Direktorat Penilaian Obat dan Produk Biologi

advertisement
KEPUTUSAN DIREKTUR PENILAIAN OBAT DAN PRODUK BIOLOGI
NOMOR HK.04.01.313.05.15.1413 TAHUN 2015
TENTANG
RENCANA STRATEGIS
DIREKTORAT PENILAIAN OBAT DAN PRODUK BIOLOGI
TAHUN 2015-2019
DIREKTUR PENILAIAN OBAT DAN PRODUK BIOLOGI,
Menimbang
:
bahwa untuk melaksanakan ketentuan dalam Pasal 3
Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan
Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana Strategis Badan
Pengawas Obat dan Makanan Tahun 2015-2019, perlu
menetapkan Keputusan Direktur Direktorat Penilaian Obat
dan Produk Biologi tentang Rencana Strategis Direktorat
Penilaian Obat dan Produk Biologi Tahun 2015-2019;
Mengingat
:
1.
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem
Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421);
2.
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun
2005-2025 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2007 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4700);
3.
Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2006 tentang
Tata Cara Penyusunan Rencana Pembangunan Nasional
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006
Nomor 97, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4664);
4.
Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2001 tentang
Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan
Organisasi, dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non
Departemen sebagaimana telah beberapa kali diubah
terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun
2013;
5.
KeputusanPresidenNomor 110 Tahun 2001 tentang Unit
Organisasi dan Tugas Eselon I Lembaga Pemerintah Non
Departemen sebagaimana telah beberapa kali diubah
-2terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun
2013;
6.
Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 tentang
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
Tahun 2015-2019;
7.
Peraturan Menteri Perencanaan Pembangunan
Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan
Nasional Nomor 5 Tahun 2014 tentang Pedoman
Penyusunan dan Penelaahan Rencana Strategis
Kementerian/Lembaga (Renstra K/L) 2015-2019;
8.
Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan
Nomor 02001/SK/KBPOM Tahun 2001 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Badan Pengawas Obat dan
Makanan sebagaimana telah diubah dengan Keputusan
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor
HK.00.05.21.4231 Tahun 2004;
9.
Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan
Nomor 14 Tahun 2014 tentang Organisasi dan Tata
Kerja Unit Pelaksana Teknis di Lingkungan Badan
Pengawas Obat dan Makanan (Berita Negara Republik
Indonesia Tahun 2014 Nomor 1714);
10. Peraturan KepalaBadan Pengawas Obat dan Makanan
Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana Strategis Badan
Pengawas Obat dan Makanan Tahun 2015-2019 (Berita
Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 515);
11. Keputusan Deputi Bidang Pengawas Produk Terapetik
dan NAPZA Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor:
HK.05.02.322.3.05.15.859 Tahun 2015 tentang Rencana
Strategis Deputi Bidang Pengawasan Produk Terapetik
dan NAPZA Badan Pengawas Obat dan Makanan Tahun
2015-2019
MEMUTUSKAN:
Menetapkan
:
KEPUTUSAN DIREKTUR PENILAIAN OBAT DAN PRODUK
BIOLOGI TENTANG RENCANA STRATEGIS DIREKTORAT
PENILAIAN OBAT DAN PRODUK BIOLOGI TAHUN 20152019.
-3Pertama
:
Menetapkan dan mengesahkan Rencana Strategis Direktorat
Penilaian Obat dan Produk Biologi Tahun 2015-2019, yang
selanjutnya disebut Renstra Direktorat Penilaian Obat dan
Produk Biologi, sebagaimana tercantum dalam Lampiran
yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Keputusan
ini.
Kedua
:
Renstra Direktorat Penilaian Obat dan Produk Biologi
memuat visi, misi, tujuan, sasaran strategis, kebijakan,
strategi, program, dan kegiatan sesuai dengan tugas dan
fungsi Direktorat Penilaian Obat dan Produk Biologi dalam
rangka mencapai sasaran strategis Badan Pengawas Obat
dan Makanan.
Ketiga
:
Renstra Direktorat Penilaian Obat dan Produk Biologi
sebagaimana dimaksud pada diktum Keduaberfungsi
sebagai:
a. acuan Direktorat Penilaian Obat dan Produk Biologi
dalam menyusun dokumen perencanaan tahunan;
b. dasar penyelenggaraan Sistem Akuntabilitas Kinerja
Instansi Pemerintah Direktorat Penilaian Obat dan
Produk Biologi
Keempat
:
Terhadap pelaksanaan Renstra Direktorat Penilaian Obat
dan Produk Biologi dilakukan:
a. pemantauan secara berkala; dan
b. evaluasi pada paruh waktu dan tahun terakhir periode
Rencana Strategis.
Kelima
:
Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
Ditetapkan di : Jakarta
pada tanggal
: 5 Mei 2015
____________________________________________
Direktur Penilaian Obat dan Produk Biologi,
Dra. Nurma Hidayati, M. Epid.
NIP. 19670131 199303 2 001
RENSTRA DIREKTORAT PENILAIAN OBAT DAN PRODUK BIOLOGI
2015 - 2019
LAMPIRAN
KEPUTUSAN DIREKTUR PENILAIAN
OBAT DAN PRODUK BIOLOGI
NOMOR HK.04.01.313.05.15.1413
TAHUN 2015 TENTANG RENCANA
STRATEGIS DIREKTORAT PENILAIAN
OBAT DAN PRODUK BIOLOGI TAHUN
2015 - 2019
BAB I
PENDAHULUAN
I.1.
KONDISI UMUM
Sesuai amanat Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem
Perencanaan Pembangunan Nasional, perencanaan pembangunan nasional
disusun secara periodik meliputi Rencana Pembangunan Jangka Panjang
Nasional (RPJPN) untuk jangka waktu 20 tahun, Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Nasional (RPJMN) dan Rencana Strategis (Renstra) Kementerian/
Lembaga untuk jangka waktu 5 tahun, serta Rencana Pembangunan Tahunan
yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Pemerintah (RKP) dan Rencana Kerja
Kementerian/Lembaga (Renja K/L).
Sebagaimana amanat tersebut dan dalam rangka mendukung pencapaian
program-program prioritas Badan POM, Direktorat Penilaian Obat dan Produk
Biologi sesuai kewenangan, tugas pokok dan fungsinya menyusun Rencana
Strategis (Renstra) Tahun 2015-2019 yang mengacu kepada Renstra Deputi
Bidang Pengawasan Produk Terapetik dan NAPZA dan Renstra Badan Pengawas
Obat dan Makanan Tahun 2015-2019. Proses penyusunan Renstra Direktorat
Penilaian Obat dan Produk Biologi tahun 2015-2019 dilakukan sesuai dengan
amanat peraturan perundang-undangan yang berlaku dan hasil evaluasi
pencapaian kinerja tahun 2010-2014. Selanjutnya Renstra Direktorat Penilaian
Obat dan Produk Biologi periode 2015-2019 diharapkan dapat meningkatkan
kinerja Direktorat Penilaian Obat dan Produk Biologi dibandingkan dengan
pencapaian dari periode sebelumnya sesuai dengan tujuan dan sasaran yang
telah ditetapkan.
1
RENSTRA DIREKTORAT PENILAIAN OBAT DAN PRODUK BIOLOGI
2015 - 2019
Adapun kondisi umum Direktorat Penilaian Obat dan Produk Biologi
pada saat ini berdasarkan peran, tupoksi dan pencapaian kinerja adalah sebagai
berikut:
A.
Peran Direktorat Penilaian Obat dan Produk Biologi berdasarkan
Peraturan Perundang-undangan
Berdasarkan Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor
02001/SK/KBPOM Tahun 2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Pengawas
Obat dan Makanan, Direktorat Penilaian Obat dan Produk Biologi memiliki tugas
pokok:
Penyiapan perumusan kebijakan, penyusunan pedoman, standar,
kriteria dan prosedur, serta pelaksanaan pengendalian, bimbingan
teknis dan evaluasi di bidang Penilaian Obat dan Produk Biologi.
Dalam melaksanakan tugas sebagaimana tersebut di atas, Direktorat Penilaian
Obat dan Produk Biologi menyelenggarakan fungsi sebagai berikut :
a)
Penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, penyusunan pedoman, standar,
kriteria dan prosedur, serta pelaksanaan pengendalian, pemantauan pemberian
bimbingan dan pembinaan di bidang penilaian obat baru;
b)
Penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, penyusunan pedoman, standar,
kriteria dan prosedur, serta pelaksanaan pengendalian, pemantauan, pemberian
bimbingan dan pembinaan di bidang penilaian obat copy dan produk biologi;
c)
Penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, penyusunan pedoman, standar,
kriteria dan prosedur, serta pelaksanaan pengendalian, pemantauan, pemberian
bimbingan dan pembinaan di bidang evaluasi produk terapetik penggunaan
khusus;
d)
Penyusunan rencana dan program penilaian obat dan produk biologi;
e)
Koordinasi kegiatan fungsional pelaksanaan kebijakan teknis di bidang penilaian
obat dan produk biologi;
f)
Evaluasi dan penyusunan laporan penilaian obat dan produk biologi;
g)
Pelaksanaan tugas lain sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan oleh Deputi
Bidang Pengawasan Produk Terapetik, Narkotik dan Zat Adiktif.
Direktorat Penilaian Obat dan Produk Biologi terdiri dari 3 Sub Direktorat,
yaitu :
2
RENSTRA DIREKTORAT PENILAIAN OBAT DAN PRODUK BIOLOGI
I.
2015 - 2019
Sub Direktorat Penilaian Obat Baru;
Sub Direktorat Penilaian Obat Baru mempunyai tugas melaksanakan penyiapan
bahan perumusan kebijakan teknis, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan
prosedur evaluasi dan pelaksanaan penilaian obat baru.
Dalam rangka melaksanakan tugasnya, menyelenggarakan fungsi:
a)
penyusunan rencana dan program penilaian obat baru;
b)
pelaksanaan penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, penyusunan
pedoman, standar, kriteria dan prosedur, serta pelaksanaan penilaian Obat Baru
Jalur I dan Obat Baru Jalur III;
c)
pelaksanaan penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, penyusunan
pedoman, standar, kriteria dan prosedur, serta pelaksanaan penilaian Obat Baru
Jalur II;
d)
evaluasi dan penyusunan laporan penilaian obat baru.
Sub Direktorat Penilaian Obat Baru terdiri dari dua seksi yang masing-masing
mempunyai tugas pokok sebagai berikut :
a.
Seksi Penilaian Obat Baru Jalur I dan III mempunyai tugas menyiapkan bahan
perumusan kebijakan teknis, penyusunan rencana dan program, penyusunan
pedoman, standar, kriteria dan prosedur, evaluasi dan penyusunan laporan, serta
melakukan penilaian Obat Baru Jalur I dan Obat Baru Jalur III
b.
Seksi Penilaian Obat Baru Jalur II mempunyai tugas menyiapkan bahan
perumusan kebijakan teknis, penyusunan rencana dan program, penyusunan
pedoman, standar, kriteria dan prosedur, evaluasi dan penyusunan laporan, serta
melakukan penilaian Obat Baru Jalur II.
II.
Sub Direktorat Penilaian Obat Copy dan Produk Biologi;
Sub Direktorat Penilaian Obat Copy dan Produk Biologi mempunyai tugas
melaksanakan penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, penyusunan pedoman,
standar, kriteria, prosedur, evaluasi serta pelaksanaan penilaian obat copy, produk
biologi dan reevaluasi obat.
Dalam rangka melaksanakan tugasnya, menyelenggarakan fungsi :
a)
penyusunan rencana dan program penilaian obat copy,
produk biologi dan
reevaluasi obat;
3
RENSTRA DIREKTORAT PENILAIAN OBAT DAN PRODUK BIOLOGI
b)
2015 - 2019
pelaksanaan penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, penyusunan
pedoman, standar, kriteria dan prosedur, serta pelaksanaan penilaian obat copy;
c)
pelaksanaan penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, penyusunan
pedoman, standar, kriteria dan prosedur, serta pelaksanaan penilaian produk
biologi;
d)
pelaksanaan penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, penyusunan
pedoman, standar, kriteria dan prosedur, serta pelaksanaan reevaluasi obat;
e)
evaluasi dan penyusunan laporan penilaian obat copy,
produk biologi dan
reevaluasi obat;
Sub Direktorat Penilaian Obat Copy dan Produk Biologi terdiri dari 3 seksi, yang
masing-masing mempunyai tugas pokok sebagai berikut :
a.
