4-Respon Tanaman Kedelai Terhadap Pemberian

advertisement
26 Media Bina Ilmiah
ISSN No. 1978-3787
RESPON TANAMAN KEDELAI TERHADAP PEMBERIAN PUPUK ORGANIK, INOKULASI
FMA DAN VARIETAS KEDELAI DI TANAH PASIRAN
Oleh:
Sukmawati
Fakultas Pertanian Universitas Nahdlatul Wathan Mataram
Abstrak, Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pupuk organik, inokulasi mikoriza dan varietas
kedelai terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai. Untuk itu telah dilakukan penelitian di rumah
plastik pada bulan Mei - Oktober 2011 yang ditata menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 3
ulangan dan 3 faktor perlakuan secara faktorial, yaitu pupuk organik, mikoriza dan varietas kedelai. Data
dianalisis menggunakan Analisis Keragaman, dilanjutkan dengan uji BNJ pada taraf nyata 5%. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk organik, inokulasi mikoriza dan varietas memberikan
pengaruh yang bervariasi pada setiap parameter pengamatan. Ketiga faktor perlakuan meningkatkan
pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai.
Kata kunci: Pupuk organik, inokulasi mikoriza, varietas kedelai, pertumbuhan dan hasil tanaman
Pendahuluan
Kedelai (Glycine max (L) Merill) merupakan
salah satu jenis tanaman palawija sebagai sumber
protein nabati yang memiliki banyak kegunaan dan
manfaat bagi kesehatan.
Kedelai
merupakan
komoditas pangan ketiga setelah padi dan jagung.
Karena memiliki banyak kegunaan maka komoditas
kedelai diprioritaskan untuk dikembangkan. Dalam
pengembangan komoditas kedelai, banyak kendala
yang dihadapi terutama produksi kedelai yang masih
rendah sehingga kebutuhan akan kedelai belum
tercukupi. Oleh karena itu tanaman kedelai
merupakan tanaman yang penting dalam program
revitalisasi pertanian tanaman pangan di Indonesia
(Anonim, 2008).
Kebutuhan akan kedelai terus
meningkat dari tahun ke tahun seirama dengan
peningkatan jumlah penduduk dan kesadaran
masyarakat akan nilai gizi biji kedelai, sementara
produksi yang dicapai belum mampu mengimbangi
kebutuhan tersebut sehingga harus dipenuhi melalui
impor kedelai yang terus meningkat dari tahun ke
tahun. Pada tahun 2009 dalam periode JanuariAgustus ke periode yang sama pada tahun 2010
terjadi kenaikan impor kedelai dari 928.200 ton
menjadi 1.243.400 ton yang berarti naik sebesar
33,96% (Sucofindo, 06-12-2010 dalam Wangiyana
et al., 2011). Kenaikan volume impor ini
membuktikan bahwa belum mampunya kenaikan
produksi dalam negeri mengejar peningkatan
kebutuhan/permintaan domistik.
Rendahnya produksi kedelai dalam negeri
disebabkan oleh berbagai kendala yang berupa
antara lain : (1) terbatasnya lahan untuk produksi
kedelai, (2) lahan yang ada relatif tidak subur, (3)
teknologi budidaya kedelai yang diterapkan petani
masih sangat sederhana,
(4) adanya gangguan
penyakit seperti gangguan pathogen tular tanah, (5)
irigasi dan pemupukan yang belum optimal (Jalid et
al., 1977, Halim et al., 2004).
Dalam menyikapi keterbatasan lahan produktif
perlu dilaksanakan pengembangan teknologi
budidaya kedelai pada lahan kering marginal yang
selama ini tidak difungsikan. Namun pengembangan
kedelai di lahan kering marginal menghadapi banyak
tantangan baik secara fisik, sosial, ekonomi, budaya
dan kelembagaan. Keterbatasan sifat fisik tanah
merupakan faktor pembatas yang paling utama di
lahan kering marginal. Disamping itu pendapatan
petani yang rendah, permodalan yang kurang, harga
jual yang rendah dan tingkat pendidikan petani pada
umumnya juga merupakan kendala yang tidak kalah
pentingnya dalam pengelolaan lahan kering
marginal.
