Analisis Penggunaan Lahan Sawah dan Tegalan

advertisement
METODOLOGI PENELlTlAN
Kerangka Pendekatan
Studi pustaka menunjukkan bahwa evaluasi lahan merupakan prosedur baku dalam
penentuan kesesuaian lahan untuk suatu penggunaan (FAO, 1976; Beek, 1978;
CSRIFAO Staff, 1983; Puslittanak. 1993; Departemen Pertanian, 1997). Secara
umurn evaluasi lahan ini dilakukan dengan rnembandingkan kondisi fisik lingkungan
dengan persyaratan penggunaannya. Kendati demikian, penggunaan lahan yang
dijurnpai di suatu wilayah tidak hanya ditentukan oleh kesesuaiannya, tetapi juga
sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor lainnya (Barlowe. 1986; Mather, 1986; Sys.
van Ranst dan Debaveye, 1991; Rossiter. 1994).
Sesuai dengan tujuannya penelitian ini membutuhkan data fisik lahan yang
beragam.
Keadaan ini hanya rnungkin diperoleh bila daerah penelitian meliput
wilayah yang luas dengan sejarah penggunaan lahan yang cukup lama.
Untuk
menyederhanakan perrnasalahan ditempuh pendekatan sebagai berikut :
,
r
Digunakan wilayah yang memenuhi syarat agar dapat menjawab tujuannya
dan telah memiliki data spasial yang baik dan beragarn
r
Penelitian dibatasi hanya pada dua jenis penggunaan lahan saja, yaitu
penggunaan lahan sawah dan tegalan.
Studi pendahuluan rnenernukan bahwa hasil Studi Penggunaan Lahan DAS
Cirnanuk Hulu rnerniliki data yang berlimpah (Tim Studi LP-IPB, 1999). Selain itu
keterlibatan penulis dalam proyek tersebut memberikan peluang penyediaan data
yang cukup dalam rnenunjang pengurnpulan data primer.
Daerah Cimanuk Hulu terletak di bagian tirnur Propinsi Jawa Barat, tercakup pada
tiga wilayah kabupaten atau 27 kecarnatan, meliputi areal seluas 150.199 hektar.
Dari seluruh areal tersebut sekitar 25,6 persen merupakan lahan sawah dan kirakira 32,8persen rnerupakan areal tegalan, yang tersebar rnulai dari daerah rendah
hingga daerah pegunungan, pada lereng-lereng datar hingga daerah-daerah
berlereng curam. Selanjutnya berdasarkan data sosial ekonorni yang tersedia, yaitu
kerapatan jaringan jalan,
kerapatan penduduk, rumahtangga tani, lembaga
keuangan dan kios sarana prasarana pertanian, daerah ini merniliki karakteristik
sosial ekonomi yang sangat beragarn, sehingga cukup mernadai untuk digunakan
sebagai daerah penelitian.
Sebagai telah dikernukakan, sebagian dari areal penelitian rnerupakan kawasan
hutan negara, yaitu kawasan Perhutani dan kawasan PHPA. Peluang rnasyarakat
untuk dapat rnenggunakan kawasan ini sangat terbatas, sehingga berdasarkan
pertirnbangan itu maka areal-areal hutan negara tersebut dikeluarkan dari lingkup
penelitian. Demikian pula dengan daerah perkotaan yang penggunaannya sudah
pasti sebagai pemukirnan, areal tersebut juga dikeluarkan dari lingkup penelitian.
Peran kesesuaian lahan dan karakteristik lahan terhadap pola penggunaan lahan
sawah dan tegalan dipelajari dengan rnelakukan analisis statistik hubungan antara
proporsi lahan sawah dan tegalan pada setiap satuan lahan hornogen (SLH).
Proporsi penggunaan lahan sawah atau tegalan dalarn ha1 ini adalah perbandingan
antara luas penggunaan lahan sawah atau tegalan terhadap luas poligon SLH yang
dinyatakan dalam persen.
Sedangkan SLH adalah suatu areal yang rnerniliki
karakteristik fisik dan sosial ekonomi lahan yang relatif seragarn yang diperoleh dari
hasil analisis spasial karakteristik lahan daerah penelitian dengan rnenggunakan
sistirn inforrnasi geografi.
Karakteristik fisik dan sosial ekonomi lahan yang digunakan sebagai variabel adalah
karakteristik lahan yang berdasarkan studi pustaka diketahui rnernpengaruhi pola
penggunaan lahan. Menurut Sys et al. (1991). dan Oldernan (1984). karakteristik
fisik yang rnernpengaruhi penggunaan lahan adalah yang secara langsung rnaupun
tidak langsung rnernpengaruhi perturnbuhan dan budidaya tanarnan, kernudahan
dalarn teknik budidaya ataupun pengolahan lahan dan ketestarian lingkungan.
Karakteristik fisik lahan tersebut adalah curah hujan, ternperatur, penyinaran
matahari, kelembaban, kecepatan angin, kerniringan lereng, batuan perrnukaan,
singkapan batuan, drainase, tekstur dan struktur, fragrnen kasar, kedalaman tanah,
kandungan kalsium karbonat, gypsum, kapasitas tukar kation, kejenuhan basa,
kernasaman, kandungan nitrogen total, ketersediaan fosfat, kalium dan karbon
organik, kedalarnan sulfidik, serta salinitas dan alkalinitas (CSWFAO, 1983;
Puslittanak, 1993; Rossiter, 1994). Sedangkan karakteristik sosiaf ekonorni yang
rnempengaruhi pola penggunaan lahan adatah karakteristik yang terkait dengan
aspek lokasi atau aksesibilitas, kebijakan pernerintah, teknologi, modal, tenaga
kerja, pengelolaan dan status penguasaan lahan (Rossiter, 1994; Barlowe, 1986;
Mather, 1986).