Seksi Penilaian Obat Copy mempunyai tugas menyiapkan bahan perumusan
kebijakan teknis, penyusunan rencana dan program, penyusunan pedoman,
standar, kriteria dan prosedur, evaluasi dan penyusunan laporan, serta
melakukan penilaian obat copy.
b.
Seksi Penilaian Produk Biologi mempunyai tugas menyiapkan bahan
perumusan kebijakan teknis, penyusunan rencana dan program, penyusunan
pedoman, standar, kriteria dan prosedur, evaluasi dan penyusunan laporan, serta
melakukan penilaian produk biologi.
c.
Seksi Reevaluasi Obat mempunyai tugas menyiapkan bahan perumusan
kebijakan teknis, penyusunan rencana dan program, penyusunan pedoman,
standar, kriteria dan prosedur, evaluasi dan penyusunan laporan, serta
melakukan reevaluasi obat.
III. Sub Direktorat Evaluasi Produk Terapetik Penggunaan Khusus
Sub Direktorat Evaluasi Produk Terapetik Penggunaan Khusus mempunyai
tugas melaksanakan penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, penyusunan
pedoman, standar, kriteria dan prosedur, serta pelaksanaan evaluasi produk terapetik
penggunaan khusus.
Dalam rangka melaksanakan tugasnya, menyelenggarakan fungsi :
a)
penyusunan rencana dan program evaluasi produk terapetik penggunaan khusus;
4
RENSTRA DIREKTORAT PENILAIAN OBAT DAN PRODUK BIOLOGI
b)
2015 - 2019
pelaksanaan penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, penyusunan
pedoman, standar, kriteria dan prosedur, serta pelaksanaan evaluasi produk
terapetik penggunaan khusus termasuk produk uji klinik;
c)
pelaksanaan penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, penyusunan
pedoman, standar, kriteria dan prosedur, serta pelaksanaan evaluasi produk
terapetik penggunaan khusus;
d)
evaluasi dan penyusunan laporan evaluasi produk terapetik penggunaan khusus
e)
pelaksanaan urusan tata operasional di lingkungan Direktorat.
Sub Direktorat Evaluasi Produk Terapetik Penggunaan Khusus terdiri dari 3
seksi yang mempunyai tugas pokok sebagai berikut:
a.
Seksi Evaluasi Produk dan Uji Klinik mempunyai tugas melakukan penyiapan
bahan perumusan kebijakan teknis, dan penyusunan rencana, program, pedoman,
standar, kriteria, prosedur, evaluasi dan laporan, serta melakukan evaluasi
produk uji klinik.
b.
Seksi Evaluasi Produk Terapetik Penggunaan Khusus mempunyai tugas
melakukan penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, dan penyusunan
rencana, program, pedoman, standar, kriteria, prosedur, evaluasi dan laporan,
serta melakukan evaluasi produk terapetik penggunaan khusus.
c.
Seksi Tata Operasional mempunyai tugas melakukan urusan tata operasional di
lingkungan Direktorat.
Dilihat dari fungsi Direktorat Penilaian Obat Dan Produk Biologi secara garis
besar, inti kegiatan atau pilar Direktorat Penilaian Obat dan Produk Biologi yaitu
penapisan produk dalam rangka pengawasan obat sebelum beredar (pre-market)
melalui peningkatan penilaian obat yang diselesaikan tepat waktu.
Tugas dan fungsi tersebut melekat pada Direktorat Penilaian Obat Dan Produk
Biologi sebagai unit kerja di Badan POM yang merupakan garda depan dalam hal
perlindungan terhadap konsumen obat. Di sisi lain, tupoksi Direktorat Penilaian Obat
dan Produk Biologi ini juga sangat penting dan strategis dalam kerangka mendorong
tercapainya Agenda Prioritas Pembangunan (Nawa Cita) yang telah dicanangkan oleh
Presiden Joko Widodo, khususnya pada butir 5: Meningkatkan kualitas hidup manusia
Indonesia, khususnya di sektor kesehatan.
5
RENSTRA DIREKTORAT PENILAIAN OBAT DAN PRODUK BIOLOGI
B.
2015 - 2019
Struktur Organisasi dan Sumber Daya Manusia
Struktur Organisasi dan Tata Kerja Direktorat Penilaian Obat dan Produk
Biologi disusun berdasarkan Keputusan Kepala Badan POM Nomor 02001/SK/KBPOM
Tahun 2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Pengawas Obat dan Makanan,
sebagaimana
telah
diubah
dengan
Keputusan
Kepala
Badan
POM
Nomor
HK.00.05.21.4231 Tahun 2004.
Struktur organisasi Direktorat Penilaian Obat dan Produk Biologi adalah
sebagai berikut :
Gambar 1. Struktur Organisasi Direktorat Penilaian Obat dan Produk Biologi
Direktur Penilaian Obat dan
Produk Biologi
Sub.Dit Penilaian
Obat Baru
Seksi
Penilaian Obat
Baru Jalur I dan III
Seksi
Penilaian Obat
Baru Jalur II
Sub.Dit Penilaian
Obat Copy dan
Produk Biologi
Seksi
Penilaian Obat
Copy
Seksi
Penilaian Produk
Biologi
Seksi
Reevaluasi
Obat
Sub.Dit Evaluasi
Produk Terapetik
Penggunaan Khusus
Seksi
Evaluasi Produk
dan Uji Klinik
Seksi
Evaluasi Produk
Terapetik
Penggunaan Khusus
Seksi
Tata Operasional
Untuk mendukung tugas Direktorat Penilaian Obat dan Produk Biologi
sesuai dengan peran dan fungsinya diperlukan sejumlah SDM yang memiliki
keahlian dan kompetensi yang baik. Jumlah SDM yang dimiliki Direktorat
Penilaian Obat dan Produk Biologi untuk melaksanakan tugas dan fungsi
pengawasan pre market obat sampai tahun 2014 adalah sejumlah 64 orang.
6
RENSTRA DIREKTORAT PENILAIAN OBAT DAN PRODUK BIOLOGI
2015 - 2019
Jumlah pegawai Direktorat Penilaian Obat Dan Produk Biologi berdasarkan
tingkat pendidikan dapat dijelaskan pada tabel 1 di bawah ini:
Gambar 1
Profil Pegawai Direktorat Penilaian Obat dan Produk Biologi
Berdasarkan Tingkat Pendidikan Tahun 2014
5, 8%
9, 14%
14, 22%
S2
Apt/Profesi
36, 56%
S1
Non Sarjana
Dari komposisi SDM Direktorat Penilaian Obat dan Produk Biologi
sampai dengan tahun 2014 sesuai gambar tersebut di atas, untuk menghadapi
perubahan lingkungan strategis yang semakin dinamis, khususnya perubahan
lingkungan strategis eksternal serta semakin besarnya tuntutan terhadap
perbaikan pelayanan publik, maka perlu dilakukan peningkatan kuantitas
maupun kualitas SDM agar dapat mengantisipasi perubahan lingkungan
strategis tersebut sehingga bisa mewujudkan tujuan organisasi dalam lima
tahun kedepan.
Untuk memenuhi komitmen terhadap pencapaian target kinerja
Direktorat Penilaian Obat dan Produk Biologi, telah dilakukan analisis beban
kerja untuk mengetahui kebutuhan pegawai tahun 2015 - 2019. Pada tahun
2015, Direktorat Penilaian Obat dan Produk Biologi belum didukung dengan
SDM yang memadai dan masih kekurangan SDM sejumlah 48 orang dihitung
berdasarkan analisis beban kerja terhadap target yang ditetapkan. Berikut ini
adalah profil kebutuhan pegawai berdasarkan analisa beban kerja di Direktorat
Penilaian Obat dan Produk Biologi :
7
RENSTRA DIREKTORAT PENILAIAN OBAT DAN PRODUK BIOLOGI
2015 - 2019
Gambar 2. Hasil Analisis Beban Kerja
Direktorat Penilaian Obat dan Produk Biologi Tahun 2015 – 2019
180
150
160
140
168
160
155
135
Standar kebutuhan SDM
(berdasarkan ABK 2015)
120
100
86
85
80
60
85
65
82
70
75
82 86
SDM Pensiun, pindah dll
48
40
20
SDM yg tersedia
Kekurangan SDM
1
0
0
3
0
2015
2016
2017
2018
2019
0
C.
Hasil Capaian Kinerja Direktorat Penilaian Obat dan Produk Biologi
periode 2010-2014
Untuk melindungi masyarakat dari risiko obat dan produk biologi yang
tidak memenuhi standar dan persyaratan, harus dilakukan evaluasi terlebih
dahulu terhadap keamanan, kemanfaatan dan mutu obat sebelum obat
diizinkan untuk diproduksi atau diimpor dan diedarkan di Indonesia. Dalam
evaluasi tersebut, dikembangkan suatu mekanisme evaluasi yang obyektif
melalui pembentukan tim independen Komite Nasional Penilai Obat Jadi
(KOMNAS POJ). Komite tersebut terdiri dari pakar yang berasal dari berbagai
universitas serta institusi terkait. Pertemuan berkala dilakukan untuk
membahas dan mengevaluasi keamanan, kemanfaatan dan mutu obat
berdasarkan data ilmiah yang diserahkan, berupa data preklinik dan data klinik
serta data penunjang lain. Evaluasi mutu dilakukan untuk menjamin
terpenuhinya spesifikasi dan standar untuk zat aktif, zat tambahan dan produk
obat jadi serta bahan kemasan. Untuk menjamin mutu produk, Badan POM
mensyaratkan bahwa setiap produk obat yang dihasilkan harus melalui proses
produksi sesuai Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB). Persetujuan ijin edar
Produk Terapetik yang dikeluarkan selama tahun 2010 - 2014 sebanyak 22.676,
8
RENSTRA DIREKTORAT PENILAIAN OBAT DAN PRODUK BIOLOGI
2015 - 2019
berturut-turut adalah 4.055, 3.062, 5.091, 5.644 dan 4.824. Jumlah ini melebihi
target yang ditetapkan dalam Renstra Tahun 2010 -2014 yaitu 14.000.
Gambar 3. Profil Nomor Ijin Edar (NIE) Obat
yang Diterbitkan Tahun 2010-2014
6000
5091
5000
5644
4824
4055
4000
3062
3000
2000
1000
0
2010
2011
2012
2013
2014
Gambar 4. Perbandingan Jumlah Berkas yang Masuk vs Jumlah Berkas yang
Jumlah berkas
diselesaikan Tahun 2010 – 2014
20000
18000
16000
14000
12000
10000
8000
6000
4000
2000
0
19434
15036
14810
8466
4353
2010
9109
9732
7874
8922
Berkas yang masuk
Berkas yang diselesaikan
3700
2011
2012
2013
2014
Tahun
Adanya kebijakan pemerintah terkait program Jaminan Kesehatan Nasional
(JKN) melalui BPJS Kesehatan meningkatkan jumlah pendaftaran obat dan produk
biologi terkait upaya pemenuhan kebutuhan obat untuk program tersebut. Disamping
itu juga kebijakan untuk mendaftar ulang produk yang diwajibkan setiap 5 tahun sejak
izin edar dikeluarkan berpengaruh terhadap meningkatnyajumlah produk yang
didaftarkan pelaku usaha di bidang farmasi untuk memenuhi ketentuan yang
ditetapkan oleh Badan POM sebelum produk obat tersebut diedarkan.
