13 BAB II LANDASAN TEORI Pada Bab ini akan dibahas kajian

advertisement
BAB II
LANDASAN TEORI
Pada Bab ini akan dibahas kajian teoritis mengenai konsep ruang
Neighborhood Unit, tinjauan mengenai fasilitas sosial, konsep dan standar
penyediaan fasilitas lingkungan perumahan serta konsep Healthy Neighborhood
Planning.
2.1
Konsep Ruang Neighborhood Unit
Neighborhood Unit adalah suatu lingkungan fisik perumahan dalam kota
dengan batasan yang jelas, tersedia pelayanan fasilitas sosial untuk tingkat rendah,
untuk melayani sejumlah penduduk, di mana terdapat hubungan kerjasama yang
dilandasi oleh kontrol sosial dan rasa komunitas. (Porteous, 1977; dalam
Suryanto, 1989:47).
Neighborhood Unit dikenal sebagai suatu konsep untuk merencanakan
suatu lingkungan yang berlandaskan suatu pemikiran sosial psikologis yang
diformulasikan oleh Clarence Perry pada tahun 1929, sebagai jawaban atas
permasalahan yang terjadi saat itu yaitu penurunan kualitas kehidupan masyarakat
di negara-negara industri. Perry mengidentifikasikan Neighborhood Unit sebagai
suatu unit perumahan yang mempunyai batas yang jelas, besarannya diukur atas
dasar keefektifan jarak jangkau pejalan kaki, terjadinya kontak langsung
individual serta adanya ketersediaan fasilitas pendukung kebutuhan harian dari
penghuni.
Konsep Neighborhood Unit sebenarnya pertama kali diperkenalkan oleh
Sir Ebenezer Howard (1850-1928) yang mencoba mengangkat sistem dan bentuk
komunitas
tradisional
perdesaan
sebagai
komunitas
ideal
yang
perlu
dikembangkan di perkotaan (Reiner, 1957 dalam Ida Bagus Rabindra, 1996:35).
Kemudian pada kota-kota tradisional tersebut , kota masih terbagi dalam unit-unit
kelompok rumah tinggal atau unit-unit fungsional spesifik yang homogen yang
kemudian dikenal sebagai tradisional neighborhood. Unit-unit tersebut merupakan
kesatuan antara tempat tinggal dengan tempat kerja serta juga adanya ikatan sosial
kekerabatan. Dalam konteks ini, neighborhood merupakan suatu lingkungan
13
14
spesifik yang homogen, dengan pengikat kegiatan yang sejenis dan hubungan
kekerabatan.
Menurut Perry, neighborhood yang ideal akan merangkum seluruh
fasilitas publik dan kondisi-kondisi yang diperlukan oleh rata-rata keluarga bagi
kenikmatan dan kewajaran hidup disekitar rumah mereka. Selanjutnya Perry
menguraikan dari penjelasan diatas enam prinsip dalam merencanakan
neigborhood (Rohe and Gates, 1985:26) :
1. Size (Ukuran), pembangunan unit tempat tinggal harus menyiapkan
perumahan
dengan
ukuran
populasi
tertentu
yang
mensyaratkan
diperlukannya satu sekolah dasar (elementary school), di mana area yang
diperlukan tergantung pada tingkat kepadatan populasi
2. Boundaries (Batas), Pada setiap sisi unit lingkungan dibatasi oleh jalanjalan arteri dengan kelebaran yang memadai sehingga dapat dipakai
sebagai lalu lintas cepat, yang tidak menembus daerah pemukiman
tersebut.
3. Open Space (Ruang Terbuka), harus disediakan sistem taman dan ruang
kecil yang direncanakan untuk memenuhi kebutuhan individu yang
mendiami lingkungan perumahan tersebut.
4. Institution Sites (Area-area institusi), area untuk sekolah dan institusi yang
melayani lingkungan perlu disediakan untuk memenuhi kebutuhan
masyarakat dalam lingkungan tersebut dan hendaknya ditempatkan secara
berkelompok disekitar sebuah titik umum atau titik pusat.
5. Local Shops (Pertokoan setempat), satu atau lebih pertokoan lokal yang
cukup memadai bagi populasi yang dilayani, hendaknya diletakkan di
seputar permukiman dan lebih baik lagi diletakkan disekitar pertemuan
jalur lalu lintas yang mengikat beberapa lingkungan.
6. Internal Street System (Sistim jalan internal), di mana setiap unit perlu
dilengkapi dengan sistim jalan khusus, sehingga setiap jalan raya
disesuaikan dengan beban lalu lintas yang mungkin dan jaringan jalan
sebagai sebagai suatu keseluruhan dirancang untuk memudahkan sirkulasi
15
di dalam lingkungan tersebut dan diupayakan untuk dicegah penggunaan
sebagai jalur lalu-lintas cepat
Clarence Perry menyimpulkan bahwa Konsep Neighborhood Unit
mempunyai tujuan utama untuk membuat interaksi sosial diantara penghuni
lingkungan permukiman, sedangkan penataan fisik lingkungan merupakan cara
untuk mencapai tujuan utama tersebut (Golany, 1976:187)
Clarence Perry membuat ketetapan untuk terpenuhinya kebutuhan sosiopsikologis pemukim untuk menjamin agar terlaksananya konsep Neighborhood
Unit. Syarat-syarat tersebut (Ida Bagus Rabindra, 1996:43-44) adalah :
1. Syarat kedekatan fisik, dirumuskan dengan mengambil patokan besaran efektif
komunitas dengan elemen :
a. Luas Wilayah. Teori ini mengidentifikasikan bahwa salah satu essensi dari
konsep neighborhood adalah kebutuhan dasar emosional manusia untuk
berhubungan lebih erat dengan orang-orang disekitarnya, yang disebut
sebagai kelompok primer (Brooms dan Selznick,1957; dalam Suryanto,
1989:53). Ukuran luas wilayah komunitas memungkinkan setiap penghuni
mudah berkomunikasi dengan kelompok primernya karena dekatnya jarak
capai dengan cukup berjalan kaki.
b. Jumlah penghuni, yaitu ukuran jumlah penghuni yang memungkinkan
tingkat saling tahu dan saling kenal diantara penghuni karena frekuensi
kontak langsung yang tinggi.
c. Tingkat kepadatan bangunan atau penduduk yaitu perbandingan antara
luas wilayah dan jumlah anggota menghasilkan suatu ukuran kepadatan
yang memungkinkan tingkat ikatan fisik dan sosial komunitas tetap tinggi,
dengan tetap menjaga keseimbangan dengan daya dukung alam.
2. Syarat ikatan sosial, Jika fasilitas sosial sebagai ikatan fisik tersebut sesuai
dengan kebutuhan sebagian besar anggota lingkungan, maka ikatan fisik
tersebut akan berfungsi sebagai ikatan sosial karena kemampuannya untuk
merangsang terciptanya kelompok primer.
