Konfigurasi Jaringan di Linux

advertisement
PIHAK-PIHAK YANG TERKAIT
DALAM HUBUNGAN KERJA

UU No. 13 Tahun 2003 melibatkan
beberapa
pihak
dalam
hubungan
kerja/hubungan industrial. Pihak-pihak
tersebut adalah:






Pekerja/buruh
Serikat Pekerja/Serikat Buruh
Pemberi Kerja/Pengusaha
Organisasi Pengusaha
Lembaga kerja sama bipartit/tripartit
Pemerintah
1. Pekerja/Buruh

Istilah pekerja/buruh sebagai pengganti istilah buruh.
Zaman penjajahan Belanda buruh adalah orang –orang
pekerja kasar sperti kuli, mandor, tukang dll. Dia adalan
orang blue collor ( berkerah biru) yang berbeda dengan
orang white collor ( berkerah putih).

Tahun 1974 istilah buruh direkomendasikan untuk diganti
dengan istilah pekerja.Tapi sekarang dalam UU no. 13
tahun
2003
istilah
pekerja
ini
diganti
dengan
pekerja/buruh adalah setiap orang yang bekerja dengan
menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain.

Dalam hal ini pengertian pekerja/buruh ini diperluas.
Misal dalam hal kecelakaan kerja da;am UU no.3 Tahun
1992 tentang Jamsostek Pasal 8 ayat 2.
2.Serikat Pekerja/ Serikat
Buruh

Pekerja/buruh sebagai warga negara punya persamaan kedudukan dalam hukum. Hak menjadi
anggota serikat pekerja /serikat buruh merupakan hak asasi yang telah dijamin dalam pasal 28
UUD 45, Konvensi ILO no. 87 tentang Kebebasan Berserikat dan Perlindungan Hak untuk
berorganisasi. Dan Konvensi ILO no.98 tentang berlakunya dasar dasar untuk berorganisasi dan
untuk berunding bersama.

UU no. 21 Tahun 2000 :
Serikat Pekerja/ Serikat Buruh adalah organisasi yang dibentuk dari, oleh dan untuk
pekerja/buruh , baik di perusahaan maupun diluar perusahaan, yang bersifat bebas, terbuka,
mandiri, demokaratis, dan bertanggung jawab guna memperjuangkan, membela, serta
melindungi
hak
dan
kepentingan
pekerja/buruh
serta
meningkatkan
kesejahteraan
pekerja/buruh dan keluarganya.

Pada pasal 1 angk.17 UU no. 23 tahun 2003 :
Serikat pekerja/serikat buruh adalah organisasi yang dibentuk dari, oleh, dan untuk
pekerja/buruh baik di perusahaan maupun di luar perusahaan, yang bersifat bebas, terbuka,
mandiri, demokrasi, dan bertanggung jawab guna memperjuangkan, membela serta melindungi
hak dan kepentingan pekerja/buruh serta meningkatkan kesejahtraan pekerja/buruh dan
keluarganya.
Bebas : dalam melaksanakan hak dan kewajibannya Serikat pekerja/serikat buruh , federasi dan
konfederasi SP/SB tidak dibawah pengaruh dan tekanan dari pihak lain
Terbuka: SP/SB, federasi dan konfederasi SP/SB dalam menerima anggota dan /emperjuangkan
pekerja/buruh tak membedakan aliran politik,agama, suku bangsa dan jeni
Mandiri: mendirikan, menjalankan dan mengembangkan organisasi ditentikan oleh kekuatan
sendiri, tak dikendalikan oleh pihak lain di luar organisasi.
Demokrasi: dalam pembentukan organisasi, pemilihan pengurus, memperjuangkan dan
melaksanakan hak dn kewajiban organisai dilakukan sesuai dengan prinsip demokrasi
Bertabggung jawab:hak dalam mencapai tujuan dan melaksanakan kewajibannya Serikat

2. Serikat Pekerja/ S. Buruh


Dasar : Pancasila & UUD 45
Tujuan : Memberikan perlindungan , pembelaan hak dan kepentingan ,
serta
meningkatkan
kesejahteraan
yang
layak
bagi
pekerja/buruh dan keluarganya.
Fungsi:
*Sebagai pihak dalam pembuatan perjanjian kerja, bersama dan
penyelesaian perselisihan industrial
*Sebagai wakil pekerja/buruh
*Sebagai sarana menciptakan hubungan industrial yang harmonis,
dinamis dan berkeadilan sesuai dengan peraturan per uuan yang
berlaku
*Sebagai sarana penyalur aspirasi dalam memperjuangkan hak dan
kepentingan anggotanya
*Sebagai perencana,pelaksana dan penanggung jawab pemogokan
pekerja.buruh sesuai perUUan yang berlaku
*Sebagai wakil pekerja/buruh dalam memperjuangkan kepemilikan
d/saham di perusahaan
2. Serikat pekerja/S. buruh