Berdasarkan uraian tersebut maka variabel fisik lahan yang digunakan dalarn
penelitian ini adalah suhu udara dan curah hujan yang mewakili karakteristik iklirn,
kerapatan jaringan sungai sebagai indikator dari kemungkinan untuk rnendapatkan
pengairan, efevasi dan kerniringan lereng sebagai karakteristik topografi, serta
kedalaman tanah, kandungan pasir dan kandungan liat sebagai pewakil karakteristik
tanah. Karakteristik tanah lainnya, seperti reaksi tanah, kapasitas tukar kation dan
kandungan hara lainnya tidak digunakan sebagai variabel karena diperkirakan
rnerupakan hasil dari pola penggunaan lahan yang telah ada.
Variabel sosial ekonomi yang digunakan adalah kerapatan penduduk, kerapatan
rurnah tangga dan kerapatan rurnah tangga tani, yang rnerupakan indikator dari
ketersediaan lahan untuk setiap individu, rurnah tangga ataupun rurnah tangga tani.
serta indikator dari ketersediaan tenaga kerja dan konsurnen hasil-hasil pertanian.
Variabel sosial ekonomi lainnya adalah kerapatan jaringan jalan yang rnerupakan
indikator dari aksesibilitas, kerapatan lernbaga keuangan serta kerapatan kios
sarana dan prasarana pertanian sebagai indikator dari kelernbagaan penunjang
kegiatan pertanian.
Metode Penelitian
Pelaksanaan penelitian ini secara garis besar terbagi ke dalam beberapa tahapan,
yaitu (1) Penentuan satuan lahan hornogen, (2) Pernetaan penggunaan lahan dan
identifikasinya pada setiap SLH. (3) Pengolahan dan Analisis data. Secara skernatik
tahapan kegiatan penelitian ini disajikan pada Garnbar 2.
Penentuan Satuan Lahan Homogen
Satuan lahan hornogen diperoleh dari delineasi terhadap hasil turnpang-tepat
(overlaying) peta-peta ternatik bersekala 1 : 50.000, rneliputi peta lereng, elevasi,
tanah dan peta isohyet. Hasil turnpang-tepat ini rnenghasilkan peta satuan lahan
yarig rnerniliki satuan peta lebih detil dari peta-peta sebelumnya dengan karakteristik
Peta Lereng
Peta Elevasi
I
Peta Tanah
Peta lsohyet
Peta Satuan Lahan
(karakteristik lereng, elevasi.
tanah dan curah hujan homogen)
Peta Jaringan
Sungai IDrainase
I
c
++
J
Peta Administrasi
Oesa
Peta Jaringan
Jalan
Peta Satuan Lahan
(karakteristik fisik homogen)
:
I
lnterpretasi Foto
udara
+
I
I
' I
Peta Satuan Lahan Homogen
(karakteristik fisik dan sosial ekonomi)
'
\
j
:
Peta Penggunaan
Lahan Sementara
+
I
I
:
Venfikasi lapangan
+
Pets Penggunaan
+
tahan
I
Proporsi Penggunaan Lahan pada setiap SLH
Pengolahan dan Anatisis Data
P Penilaian kesesuaian untuk penggunaan lahan sawah dan tegalan
P Hubungan antara kesesuaian lahan dan penggunaan lahan
Variabel yang rnempengawhi penggunaan lahan sawah dan tegalan
Hubungan variabel dengan proporsi sawah dan tegalan pada setiap SLH
Gambar 2. Diagram Alir Tahapan Penelitian
/
lereng, elevasi, tanah dan curah hujan relatif seragarn. Terhadap peta satuan lahan
hasil turnpang-tepat ini kernudian dilakukan proses cross-table dengan peta jaringan
sungai. Berbeda dengan proses turnpang-tindih, hasil cross-table tidak rnernbentuk
satuan peta baru, tetapi rnenarnbah atribut satuan petanya dengan inforrnasi
kerapatan jaringan sungai.
Selanjutnya dilakukan cross-table antara peta satuan
administrasi desa dan peta jaringan jalan.
lahan dengan
peta
Peta administrasi memuat informasi
rnengenai potensi desa, terrnasuk juga inforrnasi rnengenai sosial ekonorni. Dengan
dernikian dari hasil cross-table tersebut atribut setiap satuan peta bertarnbah
dengan inforrnasi kerapatan jaringan jalan dan variabel sosial ekonomi. Variabelvariabel sosial ekonorni untuk poligon-poligon yang terletak dalarn suatu desa
adalah variabel dari desa tersebut, sedangkan poligon yang terletak pada dua desa
atau lebih, variabelnya secara tertirnbang dirata-ratakan dari kondisi sosial ekonorni
desa-desa tersebut. Hasil dari tahap ini adalah poligon-poligon satuan lahan yang
hornogen, baik rnenurut variabel fisik rnaupun sosial ekonorninya. Poligon-poligon
tersebut selanjutnya disebut sebagai satuan lahan hornogen atau SLH, yang
digunakan sebagai satuan analisis dalarn penelitian ini.
Peta lereng dibuat dari peta topografi yang tersedia, yaitu peta Topografi Java dan
Madura dari AMS, sekala I: 50.000, tahun 1943-1949, rneliputi lernbar 39lXL1-B,
39lXL-6. 39lXC-D, 40lXLl-A. 40lXL-D, 401XL-A, 40lXC-C, 40lXL-B, 40lXXXIX-D
dan
431XXXIX-C.
Berdasarkan kerniringan
lerengnya daerah studi dibedakan
dalarn 7 kelas kerniringan lereng, yaitu lereng A (0-3) %, B (3-8) %, C (8-15) %, D
(15-25) %. E (25-45)%, F (45-60)%, dan kelas G
(> 60 ) % (Lihat Gambar 6).
