jaminan kebendaan dan jaminan perorangan sebagai

advertisement
JAMINAN KEBENDAAN DAN JAMINAN PERORANGAN
SEBAGAI UPAYA PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PEMILIK
PIUTANG
Niken Prasetyawati, Tony Hanoraga
Abstrak
Dalam mewujudkan tujuan nasional kegiatan dalam bidang ekonomi merupakan
prioritas utama untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan rakyatnya,
berbagai kebijakan dibuat untuk memacu kegiatan ekonomi,memberikan
kemudahan
pada
pelaku
ekonomi
untuk
mengembangkan
usahanya.Pengembangan dunia usaha membutuhkan fasilitas modal dalam
jumlah besar, dana berupa modal dapat diperoleh dari berbagai sumber, dapat
berupa modal dari setoran para pendiri usaha ataupun dari utang yang diperoleh
dari sumber sumber seperti , bank, lembaga pembiayaan , pasar uang, pasar
modal,dll.Dengan semakin pesatnya kegiatan ekonomi dan penyaluran dana
pinjaman ,sumber sumber pemberi utang atau yang sering disebut kreditor juga
membutuhkan perlindungan hukum dalam hal para pengutang atau yang biasa
disebut debitor ingkar janji. Lembaga jaminan dibutuhkan sebagai upaya
perlindungan bagi pemberi utang tersebut.
Kata kunci : kegiatan ekonomi, kreditor , debitor, lembaga hak jaminan .
Indonesia sebagai salah satu negara berkembang berupaya keras untuk bisa
mewujudkan tujuan nasionalnya yaitu meningkatkan kesejahteraan rakyatnya .
Dalam upaya ini bidang ekonomi merupakan prioritas utama untuk meningkatkan
taraf
hidup
dan kesejahteraan rakyat .Berbagai kebijakan dibuat untuk
meningkatkan dan memacu kegiatan ekonomi, memberikan kemudahan -kemudahan
pada pelaku ekonomi untuk merentangkan sayap usahanya. Pengembangan dunia
usaha tentu saja sangat membutuhkan fasilitas modal dalam jumlah yang besar
,untuk itu dibutuhkan lembaga terkait yang memberikan dukungan dana bagi
kegiatan suatu usaha.Dana bagi suatu perusahaan dalam menjalankan kegiatan
usahanya dapat diperoleh dari berbagai sumber , dapat berupa modal dan utang.
Dana berupa modal diperoleh dari para pendirinya berupa setoran modal pendiri dan
diperoleh dari pemodal [investor]. Dana berupa utang dapat diperoleh dari sumber
sumber seperti bank-bank , lembaga -lembaga pembiayaan , pasar uang , pasar
modal.
Sumber -sumber yang memberikan utang kepada perusahaan atau
perorangan tersebut disebut Kreditor,dengan kata lain perusahaan ataupun
jsh Jurnal Sosial Humaniora, Vol 8 No.1, Juni 2015
120
121 – Jaminan Kebendaan dan Jaminan Perorangan Sebagai Upaya...................
perorangan tersebut adalah Debitor dari para Kreditor tersebut. Dengan semakin
derasnya lalu lintas penyaluran dana pinjaman tersebut maka para Kreditor ini juga
membutuhkan perlindungan dalam hal Debitor cidera janji . Aturan hukum telah
menyediakan sarananya yaitu seperti yang tertuang dalam ketentuan - ketentuan
Hukum Jaminan
yang dapat dicermati dalam Kitab Undang-undang Hukum
Perdata.Jaminan secara hukum mempunyai fungsi untuk mengkover utang , karena
itu jaminan merupakan sarana perlindungan bagi para Kreditor yaitu kepastian akan
pelunasan utang Debitor atau penjamin Debitor . Jaminan kebendaan dan jaminan
perorangan timbul dari perjanjian yang bertujuan untuk menjamin kepastian hukum
bagi Kreditor atas pelunasan utang atau pelaksanaan suatu prestasi sebagaimana
telah diperjanjikan oleh Debitor atau pihak ketiga.
Dari uraian latar belakang diatas maka permasalahan yang dibahas adalah :
1. Apakah jaminan kebendaan dan jaminan perorangan mempunyai aspek hukum
yang sama dalam rangka memberikan perlindungan hukum bagi para Kreditor
atas kepastian pelunasan utang para Debitornya ,Adakah perbedaan dari kedua
bentuk jaminan tersebut bila dikaitkan dengan kepastian pelunasan utang ?
2. Bagaimana eksekusi kedua bentuk jaminan tersebut apabila terjadi Debitor
cidera janji ?
