TATA CARA PERIZINAN DAN BERBAGAI ASPEKNYA DI BIDANG

advertisement
TATA CARA PERIZINAN DAN BERBAGAI ASPEKNYA
DI BIDANG PERTAMBANGAN UMUM
Disusun dalam rangka sosialisasi Tatacara Perizinan Usaha Pertambangan
di Kabupaten Takalar Sulawesi Selatan
DINAS PERTAMBANGAN DAN ENERGI
PROVINSI SULAWESI SELATAN
MAKASSAR
2005
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkembangan kegiatan usaha pertambangan umum yang begitu
pesat ditandai dengan semakin maraknya pengusaha/perusahaan
yang akan/telah melakukan usaha pertambangan umum dalam bentuk
KK, PKP2B. KP, SIPD sehingga diperlukan pemahaman tentang Tata
Cara Perizinan di Bidang Pertambangan Umum.
B. Maksud dan Tujuan
Maksud : memberikan pemahaman kepada aparatur pemerintah,
khususnya pelaksana/pengelola pertambangan mengenai tata
cara perizinan di bidang pertambangan umum.
Tujuan : untuk memberikan informasi tentang tatacara perizinan yang
meliputi Kuasa Pertambangan (KP) dan Surat Izin
Pertambangan Daerah (SIPD).
C. Batasan Masalah
Pengelolaan pertambangan yang akan dibahas didalam tulisan ini
adalah Tata Cara Perizinan Bidang Pertambangan Umum di tingkat
kabupaten/kota sesuai dengan kewenangannya. Izin usaha
pertambangan yang akan dibahas hanya meliputi Kuasa Pertambangan
(KP) dan Surat Izin Pertambangan Daerah (SIPD).
BAB II
DASAR HUKUM DAN PROSES ADMINISTRASI
PERIZINAN USAHA PERTAMBANGAN
A. Dasar Hukum
Sebagaimana yang berdasar atas hukum maka segala tindakan
Negara atau Pemerintah dan Aparaturnya harus berdasarkan atas
hukum yang berlaku. Begitu pula dalam kegiatan usaha
pertambangan tidak terlepas dari prinsip tersebut. Untuk itu perlu
dijelaskan lebih lanjut mengenai ketentuan-ketentuan hukum yang
berlaku yang mengatur mengenai kegiatan usaha di bidang
Pertambangan Umum, yaitu :
Dasar Konstitusional
 Undang-Undang Dasar 1945, Pasal 3 ayat (3)
Dasar Hukum
 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuanketentuan Pokok Pertambangan;
 Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1969 tentang Pelaksanaan
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuanketentuan Pokok Pertambangan;
 Peraturan Pemerintah Nomor 75 Tahun 2001 tentang Perubahan
Kedua Atas Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1969 tentang
Pelaksanan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang
Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan
 Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1980 tentang
Penggolongan Bahan Galian;
 Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1996 tentang Penyerahan
Sebagian Urusan Pemerintahan di Bidang Pertambangan Kepada
Pemerintah Daerah Tingkat I;
 Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2003 tentang Tarif Atas
Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Berlaku pada
Departemen Energi Sumber Daya Mineral.
Keputusan Menteri Energi dan SDM Nomor 1603.K/40/MEM/2003 tentang
Pedoman Pencadangan Wilayah Pertambangan
Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor :
134.K/201/MPE/1996 tanggal 20 Maret 1996 tentang Penggunaan Peta,
Penjelasan Batas Luas Wilayah Kuasa Pertambangan, Kontrak Karya dan
Kontrak Karya Batubara di Bidang Pertambangan Umum;
Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor
135.K/201/MPE/1996 tanggal 20 Maret 1996 tentang Pembuktian
Kesanggupan dan Kemampuan Pemohon Kuasa Pertambangan, Kontrak
Karya dan Kontrak Karya Batubara;
Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor : 678/20/MPE/1998
tanggal 1 Juni 1998 tentang Pelimpahan Wewenang Pemberian Kuasa
Pertambnagan Pemrosesan dan Pelaksanaan Kontrak Karya dan
Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara;
Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No.