Satuan peta tanah sesungguhnya telah rnenyajikan variabel kelas lereng, tetapi
sebagian di antaranya rnasih dalarn selang yang terlalu lebar, sehingga untuk
rnernperoleh satuan lahan yang lebih hornogen perlu dilakukan pernbagian kelas
Iereng dalarn kelas yang lebih detil.
Peta elevasi juga dibuat dengan cara melakukan ekstraksi data ketinggian dari peta
topografi.
Sebagairnana halnya dengan variabel lereng, satuan peta tanah
sesungguhnya telah menyajikan variabel elevasi, tetapi sebagian di antaranya
rnasih dalarn selang yang terlalu lebar, sehingga untuk rnernperoleh satuan lahan
yang lebih hornogen dilakukan pernbagian elevasi yang lebih detil.
Amien, Sosiawan dan Susanti (1994), dalarn rnenyusun zona agroekologi untuk
pengernbangan pertanian rnernbedakan wilayah berdasarkan rejirn kelernbaban dan
rejirn suhu, yaitu rejirn lernbab panas pada elevasi kurang dari 750 rn dpl., rejirn
lembab sejuk pada elevasi antara 750
pada elevasi lebih dari 2.000 rn dpl.
- 2.000
rn dpl., dan rejirn yang lebih dingin
Untuk rnendapatkan garnbaran rnengenai
pengaruh elevasi terhadap pola penggunaan lahan, selang elevasi tersebut
diperkirakan rnasih terlalu lebar.
Dalarn penelitian ini elevasi dibedakan dalarn
sernbilan zona yaitu: < 300 rn. 300-600 m, 600-900 rn, 900-1.200 rn, 1.200-1 500 rn,
1.500-1.800 rn, 1.800-2.100 rn, 2.100-2.400 m, dan >2.400 m dpl. (Garnbar 5).
Peta tanah yang digunakan diperoleh dari hasil Studi Penggunaan Lahan DAS
Cirnanuk Hulu (Tim Studi LP-IPB, 1999).
Berdasarkan peta tersebut daerah
penelitian terbagi dalarn 169 satuan peta tanah (SPT) yang tersebar dalarn 281
potigon. Setiap SPT rnenyajikan inforrnasi rnengenai bentuk lahan, lereng, elevasi.
karakteristik fisik dan kirnia tanah, subgroup tanah, ketebalan solurn dan ukuran
butir.
Peta isohyet juga didapatkan dari hasil Studi Penggunaan Lahan DAS Cirnanuk
Hulu. Berdasarkan peta tersebut daerah studi terbagi rnenjadi 6 kelas curah hujan,
- 1.500) rnrn Itahun, (15 0 0 - 2.000) rnrn ltahun,
(2.000 - 2.500) rnrn ltahun, (2.500 - 3.000) rnrn Itahun, (3.000 - 3.500) rnrn Itahun,
dan (3.500 - 4.000) rnrn ltahun (Lihat Gambar 4).
yaitu curah hujan antara (1.000
Peta jaringan jalan dan jaringan sungai diturunkan dari peta topografi, dengan
tarnbahan informasi dari hasit interpretasi foto udara dan pengarnatan lapang.
Perbaikan data ini diperlukan karena peta topografi yang digunakan telah terlalu tua.
Dengan cara yang diternpuh ini berbagai perubahan yang terjadi, terutarna jaringan
jalan, tetap dapat dikornpilasi secara teliti.
Peta-peta ternatik tersebut di atas selanjutnya diubah menjadi data dijital dengan
rnenggunakan perangkat lunak ILWlS versi 1,4 DOS dan bantuan rneja dijitasi.
Dalam format dijital ini proses turnpang-tindih dan perhitungan-perhitungan luas
rnaupun kerapatan berbagai atribut lahan lebih mudah dilakukan.
Pemetaan Penggunaan Lahan dan ldentifikasinya pada Setiap SLH
lnforrnasi rnengenai penggunaan lahan diperoleh dari hasil interpretasi foto udara
sekala 3 : 50.000, pernotretan tahun 1993.
Dalarn ha1 ini pengenalan berbagai
obyek atau fenornena penggunaan lahan yang terekarn pada foto udara dilakukan
dengan rnernanfaatkan unsur-unsur interpretasi, seperti ukuran obyek, bentuk,
tekstur. warna, rona, tinggi, lokasi, asosiasi, dan lain-lain. Batas-batas penggunaan
lahan hasil interpretasi ini selanjutnya diptotkan ke atas peta dasar, rnenghasilkan
peta penggunaan lahan sernentara.
Peta dasar yang digunakan adalah peta
topografi skala 1 : 50.000.
Peta penggunaan lahan sementara ini kernudian diverifikasi di lapangan. lnformasi
penggunaan lahan yang masih meragukan atau belum bisa diperoleh rnelalui
interpretasi foto ditarnbahkan dan diperiksa kebenarannya dan hasifnya adalah peta
penggunaan lahan sekarang. Berdasarkan hasil pernetaan ini penggunaan lahan di
daerah studi dibedakan menjadi penggunaan lahan pemukiman, sawah, tegalan,
kebun campuran, semak belukar, lahan terbuka, perkebunan teh, danau dan hutan.
Selanjutnya peta ini juga diubah ke dalam bentuk dijital dengan rnenggunakan
perangkat lunak ILWlS versi 1.4 DOS.
lnformasi rnengenai distribusi penggunaan lahan pada setiap SLH diperoleh dari
hasil cross-table peta satuan lahan hornogen dengan peta penggunaan lahan. Hasil
proses ini rnenambah atribut SLH dengan data proporsi penggunaan lahan yang
disajikan dalam ukuran persentase terhadap luas SLH.
