simulasi aliran fluida pada sistem pencegahan

advertisement
Seminar Nasional Teknologi Informasi dan Multimedia 2015
ISSN : 2302-3805
STMIK AMIKOM Yogyakarta, 6-8 Februari 2015
SIMULASI ALIRAN FLUIDA PADA SISTEM PENCEGAHAN
KEBAKARAN PADA BUS DENGAN WATER MIST
MENGGUNAKAN PIPE FLOW EXPERT
Wahyu Kurniawan G. U.1), Alfan Yuli W.2), Wahyu Dwi W.S.3), Setya W.4), Ery M.5)
1), 2),3)
Teknik Keselamatan Otomotif PKTJ Tegal
Teknik Mesin Universitas Indonesia Depok
5)
Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung
Jl. Perintis Kemerdekaan No 17, Tegal Timur, Kota Tegal, Jawa Tengah 52125
Email : [email protected]), [email protected]), [email protected] 3),
[email protected]), [email protected])
4)
Abstrak
Dalam penelitian ini water mist digunakan sebagai sistem
proteksi terhadap bahaya yang di timbulkan oleh api
dengan mekanisme kerja seperti semprotan(spray).
Kinerja dari water mist untuk mendapatkan droplet yang
sesuai dengan karakteristik nozzle, dipengaruhi oleh
tekanan dan flow rate yang dihasilkan oleh pompa.
Kondisi lingkungan dalam pipa juga turut berpengaruh
terhadap output yang dihasilkan nozzle.
Untuk menguji efektifitas kinerja water mist terhadap
pemadaman
kebakaran,
dilakukan
percobaan
pemadaman dengan menggunakan model kabin
penumpang pada kendaraan bus. Hasilnya water mist
efektif memadamkan api pada model kabin bus dengan
waktu pemadaman 21,30 detik pada ketinggian 174cm.
Untuk dapat diaplikasikan pada kondisi bus yang
sebenarnya, kebutuhan flow rate dan tekanan perlu
dipenuhi agar sistem pemadaman dapat bekerja dengan
baik.
Dalam penelitian ini disimulasikan karakteristik aliran
fluida yang terjadi pada saat sistem aktif di kondisi
keadaan yang sebenarnya dengan mengggunakan
Software Pipe Flow Expert. Dari hasil simulasi diperoleh
spesifikasi pompa dan pipa yang sesuai untuk
diaplikasikan pada sistem pemadam kebakaran berbasis
water mist pada kendaraan yang sesungguhnya.
Dibutuhkan pompa dengan tekanan minimal 5 bar
dengan flow rate 28,47 L/min agar sistem dapat bekerja
dengan optimal. Sehingga, untuk memenuhi kebutuhan
flow rate, digunakan 9 pompa dengan tekanan 5 bar dan
flow rate 3,3L/min yang disusun secara paralel.
Kata kunci: Simulasi, kebakaran, water mist, aliran
fluida
1. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Masalah
Sistem Pemadam Kebakaran selama ini menjadi
kebutuhan utama baik pada bangunan maupun pada
obyek yang berpotensi terjadi kebakaran. Untuk
bangunan sudah memiliki standard regulasi yang harus
diterapkan untuk meminimalisir kerugian yang
ditanggung akibat terjadinya kebakaran. Namun, untuk
kendaraan bermotor yang beroperasi di jalan raya juga
memiliki potensi kebakaran. Saat ini belum ada sistem
khusus yang menangani secara khusus ketika terjadi
kebakaran pada kendaraan. Pemadaman hanya dilakukan
secara manual dengan rentang waktu antara terjadinya
kebakaran dengan pemadaman yang lama. Sehingga,
pemadaman cenderung terlambat dan kendaraan sudah
terbakar.
Padahal di Indonesia sendiri telah terjadi banyak kasus
kebakaran. khususnya kendaraan bus. Salah satunya
yaitu Bus TransJakarta yang terbakar di depan Bundaran
Hotel Indonesia Jakarta pada bulan Juni 2012 dan
merusak seluruh interior bus[1]. Juga 9 kasus kebakaran
lain yang menimpa bus TransJakarta sepanjang tahun
2014[2]. Kebakaran bus ini mirip dengan kebakaran pada
bangunan. Ada tiga tahapan dari fase pembentukan api
yaitu pertumbuhan, perkembangan dan fase pada saat api
padam. Beberapa metode pemadaman dapat dapat
menjadi pilihan untuk diterapkan sebagai sistem
pemadam kebakaran pada kendaraan. Metode tersebut
antara lain adalah dengan cara Pendinginan, Pengambilan
Oksigen, Penghilangan Bahan Bakar, Penghambatan
Reaksi Kimia, Flame Blow-Out[3].
