bab i pemanfaatan tanah instansi pemerintah

advertisement
DIKLAT PENGADAAN TANAH
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan kemudahan dalam menyelesaikan Modul Diklat Pengadaan Tanah.
Modul ini disusun agar peserta diklat dapat mempelajari dan memahami materimateri yang diberikan.
Pada kesempatan ini pula, kami menyampaikan rasa terima kasih kepada semua
pihak yang terlibat, yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Semoga Tuhan
Yang Maha Esa membalas semua kebaikan dan jerih payah Saudara-saudara
sekalian.
Semoga modul ini dapat memberikan pengetahuan yang lebih luas kepada
pembaca, khususnya peserta diklat. Akhir kata dengan segala kerendahan hati,
penyusun menerima kritik dan saran membangun dari pembaca.
Terima kasih.
Jakarta,
September 2015
Plt. Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan,
Ir. Iwan Taruna Isa, MURP.
NIP. 19580930 198303 1 001
Pusdiklat Kementerian ATR/BPN 2015
i
DIKLAT PENGADAAN TANAH
DAFTAR ISI
Hal
KATA PENGANTAR ..................................................................................................................................... i
DAFTAR ISI .................................................................................................................................................. ii
BAB I PEMANFAATAN TANAH INSTANSI PEMERINTAH .................................................................. 1
A.
Latar Belakang .......................................................................................................................... 1
B.
Tujuan dan Kegunaan Pemanfatan Tanah .............................................................................. 2
C.
Konsep Dasar Pemanfaatan Tanah.......................................................................................... 3
D.
Dasar Hukum Pemanfaatan Tanah Pemerintah ...................................................................... 5
E.
Dasar Dasar Pengaturan Pemanfaatan Tanah........................................................................ 6
F.
Perkembangan Praktik Pemanfaatan Tanah Pemerintah ...................................................... 7
BAB II GAMBARAN UMUM DIREKTORAT PEMANFAATAN.............................................................................. 9
TANAH PEMERINTAH ...................................................................................................................................... 9
A.
Susunan Organisasi dan Tata Kerja ......................................................................................... 9
B.
Tugas Pokok dan Fungsi Direktorat Pemanfaatan Tanah Pemerintah................................. 10
C.
Prosedur Pelayanan Standar Pemanfaatan Tanah ............................................................... 10
D.
Rencana pengusahaan tanah jangka pendek dan jangka panjang;..................................... 11
E.
PELAKSANAAN PEMANTAUAN PEMANFAATAN TANAH PEMERINTAH, BUMN DAN BUMD
DI BERBAGAI PROVINSI DI INDONESIA .................................................................................. 12
BAB III LAPORAN PELAKSANAAN PEMANTAUAN PEMANFAATAN TANAH PEMERINTAH .......................... 16
A.
Pemantauan Pemanfaatan Tanah Pemerintah di lingkungan Kantor Wilayah BPN Provinsi
DKI Jakarta .............................................................................................................................. 16
B.
Pemantauan Pemanfaatan Tanah Pemerintah di Lingkungan Kantor Wilayah BPN Provinsi
Jawa Timur .............................................................................................................................. 17
D.
Pemantauan Pemanfaatan Tanah Pemerintah di Kantor Lingkungan Wilayah BPN Provinsi
Sumatera Selatan ................................................................................................................... 19
E.
Pemantauan Pemanfaatan Tanah Pemerintah di Kantor Wilayah BPN Provinsi Gorontalo
................................................................................................................................................. 19
F.
Pemantauan Pemanfaatan Tanah Pemerintah di Kantor Wilayah BPN Provinsi Riau ........ 20
G.
Pemantauan Pemanfaatan Tanah Pemerintah di Lingkungan Kantor Wilayah BPN Provinsi
Jawa Barat: ............................................................................................................................. 20
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................................... 23
Pusdiklat Kementerian ATR/BPN 2015
ii
DIKLAT PENGADAAN TANAH
BAB I
PEMANFAATAN TANAH INSTANSI
PEMERINTAH
A.
Latar Belakang
Pemanfaatan tanah merupakan bagian kegiatan dari pengelolaan barang
milik negara/daerah yang berkaitan dengan pengusahaan tanah aset oleh pihak
ketiga yang melahirkan hak-hak pihak ketiga di atas tanah aset pemerintah (HPL,
HGU, Hak Milik, HGB dan Hak Pakai), sewa menyewa tanah aset oleh pihak ketiga,
dialihkan, musnah dan tatacara penghapusan tanah aset tersebut
Ketersediaan tanah bagi pembangunan untuk kepentingan umum dan
tertibnya pengelolaan tanah aset instansi pemerintah, Badan Usaha Milik Negara
(BUMN), dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) pasca penyelenggaraan
pengadaan tanah, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun
2012 jo. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara
jis. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2014 Pengelolaan Barang Milik
Negra/Daerah serta PMK 50 Tahun 2014 tentang Tata Cara Penghapusan Barang
Milik Negara menjadi salah satu latar belakang peningkatan fungsi Badan
Pertanahan Nasional menjadi Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan
Pertanahan Nasional sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 17
Tahun 2015 tentang Kementerian Agraria dan Tata Ruang.
Salah satu tugas penting dan sangat fundamental Kementerian Agraria
dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional adalah pelaksanaan pengadaan tanah
bagi pembangunan untuk kepentingan umum yang diamanatkan kepada
Direktorat Jenderal Pengadaan Tanah.
Sesungguhnya
Direktorat
Jenderal
Pengadaan
Tanah
terbentuk
merupakan amanat Pasal 6 dan Pasal 18 dari Undang-Undang Nomor 5 Tahun
1960 yang diimplementasikan dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012
tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum,
Pusdiklat Kementerian ATR/BPN 2015
1
DIKLAT PENGADAAN TANAH
sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 63 Tahun 2013 tentang
Badan Pertanahan Nasional yang juga telah meningkat fungsinya dari Deputi
Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum BPN RI menjadi Direktorat Jenderal
Pengadaan Tanah pada Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan
Nasional berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 17 dan 20 Tahun 2015.
Salah satu tugas fungsi Direktorat Jenderal Pengadaan Tanah yang
bermaksud mengelola tanah aset pemerintah secara tertib: administrasi
(terdaftar/tidak terdaftar), penerbitan hak (kesesuaian antara kegunaan dan
fungsi), kesesuaian antara peruntukan dan pemanfaatan, pelaksanaan perjanjian
pemanfaatan dengan pihak ketiga, perjanjian pinjam pakai yang tunduk pada
ketentuan keperdataan dan
berpotensi untuk merekomendasikan pelepasan
tanah aset pemerintah.