16
3. Syarat jaminan keselamatan lingkungan, yaitu :
a. Neighborhood Unit, terbebas dari lalu-lintas tembus dan kemungkinan
adanya persimpangan.
b. Neighborhood Unit dibatasi dari lalu-lintas kendaraan kecepatan tinggi
atau lalu-lintas eksternal.
c. Adanya pemisahan yang tegas antara jalur lintas kendaraan dan jalur
pejalan kaki.
d. Lalu-lintas dalam lingkungan Neighborhood Unit umumnya untuk pejalan
kaki atau dengan kendaraan yang berkecepatan rendah khusus bagi
penghuni.
4. Syarat ketersediaan fasilitas pelayanan sosial. Fasilitas pelayanan sosial yang
disyaratkan dalam Neighborhood Unit formula Clarence Perry adalah fasilitas
pelayanan sosial yang melayani kebutuhan harian. Suatu fasilitas pelayanan
sebagai elemen fungsional neighborhood dapat berperan jika memiliki jarak
layanan yang mudah dicapai dengan berjalan kaki, di mana daya jangkau jarak
layanan efektif setiap fasilitas pelayanan sosial akan mempengaruhi ukuran
besaran neighborhood. Diharapkan fasilitas sosial ini menjadi media
terjadinya kontak langsung antara penghuni dalam frekuensi yang tinggi yaitu
frekuensi harian. Fasilitas pelayanan tersebut antara lain adalah : Sekolah
tingkat dasar, warung atau toko, tempat peribadatan, balai pengobatan, balai
lingkungan dan kantor pemerintahan lokal.
Konsep Neighborhood Unit dapat dijadikan landasan bagi banyak
komuniti permukiman, di mana terlalu ditekankan sebagai sebuah gagasan fisik
dan agak dilebih-lebihkan sebagai fakta sosial (Spreiregen, 1965; dalam Rivai A.,
1991:34). Dapat disimpulkan bahwa neighborhood merupakan unit fisik sekaligus
unit sosial. Parameter pengikat untuk menjamin kesatuan unit fisik dan unit sosial
adalah besaran (size) dan fasilitas pelayanan sosial yang melayani kebutuhan
harian. Parameter besaran neighborhood diturunkan dari ukuran efisiensi jarak
tempuh pejalan kaki antara rumah dengan fasilitas pelayanan.
17
Spreiregen menganggap ini tidak tepat karena betapapun lengkapnya
pelayanan suatu lingkungan, setiap orang memiliki dunia pribadi mereka sendiri,
di mana terdapat suatu jaringan individu yang menyangkut tempat-tempat pribadi
dan adanya jalan-jalan di kota yang akan jauh melintasi batas fisik permukiman
mereka.. Dengan demikian, Spreiregen sependapat dengan Perry bahwa dalam hal
perencanaan pemukiman, maka harus mempertimbangkan kebutuhan sosial
penghuninya. Ia menyatakan bahwa pada dasarnya keberadaan pemukiman harus
memberikan kenyamanan dan jaminan sejauh mana permukiman tersebut dapat
membantu kelancaran aktivitas kehidupan setiap penghuninya.
2.2
Tinjauan Mengenai Fasilitas Sosial
Fasilitas adalah segala sesuatu yang dinilai sebagai sarana untuk mencapai
tujuan tertentu untuk pemenuhan kebutuhan tertentu (Mitchell,1969, dalam Rivai
A, 1991:30). Dalam pengertian lain jika dikaitkan dengan pemukiman, maka
fasilitas adalah suatu aktivitas atau materi yang berfungsi melayani kebutuhan
individu atau kelompok individu dalam suatu lingkungan kehidupan. Secara
sistematis aktivitas atau materi tersebut dapat dibagi dalam dua kelompok utama
yaitu faslitas sosial dan fasilitas fisik. Meskipun berbeda, namun kedua fasilitas
tersebut memiliki satu ikatan satu sama lain. Fasilitas sosial dapat diartikan
sebagai bentuk pelayanan kebutuhan masyarakat yang bersifat memberikan
kepuasan sosial, mental dan spiritual, yang antara lain terdiri atas fasilitas
pendidikan, fasilitas kesehatan, fasilitas rekreasi, fasilitas peribadatan, fasilitas
olah-raga, fasilitas perbelanjaan, fasilitas pemerintahan serta fasilitas pemakaman.
Fasilitas sosial ini merupakan bagian yang sangat penting dan paling essensial
serta dibutuhkan dalam setiap lingkungan pemukiman yang baik. Sedangkan
fasilitas fisik dapat diartikan sebagai bentuk pelayanan kebutuhan masyarakat
yang bersifat fisik yang mencakup utilitas umum (Sujarto; 1989:170-171).
Dalam Permendagri No.1 tahun 1987 dijelaskan bahwa prasarana kota
terdiri atas 3 kelompok utama yaitu utilitas umum, prasarana lingkungan dan
fasilitas sosial. Dijelaskan pula bahwa ke-3 komponen fasilitas infrastruktur
18
tersebut merupakan komponen penunjang yang sangat penting dalam mendukung
kualitas kehidupan lingkungan permukiman. Komponen tersebut terdiri atas :
1. Utilitas umum merupakan fasilitas-fasilitas atau bangunan-bangunan yang
dibutuhkan
guna
mendukung
sistem
pelayanan
lingkungan
yang
diselenggarakan oleh instansi pemerintah ataupun oleh adanya kerjasama
antara pemerintah dan swasta, yang terdiri atas : jaringan listrik, jaringan air
bersih, jaringan telepon, jaringan angkutan umum, sarana kebersihan
(pembuangan sampah), pemadam kebakaran.
2. Prasarana lingkungan merupakan kelengkapan lingkungan yang mendukung
perumahan, yang terdiri atas : jalan, saluran air kotor atau pembuangan
limbah, saluran air bersih atau drainase (saluran pembuangan air hujan).
3. Fasilitas sosial merupakan fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan masyarakat
dalam lingkungan pemukiman, yang terdiri atas : fasilitas kesehatan,
pendidikan, olahraga, peribadatan, rekreasi, ruang terbuka, perbelanjaan, serta
pemakaman umum.
Keberhasilan keberadaan suatu fasilitas sosial dalam lingkungan
perumahan, dapat dlihat dari tingkatan bagaimana minat dan kesediaan para
penghuni perumahan dalam memanfaatkan fasilitas tersebut. Apabila banyak
diantara mereka yang mencari fasilitas diluar pemukiman tersebut padahal
fasilitas tersebut fungsinya sama, maka dapat disimpulkan bahwa fasilitas yang
tersedia tidak dapat menjawab kebutuhan mereka (Golany, 1976:111).