SEJARAH HUKUM JAMINAN DI INDONESIA
Keadaan lembaga jaminan di Indonesia setelah Perang Dunia II mengalami
perkembangan yang lamban , dalam arti tidak terjadi pembaharuan hukum ataupun
pengaturan- pengaturan yang baru mengenai lembaga jaminan yang telah lama
dikenal sejak berlakunya Kitab Undang-undang Hukum Perdata , juga tidak terjadi
pengaturan hukum mengenai lembaga jaminan yang telah lama
tumbuh dan
berkembang dalam masyarakat dan telah lama diakui oleh Yurisprudensi, misalnya
lembaga jaminan fidusia, lembaga sewa beli,dan seterusnya (Sri Soedewi Masjchoen
1980 :3)
Jaminan kebendaan benda bergerak diikat dengan hak gadai sebagaimana
diatur dalam Kitab Undang- undang Hukum Perdata pada Buku Kedua Bab XX
pasal 1150 sampai dengan pasal 1161. Adapun obyek hak gadai adalah benda atau
jsh Jurnal Sosial Humaniora, Vol 8 No.1, Juni 2015
Niken Praseyowati dan Tony Hanoraga - 122
barang bergerak baik bertubuh/ berwujud / berbentuk (lichamelijke zaken ) maupun
tidak bertubuh/ berwujud/ berbentuk (onlichamelijke zaken). Setelah berlakunya
Undang- undang No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria
, hak - hak adat yang bersifat bertentangan dengan ketentuan- ketentuan undangundang tersebut tetapi berhubung dengan keadaan masyarakat sekarang ini belum
dapat dihapuskan diberi sifat sementara dan akan diatur . Contohnya adalah hak
gadai yang disebut dalam pasal 53 jo pasal 52 ayat(2) daan ayat (3) Undang- undang
Pokok Agraria yang menentukan , bahwa hak gadai sebagai hak yang bersifat
sementara diatur untuk membatasi sifat- sifatnya yang bertentangan dengan Undang
- undang Pokok Agraria dan hak gadai itu diusahakan hapusnya didalam waktu
yang singkat , karena didaalam hak gadai ada unsur- unsurnya yang bersifat
pemerasan. (Rachmadi Usman 1998 :5)
Jaminan kebendaan hak hipotik pengaturannya terdapat dalam Kitab
Undang- undang Hukum Perdata Buku Kedua ,yaitu pasal 1162 sampai dengan
pasal 1170, pasal 1173 sampai dengan pasal 1185, pasal 1189 sampai dengan pasal
1194 dan pasaal 1198 sampai dengan pasal 1232. Pasal pasal lainnya
yang
mengatur hipotik sejak semula belum pernah berlaku
Hipotik adalah suatu lembaga jaminan yang diperuntukan bagi khusus tanah
yyang tunduk pada hukum barat , sedangkan jaminan yang sama bagi tanah- tanah
Indonesia telah dikeluarkan S. 1908-542 jo S. 1909- 586, yaitu Regeling betreffede
het creditverband yang mulai berlaku sejak 1 Januari 1910 sebagaimana telah diubah
dan ditambah dengan S.1917 - 497 jo S. 1917 -645, S. 1925-434, S.1939-287, S.
1931-168 jo S. 1931- 423, S. 1937- 190 jo S. 1931-191, S. 1938- 373 jo S. 1938264, menurut peraturan mana terhadap tanah - tanah hak milik Indonesia dapat
dijaminkan dengan credietverband. (Abdurrahman 1979 :173) Sejak tahun 1960
telah terjadi perubahan mendasar terhadap Kitab Undang- undang Hukum Perdata
Indonesia., dengan disahkannya Undang- undang Pokok Agraria yang bermaksud
mengadakan unifikasi hukum pertanahan nasional . Perubahan yang besar terlihat
pada Buku Kedua Kitab Undang -undang Hukum Perdata , dalam diktum Undangundang Pokok Agraria memutuskan Buku Kedua KUH Perdata sepanjang yang
mengenai bumi,air serta kekayaan alam yang terkandung didalamnya , kecuali
jsh Jurnal Sosial Humaniora, Vol 8 No.1, Juni 2015
123 – Jaminan Kebendaan dan Jaminan Perorangan Sebagai Upaya...................
ketentuan -ketentuan mengenai hipotik yang masih berlaku pada mulai berlakunya
Undang - undang Pokok Agraria dinyatakan tidak berlaku.
Undang- undang Pokok Agraria dalam hubungan dengan lembaga hak jaminan
menggariskan sebagai berikut :
a. Mencabut Buku Kedua Kitab Undang- undang Hukum Perdata sepanjang yang
mengenai bumi , air serta kekayaan alam yang terkandung didalamnya, kecuali
ketentuan- ketentuan mengenai hipotik yang masih berlaku pada mulai
berlakunya Undang- undang Pokok Agraria
b. Undang- undang Pokok Agraria menentukan adanya lembaga hak jaminan atas
tanah yang diberi nama dengan sebutan " hak tanggungan " , yang untuk
selanjutnya akan diatur tersendiri, yaitu dengan Undang -undang Hak
Tanggungan ( pasal 51).
c.
Adapun hak- hak atas tanah yang dapat dibebani dengan hak tanggungan
tersebut adalah hak milik , hak guna usaha,dan hak guna bangunan sebagaimana
tersebut dalam pasal- pasal 25,33 dan 39 Undang- undang Pokok Agraria
d. Selama Undang- undang Hak Tanggungan yang dimaksud belum terbentuk
maka untuk sementara yang berlaku adalah ketentuan- ketentuan mengenai
hipotik tersebut dalam Kitab Undang- undang Hukum Perdata
dan
Credietverband tersebut dalam S. 1908-542 sebagai yang telah diubah dengan S.
