aklimatisasi sapi po dan sapi bali merespons

advertisement
AKLIMATISASI SAPI PO DAN SAPI BALI MERESPONS
PERUBAHAN CUACA DI KABUPATEN MERAUKE
PAPUA
HENY VENSYE SAIYA
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012
PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN
SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Aklimatisasi Sapi PO dan
Sapi Bali Merespons Perubahan Cuaca di Kabupaten Merauke Papua adalah karya
saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk
apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau
dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain
telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian
akhir tesis ini.
Bogor, Desember 2012
Heny Vensye Saiya
NRP D151090051
ABSTRACT
HENY VENSYE SAIYA. Acclimatization of Ongole Crossbred and Bali Cattle in
Response to Weather Changes in Merauke Papua. Under the supervision of
BAGUS P. PURWANTO, RUDY PRIYANTO and WASMEN MANALU
The objective of this study was to determine the physiological responses and
acclimatization of Ongole Crossbred (OC) cattle (Bos indicus) and bali cattle (Bos
javanicus) in response to weather changes in Merauke district. The experiment
was carried out in Wasur Village II, Merauke district. Eighteen OC cattle and 12
bali cattle, age ranged between 2-5 years were used. In the morning the cattle
were removed from the cage and placed in the ranch and in the evening were put
back into the cage. Meteorological data were recorded in the experiment
environment where cattles were located during 8 am until 4 pm, included dry
bulb temperature, wet bulb temperature, wind speed, and solar radiation. Relative
humidity (RH) and Temperature Humidity Index (THI) were calculated. The
physiological responses (rectal temperature, skin temerature, body temperature,
respiration rate, and pulse rate) of OC and bali cattles were monitored every 21
days on April and May. Data were analyzed using the repeated measurement
GLM procedure. Simple linear regression procedures was utilized to establish
acclimatization ability from each breed of cattle. The different weather between
west monsoon on April and east monsoon on May were showed that bali cattles
were able to maintain the physiological responses during monsoon changed.
Rectal temperature, skin temperature, and respiratory rate data indicated that bali
cattles acclimatization with east monsoon (P>0,05), while Ongole Crossbred
cattles that should acclimatization with weather changes (P <0,05). Bali cattle
have the ability termoregulatory better than PO cattle.
Keywords: physiological responses, acclimatization, Ongole Crossbred cattle and
bali cattle
.
RINGKASAN
HENY VENSYE SAIYA. Aklimatisasi Sapi PO dan Sapi Bali Merespons
Perubahan Cuaca di Kabupaten Merauke Papua. Dibimbing oleh BAGUS P.
PURWANTO, RUDY PRIYANTO dan WASMEN MANALU
Kegagalan pengembangan ternak di suatu daerah diduga akibat berbagai
faktor penghambat, yaitu faktor pakan, manajemen, dan iklim. Ketiga aspek
tersebut merupakan pengaruh langsung (direct effect) pada produktivitas ternak,
sedangkan aspek geografi, daerah, dan kesehatan ternak merupakan pengaruh
tidak langsung (indirect effect). Hasil produksi yang baik dari ternak hanya dapat
diperoleh apabila keadaan iklim di tempat yang baru itu mirip dengan daerah
asalnya. Untuk itu, ada tiga faktor yang harus diperhatikan, yaitu suhu rata-rata,
kelembapan relatif udara setempat, dan curah hujan.
Adaptasi atau penyesuaian diri ternak terhadap lingkungan merupakan suatu
bentuk atau sifat tingkah laku yang ditujukan untuk bertahan hidup atau
melakukan reproduksi dalam suatu lingkungan tertentu. Lingkungan yang tidak
baik dapat mengakibatkan perubahan status fisiologis ternak yang disebut stres
atau cekaman. Ternak yang terkena stres akan menunjukkan perubahan tingkah
laku. Cara ternak untuk mengatasi atau mengurangi stres adalah dengan
penyesuaian diri, baik secara genetis maupun fenotipe. Faktor lingkungan yang
langsung berpengaruh pada kehidupan ternak adalah iklim. Iklim merupakan
faktor penentu ciri khas dan pola hidup dari suatu ternak. Karakterikstik iklim
yang unik di Kabupaten Merauke akan memberikan pengaruh pada produksi
ternak secara umum dan sapi potong secara khusus.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respons fisiologis, pertambahan
bobot badan, dan kemampuan aklimatisasi sapi PO dan sapi bali pada kondisi
lingkungan di Kabupaten Merauke. Diharapkan penelitian ini dapat bermanfaat
sebagai bahan acuan untuk seleksi dalam rangka usaha memperbaiki mutu ternak
di Kabupaten Merauke, memperoleh ternak-ternak beserta keturunannya yang
sudah beradaptasi, dan mampu beradaptasi dengan keadaan iklim di Kabupaten
Merauke serta bahan acuan untuk memilih ternak yang cocok untuk didatangkan
dari daerah lain yang sama iklimnya.
Sampel yang digunakan adalah sapi PO sebanyak 18 ekor (9 jantan dan 9
betina) dan sapi bali berjumlah 12 ekor (1 jantan dan 11 betina). Data yang
dikumpulkan mencakup karakteristik wilayah, data pencatatan sapi potong di
tempat penelitian 1 tahun terakhir, data cuaca pada saat penelitian, data respons
fisiologis ternak, dan data respons produksi ternak. Data tentang unsur cuaca
dihitung rataan dan standar deviasi. Pengaruh musim terhadap respons fisiologis
sapi PO dan sapi bali dianalisis menggunakan metode pengujian berulang
(Repeated Measurement) prosedur GLM. Analisis regresi linear digunakan untuk
mengetahui kemampuan aklimatisasi dari setiap bangsa sapi. Status kesehatan dan
hormon dianalisis secara deskriptif.
Hasil analisis dan pengamatan menunjukkan bahwa berdasarkan nilai THI
maka kondisi lingkungan hidup ternak masuk dalam kategori danger. Tetapi hasil
respons fisiologis sapi PO dan sapi bali masih dalam kisaran normal. nilai THI ini
berdasarkan acuan negara 4 musim yang menjadi tempat asal bangsa sapi Bos
taurus. Respons fisiologis berupa suhu rektal, suhu kulit, dan suhu tubuh
menunjukkan sapi bali lebih rendah dibandingkan dengan sapi PO. Sebaliknya
dengan frekuensi pernapasan.
Ini diduga terjadi karena kemampuan sistem
homeotermi sapi PO yang sudah cukup baik dengan mengatur pelepasan panas
melalui kulit (sweating). Berdasarkan proses aklimatisasi, sapi bali memiliki
kemampuan aklimatisasi yang lebih baik dibandingkan dengan sapi PO.
Kemampuan ini merupakan hasil dari pengurangan produksi panas, peningkatan
kapasitas pelepasan panas ke lingkungan, atau kombinasi keduanya.
Pengamatan pertambahan bobot badan sebagai salah satu tolak ukur
produktivitas sapi, menunjukkan bahwa ukuran lingkar dada sapi PO mengalami
penurunan bila dibandingkan dengan lingkar dada sapi bali yang cenderung naik.
Dilihat dari kondisi tubuh yang diwakili dari rataan Body Condition Score (BCS),
kondisi tubuh baik sapi PO dan sapi bali dalam keadaan kurus (BCS 2). Hal ini
diduga karena pengaruh tidak langsung dari perubahan cuaca terhadap
ketersediaan pakan di lapangan dan daya jelajah merumput yang dibatasi.
Kata Kunci: respons fisiologis, aklimatisasi, perubahan cuaca, sapi PO, sapi bali
© Hak Cipta milik IPB, tahun 2012
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan
atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan,
penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau
tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan
IPB.
Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis
dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB.
AKLIMATISASI SAPI PO DAN SAPI BILA MERESPONS
PERUBAHAN CUACA DI KABUPATEN MERAUKE
PAPUA
HENY VENSYE SAIYA
Tesis
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Magister Sains pada
Mayor Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012
Penguji Luar Komisi pada Ujian Tesis: Prof. Dr. Ir. Komang G. Wiryawan
HALAMAN PENGESAHAN
Judul Tesis : Aklimatisasi Sapi PO dan Sapi Bali Merespons Perubahan Cuaca di
Kabupaten Merauke Papua
Nama
: Heny Vensye Saiya
NIM
: D151090051
Disetujui
Komisi Pembimbing
Dr. Ir. Bagus P. Purwanto, M.Agr
Ketua
Dr. Ir. Rudy Priyanto
Anggota
Prof. Ir. Wasmen Manalu, Ph.D
Anggota
Diketahui
Ketua Program Studi/Mayor
Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan
Dekan Sekolah Pascasarjana
Prof. Dr. Ir. Muladno, MSA
Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Sc.Agr
Tanggal Ujian: 7 Desember 2012
Tanggal Lulus:
PRAKATA
Puji Tuhan segala rancangan-Mu indah pada waktunya. Doa dan syukur
Penulis kepada Tuhan Yesus atas penyertaanNya selama ini sehingga Penulis
dapat menyelesaikan studi dan meraih gelar master dari Institut Pertanian Bogor.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr. Ir. Bagus P. Purwanto,
M.Agr., selaku ketua komisi pembimbing, Dr. Ir. Rudy Priyanto, dan Prof. Ir.
Wasmen Manalu, Ph.D selaku anggota pembimbing, karena dengan sepenuh hati
dan penuh kesabaran telah membimbing dan meluangkan waktu selama
penyusunan tesis. Prof. Dr.Ir. Komang G. Wiryawan, selaku penguji luar komisi.
Bapak Prof. Dr. Ir. Muladno, MSA, selaku Ketua Program Studi Ilmu Produksi
dan Teknologi Peternakan dan Ibu Dr.Ir. Rarah Ratih Adjie Maheswari, DEA
yang telah memberi arahan selama kuliah di kampus IPB.
Terima kasih tak terhingga kepada orang tua tercinta, Bapak (alm.) Elly
Saiya dan Mama Christina Saiya, terima kasih Mama untuk bantuan, doa, kasih
sayang, dan pengertiannya selama ini. Mertuaku Mama Beni Karim, terima kasih
turut serta menjaga dan merawat cucu. Suamiku Johan, serta anak-anakku tercinta,
Vessica Chriselys Benyrta Karim, Javier Ealdian Karim dan Zaviero Kenzo
Karim-Saiya, pengertian dan pengorbanan kalian tak akan tergantikan. Adikadikku Eves, Linda, dan Edy Saiya untuk dukungan dan perhatiannya serta temanteman ITP 2009 atas kebersamaan yang penuh makna.
Penelitian ini terlaksana juga karena bantuan dari berbagai pihak, untuk itu
ungkapan terima kasih disampaikan kepada Bapak Johanes Gluba Gebze, selaku
pemilik peternakan sapi di Wasur; Bapak Hanok Untayana, selaku Kepala Disnak
Kabupaten Merauke; Staf
Dinas Peternakan; Karyawan peternakan sapi di
Wasur: Pak Darso, Adi, dan Nono; mahasiswaku: Ellen, Novi, Peni, Rizal, dan
Dian yang membantu selama penelitian.
Semoga karya ilmiah ini dapat bermanfaat dan memberikan sumbangan
pada ilmu dan pengetahuan.
Bogor, Desember 2012
Heny Vensye Saiya
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Wamena, Papua pada tanggal 30 Desember 1976.
Penulis anak pertama dari empat bersaudara, dari pasangan Bapak (alm.) Ely
Saiya dan Ibu Christina Latumaerissa.
Riwayat pendidikan penulis: TK Bernadetha, Merauke 1981-1983, SD
Negeri 1 Merauke pada tahun 1983-1989. Sekolah lanjutan tingkat pertama
ditempuh pada tahun 1989-1992 di SLTP Negeri 1 Merauke, kemudian
dilanjutkan ke SMA Negeri 1 Merauke pada tahun 1992-1995. Penulis diterima
di Program Diploma Peternakan IPB pada tahun 1995-1998. Selanjutnya penulis
melanjutkan pendidikan ke strata satu (S-1) Fakultas Peternakan Universitas
Padjadjaran, Bandung dan lulus pada tahun 2001. Pada tahun 2009 penulis
diberikan kesempatan oleh Universitas Musamus Merauke untuk
menempuh
pendidikan strata dua (S-2) ke Sekolah Pascasarjana IPB Program Studi Ilmu
Produksi dan Teknologi Peternakan.
i
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ........................................................................................
x
DAFTAR GAMBAR ................................................................................... xi
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................ xii
PENDAHULUAN .......................................................................................
Latar Belakang
.........................................................................
Tujuan Penelitian ................................................................................
Manfaat Penelitian ..............................................................................
Hipotesis Penelitian ............................................................................
1
1
2
3
3
TINJAUAN PUSTAKA .............................................................................. 4
Kondisi Geografis Kabupaten Merauke................................................ 4
Lingkungan Ternak .............................................................................. 5
Aklimatisasi ........................................................................................ 6
Termoregulasi ..................................................................................... 7
Suhu Kulit, Suhu Rektal, dan Suhu Tubuh ........................................... 8
Denyut Jantung . .................................................................................. 9
Respirasi .............................................................................................. 10
Karakteristik Sapi PO dan Sapi Bali .................................................... 11
BAHAN DAN METODE ............................................................................
Waktu dan Tempat Penelitian .............................................................
Bahan Penelitian .................................................................................
Ternak .......................................................................................
Alat dan Perlengkapan ...............................................................
Metode ...............................................................................................
Tahapan Penelitian dan Model Analisis ......................................
Peubah yang Diamati .................................................................
Prosedur Pengambilan Data ........................................................
Model Analisis ...........................................................................
Analisis Data .............................................................................
14
14
14
14
14
15
15
15
15
17
17
HASIL DAN PEMBAHASAN .................................................................... 18
Keadaan Cuaca Lokasi Penelitian .......................................................
Respons Fisiologis Ternak pada Musim Barat Bulan April...................
Respons Fisiologis Ternak pada Musim Barat Bulan Mei ....................
Kemampuan Aklimatisasi Sapi PO dan Sapi Bali ................................
Kondisi Kesehatan Sapi PO dan Sapi Bali............................................