9
RENSTRA DIREKTORAT PENILAIAN OBAT DAN PRODUK BIOLOGI
2015 - 2019
Gambar 5. Rasio pencapaian kinerja Direktorat Penilaian Obat dan Produk
Biologi periode 2010-2014
Capaian Kinerja
120.00%
104.67%
100.57%100.21%
96.25%
91.19%
100.00%
80.73%
80.00%
64.83%
58.06%
60.00%
Obat dan Produk Biologi
40.00%
Obat Prioritas
20.00%
0.00%
2010
2011
2012
2013
2014
Tahun
Jika dilihat dari capaian kinerja selama 5 tahun terakhir, terdapat trend
penurunan pemenuhan timeline sehingga capaian kinerja menurun, namun jika
dilihat dari jumlah permohonan berkas yang masuk dan berkas yang diselesaikan
cenderung meningkat setiap tahun sehingga capaian kinerja yang menurun tidak
dapat dijadikan tolak ukur dalam menilai ketidakberhasilan dalam pencapaian
sasaran strategis RPJMN 2010 - 2014. Hal ini disebabkan Indikator Kinerja Utama
(IKU) dan metoda untuk penghitungan IKU belum dapat mencerminkan kinerja
direktorat yang sesungguhnya. Untuk itu, pada RPJMN tahun 2015 – 2019
dilakukan review kembali terhadap IKU yang akan digunakan untuk menilai
pencapaian kinerja yang dilakukan Direktorat Penilaian Obat dan Produk Biologi.
Direktorat Penilaian Obat dan Produk Biologi telah berusaha
menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik sesuai kewenangannya,
meskipun pencapaian kinerjanya belum memenuhi target yang diinginkan.
Dengan adanya perubahan lingkungan strategis yang sangat dinamis
diharapkan peran Direktorat Penilaian Obat dan Produk Biologipada masa
yang akan datang dapat lebih ditingkatkan. Direktorat Penilaian Obat dan
Produk Biologi diharapkan terus menjaga kinerjanya sesuai harapan
10
RENSTRA DIREKTORAT PENILAIAN OBAT DAN PRODUK BIOLOGI
2015 - 2019
masyarakat, yaitu agar pengawasan Obat dan Makanan terus lebih
dimaksimalkan untuk melindungi kesehatan masyarakat.
D.
Isu-isu Strategis sesuai dengan Tupoksi dan Kewenangan Direktorat
Penilaian Obat dan Produk Biologi
Selama periode 2010-2014, pelaksanaan peran dan fungsi Direktorat
Penilaian Obat dan Produk Biologi telah diupayakan secara optimal sesuai
target untuk mencapai hasil terbaik dalam pencapaian kinerjanya. Namun
demikian, upaya tersebut masih menyisakan permasalahan yang belum
sepenuhnya sesuai dengan harapan masyarakat, antara lain belum sepenuhnya
tercapai penapisan produk dalam rangka pengawasan obat sebelum beredar
(pre-market). Dari permasalahan tersebut di atas terdapat beberapa penyebab
yang dianggap sangat krusial dan strategis bagi peran Direktorat Penilaian Obat
dan Produk Biologi dalam melakukan pembenahan di masa mendatang,
sehingga diharapkan pencapaian kinerja berikutnya akan lebih optimal.
Direktorat Penilaian Obat dan Produk Biologi sebagai salah satu unit di
Badan POM yang bertugas untuk melakukan pengawasan sebelum obat
diedarkan masih perlu terus dilakukan penguatan, baik secara kelembagaan
maupun dari sisi manajemen sumber daya manusianya, agar pencapaian kinerja
di masa datang semakin membaik dan dapat memastikan berjalannya proses
pengawasan obat yang lebih ketat dalam menjaga keamanan, khasiat dan mutu
obat tersebut, yang pada akhirnya diharapkan dapat memberikan kontribusi
yang maksimal bagi pembangunan kesehatan masyarakat.
Isu strategis dari permasalahan pokok yang dihadapi Direktorat
Penilaian Obat dan Produk Biologi sesuai peran dan kewenangannya dalam
penguatan sistem pengawasan pre market obat yang lebih optimal, perlu terus
diperkuat dalam peningkatan kinerja di masa yang akan datang.
Direktorat Penilaian Obat dan Produk Biologi mempunyai peran yang
strategis dalam Sistem Pengawasan Obat dan Makanan (SISPOM) melalui
pengawasan pre-market terhadap obat dan produk biologi yang didaftarkan.
Sesuai dengan ketentuan yang berlaku, sebelum obat diizinkan untuk
diproduksi atau diimpor dan diedarkan di Indonesia harus dilakukan evaluasi
11
RENSTRA DIREKTORAT PENILAIAN OBAT DAN PRODUK BIOLOGI
2015 - 2019
terlebih dahulu terhadap keamanan, kemanfaatan dan mutunya untuk
memastikan agar konsumen mendapat obat yang aman dan berkhasiat.
Selain pengawasan pre-market, Direktorat Penilaian Obat dan Produk
Biologi juga melakukan pengawasan obat untuk tujuan khusus seperti obat
untuk uji klinik dan obat untuk pengembangan produk yaitu dengan melakukan
evaluasi terhadap dokumen obat, pengawasan penggunaan obat, inspeksi uji
klinik, monitoring laporan efek samping dan monitoring Kejadian Tidak
Diinginkan Serius/KTDS.
Peran perlindungan konsumen terhadap berbagai resiko kesehatan dari
obat/produk terapetik yang tidak memenuhi ketentuan ini sejalan dengan UU
No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Pengawasan pre-market
selain untuk perlindungan konsumen, juga merupakan unsur penting dalam
meningkatkan daya saing mutu produk di pasar lokal, regional maupun global.
Peran
ganda
pengawasan
ini
sejalan
dengan
agenda
meningkatkan
kesejahteraan masyarakat.
Untuk memperkuat peran dan kewenangan lebih efektif, Direktorat
Penilaian Obat dan Produk Biologi terus melakukan perbaikan dan
pengembangan serta penguatan regulasi, khususnya peraturan perundangundangan yang menyangkut peran, tugas pokok dan fungsinya. Di samping itu,
kondisi lingkungan strategis dengan dinamika perubahan yang sangat cepat,
menuntut Direktorat Penilaian Obat dan Produk Biologi terus melakukan
evaluasi dan mampu beradaptasi dalam pelaksanaan peran-perannya secara
tepat dan sesuai dengan kebutuhan zaman. Dengan etos tersebut, diharapkan
mampu menjadi katalisator dalam proses pencapaian tujuan pembangunan
kesehatan nasional.
I.2.
POTENSI DAN PERMASALAHAN
Sejalan dengan dinamika lingkungan strategis, baik nasional maupun
global, permasalahan dan tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia semakin
kompleks.
Secara garis besar, lingkungan strategis yang bersifat eksternal yang
dihadapi oleh Direktorat Penilaian Obat dan Produk Biologi terdiri atas 2 (dua)
isu mendasar, yaitu kesehatan dan globalisasi. Isu kesehatan yang akan diulas
12
RENSTRA DIREKTORAT PENILAIAN OBAT DAN PRODUK BIOLOGI
2015 - 2019
disini adalah Sistem Kesehatan Nasional (SKN) dan Sistem Jaminan Sosial
Nasional
(SJSN).
Sedangkan
terkait
globalisasi,
berhubungan
dengan
perdagangan bebas, komitmen internasional, post MDGs 2015, perubahan iklim
dan demografi. Isu-isu tersebut saling terkait satu dengan yang lain. Adapun
lingkungan strategis yang mempengaruhi peran Direktorat Penilaian Obat dan
Produk Biologi baik internal maupun eskternal adalah sebagai berikut:
1.2.1. Sistem Kesehatan Nasional (SKN)
Sistem Kesehatan Nasional (SKN) merupakan wujud dan sekaligus
metode penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang memadukan berbagai
upaya bangsa Indonesia dalam satu derap langkah guna menjamin tercapainya
tujuan pembangunan kesehatan.
Keberhasilan pembangunan kesehatan sangat ditentukan oleh dukungan
sistem nilai dan budaya masyarakat yang secara bersama terhimpun dalam
berbagai sistem kemasyarakatan. SKN merupakan bagian dari sistem
kemasyarakatan
yang
dipergunakan
sebagai
acuan
utama
dalam
mengembangkan perilaku dan lingkungan sehat serta menuntut peran aktif
masyarakat dalam berbagai upaya kesehatan tersebut.
Upaya pelayanan kesehatan masyarakat diselenggarakan oleh semua
pihak (pemerintah, pemerintah daerah, swasta dan masyarakat) melalui
peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, pengobatan dan pemulihan
kesehatan. Bentuk pelayanan kesehatan tersebut berupa layanan Rumah Sakit,
Puskesmas dan kegiatan peran serta masyarakat melalui Posyandu.
Semakin banyak pelayanan kesehatan yang disediakan, maka akan
semakin mempengaruhi kebutuhan pelayanan pendukung kepada kesehatan
masyarakat tersebut, yang antara lain tentunya adalah kebutuhan akan obat
semakin meningkat. Penjaminan mutu obat merupakan bagian yang tidak
terpisahkan juga dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. Hal ini
merupakan tantangan ke depan yang akan dihadapi oleh Direktorat Penilaian
Obat dan Produk Biologi dalam penyediaan obat-obatan yang aman, berkhasiat
dan bermutu.
Di samping itu juga munculnya bibit penyakit baru atau bibit penyakit yang
dulu pernah ada dan sudah langka kasusnya sekarang, namun kini berjangkit
13
RENSTRA DIREKTORAT PENILAIAN OBAT DAN PRODUK BIOLOGI
2015 - 2019
kembali. Penyakit ini, baik menular maupun yang tidak menular sebagai akibat dari
adanya perubahan iklim secara global, fluktuasi ekonomi, model perdagangan
bebas dan kemajuan teknologi maupun transisi dari demografi, juga turut
mengubah pola dan gaya hidup dari masyarakat Indonesia dalam mengkonsumsi
obat.
Untuk itu, permasalahan ini menjadi tantangan tersendiri bagi Direktorat
Penilaian Obat dan Produk Biologi untuk dapat memberikan rasa aman bagi
masyarakat dalam mengkonsumsi obat yang beredar di pasaran. Dalam
menciptakan rasa aman bagi masyarakat, Direktorat Penilaian Obat dan Produk
Biologi selama ini melakukan pengawasan dalam bentuk penilaian sebelum produk
diedarkan di masyarakat.
1.2.2. Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN)
Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) merupakan salah satu bentuk
perlindungan sosial untuk menjamin agar setiap rakyat dapat memenuhi
kebutuhan dasar hidup minimal yang layak menuju terwujudnya kesejahteraan
sosial yang berkeadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Sistem ini merupakan
program negara dalam rangka mewujudkan kesejahteraan rakyat melalui
pendekatan sistem. Sistem ini diharapkan dapat menanggulangi risiko ekonomi
karena sakit, PHK, pensiun, usia lanjut dan risiko lainnya dan merupakan cara
(means), sekaligus tujuan (ends) dalam mewujudkan kesejahteraan. Untuk itu,
dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional juga diberlakukan penjaminan mutu obat
yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam penyelenggaraan
pembangunan kesehatan.
Implementasi SJSN dapat membawa dampak secara langsung dan tidak
langsung terhadap pengawasan obat. Dampak langsung adalah meningkatnya
jumlah permohonan pendaftaran obat karena perusahaan obat/industri farmasi
akan berusaha menjadi supplier obat untuk program pemerintah tersebut.
Selain peningkatan jumlah obat yang didaftarkan, jenis obat pun akan sangat
bervariasi. Hal ini, disebabkan adanya peningkatan demand terhadap obat
sebagai salah satu produk yang dibutuhkan. Sementara dampak tidak
langsungnya adalah terjadinya peningkatan konsumsi obat, baik jumlah
maupun jenisnya. Dampak tersebut menuntut peran Direktorat Penilaian Obat
14
RENSTRA DIREKTORAT PENILAIAN OBAT DAN PRODUK BIOLOGI
2015 - 2019
dan Produk Biologi semakin besar, salah satunya yaitu intensifikasi pengawasan
obat sebelum beredar.