1937- 190 (pasal 57).
Credietverband merupakan suatu lembaga jaminan yang diciptakan untuk
memberikan kesempatan kepada golongan pribumi untuk dapat memperoleh kredit
dari lembaga - lembaga perbankan , dengan jaminan hak- hak atas tanah yang bukan
merupakan hak- hak yang dikenal dalam Kitab Undang- undang Hukum Perdata yaitu
hak- hak atas tanah menurut hukum adat yang mereka punyai. Karena hipotik hanya
dapat diterapkan pada hak- hak atas tanah yang dikenal dalam Burgerlijk Wetboek ( J.
Satrio 1993 ). Oleh karena itu pemerintah Hindia Belanda memandang perlu
menciptakan lembaga hukum jaminan atas hak atas tanah dengan jalan mereduksi
lembaga dan ketentuan - ketentuan mengenai hipotik.
Hak jaminan yang lain adalah fidusia
( fiduciare-eigendomsoverdracht)
,yang diciptakan melalui Yurisprudensi. Fidusia adalah hak jaminan berupa
jsh Jurnal Sosial Humaniora, Vol 8 No.1, Juni 2015
Niken Praseyowati dan Tony Hanoraga - 124
penyerahan hak atas benda berdasarkan kepercayaan
yang disepakati
sebagai
jaminan bagi pelunasan utang. Jadi fidusia pada hakekatnya adalah penyerahan hak
milik atas suatu benda kepada kreditor dengan perjanjian bahwa penyerahan tersebut
hanya untuk menjamin atas pembayaran kembali uang pinjaman . Debitor dan
Kreditor saling percaya bahwa penyerahan benda tersebut hanya untuk jaminan
.Subekti mengemukakan , bahwa begitu sukarnya memperjuangkan kedudukan
fidusia sebagai hak kebendaan ,disebabkan karena dalam hukum perdata sudah lama
dianut suatu sistem,
bahwa hak kebendaan itu terbatas jumlahnya dan hanya
dapat diciptakan oleh peraturan undang-undang. Pada awalnya dianggap sebagai
gadai yang gelap ( klandestio ) ,tetapi karena kebutuhan masyarakat yang begitu
mendesak akan adanya suatu bentuk jaminan barang bergerak yang tetap dapat
dikuasai oleh si berutang , yaitu barang-barang yang diperlukan untuk menjalankan
usaha , maka akhirnya fidusia ini diberikan legalitas. ( Subekti 1991 : 66).
Untuk melaksanakan amanat Undang-undang Pokok Agraria maka pada
tanggal 9 April 1996 telah disahkan Undang- undang No. 4 Tahun 1996 tentang Hak
Tanggungan
Atas
Tanah
Beserta
Benda-benda
Yang
Berkaitan
Dengan
Tanah.,dengan demikian maka ketentuan-ketentuan mengenai hipotik dan
credietverband dalam Buku Kedua Kitab Undang -undang Hukum Perdata dan S.
1908-542 serta perubahannya
dinyatakan tidak berlaku. Demikian juga dengan
lembaga jaminan fidusia telah diatur dalam Undang- undang No. 42 Tahun 1999.
PEMBEDAAN LEMBAGA JAMINAN
Perlu dipahami bahwa lapangan hukum jaminan adalah sangat luas .
Jaminan termasuk dalam hukum benda,secara teoritis , jaminan dibagi menjadi dua
yaitu jaminan umum dan jaminan khusus. Jaminan khusus dibagi lebih lanjut
menjadi jaminan kebendaan dan jaminan perorangan . Selanjutnya jaminan
kebendaan dibagi menjadi jaminan benda bergerak dan benda tetap. Jaminan benda
bergerak dibagi menjadi gadai dan fidusia , sedangkan jaminan benda tetap dibagi
menjadi hak tanggungan atas tanah , fidusia dan hak tanggungan bukan atas tanah .
Jadi jaminan merupakan satu sistem yang mencakup hak tanggungan atas tanah. (
Sudikno Mertokusumo 1996 : 2 ).
jsh Jurnal Sosial Humaniora, Vol 8 No.1, Juni 2015
125 – Jaminan Kebendaan dan Jaminan Perorangan Sebagai Upaya...................
Pada prinsipnya menurut hukum , segala harta kekayaan debitor akan
menjadi jaminan bagi utangnya dengan semua kreditor. Kitab Undang -undang
Hukum Perdata pada pasal 1131 menyatakan bahwa segala kebendaan si berutang
baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak , baik yang sudah ada maupun yang
baru akan ada dikemudian hari , menjadi tanggungan untuk segala perikatannya
perseorangan . Kekayaan debitor yang dimaksud meliputi benda bergerak maupun
benda tetap , baik yang sudah ada saat perjanjian utang piutang diadakan maupun
yang baru akan ada dikemudian hari yang akan menjadi milik debitor setelah
perjanjian utang piutang diadakan . Jadi dengan demikian tanpa terkecuali seluruh
harta kekayaan debitor akan menjadi jaminan umum atas pelunasan utangnya, baik
yang telah diperjanjikan maupun yang tidak diperjanjikan sebelumnya. Jaminan
umum ini dilahirkan karena undang- undang ,sehingga tidak perlu ada perjanjian
jaminan sebelumnya.