•
•
•
•


Setiap pekrja/buruh berhak membentuk dan menjadi anggota SP/SB (ps. 5 UU no. 21
th. 2000).
Anggota min. 10 orang atas kehendak yang bebas.
Pembentukan berdasar sektor usaha, jenis pekerjaan atau yang sesuai kehendak
pekerja/buruh.
Federasi SP/SB dibentuk min 5 anggota SP/SB
Konfedarasi min 3 federasi SP/SB.
Ketiganya harus punya anggaran dasar dan anggaran rumah tangga yang min
harus memuat (pasal 11 ayat 2 UU no.2 tahun 2000):
* nama dan lambang
* dasar negara, asas dan tujuan
*tanggal pendirian
*tempat kedudukan
*keanggotaan dan kepengurusan
*Sumber dan pertanggungjawaban keuangan
Ketentuan perubahan anggaran dasar dan atau anggaran rumah tangga
SP/SB, federasi dan, konfederasi SP/SB yang telah dibentuk wajib melapor pada
pemerintah ( dinas Tenaga kerja) secara tertulis yang meliputi:
*daftar nama anggota pembentuk
*anggaran dasar dan atau anggaran rumah tangga
*susunan dan nama pengurus
2. Serikat Pekerja/S.Buruh



Pencatatan dan pemberin nomor pencatatan dapat ditangguhkan bahkan ditolak
jika SP/SB ,federasi dan konfederasi SP/SB tidak memenuhi syarat diatas .
SP/SB ,federasi dan konfederasi SP/SB yang telah punya nomor berhak ( pasal
25 UU no. 21 tahun 2000):
*membuat perjanjian kerja bersama dengan pengusaha
*mewakili pekerja/buruh menyelesaiakan perselisihan indusrial
*mewakili pekerja/burh dalam lembaga ketenaga kerjaan
*membentuk lembaga atau melakukan kegaiatn yang bekaiatn dengan usaha
peningkatan kesejahteran pekerja/buruh
*melakukan kegiatan lainya di bdang ketenagakerjn dengan peraturan perUUan
yang berlaku
Dan SP/SB ,federasi dan konfederasi SP/SB punya kewajiban:
*melindungi dan membela anggot dari pelanggaran hak dan memperjaungkan
kepentingan
*memperjuangkan peningkatan kesejahteraan anggota dan keluarganya
*mempertanggungjawabkan kegaitan organiainya sesuai dengan anggaran
dasar dan anggaran RT
3. Pemberi erja/Pengusaha

Pemberi kerja adalah orang perseorangan, pengusaha, badan hukum,
atau badan-badan lainnya yang memperkerjakan tenaga kerja dengan
membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain (Pasal 4 UU no.13 taun
2003).

Perorangan: disini meliputi Ibu RT yang mempekerjakan
pembantu RT.

Pengusaha:
Pengusaha adalah :
*orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang
menjalankan suatu perusahaan milik sendiri ;
*orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang secara
berdiri sendiri menjalankan perusahaan bukan miliknya;
*orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang berada di
Indonesia mewakili perusahaan sebagaimana dimaksud dalam huruf (a)
dan huruf (b) yang berkedudukan di luar wilayah Indonesia. Pasal 1
angka 5 UU no.13 taun 2003)
3. Pemberi erja/Pengusaha

Sifat hubungan hukum yang terjadi antara
pemilik perusahaan dengan pengurus (pimpinan
perusahaan) sbb.:

Hubungan Perburuhan. Pengurusperusaahn
mengikatkan dirinya untuk menjalankan
perusahaan dengan swbaik-bainya seang
pengusaha mengikatkan dirinya untuk
membayar upahnya ( Psal 1601a KUHP. Perdata)

Hubungan Pemberi Kuasa. Yaitu hubungan
hukum yang diatur dalam pasal 1792 PUHP
Perdata. Pengusaha merupakan pemberikuasa,
sedang pemimpin perusahan merupakan
pemegang kuasa.
3. Pemberi
kerja/Pengusaha

Pemberi kerja adalah orang perseorangan, pengusaha, badan
hukum, atau badan-badan lainnya yang memperkerjakan tenaga
kerja dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain
(Pasal 4 UU no.13 taun 2003).

Perorangan: disini meliputi Ibu RT yang mempekerjakan
pembantu RT.