18
23
26
29
32
SIMPULAN DAN SARAN ......................................................................... 40
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 41
LAMPIRAN ................................................................................................ 45
ii
DAFTAR TABEL
Halaman
1
Data rataan unsur cuaca lingkungan penelitian pukul 08.00-16.00 WIT .. 18
2
Data rataan unsur cuaca lingkungan penelitian pukul 15.00-16.00 WIT .. 22
3
Respons Fisiologis sapi bali dan PO pada musim barat bulan April
dan musim timur bulan Mei .................................................................. 24
4
Regresi linear respons fisiologis sapi bali dan sapi PO terhadap suhu
udara minggu I, II, III ........................................................................... 30
5
Rataan selisih lingkar dada sapi PO dan sapi bali bulan April dan
Mei ...................................................................................................... 36
6
Rataan skor dan persentase BCS sapi PO dan sapi bali ........................... 36
3
DAFTAR GAMBAR
Halaman
1
Lokasi titik pengukuran suhu permukaan kulit sapi ................................ 17
2
Tabel Temperature Humidity Index (THI) ............................................. 19
3
Rataan nilai unsur cuaca harian di lingkungan penelitian ....................... 21
4
Rataan suhu udara mulai dari hari 1-21 bulan April dan hari 1-21
bulan Mei. Angka rataan diperoleh dari pengkuran jam 15.0016.00 WIT setiap hari............................................................................. 22
5
Perubahan suhu rektal, kulit, dan tubuh pada bulan April dan
Mei ....................................................................................................... 28
6
Perubahan frekuensi pernapasan dan denyut jantung bulan
April dan bulan Mei ............................................................................... 29
7
Regresi linier untuk suhu rektal, suhu kulit dan frekuensi pernapasan
Sapi PO dan sapi bali selama minggu I bulan April dan Mei .................. 33
8
Regresi linier untuk suhu rektal, suhu kulit dan frekuensi pernapasan
Sapi PO dan sapi bali selama minggu I-II bulan April dan Mei ............... 34
9
Regresi linier untuk suhu rektal, suhu kulit dan frekuensi pernapasan
Sapi PO dan sapi bali selama minggu I-III bulan April dan Mei ............. 35
10 Perbandingan BCS sapi PO dan sapi bali di tempat penelitian ................ 38
4
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
1
Analisis suhu kulit sapi PO dan bali musim barat bulan April................. 46
2
Analisis suhu kulit sapi PO dan bali musim timur bulan Mei .................. 47
3
Analisis suhu rektal sapi PO dan bali musim barat bulan April ............... 48
4
Analisis suhu rektal sapi PO dan bali musim timur bulan Mei ................ 49
5
Analisis suhu tubuhs PO dan bali musim barat bulan April..................... 50
6
Analisis suhu tubuh sapi PO dan bali musim timur bulan Mei ................ 51
7
Analisis denyut jantung sapi PO dan bali musim barat bulan April ......... 52
8
Analisis denyut jantung sapi PO dan bali musim timur bulan Mei .......... 53
9
Analisis frekuensi pernapasan sapi PO dan bali musim barat bulan
April ................................................................................................... 54
10 Analisis frekuensi pernapasan sapi PO dan bali musim timur bulan
Mei ..................................................................................................... 55
11 Perkiraan berat badan sapi PO dan sapi bali berdasarkan lingkar dada ... 56
12
Investasi telur cacing pada feses dari sapi PO dan sapi bali.................... 57
13 Kadar hormon kortisol dalam serum darah sapi PO dan sapi bali ............ 58
1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kabupaten Merauke memiliki iklim yang sangat tegas antara musim
penghujan dan musim kemarau. Berdasarkan pengelompokan iklim menurut
Oldeman (1980), wilayah Kabupaten Merauke berada pada zona (Agroclimate
Zone C) yang memiliki masa basah antara 5 sampai 6 bulan. Dataran Merauke
mempunyai karakteristik iklim yang agak khusus, curah hujan yang terjadi
dipengaruhi oleh Angin Muson, baik Muson Barat (Angin Muson Basah) dan
Muson Timur (Angin Muson Kering) dan juga dipengaruhi oleh kondisi topografi
dan elevasi daerah setempat. Pada saat terjadi angin Muson barat pada bulan
Oktober-April, Indonesia mengalami musim penghujan. Sebaliknya pada musim
timur umumnya Indonesia akan mengalami musim kering, kecuali pantai barat
Sumatera, Sulawesi Tenggara, dan pantai selatan Papua (termasuk Kabupaten
Merauke).
Di Kabupaten Merauke, Papua, jenis sapi potong yang ada ialah sapi PO
(Bos indicus) dan sapi bali (Bos javanicus). Sapi-sapi tersebut didatangkan dari
Pulau Jawa dan NTB.
Informasi dari Dinas Peternakan Kabupaten Merauke
menyatakan bahwa umumnya sapi potong yang ada di Kabupaten Merauke adalah
sapi peranakan ongole (PO) dan sapi bali yang masuk pada tahun 1986 dan 1989,
seiring dengan berdatangannya transmigran asal Pulau Jawa. Cara pemeliharaan
sapi potong pada masyarakat
di Kabupaten Merauke sampai saat ini masih
bersifat ekstensif. Kondisi dan produksi sapi potong tidak menjadi prioritas utama
para peternak.
Pada umumnya, ternak dapat hidup di lingkungan yang memiliki
karakteristik berbeda-beda.
Perubahan
lokasi dari asal
ternak tersebut
menyebabkan terjadinya variasi akibat tidak samanya kemampuan untuk
menyesuaikan diri dengan lokasi baru. Respons ternak terhadap kondisi
lingkungan yang ada akan berpengaruh pada produktivitas ternak terutama yang
berkaitan dengan pertambahan bobot badan ternak.
Kegagalan pengembangan ternak di suatu daerah diduga akibat berbagai
faktor penghambat, yaitu faktor pakan, manajemen, dan iklim. Ketiga aspek
2
tersebut merupakan pengaruh langsung (direct effect) pada produktivitas ternak,
sedangkan aspek geografi, daerah, dan kesehatan ternak merupakan pengaruh
tidak langsung (indirect effect). Hasil produksi yang baik dari ternak hanya dapat
diperoleh apabila keadaan iklim di tempat yang baru itu mirip dengan daerah
asalnya. Untuk itu, ada tiga faktor yang harus diperhatikan, yaitu suhu rata-rata,
kelembapan relatif udara setempat, dan curah hujan.
Perpindahan ternak dari suatu daerah ke daerah lain sering tidak
memperhatikan kondisi lingkungan asalnya. Kegagalan tersebut pada intinya tidak
memperhatikan aspek fisiologis iklim ternak tersebut. Aspek “fisilogis iklim”
ternak perlu untuk diketahui sebelum ternak dipindahkan dari satu tempat ke
tempat lain.
Pada dasarnya di lingkungan baru tersebut ternak mampu
beradaptasi, baik melalui adaptasi alamiah atau adaptasi tiruan. Adaptasi di tempat
yang baru meliputi adaptasi morfologi, fisiologi, dan tingkah laku.
Mekanisme dasar proses adaptasi dimulai dengan mekanisme homeostasis
melalui
pengaturan
cairan
tubuh,
pengaturan
suhu
tubuh,
pengaturan
kardiovaskuler, dan ritme biologis. Adanya empat mekanisme pengaturan ini
disebabkan oleh hewan selalu dihadapkan pada dua tipe lingkungan, yakni
lingkungan di luar tubuh (external environment) dan lingkungan di dalam tubuh
(internal environment) (Soeharsono 2008).
Faktor cuaca turut mempengaruhi produksi sapi potong karena dapat
menyebabkan perubahan keseimbangan panas dalam tubuh ternak, keseimbangan
air, keseimbangan energi, dan keseimbangan tingkah laku ternak (Esmay 1978).
Karakterikstik iklim yang unik di Kabupaten Merauke akan memberikan
pengaruh pada produksi ternak secara umum dan sapi potong secara khusus.
Berdasarkan
informasi tersebut perlu diteliti respons fisiologis dan
aklimatisasi sapi PO dan sapi bali yang ada di Kabupaten Merauke dalam
merespons terjadinya perubahan cuaca.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respons fisiologis, pertambahan
bobot badan, dan kemampuan aklimatisasi sapi PO dan sapi bali pada kondisi
lingkungan di Kabupaten Merauke
3
Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan acuan untuk
seleksi dalam rangka usaha memperbaiki mutu ternak di Kabupaten Merauke,
memperoleh ternak-ternak beserta keturunannya yang sudah beradaptasi, dan
mampu beradaptasi dengan keadaan iklim di Kabupaten Merauke serta bahan
acuan untuk memilih ternak yang cocok untuk didatangkan dari daerah lain yang
sama iklimnya.
Hipotesis Penelitian
Hipotesis penelitian ini adalah perubahan cuaca menyebabkan respons pada
kondisi fisiologis, pertambahan bobot badan, dan kemampuan aklimatisasi sapi
PO dan sapi bali.
4
TINJAUAN PUSTAKA
Kondisi Geografis Kabupaten Merauke
Kabupaten Merauke adalah kabupaten induk dari 3 kabupaten, yaitu
Kabupaten Mappi, Asmat, dan Bouven Digul, hasil pemekaran pada tahun 2001.
Luas wilayah Kabupaten Merauke adalah 45,071 km² (11% dari wilayah Provinsi
Papua) dengan jumlah penduduk 192.383 jiwa. Kabupaten Merauke terletak di
ujung timur pantai selatan Papua pada koordinat 137º40’-141º0’ BT dan 6º30’9º10’ LS. Di sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Mappi dan Kabupaten
Bouven Digul, sebelah timur berbatasan dengan Papua New Guinea (PNG), di
sebelah selatan dan barat berbatasan dengan Laut Arafura.
Kondisi kontur wilayah berdataran rendah dan berawa, kemiringan 0-3
dengan ketinggian 0-20 meter dpl. Suhu udara rata-rata pada tahun 2008 berkisar
pada 27.4 oC. Suhu udara maksimum 31.9 oC dan suhu udara minimum 23.5 oC.
Kabupaten Merauke memiliki kelembapan udara yang cukup tinggi, yaitu 81.2%,
dengan curah hujan 1 963 mm dan jumlah hari hujan 164 hari. Di daerah pantai,
angin bertiup cukup kencang dengan kecepatan sekitar 4-5 m/det dan di
pedalaman berkisar 2 m/det. Penyinaran matahari rata–rata di Merauke adalah 5.5
jam/hari pada bulan Juli dan yang terbesar 8.43 jam/hari pada bulan September.
Pemerintah Kabupaten Merauke melalui Dinas Peternakan sejak tahun 2008
menetapkan suatu program peternakan, yaitu “Ternak Bangkit”. Tujuan program
ini adalah untuk mendukung Kabupaten Merauke sebagai sumber lumbung
pangan di Indonesia bagian timur melalui Program Merauke Integrated Food and
Energy Estate (MIFEE), berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 5 tahun 2008.
Pada bulan Februari 2010, pemerintah pusat menetapkan Kabupaten Merauke
sebagai salah satu daerah Food Estate atau kawasan pertanian pangan luas yang
berbentuk Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).
Komoditas subsektor peternakan yang menjadi andalan di Kabupaten
Merauke adalah sapi potong. Hal ini disebabkan karena Merauke juga berperan
sebagai penyuplai daging ke beberapa kabupaten lain di Papua. Wilayah yang
cukup luas memungkinkan untuk pengembangan peternakan berskala besar.
Dengan lahan yang luas tersebar di berbagai distrik, maka rencana pengembangan
5
ke depan subsektor peternakan adalah potensi lahan pengembangan seluas 577
031 ha, daya dukung lahan : 415 462 ha, dan prospek pengembangan ternak :
397 710.37 ST (BPS 2010).
Lingkungan Ternak
Ternak sapi mendapatkan panas dari aktivitas metabolik dan lingkungan,
dan kehilangan panas melalui cara konveksi, radiasi, konduksi, dan evaporasi.
Lingkungan ternak adalah semua faktor fisik, kimia, biologi, dan sosial yang ada
di sekitar ternak. Faktor-faktor tersebut di antaranya adalah iklim (suhu, cahaya,
dan humiditas), tingkah laku ternak, penyebab penyakit, dan pengelolaan ternak
(kandang, pemberian makan, minum, dan pemeliharaan).
Adaptasi atau penyesuaian diri ternak terhadap lingkungan merupakan suatu
bentuk atau sifat tingkah laku yang ditujukan untuk bertahan hidup atau
melakukan reproduksi dalam suatu lingkungan tertentu. Lingkungan yang tidak
baik dapat mengakibatkan perubahan status fisiologis ternak yang disebut stres
atau cekaman. Ternak yang terkena stres akan menunjukkan perubahan tingkah
laku. Cara ternak untuk mengatasi atau mengurangi stres adalah dengan
penyesuaian diri, baik secara genetis maupun fenotipe.
Faktor penting yang mempengaruhi kemampuan termoregulasi ternak sapi
dalam situasi panas ialah bangsa dan tantangan iklim. Hewan ternak mempunyai
kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan iklim. Hasil penelitian
Beatty et al. (2006) menunjukkan bahwa sapi bangsa Bos taurus mengalami
perubahan fisiologis yang berpengaruh nyata selama terpapar matahari
dibandingkan sapi bangsa Bos indicus. Keturunan bangsa sapi Pernakan Ongole
(Bos indicus) diketahui sudah lebih toleran panas daripada keturunan lainnya.
Faktor lingkungan yang langsung berpengaruh pada kehidupan ternak
adalah iklim. Iklim merupakan faktor penentu ciri khas dan pola hidup dari suatu
ternak. Misalnya, ternak pada daerah tropis tidak sama dengan ternak yang berada
di daerah subtropis. Iklim sangat berpengaruh pada hewan ternak. Beberapa ahli
mempelajari pengaruh iklim pada berbagai fenotipe, antara lain bentuk tubuh
(Hukum Bergmann), insulasi pelindung atau kulit dan bulu (Hukum Wilson),
warna (Hukum Gloger), tubuh bagian dalam/internal (Hukum Claude Bernard).
6
Pengaruh iklim pada produksi ternak menurut Valtorta (2006) dapat dilihat
pada empat hal, yaitu: a) pengaruh pada ketersediaan dan harga bijian pakan
ternak, b) pengaruh pada produktivitas dan kualitas pastura dan hijauan pakan
ternak, c) perubahan pada penyebaran hama dan penyakit ternak, dan d) pengaruh
langsung dari cuaca dan kondisi yang ekstrim pada kesehatan, pertumbuhan, dan
reproduksi ternak. Temperatur lingkungan mempengaruhi penggunaan energi
yang diperoleh ternak dari makanan, produksi panas, dan pembuangan panas
hewan ternak ke lingkungannya. Radiasi sinar matahari pada hewan ternak dapat
menimbulkan dua bentuk gangguan umum, yaitu mutasi gen oleh radiasi kosmik
dan kerusakan sel kulit oleh sinar ultraviolet pada proses 'sunburn'.
Menurut Williamson dan Payne (1993), pengaruh iklim pada produktivitas
ternak di daerah-daerah beriklim tropis secara langsung terlihat pada perilaku
merumput ternak-ternak yang digembalakan, asupan dan penggunaan pakan,
pertumbuhan, produksi susu, dan reproduksi.
Faktor lingkungan juga berpengaruh pada tingkah laku ternak. Bila suhu
lingkungan berada di atas atau di bawah suhu nyaman, untuk mempertahankan
suhu tubuhnya ternak akan mengurangi atau meningkatkan laju metabolisme.
Williamson dan Payne (1993) menjelaskan, sapi yang berada di daerah tropis
yang dipelihara pada suhu lingkungan di atas 27°C, mekanisme pengaturan panas
aktif dan laju pernapasan dan penguapan akan meningkat.