Setiap SLH rnungkin
ditempati oleh satu jenis atau lebih penggunaan lahan.
Pengolahan dan Analisis Data
Tahap awal dari pengolahan data adalah rnelakukan tabulasi dan menyirnpannya
dalam suatu basis data.
Pengolahan selanjutnya adalah melakukan evaluasi
kesesuaian untuk penggunaan lahan sawah dan tegalan terhadap sernua SLH.
Evaluasi dilaksanakan dengan menggunakan rnetode faktor pembatas rnaksirnum
(Sys, van Ran and Debaveye, 1991). sedangkan kriteria yang digunakan sebagai
acuan adalah kriteria yang dipublikasikan oleh Departemen Pertanian (1997).
Penilaian kesesuaian untuk padi sawah dilakukan dengan menggunakan kriteria
untuk padi sawah tadah hujan, sedangkan untuk tegalan dengan menggunakan
kriteria untuk berbagai tanaman tegalan yang banyak dijumpai di daerah penelitian,
yaitu padi ladang, jagung, kentang dan petsai. Padi ladang dan jagung merupakan
tanaman tegalan yang banyak dijumpai di daerah rendah, sedangkan kentang dan
petsai merupakan tanaman tegalan yang banyak dijumpai di daerah yang lebih
tinggi.
Kelas kesesuaian lahan untuk pengusahaan tegalan adalah tingkat
kesesuaian terbaik
untuk salah satu tanaman-tanaman tersebut.
Kriteria
kesesuaian lahan untuk budidaya tanaman-tanaman ini disajikan pada Tabel
Lampiran 1. Selanjutnya, hasil evaluasi kesesuaian lahan ini dibandingkan dengan
penggunaan lahannya dan dianalisis lebih mendalam untuk mengkaji hubungannya.
Hubungan antara variabel karakteristik lahan dengan proporsi penggunaan lahan
sawah dan tegalan pada setiap SLH pertama-tama dieksplorasi dengan analisis
korelasi linear partial. Analisis korelasi merupakan cara untuk mengukur hubungan
antara dua variabel atau sifat bersama yang dimiliki oleh variabel-variabel tersebut
dan tidak terkait dengan hubungan sebab akibat antara peubah bebas dan tidak
bebas.
Koefisien korelasi lebih menunjukkan derajat bervariasinya dua variabel
secara bersama-sama atau ukuran keeratan hubungan antara dua variabel tersebut
(Steel and Torrie, 1980).
Berdasarkan hasil analisis ini akan terlihat bagaimana keeratan hubungan antara
karakteristik lahan dengan proporsi penggunaan lahan pada setiap SLH.
Hanya
variabel-variabet yang berkorelasi nyata terhadap proporsi penggunaan lahannya
dan memiliki nilai koefisien korelasi cukup besar saja yang akan dianalisis hingga
pengembangan model penduga
proporsi penggunaan lahannya,
sedangkan
variabel-variabel yang berkorelasi nyata tetapi nilai koefisiennya terlalu rendah
hanya akan dianalisis secara deskriptif.
Analisis selanjutnya adalah dengan rnentabulasikan proporsi setiap penggunaan
lahan pada setiap kelas variabel karakteristik lahan.
Hasil analisis ini akan
rnemperlihatkan pola urnurn penggunaan lahan berdasarkan karakteristik lahan
tertentu, pada kondisi karakteristik lahan bagaimana suatu penggunaan lahan
dorninan dan pada kondisi bagairnana proporsi penggunaan lahan tersebut minimal
atau bahkan tidak dijurnpai sarna sekali.
Penyajian diagram pencar akan menyajikan bentuk hubungan antara setiap
karakteristik lahan dengan proporsi penggunaan lahan.
Dari diagram pencar ini
terlihat juga berapa proporsi rnaksirnurn penggunaan lahan sawah dan tegalan pada
setiap kelas karakteristik lahan tertentu. Sedangkan dengan diagram kotak garis
akan diketahui pernusatan data untuk setiap variabel dan pola hubungan urnurn
antara setiap variabel dengan proporsi penggunaan lahannya, serta pada kondisi
karakteristik lahan bagaimana penggunaan lahan tersebut dijurnpai paling banyak,
pajing minimum atau bahkan tidak dijurnpai sarna sekali. Diagram kotak garis
rnenyajikan juga penyirnpangan dari pola urnurn hubungan antara suatu karakteristik
lahan dengan proporsi penggunaan lahannya dalarn bentuk pencilan-pencilan.
Pengaruh suatu karakteristik lahan terhadap proporsi lahan sawah atau lahan
tegalan baru terlihat jelas pada kondisi dirnana karakteristik tahan tersebut rnenjadi
pernbatas untuk penggunaan lahan sawah atau lahan tegalan.
Sernakin besar
pernbatas dari karakteristik lahan tersebut akan sernakin rendah proporsi sawah
ataupun tegalan pada lahan tersebut. Model penduga pengaruh suatu karakteristik
lahan terhadap proporsi sawah atau tegalan dengan pola tersebut adalah :
Y = f (X)
dimana
untuk (X >C)
Y =
Proporsi penggunaan lahan (%)
X =
Karakteristik lahan
C =
Nilai atau ambang batas dimana karakteristik lahan mulai
menjadi pembatas untuk penggunaan lahan sawah atau
tegalan
Tahap awal dalam penyusunan model persamaan tersebut adalah memperkirakan
nilai C, ambang batas karakteristik lahan, berdasarkan hasil analisis diagram kotak
garis. Selanjutnya model persamaan regresi dikembangkan berdasarkan pada nilai
C tersebut.
Persamaan yang diperoleh kemudian diuji dengan menaikkan dan
menurunkan nilai C pada selang kelas karakteristik lahan di sekitarnya. Pengujian
dihentikan saat diperoleh koeffesien regresi terbaik.