Dengan penerapan SJSN, maka akan banyak industri farmasi yang
melakukan registrasi ulang produk yang telah habis masa berlaku persetujuan
izin edar selama 5 (lima) tahun. Dengan demikian maka Direktorat Penilaian
Obat dan Produk Biologi dituntut harus lebih intensif dalam melakukan
penilaian obat.
1.2.3. Agenda Sustainable Development Goals (SDGs)
MDGs merupakan pendorong tindakan-tindakan untuk mengurangi
kemiskinan dan meningkatkan pembangunan masyarakat khususnya dalam
bentuk dukungan politik. Kelanjutan program ini disebut Sustainable
Development Goals (SDGs), yang meliputi 17 goals. Dalam bidang kesehatan,
faktanya individu yang sehat akan memiliki kemampuan fisik dan daya pikir
yang lebih kuat, sehingga dapat berkontribusi secara produktif dalam
pembangunan masyarakatnya.
Terkait Goal 3. Ensure healthy lives and promote well-being for all at all
ages, salah satu kondisi yang harus tercipta adalah pencapaian JKN, termasuk di
dalamnya akses masyarakat terhadap obat dan vaksin yang aman, efektif, dan
bermutu. Asumsinya, jaminan kesehatan memastikan masyarakat mendapatkan
dan menggunakan hanya obat atau vaksin yang aman, efektif, dan bermutu
untuk upaya kesehatan preventif, promotif, maupun kuratif, sehingga kualitas
hidup masyarakat meningkat.
Kontribusi untuk mencapai kondisi ini adalah ketersediaan Obat yang
aman, berkhasiat, dan bermutu di sarana pelayanan kesehatan. Hal ini bisa
tercapai hanya jika Industri Farmasi yang telah diintervensi (diawasi dan dibina
BPOM) mempraktekkan GMP dalam produksi Obat yang aman, berkhasiat, dan
bermutu dan PBF serta rantai distribusi obat menerapkan Good Distribution
Practices untuk mengawal mutu Obat JKN. Tantangan bagi BPOM ke depan
adalah intensifikasi pengawasan pre-market dan post-market, serta pembinaan
pelaku usaha agar secara mandiri menjamin mutu produknya
15
RENSTRA DIREKTORAT PENILAIAN OBAT DAN PRODUK BIOLOGI
2015 - 2019
1.2.4. Globalisasi, Perdagangan Bebas dan Komitmen Internasional
Dampak dari pengaruh lingkungan eksternal khususnya globalisasi telah
mengakibatkan Indonesia masuk dalam perjanjian-perjanjian internasional,
khususnya ekonomi yang menghendaki adanya area perdagangan bebas/Free
Trade Area (FTA). Dalam hal ini, memungkinkan negara-negara yang
bekerjasaman membentuk suatu kawasan bebas perdagangan yang bertujuan
untuk meningkatkan daya saing ekonomi kawasan regional dan berpeluang
besar menjadikan ASEAN sebagai basis produksi dunia serta menciptakan pasar
regional. Hal ini membuka peluang peningkatan nilai ekonomi sektor barang
dan jasa serta memungkinkan sejumlah produk obat dan makanan Indonesia
akan lebih mudah memasuki pasaran domestik negara-negara yang tergabung
dalam perjanjian pasar regional tersebut. Dalam menghadapi FTA dan
Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akhir tahun 2015, diharapkan industri
farmasi dalam negeri mampu untuk menjaga daya saing terhadap produk luar
negeri.
Dengan masuknya produk obat melalui perdagangan bebas, merupakan
persoalan krusial yang perlu segera diantisipasi. Realitas menunjukkan bahwa
saat ini Indonesia telah menjadi pasar bagi produk obat dan makanan dari luar
negeri yang belum tentu terjamin keamanan dan mutunya. Untuk itu,
masyarakat membutuhkan perlindungan yang kuat dan rasa aman dalam
mengkonsumsi obat dan makanan tersebut.
Perdagangan bebas juga membawa dampak tidak hanya terkait isu-isu
ekonomi saja, namun juga merambah pada isu-isu kesehatan. Terkait isu
kesehatan, masalah yang akan muncul adalah menurunnya derajat kesehatan
yang dipicu oleh perubahan gaya hidup dan pola konsumsi masyarakat tanpa
diimbangi dengan pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan kesehatan.
Permasalahan ini akan semakin kompleks dengan sulitnya pemerintah dalam
membuka akses kesehatan yang seluas-luasnya bagi masyarakat, khususnya
untuk masyarakat yang berada di pelosok desa dan perbatasan.
Perdagangan bebas membuat kepekaan “berbisnis” menjadi sangat
tinggi. Kebutuhan obat yang tinggi dengan ketersediaan yang rendah ditambah
lemahnya pengawasan dan penegakan hukum membuat masih ditemukan obat-
16
RENSTRA DIREKTORAT PENILAIAN OBAT DAN PRODUK BIOLOGI
2015 - 2019
obat yang tidak memenuhi syarat beredar dan mengandung bahan baku yang
berbahaya dan sangat merugikan masyarakat.
Berdasarkan data Badan POM tahun 2014, jumlah perusahaan farmasi di
Indonesia sebanyak 207 perusahaan, dengan 39 perusahaan diantaranya
merupakan perusahaan multinasional. Rata-rata penjualan obat di tingkat
nasional selalu tumbuh 12-13% setiap tahun dan lebih dari 70% total pasar
obat di Indonesia dipenuhi oleh perusahaan nasional. Namun, ketergantungan
impor bahan baku obat masih sangat tinggi, bahkan 95-96% diimpor dari China,
India dan Eropa.
Produksi bahan baku obat dalam negeri masih sangat kecil. Meskipun
Indonesia mampu memproduksinya namun sampai saat ini belum dapat
bersaing dengan produk impor. Jumlah industri farmasi nasional cukup besar
dengan kapasitas produksi sebesar 3% dari kapasitas total dunia. Namun, disisi
lain, pasar farmasi Indonesia relatif kecil yaitu sekitar 0,2% dari total pasar
dunia (Kardono, 2004). Apabila terjadi kenaikan drastis harga obat yang
berakibat menurunnya daya beli masyarakat, hal ini akan membuat masyarakat
lebih sulit untuk mendapatkan obat dan pada akhirnya akan menurunkan
tingkat kesehatan masyarakat baik dalam jangka pendek maupun jangka
panjang.
Dengan melihat besarnya potensi dan permasalahan yang dihadapi
Indonesia, maka pemerintah harus selalu mendukung dan melindungi industri
farmasi di Indonesia. Dengan adanya FTA, maka pemerintah harus
mengembangkan
kesiapan
industri
farmasi
untuk
dapat
mendukung
pemerataan, keterjangkauan dan ketersediaan obat yang bermutu, aman dan
berkhasiat sehingga mampu bersaing dengan produk obat dari luar negeri.
1.2.4. Perubahan Iklim
Perubahan iklim dapat mengakibatkan munculnya bibit penyakit baru
hasil mutasi gen dari beragam virus. Bibit penyakit baru tersebut diantaranya
virus influenza yang variannya sekarang menjadi cukup banyak dan mudah
tersebar dari satu negara ke negara lain.
Kementerian Kesehatan bekerja sama dengan Research Center for
Climate Change Universitas Indonesia (RCCC-UI) tahun 2013 melaksanakan
17
RENSTRA DIREKTORAT PENILAIAN OBAT DAN PRODUK BIOLOGI
2015 - 2019
kajian dan pemetaan model kerentanan penyakit infeksi akibat perubahan
iklim, Indonesia merupakan wilayah endemik untuk beberapa penyakit yang
perkembangannya terkait dengan pertumbuhan vektor pada lingkungan,
misalnya Demam Berdarah Dengue dan Malaria. Jadi di Indonesia, terdapat tiga
penyakit yang perlu mendapat perhatian khusus terkait perubahan iklim dan
perkembangan vector yaitu Malaria, Demam Berdarah Dengue (DBD) dan Diare.
Selain dari ketiga jenis penyakit tersebut, masih ada lagi penyakit yang banyak
ditemukan akibat adanya perubahan iklim seperti, Infeksi Saluran Pernapasan
(ISPA) dan penyakit batu ginjal.
Dengan adanya potensi permasalahan serta peluang dari perubahan
iklim, diperlukan peran Direktorat Penilaian Obat dan Produk Biologi dalam
melakukan penilaian varian produk obat yang baru dari jenis penyakit tersebut,
baik yang diproduksi di dalam negeri, maupun yang berasal dari luar negeri.
1.2.5. Perubahan Ekonomi dan Sosial Masyarakat
Kemajuan ekonomi Indonesia dapat dilihat dari indikator makroekonomi, yakni pendapatan perkapita sebesar USD 3000 tahun 2010 dan
diproyeksikan pada tahun 2025 mencapai USD 14.250–15.500 (Bappenas;
2012) dan telah menjadi 10 (sepuluh) besar negara yang mendominasi
kekuatan ekonomi dunia. Indikator ini menunjukan besarnya daya beli yang ada
pada masyarakat Indonesia. Secara teori dan fakta, bahwa semakin tinggi
pendapatan masyarakat maka semakin besar pula konsumsi obat dan makanan.
Berdasarkan data konsumsi obat yang dilakukan masyarakat Indonesia
pada Gambar 6, sebagian besar penduduk masih banyak yang mengkonsumsi
obat modern dibandingkan dengan obat tradisional. Konsumsi obat modern
pada tahun 2012 mencapai 91,40%, sedangkan obat tradisional hanya sebanyak
24,33%. Hal ini mendapat perhatian yang serius dari Direktorat Penilaian Obat
dan Produk Biologi.
18
RENSTRA DIREKTORAT PENILAIAN OBAT DAN PRODUK BIOLOGI
2015 - 2019
Gambar 6
Persentase penduduk yang mengkonsumsi obat modern dan tradisional
91.63%
90.76%
91.40%
90.96%
90.00%
60.00%
Obat Modern
27.57%
30.00%
22.24%
24.33%
23.63%
Obat Tradisional
0.00%
2009
2010
2011
2012
Sumber: Susenas BPS 2009-2012
1.2.6. Demografi dan Perubahan Komposisi Penduduk
Menurut sensus penduduk tahun 2010, rata-rata laju pertumbuhan
penduduk Indonesia dalam 10 (sepuluh) tahun terakhir sebesar 32,5 juta jiwa
(sebesar 1,49% pertahun). Dengan laju pertumbuhan sebesar itu, diperkirakan
jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2035 akan mencapai 450 juta jiwa. Dari
gambar 7 di bawah ini, dapat dilihat bahwa jumlah populasi terbesar berada
pada kelompok umur remaja 15-19 tahun, namun menunjukan tren penurunan.
Sementara usia produktif antara 30-54 tahun justru menunjukan tren
meningkat dari waktu ke waktu. Sedangkan usia 55-64 tahun dan usia di atas 65
tahun menunjukan tren yang meningkat tetapi dengan jumlah yang berbeda.
Semakin meningkat usia harapan hidup, artinya tingkat kesehatan masyarakat
juga semakin meningkat.