2.2.1. Fasilitas Pendidikan
Pengertian pendidikan menurut Sistem Pendidikan Nasional adalah usaha
sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran
dan pelatihan bagi peranannya dimasa yang akan datang. Fasilitas sosial seperti
yang telah dijelaskan sebelumnya merupakan suatu aktivitas atau materi yang
melayani masyarakat akan kebutuhan yang bersifat memberi kepuasan sosial,
mental maupun spritual. Sehingga dari pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan
bahwa fasilitas pendidikan berarti aktivitas atau materi yang dapat melayani
19
kebutuhan masyarakat akan kebutuhan yang bersifat memberi kepuasan sosial,
mental maupun spiritual melalui kegiatan bimbingan, pengajaran maupun
pelatihan.
Melalui pendidikan akan meningkatkan pengetahuan dan memberikan
pengalaman-pengalaman kolektif yang akan mempertemukan berbagai kelompok
penduduk. Mempertemukan disini tidak hanya sekedar menyediakan sarana untuk
kontak kelompok penduduk, tetapi juga mengurangi perbedaan dalam
perkembangan pengetahuan (Bossert,1978, dalam Rivai,1991:54). Dalam
kaitannya dengan latar belakang penduduk yang semakin beraneka ragam, maka
penyediaan fasilitas pendidikan ini harus dapat atau mampu menjawab kebutuhan
yang beragam tersebut.
2.2.2. Fasilitas Kesehatan
Fasilitas kesehatan merupakan fasilitas yang memberikan pelayanan di
bidang kesehatan yang berupa ( Sarjito,1983, dalam Mahmud R,1997:30) :
1. Kuratif yaitu pemeriksaan, pengobatan dan perawatan.
2. Preventif yaitu pencegahan penyakit, peningkatan kesehatan dan
pendidikan kesehatan.
3. Kesehatan Lingkungan.
Fasilitas Kesehatan berdasarkan fungsi dan hierarkinya dari tingkat yang
paling atas sampai tingkat yang paling rendah, menurut Djoko Sujarto,1978
(dalam Soekmana Soma,1988:21) di Minneapolis, Amerika Serikat, terdiri atas :
Based Hospital City, City Hospital, Area Hospital, Community Health Center dan
Neighborhood Helath Center.
1. Based Hospital City, fasilitas kesehatan yang mempunyai jangkauan
tingkat regional luas.
2. City Hospital, Fasilitas kesehatan ini mempunyai jangkauan pelayanan
tingkat regional akan tetapi diutamakan untuk kebutuhan pelayanan kota.
3. Area Hospital, Rumah sakit umum kecil untuk kebutuhan kota.
20
4. Community Health Center, pusat kesehatan yang melayani suatu
lingkungan atau bagian kota.
5. Neighborhood Health Center, pusat kesehatan yang melayani unit
lingkungan kecil.
Bila dianalogikan dengan pusat kesehatan yang ada di Indonesia, maka
analoginya adalah sebagai berikut (Soekmana Soma, 1988:21) :
1. Rumah sakit tipe A dan B setara dengan Based Hospital dan City Hospital.
2. Rumah sakit tipe C setara dengan Area Hospital.
3. Puskesmas setara dengan Community Health Center.
4. Puskesmas pembantu, BKIA/Poliklinik, Dokter praktek setara dengan
Neighborhood Health Center.
Tingkat hirarki diatas mencerminkan bahwa terdapat perbedaan pelayanan
antara tiap tipe fasilitas kesehatan tersebut. Fasilitas kesehatan dengan tipe yang
lebih besar akan diperlengkapi dengan fasilitas perawatan dan diagnostik yang
lebih lengkap pula dibandingkan dengan tipe dibawahnya.
Dari segi perwilayahannya, Rex Fendal,1978 (dalam Soekmana Soma,
1988:22) membagi pusat kesehatan dalam :
1. Immediate Area, yaitu area di mana penduduknya dapat memanfaatkan
dengan mudah fasilitas tersebut yaitu dari sisi jarak jangkaun < 1 km.
2. Defined Area, yaitu wilayah kerja puskesmas yang masih mudah
dikunjungi oleh petugas (3-5 km) atau 2 jam perjalanan tanpa alat bantu.
3. Extended Area, yaitu daerah atau wilayah kerja puskesmas yang relatif
sulit dikunjungi oleh petugas.
4. Special Effort Area, yaitu daerah atau wilayah kerja Puskesmas yang
sangat sulit dikunjungi.
2.2.3 Fasilitas Perdagangan
Fasilitas perdagangan atau perbelanjaan merupakan fasilitas di mana
tempat terjadinya transaksi ekonomi antara penjual dan pembeli yang berfungsi
sebagai tempat pelayanan atas barang yang dibutuhkan oleh masyarakat. Penghuni
21
dalam melakukan kegiatan berbelanja pada dasarnya dipengaruhi oleh dua jenis
kondisi yaitu kondisi internal dan kondisi eksternal. Kondisi internal adalah
dorongan pengaruh yang timbul dari keadaan individu yang terlibat. Sedangkan
kondisi eksternal adalah pengaruh rangsangan yang terjadi oleh karena keadaan
potensi dari tempat berbelanja.
Pada konsumen terjadi proses penerimaan informasi tentang fasilitas
tempat berbelanja yang terdiri dari berbagai faktor yang dimiliki oleh fasilitas.
Pada konsumen terjadi proses penerimaan informasi tentang fasilitas tempat
berbelanja yang terdiri dari berbagai faktor yang dimiliki oleh fasilitas belanja
yang ada. Proses yang terjadi adalah menterjemahkan informasi menurut persepsi
konsumen kemudian dievaluasi dan hasilnya merupakan masukan untuk
melakukan keputusan. Hasil dari proses tersebut menghasilkan suatu perjalanan
ke tempat berbelanja (Gunarya, 1982 :3).
Dalam penelitian C.J Thomas 1974 (dalam muttaqien,1997 :25)
menggambarkan bahwa masyarakat berstatus ekonomi tinggi umumnya memiliki
mobilitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan masyarakat berstatus ekonomi
yang lebih rendah. Masyarakat ekonomi tinggi cenderung menggunakan pusatpusat perdagangan yang lebih besar dan lebih jauh lokasinya. Menurut Bromley
1993 (dalam Hondry D.1999:27), terdapat 3 (tiga) faktor yang mempengaruhi
mobilitas seseorang, yaitu kepemilikan kendaraan, tingkatan pendapatan dan
tingkat kesehatan, di mana ketiga faktor ini saling terkait satu sama lain.
Menurut Carn (dalam Ihsan, 1998:32-38), terdapat faktor-faktor yang
dapat mempengaruhi wilayah perdagangan yaitu :
1. Jarak dan waktu tempuh.
2. Kemampuan daya beli masyarakat.
3. Jenis dan keragaman barang yang diperdagangkan.
22
Ada beberapa sikap konsumen dalam melakukan aktivitas perbelanjaan
menurut Carn, yaitu :
1. Frekuensi perjalanan berbelanja, jika frekuensinya tidak terlalu sering,
maka konsumen akan melakukan perjalanan pada tempat perbelanjaan
yang lebih jauh.