Beban panas yang ada pada lingkungan ternak digambarkan menggunakan
THI karena termoregulasi pada sapi dipengaruhi oleh suhu udara dan kelembapan
relatif.
Aklimatisasi
Salah satu istilah untuk menggambarkan kemampuan ternak merespons
kondisi lingkungan yang berubah adalah aklimatisasi.
Definisi aklimatisasi
menurut Bligh (1976) adalah suatu proses ketika hewan beradaptasi terhadap
beberapa stressor di dalam lingkungan alamnya. Aklimatisasi menurut Bernabucci
et al. (2010) adalah merupakan proses perubahan fisiologis atau tingkah laku
yang terjadi dalam masa hidup suatu organisme dalam merespons perubahan iklim
alam (misalnya musiman atau geografis). Fenomena perubahan fisiologis atau
biokimia terjadi dalam kehidupan individu hewan dalam kurun waktu yang lebih
7
cepat, yang dihasilkan dari paparan di lingkungan yang baru disebut juga sebagai
aklimatisasi (Willmer et al. 2005). Aklimatisasi juga merupakan kompensasi
fungsional untuk merespons faktor lingkungan yang kompleks, seperti perubahan
musim atau iklim selama periode beberapa hari sampai beberapa minggu
(Gaughan et al. 2009).
Unsur fisik lingkungan yang sangat penting dalam terjadinya stres pada
ternak adalah suhu udara. Lingkungan yang panas telah terbukti menyebabkan
perubahan fase, peningkatan amplitudo, dan peningkatan kemampuan dari ritme
diurnal (Hahn 1999). Aklimatisasi stress panas terjadi ketika hewan, sebagai
konsekuensi dari paparan secara berulang atau permanen pada lingkungan yang
lebih panas, dapat mengembangkan kualitas fungsional, struktural, dan tingkah
laku yang meningkatkan kemampuannya untuk menahan lingkungan panas tanpa
kesulitan (McDowell 1972).
Proses terjadinya aklimatisasi memerlukan waktu beberapa hari sampai
beberapa minggu dan melibatkan perubahan sinyal hormonal yang mempengaruhi
kemampuan merespons jaringan target terhadap
rangsangan lingkungan
(Bernabucci et al. 2010). Tingkat aklimatisasi terhadap stres panas bervariasi
antara bangsa dalam spesies yang sama dan ini dapat mungkin terjadi
karena sapi Bos indicus dan Bos taurus telah berevolusi dalam iklim yang berbeda
(Hansen 2004). Hahn (1999) menemukan bahwa aklimatisasi fisiologis
terhadap kondisi suhu tinggi tercermin pada siang hari dengan mengamati variasi
suhu tubuh pada 0.1 ºC -0.4 ºC per hari.
Termoregulasi
Proses mempertahankan suhu tubuh dikenal dengan proses termoregulasi
atau pengaturan panas. Proses ini akan aktif bila sapi mulai merasa tidak nyaman.
Proses termoregulasi pada prinsipnya adalah proses keseimbangan panas antara
produksi panas dan pelepasan panas. Pada kondisi produksi panas atau beban
panas lebih besar, sapi berusaha melepas panas sebanyak-banyaknya (Yousef
1985).
8
Esmay (1982) menyatakan bahwa termoregulasi adalah pengaturan suhu
tubuh yang bergantung pada produksi panas melalui metabolisme dan pelepasan
panas tersebut ke lingkungan. Panas adalah bentuk energi yang ditransmisikan
dari suatu tubuh ke yang lainnya karena adanya perbedaan temperatur.
Temperatur mengacu pada kemampuan tubuh untuk menyerap panas. Energi
didefinisikan sebagai kapasitas untuk melakukan kerja (Esmay1982).
Salah satu cara mengurangi kehilangan panas adalah dengan mengurangi
evaporasi (Esmay 1982). Produksi panas diatur oleh mekanisme seperti
menggigil, pergantian pada posisi otot, dan sekresi kelenjar endokrin yang
meningkatkan produksi panas. Produksi panas metabolis dihasilkan dari energi
kimia bahan makanan yang diubah menjadi energi panas. Keseimbangan panas
menurut Williamson dan Payne (1993) dipengaruhi oleh produksi panas
metabolik (produksi panas basal, panas dari pencernaan, panas dari aktivitas
ternak, naiknya metabolisme untuk proses produksi), panas yang hilang melalui
evaporasi (kulit dan pernapasan), dan panas yang hilang atau didapat dari
makanan atau minuman, konduksi, konveksi, dan radiasi.
Respons
fisiologis
ternak
terhadap
beban
panas
termal
sangat
dinamis dan kompleks, yang melibatkan unsur genotipe, umur, kondisi tubuh,
gizi, dan aspek status kesehatan (Hahn 1999). Ternak mengintegrasikan kondisi
lingkungan dan kemudian merespons secara adaptif. Berbagai langkah dapat
digunakan untuk mengindikasikan stres panas, antara lain: observasi perilaku,
laju pertambahan bobot badan, konsumsi harian pakan, sifat karkas, fungsi
kekebalan tubuh, suhu tubuh, dan laju respirasi.
Suhu Kulit, Suhu Rektal, dan Suhu Tubuh
Suhu rektal ternak dapat digunakan mewakili suhu tubuh karena suhu
rektum merupakan suhu yang optimal. Suhu rektal pada ternak dipengaruhi
beberapa faktor, yaitu temperatur lingkungan, aktivitas, pakan, minuman, dan
pencernaan
(Duke’s
1995).
Suhu
rektal
merupakan
indikator
keseimbangan termal dan mungkin efektif dalam mengukur kerasnya panas
lingkungan (Silanikove 2000).
9
Lokasi yang biasa digunakan untuk pengukuran suhu rektal adalah rektum,
karena cukup mewakili dan kondisinya stabil. Menurut Weeth et al. (2008),
temperatur rektal dan kulit pada siang hari meningkat akibat dehidrasi, dan
frekuensi respirasi dan temperatur tubuh berfluktuasi lebih besar pada keadaan
dehidrasi.
Walaupun temperatur rektal tidak mengindikasikan temperatur tubuh pada
hewan, rektum adalah tempat yang tepat untuk menginformasikan temperatur
tubuh. Suhu rektal ternak yang berumur di atas satu tahun berkisar 37.8-39.2 °C
dan ternak di bawah satu tahun berkisar 38.6-9.8 °C.
Suhu tubuh menunjukkan kemampuan tubuh untuk melepas dan menerima
panas (Esmay 1982). Pengukuran suhu tubuh pada dasarnya sulit dilakukan
karena pengukuran suhu tubuh merupakan resultan dari berbagai pengukuran di
berbagai tempat (Schmidt-Nielsen 1997).
Suhu tubuh hewan homeotermis adalah relatif seragam dan konstan, tetapi
di beberapa bagian tubuh memiliki temperatur yang berbeda. Variasi suhu dari
bagian ke bagian lainnya dalam tubuh disebabkan oleh perbedaan dalam insulasi.
Menurut Robertshaw (1984), suhu tubuh atau suhu inti (core temperature) dapat
dihitung pada beberapa lokasi. Menurut Kelly et al. (1984), suhu tubuh yang
diukur dengan termometer klinis bukan indikasi dari jumlah total yang diproduksi,
tetapi hanya merefleksikan keseimbangan antara suhu yang diproduksi dengan
suhu yang dilepaskan. Suhu tubuh hewan hoemotermis cenderung lebih tinggi di
sore menjelang malam hari daripada pagi hari. Pada banyak spesies,
penyimpangan suhu tubuh sebesar 5-7 °C dapat menyebabkan kematian, dan
setidaknya kinerja produktif menurun (Gaughan et al. 2009).
Denyut Jantung
Jantung adalah struktur otot (muskuler) berongga yang bentuknya
menyerupai kerucut dan siklus jantung adalah urutan peristiwa yang terjadi
selama suatu denyut lengkap. Faktor fisiologis yang mempengaruhi denyut
jantung pada hewan normal adalah spesies, ukuran, umur, kondisi fisik, jenis
kelamin, tahap kebuntingan, kelahiran, tahap laktasi, rangsangan, olah raga, posisi
tubuh, aktivitas sistem pencernaan, ruminasi, dan temperatur lingkungan
10
(Frandson 1992). Menurut Ganong (1983), faktor yang mempengaruhi denyut
jantung adalah temperatur lingkungan, pakan, aktivitas latihan otot, dan tidur.
Menurut Schmidt-Nielsen (1997), jantung memiliki suatu kapasitas yang
kompleks untuk berkontraksi tanpa stimulus eksternal. Cara untuk mendeteksi
denyut jantung adalah dengan meraba arteri menggunakan jari hingga denyutan
terasa atau pada bagian dada kiri atas (dekat ketiak) dekat tulang axilla sebelah
kiri dengan menggunakan stetoskop. Kisaran denyut jantung sapi sekitar 60-70
kali/menit (Smith dan Kamping 1988).
Respirasi
Respirasi dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu respons fisiologis akibat
perubahan temperatur lingkungan, suhu tubuh, ukuran tubuh, dan keadaan bunting
(Smith 1988). Banyak penelitian telah dilakukan mendukung adanya korelasi
positif antara laju respirasi dan suhu udara. Selain itu, peningkatan laju respirasi
telah dikaitkan dengan peningkatan radiasi matahari, meningkatnya kelembapan
relatif, dan menurunnya kecepatan angin (Eigenberg et al. 2005).
Respirasi merupakan bentuk perpindahan panas dari tubuh secara konveksi.
Udara yang dihirup dekat hubungannya dengan suhu tubuh pada saat udara
mencapai trakea yang disebabkan karena pertukaran panas dan kelembapan
(Yousef 1985). Pada kebanyakan mamalia, respirasi merupakan jalur penting
untuk transfer panas pada berbagai kondisi lingkungan (Eigenberg et al. 2000)
Dua fungsi utama sistem respirasi adalah menyediakan oksigen untuk darah,
dan mengambil karbon dioksida dari dalam darah. Fungsi-fungsi yang bersifat
sekunder meliputi membantu dalam regulasi keasaman cairan ekstraseluler dalam
tubuh, membantu pengendalian suhu, eliminasi air, dan pembentukan suara.
Sistem respirasi (pada alveolus) dapat mengatur kelembapan dan temperatur udara
yang masuk (dingin atau panas) agar sesuai dengan suhu tubuh. Sistem respirasi
terdiri atas paru dan saluran-saluran yang memungkinkan udara dapat mencapai
dan meninggalkan paru (Frandson 1992). Pusat pengaturan respirasi pada burung
dan mamalia adalah di medula yang sensitif terhadap perubahan pH, temperatur
darah, dan faktor-faktor lain (Duke 1977). Medula adalah perpanjangan dari otak
yang terletak sepanjang ruas tulang belakang (Esmay 1982).
11
Aktivitas respirasi ditandai dengan pergerakan tulang rusuk, tulang dada,
dan perut (merespons kontraksi paru-paru dan pergerakan diafragma). Observasi
aktivitas respirasi lebih diutamakan saat ternak dalam posisi berdiri, karena posisi
berbaring akan mempengaruhi respirasi terlebih lagi pada ternak yang sedang
sakit. Pengamatan frekuensi respirasi dengan cara berdiri pada salah satu sisi
ternak, lalu mengamati daerah dada dan perut. Disarankan untuk mengamati
ternak dari kedua sisi, untuk mengetahui kemiripan pergerakan kedua sisi (Kelly
et al. 1984).
Mekanisme respirasi dikontrol di medula yang sensitif terhadap kadar CO2
pada darah. Jika tekanan meningkat sedikit, pernapasan menjadi lebih dalam dan
cepat (Esmay 1982). Peningkatan frekuensi respirasi terjadi ketika ada
peningkatan permintaan oksigen, yaitu setelah olah raga, terekspos oleh suhu
lingkungan, dan kelembapan relatif yang tinggi, dan kegemukan (Kelly 1984).
Respirasi pada masing-masing jenis hewan berbeda. Ternak sapi
mempunyai kisaran respirasi sekitar 24-42 (Smith dan Kamping 1988).
Mengukur laju respirasi adalah hal yang paling mudah diakses dan pendekatan
termudah untuk mengevaluasi tingkat stres panas pada hewan ternak. Pada ternak,
tingkat stres rendah: 40-60 kali/menit, menengah tinggi: 60-80 kali/menit, tinggi:
80-120 kali/menit, dan stres berat: di atas 150 kali/menit. Saat laju respirasi
mencapai 160 kali/menit atau lebih tinggi, harus diberikan pertimbangan tindakan
darurat untuk mengurangi beban panas yang berlebihan (misalnya membasahi
hewan).
Pada cuaca musim panas, bangsa sapi Bos indicus (zebu) memiliki
kemampuan mempertahankan laju
pernapasan
yang
lebih rendah
jika
dibandingkan dengan sapi bangsa Bos taurus. Biasanya, laju pernapasan yang
rendah pada ternak di bawah cuaca panas mengidentifikasi ternak tersebut pada
situasi ketidaknyamanan yang lebih rendah.
Karakteristik Sapi PO dan Sapi bali
Tingkat adaptasi dari suatu bangsa ternak akan mempengaruhi kemampuan
ternak tersebut dalam menghadapi cekaman lingkungan yang dipengaruhi oleh
unsur-unsur iklim atau cuaca. Perbedaan bangsa ada pada kemampuan adaptasi
12
genetik. Genotipe mempengaruhi karakteristik fisiologis, biokomia, dan perilaku
neurokimia hewan, yang semuanya menentukan bagaimana hewan dapat menahan
stress yang terkait dengan cuaca (Williamson dan Payne 1993).
Ternak yang telah berevolusi untuk bertahan hidup dalam kondisi buruk
umumnya memiliki karakteristik berikut: resistensi yang tinggi terhadap stres,
tingkat metabolisme rendah, fekunditas rendah, masa hidup panjang, perbedaan
perilaku, maturitas lambat, ukuran tubuh dewasa lebih kecil, dan laju
perkembangan lambat (Gauhgan 2009). Hal ini menunjukkan bahwa pemilihan
atau penggunaan ternak (bangsa indigenous) yang terbiasa dengan iklim buruk
akan memiliki produktivitas lebih rendah daripada ternak yang di iklim kurang
cekaman. Di banyak negara berkembang yang terletak di daerah tropis, perfomans
reproduksi sapi yang buruk (baik bangsa indigenous dan impor), adalah hasil dari
kombinasi genetika, manajemen, dan faktor lingkungan. Bergantung pada lokasi,
perubahan
iklim
dapat
memperbaiki
lingkungan
setempat
atau memiliki dampak negatif besar.
Sapi PO adalah bangsa sapi hasil persilangan antara pejantan sapi Sumba
Ongole (SO) dengan sapi betina lokal di Jawa yang berwarna putih. Saat ini, sapi
PO yang murni mulai sulit ditemukan karena telah banyak disilangkan dengan
sapi Brahman sehingga sapi PO diartikan sebagai sapi lokal berwarna putih
(keabu-abuan), berkelasa dan gelambir. Sapi PO terkenal sebagai sapi pedaging
dan sapi pekerja, mempunyai kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap
perbedaan kondisi lingkungan, memiliki tenaga yang kuat dan aktivitas reproduksi
induknya cepat kembali normal setelah beranak, dan jantannya memiliki kualitas
semen yang baik (Affandhy et al. 2002).