Berdasarkan keterbatasan sifat-sifat di atas
maka sistim pertanian organik sangat dianjurkan
untuk diterapkan di wilayah lahan kering marginal.
Pertanian organik merupakan sistim manajemen
produksi yang ramah lingkungan. Penerapannya di
lapangan
akan
meningkatkan
kesehatan
agroekosistim, termasuk keragaman hayati, siklus
biologi dan aktivitas biologi tanah (Sebastian, 2002
dalam Sutanto 2002a). Pemanfaatan pupuk organik
dan pemberian mikoriza merupakan salah satu
bentuk pertanian organik yang dapat dijadikan
sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan
produksi kedelai .
Pupuk organik adalah pupuk yang berasal dari
sisa-sisa tanaman, hewan dan manusia seperti
pupuk kandang, guano, casing, pupuk hijau dan
kompos. Sumber pupuk tersebut banyak tersedia di
_______________________________________________
Volume 7, No. 4, Juli 2013
http://www.lpsdimataram.com
ISSN No. 1978-3787
lapangan tetapi belum dimanfaatkan secara optimal.
Pemberian pupuk organik terutama ditujukan untuk
perbaikan sifat fisik tanah seperti memperbaiki
struktur tanah, meningkatkan kandungan lengas
tanah, menyeimbangkan pori-pori tanah dan
meningkatkan ketahanan terhadap erosi (Ma‘shum,
2008). Selain manfaat terhadap perbaikan sifat fisik
tanah, pupuk organik juga dapat meningkatkan
kualitas sifat kimia dan biologi tanah seperti
meningkatnya ketersediaan kandungan unsur hara
dan aktivitas mikroorganisme tanah.
Penambahan pupuk organik ke dalam tanah dan
atau pemanfaatan mikroorganisme merupakan
metode yang aman dan efektif untuk digunakan
pada tanah pasiran. Tanah pasiran umumnya bersifat
sangat porous sehingga penggunaan pupuk kimia
akan sangat mudah tercuci dan hilang dari zone
perakaran. Pemberian pupuk kimia pada tanah-tanah
pasiran umumnya tidak efektif dan mudah hilang
melalui perkolasi dan pelindian unsur hara.
Penggunaan mikroorganisme tanah seperti mikoriza
pada tanah berpasir diyakini dapat meningkatkan
ketersediaan unsur hara, air dan memperbaiki sifatsifat fisik tanah. Karena kelebihan-kelebihan
tersebut maka pemanfaatan mikoriza diharapkan
merupakan
solusi penting untuk pertanian
berkelanjutan masa depan (Madjid, 2009)
Fungi mikoriza arbuskular (FMA) merupakan
salah satu jamur yang banyak menarik perhatian
para ilmuwan karena kemampuannya membentuk
kolonisasi hifa di luar perakaran tanaman.
Pemanfaatan mikoriza di lahan kering sangat
bermanfaat bagi tanaman inang dalam menyediakan
air dan unsur hara. (Jone dan Thompson, 1981;
Sylvia, 1982 dalam Madjid 2009 )
Penelitian tentang mikoriza telah banyak
dirintis namun masih banyak potensi yang belum
maksimal digali. Catatan positif tentang manfaat
mikoriza bagi tanaman telah banyak dilaporkan oleh
para peneliti baik di dalam maupun di luar negeri.
Yusnaini et al., (1998), menemukan bahwa FMA
dapat meningkatkan produksi kedelai pada tanah
ultisol di Lampung. Penerapan FMA pada kondisi
cekaman air selama periode vegetatif dan generatif
dilaporkan dapat meningkatkan produksi tanaman
jagung (Yusnaini et al., 1999). Setiadi (2003)
melaporkan bahwa mikoriza berperan penting
dalam meningkatkan toleransi tanaman terhadap
unsur logam beracun dan terhadap kondisi
kekeringan/kurang
air.
Wangiyana
(2009)
menambahkan
bahwa mikoriza meningkatkan
kemampuan adaptasi tanaman kacang hijau
terhadap kekeringan. Dari hasil – hasil penelitian
tersebut di atas menunjukkan bahwa FMA memiliki
efek yang positif terhadap pertumbuhan dan hasil
tanaman kedelai dan masih banyak aspek kajian
Media Bina Ilmiah 27
FMA lainnya yang belum diketahui dan perlu dikaji
lebih lanjut terutama peranannya dalam penyediaan
lengas dan unsur hara. Hal ini menjadi sangat
penting terutama pada era pemanasan global seperti
saat ini sehingga perlu inovasi teknologi baru yang
lebih adaftif.
