Analisis Framing Pemberitaan Kampanye Pasangan

advertisement
Analisis Framing Pemberitaan Kampanye Pasangan Calon Walikota Hidayat
dan Sigit Purnomo Di Koran Mercusuar
OLEH :
Agustina1
Program Studi Ilmu Komunikasi, FISIP - Universitas Tadulako
Jln. Soekarno Hatta Km. 9 Kota Palu, Sulawesi Tengah
Email : [email protected]/ Hp. 081343853791
ABSTRAK
Agustina, B 501 12 090. Program Studi Ilmu Komunikasi Konsentrasi Jurnalistik. Skripsi
Analisis Framing Pemberitaan Kampanye Hidayat dan Sigit Purnomo di Koran harian
Mercusuar di bawah bimbingan Andi Akifah sebagai Konsultan I dan M. Isa Yusaputra sebagai
Konsultan II.
Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui proses framing dan konstruksi yang
dilakukan oleh koran harian Mercusuar mengenai pasangan calon Hidayat dan Sigit Purnomo
pada pilkada 2015. Untuk dapat melihat hasil framing yang dilakukan pada berita, digunakan
analisis Framing model Gamson dan Mondigliani, yang membagi dua jenis perangkat antara lain
Framing Devices yang terdiri dari Methapors, Exemplar, Cachprases, Depictions, visual images.
Dan Reasoning Devices yang terdiri dari Roots,Appeal to Prinsiple, dan Consequences. Dari
kedua frame tersebut dianalisis bagian teks mana saja yang digunakan untuk memenuhi unsur
Framing. Selanjutnya diteliti melalui teori konstruksi realitas yang dilihat dari bagian
ekternalisasi yang menyesuaikan antara kebutuhan masyarakat dengan berita yang ditampilkan.
Objektivasi proses interaksi yang dilakukan dalam pencarian dan penulisan berita. Dan
Internalisasi yang memusatkan pembentukan opini publik yang dilakukan media pada khalayak.
Hasil penelitian menunjukkan tujuh pemberitaan Mercusuar mengenai kampanye Hidayat
dan Sigit Purnomo yang dikonstruksi secara subjektif untuk mengarahkan pembaca kecitra
narasumber. Berita yang disajikan bukan hanya ditulis berdasarkan realitas yang terjadi pada saat
itu juga, beberapa berita didapatkan melalui rilis (kesimpulan kegiatan) dari tim sukses Hidayat
dan Sigit Purnomo bukan merupakan hasil peliputan yang dilakukan langsung ditempat kejadian.
Namun secara keseluruhan berita yang ditampilkan telah memenuhi unsur – unsur berita 5W +
1H dan juga memenuhi kategori framing Gamson dan Mondigliani.
Kata kunci : Berita Kampanye, Framing, konstruksi realitas
Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas
Tadulako
1
1
PENDAHULUAN
Perkembangan teknologi komunikasi, semakin memudahkan manusia untuk
mengetahui tentang dunia di sekitarnya atau dunia yang asing baginya. Keberadaan media
massa yang dari hari ke hari mengalami perbaikan baik dalam bidang teknologi maupun
content-nya semakin menunjang usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan akan informasi
tersebut, meskipun sulit untuk dijangkau secara fisik karena beribu kilometer jauhnya.
Media massa adalah alat-alat dalam komunikasi yang bisa menyebarkan pesan secara
serempak, cepat kepada audience yang luas dan heterogen. Media massa bisa mengatasi
hambatan ruang dan waktu, dan mampu menyebarkan pesan hampir seketika pada waktu
yang tak terbatas (Nurudin, 2009: 9).
Peran media massa sangat kuat di kehidupan politik di masa sekarang. Media tidak
hanya memberi informasi politik, melainkan juga menjadi pendorong perubahan politik,
karena media massa mempunyai kekuatan untuk membentuk budaya dan wacana politik.
media juga memainkan peran besar dalam menjadikan sebuah kandidat, dengan sifat-sifat
tertentu yang lebih menonjol dibandingkan dengan kandidat lainnya.
Di akhir tahun 2015, Indonesia diramaikan dengan Pemilihan Gubernur dan Kepala
Daerah Kabupaten dan Kota, diantaranya sembilan Provinsi, 170 Kabupaten, dan 26 Kota
yang berada di Indonesia. Salah satunya adalah Kota Palu. Pemilihan ini berlaku serentak
pada tanggal 9 Desember 2015 di semua tempat yang sudah ditetapkan KPU.Dengan adanya
peristiwa politik seperti ini, harian lokal pun banyak memuat berita mengenai PILKADA ini,
dan subjektivitas kadang muncul di dalamnya. Salah satu contoh subjektivitas yang ada
dalam pemberitaan ini adalah yang terjadi pada Harian Mercusuar yang banyak memuat
berita Kampanye Pasangan Calon Walikota Palu Hidayat dan Sigit Purnomo.
Kampanye merupakan aktivitas komunikasi yang ditujukan untuk mempengaruhi
orang lain agar ia memiliki wawasan, sikap perilaku sesuai dengan kehendak dan keinginan
penyebar atau pemberi informasi. Dalam konteks komunikasi politik, kampanye
dimaksudkan untuk memobilisasi dukungan terhadap suatu hal atau kandidat. Kampanye
juga sebagai upaya persuasif untuk mengajak orang lain yang belum sepaham atau belum
yakin pada ide-ide yang ditawarkan. Oleh sebab itu media mengemas pemberitaan
kampanye sebaik mungkin, sehingga ide-ide yang dilontarkan bisa dimasukan kedalam
pikiran pembaca atau khalayak luas yang diharapkan dukungannya .
Kampanye pada pemilu 2015 merupakan hal yang cukup menarik untuk dibahas,
terutama dalam penggunaan media komunikasi. Pemberitaan yang sering terjadi pun bukan
hanya secara objektif namun terlihat subjektif jika dicermati lebih dalam. Bahkan media
massa digunakan sebagai tempat pencitraan kandidat, tanpa sadar keduanya saling
membutuhkan. Media membutuhkan sumber informasi, kandidat membutuhkan media
sebagai sarana untuk mengenalkan diri mereka dan memperlihatkan program kerja yang
akan dilakukan.
