawab lepas
tangan begitu saja. Ada beberapa negara lain yang merasa tidak ada gunanya maka
dilepas. Kemudian saya juga melihat bahwa sebenranya partai itu presensial,ketika
presensial parpol itu terjadi sehingga memang mengharapkan parpol itu sangat
ideologi kok. Sehingga memang cenderung menjadi partai yang cooperative. Apabila
dia tidak cooperative sebenarnya juga tidak dapat dikataka cooperative juga,sama
seperti zaman pak sby itu semua partai berada didalam tapi Ppdip itu berada diluar,
misalkan pada saat adanya pak taufik yang menginginkan konsolidasi agak
bertengkar dengan ibuk dansegala macem. Dan menjadi bagian dari pemerintah itu,
bagi pemerintah yang berhasil itu merupakan suatu advantge sehingga itu yang
terjadi dinegara, presidennya tidak mau menerimanya saja gitu,saya kira udahlah
jangan macem-macem lagi seperti itu. Krisis dipartai itu ketika rapat dipartai sulit
77
terlepas dari adanya pola-pola komunikasi dan ini yang akan terjadi nanti sehingga
menjadikan partai itu ada kegamangan dan kegagapan atau adanya invest pada
metode baru atau tetap pata network yang lama. Daripada main di medsos atau
segala macemnya udahlah kita organized aja preman-preman ini dan segala
macemnya,sehingga ketika mereka ada kampanye mereka bisa melaksanakan
mobilisasi.
Terkait dengan kandidasidan nominasi, untuk tambahan saja untuk dibeberapa
negara. Dan misalnya nominasi ini kan banyak posisi. Nominasi di Amerika itu bisa
macem-macem, bisa dewan sekolah, dll dan badan pengawasan keuangan wilayah
dan segala mecemnya juga dipilih, bahkan dipilih dari pemilu. Maka banyak sekali
menjadi pilihan bagi pemilih disana. Memang kalu kita berbicara mengenai proses
yaitu ada beberapavariasi, jadi event di amerika punya 50negara bagian,ada suatu
negara bagian yang AD/ARTnya dipilih. Memnag california merupakan negara yang
paling kompetitif, selalu dimenangkan oleh demokrat, tapi mereka memang
mengorganized bagaimana memperbaiki proses nominasi atau kandidasi. Mereka
mempunyai 3 regulasi dalam kandidasi. Endorsement dilakukan sebelumadanya
konfrensi, kalau...ini biasanya dilakukan dicabang-cabang partai tersebut lebih
administratif disini. Jadi konfensi partai dinegara bagian itu biasanya sifatnya
kornation, sepertikemarinhillary menang, dans seterusnya,sebenarnya sudah menang
dri awalnya. Nah kalau dilihat di indonesia memang banyak partai yang menawarkan
proses seleksi partai di masyarakat, biasanya proses kandidasi ini sangat tertutup.
Kandidasi yang demokratis itu bagaimana? saya pernah mengikuti konferensi yang
melahirkan 3 tahapan kadidasi yang demokrasi itu. Yang demokratis itu pertama
melalui screning dulu dari pansel,kemudian partai mebuat comite untuk menyaring
lagi,lalu partai yang memilih secara konsituent mana yang harus didukung seperti
jabatan presiden, senator, dansegala macem, tapi tentu sangat panjang prosesnya.
Maunya kerjanya pendek kan sendiri-sendiri dan cepat selesai. Memang sekarang ada
gimik-gimik keperluan dari sebuah partai, fit on propertise itu untuk kualitaslah
terutama untuk partisipasi dari anggota partai dan pemilih tersebut.
Kalau di Indonesia, saya kira kita sudahpaham bagaimana prisesnya, partai itu
memang sangat elitis. Kalau tidak kuat secara financial maka tidak bisa untuk
menjalankannya. Kadang partai misalnya PDIP itu semasa SD kan sangat oposisi
78
berada sangat legal diluar pemerinthan. Tapi didaerah mereka bekerjasama untuk
mendapatkan suaranya. Jadi saya tidak ada ideologi, jadi saya sekali lagi paling tidak
adalah untuk meenangkan kursi-kursi publik. Dan saya kira sudah banyak sekali hal
yang harus kita benahi dalam sesi pengisian ini terutama dalam hal menghindari
politik dinasti, memperkuat perwakilan perempuan, kemudian representasi dari
sosioligis masyarakat indonesia,dan yang paliing penting adalah meningkatkan
kualitas itu sendiri. Terimakasih pak fritz..
Moderator
Sepertinya 20 menit tidak cukup untuk menangkap apa yang sudah diterangkan olrg
saudara niko. Karena beliau melihat proses pencalonan itu bukan hanya indonesia,
tapi juga di amerika,dan ada dibeberapa negara bagian juga. Banyak hal yang bisa kita
eksplore. Tapi saya yakin kita dapat berdiskusi lagi nantinya. Pak niko dari amerika
maka kita akan terbang ke eropa, pak patrick. Orang yang sebenarnya basicnya
jerman tapi banyak melakukan penelitian di Indonesia. Memperkenalkan patrick..
Patrick ziegenhein
Intra-Party Democracy and the Selection of Candidates - Experiences from
Europe
introduction
•
•
•
•
Representative Democracy: People elect representatives/ leaders who act on
their behalf for a certain time
How this process of representation can be organized?
In most countries: Political parties as representation organizations of major
societal groups propose candidates
In modern democracies, political parties are
•
•
•
responsible for interest aggregation
fulfill a representative function which links voters to the state
intermediary institutions, which help to organize parliamentary
majorities
the main source and mechanism of candidate recruitment
Candidate selection
•
Selection of candidates (who want to contest an election for political office) as
a fundamental function of political parties
79
•
Important criteria for a Candidate Selection:
– Who is eligible to become a candidate?
– Who shall be nominated?
– Who are the selectors?
– What kind of system used is used by the selectors?
Who are the selectors?
•
•
•
Party leader decides
Small (informal) nominating committee from the top party level plays the
central role
Selection by delegates, for instance at a party convention, where the delegates
•
have been selected specially to pick nominees for the election.
•
candidates, i.e. party primaries
Party members (registered for a certain time, paid fees) directly select the
More or less all voters can take part in the selection process: Open or closed
(registered supporters) primaries
Intra-Party Democracy
No universal definition, but some basic principles
•
•
Electivity,
accountability,
representation
transparency,
inclusivity,
participation,
and
Organization of free, fair and regular elections of internal positions as well as
candidates for representative bodies
Challenges
•
Dominance of elites, the "iron law of oligarchy" has long suggested that
political parties, despite being formally democratic organizations, are in fact
•
•
•
controlled by their leaderships and bureaucracies
Non-competitive leadership elections
Discriminatory selection of candidates
Clientelism and patronage
Europe: Differences to Indonesia
•
In most European countries: Parliamentary system of government with
proportional election system
80
•
•
Head of government (in Europe: Prime Minister/ Chancellor) is elected from
parliament and not from the people
Therefore, individuals can only become Prime Minister if they are supported
•
by a party (or in most cases a coalition of parties)
•
meaning: people vote for parties
Proportional election system (similar with Indonesia, but mostly no open list),
People vote party lists, meaning the party determines who is on which
position of the list (-> Party Discipline)
Challenges for political Parties in Europe
In Europe: Three strong trends that resulted in structural changes of relationships to
supporters
•
•
•
Declining voter loyalty
Declining party membership
Declining importance of traditional voters’ camps in society, less importance
of ideologies
Reactions
•
•
•
•
Professionalisation/Medialisation
Personalisation/Populism
Expansion of intra-party democracy
Introduction of (closed) primaries in many parties
Independent Candidates in Europe
•
•
Only in direct elections for an executive position (mayor, governor, in some
cases for ceremonial president)
For a legislature only in countries with weak party organizations and with a
•
first-past-the post election system
•
more political parties
There are many independent mayors but usually they are supported by one or
In most European legislative elections independents usually have a minimal
realistic chance of electoral success at national level without
– the official endorsement of parties,
– the financial assistance of parties
– the organizational resources that parties provide
81
Experiences from France
•
•
Semi-presidentialism, direct elections for President
In 2011: Socialist Party opted for an Open Primary (also non-members) for its
•
presidential candidate
•
Martine Aubry
First Round six candidates, Run-off Election between Francois Hollande and
The Republicans will hold presidential primaries to select a presidential
candidate on 20 November 2016
Experiences from Germany
•
The German Basic Law requires political parties to be organized
democratically in order to enjoy privileges, including public funding (ban of
•
non-democratic parties)
Party law from 1967: Binding rules for the democratic election of party
leadership bodies, the adoption of party programs and the nomination of
•
parliamentary candidates
Candidates for the chancellorship are usually first determined by the
leadership behind closed doors and then unanimously “elected” by a national
•
•
party convention
Primaries did take recently in several of the states
Candidates for parliament or mayor/ city council are usually elected by local
members’ convention
Experiences from the UK
•
British Conservative Party: 8 distinct stages of nomination
– formal application to the party's central office
– interview with party officials
– Meeting with a ‘weekend’ selection board
– Entry into the national list of approved candidates
– application to particular constituencies
– interview by local constituency parties
– final nomination meeting among party members
82
•
Some steps may prove to be mere rubber-stamp formalities. Others may
involve competition among hundreds of applicants, uncertain outcomes, and
heated internal battles, especially for ‘safe’ party seats where the incumbent is
retiring
Conclusion
•
•
•
•
•
•
Intra-party democracy is usually fixed in European constitutions or party laws
However, significant differences between the de jure and de facto situation
European political parties are usually not run by one influential/rich person,
but also not free from oligarchic tendencies
Not many cases of dynasties but quite some patronage
Candidate nomination is generally an internal party matter
Evidence suggests a slight democratization of the nomination process with
more primaries
Moderator: Fritz Siregar
Ini sangat menarik sekali ya, maka langsung saja kita masuk pada sesi pemakalah
terpilih kepada saudara awaludin untuk dapat menjabarkan makalahnya.
Awaludin Marwan:
Terimakasih moderator, sebelumnya saya meminta maaf kepada paper ini adalah
paper hiburan, karena saya iseng saja menulis paper ini. Disuruh sama mas ferri
amsari untuk mempresentasikannya. Ini sebetulnya tiket untuk kepadang ini..
Baik saya akan menyampaikan beberapa inti dari paper saya.
Paper saya berjudul tentang “perbandingan sistem di pemilihan kandidat di partai
perbandingan Indonesia dan Belanda”.
Saya ingin menyampaikan rangking atau top skor lamanya ketua partai menjabat,jadi
cristiano ronaldo itu adalah bunda ratu kita buk mega. Beliau sudah hampir 19 tahun
menjabat,diikuti oleh messinya oleh wiranto dari 2006. Danternyata menjabat
sebagai ketua parpol ini tudak terjadi di Indonesia saja. Barangkali Prof kumeling
dapat mengkoreksi data saya yang ada ini. Yaitu makrub dari perdana menteri, beliau
adalah yang sekarang ada di partai pemerintah, sudah tiga kali menjabat. Sebelumnya
ada godwol itu dari tahun1966-1986 itu menjabat sebagai ketua partai PPTA, jadi
83
partai orang-orang turki,surinam,dan beberapa orang indonesia ada disan. Lalu ada
partai demokrat 66 yaitu hanskamreinlo menjabat dari tahun 1966-1986, kemudian
beliau menjadi ketua, anggota politik amner,lalu kemudian beliau menjabat lagi tahun
1986-1998, jadi kalau sebenarnya ronaldokita ini masih menjabat selama 19 tahun,di
belanda itu ada yang melampaui. Prabowo juga lama dari tahun 2008 lalu kemudian
yang baru surya paloh, walaupun kita belum melihat dari tahun 2011 sampai
sekarang mungkin lagi akan menjadi ketua. Kemudian demokrat, saya menyebutnya
the real bapak, walaupun ketua umumnyasudah ganti, tapi beliau merupakan
sisingamaharaja jiwanyalah. Saya ingin menkontekskan dengan teori kuantism yang
banyak dipakai oleh sosiolog sekarang terutama meken, paling tidak hal paling
utama.yang paling utama adalah, sistem feodal dan kita tahu bahwa komando
ditangan ketua partai yang lama ini,adalah yang sangat disanjung. Sehingga tradisi
cium tangan ini sangat melekat dalam aprpol ini. Lalu tidak efisien dantidak
berkeadilan. Saya memilih 2 kandidat kepala daerah misalnya, harus menunggu ibuk
bangun dari tidurnya dulu misalnya,atau baru selesai melaksanakan kegiatannya.
Yang ketiga adalah slogan siapa dapat apa,gitu kan. Siapa yang berkuasa,lalumenterimenterinya terpilih. Kalau seandainya di Belanda, aksen-aksen itu sedang
mengkampanyekan etnik compairing, ada profil etnis. Jad disitu ada orang maroko
bahkan yang menjadi ketuanya adalah abu thalib yaitu WN maroko itu sendiri.
Disinilah kita melihat minoritas itu jangankan diperbincangkan,bahkan haramkan.
Jadi kita mendambakan seseorang yang religius jadi ketum,seseorang keturuna arab
jadi ketum, indiajadi ketum. Yang di belanda pun masih jarang, jadi kalaupun belanda
perbandingannya dengan canada, kalau canada itu ada pra kabinet, nah kalau di
inggris,ini kritik dari para intelektual-intelektual yaitu kabinet multikultural.
Sementara di belanda itu ada kabinet putih. Disini juga demikian, disini jangan-jangan
ada kabinet pribumi. Nah diakhir saya presentasi, walaupn sebenarnya sudah
meratifikasi penghabisan diskriminasi, tapi kita terus melakukan diskriminasi dalam
arti. Saya terakhir ingin membuat kesimpulan bahwa saya tergugah dengan
pandangannya henk kumeling tentang spirit bahwa hukum perdata belanda dua
orang saja sudah diakui sebagai asosiasi. Yaitu untuk mengakui kebebasan
berasosiasi. Ataukah politik dari kelompok, pertanyaan saya adalah, kenapa PKI
sekarang dilarang? Jauh ya dari kandidat parpol, tapi saya selama forum tadi itu
84
menanya. Dan barang kali itu menjadi pertanyaan bersama. Yang jelas melanggar
sistem of asosiate, dan hak politik apakah forum ini dapat menjadi rekomendasi
utnuk melegalkan kembali PKI. Anggapan saya, saya meyakini bahwa PKI itu tidak
berslah, jadi UPT yang sudah memutuskan 3 macem dan sebagainya, kami sudah
meyakini suatu saat dijaman saya menunggu ..mati itu,akan hidup lagi. Terimakasih
Moderator: Fritz Siregar
Siapa yang akan memberikan pendapat
Asrinaldi:
Ada hal yang menarik yang disampaika oleh pemakalah, kalu erbicara demokrasi
sebenarnya bicara sistenmnya. Bukan hanya partainya saja, tapi juga pemilihnya. Dan
itu dari tadi tidak disebut walaupun temanya tentang parpol. Kalau kita ingin
membangunsistem demokrasi yang baik. Bagaimana mungkin masyarakat menilai
parpol kalau mereka tidak tahu seperti apa yang baiknya gtu. Dan kita juga tau
konstitusi yang ada dan terjadi di politik di sosialisasipolitik, komunikasi politik itu
memang tidak dijalankan. Sudah ada tadi rekan kita menyinggung tentang CSO. Tapi
itu diberikan hanya kepada partai. Persoalannya adalah, kenapa masih megawati,
wiranto, dan lainnya ya karena masyarakatnya tidak mempunyai edukasi politik itu.
Kalau ini juga tidak disinggung didalam UU saya yakin walaupunsudah dibiayai oleh
pemerintah, tapi tetap saja. Palingan hanya kelas menengah, tetapi hanya beberapa
persen kelas menengah yang dapat memberikan kontribusinya. Kalau bisa didalam
forum ini harusdisinggung mengenai politikal demokrasi ini. Kalaupun ini tidak
dilakukan walaupun pak wahyu idris dapat optimis,tapi saya masih pesimis. Yang
kedua perlulah dipikirkan kalau partai itu setelah adanya pendidikan atau gelar
pendidikan harus dan edukasi,karena nasyarakat kita banyak yang ditipu oleh wakilwakilnya. Yang ketiga, kita masih mengutamakan figur bukan ideologi partai,
sayakadang bertanya juga, tadi bung awaludin mengatakan juga ini bukmegawati
dengan oligarkinya dengan sosok seorang politisi. Coba kawan-kawan membuat
partai sendiri, sudah dilakukan oleh beberapa partai, masyarakat juga tidak memilih
mereka. Masaalahnya adalah, figur mereka itu masih diinginkan oleh masyarakat.
Terimakasih moderator.
85
Dian Bakti setiawan:
Terimakasih moderator, saya sangat tertarik dengan makalah dari awaludin tadi,
karena presentasinya sangat bagus ya. Tapi ada yang agak mengganjal bagi saya, jadi
tadi bung marwan termasuk yang berbicara bahwa dalam kerangka demokrasi dalam
hari ini, begitu ya. Bahwa komunis ini diharapkan dapat hidup kembali gitu ya. Tetapi
yang ada didalam bayangan saya, siapapun yang belajar marksisme, komunisme,
tentu akan tau andaikan dibayangkan oleh..pemerintah itu akan masuk dalam fase
ajaran marksisme itu.yaitu adanya diktator yang bertugas mengambil alih atau milk
orangkaya, pemerintah untuk dijadikan menjadi milik bersama. Jadi yang ingin saya
tanyakan adalah, bagaimana bung awaludin dapat menjelaskan demokrasi diktator
prograriat seperti marks itu nanti dapat kita pahami sebagai bagian dalam
topikutama pada diskusi kita siang ini. Saya ingin dengar penjelasannya terimakasih.
Niko Haryanto:
Baik terimakasih tadi banyak yang memberikan tanggapan dan bertanya tapi tdak
ada yang merujuk kepada saya,mungkin karena kurang jelaskali. Jadi begini ada krisis
dalam berdemokrasi, demokrasi tidak dapat dipakai istilahnya untuk membunuh
demokrasi ini. Tahun 90 an awal, di aljazair itu pernah ada kekuatan islam yang kuat,
salah satu janji kampanyenya itu adalah menegakkan negara islam. Mereka yakin
akan menang, yang terjadi adalah adanya peralihan kekuasaan. Sekali lagi
demokrasiitu tidak dapat dipakai untuk membunuh demokrasi itu sendiri. Tidak bisa
kebersamaan demokrasi kemudia di regulate kan yang membuat kerusakan dari segi
demokrasi itu sendiri. Baiklah mungkin ini sebagai prinsip universal mungkin pak
patrik dapatmenjelaskan lebih banyak lagi. Kemudian usulandari pakasrinaldi tdi
masalak adanya etik di parpol, sehingga ini akan menumbuhkan kepercayaan
masyarakat. Memang variabelnya sangat banyak. Saya beberapakali mambuat suvei
nasional, saya meneliti berapa tingkat ketertarikan masyarakat terhadap demokrasi
itu saya kira diatas 80%. Tapi kalau kita berbicara tentang pemerintahan, apakah ini
sudah sesuai dengan yang kita mau atau seterusnya. Kalau kita berbicara tentang
kinerja, itu belum lagi apalagi berbicara DPR dan parpol itu paling bawah. Percaya
86
pada satu parpol 40%. Kita tidak bisa mengharapkan kesadarabn politik itu tumbuh
secara pesat. Jadi demokrasi itu kalautidak ngefans dengan pak SBY tidak akan maju
demokrat. Kalu tidak ngefans sama buk mega, tidak mungkin akan betah banget di
situ. Kalau di negara maju, sangat beda sekali antara pengurus partai dengan politisi.
Memang kita tidak memiliki sistem pemilu yang sangat ekuent, kita sangat pasif
karena kita hanya melaksanakn pemilu itu sekali lima tahun tapi kalu waktu saya di
amerika, pemilu itu ada sekali dua tahun.banyak anggota DPR diamerka itu hanya 2
tahun. Karena 2 tahun, jadi masyarakat itu bisa selalu mengevaluasi. Karen 2 tahun
anggota DPR pasti akan balik modal. Tapi gapapa kampanye cerdas. Itu sih ga masalh,
apalagi Anggota DPR di Amerika, kalu senator kekuatan badgetrynya itu luar biasa.
Kalau senator itu tidak keluar, tapi kalu DPR itu langsung keluar. Karena 2 tahun
rutin, hak recall dimasyarakat itu tidak terlalu diperukan. Tapi di negara bagian ada
yang membuat mekanisme adanya langsung hak recall darimasyarakat. Sayangnya di
indonesia semuanya itu harus sama dan seragam. Mungkin kedepannya yang
menjadikajianbagi teman-teman yang dibidang HTN akan mengkaji adanya variasi
antar daerah. Antara daerah itu ada punya perubahan atau memiliki hak recall.
Patrick:
Semua orang bertanya tentang indonesia ya, tpi saya kira juga penting untuk
akademisi saya juga melihat keluar kenegara lain. Mungkin eropa tidak terlalu beda,
tapi mungkin indonesia sedikit mirip dengan fillipin.banyak kita belajar dengan
negara tetangga,indonesia unik ya,ya walaupun banyak perbedaan sejarah dan
budaya. Tapi saya kira penting melihat kenegara lain. Baik terimakasih.
Awaludin:
Mas asrinaldi,munkin itu adalah pemiikiran pemikiran saya, tentang federasi, janganjangan sentimen saya itu salah. Masih ada yang percaya bahwa PKI itu salah mohon
maaf oleh tau umurnya berapa mas,oh berarti masih ada benarnya. Barangkali
tadiada temen-temen yang sma dengan saya atau dibawah saya percaya bahwa
komunis itu tidak benar, barangkali kesinpulan saya yang salah. Mungkin seperti itu.
Novrizal:
87
Mungkin menyambung ya. Yang saya tangkap bukan menghidupkan lagi PKI nya
sebetulnya itu yang saya tangkap, bahwa di belanda itu dua orang saja sudah bisa
berasosiasi. Kemudian untuk berukar pendapat kemudian berserikat atau berkumpul
kan di konstitusi kita tidak menyebutkan kalu parpol itu harus bersifat nasional tidak.
UU lah yang mengatur sebenarnya dan membuat sulit untuk orang melaksanakan
berserikat. Oke mungkin aceh pernah seperti itu dengan kearifan lokalnya, tapi
kansekarang juga tidak ada lagi. Provinsi yang lain pada saat itu sudah aman. Kalau
menurut saya, sekarang itu tidak peru lagi harus bersifat nasional dalam arti 34
proviinsi dan harus ada wakilnya, 75%di tiap-tiap daerah. Itu salah satunya
mendirikan parpol itu sangat susah sekali. Berilah kebebasan orang mau membuat
parpol apapun jangan di garis bawahi. Namun apabila PKI, kita mempunyai
PANCASILA, nah apakah PKI ini sesuai dengan pancasila. Intinya adalah menurut
saya, untuk demokratisasi parpol silahkan saja, tapi lebih dari pada itu, jangalah lagi
kita mengedepankan kalau parpol itu harus bersifat nasional. Dan nanti temen-temen
akan bertanya ada nanti akan ada ratusan partai. Nah sistemnya bisa kita kontrol nah
nanti itu bagaimana mendudukan orang-orang untuk bisa mendudukan di parlemen.
Mungkin sebagai perbandingan saja. Di eropa itu mereka memiliki parlemen uni
eropa, parpolnya siapa,parpolnya adalah bukan dari negara-negara disitu, tapi setiap
negara anggota diberi jumlah kursi. Papol itu akan bersaing untukmebdapatkan kursi.
Itu saja mungkin itu hanya masukan mungkin.
Safrida:
Ini tema yang lagi hot. Tadi pak patrick tidak menceritakan detail bagaimana sistem
pemilihan ketum hanya mekanismenya saja, sedangkan di indonesia ini kita lihat
pemilihan ketua partai rata-rata sama. Kecuali demokrat pada saat masanya annas
urbaningrum. Aura yang sangat demokrasi yang luar biasa. Saya cukup
tertarikbagaimana pandangan narasumber terkait dengan pemilihan ketua partai
karena erat dengankepentingan hukum. Seperti yang terjadi pada golkar yang
menimbulkan dualisme partai. Itu mengakibatkan pilkadayang dilakukan secara
serentak itu cukup menimbulkan persoalan ukum yang baru seperti adanya
penyelesaian sengketa banyak terjadi. Banyak keputusandi daerah SUMUT
ditentukan oleh beberapa lembaga, karena memnag banyak ketentuan hukum atau
88
UU yang tidak mengatur itu. Terlalu banyak lembaga yang mempunyai otoritas untuk
menyelesaikan sengketa tersebut. Terimakasih mas fritz.
Taufiqurrahman:
Disatu sisi kita mempercayi parpol, disatu sisi tidak. Kenapa terbuka menurut saya
karena adanya ketidak percayaan itu, indendent juga karena tidak percaya, nah kiita,
memelihara sesuatu kemudian selalu diperbarui tetapi kita tidak percaya dengan itu,
betapa ironinya kita. Dan kita membicarakannya disini. Seolah-olah disaat kita
memberi dana dia akan membaik, nah kemudian apa yang hendak kita ketahui
tentang parpol itu adalah menjadi pemimpin partai, karena setelah reformasi, banyak
orang yang mau jadi pempimpin. Kemudian beberapa tokoh memegang teguh parpol
yang dibuatnya. Kemudiam faktor atau kualitas pemilih juga dapat dilihat dalam
pemilu. Saya kira PKI sampai sekarang itu secara prinsipmasih sebuah parpol, Cuma
tidak diakui negara. Karena masyarakat indonesia tidak menginginkan, saya kira
demokratis aja itu. Salah benar saya kira itu subjektif.saya kira bung marwan
dibangkitkan lagi keinginannya melalui teori marksisme ini.
Patrick:
Kalau otoriter tidak ada kemungkinan adanya demokratisasi internal partai. Beda
indonesia dengan eropa ini ada banyak persingan parpol di eropa. Tidak ada
legitimasi antara leader satu dengan yang lainnya. Adanya kompetisi internal partai.
Dan ada check and balances, bukan beda secara kebudayaan ya, kalau seorang yang
lebih pakar dapat melihat bahwa butuh orang yang mendukungnya. Kami melihat di
golkar, kalau akan maju menjadi ketum maka akan menggalang suara. Kalau ingin
merevisi UU parpol tidak masalah, tapi itu tidak mengubah terlalu signifikan.
Demikian termakasih..
Moderator: Fritz Siregar
Terimakasih rekan-rekan hasil diskusi kita ini akan dibacakan pada besok hari.
Terimakasih atas semuanya.salam sejahtera...
89
3. Sesi Ketiga (16.30-18.00)
Moderator
: Iwan Setiawan
Narasumber
: Mada Surbakti
Mada Surbakti :
salah satu masukan untuk forum kita karena itu terkait dengan keuangan, baik rekan
dan kolega sekalian dari tadi pagi kita sudah dengarkan bahwa semua proses politik
awalnya adalah dari partai politik itulah menjadi penting untuk membahas
demokrasi internal partai politik atau disebut dalam buku politik itu adalah intra
party democrcy, ada tiga dimensi besar dalam internal demokrasi itu sendiri yang
pertama adalah seleksi kandidat sebagai bentuk jabatan legislatif, yang kedua seleksi
pimpinan partai dan ketiga seleksi anggota partai terbagi-bagi dalam keputusan
partai-partai... tadi sudah didiskusikan dalam beberapa sesi kita tadi. dalam
rangkaian kita ada dimensi seleksi kader, ini jangan-jangan asal muasal carut marut
politik indonesia itu dari sendiri dari soal kandidat baik kandidat Presiden DPR,
DPRD Prov/kota. saya mencoba untuk melakukan assesment terkait proses seleksi
kandidat dalam pilpres, pileg dan pilkada yang ada didalam tulisan saya. nanti dari
makalah teman-teman juga ada yang dibicarakan nanti bisa kita bicarakan. nah dalam
pengelolaan assesment itu saya memakai kerangka analisis ilmuan politik terhadap
validasi. saya kelompokan menjadi 5 kategori untuk menilai proses seleksi yang
terjadi di Indonesia yang pertama dilihat dari sisi kandidatnya, yang kedua dari sisi
selektoralnya siapa yang menetapkan calon kandidat, yang ketiga mekanismenya
yang keempat tingkatannya pusat atau daerahnya, yang kelima ada tipo kandidat dari
validasi calon, ini kemudian yang saya pakai untuk melakukan assesmen di pileh atau
pilkada. soal kandidat biasanya ketua partai yang menjadi kandidat calon presiden.
hanya kedua dari ketiga pilpres dari kandidat bukan dari ketua partai, Wiranto ketika
konvensi golkar dan kedua Jokowi selebihnya adalah ketua partai ini termasuk
dengan sesi sebelumnya. karena ini berkaitan dengan orientasi pembentukan partai
adalah presiden. maka seperti yang disampaikan oleh mas Niko ketua demokrat dan
Republik menyapres. tapi di Indonesia malah lain ketika ketua justru mau menjadi
Presiden. nah ini kandidat untuk seleksi presiden dan selektoral sangat elitis. kecuali
90
2 konvensi konvensi golkar dan demokrat menjelang pemilu 2014. dengan
mengedapankan survey dari tiga lembaga ini cara baru profesionalisasi dalam
pencalonan kandidat. itu adalah fenonema-fenomena yang muncul dalan proses
penyeleksian calon kandidat partai di Indonesia. mekanisme seperti itu tempatya di
jakarta semua dan mana mungkin di daerah. tipe kandidat yang dihasilakan orang
dalam partai atau orang yang patuh partai. nah kira-kira assesment untuk pilpres
seperti itu. sama dalam kandidasi pileg kandidatnya biasanya pengurus. jarang sekali
masyrakat umum dilibatkan, masyarakat umum hanya untuk pemenuhan syarat
administrasi. mekanismenya sudah mulai terbuka di beberapa partai walaupun
dibeberpa partai masih tertutup. dibeberapa partai terutama partai besar melihat
mekanismenya semakikn terbuka dan tempat nya sudah juga mulai terdisentralisasi.
terutama golkar yang bagaimana mengupas bahwa golkar pasca seoharto sangat
disentralisasi sudah tidak umum lagi seperti golkar diperiode sebelumnya. tipe
kandidatnya semakin kecil partainya justru kandidat yang dihasilkan ugal-ugalan
yang seenaknya sendiri. tapi untuk partai besar justru mempunyai karakter orang
dalam. ini juga terkait soal berhasil fungsi rekruitmen dan kaderasisi. soal kandidasi
terkait fungsi partai sendiri. yang lain itu PAN jadi pelesatan partai abis nasional
karena caranya instan dan tidak punya finansial sehingga yang terjadi ada cara instan
untuk mencemot beberapa orang artis. nah ini kira-kira karakter umum kandidasi
untuk pileg di kalangan partai kita. untuk pilkada kandidaatnya di beberapa partai
adalah anggota partai dan beberapa partai bukan anggota partai. menariknya semikin
besar partai semakin orang dalam sendiri. selektoralnya di beberapa partai masih ada
dimensi sentralisasinya. di Kota Jogja misalnya, itu semua kandidat harus presentasi
di DPP jadi mereka harus presentasi dan sekaligus negosiasi dan kemudian baru
diputuskan siapa menjadi walikota kota Jogja, saya kira beberapa partai
mekanismenya sama, ini dalam rangka disentralisasi. kita perlu disentralisasi parpol
terutama soal kandidasi. pusat itu juga masih punya veto, apa proses yang sudah
dilakukan di daerah bisa mentah. terutama untuk daerah-daerah starategis yaitu
jakarta dan lainnnya. Jadi problema kita adalah di situ di ruang yang penuh misterius
itu. behind the scene itu adalah orang dalam bahkan orang dalam pun tidak tau
termasuk pengurus-pengurus partainya. jadi kalau tahapan ada tahapan penjaringan,
sosialiasasi dan penetapan. di proses penetapan ini ada ruang gelap.kalau di tahap
91
pendaftaran penjaringan di situ semua orang tau tapi di proses itu yang penuh
misteri, nah distu politik uang itu bisa terjadi. kami di UGM pernah melakukan riset
soal politik uang tapi yang kami jangkau di kampanyanye padahal kami sadar betul
bahwa proses politik uang itu sudah terjadi saat proses kandidasi itu. jadi esensi
semua itu adalah disitu, membuka ruang yang selama ini gelap dan tertutup dan gak
tau ini ada apa di runagn ini. yang tau hanya orang-orang itu. itu adalah masalah inti
yangn harus di bongkar. gmna cara membongkarnya setidak ada 2 tawaran yang bisa
jadi pertimbangan. pertama, ini saya kutip dari ..... dia mengusulkan three step
kandidation yaitu menggabungkan kebutuhan internal partai dengan kebutuhan
masyrakat diluar partai. jadi begini kita harus paham bahwa orang partai itu
kesulitan jadi berarti tidak kesulitan dalam melakukan kandidasi banyak sekali
dilema yang dipahami. ketika kandidasi sudah dilakukan dengan sangat demokratis
apakah ada jaminan untuk menang? itu pertanyaan pertama yang ditanya prakitis
parpol. dan itu kita tidak menjawab secara instan. selama ini kita sering di forum
seharian kita mendorong partai politik demokratis, tapi disisi praktisnya aapakah ada
jaminannnya. nah itu dilema yang dihadapi parpol. yang kedua dilemanya partisapasi
dan kepemimpinan yang kuat. partisipasi yang tinggi pemimpin itu akhrinya akan
melahirkan konflik internal itu yang terjadi di golkar. tapi sebaliknya ketika
pimpinannya kuat seperti PDIP, gerindra dan sebagianya itu ya partisapasi lemah tapi
partai itu tertib organisasi terkelola, jadi setiap ada konflik bisa di reduksi. ini dilema
juga yang dialami oleh parpol, kita mau partisipasi mau sejauh mana, kita pemimpin
yang kuat sejauh apa. tawarannnay itu untuk mengkomprimi dilema dilema itu. yang
pertama, masih eksklusif lah, tahap pertama adalah ini ada secreening komite yang
diserahkan kepada orang-orang partai tahapan selanjutnya dibentuk selected agecy
party dan ini bukan anggota pengurus partai tapi sudah mempresnetasikan
kelompok-kelompok didalam partai. tugasnya hanya mencek apakah sudah
mempenuhi syarat, misalnya di incumbent apakah sudah layak atau tidak. di tahap
ketiga diserahkan ke anggota partai, bagian yang sudah disrotir dan di filter akan
diserahkan kembali ke partai untuk nanti keputusannya sudah dibuat oleh semua
anggota, sehingga siapa dapat ranking berapa. dan prosesnya saat inkulisif
kedepanya. ini tawaran yang ideal dan tawaran yang kedua hampir sama sebanarnya
tapi masih perlu kita matangin lagi, pemilu pendahuluan, kayak mas Hasyim yang
92
baru dilantik di KPU RI masih mau hadir disini. di kemitraan kami mengusulkan
adanya pemilu pendahuluan sistemnya pemilu yang disebutkan agak menyelenek
tapi sistem tertutup itu harus di awali dengan pra election seperti apa formatnya, nah
kita perlu main di level teknis dan kita perlu rekomendasi rekomendasi. yang kita
bayangkan untuk pilkada Bupati atau Walikota misalnya disetiap desa sebuah partai
menyelenggarakan Konvensi memutuskan nama-nama. dan nama-nama itu dibawa
ketingkat Jakarta dan akan di putuskan di tingkat pengurus Bupati dan Kota. dengan
cara seperti ini kemudian partisipasi ini dapat lebih ditingkatkan. pemilu
pendahuluan bukan lah ide baru mekanisme ini sudah dilakukan. kita harapa ada
pemilu pendahuluan dan negara dapat mendorong nanti kalau partai memberikan
calon nama peserta sementara dan disitu harus ada catatan bahwa calon itu sudah di
pilih melalui konvensi yang partisipastif dan seterusnya dan ini beberapa saja
penewaran dari saya dan saya yakin dari anda semua ada tawaran lain dalam proses
kandidasi yang lebih demokratis dan saya akhiri, assalamualaikum, wr, wb
Moderator: Iwan Setriawan
nah tadi kita sudah dengarkan provokasi dari pak Mada untuk pengantar kita untuk
diskusi dan selanjutnya akan saya serahkan kepada. saya akan dahulukan kepada
pembicara ya jadi biar singkat langsung memberikan tanggapan
Mada Surbakti:
Jadi Fokusnya bukan ke saya
....
Moderator: Iwan Setriawan
Jadi tawaran tadi bagaimana cara seleksi calon administratif dan kepala daerah.
silahkan mas Rasyid
Rasyid:
terimkasih, bapak ibu sekalian ada empat catatan saya disini yaitu pengamatanpengamatan singkat yang saya lakukan yang pertama adalah pilpres tahun 2014
kemaren ada dua partai yang fenomenal menurut saya adalah demokrat yang
93
berpotensi bgtu hasilnya ada tapi di kombinasikan jadi bagi saya aneh. dan yang
kedua adalah golkar dia padahal pada rangking 2 tapi tidak punya calon, padahal
kalau punya dia berpotensi untuk adanya pertarungan yang ketat dan itu kalau bisa
dan kedua-keduanya tidak mencalonkan. pertanyaannya adalah mereka mau
ngapaian dan yang kedua dalam kontes pemilu legislatif disinilah kurang lebih dari
sekian banyak pemilih yang kemudian relatif acid dalam arti orang-orang yang
dicalonkan adalah orang dalam partai kalaupun ada orang bukan partai berarti itu
adalah pecahan partainya. sehingga ada orang yang diutus dalam artian pindah partai
kemana pun dia menjadi sehingga yang masalah itu bukan partai tapi orang ini
memang sakti. kemudian yang ketiga .... ada kecendrungan padahal partai nya mampu
mencalonkan tapi tidak mencalonkan bersangkutan tapi malah mencalonkan dari
partai lainnya contoh pak Yusril Irza Mahendra mencalon di pilgub tidak berasal dari
partainya bagi saya itu aneh. dan yang keempat ini tentang sentralisasi pencalonan.
jadi gagasan untuk mendisentralisasi pencalonan sudah hampir tidak bisa lagi. kalau
kita baca menurut UU 32 tahun 2004, 12 tahun 2008 kemudian UU 1 Tahun 2015, UU
No 8 tahun 2015 dan terakhir UU 10 tahun 2016 kecendurangan bukan disentralisasi
tetapi sentralisasi. ketika masih ada UU 32 dan 12 tahun 2008 itu masih ada frasa
pencalonan secara demokratis diserahkan sepenuhnya kepada AD/RT partai dari
salah satu dokumen yang diserahkan adalah berita acara prosesi seleksi dan ketika
UU NO 1 tahun 2015 tidak ada lagi pencalonan seperti itu, celaka UU No 8 Tahun
2015 mulai ada rumusan dimana ketika mendaftar langsung diserahkan dokumen SK
atau surat keputusan DPP tentang persetujuan terhadap calon tertentu. kalau
sebelumnya tidak ada, artinya urusan ini sebagai urusan sentral partai. dan lebih lagi
di UU 10 tahun 2016 selain diwajibkan membawa surat rekomendasi itu ada
kewajiban pengurus partai di tingkat daerah, karena kalau tidak maka proses
pencalonan akan diambil oleh DPP. jadi pengurus cabang yang tidak taat pada DPP
dapat dipidana jadi ketika ada kadernya ngeyel bandel itu dapat ada ancaman pidana
oleh kepengurusan partai itu, artinya apa dalam konteks pidana ini mengerucut
kepada sentralisasi dan yang saya khawatirkan terhadap pemilu atau pilkada
serentak kedepan. yang saya khawtirkan itu ketika antara pilgub dan DPRD provinsi,
walikota dengan DPRD kota dan untuk pemilu legislatif kitakan proposional sehingga
bayanagan disentralisasi pencalonan semakin suram karena apa diikuti suasana
94
proposional nah itu sedikit catatan saya terhadap sistem pemilu. itu beberapa catatan
saya..
Moderator: Iwan Setriawan
iya, ada lagi Bapak ibu yang membuat paper yang mau bicara? mas patrick bisa kita
berikan kesempatan. ibu suni?
...
baik bung suni, sedikit informasi kepada pak Hasyim. yang disebut dan ini apakah ini
merekomendasikan beberapa hal yang pertama, mendorong partai mempersiapkan
dan mencalonkan akder internal sendiri, yang kedua mas Hasyim setuju disentralisasi
kepala daerah yang ketiga model konvensi demokrat dan golkar kenapa tidak di
tuntaskan.. dan itu saja terimkasih
Sunny:
terimkasih pak saya moderator. assaslamualaikum wr, wb nama saya suni peserta
call paper dari sebelas maret semarang. pertanyaan diksusi ini karena kita bebas, ada
beberapa hal dalam mekalah saya yang menujukan demokratisasi partai politik, dan
di antara kita semua juga ada dari anggota partai politik juga namun jumlahnya tidak
lebih dari sepertiga jumlah anggota partai, tadikan kita membuat sebuah regulasi,
sebuah formulasi terkait demokratisasi partai politik artinya kita akan mengatur
bagiaman partai politik itu akan tumbuh dan berkembang.. beberapa perbandingan
yang dikeluarkan oleh teman-teman di beberapa negara saya sangat salut dan
menjadi menambah wacana pemilu dan sistem ketata negaraan. namun terkait
dengan konstruksi hukum yang ada indonesia saya kembali kepada catatan yang ada
tadi yang pertama terkait political regulation, political culture dan political .... jadi kita
tidak bisa serta merta mengambil konsep-konsep pemilu di beberapa negara dan
saya akan beralih kepada sistem hukum yang lain ada suatu teori yang saya pakai
yaitu teori ....suatu aturan hukum yang baik itu sebisa mungkin mengadopsi dari
common law. common law yang dibungkus dengan .... akan sangat implementatif dan
efektif artinya kita akan meracanang produku hukum untuk parpol. ini suatu hal
yang menueut saya perlu kita fikirkan juga kecuali sebagai besar mungkin juga
95
anggota parpol. parpol indonesia kondisinya memang seperti itu, dan kalau kita
diskusi dengan parpol kita akan sampai pada suatu kondisi untuk melegalkan money
politic dan itu sangat ironis sekali. kalau money politic itu sudah sangat menderah
daging dan itu dimana-dimana itu akan terjadi secra terbuka atau tertutup itu akan
terjadi. dan sekarang produk hukum yang ingin kita bikin ini adalah satu, kita akan
membuat konsep sosial engenering tapi seberapa jauh kita akan merekayasa
masyarakat kita dengan kondisi kultur seperti ini. tetapi kalau kemudian kita mohon
maaf kalau kita bicara berapa uang yang akan dikeluarkan agar orang bisa duduk di
DPR, kalau di DPRD kota saja saya tidak bisa bayangkan. saya tidak pernah
membayang penting bagi beliau adalah 2 miliar, ini tidak bisa dinafikan kita masih
melihat ini rentetan yang terjadi di masyrakat. mungkin hanya beberapa persen yang
tidak mengeluarkan cost politic dan ini yang bisa kita jadikan diskusi juga. apapun
yang kita lakukan pada saat ini kita tidak akan bisa berada dimenera gading yang
tidak ada penghuni. saya kira itu saya ucapakan terimkasih
Moderator: Iwan Setriawan
Ibu Sunni bisa membuat sebuah rekomendasi?
Sunny:
jadi rekomendasi terkait dengan persoalan pembiayan aprtai politik terbagi dua jalur
saya sangat sepakat, Cuma rekomendasi yang saya lakukan terkait perosalan
kandidat kite kembalikan ke local wisdom dan disentralisasi. sekian terimkasih
Moderator: Iwan Setriawan
Baik silahkan lanjut, mohon disebutkan nama dan dari mana
..
saya ... dari pusat kajian LIPI, ada satu hal yang menarik bahwa mencermati asas
pemilihan partai yang akhir-akhir ini adalah fenomena politik uang dalam pemilihan
ketua partai. itu problem dari masing-masing ketua umum yang dipilih berdasarkan
delgasi yang dari daerah. untuk dapat dukungan-dukungan delegasi daerah dia harus
mengganti agar mendapat dukungan dari daerah. besar dukungan dari daerah itu
yang sangat penting dengan membayar sejumlah uang dengan konteks bagaiamana
96
dia membelinya. dalam konteks ini adalah rekomendasi yang penting bahwa proses
seleksi daerah adalah ketua umum suara itu harus dari DPD karena dalam progres
saura muktamar pun bisa berbeda. nah kemudian pendahuluan dari konteks
disentralisasi itulah yang penting. yang kedua adalah bahwa perkembangan parpol
pasca reformasi didahului dengan paratai politik presidensiasi artinya apa bahwa
parpol menjadi kenderaan utama untuk menjdai calon presiden. parpol kemudian di
ikut figur tertentu ini kemudian apa mereka tidak mengdemokrasikan internal
karena fraksi-fraksinya sudah dikuasai. karena dalam pengusaan parpol tidak
dimungkinkan melahirkan faksi faksi kecil dan inilah demokrasi itu harus dimulai
dengan mendomkratisasikan ini. dalam konteks ini rekomendasi saya adalah
bagiamana parpol mengangkat isu demokratisasi parpol, salah satunya partai tidak
menjadi super... dari pemimipinya, nah itu saja terimkasih..
Moderator: Iwan Setriawan
Singkat saja ya pak, biar yang lain yang belum ngomong.. jadi yang kita butuhkan
adalah rekomendasi saja pak
...
Assalamualaikum wr, wb. baik terimakasih, rekomendasi saya yang pertama adalah
kegiatan ini harus diperpanjang ini, bapak/ibu yang saya hormati kalau pengalaman
saya waktu yang segini tidak cukup. waktu kita untuk menyampaikan hanya sekitar 2
menit. catatan kedua, saya berkeyakinin teman-teman disini memiliki potensi untuk
mengubah itu semua. sekrang bagiaman menara yang sudah ada ini mengikuti desain
pertanggungjawaban nanti .......rekomendasi saya yang kedua kalau saya melihat apa
yang disampaikan Prof. Saldi Isra soal parpol yang akan dibaiayi negara saya tidak
sepakat untuk negara membiayai parpol alasan saya sangat sederhana karena kita itu
membutuhkan biaya yang sangat besar untuk kemudian desentralisasi pembangunan
belum lagi masryakat yang susah dan miskin, sehinggga ironis menurut saya. dan
saya tidak sepakat dengan negara untuk membiayai partai politik. solusi saya adalah
kita melihat seakan partai politik adalah swasta dengan berbagai macam bentuk
usaha. tetapi saya merekomendasikan apa persoalan negara tidak satu informasi
yang di berikan oleh partai politik yang menjelaskan permasalahan yang dihadapi
97
parpol, sehingga kita menjadi subjektif mendengarkan partai politik. padahal parpol
telah melahirkan tokoh-tokoh nasional. maka kalau saya mau menarik kebelekang
menarik sejarah, catatan sederhana adalah memang saat dulu pada fase pertama
sejak pemilu sejak merdeka, fase kedua mempertahankan kemerdekaan
dan
sekrrang kita tidak tau fase dimana untuk mencari kejutan disemua level. sehingga
rekomendasi saya adalah pertama, perlu dihadirkan parpol untuk menjelaskan
semua itu dan menjadi balances bagi kita semua. yang kedua, soal fungsianaris parpol
untuk mem PAWkan anggota dewan dengan berbagai alasan, padahal anggota dewan
tersebut telah mewakili apresiasi dari daerahnya ini menjadi persaoalnya
sebenarnya, sehingga parpol tidak boleh semena-mena untuk PAW. lalu kalau kita liat
parpol dalam memperisiapkan kadernya maka kaderasasi harus dilakukan ...... dan
terakhir yang ingin saya sampaikan adalah bahwa di DKI itu sekarang sedang fokus,
meskipun itu isu DKI namun menjadi isu nasional saya mengatakan hal positif yang
perlu kita perkuat adalah kandidasi. sebagai calon independen kekuatan civil society
itu sangat berguna, saya kira bagiaman parpol harus membenahi diri agar
mendapatkan dukungan civil society tersebut. saya kira itu saja.. terimkasih
Moderator: iwan Setriawan
Silahkan bapak yang baju biru
Halimsyah:
saya halimsyah dari medan USU, persoalan mendasar dari parpol adalah kaderasisi
yang saya rasa. kaderisasi yang lemah itulah yang memunculkan permasalahanpermasalahan partai politik. rancangan UU kepala daerah ada rancangan yang
membenarkan anggota DPRD mencalonkan menjadi kepala Daerah, jadi hal itu
membuktikan kaderasisi itu tidak jalan. walaupun itu sudah jalan mungkin sudah di
tentukan itu, misalnya ini untuk calon kepala daerah dan ini untuk anggota DPR. jadi
semuanya sudah ditentukan. kemudian kalau kita liat pendidikan parpol juga tidak
jalan, kemudian kita lihat juga persoalan kandidasi dari parpol itu adalah feodal
bahwa sangat keluarga pengurus partai politik. memang mungkin ketentuan UU tidak
bisa mengatur secara rinci tetapi bisa mengatur hal-hal tertentu, bahwa misalnya
ketua umum parpol jangan anakanya yang menjadi pengurus janganlah sanak
98
keluarga yang ikut sebagai DPP parpol yang bersangkutan. jadi kelemahankelemahan itu yang bisa kita atasi. kemudian terkait dengan konvensi kenapa partai
politik tidak meneruskan pencalonan presiden atau kepala daerah hal ini
menunjukan bahwa syarat pencalonan presiden maupun calon kepala daerah harus
memperoleh suara tertentu dan kursi, jadi parpol tidak memperoleh kursi yang di
haruskan atau dikenal parlemnetary trashold atau presidensial trashold jadi mereka
tidak bisa mencalon pasangannnya di daerah. kalau kita ingin mempersoalkan
bagaiamna pemilihan ketua partai, seya kira UU tidak bisa masuk kesana, itu
tergantung partai itu sendiri.kemudian kalau kita lihat juga ketua partai bisa jadi
calon presiden karena kalau saya lihat sistem presidensil berbeda dengan sistem
kepartaian itu aturan yang berbeda. jadi kalau kita katakan ketua partai menjadi
presiden kalau di amerika serikat sendiri sangat jarang tapi kalau inggris pemenang
pemilu adalah menjadi perdana menteri. mm persoalan dari saya sudah cukup
terimkasih assalamualaikum wr, wb
Moderator: Iwan Setriawan
ini karena masih banyak lagi, waktu kita masih ada setengah jam lagi, jadi mohon kita
dahulukan yang belum bicara ..
Oce Madril:
baik terimakasih bapak/ibu semua, saya oce... kita semua serba bingung pak,
dikatakan parpol tidak demokrasi memang iya, tapi sebagai partai itu semua
menjelang hari pemilihan eh menjelang pendaftaran .... dikantor DPP masing partai
sudah kayak pasar, seluruh Bupati, Gubernur sibuk mengedarkan surat. contoh kasus
sumatera barat, partai nasional demokrat hari sabtu memasukan surat rekomendasi
calon dan hari minggu berubah lagi surat rekomendasinya, partai gerindra
mengirimkan nama calon dari DPP rekomendasi calon DPP bukan nama calon
tersebut, sampai jam 11 siang masih ada yang menelpon kami untuk menegosiasikan
calon yang akan dimasukan. saya mengatakan bahwa moral hazard biaya operasioanl
itu ditanggung oleh KPU, jadi apalagi yang membutuhkan biaya? transaksi saksi
seperti ini walaupun sudah dilarang masih banyak juga yang terjadi seperti ini. jadi
saya katakan bahwa disentralisasi parpol ada ketidak percayaan dari pusat ke daerah.
lalu ketika pusat tampil daerah tidak mendapatkan kesempatan. ...... itu dalam
99
pengawasn kami berpolitik secara langsung inilah serta marta yang kita hadapi
permsalahan parpol di daerah. tidak akan uang parpol yang banyak menjamin parpol
akan berkembang. kalau kita semua mengikuti sistem ini semua, kalau melihat partai
oligarki memang pemilik partainya yang seperti tersebut, mungkin sekian dari saya..
assalamualaikum wr, wb
Moderator: Iwan Setriawan
pak indra yaa. silahkan satu dua menit
...
terimkasih perkenal nama saya .... karena dikasih 2 menit saya beranjak dari anlogi
kalau kita membeli air agua itu ada tanggungjawab dari perusahaan air itu baik dan
sehat itu namanya prinsip tanggungjawab. prinsip tanggungjawab itu ada
berdasarkan moral dan ada yang berdasarkan kesalahan. dari situ saya beranjak
bagaimana parpol mencalonkan baik itu presiden, kepala daerah itu mencalonkan
orang-orang yang berintegirtas dan memounyai kapasitas. kalau kita analogikan
seperti tadi ketika parpol mencalon calon yang tidak berintegritas dapat diberikan
sanksi. saya langsung saja pada rekomendasi harus ada sanksi kepada aprpol akrena
data menujukan dari data pilkada serentak kemaren 2015 ada enam calon parpol
yaitu mantan narapidana dan 2 terpilih dan ini sangat miris sekali, orang yang
bermasalah dengan integritas dan hukum dapat dipilih. jika meilihat data kompas ada
300 calon yang bermasalah dengan hukum. tetepi kita malah abai untuk memberikan
sanksi kepada partai politik itu. jadi pointnya itu tadi saya rasa moderator gampang
memahami.. terimkasih
Moderator: Iwan Setriawan
ini suasana sudah mirip di DPR ...... terus pak
......
Adnan:
saya adnan dari UNPAD, saya mempunyai 2 rekomendasi, pertama usulan saya harus
ada UU yang memperkuat pengaturan parpol alasannya adalah kita ada 2 model
100
pengaturan negara terhadap parpol yaitu liberal dan yang mengatur secara strong.
kebanyakan negara yang tidak mengatur parpol adalah negara-negara yang liberal
misalnya amerika, kalau di Australia berbeda dengan metode intra party democracy
dan mulai masuk kepada pengaturan internal partai. nah justru negara-negara seperti
jerman mempunyai sejarah buruk dan dia memastikan bahwa partainya harus
demokratis dan juga konstiusional liberia biasanya pengaturan negara terhadap
partai sangat kuat dan ini sangat kontekstual dengan Indonesia yang kita bahwa
parpol dapat menjadi untuk melanggengkan kekuasaan pada masa soerharto. nah
oleh karena itu rekomendasi saya memperkuat pengaturan negar terhadap parpol
dan rekomendasi saya kedua adalah dari kita berbicara demokratisasi parpol dalam
pemilihan ketua partai nah satu prinsip pemilihan dalam demokratis adalah prinsip
inklusif. tadi ada yang bilang cara pemilihan itu berbeda, mulai dari forum kecil
hingga melibatkan electored dan itu mungkin konteksnya di negara parlementer....
nah rekomendasi saya di UU parpol yang mengatur tatacara parpol kita bisa menuju
pasal 22 yang mengatakan pemilihan ketua parpol disetiap lapisan itu di pilih secara
demokratis melalui AD/RT karena ketentuan langsung mendikte tiga hal, bahwa
pemilihan dilakukan secara demokratis, kedua demokratis langsung didefinisikan.
ketiga sesuai AD/RT harus mengatur secara demikian dalam proses demokrasi dan
musyawarah, ketentuan ini akan membatasi ketua partai politik yang tidak dipilih
secara demokratis. jadi pemilihan ketua partai politik paling demokratis melalui
konference dan itu pun masih terbatas. jadi itu saya rekomendasi saya yang kedua
bahwa dipasal 15 setiap anggota mempunya hak pilih. tapi tidak jelas orientasi. jadi
rekomendasi saya kedua membuat UU pasal 22 tentang mekanisme pemilihan
kepengurusan partai
Moderator: Iwan Setriawan
terutama terkait
Adnan:
terutama mekanisme kepengurusan partai harus dibuka dan langsung musyawarah
berarti secara demokratis berarti ada pemilihan langsung..
Moderator: Iwan Setriawan
101
tingga dua lagi silahakan.....
Muhammad Idris:
saya Muhamad idris, mungkin saya akan berangkat dari permasalahan kampung saya
sendiri ya pak. ketika saya berbicara nasional ...... ini permasalaha partai yang ada di
kampung saya sendiri dan bisa terjadi di daerah lain. kalau didaerah saya riau itu
preman saja bisa jadi Bupati kan dan adapula anggota DPR tidak pernah masuk rapat.
jadi ini suatu permasalahan kualitas seorang calon politik itu sendiri. jadi ada suatu
pembahasan ketika kawan naik bagaimana mencari kawan naik. dan untuk mencari
itu harus berusaha mem PAW kawan yang lain ini seperti homo lupus manusia
menjadi serigala bagi kawan yang lain jadi saya mengkombinasi satu solusi perlu
adanya pengaturan UU setiap orang mencalon kenapa dia layak untuk menjadi calon
dan dikiriman ke kementarian dan lembaga bersangkutan dan perlu ada barometer
yang jelas dan track record yang baik. baik sekian terimakasih
Moderator: Iwan Setriawan
silahkan bapak...
Andrian Habibie
baik pak, singkat saja kalau dalam pasal 29 UU pemilu itu dalam pengusulan itu
menggunakan seleksi kaderisasi sedangkan dalam pilkada untuk pemilihan
demokratis. saya kira itu tidak adil pertama yang harus dilakukan judicial review dia
harus seleksi caleg atau pilkada setelah itu kita minta tidak ada penjelesan seleksi
kaderisasi dan penjelasan demokratis jadi saran saya yang dinamakan kaderisasi
melakukan proses-proses pengkaderan...... jadi aturan KPU ada penegasan calon
bukan hanya pengaturan anggota. jadi harus melalukan pengkaderan harus
melakukan kegiatan sebagai follow upnya... rekomendasi saya satu amandemen UUD
1945 pasal 31 ayat 1 dengan menambahkan pasal kewajiban parpol melakukan
pendidikan parpol hbungannnya UU no 2 tahun 2011 dengan menambahkan
ketentuan
parpol
harus
melakukan
pendidikan
pengkaderan...... jadi jelas semua pak terimakasih
untuk
rekruitmen
dan
102
Moderator: Iwan Setriawan
waktu sepuluh menit saya minta 1 menit
....
langsung saja rekomendasi saya suksesi parpol yang tertuju pada munas atau
muktamar dan saya membagi menjadi tiga bagian yang awal persiapan yang kedua
tengah penyelenggaran da ketiga adalah bagian akhir. yang pertama adalah bagian
awal mengedepan sistem dalam parpol jadi kita mengutamakan prestasi nah
konkritnya mengedapkan visi misi dan track record musyawraah nasional dan ketiga
yang mencerdaskan pemilih. yang kedua terkait proses penyelenggaran memasukan
intitusi negara dalam pencalonan ketua partai ini PPATK terkait audit keuangan calon
dan kedua KPK untuk masuk terhadap indikasi korupsi dan ketiga polisi dan MA
apakah seeseorang melakukan tindakan kejahatan dan keempat komnas ham dan
yang terakhir pasal terakhir komitmen ketua partai politik kalau ingin menjabat
menjadi jabatan negara......
Moderator: Iwan Setriawan
baik silahkan lanjutkan singkat
......
Agus Rianto:
saya langsung saja pertama saya ingin kita sistem itu demokratis.... karena
pencalonoan demokrtasi itu tidak bisa dilepaskan dari sistem sistem lainnya. kalau
kita modal kampanye murah kita harus strict dan proporsional dan kalau kita ingin
presidensial efektif kita harus melalui partai. rekomendasi saya perlu ada konsistensi
antar sistem pencalonan sistem pemilu dan itu perlu sekali. dan kedua saya ingin
menunjukan mekanisme kompromi elit partai maka saya usulkan demokrasi
pancasila Soepomo pernah bilang kita harus memiliki sistem yang berbeda maka saya
mengusulkan ada 6 jenis perwakilan.......
Moderator: Iwan Setriawan
baik lanjut saja yang dibelakang
103
Bivitri:
saya fokus apa yang dibilang pak mada, menurut saya apakah partai harus diatur
sedemikian rupa dan ketatnya karena pada dasarnya itu semua tergantung pada
masyarakat dan parpolnya dan menurut saya demokrat atau golkar apa yang
dilakukan hanya untuk menaikan namanya karena banyak kasus yang melibatkan
mereka....... kalau menurut saya namanya munas atau apapun intinya harus
demokratis
Moderator: Iwan Setriawan
tadi saya bilang waktu sangat singkat, jadi mohon ini yang terakhir
Hendra:
terimkasih pak iwan. assalamualuikum wr, wb perkenalan nama saya hendra advokat
dan ketua pembina partai golkar sumatera barat. pak iwan yang saya hormati saya
akan memaparkan tiga persoalan yang pertama status yang kedua materi dan yang
ketiga usulan. pertama dari status dari kita tadi ngomong tentang demokratis dan
sudah berbusa-busa walaupun sebenarnya peserta dari partai adalah non call paper...
partai politik punya anggaran dasar kita punya intelektual nah kemaren kita waktu
Konferensi kedua, bahwa kalau partai politik ini milik pemerintah biarkan mereka
kan tregantung anggaran masing-masing. jadi jangan terlalu mengkebiri partai politik
lah ........ kita mempunyai kewajiban masing-masing dan jangan menjustifikasi orang
....... kalau materi kita bicara tentang demokrasi partai politik kalau kita bicara
demokrasi ...... makanya bapak/ibu kita tidak bisa memaki anggota DPR karena
mereka berangkat dari uang meraka mau mereka bajingan ... coba direnungkan kalau
negara yang membayar kita bisa menuntut.. tetapi mereka punya aturan sendiri
meraka punya anggaran dasar jadi mereka memiliki aturan sendiri tentang pemilihan
ketua partai, tidak ada satu UU pun mengatur anggaran dasar itu. dan yang ketiga
rekomendasi saya minta pak iwan sampaikan kepada pusako dan bilang hey partai
politik kamu mau apa, silahkan kami bikin tulisan dan nantik kita uji ditengah orang
pintar-pintar ini. kedua coba bicara dengan pemerintah liat APBD dan APBN apakah
benar seperti yang dikatakan prof saldi isra tadi partai dibayarkan oleh negara dalam
104
rangka kita meminta output dari negara...... baik terimakasih.. assalamualaikum wr,
wb
Moderator: Iwan Setriawan
Mohon maaf, kita sudah mendengarkan pendapat para pakar dan ahli.. kita beri tepuk
tangan dahulu..
Forum: tepuk tangan
Moderator: Iwan Setriawan
jadi besok masih ada waku dalam rekomendasi, jadi jangan khawatir bapak/ibu.
terimkasih atas partisipasi dalam diskusi yang luar biasa ini dan saya minta maaf
apabila ada kesalahan wabilahitaufik walidayah assalamulaikum wr, wb.
105
PARALLEL GROUP RUANGAN 2
Tema: Demokrasi Partai Dalam Penyelesaian Sengketa Internal dan hubungan
Pusat dan Daerah Partai
1. SESI PERTAMA (10.00-12.30)
Moderator : Khairul Fahmi
Pembicara :
- Simon butt
- M. Romahurmuziy (PPP)
- Prof. Mahruarar Siahaan
Notulensi
: Sarisas Anggaraini
Moderator: Khairul Fahmi
jadi nanti ada dua tema. Saya tidak akan membatasi Bapak/Ibu apakah akan
berbicara mengenai penyelesaian sengketa partai politik dengan hubungan partai
politik dipusat dengan di daerah, tapi yang pasti dua-duanya akan kita bahas bersama
dipenghujung. Ini ada beliau pemancing diskusi didepan kita bersama (menunjuk
para narasumber). Dan ada 22 orang, 23 orang yang masuk dalam daftar peserta ke
panitia, yang ada didepan saya ini yang tergabung dalam PGD II, mari kita
perkenalkan satu persatu. Yang pertama ada pak dodi, Ada pak zulfa, Ada bapak
imam ropi’i, Ada pak Ahmad Fahrudin, Ada pak adi, kemudian ada pak Bacthiar, Ada
pak Bambang Ariyanto, Ada Ibu Emy Hajar Abra, Lalu ada Ibu Hesty, Ada bapak fadli
ramadanil, ada bapak Fauzin, ini wajahnya akrab sekali ini, ada wajah orang
kampungnya bapak Mahfud kayaknya, Ada Bapak Ibrahim, ada Ibu Eka Putri, Ada
bapak Ilhamdi taufik, Ada bapak lutfi, Ada Ibu Maria, Ada bapak Nurdin Hady, Ada
Bapak Putra Perdana, Ibu rosyita Ada Bapak Ardilafiza, Ada Bapak Nuruddin Hady,
bapak Sirajudin, Ada bapak Thamrin, dan juga disini tertulis Ahmad Satria Erawan,
tapi mungkin beliau sedang berhalangan hadir ya.
Bapak ibu yang saya hormati, kita sudah dihadiri pemancing diskusi, tentu kita
harapkan beliau menyampaikan materi yang sesuai dengan tema kita. Dengan waktu
yang memang agak terbatas. kita serahkan kepada para pemateri untuk me
Selajutnya, kita sudah telat 30 menit memulai, semoga nanti kita bisa selesai nanti
dijam 12.30 atau setelat-telat nya dijam 12.45. tapi setelah itu kitapunya waktu rehat
dan mulai ke sesi selanjutnya di PGD.
Sebelum masuk ke sesi pertama, saya ingin jelaskan sedikit. Kita mulai dari beliau
bertiga. Nanti siang ada sesi yang sudah dijelaskan disitu. sartu pemancing diskusi,
dan satu lagi dari bapak/ ibu peserta. yang pimpin diskusinya nanti juga dari bapak/
ibu peserta dengan catata bahwa besok kita sudah punya rekomendasi terkait dengan
tema yang kita bahas di focus diskusi pgd II ini. kita beri kesempatan pertama kepada
Prof. Dr. Simon Butt, beliau adalah assisten direktur…………..grup.
Saya berikan kesempatan pertama kurang lebih 10 sampai 15 menit lah ya untuk
menyampaikan pemaparan makalah beliau. Kepada beliau prof. simon saya
persilahkan.
106
Simon butt:
Hantaran professor hukum di Sidney law school. Hukum Indonesia lebih baik dari
hukum di Australia. The theme is bout the intern conflict of the politic party.
Australian political system
Terimakasih banyak. Saya gak tau mau pakai bahasa Indonesia atau bahasa inggris,
boleh campur sedikit?
Forum: boleeeeeh.
Saya wong jowo. Saya sebenarnya professor hukum di Sidney University Australia,
dengan keahliannya hukum Indonesia. Tapi saya malah diminta untuk memaparkan
bagaimana hukum di Australia. jadi saya agak bingung mulainya dimana. Dan ini saya
promosikan dulu, ini adalah buku saya, merupakan buku tentang hukum di Indonesia.
Hukum Indonesia memang lebih baik dari hukum Australia. Ini buku terakhir saya,
the legal constitution of the government in Indonesia, Itu kena charges besar sekali,
jadi saya siap memberi setiap copy elektrolik kepada setiap orang yang ada disini.
Forum: tepuk tangan
Yang hardcopynya 150 euro, okeeey, saya sedikit homesick ya. dan saya juga
merupakan professor hukum di UGM. Mengajar di UGM
Lanjut, hari ini akan saya bahas sedikit mengenai partai politik di Australia, lebih
spesifik lagi bagaimana cara menyelesaikan konflik ditingkat internal partai atau
intra partai. Saya ingin mulai dengan
Konflik didalam partai sangat sering terjadi, amat sering terjadi. Jadi ada perdebatan
yang keras. Mengenai posisi partai, Terkait kebijakan-kebiojakan yang ingin
dikeluarkan sebagainya. Tapi hampir semua konflik itu dilakukan dengan
rumah/kamar tertutup. Setelah ada perdebatan dalam yang damanya kamar partai,
Posisi partai menjadi bulat. Kalau ada yang berani melawan posisi partai yang bulat,
mungkin selesai, itu akan diusir dari partai, atau di sanksi dengan sanksi yang lain
diancam didalam partai. Hamper tidak ada kasus yang diajukan dipengadilan. Yang
mau bawa kepengadilan, kesempatannya sedikit sekali.
Mungkin pakai suara besar saja ya. Nah supaya apa yang saya sampaikan tadi masuk
akal, lebih rasional dan dapat diterima, lebih baik saya sampaikan dulu system politik
di Australia. Bahas mengenai politik Australia, diaustralia ada parlemet nasional dan
ada dua kamar, seperti dpr dan dpd. Perbedaannya openhouse bisa memblok. bisa
menolak. Halau dpd hanya bisa mengusulkan. Kira-kira 150 member. Di Australia Ada
dua partai yang besar. Ini perbedaan mendasar dengan Indonesia dengan Australia
yang menonjol, ada ALP (Australian Labor Party) dan LIBERAL Party. Ada partai
yang kecil, tapi pengaruhnya besar. Jika hasil pemilu ada yang beda sedikit, partai
kecil bisa menentukan posisi yang pasti dan siapa pemenangnya. Dari 150 kursi
107
diparlement Australia, perbedaannya memang tipis seakli untuk partai yang besar
sangat besar. Dia memperoleh 76. Sedangkan partai labor 69. Jika partai kecil
berkoalisi dengan labor, labor bisa menag. Tapi dia memang, tapi kok labor party bisa
memenangkan Posisi labor party itu sangat dangeours, apa bahasa indonesianya,
sangat beresiko tinggi.
Sebenarnya sering sekali say abaca di surat kabar, perbedaan partai. Mereka seing
sekali pertabrakan.
Contohnya,
Kalau dia, saya kenal sangat konsertif sekali. Tapi dia seluruh pers agak dikontroli
oleh fraksi konserfatif dipartainya, jadi dia tidak bisa melakukan perubahan yang
mendasar. kok bisa seperti itu.
Perbedaan fraksi-fraksi didalam partai yang besar.
1. Ada fraksi konserfatif dalam partainya.
2. Perdana mentri
Sering sekali ada perdebatan yang ganas didalam fraksi-fraksi partai di parlement,
tapi tidak dibuka untuk umum. Memang ada beberapa proses yang memastikan
bahwa member-member akan tetap pada party line atau posisi partai. Ada 2 proses
untuk melawan partai.
1. crossing the floor
Mereka bisa berpindah tempat kepartai lawan untuk melakukan vote. itu bisa
dilakukan secara fisik. Ini jarang sekali terjadi. Kalau cross the floor itu berpindah
tempoat. Pasti ada sanksi dari partai.
2. Conscience vote
Pemimpin partai memberikan kebebasan kepada anggota partai untuk menentukan
vote sesuai pilihannya. Seperti kawin sesame jenis, pasti ada sakit. Hal-hal mengenai,
jadi itu merupakan hal yang sangat pribadi. Jadi partai memberikan kebebasan
kepada membernya untuk vote secara bebas. Jadi waktu itu ada dikoran mengenai
con. Tapi sering sekali ada perdebatan didalam partai, apakah mereka akan
mengijinkan member partainya, untuk vote
Oke, nah, Bagaimana partai yang sudah mendapatkan posisi bulat, bisa memastikan
bahwa anggotanya tidak akan menyimpang dari posisi partai, caranya:
1. Party discipline
Sifatnya adalah kal. Ini. it’s the fight of the party room. Not on the floor of
house. That means Segala sesuatu terjadi didalam partai, dikamar partai, jadi
wajah partai itu bulat. Kenapa itu dianggap strategis sekali? jika dia satu
pendapat dia akan dianggap kuat. Jika terlalu banyak perdebatan, kapal akan
tenggelam. Jika sudah ada kesepakatan akan lebih mudah untuk mengambil
keputusan. Semua anggota dipilih oleh orang setempat, yang dipilih bisa
menolak permintaan, mempermudah proses demokrasi
Diaustrallia sebenarnya jauh lebih banyak bulu domba daripada manusia. Itu
akan menjadi gampang bagi anggota partai jika dia ikut saja. Dia hanya perlu
melihat posisi partai. Yang menaik bagi saya adalah proses pemilihan di
108
Australia sama dengan di Indonesia. Dimana masyarakat memilih pemimpin
didaerahnya seperti pemilu. Tapi orang yang dipilih itu dia bisa mengatakan
bahwa dia tidak bisa mengikuti keinginan orang yang memilih saya, tapi saya
harus mengikuti posisi partai. Oleh karena itu mempermudah proses negosiasi
anggota parlement. Jadi itu filsafatnya. Jadi partai belum kuat untuk itu.
2. Sanctions
Seringkali anggota partai dipecat oleh yang disebut……... Dicambuk atau sanksi
yang paling berat diusir dari partai. Jadi setiap orang memiliki orang kepercayaan
yang ditujukan untuk menjaga kedisiplinan partai. Namun sistem yang paling
berat di Australi adalah dimana untuk dijadikan kandidat, itu perlu persetujuan
pimpinan-pimpinan partai. Jadi bukan saja orang yang mau masuk, orang yang
mau dipilih kembali dia harus mendapat support dari partainya.
3. Lack of justiciability
Itu tidak memungkinkan orang yang tidak senang dengan partainya membawa
ke pengadilan. Beberapa decade yang lalu. Dulu partai politik disamakan
dengan organisasi lainnya, seperti sama dengan social club. Maksud saya
posisinya diperlakukan sama, contohnya organisasi golf, atau golf club. Parpol
tidak dikhususkan pada posisi yang kusus dalam partai politik. Oleh karena itu
ketika terjadi konflik dan diajukan kepengadilan, pengadilan akan
menganggap itu bukan kewenangannya, karena organisasi politik sama
dengan organisasi olahraga. Lama kelamaan parpol sudah diakui oleh UU
sehingga pengaturannya juga harus dibenahi, lama-lama pengadilan siap
mempersiapkan anggaran dasar partai politik. Jadi jika mengajukan konflik,
bebarti sudah bisa diterima pengadilan.
Kalau bisa saya simpulkan, apakah memang partai itu untuk prosesnya harus
demokratik? Jawabannya adalah tidak. Sistem nya memang otoriter. Tapi apakah
sistem di Australia demokrasi? Apakah sistem demokrasi bisa berfungsi jka partainya
tidak bisa disamakan? Jika partai disiplin tidak bisa mencapai itu. Jadi itu kontribusi
dari Australia.
Moderator: Khairul Fahmi
Terimakasih pak Simon. Ada beberapa hal ya yang kita tangkap. Pertama berkaitan
dengan mekanisme internal partai, ada yang bisa di bawa ke pengadilan. Saya
perkenalkan pembicara ketiga kita beliau sekarang sebagai pemimpin umum partai
P3. Jadi nanti silahkan bapak itu, kalau mau mempersolakan langkah politik P3
silahkan
Ir. H. Romahurmuziy: Ketua Umum PPP dan anggota Komisi III DPR RI
109
Assalamualaikum wrwb. Terimakasih saya ucapkan Bapak Moderator, para
pembicara, Pak Simon dan Pak syamsudin Haris
Saya merasa mendapatkan kehormat bisa menjelaskan secara langsung, berbicara
didalam forum akademik yang sangat kecil konflik, sangat berbeda dengan partai
politik. Perbedaan pendapat itu biasa, tapi tidak perlu disingkapi dengan konflik. Itu
nikmatnya dunia akademik. Partai politik memang berisi dengan actor yang bentrok
dengan kepentingannya yang berbeda-beda. Inilah partai politik.
Yang kedua saya berterimakasih kepada Pusako, dan KN-HTN yang telah
mengundang, kalau prof. Saldi Mengatakan kemaren itu maksud dari mengundang itu
adalah meminta langsung dari tangan pertama mengenai informasi terkait praktek
langsung dipartai politik. Dan menurut saya penting untuk memastikan sistem
lingkup kita mengenai penyelesaian sengketa.
Kemudian ini mengenai mekanisme penyelesaian sengketa saya kira saya tdak akan
mengutak – atik hal didalam UU no 2 tahun 2011. Ini undang-undang ini muncul
antara lain waktu itu muncul karena konflik PKB yang secara senonoh waktu itu kita
katakana ini Partai Konflik Berkelanjutan. Jadi lahir UU 2 no 11 itu karena cerita PKB.
Sejak lahir UU, bukannya menyelesaian permasalahan satu partai, malahan dua partai
yang berkonflik. Tapi saya kita perlu pemberbaikian itu, karena setelah diskusi
memang banyak yang bertikai. Saya ingin langsung pelajaran yang dialami P3. Saya
sudah membuat sedikit coretan-coretan. Tapi saya ingin menegaskan bahwa konflik
disetiap partai politik itu sebenarnya merupakan bagian dari kehidupan politik.
Tergantung apakah parpol itu mampu mengelola atyau tidak, jika tidak tentu ada
konsekuensi. Jangan sampai partai baru masuk dengan mudah mendeklarasikan
keberadaannya. Yang kedua bisa saja dia mengalami reproduksi semakin kecil karena
actor-aktor yang ada didalam itu melompat secara personal ke partai-partai yang lain.
Yang ketiga partai ini terus berjalan dengan konflik membara. Ini sejak republic ini
ada bahkan sebelum republic ini ada, pertikaian itu sudah mewarnai kehidupan
dinamika negara kita.
Pada waktu itu, jika kita lihat PNI yang didirikan Bung Karno sudah ada konflik
sehingga lahir partai lainnya. PSI juga pecah menjadi merah dan putih. Yang jelas ini
adalah cerita pada masa pergerakan nasional. Masa kemerdekaan kita tahu persis
masyarakat Islam yang waktu itu tergabung dalam MASYUMI, Partai Serikat Islam,
dan Nahdatul Ulama. Inilah yang menjadi peserta pemilu tahun 1955. Partai
Indonesia Raya pada waktu itu juga ada dua. Diera orde baru yang mengalami konflik
adalah P3 dan PDI. Karena tidak ada figure sentral yang dominan. Semua pada waktu
itu takut pada pak Harto. Sengketa dipelihara dengan baik dan Manage the Conflict
oleh Pak Harto. Di P3 waktu itu masalahnya klasik yaitu sengketa antar fraksi. Di PDI
juga sama. Pada masa reformasi ynag menarik adalah bahwa sengketa itu lebih sering
frekuensinya dan permasalahan yang lebih tinggi. Partai politik pada masa orde baru
melahirkan banyak partai politik baru baik karna konflik maupun lahirnya ideology
baru. Hamper semua parpol mengalami euphoria Lebih tinggi frequensi dan lebih
tinggi intensitasnya. Semua parpol mengalami euphoria. Kalau kita liaht arah
110
konsolidasi, arah demokrasi kita sudah betul. Tapi yang perlu dipertanyakan kualitas
demokrasi. Menurut survey jumlah partai politik saat ini sampai 50 sampai 57 partai.
Kalau mau dibagi nasionalis kanan kiri islamis dan idiologi pancasila kira-kira begitu.
Partai politik biasanya didirikan berdasarkan visi misi parpol tersebut. Problemnya
adalah partai politik hasil pemilu dibagi berdasarkan jumlah suara dan kursi yang di
dapatnya. Bahwa PAN, P3 adalah parpol yang relative didahulukan karna suaranya
tidak terlalu banyak disbanding kursinya sehingga itu menimbulkan semangat
idealitas bersatu, tapi aka nada kesulitan hari ini. Dari sisi insentif atau apa saja
berujung pada kursi.
Pada dasarnya sengketa terjadi karna penyatuan ideology yang tidak tuntas dalam
sebuah partai politik dan perbedaan berkenaan dengan hasi pemilu. doktrin dan
idologi prtai harus menjadi satu kesatuan dua sisi mata uang sehingaa konsep amau
ma’ruf nahi munkar bisa di aplikasikan dalam kekuasaan
Inilah gambaran sengketa yang berlangsung. Parpol didirikan dengan visi misi
tersendiri. Jadi dari sisi intensif partai, intensif intercolar itu sangat dibutuhkan.
Perbedaan ideology yang sering berkembang. Menurut saya masalah penyelesaian
sengketa dalam UU no 2 tahun 2011 melakukan penyelesaian sengketa internal
kemudian melangkah langsung ke pengadilan dengan sura edaran MA diharuskan
untuk mengembalikan permasalahan dimulai dari mahkamah paratai.
Jangan sampai pemimpin merasa malu karna diingatkan sehingga malu untuk
menjalankan fungsinya.
Agama dan kekuasaan itu ibarat saudara kembar. Menjadi kesatuan dari dua sisi mata
uang. amal ma’ruf nahi mungkar. Tangan yang kuat dari kekuasaan.
Jika penyelesaian konflik lebih dari dua tahun, maka partai akan pecah
Uu no 2 tahun 2011. Siapa pun yang melangkah langsung kepengadilan, maka hakim
mengembalikan, karna memang harus dimulai dari mahkamah partai.
3 jenis sengketa:
1. Sengketa pembentukan partai politik dalam pasal 8
2. Sengketa forum tertinggi contohnya adalah minas dan muncab dalam pasal 24
3. Sengketa dibawah forum tertinggi pasal 32 dan 33 uu no 2 tahun 2011
Kalau kita mneyoal mahkamah partai ini menyelesaikan pertikaian antar 2 partai itu
tidak akan bisa terjadi sehingga permasalahan ini harus diserahkan kepada
kemenkumham, menurut saya UU ini harus di revisi kembali semoga forum ini
mampu memberikan rekomendasi
Pelajaran dari PPP
1. Ada majelis-majelis partai: majelis syariah, majelis pertimbangan dan majelis
pakar. Sering terjadi perpecahan didalam prtai dan didalam majelis karena
perbedaan pendpat. Majelisih syariahnya juga pecah, majelis pertimbangannya
juga pecah. Ini sengketa yang terjadi peling besar setelah 43 tahun terakhir.
2. Apakah sengketa harus dimulai dari mahkamah partai dan dilanjutkan ke
mahkamah partai pengadilan hanya meneruskan
111
3. Apakah posita dan petitum itu berasal dari mahkamah partai? padahal tidak,
itu berasal dari actor dalam sengketa partai.
4. Apakah hakim wajib menyelesaikan sengketa dan memutuskan atau
diserahkan kepada DPP
5. Bagaimana jika keputusan pengadilan bersifat tidak bisa di eksekusi.
Tidak ada kondennasi dengan kepenkumham karna dia bukan para pihak. Sehingga
tidak disebutkan didalam uu. Ada perbedaan nama dalam akta keperngurusan
dengan kenyataan dapat dieksekusi oleh mentri hukum dan ham?
Saya mengibaratkan benar atau tidak? Saya insinyur, tidak memeiliki ilmu politik dan
hukum. Saya lihat pola nya sama dengan sengketa pertanahan, dia tidak langsung
memutuskan apakah sengketa hak milik dimenangkan oleh siapa.
Ada pula anggota parpol yangtidak pernah menajdi pengurus, namun langsung
diangkat menjadi ketua umum. Tidak melalui proses yang panjang. Dan yang terjadi
adalah persoalan khusus yang mungkin akan mengasilkan kesadaran sendiri.
Golkar setiap permasalahnnya cepat selesai. Karena disitu ada pemimpin yang meniti
politik dari tingkat bawah, kader. Sehingga setiap persolaan berada diatas pribadi.
Saat mengatasi konflik bisa bersatu. Saya kita itu, kemudian terakhir rekomedasi:
1. Saya kira politik dan hukum harus ditepatkan satu sama lain diatas
segalanya
2. Dalam UU no 2 tahun 2011 ini barang kali bisa difikirkan apakah internal
itu benar-benar mampu menyelesaikan setiap dinamika. Tidak hanya
kepengurusan tapi seluruhnya.
3. Kalau bicara UU hari ini sengketa partai memang diselesaikan oleh
mahkamah partai tapi ada solusi terhadap pemasalahn yang lebih tinggi
4. Penyempurnaan terhadap UU menjadi penting dilakukan.
Kami di DPR tengah melakukan penyempurnaan UU parpol. Masukan-masukan dari
akademik sangat penting. Syarat dengan nilai. Ini yang kemudian menjadi posisi
akademik dan parpol penting disinkronkan satu sama lain. Terimakasih
Assalamualaikum Wrr Wb.
Moderator: Khairul Fahmi
Terimakasih Pak Romi atas share pengalaman beliau yang telah merekayasa konflik
hingga menyelesaikan konflik itu sendiri. Tapi mengenai mekanisme yang penting
bahwa adalah diatur mengenai Arbitrase untuk local. Ini bisa menjadi alternative.
112
Tapi kalau konfliknya diforum tertinggi partai, mau tidak mau kita harus bawa ke
ranah peradilan.
Kemudian yang disampaikan pak romi tadi juga tentang hukum acara. Sengketa nya
hanya deklatoril, tidak mengikat. Saya kira ini ada ahlinya disini……………….
Mahruarrar Siahaan:
Terimakasih, tapi sebelum saya mulai, Ini beban berat ini sudah saya bilang
kepanitia, jangan sebut prof. kalau di perguruan tinggi ini berat ini. tapi kalau saya
ambil model prancis, semua guru dipanggil prof, dan saya guru sebenarnya. Kalau
bicara tentang mahkamah partai ini. Saya berpengalaman ikut soal golkar. tetapi
intinya kalau saya perhatikan bahwa UU partai politik itu berawal dari, itu memang
accident, kalau saya ikuti pak arif berbicara tentang itu di komisi dua, demokrasi itu
harus di kawal oleh hukukm tidak terbayangkan bahwa ada demokrasi tapi tidak
dikawal oleh hukum.
mencoba menawarkan cek and balance didalam partai itu, tapi yang menjadi konsep
dibadan peradilan juga ini sejalan dengan konsep precinencent of innouncent,
bagaimana semua persoalan bermuara di peradilan, karna disamping banjir sekali
urusannya itu, apakah akan selesai dipengadilan. Kalau pengalaman saya mebgikuti
masalah ini, saya percayta bahwa partai itu diberikan kewenangan. tapi celakanya
disatu sisi tentang kepengurusan, rapi jika kewenangannya menyangkut dengan
masalah yang lain. tidak boleh ada undang-undang baru.
Dalam putusan menurut saya tidak tercapai masalah penulisannya. Kalau ketemu
senior tidak pernah kita biacarakan ini, tapi kalau bisik-bisik dengan kawan ini
seperti tidak dikontrol penulisan. Muncul pemikiran bahwa mahkamah partai belum
mencapai putusan.
Konflik internal kepengurusan partai. yang menurut saya sama sekali tidak takut
dengan apa yang dihasilkannya. undang-undang yang memberikan kompetisi
ambsolut kepada mahkamah partai, itu yang harus dipertahankan. Bahwa suatu
keputusan sudah dicapai.
Tidak ada forum yang lain. Artinya selesai. final and binding. Tetapi celakanya,
memutus sengketa mengenai ARB 4 mahkamah partai dari golkar juga sebenarnya.
Menurut saya tidak terlalku penbting. salah satunya adalah hakim konstitusi,
Dulu diputusan konstitusi dijelaskna, tidak boleh ada norma baru, tapi banyak itu
tentang sengketa, kecuali tentang kepenfurusan, itu banyak tejadi, tapi
Control penulisan keputusan. Kalau sudah dapat putusan, sudah selesai putusan. Tapi
jika ada multitafsir, maka ada hukuman tata hukum oleh forum solving. Masalah
selesai, tapi belum puas.
Senior tidak dikontrol hasil putusannya, tetapi intinya sudah dibicarajb disitu, tetapi
yang. Hukuman tata hukum,
113
Putusan = pendapat tertulis
Menjadi persoalan, apa yang jadi ukuran suatu putusan, Ada 3:
1. Terbukti, tolak
2. Tidak terbukti, kabulkan
3. Lo
Suatu putusan yang sudah deklaratis menjadi kewajiban mentri hukum dan ham
untuk menafsirkannya. Halaman 136 menyebutan tidak akan mengurus tapi
memberikan kepengadilan negri untuk diselesaikan.
Putusan Menkumham adalah putusan mengikat. Tidak bsa dipermasalahkan dari
sudut mana dia di daftarkan. Saya memberikan pendapat, anda memutuskan. Bukan
memperdebatkan. Tunjukkan kenetralan. Fakta dipengadilan belum tentu menjadi
bukti. Golkar tetap solid. Partai diberi mandate untuk menyelesaikan secara
indenpredensi. Tapi jika dia adalah org yang memiliki interfensi,
Penulisan keputusan sering aneh. Undang-undang partai politik ini harus diubah
untuk menghilangkan multitafsir absolut.
Moderator: Khairul Fahmi
Simpulan nya adalah untuk menyelesaikan diluar pengadilan.
...
Terimakasih, Menarik sekali, tapi mungkin Saya tidak ingin terjebak semata-mata
pada sengketa. Menurut saya partai kita sangat tidak …. Bagaimana posisi
pengkaderan didalam partai. Partai itu harusnya rumah tangga yang tidak dimasuki
oleh pihak ketiga. Apakah ada permasalahn lain di PPP?
Terkait mekanisme, menurut saya tidak perlu melibatkan pengadilan. Karena
pengadilan kadang tidk netral. Masalah internal diselesaikan sendiri. pihak eksternal
yang dilibatkan adalah negarawan yang menjadi tokoh netral.
....
Bicara undang-undangn, demokratisasi politik, ada bagian-bagian tertentu yang
diatur undang-undang, tapi adajuga bagian yang diatur partai politik. Konflik harus
diatur ketat didalam undang-undang. apakah mau court atau non-court atau duaduanya. Apakah mau dengan cara uu lama yang sebelum perubahan dimana ada 3
metode penyelesaian sengketa.
Apakah menginginkan pengadilan yang bertingkat seperti ini? bagaimana jika
membentuk badan arbitrase politik?
114
Simon butt:
Bagaimana jika Indonesia mengikuti model inggris, bagaimana segala sesuatu di
serahkan kedalam partai saja. Bagaimana dia mau ngerus negara jika masalah dalam
partai sendiri saja tidak bisa diselesaikan?
....
Dalam uu no 2 tahun 2011, semua orang berpendapat bahwa setiap sengketa
diselesaikan di dalam partai. Anti sekali dengan eksternal partai.
Pak jokowi melawan diPTUN, akhirnya menang.
Kenapa setiap munas ditandatangani oleh
Apakah partai politik ini wajib diperkuat. Harus ada uu parpol. Revolusi adrt parpol.
Membuat posisi parpol sejajar dengan dewan Pembina. Sehinga tidak ada lagi yang
dipecat. Anggota mahkamah parpol tidak harus dari anggoa parpol. Berdasrkan yang
dipilih oleh peserta kongres utama.
Emi Hajar:
Saya tidak terlalu setuju dengan pak refli. Undang –undang selalu multitafsir.
Indonesia pancasila, Australia
Orang kita tidak mau terlalu dewasa dalam berpolitik. Indonesia sudah belajar
dengan berbagai negara. Kita lebih mengenal ideology kita. Hrus berasaskan
pancasila yang demokratis kebablasan atau seperti Australia.
Pasal 32 memberikan bebrapa hal yang layak dilitigasi dengan yang tidak layak
dilitigasikan. Ketika itu ditangan mahkamah partai, yang mana ada eksternal dan
internal.
Masalah netralitas. Selalu fipertanyakan. Diperkecil porsinya.
Bachtiar:
Jawaban saya adalah perkuat mahkamah partai. Mekanisme dikembalikan kepada
marwah partainya. UU sudah merekomendasikan itu.
Ada 4 hal krusial dalam uu kita.
1. Persoalan yang berkaitan dengan putusannya bersifat final. Kompetisi
absolut hanya 5, sehingga yang lainnya tidak mengikat.
2. Bagaimana menyelesaikan permasalahkan permasalahan komflik tanpa
mampu menyelesaikan permasalahan internal
3. Adrt tidak memberikan penjelasan secara rinci.
Selesaikan secara internal. Filosofinya adalah, kunci penyelesaian konflik itu ada pada
diri partai.
Maruarar siahaan:
115
Kita mencari hukum acara yang standar, sehingga kesalahan itu tidak akan terjadi
yang bisa merugikan sendiri.
Romi:
Sikap pasca mengalami kekalahan. Menguatan melalui hukum acara. Anggota
mahkamah partai ada 9, keputusan harus diambil sekurang-kurangnya disetujui oleh
7 orang. Penambahan dari partai, system didalam diatur dalam anggaran dasar dan
rumah tangga.
Partai politik adalah soal perbedaan sosiologis.
Moderator: Khairul Fahmi
menutup sesi 1 PGD 1
116
2. SESI 2 (13.30-16.00 WIB)
Dr. Paul Rowland:
Maaf kalau saya harus berbicara di bahasa inggris and so you need to use the
translator devices for, today I just afraid if it is not clear if I say in Bahasa Indonesia.
Masih, masih jelek, maaf.
I don’t think that the power point that I had made it, the shortcut, so I write with
some note here. So first of all about I’d like to say that, I am not here as an academic, I
am here as lifelong political party member. So, I am coming here I say something
from political party member’s perspective. How we make political party better, how
to make them more responsive, how we make them more accountable, something I
spent 20 year working in my political party in Canada, I work overseas, and now I
work as political party, allready learn the political party in around the world,
including 13 years in Indonesia, my perspective is personal of comparative Canada. I
also spent time in my political party so far, spent the time and raising money for that
party and spent my campaign running the political party operation.
So, there is a paper that I write that is cirrculaited in a draft sometime ago, I don’t
know exactly, but I think there is few thing that be my discussion point and like I
guess that you can make the legal party is the one who share the something different.
Legal party is a group of people who get together and who have some value. Looking
to pursuite the political power that, so its simple description Indonesia can put
description of another questional together, but that what suppost to be, I point the in
my magaint to regulate, something that organization, they have and it not. We can
turn the political party in to the are not. They are a organization that have nature of
them. Political party have different opinion each others. And they are not generally
run by …... Even the political speakers say that they have passion began to protect
their rights……. Autoristic some political note. I think if we look the recents people
who get to political party is not because of they want to counting the operation. So
my answer is ……
Legal party finance are also a area that very difficult to take the political party to a
regulation. Make that legal party internally democratic. Its very difficult thing to do
the regulations. But I will say that this is possible to insign by legal parties, and I thing
that try to do legal party reform, and try to make them truly democratic, and changing
the founding system. Just to be understand I mean. State funding for the political
party and I think that change for that it means to be much much cability.
And in another hand I also think that legal party should not get the state funding
without Much much strongger show the grebility. So as you know political party are
required from the state to fill the report. Many of them do not. And when they do fail
they only cover the among money that is from statefunding. So that many party is
talking about argue about 400 sounds. So ranging from somewhere un…… and several
billion rupiah. Its expensive which a ……… legal finance state funding about. The case
117
of other party. so if there only to have submit their report that doesn’t really help us
as a public. which the funding control to.. have them.
And as you know there is a number of type of parties in Indonesia….. and if you watch
the way PKS, Their founding today, they get ….. they are also the party that drive the
most finding from half of the political party chair, its able to … that money. and they
are also the legal aprty that ….. but its really difficult to know about Their funding
come from, very fight more nations, or they get money It was describe this morning
from great sources or from another department. the finance sentences. For politic or
not desain to eruption and they and we end with the crisis confidents. And that
particularly significant Indonesia because as I thankyou for the number …. This
morning the legal party ….. fungtionning among pursuit. But in Indonesia that … imply
by the fact that political party are interest. So you can keep out about in mosco
without public ability political aprty member
How we also get the political party that financing and political inceasing I think
regulate. Ownership to the party by the members about. That means I think the
ceasing of power funding because all of political parties fill the application to send the
presentative of their members…………money from that ….. it funded by the member. If
that sovereight by statefund but … capability.
Looks at the couple of the number of …. Political party in Indonesia. 51 persen of
Indonesian survey and more information about … of the survey, the higest …. Is 51
persen of political party. The higest … ridding its about 30 persen, so most Indonesian
dispute recoment of political party. Out of ten institution …. Looking at political party
finance all about that. That was under the please. And that the top of the military
exactly. so the political party is very ….. there also created the among most the
couropting institutions in Indonesia by citus, so about 72 persen Indonesian believe
that political parties, some corruption of.
That just follow 70 persen believe that the …. 74 indonesian believe that there
courropt some one ……. And inclose dare from there senior government is agree
about particularry someone corrupt and in the please I think 70 persen. so all the
state institution party range are very …. Perception ……….. is the different Idea. So
again how can we trust this. one of the reason people pursite it been curropt and
unresponble. There is nothing that. political party has to realize
People consist political party had been corrupt and unresponsible because they …
there is nothing that they … have to release their ….. or statement and they are found
get addicted. so people really have no way judging accept by the public behavior fact
them by in hand to be eruption maybe.
That’s is partycullary significant in Indonesia. As I think you knowthe number of the
recent this morning as the legal aprty to fungtioning the ………… but in Indonesia that
respounse is most of fly. political aprty are interest. You can keep … about. without
ability of political party or maybe
Now that means that political party have that I think the additional responsible To be
more transparatic and to be more countable. Because they have that really good
118
constitutional recognize rule argument as guardian of balance and that’s particularly
important thing. Now look at the regulation globally for political parties.
I came from Canada we don’t have the political party law. There is no law in Canada
regulate political parties. Political parties are regulate in additional law. So If I wanna
have a political party. So I should made together in act and form the political party.
There is no regulation on that. We can speak anything about that. If we want to. No
body can say anything about that. If we want to be one of election, we should fill the
letter of election. This is a acsess to state in high level to get the capability to be mark
on the bold ….
In jermany there is a long, there is a very very detail 22 law on political parties. That
also include their funding pursuities for political party. So you can have very to
regulate the political party. That very detail. Generally international practice consider
U.S regulation. in the reason for that is because there is couple reason of that:
1. Political parties are different kind organitation. we cant make them something
different. and they are different from each other. Political aprty has different
organization, internal culture, some of them require more reprisentive. As
smaller group make decision. that’s ok.
2. Political parties are not state institution. And also not really private institution.
It’s a semi public organization and they perform public rule but they are not
government. That should be confuse with government. and so the government
from political parties to be minimize in order to prevent the ……. And we have
to … because in Indonesia almost all political party regulated by the ministry
of law.
The minister is. so you have the minister. member of one party regulated from the
another party. That is about the minister handle some conflict in the past capably
regulate internal in the parties. its also provide the perspection of. even the minister
also act the …… over regulation is a opportunity for government to … that should to
be. and that legal party I think also perform law independent norm
We have to very carefull note that power to shoot down as you agre with them. And
the political party have to be free, have to be fulfill their rule whichis to inounciate, to
provide, overgate the few systems. I think for that two forum.
So some contries regulate political party by law, some other regulate their political
party by the intern constitution, some from the combinations, and some do very little
regulation on their political party. There is a lot of example I thinks but I am not
going to many of them today.
One of the topic that we have to discuss today is the relationship between the party
center and the breach operations. And again I thinks that is something very very
difficult to regulate. That try to against the relation but to legislations. How the center
decentralize the system mechanism making. I think that is the good Idea this morning
and their doing that its very difficult to regulation the finace and sentences.
119
And in other term of political party play to report is in managing conflict. conflict in
the given society is not enganable of society have conflict. We have the regulation in
political party. we elect people to represent us, represent the differencess in a
democratic fashion. And political party play the important … the a whichis descripe
on the paper. But Indonesia actually has uniqe system which.. and their national. So
that you don’t get original etnic base advatecatting for represent system or for very
near differences. That also come from the case having to hear in the around country.
And what is done is to provided it very terrible system. This political party does not
necesery present Indonesia in all. that something to be corrected.
Some laws in germany law to the fact that party have to be organize to the breach
level. In regulate how you learn. It regulate how you should have. The difficulty doing
is that I think german party is …. The party system to be very detail what they want to
this law. Its not something to ….. and so if that is the detail kind of law is require the
intensif discussion among political party, civil social, and another state holder. Finally
I just say that we often watch deal two things regulate, that can be very good. But I
give give a cup of example political aprty are them self as made some decision in term
of leadership …. That mean very difficult to political party to and don’t necessary to
represent the democratic institution. One example is primary system. U.S election is
here. you will understate that you have there were two democratic side and republic
side insurgent campaign. So, in a people who unrespected. Everybody here has been
following the Donald trumand his campaign this is a gay who ever be a member of
democratic party, this is a guy 20 years ago put himself to … hes not somebody who
represent the public… the U.S promarry system, this is a system of presellecting
candidate so all the periode of the last there is no more relation to determine who
become each political party normally complect system. And it not determine by the
goverment, and not determine by national party, it determine by the state. Each state
have the different election law, even for the president and the… so it’s a very difficult
system. What is the resoluted is a candidate is who somebody selected by the party of
themselves. And give one hundred. this dissystem for some note
In U.K the political party had … for leadership. And on the last view years party
leaders in U.K about elected by the party leader. The party leader election by become
prime minister… this time after the legal party devided as …they have a rude
behavior, one member one sound. Somebody major who was pursuit by parties…this
is very far love. Actually what happen is …. By the members of the party, people in
parlement cant support him. So this the short things that not to say that its wrong
elect by one person. I does how you… to your party. And I don’t think the germany
system is somebody of people support the elected official. and by changing that rule,
change the politic,
All of things here have to be taken to … look that very carefully before put it into the
law.
Moderator:
120
Demikian, sebenarnya yang disampaikan tadi banyak, tapi yang ingin saya simpulkan
adalah apa yang disampaikan oleh paul roland tadi berbicara tentang pendanaan
partai politik, bahwasannya memang kalau di Indonesia itu kenapa sering terjadi
korupsi, karena memang dari beberapa mentrinya itu berasal dari partai politik. Yang
memang untuk pendanaannya itu biasanya juga untuk pendanaan partai politik. Paul
roland juga menyampaikan bahwa itu juga terlalu banyak regulasi mengenai prtai
politik, dan juga dikanada itu sendiri yang berbicara mengenai partai politik itu tidak
memiliki hukum. hukuknya satu, yaitu mengenai pemilu, jadi memang banyak
permasalahn di Indonesia yang berakitan dengan partai politik itu sendiri.
kebanyakan konflik dari paprpol itu sendiri disebabkan karena bisa kita liat sendiri
memang seperti, mentri hukum dan ham kita saja berasal dari salah satu partai
politik, jadi bisa diperhatikan bahwasannya keputusan-keputusan apa yang
disampaikan mentri tidak ada objektifitasnya. dicontohkan di amerika serikat
memang ada dua partai politik, tetapi Donald trums yang memang bukan berada
didua partai politik itu, juga memiliki kesempatan utnuk memang juga memiliki
kesempatan dalam
selanjutnya disampaikan oleh bapak ahmad farudin untuk menyampaikan
pandangannya, aduh jadi bagaimana ini
Philip J. Vermonte:
assalamualaikum wr wb. Saya senang sekali di undang oleh pusako, unand. Saya
orang bukit tinggi, tapi namanya agak agak itali gitu. Saya diminta untuk sharing
terkait demokrasi internal partai politik dalam perspective saya. Sebelum mulai saya
ingin menyampaikan beberapa pandangan, yang pertama saya sudah lama berhenti
mengidelialisasikan partai pilitik dan anggota partai politik itu sendiri. Banyak dari
kita yang dari tadi pagi mendiskusikan mengenai hal itu, pandangan yang diedal
mengenai partai politik, harus begini dan harus begitu dibebankan autorizm, jadi
politisi itu begini begitu, banyak perdebatan. Saya melihat parpol itu sebagai natural
behavior saja. Sifat dasar manusia itu seperti apa. Saya tidak mengidelialisasikan
demokrasi, tidak mengidealisasikan partai politik, tapi sebagai uni politik saja yang
perilakunya bisa dan tidak bisa dibatasi. yang kedua saya kira juga ada beberapa
pandangan yang mungkin karena kita adalah negara demokrasi baru tentang system
apa yang kita gunakan dan brandmark nya itu adalah apabila iya naturalisme.
Misalnya, saya ini sudah lama mendukung system proporsional tertutup. Saya juga
merupakan kedua divisi koalisi pemilu, ajdi kita perdebatkan sikap rutin kualifikasi
adalah sifat proporsional terbuka. Dalam sistem demokrasi saya tunduk pada sistem
kualifikasi sistem proposional terbuka. Walaupun hati kecil saya bilang, bahwa lebih
baik system proporsional tertutup yang diperbaiki. tapi saya melihatnya dalam aspek
yang tidak ideal juga, bukan mengidealisasikan sistem. Misalnya beberapa argument
teman-teman mengatakan sistem proporsional terbuka, itu nanti konsep
penghitungan kursi, suara hangus, dan lain sebagainya banyak aspeknya.
121
System distrik banyak suara hangus. Karna biasanya calonnya Cuma dua. Karna
partainya dalam ilmu politik kepartaian, bagaimana system disktrik akan mengarah
pada system dua partai. Suara terbanyak yang menang Jika calon a dan calon b, Jika
ada dua calon, yang menang satu calon, walaupun Cuma selisih satu suara. kalau
dalam konteks demokrasi ilmu politik, itu gak adil. Kenapa? Karna itu ada 99900
orang yang milih calon A. tapi kenapa di Amerka, selisih satu suara ya hangus, jadi
saya berkesimpulan bahwa demokrasi adalah keputusan bersama yang disetujui oleh
sesame dan kemudian tunduk pada aturan bersama tersebut. Jadi walaupun selisih
Cuma 1 suara ya harus disepakati. di Indonesia itu tidak adil, karena ada beberapa
orang yang tidak memberikan suara. demokrasi lebih kepada apakah orang orang
mau menyepakati kebersamaan tersebut.
Yang ketiga saya melihatnya, jadi mohon maaf ini ahli hukum semua, saya bukan ahli
hukum, jadi lebih banyak perspektif politik bukan hukum. Lingkup demokrasi tempat
kita bekerja, jadi tidak ada demokrasi internal didalam partai.
Mengenai demokrasi internal partai, memang pada tahun 1998 kita mengalami
reformasi disegala bidang, ini itu menjamur, LSM menjamur, Bisnis pemainnya makin
banyak, lapangan demokratis semakin baik, kita mengadakan pemilihan langsung,
partai politik semakin banyak.. akibatnya adalah lingkup tempat kita tinggal ini
demokrasinya semakin demokratis, tapi pangkal dasar permasalahannya, partainya
tidak demokratis. Lingkup demokratis, tapi sumber tidak demokratis. ada dua hal
menurut saya kenapa saya setuju system tertutup? itu akan memperkuat partai.
Menurut saya partai itu adalah lumbung demokrasi, bagi saya parpol harus diperkuat,
bukan di perlemah. tentu dengan konteks konteks yang demokratis. Kemudian
kenapa partai politik harus diperkuat adalah, karena dia adalah actor utama dalam
demokrasi perwakilan yang membawa keberhasilan bagi suatu negara yang sedang
menjalankan demokrasi., jadi partai politik harus kuat. Dan ini semua ditentukan oleh
demokrasi internal partai. Masalahnya begini ada beberapa perspektif tentang
demokrasi internal partai politik. Ini sesuai dengan study di seluruh dunia.
Sebetulnya ada dua perspektif terkait ini:
1. Model demokrasi kompetitif
Meragukan perlunya demokrasi internal partai. Jadi ada banyak partai politik
dinegara-negara demokratis, yang tidak punya demokrasi internal. Bahwa
parpol perlu efisiensi dalam pengambilan keputusan. Demokratisasi seluasluasnya, sehingga urusan partai itu harus dieksternalisasi. Keputusan partai
harus di internalisasi, karena demokrasi justru mengdiskorsi efisiensi partai.
2. Model demokrasi deliberative
Mengdirtosi referensi. Belum tentu yang terbaik yang ditentukan dalam
internal partai politik. Jadi ini mungkin nanti perlu diskusi kita nanti selesai
saya presentasi. Jadi harus ada demokrasi internal karena itu kompatible
dengan demokrasi yang sedang berjalan. Didalamnya demokratis sehingga
menyediakan hubungan antara masyarakat dengan parpol kemudian
122
menyediakan, untuk isu yang berbeda. Masukan dan lain-lain, partai ini
menjadi flatform sehingga penting untuk menjadi internal partai.
Masalah lain begini, menurut saya demokrasi internal partai bukan beban atau
penyakit bagi partai politik karena memang ada prosedur-prosedur partai
yang tidak harus diambil secara demokratis. Saya memang bukan anggota
partai tapi saya bisa baca seperti penentuan koalisi saya kira pendapat ellit
antar partai. Kebutuhannya adalah menjaga ideology ketika partainya tidak
ideologis dalam menentukan koalisi tidak akan demokratis.
Keputusan yang tidak liberal itu perlu dalam partai politik. Kemudian kita juga
bisa paham Indonesia juga member ruang bagi partai politik seluas-luasnya
dalam pengambilan keputusan. Kemudian menurut saya, partai politik
memiliki hak derajat khusus dalam menentukan kekuasaaan.
Jika kita menerima prinsip demokrasi internal partai ada dua hal yang menjadi point
penting:
1. Efisienitas bagaimana DPD-DPD bisa mengambil keputusan secara otonom.
Bagaiamana pencalonan dilakukan dengan persetujuan DPP. Itu kan
sebelumnya tidak ada pasal itu. Sepertinya ada pendekatan parpol sehingga
memasukan pasal itu ysng melakukannya pasti cerdas sekali. Karena yang
memimpin saat itu adalah koalisi permanen maka harus dapat persetujuan
dari DPP. Dalam konteks politik memang harusnya demikian. Harus sama dari
pusat hingga daerah. Keuntungannya adalah untuk pemilih sehingga lebih
mudah menghakimi parpol. Dia bisa menentukan perbedaan ideology koalisi.
Ini akan menyehatkan sistem politi kita dan line ideology yang jelas. Tidak ada
yang musuhan. Jika pemilu serentak partai tidak bisa menilai koalisi partai.
Sehingga pemilu tidak menunjukan prevensi masyarakat secara menyeluruh.
2. Proses bottom up
ADRT partai-partai kita ada, susah jika hanya melihat di dokumen tertulis
partai. Paling hanya ada beberapa dasar tentang itu, ada banyak hal disitu
dibilang, kita melakukan riset terhadap peraturan-peraturan partai terkait
penyelesaian konflik internal. misalnya terkait, misalnya terkait, memang
harus diserahkan dalam mahkamah partai.saya curiga partai tidak punya
peraturan mengenai penyelesaian konflik. Contohnya dalam mahkamah partai.
Ada unsur yang harus dipertimbangkan. Saya setuju bahwa konflik partai
tidak bisa dibawa keluar. Partai punya culture masing-masing dalam
penyelesaian sengketa. Tergantung cara mereka mengadopsi mekanisme
sistem internal sehingga tidak bisa diseragamkan
Kemudian dalam penyelesaian konflik partai ada dua hal sebetulnya, karena
masyarakat kita plural jadi kita perlu banyak partai, ini saya rasa mitos juga. Yang
membuat isu ditengah masyarakat justru elite partai karena masyarakatnya mungkin
memiliki perspektif berbeda, sehingga kita tolak system tentang hanya dua partai,
tiga, atau lima.
123
Waktu itu merasa bahwa ini ada kebijakan nasional itu harus dikirim secara
transparansi. Untuk mengetahui apa benar bahwa suara-suara ini ditransparansikan
ke nasional. Itu melihat kenapa, secara demokratis. Yang telah menyelenggarakan
pemilihan, tetapi partai tidak siap dan tidak menerima. Saya mau kasih tau aja, untuk
itu satu hal yang luar biasa hampir setelah parpol itu ada perpecahan. Tetapi partai
yang lain itu biasanya saling menilai kekurangan, ini saya kira menarik bahwa apa
yang dibilang bahwa nasional partai. jadi kalau kita lihat perbedaan mendasarnya, ini
beberapa partai itu menerapkan demokrasi internal partai.
Jadikan waktu itu di teliti, merasa bahwa narasi ditingkat nasionalnya itu ini semua
dinilai secara aklamasi. Kemudian kami ingin tau, kami ingin tanyakan apakah benar
suara partai didaerah ini disampaikan secara nasional. Jadi menarik melihat kenapa
ada partai yang seperti PAN dibentuk secara demokratis, dia adalah satu-satunya
partai yang telah melaksanakan pemilihan 4 kali pakai sistem menerima atau tidak
menerima. Saya mau ngasih tau aja, tapi itu satu hal yang luarbiasa, hamper seytelah
kongres itu tidak ada perpecahan. Paling laporan dikantor, nah itu kesalahan partai
sendiri. Partai yang lain itu biasanya setiap pemilihan pecah.
Ini menarik bahwa ada 406 pemimpin partai democrat dari tingkat provinsi samapi
dengan tingkat kota. Salah satu pertanyaannya adalah mereka adalah figure yang
dapat membesarkan partai democrat. Itu 80 persen mengatakan SBY. Jadi kita lihat
bahwa kegoncangan didemokrat, tapi karena di democrat ada figure yang begitu
kuatnya, democrat nya tidak goyah. Bisa dengan mudah diatasi. Kemudian kita Tanya
kalau ada kongres besok siapa yang akan anda pilih, hamper 90 persen memilih SBY,
jadi memang sudah teraklamasi democrat terhadap SBY.
Kemudian kalau kita lihat gerindra. Dari 847 pemimpin diseluruh daerah, siapa yang
bisa membesarkan? Hatta? Tapi yang menarik adalah PAN anggota DPC nya punya
suara dan hak yang hamper seimbang dengan DPP tapi artinya apa, dari kasus PAN,
kalau lima tahun yang lalu mungkin hasilnya tidak kayak gini juga. PAN itu kompetisi
internalnya jarang. Justru karna ada demokrasi internal partainya kuat. Figure yang
ada didalam PAN lebih variative. Contohnya adalah ada Hatta dan Amien Rais.
PDIP. Ini langsung ditargetkan, Hmm Megawati tentu yang paling bisa membesarkan
partai, tetapi juga lebih variativ disbanding partai yang lain. Ini lebih demokratis.
Kalau ada kompetisi internal yang dijamin didalam partai, partai-partai tersebut akan
lebih tahan terhadap perpecahan yang terjadi dalam partai tersebut. mungkin saya
stop sampai disini. Terimakasih. Assalamualaikum Wr. Wb.
Moderator:
Demikian dari Pak Filiph. Jadi tadi banyak sekali contoh presentasi angka demokrasi
dipartai politik itu sendiri dimana politik juga harus bersebelahan dengan hukum.
Jadi tadi banyak yang disampaikan. Parpol yang sebenarnya mereka yang
mengajarkan demokrasi, tapi dalam tubuhnya tidak demokratis, ditubuh internal
tidak selamanya membuat keputuan secara demokratis.
Selanjutnya silahkan bapak Syamsudin Haris
124
Prof. Syamsudin Haris
Assalamualaikum Wr. Wb. Selamat siang menjelang sore. Tadi pak philiph
mengatakan bahwa ada ahli hukum atau orang hukum, kalau disini ada pak mahfud
yang pakar hukum. Dan yang pakar politik ada juga disini. Saya jadi bingung harus
berbicara atas nama apa, karena saya bukan dari pakar keduanya. Tapi saya mungkin
berbicara sebagai ini saja, bagian dari orang Indonesia yang mengikuti proses politik
Indonesia, dan kebetulan saya sekarang ini komisioner bawah …… di Jakarta.
Bapak Ibu sekalian, say singkat saja. Dari hari pertama saya kira kita sudah diberikan
banyak penjelasan mengenai partai politik ini, dari perspektif hukum, telah ditelaah
aktor-aktor yang berperan baik dari segi politik, budaya, hukum, sejarah, dan
sebagainya.
Saya mau memulai dengan apa namanya. Satu hipotesis saja. Saya mulai dengan
sebuah pertanyaan. Walaupun ini merupakan pengulangan diskusi yang sudah kita
lakukan pertanyaannya adalah mengapa konflik partai ini termasuk dalam ranah
permasalahan internal parpol? Khususnya kalau sekarang yang lagi actual kan
democrat dengan p3. Saya kira secara potensial terjadi dalam partai it uterus
berkepanjangan. Dan sulit diselesaikan, bahkan ada kecendrungan memelihara
konflik dengan berbagai kepentingan. Dengan diskusi tadi saya ingin mengakhiri
dengan sebuah solusi:
1. Dalam konteks sekarang ini itu tidak terlepas dari imbas pertarungan politik.
Dalam pemilu presiden tahun 2014 kemaren, yang kedua ini ada hubungannya
dengan persoalan institusi kepartaian kita yang mengalami pengeroposan.
2. Kemudian unit yang seharusnya berperan sebagai penyelesaian konflik,
seperti mahkamah partai tidak bekerja sebagaimana diharapkan. Mengapa?
Yang saya baca penyebabnya kecendrungannya dipilih secara tidak
demokratis oleh ketua umum partai yang tidak akan bisa bersifat netral.
Keputusannya kalau tidak mengikuti secara langsung permohonan ketua
umum partai kalau tidak dipengaruhi oleh negosiasi kedekatan dengan ketua
umum partai.
3. Ini ada hubungannya dengan proses krisis regenerasi dan litigimasi secara
khusus dilingkungan partai. Nah kita misalkan lihat contoh dalam kasus
golkar, kekuatan Mahkamah Konstitusi ada diluar partai. Karna krisis
kekokohan, wibawa, dan lain sebagainya. Seperti golkar, yang berkuasa itu
justru elit politik yang bekerja diluar golkar seperti Pak Jusuf Kalla atau Pak
Luhud. Kita bisa membaca itu. Dalam munas golkar terbaca sekali dominan
pengaruhnya
4. Walaupun tidak semua kita sepakat, intervensi pemerintah baik munas,
kemenkumham, susah dielakkan. Walaupun dalam UU kemenkumham
diberikan kekuasaan yang kuat dalam mengesahkan partai politik, dalam
prakteknya sangat sulit, karena bagaimanapun kan kemenkumham ini adalah
125
rezim partai politik. Bagaimana kemenkumham bisa independent
menyelesaian permasalahn sengketa antar partai sedangkan ia sendiri adalah
milik republic yang berkuasa.
Yang lain dua hal yang ingin saya sampaikan, kira-kira apa dampak dari problem yang
ada sekarang ini:
1. Akibat sengketa parpol internal maupun preoses penanganan hukum yang
tidak jelas, parpol menjadi tidak mandiri. Kita lihat golkar maupun P3. Setelah
munas bertambah rekonsiliatif itu. Maka yang dibangun adalah dekler
pendukung penguasa. Nah kalau dekler kepada penguasa, maka holkar yang
sudah mencalonkan Pak Jokowi sebagai President 2019. Dan kit abaca dalam
mundes itu tidak independent atau mandiri.
2. Secara politik baik tingkat struktur partai, elit, maupun gesture, kita lihat
sebenarnya golkar itu berantakan. Sampai kebawah. Ketika Setyaa Novanto
langsung mencalonkan soal gubernur DKI mencalonkan lagi, itu ditingkat
bawah mengalami konflik. Saya kira masa-masa tradisional, golkar itu
dijakarta mengalami politik balas budi. Misalkan dalam kasus P3, Meskipun
Romi saat ini secala legalitasmendapatkan alih dari pemerintah, tapi secara
politik kekuatannya melemah. Saya kita itu memberikan contoh, kantor DPC
P3 itu masih dikuasai oleh elit partai. Harusnya Romi bisa mengambil alih. Nah
jika kantor saja tidak bisa dia kuasai, bagaimana dengan soal proses
kaderisasi, mobilisasi masa, dan sebagainya.
Kemudian, dari sisi penyelenggara pemilu khususnya KPU menjadi sulit. Karena dia
harus membuat diskresi salah satu aturannya itu adalah memperbolehkan
tandatangan kandidat itu oleh dua kubu yang bersebrangan. Saya kira dampaknya
bagi penyelenggara juga besar. Masyarakat juga tidak mendapatkan apa-apa dari
konflik partai ini.
Jadi apa yang disampaikan oleh Prof. Syamsudin Haris tadi pagi soal bahwa Partai
politik menjadi beban bukan solusi dimasyarakat, saya kira ini memang sebuah
kenyataan yang tidak bisa dihindarikan. Jadi apa pilihan-pilihan yang bisa kita ambil
dalam persoalan penyelesaian sengketa parpol. Misalnya membagun kehidupan
parpol yang demokratis kedepannya. Setidaknya ada 3 pilihan politik:
1. Menyelesaikan konflik dengan Mahkamah Internal Partai. Tapi kadang
tidak bisa diselesaikan, sehingga muncul dualism kepartaian.
2. Diserahkan kepada Kemenkumham, itu secaralegalitas mungkin bisa
selesai, tapi kan juga tidak menyelesaikan masalah. Karena kemenkumham
adalah bagian dari rezim yang tidak mandiri keputusannya
3. Melalui proses pengadilan mahkamah agung dan arbitrase. Tapi jika kita
lihat, mahkamah agung juga banyak persoalan seperti mafia pengadilan,
hasil tidak murni.
4. Melalui intervensi pemerintah.
126
Saya setuju denagn point satu hingga tiga, hanya saja proporsinya tidak seperti
sekarang ini. Misalnya mahkamah partai tidak bisa menyelesaikan masalah dualism
kepengurusan partai. Kemudian kalau kita beri ke kemenkumham, saya rasa dia tidak
perlu mengatur persoalan keabsahan parpol, hanya permasalahan administrasi saja
yang boleh dia selesaikan. Saya lebih cendrung penguatan itu kepada pengadilan atau
mahkamah agung. Karena konstitusi kita sudah mengatakan bahwa mahkamah agung
merupakan lembaga independent, bahkan presiden pun harus tunduk
kepadamahkamah agung. Jadi menurut saya ini yang harus dikuatkan. Yang lain
mengikuti. Tanpa itu kita tidak akan bisa melakukan demokratisasi partai. Tapi saya
kira pilihan-pilihan yang ada itu tetap dipakai, tapi penguatan itu harus dilembaga
peradilan. Saya kira itu saja. Terimakasih Assalamualaikum Wr. Wb.