Tujuan penelitian pada tahap ini adalah untuk
mengetahui pengaruh perlakuan pupuk organik,
inokulasi mikoriza dan varietas kedelai terhadap
pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai
Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini
adalah metode eksperimental, dengan melakukan
percobaan penanaman menggunakan pot plastik di
rumah plastik di desa Parampuan dari bulan Mei
sampai Oktober 2011
a.
Rancangan Percobaan
Rancangan percobaan yang digunakan adalah
Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang ditata
dengan percobaan faktorial yang terdiri dari 3 faktor.
Faktor pertama adalah pupuk organik yang terdiri
dari 3 aras yaitu O0 = tanpa pupuk organik, O1 =
pupuk kandang dan O2 = pupuk hijau, dan Faktor
kedua adalah inokulum mikoriza yang terdiri dari 2
aras yaitu M0 = tanpa inokulum dan M1 = inokulum
mikoriza, sedangkan Faktor ketiga varietas yang
terdiri dari 2 varietas yaitu V1 = varietas Grobogan,
dan V2 = varietas Wilis. Setiap perlakuan
dikombinasikan sehingga didapatkan 12 kombinasi
perlakuan yaitu O0M0V1 , O0M0V2, O1M0V1, O1M0V2,
O2M0V1, O2M0V2, O0M1V1, O0M1V2, O1M1V1,
O1M1V2, O2M1V1, O2M1V2 dan setiap kombinasi
perlakuan diulang 3 kali sehingga diperoleh 36 pot
percobaan.
b.
1.
2.
3.
Pelaksanaan Percobaan
Persiapan Pupuk Organik. Pupuk organik yang
digunakan dalam penelitian ini adalah pupuk
kandang sapi dan pupuk hijau. Sebelum
digunakan, pupuk organik dikomposkan
terlebih
dahulu
dengan
aktivator
Mikroorganisme Lokal (MOL).
Persiapan Tanah. Tanah bertekstur pasiran
(entisol) diambil pada lahan kering tegalan
pusat Penelitian Pertanian Lahan Kering desa
Akar-Akar Kabupaten Lombok Utara. Contoh
tanah diambil secara komposit pada kedalaman
0 – 20 cm, dikeringanginkan, dan diayak
dengan ayakan bermata saring 2 mm untuk
media tanam dan 0,5 mm untuk keperluan
analisis tanah. Selanjutnya contoh tanah
berdiameter 2 mm dimasukkan ke dalam pot
plastik sebanyak 7,5 kg/pot plastik.
Inokulasi FMA dan Penanaman Kedelai. Untuk
perlakuan yang mendapat inokulasi FMA,
_______________________________________
http://www.lpsdimataram.com
Volume 7, No. 4, Juli 2013
28 Media Bina Ilmiah
5.
6.
c.
Variabel Pengamatan dan Analisis Data.
Variabel yang diamati meliputi tinggi tanaman,
umur vegetatif maksimum, umur keluar polong,
jumlah polong, berat berangkasan kering, berat biji
per tanaman dan berat 25 biji.
Data dianalisis dengan analisis keragaman
(ANOVA), dilanjutkan dengan uji beda Nyata Jujur
(BNJ) pada taraf 5%, menggunakan program
Genstad
Sementara itu
faktor interaksi pupuk organik
dengan mikoriza hanya tampak pengaruhnya pada
parameter laju pertumbuhan tinggi tanaman.
Laju
pertumbuha
n
tinggi
Umur
berbunga
(hari)
Umur
keluar
polong
Jumlah
polong
(buah)
Berat
Berangkasa
n
Kering
Berat
biji/tanaman
(g)
Berat 25 biji
(g)
Tabel 1. Rangkuman hasil analisis
keragaman
pengaruh penambahan bahan organik,
mikoriza
dan varietas terhadap
pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai
Sumber
Kragaman
4.
inokulasi dilakukan pada saat tanam dengan
menempatkan Tehnofert (sebanyak 10 g/pot)
dalam lubang inokulum di tengah-tengah pot
sedalam kurang lebih 7,5 cm lalu ditutup
dengan tanah dan disiram air. Untuk tiap pot,
penanaman dilakukan dengan menugalkan 3
benih yang telah berkecambah sehingga untuk
perlakuan dengan inokulasi, kecambah berada
di atas inokulum FMA, kemudian ditutup
dengan tanah.