Luasnya lingkup kegiatan pemanfaatan tanah dimulai dari inventarisasi
tanah terdaftar dan tidak terdaftar, monitoring dan evaluasi pemanfaatan tanah,
perijinan atas rekomendasi pemanfaatan tanah oleh pihak ketiga sampai
rekomendasi lepasnya tanah aset pemerintah (dialihkan/musnah). Oleh karena
itu, perlu pedoman standar kerja atau NSPK dalam mewujudkan pelayanan
pemanfaatan tanah tersebut.
B.
Tujuan dan Kegunaan Pemanfatan Tanah
1. Tujuan
Pemanfaatan tanah bermaksud mengusahakan tanah aset pemerintah BUMN dan
BUMD sesuai fungsi haknya dengan cara bekerja sama dengan pihak ketiga yang
melahirkan ha-hak pihak ketiga diatas tanah aset pemerintah, BUMN dan BUMD
yang tidak menebabkan hilangnya aset tersebut.
Dalam mewujudkan tujuan pemanfatan tanah perlu disusun Norma Standart
Prosedur Kerja (NSPK), yang berisikan lingkup pekerjaan pemanfaatan tanah bagi
kegiatan-kegiatan pemanfaatan tanah sebagai berikut:
a. Inventarisasi tanah aset pemerintah, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan
Usaha Milik Daerah (BUMD) yang terdaftar dan tidak terdaftar dalam rangka
penyusunan database: jumlah aset, jenis hak, penggunaan, pemanfaatan,
Pusdiklat Kementerian ATR/BPN 2015
2
DIKLAT PENGADAAN TANAH
perjanjian pihak ketiga di atas tanah aset termasuk perubahan penggunaan dan
pelepasan aset tersebut;
b. Monitoring dan evaluasi pemanfaatan tanah;
c. Pelaksanaan perijinan terhadap rekomendasi pemegang Hak Pengelolaan
dalam rangka kerjasama dengan pihak ketiga;
d. Pelaksanaan rekomendasi penghapusan tanah aset pemerintah.
2. Kegunaan Pemnfaatan Tanah
Pengelolaan Pemanfaatan tanah berguna sebagai : sumber pemasukan kekayaan
negara yang berkaitan dengan pengelolaan tanah pemerintah BUMN dan BUMD.
Sebagai akibat pemnafaatan tanah, maka akan menghasilkan data-data tentang :
a. Data aset terdaftar dan tidak terdaftar), Sebagai dasar penertiban tanah
pemerintah,
b. Data Penertiban penerbitan hak diatas tanah aset yang dikerjasamakan dengan
pihak ketiga
c. Data Kesesuaian Penggunaan, Peruntukan dan Pemanfaatan tanah pemerintah,
perwakilan negara asing dan Badan Dunia lainnya
d. Data rekomendasi perjanjian pemegang hak aset pemerintah dengan pihak
ketiga
e. Evaluasi atas perjanjian kerjasama antara pengelola dan pihak ketiga dan
sebagai dasar untuk menyusun langkah kebijakan yang harus dilakukan dalam
pelurusan pengelolaan tanah aset pemerintah yang pengelolaannya belum
sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku
C.
Konsep Dasar Pemanfaatan Tanah
1. Pengertian
Pemanfaatan tanah aset pemerintah tidak terlepas dari pemanfaatan barang
milik negara/daerah sebagaimana dimaksud dalam PP 27 Tahun 2014 tentang
pengelolaan barang milik negara dan daerah. Barang Milik Negara/Daerah
pada umumnya terbagi dalam 2 jenis yaitu bergerak dan tidak bergerak
Pusdiklat Kementerian ATR/BPN 2015
3
DIKLAT PENGADAAN TANAH
(tanah). Pemanfaatan tanah merupakan bagian dari kegiatan pengelolaan
barang milik negara disamping penggunaan, sewa menyewa, pinjam pakai,
dan kerjasama serta pelepasan tanah aset pemerintah sebagaimana diatur
dalam Pasal 1 Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2014 tentang
Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah.
Pemanfaatan tanah instansi pemerintah (lazim diberi istilah plat merah)
merupakan tugas pokok dan fungsi yang dibebankan kepada Direktorat
Pemanfaatan Tanah Pemerintah pada Direktorat Jenderal Pengadaan Tanah,
Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional. Konsep
konkretnya adalah pengusahaan tanah yang berstatus Hak Pengelolaan atau
hak lain (Hak Pakai/Hak Milik/Hak Guna Bangunan/Hak Guna Usah Milik
Pemerintah, BUMN dan BUMD) oleh pihak ketiga melalui perjanjian
kerjasama pemanfaatan tanah antara
pemegang Hak Pengelolaan/Hak
lainnya tersebut dengan pihak ketiga.
2. Lingkup Kegiatan Tugas Pemanfaatan Tanah Pemerintah
a. Inventarisasi tanah aset pemerintah, Badan Usaha Milik Negara (BUMN),
Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang terdaftar dan tidak terdaftar
dalam rangka penyusunan database: jumlah aset, jenis hak, penggunaan,
pemanfaatan, perjanjian pihak ketiga di atas tanah aset termasuk
perubahan penggunaan dan pelepasan aset tersebut.
b. Monitoring dan evaluasi pemanfaatan tanah
c. Pelaksanaan perijinan terhadap rekomendasi pemegang Hak Pengelolaan
dalam rangka kerjasama pihak ketiga terhadap aset
d. Pelaksanaan rekomendasi penghapusan tanah aset pemerintah.
3. Tujuan Pelaksanaan Tugas Pemanfaatan Tanah Pemerintah
Pelaksanaan tugas dan fungsi pemanfaatan tanah bermaksud mewujudkan:
a. Tertib administrasi tanah aset pemerintah (terlegalisasinya seluruh tanah
aset pemerintah)
Pusdiklat Kementerian ATR/BPN 2015
4
DIKLAT PENGADAAN TANAH
b. Tertib penerbitan hak (kesesuaian hak yang diterbitkan dengan peruntukan
tanah aset)
c. Tertib pemanfaatan dan peruntukan sesuai fungsi hak
d. Tertib penerbitan rekomendasi pengusahaan dan penghapusan tanah aset
pemerintah
4. Jenis Data Pemanfaatan Tanah Pemerintah
a. Data tentang jumlah, jenis hak, luas, letak tanah aset pemerintah;
b. Data tentang peruntukan;
c. Data tentang penggunaan;
d. Data tentang pemanfaatan;
e. Data tentang rekomendasi pengusahaan tanah oleh pihak ketiga;
f. Data tentang penghapusan (peralihan/musnah).