Moderator:
Demikian dari pak Fahrufin tadi. Ada beberapa solusi yang berkaitan dengan konflik
internal partai, salah satunya adalah bahwasannya ada mekanisme, itu berarti
memang harus tetap ada yang namanya mahkamah partai politik. Kemudian yang
kedua bisa diserahkan ke kemnkumham, terakhir kepengadilan. Selanjutnya kita
buka sharing dan diskusi. Silahkan…..
Refly Harun:
Menarik sekali apa yang disampaikan Philiph menurut saya antara pendekatan idealis
dengan realis. Jadi saya tidak tahu apakah Philiph lagi putus asa begitu, jadi ya
sudahlah, jadi kalau kita bicara PKP, tidak mungkinlah demokratisasi pasti ada khiayi
langitannya juag. Kalau di PDIP pasti ada peran Bung Karno. Apakah kita secara
evelutif tidak bisa mengubah itu, secara revolutif pun saya kira agak susah 5-10 tahun
kedepan.
Ini sebenarnya challenges bagi kita untuk menyingkapi partai politik. Kadang cara
pandang kita orang akademik berfikir eksklusif. Dia tidak mau merubah, kecuali ada
intensif. Konflik partai mengapa mau berubah? Karna itu ada mekanisme internal
yang solid. Tapi jika tidak ada intensif, mereka tidak akan mau, menolak.
Demokrasi internal parpol itu memang tidak bisa kita atur fully dalam UU parpol.
Seperti yang dikatakan Paul Rowland tadi, bahkan dikanada tidak ada political
regulation seperti di Indonesia. Hal seperti itu saya sepakat bahwa harus diatur
secara detail dalam UU. Pilih salah satu mekanisme, hukum acara yang nanti diatur
dalam UU secara detail. Ini perlakuan di Indonesia. AD/ART tidak dipegang, bahkan
UU tidak dipegang. Kadang Mhkamah partai disalahgunakan, untuk menyelesaikan
orang yang akan dipecat. Mekanisme bandingnya harus diganti. Masalah internal, ada
beberapa wilayah yang bisa diatur, ada yang tidak bisa diatur. Contoh, kadang yang
bersifat administrative bisa mnedongkrak partai politik. Ini kan terbalik. misalnya,
kenapa seolah-olah gampang, bahwa yang hendak menjadi kepala daerah harus
mendapatkan rekomendasi dari DPP. Itu saya kira adalah usul dari KMB, tapi KIH
127
juga suka. Jadi padahal itu kecil sekali. Tapi orang yang jeli. Ini memelihara relasi dan
hegeboni DPP. Karna kalau tidak ada ujung peran DPP maka tidak aka nada orang
yang akan di endorse menjadi kepala daerah. Karna itu saya justru challenges untuk
pak Paul untuk memandang fenomena Indonesia, ini kan full translate ya, jadi tidak
perlu ditranslate lagi. Untuk melihat perspektif pak Philiph ini apakah memang
Indonesia has no choice? Something realistic, tanpa ada idealistic. Itu yang kemudian
pak Roland sudah lama di Indonesia sehingga sama putus asanya melihat partai
politik ini. Itu saja, terimakasih. Assalamualaikum Wr. Wb.
Mas ulfa:
Assalamualaikum Wr, Wb. Perkenalkan nama saya Ulfa azra Fikra ya. Saya dari pulau
Kalimantan. Saya ini ada dua, akademisi dan politisi. Dari democrat. Saya kesini
mengikuti jejak idola saya, Bapak Mahfud MD.
Mungkin ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan, mungkin discuss aja. Sangat
menarik ini dilihat dari tema yaitu demokrasi partai dan hubungan pengurus pusat
dan daerah. Ini kalau boleh saya bagi mungkin ada sengketa internal partai, dengan
hubungannya pengurus pusat dan daerah.
Sengketa itu dalam UU no 22 Tahun 2008 itu ada 3 ya tadi, pemnbentukan parpol,
sengketa kongres dan sejenisnya, sengekta di forum tertinggi. Mungkin kalau disini
musda atau muscad ya. Kedua sengketa di internal partai juga hasil pemilu juga
menarik untuk dibahas. Jadi kami membagi dua. Kalau memang itu sengketa dualism
pemilihan yang satu menag atau alah di munas muncap atau daerah, mahkamah
partai kalau bisa putusan final sengketa internal partai, tapi mekanismenya
diperbaiki, dengan professional didalamnya, tidak melibatkan pengrus partai. Agar
netralitasnya tidak diragukan. Negara tidak perlu terlibat terlalu jauh dalam konflik
partai. Karna disitulah demokrasi internal partai dinamikanya, rok partai itu
dikatakan berkurang.
Kedua masalah internal partai waktu pemilu, jadi saya sedih sekali karna yang boleh
melakukan pengajuan itu adalah peserta pemilu, tidak boleh caleg karena tidak
demokratis. Itu menjadi permasalahn menurut saya, dalam UU boleh mengajukan
gugatan adalah 3x24 jam itu sangat besar sekali, tidak rasional. Apalagi kalau
misalnya kita bukan orang pusat yang dicalonkan. Kalau kita dekat dengan pimpinan
partai ya tidak masalah, tapi kita tidak dekat namun memiliki kualitas kemudian
dirugikan, maka ini tidak masuk akal. Harus parpol yang mengajukan gugata, itu
banyak terjadi didaerah saya. Jadi kalau kita tidak dekat dengan DPP itu sulit menjadi
calon legislative, itu real dilapangan. Mudah-mudahan ada solusinya bagaimana
caranya. Orang yang kompetitional, bekerja sesuai prosedur politisi, mendapatkan
hak-haknya.
Kemudian saya mendengar, bahwa proses demokrasi parpol internal antara pusat
dan daerah, disni ada dua hal yang menjadi substansi. Pemilihan partai ditingkat
provinsi di kabupaten kota, yang kedua pemiliha kepala daerah. Jika memang susah
membuat regulasi di wilayah. Itu diberikan insentif. Nah itu menarik. Apa bisa
128
menjadi contoh kita di kanada. Itu menarik. Permasalahan ketua partai menjadi
permasalahan utama. Kita sudah melakukan pemilihan di kabupaten. Mungkin
pilkada, ditingkat DPC itu mencalonkan si A. dipusat mencalonkan si B. otomatis yang
ditingkat dua SK dibatalkan. Diganti dengam pengurus PLT dan calon walikotanya
juga pusat. Ini perlu kita atur juga. Peran pusat sangat luar biasa. Demokrasi local
sangat salah. Sanagt susah didaerah untuk menjadi pemimpin ideal. Ini harus kita
pikirkan bersama bagaimana regulasinya. terimakasih.
Imam rofi’i:
Terimakasih. Mendengar paparan dari bang Philiph tadi saya mendapatkan hal baru
bahwa persoalan parpol itu membuka sudut baru yang membuka pikiran. Parpol
harus diperkuat. instrument untuk memperkuat itu banyak cara sehingga forum ini
juga menyepakati bahwa apa yang kita lakukan ini adalah dalam rangka memperkuat
parpol. Karena tema perkaitan dengan konflik, mau tidak mau berbicara tentang
mengapa konflik ini terjadi. Kita juga ahrus membahas bangaimana model dan
kelembagaaan pembahasannya. Itu sudah mengerucut. Modelnya dikembalikan
kepada internal, mereka yang merencakan, berproses, dan menghakimi. Tentang
kelembagaannya juga demikian, kalau diserahkan kepada mereka, mereka sendiri
yang menentukan. Sehingga akan lebih paham persolan yang diputus. Kemudian,
stockholder kita dalam mengatasi permasalahan, dimana sejarah memberikan
pembelajaran bagaimana menyelesaikan konflik, terlepas dari sistem yang sangat
otorian. Kita harus demokratis. Ini forum kesempatan akademisi untuk menawarkan
kerangka yang sangat ideal untuk membangun parpol yang kuat dan demokratis.
Saya sarankan kembali untuk penyelesaian konflik kembalikan lagi ke internal partai,
entah itu model tahapan musyawarah partai, itu yang akan kita pilih. Karena waktu
tidak cukup banyak, saya sampai disini saja. Terimakasih.
Nurudin haddy
Assalamualaikum Wr. Wb. Berhubung waktu tidak banyak, saya langsung saja masuk
ke topic, terkait penyelesaian konflik saya kurang sependapat. Memang kita harus
mengatur secara detail didalam UU itu. Di Indonesia ini semakin aturan terbatas,
semakin pintar parpol mengatur sebisanya saja. Sulit menyelesaikan secara
demokratis konflik dalam partai. Menyelesaikan ditingkat mahkamah partai internal
dan eksternal melalui proses forum tertinggi. Proses hukum diselesaikan dengan
mahkamah konstitusi. Aroma penyelesaian yang tidak money politik. Jika D/ART
tidak ada secara tegas mengatur mengenai mahkamah partai, ini belum lengkap.
Moderator:
selanjutnya langsung saya serahkan kepada ketiga narasumber untuk memberikan
responnya.
129
Achmad Fachruddin:
Saya kira itu tadi tidak ada pertanyaan, lebih cendrung kepada pendapat-pendapat.
Saya kita persoalannya bahwa yang membedakan kita dengan kanada minimal adalah
regulasinya sangat minimal. Partai politik kita itu sebenarnya juga menyalahi peran
national building, dll. Proses pendidikan. Sedangkan untuk Kanada yang seperti itu
sudah selesai. Itu adalah yang tertinggi. Kemudian Uu kita menjadi rumit adalah
karena kita melakukan demokratisasi konteksnya macam-macam. Sehingga partai itu
harus partai nasional. Kemudian yang kedua menurut sdaya terkait mekanisme saya
setuju dikembalikan kepartai, rtapi harus memaksa sehingga dijelaskan secara detail
di AD/ART partai. Aturan dibuat jelas, bisa dibaca semua orang dan dibuat di
AD/ART. Agar impaksiasitasnya tidak hilang. Dia tidak kehilangan otonomi tapi itu
adalah jaminan sebelum konflik itu terjadi. Kemudian yang ketiga Cangkupan perkara
yang isi didalam perkara partai itu harus lebih lebar dan spesifik. Berdasarkan
pengalaman empiric yang lalu dia dilindungi oleh undang, undang.
Philiph:
Terimakasih, saya menambahkan sedikit saja yah, terkait mekanisme internal partai
saya sudah tulis di paper berbagai usulan. Sistemnya ahrus demokratis dan
transparan oleh ketua umum terpilih. Yang kedua saya kira memang perlu ada
pedoman dalam beracara dalam partai itu supaya mengurangi ketidakpastian secara
hukum. Memang harus diluruskan mengenai kriterika yang jelas mengenai siapa saja
yang boleh menjadi anggota mahkamah partai tersebut. Berdasarkan pengalaman,
otoritas, profesionalitas, dan lain sebagainya. Karena pengalaman, banyak sekali
Mahkamah partai mucul dari luar partai yang bermasalah mengatur internal partai.
Kemudian cangkupan perkara tidak terlalu melepar, seperti kode etik. Kalau masalah
dualism saya lebih cendrung diselesaikan di mahkamah agung karna independent
melalui UU/.
Dr. Paul Rowland:
Thankyou Assalamualaikum Wr. Wb. Don’t forget to put your translator. Oke, well I
will brief, I think use the different perspective. Use the Canadian political linear,
where there is no regulation, norm, and ext. We can alone find the regulation in
Canada but we also have four labour parties. we don’t have to deal with ten or more
political party that very old. there is a sentences for internal side. There is no rule. If
we want to elect the candidat of political party. The insentive come from the inside of
political party. If the founder say that he want, we can do that way. So I had the deal
with I was elected my the member of local sociation. But I was only internally party
have some situation regulation that set up by the party. Intern regulation can be the
general which have very, very high qualifiate. There is a law in internet if you look at
130
it. It seems to work for them. The question is before put in a law. You can ask your self
what are you trying to achieve with that, and the second part of it is what the
konsequentive. You can ask the political party to do something. And also remember
the purpose of legal party whichis to articulate and to get the public interest. By the
government they are not really doing their job.
Moderator:
Tepuk tanagn untuk ketiga narasumber. Baik saya tidak akan menyimpulkan karena
memang ada tim kusus yang melakukannya dan annti ada sesi untuk kesimpulan.
Nanti tolong disiapkan pemancing dari satu orang yang membuat makalah tentang
hubungan pusat dengan daerah. bapak bambang haryanto. Tapi jelas yang hadir saja
dulu pak. selain bapak bambang, ada 6 orang yang membuat tentang hubungan pusat
dengan daerah, bapak Thamrin, moderatornya mungkin dipilih oleh bapak Thamrin.
Dengan pemancing bapak bambang haryanto, dengan buk fitri. terimakasih,
assalamualaikum wr wb.
3. SESI TIGA (16.00-18.00 WIB)
Moderator:
Ada 22 makalah dalam pgd ini, saya yakin dari makalah Ibu/Bapak sekalian, bisa
berdiskusi saja mengemukakan berbagai pendapat. Sesuai kesepakatan kita tadi,
bapak thamrin sudah ada didepan dan beliau ini mungkin sebagian besar kita sudah
kenal. Beliau dari Fisip Universitas Andalas, ilmu politik khususnya. Saya sempat
menguntip tadi di USB, Makalah bapak tamrin berkaitan dengan Hubungan parpol
pusat dengan daerah, susunan pengurus Partai Politik.
Makalah ini menjelaskan tentang hubungan parpol ditingkat pusat dan daerah, serta
upaya demokratisasi parpol. Ini menarik sekali bahwa pak Thamrin dari wilayah ilmu
politik, dan diruangan ini banyak yang dari ilmu hukum, jadi kita bisa bertukaran
pikiran secara baik saya kira. Tadi ada pesan sedikit, kita diharapkan selesai 5.30.
Kemudian kita lanjutkan dengan fasilitator utnuk merumuskan lebih hangat
kesimpulan dari pgd kita ini, usulan kongkritnya dari grup ini apa. Untuk
mempersingkat waktu saya silahkan kepada bapak tamrin, kurang lebih 20 menit lah
ya pak, silahkan pak.
Tamrin:
Terimakasih bapak ibu atas kehadirannya. Saya kira, tapi ya Kita sharing saja
semacam membagi saja, tulsian saya ini semacam refleksi yang kemudian menjadi
sesuatu yang menentukan. saya berangkat dari diskusi tadi. Ada beberapa hal. yang
pertama adalah sering kali ada kebijakan kebijakan yang berbeda, apa yang
diputuskan di partai daerah atau DPD dengan yang membedakan keputusan di
pengurusan partai pusat. sering sekali kebijakan yang diambil oleh pengurus daerah
ditentukan oleh kebijakan yang diambil pengurus pusat baik tentang kepengurusan
131
maupun tentang penetapan calon-calon pemimpin yang diwakilkan oleh masyarakat,
sehingga persoalan-persoalan ini, sering sekali bentrok kepentingan antara
keputusan yang diambil pengurus partai daerah dengan apa yang disuarakan dalam
masyarakat. Ada beberapa point penting yang diungkapkan. Nah disini bagaimana
caranya memutus hubungan rantai itu, terlihat bahwasannya semakin otonom
pengurus partai di daerah itu dalam proses pengambilan keputusan, semakin
demokratis lah partai politik itu. Tapi itu tidak mudah dilakukan, karna ada persoalan
system yang harus kita benahi ya, yang ada kaitan nya dengan parpol, system pemilu,
pemilih, dan dengan pemerintah itu sendiri. Jadi kita lihat, bahwasannya demokrasi
yang masuk di Indonesia ada dua pola. Pola designer dan pola strukturalisme.
Jadi kita lihat bahwasannya, demokrasi yang masuk di Indonesia itu ada dua pola:
1.pola designer
Memasukkan demokrasi yang bersifat mengemukaan demokrasi yang berdasarkan
procedural, adanya pemilihan pemilihan bebas secara kopetitif
2. strukturalisme
Ada proses liberalisasi dan kompetisi. Setiap calon memiliki peluang untuk dipilih
dan memilih dalam kondisi ini.
Nyatanya dalam perjalanan reformasi kita banyak implikasi implikasi yang lahir dari
persoalan demokrasi liberal yang dikemukaan dalam system itu. Salah satunya adalah
lahirnya peran local elit atau epranan-peranan elit lokal yang menjadi manta rantai
penghubung yang kuat antara pengurus pusat dengan pengurus didaerah itu.
Pengurus kuat didaerah, the local strongman, yang kemudian menjadi orang
kepercayaan dipusat atau di DPP. Apakah itu berkaitan dengan Hubungan-hubungan
ekonomi, hubungan social, dan hubungan lain, kemudian kepercayaan itu muncul
dikalangan local elit didaerah itu.
Sehingga kekuasaan yang tadinya bersifat terbuka didalam proses pemilihan
demokrasi liberal tadi, jadinya tertutup, ada jenis kekuasaan yang dikemukakan oleh
Jonda Prenter, ada kekuasaan yang terbuka, yang bisa terlihat dalam proses
liberalisasi transpalansi pada waktu ketika melakukan pemilihan umum. ada
kekuasaan yang bersifat tertutup, yang justru berkaitan dengan keputusan yang
diambil yang beraada dalam wilayah loby atau wilayah tertutup. Yang hanya dapat
dilihat pada saat rapat internal partai. tertentu yang Nampak ketika loby dan dalam
pengambilan keputusan partai. Ada wilayah kekuasaan yng sifatnya tidak Nampak
yang sifatnya hidengemonik, ada sesuatu dalam lingkungan kita yang tidak Nampak,
ada saatnya kita takut ada sesuatu dalam lingkungan kita yang kemudian kita tidak
tahu sehingga kita ikut arus, dan itu merupakan wilayah pada yang sifatnya invisible.
Pada saat ada dalam dimensi ideologis dan dimensi budaya itu, kita tidak bisa keluar
dari itu. Kita tidak bisa melawan meansteam Itu tapi itu adalah kekausaan yang
tersembunyi itu, ketika kekuasaan itu tidak terlihat, ini saya curigai ini yang
berhubungan relasi antara pengurus pusat dengan pengurus didaerah itu adalah
kekuasaan yang tersembunyi itu. Yang kemudian membentuk kepentingan ekonomi,
dalam bentuk relasi-relasi pusat dan daerah, Menerbitkan kontribusi kepada
132
kekuatan ekonomi dpp pusat. Tidak mungkin orang menggerakkan partai politik di
pusat pada saat basic ekonominya tidak kuat. Basic ekonomi itu akan ditundang oleh
ekonomi yang ada didaerah sehingga muncullh kekuatan ekonomi itu dibalik pada
kekuasaan politik yang nampa, jadi bisa saja yang terpilih secara demokratis itu
adalah orang yang bisa diterima, tetapi orang yang mengambil keputusan adalah yang
bermain di belakang itu. Dan itulah yang bermain dalam hubungan pusat dan
didaerah.
Inilah yang disebut dengan pendekatan structural, karna itu sejak reformasi
sesungguhnya kita itu tidak demokratis, karena yang bermain itu adalah kekuasaan
yang tidak terbuka tadi. Yaitu hasil pengembangan budaya dan struktur politik pada
masa lalu. Yang kemudian banyak kita lihat yang bermain di partai politik di DPP itu
adalah mantan-mantan mereka yang sukses pada masa lalu. Yang mana mereka
punya jaringan di daerah yang kemudian menjadi penggerak di tingkat pusat dan
kekuatan politik yang ada didaerah. Sehingga struktur itulah yang kemudian
dibentuk.
Makanya kekuasaan itu tidak menjadi terbuka. Hanya terbuka pada saat pemilihan
umum, lalu tertutup kembali. Inilah kekuasaan yang tidak Nampak. Muncullah
kekuatan ekonomi dibalik kekuasan yang Nampak. Yang menentukan keputusan
adalah orang yanga da dibelakang itu. Ini lah pendekatan structural,
Karna yang bermain adalah kekuatan struktur ekonomi. Jadi model demokrasi
Indonesia ada yang bersifat designer melalui proses demokrasi prosedural, tapi ada
juga yang menolak. Kadang tidak perlu kita punya partai politik, karena situasi tidak
menunjang demokrasi. Itu tidak bisa diubah lagi. Jadi ada kekuatan yang didalam
yang justru lebih menentukan keputusan yang diambil. Dan ini lah yang disebut oleh
William Reno, di Indonesia ini ada negara yang ideal dan negara sebagai suatu
system. Pada negara yang ideal kita lihat siapa yang meentukan keputusan dalam
legislative, sedangkan negara sebagai suatu system adalah actor-aktor yang
menentukan keputusan itu yang tidak terlihat. Jadi jika pada negara ideal yang
dikemukakan adalah statement atau pernyataan, tapi pada negara system adalah
tindakan-tindakan yang menentukan system itu. Itulah kekuasan yang tidak Nampak
atau the hidenpowers itu, sesuatu yang tidak Nampak. Sesuatu yang sudah
diputuskan bersama itu berbeda. Nah, itu yang kita lihat venomena. Kecendurungan
ini diperparah oleh, jadi kita ada namanya demokrasi politik Indonesia kita harus
menggabungkan pendekatan designer dengan struktual tadi.
Kita harus menggabungkan, kita harus melihat bagaimana lembaga politiknya, atau
pengurus partai politiknya, yang kedua adalah bagaimana kinerjanya, yang ketiga
bagaimana aktornya, nah ternyata yang banyak bermasalah pada pengolahan parpol
adalah pada aktornya, lembaganya oke dan secara document AD/ART nya oke, yaitu
sesuai prosedur demokrasi prosedural. Tapi pada kinerjanya sudah mulai tidak
bagus, karena laporan-laporan yang masuk itu kan sesaui peraturan. Lembaganya
keropos, artinya aktornya itu sudah dibajak, sehingga tidak ada lagi aktor yang
133
mampu, istilahnya kapasitas actor untuk membangun demokratis itu sudah tidak ada
lagi. karena yang mempengaruhi keputusan adalah bukan yang membuat keputusan
tapi yang bermain dibelakangnya, ada struktur social ekonomi masyarakat diluar
pada system politik ideal tadi, dan kapasitas aktor yang menjadi berkurang di
Indonesia ini, ada dua penyebab: yang pertama masuknya senioliberalisme sehingga
masyarakat lebih senang ke mol dari pada membina organisasi sosial. yang kedua
hilangnya fungsi organisasi social yang menjadi penengah masyarakat dengan partai
politik. Sehingga kalau kita lihat, kinerja daripada muhammadyah itu, justru lebih
bagus sebelum orde baru ketimbang setelah orde baru. Itu yang kita lihat. Kenapa?
karna pada waktu orde baru ada musuh bersama. Tapi setelah musush bersama itu
hilang, masuklah pengaruh global yang masuk dalam bentuk gagasan-gagasan
liberalisme.
Sehingga lemahnya lembaga-lembaga organisasi sosial, sebagai
penghubung masyarakat dengan partai politik, proses konsolidasi parpol dengan
demokrasi sehingga menjadi terpengaruh. jadi kalau kita lihat orang yang alktif di
organisasi social juga aktif di organisasi politik, namun komitmen di organisasi social
semakin berkurang. Sehingga actor dalam lembaga politik menjadi melemah
kapasitasnya.
Saya kira itu sajalah, jadi sharing saja kita kalau begitu. Terimakasih,
assalamualaikum wr wb.
Moderator: sebagai pemancing saya kira saya mengundang bapak dan ibuk semua
memberikan pendapat sesuai makalah masing-masing. Intinya yang pak tamrin
sampaikan, kenapa saya bilang menarik, Kaerna beliau ini adalah orng yang dating
dari ilmu politik, saya mengundang prof ……… beliau mengungkapkan beberapa
catatan penting, pertama diungkapjan dulu mulai dari dua pola, yang sebenarnya
belaiu ingin sampaikan adalah kekausaan itu sebenarnya ada dua system di Indonesia
ada yang tertutup dan terbuka. Ini jadi rumit. Kita milih orang si A, si B, si C, Tapi
kenyataannya yang membuat keputusan adalah si Z. adanya relasi ekonomi yang
terbangun, karna ada kekausaan yang terttutup disni. Saran beliau adalah kita harus
menggabungkan dalam memetakan permasalaahn. Tapi yang sangat bermasalah
adalah aktornya, ini benar-benar pancingan, ungkapam awal, saya yakin bapak ibu
punya pandangan yang lebih jauh yang kemudian dalam kondisi seperti ini yang
mungkin disepakati, tapi karena dalam kondisi seperti ini kemana akan kita bawa
permasalahn ini. Dan juga soal-soal keuangan partai politik, barang kali baik untuk
memicu saya mengundang bapakSyamsudin Haris dulu, ooh biasanya belakangan
yaboleh. Yang lainnya barang kali, baik sudah ada tiga. Silahkan. Untuk kepentingan
pencatatatn mohon sebutkan nama dan lembaga asalnya.
...
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Menarik diskusinya dengan apa
yang beliau sampaikan, topic ini masih sangat jarang sekali, dari segi pembahasan
maupun dari segi referensi juga sangat minim sekali, dan kita juga belum punya
pengalaman dengan pengelolaan keuangan partai politik. Apakah itu dijadikan
134
sebagai desentralisasi seperti konsep yang diusulkan. Mengenai hubungan pusat dan
daerah, memang ada upaya-upaya yang mendesentralisasikan kewenangan dari DPP
partai ke kewanangan DPD daerah.
Apa saja kewenangan itu, ada tidak upaya untuk mendesentralisasikannya. Jika kita
melihat dalam UU hampir semuanya tidak ada. Jadi upaya kita untuk mensikronisasi,
hampir tidak ada, karena semuanya dikunci dalam AD/ART, bahwa semua sudah
diatur dalam AD/ART. Nah AD/ART menjadi bukti bahwa apakah partai itu bersifat
desentralisasi atau tersentralisasi. Itu yang membuat akhirnya terpecah belah, tadi
pernyataan pak thamrin yang saya amati, bahwa kita sebagai orang awam melihat
apakah bahwa apakah partai PAN itu demokratis atau tidak, saya kira partai itu tidak
demokratis karna dalam mengambil keputusan. Hasil survey pak thamrin boleh juga
bahwa ada demokratisasi dalam DPD DPD tersebut itu mengubah persepsi saya
bahwa Proses demokratisasi tidak juga harus melalui pendekatan structural,
mengenai keputusan-keputusan yang diambil oleh ketua umum partai, tapi ada juga
aspek-aspek lain.
Dalam hubungan pusat dan daerah, itu kan ada dua unsure, unsure korporasi sama
kompetitif. Dan didalam tulisan saya, saya lebih mengarah pada proses yang lebih
liberatif.
Mungkin nanti kita bisa mendorong dengan semakin hangatnya diskusi, lagi
bagaimana upaya pengantar, apakah kita harus mengatur partai-politik itu dengan
seperti itu, apakah parpol harus didiseain sedemikian rupa dengan konsep otonomi
daerah, yang ditakutkan adalah ketika pengawasannya berubah, itu bisa otoriter
sekali, atau akan disalah gunakan untuk menaikkan popularitas. Ini juga akan
menajdi bahan diskusi juga bagi kita bahwa, apa yang harus kita lakukan ketika kita
ingin mendesentralisasikan partai politik. Kalau untuk pemilihan-pemilihan kepalakepala daerah tidak memerlukan persetujuan pusat. kecuali Kalau koalisinya
permanent, itu sepakat, kalau bicara dari awal atau kita menerapkan perilaku dengan
konsep yang real dan jelas. Situasi didaerah kadang keadaannya berbeda, sehingga,
saya pikir partai sudah memahami fakta-fakta ini, sampai sekarang mereka
memperbaiki, kaderisasi dulu, agar jelas, Pola kaderisasi,
Kalau hubungan pusat dan daerah itu kita harus memiliki konsep yang sedemikian
rupa sehingga hubungan masyarakat dan parpol tetap terjaga dengan baik. Atau kita
harus menerapkan prilaku-prilaku seperti yang mekanismenya diterapkan oleh
partai itu sendiri, saya rasa partai-partai itu telah memahami fakta seperti ini bahwa
masyarakat semakin jauh dari parpol itu sendiri, tapi sampai skrg mereka berupaya
mengembalikan kepercayaan itu. Sehingga saya berpikir bahwa partai harus
membenahi kaderisasinya terlebih dahulu, bagaimana memiliki jabatan didalam
partai tersebut harus melalui tindakan-tindakan yang sesuai dengan prosedur, jika
kita ingin mendisain baik secara politik maupun demokratis saya kira, demokrasi itu
harus diterapkan.
135
Moderator:
baik, terimakasih. Saya kira ini semakin menarik dari pagi sampai sore ini sudah
mulai goyah yam as, tapi pertanyaan besarnya begini apa yanmg mau
disentralisasikan dan apa yang mau diatur jangan karana kita orang hukum kita jadi
gila ngatur. Dimata partai politik apakah perlu kita mengatur sejauh ini atau dinbatasi
hingga titik mana kemudian muncul juga pertanyaan bagaimana cara memaksa
sistem desentralisasi diterapkan didalam parpol. Disitu kata orang hukum digunakan
untuk memaksa perubahan prilaku tertentu, lanjut…. bagaimana pandangannya
Lutfi:
Ada yang tau tidak, ada berapa yang mengatur tentang partai politik setelah saya
menghitung ternyata ada banyak sekali kurang lebih ada enam norma yang memang
banyak sekali. tapi tidak ada yang sama sekali berbicara tentang demokrasi partai
politik. Saya sebenarnya sudah membuat sebuah paper, Dari sekian banyak norma,
pertama terkait pasal 6a, pasal 24c, pasal 22e ayat 3 tentang peserta pemilihan umum
DPD dan DPRD. Dan saya ingin coba lebih tahu lagi, saya melakukan research tentang
partai politik itu, tapi tidak ada sama sekali yang berbicara tentang desentralisasi
parpol. Saya temukan banyak sekali isu. Ada beberapa pandangan terkait penguatan
kursi di kursi pemerintahan, tapi tidak ada sama sekali yang berbicara tentang upaya
desentralisasi politik pusat daerah dan lain lain. Tapi ada dalam pasal 22e ayat 3
penafsiran konstitusi itu ada dua
1. Origenalirme, terkait hasil keputusan
2. ....
Kemudian melalui dua penafsiran ini, hubungan desentralisasi itu sebenarnya sudah
ada. Seperti kewenangan untuk menyediakan kandidat. Dan pemahaman saya
sebenarnya terkait pemahaman kontitusi yang saya tulis dalam makalah saya dan
saya ingin mengucapkan satu hal yang menjadi alas an konstitusional bagi kita terkait
bagaimana kita menjalankan budaya partai politik.
Moderator:
Baik terimakasih. Tidak apa apa tidak ada solusi. Kita disini tidak diminta untuk
mencari solusi, tapi kita diminta berdiskusi biasa terkait keilmuan yang kita punya.
Ini merupakan diskusi yang sangat menarik mungkin karena dilatarbelakangi oleh
mas lutfi bekerja di MK, jadi kerjanya ngeliatin undang undang, penafsiran konstitusi
dan risalah jadi menemukan ada enam kali partai politik disebutkan dalam undang
undang dasar. Apakah ada masukan lagi dari para pesrta lainnya?
Dodi nur andryan:
Kalau berbicara mengenai hubungan politik pusat dan daerah, bisa kita kembalikan
lagi dalam satu ilmu hukum ada satu ilmu hukum yang keluar dari HTN, yaitu Hukum
administrasi negara. Yang bisa menjadi jembatan disitu. Sebenarnya ini terkait
136
dengan sengketa partai politik tapi saya coba menjawab pancingan dari Mas Harun
yang bisa terkait dengan masalah itu. Dari tadi saya gatel banget menunggu
pancingan dari bang refi. jadi di dalam hukum tata negara mengkaji negara dalam
keadaan bergerak lain lagi dalam hubungan pusat dan daerah, banyak teori teori yang
mengatur tentang delegasi dan desentralisasi dan retribusi.
Kalau kita kaji lagi kaitan pusat dengan daerah, ketika terjadi sengketa antara partai
politik baik itu internal maupun eksternal kaitannya kalo di galakkkan, jika terjadi
sengketa atau perselisihan, hukum administrasi bekerja disini,.. standar operasional
turunan dari sop, keuangan yang utama surat- surta keputusan, dan segala surat
menyurat dari partai tersebut. Tapi ini menjadi kelemahan bagi pengurus di daerah
oleh manusianya terutama di daerah daerah terpencil minim administrasi. Mungkin
mereka tidak pernah membaca AD/ART, SK SK kepengurusan. Inilah jembatan yang
sebenanarnya mejadi penghubung ketika ada sengketa antara pusat dan daerah
hukum administrasi negara bekerja disini
Basic by document, kaitannya lagi pancinngan dari pak Refi tadi kaitannya dengan
keuangan partai politik. Saya pikir ketika terjadi sengketa tidak bisa diselesaikan
secara internal yaitu ketika telah masuk dalam ranah penggelapan penyelundupan
jadi harus diselesaikan secara eksternal atau pidana. Kemudian kaitannya lagi
dengan konsep ADR. Undang undang yang mengatur tentang ADR undang undang
nomor 39 tahun 2019 diperuntukkan untuk lembaga seperti bank, perdagangan
saham, badan hukum perdata. Cirri khas dari ADR ini bahwa bisnis itu harus
menyelesaikan sengketa secara diam diam. Kemudian ini diadopsi oleh undang
undang partai politik nomor 1 tahun 2008. Yang menjadi pertanyaan kita adalah
apakah parpol ini masuk dalam ranah ADR yang seharusnya berdiri sendiri. Ini harus
dikembalikan lagi konsepnya seperti apa. Menurut saya itu saja dari saya mengenai
desentralisasi partai politi dan sengketa partai politik.
Emy hajar abra:
Terimakasih, saya mungkin agak berbeda persepsi mengenai hubungan pusat dan
daerah bahwa saya sangat tidak setuju dengan desentralisasi.
Hubungan pusat dan daerah saya sangat tidak sepakat dengan penggunaan
desentralisasi, kecuali perspektif nya kita dudukkan dengan tepat. jadi kalau
menggunakan perspektif desentralisasi, kalau yang digunakan adalah desentralisasi
dengan konsep yang lain acuannya adalah pemerintahan daerah justru akan terjadi
multi konflik dimana kerja pusat dilimpahkan ke daerah maka saya akan melihat
dengan
Dua solusi:
1. Manusianya,
2. Masalah Pusat
Jika dilihat dari hubungan pusat dan dearah maka yang dilihat adalah kewenangan
pusat, kekuatan pusat disalurkan ke daerah. tidak mungkin pusat dan daerah
137
memiliki perbedaan. Walaupun ada konflik itu hanya masalah internal partai. Yang
jadi pertanyaan kita adlah apakah pengaturan ini sampai di tingkat undang undang
atau sekedar di AD/ART. Muncul perdebatan saya melihat bahwa cukup
menimbulkan konflik. terimakasih
Ibrahim:
Baik saya kira begini yang jadi masalah adalah masalah sistem tertutup dalam
pencalonan kepala daerah dari partai politik. Dan yang jadi permasalahan adalah
yang dari pusat selalu diutamakan dengan cara negosiasi dan sebagainya. Ini salah
satu contoh permasalahn daerah yang tidak mengakomodir partainya di daerah
akibatnya yang terjadi tarik ulur pengurus harus siap diganti dengan seseorang yang
bisa melobi di tingkat nasional. Beberapa partai sudah mendekarasikan menyediakan
fasilitas di tingkat DPD. Yang jadi permasalahan adalah apakah undang undang harus
mengatur sampai kesana atau tidak? Disatu sisi ada ketidaksiapan partai politik
menerima pengaturan ini karena lemahnya komitmen di tingkat daerah. Hampir
semua politisi itu adalah pengusaha yang dibiayai oleh jaringan jaringan nasional dan
ada persoalan persoalan yang memang tidak bisa dilimpahkan ke daerah contohnya
keputusan yang diambil di tingkat local dan ada keputusan yang diambil bersama.
kemudian kita berbicara mengenai ideologi seperti ada masyarakat miskin di suatu
daerah yang menjadi persoalan sensitif partai politik. Jadi misalnya diatur… dan ada
partai yang tidak bisa diatur demi demokratisasi partai.
.....
Kita ingin juga menyadarkan bahwa negara kita itu negara hukum dan partai politik
merupakan instrument yang baik dalam mencapai negar demokrasi. Kita sudah
sering melahirkan uu parpol, sejak zaman reformasi sudah banyak. Tapi kita lupa
menoleh apakah undang undang tersebut sudah terealisasi dengan bagus. Dari
deretan undang undang itu kelihatanlah bahwa tujuan parpol itu jelas sehingga sesuai
dengan pancasila tujuan negara.
Kalau ini memang aset negara, perlakukan dengan kasih sayang. Dalam rangka itu
juga termasuk penyelesaian konflik secara intern. Kalau kewenangan itu diberikan
secara full diserahkan kepada mahkamah partai, tidak ada kekuasaan lain lagi seperti
dilempar ke mahkamah agung. Kita harus memberikan deskripsi yang jelas tentang
mahkamah partai, komposisi anggota mahkamah partai yang berjumlah tujuh. Enam
dari anggota partai politik dan satu orang dari hakim luar.
.....
Terimakasih, saya kira ini membutuhkan perhatian kita khususnyaperhatian kita
terkait mahkamah partai. Saya berasl dari ilmu politik sehingga saya berbicara
tentang intervensi parpol itu dibagi menjadi dua. Ada private speaking dan ada public
speaking. Ada parpol pemerintah dan ada parpol komposisi. Tapi yang terjadi di
138
Indonesia adalah parpol yang terbentuk merupakan kolaborasi dari teori yang ada.
Partai poltik aakan melakukan penjagaan terhadap maruahnya dari consensus politik.
Komplikasinya adalah pada pembiayaan parpol sangat susah untuk mengatur
mengenai kolaborasi antara pusat dan daerah. Betapa banyak partai yang membuat
sendiri polanya seperti pola pembiayaan. Saya kira asumsi tadi harus dipatahkan
berangkat dari konstitusi kita pasal 1 ayat 1,2dan 3. Mau tidak mau kiat berbicara
pada implikasi partai politik yang rendah sehingga hukum harus hadir memberikan
pembatasan mengatur pola hubungan tadi. Positifisasi partai politik menjadi penting
untuk dibahas jangan sampai dari dulu sampai sekarang hanya itu persoalan kita.
Walaupun kita tidak membatasi paling tidak desentralisasi itu mengatur batasan
batasan sehingga bisa memberikan pembelajaran poltik yang bagus bagi pengurus
selanjutnya
Esti ekawati:
Karena perspektif saya adalah politik jadi saya ingin membahas tentang konstitusinal
parpol. Apakah itu membahas mengenai kaderisasi dimana kesulitan untuk mencari
calon pemimpin itu sebenarnya ada institusional sendiri dari partai politik itu. Cara
mewujudkan intitusinal partai poltik itu menjadi lebih baik busa ditandai dengan
kepatuhan anggota parpol terhadap AD/ART secara keseluruhan. Kemudian
keinginan partai yang dikendalikan oelh sistim. Untuk menjadi pemimpin harus
mematuhi sistem yang ada di dalam AD/ART kemudian partai itu bisa disebt sebagai
sebuah lembaga adalah setelah memahami mekanisme penyelesaian konflik yang
diselesaikan oleh internal partai itu sendiri. Disini pentingnya manajeman konflik
untuk mereduksi segala sentral yang ada di dalam partai. Kemudian harus ada nilai
nilai yang harus disepakati oleh kader kader yang memiliki ideology sebagai
solidaritas dan adanya kaderisasi yang mampu memahami dan mereduksi orang
orang baru pemilik modal yang berkeinginan memimpin partai itu. Ini memacu konfli
dalam partai itu sendiri. Benahi dulu partainya, benahi dulu lembaganya, baru dibuat
perturan yang mampu dipatuhi oleh parpol itu sendiri. Kalau tentang hubungan pusat
dan daerah, saya sangat setuju dengan sistem desentralisasi. Terimakasih.
.....
Terkait dengan persoalan itu merupakan masalah internal partai. Parpol berbeda
dengan yayasan lembaga perguruan dan lainnya. Orientasinya itu berada di DPP.
Dalam struktur organisasi partai itu ada perangkat perangkat yang memang ada di
tingkat DPP tapi tidak ada di tingkat DPC. Ini yang menjadi konflik yang mana badan
legislative itu hanya di tingkat DPP. Ini membuat terjadinya sistem kepemimpinan
bertingkat. Permasalahan antara pusat dan daerah menghambat kinerja partai,
mekanisme penyelesaian konflik diperlukan sejauh ini. Selanjutnya mengenai
komposisi mahkamah partai tidak diatur sampai sejauh undang undang. Hanya dalam
AD/ART. Kita tidak melihat proses dari atas sampai kebawah ini dalam manajemen
139
konflik ya, seperti yang di daerah membantu atasan saja. Sebaiknya yang diatur
dalam undang undang adalah komposisi kepengurusan di daerah. Bagaimana
susunan partai agar bisa bekerja sebagaimana fungsinya.
Moderator:
Terimakasih ini penutup yang sangat relevan. Ada beberapa catatan yang saya buat
Catatan:
1. Menarik karena kita mulai dengan landasan teoritik. yang saya kira
semuanya sepakat bahwasanya ada System kekuasaan terbuka dan
system tertutup. Dan bagaimana meminimalkan pengambilan
keputusan yang tertutup itu karena da relasi ekonomi yang terbangun
yang bisa memicu terjadinya korupsi dan sebagainya.
2. Kita mau disentralisasi, namun sejauh mana mau atur, karena
diingatkan juga tadi soal negara hukum kita perlu pembatasan
tersendiri. Kita perlu kesepakatan tentang apa yang perlu diatur pola
hubungan antara DPP dengan DPD desentralisasi itu apa harus
diclearkan dulu. Barangkali SDMnya perlu dibenahi dan difasilitasi.
3. Yang perlu diatur yaitu pola pembiayaan, multi finance yang rentan
dengan korupsi dan lain sebagainya sehingga diperlukan mekanisme
penyelesaian konflik.
Tapi sebelimnya kita belum pernah melakukan evaluasi terhadap UU
parpol barangkali bisa kita bicarakan disini untuk masukan besok.
Fasilitator: Khairul Fahmi
Bapak ibu yang saya hormati, ini supaya ada sesuatu yang bisa kita bawa, dan tidak
mungkin juga kita mengambil kesepakatan setuju atau tidak, tapi jika pointnya kita
meemang searah, kita ambil, kalau tidak kita cukup memeberikan catatan-catatan
terhadap point yang tadi kita perbincangkan mulai dari pagi. Khususnya terkait
dengan tema penyelesaian sengketa partai politik dan juga mengenai hubungan
parpol pusat dan daerah.
Kesimpulan:
1. Penyelesaian sengketa parpol, yang pertama terkait penyelesaian sengketa
parpol. Kita punya tiga garis besar.
2. Mengenai bentuk hubungan aprpol pusat dan daerah dalam penyelesaian
sengketa. Pilihannya adalah apakah ingin diatur dalam UU atau cukup
diimplementasikan dalam AD/ART. Ditarok diawal, karena ini adalah
pembahasan yang utama dan lebih jauh kita membahas substansinya. Mau
140
dua-duanya juga bisa, tapi focus kita adalah apakah kita mau mengatur lebih
jauh dan detail dalam undang-undang mengenai mekanismenya. Atau kita
mengatur didalam UU, sedangkan lebih lanjut diatur dalam AD/ART mengenai
mekanismenya. Jadi yang mana yang kita pilih?
Memang didalam Uu diatur, namun didalam AD/ARTnya lebih jelas diatur. Artinya
diatur didua-duanya.
Ilhamdi taufik:
tentu kita lebih cendrung para bentuk UU. Sehingga intervensi pemerintah untuk
mengatur AD/ART tidak ada lagi. AD/ART itukan sangat banyal, sedangkan UU hanya
satu. Dalam undang-undang akan lebih mengikat. Dan timbul keseragaman dalam
penyelesaian konflik.
Ardilaf:
Baik, itu dari Bapak Ilhamdil. Tapi saya berfikir kalau dia di atur dalam UU, tapi itu
akan mengurangi nilai demokratis partai itu sendiri.
Seleksi alamiah itu pasti akan ada. Parpol yang tidak mamopu menyelesaiakn
sengketa internal sehingga perlu kita berikan solusi, partai itu bisa menggugat di
mahkamah. kalau semua partai memiliki mahkamah partai, itu bukan lagi
penyelesaian secara internal, karena setiap partai politik itu punya kewenangan
menyelesaian persoalan nya sendiri. Tidak bisa diselesaikan oleh orang luar. Diatur
lembaganya, kemudian jaminannya adalah demokrasi yang ada didalam partai poltiik
itu sendiri. Tapi secara teknis operasionalnya.
Ilhamdi taufik:
saya kurang sependapat dengan Ardila Fiza, bahwa kalau kita menginterfensi
penyelesaikan konflik melalui mahkamah partai, berarti kita tidak desentralisasi,
misalnya komposisi mahkamah partai itu kan ada juga orang luar. Sehingga dalam
penyelesaian masalah partai dapat terselesaikan dengan baik. Masalah internal partai
ini sangat mempengaruhi dalam 5 tahun terakhir ini. Itu tidak berarti kita
menghilangkan kebebasan partai, kita hanya menapik sebagian kecil, ada ruang
supaya tidak terlalu memberikan kebebasan dalam partai itu sendiri. Karena buda
masing-masing partai itu berbeda-beda.
Fasilitator: Khairul Fahmi
jadi ini ada dua ya, mekanisme diatur didalam UU, tapi juga disebutkan didalam
AD/ART. Sepakat?
Forum: sepakat.
141
Ardilaf:
Apakah kekuatan mahkamah partai itu ada internal atau harus ada eksternal?
Refli harun:
Sebenarnya kalau mau ada diatur didalam UU itu kan, ada materi yang interfentif dan
ada materi yang non-interfentif. Kalau kita hanya mengatur mahkamah partai. Terdiri
dari orang independen dan lain sebagainya. Tapi intinya kita kan tidak mengacakngacak partainya. Nah yang menjadi masalah Cuma apakah akan disebutkan dalam
UU atau sekedar AD/ART. Kalau dalam UU ada kepastian. Hukum acaranya diatur di
dalam UU.
Fasilitator: Khairul Fahmi
jika ini pandangan kita bersama, kita bungkus, bagaimana isinya ya partai yang
isinya. pelaksanaannya ya partai yang ngatur, mekanisme dan hukum acara diatur
dalam uu.
1. Yang ebrikutnya adalah soal institusi. Institusi yang akan menyelesaikan
sengketa parpol
a. Internal parpol: mahkamah partai
b. Ekternal
: arbitrase atau pengadilan
c. Gabungan
Kalau kita bicara internal dan eksternal, itu ada pengadilan dan non pengadilan. Lalu
kita memilih lembaganya.
Esty ekawati:
sebentar, saya ingin mengclearkan saja, bahwa tadi dalam sengketa parpol itu tanpa
memisahkan sengketanya, jika itu sistem kita, itu sudah menyalahi sistem diluar
pengadilan. Bahwa jiak kita mau konsistenkan, harus ditentukan mana yang mau
diselesaikan diluar pengadilan, mana itulah finalnya, mana yang diselesaikan
didalam, maka itulah finalnya. Maka kalau kita gabungka. Jika sudah berbicara
mengenai AD/ART jangan bicara lahgi soal penagdilan. itu harus ada pembedanya.
Jika kita gabungkan itu, maka kita tidak tunduk dengan sistem pengelesaian sengketa
diluar pengadilan atau arbitrase.
Emy hajar abra:
jika digabungkan, jika berbicara mengenai ad/art maka tidak boleh diinterfensi
dengan pengadilan.
Refli harun:
kita samakan perspektif dahulu, apakah mau internal, eksternal, atau gabungan.
Kalau saya lihat, semangat inikan maunya internal. Diselesaikan oleh partai politik.
Nah yang eksternal berarti diluar pengadilan. Nah, kita dapat kombinasinya.
142
permasalahan diselesaikan oleh parpol sendiri. sekarang baru beranjak ke
lembaganya. Apakah mahkamah parpol ataukan badan arbitase dan sebagainya. Jadi
gabungan internal eksternal, tapi out of the court. Jadi pilih dulu perspektifnya.
Fasilitator: Khairul Fahmi
kita setuju eks atau int. untuk dibawa keluar arbitrase atau kepengadilan? Arbitrase
bisa dibentuk satu institusi pengelolaan partai.
Refli harun:
boleh tidak saya usul begini. jadi setiap masalah partai diselesaikan internal, tapi jika
tidak selesai baru boleh dialihkan kebadan arbitrase politik. Karena jika langsung ke
arbitrase, tidak menghargai perspektif internal tadi. Yang bekerja ketika ada kasus,
kalau tidak ada kasus ya tidak bekerja.
Fasilitator: Khairul Fahmi
artinya dia tidak memiliki institusi tersendiri ya? Dia masih dalam partai, tapi ada
organ lain. melibatkan lembaga lain yang diluar pengadilan.
Ardilan:
tadi saya katakan bahwa saya sangat setuju parpol punya pertanggungjawaban dan
mempunyai jiwa masing-masing. Jiak ada sengketa internal, ada penyelesaian
internal. menyangkut moral partai. Tidak boleh dibawa keluar. Arbitrase bukan
internal, ada dua pihak, kalau dia sekedar dikatakan internal partai politik. Kalau
parpol tidak mampu menyelesaikan masalahnya sendiri, maka tidak layak disebut
partai politik. bisa diajukan ke makamah pemerintah sebagai pihak yang bisa
mengajukan partai politik kepada mahkamah konstitusi. Apabila parpol tidak mampu
menyelesaikan sekian tahun, kita serahkan ke MK untuk mengajukan
pembubarannya, tapi kalau kita serahkan ke pihak konsolidasi dan mediasi, itu
adalah pihak eksternal, dalam format keprdataan, personal dengan personal,
kelompok dengan kelompk, bukan internal, karna kita harus menyelesaikan point di
dalam diri kita, bukan diluar dirikita.
Fasilitator: Khairul Fahmi
kasus yang atdi disampaikan oleh pak ardilan, artinya kalau konflik dari luar forum
tertinggi maka diselesaikan internal. Tapi jika konflik muncul dari forum tertinggi,
artinya muncul dua kekuatan besar antar partai yang berkonflik tentu tidak bisa
diselesaikan oleh mahkamah partai. Itu salah satu contoh pak. Mungkin ini yang
dibawa ke arbitrase.
Ardilan:
Mahkamah partai itu sifatnya tetap kalau ini bisa diselesaikan. Sulitkah mencari
orang yang benar-benar cinta terhadap partainya, terutama untuk negarawan. Kalau
143
dia adalah orang P3, dia tidak akan mau menghancurkan P3 demi pribadi yang ada.
Partai politik yangs eperti itu saya rasa merupakan partai yang tidak bertanggung
jawab terhadap anggotanya.
Prof Syamsudin Haris:
Saya sedikit aja yah, saya setuju dengan argument pak ardilafiza, bahwa konflik
sengketa itu dituntaskan ditingkat internal. Kalau kita coba menerjemah
argumentnya adalah bahwa kalau konflik sengketa itu terkait partai, ya selesai
dipartai. Makanya menjadi penting disini komposisi mahmakah itu sendiri sehingga
memiliki cukup kewibawaan, bagaimana membentuk mahkamah yang credible,
sehingga dapat menyelesaikan sengketa atau konflik tanpa pengecualian.
Rosyita:
Maaf bapak apabila tadi kita sudah membungkus apakah ini gabungan, artinya ini kita
balik lagi kebelakang. Jadi saya pikir tidak akan selesai jika kita membahas dari sesi
pertama sampai sesi terakhir jika harus kembali lagi ke awal. Kalau tadi sudah
sepakat, internal dan eksternal, jadi ya sudah gabungkan saja. Jadi mas Fahmi jangan
kembalikan lagi, seperti itu. Nah, kita tadi membicarakan lembaganya, bahwasannya
seperti itu nantinya adalah menuju mahkamah kosntitusi. Akan ada amandement.
Yang berdampak pada pembubaran partai politk. Itu bukan lagi permasalahn internal.
Kita berbicara tentang ideology. Sehingga kita tidak berdebat panjang lagi. Jadi bang
Fahmi ketika didepan, kalau membungkus, bungkus yang rapi dan rapat. karna jam
nya juga sudah jam 6.
Fasilitator:
Saya setuju dengan bungkus membungkus tadi. Tapi ini ada satu lagi.
Emy:
terakhir ya pak, terkait penyelesaian sengketa. Kalau sesuai pemahaman saya,
internal itu tidak ada lagi konsiliasi, mediasi, arbitrase, karena sudah ada mahkamah
partai. mahkamah partai adalah internalnya, jadi harus final and binding. Maka dalam
internal itu masukkan orang externalnya, bukannya ada eksternal lagi. Kemudian
yang terakhir itu masalah pengadilan. Itu internal parpol itu ada mahkamah partai,
yang terdiri dari internal dan eksternal. Kemudian ada eksternal ketika konfliknya
tidak mungkin diselesaikan di internal.
Fasilitator:
Point permasalahan parpol diselesaikan. Sengketa parpol diselesaikan oleh
mahkamah partai. Mekanisme diperkuat oleh AD/ART
Refli harun:
144
jadi hanya mengingatkan saja, dalam konteks yang saya pikir bahwa tidak melihat
realitas. Jadi yang dilakukan oleh democrat adalah, dia merecall lima orang, yang akan
diganti oleh orang lain. Rekomendasi saya adalah internal boleh, recall ditiadakan.
tidak ada lagi mekanisme eksternal yang bisa mengatur secara suka hati.
Fasilitator:
kewenangan recall dihilangkan. Stuju? baik, yang terakhir, ini juga sudah kita sepakati
bahwa hukum acaranya diatur dalam UU.
Berikut nya adalah soal hubungan pusat dan daerah, butuh pengaturan dalam UU dan
AD/ART. Tapi ada penekanan bahwa tidak semuanya kita tarik dalam ranah
pengaturan. Untuk itu kita membatasi dengan memuat prinsip-prinsip umum dalam
keuangan daerah, penyelesaian konflik tidak kita bahas lagi. Jadi apa batasan kita
menagtur dalam UU? Jadi tadi kan kata bang Bambang tadi kepastian itu kan perlu. Ini
gimana kira-kira?
Prof syamsudin Haris:
jadi saya pikir desentralisasi sebagian. Kewenangan partai itu memang memiliki
pembagian pusat dan daerah. Batasannya ada 3 wilayah, yang kedua adalah
pendekatan oleh calon legislative. Desentralisasi itu selevel. Jadi begini, untuk
penetapan caleg, tapi kalau hanya dilakukan oleh pengurusan satu level dibawahnya,
dan persetujuan itu dilakukan oleh satu level diatasnya.. Contoh, untuk caleg
kabupaten DPD kabupaten kota, itu pengusulannya, pengajuannya dihasilkan oleh
DPD, tapi di tetapkan kewenangannya satu level diatas DPC. Nah begitu juga untuk
caleg lainnya, satu level diatasnya. Caleg kota menjadi otoritas DPD kabupaten/kota.
Berarti berjenjang.
Ilhamdi taufik:
kalau demikian yang disampaikan prof. itu kan ada dua pintu. Pengusulan dibawah,
dan penetapan dipintu atas. Itu kan biasanya masalah dipenetapan. Ini yang kita
ragukan. Ini menjadi persolan. Misalnya, dpc telah berkali kali mendemo dpp. Kenapa
usulan dibawah ini tidak diterima, sampai membakar kantor. Ini persoalannya.
Saya menangkap tadi apa yang dikatakan prof. pertama usul dari yang dibawah,
ketetapannya diatas. Ini materilnya oke disini, nah inilah orangnya. Layak menjadi
calon. tapi dia bisa mental oleh satu tanda tangan. Karna kertas kop dipegang oleh
DPD. Bagaimana mengisolasi persoalan ini?
Prof syamsudin:
otoritas yang dimiliki oleh DPD sebutlah wilayah Kota/ Kabupaten atau Provinsi,
kalau 1100 persen, bisa jual beli peluang menjadi peluang menjadi caleg. mengenai
presentase kewenangan itu, tapi secara substansi. Sebab bagaimanapun, pengurus
daerah tidak punya modal. Baik dalam hal uang maupun yang lain-lain. Pada
umumnya parpol kita bersifat yang bawah kan ngikut.
145
Fasilitator:
kita cukup 10 menit lagi.
Zulya asma vikra:
udah jelas tadi sama prof. syamsudin hadis. Ada 3 point yang disampaikan beliau itu,
masalah penetapan ketua partai, kedua masalah penetapan ketua DPD, yang ketiga
masalah penetapan peserta calon pilkada. Yang kemudian di atur didalam UU. Apakah
selevel atau satu tingkat diatasnya. yang selama ini berjalan adalah satu tingkat
diatasnya, mungkin mekanisme berbeda setiap partai, diatur dalam AD/ART.
Fasilitator:
kita tarik kesimpulan ya.
Refli harun:
kita mengatur apa yang bisa diatur dalam UU. Dan jangan lupa nanti mengatur kalau
ada konflik, kita sudah sepakat diserahkan ke mahkamah partai. Jadi pengusulan itu
harus dari bawah. Anggota DPR, DPD plus kepala daerah. Pertanyaannya adalah
bagaimana mereka mengatur sistem dipartainya. Yang penting adalah ketika mereka
mendaftar di KPU harus ada dokumennya. Hasil musyawarah. Saya mengusulkan
kalau dia adalah anggota DPRD tingkat Kab/Kota itu dihasilkan dari hasil
musyawarah Kab/ Kota. Provinsi juga begitu. Tapi intinya adalah harus buttom up
dari bawah itu.
Fasilitator:
Baik, terimakasih. Bisa kita bungkus ya, ada 3 point
1. Pengusulan caleg dan kepala daerah harus buttom uptapi mekanisme
diserahkan kepada partai,
2. Penetapan caleg dan kepala daerah kita atur dalam UU
3. Proses seleksi dan penetapan calon dilakukan secara berjenjang.
Itu saja pointnya, silahkan pilih siapa yang akan menyampaikan pointnya di
penyampaian hasil PGD II besok pukul 08.30. Terimakasih dan mohon maaf kalau ada
yang salah. Assalamualaikum Wr. Wb.
146
PARALEL GROUP DISCUSSION RUANGAN 3
Tema: Sumber, Pengelolaan, dan Pengawasan Dana Partai
1. SESI I (10.30-12.30 WIB)
Hari/Tanggal
: Selasa, 6 september 2016
Moderator
: Charles Simabura, S.H,M.H
Narasumber
:
-
Magnus Ohman
-
Pipin Sopian (DPP PKS)
-
Prof. Dr. Ramlan Surbakti
Moderator: Charles Simabura,S.H,M.H
Bapak ibu yang saya hormati kita akan mulai sesi ketiga dari pelaksanaan
konferensi yaitu PGD pada grup ini kita akan mendiskusikan tentang pengelolaan
transparansi dana di partai politik atau uang partai. Sudah hadir para peserta call
paper, para peninjau yang saya hormati perwakilan dari beberapa Negara sahabat
dan juga narasumber pemancing dalam perspektif teori maupun perbandingan di
beberapa Negara. Di hadapan kita saya perkenalkan pertama adalah Profesor Ramlan
Soebakti, semua yang dari Indonesia pasti tahu beliau, jadi kalau saya perkenalkan ini
justru merendahkan kepopuleran beliau, jadi tidak saya perkenalkan lagi siapa beliau
inilah dia pakar politik, pakar pemilu, mantan komisioner KPU. Beri applause yang
meriah kepada
Berikutnya ada bapak Magnus Ohman beliau salah satu peneliti
senior di IFES terutama dalam bidang pendanaan partai, manajemen partai dan
transparansi partai politik kita berharap pak Magnus bisa berbagi pengalaman
bagaimana kemudian pengalaman IFES di beberapa negara tidak hanya di Indonesia.
Yang disebelah ujung sebelah kanan, the right side, beliau dari DPP Partai Keadilan
Sejahtera(PKS), bapak Pipin Sopian, sekarang adalah ketua departemen politik DPT
Partai Keadilan Sejahtera, kita akan minta pandangan beliau, mudah-mudahan
mewakili partai karena jangan sampai beliau disini hadir sebagai pribadi saja
sehingga aspirasi kita nanti tidak bisa sampai nanti ke partai. Saya yakin karena
beliau ditunjuk secara resmi ya kita minta nanti apa apa yang betul-betul
disampaikan itu betul-betul aspirasinya partai, jadi Pak Pipin nantinya jangan menilai
147
ini pendapat pribadi saya, jangan, karena itu jadi … juga nanti, harus kita berharap ini
sikap dari PKS. Beri applause kepada pak Pipin dan juga Pak Magnus Ohman
Waktu kita adalah sampai pukul 12.30 jadi kita punya waktu hampir satu setengah
jam, saya mohon kepada para pemancing diskusi untuk disiplin menggunakan waktu.
Mohon maaf prof, nanti jangan bilang saya kurang ajar ya prof kalau nanti di cut.
Masing-masing saya kasih sepuluh menit, dengan nanti berharap 30 menit selesai,
satu jam kita bisa diskusi. Kesempatan pertama saya persilakan dulu Prof. Ramlan.
Silakan prof.
Prof. Ramlan Soebakti:
Disiplin waktu ini terutama membahas bidang seperti ini susah dipenuhi, apalagi ini
materinya satu semester disuruh bicara sepuluh menit. Ibu bapak sekalian saya ingin
berbicara 3 poin, poin pertama biar kita punya titik tolak yang sama, pertama
mengenai partai politik, itu saya menyebut sekurang-kurangnya ada 3 unsur yang
harus dipenuhi supaya bisa menjadi partai politik. Saya tidak bicara dari segi yuridis
ya.
1.
Ada sekelompok warga yang secara sukarela membentuk partai politik dan
2.
Sudah punya ideology atau cita-cita politik. Apa yang dimaksud cita-cita
3.
menjadi anggota.
politik Negara dan bangsa macam apa yang mau dia bangun.
Terus yang ketiga dari organisasi, organisasi itu system perang ada tujuan
ideology partai tadi atau tujuan itu maka timbul berbagai tugas untuk itu
ada pembagian kerja.
Saya mengikuti pandangan dalam ilmu politik yang memandang kalau dalam bahasa
Inggris bisa disebut political party is necessary but not sufficient for functioning
democratic political system. Jadi partai politik itu necessary (mutlak) tapi tidak cukup
hanya partai politik saja untuk berfungsinya suatu system politik demokrasi. Jadi
mudah saja, kenapa partai politik saya sebut necessary karena ada juga yang tidak
sependapat. Kalau tidak salah di satu jurnal saya baca, partai politik tidak perlu untuk
berdemokrasi. Nyatanya katanya ada beberapa Negara pulau di Pasifik Selatan yang
tidak ada partai politik. Partai politik dijalankan oleh kepala suku, tapi saya kira saya
lihat secara universal, partai politik necessary but not sufficient for functioning of
148
democratic political system. Mengapa necessary, mengapa partai itu mutlak? Karena
dia menjalankan empat fungsi, mungkin agak beda dengan yang disampaikan pak
Saldi tadi, satu partai politik itu jembatan antara warga Negara dengan Negara. Maka
partai merekrut warga Negara baik laki-laki maupun perempuan menjadi anggota
partai dan partai politik menjadi wadah partisipasi.
Yang kedua, partai menyiapkan calon pemimpin, kaderisasi begitu. Setelah
menyiapkan, dia menyeleksi dan kemudian menawarkan calon pemimpin itu dalam
pemilu. Jadi calon anggota DPR/DPRD, calon Presiden, atau calon kepala daerah.
Yang ketiga, merumuskan rencana kebijakan public kalau di Indonesia disebut visi
misi program, merumuskan rencana kebijakan public berdasarkan aspirasi rakyat
fungsi representasi partai politik itu dituntun oleh ideology partai tadi. Tadi dalam
forum di Indonesia katanya symbol pajak, kalau saya menyebut ideology partai di
Indonesia lebih banyak digunakan sebagai tontonan. Dan hamper tidak digunakan
sebagai tuntunan.
Fungsi yang ke-empat, partai mengkoordinasi bagaimana mengendalikan para
kadernya yang duduk di lembaga legislative maupun eksekutif supaya untuk mereka
berperan menurut garis kebijakan partai. Nanti itu bayangkan bagaimana ada suatu
Negara demokrasi menerapkan demokrasi perwakilan tidak ada partai politik yang
menjalankan empat fungsi itu. Bayangkan kalau setiap orang itu bisa menjadi calon
anggota DPR/DPRD, Presiden, kepala daerah itu akan membingungkan sekali bagi
kita pemilih, bukan hanya, kedua kemudian setiap calon itu merumuskan kebijakan
public sendiri, pasti akan membingungkan. Nah partai disini tidak hanya menyiapkan
calon pemimpin tapi menyeleksi sehingga yang dipilih kemudian orang yang terbaik
diantara yang baik. Demikian juga dengan rencana kebijakan public yang disiapkan
itu juga sudah dimatangkan. Sehingga rakyat yang memilih itu tinggal hanya memilih
mana yang dianggap paling bagus. Itulah mengapa partai disebut necessary dengan
menjalankan empat fungsi. Tetapi ibu bapak sekalian untuk menjalankan empat
fungsi ini, saya ingin kemukakan karena kita di Indonesia menjalankan demokrasi
perwakilan bukan demokrasi langsung. Demokrasi langsung (direct democracy)
mungkin tidak perlu partai politik. Tentu sekarang ini banyak Negara yang juga mulai
menerapkan direct democracy tapi tidak pernah menghilangkan demokrasi
perwakilan. Nah untuk menjalankan empat fungsi tadi perlu uang perlu dana, maka
149
dalam ilmu politik ilmuwan politik juga membuat perumusan. Money is necessary but
not sufficient for functioning of democratic political party, uang itu penting, bayangkan
apalagi sekarang di zaman teknologi informasi ini dana diperlukan sangat besar. Tapi
uang saja tidak cukup, tetapi juga begini uang tidak pernah tidak menimbulkan
masalah dalam politik, karena uang bisa digunakan untuk membeli kekuasaan, uang
bisa digunakan untuk membeli kebijakan.
Nah sekarang pertanyaannya saya masuk ke poin kedua situasi keuangan partai
politik di Indonesia nah ibu bapak sekalian, untuk mempersingkat kata ini, ternyata
partai politik kita di Indonesia memilih/mengambil keputusan untuk mencari uang
sendiri untuk partai. Mungkin dengan beberapa exception seperti PKS misalnya, dia
mengumpulkan saya tidak tahu teratur apa tidak iuran, cuma di PKS sukar dibedakan
ini iuran partai atau sedekah atau amal. Ya tentu konsekuensi masing-masing, kalau
iuran anggota tentu dipertanggungjawabkan kepada public kalau amal gitu malah gak
boleh diketahui oleh orang lain. Ya itu dua hal yang berbeda kan, misalnya PDI
Perjuangan juga. Tapi sekali lagi baik PKS maupun PDIPerjuangan itu ada apa
namanya tidak menerapkan itu secara rutin itu menurut pengamatan saya nanti bisa
dikoreksi mungkin belum sistematis, belum kontinu begitu. Oke.
Nah kalau begitu darimana partai politik kita mencari uang untuk mendanai. Itu
katanya partai politik di Negara dimana free ride society penumpang yang gratis saja.
Nah tapi memang partai politik tidak berupaya keras mencari untuk dana misalnya
dari iuran anggota dan anggota partai juga mengatakan ngapain dia bayar iuran ke
partai kok gak ada insentifnya, kok gak diatasi oleh Negara oleh partai.
Ada empat strategi yang biasa digunakan nanti kita lihat yang mana yang diterapkan
di Indonesia. Satu, yang ini saya kutip ini rupanya sudah pernah saya tulis di…
pengendalian keuangan partai politik yang diterbitkan oleh kemitraan. Yang pertama
itu apa yang disebut client mass political party, partai politik pertama yang kadernya
duduk di lembaga legislatif itu menggunakan kekuasaannya dalam pemerintahan
untuk mencari dana dari pemerintahan kemudian dia bagikan kepada para anggota
dan pekerjanya tentu diharapkan kesetiaan dan dukungannya bukan clientalistic
tetapi ini hanya mungkin terjadi kalau birokrasi itu masih bisa diintervensi oleh
partai. Di Indonesia apakah ada praktek seperti itu? Saya kira terutama partai yang
terpilih jadi presiden. Ada yang mengatakan mengapa partai democrat bisa menang?
150
Jumlah kursinya sampai sejumlah 300% pada pemilu 2009. Karena menggunakan
semua anggaran populis itu untuk itu. Jadi konon sudah ada… markus leiser…
Yang kedua, itu yang disebut partai dibiayai oleh elit partai, oleh ketua umumnya.
Ketua umum itu dari para pengusaha dan tentu dari usahanya sendiri, kalau dia
pejabat itu juga dari pengusaha tapi karena dia memberi keamanan kepada
pengusaha itu… Di Indonesia itu diterapkan tapi tidak hanya dari ketua umum juga
semua anggota kader partai duduk di lembaga legislative maupun eksekutif dipotong
gajinya, kecuali Nasdem. Nasdem saya dengar, itu tidak memotong gaji anggota
DPR/DPRD tentu harus ada yang menanggung yang menanggung pak Surya Paloh.
Tentu juga punya konsekuensi kan jadi putusan akhir juga semua pada pimpinan
…Nah itu elit partai yang pegang, konsekuensinya apa? Kalau pertama tadi
konsekuensinya korupsi kan. Menggunakan dana public untuk kepentingan partai
tertentu.
Yang kedua juga tidak demokratis karena dibiayai oleh elit partai kemudian
mengatakan ngapain saya dia gak peduli dengan anggota, gak ada dalam demokrasi
yang seperti itu, terjadi juga sekarang di Indonesia. Yang ketiga, partai dibiayai oleh
elit eksternal, ini seperti partai yang di Italia itu, saya lupa namanya siapa ya, dia
punya klub sepakbola, dia punya televisi punya radio… partai. Tapi itu … sekarang dia
karena sexual harassment atau dia womanizing gitu akhirnya dia masuk penjara, dia
tidak lagi. Tapi itu adalah partai yang didirikan dan dibiayai sendiri oleh sori ini
internal ya yang eksternal maksud saya adalah dibiayai oleh tokoh mungkin
pengusaha tertentu atau orang tertentu mungkin bukan pengusaha. Tentu ini juga
tidak bagus partai didikte orang tertentu diluar satu dua orang tertentu. Apakah
partai kita ada yang seperti itu? Ada juga, walaupun mungkin kontribusinya berapa
ini terutama kita lihat waktu di pilkada itu ada namanya Bandar pilkada. Semua calon
kepala daerah itu dia dikasih duit, yang dikasih paling banyak yaitu pasangan calon
yang tingkat elektabilitasnya paling tinggi. Ini juga pasti tidak demokratis karena
partai didikte oleh orang tertentu yang punya duit. Yang keempat disebut partai
kartel, ini ada koalisi partai, bersama-sama bersepakat untuk mencari uang dari
Negara. Dan yang kedua juga tujuannya menghambat munculnya partai-partai baru
yang menyaingi mereka. Nah di Negara-negara eropa barat semua partai yang…
punya kursi di DPR dapat uang dari Negara, kalau tadi ada usul pak Saldi tadi apa
151
konsekuensinya? Jika kemudian partai dibiayai sepenuhnya oleh Negara akhirnya…
partai … daripada anggota tergantung pada Negara tergantung pada dirinya sendiri.
Jadi kartel itupun kalau seluruhnya makanya tadi pak… haris… ada semacam
konvensi itu dikatakan maksimal 30% dari pengeluaran partai itu berasal dari APBN
bukan dari pemerintah tapi istilah ini perlu dipahami pemerintah itu adalah di
Indonesia, Presiden wakil presiden dan cabinet yang berarti peserta pemilu jadi
bantuan itu bukan dari pemerintah melainkan dari Negara jadi… mendapat subsidi
dari Negara, itu artinya kita semua, artinya partai kita … disini bisa menyampaikan
hasil penelitian dia mengenai keuangan partai. Ternyata pengeluaran disini lebih
banyak daripada penerimaan resmi, jadi pengeluaran partai lebih banyak dari
penerimaan resmi. Karena penerimaan resmi itu tentu hanya itu apa namanya
potongan gaji anggota DPR terus 180 rupiah per suara yang dipilih Negara itu, itu
yang resmi. Yang tidak resmi itu kemana darimana? Kalau dulu, mungkin tiga tahun
yang lalu itu dianggap sumber daya gaib itu karena gak tau misterius sekarang makin
jelas kalau semua hasil korupsi. Pengeluaran yang utama partai kita ada dua yaitu
satu, kongres, muktamar, munas yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya 2 orang dari
tiap-tiap kabupaten kota, wah ini memang mahal sekali ini tidak hanya transportasi
dan sewa hotel tapi juga segala pernak-perniknya segala macamnya termasuk dengan
oleh-olehnya gitu ya. Ingat kongres partai democrat oleh-olehnya itu adalah HP yang
dibagikan oleh pak Anas itu. Oke. Kemudian pengeluaran kedua itu pemilu. Dan
pemilu pun yang dilaporkan bapak ibu sekalian tidak semua yang dilaporkan dan
dilaporkan juga tidak benar misalnya pemilu DPR/DPD terakhir itu misalnya
penerimaan dan pengeluaran calon anggota DPR itu malah diperintahkan maksimal
laporannya 400 juta jangan boleh lebih dari situ, jadi ada yang sudah dipermak
laporannya. Saya tanya kenapa begitu, supaya nanti nyusun laporannya lebih mudah
bahkan ada pemilu presiden kita tau semua itu kampanye di televise itu tidak
dilaporkan ke KPU. Situasi keuangan poin saya adalah dari segi penerimaan resmi
kecil nyatanya dari elit partai yang tidak transparan kemudian juga hasil korupsi…
banyak orang orang partai sudah masuk penjara karena menggunakan pendanaan
Negara. Itu komisi V di DPR itu, nanti kita lihat bagaimana pembuktian di pengadilan,
itu salah satu wujudnya saudara sekalian begini, ada APBN perubahan misalnya ada
tambahan anggaran 50 trilyun itu dibagi dua, 25 trilyun pemerintah yang
152
menentukan penggunaannya 25 trilyun DPR yang menentukan penggunaannya. DPR
ini siapa, 10 fraksi itu umumnya untuk infrastruktur nanti tinggal fraksi yang
menentukan nanti anggarannya ke arah mana. Dia nanti mendapatkan fee-nya atau
apa kontraktor nanti dalam infrastruktur ini sekali lagi tidak transparan dan tidak
dipertanggung jawabkan.
Nah poin saya yang ketiga adalah perlu reformasi keuangan partai politik. Reformasi
tentu dalam tiga hal, satu tentu dari segi penerimaan saya usulkan, ini sebenarnya
bukan usul lagi ini sudah masuk rancangan draft RUU yang disusun oleh kemitraan
pemerintah dan DPR. Sumber keuangan partai itu ada tiga, satu dari Negara, dua dari
internal partai dan ketiga dari masyarakat. Dari Negara, kalau tadi pak Saldi
menyebut dua scheme begitu, saya mengusulkan tiga hal dari Negara, satu yaitu
subsidi dari Negara untuk membiayai fungsi pertama dan kedua partai politik itu tadi,
menjadi jembatan antara warga Negara dengan Negara dalam bidang politik.
Kemudian yang kedua, menyiapkan calon pemimpin(kaderisasi) itu perlu dana yang
besar. Nah ini yang diperoleh dari subsidi Negara, kini terbentuknya bagaimana.
Partai politik peserta pemilu yang lolos ambang batas saya bagi dua, dua kategori
partai pemilu. Satu yang lolos ambang batas dan suara yang dia peroleh itu sampai
10% jadi 3,5% itu jumlah partai yang mendapat suara yang sama atau menerima
jumlah yang sama dari subsidi Negara. Yang kedua, itu lebih 10% itu akan menerima
subsidi yang sama dengan untuk mempunyai suara lebih dari 10% dan jumlahnya
lebih besar dari kategori pertama. Ini sekali lagi berdasarkan jumlah pemilih. Yang
dihormati dan dihargai itu bukan partai dan kursinya melainkan perolehan suara
yang dia peroleh. Jadi itu artinya dia mandat dari pemilih. Untuk yang kedua itu
menciptakan persaingan yang bebas dan adil antara peserta pemilu. Ini ada tiga
bentuk subsidi Negara dalam kampanye pemilu, satu kalau ada debat di televise itu
dibiayai oleh subsidi Negara. Kedua iklan kampanye melalui media cetak dan
elektronik itu jenis iklan untuk semua partai ditanggung oleh Negara. Tetapi partai
dimungkinkan … kalau punya uang sendiri boleh menambah dua jenis iklan baru.
Sekali lagi, maksimal dua dan dengan biaya sendiri. Yang ketiga, program partai
bukan visi misi program tapi program yang terukur begitu yang betul-betul
operasional itu digandakan dalam jumlah yang sama untuk semua partai untuk
dibagikan dalam pemilu, itu wujud. Kemudian yang ketiga saudara sekalian … jadi
153
begini mendorong partai itu sebagai lembaga demokrasi, jadi tujuan reformasi
keuangan partai politik itu satu, mendorong partai politik berkembang sebagai
lembaga demokrasi kemudian ada transparansi, akuntabilitas dan seterusnya. Untuk
matching fund yang saya maksudkan adalah begini, partai politik yang mampu
mengumpulkan iuran anggota selama setahun seratus juta Negara memberi seratus
juta tapi betul-betul iuran anggota, bukan ada satu orang anggota menyumbang 100
milyar gitu kan. Betul-betul iuran anggota, nah ini maksudnya bagaimana membuat
partai supaya anggota partai itu tetap berniat untuk membayar iuran. Itu berarti
partai politik memang harus demokratis. Pengambilan keputusan yang sifatnya
substansial dalam partai harus inklusif, ini tadi baru koma saya titik dahulu. Kalau
partai demokratis artiny aanggota ikut dalam pengambilan keputusan, siapa calon
dan sebagainya, dia bayar iuran itu dihitung sebagai insentif. Nah kemudian harus
ada dari partai sendiri kemudian ada dari masyarakat.
Untuk pengeluaran saya ingin menyampaikan dua hal, satu pengelolaan pengambilan
keputusan mengenai utang … kongres dan sebagainya itu perlu diubah bukan lagi
seperti yang selama ini terjadi yang mahal dan tidak demokratis melainkan
pengambilan keputusan itu melalui pemilihan pendahuluan pimpinan pusat
menyiapkan calon … yang kompetitif begitu nanti biar anggota partai di tingkat
desa/kelurahan yang memilih. Nah konvensi partai tinggal merekapitulasi dan
menetapkan apa yang terpilih, sedangkan rencana kebijakan nasional oleh suatu
partai draftnya disiapkan oleh partai nanti juga disetujui oleh anggota partai yang
dibawah, ini murah ini lebih murah tapi lebih demokratis. Ingat, seorang politikus
Jerman Robert Mitchell itu mengatakan, partai politik itu makin komplek suatu
organisasi termasuk partai politik tidak akan dikelola secara demokratis melainkan
oligarki. Itu terjadi dari … itu kalau dibilang system seperti sekarang sampai
kapanpun sampai dunia kiamatpun partai politik kita tidak akan pernah demokratis
dengan struktur seperti itu. Yang mana mengurangi kebutuhan pemilih kita untuk
ikut dalam transaksi jual beli suara. Jual beli suara itu ada yang memang, ada
sebagian yang memang kami membuka atau mengundang ‘serangan fajar’ itu
berbeda. Ini orang-orang yang membutuhkan. Bagaimana lagi saya tidak yakin untuk
menghilangkan sama sekali tapi mengurangi kebutuhan sebagian pemilih itu dalam
transaksi jual beli itu. Bagaimana menguranginya? Dengan peningkatan pelayanan
154
public, pemberantasan kemiskinan absolute, peningkatan pelayanan pendidikan,
kesehatan dan transportasi publik yang lebih murah dan lain sebagainya, itu akan
mengurangi kebutuhan, keinginan untuk menjual suaranya dan pada dasarnya
menjual dirinya. Itulah reformasi dari segi pengeluaran dengan tiga bentuk subsidi
pemerintah seperti yang saya sebutkan ini sebenarnya sekaligus reformasi dari segi
pengeluaran. Dan subsidi dari Negara itu jelas penggunaannya. Nah tentu semua in
harus ada ketentuan mengenai dana kampanye, lebih besar lagi keuangan partai
politik. Tadi sudah diusulkan menjadi undang-undang oleh Pusako, tentu harus ada
konstitusi yang menegakkannya. Sekarang ini praktis tidak ada, KPU itu cuma punya
dua kewenangan membuatkan peraturan pelaksanaan kedua menetapkan kantor
akuntan public yang mengaudit, kemudian mengumumkan hasil, itu saja. Tidak punya
kewenangan untuk mencari informasi, menyidik dan sebagainya. Apa institusinya?
Penutupnya ada tiga pilihan, model amerika, model Inggris atau mau kita model kita
sendiri. Model Amerika itu yang kita tahu, di tingkat federal tidak ada itu yang
namanya KPU, Federal Election Comission yang kerjanya memang hanya menegakkan
ketentuan dana kampanye tidak ada yang lain. Karena Amerika tidak punya KPU
tingkat federal, KPUnya tingkat Negara bagian. Atau model Inggris, The British
Election Comission, itu hanya tugasnya sederhana sekali menyelenggarakan
pemilihan anggota parlemen saja, mungkin empat tahun sekali karena itu diberikan
kewenangan untuk menegakkan ketentuan undang-undang kampanye. Nah tugasnya
ada tiga. Ini penutup betulan penutup. Satu, memang sosialisasi mengenai ketentuan
ini tapi yang kedua melatih. Jadi tadi kalau pak Saldi mengatakan BPKP, BPK dan
sebagainya. Saya menyebut institusi ini yang saya usulkan sebenarnya…itu Komisi
Penegak Hukum Pemilu atau transformasi dari Bawaslu. Apalagi sosialisasi dan
melatih itu setiap partai… orang yang mampu menjalankan ketentuan ini. Tentu
badan ini bisa bekerja sama dengan kantor akuntan publik atau BPK dan lain
sebagainya. Yang ketiga mempunyai kewenangan untuk menyidik, menyelidiki dan
menyidik. Orang yang dianggap tahu informasi itu wajib menyebarkan informasi dan
yang ketiga tentu menegakkan sanksi administratif dan sebagainya.
Moderator: Charles Simabura, S.H., M.H.
155
baik terimakasih Prof. Ramlan. Beliau… penyampaian beliau itu banyak sekali dan
kita bisa terlarut-larut. Tapi memang asik prof, apalagi mengenai hokum tata Negara.
Tapi kan saya di wa terus sama… itu yang membuat saya mohon maaf prof, agak
membatasi. Saya sebelum ke pak Magnus, karena beliau dari perspektifnya
perbandingan kita ke PKS dulu lah. Ke PKS, Mr. Pipin dipersilakan. We need you to
comparation perspective. Betul gak sih? Hihi. Silakan pak Pipin. Sepuluh menit pak ya.
Kalau pak Pipin agak berani saya nyetopnya.
Pipin Sopian:
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat siang buat semua, kepada
yang terhormat para narasumber
Saya ingin mulai dari studi kasus, bahwa saat ini dimana bertebaran whatsapp grup
para alumni temen-temen, bapak ibuk mungkin ada grup alumni dari SD, SMP, SMA.
Saya pengalaman mengamati satu grup SMA satu angkatan, tiba-tiba saya
memposting berita tentang politik, apa yang terjadi setelah memposting mengenai
partai politik, maka teman-teman saya mayoritas mengatakan tolong jangan bahas
partai politik di grup ini, saya melihat bahwa ini salah satu pelajaran berharga ketika
mereka mengatakan jangan membahas politik di grup whatsapp ini. Terus saya kan
bertanya-tanya karena selama ini saya memang dari kuliah S1, S2 juga belajar ilmu
politik. Rupa-rupanya memang ada semacam sikap apolitis yang disebabkan oleh
masalah-masalah yang di hadapi oleh partai politik. Maka solusi nya waktu itu saya
upload saja tentang, ada yang mengupload tentang tax amnesty. Jadi bahaya tentang
tax amnesty. Mereka mulai bereaksi, oh iya nih tax amnesty ini ternyata tidak hanya
masyarakat yang diluar atau koruptor yang diluar, tapi kita juga kena. Lalu saya …
itulah produk politik. Ketika kita tidak peduli dengan partai politik, maka akan
diberikan kepada pihak yang lain. Oke. Untuk memulai diskusi ini saya ingin memulai
dengan apa masalah utama partai politik.
Saya melihat, kami di PKS, saya di departemen politik. Nama saya Pipin Sopian, jadi
katanya marketable. Terutama saya dari Sunda, mudah untuk dijual nama Pipin
Sopian. Kami melakukan penelitian, empat hal ini yang paling penting. Masalah yang
dihadapi oleh partai politik pertama politik itu berbiaya mahal, yang kedua kasus
hokum elit politik, yang ketiga minimnya kehadiran partai politik ditengah-tengah
156
masyarakat, yang keempat adalah rendahnya kepercayaan public, disebabkan oleh
tiga hal yang tadi.
Mulai yang pertama:
Pengelolaan partai politik itu butuh dana yang besar, tadi prof apa mengatakan
bahwa dana dari pemerintah memang sangat kecil nanti saya akan jelaskan berapat
totalnya. Ditambah system proporsional terbuka. Kami mengalami, saya mohon maaf
waktu itu PDIP, Golkar, PKB juga tidak setuju dengan system, karena memang
menganggap partai politik ini oligarki. Nah ini yang menyebabkan terjadi
pertarungan yang dahsyat tidak hanya antar partai tapi juga didalam internal partai
sehingga partai politik, anggota partai politik disini kemudian mencari dana yang
mengakibatkan terjadi …
Yang kedua adalah Kasus hukum elit partai politik.
Penelitian KPK ada sekitar 3600, tahun ini ada sekitar 315 itu adalah elit partai
politik. PKS kami punya yang fenomenal adalah presiden PKS, satu kasus itu
membuat kami tercoreng-moreng. Para kader-kader PKS menjadi ciut yang awalnya
kami bangga karena kami partai satu-satunya yang tidak ada politisi yang terkena
kasus korupsi pas kena langsung presiden. Itu tamparan besar buat kami.
Alhamdulillah kami punya perspektif yang lain kenapa terlalu dipolitisasi dan
sebagainya. Setiap hari PKS mendapat kerugian
Yang ketiga minimnya kehadiran partai politik
Tidak banyak diantara kita partai politik yang memang hadir dia hanya hadir ketika
pemilu, tapi tidak hadir ditengah-tengah masyarakat saat ini makanya dalam partai
politik ada dua teori, satu kampanye politik dan dua pemilu. Kampanye politik itu
yang seharusnya dilakukan oleh partai politik, karena partai politik selama ini
mayoritas partai pemilu kampanye hanya disaat dekat dengan pemilu. Lebih
relasional, mereka lebih emosional, pragmatis pendekatannya, mobilisasi partai…
politik seharusnya ada solusi-solusi internal yang dilakukan dan disinilah yang PKS
lakukan.
Yang keempat adalah rendahnya kepercayaan public
Hampir 90% public percaya bahwa TNI itu adalah lembaga demokrasi, lembaga
Negara yang terpercaya. Sedangkan partai politik 52% apa ini artinya, terjadi public
distrust terhadap partai politik. Dan ini disadari oleh partai politik termasuk PKS. Ini
157
penelitian dari Saiful Mujani, tapi bapak ibu yang sauya hormati perlu dipahami
bahwa konstitusi kita memberikan posisi yang sangat strategis kepada partai politik,
yang kedua yang menentukan siapa calon presiden/wakil presiden adalah partai
politik. Yang kedua, peserta pemilu adalah partai politik, untuk memilih anggota DPRRI dan DPRD. Fungsi partai politik menurut undang-undang diantaranya tadi kita
lihat ada … ideology advokasi dan rekrutmen kader kepemimpinan dan pendidikan
politik masyarakat dari situ kami dari PKS yang baru DR… Budiman merencanakan
satu pelembagaan misi PKS, membuat… political party government, jadi kita ingin
membangun pemerintahan pengelolaan partai politik yang baik itu seperti apa. Mulai
prinsip pertama itu partisipasi, mohon maaf tadi materi-materi banyak yang
mengkritik partai politik memang betul tapi untuk PKS memang agak berbeda
dengan partai lain, kami memilih para anggota DPR/DPRD kabupaten kota sampai RI
dari basic dari bawah. Anggota partai dilibatkan untuk memberikan masukan,
transparansi keuangan nanti akan saya jelaskan, prinsip merit koperasi jadi anggota
partai saya umur 32 tapi saya sejak SMA sudah jadi anggota PKS. Saya ikut
demonstrasi jadi bukan hal yang baru saya mulai dari tingkat depera, DPC, DPD
sampai sekarang saya ada di DPT. jadi memang dari bawah kita melakukan
pembinaan, prinsip keadilan kami perlakukan makanya yang bersalah siapapun tidak
ada kontribusi besarnya, saya mohon maaf saya sebutkan kasus PKS yang… adalah
kasus Fahri Hamzah, bang Fahri, meskipun dia merasa sudah berjasa dan sebagainya
tapi bagi PKS ketika dia bersalah tidak taat maka selesai. Karena tidak ada
kepemilikan tunggal di PKS, itu salah satu contoh. Mulai dari prinsip efektif dan
efisien… ini salah satu contoh kebijakan good governance kita kebijakan public PKS
yang terlibat kasus korupsi sebelum divonis oleh KPK, pilihannya hanya dua, kalau
dia bersalah ya. Tim investigasi masuk dia mengundurkan diri atau diberhentikan. Itu
kebijakan. Oke sekarang terkait dengan good governance dalam pengeluaran dana
partai politik. ini sebetulnya agak semacam tabu di partai politik menyampaikan
karena apa? Karena … kita masalah-masalah yang kita hadapi membuat kita kadang
malu untuk menyampaikan, hey kita ini butuh uang, begitu. Mengelola partai politik
sehingga tidak ada korupsi dikemudian hari. Dan itu terjadi ketika pemberi.. presiden
SBY luar biasa. Nanti saya perlihatkan.
158
Apa tujuan dari pengelolaan keuangan partai politik. Yang pertama kita ingin kembali
membangun … partai politik karena semua partai politik masalahnya sama. Salah
satunya adalah uang, mereka bergantung kepada para pemilik modal. Maka perlu PKS
punya salah satu kelebihan dibanding partai lain, punya nanti yang disebut sebagai
iuran dan lain sebagainya. Jadi tidak mau ada kepemilikan modal satu atau dua orang.
Yang kedua adalah meminimalisir tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh anggot
atau elit partai, terpaksa melakukan korupsi karena dibutuhkan oleh partai politik
untuk membiayai operasional partai politik. Yang ketiga adalah mengoptimalkan
peran dan fungsi partai politik, jadi tiga hal itu. Ini contoh sumber pendanaan PKS
saya kasih gambaran disini di undang-undang Nomor 2 tahun 2013 tentang partai
politik ada tiga sumber, sumber yang pertama dari iuran anggota, yang kedua adalah
dari APBN yang ketiga adalah sumbangan dari pihak ketiga. Yang pertama yaitu
sumbangan dari anggota kami setiap anggota. Saya misalnya dipotong 4-5% setiap
bulan ya, berbeda dengan yang lain ya. Kalau anggota DPR-RI mereka iuran sekitar 20
juta, kenapa? Karena mereka berada disitu bukan karena mereka. Tapi karena ada
kader-kader anggota partai yang terlibat pada proses kampanye pada masa itu.
Kemudian
juga ada Galibu, gerakan limapuluh ribu. Ketika ada rakernas, tadi
dibutuhkan sekitar sekian
milyar, maka kami bisa sampai 2,4 milyar untuk
mendapatkan apa pengumpulan atau funding dari. Sedangkan APBN sekitar 1,8 nanti
saya lihat, ini salah satunya program dari … kemaren 2,4 milyar … gerakan program
langsung presiden. Ayok. Ini program bareng-bareng. Karena sudah tidak boleh lagi
misalnya ada dana yang tidak jelas dari anggota partai maka yang harus dilakukan
adalah sense of belonging para anggota partai itu harus ditingkatkan salah satunya
adalah dengan program galibu. Jadi sekilas untuk informasi bahwa PKS setiap tahun
dari 2009 telah mengumpulkan sekitar 915 juta. Jadi suara yang didapat dari pemilih
sebelumnya dikali dengan Rp. 108. Jadi total Negara membantu partai politik adalah
13 milyar. Kalau secara keseluruhan, kemendagri dan ICW melakukan penelitian,
totalnya kalau DPP 13 milyar, DPD atau DPW tingkat provinsi dari APBD 60 milyar di
DPC seluruh kabupaten/kota 300 milyar. Totalnya 386 milyar dari APBN dan APBD,
usulan kami sebetulnya ini. Tetapi saya tertegun tadi ketika tadi prof Saldi usulannya
70 sampai 80 persen dari APBN. Kami sih tepuk tangan, asik gitu ya. Tapi bapak ibu
public akan melihat oh enak juga tiba-tiba dapat uang besar. Makanya kami
159
mengusulkan sumbangan anggota itu lebih banyak. Yang kedua sumbangan alokasi
APBN yang ketiga baru sumbangan pihak ketiga. Tujuannya apa? Agar partai politik
merasa dimiliki oleh anggota partai politik, bukan oleh Negara dan juga bukan oleh
penyumbang/ pemodal. Pengelolaan dana partai politik kami bagi jadi empat disini.
Satu biaya pendidikan program internal partai, ada kepedulian partai, sekolah
konstitusi, training orientasi partai. Kami melakukan setiap bulan training orientasi
partai untuk merekrut masyarakat menjadi anggota partai. Jadi di daerah ini kami
sedang melakukan restrukturisasi dan meningkatkan apa namanya keanggotaan
partai di tingkat … kami ingin para politisi dari kita itu mereka sadar hokum. Mereka
tahu apa larangannya yang boleh dan apa yang tidak boleh, kami ada pendidikan,
pembinaan dan pelayanan. Kami ada dari fraksi PKS rumah keluarga Indonesia,
rumah konstitusi, bank daerah PKS, aplikasi main PKS yang di android, kami punya
pelatihan kewirausahaan sedangkan biaya operasional ini yang biasa dilakukan biaya
kampanye, untuk itu ini salah satu program pusat kehidupan PKS ada rumah sehat,
rumah cerdas, rumah aspirasi, semua DPC PKS harus menjadi pusat kehidupan PKS.
Jadi mereka berdiri bukan hanya sebagai partai tapi juga betul-betul bisa masuk
kedalam masyarakat dan dibutuhkan oleh masyarakat, nah ini aplikasi my PKS di
android nanti bapak ibu nanti bisa buka. Salah satu yang fenomenal yang di awal kita
buka yaitu posko mudik, informasi tentang mudik melalui aplikasi ini. Ini ada usulan
dari fraksi, kami tadi saya kira sudah bagus ya. Kami mengusulkan rapid allocation,
kalau dari APBN nanti ada bantuan yang syukur-syukur Alhamdulillah ya. Big
allocation ini semua partai menerima alokasi yang sama, kami menyarankan ada
biaya operasional partai disitu tambahannya, terutama TV. Minimal nanti TVRI nanti
alokasinya partai politik mendapatkan fee dari Negara. Kalau misalnya dari TV
swasta ya saya rasa karena frekuensi itu milik public makanya kita juga
mendapatkan. Jadi nanti biasanya setiap hari kita mendengarkan kampanye Perindo,
Golkar dan sebagainya. Yang lain, kami yang tidak punya TV tidak bisa melakukan hal
yang sama. Itu tidak adil ya. Terus biaya pendidikan partai, untuk variable allocation
nanti disesuaikan dengan suara partai masing-masing. Kami menyiapkan biaya
pendidikan, pembinaan dan pelayanan public. Bagaimana pertanggungjawabannya?
Pertama PKS salah satu yang sudah memiliki namanya anggaran pendapatan belanja
partai politik. Jadi kami punya APBP, setiap tahun itu kami punya APBP. Jadi
160
ditentukan misalnya tahun ini sekian milyar, setiap bidang mendapatkan porsinya
massing-masing, darimana datangnya kita sudah buatkan. Semua partai politik wajib
menyampaikan laporan secara berkala kepada public melalui website media. Tapi
tahun ini baru kepada internal anggota partai, karena mereka yang nyumbang maka
kami sampaikan. Ya itu bagian dari good party governance yang kami lakukan,
penggunaan keuangan yang disusun tadi akan diaudit oleh BPK, saya setuju silakan.
Yang ketiga penggunaaan keuangan yang bersumber dari iuran anggota dan
sumbangan yang sah diaudit oleh KAP yang yang di tunjuk. Sanksi dan penghargaan
itu setuju. Kalau tadi prof Ramlan mengatakan mendapatkan … mendapatkan
penghargaan dan mendapatkan uang dari anggota maka kami sangat berterimakasih
dan kami kemungkinan akan mendapatkan yang… banyak. Ini menguntungkan pak,
tolong ini diperjuangkan. Sedangkan partai politik yang tidak membuat laporan akan
diberikan sanksi tegas. Minimal nanti anggaran belanjanya tidak dibantu pak, kalau
tadi prof Saldi memang … saya laporkan ke pimpinan…. Kalau yang tidak wtp bakal
tidak ikut pemilu wah bakal ditolak. Wah gapapa tapi itu high pole tinggi supaya
bawahnya nanti tidak terlalu rendah. Catatannya memang alokasi APBN yang harus
memperhatikan kemampuan Negara dan kondisi perekonomian nasional.
Terimakasih. Assalamualaikum warhmatullahi wabarakatuh.
Moderator: Charles Simabura, S.H., M.H.
Baik terimakasih. Cukup menarik apa yang disampaikan pak Pipin. PKS sudah maju
duluan, makanya kita undang PKS. Untuk urusan konflik kita undang PPP disana.
Baik saya persilakan pak Magnus Ohman. Mister Magnus Ohman please send your
research dari IFES.
Magnus ohman:
Thank you for …
We do have a presentation … for you are unable to translate it. We will do so. And if
one interested in … share it afterward. What would’ve I do given the time available
and the discussion on going in Indonesia today is to give an overview in how … have
addres the issue on political finance in legislation … and also implementation and I’m
drawing on an overview on political finance in legislation in … countries and on
161
practical. Law and … going on international standart basically on behalf of the …on
the screen now is one subclose in the united nation convention against corruption …
in terms of in charge of international guidelines for finding documents on political
finance calling for transparency in party and campaign party. So transparency is
established as the key how can we achieve this? We’ll review it through 4 different
types of regulation. I think what’s the most important is financial report. We don’t
have a reporting system that works thus reasonably well and we can’t forget abaout
how this people not know international limits for standing bans if we don’t know
about the system an effective if all countries have
legislation
Have address the issues in
Transparaency is .... 3 digffe type of regulatuion:
1. Financial report …. Or being compied with we don’t know… all reporting
requirement .... and in no country … the next step is … most countries have legal , I
would say given the amount of time…. Online obligation… to nalyze the…
information available the public cannot monitor …. And in canbodia ….
2. Banning public institution to give money to political party… ……. Another approach
is not abn something completely,…. To limit people … and the opposite is limit
some spending .... in our ... today ... one country … in philiphines that address in this
paper .. only idonesia … all Is very very significant… and I wanna ake a pointer…
membership funded pol party … some mute poli party and radical… give them I
would love to spend a couple of day…. Tming of the funding .... I should menton …..
but thisis an interesting way of impacting… in southeast … public funding doesn’t
not solve money politic. it need to solve… Indonesia should not
Problem in regulatory system:
What we seem to see are less than we expect… impartiality and balance between the
rules and… very legalistic rules…. We also need to be aware that aparties doent
always they ned system, key goal is to increase compliance … before we startd to use
sanction…
In term .. parties have less capacity… no country … I hardly they rely on getting
information… we need too money politic…media and othr politici s
Moderator: Charles Simabura, S.H., M.H.
162
Terima kasih.Baik pak magnus bagian yang terakhir tadi itu mengerti saya.Kita akan
lanjutkan diskusi.Hey girls kalau dilihat dari jadwal sekarang jam 12:45 kita akan
berhenti di 12:30 tidak ada persoalan di internal kita juga pak? harus kita subsidi juga
bagian tengahnya pak …. sebagai peserta sudah mulai mengalami gejolak di dalam
dirinya saya tidak berlama lama. Bapak /ibu yang saya hormati peserta sekalian
terutama professor ini kita coba …. Dulu mohon komentarnya bapak yang sudah di
sampaikan oleh beliau –beliau di depan khusus untuk persentasi makalah kita setelah
ini kan ada sesi kemudian seluruh peserta akan di berikan kesempatan untuk
menyampaikan paper yang sudah di buat. Saya silahkan yang pertama untuk mas pur,
pak feri, almas, reza. Ini yang tidak pakai ini semua ni …silahkan mas pur.
Purnomo:
Assalamualaikum wr. Wb. Yang pertama Saya seorang yang cenderung percaya
bahwa … maksud saya bahwa dan ketika kita menyerahkan tambahan kewenangan
kepada lembaga Negara maka sebenarnya di sisi yang lain kita juga menyerahkan hak
kita kepada Negara sehingga hak kita sebagai masyarakat juga semakin melemah
jangan-jangan permasalahannya bukan dari ketidakadaan lembaga yang mengawasi
dana untuk keuangan ini. Dari hasil kajian saya misalkan saya melihat bahkan BPK
pun tidak punya perspektif proses melakukan audit. Karena salah satu item audit BPK
di kota Surabaya, tidak melihat bahwa komposisi pendidikan politik itu harus 60%.
Mereka hanya melihat oh ini kwitansinya kurang, materainya kurang oh ini
nominalnya terlalu berlebihan padahal yang lebih prinsipil mereka tidak ikuti. Nah
saya kok mencoba untuk melihat bahwa untuk memanfaatkan lembaga Negara yang
memang sudah ada. Ketika bicara pendidikan dan penyidikan mereka serahkan saja
pada polisi gitu kan. Ketika bicarakemudian audit keuangan serahkan saja pada BPK,
bahwa lembaga-lembaga ini perlu diperkuat pengetahuannya bukan kewenangannya
itu mungkin satu catatan pak Ramlan. Karena saya sendiri termasuk yang khawatir
bahwa lebih mudah memang lembaga baru dan juga sanksi pidana di dalam undangundang sekarang. Semakin kuat Negara maka semakin lemah civil societynya
perspektif pejabat Negara yang salah tapi itu realitanya, itu yang pertama.
Yang kedua adalah bapak-bapak yang ada di depan ketika bicara tentang keuangan
politik salah satunya adalah dana kampanye teknis yang kita lupakan adalahtransaksi
163
online kalau saya belajar dari pengalaman saya pilkada di Surabaya tahun 2015
kemaren semua transaksinya maksudnya offline adalah semua bisa bikin kwitansi
dimana saja. Dan yang namanya rekening khusus dana kampanye itu dari awal dia
mendaftar sampai akhir isinya cuma 100000 yang merupakan saldo minimal dari
pembukaan rekening. Dan ini artinya tidak ada dana masuk keluar dari sana yang
tercatat kalau itu bisa dibuat secara online maka akuntabilitasnya akan lebih reliable
dan lebih terjamin. Yang ketiga pertanyaan agak bodoh. Mr. Magnus mungkin bisa
dijelaskan mengapa kita harus membatasi pengeluaran, saya influence comes from
the income not from the extended. Kalau menurut saya ini mungkin pak Charles.
Terimakasih.
Moderator: Charles Simabura, S.H., M.H.
Baik terimakasih pak pur. Pak pur lembaganya apa sekarang pak? lembaganya
sekarang? oh KPU. Sudah di kpu sekarang .Silahkan pak feri tolong perkenalkan
namanya dan lembaganya.
Veri Junaidi:
Perkenalkan saya Veri dari KODE Inisiatif konstitusi dan demokrasi. Pak pipin Jadi
kalau melihat dari kondisi hari ini memang hampir semua kita yang di sini apatis
dengan partai saya juga termasuk katagori kondisi hari ini tapi, menurut saya harus
bicara terkait keuangan partai haris realistis bahwa hari ini dengan pelepas kita tidak
suka degan partai politik kita mau memilih anggota kpu harus dengan partai kita mau
membuat kebijakan harus dengan partai politik. Apapun kebijakan negara ini yang
sangat strategis dan Bahkan menentukan apa yang kemudian punya kewenangan
begitu oleh karena itu saya harus berbicara secara realistis dengan kondisi hari ini,
bahwa siapa yang kemudian dengan kondisi partai politik kita kemudian menguasai
modal maka dialah yang menguasai partai politik itu yang terjadi partai poiltik kita
dan semua partai politik itu yang terjadi .Oleh karena itu dalam kesempatan ini saya
menyampaikan 2 hal: pertama, Evaluasi terkait dengan perjalanan partai politik
secara singkat dan juga soal rekomendasi. Soal evaluasi memang hampir seluruh
pendapat pendanaan partai politik yang secara resmi dari hasil riset kami 2011-2012
menununjukan bahwa satu-satunya yang berkontribusi besar sigfikan tapi tidak jelas
164
dari mana sumbernya adalah dari…iuran anggota partai politik hampir seluruh partai
politik memiliki iuran anggota partai kecuali PKS dan kami yang mengklem memang
memiliki tapi tidak dapat mengetahui berapa besaran dan berapa kontribursi
misalnya trus terkait sebagian tiga ada batasan tapi kita tidak pernah mengetahui
berapa kemudian sumbangan pihak ketiga yang sah menurut hukum yang diterima
oleh …hampir seluruh partai politik tidak memiliki catatan soal itu. Trus yang ketiga
sumbangan anggota, sumbangan anggota partai politik memang di beberapa partai
politik yang ingin di sampaikan 4%......dan sebagainya ada sayangnya sumbangan dari
anggota ini sama sekali tidak ada batasnya yang kemudian menjadi cela misalnya
pengurus partai oleh partai untuk menyumbang berapapun yang meraka miliki untuk
partai politik dan itu merupakan dana paling besar di ..partai politik.Yang terakhir
subsudi negara misalnya subsidi negara kita bisa katakan sangat minim,kami
mencoba menghitung misalnya …politik rata –rata kapten menengah kebawah itu
memerlukan uang sekitar 51-60 milyar itu partai kecil menengah kalau partai besar
150 milyar misalnya dan itu bukan partai politik .Sumber pedanaan resmi yang bisa
kita hitung dari subsidi negara itu pun 108 rupiah per suara yang di keluarkan oleh
partai politik dari PDIP mungkin dapat dua koma sekian milyar .Pertanyaannya 50 M
dari mana ?yang kemudian memecah ….nah dari skema ini.. ternyata dari dana
sumber subsidi kendaraan paling besar adalah dari anggota internal yang tanpa
batasdan .. oleh karena itu kedepan saya merekomendasikan ….Kalau menurut kami
komposisi dana harus berimbang antara konstituen, public kendaraan partai dan
negara itu harus berimbang kalau salah satu
yang kemudian sangat menonjol
kondisinya seperti sekarang oleh karena itu 30,35% dari komposisi itu menurut saya
nominal yang cukup ideal dari mana itu kemudian itu di peroleh ?Yang pertama kami
merekomendasikan misalnya pertama harus ada pembatasan terhadap sumbangan
partai politik jadi nggak boleh kemudian pemilik partai … dia sebagai satu satunya
pengimbang dominan misalnya ..berikut atau yang lebih jarang perindo misalnya
…elit elit yang bisa kiata ketahui pendana yang cukup besar .Yang kedua harus ada
peningkatan terhadap iuran anggota dan sumbangan public yang tadi prof ramlan
sebutkan tapi ini rekomendasinya di tingkatkan dengan yang namanya … Jadi kalau
misalnya bagaimana dorongan kuat untuk anggota terlibat dalam pendanaan itu di
perlukan.Saya memaklumi seperti pak magnus dan ahli-ahli keuangan partai
165
internasional pak magnus menyebut …beliau beliau memang tidak setuju dengan
iuran anggota karna hampir dikatakan mustahil dan tidak bisa berjalan tapi kita tidak
bisa kemudian meninggalkan yang namanya anggota untuk terlibat dalam undangan
ini karna kalau kita tinggalkan anggota maka kita tidak akan bicara soal
demokratisasi partai politik itu tudak akan pernah berjalan. oleh karena itu
mekanisme matching fund yang disampaikan prof ramlan tadi dalam artian ketika
anggota membayar iuran partai mampu mengumpulkan iuran dari anggota maka ada
kontribusi dari negara itu saya fikir satu hal yang perlu di lakukan supaya berjalan.
Yang ketiga, subsidi negara, subsidi negara itu skema hari ini kan hanya yang
proporsional saja yang di hitung per suara. Satu suara yang diperoleh partai politik
dikalikan dengan Rp 108 kita gak tahu Rp 108 itu darimana hitung-hitungannya. Nah
mungkin perlu peningkatan terkait dengan nilai Rp 108. Almas dari ICW punya itungitungan terkait dengan itu. Saya pikir perlu ada peningkatan tapi kita tujuannya
begini bapak ibuk sekalian Rp 108 rupiah kalaupun mau ditingkatkan 1000 saya
setuju itu digunakan 100% bukan 60% seperti sekarang untuk kegiatan pendidikan
politik dan kaderisasi. Kenapa pendidikan politik dan kaderisasi? Menurut saya itu
yang sekarang ditinggalkan oleh partai politik ketika berjalan. Oleh karena itu
sekalipun mau kita kasih 1 trilyun pun besaran itu tidak akan dikembalikan kepada
pemilih, kepada masyarakat, jadi tidak menunggu partai politik. Skema yang kedua
flat, dana flat ini juga yang mau ditanyakan kajian prof Saldi dengan teman-teman
Pusako bagaimana kemudian skema flatnya, saya membantu teman-teman ICW
dengan Almas dan mas Reza Syawawi akan mencoba merumuskan soal besaran atau
rumus yang dalam flat itu akan diberikan. Flat yang dibayangkan adalah PDIP akan
dapat sama dengan Hanura itu jelas tidak mungkin mustahil. PDIP punya anggap saja
34 propinsi kesemuanya sanggup dan kepengurusannya berjalan dan di 34 propinsi
misalnya punya kursi di DPR sedangkan partai parati yang lain misalkan Hanura itu
ndak sampai 34. Yang harus dikelola kan berbeda oleh karena itu harus berbeda pula.
Nah oleh karena itu biaya flat ini sebenarnya digunakan untuk operasional dan
konsolidasi di internal partai politik dan syarat penghitungannya flatnya adalah
misalnya di pusat begitu dpp anggap saja mendapatkan 10 milyar misalnya atau 1
milyar di tingkat provinsi dia mendapatkan 500 juta di tingkat kabupaten kota
mendapatkan 100 juta nilai…adalah itu…arti
partai politik masing-masing
166
mendapatkan itu mestinya di hitung secara profosional …provinsi maka a adalah di
buat 1,3 jadi nilai besarnya klemnya adalah
tapi yang di peroleh adalah di
mendapatkan syarat profosional berapa partai itu …. yang terakhir pak magnus saya
setuju bahwa yang paling penting …dan yang paling adalah mekanisme saksi bahkan
kalau perlu …terjadi …. terimakasih..
Moderator: Charles Simabura, S.H., M.H.
Baik terima kasih pak feri …pak reza yang mau di sampaikan sama atau beda, ya
harus beda kalau sama saya cut langsung supaya tidak pengulangan.. jadi persentase
mereka bertiga .. silahkan pak reza.
Reza Syawawi:
Terima kasih yang pertama soal pembatasan semua hal pembatasan itu harus ada
tapi kita perlu cari titik keseimbangan tadi sudah ada yang di usulkan 50%,30%,20%
akan di cari posisi keseimbangan antara posisi negara ..dan ketiga posisi public
masyarakat dan apakah itu sudah mecapai posisi saya kira peruntungan akan sangat
komit menurut saya.soal audit selama ini parpol itu hanya di audit secara keuangan
yang termasuk bersumber dari negara nah sebetulnya kita mau mengusulkan apakah
parpol ini bisa di audit kinerjanya karena 1 dia memperoleh dana dari negara kalau
menggunakan instrumen akuntabilitas keuangan negara maka sebetulnya partai bisa
di audit kerjanya secara normatif saya tidak tau apakah ini secara implementatif bisa
di gunakan atau tidak .yang ketiga yang terakhir adalah soal sanksi terutama yang
terkait dengan transparansi keuangan partai kalau kit abaca undang-undangnya
secara normatif hampir tidak ada sanksi yang clear soal bagaimana ketika partai
tidak terbuka, maka saya sebetulnya mengusulkan yang pertama sanksi itu tidak
hanya di tunjukan kepada personal pengurus partai tapi juga kepada organisasinya
sebab ketika partai malah korban terhadap aturan terkait dengan keuangan maka
institusi bukan personal pengurusnya jadi yang diterima sumbangan partai yang
dilarang oleh undang- undang dan di gunakan oleh kegiatan partai maka sebetulnya
itu adalah perbuatan organisasinya bukan perbuatan personal maka kedepan harus
ada sanksi untuk mengurus. Misalnya menyangsi mulai dari penundaan, pemotongan,
bahkan penghapusan bantuan keuangan partai misalnya sampai kepada pembubaran
167
nah tapi itu ka nada problem norma didalam undang-undang parpol. Saya kira itu ya
yang terkait dengan sanksi. Terakhir saya kira, satu hal yang perlu kita perbuat
adalah persepri soal kedudukan badan hokum partai politik. Saya kira hanya satu
undang-undang yang memberikan definisi bahwa parpol itu adalah badan public.
Yaitu di undang-undang keterbukaan informasi public. Nah di birokrasi kita di
kekuasaan Negara kita sebetulnnya persepsi soal itu masih sangat minim apalagi
institusi parpol nah saya kira ini perlu di didik supaya paham bahwa bagian dari itu.
Kalau tidak kita akan hanya berputar-putar di undang-undang parpol saja. Tidak
dalam konteks yang lebih luas. Pertama yang terkait dengan keterbukaan informasi
public saya kira itu terimakasih.
Moderator: Charles Simabura, S.H., M.H.
Baik terimakasih. Silakan Almas. Almas ini di Padang itu pak salah satu nama
angkutan bis itu. Padang-Pariaman. Hahaha
Almas:
Terimakasih mas Charles. Tadi saya sepakat sekali bahwa pengeluaran partai lebih
banyak, jauhlebih banyak sekali jauh lebih banyak dari penerimaan partai yang. Saya
dari ICW. Dan jumlah bantuan yang diberikan oleh Negara saat ini sangat kecil yaitu
Rp. 108 per suara yang kalau ditotal kepada 10 partai saat ini hanya sebesar 13,1 M
tapi mungkin kita jangan lupa bahwa Negara memberikan bantuan kepada partai
tidak hanya melalui APBN tidak hanya melalui dan tidak hanya kepada partai di
tingkat pusat saja. tapi Negara juga mensubsidi partai melalui ke semua partai di
tingkatan-tingkatan masing-masing. DPW. DPD dan DPC itu mendapat sudsidi dana
Negara. Perudem pada tahun 2011 atau 2012 bersama mas Feri pernah melakukan
penelitian dan menyebut bahwa bantuan Negara kepada partai di tingkat pusat itu
menutup 1,32% dari kebutuhan partai secara keseluruhan setiap tahunnya. Tapi
berapa kemudian bantuan yang di cover oleh APBN dan APBD kepada kebutuhan
partai selama satu tahun. Disini saya mencoba menghitung dari laporan keuangan
PKS karena PKS adalah satu-satunya partai politik yang memberikan laporan
keuangan secara terkonsolidasi kepada ICW pada tahun 2014 dan kami sangat
mengapresiasi itu dan kami banyak mengutip soal itu. kalau dihitung dari
168
penerimaan PKS dari tingkat pusat sampai tingkat daerah PKS menerima 179 milyar
dan PKS mendapat total bantuan dari Negara di tingkat DPP sampai DPC adalah 18
milyar. Yang artiny adalah PKS 10 % keuangan PKS itu disubsidi oleh Negara di
tingkat pusat di tingkat daerah propinsi dan kabupaten kota jadi hanya menutup
10%. Darimana 90%nya? PKS mencatat ee sori 33 % dari 179 milyar itu berasal dari
iuran dan infak anggota. Yang artinya adalah 57% sisanya itu disupport dari pihak
ketiga yang say ajug atidak tahu pasti apakah itu kemudian adalah anggota partai
yang sumbangan diluar iuran anggota atau kemudian dari badan usaha atau
sumbangan eksternal yang ketiga yang lain. Sebenarnya negara sudah banyak
membantu kepada partai politik awalaupun memang kalau kita bandingkan dengan
total pengeluaran maka itu masih sangat kecil yang kalau lagi-lagi saya mengutip data
dari PKS karena di salah satu dakwaan LHI itu juga disebutkan di Presiden PKS itu
disebutkan. Ternyata dana bantuan Negara kepada DPP PKS sebesar 880 juta itu
hanya 40 juta lebih banyak daripada tunjangan yang diberikan PKS kepada LHI
selaku Presiden PKS. LHI sebulan mendapat support tunjangan dna transport dan
sebagainya 70 juta dari PKS yang kalau kita kalikan selama 12 bulan dia mendapat
840 juta dari PKS. Jadi kalau kita hirung-hitung lucu jug akalu bantuan Negara hanya
40 juta lebih besar dari tunjangan yang diberikan presiden partai kepada Presiden
partai. Belum lagi kepada ketua divisi atau kemudian pengurus-pengurus partai yang
lain. Nah dari data-data itu tadi ICW kemudian mengusulkan bahwa sumbangan
partai sebaiknya di sepakat dnegan pak Ramlan tadi dibagi menjadi 3. Ada internal,
kenapa internal saya menyebutnya di awal karena sumber dana internal adalah
sumber dana yang dapat menjaga kemandirian partai dari intervensi Negara. Karena
Negara juga tidak baik memberikan support dana yang telalu besar kemudian juga
menjaga kemandirian partai dari sumbangan-sumbangan pihak ketiga diluar partai.
Nah di internal ini ada iuran dan sumbangan anggota yang harus dipisahkan dan
harus dibatasi kemudian dari eksternal ada perorangan dan badan usaha dan
bantuan politik dan bantuan dari Negara. Kalau tadi prof. Saldi menyebuat ada dua
ada skema dua yaitu flat dan kemudian proporsional berdasarkan perolehan suara.
Kami di ICW bersama teman-teman TI dan KODE kami mengusulkan ada 3 yang
pertama adalah fix cost atau flat yang hitung-hitungannya nanti disesuaikan dengan
perolehan dengan jumlah parati di DPP, DPW, dan DPC. Kemudian yang kedua
169
proporsional berdasarkan perolehan suara dan yang ketiga adalah indirect funding
atau inkind yang berupa fasilitas gratis kepada partai yang mau mengadakan
misalnya ini pendidikan politik baik itu di tingkat pusat maupun itu di tingkat daerah
menggunakan gedung-gedung pemerintah dan itu gratis. Karena ketika kami
wawancara dengan teman-teman partai mereka selalu menyebutkan bagaimana
mereka akan melakukan pendidikan politik kalau dananya kecil dan sewa gedung dan
sewa hotel itu sangat mahal. Dan ini adalah usul kami ada indirect donation kepada
Negara kepada partai politik di tingkat pusat maupun di tingkat daerah dan
singkatnya berdasarkan hitung-hitungan kami partai di tingkat setingkat Hanura
mempunyai satu DPP jelas satu DPP kemudian 34 DPW dan 503 PDC itu di seluruh
Indonesia dia akan mendapat bantuan sebesar 67 milyar yang kalau sekarang Hanura
hanya mendapat 700 juta nah nanti dengan adanya flat yang diberikan kepada DPP
DPW dan DPC Hanur akan mendapat 67 milyar. Memang angkanya sangat melonjak
tinggi dari pada saat awal tapi ini kami juga belum menghitung yang di tingkat daerah
yang berdasarkan …. Tapi saya rasa itu sangat penting untuk dilakukan kepada partai
sekarang karena disbanding nanti partai mengambil dana Negara melalui cara-cara
yang illegal. Kita tahu seperti kasus korupsi dan segala macam dari itu tadi.
Sehubungan dengan itu saya juga ada pertanyaan. Dengan tingginya angka tadi itu
kami selalu mendapatkan pertanyaan bagaimana kemudian ICW atau teman-teman
yang pro terhadap kenaikan ini menjamin akan terjadi pembenahan di internal dalam
partai politik nah saya ingin bertanya kepada pak Magnus dan pak Ramlan adakah
desain atau mungkin pengalaman di Negara lain atau konsep yang baru mengenai
bagaimana sih membuat usulan kenaikan ini beriringan dnegan pembenahan partai
politik itu sendiri ini untuk membahasakan atau menyampaikan kepada public
mengenai grand desain mengenai pembenahan keuangan partai politik ini
terimakasih.
Moderator: Charles Simabura, S.H., M.H.