Penggunaan water mist sebagai metode pemadaman tidak
lepas dari aliran fluida yang akan dipompakan kemudian
dialirkan melalui pipa-pipa dan keluar melalui nozzle
berupa water mist[4]. Dibutuhkan perhitungan mengenai
kebutuhan yang harus dipenuhi untuk mendapatkan
kondisi yang diinginkan. Selanjutnya perlu dilakukan
simulasi untuk mengetahui apakah hasil perhitungan
dapat langsung diterapkan pada sistem atau butuh
perubahan. Simulasi dilakukan menggunakan Software
Pipe Flow Expert.
1.2 Tujuan penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mensimulasikan
Aliran fluida yang berlangsung di dalam pipa selama
sistem aktif dan proses pemadaman terjadi. Serta
mendapatkan spesifikasi pompa yang harus digunakan
4.6-25
Seminar Nasional Teknologi Informasi dan Multimedia 2015
ISSN : 2302-3805
STMIK AMIKOM Yogyakarta, 6-8 Februari 2015
agar kebutuhan pembentukan droplet secara sempurna
dapat terpenuhi.
1.3 Metode Penelitian
Sebelum disimulasikan menggunakan Pipe Flow Expert,
telah dilakukan eksperimen pengambilan data guna
mengetahui efektifitas pemadaman menggunakan water
mist. Dalam eksperimen yang dilakukan, hanya
digunakan sample kabin berukuran 195 cm x 89 cm x 123
cm. Ukuran tersebut mewakili satu deret kursi
penumpang dalam kendaraan bus. Mengacu pada hasil
eksperimen yang telah dilakukan. Akan disimulasikan
menggunakan ukuran kabin bus secara penuh. Dengan
kebutuhan nozzle yang lebih banyak akankah
berpengaruh pada kebutuhan flow rate yang harus
dipenuhi agar sistem dapat bekerja dengan baik. Sehingga
dari hasil simulasi diharapkan mampu menggambarkan
karakteristik fluida yang berlangsung di dalam sistem dan
spesifikasi
pompa yang harus digunakan untuk
memenuhi kondisi tersebut.
2. Pembahasan
2.1 Kebakaran
Dalam pedoman penanggulangan bahaya kebakaran,
kebakaran adalah suatu peristiwa yang disebakan dari api
yang tidak dapat dikendalikan atau dikuasai baik besar
maupun kecil, sengaja maupun tidak dan menimbulkan
kerugian harta benda, cacat bahkan korban jiwa manusia.
Menurut National Fire Protection Association ( NFPA )
sendiri, kebakaran merupakan peritiwa oksidasi dimana
bertemunya 3 buah unsur, yaitu bahan yang dapat
terbakar, oksigen yang terdapat di udara dan panas yang
dapat berakibat menimbulkan kerugian harta benda atau
cidera atau bahkan kematian manusia.
Terdapat
beberapa peristiwa yang mengakibatkan
terjadinya kebakaran adalah sebagai berikut :
1. Nyala api dan bahan-bahan yang pijar
2. Percikan api
3. Terbakar sendiri
4. Reaksi kimiawi
5. Peristiwa-peristiwa lain
2.2 Water mist
Water mist adalah sistem proteksi terhadap bahaya yang
ditimbulkan oleh api dengan mekanisme kerja seperti
semprotan (spray) air, dimana ukuran dropletnya lebih
kecil dari 1000 μm (microns)[5]. Istilah water mist di
ambil dari National Fire Protection Association
Committee, NFPA 750, Standard for Water mist Fire
Protection Systems 2000 edition, sistem pemadaman
kebakaran dengan menggunakan water mist telah
menunjukkan efektivitas
yang baik dan bisa
diaplikasikan untuk berbagai jenis kebakaran, selain itu
penggunaan water mist tidak menyebabkan masalah
lingkungan karena tidak beracun[6].
Water mist telah banyak telah didefinisikan sebagai spray
air di mana:
1. 99% dari volume tetesan dengan diameter di bawah
1000 μm (Dvorjetski dan Greenberg, 2004;
Heskestad, 2003; NFPA 750,2003).