Aktivitas media dalam melaporkan perisiwa-peristiwa politik sering memberi dampak
yang sangat signifikan bagi perkembangan politik. Surat kabar adalah salah satu media yang
dapat mempengaruhi pemilih, maka perlu diketahui bagaimana orang media mempengaruhi
pikiran, sikap dan perilaku para pemilih. Dengan adanya koran semua informasi yang
dikemukanan oleh narasumber akan tersimpan dalam bentuk tulisan. Sekali waktu jika itu
bertentangan akan menjadi bukti bahwa apa yang ditulis media tidak serta merta berupa
fakta namun terdapat opini yang membentuk pola pikir orang kepada kandidat.
2
Mercusuar adalah salah satu media lokal yang sering memuat berita seputar pasangan
calon walikota Hidayat dan Sigit Purnomo, berbeda dengan media lokal lainnya yang hanya
memuat satu hingga dua berita mengenai pasangan calon tersebut. Mercusuar mengemas
pemberitaan seputar pasangan tersebut secara menarik dengan konsep yang berbeda dari
media lainnya.
Analisis framing memandang wacana berita semacam arena peran simbolik antar
pihak-pihak yang berkepentingan dengan pokok persoalan wacana. Masing-masing pihak
menyajikan perspektif untuk memberikan pemaknaan terhadap suatu persoalan agar diterima
oleh khalayak, bahwa pertarungan lewat framing menetukan peristiwa mana yang
ditekankan. Surat kabar yang berperan sebagai media massa menjadi arena kritis dari
pertarungan, dan gerakan sosial, menempatkan media pada peran menentukan arti penting
isu dihadapan khalayak. Tetapi peningkatan perhatian ittu sendiri lebih pada lingkungan
politik. sehingga dapat diakses oleh masyarakat secara luas.
Konstruksi berita akan dilakukan sebagai bahan pertimbangan pada pembaca untuk
memikirkan siapa yang akan dipilihnya untuk menjadi walikota dan wakil walikota. Realitas
yang diangkat pun bukan hanya seperti kejadian yang terjadi, tapi juga ada beberapa
kejadian yang diulas serta dikonstruksi sehingga pembaca akan merasa seperti berada pada
kejadian dan situasi tersebut.
Sebuah fenomena yan menonjol dalam Pilkada 2015 yaitu semakin kuatnya peran
media massa di Indonesia dalam proses mengkonstruksi citra para kandidat perseorangan
maupun organisasi partai politik. Dengan karakteristiknya yang ditujukan kepada sejumlah
khalayak yang tersebar, heterogen, anonim, sehingga pesan yang sama dapat diterima secara
serenak dan sesaat. Pada penelitian terdahulu yang berjudul “Analisis Pemberitaan Selebriti
Berpolitik Pada Media Massa (Sebuah Analisis Framing Pada Surat Kabar Kompas)” yang
diteliti oleh mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Fisip Universitas Tadulako, Ade Nuriadin
angkatan 2006 juga menganalisis berita berdasarkan framing model Gamson dan
Mondigliani yang kemudian dikaji menggunakan teori konstruksi realitas.
Berdasarkan latar belakang yang di kemukakan di atas, maka peneliti tertarik untuk
melakukan penilitian yang sama guna mendapatkan gambaran tentang “Analisis Framing
Pemberitaan Kampanye Pasangan Calon Walikota Hidayat dan Sigit Purnomo Di Koran
Mercusuar”. Sampai saat ini banyak penelitian tentang pemberitaan kampanye, namun tidak
merujuk kepada pasangan calon tersebut.
TINJAUAN PUSTAKA
Komunikasi Massa
Beberapa definisi yang dikemukakan oleh para ahli, menurut Jay Black dan Frederick
C. Whitney (1988), “mass communication is a process whereby mass produced message are
transmittedto large, anonymous, and heterogeneous masses of receivers (Komunikasi massa
adalah sebuah proses di mana pesan-pesan yang diproduksi secara massal/tidak sedikit itu
disebarkan kepada massa penerima pesan yang luas, anonim, dan heterogen (Nurudin, 2009:
12).
Komunikasi massa adalah proses komunikasi yang dilakukan melalui media massa
dengan berbagai tujuan komunikasi dan untuk menyampaikan informasi kepada khalayak
luas (Tamburaka, 2012: 15). Unsur-unsur penting dalam komunikasi massa meliputi:
komunikator, media massa, informasi (pesan) massa, gatekeeper, khalayak (publik), dan
umpan balik.
3
Selain itu, komunikasi massa juga memiliki fungsi tersendiri yang pernah di
kemukakan oleh Harold Lasswell yakni, (1) surveillance of the environment (fungsi
pengawasan), (2) correlaion of the part of society in responding to the environment (fungsi
korelasi), (3) transmission of the social heritage from ane generation to the next (fungsi
pewasiran sosial). Sama seperti pendapat Lasswell, Charles Robert Wright (1988)
menambahkan fungsi entertainment (hiburan) dalam fungsi komunikasi(Nurudin, 2009: 64).
Komunikasi massa berbeda dengan komunikasi lainnya, seperti komunikasi
antarpesonal dan komunikasi interpersonal. Perbedaan itu meliputi komponen-komponen
yang terlibat didalamnya, juga proses berlangsungnya komunikasi tersebut melalui suatu
media. Banyak ahli komunikasi yang berusaha mendefinisikan dengan ragam yang berbeda.
Namun dari sekian banyak definisi komunikasi massa terdapat sebuah kesamaan yakni
komunikasi massa merupakan komunikasi yang dilakukan melalui media massa yaitu media
cetak (surat kabar) dan media elekronik (radio dan TV).
