“TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PRAKTIK GADAI PADA

advertisement
“TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PRAKTIK GADAI PADA
MASYARAKAT KECAMATAN TAPOS KOTA DEPOK”
Skripsi
Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Syari’ah (S.Sy.)
Oleh :
ADE TRI CAHYANI
NIM : 1110043100029
KONSENTRASI PERBANDINGAN MADZHAB FIKIH
PROGRAM STUDI PERBANDINGAN MADZHAB DAN HUKUM
FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1436 H/2015 M
LEMBAR PERYATAAN
Nama
: Ade Tri Cayani
Nim
: 1110043100029
Dengan ini saya menyatakan bahwa;
1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang di ajukan untuk memenuhi salah
satu persayaratan memperoleh gelar strata 1 Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif
Hidayatullah Jakarta.
2. Semua Sumber saya gunakan dalam penulisan ini saya cantumkan sesuai dengan
ketentuan yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
Jakarta.
3. Jika di kemudian hari karya ini bukan hasil karya saya atau merupakan hasil
jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku
di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
Jakarta, 15 Oktober 2014
Ade Tri Cahyani
iii
ABSTRAK
Ade Tri Cahyani, NIM: 1110043100029, “Tinjauan Hukum Islam Terhadap
Praktik Gadai Pada Masyarakat Kecamatan Tapos Kota Depok”, program Studi
perbandingan Madzhab dan Hukum, Konsentrasi Perbandingan Mazhab Fikih,
Fakultas Syari’ah dan Hukum, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta,
1435 H/2014 M.
Skripsi ini merupakan upaya untuk memaparkan mengenai permasalahan
Praktik Gadai Pada Masyarakat Kecamatan Tapos Kota Depok. dalam praktiknya
menunjukkan adanya beberapa hal yang dipandang memberatkan dan dapat
mengarahkan kepada suatu persoalan yaitu riba. Hal ini dapat dilihat dari praktik
pelaksanaan gadai itu sendiri yang secara ketat ia harus menambahkan adanya bunga
gadai (rahin) karena ia harus menambahkan sejumlah uang tertentu dalam melunasi
utangnya. Oleh karena itu penulis akan mengkaji mengenai praktik gadai tersebut
yang terjadi dalam masyarakat di Kecamatan Tapos Kota Depok, dengan
menganalisa permasalahan mengenai tinjauan hukum Islam terhadap mekanisme
gadai, pemanfaatan barang gadai, pemanfaatan barang gadai yang terjadi di
masyarakat Kecamatan Tapos Kota Depok.
Tujuan dari penelitian ini adalah Untuk memberikan pengetahuan kepada
masyarakat, khususnya masyarakat di Kecamatan Tapos Kota Depok tentang praktik
pegadaian yang sesuai dengan hukum Islam. Untuk mengetahui pandangan hukum
Islam dalam memberi jawaban atas permasalahan terhadap praktik gadai di
masyarakat Kecamatan Tapos Kota Depok.
Jenis penelitian yang penulis lakukan adalah penelitian kualitatif dengan
menggunakan instrumen penelitian lapangan (field research). Dan penelitian
kepustakaan yang didasarkan pada suatu pembahasan dengan menggunakan metode
studi kepustakaan (library research), metode yang digunakan dalam penelitian ini
adalah metode deskriptif, yakni penulis berusaha menyajikan fakta-fakta yang
objektif sesuai dengan kondisi dan situasi yang sebenarnya terjadi pada saat
penelitian dilakukan. Metode pengumpulan data menggunakan purposive sampling.
Dengan permasalahan yang ada, penulis menarik kesimpulan bahwa praktik
gadai yang diterapkan masyarakat di Kecamatan Tapos Kota Depok ini tidak sah
menurut hukum Islam, akad gadai dalam mekanisme gadai tidak sempurna atau
belum sesuai syariat Islam, seluruh praktik gadai yang penulis temukan terdapat
unsur riba dan pemanfaatan atas barang yang di gadaikan, gadai yang berupa barang
hutang praktik gadai yang terjadi dengan menggunakan barang kredit ini jelaslah
sangat tidak sesuai dengan syariat Islam.
Kata kunci
: Praktik gadai, pemanfaatan barang gadai, gadai berupa barang
hutang.
Pembimbing
: H. M. Riza Afwi, MA dan Arip Purkon, S.Hi, MA
Daftar Pustaka
: Tahun 1923 s.d. Tahun 2011
iv
ِ‫ِبسۡمِ ٱلّلَ ِه ٱل َّرحۡمَٰنِ ٱل َّرحِيم‬
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirabbil ‘alamin, Puji dan syukur yang tiada hentinya
dipanjatkan kepada sang penguasa kepada Allah SWT, yang telah memberikan
nikmat dan petunjuknya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skiripsi ini dengan
baik. Shalawat serta salam selalu tercurahkan kepada nabi Muhammad SAW beserta
keluarganya, para sahabatnya dan para pengikutnya hingga akhir zaman.
Berkat rahmat dan hidayah dari Allah SWT, akhirnya penulis dapat
menyelesaikan karya ilmiah dengan judul “TINJAUAN HUKUM ISLAM
TERHADAP PRAKTIK GADAI PADA MASYARAKAT KECAMATAN
TAPOS KOTA DEPOK”
Penulis juga sadar sepenuhnya bahwa diri ini berutang budi kepada banyak
pihak telah berkontribusi bahkan berjasa besar baik secara langsung maupun tidak
langsung dalam penulisan skripsi ini. Penulis juga ingin menyampaikan ungkapan
penuh rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada para pihak yang telah
menanamkan jasa baik berupa bimbingan, arahan serta bantuan yang diberikan
sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Oleh karena itu,
ucapan terima kasih diberikan kepada:
1. Bapak Dr. H. Phil. J.M. Muslimin, M.A selaku Dekan Fakultas Syariah dan
Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
2. Bapak Dr. Khamami, MA selaku Ketua Jurusan Program Study Perbandingan
Mazhab dan Hukum, beserta ibu Siti Hanna, Lc, MA, selaku Sekretaris Jurusan
v
Program Study Perbandingan Mazhab dan Hukum Fakultas Syari’ah dan Hukum
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Bapak Dr. Muhammad Taufiki, M.Ag dan Bapak Fahmi Ahmadi, M.Si yang
sudah memberikan arahan dan bimbingan sehingga penulis dapat menulis skripsi
dengan baik.
4. Bapak H. Riza Afwi, MA, dan bapak Arip Purkon S.Hi, MA, selaku pembimbing
skiripsi yang telah banyak memberikan bimbingan dan arahan, saran serta
petunjuk dalam menyelesaikan skiripsi sehingga penulis dapat menyelesaikan
skripsi
5. Para Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang
telah memberikan ilmu yang sangat bermanfaat kepada penulis semasa kuliah,
semoga amal kebaikannya mendapatkan balasan di sisi Allah SWT.
6. Seluruh staf karyawan Perpustakaan Utama dan staf karyawan fakultas Syariah
dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta atas kerjasamanya dalam pelayanan
yang terbaik dalam pengumpulan materi skiripsi dan kelancaran administrasi.
7. Pejabat Kantor Kecamatan Tapos Kota Depok, beserta jajarannya yang telah
membantu proses kelancaran dalam memperoleh data-data yang diperlukan untuk
penelitian ini.
8. Para relawan yang telah bersedia untuk diwawancarai sehingga membantu
kelancaran dalam memperoleh data-data yang diperlukan untuk penelitian ini.
9. Kepada ayah tercinta bapak H. Asam Muhit, S.Ag M.Si, ibunda Hj. Yayah
Rokayah, atas pengorbanan dan cinta kasihnya yang tidak terbatas baik berupa
moril dan materil, serta doa yang tak pernah terhingga sepanjang masa untuk
vi
keberhasilan studi penulis, segala hormat dan cinta yang tak terhingga penulis
persembahkan. Seluruh keluarga besarku, kakanda Neneng Hasanah, machyudin,
kakak iparku Dodi Mardani dan Juliana Sari dan kaka yang tercinta Boggie Adhar
Frandyas yang senantiasa memberikan motivasi dan dukungan agar penulis tetap
semangat dalam menempuh studi di kampus tercinta ini. serta seluruh keluargaku
yang selalu memberikan keceriaan dalam bingkai kebersamaan baik suka maupun
duka.
10. Sahabat-sahabat tercinta, Dian Rahmayanti, Sri Wahyu Ningsih, Widya permata
Sari, Dian Kamal sari Ohorella, Ida Handayani, Ulfah Hidayah, Raihanun, dan
semua rekan-rekan PMH (Perbandingan Mazhab Hukum)
angkatan 2010,
khususnya perbandingan mazhab fiqih kelas A dan B yang tidak mungkin dapat
penulis sebutkan satu-persatu, yang senantiasa selalu memberikan semangat dan
berjuang bersama dikampus tercinta ini, serta yang selalu menebarkan benih-benih
keceriaan dalam kebersamaan.
Besar harapan bagi penulis, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi siapa
saja yang memerlukannya dan dapat memberikan khazanah baru dalam dunia
akademik. Sebagai manusia yang dhoif, yang memiliki keterbatasan dan kekurangan,
tentunya skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Akhirnya, hanya kepada Allah
SWT juga kita memohon agar apa yang telah kita lakukan menjadi sesuatu investasi
yang sangat berharga dan kelak dapat membantu kita di yaumil akhir.
Jakarta, 15 Oktober 2014
Ade Tri Cahyani
vii
DAFTAR ISI
PERSETUJUAN PEMBIMBING .............................................................................. i
LEMBAR PENGESAHAN ........................................................................................ ii
LEMBAR PERNYATAAN ....................................................................................... iii
ABSTRAK .................................................................................................................. iv
KATA PENGANTAR ................................................................................................ v
DAFTAR ISI............................................................................................................. viii
BAB I
: PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah ................................................................... 1
B.
Pembatasan dan Perumusan Masalah ............................................... 6
C.
Tujuan dan Manfaat Penelitian ......................................................... 7
D.
Kajian Pustaka .................................................................................. 8
E.
Metode Penelitian ........................................................................... 11
F.
Sistematika Penulisan ..................................................................... 14
BAB II : TINJAUAN UMUM MENGENAI GADAI
A.
Pengertian Gadai (Rahn) ................................................................ 16
B.
Dasar Hukum Gadai ....................................................................... 20
C.
Rukun dan syarat Gadai .................................................................. 23
D.
Hak dan Kewajiban dalam gadai .................................................... 30
E.
Pendapat Para Ulama Tentang Pemanfaatan barang gadai ............ 32
F.
Berakhirnya Akad Gadai ................................................................ 37
viii
BAB III: PRAKTIK GADAI PADA MASYARAKAT Di KECAMATAN
TAPOS KOTA DEPOK
A.
Letak Geografis Wilayah Kecamatan Tapos Kota Depok.............. 39
B.
Sekilas Kondisi masyarakat di Kecamatan Tapos Kota Depok ..... 40
C.
Mekanisme praktik gadai di masyarakat Kecamata Tapos Kota
Depok ............................................................................................ 46
D.
Latar belakang terjadinya praktik pemanfaatan barang gadai
di kecamatan Tapos kota Depok ................................................... 50
BAB IV: ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PRAKTIK GADAI DI
KECAMATAN TAPOS KOTA DEPOK
A.
Tinjauan Hukum Islam terhadap Mekanisme gadai yang terjadi di
masyarakat Kecamatan Tapos Kota Depok ................................... 53
B.
Tinjauan Hukum Islam terhadap praktik pemanfaatan barang gadai
di masyarakat Kecamatan Tapos Kota Depok ............................... 55
C.
Tinjauan Hukum Islam terhadap gadai yang berupa barang hutang
di masyarakat Kecamatan Tapos Kota Depok ............................... 61
BAB V: PENUTUP
A.
Kesimpulan ..................................................................................... 65
B.
Saran ............................................................................................... 67
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................ 70
LAMPIRAN
ix
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak lepas dengan transaksi, Allah
SWT telah menjadikan manusia saling melengkapi antara satu dengan yang lainnya,
agar mereka saling tolong-menolong, baik dengan jalan tukar-menukar, sewa
menyewa, bercocok tanam atau dengan cara yang lainnya, karena sejatinya manusia
adalah makhluk sosial (social creature). Bentuk dari tolong menolong ini bisa berupa
pemberian dan bisa berupa pinjaman (gadai).1 Praktik gadai yang terjadi pada masyarakat di
kecamatan Tapos Kota Depok tidak sesuai dengan syariat Islam.
Bagi masyarakat mendengar kata gadai bukanlah hal yang aneh, mereka
mengetahui bahwa gadai merupakan salah satu ajaran yang ada dalam agama Islam,
khususnya masyarakat di Kecamatan Tapos kota Depok sudah menjadi suatu
kebiasaan. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari masyarakat di
Kecamatan Tapos Kota Depok, mereka terbiasa melaksanakan praktik gadai dengan
cara yang sangat sederhana yang dilakukan antar kerabat dekat ataupun tetangga.
Mereka menganggap proses gadai tersebut lebih mudah dan cepat untuk mendapatkan
pinjaman di bandingkan mereka harus meminjam kepada pegadaian ataupun bank.
Meski begitu mereka tetap menganggap bahwa barang gadaian tersebut sebagai
antisipasi bilamana hutangnya tidak terbayar, maka barang gadaian yang digunakan
1
Muhammad Shalikul Hadi, Pegadaian Syariah, (Jakarta: Salemba Diniyah, 2003), hal. 2.
1
2
untuk menutupi hutangnya. Dan mereka pun tahu bahwa hutang adalah hak adami
yang harus dibayar sebelum mati.2
Allah berfirman dalam surat al-Maidah ayat 2 sebagai berikut :
                
    
Artinya :“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan
takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan
pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah SWT, sesungguhnya
Allah SWT amat berat siksa-Nya.” (Qs. Al-Maidah:2).3
Karena sebagai makhluk sosial, manusia mempunyai hasrat untuk hidup
bersama. Lebih-lebih dalam zaman modern ini tidak mungkin bagi seseorang
makhluk hidup secara layak dan sempurna tanpa bantuan dari atau kerja sama dengan
orang lain. Oleh sebab itu, kerjasama antara seorang manusia merupakan sebuah
kebutuhan. Kebutuhan itu bisa berbagai bentuk, misalnya berupa uang, padahal ia
memiliki sejumlah barang yang dapat dinilai dengan uang. Dalam kondisi seperti ini
orang bisa melakukan beberapa alternatif guna mendapatkan uang. Salah satu
alternatif tersebut, misalnya dengan menggadaikan barang.
Rasulullah pernah mencontohkan praktik gadai dengan menggadaikan baju
besinya ketika membeli makanan kepada orang Yahudi. Seiring dengan
berkembangnya zaman dan aneka ragam kebutuhan manusia, maka saat ini bukan
2
Muhammad al-Fitra Haqiqi, harta halal harta haram, (Jombang: lintas media, tth) hal.129.
Departemen Agama RI Al-Quran dan terjemahannya, (Jakarta: yayasan penyelenggaraan
penterjemah Al-Quran, 1986), hal. 157.
3
3
hanya pakaian tetapi segala macam harta benda dapat digadaikan sebagaimana yang
sering dilakukan oleh masyarakat Kecamatan Tapos Kota Depok. Diantara mereka
ada yang menggadaikan tanah, kendaraan bermotor, ruko, rumah, bahkan elektronik
seperti handphone, televisi.
Rahn mempunyai nilai sosial yang sangat tinggi. Namun pada kenyataannya,
dalam masyarakat konsep tersebut dinilai “tidak adil”. Dilihat dari segi komersil yang
meminjamkan uang merasakan dirugikan misalnya karena inflasi atau pelunasan
berlarut-larut sementara barang jaminan tidak laku. Di lain pihak barang jaminan
mempunyai hasil.4
Banyaknya lembaga pegadaian dengan tujuan pokoknya yang baik bukan
berarti semua masyarakat mengerti dan menggadaikan barangnya ke lembaga
pegadaian tetapi banyak pula masyarakat dalam melakukan transaksi gadai
melakukan transaksi gadai justru lebih memilih antar individu dengan cara sederhana.
Gadai yang terjadi di masyarakat khususnya masyarakat Kecamatan Tapos
Kota Depok, dalam praktiknya menunjukkan adanya beberapa hal yang dipandang
memberatkan salah satu pihak yakni Murtahin dan dapat mengarahkan kepada suatu
persoalan yaitu riba. Hal ini dapat dilihat dari praktik pelaksanaan gadai itu sendiri
yang mengharuskan penerima barang gadai (murtahin) untuk membebankan bunga
kepada penggadai (rahin) pada saat Penggadai mengembalikan uang pinjamannya
4
Chuzaimah T. Yanggo, A. Hafiz Anshori, AZ, MA, Problematika Hukum Islam
kontemporer III, Jakarta: pustaka Firdaus, 1995, hal. 78.
4
kepada penerima barang gadai (murtahin). 5 Dengan adanya syarat dan ketentuan
seperti itu maka praktik gadai yang dilakukan oleh masyarakat di Kecamatan Tapos
Kota Depok tidak akan bisa menjadi suatu solusi untuk menyelesaikan masalah
keuangan yang sedang dialami oleh rahin, akan tetapi justru akan menambah masalah
baru karena rahin harus mengembalikan uang pinjamannya lebih banyak dari uang
pinjaman yang diterima.
Masyarakat Kecamatan Tapos Kota Depok menggadaikan barang yang
mereka miliki ke orang lain yang mereka kenal seperti saudara, dan tetangga. Dalam
pelaksanaannya, akad gadai seringkali yang mensyaratkan dalam pemberian hak
pakai terhadap barang yang dimiliki rahin, ada pula dalam akad gadai meskipun
rahin tidak mensyaratkan perizinan memanfaatkan barang tetapi pihak murtahin tetap
memanfaatkan barang gadaian tersebut untuk kepentingan pribadi sampai rahin dapat
mengembalikan utangnya pada murtahin.
praktik gadai yang dilakukan tidak dapat dikategorikan membantu seperti
yang di syariatkan oleh hukum Islam, dan ini merugikan salah satu pihak dalam hal
ini rahin dan bisa dikategorikan dalam persoalan riba. Padahal dalam sistem ekonomi
Islam tidak mengajarkan kepada umat muslim untuk menjadi hamba yang hanya
mengejar materi saja tanpa melihat kehalalannya, melainkan mengajarkan dan
memberitahukan tatacara bagaimana dapat menghasilkan harta dengan halal.6
5
6
Muhammad Shalikul hadi, Pegadaian Syariah, (Jakarta: Salemba Diniyah, 2003), hal. 8.
Muhammad al fitra haqiqi, harta halal harta haram, (Jombang: lintas media, tth) hal. 182.
5
Menurut jumhur ulama, apabila tidak diijinkan oleh yang menggadaikan,
barang yang digadaikan tidak dapat diambil sama sekali manfaatnya oleh si
pemegang gadai, Jumhur berlandaskan pada hadits yang diriwayatkan oleh Abu
Hanifah dari Nabi Muhammad SAW:
ِّ ِ‫ك اَن َشٍُْْ يٍِْ صَاحِث‬
ُ َ‫غْه‬َٚ ‫ ( نَا‬:َ‫ْ ِّ َٔعََهى‬َٛ‫صَهَٗ اَنهَُّ ػَه‬- ِّ َ‫ل اَنه‬
ُ ُٕ‫ل سَع‬
َ ‫ لَا‬:َ‫ََٔػَُْ ُّ لَال‬
.ٌ‫ َٔ ِسجَان ُّ ثِمَاخ‬,ُ‫ َٔا ْنحَا ِكى‬,ُُِْٙ‫غ ْشيُ ُّ ) سََٔا ُِ اَنذَاسَلُط‬
ُ َِّْٛ‫ َٔػَه‬,ًُُُّْ ُ‫ نَُّ غ‬,ََُُّْ‫اََنزِ٘ َس‬
7
Artinya:“Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah
Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Barang gadaian tidak
menutup pemilik yang menggadaikannya, keuntungan untuknya dan
kerugiannya menjadi tanggungannya. "Riwayat Daruquthni dan
Hakim dengan perawi-perawi yang dapat dipercaya.”
