penerapan metode percobaan sederhana untuk mengembangkan

advertisement
Penerapan Metode Percobaan Sederhana untuk Mengembangkan Kemampuan Berpikir
Kritis Anak Usia Dini, Volume, Nomor, Juni, 2015
1
PENERAPAN METODE PERCOBAAN SEDERHANA UNTUK
MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS
ANAK USIA DINI
Suci Maulida
Dr. H. Dede Margo Irianto, M.Pd 1
Endah Silawati M.Pd2
Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Pendidikan Indonesia
ABSTRAK
Penelitian ini dilatarbelakangi dengan masih rendahnya kemampuan berpikir kritis anak.
Kondisi ini menstimulasi peneliti untuk melaksanakan penelitian mengenai penggunaan
metode percobaan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis anak usia dini.
Penelitian ini dilaksanakan dengan desain PTK Elliot. Partisipan dalam penelitian ini adalah
siswa kelompok BI TK Tunas Unggulan Kecamatan Gede bage Kota Bandung yang
berjumlah 16 orang. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan instrumen
performa, lembar observasi, catatan lapangan, dan dokumentasi. Perolehan nilai rata-rata
dalam setiap siklusnya terdiri dari siklus I indikator mampu menujukkan aktivitas yang
bersifat eksploratif dan menyelidik, nilai presentasenya pada siklus I sebesar 12%. Pada
siklus II sebesar 16%. Pada siklus III sebesar 37%. Untuk Indikator mengenal dan
memprediksi sebab akibat pada siklus I adalah 4%, siklus II adalah 10%, dan siklus III
adalah 39%. Kemudian untuk indikator mampu menujukkan inisiatif bertanya atau
menjawab pertanyaan pada siklus I sebesar 6%. Pada siklus II sebesar 14% dan pada siklus
III sebesar 37%. Dari hasil penelitian yang dilakukan menujukkan bahwa melalui metode
percobaan sederhana, kemampuan berpikir kritis anak usia dini mengalami peningkatan.
Berdasarkan hal tersebut maka metode percobaan sederhana bisa menjadi alternatif bagi
pembelajaran di PAUD khususnya dalam mengenalkan bidang sains. Dalam pembelajaran di
PAUD, untuk menerapkan metode percobaan sederhana, sebaiknya pada setiap kegiatan
dirancang lebih menarik dan disesuaikan berdasarkan kebutuhan anak.
Kata Kunci: Kemampuan Berpikir Kritis, Metode Percobaan Sederhana, Anak Usia Dini
1
2
Penulis Penanggung Jawab 1
Penulis Penanggung Jawab 2
Suci Maulida, Endah Silawati, Dede Margo Irianto, Penerapan Metode Percobaan
Sederhana untuk Mengembangkan Kemampuan Berpikir Kritis Anak Usia Dini.
PENERAPAN METODE PERCOBAAN SEDERHANA UNTUK
MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS
ANAK USIA DINI
Suci Maulida
Dr. H. Dede Margo Irianto, M.Pd 1
Endah Silawati M.Pd2
Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Pendidikan Indonesia
ABSTRACT
This research is motivated with the low critical thinking skills of children. These conditions
stimulated researchers to carry out research about the use of experimen methods to develop
the critical thinking skills of very young learners. This research implemented by design PTK
Elliot. Participants in this research were students in group BI TK Tunas Unggulan subdistrict Gede bage Bandung which amounts to 16 people. Collecting data in this research
using instruments performance, observation sheet, field notes, and documentation.
Acquisition of the average value in each cycle consists of cycle 1 indicator capable of
showing activity explorative and probing, percentage value in cycle I is 12%. In cycle II is
16%. And in cycle III is 37%. For indicator able to recognize and predict causal in cycle I is
6%, in cycle II is 10%. And in cycle III is 39%. Then for indicator able to show initiative to
ask or answer questions in cycle is 6%. In cycle II is 14% and in cycle III is 37%. From the
results of the research conducted shows that through a simple experiment method, critical
thinking ability children experience increased. Based on the experimental method can
became alternative by learning in early childhood of education especially on introduce sains.
On learning in early childhood of education to implementation simple experimental method,
recommended of the activity plant more better and adjusted with need childreen.
Kata Kunci: Critical Thinking, Simple Experimental Method, Very Young Learners
1
2
Penulis Penanggung Jawab 1
Penulis Penanggung Jawab 2
2
Penerapan Metode Percobaan Sederhana untuk Mengembangkan Kemampuan Berpikir
Kritis Anak Usia Dini, Volume, Nomor, Juni, 2015
3
Anak usia dini merupakan anak
yang berada pada rentang usia nol sampai
enam tahun. Pada saat ini anak sedang
mengalami perkembangan yang sangat
pesat
dalam
seluruh
aspek
perkembangannya. Sejalan dengan Berk
(dalam Sujiono, 2009, hlm. 6) yang
mengungkapkan bahwa “pada masa ini
proses pertumbuhan dan perkembangan
dalam berbagai aspek sedang mengalami
masa
yang cepat dalam rentang
perkembangan hidup manusia.” Bahkan
para ahli menyebutnya sebagai golden age
atau usia keemasan. Kondisi inilah yang
kemudian harus dimanfaatkan lingkungan
untuk mengupayakan anak agar mampu
bertumbuh dan berkembang secara optimal.
Selain itu, perkembangan anak usia dini
merupakan pondasi atau dasar bagi
perkembangan
selanjutnya.
Dengan
demikian optimalisasi tumbuh kembang
anak sejak dini perlu diupayakan untuk
menyiapkan sumber daya manusia yang
berkualitas di masa depan.