Media Massa
Media massa (saluran) atau komunikasi yang menjadi bagian sosial integral dari
kehidupan yang dihasilkan dari teknologi modern, atau media massa merupakan saluran
yang dimanfaatkan oleh komunikator untuk menyampaikan pesan kepada khalayak dalam
jumlah besar dan heterogen serta terpisah-pisah. Berdasarkan apa yang kita lihat, media
massa dibedakan atas dua jenis, yaitu media massa cetak dan media massa elektronik.
Namun untuk media massa cetak memiliki kelebihan tersendiri yang tidak dimiliki oleh
media massa elekronik. Memiliki ciri-ciri khusus yaitu pesan-pesan yang disiarkan dalam
media massa cetak dapat diulangi dan dipelajari serta disimpan untuk dibaca pada tiap
kesempatan (Effendy, 2007: 145).
Surat Kabar
Surat Kabar yaitu kumpulan berita, artikel, cerita, iklan, dan sebagainya yang dicetak
dalam lembaran kertas ukuran plano, terbit secara teratur, bisa setiap hari atau seminggu satu
kali (Djuroto, 2004: 11). Surat kabar juga merupakan sebutan bagi penerbitan pers yang
masuk dalam media massa tercetak, berupa lembaran-lembaran berisi berita-berita,
karangan-karangan dan iklan-iklan yang diterbitkan secara berkala bisa Surat kabar harian,
mingguan, bulanan, serta diedarkan secara umum, isinya pun harus aktual juga bersifat
universal, maksudnya pemberitaannya harus bersangkut paut dengan manusia dari berbagai
golongan dan kalangan (Junaedhie, 1999: 257).
Dari defenisi diatas peneliti dapat menyimpulan bahwa surat kabar adalah lembaran
yang tercetak dan berisi tentang suatu peristiwa yang terjadi atau iklan yang terbit secara
periodik, bersifat aktual, universal, dan menyangkut human interest.
Berita
Seperti yang dikemukakan Mitchell V. Charnley (Kusumaningrat dan
Kusumaningrat 2006:39) bahwa berita adalah laporan aktual. Tentang fakta dan opini yang
menarik atau penting, atau keduanya, bagi sejumlah orang.Sedang mengenai durasi sebuah
berita, meski sependek mungkin asal sudah memenuhi unsur kelayakan informasi tanpa
4
menyimpang aspek atau rumus 5W+1H, yaitu What, Who, When, Where, Why, How.
Melihat pendapat diatas, ada pula definisi berita yang dikemukakan oleh ahli yang sama
Hornoby dan Macdougall (Effendy, 2007:20), news sebagai loparan tentang apa yang terjadi
paling mutakhir (sangat baru), baik peristiwannya maupun faktannya. Berita adalah hal yang
selalu dicari oleh para reporter mengenai laporan tentang fakta yang terlibat dalam suatu
peristiwa, namun bukanlah hakiki dari peristiwa berita itu sendiri.
Analisis Framing
Metode analisis framing Gamson dan Mondigliani ini, merupakan salah satu metode
framing yang kerap digunakan untuk melihat upaya media mengemas berita (Sobur, 2009:
179). Dalam model yang di buat oleg Gamson dan Modigliani, frame dipandang sebagai
cara bercerita (story line) aau gagasan ide-ide yang tersusun sedemikian rupa dan
menghadirkan konstruksi makna dari peristiwa yang berkaitan dengan suatu wacana
(Eriyanto, 2012: 270).
Model Gamson dan Mondigliani (lihat gambar 1), didasarkan pada pendekatan
kontruksionis yang melihat representasi media (berita dan artikel), terdiri dari package
interpretatif yang mengandung dua struktur. Kedua struktur tersebut ialah core frames dan
condensing symbols(Sobur, 2009: 176).
Adapun struktur yang dimaksud tersebut dalam buku Analisis Teks Media (Sobur,
2009: 179 - 180)., ialah : pertama, struktur core frame (gagasan sentral), merupakan pusat
organisasi elemen-elemen ide yang membantu komunikator untuk menunjukkan substansi
isu yang tengah dibicarakan. Pada dasarnya berisi elemen-elemen inti untuk memberikan
pengertian yang relevan terhadap peristiwa, dan mangarahkan makna isu yang dibangun
condensing symbol (simbol yang “dimampatkan”). Sedangkan yang kedua, struktur
condensing symbol adalah hasil percermatan terhadap interaksi perangkat simbolik (framing
devices dan reasoning devices) sebagai dasar digunakan perspektif.
Struktur framing device yang mencakup metaphors, exemplars, catchprases,
depictions, dan visual images menekankan aspek bagaimana “melihat”suatu isu. Struktur
reasoning devices menekankan aspek pembenaran terhadap cara “melihat “ isu, yakni roots
(analisis kausal) dan appeals to principle (klaim moral).
Secara literal dalam (Sobur, 2009: 179 – 181), metaphors dipahami sebagai cara
memindah makna dengan merelasikan dua fakta melalui analogi, atau memakai kiasan
dengan menggunakan kata-kata seperti ibarat, bak, sebagai, umpama, laksana. Exemplars
mengemas fakta tertentu secara mendalam agar satu sisi memiliki bobot makna lebih untuk
dijadikan rujukan/pembelajaran. Cathphrases istilah, bentukan kata, frase khas cerminan
fakta yang merujuk pemikiran atau semangat tertentu. Dalam teks berita, cathphrases
mewujudkan dalam bentuk jargon, slogaan, atau semboyan. Depictions, penggambaran fakta
dengan memakai kata, istilah, kalimat konotatif agar khalayak terarah ke citra tertentu.
Visual images, pemakaian foto, diagram, garis, tabel, kartun, dan sejenisnya untuk
mengekspresikan kesan, misalnya perhatian atau penolakan, dibesarkan-dikecilkan,
ditebalkan atau dimiringkan, serta pemakaian warna.