Hadits ini mensyariatkan baik untung maupun rugi adalah untuk yang
menggadaikan.8 Berangkat dari beberapa landasan dan latar belakang di atas penulis
menemukan suatu problem dalam hal praktik gadai di masyarakat Kecamatan Tapos
Kota Depok, di mana dalam proses praktik gadai penyalahgunaan akad dalam praktik
gadai karena di dalamnya terdapat pemanfaatan, kecurangan, ketidakadilan, serta
riba. Menurut masyarakat, dalam pelaksanaan praktik gadai yang dilakukan di
Kecamatan Tapos Kota Depok belum mengetahui kejelasan tentang hukum kehalalan
dan keharamannya.
Terkadang akad yang dilakukan itu telah sesuai dengan hukum syara‟, tetapi
di dalam pelaksanaan dari akad dan sistem yang diterapkan itu sendiri belum dapat
ditindak lanjuti dan masih harus dipertanyakan tentang hukumnya.
7
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-„Asqalani, Bulughul Maram, (Jakarta: Pustaka As-Sunnah,
2007),Cet. 2 Hadits No. 883.
8
Nazar bakry, Problematika Fiqih Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1994), hal. 52.
6
Dari fenomena di atas, maka penulis tertarik mengadakan penelitian di
Kecamatan Tapos kota Depok. Sebelumnya pun tidak pernah dilakukan penelitian
serupa di Kecamatan Tapos kota Depok. Maka dari itu judul skripsi yang penulis
angkat adalah “TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PRAKTIK GADAI
PADA MASYARAKAT KECAMATAN TAPOS KOTA DEPOK”.
B.
Pembatasan Dan Perumusan Masalah
1. Pembatasan Masalah
Untuk lebih terarah dan menghindari salah persepsi dari pembaca, maka
penulis membatasi pembahasan tersebut pada:
a. Praktik gadai dibatasi pada kegiatan praktik gadai yang sering dilakukan oleh
masyarakat Kecamatan Tapos Kota Depok.
b. Penelitian pelaksanaan praktik gadai dan pemanfaatan barang gadai di masyarakat
Kecamatan Tapos Kota Depok.
c. Materi dibatasi, mengenai hukum Islam atau hukum-hukum yang hanya berkaitan
dengan pelaksanaan praktik gadai.
2. Perumusan Masalah
Praktik gadai yang terjadi pada masyarakat Kecamatan Tapos Kota Depok
menimbulkan beberapa problem yang harus dibahas dan ditentukan jawabannya. Hal
ini dikarenakan prosedur dari akad hingga pemanfaatan barang gadai tidak semuanya
berjalan sesuai dengan prosedur gadai yang sesuai dengan syariat Islam dengan
demikian penulis mengambil perumusan masalah sebagai berikut:
7
a. Bagaimana tinjauan hukum Islam terhadap mekanisme gadai yang terjadi di
masyarakat Kecamatan Tapos Kota Depok?
b. Bagaimana tinjauan hukum Islam terhadap praktik pemanfaatan barang gadai di
masyarakat Kecamatan Tapos Kota Depok ?
c. Bagaimana tinjauan hukum Islam terhadap gadai yang berupa barang hutang di
masyarakat Kecamatan Tapos Kota Depok?
C.
Tujuan Dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Pada setiap penelitian yang dilakukan pada dasarnya memiliki tujuan dan
fungsi tertentu yang ingin dicapai baik yang berkaitan langsung dengan penulis atau
pihak lain yang memanfaatkan hasil penelitian tersebut. Adapun tujuan dari penelitian
yang dilakukan penulis adalah:
a. Memberikan penjelasan terhadap proses dalam mekanisme gadai yang terjadi di
Masyarakat Kecamatan Tapos Kota depok sesuai dengan tata cara pelaksanaan
Praktik gadai yang sesuai dengan syariat Islam.
b. memberikan pengetahuan kepada masyarakat, khususnya masyarakat di
Kecamatan Tapos Kota Depok tentang hukum pemanfaatan barang gadai yang
sesuai dengan syariat Islam.
c. memberikan penjelasan terhadap permasalahan barang gadai yang berupa barang
hutang sesuai dengan syariat Islam.
8
2. Manfaat Penelitian
Sedangkan manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:
a. Dari penelitian ini dapat menambah pengetahuan dari pihak lain yang
memanfaatkannya, juga diharapkan hasil penelitian ini dapat mendeskripsikan
proses dalam mekanisme gadai yang sesuai dengan syariat Islam.
b. Dengan penelitian ini dapat memberikan informasi mengenai hukumnya
memenfaatkan barang gadai sesuai dengan Hukum Islam.
c. Dengan penelitian yang penulis lakukan bisa memberitahu informasi mengenai
hukum menggadaikan barang yang berupa barang hutang, serta hasil penelitian ini
bisa bermanfaat untuk seluruh masyarakat dalam menjalani praktik gadai yang
sesuai dengan syariat Islam.
D.
Tinjauan (Review) Kajian Terdahulu
Berdasarkan telaah yang sudah dilakukan terhadap beberapa sumber,
kepustakan, penulis meliputi bahwa apa yang menjadi masalah pokok penelitian
tampaknya sangat penting dan prospektif. Untuk menghindari pengulangan dalam
penelitian ini, sehingga tidak terjadi adanya pembahasan yang sama dengan penelitian
lain, maka penulis perlu menjelaskan adanya tujuan penelitian yang akan diajukan.
Dan beberapa tulisan yang berkaitan dengan masalah tersebut merupakan suatu data
yang sangat penting.
Adapun beberapa skripsi yang pernah dibaca pada perpustakaan yang
tersedia di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta adalah sebagai berikut:
9
1. Pada tahun 2011, telah ditulis skripsi atas nama Sarki dengan judul “Praktik
Gadai Dikalangan Masyarakat di Desa Argapura Kecamatan Cigudeg
Kabupaten Bogor Dalam Perspektif Hukum Islam” dalam anaslisa ini membahas
tentang Skripsi ini membahas tentang praktik gadai yang sering dilakukan oleh
masyarakat Desa Argapura Cigudeg Bogor yang hanya meliputi praktik gadai
mengandung riba atau tidak dan hukum Islam yang dibatasi hukum-hukum yang
bekaitan dengan pelaksanaan gadai. Metode penelitian kualitatif deskriptif,
penulisnya tidak bisa menyajikan data yang valid dan jelas terhadap studi kasus
yang coba diangkat.
2. Pada tahun 2012 atas nama Nur habibah, dengan judul “Analisa Dampak
Perekonomian dalam Gadai Sawah di Kalangan Petani Muslim.” Skripsi ini
membahas mengenai tata cara sistem gadai sawah, dampak perekonomian petani
muslim di Desa Karang Patri dan analisa hukum memanfaatkan uang dari hasil
gadai. Metode yang digunakan kualitatif dan kuantitatif.
3. Pada tahun 2003, atas nama Aty Nurhayati, dengan judul “Konsep Gadai (arrahn) dalam Islam Serta Prospeknya di Indonesia.” Dalam skripsi ini membahas
tentang Analisa pegadaian dengan sistem syariah yang mempunyai prospek yang
cerah, baik pegadaian dengan sistem syariah maupun pegadaian baru serta
mengenai sekmentasi dan pangsa pasarari pegadaian ini sangat baik. Ini semua
dianalisis dari analisa SWOT yang telah ia teliti.
4. Chuzaimah T. Yanggo dan A. Hafiz Anshory AZ. Dalam bukunya “Problematika
Hukum Islam Kontemporer III” Dalam bukunya menjelaskan mengenai Gadai
10
menurut Syari'at Islam berarti, permohonan atau pengekangan. Sehingga dengan
akad gadai menggadai kedua belah pihak mempunyai tanggung jawab bersama.
Yang punya hutang bertanggung jawab melunasi hutangnya, dan orang yang
punya hutang bertanggung jawab menjamin keutuhan barang jaminannya. Dan
bila utang telah dibayar, maka penahanan atau pengekangan oleh sebab itu akad
menjadi lepas, sehingga dalam pertanggungjawaban yang menggadai dan yang
menerima gadai hilang untuk menjalankan kewajiban dan bebas dari tanggung
jawab masing-masing.
Sedangkan yang membedakan dari penelitian ini membahas tentang
penyalahgunaan akad dalam praktik gadai di masyarakat Kecamatan Tapos Kota
Depok. Yang menjelaskan praktik gadai dalam Islam, penulis menyajikan beberapa
contoh praktik gadai yang diduga sering menjadi objek penyalahgunaan, agar dapat
menjadi bahan yang dapat dipertimbangkan untuk terciptanya produk hukum baru
sehingga bisa menanggulangi penyalahgunaan dan pemanfaatan praktik gadai
tersebut, kemudian Penulis juga mencoba untuk memberikan data yang akurat secara
prima dan up to date sehingga dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Dengan
metode penelitian yang mengedepankan kualitatif deskriptif. Dan didukung oleh
wawancara secara langsung dengan para narasumber yang sering dan bahkan selalu
bersentuhan dengan praktik gadai dalam kehidupan sehari-harinya.
11
E.
Metode Penelitian
Suatu metode ilmiah dapat dipercaya apabila disusun dengan mempergunakan
suatu metode yang tepat. Metode merupakan cara kerja atau tata kerja untuk dapat
memahami obyek yang menjadi sasaran dari ilmu pengetahuan yang bersangkutan.
Metode adalah pedoman–pedoman, cara seseorang ilmuwan mempelajari dan
memahami lingkungan–lingkungan yang dihadapi. Dalam penelitian ini penulis
menggunakan metode–metode sebagai berikut:
1. Metode Pendekatan
Dalam ini penulis menggunakan metodelogi dengan pendekatan kualitatif,
yang memiliki karakteristik alami (natural setting) sebagai sumber data langsung,
deskriptif, proses lebih dipentingkan daripada hasil, analisis data kualitatif
cendrung dilakukan secara analisa induktif dan makna merupakan hal yang
esensial.9
Dalam masalah ini prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan
menggambarkan/melukiskan keadaan subyek/obyek penelitian (seorang, lembaga,
masyarakat, dan lain-lain) pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang
tampak, atau sebagaimana adanya.10
Dari pemaparan di atas Penulis berusaha memaparkan suatu kejadian dan
peristiwa. Metode ini berguna untuk melahirkan teori-teori tentative, metode
9
Lexi Moeleong. Metotodologi penelitian Kualitatif, Cet. 13, (Bandung: PT. Remaja Rosda
karya, 2002), hl.135.
10
Hadari Nawawi, Metode Penelitian Bidang Sosial, Cet.12, (Yogyakarta: Gajah Mada
Universitas Press 2007), hl. 67.
12
deskriptif berusaha mencari bahan bukan mengujinya, penelitian ini lahir karena
kebutuhan.
Penelitian ini memerlukan kualifikasi, yaitu peneliti harus memiliki sifat yang
represif (mau menerima) yang berarti
harus selalu mencari informasi, bukan
menguji kebenaran suatu teori dan penelitian harus memiliki kekuatan integrative,
yaitu kekuatan untuk memadukan berbagai informasi yang diperoleh menjadi satu
kesatuan penafsiran.
2. Jenis Penelitian
Dalam penyusunan skiripsi ini, penulis memilih studi kepustakaan (library
research). Penulis mencari bahan-bahan dari sumber tulisan yang berhubungan
dengan permasalahan judul skiripsi.
3. Sumber Data
Untuk memperoleh data dalam penelitian ini, penulis menggunakan teknik
Studi Pustaka, yaitu menyelidiki dokumen-dokumen tertulis untuk memperoleh
data yang terdiri dari:
a. Sumber data primer yaitu kitab suci Al-Quran, Hadist, Kitab Fiqih dan
lain-lain
b. Sumber data sekunder yaitu data yang di peroleh dari bahan-bahan hukum
yang memberikan penjelasan mengenai bahan primer seperti, buku teks,
Dokume-dokumen, Analisis data, Biografi, Kamus, maupun data dari
internet (website).
13
4. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penulisan skiripsi ini adalah dengan
menggunakan purposive sampling yaitu salah satu teknik pengambilan data atau
sampel yang sering digunakan dalam penelitian. Dengan cara peneliti menentukan
sendiri sampel yang diambil karena adanya pertimbangan pertimbangan tertentu,
sampel diambil tidak secara acak tetapi ditentukan sendiri oleh peneliti. Jadi
menurut penulis sampel ini cocok untuk penelitian kualitatif penelitian yang tidak
melakukan generalisasi. 11
5. Metode Analisis Data
Dalam menganalisis data yang telah dihimpun, penulis menggunakan
beberapa metode, yaitu:
a. Metode induktif, yaitu pengambilan kesimpulan yang dimulai dari
kesimpulan atau fakta-fakta khusus menuju kepada kesimpulan yang
bersifat umum. 12 Jadi metode induktif adalah menganalisa data yang
bersifat khusus kemudian ditarik kesimpulan secara umum, oleh
karenanya dalam penelitian sebagai isi dari skiripsi ini, penulis mencari
berdasarkan literarture tentang judul yang sedang penulis teliti kemudian
dari temuan tersebut dilakukan analisa atau kesimpulan secara umum.
11
12
Nana Sudjana, Tuntunan Penyusunan Karya Ilmiah,Cet
Algesindo, 2003), h.7.
ke 7,(Bandung: Sinar Baru
14
b. Metode deduktif, menarik fakta atau kesimpulan yang bersifat umum,
untuk dijadikan fakta atau kesimpulan umum yang bersifat khsusus.13
6. Teknik Penulisan
Adapun Teknik penulisan dan penyusunan skripsi berpedoman pada Prinsipprinsip yang telah diatur dan di bukukan dalam buku pedoman penulisan skiripsi
Fakultas Syari‟ah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2012.
F.
Sistematika Penulisan
Skripsi ini terdiri atas tiga bagian, yaitu bagian awal skripsi, bagian isi
skripsi, dan bagian akhir skripsi yang terbagi dalam lima bab. Masing-masing bab
terbagi dalam berbagai uraian sub-sub bab. Sistematika skripsi ini adalah sebagai
berikut: Bagian awal skripsi terdiri dari halaman judul, persetujuan pembimbing,
lembar pengesahan penguji, lembar pernyataan, abstrak, kata pengantar, daftar isi.
Bagian isi skripsi terdiri dari:
Bab I membahas mengenai pendahuluan, dalam bab ini diuraikan latar
belakang masalah, pembatasan dan perumusan masalah,tujuan dan manfaat
penelitian, kajian pustaka, metode penelitian dan sistematika penulisan.
Bab II memembahas tentang teori tentang gadai dalam Islam. Dalam bab ini
diuraikan tentang teori yang digunakan sebagai dasar pembahasan selanjutnya yaitu
pengertian gadai, dasar hukum gadai, rukun dan syarat gadai, hak dan kewajiban
13
Sutrisno Hadi, Metodelogi Penelitian Resreach, (Jakarta: PT. Moyo Segoro Agung, 2007),
h.56.
15
dalam gadai, pendapat ulama kontemporer terhadap pemanfaatan barang gadai,
batalnya akad gadai.
Bab III membahas mengenai praktik Gadai di Kecamatan Tapos Kota
Depok. Letak geografis wilayah Kecamatan Tapos, sekilas kondisi masyarakat
Kecamatan Tapos, mekanisme praktik gadai di masyarakat Kecamatan Tapos Kota
Depok, latar belakang terjadinya praktik pemanfaatan barang gadai di Kecamatan
Tapos Kota Depok.
Bab IV membahas tentang hasil Analisa Dan Pembahasan. Bab ini terdiri
dari 3 sub yaitu terhadap Tinjauan Hukum Islam terhadap mekanisme gadai yang
terjadi di masyarakat Kecamatan Tapos Kota Depok, Tinjauan Hukum Islam terhadap
praktik pemanfaatan barang gadai di masyarakat Kecamatan Tapos Kota Depok, dan
Tinjauan Hukum Islam terhadap gadai yang berupa barang hutang.
Bab V berisi penutup dan kesimpulan yang menjawab rumusan masalah dan
Saran dari Penulis.
BAB II
TINJAUAN UMUM MENGENAI GADAI
A. Pengertian Gadai (Rahn)
Al-Rahn dalam kamus bahasa arab menggadaikan, menangguhkan ‫سٍْ– سُْا‬
ٍْ‫ش‬ٚ atau jaminan hutang, gadaian.14Dan dapat juga dimaknai dengan alhabsu.Secara
etimologi rahn (gadaian) berarti tetap atau lestari, sedangkan al-habsu berarti
penahanan.15Begitupun jika dikatakan“ni‟matun rohinah” artinya: karunia yang tetap
dan lestari. 16 Menurut syarak kalimat Rahn itu artinya menjadikan harta sebagai
pengkukuh/penguat sebab adanya hutang.17
Sedangkan menurut terminologi atau istilah syara‟ terdapat beragam
pengertian tentang gadai(rahn), yaitu :
1. Menurut Imam syafi‟i
Mendefinisikan akad al-rahnu seperti berikut menjadikan al-„Ain (barang)
sebagai watsiiqah (jaminan) utang yang barang itu digunakan untuk membayar utang
tersebut (al-marhun bihi) ketika pihak al-Madiin (pihak yang berhutang, Al-Rahin)
tidak bisa membayar hutang tersebut. Kalimat, (menjadikan al-„Ain) mengandung
pemahaman bahwa kemanfaatan tidak bisa dijadikan sebagai sesuatu yang digadaikan
14
Adib Bisri, Munawir AF, Kamus AL-BISRI, (Surabaya: Pustaka Progressif, 1999), Cet.
Ke-1, hal. 274.
15
Choiruman Pasaribu, Suhrawardi K. Lubis, Hukum Perjanjian Dalam Islam, (Jakarta:
Sinar Grafika, 1996), Cet. Ke-2, hal. 139.
16
Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah, Alih bahasa. H. Kamaluddin A Marjuki, (Bandung: PT. AlMaarif, 1996), hal.139.
17
Taqiyuddin Abu Bakar, Kifayatul Akhyar Fii Halli Ghayatil Ikhtishar, alih bahasa oleh
Syarifuddin Anwar, Mishbah Musthafa, ( Surabaya: Bina Iman, 1995), Cet. Ke-2, hal. 584.
16
17
(al-marhuun), karena kemanfaatan sifatnya habis dan rusak, oleh karena itu tidak bisa
dijadikan sebagai jaminan.18
2. Menurut Imam Malik
Mendefinisikan Al-Rahn seperti sesuatu yang mutamawwal (berbentuk harta
dan memiliki nilai) yang diambil dari pemiliknya untuk menjadikan watsiiqah hutang
yang Laziin (keberadaannya sudah positif dan mengikat). Maksudnya, suatu akad
atau kesepakatan akan mengambil sesuatu dari harta yang berbentuk al-„Ain (Barang,
harta yang berbentuk konkrit) seperti harta tidak bergerak yaitu tanah, rumah, hewan,
barang komoditi, atau dalam bentuk kemanfaatan (kemanfaatan barang, tenaga, atau
keahlian seseorang). Namun, dengan syarat kemanfaatan tersebut harus jelas dan
ditentukan dengan masa (penggunaan atau pemanfaatan suatu barang) atau pekerjaan
dengan memanfaatkan tenaga atau keahliannya, juga dengan syarat kemanfaatan
tersebut dihitung masuk kedalam hutang yang ada.19
3. Menurut Imam Hanafi
Rahn didefinisikan menjadi sesuatu (barang) jaminan terhadap hak (piutang)
yang mungkin dijadikan sebagai pembayaran hak (piutang) itu baik seluruhnya
maupun sebagiannya.20
18
Ibnu Qudamah, Al-Mughnil, Penerjemah Misbah, (Jakarta: Pustka Azzam, 2009), Cet. 1,
19
Ahmad Al-Dardiri, Al-Syarhu Al-Shagir, (Mesir: Dar El-Maarif) t.th, Jil. 3, hal. 207.
Ahmad Al-Dardiri, Al-Syarhu Al-Shagir, Hal. 209.
Hal. 24.