19
RENSTRA DIREKTORAT PENILAIAN OBAT DAN PRODUK BIOLOGI
2015 - 2019
Gambar 7
Perkembangan Jumlah Penduduk Indonesia Berdasarkan Kelompok Umur
jumlah penduduk (dalam 000)
Tahun 2009-2013
25,000
20,000
15,000
2009
10,000
2010
5,000
2011
0
2012
2013
Kelompok Umur
Sumber: BPS Proyeksi Penduduk Indonesia Tahun 2000-2013
Indonesia sebagai negara ke-4 dengan populasi lanjut usia tertinggi,
yakni 9,079 juta tahun 2010 dan akan naik pada tahun 2020 menjadi 29,047
juta (Proyeksi Penduduk Indonesia, BPS tahun 2010). Maka ada perubahan pola
penyakit dan kebutuhan layanan kesehatan jangka panjang. Secara umum,
transisi demografi juga akan menimbulkan efek pada transisi kesehatan di
masyarakat, sehingga terjadi peningkatan dalam penggunaan layanan
kesehatan baik secara personal, korporat maupun masyarakat luas. Efek ini
akan dapat mempengaruhi besarnya beban fasilitas kesehatan dan sistem
jaminan kesehatan masyarakat Indonesia, dan sekaligus akan mendorong
industri farmasi untuk mendaftarkan produk obatnya dalam rangka memenuhi
kebutuhan di pelayanan kesehatan terutama terkait proggram JKN, dan dengan
demikian akan menuntut Direktorat Penilaian Obat dan Produk Biologi untuk
meningkatkan kinerjanya dalam melakukan pengawasan pre-market obat
sebelum diedarkan.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa semakin
bertambah jumlah penduduk Indonesia, maka permintaan terhadap produk
obat juga akan semakin meningkat. Jika permintaan terhadap produk obat
semakin meningkat maka penawaran produk obat juga akan meningkat. Adanya
potensi pasar membuat para produsen baik lokal maupun internasional
meningkatkan produksi obat. Semakin banyaknya produk obat yang didaftarkan
20
RENSTRA DIREKTORAT PENILAIAN OBAT DAN PRODUK BIOLOGI
2015 - 2019
menuntut semakin besarnya peran Direktorat Penilaian Obat dan Produk
Biologi dalam proses penilaian dan pengawasan obat sebelum diedarkan.
1.2.7. Perkembangan Teknologi
Pasar obat masih didominasi oleh produksi domestik, namun penyediaan
kebutuhan bahan baku obat 96% diperoleh dari impor. Padahal Indonesia
memiliki 9.600 jenis tanaman yang berpotensi mempunyai efek pengobatan,
dan baru 300 jenis tanaman yang telah digunakan sebagai bahan baku. Dengan
kemajuan teknologi dan besarnya kebutuhan obat diharapkan Direktorat
Penilaian Obat dan Produk Biologi dapat mendorong industri farmasi untuk
meningkatkan produksi bahan baku obat dalam negeri.
Perkembangan teknologi informasi juga dapat menjadi potensi bagi
Direktorat Penilaian Obat dan Produk Biologi untuk dapat melakukan
pelayanan secara online, yang dapat memudahkan akses dan jangkauan
masyarakat yang ada di Indonesia. Namun di sisi lain, teknologi informasi juga
dapat menjadi tantangan bagi pengawasan post market obat terkait tren
pemasaran dan transaksi obat secara online, yang tentu saja juga perlu
mendapatkan pengawasan dengan berbasis pada teknologi.
1.2.8. Penguatan Sistem Pengawasan Pre Market
Penguatan system pengawasan pre market dilakukan melalui pengawasan
pre-market terhadap obat dan produk biologi yang didaftarkan sesuai dengan
ketentuan yang berlaku. Sebelum obat diizinkan untuk diproduksi atau diimpor
dan diedarkan di Indonesia harus dilakukan evaluasi terlebih dahulu terhadap
keamanan, kemanfaatan dan mutunya untuk memastikan agar konsumen
mendapat obat yang aman dan berkhasiat.
Selain pengawasan pre-market, Direktorat Penilaian Obat dan Produk
Biologi juga melakukan pengawasan obat untuk tujuan khusus seperti obat
untuk uji klinik dan obat untuk pengembangan produk yaitu dengan melakukan
evaluasi terhadap dokumen obat, pengawasan penggunaan obat, inspeksi uji
klinik, monitoring laporan efek samping dan monitoring Kejadian Tidak
Diinginkan Serius/KTDS.
Pengawasan pre-market selain untuk perlindungan konsumen, juga
merupakan unsur penting dalam meningkatkan daya saing mutu produk di
21
RENSTRA DIREKTORAT PENILAIAN OBAT DAN PRODUK BIOLOGI
2015 - 2019
pasar lokal, regional maupun global. Peran ganda pengawasan ini sejalan
dengan agenda meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Untuk memperkuat peran dan kewenangan lebih efektif, Direktorat
Penilaian Obat dan Produk Biologi terus melakukan perbaikan dan
pengembangan serta penguatan regulasi, khususnya peraturan perundangundangan yang menyangkut peran, tugas pokok dan fungsinya. Di samping itu,
kondisi lingkungan strategis dengan dinamika perubahan yang sangat cepat,
menuntut Direktorat Penilaian Obat dan Produk Biologi terus melakukan
evaluasi dan mampu beradaptasi dalam pelaksanaan peran-perannya secara
tepat dan sesuai dengan kebutuhan zaman. Dengan etos tersebut, diharapkan
mampu menjadi katalisator dalam proses pencapaian tujuan pembangunan
kesehatan nasional.
1.2.9. Komitmen dalam Pelaksanaan Reformasi Birokrasi
Untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik, Direktorat Penilaian
Obat dan Produk Biologi sebagai salah satu unit kerja di lingkungan BPOM,
melaksanakan reformasi birokrasi (RB) sesuai PP Nomor 81 Tahun 2010 tentang
Grand Design RB 2010-2025. Upaya atau proses RB yang dilakukan Direktorat
Penilaian Obat dan Produk Biologi berkontribusi dalam pencapaian sasaran sebagai
hasil yang diharapkan dari pelaksanaan RB di BPOM. Pola pikir pelaksanaan RB
sebagaimana gambar di bawah ini:
PENGAWASAN INTERNAL
ORGANISASI
SDM
TATA
LAKSANA
AKUNTABILITAS KINERJA
PENATAAN PERATURAN
PERUNDANG-UNDANGAN
MENINGKATNYA KAPASITAS
DAN AKUNTABILITAS
KINERJA BIROKRASI
HASIL
PELAYANAN PUBLIK
POLA PIKIR DAN BUDAYA KERJA
PENGUNGKIT
TERWUJUDNYA
PEMERINTAHAN
YANG BERSIH
DAN BEBAS
KORUPSI,
KOLUSI, DAN
NEPOTISME
MENINGKATNYA
KUALITAS
PELAYANAN
PUBLIK
INOVASI & PEMBELAJARAN
Gambar 1.5
Pola Pikir Pelaksanaan Reformasi Birokrasi
22
RENSTRA DIREKTORAT PENILAIAN OBAT DAN PRODUK BIOLOGI
2015 - 2019
1.2.10. Analisa terhadap Lingkungan Strategis (Strengths, Weaknesses,
Opportunities, Threats/SWOT)
Sebagaimana dinamika perubahan lingkungan strategis yang telah
dijelaskan di atas baik secara internal maupun eksternal, maka Direktorat
Penilaian Obat dan Produk Biologi harus melakukan upaya-upaya agar
pengaruh lingkungan khususnya eksternal dan meminimalisir ancaman yang
dapat mempengaruhi peran Direktorat Penilaian Obat dan Produk Biologi
sebagai sebagai salah satu unit di Badan POM yang bertanggungjawab dalam
melakukan penilaian dan pengawasan terhadap obat sebelum diedarkan (premarket).
Atas dasar pengaruh lingkungan strategis tersebut, dilakukan identifikasi
kekuatan, kelemahan, peluang dan hambatan melalui analisa SWOT, sehingga
dari analisa tersebut dapat ditetapkan arah strategis dan kebijakan Direktorat
Penilaian Obat dan Produk Biologi kedepan, agar dapat terwujud sesuai tujuan
dan sasaran organisasi dari Direktorat Penilaian Obat dan Produk Biologi dalam
Renstra Periode 2015-2019. Adapun hasil analisa SWOT tersebut dapat
dijelaskan sebagai berikut:
1.
KEKUATAN (STRENGTHS)
Direktorat Penilaian Obat dan Produk Biologi saat ini memiliki jumlah
SDM yang kurang memadai namun secara kualitas cukup terampil dalam
melakukan penilaian dan pengawasan produk obat sebelum diedarkan.
Di samping itu Direktorat Penilaian Obat dan Produk Biologi juga
mendukung reformasi birokrasi yang dicanangkan pemerintah hal ini
dibuktikan dengan komitmen untuk mencegah terjadinya praktik tindak
pidana korupsi, kolusi dan nepotisme.
Direktorat Penilaian Obat dan Produk Biologi memiliki jaringan
(networking) yang kuat dengan institusi lain seperti Kementerian
Kesehatan bahkan institusi internasional seperti WHO. Jaringan yang kuat
dan luas ini sangat strategis posisinya dalam mendukung tugas-tugas
pokok dari Direktorat Penilaian Obat dan Produk Biologi. Di sisi lain,
Direktorat Penilaian Obat dan Produk Biologi juga menyadari akan
pentingnya komunikasi dua arah dengan pelaku industri untuk itu
23
RENSTRA DIREKTORAT PENILAIAN OBAT DAN PRODUK BIOLOGI
2015 - 2019
diadakan pertemuan secara berkala dengan stakeholder Industri Farmasi
untuk mengetahui permasalahan yang terjadi selama proses registrasi
obat. Direktorat Penilaian Obat dan Produk Biologi juga memiliki
peraturan dan pedoman terkaiot registrasi obat yang digunakan sebagai
acuan dalam proses penilaian obat, sehingga seluruh kegiatan pengawasan
pre market telah memiliki standar baku.
Dalam mendorong pencapaian tujuan organisasi Direktorat Penilaian
Obat dan Produk Biologi, komitmen pimpinan menjadi mutlak sebagai
landasan untuk mewujudkan visi dan misi serta tujuan dari peran
Direktorat Penilaian Obat dan Produk Biologi dalam memberikan
kontribusi bagi pembangunan kesehatan masyarakat.
2.
KELEMAHAN (WEAKNESSES)
Saat ini SDM Direktorat Penilaian Obat dan Produk Biologi sudah
memiliki kualitas yang memadai, namun dari sisi kuantitas SDM
Direktorat Penilaian Obat dan Produk Biologi belum mencukupi
kebutuhan untuk menjalankan tugas dan fungsi Direktorat Penilaian Obat
dan Produk Biologi.
Sistem
manajemen
pemerintah
menuntut
adanya
ukuran
keberhasilan, baik di tingkat organisasi sampai ke level individu. Untuk
saat ini, sistem manajemen kinerja belum optimal diterapkan, sehingga
perlu dilakukan penerapan sistem manajemen kinerja yang lebih efektif
dan efisien.
Dalam pelaksanaan tugas pengawasan obat, diperlukan sarana dan
prasarana yang sangat memadai. Untuk itu, penyediaan sarana dan
prasarana yang memadai tersebut menjadi mutlak dilakukan dalam
mendukung tugas pokok dan fungsi Direktorat Penilaian Obat dan Produk
Biologi. Di samping itu, untuk mendukung pelaku usaha dalam melakukan
pendaftaran (registrasi) dan penyebarluasan informasi mengenai obat
perlu didukung dengan teknologi informasi yang memadai. Oleh karena
itu peran dan kewenangan Direktorat Penilaian Obat dan Produk Biologi
juga harus didukung oleh struktur organisasi dan tata kerja yang tepat.
24
RENSTRA DIREKTORAT PENILAIAN OBAT DAN PRODUK BIOLOGI
3.
2015 - 2019
PELUANG (OPPORTUNITIES)
Keberhasilan pembangunan kesehatan sangat ditentukan oleh
dukungan sistem nilai dan budaya masyarakat yang secara bersama
terhimpun dalam berbagai sistem kemasyarakatan. SKN dan JKN
merupakan bagian dari sistem kemasyarakatan yang dipergunakan
sebagai acuan utama dalam mengembangkan perilaku dan lingkungan
sehat serta peran aktif masyarakat dalam berbagai upaya kesehatan.
Untuk itu, SKN dan JKN merupakan tantangan atau peluang bagi
Direktorat Penilaian Obat dan Produk Biologi dalam mendorong upaya
kesehatan masyarakat yang lebih baik lagi dalam menghadapi pola
perilaku dan lingkungan sehat khususnya yang berkaitan dengan obat.