Salah satu upaya yang dapat
dilakukan untuk menunjang optimalisasi
tumbuh kembang anak adalah stimulasi
pendidikan. Berbagai kebutuhan tersebut
harus dipenuhi sejak anak lahir dan bahkan
ketika anak masih dalam kandungan.
Dalam
aplikasinya
pemenuhan
ini
memerlukan upaya kerjasama antara
lingkungan
keluarga,
lingkungan
masyarakat, dan bahkan lingkungan
sekolah anak yaitu lembaga Pendidikan
Anak Usia Dini (PAUD).
PAUD adalah pemberian upaya
untuk
menstimulasi,
membimbing,
mengasuh dan memberikan kegiatan
pembelajaran yang akan menghasilkan
kemampuan dan keterampilan anak. PAUD
pada hakekatnya adalah pendidikan yang
diselenggarakan dengan tujuan untuk
memfasilitasi
pertumbuhan
serta
perkembangan anak. Sebagaimana yang
diatur dalam permendiknas no.58 tahun
2009 bahwa perkembangan anak dalam
aspek perkembangan kognitif untuk anak
usia 5-6 tahun yakni dalam capaian
perkembangannya yakni anak mampu
memprediksi
sebab
akibat
(sains).
Memprediksi sebab akibat berarti salah
satu pertunjukkan kemampuan berpikir
anak yang nantinya akan menghasilnkan
sebah
pemikiran
kritis
dalam
perkembangannya. perkembangan anak
usia dini yang perlu dikembangkan pula
salah satunya yakni perkembangan kognitif
yang berkenaan dengan kemampuan
berpikir kritis anak.
Kemampuan berpikir kritis anak
penting untuk dikembangkan pada anak
yakni mengingat bahwasannya sesuai
dengan karakteristik anak usia dini yang
memiliki rasa ingin tahu yang tinggi serta
anak seringkali mengeksplorasi bendabenda disekitarnya, hal tersebut merupakan
pertunjukkan kemampuan awal anak untuk
berpikir secara kritis dan lingkungan harus
memfasilitasinya secara baik. Namun pada
kenyataannya anak belum terfasilitasi akan
perkembangan terkait kemampuan berpikir
kritisnya.
Seiring dengan hal tersebut Piaget
(Sujiono, 2009, hlm. 60) mengatakan
bahwa ‘Perkembangan kognitif terjadi
ketika
anak
sudah
membangun
pengetahuan melalui eksplorasi aktif dan
penyelidikan pada lingkungan fisik dan
sosial di lingkungan sekitar’. Dalam
pendapat tersebut dapat diartikan bahwa
anak mampu megembangkan kemampuan
kognitifnya jika anak mampu difasilitasi
secara baik dengan lingkungan fisik dan
sosial yang memadai dan dapat membuat
anak mengembangkan rasa ingin tahunya
yang nantinya akan berkembang menjadi
kemampuan berpikir kritis.
Berdasarkan pengamatan di TK
Tunas Unggulan, peneliti menemukan
adanya masalah yakni rendahnya kekritisan
anak dalam berpikir. Umumnya dalam
pengembangan berpikir anak lebih di
tekankan pada kegiatan yang bersifat
matematis, salah satunya yakni kegiatan
calistung. Guru masih belum banyak
Suci Maulida, Endah Silawati, Dede Margo Irianto, Penerapan Metode Percobaan
Sederhana untuk Mengembangkan Kemampuan Berpikir Kritis Anak Usia Dini.
mengembangkan konsep berpikir kritis
anak melalui sains. Disamping itu
kegiatan-kegiatan uji coba terhadap suatu
benda masih belum banyak dikenalkan
pada anak. Anak masih mengetahui secara
dasar saja tanpa mengetahui akan proses
kejadian sains tersebut.. Guru hanya
berbantu media yang tidak sepenuhnya
anak dapat eksplorasi sendiri seperti
lembar kerja anak, buku cerita.
Kondisi
objektif
kemampuan
berpikir kritis anak usia dini yang
ditemukan di TK Tunas Unggulan
berdasarkan pengamatan peneliti yakni
menujukkan
bahwa
secara
umum
kemampuan berpikir kritis anak kurang.
Kurangnya kekritisan anak disebabkan oleh
penggunaan metode pembelajaran yang
kurang
bervariasi,
guru
masih
menggunakan metode tanya jawab,
bercakap-cakap dan penugasan dari LKS
yang tersedia di sekolah. Guru masih
kurang memahami metode pembelajaran
yang menarik dan inovatif untuk anak.
Pembelajaran yang biasa digunakan seharihari terkesan monoton untuk anak. Dalam
pembelajaran, anak umumnya masih
kurang begitu aktif dan komunikatif karena
pembelajaran berpusat seluruhnya kepada
guru tanpa melibatkan anak secara aktif.
Anak tidak diberi kesempatan untuk
mencoba dan mengeksplorasi ataupun
mencoba
membuktikan
sesuatu
berdasarkan temuannya sendiri. Disamping
itu guru jarang sekali menggunakan metode
percobaan
(eksperimen),
karena
pembelajaran
hanya
terpaku
pada
pengerjaan
LKS.
Disamping
itu
pembelajaran anak terlihat jarang dikemas
melalui
bermain
atau
permainan.