Roots (analisis kausal), pembenaran isu dengan menghubungkan suatu objek atau
lebih yang dianggap menjadi sebab timbulnya atau terjadinya hal yang lain. Appeal to
prinsiple, pemikiran, prinsip, klaim moral, sebagai argumentasi pembenar membangun
berita, berupa pepatah, cerita rakyat, mitos, doktrin, ajaran, dan sejenisnya. Appeal to
5
prinsiple yang apriori, dogmatis, simplistik, dan monokausal (non logis) bertujuan membuat
khalayak tak berdaya menyanggah argumentasi.
Gambar 1
Framing Analysis Model gamson dan Mondigliani
Media Package
Core Frames
Condensing Symbol
Sumber : Alex Sobur, Analisis Teks Media: Suatu Pengantar unuk Analisis Wacana, Analisis
Semiotika, dan Anilisis Framing. 2009, hlm:181.
Konstruksi
Realitas
Framing
Devices:
Reasoning Devices :
1. Methapors
1. Roots
Pada
prinsipnya
proses
kontruksi
adalah
upaya “menceritakan”
2. Exemplaar
2. realitas
Appeals to
Principle
(konseptualisasi) sebuah peristiwa, keadaan, atau benda tak terkecuali mengenai hal-hal
3. Cathchphrases
3. Consequences
yang berkaitan dengan politik. Bahkan karena sifat dan faktanya bahwa pekerjaan media
4. Depiction
massa
adalah menceritakan peristiwa-peristiwa, maka seluruh isi media tiada lain adalah
5. Visual
Images
realitas
yang telah
dikonstruksikan (constructed reality) sedemikian rupa susunannya hingga
membentuk sebuah cerita atau wacana yang bermakna (Hamad, 2004: 11).
Konsep mengenai teori ini diperkenalkan oleh sosiolog interpretatif Peter L. Berger.
Untuk Berger, realitas itu tidak dibentuk secara ilmiah, tidak juga sesuatu yang diturunkan
oleh Tuhan. Tetapi sebaliknya, dibenuk dan dikonstruksi (Bungin, 2006: 188-189).
Pandangan teori ini secara jelas menggambarkan bahwa realitas itu bersifat subjektif, yang
berarti sebuah realitas akan dipandang berbeda dari satu individu dengan individu lainnya.
Perbedaan pandangan ini dikarenakan setiap individu mempunyai pengalaman, preferensi,
pendidikan tertentu, dan lingkaran pergaulan atau sosial yang berbeda.
Pemberitaan pada media massa merupakan realitas yang dikonstruksi (constructed
reality) dalam bentuk wacana yang bermakna (Hamad, 2004: 12). Media massa menyusun
berbagai realitas dari berbagai peristiwa yang terjadi hingga menjadi cerita atau wacana.
Realitas yang dikonstruksi tersebut dipengaruhi berbagai faktor baik eksternal maupun
internal yang ada pada media tersebut. Faktor eksternal berhubungan dengan sistem politik
dan ekonomi. Sedangkan faktor internal dipengaruhi oleh ideologi media, wartawan sebagai
orang yang tidak bebas nilai, dan sebagainya.
Teori dan pendekatan konstruksi sosial dan realitas terjadi secara simultan melalui
tiga proses sosial, yaitu ekternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Semua proses ini terjadi
di antara individu yang satu dengan individu lain. Eksternalisasi, merupakan sebuah proses
bagi individu untuk beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi yang
berada di luar dirinya. Objectivasi, yaitu hasil yang dicapai, baik mental maupun fisik dari
6
proses penyesuaian diri tadi (eksternalisasi). Internalisasi, proses ini lebih mengarah kepada
penerapan kembali dunia objektif kedalam kesadaran sedemikian rupa sehingga subjektif
individu dipengaruhi oleh struktur dunia sosial (Bungin, 2011: 15).
METODE PENELITIAN
Dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan
lokasi penelitian bertempat di kantor Media Mercusuar dengan 7 berita dalam penelitian.
Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik kliping berita. Teknik analisis data
menggunakan analisis framing model Gamson dan Mondigliani tampa menggunakan
perhitungan.
Penelitian ini didasarkan pada pencarian konstruksi yang digunakan oleh surat kabar
Mercusuar mengenai pemberitaan kampanye politik pasangan calon walikota Hidayat – Sigit
Purnomo dari tanggal 28 November sampai 15 Desember 2015. Berdasarkan hal itu,
penelitian ini menggunakan Analisis Framing Gamson dan Mondigliani untuk menganalisis
pemberitaan dalam surat kabar Mercusuar mengenai Pemberitaan Politik. Selain itu, hasil
analisis akan dikaji dengan teori konstruksi untuk melihat realitas yang dibangun dalam
berita.
Pemilihan Surat Kabar Mercusuar sebagai objek dalam penelitian ini dikarenakan,
surat kabar ini merupakan surat kabar pertama di kota Palu dan dipercaya oleh masyarakat.
Dengan status tersebut, tentu saja pembaca surat kabar Mercusuar dari segi kuantitas, dalam
jumlah yang besar dan bersifat heterogen. Oleh karena itu peneliti menganggap bahwa apa
yang menjadi isi dari media ini akan memberikan pengaruh yang besar juga bagi para
pembacanya.
Pemilihan Surat Kabar Mercusuar sebagai objek dalam penelitian ini dikarenakan,
surat kabar ini merupakan surat kabar pertama di kota Palu dan dipercaya oleh masyarakat.
Dengan status tersebut, tentu saja pembaca surat kabar Mercusuar dari segi kuantitas, dalam
jumlah yang besar dan bersifat heterogen. Oleh karena itu peneliti menganggap bahwa apa
yang menjadi isi dari media ini akan memberikan pengaruh yang besar juga bagi para
pembacanya.
Peneliti menggunakan Analisis Teks Gamson dan Mondigliani, yang merupakan
hasil pencermatan terhadap interaksi perangkat simbolik (framing devices dan reasoning
devices). Selain itu, untuk mendukung penelitian ini, maka peneliti menggunakan perspektif
analisis wacana untuk menganalisis berita dengan teori konstruksi realitas. Di mana, tidak
hanya menyajikan hasil analisis terhadap teks, tetapi juga data secara internal dan eksternal.