20
18
4. Menurut Imam Hanbali
Mendefinisikan rahn dengan harta yang dijadikan jaminan hutang sebagai
pembayar harga (nilai) hutang ketika yang berhutang berhalangan (tidak mampu)
membayar utangnya kepada pemberi pinjaman.21
Rahn menurut syara adalah :
ْٔ َ‫ٍ أ‬
ِ َٚ‫ك انذ‬
َ ‫خذُ رَِن‬
ْ ‫ٍ َأ‬
ُ ِ‫ ًْك‬ُٚ ‫ث‬
ُ ْٛ َ‫ٍ ِتح‬
ِ َْٚ‫مَ ِح ِتذ‬ِٛ‫ع َٔث‬
ِ ِ‫ظشِ انؾَأس‬
ْ َ ِٙ‫ّح ف‬ِٛ‫ًَحٌ يَان‬ْٛ ِ‫ٍ َنَٓا ل‬
ِ َْٛ‫جؼمُ ػ‬
ٍ
ِ َْٛ‫ك انؼ‬
َ ‫ٍ ذِ ْه‬
ْ ِ‫خ ُز َتؼْضِِّ ي‬
ْ ‫َأ‬
“Menjadikan barang yang mempunyai nilai harta menurut pandangan
syara‟sebagai jaminan hutang, hingga orang yang bersangkutan boleh
mengambil hutang atau ia bisa mengambil (manfaat) barang itu”22
Rahn adalah menahan salah satu harta milik si peminjam sebagai jaminan
atas pinjaman yang diterimanya.Barang yang ditahan tersebut harus memiliki nilai
ekonomis.Dengan demikian, pihak yang menahan memperoleh jaminan untuk dapat
mengambil kembali seluruh atau sebagian piutangnya.Secara sederhana dapat
dijelaskan bahwa rahn adalah semacam jaminan hutang atau gadai.23
Menurut Wahbah Zuhayli Al-Rahn sebagaimana didasarkan pada firman
Allah SWT dalam surat al-Muddatsir ayat 38:
     :
Artinya:“tiap-tiap diri
diperbuatnya.”
21
bertanggung
jawab
atas
apa
yang
telah
Afzalur Rahman, Doktrin Ekonomi Islam, (Yogyakarta: PT. Tanah Bakri Wakaf, 1996),
Cet. 4, Hal. 158.
22
Sayyid Sabiq Fikih Sunnah 12, (Jakarta: Pustaka Percetakan Offset,1998), hal. 139
23
Sayyid Sabbiq, Fiqhus Sunnah (Beirut: Darul-Kitab al-Arabi, 1987), Cetakan Ke-8, hal.
169.
19
Sementara itu, gadai menurut istilah adalah akad utang di mana terdapat
suatu barang yang di jadikan peneguhan atau penguat kepercayaan dalam utang
piutang, barang itu boleh dijual kalau utang tak dapat dibayar, hanya penjual itu
hendaknya dengan keadilan (dengan harga yang berlaku di waktu itu).24
Gadai tersebut menjadikan suatu yang bernilai menurut pandangan syara‟
sebagai tanggungan hutang, dengan adanya benda yang menjadi tanggungan itu
seluruh atau sebagian utang dapat diterima.25
Menurut kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata), gadai adalah
suatu hak yang diperoleh seorang berpiutang atas suatu barang bergerak, yang
diserahkan kepadanya oleh seseorang yang berhutang atau oleh orang lain atas
namanya dan yang memberikan kekuasaan kepada si berpiutang itu untuk mengambil
pelunasan dari barang tersebut secara didahulukan dari pada orang-orang yang
berpiutang lainnya, dengan kekecualian biaya untuk melelang barang tersebut dan
biaya yang dikeluarkan, biaya-biaya mana harus didahulukan (Pasal 1150 KUH
Perdata).26
Selain berbeda dengan KUH Perdata, pengertian gadai menurut syari'at
Islam juga berbeda dengan pengertian gadai menurut ketentuan hukum adat yang
mana dalam ketentuan hukum adat pengertian gadai yaitu menyerahkan barang gadai
untuk menerima pembayaran sejumlah uang secara tunai dengan ketentuan, si penjual
24
Hendi Suhendi, Fiqh Mu‟amalah, (Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada, 2008), hal. 106.
Ahmad Azhar Basir, Hukum Islam tentang Riba, Utang-piutang Gadai, (Bandung: PT.AlMa‟arif, 1983), hal. 50.
26
KUHPerdata Pasal 1150
25
20
(penggadai) tetap berhak atas pengembalian tanahnya dengan jalan menebusnya
kembali.27
Dari definisi di atas pada dasarnya mengandung makna yang sama, yaitu
gadai menurut bahasa adalah tetap atau penahanan, sedangkan menurut istilah
menjadikan sesuatu benda yang mempunyai nilai harta dalam pandangan syara‟ untuk
kepercayaan suatu utang, sehingga memungkinkan mengambil seluruh atau sebagian
utang dan benda yang dighadaikan. Sederhananya dapat dijelaskan bahwa rahn adalah
semacam jaminan hutang atau gadai.
B.
Dasar Hukum Gadai
Sistem hutang piutang dengan gadai ini diperbolehkan (jaiz) tidak wajib
berdasarkan kesepakatan ulama, tetapi disyariatkan dengan dasar Al-Qur‟an, Hadits
dan Ijma‟ para Ulama.
1. Berdasarkan dalil Al-Qur‟an Al- Baqarah/2:283:
      
         
              
        
Artinya: “Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu'amalah tidak secara
tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, Maka
hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang
berpiutang). Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian
yang lain, Maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan
27
Chuzaimah T. Yanggo, A. Hafiz Anhory, A.Z, Problematika Hukum Islam Komtemporer
III, (Jakarta: Pustaka Firdaus,2004), Hal.140.
21
amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah
Tuhannya dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikannya
persaksian dan barang siapa yang menyembunyikannya, maka
sesungguhnya ia adalah yang berdosa hatinya dan Allah SWT
maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. AlBaqarah/2:283)
Berdasarkan ayat di atas, bahwa dalam melakukan kegiatan muamalah yang
tidak secara tunai, yang dilakukan dalam perjalanan dan tidak ada seorang pun yang
mampu menjadi juru tulis yang akan menuliskannya, maka hendaklah ada barang
tanggungan (borg) yang oleh pihak yang berpiutang digunakan sebagai jaminan. 28
Sebab gadai tidak bisa terjadi sebelum serah terima barang karena ia merupakan akad
saling membantu dan menolong yang membutuhkan serah terima.29
Para ulama bersepakat gadai hukumnya boleh, baik ketika tengah perjalanan,
mapun ketika Para menetap, berbeda pendapat terdapat mujahid dan ulama
Zahiriyyah 30 karena sunnah menjelaskan tentang pensyariatan dan Al-Rahn secara
mutlak, baik ketika sedang ditengah perjalanan maupun ketika sedang menetap.
2. Berdasarkan dalil dari As-sunnah
Masalah rahn juga diatur dalam hadits Nabi Muhammad SAW, yaitu:
ّ‫ّ ٔ عهى دسػ‬ٛ‫ صهٗ اهلل ػه‬ٙ‫ ٔنمذ سٍْ انُث‬: ‫ اهلل ػُّ لال‬ٙ‫ػٍ أَظ سض‬
‫ش ٔإْانح عُحح ٔنمذ‬ٛ‫ّ ٔ عهى تخثض ؽؼ‬ٛ‫ صهٗ اهلل ػه‬ٙ‫د إنٗ انُث‬ٛ‫ش ٔيؾ‬ٛ‫تؾؼ‬
28
M. Ali Hasan, Masail Fiqhiyah, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003, hal.125.
Al-Qadhi Abu Syuja bin Ahmad Al-Ishfahani, Ringkasan Fiqih Mazhab Syafi‟I, alih
bahasa Toto Edidarmo, (Jakarta:PT Mizan Publika,2012), Cet.2, hal. 327.
30
Wahbah Az-Zuhaili, Fiqih Islam Wa Adilatuhu, (Depok: Gema Insani, 2011), jilid 6, hal.
109.
29
22
ٗ‫ّ ٔ عهى إال صاع ٔال أيغ‬ٛ‫ل يحًذ صهٗ اهلل ػه‬ٜ ‫مٕل ( يا أصثح‬ٚ ّ‫عًؼر‬
31
) ‫اخ‬ٛ‫ٔإَٓى نرغؼح أت‬
Artinya: Dari anas r.a dia berkata:”sesungguhnya nabi s.a.w menggadaikan
baju besinya dengan biji gandum.Aku menemui nabi s.a.w. dengan
membawa roti yang terbuatdari biji gandum dan kue biasa yang
sudah tengik. Aku pernah mendengar beliau bersabda: “bagi
keluarga Muhammad s.a.w setiap pagi dan sore hanya memerlukan
satu sha‟. Padahal sesungguhnya mereka ada Sembilan anggota
keluarga.” (HR. Bukhari)
Hadis dari Aisyah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, yang berbunyi:
‫ُٕ َُظ‬ٚ ٍ‫ظ ت‬
َ ِْٛ‫ أَخثَش َاَ ػ‬: ‫ل‬
َ ‫ؾشَو لَا‬
َ َ‫ تٍ ح‬ِٙ‫ ٔػَه‬ِٙ‫ى اَ ْنحَُْظَه‬ِْٛ‫ق تٍ إت َش‬
ُ ‫حذَثََُا اِعْحا‬
َ
‫ اِؽْ َرشَٖ سعٕل اهلل صهٗ اهلل‬: ‫د‬
ْ ‫ى ػٍ االع َٕ ِد ػٍ ػائؾ َح لا ن‬ِْٛ‫تٍ انؼًَؼ ػٍ اِتشا‬
32
‫ْذ‬ِٚ‫حذ‬
َ ٍِْ‫ُٓ ْٕدِ٘ طؼَايا ٔسَُّْ دسػاً ي‬َٚ ٍ‫ ي‬.‫ِّْ ٔعهّى‬ٛ‫ػه‬
Artinya: “Telah meriwayatkan kepada kami Ishaq bin Ibrahim Al-Hanzhali
dan Ali bin Khasyram berkata: keduanya mengabarkan kepada kami
Isa bin Yunus bin „Amasy dari Ibrahim dari Aswaddari Aisyah
berkata: bahwasannya Rasulullah saw. membeli makanan dari
seorang yahudi dengan menggadaikan baju besinya (sebagai
jaminan/anggunan).”(HR. Bukhori).
Dari hadits diatas praktik gadai sudah pernah diajarkan Nabi Muhammad
SAW, Rasulullah pernah menggadaikan baju besinya kepada orang Yahudi
mendapatkan gandum untuk keluarganya. Gadai itu diperbolehkan kerena gadai
termaksud akad Syar‟i yang melindungi hak dan berfungsi untuk membayar hutang
jika penghutang tidak sanggup membayar.33
3. Ijma‟ Ulama
31
Bukhori, Shahih al-Bukhori, hadis no. 2373, jil. 2 (Beirut al-Yamâmah: Dâr ibnu Katsir,
1987), h. 887.
32
Bukhori, Shahih al-Bukhori, jil. 2 (Beirut al-Yamâmah: Dâr ibnu Katsir, 1987), h. 729.
33
Muhammad Yusuf, Ensiklopedi Tematis Ayat Al-Qur‟an dan Hadits, (Jakarta: Widya
Cahaya, 2012), Jil. 7, hal. 49.
23
Pada dasarnya para ulama telah bersepakat bahwa gadai itu boleh.Para ulama
tidak pernah mempertentangkan kebolehannya demikian pula landasan hukumnya.
Jumhur ulama berpendapat bahwa gadai disyari‟atkan pada waktu tidak bepergian
maupun pada waktu berpergian.34
C.
Rukun dan syarat Gadai
melaksanakan akad gadai agar dipandang sah dan benar dalam syariat islam
maka harus memenuhi rukun dan syarat gadai berdasarkan hukum Islam.
1. Rukun Gadai
Menurut hukum Islam bahwa rukun gadai itu ada 4 (empat), yaitu:
a) Shighat atau perkataan
b) Adanya pemberi gadai (rahin) dan penerima gadai (murtahin)
c) Adanya barang yang digadaikan (marhum)
d) Adanya utang (marhum bih)35
Adapun mengenai rukun gadai dapat dijelaskan sebagai berikut:
a) Shighat atau perkataan
Shighat menurut istilah fuqaha‟ ialah:
ٗ‫ثثد انرشاض‬ٚ ‫جاب تمثٕل ػهٗ ٔجّ يؾشٔع‬ٚ‫اسذثاط اال‬
"Perkataan antara ijab dan qabul secara yang dibenarkan syara' yang
menetapkan keridlaan keduanya (kedua belah pihak)"36
34
Muhammad Sholikhul Hadi, Pegadaian Syari'ah, (Jakarta: Salemba Diniyah, 2000), hal.
521.
35
Choiruman Pasribu Suhrowardi K.Lubis, Hukum Perjanjian dalam Islam, (Jakarta: Sinar
Grafika, 1996), cet.2, Hal.142.
36
TM. Hasbi Ash-Shiddieqi, Pengantar Fiqih Muamalah, (Jakarta: PT. Pustaka RizkiPutra,
1997),Cet.I, Hal. 26.
24
Rukun gadai akan sah apabila disertai ijab dan qabul, sedangkan ijab dan
qabul adalah shighat aqdi atas perkataan yang menunjukkan kehendak kedua belah
pihak, seperti kata "Saya gadaikan ini kepada saudara untuk utangku yang sekian
kepada engkau", yang menerima gadai menjawab "Saya terima marhum ini" Shighat
aqdi memerlukan tiga syarat:
1) Harus terang pengertiannya
2) Harus bersesuaian antara ijab dan qabul
3) Memperlihatkan kesungguhan dari pihak-pihak yang
bersangkutan.
Akad gadai juga bisa dilakukan dengan bentuk bahasa, kata isyarat tersebut
diberikan terhadap apa yang dimaksudkan, sebagaimana yang dikatakan oleh TM.
Hasbi Ash-Shiddieqy dalam Pengantar Fiqh Muamalah bahwa isyarat bagi orang
bisu sama dengan ucapan lidah (sama dengan ucapan penjelasan dengan lidah).37
b) Adanya pemberi gadai (rahin) dan penerima gadai (murtahin).
Pemberi gadai haruslah orang yang dewasa, berakal, bisa dipercaya, dan
memiliki barang yang akan digadaikan. Sedangkan penerima gadai adalah orang,
bank, atau lembaga yang dipercaya oleh rahin untuk mendapatkan modal dengan
jaminan barang (gadai).38
37
TM. Hasbi Ash-Shiddieqi, Pengantar Fiqih Muamalah, (Jakarta: PT. Pustaka Rizki Putra,
1997),Cet.I, hal. 31.
38
Heri Sudarsono, Bank dan Lembaga Keuangan syariah, (Yogyakarta: Ekonisia Kampus
Fakultas Ekonomi UII, 2004), hal.160.
25
c) Adanya barang yang digadaikan (marhum).
Barang yang digadaikan harus ada wujud pada saat dilakukan perjanjian
gadai dan barang itu adalah barang milik si pemberi gadai (rahin), barang gadaian itu
kemudian berada dibawah pengawasan penerima gadai (murtahin).39
Pada dasarnya semua barang bergerak dapat digadaikan, namunada juga
barang bergerak tertentu yang tidak dapat digadaikan.
Adapun jenis barang jaminan yang dapat digadaikan di pegadaian antara
lain:
1) Barang-barang perhiasan; emas, perak, intan, mutiara, dan lainlain.
2) Barang-barang elektronik:tv, kulkas, radio, telpon genggam, tape recorder, dan
lain-lain.
3) Kendaraan: sepeda, motor, mobil.
4) Barang-barang rumah tangga: barang-barang pecah belah.
5) Mesin: mesin jahit, mesin ketik, dan lain-lain.
6) Tekstil: kain batik, permadani.
7) Barang-barang lain yang dianggap bernilai.40
Dalam hubungan ini menurut pendapat ulama syafi”iyah barang yang
digadaikan itu memiliki tiga syarat:
1) Bukan utang, karena barang hutangan itu tidak dapat digadaikan
2) Penetapan kepemilikan penggadai atas barang yang digadaikan tidak terhalang.
39
Ahmad Sarwat, Fikih Sehari-hari, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, tth), hal. 93.
Muhammad Shalikul Hadi, Pegadaian Syariah, (Jakarta: Salemba Diniyah, 2003), hal. 142.
40
26
3) Barang yang digadaikan bisa dijual apabila sudah tiba masa pelunasan hutang
gadai.41
d) Adanya hutang (marhum bih)
Hutang (marhum bih) merupakan hak yang wajib diberikan kepada
pemiliknya, yang memungkinkan pemanfaatannya (artinya apabila barang tersebut
tidak dapat dimanfaatkan, maka tidak sah), dan dapat dihitung jumlahnya. 42Selain itu
hutang yang digunakan haruslah bersifat tetap, tidak berubah dengan tambahan bunga
atau mengandung unsur riba.43
2. Syarat Gadai
Menurut Imam Syafi‟i bahwa syarat sah gadai adalah harus ada jaminan
yang berkriteria jelas dalam serah terima. 44Sedangkan Maliki mensyaratkan bahwa
gadai wajib dengan akad dan setelah akad orang yang menggadaikan wajib
menyerahkan barang jaminan kepada yang menerima gadai.45
Menurut Sayyid Sabiq, syarat sah akad gadai adalah sebagai berikut:
a) Berakal;
b) Baligh (dewasa);
c) Wujudnya marhum (barang yang dijadikan jaminan pada saat akad);
41
Muhammad Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, alih bahasa: Imam Ghazali Syaid, Achmad
Zaidun, (Jakarta: Pustaka Imani, 2007), Cet. 3, Hal. 196.
42
Heri Sudarsono, Bank dan Lembaga Keuangan syariah, (Yogyakarta: Ekonisia Kampus
Fakultas Ekonomi UII, 2004), Hal.161.
43
Chairuman Pasaribu, Suhwardi K.Lubis, Hukum Perjanjian Dalam Islam, (Jakarta: Sinar
Grafika, 1996) Cet. 2, Hal. 142.
44
Syaikh al-„Allamah Muhammad bin Abdurrahman ad-Dimasyqi, Fiqih Empat Mazhab,
(Bandung: Hasyimi, 2012), Cet.13, Hal. 235.
45
Muhammad Sholikul Hadi, Pegadaian Syari‟ah, (Jakarta: Salemba Diniyah, 2003), Hal.
53.
27
d) Barang jaminan dipegang oleh orang yang menerima barang gadaian atau
wakilnya.46
Berdasarkan dari keempat syarat di atas dapat di simpulkan bahwa syarat sah
gadai tersebut ada 2 hal yaitu :
a. Syarat aqidain (rahin dan murtahin)
Dalam perjanjian gadai unsur yang paling penting adalah pihak-pihak yang
melaksanakan perjanjian gadai (unsur subjektif), yaitu cukup dengan melakukan
tukar menukar benda, apabila mereka berakal sehat (tidak gila), dan telah mumayyiz
(mencapai umur). Kemudian untuk orang yang berada di bawah pengampuan atau
wali dengan alasan amat dungu (sufih) hukumnya seperti mumayyiz, akan tetapi
tindakan-tindakan hukum sebelum mencapai usia baligh diperlukan izin dari wali,
apabila pengampu mengizinkan perjanjian gadai dapat dilakukan, tetapi apabila wali
tidak mengizinkan maka perjanjian gadai tersebut batal menurut hukum.47
b. Syarat barang gadai (marhun)
Marhun adalah barang yang ditahan oleh murtahin (penerima gadai) sebagai
jaminan atas hutang yang ia berikan. Para ulama sepakat syarat yang berlaku pada
barang gadai adalah barang yang dapat diperjual-belikan.48
Secara umum barang gadai harus memenuhi beberapa syarat antara lain :
a). Harus dapat diperjualbelikan
46
Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah 12, (Jakarta: Pustaka Percetakan Offset,1998), Hal. 141
Rahmat Syafi‟I, Fiqih Muamalah, Cet.3, (Bandung: Pustaka Setia, 2006), Hal.162
48
Chairuman Pasaribu, Suhwardi K.Lubis, Hukum Perjanjian Dalam Islam, (Jakarta: Sinar
Grafika, 1996) Cet. 2, Hal. 143.