1453K/29/MEM/2000 tanggal 3 Nopember 2000 tentang Pedoman Teknis
Penyelenggaraan Tugas Pemerintahan di Bidang Pertambangan Umum
 Keputusan Direktur Jenderal Pertambangan Umum Nomor
696.K/201/DDJP/1996 tanggal 31 Desember 1996 tentang Tata Cara
Permohonan Perubahan Status Kuasa Pertambangan menjadi Kontrak
Karya;
 Keputusan Direktur Jenderal Pertambangan Umum Nomor
697.K/201/DDJP/1996 tanggal 31 Desember 1996 tentang Penataan Batas
Wilayah Pertambangan Antara KP/KK/PKP2B Bidang Pertambangan
Umum;
 Keputusan Direktur Jenderal Pertambangan Umum Nomor :
149.K/201/DDJP/1996 tanggal 16 Juni 1996 tentang Pemberian
Kuasa Pertambangan;
B. Proses Administrasi Perizinan Usaha Pertambangan Umum
PERMOHONAN
PENCADANGAN
PENCADANGAN WILAYAH
Pengecekan tumpang tindih
Perhitungan luas/batas
Pembuatan Peta Perizinan
PERMOHONAN
KP/KK/PKP2B
PROSES KP
PROSES KK
KP/KK/PKP2B
PROSES PKP2B
BAB III
PENCADANGAN WILAYAH
A. Definisi
Berdasarkan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor
1603 Tahun 2003, definisi pencadangan wilayah pertambangan adalah proses
permohonan dan pelayanan untuk mendapatkan wilayah pertambangan dalam
rangka permohonan Kuasa Pertambangan (KP), Kontrak Karya
(KK),
Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B), Surat Izin
Pertambangan Daerah (SIPD), dan Surat Izin Pertambangan Rakyat (SIPR).
Sistem pencadangan wilayah dirancang agar mempunyai kemampuan untuk
mengelola berbagai jenis informasi kewilayahan dan menghasilkan informasi
yang berkaitan dengan kewilayahan dalam rangka permohonan perizinan di
bidang pertambangan umum. Sistem pencadangan wilayah ini mengacu pada
sistem
informasi
kewilayahan
Nasional
yang
pengembangannya
dikoordinasikan oleh Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional
(BAKOSURTANAL). Diharapkan sistem ini dapat menyediakan suatu sistem
administrasi wilayah pertambangan yang handal dan dapat mendukung
suprasistemnya, yaitu sistem administrasi perizinan bidang pertambangan.
B. Komponen Sistem Pencadangan Wilayah
Sistem pencadangan wilayah mempunyai beberapa komponen yang saling
terkait dan tidak terpisahkan, yaitu :
Perangkat Keras (Hardware)
Perangkat lunak (Software)
Data dan Informasi
Prosedur Standar
Sumberdaya Pengelola.
C. Kegiatan Pencadangan Wilayah
Proses pencadangan wilayah memanfaatkan teknologi Sistem Informasi
Geografis (SIG) dalam melaksanakan tugasnya; sejak dari penyajian
informasi hingga pencadangan wilayah pertambangan yang akan dimohon
sebagai wilayah KP/KK/PKP2B. Berbagai aturan dan tata cara operasional
telah pula diterbitkan dengan maksud untuk menjamin kepastian hukum dari
pelaksanaan sistem perizinan yang baru.
Selain itu penyempurnaan perangkat peraturan khususnya cara penetapan
titik batas wilayah pertambangan yang tunggal dan mengacu kepada sistem
pemetaan nasional (dengan datum ID’74 dan DGN’95) dan Internasional
(WGS’84).
Kegiatan yang dilakukan didalam proses pencadangan wilayah adalah :
Memberikan pelayanan permintaan informasi tentang status wilayah
pertambangan secara nasional kepada masyarakat setiap saat.
Melaksanakan proses pencadangan wilayah pertambangan
dalam rangka permohonan KP/KK/PKP2B.
Menyiapkan dokumen teknis yang menyangkut kewilayahan bagi
perusahaan yang akan mengajukan berbagai izin pertambangan.
D. MANFAAT PENCADANGAN WILAYAH
Beberapa manfaat yang langsung dirasakan oleh instansi yang berwenang
dalam penerbitan perizinan bidang pertambangan dan masyarakat
sebagai pengguna dan pemohon perizinan, yaitu :
Tersedianya suatu sistem informasi wilayah pertambangan yang
transparan dan mudah dimanfaatkan baik oleh instansi yang berwenang
untuk keperluan teknis ataupun bagi masyarakat luas.