2. Tingkat kepentingan terhadap barang, jika produk yang dibutuhkan harus
segera terpenuhi, maka konsumen akan melakukan perjalanan untuk
mendapatkan barang pada tempat perbelanjaan yang menyediakan.
3. Barang dan jasa yang berseifat khusus, produk yang ditawarkan bersifat
khusus sehingga tidak tersedia pada beberapa tempat perbelanjaan
sehingga konsumen memerlukan perjalanan khusus untuk mendapatkan
produk tersebut.
2.2.4 Fasilitas Rekreasi
Fasilitas rekreasi dapat diklasifikasikan dalam 2 kelompok besar (John
Black, 1977 dalam Sudaryanto,1997 :16), yaitu :
1. Park, Open Space dan Sport, fasilitas ini lebih berorientasi pada pelayanan
kebutuhan rekreasi yang bersifat jasmaniah.
2. Leisure ang Entertainment, fasilitas ini lebih berorientasi pada pelayanan
kebutuhan rekreasi yang bersifat sosial dan kognitif (Gedung kesenian,
bioskop, panggung, dan lain sebagainya)
Beberapa faktor yang mempengaruhi atau melatar-belakangi seseorang
untuk berekreasi adalah faktor kemauan dan faktor kemampuan. Kemauan
sesoarang untuk melakukan rekreasi dipengaruhi oleh daya tarik dan atraksi yang
ditawarkan sedangkan kemampuan seseorang berekreasi dipengaruhi oleh
kemampuan dari segi finansial, kesehatan dan ketersediaan waktu luang
23
2.2.5
Fasilitas Peribadatan
Dalam Keputusan Menteri PU tahun 1987 dijelaskan bahwa Sarana
peribadatan terdiri atas beraneka macam, jenis maupun besarannya sehingga
pengadaannya akan sangat tergantung pada:
1. Jenis agama yang dianut
2. Cara atau pola melaksanakan kegiatan agama, serta
3. Struktur penduduk
Struktur penduduk yang memeluk suatu agama tertentu akan sangat
mempengaruhi dalam penempatan lokasi fasilitas peribadatan. Sebagai contoh,
pengadaan fasilitas mesjid sangat perlu mempertimbangkan standar jarak terjauh
kemampuan seseorang dan waktu perjalanan ke mesjid dengan tidak
menggunakan bantuan kendaraan. Jarak tersebut adalah 750 – 1 km dengan waktu
maksimal
perjalanan
15
menit
dalam
melakukan
sholat
jumat
(Rukmana,1979:168)
2.2.6 Fasilitas Olah Raga / Ruang Terbuka
Fasilitas olahraga adalah fasilitas yang digunakan untuk memberikan
penyegaran kembali bagi tubuh secara jasmaniah dan rohaniah diantara kesibukan
rutinitas penduduk kota (Kelly, 1989, dalam Indra H, 1999:20). Fasilitas olahraga
dan ruang terbuka dalam skala lingkungan sangat dibutuhkan terutama bagi
keluarga dan anak-anak antar sesamanya dalam lingkungan pemukiman tersebut.
Sehingga keberadaan fasilitas tersebut dapat menjadi faktor pengikat antar
penduduknya.
Hambatan-hambatan yang kadang dialami seseorang untuk melakukan
kegiatan olah raga seperti dijelaskan menurut Alan Patmore (Patmore,1983:98-99)
adalah
1. Kendala fisik, suatu kondisi yang biasanya disebabkan oleh faktor usia
yang membatasi pergerakan misalnya orang tua atau anak-anak
24
2. Kendala finansial, suatu kondisi yang menyangkut kendala ekonomi yang
berpengaruh pada adanya keterbatasan untuk mengakseskan diri ke dalam
fasilitas yang tersedia
3. Kendala sosial, suatu kondisi di mana seseorang tidak merasa nyaman
dalam lingkungan tersebut
4. Kendala transportasi, suatu kondisi yang berkaitan erat dengan kecepatan
waktu yang dibutuhkan untuk mencapai fasilitas yang dituju, karena
fasktor
transportasi
dapat
memperluas
daya
jangkauan
terhadap
pencapaian fasilitas olahraga
Dalam perencanaan fasilitas olahraga sangat perlu memperhatikan sisi
demand atau permintaan, sehingga perlu diidentifikasi untuk mencari minat suatu
masyarakat terhadap jenis kegiatan olahraga. Di mana tujuan diadakannya
identifikasi
ini
adalah
untuk
menemukan
keinginan
pengunjungn
dan
mempergunakan sumber daya yang ada untuk memuaskan keinginan tersebut
(Gold,1980:145)
2.3
Konsep dan Standar Penyediaan Fasilitas Lingkungan Perumahan
Konsep dan standar penyediaan fasilitas lingkungan perumahan mengacu
pada pedoman dan standar penyediaan fasilitas lingkungan perumahan
berdasarkan standar jumlah penduduk dan standar luas fasilitas. Acuan
penyediaan fasilitas lingkungan perumahan berdasarkan standar jumlah penduduk
pertama kali dikeluarkan oleh Departemen Pekerjaan Umum pada tahun 1978,
yang kemudian diperbaharui pada tahun 1979 dan 1983. Pada tahun 1987,
peraturan ini disempurnakan lagi menjadi petunjuk Perencanaan Kawasan
perumahan Kota, berdasarkan Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No. 378 /
KPTS / 1987. Secara umum, materi yang termuat dalam keempat peraturan
tersebut adalah sama, tanpa perubahan pada besaran standar untuk perencanaan
fasilitas sosial di lingkungan perumahan. Oleh karena itu, peraturan yang akan
dibahas dalam studi ini adalah peraturan terbaru. Untuk acuan penyediaan fasilitas
lingkungan perumahan berdasarkan standar luas fasilitas mengacu pada Standar
25
Perencanaan Kebutuhan Sarana Kota: Neighborhood Planning (Observasi
Penelitian / Penyempurnaan Standar Sarana Kota, 2000)
2.3.1 Standar Jumlah Penduduk
Pembahasan Mengenai peraturan ini akan dimulai dengan mendefinisikan
masing-masing jenis fasilitas sosial yang akan diteliti berdasarkan ’Petunjuk
Perencanaan Kawasan Perumahan Kota’, seperti :