2. Diameter rata-rata adalah 80-200 μm dan 99% dari
volume di bawah 500 μm diameter (Grant et al,
2000.)atau
3. Ukuran tetesan rata-rata di bawah 100μm (Lentati dan
Chelliah, 1998).
Definisi ditujukan untuk membedakan sistem air kabut
dengan sprinkler, diidasarkan pada ukuran tetesan[5].
2.3 Pipe Flow Expert
Pipe Flow Expert adalah software windows yang
digunakan untuk merancang, menganalisa, dan
memecahkankan masalah jaringan pipa.
2.4 Penentuan Tekanan Spray Nozzle
Tekanan yang dibutuhkan pada spray nozzle untuk
menghasilkan water mist adalah lebih dari 4,5 bar[7].
2.5 Setup Eksperimental
Tujuan dilakukanya eksperimen ini adalah untuk menguji
efektifitas pemadaman menggunakan water mist pada
kabin bus. Eksperimen dilakukan menggunakan model
kabin bus. Model kabin memiliki dimensi 195 cm x 89 cm
x 123 cm. Ukuran tersebut mewakili satu deret kursi
penumpang pada kendaraan bus dengan skala 1:1. Dalam
model tersebut digunakan satu buah nozzle dengan
spesifikasi yang sesuai untuk fire suppression dengan
ketentuan memiliki droplet dengan ukuran <1000 μm[8].
Untuk menciptakan droplet dengan ukuran tersebut,
selain dibutuhkan nozzle yang sesuai, pompa juga
menentukan droplet yang akan dihasilkan. Pompa harus
mampu
memenuhi
kebutuhan
tekanan
untuk
menghasilkan droplet yang di inginkan. Tekanan
minimum pompa yang dibutuhkan adalah 4,5 bar[7].
Dalam eksperimen ini digunakan pompa merk Bosch tipe
O-580-254-044 dengan tekanan 5 bar dan flow rate 200
L/hour[10].
Jarak nozzle dari titik api diambil 174 cm, yang
merupakan jarak terjauh di dalam kabin bus. Hal ini
dilakukan untuk mengantisipasi apabila munculnya api
berasal dari titik tersebut. Oleh karena itu juga dilakukan
variasi jarak sumber api dari nozzle untuk mengetahui
apakah terdapat perbedaan waktu pemadaman jika jarak
antara titik api dengan nozzle divariasikan. Adapun
prosedur untuk pengambilan data ditunjukkan oleh
Gambar 1.
4.6-26
Seminar Nasional Teknologi Informasi dan Multimedia 2015
ISSN : 2302-3805
STMIK AMIKOM Yogyakarta, 6-8 Februari 2015
Gambar 1.Set Up Eksperimen Pengambilan Data
Setelah dilakukan percobaan pemadaman menggunakan
material kain perca, didapatkan data seperti pada Tabel 1.
Tabel 1.Data Percobaan efektifitas Pemadaman.
Jarak Sumber
Waktu
Luas
No
Api Dari Nozel
Pemadama Bidang Api
.
(cm)
n
(cm )
1
174
21,30
15x21
2
150
18,85
15x21
3
125
07,88
15x21
4
100
06,93
15x21
Dari data hasil percobaan pada Tabel 1 diketahui bahwa
water mist efektif digunakan sebagai pemadam kebakaran
pada kendaraan bus.
Kondisi tersebut berlaku jika hanya menggunakan satu
nozzle. Jika akan di aplikasian pada kendaraan yang
sebenarnya, bidang yang di cover menjadi lebih luas. Oleh
karena itu, diperlukan perhitungan tentang perpipaan dan
aliran fluida yang terjadi di dalam sistem. Untuk
perhitungannya akan digunakan Software Pipe Flow
Expert. Software tersebut mampu memperhitungkan flow
rate, tekanan, dan head loss yang terjadi di dalam sistem.
Dari hasil simulasi akan didapatkan gambaran tentang
spesifikasi pompa yang harus digunakan dan kondisi di
dalam pipa selama sistem berlangsung.
Gambar 2.Piping Diagram Fire Protection
Berdasarkan Gambar 2, perkiraan jumlah nozzle yang
dibutuhkan untuk ruang penumpang adalah 16 nozzle.
2.7 Perhitungan Kebutuhan Diameter Pipa
Pemilihan Diameter pipa berdasarkan kecepatan aliran
maksimum yang diijinkan sesuai standar. Batas kecepatan
maksimum aliran air dalam pipa adalah 0,5 – 2,5 m/s[5].