Dengan kemajuan teknologi dan besarnya kebutuhan produk obat,
Direktorat Penilaian Obat dan Produk Biologi dapat mendorong pelaku
usaha baik industri kecil maupun besar untuk mengoptimalkan
penggunaan bahan baku dalam negeri sehingga menjadi tantangan dan
peluang yang harus dihadapi oleh Direktorat Penilaian Obat dan Produk
Biologi dalam melakukan pengawasan obat sebelum diedarkan (pre
market).
Semakin bertambahnya penduduk dan berkembangnya jenis penyakit
maka kebutuhan obat akan semakin meningkat yang juga mendorong
pertambahan dan pertumbuhan industri obat secara pesat. Hal ini menjadi
peluang dan tantangan Direktorat Penilaian Obat dan Produk Biologi
dalam mengawasi sebelum diedarkan obat yang semakin banyak
variannya.
Kerjasama dengan Instansi terkait merupakan hal yang sangat mutlak
agar upaya pembangunan kesehatan dapat tercapai. Peluang kerjasama
dengan instansi terkait dapat mendorong efektivitas dan efesiensi
pengawasan obat.
Otonomi dan desentralisasi bidang kesehatan dan komitmen
pemerintah belum dapat berjalan sesuai yang diharapkan. Kerjasama
lintas sektor dan dukungan peraturan perundangan merupakan tantangan
yang sangat penting.
25
RENSTRA DIREKTORAT PENILAIAN OBAT DAN PRODUK BIOLOGI
4.
2015 - 2019
TANTANGAN (THREATS)
Tingginya arus produk obat yang beredar, mengakibatkan adanya
produk-produk yang tersedia di pasar tidak memenuhi kualifikasi standar
yang dipersyaratkan. Hal ini menjadi masalah dalam peredaran obat. Di
sisi lain, lemahnya penegakan hukum terhadap pelanggaran seperti ini
mengakibatkan ancaman bagi masyarakat.
Dengan
semakin
tumbuhnya
perekonomian
Indonesia
akan
mempengaruhi perubahan pola perilaku hidup sosialnya, salah satunya
dalam mengkonsumsi obat. Hal ini menjadi ancaman bagi masyarakat
apabila pengunaan obat tidak diantisipasi dengan pemberian informasi,
komunikasi dan edukasi atas penggunaan obat tersebut. Sisi lain,
globalisasi yang mendorong lahirnya area perdagangan bebas (free trade
area) menjadikan peredaran obat juga semakin sulit untuk dikontrol.
Dengan masuknya berbagai produk obat dari negara lain merupakan
persoalan krusial yang perlu diantisipasi segera. Realitas menunjukan
bahwa saat ini Indonesia telah menjadi pasar bagi produk obat dari luar
negeri yang belum tentu terjamin keamanan dan kualitasnya untuk
dikonsumsi. Untuk itu, masyarakat membutuhkan proteksi yang kuat dan
rasa aman dalam mengkonsumsi produk obat tersebut.
Rata-rata laju pertumbuhan penduduk Indonesia menurut sensus
penduduk tahun 2010, dalam sepuluh tahun terakhir sebesar 32,5 juta
jiwa (sebesar 1,49% pertahun). Sementara usia produktif antara 30-54
tahun menunjukkan tren meningkat dari waktu ke waktu. Juga usia 55-64
tahun dan usia di atas 65 tahun menunjukan tren yang meningkat tetapi
dengan jumlah yang berbeda. Semakin meningkat usia harapan hidup
artinya
tingkat
kesehatan
masyarakat
juga
semakin
meningkat.
Perkembangan jumlah penduduk yang sangat cepat, jika tidak ditata
dengan baik akan menjadi potensi ancaman bagi kesehatan masyarakat. Di
bawah ini, Tabel 2 tentang Rangkuman Analisis SWOT sesuai dengan
pengaruh lingkungan strategis dari internal dan eskternal.
Hasil analisa lingkungan strategis baik eksternal maupun internal
dirangkum dalam tabel 2 berikut :
26
RENSTRA DIREKTORAT PENILAIAN OBAT DAN PRODUK BIOLOGI
2015 - 2019
Tabel 2 : Rangkuman Analisis SWOT
Kekuatan (Strengths)







Kualitas SDM yang berkompeten dan
memenuhi kualifikasi dalam
menjalankan tugas
Memiliki peraturan dan pedoman
terkait Registrasi Obat
Integritas Pelayanan Publik yang
diakui
Networking yang kuat dengan institusi
lain dan diakui secara internasional
(WHO, ASEAN) agar mempermudah
pengawasan peredaran obat.
Memiliki komitmen untuk
menjalankan reformasi birokrasi yang
bersih serta bebas dari KKN
Melaksanakan komunikasi dua arah
dengan Industri Farmasi untuk
mengetahui kendala yang dihadapi
dalam proses registrasi
Memiliki system registrasi obat secara
online yang mempermudah Industri
Farmasi dalam melakukan registrasi
Kelemahan (Weaknesses)




Sebagian SDM masih membutuhkan
pelatihan kompetensi agar menjadi
tenaga yang handal dan berkompeten
dalam fungsi penilaian dan
pengawasan peredaran obat.
Jumlah SDM yang tidak sepadan
dengan beban kerja sehingga
menghambat proses evaluator dalam
menyelesaikan pekerjaan.
Kurangnya sarana prasarana untuk
pendukung kinerja baik
administrative maupun teknis
Kurangnya factor pendukung dari
Sistem IT sehingga aplikasi
elektronik pendaftaran obat dirasa
kurang optimal dalam
mengimplementasikannya
Obat
Peluang (Opportunities)





Adanya Program Nasional (JKN dan
SKN)
Perkembangan Teknologi yang sangat
cepat
Jumlah industri obat yang
berkembang pesat
Terjalinnya kerjasama dengan instansi
terkait
Pengunaan bahan baku dalam negeri
secara optimal
Tantangan (Threats)






Perubahan iklim dunia
Lemahnya penegakan hukum
Perubahan pola hidup yang
berkembang di masyarakat
Adanya Perjanjian Perdagangan Bebas
(Free Trade Area)
Kepatuhan pelaku usaha/ pengelola
yang belum optimal
Perkembangan jumlah penduduk yang
sangat cepat
Berdasarkan hasil Analisa SWOT di atas, maka Direktorat Penilaian Obat
dan Produk Biologi perlu melakukan penguatan internal, agar faktor-faktor
lingkungan strategis yang mempengaruhi baik internal maupun eksternal tidak
akan menghambat pencapaian tujuan dan sasaran organisasi Direktorat
Penilaian Obat dan Produk Biologi periode 2015-2019. Dilihat dari
keseimbangan pengaruh lingkungan internal antara kekuatan dan kelemahan
serta pengaruh lingkungan eksternal antara peluang dan ancaman, organisasi
27
RENSTRA DIREKTORAT PENILAIAN OBAT DAN PRODUK BIOLOGI
2015 - 2019
Direktorat Penilaian Obat dan Produk Biologi harus ditata kembali agar dapat
mewujudkan visi, misi dan tujuan organisasi Badan POM periode 2015-2019.
28
RENSTRA DIREKTORAT PENILAIAN OBAT DAN PRODUK BIOLOGI
2015 - 2019
BAB II
VISI, MISI DAN TUJUAN DIREKTORAT PENILAIAN OBAT DAN
PRODUK BIOLOGI
II.1.
VISI
Direktorat Penilaian Obat dan Produk Biologi harus memberikan
kontribusi yang signifikan bagi keberhasilan pelaksanaan RPJMN 2015-2019
dan RKP Tahunan, melalui penyusunan rencana strategis dan tahunan (RPJMN,
RKP) yang berkualitas serta optimalisasi pengendalian dan monitoring evaluasi
atas pelaksanaan pengawasan obat secara efektif dan efisien serta pelaksanaan
tugas-tugas lainnya dari pemerintah.
Kualitas pengawasan Obat dilihat dari: 1) Kualitas kebijakan dalam
penetapan Norma, Standar, Prosedur dan Kriteria terhadap Obat; 2) Kualitas
pengawasan Obat, serta 3) Kerjasama dan Komunikasi Publik dalam mendorong
peran serta masyarakat dalam memanfaatkan produk-produk Obat dan
Makanan sesuai standar. Apabila keseluruhan hal tersebut dapat terpenuhi,
maka berarti Direktorat Penilaian Obat dan Produk Biologi telah mampu
berperan dalam mendukung pencapaian, target, sasaran, misi dan visi Badan
POM yang selaras dengan RPJMN 2015-2019.
Untuk mendukung pencapaian visi dan misi Badan POM, maka
Direktorat Penilaian Obat dan Produk Biologi sesuai dengan tugas dan
kewenangannya sebagai unit eselon II yang bertanggung jawab dalam
pengawasan pre market obat mempunyai Visi yang mengacu pada Visi Badan
POM 2015-2019 sebagai berikut:
”Obat dan Makanan Aman Meningkatkan Kesehatan Masyarakat
dan Daya Saing Bangsa”
Penjelasan Visi:
Proses penjaminan pengawasan obat dan makanan harus melibatkan
masyarakat dan pemangku kepentingan serta dilaksanakan secara akuntabel
serta diarahkan untuk menyelesaikan permasalahan kesehatan yang lebih baik.
29
RENSTRA DIREKTORAT PENILAIAN OBAT DAN PRODUK BIOLOGI
2015 - 2019
Sejalan dengan itu, maka pengertian kata Aman dan Daya Saing adalah sebagai
berikut:
Aman
: Keadaan bebas dari bahaya. Semua Obat dan Makanan harus
dijamin keamanannya, agar tidak membahayakan bagi
masyarakat pengunanya.
Daya Saing
: Kemampuan menghasilkan produk barang dan jasa yang
telah memenuhi standar, baik standar nasional maupun
internasional, sehingga adanya kesiapan suatu produk
bangsa untuk interaksi daya saing di masa depan. Agar
menjadi kompetitif, dalam arti memiliki peluang untuk
menang bagi sejumlah pemain industri yang menghadapi
biaya tinggi.
II.2.
MISI
Terwujudnya visi di atas merupakan tantangan yang harus dihadapi oleh
segenap personil Direktorat Penilaian Obat dan Produk Biologi. Sebagai bentuk nyata
dari visi tersebut, maka Direktorat Penilaian Obat dan Produk Biologi mempunyai misi
yang mengacu pada misi Badan POM yang menggambarkan hal yang seharusnya
terlaksana, sehingga hal yang masih abstrak terlihat pada visi akan lebih nyata pada
misi tersebut.
Untuk mencapai visi tersebut, dijabarkan kedalam misi sebagai berikut :
1. Meningkatkan Sistem Pengawasan Obat dan Makanan Berbasis Risiko Untuk
Melindungi Masyarakat
2. Mendorong Kemandirian Pelaku Usaha dalam Memberikan Jaminan
Keamanan Obat dan Makanan serta Memperkuat Kemitraan dengan
Pemangku Kepentingan.
3. Meningkatkan Kapasitas Kelembagaan Badan Pengawas Obat dan Makanan.
Pernyataan misi tersebut yang dikaitkan dengan bidang pengawasan
pre-market obat dan produk biologi memperlihatkan kebutuhan apa yang
hendak dipenuhi oleh suatu organisasi.
Aspek peningkatan kinerja pengawasan dalam misi Direktorat Penilaian
Obat dan Produk Biologi tersebut juga sebagai upaya organisasi untuk meningkatkan
kinerja instansi pemerintah dalam rangka pelayanan kepada masyarakat. Kemudian,
30
RENSTRA DIREKTORAT PENILAIAN OBAT DAN PRODUK BIOLOGI
2015 - 2019
misi tersebut juga mengisyaratkan adanya upaya peningkatan pelayanan Direktorat
Penilaian Obat dan Produk Biologi dalam proses registrasi obat dan produk biologi.