Baik terimakasih. Saya tidak buka lagi karena waktu. Saya mau ke pak Magnus.
Maknyus kalau bahasa Indonesia. Pak Magnus ada tadi yang agak berbeda karena
sepertinya aspirasinya pendanaan dari member itu penting dari anggota. Sementara
tadi pak Magnus agak pesimis ya. Kurang lebih pada Negara apa public fund atau
170
mungkin juga tokoh private yang di perusahaan atau ketiga. Itu mau di bahas khusus.
Lalu berikut juga bagaimana kemudian penaikan itu berindikasi langsung kepada
perbaikan demokratisasi internal di partai itu. Mohon perspektif dari pengalaman
beberapa Negara saya pikir itu. Tapi pak Ramlan sudah mengerti pak ya juga tadi Pak
Pipin.
Magnus Ohman:
So it all clear, I think that membership funding party is a great idea. From a
democratic perspective and that’s the most the best way of funding parties its just
that it doesn’t work and I’m saying that from a perspective of looking at issue from
they’re always … this is part of the discussion that shoul we have membership of
funding or not. How do we … are to encourage membership funding I think … small
donation. And draw through funding does happen if you look at the united states
Obama in 2008 not 2012 raise funding from large donation completely different side
of the political spectrum Donald Trump is raising quite a lot of money from smalls
donations like now.
So the issues have do we achieve it? The number of think that have tried in giving
small donations can encourage people to make donations and report it so that they
can get a tax credit can work really well. Assume people pay tax if they don’t pay tax it
wont work. New York state is using matching fund and … Germany has been using
matching fund where full donation have certain level of matches that with public
funding and now we are encouranging small donations also there are other thing
complicated requirement regarding thing we have to have a receipt you have to have
everything online, you have an tiny donations that will discourage small donations
will make it more difficult for parties to get a raiser funding. Even practicing law
recently they said you have to have receipt you have to have everything apart from
apart from basically inaffect part is going at them regarding small-small donations in
cash. Classic … from the rules. Considering that limiting spending for parties can
increase the relative income from small donations because parties doesn’t have to
spend a lot of money they can get more benefit from small donations. And the most
effective way of limiting spending is limiting … basic … and I’m also mention some
countries eh some cases is difficult to do the risk of technical candidate to parties that
171
actually campaigning with someone else its also possible you see this In Phillipines
where you have limited number of minute that you are allowed to campaign at TV so
they create a fake party that comes out we campaign are set … but there are different
ways of doing but its noisy.
Pipin Sopian:
Baik terimakasih pertanyaannya saya melihat ada optimism ya jadi dalam teori
politik itu ada namanya spiral of silence dimana partai politik itu sebenarnya tabu
untuk membicarakan tentang bantuan pendanaan terkait partai politik. Tapi ketika
ada dar CSIS dari KODE ada dari TI ada dari CSIS dan ada dari KPK juga disini ya
sehingga sebetulnya spiral of silence itu sebetulnya kita terbuka tapi dengan melalui
speaker bapak ibuk yang ada disini. Dari Pak Feri saya melihat mungkin untuk secara
keseluruhan satu dua tahun ini mungkin akan diproses ya. Mungkin kit akan mulai
dari awal untuk internal partai politik. Jadi PKS memang dari awal ingin terdepan
mengimplementasikan sebagai good party governance itu. Jadi konsep ini kita sudah
mulai sosialisasikan. Mulai darimana mulai dari diri sendiri dalam agama disebut li
ibda binafsik kami ingin selesai dulu dengan diri kami semua pimpinan partai semua
kepala daerah dari partai PKS disosialisasikan apa itu good party governance disitu.
Jadi materi yang bapak ibu terima itu kurang lebih hampir sama bedanya nanti ada
diselipkan ini ni agamalah di PKS karena kami partao dakwah kami harus
memberikan contoh yang baik. Ketika kami salah maka akan berimplikasi kepada
agama yang kami bawa begitu. Itu yang pertama, trus yang kedua saya setuju ada
audit tapi memang audit kinerja itu memang hanya untuk lembaga Negara dan partai
selama ini merasa tidak penting tidak perlu di audit oleh Negara karena memang UU
nya hanya oleh KAP ya akuntan public hanya dari apbn saja…. Tidak ada pembedaan
strategi penghematan anggaran partai
Ramlan : 1parpol punya persepsi yang salah terhadap …. Transparansi hanya dari
dana apbn.. yang lain 2. Sumbangan kecil… Jumlah donasi begitu besar karena
penyumbangnya banyak tapi donasinya kecil…..
Anggota bpk berasal partai politik. Tentu nanti institusi itu … salahsatu yang harus
dibuat jangan berharap partai …………………. Itu sudah menjdi budaya untuk mencatat
pengeluaran dan pemasukan, banyak yang bersal dari hmi gmhi dlll parpol di satu sisi
172
iya ya public distrust pada partai.. jangan … diusulkan 100 yang kita dapat 100..
pengambilan keputusan pembagian kursi. Pks salah satu yang palng pertama
menyetujui
Sumber penerimaan partai … amerika meolak embatasn anggaran … yang terakhir ini
pertanyaan ada sumbangan pihak ketiga yang …. Pilpres 2009 penerimaan dari pihak
ketiga ini jauh lebih… yang dilaorkakn pasangan calon SBY ke KPU. Pon pak todung
mulya lubis yang di amerika.. Iklan kampanye disetujui oleh pasangan pasangan
lainyya untuk pemilihan
Perlu diatur mengatur sumbangan pihak ketiga
Magnus Ohman:
You cant force political party to be …. Is necessary
Moderator: Charles Simabura, S.H., M.H.
Kesimpulan
Dana partai untuk menyeimbangkan partai dan …
Perimbangan dari Negara masyrakat dan anggota parpol… Membuat sanksi..
Pembenahan personalia dalam partai
2. SESI 2 (13.30-15.30)
Moderator
: Veri Junaidi
Narasumber
:
- David Ennis (Kanada)
- Giri Suprapdiono (Direktur Gratifikasi KPK)
Moderator: Veri Junaidi
Bapak Ibuk sekalian, yang berikutnya akan ada tiga orang narasumber kita punya
waktu diskusi sampai jam 16.00 atau jam 4. Di sebelah kiri saya, saya perkenalkan
ada pak Giri dari KPK, tapi kesini khusus untuk diskusi dengan kita. Beliau punya
banyak kajian sebenarnya terkait dengan penguatan partai politik khususnya sola
keuangan partai. Karena hari ini KPK sangat concern dengan hal ini. Yang kedua ada
pak David, pak David dari IFES. Beliau juga dari Kanada, seorang advokat dan juga
173
ahli untuk isu-isu keuangan partai politik, sebelumnya beliau ada dari Ukraina jadi
ada pengalaman yang cukup banyak terkait dengan isu-isu ini. Dan terakhir ada pak
Riawan Chandra, beliau ahli hukum administrasi Negara dari Universitas Atmajaya
Yogyakarta. Tiga orang narasumber ini nanti kita kasih kesempatan masing-masing
15 menit untuk paparan singkat dan kita bisa eksplor untuk diskusi lebih lanjut.
Kesempatan pertama pak David untuk menyampaikan beberapa catatannya terkait
peraturan keuangan partai politik di Kanada.
David:
Thankyou. Colleagues. Are everyone here?
This morning we had a procured
conversation about political finance regulation and some of its challenges involve in
developing … finance regulation sistems. What I wanna do now for the next 5 or 10
minutes is to look a case study. It’s a case of Canada and explored how another
country has tackled. As a starting point I wanna talk about the objectives of campaign
finance regulation. Why do we do it? Why do we care? Um, I think this can be
different from country to country. I think the fact that its pretty much for them all.
First we’ll concern with quality. We want people here to participate and for politic not
to be dominated by a handful of rich man. Second, freedom. We want people to be
able to say what they want and act for the … causes and spend their money how they
want. Popular participation, we want people to be engaged and should not be an
activity for professional more ordinary people are involve. I think the richer are
democracy is. Transparency obviously, its important for people to understand what’s
happening in political party in particular where money is coming from. And finally the
autonomy of political actives, we want to regulate political parties so that they act in
public interest, but we don’t want to make them … of the state. We want them to
continue as the autonomous entities serving as the opposition of the government and
this is an important value that people sometimes forget in their zeal to regulate
political party. So this is the list of objectives state, I know on the mind of policy
makers in Canada is not an exhausted list, so I don’t put it there because I don’t
wanna show all the reasons, I put it there because I want to share. Thinking about
174
political finance there are many different objectives, there are some are not
consistent there are some conflict and so for the policy makers siding among these
values is important balancing finding a balance between equality, transparency and
autonomy is essentials. You’re going to have to effectively. So lets look at how Canada
address that problems. In Canada there are 5 elements to the sistem. Limits on
spending, limits on contribution, public funding of parties, a comprehensive sistem of
recording and mechanism of oversight and enforcement. For spending limit there is a
separate limit for candidates and parties and they’re very depending on how many
electors living in particular district but in general these are the … 25 million for a
nationwide party running in a federal of action in a vicinity of a $100000 running in
single member district. Canada also … limit on so called third party and this is an
extremely important issue in many countries, a difficult issue. Third party is anybody
who is not a candidate for a party but once influence the outcome of the election. In
the most recent Canadian election, you know, labor unions, business groups,
environmentalists, all kind of … wants to influence the outcome of the election.
There’s a limit for them too. So there are also limits on sources of funding. Only
citizen or permanent residents may, no corporations, no labor unions, only
individuals and individuals can give $1500 Canadian dollars I should say for each
party and $1500 to the candidates of each party. So these are pretty low limits, with
these limits, the ability of you know a small number of a very rich people put huge
amount of money into a single party if we raise our limits. I’m sure as Magnus would
tell you there are ways to work around these limits, like put small donations under
different names. In general Canada have a sistem of limits, they’re low and from what
I understand they’re more less working. There is no limit on what a person can
contribute to a third party. Third party were those groups who were trying to
influence the election, I remember there’s a limit in what third party can spend, you
know you can donate as much as you like but the third party can only spend $150000
on the election. And finally candidates can give to their own campaign but there a
subject to same limit as everybody else. Which Is $1500. The effect of these rule is a
rich person cannot bank all their own campaign. In many places, um in united states
in particular but in other places a very rich individual doesn’t have to worry about
175
raising money, and they just spend all of their own money to make the campaign.
This, under the rules in Canada they cannot happen.
Okay, reporting. There’s an extensive sistem of according for parties and for
candidates and also for third parties. … group decides to influence and you spend
more than $500 dollars doing so, you have to file a report. … report online and they
are published online. Including the identity of the donor. And this is extremely
important as a enforcement mechanism, oversight mechanism. As I am going to say in
a few minutes, the one area where the Canadian sistem is weak is in oversight and
enforcement. For many of you the most interesting feature Canadian sistem of public
funding the majority of money that is spend on the election in Canada comes from
public sources, one way or another. In fact there are three sources. First, every
individual gives to a party or a campaign get some of that money back, as a tax credit,
and in fact they get quite a bit of it back 75% of the first $400 dollars means if you
give $400 to a candidate you get $300 of that back. So it only cost you $100. The
sistem is designed to sent by small donations. Lots of small donations. And the theory
there is candidate that … and network to raise money is healthy as democratic and
involve the people. But by keeping the size of the donation small it also … value of its
quality. The sistem prevent wealthy donor from dominating the party of a campaign.
Canada is a much smaller country than Indonesia but in comparison the total cost of
the treasury about $25 million. So this is the first form of public funding. The second
form of public funding is reimbursement of campaign… after each election candidate
and parties submit a report showing what their expenses were. And if the reports are
all in order, the states will reimburse them for all of their cost. Provide if they need …
so as a party you need to get 2% of the vote nationwide, as a candidate you need to
get 10% of the vote. If you do those things you are going to get half of the money you
spend and finally a small but significant expense is for external audits. All political
parties are required to get external audit so the government doesn’t audit their report
necessarily but all get audited by external auditor the government helps to pay for
that auditing process. If you take this rule altogether they completely change politics
the electoral politics work in Canada prior to 1974, most Canadian parties, well the
big ones relied on the exclusively donation from big businesses, very wealthy
individuals and labor unions. Starting in 1974, there are several ways of the form and
176
now we’re in a situation where, none of the source of money are really relevant than
the public funding available to parties and candidates they sufficiently did, that the
vast majority of expense in action directly or indirectly covered by the state. So how
can we assess the sistem? One of most the striking feature about it is that emphasis
on fund raising. It requires parties to go out to people and get them to give them
money, money in small amount, but still, if you’re not fund raising, then you’re going
to be seriously eh and you’re not going to be. The only ways to raise money is to fund
raise from small donors and this for a tax right is not going come into a fact if you’re
not an effective fund raiser. An arguably that’s a good thing. Politicians connected to
their, two availability of public funding comply if you don’t file your reports and you
don’t spend your money in an appropriate way if you violate the law and otherwise
you cannot raise a public funding and that is an extremely horrible incentive for
people to play by the rule. Third is limit opportunities to undo influence like I said,
the influence of a big companies and labor union in political life in Canada are
reduced and I think that’s for the good. For create … of transparency is helpful for
voters now more than never before you know who you’re voting for. And I’ve said the
last one, to give you an incentive to continue fund raiser. So this is how the Canadian
have struck the balance between public and privates between regulation and
autonomy and it’s an interesting model and its wondered working well in Canada. As
I’ve said I wouldn’t necessarily recommend it for Indonesia because it depends on the
very minimum of highly tax sistem and the population where everybody file a tax
return. Before I put down the microphone I wanna mention some of the difficulties
with this sistem. First, its complicated. As you can see there’s a lot of things going on,
a lot of contributing part of form for parties to files and candidates, chief electoral
officer makes training and information available but many candidates and parties
struggle complying for these rules. Secondly the rules don’t apply to the expenses
outside of the election period, and initially that wasn’t the problem, but overtime
political parties figure out that they could use that loophole to get around the
spending lays on campaign. They would guess when the campaign gonna be, and then
they would start spending. Because the election was called, none of their spending
was caught be the limit, so they would put all kind of tv ads related on the election
before the election was called. and this problem has gotten even worse now that
177
Canada has fixed election. And they would know when the election will be. So all that
kind of interest, labor unions are running all kind of advertising so they spending
large amount of money and the sistem are dealing with that. Right now it’s a major
flaw and theres something that gonna happen. The sistem doenst have strong
enforcement mechanism, there are offences in the criminal court knowingly break the
law for minor offences like failure of file on time or errors comissions there aren’t
really much commissions can do, threaten to hold the public funding or write them a
strongly words of letter. The sistem does work pretty well because mostly candidates
and parties want their money. But I do think if there is one weakness that there were
no sanction available for the sistem other than holing the public funding,
recommending the matter to the prosecutor. So have the Canadian sistem. I hope if
you have any question you’ll let me know.
Moderator: Veri Junaidi
Terimakasih pak David. Saya punya beberapa pertanyaan sebenarnya tapi kasih
kesempatan dulu kepada teman-teman, setelah 3 narasumber nanti menyampaikan
kami akan berikan kesempatan kepada temen-temen yang call paper untuk
menyampaikan makalahnya paling tidak lima orang, dalam waktu yang sangat
singkat, memberikan statement berdasarkan hasil kajiannya masing-masing, juga
nanti kalau ada catatan atau pertanyaan nanti diperbolehkan. Nah yang kedua ada
pak Giri, pak giri nanti waktunya sama pak giri, pak david tadi lebih satu menit
semoga nanti lebih cepat satu menit. silakan
Giri Suprapdiono:
Terimakasih sebenarnya ini teknis. Selamat siang ibu bapak, assalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh. Good afternoon, saya will use bahasa. Bapak ibuk
sekalian mungkin orang bertanya-tanya ini apa hubungannya antara direktur
gratifikasi dengan pendanaan politik dan kenapa KPK tiba-tiba harus bicara tentang
politik. Saya pernah suatu panel seminar tentang pendanaan politik dan salah
satunya anggota DPR menyindir dengan keras. Ngapain KPK ngurusin urusan politik,
kamu ngurusin tentang anti korupsi saja. Sehingga memandang bahwa urusan politik
jauh dari urusan tentang anti korupsi itu sendiri. Namun sama tapi ada … yang kita
178
tahu yang ditangani KPK selama ini adalah orang-orang politik. Dan ketika kita mulai
melakukan kajian mengenai pendanaan politik ini, orang pada skeptic, ngapain KPK
akan memberikan dana kepada partai orang partai yang sudah biasa korup gitu kan.
Sudah biasa dapat uang banyak. sementara disisi lain tahun Negara bisa kekurangan
anggaran, pajak tidak tercapai dan lainnya. Banyak paradox sebenarnya, bagaimana
kita harus melihat sekali lagi bahwa orang-orang parpol itu korupsi karena apa
sebenarnya. Tapi saya senang awal tahun ini kita melakukan kajian mengenai
pendanaan partai politik, kita berkumpul dengan CSO, civil society dan ahli kita
mempunyai hamper kesimpulan yang sama. Bahwa karena Negara tidak hadir artinya
tidak memberikan pendanaan yang cukup kepada parpol maka parpol mencari uang
sendiri-sendiri. Seperti logika yang dipakai ketika jaman orde baru ketika jaman
Presiden Soeharto sudah kamu tak gaji kecil pegawai negeri, kamu cari uang sendirisendiri. Disanalah praktik korupsi, gratifikasi dan lain-lain berkembang pesat. Apa
yang terjadi di politik juga sama kurang lebih. Mereka harus mencari sendiri-sendiri
dana tadi agar survive, karena mereka tahu politiklah yang bisa menuntut orang pada
menjalankan ideologinya. Ketika politikus sedang memperjuangkan dirinya, misalnya
mendapatkan pendanaan yang lebih besar dari Negara maka banyakmasyarakat yang
masih skeptic jadi misalnya model skeptisnya itu seperti kartun yang I am politician
and I am honest. Seberapa jujur politikus itu nanti bisa mempertanggungjawabkan
anggaran yang diberikan olehnegara tadi. Dari banyak diskusi, dari banyak belahan,
saya ikut dibeberapa tempat kebetulan saya mewakili KPK di beberapa kesempatan.
Memang political corruption ini akrab untuk dibicarakan, bahkan ketika kita
mengaddress isu ini. Sulit menemukan tuan rumah mana yang mau melakukan ini.
Karena political corruption itu sensitive everywhere. Jadi kita sebenarnya bicara dalam
konteks korupsi … di Indonesia kita punya cukup freedom yang luarbiasa. Tapi di
Negara lain membicarakan hal ini pun kadang-kadang relatif menakutkan. Ketika itu
ketika … membuat kajian tentang political corruption maka win-win solutionnya yang
menjadi tuan rumah adalah ATB, yang … di Manila, bukan Negara manapun arena
Negara tidak hadir, todak memberikan.
Mengapa ini menjadi penting bagi Negara. Ini kasus yang ditangani KPK sampai 30
Juni 2016 KPK sudah menangani anggota DPR/DPRD sebanyak 119 orang, kemudian
level menteri atau kepala lembaga sebanyak 24, gubernur 17, bupati/walikota dan
179
wakilnya 50, duta besar dan lain-lain dan kebanyakan adalah pejabat politik. Kalau
boleh kita pilah-pilah sedikit, artinya eselon satu kita keluarkan, eselon II kita
keluarkan, birokrat kita keluarkan, swasta kita keluarkan maka 31 % dariyang
ditangani KPK adalah kader partai politik, very significant. One third of the KPK suspect
is politician. Mungkin orang-orangnya banyak dikenal disana. Cuma selama ini kita
hanya bermain di berita dan tidak pernah bertanya kenapa orang-orang ini korupsi.
Dan mereka selalu bilang karena sistem, sistem yang mana yang sebenarnya
membuat mereka korupsi. Dan modusnya memang suap menyuap. Mengapa suap
menyuap? Karena suap menyuap itu modus yang sebelum KPK terbentuk sulit
ditangani. Karena suap menyuap itu paling efektif prosesnya adalah tangkap tangan.
Jadi menggunakan transaksi cash, kemudian tidak menggunakan alat komunikasi dan
lain-lain. Suap menyuap sangat dominan disana. Dan yang kedua adalah pengadaan
barang dan jasa. Dalam kontek pengadaan barang dan jasa, kita sering kali terjebak
bahwa apa yang disebut korupsi itu begitu, ketika APBN diketok dan proyek
dijalankan disitulah korupsi dimulai, kita berbicara dengan penyidik, jaksa kita.
Korupsi itu ternyata berjalan jauh jauh hari sebelum, ada politik istilahnya…
anggaran. Ada korupsi dip roses penganggaran. Contohnya seperti yang terjadi ketika
pasti kenal ini ya, tokoh kampanye katakan tidak pada korupsi. Dalam kesaksiannnya
yang dikutip oleh merdeka.com kelompok pak Nassar itu, pak Nassar bendahara
partai perpartai diberikan jatah sesuai kursi di DPR tahun 2009, Demokrat kursinya
20 % jadi 20% adalah jatah yang 5% adalah fee. Katakanlah jatah partai 100% dan
lainlain.
intinya
memang,
memang
tidak
semua
tersangka/terdakwa
KPK
menyampaikan bahwa dia nyari duit untuk partai, biasanya dicut disana. Tapi ini
kebetulan kita dapat. Bagaimana Angie waktu itu memang mencari uang untuk partai,
kita kebetulan melakukan wawancara denggan nasarudin di sela-sela dia mau siding
pencucian uang, kenapa sih korupsi, sebenarnya dalam konteks penganggaran seperti
apa? Akhirnya ketemu ini untuk membenahi sistem yang berada di lingkaran terluar,
birokrasi, parpol dan pengusaha. Padahal kalo kita bicara pada penyidik, mas yang
perlu dibicarakan titik gelap di tengahnya, karena biasanya orang DPR punya
makelarnya punya orang kepercayaan untuk deal dengan pemerintah, orang
pemerintah yang dealer. Contohnya dalam konteks kasus hambalang, Angie mewakili
dari DPR kemudian Taufik Moh. Harun mewakili dari menpora kemudian ada Suroso
180
disana mewakili dari swasta. Mereka bertemu di ruang gelap dimana sistem itu sulit
untuk bisa mengontrol mereka ini. Mereka bukan mengurus parpol, Negara dan lainlain. Ada di titik mereka berada di titik gelap tadi di titik area yang tengah ini yang
yang satu-satunya strategi adalah harus penindakan tapi kalau kita di titik yang luar
tadi tiga antara birokrasi, parpol dan pengusaha harus perbaikan sistem. Salah
satunya adalah melalui pendanaan. Kita lihat ini, saya ambil data dari Peludem partai
yang kalo kita lihat kemaren ketika kampanye kita lihat iklannnya di televise rasarasanya gak mungkin antara pengeluaran dan pertimbangan cuma dari bantuan
Negara. Bantuan APBN kepada parpol hasil pemilu tahun 2009 total hanya 9,1 milyar,
di tahun 2014 hanya meningkat sedikit 13,6 milyar, padahal pengeluaran dari salah
satu partai saja lebih dari 50 milyar, 500 milyar bahkan dalam angka trilyunan
rupiah. Maka ada ketimpangan yang luar biasa antara sumbangan resmi, bantuan
pemerintah dan pengeluaran yang dikeluarkan untuk proses konstetasi atau biaya
operasional. Menarik tadi dari Kanada, ada satu wacana baru yang gak kepikiran
sebelumnya di Kanada ada pembatasan biaya pengeluaran, dimana di Indonesia
belum ada pembatasan biaya pengeluaran. Wacana di kita hanya memberikan
fasilitas kampanye, reimbursement, APBN/APBBD, tetapi kita tidak pernah
membatasi pengeluaran parpol itu sendiri. Ini tantangan bagi kita.
Kemudian saya akan lebih fokus mengapa KPK sebenarnya melakukan kajian tentang
pendanaan parpol. Yang pertama kebutuhan dana yang besar untuk menggerakkan
roda partai, dan dana dari pemerintah sangat terbatas. Yang kedua partai telah
dikuasai oleh elit yang mengandalkan moda atau pebisnis-pebisnis yang menduduki
kekuasaan. Jadi oligarki dan lain-lain ada disini. Kemudian yang ketiga adalah kondisi
tersebut mengakibatkan proses pendanaan partai politik di Indonesia relatif rentan
terhadap potensi korupsi. Utamanya sumber-sumber pendanaan dari posisi
eksekutif, parlemen dan kepala daerah. Nanti tahapannya kita ini.
Sebenarnya saya ketika akan bicara disini agak sedikit ragu karena sebenarnya
beleum selesai kajian kita, jadi temen-temen lagi tersebar diseluruh Indonesia untuk
mencari data di DPW/DPC di perwakilan kabupaten/kota dan propinsi itu
sebenarnya biaya operasional berapa karena yang sudah selesai baru workshop dan
FGD di pusat kemarin dan beberapa orang sudah hadir disini juga. kemudian kita
melakukan indepth interview dengan DPP, DPT, DPC parpol kita juga interview
181
dengan mantan-mantan korban KPK terpidana apa tersangka KPK kita bicara dengan
penyidik jaksa. Kemudian kita akan masuk di dua yang terakhir, rekomendasi
pemerintah dan DPR. Jadi harapannya di akhir September ini akan keluar nanti
rekomendasi dari pemerintah dan DPR. Kemudian yang terakhir kita evaluasi dalam
agar rekomendasi kita dijalankan oleh pemerintah atau oleh sektor terkait. Dan
menarik sebenarnya hampir semua parpol kita wawancarai.
Nah ini tidak terlepas dari kajian-kajian KPK sebelumnya, pada tahun 2012 KPK
melakukan kajian sistem politik dimana rekomendasinya adalah perbaikan
rekrutmen, kaderisasi dan pendanaan parpol. Tahun 2013 kita mengutamakan kajian
parlemen, fungsi DPR. 2015 bikin buku putih DPR, Presiden dan Pilkada. Tahun 2015
memberikan rekomendasi Negara memberikan subsidi pada parpol. Tahun 2016 kita
lebih … sedikit ya intervensi regulasinya
apa? Biayanya berapa? Idealnya
mekanismenya seperti apa, termasuk pertanggungjawabannya seperti apa. Cuma
untuk pertanggungjawaban ini lagi mikir ini. Ini ranahnya undang-undang, sementara
kalau biaya parpol … bisa diintervensi. Jadi gak perlu persetujuan DPR, ini yang
mengatur tentang sumbangan 108 rupiah per suara tadi lebih mudah untuk
diintervensi. Selebihnya adalah undang-undang. Nah ini saya tidak ingin mengulang,
kenapa … kita intervensi jadi focus karena korupsi bermula dari sana. Ya saya lewat
saja… saya lewat. Sekarang parpol, nomor 34 pertanggungjawaban sumber lain tidak
akuntabel, yang 1,2 … saya ulas. Yang keempat BPK hanya mengawasi bantuan politik
saja. Nah ini empat hal yang akan kita bahas dalam kajian kita, yang pertama adalah
berapa kebutuhan dana untuk sebuah parpol di kegiatannya. Jadi dana itu kalau kita
bagi ada yang membagi tiga, biaya operasional, ke sekjenan dari DPP sampai ke
bawah, satu lagi yang namanya biaya konsevasi, biaya mau menjelang pilkada,
kampanye dan lain-lain. Ini agak sulit dirumuskan karena biayanya besar sekali dan
sangat bervariasi antara partai politik dan lain-lain. Yang kedua yang ingin kita jawab
adalah berapa nilai bantuan Negara yang ideal. Yang ketiga adalah bagaimana skema
bantuan Negara. Yang keempat adalah apakah parpol mampu melaksanakan
mekanisme pelaporan dan pertanggungjawaban. Nah kita setuju dengan yang
disampaikan … bahwa tiga hal ini menjadi penting. Bagaimana parpol harus
transparan dan akuntabel, yang kedua membatasi besaran sumbangan, sekarang itu
sumbangan dari anggota parpol tidak dibatasi jadi bahaya. Makanya anggota parpol
182
pengurus parpol akan menjadi alat untuk mencari dana itu rawan kalau dia menjabat
sebagai anggota DPR/kepala daerah. Batasan anggota parpol, batasan sumbangan
tidak dibatasi ini berbahaya sekali. Kemudian yang terakhir adalah memberikan
bantuan keuangan dari anggaran Negara. Hasil identifikasi, parpol memiliki sumber
pendanaan yang terbatas. Dimana jumlah pendanaan resmi sangat kecil sementara
pengeluaran cukup besar. Kemampuan partai untuk mencari pendanaan yang legal
sangat rendah apalagi tidak ada semacam badan usaha untuk partai. Yang ketiga
adalah pola pengeluaran yang tidak mencerminkan fungsi dari parpol. Kemudian
yang berikutnya adalah, undang-undang parpol mewajibkan parpol untuk mengelola
keuangan secara transparan dan akuntabel, namun tidak ada alat paksa yang
diberikan undang-undang agar agar kewajiban tersebut dipenuhi. Yang mana tidak
ada sanksi parpol yang sesuai audit BPK, misalkan opini tidak wajar atau … dan lain-
lain. Yang kedua tidak ada sanksi jika berdasarkan hasil audit akuntan publik, laporan
pertanggungjawaban keuangan parpol disclaimer. Yang ketiga tidak ada paksaan bagi
parpol untuk melaporkan keuangannya secara jujur. Saya piker kita harus banyak
memasukkan poin-poin ini kepada undang-undang parpol yang sedang disusun oleh
Pusako. Berikutnya adalah pembukuan dan pertanggungjawaban parpol dan
pengeluaran anggaran belum transaparan dan akuntabel dan ketentuan tentang
keuangan parpol sangat lemah karena lemahnya regulasi, persaingan yang tidak
berimbang karena lemahnya regulasi, partai belum memberi concern besar terhadap
perbaikan pelembagaan tata keuangan, besaran subsidi parpol dari Negara sangat
minim. Kemudian parpol diduga mengandalkan sumber-sumber pendanaan illegal
seperti hasil korupsi, adanya konglomerasi partai politik untuk memenuhi kebutuhan
pendanaan. Audit keuangan partai oleh BPK belum mampu mendorong partai
menjadi lebih baik. Undang-undang tidak menjelaskan mekanisme. Nah mas yang
berikutnya adalah sumbangan sah yang diterima parpol tidak tercatat dan
terpublikasi, keuangan yang tercatat hanyalah yang bersumber dari APBN/APBD.
Berdasarkan hasil penelitian Kemitraan dan Perudem silakan dibaca disana, bahwa
parpol sangat potensial menggunakan dana-dana illegal disana. Nah tujuan awal kita
sudah interview dengan DPP. Waktu sudah habis ya, saya minta dua menit lagi ya
boleh ya. Tujuan awal dari hasil interview dengan DPP parpol yang pertama adalah
iuran anggota tidak signifikan, trend sebagian partai dilahirkan oleh aktivis,
183
dibesarkan oleh televise, namun kemudian dimantain oleh pebisnis. Jadi dibangun,
yang mendirikan adalah aktivis, dibesarkan oleh politisi tapi yang memaintain itu tadi
adalah pengusaha. Kemudian yang kedua, pendanaan partai relatif tergantung pada
kelompok bisnis, yang kedua, pendanaan tidak transparan dan tidak tercatat
kepentingan pengurus, dana … jadi pokoknya harus, gitu kan? Begitu ada kongres,
harus ada itu, jadi semacam pola-pola lama yang terus berjalan, penyumbang enggan
dibuka identitasnya karena pola pengusaha itu menaruh uang dimana-mana. Dia
naruh di partai A dia takut ketauan partai B kalau dia naruh di partai A. jadi kalau
akses sumbang tapi jangan ditulis, jadi dia sumbang dimana-mana. Kemudian
pencatatan penerimaan dan pengeluaran tidak dilakukan dengan baik. Yang ketiga
penyimpangan individu, dana partai yang terkumpul sebagian dimanfaatkan untuk
kepentingan pribadi. Yang kedua tugas pengumpulan dana menjadi legitimasi
permintaan uang kepada berbagai pihak. Yang keempat adalah ragam budaya dan
kebutuhan parpol. Jadi ada parpol yang merasa cukup rapat di asrama haji saja,
namun parpol memenuhi standar yang jauh lebih tinggi, muncul usulan pendanaan
parpol menggunakan mekanisme keuangan Negara, seberapa ketat perlu kita
pikirkan, kalau kita buat pertanggungjawabannya seperti birokrasi yang melakukan
perjalanan dinas, orang politik mungkin akan keberatan disana. Jadi kita nanti akan
tarik ulur disini. Kita berikan pendanaan, diberikan pertanggungjawaban, tapi kalau
terlalu ketat mereka akan nolak, jadi nanti ada seninya disana. Di titik mana kita akan
minta pertanggungjawaban dan akuntabel dari mereka. Di titik mana sebaiknya kamu
terima
ini
begitu.
Karena
kalau
mereka
tidak
mau
menerima,
maka
pertanggungjawabannya akan seperti sekarang. Ada partai tahun 2011 tidak mau
pakai duit dari APBN karena malas memberikan pertanggungjawaban. Kemudian
nomor enam tingginya kebutuhan pendanaan dalam konsevasi politik. Tujuh belum
ada aturan terhadap penggunaan frekuensi politik di media massa. Kemudian tidak
ada batasan sumbangan bagi anggota parpol. Ada lapan temuan ya. Yang terakhir
baru kita masuk yang terakhir. Ini ada munas parpol daerah. Saya terusin nanti saja
ya, karena waktunya terbatas. Kami kembalikan ke moderator.
14:37
Moderator : terimakasih pak Giri. Tepuk tangan untuk narrasumber. Cukup menarik
ya bapak ibu sekalian jadi ada alasan yang kuat sebenarnya, intervensi yang
184
kemudian akan dilakukan dengan cara perbaikan sistem di partai politik. Karena
kalau penindakan terus capek juga ya pak Giri ya? Jadi sistemnya diperbaiki dan satu
yang paling penting adalah partai politik menurut beliau. Karena 31% yang korupsi
itu adalah orang partai politik kader baik itu sebagai anggota DPRD, DPR/DPRD
maupun kepala daerah. Berikutnya pak Riawan Tjandra. Beliau ini ahli hukum
administrasi Negara. Keuangan Negara masuk disitu, masuk di sisi hukum terkait
peraturan soal keuangan partai. Pak Riawan, beliau tadi Pak David lebih satu menit,
beliau lebih dua menit, pak Riawan jangan lebih lagi gitu ya. Oke pak riawan silakan.
Riawan Tjandra
Terimakasih. Pak David, Pak GIri yang saya hormati, peserta yang saya hormati.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat siang, salam sejahtera untuk
kita semua.
Saya akan masuk pada dua hal yang menurut saya menjadi kata kunci untuk
melanjutkan pembahasan ini. Yang pertama tadi David menyebutkan, pentingnya ada
keseimbangan antara pendanaan publik dan privat. Balancing public funding and
private. Dan kemudian tadi pak Giri juga menyampaikan bahwa perlu ada pemikiran
bagaimana menggunakan skema keuangan Negara untuk melakukan pendanaan pada
parpol. Nah terkait hal ini dalam batas apa yang saya mampu dalam bidang keuangan
Negara, saya ingin menyampaikan dulu. Yang pertama dalam konsep keuangan
Negara di Indonesia, kita menggunakan konsep yang mungkin berbeda dari apa yang
dipahami oleh David dan juga di Amerika Serikat yang menggunakan konsep
keuangan public finance. Kita ndak bicara itu, konsep didalam Undang – Undang
Nomor 17 tahun 2003, Undang - Undang Nomor 1 tahun 2004, juga Undang - Undang
Nomor 15 tahun 2004, termasuk juga yang 15 tahun 2006 yang mengatakan BPK.
Tadi yang pertama ngatur keuangan Negara, yang kedua mengenai pembendaharaan
Negara,
yang
ketiga
bicara
mengenai
pemeriksaan
keuangan
dan
pertanggungjawaban keuangan Negara, nah semuanya itu merupakan … dari pasal 33
Undang - Undang Dasar 1945 yang kemudian menggunakan konsep, keuangan
Negara (state budget). Nah dua istilah ini sangat penting untuk kita sungguh-sungguh
bedakan. Karena memang ada perbedaan diantara keduanya. Mungkin kita semua
pernah mendengar, bagaimana di Amerika Serikat penyalahgunaan wewenang yang
kemudian berujung pada korupsi lembaga sepakbola terbesar di dunia itu FIFA itu
185
dengan mudah dilacak kemudian ditangkap oleh investigator/penyidik di FBI ya saya
rasa. Karena konsep yang mereka gunakan adalah keuangan publik. Kalau kita bicara
keuangan Negara, yang pertama kali menjadi acuan adalah teori sumbernya dulu. Jadi
teori sumber, sumbernya ini adalah dari APBN maupun APBD. Dilema mengenai
penggunaan konsep keuangan Negara ini sebenarnya sudah muncul tapi saya
pertama kali dulu diminta oleh Pak Adi Raharja jaman Pak Antasari dulu ya untuk
tampil sebagai ahli dalam suatu kasus yang waktu itu belum jelas petanya yaitu
korupsi di lingkungan BUMN, PT. PLN. Yang menyangkut salah satu direktur pak Edi
Widiono. Nah perdebatan yang muncul disitu adalah apakah uang yang dikelola di
BUMN masih merupakan uang Negara? Atau sudah berpindah menjadi uang privat?
Karena karakter BUMN ini adalah persero, sudah persero sudah leasing terbuka lagi.
Pada akhirnya terjawab, di dalam putusan Mahkamah Konstitusi nomor 48 dan 62
yang menyelesaikan polemic mengenai status uang di BUMN itu dan perlawanan dari
pihak BUMN … itu sangat keras dan juga logis. Karena mestinya, ada apa namanya,
konsep keuangan public ini diperkenalkan juga. Kalau ada konsep itu maka
seharusnya tidak ada persoalan disitu. Namun memang hanya tidak sesederhana itu
ya. Dalam kasus PT. PLN itu ada gratifikasi juga tidak sesederhana itu. Perdebatan
mengenai konsep keuangan Negara atau keuangan public ini mulai muncul disitu.
Nah Mahkamah Konstitusi dalam Putusan Nomor 48 itu dengan tegas mengatakan
memang problem mengenai keuangan Negara itu tidak memberikan suatu kepastian
hukum. Untuk manajemen BUMN yang harus menggunakan model privat. Maka
konsep mereka adalah Good Corporate Governance bukan Good Governance nah inilah
kemudian pada akhirnya oleh MK melalui keputusannya itu, akan tidak memberikan
kepastian hukum. Kalau MK tidak menetapkan status keuangan di BUMN termasuk …
sebenarnya itu adalah karakter keuangan Negara. Pada ujungnya, salah satu wakil
rektor di UI ini juga kemudian dijerat KPK juga dalam satu kasus korupsi lingkungan
UI yang ada isu mengenai hal itu. oke ini yang harus kita pahami dulu, sekaranag
yang kedua. Konsep kita adalah konsep mengenai state budget/uang Negara bukan
public finance membawa implikasi, kalo kemudian parpol akan mendapatkan sumber
pendanaan dari keuangan Negara. Harus kita sadari bahwa perangkat dan sistem dan
tata kelola yang menyertai penggunaan keuangan Negara itu harus diterapkan disitu.
Pak Giri tadi mendiskusikan mungkin ndak ada satu pengecualian ya, pengecualian
186
mengenai hal itu, nah itu bisa kita diskusikan. Namun, kalau kita berbicara mengenai
pendanaan parpol saya tidak pada posisi untuk menolak atau menyetujui, tetapi
dalam batas pemahaman saya mengenai tata kelola keuangan Negara yang baik, saya
berkeyakinan kalau misalnya itu secara konsisten dipatuhi, konsep konsep mengenai
akses-akses pengelolaan keuangan Negara yang baik, di dalam paper saya, saya
sampaikan disitu ada lima saja, yang pertama yang disebut dengan Good Finance of
Governance (pengelolaan keuangan Negara yang baik), jadi konsep akuntabilitas
berorientasi pada hasil. Melalui cara ini sebenarnya bisa digunakan sebagai
instrumen untuk mendorong cara-cara pencapaian secara efektif sistem perencanaan,
pelaksanaan dan pengawasan parpol. Tadi kita lihat ada catatan, meskipun baru
sedikit dari APBN/APBD tadi yang hanya kurang lebih 108 per suara atau kurang
lebih 1,3% ya, kita bisa melihat disitu bahwa ada pertanggungjawaban, sehingga
nanti kalo besaran alokasi anggaran Negara ini diberikan saya rasa kita juga bisa
memikirkan memakai konsep yang pertama ini. Tetapi penting dicatat juga bahwa
parpol ini adalah suatu institusi intermediary antara ranah privat ke ranah publik, dia
menjadi kanal, saluran untuk melakukan seleksi pejabat-pejabat public, sehingga kita
harus menempatkan posisi parpol ini dalam konteks yang terjamin kebebasan
berserikat dan indepensinya. Maka istilah yang digunakan mestinya bukan subsidi
keuangan parpol tapi alokasi dana parpol atau dana parpol. Ini saja yang perlu
digunakan. Tidak muncul satu political sense yang berbeda, meskipun sama
esensinya. Nah kemudian dengan adanya posisi parpol yang demikian ini kita harus
mengingat juga tadi ada satu pembicara yang mengatakan bahwa parpol itu badan
publik. Kalo badan publik ya berarti bukan badan hukum publik dia adalah badan
hukum privat tetapi Karena ada sampiran kepentingan publik yang … maka dapat
dikatakan dia memiliki tujuan-tujuan publik. Dia bukan badan hukum publik seperti
kita maknai dalam konteks lembaga-lembaga pemerintah. Nah asas yang kedua asas
profesionalitas saya ambil contoh beberapa saja. Dengan asas ini bagi pihak-pihak
yang menggunakan keuangan Negara pola ini akan merekonstruksi keterkaitan
potensi personalia, dalam hal ini adalah actor-aktor politik dengan bidang tugas
dalam struktur organisasi. Betul tadi dikatakan mas Giri tadi ketika dipake KPK dan
juga kejaksaan di daerah hampir seluruh kasus korupsi yang ada itu selalu
melibatkan pejabat-pejabat publik yang mereka berasal dari partai politik. Nah ini
187
tentu menjadi sebuah pemikiran kalo kita nanti akan mengarah kepada cara
mereformasi partai politik melalui sistem penggunaan keuangan Negara. Ini bisa kita
pikirkan sebagai suatu langkah yang penting tapi bukan cara radikal saya rasa. Yang
ketiga, proporsionalitas. Dengan konsep ini bisa memastikan pola rekrutmen politik
berbasis karakter ideologis dalam organisasi, visi serta misi parpol. Nah ini saya rasa
penting kita bangun ukuran-ukurannya dan tentu BPK bisa dilibatkan dalam
pembahasan ini. Yang keempat, keterbukaan dalam pengelolaan keuangan Negara. Di
dalam paper itu saya mencoba mengembangkan bahwa dengan asas ini akan bisa
mengembangkan parameter penilaian kualitas program atau parpol menjadi lebih
terukur. Dan yang terakhir, pemeriksaan keuangan oleh badan pemeriksa yang bebas
dan mandiri. Maka ini juga akan mengintegrasikan sistem pengawasan BPK. Namun
soalnya adalah kalau nanti memang ada pendanaan dari Negara, apakah BPKP masih
boleh untuk melakukan pengawasan untuk penggunaan dana ini. Kita tahu bahwa
BPK itu adalah badan pengawasan fungsional dan dia berbeda kedudukan
konstitusinya dengan BPK. Dalam berbagai siding-sidang di pengadilan Tipikor sering
yang diundang adalah BPKP dan juga BPK meskipun ini juga tidak ada soal itu ya. Nah
yang terakhir saya rasa, sebenarnya keprihatinan mengenai upaya untuk
mereformasi partai politik melalui penggunaan sistem keuangan Negara, sudah lama
menjadi kajian di OECB saya rasa. Jadi kita bisa melihat OECB juga ada konsep
mengenai menyeimbangkan antara hal yang bersifat publik melalui kontribusi secara
langsung, dari publik kepada sistem kepartaian. Oleh karena itu kita juga penting
memikirkan konsep apa yang kita gunakan? Keuangan Negara atau publik? Kalau
keuangan Negara aturannya adalah restrictive limitative. Ada ukuran-ukuran
masukan, ada ukuran-ukuran keluaran, ada ukuran-ukuran performance, ada ukuran
efektifitas dan efisiensi. Mampu ndak kita kemudian mencoba mengajak aktor-aktor
partai politik untuk kemudian mengarahkan program-program yang semakin
professional menggunakan konsep-konsep parameter ini. Kemudian OECB juga
mengatakan bahwa pola ini akan bisa melakukan framing terhadap pendanaan privat,
akan menjadi jelas. Sehingga kekhawatiran bahwa kemudian kepentingan donasi itu
menjadi lebih besar dari kepentingan partai politik semestinya bisa diatasi.
Kemudian saya sepakat juga karena … juga mengatakan akan menerapkan batasbatas pembelanjaan, itu bisa dilakukan dengan pola-pola pengukuran seperti tadi
188
yang saya kemukakan tadi masih ada beberapa yang lain, tapi karena saya ingin
memberi kesempatan kepada apa namanya, peserta makalah yang terpilih juga untuk
berpendapat, penting untuk mengakhiri ini disini. Hanya catatan pentingnya adalah
kita harus memperjelas konsep keuangan yang akan digunakan tadi adalah masih
keuangan negara, lalu ada introduksi apa mungkin akan digunakan keuangan public
yang disampaikan pak Giri tadi itu adalah keuangan public dengan memberikan
beberapa pengecualian. Kalau keuangan Negara, konsepnya adalah restrictive
limitative, kemudian yang kedua, dengan menggunakan sistem pendanaan melalui
keuangan Negara itu akan mengintroduksi pola-pola manajemen yang lebih
operasional sebagaimana yang diterapkan oleh lembaga-lembaga yang me-assess
keuangan Negara. Dan yang ketiga tergantung pada kita semua pada sore hari ini
untuk mendiskusikan itu, bagaimana konsep mengenai sistem pendanaan tadi
dengan beberapa parameter yang saya tawarkan. Terimakasih, saya kembalikan
kepada moderator. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Moderator: Veri Junaidi
waalaikumsalam wr.wb. beri tepuk tangan. Lebih cepat dua menit pak, impaslah kirakira. Jadi teman-teman yang sudah membuat paper, dalam diskusi ini pun … saya
kasih kesempatan dulu tiga orang teman yang call paper untuk menyampaikan hasil
kajiannya secara singkat. Ada? Kecuali tadi yang sudah, mas Reza sama Almas sudah.
Satu, ada lagi? Dua, satu lagi? Ada lagi? Udah dulu, udah dulu, udah dulu. Silakan,
sebutkan nama dan darimana.
Mei Susanto:
perkenalkan nama saya Mei Susanto dari Fakultas Hukum UNPAD. Beberapa hal yang
mungkin saya belum masuk ke teknis dalam tulisan saya, tapi beberapa mungkin
sudah masuk. Ya saya harus akui dan jujur gitu, maksudnya pembicara-pembicara
disini apalagi partai … yang disini sudah melakukan penelitian yang lebih dalam
terkait dengan pendanaan partai politik. Jadi menurut saya teman-teman disinilah
yang lebih tahu gitu detilnya. Bahkan dalam tulisan saya itu banyak mengutip dari
temen-temen disini. Ya saya harus akui itu begitu. Tapi kemudian ada beberapa hal
yang saya lihat, yang tadi dibilang belum ada pembatasan pendanaan maupun
189
pengeluaran. Dalam paper saya kemudian saya menawarkan itu, dua itu harus di
adakan. Tapi kemudian jadi catatan gitu apakah kemudian apakah partai politik
semakin, apa mau gitu dia semakin dikekang, pendanaannya dibatasi pengeluarannya
pun dibatasi. Tapi lagi-lagi ini bagian dari upaya memperbaiki/mereformasi
keuangan partai politik. Kalau saya tertarik dengan salah satunya adalah masalah
pendanaan ternyata apa yang dibilang aturan dari professor Todung Mulya Lubis
pihak-pihak ketiga itu sudah diantisipasi praktik di Kanada. Di dalam konteks
Indonesia praktik-praktik kampanye oleh pihak ketiga itu sebenarnya sudah biasa
terjadi begitu. Kita bisa melihatnya secara jelas siapa-siapa saja yang kemudian bukan
atas nama … partai politik itu sendiri. Tapi kemudian pihak ketiga ini kalau dilihat
hanya sebatas itu, masyarakat di tempat umum biasa. Tapi bahkan Negara pun bisa
jadi pihak ketiga. Kenapa saya sebut sebagai pihak ketiga. Kemaren beberapa waktu
lalu kita melihat ada anggota DPR-RI yang marah-marah dengan Sri Mulyani dia
berharap ada anggaran, post anggaran yang mengatasnamakan dirinya. Itu bagian
dari kampanye dia kan? Dia anggota partai politik. Termasuk juga kita bisa melihat
adanya anggaran-anggaran yang itu bisa bergabung ya apakah fungsinya kemudian
sebagai pejabat Negara bahkan dia manfaatkan sebagai partai politik misalnya apa? …
kemudian anggaran-anggaran masing-masing … itu kemudian mengincar dan
kemudian bisa diatasnamakan dirinya. Kemudian komisi IV bagian pertanian maka
untuk bantuan parpol itu dan sebagainya itu. Atas nama anggota DPR itu. Ditulis atas
nama partai politik. Kita belum membayangkan bahwa pendanaan partai politik
begitu banyak ya, bahkan Negara bisa ditunggangi. Itu yang kemudian menjad
pertanyaan bagi saya buat pada, pak David apakah … praktik di Kanada itu ada
pembatasan-pembatasan seterusnya, pendanaan-pendanaan yang berasal dari
Negara bukan secara langsung tapi seolah-olah menjadi pihak ketiga. Kalau tidak
secara langsung berarti memang secara bentuk resmi bentuk partai politik dengan
sumber pendanaan dari Negara. Tapi kalo ini atas nama jabatan misalnya. Itu yang
berikutnya adalah berkaitan dengan pak Riawan ya? Apakah dasar-dasar atau prinsip
keuangan Negara seperti asas tentang, asas unitas, asas yang lain-lain di dalam
hukum keuangan Negara. Itu bisa dipergunakan sebagai salah satu cara ketika kita
memberikan pendanaan kepada partai politik. Asas ini kan cukup baik ya. Spesialitas
memaksa partai politik untuk harus detil dia merencanakan anggarannya. Kalau tidak
190
detil, kalau bahasanya 1 lawan 3 atau 1 lawan 5 seperti dalam APBN kemudian partai
politik tersebut tidak layak mendapatkan bantuan dari Negara. Termasuk juga asas
tahunan partai politik harus dipaksa setiap tahun membuat rencana tersebut. Jadi
memaksa partai politik seolah-olah menjadi Negara. Ini jadi kritikan apakah
kemudian dia bisa jadi badan perpanjangan Negara atau intermediasi tadi. Mungkin
itu, terimakasih pak.
Moderator: Veri Junaidi
terimakasih mas. Yang kedua, silakan sambil kita menunggu masih ada tiga
kesempatan bagi yang ingin presentasi paper. Mungkin sesi berikutnya malah gak ada
nanti ya? Silakan
Epri Wahyudi:
Terimakasih kepada moderator. Perkenalkan nama saya Epri Wahyudi dari LBH
Yogyakarta. Nah kebetulan untuk lembaga saya adalah isu-isu demokrasi dan hak
asasi manusia. Sehingga kemudian saya ingin sedikit menyampaikan pertama sebagai
pendahuluan bahwa pendanaan saya sangat setuju dengan gagasan apa yang
disampaikan oleh Prof. Saldi Isra bahwa kemudian Negara harus turut andil sehingga
selanjutnya saya mengkonsepkan bahwa dana partai politik dari Negara ini adalah
konstitusional. Sebagaimana kita melihat pasal 6A dan 22E undang-undang dasar
1945 dan mengamalkan bahwa pada … itu turut hadir dalam pemilihan presiden dan
wakil presiden, dan pemilihan legislative. Artinya bahwa disitu Negara sudah
memiliki, sudah meminta haknya partai politik bahwasanya partai politik harus
hadir. Oleh karena itu kalau kita berbicara masalah hak, hak itu tidak bisa berdiri
sendiri. Artinya hak itu harus beriringan dengan kewajiban, sehingga kemudian disini
kewajiban Negara adalah turut serta melakukan pendampingan terhadap partai
politik dalam upaya pemilu dan legislatif yaitu dengan pendanaan partai politik.
Tetapi secara konteks keseluruhan pendanaan partai politik saya ada tiga,
sebagaimana yang di katakan dalam undang-undang partai politik. Walaupun dalam
kenyataannya pada konteks pelaksanaannya itu tidak telaksana dan efektif
bagaimana mungkin kemudian kita pesimis terhadap hal tersebut, kita harus tetap
optimis terhadap apa yang menjadi gagasan apa yang cita-cita kita bersama di dalam
191
menegakkan sistem demokrasi di Indonesia ini. Tentu saja melibatkan anggota partai
politik di dalam pendanaan tapi dengan ketentuan dan syarat bahwasanya harus,
harus ada batasan entah itu di tingkat daerah atau tingkat pusat itu harus ada
batasannya. Kemudian tidak akan menimbulkan upaya-upaya kepemimpinan
oligarki. Sekarang yang kita tahu di lapangan bahwa ya semua pimpinan partai kita
lihat itu bagian daripada yang melakukan pendanaan terhadap partai politik yang ada
di Indonesia itu sendiri. Artinya, secara ini sudah menjadi rahasia umum bersama
bahwasanya yang menjadi pimpinan-pimpinan partai politik kita ini orang-orang
yang mempunyai akses pendanaan terhadap partai politik sehingga kemudian
mekanisme iuran anggota harus ada batasan tapi harus diwajibkan setiap anggota
untuk … yang kedua adalah, bagaimana kemudian kita melakukan kontrol terhadap
pihak ketiga, swasta. Pihak ketiga ini kalo kita bicara masalah pendanaan tentu saja
tidak serta merta dengan tulus seikhlas hati kemudian ada kepentingan-kepentingan
terselubung apabila kemudian di dalam sektor-sektor kebijakan pasti disitu akan ada
sponsor bagaimana kemudian yang mampu mengakomodir kepentingan pihak ketiga.
Dan apabila kalo pihak ketiga ini masuk kedalam sistem internal partai politik tentu
saja kemudian secara tidak langsung dia ingin pada posisi yang atas. Dan yang ketiga
adalah pendanaan bagaimana Negara hadir dalam … saya banyak apa juga beberapa
mengacu pada pekerjaan bang Feri bahwa hadirnya Negara kita tidak bisa melupakan
Negara walaupun kemarin kita pesimis terhadap pendanaan Negara ini tetapi hadir
dari dulu. Cuma hadirnya Negara belum teroptimalkan terhadap upaya kegiatan
pembaharuan, demokratisasi dan akhirnya partai politik itu sendiri. Kalau mengacu
pada … bahwa Negara itu memfasilitasi kurang lebih tidak sampai pada 10%
pendanaan partai politik setiap tahunnya. Artinya kan bagaimana partai politik
bergerak nantinya dan padahal juga penelitian dari Perludem, internal atau anggota
tidak berjalan dengan baik, pihak ketigalah yang kemudian pandangan tertuju kepada
pihak ketiga itu pasti sehingga itupun kalo dlihat dari produk hukum yang dilahirkan
sehingga banyak sekali produk-produk hukum ditahun ’98 sampai sebelum masamasa 2009 banyak sekali kemudian mungkin ada … undang-undang ya di apa bisa
dikatakan seperti itu seperti undang-undang koperasi yang baru. Undang-undang
koperasi yang baru bagaimana kita kemudian melihat koperasi jelas itu ada susupansusupan dari pihak-pihak ketiga yang menginginkan bahwa sistem ekonomi di
192
Indonesia adalah sistem ekonomi yang bergerak pada sektor kerakyatan bukan pada
sektor liberal. Dan yang terakhir saya ingin menyampaikan bahwasanya demokrasi
internal dlam partai politik tidak jauh beda dengan konsep kita berbisnis bahwa
semakin di depan persaingan antar partai politik itu bukan lantaran lagi bukan
mencari massa tetapi partai politik dalam pengelolaannya internal. Kalau partai
politik tidak mampu untuk menjaga anggotanya maka setiap anggota partai politik ya
tidak terideologisasi terhadap partai politiknya, maka dia akan kabur terhadap milih
partai politik yang lain yang suaranya banyak dibanding partai politik yang ia miliki
saat ini. Seperti itu, terimakasih
Moderator: Veri Junaidi
Baik terimakasih. Pak … terimakasih tiga lagi mas Said, mbaknya yang satu lagi. Baik
tiga . Pak Giri ini sedang riset, tapi belum selesai. Karena itu menunggu juga masukan
dari temen-temen di konferensi ini. Pokoknya silakan di eksplor aja papernya
diberikan waktu yang terbatas. Saya kasih yang perempuan dulu ya mas Said ya.
Kepada ibuk disebelah sana nanti mas Said yang sesudahnya.
Septinur wijayanti:
Bismillahirahmanirrahiim. Assalamualaikum wr.wb. perkenalkan nama saya Septinur
Wijayanti dari Universitas Muhammadiyah Jogjakarta. Mungkin saya agak berbeda
dengan
temen-temen
yang
sebelumnya.
Karena
dari
tadi
teman-teman
membicarakan bagaimana Negara itu memberikan subsidi untuk partai politik. Saya
menekankan pada demokratisasi partai politik. Intinya di dalam demokratisasi itu
adalah bagaimana partisipasi publik untuk terlibat di dalam partai politik. Maka di
dalam makalah saya, saya mencoba gagasan diluar dari terlepas dari pro dan kontra
apakah subsidi partai politik dari Negara itu dibenarkan atau tidak. Lepas dari itu,
saya mencoba keluar dari Negara, supaya bagaimana Negara tidak terbebani oleh
kepentingan partai politik. Tadi disampaikan oleh bapak yang dari KPK, bagaimana
sistem yang menyebabkan koruptor itu dari partai politik itu ada segitiga ya,
birokrasi kemudian ada pengusaha dan partai politik. Kalau dalam perkembangan
sekarang ini, inipun juga kemaren ini beberapa waktu yang lalu mendengar ceramah
dari Prof Jimmly dimana di Negara kita itu sekarang sudah dikuasai oleh pemilik
193
modal, itu yang pertama. Yang kedua politik, elit politik yang memiliki modal
kemudian beliau-beliau itu menjadi petinggi-petinggi partai politik. Nah dari sinilah
kemudian muncul gagasan bagaimana supaya rakyat terutama pelaku pemilik modal
itu berkontribusi terhadap kepentingan partai politik. Maka saya akan mencoba
gagasan yang namanya Corporate Political Responsibility ini saya bandingkan dengan
CSR(Corporate Social Responsibility) tapi disini saya menekankan yang nanti akan apa
berkontribusi untuk menyandang modal dari para partai politik itu pelaku modal.
Pemilik-pemilik perusahaan dimana mereka secara tidak langsung mereka juga
mempunyai keuntungan dengan adanya penyelenggaraan demokrasi di Negara kita.
Contohnya ya misalkan pada saat partai politik itu mau kampanye mereka pasti
mereka bikin kaos, bikin poster, bikin spanduk dan sebagainya. Ya itu kan yang akan
mendapat keuntungan pasti para pengusaha itu yang bergerak mungkin di media
massa mungkin bergerak di perusahaan-perusahaan yang terkait pada saat
kampanye. Ini mencoba bagaimana para pemilik modal itu berkontribusi,
berpartisipasi sehingga disini terlepas akan meringankan beban partai politik
terutama untuk kepentingan biaya kampanye. Karena memang dari sekian kegiatan
partai politik itu, kegiatan kampanye itu merupakan biaya yang sangat tinggi ya? High
cost. Sehingga akan memunculkan partisipasi rakyat terutama pemilik modal. Hanya
saja saya masalahnya memang, saya amati CSR yang ada dinegara kita ini sudah
sekian tahun ini memang belum semua melakukan itu, karena memang di dalam
undang-undang penanaman modal pun itu juga ada kelemahan. Karena tidak ada
sanksi yang tegas untuk pelaku pemilik modal itu untuk memberikan CSR, ini
kelemahannya. Kemudian kelemahan yang kedua, nanti seandainya memang ada CPR
seperti ini, ini kelemahannya lagi dikhawatirkan pemilik modal itu justru nanti yang
akan menyetir kepentingan partai politik. seperti sekarang pun sudah ada pemilik
modal kapitalisme itu sudah menyetir kepentingan partai politik. Di media massa,
kita tahu pemilu tahun 2014 kemaren perang media ya. Kalo misalkan Metro TV sama
TVOne pelaku pemilik modalnya kan semua ada dalam kepentingan partai politik, itu
gagasan saya. Mencoba terlepas bagaimana supaya tidak membebankan Negara
untuk memberikan subsidi kepada partai politik. Terimakasih.
Moderator: Veri Junaidi
194
Terimakasih. Berikutnya Mas Said. Mungkin bisa dilihat dari perspektif Yamin dan
Hatta soal partai politik. Nah beliau ini paling suka menulis biografi tokoh-tokoh
hukum. Nah mungkin punya gagasan tentang itu. Silakan mas.
Said:
Assalamualaikum wr.wb. Nama saya Said dari Pusat Studi dan Penelitian
Hukum(Puskokum). Nama plesetannya Pusat Studi Komunis Indonesia.
Saya ingin mengawali cerita yang mungkin agak berbeda tetapi itu tetap menjadi
dasar menjadi pengelolaan keuangan. Pada tahun 1971an itu Menteri Agama ingin
melihat pesantren-pesantren modern. Tapi gagasan Menteri Agama itu ditolak oleh
para kyai-kyai karena modernisasi itu akan merubah kurikulum-kurikulum dan
kitab-kitab dan lain sebagainya. Padahal keinginan Menteri agama itu tidak seperti
itu. Nah kemudian tetap dipaksakan menteri agama untuk memodernisasi pesantren
itu melalui hewan, kambing. Kambing itu dimasukkan ke salah satu pesantren dengan
disitu nanti para santri itu belajar untuk merawat dan selain merawat para santri itu
belajar untuk menjual, para santri itu akan menghitung keuntungan dan memutarkan
uang itu kembali. Nah disitulah para santri belajar mengenai ekonomi, mengenai
market mengenai …nya. Nah ini kemudian disebut sebagai deseminasi hewani. Nah
kemudian apa pengaruhnya dengan partai politik? Artinya di dalam undang-undang
kita yaitu di Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik itu sudah itu sudah ada
yang namanya PPID (Pejabat Pengelola Informasi Dan Dokumentasi) itu petugas
pengelola informasi segala informasi. Termasuk informasi berkala yang ada
mengenai kebijakan-kebijakan, mengenai laporan keuangan itu adalah informasi
berkala yang wajib disediakan minimal itu 6 bulan sekali jadi laporan keuangan
partai pun ada kalau tercantum bahwa partai politik adalah badan publik. Nah
hasilnya sudah ada tetapi itu tidak termaksimalkan atau partai politik itu tidak
menginginkan. Hei nah caranya gimana? Agar bisa mereka melaksanakan itu, maka
kalau kita merunut secara jalan pemikiran Hatta yang gedung-gedungnya ini kita
pakai dan Mohammad Yamin yang kemudian kita gelontorkan. Hatta selalu
menggelorakan koperasi. Mohammad Yamin di partainya Parpindo itu juga
menggelorakan mengenai koperasi. Sistem yang seharusnya itu sistem partai politik
sudah mandiri dan menggunakan asas asas tadi ya. Asasnya adalah koperasi. Karena
195
dalam koperasi itu setiap anggota yang masuk koperasi punya satu ideologi. Sama
dengan partai politik satu ideologi. Kemudian dalam pengelolaan uang maka kalau
dalam koperasi itu semuanya ke owner nah disitu partai politik juga harus
menggunakan itu karena semuanya anggota adalah owner(pemilik). Tinggal
permainan AD/ART bahwa siapa yang menjadi direktur dalam koperasi siapa yang
jadi ketua umumnya kalo di partai politik. Nah ini yang kemudian belum kita cermati.
Saya ngomong seperti ini bukan sembarangan kok, saya penelitian kok… saya tidak
punya partai politik maka saya menerapkan sistem modernisasi ini di tingkat buruh
kita yang kita buat. Jadi kita membuat serikat buruh itu berasaskan koperasi. Ini juga
kegelisahan kita terkait juga melihat partai politik di Indonesia sistem keuangannya
tidak runtut gitu loh. Makanya ketika tadi Prof. Saldi mengatakan bahwa Negara
harus hadir melalui keuangan saya tidak sepakat. Partai politik sudah seharusnya
mandiri, Negara sudah hadir melalui rule melalui kebijakan dan tidak uang. Partai
politik sudah bisa mandiri. Nah ini untuk memodernisasi, ketika mereka berasaskan
koperasi. Ingat ya, koperasi itu bukan yang simpan pinjam ya. Ada yang … koperasi
itu Cuma simpan pinjam. Itu pem… karena kita tadi ngomong pemodal-pemodalpemodal maka dengan koperasi kita melawan pemodal
Assalamualaikum wr.wb
Moderator: Veri Junaidi
Terimakasih mas Said sudah mengingatkan kita dengan sejarah gedung ini ya. Silakan
mas
Ali Asrawi:
Assalamualaikum wr.wb. Saya Ai, Ali, Ali Asrawi dari Makassar. Saya asli saya
Sulawesi.
Iya saya mau bercerita juga sedikit bahwa setelah reformasi kan itu ada beberapa
lembaga Negara. Kita melihat militer kemudian sudah mereformasi diri, kita melihat
Kepolisian sudah mereformasi diri kita tidak melihat partai politik kemudian
mereformasi dirinya, kemudian bisa kita lihat beberapa contohnya. Kemudian kalau
kita mau berbicara tentang masalah transparansi pendanaan tentang partai politik
kita juga betul ada kalau mau diperhitungkan bahwa kita lebih melihat bahwa
196
pesimistik ketimbang optimistic dalam hal ini. Karena kenapa betul tadi yang katanya
prof siapa tadi yang sebelumnya di PGD ya. Yang itu bahwa secara budaya kita
kemudian menerapkan itu. Dari yang hal-hal terkecil kemudian kita belum
menerapkan hal itu apalagi kalau kita lihat di partai politik. Ingat partai politik pun
sebenarnya dia tidak memanfaatkan beberapa dia tidak memanfaatkan beberapa
potensi-potensi yang saat ini kemudian kita lihat. Katakanlah begini, kita misalnya di
beberapa partai politik itu kemudian menggunakan websitenya masing-masing. Dan
website masing-masing tersebut merupakan kampanye yang paling murah menurut
saya. Beberapa gagasan tokoh-tokoh partai politik ada disitu itupun bisa menjai
bahan kampanye kan sebelum pemilu. Tapi jangankan untuk mengakampanyekan
gagasan ataupun mendokumentasikan kegiatan-kegiatan yang pro terhadap
masyarakat. Kemudian kita mengharapkan dia membuka beberapa anggaran,
anggaran-anggaran yang dia pakai dari APBN tersebut.
Nah kemudian untuk
masalah, kalau kemudian menurut saya bahwa betul partai politik dia mendapatkan
dana dari pihak ketiga. Walaupun menurut saya ada beberapa lembaga Negara yang
bisa mengawasi ini termasuk BPK BPAP, kalau misal ada transaksi-transaksi yang
mencurigakan. Kemudian kita tidak pernah melihat bahwa ada blacklist terhadap
beberapa para pendonor partai politik apakah partai ini kemudian mendapatkan
donor ini terus-terus mendonor meskipun mereka sudah beberapa kali melakukan
pelanggaran. Kita tidak pernah melihat hal tersebut dan pemerintah juga tidak
pernah kemudian mem-publish hal-hal tersebut sebagai bentuk pengawasan
masyarakat dalam pendanaan partai politik. Nah kemudian di akhir kesimpulan saya
misalnya begini kalaupun, kalau mau menjadi apa saja itu masuklah partai politik.
Begitu karena lewat partai politik bisa jadi apa saja. Jadi pencuri jadi segala macam
apa saja bisa. Terimakasih. Assalamualaikum wr.wb.
Moderator: Veri Junaidi
Waalaikumsalam warahmatullah. Baik diluar teman-teman peserta Call Paper yang
akan presentasi, apakah ada pertanyaan untuk satu orang saja. Oh ya satu orang, baik.
Oh masih peserta call paper ya?
Agus Supriyanto:
197
Baik. Bismillahirrahmanirrahiim. Assalamualaikum wr.wb. salam sejahtera untuk kita
semua. Nama saya Agus Supriyanto, saya dari KPU kota Semarang. Jadi berdasarkan
pengalaman saya pribadi menyampaikan pemilu, baik pileg, pilpres maupun pilkada,
memang dana kampanye pendanaan parpol itu menjadi hal yang menurut kami
masih berada pada tataran formalitas belaka. Formalitas belaka. Yang perlu kita
pisahkan disini adalah sumber keuangan partai politik yang nanti digunakan untuk
kegiatan partai politik, pendidikan politik, kemudian membiayai kesekretariatan
partai politik itu cost-nya juga cukup besar. Kemudian sisi yang lain adalah
pembiayaan dana kampanye baik pileg pilpres maupun pemilihan kepala daerah. Ada
dua sumbu yang sangat besar yang membutuhkan uang yang cukup besar juga. Tadi
disampaikan bahwa perlunya ada pembatasan pengeluaran dana kampanye,
kemudian pembatasan penerimaan dana kampanye. Dalam pilkada serentak 2015 hal
itu sebenarnya sudah dilakukan. Adanya pembatasan pengeluaran dana kampanye,
dimana KPU bersama pasangan calon menghitung secara rinci prinsip kebutuhan
pasangan calon dalam melaksanakan kampanye. Sehingga muncul angka batasan
pengeluaran dana kampanye. … di kota Semarang pembatasan dana kampanye 16
milyar. 16 milyar ini apabila pasangan calon atau tim kampanye melebihi 16 milyar,
maka dia di diskualifikasi dari proses pilkada. Itu batasan pengeluaran dana
kampanye. Kemudian penerimaan jelas diatur, berapa sumbangan perseorangan,
berapa dari badan hukum swasta gitu kan. Kemudian itu juga diatur berapa
nominalnya. Tapi kuncian itu ditanggapi oleh partai politik pengusung, dengan
mereka merumuskan kuncian yang baru, jadi sangat lihai, sangat lihai dalam artian
mereka mencoba mengakali aturan itu ya. Jadi banyaknya dana yang tidak bisa di
pertanggungjawabkan. Itu dibuktikan dari temuan panwas bahwa penemuan bahan
kampanye yang begitu besar di kota Semarang dan tidak dilaporkan penerimaan
pengeluaran dana kampanye dan ini pertanyaan saya untuk mister David. Di Kanada
kandidat apabila ketahuan menerima dari apa ya, pihak yang tidak bisa
dipertanggungjawabkan apa sanksinya? Di kota Semarang terbukti, setelah proses
pilkada dihelat, selesai ternyata muncul kasus Damayanti dimana walikota yang
sekarang terpilih terbukti di proses persidangan menerima dana 300 juta untuk
keperluan kampanye tapi proses pilkada sudah selesai. Tapi dalam proses ini
ternyata yang bersangkutan menerima dana gelap dari proyek gelap. Ini menjadi
198
sebuah PR apa ya kita bersama, ini kondisi riil terjadi. Di Jawa Tengah ada dua, di
kabupaten/kota Semarang dan kabupaten Kendal menerima dana dari kasus
Damayanti. Kemudian audit oleh kantor akuntan publik sifatnya masih formalitas,
hanya menguji tingkat kepatuhan saja, kepatuhan secara administrasi. Form-formnya
terpenuhi kemudian apa di sampaikan ke KPU tepat waktu dan lain sebagainya.
Mengenai isi dan audit investigasi ini mohon penjelasan juga, konkritnya di Kanada
apakah proses audit itu seperti apa di Kanada? Proses audit proses kepada calon
kepala daerah ataupun presiden/wakil presiden yang akan nantinya menggunakan
dana kampanye itu di audit. Karena kita memang audit oleh audit yang ditunjuk KPU
namun lebih pada administrasi, kepatuhan. Apakah disana juga ada audit investigasi
atau audit forensic terkait rekening tadi temen KPU Surabaya di awal sesi yang
pertama, harusnya dana kampanye yang berbentuk uang masuk ke rekening khusus
dana kampanye. Ini terjadi di kota Semarang juga kalau laporan rekening khusus itu
hanya satu juta katakanlah. Akhir proses pilkada ya tetap saja saldo dalam rekening
itu hanya satu juta. Uang itu berputar-putar dengan hanya kwitansi ya kwitansi si A
nyumbang ini sekian, si B nyumbang ini sekian. Nah ini kondisi real. Jadi kuncian tadi
dibalas dengan kuncian yang oleh partai politik yang tricky ya. Saya bilang ini curang
ya, curang jadi mereka mengakali sendiri. Kita yang di internal ya juga sebenarnya ini
hal yang harus kita pertanyakan kita harus bangun sistem yang lebih bagus.
Terimakasih mas Feri.
Moderator: Veri Junaidi
Terimakasih mas Agus. Tadi saya mau ngingetin sebenernya tapi sudah merasa. Baik
saya pikir presentasi dari pemakalah cukup ada 6 orang. Ini sharing dari hasil kajian
dan riset temen-temen masing-masing. Saya kasih kesempatan, kita masih ada waktu
30 menit 3 narasumber penanggap di depan untuk memberikan tanggapan. Tapi ada
juga beberapa pertanyaan yang disampaikan oleh pemakalah. Misalnya pak David
sepertinya menjadi idola dalam proses ini. Misalnya pertanyaannya, apakah ada
praktek pembatasan belanja dan pengeluaran di Kanada. Terus soal mas Agus tadi,
ada pertanyaan terkait jika kandidat menerima dana dari pihak yang dilarang begitu,
atau sumber-sumber yang tidak jelas dan pemilunya sudah selesai apakah itu masih
bisa diproses kalau di Kanada? Tempat kita tidak bisa ya, gitu ya mas Agus ya? Nah ini
199
pertanyaan titipan dari saya ini pak David. Apakah di Kanada pengaturan tentang
dana kampanye dan dana partai politik itu menjadi sebuah aturan yang tidak
terpisahkan atau dia satu aturan saja sehingga kalau kita disini kan undang-undang
partai politik mengatur tentang keuangan partai, tapi berbeda dengan undangundang tentang terkait dengan dana kampanye. Aturannya … pemilu dan sebagainya.
Ada juga pertanyaan untuk pak Riawan Tjandra. Kira-kira pak Riawan, asas-asas
dalam hukum administrasi Negara itu bisa digunakan gak? Untuk menata soal
keuangan partai politik. Mana yang kira-kira memungkinkan kita bisa gunakan pak?
Dalam penguatan ini.
Dan pak Giri, tadi pak Giri tadi menyebut satu soal badan usaha partai politik kirakira kalau partai politik itu diberikan kesempatan untuk berbisnis dengan badan
usaha mereka, apakah itu tidak cukup riskan? Karena mengingat kasus korupsi hari
ini sebenarnya itu terkait dengan penyalahgunaan wewenang dan terkait dengan
keuangan Negara kira-kira begitu. Nah itu pertanyaan dan silakan yang mau
menanggapi terlebih dahulu. Pak David? Ya silakan pak.
200
David Ennis:
Alright, there are a lot of questions and I’m afraid I cannot answer them all in the
greatest detail but I will do my best. In no particular order, you ask whether the rules
regarding political parties and election put in the same law? The answer is yes. For
the most part, both issues were … election expense act. But remember one of the
flaws in the Canadian sistem is it does not regulate political parties outside of the
election period very well and this lack of regulation has opened up certain loophole
and lack of transparency and I think eventually the legislate will have to deal with.
And someone else ask for punishment for acceptace of improper contribution and I
think that’s a very good illustration for illustrating the lack of measures available for
the legislator. If it can be proven that a candidate has committed a fraud or has
intimidated voters after the election they can be striped to their seat and kicked out
but does accepting and … contribution rise to that level? I’m not sure that it does. To
be honest I’m not sure what would happen in that phase but I would like to see the
Canadian regulate and they have more tools if they have to deal with that kind of
situation. What I think could probably happen you know warrant that … paid with
that money. But that would all that happen. Under the current you have a little bit of
the audit process, all reports are subject to audit but in the practice the regulated
audits very few of them. They have reason to believe there’s a problem, they’re
generally accept them. The real source of audit and oversight for financial … respond
in Canada, first every party has had an external auditor so it’s the accounting
company that has nothing to do who will sign the official external audits and second
all the financial report are going to the internet. Which means that journalist and
students and civil society can look at those report and see if they’re true. And don’t
underrate that, that’s an important source of discipline for parties and candidates for
fact that their report are going to the public.
There was a question about spending limits and by much … what it was. So the law
establish spending caps for the election period which means before time times the
election called until the election day. And the limits are reasonably low as I showed
before. It’s $100000 for individual candidates and about $25 million for parties that
want to run a campaign all across the country. And I think this is a reasonable limits.
201
There are no limits and there are also limits on third parties. Problem is there are no
limits in the period before the election called and now everybody has figure this out
they started to run political ads just before the elections called. For parties especially
but also political parties as well. i hope that answers your questions.
Giri:
Disana kan ada tax credit ya? Itu maksudnya itu warga Negara yang menyumbang
parpol dia langsung … dari pajak yang dia bayarkan ke Negara langsung atau
dimasukkan dulu ke treasurer itu pemberian keuangan baru diberikan. Atau langsung
ke partai secara simple sebenarnya mekanismenya seperti apa sih?
Ennis:
So when you gave money to a political party they gave you a special receipt. It’s an
official receipt. You then, when you filing you taxes include that in your tax account.
And lets say you give $400, you get 30% of that back I’m sorry 75% of that back so
you get $300 back. And $300 into your taxes. To your personal account. You give a
party $400, the tax authority give you $300 back. A single political party will have a
single banking account and you have to give the money there. Or you just give the
money to the party official.
Moderator: Veri Junaidi
sekarang ini pada Pak Riawan ada beberapa pertanyaan juga untuk merespon seluruh
paper dari teman-teman tadi.
Riawan:
Baik terimakasih atas masukan dan saran teman-teman untuk forum ini. Yang
pertama, saya rasa riset yang dilakukan pusako ini tidak merupakan suatu variable
tunggal bicara mengenai besaran pendanaan partai politik. Tetapi ada sejumlah
requirement atau persyaratan untuk menuju kesitu. Yang pertama saya rasa variable
yang juga sangat penting dipertimbangkan adalah menata sistem pemilunya. Saya
rasa juga menjadi bagian dari riset yang dilakukan Pusako. Kemudian yang kedua,
dengan menggunakan sara keuangan Negara instrument keuangan Negara yang
202
dimaksudkan disini adalah menginjeksikan tata kelola keuangan Negara yang yang
baik ke dalam sistem pengelolaan partai politik. Maka disini kita berbicara mengenai
upaya untuk menerapkan profesionalitas pengelolaan partai politik. Bisa dalam
konteks perencanaannya, bisa dalam konteks sistem pengelolaan administrasi
kesekretariatannya kemudian sistem kampanyenya dan akuntabilitasnya. Dengan hal
ini maka kita harus berkeyakinan bahwa upaya untuk mendorong peningkatan
besaran kuantitas anggaran Negara yang disertakan atau yang di berikan kepada
partai politik itu juga akan berjalan seiring dengan upaya untuk menata
profesionalitas partai politik. Namun persoalannya adalah bagaimana konsep untuk
mengukur baik akuntabilitas penggunaan keuangan Negaranya, kemudian prioritas
penggunaan keuangan negaranya, proporsionalitas penggunaannya dan berbagai hal
yang menjadi prinsip-prinsip dalam penggunaan keuangan Negara termasuk asas
spesialitas tadi. Kalau dalam konteks penggunaan keuangan Negara di BUMN itu
sudah selesai. Jadi disitu ada konsep yang namanya business judgement rules. Kalau
ada kerugian Negara di BUMN dan BUMD sepanjang mereka sudah menggunakan
alur proses standar operasional prosedur dalam mengelola manajemen privat di
BUMN itu secara professional maka ini tidak masuk ke dalam kategori kerugian
Negara yang layak dikriminalisasikan. Itu dalam konteks BUMN, bagaimana dengan
tata kelola partai politik? Ini yang perlu dikembangkan. Saya rasa nanti penelitian
Pusako bisa sampai pada persoalan itu.
Dan sebenarnya yang penting dalam konteks penggunaan uang Negara di dalam
partai politik itu ada empat hal yang bisa dikatakan menjadi prinsip dari transparansi
pengelolaan keuangan politik. Yang pertama adalah disclosure. Ada kemampuan
untuk menyingkapkan wilayah/arena gelap dalam penggunaan dana partai politik itu.
Yang kedua reporting-nya. PP tahun 2012 sudah bicara ini. Kemudian yang ketiga
monitoringnya. Nanti ini harus ada supervisi dari pihak yang memiliki otoritas dalam
pengelolaan keuangan Negara. Pada konteks preventif KPK bisa disitu. Pada konteks
preventif dan represif KPK bisa ada di situ. Ini juga menimbulkan perdebatan
mengenai istilah supervise itu ya, karena KPK juga ada kewenangan supervise itu ya.
Kemudian yang keempat enforcement, legal sistem of sanction. Jadi penegakan sistem
hukum mengenai sanksi-sanksinya. Ini bisa menggunakan perangkat hukum
keuangan Negara dalam rangka melakukan peningkatan profesionalitas pengelolaan
203
partai politik. Saya juga ingin menanggapi apakah kemudian ketika partai politik
menggunakan akses keuangan Negara mereka menjadi badan publik. Tanpa
sebenarnya menggunakan uang Negara pun ketika kita berbicara mengenai posisi
partai politik sebagai intermediary antara ranah privat menjadi ranah public, dia
kenal seleksi jabatan-jabatan publik yang akan ditempatkan sebagai pemimpinpemimpin kita itu sebenarnya sudah masuk ke arena badan publik. Dengan tambahan
lagi adanya penggunaan keuangan Negara di dalam proses manajemen partai politik
dalam
konsep
pengelolaan
Negara
ini
sudah
bisa
dikatakan
dia
harus
bertanggungjawab dalam penggunaan keuangan Negara itu. Saya ambil contoh
misalnya suatu perguruan tinggi swasta dia mengakses dana dari Dikti,
kemenristekdikti, dana publik dari situ ketika dia menjadi penyelenggara Negara ya
harus mempertanggungjawaban penggunaan keuangan Negara itu yang dalam posisi
maka ini mendorong partai politik untuk lebih berhati-hati dalam mengelola
manajemen partai politiknya. Tetapi dengan catatan ada sisi lain yang jangan
dilupakan untuk pembenahan di ranah pemilunya. Bagaimana peran Bawaslu dalam
mengawasi misalnya dana-dana money politik. Ini juga harus terawasi ini. Kemudian
bagaimana sistem pemilunya, black campaign ini juga bagian dari arena di variable
lain yang saya rasa menjadi hal yang tidak terpisahkan dari riset yang dilakukan oleh
Pusako.
Kemudian saya ingin menanggapi sedikit misalnya penggunaan uang Negara itu
bagaimana, bolehkah uang itu langsung masuk ke partai politik dari privat. Ada
mekanisme itu, meskipun ada batasannya, untuk dari badan hukum ada batasannya,
dari perseorangan ada batasannya. Mungkin dari perspektif ini kita harus berhatihati dengan istilah tadi yang dikatakan … ini maksudnya mungkin akses privat
maupun badan hukum privat mengenai partai politik tapi mekanisme keuangan
Negara kita tidak seperti itu. Uang Negara itu harus langsung diserahkan ke
bendahara Negara pada saat itu juga. Dan nanti penggunaannya tidak langsung. Kalau
memang ini sumbernya dari pajak. Demikian juga dengan keuangan Negara yang lain,
kita harus berhati-hati. Demikian saya katakan bedakan keuangan Negara dengan
keuangan publik. Kita tidak menggunakan konsep keuangan publik dan KPK sendiri
juga pada posisi keuangan Negara sejak putusan Tipikor dalam perkara Edi Widiono.
Putusan MK 4862 saya juga sebenarnya sempat bingung, ini uang publik atau uang
204
Negara yang di BUMN. Ada argumentasi yang sangat bagus yang disusun oleh forum
BUMN, yang juga menjadi pihak dalam pengujian materi itu. Tapi MK (Mahkamah
Konstitusi) mengatakan akan menimbulkan ketidakpastian hukum tidak menetapkan
uang di BUMN itu uang Negara. Tetapi dengan catatan ada juga dalam putusan itu
memperhatikan prinsip-prinsip mengenai sistem business judgement rules. Ini
mungkin dari komitmen dari NGO KPK, ini juga konsultan itu belum desain
bagaimana konsep ang hampir serupa dengan business judgement rules tadi
ditetapkan dalam pendanaan partai politik. Itu tidak mudah karena kita tahu belum
tertata dengan baik. Banyak kepentingan yang menggunakan partai politik sebagai
saluran interest pribadinya ya ini yang juga harus dibenahi juga. Disinilah arti penting
akademik narasi yang disusun oleh temen-temen di Pusako yang mengiringi
penyusunan undang-undang partai politik itu. Bagaimana mungkin dilakukan
demokratisasi partai politik dengan menggunakan pendanaan Negara. Saya rasa
bukan hanya demokratisasi tapi juga penguatan profesionalitas itu akan menjadi cara
yang baik dalam rangka demokratisasi parpol. Seluruh program dan kegiatan itu akan
sungguh-sungguh melibatkan elemen-elemen di parpol itu. Dengan catatan mereka
memahami tata cara pengelolaan keuangan Negara itu. Bagaimana dengan Corporate
Political Responsibility? Ini dengan prasyarat ada indicator yang tepat untuk
mengukur penyaluran Corporate Political Responsibility saya rasa ini juga perlu
menjadi suatu kajian juga ini, karena ini menjadi area abu-abu juga ini untuk adanya
penyalahgunaan wewenang dalam penggunaan keuangan Negara. Ingat di dalam
hukum administrasi Negara, ada konsep mengenai penyalahgunaan wewenang
(abuse of power) salah menggunakan wewenang (misuse of power) undang-undang
administrasi Negara kita hanya memperkenalkan abuse of power (penyalahgunaan
wewenang) dan tidak berbicara mengenai salah menggunakan wewenang. Ini penting
sekali. Batas antara tindak pidana korupsi itu adalah penyalahgunaan wewenang itu.
Ketika partai politik yang sebenarnya ini merupakan hukum privat ini menggunakan
uang Negara. Maka konsep-konsep mengenai penyalahgunaan wewenang menjadi
bagian dalam mengukur mereka. Ini yang kemudian menjadi catatan kritis di akhir
yang saya sampaikan ini. Saya kembalikan kepada moderator.
Moderator: Veri Junaidi
205
Baik terimakasih pak Riawan. Terakhir pak Giri tadi ada banyak catatan dari temanteman yang juga pertanyaannya mungkin bisa direspon.
Giri:
Terimakasih. Yang pertama dari ibu tadi dari UMY yang punya ide tentang Corporate
Political Responsibility(CPR), bukan CSR. Idenya bagus buk, tapi agak rawan juga.
Karena oligarki yang sekarang itu para pengusaha itu menguasai partai-partai, nanti
kalau kita membangun relasi melegalkan hubungan antara pengusaha dengan parpol
agak rawan juga. Tapi yang menjadi beban nanti ya pihak ketiga yaitu birokrasi dan
pemerintah. Kanada memberikan pelajaran bahwa yang responsisbility itu individual.
Dia membayar pajak ke Negara tapi karena saya suka partai itu saya … ke partai itu
sebagai semacam restitusi pajak ya. Jadi partai juga berusaha mencari nama baik,
mencari hati para konstituennya agar dia dapat uang banyak. Saya pikir ini salah satu
yang belum kepikiran di Indonesia. Bagaimana individu bisa menyumbangkan
melalui pajak. Saya teringat salah satu kasus gratifikasi di sector kesehatan.
Bagaimana dokter menerima sponsor yang luarbiasa dari perusahaan obat.
Aturannya bahwa dokter wajib sekolah, mencari kredit agar bisa diperpanjang izin
kedokterannya, dia harus izin mengumpulkan beberapa poin. Sementara Negara
membuat aturan wajib tapi tidak pernah menyediakan yang terjadi adalah
perusahaan swasta mengambil alih itu. Saya pikir ini terjadi sekarang dan kalau kita
biarkan hubungan relasi pengusaha dan politikus itu sedemikian kuat itu akan
berbahaya, nanti kayak kasus gratifikasi dokter tadi, karena Negara tidak
memberikan apa-apa yaudah aku langsung saja. Ini saya melihat jangan mengulang
kesalahan yang sama. Negara tidak hadir. Sama kasus di beberapa Negara itu seperti
ini, istilahnya kita gak bener menggaji orang, intinya seperti itu.
Menteri gaji 16 juta, kemudian walikota gaji 6,5 juta, gubernur gaji 8,5 juta gitu kan.
Ya sudah kaya pak ngapain kita kasih lagi? Logika semacam itu harus dibalik.
Kaitannya dengan badan usaha partai, partai jangan mempunyai relasi langsung
dengan pengusaha, tapi biaya sendiri supaya bisa survive apalah nanti bentuknya
bikin badan usaha sendiri untuk membiayai partainya. Ketentuan tentang ini tentu
juga harus lebih detil lagi untuk menjaga tidak adanya konflik kepentingan antara
usaha partai dengan kewenangan yang dipegang oleh orang-orang partai tersebut.
206
Karena conflict of interest itu dimanapun ada. Kalau aturannya gak detil bakal sulit.
Kemudian yang kedua dari mas Said tadi, mas Said tadi ada gak? Yang dari puskokum.
Saya jawab nanti aja itu. Saya jawab yang dari Makassar tadi itu kurang sepakat
Negara membiayai parpol. Jadi gini, sebenarnya yang dibiayai itu tidak semuanya.
Jadi kalau orang terjebak yang dikirain itu semuanya itu akan jadi pilihan, nanti saya
kasih lihat.
Jadi yang biaya operasional itu gak gede. Sewa pengadaan kantor, biaya komunikasi
listrik, honor staff, alat tulis kantor, tanda pengenal dan konsumsi. Ini kalau dari
survey kita ada dikisaran antara puluhan sampai paling banter 200 milyar per partai
itu dari pusat sampai daerah. Jadi ketika saya konfirmasi ke pak Cahyo Kumolo
Mendagri pak waktu bapak bilang sumbangan 1 trilyun untuk partai itu maksudnya
apa? Itu untuk 10 partai mas, cocok sebenernya. Jadi 1 trilyun dibagi 10 partai jadilah
100 milyar masih make sense untuk biaya tengah ini. Tapi begitu kita mulai
membiayai yang kiri, biaya pendidikan politik, kaderisasi, pendidikan untuk kader
konstituen program eksternal untuk tokoh masyarakat dan lain-lain, ini biaya sendiri.
Biasanya ditaroh di kespampol di Mendagri. Kemudian yang paling kanan ini yang
biayanya luar biasa besar, ada biaya saksi ahli, iklan talkshow, rapat umum, alat
peraga, atribut, survei pendanaan politik, biaya narasumber, transportasi, biaya
pengacara. Ini sebenarnya yang biayanya yang sangat besar. Untuk memutuskan yang
kanan ini saya piker mekanisme sumbangan yang individual tadi cocok atau
mekanisme badan usaha partai politik cocok sebenarnya. Tapi kalau Negara paling
banter masuk dikasih fasilitas saja. TVRI wajib memberikan ruang kepada semua
parpol caleg, membikin undang-undang kewajiban untuk TV swasta mengalokasikan
sekian menit jam-jamnya untuk semua partai misalkan. Karena kita pernah bicara
dengan televise swasta mereka oke-oke saja sepanjang ada aturan regulasinya.
Sekarang bentuk kontribusi tadi tetapi diatur dalam undang-undang. Kita masih
belum membawa televisi swasta ini kepada yang tadi yang … tadi tapi masih TVRI.
Ada satu lagi aturan yang memungkinkan caleg itu reimburse sebenarnya kan yang
anggarannya
sudah
ada
tapi
jarang
ada
yang
mau
pake
ribet
nanti
pertanggungjawaban dan lain-lain. Karena memang sesuatu yang gelap-gelap itu
disukai politikus untuk pembiayaan yang disampaikan temen saya yang dari KPPU
tadi.
207
Kemudian belum balik ya mas Saidnya? Pak Agus tadi banyak bercerita mengenai
kondisi praktis. Kasus Damayanti ini unik juga itu ada modus baru. Modus barunya
anggota DPR dia menggunakan dana aspiratifnya tapi korupsinya di tempat lain dia
tarik silang. Karena pengaruh DPR kamu dapat dari A kamu dapat dari B jadi dalam
menghilangkan gak ada hubungannya dengan kewenangan saya. Padahal itu silang
sebenarnya. Ini menarik ada satu angka yang belum saya sampaikan di depan tadi
dari diskusi dengan penyidik dan jaksa kita. Ketika kita mem-BAP orang itu keluar
angkanya. Biasanya DPR minta jatah itu dengan proses penganggaran sebelum itu
diketok itu sekitar 6-8%.
Bagi teman-teman disini yang memandang bahwa biaya Negara itu gak penting,
lihatlah angka ini 6-8% dikalikan dengan APBN untuk belanja. Kalikan itu berapa
ratus trilyun, uang yang kemungkinan bocor dari proses penganggaran saja. Kita
keluar 10 trilyun atau 20 trilyun untuk pendanaan parpol itu kecil dibandingkan
dengan resiko 6-8% dari proses pendanaan tadi. Cuma kita butuh angka yang persis
tapi itu dari statement penyidik dari kasus hambalang dari kasus waode dari kasus
banyak hal. 6-8%. Begitu jadi anggaran nanti mark down, mark up dan lain-lain lebih
besar lagi dananya. Itu beda lagi urusannya.
Yang terakhir adalah saya akan menyampaikan dua slide yang tadi belum saya
sampaikan, ketika kita daerah keluhan mereka ya gaji kecil. Biaya operasional itu
memungkinkan kita bisa menggaji seorang professional sebagai manajer partai. Jadi
di daerah itu ada manajer EO, di daerah itu bakal ada seorang pegawai yang secara
professional yang mengurusi pembukuan, itu digaji. Kan bagus itu. Parpol selama ini
mengeluh aku gak mau sistem akuntansinya dan lain-lain itu gak ngerti mereka.
Kebanyakan berpikir praktis kegiatan. Kalau nanti ada professional khusus, manajer
EO, manajer negosiasi, advokasi dan lain-lain itu bagus. Itu lapangan kerja baru dan
membuat partai menjadi lebih professional. Dan dibiayai oleh Negara. Kemudian
keluhan yang kedua mereka itu yang di daerah itu adalah jadi biasanya ada bansos,
dana aspiratif, off barrel dan lain-lainnya itu mereka tujukan, jadi korupsi dari APBD
memberikan sumbangan-sumbangan tadi. Karena keluhan mereka itu di daerah
adalah itu jadi pemimpin, jadi anggota DPRD, jadi kepala daerah komposal itu sulit
untuk dia tolak. Karena dulu merasa menjanjikan sesuatu proposal masuk dan tidak
208
ada biaya bagi anggota DPRD untuk memberikan itu tadi maka mereka menggunakan
itu.
Yang ketiga adalah mereka bilang tidak efektif kalau pemerintah Cuma pada
pendanaan parpol tadi yang operasional tanpa kita menyentuh individunya. Gaji
anggota DPRD itu sudah pas atau belum, anggota kepala daerah itu sudah pas apa
belum? Karena kalau gak nanti akan mencari kompensasi dari tempat lain lagi.
Pendanaan ada individual gak dapat apa-apa, maka terjadi kayak Indonesia.
Yang terakhir, selama ini partai tidak memberikan bantuan dana sama sekali kepada
caleg, justru sebaliknya caleg menyumbang untuk partai, nah ini dari daerah. Dan
kesimpulan kita sederhana berhubung kajian ini belum selesai jadi kita diselesaikan
sampai Oktober. Kemudian secara umum diperlukan pengaturan yang komprehensif
tentang tata kelola pendanaan parpol agar mendukung parpol untuk bisa survive,
yang kedua meminimalisir dominasi partai dalam oligarki partai dan yang ketiga
mendemontrasikan transparansi dana akuntabilitas. Challenge-nya ada dua
tantangannya, yang pertama apakah rezim penguasa sekarang akan terbuka dan
legowo memberikan kekuatan lebih kepada calon lawan politiknya. Karena
memberikan pendanaan politik pada parpol lain artinya menguatkan parpol lain. Dan
kenapa ini isu ini sering tidak bisa di address isu ini. Ngapain saya ngasih partai lain
kalau mereka kuat? Yang kedua adalah pertanggungjawaban saya mengutip apa yang
disebutkan oleh pembicara yang sebelumnya dengan memberikan pendanaan ini
otomatis parpol akan dituntut lebih tanggungjawabnya. Yurisdiksi kelemahan
undang-undang kita itu ada dua. Dan itu membuat kita tidak bisa memberantas
korupsi secara baik yang pertama adalah parpol pengurus parpol itu tidak ada
yurisdiksinya. Kalau korupsi hanya parpol yang sedang menjabat yang ditangani KPK,
tapi begitu pengurus parpol korupsi di dalam mereka tidak ada yang bisa
menjangkau. Sehingga parpol menjadi banker kita ke status quo saja biar kita korupsi
rame-rame kenapa KPK tidak bisa menjangkau pengurus parpol karena kita bukan
pejabat incumbent penganggaran Negara dan pegawai negeri nah sekarang anggaran
yang kedua adalah sector swasta. Swasta kongkalikong berkoalisi itu bangger yang
kedua tapi ini pendekatannya dengan undang-undang korupsi sector swasta. Dua hal
ini saya piker kalau gak diselesaikan dalam waktu dekat Indonesia gak akan kemana
mana. Anchor-nya ada disana terimakasih.
209
Moderator: Veri Junaidi
Baik, terimakasih. Tepuk tangan untuk narasumber dan kita semua. Bapak ibuk tentu
masing masing kita punya kesimpulan. Tapi satu hal yang cukup menarik tadi hasil
riset temen-temen KPK juga beberapa rston sebelumnya bahwa kalau kita melihat
aktor yang paling besar didalam kasus korupsi itu 30% berasal dari parpol. Kalau
mas Giri dan teman-teman KPK punya satu rekomendasi terkait dengan perbaikan
sistem yaitu menyentuh pada lini-lini misalnya partai politiknya dan juga pengambil
kebijakan yang lain. Tentu kita berharap perbaikan-perbaikan dari semua yang kita
diskusikan dari apatisme kita terhadap partai politik dan perbaikan itu menyentuh
terkait dengan keuangan partai. Tapi satu hal yang cukup menarik, nilai-nilai
pendanaan partai pengaturan partai karena yang mau kita dorong kan perbaikan
regulasi perbaikan kebijakan terkait dengan pendanaan partai cukup menarik
pengalaman dari Kanada nanti harus dieksplor lebih lanjut itu adalah terkait dengan
menyeimbangkan sumber dari public dan privat jadi harus ada keseimbangan.
Jomplang terlalu tinggi yang pendapatan dari internal partai juga tidak cukup baik
seperti yang kita alami hari ini. Dan yang paling penting kalaupun hari ini kita
menginginkan pendanaan lebih dari Negara untuk memecah konsentrasi pendanaan
oleh elit partai politik yang terjadi hari ini yang paling penting adalah ketersediaaan
dana Negara yang mau diberikan kepada partai itu tapi bergantung kepada ketaatan
partai untuk mereka melakukan, melaporkan, untuk mereka transparan akuntabel
terhadap pendanaan partai politik.
Saya kira itu bapak ibu sekalian penutup diskusi kita bagi yang belum ada
kesempatan tentu nanti kita silakan kepada panitia ada ketua panitia yang diujung
sana. Kita tutup tepuk tangan sekian. Assalamualaikum wr.wb.
3. SESI 3 (16.30-18.00)
Moderator
: Iwan Kurniawan
Narasumber
: Donal Fariz
210
Moderator: Iwan Kurniawan
Bapak-bapak dan ibuk-ibuk yang saya hormati, saya yakin bapak ibu semua sudah
lelah begitu juga saya. Jadi saya mau dua hal. Yang pertama, gambaran umum data
kuantitatif yang coba kami pelajari dari tim peneliti yang dari ICW dan beberapa tim
juga yang dari luar. Dan kami masuk ke rekomendasi, sesimpel itu untuk kita
diskusikan hari ini.
Pertama, saya tadi pagi sengaja masuk ke forum yang berbeda dari ruangan ini. sorry
untuk Pak Magnus, I cannot join with your session. Karena saya mendengar sesi
demokratisasi di internal partai bahwa semakin benar bahwa problem pendanaan
partai politik adalah kunci. Problem demokratisasi internal adalah problem turunan.
Kita tidak mungkin akan bicara mengenai demokratisasi di internal partai sepanjang
keuangan partai belum selesai. Kira-kira seperti itu. Jangan ngomong soal kaderisasi
kalau uang belum selesai. Gimana mau mengkader orang kalau gak punya uang.
Darimana mau melakukan pendidikan politik kalau gak punya uang. Darimana
kemudian akan melakukan kegiatan politik yang berkaitan dengan membangun
demokratisasi di internal partai kalau masalah uang belum selesai. Jadi saya semakin
yakin karena terlibat di forum diskusi yang disebelah tadi, di parallel I. Problem
keuangan partai adalah problem yang pertama salah satu yang paling penting kita
benahi dulu. Dan forum ini menjadi sangat terhormat untuk bisa merekomendasikan
gagasan untuk besok dan untuk di kemudian hari besoknya. itu yang pertama kalau
kita bicara soal keuangan partai politik di ee.. problem pendanaan ini.
bapak dan ibu yang saya hormati, kalau kita bicara soal keuangan partai politik, maka
kita harus mengkanal pada dua rezim setidaknya. satu rezim diluar pemilu dan satu
rezim pemilu itu sendiri. Kita bicara sedikit satu persatu soal rezim tersebut. Kalau
kita bicara tentang partai politik di rezim pemilu, kita bicara dengan beberapa aspek,
satu soal yang paling banyak dan tidak pernah tersentuh adalah mahar pencalonan
seorang pejabat publik atau yang disebut dengan candidacy buying.
Kami, bapak dan ibuk tadi dengan temen-temen tadi ikut juga di sesi sempat berbisik
ternyata salah satu pejabat public yang diusung dari Sumbar menyetor 5 milyar
untuk satu partai politik. Gak usah kita sebut namanya, ini forum tertutup dan itu
mereka tahu ketika butuh rekomendasi DPP itu adalah sola uang disitu. Tingkat
pertama DPD atau DPP itu adalah uang. Kedua layer ini yang dibentuk untuk jaring-
211
jaring uang bagi partai politik baik pada level daerah maupun level pusat. Yang kedua
kemudian kita bicara soal cost politik dan ini tentu kalau kita bicara tentang partai
politik minta uang kepada kandidat dalam pencalonan itu rasanya adalah cost politik.
Maka ini kita bicara tentang pendanaan partai politik rezim pemilu.
Yang kedua adalah pendanaan partai politik diluar pemilu. Soal kegiatan rutin partai
politik. Kita bicara kongres, munas, musda dan seterusnya-seterusnya pada level yang
lebih bawah. Kami beberapa waktu ini kami juga melakukan diskusi dengan tementemen di beberapa daerah. Kami ternayta menang mostly memanga orang yang
membaiayai kongers daerah, munas daerah itu memang adalah orang yang potensial
menang di ketua wilayah dan ketua daerah. Itu fenomena yang sering terjadi karena
memang menyangkut soal pendanaan partai politik itu sendiri.
Bapak dan ibu yang saya hormati sedikit saja selama 30 tahun terakhir, ini problem
yangtidak hanya terjadi di Indonesia kita menghadapi akan cost electoral biaya politik
sangat tinggi. Yang menang pun kemudian hanya segelintir orang dan terjadinya
shifting pergeseran dari arti yang mass party yang sudah mati bergeser kepada media
menjadi salah satu tools kampanye yang digunakan oleh partai politik. Ini kemudian
yang menjadi ledakan cost electoral yang sangat tinggi. Electoral campaign yang
dikeluarkan oleh para kandidat dan juga termasuk oleh partai politik.
Kalau kita lihat fenomena yang terjadi hari ini bapak dan ibuk semua, ’98 kesini kan
bukannya justru semakin baik. ’98 kesini kalau kita jujur, ini karena untuk diruangan
biasanya, ini kan kondisinya semakin buruk. Kalau dulu pengusaha tidak mau masuk
ke dalam partai politik dan mereka diluar partai politik itu tapi dibelakangnya
mereka menyokong partai politik. Hari ini yang muncul kalau kita lihat dari kelahiran
beberapa partai politik yang baru, adalah pengusaha yang sudah mapan secara
ekonomi dan kemudian memiliki fondasi yang kuat, media sebagai salah satu jarring
mereka untuk memperluas partai politik mereka. Akhirnya mereka mendirikan partai
politik baru. Kondisi ini kan lahir memang dari karena Negara tidak pernah begitu
dalam untuk mengurus partai politik. Kami akan menyajikan data-data kuantitatif
untuk soal itu, subsidi Negara juga menghadirkan dua perdebatan, tadi saya
menyimak. Ada yang setuju dengan bantuan atau alokasi Negara, ada yang tidak
setuju. Itu adalah common dalam banyak perdebatan tidak hanya di Indonesia tapi di
banyak Negara. Yang sederhana adalah, kalau kita bantu partai politik, apakah akan
212
ada jaminan partai politik tidak akan korup? Ini selalu menjadi debatable di banyak
kalangan. Tidak hanya di masyarakat di civil society di kelompok akademik ini juga
menjadi salah satu hal yang paling serin diperdebatkan. Bagi kami bapak dan ibuk,
singkat saja, kalau kami yang bekerja di isu anti korupsi. Korupsi itu di bagi pada dua
aspek. Pertama, Corruption by need dan kedua Corruption by greed
Kalau kita melihat tipologi kasus yang melibatkan elit-elit partai hari ini. ada yang
melakukan korupsi by greed korupsi karena tamak punya asset ratusan milyar rupiah
bukan korupsi by greed. Ketika Negara memberikan bantuan dana yang lebih banyak
akan mengurangi korupsi dengan kelompok ini jawabannya tentu tidak. Kelompok
mana yang akan diselamatkan dari korupsi jika Negara membantu lebih banyak
partai politik. Jawabannya yang kedua tadi, orang korupsi karena kebutuhan by need.
Saya tidak dengar tadi pak Giri karena saya keluar tadi. Rata-rata dari kajiannya itu
5% uang yang dikorupsi itu masuk ke partai politik. Minggu yang lalu saya di forum
CSIS bahkan angkanya lebih gede sekali karena forumnya tertutup di forum CSIS, ada
beberapa partai yang datang bilang 8% itu masuk ke partai. Dan mostly kan mereka
ngambil antara 15-20% uang-uang project pemerintahan itu dah masuk dulu ke
kelompok-kelompok mereka. Ada orang main proyek, 15-20% itu adalah uang
menguap dulu, uang menguap itu bisa apa? Ada yang menuju ke partai ada yang 5-8%
tadi, ada yang untuk cost politik dia pribadi yang didistribusikan. Kasus Semarang
yang dicontohkan tadi uang yang didistribusikan kembali. Uang jin dimakan setan
kemudian juga untuk kegiatan pilkada. Lingkaran setan yang memang terjadi. Cepat
saja jadi ini kalau keuangan partai tadi juga sudah di presentasikan. Subsidi Negara,
sumber partai, peruntukkan, pelaporannya juga sudah.
Saya mau masuk ke aspek ini bapak dan ibuk, ini yang menarik tadi kalau contoh pak
David Ennis dan segala macam itu memang kadang menarik, tapi apakah mungkin itu
diadopsi di Indonesia. Itu yang menjadi pertanyaan bagi kita. Survey CSIS, 1,3% orang
Indonesia yang pernah menyumbang kepada partai sementara di Kanada angkanya
sampai 20,6%. Nah itu tantangan di kita. Orang marah dan benci kepada jadi orang
susah nyumbang kepada partai. Di ICW kami punya public fundraising untuk
mengajak public berdonasi di hal-hal yang berkaitan dengan korupsi. Itu setengah
mati juga susah mengajak public berdonasi. Pemilik di Indonesia itu lebih suka
berdonasi untuk menginvestasikan janjinya adalah akhirat. Jadi kalau anda
213
nyumbang, kemudian dapat kendaraan di akhirat orang Indonesia suka dengan yang
seperti itu. Jadi kalau punya sumbangan berkaitan dengan partai politik mereka
apalagi kepada partai politik, mereka akan jawab ... coba kalau kita Tanya didalam
ruangan ini sudah pernah nyumbang buat partai politik belum? Nanti mostly hampir
sebagian besar gak pernah. Itu adalah problem yang dihadapi di Indonesia pastinya.
Donor juga tidak menerima insentif seperti tax deductable yang diceritakan tadi pak
David. Karena di Indonesia hanya 30 juta wajib pajak 10 juta menyampaikan SPT
itupun hanya kepatuhan formal saja. Jadi hanya kepatuhan formal dan sistem
perpajakan di Indonesia tentu akan bermasalahan untuk bisa mencapai sistem yang
diceritakan oleh pak David tadi. Jangankan sistem perpajakan, sistem kependudukan
di Indonesia sendiri pun belum selesai. DPT dan seterusnya-seterusnya di pemilu kan
sebelumnya selalu banyak. Jadi menurut saya kita masih jauh untuk sampai pada
level yang disebutkan oleh pak David tadi. Eeh, saya skip saja. Ini data kuantitatif
apakah kami mengajak, sebenarnya kami di ICW termasuk setuju, peningkatan
bantuan keuangan kepada partai politik.
Bapak dan ibuk yang saya hormati, berapa sih sumbangan Negara untuk partai
politik. Kalau kita lihat angka kuantitatifnya dari 2015 hanya 13 milyar uang kepada
partai politik untuk tingkat DPP. Berapa yang kemudian untuk wilayah dan
kabupaten kota? 13 milyar untuk DPP 60 milyar untuk 34 provinsi dan 313 milyar
untuk kabupaten kota di seluruh Indonesia. Total uang APBN dan APBD untuk partai
politik di Indonesia itu adalah sekitar 800 milyar rupiah. Kalu kita bagi bapak dan
ibuk, uang 2039 trilyun maka alokasi terhadap partai hanya 0,052% dari uang
Negara. Maka jangan salah kemudian Surya Paloh bikin partai dan enak dapat
kekuasaan. Ini kontrol dia kontrol itu sendiri. Haritanu Sudibyo bikin partai juga
kenapa? dia seneng. Negara gak bantu partai gak ngurus partai mereka punya
kekuatan yang besar punya kendali seorang diri karena dia yang membuat partai
politik. Disinilah kemudian, urgensi Negara harus hadir. Karena kita sudah harus
menghadapi fase soal ini kami juga sering di debat di banyak aspek. Partai ini harus
berbendah diri dulu dong, baru Negara bantu. Kan sudah selesai menghadapi fase
seperti itu. Partai gak berbenah juga, bahkan kondisinya makin jelek. Kenapa juga
Negara makin lama juga tidak masuk. Momentum itu Negara menurut saya harus
hadir. Nah ini usulan eh gak tau mudah-mudahan ini mempermudah ini untuk
214
direkomendasikan besok, bisa setuju bisa tidak setuju. Tapi kita akan minta pada mas
Aji dari Pusako, uda Aji dari Pusako yang akan memnbantu kita untuk meresume
beberapa hal.
Bapak ibuk
Satu, alokasi Negara itu kita dorong dalam bentuk model flat apapun itu flat subsidi
dan proporsional berdasarkan perolehan suara hasil pemilu. Nah ini lah yang berlaku
hari ini yang proporsional. Flat itu ditujukan untuk memenuhi kebutuhan partai dan
skema alokasi flat itu seperti ini bapak dan ibuk. Kami menghitung yang A itu
sebenarnya adalah 30 % dari total kebutuhan partai politik. DPW B itu adalah 30%
dari kebutuhan partai politik pada tingkat provinsi. C adalah 30% kebutuhan partai
politik pada tingkat kabupaten dan kota. Kenapa kami pake angka 30 % menurut
kami adalah angka yang moderat. Banyak riset sudah menunjukan itu. Riset seperti
yang dilakukan oleh Marcus Misner juga 30% itu adalah angka moderat. Menurut
kami juga iya, sederhana saja bapak dan ibuk, ada sumber partai politik, satu ada
iuran anggota jadi kita harapkan 30% persen lagi dari iuran anggota, 30% nanti kita
harapkan dari sumbangan pihak ketiga yang tidak mengikat secara hukum. Orang
partai dan badan usaha, dan 30% lagi bantuan alokasi Negara. Disitu kami mau cari
keseimbangan maka angkanya kami harapkan adalah 30%, Negara juga tidak boleh
terlalu banyak, kit atidak mau partai telalu banyak didikt oleh Negara. Syukur kalo
negaranya demokratis, gimana kalo kita berada di rezim Suharto?
Partainya
dimatikan oleh penguasa. Kita tidak mau juga problem masa lalu itu kembali lagi ke
reformasi sampai sekarang ini. kami hitung jumlah … itu rata-rata mohon maaf saya
tidak bisa tampilkan disini, kami ngambil rentang kebutuhan mereka, pak Giri tadi
sudah sampaikan, angka estimasinya, tapi data dokumen ICW yang kami kumpulkan
dari uji akses. Permintaan keuangan partai politik jadikami minta laporan keuangan
partai politik dan diskusi dengan beberapa pengurus partai politik terdapat data dari
sekretaris jenderal partai politik. Berapa sih kira-kira expenditure yang anda gunakan
setiap tahunnya? Kalau diakumulasikan di seluruh tingkat kabupaten dan kota
provinsi sampai dengan tingkat nasional, rentangnya sampai 1 50 milyar sampai
dengan 250 milyar rupiah untuk satu partai politik, ini tegantung lagi partai
politiknya boros atau tudak? Yanya kira kira jumlahnya seperti itu di Indonesia, saya
mengambil angka 30% dari kebutuhan itu. Flat itu sebenarnya memenuhi 30%
215
kebutuhan mereka akumulasi partai mana yang memperoleh kursi di tingkat pusat.
Partai yang juga memiliki kursi tingkat propinsi dan tingkat kabupaten kota. 30%
dari situ kemudian dikali apakah mereka memiliki kursi di level itu masing –masinng.
Itulah yang kemudian menjadi pengalinya. Itu skemanya, lebih mudah memang
melihat datanya. Yang kedua adu lokasi berdasarkan perolehan suara. Bapak dan
ibuk, kalau di tingkat pusat itu kita partai politik meperoleh alokasi Rp 108 untuk
satu suara, maka berbed untuk tingkat propinsi dan kabupaten kota jumlahnya
beragam. Ada yang punya jumlahnya Rp. 4000 persuara, ada yang Rp 5000 tapi
anehnya ada yang masih mempertanyakan metodenya berdasarkan kursi. Di
Jayapura misalkan saja, 2 bulan yang lalu kami bersama tim Pusako ke Jayapura
ternyata jayapura itu masih mempertahankan harga satu kursi itu 15 juta untuk satu
kursi. Maka kami berpikir, bagaimana kita mendesain, sudah tingkat propinsi itu kita
samakan saja harga satu suaranya. Tingkat kabupaten kota itu kita samakan saja
harga suaranya. Itu yang kemudian menjadi pengali berapa suara yang mereka punya
di propinsi itu. Contoh satu partai tingkat propinsi itu harga satu suaranya adalah
2500 suara. Berapa partai X itu punya suara maka itulah yang menjadi pengalinya.
Begitu sama juga untuk tingkat provinsi-provinsi yang lain sehingga tidak
merumitkan lagi pernghitungannya.
Dua, kita bicara soal satu kami usulkan yang tidak ada hari ini adalah, kalau kit abaca
undang-undang partai politik dan turunannya PP 83. 60% alokasi Negara itu adalah
pendidikan politik. Ya kalau kit abaca laporan keuangan partai politik 60% itu tidak
pernah dipakai untuk pendidikan politik habis semuanya untuk biaya operasional.
Tapi apakah bisa dilakukan penegakan hukum? Tidak. Kenapa karena memang kita
tidak punya pembanding apa yang dianggarkan partai di awal dan kemudian belanja
mereka di akhir. Nah usulan kami adalah bagaimana mendorong partai untuk punya
anggaran
dan
belanja
partai,
disitu
partai
di
akhir
tahun
akan
mempertanggungjawabkan apa yang mereka keluarkan. Apakah sama dengan yang
pemasukan dengan pengeluaran atau tidak. Saya dapat laporan kemaren dari teman
Semarang mas, sebelum hari raya idul fitri, mereka bertanya disana. Ada salah satu
partai yang menggunakan bantuan APBD di Semarang partainya untuk tunjangan hari
raya. Itu boleh atau tidak, itu kita tentu kita sehingga partai suka-suka
menggunakannya karena memang tidak ada guideline dari awal dan cerita itu kami
216
terima dari Semarang pada waktu itu. Yang kita mau juga adalah partai pada tingkat
DPP diwajibkan melakukan konsolidasi terkait laporan keuangan dan ini tidak ada.
Yang hanya melakukan ini yang kami temukan hanya Partai Keadilan Sejahtera.
Yang selanjutnya kami berharap, tadi kita sudah bicara soal alokasi, besaran
kemudian juga e.. ee ee usulan pengaturan pengajuannya juga. Selanjutnya kami
merekomendasikan audit. Satu kalau kit abagi dipartai auditnya ka nada dua bapak
dan ibuk. Satu audit yang sumber keuangannya adalah uang Negara oleh BPK yang
diluar sumber keuangan Negara itu diaudit oleh kantor akuntan public yang ditunjuk
oleh partai itu sendiri. Tapi problemnya, partai tidak pernah membuka. Jangankan
pada public, kepada anggotanya sendiri audit yang dilakukan oleh akuntan public itu
tidak dibuka secara luas. Akibatnya aapa partai di tingkat pusat sering mengklaim
bahwa mereka tidak pernah menerima mahar dalam pencalonan sebagai kepala
daerah. Dibawah ini sudah nyetor ini dari pencalonan. Ngakunya itu dikasih untuk
DPP, di akhir tahun kan mereka kan tidak tahu apakah uang itu benar-benar masuk
ke DPP sebagai mahar pencalonan itu atau tidak. Karena mereka sendiri tidak
walaupun orang partai tidak tahu untuk diapakan uang katakanlah uang 2 milyar 3
milyar yang mereka setor untuk pencalonan itu. Ketika audit ini dibuka ini juga
menguntungkan untuk internal partai politik sendiri. Mereka kemudian bisa melacak
apakah uang itu dibukukan atau tidak. Atau jangan-jangan hanya untuk segelintir
orang saja yang mengaku uang itu diterima oleh pengurus DPP partai politik.
Usulan kami adalah kemudian kami berharap audit dua sumber yang diluar keuangan
Negara itu dilakukan oleh kantor akuntan public yang ditunjuk oleh BPK ini tidak lagi
dilepas seluruhnya kepada partai politik. Selanjutnya yang ketiga partai wajib
membuka dan mempublikasikan melalui website masing masing laporan keuangan
mereka sehingga bisa diakses oleh masyarakat. Ini standar sebenarnya di undangundang partai politik ada. Tapi masalahnya tidak ada sanksi kepada partai jika itu
tidak dilakukan. Apa.. norma perintah tapi tidak ada sanksi jika perintah itu tidak
dilakukan. Ini kekosongan yang memang timbull di dalam undang-undang partai
politik kita. Sanksi kemudian, penundaan pemberian bantuan ini sudah di praktekan.
Kemudian pidana berdasarkan ketentuan perundang-undangan. Dan ini usulan kami,
larangan ikut pemilu selama satu periode pemilu jika sampai laporan keuangannya
bermasalah. Jadi punishment secara kolektif ang diberikan kepada partai politik
217
manakala
merekatidak
bisa
secara
baik
memeberikan/mendeliver
keuangannya baik kepada Negara maupun kepada anggota mereka sendiri.
laporan
Bapak dan ibu yang saya hormati, sebenarnya memang problem saya bicara problem
diawal, saya sudah menyampaikan bahwa problem ada pada dua ranah. Satu pada
rezim pemilu dan satu diluar rezim pelimu itu sendiri. Diluar rezim pemili itu kita
bisa jawab undang-undang partai politiktapi yang di rezim pemilu agak susah kita
menjawab kalau digunakan pendekatan undang-undang partai politik. Pak David di
Kanada mencontohkan mereka kemudian undang-undang partai politik memang
punya kaitan dengan undang-undang rezim pemilu. Nah kita berharap ke depannya
ada paket undang-undang pendanaan pemilu di republic ini. banyak Negara sudah
memiliki itu contoh kalau ada bapak ibu yang ikut di forum Asian Electoral Forum di
Bali mereka beberapa Negara pengalaman mereka. Kesimpulannya adalah problem
dana partai dana pemilu itu mayoritas adalah problem Negara. Tapi ada yang
menjawab dnegan pendekatan yang lebih baik. Contohnya ada Taiwan yang punya
undang-undang dana politik sudah punya sejak tahun 2004. Bagi mereka itu cukup
baik untuk menjawab beberapa persoalan yang dicontohkan di Semarang tadi mas. Di
post election misalkan ada orang yang menerima dana-dana yang bermasalah, di
Taiwan itu satu tahun post election itu dana-dana itu masih bisa di audit kemudian
ada sanksi itu jika ada penyalahgunaan masuknya dana-dana yang tidak bisa
dipertanggungjawabkan. Di Indonesia itu hanya 30 hari audit dan itu hanya
administrasi saja. Itu kira kira bapak dan ibuk masalah dan rekomendasi seperti yang
disampaikan tadi oleh pak Charles dari Pusako sesi kita sebenarnya lebih kepada
mendiskusikan apa rekomendasi kita ke forum yang aka nada di besok. Beberapa
rekomendasi tadi mari kita diskusikan menurut saya, kalau cocok mari kita
pertahankan, kalau tidak cocok masri kita carikan solusi untuk rekomendasi besok.