Pengembangan model regresi penduga pengaruh karakteristik lahan terhadap
proporsi penggunaan sawah dan tegalan hanya dilakukan untuk variabel-variabel
yang berkorelasi nyata terhadap proporsi penggunaan lahannya dan memiliki nilai
koefisien korelasi yang retatif cukup besar. Dalam pelaksanaannya, karakteristik
fisik dan sosial ekonomi dari setiap SLH diasumsikan sebagai variabel bebas
(independent), sedangkan proporsi lahan sawah maupun tegalan merupakan
variabel tidak bebas (dependent).
Dalam pengembangan model ini digunakan beberapa asumsi sebagai berikut
a) Dalam setiap SLH mernpunyai atribut atau karakteristik hornogen dan
berbeda (unique) terhadap SLH lain
b) Setiap karakteristik lahan rnerupakan variabel bebas yang rnernpengaruhi
besarnya proporsi penggunaan lahan yang rnerupakan variabel tidak bebas
c) Pengaruh setiap karakteristik lahan terhadap proporsi penggunaan lahan
rnenyebar normal
d) Pengaruh setiap
karakteristik lahan bersifat aditif terhadap
proporsi
penggunaan lahan
e) Terdapat persaingan antara berbagai penggunaan lahan di areal studi.
Selanjutnya berdasarkan model tersebut dapat diketahui variabel karakteristik lahan
rnana yang paling dorninan rnernpengaruhi proporsi penggunaan lahan sawah dan
tegalan.
Dalarn penelitian ini, anatisis statistik ditakukan dengan menggunakan
piranti lunak SAS versi 6.12.
Tabel5.
Pembagian
Kecamatan
Kabupaten
Daerah
Penelitian
Kecamatan
Bandung
Cicalengka
Jumlah seluruh kabupaten
Garut
Pakenjeng
Banjannmngi
Leuwigoong
Cibiuk
Garut Kota
Kadungora
Cilawu
Karangpawitan
Selaawi
Cibatu
Tarogong
Cikajang
Banyuresmi
Bluburlimbangan
Sukawening
Bayongbong
Leles
Wanaraja
Malangbong
Cisurupan
Samarang
Jumtah seluruh kabupaten
Sumedang
Situraja
Darrnaraja
Cadasngampar
Cibugel
Wado
Jurnlah seluruh kabupaten
Jumlah seturuh DAS
Berdasarkan
Administrasi
Luas (ha)
-
1.587
1.586
179
675
1.492
1.704
2.618
3.668
4.985
5.045
5.130
5.434
5.507
5.809
6.416
7.151
7.281
7.521
7.770
8.374
9.830
11.392
12.143
120.124
3.415
3.879
5.115
6.467
9.612
28.489
150.199
Curah Hujan
Secara urnurn hujan di daerah penelitian diciriltan oleh hujan berintensitas tinggi
yang terjadi dalam waktu singkat. Hal ini terjadi sebagai akibat dari kenaikan suhu
udara hangat yang rneninggalkan masa daratan pada sore hari.
Selain hujan
seperti itu, masih dijurnpai juga hujan akibat pengaruh iklirn global seperti yang
dicirikan dengan hujan-hujan berintensitas rendah yang berlangsung dalarn waktu
relatif lama. Sebagian besar hujan di daerah penelitian berlangsung pada periode
rnusim angin Monsoon Baratan, November-April.
Hasil analisis curah hujan rnenunjukkan adanya pengaruh orografis pada hujan
tahunan di daerah penelitian, sehingga rnernungkinkan ontuk dibuat peta isohyet
hujan tahunannya (Gambar 4). Berdasarkan peta tersebut terlihat bahwa rata-rata
curah hujan tahunan di daerah penelitian b e ~ a r i a s dart
i
< 2000 rnrn di daerah
rendah, hingga > 3000 rnrn di daerah yang lebih tinggi.
Sebaran hujan bulanan menunjukkan adanya variasi hujan yang besar antara
rnusirn kernarau dengan musirn hujan.
Musim hujan daerah penelitian urnurnnya
berlangsung pada periode Oktober-April.
Bulan terbasah urnurnnya terjadi pada
Butan Desember-Maret, sedang bulan terkering terjadi pada Bulan Juli-Agustus.
Tipe lklim
Berdasarkan sistem klasifikasi Schmidt dan Fergusson, iklirn di daerah penelitian
dapat dibedakan rnenjadi tipe B, C, dan D. Tipe B urnurnnya dijurnpai di bagian
selatan daerah penefitian, tipe C di bagian tengah sedangkan tipe D dijurnpai di
bagian utara daerah penelitian. Tipe B rnenunjukkan daerah yang relatif basah, tipe
C merupakan daerah agak basah, sedang tipe D rnenunjukkan daerah sedang.
Menurut klasifikasi Oldeman daerah penelitian terbagi rnenjadi tipe D2, dan E3.
Tipe iklim D2 pada umurnnya dijumpai di bagian selatan daerah penelitian
sedangkan tipe iklirn E3 pada urnurnnya dijumpai di bagian utara daerah penelitian.
Tipe D2 menunjukkan daerah yang memiliki bulan basah, yaitu bulan dengan curah
-
hujan bulanan rata >200rnm, berturut-turut antara 3 4 bulan dan bulan kering, yaitu
bulan dengan curah hujan bulanan e 200 rnm, 2-3 bulan.
Sedangkan tipe E3
rnenunjukkan daerah yang rnerniliki bulan basah kurang dari 3 bulan dan bulan
kering antara 4-6 bulan.
Di daerah penelitian, khususnya di bagian Selatan,
cadangan air permukaan relatif berlirnpah sehingga tipe iklirn ini berdampak relatif
kecil terhadap pola tanam yang dilakukan petani.