Pembelajaran yang diberikan guru kepada
anak masih belum terlihat menyenangkan
bagi anak karena tidak terlihatnya unsur
bermain didalam sebuah pembelajaran
dikelas
Pada dasarnya anak membutuhkan
pembelajaran yang menyenangkan yang
mampu memberikan anak pengalaman
secara langsung dalam prosesnya, salah
satunya dengan kegiatan melakukan
percobaan. Dengan kegiatan tersebut anak
bisa memahami bagaimana pembelajaran
sains yang sebenarnya selain itu juga
percobaan mampu menstimulasi anak
untuk
mengembangkan
kemampuan
berpikirnya
khususnya
kemampuan
berpikir kritis. Pembelajaran sains yang
disajikan dengan sebuah metode yang
menarik akan membuat anak lebih
termotivasi dalam mengembangkan seluruh
potensi dalam memahami sebab akibat dari
sebuah proses kejadian, oleh karena itu
banyak hal yang dapat anak lakukan
didalam sebuah kegiatan bermain sains,
karena melalui bermain sains anak
berkembang secara optimal.
Dalam kegiatan bermain sains anak
biasanya
diajak
untuk
melakukan
percobaan. Dengan kegiatan percobaan
mampu mengajak anak untuk menyenangi
dan menarik minat anak dalam kegiatan
yang dilakukannya tersebut. Memberikan
kesempatan mengujicoba kepada anakanak berarti mendorong mereka untuk
berani mencoba. Suatu sifat mental yang
kini amat berharga dan langka didunia
orang dewasa. Banyak orang dewasa
terpenjara oleh ketakutan dan kecemasan
dalam mencoba sesuatu dan mengambil
resikonya, karena kecemasan dan ketakutan
itu lahir oleh pikiran sendiri. Pada
kenyataannya sering dijumpai orang-orang
yang tak berani mengambil resiko dan
memilih untuk diam. Jika kesempatan
untuk berani mencoba terus menerus
diberikan kepada anak-anak, maka sangat
mungkin kelak mereka tumbuh menjadi
manusia penempuh resiko, sang pembuka
jalan, sang pencatat sejarah.
Percobaan mampu memberikan
kesempatan luas kepada anak dalam
pengembangan pengetahuan serta daya
pikirnya. Adanya pendapat tersebut
memberikan pengertian bahwa sebuah
pengetahuan anak harus dapat melibatkan
anak ke dalam praktik salah satunya
dengan metode percobaan, sehingga anak
mampu memfasilitasi sendiri mengenai
4
Penerapan Metode Percobaan Sederhana untuk Mengembangkan Kemampuan Berpikir
Kritis Anak Usia Dini, Volume, Nomor, Juni, 2015
5
rasa ingin tahunya yang tinggi melalui
sebuah pengalaman dengan percobaan
tersebut. Pengetahuan yang diperoleh anak
berguna sebagai modal berpikir.
Adanya hal demikian, peneliti
mengusulkan metode percobaan sederhana
sebagai kegiatan pembelajaran yang dapat
digunakan guru untuk menstimulus,
memfasilitasi
dan
meningkatkan
kemampuan berpikir kritis anak terutama
dalam konteks pembelajaran sains.
METODE
Penelitian
merupakan
Penelitian
Tindakan Kelas (PTK). PTK menurut
Mulyasa (2009, hlm. 11) merupakan “suatu
upaya untuk mencermati kegiatan belajar
sekelompok
peserta
didik
dengan
memberikan sebuah tindakan (treatment)
yang sengaja dimunculkan”. Abidin (2011,
hlm. 217) mengemukakan bahwa “PTK
adalah penelitian yang dilakukan untuk
memecahkan masalah, mengkaji langkah
pemecahan itu sendiri dan memperbaiki
proses pembelajaran secara berulang atau
bersiklus”. Hal ini dilatarbelakangi dengan
masalah yang berkenaan dengan masalah
kekritisan anak usia dini dalam berpikir,
guru melakukan penelitian tindakan kelas
untuk
mengembangkan
kemampuan
berpikir kritis anak usia dini melalui
metode percobaan sederhana. Oleh karena
itu penelitian tindakan kelas yang
dilakukan oleh guru bertujuan untuk
memperbaiki dan memecahkan masalah
dalam
mengembangkan
kemampuan
berpikir kritis anak. Penelitian akan
berdasarkan desain penelitian model Elliot
yang direncanakan dalam 3 siklus pada
masing-masing siklus tersebut terdiri dari 3
tindakan.
Partisipan adalah pihak-pihak yang
terlibat dalam penelitian ini. Pihak yang
terlibat yaitu kepala sekolah, anak-anak,
guru kelas, dosen pembimbing skripsi,
pihak UPI kampus Cibiru dan pihak
lainnya yang ikut serta dan mendorong
dalam pelaksanaan penelitian ini. Sasaran
yang dijadikan penelitian ini adalah anak.
Lokasi yang digunakan dalam melakukan
penelitian ini adalah TK Tunas Unggulan
Kecamatan Gede Bage Kota Bandung.
Sekolah tersebut beralamat di Komplek
Adipura Jl. Cemara E-1 Gede BageBandung.
Definisi operasional yang sejalan
dengan penelitian yang dilaksanakan
adalah sebagai berikut.
1. Kemampuan Berpikir Kritis
Kemampuan berpikir kritis anak
merupakan kemampuan untuk kecakapan
atau kemampuan mengkritisi menggunakan
akal budi untuk mempertimbangkan,
memutuskan, menganalisis, mengkritik
untuk melakukan sesuatu dengan baik dan
cermat berdasarkan pertimbangan atau
referensi.
Dalam
pengembangan
kemampuan berpikir kritis anak dituntut
untuk dapat melakukan sesuatu dengan
pengoptimalan daya pikirnya agar anak
mampu memiliki pemikiran yang kritis
khususnya dalam bidang sains. Adapun
kemampuan berpikir kritis yang sesuai
dengan indikator adalah (1) Mampu
menujukkan aktivitas yang bersifat
eksploratif dan menyelidik, (2) Mampu
mengenal dan memprediksi sebab-akibat,
(3) Mampu menujukkan inisiatif bertanya
atau menjawab pertanyaan.