Saya kembalikan ke moderator untuk memandunya.
Moderator: Baik terimakasih mas Donal Fariz, mohon maaf saya tadi agak terlambat
karena ada urusan penting. Saya persilakan kepada bapak ibu sekalian untuk
melakukan Tanya jawab diskusi mengenai apa yang akan kita rekomendasikan besok
dari forum ini mengenai pengelolaan keuangan partai politik. Apa sudah pada capek?
Ya silakan dari ICW
218
Almas : terimakasih. Mau nambahin sedikit mungkin tadi agak kelupaan, tadi di awal
kan prof Syamsudin Haris kan bilang mungkin subsidi Negara kepada partai hanya
bisa diberikan dalam jumlah cash atau dalam bentuk uang. Mungkin kita juga bisa
memberikan indirect subsidi atau subsidi secara tidak langsung. Apakah itu
bentuknya fasilitas seperti gedung sewa gedung gratis dan kalau di kampanye subsidi
iklan dan sebagainya. Nah mungkin di forum ini juga perlu dipertimbangkan apakah
kita akan merekomendasikan Negara memberikan subsidi secara tidak langsung
kepada partai politik, baik itu partai politik di tingkat pusat ataupun partai politik di
tingkat daerah. Kalau misalnya itu disetujui bentuknya apa? Apakah kemudian
pendidikan politik, atau kemudian seperti fasilitas gratis atau bagaimana?
Terimakasih.
Moderator: Iwan Kurniawan
sebetulnya saya beri informasi sebentarm bahwasanya apa namanya subsidi indirect
pada saat kampanye iya kan? Pilkada iya. Jadi memang untuk hal-hal yang lain
khususnya pada pileg dan lain sebagainya memang belum. Saya persilakan yang lain.
Silakan, apa saya tunjuk aja? Saya tunjuk apa saya tonjok? Ya?
Magnus ohman:
I just wanted to highlight what was just said, there good advantages to indirect public
funding, because why indirect public funding has many advantages? Indirect funding
is great and this is a compliment. Cheaper to the state and better to control to
provision and easier to control if its of misuse. When you give money to party you can
always give the party air time or place to put up billboard, you can make sure that its
only used for whatever you wanted to. Though instead of direct funding but it can be
very good com…
Moderator: Iwan Kurniawan
silakan yang lain. Jadi memang pengelolaan keuangan partai politik ini unik. Bisa jadi
apa yang dikatakan mas apa tadi. Sehingga Surya Paloh mendirikan partai politik dan
sebagainya tadi pagi kita sempat berdiskusi ini sudah menjadi anak perusahaan. Anak
perusahaan
konglomerat-konglomerat
tertentu.
Misal
Media
Group
karena
219
kekurangan perusahaan dia membuka yang namanya Nasional Demokrasi (Nasdem)
kemudian yang baru-baru ini. MNC TV mau membuka yang namanya Perindo jadi
akan menjadi yang namanya anak-anak perusahaan itu akan menguntungkan pemilik
dari partai politik tersebut. Dan kemudian pengelolaan keuangan partai politik
Negara perlu ikut didalamnya. Maka tidak hanya, apa, menekan partai politik untuk
membuka keuangannya tapi juga penormaannya. Saya persilakan apa sudah capek
apa bagaimana. Mungkin pak Wahid masih merumuskan pak Wahid?
Veri Junaidi:
Saya kembali ini saja, sedikit mengulas apa yang tadi pagi saya usulkan. Jadi dari
beberapa identifikasi ini untuk melengkapi saja apa yang disampaikan mas Donal,
karena secara keseluruhan saya setuju dengan yang disampaikan mas Donal.
Kita harus mulai membatasi sebenarnya, ee apa, sumbangan dari anggota partai
politik yang selama ini kan memang tidak ada pembatasan itu. Dan itu menjadi ruang
gelap sebenarnya cek kosong yang diberikan undang-undang kepada anggota partai
khususnya elit-elit partai. Dalam mendanai partai politiknya. Tadi yang disebutkan
teman-teman itu memanfaatkan kekosongan di dalam undang-undang.
UU kita harus sudah mendiskusikan kembali kalau tidak meneguhkan bagaimana
kedudukan partai politik itu seperti apa. Karena hari ini cara pandang partai dan cara
pandang kita mungkin saya agak berbeda bahwa saya menganggap itu adalah badan
public begitu dilihat dari beberapa alasan misalnya kewenangan yang dimiliki partai
politik. Yang kedua dari pendanaan yang diberikan Negara kepada partai politik.
Mengidentifikasi bahwa partai adalah badan public begitu. Oleh karena itu hal yang
demikian mesti kemudian sudah di clear di dalam undang-undang partai politik itu
sendiri. Ketiga kita harus sudah mulai memikirkan sumber pendanaan dari anggota
itu sudah mulai didorong, iuran anggota dan lainsebagainya. Mekanisme itu bisa
berjalan. Bagaimana kita mendorong partai bisa menjalankan itu. Dan yang terakhir
kita harus sudah mulai mendesain ulang terkait sumber pendanaan dari Negara.
Kalau di undang-undang kita yang sekarang kita tau subsidi yang diberikan secara
proporsional berdasarkan suara. Satu suara dinilai Rp 108 misalnya PDIP dapat 2
milyar dan penggunaannya pun juga sangat terbatas. 60% hanya digunakan untuk
pendidikan politik dan sebagainya ya itu desainnya mestinya dirubah dan sebagainya.
220
Sumbangan yang proporsional secara proposional itu mestinya dia nanti saya usul
100% untuk diberikan untuk pendidikan partai saya kira begitu. Dan yang flat saya
kira itu saja yang mesti di itu lagi. Jadi hitung-hitungannya harus clear. ICW
menghitung anggaran saya kira begitu mas terimakasih.
Moderator: Iwan Kurniawan
Baik sepertinya udah pada capek ini. apalagi pesertanya. Jadi untuk mengerucutkan
diskusi kita, saya tawarkan beberapa rekomendasi-rekomendasi. Nanti kalau ada dari
peserta tambahan-tambahan ini akan kita masukkan dan kita diskusikan. Apakah
dibungkus untuk direkomendasikan untuk besok harinya atau masih perlu kita
cermati bersama. Mungkin bisa dari notulen untuk kita masukkan ke slide untuk kita
cermati bersama kepada peserta mengenai rekomendasi-rekomendasi yang kita
tawarkan. Oke yang pertama adanya subsidi secara tidak langsung seperti fasilitas
mungkin untuk kampanye partai politik tidak perlu sewa gedung. Kemudian APK-nya
(Alat Peraga Kampanye)nya dibiayai oleh Negara. Jadi partai politk tidak lagi
membiayai ketika kampanye jadi ada subsidi yang diberikan secara langsung ada
subsidi yang tidak diberikan secara langsung. Bagaimana yang poin pertama ini? ya
Ada masukan tidak hanya di ranah kampanye tapi juga kegiatan pendidikan politik.
Almas : tapi gak di ranah kampanye ini kan pak. karena kampanyenya sendiri sudah
ada di undang-undang.
Moderator: Iwan Kurniawan
masalahnya kegiatan partai politik kalau ndak waktu kampanye mereka ndak ada
kegiatan. Apakah kemudian Negara juga ikut dibebankan memberikan pendidikan
politik dalam artian tidak hanya kemudian dibebankan kepada partai politik ansi
sehingga subsidi tadi itu juga ditanggung oleh Negara untuk memberikan pendidikan
politik. Bahwa selama ini sudah juga seperti itu. Cuma itu tidak pernah disebutkan
saja. Ada masukan mengenai nomenclaturenya atau mengenai tata bahasanya. Atau
bagaimanan atau ini kita tawarkan dulu gelontongan nanti akan ada revisi revisi. Jadi
yang pertama subsidi secara tidak langsung. Nah ini masalahnya ini akan
diberlakukan di kegiatan rutin partai politik atau hanya di kegiatan hanya masa
kampanye saja. Sambil menunggu masukan yang pertama. Yang kedua public funding
221
bisa saling melengkapi antara bantuan langsung dengan bantuan yang bersifat tidak
langsung. Jadi mungkin apa ya namanya tadi itu mahar-mahar politik dan lain
sebagainya tadi harus terbuka dan saling melengkapi. Selama ini yang terjadi yang
bawah gak pernah tahu yang tahu hanya elit-elit politik saja. Kemudian yang ketiga
adalah membatasi sumbangan anggota kepada partai politik. Terus yang terakhir
sumbangan partai untuk pendidikan partai jadi memang disebutkan hanya untuk
pendidikan politik dan kaderisasi. Silakan untuk dikritisi untuk kemudian di beri
masukan mengenai unit tata bahasanya dan kemudian ada hal-hal yang baru yang
kemudian penting untuk dijadikan rekomendasi untuk forum ini ini ya.
Charles Simabura:
dari segi bahasa, public funding itu apa yang dimaksud apa dana public atau? Dari
masyarakat atau dari Negara.
Moderator: Iwan Kurniawan
Bantuan, bantuan dari masyarakat. Ya. Bantuan masyarakat. Bantuan masyarakat,
Negara dan anggota. Anggota. Bagaimana bapak ibuk? Ada masukan? Atau kita
sepakati yang poin yang kedua ini. rekomendasi kita undang-undang.
Charles Simabura:
dari segi normatif ini mau diatur dimana ini. pertama itu perlu revisi undang-undang.
Moderator: Iwan Kurniawan
iya undang undang.
Charles Simbura:
Nanti kalau pengaturan lagi balik lagi kita. Revisi undang-undang partai politik,
khusus mengenai pendanaan partai.
Moderator: Iwan Kurniawan
nomer satu, revisi undang-undang partai politik. Khususnya mengenai pendanaan
partai politik. Apa dibentuk undang-undang khusus tentang pendanaan partai politik
222
ya jadi menjadi undang-undang pendanaan partai politik. Atau terpisah. Silakan
bapak ibuk, apakah yang direvisi itu uu partai politik atau kita usulkan dibentuk
undang-undang baru tentang pendanaan partai politik. Undang undang tentang
pendanaan partai politik?
Veri Junaidi :
Bisa jadi dalam undang-undang partai politik itu, dibuat bab tentang pendanaan.
Moderator: Iwan Kurniawan
Jadi dari PP dinaikkan menjadi undang-undang? Gimana pak wahid, setuju? Kalau
istilah orang kulonan itu joghut alamaturidho, diam berarti iya.
Wahid:
saya rekomendasikan pengaturan tentang dana partai itu levelnya dinaikkan mejadi
undang-undang.
Moderator: Iwan Kurniawan
Otomatis apakah merevisi undang-undang tentang partai politik pada poin tentang
pendanaan partai politik kalau tidak salah pasal 34 atau pasal 34 itu d menjadi
undang-undang pendanaan partai politik jadi lebih lex specialis. Itu ya rekomendasi
yang pertama. Rekomendasi yang kedua gimana? Sudah satu suara belum? Kan udah
saya tadi udah saya katakana jughut alamaturridho.
Veri Junaidi :
kalau untuk ini saya setuju sama pak Charles ya itu dinaikkan derajatnya, dari DPP
menjadi undang-undang. Pertanyaan pak Charles sebenarny apak Charles gak mau ya
sekarang ini. Kalau saya mengusulkan sekalian aja dana penalangan parpol ini.
Sebenarnya bukan hanya mengatur subsidinya mana sebaiknya… bukan. Tapi jug ada
banyak hal yang harus di… misalnya soal kedudukan partai soal yang kedua
223
pengelolaan dan sebagainya. Jadi banyak hal. Oleh karena itu jika dia menjadi lex
specialis maka diberikan hak undang undang saja. Kalau saya sih begitu.
Moderator: Iwan Kurniawan
satu undang-undang. Tetap undang-undangnya partai politik?
Charles Simabura:
bunyinya begitu biar saja nanti DPR yang … yang penting statusnya diatur didalam
undang-undang.
Moderator: Iwan Kurniawan
saya ini moderator bukan pemutus, pemutus apa diskusi. Saya hanya memfloorkan
alau bapak/ibuk semua diam itu berarti setuju. Iya kan? Berarti poin yang pertama
otomatis ya? Oke?
….
Moderator: Iwan Kurniawan
jadi ada dua satu ada undang –undang mengenai partai politik satunya lagi tentang
pengelolaan keuangan partai politik. Begitu? Satu aja gabung? Jadi yang dirubah
hanya pasal 34 gitu ya? Oke ya begitu? Ada lagi? Silakan. Udah diam semua saya
bukan pemutus lho.
Zainal Arifin Mochtar:
Baik saya menghalalkan kedatangan soalnya. Baik bismillahirrahmanirrahiiim.
Assalamualaikum wr.wb. saya sih piker mending kita pikirkan dulu sifat dana partai
politik ini. Apakah kita mau taruh dia sebagai dana public ataukah memang dana
spesifik untuk partai politik. Kalau kit ataruh sebagai dana publik menurut saya lebih
baik dia tunduk kepada undang-undang keuangan Negara, biarkan dia masuk di
rezim itu. Jadi rezim yang sama dengan keuangan Negara. Di undang-undang partai
politik hanya mengatur bagaimna dia memperolehnya. Tetapi pengelolaannya dan
224
lain sebagainya mending tunduk sana. Ini menurut saya tergantung pada paradigma
kita ya. Kalau paradigm kita mengatakan itu tetap masuk ke dalam ranah ruang
publik ya sudah mending kita lepas dia di undang-undang keuangan Negara. Tapi
kalau kita mau berpikir dia adalah ranah tersendiri, yang itu adalah ingkaran dari
undang-undang keuangan Negara, maka penting kitabuat undang-undang spesifik.
Dana partai politik. Nah disitu bayangan saya dia akan mengingkari atau kemudian
menegasikan beberapa aturan dalam undang-undang keuangan Negara. Nah terserah
kita, bayangan kita. Di awal kita berpikir saya mengatakan bahwa dia masuk kepada
ranah yang tetap dan ranah public. Supaya diujungnya bias tetap kena proses BPK,
supaya kena proses transparansi yang diwajibkan dalam undang-undang keuangan
Negara. Cuma tinggal perolehannya kita cari logika-logika baru barangkali atau caracara baru. Saya gak tau bagaimana yang tadi sudah dibahas di ruangan ini. Tapi
bayangan saya misalnya ada ide yang sempat didorong untuk memasukkan bagian
dari dana pajak. Saya pernah baca ide lama, saya harus cari lagi, tapi dia bicara soal
bagaimana setiap wajib pajak ketika membayar pajak itu mendeclare. Misalnya yang
dibolehkan dalam peraturan misalnya 0,1% dari pajak untuk siapa maka dia declare
di SPTnya. 0,1% dari pajak ini saya serahkan kepada partai X misalnya. Dan
dnegancara itu menurut saya basis dukungan partai politik akan jauh lebih terlihat.
Dana kemudian bisa kelihatan. Partai yang didukung oleh pembayar pajak adalah
parati yang seharusnya memiliki suara terbanyak atau paling sehat. Nah mengenai
caranya bisa kita pikirkan mau diambil model Australia yang model bisnis boleh mau
ambil model yanglain terserah. Tapi sifat uang ininya dulu yang kita tentukan, apakah
dia spesifik masuk dalam ranah public ataukah dia dojadikan ingkaran dari dana
publik. Saya pikir itu, oke.
Moderator: Iwan Kurniawan
ya ini itu masukan bahwasanya bagaimana kalau kemudian dana diambilkan 0,1%
dari pajak yang dibayarkan rakyat kepada Negara itu termasuk kedalam public
funding tadi
Charles Simbura:
225
dengan cara berapa besaran nanti bisa dicanangkan pengaturannya itu pemerintah
apa? Kalau kemaren kan PP sekarang naik kepada undang-undang.
Moderator: Iwan Kurniawan
naik kepada undang-undang.
Charles Simabura:
kemudian yang kedua itu uu parpol saja atau undang-undang sendiri?
Veri Junaidi:
itu aja, kalau menurut saya sih jumlah.
Moderator: Iwan Kurniawan
Hahaha yang paling penting kan itu saja kan? Apakah kita kan mengusulkan revisi di
pasal 34.
Reza syawawi:
termasuk dengan sanksinya lengkap
Moderator: Iwan Kurniawan
Termasuk substansi yang lebih lengkap atau dikeluarkan menjadi lex specialis.
Tergantung enaknya itu lho jadi saya pikir, rekomendasi ini dua ini saja itu kita
rekomendasikan biar kemudian DPR itu membuat keputusan sendiri, yang penting
atau kita merekomendasikan perubahan pasal 34 atau ditarik menjadi lex specialis. Ya
oke ya ketok ya.
Moderator: Iwan Kurniawan
Kemudian yang kedua, subsidi secara tidak langsung yang tidak pada ranah
kampanye seperti fasilitas penyewaan gedung, kemudian apa, apa lagi, mengenai
iklan dan lain sebagainya.
226
Veri Junaidi:
itu langsung istilahnya mungkin meningkatkan pendanaan oleh Negara dalam bentuk
baru nanti kan yang bentuk tunai atau non tunai. Yang tunai itu bisa dirumuskan
proporsional melalui suara dengan penghitungan suara dan yang kedua …
Moderator: Iwan Kurniawan
Oke ya. Subsidi secara tidak langsung meningkatkan subsidi pendanaan partai politik
oleh Negara baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung yang
kemudian dihitung itu melalui perolehan jumlah suara, secara tidak langsung Negara
ikut mengkampanyekan partai-partai politik. Atau kemudian Negara ikut andil tapi
ini saya pikir ini terlalu riskan kalau misalnya seperti sekarang, negaranya dikuasai
oleh PDIP jadi nanti iklannya PDIP yang paling banyak.
Veri Junaidi:
nanti ada slotnya. Mungkin bukan langsung/ tidak langsung ya. Tunai/non tunai.
Charles Simabura:
tunai/ non tunai, kalau langsung tidak langsung itu BLT
Moderator: Iwan Kurniawan
BLT
Veri Junaidi:
Mas Aji coba diketik dudlu mas aji. Meningkatkan bantuan atau subsidi Negara,
bentuknya tunai/non tunai. Yang tunai itu melaui dua skema, proporsional
berdasarkan suara dan kedua… yang tunai itu bentuknya apa saja.
Charles Simbura:
Non tunai itu fasilitas itu lho
Moderator: Iwan Kurniawan
227
Ya itu masalahnya tadi yang saya tanyakan tadi. Kalau kemudian Negara seperti
sekarang ini dikuasai oleh PDIP bagaimna kemudian rakyat bisa apa.
Charles Simabura:
itu diatur nanti diatur itu.
Moderator: Iwan Kurniawan
Dibuat undang-undang lagi. Hehehe, tekniknya diatur. Oke. Bagaimana bapak/ibuk
yang kedua ini adalah meningkatkan bantuan subsidi Negara secara tunai dan non
tunai. Yang tunai dan model flat itu sesuai dengan proporsional jumlah suara. Ya kan?
Dan yang non tunai itu akan diatur dengan peraturan lebih lanjut. Entah itu terserah
nanti DPRnya mau membuat peraturannya bagaimana. Silakan apa ada masukan atau
ada bahasa yang lain yang lebih ringkas ya.
Almas:
Bantuan keuangan, alokasi dana untuk partai politik ada 3 jenis yang pertama flat,
yang kedua proporsional berdasarkan perolehan suara yang ketiga yang tidak
langsung. Jadi dibuat langsung tiga jenis. Langsung saja. Tidak langsung itu hanya
fasilitas. Jadi langsung tiga.
Moderator: Iwan Kurniawan
Flat, langsung, dan tidak langsung.
Veri Junaidi:
meningkatkan bantuan subsidi Negara melalui tiga skema pertama, Bantuan langsung
tunai, kedua, Bantuan proporsional berdasarkan suara. ketiga, Fasilitas
Moderator: Iwan Kurniawan
Bagaimana bapak/ibuk? Ada usulan lagi yang lain atau lebih fleksibel atau kemudian
dari bahasanya ada yang kurang pas? Sudah? Cukup? Oke? Klau gitu saya ketok ya.
(ketukan 3 kali) dah yang kemudian adalah bantuan masyarakat, bantuan negara dan
228
bantuan anggota bisa saling melengkapi antara bantuan langsung dengan bantuan
yang bersifat tidak langsung. Itu kayaknya sudah masuk yang kedua ini. Ya, yang
ketiga ini udah masuk yang kedua. Dah langsung aja yang berikutnya. Sumbangan
partai untuk pendidikan partai dan kaderisasi. Jadi ini akan semakin dipertegas,
bahwasanya sumbangan partai hanya untuk pendidikan partai dan kaderisasi.
Veri Junaidi:
Belanja subsidi Negara dari subsidi proporsional digunakan untuk pendidikan politik
dan kaderisasi.
Moderator: Iwan Kurniawan
Belanja subsidi Negara kepada partai politik digunakan untuk pendidikan partai dan
kaderisasi.
Veri Junaidi:
Bukan, suara proporsional. Sumbangan subsidi proporsional.
Moderator:
ooh melanjutkan yang dari dua tadi kan?
Veri Junaidi:
Jadi tidak hanya soal belanja Negara, hanya digunakan untuk pendidikan politik dan
kaderisasi.
Moderator: Iwan Kurniawan
Gimana bapak ibuk yang ketiga adalah subsidi proporsional hanya digunakan untuk
pendidikan politik dan kaderisasi. Oke? Oke ya? (ketukan 3 kali). Next, berikutnya
adalah membatasi sumbangan anggota kepada partai, membatasi sumbangan anggota
kepada partai ini masih sumir ini. Membatasi dalam artian nominalnya harus berapa
atau kemudian ee.. bentuk sumbangannya. Kan biasanya ada yang gak bisa ngasih
duit tapi bisa untuk sumbangan rumah dan lain sebagainya. Kendaraan.
229
Veri Junaidi :
Pembatasan sumbangan dari anggota partai politik, sumbangan itu bisa bentuknya
uang, bisa bentuknya barang atau jasa yang di konversi dengan nilai uang.
Moderator: Iwan Kurniawan
Pembatasan sumbangan anggota partai kepada partai politik. Yang bisa dikonversi
dalam bentuk uang. Jadi missal dia menyumbang rumah untuk kantor kemudian
dibatasi harga rumah gak boleh lebih dari 100 juta. Kan itu, atau kemudian ketika dia
menyumbang mobil gak boleh lebih, mobilnya itu gak boleh harganya itu lebih dari
100 juta. Jadi cari yang second-second aja mobilnya. Silakan ada masukan ada
sanggahan? pembatasan sumbangan anggota partai kepada partai politik. Yang bisa
dikonversi dalam bentuk uang, sepakat?
Moderator: Iwan Kurniawan
(ketukan 3 kali) ya selanjutnya. Kalau pendanaan partai adalah dana publik ini
tunduk kepada undang-undang keuangan Negara, kalau dana partai tunduk kepada
undang-undang partai politik atau keuangan partai. Ini bukan rekomendasi,
pandangan. Silakan bapak ibuk mau tetep kepada pandangan yang sepakat ke
undang-undang keuangan Negara sehingga ada transparansi. Karena itu dari APBN.
Oleh karena itu kita hapuskan. Dana wajib partai dideklarasikan yang diumumkan.
Dana wajib pajak untuk partai yang dideklarasikan langsung untuk pendanaan partai
politik. Bagaimana bapak ibuk? Skema pendanaannya, dana wajib pajak untuk partai
yang di deklarasikan langsung untuk pendanaan partai politik. Ini bahasanya kurang
pas ya? Ya makanya itu sengaja kita gak paskan biar ada masukan. Ya satu-satu.
Silakan.
Reza Syawawi:
tadi kan sudah dijawab bahwa … dari
Moderator: Iwan Kurniawan
Jadi sepakat untuk dihilangkan?
230
Audien: sepakat! Hilangkan!
Moderator: Iwan Kurniawan
Hilangkan. Jadi ini gak perlu. Sama dengan yang poin kedua ya? Kita hanya
merekomendasikan satu dua tiga.
Almas:
gimana soal transaparansi bisa gak soal sumber ya jadi tadi ada soal bahwa partai
politik wajib mempublikasikan keuangan partai melaui website masing-masing.
Kalau misalnya soal mekanisme sanksi.
Moderator: Iwan Kurniawan
Mekanisme sanksi?
Donal Fariz:
Jadi mekanisme sanksi yang akuntabel pada partai
Moderator: Iwan Kurniawan
Masukan, dibentuknya mekanisme sanksi. Memperkuat mekanisme sanksi bagi partai
politik yang tidak transparan dalam pengelolaan dana partai politik. Terserah DPR
apa sanksinya. Apakah kemudian partai politik itu tidak boleh ikut pada pemilu iya
kan. Atau kemudian partai politik ini harus dibubarkan. Itu biar itu. Jadi yang terakhir
memperkuat mekanisme sanksi bagi partai politik yang tidaka transaparan dalam
pengelolaan pelaporan dana partai politik. Oke cukup ya bapak ibuk. Kalau begitu
karena saya lihat bapak ibuk sudah tidak fokus semua iya kan. Ini adalah berapa
empat ya? Lima rekomendasi yang akan kita berikan nanti di forum yang pada rapat
paripurna yang mengenai demokrasi partai politik. Kalau begitu saya sebagai
moderator mengucapkan terimakasih atas patisipasi bapak ibuk sekalian mohon
maaf apabila ada kekurangan. Wallahu muafiq illa muthariq. Assalamualaikum wr.wb.
Audien : (tepuk tangan)
231
PENUTUPAN DAN PENYAMPAIAN KESIMPULAN
KONFERENSI NASIONAL HUKUM TATA NEGARA KETIGA
PENYAMPAIAN KESIMPULAN PARALLEL GROUP DISCUSSION
HARI/TANGGAL
: Rabu/7 September 2016
MODERATOR
PEMBACA KESIMPULAN
: Khairul Fahmi
:
-
AGUS (PARALLEL GROUP DISCUSSION 1)
-
DONAL FARIZ (PARALLEL GROUP DISCUSSION 3)
-
BACHTIAR (PARALLEL GROUP DISCUSSION 2)
....
Agus Rianto:
Kesempatan ini bisa disempurnakan kalau kata mas khairul kalau urus urus yang
manis saja itu bisa di persingkat dan kita bisa langsung jalan-jalan. Kalau tahun depan
ada lagi jadi saya mohon menggunakan bahasa singkat dan sederahana, kita mulai
saja yang pertama, soal pencalonan legislatif dan eksekutif. Pertama di wiliayah ini
kita semua bicara bagaimana mendorong parpol mempersiapkan calon kader internal
ini pada wilayah bagaiamana menyiapkan kapasitas partai politik mampu
menyiapkan kadernya. Yang kedua, disentralisasi penentuan calon legislatif dan
eksekutif yang ini pada wiliayah tidak selalu desentralisasi berdasarkan keinginan
pusat atau pimpinan pusat untuk memuatkan kapasitas lokal internal partai,
kemudian mendorong ketertiban masyrakat dalam pencalonan kepala daerah
misalnya melalui jalur independen sabagai koreksi masyrakat atas aprpol untuk
mempertahankan calon independen. Berikutnya parpol harus mencalonkan calon
yang mempunyai kapasitas dan integritas dan berikutnya harus ada sanksi bagi
parpol yang tidak mengajukan calon yang mempunyai kapastitas dan intergirtas. Ini
termasuk bagian dari kemampuan parpol untuk menyediakan calon yang
berkapasitas dan integritas ini supaya tidak ada calon tunggal yang sempat menjadi
perdebatan nasional dan itu justru malah menganggu proses pilkada serentak dan
harusnya bersama malah tidak jadi bersama. Kemudian yang kedua menyangkut
model pemilihan dimana kami kelompok 1 merekomendasikan bisa digunakan dua
232
model seleksi yang pertama, model konvensi calon presedin, guburner, walikota dan
bupati dan kalau biasanya disebut dengan pre election, jadi sistem konvensi ini perlu
dibuat sistem mekanisme yang baku, karena setiap parpol mempunyai AD/RT yang
berbeda sehingga ada aturan yang sama sehingga publik bisa mengatur dengan
mudah. Berikutnya yang kedua model ... misalnya ada panitia khusus di level partai
politik lalu ada selected party agency disitu melibatkan seleksi oleh sebagian kecil
pimpinan partai, kemudian party members ini dari screening kemudian added partai
msauk keseluruh anggota partai politik untuk terlibat dalam proses pentuan calon
dan ini leboh demokratis karena melibatkan seluruh anggota partai. Yang ketiga soal
instutusionalisasi partai politik soal pelembagaan partai politik, permasalahan ini
menjadi urgent karena berkaitan dengan bagaiman parpol itu selalu acek dalam
proses dan acek dalam berorganisasi sehingg setiap keputusan partai terukur karena
selama ini tidak pernah terukur karena tidak pernah terlembaga. Di wilayah ini kami
merekomendasikan bahwa, pertama ketua partai dipilih melalui pemilihan
pendahuluan atau mendorong hasil calon ini, pemilihan calon didorong agar supaya
semua agar tidak ada gangguan karena selama ini pimpinan parpol selalu diisi
segelongan elit, model ini akan lebih memberikan kesempatan kepada calon baru.
Yang berikutnya mekanisme PAW, pergantian antar waktu atau recalling yang
transaparan dan akuntabel, ini penting karena selama ini proses pergantiannya tidak
pernah jelas. Berikutnya parpol harus membuat mekanisme pengkaderan berjenjang
ini ditujukan untuk melihat kapasitas calon kader berdasarkan kemampuang masingmasing. Kemudian parpol harus mereduksi efek dinasti dalam parpol, ini memang
mungkin sulit untuk dihilangkan karena menyangkut beberapa hal namun
minimalnya dapat mereduksi. Kemudian parpol harus memperhatikan aspek moral
didalam tubuh partai politik ya dimulai money politic kong ka ling kong dan ini harus
di kelola agar dapat menjadi lebih baik. Berikutnya parpol perlu meningkatkan
kualitas parpol di wilayah ini karena parpol tidak bisa dianggap organisasi senada
karena menyangkut bukan organisasi privat atau organisasi publik. Kalau organisasi
publik dia harus menggunakan ukuran akuntabilitas publik tidak boleh akuntabilitas
sekelompok orang. Kemudian perlu penegasan pemilihan ketua parpol harus secara
demokratis karena ini bagian bagaimana publik dapat meninali institusional parpol.
Yang keempat rekomendasi di wilayah ini kami merekomendasikan 2 hal pertama
233
perlu pembicaraan dengan parpol dan pemerintah, lalu mendorong kode etik
lembaga survei misalnya lembaga survei dilarang mengkampanyekan calon calon
yang bermasalah. itu kira-kira yang bisa di rekomendasikan oleh kelompok satu,
apabila bapak ibu memiliki pikiran yang berbeda boleh saran boleh kritik terkait apa
yang sudah disampaikan ini, saya persilahkan.. bgtu atas perhatiannya saya ucapkan
terimakasih dan saya kembalikan ke mas Khairul.. assalamualaikum wr, wb.
Khairul Fahmi:
Terimakasih mas Agus, saya buka kesempatan bapak ibu yang memberikan
komentar tetapi saya harapkan agak spesifik dan berbeda kalau udah sama saya
anggap sudah selesai jadi bisa kita lanjutkan ke PGD lain, silahkan kalau ada..
Fritz:
Nama saya Fritz pak, mohon maaf mas agus saya kemaren ada usulan sedikit
mengenai pentingnya peningkatan partai lokal salah satu masalahnya adalah
mengenai pemberian kesempatan selalu partai nasional, kita tidak pernah
memberikan kesempatan partai lokal. Apabila konsep itu pernah dan sudah
berlangsung di Aceh misalnya kemudian menjadi pertanyaan kenapa tidak bisa di
wujudkan di tempat lain dan itu menurut saya memperlihatkan kecirian daerah kita,
perlunya kita duduk dan dengarkan kembali adanya pembuatan partai lokal disetiapsetiap provinsi jadi tidak perlu selalu ada pusat dan daerah karena fokusnya bukan
hanya pada pusat karena di daerah juga ada. Sekian, Terimakasih.
Khairul Fahmi:
Baik, terimkasih mas Fritz, selanjutnya satu aja yaa, baik yang dibelakang..
Didi indriyaningrat:
Assalamualaikum wr, wb perkenalkan nama saya didi indriyaningrat peserta
non call paper, menarik sekali dan rekomendesikan dalam rumusan ini, saya kemaren
juga sempat mengikuit grup ini, dari desain yang dicoba diangkat salah satu
penguatan demokratisasi partai politik kalau saya membayangkan partai politik akan
mengalami penguatan dari regulasi-regulasi baik dari sisi eksternal maupun internal
234
mereka, jadi menurut saya penting dari rekomendasi penting tadi perlu adanya ide
bahwa partai politik ini menjadi profesi, profesi yang mempunyai tolak ukur yang
jelas kalau misalnya pengacara memiliki kode etik tentunya juga profesi ini memiliki
kode etik. Selain kode etik terhadap lembaga survey perlu jua diatur kode etik bagi
partai politik sehingga dapat menjadi kontrol dan mengontrol perilaku-perilaku
partai politik.
Khairul Fahmi:
Masih ada satu lagi, silahkan..
Ninis
Terimakasih pak moderator, sebenarnya ada satu lagi ada yang direkomendasikan
pada diskusi kemaren, karena kemaren ada satu hal yang telah bahas dan tidak
tersinggung pada hari ini yaitu persoalan perempuan di internal partai politik itu
penting sekali. Kalau melihat hasil pemilhan kemaren menempatkan perempuan itu
hanya sebatas untuk memenihi syarat aja agar parpol bisa berkontestasi di pemilihan
itu. Permasalah parpol yaitu tidak mampu menemukan calon perempuan yang
berkualitas sebenarnya alasannya ini kan lucu karena perjuangan calon perempauan
itu sejak tahun 1999 kalau tahun 2014 masih mempunyai alasan kita susah loh cari
kader perempuan aneh kan karena perjuanagn sudah sejak lama, tetapi alasannya
masih saja itu-itu aja. Dalam rekemondasi kemaren perlunya penempatan kuata 30%
itu tidak hanya di pusat tetapi juga di daerah. Namun parpol juga harus
memanfaatkan mereka mempunyai organisasi sayap partai khusunya perempuan itu
harusnya menjadi wadah bagi parpol untuk menjaring kader perempuan yang
berualitas karena tidak bisa dipungkiri organisasi sayap khususnya perempuan
gerakannya mengakar dibawah. Mungkin itu saja terimkasih
Khairul Fahmi:
Oke.. jadi point rekomenasi juga saol peranan perempuan dan keterlibatan
perempuan dalam pengelolaan partai politik. Baik itu kira-kira tambahannya,
mungkin kita tidak bahas lagi, kita ingin bapak ibu fokus rekomendasinya, ini ada
rekomendasi umum tetapi juga ada penekanan seperti yang disampaikan tadi seperti
235
mas Fritz soal partai lokal, mbak ninis soal penekanan perempuan.. yaa silahkan
mbak, bagi bapak ibu PGD 1 yang kira-kira belum tertampung dalam kesimpulan ini
silahkan disampaikan
....
Ada dua rekomendasi utama bagi saya, yang pertama, tidak langsung ke partai politik
tapi lebih agak general kalau ada revisi di UU Pemilu yaitu kemungkinan kemunculan
calon independen. Kalau dilihat dari beberapa negara, akan sulit menemukan negara
mana yang tidak memiliki calon independennya dari pada ada yang parlemennya. Jadi
kebanyakan negara memiliki satu calon independen, jadi menurut saya untuk
representasi fungsional ini perlu di buka calon independen politik. Itu satu
Khairul Fahmi
Itu maksudnya untuk parlemen saja? DPR?
...
Sebetulnya untuk DPR dan DPRD itu memungkinkan
Khairul Fahmi
Tapi peserta pemilu kita partai politik loh buk
..
Betul, sebab pemilu kita partai politik Cuma kalau kita ada semnagat merevisi UU
Pemilu mungkin ini perlu membuka kemungkinan membuka calon non partai politik
disana walaupun nanti ada satu ada dua itu tidak masalah yang penting calon
independen dibuka, kalau di ambil contoh Iran saja itu ada selalu kursi Yahudi,
padahal itu dia kelompok miniroitas. Rekomendasi kedua perlu adanya muatan
dalam parpol perlu menetapkan standar kualifikasi calon yang akan di majukan
kandidat yang akan dimajukan, karena nanti keitika dia akan duduk di parlamen atau
kursi kursi pemerintahan kalau saya ambil dari paper Prof. Bagir Manan mereka
harus menjaga hormat parpol, nah menjadi tanggungjawab bahwa calon kader yang
236
di usulkan nya itu punya kulaifikasi yang baik. Jadi itu dua rekomendasi dari saya.
Terimakasih
Khairul Fahmi:
Baik, terimalkasih bu dan itu sudah tercatat dalam point-point yang sudah ada di PGD
1. Baik silahkan terakhir, pak Phillip
Phillip Vermonte:
Makasih, saya mau komentar sedikit lembaga survey, menurut saya lembaga survey
tidak perlu diatur oleh UU tetapi dia diatur oleh assosiasi masing-masing karena dia
lembaga profesi kecuali dia di danai APBN/APBD, jadi kalau menggunakan dana
publik dia boleh diatur. Yang kedua kita harus mendorong agar dia menjadi
profesional dan itu menjadi tanggungjawab assosiasi yang terkait dengan lembaga
riset atau survey yang praktek yang dilakukan sekaranga adalah sudah mendaftarkan
di KPU dan KPUD dan yang penting bagi saya pada pemilu kemarenpada tahun 2014
lembaga survey karena ada persilisihan itu di audit secara terbuka oleh assosiasi
yang bersangkutan jadi menurut saya itu sudah sangat cukup diserahkan kepada
mereka yang menaungi dan kalau boleh mau diatur dalam UU agak berlebihan tetapi
lembaga survey akan menghakimi adalah publik sendiri. Jadi apakah dia kredibel atau
tidak adalah publik. Kalaupun mau mengatur atau memakasakan sesuatu yang paling
mudah untuk transparansi atau kebutuhan akademis mewajibkan lembaga survey
yang merilis hasilnya ke publik sekaligus merilis data mentahnya sehingga bisa di
cross check oleh orang yang tidak melalukan survey. Itu menurut saya jauh lebih
berguna untuk kajian-kajian politik. Sehingga mereka mempunyai akses untuk
mendapatkan data dan kajian dari lembaga survey dan hasil-hasil survey tersebut.
Khairul Fahmi:
Terimkasih pak Phillip, ini untuk melengkapi rekomendasi yang telah dirumuskan
oleh PGD 1 tetapi beliau menekan tidak perlu ada pengaturan secara tegas dalam UU
cukup diatur oleh institusi yang mereka bikin sendiri oleh lembaga-lembag survey.
Cukup kaan.. saya berikan catatan ada tambahan soal peranan perempuan dan partai
politik lokal diatur dalam UU Parpol cukup kaan, terimkasih. Berikutnya kita
237
lanjutkan PGD 2 dengan tema penyelesaian sengketa dan hubungan pusat dan daerah
partai politik, pada pak Bachtiar saya persilahkan
Bachtiar:
Assalamualaikum, wr, wb. Izinkan saya mewakili PGD 2 untuk menyampaikan hasil
diskusi dalam bentuk rekomendasi yang sifatnya tentatif dan masih diskusikan lanjut
tetapi pada pointnya ada 2 isu yaitu akan dibawa dalam sebuah rekomendasi yaitu
pertama, penyelesaian sengketa internal parpol, dan kedua isu hukum berkaitan
dengan hubungan parpol pusat dan daerah atau disentralisasi parpol. Nah kita coba
bahas yang pertama dari sisi penyelesaian konflik internal parpol yang pertama,
perdebatan tentang penyelesaian parpol ini mengerucut pada dua hal dalam
perdebatan itu ada sifatnya internal itu dikembalikan ke partainya atau ada campur
tangan eksetenal ini yaitu pengadilan atau arbitrase atau gabunag dari kedua-duanya.
Kesimooulan dari teman-teman meninginkan bahwa penyelesaian sengketa parpol
harus secara detail diatur dalam UU. Walaupun perdebatannya itu dikembalikan juga
pada AD/RT tapi ada penekanan tertentu sengketa parpol diselesaikan secara
internal melalui mahkamah parpol karena rohnya disitu pada saat pembentukan UU
parpol. Kemudian parpol baik komposisi dan syarat pengisiannya diatur oleh UU
sedangkan mekanisme teknis di kembalikan pada AD/RT parpol dengan syarat
mahkamah parpol tidak diberikan kewenangan untuk memberhentikan anggota
parpol. Selanjutnya mekanisme penyelesaian sengketa itu diatur secara rigid dalam
UU, itu yang berkaitan dengan penyelesaian sengketa parpol.
Kemudia isu yang kedua, beriakitan hubugan pusat dan daerah, teman-teman
berkesmipulan bahwa isu tentang disentralisasi ini menjadi penting bagi parpol dan
prinsip hubungan desentralisasi pusat dan daerah harus diatur dalam UU yang
mengatur tentang hubungan itu. Ada tiga penekanan yaitu pertama, berkaitan dengan
penetapan ketua atau pimpinan parpol yang kedua penetapan caleg dan calon pilkada
dalam proses seleksi dalam penetapan calon pilkada nah ini perdebatan ini suasana
batinnya laur biasa karena ini berkaitan dengan minta restu berjenjang sehingga ini
harus dipatahkan dan harus diatur dalam UU sesuai dengan rekomendasi yang
pertama tadi, kemudian yang berikutnya proses seleksi calon dilakukan secara
238
berjenjang. Saya kira itu 2 hal penting kami simpulkan dan kami rekomendasikan dan
mungkin ada penambahan atau sebagainya dikembalikan kepada pimpinan sidang,
silahkan
Khairul Fahmi:
Terimkasih pak Bachtiar, nah itu tadi apa point-point rekomendasi, namun pak
bachtiar tidak menyampaikan lagi apa yang kita sampaikan karena akan menjadi
panjang dan hanya rekomendasi saja. Kalau ada hal baru dari bapak ibu atau ada
catataan yang hendak disampaikan terhadap rekomendasi ini kita berikan 2 sampai 3
orang memberikan pandangan. Kalau tidak kita akan selesaikan. Silahkan lengkap
yaa.. kalau sudah selesai kita akhiri berarti ini sudah menjadi pandangan umum
dalam PGD 2. Masih ada pak, silhakan pak
Tamrin:
Sebagai penjelasan proses perekrutan dan pencalonan berjenjang itu masih multi
tafsir, yang artinya kayak apa yaa. Kemaren dalam forum itu di putuskan oleh Kab
oleh provinsi.. jadi perlu tambahan penjelasan dan penetapan dan pengusulan,
pengusulan dari bawah penetapan dari bawah, sehingga tidak perbedaan penafsiran
dalam proses itu saja. Saya kira itu saja tambahan untuk memperjelas.
Khairul Fahmi:
Terimkasih pak tamrin tambahan penjelasannya dan sudah kita catat. Kalau tidak kita
tutup dan kita lanjut ke PGD 3, penyampaian rekomendasi oleh saudara Donal,
silahkan
Donal Fariz:
Makasih moderator selamat pagi.. assalamuailakum wr, wb. Salam sejahtera untuk
kita semua. Sebelumnya saya minta izin menambahkan beberapa point dari hasil
kesimpulan dari PGD 3, selanjutnya kami menilai kemaren bahwa tanpa menganggap
apa hal-hal pokok dan tidak pokok tapi kami meyakini pada PGD 3 masalah keuangan
parpol adalah sumber dari banyak hal. Kalau kita bicara masalah rekruitmen,
demokrasi dalam internal parpol sumbunya adalah di keuangan parpol tidak akan
239
melakukan demokrasi internal, rekruitmen dan kaderisasi internal kalau tidak dari
duit atau sumber keuangan kira-kira seperti itu. Jadi kita berbangga pada PGD 3
karena kita membahas isu yang sangat penting sekali. Yang kedua yang sangat
niscaya memperbaiki keungan partai politik, kita menghadapi kondisi dimana hari ini
muncul konglmerisi
partai politik. Orang menjadi konglomerat kemudian
membangun parpol, model-model seperti ini tentunya tidak sehat karena pengusaha
itu adalah basisnya orinetasinya bisnis dan kapitalis dan negara harus hadir
memperbaiki kondisi yang demikian. Dan rekomendasi ini akan memperbaiki
beberapa aspek dalam keunagan partai politik itu sendiri. Yang kedua kalau kami
meyakini juga tujuan peningkatan bantuan keunagan partai politik, ini adalah
mendorong parpol lebih profesional dan meningkatkan akuntabilitas dan
tanggungjawab keungan parpol dan point kedua ini paling penting. Dan mungkin kita
kalau sekarang parpol dikasih 100 rupiah untuk satu suara, kita minta akuntabilitas
yang lebih tinggi jangankan kepada partai itu sendiri kepada kita sendiri, istri kalau
hanya dikasih minta seribu atau dua ribu sehari tidak
mungkin dimintakan
akuntabilitas seperti ini kalau di analogikan demikian apalagi kalau parpol sebagai
entitas penguasa tidak mungkin dikasih kecil tapi minta banyak. Perlu paradigma ini
kita perbaiki untuk menjadi ballance. Yang ketiga mnegurangi ketergantungan
terhadap donor besar dan meningkatkan persaingan karena menimbulkan
persaiangan tidak sehat dalam internal karena kapasitas bukan tas yang disebutkan,
mengurang tekanan terhadap kader karena ada setoran. Karena di DPR RI ada yang
minta 10 juta, 15 juta per bulan dari potongan gajinya dan masuk langsung ke
rekening partai. Selanjutnya nah ini rekomendasi, secara umum perlu di lakukan
revisi pada tingkatan UU pendanaan partai, kemaren karena kita waktu dibatasi
sebenarnya kita mau berdebat panjang tapi waktunya. Opsinya kita hanya
menghadirkan dua opsi, satu merivisi UU parpol dengan menambahkan normanorma lebih detail soal tata kelola keungan partai atau kedua membentuk UU
pendanaan parpol sebagai aturan yang lex spesialis dibandingakan dengan UU parpol
itu sendiri jadi 2 opsi ini yang kita hadirkan kemaren. Sekali lagi karena waktu yang
terbatas dan padahal kami ingin menyelesaikan pak fahmi. Selanjutnya yang khusus
mengusulkan tiga desain modal bantuan keuangan pada partai, satu mode bantuan
proposional sesuai dengan yang kita terapkan pada hari ini dan perlu ada
240
penyesuaian dan pembahasan lebih teknis dan kedua bantuan fred atau bantuan yang
sama rata untuk masing-masing parpol. Dan yang ketiga inkind nah ini beda-beda.
Proposional ini kita dorong untuk pendidikan politik dan lain sebagainya dan
bantuan fred ini kita dorong memenuhi operasional kebutuhan parpol dan bantuan
inkind bagaimana partai diberikan akses yang sama misalkan dia dikasih slot untuk
iklan di media massa, iklan media massa itu pemilik kalau kita di media massa
sebenarnya itu adalah pemilik publik jadi bagaimana itu di dorong kepada publik.
Nah selanjutnya diwajibkan menyusun anggaran pendapatan partai, hari ini kita tidak
pernah tau parpol menggunakan uang untuk apa, tidak pernah bisa ditertibkan
karena tidak ada desain sejak awal untuk apa uang itu untuk dipakai jadi APBP ini
mendorng partai lebih tertib kalau ada mengusulkan lebih awal dengan misalnya 100
juta untuk kegiatan A maka konsekuensi audit adalah apa benar 100 juta digunakan
untuk kegiatan A. Kemudian pada level DPP parpol diwajibkan melakukan konsilidasi
laporan keuangan dan ketiga sudah disampaikan tadi. Selanjutnya ni audit bapak ibu
saya yang hormati, hari ini kan ada tiga jenis bantuan keuangan parpol dari ketiga
sumber keungan tersebut ada 2 jenis audit keuanagan yang bersumber dari APBn dan
APBD diaudit dari BPK dan keuangan yang dari sumber lain dari anggota atau
seumber yang tidak mengikat atau perorangan itu diaudit oleh KAP atau akuntan
publik yang ditunjuk oleh parpol. Problemnya kita tidak bisa memperoleh laporan
keunagan yang terkonsilidasi bahkan anggota parpol itu sendiri tidak tau berapa
keuangan yang diterima dan dibelanjakan oleh parpol karena mereka tidak pernah
hasil audit dari KAP itu sendir. Nah kami ingin merekomendasikan bagaimana ini,
karena ini bukan uang negara BPK tidak bisa mengaudit berdasarkan UU 17 tahun
2003 tentang keuanagn negara. Tetapi kita KAP ini di tunjuk oleh BPK sehingga
akuntan yang ditnujuk bukan akuntan yang abal-abal. Kemudian partai membuka dan
mempublikasikan melalui website masing-masing terhadap laporan keunagan partai
ini problem yang ketiga ini sudah ada pada UU parpol tapi malangnya tidak ada
sanksi, kita mengatur pada kolom sanksi ketika tidak dilakukan parpol. Dan
selanjutnya bicara sanksi kita ada penundaan dan pemberhentian dan kita ada sanksi
pidana dan lan larangan mengikut pemilu selama satu kali masa pemilu pada daerah
yang laporan keuangan nya yang bermasalah dan ini beberapa hal yang kita
241
tambahkan dalam PGD 3. Itu saja yang ingin kita sampaikan. Terimkasih
Assalamualaikum, wr, wb
Khairul Fahmi:
Terimkasih bung donal, silahkan bapak ibu dari PGD 3 kalau ada yang kurang rasanya
atau kalau udah lengkap selesai, silahkan mas
Husen:
Assalamualaikum wr, wb. Saya husen, jadi terkait dengan rekomendasi ini kan saya
sempat menyampaikan point besar saya menurut saya terkait keberatan saya soal isu
yang disampaikan oleh pak saldi isra negara memberikan dana kepada parpol dan di
slide tidak ada satu pun yang mengakomodir apa yang saya sampaikan kemaren.
Hampir kita semua yang hadir disini menjadi terdorong menyepakati bahwa negara
harus memberikan dana terhadap parpol saya ingin membahasakan bahwa
bagaiamana mungkin negara kita di daerah-daerah yang masih perlu banyak bantuan
keuangan tapi uang yang bayak itu di kasih ke parpol. Sekarang dia yang tidak
diberikan uang saja sudah luar biasa apalagi kalau didorong diberikan uang. Nah ini
saya kira perlu menjadi rekomendasi khusus kemudian dipertimbangakn dalam
konteks ini. Yang kedua yang saya sampaikan kemaren bagaiamana dihadirkan juga
oleh parpol sehingga ada ballance informasi hari ini kita parpol menjadi sesat kita
hajar habis tapi tidak ada satu parpol yang menyampaikan masalah internal partai.
Kemudian terkait keberatan saya negara memberikan uang kepada parpol, bisa saja
didesaian untuk memberikan kesempatan pada parpol untuk memiliki amal usaha,
sehingga mereka mempunyai kemampuan untuk membesarkan parpol tanpa uang
negara. Saya kira itu saja menjadi point untuk dipertimbangkan. Terimakasih
Khairul Fahmi:
Baik, terimkasih mas Husein. Baik terkait apakah negara akan memberikan uang
lebih banyak itu masih ada yang setuju dan tidak dengan argumentasi masing-masing.
Silahkan jika masih ada komentar atau tambahan catatan rekomendasi. Silahkan pak
Veri
242
Veri Junaidi:
Terimkasih saya veri junaidi dari KODE INISIATIF sebenarnya saya ingin
menambahkan apa yang disampaikan mas donal dan mas husen terkait besaran. Di
PGD 3 kita memang ada kesepakatan dari awal sampai akhir terkait bantuan
keuangan parpol namun memang ada kecendurangan seluruh narasumber
menyepakati ada peningkatan bantuan. Tetepi di forum juga tidak sepakat dengan
prof saldi dengan bantuan yang bgtu besar sampai 70-80%. Dan oleh karena itu kita
ada 3 skema yaitu proposional yang ada yang dihitung berdasar perolehan suara
yaitu 108 rupiah yang itu digunakan secara keseluruhan untuk pendidikan politik
yang disampaikan mas donal, yang kedua bantuan flat, untuk operasional parpol dan
juga konsilidasi parpol dan itu rekomendasi tapi saya sepakat yang belum disebutkan
sebenarnya karena itu sudah dalam proses diskusi dan tidak masuk dalam
rekomendasi karena hal-hal besar. Kita menyepakati ada proposioanl bantuan
keuangan atau sumber keuangan parpol, misalnya kan ada 3 item besar terkait
sumber keuangan partai yaitu pertama berasal dari negara, berasal dari pemilih dan
publik dan ketiga dari internal. Nah ketiga-tiga ini harus berimbang antara negara,
partai dan juga internal dengan publik dan oleh karena itu menurut saya soal
rekomendasi saya pribadi dan mengingatkan dalam forum pgd 3 kita tetap perlu
adanya peningkatan bantuan dengan alasan selama ini bantuan negara sangat minim
dan didominisi dari elit parpol dan menyebabkan persoalan seperti saat ini. Dan jika
mau ditambah cukup ditambahkan soal proposioanal saja sehingga tidak ada
perdebatan lagi, sekian saya kembalikan ke moderator
Khairul Fahmi
Terimakasih pak veri, baik tadi mas Husen ya. Kalau apanamanya prinsipnya adalah
bahwa mesti tetap ada sumber keuangan penerimaan partai dari uang negara. Itu oke
karena sampai hari inipun tetap ada. Yang kedua soal proposionalitas artinya tetap
ada alokasi dana untuk partai dan kemudian penekanannya terkait proposioanalitas
seperti yang disampaikan pak Veri tadi. Bisa kita satu gelombangkan dengan yang
tadi soal keuangan dari negara. Dan kedua soal proposional keuangan yang
disampaikan prof saldi besar namun teman-teman tidak setuju dan inginnya
proposional dan itu yaa. Okee yaa. Dan itu menjadi rekomendasi kita.
243
Baik itu point-pointnya sudah semua mulai soal kandidasi, soal pemilihan ketua,
kemudian penyelesaian sengketa termasuk soal hubungan pusat dan daerah dan
terakhir soal keunagan. Kami sudah catat semuanya dan terakhir adalah hari ini
adalah kita sudah diposisi akhir tahun dan ada satu agenda politik nasional yang
penting menjadi perhatian kita terkait pembahasan RUU Pemilu yang kita tidak tau
perkembangan saya sampai mana, tetapi jadwal pemilu sudah semakin dekat.
Sehingga kita bisa bicarakan bersama dan jika ada teman-teman yang ada silahkan,
artinya forum ini juga bicara soal itu dan kita nyatakan bersama-sama kalau ini perlu
kita sampaikan bersama, silahakan jika ada..
Fadli Ramadhanil:
Terima kasih pak moderator, karena kebetulan kita pemerhati dan pencinta tata
negara berkumpul disini di hari bulan baik, dan diluar rekomendasi yang sudah
disimpulkan dan melihat keadaan situasi saat ini, saya mengusulkan ada tambahan
rekomendasi yang kita sampaikan dari konferensi ini. Konferensi yang sudah
terlakasana selama 3 hari ini yaitu dorongan percepatan pembahasan RUU pemilu
serentak 2015, karena sampai saat ini pemerintah sebagai inisiator sama sekali
bekum menyelesaikan RUU yang akan di bahas di DPR sementara pembahasan yang
akan semakin singkat, kita sudah berada di september 2016 dan belajar dari pemilu
sebelumnya tahapan pemilu sudah berjalan 20 bulan sebelum hari H. Kalau pemilu
akan dilaksanakan april maka tahapan harus dijalan pada bulan juni pada tahun
2017. Waktu semakin singkat sedangkan pemerintah masih juga belum memberikan.
Posisi terakhir yang kami dapatkan pemerintah baru punya beberapa pilihan-pilihan
isu beberapa point krusial sistem pemilu, kelembagaan dan lain-lain tetapi belum
punya rancangan draft yang utuh dan kami mengusulkan beberapa teman-teman
kodifikasi pemilu ada mas donal, mas veri junadaidi dan teman pusako dan pak
phillips juga dan beberapa teman hadir disini, kalau kita di konferense ini setuju
adalah pecepatan pembahasan RUU pemilu dan kedua mendorong pembahasan
partisipatif sehingga penyelenggaran pemilu 2019 ini bisa tersimulasikan dengan
baik dan akan menjadi ruang konsiliadasi demokrasi yang lebih mapan kedepannya,
terimkasih pak moderator itu tambahannya.
244
Khairul Fahmi
Terimkasih yaa. Itu tadi penjelasan dari saudara Fadli. Kita setuju ya forum ini juga
merekomendasikan pemerintah segera membahas dengan DPR RUU pemilu yang
akan dilaksanakan sebagai dasar pelaksanaan pemilu serentak 2019 akan datang kita
setuju kan.. itu point terakhir rekomendasi kita..
Baik bapak ibu terimkasih ya atas perhatian dan partisipasinya dalam konferensi dan
kita seluruh hasil rekomendasi ini akan serehkan kepada bapak ibu dan kita akan
publikasi kan menjadi bincang ilmiah kita selama 2 hari ini. Dan kita tutup ya sesi
penyamapaian hasil dan rekomendasi ini sampai saat ini dan terimkasih kepada Mas
Agus, Pak donal dan Pak Bachtiar. Silahkan kembali ke tempat. Saya undang ke depan
ini ada beberapa yang ingin disampaikan oleh teman-teman KPK, silahkan saya
sampaikan jubir KPK mbak yayuk
yuyuk andriyati (KPK):
Assalamualaikum wr, wb. Selamat siang bapak ibu semua pertama perkenalkan saya
yuyuk andriyati saya sekarang kepala bagian Humas KPK, saya ingin mengucapkan
terimkasih kepada teman PUSaKO prof saldi dan mas Feri yang telah memberikan
kesempatan kepada saya dan tim seperti yang dilihat di depan ada beberapa meja dan
games. Meja untuk pengenalan mengenai jurnal integritas yang dikelola oleh Biro
Humas KPK. Dalam kesempatan ini saya ingin memanfaatkan terkait informasi jurnal
intergritas singkat saja pak, ibu. Kami memiliki jurnal integritas, dua kali terbit dan
mungkin edisi kedua sudah ada ditangan bapak ibu. Dan ini masih sangat bayi dan ini
dulu sebebanarnya kami ingin mengumulkan tulisan-tulisan mengenai antikorupsi
yang selama ini tercecer jadi kami ingin mengumpulkan agar ini bisa terdokumentasi
dan bisa dilakukan untuk agar lebih banyak dapat memberikan referensi tentang
antikorupsi. Karena kita bicara tentang antikorupsi sudah sangat jago sekali dan
banyak sekali, terakhir bapak ibu sudah melihat lagi-lagi kepala daerah kena OTT nah
hal-hal seperti itu sudah menjadi santapan sehari-hari tapi referensinya masih
kurang. Untuk itu kami ingin mewedahi ide-ide dan penelitian tentang antikorupsi
yang dihasilkan oleh akademisi dalam kampus atau luar kampus untuk ditampung
dalam jurnal ini. Jadi karena satu tahun jadi belum terakreditasi jadi kami akan
bertahan dan survive dengan bantuan bapak ibu semua dan teman-teman akademisi
245
yang membantu KPK mohon doanya untuk pertasipasinya agar jurnal tetep bertahan
dan eksis. Ini sekedar informasi bahwa pimpinan KPK pak Laode sangat incar untuk
edisi-edisi dalam jurnal ini beliau banyak sekali memberikan masukan dan kami
sangat banyak terbantu. Saya menyadari dan saya dan tim saya dengan beberapa
gelintir tidak mempunyai kompetensi penuh untuk menjalankan penerbitan jurnal
ini, jadi kami menggandeng beberapa akademisi dari beberapa Universitas menjadi
redaktur dan mitra bestari kemudian kebetulan Prof. Saldi menjadi mitra bestari
dalam Jurnal Integritas. Kemaren mulai membahas mengenai korupsi Sumber daya
alam pada edisi pertama. Dan untuk ketiga kami masih menerima naskah sampai 30
september nanti terkait tema korupsi koorporasi namun tidak juga terlepas dari
teman-tema tentang korupsi yang akan kami terima. Ini beberapa contoh artikelnya,
jurnal ini diterbitkan dalam 2 kali satu tahun jadi terbitan ketiga adalah bulan
Desember 2016 mungkin akan sedikit maju di akhir November kemudian apa yang
didalamnya standar jurnal dan kajian ilmu luas karena korupsi bisa dikaji dari ilmu
apa saja. Bapak ibu pasti sudah paham dari ekonomi sosial, psikologi juga bisa dan
juga selain artikel ilmiah kita juga bisa menerima artikel lain seperti eksemenasi
persidangan, tentang hukum tata negara juga bisa masuk dalam jurnal ini. Apa yang
menjadi unsur utama adalah sikap keberpihakan kepada pemberantasan korupsi dan
beberapa objek akan di evaluasi yang masuk dalam jurnal salah satunya keasilan
naskah pasti tidak plagiat, kemudian analisis kemudian ada relevansi dan
kemutakiran referensi. Ini edisi dua dan tiga yang sudah saya sebutkan. Ini yang
bahwa kita juga menerima tulisan naskah ilmiah akademis kalau ada artikel lain kami
bisa juga terima, karena kami juga punya rubrik-rubrik dalam jurnal itu. Saya juga
ingin mengenalkan satu portal anti korupsi keliling house yang sekerang di kelola
KPK ini sebenarnya portal pengenalan anti korupsi dan kami menjadikan satu dan
berbeda dengan website KPK. Kalau website KPK terkait informasi kelembagaan,
kalau portal ini tentang portal antikorupsi dan pemahaman anti korupsi dan bagi
bapak ibu bisa mengakses portal ini di http: acch.go.id. karena cukup lengkap isinya
kami beberapa menu ini tentu yang sangat KPK, LHKPN, laporan harta penyelenggara
ini bisa di akses asalkan spellingnya beanr bisa melihat resume dari LHKPN nya. Jadi
bagi teman-teman KPU ini juga berguna sekali. Dan terkait grativikasi contoh-contoh
dan modulnya lengkap di acch. Khusus modul edukasi ini beberapa modul edukasi
246
dari semua tingkatan dari tingkat paud hingga universitas, silahkan di akses dan
semuanya bisa di download gratis karena ini semua untuk kepentingan sosialisasi.
Kami juga mengelola media anti korupsi lain yang dapat bapak ibu akses kanal kpk
dan tv radio dan semuanya bisa di akses lewat streaming lewat Kanal.kpk.go.id dan
semua kontennya bisa di download. Dan kami juga memiliki makalah integrito dan
semua sudah dibagikan namun kami tidak banyak membawa. Kemudian kami punya
e-news letter yang terbit satu kali sebulan. Saya kira informasi ini sangat penting bagi
bapak/ibu oleh karena itu kami akan mengupdate kegaitan-kegaiatan KPK apa aja.
Kami juga menjalin kerjasaman dengan beberapa perguruan tinggi di Indonesi
terutama terkaiat litariasi antikorupsi dan kami linkan dengan beberapa perguruan
tinggi yang telah bekerjasama terkait literasi dan artikel antikorupsi dan semua itu
akan di linkan dengan perpustakaan KPK. Selain itu kami bekerjasama dengan pusat
kajian di Universitas termasuk PUSaKO juga perpustakaan lain, selain juga kami juga
ingin menginisiasikan pusat kajian yang belum ada di univeristas yang memang
belum ada. Itu saja pengantar dari saya ini sekedar memperkenalkan, mohon
dukungan dan partisipasinya terkait jurnal integritas dan saya masih mau menerima
naskah-naskah dari bapak-ibu karena bapak-ibu mempunyai hasil penelitian yang
dapat di publish. Sekali lagi terimakasih selamat siang mohon maaf jika ada
kekurangan. Assalmualaikum, wr, wb
Khairul Fahmi
Terimkasih mbak yuyuk, terutama bagi bapak ibu yang dosen tentu menulis jurnal
penting ya. Kita sudah mempunyai salah satu media yang dapat digunakan untuk
mempublikasikan hasil-hasil penelitian kita terutama terkait dengan pemberantasan
korupsi. Baik bapak ibu semua peserta konferensi yang saya hormati, sekian sesi ini,
semoga apa yang kita hasilkan selama 2 hari ini bermanfaat dan bisa kita gunakan
menjadi bahan untuk memperbaiki regulasi di bidang perpolitikan kita dan mudahmudahan apa yang kita hasilkan ini bisa diterima oleh pemangku kebijakan. Saya
tutup sesi ini terimkasih. Assalamualaikum wr, wb
247
PENUTUPAN
KONFERENSI NASIONAL HUKUM TATA NEGARA 3
Kata Sambutan Direktur Pusat Studi Konstitusi (PUSaKO) Fakultas Hukum
Universitas Andalas Prof. Dr. Saldi Isra,S.H
Terimkasih, kita masih punya satu agenda lagi yaitu city tour dan akan berkunjung
kedua tempat yang wisata Sumatera Barat, satu lembah harau di Payakambuah dan
kedua Istana raja Istano Pagarayuang di Batusangkar, jadi kita memiliki waktu untuk
berkunjung kedua tempat bagi orang Sumatera Barat merupakan lokasi diantara
lokasi wisata menarik di Sumatera Barat. Jadi ini tidak akan panjang-panjang
penutupan kita, saya dan kami dari PUSaKO berterimkasih kepada kita semua yang
sudah dengan intens berpartisipasi sejak pembukaan sampai acara yang sangat padat
kemaren dan hari ini. Konferensi HTN akan tetap dilakukan setiap tahun dan akan
ada sedikit variasi dan itu masih dalam pemikiran. Kita sedang memikirkan dan
berbicara serius dengan asosisasi Pengajar Hukum Tata Negara, sekali 2 tahun akan
di gilir dan satu tahun sekali akan di PUSaKO dan itu pemikiran sementara yang kami
bahas. Dan kalau itu terjadi Konferensi akan dilakukan oleh Asosiasi dan pengajar
HTN dan HAN dan itu tempatnya akan ditentukan oleh DPP dan tahun depannya lagi
akan kembali lagi ke PUSaKO dan akan berberangan dengan Anugerah Konstitusi
Muhammad Yamin, sehingga acara ini benar-benar menjadi luas dan kita tidak hanya
dilaksanakan di Padang, tetapi itu tetap kerjasama PUSaKO dengan tempat yang kita
sepakati. Karena ini tetap dilanjutkan dan biayanya akan kita cari bersama terhadap
tahun-tahun kedepannya. Itu sementara pembicaraan, jadi boleh lah ini menjadi
kabar bagi kita dan dalam waktu dekat kita akan beritahu perkembangan ini. Dan
yang ketiga hasil-hasil dari konferensi ini itu tetap akan kita bukukan dan kepada
peserta akan kita bagikan seperti biasa dalam bentuk buku yang sudah kita lakukan
di dua konferensi sebelumnya. Dan itu memerlukan waktu karena ini perkerjaan
kami akan menjadi sedikit bertambah hasil ini akan dikembang menjadi naskah
akademik perubahan UU partai politik yang keempat saya kami dan semuanya
berterimkasih kepada kita semua baik peserta dalam status Call Paper dan Non call
Paper dan undangan khusus dan saya juga berterimakasih kepada pembicara asing. I
would like say thanks to Prof henk, patrick, david,.. to participating in conference and
248
i hope we can meet in next conference dan saya harap pak david akan selalu
mesupport kita dalam kegiatan-kegaiatan seterusnya.
Dan tadi malam Tahir
Foundation tetap berkomitmen untuk melanjutkan agenda konferensi hukum tata
negara. Jadi kita berharap masih bisa mengundang pembicara yang hadir dalam
acara ini. An to Prof. Henk We hope can invited you again in this conference next time
and prof paul.. diluar ini semua izinkan berterimkasih kepada adik-adik panitia yang
sudah bekerja keras .... ini semua berkat Feri, Charles, Khairul, dan senior saya. itu
semua mereka adalah mahasiswa dari tahun pertama hinga tahun ketiga dan mereka
diberikan tugas terutama berat ini kalau mereka tidak terlibat mungkin acara ini
tidak terselesaikan dengan baik. Dan yang tidak kalah penting adanya tidak ada
gading yang tidak retak tidak kesempurnaan dibawah sinar matahari, kami tiap tahun
berusaha memperbaiki kegiatan ini. Tapi karena ini merupakan perhelatan yang
besar pasti ada kelemahan-kelemahan oleh karena itu mohon kami diberikan
masukan dan yang paling penting diberikan maaf untuk semua ini. Terakhir sebelum
ditutup pak dekan kami ingin berterimkasih tahir Foundation, Kepada Ifes Indonesia,
Kepada Kemenkuham, kepada KPK dan kepada semua pihak yang tidak mungkin
kami sebutkan satu persatu yang sudah mensupport acara ini dan kepada kawankawan media yang kita perhatikan tahun ini jauh lebih luas pemberitaan
dibandingkan 2 tahun sebelumnya karena isu ini sangat aktual dan menjadi soal kita
semua yang harus diselesaikan. Kita berikan tepuk tangan juga kepada kawan-kawan
media yang hadir dalam ruangan ini. Terakhir terimakasih wabilahtaufik waladiyah
mungkin pak dekan tidak usah terlalu panjang.. terimkasih assalamualaikum wr, wb
249
Sambutan penutup dari Dekan Fakultas Hukum Universitas Andalas
Prof. Dr. Zainul Daulay,S.H.,M.H.
Terimkasih, Assalamualaikum wr, wb selamat pagi salam sejahtera untuk kita semua.
Atas nama pimpinan Fakultas Hukum Universitas Andalas, pertama-tama kami sangat
gembira atas kehadiran bapak/ibu yang telah berpartispasi didalam konferensi
dalam Hukum Tata Negara Ketiga ini. Dari yang pertama dan kedua kami melihat
bahwa yang ketiga jauh lebih banyak lagi baik pesertanya maupun pembicaranya dari
dalam negeri sendiri dan juga dari luar negeri untuk itu izinkan kami menyampaikan
aspresiasi yang sangat tinggi kepada rekan-rekan, dosen, komunitas Hukum Tata
Negara yang telah menunjukan sumbangsih pemikiran dalam perkembangan hukum
ketatanegaraan dan akan menjawab isu-isu
nasional yang selalu yang menjadi
sesuatu yang memberikan sumbangsih kalau pada tahun lalu, konferensi ini
membicarakan tentang bagaiamana menyeleksi pimpinan lembaga negara kemudian
juga bagaimana dilakukan pemilihan ... dan itu sudah menjadi kenyataan. Atas nama
pimpinan tentu saja kami ingin mengucapak terimakasih kepada Prof. Saldi isra dan
kawan kawan dari PUSaKO ada feri Amsari, Khairul Fahmi, Prof Yuliandri dan tentu
juga Prof Charles Simabura dan sudah kepadang dia sudah tugasi juga menjadi Wadek
3 Fakultas Hukum dan semua adek panitia melaksanakan acara ini dengan baik untuk
itu ini ada merupakan suatu modal bagi kita semua untuk tetap melaksanakan
pertemuan sebagaimana disampaikan prof saldi tadi, Fakultas Hukum selalu
mendukung acara menyangkut Konferensi ini apakah tetap di fakultas Hukum atau
tempat yang lain yang ada. Secara khusus saya juga mengucapakan terimakasih Prof.
Henk, Pattrcik, David, Paul Rowland yang sudah berpartisipasi dalam kegiatan ini dan
tentu saja kami berharap juga untuk tahun tahun yang akan datang untuk datang lagi
dan lebih luas lagi kita kembangkan bersama-sama. Saya minta maaf juga apabila ada
kekurangan yang tidak pada tempatnya.. dan oleh karena itu untuk mensuskekan
acara ini marilah kita mengucapkan hamdalah dan tepuk tangan kepada kawankawan PUSaKO.
Assalamualaikum Wr, Wb.
250
251
Membangun Demokratisasi Melalui Mekanisme
Pemilihan Ketua Partai Politik
Oleh Sulardi
Abstrak
Partai politik merupakan aset demokrasi yang sangat penting. Partai
politik memiliki fungsi dan peran yang sangat strategis dalam membangun
demokrasi di suatu negara .Oleh sebab itu keberadaan partai politik
merupakan suatu keniscayaan dalam berdemokrasdi dalam suatu negara
demokrasi. Agar tercipta demokrasi dan demokratisasi, maka yang pertama
melakukan demokratisasi mestinya partai politik itu sendiri. Sampai saat
ini Indonesia masih berproses dan mencari bentuk ideal menuju kehidupan
demokrastis (demokratisasi) sebagaimana dicitata-citakan konstitusi.
Tentunya “proses menuju” tersebut harus dilakukan dalam segala sisi,
termasuk dalam demokrasi internal partai paolitik. Demokarisasi dalam
partai politik belum terbangun secara baik, masih ditemukan partai politik
yang dalam pemilihan ketua partai politiknya dipengaruhi oleh pendiri
partai politik, kekeluargaan , bahkan perpecahan pasca pemilihan ketua
partai politik. Membangun demokrasi bisa diawali dari demokratisasi pada
partai politik, dalam hal ini melalui mekanisme pemilihan ketua partai
politiknya. Pemilihan ketua partai politik dapat dilakukan secara
demokratis bila : ada regulasi yang sejak awal dipersiapan sebagai jamainan
terjadinya proses pergantian ketua partai politik yang demokratis. Tidak
adanya sifat sifat “ kekeluargaan” dalam partai politik yang justru akan
terbangun dinasty partai politik. Pembatasan masa jabatan ketua partai
politik yang pasti, dan dibangun pertanggungjawanan atas keberhasilan
atau kegagagalan program partai politik secara terbuka.
Kata kunci, demokratisas, ketau, partai politik
A. Pengantar
Partai politik di negara demokrasi merupakan suatu keniscayaan.
Pada masa demokrasi belum dikenal (lagi)1, tidak ada ruang bagi kehidupan
partai politik. Seiring perkembangan kepolitikan dunia, dan tuntutan hak
hak warga negara dalam berdemokrasi, partai politik pun mulai muncul.
Status dan peranan partai politik yang sangat penting dalam setiap sistem
1 Pada abad ke V SM, di negara Yunani telahdikenal dan diselenggarakan demokrasi secara
langsung, semua warga negara kecuali anak anak, budak dan perempuan mempunyai hak untuk
menyampaikan pendapat. Namun Demokrasi seolah lenyap setelah Romawi berkuasi, dan
memasuki abad peretengahan ( X-XV), bahkan negara negara pada masa itu diselenggarakan secara
otoriter dan absulut. Kebangkitan demokrasi ditandai dengan runtuhnya rezim otoriter melalaui
Revolusi Perancis 14 Juli 1789, yang melahirkan negara negara demokrasi. Hingga saat ini
demokrasi terus menuju pada kesempurnaan dan mengalami pembaruan –pembaruan dalam
menjalankannya.
248
demokrasi. Partai memainkan peran penghubung yang sangat strategis
antara proses-proses pemerintahan dengan warga negara. Bahkan banyak
yang berpendapat bahwa partai politiklah yang sebetulnya menentukan
demokrasi, seperti dikatakan oleh Schattscheider (1942), “Political parties
created democracy”. Karena itu, partai merupakan pilar yang sangat penting
untuk diperkuat derajat pelembagaannya (the degree of institutionalization)
dalam setiap sistem politik yang demokratis. Bahkan, oleh Schattscheider
dikatakan pula, “Modern democracy is unthinkable save in terms of the
parties”.
Terdapat beberapa fungsi dari partai politik, Miriam Budiardjo
menjelaskan bahwa setidaknya ada empat fungsi partai politik yang terkait
satu dengan yang lainnya, yaitu2: Pertama, sebagai sarana komunikasi
politik, dalam hal ini peran partai politik adalah sebagai “penggabungan
kepentingan“ (interest aggregation) dan “perumusan kepentinngan”
(interests
articulation).
Sebagai
penggabung
kepentingan
berarti
menyalurkan aneka ragam pendapat dan aspirasi masyarakat dan
mengaturnya sedemikian rupa sehingga kesimpangsiuran pendapat dalam
masyarakat berkurang. Kemudian pendapat , ide-ide dan kebijakan atau
aspirasi kebijakan itu diolah dan dirumuskan sehingga dapat diharapkan
mempengaruhi atau bahkan menjadi materi kebijakan kenegaraan yang
resmi. Pada intinya kedua pengertian tersebut menyatakan bahwa
komunikasi politik merupakan proses penyaluran aspirasi. “Komunikasi
politik ialah proses penyaluran aneka ragam pendapat dan aspirasi
masyarakat dan mengaturnya sedemikian rupa sehingga kesimpangsiuran
pendapat dalam masyarakat berkurang” (Budiardjo, 2000: 163).
Kedua, sebagai sosialisasi politik (political socialization), Ide, visi dan
kebijakan strategis yang menjadi pilihan partai politik dimasyarakatkan
kepada konstituen untuk mendapatkan ‘feedback’ berupa dukungan dari
masyarakat luas. Terkait dengan sosialisasi politik ini, partai juga berperan
sangat penting dalam rangka pendidikan politik. Partai lah yang menjadi
2Miriam
Budiardjo, 2000, Pengantar Ilmu Politik, Jakarta: Gramedia, hal. 163-164.
249
struktur-antara atau ‘intermediate structure’ yang harus memainkan peran
dalam membumikan cita-cita kenegaraan dalam kesadaran kolektif
masyarakat warga negara.
Ketiga, sebagai sarana rekruitmen politik (political recruitment),
fungsi ini merupakan fungsi yang penting, baik bagi kontinuitas dan
kelestarian partai politik itu sendiri maupun untuk mencetak pemimpin
bangsa dan wakil rakyat yang berkualitas. Pada dasarnya partai dibentuk
dalam rangka menjadi “kendaraan” yang sah untuk menyeleksi kader-kader
pemimpin
negara
dalam
posisi
tertentu.
Dalam
hal
ini
Umar
mengemukakan bahwa proses seleksi pada dasarnya merupakan usaha
yang sistematis yang dilakukan guna lebih menjamin bahwa mereka yang
diterima adalah yang dianggap paling tepat, baik dengan kriteria yang telah
ditetapkan ataupun jumlah yang dibutuhkan.3
Keempat, sebagai pengatur konflik (conflict management), nilai-nilai
(values) dan kepentingan-kepentingan (interests) yang tumbuh dalam
kehidupan masyarakat sangat beraneka ragam, rumit, dan cenderung saling
bersaing dan bertabrakan satu sama lain. Jika partai politiknya banyak,
berbagai kepentingan yang beraneka ragam itu dapat disalurkan melalui
polarisasi partai-partai politik yang menawarkan ideologi, program, dan
altrernatif kebijakan yang berbeda-beda satu sama lain. Artinya, sebagai
pengatur atau pengelola konflik (conflict management) partai berperan
sebagai sarana agregasi kepentingan (aggregation of interests) yang
menyalurkan ragam kepentingan yang berbeda-beda itu melalui saluran
kelembagaan politik partai.
Keempat fungsi partai politik diatas menunjukkan bahwa partai
politik adalah elemen yang penting untuk membangun kehidupan yang
demokratis. sampai saat ini Indonesia masih berproses dan mencari bentuk
ideal menuju kehidupan demokrastis (demokratisasi) idela sebagaimana
dicitata-citakan konstitusi. Tentunya “proses menuju” tersebut harus
3 Umar, Husein. 2005. Riset Sumber Daya Manusia dalam Organisasi Edisi Revisi dan Perluasan.
Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Hal. 8-9
250
dilakukan dalam segala sisi, termasuk dalam demokrasi internal partai
paolitik.
B. Dinamika Partai Politik di Indonesia
Pada
umumnya
perkembangan
partai
politik
sejalan
dengan
perkembangan demokrasi, yakni dalam hal perluasan hak pilih dari rakyat
dan perluasan hak-hak parlemen.4 Partai politik pada pertama kali lahir di
negara – negara Eropa barat. Dengan meluasnya gagasan bahwa rakyat
merupakan faktor yang perlu diperhitungkan serta diikutsertakan dalam
proses politik, maka partai politik telah lahir secara spontan dan
berkembang menjadi penghubung antara rakyat di satu pihak dan
pemerintah di pihak lain.5
Partai politik di Indonesia memiliki sejarah perjalanan panjang.
Keberadaan partai politik di Indonesia dapat dilacak sejak masa penjajahan
Belanda. Pada masa itu sudah mulai berkembang kekuatan-kekuatan politik
dalam tahap pengelompokan yang diikuti dengan polarisasi, ekspansi, dan
pelembagaan. Partai politik di Indonesia lahir bersamaan dengan
tumbuhnya gerakan kebangsaan yang menandai era kebangkitan nasional.
Berbagai organisasi modern muncul sebagai wadah pergerakan nasional
untuk mencapai
kemerdekaan. Walaupun pada awalnya berbagai
organisasi tidak secara tegas menamakan diri sebagai partai politik, namun
memiliki program-program dan aktivitas politik.6
Budi Utomo (berdiri pada 20 Mei 1908) dan Sarekat Islam (berdiri pada
1911) adalah contoh organisasi yang tidak secara tegas menyatakan diri
sebagai organisasi politik. Namun dalam perkembangan kedua organisasi
tersebut, program dan aktivitasnya telah merambah ke wilayah politik.7
Ichsanul Amal, 2012, Teori – Teori Mutakhir Partai Politik,Tiara Wacana: Yogyakarta, hal. 19.
Ibid
6 Muchamad Ali Safa’at, Pembubaran Partai Politik Di Indonesia (Analisis Pengaturan Hukum
dan Praktik Pembubaran Partai Politik 1959 – 2004), Disertasi, Fakultas Hukum Program
Pascasarjana Universitas Indonesia, hal. 119
7 Hal itu dapat dilihat dari keterlibatan kedua organisasi tersebut dalam Volksraad. Bahkan,
pada 23 Juli 1916 BU dan SI telah melakukan aktivitas politik menuntut ketahanan Hindia Belanda
guna menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia saat itu telah berpikir mandiri. Aksi itu dikenal
dengan Weerbaar Actie. Wakil-wakil BU dan SI juga menjadi anggota koalisi radical concentratie di
4
5
251
Keberadaan kedua organisasi politik tersebut diikuti dengan munculnya
berbagai organisasi partai politik, seperti Indische Partij (IP), Insulinde,
Indische Sociaal Democratische Vereeniging (ISDV), Partai Komunis
Indonesia (PKI), Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai Indonesia Raya
(Parindra), Partai Indonesia (Partindo), Indische Sociaal Democratische
Partij (ISDP), Indische Katholijke Partij, Gerakan Rakyat Indonesia
(Gerindo), dan Partai Rakyat Indonesia (PRI).
Kehidupan partai politik Indonesia sebelum kemerdekaan mulai
menurun setelah 1930. Hal itu terjadi karena kebijakan represif yang
dijalankan oleh Pemerintahan Kolonial Belanda. Gubernur Jenderal B.C. de
Jonge (1931) dan A.W.L. Tjarda van Starkenborg Stachouwer (1936)
menolak memberi pengakuan pada organisasi pergerakan nasionalis. Pada
masa-masa ini banyak partai politik yang dibubarkan karena dianggap
membahayakan keamanan, ketertiban, dan stabilitas pemerintahan. Di
antara partai-partai yang ada pada masa pemerintahan kolonial Belanda
tersebut, yang pernah dibubarkan adalah IP, PKI, dan PNI.8
Menurunnya aktivitas politik pada masa pemerintahan kolonial
Belanda terus berlanjut pada masa pendudukan Jepang. Pemerintahan
pendudukan Jepang melarang keras semua kegiatan politik, termasuk
rapat-rapat yang membicarakan organisasi dan struktur pemerintahan.
Namun walaupun demikian, tokoh-tokoh partai politik tetap berperan
besar dalam usaha-usaha mencapai kemerdekaan. Bahkan pada saat
dibentuk BPUPK dan PPKI oleh pemerintahan Jepang, yang keanggotaannya
diisi oleh tokoh-tokoh nasional yang sebelumnya merupakan pimpinan
partai politik.
Pasca Indonesia merdeka, awalnya Presiden Soekarno menginginkan
adanya partai tunggal guna melaksanakan pembangunan yang disebutnya
sebagai “motor perjuangan rakyat”. Dalam pidatonya seperti yang dimuat
di Merdeka, pada 25 Agustus 1945, Presiden Soekarno menginginkan partai
dalam Volksraad yang menuntut adanya Majelis Nasional sebagai parlemen pendahuluan untuk
menetapkan hukum dasar sementara bagi Hindia Belanda.
8 Adnan Buyung Nasution, 1995, Aspirasi Pemerintahan Konstitusional di Indonesia: Studi SosioLegal atas Konstituante 1956 – 1959, Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, hal. 6 – 8.
252
itu adalah Partai Nasional Indonesia. Namun, seiring masifnya proses
pembentukan KNIP di daerah-daerah, maka pembentukan PNI untuk
sementara ditunda.9 Hingga pada akhirnya para tokoh nasional menyadari
pentingnya partai politik dalam kehidupan bernegara. Kemudian atas usul
Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP KNIP), dikeluarkan
Maklumat Pemerintah 3 Nopember 1945 yang berisi pernyataan bahwa
pemerintah menyukai adanya partai-partai politik. Disebutkan pula bahwa
partai-partai
politik
diharapkan
sudah
terbentuk
sebelum
dilangsungkannya pemilihan anggota badanbadan perwakilan yang
direncanakan pada Januari 1946.
Setelah adanya Maklumat itu, terbentuklah sekitar 40 partai politik. 10
Sejumlah partai politik yang telah ada sejak era Pergerakan Nasional,
tumbuh dengan kemasan yang baru. Partai-partai tersebut telah memiliki
massa dan basis pendukungnya sendiri-sendiri.
Pada masa diberlakukannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959, sistem
kepartaian Indonesia dilakukan penyederhanaan dengan Penpres No. 7
Tahun 1959 dan Perpres No. 13 Tahun 1960 yang mengatur tentang
pengakuan, pengawasan dan pembubaran partai-partai. Kemudian pada
tanggal 14 April 1961 diumumkan hanya 10 partai yang mendapat
pengakuan dari pemerintah, Partai-partai yang diakui adalah PNI, NU, PKI,
Partai Katolik, Partai Indonesia, Partai Murba, PSII, dan IPKI. Selain itu juga
dikeluarkan Keppres Nomor 129 Tahun 1961 tentang Penolakan
Pengakuan Partai-partai yang memenuhi Perpres Nomor 13 Tahun 1960.
Partai-partai yang ditolak pengakuannya adalah PSII Abikusno, Partai
Rakyat Nasional Bebasa Daeng Lalo, dan Partai Rakyat Nasional Djodi
Gondokusumo. Di samping itu, melalui Keppres 440 Tahun 1961 diakui
pula Partai Kristen Indonesia (Parkindo) dan Persatuan Tarbiyah Islam
9
Miriam Budiardjo, 2008, Dasar-dasar Ilmu Politik, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, hlm.
425.
10 Jimly Asshiddiqie, 2005, Kemerdekaan Berserikat, Pembubaran Partai Politik, dan Mahkamah
Konstitusi, Jakarta: Konstitusi Press, hal. 174.
253
(Perti).11 Sementara Masjumi dan PSI dibubarkan setahun sebelumnya,
yakni melalui Keppres Nomor 200/1960 yang diterbitkan Pada 17 Agustus
1960.
Dinamika partai politik pada masa Orde Baru ditandai dengan
dibubarkannya PKI pada tanggal 12 Maret 1966. Kemudian pada tanggal 20
Pebruari 1968 sebagai langkah peleburan dan penggabungan ormasormas
Islam yang sudah ada tetapi belum tersalurkan aspirasinya maka
didirikannyalah Partai Muslimin Indonesia (PARMUSI). Selanjutnya pada
tanggal 9 Maret 1970, terjadi pengelompokan partai dengan terbentuknya
Kelompok Demokrasi Pembangunan yang terdiri dari PNI, Partai Katholik,
Parkindo, IPKI dan Murba. Kemudian tanggal 13 Maret 1970 terbentuk
kelompok Persatuan Pembangunan yang terdiri atas NU, PARMUSI, PSII,
dan Perti. Serta ada suatu kelompok fungsional yang dimasukkan dalam
salah satu kelompok tersendiri yang kemudian disebut Golongan Karya.
Adanya pembinaan terhadap parpol-parpol tersebut kemudian oleh
Presiden Soeharto diadakan perampingan parpol sebagai wadah aspirasi
warga masyarakat waktu itu, sehingga pada akhirnya dalam Pemilihan
Umum 1977 terdapat 3 kontestan, yaitu Partai Persatuan Pembangunan
(PPP) dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) serta satu Golongan Karya.
Hingga Pemilihan Umum 1977, pada masa ini peserta pemilu hanya terdiri
sebagaimana disebutkan diatas, yakni 2 parpol dan 1 Golkar. Selama masa
pemerintahan Orde Baru, Golkar selalu memenangkan Pemilu.
Berakhirnya Orde baru menjadi sebuah uforia partai politik.
Pembentukan partai politik yang sebelumnya dikungkung. Era Reformasi
yang
melahirkan
sistem
multi-partai
ini sebagai
titik
awal
pertumbuhanpartai yang didasari kepentingan dan orientasi politik yang
sama di antara anggotanya. Jumlah partai yang berpartisipasi pada pemilu
1999 adalah 48 partai, 24 partai yang mengikuti Pemilu 2004, dan 40 partai
politik yang mengikuti Pemilu 2009. Hal inimengindikasikan suburnya
11 M. Rusli Karim, 1993, Perjalanan Partai Politik di Indonesia; Sebuah Potret Pasang-Surut,
Jakarta: Rajawali Press, hal. 149.
254
demokrasi yang terjadi di Indonesia, terlepas dari tercapainya fungsi partai
politik tersebut.
C. Demokratisasi Kepolitikan
Demokrasi merupakan bentuk pemerintahan politik yang kekuasaan
pemerintahannya berasal dari rakyat baik secara langsung (demokrasi
langsung) atau melalui perwakilan (demokrasi perwakilan). Istilah ini
berasal dari bahasa Yunani yaitu demokratia (kekuasaan rakyat), yang
dibentuk dari kata demos (rakyat) dan kratos (kekuasaan), merujuk pada
sistem politik yang muncul pada pertengahan abad ke 5 dan ke 4 SM di kota
Yunani Kuno khususnya Athena.12 Diantara beberapa pengertian tentang
demokrasi, barangkali pengertian yang dikemukakan oleh Abraham Lincoln
dapat merangkum makna demokrasi dalam sebuah kalimat sederhana.
Menurut Abraham Lincoln demokrasi adalah pemerintahan yang berasal
dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.
Demokrasi mementingkan kehendak, pendapat serta pandangan
rakyat, corak pemerintahan demokrasi dipilih melalui persetujuan dengan
cara mufakat. Sehingga demokrasi yang kuat adalah demokrasi yang
bersumber dari hati nurani rakyat untuk mencapai keadilan dan
kesejahteraan
rakyat.13
Layaknya
sebuah
sistem,
demokrasi
juga
mempunyai konsep, ciri-ciri, model dan mekanisme sendiri. Yang mana
semuanya itu merupakan satu kesatuan yang dapat menjelaskan arti,
maksud dan praktek sistem demokrasi.
Sebagai sebuah kondisi ideal, demokrasi tentu dicita-citakan oleh
banyak kalangan. Tetapi upaya menuju demokrasi yang ideal merupakan
sebuah proses yang tidak mudah. Proses menuju demokrasi inilah yang
disebut sebagai demokratisasi. Demokratisasi kepolitiakan dapat diartikan
sebagai transisi; sebuah proses menuju ke “rezim politik” yang lebih
demokratis.
12 Azumardi Azra, 2005, Demokrasi, Hak Asasi Manusia, dan Masyarakat Madani, Jakarta:
Prenada Media, hal. 125.
13 Zakaria Bangun, 2008, Demokrasi dan Kehidupan Demokrasi di Indonesia, Medan: Bina Media
Perintis, hal. 2.
255
Demokratisasi kepolitikan di Indonesia tahap demi tahap mulai
berbenah. Sebagai perbandingan, sebagaimana disinggung sebelumnya
pada masa orde baru kondisi kebebasan dalam berpolitik sangat terbatas
dan penuh intervensi. Partai yang boleh “berlaga” di ajang pemilu dibatasi
dibatasi hanya 3 partai, yaitu
1. PPP (Partai Persatuan Pembangunan) yang berdasarkan
ideology Islam, merupakan fusi dari partai-partai NU,
Parmusi, PSII, dan Partai Islam.
2. Golkar (Golongan Karya) yang berdasarkan asas kekaryaan
dan keadilan social.
3. PDI
(Partai
Demokrasi
Indonesia)
yang
berdasarkan
demokrasi, nasionalisme, dan keadilan, merupakan fusi dari
Parkindo, Partai Katolik, PNI, dan Murba.
Meskipun demikian, Secara faktual hanya ada 1 partai yang
memegang kendali yaitu partai Golkar dibawah pimpinan Presiden
Soeharto. Selama bertahun-tahun partai Golkar kokoh sebagai kendaraan
Presiden Soeharto untuk menduduki tampuk kekuasaan. Selama itu pula
kebebasan
setiap
orang –khususnya untuk berpolitik– dibelenggu,
sehingga tidak diperkenankan munculnya partai-partai baru sebagai
peserta pemilu, karena soeharto berpandangan bahwa partai politik
sebagai sumber kekacauan dari sistem politik yang dibangun. Belum lagi
keharuasan monoloyalitas PNS terhadap partai Golkar. Hemat penulis, pada
masa Orde Baru tidak menerapkan partisipasi efektif dari masyarakat luas,
kekuasaan berada penuh dibawah pemerintahan presiden. Oleh karena itu
pemerintahan dimasa Orde Baru itu belum dapat dikatakan sebagai
pemerintahan yang demokratis yang seutunya.
Namun, keadaan tersebut berbanding terbalik dengan masa reformasi.
Pada awal reformasi desakan-desakan dari berbagai elemen masyarakat
muncul agar kehidupan politik Indonesia lebih demokratis. Pun kemudian
kran demokrasi dibuka selebar-lebarnya oleh BJ Habibie dengan
mengeluarkan Undang-undang nomor 2 tahun 1999, sehingga oleh
karenanya partai-partai politik baru mulai muncul dan tercatat pemilihan
256
umum tahun 1999 diikuti oleh 48 Partai dari 141 Partai Politik yang
mendaftarkan diri di Departemen Kehakiman. Kemudian pada tahun 2004
ada 24 partai yang mengikuti Pemilu, 40 partai politik yang mengikuti
Pemilu 2009, dan 10 Partai yang mengikuti pemilu 2014.
Adanya kebebasan bagi setiap orang/sekelompok untuk mendirikan
partai politik adalah sebagai bukti bahwa demokratisasi kepolitikan di
Indonesia semakin berhasil. Pembentukan partai-partai politik adalah
implementasi nyata dari kebebasan berserikat, berkumpul dan menyatakan
pendapat. Kemudian, sebagai hasil berkembangnya kebebasan berserikat
yang sehat adalah terbentuknya organisasi kemasyarakatan dan partai
politik yang menjadikan masyarakat sipil lebih matang dan dewasa. Dalam
konteks Indonesia maka yang diharapkan adalah adanya partai politik yang
didukung oleh kebebasan berserikat dan berkumpul yang mengacu pada
nilai-nilai Pancasila.
D. Memilih Ketua Partai Politik yang Demokratis
Demokrasi merupakan konsep ideal yang dicitakan oleh negara. Upaya
menuju demokrasi yang ideal tersebut bukan sebuah proses yang mudah.
Untuk membangun kehidupan politik yang demokratis hendaknya dimulai
dari akar, yaitu dari internal partai politik. Demokrasi internal partai adalah
proses pemilihan seorang calon pimpinan Partai melalui penyerapan
aspirasi seluruh kader-kader di tingkat akar rumput/grassroots sehingga
Ketua Umum yang terpilih merupakan aspirasi kader- kadernya.14 Dengan
demikian proses demokrasi internal partai adalah suatu cara untuk
mendapatkan seorang pimpinan partai dengan menerapkan mekanisme
pengambilan suara dukungan dari setiap kader di dalam partai sehingga
pimpinan partai yang terpilih mendapatkan legitimasi yang kuat untuk
menjalankan fungsi sebagai seorang pimpinan tertinggi di dalam partainya.
Selanjutnya, Arbi Sanit dalam bukunya “Pembaharuan Mendasar Partai
Politik”, menjeleskan bahwa seleksi kepemimpinan dalam sebuah partai
14 Alan Warre, 1996, Political Parties and Party Systems, New York: Oxford University Press,
hal. 258.
257
politik memiliki dua strategis:15 Pertama, proses ini merupakan revisi
sistem pengkaderan partai politik. Dengan menitikberatkan pada partai
kader, pelatihan kader yang sistematis dan terarah guna membentuk
pemimpin yang demokratis dan sekaligus efektif. Selain itu, ukuran dan
indikator kemajuan kader juga seringkali dikaitkan dengan posisi kader di
dalam struktur partai dan kenegaraan.
Kedua, proses ini juga memiliki arti penting pada perubahan sistem
rekrutmen pemimpin partai, dengan cara kompetisi yang lebih terbuka,
kualifikasi pemimpin yang lebih berkualitas, dan partisipasi seluas mungkin
warga partai dan rakyat luas. Manifestasinya dalam hal ini bisa
menggunakan sistem konvensi lokal dan nasional, sistem pemilu distrik
atau langsung, kualifikasi pribadi dan kepemimpinan calon pemimpin dan
partisipasi masyarakat.
Uraian diatas menunjukkan bahwa Posisi Ketua Umun partai politik
merupakan posisi yang strategis yang dapat mempengaruhi proses
demokratisasi di Indonesia. Hal ini karena Ketua Umum Partai dapat
menentukan “platform” kebijakan Partai politik, menentukan arah
kebijakan politik Partai terhadap Pemerintah, serta mengontrol kaderkader partai yang duduk di Pemerintahan baik di lembaga legislatif maupun
eksekutif. Oleh karena itu Ketua Umum yang berkualitas mutlak diperlukan.
Peluang untuk mendapatkan ketua umum yang berkualitas tersebut sangat
ditentukan oleh proses demokrasi internal partai.
Namun, melihat kondisi yang ada proses demokrasi internal partai
politik tidak benar-benar berlangsung secara demokratis. Kemenangan
seorang Ketua Umum sangat ditentukan oleh kekuatan yang dimilikinya
seperti latar belakang profesinya (militer, pengusaha, atau birokrat),
kekuatan finansial, maupun trah dan dinasti. Kekuatan-kekuatan tersebut
seringkali dimanfaatkan oleh para calon Ketua umum untuk memuluskan
jalannya memegang “tampuk kekuasaan” partai. Ditambah lagi para kader
dalam memilih mengutamakan pragmatisme politik, seperti tawaran uang,
15 Arbi Sanit, Pembaharuan Mendasar Partai Politik, dalam Mahrus Irsyam, Lili Romli (Ed),
2003, Menggugat Partai Politik, Jakarta: Laboratorium Ilmu Politik FISIP UI, hlm. 13-14.
258
jabatan, dan insentif lainnya dengan menghilangkan pertimbangan kualitas,
moral dan lain sebagainya.
Sebagai “pisau analisis” untuk melihat kondisi tersebut adalah
pendapat Gun Gun Heryanto yang membagi tiga tradisi partai politik di
Indonesia, yaitu: Pertama, tradisi feodal. Tradisi feodal partai politik di
Indonesia ditandai dengan ketergantungan partai politik dengan seorang
figur. Referensi utama untuk menggambarkan fenomena ini adalah
terpilihnya kembali elit-elit lama dalam kepemimpinan partai politik
beberapa waktu terakhir. Salah satu contoh pemilihan Ketua Umum PDIP.
Pemilihan Ketua Umum partai berlambang banteng tersebut dilakukan
melalui Kongres. Dari tahun 1999 sampai sekarang kongres PDIP sudah
dilakukan sebanyak 4 kali, selama itu pula Megawati menjadi ketua umum
Partai berlambang banteng tersebut. Bahkan untuk periode sekarang
Megawati sudah terpilih saat Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PDIP di
Semarang, hal ini karena tidak adanya calon lain dalam bursa pemilihan
ketua umum partai selain Megawati. Sehingga dalam acara Kongres IV PDIP
tidak ada proses pemilihan Ketua Umum, tapi langsung mengukuhkan
Megawati sebagai Ketua Umum sampai 2020 mendatang. Meskipun proses
Pemilihan Ketua Umum dilakukan melalui kongres, tapi secara faktual
kendali Megawati dalam proses tersebut sangat kuat –“terpilih” sebelum
dipilih–. Padahal banyak kader-kader PDIP lainnya yang berkualitas sebagai
regenerasi untuk menjabat sebagai Ketua Umum, seperti Pramono Anung,
Marwuar Sirait, dan Tjahyo Kumolo.
Salah satu faktor kuatnya Megawati adalah stigma kader bahwa sebagai
sebagai pendiri, PDIP adalah “milik” Megawati, Megawati dianggap sebagai
sosok yang dapat mempersatukan partai. Selain itu, trah Soekarno yang
melekat dalam dirinya menjadi kekuatan tersendiri. Bahkan Sekretaris
Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan
Tjahjo Kumolo mengatakan, selama partai masih hidup, selama itu pula
PDIP tidak boleh dilepaskan dari trah Presiden Indonesia pertama Sukarno.
259
Menurutnya PDIP jangan dilepaskan dari trah Bung Karno.16 Tentunya
pernyataan tersebut sangat “mengancam” proses demokrasi dalam internal
partai.
Kedua, tradisi oligarkis. Dalam tradisi oligarkis, kader-kader yang akan
ditempatkan di jabatan publik harus meminta restu terlebih dahulu dari
pemimpin partai. Ketiga, tradisi transaksional. Jika dihubungkan dengan
pemilihan ketua umum partai, tradisi ini menggambarkan bahwa kekuatan
finansial dapat menentukan jabatan ketua umum. Bukan rahasia lagi
kekuatan finansial adalah cara ampuh untuk memuluskan jalan menuju
kursi Ketua Umum (Perilaku oligarki). Contoh dari fenomena ini adalah
Munas Partai Golkar pada tahun 2004. Hasil Munas 2004 menunjuk Jusuf
Kalla sebagai Ketua Umum Partai Golkar menggantikan Akbar Tandjung.
Padahal, prestasi Akbar sangat luar biasa dalam mempertahankan Golkar di
era tekanan pembubaran Golkar hingga membawa Golkar menjadi
pemenang Pemilihan Umum Legislatif 2004. Akbar Tandjung dikalahkan
oleh Jusuf Kalla yang –waktu itu– memiliki akses terhadap jabatan
Pemerintahan selaku Wapres dan kekuatan uang sebagai seorang
pengusaha kaya.
Kemudian hasil Munas 2009, yaitu terpilihnya Aburizal Bakrie sebagai
Ketua Umum merupakan keberlanjutan dari pragmatisme politik pada
Munas 2004. Sebagaimana diketahui, pada waktu itu Aburizal Bakrie
menjabat sebagai Menteri Ekonomi dan Kesejahteraan Rakyat pada Kabinet
SBY jilid I dan II menjadi salah satu kekuatan untuk menjadi posisi tawar
para kader untuk memilihnya karena akan memiliki akses terhadap jabatan
strategis di Kabinet Pemerintahan. Disamping itu kekuatan finalsial
Aburizal Bakrie yang dikenal sebagai orang terkaya di Asia Tenggara versi
majalah Globe.
E. Memilih Ketua Parpol yang Demokratis
Jika tradisi ini tetap berjalan, maka demokrasi ideal akan sulit untuk
dicapai. Sebagaimana diungkapkan diawal bahwa partai politik merupakan
16 Diakses dari https://m.tempo.co/read/news/2014/09/21/078608499/ketua-umum-pdiphanya-untuk-trah-soekarno, pada tanggal 3 Agustus 2016.
260
instrumen penting demokrasi, tapi secara faktual berbanding terbalik,
partai politiklah yang seringkali gagal mendemokratisasikan dirinya, maka
dari itu harus ada demokaratisasi di internal partai politik. Yaitu dengan
memilih ketua umum partai yang demokratis. Untuk hal perlu dibangun dan
dimulai mekanisme pemilihan ketua parpol yang demokratis dengan car
acara sebagai berikut:
1. Regulasi internal partai politik yang biasanya termuat dalam
Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga partai politik
mengenai persyaratan ketua parpol dan tata cara pemilihan ketua
parpol. Ketentuan ini memberikan jaminan hukum terhadap proses
pergantian partai politik.
2. Termuatnya pembatasan masa ketua parati politk, melalui masa
jabatan tertentu. Lazimnya seseorang menjabat ketua partai politik
selama dua kali masa jabatan.
3. Tidak ada hubungan darah antara yang diganti dengan yang
mengganti, untuk menghindarkan dari problem dinasti partai
politik yang justru akan menghambat demokratisasi dalam partai
politik;
4. Diselenggarakan secara terbuka, baik melalui konvensi maupun
secara pemilihan berdasar pada persyaratan yang ada.
5. Adanya pertanggungjawaban ketua partai politik yang dilakukan
secara terbuka dan terukur, sehingga dapat terbaca keberhasilan
dan kegagalan program partai politik.
F. Penutup
Sebagai salah satu instrumen penting dalam demokrasi, kehidupan
yang yang demokratis harus dilakukan sejak dalam internal partai politik,
yaitu dengan mendemokratiskan partai politik dan perbaikan kaderisasi.
Partai politik harus berani merekonstruksi ulang kebijakan pemilihan ketua
umum partai. Pemilihan ketua umum harus benar-benar demokratis dan
aspiratif. Beberapa hal yang harus dibenahi adalah menghilangkan tradisi
feodal, oligarki, dan transaksional. Dan dibangun mekanisme pemilihan
261
ketua partai politik yang demokratis, terbuka dan bertanggungjawab.
Dengan begitu kehidupan yang demokratis akan tercermin sejak dari akar
dan pemimpin-peminmpin berkualitas di masa depan akan lahir.
DAFTAR PUSTAKA
Asshiddiqie, Jimly. 2005. Kemerdekaan Berserikat, Pembubaran Partai Politik, dan
Mahkamah Konstitusi,.Jakarta: Konstitusi Press.
Amal, Ichsanul, 2012. Teori – Teori Mutakhir Partai Politik. Yogyakarta: Tiara
Wacana.
Azra, Azumardi. 2005. Demokrasi, Hak Asasi Manusia, dan Masyarakat Madani.
Jakarta: Prenada Media.
Bangun, Zakaria. 2008. Demokrasi dan Kehidupan Demokrasi di Indonesia. Medan:
Bina Media Perintis.
Budiardjo, Miriam. 2000. Pengantar Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia.
Irsyam, Mahrus, Lili Romli (Ed). 2003. Menggugat Partai Politik. Jakarta:
Laboratorium Ilmu Politik FISIP UI.
_______________. 2008. Dasar-dasar Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Karim, M. Rusli. 1993. Perjalanan Partai Politik di Indonesia; Sebuah Potret PasangSurut. Jakarta: Rajawali Press.
262
Nasution, Adnan Buyung. 1995. Aspirasi Pemerintahan Konstitusional di Indonesia:
Studi Sosio-Legal atas Konstituante 1956 – 1959. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.
Safa’at, Muchamad Ali. Pembubaran Partai Politik Di Indonesia (Analisis Pengaturan
Hukum dan Praktik Pembubaran Partai Politik 1959 – 2004). Disertasi. Fakultas
Hukum Program Pascasarjana Universitas Indonesia.
Umar, Husein. 2005. Riset Sumber Daya Manusia dalam Organisasi Edisi Revisi dan
Perluasan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Warre, Alan. 1996. Political Parties and Party Systems. New York: Oxford University
Press.
https://m.tempo.co/read/news/2014/09/21/078608499/ketua-umum-pdiphanya-untuk-trah-soekarno, pada tanggal 3 Agustus 2016.
263
MUHAMMAD FAUZAN AZIM
MEMPERBAIKI HULU DEMOKRASI MELALUI PENATAAN SISTEM PEMILIHAN
KETUA PARTAI POLITIK
ABSTRAK
Partai politik merupakan salah satu pilar penting dalam negara yang
menamakan dirinya sebagai negara demokrasi. Tanpa keberadannya,
sulit mengatakan suatu negara sudah menjadi negara demokrasi dalam
makna seutuhnya. Melalui peran partai politik, hak konstitusional
rakyat untuk berserikat dan berkumpul dapat teraktualisasikan dalam
menjembatani keterlibatan rakyat untuk menentukan siapa yang
berhak mengurus kehidupan negara. Mendemokratiskan pemilihan
ketua partai politik merupakan hal yang sangat fundamental dalam
rangka mewujudkan kehidupan demokrasi yang lebih baik, karena
proses demokratisasi pemilihan pimpinan dalam tubuh partai politik
merupakan cerminan paras suatu partai politik sebagai alat untuk
mencapai tujuan bernegara.
MUHAMMAD FAUZAN AZIM
Hp: 0811-6600-381
e-mail: [email protected]
Kata kunci : Demokratisasi, Partai Politik
PENDAHULUAN
Dalam negara demokrasi, terdapat jaminan terhadap kebebasan berkumpul
dan berserikat yang merupakan hak konstitusional warga negara. Hal ini
merupakan mekanisme demokratis dalam mengimplementasikan hak-hak dasar
warga negara untuk mengekspresikan aspirasinya baik aspirasi kepentingan
kelompok maupun aspirasi mengenai faham tertentu yang dinilai dan diyakini baik
untuk negara.17 Keberagaman aspirasi dalam bernegara ini biasanya disalurkan
melalui organisasi politik, organisasi kemasyarakatan dan sebagainya.
Pengakuan terhadap kebebasan berkumpul dan berpendapat ini merupakan
salah satu abstraksi dari konstitusionalisme yang terdapat dalam Undang-undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945) pascamandaemen. Hal
ini dapat dilihat dalam ketentuan Pasal 28 dan Pasal 28E ayat (3) yang berbunyi,
“Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan
tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang”; “Setiap orang berhak
atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat”. Kedua
17Bandingkan dengan Hendarmin Randireksa, Arsitektur Konstitusi Demokratik, (Bandung:
Fokus Media, 2007), hlm. 181.
264
ketentuan ini memperlihatkan manifestasi demokrasi sebagai sistem
pemerintahan dari, oleh dan untuk rakyat yang memposisikan terjaminnya hakhak warga negara dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara
dengan segala bentuk dan dimensinya.
Mengutip pendapat Moh. Mahfud MD, kebebasan untuk mengeluarkan
pendapat, berserikat dan berkumpul merupakan hak politik dan sipil yang paling
dasar. Bermodalkan adanya jaminan hak politik dan sipil ini, upaya untuk
memperoleh penyelenggara negara diwujudkan melalui pencalonan dan pemilihan
anggota lembaga-lembaga perwakilan politik yang fair, kemudian lembagalembaga itu mendapat kesempatan yang seluas-luasnya untuk membahas
persoalan-persoalan, mengkritik dan mengkristalisasikan pendapat umum.18
Diantara alat atau media untuk mengekspresikan dan menampung hak atas
kebebasan berpendapat, berserikat dan berkumpul tersebut adalah partai politik.
Dalam sistem demokrasi modern, partai politik merupakan bagian dianggap
sebagai bagian dari demokrasi. Sehingga sering dikatakan, partai politik bersama
parlemen di satu sisi dan lembaga eksekutif serta kebebasan pers pada 2 (dua)
merupakan 3 (tiga) pilar sistem demokrasi modern.
Melalui partai politik, keberagaman ideologi dan aspirasi dimungkinkan untuk
diakomodai yang pada gilirinnya akan menentukan ideologi atau aspirasi mana
yang, untuk kurun waktu tertentu, berhak tampil memimpin pemerintahan.
Sebagai organisasi politik, orientasi partai adalah cita-cita memperjuangkan visi
dan ideologi tertentu dalam skala negara yang diyakini mampu mensejahterakan
masyarakat. Cita-cita partai hanya bisa terwujud bila berhasil meraih kekuasaan
yang diperoleh melalui pemilihan umum (pemilu). Karenanya, kekuasaan
merupakan sasaran partai politik untuk dapat mewujudkan cita-citanya. Cita-cita
partai politik tanpa kekuasaan tidak lebih hanya sekedar wacana.19
Melihat peran penting partai politik sebagaimana yang telah disinggung di
atas, perhatian negara (Indonesia) terhadap regulasi yang mengatur keberadaan
partai politik hingga kini terus mengalami perbaikan. Terakhir, melalui Undangundang Nomor 2 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 2
Tahun 2008 tentang Partai Politik, negara memandang bahwa pengaturan partai
politik adalah dalam rangka untuk menguatkan pelaksanaan demokrasi dan sistem
kepartaian yang efektif sesuai dengan amanat UUD 1945, diperlukan penguatan
kelembagaan serta peningkatan fungsi dan peran Partai Politik.20
Dikaitkan dengan arti penting keberadaan partai politik dalam kehidupan
demokrasi sebagaimana yang telah dipaparkan, maka artikulasi penerapan
prinsip-prinsip demokratis dalam suksesi pimpinan partai merupakan hal yang
sangat fundamental diperhatikan dalam membangun demokrasi yang dicitacitakan. Sebab, sebagai organisasi yang sejatinya dibentuk untuk
mengaktualisasikan hak politik warga negara dalam bebas berpendapat, berserikat
dan berkumpul, fungsi partai politik bukan sekedara sarana rekruitmen politik.
18Moh.
Mahfud M.D., Politik Hukum di Indonesia, (Jakarta: LP3ES, 1998), hlm. 17.
Randireksa, op.cit., hlm. 182.
20Republik Indonesia, Undang-undang Nomor 2 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas
Undang-undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik, konsideran menimbang huruf a.
19Hendarmin
265
Namun lebih dari itu, partai politik merupakan struktur-antara atau intemediate
structure yang harus memainkan peran dalam membumikan cita-cita kenegaraan
dalam kesadaran kolektif warga negara.21 Dengan kata lain, selain memainkan
peran sebagai sarana rekruitmen politik dan sarana untuk merebut kekuasaan,
partai politik merupakan instrumen demokrasi yang berperan dalam mewujudkan
pendidikan politik bernegara. Sebaliknya, jika prinsip-prinsip demokratis
pemilihan pimpinan partai politik belum teraplikasi dengan baik, sulit
mengharapkan partai politik dapat memainkan peran esensialnya, yaitu sebagai
wahana bagi warga negara untuk berpartipasi dalam pengelolaan kehidupan
bernegara dan memperjuangkan kepentingannya di hadapan penguasa.22
Paper sederhana ini akan mencoba memaparkan dan mengulas secara singkat
serta sederhana urgensi penataan mekanisme demokratis dalam pemilihan
pimpinan partai politik, serta bagaimana implikasinya masa depan demokrasi
konstitusional di Indonesia. Sebab, sebagai instrumen penting demokrasi—salah
satu pilar demokrasi, pembenahan terhadap sistem demokrasi sedari hulu tentu
saja berhubungan erat dengan persoalan pembenahan implementasi prinsipprinsip demokratis dalam tubuh partai politik.
PEMBAHASAN
1. Partai Politik dan Demokrasi
Frasa “partai politik” merupakan gabungan dari kata “partai” dan “politik”.
Bila dirunut secara singkat, kata “partai berasal dari bahasa Latin, yaitu:
“partire” yang bermakna membagi.23 Sementara kata “politik” dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dipahami dalam berbagai hal, yaitu:24
pengetahuan mengenai ketatanegaraan atau kenegaraan (seperti tentang
sistem pemerintahan, dasar pemerintahan); segala urusan dan tindakan
(kebijakan, siasat, dan sebagainya) mengenai pemerintahan negara atau
terhadap negara lain; dan cara bertindak (dalam menghadapi atau menangani
suatu masalah)—kebijaksanaan.
Sementara dalam eksiklopedi bebas wikipedia, kata “politik” dipahami
sebagai seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional maupun
nonkonstitusional. Dalam sudut pandang yang berbeda, menurut Aristoteles
kata “politik” dimaknai sebagai usaha yang ditempuh warga negara untuk
mewujudkan kebaikan bersama.25
Bila digabungkan kedua kata ini, yaitu kata “partai” dan kata “politik”
menjadi frasa “partai politik”, secara sederhana menurut Miriam Budiardjo
21Jimly
hlm. 407.
Asshiddiqie, Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara, (Jakarta: Rajawali Pers, 2011),
22Miriam
Budiardjo, Dasar-dasar Ilmu Politik, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2014),
hlm. 405.
23Hendarmin
24Kamus
Randireksa, op.cit., hlm. 181.
Besar Bahasa Indonesia (KBBI), http://kbbi.web.id/politik, diakses pada 18 Juli
2016.
25Wikipedia bahasa Indonesia, “Politik”, https://id.wikipedia.org/wiki/Politik, diakses
pada 18 Juli 2016.
266
dipahami sebagai suatu kelompok terorganisir yang anggota-anggotanya
mempunyai orientasi, nilai-nilai, dan cita-cita yang sama. Tujuan kelompok ini
(partai politik) adalah memperoleh kekuasaan politik dan merebut kedudukan
politik—(biasanya) dengan cara konstitusional—untuk melaksanakan
programnya.26
Carl J. Friedrich mendefenisikan partai politik sebagai sekelompok manusia
yang yang terorganisir secara stabil dengan tujuan merebut atau
mempertahankan penguasaan terhadap pemerintahan bagi pimpipan
partainya dan berdasarkan penguasaan ini, memberikan kepada anggota
partainya kemanfaatan yang bersifat idiil serta materiil. Sementara Sigmund
Neumann dalam karyanya, Modern Political Parties mengemukakan defenisi
politik sebagai organisasi dari aktivis- aktivis politik yang berusaha untuk
menguasai kekuasaan pemerintahan serta merebut dukungan rakyat melalui
persaingan dengan suatu golongan lain yang mempunyai pandangan berbeda.
Bagi Neumann partai politik merupakan perantara yang besar yang
menghubungkan kekuatan-kekuatan dan ideologi sosial dengan lembagalembaga pemerintahan resmi.27
Senada dan mempertegas dua defenisi partai politik yang dirumuskan
kedua ahli di atas, Giovanni Sartori memberikan pengertian partai politik
sebagai suatu kelompok politik yang mengikuti pemilihan umum dan, melalui
pemilihan umum itu mampu partai politik menempatkan calon-calonnya
untuk menduduki jabatan-jabatan publik.28
Berangkat dari uraian di atas, keberadaan partai politik dalam kehidupan
negara demokrasi merupakan salah pra syarat penting dalam rangka
menjamin terlaksananya hak politik warga untuk berserikat, berkumpul dan
mengemukakan pendapat. Melalui peran partai politik tersebut, pada
gilirannya warga negara dapat memposisikan diri mereka untuk berpartisipasi
menentukan arah kehidupan bernegara. Sebab, demokrasi sebagai
pemerintahan dari, oleh dan untuk rakyat harus membuka ruang prinsipprinsip demokratis dalam mewujudkan terjaminnya semua hak-hak
kewarganegaraan yang diakui oleh konstitusi. Aktualiasi dari itu semua adalah
melalui pelaksanaan pemilu yang bebas dan mandiri.
Di negara demokrasi, pemilu yang bebas dan mandiri merupakan pra
syarat awal dalam menata kehidupan bernegara. Pilihan terhadap sistem
politik pemerintahan demokrasi membawa konsekuensi terhadap pentingnya
dalam mengoptimalisasikan peran rakyat untuk berperan aktif dalam
pengambilan setiap kebijakan negara. Prosedurnya, terwujud dalam proses
pelaksanaan kedaulatan rakyat melalui pemilu yang bebas. Sebab, dalam
negara demokrasi rakyat tidak mungkin untuk mengambil keputusan
bernegara secara lansung, melainkan melalui wakilnya yang duduk di
parlemen, rakyat sejatinya telah memiliki pengemban kehendak mereka dalam
26Miriam
Budiardjo, op.cit., hlm. 405.
hlm. 404.
28G. Sartori, “Parties and Party System”, terpetik dalam Ibid., hlm. 404-405.