Penyulaman, Penjarangan dan Pemupukan.
Penyulaman dan penjarangan di lakukan
dengan menggunakan bibit cadangan atau dari
pot perlakuan yang sama, pada umur 7 HST
untuk menumbuhkan satu tanaman per pot.
Pemupukan dilakukan dengan menggunakan
pupuk majemuk Phonska dengan dosis 100 kg
per ha.
Pemeliharaan Tanaman. Pemeliharaan meliputi
penyiangan setiap ada gulma yang tumbuh,
penyiraman setiap 2 hari sekali dan
pengendalian hama dengan Decis 25 EC dan
Matadhor 25 EC untuk mengendalikan
serangan Aphis.
Panen. Pemanenan dilakukan setelah polong
berwarna coklat tua, daun menguning dan
batang mulai mongering.
ISSN No. 1978-3787
BO S
Mikoriza NS
Varietas NS
OxM S
NS
NS
S
NS
NS
NS
S
NS
NS
NS
NS
NS
S
S
S
NS
NS
S
S
NS
NS
NS
S
NS
OxV NS
NS
NS
NS
NS
NS
NS
MxV NS
OxMxV NS
NS
NS
NS
NS
NS
NS
NS
NS
NS
NS
NS
NS
Dari paparan di atas terlihat bahwa faktor
pupuk, mikoriza dan varietas berpengaruh terhadap
pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai (baik
pengaruh faktor tunggal maupun kombinasi dua
faktor perlakuan). Untuk lebih mendalami tentang
pengaruh faktor perlakuan dilakukan uji lanjut BNJ
0,05 sebagaimana yang tertera pada Tabel 2.
Tabel 2. Uji BNJ 0,05 parameter pengamatan
pertumbuhan dan hasil tanaman
Hasil Dan Pembahasan
Dari
hasil
penelitian
diperoleh
data
pertumbuhan dan hasil tanaman. Data yang
diperoleh dianalisis, dikelompokkan dan disajikan
dalam bentuk Gambar dan atau Tabel untuk
dijabarkan dan didiskusikan secara lebih mendetail.
Data dan hasil analisis ragam parameter pengamatan
disajikan pada Tabel 1.
Seperti terlihat pada Tabel 1 tampak bahwa
faktor tunggal pupuk organik berpengaruh terhadap:
(1) laju pertumbuhan tinggi tanaman dan (2) berat
berangkasan kering panen tanaman. Sedangkan
faktor tunggal mikoriza berpengaruh terhadap: (1)
berat berangkasan kering panen dan (2) berat biji per
tanaman. Faktor tunggal varietas berpengaruh
terhadap: (1) umur berbunga, (2) umur keluar
polong, (3) berat berangkasan kering tanaman, (4)
berat biji per tanaman dan (5) berat 25 biji.
_______________________________________________
Volume 7, No. 4, Juli 2013
*Angka- angka yang diikuti huruf yang sama tidak
berbeda nyata antar taraf perlakuan pada setiap
faktor perlakuan menurut BNJ pada taraf nyata
5%
a.
Pertumbuhan tanaman ( Laju pertumbuhan
tanaman)
Ukuran pertumbuhan tanaman dapat didekati
menggunakan beberapa
indikator pertumbuhan
seperti : (1) panjang daun, (2) luas daun, (3)
diameter batang, (4) tinggi tanaman, dan lain-lain.
Parameter tinggi tanaman banyak digunakan karena
variabel ini diyakini memiliki kelebihan dalam
http://www.lpsdimataram.com
ISSN No. 1978-3787
Media Bina Ilmiah 29
merefleksikan pengaruh lingkungan. Pengukuran
tinggi tanaman dengan metode interval waktu
tertentu memiliki banyak kelemahan. Oleh karena
itu penelitian ini menggunakan pendekatan laju
pertumbuhan tinggi tanaman dengan tujuan untuk
mendapatkan trend pertumbuhan tanaman yang
diwakili oleh satu data hasil pengamatan. Hasil atau
data pengaruh perlakuan terhadap laju pertumbuhan
tinggi tanaman disajikan pada Gambar 1.