47
28
b) Harus berupa harta yang bernilai
c) Marhun harus bisa dimanfaatkan secara syari‟ah
d) Harus diketahui keadaan fisiknya, maka piutang diterima secara lansung
e) Harus dimiliki oleh rahin (peminjam atau pegadai) setidaknya harus seizin
pemiliknya.49
Salah satu syarat bagi marhum adalah penguasaan marhum oleh murtahin.
Mengenai penguasaan atau penerimaan barang yang digadaikan pada dasarnya
disepakati sebagai syarat gadai. Berdasarkan firman Allah SWT dalam surah AlBaqarah ayat 283:
 ُ‫ٍُْ يَمْثُْٕضَح‬َٚ‫َفش‬
Artinya: “maka hendaklah ada barang yang digadaikan (oleh yang
berpiutang).”
Tetapi ulama masih berselisih pendapat, apakah penguasaan barang ini merupakan
syarat kelengkapan ataukah syarat sahnya gadai.
Menurut Imam Malik, penguasaan barang itu sebagai sebagai syarat
kelengkapan, akad gadai itu sudah mengikat dan orang yang menggadaikan sudah
dipaksa untuk menyerahkan barang kecuali bila penerima gadai tidak mau adanya
penentuan demikian. Sebab Imam Malik mengqiyaskan gadai dengan akad-akad lain
yang mengikat dengan adanya ucapan, dan jika barang gadai beralih kepada
kekuasaan orang yang menggadaikan dengan jalan peminjaman (ariyyah), penitipan
atau lainnya, maka akad gadai tersebut tidak mengikat lagi.
49
Rahmat Syafi‟I, Fiqih Muamalah, Cet.3, (Bandung: Pustaka Setia, 2006), hal. 168
29
Sedangkan menurut Abu Hanifah, Imam Syafi‟i, dan golongan zhahiri,
penguasaan barang itu termasuk syarat sahnya gadai. Sebab selama belum terjadi
penguasaan, akad gadai itu tidak mengikat orang yang menggadaikan. 50 Seseorang
menggadaikan barang dengan syarat, ia akan membawa haknya pada saat jatuh
tempo, dan jika tidak maka barang tersebut menjadi milik penerima gadai. Fuqaha
sependapat bahwa syarat tersebut mengharuskan batalnya gadai, sebab apabila rahin
menggadaikan suatu barang seperti kepada murtahin maka kemanfaatan dari barang
tersebut itu sepenuhnya milik rahin begitu pula kerugian atau kerusakannya berada
dalam tanggungan rahin.51
Seperti sabda Nabi Muhammad SAW:
‫ك‬
ُ ‫ ْغَه‬َٚ ‫ ( نَا‬:َ‫عَهى‬
َ َٔ ِّ َْٛ‫ػه‬
َ ُّ َ‫صهَٗ اَنه‬
َ - ِّ َ‫ل َسعُٕلُ اَنه‬
َ ‫ لَا‬:َ‫ اهلل ػُّ لَال‬ٙ‫شج سض‬ٚ‫ ْش‬ٙ‫ٔػٍ ا ت‬
,‫ َٔانْحَا ِك ُى‬,ُُِْٙ‫غ ْشيُ ُّ ) َسَٔاُِ اَنذَاسَ ُلط‬
ُ ِّ َْٛ‫ػه‬
َ َٔ ,ُّ ًُُْ ‫غ‬
ُ ُّ َ‫ ن‬,ُّ ََُْ َ‫ٍ صَاحِثِِّ َانَزِ٘ س‬
ْ ِ‫ٍ ي‬
ُ َْْ‫اَنش‬
.‫خ‬
ٌ ‫َٔسِجَان ُّ ثِمَا‬
Artinya:“Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah
Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:"Barang gadaian tidak
menutup pemilik yang menggadaikannya, keuntungan untuknya dan
kerugiannya menjadi tanggungannya."(Riwayat Daruquthni dan
Hakim dengan perawi-perawi yang dapat dipercaya).52
50
Al-Faqih Abdul Wahid Muhammad bin Achmad bin Muhammad ibnu Rusyd, Bidayatul
Mujtahid, alih bahasa: Imam Ghazali Syaid, Achmad Zaidun, (Jakarta: Pustaka Imani, 2007), Cet. 3,
hal. 197.
51
Ismail Yakub, Al-UMM, (Kuala Lumpur: Victory Agencie,1989), Cet. 1, hal. 366.
52
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-„Asqalani, Bulughul Maram, (Jakarta: Pustaka As-Sunnah,
2007),Cet. 2, Hal. 503, Hadits No. 883.
30
D. Hak dan Kewajiban Para Pihak
Para pihak (pemberi dan penerima gadai) masing-masing mempunyai hak
dan kewajiban yang harus dipenuhi. Sedangkan hak dan kewajiban adalah sebagai
berikut:53
1. Hak dan kewajiban pemberi gadai (rahin)
A. Hak Pemberi Gadai
1). Pemberi gadai mempunyai hak untuk mendapatkan kembali barangmiliknya
setelah pemberi gadai melunasi utangnya.
2). Pemberi gadai berhak menuntut ganti kerugian dari kerusakan danhilangnya
barang gadai apabila hal itu di sebabkan oleh kelalaianpenerima gadai.
3). Pemberi gadai berhak untuk mendapatkan sisa dari penjualanbarangnya
setelah dikurangi biaya pelunasan utang dan biayalainnya.
4). Pemberi gadai berhak meminta kembali barangnya apabilapenerima gadai
telah jelas menyalahgunakan barangnya.
B. Kewajiban Pemberi Gadai
1). Pemberi gadai berkewajiban untuk melunasi utang yang telah diterimanya
dari penerima gadai dalam tenggang waktu yang telah ditentukan.
2). Pemberi gadai berkewajiban merelakan penjualan atas barang gadai
miliknya, apabila dalam jangka waktu yang telah ditentukan pemberi gadai
tidak dapat melunasi utangnya kepada pemegang gadai.
53
Muhammad Shalikul Hadi, Pegadaian Syariah, (Jakarta: Salemba Diniyah, 2003),hal. 53
31
2. Hak dan kewajiban penerima gadai (murtahin)
A. Hak penerima gadai (murtahin)
1). Penerima gadai berhak untuk menjual barang yang digadaikan, apabila
pemberi gadai pada saat jatuh tempo tidak dapat memenuhi kewajibanya
sebagai orang yang berhutang.
2) Penerima gadai berhak mendapatkan penggantian biaya yang telah
dikeluarkan untuk menjaga keselamatan barang jaminan.
3) Selama utangnya belum dilunasi, maka penerima gadai berhak untuk
menahan barang jaminan yang diserahkan oleh pemberi gadai.
B. Kewajiban penerima gadai (murtahin)
1) Penerima gadai berkewajiban bertanggung jawab atas hilang atau merosotnya
harga barang yang digadaikan jika itu semua atas kelalaianya.
2) Penerima gadai tidak dibolehkan menggunakan barang yang digadaikan
untuk kepentingan pribadi.
3) Penerima gadai berkewajiban untuk memberitahu kepada pemberi gadai
sebelum di adakan pelelangan barang gadai. Dalam perjanjian gadai baik
pemberi gadai atau penerima gadai tidak akan lepas dari hak-hak dan
kewajiban-kewajiban. Hak penerima gadai adalah menahan barang yang
digadaikan, sehingga orang yang menggadaikan barang dapat melunasi
barangnya. Sedangkan hak menahan barang gadai adalah bersifat
menyeluruh, artinya jika seseorang menggadaikan barangnya dengan jumlah
tertentu, kemudian ia melunasi sebagiannya, maka keseluruhan barang gadai
32
masih berada di tangan penerima gadai, sehingga rahin menerima hak
sepenuhnya atau melunasi seluruh utang yang ditanggungnya.54
Hasbi Ash Shiddieqy mengatakan tidak boleh bila yang menerima gadai
menjual barang gadaian yang diterimanya dengan syarat harus dijual setelah jatuh
tempo dan tidak sanggup ditebus olehnya tetapi harus dijual belikan oleh pemberi
gadai, atau wakilnya dengan seizin murtahin (yang menerima gadai).
Jika pemberigadai tidak mau menjual barang tersebut, maka yang menerima
gadai berhak mengajukan tuntutan kepada hakim.55
E. Pendapat Ulama Kontemporer Tentang Pemanfaatan Barang Gadai
Pada dasarnya segala sesuatu yang diperbolehkan untuk dijual, maka boleh
untuk dijadikan jaminan (borg) atas utang. 56 Transaksi Rahn adalah transaksi yang
dimaksud untuk meminta kepercayaan dan jaminan hutang, bukan untuk mencari
keuntungan atau hasil.57
Para ulama fiqh sepakat mengatakan, bahwa segala biaya yang dibutuhkan
untuk pemeliharaan barang-barang jaminan itu menjadi tanggung jawab pemiliknya,
yaitu orang yang berutang. Para ulama fiqh juga sepakat mengatakan bahwa barang
yang dijadikan barang jaminan itu tidak boleh dibiarkan begitu saja, tanpa
54
Al-Faqih Abdul Wahid Muhammad bin Achmad bin Muhammad ibnu Rusyd, Bidayatul
Mujtahid, alih bahasa: Imam Ghazali Syaid, Achmad Zaidun, (Jakarta: Pustaka Imani, 2007), Cet. 3,
hal. 200.
55
Hasbi Ash Shiddieqy, Hukum-Hukum Fiqih Islam (Tinjauan Antar Mazhab), (Semarang:
Pustaka Risky putra, 2001)Cet. II, hal.366.
56
Abdul Fatah Idris dan Abu Ahmadi (eds),Kifayatul AkhyarTerjemah Ringkas Fiqih Islam
Lengkap,(Jakarta: Rineka Cipta, 1990), Cet.I, hal.143
57
Syaikh Sulaiman Ahmad Yahya Al-Faifi, Ringkasan Fikih Sunnah Sayyid Sabiq, (Jakarta:
Pustaka Al-Kautsar, 2013), Cet. 1, hal. 794
33
menghasilkan sama sekali, akan tetapi apakah diperbolehkan pihak pemegang barang
jaminan memanfaatkan barang gadaian, meskipun mendapat izin dari pemilik barang
jaminan, 58 dalam hal ini terjadi beberapa perbedaan pendapat para ulama. Ada
beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para mujtahidin tentang pengambilan
manfaat dari hasil barang gadaian.
1. Pendapat Imam Syafi'i
Dalam kitab Madzahibul Arbaah dijelaskan, Imam Syafi‟i mengatakan:
‫ذ‬ٚ ‫كٌٕ ذحد‬ٚ ٌْٕ‫ك فٗ يُفؼح انًشٌْٕ ػهٗ اٌّ انًش‬
ّ ‫انشٍْ ْٕصاحة انح‬
ٌْٕ‫ذِ ػُّ إالّػُذاإلَرفاع تانًش‬ٚ ‫انًّشذٍٓ ٔالذًُغ‬
Artinya: “Orang yang menggadaikan setelah yang mempunyai hak atas
manfaat barang yang digadaikan, meskipun barang yang
digadaikan tidak hilang kecuali mengambil manfaat atas barang
gadaian itu”.59
Dalam masalah ini Imam Syafi‟i pemanfaatan barang gadai tidak terkait
dengan adanya izin, akan tetapi ini berkaitan dengan keharaman pengambilan
manfaat atas utang yang tergolong riba yang diharamkan oleh syara‟.60
Imam Syafi‟i mengemukakan pandangannya berdasarkan hadits Rasulullah
SAW yang berbunyi :
58
Saleh Al-Fauzan, Fikih Sehari-hari, Penerjemah: Abdul Hayyie Al-Kattani (Jakarta:
Gema Insani, 2006), Cet. 1, hal. 416.
59
Chuzaimah T. Yanggo, A. Hafiz Anhory, A.Z, Problematika Hukum Islam Komtemporer
III, (Jakarta: Pustaka Firdaus,2004), hal. 83.
60
Ghufron A. Mas‟adi, Fiqh Muamalah Kontekstual, (Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada,2002), hal. 178.
34
ِ٘‫ك اَن َشٍُْْ يٍِْ صَاحِثِ ِّ اََنز‬
ُ َ‫غْه‬َٚ ‫ نَا‬:َ‫ْ ِّ َٔعََهى‬َٛ‫صَهَٗ اَنهَُّ ػَه‬- ِّ َ‫ل اَنه‬
ُ ُٕ‫ل سَع‬
َ ‫ لَا‬:َ‫َٔػَُْ ُّ لَال‬
ٍ‫ ( سٔاِ انؾافؼٗ ٔانذاسلطُٗ ٔلال إعُادِ حغ‬. ُُّ‫غ ْشي‬
ُ َِّْٛ‫ َٔػَه‬,ًُُُّْ ُ‫ نَُّ غ‬,ََُُّْ‫َس‬
)‫يرصم‬
Artinya: Dari Abu Hurairah dari Nabi saw ia bersabda : Gadaikan itu
tidakmenutup akan yang punyanya dari manfaat barang itu,
faedahnya kepunyaannya dia dan dia wajib mempertanggung
jawabkan segala resikonya (kerusakan dan biaya).(HR. Asy-Syafi'i
dan Daruqutny dania berkata bahwa sanadnya Hasan dan
bersambung).61
Dalam hadits di atas jelas menunjukkan, bahwa barang gadaian itu tidak
menutup hak atas pemiliknya yaitu orang yang menggadaikan untuk mengambil
manfaatnya.Dengan demikian, orang yang menggadaikan tetap berhak atas segala
hasil yang ditimbulkandari barang gadaian itu dan bertanggung jawab atas segala
resiko yangmenimpa barang tersebut. Dan penerima gadai hanyalah menguaasai
barang jaminan sebagai kepercayaan atas uang yang telah dipinjamkannya sampai
waktu yang telah ditentukan pada waktu akad.62
2. Pendapat Imam Hanafi
Menurut Imam Hanafi, tidak ada bedanya antara pemanfaatan barang
gadaian yang mengakibatkan kurang harganya atau tidak. Imam Hanafi berpendapat
bahwa rahin tidak boleh memanfaatkan borg tanpa seizin murtahin, begitu pula
murtahin tidak boleh memanfaatkannya tanpa seizin rahin. Mereka beralasan bahwa
61
Imam Syafi'i, al-Um, Jilid 3, tth.tp. hal. 167.
As Shan‟ani, Subulus Salam III,Penerjemah: Abd. Rasyid Nafis (Jakarta: Al-Ikhlas,
1995), Cet. 1, hal. 181.
62
35
barang gadai harus tetap dikuasai oleh murtahin selamanya. 63 Oleh sebab itu,
golongan Hanafiyah ada yang membolehkannya untuk memanfaatkannya jika
diizinkan oleh rahin. Tetapi sebagian lainnya tidak membolehkan sekali pun ada izin
bahkan mengkategorikannya sebagai riba, jika disyaratkan ketika akad untuk
memanfaatkan borg, hukumnya haram sebab termasuk riba.64
3. Pendapat Imam Hanbali
Imam Hanbali berpendapat bahwa apabila yang dijadikan barang jaminan itu
adalah hewan, maka pemegang barang jaminan berhak untuk mengambil susunya dan
mempergunakanya, sesuai dengan jumlah biaya pemiliharaan yang dikeluarkan
pemegang barang jaminan.65
Hal tersebut dijelaskan dalam hadits yaitu:
‫ظ ْٓ ُش‬
َ ‫ ان‬:‫ّ ٔ عهى‬ٛ‫ اهلل ػه‬ٙ‫ اهلل ػُّ لا ل سعٕل اهلل صه‬ٙ‫شج سض‬ٚ‫ ْش‬ٙ‫ٔػٍ ات‬
ِٖ‫ب تَُِفَمَرِ ِّ ِإرَاكَاٌَ َي ْشًَُْٕا َٔػَهَٗ اَنز‬
ُ ‫ؾ َش‬
ْ ُٚ ‫ٍ ان ُذ ِس‬
ُ َ‫ة تَُِفَمَرِ ِّ ِارَاكَاٌَ َي ْشًَُْٕا َٔنَث‬
ُ ‫ ْش َك‬ُٚ
)٘‫ؾ َشبُ انَُفَمَ َح (سٔاِ انثخاس‬
ْ ََٚٔ ‫ة‬
ُ ‫ ْش َك‬َٚ
Artinya: “Abu Hurairah r.a. berkata, bahwa Rasulullah SAW. Bersabda:
binatang tunggangan yang dirungguhkan atau diborongkan harus
ditunggangi dipakai, disebabkan ia harus dibayar, air susunya
boleh diminum diperas untuk pembayaran ongkosnya, orang yang
menunggangi dan meminum air susunya harus membayar.”66(HR.
Bukhari)
63
Nazar Bakry, Problematika Pelaksanaan Fiqh Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada, 1994), hal. 49.
64
Isnawati Rais dan Hasanudin, Fiqh Muamalah dan aplikasinya pada lembaga keuangan
Syariah, (Jakarta: Lembaga peneliti UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2011), Cet. 1, hal. 226.
65
Ibnu Qudamah, Al-Mughni., (Beirut: Dar al-Kitab Al-„Araby,1980), Jil. 6, hal. 432-433.
66
Imam Hafidz Ahmad bin ali bin hajjar Al-Asqalani, Fathul Al-Bari, (Beirut: Dar AlKotob Al-ilmiyah, 2003), Cet. 1, hal. 32.
36
Hadits di atas menerangkan bahwa binatang yang dijadikan jaminan boleh
diambil manfaatnya seperti untuk tunggangan, diminum air susunya hal ini
disebabkan karena adanya biaya yang telah dikeluarkan untuk pemeliharaan tetapi
apabila hasil ternaknya ada kelebihannya, maka kelebihan itu dibagi rata antara
murtahin dan rahin.Dan apabila orang yang menunggangi dan yang minum air
susunya tidak membaginya maka orang tersebut harus membayar kelebihan itu.
4. Pendapat Ulama Malikiyah
Maliki berpendapat gadai wajib dengan akad (setelah akad) pemberi gadai
(rahin) dipaksakan untuk menyerahkan marhun untuk dipegang oleh penerima gadai
(murtahin).Jika marhun sudah berada di tangan pemegang gadaian (murtahin),
diperbolehkannya murtahin memanfaatkan barang gadai atas izin rahin atau
disyaratkan ketika akad.67Pemberi gadai (rahin) juga mempunyai hak memanfatkan
berbeda dengan pendapat Imam Asy Syafi‟i yang mengatakan hak memanfaatkan
berlaku selama tidak merugikan/membahayakan penerima gadai (murtahin).68
Pada dasarnya barang gadai tidak boleh diambil manfaatnya, baik oleh
pemiliknya maupun oleh penerima gadai. Hal ini disebabkan status hanya sebagai
jaminan utang dan sebagai amanat bagi penerimanya. Namun apabila mendapat izin
dari masing-masing pihak yang bersangkutan, maka barang tersebut boleh
dimanfaatkan. Hal ini dilakukan karena pihak pemilik barang (pemberi gadai) tidak
memiliki barang secara sempurna yang memungkinkan ia melakukan perbuatan
67
Isnawati Rais dan Hasanudin, Fiqh Muamalah dan aplikasinya pada lembaga keuangan
Syariah, (Jakarta: Lembaga peneliti UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2011), Cet. 1, hal. 227.
68
Sayyid sabiq Fikih Sunnah 12, Alih bahasa. H. Kamaluddin A Marjuki (Jakarta: Pustaka
Percetakan Offset,1998), hal. 141.