Sapi PO juga menunjukkan keunggulan sapi tropis, yaitu daya adaptasi
terhadap iklim tropis yang tinggi, tahan terhadap panas, tahan terhadap gangguan
parasit, seperti gigitan nyamuk dan caplak, di samping itu juga menunjukkan
toleransi yang baik terhadap pakan yang mengandung serat kasar tinggi.
Dalam kondisi iklim panas, hasil penelitian menunjukkan adaptasi genetik
sapi bangsa Bos indicus memungkinkan mereka untuk memiliki laju respirasi dan
suhu rektal yang lebih rendah dibandingkan dengan sapi bangsa Bos taurus.
13
Sapi bali adalah bangsa sapi potong lokal asli Indonesia hasil domestikasi
dari banteng (Bos-bibos banteng) yang telah dijinakkan berabad-abad yang lalu
(Hardjosubroto dan Astuti 1994). Penyebaran sapi bali telah meluas hampir ke
seluruh wilayah Indonesia.
Karakteristik lain yang harus dipenuhi dari ternak sapi bali murni, yaitu
warna putih pada bagian belakang paha, pinggiran bibir atas, dan pada paha kaki
bawah mulai tarsus dan carpus sampai batas pinggir atas kuku, bulu pada ujung
ekor hitam, bulu pada bagian dalam telinga putih, terdapat garis hitam yang jelas
pada bagian atas punggung, bentuk tanduk pada jantan yang paling ideal disebut
bentuk tanduk silak congklok, yaitu jalannya pertumbuhan tanduk mula-mula dari
dasar sedikit keluar lalu membengkok ke atas, kemudian pada ujungnya
membengkok sedikit keluar. Bentuk tanduk yang ideal pada betina disebut
manggul gangsa, yaitu jalannya pertumbuhan tanduk satu garis dengan dahi arah
ke belakang sedikit melengkung ke bawah dan pada ujungnya sedikit mengarah
ke bawah dan ke dalam, tanduk ini berwarna hitam (Hardjosubroto, 1994).
Sapi bali memiliki pola warna bulu yang unik dan menarik, yaitu warna
bulu pada ternak jantan berbeda dari betinanya sehingga termasuk hewan
dimorfisme seks. Pada umunya, bulu sapi bali berwarna merah keemasan. Sapi
bali betina dan sapi jantan muda berwarna merah bata kecokelatan, namun sapi
bali jantan berubah menjadi warna hitam sejak umur 1,5 dan menjadi hitam mulus
pada umur 3 tahun. Bulu sapi bali dapat pendek-pendek, halus, dan mengkilap.
Lebih lanjut disebutkan bahwa sapi bali mempunyai angka reproduksi yang
tinggi, bobot karkas tinggi, mudah digemukkan, dan mudah beradaptasi dengan
lingkungan baru.
Hardjosubroto (1994) menyatakan bahwa faktor genetik ternak menentukan
kemampuan yang dimiliki oleh seekor ternak, sedangkan faktor lingkungan
memberikan kesempatan kepada ternak untuk menampilkan kemampuannya.
Seekor ternak tidak akan menunjukkan penampilan yang baik apabila tidak
didukung oleh lingkungan yang baik tempat ternak hidup atau dipelihara,
sebaliknya lingkungan yang baik tidak menjamin penampilan apabila ternak tidak
memiliki mutu genetik yang baik.
14
BAHAN DAN METODE
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Februari 2011 sampai Agustus 2011.
Lokasi penelitian adalah peternakan sapi rakyat di Kampung Wasur II Distrik
Merauke, Kabupaten Merauke. Analisis investasi cacing pada feses dilakukan di
laboratorium Dinas Peternakan Kabupaten Merauke. Analisis preparasi sampel
darah untuk analisis hormon kortisol dengan metode RIA dilakukan di
Laboratorium Fisiologi, FKH IPB dan pembacaan radioaktivitas sampel dilakukan
di Balai Penelitian Ternak Ciawi Bogor.
Bahan Penelitian
Ternak
Ternak yang digunakan adalah kelompok sapi yang sudah lama ada di
Kabupaten Merauke, yaitu sapi PO dan sapi bali yang berada di peternakan sapi
rakyat di Kampung Wasur II Distrik Merauke. Dalam penelitian ini telah diamati
sapi PO sebanyak 18 ekor (9 jantan dan 9 betina) dan sapi bali sebanyak 12 ekor
(1 jantan dan 11 betina). Kisaran umur sapi-sapi tersebut antara 2-5 tahun. Sapisapi tersebut pada pagi hari dikeluarkan dari kandang dan ditempatkan di dalam
ranch dan sore hari dimasukkan kembali ke dalam kandang.
Alat dan Perlengkapan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah anemometer digital
(TAYLOR-Roschest, New York), termometer bola basah dan bola kering,
termometer
rektal,
termometer
suhu
kulit
digital
(Digital
Surface
Temperatur)(Anritsu HI-2000, Tokyo), stetoskop, stopwatch, dan lux meter
(EXTEC, Cina) sebagai alat pengukur intensitas cahaya matahari. Kandang jepit
sebanyak 2 unit digunakan sebagai tempat untuk memasukkan ternak selama
pengukuran berlangsung.
15
Metode
Tahapan Penelitian dan Model Analisis
Data yang dikumpulkan mencakup data sekunder dan data primer. Data
sekunder meliputi: 1) karakteristik wilayah berupa data iklim dan topografi dan 2)
data pencatatan sapi potong di tempat penelitian 1 tahun terakhir.
Data primer
meliputi: 1) data cuaca pada saat penelitian, 2) data respons fisiologis ternak, dan
3) data respons produksi ternak.
Peubah yang Diamati
Peubah yang diamati dalam penelitian ini meliputi:
1.
Kondisi cuaca, meliputi: suhu, RH, kecepatan angin, THI, dan intensitas
radiasi cahaya matahari
2.
Respons fisiologis sapi PO dan sapi bali, meliputi: denyut jantung, frekuensi
respirasi, suhu rektal, suhu permukaan kulit, dan suhu tubuh.
3.
Performans sapi PO dan sapi bali meliputi: pengukuran lingkar dada dan
kondisi ternak (BCS, skor 1 sampai 5)
4.
Pemeriksaan hormon
5.
Pemeriksaan status kesehatan (investasi caplak, lalat, dan telur cacing dalam
feses)
Prosedur Pengambilan Data
Pengamatan peubah kondisi cuaca (suhu udara, kelembapan, kecepatan
angin, dan intensitas radiasi cahaya matahari) didapat dengan mengukur dan
menghitung unsur cuaca setiap jam mulai dari pukul 08.00 sampai 16.00 WIT.
Pengukuran unsur cuaca tahap pertama dilakukan pada bulan April 2011,
mewakili musim barat dan tahap kedua bulan Mei 2011 mewakili musim timur.
Kedua bulan ini mewakili kondisi perubahan musim yang terjadi dan perbedaan
tingkat curah hujan yang tinggi.
Suhu dan kelembapan udara diukur dengan alat termometer bola basah
danbola kering. Kecepatan angin diukur dengan anemometer digital yang
dihidupkan selama lima belas menit pada setiap pengamatan. Intensitas radiasi
cahaya matahari diamati dengan mencatat angka yang tertera pada lux meter.
16
Temperature humidity index (THI) dihitung dengan rumus berikut (Mader et al.
2006):
THI = ( 0.8 x Tdb ) + [( RH / 100 ) x ( Tdb – 14.4 )] + 46.4
Keterangan : Tdb = dry bulb temperature (°C)
RH = Relative Humidity (%)
Pengukuran respons fisiologis ternak (denyut jantung, frekuensi pernapasan,
suhu permukaan kulit, suhu rektal, dan suhu tubuh) dilakukan sebanyak 1 kali,
yaitu pada pukul 15.00. Waktu pengamatan selama 21 hari pada bulan April dan
21 hari bulan Mei.
Denyut jantung. Pengukuran denyut jantung menggunakan stetoskop
dilakukan dengan mengukur jumlah detakan di bagian dada kiri atas, dekat tulang
axilla sebelah kiri (dekat ketiak). Penghitungan denyut jantung dengan cara
menghitung berapa waktu yang dibutuhkan untuk 10 kali denyutan.
Frekuensi respirasi. Diukur dengan cara menghitung berapa waktu yang
dibutuhkan untuk 10 kali gerakan bagian antara daerah rusuk terakhir dan flank.
Suhu permukaan kulit (Sk) diukur menggunakan alat Digital Surface
Temperatur. Lokasi pengukuran di empat titik, yaitu di bagian punggung tepat di
belakang pundak (A), bagian dada tepat di belakang ketiak (B), tungkai kaki
depan bagian atas (C), dan tungkai kaki depan bagian bawah (metacarpus) (D).
Rataan suhu permukaan kulit dihitung berdasarkan rumus McLean et al. (1984):
Sk = 0,25 (A + B) + 0,32 C + 0,18 D
Suhu rektal (Sr) diukur menggunakan termometer rektal digital dengan cara
memasukkan termometer ke dalam rektum sedalam ±8 cm.
Suhu tubuh (St) dihitung berdasarkan rumus McLean et al. (1984) :
St = 0,86 Sr + 0,14 Sk
Pengukuran lingkar dada dan pertambahan bobot badan dilakukan pada hari
pertama pengamatan dan hari terakhir pengamatan setiap bulan pengamatan.
Pengukuran lingkar dada dilakukan sebelum ternak dilepas ke padang
penggembalaan.
17
A
B
C
D
Gambar 1 Lokasi titik pengukuran suhu permukaan kulit sapi
(Sumber: dokumentasi pribadi)
Model Analisis
Data tentang unsur cuaca (suhu, kelembapan, kecepatan angin, dan
intensitas radiasi cahaya matahari) dihitung rataan dan standar deviasi. Pengaruh
antara musim hujan dan musim panas pada respons fisiologis ternak sapi PO dan
sapi bali dianalisis menggunakan metode pengujian berulang (Repeated
Measurement) prosedur GLM (Littell et al. 1998). Analisis regresi linear
digunakan untuk mengetahui kemampuan aklimatisasi dari setiap bangsa sapi.
Status kesehatan dan hormon dianalisis secara deskriptif.
Analisis Data
Data unsur cuaca dan respons fisiologis dianalisis dengan menggunakan nilai
rata-rata, prosedur pengujian berulang (Repeated Measuremen), dan regresi.
18
HASIL DAN PEMBAHASAN
Keadaan Cuaca Lokasi Penelitian
Perubahan unsur cuaca harian yang terjadi selama penelitian berlangsung
sangat fluktuatif. Hasil pengamatan rataan unsur cuaca pada bulan April dan Mei
menunjukkan bahwa nilai kelembapan relatif berbeda jauh di antara kedua bulan
tersebut. Data unsur curah hujan yang diperoleh dari BMKG Stasiun Mopah
Merauke, menunjukkan perbedaan yang sangat ekstrim antara bulan April (352.9
mm) dan Mei (51.5 mm). Hal ini menunjukkan ada keterkaitan antara curah
hujan dan kelembapan. Williamson dan Payne (1993) menuliskan bahwa di
daerah yang curah hujannya lebih tinggi, hijauan yang tumbuh umumnya akan
mengandung kadar air yang lebih tinggi pula sehingga dapat menurunkan
konsumsi bahan kering oleh ternak. Selama musim barat di bulan April, rata-rata
suhu udara dan kecepatan angin rendah sedangkan kelembapan udara dan
intensitas radiasi cahaya matahari tinggi jika dibandingkan musim panas bulan
Mei (Tabel 1).
Tabel 1 Data rataan unsur cuaca lingkungan penelitian pukul 08.00-16.00 WIT
Waktu
Unsur cuaca lingkungan
Pengamatan
T (oC)
RH(%)
Va(m/s)
Im(lux)
THI
Bulan April
29.30±2.45
78.18±9.18
1.45±0.95
48,154.43±8,315.95
81.34±3.11
Bulan Mei
29.63±1.84
73.09±9.39
2.30±1.22
47,331.91±9,409.55
81.14±2.40
o
Keterangan : T ( C) = suhu lingkungan dalam derajat Celcius; RH(%) = kelembapan relatif dalam
persentase; Va(m/s) = kecepatan angin dalam satuan meter per detik; Im (lux) =
Intensitas radiasi cahaya matahari dalam lux; THI = Temperature Humidity Index
Data yang diperoleh menunjukkan saat THI tinggi maka kelembapan udara
dan radiasi matahari tinggi, namun kecepatan angin rendah. Nilai THI di
lingkungan penelitian pada bulan April dan Mei berada pada danger zone bagi
ternak yang ditunjukkan dari hasil THI yang tinggi (Gambar 2). Perlu
diperhatikan bahwa nilai THI ini berdasarkan acuan negara 4 musim yang
menjadi tempat asal bangsa sapi Bos taurus. Kemungkinan besar untuk sapi-sapi
lokal tropik, toleransi terhadap nilai THI akan lebih besar lagi.
19
Pada kondisi THI ini ternak telah mendapat cekaman panas yang tinggi,
tetapi respons fisiologis sapi PO dan bali masih dalam kisaran normal. Hal ini
dapat dilihat dari perubahan respons fisiologis sapi terhadap lingkungan selama
bulan April-Mei. Ternak sapi membutuhkan kondisi lingkungan yang nyaman
dengan nilai THI ≤ 74. Nilai THI di pagi lebih rendah dari siang hari karena di
pagi hari suhu udara lebih rendah, sebaliknya pada siang hari.
Gambar 2 Tabel Temperature Humidiy Index (THI)
Keterangan : berdasarkan Livestock Weather Safety Index : Normal (THI ≤ 74), Alert (75–78 THI), Danger
(79–83 THI) dan Emergency (THI ≥ 84)
Nilai unsur suhu udara dan kelembapan yang tinggi menyebabkan sapi PO
dan sapi bali berpotensi mengalami cekaman panas. Menurut Williamson dan
Payne (1993), temperatur lingkungan yang paling sesuai bagi kehidupan ternak di
daerah tropis adalah 10 °C sampai 27 °C (50 °F-80 °F).
Suhu dan kelembapan yang terjadi di lingkungan penelitian akan
menyebabkan proses penguapan dari tubuh sapi terhambat mengakibatkan ternak
akan mengalami cekaman panas. Suhu lingkungan yang melebihi rata-rata normal
membuat ternak akan melakukan penyesuaian secara fisiologis dan secara tingkah
laku (behaviour). Kelembapan yang tinggi bisa meningkatkatkan heat stress pada
sapi (Mader et al. 2006) karena kelembapan bisa meningkatkan tekanan uap dan
20
menghambat evaporasi kulit tubuh dalam proses pelepasan panas tubuh melalui
keringat. Reaksi sapi atas kondisi cekaman tersebut terlihat dari respons frekuensi
pernapasan dan denyut jantung sapi untuk mengurangi atau melepaskan panas
yang diterima dari luar tubuh sapi.
