PENDATAAN BYCATH HIU DAN PARI (MANTA)

advertisement
PENDATAAN BYCATH HIU DAN PARI (MANTA)
DI PELABUHAN PERIKANAN NUSANTARA BRONDONG
Fuad (1) , Dwiari Yoga Gautama(2), Sunardi(1) dan Citra Satrya Utama Dewi(1)
Jurusan Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan dan Kelautan
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UB. Jl. Veteran, Malang 65145
(Keterangan : (1) Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UB. (2)Bycatch Coordinator,
WWF-Indonesia)
PENDAHULUAN
Hiu merupakan hewan predator yang hidup disekitar terumbu karang dan bergerak
disekitar dasar perairan. Hewan predator ini berada pada tingkat atas rantai makanan yang
sangat menentukan dan mengontrol keseimbangan jaring makanan yang komplek (Ayotte,
2005). Disisi lain, ikan hiu mempunyai tingkat pertumbuhan yang lambat dan umur yang
panjang. Usia dewasa ikan hiu membutuhkan waktu sekitar delapan belas tahun lebih (Last
& Stevens, 1994).
Perdagangan hiu di Indonesia semakin marak terjadi. Hal ini ditunjukkan oleh data FAO
sepanjang 2002-2011 setidaknya menunjukkan bahwa terdapat 20 negara yang
bertanggungjawab terhadap 80% penangkapan ikan hiu di dunia dan Indonesia termasuk
yang terbesar. Indonesia dan India sendiri setidaknya memiliki 20% produksi penangkapan
hiu dalam sepanjang tahun 10 tahun tersebut.
Ikan hiu dan pari merupakan sumberdaya ikan yang jumlah dan sebarannya terbatas.
Penangkapan hiu secara berlebihan dapat menjadi masalah karena sebagian besar hiu tidak
bereproduksi dengan cepat seperti ikan lainnya, yang berarti sangat rentan terhadap
eksploitasi besar-besaran. Sebagai contoh pada hiu-hiu pelagis tingkat reproduksinya hanya
2-3 keturunan saja setiap tahun dan sangat lambat untuk mencapai usia matang.
Membutuhkan waktu sekitar 10 tahun lebih. Berdasarkan data CITIES setidaknya pada 2010
terdapat 180 spesies hiu dinyatakan telah berstatus terancam dibandingan dengan tahun 1996
yang hanya 15 spesies. Beberapa jenis hiu pelagis yang berstatus terancam antara lain: great
whale shark, blue shark, long fin mako, short fin mako, basking shark, whale shark, tiger
shark, dan thresher shark. Hampir semua spesies tersebut dapat kita jumpai di Indonesia.
Tujuan dari pendataan hiu dan pari manta di PPN Brondong adalah mengumpulkan data
hasil tangkapan nelayan target dan non/target hiu di Pelabuhan Perikanan Nusantara
Brondong, Lamongan.
METODOLOGI
Materi
Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah data hasil tangkapan hiu dan pari
(manta) di PPN Brondong, Lamongan dari bulan Oktober 2014 hingga bulan Maret 2015.
Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan Microsoft excel.
Metodologi
Pendataan logbook hiu harus mencatat detail-detail dasar dari setiap kegiatan pendaratan
ikan hiu di pelabuhan dimana pencatatan dilakukan pada setiap hiu yang mendarat.
Pendataan dari setiap kapal penangkap/kapal dengan by catch hiu yang sedang melakukan
bongkar hiu dicatat setiap hari dengan menggunakan Form-Catch Record dan melakukan
pengukuran pada jenis hiu target dengan menggunakan Form-Biology Survey. Jika
ditemukan anakan/embrio ikan hiu pada perut hiu betina, perlu juga dilakukan pencatatan
jumlah dan ukuran ikan dari semua anakan/embrio yang ditemukan dalam 1 induk.
Analisis
a.
Sebaran Frekuensi Panjang
Panjang total ikan hiu yang di daratkan di Pelabuhan Brondong digunakan sebagai data
dalam penentuan sebaran frekensi panjang. Untuk menganalisi data frekuensi panjang Hiu
dilakukan tahapan-tahapan (Walpole,1993) sebagai berikut:
a) menentukan jumlah dan selang kelas
b) menentukan nilai maksimum dan nilai minumum dari data panjang total hiu
c) menentukan nilai tengah kelas
𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑇𝑒𝑛𝑔𝑎ℎ =
𝑏𝑎𝑡𝑎𝑠 𝑏𝑎𝑤𝑎ℎ−𝑏𝑎𝑡𝑎𝑠 𝑎𝑡𝑎𝑠
2
d) menentukan kelas frekuensi dan memasukan frekuensi masing-masing kelas panjang
masing-masing ikan contoh pada selang kelas yang telah ditentukan.