Rumus keseimbangan aliran massa :
= .
(1)
Dengan menggunakan persamaan (1), bisa dihitung
kebutuhan diameter pipa di ruang penumpang.
2.8 Simulasi Aliran Fluida
Simulasi dilakukan menggunakan software Pipe Flow
Expert. Data input yang digunakan adalah tekanan
pompa, tabel tekanan dan flow rate nozzle, diameter &
material pipa, jumlah & jenis fitting, dan ketinggian pipa.
Untuk pengaplikasian pompa pada rangkaian simulasi
akan ditunjukkan pada Gambar 3.
2.6 Desain Piping System pada Bus
Bagian bus yang perlu diberi fire protection adalah ruang
penumpang. Dengan mengetahui sudut spray dari nozzle
yang dibutuhkan untuk mengcover semua bidang kabin
bus yaitu 1100[7], maka dapat diperhitungkan berapa
nozzle yang harus digunakan. Pada Gambar 2
digambarkan lokasi peletakan nozzle.
Gambar 3.Pemodelan Pompa
Gambar 3. menunjukkan cara pemodelan pompa, input
yang akan digunakan adalah tekanan sehingga Fixed
Head Increase di set pada angka 5 bar. Pompa berada
pada awal pipa sehingga angka Along Pipe di set pada titik
0 m. Ketinggian peletakan pompa juga akan
mempengaruhi output yang dihasilkan pompa sehingga
pompa diletakkan pada ketinggian 0 m. Gambar 4
menampilkan pilihan material pipa yang dapat dipilih
untuk digunakan dalam piping diagram.
4.6-27
ISSN : 2302-3805
Seminar Nasional Teknologi Informasi dan Multimedia 2015
STMIK AMIKOM Yogyakarta, 6-8 Februari 2015
dari spesifikasi nozzle adalah flow rate dan pressure maka
variabel yang diisikan adalah flow rate dan pressure pada
Curve Loss. Kurva perbandingan antara tekanan dengan
debit pada nozzle ditunjukan oleh Gambar 6.
Pressure
6
4
2
0
0
0,5
1
1,5
2
Flow Rate
Nozzle Increase Curve
Gambar 4.Pemodelan Material dan Ukuran Pipa
Selain material pipa, pada Gambar 4 juga menampilkan
karakteristik pipa seperti ukuran dan kelasnya. Tiap jenis
material pipa memiliki nilai roughness yang berbeda.
Pemilihan pipa didasarkan pada kebutuhan penggunaan.
Jika digunakan untuk Car Fire Safety dipilih bahan dari
logam karena pada sistem perpipaan ada kemugkinan
akan terjadi kontak dengan api saat terjadi kebakaran
sehingga pipa tidak akan leleh terbakar. Pipa tersebut
akan mengalirkan air yang akan dikeluarkan melalui
lubang orifice nozzle. Lubang orifice memiliki diameter
yang sangat kecil. Untuk menghindari penyumbatan pipa
akibat karat yang ada di dalam pipa, digunakan bahan
yang memiliki ketahanan terhadap karat. Pipa logam
galvanis dipilih dengan pertimbangan kedua alasan
tersebut. Pipa logam galvanis memiliki nilai roughness
0,1500 mm. Setelah pemilihan pipa langkah selanjutnya
adalah memasukan item nozzle pada sistem. Adapun form
input seperti terdapat pada Gambar 5.
Gambar 6.Kurva Pressure & Flow Rate pada Nozzle
Selanjutnya, belokan dan percabangan pipa akan
dimasukkan juga sebagai input berupa Fitting.
Karakteristik tiap-tiap fitting ditunjukkan oleh Gambar 7.
Gambar 7. Pemodelan Fitting
Pemasangan fitting pada sambungan pipa akan
menambah kerugian pada aliran akibat friksi yang terjadi
antara aliran dengan sambungan. Sehingga pada simulasi
jumlah dan pemasangan fitting sangat diperhitungkan.
Nilai K pada tiap jenis fitting pada tiap ukuran berbeda.
Oleh karena itu, tiap jenis fitting yang dipasang pada
sistem perpipaan harus dimasukkan sebagai input untuk
menghitung kerugian pada sistem perpipaan.
Selanjutnya adalah mengatur tinggi dan panjang pipa.
Adapun cara input ketinggian dan panjang pipa
ditampilkan pada Gambar 8.