a. Fasilitas Pendidikan, yang terdiri atas :
-
Taman Kanak-Kanak ( TK ), yaitu sarana pendidikan paling dasar untuk
anak-anak usia 5-6 tahun
-
Sekolah Dasar ( SD), yaitu sarana pendidikan untuk anak-anak usia 6-12
tahun
-
Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama ( SLTP ), yaitu sekolah untuk melayani
anak-anak lulusan SD
-
Sekolah Lanjutan Tingkat Atas ( SLTA ), yaitu sekolah untuk melayani
anak-anak lulusan SLTP
b. Fasilitas Kesehatan, terdiri atas :
-
Balai Pengobatan, yang fungsi utamanya adalah memberikan pelayanan
kepada penduduk dalam bidang kesehatan. Titik beratnya terletak pada
penyembuhan ( Currative ) tanpa perawatan ; berobat pada waktu-waktu
tertentu, juga untuk vaksinasi (preventif)
-
Balai Kesejahteraan Ibu dan Anak ( BKIA ) dan Rumah Bersalin, yang
fungsi utamanya adalah untu melayani ibu-ibu sebelum, pada waktu, dan
sesudah melahirkan, serta melayani bayi sampai anak berusia 6 tahun
-
Tempat Praktek Dokter, dapat merupakan praktek dokter bersama atau
bersatu dengan tempat tinggal
c. Fasilitas Perdagangan, yang terdiri sarana pertokoan yaitu sarana yang
menjual barang-barang keperluan sehari-hari
d. Fasilitas Peribadatan, aneka macam fasilitas ini sangat tergantung pada
kondisi setempat. Pedoman pembangunan fasilitas peribadatan ini hanya ada
untuk mesjid
26
e. Fasilitas Olah-Raga, merupakan daerah terbuka yang dapat digunakan untuk
aktivitas olah-raga
Pedoman penyediaan tiap jenis fasilitas tersebut dapat dilihat dari jumlah
minimal penduduk pendukungnya, seperti terlihat pada tabel II.1
Tabel II.1
Pedoman Penyediaan Fasilitas di Lingkungan Perumahan Berdasarkan
Jumlah Minimal Penduduk Pendukung
Jenis Fasilitas
Macam Fasilitas
Minimal
Penduduk
Pendukung
Pendidikan
Taman Kanak-Kanak
1000
Sekolah Dasar
3500
Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama
14000
Kesehatan
Perbelanjaan
Peribadatan
Olah-Raga/R.Terbuka
Sekolah Lanjutan Tingkat Atas
Balai Pengobatan
BKIA / Rumah Bersalin
Tempat Praktek Dokter
Puskesmas
Apotik
Warung
Pertokoan
Toko Swalayan
Pusat Perbelanjaan Lingkungan
(Toko + Pasar)
Langgar
Mesjid Warga
Mesjid Lingkungan
Taman Lingkungan dan Tempat
bermain
Taman Umum dan Tempat Bermain
Lapangan Olahraga
42000
3000
7000
5000
30000
10000
250
2500
10000
30000
250
2500
30000
250
2500
2500
Sumber: Petunjuk Perencanaan Kawasan Perumahan Kota, Kepmen PU No.378/KPTS/1987
Ada beberapa fasilitas lain yang tidak diuraikan karena minimal penduduk
pendukungnya lebih besar dari jumlah penduduk di wilayah studi, sehingga tidak
menjadi bagian dari studi ini. Fasilitas tersebut adalah rumah sakit dengan 240000
penduduk pendukung, pusat perbelanjaan dan Niaga dengan 120000 penduduk
pendukung, pemakaman umum dengan 120000 penduduk pendukung dan
27
perguruan tinggi dengan 70000 penduduk pendukung. Sarana pemerintahan dan
pelayanan umum juga tidak termasuk dalam studi ini
2.3.2. Standar Luas Fasilitas
Standar luas fasilitas lingkungan perumahan mengacu pada Standar
Perencanaan Kebutuhan Sarana Kota (Soefaat: Neighborhood unit). Dalam aturan
tersebut dijelaskan bahwa untuk setiap klasifikasi fasilitas memiliki standar luas
yang disesuaikan dengan acuan jumlah penduduk. Penjelasan luasan fasilitas
terbagi menjadi 2 bagian, yaitu fasilitas dengan standar yang tetap artinya luasan
fasilitas tidak bergantung pada aspek daya tampung serta fasilitas dengan standar
yang dapat bersifat fleksibel artinya luasan fasilitas dapat berubah tergantung daya
tampung
2.3.2.1. Fasilitas Pendidikan
Fasilitas pendidikan terbagi menjadi dua bagian yaitu pendidikan formal
dan pendidikan non formal. Dalam studi kali ini yang akan dijelaskan adalah yang
menyangkut pendidikan formal yaitu pendidikan pra sekolah ( Taman Kanakkanak), sekolah dasar, sekolah lanjutan tingkat pertama serta sekolah lanjutan
tingkat atas.
a. Taman kanak-kanak (TK)
Penyelenggaraan kegiatan belajar dan mengajar pada tingkatan pra belajar
dengan lebih menekankan pada kegiatan bermain, yaitu 75 persen, selebihnya
bersifat pengenalan. Luas tanah yang dibutuhkan untuk pemenuhan fasilitas ini
adalah 700 m2 dengan standar pelayanan 15 m2 untuk setiap murid.
b. Sekolah Dasar (SD)
Bentuk satuan pendidikan dasar yang menyelenggarakan program 6 tahun . Luas
tanah yang dibutuhkan untuk pemenuhan fasilitas ini adalah 8000 m2 dengan
standar pelayanan 15 m2 untuk setiap murid.
28
c. Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP)
Bentuk satuan pendidikan dasar yang menyelenggarakan program 3 tahun
sesudah SD. Luas tanah yang dibutuhkan untuk pemenuhan fasilitas ini adalah
10000 m2 dengan standar pelayanan 15 m2 untuk setiap murid.
d. Sekolah Menengah Umum (SMU)
Bentuk satuan pendidikan yang menyelenggarakan program pendidikan
menengah mengutamakan perluasan pengetahuan dan peningkatan keterampilan
siswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan tinggi . Luas tanah
yang dibutuhkan untuk pemenuhan fasilitas ini adalah 10000 m2 dengan standar
pelayanan 15 m2 untuk setiap murid.
Besaran dan standar yang dapat dipakai dalam penentuan kebutuhan
sarana-sarana ini dapat dilihat pada Tabel II.2.