D.
Dasar Hukum Pemanfaatan Tanah Pemerintah
1) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan dasar Pokok-Pokok
Agraria
2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara;
3) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah Bagi
Pembangunan Untuk Kepentingan Umum;
4) Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1996 tentang Hak Guna Usaha, Hak
Guna Bangunan dan Hak Pakai atas Tanah;
5) Peraturan Menteri Negara Agraria Nomor 9 Tahun 1999 tentang Tata Cara
Pemberian dan Pembatalan Hak Atas Tanah Negara dan Hak Pengelolaan;
6) Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Barang Milik
Negara/Daerah;
7) Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional
Nomor 8 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Agraria Dan
Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional;
8) Keputusan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional
Nomor 167/KEP-7.1/VI/2015 tentang Hubungan Tugas Pokok dan Fungsi Unit
Pusdiklat Kementerian ATR/BPN 2015
5
DIKLAT PENGADAAN TANAH
Organisasi Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional
Pusat dengan Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional dan Kantor
Pertanahan
E.
Dasar Dasar Pengaturan Pemanfaatan Tanah
Hak menguasai negara, sebagaimana Putusan Mahkamah Konstitusi 1 ,
mencakup lima pengertian. Negara merumuskan kebijakan (beleid), termasuk
melakukan pengaturan (regelen daad), melakukan pengurusan (bestuurdaad),
mengelakukan pengelolaan (beheer daad) dan melakukan pengawasan (toezicht
houden daad) untuk tujuan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Berdasarkan
Pasal 2 Undang-Undang Pokok Agraria Nomor 5 Tahun 1960, Hak menguasai dari
Negara tersebut di atas pelaksanaannya dapat dikuasakan kepada daerah-daerah
Swatantra dan masyarakat-masyarakat hukum adat, sekedar diperlukan dan tidak
bertentangan dengan kepentingan nasional, menurut ketentuan-ketentuan
Peraturan Pemerintah. Berkaitan dengan itu, Ulvianus, Gayus, dan Van Kan serta
Bagir Manan mengatakan bahwa hak penguasaan negara yang lazim disebut
dengan verorgangstate memiliki 3 unsur pokok, yaitu mengatur (regelent),
mengurus (bestuuren), dan mengendalikan (toezicht houden) 2. Artinya, negara
dalam hal ini legislative wajib membuat peraturan perundang-undangan tentang
pengelolaan tanah, pemerintah wajib mendaftar seluruh tanah aset individu,
pemerintah dan masyarakat serta mengevaluasi dan pengendalian terhadap
penyimpangan, dan ketika subtansi tersebut merupaka kedaulatan tertinggi pada
hak-hak atas tanah.
Selanjutnya, Pasal 4 Undang-Undang Pokok Agraria Nomor 5 Tahun 1960
menjelaskan bahwa atas dasar hak menguasai dari negara sebagai yang dimaksud
dalam pasal 2 UUPA ditentukan adanya macam-macam hak atas permukaan bumi,
yang disebut tanah, yang dapat diberikan kepada dan dipunyai oleh orang-orang
baik sendiri maupun bersama-sama dengan orang lain serta badan-badan hukum.
Pusdiklat Kementerian ATR/BPN 2015
6
DIKLAT PENGADAAN TANAH
Pemanfaatan Tanah Pemerintah adalah pengusahaan tanah aset
pemerintah oleh pihak ketiga didasari perjanjian yang tunduk pada hukum tanah
dan hukum keperdataan paling lama 20 tahun, yang mengakibatkan PNBP
(budgeter function), tertibnya peruntukan dan penggunaan aset pemerintah serta
tidak menyebabkan hilangnya aset tersebut. Secara konkrit, pemanfaatan tanah
pemerintah diwujudkan dalam bentuk hak-hak yang lahir di atas Hak Pengelolaan
(HPL) dan perijinan perjanjian lain secara keperdataan yang tidak didaftar haknya.
F.
Perkembangan Praktik Pemanfaatan Tanah Pemerintah
Berdasarkan Keppres 26 tahun 1988, pengaturan pemanfaatan tanah
tertuju kepada pemberian perijinan oleh Badan Pertanahan Nasional sebelum
diterbitkan hak-hak derivative di atas Hak Pengelolaan sebelum diadakan
perjanjian penggunan oleh pihak ketiga, namun berdasarkan Peraturan …..
kewenangan pemberian ijin tersebut didelegasikan kepada kantor pertanahan dan
pemantauan terakhir perijinan tersebut tidak efektif.
Penerbitan hak-hak derivative di atas Hak Pengelolaan tidak lagi tertib
karena pemberian perijinan tersebut tidak lagi dilaksanakan sebagaimana
mestinya yang dilaksanakan oleh Badan Pertanahan Nasional. Sebagai akibatnya
terjadi ketidaktertiban antara peruntukan dan penggunaan, antara hak-hak yang
terbit sesuai pemegang haknya, tidak tertibnya penghapusan tanah aset
pemerintah serta berpotensi hilangnya tanah aset pemerintah karena digunakan
oleh pihak ketiga tanpa alas hak yang jelas.
Pusdiklat Kementerian ATR/BPN 2015
7
DIKLAT PENGADAAN TANAH
G.
Jenis Pemanfaatan Tanah Dalam Teori dan Praktek
Maria S.W Sumardjono 3 menyatakan bahwa dalam praktik terdapat
berbagai jenis hak pengelolaan, yaitu:
1. hak pengelolaan pelabuhan;
2. hak pengelolaan otorita;
3. hak pengelolaan perumahan;
4. hak pengelolaan pemerintah daerah;
5. hak pengelolaan transmigrasi;
6. hak pengelolaan instansi pemerintah;
7. hak pengelolaan industri/ pertanian/pariwisata/perkeretaapian.
Lebih lanjut, Maria S.W Sumardjono menjelaskan bahwa Hak Pengelolaan (HPL)
dalam kenyataannya (kondis real) dimiliki oleh:
1.
PT Kereta Api Indonesia (Persero),
2.
PT Pelabuhan Indonesia (Persero),
3.
PT Angkasa Pura (Persero),
4.
PT Jakarta Industrial Estate Pulogadung,
5.
PT Garuda Natour,
6.
PT Surabaya Industrial Estate Rungkut (Persero),
7.
PT Pasuruan Industrial Estate Rem-bang (Persero),
8.
Badan Otorita Batam,
9.