Dalam arti, selain teks yang dianalisis, peneliti juga memberikan gambaran secara umum
mengenai keadaan internal perusahaan yang berhubungan dengan profil perusahaan (sejarah,
serta visi, dan misi). Sedangkan secara eksternal, peneliti memberikan gambaran mengenai
situasi di luar dari organisasi media tersebut (situasi sosial dan politik). dengan
menghubungan hasil analisis berdasarkan teks berita, data internal, serta eksternal, hasil dari
penelitian ini diharapkan mampu menjawab rumusan masalah dengan lebih baik.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Mercusuar adalah media yang berdiri tanggal 1 Sepember 1962 awalnya diberi
nama Suara Rakyat dan didirikan oleh alm Rusdi Toana yang merupakan salah seorang
7
pejuang berdirinya provinsi Sulawesi Tengah di Jakarta. Setelah beliau kembali ke Palu,
beliau mendirikan media ini dengan visi dan misi sebuah media yang merupakan agent of
change serta agen revolusi pemikiran bagi rakyat Sulteng. Tujuan didirikannya media ini
yaitu sebagai penyambung Lidah antara rakyat dengan pemerintah dan juga agar provinsi
Sulawesi Tengah berdiri.
Peristiwa G 30 S/PKI pada tahun 1965 berdampak pada Suara Rakyat yang dianggap
cenderung ke komunis, maka pada tahun tersebut Suara Rakyat berganti nama menjadi
Mercusuar. Arti dari kata Mercusuar sendiri adalah “penerang” dan dari nama ini Mercusuar
diharapkan menjadi media yang dapat menjadi penerang/cahaya untuk perubahan revolusi
pemikiran dan menjadi pedoman rakyat.
Pada tahun 1992 Mercusuar bekerja sama dengan Jawa Pos dan lahirlah surat kabar
Radar Sulteng. Namun beberapa saat dari kerjasama Tri Putra Toana tersebut selaku
pimpinan Mercusuar berpisah dari Radar Sulteng dan kembali menghidupkan Mercusuar
dengan nama tabloid Tanakodi pada tahun 2004 setelah vakum selama 3 tahun. Melalui
perjuangan dan kerja keras akhirnya pada tahun 2005 surat kabar ini berubah menjadi harian
dan kembali menggunakan nama Mercusuar serta terbit dengan lembaran hitam putih,
kemudian pada tahun 2006 Mercusuar hadir dengan halaman berwarna dan menggunakan
mesin cetak sendiri, adapun percetakan tersebut beralamatkan di jalan rusa.
Mercusuar sendiri menggunakan struktur organisasi atau susunan redaksional
Mercusuar selaku operasional di lapangan. Organisasi dalam kerangka ini merupakan suatu
sistem dan bentuk hubungan antara kewenangan dan tanggung jawab, antara atasan dan
bawahan demi tercapainya tujuan perusahaan.
Frame dan Konstruksi
Salah satu Frame dan Konstruksi Berita Harian Mercusuar
Berita 1 : Kampanye Hidayat-Sigit Sindir Masalah Kelistrikan
No Dimensi
Indikator
Unit Analisis
1
Framing
Methapors
Kenapa dari dulu sampai sekarang masih
Devices
pemadaman listrik. Bagaimana palu mau
maju kalau listriknya belum beres. Selain
menghambat laju perekonomian juga
membuat membuat suatu daerah tertinggal.
Exemplars
Saat ini saja kondisi kelistrikan di ibukota
Sulteng ini masih bermasalah. Persoalan
kelistrikan menurut Abdul Kadir sangat fatal
jika dibiarkan terus menerus.
Cachphrases
Ribuan warga kota Palu tumpah ruah di
lapangan Vatulemo untuk menyaksikan
langsung kampanye pasangan calon Hidayat
Sigit.
Depictions
Masalah kelistrikan memang terbilang
krusial di kota Palu.
8
Visual Images
2
Reasoning
Devices
Roots
Appeal to
Prinsiple
Consequences
Dalam gambar terlihat masyarakat yang
sedang memadati tempat kampanye Hidayat
dan Sigit, dan dalam gambar juga
memperlihatkan pasangan calon nomor urut
sattu sedang melakukan orasi.
Kehadiran sejumlah artis ibukota menjadi
magnet bagi warga untuk menyaksikan
langsung visi-misi yang ditawarkan
pasangan ini.
Masalah Listrik bisa menghambat laju
perekonomian dan membuat daerah
tertinggal.
Masalah lisrik merupakan salah satu program
kerja Hidayat dan Sigit jika terilih sebagai
pemimpin.
a. Gambaran tulisan dan konstruksi realitas
Berita ini memberikan gambaran akan masalah yang harus dipecahkan Hidayat dan
Sigit Purnomo sebagai calon Walikota Palu. Dalam artian masalah ini selalu menjadi
pembicaraan dan belum terselesaikan sejak dulu sebelum Pilkada serentak ini dilakukan. Hal
tersebut sesuai pernyataan salah satu Sekertaris Jendral DPP Partai Kebangkitan Bangsa
(PKB), Abdul Kadir Karding yang mengakui bahwa sejak dulu hingga sekarang pemadaman
listrik di kota Palu sering Terjadi.
Jelas bahwa masalah tersebut menjadi hal yang diresahkan Kadir, sebab dia adalah
salah seorang warga kota Palu dan juga merupakan politisi DPR RI yang menyuarakan
keluhan masyarakat kepada salah satu calon walikota kota dikegiatan kampanye. Sehingga
calon walikota Palu nantinya paham akan kebutuhan masyarakat khususnya listrik yang
menjadi penerang kegelapan dimalam hari.