Elevasi dan Kemiringan Lereng
Berdasarkan topografinya, daerah penelitian dibatasi oleh punggung-punggung
perbukitan yang rnenghubungkan puncak Gunung Cikurai. Mandalagiri dan
Papandayan di bagian selatan, punggung perbukitan yang menghubungkan puncakpuncak Gunung Cikurai, Kracak. Telagabodas dan Cakrabuana di bagian timur, dan
punggung perbukitan yang rnenghubungkan puncak-puncak Gunung Papandayan,
Kendang. Guntur. Harurnan dan Calancang di bagian barat. Sedangkan muaranya
di 'bagian utara rnerupakan dataran pelernbahan yang terletak di Kecarnatan
Cadasngarnpar. Kabupaten Sumedang.
Elevasi daerah penelitian berkisar dari sekitar 150 hingga 2.800 meter dpl. Elevasi
terendah dijumpai di sekitar muara Jatigede, sedang elevasi tertinggi dijumpai di
puncak-puncak Gunung Cikurai (2.821 r n dpl.), Papandayan (2.665 m dpl.),
Kendang (2.608 rn dpl.) dan Gunung Guntur (2.249 rn dpl.).
Peta penyebaran
ketinggian tempat di daerah penelitian disajikan pada Gambar 5.
Kerniringan tereng daerah penelitian dibedakan dalarn beberapa kelas kemiringan.
Berdasarkan kerniringannya daerah ini didorninasi oleh areal yang agak curam
sampai terjal, dengan kerniringan 215 %. Tabel 6 rnenyajikan pernbagian daerah
penelitian berdasarkan kelas kerniringan lerengnya, sedangkan penyebarannya
disajikan pada Gambar 6.
Tabel 6. Pembagian Daerah Penelitian Menurut Kemiringan Lereng
Kelas Lereng
Luas
Kemiringan
Persen
A
(0-3)%
16.108
10,72
8
(3-8)%
23.123
15.40
C
(8-15)%
28.927
19,26
D
(15-25)%
17.419
11,60
E
(25-45)%
29.690
19,77
F
(45-60)%
16.363
10,89
G
> 60 %
18.536
12,34
33
0,02
Danau
1
Hektar
Jurnlah
1
150.199
1100,OO
Geologi dan Bahan lnduk
Secara umum daerah penelitian didominasi oleh bahan vulkanik muda seperti
formasi Qyp, Qypu, dan Qkp. Pada sebagian dari daerah hulunya dijumpai bahan
vulkanik tua dari fonnasi Qtv.
Pada bagian tengah di sekitar Garut, selain formasi
vulkanik kuarter seperti Qhg, Qkp, dan Qpu, ditemukan juga formasi aluvial kuarter
(Qa), di sekitar Situ Bagendit. Bagian hilir daerah penelitian dibangun oleh formasi
tersier, seperti formasi Tomcl, TPk, Tmhl, Tmhu dan Tms, yang menyebar di daerah
Cadasngampar dan sekitarnya.
Bahan-bahan vulkanik muda umumnya menghasilkan batuan vulkanik, lava, tufa,
abu vulkanik dan bahan-bahan vulkanik lainnya. Pada bagian tengah daerah studi,
di lereng Gunung Guntur, kenampakan lava yang relatif masih segar terlihat jelas
merupakan suatu singkapan.
Bahan-bahan vulkanik ini umumnya mempunyai
kandungan andesit, piroksin, basal, dan basal labradorit.
Endapan aluvial yang
terbentuk di daerah cekungan bagian tengah merupakan daerah pengendapan
bahan aluvial-vulkanik.
Bagian hilir daerah penelitian didominasi formasi geologi tua (berumur tersier) dan
merupakan daerah struktural, ditunjukkan oleh adanya berbagai punggung patahan
dan lipatan, serta kenampakan pola aliran sungainya yang bersifat paralel atau
rektanguler. Bahan induk umumnya terdiri dari batu pasir, serpih pasiran, breksi dan
batu apung, serta batu gamping pasiran. Pada daerah ini juga ditemukan beberapa
bukit kecil yang dihasilkan dari terobosan batuan andesit yang mengandung
hornblende. Gambar 7 menyajikan keadaan geologi di daerah penelitian.
Geomorfologi dan Bentuk Lahan
Geornorfologi daerah penelitian didorninasi oleh kenarnpakan bentuk lahan gunung
api yang ideal, ditandai dengan adanya kerucut pada vulkan yang rnasih muda, atau
adanya kenampakan lereng atas, lereng tengah, lereng bawah dan dataran vulkanik
dengan tingkat torehan yang berbeda. Sernakin tua bentuk lahan vulkanik tersebut
akan rnenunjukkan torehan yang lebih kuat. Dataran vulkanik dan lereng bawah
urnurnnya merniliki torehan ringan, lereng tengah dengan tingkat torehan sedang
dan lereng atas dengan tingkat torehan kuat hingga sangat kuat, sedangkan bentuk
lahan daerah struktural umurnnya sudah tertoreh sangat kuat.
Dinamika proses vulkanik juga rnenghasilkan bentuk lahan aluvial, terutarna di
bagian tengah daerah penelitian, dirnana dijurnpai dataran pelernbahan atau dataran
antar pebukitan, serta teras aluvial di pinggir sungai Cimanuk. Pada peralihan dari
kaki lereng dengan dataran vulkanik diternukan kipas aluvial.