2. Metode Percobaan
Dalam penelitian ini yang dimaksud
dengan Metode Percobaan ialah metode
pengajaran yang menekankan pada praktik
langsung dengan melakukan sebuah
percobaan dan mengamati proses yang
terjadi dimana didalamnya siswa berperan
aktif dalam praktiknya. Adapun prosedur
ataupun strategi penerapan metode
percobaan adalah (1) Guru memilih
masalah sederhana yang akan diuji
cobakan, (2) Guru memilih dan
menganalisis apakah masalah tersebut
dapat dijawab dengan cara uji coba, (3)
Anak
melakukan
pengamatan
dan
mengidentifikasi objek yang anak teliti, (4)
Guru melakukan tanya jawab mengenai apa
yang diujicobakan atau yang anak temukan
saat anak melakukan percobaan, (5) Guru
Suci Maulida, Endah Silawati, Dede Margo Irianto, Penerapan Metode Percobaan
Sederhana untuk Mengembangkan Kemampuan Berpikir Kritis Anak Usia Dini.
mengajak anak untuk membuat sebuah
kesimpulan dari sebuah hasil percobaan
yang anak lakukan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pelaksanaan penelitian ini diawali
dengan perencanaan yaitu mempersiapkan
berbagai perlengkapan penelitian. Hal-hal
yang dipersiapkan antara lain rencana
kegiatan
harian
(RKH),
gambar
problematif, alat dan media pembelajaran,
serta berbagai instrumen penelitian.
Penelitian siklus I dilaksanakan
pada tanggal 20, 22, dan 24 April 2015.
Siklus II pada tanggal 27 April, 4 dan 6
Mei 2015. Siklus III pada tanggal 18, 20,
dan 22 Mei 2015. Berdasarkan waktu
tersebut, setiap siklus dilaksanakan selama
3 hari dengan setiap hari terdiri dari 1
tindakan. Setiap tindakan pada setiap siklus
memiliki fokus bahan ajar yang berbeda.
Setiap tindakan bahan ajar yang diberikan
kepada
anak
memiliki
tingkat
penyederhanaan. Tindakan dilaksanakan
dengan mengacu pada RKH yang terdiri
dari kegiatan awal, inti, dan penutup. Pada
kegiatan inti identik diisi oleh kegiatan
pembelajaran
dengan
menggunakan
metode percobaan sederhana kemudian
diikuti oleh kegiatan-kegiatan penunjang
lainnya.
Pada siklus I peneliti menyajikan
sebuah pembelajaran dengan metode
percobaan sederhana dengan tema alam
semesta yakni dengan subtema pada
tindakan I adalah gejalan alam (gunung
meletus), pada tindakan 2 yakni gejala
alam (pelangi) dan pada tindakan 3
subtema gejala alam (angin). Pada kegiatan
siklus I penyampaian bahan ajar disajikan
secara klasikal. Sebelum melakukan
percobaan guru memberi contoh terlebih
dahulu agar anak memahami langkahlangkah dalam melakukan percobaan, hal
ini juga didukung oleh pendapat Masitoh,
Setiasih, dan Djoehaeni (2003, hlm. 179)
mengemukakan bahwa “modelling adalah
contoh yang dapat diterima oleh anak”.
Berbagai temuan esensial yang
ditemukan pada setiap siklusnya adalah
sebagai berikut. Proses pembelajaran pada
siklus I dilaksanakan melalui metode
percobaan sederhana Dalam hal ini
permainan sains dipandu peneliti yang
didesain untuk mengaktifkan seluruh anak.
Namun pada saat praktiknya, anak masih
kebingungan
dan
takut
melakukan
percobaan karena metode percobaan sangat
asing bagi anak, hal ini sejalan dengan
pendapat Sebagaimana pendapat dari
Schickedanz (dalam hartati, 2007 hlm.44)
bahwa “jika suatu pengalaman belajar tidak
memberikan kesempatan kepada anak
untuk menciptakan pengetahuan baru,
maka pembelajaran itu akan membosankan
dan bila pengalaman itu terlalu asing bagi
anak maka pengalaman itu akan membuat
anak cemas”. Maka dari itu masih saja
terdapat anak yang kebingungan saat anak
hendak melakukan percobaan.
Pada kegiatan inti khususnya saat
melakukan percobaan sebagian besar anak
melakukannya dengan antusias. Pada saat
sebelum percobaan saat guru menjelaskan
dan melakukan tanya jawab, hanya
sebagian anak yang aktif memberi jawaban
dan pertanyaan yang dilontarkan kepada
guru. Hal ini dimungkinkan karena anak
masih ragu dan malu saat melontarkan
jawaban ataupun pertanyaan dan hanya
menjawab ketika ditanya secara individual.
Selain itu juga pada tindakan satu ada satu
orang anak yang enggan melakukan
kegiatan percobaan karena ketakutan
tangannya terluka akibat semburan buatan
dari gunung meletus. Guru menjelaskan
dan meyakini anak tersebut bahwa hal
tersebut tidak akan melukainya dan
mendampingi
anak
tersebut
untuk
melakukan percobaan.
Disamping itu juga terdapat seorang
anak selalu berdiri dan mendekati guru saat
memberikan penjelasan mengamati guru
saat
demonstrasi
percobaan
yang
ditampilkan secara jelas. Berkali-kali guru
dan observer mengkondisikan anak untuk
duduk, hasilnya anak hanya mampu duduk
6
Penerapan Metode Percobaan Sederhana untuk Mengembangkan Kemampuan Berpikir
Kritis Anak Usia Dini, Volume, Nomor, Juni, 2015
7
sebentar lalu berdiri kembali, dengan
demikian posisi duduk untuk pembelajaran
selanjutnya
harus
dipertimbangkan
khususnya saat kegiatan tanya jawab dan
menjelaskan bahan ajar yang akan
disampaikan. Dalam hal ini guru bisa
mendesainnya dengan seluruh anak
diposisikan berhadapan dengan alat-alat
percobaan yang akan didemonstrasikan.