Realitas yang coba digambarkan dalam berita (lampiran 1) ini adalah realitas
subjektif yang terbentuk dari realitas objektif dan realitas simbolik. Dimana masalah
kelistrikan menjadi hal yang objektif untuk diperbincangkan, sedang pencalonan Hidayat
dan Sigit sebagai Walikota dan wakil walikota beserta kehadiran sejumlah artis yang
mendukung menjadi simbol bahwa pasangan tersebut merupakan pasangan yang diharapkan
mampu menyelesaikannya dan juga pasangan tersebut mendapat dukungan bukan hanya dari
masyarakat daerah namun juga dari luar daerah.
Mercusuar menggambarkan masalah kelistrikan sebagai masalah yang selalu
terlupakan dikota Palu, namun hal tersebut dikaitkan dengan kegiatan kampanye yang
dilakukan Hidayat dan Sigit Purnomo. Berdasarkan tulisan berita diharian Mercusuar salah
seorang politisi yang mendukung terpilihnya Hidayat dan Sigit mengharapkan masalah
tersebut bisa dituntaskan pasangan calon walikota dan wakil walikota tersebut.
Bahkan Mercusuar menekankan bahwa kampanye yang dilakukan itu bukan hanya
didukung oleh tim sukses dan masyarakat kota Palu, melainkan juga didukung sejumlah
artis, mengingat Sigit Purnomo adalah seorang publik figur/selebriti di ibukota Jakarta. Hal
ini berdasarkan kutipan “Selain menghadirkan personel lengkap Band Ungu, beberapa artis
seperti Iis Dahlia, Nikita Mirzani, Narji Cagur, Gunawan, Ifan Govinda, Baby Zee dan
Anneke Carolline turut meramaikan kampanye yang bertepatan dengan ulang tahun Sigit
Purnomo alias Pasha.”
9
Jika melihat pembingkaian yang dilakukan Mercusuar secara tidak langsung
membentuk opini publik dengan menarik, sehingga masyarakat yang tidak hadir dalam
kampanye termobilisasi dengan pemberitaan tersebut. Hal tersebut juga didukung dengan
cara wartawan mengeksternalisasi pemberitaan dengan mengangkat isu yang sedang
menjadi topik pembicaraan masyarakat. Topik yang diangkat dalam berita ini disesuaikan
dengan kebutuhan masyarakat agar masyarakat bisa ikut ke dalam tulisan yang dibuat oleh
wartawan. Objektivasi yang dilakukan mercusuar bukan hanya mengambil pembicaraan
pasangan calon walikota, namun menghadirkan narasumber lain agar bahasa yang
ditampilkan bukan seperti mengambil ide tapi menerima ide dari masyarakat melalui orang
lain yang menyampaikannya.
Dari orasi yang dilakukan salah seorang politisi juga membentuk pemikiran
wartawan untuk menginternalisasi makna kata, sehingga apa yang ditulis wartawan sebagai
berita menjadi hal yang betul-betul dirasakan oleh masyarakat. Hal tersebut memberi makna
subjektif pada pembaca Harian Mercusuar.
PEMBAHASAN
Penelitian ini mengambarkan secara garis besar seperti apa pembingkaian maupun
proses konstruksi terhadap sejumlah pemberitaan mengenai calon Walikota Palu Hidayat
dan calon Wakil Walikota Palu Sigit purnomo dalam pemilihan kepala daerah atau pilkada
di harian mercusuar. Namun demikian diperlukan pembahasan lebih lanjut dalam
menganalisis secara mendalam konstruksi yang muncul pada harian Mercusuar. Pada
akhirnya dengan begitu dapat menjawab rumusan masalah yang telah di tentukan
sebelumnya.
Hanya saja sebelum masuk di pembahasan selanjutnya sudah semestinya memahami
lebih dulu arti dari pemberitaan sebenarnya. Seperti halnya di ungkapkan Kusumaningrat
mengenai berita yaitu sebagai informasi aktual tentang fakta-fakta dan opini yang menarik
perhatian orang. Jika dikaitkan dengan pemberitaan yang diangkat dalam penilitian ini, dari
ke tujuh berita memiliki informasi yang sesuai dengan fakta yang terjadi sesuai dengan
kejadian di lapangan seperti halnya peristiwa kampanye yang digambarkan pada berita
pertama yang dianalisis, fakta dilapangan sangat sesuai dengan berita karna benar-benar
terjadi. Namun beberapa berita didapatkan bukan berdasarkan hasil peliputan dilapangan
melainkan hasil rilis yang diterima langsung dari tim media pasangan calon tersebut. Berita
merupakan sesuatu yang aktual, nyata, bukan fiksi atau karangan. Fakta dalam dunia
jurnalistik terdiri dari kejadian nyata atau pernyataan yang dari sumber lain. Dan pada
ketujuh berita memiliki fakta atau kejadian nyata yang benar-benar terjadi seperti pada
kunjungan pasangan nomor urut 1 yang dianalisis dengan pernyataan Hidayat dan Sigit
Purnomo untuk memperhatikan guru dan perawat yang diutarakan pada berita menunjukan
fakta yang benar adanya.
Selain itu adanya dampak (consequense) yang juga menjadi salah satu unsur Framing
yang diolah peniliti menilai jika peristiwa mengenai kampanye Hidayat-Sigit sebagai calon
Walikota dan Wakil Walikota memberikan pengaruh bukan hanya wilayah Kota Palu,
sehingga hal tersebut diangggap memberikan pengaruh yang cukup besar mengenai unsur
Framing. Dari keseluruhan hasil analisis Framing dengan menggunakan analisis Framing
Gamson dan Mondigliani. Hasil analisis pada berita kampanye Hidayat-Sigit pada harian
Mercusuar, penulis menemukan bahwa keseluruhan berita yang dimuat cenderung
10
memperlihatkan pengabaian terhadap unsur keberimbangan informasi dan data yang
didapatkan. Hal itu ditunjukan dengan adanya liputan yang hanya didapatkan melalui rilis
berita bukan didapatkan melalui hasil peliputan dilapangan. Dan beberapa berita didapatkan
dari sumber yang berbeda dalam kutipanya tetapi memiliki keberpihakan terhadap kandidat
yang sama sehingga dengan begitu berita yang dihasilkan jelas tidak berimbang. Sesuai
dengan pemahaman Framing yang selama ini diketahui yang diungkapkan Eriyanto dimana
dalam pendekatanya untuk mengetahui bagaimana perspektif atau cara pandang yang
digunakan wartawan ketika menyeleksi isu dan menulis berita. Cara pandang inilah yang
menetukan fakta yang diambil bagian mana yang ditonjolkan dan bagian mana dihilangkan.