Di bagian hilir daerah penelitian diternukan bentuk lahan yang dipengaruhi oleh
struktural, yang rnernbentuk lungur-lungur lipatan rnernanjang rnaupun depresinya
yang mernbentuk cekungan, dataran atau bentuk lahan patahan. Bentuk lahan di
wilayah ini lebih kornpleks dan mempunyai kelerengan yang bervariasi dari landai
hingga terjai. Punggung atau pebukitan yang dijurnpai urnurnnya telah tertoreh kuat
hingga sangat kuat dan rnernbentuk lernbah yang dalarn.
Tanah
Tanah yang dijumpai di daerah penelitian urnurnnya berkernbang dari bahan-bahan
vulkanik hasil erupsi dari gunung api di sekitarnya. Perbedaan umur dari bahan-
bahan vulkanik ini tercerrnin juga pada perkernbangan tanahnya.
Tanah yang
berkernbang dari bahan vulkanik rnuda urnurnnya tergolong dalarn ordo Entisol dan
Andisol, sedangkan tanah yang berkernbang dari bahan vulkanik yang sudah
melapuk lebih lanjut urnurnnya telah rnengalami perkernbangan horison bawah
pennukaan dan tergolong dalarn ordo lnceptisol (Tim Studi Lernbaga Penelitian IPB,
1999).
Tanah lain yang dijurnpai di daerah penelitian adalah tanah tergolong dalarn ordo
Alfisol dan Ultisol. Alfisol adalah tanah-tanah yang telah berkembang agak lanjut,
rnemiliki horison argilik dan kejenuhan basa yang relatif tinggi (KB >35 %). Tanahtanah ini berkernbang dari napal dan batuliat, umurnnya diternukan agak jauh dari
gunung berapi, di bagian tengah dan utara daerah penelitian. Sedangkan Ultisol
adalah tanah yang telah berkembang lanjut, dicirikan oleh adanya horison argilik
dan kejenuhan basa yang relatif rendah (KBc35%).
Tim Studi Lembaga Penelitian IPB (1999), mernbagi ordo-ordo tanah tersebut dalarn
9 subordo, 14 greatgroup atau 24 Subgroup. Selanjutnya, satuan peta tanah (SPT)
disusun dengan rnenggabungkan jenis tanah pada tingkat subgroup, karakteristik
lahan (bentuk lahan dan lereng), dan karakterisitik tanah (kedalaman tanah dan
ukuran butir). Berdasarkan satuan peta tanah ini, daerah penelitian terbagi menjadi
169 SPT. Klasifikasi berdasarkan Soil Taxanomy (Soil Survey Staff, 1994) untuk
tanah-tanah yang diternui di daerah penelitian disajikan pada Tabel 7, sifat dan ciri
dari
masing-masing
SPT
disajikan
dalarn Tabel
penyebarannya disajikan pada Gambar 8.
Lampiran
2,
sedangkan
Tabel 7. Tanah-tanah di Daerah Penelitian
Aquic Dystropept
Typic Dystropept
Eutropept
Typic Eutropept
Humitropept
Andic Humitropept
Typic Humitropept
Alfisol
Aquept
Tropaquept
Typic Tropaquept
Udalf
Hapludalf
Andic HapludaW
Typic Hapludalf
Ultisol
Udult
Paleudalf
Typic Paleudalf
Hapludutt
Aquic Hapludult
Typic Hapludult
Haptahumult
Typic Haplahumult
Typic Paleudult
Aquult
Ochraquult
Aeric Ochraquult
,
Status Lahan dan Penggunaan Lahan
Berdasarkan status lahannya, areal DAS Cirnanuk Hulu dibedakan dalarn dua
kelompok. yaitu areal kawasan hutan negara dan areal di luar kawasan hutan. Areal
kawasan hutan negara ini berdasarkan pengelolaannya dibedakan rnenjadi kawasan
hutan Perhutani yang fokus utarnanya rnengelola kawasan hutan produksi, dan
kawasan hutan Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam
(PHPA) yang fokus utamanya mengelola kawasan hutan konservasi, seperti hutan
suaka alam, suaka rnargasahnra dan taman nasional.
Kawasan hutan Perhutani yang terletak di wilayah Kabupaten Garut merupakan
bagian wilayah kerja dari kawasan pemangkuan hutan (KPH) Garut dengan
komoditas utama tanarnan pinus, sedangkan yang terletak di wilayah Kabupaten
Sumedang merupakan wilayah kerja dari KPH Surnedang dengan komoditas utama
tanaman jati.
lnformasi mengenai penggunaan lahan di luar kawasan hutan diperoleh dari hasil
interpretasi foto udara dan pengarnatan lapangan.
Berdasarkan hasil tersebut
penggunaan lahan di luar kawasan hutan dibedakan rnenjadi areal penggunaan
lahan permukirnan, sawah, tegalan. kebun campuran, tegalan dan kebun carnpuran,
perkebunan teh, hutan, semak lbelukar dan tanah terbuka.
Perrnukiman rnerupakan areal ternpat tinggal, berupa kelornpok-kelompok rurnah
dengan pola yang umumnya tidak beraturan, hanya sebagian kecil di antaranya
rnerniliki pola yang teratur. Dari foto udara, areal perrnukirnan relatif mudah dikenali
dari bentuk-bentuk individu rurnah, rnerniliki rona yang terang dan asosiasinya
dengan jaringan jalan.
Sawah rnerupakan harnparan areal pemnian lahan basah.
Di daerah penelitian
sawah rnudah dikenali dari pola petakan-petakannya, sebagian besar tertutup
tanarnan padi atau sisa-sisa jerarni padi pada sawah yang baru dipanen, sebagian
besar berasosiasi dengan saluran irigasi. Lahan sawah urnurnnya ditanami padi
secara rnonokultur, walaupun dijurnpai juga yang rnenggunakan pola tanarn dengan
palawija sebagai penyelang dan pada daerah-daerah yang lebih tinggi rnenanarn
sayuran pada rnasa bera. Pada foto udara sawah relatif mudah dikenali dari teras
dan pola petakan-petakannya, rnerniliki tekstur yang sangat halus sarnpai halus,
rona bewariasi dari gelap sarnpai kelabu terang tergantung dari kondisi
pertanarnannya.