27Ibid.,
267
pemerintahan negara,29 melalui sistem perwakilan (indirect democracy atau
representative democracy). Suatu ajaran demokrasi yang menghendaki
kedaulatan rakyat dijalankan oleh para wakilnya yang duduk di lembaga
parlemen, wakil-wakil rakyat itu harus ditentukan sendiri oleh rakyat.30
Beranjak dari pengertian sistem perwakilan di atas, demokrasi sebagai
sistem politik memposisikan rakyatlah sejatinya sebagai pengambil keputusan
hidup bernegara. Sebab, kekuasaan negara—kekuasaan tertinggi dalam sistem
politik demokrasi bermakna sebagai kedaulatan rakyat, suatu kekuasaan
tertinggi dalam negara yang menjadi atribusi bagi negara sebagai organisasi
masyarakat paling besar, di mana rakyatlah tempat yang melahirkan
kekuasaan tertinggi tersebut.31 Dalam pelaksanaannya, pengambilan
keputusan dalam bernegara adalah untuk menentukan kebijaksanaan umum.
Menurut Hendry B. Mayo, Hal itu ditentukan atas dasar mayoritas oleh wakilwakil mereka yang diawasi secara efektif oleh rakyat.32 Sebab, bagi Mayo,
demokrasi tak obahnya sebagai:33
“Democratic political system is one which public policies are made on a
majority basis, by representatives subject to effective populer control at
periodic elections which are conducted on the principle of political equality
and under conditions of political freedom”.
Senada dengan pendapat Mayo di atas, Samuel P. Huntington mengatakan,
suatu sistem politik sudah dapat dikatakan demokratis bila “para pembuat”
keputusan kolektif yang paling kuat dalam sistem itu dipilih melalui pemilu
yang adil, jujur, dan berkala, dan di dalam sistem itu para calon bebas bersaing
untuk memperoleh suara dan hampir semua penduduk dewasa berhak
memberikan suara.34 Sedangkan menurut C.F. Strong, demokrasi dalam makna
representative democracy adalah:35
“A system of government in which the majority of the grown members of
political community participate through a method of representation which
secures that government is ultimately responsible for its actionsto that
majority. In other words, the contemporary constitutional state must be
based on a system of democratic representation which guaranties the
souvereignity of the people”.
29Bagir
Manan, “Mewujudkan Kedaulatan Rakyat”, terpetik dalam Eddy Purnama, Negara
Kedaulatan Rakyat; Analisis Terhadap Sistem Pemerintahan Indonesia dan Perbandingannya dengan
Negara-negara Lain, (Malang: Nusa Media, 2007), hlm. 51.
30Jimly Asshiddiqie, op.cit., hal. 414.
31Eddy Purnama, op.cit., hlm. 28.
32Henry B. Mayo, An Introduction to Democratic Theory, (New York: Oxford Univercity
Press, 1960), hlm. 70.
33Sistem politik demokratis adalah sistem yang menunjukkan kebijakan umum ditentukan
atas dasar mayoritas oleh wakil-wakil yang diawasi secara efektif oleh rakyat dalam pemilihanpemilihan berkala yang didasarkan atas prinsip kesamaan politik dan diselenggarakan dalam
suasana terjaminnya kebebasan politik. Terjemahan bebas oleh Penulis. Moh. Mahfud M.D.,
Demokrasi dan Konstitusi di Indonesia Studi Tentang Interaksi Politik dan Kehidupan
Ketatanegaraan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), hlm. 19-20.
34Samuel P. Huntington, Gelombang Demokratisasi Ketiga, (Jakarta: Grafiti, 1997), hlm. 5-6.
35Eddy Purnama, loc.cit.
268
Dalam aras ini dapat dipahami bahwa pengertian negara demokrasi hingga
dewasa ini didasari oleh sistem perwakilan yang menjamin kedaulatan
rakyat.36 Artinya, demokrasi dalam makna sistem pemerintahan yang
diartikan sebagai “government from the people, by the people and for the
people”, mutlak membutuhkan sarana dalam menjamin terwujudnya
kedaulatan rakyat secara bebas. Kedaulatan rakyat itu harus terselenggara
dengan membuka diri dengan melibatkan seluas-luasnya peran serta rakyat
dalam penyelenggaraan negara37 melalui pemilu yang bebas sesuai kehendak
konstitusi.
Secara formal prosedural, sarana tersebut memang pemilu yang bebas dan
mandiri. Namun secara substansial, demokrasi membutuhkan infrastruktur
yang lebih memadai dalam pengimplementasiannya. Dalam hal ini, partai
politik adalah jawaban atas semua kebutuhan perwujudan hak politik warga
negara yang melalui pemilu sebagai sarana atau saluran demokratisasi
tersebut untuk menjaga entintas dan jati diri demokrasi agar rakyat benarbenar berdaulat atas dirinya.
2. Dinamika Partai Politik di Indonesia Pascareformasi
a. Sekedar Kendaraan Politik An Sich
Sebagai negara yang berada di tengah era transisi demokrasi, kehidupan
partai politik di Indonesia senantiasa menjadi bahan perbincangan bagi
insan pemerhati politik ketatanegaraan. Hal itu karena realitasnya, sejauh
ini dinamika kehidupan partai politik masih cenderung sebagai sarana
dalam perebutan kekuasaan belaka.
Realitas fungsi partail politik ini tentu saja jauh dari apa yang
diharapkan oleh rakyat. Sebab, sejatinya partai politik tidak hanya
memainkan peran sebagai kendaraan politik an sich, namun lebih dari itu
partai politik memiliki fungsi khusus yang menjadikan ia lokomotif sistem
politik demokrasi. Apalagi bagi negara demokrasi berkembang seperti
Indonesia, maka beranjak dari pemahaman bahwa demokrasi sebagai
sistem pemerintahan dengan mengikutsertakan rakyat, di mana setiap
warga negara memiliki suara dalam pelaksanaan kekuasaan dan ikut ambil
bagian secara nyata,38 tentu saja fungsi dan peran partai politik melebihi
dari sekedar alat perebutan kekuasaan.
Secara sudut pandang perspektif sosiologi-politik, di era transisi
demokrasi, dominanasi peran institusi partai politik sebagai mesin
demokrasi, dalam praktiknya ditengarai telah menimbulkan berbagai
distorsi yang berimplikasi terhadap proses demokratisasi dan terhadap
36C.F. Strong, Konstitusi-konstitusi Politik Modern; Kajian tentang Sejarah & Bentuk-bentuk
Konstitusi Dunia, alih bahasa: SPA Teamwork, (Bandung: Nuansa & Nusamedia, 2004), hlm. 66.
37Jimly Asshiddiqie, Hukum Tata Negara dan Pilar-pilar Demokrasi; Serpihan Pemikiran
Hukum, Media dan HAM, (Jakarta: Konstitusi Press, 2005), hlm. 241-242.
38John Stuart Mill, On Liberty (Perihal Kebebasan), Alih Bahasa: Alex Lanur, (Jakarta:
Yayasan Obor Indonesia, 2005), hlm. Xx.
269
pembangunan sistem demokrasi.39 Situasi ini boleh dikatakan residu dari
sistem politik demokrasi sebagaimana dikatakan oleh Joseph Schumpeter.
Di mana metode demokratis sesungguhnya menggariskan bahwa ia sebagai
prosedur kelembagaan untuk mencapai keputusan politik dimana individu
memperoleh kekuasaan untuk membuat keputusan politik melalui
kompetisi merebut suara rakyat dalam pemilu.40
Implikasi sistem politik demokrasi di atas, merupakan fenomena aktual
dalam proses transisi demokrasi di Indonesia menuju terwujudnya negara
demokrasi substansial. Lebih dari itu, distorsi demokrasi ini menurut
Soebagio disebabkan oleh beberapa hal, yaitu:41 Pertama, fenomena distorsi
lazim dijumpai dalam suatu negara yang sedang melaksanakan
demokratisasi tatanan kehidupan bernegara yang bernuansa demokrasi
liberal, yang mengedepankan prinsip liberty, equality, dan fraternity, dalam
fase awal memasuki transisi demokrasi; Kedua, distorsi demokrasi tersebut,
jika tidak bisa dikendalikan atau diatasi berpotensi mengganggu proses
melewati transisi demokrasi, sebagai fase strategis yang sangat
menentukan arah apakah bangsa Indonesia mampu mewujudkan
konsolidasi demokrasi; dan Ketiga, kemantapan konsolidasi demokrasi
merupakan pondasi yang memberikan jaminan, bahwa bangsa Indonesia
layak dan mampu mewujudkan demokrasi substansial dalam tatanan
kehidupan bernegara.
Secara implisit, fungsi partai politik hanya sebagai alat perebutan
kekuasaan dapat dilihat dari penurunan partisipasi masyarakat dalam
pemilu. Dalam pemilu Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2014,
berdasarkan data yang dilansir oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU),
partisipasi masyarakat hanya sebesar 70%. Angka ini mengalami
penurunan sebesar 2% dibandingkan Pilpres sebelumnya (Pilres 2009),
yaitu sebesar 72%. Sedangkan dalam Pilpres 2004, partisipasi masyarakat
adalah sebesar 75%. Sementara dalam pemilu Dewan Perwakilan Rakyat,
Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Pemilu
Legislatif) 2014, partisipasi 75,11%, angka ini mengalami peningkatan
dibanding Pemilu Legislatif sebelumnya yaitu sebesar 71% dan pada
Pemilu Legislatif 2004, partisipasi pemilih berada pada angka 84%. 42
Rendahnya pastisipasi masyarakat politik rakyat dalam setiap
momentum pemilu ini menurut Urbanus Hurek disebabkan oleh 3 (tiga)
faktor, yaitu:43 Pertama, figur pemimpin yang diajukan dalam suatu pesta
demokrasi kurang berkenan di hati pemilih; Kedua, pemilih mulai jenuh
39Soebagio,
Distorsi Dalam Transisi Demokrasi Di Indonesian, Jurnal Makara, Sosial
Humaniora, Vol. 13, No. 2, Desember, hlm. 111.
40Samuel P. Huntington, Gelombang Demokratisasi Ketiga, (Jakarta: PT. Intermasa, 1991),
hlm. 5.
41Soebagio, op.cit., hlm. 115-116.
42Sigit Pamungkas, “Ternyata Tingkat Partisipasi dalam Pilpres Menurun Dibandingkan
Pileg”, http://nasional.kompas.com/, diakses tanggal 16 Juli 2016.
43Heri
Ruslan,
“Inilah
3
Penyebab
Rendahnya
Partisipasi
Politik”,
http://nasional.republika.co.id/, diakses tanggal 16 Juli 2016.
270
dengan proses demokrasi lima tahunan yang tidak membawa perubahan
bagi kehidupan rakyat; dan Ketiga, ajang kontestasi politik (Pilpres,
PemilihanKepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah/Pilkada dan Pemilu
Legislatif) tidak lagi dipandang rakyat sebagai sesuatu yang prioritas atau
sangat diperlukan dalam membangun kehidupannya sehari-hari.
Selain itu, menurut Ahmad Atang faktor penyebab rendahnya partisipasi
politik dalam setiap momentum pemilu antara lain:44 (1) Adanya
pemahaman bahwa memilih adalah sebuah hak dan bukan kewajiban.
Sehingga, karena memilih sebuah hak maka bisa digunakan dan bisa juga
tidak digunakan karena tidak ada konsekuensi hukum dan moral politik
bagi mereka yang tidak memilih. (2) Masyarakat terjebak dalam rutinitas
ekonomi membuat pilihan politik bukan menjadi prioritas sehingga
mempengaruhui cara pandang mereka terhadap politik. (3) Politik adalah
persepsi seseorang terhadap obyek yakni figur, program dan kepentingan.
Jika obyek tersebut dipersepsikan secara negatif maka secara otomatis
masyarakat pemilih tidak akan menggunakan hak politiknya. Sehingga jika
persepsi seorang figur dan juga program itu positif, pasti orang pasti akan
memilih.
Tren penurunan partisipasi masyarakat terhadap pemilu secara
kuantitas dengan berkaca dari angka penurunan partispasi pemilih ini
setidaknya mengindikasikan adanya penurunan trust masyarakat terhadap
partai politik dalam menentukan figur yang tepat untuk duduk dalam
menjalankan roda pemerintahan. Meskipun demikian, secara kualitas
keterlibatan masyarakat dalam pemilu mengalami peningkatan setiap kali
pemilu dilaksanakan. Hal ini dapat dilihat dari partisipasi mengawal
pemutahiran daftar pemilih, tingginya pelaporan pelanggaran, dan
mengawal hasil pemilu melalui sosial media atau data digital KPU.
Kesukarelaan warga negara untuk terlibat dalam proses juga mengalami
peningkatan dengan adanya relawan demokrasi yang sifatnya tidak
berafiliasi dengan kekuatan politik manapun, maupun yang berafiliasi. Hal
ini dapat dijadikan sebagai indikator pematangan demokrasi di Indonesia
karena mutu demokrasi itu akan semakin teguh ketika mutu partisipasi
makin baik.45
Fenomena di atas setidaknya bisa menggambarkan bahwa fungsi partai
politik dewasa ini masih sekedar alat untuk meraih kekuasaan belaka.
Sebab, penurunan angka partisipasi pemilih menunjukkan lemahnya peran
partai politik dalam mengkosolidasikan demokrasi dan menyadarkan
pemilih dalam memaknai arti penting pemilu. Sebagai pihak yang sangat
berkepentingan dengan hasil pemilu, partai politik memegang peran utama
untuk memobilisasi pendukung melalui visi partai dan kandidat yang
diusung. Sementara, penyelenggara hanyalah pihak berikutnya (sekunder)
dalam menentukan naik atau turunnya partisipasi pemilih.
44Ibid.
45Sigit
Pamungkas, op.cit.
271
b. Budaya Oligarkis yang Mengakar
Sulit dibantah bahwa demokratisasi dalam tubuh partai politik terbebas
dari budaya oligarki kekuasaan yang cukup kental. Betapa tidak, distorsi
peran partai politik menurut Soebagio juga didorong oleh dampak negatif
ajang konstestasi demokrasi prosedural atau electoral yang melegitimasi
kompetisi untuk memperoleh kekuasaan sebagai kepentingan politik abadi.
Sehingga realitas inilah yang mendorong menguatnya sikap politik (budaya
politik)
pragmatis
partai-partai
politik
dalam
perjuangannya
mengakumulasi kekuasaan secara instan.46
Beberapa penyebab distorsi partai politik disebabkan oleh budaya
politik sebagai sikap orientasi yang khas warga negara terhadap sistem
politik dan aneka ragam bagiannya, dan sikap terhadap peranan warga
negara dalam suatu sistem. Menguatnya sikap pragmatisme politik yang
fenomenal itulah yang menimbulkan berbagai distorsi yang mengganggu
proses demokrasi47 sehingga melahirkan budaya oligarkis dalam tubuh
partai politik. Budaya oligarkis dalam tubuh partai politik sesungguhnya
merupakan manifestasi dari distorsi partai politik itu sendiri dalam sistem
demokrasi. Dalam hal ini, menurut Soebagio48 menguat dalam bentuk
budaya kapitalisasi demokrasi, lemahnya kaderisasi politik, menurunya
kinerja legislatif serta menurunnya partisipasi politik. Hal ini bertentangan
dengan fungsi partai politik dalam negara demokrasi.
Menurut Budiardjo terdapat beberapa fungsi partai politik, yaitu:49
Pertama, sebagai sarana komunikasi politik. Fungsi ini tercipta karena
dalam masyarakat modern dan kompleks, ragam pendapat seseorang atau
sekelompok masyarakat akan hilang tak berbekas bila tidak ditampung dan
digabung dengan pendapat aspirasi orang lain yang senada. Proses ini
dinamakan dengan penggabungan kepentingan (interest agregation),
kemudian pendapat dan aspirasi ini diolah dan dirumuskan dalam bentuk
yang lebih teratur—perumusan kepentingan. Setelah itu partai politik
merumuskannya dalam bentuk kebijakan.
Kedua, sebagai sarana sosialisasi politik. Hal ini diartikulasikan menjadi
proses dimana seseorang memperoleh sikap atau orientasi terhadap
fenomena politik yang umumnya berlaku dalam masyarakat di mana ia
berada—bagian dari proses menentukan sikap politik seseorang. Misalnya,
mengenai nasionalisme, kelas sosial, suku bangsa, ideologi, hak dan
kewajiban. Begitu juga dengan proses menyampaikan budaya politik, yaitu
norma nilai-nilai dari satu generasi ke generasi berikutnya. Termasuk
dalam pengertian ini adalah upaya menciptakan citra (image)
memperjuangkan kepentingan umum.
46Soebagio,
op.cit., hlm. 111-112.
Almond dan S. Verba, Budaya Politik,Tingkah Laku Politik dan Demokrasi di Lima
Negara, alih bahasa: Sahat Simamora, (Jakarta: Bumi Aksara, 1990), hlm. 13.
48Soebagio, op.cit., hlm. 112-114.
49Miriam Budiardjo, hlm. 405-409.
47G.A.
272
Ketiga, sebagai sarana rekruitmen politik. Fungsi ini berkaitan dengan
masalah seleksi kepemimpinan, baik kepemimpinan internal partai maupun
kepemimpinan nasional yang lebih luas. Secara internal, partai-partai
politik butuh kader yang berkualitas agar ia dapat menjadi partai yang
mempunyai partai yang mempunyai kesempatan yang lebih besar dalam
mengembangkan diri. Karena hanya dengan kader yang lebih baik dan
berkualitas, akan memudahkan partai untuk memiliki pemimpinnya
sendiri, kemudian partai memiliki peluang yang bagus untuk masuk ke
dalam bursa kepemimpinan nasional. Rekruitmen politik ini biasanya
dilakukan dengan melalui kontrak pribadi, persuasi dan cara-cara yang lain.
Keempat, sebagai sarana pengatur konflik (conflict management), yaitu
berkaitan dengan mekanisme dan tata cara mengatur konsekuensi
masyarakat politik yang memiliki perbedaan dan keanekaragaman yang
ada dalam suatu negara. Perbedaan dan keanekaragaman tersebut
menyimpan potensi konflik. Hal ini biasanya terjadi dalam masyarakat
negara yang bersifat heterogen, baik dari etnis (suku), sosial-ekonomi,
ataupun agama. Partai politik diperlukan dalam mengatasi konflik yang
muncul yang timbul dalam masyarakat, atau sekurang-kurangnya konflik
tersebut dapat diatur sehingga akibat negatifnya dapat ditekan seminimal
mungkin. Pengaruh yang dimiliki oleh elit partai dapat menumbuhkan
pengertian diantara mereka untuk meyakinkan pendukungnya. Ringkasnya,
partai politik menjadi penghubung psikologis organisasi—antara warga
negara dengan pemerintah.
Keempat fungsi partai politik sebagaimana dikatakan oleh Budiardjo ini
belum berjalan sebagaimana mestinya di Indonesia. Tidak berlebihan jika
muncul anggapan fungsi partai politik dewasa ini di Indonesia masih
berkutat dalam makna yang negatif sebagaimamana didengungkan pada
zaman klasik dan pertengahan. Semisal dikatakan oleh Robespierre, partai
politik hanyalah organisasi yang hanya mementingkan kepentingan. Senada
dengan itu, George Washington meyakini bahwa partai politik adalah
penyebar bibit-bibit permusuhan dan ketidakpuasan terhadap masyarakat
umum. Bahkan pendapat yang paling radikal menyebut partai tidak lebih
dari organisasi kriminal yang merongrong kewibawaan negara. Dimana
terdapat pandangan bahwa masyarakat tanpa partai akan lebih efektif
dalam menyelesaikan masalah daripada masyarakat berpartai.50
Jika ditilik ke belakang, munculnya ketua partai politik beberapa tahun
terakhir yang memodali partainya dengan dana cukup besar tanpa disertai
kemampuan memimpin organisasi yang benar-benar mumpuni ditengarai
menjadi preseden buruk bagi dunia perpolitikan Indonesia. Ignas Kleden
menilai bahwa kondisi tersebut berarti gejala oligarki politik mulai
merasuk di Indonesia. Oligarki politik merupakan bentuk pemerintahan
yang kekuasaan politiknya secara efektif dipegang oleh kelompok elite
tertentu. Gejala oligarki politik dalam tubuh partai politik tersebut
tercermin melalui budaya memimpin partai politik bagi mereka yang
50Hendarmin
Randireksa, op.cit., hlm. 181.
273
mampu membiayai partai seperti Prabowo Subianto (Partai Gerindra),
Surya Paloh (Partai Nasdem), Aburizal Bakrie (Partai Golkar), dan yang
teranyar adalah Hary Tanoesoedibjo (Partai Perindo). Mereka semua
memimpin partai karena memiliki kekuatan untuk membiayai partai.51
Oligarki politik dalam tubuh partai politik ini tidak terelakkan karena
beberapa hal:52 Pertama, eksistensi dapat bertahan dan mampu membiayai
kompetisi politiknya dalam proses demokrasi sangat memerlukan
pendanaan yang besar. Kedua, realitasnya dana yang bersumber dari iuran
internal partai kurang memadai, sehingga perlu dukungan dana yang besar
dari eksternal partai, seperti dari para donatur, para pemodal, dan para
simpatisan lainnya. Kondisi ini mendorong penguatan institusi partai yang
dikelola secara korporasi guna memperoleh keuntungan finansial sebagai
kapital untuk mempertahankan eksistensi organisasi dan kompetisi meraih
kekuasaan sebagai intisari perjuangan politik dalam rangka mewujudkan
cita-cita atau ideologi politiknya. Implementasi demokrasi tersebut
mengindikasikan adanya fenomena kapitalisme demokrasi, dimana
perjuangan partai politik sebagai infrastruktur basis demokrasi lebih
berfokus pada konsolidasi kekuatan finansial sebagai kapital utama meraih
kekuasaan politik, dan mengabaikan fungsi utamanya untuk
memperjuangkan aspirasi rakyat.
Ketiga, dalam demokrasi kontemporer realitas tersebut memberikan
pencitraan munculnya model “demokrasi kapitalistik”. Menguatnya sikap
pragmatisme mengejar kekuasaan politik dengan mengandalkan kekuatan
kapital/finansial tersebut berimplikasi ke sikap mental rakyat, yaitu
merefleksi tumbuhnya budaya politik transaksional (jual beli) suara rakyat
sebagai pemilik mandat demokrasi melalui kompetisi pemilu secara
reguler. Kondisi fenomenal inilah yang dimaknai pula sebagai “demokrasi
transaksional”.
Jika dicermati lebih jauh, manajemen partai politik yang berbasis
kekuatan kapital dan berorientasi kekuasaan tersebut telah mendorong
proses demokrasi dikelola secara “kartel politik”. Hal ini oleh Slater
dideskripsikan sebagai “relasi antar elite politik yang dicirikan dengan
tingginya kekompakan elite, minimnya kekuatan oposisi, dan terlindungnya
para elite dari realitas mekanisme akuntabilitas politik.53 Sementara di sisi
lain, elit (politik) melihat menyadari bahwa setiap organisme politik
bergantung pada tingkat moralitas, kecerdasan dan kegiatan yang telah
dicapai oleh lapisan kedua, yang menurut TB Bottomore adalah unsur
penting dalam pemerintahan masyarakat yang terdiri dari kelas menengah
baru. Mereka adalah Pegawai Negeri Sipil, Manager, Pekerja kerah Putih,
Ilmuan, Insinyur dan para Intelektual. Dalam teori Mosca, kelompok ini
senantiasa di bawah pengaruh hegemoni elit (partai) yang tidak semata51Yandhi
Deslatama, “Ini Gejala Oligarki Politik yang Merasuk Indonesia”,
http://news.liputan6.com/, diakses tanggal 17 Juli 2016.
52Soebagio, op.cit., hlm. 111-112.
53R.H. Chilcote, Teori Perbandingan Politik: Penulusuran Paradigma, (Jakarta: Rajawali Pers,
2003).
274
mata menggunakan kekuatan penipuan, tetapi dalam satu segi, mewakili
kepentingan dan tujuan kelompok-kelompok yang berpengaruh dan
penting dalam masyarakat,54 yaitu kelompok menengah baru tersebut.
Merekalah yang memasok anggota-anggota baru kepada elit partai—
kelompok penguasa politik.
Beranjak dari pemaparan di atas, dapat diperoleh gambaran adanya
perkelindanan antara kepentingan elit politik—kelas pertama dengan kelas
menengah baru bersama kekuatan pemodal—kapital. Hal ini menyebabkan
dinamika kehidupan politik terjebak ke dalam pragmatisme kekuasaan
yang cenderung mengarah kepada politik transaksional. Sehingga
kehidupan demokrasi akhirnya terjerembab dalam lumpur kepalsuan
makna demokrasi yang dicita-citakan bersama, yaitu mewujudkan cita-cita
kemerdekaan sebagaimana termaktub dalam Pancasila dan pembukaan
UUD 1945. Makna demokrasi sebagai kekuasaan tertinggi dalam negara
yang dipegang atau terletak di tangan rakyat, kedaulatan rakyat 55 yang
merupakan gabungan keseluruhan kemauan masing-masing pribadi, yang
ditentukan oleh suara terbanyak dalam pemilu, hanyalah angan belaka.
Sebab, arah kehidupan demokrasi lebih ditentukan oleh perkelindanan—
dalam bahasa yang lebih vulgar karena perselingkuhan segitiga antara elit
politik dengan kapital dan kelas menengah baru yang menjadi mesin-mesin
perebut pengaruh masyarakat, akan tetapi mereka berada di bawah kendali
elit politik.
c. Pilar Demokrasi yang Mulai Goyah
Menguatnya orientasi kekuasaan dan politik transaksional di kalangan
partai politik dalam tampilan nuansa demokrasi kapitalistik ini menurut
Soebagio telah menjadikan fungsi kaderisasi politik terabaikan atau bahkan
tidak berjalan sama sekali. Sehingga tidak salah bila munculnya kebijakan
instan yang memberikan akses masuknya para pemodal, kerabat elit politik,
dan kerabat birokrat (pejabat birokrasi) tanpa melalui seleksi yang
terprogram.56 Hal ini tentu saja akan berpengaruh terhadap eksistensi
partai politik sebagai lokomotif regenerasi kepemimpinan bangsa.
Secara kasat mata, parlemen sebagai leading sector penghubung
kepentingan rakyat melalui mekanisme perumusan kebijakan negara yang
termanifestasi dalam kebijaksanaan umum memang ditentukan atas dasar
mayoritas oleh wakil-wakil rakyat, namun perumusan kebijakan tersebut
justru dikhawatirkan lebih berorientasi kepada kepentingan partai, bukan
kepentingan rakyat sebagai pemilik kedaulatan. Sebagai contoh, pada 30
September 2014 Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI)
yang didominasi oleh Fraksi Partai Gerindra bersama koalisinya yang
54TB Bottomore, Elite dan Masyarakat, alih bahasa Abdul Harris dan Sayid Umar, (Jakarta:
Akbar Tanjung Institute, 2006), hlm. 7.
55Muhammad Koesnoe, “Musyawarah” dalam Miriam Budiardjo, ed., Masalah Kenegaraan
(Jakarta: Gramedia, 1982), hlm. 57.
56Soebagio, op.cit., hlm. 112.
275
tergabung dalam Koalisi Merah Putih (KMP) telah berupaya menganulir
model pemilihan lansung Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah yang
telah diterapkan sebelumnya dengan mengesahkan Undang-undang Nomor
22 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, Dan Walikota.
Dalam undang-undang tersebut, penyelenggaraan pemilihan Kepala
Daerah dan Wakil Kepala Daerah secara langsung dianggap masih diliputi
dengan berbagai permasalahan yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip
demokrasi. Dua hari kemudian, pada 2 Oktober 2014, Presiden menganulir
produk DPR RI ini dengan menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti
Undang-undang (PERPPU) Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan
Gubernur, Bupati, Dan Walikota. Setelah melalui perdebatan yang alot di
parlemen dan munculnya reaksi yang keras dari masyarakat, kemudian
pada 2 Februari 2015, PERPPU ini akhirnya ditetapkan menjadi undangundang oleh DPR RI, yaitu melalui Undang-undang Nomor 1 Tahun 2015
tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang
Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, Dan Walikota
Menjadi Undang-Undang sebagaima telah dirubah dengan Undang-undang
Nomor 8 Tahun 2015 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 1
Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undangundang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, Dan
Walikota Menjadi Undang-Undang.57
Fenomena yang dipaparkan di atas mengindikasikan kuatnya pengaruh
elit partai dalam perumusan kebijakan negara meskipun harus
bertentangan dengan konstitusi dan berseberangan dengan arus kuat
keinginan konstituen (rakyat) terkait mekanisme pelaksanaan kedaulatan
rakyat di daerah secara lansung. Asumsi ini sudah menjadi rahasia umum.
Sebab, konstelasi parlemen yang didominasi oleh Partai Gerindra bersama
sebagian besar koalisinya yang tergabung dalam KMP pada waktu itu
merupakan partai-partai yang ditopang oleh kekuatan modal dana yang
lumayan besar dari pimpinanannya seperti Partai Gerindra dan Partai
Golkar. Bahkan Partai Gerindra yang berdiri sejak 6 Februari 2008 silam,
belum pernah melakukan Kongres untuk memilih Ketuanya secara
demokratis hingga tahun 2014 yang lalu.58
57Manuver
politik parlemen dalam menerbitkan Undang-undang Nomor 22 Tahun 2014
tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, Dan Walikota yang mengembalikan Pemilihan Kepala Daerah
dan Wakilnya kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah selain ditindaklanjuti dengan Peraturan
Pemerintah Pengganti Undang-undang (PERPPU) Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan
Gubernur, Bupati, Dan Walikota oleh Presiden, situasi tersebut juga memaksa Presiden harus
merevisi Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah dengan
menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang
Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah Menjadi
Undang-Undang sebagaima telah dirubah dengan Undang-undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang
Perubahan atas Undang-undang Nomor 2 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah
Pengganti Undang-undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor
23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah Menjadi Undang-Undang.
58Hingga meninggal Ketua Umumnya (Suhardi) pada 20 Agustus 2014, Partai yang
sekarang dipimpin oleh Prabowo Subianto ini belum pernah mengadakan Kongres untuk
276
Meskipun beberapa partai politik sudah melaksanakan demokrasi
internal untuk memilih tampuk kepemimpinannya melalui Kongres/Munas,
semisal Partai Golkar dan Partai PDI Perjuangan, namun dalam proses yang
terjadi dinilai oleh banyak kalangan belum berjalan secara demokratis.
Partai Golkar sejak Munas 2004 hingga Munas 2009, 59 diyakini sebagai
kemenangaan pragmatisme politik bila dibanding hasil Munas 1998 yang
dianggap sebagai kemenangan paradima baru partai berlambang beringin
tersebut. Di pihak lain, Partai PDI Perjuangan yang berdiri sejak 27 Juli
1996 hingga kini seakan tidak mampu memperoleh figur yang tepat selain
Megawati Soekarno Putri sebagai ketua umumnya.
Potret demokrasi internal kedua partai besar ini adalah cerminan
realitas partai politik—legislatif sebagai salah satu pilar demokrasi telah
gagal dalam menularkan budaya demokratis dalam kehidupan berbangsa.
Sebagai salah satu instrumen—pilar-pilar demokrasi, J.H. Marryman
memperingatkan bahwa sifat demokratis suatu negara diidentifikasikan
melalui sistem kepartaian dan peranan badan perwakilan, peranan lembaga
eksekutif dan kekebasan pers,60 tentu saja demokrasi internal partai politik
memainkan peran strategis proses demokratisasi di Indonesia. Hal ini
diperlukan agar antara partai politik, lembaga perwakilan (legislatif) di satu
sisi; serta pemerintah (eksekutif) di sisi yang lain, memiliki peran yan jelas
dalam perwujudan demokrasi. Dalam konteks ini, pelaksanaan pemilu
sebagai perwujudan demokrasi memberikan peran/tugas penting kepada
partai politik untuk:61 mempersiapkan kandidat-kanditat terbaiknya di
legislatif; mempromosikan program politik dan platform pemilunya, serta
bersaing untuk mendapatkan mandat publik dan suara¬suaranya.
Tak kalah penting, peran partai politik memiliki fungsi jangka panjang
partai harus bisa menjadi perantara masyarakat dengan institusi
pemerintahan. Oleh sebab itu, partai politik harus terorganisir secara
demokratis, memiliki akar yang kuat dalam masyarakat sehingga mampu
menularkan demokrasi kepada masyarakat. Hal ini sebenarnya juga terjadi
di negara-negara lain yang sedang dalam proses transisi dan pemerintahan
otoriter ke negara demokratis, kerap kali kita melihat adanya budaya nondemokratis di dalam parpol Indonesia. Pengalaman selama masa pemilu
dan sesudahnya menunjukkan bahwa masih ada kebutuhan untuk
mempromosikan demokrasi dengan menjelaskan peran dan fungsi parpol,
bagaimana mereka mengatur dirinya sendiri.
melaksanakan demokratisasi dalam memilih pimpinanannya. Baca, “Tiba di Lokasi
Kongres Gerindra, Prabowo: Kok Sepi”, https://m.tempo.co/, diakses tanggal 17 Juli 2016.
59Muhammad Imam Akbar, Demokrasi Internal Partai: Studi Proses Pemilihan Ketua Umum
Partai Golkar pada Musyawarah Nasional Golkar Tahun (1998, 2004 dan 2009), Tesis pada
Universitas Indonesia, Jakarta, 2012, hlm. 115-120.
60Moh. Mahfud M.D., Membangun Politik Menegakakkan Konstitusi, (Jakarta: Rajawali Pers,
2011), hlm. 67.
61Thomas Meyer, Peran Partai Politik dalam Sebuah Sistem Demokrasi: Sembilan Tesis,
(Jakarta: Friedrich-Ebert-Stiftung (FES) Kantor Perwakilan Indonesia, 2012), hlm. 7.
277
Dinamika demokrasi internal politik ini sesungguhnya menunjukkan
bahwa, pilar-pilar demokrasi Indonesia, khususnya dalam tubuh partai
politik—parlemen diambang kegoyahan. Sebaik apapun sistem pemilu yang
dibentuk dan digunakan, jika lembaga parlemen yang terbentuk dari andil
partai politik belum terbenahi, mereka yang duduk di lembaga parlemen
akan belum mampu membangun budaya dan tatanan demokrasi yang
diharapkan. Salah satu penyebabnya adalah demokrasi internal partai
politik tersandera oleh demokrasi kapitalistik yang berdampak terhadap
lemahnya kaderisasi politik lalu berujung pada menurunnya kinerja
legislatif (parlemen). Hal ini misalnya bisa dilihat pada kinerja lembaga
legislatif (parlemen) yang keanggotaannya direkrut dari kader-kader partai
politik kontestan pemilu secara reguler, yang secara ekologis berada dalam
suasana kapitalisme demokrasi dan budaya politik transaksional tersebut,
secara kuantitatif faktual, kinerja parlemen dalam mengemban fungsi
legislasi, fungsi pengawasan dan fungsi anggaran belum membanggakan
bahkan cederung mengalami penurunan. Deskripsi tersebut dapat dilihat
dari implementasi kinerja DPR RI pada masing-masing periode
sebagaimana tabel berikut:62
No.
Periode
Target
Realisasi
1
1999
2004
–
300
169
2
2004
2009
–
284
179
3
2009
2014
–
147
247
3. Menata Demokratisasi Internal Partai Politik; Menjaga Kedaulatan Rakyat
Banyak kalangan menilai oligarki politik di tubuh partai ini bisa saja
mengancam demokrasi Indonesia. Bagi Kleden,63 partai yang seharusnya
mampu mengakomodir suara rakyat, malah digunakan oleh kepentingan
individu atau kelompok tertentu. Dalam dataran ini, negara diharapkan dapat
merumuskan pengaturan ulang aturan tentang sumber dana partai, sehingga
kemakmuran rakyat yang diinginkan oleh konstitusi dapat tercapai. Negara
juga harus memikirkan pihak yang tepat untuk membiayai partai. Kleden
mengajukan solusi, misalnya pemerintah mengikuti aturan main seperti di
62Arry Anggadha dan Anggi Kusumadewi, “Kinerja DPR 2004-2009 Belum Memuaskan
Kinerja DPR di bidang legislasi, secara kuantitas dan substansial sudah lebih baik”,
http://politik.news.viva.co.id/news/, dan “Kinerja Legislasi DPR Periode 2009-2014 Dinilai Buruk”,
http://sp.beritasatu.com/, diakses tanggal 18 Juli 2016.
63Yandhi Deslatama, op.cit.
278
negeri Eropa yang menggunakan dana publik untuk membiayai partai secara
seimbang. Di Eropa, partai politik diberikan bantuan oleh negara berdasarkan
dengan jumlah anggota dan iuran anggotanya juga berjalan dengan baik.
Sehingga negara mampu memperhitungkan berapa besaran yang diberikan
untuk partai politik.
Mengingat arti penting partai politik bagi masa depan pembangunan
demokrasi Indonesia, Undang-undang Partai Politik mesti diperkuat dengan
adanya pengaturan mekanisme demokrasi internal partai politik dalam
Anggaran Dasar (AD) partai politik. Hal ini belum terlihat dalam Undangundang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik maupun dalam Undangundang Nomor 2 Tahun 2011 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor
2 Tahun 2008 tentang Partai Politik. Dalam ketentuan Pasal 2 ayat (4) Undangundang Nomor 2 Tahun 2011, AD hanya mengatur tentang:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.
m.
asas dan ciri Partai Politik;
visi dan misi Partai Politik;
nama, lambang, dan tanda gambar Partai Politik;
tujuan dan fungsi Partai Politik;
organisasi, tempat kedudukan, dan pengambilan keputusan;
kepengurusan Partai Politik;
mekanisme rekrutmen keanggotaan Partai Politik dan jabatan politik;
sistem kaderisasi;
mekanisme pemberhentian anggota Partai Politik;
peraturan dan keputusan Partai Politik;
pendidikan politik;
keuangan Partai Politik; dan
mekanisme penyelesaian perselisihan internal Partai Politik.
Ketiadaan pengaturan ini menjadi titik lemah dalam menata demokrasi
internal partai politik. Sebab, mekanisme apapun dalam pemilihan ketua partai
didelegasikan kepada AD partai politik yang bersangkutan. Hal ini tentu
bergantung kepada common will suatu partai saja, bukan kepada kehendak
publik yang termanifestasi dalam regulasi yang dilahirkan oleh negara.
Dengan tidak adanya pengaturan demokrasi internal partai politik tersebut,
terdapat celah hukum yang dapat disusupi oleh kepentingan hegemoni elit
partai dan kepentingan pemodal yang sangat berkepentingan dengan pengaruh
partai dalam melahirkan produk hukum di DPR RI. Ke depan, pengaturan
terhadap mekanisme demokrasi internal partai politik tersebut sejalan dengan
prinsip negara hukum—suatu konsep baku yang selalu saja mengalami makna
menjadi dalam suatu negara berlaku hukum. Sebab, selain partai politik
sebagai instrumen demokrasi sebagian pendanaannya berasal dari Anggaran
Pendapatan Belanja Negara (APBN), negara berhak menata partai politik agar
ia benar-benar dianggap sebagai bagian penting dalam mempertahankan
demokrasi.
Pengertian negara hukum memberikan legitimasi bagi negara untuk turut
campur menata demokrasi internal partai politik. Karena itu, dalam negara
hukum ketika negara melaksanakan kekuasaannya, maka negara tunduk
279
terhadap pengawasan hukum. Sehingga ketika hukum eksis terhadap negara,
maka kekuasaan negara menjadi terkendali dan selanjutnya menjadi negara
yang diselenggarakan berdasarkan ketentuan hukum tertulis atau tidak tertulis
(konvensi).64 Konsep negara hukum atau lebih dikenal dengan negara hukum
konstitusional ini menurut Juan Linz sebagaimana dikutip oleh Ahmad
Syahrizal, mengenal self-binding procedure yang menempatkan sistem
pemerintahan negara sangat terikat oleh tata cara penggunaan kekuasaan yang
diatur dalam konstitusi. Hal ini membawa kepada pengertian bahwa
pergantian kekuasaan hanya dapat dilakukan oleh mayoritas eksepsional
(mayoritas absolut). Di samping itu, ciri utama pemerintah konstitusional
menghendaki hierarkhi peraturan perundang-undangan yang jelas dan hanya
dapat ditafsirkan oleh kewenangan yudisial65 yang dimiliki oleh peradilan
konstitusi.
Dalam batas penalaran yang diuraikan di atas, ajaran negara hukum dan
ajaran kedaulatan rakyat –demokrasi konstitusional (constitutional democracy)
yang menempatkan konstitusi sebagai penentu batas-batas kekuasaan
pemerintah dan jaminan atas hak-hak politik rakyat, sehingga kekuasaan
pemerintah (eksekutif) harus dimbangangi oleh kekuasaan parlemen
(legislatif) dan lembaga hukum (yudikatif),66 kiranya tidak ada alasan bagi
negara untuk mengelak pengaturan demokrasi internal partai politik. Berkaca
pada pengertian paham demokrasi konstitusional ini yang merupakan
abstraksi dari ajaran konsitutisionalisme, yaitu seperti dituturkan Friedrich
sebagai suatu pemerintah yang kumpulan kegiatannya diselenggarakan atas
nama rakyat, namun tunduk kepada beberapa pembatasan untuk memberi
jaminan bahwa kekuasaan yang dibutuhkan untuk memerintah agar tidak
disalahgunakan oleh mereka yang memperoleh tugas tersebut,67 maka
menunda pengaturan demokrasi internal partai politik tentu hanya akan
membiarkan negara semakin digerogoti oleh aristokrasi kekuasaan.
Berangkat dari uraian di atas, dapat dipahami bahwa untuk memperkuat
sistem demokrasi, memperbaiki hulu demokrasi melalui penataan sistem
demokrasi internal partai politik merupakan salah satu keharusan disamping
menata sistem pemilu. Tentu saja langkah tersebut diiringi dengan perbaikan
mekanisme kontrol publik terhadap partai dalam Undang-undang Partai Politik
yang baru.
Dengan adanya pengaturan terhadap mekanisme demokrasi internal partai
politik dalam Undang-undang Partai Politik yang baru diharapkan
terlaksananya beberapa agenda penting pembangungan demokrasi yang
menititikberatkan pada democratic autonomy (otonomi demokrasi). Istilah
64Ahmad Syahrizal, Peradilan Konstitusi; Suatu Studi tentang Ajudikasi Konstitusional
Sebagai Mekanisme Penyelesaian Sengketa Normatif, (Jakarta: P.T. Pradnya Paramita, 2006), hlm.
55.
65Ibid.
66Bondan Gunawan S., Apa itu Demokrasi, (Jakarta: Sinar Harapan, 2007), hlm. 7.
67Miriam Budiardjo, op.cit., hlm. 57.
280
democratic autonomy ini menurut David Held68 membutuhkan akuntabilitas
state (negara) dalam derajat yang tinggi dan penataan kembali civil society
(masyarakat madani) serta memberi kesempatan yang sama berpartisipasi dan
menemukan prefensi pribadi dan pengawasan akhir oleh warga negara
terhadap agenda politik, termasuk hak-hak sosial ekonomi untuk memastikan
bahwa tersedianya sumber daya yang cukup bagi otonomi demokrasi. Karena
sebagaimana dikatakan Robert Alan Dahl, demokrasi lebih dititikberatkan pada
aspek kebebasan politik, di mana setidaknya terdapat 5 (lima) kriteria atau
standar sehingga proses pemerintahan dapat dikatakan demokratis. Kelima
kriteria tersebut meliputi:69
Pertama, partisipasi yang efektif—sebelum sebuah kebijakan
digunakan negara, seluruh rakyat harus mempunyai kesempatan yang
efektif untuk memberikan pandangan-pandangan mereka. Kedua,
persamaan suara—setiap rakyat harus mempunyai kesempatan yang
sama dan efektif untuk memberikan suara dan seluruh suara harus
dihitung sama. Ketiga, pemahaman yang cerah—setiap rakyat harus
diberikan kesempatan untuk mempelajari kebijakan-kebijakan
alternatif yang relevan. Keempat, pengawasan agenda—berbagai
kebijakan negara selalu terbuka untuk diubah jika rakyat
menginginkannya. Kelima, pencakupan orang dewasa—semua atau
paling tidak sebagian besar orang dewasa yang menjadi penduduk
tetap seharusnya memiliki hak kewarganegaraan.
Kriteria demokrasi menurut Dahl ini bila ditelisik lebih dalam, maka
kriteria ketiga dan keempat memiliki relevansi dengan penataan demokrasi di
tubuh partai politik. Oleh karena kedaulatan rakyat menghendaki rakyatlah
yang memberikan kekuasaan kepada pihak-pihak yang dipercaya untuk
menyelenggarakan negara, baik itu legislatif maupun eksekutif, maka
kekuasaan diberikan oleh rakyat iitu, oleh negara harus pula membenahi
institusi yang menjadi kendaraan untuk menjaring wakil rakyat.
Meskipun ada keraguan terhadap common will parlemen menyahuti hal ini,
maka publik diharapkan dapat berperan aktif dalam mengawal terlaksananya
wacana pentingnya pengaturan demokrasi internal partai politik. Dorongan
kuat publik akan memberi arti penting agar negara segera membenahi
ketiadaan sistem demokrasi di internal partai. Inilah perwujudan prinsip
akuntabilitas (pertanggungjawaban) dalam sistem demokrasi yang dikenal
dengan akuntabiltas vertikal.70 Prinsip ini (terutama prinsip akuntabilitas
68Georg
Sorensen, Demokrasi dan Demokratisasi; Proses dan Prospek dalam Sebuah Dunia
yang Sedang Berubah, alih bahasa: I Made Krisna, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003). Hlm. 14-15.
69Robert A. Dahl, Perihal Demokrasi; Menjelajahi Teori dan Praktik Demokrasi Secara
Singkat, alih bahasa: A. Rahman Zainuddin, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2001), hlm. 52-53.
70Terdapat 2 (dua) model prinsip akuntabilitas dalam sistem demokrasi. Keduanya adalah,
akuntabilitas vertikal dan akuntabilitas horizontal. Jika akuntabilitas vertikal menyangkut
pertanggungjawaban dalam hubungan antara pemegang kekuasaan dengan rakyatnya atau antara
pemerintah dengan warganya, maka akuntabilitas secara horizontal merupakan
pertanggungjawaban pemegang jabatan publik pada lembaga yang setara, seperti pejabat eksekutif
dengan pejabat lembaga legislatif. Juanda Nawawi, “Demokrasi dan Clean Governance”,
http://www.resepkita.comforum/ diakses tanggal 16 Juli 2016.
281
vertikal), merupakan ruang bagi rakyat secara langsung maupun melalui partai
politik, lembaga swadaya masyarakat (LSM), organisasi masyarakat dan
institusi-institusi lainnya berhak meminta pertanggungjawaban kepada
pemegang kekuasaan negara.
PENUTUP
Demokratisasi sebagai sistem pemerintahan dari, oleh dan untuk rakyat
memberikan makna bahwa rakyat memainkan peran penting dalam setiap
pengambilan kebijakan negara. Hal ini merupakan perwujudan hak politik warga
negara yang dijamin dan dilindungi oleh konstitusi. Sebagai salah satu sarana
pemenuhan hak politik warga negara, partai politik adalah struktur antara atau
intemediate structure yang harus memainkan peran dalam membumikan cita-cita
kenegaraan dalam kesadaran kolektif warga negara, maka partai politik
merupakan instrumen demokrasi yang berperan dalam mewujudkan pendidikan
politik bernegara.
Agar partai politik berfungsi sejalan dengan kehendak sistem demokrasi, maka
prinsip-prinsip demokratis dalam mekanisme internal partai menjadi perhatian
bagi negara untuk diatur melalui undang-undang yang mengatur tentang partai
politik. Adanya pengaturan yang memungkinan sistem pemilihan ketua/pimpinan
partai dalam demokrasi internal partai politik harus berjalan secara demokratis,
diharapkan partai mampu menjalankan fungsinya dengan baik sehingga dapat
menularkan budaya demokratis dalam pelaksanaan kedaulatan rakyat dan
menjalankan roda pemerintahan. Pengaturan prinsip-prinsip demokratis dalam
demokrasi internal partai melalui undang-undang partai politik ini, setidaknya
diharapkan rakyat lebih memiliki antusianisme untuk berpartipasi dalam
pengelolaan kehidupan bernegara dan memperjuangkan kepentingannya di
hadapan penguasa.
Di tengah merosotnya animo masyarakat untuk memberikan hak politiknya
dalam pemilu, dimana salah satu penyebabnya karena realitas dominasi elit partai
ternyata lebih mengedepankan kepentingan politik partai dibanding
mendengarkan suara konstituen, maka negara sudah seharusnya memperbaiki
hulu demokrasi melalui undang-undang yang mengatur adanya kewajiban bagi
partai untuk melahirkan mekanisme demokrasi internal partai politik dalam AD
partainya. Sehingga terdapat jaminan bahwa pemilihan ketua partai berlansung
secara demokratis serta terbebas dari demokrasi kapitalistik. Untuk itu, wacana
agar negara sudah seharusnya melihat ketidakseragaman prinsip-prinsip
demokratis mekanisme pemilihan ketua partai politik yang selama ini tidak diatur
dan ditata dalam regulasi yang dilahirkan oleh negara adalah merupakan salah
satu hulu persoalan memperbaiki sistem demokrasi di tanah air.
-----00000-----
282
DAFTAR PUSTAKA
“Kinerja
Legislasi
DPR
Periode
2009-2014
Dinilai
http://sp.beritasatu.com/, diakses tanggal 18 Juli 2016.
Buruk”,
“Tiba di Lokasi Kongres Gerindra, Prabowo: Kok Sepi”, https://m.tempo.co/,
diakses tanggal 17 Juli 2016.
Akbar, Muhammad Imam, 2012. Demokrasi Internal Partai: Studi Proses Pemilihan
Ketua Umum Partai Golkar pada Musyawarah Nasional Golkar Tahun (1998,
2004 dan 2009), Jakarta, Universitas Indonesia.
Almond, G.A. dan Verba, S., 1990. Budaya Politik,Tingkah Laku Politik dan
Demokrasi di Lima Negara, alih bahasa: Sahat Simamora, Jakarta, Bumi
Aksara.
Anggadha, Arry dan Kusumadewi, Anggi “Kinerja DPR 2004-2009 Belum
Memuaskan Kinerja DPR di bidang legislasi, secara kuantitas dan
substansial sudah lebih baik”, http://politik.news.viva.co.id/news/,
Asshiddiqie, Jimly, 2005. Hukum Tata Negara dan Pilar-pilar Demokrasi; Serpihan
Pemikiran Hukum, Media dan HAM, Jakarta, Konstitusi Press.
------------------------, 2011. Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara, Jakarta, Rajawali
Pers.
Bottomore, T.B., 2006. Elite dan Masyarakat, alih bahasa Abdul Harris dan Sayid
Umar, Jakarta, Akbar Tanjung Institute.
Budiardjo, Miriam, 2014. Dasar-dasar Ilmu Politik, Jakarta, PT. Gramedia Pustaka
Utama.
-------------------------, ed., 1982. Masalah Kenegaraan, Jakarta, Gramedia
Chilcote, R.H., 2003. Teori Perbandingan Politik: Penulusuran Paradigma, Jakarta,
Rajawali Pers..
Dahl, Robert A., 2001. Perihal Demokrasi; Menjelajahi Teori dan Praktik Demokrasi
Secara Singkat, alih bahasa: A. Rahman Zainuddin, Jakarta, Yayasan Obor
Indonesia
283
Deslatama, Yandhi, “Ini Gejala Oligarki Politik yang Merasuk Indonesia”,
http://news.liputan6.com/, diakses tanggal 17 Juli 2016.
Huntington, Samuel P., 1991. Gelombang Demokratisasi Ketiga, Jakarta, PT.
Intermasa.
------------------------------, 1997. Gelombang Demokratisasi Ketiga, Jakarta, Grafiti.
Republik Indonesia, Undang-undang Nomor 2 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas
Undang-undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik.
“Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)”, http://kbbi.web.id/politik, diakses pada
18 Juli 2016.
M.D., Moh. Mahfud, 2003. Demokrasi dan Konstitusi di Indonesia Studi Tentang
Interaksi Politik dan Kehidupan Ketatanegaraan, Jakarta, Rineka Cipta.
----------------------------, 2011. Membangun Politik Menegakakkan Konstitusi, Jakarta,
Rajawali Pers.
----------------------------, 1998. Politik Hukum di Indonesia, Jakarta, LP3ES.
Mayo, Henry B., 1960. An Introduction to Democratic Theory, New York, Oxford
Univercity Press.
Meyer, Thomas, 2012. Peran Partai Politik dalam Sebuah Sistem Demokrasi:
Sembilan Tesis, Jakarta, Friedrich-Ebert-Stiftung (FES) Kantor Perwakilan
Indonesia.
Mill, John Stuart, 2005. On Liberty (Perihal Kebebasan), Alih Bahasa: Alex Lanur,
Jakarta, Yayasan Obor Indonesia.
Nawawi,
Juanda,
“Demokrasi
dan
Clean
Governance”,
http://www.resepkita.comforum/ diakses tanggal 16 Juli 2016.
Pamungkas, Sigit, “Ternyata Tingkat Partisipasi dalam Pilpres Menurun
Dibandingkan Pileg”, http://nasional.kompas.com/, diakses tanggal 16 Juli
2016.
Purnama, Eddy, 2007. Negara Kedaulatan Rakyat; Analisis Terhadap Sistem
Pemerintahan Indonesia dan Perbandingannya dengan Negara-negara Lain,
Malang, Nusa Media.
Randireksa, Hendarmin, 2007. Arsitektur Konstitusi Demokratik, Bandung, Fokus
Media.
Ruslan, Heri, “Inilah 3 Penyebab Rendahnya Partisipasi
http://nasional.republika.co.id/, diakses tanggal 16 Juli 2016.
Politik”,
S., Bondan Gunawan, 2007. Apa itu Demokrasi, Jakarta, Sinar Harapan.
Soebagio, 2009. “Distorsi Dalam Transisi Demokrasi Di Indonesia”, Jurnal Makara,
Sosial Humaniora, Vol. 13, No. 2 Desember 2009, Tanggerang: Universitas
Islam Syekh Yusuf.
Sorensen, Georg, 2003. Demokrasi dan Demokratisasi; Proses dan Prospek dalam
Sebuah Dunia yang Sedang Berubah, alih bahasa: I Made Krisna, Yogyakarta,
Pustaka Pelajar
284
Strong, C.F., 2004. Konstitusi-konstitusi Politik Modern; Kajian tentang Sejarah &
Bentuk-bentuk Konstitusi Dunia, alih bahasa: SPA Teamwork, Bandung,
Nuansa & Nusamedia.
Syahrizal, Ahmad, 2006. Peradilan Konstitusi; Suatu Studi tentang Ajudikasi
Konstitusional Sebagai Mekanisme Penyelesaian Sengketa Normatif, Jakarta,
P.T. Pradnya Paramita.
Wikipedia bahasa Indonesia, “Politik”, https://id.wikipedia.org/wiki/Politik,
diakses pada 18 Juli 2016.
BIODATA PENULIS
Muhammad Fauzan Azim, S.HI. M.H., lahir di Lasi Mudo Nagari Lasi Kecamatan
Canduang Kabupten Agam pada 13 Maret 1981, dari pasangan keluarga petani H.
Damanhuri Labai Nan Basa dan Hj. Djusmar. Bungsu dari delapan bersaudara ini
mengawali pendidikan formal di Sekolah Dasar Negeri Nomor 18 Lasi Mudo pada
1989-1995, Madrasah Tsanawiyah Swasta-Madrasah Tarbiyah Islamiyah
Canduang pada tahun 1995-1999 serta di sekolah yang sama untuk tingkat Aliyah
pada 1999-2002.
Memulai pendidikan tinggi di Fakultas Syari’ah Institut Agama Islam Negeri Imam
Bonjol Padang pada 2002-2007 dengan konsentrasi kajian Jurusan Hukum Pidana
dan Tata Negara Islam, pada 2008. Berkesempatan untuk melanjutkan studi Ilmu
Hukum di Program Pascasarjana Universitas Andalas dan menyelesaikan studi
pada Program Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Andalas pada 2012. Sejak
2014, kembali melanjutkan studi pada Doktor Pascasarjana Fakultas Hukum
Universitas Andalas.
Semasa menjadi Mahasiswa pernah menjabat sebagai Ketua Badan Eksekutif
Mahasiswa Fakultas Syari’ah IAIN Imam Bonjol Padang periode 2005-2006. Selain
itu pernah juga terlibat dalam organisasi Forum Mahasiswa Syari’ah se-Indonesia
(FORMASI). Hingga saat ini, sehari-hari menekuni profesi sebagai Advokat yang
konsen di bidang hak asasi manusia pada Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak
Asasi Manusia Indonesia Wilayah Sumatera Barat. Selain itu, aktivitas sehari-hari
yang digeluti sebagai Dosen Tidak Tetap pada Fakultas Syari’ah Institut Agama
Islam Negeri Imam Bonjol Padang dalam mata Kuliah Politik Hukum dan Bantuhan
Hukum & Kebijakan Publik.
285
PROSES PEMILIHAN KETUA PARTAI YANG DEMOKRATIS
ABSTRAK:
Pemilihan ketua umum partai politik yang demokratis adalah mimpi segenap
masyarakat bangsa. Ketua umum partai laksana nahkoda yang kemana saja arah
yang ia tujukan selalu menjadi rujukan utama. Maka proses pemilihan ketua umum
partai yang demokratis menjadi sebuah keniscayaan yang menjadi obat bagi
kegundahan masyarakat. Di dalam Wikipedia kata demokrasi adalah bentuk
pemerintahan yang dimana semua warga Negara memiliki hak dalam mengambil
keputusan. Maka, jika proses pemilihan ketua umum partai yang terbuka dan
transparan untuk kepentingan publik menjadi hal yang sangat dirindukan. Semua
berhak dipilih dan memilih. Hanya dalam perjalanannya partai politik memiliki
banyak cara yang tidak menjunjung tinggi nilai demokratis itu. Partai politik selalu
punya cara menterjemahkan pola demokratisasi tetapi dalam prakteknya jauh
panggang dari api. Partai politik dengan mudah membahasakan demokratis tetapi
pada faktanya demokratisasi yang digaungkan hanya menjadi ilusi saja. Mengapa
demikian, partai politik di Indonesia didirikan banyak yang hanya demi
kepentingan pendiri saja dan pada akhirnya menjurus kepada sebuah perusahaan
pribadi, kepentingan pribadi, dan mobil penggerak pribadi. Akhirnya partai politik
tidak lagi menjadi wadah bagi penggiat politik yang ingin mendedikasikan diri
dalam kepentingan politik. Maka untuk sampai pada titik demokratis, partai politik
harus membuka diri untuk publik. Saat yang bersamaan partai politik membuka
diri, segenap komponen masyarakat juga berjuang keras terlibat sebagai pengawas
baik formal maupun informal untuk menjadi penyeimbang dalam konteks
pengawasan. Ketika dua kutub partai politik dan masyarakat saling terbuka maka
lahirlah proses demokratisasi yang diharapkan. Hal ini tinggal menunggu kemauan
partai politik saja. Masyarakat tentu dengan senang hati dalam melakukan
pengawasan demi terciptanya demokratisasi proses pemilihan ketua umum partai
politik. Ketua umum partai, saat yang bersamaan menjadi penggerak partai dan
saat yang bersamaan pula menjadi tokoh yang berdiri di depan untuk
memperjuangkan kepentingan rakyat bangsa.
Muhammad Husen Db, Panwas Jakarta Pusat. HP. 0812 5356187 email.
[email protected]
286
PROSES PEMILIHAN KETUA PARTAI YANG DEMOKRATIS
Oleh: Muhammad Husen Db.
(Anggota Panwas Jakarta Pusat)
Kata Kunci: Partai Politik, Ketua Umum, Demokratis.
Pendahuluan.
Dalam membuat sebuah keputusan selalu memiliki tujuan umum dan tujuan
khusus. Sebagai contoh penetapan peraturan, selalu ada konsiderans menimbang,
mengingat dan memutuskan. Hal ini mengisyaratkan bahwa dalam menentukan
sesuatu harus berlandaskan tujuan. Tujuan yang dimaksud agar dapat dijadikan
landasan dasar dalam melakukan kegiatan itu. Indonesia adalah Negara maju yang
telah mengadopsi sistem demokratisasi. Sebagai sebuah Negara yang mempunyai
pilihan lain, yaitu pilihan soal kebebasan pers. Dalam konteks ini, maka tema besar
soal proses pemilihan ketua umum partai yang demokratis memberikan catatan
penting untuk dibedah dan dipetakan secara mendalam agar terbuka dan bisa
diakses publik. Peta konsep terhadap tema ini akan di rumuskan dalam beberapa
bagian. Bagian pertama, Proses pemilihan ketua partai. Kedua, Demokratis. Dan
yang ke tiga, rekomendasi peran pengawasan terhadap pemilihan yang
demokratis.
Bagian Pertama, Proses pemilihan ketua umum partai.
Partai politik sebagaimana banyak disebutkan sebagai wadah paling banyak
mencetak generasi menjadi pemimpin di Negeri yang kita cintai ini, Indonesia.
Partai politik memiliki gerakan kekuatan tersendiri dalam pengaruhnya terhadap
kebijakan pemerintah. Partai politik memiliki peran kuat dalam sistem
ketatanegaraan kita. Partai politik juga disiapkan untuk mewadahi masyarakat
dalam melakukan peran representatif. Sebagaimana peran partai politik yang
memiliki wadah di lembaga Legislatif sebagai representasi suara rakat.
Sederhananya, partai politik adalah wadah yang sangat penting. Peran, tugas dan
fungsinya memberikan dampak yang sangat strategis untuk kepentingan bangsa
ini. Sebagaimana amanat UU No. 2 Tahun 2011 tentang perubahan UU No. 2 Tahun
2008 tentang partai politik, menegaskan bahwa perlu ada penguatan pelaksanaan
demokrasi dan sistem kepartaian yang efektif, maka diperlukan penguatan
kelembagaan serta peningkatan fungsi dan peran partai politik. Maka kebaikan
partai menjadi kebaikan bangsa, begitu pula sebaliknya. Dengan gambaran partai
politik ini maka secara internal partai harus memiliki visi dan misi yang juga sama
sebagaimana misi besar bangsa ini. Pada bagian ini setidaknya ada beberapa poin
yang menjadi fokus pembahasan:
a. Partai Politik
Di dalam diri partai politik terpola nilai kompetisi. Pola ini yang
diterjemahkan menjadi sarana untuk menunjukkan sekaligus cara tepat
untuk meraih posisi yang paling strategis, termasuk posisi ketua umum.
287
Proses kompetisi yang terjadi memiliki dinamika tersendiri yang banyak
kalangan cenderung kesulitan melakukan pembacaan terhadap
pelaksanaan yang terjadi dalam proses pemilihan. Desain ini yang secara
faktual terjadi pada segenap partai politik. Maka terlihat dengan jelas
bahwa proses kepemimpinan yang terjadi di partai politik telah terlatih
dengan baik. Partai politik memiliki kompetensi dalam menyikapi sebuah
masalah menjadi kekuatan sekaligus melahirkan teori teori baru cara
penyelesaian masalah. Hal ini yang tidak banyak di lakukan oleh lembaga
lain. Oleh karena itu partai politik sering menggaungkan kalimat seni
kemungkinan. Tidak ada yang pasti, yang pasti adalah ketidakpastian itu
sendiri. Menurut Mariam Budiardjo dalam bukunya Dasar-Dasar Ilmu
Politik 2008, bahwa teori politik adalah bahasan dan generalisasi dari
fenomena yang bersifat politik.
Maka konsep teori politik mencakup, masyarakat, kelas sosial, Negara,
kekuasaan dan lainnya. Teori politik inilah yang memberikan banyak
catatan penting untuk masuk kedalam sistem pemilihan ketua umum partai
yang harus demokratis. Sutradara Gintings juga menjelaskan bahwa
menurut UU No. 31 tahun 2002, terdapat ketentuan yang menyatakan
bahwa partai-partai harus menyesuaikan diri sembilan bulan setelah
undang-undang partai politik yang baru di berlakukan mulai tanggal 27
Desember 2002. Jika tidak maka partai politik tidak akan diakui
eksistensinya. Hal ini yang menjadi catatan penting untuk di pahami dan
dijalani oleh semua partai politik.
b. Proses Pemilihan
Dalam proses pemilihan ketua partai politik cenderung berbeda beda dari
setiap masing-masing partai politik. Pemilihan langsung, keterwakilan,
formatur, bahkan ada yang memilihi cara yang lain. Semua pola ini adalah
cara partai politik melakukan proses seleksi pemilihan ketua partai politik.
Apapun namanya proses ini yang akan menghantarkan seseorang menjadi
ketua partai politik. Jika partai politik yang telah memiliki banyak
pengalaman yang melakukan proses ini, maka tentu juga memiliki banyak
cara juga dalam proses ini. Tidak jarang masyarakat tercengang melihat
proses pemilihan ketua partai sebagaimana pemilihan ketua kelas,
bentuknya hanya penunjukkan. Tetapi, banyak saja partai yang bentuk
pemilihannya penuh dengan luapan energi yang sangat besar. Pikiran,
tenaga, bahkan uang menjadi taruhan dalam proses pemilihan ini. Oleh
karena itu, untuk menjadi ketua partai yang prosesnya memiliki sistim
kompetisi yang ketat maka tentu akan melahirkan pemimpin kuat dan
berwibawa. Sebaliknya, ketika proses yang dilalui tidak sebagaimana
proses yang ideal, maka juga akan lahir pemimpin yang juga tidak ideal.
c. Fungsi Ketua
Sejatinya, ketua memiliki peran strategis yang dapat menunjuk jalan yang
harus dilalui semua anggotanya. Dalam konteks ini maka, ketua memiliki
visi misi besar yang dapat menggawangi semua kebutuhan partai itu. Ketua
menjadi nahkoda sekaligus leader yang punya titik pandang yang sangat
288
jauh kedepan. Dengan segenap kemampuan dan menejerial yang baik.
Karena partai politik butuh pemimpin yang sangat tangguh dan teruji.
Menahkodai partai politik tidak semudah yang dibayangkan banyak orang.
Saat yang bersamaan menjadi raja bertahta, tetapi saat yang bersamaan
menjadi alas dan objek pelampiasan kemarahan bagi anggotanya. Maka,
dalam konteks ini, ketua partai tentu wajib menjadi aktor komprehensif
dalam menahkodai partai. Lain halnya jika ketua hanya sebagai boneka
pajangan yang mengurusi hal teknis atau bahkan hanya menjadi topeng
bagi aktor lain. Ini dua hal yang berbeda. Jika ketua yang kita sebut dengan
ketua ideal yang saat pemilihan ketua partai memiliki proses yang ideal dan
ketua partai yang hanya ditunjuk oleh pemilik partai. Dua hal ini akan
berpengaruh kepada bagaimana cara memimpin. Ketua yang ideal dengan
segudang visi dan misinya dan ketua yang ditunjuk hanya berjalan jika ada
suruhan. Maka akan berdampak juga pada proses demokratisasi terhadap
cara dan strategi memimpin. Semakin demokratis proses pemilihannya,
semakin baik pula cara partai melakukan proses kaderisasi. Kaderisasi yang
mengarah kepada bagaimana partai politik mewadahi generasi dalam
melakukan proses demokratisasi untuk membangun Indonesia yang
semakin baik. Ketua partai yang demokratis sejatinya menjadi dokter yang
meramu semua kepentingan menjadi sebuah kekuatan bagi partai sekaligus
bagi bangsa.
Bagian Kedua, Demokratis.
Menurut Sutradara Gintings dalam bukunya Jalan Terjal Menuju Demokrasi 2006,
bahwa gairah politik terasa begitu meningkat ketika pemilihan umum tahun 1999.
Ini terjadi karena pemilihan sebelumnya tidak terasa ada proses bebas, jujur dan
adil. Hal ini mengajarkan kita bahwa proses bebas adalah proses demokratisasi.
Maka gairah politik ini harus diterjemahkan sebagai bagian penting sejarah yang
harus dijunjung tinggi.
Kata Demokratis adalah bebas dan terbuka. Jika dimaksudkan untuk partai, maka
partai harus membuka diri dan memberikan kebebasan kepada kader dalam
melakukan ekspansi baik pikiran, gagasan dan gerak. Ini mengarah kepada partai
sebagai wadah ekspresi dan ruang didik bagi kader untuk berikhtiar dalam
melakukan terobosan dalam dunia politik. Sejarah berdirinya partai politik di
Indonesia memiliki dinamika sendiri sendiri. Diantara dinamikanya adalah soal
sistem pemilihan ketua Partai. Ada partai yang sejak awal didirikan dan langsung
menjadi ketua partai dari sang pendiri. Sementara banyak juga partai yang sudah
berganti ganti ketua partainya. Sebelum jauh membahas soal partai ini, Penulis
ingin juga menyebutkan beberapa tokoh ketua partai yang sudah selesai menjadi
ketua partai maupun saat ini masih sedang menjabat sebagai ketua partai politik.
Partai Golkar, Akbar Tanjung, Jusuf Kalla, Aburizal Bakrie, Setya Novanto. Partai
Demokrasi Indonesia Perjuangan, Mega Wati. Partai Persatuan Pembangunan,
Surya Darma Ali, Jan Farid dan Romahurmuzi (Masih Sengketa). Partai Amanat
Nasional, Amin Rais, Sutrisno Bachir, Hatta Rajasa, Zulkifli Hasan. Partai Demokrat,
Susilo Bambang Yudhoyono, Anas Urbaningrum, Susilo Bambang Yudhoyono.
Partai Gerindra, Suhardi, Prabowo Subianto. Partai Hati Nurani Rakyat, Wiranto.
289
Partai NasDem, Patrice Rio Capella, Surya Paloh. Partai Keadilan Sejahtera, Tifatul
Sembiring, Lutfi Hasan Ishaq, Anis Matta, Muhamad Sohibul Iman. Partai
Kebangkitan Bangsa, Gusdur, Muhaimin Iskandar. Partai Bulan Bintang, Yusril Ihza
Mahendra, MS. Ka’ban, Yusril Ihza Mahendra. Partai Keadilan dan Persatuan
Indonesia, Sutiyoso.
a. Golkar (Golongan Karya)
Sejak dari kepemimpinan Akbar Tanjung sampai kepada Setya Novanto saat
ini, Golkar membuktikan sekaligus mengajarkan public soal cara berpolitik
dan cara meraih tampuk pimpinan di partai yang sangat senior ini. Tidak
ada yang memungkiri bahwa Golkar telah banyak menorehkan pola dan
gaya berpolitik sebagaimana cara melakukan terobosan dan taktik yang
banyak orang terperanga melihat cara Golkar melakukan seleksi memilih
ketua partai. Berkompetisi penuh high strategy yang tidak banyak orang
paham. Hanya orang lihai yang mampu bertarung mendapatkan tampuk
ketua partai di partai beringin ini. Rasanya banyak partai lain yang
didirikan oleh kader yang sebelumnya berada di partai Golkar. Dari
prosesnya, Golkar terlihat dan terkesan sangat tinggi performance-nya
dalam melakukan proses pemilihan ketua umum. Hingga tidak salah jika
Golkar mendapatkan julukan partai paling senior dalam sejarah kepartaian
di Indonesia. Maka bicara soal demokratis, partai Golkar sangat demokratis
dan sangat terbuka. Golkar telah mengajarkan banyak tokoh di negeri ini
untuk bagaimana cara melakukan seleksi proses demokratisasi dan
keterbukaan.
b. PDIP
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), partai ini dari awal
memiliki icon Soekarno menjadi tokoh sentral. Hingga pada akhirnya
Megawati sebagai tokoh sekaligus darah Soekarno yang menjadi ketua pada
partai ini. Meski dalam perjalanannya memiliki riak riak perubahan
kepemimpinan, tetapi pada akhirnya sampai saat ini masih dalam kendali
Megawati sebagai tokoh sentral dalam partai ini. Bicara soal demokratisasi,
PDIP memiliki terjemahan soal demokratis. Apakah Megawati menjadi
ketua partai selama dua hingga tiga periode ini adalah demokratis atau
bahkan sebaliknya. Jika iya, maka partai ini perlu melakukan kaderisasi
yang jauh lebih kokoh untuk mempersiapkan kader dalam melakukan
penguatan partai dalam soal kepemimpinan. Kepemimpinan yang dimaksud
adalah mempersiapkan kader untuk menggantikan Megawati yang akan
mungkin bukan dari darah Soekarno. Jika pola kepemimpinan masih berada
di jalur darah Soekarno, maka tentu demokratisasi yang menjadi poin
penting dalam menerjemahkan demokratisasi masih dalam ilusi.
c. PPP
Partai Persatuan Pembangunan (PPP), sedari awal mengambil komunitas
muslim sebagai basis massa. Konsep ini menguat dengan ka’bah sebagai
lambang dan jalur serta misi perjuangan partai. Dinamika partai ini dalam
290
perjalanannya terkesan stabil dan berjalan baik. Hingga beberapa tahun
belakangan sejak kepemimpinan Surya Darma Ali mendapat beberapa
gejolak dan hingga saat ini partai masih dalam sengketa dan masih
berproses hukum antara Romahurmuzi dan Djan Farid. Lepas dari itu
semua bahwa dalam konteks demokratisasi dan keterbukaan, partai ini juga
telah banyak menunjukkan titik keterbukaan dan demokratis. Demokratis
yang dimaksud adalah dalam sistim pemilihan ketua partai, masih
mengedepankan pola selektif dan kompetitif. Semua kader punya
kesempatan untuk menjadi ketua umum dan siap memilih siap dipilih.
Tokoh senior seperti Mbah Maimun memposisikan dirinya sebagai tokoh
pengayom yang terus memberikan isyarat agar partai ini untuk berislah
dan terus memperjuangkan kepentingan umat di atas kepentingan pribadi
dan egoisme kelompok. Maka bicara soal demokratisasi pemilihan ketua
umum, partai ini masih punya naluri itu.
d. PAN
Partai Amanat Nasional (PAN), memiliki slogan partai reformis. Tokoh
Amin Rais menjadi penggerak sekaligus inisiator pendirian partai ini.
Berbasis masa Muhammadiyah, partai ini berkibar dan bergerak. Dalam
sejarahnya, Amien Rais sebagai pendiri sekaligus sebagai Ketua Umum
pertama partai ini. Dinamika ini yang sejak awal menjadi cerita yang
berbeda dalam menerjemahkan bagaimana partai dalam melakukan pola
demokratisasi. Amin Rais dalam ketokohannya dipartai ini banyak
mengambil peran dalam pengawasan partai. Soal pemilihan ketua umum
partai, Amin Rais sangat mengambil peran. Maka tidak jarang ketua umum
partai ini harus mendapat restu dari Amin Rais. Maka jika ditarik
kesimpulan dalam konteks demokratisasi pemilihan ketua umum partai,
memiliki quozi sistem pemilihannya. Saat yang bersamaan mendedikasikan
diri sebagai partai reformis yang mengedepankan demokratisasi, saat yang
bersamaan mengedepankan Restu Amin Rais dalam konteks subjektifitas.
e. Partai Demokrat
Partai Demokrat berlambang mercy memiliki pesona tersendiri. Tokoh
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), sebagai pendiri sekaligus menjadi
pengikat bagi karier partai ini. Sejak berdirinya mendapat banyak respon
positif dari masyarakat, tidak hanya sosok SBY tetapi juga soal gagasan
perubahan. Berdirinya partai ini menjadi antitesa terhadap keterpurukan
partai sebelumnya yang telah banyak mendapatkan resistensi masyarakat
soal korupsi yang sangat menggurita. SBY hadir sebagai tokoh muda, gagah
dan menawan, good looking, dengan gagasan barunya menjadi obat baik
bagi masyarakat yang haus akan perubahan dan perbaikan. Dalam
perjalanan banyak mengakomodir tokoh tokoh muda, aktifis yang gandrung
akan perubahan. Dengan itu, partai ini akhirnya menjadi pemenang pemilu
tahun 2009. Dengan banyak perubahan yang ada partai ini kemudian
banyak memberikan kesempatan kepada tokoh muda dalam konteks
kepemimpinan. Terbukti, tokoh muda Anas Urbaningrum didaulat menjadi
ketua umum dalam pemilihan umum partai mercy ini. Entah bagaimana
291
cerita, tidak terlalu lama, sang ketua mendapat banyak guncangan gerakan
politik. Dalam pembacaan media, justru Anas Urbaningrum berseteru
kencang dengan pendiri sekaligus gurunya yaitu SBY. Dalam
menterjemahkan demokratisasi, tentu partai ini punya pola sendiri, hanya
saat ini SBY kembali menjadi ketua umum partai ini menunjukkan bahwa
partai ini masih dalam awas sang pendiri. Semoga proses demokratsisasi
yang menjadi pijakan proses politik negeri ini dapat di ejawantahkan secara
baik dan terbuka.
f.
Partai Gerindra (Gerakan Indonesia Raya)
Tokoh partai ini adalah Prabowo Subianto. Sang Komandan Pasukan
Khusus era Soeharto. Berkarisma dan penuh percaya diri dalam melakukan
pemetaan terhadap pembangunan bangsa. Punya banyak pengalaman
dalam kemiliteran menjadikan ia teguh dalam menyampaikan gagasan
keindonesiaan. Gagasan yang menguat pada persoalan pangan dan
keamanan. Gerakan yang memiliki karakteristik lambang burung elang
yang menjadi lambang partai ini. Raungan burung elang ini
menitikberatkan pada eksistensi bangsa ini sebagaimana sejarah lama yang
di bangun oleh Soeharto. Kekuatan Indonesia dalam soal jati diri bangsa
cukup diperhitungkan bangsa lain. Hal lain yang tidak kalah penting adalah
sosok Soeharto juga punya catatan kelam yang masih menjadi resistensi
masyarakat yang juga menjadi buah pahit bagi Prabowo. Meski demikian,
Prabowo dapat menghantarkan partai ini diperhitungkan oleh partai lain.
Catatan penting yang menjadi sorotan partai ini soal demokratisasi
pemilihan ketua umum, sebagaimana konsep militer, partai ini masih dalam
genggaman Prabowo sebagai tokoh utama. Akhirnya meskipun Prabowo
tidak menjadi ketua umum partai, tetapi dalam konteks keputusan dan
penokohan masih dalam genggaman Prabowo.
g. PKS
Partai Keadilan Sejahtera, Partai yang mengusung penguatan kaderisasi
internal. Partai ini sejak awal berdirinya ber-fatsun Islam dan gerakan
(Harakah Islamiyah). Melakukan pembinaan internal sampai pada tingkat
anak anak sekolah. Tidak jarang kaderisasi dimulai dari anak-anak SMA dan
sederajat. Banyak kajian islam yang juga dititikfokuskan kepada Mahasiswa
dan bergerak dikampus kampus. Hingga banyak anggota yang terlibat dari
militansi kampus yang tergolong muda dan energik. Partai ini terus
melakukan pembinaan dan pengkaderan yang tidak henti, bahkan dalam
banyak kesempatan dalam memilih pemimpin di internalnya dengan pola
musyawarah ala islam. Ini persoalan internal yang banyak orang melihat
dan memandang dari luar. Karena proses kaderisasinya berjalan baik, maka
sampai pada pemilihan ketua umum partaipun selalu berjalan baik. Dengan
pola itu, maka dalam menerjemahkan proses pemilihan ketua umum yang
demokratis tentu bisa dijadikan contoh. Dewan syuro sebagai lembaga yang
memberikan arahan dan saran pun melakukan tupoksinya dengan baik.
Dengan menerjemahkan proses pemilihan yang demokratis, tentu partai ini
292
punya cara yang dapat memberikan gambaran bahwa cara musyawarah-lah
yang dapat menghantarkan proses pemilihan ketua yang memimpin partai
untuk bersaing dengan partai lain dalam kontestasi pergumulan peran
partai di Indonesia. Pola baik ini terjadi di internal partai ini, namun bicara
soal demokratisasi tentu punya pola lain yang tentu harus menjadi
konsumsi public sebagai lembaga terbuka yang memberi garansi terhadap
pola itu. Semakin demokratis jika semakin terbuka dan transparan untuk
diketahui dan di baca publik. Maka partai ini dalam melakukan proses
demokratisasi dalam pemilihan ketua partai tidak hanya konsumsi internal
tapi juga harus disuguhkan kepada public untuk mendapatkan respon
terhadap proses demokratisasi. Publik tentu ingin terlibat secara aktif
melihat dan memantau proses demokratisasi pemilihan ketua partai, karna
ketua partai adalah pejabat publik yang kepentingannya tidak hanya untuk
internal partai itu.
h. Hanura
Hati Nurani Rakyat. Wiranto adalah pendiri sekaligus ketua umum partai.
Berbekal pengalaman sebagai panglima TNI di era Presiden Soeharto, ia
ingin melakukan terobosan untuk terlibat secara aktif pada partai politik.
Meski banyak pengalaman dalam memimpin pasukan namun Wiranto
harus banyak bekerja keras. Partai tentu berbeda dengan pasukan, sistem
instruktif dan sistem demokrasi yang penuh dengan dialogis harus
seimbang. Dengan kepiawaiannya partai ini masih bertahan dalam pemilu
2014 dan dapat mengusung dua menterinya yang duduk di kabinet Joko
Widodo. Ketika bicara soal demokratisasi pemilihan ketua umum, partai ini
belum banyak melakukan perubahan. Sejak berdiri sampai dengan saat ini,
Wiranto masih memegang dan duduk sebagai ketua umum partai. Ini
membuktikan bahwa partai ini masih dalam proses menuju demokratisasi.
Jika demokratis yang dimaksud adalah terbuka untuk umum, maka partai
ini masih butuh banyak langkah menuju ke arah itu. Proses demokratisasi
harus menjadi
target untuk memberikan kesempatan kepada kader
penerus. Stagnasi proses demokratisasi banyak tidak berjalan baik hanya
karena kemauan dari tokoh tokoh pendiri. Tokoh pendiri harus segera
berbenah untuk menghantarkan anak bangsa menjadi aktor yang
menahkodai partai sebagai bagian penting dalam proses dinamisasi partai
politik di Negeri ini. Semakin cepat partai berbenah diri menuju
demokratisasi khususnya soal pemilihan ketua umum, maka semakin cepat
pula partai bersaing dengan partai lain dalam kontestasi pemilu. Pemilu
akan menjadi bukti nyata bagi partai dalam proses seleksi terhadap
eksistensi partai. Saat itulah pembuktian partai terhadap masyarakat
bangsa.
i.
NasDem
Nasional Demokrat adalah partai berslogan Gerakan Perubahan – Restorasi
Indonesia. Restorasi memiliki makna melakukan perubahan atas sesuatu.
Perubahan yang dimaksud adalah merubah tatananan kebangsaan yang
belum baik menjadi baik. Gerakan ini yang terus menjadi isu sentral dalam
293
semua pola dan strategi dalam proses demokratisasi partai. Fokus pada
persoalan kepemimpinan pada tingkat puncak atau kita sebut dengan ketua
partai ini, maka kita tentu menbaca dengan berbagai kacamata yang
mendeskripsikan pola gerak partai ini. Partai ini sejak berdirinya
menyuguhkan banyak gebrakan dalam banyak hal. Media politik Indonesia
banyak memberikan wadah untuk partai ini dalam melakukan gerakan
penguatan informasi publik, hingga publik dengan cepat melihat dan
menerima partai ini. Partai ini dengan cepat menjadi satu satunya–satunya
partai baru yang terlibat menjadi peserta pemilu pada tahun 2014 yang
lalu. Diawal berdirinya sebagai partai, ia memiliki peran dan nilai baik
dalam proses pemilihan ketua umum partai. Di awal pendiriannya, Rio
Capella di daulat menjadi ketua umum partai. Ini menandakan keterbukaan
dan transparansi, hal ini terjadi karena sang pendiri Surya Paloh tidak
langsung bertindak sebagai ketua partai. Proses ini tidak berjalan mulus,
terbukti pada akhirnya Surya Paloh sebagai pendiri partai ini didaulat oleh
pengurus pusat dan wilayah sebagai ketua umum partai. Hal ini
memberikan isyarat bahwa partai ini dalam soal pemilihan ketua yang
demokratis masih dalam tahap proses.
j.
PKB
Partai Kebangkitan Bangsa. Partai ini sejak awal Gusdur sebagai tokoh
sentral. Dalam perjalanan, Muhaimin Iskandar sebagai tokoh muda
melakukan perubahan dan sekaligus menjadi tokoh pengganti Gusdur
dalam tampuk kepemimpinan partai ini. Warga Nahdatul Ulama (NU)
sebagai basis dari partai ini, diawal terjadi pemindahan kepemimpinan
mendapatkan guncangan yang cukup besar. Gusdur dengan karismatik keUlamaannya, sementara Muhaimin tampil sebagai tokoh muda yang ingin
membawa partai ini bergerak laju. Dengan kepiawaian Muhaimin, ia dapat
menghantarkan partai ini bisa mendapatkan banyak kursi di legislatif yang
pada akhirnya banyak mendudukkan kadernya menjadi menteri pada era
Presiden Joko Widodo. Bicara Soal demokratisasi pemilihan ketua umum
yang demokratis, partai ini belum melakukan itu. Sebagaimana sejarah
kepemimpinan Muhaimin dengan proses pengambilalihan. Setelah periode
pertama usai menuju ke periode kedua, partai ini masih mengusung
Muhaimin sebagai ketua umumnya. Ini mengisyaratkan bahwa partai ini
masih dalam awas Muhaimin. Maka jika bicara soal demokratisasi
pemilihan ketua umum, partai ini mungkin sedang mencari pola. Semoga
tetap segera mendedikasikan dirinya menjadi partai yang mengususng
proses demokratisasi pemilihan ketua umum partainya.
k. PBB
Partai Bulan Bintang. Partai ini mengusung Yusril Ihza Mahendra sebagai
tokohnya. Sepak terjang sang tokoh banyak memberikan efek positif dalam
kemandirian partai ini. Pada kepemimpinan Yusril, partai ini mendapat
banyak perhatian masyarakat. Yusril sebagai tokoh muda yang cerdas,
pakar hukum yang banyak melakukan terobosan soal hukum
ketatanegaraan Indonesia. Dengan itu partai ini bisa bersaing baik bersama
294
partai lain. Berakhir kepemimpinan Yusril, partai ini banyak mengalami
perubahan. Hal lain yang juga menjadi catatan partai ini, karena banyak
bergantung kepada sang tokoh, partai ini terkesan terseok seok dalam
melakukan gerakan mengambil hati masyarakat. terbukti tahun 2014 tidak
mengantarkan kadernya untuk duduk di DPR RI. Ini memberi isyarat bahwa
partai ini sedang dalam masalah. Ketidaksiapan kader dalam mengambil
peran untuk melanjutkan kepemimpinan Yusril menjadikan partai ini
terjadi krisis dan pada akhirnya Yusril juga yang harus kembali memegang
tampuk pimpinan partai ini untuk kedua kalinya. Apalah daya partai ini
sudah banyak di tinggal pergi, energinya sedang mengalami dehidrasi.
Bicara soal pemilihan ketua umum yang demokratis, partai ini seperti
sedang malakukan penguatan kader untuk sampai pada mendapatkan cara
untuk memilih sosok pemimpin setidaknya seperti Yusril atau bahkan lebih
progresif dari itu. Untuk sampai pada memilih, mungkin belum karena
harus mencari kandidat yang berkekuatan lebih dahsyat untuk menahkodai
partai ini. Semoga sampai pada sistem demokratisasi yang diidamkan
banyak kalangan.
l.
PKPI
Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia, adalah sosok Sutiyoso yang
menjadi aktor pendiri dan sekaligus penggeraknya. Berbekal militer dan
berpengalaman menjadi Gubernur DKI, ia melakukan ekspansi untuk juga
berperan menjadi pendiri partai ini. Partai ini terlihat sedang berusaha
keras untuk juga bersaing dengan partai lain. Hanya untuk melakukan
gerakan dalam meraih hati masyarakat tidak semudah yang dibayangkan.
Oleh karenanya, partai ini sedang berupaya keras untuk membesarkan
partai. Bicara soal pemilihan ketua umum yang demokratis, partai ini tentu
juga sama masih dalam tahap mencari kandidat yang harus lebih tangguh
untuk menahkodai partai ini. Publik tentu menanti gerakan yang sedang
disusun partai ini untuk menjadi gerakan besar yang dapat memberikan
kesan sekaligus kerja nyata untuk kepentingan masyarakat. partai tentu
punya cara dan strategi yang sangat baik yang telah disusun, untuk menjadi
konsumsi publik harus juga di tunjukkan kepada public untuk diketahui dan
dimengerti. Semoga partai ini segera beriringan melakukan proses
demokratisasi pemilihan ketua umum partai.
Bagian Ketiga, Rekomendasi peran pengawasan terhadap pemilihan yang
demokratis.
Titik magnet yang menyelaraskan proses pemilihan ketua partai di internal partai
dan titik lain yaitu pengawas pemilihan baik internal dan eksternal harus menjadi
pendorong dan penguat. Partai politik bukanlah kerajaan yang hanya berurusan
dengan dirinya sendiri. Partai politik adalah wadah penggiat politik dalam
melakukan gerakan untuk kepentingan bangsa. Dua titik itu yang harus
diselaraskan. Partai politik dan kepentingan bangsa. Saat yang bersamaan partai
politik melakukan perannya melahirkan kadernya, saat yang bersamaan kadernya
diharapkan mampu menjadi obat dalam lara publik. Maka tidak dapat dipisahkan
295
partai politik dan publik. Dalam kepentingan itu, maka peran pengawas menjadi
sangat penting. Pengawas bisa siapa saja. Semua komponan masyarakat dapat
menjadi pengawas untuk mengawasi semua proses ini hingga menemukan titik
fokus kepentingan bangsa. Semua harus punya fokus yang sama untuk dapat
menjadi pengawas dalam proses ini. Semua diharapkan melakukan cara masingmasing untuk kepentingan pengawasan ini baik yang berlembaga formal maupun
informal. Jika semua ini berjalan serasi maka akan lahir demokratisasi.
Demokratisasi inilah yang diharapkan untuk kepentingan pemilihan ketua partai
sebagai wujud pertanggungjawaban partai terhadap kepentingan bangsa.
Kepentingan bangsa yang didalamnya adalah kepentingan masyarakat bangsa.
Pertanyaannya mengapa harus ada rekomendasi? Rekomendasi diperlukan agar
prosesnya fokus dan terukur. Untuk melakukan proses demokratisasi harus
terbuka sehingga semua bisa akses dan respon. Respon masyarakat luas menjadi
garansi terhadap proses demokratisasi pelaksanaan pemilihan ketua partai.
Tinggal partai politik secara internal mampu dan mau melakukan ini atau tidak.
Partai politik telah bekerja keras untuk mengambil hati rakyat, rakyat telah
berharap lama untuk didengar dan dimengerti. Tinggal partai saja yang
menerjemahkan ini, karena partai jugalah yang akan mendapatkan efeknya.
Semoga partai terus berbenah dalam rangka mewujudkan menuju pemilihan ketua
umum partai yang demokratis. Dalam buku Hajriyanto Y. Tohari berjudul
Muhammadiyah dan pergulatan politik islam modernis, menjelaskan bahwa Dr.
Delier Noer menyatakan Negeri baru seperti Indonesia hanya sejumlah kecil
pemimpin yang sering kali justru memainkan peranan penting dalam membentuk
gagasan-gagasan rakyat.
Penutup.
Pada akhir makalah ini, penulis ingin menyimpulkan beberapa hal: Pertama.
Pemilihan ketua yang demokratis adalah tergantung pada partai politik itu, apakah
ber-fatsun demokratis atau bukan. Hariyanto Y. Tohari juga menjelaskan bahwa
politik itu eksklusif dan berkecenderungan saling menolak atau mengeluarkan
(mutual exclusion). Maka jika dilihat titik temunya, partai politik harus berjuang
keras dalam menetaskan persoalan internal dan saat yang bersamaan berjuang
untuk kepentingan rakyat bangsa.
Kedua. Partai politik memiliki beberapa pola untuk menjadi ketua umum partai.
Tidak semua partai melakukan pemilihan kandidat sebagaimana proses yang ideal,
maka harapannya periode selanjutnya harus bisa di gagas untuk dapat demokratis.
Ketiga, Partai politik tidak berdiri sendiri, semua yang terjadi untuk ketua umum
partai tentu berdampak pada kepentingan masyarakat, maka partai harus
menyadari itu sebagai satu kesatuan. Keempat. Partai politik adalah wadah publik
yang diperuntukkan penggiat politik dalam melakukan gerakan untuk kepentingan
bangsa, maka demokratisasi pemilihan ketua umum menjadi keniscayaan. Kelima.
Rekomendasi kepada semua pihak untuk menggunakan perannya dalam
melakukan pengawasan terhadap proses pemilihan ketua umum partai agar bisa
tercapai proses demokratisasi sebagaimana yang diharapkan. Masyarakat punya
kekuatan besar dalam melakukan gerakan massif apakah menerima atau menolak
keberadaan partai politik itu. Saat masyarakat menolak maka partai akan hanya
296
menjadi wadah kosong tanpa daya. Hal ini yang paling menjadi mimpi buruk bagi
partai politik. Selamat menuju demokratisasi pemilihan ketua umum partai.
Daftar Pustaka
Budiardjo Miriam, Dasar-dasar ilmu politik. Gramedia Pustaka Utama 2008
Gintings Sutradara, Jalan terjal menuju demokrasi. IPCOS 2006
Tohari Y. Hajriyanto, Muhammadiyah dan pergulatan politik islam modernis. PSAP
2005
Republik Indonesia, Undang-Undang No. 31 Tahun 2002
Republik Indonesia, Undang-Undang No. 2 Tahun 2011
www.wikipedia.org
297
Rafli Fadilah Achmad
ABSTRAK
“GAGASAN PENYEMPURNA MUSYAWARAH NASIONAL PARTAI POLITIK SEBAGAI
UPAYA MENINGKATKAN TARAF DEMOKRASI BERBANGSA”
Negara yang demokratis jika diibaratkan sebagai sebuah gedung yang agung, maka
memiliki tiga tiang yang kokoh guna menyangga keagungan gedung tersebut.
Partai politik merupakan bagian penting dalam tatanan negara demokrasi sebagai
tiang agung yang menjaga marwah kedemokrasian suatu negara bersama dengan
tiang perwakilan dan tiang pemilihan umum. Suatu negara tidak dapat dikatakan
sebagai negara yang demokratis apabila tidak terdapat partai politik didalamnya.
Mengingat Partai Politik adalah tiang demokrasi yang sangat penting, secara
internal tentunya Partai Politik haruslah demokratis pula yang salah satunya
dibuktikan melalui pemilihan ketua yang menjadi benchmark bagi partai lain, bagi
negara Indonesia, atau bahkan untuk negara lain. Permasalahannya Pemilihan
Ketua Partai Politik yang didominasi dengan cara Musyawarah Nasional dinilai
kurang demokratis karena menuai banyak permasalahan mulai dalam tataran
sistem hingga tataran praktik. Makalah ini membahas sekaligus mengkritisi proses
pemilihan ketua partai politik dan menyajikan formulasi baru dengan
memodifikasi proses Musyawarah nasional dengan menambahkan unsur
memprioritaskan merit system, penyelenggaraan oleh KPU, melibatkan institusi
negara yang relevan dalam proses seleksi, serta membuat komitmen kepada calon
terpilih untuk fokus membina partai bukan untuk menjadi "batu" loncatan.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian normatif yang
disempurnakan dengan pendekatan sejarah, dan pendekatan kasus. Hasil
penelitian ini menunjukan bahwa musyawarah adalah suksesi yang paling tepat
dalam memilih ketua umum partai politik, akan tetapi masih butuh banyak
penyempurnaan agar lebih demokratis.
Kata Kunci :
Partai Politik, Pemilihan, Ketua Partai, Musyawarah Nasional.
Rafli Fadilah Achmad
Center For Legislacy, Empowerment, Advocacy, and Research
087887782278
[email protected]
298
“GAGASAN PENYEMPURNA MUSYAWARAH NASIONAL PARTAI POLITIK SEBAGAI
UPAYA MENINGKATKAN TARAF DEMOKRASI BERBANGSA”
Rafli Fadilah Achmad
Kata Kunci :
Partai Politik, Pemilihan, Ketua Partai, Musyawaran Nasional
BAB I
PENDAHULUAN
Sistem penyelenggaran kekuasaan negara yang dipandang paling sesuai
dengan kebutuhan masyarakat modern dewasa ini adalah sistem demokrasi. 71
Demokrasi berasal dari bahasa Yunani, yaitu “demos” dan “kratos”, Demos
memiliki arti meaning the people sedangkan kratos yaitu meaning to rule.72 Ada
pula demos diartikan common people73 dan kratos yaitu indicates government or
rule.74 Demokrasi secara sederhana diartikan sebagai pemerintahan dari rakyat,
oleh rakyat dan untuk rakyat (democracy is government from people, by people and
for people).75 Demokrasi didasarkan pada prinsip kedaulatan rakyat yang
mengandung pengertian bahwa semua manusia pada dasarnya memiliki
kebebasan dan hak serta kewajiban yang sama.76 Terlebih lagi memang konsep
demokrasi didirikan atas dasar logika persamaan dan gagasan bahwa
pemerintahan memerlukan persetujuan dari yang diperintah, dalam hal ini adalah
rakyat.77 Itu artinya baik dari segi teoritis maupun praktis demokrasi erat
kaitannya dengan prinsip kedaulatan rakyat, dimana sistem penyelenggaraan
negara yang demokratis itu menjamin bahwa rakyat terlibat secara penuh dalam
Jimly Asshiddiqie (1), Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia, edisi revisi, (Jakarta:
Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan MK RI, 2006), hlm.114.
72 Leon P. Baradat, Political Ideologies, (New Jersey: Prentice Hall Inc., 1984), p. 60.
73 15Grolier, The Grolier International Dictionary, (Dunbury: Grolier Incorporated, 1988),
Vol.1, hlm. 351.
74 Ibid., hlm. 351.
75 U.S Department of State’s Bureau of International Information Programs, “Defining
Democracy”, http://www.ait.org.tw/infousa/zhtw/docs/whatsdem/whatdm2.htm, diunduh pada 10
Juli 2016.
76 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Ensiklopedi Nasional, Jilid 4, (Jakarta: Cipta
Adi Pustaka, 1989), hlm. 293.
77 Robert A. Dahl, Perihal Demokrasi: Menjelajah Teori dan Praktek Demokrasi Secara
Singkat, diterjemahkan oleh A.Rahman Zainuddin, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1999), hlm. 2.
71
299
merencanakan, mengatur, dan mengawasi serta menilai pelaksanaan fungsi-fungsi
kekuasaan.78
Indonesia sebagai negara yang merdeka dengan tegas menganut paham
kedaulatan rakyat dengan menuangkannya dalam Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang
Dasar 1945 yang berbunyi kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan
menurut Undang-Undang Dasar. Sebagai salah satu bentuk tindak lanjut dalam
mengakomodir kedaulatan dan keterlibatan rakyat tersebut, maka dari itu
dituangkanlah dalam Pasal 28E ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 yang
mengatur mengenai jaminan kebebasan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan
pendapat di Indonesia. Ketentuan senada pun sejatinya terlihat dalam dokumen
internasional yang tertuang dalam konferensi International Commision of Jurirsts di
Bangkok pada tahun 1965 yang menjadikan kebebasan berpendapat dan
kebebasan berserikat sebagai ciri utama negara yang memiliki pemerintahan
demokratis di bawah Rule of Law.79 Dengan diaturnya kebebasan berserikat dalam
kedua ketentuan diatas, dapat diketahui bahwasannya kebebasan berserikat telah
diakui dan disepakati sebagai bagian yang penting di negara Indonesia secara
khusus dan masyarakat global secara umum sehingga perlu diatur secara tegas
dan spesifik.
Pada dasarnya kebebasan berserikat lahir dari kecenderungan dasar
manusia untuk hidup bermasyarakat dan berorganisasi baik secara formal
maupun informal.80 Hal ini sejalan dengan pendapat Aristoteles yang
mengemukakan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang kodratnya untuk
hidup bermasyarakat dan berinteraksi satu sama lain karena masing-masing
manusia tidak mampu hidup sendiri tanpa adanya bantuan dari orang lain.81
Menurut Prof. Jimly kecenderungan tersebut merupakan suatu keniscayaan,
dimana kehidupan berorganisasi timbul untuk memenuhi kebutuhan dan
kepentingan-kepentingan yang sama dari individu-individu serta untuk mencapai
tujuan bersama berdasarkan persamaan pikiran dan hati.82
Namun, dalam faktanya selalu saja terdapat jarak antara rakyat yang berdaulat
tersebut dengan penyelenggara negara itu sendiri. Maka dari itu, konsep abstrak
kebebasan berserikat perlu dikonkretifikasi sehingga diperlukan suatu institusi
dan mekanisme khusus yang menjamin kebebasan berserikat tersebut. Institusi
dan mekanisme itu termanifetasi dan terinternalisasi kepada tiga hal yakni
lembaga perwakilan, partai politik dan pelaksanaan pemilihan umum secara
berkala.83 Lembaga perwakilan, partai politik, dan pemilihan umum merupakan
Jimly Asshidiqie (1) , loc.cit.
South-East Asian and Pacific Conference of Jurists, Bangkok, February 15-19, 1965, The
Dynamics Aspect of The Rule of Law in The Modern Age, (Bangkok: International Commission of
Jurists, 1965), hlm.39-50.
80 Muchamad Ali Safa’at, Pembubaran Partai Politik: Pengaturan dan Praktik Pembubaran
Partai Politik dalam Pergulatan Republik, (Jakarta: Rajawali Pers, 2011), hlm.14.
81 Herbert Gintis and Carel van Schail, “Zoon Politicon: The Evolutionary Roots of Human
Sociopolitical Systems”, http://tuvalu.santafe.edu/~bowles/Gintis.pdf, diunduh pada 10 Juli 2016.
82Jimly Asshiddiqie (2), Kemerdekaan Berserikat Pembubaran Partai Politik dan Mahkamah
Konstitusi, (Jakarta: Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi RI, 2005), hlm. 44.
83 Jimly Asshiddiqie (3), Pergumulan Peran Pemerintah dan Parlemen Dalam Sejarah:
Telaah Perbandingan Konstitusi Berbagai Negara, (Jakarta: UI-Press, 1996), hlm.25-26.
78
79
300
satu kesatuan sistem yang integral dan sulit dipisahkan, dimana aktivitas partai
politik dalam memperjuangkan program dan menyampaikan aspirasi dari rakyat
diadvokasikan melalui lembaga perwakilan. Kemudian, anggota lembaga
perwakilan tersebut pada umumnya adalah orang-orang dari partai politik yang
diperoleh melalui mekanisme pemilihan umum.84 Pemilu tanpa disertai partai
politik hanya akan mempertahankan status quo dan itu artinya hanya sekadar
perangkat konservatif yang memberikan keabsahan umum pada struktur dan
kepemimpinan lama.85
Dalam suatu negara yang menganut paham demokrasi dan kedaulatan
rakyat, keberadaan partai politik memegang fungsi yang sangat strategis. Hal itu
karena negara demokrasi memang dibangun di atas sistem kepartaian.86 Bahkan
menurut R.M. Maciver, demokrasi tidak dapat berjalan tanpa adanya partai politik
itu sendiri, karena partai politik berfungsi sebagai struktur perantara
(intermediate structure) antara rakyat (civil society) dengan negara (state).87 Lebih
lanjut menurut Miriam Budiardjo pentingnya partai politik tertuang dalam 4 fungsi
yakni komunikasi politik, sosialisasi politik, rekrutmen politik dan pengatur
konflik politik.88 Fungsi komunikasi politik artinya partai politik berkomunikasi
dengan rakyat dalam bentuk menerima aspirasi dan menyampaikan programprogram politik yang kemudian ditindaklanjuti dalam bentuk program serta
diperjuangkan menjadi keputusan pemerintah. Itu artinya partai politik adalah
jembatan antara mereka yang memerintah (the rulers) dengan mereka yang
diperintah (the ruled). Lalu fungsi sosialisasi politik berarti partai melakukan
penanaman nilai-nilai ideologi dan loyalitas kepada negara dan partainya.
Kemudian, fungsi rekrutmen politik berarti partai politik melakukan kaderisasi
dan seleksi terhadap calon-calon anggota lembaga perwakilan yang berbakat dan
nantinya calon-calon tersebut akan dipilih oleh rakyat. Terakhir fungsi pengatur
konflik politik diartikan partai politik mengelola aturan main dan pelembagaan
kelompok-kelompok sosial sehingga dapat meminimalisir potensi gerakan massal
yang merusak dengan cara revolusi atau kudeta.
Berdasarkan jabaran argumentasi diatas, dapat diketahui bahwasannya
kebebasan berserikat dan eksistensi dari partai politik merupakan syarat mutlak
dari ciri negara yang demokratis. Salah satu konsekuensinya dalam UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 telah diatur dalam Pasal
22E ayat (3) bahwa partai politik diakui sebagai bagian dari tata kehidupan
bernegara dengan menjadikannya sebagai peserta pemilihan umum untuk memilih
anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah,
bahkan berdasarkan Pasal 6A ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945 juga
menyatakan bahwa pemilihan Presiden dan Wakil Presiden diusulkan oleh partai
84Bintan
R. Saragih dan Moh. Kusnadi, Ilmu Negara, edisi revisi, cetakan keempat, (Jakarta:
Gaya Media Pratama, 2000), hlm. 266.
85 Safaat, op.cit ., hlm.16.
86Sulastomo, “Membangun Sistem Politik Bangsa” dalam Masyarakat Warga dan
Pergulatan Demokrasi: Menyambut 70 Tahun Jakob Oetama, (Jakarta: Kompas, 2001), hlm. 62.
87 RM Maciver, The Modern State, first edition, (London: Oxford University Press, 1955),
hlm. 194.
88 Miriam Budiardjo, Partisipasi dan Partai Politik: Sebuah Bunga Rampai, (Jakarta: Yayasan
Obor Indonesia, 1982), hlm. 14-16.
301
politik atau gabungan partai politik. Maka dari itu keberadaan partai politik yang
penting tersebut juga harus diakui kedudukannya dalam lalu lintas hukum sebagai
suatu subjek hukum tersendiri, itu artinya partai politik harus memiliki status
sebagai badan hukum atau rechtpersoon yang beranggotakan perorangan warga
negara sebagai natuurlijke persoons. Apalagi partai politik masuk dalam kualifikasi
empat unsur suatu badan hukum yakni:
1. Harta kekayaan yang terpisah dari kekayaan subjek hukum yang lain;
2. Mempunyai tujuan ideal tertentu yang tidak bertentangan dengan peraturan
perundang-undangan;
3. Mempunyai kepentingan sendiri dalam lalu lintas hukum;
4. Memiliki organisasi kepengurusan yang teratur menurut peraturan
perundang-undangan dan peraturan internalnya; dan
5. Didaftarkan dan memperolah status sebagai badan hukum.89
Jabaran dalil konstitutif, yuridis, dan teoritis di atas juga ditunjang oleh
fakta praktis keberhasilan Indonesia sebagai negara yang demokratis. Indonesia
pada masa pemerintahan presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dinilai telah
mampu menciptakan iklim demokrasi yang relatif berjalan dengan baik. Pihak
asing menilai bahwa Indonesia pantas dijadikan role model atau panutan yang baik
atas sistem demokrasi modern di Asia. Terbukti dengan International Association
of Political Consultants atau IAPC memutuskan memberikan The Democracy Medal
Award kepada Bangsa Indonesia atas prestasinya menerapkan nilai demokrasi
dalam beberapa tahun terakhir. Presiden SBY mewakili bangsa Indonesia
menerima penghargaan tersebut, dimana prestasi tersebut dianggap merupakan
pencapaian besar bangsa Indonesia yakni berhasil menyelenggarakan pemilu
tahun 2004 secara demokratis, aman, damai, dan tanpa konflik. Penghargaan
tersebut diberikan ketika Konferensi Internasional IAPC yang berlangsung di Bali
pada 12-14 November tahun 2007. Penghargaan serupa juga pernah didapatkan
sejumlah tokoh dunia, seperti mantan Presiden AS Jimmy Carter, mantan Presiden
Uni Soviet Mikhail Gorbachev, dan tokoh demokrasi Burma Aung San Suu Kyi.90
Relasi antara negara dengan partai politik sangat berkesinambungan dalam
konteks iklim demokrasi di suatu bangsa. Hal ini dikarenakan partai politik adalah
salah satu unsur penting agar suatu negara dapat dikatakan demokratis disamping
unsur perwakilan dan unsur pemilihan umum secara berkala. Itu artinya partai
politik sebenarnya adalah lapangan miniatur dan embrio awal dari demokrasi
suatu bangsa sehingga apabila suatu negara ingin memiliki iklim demokrasi yang
baik maka tentunya harus dimulai dari internal partai politik itu sendiri. Tidak
mungkin suatu negara dapat dikatakan demokratis, apabila manajemen partainya
tidak demokratis pula. Hal ini disebabkan karena nantinya orang-orang partai
politik adalah orang yang menempati posisi penting dalam jabatan struktural
suatu negara dan semua itu berawal dari kawah candradimuka yang dinamakan
partai politik. Sehingga Penulis berkesimpulan bahwa demokrasi internal partai
politik bukanlah permasalahan segmentatif partai saja, akan tetapi hal ini
merupakan isu suatu bangsa karena apabila demokrasi internal partai politiknya
Jimly Asshiddiqie (2), op.cit., hlm.74-75.
http://news.detik.com/berita/840787/ri-raih-democracy-medal-award, (diakses
tanggal 18 Juli 2016 Pukul 15.40 WIB).
89
90
302
saja sudah demokratis maka konsekuensinya negara tersebut dapat menjadi
demokratis.
Mengingat pentingnya demokrasi internal partai politik yang urgent untuk
ditata, maka berbicara mengenai demokrasi salah satu fokusnya tertuju kepada
proses pemilihan pemimpin yang didalam partai politik dinamakan sebagai ketua
partai. Dalam sejarah kepartaian pemilihan ketua umum partai politik memiliki
dua metode, pertama melalui mekanisme penunjukan secara langsung yang salah
satu contohnya adalah dalam Munas Golkar ke-V pada tahun 1993 di Jakarta,
terpilih Harmoko sebagai Ketua Umum Golkar periode 1993-1998 yang ditunjuk
oleh Ketua Dewan Pembina Golkar yaitu Soeharto. Proses pemilihan ketua umum
tidak berdasarkan mekanisme partisipatif di dalam organisasi, akan tetapi terletak
pada wewenang penunjukkan langsung oleh Ketua Dewan Pembina. Metode kedua adalah musyawarah yang melibatkan beberapa stakeholder terkait di dalam
partai dalam proses pemilihan Ketua Umum Partai, sehingga terdapat unsur
partisipatif antara pemilih dengan orang yang dipilih. Salah satu contohnya terjadi
pada Munaslub Golkar tahun 1998 dimana terjadi beberapa perubahan penting
dalam tubuh partai antara lain perpindahan jabatan Ketua Umum dari Harmoko
kepada Akbar Tandjung. Dalam proses pemilihan Akbar Tandjung menjadi ketua
umum partai Golkar telah terjadi perubahan syarat dan mekanisme pemilihan
ketua umum dari pemilihan periode sebelumnya dimana tidak lagi ditentukan oleh
Ketua Dewan Pembina melainkan melalui proses pemilihan dari para kader
melalui Musyawaran Nasional.
Musyawarah Nasional yang dilaksanakan oleh partai politik dewasa ini,
bukanlah tidak menuai masalah. Penulis mencatat terdapat kekurangan baik yang
sifatnya sistemik dan praktis. Beberapa diantaranya adalah adanya konflik
kepentingan di dalam internal partai pada saat pemilihan berlangsung.
Kekurangan pertama secara kronologis dalam contoh Munas partai golkar
terdapat dualisme golongan yang menginginkan Musyawarah dilakukan secara
berbeda. Munas Golkar pada tahun 2009 telah menyepakati bahwa Munas
selanjutnya akan diadakan pada bulan April tahun 2015, namun terdapat kubu lain
di dalam partai golkar yang menginginkan ajang tersebut diadakan pada bulan
Oktober tahun 2014. Publik dapat menilai bahwa adanya perbedaan tersebut
ditengarai oleh adanya kepentingan beberapa pihak yang mengincar kursi
kementrian dengan kata lain ada beberapa kelompok kepentingan berburu
jabatan. Apabila Munas diadakan pada tahun 2015 maka otomatis kubu yang
berkepentingan tersebut akan kehilangan kesempatannya berburu jabatan.
Selanjutnya kekurangan kedua adalah total biaya untuk menyelenggarakan Munas
sangat besar hingga mencapai angka puluhan miliar rupiah, ditambah lagi dalam
prakteknya Munas jumlah peserta munas mampu melebihi jumlah undangan yang
telah ditetapkan sebagai peserta Munas.
Antitesis terhadap prestasi tumbuhnya iklim demokrasi di Indonesia pada
zaman kepemimpinan SBY, baru-baru ini publik digemparkan dengan terpilihnya
Setya Novanto menjadi ketua umum partai Golkar. Setya Novanto dipandang
memiliki rekam jejak yang negatif di mata publik karena yang bersangkutan turun
dari jabatannya sebagai ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) karena terseret
kasus pencatutan nama Presiden Joko Widodo terkait dugaan permintaan saham
303
Freeport Indonesia, dimana terkait kasus tersebut akhirnya Mahkamah
Kehormatan Dewan memutuskan dalam sidang etik DPR bahwa Setya Novanto
melakukan pelanggaran etik berat. Publik banyak menyayangkan jika tokoh
kontroversial tersebut menjabat jabatan krusial dalam partai politik, dimana
seharusnya pemilihan ketua partai politik harus dapat diukur melalui moralitas
dan integritas individu calon.
Terkait dengan pemilihan ketua umum Golkar dengan semua kontroversi
yang telah terjadi, publik dapat menilai bahwa telah terdapat perubahan meritsystem menjadi oligarch system dalam proses pemilihan calon ketua umum Golkar.
Upaya Golkar untuk melakukan demokratisasi di dalam internal organisasi dengan
semangat paradigma baru ternyata cenderung mengarah kepada sistem oligarki.
Secara konsepsi merit-system adalah proses perekrutan kader untuk menempati
posisi jabatan strategis di dalam tubuh partai ataupun jabatan di dalam Parlemen
atau Pemerintahan berdasarkan penilaian loyalitas, pengalaman berorganisasi,
prestasi yang dicapai selama menjadi kader.91 Sedangkan oligarch system adalah
sistem dimana orang-orang yang memiliki kelebihan sumber daya (resources)
menggunakannya untuk menduduki jabatan politis kekuasaan.92 Sehingga oligarch
system merupakan orang-orang yang mampu mengendalikan sistem atau
memanfaatkan sistem merupakan sistem karena kelebihan dan kekayaan yang
dimiliki.93 Perbedaan merit-system dan oligarch-sistem terletak kepada
pertarungan yang terjadi di dalam menentukan kemenangan seorang kader. Meritsystem akan memihak ke kader yang memiliki kemampuan yang ia peroleh dari
hasil pengabdian dan prestasinya dalam jenjang karirnya, sedangkan oligarch
system sangat bergantung kepada keunggulan materi dan kedudukan seorang
kader baik itu kekayaan, kedudukan di dalam pemerintahan dan lain sebagainya.
91 Alan Warre, Political Parties and Party Systems, New York: Oxford University Press,
1996. Hlm 16.
92 Jeffrey A. Winters, Oligarki, Jakarta: PT. Gramedia Pustakan Utama, 2011. Hlm 9.
93 Ibid.
304
BAB II
PEMBAHASAN
Mengimplementasikan Jiwa Demokratis dalam Proses Pemilihan Ketua Partai
Politik
Menurut Robert A. Dahl, terdapat 5 (lima) kriteria untuk mengenali proses
pemilihan agar dapat memenuhi suatu persyaratan sebagai proses demokrasi
yaitu agar semua anggota memiliki hak yang sama untuk berpartisipasi dalam
berbagai keputusan kebijakan asosiasi antara lain sebagai berikut:94
a. partisipasi efektif, yaitu sebelum sebuah kebijakan digunakan oleh asosiasi,
seluruh anggota harus mempunyai kesempatan yang sama dan efektif untuk
membuat pandangan mereka diketahui oleh anggota-anggota lainnya
sebagimana seharusnya kebijakan itu dibuat;
b. persamaan suara, yaitu ketika akhirnya tiba saat dibuatnya keputusan tentang
kebijaksanaan itu, setiap anggota harus mempunyai kesempatan yang sama dan
efektif untuk memberikan suara dan seluruh suara harus dihitung semua;
c. pemahaman yang cerah, yaitu dalam batas waktu yang rasional, setiap anggota
harus mempunyai kesempatan yang sama dan efektif untuk mempelajari
kebijakan-kebijakan alternatif yang relevan dan konsekuensi-konsekuensi yang
mungkin;
d. pengawasan agenda, yaitu setiap anggota harus mempunyai kesempatan
eksklusif untuk memutuskan bagaimana dan apa permasalahan yang dibahas
dalam agenda; dan
e. pencakupan orang dewasa, yaitu semua atau paling tidak sebagian besar orang
dewasa yang menjadi penduduk tetap seharusnya memiliki hak kewarganegaraan penuh.
Menurut Austin Ranney ada 8 (delapan) kriteria pokok bagi pemilu yang
demokratis yaitu:
a. hak pilih umum, yaitu pemilu disebut demokratis apabila semua warga negara
dewasa dapat menikmati hak pilih pasif ataupun aktif, dan meskipun diadakan
pembatasan, hal tersebut harus ditentukan secara demokratis, yaitu melalui
undang-undang;
b. kesetaraan bobot suara, yaitu ada jaminan bahwa suara tiap-tiap pemilih diberi
bobot yang sama. Artinya, tidak boleh ada sekelompok warga negara, apa pun
kedudukannya, sejarah kehidupan, dan jasa-jasanya, yang memperoleh lebih
banyak wakil dari warga lainnya. Kuota bagi sebuah kursi parlemen harus
berlaku umum;
c. tersedianya pemilihan yang signifikan, yaitu hakikat memilih diasumsikan
sebagai adanya lebih dari satu pilihan;
d. kebebasan nominasi, yaitu pilihan-pilihan memang harus datang dari rakyat
sendiri sehingga menyiratkan pentingnya kebebasan berorganisasi. Kebebasan
94
Robert A. Dahl, Loc cit., hlm. 52.
305
berorganisasi secara implisit merupakan prinsip kebebasan untuk
menominasikan calon wakil rakyat. Dengan cara itulah pilihan-pilihan yang
signifikan dapat dijamin dalam proses pemilihan umum;
e. persamaan hak kampanye, yaitu program kerja dan calon-calon unggulan tidak
akan bermakna apa-apa jika tidak diketahui oleh pemilih. Oleh karena itu,
kampanye menjadi penting dalam proses pemilu. Melalui proses tersebut massa
pemilih diperkenalkan dengan para calon dan program kerja para kontestan
pemilu;
f. kebebasan dalam memberikan suara, yaitu pemberi suara harus terbebas dari
berbagai hambatan fisik dan mental dalam menentukan pilihannya. Harus ada
jaminan bahwa pilihan seseorang dilindungi kerahasiaannya dari pihak mana
pun, terutama dari penguasa;
g. kejujuran dalam penghitungan suara, yaitu kecurangan dalam penghitungan
suara dapat menggagalkan upaya penjelmaan rakyat ke dalam badan
perwakilan rakyat. Keberadaan lembaga pemantau independen pemilu dapat
menopang perwujudan prinsip kejujuran dalam penghitungan suara.
h. penyelenggaraan secara periodik, yaitu pemilu tidak diajukan atau diundurkan
sekehendak hati penguasa. Pemilu dimaksudkan sebagai sarana
menyelenggarakan pergantian penguasa secara damai dan terlembaga.
Kriteria tersebut adalah kriteria yang berlaku dalam ruang lingkup
pemerintahan suatu negara. Dalam ruang lingkup partai politik, demokrasi dapat
dilakukan dalam proses pengambilan keputusan dan pemilihan kader untuk
menempati posisi-posisi tertentu dalam partai politik yang bersangkutan dan
untuk mewakili partai politik dalam pemilihan umum, baik sebagai calon anggota
legislatif, calon kepala daerah, atau bahkan calon presiden.
Hukum positif yang mengatur tentang partai politik di Indonesia adalah UU
No. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik yang kemudian diubah dengan UU No. 2
Tahun 2011. Dalam undang-undang tersebut dinyatakan bahwa tujuan dari partai
politik salah satunya adalah mengembangkan kehidupan demokrasi berdasarkan
Pancasila dengan menjunjung tinggi kedaulatan rakyat dalam Negara Kesatuan
Republik Indonesia.95 Dalam kepengurusannya, pengurus partai politik di setiap
tingkatan, yaitu tingkat pusat, tingkat provinsi, dan tingkat kabupaten/kota dipilih
secara demokratis melalui musyawarah sesuai dengan AD dan ART dari masingmasing partai politik.96 Kemudian, dalam pengambilan keputusan juga dilakukan
secara demokratis. Dalam hal ini, partai politik diberi kebebasan untuk
menentukan bagaimana bentuk demokratisasi dalam memilih pengurusnya dan
mengambil keputusan untuk kepentingan dari partai politik itu sendiri sepanjang
tidak bertentangan dengan dengan peraturan perundang-undangan. Karena itulah,
dapat dikatakan bahwa partai politik merupakan salah satu sarana untuk
mengembangkan jiwa demokratis untuk kehidupan berbangsa dan bernegara.