J. Satrio mengemukakan , bahwa
dari pasal 1131 KUH Perdata dapat
disimpulkan asas -asas hubungan ekstern kreditor sebagai berikut :
a. Seorang kreditor boleh mengambil pelunasan dari setiap bagian
dari harta
kekayaan debitor.
b. Setiap bagian kekayaan debitor dapat dijual guna pelunasan tagihan kreditor.
c. Hak tagihan kreditor hanya dijamin dengan harta benda debitor saja , tidak
dengan " persoon debitor " ( J. Satrio 1993 : 4-5 )
Dalam jaminan yang bersifat umum , semua kreditor mempunyai kedudukan
yang sama terhadap kreditor - kreditor lain, tidak ada kreditor yang diutamakan atau
diistimewakan dari kreditor- kreditor lain. Pelunasan utangnya dibagi secara
"seimbang" berdasarkan besar kecilnya jumlah tagihan masing- masing kreditor
dibandingkan dengan jumlah keseluruhan utang debitor. Hal ini ditegaskan dalam
pasal 1132 KUH Perdata bahwa kebendaan tersebut menjadi jaminan bersamasama bagi semua orang yang mengutangkan padanya , hasil penjualan benda - benda
itu dibagi- bagi menurut keseimbangan , yaitu menurut besar kecilnya piutang
masing- masing kecuali apabila diantara para berpiutang itu ada alasan yang sah
untuk didahulukan. Pasal 1132 KUH Perdata juga memberikan kemungkinan
sebagai pengecualian adanya kedudukan yang diutamakan kapada kreditor tertentu
jsh Jurnal Sosial Humaniora, Vol 8 No.1, Juni 2015
Niken Praseyowati dan Tony Hanoraga - 126
terhadap
kreditor- kreditor lain . Adapun kreditor
yang diutamakan tersebut
berdasarkan pasal 1133 KUH Perdata adalah mereka yang memiliki hak- hak yang
dilahirkan karena piutang yang diistimewakan (privilege ) , dari gadai( pand ) dan
dari hipotik. Dengan demikian dapat disimpulkan , bahwa kedudukan para kreditor
ditentukan oleh jenis jaminan yang dipegangnya.
Privilege bukan jaminan yang bersifat kebendaan dan bukan jaminan yang
bersifat perorangan tetapi memberi jaminannya juga.. Menurut pasal 1134 KUH
Perdata yang dimaksud privilege ialah suatu hak yang oleh undang- undang
diberikan kepada seseorang berpiutang sehingga tingkatnya lebih tinggi daripada
orang berpiutang lainnya , semata- mata berdasakan sifatnya piutang, jadi privilege
dilahirkan karena undang-undang sedang hak gadai, hipotik karena diperjanjikan
sebelumnya, sehingga kedudukan gadai dan hipotik lebih tinggi daripada privilege,
kecuali dalam hal- hal mana undang- undang ditentukan sebaliknya.
Jaminan umum ini dalam praktik perkreditan ( perjanjian peminjaman uang )
tidak memuaskan bagi kreditor , kurang menimbulkan rasa aman dan kurang
terjamin bagi kredit yang diberikan. Dengan jaminan umum tersebut kreditor tidak
mengetahui secara persis berapa jumlah harta kekayaan debitor yang ada sekarang
dan yang akan ada dikemudian hari, serta kepada siapa saja debitor berutang ,
sehingga khawatir hasil penjualan harta kekayaan debitor nantinya tidak cukup
untuk melunasi utang- utangnya . ( Gatot Supramono 1995 :59 ) Untuk itu para
kreditor mempunyai alternatif perangkat jaminan yang disediakan oleh pembentuk
undang- undang yaitu jaminan khusus yang obyeknya juga milik debitor hanya saja
ditunjuk secara tertentu dan diperuntukkan bagi kreditor tertentu.yang bersifat
kebendaan maupun yang bersifat perorangan. Jaminan khusus ini timbul karena
adanya perjanjian yang khusus
diadakan antara kreditor dan debitor ( Moch.
Isnaeni 1996 :34). Jadi untuk menjamin pelunasan utang debitor maka dibuat
perjanjian jaminan khusus antara kreditor tertentu dengan debitor yang bisa berupa
perjanjian jaminan kebendaan ataupun perjanjian jaminan perorangan .
jsh Jurnal Sosial Humaniora, Vol 8 No.1, Juni 2015
127 – Jaminan Kebendaan dan Jaminan Perorangan Sebagai Upaya...................
ASPEK HUKUM JAMINAN KEBENDAAN DAN PERORANGAN
Jaminan kebendaan dan jaminan perorangan timbul dari perjanjian yang
bertujuan untuk adanya kepastian hukum bagi kreditor atas pelunasan utang atau
pelaksanaan suatu prestasi tertentu sebagaimana telah diperjanjikan oleh debitor
atau pihak ketiga, jaminan secara yuridis materiil mempunyai fungsi untuk
pelunasan utang apabila debitor ingkar janji.