Nilai rataan intensitas radiasi matahari pada bulan-bulan pengukuran sangat
tinggi. Radiasi matahari dapat sangat mempengaruhi beban panas pada ternak
karena intensitas radiasi cahaya matahari yang besar membuat peningkatan suhu
lingkungan sehingga ternak akan mengalami cekaman. Radiasi matahari dan
kecepatan
angin
mengubah
kemampuan
ternak untuk mempertahankan
keseimbangan termal (Brosh et al. 1998; Mader 2003).
Rata-rata kecepatan angin harian pada musim barat (bulan April) lebih
rendah dibandingkan pada musim timur (bulan Mei). Pada bulan Mei, kondisi
cuaca di Kabupaten Merauke sangat dipengaruhi oleh perubahan cuaca di benua
Australia. Tercatat kecepatan angin maksimum yang terjadi pada saat itu
mencapai 13.2 meter/detik. Rataan kecepatan angin harian (Gambar 3) pada bulan
April mencapai titik puncak pada sore hari, yaitu pukul 14.00, titik puncak pada
bulan Mei biasanya terjadi pada pagi hari pukul 9.00 dan sore hari pukul 15.00.
Rata-rata kecepatan angin tinggi pada saat suhu udara tinggi dan kelembapan
rendah (Gambar 3). Pada saat kelembapan relatif lebih rendah, maka kecepatan
angin cenderung lebih tinggi, karena saat itu kandungan uap air relatif rendah
Kecepatan angin dan intensitas radiasi cahaya matahari adalah faktor yang
mempengaruhi peningkatan panas atau kehilangan panas dari tubuh ternak.
Kecepatan angin yang tinggi akan mengurangi aktivitas ternak melepaskan beban
panas tubuh melalui napas, karena kemungkinan besar panas tubuh akan hilang
dengan cara konveksi, yaitu melalui pergerakan udara di atas permukaan tubuh
dekat permukaan kulit ternak. Panas tubuh ternak akan ditransfer ke udara sejuk
dan dihilangkan melalui pergerakan udara secara terus menerus (Robertshaw
1985).
Temperature Humidity Index
21
82
81
80
79
78
700
800
900
1000
1100
1200
1300
1400
1500
1600
1700
700
800
900
1000
1100
1200
1300
1400
1500
1600
1700
700
800
900
1000
1100
1200
1300
1400
1500
1600
1700
700
800
900
1000
1100
1200
1300
1400
1500
1600
1700
700
800
900
1000
1100 1200 1300 1400
Waktu pengamatan (WIT)
1500
1600
1700
Suhu Udara (oC)
31
30
29
28
85
80
75
70
65
51000
49000
47000
45000
43000
41000
39000
37000
35000
Kecepatan Angin (m/s)
Intensitas Cahaya Matahari
(lux)
Kelemnbaban Relatif (%)
27
4
3
2
1
0
Gambar 3 Rataan nilai unsur cuaca harian di lingkungan penelitian
bulan April,
bulan Mei
22
Suhu udara dan THI pukul 15.00-16.00 WIT pada musim barat bulan April
lebih rendah daripada musim timur (Gambar 4). Suhu udara maksimum pada
bulan April dan Mei masing-masing 35.5 oC dan 35 oC, sedangkan suhu udara
minimum 24.7 oC dan 26 oC.
Bulan April
38
Bulan Mei
86
34
82
32
80
30
78
28
76
26
74
24
72
So
C
84
THI
36
22
70
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21
2 4 6 8 10 12 14 16 18 20
Hari ke-
Gambar 4 Rataan suhu udara dan THI mulai dari hari 1-21 bulan April dan hari
1-21 bulan Mei. Angka rataan diperoleh dari pengkuran pukul 15.0016.00 WIT setiap hari.
Suhu udara,
THI
Suhu udara yang cenderung menurun pada waktu pengukuran di bulan April
dikarenakan pola curah hujan yang tinggi pada akhir bulan. Hal ini tentunya
mempengaruhi nilai THI pada waktu pengukuran.
Berdasarkan data BMKG
stasiun Merauke Tahun 2010 dan 2011, curah hujan tinggi pada bulan DesemberApril kemudian sejak bulan Mei curah hujan menurun drastis.
Tabel 2 Data rataan unsur cuaca lingkungan penelitian pukul 15.00-16.00 WIT
Waktu
Unsur cuaca lingkungan
pengamatan
o
T ( C)
RH(%)
Va(m/s)
Im(lux)
THI
Bulan April
29.05±2.44
79.15±9.03
1.55±1.03
42745.17±12944.22
81.09±3.22
29.05±1.99
75.41±9.84
2.85±1.19
40591.98±13972.79
80.58±2.48
Bulan Mei
o
Keterangan : T ( C) = suhu lingkungan dalam derajat Celcius; RH(%) = kelembapan relatif dalam
persentase; Va(m/s) = kecepatan angin dalam satuan meter per detik; Im (lux) =
Intensitas radiasi cahaya matahari dalam lux; THI = Temperature Humidity Index
Lingkungan penelitian saat pengukuran fisiologis ternak pada siang hari
pukul 15.00-16.00 WIT (Tabel 2), menunjukkan nilai unsur cuaca yang tidak
berbeda jauh dari rataan harian. Pada waktu tersebut, ternak memberikan respons
23
fisiologis (laju respirasi, laju denyut jantung, suhu rektal, dan suhu kulit) yang
tidak nyaman.
Respons Fisiologis Ternak pada Musim Barat Bulan April
Kondisi lingkungan pemeliharaan ternak akan mempengaruhi keadaan
fisiologis ternak.
Sapi termasuk hewan homeotermi, yaitu hewan yang suhu
tubuhnya merupakan hasil keseimbangan dari panas yang diterima dan
dikeluarkan oleh tubuh. Pada keadaan normal, suhu tubuh sapi dapat bervariasi
karena adanya perbedaan umur, jenis kelamin, iklim, panjang hari, suhu
lingkungan, aktivitas, pakan, aktivitas pencernaan, dan jumlah air yang diminum.
Suhu rektal ternak merupakan ukuran representatif dari suhu tubuh dari
hasil paparan suhu dan kelembapan lingkungan. Pengaruh waktu pada respons
suhu rektal berbeda sangat nyata untuk setiap ternak sapi (P<0.0001). Perbedaan
bangsa sapi tidak memberikan pengaruh nyata pada suhu rektal (P>0.05), tetapi
perbedaan musim antara musim barat dan musim timur berpengaruh nyata
(P<0.05).
Rataan suhu rektal, suhu kulit, dan suhu tubuh sapi PO pada bulan April,
lebih tinggi dibandingkan sapi bali (Tabel 3). Rata-rata suhu rektal harian sapi PO
pada bulan April lebih tinggi (0.528 oC) daripada sapi bali. Pada awal bulan
April, suhu rektal sapi PO lebih tinggi kemudian turun pada akhir bulan
pengamatan (38.978 ke 38.828 oC). Jika temperatur tubuh tinggi menyebabkan
ternak akan meningkatkan mekanisme termoregulasi dengan cara meningkatkan
frekuensi
pernapasan,
yaitu
dengan
cara
mengeluarkan
panas
dengan
meningkatkan penguapan melalui saluran pernapasan. Hal ini menunjukkan
bahwa sapi bali memiliki lebih baik kemampuan beradaptasi dengan panas
dibandingkan dengan sapi PO.
Suhu udara, kelembapan udara, dan intensitas radiasi cahaya matahari yang
tinggi serta kecepatan angin yang rendah mengakibatkan respons fisiologis kedua
bangsa sapi tersebut pada musim barat bulan April lebih tinggi daripada musim
timur bulan Mei. Hal ini diduga karena kemampuan sapi melepas panas dari tubuh
terhalang pada saat keadaan lingkungan lembap dan rendahnya kecepatan angin
24
sebagai fungsi untuk memindahkan panas dari permukaan tubuh ke udara
lingkungan.
Tabel 3 Respons Fisiologis sapi PO dan sapi bali pada musim barat bulan April
dan musim timur bulan Mei
Paramater
Musim barat bulan April
Musim timur bulan Mei
PO
bali
PO
bali
Suhu kulit
33.05±1.72
32.90±1.88
32.04±1.87
31.47±1.54
Frekuensi pernapasan (per menit)
17.10±5.48
20.12±7.27
15.84±3.93
18.97±4.01
Denyut jantung (per menit)
61.17±12.52
59.63±8.12
52.28±11.20
59.87±10.11
Suhu rectal (oC)
38.83±1.10
38.70±0.61
38.53±0.54
38.46±0.83
Suhu tubuh (o C)
38.02±1.06 37.89±0.68
Keterangan : Pengukuran dilakukan pada jam 15.00-16.00 WIT
37.62±0.61
37.48±0.80
Perbedaan antarbangsa memberikan pengaruh yang sangat nyata pada
respons suhu kulit sapi bali dan sapi PO (P<0.001). Pengaruh waktu dan musim
juga memberikan respons yang sangat nyata atas respons suhu kulit pada setiap
PO dan sapi bali (P<0.0001). Hal ini terjadi karena paparan sinar matahari yang
langsung mengenai kulit sapi akan memberikan respons langsung terhadap
keadaan suhu kulit sapi.
Jenis lapisan penutup kulit berkorelasi dengan suhu tubuh dan dengan
produktivitas ternak di daerah tropis. Ternak yang ramping, berambut padat, dan
pendek dikaitkan dengan suhu tubuh yang lebih rendah dan tingkat pertumbuhan
yang lebih tinggi (Chytil 2002). Lebih lanjut dijelaskan bahwa jika mantel itu
pendek, putih, dan mengkilap, itu akan memantulkan 30 sampai 50% dari energi
radiasi. Jika mantel adalah berbulu dan hitam, di sisi lain mungkin hanya
memantulkan 10% dari yang masuk energi.
Kondisi suhu kulit sapi PO yang lebih tinggi dibandingkan sapi bali,
meskipun dari warna kulit sapi PO bisa memantulkan energi radiasi lebih besar,
kemungkinan terjadi karena keadaan bulu dari sapi PO yang kasar dan tidak
terlalu padat. Kulit dengan bulu yang kasar juga dapat memberikan kontribusi
mengurangi kemampuan ternak membuang panas tubuh dan mengatur suhu tubuh
(McClanahan 2007). Turner dan Schleger (1960) melaporkan bahwa ternak yang
25
memiliki bulu rapi dan lebih padat memiliki suhu tubuh lebih rendah dan tingkat
pertumbuhan lebih tinggi. Menurut McManus et al. (2011), hewan dengan kulit
gelap (dark skin) akan mampu menghambat penetrasi sinar ultraviolet dan rambut
putih (white hairs) akan memantulkan panas radiasi infra-merah. Sapi bali
memiliki mantel yang mengkilat dan juga kulit yang gelap.
Frekuensi pernapasan antara bangsa sapi bali dan PO pada musim barat
bulan April memberikan respons yang sangat nyata (P<0.0001). Begitu pun
pengaruh waktu dan musim memberikan respons yang berbeda pada setiap bangsa
sapi (P<0.050). Menurut Esmay (1978), mekanisme respirasi dikontrol di medula
yang sensitif terhadap CO2 pada tekanan darah, dan jika tekanan meningkat
sedikit, pernapasan menjadi lebih dalam dan cepat. Medula adalah perpanjangan
dari otak yang bersambung dengan ruas tulang belakang. Peningkatan frekuensi
respirasi terjadi ketika ada peningkatan permintaan oksigen, yaitu setelah olah
raga, terekspos oleh suhu lingkungan dan kelembapan relatif yang tinggi, dan
kegemukan (Kelly 1984).
Suhu udara dan nilai THI yang tinggi akan meningkatkan frekuensi
pernapasan ternak sapi. Panting adalah salah satu manisfestasi pelepasan panas
dari tubuh ternak yang ditunjukkan dengan tingginya frekuensi pernapasan.
Frekuensi pernapasan sapi bali dan sapi PO pada penelitian ini masih dalam
kisaran normal. Rataan frekuensi pernapasan sapi bali lebih tinggi dibandingkan
dengan sapi PO. Hal ini terlihat mulai dari awal sampai akhir hari pengamatan di
bulan April. Rendahnya frekuensi pernapasan pada sapi PO diduga karena
kemampuan sapi PO melepas beban panas tubuhnya lebih banyak melalui kelenjar
keringat walaupun pelepasan panas dengan cara evaporasi melalu kelenjar
keringat pada sapi bali lebih banyak dibandingkan dengan sapi Bos indicus (232
vs 158 g/m2/h) (Gebremedhin et al. 2008) tetapi jumlah kelenjar keringat
terbanyak dimiliki sapi PO berdasarkan besar dan luas permukaan kulit.
Hasil analisis menunjukkan bahwa perbedaan bangsa tidak memberikan
respons yang berbeda pada denyut jantung (P>0.05). Musim memberikan
pengaruh yang tidak sama pada setiap individu ternak sapi (P<0.05). Respons
denyut jantung sapi bali selama bulan April lebih rendah dibandingkan dengan
sapi PO. Pada hari pertama awal bulan April denyut jantung sapi bali (57.047
26
kali/menit) naik terus selama minggu pertama. Minggu pertama dan kedua, denyut
jantung sapi bali lebih rendah dibandingkan pada saat masuk pada minggu ketiga.
Rataan denyut jantung dan suhu tubuh sapi PO dan bali selama musim barat
lebih tinggi dibandingkan dengan musim timur. Hal ini dapat terjadi karena
ketersedian dan konsumsi pakan yang lebih banyak pada musim barat. Menurut
Purwanto et al. (2004), tingginya konsumsi pakan dapat menyebabkan
meningkatnya panas tubuh ternak akibat proses metabolisme. Konsumsi energi
yang lebih banyak menyebabkan produksi panas metabolis lebih tinggi dan
selanjutnya dapat memicu peningkatan respon fisiologis termasuk denyut jantung
(Brosh et al. 1998). Selama 21 hari waktu pengamatan respons suhu rektal, suhu
kulit, suhu tubuh, denyut jantung, dan frekuensi pernapasan harian dari sapi PO
dan sapi bali menunjukkan masih adanya usaha untuk melakukan aklimatisasi
terhadap cuaca yang terjadi di lingkungan penelitian (P<0.0001).
Respons Fisiologis Ternak pada Musim Timur Bulan Mei
Kondisi respons fisiologis yang terjadi pada musim timur bulan Mei
menunjukkan ada penurunan suhu rektal, suhu kulit, suhu tubuh, frekuensi
pernapasan, dan denyut jantung baik pada sapi PO maupun sapi bali. Perbedaan
bangsa tidak memberikan pengaruh yang nyata pada suhu rektal, suhu tubuh, dan
denyut jantung antara sapi PO dan sapi bali pada musim timur (P>0.05), tetapi
suhu kulit dan frekuensi pernapasan memberikan pengaruh yang nyata
(P<0.0001). Masing-masing bangsa memberikan respons fisiologis yang nyata
pada waktu (P<0.0001) dan musim (P<0.05).