Perlu dipahami kembali bahwa bentuk dari demokrasi sendiri ada
bermacam-macam dan dapat diketahui bersama bahwa terdapat 2 (dua) bentuk
besar dari demokrasi yaitu demokrasi langsung dan tidak langsung dan dari
masing-masing bentuk memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Menurut teori demokrasi internal, partai politik adalah “miniatur” dari sebuah
95
96
UU No. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik, Pasal 10 ayat (1) huruf c.
UU No. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik, Pasal 22.
306
negara yang berarti benar atau salahnya partai politik dalam penerapan demokrasi
di internalnya sendiri adalah manifestasi dari benar atau tidaknya penerapan
demokrasi di negara tersebut, walaupun sebenarnya dapat dibilang bahwa
penerapan demokrasi dalam masing-masing partai politik tidak dapat dikatakan
seluruhnya benar atau seluruhnya salah karena bentuk dari penerapan demokrasi
dalam masing-masing partai politik pasti berbeda-beda. Dalam praktiknya, partai
politik tidak mengikutsertakan seluruh kader di dalamya, sebagai contohnya
adalah Partai Golongan Karya yang dalam proses pemilihan ketua partainya
melalui musyawarah nasional (Munas) hanya dihadiri oleh peserta yang terdiri
atas peserta (Dewan Pimpinan Pusat, unsur Dewan Pimpinan Daerah Provinsi,
unsur Dewan Pimpinan Daerah Kabupaten/Kota, unsur Pimpinan Pusat Organisasi
Sayap, unsur Pimpinan Pusat Ormas Pendiri, dan unsur Pimpinan Pusat Ormas
Yang Didirikan), peninjau (Dewan Penasehat Pusat, unsur Pimpinan Pusat Ormas
yang menyalurkan aspirasi politiknya kepada Partai Golkar, dan unsur Badan,
Lembaga dan Pokja Dewan Pimpinan Pusat), dan undangan (perwakilan institusi
dan perorangan) untuk mengikuti proses pemilihan ketua dari partai politik
mereka, yang artinya bentuk dari demokrasi yang digunakan adalah bentuk
demokrasi tidak langsung. Menurut Penulis, hal ini dirasa sudah tepat mengingat
jumlah anggaran dari pelaksanaan pemilihan ketua partai politik yang tidak sedikit
dan jumlah dari kader yang mengikuti proses pelaksanaan pemilihan ketua partai
politik juga menentukan besar kecilnya anggaran dalam itu sendiri sehingga
proses pemilihan ketua partai politik merupakan suatu proses yang tidak murah.
Namun, hal ini dianggap bukan merupakan manifestasi yang sempurna dari
implementasi demokrasi dalam internal dari partai politik itu sendiri, karena
adanya perwakilan tidak serta merta dianggap mewakili seluruh gagasan dan
aspirasi dari seluruh kader yang terlibat dalam tumbuh kembang partai politik
tersebut. Karena itulah, perlu suatu sistem yang jelas dan terintegrasi bagi para
pemegang suara untuk melaksanakan semacam “pemilu” untuk menentukan satu
suara yang akan mereka bawa dalam pemilihan ketua partai politik di tingkat
pusat. Dengan demikian, anggaran dalam pelaksanaan pemlih pelaksanaan
pemilihan ketua partai politik dapat ditekan tanpa mengurangi jumlah kader yang
terlibat.
Pada dasarnya, semua peserta dari proses pemilihan ketua partai politik
adalah sama dan suatu pengambilan keputusan bersama yang ideal adalah apabila
suatu ide atau gagasan yang muncul dalam proses pengambilan keputusan dinilai
memiliki bobot yang sama, yang dalam konteks demokrasi lebih dikenal dengan
sistem one man one vote. Adanya diversifikasi jumlah suara yang didasarkan pada
status atau jabatan tertentu pada internal partai politik justru akan menghilangkan
arti dari demokrasi dalam pelaksanaan ketua partai politik tersebut bila mengingat
kembali bahwa partai politik adalah “miniatur” dari sebuah negara yang berarti
benar atau salahnya partai politik dalam penerapan demokrasi di internalnya
sendiri adalah manifestasi dari benar atau tidaknya penerapan demokrasi di
negara tersebut.
Mengedepankan Merit System dalam Proses Pemilihan Ketua Partai
Merit system adalah proses perekrutan kader untuk menempati posisi
jabatan strategis di dalam tubuh partai ataupun jabatan di dalam pemerintahan
307
berdasarkan penilaian loyalitas, pengalaman berorganisasi, dan prestasi yang
dicapai selama menjadi kader.97 Sedangkan, oligarch system adalah sistem dimana
orang-orang yang memiliki kelebihan sumber daya menggunakannya untuk
menduduki jabatan politis dan kekuasaan.98
Dalam pelaksanaannya, pemilihan ketua partai politik adalah suatu “ajang”
bagi para petinggi dari partai politik untuk menunjukkan pergerakan politiknya
walaupun tidak maju menjadi calon dalam pemilihan tersebut. Mereka bisa saja
bergerak sebagai tim sukses dari calon ketua partai tersebut dan sesuai namanya,
tugas dari tim sukses adalah melakukan apa-apa yang perlu dilakukan untuk
menyukseskan tujuan dari calon di pihaknya, yaitu untuk memenangkan
pemilihan. Dalam melaksanakan tugas sebagai tim sukses tersebut, dalam
praktiknya kadang, atau justru banyak, ditemukan kecurangan seperti politik uang
atau kampanye gelap. Hal ini tentu bukanlah preseden baik bagi proses pemilihan
ketua partai politik tersebut, mengingat bahwa posisi ketua dari partai politik
sangat menentukan kehidupan dari partai politik tersebut ke depannya sehingga
posisi ini harus diduduki oleh orang yang tepat dan kompeten. Adalah penting bagi
panitia pelaksana dari pemilihan ketua partai politik ini untuk memberikan
pemahaman kepada kader yang terlibat tentang kompetensi dari para calon ketua
partai politik sehingga hasilnya lebih objektif. Kurangnya pemahaman dari
pemegang suara tentang calon-calon yang maju dalam pemilihan akan
menciptakan hasil yang subjektif karena pilihan tidak didasarkan pada sesuatu
yang bersifat objektif seperti rekam jejak karir atau catatan prestasi, namun pada
sesuatu yang bersifat objektif seperti adanya suap atau alasan klise seperti
kesamaan unsur sakral dan primordial. Namun, tanggung jawab ini tidak serta
merta hanya dibebankan kepada panitia pelaksana saja, namun juga tim sukses
dari calon ketua dan calon ketua itu sendiri harus memberikan pemahaman
objektif ini kepada pemegang suara demi kelangsungan hidup partai politik
tersebut juga.
Salah satu contoh yang terjadi dalam warna-warni iklim demokrasi kita
yakni ketika kemenangan Jusuf Kalla pada Munas 2004 yang menjadi bukti yang
dapat dinilai publik merupakan salah satu fenomena pergeseran ideologi
paradigma baru menjadi paradigma pragmatisme politik. Di dalam pragmatisme
politik maka yang bekerja adalah sistem oligarki bukan merit system. Dimana hal
ini berlanjut kembali dalam Munas tahun 2009 dimana sosok Yudy Krisnandi
sebagai politisi muda yang potensial namun tidak masuk dalam percaturan politik
ketua umum karena kekuatan materi. Terkait hal ini pun Yudy Krisnandi
mengemukakan pendapatnya bahwa visi dan idealisme di dalam Golkar telah
mati.99
Pelaksanaan Musyawarah Nasional Setiap Partai yang Dilaksanakan Oleh Pihak
KPU
97 Alan Warre, Political Parties and Party Systems, (New York: Oxford University Press,
1996), hlm. 16.
98 Jeffrey Winters, Oligarki, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama), hlm. 9.
99 “Yuddy: Idealisme Sudah Mati di Partai Golkar”,
http://tekno.kompas.com/read/2009/10/09/08414835/yuddy.idealisme.sudah.mati.di.partai.gol
kar, diakses tanggal 12 Juli 2016.
308
Penyelenggaraan Musyawarah Nasional pada umumnya dilaksanakan
sesuai dengan ketentuan organisasi masing-masing partai, dimana dalam
penyelenggaraanya biasanya dibentuk suatu kepanitiaan Ad-Hoc khusus yang
disepakati oleh Dewan Pimpinan Pusat. Salah satu contohnya adalah Partai Golkar
yang yang dalam menyelenggaran Musyawarah Nasional dibentuk suatu
kepanitiaan khusus yang disetujui oleh tingkat DPP. Tidak dapat dipungkiri bahwa
partai sangat erat dengan lobi dan permainan politik yang sulit untuk diduga-duga.
Bahkan dalam konteks siapa yang menyelenggarakan Musyawarah Nasional saja
telah membuat potensi adanya konflik internal bagi partai politik itu sendiri
dengan memperebutkan pihak yang menjadi panitia, sehingga produktivitas partai
yang sejatinya berfokus untuk menyejahterakan rakyat justru terbengkalai karena
adanya konflik internal. Menurut Penulis permasalahan ini harus segera
ditanggulangi dengan melibatkan pihak ke-tiga yang netral dan kredibel dalam
melaksanakan Musyawarah Nasional suatu partai politik, dimana pihak tersebut
adalah perwakilan negara yang notabenenya negara berhak mengintervensi atas
nama kebaikan bangsa dan negara. Pihak tersebut terkristalisasi kepada lembaga
Komisi Pemilihan Umum yang sejatinya sudah berpengalaman dalam
melaksanakan pemilihan baik ditingkat pusat dan lokal secara masif dan berkala.
Komisi Pemilihan Umum nantinya memfasilitasi dan menyelenggarakan
Musyawarah Nasional partai politik sesuai dengan prinsip umum pemilihan yang
baik dengan tetap mengindahkan koridor dan kebiasaan yang hidup pada partai
politik.
Dengan penyelenggaran yang dilakukan oleh pihak KPU diharapkan konflik
internal politik yang terjadi karena perselisihan siapa yang menyelenggarakan
tidak perlu terjadi lagi. Lebih dari itu KPU adalah lembaga yang profesional dan
berpengalaman dalam melaksanakan prosesi pemilihan sehingga keluaran dari
Musyawarah Nasional adalah orang yang tepat dalam memimpin partai. Kemudian
money politics setidaknya dapat diminimalisir karena KPU adalah pihak luar yang
tidak memiliki hubungan politik dengan kader-kader yang berjuang sebagai calon.
Maka dari itu perlu direvisi mengenai tugas dan wewenang Komisi Pemilihan
Umum yang tidak hanya melaksanakan pemilihan umum saja, tetapi juga
menyeleng-garakan Musyawarah Nasional tiap partai.
Melibatkan Institusi Negara dalam Proses Penyaringan Calon
Sebagai upaya preventif menghindari kegagalan dalam pemilihan ketua
partai politik yang bermasalah, pemerintah dapat memanfaatkan peranan lembaga
negara yang mampu mengungkap aliran dana gelap, seperti Pusat Pelaporan
Analisis dan Transaksi Keuangan (PPATK), dimana PPATK dilibatkan dalam hal uji
kepatutan dan kelayakan ketua partai politik untuk melakukan audit investigatif
demi transparansi. Keberadaan PPATK merupakan langkah konkret dari
pelaksanaan UU No. 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak
Pidana Pencucian Uang. Dengan fungsi pencegahan yang dimiliki, normatifnya
PPATK diberikan ruang untuk bisa mencegah lembaga partai politik yang dipimpin
oleh oknum yang diduga memiliki transaksi keuangan yang mencurigakan. Namun,
PPATK masih memiliki keterbatasan yaitu PPATK tidak memiliki kewenangan
untuk melakukan penyelidikan. Sehingga KPK menjadi lembaga yang komplemen
untuk melengkapi peranan PPATK. Kemudian berkaitan dengan hasil Fit and
309
Proper Test (FPT), publik akan lebih menghendaki agar PPATK dan KPK diundang
secara langsung untuk dimintakan pendapatnya oleh Komisi Pemilihan Umum
(KPU), serta Laporan Hasil Analisa dari PPATK terhadap bakal calon ketua umum
partai politik wajib dirilis ke muka publik. Dengan dirilisnya Laporan Hasil Analisa
oleh PPATK terhadap calon ketua umum partai politik, selain KPK bisa langsung
melakukan penyidikan ketika terdapat transaksi yang mencurigakan, harapannya
publik pun bisa merespon dan melaporkan pada KPK. Keterlibatan publik
diharapkan meningkat seiring adanya mekanisme seperti ini sehingga menjadi
manifestasi untuk perbaikan demokrasi di Indonesia menuju demokrasi deliberatif
dan partisipatif.
Kemudian berkaitan dengan rekam jejak yang dimiliki oleh bakal calon
ketua partai politik seyogyanya KPU juga melibatkan Komisi Nasional Hak Asasi
Manusia (Komnas HAM) dalam proses pemilihan ketua partai. Komnas HAM akan
menelusuri apakah nama bakal calon ketua partai politik tersebut sedang atau
pernah masuk dalam pengaduan yang disampaikan masyarakat ke Komnas HAM.
Selain itu, Komnas HAM juga menganalisis bagaimana perspektif HAM para calon
tersebut. Pelibatan Komnas HAM ini diharapkan jabatan publik dapat diisi dengan
orang-orang yang bersih dari kasus-kasus HAM.
Menambah Persyaratan Ketua Partai Terpilih untuk Fokus Membina Partai
Fenomena yang terjadi saat ini banyak pihak yang menginginkan posisi
strategis sebagai Ketua Partai Politik karena nantinya memiliki peluang yang besar
untuk menjadi kandidat Presiden atau Wakil Presiden. Hal ini tentunya membuat
sumir tugas dan wewenang Ketua Partai Politik yang seharusnya fokus untuk
membina partai, memelihara ideologi partai dan memenangkan partainya di saat
pemilihan umum tetapi justru menjadi agenda terselubung untuk mempromosikan
Ketua Partai Politiknya menjadi kandidat Presiden, Wakil Presiden, atau Jabatan
Struktural lain. Hal ini tentunya tidak sehat dalam iklim demokrasi internal partai
politik itu sendiri, fungsi partai menjadi terdegradasi yang semula sebagai
rekrutmen, sosialisasi, komunikasi, dan pengatur konflik justru menjadi "batu
loncatan" karier politik seseorang. Lagipula formasi rangkap Ketua Partai Politik
dan Presiden sejatinya sangat tidak efektif dalam pembagian antara tugas
kepartaian dan tugas kenegaraan. Dalam sistem presidensil seorang Presiden
sudah merangkap sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan, itu artinya
Presiden mengurusi masalah baik yang bersifat eksternal maupun internal negara
yang sangat kompleks. Tidak dapat dibayangkan apabila kompleksitas tersebut
ditambah lagi dengan unsur baru berupa sebagai Ketua Partai Politik hal ini sangat
dikhawatirkan dapat menganggu jalannya tugas kenegaraan karena terbaur
dengan tugas kepartaian dengan banyaknya conflict of interest yang terjadi.
310
BAB III
PENUTUP
Berdasarkan analisis dan pembahasan di atas dapat ditarik kesimpulan
sebagai berikut. Pertama, partai politik adalah tiang demokrasi suatu negara
bersama dengan konsep perwakilan dan pemilihan umum secara berkala. Suatu
negara tidak dapat dikatakan demokratis apabila tidak terdapat partai politik di
negara tersebut. Partai politik merupakan lapangan miniatur dan embrio awal
suatu proses demokrasi suatu bangsa, sehingga apabila proses internal partai
politiknya saja tidak demokratis konsekuensinya negara tersebut berpeluang
besar menjadi tidak demokratis pula. Proses internal demokrasi partai politik
salah satunya dapat dilihat dari proses pemilihan Ketua Umum Partai Politik.
Kedua, proses pemilihan Ketua Partai setidaknya memiliki dua metode yakni
penunjukan secara langsung dan melalui musyawarah. Penulis berkeyakinan
bahwa metode Musyawarah secara Nasional merupakan proses yang paling
demokratis hanya saja membutuhkan beberapa proses penyempurnaan dalam
tataran sistem dan praktis. Ketiga, Musyawarah Nasional yang dilakukan oleh
partai politik harus sesuai dengan prinsip dan kaidah keilmuan yang ada, seperti
menurut Robert A. Dahl dan Austin Ranney.
Maka dari itu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan mendepankan
merit system atau kompetensi dari calon, bukan mengekspos modal ataupun
popularitas calon. Kemudian, pelaksanaan Musyawarah Nasional dilakukan oleh
pihak ke-tiga yang netral dalam hal ini adalah Komisi Pemilihan Umum selaku
institusi negara yang telah berpengalaman dalam menyelenggarakan sukses baik
ditingkat nasional maupun tingkat lokal. Selanjutnya melibatkan tiga institusi
negara yang relevan dalam proses awal penyeleksian calon ketua umum partai
politik, sehingga dengan memformulasikan prosedur ini keluaran dari pemilihan
ini menjadi lebih berkualitas baik dari segi keuangan, track record Hak Asasi
Manusia, dan korupsi. Terakhir dengan menambah komitmen kepada Calon Ketua
Umum Partai Politik apabila terpilih nantinya akan fokus untuk membina partai
politik ketimbang menjadikannya sebagai “batu loncatan” karier politik semata.
311
DAFTAR PUSTAKA
15Grolier. The Grolier International Dictionary. Dunbury: Grolier Incorporated,
1988, Vol.1.
A. Dahl, Robert. Perihal Demokrasi: Menjelajah Teori dan Praktek Demokrasi Secara
Singkat, diterjemahkan oleh A.Rahman Zainuddin. Jakarta: Yayasan Obor
Indonesia, 1999.
A. Winters, Jeffrey. Oligarki. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2011.
Ali Safa’at, Muchamad. Pembubaran Partai Politik: Pengaturan dan Praktik
Pembubaran Partai Politik dalam Pergulatan Republik. Jakarta: Rajawali
Pers, 2011.
Asshiddiqie, Jimly. Kemerdekaan Berserikat Pembubaran Partai Politik dan
Mahkamah Konstitusi. Jakarta: Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan
Mahkamah Konstitusi RI, 2005.
Asshiddiqie, Jimly. Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia, edisi revisi. Jakarta:
Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan MK RI, 2006.
Asshiddiqie, Jimly. Pergumulan Peran Pemerintah dan Parlemen Dalam Sejarah:
Telaah Perbandingan Konstitusi Berbagai Negara. Jakarta: UI-Press, 1996.
Baradat, Leon P. Political Ideologies. New Jersey: Prentice Hall Inc., 1984.
Budiardjo, Miriam. Partisipasi dan Partai Politik: Sebuah Bunga Rampai. Jakarta:
Yayasan Obor Indonesia, 1982.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Ensiklopedi Nasional, Jilid 4. Jakarta:
Cipta Adi Pustaka, 1989.
Gintis, Herbert dan Carel van Schail, “Zoon Politicon: The Evolutionary Roots of
Human
Sociopolitical
Systems”,
http://tuvalu.santafe.edu/~bowles/Gintis.pdf, diunduh pada 10 Juli 2016.
Maciver, RM. The Modern State, first edition, (London: Oxford University Press,
1955), hlm. 194.
R. Saragih, Bintan dan Moh. Kusnadi. Ilmu Negara, edisi revisi, cetakan keempat.
Jakarta: Gaya Media Pratama, 2000.
South-East Asian and Pacific Conference of Jurists, Bangkok, February 15-19, 1965.
The Dynamics Aspect of The Rule of Law in The Modern Age. Bangkok:
International Commission of Jurists, 1965.
Sulastomo. “Membangun Sistem Politik Bangsa” dalam Masyarakat Warga dan
Pergulatan Demokrasi: Menyambut 70 Tahun Jakob Oetama. Jakarta:
Kompas, 2001.
U.S Department of State’s Bureau of International Information Programs, “Defining
Democracy”,
http://www.ait.org.tw/infousa/zhtw/docs/whatsdem/whatdm2.htm,
diunduh pada 10 Juli 2016.
Warre, Alan. Political Parties and Party Systems. New York: Oxford University Press,
1996.
“RI Raih Democracy Medal Award”, http://news.detik.com/berita/840787/ri-raihdemocracy-medal-award, diakses tanggal 18 Juli 2016 Pukul 15.40 WIB.
312
“Yuddy:
Idealisme
Sudah
Mati
di
Partai
Golkar”,
http://tekno.kompas.com/read/2009/10/09/08414835/yuddy.idealisme.s
udah.mati.di.partai.golkar, diakses tanggal 12 Juli 2016.
BIOGRAFI SINGKAT
Rafli Fadilah Achmad, S.H adalah seorang pemerhati muda konstitusi yang saat ini
berkarier pada sebuah organisasi non-profit yang digawangi oleh Gandjar
Laksmana Bonaprapta bernama Center for Legislacy, Empowerment, Advocacy
and Research (CLEAR) sejak Januari tahun 2015. Lulus di Fakultas Hukum
Universitas Indonesia dengan rentang waktu 3.5 tahun pada 2012, kemudian
melanjutkan studinya di Magister Hukum Kenegaraan pada fakultas yang sama
sejak tahun 2016. Selama di Universitas Indonesia, Rafli tergolong sebagai salah
satu mahasiswa yang sangat aktif dibidang kemahasiswaan. Tercatat dia memulai
kariernya di BEM UI sebagai staff aksi dan propaganda, kemudian menjadi Vice
Project Officer dari Simposium Hukum Nasional tahun 2013, dan puncaknya
menjadi Hakim Konstitusi Mahkamah Mahasiswa Universitas Indonesia tahun
2014 dan Ketua Komisioner Pengawas Pemira Universitas Indonesia tahun 2015.
Selain itu Rafli juga tercatat memperoleh beberapa penghargaan dan prestasi
seperti Juara 1 Constitutional Drafting Padjajaran Law Fair dan Quarter Finalist
Lomba Debat Mahkamah Konstitusi tingkat nasional. Terakhir Rafli tercatat
sebagai orang yang berperan besar dalam menghadirkan Ketua KPU Belanda Prof.
Henk Kummeling ke Indonesia dalam rangkaian visitting scholar pada bulan Maret
silam. Suatu hari nanti Rafli bercita-cita dapat berkontribusi secara langsung
terhadap perbaikan hukum di Indonesia dengan terlibat masuk ke dalam sistem
dengan menjadi Hakim PTUN.
313
“DEMOKRASI ALA PARTAI POLITIK DI INDONESIA ; MEMBANDINGKAN PROSES
PEMILIHAN KETUA UMUM PARTAI DEMOKRAT RENTANG Tahun 2010-2015”
(mencari pola regenarasi Pimpinan Partai Politik yang Ideal)
Syafrida Rachmawaty Rasahan
Pendahuluan
Dalam Negara yang demokratis, peran dan fungsi partai politik tidak dapat
diabaikan. Partai politik merupakan organisasi yang diciptakan untuk dapat
mengartikulasikan dan mengaktualisasikan kepentingan dan aspirasi masyarakat
secara terus menerus. Fungsi partai politik memiliki peran strategis sebagai
penyambung lidah kepentingan masyrakat terhadap sejumlah isu strategis
berkaitan dengan kebijakan pemerintah.
Sebelum membicarakan tentang regenerasi dalam partai politik, perlu untuk
ditelaah dulu apa itu partai politik. Banyak variasi dari pengertian partai politik.
Para ahli mendefenisikannya dengan cara yang berbeda-beda.100
Menurut Mark N.Hagopian mendefenisikan partai politik sebagai suatu
kelompok yang mengajukan calon-calon bagi jabatan politik untuk dipilih oleh
rakyat sehingga dapat mengontrol dan mempengaruhi tindakan-tindakan
pemerintah.101 Sedangkan menurut Lawason partai adalah sebuah agensi, yang
menghubungkan antara masyarakat dengan pengambil kebijakan. Defenisi lain
mengartikan bahwa partai politik adalah penerjemahan dari structural system
atau mengubahh struktur kepentingan social dan ekonomi menjadi kekuasaan
politik. 102
Sementara itu dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008jo UndangUndang Nomor 2 Tahun 2011 tentang Partai Politik, menegaskan bahwa Partai
Politik adalah organisasi yang bersifat nasional dan dibentuk oleh sekelompok
warga Negara Indonesia secara sukarela atas dasar kesamaan kehendak dan citacita untuk memperjuangkan dan membela kepentingan politik anggota,
masyarakat, bangsa dan Negara serta memelihara keutuhan Negara Kesatuan
Republik berdasarkan Pancasila, dan Undang-Undang Dasar tahun 1945.
Kaderisasi dalam Partai Politik di Indonesia
Peran partai politik dalam merekrut kader partai adalah sangat penting, ini
sesuai dengan salah satu fungsi dari politik itu sendiri yakni rekrutmen politik.
Yang dimaksud dengan rekrutmen politik adalah partai politik berfungsi dan
mencari orang yang berbakat untuk turut aktif dalam kegiatan politik dan proses
pengisian jabatan politik melalui mekanisme demokrasi. Hal ini berarti partai
menjadi wadah rekrutmen politik (kader) dan sekaligus menyiapkan calon-calon
pemimpin baik di level lokal maupun nasional. Rekrutmen politik tidak saja
100Moshe Maor, Political Parties & Party Systems : Comparative Approaches & the British
Experience, (London and New York : Routledge, 1997), hlm.1-5
101Ichsanul Amal, ed., Teori-Teori Mutakhir Partai Politik, (Yogyakarta, TWC, 1996), hlm.1
102Maor, “Political Parties…,” hlm.5
314
menjamin kontinuitas dan kelestarian partai. Sekaligus merupakan salah satu cara
untuk menyeleksi calon-calon pemimpin.
Kaderisasi di organisasi manapun merupakan urat nadi bagi sebuah
organisasi. Kaderisasi adalah proses penyimpanan Sumber Daya Manusia (SDM)
agar kelak mereka menjadi para pemimpin yang mampu membangun peran dan
fungsi organisasi secara lebih baik. Dalam pengkaderan, ada dua persoalan yang
penting. Pertama, bagaimana usaha-usaha yang dilakukan oleh organisasi untuk
peningkatan kemampuan baik keterampilan maupun pengetahuan. Kedua, adalah
kemampuan untuk menyediakan stok kader atau SDM organisasi, dan terutama
dikhususkan pada kaum muda. Setiap partai politik memiliki pola rekrutmen yang
berbeda, dimana pola perekrutan anggota partai disesuaikan dengan sistem politik
yang dianutnya.103
Partai politik tanpa kaderisasi tidak berarti apa-apa, hukum alamnya setiap
manusia akan mengalami tua dan penurunan daya kemampuan, begitu juga
dengan partai politik, ia membutuhkan regenerasi. Regenerasi pasti dilakukan
tetapi untuk memperoleh hasil regenerasi yang baik, maka dibutuhkan proses
kaderisasi yang sistematis dan penanganan yang khusus.
Sistem kaderisasi akan berjalan baik jika semua pihak yang saling terkait saling
bantu membantu dan bekerja sama dalam membentuk pola pengkaderan.
Dibutuhkan kerja sama antara pihak yang melakukan pengkaderan terhadap
anggota baru partai, yaitu pihak yang diajak untuk menjadi kader maupun unsur
pendukung lainnya yang dibutuhkan, misalnya seperti materi yang mampu
membentuk pola berpikir dan bekerja seorang kader sesuai dengan tujuan partai
politik yang bersangkutan. Bila partai politik mampu menghasilkan kader partai
yang berkualitas, berarti partai politik mampu menyediakan pemimpin nasional
masa depan yang berkualitas pula.
Apabila proses kaderisasi ini macet, maka transfer kepemimpinan dari
generasi tua kepada generasi yang lebih muda juga akan macet. Kemandegan
proses kaderisasi di dalam partai politik ini telah menimbulkan kekecewaan yang
dalam di banyak kalangan. Kekecewaan ini diwujudkan dengan pembentukan
partai-partai politik baru dan munculnya wacana calon perseorangan ditengah
keinginan kolektif untuk membangun sebuah sistem demokrasi perwakilan yang
memposisikan partai politik sebagai satu-satunya agen perubahan. Mahkamah
Konstitusi pun mengamininya dengan mengeluarkan keputusan yang mendukung
munculnya calon perseorangan di dalam proses politik di Indonesia.
Dikatakan sebuah kaderisasi berhasil ketika dari proses kaderisasi tersebut
mampu menciptakan pribadi yang tangguh dan memiliki loyalitas yang tinggi
terhadap partai, sehingga antara dirinya dan partai merupakan satu kesatuan yang
tak terpisahkan dan mampu menjadi solusi dari masalah-masalah yang mucul bagi
partai dikemudian hari. Keberhasilan partai politik dalam melakukan proses
rekrutmen politik yang bisa menghasilkan kader-kader muda yang handal akan
dengan sendirinya menghapuskan kekecewaan publik.
Dalam sejarah bangsa ini, kaderisasi adalah fungsi yang terabaikan semenjak
awal kehidupan partai politik sampai masa pasca Orde Baru sekarang ini. Pada
103 Koirudin, Partai Politik dan Agenda Transisi Demokrasi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2004), hlm.7
315
masa lalu, kaderisasi dilakukan bukan oleh partai politik, tapi oleh ormas-ormas
yang menjadi underbow partai. Pimpinan partai tinggal menerima kader-kader
yang telah dihasilkan oleh ormas-ormas tersebut.
Pada masa Orde Baru, dengan pemberlakuan undang-undang yang
mengharuskan proses fusi partai-partai politik yaitu PDI, PPP, dan Golkar, maka
tangan kekuasaan untuk mengontrol dan mengendalikan proses kepemimpinan
dalam partai politik yang ada semakin lebih mudah dilakukan. Argumennya ketika
dilakukan fusi, maka pemerintah Orde Baru semata-mata bergerak hanya demi
stabilitas politik untuk pembangunan ekonomi. Pemerintah memandang bahwa
kehidupan partai politik perlu dikendalikan dan diatur agar tidak mengundang
hadirnya kebebasan liberal seperti di era multi partai sebelumnya, yang terbukti
gagal menghadirkan demokrasi dan pembangunan ekonomi yang baik. Pada masa
demokratisasi sekarang ini, pimpinan partai politik seharusnya melakukan
pendidikan kader secara berjenjang dan berkesinambungan untuk menghasilkan
kader-kader partai politik yang akan menjadi pimpinan nasional
dimasa
mendatang. Kaderisasi para pemimpin partai politik sangat tergantung pada sistem
kepolitikan yang dibangun.
Demokrasi Internal Partai
Proses demokrasi internal partai adalah proses pemilihan seorang calon
pimpinan Partai melalui penyerapan aspirasi seluruh kader-kader di tingkat akar
rumput/grassroots sehingga Ketua Umum yang terpilih merupakan aspirasi kaderkadernya.104 Dengan demikian proses demokrasi internal partai adalah suatu
cara untuk mendapatkan seorang pimpinan partai dengan menerapkan mekanisme
pengambilan suara dukungan dari setiap kader di dalam partai sehingga pimpinan
partai yang terpilih mendapatkan legitimasi yang kuat untuk menjalankan fungsi
sebagai seorang pimpinan tertinggi di dalam partainya. Akan tetapi yang menjadi
persoalan di dalam penerapan demokrasi internal bagi Partai politik yang
memiliki jumlah kader yang besar adalah cara untuk menjaga dan mengarahkan
jumlah kader yang besar tersebut dapat menjalankan demokrasi yang baik. Alan
Warre memiliki 2 cara untuk dapat menerapkan mekanisme demokrasi di dalam
pemilihan seorang Ketua Umum Partai yaitu mengatakan bahwa:
“to have democatic control of candidate selection to overcome the problem posed
by the size of the membership, the first is to have local meeting and so on until the
final meeting into which the views expressed at the original local meeting are
fed in or to have all all members vote directly in choosing candidates”.105
“untuk memperoleh kontrol/mekanisme demokratis di dalam pemilihan kandidat
(pada partai) yang memiliki jumlah anggota yang besar yaitu pertama dengan
melakukan pertemuan tingkat lokal hingga ke pertemuan tingkat akhir (pusat)
dimana setiap pandangan dari para anggota dari tingkat lokal masuk di dalam
pertimbangan atau melalui mekanisme semua anggota hadir dan memilih secara
langsung terhadap kandidat yang dicalonkan ”
104 Alan Warre, Political Parties and Party Systems, (New York: Oxford University Press,
1996), hlm. 258
105 Ibid
316
Namun sebuah proses demokrasi internal tidak benar-benar menjamin
bahwa proses yang berlangsung benar-benar demokratis. Kemenangan seorang
Ketua Umum sangat ditentukan oleh kekuatan yang dimilikinya, latar belakang
profesinya seperti militer, pengusaha, atau birokrat, memiliki dukungan massa,
kemampuan finansial, kemampuan persuasif dan lain sebagainya. Masing- masing
kekuatan tersebut dapat dimanfaatkan oleh para calon Ketua umum untuk dapat
memenangkan suara para kadernya. Namun seringkali para kader mengutamakan
pragmatisme politik seperti tawaran uang, jabatan, dan insentif lainnya dengan
menghilangkan pertimbangan penting seperti masa pengabdian seorang calon
Ketua Umum di dalam partai, loyalitas, pertimbangan moral dan lain sebagainya.
Oleh sebab itu pula menjadi sebuah isu yang krusial mengenai bagaimana
cara terbaik untuk merekrut seseorang untuk menjadi Ketua Umum Partai atau
dengan kata lain nilai-nilai apa saja yang harus menjadi landasan dan modal yang
harus dimiliki seseorang untuk bisa menjadi Pimpinan sebuah partai politik. Allan
Ware berpendapat bahwa :
“Hal yang paling utama yang harus dimiliki di dalam rekrutmen politik
menyangkut pimpinan partai pada saat sekarang yaitu harus telah memiliki
pengalaman yang lama sebagai seorang legislator, bekerja sebagai
legislator partainya yang berada di parlemen menjadi jalan untuk tangga karir
bagi seseorang untuk bisa naik menjadi seorang pimpinan partai.”106
Posisi Ketua Umun partai politik merupakan posisi yang strategis yang dapat
mempengaruhi proses demokratisasi di Indonesia. Hal ini disebabkan posisi Ketua
Umum Partai dapat menentukan arah preferensi politik Partai politik sekaligus
menentukan arah kebijakan politik Partai terhadap Pemerintah. Kecakapan
seorang pimpinan partai sangat diperlukan karena memiliki wewenang untuk
mengontrol kader-kader partai yang duduk di Pemerintahan baik di lembaga
legislatif maupun di birokrasi Pemerintahan. Terpilihnya seorang Ketua Umum
Partai yang memiliki kemampuan untuk menjalankan visi dan misi partai sangat
ditentukan oleh proses demokrasi internal partai.
Menurut Arbi Sanit, seleksi kepemimpinan dalam sebuah partai politik
memiliki dua strategis : 107 Pertama, proses ini merupakan revisi sistem
pengkaderan partai politik. Dengan menitikberatkan pada partai kader, pelatihan
kader yang sistematis dan terarah guna membentuk pemimpin yang demokratis.
dan sekaligus efektif. Selain itu, ukuran dan indikator kemajuan kader juga
seringkali dikaitkan dengan posisi kader di dalam struktur partai dan kenegaraan.
Kedua, proses ini juga memiliki arti penting pada perubahan sistem rekrutmen
pemimpin partai, dengan cara kompetisi yang lebih terbuka, kualifikasi pemimpin
yang lebih berkualitas, dan partisipasi seluas mungkin warga partai dan rakyat
luas. Manifestasinya dalam hal ini bisa menggunakan sistem konvensi lokal dan
nasional, sistem pemilu distrik atau langsung, kualifikasi pribadi dan
kepemimpinan calon pemimpin dan partisipasi masyarakat.
Op.Cit hlm.274
Arbi Sanit, Pembaharuan Mendasar Partai Politik, (dalam Mahrus Irsyam, Lili Romli (Ed)).
hlm. 13-14.
106
107
317
Menurut Gerald M. Pomper, Guru Besar Rutger University Amerika Serikat
berpendapat bahwa selain berfungsi sebagai alat untuk menyaring kandidat calon
Ketua umum, kongres partai politik memiliki tiga fungsi yaitu 108 : Pertama,
melahirkan aturan-aturan seleksi bagi rekrutmen dan
keanggotaan partai.
Kedua, wadah untuk memenuhi elektoral suara dan memenangkan pemilu, dan
Ketiga, kongres partai dilakukan untuk menetapkan platform partai yang biasanya
didasarkan pada aksi-aksi pemerintah yang sedang berkuasa.
Sejarah Singkat Pembentukan dan Berdirinya partai Demokrat
Partai Demokrat didirikan atas inisiatif saudara Susilo Bambang Yudhoyono
yang terilhami oleh kekalahan terhormat saudara Susilo Bambang Yudhoyono pada
pemilihan Calon wakil Presiden dalam Sidang MPR tahun 2001.
Dari perolehan suara dalam pemilihan cawapres dan hasil pooling public
yang menunjukkan popularitas yang ada pada diri Susilo Bambang Yudhoyono
(selanjutnya disebut SBY), beberapa orang terpanggil nuraninya untuk memikirkan
bagaimana sosok SBY bisa dibawa menjadi Pemimpin Bangsa dan bukan
direncanakan untuk menjadi Wakil Presiden RI tetapi menjadi Presiden RI untuk
masa mendatang. Hasilnya adalah beberapa orang diantaranya saudara Vence
Rumangkang menyatakan dukungannya untuk mengusung SBY ke kursi Presiden,
dan bahwa agar cita-cita tersebut bisa terlaksana, jalan satu-satunya adalah
mendirikan partai politik. Perumusan konsep dasar dan platform partai
sebagaimana yang diinginkan SBY dilakukan oleh Tim Krisna Bambu Apus dan
selanjutnya tehnis administrasi dirampungkan oleh Tim yang dipimpin oleh
saudara Vence Rumangkang. Juga terdapat diskusi-diskusi tentang perlunya berdiri
sebuah partai untuk mempromosikan SBY menjadi Presiden, antara lain : Pada
tanggal 12 Agustus 2001 pukul 17.00 diadakan rapat yang dipimpin langsung oleh
SBY di apartemen Hilton. Rapat tersebut membentuk tim pelaksana yang
mengadakan pertemuan secara marathon setiap hari. Tim itu terdiri dari : (1).
Vence Rumangkang, (2). Drs. A. Yani Wahid (Alm), (3). Achmad Kurnia, (4).
Adhiyaksa Dault, SH, (5).Baharuddin Tonti, (6). Shirato Syafei. Di lingkungan kantor
Menkopolkampun diadakan diskusi-diskusi untuk pendirian sebuah partai bagi
kendaraan politik SBY dipimpin oleh Drs. A. Yani Wachid (Almarhum).
Pada tanggal 19 Agustus 2001, SBY memimpin langsung pertemuan yang
merupakan cikal bakal pendirian dari Partai Demokrat. Dalam pertemuan tersebut,
saudara Vence Rumangkang menyatakan bahwa rencana pendirian partai akan
tetap dilaksanakan dan hasilnya akan dilaporkan kepada SBY.
Selanjutnya pada tanggal 20 Agustus 2001, saudara Vence Rumangkang yang
dibantu oleh saudara Drs. Sutan Bhatoegana berupaya mengumpulkan orang-orang
untuk merealisasikan pembentukan sebuah partai politik. Pada akhimya,
terbentuklah Tim 9 yang beranggotakan 10 (sepuluh) orang yang bertugas untuk
mematangkan konsep-konsep pendirian sebuah partai politik yakni: (1) Vence
Rumangkang; (2) Dr. Ahmad Mubarok, MA.; (3) Drs. A. Yani Wachid (almarhum);
108 Mengutip tulisan Thesis oleh SufardiNurzain, “Representasi Elit olitik di Surat Kabar,
Analisis Framing Terhadap Pemberitaan Kompetisi Akbar Tandjung dan H.M. Jusuf Kalla Dalam
Perebutan Ketua Umum Pada Munas Golkar VII di Harian Kompas, Harian Media Indonesia, dan
Suara Karya”, Program Pasca Sarjana Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jurusan Ilmu Komunikasi,
Universitas Indonesia, 2006, hlm. 20
318
(4) Prof. Dr. Subur Budhisantoso; (5) Prof. Dr. Irzan Tanjung; (6) RMH. Heroe
Syswanto Ns.; (7) Prof. Dr. RF. Saragjh, SH., MH.; (8) Prof. Dardji Darmodihardjo;
(9) Prof. Dr. Ir. Rizald Max Rompas; dan (10) Prof. Dr. T Rusli Ramli, MS. Disamping
nama-nama tersebut, ada juga beberapa orang yang sekali atau dua kali ikut
berdiskusi. Diskusi Finalisasi konsep partai dipimpin oleh SBY.
Untuk menjadi sebuah Partai yang disahkan oleh Undang- Undang
Kepartaian dibutuhkan minimal 50 (limapuluh) orang sebagai pendirinya, tetapi
muncul pemikiran agar jangan hanya 50 orang saja, tetapi dilengkapi saja menjadi
99 (sembilanpuluh sembilan) orang.
Pengesahan Partai Demokrat
Pada tanggal 10 September 2001 Partai Demokrat didaftarkan ke
Departemen Kehakiman dan HAM RI, kemudian pada tanggal 25 September 2001
terbitlah Surat Keputusan Menkeh & HAM Nomor M.MU.06.08.-138 tentang
pendaftaran dan pengesahan Partai Demokrat.
Dengan Surat Keputusan tersebut Partai Demokrat telah resmi menjadi salah
satu partai politik di Indonesia dan pada tanggal 9 Oktober 2001 Departemen
Kehakiman dan HAM RI mengeluarkan Lembaran Berita Negara Nomor : 81 Tahun
2001 Tentang Pengesahan Partai Demokrat dan Lambang Partai Demokrat.
Kemudian pada tahun 2001 diterbitkan AD/ART yang pertama sebagai peraturan
sementara organisasi. Pada tahun. 2003 diadakan koreksi dan revisi sekaligus
didaftarkan ke Departemen Kehakiman dan HAM RI sebagai Persyaratan
berdirinya Partai Demokrat. Sejak pendaftaran tersebut, AD/ART Partai Demokrat
sudah bersifat tetap dan mengikat hingga ada perubahan oleh forum Kongres ini
Lahirnya partai Demokrat dilator belakangi beberapa faktor. Pertama,
memberikan perahu kepada Susilo Bambang Yudhoyono sebagai tokoh masa
depan yang mampu memberikan harapan bagi masyarakat Indonesia sebagaimana
yang diinginkan oleh elit pendiri partai Demokrat. Kedua, para elit pendiri partai
menginginkan pemimpin yang demokratis yang mampu memberikan ruang bagi
proses pembangunan nasional sehingga gagasan Negara yang demokratis yang
sejahtera dapat terwujud.
Regenerasi dalam Partai Demokrat
Partai Demokrat sebagai sebuah partai politik yang lahir pasca lengsernya
kekuasaan Orde Baru tentunya juga menghadapi tantangan sedemikian rupa
sebagaimana gambaran per- soalan di atas. Tantangan yang dihadapi oleh Partai
Demokrat adalah bagaimana menjalin konsolidasi partai sampai pada tingkat yang paling
bawah sehingga terbangun suatu tatanan internal partai yang kuat dan terarah.
Persoalannya adalah sebagaimana partai politik lainnya, Partai Demokrat juga tidak urung
dari persoalan konflik yang melanda internal partai.
Partai yang didirikan tanggal 9 September 2001 itu kemudian menjelma
menjadi sebuah kekuatan politik besar di Indonesia. Setelah menduduki peringkat
ketujuh pada Pemilihan Umum tahun 2004, Partai Demokrat mampu menjadi
pemenang pada Pemilihan Umum tahun 2009 dengan mengantongi lebih dari 20%
perolehan suara. Tingginya angka elektabilitas terhadap Partai Demokrat
memunculkan beragam spekulasi di tengah-tengah masyarakat, utamanya adalah
pada tingkat konsolidasi dan pelembagaan partai. Sebab sebagian kalangan menilai
319
bahwa Partai Demokrat merupakan partai yang lahir premature dan menderita
gigantisme dan rawan terhadap penyakit sebagaimana yang melanda partai-partai
lain di Indonesia.
Pemilihan Ketua Umum Partai Demokrat
Berdasarkan AD/ART Partai Demokrat sebagaimana disebutkan dalam Pasal
21ayat (1) dan (2) tentang Tingkatan Kongres, Musyawarah dan Rapat :
“(1) Kongres, Musyawarah dan Rapat Partai Demokrat terdiri atas :
a. Kongres.
b. Kongres Luar Biasa.
c. …
(2) Kongres merupakan pemegang kekuasaan tertinggi Partai, …”109
Kemudian dalam 38 dijelaskan bahwa “Kongres yang merupakan kekuasaan
tertinggi Partai diadakan 5 (lima) tahun sekali, diselenggarakan oleh Dewan
Pimpinan Pusat untuk memusyawarahkan dan mengambil keputusan-keputusan
tentang : 1. Laporan pertanggung jawaban Dewan Pimpinan Pusat. 2. Program
Umum Partai untuk masa 5 (lima) tahun mendatang. 3. Menetapkan Anggaran
Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Partai. 4. Masalah yang bertalian dengan
kepentingan Bangsa dan Negara, khususnya yang menyangkut kepentingan rakyat.
5. Memilih dan menetapkan Dewan Pimpinan Pusat.”
Pergantian pucuk pimpinan ( baca : Ketua Umum) Partai Demokrat pasca
dideklarasikan pada anggal 17 Oktober 2002 di Jakarta Hilton Convention Center
(JHCC)110 telah berlangsung sebanyak 4 (empat) kali dengan tiga masa
periodesiasi Pimpinan tertinggi pertama partai demokrat terpilih melalui
mekanisme Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Pertama yang dilaksanakan pada
tanggal 18-19 Oktober 2002 di Hotel Indonesia yang dihadiri Dewan Pimpinan
Daerah (DPD) dan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) seluruh Indonesia.
Meskipun dalam AD/ART Partai Demokrat Penentuan kursi Ketua Umum
Partai melalui mekanisme kongres setiap 5 tahun sekali.
Kongres I di Bali
Partai Demokrat melaksanakan Kongres I di Bali Beach Hotel, Denpasar,
tanggal 20–23 Mei 2005.
Kongres I Partai Demokrat di Bali dipimpin oleh sementara oleh Prof. Dr. S
Budhiasantoso (Ketua), Vence Rumangkang (Wakil Ketua), E.E. Mangindaan, SIP
(Sekretaris), dan anggota masing-masing Prof. Dr. Ahmad Mubarok, MA, Prof. Dr.
Rizal Max Rompas, MSc, dan Soekarnotomo. Setelah menyepakati Jadwal
Kongres, peserta membahas tata tertib.
Pada Kongres I tersebut Peraturan Tatib Kongres dikukuhkan lewat
Keputusan Kongres Ke-1 Partai Demokrat Nomor : 02/Kongres Ke-1/Partai
Demokrat/2005. Namun menjelang pemilihan Ketua Umum Partai Demokrat
Periode 2005- 2010,dan syarat untuk menjadi Ketua Umum salah satu nya adalah
berpendidikan minimal S1. Syarat tersebut Keputusan Kongres I Partai Demokrat
109
110
Lihat AD/ART Partai Demokrat
www.demokrat.or.id//sejarah
320
Nomor : 14/Kongres Ke-1/Partai Demokrat/2005 yang berisi tiga pasal. Pasal 1
Keputusan tersebut berbunyi: “Penambahan dictum Perturan Tata Tertib Kongres
Ke-1 Partai Demokrat pada Pasal 27 ayat 10 yang berbunyi sebagai berikut;
Pendidikan minimal Sarjana (S1).”
Pada kongres tesebut berdasarkan hasil pemilihan putaran kedua, Hadi
meraih 302 suara menyisihkan dua kandidat lainnya, yakni Subur Budhisantoso
108 suara dan Surato Siswodihardjo 39 suara, dan memilih Susilo bambang
Yudhoyono sebagai Ketua Dewan Pembina PD. Dewan Pembina ini mempunyai
kuasa pembinaan tertinggi dalam tubuh partai itu.
Dan dengan adanya mekanisme Kongres memberikan pengaruh yang besar
baik secara internal partai maupun eksternal. Secara internal, dengan adanya
kongres maka akan memberikan hak dan kesempatan yang sama bagi setiap
kader untuk bisa mencalonkan diri menjadi Ketua Umum partai. Hal ini juga
penting untuk pendidikan kematangan berdemokrasi di dalam internal Partai.
Para kader akan dapat memberikan sumbangsih pikiran dan pendapatnya untuk
diakomodasi pada saat kongres dengan memilih sosok calon Ketua yang dianggap
memiliki kesesuaian dengan ide dan kepentingannya.
Secara eksternal kongres partai Demokrat berdampak pada peniliain masyarakat
umum terhadap pembanguan demokrasi di Partai Demokrat. Perrtarungan Ketua
Umum Partai Demokrat yang diberitakan secara terbuka di media cetak dan
televisi menjadi pembelajaran politik yang penting bagi masyarakat.
Kongres II di Bandung
Terdapat perbedaan mencolok dari penyelenggaraan Kongres II Partai
Demokrat dibanding kongres, musyawarah nasional, atau muktamar partai lain
bahkan dengan perhelatan Kongres I Partai Demokrat lima tahun lalu.
Pada Kongres II Partai Demokrat di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat,
21-23 Mei 2010, peserta memutuskan memilih terlebih dahulu ketua umum lalu
membahas penetapan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga, struktur
organisasi baru, program kerja dan rencana aksi yang dilakukan dalam sidangsidang komisi Pada hari kedua penyelenggaraan Kongres II Partai Demokrat,
terjadi pemungutan suara langsung setelah hampir seharian membahas soal
agenda kongres yang berakhir buntu dua kali sebelum akhirnya diputuskan
melalui pemungutan suara saat pembahasan agenda kongres.
Awalnya peserta kongres "terbelah" dalam menetapkan agenda antara
sidang-sidang komisi dan pemilihan ketua umum: mana yang harus didahulukan.
Lalu dibuatlah opsi A yakni menggelar sidang-sidang komisi terlebih dahulu
kemudian melakukan pemilihan ketua umum dan sebaliknya, opsi B yakni memilih
ketua umum terlebih dahulu kemudian mengadakan sidang-sidang komisi.
Opsi A sejalan dengan kelaziman dalam berbagai kongres, musyawarah
nasional, atau muktamar partai lain bahkan sama dengan Kongres I Partai
Demokrat di Bali, 21-23 Mei 2005. Ternyata dalam Kongres II Partai Demokrat,
peserta memilih opsi B melalui pemungutan suara langsung secara tertutup. Dan
hasilnya sebanyak 375 suara peserta memilih opsi B sedangkan 130 suara memilih
opsi A sedangkan empat suara lain dinyatakan rusak.
Selain berbeda dengan kelaziman di partai-partai lain, penetapan agenda
yang diputuskan dalam Kongres II ini pun berbeda dengan Kongres I di Bali lima
tahun lalu. Lima tahun lalu, Hadi Utomo terpilih di penghujung acara kongres
321
setelah sidang-sidang komisi yang membahas soal keorganisasian, pengesahan
anggaran dasar dan anggaran rumah tangga, serta program kerja dan rencana aksi
selesai disepakati bersama oleh peserta kongres.
Pada saat pemilihan ketua umum pada kongres partai Demokrat kali ini ada
3 (tiga) calon yang telah menyatakan diri maju sebagai calon ketua umum Partai
Demokrat, yaitu : Andi Malarangeng, Anas Urbaningrum, dan Marzukie Ali. Di
putaran pertama pemilihan ketua umum, Andi hanya mengantongi 82 suara
sedangkan Marzuki 209 suara dan Anas tak terkejar setelah mendominasi 236
suara. Karena tidak ada kandidat yang meraih 50 persen plus satu maka pemilihan
berlanjut ke putaran kedua.
Pada putaran kedua, meskipun kubu pendukung Andi berkolaborasi dengan
pendukung Marzuki, perolehan suara untuk Anas tak terkejar setelah memenangi
280 suara sedangkan Marzuki hanya 248 suara dan tiga suara lain dinyatakan
tidak sah.
Kongres Luar Biasa Tahun 2013
Puncuk Pimpinan Partai Demokrat fasca berhentinya Anas Urbaningrum dari
jabatan Ketua Umum DPP Partai Demokrat, Kepemimpinan ditubuh Partai
Demokrat langsung diambil alih oleh Ketua Dewan Pembina dan juga Ketua Majelis
Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono. Para Petinggi Partai
Demokrat, sebenarnya sudah menyadari akan hal ini. Begitu Anas Urbaningrum
menyatakan diri berhenti dari jabatan Ketua Umum DPP Partai Demokrat, seiiring
dengan ditetapkannya Anas Urbaningrum sebagai tersangkan dalam kasus dugaan
Korupsi pembangunan fasilitas gedung olah raga Hambalang Bogor oleh Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK).
Untuk menyelamatkan Partai Demokrat dari ancaman tidak ikut Pemilihan
Umum (Pemilu) Tahun 2014, jalan satu-satunya adalah menggelar Kongres Luar
Biasa (KLB) guna untuk mencari Ketua Umum. Karena tanpa melalui KLB Partai
Demokrat tidak akan memiliki Ketua Umum yang baru. Sesuai dengan Anggaran
Dasar/ Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Partai Demokrat tidak mengenal
adanya Pelaksana Tugas (PLT) Ketua Umum. Dan peraturan Komisi Pemilihan
Umum (KPU) juga tidak membenarkan atau tidak membolehkan Daftar Calon
Sementara (DCS) Anggota Legeslatif ditandatangani oleh Plt Ketua Umum Partai.
Majelis Tinggi Partai Demokrat (PD) tengah mempersiapkan Kongres Luar
Biasa (KLB) untuk menunjuk ketua umum yang baru. Aturan mengenai KLB diatur
di Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) PD. Di Bab IX pasal
100 Anggaran Dasar PD, diatur mengenai tata cara Kongres dan Kongres Luar
Biasa.
Pasal 100 ayat 1 menegaskan bahwa kongres adalah pemegang kekuasaan
tertinggi di partai yang diselenggarakan sekurang-kurangnya 5 tahun. Kongres
memiliki 6 kewenangan yakni menetapkan ketua dewan pembina, mengesahkan
AD/ART, menetapkan program umum partai, meminta pertanggungjawaban DPP,
memilih ketua umum dan formatur, dan menetapkan keputusan lainnya.
322
Pasal 100 ayat 2 mengatur Kongres Luar Biasa (disingkat KLB) mempunyai
wewenang dan kekuasaan yang sama dengan kongres. Namun KLB hanya bisa
dilakukan dalam kondisi tertentu. Ayat 3 mengatur KLB bisa digelar atas
permintaan Majelis Tinggi partai atau sekurang-kurangnya 2/3 jumlah DPD dan
1/2 jumlah DPC. Ayat 4 mengatur KLB harus diusulkan dengan alasan yang jelas.
KLB diselenggarakan oleh DPP Partai.
Sementara di Anggaran Rumah Tangga Partai mengatur mengenai pemilik suara di
KLB Partai Demokrat. Hal itu diatur di Bab VII Anggaran Rumah Tangga tentang
peserta kongres.
Pasal 37 Anggaran Rumah Tangga mengatur peserta kongres dan kongres
luar biasa adalah Majelis Tinggi partai, Dewan Pembina, Dewan Kehormatan,
Komisi Pengawas, Dewan Pimpinan Pusat, Dewan Pimpinan Daerah, Dewan
Kehormatan Daerah, Komisi Pengawas Daerah, Dewan Pimpinan Cabang, Dewan
Perwakilan Luar Negeri, Organisasi Sayap yang telah ditetapkan DPP Partai
Demokrat.
Hak suara dalam KLB diatur di pasal 43 Anggaran Rumah Tangga, berikut
hak suaranya:
Dewan Pembina: 5 (lima ) Hak Suara
Dewan Pimpinan Pusat: 3 (tiga) Hak Suara
Dewan Pimpinan Daerah: 2 (dua) Hak Suara
Dewan Pimpinan Cabang: 1 (satu) Hak Suara
Dewan Perwakilan Luar Negeri: 1 (satu) Hak Suara111
Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat dilaksanakan pada tanggal 30
maret 2013 di Hotel Inna Grand Bali Beach di Bali. Dalam kongres tersebut
penetapan ketua umum dilaksanakan secara aklamasi yaitu penentuan Susilo
Bambang Yudhono sebagai ketua umum partai Demokrat menggantikan Anas
Urbaningrum tanpa melalui proses voting pemilihan kandidat.
Kongres ke-IV di Surabaya
Kongres ke IV partai Demokrat dilaksanakan di Surabaya tanggal 13-15 Mei
2015. dan kongres telah menetapkan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terpilih
secara aklamasi sebagai Ketua Umum Partai Demokrat dalam Kongres IV
Demokrat. Sebagai calon tunggal Ketua Umum Partai Demokrat SBY dipercaya
untuk memimpin kembali partai yang dibidaninya itu untuk periode 2015-2020.
Surat Keputusan penetapan SBY sebagai Ketum PD 2015-2020 dibacakan
dalam acara penutupan itu. Seorang Pimpinan Sidang Kongres IV PD,Muhammad
Zainul Majdi, membacakan SK no 10 /Kongres IV/PD/V/2015 yang menetapkan
Prof Dr Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Ketua Umum terpilih Partai Demokrat
periode 2015-2020.
Penutup
111
Ibid
323
Seperti sebagian besar partai-partai di Indonesia, Partai Demokrat juga
dihadapkan pada satu tantangan serius berupa ketergantungan terhadap figur
tertentu. Ketergantungan terhadap figur tertentu merupakan konsekuensi dari
pembentukan partai yang bersifat top down.
Partai didirikan dengan maksud sebagai kendaraan politik bagi figur tersebut
untuk meraih kekuasaan. Secara historis pendirian Partai Demokrat lebih
ditujukan sebagai kendaraan politik SBY untuk maju dalam Pemilihan Presiden
2004, ketimbang sebagai ikhtiar politik untuk menciptakan sebuah partai modern.
Bila saja regulasi undang-undang pemilihan presiden saat itu tidak
mewajibkan calon presiden dicalonkan oleh partai, atau dengan kata lain dapat
berasal dari jalur independen, boleh jadi Partai Demokrat tidak akan pernah ada.
Tingkat popularitas SBY saat itu menunjukkan tren positif jauh melampaui
kandidat-kandidat presiden dari partai lain, sehingga meskipun maju melalui jalur
independen, bukan hal sulit bagi SBY untuk memenangi pertarungan Pemilihan
Presiden 2004.
Ketergantungan terhadap seorang figur kemudian membuat partai
bersangkutan seolah-olah membiarkan diri berada di bawah dominasi personal
figur tersebut. Padahal, menurut Mainwaring112 , salah satu aspek penting untuk
melihat apakah partai telah terinstitusionalisasi dengan baik atau tidak ialah
ketiadaan dominasi personal dari seorang figur tertentu.
Perspektif Randall dan Svasand tentang aspek internal-eksternal dan aspek
struktural-attitudinal juga dapat digunakan untuk melihat kualitas
institusionalisasi sebuah partai.
 Aspek internal berkaitan dengan hubungan antarbagian di dalam partai
 Aspek eksternal berkaitan dengan hubungan antara partai dan publik serta
lembaga lain.
 Aspek struktural berkaitan dengan struktur di dalam partai.
 Aspek attitudinal berkaitan dengan sikap publik terhadap partai.
Bila berbagai aspek itu dipersilangkan akan menghasilkan model berikut: (1)
Derajat kesisteman suatu partai sebagai hasil persilangan aspek internal dengan
struktural; (2) Derajat identitas nilai suatu partai sebagai hasil persilangan aspek
internal dengan attitudinal; (3) Derajat otonomi suatu partai dalam pembuatan
keputusan sebagai hasil persilangan aspek eksternal dengan struktural, dan (4)
Derajat pengetahuan atau citra publik terhadap suatu partai sebagai persilangan
aspek eksternal dengan attitudinal.113
Dari empat hasil persilangan di atas, derajat kesisteman paling dirujuk untuk
melihat apakah sebuah partai telah terinstitusionalisasi dengan baik.
Derajat kesisteman adalah proses pelaksanaan fungsi-fungsi partai, seperti sejauh
mana fungsi-fungsi partai berjalan dan penuntasan konflik internal sesuai dengan
anggaran dasar/anggaran rumah tangga.
112
Scott Mainwaring, Party System in The Third Wave, (Jurnal of Democracy Vol.9 ; 1998),
hlm. 67-81
113 Vicky Randall dan Lars Svasand, Party Instituzional in New Democracies, (dalam Party
Politics, Vol.8 No.1 ,2002), hlm.13
324
Di masa-masa awal Partai Demokrat berdiri, relasi terjalin antara partai
berlambang mercy tersebut dan SBY, ialah relasi saling menguntungkan.
Partai Demokrat membutuhkan figur dengan popularitas sangat tinggi seperti SBY,
agar kehadiran mereka sebagai partai baru dikenal publik sekaligus mendulang
suara signifikan.
SBY memerlukan Partai Demokrat sebagai kendaraan politik untuk maju
dalam pertarungan Pemilihan Presiden 2004. Pemilu 2009 menjadi puncak dari
relasi saling menguntungkan antara Partai Demokrat dan SBY. Suara Partai
Demokrat naik hampir tiga kali lipat menjadi 20,85% dalam Pemilu Legislatif
2009.
SBY terpilih kembali untuk kali kedua sebagai presiden dengan perolehan
suara 60,80%. Namun, relasi saling menguntungkan tersebut perlahan-lahan mulai
bergeser menjadi menguntungkan salah satu pihak Partai Demokrat saja. Bermula
saat Partai Demokrat diterpa prahara pascapenetapan tersangka korupsi terhadap
ketua umum saat itu Anas Urbaningrum, Partai Demokrat kemudian mendaulat
SBY untuk turun gelanggang dari ketua dewan pembina menjadi ketua umum.
Keberadaan SBY sebagai ketua umum terbukti cukup efektif untuk
menghindarkan Partai Demokrat dari keterpurukan dalam Pemilu Legislatif 2014.
Partai Demokrat meraih 10,19% suara sekaligus mematahkan analisis sejumlah
pihak sebelum pelaksanaan pemilu legislatif, yakni Partai Demokrat diprediksi
cuma mampu meraih suara sebesar 5% dalam Pemilu Legislatif 2014. Kondisi
tersebut menunjukkan betapa Partai Demokrat kembali diuntungkan oleh
keberadaan figur SBY.
Tanpa perlu kerja ekstra dan cucuran keringat deras dari para kader partai,
dapat terselamatkan dari keterpurukan lebih dalam, hanya dengan menempatkan
SBY di garis terdepan sebagai ketua umum.
Akan tetapi, kondisi terbalik justru dirasakan oleh SBY selaku pendiri partai
tersebut. Dengan bersedia turun gelanggang menjabat sebagai ketua umum
sekaligus ketua dewan pembina, SBY dinilai publik sebagai figur kemaruk jabatan
politik apalagi, saat itu SBY juga ialah Presiden Republik Indonesia. Praktis ketika
itu tidak ada tokoh politik lain di Indonesia yang mampu menandingi kekuasaan
politik yang dimiliki oleh SBY.
Lemahnya Kepemimpinan
Lemahnya kepemimpinan partai ini tidak hanya berdampak kepada partai itu
sendiri, tetapi juga berdampak kepada kepemimpinan nasional. Jamak diketahui,
partai politik memiliki fungsi rekrutmen politik yang salah satu muaranya adalah
lahirnya pemimpin-pemimpin yang unggu. Aspek ini mesti menjadi perhatian
partai politik sehingga dalam suksesi yang mereka lakukan tidak hanya
mengandalkan figure-figur lama sehingga memperlambat proses regenerasi untuk
kepemimpinan bangsa.
Mengapa partai politik sulit melahirkan pemimpin baru dari kalangan
mereka sendiri? Sulit dinafikan bahwa pertimbangan pragmatis justru menjadi
dominan dalam menetukan pemimpin partai politik. Karena itu mendudukkan
kembali figur partai dalam kepengurusan menjadi pilihan yang mudah. Bahkan
325
tidak jarang kelompok yang mendukung status quo di kepengurusan tetap ingin
memperjuangkan ketua lama karena pertimbangan keuntungan yang mereka
dapatkan. Keadaan ini jelas mengancam masa depan partai politik, terutama dari
bangunan system ideology yang ditawarkan kepada pendukungnya. Jika
ditanyakan kepada kader partai baik yang ada ditingkat wilayah maupun daerah
apakah mereka paham dengan manifesto partai poltik yang mereka ikuti, maka
akan didapati kegagapan mereka menjawabnya. Fakta ini merupakan implikasi
dari kuatnya loyalisats mereka kepada figur ketimbang loyalitas kepada partai.
Semua ini berhulu dari system ideology partai yang masih lemah sehingga
dukungan mereka kepada partai juga rendah.
Untuk masa yang akan datang, perlu kiranya disamping adanya regulasi yang
baku untuk sistem kepartaian di Indonesia, juga perlu untuk membuat aturan
internal yang mengatur tentang syarat untuk seorang dapat menjadi ketua umum
partai politik misalnya kader yang telah menjadi anggota minimal 5 (lima( tahun)
sehingga memahami misi dan visi serta platform partai yang menaunginya,
kemudian memiliki pengalaman sebagai pengurus partai politik minimal di tingkat
wilayah. Dan tak kalah pentingnya seorang calon ketua umum partai politik paling
tidak dalam proses pencalonannya perlu melakukan semacam konvensi ditingkat
daerah untuk memaparkan visi misinya sehingga kader didaerah juga bisa
melakukan penilaian terhadap calon ketua umum nya tersebut.
Hal ini merupakan salah satu cara untuk mulai menghilangkan factor figure dan
patron dalam pemilihan ketua umum partai politik dan akan membuat seluruh
kader serta pengurus di akar rumput mengenal dan mengetahui dengan benar
sosok ketua umum yang akan dipilihnya.
326
DAFTAR PUSTAKA
Amal, Ichsanul (ed), 1996, ed., Teori-Teori Mutakhir Partai Politik, Yogyakarta,
Tiara Wacana
Akbar, Faisal, 2005, Partai Demokrat dan Susilo Bambang Yudhoyono; Mencari
Jawab Sebuah Masa Depan, Jakarta, Gramedia
Boroma, suhendro, 2010, Sejarah dan Kemenangan Partai Demokrat, Jakarta, Jala
Permata, edisi revisi
Bambang Cipto, 1996. Prospek dan Tantangan Partai Politik. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar. Bobby Triadi, 2010. Kilas Balik 9 Tahun Partai Demokrat. Jakarta:
Majalah Demokrat-Dian Rakyat.
Firmansyah, 2011. Mengelola Partai Politik, Komunikasi dan Positioning Ideologi
Politik di Era Demokrasi. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Giovanni Sartori, 1976. Parties and Party System:AFrameworkforAnalysis. Cambridge:
Cambridge University Press
Kelly, Norm & Sefakor Ashiagbor, Partai Politik Dan Demokrasi Dalam Perspektif
Teoritis Dan Praktis, Kelompok Parlemen, National Democratic Institute
Mainwaring, Scott, 1998, Party System in The Third Wave, Jurnal of Democracy
Vol.9
Miriam Budiardjo, 2008. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka
Utama.
Miriam Budiardjo, 1998. Partisipasi dan Partai Politik; Sebuah Bunga Rampai.
Jakarta: Penerbit Yayasan Obor Indonesia
Maor, Moshe, 1997, Political Parties & Party Systems : Comparative Approaches &
the British Experience, London and New York, Routledge
Pahmy Sy, 2010. Politik Pencitraan. Jakarta: Gaung Persada Press.
Randall,Vicky & Svasand, 2002, Party Instituzional in New Democracies, dalam
Party Politics, Vol.8 No.1
Sanit, Arbi, Pembaharuan Mendasar Partai Politik, (dalam Mahrus Irsyam, Lili
Romli (Ed))
Surbakti,Ramlan, 1992, Memahami Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia Widiasarana
Indonesia.
Warre, Alan, 1996, Political Parties and Party Systems, New York, Oxford University
Press
SITUS INTERNET:
http://id.wikipedia.org/wiki/sistem
http://www.demokrat.or.id
327
DEMOKRASI INTERNAL PARTAI:
KETIKA PARTAI MEMILIH PEMIMPINNYA
ABSTRAK
Tulisan ini mengkaji mengenai demokrasi internal partai politik dalam hal seleksi
kepemimpinan partai. Pemimpin partai politik menempati peran sangat penting
dalam organisasi partai. Keberadaan partai tidak bisa dilepaskan dari kehadiran
pemimpinnya. Pemimpin partai politik biasanya dipilih atau diseleksi melalui
mekanisme internal partai, sekaligus menandai apakah demokrasi internal partai
berjalan. Hal itu terkait dengan bagaimana proses seleksi apakah mencerminkan
aspek-aspek seperti transparansi, akuntabilitas, maupun partisipatif. Namun,
dalam praktiknya proses seleksi kepemimpinan partai kerap belum memenuhi hal
tersebut. Menggunakan metode deskriptif dan studi literatur kajian ini
memperlihatkan proses seleksi kepemimpinan partai sebagian masih belum cukup
membuka kesempatan akan ruang kompetisi. Di antaranya, aturan seleksi yang
mengarah pada upaya melanggengkan dominasi figur atau kelompok tertentu,
sehingga tidak cukup memberikan kesempatan terbuka bagi munculnya figur lain.
Kondisi ini membuat partai cukup sulit untuk melepaskan ketergantungan dari
figur utama. Selain itu, proses seleksi juga sebagian diwarnai dengan praktik
politik uang, yang menjadikannya sebagai salah satu faktor keterpilihan seorang
pemimpin partai.
Kata Kunci:
Demokrasi Internal Partai, Seleksi Kepemimpinan, Pemimpin Partai, Aturan
Pemilihan, Politik Uang
Penulis:
Ridho Imawan Hanafi
Peneliti Pusat Penelitian Politik LIPI
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
Widya Graha, Lantai 11
Jl. Jend. Gatot Subroto 10,
Jakarta Selatan, 12710
Telepon: 081283262251
Email: [email protected]
328
DEMOKRASI INTERNAL PARTAI:
KETIKA PARTAI MEMILIH PEMIMPINNYA
Ridho Imawan Hanafi
Kata Kunci:
Demokrasi Internal Partai, Seleksi Kepemimpinan, Pemimpin Partai, Aturan
Pemilihan, Politik Uang
Pendahuluan
Seleksi pemimpin partai merupakan salah satu keputusan penting yang dibuat
partai politik. Karena pemimpin partai diasumsikan memiliki kekuasaan yang
besar dalam pembuatan berbagai keputusan-keputusan internal partai.114
Pemimpin partai adalah mereka yang berada di posisi strategis yang bisa
mendefinisikan kebijakan partai dan mempromosikan isu-isu baru yang bisa
menjadi agenda partai. Pemimpin partai adalah koordinator kegiatan partai, ia bisa
mengawasi tindakan para menteri dan anggota parlemen yang berasal dari
partainya, dan memastikan semua anggotanya mematuhi garis partai. Pendeknya,
pemimpin partai menjadi focal point dari partai politik.115 Karena posisi yang
penting seperti itu, partai politik sulit untuk tidak memberi perhatian lebih setiap
kali akan melakukan pemilihan pemimpinnya.
Pemilihan pemimpin partai merupakan salah satu bentuk dari demokrasi internal
partai. Umumnya, partai di Indonesia melewatkan proses pemilihan pemimpinnya
dengan cara menggelar kongres, musyawarah nasional, atau muktamar, yang
dilaksanakan pada periode tertentu sesuai dengan kebutuhan internal partai.
Mengingat partai bukan sebagai entitas monolitik yang di dalamnya meniscayakan
adanya silang pendapat, maka untuk mendapatkan figur yang dipercaya
memimpin partai tidaklah mudah. Sebagian partai melewatkannya dengan sebuah
kompetisi internal yang tidak jarang melahirkan kegaduhan dan menyisakan
pertentangan yang rumit.116
Sebagai ajang perebutan kekuasaan di internal partai, proses pemilihan pemimpin
partai kerap dibarengi dengan praktik yang tidak sehat bagi perkembangan partai
itu sendiri. Meskipun dalam hal ini partai juga selalu memiliki mekanisme yang
mengatur segala prosedur pemilihan pemimpin, namun bukan tidak mungkin
terbuka celah untuk melakukan upaya manipulatif. Hal ini dilakukan dengan
maksud ingin memenangkan pertarungan, melanggengkan dominasi kelompok,
atau meminggirkan kelompok lainnya. Proses pemilihan yang diharapkan
melahirkan pemimpin yang sesuai dengan mekanisme internal partai bukan lagi
William P. Cross dan Andrea Blais, Politics at the Centre: The Selection and Removal of Party
Leaders in the Anglo Parliamentary Democracies, (Oxford, United Kingdom: Oxford University Press,
2012), hlm. 1-3.
115 William Cross dan Jean-Benoit Pilet, The Politics of Party Leadership: A Cross-National
Perspective, (Oxford, United Kingdom: Oxford University Press, 2015), hlm. 1-2.
116 Ridho Imawan Hanafi, “Memilih Pemimpin Partai”, Harian Kompas, 16 Mei 2016.
114
329
menjadi ajang pembelajaran demokrasi internal karena di dalamnya justru
dilaksanakan dengan proses yang mengingkari nilai-nilai demokrasi.
Kondisi seperti itu jelas mengingkari posisi dan peran partai politik. Partai politik
merupakan lembaga kunci dalam sebuah sistem demokrasi. Ia bisa mengerahkan
dukungan pemilih untuk para calon yang diajukan, dengan maksud merebut
jabatan pemerintahan. Partai juga memadukan berbagai kepentingan untuk
menawarkan berbagai kebijakan dan pilihan alternatif untuk pemilih. Karena
posisi dan perannya itu, maka partai politik dituntut berfungsi baik salah satunya
menjalankan demokrasi internalnya dalam hal seleksi kepemimpinan partai. Nilainilai dan praktik demokrasi menjadi penting bagi partai politik, karena tidak
masuk akal jika suatu partai politik menuntut kehidupan politik yang demokratis,
namun tidak mempraktikkan demokrasi dalam tubuhnya sendiri.117
Dalam konteks tersebut, tulisan ini menjelaskan mengenai bagaimana proses
pemilihan kepemimpinan partai di Indonesia setelah era reformasi dalam
kerangka demokrasi internal partai. Terkait itu, hal apa yang bisa mempengaruhi
proses pemilihan partai dan mengapa dalam prosesnya kerap memperlihatkan
gejolak yang mengarah pada gesekan yang bisa mengancam soliditas partai. Selain
itu juga menelaah tantangan partai politik terhadap kuatnya figur utama partai
yang membuat partai cukup sulit untuk melepaskan ketergantungan pada figur
tersebut, sehingga menganggu proses regenerasi dan kaderisasi.
Demokrasi Internal Partai: Kerangka Konseptual
Demokrasi internal partai diartikan bahwa partai memiliki aturan dan prosedur
yang bersifat impersonal atau tidak tergantung pada orang atau figur untuk
menghindari terjadinya kontrol sewenang-wenang dalam pemilihan internal dan
berfungsinya partai di bawah kendali pimpinan partai atau klik tertentu. Aturan
seperti itu wajib dijalankan partai, karena jika diabaikan partai tersebut tidak akan
melembaga dan tidak demokratis. Demokrasi internal partai berarti seluruh
komponen dan fungsionaris partai mengikuti proses yang benar dan akuntabel
terhadap segenap anggota serta organ-organ yang sah tercantum dalam Anggaran
Dasar.118 Seleksi pemimpin partai sendiri merupakan salah satu fungsi utama
partai yang bisa memberikan ruang partisipasi bagi anggotanya sehingga
menghindari cara yang sangat eksklusif melalui smoked-fill rooms.119
Pentingnya partai politik menerapkan demokrasi secara internal dijelaskan Robert
Michels melalui Iron Law of Oligarchy (Hukum Besi Oligarki) yang menengarahi
bagaimana sebuah organisasi politik yang memiliki lingkup yang tidak kecil seperti
partai politik cenderung dikelola secara oligarkis, hanya dikuasai oleh segelintir
Netherlands Institute for Multiparty Democracy (NIMD), Institutional Development Handbook: A
Framework for Democratic Party-Building, (The Hague: NIMD, 2004), hlm. 11.
118 Ibid.
119 Ofer Kenig, The Democratization of Party Leaders’ Selection Methods: Canada in Comparative
Perspective, Prepared for delivery at the Canadian Political Science Association Annual Conference,
May 2009, University of Carleton, Ottawa, hlm. 1-16.
117
330
elitenya.120 Menurut Michels, organisasi sendiri pada awalnya idealistik dan
demokratis kemudian didominasi oleh sekelompok kecil pemimpin yang
menggunakan kekuasaan untuk kepentingan sendiri. Di sini, partai politik
cenderung dikelola secara oligarkis karena kegiatan sehari-hari tidak mungkin
dikelola oleh keanggotaan massal. Maka, tidak mungkin memanggil massa anggota
bersidang setiap kali partai politik hendak membuat keputusan. Hanya mereka
kalangan kecil yang memiliki kecukupan waktu memimpin dan mengarahkan
organisasi.121
Menurut William P. Cross dalam Party Leadership Selection and Intra-Party
Democracy (2013), menelaah demokrasi internal partai berarti berfokus pada
bagaimana distribusi internal kekuasaan dalam sebuah partai politik. Fokus akan
distribusi internal ini dikarenakan munculnya sejumlah kritik yang ditujukan
kepada partai politik akan pengelolaannya yang hirarkis. Pengelolaan partai
menyempit ke seorang pemimpin tunggal dan distribusi pengaruhnya hanya bisa
dinikmati oleh beberapa kalangan, dan hanya sedikit wewenang yang bisa dibagi
di antara aktivis partai.122 Hal yang kemudian mendorong agar partai politik
melakukan upaya reformasi struktur dan praktik internal partai untuk membuka
keterlibatan anggota dalam pilihan calon untuk jabatan publik, menyeleksi
pemimpin partai, serta merumuskan atau mendefinisikan kebijakan partai.123
Susan Scarrow mencatat tiga variabel yang bisa digunakan untuk
mengimplementasikan demokrasi internal. Pertama, seleksi kandidat. Merekrut
dan memilih kandidat merupakan tugas penting bagi partai, karena profil partai
selama pemilu akan banyak ditentukan oleh kandidat yang dipilih. Seleksi kandidat
terkait antara lain dengan siapa yang menentukan kelayakan kandidat, apa
prosedur yang digunakan, apakah pemimpin partai harus menominasikan dan
memilih kandidat? Kedua, seleksi pemimpin partai. Variabel ini antara lain
mencakup siapa yang bisa berpartisipasi sebagai pemilih, bagaimana batasan atau
aturan yang ditetapkan sebagai kandidat dalam pemilihan internal, siapa yang
mengawasi prosesnya? Ketiga, mengatur kebijakan partai. Siapa yang menentukan
substansi atau konten janji partai di pemilu. Selain itu juga bagaimana peran
anggota dalam partisipasinya di forum partai, pertemuan konsultasi, atau
merumuskan platform partai.124
Ramlan Surbakti dan Didik Supriyanto, Mendorong Demokratisasi Internal Partai Politik,
(Jakarta: Kemitraan bagi Pembaruan Tata Pemerintahan, 2013), hlm. 5.
121 Ibid.
122 William P. Cross, “Party Leadership Selection and Intra-Party Democracy”, dalam William, P.
Cross dan Richard S. Katz (eds), The Challenges of Intra-Party Democracy, (Oxford, United Kingdom:
Oxford University Press, 2013), hlm. 100.
123 William P. Cross dan Rizchard S Kartz, “The Challenges of Intra-Party Democracy”, dalam
William, P. Cross dan Richard S. Katz (eds), The Challenges of Intra-Party Democracy, (Oxford,
United Kingdom: Oxford University Press, 2013), hlm. 2.
124 Susan Scarrow, Political Parties and Democracy in Theoretical and Practical Perspective:
Implementing Intra-Party Democracy, (Washington DC: The National Democratic Institute for
International Affairs, 2005), hlm. 7-10.
120
331
Sementara Netherlands Institute for Multiparty Democracy (NIMD) menjelaskan
setidaknya ada beberapa hal yang perlu dilakukan partai politik dalam
melaksanakan demokrasi internal di antaranya, menyatakan secara eksplisit
dalam anggaran dasar partai mengenai nilai-nilai demokratis yang mendasar,
seperti pluralisme, toleransi, mengikutsertakan semua pihak (inklusivisme),
kesetaraan gender, dan akuntabilitas. Juga adanya keberadaan mekanisme internal
untuk menyelesaikan konflik secara demokratis dan potensi konflik. Di sini
menjadi sangat penting penerapan secara tepat anggaran dasar serta keputusankeputusan partai yang secara demokratis diterima. Juga partai menyelenggarakan
pemilihan internal partai secara berkala dan cermat, serta adanya prosedur seleksi
terbuka bagi para pejabat partai dan calon bagi jabatan publik yang dipilih.125
Dalam hal seleksi kandidat, studi Hazan dan Rahat menjelaskan bahwa terdapat
beberapa metode: selektorat (Selectorat), pencalonan (Candidacy), desentralisasi
(Decentralization), dan voting versus penunjukan (Voting vs Appointment).
Selektorat merupakan badan yang menyeleksi kandidat atau penyeleksi mereka
yang akan maju sebagai kandidat. Pencalonan, terkait dengan siapa yang dapat
menampilkan dirinya sebagai kandidat. Desentralisasi, berarti kontrol atas seleksi
kandidat beralih dari nasional ke lokal. Desentralisasi memastikan representasi
dari daerah atau lokal. Sementara voting versus penunjukkan, terkait dengan
prosedur pemungutan suara dalam memilih kandidat. Ketika selektorat adalah
pemimpin partai tunggal maka merujuk sistem penunjukan, sementara jika lebih
dari satu orang bisa sistem penunjukan atau voting.126
Yang bisa dicatat di sini adalah demokrasi internal partai menggambarkan
berbagai metode musyawarah dan mekanisme pengambilan keputusan internal.
Terdapat keragaman dan tidak ada satu rangkaian praktik yang dianggap paling
tepat dan cocok bisa diterapkan partai. Apakah penekanannya terkait partisipasi,
inklusivitas, sentralisasi, akuntabilitas atau hanya pada hasil.127 Beberapa
prosedur yang dianggap baik bisa cocok untuk beberapa keadaan tetapi tidak
untuk keadaan lainnya.128 Antara metode seleksi kandidat pemimpin dan tipe
partai politik juga bisa berpengaruh. Seperti dijelaskan dalam studi Marco Lisi,
Andre’ Freire, dan Oscar Barbera, yang memperlihatkan kaitan antara perbedaan
ideologi, organisasi, dan metode seleksi kepemimpinan partai. Selain juga
perbedaan tersebut ikut disebabkan atau dibentuk oleh sistem politik negara
bersangkutan dan waktu.129
Netherlands Institute for Multiparty Democracy, op. cit., hlm. 12.
Reuven Y. Hazan dan Gideon Rahat, “Candidate Selection: Methods and Consequences”, dalam
Richard S Katz. dan William Crotty (Eds.), Handbook of Party Politics, (London: Sage Publications,
2006), hlm. 110-113. Lihat juga Reuven Y. Hazan dan Gideon Rahat, Democracy within Parties:
Candidate Selection Methods and Their Political Consequences, (Oxford, United Kingdom: Oxford
University Press, 2010), hlm. 19-72.
127 William P. Cross dan Rizchard S Kartz, op. cit., hlm. 2.
128 Susan Scarrow, op. cit., hlm. 3.
129 Marco Lisi (et al), “Leadership Selection Methods and Party Types”, dalam William Cross dan
Jean-Benoit Pilet, The Politics of Party Leadership: A Cross-National Perspective, (Oxford, United
Kingdom: Oxford Scholarship Online: January 2016), hlm. 1-28.
125
126
332
Meskipun demokrasi internal sangat penting bagi partai, namun demokrasi partai
internal juga dianggap memiliki sejumlah risiko. Terlalu banyak demokratisasi
partai secara internal akan berakibat “overly dilute the power of a party’s inner
leadership and make it difficult for that party to keeps its electoral promise”.
Prosedur seleksi kandidat yang terlalu terbuka atau terlalu cepat dibuka akan
menciptakan konflik antar faksi dalam partai sehingga pada gilirannya akan
membuat partai menjadi organisasi yang tidak efektif, sekaligus juga akan
memperlemah kapasitas partai dalam pemilihan umum.130 Metode seleksi
kandidat yang terbuka dalam beberapa kasus justru meningkatkan kekuasaan
sekelompok kecil elite. Maurice Duverger, misalnya, melihat kontradiksi antara
demokratisasi partai politik dan efisiensi. Suatu partai mungkin saja secara
internal dikelola secara demokratis, tetapi partai “is not well armed for the
struggles of politics”.131 Sebaliknya, makin efisien pengelolaan organisasi partai,
yang berarti partai secara internal dikelola kurang demokratis, semakin efektif
partai dalam mewujudkan misinya. Namun, pandangan ini lebih dilihat dari sisi
efektivitas organisasi daripada kesesuaian apa yang dikerjakan oleh partai secara
efektif dengan aspirasi dan kehendak para anggota partai politik. Tidak dalam
segala hal demokrasi bersifat kontradiktif dengan efisiensi.132
Meskipun demokrasi internal partai bisa saja akan dinilai tidak selalu menjadi obat
mujarab (panacea), namun yang perlu ditegaskan adalah dengan demokrasi
internal partai dapat memperkuat budaya demokrasi baik dalam internal partai
maupun masyarakat.133 Bagi partai, dengan menerapkan demokrasi internal
cenderung akan memilih mereka yang memiliki kecakapan atau kompetensi yang
dikehendaki publik, bisa merumuskan kebijakan-kebijakan yang responsif, partai
bisa merekrut dan menseleksi kandidat yang baik, yang ujungnya nanti partai bisa
memetik keuntungan berupa keberhasilan mereka di pemilu. Tidak hanya itu,
demokrasi internal juga memberikan kontribusi untuk stabilitas dan legitimasi
sistem demokrasi di mana partai-partai ini bersaing dalam perebutan kekuasaan
secara positif.134
Kongres, Munas, Muktamar: Arena Pemilihan
Setiap partai politik memiliki agenda periodik dalam hal memilih atau melakukan
pergantian pemimpin. Proses yang biasa mereka namakan kongres, muktamar,
atau musyawarah nasional (munas) tersebut digelar dengan prosesi yang biasanya
mengundang publikasi besar di media massa. Karena pada momentum ini partai
melaksanakan kerja politik rutinan yang di dalamnya terdiri atas sejumlah agenda
di antaranya, memilih pemimpin partai, menilai laporan pertanggungjawaban
dewan pimpinan pusat partai, pembaruan atau revisi peraturan internal partai
(AD/ART), penetapan keputusan-keputusan penting partai, perumusan program
Ramlan Surbakti dan Didik Supriyanto, op. cit., hlm. 9.
Ibid.
132 Ibid., hlm. 10.
133 Susan Scarrow, op. cit., hlm. 3.
134 Ibid.
130
131
333
dan platform partai, dan lainnya.135 Namun, di antara sederet agenda tersebut yang
sering mendapat perhatian lebih baik dari internal maupun eksternal adalah
mengenai suksesi kepemimpinan partai.
Agenda lainnya bukan berarti tidak penting atau sekadar sebagai pelengkap
seremoni. Hanya saja, agenda memilih pemimpin memang dilihat lebih karena
posisi politik sosok yang memegang kendali kuasa tertinggi partai. Karena jika
diihat sejauh ini, apa yang berlangsung dalam kehidupan partai politik khususnya
setelah konsolidasi partai dilakukan melalui berbagai ajang rutinan tersebut lebih
banyak menunjukkan betapa menonjolnya kekuatan sosok kepemimpinan dalam
tubuh partai.136 Dalam rangka itu, ajang politik yang dianggap sebagai forum
tertinggi partai tersebut tidak saja sebagai kesempatan bagi partai politik untuk
mendapatkan pemimpin yang diinginkan, melainkan juga sebagai momentum
pertaruhan bagi partai ke depan. Karena dengan hadirnya pemimpin akan
menentukan masa depan partai, terutama dalam pemilihan umum, setidaknya
untuk periode yang ditentukan.
Di luar itu, forum tertinggi merupakan kesempatan yang bisa digunakan partai
untuk memberi peluang bagi kader-kader terbaik partai untuk maju berkompetisi
memperebutkan kursi pemimpin partai. Meskipun dalam perjalanannya pada
sebagian partai proses seperti itu tidak mudah, namun partai menjadikannya
sebagai upaya memperlihatkan bahwa partai bukan menjadi milik kelompok
tertentu. Forum juga bisa digunakan sebagai ajang partai melakukan konsolidasi
dengan melibatkan sebagian besar kader yang duduk di pengurusan partai untuk
membahas sejumlah agenda politik partai. Dengan demikian, forum tersebut
sebenarnya juga menjadi ajang menunjukkan bagaimana proses berjalannya
demokrasi internal di partai, apakah sudah sesuai dengan mekanisme yang
disepakati bersama atau sebaliknya, terutama pada agenda seleksi kepemimpinan
partai.
Sebagai sarana untuk menentukan keputusan penting, forum di atas biasanya
diikuti oleh banyak orang partai yang disebut sebagai peserta. Mereka terdiri atas
pengurus atau perwakilan partai mulai dari tingkat pusat sampai daerah.
Konsekuensi dari itu mereka biasanya juga memiliki hak bicara dan hak suara
dalam forum. Mengenai hak suara peserta dibatasi hanya untuk para perwakilan
pengurus partai yang telah mendapat mandat. Dalam hal seleksi pemilihan partai
reguler, setidaknya terdapat dua model proses yang bisa dilihat. Pertama, model
pemilihan yang melibatkan peserta forum tertinggi dan model pemilihan yang
hanya ditentukan oleh sejumlah elite partai. Pada model pertama, dilakukan
sebagian partai seperti PDIP, Partai Golkar, Partai Gerindra, Partai Demokrat, PKB,
PAN, Partai Nasdem, PPP, dan Partai Hanura. Sementara pemilihan model kedua
dilakukan oleh PKS.
Umumnya, partai politik di Indonesia menyebut bahwa kongres, muktamar, atau musyawarah
nasional sebagai forum yang memiliki kekuasaan tertinggi di partai. Forum reguler partai tersebut
disebutkan dalam peraturan internal partai dengan sejumlah wewenangnya.
136 Bastian Nainggolan dan Yohan Wahyu (Ed), Partai Politik Indonesia 1999-2019: Konsentrasi dan
Dekonsentrasi Kuasa, (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2016), hlm. 2.
135
334
Pada model pertama, seleksi kepemimpinan partai dilaksanakan dengan
melibatkan seluruh peserta yang memiliki hak suara di forum. Pemilik hak suara
adalah delegasi partai yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan yang tercantum
dalam peraturan internal partai.137 Forum seringnya juga memiliki kepanitiaan
khusus yang menangani agenda ini. Apakah nanti proses pemilihan dilaksanakan
dengan jalan pemungutan suara (voting) atau aklamasi akan terlihat dari
kebutuhan dan proses dinamika politik internal partai. Sementara pada model
kedua seperti yang dilakukan PKS, pemilihan dan penetapan pemimpin partai
tidak melibatkan sejumlah peserta dalam forum partai karena wewenang untuk
hal itu berada di tangan Ketua Majelis Syura. Majelis Syura merupakan majelis
tertinggi partai yang berfungsi sebagai lembaga Majelis Permusyawaratan Partai
dan dipimpin oleh seorang ketua.138
Ketika partai memilih untuk melakukan model pemilihan pemimpinnya dengan
melibatkan partisipasi banyak peserta di forum tertingginya, salah satu
keuntungannya proses seleksi bisa dilakukan terbuka. Tidak hanya kader partai,
publik juga bisa mengakses dinamika pemilihan, sehingga apa yang terjadi dalam
prosesnya bisa disorot. Namun, pada proses seperti ini tidak jarang dilalui dengan
persaingan yang keras, bahkan jika tidak bisa mengelolanya bisa memunculkan
keretakan internal. Sementara pilihan model kedua, proses seleksi pemimpin tidak
bisa melibatkan partisipasi yang luas dari anggota partai mengingat hal ini hanya
akan ditentukan oleh sebagian elite partai. Akibatnya, pilihan ini tidak bisa diakses
oleh kader partai yang luas apalagi publik. Namun, dalam pilihan ini salah satu
keuntungannya adalah bisa menghindarkan partai dari gesekan terbuka yang
mengganggu soliditas internalnya.
Aturan Pemilihan: Pintu Persaingan Kandidat
Dalam demokrasi internal partai politik terutama pada seleksi kepemimpinan
partai, aturan dan norma seleksi kepemimpinan akan memiliki pengaruh terhadap
proses nominasi dan capaiannya.139 Dalam hal ini partai politik itu sendiri yang
memiliki kewenangan untuk mengatur proses seleksi pemimpin mereka sebagai
praktik dari demokrasi internal. Aturan di luar konstitusi partai tidak memberi
seperangkat tata operasional akan bagaimana seleksi kepemimpinan partai.
Undang-undang mengenai partai politik sendiri, UU Nomor 2 Tahun 2011, tidak
menjelaskan detail tentang mekanisme bagaimana partai harus melaksanakan
seleksi kepengurusan. Undang-undang kepartaian cukup menyatakan bahwa
pergantian kepengurusan partai politik di setiap tingkatan dilakukan sesuai
dengan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga partai politik itu sendiri.140
Sejumlah partai politik di Indonesia mencantumkan aturan tentang kepemilikan hak suara dari
delegasi partai dalam peraturan internal mereka. Misalnya, pada Partai Demokrat. Lihat Anggaran
Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Partai Demokrat.
138 Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga PKS, Bab VII, Pasal 14.
139 William P. Cross dan Andre Blais, op. cit., hlm. 60.
140 Lihat UU Nomor 2 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008
tentang Partai Politik, pada Ketentuan Pasal 23 Ayat 1, misalnya disebutkan bahwa pergantian
kepengurusan partai politik di setiap tingkatan dilakukan sesuai dengan AD dan ART.
137
335
Dengan kata lain, partai politik memiliki kewenangan sendiri untuk mengatur
seleksi pemimpinnya, sehingga masing-masing partai prosesnya tidak seragam.
Aturan seleksi ini akan terkait dengan isu krusial seperti siapa yang membuat
aturan untuk melakukan seleksi, selain itu dari mana otoritas akan hal itu didapat.
Bagi sebagian partai politik, aturan bagaimana mereka menseleksi pemimpin
tertuang dalam konstitusi partai.141 Hanya saja, dalam konstitusi partai untuk
aturan yang lebih spesifik seringnya tidak dituangkan. Umumnya hanya
menjelaskan periodesasi kepemimpinan dan forum yang memilihnya. Kalaupun
tertuang sedikit rinci, hal itu terkait dengan penjelasan mengenai persyaratan
umum siapa yang diperbolehkan maju sebagai nominasi ketua umum. 142
Selebihnya, mekanisme pemilihan pemimpin diatur di dalam pelaksanaan forum
kekuasaan tertinggi, yakni berupa tata tertib (tatib) pemilihan.
Tata tertib pemilihan merupakan aturan krusial dalam forum tertinggi partai yang
bisa menentukan jalannya proses pemilihan pimpinan partai. Ruang pembahasan
untuk ini seringkali memuncukan kegaduhan karena pihak-pihak internal bisa
menggunakannya untuk memperebutkan pengaruh atau kepentingan mereka
terhadap rumusan aturan yang dinilai menguntungkan pihak tertentu. Apa yang
terlihat dalam Kongres PAN 2015, misalnya, rapat pembahasan tata tertib kongres
berlangsung ricuh. Kericuhan terkait munculnya pertanyaan status kepesertaan.
Status ini dinilai penting karena akan menentukan apakah mereka dapat ikut
memilih calon ketua umum atau tidak. 143 Pembahasan tata tertib juga terlihat
ricuh pada Munasub Partai Golkar 2016, tatkala menyangkut pembahasan unsurunsur yang akan menjadi pimpinan munaslub.144
Tatib pada forum partai ini sebenarnya bisa digunakan partai untuk
memperlihatkan bagaimana kualitas proses demokrasi internal partai dijalankan.
Pada tatib, aspek-aspek seperti transparansi, akuntabilitas, serta partisipasi
anggota partai dalam proses pemilihan dapat dinilai. Namun pada tatib pula juga
bisa dianggap sebagai aturan permainan untuk menyempitkan kompetisi.
Meskipun telah menghasilkan pimpinan partai dengan aklamasi, namun proses
menuju aklamasi sebenarnya tidak mulus. Hal demikian terjadi seperti pada
Kongres IV 2015 Partai Demokrat. Sebelum muncul nama SBY sebagai calon
tunggal, terdapat dua nama yang juga muncul untuk mencoba bersaing yaitu
Marzuki Alie dan Gede Pasek Suardika. Akan tetapi, keduanya gagal untuk sekadar
mendaftarkan sebagai calon ketua umum. Hal ini antara lain karena draf tatib
Kongres IV PD dinilai tidak membuka cukup ruang bagi mereka untuk
bertarung.145
William P. Cross dan Andre Blais, op. cit., hlm. 61.
Lihat Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Partai Golkar.
143 KOMPAS.COM, “RICUH, RAPAT PEMBAHASAN TATIB KONGRES PAN DISKORS”, 1 MARET 2015,
HTTP://NASIONAL.KOMPAS.COM/READ/2015/03/01/12422151/RICUH.RAPAT.PEMBAHASAN.TATIB.KO
NGRES.PAN.DISKORS, DIAKSES TANGGAL 26 JUNI 2016.
144
KOMPAS.COM,
“BAHAS
TATIB,
MUNASLUB
GOLKAR
RICUH”,
15
MEI
2016,
HTTP://NASIONAL.KOMPAS.COM/READ/2016/05/15/15105521/BAHAS.TATIB.MUNASLUB.GOLKAR.RIC
UH, DIAKSES TANGGAL 26 JUNI 2016.
145 “Memastikan Demokratisasi Parpol”, Harian Kompas, 15 Mei 2015.
141
142
336
Meskipun draf tatib saat itu belum dibahas dan disetujui, substansi dari draf itu
menjadi acuan tidak resmi dari syarat pendaftaran. Menurut Pasek, seperti dicatat
Kompas, beberapa tatib memperlihatkan peserta yang punya hak suara (untuk
dapat memilih dan dipilih) sangat terbatas. Kader dengan hak suara hanyalah
Ketua Dewan Pembina, Ketua Umum DPP, Ketua DPD (tingkat provinsi), Ketua DPC
(tingkat kota/kabupaten), Ketua Daerah Pemilihan Luar Negeri, dan organisasi
sayap yang telah disahkan. Sekilas draf tatib ini membuka kesempatan bagi ketua
DPD atau DPC, utamanya kader yang berprestasi, untuk dapat dipilih menjadi
ketua umum. Persoalannya, ada pasal-pasal lain yang mensyaratkan calon ketua
umum harus aktif di tingkat pusat dalam lima tahun terakhir.146 Selain itu,
menurut Marzuki juga terdapat pasal yang mengatur jumlah dukungan minimal 30
persen dari total pemilik hak suara yang dibuktikan dengan surat dukungan
tertulis yang distempel.147 Namun, bagi Ketua Harian demisioner saat itu, Syarif
Hasan, kongres dinilai sudah demokratis, karena arus deras desakan peserta
sebagai pemilik hak suara tidak terbendung untuk kembali memilih SBY. Apalagi,
menurut dia, ruang terbuka untuk calon lain sebenarnya sudah dibuka lebar.
Hanya saja, soal tatib, menurut Syarif forum tidak sempat membahas draf tatib
sama sekali. Hal ini yang disayangkan oleh salah seorang pendiri PD Sys NS,
mengapa tatib tidak dibahas dan ditetapkannya terlebih dahulu tatib pemilihan
ketua umum. Padahal, itulah cerminan demokrasi yang sesungguhnya. 148
Fenomena yang tidak jauh berbeda juga bisa dilihat dalam Muktamar PPP 2016.
Dalam muktamar yang disebut ajang islah untuk menyelesaikan konflik internal
PPP itu, pembahasan tatib yang mencantumkan mekanisme pemilihan ketua
umum sempat memunculkan pertentangan pendapat di antara muktamirin. Pihak
yang mempertentangkan terkait rancangan tatib yang menyebut pemilihan ketua
umum akan dilakukan aklamasi atau musyawarah mufakat. Pemilihan secara
aklamasi dilihat sebagian muktamirin adalah upaya mendorong seorang calon
menjadi ketua umum. Sementara lainnya melihat proses musyawarah lebih sesuai
dengan semangat islah yang saat ini dilakukan PPP. Proses ini berujung dengan
penetapan Romahurmuziy sebagai ketua umum PPP secara aklamasi.149 Meskipun
tatib di sini bisa dilihat sebagai jalan memuluskan seorang calon, namun dalam
kasus PPP, tampaknya juga upaya meminimalkan potensi keretakan kembali
setelah partai ini mengalami konflik internal yang panjang.
Dari Figur sampai Politik Uang
Proses pemilihan pemimpin partai mencatatkan bahwa figur menjadi salah satu
faktor yang mempengaruhi dinamika pemilihan. Sebagian partai yang
Ibid.
TEMPO .CO, “HANYA SBY YANG LOLOS TATA TERTIB JADI KETUA UMUM DEMOKRAT ”, 13 MEI 2015
HTTPS:// M .TEMPO .CO / READ/ NEWS/2015/05/13/078665987/ HANYA - SBY - YANG- LOLOS - TATA TERTIB - JADI- KETUA - UMUM - DEMOKRAT , DIAKSES TANGGAL 26 JUNI 2016.
148 Harian Kompas, 15 Mei 2015, op, cit.
149 “I SLAH UNTUK M EMBESARKAN PPP: R OMAHURMUZIY T ERPILIH SECARA A KLAMASI DI M UKTAMAR
VIII”, HARIAN KOMPAS, 10 A PRIL 2016.
146
147
337
melaksanakan pemilihan pemimpinnya dengan cara aklamasi ditengarahi karena
pengaruh sentralnya figur tertentu dalam partai. Figur tersebut bisa merupakan
tokoh yang dalam perkembangan partai kemudian bertransformasi menjadi sosok
kuat, juga bisa figur yang bermula sebagai pendiri dan pemimpin dari partai yang
bersangkutan. Karena kuatnya figur tersebut, partai kemudian akan cenderung
sulit melepaskan ketergantungan pada dirinya. Dalam perkembangannya, figur
kuat dalam partai seolah mewujud menjadi “simbol” partai itu sendiri. Bahkan
ketika figur tersebut tidak berada dalam kepemimpinan eksekutif partai
pengaruhnya dalam hal pemilihan pemimpin partai masih belum sepenuhnya
sirna. Di luar itu, peranan figur juga akan berpengaruh pada keterpilihannya ketika
dinilai mampu membawa partai pada masa depan yang lebih baik.
Sosok sentral partai itu terlihat pada Megawati yang untuk kesekian kalinya masih
menjabat sebagai ketua umum PDIP (1999-2020). Prabowo yang terpilih sebagai
ketua umum Gerindra (sejak September 2014), namun partai ini semenjak
pendiriannya identik dengan Prabowo. Hal yang tidak berbeda juga terlihat pada
Hanura dengan sosok ketua umum Wiranto yang tiga periode (sejak 2006 hingga
2020) menjabat. Demikian halnya pada Partai Demokrat dengan SBY yang terpilih
untuk menjadi ketua umum Demokrat (2015-2020), partai yang sejak berdiri ini
diidentikkan dengan diri dan kepentingan politiknya. Serta Partai Nasdem yang
identik dengan ketua umumnya Surya Paloh (2013-2018).150 Karena dianggap
sebagai figur sentral, terpilihnya mereka sebagai pemimpin partai dalam setiap
kali periode pemilihan di forum tertingginya dilakukan melalui aklamasi.
Pada PDIP, Megawati adalah figur yang masih dipercaya sebagai “Ibu” dan tokoh
pemersatu atau perekat partai.151 Pada Kongres IV PDIP 2015, Megawati kembali
sebagai calon tunggal. Pencalonan ini menurut PDIP sudah dibahas dan disepakati
dalam konferensi daerah dan konferensi cabang PDI-P yang diadakan di tingkat
provinsi dan kabupaten/kota. Menurut kader PDIP Maruarar Sirait, kader di
daerah dan pusat sepakat membutuhkan sosok Megawati sebagai pemersatu
partai.152 Dengan kuatnya figur Megawati itulah setiap kali PDIP melaksanakan
kongres dinilai sejumlah analis hanya sebagai forum seremoni pengukuhan
kembali dirinya sebagai ketua umum. Karena jika berbicara suksesi di kongres
PDIP, kongres sesungguhnya telah usai sebelum dimulai.153 Dalam kongres nyaris
tidak ada suasana kompetitif yang memperlihatkan adanya persaingan
memperebutkan posisi ketua umum.
Tabel 1. Sejumlah Partai dan Figur Utamanya
Partai
PDIP
Ketua Umum
Megawati Soekarnoputri (1998-2020)
Pemilihan
Aklamasi
Bastian Nainggolan dan Yohan Wahyu (Ed), op, cit., hlm. 2.
Ibid, hlm, 104.
152 Megawati Kembali Dikukuhkan”, Harian Kompas, 9 April 2015.
153 Hanta Yuda, Kongres Pengukuhan Politik Dinasti, Koran Tempo, 10 April 2010, dalam
http://www.unisosdem.org/article_detail.php?aid=11811&coid=3&caid=31&gid=2,
diakses
tanggal 27 Juni 2016.
150
151
338
Partai Gerindra
Partai Demokrat
Prabowo Subianto (2014-2019)
Aklamasi
Susilo Bambang Yudhoyono (2015- Aklamasi
2020)
Partai Hanura
Wiranto (2006-2020)
Aklamasi
Partai Nasdem
Surya Paloh (2013-2018)
Aklamasi
Sumber: diolah dari Bastian Nainggolan dan Yohan Wahyu (Ed), Partai Politik
Indonesia 1999-2019: Konsentrasi dan Dekonsentrasi Kuasa, (Jakarta: Penerbit
Buku Kompas, 2016), dan berbagai sumber.
Partai Gerindra dengan figur Prabowo Subianto memperlihatkan hal yang tidak
jauh berbeda. Partai ini sulit dipisahkan dari Prabowo. Dalam perkembangannya,
Gerindra adalah Prabowo dan suara Prabowo adalah sikap Gerindra. Sosok
Prabowo yang identik dengan Gerindra tercermin dalam pengambilan keputusan
partai yang tidak dapat diepaskan dari sikap Prabowo selaku individu. 154 Prabowo
sebelumnya menjabat sebagai ketua dewan pembina partai. Setelah ketua umum
Suhardi meninggal, Prabowo terpilih secara aklamasi sebagai ketua umum pada
2014. Demikian halnya juga terjadi pada Partai Hanura dengan figur utamanya
Wiranto. Sosoknya belum tergantikan di partai. Ia terpilih aklamasi dalam munas
2015. Menurut kader Hanura Syaridudin Sudding, Wiranto adalah sosok yang bisa
menjadi pemersatu kader. Ketika terjadi perbedaan pandangan di internal partai,
Wiranto adalah figur sentral.155
Corak yang mirip juga ditunjukkan Partai Demokrat. Sebagai partai yang salah satu
tujuan pendiriannya untuk memuluskan dan menjaga langkah politik SBY dengan
sendirinya corak kepemimpinan partai tidak dapat dilepaskan dari sosok
kepemimpinan SBY. Meskipun dalam awal pendiriannya SBY tidak secara formal
menduduki jabatan partai, namun bukan berarti pengaruh langsungnya tidak
terasa. Bahkan pada tahun 2015, SBY sendiri yang memimpin langsung partai
setelah terpilih aklamasi, sekaligus menguasai berbagai jabatan kunci partai.156
Demikian halnya dengan keberadaan sosok Surya Paloh di Partai Nasdem. Ia
merupakan penggagas awal dan pendiri ormas dan Partai Nasdem. Tumbuh dan
kembangnya partai sangat bergantung pada sosoknya. Maka tidak heran jika
kemudian pada Kongres I Partai Nasdem 2013 mengukuhkannya sebagai ketua
umum.157
Meskipun bukan sosok sentral partai seperti pada partai-partai yang disebut
sebelumnya, aklamasi juga terjadi pada keterpilihan Muhaimin Iskandar sebagai
ketua umum PKB (2014-2019).158 Demikian halnya penetapan Romahurmuziy
sebagai ketua umum PPP untuk periode 2016-2021.159 Muhaimin dan
Bastian Nainggolan dan Yohan Wahyu (Ed), op, cit., hlm. 137.
Viva.co.id, “Hanura Masih Sangat Tergantung Wiranto: Belum ada sosok lain di tubuh partai itu
siap menjadi suksesornya”, 11 Februari 2015, http://politik.news.viva.co.id/news/read/588608hanura-masih-sangat-tergantung-wiranto, diakses tanggal 8 Mei 2015.
156 Bastian Nainggolan dan Yohan Wahyu (Ed), op, cit., hlm. 153.
157 Ibid, hlm. 42-43.
158 “M UHAIMIN T ERPILIH A KLAMASI P IMPIN PKB”, H ARIAN K OMPAS , 2 S EPTEMBER 2014.
159 H ARIAN KOMPAS , 10 A PRIL 2016, OP , CIT .
154
155
339
Romahurmuziy sebagaimana diketahui bukanlah sebagai figur sentral di mana
partai teridentik dengan sosoknya. Namun, pada Muhaimin misalnya, dianggap
oleh sebagian besar kader PKB sebagai figur yang bisa membawa partai yang saat
ini cukup solid dan diperhitungkan.160 Di luar aklamasi, pengaruh figur juga bisa
terjadi dalam proses pemilihan pemimpin yang terbuka dengan melalui proses
yang lebih kompetitif dan diikuti jalan pemungutan suara. Pengaruh seperti itu
tergambar di antaranya pada sosok Amien Rais dalam PAN. Sejak dideklarasikan
nama Amien Rais masih tampak dominan dan mampu memberikan warna
tersendiri di partai.161
Sebagai salah satu deklarator dan ketua umum pertama PAN, selama ini Amien
menjadi simbol tokoh yang relatif kuat dan mengakar di partai. Ketokohan Amien
di PAN juga bisa dilihat pada kebijakan dan arah haluan partai. Dari hasil dua
kongres PAN terakhir, ketua umum terpilih hampir tidak lepas dari peran dan
pengaruh Amien. Dalam Kongres PAN II, 2005, Amien berperan besar atas
terpilihnya Soetrisno Bachir sebagai ketua umum periode 2005-2010. Hal yang
sama terjadi pada terpilihnya Hatta Rajasa sebagai ketua umum dalam Kongres III
PAN 2010. Sementara Kongres IV PAN 2015, Amien juga terlihat ikut andil dalam
terpilihnya Zulkifli Hasan. Amien beberapa kali menghadiri deklarasi dukungan
untuk Zulkifli Hasan sebagai calon ketua umum PAN.162 Zulkifli Hasan pada
akhirnya berhasil memenangi pemilihan posisi ketua umum PAN periode 20152020 setelah melalui persaingan yang ketat dengan Hatta Rajasa.163
Selain figur, faktor lain yang bisa berpengaruh dalam memainkan dinamika
terpilihnya seorang menjadi ketua umum partai adalah isu politik uang. Salah
satunya hal ini didorong karena dalam proses pemilihan sebagaimana diatur
dalam konstitusi sebagian besar partai politik bahwa yang memiliki suara untuk
memilih ketua umum adalah peserta forum. Dalam hal ini delegasi partai yang
terdiri atas pengurus partai dari pusat sampai cabang. Jumlah delegasi tersebut
sesuai dengan jumlah propinsi, serta kabupaten dan kota. Dengan jumlah yang
besar maka memerlukan upaya kandidat untuk merebut simpati mereka, terutama
pengurus pada level cabang. Oleh karena itu, siapa yang hendak terpilih menjadi
ketua umum harus ‘menggarap’ suara dari delegasi partai di tingkat itu.
Penggunaan uang untuk mempengaruhi pengurus partai dalam hal ini bisa ketua
cabang di daerah menjadi sangat rentan baik untuk biaya transportasi dan
akomodasi maupun hadiah dan fasilitas lainnya.164
Fenomena isu politik uang terlihat dalam sejumlah pemilihan pimpinan partai,
seperti yang terjadi dalam Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Partai
Golkar 2016. Dalam gelaran tersebut bahkan panitia secara terang mematok
persyaratan jumlah nominal tertentu bagi kader yang ingin mengadu peruntungan
HARIAN KOMPAS, 2 SEPTEMBER 2014, OP, CIT.
Bastian Nainggolan dan Yohan Wahyu (Ed), op, cit., hlm. 169.
162 “Menjaga Sinar Politik Sang Matahari”, Harian Kompas, 2 Maret 2015.
163 “Zulkifli: Semua Harus Bersatu Kembali”, Harian Kompas, 2 Maret 2015.
164 Ramlan Surbakti dan Didik Supriyanto, op. cit., hlm. 26.
160
161
340
sebagai calon ketua umum Partai Golkar.165 Sejumlah bakal calon ketua umum
mencari dukungan kepada sejumlah pengurus Golkar di daerah. Pada saat itulah
dugaan praktik politik uang dan jual beli dukungan suara terjadi. Golkar memiliki
533 dewan pimpinan daerah (DPD) yang terdiri dari DPD I (provinsi) dan DPD II
(kota/kabupaten). Untuk maju sebagai calon ketua umum, seorang kandidat harus
didukung oleh 30 persen pengurus daerah atau setidaknya 160 dukungan dari
daerah. Maka, menurut kader Golkar Agun Gunandjar, selama model dukungan
dari DPD terhadap kandidat selalu menggunakan surat pernyataan dukungan, bisa
dikatakan tidak ada yang gratis. Untuk itu, potensi politik uang menjadi rawan
terjadi.166
Kekuatan finansial calon menjadi hal yang diperhitungkan dalam perebutan ketua
umum Golkar. Hal ini diakui Fadel Muhammad bahwa kekuatan finansial masih
menjadi pertimbangan dalam menentukan calon ketua umum, karena seorang
ketua umum harus mampu membiayai diri dan organisasinya.167 Politik uang,
menurut Ikrar Nusa Bhakti, memang sudah menjadi the name of the game dalam
setiap pemilihan ketua umum Partai Golkar di era reformasi, khususnya sejak
head-to-head antara Akbar Tandjung dan Jusuf Kalla pada Munas Bali 2004, dan
antara Aburizal Bakrie vs Surya Paloh pada Munas Riau 2009.168 Jeffrey A. Winters
juga mencatat betapa praktik politik uang telah terjadi pada Munas Golkar di Bali
2004.169 Sementara dalam Munas Golkar 2009, politik uang juga diduga kuat
terjadi. Saat itu, harga untuk satu suara ditengarai dapat mencapai ratusan juta
rupiah. Kandidat ketua umum saat itu juga mengeluarkan banyak uang untuk
memfasilitasi pendukung dari DPD tingkat I dan II selama munas.170
Praktik politik uang juga mewarnai gelaran Kongres II Partai Demokrat 2010.
Kongres sebelumnya sempat mendapat banyak pujian dari publik mengingat
pelaksanaannya berlangsung cukup demokratis. Kongres memunculkan Anas
Urbaningrum sebagai ketua umum partai setelah memenangkan persaingan
dengan Marzuki Alie dan Andi Mallarangeng. Namun, setelah itu kongres
ditengarahi telah terjadi praktik politik uang.171 Politik uang dalam kongres
terungkap setelah Muhammad Nazaruddin yang ketika itu sebagai bendahara
umum yang menjadi tersangka kasus korupsi mengungkapkan dalam fakta
persidangan bahwa ia menggelontorkan uang untuk pemenangan tiga kandidat
ketua umum Partai Demokrat saat itu, yakni Anas, Andi, dan Marzuki. Uang yang
Kompas.com, “Munaslub Golkar, Kongres Demokrat, dan "Hujan" Duit...”, 29 April 2016,
http://nasional.kompas.com/read/2016/04/29/11174471/Munaslub.Golkar.Kongres.Demokrat.d
an.Hujan.Duit.?page=all, diakses 27 Juni 2016.
166 “M UNAS L UAR B IASA G OLKAR : DUGAAN P OLITIK U ANG M ULAI M ENCUAT ,” H ARIAN K OMPAS , 10
FEBRUARI 2016.
167 “F INANSIAL I KUT M ENENTUKAN , A NTISIPASI P OTENSI P OLITIK U ANG DALAM M UNAS L UAR B IASA
GOLKAR”, HARIAN KOMPAS, 9 FEBRUARI 2016.
168 I KRAR N USA B HAKTI , “P OLITIK U ANG M UNASLUB G OLKAR ”, H ARIAN K OMPAS , 27 A PRIL 2016.
169 Jeffrey A. Winters, Oligarki, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2011), hlm. 279-280.
170 H ARIAN KOMPAS , 10 F EBRUARI 2016, OP , CIT .
171
Kompas.com,
“Setelah
Kongres
Demokrat
2010,
21
Maret
2013,
http://nasional.kompas.com/read/2013/03/21/12205299/Setelah.Kongres.Demokrat.2010,
diakses tanggal 27 Juni 2016.
165
341
dipakai Nazaruddin tersebut diakui hasil korupsi dari proyek pemerintah.172 Kasus
ini yang kemudian membawa Anas untuk berhenti menjadi ketua umum partai.
Politik uang dalam pemilihan sejumlah pemimpin partai memuat kecenderungan
bahwa hanya kandidat yang memiliki kekuatan modal besar yang akan
diuntungkan. Karena mereka ini yang bisa dengan leluasa menggunakan modalnya
untuk meraih simpati para pemilik suara. Dengan besarnya pengaruh politik uang
membuat kemampuan kandidat di luar modal finansial bisa menjadi tidak
signifikan. Dalam arti lain, partai memilih pemimpinnya tidak berdasarkan
pertimbangan seperti halnya meritokrasi. Dengan kondisi ini kehadiran ideologi,
visi, dan program dari kandidat yang akan bersaing tidak akan terlalu
dikedepankan. Pendeknya, pertimbangan transaksional telah membuat partai
sebagian menjadi pragmatis dalam hal pemilihan terhadap kandidat pemimpinnya.
Memperluas Ruang Kompetisi: Tantangan Partai
Ketika partai melaksanakan proses seleksi kepemimpinan di internal partai
dengan demikian mengkondisikan partai sedang berada dalam tantangan dan
ujian apakah demokrasi internal dapat berjalan. Derajat inklusifitas pemilihan
setidaknya digambarkan secara kontinum bahwa pada satu titik ditempati oleh
sekelompok kecil elite atau penguasa partai, sementara di titik lain adalah para
pendukung partai yang akan membuat pilihan dalam pemilihan umum.173 Bisa
diartikan bahwa sekelompok elite atau penguasa partai tersebut yang bisa
membuat keputusan atau menentukan kebijakan partai. Sementara para anggota
partai tidak cukup memiliki peran dalam proses pengambilan keputusan,
melainkan hanya berperan sebagai pemilih dalam pemilihan umum.174 Peran
anggota partai di sini dapat dikatakan terbatas, padahal dalam keanggotaan
memegang peran kunci untuk melakukan pengawasan dan keseimbangan di
partai.175
Sekelompok kecil penguasa partai itulah yang seringnya menentukan proses
seleksi kepemimpinan partai. Sehingga sering terlihat bahwa hanya kandidat
tertentu yang terlibat dalam kompetisi internal di sejumlah partai. Selain aspek itu,
ketergantungan pada figur juga masih mewarnai banyak partai. Memilih figur yang
sama dalam beberapa periode kepemimpinan memperlihatkan betapa partai
kemudian menjadi identik dengan figur yang bersangkutan. Akibatnya, partai akan
berhadapan dengan tantangan apakah tetap meletakkan figur kuat sebagai faktor
penentu dalam masa depan berikutnya atau mengarahkan partai pada proses
institusionalisasi, di mana figur bukan menjadi satu-satunya poros sentralnya.
Semestinya, partai yang terlembagakan dengan baik meminjam Mainwaring dan
Kompas.com, 29 April 2016, op, cit.
William Cross dan Andre´ Blais, “Who selects the party leader?”, Party Politics, Vol.18 (2), 2012,
hlm. 127–150.