PD Pasar Surya Surabaya,
10. PD Pasar Jaya DKI Jakarta,
11. PD Sarana Jaya DKI Jakarta,
12. Perusahaan Umum Pembangunan Perumahan Nasional (Perum Pe-rumnas),
13. Pemerintah kabupaten/ kota.
Pusdiklat Kementerian ATR/BPN 2015
8
DIKLAT PENGADAAN TANAH
BAB II
GAMBARAN UMUM
DIREKTORAT PEMANFAATAN
TANAH PEMERINTAH
A.
Susunan Organisasi dan Tata Kerja
Direktorat Pemanfaatan Tanah Pemerintah dibentuk berdasarkan Peraturan
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN Nomor 8 Tahun 2015. Direktorat
Pemanfaatan Tanah Pemerintah terdiri dari:
1) Sub Direktorat Pemanfaatan Tanah:
a) Seksi Pemanfaatan Tanah Instansi;
b) Seksi Pemanfaatan Tanah Badan Usaha Pemerintah.
2) Sub Direktorat Pemantauan dan Evaluasi Pemanfaatan Tanah Pemerintah
a) Seksi Pemantauan dan Evaluasi Pemanfaatan Tanah Instansi;
b) Seksi Pemantauan dan Evaluasi Pemanfaatan Tanah Badan Usaha
Pemerintah.
Direktorat
Pemanfaatan Tanah Pemerintah
Subbagian Tata Usaha
Subdirektorat Pemantauan dan
Evaluasi Pemanfaatan Tanah
Pemerintah
Subdirektorat
Pemanfaatan Tanah
Seksi Pemanfaatan
Tanah Instansi
Seksi Pemanfaatan
Tanah Badan Usaha
Pemerintah
Seksi Pemantauan dan
Evaluasi Pemanfaatan
Tanah Instansi
Seksi Pemantauan dan Evaluasi
Pemanfaatan Tanah Badan
Usaha Pemerintah
Kelompok Jabatan Fungsional
Umum dan/atau Tertentu
Pusdiklat Kementerian ATR/BPN 2015
9
DIKLAT PENGADAAN TANAH
B.
Tugas Pokok dan Fungsi Direktorat Pemanfaatan Tanah Pemerintah
Direktorat Pemanfaatan Tanah Pemerintah, berdasarkan Pasal 435
Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN Nomor 8 Tahun 2015,
mempunyai tugas melaksanakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan,
penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria, dan pemberian bimbingan
teknis dan supervisi, serta pelaksanaan evaluasi dan pelaporan di bidang
pemanfaatan tanah pemerintah. Selanjutnya, Direktorat Pemanfaatan Tanah
Pemerintah menyelenggarakan fungsi:
1) penyiapan perumusan kebijakan di bidang pemanfaatan tanah pemerintah
serta pemantauan dan evaluasinya;
2) pelaksanaan kebijakan di bidang bidang pemanfaatan tanah pemerintah serta
pemantauan dan evaluasinya;
3) penyiapan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang
pemanfaatan tanah pemerintah serta pemantauan dan evaluasinya; +
4) pemberian bimbingan teknis, supervisi dan perizinan kerja sama di bidang
pemanfaatan tanah pemerintah serta pemantauan dan evaluasinya;
5) pelaksanaan pemantauan, evaluasi dan pelaporan di bidang pemanfaatan
tanah pemerintah serta pemantauan dan evaluasinya; dan
6) pelaksanaan urusan tata usaha Direktorat
C.
Prosedur Pelayanan Standar Pemanfaatan Tanah
Prosedur Pelayanan Standar Pemanfaatan Tanah yang akan disusun terdiri dari:
1) NSPK tentang inventarisasi tanah instansi pemerintah dan badan usaha
pemerintah;
2) NSPK tentang monitoring dan evaluasi pemanfaatan tanah instansi
pemerintah dan badan usaha pemerintah;
3) NSPK tentang pemanfaatan tanah pemerintah dalam rangka pemberian ijin
atas rekomendasi pemegang HPL kepada pihak ketiga;
4) NSPK tentang pemanfaatan tanah pemerintah dalam rangka pelepasan tanah
aset pemerintah;
Pusdiklat Kementerian ATR/BPN 2015
10
DIKLAT PENGADAAN TANAH
Pemanfaatan tanah khususnya pengusahaan tanah di atas HPL oleh pihak
ketiga sangat erat kaitannya dengan penerbitan awal hak pengelolaan. Hak
pengelolaan seharusnya lahir sangat tergantung oleh rencana penggunaan awal
hak-hak pengusahaan di atasnya. Sehingga pihak ketiga yang akan memperoleh
hak derivative diatas hak pengelolaan telah mengadakan permohonan
peruntukan sebelum terbitnya HPL. Pasal 69 Peraturan Menteri Negara
Agraria/Kepala BPN Nomor 9 Tahun 1999 Jo. Peraturan Kepala BPN Nomor 1
Tahun 2010 menjelaskan permohonan Hak Pengelelolaan (HPL) harus memenuhi
persyaratan sebagai berikut:
a. Formulir Permohonan yang sudah diisi dan tandatangani Pemohon atau
Kuasanya diatas materai cukup memuat identitas pemohon, luas, letak dan
penggunaan tanah, pernyataan tidak sengketa dan pernyataan tanah dikuasai
secara fisik;
b. Surat Kuasa apabila dikuasakan;
c. Fotocopy identitas permohonan atau surat keputusan pembentukkannya atau
akta pendirian perusahan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku;
D.
Rencana pengusahaan tanah jangka pendek dan jangka panjang;
1) Izin lokasi atau Surat Izin Penunjukan Penggunaan Tanah atau Surat Izin
Pencadangan Tanah sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah;
2) Bukti pemilikan dan atau bukti perolehan tanah berupa sertipikat,
penunjukan atau penyerahan dari Pemerintah Pelepasan Kawasan Hutan
dari Instansi yang berwenang;
3) Surat Persetujuan atau Rekomendasi dari Instansi terkait apabila diperlukan;
4) Surat Ukur atau Peta Bidang Tanah;
5) Surat penyataan atau Bukti bahwa seluruh modalnya dimilik oleh
Pemerintah;
6) Akta Perjanjian penyerahan dan penggunaan tanah antara pemegang HPL
dengan pihak ketiga yang dibuat dihadapan Notaris;
Pusdiklat Kementerian ATR/BPN 2015
11
DIKLAT PENGADAAN TANAH
7) Fotokopi SPPT PBB Tahun berjalan, Asli bukti SSB (BPHTB) dan bukti SSP/PPh
sesuai ketentuan
Di atas tanah Hak Pengelolaan dapat diberikan Hak Guna Bangunan (HGB)
atau Hak Pakai (HP). Kedua hak ini merupakan hak yang lahir karena adanya
perjanjian antara pemegang HPL dengan pihak ketiga sesuai ketetapan waktu
dan ketentuan lain yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. Hak Guna
Bangunan (HGB) diatas Hak Pengelolaan dapat dijaminkan dan dialihkan atas
seijin pemegang Hak Pengelolaan (HPL).