Tabel II.2
Standar Fasilitas Pendidikan berdasarkan Luasan Fasilitas
Klasifikasi
Macam Fasilitas
Luas Tiap Unit
Standar
Fasilitas
(M2)
Pelayanan
Pendidikan
Taman Kanak-Kanak
700
15 m2/murid
Sekolah Dasar
8000
15 m2/murid
Sekolah Lanjutan
10000
15 m2/murid
Tingkat Pertama
Sekolah Lanjutan
10000
15 m2/murid
Tingkat Atas
Sumber: Standar Perencanaan Kebutuhan Sarana Kota : Soefaat, Neighborhood Planning
2.3.2.2 Fasilitas Perdagangan
Fasilitas perdagangan ini terdiri atas 4 fasilitas yang terdiri atas warung,
pertokoan, toko swalayan dan pusat perbelanjaan. Fasilitas ini digunakan sebagai
fasilitas perbelanjaan dan juga sebagai fasilitas tempat kerja bagi kelompok
lainnya (sebagai mata pencaharian).
a. Warung
Fungsi utama warung adalah menjual barang-barang keperluan sehari-hari
seperti sabun, gula, rempah-rempah dan lain-lain. Lokasinya sebaiknya
diletakkan di pusat lingkungan yang mudah dicapai atau juga bisa diletakkan
dilokasi dekat perumahan penduduk. Luas yang dibutuhkan adalah seluas 50
29
m2 termasuk gudang kecil. Penduduk minimum yang mendukung sarana ini
adalah 250 penduduk
b. Pertokoan
Fungsi utama dari sarana pertokoan ini adalah menjual barang-barang
keperluan sehari-hari berupa toko-toko. Lokasinya sebaiknya diletakkan di
pusat pelayanan atau juga di sub pusat pelayanan yang mudah dijangkau oleh
penduduk dari segala lokasi ( strategis ). Lokasinya juga sebaiknya tidak
menyebrang jalan lingkungan. Luas tanah yang dibutuhkan untuk pemenuhan
fasilitas ini adalah 1200 m2.
c. Pusat Perbelanjaan (Toko + Pasar)
Fungsi utama dari pusat perbelanjaan ini adalah sebagai pusat perbelanjaan di
lingkungan yang menjual keperluan sehari-hari. fasilitas ini terdiri atas pasar
dan toko-toko lengkap dengan bengkel-bengkel reparasi kecil. Lokasinya
sebaiknya ditempatkan pada jalan utama lingkungan dan mengelompok
dengan pusat lingkungan. Luas tanah yang dibutuhkan adalah 13500 m2
dengan jumlah minimum penduduk yang mendukung keberadaan sarana ini
adalah 30000 penduduk.
d. Toko Swalayan
Fungsi utama dari Toko Swalayan ini adalah sebagai pusat perbelanjaan yang
menjual keperluan sehari-hari.. Lokasinya sebaiknya ditempatkan pada jalan
utama lingkungan. Luas tanah yang dibutuhkan adalah 4800 m2 dengan
jumlah minimum penduduk yang mendukung keberadaan sarana ini adalah
10000 penduduk
Besaran dan standar yang dapat dipakai dalam penentuan kebutuhan
sarana-sarana ini dapat dilihat pada Tabel II.3.
30
Tabel II.3
Standar Fasilitas Perdagangan berdasarkan Luasan Fasilitas
Klasifikasi
Macam Fasilitas
Luas Tiap
Standar
Fasilitas
Unit (M2)
Pelayanan (Jiwa)
Perdagangan
Warung
50
250
Pertokoan
1200
2500
Pusat Perbelanjaan
13500
30000
Lingkungan (Toko + Pasar)
Toko Swalayan
4800
10000
Sumber: Standar Perencanaan Kebutuhan Sarana Kota : Soefaat, Neighborhood Planning
2.3.2.3 Fasilitas Kesehatan
Fasilitas kesehatan ini terdiri atas balai pengobatan, Balai Kesejahteraan
Ibu dan Anak (BKIA) dan rumah bersalin, rumah sakit, apotik, tempat praktek
dokter, dan puskesmas.
a. Balai Pengobatan
Fasilitas kesehatan berupa balai pengobatan harus didukung oleh penduduk
dengan jumlah minimum 3000 penduduk serta luas lantai yang dibutuhkan
untuk pemenuhan sarana ini adalah 150 m2.
b. BKIA / Rumah Bersalin
Fasilitas kesehatan berupa BKIA dan rumah bersalin, jumlah penduduk
minimum yang mendukung sarana ini adalah 7000 penduduk serta luas yang
dibutuhkan untuk pemenuhan sarana ini adalah 700 m2.
c. Praktik Dokter
Praktik dokter berfungsi untuk melayani penduduk yang mengalami gangguan
kesehatan. Lokasinya sebaiknya ditempatkan pada pusat lingkungan dengan
letak cukup strategis. Minimum penduduk yang dapat mendukung sarana ini
adalah 5000 penduduk. Luas tanah yang dibutuhkan untuk pemenuhan sarana
ini adalah 1050 m2.
d. Apotik
Apotik berfungsi untuk melayani penduduk di dalam bidang obat-obatan.
Lokasinya sebaiknya ditempatkan pada pusat lingkungan dengan letak cukup
strategis. Minimum penduduk yang dapat mendukung sarana ini adalah 10000
31
penduduk. Luas tanah yang dibutuhkan untuk pemenuhan sarana ini adalah 350
m2.
e. Puskesmas
Puskesmas berfungsi untuk memberikan pelayanan kepada penduduk dalam
bidang kesehatan (penyembuhan, pencegahan dan pendidikan). Satu lingkungan
yang terdiri dari 30000 penduduk harus disediakan sarana ini. Mengingat
pentingnya keberadaan sarana ini, maka sebaiknya penempatan sarana ini
ditempatkan di pusat lingkungan. Luas tanah yang dibutuhkan untuk pemenuhan
sarana ini adalah 1400 m2.
Besaran dan standar yang dapat dipakai dalam penentuan kebutuhan
sarana-sarana ini dapat dilihat pada Tabel II.4.
Tabel II.4
Standar Fasilitas Kesehatan Berdasarkan Luasan Fasilitas
Klasifikasi
Macam Fasilitas
Luas Tiap Unit
Standar
Fasilitas
(M2)
Pelayanan (Jiwa)
Kesehatan
Balai Pengobatan
150
3000
BKIA / Rumah Bersalin
700
7000
Tempat Praktek Dokter
1050
5000
Apotik
350
10000
Puskesmas
1400
30000
Sumber: Standar Perencanaan Kebutuhan Sarana Kota : Soefaat, Neighborhood Planning
2.3.2.4 Fasilitas Peribadatan
Fungsi utama dari fasilitas peribadatan ini adalah sebagai tempat ibadat
bagi masing-masing pemeluk agamanya. Jenis, macam dan besaran dari sarana
peribadatan ini sangat tergantung pada kondisi setempat. Jenis sarana peribadatan
sangat tergantung pada kondisi setempat dengan memperhatikan struktur
penduduk menurut agama yang dianut dan tata cara atau pola masyarakat
setempat dalam menjalankan ibadah agamanya. Untuk mendapatkan hasil
perencanaan yang sesuai maka perlu dilakukan survei setempat tentang struktur
penduduk menurut umur, jenis kelamin, serta agama yang dianut
Standar umum yang dapat digunakan antara lain sebagai berikut :
-
Luas lantai per jamaah : 1,2 m2
32
-
Luas tanah bruto per jamaah adalah tergantung pada peraturan bangunan
setempat
Besaran dan standar yang dapat dipakai dalam penentuan kebutuhan
sarana-sarana ini dapat dilihat pada Tabel II.5.