Pada saat percobaan ada tiga orang
anak sangat antusias mencoba berulangkali
percobaan. Hal ini dimungkinkan ketiga
anak itu memiliki ketertarikan pada
pembelajaran sains.. Pada saat guru
mendemonstrasikan percobaan yang akan
dilakukan, anak cukup terlihat antusias,
bahkan berkali-kali anak selalu meminta
untuk segera melakukan percobaan.
Desain penyampaian bahan ajar anak
yang dilakukan secara klasikal nampaknya
kurang mampu menstimulasi anak untuk
dapat memunculkan kekritisan anak karena
ketika guru menjelaskan bahan ajar
penghantar percobaan yang dilakukan
secara klasikal pun nampaknya kurang
mampu menstimulasi anak, ketika guru
bertanya namun hanya sebagian anak sudah
mampu menjawab, anak lain tidak ikut
menjawab. Hal ini terjadi disinyalir terjadi
karena merasa sudah terwakili oleh anak
yang telah menjawab. Selain itu faktor
yang menjadi penyebab hal ini pun
disinyalir karena anak terlalu fokus
memperhatikan bahan dan alat-alat yang
akan digunakan saat percobaan atau yang
dipertunjukkan kepada anak sebelum anak
melakukan percobaan. Sehingga saat guru
bertanya, anak tidak terlalu fokus untuk
memberikan jawaban.
Pada siklus II peneliti menyajikan
sebuah pembelajaran dengan metode
percobaan
sederhana
dengan
tema
pedesaan dan air api udara yakni dengan
subtema pada tindakan I adalah ciri-ciri
pedesaan (kebun), pada tindakan 2 yakni
subtema air (manfaat air) dan pada
tindakan 3 subtema air (sumber air). Pada
kegiatan siklus II bahan ajar disajikan
melalui buku cerita bergambar. Hal ini
dilakukan karena guru berusaha untuk
menyajikan media dan metode yang lebih
menarik dalam pembelajaran sejalan
dengan Sagala (2006, hlm.19) bahwa “guru
harus menggunakan metode dan media
yang bervariasi sehingga dapat mengurangi
rasa bosan pada anak”.
Adapun
temuan
saat
proses
pembelajaran bahwa yang terlihat ada dua
orang yang selalu asyik bermain saat
kegiatan apersepsi menjadi perhatian bagi
anak lainnya. Saat pembelajaran juga ada
seorang anak yang hanya mampu
memperhatikan tanpa melakukan tanya
jawab tanya jawab. Namun demikian
bahwa pada tindakan dua dan tiga anak
yang belum mampu bertanya jawab terus
distimulasi dan terdapat perkembangan
walau hanya dapat mengungkapkan kata
“iya” dan “tidak” atau hanya sekedar
menggeleng-gelengkan dan menganggukan
kepala.
Pada kegiatan inti khususnya saat
melakukan percobaan sebagian besar anak
melakukannya dengan antusias. Pada saat
sebelum percobaan saat guru menjelaskan
dan melakukan tanya jawab, hanya
sebagian anak yang aktif memberi jawaban
dan pertanyaan yang dilontarkan kepada
guru. Hal ini dimungkinkan karena anak
masih ragu dan malu saat melontarkan
jawaban ataupun pertanyaan dan hanya
menjawab ketika ditanya secara individual.
Selain itu juga pada tindakan satu ada satu
orang anak yang enggan melakukan
kegiatan percobaan karena ketakutan
tangannya terluka akibat semburan buatan
dari gunung meletus. Guru menjelaskan
dan meyakini anak tersebut bahwa hal
tersebut tidak akan melukainya dan
mendampingi
anak
tersebut
untuk
melakukan percobaan.
Disamping itu juga terdapat seorang
anak selalu berdiri dan mendekati guru saat
memberikan penjelasan mengamati guru
saat
demonstrasi
percobaan
yang
ditampilkan secara jelas. Berkali-kali guru
dan observer mengkondisikan anak untuk
duduk, hasilnya anak hanya mampu duduk
Suci Maulida, Endah Silawati, Dede Margo Irianto, Penerapan Metode Percobaan
Sederhana untuk Mengembangkan Kemampuan Berpikir Kritis Anak Usia Dini.
sebentar lalu berdiri kembali, dengan
demikian posisi duduk untuk pembelajaran
selanjutnya
harus
dipertimbangkan
khususnya saat kegiatan tanya jawab dan
menjelaskan bahan ajar yang akan
disampaikan. Dalam hal ini guru bisa
mendesainnya dengan seluruh anak
diposisikan berhadapan dengan alat-alat
percobaan yang akan didemonstrasikan.
Pada saat percobaan ada tiga orang
anak sangat antusias mencoba berulangkali
percobaan. Hal ini dimungkinkan ketiga
anak itu memiliki ketertarikan pada
pembelajaran sains.. Pada saat guru
mendemonstrasikan percobaan yang akan
dilakukan, anak cukup terlihat antusias,
bahkan berkali-kali anak selalu meminta
untuk segera melakukan percobaan.
Desain penyampaian bahan ajar anak
yang dilakukan secara klasikal nampaknya
kurang mampu menstimulasi anak untuk
dapat memunculkan kekritisan anak karena
ketika guru menjelaskan bahan ajar
penghantar percobaan permainan yang
dilakukan secara klasikal pun nampaknya
kurang mampu menstimulasi anak.