E.
PELAKSANAAN PEMANTAUAN PEMANFAATAN TANAH PEMERINTAH, BUMN
DAN BUMD DI BERBAGAI PROVINSI DI INDONESIA
1. Dasar Pelaksanaan Pemantauan Pemanfaatan Tanah Pemerintah
a) Peraturan Presiden Nomor 17 Tahun 2015 tentang Kementerian Agraria dan
Tata Ruang;
b) Peraturan Presiden Nomor 20 Tahun 2015 tentang Badan Pertanahan
Nasional;
c) Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan
Nasional Nomor 8 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja
Kementerian Agraria Dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional;
d) Keputusan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan
Nasional Nomor 167 /KEP-7.1/VI/2015 tentang Hubungan Tugas Pokok dan
Fungsi Unit Organisasi Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan
Pertanahan Nasional Pusat dengan Kantor Wilayah Badan Pertanahan
Nasional dan Kantor Pertanahan;
e) Surat Perintah Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan
Nasional Nomor 46/SPh/VI/2015 tentang Penunjukan Pelaksana Tugas Pada
Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional;
f) Surat Tugas Nomor 65/ST/DJPT/VI/2015, Tanggal 30 Juni 2015  DKI;
g) Surat Tugas Nomor 03/ST-PD/DPTP/VI/2015, Tanggal 30 Juni 2015 DKI;
h) Surat Tugas Nomor 07/ST-PD/DPTP/VI/2015, Tanggal 30 Juni 2015  DKI;
i) Surat Tugas Nomor 09/ST-PD/DPTP/VII/2015, Tanggal 28 Juli 2015  Jatim;
Pusdiklat Kementerian ATR/BPN 2015
12
DIKLAT PENGADAAN TANAH
j)
Surat Tugas Nomor 10/ST-PD/DPTP/VII/2015, Tanggal 28 Juli 2015  Jatim;
k)
Surat Tugas Nomor 01/ST-PD/DPTP/VI/2015, Tanggal 30 Juni 2015 
Banten;
l)
Surat Tugas Nomor 02/ST-PD/DPTP/VI/2015, Tanggal 30 Juni 2015 
Banten;
m) Surat Tugas Nomor …/ST/DJPT/VIII/2015, Tanggal … Agustus 2015 
Palembang;
n) Surat Tugas Nomor 14/ST-PD/DPTP/VIII/2015, Tanggal 7 Agustus 2015 
Palembang;
o) Surat Tugas Nomor 15/ST-PD/DPTP/VIII/2015, Tanggal 7 Agustus 2015 
Palembang;
p) Surat Tugas Nomor 19/ST-PD/DPTP/VIII/2015, Tanggal 10 Agustus 2015 
Gorontalo;
q) Surat Tugas Nomor 20/ST-PD/DPTP/VIII/2015, Tanggal 10 Agustus 2015 
Gorontalo;
r)
Surat Tugas Nomor …/ST/DJPT/VIII/2015, Tanggal … Agustus 2015 
Lampung;
s)
Surat Tugas Nomor 21/ST-PD/DPTP/VIII/2015, Tanggal 25 Agustus 2015 
Lampung;
t)
Surat Tugas Nomor 23/ST-PD/DPTP/VIII/2015, Tanggal 25 Agustus 2015 
Riau;
u) Surat Tugas Nomor …/ST/DJPT/VIII/2015, Tanggal … Agustus 2015  Jabar;
v)
Surat Tugas Nomor 29/ST-PD/DPTP/IX/2015, Tanggal 8 September 2015 
Jabar;
w) Surat Tugas Nomor 30/ST-PD/DPTP/IX/2015, Tanggal 8 September 2015 
Jabar;
2. Tujuan Pemantauan Pemanfaatan Tanah Pemerintah
1) Melaksanakan Penyusunan Data Inventarisasi Tanah Instansi dan Badan
Usaha Pemerintah;
Pusdiklat Kementerian ATR/BPN 2015
13
DIKLAT PENGADAAN TANAH
2) Melaksanakan Monitoring dan Evaluasi Pemanfaatan Tanah Instansi dan
Badan Usaha Pemerintah.
3) Menyusun NSPK tentang inventarisasi tanah instansi pemerintah dan badan
usaha pemerintah;
4) Menyusun NSPK tentang monitoring dan evaluasi pemanfaatan tanah
instansi pemerintah dan badan usaha pemerintah;
5) Menyusun NSPK tentang pemanfaatan tanah pemerintah dalam rangka
pemberian ijin atas rekomendasi pemegang HPL kepada pihak ketiga;
6) Menyususn NSPK tentang pemanfaatan tanah pemerintah dalam rangka
pelepasan tanah aset pemerintah;
3. Sasaran Pemantauan Pemanfaatan Tanah Pemerintah
Sasaran pemantauan pemanfaatan tanah pemerintah adalah tanah-tanah aset
instansi pemerintah, BUMN dan BUMD, terutama yang digunakan baik didasari
perjanjian maupun tidak dengan perjanjian, yang berstatus Hak Pengelolaan, Hak
Milik, Hak Guna Bangunan, Hak Guna Usaha dan Hak Pakai atas nama instansi
pemerintah, BUMN, BUMD, Badan Dunia dan Kedutaan.
4. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Pemantauan Pemanfaatan Tanah Pemerintah
Pelaksanaan pemantauan pemanfaatan tanah pemerintah dilaksanakan pada:
1) Lingkungan Kantor Wilayah BPN Provinsi DKI Jakarta, pada tanggal 1-3 Juli
2015 dengan uji petik di
a. Kantor Pertanahan Kotamadya Jakarta Pusat
b. Kantor Pertanahan Kotamadya Jakarta Utara
c. Kantor Pertanahan Kotamadya Jakarta Selatan
d. Kantor Pertanahan Kotamadya Jakarta Timur
e. Kantor Pertanahan Kotamadya Jakarta Barat
2) Lingkungan Kantor Wilayah BPN Provinsi Jawa Timur, pada tanggal 29-31 Juli
2015 dengan uji petik di
a. Kantor Pertanahan Kota Surabaya I
b. Kantor Pertanahan Kota Surabaya II
Pusdiklat Kementerian ATR/BPN 2015
14
DIKLAT PENGADAAN TANAH
3) Lingkungan Kantor Wilayah BPN Provinsi Banten, pada tanggal 8-10 Juli 2015
dengan uji petik di
a. Kantor Pertanahan Kota Tangerang
b. Kantor Pertanahan Kota Tangerang Selatan
c. Kantor Pertanahan Kabupaten Serang
d. Kantor Pertanahan Kabupaten Tangerang
4) Lingkungan Kantor Wilayah BPN Provinsi Sumatera Selatan, pada tanggal 1921 Agustus 2015 dengan uji petik di
a. Kantor Pertanahan Kabupaten Ogan Ilir
b. Kantor Pertanahan Kota Palembang
5) Lingkungan Kantor Wilayah BPN Provinsi Gorontalo, pada tanggal 24-27
Agustus 2015 dengan uji petik di
a. Kantor Pertanahan Kota Gorontalo
b. Kantor Pertanahan Kabupaten Bone Bolango
c. Kantor Pertanahan Kabupaten Gorontalo
6) Lingkungan Kantor Wilayah BPN Provinsi Riau, pada tanggal 31 Agustus – 2
September sampai 2015 dengan uji petik di Kantor Pertanahan Kota
Pekanbaru
Pusdiklat Kementerian ATR/BPN 2015
15
DIKLAT PENGADAAN TANAH
BAB III
LAPORAN PELAKSANAAN
PEMANTAUAN PEMANFAATAN
TANAH PEMERINTAH
A.
Pemantauan Pemanfaatan Tanah Pemerintah di lingkungan Kantor Wilayah BPN
Provinsi DKI Jakarta
Hasil uji petik di 5 kantor pertanahan, pemanfaatan tanah pemerintah di
Provinsi DKI Jakarta diperoleh data konkret, sebagai berikut:
1) Masih belum diketahui jumlah tanah aset pemerintah, BUMN, BUMD,
Kedutaan dan Badan Dunia yang belum terdaftar dan jumlah telah terdaftar
dikarenakan belum pernah diadakan inventarisasi keseluruhan tanah aset
baik di pemda maupun pada satuan kerja masing-masing di pemerintah
daerah DKI
2) Diperkirakan sebagian besar tanah aset pemerintah DKI belum bersertipikat
(terlegalisasi
aset),
dan
masih
terdapat
tanah
aset
Pemerintah
Pusat/Daerah/BUMN/BUMD yang belum selesai proses sertipikasinya.
Hal ini dikarenakan belum memiliki alat bukti terutama yang perolehannya
tidak mengikuti prosedur hukum/ketentuan-ketentuan tentang pengadaan
tanah baik yang diperoleh dengan konversi berdasarkan Undang-Undang
Nomor 1 Tahun 1958, Undang-Undang Nomor 86 Tahun 1958, Peraturan
Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 1975, Keputusan Presiden Nomor 55
Tahun 1993, Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2005, Peraturan Presiden
Nomor 65 Tahun 2006, dan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 sehingga
administrasi tanah aset tersebut tidak tertib;
3) Masih
terdapat
status
hak
tanah
aset
Pemerintah
Pusat/Daerah/BUMN/BUMD yang tidak sesuai fungsi haknya (didasri
penggunaan, peruntukan dan pemanfaatan), seperti terbitnya Hak yang tidak
Pusdiklat Kementerian ATR/BPN 2015
16
DIKLAT PENGADAAN TANAH
sesuai dengan jenisnya di atas Hak Pengelolaan (HPL), sehingga penerbitan
haknya belum taat azas;
4) Akibat terputusnya kontrol Kementerian Agraria dan Tata Ruang/BPN, Kantor
Wilayah BPN Provinsi terhadap penerbitan jenis hak oleh Kantor Pertanahan
sehingga terbit hak-hak pihak ke 3, di atas tanah asset pemerintah yang
belum sesuai tugas dan fungsi pemegang HPL, sehingga tidak tertib
pemanfaatan tanahnya (terjadi penyimpangan pengelolaan tanah aset
antara pemanfaatan dan rencana peruntukannya);
5) Adanya potensi hilang aset dikarenakan tidak tertibnya isi rekomendasi
pemegang Hak Pengelolaan,
6) Adanya perubahan penggunaan tanah dan kepemilikan di atas tanah Hak
Pakai Kedutaan Besar Negara Asing,
7) Terdapat
perkembangan
jumlah
subyek
Hak
Pengelolaan
secara
significantyang tidak sesuai makna yang diatur dalam Pasal 67 Peraturan
Menteri Negara Agraria Nomor 9 Tahun 1999, sehingga keberadaan Hak
Pengelolaan tidak sesuai lagi pemanfaatannya;
8) Akibat adanya perjanjian keperdataan terhadap tanah aset pemerintah (yang
tidak tunduk pada ketentuan peraturan perundang-undangan pertanahan),
seperti sewa dan bangun guna serah (BOT) yang tidak terdaftar di Kantah
sehingga terjadi penggunaan pemanfaatan tanah yang tidak tertib, dan sulit
untuk dimonitoring.
B.
Pemantauan Pemanfaatan Tanah Pemerintah di Lingkungan Kantor Wilayah BPN
Provinsi Jawa Timur
Dari hasil uji petik di 2 kantor pertanahan, pemanfaatan tanah pemerintah
di Provinsi Jawa Timur didapat:
1) Belum ada data inventarisir tanah aset Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang
belum terdaftar, sehingga mengalami kesulitan dalam menetukan jumlah
keseluruhan bidang tanah aset Pemerintah Provinsi Jawa Timur, sebagai
bahan data base;
Pusdiklat Kementerian ATR/BPN 2015
17
DIKLAT PENGADAAN TANAH
2) Ditemukan beberapa permasalahan, antara lain adanya surat/kartu hijau di
Kantor Pertanahan Surabya II yang menyewakan tanah aset pemerintah
kepada masyarakat namun belum terbit haknya (atau perjanjian keperdataan
atas aset yang belum terdaftar melalui PNBP ) dengan dasar Perda Kota
Surabaya;
3) Belum ada peta permasalahan tanah aset yang dibangun di Provinsi Jawa
Timur;
4) Belum ada Data Penggunaan tanah di lapangan, pasca penerbitan hak
instansi
pemerintah,
sehingga
berpotensi
tehadap
penyimpangan
pemnfaatan aset anatara peruntukan dan pemanfatan, bahkan berpotensi
hilang;
5) Terdapat Hak Pengelolaan yang di atasnya terbit Hak Guna Bangunan telah
terbit terlebih dahulu;
6) Terdapat perkembangan jumlah subyek HPL yang dilaporkan oleh kantah
dalam memaknai pengertian calon pemegang HPL sebagaimana diatur dalam
Pasal 67 PMNA 9 Tahun 1999, sehingga keberadaan HPL tidak sesuai lagi
pemanfaatannya Akibat adanya perjanjian keperdataan terhadap tanah aset
pemerintah seperti sewa dan bangun guna serah yang tidak terdaftar di
Kantah (terjadi penggunaan pemanfaatan tanah yang tidak tertib);
7) Akibat tidak ada perijinan (kontrol adiministrasi) terhadap rekomendasi yang
dikeluarkan pemegang HPL dan hak-hak lain, sehingga terjadi jangka waktu
yang relatif singkat yang tidak sesuai ketentuan jangka waktu hak.