174 Ramlan Surbakti dan Didik Supriyanto, op. cit., hlm. 37.
175 Netherlands Institute for Multiparty Democracy, op. cit., hlm. 11.
172
173
342
Scully, salah satunya adalah organisasi kepartaian tidak menjadi subordinasi dari
kepentingan pemimpinnya.176
Ketika partai masih terus bergantung pada figur tertentu tantangan lainnya adalah
pada proses regenerasi dan kaderisasi kepemimpinan. Karena dalam batas-batas
tertentu pengaruh figur tidak akan bisa bertahan lama. Partai yang tetap
menginginkan eksistensinya bisa bersaing dengan lainnya perlu melihat
regenerasi dan kaderisasi sebagai hal yang mendesak dilakukan. Dalam hal ini,
yang dilakukan partai adalah lebih memperluas kesempatan bagi para kadernya
untuk tampil dalam ajang kompetisi internal mereka. Bukan sebaliknya, partai
menutup kesempatan mereka untuk bersaing. Kader yang dinilai potensial bisa
mendapat ruang lebih dalam beraktualisasi. Jika ruang ini tidak dibuka, apa yang
terjadi adalah kaderisasi di pucuk utama pimpinan partai politik berjalan lamban,
sehingga membuat sejumlah partai dipimpin tokoh senior dan sebagian dari ketua
umum partai itu telah berkali-kali memimpin partainya.177
Perluasan partisipasi akan demokrasi internal partai tersebut juga sebagai upaya
untuk meminimalisir adanya potensi konflik yang bisa mengganggu soliditas
partai. Bukan tidak mungkin ketidakcukupan ruang kompetisi maupun prosesnya
yang dinilai tidak demokratis akan menimbulkan benih konflik di antara kader
partai. Konflik bisa berujung pada keluarnya mereka dari keanggotaan partai atau
bisa mendirikan partai baru yang bisa menampung aspirasi politiknya.178 Saat ini
terjadi, partai akan bisa mengalami kerugian karena mereka tidak saja akan
kehilangan sejumlah kader, namun lebih jauh partai akan mengurangi potensi
perolehan suara dalam pemilihan umum. Di sinilah tantangan partai tidak saja
dalam proses seleksi pemimpinnya namun juga bagaimana mengelola persaingan
pasca pemilihan, sehingga tidak merugikan internal partai.
Penutup
Pemimpin partai politik menempati posisi dan peran yang sangat strategis dalam
kehidupan partai politik. Masa depan partai politik banyak ditentukan oleh siapa
pemimpin mereka. Oleh karena itu, setiap kali partai politik memilih pemimpinnya
menjadi momentum yang krusial bagi dinamika internal partai. Memilih pemimpin
partai merupakan salah satu pelaksanaan dari demokrasi internal partai. Yang
memiliki artian bahwa proses itu mengandung prinsip bahwa partai dikelola
bukan berdasarkan kontrol atau kendali kelompok tertentu, melainkan dengan
aturan dan prosedur yang memungkinkan adanya keterlibatan seluruh komponen
dan fungionaris partai untuk mengikuti proses yang menjadi pegangan partai.
Dengan kata lain, demokrasi internal merupakan mekanisme pengambilan
Scott Mainwaring dan Timothy R Scully, Building Democratic Institutions: Party Systems in Latin
America, (Stanford, California: Stanford University Press, 1995), hlm. 5.
177 “Parpol Jadi Alat Tokoh Tertentu”, Harian Kompas, 18 Mei 2015.
176
Sebagian proses seleksi kepemimpinan partai diikuti konflik persaingan yang tajam, yang
eksesnya bisa menimbulkan perpecahan. Salah satu ujungnya ditandai dengan keluarnya para
kader partai yang lalu kemudian mereka ini juga bisa mendirikan partai politik baru yang dinilai
lebih bisa menjadi wadah aspirasi politik mereka.
178
343
keputusan internal dengan menekankan aspek seperti partisipasi, transparansi,
maupun inklusivitas.
Pada pelaksanaan demokrasi internal dalam hal ini seleksi kepemimpinan partai,
yang terjadi sejauh ini bahwa keputusan-keputusan penting partai lebih banyak
ditentukan oleh kelompok kecil partai, sementara peran anggota tidak terlalu
menonjol. Sebagian partai yang melakukannya melalui ajang yang biasa mereka
sebut sebagai forum kekuasaan tertinggi partai juga masih memperlihatkan
adanya ketergantungan pada figur tertentu. Dengan sentralnya figur seperti itu
kerapkali proses seleksi kepemimpinan kemudian menjadi tidak cukup memberi
kesempatan adanya kompetisi internal dalam memperebutkan posisi tertinggi
partai. Selain itu, proses pemilihan pemimpin partai sebagian juga ditandai oleh
praktik politik uang. Praktik ini mengartikan bahwa keterpilihan seseorang lebih
dipengaruhi oleh kekuatan finansial dari para kandidat.
344
Daftar Pustaka
Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Partai Demokrat.
Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Partai Golkar.
Bhakti, Ikrar Nusa, 2016. “Politik Uang Munaslub Golkar”, Harian Kompas, 27 April.
Cross, William P. dan Andrea Blais, 2012. Politics at the Centre: The Selection and
Removal of Party Leaders in the Anglo Parliamentary Democracies, Oxford,
United Kingdom: Oxford University Press.
CROSS, WILLIAM DAN ANDRE´ BLAIS, 2012. “WHO SELECTS THE PARTY L EADER ?”, PARTY
POLITICS, VOL.18 (2).
CROSS, WILLIAM P., 2013. “PARTY LEADERSHIP SELECTION AND INTRA-P ARTY
DEMOCRACY”, DALAM WILLIAM, P. CROSS DAN RICHARD S. KATZ (EDS), THE
CHALLENGES OF INTRA-PARTY DEMOCRACY, OXFORD, UNITED KINGDOM: OXFORD
UNIVERSITY PRESS.
Cross, William P. dan Rizchard S Kartz, 2013. “The Challenges of Intra-Party
Democracy”, dalam William, P. Cross dan Richard S. Katz (eds), The
Challenges of Intra-Party Democracy, Oxford, United Kingdom: Oxford
University Press.
Cross, William dan Jean-Benoit Pilet, 2015. The Politics of Party Leadership: A CrossNational Perspective, Oxford, United Kingdom: Oxford University Press.
Hanafi, Ridho Imawan, 2016. “Memilih Pemimpin Partai”, Harian Kompas, 16 Mei.
HARIAN KOMPAS, “FINANSIAL IKUT MENENTUKAN , ANTISIPASI POTENSI P OLITIK UANG
DALAM MUNAS LUAR BIASA GOLKAR”, 9 FEBRUARI 2016.
HARIAN KOMPAS, “ISLAH UNTUK MEMBESARKAN PPP: ROMAHURMUZIY TERPILIH SECARA
AKLAMASI DI MUKTAMAR VIII”, 10 APRIL 2016.
Harian Kompas, “Megawati Kembali Dikukuhkan”, 9 April 2015.
Harian Kompas, “Memastikan Demokratisasi Parpol”, 15 Mei 2015.
Harian Kompas, “Menjaga Sinar Politik Sang Matahari”, 2 Maret 2015.
HARIAN KOMPAS, “MUHAIMIN TERPILIH AKLAMASI PIMPIN PKB”, 2 S EPTEMBER 2014.
HARIAN KOMPAS, “MUNAS LUAR BIASA GOLKAR: DUGAAN POLITIK UANG MULAI MENCUAT,”
10 F EBRUARI 2016.
Harian Kompas, “Parpol Jadi Alat Tokoh Tertentu”, 18 Mei 2015.
Harian Kompas, “Zulkifli: Semua Harus Bersatu Kembali”, 2 Maret 2015.
Hazan, Reuven Y. dan Gideon Rahat, 2006. “Candidate Selection: Methods and
Consequences”, dalam Richard S Katz. dan William Crotty (Eds.), Handbook
of Party Politics, London: Sage Publications.
Hazan, Reuven Y. dan Gideon Rahat, 2010. Democracy within Parties: Candidate
Selection Methods and Their Political Consequences, Oxford, United Kingdom:
Oxford University Press.
Kenig, Ofer. 2009. The Democratization of Party Leaders’ Selection Methods: Canada
in Comparative Perspective, Prepared for delivery at the Canadian Political
Science Association Annual Conference, May 2009, University of Carleton,
Ottawa.
Kompas.com,
2013.
“Setelah
Kongres
Demokrat
2010,
http://nasional.kompas.com/read/2013/03/21/12205299/Setelah.Kongres.
Demokrat.2010, diakses tanggal 27 Juni 2016.
345
Kompas.com, 2015. “Ricuh, Rapat Pembahasan Tatib Kongres PAN Diskors”,
http://nasional.kompas.com/read/2015/03/01/12422151/Ricuh.Rapat.Pe
mbahasan.Tatib.Kongres.PAN.Diskors, diakses tanggal 26 Juni 2016.
Kompas.com,
2016.
“Bahas
Tatib,
Munaslub
Golkar
Ricuh”,
http://nasional.kompas.com/read/2016/05/15/15105521/Bahas.Tatib.Mu
naslub.Golkar.Ricuh, diakses tanggal 26 Juni 2016.
Kompas.com, 2016. “Munaslub Golkar, Kongres Demokrat, dan "Hujan" Duit...”,
http://nasional.kompas.com/read/2016/04/29/11174471/Munaslub.Golka
r.Kongres.Demokrat.dan.Hujan.Duit.?page=all, diakses 27 Juni 2016.
Lisi, Marco (et al), 2016. “Leadership Selection Methods and Party Types”, dalam
William Cross dan Jean-Benoit Pilet, The Politics of Party Leadership: A CrossNational Perspective, Oxford, United Kingdom: Oxford Scholarship Online.
MAINWARING, SCOTT DAN TIMOTHY R S CULLY, 1995. BUILDING DEMOCRATIC
INSTITUTIONS: PARTY SYSTEMS IN LATIN AMERICA, STANFORD, CALIFORNIA:
STANFORD UNIVERSITY P RESS.
Nainggolan, Bastian dan Yohan Wahyu (Ed), 2016. Partai Politik Indonesia 19992019: Konsentrasi dan Dekonsentrasi Kuasa, Jakarta: Penerbit Buku Kompas.
Netherlands Institute for Multiparty Democracy (NIMD), 2004. Institutional
Development Handbook: A Framework for Democratic Party-Building, The
Hague: NIMD.
Scarrow, Susan, 2005. Political Parties and Democracy in Theoretical and Practical
Perspective: Implementing Intra-Party Democracy, Washington DC: The
National Democratic Institute for International Affairs.
Surbakti, Ramlan dan Didik Supriyanto, 2013. Mendorong Demokratisasi Internal
Partai Politik, Jakarta: Kemitraan bagi Pembaruan Tata Pemerintahan.
Tempo.co, 2015. “Hanya SBY yang Lolos Tata Tertib Jadi Ketua Umum Demokrat”,
https://m.tempo.co/read/news/2015/05/13/078665987/hanya-sby-yanglolos-tata-tertib-jadi-ketua-umum-demokrat, diakses tanggal 26 Juni 2016.
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Undang-Undang
Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik.
Viva.co.id, 2015. “Hanura Masih Sangat Tergantung Wiranto: Belum ada sosok lain
di
tubuh
partai
itu
siap
menjadi
suksesornya”,
http://politik.news.viva.co.id/news/read/588608-hanura-masih-sangattergantung-wiranto, diakses tanggal 8 Mei 2015.
Winters, Jeffrey A., 2011. Oligarki, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Yuda, Hanta, 2010. “Kongres Pengukuhan Politik Dinasti”, Koran Tempo, 10 April,
http://www.unisosdem.org/article_detail.php?aid=11811&coid=3&caid=31
&gid=2, diakses tanggal 27 Juni 2016.
346
Biodata Singkat Penulis:
Ridho Imawan Hanafi, S.Sos, M.I.P. Menyelesaikan pendidikan S1 Jurnalistik,
Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Dr. Soetomo, Surabaya (2005). Melanjutkan
S2 Ilmu Politik di Departemen Ilmu Politik, FISIP, Universitas Indonesia (2013).
Pada 2008-2014 penulis sebagai peneliti di Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS),
Jakarta. Pada 2015- sekarang, sebagai peneliti di Pusat Penelitian Politik Lembaga
Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Bidang kajian yang diminati adalah partai
politik dan demokrasi. Selain melaksanakan kegiatan penelitian di bidangnya, juga
aktif menulis di media massa seperti Harian Kompas, Koran Tempo, Media
Indonesia, Suara Pembaruan, Suara Merdeka, dan lainnya. Penulis dapat dihubungi
melalui email: [email protected]
347
Pemilihan Ketua Partai Dari Sudut Hak Politik Minoritas: Studi Perbandingan
Indonesia dan Belanda
Awaludin Marwan
Peneliti pada Satjipto Rahardjo Institute
Abstrak
Klientelisme dalam pertumbuhan organisasi modern, seperti partai politik,
memang sangat merugikan (Indridason, 2005; Robinson&Verdier, 2013;
Brinkerhoff&Goldsmith; Hopkin, 2006; Roniger, 2004). Saat sanak keluarga diajak
berbondong-bondong masuk struktural Partai, membuat kolega layaknya kroni
eksklusif, jabatan ketua partai dipeluk erat seperti harta warisan dan tubuhnya itu
sendiri. Jelas, klientelisme itu juga adalah patologi dari demokrasi yang sulit raib.
Paper ini akan menceritakan bagaimana klientelisme juga menyumbat rotasi
pimpinan partai politik di Indonesia dan Belanda. Banyak anggota partai yang
pada akhirnya dikebiri hak politiknya. Anggota partai hanyalah pion-pion yang
dimainkan dalam papan catur politik saja. Karir politiknya dipenggal, hanya
diperbolehkan juru ketik dan pembawa tas sang ketua. Posisi kelompok minoritas
semakin terpojok, seperti ditakdirkan untuk terus menunggu. Belanda sudah
cukup progresif membuka warna kulit untuk pos penting Partai. Politisi keturunan
Maroko, Suriname, Turki, dst bahkan Ketua Parlemen (Twedee Kamer)-nya yang
berasal dari Partai Buruh (PvdA) Khadija Arib adalah warga keturunan Maroko
yang bersahaja. Namun mereka juga masih sulit menembus bursa kandidat puncak
dalam kontes pilihan ketua Partai. Sementara di Indonesia, minoritas perlu
diangkat posisinya, membayangkan suatu hari akan muncul pemimpin dari warga
Indonesia keturunan Tionghoa, Arab, India, dst. Politik asli yang kabur itu, masih
mendominasi di tubuh partai besar, seperti Golkar, PDI-P, Partai Demokrat, dst.
Bahkan Partai yang berhaluan Islam lebih kolot. Mengimpikan jabatan ketua Partai
adalah hak semua warga tanpa melihat latar belakang keturunan, warna kulit, dst.
Kata kunci : Ketua Partai, Klientelisme, Minoritas
Pendahuluan
Indonesia dan Belanda punya kemiripan soal sistem politik hukum tentang
kepartaian, multipartai. Sejak pemilu pertama di Indonesia, multipartai sudah
dikembangkan oleh kelompok kerja komite nasional pusat pada tahun 1951, 179 era
Adnan Buyung Nasution. The Aspiration for Constitutional Government in Indonesia. A Sociolegal study of the Indonesian Konstituante 1956-1959. (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1992).
Bang Buyung, panggilan akrab Adnan Buyung Nasution menceritakan dalam disertasinya tentang
Kelompok Kerja Komiter Nasional Pusat pada tanggal 3 Novermbe 1945, yang ditanda-tangani oleh
Wakil Presiden Mohamad Hatta yang akan membangun sistem multipartai, yang menolak sistem
satu partai dalam sebuah negara, bahwa 1) negara akan mendorong tumbuh kembangnya partai
politik yang mencerminkan banyaknya haluan dalam tubuh masyarakat; 2) pemerintah akan
memfasilitasi sebuah pemilihan yang demokratis untuk membentuk sebuah parlemen pada Januari
1946., p. 21
179
348
politik pluralistik dengan variasi aliran ideologis tumbuh. 180 Sementara Belanda
juga sudah memiliki tradisi lama soal politik multipartai sejak tahun 1879,181
itupun terus menjamur partai baru dalam pentas perpolitikan.182 Setelah
berkembangnya tradisi multipartai yang konon dianggap sistem yang demokratis,
apakah dalam tubuh masing-masing partai ini berlangsung demokratisasi soal
pergantian elite? Bagaimana posisi minoritas dalam percaturan subtitusi Ketua
Partai?
Dalam paper ini akan menyoal masalah rotasi kepemimpinan partai politik di dua
negara ini, Belanda dan Indonesia. Ketua Partai merupakan jabatan yang strategis.
Sebab dari sanalah kekuasaan bersumber. Kompromi dan kerja ketua partai inilah
yang menentukan perolehan kursi parlemen dan postur kabinet eksekutif. Namun,
sungguh kurang beruntung, kita banyak berhadapan dengan kemungkinan yang
pesimis, tentang perputaran elite yang kurang sehat dan tertutupnya peluang
minoritas. Di Belanda dan Indonesia ketua Partai punya kebiasaan memegang erat
jabatan ketua partai terlalu lama. Politisi yang memegang jabatan ketua, hingga tak
hendak melepaskan dari pangkuannya. Hal yang kita lihat dalam Vokspartij voor
vrijheid en democratie (VVD), Partij van de Arbeid (PvdA), Christen-Democratisch
Appel (CDA), dan Politieke Partij Democraten 66 (D66) juga kita lihat dalam tubuh
Partai Demokrasi Perjuangan (PDI-P), Partai Demokrat, Gerindra, dan Hanura.
Kondisi ini membingkai rangkaian klientelisme makin menjadi. Klientelisme
adalah praktek penyumbatan pada aliran demokrasi.183 Dan, memegang jabatan
terlalu lama duduk di kursi ketua membuat demokratisasi di tubuh partai mampat.
Padahal konvenan anti-diskriminasi ras (Pasal 5 (c)) dan sipil politik (Pasal 24)
memandatkan supaya hak pilih dan dipilih soal urusan publik (termasuk
kepartaian) harus dijamin. Belanda dan Indonesia sama-sama telah meratifikasi
konvenan anti diskriminasi ras (International convention on the Elimination of all
forms of racial discrimination) pada akhir tahun 1960-an dan konvenan sipil dan
politik (International covenant on civil and political rights). Kalau seandainya
George M Kahin, Herberth Feith et al, Government and Politics of South Asia. (Ithaca, Cornell
University Press, 1969)., p. 218-219. Setelah penyerahan kedaulatan pada tahun 1949, dan
menyisakan soal Irian Barat, para pemimpin negara yang kebanyakan lulusan perguruan tinggi
yang terdiri dari lawyer, dokter, sarjana teknik, guru, dan jurnalis mulai membicarakan soal
pemilihan umum, yang pada akhirnya tahun 1955 menerbitkan empat partai besar, yakni PNI,
Masjumi, Nahdlatul Ulama dan Komunis, yang mencerminkan persimpangan aliran ideologis satu
dengan yang lain.
181 Jozefina Maria Ridder. Schakels of obstakels? Nederlandse politieken partij en de
eensgezindheid, verdeeldheid en representativitiet van partijleden (Leiden, Leidern University
Reposity, 2014).,p 37. Masa perkembangan partai politik modern Belanda bermula dari berdirinya
Anti-Revolutionaire Partij (ARP) pada tahun 1879, menyusul de Sociaal Democratische Bond (SDB)
tahun 1882 dan de Liberale Unie (LU) pada tahun 1885. Setelah itu, banyak bermunculan partai
politik sepanjang 1917 dan 1919.
182 Simon Pieter Otjes. Imitating the new comer. How, when, and why established political parties
imitate the policy positions and issue attention of new political parties in the electoral and
parliamentary arena: the case of the Netherlands., p. 112.
183 Luis Roniger. Political Clientelism, Democracy, and Market Economy. Comparative Politics, Vol.
36, No. 3 (Apr., 2004), pp. 353-375
180
349
kedua negara ini konsekuen terhadap dalih dua konvenan ini, maka pemerintah
harus meniup peliut dan kartu kuning pada partai-partai yang bermasalah.
Pemasungan Hak Politik
Partai politik menjelma menjadi neo-liberal mayoritas Leviathan (binatang buas
dalam filsafat Hobesian) yang siap menerkam dan menggilas minoritas.184 Tak ada
tempat tersisa bagi minoritas untuk posisi empuk, Ketua Partai. Padahal amanat
undang-undang jelas menyebutkan dalam konvenan anti-diskriminasi ras (Pasal 5
(c)) dan sipil politik (Pasal 24) memandatkan supaya hak pilih dan dipilih soal
urusan publik (termasuk kepartaian). Tapi undang-undang itu hanya menjadi
macan kertas. Saya menyebutnya ini sebagai pemasungan hak politik.
Di Belanda, perdana menteri Mark Rutte yang juga mempimpin VVD bahkan sudah
yang ketiga kalinya menahkodai partai ini sejak 2006. Melihat negara-negara maju,
masih saja posisi minoritas sungguh memprihatinkan. Masyarakat Turki, Maroko,
Suriname, dan Afrika menjadi target pengejaran kepolisian saat terjadi
kejahatan.185 Mereka dicap warga yang menyeramkan, sekaligus jadi bulanbulanan, layim menerima kekerasan baik dari aparat maupun simpatisan partai
haluan kanan konservatif.186 Dibalik sosok Rutte yang humanis, bermain piano di
kereta Den Haag Centraal, berkumpul dengan rakyat biasa.187 Namun partainya
berada dalam zona merah soal profil ramah etnis (ethnic profiling). Pos-pos
penting dalam sistem kehidupan di Belanda, tetap punya hegemoni besar oleh kulit
putih warga Belanda asli (autochtonous).188
Di Indonesia, meskipun sekarang yang berkuasa adalah Partai Demokrasi
Indoensia Perjuangan (PDI-P) dan ‘penjabat partainya’ yang melanggengkan
tradisi politik asli di nusantara ini. Sebuah partai produk reformasi 1999, yang
sampai detik ini jabatan ketua umum partainya tiada pernah berubah. Jika
Soekarno dinobatkan sebagai presiden seumur hidup, maka Megawati
Soekarnoputri juga sudah dinisbatkan sebagai ketua umum seumur hidup.
Indonesia menghadapi dilema di dunia kepartaian, partai politik kebanyakan
merangsek menjadi klientelis partai yang berlawanan dengan programatik
Loїc Wacquant. Marginality, Ethicity and Penality in the Neo-liberal City: An Analitic
Cartography. Ethnic and Racial Studies 2014. Vol. 37, No., p. 1687-1711.
185 Francois Bonnet and Clotilde Caillault. The Invander, the Enemy Within and They-who-mustnot-be-named: how police talk about minorities in Italy, the Netherlands and France. Ethnic and
Racial Studies 2015. Vol. 38, No. 7, p. 1185-1201
186 Jo Goodey. Racist Violence in Europe: Challenges for Official Data Collection. Ethnic and Racial
Studies. 2007. Vol. 3. No. 4., p. 570-589
187
Rutte
speelt
piano
op
Den
Haag
Centraal,
http://www.telegraaf.nl/tv/nieuws/binnenland/26022286/__Rutte_speelt_piano_op_Den_Haag_CS
__.html, diakses pada tanggal 17 Juli 2016
188 Philomena Essed & Sandra Trienekens. Who Wants to Feel White? Race Ducth Culture and
Contested Identities. Ethnic and Racial Studies. Vol. 31 No. 1 January 2008. P. 52-72
184
350
partai.189 Begitu juga dengan kondisi partai penguasa sebelumnya, memang Susilo
Bambang Yudhoyono secara de facto menjabat sebagai Ketua Partai pada 30 Maret
2012. Namun, ia memakai modus Golkar era Soeharto yang menduduki Ketua
Dewan Pembina, dengan ketua harian yang hilir mudik bergantian, namun
stabilitas berada ditangannya. Sama saja sebenarnya Ketuanya itu adalah Soeharto
dan SBY. Bahkan Golkar, sejak Ali Murtopo menjabat sebagai ketua hingga masa
Aburizal Bakrie dan Setya Novanto relatif rotasinya berjalan dengan sehat di era
reformasi. Namun sebagai Partai Orde Baru, sulit diharapkan Partai Gorlkar ini
membaca aneka ide pembaharuan.
Lamanya para ketua partai ini menggenggam jabatannya menunjukan sindrom
mikrofasis bernegara.190 Saat dalam sekup komunitasnya, harus menunduk
sembah pada sang punya kuasa. Jelas membuat konvenan anti-diskriminasi ras
(Pasal 5 (c)) dan sipil politik (Pasal 24), tidak bekerja. Alih-alih mempunyai hak
dipilih dan memilih, anggota partai hanya disuguhi opsi hak memilih saja. Mereka
tak diijinkan mempunyai hak dipilih meskipun dalam mimpi sekalipun.
Pemasungan hak politik adalah praktek fasisme kontemporer.191
Kepada orang ‘asli’ saja saluran politik disumbat, apalagi pada kelompok
minoritas. Modernisasi partai politik Indonesia yang multikultural 192 masih jauh
panggang dari api. Padahal di Indonesia, UU Partai Politik juga menyebutkan
bahwa Pasal 15 ayat (2) berbunyi anggota Partai Politik mempunyai hak dalam
menentukan kebijakan serta hak memilih dan dipilih. Jelas sudah kalau Pasal ini
hanya ornamen penghias UU itu, tanpa eksekusi. Meskipun kita mempunyai sedikit
penghiburan, ternyata di negeri daratan rendah Belanda dengan indeks
demokrasinya tinggi,193 praktek penyumbatan politik ini juga masih berlangsung.
Kekosongan Hukum
Rotasi ketua partai adalah buah simalakama dari tradisi politik partai hari ini.
Partai bukanlah institusi negara, tapi urusan yang ia tangani adalah kepentingan
Ward Berenschot. Political Parties and Clietelism in Southeast Asia. Dalam Tomsa. D & Ufen. A
(eds), Party politics in Southeast Asia. Clientelism and electoral competition in Indonesia, Thailand,
and the Philippines. (Milton Park: Routledge, 2012)., p. 561
190 Hizkia Yosie Polimpung. Asal-Usul Kedaulatan: Telusur Psikogenealogis terhadap Hasrat
Mikrofasisme Bernegara. (Jakarta: 2014. Penerbit Kepik) Dalam pandangan psikoanalisis, hasrat
dan personalitas setiap orang, utamanya pimpinan politik selalu punya dimensi kanibalnya. Tak
selamanya pemimpin demokratis sekalipun simptom tirani dan otoritarian itu tak muncul. Bahkan
sebaliknya, kekejaman pemimpin demokratis itu lebih sistematis karena ditutup kabut hukum dan
nilai moral liberal yang memabukan.
191 Hizkia Yosie Polimpung. Logika Kedaulatan dan Asal-Usul (Apa yang Kita Sebut) Negara.
Makalah Pemantik diskusi bedah buku Asal-Usul Kedaulatan: Telusur Psikogenealogis terhadap
Hasrat Mikrofasisme Bernegara (Penerbit Kepik, 2014). Di Cak Tarno Institute, Depok, 5 Juli 2014.
192 Filsafat multikulturalisme adalah gagasan yang menghimpun idealisme dari pemikiran
sosialisme-Marxisme dan libertarian klasik, meskipun pada prakteknya lebih terlihat sebagai
gagasan politik liberal. Lihat., Will Kymlicka. Contemporary Political Philosophy An Introduction.
(Oxford: Oxford University Press: 2002)., p. 332
193 Indeks demokrasiBelanda berada di urutan nomor 10 dengan skor 8.99. Democracy Index. The
Economist of 2013.
189
351
publik. Memperbaiki negara sebenarnya harus dimulai dari perbaikan partainya.
Sementara belum dirumuskan dengan detail, berikut dengan konsekuensinya, soal
obligasi rotasi ketua partai ini. Di Belanda undang-undang-nya hanya mengatur
tentang pendaftaran kandidat (Pasal R 1 dan Pasal R 2 Election Decree of 1989).
Sementara di Indonesia, meskipun UU Partai diterbitkan, rotasi ketua partai tidak
diatur dalam UU No 2 Tahun 2008 maupun regulasi revisinya UU No. 2 Tahun
2011. Alhasil, partai-partai menyuburkan praktek klientelisme ditubuhnya baik di
Belanda maupun di Indonesia.
Partai berkuasa hari ini VVD. Telah memulai klientelismenya. Sejak Pieter Jacobus
Oud nahkoda VVD mulai dari tahun 1948 sampai 1963, kiprahnya memimpin
partai yang banyak duduk di oposisi maupun kabinet itu sungguh tak tergantikan.
Karir politiknya bersemai dengan segudang pengalaman sebagai anggota parlemen
(Twedee Kamer), Menteri Keuangan dan Walikota Rotterdam. Jabatan tertinggi
yang ia geluti adalah deputi perdana menteri, ia diangkat juga oleh Ratu Juliana,
yang diumumkan secara resmi di Radio Rotterdam. Saat dilantik itulah kursi
pimpinannya ia serahkan pada K.v.d Pols.194 Setelah 15 tahun ia mendirikan partai
dan menggenggam erat kursi ketua.
Dalam perpolitikan Indonesia, rotasi ketua partai yang tidak diatur dalam UU No 2
Tahun 2008 maupun regulasi revisinya UU No. 2 Tahun 2011 bisa membuat
Megawati menjadi Partai Ketua PDI-P seumur hidup. Begitu hal yang sama akan
berlaku pada Prabowo Subianto Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), SBY
pada Partai Demokrat, Wiranto pada Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) dan bisa
jadi menyusul Partai Nasional Demokrat (Nasdem) dengan Surya Paloh.
Sayangnya, di Indonesia hanya Golkar yang Partai mempunyai usia panjang, tak
seperti Partai-Partai di Belanda berkiprah cukup lama dari sisi usia organisasi.
Sementara kasus lain, Partai Buruh (PvdA) Joop den Uyl memegang tampuk
kepemimpinan partai selama dua puluhan tahun dari 1966 sampai 1986. Ia pernah
menjabat sebagai perdana menteri pada tahun 1973 sampai 1977. Partai Buruh
memang dikenal luas sebagai partainya para imigran, mulai dari Maroko, Turki,
Suriname, dst. Setelah lepas dari jabatan perdana menteri, Joop den Uyl pernah
terlibat debat yang krusial tentang sosialis dan liberal dengan Frits Bolkestein,
yang dimuat besar-besaran oleh koran Het Vrije Volk.195 Ia juga betah berlamalaman di kursi ketua PvdA.
Sedangkan, Hans van Mierlo pemimpin Partai D66 pendiri Partai yang sekaligus
memimpinnya dari tahun 1966 sampai 1973, berjeda beberapa tahun, ia kembali
memegang kemudi partai mulai dari tahun 1986 sampai 1998. Ia pernah
menempati sejumlah pos jabatan, mulai dari Deputi Perdana Menteri, Menteri Luar
Negeri, dan Menteri Pertahanan. D66 adalah partai yang banyak mengusung
tentang integrasi Uni-Eropa ini mempunyai kiprah kuat dalam perdebatan di
194
195
Prof P.J. Oud benoemd tot minister van Staat, Nieuwsblad van het Noorden, 11 Novermber 1963
Socialisten en liberalen: een debat. Het Vrije Volk, 2 Maret 1984
352
parlemen. Meskipun tidak pernah mencapai partai terbesar, namun ia senantiasa
diperhitungkan di Belanda. Hans van Mierlo merupakan salah satu tokoh yang
memimpin Partai dalam kurung waktu yang cukup lama. Bermula dari seorang
jurnalis, dalam usia 41 tahun ia terjun di dunia politik dan berperan kuat dalam
perdebatan di parlemen, meskipun acapkali dihadapkan dengan pertarungan yang
kalah (van het vechten tegen de bierkaai).196 Van Mierlo dalam posisi partainya
yang perolehan kursinya standar, namanya memang selalu dilirik dalam formasi
kabinet, namun lebih diperhitungkan sebagai rem dan kontrol pada kekuasaan
mayoritas kabinet.197
Di Indonesia, Megawati adalah ketua Partai terlama dan pemegang rekor sejak
reformasi bergulir. Dari tahun 1999, ia telah berkuasa selama 17 tahun. Simpatisan
PDI-P lebih menyukai semboyan teh botol sosro, ‘apapun rejimnya, ketum tetap
ibu mega.’ Transparansi, akuntabilitas, profesionalisme, dan program kerja partai
ini sayup-sayup dalam keremangan. Bersandar pada emosional abangan dan
loyalitas pada darah Soekarno, partai ini pun bertahan. Sementara partai-partai
lain pun menyusul. Dimulai didirikan pada tahun 2001, SBY de facto berkuasa
selisih dua tahun saja dengan Megawati rekornya. Ia cukup lihai menyisakan kursi
ketua umum pada Subur Budhisantoso, Hadi Utomo, Anad Urbaningrum, dan
Syarief Hasan. Tapi penguasa sesungguhnya, dalam tradisi politik klientelisme
Indonesia, yakni politik kebapakan, ‘the real bapak’ Partai Demokrat adalah SBY.
Disusul oleh Wiranto yang berkuasa di Hanura sejak tahun 2006, Prabowo sejak
tahun 2008, dan baru mulai debutnya Surya Paloh pada tahun 2011. Lamanya para
ketua Partai ini berkuasa jelas menghambat pertumbuhan demokratisasi ditubuh
partai. Partai terbonsai dengan perkembangan yang kurang normal dinamikanya.
Lupakah Kita pada Diskriminasi?
Di tubuh partai politik rawan terjadi diskriminasi. Ganasnya gelombang politik,
rentan sekali pada kelompok minoritas. Di Belanda, penyusunan aksi nasional hak
asasi manusia (national actieplan mensenrechten),198 telah menyinggung upaya
penghapusan soal profil etnis (ethnic profiling) yang dilakukan oleh polisi Belanda
untuk melacak kejahatan. Namun profil etnis (ethnic profiling) belum berkembang
di ranah regulasi di tingkat partai politik. Pembahasan soal profil etnis (ethnic
profiling) hanya berlangsung di tingkat aktivis pro-demokrasi di Belanda, yang
mengamati hanya D66 dan PvdA yang berada di lingkup hijau atau baik
representasi minoritasnya. Di Indonesia, pun menghadapi dilema yang sama, saat
Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia RANHAM 2015-2019, juga tidak
membahas soal ditubuh profil etnis (ethnic profiling).
Namun, sekali lagi, lamanya ketua Partai berkuasa, sebenarnya membangun
sebuah diskriminasi simbolik yang tidak langsung pada entitas minoritas.
Van Mierlo (D66) staat liever naast het schaduwkabinet. Limburgs Dagblad, 22 November 1977
Politiek bedrog maakt niet gelukkig. De telegraaf, 12 Mei 1973
198 Nationaal Actieplan Mensenrechten Bescherming en bevordering van mensenrechten op
nationaal niveau. 2010. Ministerie van Binnenlandse Zaken en Koninkrijkselaties
196
197
353
Penyumbatan elektabilitas kaum minoritas di tubuh partai sudah berlangsung. Di
Belanda, jarang sekali ketua Partai yang punya darah murni migran, memang
peluang itu hanya terbuka bagi darah campuran. Hari ini sedang diramaikan soal
pengajuan kandidat yang kuat Ahmad Abu Tholib walikota Rotterdam yang juga
adalah seorang muslim keturunan Maroko adalah anggota partai buruh PvdA yang
akan diajukan dalam bursa pencalonan ketua partai itu. Ia merupakan calon yang
kuat setelah keberhasilan dan popularitasnya menata Rotterdam. Sebagai salah
satu kota terbesar dan paling multikulturalis diantara kota-kota yang lain setelah
Amsterdam. Partai buruh memang di kawasan lokal mempunyai banyak
pendukung. Hingga partai ini pun melahirkan banyak walikota kadernya, seperti:
Paul Depla dari Breda, Peter Noordanus dari Tilburg, Jan Boelhouwer dari GilzeRijen, Dominic Schrijer dari zwijndrecht.199 Kalau Abu Tholib jadi ketua partai,
terpecahkan sudah rekor kepemipinan warga asli Belanda di tubuh partai besar
Belanda.
Di Indonesia, wacana penobatan minoritas dalam bursa kandidat ketua partai
jarang terdengar. Meskipun beberapa minoritas, misalnya saudara kita kaum
Tionghoa sudah banyak duduk di kelompok elite partai besar. Mulai dari Daniel
Budi Setiawan, Rudianto Tjen, Murdaya Po, Tjandra Wijaya, dan Kwik Kian Gie di
PDI-P, Alvin Lie di PAN, Albert Yaputra dan Ernawati Sugondo (Partai Demokrat,
LT Susanto di PPP dan Enggartiasto Lukita di Golkar.200
Kembali ke Belanda, beberapa catatan lagi tentang dominasi kulit putih asli dan
lamanya ia berkuasa terlihat pada sejumlah partai. Ruud Lubbers dari Partai
Kristen Demokratis (CDA), seorang pemegang pelana Partai dari tahun 1982
sampai 1994, pada saat yang sama ia juga menjabat sebagai perdana menteri.
Dalam masa jabatannya, meskipun ia berasal dari partai berhaluan kristenisasi,
tapi sejumlah draft regulasi kesetaraan dirumuskan. Mulai dari tahun 1988, CDA
sudah mulai mengusulkan draft regulasi kesetaraan (wet gelijke behandeling)
pada parlemen).201 Perdebatan yang paling panjang adalah soal formulasi tentang
legalisasi dan perlindungan homoseksual.202 Padahal hukum kesetaraan antara
laki-laki dan perempuan (gelijke behandeling van mannen en vrouwen) sudah
disahkan pada tahun diusulkanya draft ini, 1998. Namun CDA tetap berjuang
sendirian, meskipun pada tahun 1990, PvdA ikut bergabung, koalisi itu pun tak
langgeng.
Sementara, dari Roma, Gereja Katolik menyuarakan ke publik Belanda,
memperingatkan untuk tidak mengesahkan draft itu, akan datang sebuah bencana
Aboetaleb zwijgt over oproep PvdA burgermeesters partijleider te worden, 9 Juli 2016.
http://www.volkskrant.nl/politiek/aboutaleb-zwijgt-over-oproep-pvda-burgemeesterspartijleider-te-worden~a4336493/, diakses pada tanggal 17 Juli 2016
200 Awaludin Marwan. Radical Subject of Zizekian Study: Racist Fantasy Termination! Protection
Chinese Ethnic Minorities in the Era of Gus Dur.(Berlin: Lambert Academic Publishing, 2013)., p. 35
201 Kamernotities, Nederlands Dagblad on June, 31, 1988.
202 Kamer eist duidelijkheid over voorhereiding wet Gelijke Behandeling. De Telegraaf. June, 27,
1990
199
354
yang besar jika draft itu diterbitkan sebagai kutukan. Namun, satu sisi, gerakan
masyarakat sipil menguat. Para advokat yang bergerak di bidang hak asasi
manusia pun tekun menghimpun kampanye. Aksi massa terbesar sepanjang
sejarah Belanda melibatkan 213.000 tanda tangan di Utrecht menyulut tekanan
pada parlemen untuk menyegerakan melegalkan draft.203 Meskipun partai
berhaluan kristenisasi, namun partai ini pada zamannya cukup reformis, Ruud dan
para politisi CDA yang lain juga mengusulkan sebuah lembaga khusus menangani
persoalan diskriminasi.204
Lamanya para ketua partai ini berkuasa, sebenarnya juga tidak begitu disukai di
Belanda. Seperti yang pernah terjadi di Hans Weigel pada VVD. Hans Weigel juga
memimpin VVD dalam kurung waktu 1971 sampai 1982. Pernah ia digoyang dari
kursi kepemimpinan. Dalam sebuah wawancara, ia menjelaskan bahwa dalam
politik VVD hujan kritik dan pujian datang silih berganti, dan perseteruan antara
kelompok tua versus muda berlangsung, namun ia yakin dengan integritas yang
selama ini ia bangun.205 Weigel pernah menjabat sebagai Deputi Perdana Menteri,
Menteri Dalam Negeri dan Anggota Parlemen, jumlah perolehan kursi di Parlemen
tidak begitu banyak, kurang dari sepuluh kursi, namun stabil dalam formasi
kekuasaan. Saat menjadi oposisi pun, Weigel bersuara keras soal Apartheid di
Afrika Selatan.206 Ia mengemudikan Partai VVD dengan keyakinan dan ide
liberalisme konservatif selama 11 tahun kokoh.
Memberikan porsi kepemimpinan pada minoritas sebenarnya akan membawa
banyak kesegaran dan keseimbangan bermasyarakat. Bagaimana kita dulu pernah
merasakan bagaimana hebatnya, kiprah para politisi dan aktivis Tionghoa seperti
Siauw Giok Tjhan, Oei Tjoe Tat, Go Gien Tjwan, dan nama yang selalu harum yakni
Yap Thiam Hien.207 Mereka adalah para nasionalis-nasionalis sejati dengan
pemujaan dan militansinya pada akal sehat dalam berpolitik. Dari mereka jualah,
kita mendengar ide negara hukum, demokrasi, kewarganegaraan, dan hak asasi
manusia.
Di Belanda, kiprah Khadija Arib yang perempuan Maroko yang sejak belasan tahun
keluarganya bermigrasi ke Amsterdam pada banyak kesempatan memperlihatkan
betapa sensitifnya hati seorang keturunan. Ia bisa melihat dan bersikap peka
terhadap sebuah peristiwa. Ia berada paling depan saat memperjuangkan subsidi
Leeuwarder courant. Gelijke Behandeling. February, 19, 1994.
Tweede Kamer, vergaderjaar 1990-1991, 22 014, nr. 3. Memorie van Toelichting Algemene
regels ter bescherming tegen discriminatie op grond van godsdienst, levensovertuiging, politieke
gezindheid, ras, geslacht, hetero-of homoseksuele gerichtheid of burgelijke staat (Algemene wet
gelijke behandeling). Pada saat itu, lembaga yang dibentuk adalah Komisi Keseteraan Perlakuan
(De Commissie gelijke behandeling (CGB)), namun pada akhir tahun 2011, komisi ini dilebur jadi
satu dengan Institute Belanda untuk Hak Asasi Manusia (College voor de rechten van de mens).
205 Al dat idealistische gepraat dat stuit mij tegen de borst, NRC Handelsblaad, 12 Agustus 1972
206 Van onze parlementaire redactie. De Telegraaf, 31 Mei 1976
207 Daniel S Lev. No Concessions. The Life of Yap Thiam Hien, Indonesian Human Rights Lawyers.
(Washington: The University of Washington Press. 2011)., p. 308-309
203
204
355
kesehatan, khususnya langsia dan perawat rumah.208 Pada bom Istanbul terjadi, ia
yang juga ketua parlemen, sebelum rapat meminta seluruh anggota untuk
mengheningkan cipta sejenak sebagai simbol belasungkawa terdalam pada korban
sipil.209 Pada saat diskusi mengarah pada apa yang akan dilakukan oleh Belanda
pada Istanbul, Khadija Arib berseru supaya pemerintah lebih hati-hati untuk tidak
mengambil langkah militer. Sebab banyak warga Belanda yang bermukim di Turki,
begitu juga sebaliknya.210
Demokrasi yang dipalut politik asli, pada akhirnya akan berujung pada
diskriminasi. Menutup kemungkinan kaum minoritas berpartisipasi. Padahal
diktum masyarakat migran adalah integritas, profesionalisme dan kerja keras.
Seharusnya, peluang-peluang, utamanya Ketua Partai dibuka bagi seluas mungkin
kalangan minoritas untuk maju dalam bursa.
Refleksi Filsafat Politik Hukum
Dalam paper ini, berikut uraian diatas, saya merumuskan sebuah tesis, seperti ini:
bahwa lamanya seorang menjabat erat kedudukan ketua partai, klientelisme yang
merugikan demokrasi akan tumbuh subur. Lamanya ketua partai menjabat, akan
menyumbat kesempatan bagi kelompok minoritas dan kader berkualitas untuk
tampil. Modus lamanya ketua partai menjabat ini bisa dikategorikan sebagai
klientelisme politik partai. Klientisime sederhananya adalah hubungan patron
yang tidak seimbang, hirarkis, dan feudal.211 Dengan struktur oligarkis, perdebatan
politik ditubuh partai pun redam, diganti dengan agenda cium tangan,
membawakan tas pimpinan, mengamini pidato pimpinan yang membikin kantuk,
dan selalu bergembira disaat sedih dihadapan majikan sang ketua partai.
Pesimisme ditubuh partai ternyata bukanlah semata-mata berlangsung di
Indonesia. Di Belanda, banyak partai kehilangan anggotanya, semakin pesimis dan
apolitislah kedua warga negara itu. Praktek klientelisme memang banyak
mengundang kekecewaan padanya. Klientelisme juga mengakibatkan distribusi
kesejahteraan secara tidak efisien dan tidak berkeadilan.212 Praktek di Indonesia,
efek dari klientelisme bisa dilihat dengan nyata. Tidak ada ketua partai di
Indonesia yang kere. Hampir semuanya mempunyai kekayaan yang berlimpahnya
Coalitie
heeft
boter
op
hoofd.
4
Juli
2016.
http://www.telegraaf.nl/binnenland/26142933/___Coalitie_heeft_boter_op_hoofd___.html, diakses
pada tanggal 18 Juli 2016.
209
Kamer
herdenkt
slachtoffers
aanslag
Istanbul.
29
Juni
2016.
http://www.telegraaf.nl/binnenland/26110645/__Kamer_herdenkt_slachtoffers_aanslag_Istanbul_
_.html, diakses pada tanggal 18 Juli 2016
210
Kamer
staat
stil
bij
aanslag
Istanbul,
30
Juni
2016,
http://www.telegraaf.nl/binnenland/26119042/__Kamer_staat_stil_bij_Istanbul__.html
diakses
pada tanggal 18 Juli 2016.
211 Jonathan Hopkin. Conzeptualizing Political Clientelism: Political Exchange and Democratic
Theory. APSA Annual Meeting, Phipadelphia, 31 August-3 September 2006.
212 James A Robinson&Thierry Verdier. The Political Economi of Clientelism. Scand J. Of Economic
115 (2), 260-291, 2013
208
356
minta ampun. Di Belanda, karena sistem pajak yang besar para politisi Den haag
itu pun sama saja gaya hidupnya seperti masyarakat pada umumnya.
Klientelisme dalam kehidupan partai politik, akan melanggengkan tradisi lamanya
jabatan ketua partai. Dalam literatur, klientelisme diartikan penyaluran faedah
secara sempit yang mencampakan urusan publik.213 Refleksi ini menunjukan
bahwa partai pada kenyataan lebih banyak mengurusi urusan kelompok dan
majikannya, ketimbang urusan kepublikan. Di Belanda, pemilu semakin dekat,
semua urusan yang berkenaan dengan partai seolah-olah selalu dihubungkan
dengan Maret 2017 untuk kepentingan pemenangan.
Lebih lanjut, sebenarnya dalam literatur juga disebutkan bahwa klientelisme
adalah pragmatisme politik, dengan slogan ‘siapa dapat apa.’214 Yang
diperdebatkan dalam tradisi politik klientelisme bukanlah program, indikator
pembaharuan, pemberdayaan kader, dst, melainkan pembagian jatah kue
kekuasaan. Dan, ketua partai adalah tukang stempelnya. PDI-P dalam kabinet
Jokowi diantaranya adalah Menko PMK Puan Maharani, Menkumham Yasonna
Laoly, Mendagri Tjahjo Kumolo, dan Menkop UKM Anak Agung Gede Ngurah
Puspayoga. Begitu juga dengan VVD di Belanda, sebut saja Mark Rutte yang juga
Perdana Menterinya, kemudian berturut-turut Ard van der Steur Menteri
Kehakiman, Henk Kamp Menteri Perekomian, Jeanine Hennis-Plasschaert Menteri
Pertahanan, Edith Schippers Menteri Kesehatan dan Melanie Schultz Menteri
Lingkungan dan Infrastuktur.
Klientelisme juga lebih mudah dijelaskan dengan idiom, salah satu ekspresi yang
acapkali digunakan ialah ‘ambil dari sana, kasihkan kesini.’215 Literatur
menceritakan bahwa klientelisme berorientasi eksplotasi besar-besaran demi
kepentingan kenikmatan diri dan kelompok. Eksplotasi bisa saja dengan cara
penodongan pada perusahaan swasta model ‘Papa minta saham.’ Dan, berebutan
subsidi pemerintah. Di Belanda, soal subsidi ini memang sedang ramai. Pasalnya,
banyak Partai kehilangan anggotanya, membuat iuran anggota yang selama ini
menopang program partai, utamanya riset center, jadi terbengkalai. Maka banyak
partai yang mengharapkan subsidi partai. Mereka berkilah, yang dapat banyak
adalah PVV partai sayap kanan, karena anggotanya sang pembuat sensasi Geert
Wilders saja!
Saya merenungkan pokok dari topik klientelisme partai politik. Saya menemukan
bahwa lepaskan politik dari perbincangan tentang keadilan adalah masalah yang
serius hari ini. Badiou menempatkan wacana keadilan dan kebenaran dalam
Idridi H. Indridason. A theory of coalitions and clientelism: coalition politics in Iceland, 19452000. Europan Journal of Political Research, 44: 439-464, 2005.
214 Derick W. Brinkerhoff & Arthur A Goldsmith.
Democratic Governance: An Overview and
Framework for Assessment and Programming. (Washinton: US Agency for Internatioal
Development Office of Democracy and Governance, 2002)
215 Luis Roniger. Political Clientelism, Democracy, and Market Economy. Comparative Politics, Vol.
36, No. 3 (Apr., 2004), pp. 353-375
213
357
politik. Politik bukanlah soal siapa mayoritas, kekuasaan, lobi dan pemilu,
melainkan sebuah orientasi perjuangan tentang kebenaran.216 Tidak adil jika
politik tidak memberikan kesempatan pada sesama anggota partai untuk masuk
dalam bursa ketua partai. Tidak benar juga apalagi dominasi politik asli benarbenar sudah menghegemoni.
Terakhir, karena saya adalah murid Pak Tjip (panggilan akrab Prof Satjipto
Rahardjo), maka dengan ini saya juga membawa kerangka hukum progresif dalam
memberikan usulan-usulan pada pembaharuan demokratisasi partai. Pada
dasarnya hukum progresif seringkali berpegangan pada moralitas hukum. Dan,
semoga saya tidak keliru saat menyebutkan moralitas hukum Pak Tjip itu adalah
moralitas negara hukum yang modern, seperti: integritas, akuntabilitas, negara
hukum, hak asasi manusia, dst. Maka partai pun hendaknya berangsur-angsur
menggapai pembaharuan moralitas hukum itu.217 Negara bisa mengintervensi
Alain Badiou. Metapolitics. 2006. Verso., p. 69-72
Dalam tradisi berhukum, maka gaya pemikiran ini cara membaca teks peraturan perundangundangan bukanlah secara harafiah, melainkan memahami makna-makna guna menangkap
kandungan kaidah-kaidah yang tersari darinya. Kadang dalam mekanisme ini, sering juga sejalan
dengan konsep pembacaan moral (moral reading), saat nilai-nilai yang bermukim dalam sebuah
pasal, yang harus digali secara mendalam oleh pembaca resminya, yakni penegak hukum. Pak Tjip
sepertinya ingin mengatakan bahwa cara berhukum hendaknya tidak hanya berkutat pada kaidah
hukum saja. Saya membagi kaidah itu ke dalam beberapa kategori, disinilah saya menemukan ada
titik kesamaan apa yang diungkapkan oleh WLG Lemaire dalam Het Recht in Indonesie (1955)
dengan bukunya Pak Tjip yang berjudul Hukum dalam Jagad Ketertiban (2006). Lemaire
mengungkapkan kategori kategori berdasarkan pada : kaidah budi nurani, kaidah moral positif,
kaidah kesopanan, kaidah agama dan kaidah hukum. Kaidah budi nurani adalah kaidah yang
muncul begitu saja dari budi nurani manusia seperti nilai-nilai kemanusiaan yang mendasar
menentukan apa yang baik dan apa yang buruk. Kaidah ini mengantarkan manusia untuk tidak
menjadi jahat, pencuri, pembunuh, penipu, dst. Hukumannya adalah perasaan menyesal dari dalam
diri nurani sendiri saat melanggar kaidah tersebut. Dari titik inilah, Satjipto ingin mengatakan
bahwa hukum itu, bukanlah kumpulan saja dari kaidah hukum. Kaidah hukum adalah seperangkat
kaidah yang mengatur tingkah laku para warga masyarakat oleh sebuah peraturan perundangundangan. Konsep yang mengatur perilaku warganya (HLA Hart menyebutkannya sebagai primary
rules) dalam sebuah peraturan perundang-undangan, yang berupa perintah, larangan, izin, dan
dispensasi. Sementara konsep lain berupa wilayah kewenangan (HLA Hart menyebutnya sebagai :
secondary rules). Dari titik inilah kaidah hukum menetapkan norma dan prosedurnya dari lembaga
yang berwenang. Namun karena terlalu berkutatnya pada teks dan prosedur, maka mereka yang
hanya memandang kaidah hukum sebagai satu-satunya cara berhukum akan mendapatkan
kebuntuan untuk menciptakan keadilan. Sedangkan kaidah yang lain juga patut kita bahas sekilas
dalam paper ini. Kaidah moral positif misalnya adalah konsep hukum yang pada suatu waktu
tertentu dalam sebuah masyarakat atau kounitas dihayati dan dipatuhi sebagai aturan kesusilaan
atau tuntunan moral. Pada konteks ini kaidah moral positif bisa muncul dalam keseharian dunia
hukum pada mekanisme pelaksanaan kode etik. Kode etik dibentuk, ditegakan dan dipatuhi oleh
komunitasnya sendiri. Sedangkan, kaidah kesopanan adalah konsep yang mengatur pegaulan hidup
anta-individu yang timbul dari kebutuhan manusia, demi keramah-tamahan dan keluwesan dalam
kehidupan sosial bermasyarakat. Kaidah ini bertujuan untuk menghindarkan adanya perasaan yang
tersinggung. Pendapat umumlah yang merekonstruksinya, dengan sanksi berupa celaan bagi yang
melanggar kaidah tersebut. Sementara kaidah kebiasaan adalah tuntutan untuk melakukan sesuatu
yang sudah memiliki pola sosial, biasa disebut perulangan perilaku yang sama, saya menyebutnya
sebagai proses desuetudo). Terakhir, kalau kita membicarakan kaidah budi nurani, kaidah moral
positif, kaidah kesopanan, kaidah kebiasaan, kaidah hukum, dst itu bersumber dan dibentuk oleh
akal manusia, sementara kaidah agama ini berasal dari wahyu Tuhan, pada titik inilah kualitas
216
217
358
melalui UU Partai Politik. Namun kesadaran partai yang memperbaiki AD/ART dan
membangun budaya hukum yang emansipatoris akan jauh lebih indah.
Penutup
Indonesia dan Belanda penganut sistem multipartai terjebak dalam kubangan yang
sama, soal lamanya ketua partai menjabat. Sementara posisi minoritas di kedua
negara itu pun masih terjepit. Dominasi politik asli nampaknya masih berlangsung
dalam tradisi kepartaian dua negara tersebut. Meskipun kedua negara telah
meratifikasi konvenan anti-diskriminasi dan konvenan sipil politik, namun pada
prakteknya konvenan anti-diskriminasi ras (Pasal 5 (c)) dan sipil politik (Pasal 24)
ini tidak berjalan sebagaimana mestinya di tubuh partai.
akhlak dibentuk oleh para pemuka agama yang bertugas membina para umatnya. Satjipto dengan
dengan istilah progresifnya sebagai penolakan terhadap cara berpikir yang tekstual. Sehingga
hukum progresif itu adalah sebuah ide yang memerlukan ketajaman untuk membaca undangundang secara benar, secara tepat, dengan itu menemukan makna dari aturan yang dibacanya itu.
Satjipto adalah sosok yang cukup gigih dalam menampilkan dan mengekspresikan penalaran
hukum dari berbagai masalah hukum itu harus memahami aturan perundang-undangan secara
multidisipliner, komprehensif dan holistik
359
DEMOKRASI INTERNAL PARTAI
PROSES PEMILIHAN KETUA PARTAI YANG DEMOKRATIS
Abstrak
Beni Kharisma Arrasuli
Tulisan ini memaparkan tentang demokrasi internal partai serta kaitannya
dengan proses pemilihan ketua partai yang demokratis, bertujuan untuk mengulas
dan menghadirkan perspektif tentang proses demokrasi khususnya di dalam
tubuh partai politik. Penulisan makalah ini menyentuh berbagai aspek mulai dari
aspek sosiologis, politik dan hukum yang menggunakan pendekatan konseptual,
komparatif, deskriptif dan historis, yang penerapannya disesuaikan dengan
kebutuhan.
Dengan menggunakan beragam teori yang digagas oleh beberapa pemikir
klasik maupun kontemporer tentang tema demokrasi internal partai serta
kaitannya dengan proses pemilihan ketua partai yang demokratis, sebagaimana
diterapkan dalam praktek berdemokrasi di Indonesia dan juga menghadirkan
beberapa negara sebagai komparasi seperti Inggris, Kanada dan Malawi
selanjutnya direvisi secara teoritik dalam wacana akademik, tulisan ini
menunjukkan bahwa praktek demokrasi internal partai belum berjalan secara
utuh seperti yang diharapkan di Indonesia, masih banyaknya ditemukan fakta
bahwa pemilihan pimpinan partai politik masih menggunakan pola patronase dan
oligarki seperti pemilihan tertutup dan pemilihan secara aklamasi, ditambah
dengan cara-cara perbuatan melawan hukum seperti politik uang. Realitas yang
seharusnya adalah partai politik sebagai representasi masyarakat dan jembatan
keterwakilan warga negara pada posisi kursi kekuasaan baik legislatif maupun
eksekutif, seharusnya mampu menjadi contoh demokrasi terapan sebagai sebuah
cerminan dari negara modern.
Akhir dari tulisan ini memberikan beberapa solusi yang dapat diterapkan
oleh partai politik dalam proses pemilihan pimpinan partai, baik sebelum
berlangsungnya munas/kongres maupun setelahnya. Dengan tujuan kedepannya
partai politik benar-benar menjadi partai kader yang memiliki prinsip-prinsip
demokrasi dari level tertinggi hingga akar rumput.
Kata Kunci:
Demokratis
Demokrasi Internal Partai, Pimpinan Partai politik, Proses,
360
A. PENDAHULUAN
Keberadaan serta proses pelembagaan seorang pemimpin dengan cara
yang demokratis di dalam tubuh partai politik menjadi topik yang sangat menarik
untuk diteliti, karena untuk mewujudkan suatu upaya demokratisasi dalam suatu
negara membutuhkan sarana atau saluran politik yang koheren dengan kebutuhan
masyarakat melalui sebuah partai politik, selain itu dengan menguatnya suatu
pelembagaan seorang pemimpin dengan cara yang demokratis dalam partai politik
secara tidak langsung akan berdampak pada terciptanya suatu rezim demokrasi
yang bekerja atas dasar konstitusi yang demokratis pula. Samuel Huntington dan
Larry Diamond, misalnya, berpandangan bahwa salah satu indikator utama
menuju demokrasi terkonsolidasi diperlukan kelembagaan partai politik dan
pemilu sebagai esensi demokrasi. Pandangan ini sejalan dengan Katz yang
berpendapat tentang posisi partai politik sebagai institusi paling esensial dan inti
dari pemerintahan demokrasi modern.218 Penulis mengartikan pelembagaan
adalah bagaimana sebuah partai politik mampu menjalankan demokrasi dalam
internal partai, di awali dengan proses pemilihan seorang kader menjadi pimpinan
partai. Kualitas demokrasi sesungguhnya bergantung pada kualitas partai dalam
berdemokrasi, keberlangsungan fungsi-fungsi partai akan menentukan wajah
demokrasi. Buruk wajah partai dalam berdemokrasi, buruk pula kualitas
demokrasi dalam sebuah negara; sebaliknya baik wajah partai baik pula kinerja
demokrasi sebuah negara.219
Dalam suatu negara yang demokratis, setiap warga masyarakat dapat
menikmati hak-hak dasar mereka secara bebas, termasuk di dalamnya adalah hak
untuk berpendapat (Freedom of Expression), hak untuk berkumpul dan berserikat
(Freedom of Assembly).220 Artinya masyarakat yang mewakili suaranya kepada
partai politik berharap hak dasar yang mereka miliki tentunya terimplementasi
dalam berjalannya roda organisasi partai, seperti dalam pengambilan sebuah
keputusan dengan melibatkan seluruh kader partai tanpa terkecuali baik secara
struktur keorganisasian partai, yang tidak hanya terpusat pada elit level tertinggi,
hal tersebut sebagai bukti berlakunya hak bebas untuk berpendapat. Menjadi
tanda sebuah partai telah memulai demokrasi dari dalam tubuh partai tersebut.
At the level of the nation-state, political parties are indispensable to the
practical workings of government. Indeed, without parties, modern representative
democracy is simply unworkable.221 Tak dapat dipungkiri dalam sebuah Negara
Hanta Yuda AR. “Partai Politik, Pemilu, Koalisi Pemerintahan dan Prospek Demokrasi”.
(Indonesia: Journal the Indonesian Institute center for public policy research.2009). hlm. 79.
219 Sigit Pamungkas. “Partai Politik Teori Dan Praktik Diindonesia”. (Yogyakarta: Institute for
Democracy and Welfarism (IDW), 2011). hlm. 62.
220 Afan Gaffar, Politik Indonesia Transisi Menuju Demokrasi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002)
hlm. 9.
221 E.E. Schatterschneider, Party Government (New York: Holt, Rinehart and Winston, 1942). Dag
Anckar and Carsten Anckar note, however, that a half-dozen small, independent island states are
democracies without having political parties—namely, Belau (Palau), the Federated States of
Micronesia, Kiribati, the Marshall Islands, Nauru, and Tuvalu. Their size, extremely archipelagic
geography, and intense cultural resistance all contribute to an absence of political parties in these
218
361
demokrasi peran partai politik sangatlah dominan, sebab institusi Negara akan
terisi dan dijalankan oleh kebanyakan kader dari partai politik, dan berbicara
demokrasi modern tanpa sebuah partai niscaya demokrasi tidak akan berjalan
semestinya.
Proses demokratisasi internal partai dapat dilihat bagaimana proses
pemilihan seorang calon pimpinan partai melalui penyerapan aspirasi seluruh
kader di tingkat akar rumput (grassroots) sehingga ketua umum yang terpilih
benar-benar merupakan hasil dari aspirasi kader partai politik tersebut. Dengan
demikian proses demokrasi internal partai adalah suatu cara untuk mendapatkan
seorang pimpinan partai dengan menerapkan mekanisme pengambilan suara
dukungan dari setiap kader di dalam partai.
Faktanya beberapa tahun belakangan ini muncul fenomena aklamasi di
dalam partai politik (parpol) ketika menetapkan pimpinan tertinggi partai. Tidak
hanya terjadi pada partai yang dinotasikan sebagai partai keluarga, namun juga
sudah merebak ke sendi-sendi partai modern. Begitu pula partai muda partai yang
tergolong baru, beberapa diantaranya hadir dengan mengurung visi misi
demokrasi terbuka dengan berkaca anti pada praktek-praktek kelembagaan partai
pada era orde baru yang berpola patronase, partai-partai baru ini pun meniru
proses aklamasi dalam estafet kepemimpinan parpol. Misalnya yang terjadi di
Partai Gerindra. Prabowo Subianto yang notabene berposisi sebagai ketua dewan
pembina partai di daulat kembali menjadi ketua umum setelah kongres luar biasa
partai. Begitupun halnya dengan Partai Demokrat yang menunjuk secara aklamasi
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai ketua umum pasca ditetapkannya Anas
Urbaningrum oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai tersangka
korupsi. Padahal, SBY merupakan ketua dewan pembina dan secara ex-officio
ketua dewan kehormatan dan ketua majelis tinggi. Partai Golongan Karya (Golkar)
yang menghelat munas di Bali juga menetapkan Aburizal Bakrie secara aklamasi
sebagai ketua umum untuk yang kedua kali. Lalu Partai Demokrasi Indonesia
Perjuangan (PDIP) menunjuk kembali Megawati Soekarno Putri sebagai ketua
umum. Penunjukan Megawati mempertegas bahwa PDIP sangat lekat dengan
partai keluarga. Padahal, kader potensial di PDIP terhitung cukup banyak. Begitu
juga halnya dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang mengadakan
muktamar di Surabaya pada 16 Oktober 2014 dengan tiba-tiba mendapuk
Romahurmuziy sebagai ketua umum melanjutkan kepemimpinan Surya Dharma
Ali yang telah ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi oleh KPK. Selanjutnya
Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sekalipun memang dipimpin oleh seorang ketua
yang masih tergolong muda dibanding dengan partai lainnya akan tetapi tetap saja
Muhaimin Iskandar terpilih kembali dengan proses aklamasi.
Seluruh fakta diatas dilakukan dengan dalih penyelamatan partai. Akibat
yang ditimbulkan adalah banyaknya munas tandingan dengan munculnya nama
democracies. See Dag Anckar and Carsten Anckar, “Democracies Without Parties,” Comparative
Political Studies 33 (March 2000): 225–47.
Dikutip kembali oleh penulis dari Pippa Noris, Developments in Party Communications, POLITICAL
PARTIES AND DEMOCRACY IN THEORETICAL AND PRACTICAL PERSPECTIVES, (USA: National
Democratic Institute for International Affairs (NDI). Printed by United States, 2005), hlm. 3.
362
kader lain sebagai ketua partai tandingan. Sebut saja di Golkar muncul Agung
Laksono dan di PPP ada nama Djan Fariz, serta banyaknya kader muda potensial
dari PDI-P yang jarang lagi muncul di hadapan publik. Persoalan semakin
kompleks dengan terpecahnya partai serta konflik yang tidak selesai dalam waktu
sesaat, bahkan penyelesaian harus dibawa sampai ke ranah hukum.
Gejala ini disebut juaga dengan “personalisasi” juga terlihat tatkala suatu
organisasi mengalami kesulitan dalam melakukan suksesi atau pergantian
kepemimpinan. Dikatakan oleh Monica dan Jean Charlot,222 “Until a party (or any
association) has surmounted the crisis of finding a successor to its founder, until it
has drawn up rules of succession that are legitimate in the eyes of its members, its
‘institutionalization’ will remain precarious”. Selama suatu organisasi belum dapat
mengatasi krisis dalam pergantian kepemimpinannya, dan belum berhasil
meletakkan dasar pengaturan yang dapat diakui dan dipercaya oleh anggotanya,
maka selama itu pula pelembagaan organisasi tersebut masih bermasalah dan
belum dapat dikatakan kuat. Apalagi jika pergantian itu berkenaan dengan
pemimpin yang merupakan pendiri yang berjasa bagi organisasi bersangkutan,
seringkali timbul kesulitan untuk melakukan pergantian yang tertib dan damai.
Namun, derajat pelembagaan organisasi yang bersangkutan tergantung kepada
bagaimana persoalan pergantian itu dapat dilakukan secara “impersonal” dan
“depersonalized”.223
Huntington memaparkan empat dimensi suatu partai politik yang telah
menunjukkan institusionalisasi di dalamnya dengan artian partai mampu
berdemokrasi yang utuh dan terinstitusi dalam tubuh partai yaitu, Pertama,
dimensi penyesuaian diri dan kekakuan, kedua, dimensi kompleksitas dan
kesederhanaan, ketiga, dimensi otonomi dan sub-ordinasi dan yang keempat,
dimensi kesatuan dan perpecahan.224 Pada persoalan ramai-ramai partai
menggunakan pola aklamasi dalam memilih pimpinan partai sebagaimana yang
telah dipaparkan sebelumnya, penulis menganalisa menggunakan teori pada
dimensi pertama dan keempat, artinya sebuah partai politik masih terkungkung
pada sosok figur atau patronase yang kaku, sehingga merasa kader partai lainnya
tidak dianggap layak dan mampu memimpin sebuah organisasi partai. Selanjutnya
partai luput memprediksi akibat yang ditimbulkan dari pola-pola patronase yang
dilakukannya akan berakibat konflik internal yang memecah belah partai itu
sendiri.
1. Demokrasi Internal Partai, sebuah perspektif
Monica and Jean Charlot, ‘Les Groupes Politiques dans leur Environement’ in J. Leca and M.
Grawitz (eds.), Traite de Science Politique, iii (Paris: PUF, 1985), 437; dalam Ibid, hlm. 89. Lihat
dalam Jimly Asshiddiqie, Dinamika Partai Politik dan Demokrasi. Makalah. hlm. 3.
223 Jimly Asshiddiqie, Dinamika Partai Politik dan Demokrasi,
www.jimly.com/makalah/.../DINAMIKA_PARTAI_POLITIK.doc. Diakses tanggal 12 Juli 2016
224 Samuel P.Huntington, Tertib Politik pada Masyarakat yang Sedang Berubah, (Jakarta: Rajawali
Pers, cet ke-2 2004), hlm. 484.
222
363
“The primary democratic function of political parties is to link the citizenry
with the government”225 kalimat tersebut diungkapkan oleh Sartori, fungsi
demokrasi utama partai politik adalah untuk menghubungkan warga dengan
pemerintah. Dalam rangka untuk memainkan peran ini secara efektif, partai politik
harus memberikan kesempatan bagi partisipasi efektif oleh anggota, aktivis dan
kandidat pemimpin di partai dimulai dari pengambilan keputusan dari tingkat
terendah hingga kesempatan terbuka bagi setiap kader untuk memilih dan dipilih
sebagai pimpinan partai (party leader). Hal ini sejalan dengan perdebatan para
sarjanawan tentang kelayakan demokrasi internal partai sebagai cerminan
demokrasi negara modern secara umum. Terkait partai dan demokrasi sebuah
kutipan menarik dari pernyataan Susan Scarrow226 “Political parties are crucial
actors in representative democracies. Parties can help to articulate group aims,
nurture political leadership, develop and promote policy alternatives, and present
voters with coherent electoral alternatives.” partai politik adalah aktor penting
dalam perwakilan demokrasi. Partai politik
dapat membantu untuk
mengartikulasikan tujuan sebuah kelompok (masyarakat), memupuk
kepemimpinan politik, mengembangkan dan mendukung kebijakan alternatif,
serta mewakili pemilih dalam sebuah pemilu alternatif.
Sebagai organisasi modern, partai-partai sudah tentu dituntut untuk
mengembangkan etika berpartai secara modern pula. Termasuk di dalamnya etika
kepemimpinan yang demokratis dan kolegial, etika berorganisasi atas dasar
distribusi kekuasaan yang terdiferensiasi, dan etika pertanggungjawaban secara
public, yang semuanya dilembagakan melalui mekanisme internal partai yang
disepakati bersama. Melalui pelembagaan etika berpartai semacam itu, partaipartai tidak hanya diharapkan menjadi wadah pendidikan politik dan
pembentukan kepemimpinan, tetapi juga bisa menjadi basis sekaligus fondasi bagi
pelembagaan demokrasi kearah yang lebih substansial.227
Sarjanawan Jerman Robert Michels (1962) dalam tesisnya "iron law of
oligarchy" yang berpendapat bahwa partai politik secara inheren tidak bersikap
demokratis dan memiliki kecenderungan oligarki di mana elit partai mengambil
kendali partai dengan mengorbankan keanggotaan partai. Menurut argumen ini,
demokrasi internal partai tidaklah konsisten dengan preferensi elit yang sangat
terorganisir, sistem partai terstruktur dan terlembaga yang hanya dikontrol oleh
segelintir elit. partai politik oligarki cenderung memiliki pola sentralistik dalam
pengambilan proses keputusan yang tidak demokratis. Pandangan ini menekankan
Josh Maiyo, Political Parties and Intra-Party Democracy in East Africa - From Representative to
Participatory Democracy, Thesis, (Netherland: Leiden University, 2008), hlm. 19.
226 Susan Scarrow, Developments in Party Communications, IMPLEMENTING INTRA-PARTY
DEMOCRACY, National Democratic Institute for International Affairs (NDI, (USA: National
Democratic Institute for International Affairs (NDI). Printed by United States, 2005), hlm. 3.
225
Naskah Akademik RUU Tentang Perubahan Atas UU NO.2 Tahun 2008 Tentang Partai Politik,
Badan Legislasi DPR RI, 2010, hlm. 14.
227
364
bahwa demokrasi internal partai merupakan prasyarat bagi sebuah negara yang
demokratis. Dilain hal tesis ini telah disangkal oleh mereka yang berpendapat
sebaliknya, bahwa demokrasi internal partai melemahkan partai politik dan
karena alasan tersebut tidak diinginkan oleh beberapa partai politik terlebih partai
dengan jumlah kader yang besar. Para pendukung pandangan ini berpendapat
bahwa dalam rangka untuk melayani tujuan-tujuan demokrasi, partai politik
sendiri harus dikuasai oleh prinsip-prinsip oligarki "in order to serve democratic
ends, political parties themselves must be ruled by oligarchic principles‟ Teorell
(1999).228 Menjadi dalih keutuhan partai.
Konsep demokrasi internal partai memang membuka ruang perdebatan pro
dan kontra, sebab dalam beberapa kasus di berbagai partai yang ada pada negaranegara demokrasi modern penerapannya berbeda-beda. Dengan demikian konsep
demokrasi internal partai sangat ditentang di Negara-negara yang sejarah
feodalisme masih kuat atau belum mampu melepaskan diri dari skema politik
patronase. Meskipun demikian, dalih oligarki partai didasarkan pada kenyataan
bahwa demokrasi yang dimaksud adalah bagaimana pemimpin partai terpilih
secara aklamasi dengan asumsi dasar adalah hasil dari musyawarah mufakat. Serta
menyatakan demokrasi adalah sebuah proses yang bertentangan dengan voting,
agregasi kepentingan individu-individu serta hak-hak konstitusional. Benar
rasanya ungkapan J.J Rousseau bahwa: sangatlah mudah bagi seorang raja yang
mempertahankan dan memperluas kekusaannya dengan dalih untuk menjaga
keamanan dan keteraturan padahal raja mengambil keuntungan tunggal dari hal
tersebut dengan mengabaikan suara rakyat.229 Seharusnya demokrasi internal
partai didefinisikan sebagai sejauh mana partai politik dalam proses pengambilan
keputusan memberikan kesempatan bagi warga negara yang tergabung dalam
partai politik mempengaruhi pilihan terhadap pimpinan partai.
Scarrow (2005) dan Mimpen (2009)230 berpandangan bahwa demokrasi
internal partai memerlukan instrumen yang mendorong partisipasi yang sama dan
terbuka dari anggota partai politik sedemikian rupa bahwa kepentingan yang
kurang lebih sama diwakili dan terwakili “instruments that promote equal and open
participation of political party members in such a way that interests are more or less
equally represented“ Ini merupakan dasar bagi berfungsinya demokrasi secara luas
dalam bernegara yang dapat terlihat pada kompetensi keseluruhan warga negara
dan partai politik dalam praktek memilih pimpinan partai politik.
Unsur yang masih berkaitan dengan demokrasi internal partai adalah
adanya aturan dan struktur partai politik yang stabil.231 Untuk melihat itu, bisa
Josh Maiyo, Op.Cit, hlm. 19.
J. J Rousseau, Perjanjian Sosial, Terjemahan dari Du Contract Social, Alih Bahasa: Vincent Bero,
(Jakarta: Trans Media Pustaka, 2007), hlm. 172.
230 Blessings Chinsinga and Gerald Chigona, The State of Intra-party Democracy in Malawi: A
Comparative Audit of Selected Party Constitutions, A Report Prepared for the Centre for Multiparty
Democracy Malawi (CMD-M), (Malawi: (CMD-M) 2010), hlm. 10.
231 M. Rifqinizamy Karsayuda, Partai Politik Lokal Untuk Indonesia, Kajian Yuridis Ketatanegaraan
Pembentukan Partai Politik Lokal di Indonesia Sebagai Negara Kesatuan, (Jakarta: PT Rajagrafindo
Persada, 2015), hlm. 115.
228
229
365
didekati melalui tiga (3) formula, yaitu pertama, independensi organisasi, kedua,
disiplin imternal, dan ketiga, rutinitas yang dijalankan oleh partai politik. Pada
formula yang pertama diukur bagaimana independensi partai terkait dengan
patron dan klien yang amat mungkin muncul di dalam partai, bagaimana
independensi partai dengan sumber pendanaan organisasi, termasuk
independensi dalam pengambilan kebijakan partai. Dalam formula yang kedua,
diukur soal loyalitas terhadap organisasi partainya, tingkat keterpecahan partai
politik oleh faksi-faksi yang ada, termasuk melihat bagaimana kontrol partai atas
seleksi kandidat pimpinan partai yang berkompetisi dalam jabatan partai politik,
formula terakhir melihat rutinitas organisasi mulai dari rutinitas perencanaan dan
pelaksanaan sistem organisasi dapat dilaksanakan mulai dari struktur tertinggi
hingga terbawah di berbagai lintasan territorial.232
2. Demokrasi Internal Partai, transformasi kepemimpinan partai politik
Proses demokrasi internal partai salah satu kaitannya adalah bagaimana
proses pemilihan seorang kandidat pimpinan partai melalui penyerapan seluruh
aspirasi kader sehingga pimpinan partai yang terpilih mendapat legitimasi yang
kuat untuk menjalankan fungsi sebagai seorang pimpinan tertinggi di dalam
partainya. Akan tetapi yang menjadi persoalan di dalam penerapan demokrasi
internal bagi partai politik yang memiliki jumlah kader yang besar, maka dalam
pandangan Alan Warre ada dua cara untuk melalui hal tersebut, sebagaimana
pernyataannya:
“To have democratic control of candidate selection to overcome the
problem posed by the size of the membership, the first is to have
local meeting and so on until the final meeting into which the view
expressed at the original local meeting are fed in or to have all
members vote directly in choosing candidates”.233
Untuk memperoleh control/mekanisme demokratis di dalam pemilihan kandidat
pimpinan partai (pada partai) yang memiliki jumlah anggota yang besar yaitu:
Pertama, dengan melakukan pertemuan tingkat lokal hingga ke pertemuan tingkat
akhir (pusat) dimana setiap pandangan dari para anggota dari tingkat lokal masuk
di dalam pertimbangan atau melalui mekanisme semua anggota hadir tanpa
terkecuali dan memilih secara langsung terhadap kandidat yang dicalonkan.
Permasalahan lain dalam sebuah partai ketika menerapkan demokrasi
internal partai selain persoalaan jumlah kader yang besar, memungkinkan
dinamika partai bermuara kepada konflik faksi atau kepentingan kelompok, maka
persoalan yang lebih berat terhadap partai adalah sifat-sifat oligarki, yang identik
dengan kekuasaan diukur dari besar kecilnya jumlah uang yang dimiliki oleh
seorang kandidat calon pemimpin partai. Jeffrey Winters, menjelaskan makna kata
oligarki berasal dari kata oligarch yang berarti seseorang yang menguasai dan
mengendalikan konsentrasi besar sumber daya material yang bisa digunakan
Miriam Budiarjo, Dasar-dasar Ilmu Politik: Edisi Revisi, (Jakarta: Gramedia Pustaka Mandiri,
2010), hlm. 415.
233 Alan Ware, Political Parties andParty Systems, (New York: Oxford University Press, 1996), hlm
258.
232
366
untuk mempertahankan atau meningkatkan kekayaan pribadi dan posisi sosial
ekslusifnya. Lebih jauh menurut Winters: kenyataannya, kekayaan yang sangat
besar di tangan minoritas kecil menciptakan kelebihan kekuasaan yang signifikan
di ranah politik termasuk dalam demokrasi … penekanan terhadap dampak politik
kesenjangan material terhadap “ketidak setaraan kondisi”… membuat bentukbentuk kekuasaan dan ekslusi minoritas oligarkis berbeda dengan yang lain,
seorang kandidat politik yang memiliki uang yang banyak untuk berkampanye
umumnya sukar untuk dikalahkan.234
Mengambil sebuah contoh pernyataan Pengamat politik dari Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia (LIPI) Ikrar Nusa Bakti memprediksi politik uang dalam
pemilihan ketua umum di Musyawarah Nasional Luar Biasa Partai Golkar akan
tetap terjadi. Potensi itu semakin besar setelah panitia Munaslub memutuskan
tidak akan ada uang saku bagi pengurus daerah yang akan menjadi pemilih dalam
Munas Golkar. "Money politic pasti tetap terjadi. Hampir tidak mungkin itu bisa
dihilangkan,"235 lalu pada kasus partai demokrat misalnya, Mantan Bendahara
Umum Partai Demokrat M Nazaruddin mengatakan, Ketua Dewan Pembina Partai
Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono mengetahui adanya politik uang dalam
Kongres Partai Demokrat II yang salah satu agendanya adalah memilih ketua
umum baru. Hal ini disampaikan Nazaruddin dalam wawancara dengan Metro TV,
Selasa (19/7/2011). "(Pak SBY) mengetahui permainan uang ini," kata
Nazaruddin, yang juga mantan anggota Komisi III DPR. Hal ini diketahui setelah
salah satu calon yang kalah menemukan bukti-bukti adanya politik uang dalam
pemilihan ketua umum Partai Demokrat.236
3. Demokrasi Internal Partai, Proses pemilihan ketua partai yang
demokratis
Karena proses pemilihan pemimpin partai sangat penting untuk
menunjukkan citra partai, beberapa hal yang penting bagi sebuah partai ketika
akan melakukan proses pemilihan ketua partai adalah, Pertama, mempersiapkan
mekanisme pra-seleksi, sebab hal ini akan berperan penting pada saat pemilihan
ketua partai saat munas atau kongres partai berlangsung. Diluar syarat-syarat
administratif misalnya, calon akan diminta untuk menunjukkan bahwa mereka
memiliki dukungan dari sejumlah pihak regional (pengurus daerah) atau
persentase tertentu dari delegasi pimpinan partai serta dewan pembina. Atau,
adanya papan nominasi yang terdiri dari perwakilan dari faksi internal partai yang
terbentuk akan memberikan suara berdasarkan jumlah calon yang diusung,
tahapan selanjutnya seluruh calon "disetujui” oleh sebuah komite independen
internal partai. Kedua, memprediksi sejak awal kemungkinan konflik yang
Jeffrey A. Wintes, Oligarki, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Umum, 2011), hlm. 8.
Politik Uang di Munaslub Golkar Diprediksi Tetap Terjadi , Jakarta, Kompas.com
http://nasional.kompas.com/read/2016/04/29/08422611/Politik.Uang.di.Munaslub.Golkar.
diakses pada tanggal 16 Juli 2016
236 SBY Tahu Politik Uang di Partai Demokrat, Jakarta, Kompas.com
http://nasional.kompas.com/read/2011/07/19/19452827/sby.tahu.politik.uang.di.partai.demokr
at. diakses pada tanggal 16 Juli 2016
234
235
367
mungkin terjadi, maka hal tersebut sekalipun mungkin akan tetap ada, tetapi telah
diusahakan untuk diminimalisir sejak jauh hari, sebab praktek yang banyak kita
temukan di Indonesia adalah proses seleksi kandidat dilakukan secara tertutup
dan baru di sosialisasikan pada saat munas atau kongres akan berlangsung. Hal ini
menyebabkan resistensi internal terbentuk secara cepat ketika proses pemilihan
berlangsung.
Beberapa Kendala, diantaranya partai akan kesulitan menemukan pihak
yang netral sebagai komite independen yang akan melakukan verifikasi terhadap
kandidat, maka menghadirkan orang-orang yang berasal dari luar partai itupun
dapat dilakukan. Langkah selanjutnya memperjelas dan memperketat regulasi
partai tentang pencalonan seseorang menjadi kandidat ketua partai, apabila pada
akhirnya konflik tetap tak bisa dihindari maka penyelesaian dapat dilakukan
melalui mahkamah partai atau dimungkinkan melalui pengadilan apabila sistem
dalam sebuah negara terhadap penyelesaian sengketa internal partai telah
terintegrasi di dalam undang-undang.
Untuk mengatasi berbagai potensi buruk partai politik seperti
dikemukakan di atas, diperlukan beberapa mekanisme penunjang, mekanisme
internal yang menjamin demokratisasi melalui partisipasi anggota partai politik itu
sendiri dalam proses pengambilan keputusan. Pengaturan mengenai hal ini sangat
penting dirumuskan secara tertulis dalam anggaran dasar (constitution of the
party) dan anggaran rumah tangga partai politik bersangkutan yang ditradisikan
dalam rangka “rule of law”. Semisal partai ingin menerapkan seleksi secara alami
bagaimana agar partai dengan jumlah kader yang besar sehingga setiap individu
kadernya berkeinginan untuk menjadi pimpinan partai, mengambil pemikiran
Alan Ware, syarat ideal pimpinan partai politik haruslah telah lama menjadi
legislator partainya di parlemen, dengan demikian dia tidak hanya memahami
perpolitikan tetapi juga telah berpengalaman memperjuangkan aspirasi partainya
sehingga mampu untuk meneruskan visi misi partainya.237 Ide ini hanyalah sebuah
contoh yang dapat diterapkan dalam cara yang berbeda.
Setiap partai tentunya memiliki acuan masing-masingnya seperti AD/ART
partai atau aturan tertulis lainnya, Jimly238 menambahkan disamping anggaran
dasar dan anggaran rumah tangga, sesuai tuntutan perkembangan, perlu
diperkenalkan pula sistem kode etika positif yang dituangkan sebagai “Code of
Ethics” yang dijamin tegaknya melalui dewan kehormatan yang efektif. Dengan
begitu, di dalam dinamika internal organisasi partai, berlaku tiga dokumen
sekaligus, yaitu “Code of Law” yang tertuang dalam anggaran dasar (constitution of
the political party), “Code of Conduct” (code of organizational good conducts) yang
tertuang dalam anggaran rumah tangga, dan “Code of Ethics” dalam dokumen yang
tersendiri. Dengan demikian, norma hukum, norma moral, dan norma etika
M. Imam Akbar Hariri, “Demokrasi Internal Partai: Studi Proses Pemilihan Ketua Umum Partai
Golakar Pada Munas Golkar Tahun 1998, 2004 dan 2009”, Tesis, (Jakarta: Universitas Indonesia,
2012) hlm. 137.
238 Jimly Asshiddiqie, Op.Cit. hlm. 6.
237
368
diharapkan dapat berfungsi efektif membangun kultur internal setiap partai
politik. Aturan-aturan yang dituangkan di atas kertas, juga ditegakkan secara nyata
dalam praktek, sehingga prinsip ‘rule of law’, dan ‘rule of ethics’ dapat sungguhsungguh diwujudkan, mulai dari kalangan internal partai-partai politik sebagai
sumber kader kepemimpinan negara.
Bila kita melakukan studi perbandingan misalnya, masalah utama bagi
partai-partai politik di Malawi239 “The major problem for political parties in Malawi
is that procedures embodied in party constitutions for identifying leadership are
hardly adhered to in practice...” bahwa aturan hukum dan aturan moral yang
terkandung dalam konstitusi partai sebagai acuan kepemimpinan hampir tidak
ditaati dalam praktek. Ada kecenderungan pimpinan partai incumbent
mengabaikan kerangka kelembagaan yang ada untuk menjaga status quo sebagai
ketua partai. Pemimpin partai dengan sengaja mengabaikan aturan hukum dan
aturan moral bahkan membuatnya menjadi tabu untuk untuk dibahas. Hal ini
untuk menjelaskan mengapa semua partai politik besar di negara tersebut selalu
berkutat dengan persoalan suksesi yang berakhir perpecahan di internal partai
karena kebanyakan pemimpin partai ingin mempertahankan posisi kekuasaan
mereka di partai meskipun mereka telah menjalani masa jabatan sesuai dengan
yang telah ditetapkan. Selama aturan tidak dibuat dengan jelas dan tidak
dijalankan maka akibatnya, individu-individu (kader) yang berbakat tidak akan
mendapat kesempatan untuk berkembang, dan hanya menjadi mesin partai
semata. Oleh karena itu tidak mengherankan bahwa beberapa aturan partai di
Malawi bahkan tidak menyediakan batas waktu berkuasa untuk presiden partai.
Apakah persoalan yang sama hari ini juga berlaku pada partai-partai politik yang
ada di Indonesia?.
Selanjutnya kita dapat mencontah Kanada, Pada tahun 1965 kebanyakan
partai di kanada masih menggunakan konsep pemilihan terpusat, dan hanya
melibatkan segelintir oarang pada kepengurusan partai, pola ini kemudian
berubah pada akhirnya hampir semua partai di Kanada memilih pemimpin partai
mereka secara langsung pada konferensi partai dan lalu melakukannya untuk
beberapa waktu pada masa-masa berikutnya, dengan melibatkan seluruh kader
mulai dari proses seleksi melalui konvensi kepemimpinan yang didelegasikan,
Partai Liberal adalah partai pertama yang mendukung pilihan melalui pemungutan
suara langsung dari anggota serta melakukan pencalonan kandidat terbuka bagi
setiap kader partai. Partai ini dipengaruhi oleh pola pemilihan pimpinan partai
yang telah dilakukan pada tingkat daerah (Provinsi). Begitu pula halnya dengan
Inggris, Partai Liberal adalah partai Inggris pertama yang secara resmi melibatkan
seluruh anggotanya dalam pemilihan pimpinan partai. Telah dimulai sejak 1976
Partai Liberal Inggris mengadopsi ketentuan untuk pemimpin harus dipilih melalui
pemungutan suara dari seluruh keanggotaan partai. Hal tersebut diungkapakan
oleh Punnet (1992) dan Stark (1996): The Liberal Party was the first British party
to formally include its members in the leadership choice. A special party assembly
239
Blessings Chinsinga and Gerald Chigona, Op.Cit, hlm. 21.
369
held in June 1976 adopted provisions for future leaders to be chosen through a vote of
the entire party membership.240
Oleh sebab itu suatu sistem demokrasi mengharuskan semua partai politik
untuk selalu menerapkan demokrasi internal. Hal ini harus diundangkan sehingga
berjalannya suatu demokrasi internal tidak bergantung pada kemauan baik
(‘goodwill’) dari pemimpin partai tersebut. Karena bila tidak, demokrasi akan
terancam. Demokratisasi internal menjamin adanya dialog terbuka dalam proses
pembentukan kehendak politik. Dalam suatu partai politik harus ada sistem
pemilu bebas yang memungkinkan pergantian anggota secara adil dan bisa
dipertanggungjawabkan kepada pengadilan publik.241
Para pemimpin dan fungsionaris partai memiliki kecenderungan untuk
menghimpun kekuasaan di dalam parpol mereka dan selanjutnya berebut
kekuasaan di luar partai. Demokrasi internal yang berjalan dengan baik akan
mengimbangi kecenderungan ini dan menjaga struktur organisasi agar tetap
terbuka terhadap kontrol demokratis dan partisipasi anggotanya serta
memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk memberikan pengaruhnya.
B. PENUTUP
Seleksi pimpinan partai politik adalah salah satu kegiatan yang paling
penting dalam sebuah partai politik. Sebab dari sana akan tercermin apakah partai
tersebut merupakan partai kader yang demokratis atau partai sentral yang
tertutup. Dalam semua hal pemimpin partai adalah tokoh-tokoh kunci dalam
kegiatan organisasi partai yang seharusnya berasal dari akar rumput. Selain itu
mereka juga perwakilan suara dalam ranah legislatif dan eksekutif. Para pemimpin
partai haruslah berpengaruh dalam partai mereka, dan lebih luas lagi pada
pengambilan keputusan publik, membuat pernyataan tentang siapa yang memilih
mereka relevan dengan pertanyaan tentang siapa yang memiliki pengaruh
demokratis dalam pemerintahan, dari sini dapat diukur marwah seorang pimpinan
partai yang benar-benar berasal dari pekerja partai dan terpilih melalu mekanisme
yang demokratis pula, sudah sangat jelas didukung oleng banyak pemilih.
Mengingat perubahan norma-norma demokrasi didalam tubuh partai dan
pengaruh pertumbuhan kader-kader potensial sebagai pemimpin partai, tidak
mengherankan bahwa kita menemukan perubahan signifikan dalam metode
seleksi dalam beberapa tahun terakhir. Kecenderungan umumnya adalah pola-pola
tersebut jauh dari yang seharusnya karena seleksi yang dilakukan hanya oleh
sekelompok kecil elit partai.
William Cross and André Blais, “Who selects the party leader?,” Law Written, (Canada: Carleton
University Ottawa Canada and University of Montreal Canada. 2007), hlm. 6.
240
Thomas Meyer, Peran Partai Politik dalam Sebuah Sistem Demokrasi: Sembilan Tesis, (Jakarta:
Friedrich-Ebert-Stiftung (FES) Kantor Perwakilan Indonesia, 2013), hlm. 34.
241
370
Penulis mengidentifikasi faktor-faktor umum yang mempengaruhi partai
untuk dapat menjadi representasi demokrasi dalam sebuah negara adalah partai
yang menjalankan proses pergantian pimpinan partai dengan cara-cara yang
demokratis pula, apakah dengan bentuk memberikan hak kepada seluruh kader
pada pemilihan langsung yang diadakan di munas atau kongres partai, ataupun
dengan mekanisme delegasi dari perwakilan daerah yang telah terpilih dengan
cara-cara yang fair. Pada intinya partai atau elit partai tidak melakukan
pelanggengan kekuasaan dengan menggunakan cara-cara seperti membuat
regulasi yang menguntungkan status quo, atau praktek-praktek money politic pada
saat maju menjadi kandidat pimpinan partai. Selanjutnya demokrasi dalam sebuah
partai modern sudah seharusnya meninggalkan bentuk-bentuk politik patronase
dan oligarki, serta yang terakhir mengintegrasikan resolusi konflik/sengketa paska
suksesi partai kedalam sebuah undang-undang agar supaya mengantisipasi
disintegrasi partai yang akut dan juga untuk segera memberi kepastian hukum.
Karena sudah pasti diterima atau tidak hal tersebut akan berpengaruh pada
stabilitas negara.
Daftar Pustaka
Afan Gaffar, 2002, Politik Indonesia Transisi Menuju Demokrasi, Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
371
Samuel P.Huntington, 2004, Tertib Politik pada Masyarakat yang Sedang Berubah,
Cet-2 Jakarta: Rajawali Pers.
J. J Rousseau, 2007. Perjanjian Sosial, Terjemahan dari Du Contract Social, Alih
Bahasa: Vincent Bero, Jakarta: Trans Media Pustaka.
Miriam Budiarjo, 2010. Dasar-dasar Ilmu Politik: Edisi Revisi, Jakarta: Gramedia
Pustaka Mandiri.
Jeffrey A. Wintes, 2011. Oligarki, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Umum.
Thomas Meyer, 2013. Peran Partai Politik dalam Sebuah Sistem Demokrasi:
Sembilan Tesis, Jakarta: Friedrich-Ebert-Stiftung (FES) Kantor Perwakilan
Indonesia.
M. Rifqinizamy Karsayuda, 2015. Partai Politik Lokal Untuk Indonesia, Kajian
Yuridis Ketatanegaraan Pembentukan Partai Politik Lokal di Indonesia
Sebagai Negara Kesatuan, Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.
Pippa Noris, 2005. Developments in Party Communications, POLITICAL PARTIES
AND DEMOCRACY IN THEORETICAL AND PRACTICAL PERSPECTIVES,
National Democratic Institute for International Affairs (NDI, (USA: National
Democratic Institute for International Affairs (NDI). US: Printed by United
States.
Susan Scarrow, 2005. Developments in Party Communications, IMPLEMENTING
INTRA-PARTY DEMOCRACY, National Democratic Institute for International
Affairs (NDI, (USA: National Democratic Institute for International Affairs
(NDI). US: Printed by United States.
Alan Ware, 1996. Political Parties andParty Systems, New York: Oxford University
Press.
William Cross and André Blais, 2007. “Who selects the party leader?,” Law Written,
Canada: Carleton University Ottawa Canada and University of Montreal
Canada.
Josh Maiyo, 2008. POLITICAL PARTIES AND INTRA-PARTY DEMOCRACY IN EAST
AFRICA - From Representative to Participatory Democracy, Thesis,
Netherland: Leiden University.
Blessings Chinsinga and Gerald Chigona, 2010. The State of Intra-party Democracy
in Malawi: A Comparative Audit of Selected Party Constitutions, A Report
Prepared for the Centre for Multiparty Democracy Malawi (CMD-M), Malawi:
(CMD-M).
372
Hanta Yuda AR. 2009. “Partai Politik, Pemilu, Koalisi Pemerintahan dan Prospek
Demokrasi”. Indonesia: Journal the Indonesian Institute center for public
policy research.
Sigit Pamungkas, 2011. “Partai Politik Teori Dan Praktik Diindonesia”. Yogyakarta:
Institute for Democracy and Welfarism (IDW).
M. Imam Akbar Hariri, 2012. “Demokrasi Internal Partai: Studi Proses Pemilihan
Ketua Umum Partai Golakar Pada Munas Golkar Tahun 1998, 2004 dan
2009”, Tesis. Jakarta: Universitas Indonesia.
Naskah Akademik, 2010. RUU Tentang Perubahan Atas UU NO.2 Tahun 2008
Tentang Partai Politik, Badan Legislasi DPR RI.
Internet
Jimly Asshiddiqie, Dinamika Partai Politik dan Demokrasi,
www.jimly.com/makalah/.../DINAMIKA_PARTAI_POLITIK.doc. Diakses
tanggal 12 Juli 2016.
Politik Uang di Munaslub Golkar Diprediksi Tetap Terjadi, Jakarta, Kompas.com
http://nasional.kompas.com/read/2016/04/29/08422611/Politik.Uang.di.
Munaslub.Golkar. diakses pada tanggal 16 Juli 2016.
SBY
Tahu Politik Uang di Partai Demokrat, Jakarta, Kompas.com
http://nasional.kompas.com/read/2011/07/19/19452827/sby.tahu.politi
k.uang.di.partai.demokrat. diakses pada tanggal 16 Juli 2016.
373
DEMOKRATISASI DALAM MENJARING PEMIMPIN PARTAI POLITIK
Abstrak
Konsensus bangsa Indonesia, yang diformulasikan melalui Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, menegaskan bahwa segenap
masyarakat berwenang untuk kemerdekaan berserikat, berkumpul, dan
mengeluarkan pendapat, dalam rangka mengawal jalannya pemerintahan yang
berlandaskan prinsip demokrasi.
Untuk memberi wadah bagi masyarakat dalam menyuarakan aspirasi dan
gagasan dengan penuh tanggung jawab, salah satunya melalui sarana partai politik.
Partai politik dapat dianalogikan sebagai cermin dari penyelenggaraan
pemerintahan, baik buruknya pemerintahan berpengaruh dari partai politik,
karena hanya kader terbaik yang diberi kewenangan untuk mengemban amanah
dipusaran kekuasaan.
Empuknya kursi pemimpin partai politik, tidak jarang menimbulkan banyak
pihak yang berhasrat, bahkan terdapat “oknum” yang sengaja memanipulasi
mekanisme demi mendapatkan maksud dan tujuannya. Perlu dipahami bahwa
amanat peraturan perundang-undangan, untuk menjadi pemimpin diserahkan
sepenuhnya dalam mekanisme internal partai politik, dengan menerapkan asas
demokrasi dan mengedepankan musyawarah dalam mencapai mufakat.
Kata Kunci: Partai Politik, Demokrasi, Pemimpin
Nama
Instansi
Nomor HP
Email
: Cakra Arbas
: Pascasarjana Magister Ilmu Hukum, Universitas Medan Area
: (+62) 822 6735 0087
: [email protected]
374
DEMOKRATISASI DALAM MENJARING PEMIMPIN PARTAI POLITIK
Cakra Arbas, Pascasarjana Magister Ilmu Hukum Universitas Medan Area
A.
Pendahuluan
Pasca reformasi, sudah menjadi rahasia umum bahwa berimplikasi dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara. Salah satunya adalah begitu masifnya
keikutsertaan masyarakat dalam menyelenggarakan pemerintahan, dengan kata
lain masyarakat diberi saluran dalam mewujudkan pemerintahan, sehingga
diharapkan akan tercipta nuansa demokratis. Salah satunya dengan mencermati
perkembangan partai politik, yang bagaikan cendawan di musim penghujan,
tumbuh subur dengan berbagai warna yang melatarbelakanginya.
Pada momentum yang sama, semestinya juga patut dipertanyakan, apakah
nuansa demokrasi yang telah dijalani adalah benar sesuai dengan kearifan lokal
masyarakat Indonesia ? atau dengan kata lain, mengapa tidak menerapkan
demokrasi yang sejalan dengan nilai yang hidup dan berkembang di Indonesia ?
setidak-tidaknya ketika tetap menerapkan demokrasi, sebagai suatu pilihan dalam
berbangsa dan bernegara, akan tetap mengabstraksikan nilai yang terkandung
oleh bangsa Indonesia.
Menariknya bahwa Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945, dari berbagai fase amandemennya, semakin menyempurnakan kedudukan
partai politik sebagai salah satu pilar dalam penyelenggaraan pemerintahan. Hal
ini dapat dicermati dengan adanya amanat dari Pasal-Pasal yang termaktub dalam
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yang secara nyata
dan tegas menyinggung terkait eksistensi partai politik.
Perihal ini faktanya telah mendorong berbagai elemen masyarakat, untuk
berlomba-lomba menjadi yang nomor satu dalam pengelolaan struktur partai
politik, bahkan tidak jarang banyak “oknum” menghalalkan segala cara, demi kursi
ketua partai politik, sehingga salah satunya berdampak dengan adanya gejolak
diinternal partai politik. Carut marut pengelolaan partai politik, sebagaimana yang
dipertontonkan secara masif oleh berbagai media, turut dilatarbelakangi oleh
bobroknya sistem partai politik, dalam menentukan figur pemimpin.
Atas berbagai realita dan insiden yang menimpa beberapa partai politik pada
hari-hari belakangan ini, baik pada skala nasional maupun ditataran daerah
otonom, seyogyanya para kader terhindar dari berbagai tipu daya para “oknum”
pemimpin yang hanya mampu meniupkan angin surga, akan tetapi nyata-nyata
tidak mampu mewujudkan berbagai hakikat. Semestinya melalui wadah partai
politik akan muncul para calon pemimpin bangsa, yang mampu berpikir rasional
serta memiliki mental dan nyali, untuk bertindak demi kepentingan partai dan
masyarakat umum.
B.
Paradigma Bernegara dan Partai Politik
Paradigma disini menunjuk pada titik tolak cara pandang atau kerangka
berpikir yang didasarkan atas fakta atau kerangka umum yang mempedomani
375
kegiatan ilmiah dalam suatu disiplin keilmuan. Paradigma oleh Bernard Arief
Sidharta242 diposisikan sebagai:
“research guidance” lewat “model problems and solutions” yang menujukkan
bagaimana ilmuwan harus menjalankan penelitian dan telaah ilmiah, dan
dengan itu berfungsi normatif. Dengan demikian, paradigma itu berfungsi
sebagai “the central cognitive resource” untuk kegiatan ilmiah yang
menentukan rasionalitas ilmiah dalam disiplin yang bersangkutan.
Dapat dianalogikan bahwa dengan memahami tentang paradigma,
seyogyanya stakeholder yang berkedudukan pada infrastruktur politik (partai
politik), semestinya mampu menghindarkan dirinya dari berbagai bentuk
perbuatan yang bertentangan dengan nilai, asas, dan norma yang diberlakukan.
Dalam konteks bernegara, khususnya dalam rangka menyelenggarakan
pemerintahan, seyogyanya sebagaimana yang dinyatakan oleh M. Solly Lubis243,
bahwa ada 3 (tiga) bentuk paradigma, yaitu:
- Pertama, paradigma filosofis (philosophical paradigma), yakni berupa
nilai-nilai filosofis yang terdapat mengakar sebagai satu sistem nilai
dalam masyarakat bangsa, yang secara bernegara, semula diabstraksikan
oleh founding fathers dari sistem budaya bangsa. Selanjutnya diulangkan
menjadi ideologi atau dasar negara, seterusnya diderivasi dan dijabarkan
ke dalam sistem kehidupan nasional, hingga tercermin dalam sistem
kehidupan termasuk semua subsistem kehidupan nasional tersebut.
Dalam konteks bangsa Indonesia, Pancasila merupakan himpunan dari
nilai-nilai dan kaidah serta etikal kehidupan sehari-hari yang dianut dan
dipelihara dalam masyarakat sejak jauh-jauh hari sebelum kemerdekaan.
- Kedua, paradigma yuridis (juridical paradigma), yakni segala sesuatunya
berdasarkan konstitusi244. Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945 merupakan acuan hukum tertinggi dan
membawahi aturan hukum lainnya, baik peraturan berupa produk Pusat
maupun Daerah. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945 juga memiliki political messages yakni amanat-amanat
kebijakan dalam pasal-pasalnya.
- Ketiga, paradigma politis (political paradigma) yakni berupa derivat dari
Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945, berupa rumusan kebijakan mengenai pengelolaan Pemerintah dan
pembangunan nasional.
Bernard Arief Sidharta, Meuwissen Tentang Pengembanan Hukum, Ilmu Hukum,
Teori Hukum dan Filsafat Hukum, (Bandung: Refika Aditama, 2009), hlm. 70 – 75. Pada kesempatan
yang sama, M. Solly Lubis, menerangkan bahwa paradigma adalah suatu parameter, rujukan, acuan
yang dipergunakan sebagai dasar untuk berpikir (thinking) dan bertindak (action) lebih lanjut. M.
Solly Lubis, Ilmu Pengetahuan Perundang-undangan, (Bandung: Mandar Maju, 2009), hlm. 13 – 17.
243 M. Solly Lubis, Serba-Serbi Politik dan Hukum, (Medan: PT. Softmedia, 2011), hlm. 80 – 84.
244 Konstitusi negara, yang biasanya disebut sebagai “hukum fundamental” negara,
merupakan dasar dari tatanan hukum nasional. Konstitusi menurut pengertian hukum adalah apa
yang sebelumnya disebut konstitusi dalam pengertian materialnya, yang meliputi norma-norma
yang mengatur proses pembentukan Undang-Undang. Hans Kelsen, Teori Umum Tentang Hukum
dan Negara, (Bandung: Nusa Media, 2011), hlm. 363 - 367.
242
376
Pada prinispnya ketiga paradigma tersebut tidak dapat berjalan masingmasing, melainkan ketiga paradigma hendaknya beriringan jalan, serta senantiasa
menjadi entitas antara satu dan lainnya. Sehingga tujuan bernegara dan cita
perjuangan bangsa Indonesia, kiranya dapat terwujud sesuai dengan hakikatnya.
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, telah menegaskan
bahwa Indonesia sebagai negara hukum, khususnya sebagaimana bunyi amanat
dari Pasal 1 (3) yang menyebutkan bahwa “Negara Indonesia adalah Negara
Hukum”.
Sejalan dengan uraian tentang konsep negara hukum tersebut, ada dua
substansi dasar yang tentunya sangat erat kaitannya, yaitu: Pertama, Adanya
paham konstitusi (konstitusionalisme)245. Kedua, Sistem Pemerintahan demokrasi.
Memerhatikan rumusan mengenai konsep negara hukum Indonesia, sudah tentu
dapat dianalisa bahwa hukum dan demokrasi merupakan dwi tunggal, demokrasi
harus diayomi oleh hukum agar tidak mengarah ke anarki, sedangkan pada sisi
lainnya, hukum harus didasari oleh demokrasi, agar tidak mengarah ke
otoritarisme, atau absolutisme, atau totalitarisme.246
1.
Konstitusionalisme Partai Politik
Hakikatnya partai politik di Negara Kesatuan Republik Indonesia, merupakan
wujud nyata dari amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945, mengingat berbagai teknis penyelenggaraan pemerintahan memerlukan
sinergitas dari keberadaan partai politik. Terlebih lagi, secara gamblang konstitusi
menegaskan bahwa pada posisi kekuasaan tertentu, wajib diisi dari unsur partai
politik.
Perihal ini pada prinsipnya dapat dicermati dari rumusan Pasal yang
tertuang pada Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945,
diantaranya:
- Pertama, rumusan Pasal 6A (2) yang berbunyi “Pasangan Calon presiden
dan Wakil Presiden diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai
politik peserta pemilihan umum sebelum pelaksanaan pemilihan umum”.
245 Konstitusionalisme merupakan suatu paham yang berdasarkan pada konstitusi suatu
negara. Konstitusionalisme dilatar belakangi oleh cita kenegaraan dan perjuangan yang bibitbibitnya sejak lama telah tumbuh secara evolusif, didorong oleh amanat penderitaan akibat
terperkosanya hak-hak asasi, baik hak selaku individu maupun hak sebagai bangsa pada masa
rezim yang menindasnya, misal oleh rezim kolonial. M. Solly Lubis, Manajemen Strategis
Pembangunan Hukum, (Bandung: Mandar Maju, 2011), hlm. 1 -3.
Aristoteles mendefinisikan konstitusionalisme sebagai warisan politik yang bermuara dari
doktrin hukum yang berdaulat, dan bahwa pemerintah merupakan pelayan hukum, sekaligus
bahwa ada suatu hak yang melekat pada rakyat, berdasarkan kemampuan kolektifnya membuat
pertimbangan, memilih para penguasa dan meminta pertanggungjawabannya. Arsitoteles, Politik,
(Yogyakarta: Pustaka Promethea, 2016), hlm. xxxiii – xxxvii.
246 Soehino, Hukum Tata Negara Perkembangan Sistem Demokrasi di Indonesia, (Yogyakarta:
BPFE, 2010), hlm. 60 – 65. Bandingkan juga, bahwa negara hukum jika tidak bersifat negara hukum
yang demokratis, tidak selalu baik, karena hukum itu sendiri dapat dibuat dan diterapkan secara
semena-mena oleh penguasa. Dalam hal ini, Jerman di bawah pimpinan Hitler juga menganut
negara hukum (rechtstaat), tetapi hukum yang diakui berdaulat itu ditetapkan secara sewenangwenang oleh Hitler sebagai diktator dan “demagog”, oleh karenanya selanjutnya berkembang
democratische rechtstaat yakni negara hukum yang demokratis. Jimly Asshiddiqie, Pokok-pokok
Hukum Tata Negara Indonesia, (Jakarta: Bhuana Ilmu Populer, 2008), hlm. 297 – 303.
377
-
-
-
Kedua, rumusan Pasal 8 (3) yang berbunyi “Jika Presiden dan Wakil
Presiden mangkat, berhenti, diberhentikan, atau tidak dapat melakukan
kewajibannya dalam masa jabatannya secara bersamaan, … Majelis
Permusyawaratan Rakyat menyelenggarakan sidang untuk memilih
Presiden dan Wakil Presiden dari dua pasangan calon Presiden dan
Wakil Presiden yang diusulkan oleh partai politik …”.
Ketiga, rumusan Pasal 22E (3) yang berbunyi “Peserta pemilihan umum
untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan anggota Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah adalah partai politik”.
Keempat, rumusan Pasal 24C (1) yang berbunyi “Mahkamah Konstitusi
berwenang pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat
final untuk … memutus pembubaran partai politik …”.
Berdasarkan keempat rumusan Pasal tersebut, setidak-tidaknya hal ini telah
mengindikasikan bahwa konsensus bangsa Indonesia menyepakati bahwa partai
politik yang diwakili oleh para kader terbaiknya, akan bertindak sebagai salah satu
entitas dalam penyelenggaraan pemerintahan. Pada kesempatan yang sama, hal ini
telah membuktikan bahwa eksistensi partai politik memiliki urgensitas sebagai
salah satu sarana untuk mewujudkan demokrasi. Oleh karena itu, salah satu upaya
dalam rangka memperkuat dan mengefektifkan sistem pemerintahan yang
bernafaskan asas demokrasi, maka pemerintah perlu kiranya untuk mendorong
dan memberi ruang gerak yang fleksibel, dalam mengkondisikan terbentuknya
kepemimpinan partai politik, yang dilakukan secara demokratis dan akuntabel.
Disamping itu, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945, turut melegitimasi landasan filosofis dibentuknya suatu partai politik, antara
lain hal ini dapat dicermati dari rumusan Pasal-Pasal sebagai berikut:
- Pertama, rumusan Pasal 28 yang berbunyi “Kemerdekaan berserikat dan
berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan
sebagainya ditetapkan dengan Undang-undang”.
- Kedua, rumusan Pasal 28C (2) yang berbunyi “Setiap orang berhak untuk
memajukan dirinya dalam memperjuangkan haknya secara kolektif
untuk membangun masyarakat, bangsa, dan negaranya”.
- Ketiga, rumusan Pasal 28J (1) yang berbunyi “setiap orang wajib
menghormati hak asasi manusia orang lain dalam tertib kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara”.
Berbagai rumusan Pasal tersebut, faktanya telah berposisi sebagai paradigma
dalam mengamanatkan pembentukan partai politik (khususnya pasca reformasi),
serta memberi ruang kepada segenap warga masyarakat yang hendak berserikat
dan berkumpul, tentu sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
Ketika telah dipahami bahwa dalam bernegara dan bermasyarakat, dituntut
para penyelenggara pemerintahan untuk mampu bersikap paradigmatik, dengan
mendasarkan perbuatannya atas paradigma filosofis, yuridis, dan politis. Sudah
sepantasnya dewasa ini publik menilai, apakah berbagai bentuk perbuatan
pengelolaan partai politik, baik di Pusat maupun di Daerah telah selaras dengan
berbagai paradigma tersebut ?
378
Perihal selanjutnya, dengan bersikap dan bertindak paradigmatik,
diharapkan stakeholder yang berkecimpung ditataran infrastruktur politik,
hendaknya bertindak sebagai panglima dalam menjalankan berbagai bentuk
paradigma, baik paradigma filosofis (philosophical paradigma), paradigma yuridis
(yuridical paradigma), maupun paradigma politis (political paradigma). Khususnya
paradigma yuridis, dengan bersikap paradigmatik semoga setiap keputusan yang
dibuat senantiasa memiliki legitimasi konstitusional, untuk menghindari hal-hal
yang bersifat semu dan bias.
2.
Partai Politik di Indonesia
Dewasa ini, perkembangan partai politik di Negara Kesatuan Republik
Indonesia, sepenuhnya didasari atas Undang-Undang No. 2 Tahun 2011 tentang
Perubahan Atas Undang-Undang No. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik. Maka
partai politik didefinisikan sebagai:
“organisasi yang bersifat nasional dan dibentuk oleh sekelompok warga
negara Indonesia secara sukarela atas dasar kesamaan kehendak dan citacita untuk memperjuangkan dan membela kepentingan politik anggota,
masyarakat, bangsa dan negara. Serta memelihara keutuhan Negara
Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945”.247
Adapun tujuan dibentuknya partai politik di Indonesia, setidak-tidaknya
dapat diklasifikasi dalam 2 (dua) kategori tujuan, yaitu:248
- Pertama, tujuan umum diantaranya: Mewujudkan cita-cita nasional
bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pembukaan UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Menjaga dan
memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia,
Mengembangkan kehidupan demokrasi berdasarkan Pancasila dengan
menjunjung tinggi nilai kedaulatan rakyat dalam Negara Kesatuan
Republik Indonesia, Mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat
Indonesia.
- Kedua, tujuan khusus diantaranya: Meningkatkan partisipasi politik
anggota dan masyarakat dalam rangka penyelenggaraan kegiatan politik
dan pemerintahan, Memperjuangkan cita-cita partai politik, Membangun
etika dan budaya politik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa,
dan bernegara.
Secara umum partai politik di Indonesia, memiliki beberapa fungsi dalam
menjalankan kompetensinya, yang diantaranya:249
- Pertama, pendidikan politik bagi anggota dan masyarakat luas agar
menjadi warga negara Indonesia yang sadar akan hak dan kewajibannya
dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
247 Undang-Undang No. 2 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 2 Tahun
2008 tentang Partai Politik, amanat Pasal 1 (1).
248 Ibid., amanat Pasal 10 (1 dan 2).
249 Ibid., amanat Pasal 11 (1).
379
-
Kedua, penciptaan iklim yang kondusif bagi persatuan dan kesatuan
bangsa Indonesia untuk kesejahteraan masyarakat.
Ketiga, penyerap, penghimpun, dan penyalur aspirasi politik masyarakat
dalam merumuskan dan menetapkan kebijakan negara.
Keempat, partisipasi politik warga negara Indonesia.
Kelima, rekrutmen politik dalam proses pengisian jabatan politik melalui
mekanisme demokrasi dengan memperhatikan kesetaraan dan keadilan
gender.
Menurut Schattschneider250, bahwa partai politiklah yang sebetulnya
menentukan demokrasi, oleh karenanya partai politik mempunyai posisi dan
peranan yang sangat penting dalam setiap demokrasi. Menelaah pandangan
Miriam Budiarjo251 mengenai fungsi partai politik, dalam hal ini diantaranya:
- Pertama, komunikasi politik yang berperan untuk penyampaian ide, visi,
dan kebijakan strategis yang menjadi pilihan partai politik
dimasyarakatkan kepada konstituen untuk mendapatkan feedback
berupa dukungan dari masyarakat luas.
- Kedua, sosialisasi politik yang berperan sangat penting dalam rangka
pendidikan politik, sehingga partailah yang menjadi struktur antara atau
intermediate structure yang harus memainkan peran dalam
membumikan cita-cita kenegaraan dalam kesadaran kolektif masyarakat
warga negara.
- Ketiga, rekruitmen politik, partai politik memang dimaksudkan menjadi
kendaraan yang sah untuk menyeleksi kader-kader pemimpin negara
pada jenjang-jenjang dan posisi-posisi tertentu.
- Keempat, pengatur konflik yang berperan sebagai sarana agregasi
kepentingan (agregation of interests) yang menyalurkan ragam
kepentingan yang berbeda-beda itu melalui saluran kelembagaan politik
partai.
Lahirnya partai-partai politik, selain membawa dampak positif bagi
masyarakat, khususnya menjadi wadah bagi masyarakat dalam berpartisipasi di
bidang politik. Namun demikian, disisi lain partai politik juga mempunyai
beberapa kelemahan, diantaranya partai politik cenderung bersifat oligarkis. Hal
ini dapat dianalisa terkadang partai politik bertindak dengan lantang untuk dan
atas nama kepentingan masyarakat, tetapi dalam kenyataannya partai politik
justru hanya berjuang untuk kepentingan pengurusnya sendiri.252
Namun demikian, untuk mengatasi adanya beberapa kelemahan partai
politik, maka ada beberapa mekanisme penangkal, diantaranya:253
- Pertama, mekanisme internal yang menjamin demokratisasi melalui
partisipasi anggota partai politik itu sendiri dalam proses pengambilan
keputusan.
250 Schattschneider dalam Jimly Asshiddiqie, Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara, (Jakarta:
Raja Grafindo Persada, 2012), hlm. 400 – 405.
251 Ibid., hlm. 405 – 410.
252 Ibid., hlm. 407 – 413.
253 Ibid., hlm. 409 – 415.
380
-
-
Kedua, mekanisme keterbukaan partai dimana warga masyarakat diluar
partai dapat ikut serta berpartisipasi dalam penentuan kebijakan yang
hendak diperjuangkan melalui dan oleh partai politik.
Ketiga, pengurus partai hendaknya jangan dicampur adu atau terlalu
mudah berpindah-pindah posisi dan jalur.
Keempat, adanya jaminan berkembangnya pers secara bebas yang
semakin profesional dan mendidik.
Menarik untuk dicermati bahwa konstruksi partai politik, khusus mengenai
proses menentukan calon pemimpin partai, sepenuhnya diselaraskan dengan
mekanisme yang ditetapkan dalam “aturan main” masing-masing partai politik. Hal
ini sebagaimana yang ditegaskan melalui amanat Pasal 22 yang berbunyi
“Kepengurusan Partai politik disetiap tingkatan dipilih secara demokratis melalui
musyawarah sesuai dengan AD (Anggaran Dasar) dan ART (Anggaran Rumah
Tangga)”.254
Berdasarkan rumusan Pasal 22 tersebut, setidak-tidaknya dapat digaris
bawahi bahwa asas yang diterapkan dalam proses pemilihan pemimpin partai,
adalah asas demokratis yang sejalan dengan musyawarah. Dengan kata lain,
masing-masing partai politik diberi kesempatan untuk memformulasikan
mekanisme pemilihan pemimpin secara internal, dalam menginterpretasikan
makna demokratis tersebut.
Dengan demikian, praktiknya tentu dapat dianalisa bahwa dalam proses
pemilihan pemimpin partai politik, tidak akan sama antara satu partai politik
dengan partai politik lainnya. Sehingga asimetris dalam penyelenggaraan struktur
partai politik adalah sesuatu yang tidak dapat terhindarkan, oleh karena itu tidak
menutup kemungkinan ada partai politik yang menerapkan asas demokrasi secara
langsung, dan ada yang menerapkan asas demokrasi secara tidak langsung dengan
mengutamakan musyawarah dalam mencapai mufakat.
C.
Demokratisasi Partai Politik
Perihal demokrasi sering menimbulkan perdebatan sengit, bahkan bermuara
suasana debat kusir, dalam menilai makna demokrasi lebih besar sisi positif atau
sisi negatifnya. Menariknya, pasca meningkatnya alam demokrasi, belakangan
terdapat kekhawatiran sekaligus kecemasan, baik oleh masyarakat maupun elite
yang berada pada tataran infra dan supra struktur politik, bahwa adanya dugaan
kenikmatan berdemokrasi yang telah dilalui, akan dikebiri.