II.3.
BUDAYA ORGANISASI
Budaya organisasi merupakan nilai-nilai luhur yang diyakini dan harus
dihayati dan diamalkan oleh seluruh anggota organisasi dalam melaksanakan
tugasnya. Nilai-nilai luhur yang hidup dan tumbuh-kembang dalam organisasi
menjadi semangat bagi seluruh anggota organisasi dalam berkarsa dan
berkarya.
1. Profesional
Menegakkan profesionalisme dengan integritas, objektivitas, ketekunan dan
komitmen yang tinggi.
2. Integritas
konsistensi dan keteguhan yang tak tergoyahkan dalam menjunjung tinggi
nilai-nilai luhur dan keyakinan
3. Kredibilitas
Dapat dipercaya, dan diakui oleh masyarakat luas, nasional dan
internasional.
4. Kerjasama Tim
Mengutamakan keterbukaan, saling percaya dan komunikasi yang baik.
5. Inovatif
Mampu melakukan
pembaruan
dan
inovasi-inovasi
sesuai dengan
perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi terkini.
6. Responsif/Cepat Tanggap
Antisipatif dan responsif dalam mengatasi masalah.
II.4. TUJUAN
Dalam rangka pencapaian visi dan misi pengawasan Obat dan Makanan, maka
tujuan yang akan dicapai oleh Badan POM dalam kurun waktu 2015-2019 adalah
sebagai berikut:
1. Meningkatnya jaminan produk Obat dan Makanan aman, berkhasiat/
bermanfaat, dan bermutu dalam rangka meningkatkan kesehatan masyarakat;
31
RENSTRA DIREKTORAT PENILAIAN OBAT DAN PRODUK BIOLOGI
2015 - 2019
2. Meningkatnya daya saing Obat dan Makanan di pasar lokal dan global dengan
menjamin mutu dan mendukung inovasi.
Sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya, Direktorat Penilaian Obat dan Produk
Biologi telah menetapkan tujuan yang ingin dicapai mengacu kepada tujuan strategis
yang telah ditetapkan oleh Badan POM. Tujuan strategis dari Direktorat Penilaian Obat
dan Produk Biologi adalah “Meningkatnya jaminan produk obat yang aman,
berkhasiat/ bermanfaat, dan bermutu dalam rangka meningkatkan kesehatan
masyarakat”
II.5.
SASARAN STRATEGIS
Sasaran strategis ini disusun berdasarkan visi dan misi yang ingin dicapai
Badan POM, dengan mempertimbangkan tantangan masa depan dan sumber daya
serta infrastruktur yang dimiliki Badan POM. Sesuai tugas dan fungsinya, Direktorat
Penilaian Obat dan Produk Biologi untuk mendukung visi dan misi Badan POM dalam
kurun waktu 5 (lima) tahun (2015-2019) ke depan memiliki sasaran strategis yang
sejalan dengan sasaran strategis Badan POM, yaitu “Menguatnya Sistem Pengawasan
Obat dan Makanan” dengan fokus pada pengawasan sebelum beredar (pre-market
control) dengan melakukan penilaian terhadap aspek khasiat, mutu dan keamanan
obat dan produk biologi sebelum diedarkan. Penilaian obat dilakukan secara terpusat,
dimaksudkan agar produk yang memiliki izin edar berlaku secara nasional
Dalam mendukung pencapaian sasaran strategis Badan POM tersebut,
Direktorat Penilaian Obat dan Produk Biologi memiliki visi, misi dan tujuan yang sama
dengan Badan POM dan
memiliki sasaran kegiatan yang mengacu pada sasaran
strategis dan indikator Deputi Bidang Pengawasan Produk Terapetik dan NAPZA
sebagai unit eselon I di atasnya. Adapun Visi, Misi, Tujuan, Sasaran Strategis dan
Indikator Kinerja Direktorat Penilaian Obat dan Produk Biologi periode 2015-2019,
adalah sebagai berikut :
32
RENSTRA DIREKTORAT PENILAIAN OBAT DAN PRODUK BIOLOGI
2015 - 2019
Tabel 3. Visi, Misi, Tujuan, Sasaran Strategis dan Indikator Kinerja
Direktorat Penilaian Obat dan Produk Biologi periode 2015-2019
VISI
MISI
TUJUAN
SASARAN
STRATEGIS
Obat
dan
Makanan
Aman
Meningkatka
n Kesehatan
Masyarakat
dan
Daya
Saing Bangsa
Meningkatkan
sistem
pengawasan
Obat
dan
Makanan
berbasis risiko
untuk
melindungi
masyarakat
Meningkatnya
jaminan
produk
Obat dan
Makanan
aman
Menguatnya
Sistem
Pengawasan
Obat
dan
Makanan
SASARAN
PROGRAM
Menguatnya
Sistem
Pengawasan
Obat
SASARAN
KEGIATAN
Tersedianya
memenuhi
standard*
obat
* Keterangan :
Memenuhi Standar:
memenuhi
persyaratan
khasiat, keamanan
dan mutu sebelum
produk dipasarkan
INDIKATOR
KINERJA
Persentase
keputusan
penilaian obat
yang
diselesaikan
33
RENSTRA DIREKTORAT PENILAIAN OBAT DAN PRODUK BIOLOGI
2015 - 2019
BAB III
ARAH KEBIJAKAN, STRATEGI, KERANGKA REGULASI
DAN KERANGKA KELEMBAGAAN
III.1. 1. ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI DEPUTI BIDANG PENGAWASAN
PRODUK TERAPETIK DAN NAPZA
Dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab Badan POM diperlukan
arah kebijakan dan strategi yang dapat membawa perubahan di dalam unit
kerja. Begitu juga dengan Deputi Bidang Pengawasan Produk Terapetik dan
NAPZA mempunyai kebijakan dan strategi untuk mewujudkan agenda
NAWACITA dan tujuan Badan POM. Adapun tujuan dan sasaran strategis Deputi
Bidang Pengawasan Produk Terapetik dan NAPZA periode 2015-2019 sebagai
berikut:
Arah Kebijakan yang akan dilaksanakan:
1) Penguatan Sistem Pengawasan obat berbasis risiko untuk melindungi
masyarakat
2) Peningkatan pembinaan dan bimbingan dalam rangka mendorong
kemandirian pelaku usaha dalam memberikan jaminan keamanan dan daya
saing produk Obat.
3) Peningkatan Kerjasama, Komunikasi, Informasi dan Edukasi publik melalui
kemitraan pemangku kepentingan dan partisipasi masyarakat dalam
pengawasan Obat.
Sedangkan strategi yang akan dilaksanakan mencakup eksternal dan internal.
Eksternal:
1)
Penguatan kemitraan dengan lintas sektor terkait pengawasan obat;
2)
Peningkatan pembinaan dan bimbingan melalui komunikasi, informasi dan
Edukasi kepada masyarakat dan pelaku usaha di bidang obat;
Internal:
1) Penguatan Regulatory System pengawasan obat berbasis risiko;
34
RENSTRA DIREKTORAT PENILAIAN OBAT DAN PRODUK BIOLOGI
2015 - 2019
2) Membangun Manajemen Kinerja dari Kinerja Lembaga hingga kinerja
individu/pegawai;
3) Mengelola anggaran secara lebih efisien, efektif dan akuntabel serta
diarahkan untuk mendorong peningkatan kinerja lembaga dan pegawai;
4) Meningkatkan kapasitas SDM secara lebih proporsional dan akuntabel;
Meningkatkan kualitas sarana dan prasarana pendukung maupun utama dalam
mendukung tugas pengawasan obat.Penguatan Regulatory System
pengawasan Obat dan Makanan berbasis risiko;
5) Membangun Manajemen Kinerja dari Kinerja Lembaga hingga kinerja
individu/pegawai;
6) Mengelola anggaran secara lebih efisien, efektif dan akuntabel serta
diarahkan untuk mendorong peningkatan kinerja lembaga dan pegawai;
7) Meningkatkan kapasitas SDM pengawas di BPOM di tingkat pusat dan
daerah secara lebih proporsional dan akuntabel
8) Meningkatkan kualitas sarana dan prasarana pendukung maupun utama
dalam mendukung
Untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsi sebagai lembaga pengawasan
Obat dan Makanan tersebut, Deputi Bidang Pengawasan Produk Terapetik dan
NAPZA menetapkan program sesuai RPJMN periode 2015-2019, yaitu Program
Pengawasan Obat dan Makanan. Program ini
dimaksudkan
untuk
melaksanakan tugas-tugas utama Badan Pengawasan Obat dan Makanan dalam
menghasilkan standardisasi dalam pemenuhan mutu, keamanan dan manfaat
Obat dan Makanan melalui serangkaian kegiatan penetapan standar
pengawasan, penilaian Obat dan Makanan sesuai standar, pengawasan terhadap
sarana produksi, pengawasan terhadap sarana distribusi, sampling dan
pengujian Obat dan Makanan beredar, penegakan hukum, serta pembinaan dan
bimbingan kepada pemangku kepentingan.
III.2. 1. ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI DIREKTORAT PENILAIAN OBAT
DAN PRODUK BIOLOGI
Direktorat Penilaian Obat dan Produk Biologi sebagai unit kerja yang
berada di bawah kedeputian Bidang Pengawasan Produk Terapetik dan NAPZA
35
RENSTRA DIREKTORAT PENILAIAN OBAT DAN PRODUK BIOLOGI
2015 - 2019
mempunyai kebijakan dan strategi untuk mewujudkan agenda NAWACITA dan
tujuan Badan POM. Berdasarkan hasil Analisa SWOT tersebut di atas, arah
kebijakan dan strategi untuk mencapai tujuan dan sasaran strategis Direktorat
Penilaian Obat dan Produk Biologi periode 2015-2019 yaitu sesuai Arah
Kebijakan Deputi I yaitu Penguatan Sistem Pengawasan obat berbasis risiko
untuk melindungi masyarakat.
Strategi yang akan dilaksanakan mencakup eksternal dan internal:
Eksternal:
1) Penguatan kemitraan dengan lintas sektor terkait pengawasan obat;
2) Peningkatan pembinaan dan bimbingan melalui komunikasi, informasi dan
edukasi kepada masyarakat dan pelaku usaha di bidang obat;
Internal:
1) Penguatan Regulatory System pengawasan obat berbasis risiko;
2) Membangun Manajemen Kinerja Unit Kerja hingga kinerja individu/
pegawai;
3) Mengelola anggaran secara lebih efisien, efektif dan akuntabel serta
diarahkan untuk mendorong peningkatan kinerja unit kerja dan pegawai;
4) Meningkatkan kapasitas sumber daya di Direktorat Penilaian Obat dan
Produk Biologi secara lebih proporsional dan akuntabel;
5) Meningkatkan kualitas sarana dan prasarana pendukung maupun utama
dalam mendukung tugas pengawasan obat sebelum diedarkan.
Untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsinya, Direktorat Penilaian
Obat dan Produk Biologi menetapkan program-program sesuai RPJMN periode
2015-2019, dengan program utama (teknis) yaitu melakukan pengawasan obat
sebelum diedarkan. Selanjutnya, program tersebut dijabarkan dalam kegiatan
prioritas Direktorat Penilaian Obat dan Produk Biologi dengan kegiatan utama
untuk melaksanakan pengawasan pre market obat yaitu peningkatan efektivitas
evaluasi pre-market melalui penilaian obat dan produk biologi;
Tabel 4. Sasaran dan Indikator Kegiatan Direktorat Penilaian Obat
dan Produk Biologi periode 2015-2019
36
RENSTRA DIREKTORAT PENILAIAN OBAT DAN PRODUK BIOLOGI
PROGRAM
PROGRAM
PENGAWASAN
OBAT DAN
MAKANAN
SASARAN
PROGRAM
Menguatnya
sistem
pengawasan
Obat dan
Makanan
KEGIATAN
STRATEGIS
Penilaian Obat
SASARAN
KEGIATAN
Tersedianya
memenuhi
standard
obat
* Keterangan :
Memenuhi Standar:
memenuhi
persyaratan
khasiat, keamanan
dan mutu sebelum
produk dipasarkan
2015 - 2019
INDIKATOR
Persentase
Keputusan
Penilaian Obat
yang
diselesaikan
III.3. KERANGKA REGULASI
Dalam rangka pelaksanaan tugas pengawasan pre market di bidang obat,
dibutuhkan adanya regulasi yang kuat guna mendukung sistem pengawasan.