37
hukum (barangnya sudah digadaikan). Misalnya, mewakafkan, menjual dan
sebagainya sewaktu-waktu atas barang yang telah digadaikan tersebut. Sedangkan
hak penerima gadai (murtahin) terhadap barang tersebut hanya pada keadaan atau
sifat kebendaannya yang mempunyai nilai, tetapi tidak pada guna pemanfaatan/
pemungutan hasilnya. Murtahin hanya berhak menahan barang gadai, tetapi tidak
berhak menggunakan atau memnfaatkan hasilnya, sebagaimana pemilik barang
(pemberi gadai) tidak berhak menggunakan barangnya itu, tetapi sebagai pemilik
apabila barang yang digadaikan itu mengeluarkan hasil, maka hasil itu menjadi
miliknya.69
F. Berakhirnya Akad Gadai
Menurut Sayid Sabiq, jika barang gadai kembali ke tangan Rahin atau dengan
kata lain,.jika barang gadai berada kembali dalam kekuasaan Rahin, maka ketika itu akad
gadai sudah batal. Dengan demikian dalam perspektif Sayyid Sabiq agar akad gadai tidak
batal barang gadai harus dalam penguasaan murtahin.70
Gadai dipandang batal dengan beberapa keadaan seperti :
1. Borg (barang gadai) diserahkan kepada pemiliknya.
Jumhur ulama selain Syafi'i menganggap gadai menjadi batal jika murtahin
menyerahkan Borg kepada pemiliknya (Rahin) sebab borg merupakan jaminan utang,
jika borg diserahkan, tidak ada lagi jaminan. Selain itu dipandang batal pun akad gadai
jika murtahin meminjamkan borgkepada Rahin atau kepada orang lain atas seizin Rahin.
69
Muhammad Sholikhul Hadi, Pegadaian Syari'ah,( Jakarta: Salemba Diniyah, 2000), hal.
54.
70
Sayyid Sabbiq, Fiqhus Sunnah (Beirut: Darul-Kitab al-Arabi, 1987), Cetakan Ke-8, Hal.
190.
38
a. Dipaksa menjual borg
Gadai batal, jika hakim memaksa Rahin untuk menjual borg atau hakim
menjualnya jika Rahin menolak.
b. Rahin melunasi semua hutang.
c. Pembebasan hutang.
d. Pembatalan akad gadai dari pihak murtahin
Akad gadai dipandang batal dan berakhir jika murtahin membatalkan Rahin
meskipun tanpa seizin Rahin. Sebaliknya dipandang tidak batal jika Rahin
membatalkanmya.
Menurut ulama Hanafiyah, murtahin diharuskan untuk mengatakan
pembatalan borg kepada Rahin. Hal ini karena Rahin tidak terjadi, kecuali dengan
memegang. Begitu pula cara membatalkannya adalah dengan tidak memegang.
2. Rahn meninggal
Menurut Imam Malik, Rahin batal atau berakhir jika Rahin meninggal
sebelum menyerahkan borg kepada murtahin. Juga dipandang batal jika murtahin
meninggal sebelum mengembalikan borgkepada Rahin.
3. Borg rusak
4. Tasharruf dan Borg
Rahn dipandang habis apabila borg ditasharrufkan seperti dijadikan hadiah,
hibah, sedekah, dan lain-lain atau jin pemiliknya.71
71
Al-Faqih Abdul Wahid Muhammad bin Achmad bin Muhammad ibnu Rusyd, Bidayatul
Mujtahid, alih bahasa: Imam Ghazali Syaid, Achmad Zaidun, (Jakarta: Pustaka Imani, 2007), Cet. 3,
hal. 207.
BAB III
PRAKTIK GADAI DI KECAMATAN TAPOS KOTA DEPOK
A.
Letak Geografis kecamatan Tapos Kota Depok
Wilayah Kecamatan Tapos merupakan salah satu Kecamatan terletak di
Wilayah Kota Depok, provinsi Jawa Barat, dengan batas wilayah Kecamatan Tapos
adalah sebagai berikut:
1. Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Cimanggis dan Kota Bekasi
2. Sebelah Timur berbatasan dengan Cikeas Kabupaten Bogor
3. Sebelah Selatan berbatasan dengan Cibinong Kabupaten Bogor
4. Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Cimanggis dan Kecamatan
Sukmajaya.72
Kecamatan Tapos ini baru berdiri pada tahun 2009 yang merupakan
pemekaran dari Kecamatan Cimanggis, Kecamatan Tapos terdiri dari 7 kelurahan
yaitu:73
1. Kelurahan Tapos
2. Kelurahan Sukatani
3. Kelurahan Cilangkap
4. Kelurahan Sukamaju Baru
5. Kelurahan Leuwinanggung
6. Kelurahan Jatijajar
7. Kelurahan Cimpaeun
72
muchsin, Camat Tapos, Wawancara Pribadi, di Kecamatan Tapos, 4 Juli 2014.
Buku Informasi Kependudukan Kota Depok, September 2013.
73
39
40
Kecamatan Tapos mempunyai 7 Kelurahan, 622 RT, 127 RW, secara umum
Kecamatan Tapos juga mempunyai luas wilayah secara keseluruhan seluas 3342,00
Ha. Berikut ini data penggunaan lahan di Kecamatan Tapos terdiri dari:
1. Luas lahan yang terbangun
: 1197,94 Ha
2. Luas lahan non terbangun
: 2141,61 Ha
Lahan terbangun terdiri dari pemukiman, perindustrian, perdagangan jasa
perkantoran, fasos fasum, lapangan, gedung masjid.Sedangkan, lahan non terbangun
terdiri dari danau, situ, sawah teknis irigasi, sawah non teknis, belukar/tanah kosong.
Ladang/kebun, hutan kota, lapangan golf, sungai, kuburan, empang, jalan. 74 Di
kecamatan tapos ini masih banyak ditemukan sawah, lahan perkebunan, tanah
kosong, dan memiliki wilayah yang mempunyai daya dukung rendah seperti lereng
yang curam dan rawan longsor.
B.
Sekilas Kondisi Masyarakat Kecamatan Tapos Kota Depok
Berdasarkan data monografi penduduk Kecamatan Tapos dengan tanah
seluas 3342,00 Ha, dihuni oleh 77.404 kk, serta keseluruhan jumlah penduduk
sebanyak 257.693 orang , yang terdiri dari 135.647 laki-laki dan 129.948 wanita.
Untuk lebihjelasnya jumlah penduduk Kecamatan Tapos Berdasarkan masing-masing
kelurahan adalah sebagai berikut:75
74
Data Monografi Kecamatan Tapos Kota Depok , data RT/RW Tahun 2009.
Data SIAK ( Sistem Informasi Administrasi Kependudukan), Provinsi Jawa Barat Kota
Depok, Kecamatan Tapos.
75
41
Tabel 3.1, berdasarkan setiap kelurahan
No
Kelurahan
KK
Laki-laki
Prempuan
Jumlah
1
Tapos
4.980
8.320
7.811
16.131
2
Leuwinanggung
4.638
7.883
7.293
15.126
3
Sukatani
17.555
30.663
29.732
60.395
4
Sukamaju Baru
14.200
25.149
23.915
49.064
5
Jatijajar
12.362
22.282
21.198
43.480
6
Cilangkap
15.756
27.725
27.216
54.941
7
Cimpaeun
7.913
13.675
12.783
26.458
Jumlah
77.404
135.647
129.948
265.595
Dilihat dari data statistik di atas jumlah penduduk Kecamatan Tapos lebih
banyak laki-laki dibandingkan perempuan.Kendati demikian dengan melihat data
struktur yang diperolehdari arsip monografi, 76 penulis dapat mengelompokkan
keadaan pendudukKecamatan Tapos dari beberapa bidang antara lain :
1. Bidang Sosial Budaya
Seperti wilayah Kecamatan lainnya, walaupun Kecamatan Tapos baru
didirikan pada tahun 2009, tetapi seperti kebanyakan wilayah perkampungan di
Indonesia pada umumnya, bahwa nilai sosialdan rasa solidaritas masyarakat di
Kecamatan Tapos masih sangat tinggi dan masih membudaya ditengah-tengah
76
Visi-Misi Rencana pembangunan jangka menengah tahun 2013-2016 Kota Depok.
42
perilaku kehidupan sehari-hari.Nilai-nilai kebersamaan dalam masyarakat ini sangat
terlihat seperti halnyadalam rangka membangun, memperbaiki sarana dan prasarana
umum, seperti masjid, mushalla,perbaikan jalan, pos kamling dan kegiatan-kegiatan
lainnya secara gotong-royong, serta membina kebersihan lingkungan seperti
membersihkan jalan umum, membersihkan got/ solokan, serta membuat Tempat
pembuangan akhir sampah, membuat taman kota.
Dengan demikian, masyarakat Kecamatan Tapos masih memiliki nilai-nilai
kemasyarakatan yang mencerminkanmasyarakat yang berbudaya dari dimensi
kegotongroyongan
dankebersamaan.Serta
dikarenakan
kepadatan
penduduk
Kecamatan Tapos cenderung sedang, maka sangat baik untuk mengembangkan suatu
kegiatan pemberdayaan masyarakat dalam rangka menegakkan kehidupan beragama,
ekonomi, sosial dan budaya.Dimana aspek sosial kemasyarakatannya tidak terlalu
kompleks seperti pada Kecamatan yang kepadatan penduduknya tinggi.
Di Kecamatan Tapos juga terdapat kelas-kelas sosial, yang membedakan
lapisan satu dengan yang lainnya seperti Lapisan masyarakat, petani, pedagang,buruh
industri, Pejabat, pengusaha dan lapisan tokoh agama.Meskipun terdapat kelas sosial
tetapi tidak ada garis pembatas, tidak ada jarak ataupun penghalang untuk tetap
berkomunikasi satu sama lain, karena masih sangat kentalnya adat budaya yang
menjadi kebiasaan di Kecamatan Tapos ini.
2. Keagamaan
Dengan melihat data statistik tabel berdasarkan jumlah penduduk menurut
agama, maka dapat dikatakan bahwa mayoritas masyarakat
Kecamatan Tapos
43
pemeluk agama Islam,
77
meskipun pemerintah kota Depok telah melakukan
sosialisasi dan penyuluhan untuk menangkal menjamurnya praktik gadai yang tidak
didasari syariat Islam tetapi dapat dipastikan akan merugikan masyarakat yang
melakukan praktik gadai tersebut, karena tidak adanya payung hukum yang secara
tegas mengatur gadai.
Dapat penulis katakan upaya pemerintah kota Depok belum maksimal jika
hanya melakukan sosialisasi dan penyuluhan saja, seharusnya ditingkatkan menjadi
sebuah pembahasan dengan kementerian agama, dan anggota DPRD kota Depok agar
dapat muncul bukti konkrit peran pemerintah dalam upaya melindungi masyarakatnya
dalam hal ini masyarakat yang beragama Islam secara khusus dan umumnya bagi
masyarakat pemeluk agama lain.
Tabel 3.2. Jumlah penduduk menurut agama
AGAMA
No
Kelurahan
Islam
Kristen
Kristen
Protesta
Khatolik
Hindu
Budha
Khong
lainn
Huchu
ya
1
Tapos
15.658
314
41
1
70
47
0
2
Leuwinan
14.662
313
128
15
7
0
1
53.538
4.684
1.766
202
194
10
1
ggung
3
Sukatani
77
Buku Informasi Kependudukan Kota Depok, September 2013.
44
4
Sukamaju
44.360
3.443
977
57
93
134
0
baru
5
Jatijajar
39.980
2.305
787
50
217
134
7
6
Cilangkap
52.092
1.890
602
23
109
224
0
7
Cimpaeun
25.441
688
240
31
52
6
0
245.731
13.637
4.541
379
742
555
9
Total
3. Bidang Ekonomi
Keadaan ekonomi masyarakat Kecamatan Tapos sebagian besar di
topangoleh hasil pertanian dan persawahan, dan pengembangan peternakan.Serta
adanya masyarakat di suatu wilayah juga sangat mempengaruhikeberhasilan
program-program pemerintah, hingga dapat memberikan mempengaruhi bagi
kesejahteraan masyarakat.
Disamping itu keadaan ekonomi masyarakat Kecamatan Tapos juga di
topang oleh sumber-sumber lainnya seperti petani, peternak, pedagang, Penjahit,
buruh, APN, PNS, karyawan, guru swasta, supir dan sebagainya.
Dengan rincian 40% masyarakat Kecamatan Tapos mengandalkan
kebutuhan sehari-harinya dari hasil pertanian, dengan cara menjadi petani, baik dari
hasil sawah maupun dari hewan ternak. Selanjutnya 30% lainnya masyarakat
45
Kecamatan Taposbermata pencarian sebagai pegawai swasta, dan 30% lagi bekerja
sebagai buruh harian lepas.78
Dari fakta tersebut di atas menunjukan sangatlah mungkin banyak terjadi
praktik Gadai yang penulis prediksikan di awal, yang bermata pencarian sebagai
petani melakukan praktik gadai untuk meningkatkan hasil pertaniannya guna
meningkatkan omset perharinya. Sedangkan yang bermata pencarian sebagai pegawai
swasta dan buruh harian lepas yang notabenenya memiliki penghasilan yang tetap
namun tidak adanya kepastian soal masa depan seperti dana pensiun, tunjangantunjangan, seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), pegawai swasta dan buruh
harian lepas merupakan golongan masyarakat yang juga bersentuhan langsung
dengan praktik gadai yang penulis ungkapkan dikarenakan adnaya sistem kontrak dan
potongan dari out sourcing, sehingga mereka sangat membutuhkan dana cepat untuk
menutupi kebutuhan sehari-hari yang semakin mendesak menurut pengamatan yang
penulis lakukan di lapangan gadai adalah solusi tercepat untuk bisa mendapatkan
dana segar yang didapat tanpa ada syarat yang berbelit, ini penulis ungkapkan
dikarenakan penulis banyak melihat fhamplet dan selembaran berupa brosur yang
dikemas sedemikian rupa sehingga menarik para calon pelaku gadai ini untuk tertarik
menggunakan jasa dari penyedia gadai tersebut, tanpa melihat ketentuan yang
ditawarkan oleh penyedia jasa gadai.
78
Ues Supriyadi, Sekretaris Kecamatan Tapos, Wawancar Pribadi, di Kecamatan Tapos,
pada tanggal 4 juli 2014.
46
C.
Mekanisme praktik gadai di masyarakat Kecamatan Tapos Kota Depok.
Di Kecamatan Tapos sering sekali terjadi transaksi gadai dengan cara
menggadaikan sertifikat rumah, dan Tanah, ini dilakukan oleh masyarakat yang
bermata pencaharian sebagai petani, sedangkan bagi para pegawai swasta dan buruh
harian lepas lebih banyak meminjam sejumlah uang dengan menggadaikan barangbarang berharga miliknya yang masih memiliki nilai jual seperti handphone, Ipad,
kendaraan, dan alat-alat elektronik lainnya.
Selama masa gadai yang terjadi pada masyarakat Kecamatan Tapos hak
pemegang barang gadai tersebut berada dalam kekuasaan murtahin (pihak pemegang
gadai) dan mereka pada umumnya memanfaatkan barang gadai dalam kehidupan
sehari-hari. Sehingga hal ini berdampak pada kerusakan barang gadai tanpa adanya
tanggung jawab dari murtahin, meski pun dengan adanya perjanjian taupun tanpa
perjanjian dan kebutuhan rahin yang mendesak yang menjadikan murtahin selalu
memanfaatkan barang gadai tanpa menghiraukan kerusakannya, serta bunga yang
diminta murtahin kepada pihak rahin.
Dengan ini penulis mencoba mencari fakta terkait tata cara atau mekanisme
praktik gadai yang dilakukan masyarakat kecamatan Tapos kota Depok yang penulis
temukan di beberapa kelurahan yang berada di bawah wilayah Kecamatan Tapos.
1. Transaksi gadai yang dilakukan oleh ibu Lia (murtahin) dan bapak Effendi (rahin)
pada tanggal 8 Juli 2014.
Menurut wawancara yang penulis lakukan dengan ibu Lia: Bapak Effendi
yang seorang buruh harian lepas (buruh bangunan) menggadaikan sebuah Ipad yang
47
harganya Rp. 8.000.000 (dua belas juta rupiah) untuk mendapatkan uang kepada ibu
Lia sebesar Rp. 1.200.000 (satu juta lima ratus ribu rupiah). Bapak Effendi berjanji
kepada ibu Lia secara lisan akan mengembalikan pinjamannya dalam jangka waktu 2
minggu, namun bila dalam jangka waktu tersebut tidak dapat mengembalikan
pinjamannya dengan sukarela Ipad yang menjadi objek gadainya menjadi hak
milikibu Lia sebagai murtahin. Akan tetapi sebelum jatuh tempo yang disepakati,
Ipad yang menjadi objek gadai digunakan sebagai mainan anak saya dan saya
sendiri.79
2. Transaksi gadai yang dilakukan oleh bapak Asam (Murtahin) dan bapak Tapsur
(rahin) pada tanggal 19 Agustus 2000.
Menurut wawancara yang Penulis lakukan kepada bapak Asam: beliau
pernah melakukan praktik gadai menjadi orang yang menerima barang gadai, pada
waktu itu bapak Tapsur sedang membutuhkan uang untuk kebutuhan mendesak lalu
bapak Asam memberikan pinjaman uang sebesar Rp. 10.000.000,- (sepuluh juta
rupiah) dan bapak Tapsur memberikan barang jaminan mobil kepada bapak Asam,
dan tidak adanya batas waktu yang ditentukan. Terlebih kerena bapak Asam juga
membutuhkan transportasi untuk bekerja, maka bapak Asam memanfaatkan barang
tersebut, tetapi selang waktu 1 tahun ada seorang sekelompok Polisi mendatangi
bapak Asam dan memberi tahu kalau ternyata mobil itu mau ditarik lissing karena
mobil itu tidak dibayar-bayar uang kreditnya oleh bapak Tapsur, akhirnya bapak
79
Hasil wawancara dengan ibu Lia, warga Kelurahan Tapos Kecamatan Tapos Pada tanggal
12 Juli 2014.
48
Tapsur membayar hutang pinjamannya hanya Rp. 7.000.000,- berkurang nominalnya
dari uang yang pertama kali bapak pinjamkan ke bapak Tapsur.80
3. Transaksi gadai yang dilakukan oleh bapak Ramlan (Rahin) kepada bapak Gani
(Murtahin) yang terjadi pada tanggal 27 Juni 2012.
Menurut wawancara yang Penulis lakukan dengan bapak Ramlan: pada
waktu itu bapak Ramlan yang bekerja sebagai karyawan swasta merasa kesulitan
membayar tunggakan kredit motor selama 3 bulan,
bapak Ramlan juga
membutuhkan uang mendesak untuk membayar uang sekolah anaknya, lalu beliau
meminjam uang sebesar Rp. 3.000.000,- kepada bapak Gani (pemegang gadai) dalam
tempo 2 bulan dengan perjanjian secara lisan dan sebagai jaminannya bapak Ramlan
menyerahkan sepeda motor yang masih kredit itu, bapak Gani tetap meminta bunga
kepada bapak Ramlan sebesar Rp.50.000,- perbulannya, dan juga memanfaatkan
motor tersebut sebagai transportasi sehari-harinya, sampai bapak Ramlan dapat
menebus
barang
yang
digadaikan,
tetapi
meskipun
bapak
Ramlan
telat
mengembalikan uang pinjamannya kepada bapak Gani tapi barang tersebut
diserahkan kembali oleh bapak Ramlan.81
4. Transaksi gadai yang dilakukan oleh ibu Aminah (rahin) kepada bapak H. Eos
(Murtahin) pada tanggal 20 februari 2009.
80
Hasil wawancara Bapak Asam, warga kelurahan Sukatani kecamatan Tapos pada tanggal
16 Juli 2014.
81
Hasil wawancawa dengan bapak Ramlan, warga Kelurahan Jatijajar, pada tanggal 15 Juli
2014.