Berwacana tentang demokrasi, belum ajeg kiranya jika tidak didasari atas
pandangan sosok filsuf Plato. Untuk menyatukan persepsi, terlebih dahulu
dipahami bahwa pada awalnya Plato menggidentikkan paradigma tentang negara,
yang dikualifikasikan sama dengan kehidupan manusia, meskipun diakhir
pemikirannya menyatakan bahwa negara yang demikian bukanlah suatu negara
ideal. Oleh karena itu, pada kesempatan yang sama Plato memberi ruang bahwa
254
Amanat Pasal 22, Undang-Undang No. 2 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas
Undang-Undang No. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik. Sebelumnya, melalui Pasal 1 ditegaskan
bahwa AD (Anggaran Dasar) adalah anggaran dasar partai politik, yaitu peraturan dasar partai
politik. Adapun ART (Anggaran Rumah Tangga) adalah anggaran rumah tangga partai politik, yaitu
peraturan yang dibentuk sebagai penjabaran dari AD (Anggaran Dasar).
381
setidak-tidaknya negara hukum dapat dikategorikan mengarah pada bentuk
negara yang ideal.
Uraian yang disampaikan Plato255, secara tegas menyatakan tentang
keberadaan suatu bentuk pemerintahan yang bersifat demokrasi. Berbagai buah
pemikiran Plato mengenai demokrasi, dapat dianalisa berdasarkan:
- Pertama, demokrasi oleh Plato dideskripsikan sebagai suatu rangkaian
siklus, setelah bentuk oligarki. Awalnya, Plato menerangkan bahwa
bentuk demokrasi akan ternilai sebagai bentuk yang paling adil, dengan
kata lain demokrasi dapat dianalogikan sebagai “suatu jubah yang
tersulam dengan dilengkapi hiasan berbagai macam bentuk kembang”.
- Kedua, demokrasi dikategorikan sebagai suatu bentuk pemerintahan
yang paling menarik, penuh dengan keanekaragaman dan kekacauan,
yang mana memberikan kesamaan derajat pada setiap individu yang
berbeda. Sehingga dengan demokrasi, dapat terlihat bahwa antara rakyat
biasa dan penguasa akan memiliki kedudukan yang egaliter, oleh karena
itu tidak jarang ditemui adanya rakyat yang bertingkah laku mirip
dengan penguasa, dan terdapat pula penguasa yang bertindak seperti
rakyat.
- Ketiga, Plato mengkiyaskan kelemahan demokrasi itu diibaratkan seperti
“sang ayah yang terbiasa merendahkan diri di hadapan putranya dan
takut terhadap putranya, sementara sang putra menganggap memiliki
derajat yang sama dengan ayahnya, sehingga tidak lagi menaruh rasa
hormat atau penghormatan atas ayah atau orang tuanya”. Kelemahan
lainnya juga dapat dikiyaskan dalam bentuk “ketika sang guru memiliki
rasa takut dan tanpa suatu hal yang relevan memuji muridnya, oleh
karenanya murid memandang rendah terhadap guru-guru mereka”.
- Keempat, ironinya dalam demokrasi, tua dan muda semuanya sama.
Sehingga antara tua dan muda saling berkompetisi baik dengan kata
maupun perbuatan, bahkan mereka yang tua berkenan untuk
merendahkan diri di hadapan yang muda, dengan diiringi senda gurau
dan candaan. Oleh karena itu, Plato menyatakan bahwa runtuhnya
demokrasi akibat besar dan dalamnya kebebasan yang dimiliki
rakyatnya. Dalam hal ini kebebasan yang sangat berlebihan atau
kebebasan yang demikian luas tanpa batas, adalah kebebasan yang
kebablasan.
1.
Kearifan Lokal Demokrasi
Menelisik demokrasi Indonesia, tertuju pada buah pikiran founding fathers
(Moh. Hatta)256 yang menyebutkan bahwa demokrasi asli Indonesia, terdiri dari
unsur:
- Pertama, rapat.
- Kedua, mufakat.
- Ketiga, gotong royong.
Plato, Republik, (Yogyakarta: Pustaka Promethea, 2015), hlm. 352 – 360.
Moh. Hatta, Demokrasi Kita-Bebas Aktif-Ekonomi Masa Depan, (Jakarta: UI Press,
2002), hlm. 111 – 129.
255
256
382
-
Keempat, hak menyatakan protes. Dalam konteks politik dilaksanakan
melalui sistem perwakilan rakyat dengan konsep musyawarah, dan
berdasarkan kepentingan umum.
Dengan demikian, dapat dicermati bahwa salah satu ciri khas demokrasi
Indonesia terletak pada sisi musyawarah. Lantas, bagaimana dengan eksistensi
musyawarah dalam mencapai mufakat, apakah masih mampu dipertahankan
diberbagai lini kehidupan ? khususnya dalam proses menjaring pemimpin partai
politik, yang dipandang memiliki kapasitas, integritas, dan loyalitas. Serta
bukankah musyawarah juga dapat dikategorikan sebagai demokrasi, yang bersifat
tidak langsung ?
Konsensus bangsa Indonesia yang dipelopori oleh founding fathers, telah
melakukan abstraksi berbagai nilai yang hidup dan berkembang diseluruh wilayah
Indonesia. Hingga bermuara dengan mengkristalnya falsafah hidup bangsa
Indonesia, yang diaktualisasikan melalui Pancasila, khususnya sila ke-4 yang
berbunyi “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan /perwakilan”.
Memaknai sila ke-4 tersebut, pada prinsipnya menegaskan bahwa bangsa
Indonesia akan terus memelihara dan mengembangkan semangat bermusyawarah
untuk mencapai mufakat dalam perwakilan. Bangsa Indonesia akan tetap
memelihara dan mengembangkan kehidupan demokrasi, sekaligus akan
memelihara dan mempertahankan serta mengembangkan kearifan dan
kebijaksanaan dalam bermusyawarah.257
Derivasi dari Pancasila selanjutnya diimplementasikan melalui amanat
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, disebutkan bahwa
“kedaulatan di tangan rakyat dan dilaksanakan sepenuhnya menurut UndangUndang Dasar”,258 benar bahwa tidak disebutkan secara tegas sistem
demokrasinya. Namun dalam hal ini, kedaulatan rakyat adalah prinsipnya,
wujudnya adalah demokrasi, adapun implementasinya dewasa ini menurut M.
Solly Lubis259 dapat direalisasikan dalam dua tahap, yaitu: Pertama, demokrasi
yang mempunyai sifat langsung. Kedua, demokrasi yang mempunyai sifat tidak
langsung.
Dalam hal ini Mahfud M.D260 berpandangan bahwa ada dua alasan dipilihnya
demokrasi sebagai sistem bermasyarakat dan bernegara, yaitu:
- Pertama, hampir semua negara di dunia ini telah menjadikan demokrasi
sebagai asas yang fundamental.
Pimpinan MPR dan Tim Kerja Sosialisasi MPR Periode 2009-2014, Empat Pilar Kehidupan
Berbangsa dan Bernegara, (Jakarta: Sekretariat Jenderal MPR RI, 2012), hlm. 45 – 78.
258 Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1945, amanat dari
Pasal 1 (2).
259
M. Solly Lubis, Ilmu Negara, (Bandung: Mandar Maju, 2007), hlm. 60 - 70.
Demokrasi yang mempunyai sifat langsung, ialah adanya pemberian suara oleh rakyat dalam
pemilihan umum. Demokrasi yang mempunyai sifat tidak langsung, ialah dalam penyusunan
kekuasaan, dimana adanya keharusan tanggung jawab pemerintah kepada perwakilan rakyat, dan
dalam kerja sama kedua instansi tersebut mewujudkan dasar-dasar umum kebijaksanaan
pemerintah.
260
Moh. Mahfud MD, Hukum dan Pilar-Pilar Demokrasi, (Yogyakarta: Gamma Media,
1999), hlm. 3 – 8.
257
383
-
Kedua, demokrasi sebagai asas kenegaraan secara esensial telah
memberikan arah bagi peranan masyarakat untuk menyelenggarakan
negara sebagai organisasi tertingginya.
Demokrasi juga mempersyaratkan untuk mengamati apakah sebuah political
order (pemerintahan atau organisasi partai politik) telah menerapkan sistem yang
demokratis atau tidak, melalui ukuran yang berlaku secara universal di dalam
suatu rezim organisasi (partai politik), yakni: 261
- Pertama, akuntabilitas.
- Kedua, rotasi kekuasaan.
- Ketiga, rekrutmen politik.
- Keempat, pemilihan umum.
- Kelima, adanya pengakuan dan perlindungan hak-hak dasar.
Demokrasi hanya dapat tumbuh dan berkembang dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara apabila ada usaha nyata setiap
masyarakat dan perangkat pendukungnya, yaitu budaya yang kondusif sebagai
manifestasi dari suatu kerangka berpikir (mind set) dan rancangan masyarakat
(social setting). Bentuk kongkret dari manifestasi tersebut adalah dijadikannya
demokrasi sebagai pandangan hidup (way of life) dalam seluk beluk sendi
kehidupan bernegara baik oleh rakyat maupun oleh pemerintah.262
Ada tiga nilai ideal yang mendukung demokrasi sebagai suatu gagasan
kehidupan, yaitu:263 Pertama, kemerdekaan (freedom). Kedua, persamaan
(equality). Ketiga, keadilan (justice). Dalam kenyataan hidup, ide tersebut
direalisasikan melalui perwujudan simbol-simbol dan hakikat dari nilai-nilai dasar
demokrasi. Hal itu berarti bahwa simbol demokrasi dan begitu pula makna dan
hakikat demokrasi, mewakili atau diabstraksi dari kenyataan hidup yang sepadan
dengan nilainya.
2.
Sepintas Lalu
Bercermin pada pandangan Plato, setidaknya dapat disadari bahwa
demokrasi bukanlah suatu hal yang sempurna, melainkan tetap diperlukan adanya
kesesuaian dengan berbagai kearifan lokal dimasing-masing bangsa. Kaitannya
dengan bangsa Indonesia, yang diasumsikan sebagai bangsa timur yang
menjunjung tinggi nilai moral dan etika, maka penguatan kembali demokrasi
bukanlah sesuatu yang keliru, dimulai dengan mempertahankan prinsip
musyawarah dalam mencapai mufakat.
Seperti kata pribahasa, bahwa “jika ada tikus di lumbung padi, jangan
lumbungnya yang dibumi hanguskan, melainkan adalah cukup dengan tikusnya
yang dibasmi”. Kaitannya dengan alam demokrasi, semoga ketika terdapat
kekurangan dan kekeliruan atas demokrasi yang telah dijalani, setidak-tidaknya
261
Affan Ghafar, Demokrasi Politik, Makalah pada Seminar Perkembangan Demokrasi
di Indonesia Sejak 1945, (Jakarta: Widyagraha LIPPI, 1993), hlm. 8 – 13.
262 Titik Triwulan Tutik, Konstruksi Hukum Tata Negara Indonesia Pasca Amandemen UUD
1945, (Jakarta: Kencana, 2010), hlm. 70 – 75.
263
Arbi Sanit, Perwakilan Politik di Indonesia, (Jakarta: Rajawali Pers, 1985), hlm. 23 –
28.
384
mampu diformulasikan berbagai bingkai baru, dengan tidak mengeleminir spirit
dari demokrasi yang dimaksud.
Euforia demokrasi sepantasnya mampu menjawab berbagai ekspektasi,
sekaligus mampu merevolusi penyelenggaraan pemerintahan. Terlebih lagi
hendaknya dipelopori oleh kader partai politik dalam proses memilih pemimpin
partainya, mengingat bahwa partai politik dapat dijadikan cerminan dalam
penyelenggaraan pemerintahan. Hal ini dikarenakan, berbagai amanat dari
konstitusi memposisikan hanya kader-kader terbaik dari partai politik yang dapat
terlibat di pusaran pemerintahan.
D.
Pemimpin Partai; Berpikir dan Bertindak
Umumnya hegemoni berbangsa dan bernegara, acapkali diwarnai konsensus
dalam menentukan figur yang dinilai pantas dan relevan untuk dijadikan
pemimpin, yang hendak diposisikan sebagai pemilik tongkat komando sekaligus
panutan dari para pengikutnya. Maka sudah sepantasnya dari jauh-jauh hari
kader/masyarakat telah mempersiapkan diri untuk menjadi pemimpin yang
sejalan dengan hakikatnya. Sehingga tidak akan terdengar nada sumir yang
mencibir bahwa yang bersangkutan hanya pantas disematkan sebagai “pemimpin
karbitan”.
Pemimpin yang dimaksud relevansinya dituju pada pemimpin yang berada
diberbagai level kekuasaan dalam tataran infrastruktur politik, tanpa terkecuali
apakah pengurus partai dilevel pusat, maupun dilevel daerah. Oleh karena, pada
prinsipnya dari tingkah laku dan tindak tanduk perbuatan dari para pemimpin,
dapat mencerminkan karakteristik kader/masyarakat yang mengkultuskannya.
Maka mampu tidaknya pemimpin berpikir dan bertindak, keseluruhannya adalah
tanggung jawab dari masyarakat itu sendiri.
Tentu secara tegas jika merujuk dalam Al-Qur’an telah ditetapkan berbagai
kriteria dan syarat pemimpin dalam ajaran Agama Islam, begitu juga halnya
dengan amanat berbagai peraturan perundang-undangan. Namun demikian tanpa
mengenyampingkan amanat dimaksud, dalam mengelola partai politik seharusnya
mampu menampilkan konsistensi dirinya, berupa: Pertama, sebelum berjanji
sebaiknya dipikirkan secara matang dan logis terlebih dahulu. Kedua, pemimpin
partai politik harus menguatkan mental dan nyali, untuk menuntaskan berbagai
tujuan, fungsi, bahkan visi dan misi sesuai dengan norma hukum yang
diberlakukan. Ketiga, mampu menyelaraskan antara kerangka berpikir dengan
berbagai tindakan.
1.
Berpikir dan Bertindak
Menyunting adagium para failasuf, bahwa “aku berpikir maka aku ada” hal ini
mempertegas letak perbedaan antara manusia dengan makhluk-makhluk ciptaan
lainnya adalah dalam kegiatan berpikir. Senada dengan anasir yang dipopulerkan
oleh Jujun S. Sumantri264 tentang manusia, maka dalam konteks ini setidak-
264 Jujun S. Sumantri mempopulerkan anasir tentang manusia, bahwa manusia dapat
dikategorikan dalam beberapa kelompok, yaitu: Pertama, ada yang tahu ditahunya. Kedua, ada yang
tahu ditidak tahunya. Ketiga, ada yang tidak tahu ditahu nya. Keempat, ada yang tidak tahu ditidak
tahunya. Jujun S. Sumantri, Filsafat Ilmu, (Jakarta: Sinar Harapan, 2009), hlm. 19 – 22.
385
tidaknya dapat dianalogikan bahwa pemimpin partai politik itu menjadi wajar
kiranya jika digolongkan dalam beberapa kriteria, diantaranya:
Pertama, ada pemimpin yang mampu berpikir dan mampu bertindak.
Kriteria ini merupakan yang paling ideal dan dicitakan, bahkan dapat diasumsikan
sebagai suatu tingkatan yang paling sempurna. Artinya pemimpin benar-benar
mampu berpikir secara matang dan hati-hati dalam menentukan dan merumuskan
tindakannya, sekaligus mampu mengimplementasikan berbagai buah pikirannya.
Kedua, ada pemimpin yang mampu berpikir dan tidak mampu bertindak.
Kriteria ini dapat diasumsikan sebagai pemimpin yang tidak memiliki nyali atau
oleh karena patut diduga dalam keadaan terpaksa tidak berani bertindak. Artinya
pada prinsipnya pemimpin mampu berpikir secara matang dan hati-hati dalam
menentukan dan merumuskan tindakannya, akan tetapi oleh karena satu dan lain
hal buah pikirannya tidak mampu diwujudkan.
Ketiga, ada pemimpin yang tidak mampu berpikir dan mampu bertindak.
Kriteria ini dapat diasumsikan sebagai pemimpin yang lemah akal, tetapi memiliki
nyali dan nafsu yang besar dalam bertindak. Artinya kadangkala sering ditemui
ada sekelompok pembisik (tim ahli/staf ahli) yang berseliweran disekitar
pemimpin, untuk membantu menentukan dan merumuskan segala sesuatu,
sehingga dengan penuh keberaniannya pemimpin mengimplementasikan
tindakannya.
Keempat, ada pemimpin yang tidak mampu berpikir dan tidak mampu
bertindak. Kriteria ini dapat diasumsikan sebagai kriteria yang terburuk, bahkan
bukanlah sesuatu yang berlebihan betapa besarnya kerugian yang dialami oleh
kader partai bersangkutan jika memiliki pemimpin dengan kriteria tersebut.
Artinya setali tiga uang, bahwa selain sosok pemimpin yang lemah akal, juga tidak
memiliki nyali dalam bertindak. Maka tidak jarang terdengar nada sumbang yang
mengkategorikan pemimpin dengan kriteria ini sebagai “boneka” dari pihak yang
lain.
Menelisik hal tersebut, sudah tentu masyarakat mampu berasumsi bahwa
berbagai pemimpin partai politik yang ada dalam kehidupan sehari-hari, baik
diruang lingkup desa/kelurahan, diruang lingkup kabupaten/kota, diruang lingkup
provinsi, dan diruang lingkup negara, berada pada kriteria yang manakah
pemimpin yang ada pada saat sekarang ini ? sekaligus cukupkah masyarakat
dipimpin oleh para pemimpin yang hanya memiliki kriteria dengan saat sekarang
ini ?
Sebagai garda terdepan, para kader partai juga semestinya berpikir dengan
penuh seksama dan melakukan revolusi dalam menjaring calon pemimpin.
Mengingat segala sesuatunya dimulai dari kerangka berpikir yang ada dimasingmasing kader, dalam hal ini HAMKA265 berujar bahwa “Bagaimana akan dapat
berpikir tinggi, bangsa yang hidupnya hanya segobang sehari, bangsa yang tinggal
celana pendek sehelaipun masih bersyukur. Oleh karena jiwanya sudah
semestinya tidak ada lagi dibadannya, akibat sebegitu melarat dan tertindasnya”.
2.
Loyalitas vs Integritas
265
Hamka, Falsafah Hidup, (Jakarta: Umminda, 1983), hlm. 10 – 20.
386
Berbagai preseden yang menggerus eksistensi partai politik, hal ini
menimbulkan kesan salah satunya dikarenakan para pemimpin acapkali menutup
mata dan telinga, pura-pura tidak sadar dan tidak tahu menahu dengan berbagai
teriakan yang terjadi dilingkungannya, sehingga tanpa disadari membenturkan
para kader terbaik antara yang memiliki sikap loyalitas dengan yang memiliki
sikap integritas.
Ketidakpedulian dalam menerapkan adagium “the right man on the right
place”, bermuara dengan mencuatnya berbagai gesekan dilingkungan internal
partai politik, sehingga tujuan dan hakikat partai politik tidak jarang telah
terkesampingkan. Dengan demikian hendaknya para kader dituntut mampu
menjunjung sikap loyalitas dan sikap integritas, sehingga dapat tercapai maksud
tertentu dan dalam periode waktu yang ditentukan.
Frasa loyalitas secara sederhana didefinisikan dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia266 sebagai suatu kepatuhan, suatu kesetiaan. Adanya sikap loyalitas
tentu disatu sisi adalah hal yang positif, mengingat dalam menjalankan roda partai
politik sepantasnya berbagai kebijakan dijabarkan oleh mereka yang memiliki
sikap yang patuh, dan atau sikap yang setia. Namun demikian, loyalitas yang
diemban semata-mata dijalankan sesuai dengan kehendak pemimpin partai politik
atau didasarkan pada amanat peraturan perundang-undangan ?
Adapun frasa integritas, juga didefinisikan dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia267 sebagai suatu mutu, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang
utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan
dan kejujuran. Maka dapat dianalogikan bahwa seseorang yang memiliki sikap
integritas adalah yang mampu menyelaraskan berbagai potensi dalam dirinya,
untuk terwujudnya kewibawaan dan kejujuran.
Merujuk pada definisi yang menafsirkan secara sederhana antara loyalitas
dan integritas, setidak-tidaknya dapat dipahami bahwa disatu sisi terdapat benang
merah antara loyalitas dan integritas. Akan tetapi, disisi yang lain terdapat
dikotomi dalam memaknai unsur loyalitas dan integritas, sehingga dalam
menggerakkan mesin-mesin partai politik, seorang kader sering dihadapkan pada
pilihan untuk mengedepankan sikap loyalitas, atau lebih mengutamakan sikap
integritas.
Berkaca dari berbagai friksi yang melingkupi internal partai politik, baik
secara nasional maupun sebatas di daerah otonom, maka jika cita kemakmuran
atau kesajehtaraan masyarakat yang diutamakan, pemimpin partai politik jangan
memaksakan diri hanya dikelilingi oleh mereka yang bangga diberi label sikap
loyalitas semata, tetapi sudah sepantasnya sikap integritas agar diutamakan.
Sebagai failasuf, pada suatu masa Plato268 berujar (disertai penambahan
penafsiran) bahwa negara (atau organisasi partai politik) jika sekali telah dimulai
dengan baik, maka akan bergerak kearah kebaikan dengan kekuatan yang
terhimpun, begitu juga sebaliknya. Oleh karena itu, untuk menghindari
ketidaksetaraan, ketidaksamaan, ketidakteraturan, yang selalu dan dalam segala
tempat menjadi sebab kebencian dan permusuhan, maka besi jangan dicampur
dengan perak, kuningan jangan dicampur dengan emas.
266
267
268
Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Gramedia, 2012), hlm. 843.
Ibid., hlm. 541.
Plato, Op. Cit, hlm. 351 - 360
387
E.
Kesimpulan
Reformasi ketatanegaraan yang dekade ini juga berimbas dalam pengelolaan
partai politik, merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindarkan. Mengingat peran
sentral partai politik sebagai salah satu pilar demokrasi, maka penyelenggaraan
pemerintahan hakikatnya adalah cerminan dari wajah partai politik yang
mengemban amanah kekuasaan. Oleh karena itu, sepantasnya partai politik
berbenah diri, melakukan reformasi internal dalam rangka mewujudkan sistem
politik yang demokratis.
Sesuai dengan amanat peraturan perundang-undangan, maka dalam
pengelolaan partai politik, semestinya menjunjung tinggi prinsip demokrasi. Baik
itu yang dijabarkan melalui pemilihan secara langsung maupun tidak langsung,
dengan tetap mengedepankan musyawarah dalam mencapai mufakat. Dalam hal
ini, hanya partai politik sendiri yang lebih memahami hakikat dari keberadaannya,
maka dalam praktiknya asimetris partai politik adalah sesuatu keniscayaan.
Menyongsong dinamika dan perkembangan masyarakat yang majemuk,
partai politik diharapkan mampu meningkatkan peranannya, baik dalam fungsi
partai politik terhadap negara, maupun fungsi partai politik terhadap masyarakat.
Sekaligus dengan memberi kesempatan yang seluas-luasnya dalam hal
pengkaderan dan rekrutmen politik, yang sejalan dengan prinsip kesetaraan
gender.
F.
-
Daftar Pustaka
Aristoteles, 2016. Politik, Yogyakarta: Pustaka Promethea.
Asshiddiqie, Jimly, 2008. Pokok-pokok Hukum Tata Negara Indonesia, Jakarta:
Bhuana Ilmu Populer.
_____________________, 2012. Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara,(Jakarta: Raja
Grafindo Persada.
Ghafar, Affan, 1993. Demokrasi Politik, Makalah pada Seminar Perkembangan
Demokrasi di Indonesia Sejak 1945, Jakarta: Widyagraha LIPPI.
Hamka, 1983. Falsafah Hidup, Jakarta: Umminda.
Hatta, Moh, 2002. Demokrasi Kita – Bebas Aktif – Ekonomi Masa Depan,
Jakarta: UI Press.
Kelsen, Hans, 2011. Teori Umum Tentang Hukum dan Negara, Bandung: Nusa
Media.
Lubis, M. Solly, 2007. Ilmu Negara, Bandung: Mandar Maju.
________________, 2007. Kebijakan Publik, Bandung: Mandar Maju.
________________, 2009. Ilmu Pengetahuan Perundang-undangan, Bandung:
Mandar Maju.
________________, 2011. Manajemen Strategis Pembangunan Hukum, Bandung:
Mandar Maju.
________________, 2011. Serba-Serbi Politik dan Hukum, Medan: PT: Sofmedia.
Mahfud MD, Moh, 1999. Hukum dan Pilar-Pilar Demokrasi, Yogyakarta:
Gamma Media.
Pimpinan MPR dan Tim Kerja Sosialisasi MPR Periode 2009-2014, 2012.
Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara, Jakarta: Sekretariat
Jenderal MPR RI.
388
-
Plato, 2015. Republik, Yogyakarta: Pustaka Promethea.
Sanit, Arbi, 1985. Perwakilan Politik di Indonesia, Jakarta: Rajawali Pers.
Soehino, 2010. Hukum Tata Negara Perkembangan Sistem Demokrasi di
Indonesia, Yogyakarta: BPFE .
Sidharta, Bernard Arief, 2009. Meuwissen Tentang Pengembanan Hukum, Ilmu
Hukum, Teori Hukum dan Filsafat Hukum, Bandung: Refika Aditama.
Sumantri, Jujun S, 2009. Filsafat Ilmu, Jakarta: Sinar Harapan.
Tutik, Titik Triwulan, 2010. Konstruksi Hukum Tata Negara Indonesia Pasca
Amandemen UUD 1945, Jakarta: Kencana.
Depdiknas, 2012. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Gramedia.
Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1945.
BIOGRAFI
I.
Data Pribadi
Nama
Tempat/Tgl Lahir
NIP
Pangkat/Golongan
Instansi
Jenis Kelamin
Telepon Seluler
Email
Sosial Media
Website
II.
III.
: Dr. Cakra Arbas, SH.I, MH.
: Aceh Tamiang, 09 Oktober 1987
: 19871009 201003 1 001
: Penata (III/c)
: Pemkab Aceh Tamiang, dan Pascasarjana
Magister Ilmu Hukum, Universitas Medan Area.
: Laki-laki
: (+62) 822 6735 0087
: [email protected]
: [email protected]
: www.cakraarbas.blogspot.com
Riwayat Pendidikan Formal
No
Jenjang
Jurusan
1. Sarjana
Hukum Islam
2. Magister
Hukum Tata Negara
3. Doktor
Hukum Tata Negara
Karya Ilmiah Buku
No
Judul Buku
Jalan Terjal Calon Independen Pada
1.
Pemilukada di Provinsi Aceh
Aceh Dan MoU Helsinki Di Negara
2.
Kesatuan Republik Indonesia
Universitas (Periode)
UIN Syarif Hidayatullah,
Jakarta (2005-2009)
Universitas Sumatera Utara,
Medan (2010-2012)
Universitas Sumatera Utara,
Medan (2012-2015)
Penerbit - Tahun
PT. Sofmedia, Jakarta,
2012
PT. Sofmedia, Medan,
2015
389
HEGEMONI ALIANSI OLIGARKI DALAM PEMILIHAN KETUA UMUM PARTAI
POLITIK
Fajlurrahman Jurdi
Abstrak
Pemilihan ketua umum partai politik hampir dapat dipastikan tidak berjalan sesuai
dengan prinsip-prinsip demokrasi kualitatif, karena kekuatan oligarkis yang begitu
dominan mencampuri seluruh proses sukses pemilihan ketua umum. Secara
umum, ketua umum partai politik yang terpilih dapat dipastikan berasal dari dua
lapisan sekaligus, yakni orang-orang ultra kaya yang memiliki sumber uang dalam
jumlah besar dan individu yang memiliki kekuasaan besar di partai. Kombinasi
kedua-nya menyebabkan dengan gampang mengatur struktur partai dang menjaga
stabilitas politik di dalamnya. Apabila ada yang mengatakan bahwa demokrasi
merupakan sumber penguasaan partai, argumentasi itu mengalami kelemahan
secara kualitas, meskipun didukung oleh premis-premis formal, yakni adanya
kampanye, pemilihan dan penghitungan suara. Meskipun kadang-kadang hal
tersebut tidak berlaku di beberapa partai, karena konsensus peserta
kongres/muktamar/munas menghendaki agar dilakukan secara aklamasi.
Pemilihan ketua umum partai jelas dibangun dan “direkayasa” untuk
memenangkan oligark yang kuat untuk memimpin oligarki lain yang lebih lemah.
Dengan harapan, para oligark saling melindungi harta dan membagi jatah
kekuasaan mereka. Dengan demikian, pertarungan memperebutkan ketua umum
partai politik tidak pernah berjalan berdasarkan konsensus demokratis, tetapi
berdasarkan konsensus oligarkis.
(Fajlurrahman Jurdi, Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin, 085299262424,
[email protected])
Kata Kunci: Ketua Umum, Partai Politik, Oligarki, Demokrasi.
A.
PENDAHULUAN.
Salah satu studi yang mendalam tentang konsep oligarki di partai politik adalah
Kuskrido Ambardi269. Disertasinya menggambarkan dengan sangat baik
bagaimana oligarki270 menggurita dalam sistem politik demokrasi, khususnya
sistem kepartaian di Indonesia. Partai adalah sebagai entitas yang kinerjanya
adalah “memburu rente”, apalagi pasca pemilu 2004, dimana kekuatan oposisi
mulai melemah, praktis ada alasan bagi kekuatan kartel untuk melakukan
konsolidasi guna menguasai kembali arena politik.
Riset yang sama dilakukan oleh Marcus Mietzner271 yang melihat betapa
buruknya sistem partai di Indonesia, terutama dari sisi pendanaan. Natalie Sambhi,
Kuskrodho Ambardi, Mengungkap Politik Kartel, Studi Tentang Sistem Kepartaian di Indonesia
Era Reformasi, (Jakarta, Kepustakaan Populer Gramedia, 2009).
270 Kuskridho Ambardi tidak menyebutnya sebagai oligarki, tetapi mengistilahkannya dengan
“kartel”.
271 Marcus Mietzner, Money, Power and Ideology: Political Parties In Post-Authoritarian Indonesia,
(Singapore, NU Press, 2013).
269
390
seorang analis dan Managing Editor di The Strategist, Australian Strategic Policy
Institute, dalam resensinya terhadap buku yang ditulis oleh Marcus Mietzner
mengemukakan dengan menarik tentang bagaimana korupsi dan buruknya
pendanaan partai politik di Indonesia. Menurutnya, bahwa sistem pendanaan
partai yang lemah membuat mereka rentan terhadap korupsi dan kepentingan
oligarki; dan dalam jangka panjang bisa 'menghancurkan kepercayaan publik
dalam demokrasi'. Ia mengemukan bahwa “The beauty of Money, Power and
Ideology is that it can be read on a number of levels”. Dapat dibayangkan bagaimana
uang, kekuasaan dan ideology beroperasi dalam system politik Indonesia dan itu
dijalankan sepenuhnya oleh partai politik. Melihat situasi politik dan kontestasi itu,
Mietzner mempertanyakan dengan nada yang mengherankan; “How has
Indonesia’s democracy remained stable if its component parts are apparently
dysfunctional?”. Stabilitas demokrasi justru terjadi disaat korupsi berjalan secara
massif, kekuasaan dapat diperjualbelikan dan uang menjadi “tuhan” yang
mengatur segalanya.
Jika Ambardi dan Mietzner melihatnya dalam konteks partai, ahli yang
paling otoritatif dalam melihat oligarki dan kontestasinya secara umum dan
khususnya di Indonesia adalah Jeffrey A Winters272. Winters dengan sangat baik
menguraikan pertarungan orang-orang kaya Indonesia sejak zaman Orde Baru dan
pasca Orde Baru. Kekuasaan hanya dikendalikan oleh individu atau aliansi antar
oligark, sementara demokrasi hanyalah sebagai gincu kekuasaan.
Pembentukan oligarki dan dominasinya sudah diuraikan secara baik oleh
berbagai kalangan dari ragam perspektif. Pendekatan mereka melihat partai
politik secara umum sebagai bagian dari areal pembentukan dan penguatan
oligarki dan lebih fokus lagi pada penguatan dinasti dan pembentukan “keluarga
politik”. Di atas semua itu, oligarki dalam partai politik telah menjadi bagian
penting bagi tumbuh berkembangnya institusi kepartaian sebagai penopang
demokrasi.
Tulisan ini tidak melebar pada diskursus dan dinamika kepartaian serta
bagaimana jalinan kekuasaan oligarki di dalamnya, namun hanya forkus pada
bagaimana kekuatan oligarki yang berseteru dalam pemilihan ketua umum partai
politik. Publik berharap oligarki berhenti merusak tatanan demokrasi, namun pada
saat tertentu, oligarki justru “bertopeng” demokrasi, dan demokrasi sukses
dimanipulasi untuk kepentingan oligarki, terutama dalam proses suksesi
pemilihan ketua umum partai politik.
Publik disodori dengan gegap gempita pemilihan ketua umum partai,
seolah-olah seperti pemilihan umum untuk memilih anggota parlemen. Desasdesus, isu, berita, wacana dan ketegangan kadang dirasakan oleh publik yang tidak
pernah tau apa yang terjadi dalam tubuh partai politik yang sesungguhnya. Citra
diri partai diumbar ke publik seolah-olah proses suksesi pemilihan ketua umum
berlangsung demokratis dan berdasarkan prinsip-prinsip kesetaraan, kebebasan
dan keadilan, padahal pada dasarnya hanyalah kedok barisan oligark untuk
menguasai infrastruktur partai dengan cara-cara dan standar etika yang mereka
tetapkan yang menguntungkan kepentingan mereka.
Jeffrey A. Winters, Oligarki, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta: 2011. Lihat juga Jeffrey A Winters,
Oligarki dan Demokrasi di Indonesia, Jurnal Prisma, Volume 33 Nomor 1 tahun 2014
272
391
Pada konteks inilah pemilihan ketua umum partai politik perlu dilihat
secara kualitatif, yakni keterlibatan elite pemegang kekuasaan di dalam partai
didasarkan pada konsensus oligark, bukan didasarkan pada prinsip dan semangat
demokratis.
B.
PERTARUNGAN KETUA UMUM PARTAI ADALAH PERTARUNGAN
OLIGARKIS
Tidak dapat disangkal, bahwa suksesi kepemimpinan di partai politik pasca
Orde Baru adalah suksesi yang melibatkan sebagian kecil individu “ultra kaya”
yang mengendalikan hampir sepenuhnya infrastruktur kekuasaan. “Kepemilikan
modal” dan penguasaan atas sumber daya politik menjadi asset yang paling
menjanjikan untuk memenangkan pertarungan.
Sejarah suksesi dan kemenangan politik elit partai tidaklah di dasari atas
kompetisi sehat dan kompetisi kualitas, melainkan di dasari oleh kemampuan
membeli suara dan mengatur sebagian besar sumber daya partai. Pengaturan
terhadap sumber daya partai tidak murah, namun membutuhkan modal yang kuat,
yang berarti topangan sumber daya ekonomi dan sumber daya politik tak
terhindarkan.
Sebelum menyaksikan roda perputaran elit yang dinamis di tingkat partai
politik, penulis semula menduga bahwa pergeseran arus kekuasaan akan terus
mengikuti siklus klasik Polybios. Siklus Polybios berurut dari Monarki, Tirani,
Aristokrasi, Oligarki, Demokrasi dan berujung ke Okhlorasi. Mestinya setelah
demokrasi harus ke Okhlorasi kemudian kembali lagi ke Monarki. Tetapi siklus ini
hanya ada dalam teori, tidak dlam sistem pemerintahan. Sistem pemerintahan
mengikuti siklus zaman dan tuntutan sosial, sehingga memimpikan siklus Polybios
akan menjadi nyata dalam suatu negara juga tidak mungkin terjadi. Hanya saja,
siklus Polybios ini dalam konteks Indonesia – mungkin juga dalam konteks negaranegara lain di dunia – tidak memisahkan praktik demokrasi dan oligarki dalam
lanskap yang berbeda. Keduanya berjalan beriringan.
Pandangan ini didukung oleh Jeffrey A. Winters273 yang mengingatkan
bahwa:
“tak ada pertentangan inheren antara oligarki dan demokrasi, maupun
oligarki dengan cara produksi apapun. Dengan alasan yang sama, tak
mengherankan bila Indonesia pada tahun 2009 bisa menjadi Negara paling
demokratis sekaligus paling korup di Asia Tenggara274. Argumentasi ini di
Jeffrey A. Winters, Oligarki, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2011) hlm. 210.
Pada 2005, Freedom House menyebut Thailand dan Filipina “bebas” dan Indonesia “sebagian
bebas”. Sejak tahun 2006, Indonesia telah menjadi satu-satunya Negara “bebas” di Asia Tenggara.
Selama beberapa tahun Transparency International (2009) mencatat Indonesia, Vietnam, dan
Filipina sebagai calon-calon kuat peraih gelar Negara paling korup di Asia Tenggara. Namun
Political and Economic Risk Consultancy (PERC 2010) yang bermarkas di Hong Kong, yang
melakukan jajak pendapat kepada para eksekutif tingkat menengah dan senior Asia dan ekspatriat
273
274
392
dukung oleh fakta politik yang tak terelakkan, dimana demokrasi
“ditumpangi” secara radikal oleh kelompok oligark.
Artinya, demokrasi dan oligarki tidak menjadi siklus yang berputar, namun
dapat bersatu dan saling menopang. Pada saat rezim demokrasi berlangsung,
oligarki dapat menumpang di atas-nya, karena oligarki tidak mengenal pada sistem
politik mana dia harus bertahan, karena semua sistem politik dapat melibatkan
oligarki.
Fenomena politik Indonesia setelah reformasi tidak mengubah keadaan
oligarki, meksipun demokrasi menjadi salah satu fenomena yang sangat maju.
Demokrasi politik yang berjalan 18 (delapan belas) tahun terakhir sejak reformasi
digulirkan adalah merupakan salah satu kesuksesan politik terbesar bagi
Indonesia, namun pada saat yang sama kelompok-kelompok oligarki yang
terdeferensiasi dan partikular tumbuh mengkonsolidasikan diri. Partai-partai
dipaksa untuk mengikuti UU yang dibuat melalui piranti dasar demokrasi, namun
mekanisme oligarkis juga bekerja bersamaan dengan demokrasi tersebut.
Keterbukaan politik yang menjadi salah satu elemen penting demokrasi
memang terjadi dan dipraktikan dihampir seluruh negeri. Namun partai-partai
hanya dihuni oleh para oligark terutama mereka yang memiliki modal dan para
pengusaha. Kaderisasi politik para oligark ini tidak saja pada anak-anak mereka,
tetapi juga pada kader dari luar klan keluarga dengan komitmen menjaga
kesetiaan. Golkar sebagai salah satu partai warisan Orde Baru dan merupakan
partai yang memiliki mesin politik paling rapi, justru dikuasai oleh para oligark.
Meskipun oligarki di dalamnya tidak solid secara internal, manun jika menyangkut
urusan partai sebagai mesin politik bersama, mereka menjaganya.
Problem terbesarnya, setiap partai politik mengandalkan uang sebagai
basis konsolidasi dan pemantik soliditas internal, disamping kekuasaan.
Kekuasaan tanpa ditopang dengan uang, ia keropos dan dengan mudah digerogoti
oleh pihak lawan. Individu yang memiliki uang akan dengan mudah “membeli”
setiap orang untuk membantuk mengatur dan memadamkan “api ketegangan”,
apabila terjadi move politic dan ketegangan-ketegangan kecil dari dalam. Tanpa
“pembayaran” yang memadai, sulit bagi setiap orang untuk menjaga kesetiaan
terhadap individu tertentu, terutama ketua umum, karena pola pikir yang
dibangun adalah bagaimana cara mengambil keuntungan sebesar mungkin dari
proses dan dinamika kepartaian yang bergulir.
Seorang ketua umum yang baik harus memiliki dua modal sebagaimana
tersebut di atas untuk terus menjaga stabilitas kekuasaan di dalam partai politik.
begitu sentralnya kekayaan di dalam perebutan kursi ketua umum, setiap calon
diperhadapkan pada pembiayaan sukses yang begitu besar. Ia harus menyiapkan
uang transportasi, konsumsi dan akomodasi pemilik suara yang akan menjadi
yang bekerja di kawasan tersebut selalu lebih konsisten menempatkan Indonesia di Bawah, sebagai
Negara terkorup (Catatan kaki Winters, 2011; 210)
393
voters nya pada saat pemilihan berlangsung. Selama konsolidasi di berbagai kota,
tim sukses di biayai sepenuhnya oleh kandidat, termasuk uang hariannya. Secara
sederhana, jika bukan orang kaya, sulit untuk membiayai ticket pesawat, ticket
hotel dan memberi “uang makan” kepada ratusan voters, belum juga ditambah
dengan suara yang kadang diperjualbelikan.
Fenomena ini menuntut oligarki yang kuat secara finansial untuk
menduduki posisi ketua umum partai politik, sehingga suksesi yang semula
dilakukan secara demokratis hanyalah menjadi “gincu semata”, karena pada
akhirnya akan jatuh ke tangan oligarki. Mereka hanya mengendarai slogan
demokrasi untuk kepentingan individu dan aliansi mereka. Dalam analisis kasus di
bawah mengenai kekuatan oligarki dalam pemilihan ketua umum partai politik,
penulis mengambil sample pada Partai Golkar, Partai Demokrat, PDI-P dan PAN.
Hal ini dengan pertimbangan, bahwa apa yang terjadi pada PPP mirip dengan yang
terjadi pada Partai Golkar, terkait dengan konflik oligarkinya. Sementara Partai
Gerindra dan Partai Hanura memiliki oligarki tunggal yang mirip dengan apa yang
terjadi pada PDIP. PAN, PKB dan PKS memiliki kecenderungan yang sama, karena
dari segi kultur partai-partai tersebut berbasis massa Muslim serta dalam proses
pergantian kekuasaan-nya tidak memiliki basis sejarah oligarki yang kuat dan
mapan serta berusia panjang. Itulah sebabnya penulis hanya mengambil empat
partai sebagai sampling untuk di analisis. Beberapa kasus pemilihan ketua umum
partai politik dapat diulas sebagai berikut:
1. Kasus Pemilihan Ketua Umum Partai Golkar.
Partai Golkar adalah contoh partai politik yang paling dinamis. Hal ini
disebabkan oleh merata-nya kekuatan oligarki di dalamnya. Para pengusaha,
birokrat, mantan militer merupakan aliansi penting yang menyatukan Golkar.
Fenomena ketegangan partai Golkar belum pernah terjadi di partai politik lain.
Ketegangan-ketegangan di Golkar terjadi dalam dua skema, yakni perebutan
kekuasaan dari dalam yang menciptakan “neraka politik”, namun “konsolidasi dan
perlindungan politik keluar” yang begitu kuat. Akibatnya, “penghancuran” politik
sesama kader terjadi secara signifikan, namun di saat yang lain, apabila ada isu
bersama dari luar yang mengguncang partai, mereka tiba-tiba bersatu dan
“mengangkat senjata” untuk menghadang.
Terlepas dari kemampuan manajemen konflik politik yang dikelola oleh
partai, Partai Golkar menempatkan “proses” sebagai langgam utama
pengembangan institusi. Proses yang dimaksud adalah; tidak mudah menjadi
pengurus partai, karena terjadi antrian panjang. Kecuali dalam beberapa kasus
tertentu, beberapa tokoh atau Oleh sebab itu, para pengurus dan pimpinan partai
adalah barisan lama yang terus-menerus menjadi “penjaga” dominasi kekuasaan.
Penulis melihat ada dua lapisan oligarki di dalam partai Golkar, yakni; old
oligark (oligarki tua), dan new oligarki (oligarki baru). Kedua lapisan ini saling
mengisi satu sama lain, meskipun pada kenyataanya, oligarki tua-lah yang
394
memegang simpul-simpul kekuasaan. Sementara yang muda diproses melalui
berbagai instrumen untuk dipersiapkan sebagai pengganti yang tua. Oleh karena
itu, kaderisasi partai berjalan bukan untuk membuka kran demokrasi dan
meningkatkan kualitas elit partai dalam upaya untuk mempersiapkan mereka
sebagai kader politik , tetapi mereproduksi oligarki baru sebagai penopang partai
di kemudian hari, sebagai upaya preventif bila oligarki tua sudah tidak lagi dapat
diharapkan.
Untuk saat ini ada dua oligark yang saling berhadapan, yakni kubu oligark
yang dipimpin oleh Aburizal Bakrie di satu sayap dan kubu Oligark yang dipimpin
oleh kubu Jusuf Kalla di pihak lain. Meskipun ada kubu lain, seperti Akbar Tanjung,
namun kekuasaan nya makin lama makin melemah dan tergerus. Hal ini terjadi
karena skala pragmatisme yang dikembangkan oleh kubu Akbar yang terlalu
dominan sementara sumber harta sebagai basis utama penguasaan infrastruktur
partai tidak terlalu kuat. Di kubu Akbar saat ini, tidak ada pengusaha ultra kaya
yang menjadi penopang kekuasaan nya, padahal apabila di topang oleh basis
ekonomi yang kuat, dengan pengalaman organisasi dan kemampuan manajerial
yang baik, Akbar dapat menguasai infrastruktur partai secara signifikan.
Oligark yang awet dan terus bertahan adalah oligark yang menguasai asset
ekonomi dan mereka yang penulis sebut sebagai individu ultra kaya di atas.
Representasi yang paling kuat dari kedua hal tersebut adalah Bakrie dan Kalla,
sebagai pengusaha dengan asset yang dapat diperhitungkan. Keduanya memimpin
kekuatan yang berimbang dari komposisi harta, meskipun besar-kecilnya harta
mereka tidak ada yang tau persis. Namun yang tampak ke publik, keduanya
mewakili oligarki tua yang amat kaya, dan tentu saja memiliki basis penguasaan
infrastruktur partai mumpuni.
Kongres Partai Golkar di Bali pada tanggal 30 November sampai 2
Desember 2014 yang menyebabkan terpilihnya Bakrie secara aklamasi telah di
dahului oleh perseteruan panjang di antara kubu-kubu oligarki yang corak
kekuatannya beragam. Semua orang menduga hanya beberapa kekuatan yang akan
tampil dan saling berhadapan, namun secara faktual pertengkaran diperburuk
oleh bangkitnya aliansi oligarki muda yang semula tidak berani menghadapi
tekanan oligarki tua. Tampilnya Priyo Budi Santoso, Zainuddin Amali, Airlangga
Hartarto, Agus Gumiwang, Agun Gunanjar, dan Gusti Iskandar dalam Kongres
tandingan di Ancol, Jakarta, pada tanggal 6-8 Desember 2014 telah
memperlihatkan asumsi sebelumnya, bahwa Kalla terlibat di dalam perseteruan
Golkar, meskipun melalui tangan orang lain. Meskipun Agung Laksono, ketua
terpilih dalam munas Ancol adalah salah satu oligarki tua, namun dia ditopang
penuh oleh aliansi oligarki muda yang sudah lama berkuasa di partai Golkar dan
beberapa oligarki tua yang tidak sejalan dengan aliansi yang dibangun oleh Bakrie.
Terbelahnya Golkar menjadi dua kubu telah melahirkan kegamangan
politik bagi sebagian kader. Diperburuk lagi dengan keputusan Menteri Hukum
dan HAM yang melegitimasi Kongres Ancol sebagai Kongres yang sah. Publik
395
menduga, keputusan tersebut muncul karena intervensi langsung dari Kalla yang
menjabat sebagai Wakil Presiden. Mengingat kubu Bakrie adalah kubu oposisi
terhadap pemerintahan terpilih Jokowi-Kalla, maka sangat beralasan, Kalla
dituding terlibat di dalamnya.
Pertanyaannya, adakah proses demokratisasi dalam pemilihan ketua umum
partai Golkar?. Secara sepintas, bahwa demokrasi dibangun di atas puing-puing
demoralisasi politik. betapa tidak, kekuasaan sepenuhnya dikendalikan oleh
oligarki rakus yang saling menerkam di antara mereka. Pada Munas gabungan
yang berlangsung di Bali pada tanggal 15-17 Mei 2016 terlihat dengan jelas
bagaimana perseteruan oligarki muncul dalam skema kampanye kandidat calon
ketua umum yang akan maju. Mereka adalah Ade Komarudin, Setya Novanto,
Airlangga Hartarto,Mahyudin, Priyo Budi Santoso, Aziz Syamsudin, Indra Bambang
Utoyo, Syahrul Yasin Limpo.
Skenario demokrasi internal partai tidak dapat berjalan mulus, dan tentu
saja publik sudah menduga sebelumnya, bahwa posisi Novanto sangat kuat, karena
ia dekan dengan ketua umum, Bakrie. Relasi kuasa dan kedekatan keduanya dalam
waktu lama tidak dapat dipungkiri. Posisi Novanto pasca Pemilu 2014 sebagai
ketua DPR sebelum mengundurkan diri dan kembali lagi menjadi ketua Fraksi
adalah karena jalinan persahabatan, politik dan bisnis keduanya yang saling
menopang satu sama lain.
Dalam konteks sejarah, rumit memaknai demokratisasi di partai Golkar dan
penulis mengambil posisi untuk mengatakan bahwa demokrasi dikendarai
sepenuhnya oleh kekuatan oligarki. Pasca Orde Baru, naiknya Akbar Tanjung
sebagai ketua umum tidak terlepas dari posisi politiknya, begitu juga juga
terpilihnya Jusuf Kalla, disebabkan karena kekuasaan Wakil Presiden serta bisnis
raksasa yang ia miliki. Tentu saja faktor lama nya seseorang di partai dan di kader
tidak dapat pula dinafikan, tetapi itu semua itu hanyalah faktor pendukung dari
faktor utama, yakni kepemilikan uang dan kekuasaan.
Karena uang dan kekuasaan yang dimilikinya pula maka dalam Munas Riau,
pada Oktober 2009, Bakrie terpilih sebagai ketua umum menggantikan Jusuf Kalla.
Tentu saja keterpilihan-nya tersebut disebabkan oleh kekuatan uang yang dimiliki,
di samping jaringan persahabatan dan lama-nya waktu ia menjadi kader partai.
Tidak dapat dipungkiri, kepemimpinan Bakri berjalan penuh dinamika dan
“interupsi” dari dalam, tetapi ia dapat mengendalikan dinamika politik tersebut
hingga akhir kekuasaan periode.
Dinamika politik dan demokrasi di dalam partai sangat ditentukan oleh
kekuatan uang dang kekuasaan. Karena hanya mereka yang mampu mengatur dan
membiayai ongkos akomodasi dan belanja untuk kepentingan politik. Pada
akhirnya terlihat dengan jelas, siapa yang akan selalu berkuasa di partai, akan
ditentukan oleh kepemilikan capital dan kekuasaan.
396
2. Kasus Pemilihan ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan
(PDI-Perjuangan)
Salah satu partai yang sulit merobohkan dinding oligarki adalah PDI-P.
Dengan segenap kelemahan dan kelebihannya, PDI-P menempati posisi sebagai
partai ultra oligarkis. Penguasaan sumber daya partai dikendalikan sepenuhnya
oleh satu orang, karenanya, partai ini tidak menjadikan demokrasi sebagai
rumusan kebijakan internal.
Eksistensi ketua umum Partai, Megawati Soekarno Putri begitu sentral,
tanpa kritik dan tanpa interupsi dari dalam. Ucapan dan titahnya adalah
merupakan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga partai, sehingga sistem
yang dianut adalah closed system, partai tertutup.
Sebagai partai yang tertutup, PDI-P memiliki rumusan politik dan sirkulasi
elite tersumbat. Elite lama cenderung tak berganti, sementara elite baru tidak
memiliki bargaining menghadapi dominasi elite lama. Dibanding dengan Partai
Golkar, masih jauh lebih baik dari PDI-P dalam hal kaderisasi dan komitmen pada
pembentukan elite baru.
Akibat sistem partai yang tertutup tersebut, pemilihan ketua umum
berjalan hampir tanpa dinamika. Ketua umum terpilih berulang kali hanya satu
orang, Megawati. Megawati dianggap sebagai satu-satunya orang yang dapat
mensolidkan partai dan menyatukan perbedaan-perbedaan dari dalam.
Kohesivitas dan soliditas partai terjaga di tangan Megawati. Karena salah satu
kekhawatiran terbesar partai-partai politik saat ini adalah solidaritas tergerus,
perpecahan karena kepentingan kekuasaan tak dapat dikendalikan serta perang
internal. Di PDI-P, hanya satu orang yang dapat menjamin itu semua tidak terjadi,
yakni Megawati.
Itulah sebabnya, pemilihan ketua umum yang berlangsung pada 8-12 April
2015 di Bali berakhir aklamasi. Kongres hanya membicarakan program, tidak
membicarakan mengenai siapa saja yang menjadi kandidat ketua umum. Padahal
suksesi dalam tradisi demokrasi menghendaki kompetisi dan kontestasi yang fair
dan sehat.
Sebagai seorang oligark tunggal, Megawati hampir tanpa celah, bahkan
dianggap sebagai satu-satunya “orang yang paling benar” dalam segala tindakan
dan keputusan politiknya di dalam partai. Oligarki seperti ini mematikan
demokrasi, bahkan tidak ada celah bagi demokrasi. Dengan kenyataan seperti ini,
PDI-P menjadi partai yang kurang sehat dalam membangun tradisi demokrasi,
karena dominasi oligarki tunggal menjadi begitu kuat dan tak tersentuh koreksi
dan kritik dari dalam.
Dengan posisi nya yang tunggal tanpa interupsi, seorang presiden, kepala
negara dan kepala pemerintahan yang dalam tradisi partai lain di elukkan dan
dihormati, di PDI-P hal itu tidak berlaku. Presiden bagi Megawati hanyalah petugas
397
partai, sama hal-nya dengan anggota DPR atau pejabat lain nya yang diberi
mandate oleh partai. Tak heran jika saat Kongres di Bali tersebut, Jokowi sebagai
Presiden tidak diberi panggung untuk pidato oleh Megawati, karena ia dianggap
sama posisinya dengan kader partai yang lainnya.
Ketunggalan dan sentralisasi kekuasaan partai yang maha besar ini tidak
dapat menjunjung tinggi demokrasi dan tentu saja tidak ada demokrasi di dalam
partai. Demokrasi macam apa yang bisa diharapkan tumbuh dari suatu partai yang
tak ada interupsi dan perbedaan, tidak boleh menjatuhkan pilihan yang berbeda
dengan pilihan ketua umum. Apalagi berkompetisi dan bersaing dengan ketua
umum di dalam partai, jelas tidak mungkin. Maka demokrasi tak punya tempat di
PDI-Perjuangan, karena oligarki tua yang begitu tunggal dan sakral dan memberi
tempat bagi tumbuh berkembangnya demokrasi.
3. Kasus Pemilihan Ketua Umum Partai Demokrat
Sebagai partai baru, Partai Demokrat adalah partai yang sukses mendulang
suara yang begitu besar. Kemenangan Soesilo Bambang Yudhoyono, sang ketua
umum partai sebagai presiden di periode pertama tahun 2004 memberikan
memberikan kredit point yang besar bagi eksistensi partai demokrat. Sebagai
presiden, Yudhoyono kemudian memenangkan pemilu kedua tahun 2009 secara
telak dan kembali mengantarkannya sebagai presiden di periode kedua. Suksesnya
Yudhoyono sebenarnya di dukung oleh personalitas yang kuat serta citra diri yang
sukses dibentuk melalui media massa dan mesin politik partai.
Setelah pemilu tahun 2009, Partai Demokrat menyiapkan suksesi
pergantian ketua umum di Bandung pada tanggal……….2010. Sebagaimana yang
publik ketahui, bahwa ada tiga kandidat yang bertarung dalam Kongres di
Bandung, yakni; Andi Alfian Mallrangeng, kader dan orang terdekat Yudhoyono. Ia
diharapkan oleh Yudhoyono sebagai penggantinya. Hal ini sebenarnya lebih
dikarenakan kesetiaan dan “kepatuhan” Mallarangeng kepada Yudhoyono serta
sikapnya yang menghormati Yudhoyono. Disamping itu, Yudhoyono juga
memandang Mallarangeng bukanlah ancaman baginya apabila terpilih. Karena
selama ini ia selalu mendengarkan petuah dan arahan dari sang presiden yang juga
sekaligus pimpinan oligark di partai Demokrat. Namun Mallarangeng tidak
sendirian, dia dihadang oleh Anas Urbaningrum, kader yang dianggap oleh publik
memiliki potensi besar untuk menjadi calon presiden. Dia memiliki jaringan politik
yang kuat serta memiliki komunikasi politik yang baik di dalam struktur partai.
Tetapi yang tidak kalah kuat juga adalah Marzuki Ali, yang juga sekaligus ketua
DPR. Marzuki memiliki potensi besar untuk melawan Anas yang di dukung oleh
sejumlah oligarki tua.
Meskipun pada akhirnya pemilihan ketua umum Partai Demokrat berakhir
dengan terpilihnya Anas Urbaningrum dalam gegap gempita yang cukup riuh,
namun menyisakan berbagai persoalan yang muncul di kemudian hari. Mungkin
dapat dikatakan, bahwa kongres demokrat di bandung adalah kongres yang
398
menunjukan betapa demokrasi benar-benar dijalankan. Dukungan Yudhoyono, sang
presiden yang juga memimpin oligarki ke Mallarangeng tidak dapat membendung
arung dukungan ke Anas.
Jelas sekali bahwa oligarki di Partai Demokrat belum terlalu kuat, namun
partai ini menghimpun para aktivis dan orang-orang muda yang memiliki visi
politik yang maju. Meskipun pada akhirnya Anas terjungkal karena kasus korupsi,
kongres Partai Demokrat di Bandung dapat menjadi contoh bagi diskursus oligarki
yang dinamis dan rumitnya membaca peta dominasi oleh oligark yang satu atas
oligark yang lain di dalam tubuh partai Demokrat.
Setelah Anas terjungkal, dilakukan Kongres luar biasa di Bali pada 30-31
Maret 2013 yang memilih Yudhyono secara aklamasi sebagai ketua umum.
Kongres ini mengembalikan Yudhoyono sebagai ketua umum, yang berarti
kembalinya sang fuhrer memimpin partai. Konsensus oligark di Bali memutuskan
untuk mengembalikan partai ke tangan Yudhoyono dengan alasan agar stabilitas
partai setelah terserang tsunami korupsi dan dihantam oleh media dari berbagai
sisi dapat dikembalikan.
Mimpi pemilihan demokratis atau demokratisasi yang sebelumnya telah
mulai dikembangkan dalam suksesi partai politik mulai berjalan dengan baik,
dikembalikan pada track konsensus oligark. Kongres bandung yang mengantarkan
Anas menjadi Ketua Umum dengan segenap gegap gempita yang menyertainya,
telah membuat Partai ini menjadi partai yang dianggap demokratis karena Ketua
Umum, yakni Yudhoyono yang juga sekaligus presiden tidak menunjukan tandatanda keberpihakan. Meskipun ia menempatkan anaknya sebagai tim sukses Andi
Malarangeng, namun secara terbuka, Yudhoyono membiarkan kongres di Bandung
berjalan dengan langgam demokrasi yang baik.
Hingga Kongres Partai Demokrat tahun 2015 yang digelar di Hotel ShangriLa Surabaya pada 11-13 Mei 2015, publik meyakini Yudhoyono tidak akan melepas
partainya. Ia akan terus menjadi ketua umum. Meskipun dalam kongres di
Surabaya muncul nama Marzuki Alie yang akan bersaing menghadapi Yudhoyono,
namun tidak dapat membendung keinginan arus bawah pemilik suara untuk terus
memilih Yudhoyono sebagai ketua umum. Hingga akhirnya yang bersangkutan
terpilih kembali secara aklamasi sebagai ketua umum.
Kecenderungan-kecenderungan aklamasi dan tanpa pemilihan ini
merupakan fenomena tidak adanya consensus untuk menerima demokrasi
sepenuhnya di dalam partai. Kehendak oligarki dan aliansi-aliansi besar yang
mereka bangun justru mengancurkan harapan untuk menata dan mendorong
demokratisasi partai. Partai Demokrat yang semula diharapkan untuk menjadi
lokomotif pratik demokrasi di partai politik, kembali terjerembab ke dalam kutub
oligarki. Praktis pada akhirnya pemilihan ketua umum yang demokratis menjadi
mimpi yang terus didendangkan oleh masyarakat sipil, meskipun partai politik
tidak hingga kini belum menerima demokratisasi pemilihan ketua umum-nya
399
sebagai konsensus. Kepemilikan uang dan kekuasaan menjadi dominan dalam
setiap perhelatan suksesi partai politik.
4. Kasus Pemilihan Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN)
Salah satu partai yang mengembangkan konsep oligarki-teknorat adalah
PAN. Dengan berbagai kekurangannya, PAN hingga kini adalah partai yang
mempertahankan tradisi pemilihan ketua umum hanya satu periode. Sejak Amien
Rais, kepemimpinan di PAN berganti hanya dalam satu periodik, dan itu menjadi
konsensus yang secara diam-diam diamini oleh kalangan elite di dalamnya.
Proses kepemimpinan yang hanya satu periode seperti ini sebenarnya
merupakan tradisi yang baik bagi demokratisasi partai politik. Hal ini juga sebagai
distingsi (pembeda) yang mencolok dari partai lain.
Setelah Amein Rais menjadi ketua umum, pengganti yang dianggap
memiliki modal ekonomi yang kuat dikalangan kader partai adalah Soetrisno
Bachir. Bachir – atas restu Rais – terpilih dengan suara terbanyak dalam kompetisi
melawan Fuad Bawazir pada Kongres PAN di Semarang pada 10 April 2005. Bachir
memperoleh 745 suara, sedangkan lawan-nya Fuad Bawazier hanya mendapatkan
551 suara. Keterpilihan Bachir tentu saja disebabkan dia termasuk dalam jajaran
oligark yang memilki basis ekonomi yang kuat. Bisnis properti (real estate) yang
dikembangkannya melalui Ika Muda Group bersama kakaknya Kamaluddin, yang
sekarang ia kembangkan sendiri melalui Sabira Group menyebabkan ia menjadi
salah satu konglomerat muda pribumi yang memiliki pengaruh kuat di jajaran
partai. Dengan kekayaan yang dimiliki, Bachir dapat dengan mudah melakukan
konsolidasi untuk membesarkan partai, sehingga Rais memiliki banyak harapan
kepadanya.
Sebagaimana telah diuraikan di atas, eksistensi oligarki Bachir sepenuhnya
disokong oleh oligarki Rais. Rais menguasai seluruh infrastruktur partai dan
dianggap sebagai pemersatu yang mengendalikan struktur dan di dengar sebagai
imam bagi kadernya. Atas dasar restu Rais, Bachir sukses bertahan dan
mengendalikan sepenuhnya struktur partai hingga akhir periode.
Di akhir periode, ketika suksesi dipersiapkan untuk melanjutkan
kepemimpinan Bachir, ia ingin kembali maju sebagai calon ketua umum untuk
periode kedua. Namun Rais hendak mempertahankan tradisi agar ketua umum
hanya satu periode saja. Banyak yang mensinyalir, bahwa Bachir, dengan
dukungan uang yang dia miliki dapat memenangkan pertarungan. Namun Rais
menjatuhkan “dukungan” nya pada Hatta Radjasa, yang juga pengusaha dan
menteri di era presiden Yudhoyono.
Sukses mendorong Radjasa sebagai ketua umum secara aklamasi melalui
Kongres di Batam pada Januari 2010, Rais kembali melenggang sebagai ketua
Majelis Pertimbangan partai. Posisi ini masih dipegang oleh Rais, karena kader
menghendaki agar Rais tidak meninggalkan partai meskipun bukan sebagai ketua
400
umum. Rangkulan tangan Radjasa dan Rais telah sukses mengantarkan Radjasa
sebagai calon wakil presiden yang berpasangan dengan Prabowo Subianto di
pemilu 2014. Jelas sekali, bahwa Radjasa bukanlah oligarki “kacangan”, dia
memiliki basis keuangan yang kuat. Terbukti, seseorang yang mengikuti suksesi
kepemimpinan nasional membutuhkan dana yang tidak sedikit untuk membiayai
suksesi politik tersebut.
Setelah suksesi kepemimpinan nasional berakhir, Radjasa berharap masih
dapat melanjutkan kepemimpinan nya di PAN untuk periode kedua. Lagi-lagi Rais
menghendaki agar dia berhenti dan menyerahkan estafet kepemipinan kepada
orang lain. Pra-suksesi berjalan cukup alot, karena rival Radjasa adalah ketua MPR,
Zulkifli Hasan yang juga merupakan besan Rais. Selain karena alasan
kepemimpinan satu periode, ikatan kekeluargaan antara Rais dengan Hasan tak
dapat dipungkiri memuluskan dukungan Rais ke Hasan.
Sebagaimana peristiwa politik sebelumnya, kemenangan tipis diperoleh
Hasan atas Radjasa, padahal jika diperhitungkan secara politis, konstribusi Radjasa
terhadap partai sangat besar. Namun karena tradisi satu periode dipertahankan
sebagai konsensus, jelas sekali kemenangan Hasan adalah kemenangan tradisi
politik PAN. Maka Pada 1 Maret 2015, Zulkifli Hasan terpilih sebagai Ketua Umum
PAN periode 2015-2020, dengan perolehan 292 suara, sedangkan lawannya, Hatta
Rajasa hanya mendapat 286 suara. Selisih tipis antara keduanya.
Sebagai catatan, ketika dipimpin Amien Rais, PAN dalam Pemilu 1999
memperoleh dukungan suara 7,5 jutaan. Turun tipis pada Pemilu 2004 menjadi 7,3
juta. Ketika di bawah kepemimpinan Soetrisno Bachir, hasil Pemilu 2009 turun lagi
ke 6,2 juta suara. Penurunan itu membuat Sutrisno Bachir digantikan oleh Hatta
Rajasa. Hasilnya perolehan suara PAN naik drastis ke 9,5 juta pada Pemilu
2014.275 Alasan karena suara PAN naik secara signifikan, maka Radjasa maju
kembali sebagai calon ketua umun.
Kekuatan oligarki yang dipimpin oleh Radjasa kalah oleh kekuatan oligarkiteknorat yang dipimpin oleh Rais. Hal ini sebenarnya adalah kombinasi antara
Rais, Bachir dan Hasan untuk menghadang Radjasa. Hasilnya ternyata mampu
mengalahkan Radjasa. Hal ini disebabkan karena pengurus Provinsi dan
Kabupaten/Kota masih melihat Rais sebagai perekat yang menyatukan mereka,
dan tentu saja mereka tidak menghendaki adanya konflik di dalam partai. Hasan
yang di dukung oleh oligarki lama yang di depak, yakni Bachir, sukses melenggang
menjadi ketua umum dengan selisih hanya sekitar enam (6) suara. Suatu selisih
yang sangat kecil bagi kekalahan yang besar.
Kemenangan Hasan adalah kemenangan oligarki lama, yakni Rais,
meskipun ia tidak memiliki basis material harta yang kuat, tetapi kharisma
275
“INCAR MASUK 3 BESAR DI PEMILU 2019, KETUM PAN HARUS FOKUS KE PARTAI”,
HTTP:// NEWS.METROTVNEWS .COM / READ/2015/02/08/355473/ INCAR- MASUK -3- BESAR- D,
DIAKSES TANGGAL 17 JULI 2016.
401
kepemimpinan nya masih di dengar. Ia memiliki basis suara besar di
Muhammadiyah yang selalu terpelihara, menyebabkan Rais selalu memiliki
kekuatan politik meskipun ketua umum silih berganti. Titik demokrasi masih bisa
terlihat dalam skema pemilihan ketua umum PAN, meskipun dukungan uang yang
datang dari Bachir dan dukungan politik yang kuat dari Rais telah mengantarkan
Hasan menjadi ketua umum partai, disamping dia adalah ketua MPR, sebuah
jabatan Kenegaraan prestisius.
C.
DIMANA “RUH DEMOKRASI” DALAM PEMILIHAN KETUA UMUM PARTAI
POLITIK?.
Problem yang rumit dalam memetakkan praktik demokrasi pada suksesi
pemilihan ketua umum partai politik adalah, demokrasi macam apakah yang
dikehendaki?. Jika merujuk pada teori demokrasi yang paling sederhana, yakni
kekuasaan dari anggota, oleh anggota dan untuk anggota, sepertinya sulit
teraktualisasikan secara kualitatif.
Rumusan demokrasi prosedural yakni konsep demokrasi kuantitatif dapat
saja terpenuhi, karena ada bilik suara, ada pemilihan dan perhitungan dilakukan
sebagaimana yang diketengahkan dalam demokrasi formal. Namun rumusan
demokrasi kualitatif, yakni kesetaraan dan keadilan politik tidak dapat
sepenuhnya dijalankan, bahkan dalam konteks tertentu tidak dipraktikkan sama
sekali. Kasus PDI-P adalah potret paling buruk dari sentralisasi kekuasaan partai
di satu tangan, yang menyebabkan demokrasi hanya milik segelintir orang bahkan
satu orang.
Ruh demokrasi hanya melekat dalam symbol dan slogan partai, ia tidak
menginjkesi ke dalam perilaku dan tindakan elite partai. Kecuali dalam kasus PAN,
terlihat artikulasi demokrasi berjalan dengan baik, meskipun tekanan oligarkiteknorat yang melekat bersama Rais tak dapat dihindari. Praktis pada akhirnya
tidak ada satupun Partai Politik yang dapat menjalankan pemilihan ketua umum
dengan lanskap demokrasi, karena prinsip dasarnya adalah penguasaan oleh
aliansi oligarkis yang saling menopang diantara mereka.
Demokrasi yang didendangkan adalah slogan oligarki. Karena kelompok
oligarki yang sepenuhnya menjadi massinis dari kereta demokrasi yang melaju.
Secara prosedural, demokrasi di dalam partai sebagian melalui rel yang sudah
ditetapkan, namun tidak sedikit yang keluar jalur, sehingga saling tabrakan dengan
moralitas, kebudayaan, dan masyarakat sebagai basis massa dan basis voters partai
politik.
Penguasaan sumber daya partai pada saat yang sama dibarengi dengan
penguasaan sumber daya ekonomi dan sumber daya politik. Tujuan utamanya
adalah untuk menjaga stabilitas harta dan stabilitas kekuasaan. Dengan menguasai
partai politik, sumber daya politik di parlemen dapat dikendalikan. Dengan
pengendalian tersebut, dapat dengan mudah membangun negosiasi dengan
pemerintah agar bisnis nya dapat dijaga dari pembayaran pajak tepat waktu, bisa
402
meminjam pada bank negara dengan bunga minimal, serta gampang mendapat izin
usaha dari pemerintah.
Menjadi ketua partai politik – terutama partai-partai pemenang pertama,
kedua dan ketiga pemilu – sama dengan menguasai sepertiga kekuasaan politik
negara. Dengan kekuatan partai yang dimiliki, ketua umum dapat dengan bebas
membangun konsolidasi, negosiasi dan kompromi atas berbagai keputusan politik
yang menguntungkan posisi dan kepentingan aliansi pendukungnya.
Menjadi ketua partai di Indonesia sama saja dengan menjadi “raja” dalam
sistem monarki. Karena dapat mengatur dan mengendalikan sumber-sumber
kekuasaan yang primer. Seorang kader yang membantah kebijakan partai terlalu
keras dapat dengan mudah di depak tanpa alasan yang masuk akal. Bahkan diam
untuk tak setuju dapat menjadi alasan untuk menyingkirkan seseorang dari
paartai politik.
Posisi ketua umum yang begitu sentral tersebut menyebabkan banyak
orang-orang kaya dan ultra kaya berani mengambil resiko membuang uang untuk
dapat menguasai infrastruktur politik. Dalam kasus yang diketengahkan di atas,
nyata sekali orang-orang kaya bertarung untuk memperebutkan kekuasaan di
partai politik. Mereka yang sudah kaya raya, di dukung oleh sejawatnya yang juga
kaya, sehingga akumulasi kekayaan mereka menjadi besar guna merebutkan
kekuasaan. Pertarungan memperebutkan ketua umum partai politik, adalah
pertarungan orang kaya melawan orang kaya, yang kita sebut sebagai perang
oligark vs oligark.
D. UNDANG-UNDANG PARTAI POLITIK DAPAT MENJADI MENGHALANG LAJU
OLIGARKI.
Pergeseran pemilihan ketua umum yang seharusnya dilaksanakan melalui
mekanisme dan prosedur demokrasi yang berubah menjadi formula oligarkis
dapat dicegah melalui instrumen hukum, yakni undang-undang Partai Politik,
dalam hal ini Undang-Undang Nomor 2 tahun 2011 tentang Partai politik.
Pengaturan agar partai politik dapat dijalankan dengan logika dan prinsip
demokratis dapat dikendalikan. Tetapi pengaturan seperti ini sebenarnya hanya
kembali kepada konsep demokrasi formal, dimana hanya sebatas pemenuhan
kebutuhan undang-undang semata, bukan pada demokrasi kualitatif yang
bersandar pada kualitas dan substansi demokrasi.
Di dalam Undang-Undang Nomor 2 tahun 2008 tentang Partai Politik,
konsep demokrasi itu tuangkan secara tersurat. Hal ini dapat dilihat dalam Pasal
10 ayat (1) huruf c berbunyi; “mengembangkan kehidupan demokrasi berdasarkan
Pancasila dengan menjunjung tinggi kedaulatan rakyat dalam Negara Kesatuan
Republik Indonesia. Kata “kehidupan demokrasi” adalah nilai yang harus dihayati
dan dikembangkan. Begitu juga dengan bunyi pasal 11 ayat (1) huruf e yang
menyatakan: rekrutmen politik dalam proses pengisian jabatan politik melalui
mekanisme demokrasi dengan memperhatikan kesetaraan dan keadilan gender.
Juga di dalam Pasal 13 huruf a berbunyi; menjunjung tinggi supremasi hukum,
demokrasi, dan hak asasi manusia.
403
Dalam hubungan nya yang paling erat dengan konsep pemilihan ketua
umum partai politik yang demokratis ini, Undang-Undang telah “mewasiatkan”
secara jelas di dalam Pasal 22 yang berbunyi; “Kepengurusan Partai Politik di setiap
tingkatan dipilih secara demokratis melalui musyawarah sesuai dengan AD dan
ART”.
Kata “kehidupan demokrasi”, “mekanisme demokrasi”, “demokrasi” dan kata
dipilih secara demokratis” yang disebutkan dalam kutipan pasal-pasal di atas
menunjukan pada kualitas partai politik. Pada pasal 22, disebutkan secara tegas
dipilih secara demokratis untuk komposisi pengurus partai politik.
Persoalan yang dihadapi adalah, apakah yang dimaksud dengan dipilih
secara demokratis itu?. Apakah hanya pemilihan langsung yang disebut sebagai
pemilihan demokratis?. Atau apakah demokrasi hanya bermakna pemilihan
langsung?. Konsep ini menjadi rumit karena di dalam Pasal 18 ayat (4) UndangUndang Dasar yang mengatur mengenai pemilihan kepala daerah disebutkan juga
“dipilih secara demokratis”. Tetapi diterjemahkan ke dalam Undang-Undang Nomor
10 Tahun 2016 Tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun
2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor
1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, Dan Walikota Menjadi UndangUndang, bahwa yang dimaksud dengan dipilih secara demokratis adalah dipilih
secara langsung.
Dalam realitasnya, jabatan-jabatan yang dipilih secara langsung dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara adalah Kepala Desa, Bupati-Wakil Bupati,
Walikota-Wakil Walikota, Gubernur-Wakil Gubernur, Presiden-Wakil Presiden,
Anggota MPR, DPR, DPD, dan DPRD. Sisanya adalah melalui mekanisme perwakilan.
Hal ini menunjukan bahwa demokrasi di partai juga tidak selalu pemilihan
langsung, namun dapat diwakili.
Konsep dasarnya adalah melalui musyawarah berdasarkan AD dan ART. AD
dan ART partai harus mengatur mengenai semangat dan mekanisme demokratis
dalam pemilihan pengurus. Karena sandaran-nya adalah AD dan ART, maka
undang-undang tidak dapat mengintervensi terlalu jauh mekanisme pembentukan
pengurus partai, terutama mekanisme pemilihan ketua umum. Itulah sebabnya,
setiap partai menerapkan pola yang berbeda dalam pemilihan ketua umumnya,
sepanjang mereka dapat menciptakan harmoni dan menghindari konflik.
Undang-Undang Partai Politik yang ada saat ini tidak dapat digunakan
untuk menghentikan laju penguatan dan dominasi oligarki di partai, sehingga
diperlukan konsep dan norma yang lebih ketat agar oligarki dapat dikikis,
meskipun tidak dapat dihapus. Sebagai sarang oligarki, partai politik sulit untuk
menghapus dominasi oligarki, namun dapat dikurangi dengan mekanisme hukum
yang ketat dalam mengatur proses pembentukan kepengurusan partai. Undangundang Partai Politik harus dapat mengatur secara khusus mengenai pengisian
jabatan ketua umum dan syarat-syarat formal ketua umum. Disamping itu, makna
kata dipilih secara demokratis harus diperjelas, misalnya dipilih secara langsung.
Ketentuan mengenai pemilihan secara langsung juga harus ditentukan berapa
orang di setiap kaabupaten/kota dan setiap provinsi pengurus yang dapat memilih
bila hendak dilakukan suksesi di tingkat pusat. Misalnya hanya ketua umum dan
sekretaris umum di kabupaten kota, sementara di provinsi adalah ketua umum,
sekretaris umum dan bendahara. Begitu juga secara berjenjang. Jika pemilihan
404
dilakukan di provinsi, wakil dari kabupaten/kota berapa orang yang akan memilih
dan wakil dari kecamatan. Sementara untuk pemilihan di tingkat kabupaten kota
perlu diperjelas wakil dari kecamatan dan desa/kelurahan berapa orang yang
memilih.
Perlu juga diatur mengenai standar minimal kandidat yang akan maju
dalam kompetisi, misalnya minimal tiga orang dalam setiap jenjang untuk
menghindari aklamasi. Bahwa pada akhirnya peroleh suaranya untuk nol dua
orang misalnya, namun konsep dan mekanisme pemilihan langsung dilakukan.
Pengaturan seperti ini tidak menjamin juga menghapus kekuatan oligarki,
namun dapat mengikis kekuatan mereka. Dalam arti bahwa kemungkinan besar
konsolidasi tidak selalu mengandalkan uang, karena upaya membeli suara yang
terlalu besar.
E.
PENUTUP.
Berdasarkan pembahasan di atas, penulis dapat mengambil kesimpulan sebagai
berikut:
1. Pemilihan ketua umum partai politik tidak didasari atas konsensus
demokratis, namun lebih dominan dikuasai melalui mekanisme jual beli
suara. Suara terbanyak ditentukan oleh seberapa besar modal ekonomi dan
seberapa kuat kekuasaan yang dimiliki di dalam partai. Hal ini menunjukan
bahwa praktik pemilihan ketua umum partai politik hanya dapat
dimenangkan oleh individu dan kelompok yang memiliki uang dan
kekuasaan. Sebab itu, pemilihan ketua umum partai politik hanyalah
suksesi kekuatan oligarki yang ingin mengendalikan partai politik untuk
menjamin stabilitas harta dan kekuasaan agar tetap di tangan mereka.
2. Penguasaan terhadap partai politik hanya dapat dilakukan melalui
intervensi hegemonik, bukan melalui diskursus dan dialog sebagai basis
argumentasi yang demokratis. Mereka yang merasa memiliki kekuasaan
dan uang, bisa dengan mudah mengatur, karena bagi mereka, “kepatuhan
dapat dibeli” dan suara gampang ditawar, selama memiliki uang dan
kekuasaan. Uang bisa membeli kepatuhan, dapat digunakan untuk
membukam suara, dan tentu saja oligarki dapat terus Berjaya dengan caracara culas seperti ini.
3. Harus dilakukan pengetatan pengaturan mengenai mekanisme pengisian
jabatan ketua umum di partai politik. Pengetatan tersebut dapat dilakukan
melalui revisi undang-undang partai politik dengan mempeketat bab yang
mengatur mekanisme pengisian jabatan ketua umum atau pengurus partai
politik secara umum.
DAFTAR PUSTAKA
Winters, Jeffrey A., 2011, Oligarki, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
405
_______________, Oligarki dan Demokrasi di Indonesia, Jurnal Prisma, Volume 33
Nomor 1 tahun 2014
Ambardi, Kuskridho, 2009, Mengungkap Politik Kartel, Studi Tentang Sistem
Kepartaian di Indonesia Era Reformasi, Jakarta: Kepustakaan Populer
Gramedia.
Mietzner, Marcus, 2013, Money, Power and Ideology: Political Parties In PostAuthoritarian Indonesia, Singapore: NU Press.
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 Tentang Perubahan Kedua Atas UndangUndang Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan
Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014
tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, Dan Walikota Menjadi UndangUndang.
INCAR MASUK 3 BESAR DI PEMILU 2019, KETUM PAN HARUS FOKUS KE PARTAI,
HTTP:// NEWS .METROTVNEWS .COM / READ /2015/02/08/355473/ INC
AR-MASUK -3- BESAR-D, DIAKSES TANGGAL 17 J ULI 2016,
BIODATA
Fajlurrahman Jurdi, SH., MH adalah tenaga pengajar pada Fakultas Hukum
Universitas Hasanuddin. Menyelesaikan Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum
Universitas Hasanuddin dan Magister Hukum pada almamater yang sama. Menulis
Buku antala lain: Membalut Luka Demokrasi dan Islam (2004); Aib Politik
Muhammadiyah (2007); Komisi Yudisial; Dari Delegitimasi Hingga Revitalisasi
Moral Hakim (2007); Predator-Predator Pasca Orde Baru (2008); Aib Politik Islam
(2009); Gerakan Sosial Islam (dkk. 2009); Relasi Kuasa, Ideologi dan Oligarki
(2013); Melawan Kekuasaan (2015); Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara
(2015); Hukum Dibawah Tekanan Oligarki (bersama Hamzah Halim, 2016); Dua
artikelnya di muat di dua edisi jurnal konstitusi, yaitu Sistem Presidensial dan Masa
Depan Demokrasi Politik (2009) Konstitusi Pasca Kolonial (2010). Menulis
diberbagai media massa mengenai tema-tema hukum, ideologi, politik, dan
gerakan sosial. Penulis secara khusus mendalami Hukum Kelembagaan Negara dan
sekarang sedang mendalami hubungan hukum dengan teori dan praktik oligarki.
406
PROSES PEMILIHAN KETUA UMUM PARTAI POLITIK
YANG DEMOKRATIS
Abstrak
Tujuan dilakukannya kajian ini adalah untuk menjelaskan sistem
pemilihan demokratis dalam memilih ketua umum partai politik. Penelitian ini
merupakan penelitian hukum normatif (legal normatif study). Tipe penelitian
dalam tulisan ini adalah bersifat deskriptif. Pendekatan yang digunakan dalam
penelitian ini adalah pendekaan kasus (cases approach) dan pendekatan sejarah
(historical approach) yaitu dengan melihat fenomena yang tumbuh dan
berkembang berdasarkan kasus-kasus yang muncul dan disertai dengan
pengamatan pada aspek sejarah perjalanan partai politik di Indonesia.
Hasil kajian menunjukkan bahwa Sistem pemilihan ketua partai politik
secara umum terdapat dua cara yaitu: pertama, pemilihan secara aklamasi
(aclamation); dan kedua, sistem pemilihan secara vooting dimana setiap pemilih
memiliki hak suara yang sama dengan para pemilih lainnya (one man one voot).
Sistem pemilihan ketua partai politik secara vooting dapat berupa 2 (dua) model
yaitu sistem pemilihan secara vooting dengan menggunakan terbuka dan sistem
pemilihan secara vooting dengan menggunakan model tertutup. Setiap pilihan
sistem pemilihan ketua umum partai politik baik dengan menggunakan pilihan
secara aklamasi maupun dengan sistem pemilihan secara vooting baik dengan
pilihan sistem pemilihan secara vooting dengan menggunakan model terbuka
maupun model tertutup memiliki implikasi positif dan implikasi negatif. Pada
hakikatnya, kedua sistem pemilihan tersebut termasuk beserta ragam model
(terbuka atau tertutup) yang digunakan sesuai (cocok) diterapkan pada setiap
partai politik. Sesuai tidaknya diterapkan kedua sistem pemilihan tersebut
berserta ragam modelnya yang digunakan sangat ditentukan pada 2 variabel
penting yaitu Pertama, variabel kondisi kemapanan berdemokrasi (proses
kaderisasi suatu partai politik), dan Kedua, variabel ragam kepentingan politik
(diversity of political interrest) yang menumpang pada suatu partai politik yang
pada akhirnya akan mempengaruhi tinggi tidaknya (stabil tidaknya) eskalasi
(konfigurasi) rivalitas konflik (pertarungan kepentingan) atau disharmonisasi di
inernal partai dari suatu partai politik.
Kurniawan S, Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) - Aceh, Mobile
Phone: 085370903661, Email : [email protected]
407
1. PENDAHULUAN
Latar Belakang
Keberadaan Partai Politik merupakan manifestasi dari kehendak
(aspirasi) politik rakyat. Partai politik dapat dimaknai sebagai organisasi politik
yang dibentuk oleh sekelompok warga negara republik Indonesia secara sukarela
atas dasar persamaan kehendak dan cita-cita untuk memperjuangkan kepentingan
anggota, masyarakat, bangsa, dan negara melalui pemilihan umum sebagaimana
yang dikatakan oleh Appadorai, yaitu :276
“A political party is more or less organized group of citizens who act
together as a political unit, have distinctive aims and opinions on the leadig
political questions of controversy in the state, and who, by acting together as
a political unit, seek toobtain control of the government, it is based on two
fundamentals of human nature: men difer in their opinions, and are
gregarious; they try to achieve by combination what they can not achieve
individually”.
Carl J Friedrich menuliskan pengertian partai politik sebagai sekelompok
manusia yang terorganisir secara stabil dengan tujuan merebut atau
mempertahankan penguasaan terhadap pemerintahan bagi pimpinan partainya
dan berdasarkan penguasaan ini, memberikan kepada anggota partainya
kemanfaatan yang bersifat idiil serta materil.277 Giovanni Sartori secara lebih jelas
mendefinisikan partai politik sebagai suatu kelompok politik yang mengikuti
pemilihan umum, dan melalui pemilihan umum itu, mampu menempatkan caloncalonnya untuk menduduki jabatan-jabatan publik.278 Dapat disimpulkan bahwa
partai politik merupakan suatu kelompok tertentu yang di dalamnya terdiri atas
orang-orang dengan otientasi tertentu guna meraih kekuasaan politik untuk
menjalankan program-programnya. Adapun dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
(KBBI), partai politik berarti perkumpulan yang didirikan untuk mewujudkan
ideologi politik tertentu.
Tujuan dari kelompok-kelompok yang terdapat dalam suau organisasi
partai politik tersebut ialah untuk memperoleh kekuasaan politik dan merebut
kedudukan politik yang dilakukan secara konstitusional untuk mewujudkan visivisinya dalam bentuk program-program. Dalam negara yang melaksanakan prinsip
demokrasi, kedudukan dan peranan setiap lembaga negara seyogyanya memiliki
kekuatan yang seimbang dan bersifat saling mengendalikan dalam hubungan
A. Appadorai, The substance of Politics, (New Delhi: Oxford University Press, 2005),
hlm. 537 – 538. Secara umum, Partai politik dapat didefinisikan sebagai suatu kelompok
terorganisir yang anggota-anggotanya mempunyai orientasi, nilai-nilai, dan cita-cita yang sama
baik yang berdasarkan partai kader atau struktur kepartaian yang dimonopoli oleh sekelompok
anggota partai yang terkemuka. Atau bisa juga berdasarkan partai massa, yaitu partai politik yang
mengutamakan kekuatan berdasarkan keunggulan jumlah anggotanya.
277 Jimly Asshiddiqie, Kemerdekaan Berserikat Pembubaran Partai Politik dan Mahkamah
Konstitusi,(Jakarta: Konstitusi Press, 2006), hlm. 52.
278 Miriam Budiardjo, Dasar-dasar Ilmu Politik, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008),
hlm. 405.
276
408
“Check and balances”.279 Namun apabila terjadinya kekuatan yang tidak seimbang
diantara para lembaga negara di suatu negara tentunya akan menyebabkan tidak
adanya eran saling kontrol antara satu lembaga negara terhadap embaga negara
lainnya. Situasi tersebut berimplikasi terjadinya praktik penyelenggaraan negara
yang tidak sehat, yang pada akhirnya menyebabkan terabaikannya pelaksanaan
demokrasi secara murni dan konsekuen. Kondisi tersebut tentunya akan membuka
ruang bagi partai - partai politik yang rakus lah yang mendominasi sebagai
pemegang kekuasaan penyelenggaraan negara.
Partai politik merupakan pilar demokrasi dalam perjalanan suatu bangsa
karena memiliki peranan yang penting sebagai penghubung antara pemerintahan
negara (the state) dengan warga negaranya (the citizen). Pertai politik memiliki
kedudukan (status) dan peranan (role) yang sentral dan penting dalam setiap
sistem demokrasi.280 Bahkan menurut Schattscheider (1942), “political parties
create democracy”, partai politik lah yang membentuk demokrasi, bukan
sebaliknya.281
Baik buruknya sistem kepartaian (termasuk sistem atau model pemilihan
ketua umum suatu partai politik) yang dianut oleh suatu partai tentunya akan
memberikan warna terhadap baik tidaknya bekerjanya sistem ketatanegaraan dan
demokrasi suatu negara. Untuk itu sangat penting dan strategis untuk dilakukan
penguatan terhadap derajat perlembagaannya (the degree of institutionalization)
dalam sistem poitik yang demokratis.
Partai politik tentunya bukan satu-satunya bentuk perlembagaan sebagai
wujud ekspresi ide, pikiran, pandangan, dan keyakinan bebas dalam suatu
masyarakat demokratis, melainkan terdapat bentuk perlembagaan lainnya seperti
adanya kebebasan pers, kebebasan berkumpul dan berserikat melalui organisasi
non partai politik seperti lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Organisasi
Kemasyarakatan (ORMAS), Organisasi Non Pemerintah (NGO’s) dan lain
sebagainya. Namun, dalam hubungannya dengan kegiatan bernegara, peranan
partai politik sebagai media dan wahana sangat menonjol dalam menentukan
warna dan dinamika penyelenggaraan kekuasaan negara. Partai politik sangat
berperan dalam proses dinamika perjuangan nilai dan kpentingan (values dan
interest) dari konstituen yang diwakilinya untuk menentukan kebijakan dalm
konteks kegiatan bernegara.282
Partai politik merupakan satu-satunya bentuk perlembagaan sebagai
wujud ekspresi ide, pikiran, pandangan dan keyakinan bebas yang dapat bertindak
sebagai perantara dalam proses pengambilan keputusan bernegara sekaligus
menghubungkan antara kepentingan para warga negara (konstituennya) dengan
berbagai instrumen atau institusi-institusi kenegaraan yanga ada. Robert Michels
dalam bukunya yang berjudul “Political Parties: A sociological Study of the
Olygarchical Tendencies of Modern Demoracy”, mengataka bahwa: “..... organisasi ....
Jimly Asshiddiqie, Loc. Cit.
Jimly Asshiddiqie, Pokok-Pokok Hukum Tata Negara Indonesia Pasca Reformasi,
(Jakarta: PT. Bhuana Ilmu Populer Kelompok Gramedia, 2007), hlm. 709 – 708.
281 Ibid.
282 Ibid., hlm. 712.
279
280
409
merupakan satu-satunya sarana ekonomi atau politik untuk membentuk kemauan
kolektif”.283 Kemapanan pelaksanaan demokrasi suatu negara sangat ditentukan
pada kemapanan dari proses perlembagaan partai - partai politik yanga da di suatu
negara. Hal ini mengingat keberadaan partai politik merupakan suatu keniscayaan
dalam suat pemerintahan yang demokratis. Hal senada juga dikemukakan oleh
Yves Meny and Andrew Knapp, yang mengatakan bahwa: “A Democratic System
without political parties or with a single party is impossible or at any rate hard to
imagine”.284 Ketiadaan partai politik tentunya akan menyebabkan ketiadaan
(hilangnya) media atau wadah penyaluran aspirasi masyarakat dalam upaya
mempengaruhi proses pengambilan kebijakan bagi kemaslahatan publik dalam
praktek penyelenggaraan kekuasaan negara.
Keberadaan partai politik sebagai salah satu bentuk perlembagaan sebagai
wujud ekspresi ide, pikiran, pandangan dan keyakinan bebas dalam suatu
masyarakat demkratis pada hakikanya merupakan manifestasi dari prinsip-prinsip
kemerdekaan berpendapat (freedom of expression), berorganisasi (freedom of
association), dan kebebasan berkumpul (freedom of assembly). Ketiga prinsip
kemerdekaan atau prinsip kebebasan diakui dan dijamin oleh Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia (NKRI) Tahun 1945 sebagaimana yang
diamanatkan dalam Pasal 28E ayat (3) UUD NRI Tahun 1945 yang
mengamanatkan bahwa: “Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat,
berkumpul, dan mengeluarkan pendapat”.
Proses demokratisasi dalam penyelenggaraan pemerintahan kekuasaan
negara pada hakikatnya bersifat integral dan inklusif. Oleh karenanya
penyelenggaraan suatu pemerintahan yang demokratis hanya dapat berjalan
mapan bilamana adanya proses yang demokratis di dalam internal partai politik
baik dalam hal penempatan calon legislator, maupun khususnya dalam hal
pemilihan ketua umum partai politik. Hal ini mengingat, secara umum keberadaan
ketua umum partai politik memiliki pengaruh signifikan dalam menentukan arah
dan kebijakan partai politik termasuk dalam menentukan warna praktek
penyelenggaraan kekuasaan negara.285 Mengingat akan penting dan strategisnya
jabatan ketua partai politik, untuk itu fokus kajian tulisan ini menitik beratkan
pada masalah sistem pemilihan ketua umum partai politik yang demokratis.
Robert Michels dalam Jimly Asshiddiqie. Ibid.
Yves Meny and Andrew Knapp, Government and Politics in Western Europe: Britain,
France, italy, Germany, third edition, (Britian: Oxford University Press, 1998), hlm. 86.
285 Dalam perjalan ketatanegaraan Indonesia, menunjukkan bahwa keberadaan posisi
ketua umum partai politik menjadi rebutan diantara kalangan pengurus partai politik. Padahal
dalam sistem pemerintah seperti di Indonesia yang cenderung mempraktikkan sistem Presidensil
keberadaan ketua umum partai politik tidak memiliki pengaruh yang cukup signifikan dalam
menentukan arah dan warna kebijakan suatu rezim pemerintahan yang sedang berkuasa. Berbeda
halnya dalam sistem pemerintahan parlementer, dimana ketua umum partai politik memiliki
pengaruh cukup signifikan dalam menentukan warna kebijakan suatu pemerintahan baik pada
levek nasional maupun pada levek regional (provinsi dan kabupaten/kota). Namun demikian,
kenyataannya menunjukkan bahwa kecenderungan jabatan ketua umum partai politik menjadi
rebutan diantara pengurus partai politik.
283
284
410
2. KAJIAN TEORITIK
2.1. Peran Partai Politik pada Era Penjajahan
Dalam sejarah Indonesia, keberadaan Partai politik di Indonesia diawali
dengan didirikannya organisasi Boedi Oetomo (BO), pada tahun 1908 di Jakarta
oleh Dr. Wahidin Soediro Hoesodo dkk.286 Walaupun pada waktu itu BO belum
bertujuan ke politik murni, tetapi keberadaan BO sudah diakui para peneliti dan
pakar sejarah Indonesia sebagai perintis organisasi modern. Dengan kata lain, BO
merupakan cikal bakal dari organisasi massa atau organisasi politik di Indonesia.
Sejarah keberadaan Partai Politik di Indonesia diawali dengan berdirinya
Indische Partij yang diprakarsai oleh Tiga Serangkai (Douwes Dekker, Tjipto
Mangunkusumo dan Soewardi Soeryaningrat).287 Partai politik inilah yang menjadi
pelopor munculnya partai-partai politik sebelum kemerdekaan Indonesia baik
yang bersifat legal maupun ilegal. Setelah Indische Partij dibubarkan oleh kolonial
Belanda kemudian lahir partai-partai politik baru. Partai politik zaman prakemerdekaan pada umumnya bertujuan untuk pergerakan demi kemerdekaan
Indonesia.
286 Kebijakan Politik Etis (etische politic) atau kebijakan Politik Balas Budi pada 1901 di
Hindia Belanda yang diinisiasi oleh E.F.E. Douwes Dekker alias Setiabudi telah memberikan angin
segar terhadap Bumi Putra/rakyat Indonesia dalam kesadaran menuju kemerdekaan sebuah
bangsa yang telah lama tereksploitasi dari penjajahan Belanda, di abad ke-XX ini adalah
kebangkitan bumi putra dalam cita-cita kemerdekaan negara yang di tandai dengan lahirnya
beberapa organisasi modern, dalam istilahnya Takeshi Shiraisi dalam bukunya “Zaman Bergerak”
sebagai titik tolak radikalisasi rakyat jawa. Perkembangan situasi ekonomi sosial politik pada masa
itu telah memberikan pelajaran bagi pemuda bangsa khususnya dan rakyat ini, sehingga
terbangunlah organisasi pemuda “Mahasiswa STOVIA” School tot Opleiding voor Inlandsche Arsten
yang lazimnya dikenal dengan Boedi Oetomo (BO) pada tanggal 20 Mei 1908 yang diprakarsasi
oleh Dr. Soetomo. Di awal mula berdirinya organisasi Boedi Oetomo merupakan organisasi pelajar
yang ruang lingkupnya masih kedaerahan, namun pada perkembangannya berubah menjadi
organisasi perkumpulan pemuda nasional, dan tanggal berdirinya organisasi ini di tetapkan oleh
pemerintah sebagai hari kebangkitan nasional. Dengan lahirnya organisasi tersebut memiliki
pengaruh signifikan terhadap kondisi sosioal politik di Hindia Belanda sekaligus menjadi pemicu
kelahiran organisasi-oganisasi modern lainnya masa itu. Seiring dengan semakin menonjolnya
orientasi politik di kalangan pemuda tak jarang yang meleburkan dan ikut serta dalam organisasiorganisasi lain seperri Serikat Dagang Islam (SI) yang didirikan di Solo 16 Oktober 1905 (oleh Haji
Samanhudi, Sumowardoyo, Wiryotirto, Suwandi, Suryopranoto, Jarmani, Haryosumarto, Sukir dan
Martodikoro), Sarikat Islamiyah (SI) yang didirikan di Batavia tahun 1909 (oleh Tirtoadisuryo),
Partai Hindia (Indische Party) yaitu organisasi campuran orang Indo dan bumiputra yang didirikan
di Bandung 25 Desember 1912 (oleh E.F.E. Douwes Dekker alias Setiabudi) dan sebagainya.
Selengkapnya dapat diakses pada : Saiful Hakki, Peranan Pemuda Dalam Perjuangan Kemerdekaan
Nasional
Peranan
Pemuda
Dalam
Perjuangan
Kemerdekaan
Nasional
(http://kehendakmassa.blogspot.co.id/2009/11/peranan-pemuda-dalam-perjuangan.html).
287 Partai Hindia atau Indische Partij (IP) didirikan di Bandung 25 Desember 1912 (atas
prakarsa E.F.E. Douwes Dekker alias Setiabudi). IP ini merupakan organisasi campuran orang Indo
dan bumiputra. IP menjadi organisasi politik yang kuat pada waktu itu, setelah ia bekerjasama
dengan dr. Cipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat alias Ki Hajar Dewantoro. Douwes
Dekker menjadi ketuanya, dr. Cipto Mangunkusumo dan R.M. Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar
Dewantoro) menjadi anggota pengurus. Indische Partij terbuka buat semua golongan bangsa
(bangsa Indonesia, bangsa Eropa yang terus tinggal disini, Belanda peranakan, peranakan Tionghoa
dan sebagainya), yang merasa dirinya seorang “indier”. Selengkapnya dapat diakses pada:
(http://kehendakmassa.blogspot.co.id/2009/11/peranan-pemuda-dalam-perjuangan.html).
411
Partai dalam arti modern sebagai suatu organisasi massa yang berusaha
untuk mempengaruhi proses politik, merombak kebijaksanaan dan mendidik para
pemimpin dan mengejar penambahan anggota, baru lahir sejak didirikan Sarekat
Islam pada tahun 1912. Sejak itulah partai dianggap menjadi wahana yang bisa
dipakai untuk mencapai tujuan-tujuan nasionalis. Selang beberapa bulan, lahir
sebuah partai yang di dirikan Douwes Dekker yaitu Indesce Partij, yang
dilatarbelakangi oleh adanya diskriminasi antara kaum Indo peranakan dan
Belanda baik dalam gaji maupun perlakuan lainnya menyebabkan timbulnya
pergolakan jiwa di kalangan kaum Indo.
Pada masa pendudukan Jepang semua Partai Politik yang telah ada sisa
peninggalan di masa Belanda dibubarkan. Selanjutnya Jepang mempelopori
berdirinya organisai-organisasi massa yang jauh menyentuh akar di masyarakat
seperti dibentuknya organisasi massa bernama Pusat Tenaga Rakyat (Poetera).
Namun nasib organisasi ini pada akhirnya juga ikut dibubarkan oleh Jepang karena
dianggap telah melakukan kegiatan yang bertujuan untuk mempengaruhi proses
politik.
2.2. Peran Partai Politik pada Era Awal Kemerdekaan
Setelah Indonesia merdeka dan berdaulat, telah menetapkan bahwa NKRI
menganut paham demokrasi dan sistem multi-partai, terbukalah kesempatan yang
besar untuk mendirikan partai politik. Yang melatar belakangi terbentuknya
partai-partai baru ini adalah adanya maklumat Nomor “X” pada tanggal 3
November 1945 yang dikeluarkan oleh Wakil Presiden RI yaitu Mohammad Hatta
atas usulan dari Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP),
mendorong terbentuknya partai-partai politik sebagai bagian dari demokrasi.288
Maklumat tersebut merupakan salah satu bagian dari rencana persiapan
penyelenggaraan pemilu pada tahun berikutnya yaitu 1946. Maklumat tersebut
menggunakan nomor X (bukan sepuluh) karena nomor urut maklumatnya sama
dengan nomor sebelumnya. Maklumat Nomor X pada tanggal 3 November 1945 ini
melegitimasi partai-partai politik yang telah terbentuk sebelumnya, sejak zaman
Belanda dan Jepang.
Pemerintah menerima usulan Badan Pekerja KNIP agar dibukanya kesempatan untuk
mendirikan partai-partai politik untuk mengikuti Pemilihan Umum yang rencananya akan digelar
pada Januari 1946. Ketetapan tersebut dituangkan dalam Maklumat Pemerintah tanggal 3
November 1945 yang menegaskan kembali bahwa pembentukan partai politik tersebut adalah
untuk memperkuat perjuangan mempertahankan kemerdekaan dan menjamin keamanan
masyarakat. Isi maklumat tersebut adalah:
“Pemerintah menyukai timbulnya partai-partai politik karena dengan adanya partai-partai
itulah dapat dipimpin ke jalan yang teratur segala aliran paham yang ada dalam masyarakat.
Diharapkan bahwa partai-partai telah tersusun sebelum pemilihan umum pada bulan Januari
1946”.
Pengumuman tersebut lalu disambut gembira oleh masyarakat karena selama 3,5 tahun penjajahan
Jepang, setiap kegiatan politik adalah terlarang. Berkaitan dengan pelaksanaan Pemilu yang
rencananya akan digelar pada bulan Januari tahun 1946, maka rencana tersebut terpaksa ditunda
karena kondisi dalam negeri yang tidak memungkinkan karena serangan sekutu yang ingin kembali
melakukan
penjajahan
di
Indonesia.
Selengkapnya
dapat
diakses
pada:
http://www.idsejarah.net/2014/12/sejarah-partai-politik-pada-masa_3.html
288
412
Dalam perjuangan mempertahankan dan mengisi kemerdekaan, rakyat
tidak hanya menyusun pemerintahan dan militer yang resmi, tetapi juga
menyusun laskar atau badan perjuangan bersenjata dan organisasi politik. Pada
zaman kemerdekaan ini, partai politik tumbuh di Indonesia ibarat tumbuhnya
jamur di musim hujan, dengan berbagai haluan ideologi politik yang berbeda satu
sama lain. Hal ini dikarenakan adanya maklumat Pemerintah RI 3 November 1945
yang berisi anjuran mendirikan partai politik dalam rangka memperkuat
perjuangan kemerdekaan. Pada masa ini peran partai politik adalah sebagai sarana
perjuangan mempertahankan dan mengisi kemerdekaan melalui cara-cara yang
bersifat politis.
2.3. Peran Partai Politik pada Era Orde Lama
Seiring dengan dikeluarkannya maklumat pemerintah pada tanggal 3
November 1945 yang menganjurkan dibentuknya Parpol, sejak saat itu berdirilah
puluhan partai. Maklumat ini ditandatangani oleh Wakil Presiden Mohammad
Hatta. Atas usul Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat yang meminta
diberikannya kesempatan pada rakyat yang seluas-luasnya untuk mendirikan
Partai Politik. Partai Politik hasil dari Maklumat Pemerintah 3 November 1945
berjumlah 29 buah, dikelompokkan dalam 4 kelompok partai berdasarkan
ketuhanan, kebangsaan, Marxisme, dan kelompok partai lain-lain yang termasuk
partai lain-lain adalah Partai Demokrat Tionghoa Indonesia dan Partai Indo
Nasional.
Pada saat Indonesia menganut demokrasi liberal, sistem pemerintahan
yang dianut adalah parlementer. Dalam demokrasi parlementer, demokrasi liberal
atau demokrasi Eropa Barat, memberikan jaminan yang kuat dan luas terhadap
kebebasan individu. Dalam sistem pemerintahan berdasarkan rezim UUDS 1950
partai politik memiliki pernaan yang signifikan. Keberadaan kelembagaan DPR
memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap partai politik. Hal ini mengingat
para anggota DPR pada umumnya adalah berasal dari partai politik. Di awal
peemrintahan setelah pengakuan kedaulatan Negara Indonesia, terbangun stigma
di masyarakat bahwa partai politik merupakan sarana atau instrumen (media)
menuju popularitas. Para pemimpin partai politik memiliki pengaruh signifikan
terhadap pemerintahan baik di pusat maupun di daerah-daerah. Partai politik
pada zaman liberal diwarnai suasana penuh ketegangan politik, saling curiga
mencurigai antara partai politik yang satu dengan partai politik lainnya.
Dalam kondisi tersebut, Partai Politik tumbuh dan berkembang selama
revolusi fisik dan mencapai puncaknya pada tahun 1955 ketika diselenggarakan
Pemilihan Umum pertama yang diikuti oleh 36 Partai Politik, meski yang
mendapatkan kursi di parlemen hanya 27 partai. Pergolakan-pergolakan dalam
Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Konstituante hasil Pemilihan Umum telah
menyudutkan posisi Partai Politik. Hampir semua tokoh, golongan
mempermasalahkan keberadaan Partai Politik. Kekalutan dan kegoncangan di
dalam sidang konstituante inilah yang pada akhirnya memaksa Bung Karno
membubarkan partai-partai politik.
413
Pada tanggal 5 Juli 1960 Presiden Sukarno mengeluarkan Peraturan
Presiden No.13 tahun 1960 tentang pengakuan, pengawasan, dan pembubaran
partai-partai. Pada tanggal 14 April 1961 Presiden Sukarno mengeluarkan
Keputusan Presiden No. 128 tahun 1961 tentang partai yang lulus seleksi, yaitu
PNI, NU, PKI, partai Katolik, Pertindo, Partai Murba, PSII, Arudji, dan IPKI. Setelah
itu, terdapat 2 partai yang menyusul yaitu Parkindo dan partai Islam Perti. Jadi
pada waktu itu, parpol yang boleh bergerak hanya 10 partai saja, sementara
selebihnya dibubarkan karena tergolong partai Gurem. Tetapi jumlah partai yang
tinggal 10 buah itu berkurang satu pada tahun 1964. Presiden Sukarno atas
desakan PKI dan antek-anteknya, membubarkan Partai Murba dengan alasan
Partai Murba merongrong jalannya revolusi dengan cara membantu kegiatan
terlarang seperti BPS (Badan Pendukung Sukarnoisme) dan Menikebu (Manifesto
Kebudayaan).289
2.4. Peran Partai Politik pada Era Orde Baru
Perkembangan partai politik setelah tragedi G. 30 S/PKI, adalah dengan
dibubarkannya PKI dan dinyatakan sebagai organisasi terlarang di Indonesia.
Menyusul setelah itu Pertindo juga menyatakan bubar. Dengan demikian partai
politik yang tersisa hanya 7 buah. Tetapi jumlah itu bertambah dua dengan
direhabilitasinya Murba dan terbentuknya Partai Muslimin Indonesia. Golongan
Karya yang berdiri pada tahun 1964, semakin jelas sosoknya sebagai kekuatan
sosial politik baru.
Dalam masa Orde Baru dengan belajar dari pengalaman Orde Lama lebih
berusaha menekankan pelaksanaan Pancasila secara murni dan konsekuen.
Kristalisasi Parpol Suara yang terdengar dalam MPR sesudah pemilu 1971
menghendaki jumlah partai diperkecil dan dirombak sehingga partai tidak
berorientasi pada ideologi politik, tetapi pada politik pembangunan. Itu karena
banyaknya Partai Politik dianggap tidak menjamin adanya stabilitas politik dan
dianggap mengganggu program pembangunan. Usaha pemerintah ini baru
terealisasi pada tahun 1973, partai yang diperbolehkan tumbuh hanya berjumlah
tiga yaitu Partai Persatuan Pembangunan (PPP), GOLKAR dan Partai Demokrasi
Indonesia (PDI).
Hal tersebut terlihat secara tegas menunjukkan bahwa keberadaan partaipartai politik yang ada di Indonesia di masa Orde Baru (ORBA) merupakan partai
yang dibentuk atas prakarsa atau intervensi negara, bukannya inisiatif atau wujud
sesungguhnya perlembagaan kehendak atas ide-ide dan kepentingan komunal
yang tumbuh, hidup dan berkembang di masyarakat masa itu.290
289 Peranan partai politik pada masa ini sudah menjadi sarana penyalur aspirasi rakyat,
namun kurang maksimal karena situasi politik yang panas dan tidak kondusif. Dimana setiap partai
hanya mementingkan kepentingan partai sendiri tanpa memikirkan kepentingan yang lebih luas
yaitu kepentingan bangsa.
290 Pembentukan partai bukan atas dasar kepentingan masing-masing anggota melainkan
karena kepentingan negara. Dengan kondisi partai seperti ini, sulit rasanya mengharapkan partai
menjadi wahana artikulasi untuk mewujudkan kepentingan dan kesejahteraan rakyat, melainkan
414
2.5. Peran Partai Politik pada Era Reformasi dan Masa Kini
Bergulirnya era reformasi yang ditandai dengan jatuhnya rezim Orde Baru
(ORBA) telah mendorong terjadinya perubahan (amandemen) signifikan terhadap
UUD NRI Tahun 1945 sebanyak 4 (empat) kali secara berturut-turut mulai tahun
1999 - 2002. Perubahan (amandemen) terhadap UUD NRI Tahun 1945 tersebut
telah mendorong terjadinya perubahan mendasar terhadap sistem perlembagaan
parlemen (termasuk perlembagaan MPR RI) yang akhirnya memberi akses bagi
para tokoh reformis masuk ke dalam kekuasaan penyelenggaraan pemerintahan
negara.
Perubahan (amandemen) terhadap Konstitusi Indonesia sebanyak 4
(empat) kali secara berturut-turut tersebut menunjukkan bahwa keberadaan UUD
NRI Tahun 1945 sebelum amandemen (produk rezim ORBA) cenderung sama
sekali tidak memberi akses bagi perubahan kehidupan bangsa Indonesia dalam
upaya mendukung terus berjalannya pemerintahan yang demokratis di era
reformasi. Seiring dengan masifnya tekanan dan intervensi negara di bawah rezim
pemerintahan Orde Baru (ORBA) terhadap rakyat, maka pada saat jatuhnya rezim
Orde Baru (ORBA) telah mendorong munculnya hasrat kuat bagi kelompokkelompok masyarakat untuk melembagakan kesamaan ide (gagasan) dan
kepentingan tersebut ke dalam suatu partai politik. Karenanya di masa reformasi
muncul begitu banyak partai politik (multy party) di Indonesia sebagai wujud
manifestasi dari perlembagaan gagasan atau ide komunal yang tumbuh, hidup dan
berkembang di masyarakat yang dikekang selama rezim ORBA. Jadi negara
melalui rezim yang sedang berkuasa di masa reformasi tidak mampu
membendung kuatnya hasrat politik rakyat untuk melembagakan ide (gagasan)
dan kepentingan komunalnya ke dalam suatu partai politik.
3. PEMBAHASAN
3.1. Sistem Pemilihan Ketua Partai Politik Yang Demokratis
Baik tidaknya penyelenggaraan suatu pemerintahan yang demokratis
sangat ditentukan pada mekanisme dan proses demokratisasi di dalam internal
partai. Untuk itu, menjadi sangat penting dan strategis membahas mengenai sistem
pemilihan ketua umum partai politik. Hal ini mengingat setiap kebijakan partai
(baik dalam hal syarat pengusulan calon legislatif, recall, termasuk penentuan arah
kebijakan koalisi atau oposisi serta berbagai kebijakan strategis partai lainnya)
sangat ditentukan oleh figuritas dari para ketua umum partai politik.
Demokratis atau tidaknya suatu sistem pemilihan ketua umum partai
pilitik sangat ditentukan berdasarkan pilihan yang diputuskan dalam musyawarah
mufakat diantara para pemilik suara (pemilih) dalam suatu partai politik. Apabila
tidak tercapai kata sepakat selanjutnya diputuskan degan menggunakan
mekansme suara terbanyak melalui vooting yaitu dimana setiap pemilik suara
(pemilih) memiliki hak suara yang sama dengan para pemilih lainnya (one man one
hanya sebagai wahana untuk mempertahankan keberlanjutan kekuasaan rezim tertentu yang
mengatas namakan rakyat.
415
voot) dalam menentukan pilihan sistem pemilihan ketua umum partai politik yang
akan digunakan. Apapun keputusan pilihan yang digunakan dalam sistem
pemilihan ketua umum partai politik yang akan diterapkan tersebut pada
hakikatnya merupakan kehendak bersama (collective willingness) yang
notabenanya adalah hasil berdemokrasi.
yaitu:
Sistem pemilihan ketua partai politik secara umum terdapat dua cara
1. Pemilihan secara aklamasi (aclamation); dan
2. Sistem pemilihan secara vooting.
Sistem pemilihan ini memperlakukan setiap pemilih memiliki hak suara yang
sama dengan para pemilih lainnya (one man one voot). Sistem pemilihan ketua
partai politik secara vooting dapat berupa 2 (dua) model/tipe yaitu:
a. Sistem pemilihan secara vooting dengan menggunakan model/tipe terbuka;
dan
b. Sistem pemilihan secara vooting dengan menggunakan model/tipe tertutup.
Pada hakikatnya, kedua sistem pemilihan tersebut termasuk beserta
ragam model (terbuka atau tertutup) nya sesuai (cocok) untuk diterapkan pada
setiap partai politik bedasarkan variabel yag tepat. Sesuai tidaknya diterapkan
kedua sistem pemilihan tersebut berserta ragam modelnya di dalam suatu partai
politik sangat ditentukan pada 2 variabel penting yaitu:
1.
2.
Variabel kondisi kemapanan berdemokrasi (proses kaderisasi suatu partai
politik), dan
Variabel ragam kepentingan politik (diversity of political interrest) yang
menumpang pada suatu partai politik yang pada akhirnya akan mempengaruhi
tinggi tidaknya (stabil tidaknya) eskalasi (konfigurasi) rivalitas konflik
(pertarungan kepentingan) atau disharmonisasi di inernal partai dari suatu
partai politik.
Baik dalam kondisi partai politik yang sudah mapan berdemokrasi (proses
perekrutan dan kaderisasinya) maupun dalam kondisi partai politik yang belum
mapan berdemokrasi,291baik dalam kondisi masif maupun tidaknya (tinggi atau
tidaknya) rivalitas (persaingan kepentingan) yang ada dalam internal partai politik
sebaiknya menggunakan sistem pemilihan secara aklamasi (penunjukan secara
spontan dan kolektif). Namun dalam hal pemilihan secara aklamasi tersebut sulit
dicapai, maka satu-satunya pilihan yang tersisa hanya pemilihan dengan
menggunakan sistem pemilihan secara vooting dimana setiap pemilih memliki hak
suara yang sama dengan para pemilih lainnya (one man one voot). Sistem
pemilihan secara vooting terdapat 2 model yaitu sistem pemilihan secara vooting
dengan model terbuka dan sistem pemilihan secara vooting dengan model
tertutup.
291 Partai politik yang memiliki kemapanan dalam berdemokrasi cenderung sudah
memiliki mekanisme rekrutmen serta kaderisasi yang baik sehingga membentuk sikap mental para
kader yang patriot dan negarawan serta mapan menerima perbedaan pandangan atau ide/gagasan.
416
Dalam kondisi partai politik yang meskipun sudah mapan dalam
berdemokrasi dan mapan proses kaderisasinya, namun masih tingginya
(masifnya) eskalasi (konfigurasi) rivalitas (persaingan kepentingan) sehingga
menyebabkan kondisi internal partai politik menjadi tidak stabil (unstable political
situation) sebaiknya menggunakan sistem pemilihan scara vooting dengan
menggunakan model tertutup. Sistem pemilihan secara vooting dengan model
tertutup yang notabenanya menjamin kerahasiaan pilihan suara bagi pemilih
cenderung menjadi lebih tepat diterapkan dalam kondisi partai seperti ini karena
dapat semakin memperkecil adanya praktek politik penyingkiran alias politik
bumi hangus terhadap mereka (lawan-lawan politik) yang tidak mendukung ketua
umum partai politik terpilih.
Adapun, dalam hal kondisi partai politik yang sudah mapan dalam
berdemokrasi dan mapan proses kaderisasinya, namun kondisi eskalasi
(konfigurasi) rivalitas (persaingan kepentingan) yang terjadi di internal partai
politik rendah (belum masif) sehingga menyebabkan kondisi internal partai politik
masih stabil (stable political situation) sebaiknya menggunakan sistem pemilihan
secara vooting dengan menggunakan model terbuka.
Dalam hal kondisi partai politik yang belum mapan dalam berdemokrasi
dan belum mapan proses kaderisasinya namun kondisi eskalasi (konfigurasi)
rivalitas (persaingan kepentingan) yang terjadi di internal partai politik masih
tinggi (masif) sehingga menyebabkan kondisi internal partai politik menjadi tidak
stabil l (unstable political situation) sebaiknya menggunakan sistem pemilihan
secara vooting dengan menggunakan model tertutup. Dalam situasi seperti ini,
sistem pemilihan secara vooting dengan menggnakan model tertutup cenderung
akan menekan laju (eskalasi) konfigurasi rivalitas (persaingan kepentingan) yang
terjadi di internal partai politik.
Adapun dalam hal kondisi partai politik yang belum mapan dalam
berdemokrasi dan belum mapan proses kaderisasinya, meskipun kondisi eskalasi
(konfigurasi) rivalitas (persaingan kepentingan) yang terjadi di internal partai
politik masih rendah (tidak masif) sehingga menyebabkan kondisi internal partai
politik masih stabil (stable political situation) sebaiknya untuk tetap menggunakan
sistem pemilihan secara vooting dengan menggunakan model tertutup. Hal ini
mengingat masih prematurnya suatu partai politik dalam berdemokrasi (belum
dewasa) dan belum mapannya proses kaderisasi di internal partai bila dipaksakan
menggunakan sistem pemilihan secara vooting dengan menggunakan model
terbuka (dimana setiap pemilih (pengguna suara) terlihat pilihan politiknya
(memilih siapa dan tidak memilih siapa)), dikuatirkan cenderung berpotensi
menimbulkan praktek politik penyingkiran (politik bumi hangus) terhadap para
pemilik suara yang tidak memilih ketua umum partai politik terpilih. Namun,
bilamana dalam situasi ini setelah dilakukannya musyawarah mufakat tidak
tercapai kata sepakat untuk menggunakan sistem pemilihan secara vooting dengan
model tertutup, maka satu-satunya pilihan (pilihan akhir/pilihan yang tersisa)
adalah menggunakan sistem pemilihan secara vooting dengan model terbuka,
meskipun adanya konsekuensi kecenderungan menimbulkan praktek politik
penyingkiran (politik bumi hangus) terhadap para pemilik suara yang tidak
memilih ketua umum partai politik terpilih.
417
Model (sistem) Pemilihan K