Setelah distribusi frekuensi panjang ditentukan maka selang kelas yang sama diplotkan
dalam sebuah grafik. Grafik tersebut akan terlihat pegeseran sebaran kelas panjang selama
5 (lima) bulan. Pergeseran tersebut menggambarkan jumlah kelompok umur yang ada. Jika
terjadi pergeseran modus secara frekuensi panjang maka terdapat lebih dari satu kelompok
umur.
b.
Tangkapan per Satuan Upaya
Menurut UU No.31 tahun 20114, tangkapan per satuan upaya merupakan jumlah bobot
hasil tangkapan yang diperoleh dari satuan alat tangkap atau dalam waktu tertentu, yang
merupakan indeks kelimpahan suatu stok ikan. Tangkapan per satuan upaya dipengaruhi
oleh satuan waktu, besarnya stok, kegiatan penangkapan, dan kondisi lingkungan di daerah
penangkapan ikan. Apabila satuan waktu yang digunakan adalah tahun, perubahan kondisi
lingkungan perairan dalam satu tahun tertentu memiliki kecenderungan yang sama pada
tahun-tahun berikutnya.
Menurut Damayanti (2007), dengan demikian tangkapan per satuan upaya tahunan
dipengaruhi oleh besarnya stok dan kegiatan penangkapan yang biasanya dinyatakan dalam
bentuk upaya tangkap. Oleh karena itu, kajian tangkapan per satuan upaya dapat
memberikan petunjuk perubahan stok akibat kebijakan pengelolaan sumberdaya ikan
tersebut.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Keadaan Lapang
Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Brondong, Lamongan merupakan salah satu
pelabuhan perikanan nusantara (PPN) di Jawa Timur. Hal ini menjadikan Lamongan sebagai
pusat perdagangan ikan dari seluruh Jawa Timur, termasuk perdagangan hiu, sehingga selain
dari hasil tangkapan sampingan oleh nelayan lokal, terdapat pula hiu dari beberapa daerah
di Jawa Timur yang dibawa ke Lamongan untuk dilelang secara terbuka, bahkan juga dari
beberapa beberapa daerah di Jawa Tengah. Perdagangan hiu di Lamongan terjadi secara
terbuka di Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Komoditas yang dimanfaatkan dari hiu yang
dilelang di Lamongan adalah sirip dan daging, serta ada beberapa jenis hiu yang
dimanfaatkan kulitnya. Perdagangan hiu di PPN Brondong memiliki rantai distribusi yang
cukup panjang. Hiu yang didaratkan di PPN Brondong tidak dijual secara langsung kepada
pengepul hiu, namun melewati rantai distribusi yang umumnya melibatkan sampai pada
tingkat distributor ke-empat, hingga pada akhirnya dijual ke pengepul. Secara umum,
terdapat 4 (empat) pengepul utama hiu. Pengepul ini menempati satu area khusus yang
digunakan untuk lelang hiu setelah diambil siripnya. Sirip yang dimanfaatkan adalah sirip
dorsal, sirip pectoral, sirip ventral (jika ada), dan sirip ekor bagian bawah.
SURVEI BIOLOGI IKAN HIU
a. Jenis Hiu yang Didata
Selama kurun waktu 6 (enam) bulan penelitian di PPN Brondong Lamongan, telah
dilakukan enumerasi terhadap 4.265 ekor hiu. Berdasarkan data di atas, terdapat 10 (sepuluh)
jenis hiu yang menjadi target, yaitu:
a. Bigeye Thresher Shark
f. Scallop Hammerhead Shark
b. Blacktip Shark
g. Shortfin Mako Shark
c. Bull Shark
h. Silky Shark
d. Dusky Shark
i. Tiger Shark
e. Great Hammerhead Shark
j. Whitetip Shark
Jenis hiu lainnya yang bukan merupakan target pendataan, namun didaratkan di PPN
Brondong terdapat 5 jenis, yaitu:
a. Fossil Shark
b. Sliteye Shark
c. White cheek Shark
d. Indo Wpbbegong
e. Straigh-tooth Weasel Shark
b. Perbandingan Presentase Hiu Berdasarkan Jenis Yang Didaratkan
Pendataan yang telah dilakukan terhadap hiu yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan
Nusantara (PPN) Brondong, Lamongan (Tabel 1).