Setelah anak melakukan percobaan guru
memberi apresiasi berupa reward. Anak
yang sudah hebat melakukan hari ini
diberikan penghargaan agar anak mamp
lebih antusias kembali dalam mengikuti
percobaan. Ahmad dkk. (2014, hlm. 129)
berpendapat bahwa “penghargaan yang
diberikan pada anak bisa berupa stiker,
tulisan-tulisan pada kertas warna warni
yang bisa direkatkan di papan prestasi anak
di rumah dengan double-tape atau selotip”.
Selain itu juga pengargaan dapat berupa
kata-kata, pujian atau acungan jempol
sehingga anak mampu termotivasi ketika
diberikan penghargaan tersebut.
Menindaklanjuti berbagai kondisi di
atas, maka pada siklus III, peneliti
melaksanakan
percobaan
dengan
melibatkan penyajian materi berbantu
video pembelajaran dan penyederhanaan
materi yang akan diujicobakan. Pelibatan
video
pembelajaran
ini
cukup
membelajarkan anak untuk mengerti materi
percobaan secara tepat.
Bertemali
dengan
kegiatan
percobaan pada siklus III dilaksanakan
dengan tema air api udara yakni dengan
subtema pada tindakan I adalah udara
(manfaat udara), pada tindakan 2 yakni
subtema udara (sumber udara) dan pada
tindakan 3 subtema udara (macam-macam
udara). Pada kegiatan siklus III bahan ajar
disajikan berbantu video pembelajaran.
Kegiatan pengembangan berpikir
kritis di siklus III ini dalam penyampaian
pemahaman kepada anak dikemas melalui
video pembelajaran. Sebelum anak
melakukan percobaan, terlebih dahulu guru
meminta anak untuk menonton video
pembelajaran yang berkaitan dengan tema.
Hal tersebut dimaksudkan agar anak mudah
untuk memahami materi yang akan
diajarkan kepada anak dan atau sebagai
stimulasi untuk tahap berpikir kritis anak.
Pada kegiatan percobaan, anak
sudah mampu telihat berkembang dan
bereksplorasi dengan aktif sehingga
membangun beberapa pertanyaan untuk
menjawab
rasa
kepenasaran
atas
temuannya, sejalan dengan teori Piaget
(Sujiono, 2009, hlm. 60) mengatakan
bahwa ‘perkembangan kognitif terjadi
ketika
anak
sudah
membangun
pengetahuan melalui eksplorasi aktif dan
penyelidikan pada lingkungan fisik dan
sosial di lingkungan sekitar’. Dalam
prosesnya pada siklus III anak terlihat
sangat antusias karena guru lebih
menyederhanakan
kembali
kegiatan
percobaan serta memilih percobaan yang
lebih menarik untuk anak sehingga lebih
mengundang ketertarikan anak untuk dapat
bereksploratif secara aktif sejalan dengan
pendapat Abidin (2009, hlm. 61) bahwa
“salah satu prinsip APE yaitu motivasional
yaitu membangkitkan minat anak sehingga
mendorong anak untuk memainkannya”.
Pada
teori
tersebut
guru
mengaplikasikannya
dengan
memilih
media yang lebih menarik digunakan dalam
8
Penerapan Metode Percobaan Sederhana untuk Mengembangkan Kemampuan Berpikir
Kritis Anak Usia Dini, Volume, Nomor, Juni, 2015
9
percobaan dan media tersebut juga dapat
mudah digunakan oleh anak.
Berdasarkan serangkaian tindakan
yang telah dilaksanakan, secara umum
kemampuan anak dalam berpikir kritis
sudah baik dan mengalami peningkatan
yang signifikan pada setiap siklusnya.
Peningkatan kemampuan berpikir kritis
anak dapat diketahui dari sajian gambar
grafik siklus I di bawah ini.
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
0%
59%
48%
32%
20%
12%
46%
35%
19%
4%
20%20%
6%
Menunjukkan Mengenal dan Menujukkan
aktivitas yang memprediksi
inisiatif
bersifat
sebab-akibat bertanya atau
eksploratif
menjawab
dan
pertanyaan
menyelidik
Bintang 1
Bintang 2
Bintang 3
Bintang 4
Berdasarkan grafik diatas, dari hasil
setiap tindakan yang dilaksanakan pada
siklus I, perkembangan kemampuan
berpikir kritis anak dapat dikatakan belum
berkembang dengan baik. Hal ini terlihat
dengan jelas pada ketiga indikator,
dimana belum terdapat satu anak pun
yang berkembang sesuai harapan atau
mendapatkan bintang empat. Pada
indikator anak mampu menujukkan
aktivitas yang bersifat eksploratif dan
menyelidik, nampaknya anak sudah
berkembang karena yang mendapat
bintang satu hanya 20%. Kemudian yang
mendapat bintang dua 32% dan yang
mendapat bintang tiga 48% dan anak
nampaknya juga belum berkembang pada
indikator ini yakni 12% anak medapat
bintang empat. Sedangkan pada indikator
anak mampu mengenal dan mamprediksi
sebab-akibat, pada kedua indikator
tersebut anak sudah mulai berkembang
dengan
presentase
anak
yang
mendapatkan bintang satu 19%. Untuk
anak yang mendapat bintang dua
sejumlah 46% dan yang mendapat
bintang tiga 35% serta anak belum
mampu berkembang dibintang empat
yakni 4%. Pada indikator mampu
menjukkan inisiatif bertanya atau
menjawab pertanyaan yang mendapat
bintang satu 59%, yang mendapat bintang
dua hanya 20% dan yang mendapat
bintang tiga
20% serta belum
berkembang pada bintang empat yakni
6%
Adapun kemampuan berpikir kritis
yang terlihat pada saat kegiatan percobaan
siklus II dapat dilihat dari grafik berikut ini
60%
50%
40%
30%
20%
10%
0%
52%
49%
50%
39%
19%
11%
0%
44%
18%
23%
15%
0%
Menunjukkan Mengenal Menujukkan
aktivitas yang
dan
inisiatif
bersifat
memprediksi bertanya
eksploratif sebab-akibat
atau
dan
menjawab
menyelidik
pertanyaan
Bintang 1
Bintang 2
Bintang 3
Bintang 4
Berdasarkan grafik diatas, dari hasil
setiap tindakan yang dilaksanakan pada
siklus I, perkembangan kemampuan
berpikir kritis anak dapat dikatakan belum
berkembang dengan baik. Hal ini terlihat
dengan jelas pada ketiga indikator, dimana
belum terdapat
satu anak pun yang
berkembang
sesuai
harapan
atau
mendapatkan
bintang
empat.