49
Menurut wawancara yang Penulis lakukan dengan ibu Aminah: Ibu Aminah
pernah menggadaikan sertifikat rumah kepada bapak H. Eos untuk mendapatkan
pinjaman uang sebesar Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah) pada waktu itu
beliau sangat membutuhkan banyak uang untuk membayar biaya operasi anaknya.
dengan perjanjian secara lisan dan dalam jangka waktu 6 bulan, jika tidak
membayarnya maka rumah itu menjadi milik bapak H. Eos. Pada waktu itu ibu
Aminah tidak mampu membayar uang pinjamannya yang sangat besar, beliau
mengadu kepada pemerintah Kecamatan bahwa rumahnya akan diambil paksa tetapi
setelah di bicarakan bersama-sama secara damai akhirnya rumah ibu Aminah hanya
dijual hanya dibagi dua dengan bapak H. Eos dari hasil penjualan rumah.82
5. Transaksi gadai yang dilakukan oleh ibu Laras (Murtahin) kepada bapak Ahmad
(Rahin) pada tanggal 12 Maret 2014
Setelah melakukan wawancara dengan ibu Laras, beliau pernah melakukan
praktik gadai sebagai penerima barang gadaian. Pada waktu itu bapak Ahmad
membutuhkan pinjaman uang dari ibu Laras dengan memberikan jaminan berupa
motor. Ibu Laras memberikan pinjaman uang sejumlah Rp. 2.000.000,- kepada bapak
Ahmad, karena tidak adanya batas waktu pembayarannya dengan demikian suami
dari ibu Laras pun menggunakan motor jaminan tersebut untuk berdagang sayuran
keliling. Sampai bapak Ahmad bisa mengembalikan uang pinjaman tersebut.ibu
82
2014.
Hasil wawancara dengan ibu Aminah warga Kelurahan cimpaeun, pada tanggal 5 Juli
50
Laras beralasan karena beliau sudah memberikan pinjaman uang kepada pemilik
barang ini.83
6. Transaksi gadai yang dilakukan oleh Lukman (Murtahin) kepada bapak Niman
(Rahin) pada tanggal 20 November 2011.
Menurut hasil wawancara yang penulis lakukan dengan bapak Lukman
beliau mengatakan bahwa beliau pernah melakukan praktik gadai sebagai penerima
barang gadai, waktu itu bapak Niman sedang membutuhkan uang untuk membayar
hutang-hutang anaknya sebesar Rp.75.000.000,- (tujuh puluh lima juta rupiah)
dengan memberi jaminan 3 ruko milik bapak Niman. Dalam tempo 1 tahun, dan
selama setahun itu bapak Lukman memanfaatkan ruko tersebut untuk disewakan ke
orang lain, dan keuntungan dari menyewakan itu milik pribadi sebab beliau beralasan
dari pada ruko itu kosong tidak ada yang menempati maka lebih baik disewakan agar
lebih bermanfaat dan menghasilkan keuntungan.84
D.
Latar belakang terjadinya praktik pemanfaatan barang gadai di kecamatan
Tapos kota Depok.
Praktik pemanfaatan barang gadai tersebut terjadi berdasarkan latar belakang
dan motivasi/faktor tertentu, maka faktor-faktor yang melatar belakangi terjadinya
pemanfaatan barang gadai antara lain:
83
Hasil Wawancara dengan ibu laras Warga Kelurahan Lewinanggung pada tanggal 14 Juli
84
Hasil wawancara bapak Lukman, warga kelurahan Sukamaju Baru, pada tanggal 5 Juli
2014.
2014
51
1. Karena faktor ekonomi
Seperti yang sudah penulis jelaskan bahwa pada umumnya masyarakat
Kecamatan Tapos ini 40% berprofesi sebagai Petani, dan 60% berprofesi sebagai
buruh harian lepas dan pegawai swasta. Mereka beranggapan bahwa menggadai di
perum pegadaian persyaratan yang berbelit, hasil yang didapat tidak sesuai dengan
yang didapat, keharusan melunasi uang pinjaman tepat pada waktunya.Sehingga
membuat masyarakat Kecamatan Tapos merasa lebih cocok melakukan gadai kepada
perorangan dari pada lembaga yang telah dibentuk oleh pemerintah, sebab dengan
begitu mereka bisa mendapatkan uang pinjaman dengan syarat yang tidak berbelit,
tidak didesak untuk membayar uang pinjaman tepat waktu.
2. Faktor sosial dan kebiasaan masyarakat (urf)
Sesuai dengan informasi yang penulis dapatkan dari masyarakat Kecamatan
Tapos, dapat penulis simpulkan setiap masyarakat Kecamatan Tapos yang menggadai
dan pemegang gadai ini keduanya saling membutuhkan. Bagi mereka yang
menggadaikan merasa sulit untuk memperoleh pinjaman dana yang cepat untuk
mencukupi kebutuhan sehari-harinya jika harus menggadaikan barang atau surat-surat
berharga pada lembaga atau pun bank. Selain itu pinjaman uang harus dikembalikan
tepat waktu kepada lembaga atau bank dengan disertai bunga yang besar, sehingga
mereka lebih memilih menggadaikan barang yang mereka punya kepada orang yang
lebih mereka percaya seperti tetangga, sanak saudara atau pun orang yang mereka
kenal.Meskipun dalam perjanjian jangka waktu sudah ditentukan, tetapi terkadang
mereka bisa mengambil barang yang mereka gadai kapan pun sampai mereka mampu
52
menebusnya kembali.Begitu pula mereka yang penerima barang gadai mereka juga
membutuhkan barang gadaian itu, untuk keperluannya sehari-hari, itu sudah menjadi
hukum adat pada masyarakat Kecamatan Tapos ini.
Oleh sebab itu, praktik gadai yang sering terjadi di masyarakat Kecamatan
Tapos ini sudah menjadi adat kebiasaan dan sulit untuk dihilangkan meskipun dalam
praktik gadai tersebut ada kerancuan mengenai barang yang digadaikan dan adanya
unsur kecurangan dan pemanfaatan barang gadaian yang disalah gunakan namun
mereka berpedoman untuk saling percaya dan saling tolong-menolong, dan sampai
sekarang pun mereka masih melakukan praktik gadai dengan cara seperti itu.
BAB IV
ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PRAKTIK GADAI DI
KECAMATAN TAPOS KOTA DEPOK
A.
Tinjauan Hukum Islam terhadap Mekanisme gadai yang terjadi di masyarakat
Kecamatan Tapos Kota Depok.
Setelah data terkumpul dari permasalahan yang terjadi dikalangan
masyarakat Kecamatan Tapos maka penulis dapat menarik beberapa mekanisme
pegadaian yang penulis temukan saat melakukan wawancara dan meninjau lansung
ke lapangan di tempat penulis melakukan penelitian ini, pada dasarnya seluruh kasus
yang penulis temukan telah memenuhi unsur-unsur gadai menurut syara‟ baik rukun
maupun syarat melakukan praktik gadai diantaranya:
a. Lafadz yaitu pernyataan perjanjian gadai yang dapat dilakukan dengan cara
tertulis maupun cukup secara lisan.
b. Pemberi dan Penerima Gadai yaitu baik pemberi maupun Penerima barang
gadai haruslah merupakan seorang yang berakal dan telah akil baligh sehingga
dianggap telah cakap melakukan perbuatan hukum sesuai dengan syariat Islam.
c. Barang yang digadaikan yaitu barang gadai haruslah ada pada saat perjanjian
gadai dilakukan dan barang gadai itu milik pemberi gadai (rahin), dan barang
gadaian itu haruslah berada dibawah pengawasan penerima gadai.
53
54
d. Adanya utang yang bersifat tetap, tidak berubah dengan tambahan bunga atau
mengandung unsur riba.85
Namun yang menjadi persoalan adalah akad dan perjanjian yang dilakukan
oleh masyarakat di Kecamatan Tapos kota Depok, Jawa Barat dari seluruh praktik
gadai yang penulis temukan terdapat unsur riba dan pemanfaatan atas barang yang di
gadaikan, sehingga rukun dan syarat gadai yang telah terpenuhi tetap tidak
berpengaruh sebagai pedoman dan tata cara melakukan praktik gadai di kalangan
masyarakat Kecamatan Tapos, Depok, karena akad dalam transaksi gadai sangatlah
penting dan menjadi ujung tombak dalam sah atau tidaknya suatu transaksi gadai
yang dilakukan oleh Rahin dan Murtahin, apabila akadnya saja telah salah maka bisa
dipastikan praktik gadai tersebut akan merugikan salah satu antara rahin atau tidak
menutup kemungkinan murtahin yang dirugikan.
Dari hasil penelitian dan wawancara penulis mekanisme Praktik gadai
tersebut timbul karena adanya adat kebiasaan yang salah yang tidak sesuai dengan
syariat Islam. tetapi masih sering diterapkan dikehidupan masyarakat Kecamatan
Tapos, sangatlah jelas terlihat bahwa praktik gadai pada masyarakat di Kecamatan
Tapos Kota Depok kesalahan dalam melakukan akad gadai atau perjanjian gadai.
Meskipun dalam akad atau perjanjian rahin mengizinkan ataupun tidak mengizinkan
barang gadaian boleh dipergunakan. Akan tetapi, murtahin tetap tidak boleh
menggunakan atau memanfaatkan barang gadaian tersebut karena ini berkaitan
dengan keharaman mempergunakan atau mengambil manfaat barang gadai itu
85
Ahmad Sarwat, Fikih Sehari-hari, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, tth), hal. 93.
55
diharamkan oleh syara‟. 86 Maka pasti praktik gadai tersebut akan merugikan salah
satu pihak. Seperti yang di riwayatkan oleh Anas bin Malik Radhiallahu „anhu:
ّ‫مثه‬ٚ ‫ش كثٓا ٔال‬ٚ ‫ار الشض احذكى لشضا فاْذٖ نّ أحًهّ ػهٗ انذاتح فال‬
Artinya: “Apabila kamu menghutangkan sesuatu kepada orang lain,
kemudian (orang yang berhutang) memberi hadiah kepada yang menghutangi
atau memberi layanan berupa naik kendaraannya (dengan gratis), janganlah
menaikinya dan janganlah menerimanya.” (HR. Ibnu Majjah; hadits ini
mempunyai beberapa penguat)
B.
Tinjauan Hukum Islam terhadap praktik pemanfaatan barang gadai di
masyarakat Kecamatan Tapos Kota Depok
Dalam pengambilan manfaat barang gadai diperbolehkan dengan syarat
sekedar pengganti biaya perawatannya, apabila barang yang digadaikan bisa
dimanfaatkan, sedangkan barang tersebut membutuhkan biaya perawatan dan pemilik
barang tidak memberi biaya perawatannya maka pemegang barang boleh
memanfaatkannya, akan tetapi hanya sebatas atau seimbang dengan biaya yang
dikeluarkan untuk keperluan memelihara barang tersebut.
Hal tersebut dijelaskan dalam hadits yaitu:
‫ انظٓش‬:‫ّ ٔ عهى‬ٛ‫ اهلل ػه‬ٙ‫ اهلل ػُّ لال سعٕل اهلل صه‬ٙ‫شج سض‬ٚ‫ ْش‬ٙ‫ٔػٍ ا ت‬
ٖ‫ؾشب تُفمرّ ارا كاٌ يشَْٕا ٔػهٗ انز‬ٚ ‫شكة تُفمرّ ا را كاٌ يشَْٕا ٔ نثٍ انذس‬ٚ
)٘‫ؾشب انُفمح (سٔاِ انثخاس‬ٚٔ ‫شكة‬ٚ
Artinya: “Abu Hurairah r.a. berkata, bahwa Rasulullah SAW. Bersabda:
binatang tunggangan yang dirungguhkan atau diborongkan harus
ditunggangi dipakai, disebabkan ia harus dibayar, air susunya
boleh diminum diperas untuk pembayaran ongkosnya, orang yang
86
Ghufron A. Mas‟adi, Fiqh Muamalah Kontekstual, (Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada,2002), hal. 178.
56
menunggangi dan meminum air susunya harus membayar biaya
perawatannya.”87(HR. Bukhari)
Dari hadits di atas menjelaskan bahwa murtahin boleh memanfaatkan
barang gadai dengan syarat harus seimbang dengan pemakaian/pemanfaatan barang
dengan biaya yang dikeluarkan untuk biaya perawatan barang tersebut, dan tidak
boleh berlaku zhalim atau sampai membahayakan barang gadai tersebut. Hal ini
sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Imam Hanbali.
Imam Hanbali berpendapat bahwa apabila yang dijadikan barang jaminan itu
adalah hewan, maka pemegang barang jaminan berhak untuk mengambil susunya dan
mempergunakanya, sesuai dengan jumlah biaya pemiliharaan yang dikeluarkan
pemegang barang jaminan.88
Tetapi praktik gadai yang terjadi dikalangan masyarakat Kecamatan Tapos
Kota Depok dari hasil penelitian penulis bahwa praktik gadai yang terjadi yaitu
mengambil unsur pemanfaatan barang gadai secara berlebihan, murtahin bukan hanya
memakai barang gadaian milik rahin, tapi sering pula mereka menyewakan barang
gadaian milik rahin ke orang lain.
Sehingga pemanfaatan yang terjadi dapat mengakibatkan kerusakan terhadap
barang gadai tersebut yang nantinya akan mengurangi nilai dari barang gadai
tersebut. Seperti kasus bapak Lukman (murtahin) dan bapak Niman (Rahin), Bapak
Lukman Pernah menerima barang gadaian dari bapak Niman sebab pada waktu itu
87
Imam Hafidz Ahmad bin ali bin hajjar Al-Asqalani, Fathul Al-Bari, (Beirut: Dar AlKotob Al-ilmiyah, 2003), Cet. 1, hal. 32.
88
Ibnu Qudamah, Al-Mughni., (Beirut: Dar al-Kitab Al-„Araby,1980), Jil. 6, hal. 432-433.
57
bapak Niman membutuhkan uang Rp.75.000.000,- (tujuh puluh lima juta rupiah)
dengan memberi jaminan 3 ruko miliknya kepada bapak Lukman, Dalam tempo 1
tahun dan selama setahun itu bapak Lukman memanfaatkan ruko tersebut untuk
disewakan ke orang lain, dan keuntungan dari menyewakan itu milik pribadi sebab
beliau beralasan dari pada ruko itu kosong tidak ada yang menempati maka lebih baik
disewakan agar lebih bermanfaat dan menghasilkan keuntungan.
Pendapat Imam Malik yang membolehkan murtahin memanfaatkan barang
gadai memilki banyak kekurangan dan berdampak pada kerugian salah satu pihak
dalam hal ini rahin karena dapat dipastikan bila murtahin memanfaatkan barang gadai
tersebut akan mengurangi nilai dari barang yang digadaikan dan bila di
implementasikan dalam kasus bapak Lukman (murtahin) yang memindah tangankan
kembali barang gadai yang dipegang olehnya dangan cara menyewakan kepada orang
lain, maka praktik gadai yang dilakukan oleh bapak Lukman terkandung unsur riba
didalamnya dan akan membahayakan barang gadai tersebut.
Menurut Ulama Maliki gadai wajib dengan akad (setelah akad) pemberi
gadai (rahin) dipaksakan untuk menyerahkan marhun untuk dipegang oleh penerima
gadai (murtahin).Jika marhun sudah berada di tangan pemegang gadaian (murtahin),
diperbolehkannya murtahin memanfaatkan barang gadai atas izin rahin atau
disyaratkan ketika akad dan pemberi gadai (rahin) juga mempunyai hak
memanfatkan.89
89
Isnawati Rais dan Hasanudin, Fiqh Muamalah dan aplikasinya pada lembaga keuangan
Syariah, (Jakarta: Lembaga peneliti UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2011), Cet. 1, hal. 227.
58
Pendapat Imam Maliki dalam hal gadai yang membolehkan murtahin untuk
memanfaatkan barang gadai dengan syarat dibolehkan dan diberi izin oleh Rahin,
sangat bertentangan dengan pendapat dari Imam Syafi‟i yang tidak membolehkan
barang gadai dimanfaatkan oleh murtahin karena berkaitan dengan keharaman untuk
mengambil manfaat atas utang yang termasuk riba.
Adapun menurut pendapat Imam Syafi‟i pemanfaatan barang gadai tidak
terkait dengan adanya izin, akan tetapi ini berkaitan dengan keharaman pengambilan
manfaat atas utang yang tergolong riba. Yang mana riba diharamkan oleh syara‟.90
Serta hak memanfaatkan berlaku selama tidak merugikan/membahayakan penerima
gadai (murtahin).91
padahal mengambil keuntungan dan memanfaatkan barang gadaian sama
halnya dengan riba, seperti yang sudah dijelaskan didalam ayat Al-Quran Surat ArRuum ayat 39 Allah SWT berfirman:
                      
   
    
Artinya: Dan sesuatu Riba (tambahan) yang kamu berikan agar Dia
bertambah pada harta manusia, Maka Riba itu tidak menambah pada sisi
Allah. dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk
mencapai keridhaan Allah, Maka (yang berbuat demikian) Itulah orangorang yang melipat gandakan (pahalanya). (QS. Ar-Ruum 30/39)
90
Ghufron A. Mas‟adi, Fiqh Muamalah Kontekstual, (Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada,2002), hal. 178.
91
Sayyid sabiq Fikih Sunnah 12, Alih bahasa. H. Kamaluddin A Marjuki (Jakarta: Pustaka
Percetakan Offset,1998), hal. 141.
59
Maksud dari ayat di atas ialah memberikan tambahan ketika melunasi hutang
disamping pokoknya. Dengan kata lain seseorang dipaksa memberikan bunga dari
nilai pinjaman, karena itu Allah SWT katakan harta yang diperoleh dengan cara
seperti itu tidak bertambah disisi Allah SWT, melainkan akan menjadi malapetaka.92
Dan dalam hadits sudah dijelaskan yang berkaitan dengan praktik
pemanfaatan barang gadai yaitu:
: ِ‫حذَثََُا أَتُٕ ا ْنؼَثَاط‬
َ َ‫ػ ًْشٍٔ لَاال‬
َ ِٗ‫ذِ تٍُْ أَت‬ِٛ‫عؼ‬
َ ُٕ‫َأخْ َثشَََا أَتُٕ ػَ ْثذِ انهَِّ ا ْنحَافِظُ َٔأَت‬
ٍِْ‫َٗ ػٍَْ ػَ ْثذِ انهَِّ ت‬ْٛ‫ح‬َٚ ٍُْ‫ظُ ت‬ِٚ‫حذَثَُِٗ ِإ ْدس‬
َ ٍ‫ىُ تٍُْ يُُْ ِمز‬ِْٛ‫حذَثََُا إِ ْتشَا‬
َ َ‫ؼْمُٕب‬َٚ ٍُْ‫ح ًَذُ ت‬
َ ‫ُي‬
ٍِْ‫ثِِٗ ػٍَْ فَضَانَحَ ت‬ِٛ‫ة ػٍَْ أَتِٗ َي ْشصُٔقٍ ان ُرج‬ِٛ‫ذُ تٍُْ أَتِٗ حَث‬ِٚ‫ض‬َٚ َُِٗ‫حذَث‬
َ َ‫َاػٍ لَال‬َٛ‫ػ‬
َُٕٓ‫جشَ يَُْ َفؼَحً َف‬
َ ٍ‫ ُكمُ َل ْشض‬: َ‫ أَ َُّ لَال‬-‫ّ ٔعهى‬ٛ‫ صهٗ اهلل ػه‬- ِِٗ‫حةِ انَُث‬
ِ ‫ذٍ صَا‬ْٛ َ‫ػُث‬
93
.‫َٔجٌّْ يٍِْ ُٔجُٕ ِ انشِتَا‬
Artinya :“Dikabarkan dari Abu Abdillah al- Hafiz dan Abu Sai‟d bin abi amrin
“Abu Abbas mengabarkan kepada kami “muhamad bin ya‟kub
mengabarkan kepada Ibrahim bin munqij “ mengabarkan aku kepada
Idris bin yahya dari Fadholah bin u‟baidi sahabat Nabi SAW.
Sesungguhnya nabi berkata Setiap pinjaman yang menghasilkan
manfaat, maka itu termasuk riba.”(HR. al-Baihaqi).
Dalam hadits ini menjadi sangat penting dalam memahami riba, dimana
setiap keuntungan yang didapatkan dari transaksi utang-piutang, statusnya adalah
riba. keuntungan yang dimaksud
mencakup semua bentuk keuntungan, bahkan
sampai bentuk keuntungan pelayanan.
Dan sudah dijelaskan di bab II, gadai menurut pengertian bahasa adalah
menangguhkan atau jaminan. Jadi gadai bukan termasuk pada akad pemindahan hak
92
M.Thalib, Pedoman Wiraswasta dan Manajemen Islamy, (Solo: CV. Pustaka Mantiq,
1992) hal. 143
93
Imam Baihaqi, Sunan al- Kubra, juz 5, h, 350
60
milik. Tegasnya bukan pemilikan atas suatu benda dan bukan pula akad atas manfaat
benda atau sewa-menyewa, melainkan hanya sekedar jaminan untuk suatu utang
piutang.