Pengusaha:
Pengusaha adalah :
orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang
menjalankan suatu perusahaan milik sendiri ;
orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang
secara berdiri sendiri menjalankan perusahaan bukan miliknya;
orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang
berada di Indonesia mewakili perusahaan sebagaimana dimaksud
dalam huruf (a) dan huruf (b) yang berkedudukan di luar wilayah
Indonesia. Pasal 1 angka 5 UU no.13 taun 2003)




3.Pemberi
kerja/Pengusaha







Perusahaan adalah :
setiap bentuk usaha yang berbadan hukum atau tidak, milik orang
perseorangan, milik persekutuan, atau milik badan hukum, baik milik
swasta maupun milik negara yang memperkerjakan pekerja/buruh
dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain;
usaha-usaha sosial dan usaha-usaha lain yang mempunyai pengurus dan
memperkerjakan orang lain dengan membayar upah atau imbalan dalam
bentuk lain. ( Pasal 1 angka 6 UU no.13 tahun 2003)
D. Organisasi Pengusaha
Organisasi Pengusaha
Setiap pengusaha berhak membentuk dan menjadi anggota organisasi
pengusaha.
Ketentuan mengenai organisasi pengusaha diatur sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku. (UU no. 13 tahun 2003)
3.Pemberi
kerja/Pengusaha







Organisasi Pengusaha di indonesia:
1. KADIN
Adalah wadah bagi penguaha Indonesia dan bergerak di bidang
perekonomian., dengan tujuan:
membina dsn mengembangkan kemempuan,kegiatan dan kepentingan
pengusaha Indonesai di idang usaha negara , koperasi dan sasta dalam
kedudukannya sebagai pelaku pelaku ekonomi nasional dalam rangka
mewujudkan kehidupan n ekonomi dan dunia usaha nasional yang sehat
dan tertib berdasa pasal 33 UUD 45.
Menciptakan dan mengembangkan iklim dunia usaha yang
memungkinkan keikutsertaan yang seluas-luasnya bagi pengusaha
indnesia sehingga dapat berperan secara efektif dalam pembangunan
nasional.
2.APINDO
Adalah Asosiasi Pengusaha Indonesia
E.Lembaga Kerja Bipartit dan
Tripartit








Lembaga kerja sama bipartit adalah forum komunikasi dan konsultasi
mengenai hal-hal yang berkaitan dengan hubungan industrial di satu
perusahaan yang anggotanya terdiri dari pengusaha dan serikat pekerja/buruh
yang sudah tercatat di instansi yang bertanggung jawab di bidang
ketenagakerjaan atau unsur pekerja/buruh.( Pasal 8)
Lembaga kerja sama tripartit adalah forum komunikasi, konsultasi dan
musyawarah tentang masalah ketenagakerjaan yang anggotanya terdiri dari
unsur organisasi pengusaha, serikat pekerja/serikat buruh, dan pemerintah.
(Pasal 9)
E.A. Lembaga Kerja Sama Bipartit
Pasal 106
Setiap perusahaan yang mempekerjakan 50 (lima puluh) orang pekerja/buruh
atau lebih wajib membentuk lembaga kerja sam bipartit.
Lembaga kerja sama bipartit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berfungsi
sebagai forum komunikasi, dan konsultasi mengenai hal ketenagakerjaan di
perusahaan.
Susunan keanggotaan lembaga kerja sama bipartit sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) terdiri dari unsur pengusaha dan unsur pekerja/buruh yang
ditunjuk oleh pekerja/buruh secara demokratis untuk mewakili kepentingan
pekerja/buruh di perusahaan yang bersangkutan.
Ketentuan mengenai tata cara pembentukan dan susunan keanggotaan
lembaga kerja sama bipartit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (3)
diatur dengan Keputusan Menteri.
E.Lembaga Kerja Bipartit dan
Tripartit










E.B. Lembaga Kerja Sama Tripartit
Pasal 107
Lembaga kerja sama tripartit memberikan pertimbangan, saran, dan
pendapat kepada pemerintah dan pihak terkait dalam penyusunan
kebijakan dan pemecahan masalah ketenagakerjaan.
Lembaga kerja sama Tripartit sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
terdiri dari :
Lembaga Kerja sama Tripartit Nasional, Provinsi, dan Kabupaten/Kota;
dan
Lembaga Kerja sama Tripartit Sektoral Nasional, Provinsi, dan
Kabupaten/Kota.
Keanggotaan Lembaga Kerja sama Tripartit terdiri dari unsur
pemerintah, organisasi pengusaha, dan serikat pekerja/serikat buruh.
Tata kerja dan susunan organisasi Lembaga Kerja sama Tripartit
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan
Pemerintah. Fungsi perintah ping
Mengecek koneksi jaringan dengan ping
Perjalanan data dalam jaringan yang dilewati
Pemerintah