Pada
indikator anak maampu menujukkan
aktivitas yang bersifat eksploratif dan
menyelidik, nampaknya anak sudah
berkembang karena yang mendapat bintang
satu hanya 20%. Kemudian yang mendapat
bintang dua 32% dan yang mendapat
bintang tiga 48% dan anak nampaknya juga
sudah berkembang pada indikator ini yakni
0% anak medapat bintang empat.
Sedangkan pada indikator anak mampu
mengenal dan mamprediksi sebab-akibat,
pada kedua indikator tersebut anak sudah
mulai berkembang dengan presentase anak
Suci Maulida, Endah Silawati, Dede Margo Irianto, Penerapan Metode Percobaan
Sederhana untuk Mengembangkan Kemampuan Berpikir Kritis Anak Usia Dini.
yang mendapatkan bintang 0%. Untuk anak
yang mendapat bintang dua sejumlah 27%
dan yang mendapat bintang tiga 29% serta
anak sudah mampu berkembang dibintang
empat yakni 75%. Pada indikator mampu
menjukkan
inisiatif
bertanya
atau
menjawab pertanyaan yang mendapat
bintang satu 0%, yang mendapat bintang
dua hanya 5% dan yang mendapat bintang
tiga 10% serta berkembang pada bintang
empat yakni 85%.
Adapun kemampuan berpikir kritis
yang terlihat pada saat kegiatan percobaan
siklus III dapat dilihat dari grafik berikut
ini
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
0%
62%
56%
52%
38%
34%
Bintang 1
23%21%
11%
4%
0%
0%
0%
Bintang 2
Bintang 3
Menunjukkan Mengenal Menujukkan Bintang 4
aktivitas yang
dan
inisiatif
bersifat
memprediksi bertanya atau
eksploratif sebab-akibat menjawab
dan
pertanyaan
menyelidik
Berdasarkan grafik diatas, dari hasil
setiap tindakan yang dilaksanakan pada
siklus I, perkembangan kemampuan
berpikir kritis anak dapat dikatakan belum
berkembang dengan baik. Hal ini terlihat
dengan jelas pada ketiga indikator, dimana
belum terdapat
satu anak pun yang
berkembang
sesuai
harapan
atau
mendapatkan
bintang
empat.
Pada
indikator anak maampu menujukkan
aktivitas yang bersifat eksploratif dan
menyelidik, nampaknya anak sudah
berkembang karena yang mendapat bintang
satu hanya 0%. Kemudian yang mendapat
bintang dua 4% dan yang mendapat
bintang tiga 34% dan anak nampaknya juga
sudah berkembang pada indikator ini yakni
62% anak medapat bintang empat.
Sedangkan pada indikator anak mampu
mengenal dan mamprediksi sebab-akibat,
pada kedua indikator tersebut anak sudah
mulai berkembang dengan presentase anak
yang mendapatkan bintang 0%. Untuk anak
yang mendapat bintang dua sejumlah 23%
dan yang mendapat bintang tiga 21% serta
anak sudah mampu berkembang dibintang
empat yakni 56%. Pada indikator mampu
menjukkan
inisiatif
bertanya
atau
menjawab pertanyaan yang mendapat
bintang satu 0%, yang mendapat bintang
dua hanya 11% dan yang mendapat bintang
tiga 52% serta berkembang pada bintang
empat yakni 38%.
Dari hasil penelitian selama siklus I,
siklus II dan siklus III dapat terlihat
peningkatan pada setiap siklusnya. Pada
siklus I terlihat masih banyak anak yang
kemampuan
berpikirnya
belum
berkembang, hal ini disebabkan karena
anak masih belum terbiasa dengan metode
percobaan sederhana. Disamping itu
stimulasi guru masih belum sepenuhnya
menyentuh pemikiran anak dan kegiatan
percobaan yang masih belum sepenuhnya
mengembangkan
kekritisan
dan
pemahaman pada anak.
Setelah dilaksanakan siklus I, II, dan
III, dapat disimpulkan bahwa kemampuan
berpikir kritis anak dengan menggunakan
metode
percobaan
sederhanasemakin
berkembang, hal ini dapat dilihat dari
presentase peningkatan setiap indikator.
Untuk
lebih
jelasnya
guru
akan
merumuskan
rata-rata
perkembangan
kemampuan berpikir kritis anak setiap
indikator pada setiap siklusnya sehingga
akan terlihat jelas peningkatan yang terjadi.
KESIMPULAN
Proses pengembangan kemampuan
berpikir kritis anak dalam kemampuan
menujukkan
inisiatif
yang
bersifat
eksploratif dan menyelidik, memprediksi
sebab akibat, dan menunjukkan inisiatif
bertanya atau menjawab pertanyaan dengan
menerapkan metode percobaan sederhana
dilaksanakan selama tiga siklus. Pada
siklus I perkembangan anak masih belum
sesuai harapan, akan tetapi pada siklus ke II
10
Penerapan Metode Percobaan Sederhana untuk Mengembangkan Kemampuan Berpikir
Kritis Anak Usia Dini, Volume, Nomor, Juni, 2015
11
dan ke III terlihat kemajuan dibandingkan
siklus 1.