Selain itu pula dalam persoalan ini, menurut jumhur ulama fiqh, selain
Hanabilah berpendapat bahwa pemegang barang jaminan tidak boleh memanfaatkan
barang jaminan karena barang itu bukan miliknya secara penuh. Hak pemegang
barang jaminan terhadap barang itu hanyalah sebagai jaminan piutang.94
Gadai dalam hukum Islam pada dasarnya berlandaskan asas ta‟awwun atau
tolong-menolong dan tidak boleh mengambil keuntungan sepihak, Hal ini didasarkan
pada firman Allah SWT surat Al-Maidah ayat 2:
 
        
     
               
             
  
             
      
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi'arsyi'ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan
(mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id,
dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah
sedang mereka mencari kurnia dan keredhaan dari Tuhannya dan apabila
kamu telah menyelesaikan ibadah haji, Maka bolehlah berburu. dan
janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka
94
Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia, Himpunan Fatwa Dewan Syari'ah
Nasional, Komplek Kejaksaan Agung Blok E1/3 Cipayung Ciputat, CV. Gaung Persada,
cet. ke-3, September 2006, hal. 153
61
menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat
aniaya (kepada mereka). dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan)
kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan
pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat
berat siksa-Nya. (QS. Al-Maidah: 2)
Berdasarkan firman Allah SWT diatas, apabila seseorang menolong orang
lain dalam urusan yang tidak baik (maksiat) maka hal tersebut bukanlah merupakan
pertolongan. Juga sebaliknya, jika seseorang menolong demi kebaikan dengan jalan
yang tidak sesuai prinsip kebaikan dan ketaqwaan, seperti memberikan pinjaman
dengan menggunakan uang hasil korupsi atau pinjaman dengan bunga, maka hal
demikian juga tidak dapat dikatakan sebagai usaha menolong dalam hukum Islam.95
Dengan demikian dalam praktik gadai pada masyarakat Kecamatan Tapos
Kota Depok dalam hal pemanfaatan dan mengambil keuntungan atau bunga,
meskipun pihak murtahin bermaksud untuk menolong, namun dalam kenyataannya
pihak murtahin meminta bunga dan memanfaatkan barang gadai selama rahin
meminjam uang. Maka menurut pandangan penulis ini tidak sah dan mengandung
unsur riba.
C.
Tinjauan Hukum Islam terhadap gadai yang berupa barang hutang.
Perbuatan yang dilakukan oleh seorang mukallaf baik yang berkenaan
dengan aspek ibadah maupun mu‟amalah dalam hal membuat akad ada yang sudah
sah dan yang belum memenuhi syarat, sehingga menjadi rusak. Sebab akad yang sah
adalah yang memenuhi syarat danrukun yang terkandung dalam akad tersebut.
95
Muhammad Syakir Sula, Asuransi Syariah (Life and General) konsep dan sistem
operasional, (Jakarta: Gema Insani, 2004), hal. 735-736.
62
Sebagaimana yang sudah penulis jabarkan sebelumnya di bab II mengenai
rukun dan syarat dalam gadai yaitu:
a). Shighat atau perkataan
Rukun gadai akan sah apabila disertai ijab dan qabul, sedangkan ijab dan
qabul adalah shighat aqdi atas perkataan yang menunjukkan kehendak kedua belah
pihak, seperti kata "Saya gadaikan ini kepada saudara untuk utangku yang sekian
kepada engkau", yang menerima gadai menjawab "Saya terima marhum ini" Shighat
aqdi memerlukan tiga syarat:
1) Harus terang pengertiannya
2) Harus bersesuaian antara ijab dan qabul
3) Memperlihatkan kesungguhan dari pihak-pihak yang bersangkutan.
b). Adanya pemberi gadai (rahin) dan penerima gadai (murtahin).
Pemberi gadai haruslah orang yang dewasa, berakal, bisa dipercaya, dan
memiliki barang yang akan digadaikan. Sedangkan penerima gadai adalah orang,
baik, atau lembaga yang dipercaya oleh rahin untuk mendapatkan modal dengan
jaminan barang (gadai).96
c). Adanya barang yang digadaikan (marhum).
Barang yang digadaikan harus ada wujud pada saat dilakukan perjanjian
gadai dan barang itu adalah barang milik si pemberi gadai (rahin), barang gadaian itu
kemudian berada dibawah pengawasan penerima gadai (murtahin).97
96
Heri Sudarsono, Bank dan Lembaga Keuangan syariah, (Yogyakarta: Ekonisia Kampus
Fakultas Ekonomi UII, 2004), hal.160.
97
Ahmad Sarwat, Fikih Sehari-hari, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, tth), hal. 93.
63
Dalam hubungan ini menurut pendapat ulama syafi”iyah barang yang
digadaikan itu memiliki tiga syarat:
1) Bukan utang, karena barang hutangan itu tidak dapat digadaikan
2) Penetapan kepemilikan penggadai atas barang yang digadaikan tidak terhalang.
3) Barang yang digadaikan bisa dijual apabila sudah tiba masa pelunasan hutang
gadai.98
d). Adanya hutang (marhum bih)
Hutang (marhum bih) merupakan hak yang wajib diberikan kepada
pemiliknya, yang memungkinkan pemanfaatannya (artinya apabila barang tersebut
tidak dapat dimanfaatkan, maka tidak sah), dan dapat dihitung jumlahnya. 99 Selain itu
hutang yang digunakan haruslah bersifat tetap, tidak berubah dengan tambahan bunga
atau mengandung unsur riba.100
Secara kasat mata praktik gadai di kalangan masyarakat Kecamatan Tapos
ini sudah sesuai dengan rukun dan syarat gadai dalam syariat Islam. Barang yang
menjadi
jaminan gadai secara hukum sah dan halal untuk digadaikan, namun
adakalanya praktik yang terjadi hukumnya menjadi tidak jelas. Dari hasil penelitian
dan wawancara penulis di lapangan Kesalahan praktik gadai yang dilakukan oleh
masyarakat di Kecamatan Tapos Kota Depok, bukan hanya terjadi dari kesalahan
Lafadz atau perjanjiannya saja namun yang penulis temukan ada juga praktik gadai
98
Al-Faqih Abdul Wahid Muhammad bin Achmad bin Muhammad Ibnu Rusyd, Bidayatul
Mujtahid, alih bahasa: Imam Ghazali Syaid, Achmad Zaidun, (Jakarta: Pustaka Imani, 2007), Cet. 3,
hal. 196.
99
Heri Sudarsono, Bank dan Lembaga Keuangan syariah, (Yogyakarta: Ekonisia Kampus
Fakultas Ekonomi UII, 2004), hal.161.
100
Chairuman Pasaribu, Suhwardi K.Lubis, Hukum Perjanjian Dalam Islam, (Jakarta: Sinar
Grafika, 1996) Cet. 2, hal. 142.
64
dengan menggunakan barang yang masih belum seluruhnya menjadi hak milik rahin
atau biasa disebut barangnya masih belum selesai diangsur (barang kredit), seperti
praktik gadai yang dilakukan oleh bapak Asam (murtahin) dengan bapak Tapsur
(rahin), bapak Ramlan (rahin) dengan bapak Gani (murtahin). Menurut hemat
penulis, para rahin menggadaikan barang gadaian (marhun) masih dalam keadaan
kredit. Hal ini berkenaan dengan kebutuhan rahin yang mendesak, dikarenakan
hutang yang belum dilunasi serta bunga yang semakin membengkak.
Sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-Qur‟an surah Al-Muthaffifii ayat 1:
   
Artinya: “kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang”.(QS. AlMuthaffifii: 1)
praktik gadai yang terjadi dengan menggunakan barang kredit ini jelaslah
sangat tidak sesuai dengan syariat Islam karena di dalamnya terdapat unsur penipuan
dan praktik yang terjadi tidak sesuai dengan rukun dan syarat gadai kaitannya dengan
(Ma‟qud „alaih) yaitu barang yang digadaikan berupa hutang serta masih dalam
proses pembayaran. Praktikgadai seperti ini akan mengakibatkan kerugian bagi
murtahin, dan sudah tentu barang tersebut tidak boleh menjadi barang jaminan karena
syarat menggadai barang adalah barang gadai tersebut harus benar-benar milik rahin.
BAB V
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Setelah penulis mendeskripsikan pembahasan secara keseluruhan sebagai
upaya menjawab pokok-pokok permasalahan dalam menyusun skripsi ini.penulis
menarik kesimpulan tentang praktik gadai yang terjadi di Kecamatan Tapos Kota
depok sebagai berikut:
1. Mekanisme gadai yang terjadi di masyarakat Kecamatan Tapos Kota Depok, pada
dasarnya seluruh kasus yang penulis temukan telah memenuhi unsur-unsur gadai
menurut syar‟i baik rukun maupun Syarat gadai. Tetapi seringnya terjadi pada
masyarakat Tapos Kota Depok adalah akad gadai tidak sempurna atau belum sesuai
syariat Islam. seluruh praktik gadai yang penulis temukan terdapat unsur riba dan
pemanfaatan atas barang yang di gadaikan, karena akad dalam transaksi gadai
sangatlah penting dan menjadi ujung tombak dalam sah atau tidaknya suatu transaksi
gadai yang dilakukan oleh Rahin dan Murtahin, apabila akadnya saja telah salah
maka bisa dipastikan praktik gadai tersebut akan merugikan salah satu antara rahin
atau tidak menutup kemungkinan murtahin yang di rugikan. Praktik gadai Pada
Masyarakat Kecamatan Tapos Kota Depok timbul karena adanya adat kebiasaan yang
salah yang tidak sesuai dengan syariat Islam. tetapi masih sering diterapkan
dikehidupan masyarakat Kecamatan Tapos, sangatlah jelas terlihat bahwa praktik
gadai pada masyarakat di Kecamatan Tapos Kota Depok adanya kesalahan dalam
melakukan akad gadai atau perjanjian gadai.
65
66
2. praktik pemanfaatan barang gadai di masyarakat Kecamatan Tapos Kota Depok,pada
praktik pemanfaatan barang gadai ini Kecenderungan dilakukan oleh pihak murtahin,
sebab berawal dari akad atau perkataan rahin yang sering kali berucap secara
langsung atau tidak langsung barang gadaian itu boleh dipergunakan atau
dimanfaatkan. Dan meskipun pihak murtahin bermaksud untuk menolong, namun
murtahin sering pula mengambil manfaat dari barang gadai dengan cara memakai
barang tersebut untuk kebutuhan pribadi maupun disewakan kembali pada orang lain
yang mengarah kepada tambahan. Disisi lain pihak murtahin meminta bunga yang
mengandung kezaliman pada rahin, sehingga praktek ini menunjukkan adanya unsur
riba.
3. gadai yang berupa barang hutang, hal seperti ini sering terjadi pada masyarakat
Kecamatan Tapos Kota Depok tidak sesuai dengan hukum Islam. Praktek gadai
tersebut dilihat dari ma‟qud alaih (barang yang digadaikan), tidak sesuai dengan
hukum Islam, yaitu barang gadai tersebut berupa hutang.Seperti pendapat ulama
syafi”iyah barang yang digadaikan itu memiliki tiga syarat:
1) Bukan utang, karena barang hutangan itu tidak dapat digadaikan
2) Penetapan kepemilikan penggadai atas barang yang digadaikan tidak terhalang.
3) Barang yang digadaikan bisa dijual apabila sudah tiba masa pelunasan hutang
gadai.
Seperti halnya dalam syarat gadai bahwa barang gadai tidak boleh ada tanggungan
dengan pihak lain atau milik sempurna. praktik gadai yang terjadi dengan
menggunakan barang kredit ini jelaslah sangat tidak sesuai dengan syariat Islam
67
karena di dalamnya terdapat unsur penipuan. Hal ini akan mengakibatkan kerugian
bagi murtahin, dan sudah tentu barang tersebut tidak boleh menjadi barang jaminan
karena syarat menggadai barang adalah barang gadai tersebut harus benar-benar milik
rahin.
B.
SARAN-SARAN
Dalam rangka kesempurnaan skripsi ini penulis sampaikan beberapa saran
yang berkaitan dengan pembahasan mengenai Praktik Gadai Pada masyarakat Di
Kecamatan Tapos Kota Depok sebagai berikut:
1. praktik gadai yang terjadi pada masyarakat di Kecamatan Tapos Kota Depok ini
harus diperhatikan akad yang diucapkan oleh rahin dan murtahin harus sesuai syariat
Islam,karena akad dalam transaksi gadai sangatlah penting dan menjadi ujung tombak
dalam sah atau tidaknya suatu transaksi gadai yang dilakukan oleh Rahin dan
Murtahin, apabila akadnya saja telah salah maka bisa dipastikan praktik gadai
tersebut akan merugikan salah satu antara rahin atau tidak menutup kemungkinan
murtahin yang di rugikan.
2. Manusia mempunyai hasrat hidup bersama, lebih-lebih dalam zaman modern ini,
tidak mungkin bagi seorang makhluk hidup secara layak dan sempurna tanpa bantuan
dari atau kerja sama dengan orang lain. Oleh sebab, itu kerja sama antara seorang
manusia merupakan sebuah kebutuhan, dan kebutuhan itu bisa berbagai hal, misalnya
dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak terlepas dari kehidupan berupa uang dan
mereka memiliki sejumlah barang yang dapat dinilai dengan uang. Salah satu
alternatif
yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan itu, yaitu dengan
68
menggadaikan barang tersebut. Kendati demikian seorang tidak diperbolehkan
menggunakan cara bermu‟amalah yang dapat menimbulkan kerugian, kecurangan
pada pihak lain dan melakukan cara-cara yang dilarang syara‟. Demikiaan pula
praktik gadai pada masyarakat Kecamatan Tapos Kota Depok, banyaknya pihak
murtahin memanfaatkan barang gadaian dengan cara dipakai secara pribadi atau
disewakan kembali ke orang lain. Praktek itu sangat rentan dengan pemerasan,
kecurangan dan penipuan sehingga dapat berakibat merugikan pihak-pihak lain, baik
rahin atau pun pihak lainnya.
3. Bagi rahin, hendaklah lebih berhati-hati dan pintar pintarlah dalammemilah-milah
mana praktek yang diridhoi oleh Allah atau sesuai dengansyara‟ dan mana yang
dilarang oleh syara‟mengingat sekarang ini banyaksekali cara bermu‟amalah yang
menarik dan menguntungkan akan tetapi kenyataannya tidaklah demikian. Itu semua
bisa menjadi kecuranganataupun penipuan dimana sulit untuk membedakannya.
4. Bagi murtahin yang memanfaatkan barang gadai tersebut, meskipun ada perjanjian
atau tanpa adanya perjanjian, adanya penarikan tambahan, serta memanfaatkan
barang tersebut untuk disewakan, ataupun dimanfaatkan keperluan lainnya. Bagi
masyarakat pada umumnya dan khususnya bagi masyarakat Kecamatan Tapos yang
melakukan praktik gadai, mulailah melakukan praktik gadai yang sesuai dengan
syariat Islam gunakanlah aturan-aturan yang sesuai denganpandangan dan dibenarkan
oleh agama serta tidak merugikan masyarakat yang membutuhkan pertolongan.
5. Dalam pelakaksanaan praktek gadai prinsip ta‟awwun (Tolong-menolong) jangan
sampai terabaikan. Dan yang sering terlupakan Dalam melakukan gadai, antara
69
penggadai dan penerima gadai harus ada kejelasan waktu pengembalian hutang,
sehingga pelaksanaan gadai tidakberlarut lama.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Quran
dan terjemahannya, Departemen Agama
penyelenggaraan penterjemah Al-Quran, 1986.
RI,
Jakarta:
yayasan
Abu bakar, Taqiyuddin, kifayatul Akhyar Fii halli Ghayatil Ikhtishar, cet.2, alih
bahasa oleh syarifudin anwar,Misbah Mustafa, Surabaya:Bina Iman,
1995.
70
Adib, Bisri, Munawir AF, Kamus AL-BISRI, Cet. Ke-1, Surabaya: Pustaka Progressif,
1999.
Ahmad al-Ishfahani bin al-Qadhi Abu Syuja, Ringkasan fiqih Mazhab Syafi‟i, Cet.1,
alih bahasa Toto Edidarma, Jakarta: Pustaka as-sunnah, Desember 2007.
Al- Ashqalani, Imam Hafiz Ahmad bin Ali bin Hajjar, Fathul al-Bari, cet.1, Beirut:
Dar al-Khotob al-Ilmiyah, , 2003.
al-Dardiri, Ahmad, Al-Syarhu Al-Shagir, Jil. 3, Mesir: Dar El-Maarif, t.th,
Al-Faifi, Syaikh Sulaiman Ahmad Yahya, Ringkasan Fikih Sunnah Sayyid Sabiq,
Cet. 1Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2013,
Al-Fauzan, Saleh, Fikih Sehari-hari, Cet. 1, Penerjemah: Abdul Hayyie Al-Kattani,
Jakarta: Gema Insani, 2006.
Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta: Bineka
Cipta, 2006.
As Shan‟ani, Subulus Salam III, Cet. 1, Penerjemah: Abd. Rasyid Nafis, Jakarta: AlIkhlas, 1995.
As Syarbini, Muhammad Al-Khattib, Mughnil Muhtahaj, Beirut: Al-Fikr, jil.2, 1978.
As-Shiddieqi, TM.Hasbi, Pengantar Fiqih Muamalah, cet. 1, Jakarta: PT.Pustaka
Rizky Putra, 1997
Az-Zuhaili, Wahbah, Fiqh Islam Waadillatuhu, cet. 1, Jil.6, Penerjemah Abdul Hayyi
Al-qattani, dkk, Jakarta: Gema Insani, 2011.
Bakry, Nazar, Problem Matika pelaksanaan Fiqh Islam, Jakarta: PT.Raja Brakindo
Persada, 1994.
Basir, Ahmad Azhar, Hukum Islam tentang riba, Hutang-pihutang gadai, Bandung:
PT. Al-Maarif, 1983.
Buku Informasi Kependudukan Kota Depok, September 2013.
Data Monografi Kecamatan Tapos Kota Depok, Data RT/RW tahun 2009.
Data SIAK (sistem informasi administrasi kependudukan),provinsi Jawa Barat kota
Depok, kecamatan tapos.
71
Dewan syari‟ah nasional majelis Ulama Indonesia, Himpunan fatwa dewan Syariah
nasional, Komplek Kejaksaan Agung Blok e1/3 Cipayung Ciputat,
cf.Gaung persada, Cet.3, September 2006
Hadi, Muhammad Sholikhul, Pegadaian Syari'ah, Jakarta: Salemba Diniyah, 2000.
Muhammad Al fitra haqiqi, harta halal harta haram, Jombang: lintas media, t.th
Hasan, M. Ali, Masail Fiqhiyah, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003.
Hasil Wawancara dengan bapak ues supriyadi, sekertaris Kecamatan Tapos,
wawancara pribadi, dikecamatan Tapos Kota Depok pada Tanggal 4 Juli
2014.
Hasil wawancara dengan ibu Lia, warga kelurahan Tapos Kecamatan Tapos Kota
Depok pada tanggal 12 Juli 2014
Hasil wawancara dengan bapak Asam, warga kelurahan Sukatani Kecamatan Tapos
Kota Depok pada tanggal 16 Juli 2014
Hasil wawancara dengan bapak Ramlan, warga kelurahan Jatijajar Kecamatan Tapos
Kota Depok pada tanggal 15 Juli 2014
Hasil wawancara dengan ibu Aminah, warga kelurahan Cimpaeun Kecamatan Tapos
Kota Depok pada tanggal 5 Juli 2014
Hasil wawancara dengan ibu Laras, warga kelurahan leuwinanggung Kecamatan
Tapos Kota Depok pada tanggal 14 Juli 2014
Hasil wawancara dengan Bapak Lukman, warga kelurahan Sukamaju Baru
Kecamatan Tapos Kota Depok pada tanggal 5 Juli 2014
Kuhperdata Pasal 1150.
Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi ke- 3, Departemen Pendidikan Nasional,
Jakarta: Balai Pustaka, 2005.
Karim, Adiwarman, Bank Islam Analisa Fiqh dan Keuangan, Jakarta: Raja Grafindo,
2009.
Madjid , M. Abdul, dkk, Kamus istilah Fikih
Mas‟adi, A Gufhron, Fiqih Muamalat kontekstual, Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada 2002.
72
Moleong, Lexi J, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja Rosdakarya,
2004
Muslim al-Hijjaj, Imam Abi al-Husein, shahih Muslim, jil.3, Mesir: Dar Al-Hadist
Al- qahirah, 1994.
Rais, Isnawati dan Hasanudin, Fiqh Muamalah dan aplikasinya pada lembaga
keuangan Syariah, Cet. 1, Jakarta: Lembaga peneliti UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta, 2011.
Rusyid, Al-Faqih, abd. Walid Muhammad ibn Ahmad Bin Muhammad Ibn, Bidayatul
Al-Mujhtahid. Alih bahasa: Imam Ghazali syaid, Achmad zaidun,
Jakarta: Pustaka Imani, 2007.
Sabbiq, Sayyid, Fikih Sunnah 12, Alih bahasa. H. Kamaluddin A Marjuki, Jakarta:
Pustaka Percetakan Offset,1998.
Sabbiq, Sayyid, Fiqhus Sunnah (Beirut: Darul-Kitab al-Arabi, 1987), Cetakan Ke-8,
Salman, Abdul dan L, Hermansyah Ahmad , Hukum Bisnis Untuk Perusahaan, Cet.
Ke- 3, Jakarta: Prenada Media Group, 2007.
Sarwat, Ahmad, Fiqih Sehari-hari, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, t.th
Shiddieqy,Hasbi ash,Hukum-Hukum Fiqih Islam(Tinjauan antar mazhab), cet.II,
Semarang: Pustaka Risky Putera, 2001
Soekanto, Soerjono, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta : Pustaka Pelajaran, 1992.
Sudarsono, Heri, Bank dan Lembaga Keuangan syariah, Yogyakarta: Ekonisia
Kampus Fakultas Ekonomi UII, 2004.
Sula, Muhammad Syakir, Asuransi Syariah (life and general) konsep dan sistem
operasional, Jakarta: Gema Insani, 2004.
Suhendi, Hendi, Fiqh Mu‟amalah, Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada, 2008.
Sugiono, Metode Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif, Bandung : Alfabeta, 2004.
Syafi'I, Imam, al-Um, Jilid 3, tth.tp.
Syafi‟I, Rahmat, Fiqih Muamalah, Cet.3, Bandung: Pustaka Setia, 2006.
Thalib, munammad, Pedoman Wiraswasta dan menejemen Islami, Solo: CV. Pustaka
Mantiq, 1992
73
Qudama, Ibnu, Al-Mughni, Jil. 6, Beirut: Dar al-Kitab Al-„Araby,1980.
Visi-misi rencaana pembangunan cara mengenengah tahun 2013-2016 Kota Depok.
Yakub, Ismail, Al-UMM, Cet. 1, Kuala Lumpur: Victory Agencie,1989.
Yanggo, T. Chuzaimah, A. Hafiz Anhory, A.Z, Problematika Hukum Islam
Komtemporer III, Jakarta: Pustaka Firdaus,2004.
Surat Pernyataan kesediaan Wawancara
Yang bertanda tangan dibawah ini:
Nama
: Ramlan
Alamat
: jl. Pucung Rt. 06/ Rw.02 no. 60 Kelurahan Jatijajar Kecamatan
Tapos Kota Depok.
Dengan ini menyatakan pada hari:
Telah diwawancarai dalam rangka penelitian skripsi oleh mahasiswa yang bernama:
Nama
: Ade Tri Cahyani
Semester
: VIII(delapan)
Jurusan
: Perbandingan Mazhab fikih
Fakultas
: Syari’ah dan Hukum
Demikian surat pernyataan ini dibuat dengan sebenar-benarnya untuk dapat
digunakan sebagaimana mestinya.
Pewawancara
Informan
(Ade Tri Cahyani)
( Ramlan )
Data Wawancara
Nama
: Bapak Ramlan
Pekerjaan
: Karyawan Swasta
Alamat
: jl. Pucung Rt. 06/ Rw.02 no. 60 Kelurahan Jatijajar Kecamatan
Tapos Kota Depok.
1. Apakah Ibu/ bapak sebelumnya pernah melakukan praktik gadai?
saya pernah waktu itu menggadaikan motor saya kepada bapak Gani
tetangga saya
2. Apa alasan bapak/ibu menggadaikan pada tetangga atau kerabat? Kenapa
tidak kepegadaian?
Ya, kalo menurut saya lebih enakan ke tetangga sih, soalnya kalau telat
bayarnya juga barang kita ga bakal diambil sama yang ngasih pinjaman. Lebih enak
aja lah pokoknya
3. Berapa nominal uang yang dipinjam oleh rahin (penggadai)?
saya meminjam uang kepada pak gani Rp. 3.000.000
4. Apa yang melatar belakangi rahin sehingga terjadinya praktik gadai?
juga membutuhkan uang mendesak untuk membayar uang sekolah anaknya
dan untuk membayar tunggakan motor saya
5. Adakah perjanjian secara tertulis dalam melaksanakan akad gadai?
Gak ada sih, ya secara ucapan aja,kan udah saling percaya.
6. Apakah barang gadai tersebut disimpan atau dimanfaatkan ?
Dalam perjanjian lisan saya mengizinkan motor saya untuk dipergunakan oleh
bapak Gani
7. Apakah ada persyaratan dalam melakukan praktik gadai?
Ada, pastinya .. bapak Gani meminta uang tambahan Rp.50.000 perbulannya,
ya menurut saya wajar-wajar saja. Selagi dia tidak memaksa-maksa saya untuk cepatcepat mengembalikan uangnya.
8. Apakah bapak/ibu mengetahui system praktik gadai dalam Islam ?
Ya sedikitnya tahu mas.
9. Apakah bapak/ibu tahu hukum memanfaatkan barang gadai?
Ya, tau juga sih sedikit, Cuma kan kita biar enak satu sama lain aja. Dan
disini sistemnya memang seperti itu. Agar bisa menguntungkan satu sama lain.
Surat Pernyataan kesediaan Wawancara
Yang bertanda tangan dibawah ini:
Nama
: Lia Sumiaty
Alamat
: Jl. bungur Rt.05/ RW.02 Kelurahan Tapos Kecamatan Tapos Kota
Depok
Dengan ini menyatakan pada hari:
Telah diwawancarai dalam rangka penelitian skripsi oleh mahasiswa yang bernama:
Nama
: Ade Tri Cahyani
Semester
: VIII(delapan)
Jurusan
: Perbandingan Mazhab fikih
Fakultas
: Syari’ah dan Hukum
Demikian surat pernyataan ini dibuat dengan sebenar-benarnya untuk dapat
digunakan sebagaimana mestinya.
Pewawancara
Informan
(Ade Tri Cahyani)
(Lia Sumiaty)
Data Wawancara
Nama
: Ibu Lia
Pekerjaan
: Ibu Rumah Tangga
Alamat
: Jl. bungur Rt.05/ RW.02 Kelurahan Tapos Kecamatan Tapos Kota
Depok
1. Apakah Ibu/ bapak sebelumnya pernah melakukan praktik gadai?
Ya, baru-baru ini tetangga saya bapak Efendi meminta saya memberi
pinjaman uang dengan memberikan jaminan sebuah Ipad.
2. Berapa nominal uang yang dipinjam oleh rahin?
Rp.2.000.0000
3. Apa yang melatar belakangi rahin sehingga terjadinya praktik gadai?
Bapak Effendi kan bekerja sebagai buruh bangunan, dia menggadaikan
Ipadnya seharga Rp.8.000.000, kepada saya dengan meminjam uang pinjaman
sebesar Rp. 1.200.000
4. Adakah perjanjian secara tertulis dalam melaksanakan akad gadai?
Engga ada lah, paling Cuma secara lisan saja, bapak Effendi berjanji akan
mengembalikan uang saya sampai batas waktu 2 minggu.
5. Apakah barang gadai tersebut disimpan atau dimanfaatkan?
Ya, saya pakelah, dipake anak saya hitung-hitung nunggu uang diganti
6. Apakah ada persyaratan dalam melakukan praktik gadai?
Bapak Effendi sih bilangnya kalau dia tidak bisa mengembalikan uangnya
dalam tempo yang sudah ditentukan maka tab menjadi milik saya.
7. Apakah bapak/ibu mengetahui system praktik gadai dalam Islam ?
Saya kurang begitu tahu sih, Tapi setau saya praktik gadai yang saya sudah
benar.
8. Apakah bapak/ibu tahu hukum memanfaatkan barang gadai?
Wah kalau itu saya juga kurang tahu…
Surat Pernyataan kesediaan Wawancara
Yang bertanda tangan dibawah ini:
Nama
: Asam
Alamat
: Jl. Puri Kemang Rt.02/Rw.08 No.98 Kelurahan Sukatani Kecamatan
Tapos Kota Depok.
Dengan ini menyatakan pada hari:
Telah diwawancarai dalam rangka penelitian skripsi oleh mahasiswa yang bernama:
Nama
: Ade Tri Cahyani
Semester
: VIII(delapan)
Jurusan
: Perbandingan Mazhab fikih
Fakultas
: Syari’ah dan Hukum
Demikian surat pernyataan ini dibuat dengan sebenar-benarnya untuk dapat
digunakan sebagaimana mestinya.
Pewawancara
(Ade Tri Cahyani)
Informan
( Asam
)
Data Wawancara
Nama
: Asam
Pekerjaan : PNS
Alamat
: Jl. Puri Kemang rt.02/rw.08 no. 98 Kelurahan Sukatani Kecamatan Tapos
Kota Depok.
1. Apakah ibu/bapak sebelumnya pernah melakukan praktik gadai?
Ya, saya pernah melakukan praktik gadai dengan bapak Tapsur, saya
sebagai seorang yang menerima barang gadai.
2. Berapa uang yang dipinjam oleh Rahin(penggadai)?
Pada waktun itu bapak tapsur meminjam uang ke saya sebesar
RP.10.000.000,- dengan memberikan jaminan kepada saya berupa mobil
3. Apa yang melatarbelakangi rahin meminjam uang ke murtahin?
Dia hanya bilang kalau dia membeutuhkan uang,
4. Adakah perjanjian tertulis dalam akad gadai?
Tidak, hanya saja ketika dalam perjanjian kita saling sepakat untuk
member tempo selama 1 tahun.
5. Apakah barang gadai tersebut dimanfaatkan oleh murtahin?
Karena saya juga membutuhkan transportasi jadi saya manfaatkan..
selama hutangnya belum dibayar.
6. Apakah ada persyaratan dalam melakukan praktik gadai?
Ya, dalam satu tahun jika pemilik rang gadai tidak bisa melunasi
hutangnya maka barang tersebut menjadi milik saya. Tapi setelah setahun
berlalu ada depkolektir datang kerumah saya mereka mengatakan bahwa
mobil ini akan ditarik karena mobil ini masih dalam keadaan kredit, saya
merasa ditipu, setelah skian lama bapak Tapsur hanya mengembalikan uang
saya sebesar 7.000.000,7. Apakah bapak mengetahui pelaksanaan praktik gadai dalam islam?
Ya, saya mengetahui tapi tidak begitu mendalam.
8. Apakah bapak mengetahui hukum dari memanfaatkan barang gadai?
Saya tahu, tidak diperbolehkan mengambil manfaat barang gadai tapi adat
istiadat di kampong ini ya seperti itu. Dimana barang gadaian itu langsung
dimanfaatkan oleh orang yang member pinjaman uang, selama barang
tersebut belum mampu ditebus oleh rahin.
Surat Pernyataan kesediaan Wawancara
Yang bertanda tangan dibawah ini:
Nama
: Laras Wati
Alamat
: Gg. damai Rt. 06 Rw. 04 No. 32 Kel. Leuwinanggung Kec. Tapos
Kota Depok.
Dengan ini menyatakan pada hari:
Telah diwawancarai dalam rangka penelitian skripsi oleh mahasiswa yang bernama:
Nama
: Ade Tri Cahyani
Semester
: VIII(delapan)
Jurusan
: Perbandingan Mazhab fikih
Fakultas
: Syari’ah dan Hukum
Demikian surat pernyataan ini dibuat dengan sebenar-benarnya untuk dapat
digunakan sebagaimana mestinya.
Pewawancara
Informan
(Ade Tri Cahyani)
(Laras Wati)
Data Wawancara
Nama
: Ibu Laras
Pekerjaan
: Ibu Rumah Tangga
Alamat
: Gg. damai Rt. 06 Rw. 04 No. 32 Kel. Cimpaeun Kec. Tapos Kota
Depok.
1. Apakah Ibu/ bapak sebelumnya pernah melakukan praktik gadai?
Ya, saya pernah menerima barang gadai dari bapak Ahmad
2. Berapa nominal uang yang dipinjam oleh rahin?
memberikan pinjaman uang sejumlah
Rp. 2.000.000,- kepada bapak Ahmad
dengan jaminan berupa motor.
3. Apa yang melatar belakangi rahin sehingga terjadinya praktik gadai?
Pak Ahmad hanya bilang dia butuh uang, dan mau pinjam uang ke saya dengan
memberi jaminan berupa motor.
4. Adakah perjanjian secara tertulis dalam melaksanakan akad gadai?
Tidak ada, hanya perjanjian secara lisan dan dalam jangka waktu 6 bulan, jika
tidak membayarnya maka rumah itu menjadi milik bapak H. Eos.
5. Apakah barang gadai tersebut disimpan atau dimanfaatkan?
Ya motor jaminan itu dipakai oleh suami saya untuk berdagang sayur
keliling.karena saya juga kan sama-sama butuh dan saya sudah memberikan
pinjaman uang kepada bapak Ahmad.
6. Apakah ada persyaratan dalam melakukan praktik gadai?
Engga ada sih, saya ke bapak Ahmad kan hanya saling tolong-menolong saja.
7. Apakah bapak/ibu mengetahui system praktik gadai dalam Islam ?
Saya sedikit tahu, dalam praktik gadai itu hanya asas tolong-menolong saja.
8. Apakah bapak/ibu tahu hokum memanfaatkan barang gadaian?
Tahu, tapi disini tradisinya memang seperti itu, kalau masyarakat kampung sini
rata-rata menggadaikan ke tetangga atau saudaranya. Karena jika di pegadaian
banyak yang meminta tambahan yang besar. Sehingga masyarakat di kampung
cimpaeun tidak mau menggadaikan ke pegadaian.
Surat Pernyataan kesediaan Wawancara
Yang bertanda tangan dibawah ini:
Nama
: Aminah Rodiyah
Alamat
: Gang Nangka Rt.04 Rw. 03 No.2 Kelurahan Cimpaeun Kecamatan
Tapos Kota Depok.
Dengan ini menyatakan pada hari:
Telah diwawancarai dalam rangka penelitian skripsi oleh mahasiswa yang bernama:
Nama
: Ade Tri Cahyani
Semester
: VIII(delapan)
Jurusan
: Perbandingan Mazhab fikih
Fakultas
: Syari’ah dan Hukum
Demikian surat pernyataan ini dibuat dengan sebenar-benarnya untuk dapat
digunakan sebagaimana mestinya.
Pewawancara
Informan
(Ade Tri Cahyani)
(Aminah Rodiyah)
Data Wawancara
Nama
: Ibu Aminah
Pekerjaan
: Ibu Rumah Tangga
Alamat
: Gang Nangka Rt.04 Rw. 03 No.2 Kelurahan Cimpaeun Kecamatan
Tapos Kota Depok.
1. Apakah Ibu/ bapak sebelumnya pernah melakukan praktik gadai?
Ya, saya pernah menggadaikan sertifikat rumah kepada bapak H. Eos
2. Apa alasan bapak/ibu menggadaikan pada tetangga atau kerabat? Kenapa
tidak kepegadaian?
Saya pikir akan lebih mudah dengan orang yang saya kenal dibandingkan saya
harus menggadaikan ke pegadaian. Karena kalau di pegadaian banyak
persyaratan-persayaratannya, namanya kita orang kampung saya males ambil
pusing.
3. Berapa nominal uang yang dipinjam oleh rahin?
Rp.50.000.000
4. Apa yang melatar belakangi ibu/bapak sehingga terjadinya praktik gadai?
Waktu saya menggadaikan sertifuikat rumah saya itu karena anak saya jatuh sakit, dan
saya membutuhkan uang banyak untuk menbayar operasi anak saya. Tidak ada cara lain
selain menggadaikan sertifikat rumah saya ke bapal H. Eos.
5. Adakah perjanjian secara tertulis dalam melaksanakan akad gadai?
Tidak ada, hanya perjanjian secara lisan dan dalam jangka waktu 6 bulan, jika
tidak membayarnya maka rumah itu menjadi milik bapak H. Eos.
6. Apakah barang gadai tersebut disimpan atau dimanfaatkan?
Tidak, sih. Kan hanya sertifikatnya saja. Jd saya masih tinggal dirumah saya sendiri.
7. Apakah ada persyaratan dalam melakukan praktik gadai?
Ya itu yang tadi saya bilang, dalam jangka waktu 6 bulan, jika tidak membayarnya
maka rumah itu menjadi milik bapak H. Eos.
8. Apakah bapak/ibu mengetahui system praktik gadai dalam Islam ?
Saya tidak begitu tahu.
Surat Pernyataan kesediaan Wawancara
Yang bertanda tangan dibawah ini:
Nama
: Lukman Firdaus
Alamat
: Gang Nangka Rt.04 Rw. 03 No.2 Kelurahan Sukamaju Baru
Kecamatan Tapos Kota Depok.
Dengan ini menyatakan pada hari:
Telah diwawancarai dalam rangka penelitian skripsi oleh mahasiswa yang bernama:
Nama
: Ade Tri Cahyani
Semester
: VIII(delapan)
Jurusan
: Perbandingan Mazhab fikih
Fakultas
: Syari’ah dan Hukum
Demikian surat pernyataan ini dibuat dengan sebenar-benarnya untuk dapat
digunakan sebagaimana mestinya.
Pewawancara
Informan
(Ade Tri Cahyani)
(Lukman Firdaus)
Data Wawancara
Nama
: Bapak Lukman
Pekerjaan
: PNS
Alamat
: Gang Nangka Rt.04 Rw. 03 No.2 Kelurahan Sukamaju Baru
Kecamatan Tapos Kota Depok.
1. Apakah Ibu/ bapak sebelumnya pernah melakukan praktik gadai?
Ya, saya pernah menerima barang gadai dari bapak Niman
2. Berapa nominal uang yang dipinjam oleh rahin?
Rp.75.000.000,- (tujuh puluh lima juta rupiah) dengan memberi jaminan 3 ruko
milik bapak Niman
3. Apa yang melatar belakangi rahin sehingga terjadinya praktik gadai?
membutuhkan uang untuk membayar hutang-hutang anaknya.
4. Adakah perjanjian secara tertulis dalam melaksanakan akad gadai?
Tidak ada, hanya perjanjian secara lisan dan dalam jangka waktu 1 tahun,
5. Apakah barang gadai tersebut disimpan atau dimanfaatkan?
memanfaatkan ruko tersebut untuk disewakan ke orang lain, dan keuntungan dari
menyewakan itu milik pribadi sebab beliau beralasan dari pada ruko itu kosong
tidak ada yang menempati maka lebih baik disewakan agar lebih bermanfaat dan
menghasilkan keuntungan
6. Apakah ada persyaratan dalam melakukan praktik gadai?
Engga ada
7. Apakah bapak/ibu mengetahui system praktik gadai dalam Islam ?
Kurang begitu paham, hanya saja kalau orang membutuhkan pertolongankan ya,
mesti kita bantu.
8. Apakah bapak/ibu tahu hukum memanfaatkan barang gadaian?
Saya kurang tahu juga, tapi setahu saya bukannya gak apa-apa, jika sudah di
izinkan oleh bapak Niman.
Download