Tabel 1. Data Hasil Enumerasi di PPN Brondong, Lamongan.
No
1
2
3
4
5
Jenis Hiu
1
5
91
2
1
1
Bigeye Thresher Shark*
Blacktip Shark*
Bull Shark*
Dusky Shark*
Fossil Shark
Great Hammerhead
6 Shark*
0
7 Indo Wobbegong
0
Scallop Hammerhead
8 Shark*
518
9 Shortfin Mako Shark*
0
10 Silky Shark*
0
11 Sliteye Shark
0
Straight-tooth Weasel
12 Shark
0
13 Tiger Shark*
43
14 Whitecheek Shark
0
15 Whitetip Shark*
1
Jumlah
662
*) Hiu yang merupakan target enumerasi
2
3
117
1
6
0
Bulan ke3
4
7
0
355 123
1
6
17
0
7
1
5
0
83
0
0
0
6
0
66
0
0
0
Jumlah
15
835
10
24
9
0
0
2
0
1
0
0
0
1
2
4
2
1103
0
2
0
797
1
36
8
135
0
3
0
272
0
0
0
236
0
2
0
3061
1
43
8
0
62
0
1
1295
31
36
6
18
1322
0
6
0
0
275
0
10
0
3
368
0
30
0
6
343
31
187
6
29
4265
Pada (Tabel 1) diatas dapat diketahui bahwa hiu yang paling dominan didaratkan dan
dienumerasi di PPN Brondong adalah jenis Scallop Hammerhead Shark (Sphyrna lewini),
dengan jumlah total 3.061 ekor atau dengan persentase sebesar 71,77% selanjutnya yang
memiliki persentase terbesar kedua adalah Blacktip Shark dengan 19,58%, kemudian diikuti
dengan Tiger Shark dengan 4,38%. Hiu lain selain hiu diatas memiliki jumlah yang
persentase sama dengan atau dibawah 1%. Jenis-jenis hiu tersebut adalah Bigeye Thresher
Shark (0,35%); Bull Shark (0,23%); Dusky Shark (0,56%); Fossil Shark (0,21%); Great
Hammerhead Shark (0,09%); Indo Wobbegong (0,05%); Shortfin Mako Shark (0,02%);
Silky Shark (1,01%); Sliteye Shark (0,19%); Straight-tooth Weasel Shark (0,73%);
Whitecheek Shark (0,14%); dan Whitetip Shark (0,68%). Berdasarkan persentase tersebut,
dapat diketahui bahwa jenis hiu yang didaratkan di PPN Brondong didominasi oleh 3 (tiga)
jenis, yaitu Scallop Hammerhead Shark, Blacktip Shark, dan Tiger Shark dengan persentase
ketiganya lebih dari 95% dapat dilihat pada (Gambar 1).
Scallop
Hammerhead
Shark*; 72%
Shortfin Mako
Shark*; 0%
Silky Shark*; 1%
Tiger Shark*; 4%
Whitecheek
Shark; 0%
Blacktip Shark*
Whitetip Bull Shark*
Shark*;
1%
Dusky Shark*
Fossil Shark*
Other; 6%
Bigeye Thresher
Shark*; 0%
Blacktip Shark*;
20%
Bull Shark*; 0%
Indo
Dusky Shark*; 1%
Wobbegong
; 0%
Fossil Shark*; 0%
Great Hammerhead
Shark*; 0%
Bigeye Thresher Shark*
Great Hammerhead Shark*
Sliteye
Shark;
0%
Indo Wobbegong
Scallop Hammerhead Shark*
Shortfin Mako Shark*
Straighttooth
Weasel
Shark; 1%
Silky Shark*
Sliteye Shark
Straight-tooth Weasel Shark
Gambar 1. Diagram Perbandingan Jenis Hiu di PPN Brondong, Lamongan.
c.