3
2.5
2
1.5
1
0.5
0
V1 V2 V1 V2 V1 V2 V1 V2 V1 V2 V1 V2
tanaman. Perlakuan pupuk kandang dengan
inokulasi mikoriza memberikan laju pertumbuhan
lebih tinggi (1,66 cm/hari) dari pada perlakuan
tanpa inokulasi mikoriza (1,54 cm/hari). Terjadinya
interaksi antara pemberian pupuk kandang dan
mikoriza menunjukkan bahwa pengaruh faktor
pupuk kandang akan mempengaruhi perlakuan
faktor mikoriza dan sebaliknya faktor mikoriza akan
mempengaruhi perlakuan pupuk kandang (Kemas,
2003). Faktor pupuk kandang mempengaruhi
FMA dalam hal Mulyani (2002): (1) Mensuplai
bahan makanan bagi FMA di dalam tanah dan (2)
Meningkatkan aktivitas FMA. Sedangkan FMA
mempengaruhi pupuk kandang dengan mempercepat
proses dekomposisi pupuk organik sehingga unsur
hara yang terdapat pada larutan tanah lebih mobile
dan tersedia bagi tanaman. Proses-proses tersebut
dapat meningkatkan kandungan unsur hara di dalam
tanah.
b.
M0
M1
M0
M1
M0
M1
Gambar 1. Grafik rata-rata laju pertumbuhan tinggi
tanaman
standar
eror
(cm/hari)
pada interaksi
antara faktor pupuk,
mikoriza dan varietas.
Gambar 1 menunjukkan bahwa perlakuan
pupuk organik berpengaruh significan terhadap
tinggi tanaman. Pertumbuhan tanaman tertinggi
terjadi pada perlakuan pemberian pupuk kandang
(1,87 cm/hari) yang diikuti perlakuan pupuk hijau
(1,47 cm/hari) dan tanpa pupuk (1,46 cm/hari).
Menurut Mulyani (2002) pupuk kandang memiliki
pengaruh yang positif terhadap perbaikan sifat fisik,
kimia tanah dan dapat mendorong kehidupan biota
tanah. Di antara sifat positif tersebut adalah (Brady,
1982) : (1) menyediakan unsur hara tanaman seperti
unsur hara makro (N, P, S dan K) serta unsur hara
mikro (Zn, Cu, B),
(2) mempertinggi kadar
humus, (3) memperbaiki struktur tanah, dan (4)
mendorong kehidupan jasad renik. Semua itu
mendorong ke arah perbaikan di dalam tanah yang
pada
akhirnya
meningkatkan
kesuburan/produktivitas
tanah.
Peningkatan
kesuburan tanah akan mendukung terjadinya
pertumbuhan tanaman secara optimal.
Hasil
penelitian menunjukkan pemberian pupuk hijau
juga memberikan hasil yang significan dibandingkan
dengan perlakuan tanpa pupuk. Hal ini disebabkan
karena pupuk hijau memiliki fungsi seperti peranan
pupuk kandang.
Pada interaksi pupuk dengan mikoriza (O x M)
terlihat perlakuan pemberian pupuk kandang dan
mikoriza meningkatkan laju pertumbuhan tinggi
Hasil tanaman kedelai : Umur berbunga,
umur keluar polong, jumlah polong, berat
berangkasan kering, berat biji/tanaman dan
berat 25 biji
Parameter umur berbunga, umur keluar polong,
jumlah polong, berat berangkasan kering, berat biji
per tanaman dan berat 25 biji adalah indikator organ
generatif penting bagi perkembangbiakan tanaman.
Efek perlakuan terhadap parameter-parameter organ
generatif tersebut menjadi sangat penting untuk
mengetahui sensitifitas pengaruh perlakuan yang
dicobakan terhadap hasil tanaman.
1.