Musim timur bulan Mei adalah musim pancaroba, yaitu terjadi peralihan
musim penghujan ke musim kemarau. Pada musim ini, kondisi cuaca di
Kabupaten Merauke juga dipengaruhi oleh angin Muson. Oleh sebab itu pada
saat bulan Mei keadaan cuaca yang paling ekstrim adalah kecepatan angin yang
tinggi.
Dibandingkan dengan musim barat bulan April maka nilai respons fisiologis
sapi PO maupun sapi bali lebih rendah pada bulan Mei. Hal ini terjadi karena
pada malam hari suhu udara rendah dan siang hari angin bertiup kencang.
Kondisi ini membantu ternak sapi PO dan sapi bali tidak terlalu mengalami
cekaman panas.
Pada siang hari, suhu udara tinggi, tetapi karena adanya
27
kelembapan relatif yang rendah dan kecepatan angin yang tinggi maka membantu
ternak melepaskan panas tubuh dengan cara konveksi.
Rataan suhu rektal, suhu kulit, dan suhu tubuh sapi PO lebih tinggi
dibandingkan sapi bali (Tabel 3). Sebaliknya rataan frekuensi pernapasan dan
denyut jantung sapi PO lebih rendah dibandingkan dengan sapi bali. Berdasarkan
waktu harian terlihat bahwa posisi respons fisiologis sapi bali lebih rendah
dibandingkan dengan sapi bali (Gambar 5).
Hal yang menarik adalah respons fisiologis denyut jantung sapi PO yang
jauh lebih rendah daripada sapi bali dan terlihat konstan (Gambar 6). Ini diduga
terjadi karena kemampuan sistem homeotermi sapi PO yang sudah cukup baik
dengan mengatur pelepasan panas melalui kulit (sweating). Penyebab lainnya
adalah sapi bali mampu tetap memakan pakan yang tersedia pada musim ketika
kuantitas dan kualitas pakan berkurang bila dibandingkan dengan sapi PO,
akibatnya denyut jantung akan meningkat. Pada keadaan normal, biasanya hewan
yang mempunyai ukuran tubuh lebih kecil, denyut nadinya lebih besar daripada
hewan yang mempunyai ukuran tubuh besar (Frandson 1992). Penelitian Kasa
(1997) menghasilkan data rataan frekuensi pernapasan sapi bali di lapangan 72.5
kali/menit, sedangkan pada sapi PO (Panjono et al. 2009) sebesar 43,13
kali/menit.
28
40
Bulan April
Bulan Mei
39
So
C
38
37
1
3
5
7
9 11 13 15 17 19 21
2
Hari ke-
4
6
Bulan April
8 10 12 14 16 18 20
Bulan Mei
37.0
35.0
33.0
31.0
29.0
27.0
1
3
5
7
9 11 13 15 17 19 21
2
4
6
8 10 12 14 16 18 20
Hari ke-
Bulan April
40
Bulan Mei
39
38
37
36
1
3
5
7
9 11 13 15 17 19 21
2
4
6
8 10 12 14 16 18 20
Hari ke-
Gambar 5 Perubahan suhu rektal, kulit, dan tubuh pada bulan April dan Mei
sapi PO,
sapi bali
29
Bulan April
34
Bulan Mei
30
26
22
18
14
D
F
10
1
3
5
7
9 11 13 15 17 19 21
2
4
6
8 10 12 14 16 18 20
Hari ke-
Bulan Mei
Bulan April
75
70
65
60
55
50
45
1 3
5
7 9 11 13 15 17 19 21
2
4
6 8 10 12 14 16 18 20
Hari ke-
Gambar 6 Perubahan frekeuensi pernapasan dan denyut jantung pada bulan April
dan Mei.
sapi PO,
sapi bali
Kemampuan Aklimatisasi Sapi PO dan Sapi Bali
Dari setiap variabel terikat setiap minggunya menunjukkan koefisien
korelasi sapi PO lebih besar daripada sapi bali (Tabel 4). Di lain sisi, tingkat
kemiringan (slope) pada sapi bali lebih rendah daripada sapi PO pada semua
respons fisiologis. Pada musim barat bulan April minggu I, berdasarkan respons
suhu rektal, sapi PO dan sapi bali tidak mengalami aklimatisasi (P=0.89 dan
P=0.51) dikarenakan pada awal bulan curah hujan yang ada belum terlalu tinggi.
Berdasarkan respons suhu kulit dan frekuensi pernapasan, pada minggu I, kedua
bangsa sapi juga tidak beraklimatisasi. Suhu rektal sapi PO pada minggu I musim
timur bulan Mei menunjukkan proses aklimatisasi (P<0.05).
30
Tabel 4 Regresi linear respons fisiologis sapi PO dan sapi bali terhadap suhu
udara minggu I, II, III
Musim
Minggu
ke-
Barat
I
Respons
fisiologis
SR
SK
FP
II
SR
SK
FP
III
SR
SK
FP
Timur
I
SR
SK
FP
II
SR
SK
FP
III
SR
Bangsa
sapi
Koefisien
korelasi (%)
Slope
Nilai P
PO
Bali
PO
Bali
PO
bali
-6.64
-30.14
49.71
-50.79
55.53
-50.17
-0.018
-0.085
0.409
-0.466
1.658
-2.535
0.888
0.511
0.256
0.244
0.196
0.251
PO
Bali
PO
Bali
PO
bali
62.25
66.20
73.76
67.00
68.05
46.94
0.137
0.155
0.482
0.615
1.169
1.467
0.017
0.010
0.002
0.009
0.007
0.090
PO
Bali
PO
Bali
PO
bali
57.33
46.84
73.78
50.98
51.39
29.04
0.088
0.081
0.368
0.335
0.673
0.644
0.007
0.032
0.0001
0.260
0.017
0.202
PO
Bali
PO
Bali
PO
bali
78.95
14.03
50.51
6.77
0.88
-42.64
0.059
0.025
0.298
0.042
0.006
-2.507
0.035
0.764
0.248
0.885
0.985
0.340
PO
Bali
PO
Bali
PO
bali
71.26
42.85
63.44
32.81
2.50
-4.09
0.104
0.086
0.477
0.217
0.027
-0.055
0.004
0.126
0.015
0.252
0.933
0.889
PO
70.89
0.108
0.0003
Bali
47.01
0.099
0.032
SK
PO
66.28
0.523
0.001
Bali
35.70
0.259
0.112
FP
PO
14.62
0.178
0.527
bali
3.69
0.058
0.874
o
o
Keterangan : SR ( C) = suhu rektal dalam derajat Celcius; SK ( C) = suhu kulit dalam derajat
Celcius; FP (kali/menit) = frekuensi pernapasan dalam satuan kali per menit
31
Kemampuan aklimatisasi sapi bali pada minggu I pada bulan April dan Mei
lebih baik daripada sapi PO, ini dapat dilihat dari posisi kemiringan garis linear
respons fisiologis berupa suhu rektal dan suhu kulit sapi bali lebih rendah
dibandingkan dengan sapi PO (Gambar 7). Garis linear frekuensi pernapasan sapi
bali yang lebih tinggi selama minggu I menentukan kemampuan melepas panas
tubuhnya lebih besar diduga melalui panting.
Memasuki minggu II bulan April kedua bangsa sapi mengalami
aklimatisasi, terlihat dari respons fisiologis yang nyata (P<0.05), kecuali untuk
respons frekuensi pernapasan sapi bali yang tidak nyata (P>0.05). Hal ini diduga
sapi bali lebih banyak melepas panas tubuh melalui pernapasan.
Pada saat memasuki minggu II bulan Mei, suhu rektal dan suhu kulit sapi
PO beraklimatisasi terhadap suhu udara yang ada (P<0.05). Respons suhu rektal,
suhu kulit dan frekuensi pernapasan sapi bali tidak nyata terhadap suhu
lingkungan (P>0.05). Garis linear suhu rektal dan suhu kulit sapi bali lebih rendah
dibandingkan dengan sapi PO (Gambar 8), kecuali pada frekuensi pernapasan
yang berarti kemampuan sapi bali melepas panas tubuhnya selama minggu I-II
lebih besar melalui pernapasan.
Proses aklimatisasi sapi PO melalui minggu III bulan April, menunjukkan
bahwa terjadi usaha penyesuaian respons fisiologis terhadap lingkungan (P<0.05).
Sebaliknya respon sapi bali sudah tidak beraklimatisasi lagi (P>0.05). Kondisi
yang sama juga terjadi selama minggu III bulan Mei. Posisi garis linear suhu
rektal dan suhu kulit sapi bali juga lebih rendah dibandingkan dengan sapi PO
(Gambar 9), kecuali pada frekuensi pernapasan yang berarti kemampuan sapi bali
melepas panas tubuhnya selama minggu I-III lebih besar melalui pernapasan.
Selama musim timur bulan Mei, respons frekuensi pernapasan sapi PO
dalam kondisi stabil (tidak ada aklimatisasi). Respons suhu rektal dan suhu kulit
di minggu I sampai III, terjadi aklimatisasi sapi PO atas perubahan cuaca
(P<0.05). Hal sebaliknya terjadi pada sapi bali yang tidak mengalami aklimatisasi
pada musim timur (P>0.05), yang berarti bahwa sapi bali menujukkan kondisi
fisiologis stabil.
32
Penelitian ini memberikan bukti bahwa sapi bali memiliki kemampuan
termoregulator yang lebih baik dibandingkan dengan sapi PO. Kemampuan ini
merupakan hasil dari pengurangan produksi panas, peningkatan kapasitas
pelepasan panas ke lingkungan, atau kombinasi keduanya. Terdapat cukup bukti,
berdasarkan suhu rektal, suhu kulit, dan denyut jantung bahwa kemampuan heat
tolerance sapi bali lebih tinggi dari sapi PO dan kemampuan aklimatisasi sapi bali
lebih baik daripada sapi PO. Hasil penelitian ini dapat dijadikan rekomendasi bagi
Pemerintah Daerah Kabupaten
Kondisi Kesehatan Sapi PO dan Bali
Kemampuan adaptasi ternak yang baik terhadap lingkungannya akan
menghasilkan produktivitas ternak yang baik pula. Lingkungan dan ketersediaan
pakan yang mendukung akan memberikan produktivitas ternak yang lebih baik.
Dari hasil pengamatan pertambahan bobot badan sebagai salah satu tolak ukur
produktivitas sapi selama musim hujan bulan April dan musim kemarau bulan
Mei, menunjukkan bahwa ukuran lingkar dada sapi PO mengalami penurunan bila
dibandingkan dengan lingkar dada sapi bali yang cenderung naik (Tabel 5).
Merauke untuk memilih dan mendatangkan sapi bali serta mengembangkan
pembibitan sapi bali sebagai sumber daya ternak lokal yang adaptif.
Pertambahan bobot badan berkaitan dengan kualitas hijauan di lapangan
penggembalaan.
Musim
barat
dengan
curah
hujan
yang tinggi
akan
mempengaruhi kandungan kualitas nutrisi hijauan relatif rendah karena
kandungan air yang banyak. Ini merupakan pengaruh tidak langsung keadaan
cuaca pada produktivitas ternak. Pada musim timur terjadi sebaliknya, yaitu curah
hujan rendah akan mempengaruhi kuantitas pakan di lapangan yang akibatnya
ternak mengalami penurunan konsumsi pakan. Selain itu, penurunan bobot badan
yang cukup besar dimungkinkan karena adanya cekaman (stress) fisiologis sapi.
33
40
1-7 hari bulan April
PO
bali
39
PO
bali
1-7 hari bulan Mei
So
C
F
38
37
24
25
26
27
28
29
30
31
Suhu Udara (oC)
32
33
34
35
36
35
bali
1-7 hari bulan April
34
PO
PO
33
32
bali
31
1-7 hari bulan Mei
30
29
28
24
25
26
27
28
29
30
31
Suhu Udara (oC)
32
33
34
35
34
31
1-7 hari bulan April
28
25
22
PO
19
bali
bali
16
PO
1-7 hari bulan Mei
13
10
24
25
26
27
28
29
30
31
Suhu Udara (oC)
32
33
34
35
Gambar 7 Regresi linear untuk suhu rektal, suhu kulit dan frekuensi pernapasan
sapi PO dan sapi bali selama minggu I bulan April dan Mei
sapi PO,
sapi bali
34
40
PO
1-14 hari bulan April
PO
bali
39
bali
1-14 hari bulan Mei
So
F
C
38
37
24
25
26
27
28
29
30
31
o
Suhu Udara ( C)
32
33
34
35
36
1-14 hari bulan April
35
PO
34
33
bali
32
PO
1-14 hari bulan Mei
31
bali
30
29
28
24
25
26
27
28
29
30
31
Suhu Udara (oC)
32
33
34
35
34
31
1-14 hari bulan April
28
25
bali
22
PO
19
bali
16
1-14 hari bulan Mei
13
PO
10
24
25
26
27
28
29
30
31
Suhu Udara (oC)
32
33
34
35
Gambar 8 Regresi linear untuk suhu rektal, suhu kulit dan frekuensi pernapasan
sapi PO dan sapi bali selama minggu I-II bulan April dan Mei
sapi PO,
sapi bali
35
40
PO
1-21 hari bulan April
PO
bali
39
bali
1-21 hari bulan Mei
So
F
C
38
37
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
Suhu Udara (oC)
36
1-21hari bulan April
35
PO
bali
34
PO
33
bali
32
1-21 hari bulan Mei
31
30
29
28
24
25
26
27
28
29
30
31
Suhu Udara (oC)
32
33
34
35
34
31
28
1-21hari bulan April
25
bali
PO
22
19
bali
PO
16
1-21hari bulan Mei
13
10
24
25
26
27
28
29
30
31
Suhu Udara (oC)
32
33
34
35
Gambar 9 Regresi linear untuk suhu rektal, suhu kulit dan frekuensi pernapasan
sapi PO dan sapi bali selama minggu I-III bulan April dan Mei
sapi PO,
sapi bali
36
Penurunan bobot badan sapi PO disebabkan oleh cekaman panas. Dalam
keadaan terpapar cekaman panas, sapi akan mengurangi konsumsi pakan dan
meningkatkan konsumsi air minum agar pembentukan panas endoterm tubuhnya
dapat berkurang. Di sisi lain, kurangnya asupan pakan ini menyebabkan
kebutuhan energi dan zat gizi lainnya untuk pertumbuhan menjadi berkurang.
Menurut Hahn (1999), penurunan konsumsi pakan merupakan salah satu respons
ternak mengurangi heat stress. Hal ini dihubungkan dengan produksi panas
metabolik tubuh yang sangat dipengaruhi oleh konsumsi pakan (Young et al.
1997; Purwanto et al. 1990).