Sebaran Frekuensi Panjang Hiu yang Didaratkan
Jenis hiu yang di daratkan di PPN Brondong, Lamongan sebanyak 15 jenis hiu. Dimana
masing-masing hiu memiliki jumlah yang berbeda (Gambar 2).
Gambar 2. Diagram Jumlah Hiu yang di Daratkan per Bulan Pada Masing-Masing Jenis di
PPN Brondong, Lamongan.
d. Fluktuasi Jumlah Hiu Yang Didaratkan
Fluktuasi jumlah hiu yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Nusantara Brondong,
Lamongan mengalami naik turun. Hal ini diakibatkan karena cuaca ekstrim. Hal ini
berdampak pada penurunan jumlah hiu yang didaratkan dimulai dari bulan Desember hingga
bulan Maret, seperti tertera pada (Gambar 3) dimana bulan ke 1 adalah bulan Oktober (awal
pendataan).
Jumlah Enumerasi Hiu (ekor)
1400
1200
1000
800
600
400
200
0
1
2
3
4
5
6
Bulan ke-
Gambar 3. Grafik Fluktuasi Jumlah Hiu yang di Daratkan di PPN Brondong, Lamongan.
e.
DATA HIU YANG DIDARTAKAN BERDASARKAN JENIS KELAMIN
Berdasarkan diagram (Gambar 4) menunjukkan bahwa persentase hiu jantan dan hiu
betina cenderung sama pada PPN Brondong, Lamongan. Hiu betina yang berhasil didata
memiliki persentase sebesar 50,22% dengan jumlah sebesar 2.142 ekor hiu. Sedangkan pada
hiu jantan yang didata menunjukkan persentase sebesar 49,78% dengan jumlah sebesar
2.123 ekor.
Berdasarkan Kelamin
Betina
49.78%
50.22%
Jantan
Gambar 4. Data Hiu Berdasarkan Jenis Kelamin di PPN Brondong, Lamongan.
f.
Tingkat Kematangan Clasper Pada Hiu Jantan Yang Didaratkan
Pada hiu jantan dapat dibedakan lagi berdasarkan kategori clasper (kelamin) untuk
menunjukkan tingkat kematangan seksual pada hiu dengan parameter kalsifikasi pada
kelamin hiu jantan. Kategori kematangan seksual pada hiu jantan dibagi menjadi 3 (tiga)
kategori, yaitu Non-Calcification (NC), yang berarti hiu belum mengalami kalsifikasi
sehingga belum siap membuahi; Non-Full Calcification (NFC), yang berarti hiu jantan
dalam usia remaja yang hampir siap untuk membuahi hiu betina; dan Full-Calcification (FC)
yang berarti hiu jantan telah siap untuk melakukan pembuahan terhadap sel telur hiu betina.
Berdasarkan informasi ini, dapat diperkirakan usia hiu pada masing-masing jenis
dengan merujuk pada informasi yang telah ada sebelumnya. PPN Brondong, Lamongan hiu
jantan yang didata memiliki tiga kategori kematangan gonad (Gambar 5) dimana tingkat Non
Clacification (NC) pada hiu jantan memilki presentase terbesar di PPN Brondong,
Lamongan.
5.65%
23.74%
NC
NFC
FC
70.61%
Gambar 5.Tingkat Kematanagn Clasper Hiu Jantan yang di Daratkan di PPN Brondong
f.
Tangkapan Per-Satuan Upaya / Catch per Unit Effort
Effort yang digunakan dalam perhitungan TPSU yaitu unit kapal yang melakukan
penangkapan ikan setiap bulannya selama waktu penelitian. Penangkapan hiu di daerah
Lamongan mengalami fluktuasi setiap bulannya. Tabel dibawah ini merupakan data TPSU
di PPN Brondong Lamongan (Tabel 2).
Tabel 2. Hasil Tangkapan dan Upaya Penangkapan Hiu di PPN Brondong, Lamongan
Bulan
Oktober
November
Desember
Januari
Februari
Maret
Hasil
Tangkapan
(Ton)
662
1295
1322
275
368
343
Upaya
(Unit Kapal)
TPSU
(Ton / Unit Kapal)
176
161
263
52
47
170
3,77
8,04
5,02
5,29
7,83
2,02
Hasil tangkapan per upaya terendah di PPN Brondong Lamongan terendah terjadi
pada awal penelitian (Oktober) dan pada akhir penelitian (Maret) dikarenakan kondisi cuaca
(Gambar 6). Jumlah tangkapan per upaya terbesar terjadi pada bulan November sebanyak
8,04 ton/unit.