Umur berbunga, umur keluar polong dan berat
25 biji
Indikator keluarnya bunga
ditandai oleh
adanya kuncup bunga yang muncul pada buku atau
ujung tunas tanaman kedelai. Sedangkan indikator
keluarnya polong kedelai adalah keluarnya
rangkaian bunga kedelai setelah terjadinya
penyerbukan bunga kedelai secara alami maupun
secara buatan. Polong tersebut terus tumbuh dan
berkembang berisi biji kedelai (1-4 biji/polong)
hingga tanaman mengering dan siap dipanen. Biji
tanaman kedelai biasanya berbentuk bulat atau bulat
pipih sampai bulat lonjong dengan klasifikasi
ukuran biji yang bervariasi yaitu kecil, sedang dan
besar.
Hasil
penelitian
menunjukkan
bahwa
pemberian pupuk organik dan mikoriza tidak
memberikan pengaruh nyata pada parameter umur
keluarnya bunga, umur keluarnya polong dan berat
25 biji tanaman kedelai.
Data pada Tabel 1 menunjukkan bahwa faktor
tunggal varietas berpengaruh nyata pada parameter
umur berbunga, umur keluar polong dan berat 25
biji. Untuk lebih memperjelas pengaruh perlakuan
_______________________________________
http://www.lpsdimataram.com
Volume 7, No. 4, Juli 2013
30 Media Bina Ilmiah
faktor mandiri varietas terhadap parameterparameter tersebut dilakukan uji lanjut BNJ 0,05
yang hasilnya disajikan pada Tabel 2.
Hasil analisis menunjukkan bahwa perlakuan
varietas berpengaruh nyata pada ketiga parameter
pertumbuhan generatif tanaman. Hasil analisis
menunjukkan bahwa varietas Grobogan lebih cepat
berbunga (31 HST) dibandingkan varietas Wilis (35
HST). Umur keluar polong pada varietas Grobogan
lebih cepat (37 HST) dari pada varietas Wilis (44
HST). Hal ini menunjukkan adanya perbedaan faktor
genetik yang nyata di antara 2 varietas tanaman.
Faktor genetik merupakan sifat bawaan dari masingmasing varietas. Tampak bahwa dalam penelitian ini
varietas Grobogan memiliki keunggulan generatif
yang lebih baik dari pada varietas Wilis dalam hal
umur keluarnya bunga, umur keluarnya polong dan
berat 25 biji. Adanya pengaruh perbedaan varietas
terhadap suatu penelitian telah banyak dilaporkan
oleh para peneliti seperti penelitian yang dilakukan
oleh Sandi et al., (2000) yang menyatakan bahwa
varietas Sinabung dan Kaba memiliki produktivitas
yang lebih tinggi dari pada varietas Dieng dan Wilis.
Berat biji merupakan indikator penting pada
penelitian ini karena biji merupakan wujud hasil
panen dari budidaya kedelai. Hasil biji merupakan
efek simultan interaksi dari berbagai faktor
lingkungan dan genetik tanaman kedelai.
Pengukuran berat 25 biji menunjukkan berat 25 biji
varietas Grobogan lebih tinggi (3,99 g) dari varietas
Wilis (3,01 g). Hasil tersebut menunjukkan produksi
varietas Grobogan 33% lebih tinggi dari pada
varietas Wilis.
2.
Berat Berangkasan kering panen.
Berat berangkasan kering adalah ukuran atau
indikator yang menunjukkan kemampuan suatu
tanaman dalam menghasilkan biomassa. Biomassa
juga merupakan hasil refleksi dari faktor lingkungan
dan genetik seperti halnya berat biji kedelai.
Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa
perlakuan secara mandiri faktor pupuk organik,
mikoriza dan varietas berpengaruh terhadap berat
berangkasan kering tanaman (Tabel 1). Uji lanjut
BNJ 0,05 pada parameter pengamatan berat
berangkasan kering disajikan pada Tabel 2.
Data pada Tabel 2 menunjukkan bahwa pupuk
kandang menghasilkan berat berangkasan lebih
tinggi (54 g), diikuti oleh pupuk hijau (53 g) dan
perlakuan tanpa pupuk (50 g). Hal ini menunjukkan
bahwa pemberian pupuk organik dalam bentuk
pupuk kandang maupun pupuk hijau diduga mampu
(Sutanto, R. 2002b) : (1) memperbaiki daya olah
tanah, (2) mensuplai bahan makanan bagi mikroba
tanah, (3) membebaskan unsur
hara untuk
pertumbuhan tanaman.