Membantu dan mempercepat calon investor dalam pengambilan
keputusan untuk penentuan wilayah pertambangan yang akan dimohon
sebagai KP/KK/PKP2B.
Mengetahui tumpang tindih penggunaan lahan secara dini.
Menjamin kepastian hukum bagi investor pada wilayah pertambangan
yang dicadangkan sehingga mempunyai kekuatan hukum yang jelas
serta tidak dapat diganggu gugat oleh pihak lain.
Meningkatkan daya tarik bagi calon investor karena memberikan
kemudahan, kepastian waktu serta biaya untuk investasi di bidang
pertambangan umum.
Menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD) jika Unit Pelaksana Proses
Pencadangan Wilayah dibentuk di daerah.
Selanjutnya Peta Pencadangan Wilayah dan Koordinat Batas
Wilayahnya yang merupakan produk dari proses pencadangan wilayah
adalah salah satu syarat yang harus dipenuhi/dilampirkan didalam
melakukan permohonan Izin KP/KK/PKP2B.
Simulasi
LAMPIRAN DAFTAR KOORDINAT
Nama Perusahaan: PT. SANGKAROPI RUMANGA MINING
Provinsi
: SULAWESI SELATAN
Kabupaten
: TANA TORAJA & LUWU
Luas
: 1.955 Ha
Nomor
Titik
Garis Bujur (BT)
Garis Lintang (LS)
o
‘
“
o
‘
“
1,
119
56
50,0
2
51
40,0
2.
119
57
23,2
2
51
40,0
3.
119
57
23,2
2
51
19,2
4.
119
58
4,6
2
51
19,2
5.
119
58
4,6
2
51
7,4
6.
119
58
42,0
2
51
7,4
BAB IV
IZIN USAHA PERTAMBANGAN
Perizinan dalam pengusahaan pertambangan sangat beragam, mulai
dari Kuasa Pertambangan (KP), Kontrak Karya (KK) dan Perjanjian
Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B). Namun
demikian didalam tulisan ini dibatasi pada pemaparan Kuasa
Pertambangan
yang
sering
diterbitkan
oleh
Pemerintah
Kabupaten/Kota.
Kuasa Pertambangan adalah wewenang yang diberikan kepada
badan/perseroan untuk melaksanakan usaha pertambangan.
Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 75 Tahun 200 1 Pasal 1 ayat (1)
bahwa setiap usaha pertambangan bahan galian yang termasuk dalam
golongan bahan galian strategis dan golongan bahan galian vital, baru
dilaksanakan apabila terlebih dahulu telah mendapatkan Kuasa
Pertambangan.
A. Bentuk Kuasa Pertambangan
Didalam Pasal 2 ayat (1) PP Nomor 75 Tahun 2001 disebutkan
bahwa Kuasa Pertambangan diberikan dalam bentuk
 Surat Keputusan Penugasan Pertambangan,
 Surat Keputusan Izin Pertambangan Rakyat dan
 Surat Keputusan Pemberian Kuasa Pertambangan.
1. Surat Keputusan Penugasan Pertambangan.
Surat Keputusan Penugasan Pertambangan adalah Kuasa Pertambangan
yang diberikan oleh Menteri, Gubernur, Bupati/Walikota sesuai
kewenangannya kepada instansi pemerintah yang meliputi tahap kegiatan
penyelidikan umum dan eksplorasi sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 75
Tahun 2001 Pasal 2 ayat (2).
2. Surat Keputusan Izin Pertambangan Rakyat
Surat Keputusan Izin Pertambangan Rakyat diberikan oleh Bupati/Walikota
kepada rakyat setempat untuk melaksanakan usaha pertambangan secara
kecil-kecilan dan dengan luas wilayah yang sangat terbatas yang meliputi
tahap kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi, eksploitasi, pengolahan dan
pemurnian serta pengangkutan dan penjualan sebagaimana dijelaskan pada
Peraturan Pemerintah Nomor 75 Tahun 2001 Pasal 2 ayat (3).