Dalam jaminan kebendaan benda obyek jaminan khusus diperuntukan
sebagai upaya preventif untuk berjaga- jaga apabila suatu ketika terjadi debitor
ingkar janji. Pemilikan benda obyek jaminan tidak beralih kepada kreditor karena
terjadinya penjaminan tersebut. Dengan demikian dalam perjanjian jaminan
kebendaan , benda tetap menjadi milik debitor , benda hanya disiagakan untuk
berjaga- jaga terhadap kemungkinan terjadi debitor ingkar janji.
Dalam hukum jaminan kebendaan apabila benda obyek jaminan beralih
kepada kreditor ( menjadi milik kreditor ) maka perjanjian jaminan tersebut batal
demi hukum
( pasal 1154 KUH Perdata bagi gadai, pasal 1178 ayat (1) KUH
Perdata bagi hipotik , pasal 12 UU No. 4 tahun 1996 tentang Hak Tanggungan,
pasal 33 UU No. 42 tahun 1999 tentang Fidusia ) , sehingga dengan demikian jelas
bahwa dalam hukum jaminan kebendaan tidak diperkenankan pengalihan hak atas
benda obyek jaminan kepada kreditor.
Jaminan perorangan ( borgtocht/ personal guarantee) adalah jaminan berupa
pernyataan kesanggupan yang diberikan oleh seorang pihak ketiga guna menjamin
pemenuhan kewajiban - kewajiban debitor yang bersangkutan kepada kreditor ,
apabila debitor cidera janji. Jaminan semacam ini dasarnya adalah penanggungan
utang yang diatur dalam pasal 1820-111850 KUH Perdata. Pada perkembangannya
, jaminan perorangan juga dipraktekkan oleh perusahaan yang menjamin utang
perusahaan lainnya . Bank dalam hal ini serimg menerima jaminan serupa , yang
sering disebut Corporate Guarantee.
Perbedaan antar jaminan perorangan dengan jaminan kebendaan adalah:
a. Dalam jaminan perorangan terdapat Pihak Ketiga yang menyanggupi untuk
memenuhi perikatan debitor bila debitor tidak dapat memenuhi kewajibannya.
jsh Jurnal Sosial Humaniora, Vol 8 No.1, Juni 2015
Niken Praseyowati dan Tony Hanoraga - 128
b. Dalam jaminan kebendaan hanya harta kekayaan debitor sajalah yang dapat
dijadikan jaminan bagi pelunasan kredit apabila debitor cidera janji.
Perjanjian Jaminan Kebendaan dan Perorangan
Perjanjian jaminan kebendaan selalu merupakan perbuatan memisahkan
suatu bagian dari kekayaan seorang yang bertujuan untuk menjaminkan dan
menyediakannya bagi pemenuhan kewajiban seorang debitor. Karena dalam jaminan
kebendaan yang dijadikan obyek jaminan adalah benda maka berlaku asas - asas hak
jaminan kebendaan
seperti dibawah ini :
1. Hak jaminan ini memberikan kedudukan yang didahulukan bagi kreditor
pemegang hak jaminan ini terhadap para kreditor yang lainnya, adanya hak
Preferen.
2. Hak jaminan ini merupakan hak accesoir terhadap perjanjian pokok yang
dijamin dengan jaminan tersebut., artinya hapusnya bergantung pada perjanjian
pokoknya.
3. Benda yang menjadi obyek jaminan adalah benda bergerak maupun benda tidak
bergerak .
4. Mempunyai sifat kebendaan ( real right ) segaimana diatur dalam pasal 528
KUH Perdata . Sifat daripada Hak Kebendaan itu sendiri yaitu : Absolut yaitu
dapat dipertahankan pada setiap orang,dan Droit de suite yaitu, Hak Kebendaan
mengikuti pada siapapun dia berada.
Jaminan kebendaan merupakan hak mutlak ( absolut ) atas suatu benda tertentu
yang menjadi obyek jaminan suatu utang , yang suatu waktu dapat diuangkan bagi
pelunasan utang debitor apabila debitor ingkar janji .Kekayaan tersebut dapat berupa
kekayaan debitor itu sendiri atau kekayaan orang ketiga , penyediaan atas benda
obyek jaminan ddalam perjanjian jaminan kebendaan adalah untuk kepentingan dan
keuntungan kreditor tertentu yang telah memintanya , sehingga memberikan hak
atau kedudukan istimewa kepada kreditor tersebut. Kreditor tersebut mempunyai
kedudukan sebagai kreditor Preferen yang didahulukan daripada kreditor yang lain
dalam pengambilan pelunasan piutangnya dari benda obyek jaminan , bahkan dalam
kepailitan debitor, ia mempunyai kedudukan sebagai kreditor separatis.
jsh Jurnal Sosial Humaniora, Vol 8 No.1, Juni 2015
129 – Jaminan Kebendaan dan Jaminan Perorangan Sebagai Upaya...................