_______________________________________________
Volume 7, No. 4, Juli 2013
ISSN No. 1978-3787
Pada hasil perlakuan dengan inokulasi mikoriza
menunjukkan berat berangkasan panen yang lebih
tinggi (55 g) dari pada tanpa inokulasi FMA (50 g).
Hasil ini dapat dipahami karena pemberian inokulasi
FMA ke dalam tanah tampaknya dapat membantu
memacu pertumbuhan tanaman. Hal ini diduga
karena mikoriza dalam aktivitasnya akan (Bertham
et al., 2005): (1) melepaskan berbagai senyawa
organik yang beraneka fungsi, dan (2) meningkatkan
khelasi ion-ion hara dan fitohormon. Khelasi ion-ion
hara akan menyebabkan ion-ion tersebut tidak
mudah terlindi dari dalam tanah, kemudian dalam
jangka panjang ion-ion terikat tersebut akan
dilepaskan secara bertahap untuk memenuhi
kebutuhan tanaman maupun komunitas mikroba
lainnya di dalam tanah.
Dalam hal kaitannya dengan varietas tanaman,
varietas Wilis memiliki berat berangkasan kering
panen lebih tinggi (54 g) dibandingkan dengan
varietas Grobogan (51 g). Hal ini bertolak belakang
dengan data hasil parameter generatif lainnya
seperti umur berbunga, umur keluarnya polong, dan
berat 25 biji. Hasil ini menunjukkan adanya
superioritas varietas Grobogan terhadap varietas
Wilis. Hal ini diduga
karena ketidak mampuan
varietas Wilis dalam mentransfer hasil fotosintesa ke
fase generatif biji kedelai.
3.
Berat biji per tanaman.
Hasil analisis keragaman berat biji per tanaman
yang diperoleh pada penelitian ini dapat dilihat pada
Tabel 1.
Data pada Tabel 2 menunjukkan bahwa
perlakuan mikoriza memberikan berat biji yang
lebih tinggi (9,3 g per tanaman) dibandingkan
dengan perlakuan tanpa mikoriza (7,2 g per
tanaman). Hal ini menunjukkan kemampuan
mikoriza dalam meningkatkan ketersediaan unsur
hara terutama hara P, meningkatkan ketersediaan air
dan memiliki potensi dalam mensuplai fitohormon.
FMA dengan hifanya membantu proses pengikatan
unsur hara P di dalam tanah dan potensinya dalam
mentransport ke bagian tanaman yang lain seperti
biji. Mulyani (2002) menyatakan unsur hara P
berperan penting dalam (1) pengisian biji, (2)
pemasakan buah atau gabah dan (3) juga dapat
meningkatkan produksi biji-bijian. Hal yang sama
disimpulkan oleh Allen and Allen (1986) dalam
D.J.Read (1992) yang menyatakan bahwa mikoriza
memberikan efek positif bagi pertumbuhan dan hasil
tanaman.
Dalam hal varietas tampak bahwa faktor
varietas berpengaruh terhadap parameter berat biji
per tanaman. Hasil berat biji varietas Grobogan
lebih tinggi (9,2 g) dari pada berat biji varietas Wilis
(7,6 g). Varietas Grobogan memiliki berat biji lebih
tinggi 22 % dibandingkan varietas Wilis.
http://www.lpsdimataram.com
ISSN No. 1978-3787
Berdasarkan deskripsi keunggulan dari sifat
kedua varietas, varietas Grobogan disebutkan
memiliki daya hasil lebih tinggi (2,770 ton/ha)
dibandingkan varietas Wilis
(l ,626 ton/ha).
Berdasarkan paparan di atas diketahui bahwa
pupuk organik mempengaruhi hasil tanaman.
Perlakuan mikoriza cenderung lebih memacu proses
fisiologi tanaman yang berdampak pada hasil
tanaman.
Penutup
a.
Simpulan.
Dari hasil dan pembahasan yang diuraikan
dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Penggunaan pupuk kandang mempengaruhi :
laju pertumbuhan tinggi tanaman, berat
berangkasan kering
2. Pemberian pupuk hijau (gamal) akan
mempengaruhi
umur
berbunga,
waktu
keluarnya polong, berat biji per tanaman dan
berat 25 biji , berat berangkasan 45 HST
3. Secara umum inokulasi mikoriza mempercepat
pertumbuhan tanaman, dan mempercepat umur
keluar bunga dan polong serta meningkatkan
biomassa dan berat biji.