Selain itu peristiwa dari ketujuh berita yang masuk dalam unit analisis ini seolaholah ingin menggambarkan Hidayat dan Sigit sebagai calon Walikota dan Wakil Walikota
yang memiliki integritas dan sangat ideal dalam memimpin Kota Palu. Dengan melihat fakta
yang digambarkan mercusuar seperti itu sangat sesuai jika berkaca dari teori yang
dinyatakan Hamad terkait Constructet reality dimana media menyusun realitas dari berbagai
peristiwa yang terjadi hingga menjadi cerita atau wacana yang bermakna. Dengan demikian,
seluruh isi media tiada lain adalah realitas yang dikonstruksikan.
Berdasarkan kenyataan yan tampak jelas dihampir sejumlah berita yang telah diolah
sebelumnya menguatkan kenyataan bahwa media bukanlah ranah netral yang selama ini di
dengung-dengungkan. Didalam media terdapat kepentingan dan pemaknaan dari kelompok
tertentu yang berharap akan mendapatkan perlakuan yang sama dan seimbang seakan
berbanding lurus dengan pemahaman Berger Luckman dimana konstruksi sosial tidak
berlangsung dalam ruang hampa namun sarat dengan kepentingan.
Hal tersebut juga ditunjang oleh aspek eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi
yang dilakukan media Mercusuar dalam mengolah pemberitan. Setiap pemberitaan yang
dibuat seolah menjadi hal penting yang di internalisasi oleh penulis berita. Selain itu
penentuan bahasa yangg digunakan memberikan interaksi sebagai penyebaran opini yang
dapat dilihat dari sisi objektivasi. Kemudian ketujuh pemberitaan terinternalisasi melalui
peristiwa subjektif bagi pasangan Hidayat dan Sigit.
Namun keseluruhanya jika dilihat dari sisi komunikasi massa sejumlah pemberitaan
dimunculkan diharian Mercusuar merupakan usaha untuk membangun opini publik tentang
Hidayat dan Sigit Purnomo terkait pemilihan Kepala Daerah. Lebih lanjut Mercusuar
memainkan peranan dalam membangun opini dimasyarakat seakan-akan atas dasar
kepentingan masyarakat. Hal tersebut nampak dari pengambilan sudut pandang berita yang
berasal dari Hidayat dan Sigit beserta tim suksesnya.
Dengan demikian dapat pula dikatakan bahwa Mercusuar berusaha untuk
mempengaruhi konstruksi realita sosial dimasyarakat untuk menarik perhatian masyarakat
memilih Hidayat dan Sigit melalui pemberitaanya. Dimana dapat dilihat dari kesesuaian
antara gambar dan kata-kata yang disajikan Mercusuar. Berdasarkan teori Bergger dan
Luckman dimana proses konstruksi realitas prinsipnya adalah setiap upaya “menceritakan”
(konseptual) sebuah peristiwa keadaan atau benda yang berhasil dihimpun oleh wartawan.
Kemudian menurut Efendi media massa mempunyai andil besar dalam mempersuasifkan
masyarakat termasuk hal-hal yang berhubungan dengan politik khususnya citra tokoh-tokoh
politik. hal tersebut terliht sebagai bentuk keberpihkan terhadap pasangan calon nomor urut
1 Hidayat dan Sigit Purnomo.
Sebagai harian yang pertama berdiri di Kota Palu, Mercusuar telah gagal
menyampaikan berita secara objektif dan netral teristimewa dalam pemberitaan mengenai
11
Hidayat-Sigit dalam pemilihan Kepala Daerah. Jika melihat Mercusuar sebagai harian yang
sudah sejak lama berdiri seharusnya menyadari bahwa kepercayaan pembaca terhadap
pemberitaan harus wajib dilakukan dalam menyampaikan berita dengan objektif dan netral,
dengan menyeimbangkan antara kepentingan media dan kebutuhan masyarakat. Hanya saja
indikasi kepentingan tertentu tampak mengubah objektivitas dan netralitas sebuah berita.
KESIMPULAN
A. Framing berita kampanye pasangan Hidayat dan Sigit
Dari hasil penelitian serta pembahasan menggunakan skema analisis Framing yang
diperkenalkan oleh Gamson dan Mondigliani pada pemberitaan Kampanye Hidayat dan
Sigit di koran harian Mercusuar tampak jelas model pembingkaian berita yang dilakukan
juga memberi kesan bahwa pasangan nomor urut satu tersebut mempunyai kelebihan
dibanding pasangan lain, dan menjadi sosok pemimpin yang patut diperjuangkan menjadi
walikota dan wakil walikota. Sebelum dan sesudah memasuki masa pemilihan umum
kesemuanya didasarkan pada struktur analisis yang terdiri dari, framing devices antara lain
methapors, exemplars, cachphrases, depicions, visual images dan Reasoning devives yang
terdiri dari, roots dan appeal to prinsiple. Setiap berita mempunyai semua unsur tersebut,
hanya saja kekurangannya terdapat beberapa berita tidak mempunyai foto ilustrasi yang
menyatakan gambaran kegiatan yang dilakukan, dan ada dua berita yang tidak menggunakan
unsur methapors.
Mercusuar menggambarkan kesan Hidayat dan Sigit seolah-olah pasangan yang telah
memenuhi kriteria bukan berdasarkan arahan Mercusuar melainkan dari pertimbangan
masyarakat kota Palu. Hal tersebut didasarkan atas beberapa pertimbangan masyarakat yang
salah satunya adalah Hidayat dan Sigit merupakan pemimpin yang cinta akan adat dan
budaya kaili dan yang nampak hanya mereka yang mempunyai program untuk
membangkitkan kembali budaya kaili dikota Palu sebagai nilai tambah perekonomian.