Sebagai kreditor separatis , ia dapat bertindak seolah- olah tidak ada kepailitan
pada debitor, karena ia dapat melaksanakan haknya untuk melakukan parate
eksekusi. Ketentuan
dalam pasal 1133 KUH Perdata
preferen kepada kreditor pemegang
Hipotik dan
hanya memberikan hak
Gadai namun dewasa ini di
Indonesia terdapat lembaga lain yang mempunyai kedudukan preferen yaitu Hak
Tanggungan dan Fidusia . Sehingga dengan demikian hak jaminan kebendaan
dimiliki oleh pemegang Hak Tanggungan , Hipotik ( dewasa ini antara lain untuk
kapal laut dan pesawat udara ) , Gadai dan Fidusia . Dalam ketentuan kepailitan
apabila terdapat kreditor preferen (pemegang Hak Tanggungan , Hipotik , Gadai
dan Fidusia ) maka kreditor tersebut merupakan kreditor separatis dan dapat
melaksanakan hak mereka seolah- olah tidak ada kepailitan pada debitor, pasal 56
ayat (1) UU No. 4 tahun 1998.( Djuhaendah Hasan, 2000 :18 ).
Hak jaminan perorangan timbul dari perjanjian jaminan antara kreditor
dengan pihak ketiga . Perjanjian jaminan perorangan merupakan hak relatif yaitu
hak yang hanya dapat dipertahankan terhadap orang tertentu yang terkait dalam
perjanjian . Dalam perjanjian jaminan perorangan , pihak ketiga bertindak sebagai
penjamin dalam pemenuhan kewajiban debitor, berarti perjanjian jaminan
perorangan merupakan janji untuk memenuhi kewajiban debitor , apabila debitor
ingkar janji . Dalam jaminan perorangan tidak ada benda tertentu yang diikat dalam
jaminan , sehingga tidak jelas benda apa dan yang mana milik pihak ketiga yang
dapat dijadikan jaminan apabila debitor ingkar janji , dengan demikian para kreditor
pemegang hak jaminan perorangan hanya berkedudukan sebagai kreditor konkuren
saja. Apabila terjadi kepailitan pada debitor maupun penjamin ( pihak ketiga ) ,
akan berlaku ketentuan jaminan secara umum yang tertera dalam pasal 1131 dan
1132 KUH Perdata.
Hak jaminan perorangan tidak memberikan preferensi kepada kreditor
sehingga kreditor akan bersaing dengan kreditor lain dalam pemenuhan kewajiban
debitor. Hak jaminan perorangan hanya dapat dipertahankan terhadap orang atau
pihak ketiga yang terikat dalam perjanjian saja dan tidak mengikat setiap orang
sebagaimana perjanjian kebendaan yang mempunyai sifat absolut. Dalam praktek ,
perjanjian jaminan perorangan kurang disukai
karena para kreditor hanya
jsh Jurnal Sosial Humaniora, Vol 8 No.1, Juni 2015
Niken Praseyowati dan Tony Hanoraga - 130
berkedudukan sebagai kreditor konkuren yang harus bersaing dengan kreditor lain
dalam pemenuhan kewajiban debitor, dan karena pihak ketiga juga tidak
mengikatkan harta tertentu dalam perjanjian sering terjadi pihak ketiga melakukan
pengingkaran terhadap kesanggupannya. Menurut Subekti karena tuntutan kreditor
terhadap penanggung tidak diberikan suatu privilege atau kedudukan istimewa
diatas tuntutan kreditor lainnya dari si penanggung ( Subekti 1986 :27 ).
Perjanjian jaminan perorangan dapat berupa penanggungan / borgtocht, bank
garansi, jaminan perusahaan . Pasal 1820 KUH Perdata menyebutkan bahwa
penanggungan adalah persetujuan dengan mana seseorang pihak ketiga guna
kepentingan debitor mengikatkan diri untuk memenuhi perikatan debitor apabila ia
tidak memenuhinya . Perjanjian jaminan perorangan sebagaiman perjanjian jaminan
lainnya merupakan perjanjian accessoir sebagaimana disebutkan dalam pasal 1821
ayat (1) KUH Perdata. Meskipun dengan segala kelemahan yang ada pada perjanjian
jaminan perorangan , kreditor akan merasa lebih aman daripada tidak ada jaminan
sama sekali ,karena dengan adanya jaminan perorangan kreditor dapat menagih
tidak hanya pada debitor tetapi pada pihak ketiga yang menjamin yang kadangkadang terdiri dari beberapa orang ataupun suatu perusahaan
EKSEKUSI JAMINAN
Dengan adanya perikatan yang dijalin para pihak maka hak dan kewajiban
akan segera muncul sebagai hasil kesepakatan bersama. Masing - masing pihak
harus memenuhi kewajibannya agar perikatan berjalan sesuai dengan yang
diharapkan . Manakala ada salah satu pihak yang enggan memenuhi kewajibannya
maka pihak lain akan menderita rugi. Kalau hal ini terjadi maka pihak kreditor
wenang untuk menuntut pemenuhan kewajiban tersebut dari debitor, kalau perlu
minta bantuan hukum untuk melakukan daya paksa. Namun daya paksa hukum ini
bukan berarti menekan dengan kekerasan secara phisik kepada debitor untuk
melakukan kewajibannya. Dengan kata lain tidak dapat dilakukan paksaan secara
langsung.
(Moch. Isnaeni 1996 :51 ).