3. Surat Keputusan Pemberian Kuasa Pertambangan
Surat Keputusan Pemberian Kuasa Pertambangan adalah Kuasa
Pertambangan yang diberikan oleh Menteri, Gubernur, Bupati/Walikota
sesuai kewenangannya kepada perusahaan Negara, Perusahaan
Daerah, Badan Usaha Swasta atau perorangan untuk melaksanakan
usaha pertambangan yang meliputi tahap penyelidikan umum,
eksplorasi, eksploitasi,
pengolahan
dan pemurnian, serta
pengangkutan dan penjualan sebagaimana dijelaskan pada Peraturan
Pemerintah Nomor 75 Tahun 2001 Pasal 2 ayat (4).
Adapun untuk melaksanakan usaha pertambangan bahan galian yang
tidak termasuk golongan bahan galian vital dan strategis disebut Surat
Izin Pertambangan Daerah (SIPD).
Menurut Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 Pasal 47 ayat (1) dan
(2) disimpulkan bahwa SIPD adalah
Kuasa Pertambangan yang
dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah Tk. I untuk melaksanakan usaha
pertambangan bahan galian yang tidak termasuk golongan bahan galian
vital dan strategis.
Surat Izin Pertambangan Daerah, sesuai PP No. 37 Tahun 1986 Pasal 5
ayat (1), diberikan oleh Pemerintah Daerah Tingkat I setempat kepada
Perusahaan/Badan Hukum dan perseorangan untuk melakukan usaha
pertambangan bahan galian golongan C di daerah; sedangkan didalam
Pasal 3 disebutkan bahwa Pemerintah Daerah Tingkat I dapat
menyerahkan lebih lanjut sebagian urusan Pemerintahan di bidang
Pertambangan kepada Pemerintah Daerah Tingkat II di daerahnya;
khususnya, sesuai Pasal 5 ayat (2), mengatur usaha pertambangan
bahan galian golongan C dengan Peraturan Daerah sesuai dengan
pedoman yang ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri.
B. Persyaratan Permohonan Kuasa Pertambangan
Persyaratan untuk memperoleh Kuasa Pertambangan (KP) seperti diatur pada Lampiran I
Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 1453.K Tahun 2000 adalah sebagai
berikut :
No
Persyaratan
Kuasa Pertambangan
PU
PU
Eksplorasi
Eksplorasi
Eksplorasi
Eksploitasi
Eksploitasi
Perpanjan
gan
Bukan
peningkatan
PU
Peningkatan
PU
Perpanjangan
Peningkatan
KP Eksplorasi
Perpanjangan
1.
Surat Permohonan
X
X
X
X
X
X
X
2.
Peta Wilayah
X
X
X
X
X
X
X
3.
Akte Pendirian Perusahaan
X
X
4.
Tanda bukti setor Jamn
Kesungguhan
X
@
5.
Laporan Keuangan
X
@
6.
Laporan Keg. PU
X
7.
Laporan Lengkap Keg. PU
@
8.
Laporan lengkap Keg.
Eksplorasi
9.
Laporan Studi Kelayakan
X
X
X
X
X
10.
Laporan Akhir Keg. Eksploitasi
X
11.
Laporan Pelaksanaan Pengl.
Lingkungan
X
12.
Rencana Kerja & Biaya
X
13.
Tanda Bukti pelunasan iuran
tetap
X
14.
Tanda Bukti pelunasan iuran
eksploitasi
@
X
X
@
X
X
X
X
X
X
C. Proses Penerbitan KP
Mengacu pada Lampiran II Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya
Mineral Nomor 1453.K/29/MEM/2000 tanggal 3 Nopember 2000 tentang
Prosedur Permohonan KP/KK/PKP2B, maka tata cara memperoleh KP pada
wilayah kewenangan Bupati/Walikota seperti tertera pada diagram alir di
bawah ini.
MESDM
GUBERNUR
2b
2a
BUPATI/
WALIKOTA
1
2
PEMOHON
Keterangan :
1. Permohonan diajukan ke Bupati/Walikota
2. Bupati/Walikota memproses permohonan, setelah Surat Keputusan terbit disampaikan ke pemohon
2a. Tembusan Surat Keputusan disampaikan ke MESDM
2b. Tembusan Keputusan disampaikan ke Gubernur.
D. Tahapan Kegiatan Usaha Pertambangan
Kegiatan usaha pertambangan bahan galian ini untuk jangka waktunya
diatur dalam pasal 8 s/d 12 dan untuk luas wilayah diatur pada pasal
18 s/d 22 UU No. 11 Tahun 1967 adalah sebagai berikut :
Jangka waktu 1 (satu) tahun dan dapat diperpanjang satu kali 1 tahun.