Penggunaan lahan tegalan rnerupakan harnparan areal pertanian lahan kering yang
ditanarni tanarnan sernusirn dan tanaman tahunan, dengan tanarnan sernusirn
sebagai tanaman utarna. Di daerah penelitian lahan tegalan ini urnurnnya ditanami
padi ladang ataupun tanarnan palawija, seperti jagung, ubi kayu dan kacangkacangan, kecuali di daerah-daerah yang lebih tinggi banyak dijurnpai tanarnan
sayuran seperti kentang, petsai, wortel, bawang daun dan tanarnan perkebunan
seperti akatwangi dan ternbakau. Pada foto udara lahan tegalan dikenali dari rona
yang kefabu terang dengan batas yang jelas, terkadang berupa petakan-petakan,
dengan sedikit tajuk pohonan.
Penggunaan lahan kebun carnpuran rnerupakan areal pertanian yang terdiri dari
berbagai rnacarn tanarnan tahunan, terrnasuk juga tanarnan pohonan.
Pada
sebagian di antaranya dijurnpai juga tanarnan palawija
yang ditanarn di antara
pohon-pohonan. Pada foto udara kebun carnpurari rnerniliki tekstur kasar dan tidak
seragarn, rona kelabu gelap dengan sedikit bercak-bercak agak terang.
Tegalan dan kebun carnpuran kadang-kadang sulit dibedakan, baik pada foto udaramaupun di lapangan. Seringkali dijumpai tegalan dengan banyak pohonan atau
kebun carnpuran dengan proporsi tanarnan sernusim yang agak besar. Lahan-lahan
seperti ini dikelompokkan sebagai lahan tegalan dan kebun campuran.
Areal perkebunan teh hanya dijumpai di daerah perbukitan di bagian hulu daerah
penelitian dalarn luasan yang terbatas.
Pada foto udara perkebunan teh dikenali
dari teksturnya yang halus dan seragarn dengan rona kelabu terang.
Selain kawasan Perhutani dan PHPA, di daerah penelitian dijurnpai juga hutan
rakyat yang urnurnnya ditanarni pinus. Sebagian besar dari hutan rakyat rnerupakan
hasil kegiatan penghijauan.
Lahan hutan rnerupakan areal yang tertutup oleh
vegetasi pohonan dan semak, urnurnnya dijurnpai di daerah ketinggian antara
perbukitan dan pegunungan dengan lereng yang curam.
Pada foto udara lahan
hutan dikenali dari tekstur yang kasar, rona kelabu gelap dan pola yang tidak teratur.
Sernaklbelukar dan tanah terbuka bukan rnerupakan pola penutup lahan yang
urnurn dijurnpai di daerah penelitian dan hanya dijurnpai dalarn luasan terbatas.
Semak belukar dijumpai di bagian utara daerah penelitian, rnerupakan bekas lahan
budidaya yang tidak diusahakan oleh rnasyarakat setempat. Pada foto udara sernak
betukar dikenali dari tekstur yang relatif agak halus dengan rona kelabu terang.
Tanah terbuka dijurnpai di lereng Gunung Guntur, rnerupakan aliran lava yang
belurn rnelapuk dan tanahnya sangat dangkal sehingga tidak tertutup oleh vegetasi
kecuali rumput-rumputan. Pada foto udara, lahan terbuka ini dikenali dari bentuk
dan asosiasinya dengan lereng yang curam, dengan rona kelabu.
Tabel 8 menyajikan pembagian daerah penelitian berdasarkan status lahan dan
penggunaan lahannya, sedangkan penyebarannya disajikan pada Garnbar 9.
Tabel 8.
Pembagian Daerah Penelitian Menurut Status Lahan dan
Penggunaan Lahan
I
Status lahan lpenggunaan lahan
I
I
Kawasan Perhutani
I
Luas (ha)
30.168
4.909
Kawasan PHPA
Areal di luar kawasan hutan :
33
Danau
114
Perkotaan (Kota Garut)
6.714
Permukiman
Sawah
38.496
Tegalan
11.400
Tegalan lkebun campuran
37.798
Kebun campuran
I
I
Perkebunan teh
Sernak lbelukar
Tanah terbuka
Hutan
Jumlah
I
I
576
5
8.630
? 50.199
Tabel 9.
Perkembangan Jumlah Penduduk di Daerah Penelitian
Jumlah Penduduk (Jiwa)
Tahun
Propinsi
Jawa Barat
Kabupaten
Bandung
Kabupaten
Sumedang
Kabupaten
Garut
1991
36.268.000
3.247.900
839.700
1.770.600
1992
37.026.400
3.285.500
845.900
1.788.CIOO
1993
37.791.ZOO
3.321.900
851.600
1.804.700
1994
38.561.700
3.356.800
856.900
1.820.600
1995
39.206.787
3.383.233
860.3 01
1.832.213
1996
Laju
Petumbuhan
Rata-rata
(%/tahun)
40.1 17.500
3.529.584
883.950
1.887.102
Tabel 10.
2.57
1, I 1
0,67
f ,I2
Perkembangan Tingkat Kepadatan Penduduk Daerah Penelitian
Kepadatan Penduduk (jiwalkm2)
Tahun
Propinsi
Jawa Barat
Kabupaten
Bandung
Kabupaten
Surnedang
Kabupaten
Garut
1991
847
1.093
552
577
1992
864
1.106
556
583
1993
882
1.118
559
588
1994
900
1.I30
563
594
1995
915
1.139
565
597
1996
936
1.188
58 1
615
Download