B. Konstruksi Realitas Berita
Opini tidak dapat dihilangkan dalam setiap pemberitaan. Beberapa berita yang ditulis
bukan berdasarkan hasil peliputan yang dilihat secara objektif dan dilakukan sendiri,
melainkan menerima rilis berita dari tim media kandidat yang kemudian diolah dengan opini
media. Sehingga realitas yang banyak dibangun pada berita merujuk pada realitas subjektif
yang dilakukan media. Pada akhirnya Mercusuar dianggap tidak netral dalam menyajikan
berita. Walaupun, dari empat pasangan calon kesemuanya telah dijadikan berita di harian
Mercusuar. Namun yang lebih dominan adalah pasangan calon Hidayat dan Sigit.
kepentingan media juga menjadi faktor utama adanya keberpihakan pada calon tersebut.
Media Mercusuar dapat mengolah dan menaikan berita tersebut dengan meletakan di
halaman satu agar dapat langsung diperhatikan pembaca.
Selain itu kepentingan politik masih dominan dari pada kepentingan informasi untuk
masyarakat. Sehingga dalam hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Media Mercusuar
yang merupakan media lokal dan juga terdaftar dalam media di Indonesia belum dewasa
menyikapi persoalan politik yang terjadi saat ini.
12
Saran
Sesuai dengan ruang lingkup dari analisis framing, maka penelitian ini hanya
melakukan penelitian pada tingkat teks dan gambar yang di buat oleh media. Penelitian
hanya mencakup semua bagian dari berita yang tampak dalam teks berita. Hasil yang
peneliti dapatkan selama melakukan observasi dan penelitian ini dapat dijadikan saran, agar
dalam melakukan pengalian informasi kedepannya diharapkan wartawan akan lebih
memperhatikan unsur faktual dari berita yang dimuat. Unsur 5W + 1H harus terus
digunakan, untuk pembuatan berita sebaiknya harus lebih netral lagi karena pada kasus
kampanye terdapat persaiangan antar dua kubuh atau lebih. Media harus mampu
mengakomodasi kepentingan dari dua pihak untuk dapat menyampaikan apa saja yang
menjadi keinginan mereka, serta media tidak mempentingan kepentingan sendiri dalam arti
khusus untuk wartawan yang melakukan peliputan. Wartawan juga harus terjun kelapangan
dan melihat langsung kejadian, agar berita yang disampaikan bisa tergambar dengan baik
tanpa hasil yang mengada-ngada.
Media juga harus mampu bertindak sesuai azas demokrasi pers, agar wacana tentang
pers yang demokratis tanpa berpihak dengan kelompok, atau lemabaga manapun bisa dapat
diwujudkan dengan baik. Selanjutnya media juga harus mampu membedakan mana yang
bisa menjadikan keuntungan dari hasil yang seimbang dengan keuntungan yang didapat
berdasarkan keberpihakan. Sebab media merupakan pilar keempat dari tiga lembaga
pemerintahan yakni yudikatif, eksekutif, dan legislatif yang menaungi negara Indonesia
yang taat atas azas demokrasi pancasila.
Oleh karena itu, peneliti berharap penelitian selanjutnya yang menyangkut
pemberitaan kampanye dapat menambahkan model atau kerangka yang lebih tepat dan
akurat dalam melihat framing berita dan konstruksi yang dilakukan. Dengan melakukan
metode lain maka akan didapatkan hasil penelitian yang lengkap dan menyeluruh.
Daftar Pustaka
A. Buku Teks
Bungin, Burhan. (2011). Konstruksi Sosial Media Massa: Kekuatan Pengaruh Media
Massa, Iklan Televisi, dan Keputusan Konsumen Serta Kritik Terhadap Peter L. Berger
dan Thomas Luckmann. Jakarta: Kencana
Bungin, Burhan. (2006). Sosiologi Komunikasi: Teori, Paradigma, dan Diskursus Teknologi
Komunikasi di Masyarakat. Jakarta: Kencana.s
Cangara, Hafied. (2012). Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: Grafindo
Cangara, Hafied. (2011). Komunikasi Politik: Konsep, Teori, dan Strategi. Jakarta :
Rajawali Pers.
Djuroto, Totok. (2004). Manajemen Penerbitan Pers. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Effendy, Onong Uchjana. (2003). Ilmu, Teori, dan Filsafat Komunikasi. Bandung: Citra
Aditya
Junaedhie, Kurniawan. (1999). Ensiklopedia Pers Indonesia. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka
Utama
13
Kusumaningrat, Hikmat dan Purnama Kusumaningrat. (2006). Jurnalistik Teori dan
Praktek. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Liliweri, Alo. (2011). Komunikasi: Serba Ada Serba Makna. Jakarta: Kencana
McQuail, Denis. (1994). Teori Komunikasi Massa: Suatu Pengantar. Jakarta: Erlangga
Nurudin. (2009). Pengantar Komunikasi Massa. Jakarta: Rajawali Pers
Romli, Asep. 2005. Jurnalistik Terapan : Pedoman Kewartawanan dan Kepenulisan.
Bandung. Batic Pres Suhandang
Soedibyo, Agus. (2001). Politik Media dan Pertarungan Wacana. Yogyakarta: Lkis
Suhandang, Kustadi. (2004). Pengantar Jurnalistik Seputar Organisasi, Pola dan Kode Etik.
Bandung: Nuansa
Tamburaka, Apriadi. (2012). Agenda Setting Media Massa. Jakarta: Grafindo
B. Buku Metodologi
Bungin, Burhan. (2011). Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan
Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Kencana.
Eriyanto. (2012). Analisis Framing: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media. Yogyakarta:
Lkis.
Kriyantono, Rachmat. (2006). Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Kencana
Sobur, Alex. (2012). Analisis Teks Media. Bandung: Remaja Rosdakarya
14
Download