Pada siklus 1 anak masih kurang aktif
dan masih bingung dalam melaksanakan
percobaan karena metode percobaan
sederhana dirasa masing asing bagi anak,
selain itu juga guru masih belum dapat
mengkondisikan anak dengan baik. Pada
siklus II anak sudah mulai paham dalam
mengikuti proses percobaan, hal ini terlihat
saat anak sudah mulai aktif dan antusias
ketika mengikuti percobaan karena
kegiatan maupun media yang digunakan
lebih disederhanakan dan lebih menarik
untuk anak.
Pada siklus III anak sudah paham
betul dan mampu melaksanakan kegiatan
percobaan secara mandiri tanpa bantuan
guru, dalam prosesnya pun anak sudah
mampu mempertujukkan pemikiran kritis
yang berkembang secara baik, hal ini
dikarenakan guru menggunakan media
yang bervariatif dan berwarna membuat
pembelajaran lebih disenangi anak dan
berlangsung sesuai harapan. Disamping itu
pendukung lainnya yakni pengkondisian
terutama pengkondisian tempat duduk
sangat menentukan keberhasilan penelitian
menggunakan metode percobaan. Selain itu
pula adanya reward dan motivasi
menambah antusiasme anak dalam
melaksanakan kegiatan. Antusiasme yang
tinggi dalam melaksanakan percobaan
berdampak
pada
perkembangan
kemampuan berpikir kritis anak yang yang
berkembang secara signifikan.
Peningkatan kemampuan berpikir
kritis anak setelah melakukan kegiatan
pembelajaran melalui metode percobaan
sederhana mengalami peningkatan yang
cukup baik. Hal ini dapat dilihat dari
instrumen yang didapat dari hasil
observasi, catatan lapangan selama
berlangsungnya pembelajaran dari awal
sampai akhir pada setiap siklus.
Pada siklus I anak belum mampu
menunjukkan aktivitas yang bersifat
eksploratif dan menyelidik, mengenal dan
memprediksi sebab akibat dan menujukkan
inisiatif
bertanya
atau
menjawab
pertanyaan karena anak masih terlihat kaku
dan asing saat melakukan percobaan dan
guru masih belum bisa mengkondisikan
anak secara baik.
Pada siklus II anak sudah paham dan
mampu dalam melaksanakan kegiatan
percobaan, dalam prosesnya pun sudah
mempertunjukkan kemampuan berpikir
kritis seperti banyak bertanya dan antusias
mengeksplorasi
meskipun
terkadang
memerlukan bantuan guru.
Pada siklus III anak sudah mampu
memprediksi, mengeksplorasi dan bertanya
jawab dengan tidak ragu-ragu, hal ini
dikarenakan
kegiatan
percobaan
nampaknya sudah mampu menstimulasi
pemikiran
kritis
anak,
sehingga
perkembangan kemampuan berpikir kritis
anak sudah sesuai dengan harapan.
Nilai
rata-rata
perkembangan
kemampuan berpikir kritis anak diperoleh
peningkatan pada siklus I yakni dalam
kemampuan menunjukkan inisiatif yang
bersifat eksploratif dan menyelidik sebesar
12% dan pada siklus II sebesar 16% serta
pada siklus III sebesar 37% dan nilai ratarata perkembangan kemampuan berpikir
kritis anak dalam kemampuan mengenal
dan memprediksi sebab akibat pada siklus I
sebesar 4% dan pada siklus II sebesar 10%
serta pada siklus III sebesar 39%.
Sementara
itu
untuk
kemampuan
menunjukkan inisiatif bertanya atau
menjawab pertanyaan siklus I sebesar 6%
dan pada siklus II sebesar 14% serta pada
siklus III sebesar 37%. Dengan demikian,
metode percobaan sederhana dapat
meningkatkan proses dan hasil belajar anak
dalam pengembangan berpikir kritis anak.
DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Y. (2009). Bermain Pengantar
bagi
Penerapan
Pendekatan
Beyond Centers And Circle Time
(BCCT) dalam Dimensi PAUD.
Bandung: Rizky Press.
Suci Maulida, Endah Silawati, Dede Margo Irianto, Penerapan Metode Percobaan
Sederhana untuk Mengembangkan Kemampuan Berpikir Kritis Anak Usia Dini.
Abidin, Y. (2011). Penelitian dalam
Gamintan Pendidikan Dasar dan
PAUD. Bandung: Rizqi Press
Ahmad, dkk. (2014). Sekolah yang
Menyenangkan. Bandung: Nuansa
Cendikia
Hartati, S. (2007). How to be a good
teacher and to be a good mother.
Jakarta: Enno Media
Masitoh, Setiasih, O., & Djoehaeni, H.
(2003). Pendekatan Belajar Aktif di
Taman kanak-kanak. Jakarta:
Departemen Pendidikan Nasional
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi
Bagian Proyek Peningkatan Tenaga
Kependidikan
Mulyasa, E. (2009). Praktik Penelitian
Tindakan Kelas. Bandung: PT
REMAJA ROSDAKARYA
Sujiono, Y. N. (2009). Konsep Dasar
Pendidikan Anak Usia Dini.
Jakarta: Indeks.
Sagala, S. (2006). Konsep dan Makna
Pembelajaran untuk Memecahkan
Problematika Belajar dan Mengajar.
Bandung: Alfabeta
12
Download