Untuk dapat menyelenggarakan tugas pengawasan pre market obat secara
optimal, maka Direktorat Penilaian Obat dan Produk Biologi perlu ditunjang
oleh regulasi atau peraturan perundang-undangan yang kuat dalam lingkup
pengawasan obat.
Beberapa regulasi yang penting dan dibutuhkan oleh Direktorat
Penilaian Obat dan Produk Biologi dalam rangka memperkuat sistem
pengawasan antara lain:
1.
Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5063);
2.
Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1998 tentang Pengamanan Sediaan
Famasi dan Alat Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
1998 Nomor 138, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
3781);
3.
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 42, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3821);
4.
Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 103 Tahun 2001 tentang
Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja
37
RENSTRA DIREKTORAT PENILAIAN OBAT DAN PRODUK BIOLOGI
2015 - 2019
Lembaga Pemerintah Non Departemen sebagaimana telah beberapa kali
diubah, terakhir dengan Keputusan Presiden Nomor 64 Tahun 2005;
5.
Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 110 Tahun 2001 tentang
Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Lembaga Pemerintah Non Departemen
sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Peraturan
Presiden Nomor 52 Tahun 2005;
6.
Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan RI Nomor
02001/SK/KBPOM Tahun 2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan
Pengawas Obat dan Makanan, sebagaimana telah diubah dengan Keputusan
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan RI Nomor HK. 00. 05. 21. 4231
Tahun 2004;
7.
Peraturan
Menteri
Kesehatan
Republik
Indonesia
Nomor
Indonesia
Nomor
1010/MENKES/PER/XI/2008 tentang Registrasi Obat;
8.
Peraturan
Menteri
Kesehatan
Republik
1120/MENKES/PER/XII/2008 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1010/MENKES/PER/XI/ 2008
tentang Registrasi Obat;
9.
Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan RI Nomor
HK.03.1.23.10.11.08481 Tahun 2011 tentang Kriteria dan Tata Laksana
Registrasi Obat;
10. Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan RI Nomor 3 Tahun
2013 tentang Perubahan Atas Peraturan Kepala Badan POM Nomor
HK.03.1.23.10.11.08481 Tahun 2011 tentang Kriteria dan Tata Laksana
Registrasi Obat;
11. Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 9 Tahun 2014
tentang Tata Laksana Persetujuan Uji Klinik.
III.4. .KERANGKA KELEMBAGAAN
Untuk memperkuat peran dan fungsi Badan Pengawas Obat dan Makanan
dalam melaksanakan mandat Renstra 2015-2019, terkait aspek kelembagaan
yang harus diintegrasikan dan dikoordinasikan agar lebih efisien dan efektif
adalah penyempurnaan Struktur Organisasi dan Tata Kerja Direktorat Penilaian
Obat dan Produk Biologi sesuai dengan perubahan lingkungan strategis periode
38
RENSTRA DIREKTORAT PENILAIAN OBAT DAN PRODUK BIOLOGI
2015 - 2019
2015-2019. Penataan dalam kerangka kelembagaan organsiasi dilakukan
dengan memperhatikan Keputusan Presiden No. 103 Tahun 2001, Tentang
Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi, Dan Tata Kerja
Lembaga Pemerintah Non Departemen.
Seiring dengan globalisasi, standarisasi manajemen telah menjadi isu
utama khususnya terkait dengan standarisasi Sistem Manajemen Mutu. Untuk
itu perlu disiapkan kerangka sistem mutu ke arah yang diinginkan sesuai
dengan sasaran yang ditetapkan. Menanggapi isu tersebut Direktorat Penilaian
Obat dan Produk Biologi telah menerapkan Sistem Manajemen Mutu dalam
bisnis prosesnya.
Pemeliharaan Sistem Manajemen Mutu yang telah
diimplementasikan Direktorat Penilaian Obat dan Produk Biologi untuk
memastikan bisnis proses dan tata laksana baik dalam hal tata kelola
pembuatan keputusan, implementasi keputusan, tata kelola evaluasi, serta
manajemen kinerja dilaksanakan secara efektif, efisien, dan transparan.
Untuk dapat mengimplementasikan Sistem Manajemen Mutu dengan baik,
dibutuhkan sumber daya manusia yang optimal untuk mencapai visi, misi dan
program kerja organisasi. Pelaksanaan kerja harus sejalan dengan rencana kerja
yang telah disusun. Setiap SDM Aparatur Sipil Negara (ASN) harus bekerja
sesuai dengan tugas, fungsi dan peran, keahlian dan kompetensi masing-masing
SDM ASN untuk mencapai visi, misi dan program kerja organisasi yang telah
ditetapkan. Diperlukan pemantapan pengelolaan SDM ASN, mulai dari
perencanaan kebutuhan berdasarkan analisa jabatan dan analisa beban kerja,
peningkatan kompetensi (hard maupun soft competency) dan profesionalisme
ASN, penilaian kinerja individu ASN, hingga penyusunan kebutuhan anggaran
untuk biaya rutin ASN. Untuk mampu menghadapi dinamika lingkungan
strategis maka peningkatan kompetensi akan dikembangkan agar ASN memiliki
wawasan kebangsaan yang kuat, memiliki endurance/tahan terhadap tekanan
dalam pekerjaan, memiliki kemampuan komunikasi internal dan eksternal baik
di dalam negeri maupun luar negeri. Penempatan ASN dalam jabatan fungsional
seperti PFM maupun fungsional lainnya diharapkan dapat mendorong
profesionalisme ASN.
39
RENSTRA DIREKTORAT PENILAIAN OBAT DAN PRODUK BIOLOGI
2015 - 2019
BAB IV
TARGET KINERJA DAN KERANGKA PENDANAAN
IV.1. Target Kinerja
Sebagaimana sasaran strategis Direktorat Penilaian Obat dan Produk
Biologi sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan, maka target sesuai
dengan indikator masing-masing sasaran strategis adalah sebagai
berikut:
Tabel 4. Sasaran Strategis dan Indikator Kinerja
Sasaran Strategis
Menguatnya
Sistem
Pengawasan Obat
dan Makanan
Indikator
Persentase
keputusan
penilaian obat
yang diselesaikan
Target Kinerja
2015
2016
2017
2018
2019
75%
76%
77%
78%
79%
IV.2. KERANGKA PENDANAAN
Sesuai target kinerja masing-masing indikator kinerja yang telah
ditetapkan maka kerangka pendanaan untuk mendukung pencapaian
tujuan dan sasaran strategis Direktorat Penilaian Obat dan Produk
Biologi periode 2015-2019 adalah sebagai berikut :
Tabel 5. Sasaran Strategis, Indikator Kinerja dan Pendanaan
Sasaran
Strategis
Menguatnya
Sistem
Pengawasan
Obat
dan
Makanan
Indikator
Persentase
keputusan penilaian
obat yang
diselesaikan
Alokasi (Rp Milyar)
2015
2016
2017
2018
15
9
9
9
2019
10
40
RENSTRA DIREKTORAT PENILAIAN OBAT DAN PRODUK BIOLOGI
2015 - 2019
BAB V
PENUTUP
Renstra Direktorat Penilaian Obat dan Produk Biologi Tahun 2015-2019
adalah panduan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Direktorat Penilaian Obat
dan Produk Biologi untuk 5 (lima) tahun ke depan. Keberhasilan pelaksanaan
Renstra Tahun 2015-2019 sangat ditentukan oleh kesiapan kelembagaan,
ketatalaksanaan, SDM dan sumber pendanaannya, serta komitmen semua
pimpinan dan staf Direktorat Penilaian Obat dan Produk Biologi. Selain itu,
untuk menjamin keberhasilan pelaksanaan Renstra Tahun 2015-2019, setiap
tahun akan dilakukan evaluasi. Apabila diperlukan, dapat dilakukan
perubahan/revisi muatan Renstra Direktorat Penilaian Obat dan Produk
Biologi, termasuk indikator kinerjanya yang dilaksanakan sesuai dengan
mekanisme yang berlaku dan tanpa mengubah tujuan Direktorat Penilaian Obat
dan Produk Biologi yaitu meningkatkan kinerja unit kerja dan pegawai dengan
mengacu kepada RPJMN 2015-2019.
Pelaksanaan Renstra Direktorat Penilaian Obat dan Produk Biologi
diharapkan berkontribusi pada pencapaian RPJMN Badan POM tahun 20152019. Selain itu, Renstra juga menjadi pedoman untuk penyusunan Laporan
Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) sesuai dengan Peraturan
Presiden tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP)
yang dikoordinasikan oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan
Reformasi Birokrasi.
41
Lampiran 1. Matriks Kinerja dan Pendanaan Direktorat Penilaian Obat dan Produk Biologi Tahun 2015 - 2019
Update 2 April 2015
Target
Program/Kegiatan
Sasaran Program (Outcome)/Sasaran
Kegiatan (Output)/Indikator
Lokasi
2015
2016
2017
Alokasi (dalam Miliar rupiah)
2018
2019
2015
2016
2017
2018
2019
K/L-NUnit Organisasi B-NSBS
Pelaksana
Program Pengawasan Obat dan Makanan
Menguatnya sistem pengawasan Obat dan
Makanan
15.0
Penilaian Obat
Tersedianya obat memenuhi standar
1
Persentase keputusan penilaian obat
yang diselesaikan
Pusat
75
76
77
78
79
9.0
9.0
9.0
10.0 Dit. Lai Obat dan
Produk Biologi
Lampiran 2. Matriks Kerangka Regulasi Direktorat Penilaian Obat dan Produk Biologi Tahun 2015-2019
No
Arah Kerangka Regulasi dan / atau
kebutuhan regulasi
Urgensi Pembentukan Berdasarkan Evaluasi
Regulasi Eksisting
Unit Penanggung Jawab
Unit Terkait /Institusi
Target Penyelesaian
1
Mengakomodasi perubahan yang sudah terjadi sesuai
Revisi Kriteria dan Tata Laksana Registrasi
dengan update perkembangan IPTEK terkini dan Ditlai Obat dan Produk Biologi
Obat
prediksi trend perkembangan 5 tahun ke depan
Dit. Standardisasi PT dan PKRT
2015
2
Pedoman Risk Manajemen Plan (RMP)
Perlunya IF melakukan identifikasi potensi resiko
Ditlai Obat dan Produk Biologi
terkait keamanan dari obat yang didaftarkan
Ditwas Distribusi PT dan PKRT
2015
3
Pedoman Penilaian Obat Kanker
Percepatan proses penilaian obat kanker
Ditlai Obat dan Produk Biologi
2015
4
Pedoman Evaluasi Drug Master File (DMF)
Percepatan proses penilaian DMF
Ditlai Obat dan Produk Biologi
2015
5
Pedoman Biosimilar
Percepatan proses penilaian produk biosimilar
Ditlai Obat dan Produk Biologi
2015
6
Pedoman Obat Pengembangan Baru (OPB)
Mendorong obat pengembangan baru bagi industri
Ditlai Obat dan Produk Biologi
farmasi, percepatan proses evaluasi OPB
2015
7
Pedoman Evaluasi Sel Punca
Pengembangan sel punca untuk pengobatan perlu
didukung adanya pedoman untuk penilaian produk sel Ditlai Obat dan Produk Biologi
punca
Konsorsium Sel Punca, Kemkes RI
8
Revisi Pedoman CUKB
sesuai dengan update perkembangan IPTEK terkini
Dit. Standard
Komplemen
Ditlai Obat dan Produk Biologi
OT,
Kosmetik
2017
dan
Produk
2015
Download