C.
Pemantauan Pemanfaatan Tanah Pemerintah di Lingkungan Kantor Wilayah BPN
Provinsi Banten
Dari hasil uji petik di 3 kantor pertanahan, pemanfaatan tanah
pemerintah di Provinsi Banten didapat:
1) Pemerintah Kota Tangerang tidak melaporkan inventarisasi Hak Pengelolaan
(HPL) yang dipunyai termasuk penggunaan dan data tentang jumlah kerja
sama dengan pihak ke tiga, seperti: HGB diatas HPL, sewa-menyewa dll.;
Pusdiklat Kementerian ATR/BPN 2015
18
DIKLAT PENGADAAN TANAH
2) Masih terdapat Jangka waktu pendaftaran HGB diatas HPL yang sudah lama
belum didaftar.
3) Terbangun pendapat dalam diskusi di Kantor Wilayah BPN Provinsi Banten,
yang menyatakan bahwa sebagai Jalan tengah ketentuan tentang HPL
PERUMNAS. Sebaiknya Perumnas sebagai garis penghubung antara
pemerintah sebagai penyedia dengan rakyat yang kurang mampu sebagai
pengguna diberikan HGB bukan HPL karena dikhawatirkan akan timbul
banyak rekomendasi yang menjadikannya lahan bisnis sehingga subyek
haknya harus lebih aktif, disamping untuk menghindari pemaknaan yang
keliru yang menyatakan bahwa perumnas merupakan tanah asset
pemerintah
D.
Pemantauan Pemanfaatan Tanah Pemerintah di Kantor Lingkungan Wilayah BPN
Provinsi Sumatera Selatan
Dari hasil uji petik di 2 kantor pertanahan, pemnfaatan tanah pemerintah
di Provinsi Sumatera Selatan didapat:
1) Masih tidak tertib alas hak yang mendasri perolehan tanah aset pemerintah,
BUMN dan BUMD sebagai akibat perlakuan kepala desa yang menerbitkan
surat tanah ganmda
2) Belum ada data tentang tanah aset yang terdaftar dan tidak terdaftar
3) Masih terdapat perolehan tanah aset pemerintah yang tidak prosedural
E.
Pemantauan Pemanfaatan Tanah Pemerintah di Kantor Wilayah BPN Provinsi
Gorontalo
Dari hasil uji petik di 3 kantor pertanahan, pemanfaatan tanah pemerintah
di Provinsi Gorontalo didapat:
1) Terdapat tanah aset yang dijual melalui lelang, dan dijadikan hotel oleh
pengushanya, yang seharusnya aset tesebut dapat di buatkan kerjasama
dengan pihak ketiga
Pusdiklat Kementerian ATR/BPN 2015
19
DIKLAT PENGADAAN TANAH
2) Masih terdapat perolehan aset atas nama instansi namun diatasnamakan
pembeli
F.
Pemantauan Pemanfaatan Tanah Pemerintah di Kantor Wilayah BPN Provinsi
Riau
Dari hasil uji petik di 1 kantor pertanahan, pemanfaatan tanah pemerintah
di Provinsi Riau didapat:
1) Terdapat penerbitan sertipikasi aset pemertintah didasri SKGR (srat
keterangan ganti rugi (over garapan). SKGR, berbeda filosofinya dengan
UUPA. Sistem pemilikan UUPA didasri negar menguasai, akan tetapi sistem
SKGR seoalh-olah negara memiliki. Hal ini membuat bias sistem pemilikan,
seolah-olah tanah negara diartikan negara memiliki (domein verklaring/asas
hukum agrria penjajahhan Belanda dulu)
2) SK pencadangan dianggap alas hak aset, sehingga penguasaan masyarakat
yang telah terbit/ada terlebih dahulu dianggap penggarap, sungguh
bertentangan dengan asas atau pilar-pilar hukum tanah nasional
G.
Pemantauan Pemanfaatan Tanah Pemerintah di Lingkungan Kantor Wilayah BPN
Provinsi Jawa Barat:
Dari hasil uji petik di 1 kantor pertanahan, pemanfaatan tanah pemerintah di
Provinsi Jawa Barat, didapat:
2) Masih terdapat kontroversial antara penegak hukum dan pelaksana/BPN
terkait pemaknaan yang mendalan tentang aset pemerintah berupa tanah
Hak Pakai, bahwa sesuai ketentuan apabila tidak dipergunakan lagi akan
kembali ke Negara, namun disisi lain di Undang-Undang tentang Pengelolaan
Milik Daerah hal tersebut adalah aset kekayaan negara sehingga dapat
dilelang menurut Undang-Undang dimaksud, dan hal ini dilakukan untuk
menghindari kerugian negara.
3) Multy tafsir tentang pemaknaan HPL, yang pada umumnya berpendapat,
bahwa HPL merupakan hak atas tanah atau tidak, sampai saat ini belum ada
Pusdiklat Kementerian ATR/BPN 2015
20
DIKLAT PENGADAAN TANAH
aturan yang secara khusus/tegas/lex spesialis mengatur lembaga HPL, selain
itu belum ada tata cara yang mengatur permohonan HPL .
4) Konteroversial antara, filosofi, Hukum Tanah dan UUPA tentang Prinsi
Negara memilik atau Negara menguasai, sehingga dalam pengelolaan
administrasi pertanahan, harus ada kehati-hatian dan jalan keluar terkait
definisi Tanah Negara, sehingga banyak korban di pihak pelaksana.
5) Berkaitan pengadaan tanah skala kecil penetapan lokasi wajib ada, guna
perlindungan bagi pelaksana.
6) Untuk pengadaan tanah bukan untuk kepentingan umum bukna
dipersyaratkan ijin lokasi, tetapi penetapan lokasi
7) Terdapat permasalahan terkait pengadaan tanah (perpanjangan jangka
waktu HGB aset badan usaha milik pemerintah), fisik sudah dikuasai namun
pemegang saham tidak mengakui, surat rekomendasi tidak dikeluarkan
Kanwil sehingga IMB tidak dapat dikeluarkan, dan jalan keluarnya bahwa
setiap perjanjian pihak ketiga di atas tanah aset harus diperiksa dan
dikeluarkan ijin kebolehan (gebooden) atau ketidakbolehan (verbooden)
untuk berusaha dalam rangka kerjasama di atas tanah aset
8) Kontroversial pemaknaan HPL, HGB dan HMRS dalam satu kesatuan obyek.