Tabel II.5
Standar Fasilitas Peribadatan Berdasarkan Luasan Fasilitas
Klasifikasi
Macam Fasilitas
Luas Tiap Unit (M2)
Standar
Fasilitas
Pelayanan
Peribadatan
Langgar
600
1.2 m2/orang
Mesjid Warga
1.2 m2/orang
Mesjid Lingkungan
1.2 m2/orang
(Kelurahan)
Mesjid Kecamatan
120000 orang
Sarana ibadah
Tergantung sistem
agama lain
hierarki lembaga
Sumber: Standar Perencanaan Kebutuhan Sarana Kota : Soefaat, Neighborhood Planning
2.3.2.5 Fasilitas Ruang Terbuka dan Olahraga
Fasilitas-fasilitas ini memiliki fungsi utama sebagai lapangan olah raga,
tempat bermain anak-anak, serta taman. Disamping itu fasilitas ini berfungsi
memberikan kesegaran pada kota berupa udara segar maupun cahaya. Tempat ini
berfungsi juga untuk menetralisir polusi udara sebagai paru-paru kota. Ruang
terbuka merupakan komponen berwawasan lingkungan yang mempunyai arti
sebagai suatu lansekap, taman atau ruang rekreasi dalam lingkup urban.
Peran dan fungsi ruang terbuka hijau (RTH) ditetapkan dalam instruksi
Mendagri No.4 Tahun 1988, yang menyatakan RTH yang populasinya didominasi
oleh penghijauan baik secara alamiah atau budidaya tanaman, dalam pemanfaatan
dan fungsinya adalah sebagai areal berlangsungnya fungsi ekologis dan
penyangga kehidupan wilayah perkotaan. Penggolongan fasilitas ruang terbuka
hijau di lingkungan perumahan berdasarkan kapasitas pelayanannya terhadap
sejumlah penduduk.
Standar umum yang dapat digunakan antara lain sebagai berikut :
-
Luas : 0.1 m2 per orang untuk taman lingkungan dan taman bermain
(cluster) setiap standar pelayanan 250 orang
33
-
Luas : 0.4 m2 per orang untuk taman umum dan taman bermain setiap
standar pelayanan 2500 orang
Mengingat pentingnya fungsi dari fasilitas ini, fasilitas-fasilitas tersebut
harus benar-benar dijaga seperti yang seharusnya, baik dalam besarannya maupun
kondisinya. Untuk mengetahui besaran tersebut lihat pada tabel II.6
Tabel II.6
Kebutuhan Sarana Olah-raga dan Ruang Terbuka
Berdasarkan Besaran Penduduk
Luas Tiap
Standar
Jenis Fasilitas
Macam Fasilitas
Unit (M2)
Pelayanan
Ruang Terbuka dan Taman lingkungan + tempat
0.1 m2/orang
250
Lapangan Olahraga bermain
Taman Umum + tempat
0.4 m2/orang
2500
bermain
Lapangan Basket
900
Lapangan Volli
600
2500
Lapangan Tenis
1200
Lapangan Badminton (GOR)
1250
Lapangan Sepakbola
5000
Fasilitas Kolam Renang
4000
30000
Sumber: Standar Perencanaan Kebutuhan Sarana Kota : Soefaat, Neighborhood Planning
2.4
Konsep Healthy Neighborhood Planning
Perencanaan lingkungan yang sehat menjadi isu penting yang harus
dilakukan. Sasaran kebijakan untuk mengidentifikasikan lingkungan yang sehat
menurut Hugh.Barton mencakup empat hal, yaitu berdasarkan aspek perumahan,
fasilitas lingkungan perumahan, pergerakan dan ruang terbuka. Strategi
perencanaan lingkungan yang sehat (Hugh Barton, 2000) dapat diidentifikasi ke
dalam 11 faktor, yaitu :
1. Kualitas Jaringan ruang terbuka.
2. Pedestrian dan jaringan jalan.
3. Keamanan.
4. Aksesibilitas.
5. Pengendalian mobil dan dukungan terhadap transportasi umum
6. Pekerjaan Lokal.
7. Pengembangan Komunitas.
34
8. Strategi Perairan.
9. Strategi terhadap energi dan sumberdaya lainnya.
10. Ekosistem Global
11. Perencanaan ruang yang terintegrasi.
Ikhtisar kebijakan yang diperlukan dalam menciptakan lingkungan yang
sehat dapat dilihat pada Tabel II.7.
Tabel II.7
Isu dan Sasaran Hasil Kebijakan dalam Perencanaan Lingkungan
Perumahan yang Sehat
Area Kebijakan
Isu Penting
Pergerakan
Perumahan
Fasilitas Lokal
• Penggunaan energi
yang efisien dalam
perumahan
• Material yang
tidak beracun
• Penempatan
fasilitas
• Penempatan lokasi
pedestrian yang
nyaman
•
Pedestrian dan
Jaringan Jalan
• Lingkungan
Pemukiman yang
sehat
•
Keamanan
• Kejelasan desain
dan kepemilikan
antara ruang privat
dan ruang milik
publik
• Pengembangan
secara tertutup
transportasi umum
dan pelayanan
lokal
• Angka kepadatan
• Melarang
pembangunan
rumah di area yang
tidak aksesible
• Good range of
housing tenure,
size and price in
every
neighbourhood
• Penggunaan energi
yang efisien dalam
perumahan
• Fasilitas lokal
yang mudah
terjangkau dengan
berjalan maupun
berjalan kaki
• Fasilitas lokal
yang mudah
diakses yang dekat
dengan jalan
•
•
Lalu lintas tenang
Desain untuk
pengawasan jalan
setapak dan trotoar
• Penempatan
fasilitas pelayanan
dekat dengan area
perumahan
• Menempatkan
kenyamanan
pedestrians dan
akses terhadap
transportasi umum
•
•
Pedestrian yang
mudah di akses and
lingkungan yang
memutar
Perencanaan yang
mendukung
penggunaan
transportasi umum
• Bangunan yang
dapat digunakan
baik untuk sosial
maupun komersial
• Murah dalam
pengoperasian dan
efisiensi
pengguanaan
energi
•
Pemberhentian Bus
Kualitas Udara
Aksesibilitas
Perlindungan
dan
Pengendalian
•
Mengurangi
penggunaan mobil
Mengurangi penetrasi
kendaran besar (truk)
di lingkungan
perumahan dan
mengurangi melewati
jalur langsung
Jalur pedestrian yang
aman dan nyaman dan
jalur memutar
Ruang Terbuka
• Desain iklim
ruang yang
sehat
• Meningkatkan
perlindungan
pohon
• Rekreasi jalur
hijau
• Tempat
bermain dan
lahan bermain
• Jarak
penglihatan
baik antar ruang
terbuka yang
berseberangan
• Menyediakan
akses ruang
terbuka untuk
segala aktivitas
• Shelter belts
35
Area Kebijakan
Isu Penting
Pekerjaan
Komunitas
Air dan
Biodiversity
Sumberdaya
Alam dan
Mineral