Di Indonesia campur tangan negara telah ada sejak jaman prakemerdekaan, yaitu
+/- tahun 1921 saat didirikan Kantor van Arbeid ( dibawah depertemen
Kehakiman) dengan Stb. No. 813 tahun 1921, yaitu:
perUUan perburuhan dan statistik
pengawasan perburuhan untuk Jawa dan Madura
gerakan buruh
Selanjutnya terjadi perubahan:
Tahun 1925: pengawasan perburuhan untuk Jawa dan Madura dihapus, diganti
bagian pengawasan Keselamatan Kerja
Tahun 1930: gerakan buruh dihapus, pengawasan perburuhan untuk Jawa dan
Madura diadakan lagi dan gerakan buruh menjadi subbaginnya.
tahun 1931: didirukan bagian penempatan tenaga kerja pusat.
tahun 1933: bagian pengawas perburuhan untuk Jawa dan Madura dan :
pengawasan perburuhan untuk luar jawa digabung menjadi satu bagian dengan
nama Bagian Pengawas Perburuhan.
Sehingga kantor Van Arbeid terdiri dari:
bagian perUUan dan statistik
bagian Pengawas, yang terdiri dari:
a. Subbagian pengawas keselamatan kerja
b. subbagian gerakan buruh
3. bagian tenaga pusat
Pemerintah





Awal Kemerdekaan :
Masalah Perburuhan ( pusat pengawasan perburuhan, kesematan kerja) merupakan
bagian dari Kementrian Sosial.
1 Juli 1947:
Bagian perburuhan berdiri sendiri menjadi Jawatan Perburuhan yang terdiri dari:
bagian perburuhan umum, pengawasan perburuhan dan pengawasan kesematan
kerja)
Karena terjadi krisis kabinet, maka jawatan ini belum sempat dijalankan, dan di dalam
kabinet baru Perburuhan menjadi kementrian sendiri dengan mentrinya SK. Trimurti,
dengan tugas:













Perlindunagn TK buurh dn keselamatan kerja
Jamsos
Perselisihan perburuhan
Organisasi buruh
Pemberi pekerja dan sokongn bagi pengangguran
Pendidikan tenaga kerja
Transmigrasi
Kewajiban kerja dan pengarahan kerja.
Tahun 1948: Kementrian Perburuhan diganti Kementrian Pembangunan dan Pemuda (
tugas tetap sama)
Dengan adanya Perubahan Kabinet Prsidensial menjadi Kabinet Parlementer,maka:
masalah-masalah ketenagakerjaan dimasukkan dalam Kementrian
Perburuhan dan Sosial.
Kemudian urusan ketenagakerjan berada dibawah departemen TENAGA KERJA.
Pemerintah















Ada 3 tugas pokok pengawas ketenagan kerjaan adalah:

melihat dngan jalan memeriksa dan menyelidiki sendiri apakah ketentuan perUUan ketenagakerjaan
sudah dilaksanakan,jika tidak, mengambil tindkan –tindakan yang wajar untuk menjamin pelaksaanya.

membantu hak pekerja/burh maupun pengusaha dengan jalan memberi penjelasan –penjelasan teknik
dan nasehat yang mereka perlukan agar mereka memahami apakah yang dimintakan peraturan dan
bagaimanakah melaksanakannya.

menyelidiki keadaan ketenagakerjaan dan mengumpulkan bahan-bahn yangdiperlukan untuk
penyusunan peratyran ketenagakerjaan dan penetapan pemerintah
Pelaksanaan pengawasan dilakukan berdasar UU no.23 thun 1948 tentng pengawasan Perburuhan ( salah
satu UU yang tak ikut dicabut dalam UU no.13 tahun 2003)
Pasal 181
Pegawai pengawas ketenagakerjaan dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 176
wajib :
merahasiakan segala sesuatu yang menurut sifatnya patut dirahasiakan;
tidak menyalahgunakan kewenangannya;
Selain sebagai pengawas , pegawai dinas Ketenagakerjaan dapat diberi wewenang kusus sebagai penyidik
pegawai ngeri sipil sesuai UU NO.8 Tahun 1981 tentang kitab UU Hukum Acara Pidana, yang berwenang al:
melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan serta keteranagn tentang tindak pidana di bidang
ketenagakerjaan
melakukan pemeriksaan terhadap orang yang diduga melakuikan pidana di bidang ketenegakerjan
meminta keterangan dan bahan bukti dari orang atau badan hokum sehubungan dengan tindak pidana di
bidang ketenagakerjaan
melakukan pemeriksaan atau penyitaan bahan atau barang kukti dalam prkara tindak pidana di bidang
ketenegakerjan
melakukan pemeriksaan atas surat dan/ atau dokumen lain tentang tindak pidana di bidang ketenegakerjan
meminta bantuan tenaga ahli dalam pelaksanan tugas penyidikan tindak pidana di bidang ketenegakerjan
menghentikan penyidikan apabila tidak terdapat cukup bukti yang membuktikan tentang adanya tindak
pidana di bidang ketenegakerjan (Pasal 182 UU no 13 tahun 2003).
Download