Bila terjadi seorang debitor tidak mau memenuhi kewajibannya secara
sukarela , biasanya kreditor sudah cukup puas dengan adanya ganti rugi berupa
jsh Jurnal Sosial Humaniora, Vol 8 No.1, Juni 2015
131 – Jaminan Kebendaan dan Jaminan Perorangan Sebagai Upaya...................
sejumlah uang tertentu yang dianggap selaku penukar kewajiban debitor yang tak
dipenuhinya itu. Tetapi dalam beberapa hal lain melalui bantuan hukum kreditor
dapat memperoleh apa saja seperti yang diperjanjikan . Dalam peristiwa seperti itu
dikatakan telah ada eksekusi riil. Hanya saja prakteknya apa yang dimaksud dengan
eksekusi riil
merupakan suatu ujud prestasi yang diperoleh kreditor melalui
bekerjanya daya paksa hukum , yang sifatnya mirip dengan apa yang dibayangkan
pada waktu menutup perikatan.
Perjanjian kredit sebagai suatu perikatan sudah dijamin oleh undang- undang
dengan harta benda milik debitor seperti yang diatur dalam pasal 1131 KUH
Perdata. Tetapi bila debitor tidak memenuhi janjinya maka harta itulah yang akan
dimintakan oleh kreditor kepada hakim untuk dijual lelang dan hasilnya
dipergunakan untuk melunasi utang debitor.Proses ini jelas akan melewati jalur yang
sangat panjangdan kadang juga tidak gampang. Bisa saja debitor mengajukan
banding dan kemudian dilanjutkan dengan kasasi yang bisa memakan waktu yang
tidak sedikit. Dan kalau kemudian kreditor dimenangkan maka masih harus melalui
proses eksekusi yang mungkin juga menghadapi hambatan yang tidak ringan. Untuk
mengantisipasi hal seperti ini maka pembentuk undang - undang menyediakan
sarana lain yaitu adnya ketentuan jaminan khusus sebagaimana yang tercantum
dalam Buku Kedua KUH Perdata. Sejalan dengan ketentuan - ketentuan mengenai
jaminan khusus ini maka biasanya ditentukan berapa besar pinjaman yang akan
diberikan kepada seseorang dan nantinya akan benar- benar dapat kembali utuh
beserta bunganya ditempuhlah cara dengan menunjuk secara tegas benda tertentu
milik si peminjam yang seketika itu dapat ditaksir nilainya untuk dipakai sebagai
jaminan dan ini bisa dipakai dengan berdasarkan pada kesepakatan yang kemudian
dituangkan dalam parjanjian khusus untuk kemudian disertakan sebagai pendukung
perjanjian pinjam meminjam yang mendahuluinya. Seandainya dikemudian hari
debitor tak mampu membayar , maka benda yang bersangkutan selaku jaminan
dapat segera dijual dimuka umum untuk dibayarkan kepada yang meminjamkan
sebagai gantinya.
Apabila dalam suatu perjanjian pinjam meminjam atau perjanjian kredit
kemudian diikuti dengan perjanjian jaminan khusus yang berobyek benda atau
jsh Jurnal Sosial Humaniora, Vol 8 No.1, Juni 2015
Niken Praseyowati dan Tony Hanoraga - 132
jaminan kebendaan , maka benda tertentu itu diikat secara khusus untuk keperluan
pemenuhan perikatan yang tertentu juga yakni perjanjian kredit itu sendiri dan
diperuntukkan bagi kreditor yang tertentu pula. Dalam hal pelunasan utang , pihak pihak lain tak ada kewenangan ikut menikmati hasil penjualan benda yang
bersangkutan , kecuali ditentukan lain oleh undang- undang. Jadi dengan
disediakannya jaminan kebendaan dimaksudkan untuk mempermudah pelunasan
pinjaman yang telah diberikan oleh kreditor bila sewaktu- waktu debitor
wanprestasi, untuk tercapainya tujuan tersebut haruslah didukung dengan eksekusi
yang mudah dan sederhana agar tidak banyak waktu dan biaya yang dikeluarkan.
Apabila benda yang dijadikan jaminan adalah benda bergerak maka gadai
yang akan dipakai, maka kreditor pemegang gadai sehubungan dngan masalah
pelunasan utang akan memiliki hak parate eksekusi sebagaimana ditetapkan oleh
pasal 1155 KUH Perdata. Hak ini sepanjang tidak diperjanjikan lain lahir demi
undang- undang sejak debitor wanprestasi. Dalam parate eksekusi kreditor diberi
wewenang untuk menjual benda jaminan dimuka umum dengan memperhatikan
kebiasaan setempat dengan syarat - syarat yang lazim berlaku. Untuk keperluan
menjual benda jaminan tidak diperlukan adanya title eksekutorial, kreditor tidak
memerlukan bantuan Pengadilan. Apabila obyek jaminan gadai ini adalah berbentuk
saham maka saham tersebut akan dijual ke pasar bursa dengan memperhatikan
ketentuan- ketentuan yangberlaku disitu.