Tabel 5 Rataan selisih lingkar dada sapi PO dan sapi bali bulan April dan Mei
Lingkar dada (cm)
Sapi
bulan April
bulan Mei
PO
-0.81±1.44
-1.14 ±1.63
Bali
0.50±1.52
0.42±1.88
Dilihat dari kondisi tubuh (Gambar 10) yang diwakili dari rataan Body
Condition Score (BCS), kondisi tubuh baik sapi PO dan sapi bali dalam keadaan
kurus (BCS 2). Hal ini diduga karena pengaruh tidak langsung dari perubahan
cuaca pada ketersediaan pakan di lapangan dan daya jelajah merumput yang
dibatasi.
Berdasarkan persentase nilai BCS (Tabel 6), nilai BCS sapi bali lebih
banyak berada pada kondisi 3 (sedang), sedangkan sapi PO pada nilai 2 (kurus).
Sapi bali memiliki rataan skor BCS yang lebih tinggi (2.58) dibandingkan dengan
sapi PO (2.11). Hal ini didukung kemampuan yang dimiliki oleh sapi bali, yaitu
memakan segala jenis rumput dan legum. Pada saat di lapangan terlihat sapi bali
mampu memakan jerami padi lebih banyak dari sapi PO dan sapi bali mampu
memakan pucuk-pucuk tanaman putri malu (Mimosa pudica).
Tabel 6 Rataan skor dan persentase BCS sapi PO dan sapi bali
% (skor 1-5)
Sapi
BCS
1
(sangat kurus)
2
(kurus)
3
(sedang)
4
(gemuk)
5
(sangat gemuk)
PO
2.11±0.68
16.67
55.56
27.78
0
0
Bali
2.58±0.51
0
41.67
58.33
0
0
37
Hasil pemeriksaan terhadap feses sapi PO dan sapi bali menunjukkan
adanya keberadaan telur cacing (strongyl nativ). Tidak teridentifikasi jenis cacing
yang ditemukan tersebut. Persentase telur cacing pada populasi objek penelitian
ialah sapi PO sebesar 5.56% dan pada sapi bali 16.67%. Diperkirakan keberadaan
telur cacing tersebut berkaitan dengan pola penggembalaan yang bersifat
ekstensif, yaitu dimana ternak sapi makan langsung dari rumput yang tercemar
feses yang mengandung cacing.
Keberadaan lalat dan caplak sangat banyak pada saat pergantian musim,
yaitu pada saat musim timur bulan Mei.
Area tubuh yang paling banyak
dihinggapi lalat dan caplak adalah permukaan bagian bawah perut kanan dan kiri,
leher dan gelambir, serta bagian pantat dan bagian bawah pangkal ekor. Pada
peternak belum ada usaha yang digunakan untuk menghilangkan invasi lalat dan
caplak pada sapi. Namun, sapi PO memiliki kemampuan mengusir lalat dari
permukaan kulit karena kemampuan otot subkutan untuk menggerakkan kulit
(shaking). Mereka juga mengeluarkan sebum, zat berminyak, dari kulitnya, yang
efektif dalam mengusir serangga.
Cekaman stress yang dialami ternak sapi tidak lepas dari mekanisme
hormonal yang terjadi dalam tubuh. Turunnya produksi pada ternak yang
dipelihara pada lingkungan panas karena adanya perubahan pada sistem
hormonal. Suhu lingkungan yang tinggi akan menurunkan kandungan hormon
tiroid dan beberapa hormon reproduksi. Lain halnya dengan hormon yang berasal
dari korteks adrenal, seperti kortisol dan kortikosteron, akan meningkat. Hormon
kortisol adalah salah satu hormon yang dapat menunjukkan indikasi ternak ada
pada kondisi cekaman atau tidak.
Hasil analisis menunjukkan konsentrasi hormon kortisol sapi bali 6.16±1.26
(dengan kisaran 5.001-9.393 ng/mL) dan sapi PO 7.02±2.68 (dengan kisaran
4.824-13.965 ng/mL. Hasil ini dapat menerangkan bahwa sapi PO lebih menderita
terhadap cekaman panas daripada sapi bali. Grandin (1997) melaporkan bahwa
konsentrasi kortisol baseline pada sapi berkisar dari 0.5-9.0 ng/mL. Hormon
kortisol meningkat seiring dengan perlakuan penanganan dan terpapar matahari
dari kisaran 13-93 ng/mL. Peningkatan hormon kortisol pada saat cekaman
38
bertujuan
untuk
merangsang
terjadinya
glukoneogenesis
sebagai
usaha
penyediaan glukosa darah yang turun, salah satunya karena kekurangan pakan.
Gambar 10 Perbandingan BCS sapi PO dan sapi bali di tempat penelitian
(Sumber: dokumentasi pribadi)
Umumnya, efek negatif dari cuaca tidak diketahui pada sapi potong karena
bobot badan sapi tidak dicatat setiap hari. Padahal, jika periode stres lingkungan
lama, sapi dapat menderita konsekuensi serius, mempengaruhi kebutuhan energi,
konsumsi bahan kering, rata-rata pertambahan bobot harian, laju konsepsi, dan
dalam kasus ekstrim dapat menyebabkan kematian ternak (Arias dan Mader
2010).
Untuk itu, perlu dicari pencegahan yang mudah dan murah untuk
penggembalaan ternak sapi di area padang penggembalaan.
Sejumlah peneliti telah melaporkan manfaat pemberian naungan untuk
perkembangbiakan dan penggemukan sapi di lingkungan yang panas, yaitu
keuntungan dari segi penambahan bobot badan lebih tinggi, konversi pakan yang
lebih baik, laju respirasi dan suhu rektal yang lebih rendah (Clarke et al. 1994).
Pemberian
naungan dapat berupa
penggembalaan
dan
juga
shelter yang diletakkan di padang
penanaman
pohon-pohon
pelindung
di
area
penggembalaan. Penyediaan naungan dapat mencegah radiasi matahari sampai
50%.
39
Penyediaan air bersih yang cukup sangat penting untuk mereduksi panas
tubuh ternak pada saat meminum air. Sebaiknya, air minum juga diletakkan pada
tempat naungan sapi. Hal ini bertujuan agar suhu air minum tidak meningkat.
Berdasarkan penelitian Purwanto et al. (1996), respons fisiologi sapi perah akan
menurun dengan menurunnya suhu air minum yang dikonsumsi. Tempat air
minum agar terbuat dari fiber glass dan dapat mudah dipindah-pindahkan,
mengingat sistem beternak sapi yang bersifat ranch.
Cara lain untuk mengurangi beban panas tubuh sapi adalah dengan cara
menghindari menggembalakan ternak sapi untuk rotasi perpindahan lahan
penggembalaan di siang hari, serta mencegah dan mengurangi gigitan serangga
(lalat dan caplak) yang cenderung membuat ternak akan berkelompok bersamasama.
40
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Sapi
bali
memiliki
kemampuan
termoregulator
yang
lebih
baik
dibandingkan dengan sapi PO. Respons fisiologis sapi bali yang lebih rendah
daripada sapi PO baik pada saat musim barat maupun timur membuktikan bahwa
sapi bali lebih baik kemampuan melepas panas tubuhnya dibandingkan sapi PO.
Perbedaan cuaca antara musim barat bulan April dan musim timur bulan Mei
menunjukkan bahwa sapi bali mampu mempertahankan kondisi fisiologisnya
selama pergantian musim barat ke timur. Hal ini juga membuktikan bahwa
kemampuan aklimatisasi sapi bali lebih baik daripada sapi PO.
Kondisi tubuh sapi bali berdasarkan rataan Body Condition Score (BSC)
lebih tinggi dari sapi PO. Persentase skor BCS sapi bali lebih banyak berada pada
kondisi 3 (sedang), sedangkan sapi PO pada nilai 2 (kurus).
Saran
Diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh cuaca pada kepadatan
bulu, warna bulu, laju keringat, tingkah laku (utamanya panting score),
reproduksi, serta pola diurnal harian pada bangsa Bos indicus dan Bos javanicus
mengingat karakteristik sapi bali jantan dan betina yang berbeda warna.
41
DAFTAR PUSTAKA
Affandhy L, Situmorang P, Wijono DB, Aryogi, Rihandini PWP. 2002. Evaluasi
dan Alternatif Pengelolaan Reproduksi Usaha Ternak Sapi Potong pada
Kondisi Lapang. Laporan Loka Penelitian Sapi Potong. Grati.
Ariasa RA, Mader TL. 2010. Determination of potential risk of heat stress of
cattle in four locations of Central and Southern Chile. Arch Med Vet 42:33-39.
[BPS] Badan Pusat Statistik. 2010. Merauke dalam Angka. Merauke (ID): BPS.
Bernabucci U, Lacetera N, Baumgard LH, Rhoads RP, Ronchi B, Nardone A.
2010. Metabolic and hormonal acclimation to heat stress in domesticated
ruminants. Animal 4(7):1167–1183.
Beatty DT, Barnes A, Taylor E, Petchick D, McCarthy M, Maloney SK. 2006.
Physiological responses of Bos taurus and Bos indicus cattle to
prolonged,continuous heat and humidity. J Anim Sci 84:972-985.
Bligh J. 1976. Introduction to acclamatory adaptation-including notes on
terminology. Di dalam: Bligh J, Cloudsley-Thompson JL, Macdonald AG,
editor. Environmental Physiology of Animals. New York (US): J Wiley. P
219-229.
Brosh A, Aharoni Y, Degen AA, Wright D, Young B. 1998. Effects of solar
radiation, dietary energy, and time of feeding on thermoregulatory responses
and energy balance in cattle in a hot environment. J Anim Sci 76:2671–2677.
Clarke MR, Jeffery MR, Kelly AM. 1994. Some effects of shade on zebu cross
cattle in a feedlot. Proc Aust Soc Anim Prod 20:97-99.
Chytil MA, 2002. Physiological responses of “slick” versus normal haired
Holstein x Senepol crossbred cattle in Florida [Tesis]. Florida (US):
University of Florida.
Duke GE. 1977. Respiration in Birds. Di dalam: Swenson MJ, editor. Duke’s
Physiology of Domestic Animals, Review of Medical Physiology, Ed ke-9.
London (GB): Cornell University Pr.
Duke’s. 1995. Physiology of Domestic Animal. New York (US): University
Collage Camel, Comstock Pub.
Eigenberg RA, Hahn GL, Nienaber JA, Brown-Brandl TM, Spiers DE. 2000.
Development of a new respiration rate monitor for cattle. Trans Am Soc Agric
Engs 43(3):723-728.
42
Eigenberg RA, Brown-Brandl TM, Nienaber JA, Hahn GL. 2005. Dynamic
response indicators of heat stress in shaded and non-shaded feedlot cattle, part
2: predictive relationships. Biosystems Engineering 91(1):111–118.
Esmay ML. 1982. Principles of Animal Environment. Westport, Connecticut
(US): Avi Publishing Company Inc.
Frandson RD. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Srigandono B, Praseno K,
penerjemah. Yogyakarta (ID):Gadjah Mada University Pr.
Ganong. 1983. Review of Medical Physiology. Ed ke-11. California: Lange
Medical Publication.
Gaughan J, Lacetera N, Valtorta SE, Khalifa HH, Hahn L, Mader T. 2009.
Response of domestic animals to climate challenges. Di dalam: Ebi KL,
Burton I, McGregor GR, editor. Biometeorology for Adaptation to Climate
Variability and Change, Volume 1: Biometeorology. Dordrecht [DE]: Springer
Science+ Business Media B.V.
Gebremedhin KG, Hillman PE, Lee CN, Collier RJ, Willard ST, Arthington JD,
Brown-Brandl TM. 2008. Sweating rates of dairy cows and beef heifers in hot
conditions. Am Soc Agric Biol Eng 51(6):2167-2178.
Grandin T. 1997. Assessment of stress during handling and transport. J Anim Sci
75:249-257.
Hahn GL, Parkhurst AM, Gaughan JB. 1997. Cattle respiration rate as a function
of ambient temperature. Paper presented at the ASAE Mid-Central Meeting,
April 11-12, Paper No. MC97-121, St. Joseph, MI.
Hahn GL. 1999. Dynamic responses of cattle to thermal heat load. J Anim Sci 77
(supl 2):10–20.
Hansen PJ. 2004. Physiological and cellular adaptation of zebu cattle to thermal
stress. Animal Reproduction Science 82–83:349–360.
Hardjosubroto W. 1994. Aplikasi Pemuliabiakan Ternak di Lapangan. Jakarta
(ID): Grasido.
Hardjosubroto W, Astuti JM. 1994. Buku Pintar Peternakan. Jakarta (ID): PT.
Gramedia.
Kasa IW. 1997. Sweating rates and thermoregulation in male and female bali
cattle. AJAS 10(2):201-205.
Kelly RO, Martz FA, Johnson HD. 1968. Effect of environmental temperature on
ruminal volatile fatty acid levels with controlled feed intake. J Dairy Sci
50:531.
43
Littell RC, Henry PR, Ammerman CB. 1998. Statistical analysis of repeated
measures data using SAS procedures. J Anim. Sci 76:1216-1231.
Mader, TL. 2003. Environmental stress in confined beef cattle. J Anim Sci
81(Supl 2):E110-E119.
Mader TL, Davis MS, Brown-Brandl T. 2006. Enviromental factors influencing
heat stress in feedlot cattle. J Anim Sci 84:712-719.
McClanahan LK. 2007. Hair coat and steroidal implant effects on steers grazing
ndophyteinfected tall fescue during the summer. [Tesis]. Kentucky (US):
University of Kentucky.
McDowell RE. 1972. Improvement of Livestock in Warm Climates. California
(US): WH Freeman.
McLean JA, Whitmore WT, Young BA, Weingardt R. 1984. Body heat storage,
metabolism and respiration of cows Abruptly exposed and acclimatized to
cold and 18oC Environments. Can J Anim Sci 64:641-653.
McManus C, Louvandini H, Gugel R, LCB Sasaki, Bianchini E, Bernal FEM,
Paiva SR, Paim TP. 2011. Skin and coat traits in sheep in Brazil and their
relation with heat tolerance. Trop Anim Health Prod. 43:121–126.
Oldeman, LR, Las I, Muladi. 1980. An agroclimatic map of Kalimantan, Irian
Jaya dan bali, West and East Nusa Tenggara. Cont Centr Res Inst Agric.
Bogor.
Panjono, Widyobroto BP, Suhartanto B, Baliarti E. 2009. Pengaruh penjemuran
terhadap kenyamanan dan kinerja produksi sapi Peranakan Ongole. Buletin
Peternakan 33(1):17-22.
Purwanto BP, Abo Y, Sakamoto R, Furumoto F, Yamamato S. 1990. Diurnal
patterns of heat production and heart rate under thermoneutral conditions in
Holstein Friesian cows differing in milk production. Journal of Agricultural
Science (Camb.) 141:139.
Purwanto BP, Harada M, Yamamoto S. 1996. Effect of drinking-water
temperature on heat balance and thermoregulatory response in dairy heifers.
Aust J Agric Res 47:505-512.