Gambar 5.Pemodelan Nozzle
Pada gambar 5. terdapat data nozzle yang diinputkan
sebagai Component Pressure Lost. Angka tersebut
merupakan data flow rate dari nozzle sesuai dengan
spesifikasi jenis nozzle. Karena output yang diketahui
4.6-28
Gambar 8.Pemodelan Ketinggian Pipa
Seminar Nasional Teknologi Informasi dan Multimedia 2015
ISSN : 2302-3805
STMIK AMIKOM Yogyakarta, 6-8 Februari 2015
Panjang pipa diatur pada kolom Length, untuk ketinggian
pipa yang diubah adalah item Node dengan mengatur
Elevation of Join.
Setelah semua input dimasukkan dan data diproses, hasil
simulasi seperti ditunjukkan oleh Gambar 9.
Gambar 9.Iustrasi Flow Rate Hasil Simulasi
Dari hasil simulasi didapatkan ilustrasi flow rate yang
mengalir pada pipa berupa perubahan warna pada pipa.
Pada Gambar 9 terlihat perbedaan warna pipa yang
menandakan terdapat perbedaan flow rate yang mengalir
di dalamnya. Gambaran karakteristik fluida yang
mengalir di tiap section ditunjukkan pada Gambar 10
berikut.
Gambar 10.Karakteristik fluida yang mengalir pada
pipa setelah pompa.
Gambar 10. menunjukkan hasil simulasi yang dilakukan
dengan Pipe Flow Expert. Bagian tersebut adalah daerah
sekitar pompa atau setelah pompa. Dari simulasi tersebut
didapatkan kondisi fluida di pipa 1 yang merupakan
bagian setelah pompa. Pada pipa 1 menggambarkan flow
rate yang terjadi pada sistem. Dari simulasi tersebut flow
rate yang keluar dari pompa dan didistribusikan ke nozzle
adalah 28,47 L/min, dengan tekanan 4,9039 bar.
Selanjutnya untuk karakteristik fluida pada nozzle
ditunjukan oleh Gambar 11.
Gambar 11.Karakteristik Fluida Pada Nozzle yang
Paling Jauh dari Pompa
Berdasarkan Gambar 11 dapat diketahui bahwa tekanan
yang sampai pada nozzle yang terletak paling jauh dari
pompa adalah 4,8962 bar, dengan flow rate 1,78 L/min.
Laporan singkat hasil simulasi di tampilkan berupa Log
Summary seperti pada Gambar 12.
Gambar 12.Log Summary Hasil Simulasi.
Pada Gambar 12 Log Summary simulasi tersebut
menunjukkan tidak ada peringatan ataupun masalah
dalam sistem. Semua jaringan telah terselesaikan.
Dari simulasi diperoleh bahwa kebutuhan pompa untuk
memenuhi kebutuhan nozzle adalah 5 bar, dengan flow
rate 28,47 L/min. Kecpatan maksimum fluida dalam pipa
adalah 0,499 m/s. Masih dalam kecepatan aman untuk air
yang mengalir di dalam pipa[9]. Tekanan pada nozzle
yang terletak paling jauh dari pompa adalah 4,8962 bar.
Jadi, kondisi tersebut mampu menciptakan water mist
dengan sempurna karena tekanan yang sampai pada
nozzle lebih dari 4,5 bar.
Namun, pada pompa yang digunakan hanya memiliki
flow rate 3,3 L/min. Maka dari itu dibutuhkan 9 pompa
dengan tekanan 5 bar dan flow rate 3,33 L/min untuk
memenuhi kebutuhan semua nozzle. Pompa disusun
secara paralel untuk memenuhi kebutuhan flow rate. Pada
Gambar 13 ditampilkan beberapa spesifikasi untuk
4.6-29
Seminar Nasional Teknologi Informasi dan Multimedia 2015
ISSN : 2302-3805
STMIK AMIKOM Yogyakarta, 6-8 Februari 2015
beberapa pompa dengan merk Bosch yang dapat menjadi
referensi untuk digunakan sebagai pompa water mist.
Biodata Penulis
Wahyu Kurniawan Guna Usada, Jurusan Teknik
Keselamatan
Otomotif
Politeknik
Keselamatan
Transportasi Jalan Tegal, masuk tahun 2011. Saat ini
menjadi Mahasiswa aktif di Politeknik Keselamatan
Transportasi Jalan Tegal .