Media Bina Ilmiah 31
Straw, Leaf Manure & Production, ISSN
1411-4674 19 Sunihardi (ed) Kinerja
Penelitian
Tanaman
Pangan.
Buku
Puslitbang, Bogor.p. 1445-1453.
Kemas, Ali. 2003. Rancangan Percobaan Aplikatif.
Aplikasi Kondisional Bidang Pertanaman,
Peternakan, Perikanan, Industri dan Hayati.
Raja Grafindo Persada Jakarta.
Madjid, A. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bahan
Ajar Online, Fakultas Pertanian Unsri dan
Program Studi Ilmu Tanah, Program Magister
(S2) Program Pasca Sarjana. Universitas
Sriwijaya Palembang Sumatera Selatan
Ilmu
Indonesia,
http://Dasar-Dasar
Tanah.blogspot.com
Ma’shum, M. 2008. Kesuburan Tanah dan
Pemupukan. Fakultas Pertanian Universitas
Mataram.
Mulyani, 2002. Pupuk dan Cara Pemupukan.
Penerbit Rineka Cipta Jakarta
Read. DJ, DH Lewis, AH Fitter, IJ Alexander.,
1992. Mycorrhizal in Ecosytems. Cab
International Wallingford Oxon
b.
Saran.
Untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil
tanaman disarankan untuk meningkatkan dosis
pemberian pupuk organik dan inokulasi mikoriza ke
dalam tanah.
Setiadi, 2003. Arbuscular Mycorhizal Inokulum
Production. Program dan Abstrak Seminar dan
Pameran:
Teknologi
Produksi
dan
Pemanfaatan Inokulasi Endo-Ektomikoriza
untuk Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan.
16 September 2003.
Daftar Pustaka
Sutanto, R. 2002a. Penerapan Pertanian Organik.
Pemasyarakatan
dan
Pengembangannya.
.Kanisius Yogyakarta.
Anonim, 2008. Produksi Kedelai Nasional belum
mencukupi ( National Soya Beaf Production),
Agribusiness Online Indonesian Agribusiness,
http://www.
Suharjaunassria
,
tripod.com/index.htm. diakses 18 Nopember
2008.
Bertham, YII., 2005. Respon Tanaman Kedelai
(Glycine max, L) Merill) terhadap Pemupukan
Phosphor dan Kompos Jerami. Jurnal Ilmu
Pertanian Indonesia 4 (2) : 78-83
Brady, Ncyle C dan Harry O Buckman, 1982. Ilmu
Tanah. Bhratara Karya Aksara Jakarta.
Jone,
W
dan
CH
Thompson.,
1981.
Endomycorrhizal in Plant Colonization
Constal Sand – dunes at Cooloola,
Queensland, Australian Journal of Ecology G
Jalid, NR Munir dan H Subakti., 1997. Kendala dan
Peluang Pengembangan
Kedelai di Lahan
Sawah Tadah Hujan di Sumatera, Dalam :
M.Syam, Hermanto, A. Musaddad dan Paddy
Sutanto, R 2002b. Pertanian Organik Menuju
Pertanian Alternatif Berkelanjutan. Kanisius
Yogyakarta.
Wangiyana, W., 2009. Pentingnya Mikoriza Dalam
Produksi Tanaman di Lahan Kering Maupun
Bagi Bibit Tanaman Penghijauan. Seminar
Nasional pada Acara Dies Natalis Fakultas
Pertanian Universitas Mataram.
Wangiyana W, Ari Apriani, Nihla Farida 2011.
Respon Berbagai Varietas Kedelai terhadap
Sterilisasi Tanah dan Inokulasi dengan
Mikoriza Arbuskular
Yusnaini,S. 1998. Pengaruh Inokulasi Ganda
Rhizobium
dan
Mikoriza
Vesikular
Arbuskular Terhadap Produksi Kedelai Pada
Tanah Ultisol Lampung. Jurnal Tanah
Tropika.
_______________________________________
http://www.lpsdimataram.com
Volume 7, No. 4, Juli 2013
Download