Seharusnya HGB atas nama kelompok rumah susun tidak dilekati lagi HPL
HPL disini sifatnya hanya lintas tugas pokok dan fungsi menjelang
penyerahannya menjadi HGB ke Kelompok penghuni RMS.
9) Masih terdapat HGB diatas HPL yang masih berlaku jangka waktunya namun
belum dimanfaatkan, sedangkan peruntukan pemberian haknya sudah tidak
sesuai tata ruang karena perubahan peraturan daerah tentang rencana tata
ruang wailayah, Bagaimana penyelesaian pelaksanaan pengadaan tanah
yang belum tuntas sebelum berlakunya Undang-Undang No. 2 Tahun 2012.
Sehingga, sebaiknya diberhentikan perjanjiannya
10) Kewenangan penandatanganan Surat Pernyataan Pelepasan Hak terkait
pengadaan tanah skala kecil, adalah dihadapan Kepala Kantor Pertanahan,
Pusdiklat Kementerian ATR/BPN 2015
21
DIKLAT PENGADAAN TANAH
11) Grondkaart menurut penegak hukum merupakan aset, sementara menurut
BPN bahwa Grondkaart bukan merupakan bukti hak sehingga perlu
penyamaan persepsi terhadap hal tersebut.
12) Tanah Negara (harus jelas tanah negara sesungguhnya adalah pengertian
semu/quasi) jika ada pemaknaan tanah negara terbebaskan dalam rangka
pengadaan tanah, ganti rugi atasnya ditujukan kepada penguasa fisik dan
yuridisnya, oleh karena itu permasalahan tersebut sering kali menimbulkan
akibat hukum, yang sesungguhnya yang mempermasalahkan tidak paham
akan prinsip tanah negara. Artinya, adalah sangat naif jika tanah negara
dimaknai sebagai tanah milik negara, karena negara tidak memiliki, tapi
menguasai (verorgaang(mengatur, mengurusi dan mengendalikan).
13) Hak Pakai yang diberikan selama dipergunakan namun tidak sesuai dengan
penggunaannya tidak batal dengan sendirinya atau dapat dibatalkan.
Namun, ditertiblan melalui pemanfaatan tanah
14) Hak Pakai batal secara otomatis hilang aset, tapi perbuatan hilangnya aset
belum tentu perbuatan menghilangkan aset.
15) Terhadap HPL Rasunawa yang akan dibangun dengan cara vertikal hanya
boleh dilakukan dengan sistem sewa namun pengusaha tidak setuju dengan
cara tersebut. Hal ini, tidak dapat kita modifikasi karena ketentuan hukum
16) Pertimbangan teknis pertanahan tidak harus dibuatkan dalam rangka
penyelenggaraan pengadaan tanah
17) Tana aset pemda berupa tanah yang diatasnya telah ada permukiman dan
tanah tersebut telah dikuasai masyarakat selama lebih kurang 20 tahun,
persyaratan pendaftarannya perlu pelepasan dan pengahapusan aset
sebahagimana diatur dala UU 1 Tahun 2004, Perpres 27 Tahun 2014 dan
PMK No. 50 Tahun 2014
18) Untuk pengadaan tanah dibawah 5 hektartidak dibenarkan ada konsinyasi
19) Dalam Peraturan KBPN No. 4 tahun 2006 disebutkan bahwa salah satu tugas
sub seksi tematik dan potensi tanah adalah sebagai pembina pejabat penilai
tanah, sehingga pembinaan penilai secara administrasi dan pelaksanaan
tugas wajib dilakukan oleh direktorat penilaian tanah
Pusdiklat Kementerian ATR/BPN 2015
22
DIKLAT PENGADAAN TANAH
DAFTAR PUSTAKA
1. Aslan Noor, konsepsi hak milik atas tanah bagi bangsa Indonesia ditinjau dari ajaran
Hak Asasi Manusia, disertai PPS Unpad, Bandung Tahun 2003, Hlm. 36. Lihat pula
John Locke, two treaties of sivil government. J.M. Dent & Sons Ltd, London, 1960
2. Arie S. Hutagalung, Tebaran Pemikiran Seputar Masalah Hukum Tanah, LPHI,
Jakarta, 2005
3. Arie S. Hutagalung, Serba Aneka Masalah Tanah (Suatu Kumpulan Karangan), FH UI,
Jakarta, 2002,
4. AP. Parlindungan, Komentar Tentang UUPA, Mandar Maju, Bandung, 1998
5. AP Parlindungan, Berakhirnya Hak-Hak Atas Tanah, Mandar Madju, 1990
6. John Salindeho, Masalah Tanah Dalam Pembangunan, Sinar Grafika, Jakarta, 1987,
7. Ronald Z. Titahelu, Penetapan Asas Hukum Umum Dalam Penggunaan Tanah (Suatu
kajian Filsafati dan Teoritik Tentang Pengaturan dan Penggunaan Tanah di
Indonesia, Disertasi PPS Unair, Surabaya, 1993
8. W.G. Vegting, Publiek Domein en zaken buiten den handal, N. Samson N.V., Alphen
aan de Rijn, 1946,
9. Maria SW Sumardjono, “Hak Pengelolaan: Perkembang-an, Regulasi, dan
Implementasinya”, Jurnal Mimbar Hu-kum, Edisi Khusus, September 2007,
Yogyakarta: Fakul-tas Hukum Universitas Gadjah Mada, hl
10. Keputusan Mahkamah Konstitusi putusan permohonan judicial review UU No.20
/2003 tentang Ketenagalistrikan Nomor 001-021-022/PUU-I/2003, UU No.22 /2001
tentang Minyak dan Gas Bumi Nomor 002/PUU-I/2003, dan Putusan Uji materi UU
No.7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air Nomor 058-059-060-063/PUU-II/2004
11. R. Subekti dan R. Tjitrosudibyo, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Terjemahan
Dari BW, Jakarta, 1995,
12. Diraman, Perundang-undangan Agraria di Indonesia, N.V. Masa Baru, Jakarta, 1952,
R. Rustandi Ardiwilaga, Hukum Agraria Indonesia Dalam Teori dan Praktik, N,V,
Masa Baru, Bandung, 1960.
Pusdiklat Kementerian ATR/BPN 2015
23
Download