Alfan Yuli Wicaksono, Jurusan Teknik Keselamatan
Otomotif Politeknik Keselamatan Transportasi Jalan
Tegal, masuk tahun 2013. Saat ini menjadi Mahasiswa
aktif di Politeknik Keselamatan Transportasi Jalan Tegal.
Wahyu Dwi Wicaksono Saputro, Jurusan Teknik
Keselamatan
Otomotif
Politeknik
Keselamatan
Transportasi Jalan Tegal, masuk tahun 2011. Saat ini
menjadi Mahasiswa aktif di Politeknik Keselamatan
Transportasi Jalan Tegal .
Gambar 13. Data Teknis Fuel Pump[10]
3. Kesimpulan
Dari hasil simulasi yang dilakukan menggunakan Pipe
Flow Expert diketahui bahwa sistem dapat bekerja dengan
aman karena tidak terjadi masalah over pressure.
Kecepatan fluida yang mengalir di dalam pipa juga dalam
tahap aman karena kecepatan maksimal fluida yang
mengalir dalam sistem adalah 0,499 m/s. Sistem bekeja
optimal menggunakan pompa dengan tekanan 5 bar dan
flow rate 28,47 L/min. Karena pompa yang telah
digunakan memiliki tekanan 5 bar dan flow rate 3,3
L/min. Maka untuk memenuhi kebutuhan flow rate
dibutuhkan 9 pompa yang disusun paralel agar sistem
dapat bekerja secara optimal.
Setya Wijayanta, MT., memperoleh gelar Sarjana
Pendidikan Teknik Mesin (S.Pd.T), Jurusan Pendidikan
Teknik Mesin Universitas Negeri Yogyakarta, lulus tahun
2004. Memperoleh gelar Magister Teknik (M.T) Program
Magister Teknik Mesin Universitas Indonesia , lulus
tahun 2012. Saat ini menjadi Dosen di Politeknik
Keselamatan Transportasi JalanTegal.
Ery Muthoriq, MT., memperoleh gelar Sarjana Teknik
(S.T.), Jurusan Teknik Mesin Universitas Sebelas Maret
Surakarta, lulus tahun 2007. Memperoleh gelar Magister
Teknik (M.T) Program Pasca Sarjana Magister Teknik
Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung , lulus tahun
2013. Saat ini menjadi Dosen di Politeknik Keselamatan
Transportasi Jalan Tegal.
Daftar Pustaka
[1] Website: http://www.jpnn.com/read/2012/06/05/129614/index.php
?mib=berita.detail&id=129312
[2] Webtite: http://news.okezone.com/read/2014/08/28/500/1030944
/9- bus-transjakarta-terbakar-sejak-januari-2014
[3] Dennis P. Nolan, “Handbook of Fire and Explosion Protection
Engineering Principles. For Oil, Gas, Chemical and Related
Facilities,” 3th Edition, Elsevier Inc, pp. 105-106, 2014.
[4] G. Grant, J. Brenton, D. Drysdale, Fire suppression by water sprays,
Prog. Energy Combust. Sci. 26 (2000).
[5] Robert Andrew Hart MEng. Numerical Modelling of tunnel fires
and water mist suppression. Thesis submitted to the University of
Nottingham for the degree of Doctor of Philosophy December 2005.
[6] Liu, Z.; Kim, A.K.; Carpenter, D.;Kanabus-Kaminska, J.M.; Yen,
P-L.”Extinguishment of cooking oil fires by water mist fire
suppression systems”. Fire Technology, v. 40, no. 4, October 2004.
[7] X-572 Spray Nozzle Classification by Droplet Spectra; Ted
Southcombe, 2002.
[8] R. Anleitner, A. Maranghides, J. Montgomery, “Water Mist
Visualization And Droplet Size Analysis In Large-Scale Fire
Suppression Research”, Halon Options Technical Working
Conference, 24-26 April, 2014.
[9] Website: http://www.engineeringtoolbox.com/flow-velocity-waterpipes-d_385.html
[10]Fuel Pump Technical Data, Motor Sport Component, Bosch.
[11]Gytha Indriawati Amin. “Analisis Pemenuhan Sistem Tanggap
Darurat Kebakaran di Area Produksi PLTU PT. PJB UP Muara
Karang Jakarta Tahun 2010” . Essay submitted to the Universitas
Syarif Hidayatullah Jakarta for the degree of Sarjana Kesehatan
Masyarakat, Desember 2010.
4.6-30
Download