Luas untuk satu KP < 5000 Ha, maksimum 5 KP untuk satu
perusahaan/badan
Eksplorasi;
Jangka waktu 3 (tiga) tahun dan dapat diperpanjang dua kali 1 tahun
Luas untuk satu KP < 2000 Ha, maksimum 5 KP untuk satu
perusahaan/badan
Eksploitasi;
Jangka waktu 30 (tigapuluh) tahun dan dapat diperpanjang dua kali
10 (sepuluh) tahun
Luas untuk satu KP < 1000 Ha, maksimum 5 KP untuk satu
perusahaan/badan
Pengolahan dan pemurnian;
Jangka waktu 30 (tigapuluh) tahun dan dapat diperpanjang dua kali
10 (sepuluh) tahun
Pengangkutan dan Penjualan.
Jangka waktu 10 (sepuluh) tahun dan dapat diperpanjang setiap kali
E. Hak dan Kewajiban Pemegang KP
1. Hak Pemegang KP
Melakukan segala usaha penambangan bahan galian sesuai
wewenang yang diberikan dalam SK. KP
Mendapatkan prioritas pertama untuk memperoleh
KP berikutnya.
Memiliki bahan galian yang dihasilkannya.
2. Kewajiban Pemegang KP
Membuat batas wilayah KP
Mengganti kerugian atas tanah yang dipakainya dan ganti rugi
tanam tumbuh kepada pemiliknya yang berhak.
Membayar iuran pertambangan (iuran tetap dan produksi)
Membayar PBB
Membuat laporan kegiatan setiap 3 bulan sekali.
F. Hubungan Pemegang KP dengan Hak Atas Tanah
 Pemegang KP wajib mengganti kerugian akibat dari usahanya pada
segala sesuatu yang berada di atas tanah kepada yang berhak atas
tanah, didalam lingkungan daerah KP nya maupun di luar
lingkungannya.
 Pemegang KP wajib mengganti kerugian kepada yang berhak atas
tanah untuk penggunaan permukaan tanah yang diperlukan sebagai
akibat usaha pertambangan atas dasar musyawarah mufakat.
 Pemilik tanah diwajibkan mengizinkan pekerjaan pemegang KP di atas
tanahnya atas dasar musyawarah mufakat.
 Untuk penggunaan tanah yang tidak berhubungan langsung terhadap
usaha pertambangan sesuai dengan pemberian KP, maka pemegang
KP harus mengajukan permohonan untuk memperoleh hak atas tanah
tersebut.
 Apabila telah diberikan KP pada sebidang tanah yang di atasnya tidak
terdapat hak atas tanah dan telah membayar iuran pertambangan,
maka kepada pemegang KP diberikan keringanan untuk pembayaran
beban-beban biaya atas pemakaian tanah tersebut, dan mendapatkan
pula prioritas untuk memperoleh hak pakai atas tanah tersebut.
G. Pemindahan KP
Pada dasarnya KP berisi wewenang untuk mengusahakan pertambangan oleh
karena itu tidak boleh diperjualbelikan dan tidak pula dijadikan sebagai alat
permodalan. Dengan adanya kenyataan yang wajar, maka pemindahan suatu
KP dapat saja dipertimbangkan, begitu juga pemindahan dapat terjadi dengan
meninggalnya pemegang KP perseorangan (kepada ahli warisnya).
Adapun pemindahan-pemindahan tersebut adalah sebagai berikut :
KP dapat dipindahkan kepada badan hukum atau perorangan atas
izin menteri/Gubernur/Bupati/Walikota sesuai kewenangannya;
Izin tersebut hanya dapat diberikan jika yang akan menerima KP
telah memenuhi persyaratan tentang KP yang ditentukan dalam
UU Pokok Pertambangan dengan peraturan pelaksanaannya.
Apabila seorang pemegang KP meninggal, maka ahli warisnya bila tidak
memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh UU Pokok Pertambangan,
dengan izin tersebut seperti di atas dapat dipindahkan kepada badan hukum
atau orang lain yang telah memenuhi syarat.
H. Berakhirnya KP
1. Dikembalikan;
2. Dibatalkan;
3. Habis masa berlaku.
Terima Kasih
Download