Dalam perjanjian jaminan hipotik , kreditor juga bisa memiliki wewenang
untuk menjual sendiri benda jaminan , namun ini harus diperjanjikan sebagaimana
ditentukan oleh pasal 1178 ayat (2) KUH Perdata . Berarti kewenangan bukan lahir
dari undang - undang , tetapi harus dimunculkan dalam perjanjian oleh para pihak
dalam ujud pemberian kuasa oleh debitor kepada kreditor untuk menjual sendiri
benda jaminan bila debitor wanprestasi.hal ini sangat menguntungkan kreditor
karena pelunasan dilakukan dengan mudah dan sederhana. Sebenarnya dengan
grosse akte hipotek sesuai dengan ketentuan pasal 234 HIR , kreditor juga memiliki
wewenang untuk menjual benda jaminan dikarenakan akte tersebut memiliki
kekuatan eksekutorial, dengan fiat pengadilan maka dapat mengambil pelunasan
dari pelelangan yang dilakukan juru lelang.
jsh Jurnal Sosial Humaniora, Vol 8 No.1, Juni 2015
133 – Jaminan Kebendaan dan Jaminan Perorangan Sebagai Upaya...................
Dengan disahkannya UU No. 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan maka
bagi kreditor pemegang hak tanggungan berdasarkan pasal 26 Undang- undang Hak
Tanggungan ditegaskan bahwa dalam jaminan kebendaan dengan hak tanggungan
maka sertifikat hak tanggungan merupakan pengganti grosse akte hipotek. Dengan
mengacu pasal 20 Undang- undang Hak Tanggungan maka ada dua kemungkinan
yang dapat dilakukan oleh kreditor apabila debitor cidera janji yaitu :
1. melaksanakan parate eksekusi dan
2. berdasarkan title eksekutorial yang terdapat dalam sertifikat hak tanggungan
dijual dalam pelelangan umum
Dalam hal jaminan khusus yang berupa jaminan perorangan maka eksekusi
terhadap perjanjian jaminan ini sangat sulit karena hanya ada kesanggupan dari
penjamin yaitu seseorang pihak ketiga atau suatu perusahaan tertentu yang dijadikan
jaminan ,tanpa didukung dengan suatu perjanjian jaminan kebendaan yang menikat
pihak ketiga sebagai penjamin maka jaminan perorangan tidaklah mungkin dapat
dieksekusi
Kesimpulan
-Fungsi jaminan adalah untuk menjamin pelunasan utang apabila debitor
wanprestasi terutama akan jelas tampak pada perjanjian jaminan kebendaan karena
adanya obyek jaminan yang berupa benda tertentu,sehingga hak ini bersifat absolut,
sedangkan pada jaminan perorangan hanya ada kesanggupan pihak ketiga untuk
menjamin pemenuhan kewajiban debitor, tanpa didukung perjanjian jaminan
kebendaan yang mengikat pihak ketiga tersebut maka jaminan perorangan hanya
merupakan hak yang bersifat relatif seperti halnya jaminan yang bersifat umum.
-Dalam hal kepastian hukum dan jaminan rasa aman bagi kreditor maka jaminan
kebendaan adalah lebih kuat daripada jaminan perorangan,selain itu jaminan
kebendaan memberikan hak preferen kepada kreditor pemegang hak jaminan
kebendaan tersebut.
-Eksekusi benda jaminan pada perjanjian jaminan kebendaan dapat langsung
dilaksanakan sesuai dengan aturan yang berlaku , sebaliknya pada jaminan
perorangan eksekusi tidak dapat dilaksanakan dengan serta merta karena tidak ada
benda yang bisa dijadikan obyek jaminan yang dapat dieksekusi
jsh Jurnal Sosial Humaniora, Vol 8 No.1, Juni 2015
Niken Praseyowati dan Tony Hanoraga - 134
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman dan Samsul Wahidin , Beberapa Catatan Tentang Hukum Jaminan
dan Hak- hak Jaminan Atas Tanah ,Alumni., Bandung , 1995.
Badrulzaman , Mariam Darus, Bab- bab tentang Hypotheek,PT Citra Aditya Bakti,
Bandung, 2001.
Harsono , Boedi , Masalah Hipotek dan Credietverband , Kertas Kerja pada Seminar
tentang Hipotik dan Lembaga - lembaga Jaminan lainnya , BPHN,Binacipta,
Bandung, 1998.
Isnaeni, Moch , Hipotek Pesawat Udara di Indonesia, CV Dharma Muda, Surabaya,
2006.
Mertokusumo, Sudikno, Eksekusi Obyek Hak Tanggungan , Permasalahan dan
Hambatan , Makalah pada Penataran Dosen Hukum Perdata Se- Indonesia
Yogyakarta,Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada.
Satrio, J, Hukum Jaminan , Hak- hak Jaminan Kebendaan , PT Citra Aditya Bakti,
Bandung, 2003.
Sofwan, Sri Soedewi Masjchoen, Beberapa Masalah Pelaksanaan Lembaga Jaminan
Khususnya Fidusia Di Dalam Praktek Pelaksanaannya Di Indonesia,
,Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, 1987,
Subekti, R, Jaminan - jaminan untuk Pemberian Kredit Menurut Hukum Indonesia,
PT Citra Aditya Bakti, Bandung, 1997
Usman , Rachmadi, Pasal- pasal tentang Hak Tanggungan Atas Tanah, Djambatan ,
Jakarta, 2007.
jsh Jurnal Sosial Humaniora, Vol 8 No.1, Juni 2015
Download