Perumahan
Fasilitas Lokal
Pergerakan
• Mendukung tempat
tinggal
dipergunakan
sebagai tempat
bekerja
• Menciptakan lokasi
yang aksesibel oleh
trasportasi umum
• Mendukung aksi
peran aktif
penghuni
• Desain area
pemukiman
• Mendukung
kepemilikan rumah
bersama
• Meningkatkan
autonomi air
• Penyediaan sarana
air limbah dan
mengisi ulang air
tanah
• Memelihara dan
menjaga habitat
• Membantu
pertumbuhan
ekonomi lokal
•
• Pembangunan
menggunakan
sistem daur ulang
dan menciptakan
material baru
• Perlindungan
terhadap
permukaan tanah
• Encourage
residential
composting
• Energi rendah
dalam penggunaan
• Pembangunan
menggunakan
sistem daur ulang
dan menciptakan
material baru
•
• Energi rendah
dalam penggunaan
•
•
• Membantu
perkembangan
pelayanan lokal
dan pekerjaan
•
•
•
•
• Meningkatakan
tingkat kecukupan
air
• Pembuangan
•
limbah lokal dan
pengisian ulang air
tanah
• Memelihara dan
menjaga habitat
Ekosistem
Global
Sumber: Healthy Urban Planning, Chapter 5, hal 124-125
Pelayanan
transporatasi umum
yang baik ke semua
pusat
Strategi pelayanan
jaringan jalan lokal
Ruang Terbuka
• Mendorong
produktivitas
lahan terbuka
• Taman, area
Pedestrian dan
bermain, taman
jaringan jalan yang
beramain dan
dapat dengan mudah
menyediakan
dilalui dalam
tempat
lingkungan
pertemuan
Keamanan jalan
Desain casual
gatherings
• Struktur ruang
Menjamin
terbuka
ketersediaan drainase
mengelilingi
jalan yang bersih, dan
sumber air
pengisian air tanah
untuk menjaga
Mengurangi
habitat and
penggunaan kendaraan
konservasi air
• Menciptakan
habitat
margasatwa
Konstruksi jalan lebih • Menggunakan
sedikit
fasilitas lokal
untuk mendaur
ulang organik
Mengurangi
ketergantungan pada
bahan bakar fosil
• Mengurangi
kecepatan
angin dengan
melakukan
penanaman
• Meningkatkan
campuran
karbon
36
Ada 3 (tiga) prinsip dasar yang harus dipenuhi dalam menciptakan
lingkungan yang sehat yaitu:
•
Sosial: peningkatan kualitas hidup, terutama bagi orang-orang yang
mobilitasnya rendah melalui peningkatan terhadap peluang lokal, pilihan
dan kenyamanan, melalui penciptaan identitas lokal serta membangun
jaringan komunitas
•
Lingkungan: menjaga keberlanjutan ekologi di lingkungan melalui
meminimalisasi penggunaan sumberdaya yang tidak terbarukan dan
meminimalkan tingkat polusi dan limbah yang dapat merusak lingkungan
baik pada tingkat lokal, regional maupun lingkungan global.
•
Ekonomi: kelayakan dan solusi keberlanjutan pembiayaan yang dapat
mendukung kegiatan manusia yang menempati lingkungan tersebut
Keterkaitan yang baik antara perumahan dengan fasilitas pekerjaan lokal,
perdagangan, pendidikan, dan kesehatan adalah penting untuk menciptakan
lingkungan pemukiman yang sehat. Hal ini berarti bahwa orang akan
mendapatkan kemudahan dalam mempergunakan fasilitas lokal meskipun tanpa
mempergunakan kendaraan. Ini berarti bahwa proporsi perjalanan lebih besar
mempergunakan sepeda atau berjalan kaki dibandingkan mempergunakan
kendaraan.
Kesulitan yang dihadapi tingginya penggunaan kendaraan serta tingginya
kepadatan penduduk yang dapat mengurangi keindahan dan kelangsungan hidup
dari pelayanan lokal. Kecenderungan tidak sehat ini selalu diutarakan oleh para
perencana sebagai masalah yang harus segera diselesaikan. Lokalisasi seharusnya
direncanakan untuk membantu perkembangan dan kelangsungan hidup fasilitas
lokal dengan menjamin ketersediaan akses yang baik dengan berjalan kaki
maupun dengan bersepeda.
Berikut ditampilkan kebijakan lingkungan berkaitan dengan jarak sehat
(Hugh.Barton, 2000) yang dijangkau penghuni terhadap keberadaan fasilitas lokal.
37
Gambar 2.1
Healthy Policy
THE
HOME
100
200
300
400
600
800
1000
1500
2000
5000
Sumber: Healthy Urban Planning, Chapter 5, hal 133
Berkaitan dengan perencanaan lingkungan yang sehat (Hugh Barton,2000)
dalam hubungannya dengan perencanaan fasilitas lokal maka hal-hal yang terkait
di dalamnya yang harus dipenuhi mencakup:
•
Jarak yang sehat dalam memperoleh kesempatan bekerja terutama untuk
kelompok masyarakat seperti orang yang memiliki kemampuan pemasaran
rendah, mobilitas rendah, orangtua tunggal, dan orang muda; di mana
kelompok ini mudah terserang masalah kesehatan, kemiskinan dan
pengangguran
•
Akses terhadap pelayanan adalah faktor penting untuk meningkatkan
kesehatan dan membantu orang yang tidak memiliki kendaraan
38
•
Meningkatkan intensitas berjalan kaki dan bersepeda dalam melakukan
perjalanan yang baik untuk kesehatan.
•
Mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan melalui dukungan
kebijakan di tempat tersebut berkaitan dengan menciptakan lalulintas yang
tenang dan mengurangi polusi.
•
Banyaknya orang di jalan dan di fasilitas dapat membantu perkembangan
komunitas lokal dan menciptakan lingkungan yang aman untuk anak-anak.
Tabel II.8
Arahan Kebijakan Jarak Sehat Penghuni terhadap Keberadaan
Fasilitas Lingkungan (Hugh. Barton)
Klasifikasi Fasilitas
Taman + tempat bermain
Taman komunitas (Umum)
Ruang Terbuka (Open Space)
Lapangan Olahraga
Taman kanak-kanak
Sekolah Dasar
Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP)
Sekolah Menengah Atas
Pertokoan lokal
Pusat Kesehatan
Pusat Leisure
Sumber: Healthy Urban Planning, Chapter 5
.
Jarak Sehat (M)
100-200
200-400
800-1000
800-1000
400-600
400-600
1000-1500
1000-1500
400-800
800-1000
1500-2000
Download