Purwanto BP, Djafar DM, Murfi A. 2004. Pengaruh suhu air minum terhadap
respons termoregulasi sapi Holstein dara. J Pengembangan Peternakan
Tropis. 2:16-21.
Robertshaw D. 1985. Heat loss of cattle. Di dalam: Yousef MK, editor. Stress
Physiology in Livestock. Vol. I: Basic Principles. Boca Raton,FL (US): CRC
Pr. p 55–66.
44
Schmidt-Nielsen K. 1997. Animal Physiology : Adaptation and Environment. 5th
ed. Cambridge (GB): Cambridge Univ Pr.
Silanikove N. 2000. Effects of heat stress on the welfare of extensively managed
domestic ruminants. Livest Prod Sci 67:1-18.
Smith JJ, Kamping JP. 1988. Sirkulatory Physiology. 2nd ed. Baltimore (GB):
William & Wilkins.
Soeharsono. 2008. Bionomika Ternak. Indonesia (ID):Widya Padjadjaran
Taylor RE, Field TG. 2004. Scientific Form Animal Product. 8th ed. New Jersey
(GB): Pearson-Prenstice Hall.
Turner HG, Schleger AV. 1960. The significance of coat type in cattle. Aust J
Agric Res. 11:645-663.
Valtorta SE. 2006. Animal Production in changing climate. http://www.asrc.agri.
missouri.edu.
Walpole RE. 1995. Pengantar Statistika. Ed ke-3. PT. Jakarta (ID):Gramedia
Pustaka Utama.
Williamson G, Payne WJA. 1993. Pengantar Peternakan di Daerah Tropis.
Darmadja SGN D, penerjemah. Yogyakarta (ID): Gadjah Mada Univ Pr.
Willmer P, Stone G, Johnston I. 2005. Environmental physiology of animals. 2th
ed. Australia (AU): Blackwell Publishing.
Young BA, Hall AB, Goodwin PJ, Gaughan JB. 1997. Identifying excessive heat
load. Livestock Environment V 1:572-6.
Yousef MK. 1985. Stress Physiology in Livestock, Volume I : Basic Principles.
Florida (US): CRC Pr.
45
LAMPIRAN
46
Lampiran 1 Analisis suhu kulit sapi PO dan bali musim barat bulan April
Prosedur GLM
Analisis ragam pengujian berulang (repeated measures)
Uji hipotesis untuk pengaruh antar subjek
Sumber Keragaman
DB
JK
KT
F
1.84
bangsa
1
3.67
3.67
Error
28
55.87
1.997
Pr > F
0.19
Prosedur GLM
Analisis ragam pengujian berulang (repeated measures)
Uji univariat hipotesis untuk pengaruh di dalam subjek
Sumber keragaman
DB
JK
KT
F
Pr > F
Adj Pr > F
G-G
H-F
waktu
20
891.52
44.58
28.08
<.0001
<.0001
<.0001
waktu*bangsa
20
180.38
9.019
5.68
<.0001
<.0001
<.0001
Error(waktu)
560
888.90
1.59
47
Lampiran 2 Analisis suhu kulit sapi PO dan bali musim timur bulan Mei
Prosedur GLM
Analisis ragam pengujian berulang (repeated measures)
Uji hipotesis untuk pengaruh antar subjek
Sumber Keragaman
DB
JK
KT
F
Pr > F
10.42
0.0032
bangsa
1
49.20
49.20
Error
28
132.16
4.72
Prosedur GLM
Analisis ragam pengujian berulang (repeated measures)
Uji univariat hipotesis untuk pengaruh di dalam subjek
Sumber Keragaman
DB
JK
KT
F
Pr > F
Adj Pr > F
G-G
H-F
waktu
20
721.61
36.08
22.08
<.0001
<.0001
<.0001
waktu*bangsa
20
98.71
4.93
3.02
<.0001
0.0007
<.0001
Error(waktu)
560
915.02
1.63
48
Lampiran 3 Analisis suhu rektal sapi PO dan bali musim barat bulan April
Prosedur GLM
Analisis ragam pengujian berulang (repeated measures)
Uji hipotesis untuk pengaruh antar subjek
Sumber Keragaman
DB
JK
KT
F
2.07
bangsa
1
2.73
2.73
Error
28
36.95
1.32
Pr > F
0.16
Prosedur GLM
Analisis ragam pengujian berulang (repeated measures)
Uji univariat hipotesis untuk pengaruh di dalam subjek
Sumber Keragaman
DB
JK
KT
F
Pr > F
Adj Pr > F
G-G
H-F
waktu
20
71.10
3.568
4.67
<.0001
0.02
0.018
waktu*bangsa
20
12.95
0.65
0.85
0.65
0.41
0.42
Error(waktu)
560
426.70
0.76
49
Lampiran 4 Analisis suhu rektal sapi PO dan bali musim timur bulan Mei
Prosedur GLM
Analisis ragam pengujian berulang (repeated measures)
Uji hipotesis untuk pengaruh antar subjek
Sumber Keragaman
DB
JK
KT
F
Pr > F
0.28
0.5985
bangsa
1
0.64
0.64
Error
28
62.95
2.25
Prosedur GLM
Analisis ragam pengujian berulang (repeated measures)
Uji univariat hipotesis untuk pengaruh di dalam subjek
Sumber Keragaman
DB
JK
KT
F
Pr > F
Adj Pr > F
G-G
H-F
waktu
20
40.23
2.01
6.44
<.0001
0.0002
<.0001
waktu*bangsa
20
8.06
0.40
1.29
0.18
0.28
0.28
Error(waktu)
560
175.02
0.31
50
Lampiran 5 Analisis suhu tubuh sapi PO dan bali musim barat bulan April
Prosedur GLM
Analisis ragam pengujian berulang (repeated measures)
Uji hipotesis untuk pengaruh antar subjek
Sumber Keragaman
DB
JK
KT
F
2.71
bangsa
1
2.85
2.85
Error
28
29.46
1.05
Pr > F
0.11
Prosedur GLM
Analisis ragam pengujian berulang (repeated measures)
Uji univariat hipotesis untuk pengaruh di dalam subjek
Sumber Keragaman
DB
JK
KT
F
Pr > F
Adj Pr > F
G-G
H-F
waktu
20
119.73
5.99
8.85
<.0001
0.0009
0.0006
waktu*bangsa
20
16.87
0.84
1.25
0.21
0.29
0.29
Error(waktu)
560
378.98
0.68
51
Lampiran 6 Analisis suhu tubuh sapi PO dan bali musim timur bulan Mei
Prosedur GLM
Analisis ragam pengujian berulang (repeated measures)
Uji hipotesis untuk pengaruh antar subjek
Sumber Keragaman
DB
JK
KT
F
1.43
bangsa
1
2.7
2.79
Error
28
54.42
1.94
Pr > F
0.24
Prosedur GLM
Analisis ragam pengujian berulang (repeated measures)
Uji univariat hipotesis untuk pengaruh di dalam subjek
Sumber Keragaman
DB
JK
KT
F
Pr > F
Adj Pr > F
G-G
H-F
waktu
20
77.41
3.87
13.66
<.0001
<.0001
<.0001
waktu*bangsa
20
8.99
0.45
1.59
0.05
0.17
0.15
Error(waktu)
560
158.67
0.28
52
Lampiran 7 Analisis denyut jantungs PO dan bali musim barat bulan April
Prosedur GLM
Analisis ragam pengujian berulang (repeated measures)
Uji hipotesis untuk pengaruh antar subjek
Sumber Keragaman
DB
JK
KT
F
0.54
bangsa
1
356.68
356.68
Error
28
18521.78
661.50
Pr > F
0.47
Prosedur GLM
Analisis ragam pengujian berulang (repeated measures)
Uji univariat hipotesis untuk pengaruh di dalam subjek
Sumber Keragaman
DB
JK
KT
F
Pr > F
Adj Pr > F
G-G
H-F
waktu
20
12061.67
603.08
8.65
<.0001
<.0001
<.0001
waktu*bangsa
20
4375.73
218.79
3.14
<.0001
0.0011
<.0001
Error(waktu)
560
39031.31
69.70
53
Lampiran 8 Analisis denyut jantung sapi PO dan bali musim timur bulan Mei
Prosedur GLM
Analisis ragam pengujian berulang (repeated measures)
Uji hipotesis untuk pengaruh antar subjek
Sumber Keragaman
DB
JK
KT
F
Pr > F
6.50
0.017
bangsa
1
8708.90
8708.90
Error
28
37523.35
1340.12
Prosedur GLM
Analisis ragam pengujian berulang (repeated measures)
Uji univariat hipotesis untuk pengaruh di dalam subjek
Sumber Keragaman
DB
JK
KT
F
Pr > F
Adj Pr > F
G-G
H-F
waktu
20
4117.24
205.87
3.97
<.0001
0.0003
<.0001
waktu*bangsa
20
3035.90
151.79
2.93
<.0001
0.0047
0.0010
Error(waktu)
560
29059.79
51.89
54
Lampiran 9 Analisis frekuensi pernapasan sapi PO dan bali musim barat bulan April
Prosedur GLM
Analisis ragam pengujian berulang (repeated measures)
Uji hipotesis untuk pengaruh antar subjek
Sumber Keragaman
DB
JK
KT
F
Pr > F
9.95
0.0038
bangsa
1
1382.48
1382.48
Error
28
3890.35
138.94
Prosedur GLM
Analisis ragam pengujian berulang (repeated measures)
Uji univariat hipotesis untuk pengaruh di dalam subjek
Sumber Keragaman
DB
JK
KT
F
Pr > F
Adj Pr > F
G-G
H-F
waktu
20
7528.40
376.42
19.40
<.0001
<.0001
<.0001
waktu*bangsa
20
2912.48
145.62
7.51
<.0001
<.0001
<.0001
Error(waktu)
560
10865.73
19.40
55
Lampiran 10 Analisis frekuensi pernapasan sapi PO dan bali musim timur bulan Mei
Prosedur GLM
Analisis ragam pengujian berulang (repeated measures)
Uji hipotesis untuk pengaruh antar subjek
Sumber Keragaman
DB
JK
KT
F
Pr > F
24.00
<.0001
bangsa
1
1489.13
1489.13
Error
28
1737.32
62.05
Prosedur GLM
Analisis ragam pengujian berulang (repeated measures)
Uji univariat hipotesis untuk pengaruh di dalam subjek
Sumber Keragaman
DB
JK
KT
F
Pr > F
Adj Pr > F
G-G
H-F
waktu
20
2355.23
117.76
12.40
<.0001
<.0001
<.0001
waktu*bangsa
20
471.04
23.55
2.48
0.0004
0.0072
0.0010
Error(waktu)
560
5316.64
9.49
56
Lampiran 11 Perkiraan berat badan sapi PO dan sapi bali berdasarkan lingkar dada
LINGKAR DADA DAN BCS SAPI PO
LD BULAN APRIL
Awal
Akhir
LD BULAN MEI
Awal
Akhir
UMUR
(thn)
BCS
No.
No. Sapi
1
452
137.00
2
481
144.00
143.00
3
465
153.00
153.00
4
436
137.00
136.00
136.00
5
475
167.00
164.00
164.00
158.50
5.5
2
6
444
173.00
171.50
171.50
170.50
5.5
3
7
421
170.00
170.50
170.50
171.00
4
2
8
411
166.00
164.00
164.00
163.50
2
3
9
505
144.00
142.00
142.00
140.00
2
1
10
542
146.00
144.00
144.00
142.50
5.5
2
11
536
158.00
155.00
155.00
156.00
2
3
12
539
142.00
143.00
143.00
142.00
4.5
2
13
532
141.00
140.00
140.00
139.00
4
1
14
504
158.00
156.00
156.00
152.50
4
3
15
591
144.00
143.00
143.00
140.50
5
1
16
543
145.00
145.00
145.00
146.00
5
2
17
565
143.00
145.00
145.00
146.00
5
2
18
501
151.00
152.00
152.00
150.00
5.5
2
Max
173.00
171.50
171.50
171.00
Min
137.00
136.00
136.00
135.00
137.50
LINGKAR DADA DAN BCS SAPI BALI
LD BULAN APRIL
No.
No. Sapi
Awal
Akhir
137.50
136.00
2
3
143.00
142.50
3.5
2
153.00
152.00
4
2
135.00
4,5
2
LD BULAN MEI
Awal
Akhir
2.11±0.68
UMUR
(thn)
BCS
1
428
145.00
146.50
146.50
147.00
3
3
2
219
142.00
141.00
141.00
140.50
3
3
3
211
133.00
132.50
132.50
130.00
2
2
4
238
138.00
138.50
138.50
139.00
3
3
5
283
136.00
138.00
138.00
142.00
4
3
6
256
137.00
138.50
138.50
140.00
4
2
7
279
143.00
144.00
144.00
145.00
3
3
8
224
130.00
132.50
132.50
134.00
2.5
2
9
264
134.00
132.00
132.00
131.50
2.5
2
10
210
138.00
136.00
136.00
133.00
2.5
3
11
230
126.00
127.50
127.50
129.00
3
2
200
4.5
12
137.00
138.00
138.00
139.00
Max
145.00
146.50
146.50
147.00
Min
126.00
127.50
127.50
129.00
3
2.58±0.51
57
Lampiran 12 Investasi telur cacing pada feses dari sapi PO dan sapi bali
SAPI PO
Hasil Pemeriksaan
No.
No. Sapi
+/-
Ket
1
2
3
4
1
452
-
+ telur cacing
2
481
-
strongyl natif
3
465
-
4
436
-
5
475
+
6
444
-
7
421
-
8
411
-
9
505
-
10
542
-
11
536
-
12
539
-
13
532
-
14
504
-
15
591
-
16
543
-
17
565
-
18
501
SAPI BALI
Hasil Pemeriksaan
No.
No. Sapi
+/-
Ket
1
2
3
4
1
428
-
+ telur cacing
2
219
-
strongyl natif
3
211
-
4
238
+
5
283
-
6
256
-
7
279
-
8
224
-
9
264
-
10
210
-
11
230
+
12
200
-
58
Lampiran 13 Kadar hormon kortisol dalam serum darah sapi PO dan sapi bali
DATA ANALISA SERUM CORTISOL
KIT : CORTISOL [125 I] KIT (Ref: RK-240CT)
No.urut
No. Sampel PO
1
Cortisol (ng/ml)
2
3
1
505
5.324
2
542
6.470
3
536
5.351
4
539
6.364
5
532
4.824
6
504
7.379
7
591
6.673
8
543
5.985
9
565
6.486
10
501
4.738
11
452
11.344
12
481
6.373
13
465
6.377
14
436
5.210
15
475
13.965
16
444
12.345
17
421
6.088
18
411
5.090
Rata-rata
7.021±2.679
No.urut
No. Sampel Bali
1
Cortisol (ng/ml)
2
3
1
428
9.393
2
219
6.711
3
211
6.387
4
238
5.207
5
283
7.686
6
256
5.562
7
279
5.545
8
224
5.948
9
264
5.001
10
210
5.573
11
230
5.642
12
200
5.295
Rata-rata
6.163±1.262
59
Download