TPSU (Ton / Unit Kapal)
10
8
6
4
2
0
Oktober
November
Desember
Januari
Februari
Maret
BULAN
Gambar 6. Grafik Tangkapan per Satuan Upaya Penangkapan Hiu di PPN Brondong
Lamongan.
Peningkatan dan penurunan tangkapan per upaya pada hiu dipengaruhi oleh kondisi
cuaca, harga jual sirip hiu dan pengawasan pihak Dinas Kelautan dan Perikanan. Saat cuaca
buruk nelayan akan memutuskan tidak melakukan penagkapan terlalu jauh sehingga jumlah
hiu yang di tangkap menurun, harga sirip hiu pun ikut mempengaruhi nilai TPSU hal itu
karena bila harga jual menurun maka akan menyebabkan nelayan merugi sehingga mereka
memutuskan tidak mencari hiu terlebih dahulu hingga harga kembali normal.
g.
Lokasi Penangkapan Hiu
Pada Pelabuhan Perikanan Nusantara Brondong, Lamongan tidak didapatkan data
koordinat lokasi penangkapan. Ketiadaan data ini disebabkan karena alur perdagangan hiu
di PPN Brondong sangat tertutup, sehingga hiu yang sudah ada di pelelangan ikan tidak
diketahui sumber kapal nelayan yang menangkapnya. Ada sekitar tiga tangan sebelum hiu
sampai di pelelangan ikan, hal ini dilakukan untuk mengaburkan sumber data kapal nelayan
yang menangkapnya.
KESIMPULAN
Berdasaran jenis hiu yang didata di PPN Brondong, jenis hiu terbanyak yang berhasil
didata adalah Scallop Hammerhead Shark sejumlah 3061 ekor dan jenis hiu Blacktip Shark
sejumlah 835 ekor selama rentang 6 bulan. Hasil sebaran frekuensi hiu terdapat perubahan
sebaran frekuensi, hal ini dapat disimpulkan bahwa hiu yang didaratkan di PPN Brondong
memilki rentang umur yang berbeda. Fluktuasi hiu yang didaratkan di PPN Brondong
cenderung mengalami penurunan, dimana terjadi pada tiga bulan terakhir masa pendataan
yaitu pertengahan bulan Desember hingga akhir bulan Maret. Penurunan ini diakibatkan
karena kondisi cuaca yang buruk. Berdasarkan jenis kelamin, hiu yang didaratkan paling
besar adalah hiu jantan dengan selisih 2,44% dari hiu betina. Tingkat kematangan clasper
hiu jantan yang didaratkan terbanyak adalah pada tingkat Non Clacification (NC) yaitu
sebesar 70,61%. Tangkapan / satuan upaya atau TPSU tertinggi terjadi pada bulan November
sebesar 8,04.
UCAPAN TERIMAKASIH
Penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada WWF Indonesia atas sub-grant 1.4.7.2 By
2016, The National Plan of Action for the Conservation and Management of Sharks and
Rays Endorsed and Implemented by Indonesian Government and Integrated into Fisheries
Management Regulation. Penulis juga ingin mengucapkan terimakasih kepada Saudara
Ridwan Risandi dan Trio Budi Setyawan selaku enumerator hiu dan pari di Pelabuhan
Perikanan Nusantara Brondong, Lamongan.
DAFTAR PUSTAKA
Ayotte, L. 2005. Sharks-Educator’s Guide. 3D Entertainment ltd. And United Nations
Environment Program.
Damayanti PA, 2007. Analisis Tangkapan per Satuan Upaya (TPSU) Ikan Kembung
(Rastrelliger spp) di Kepulauan Seribu [Skripsi]. Departemen Manajemen
Sumberdaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian
Bogor. Bogor. 35 hlmn.
Last. P.R & J.D Stavens. 1994. Shark and Rays of Australia. Fisheries Research and
Development Corporation 513p.
Walpole RE, 1993. Pengantar Statistika. Edisi Ketiga Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 516
hlmn.
White, Wiliam T. 1977. Economically Important Shark and Rays Indonesia. Australia Center
for International Agricultural Research.
Download