Pertemuan 8 Indeks Harga Saham dan Corporate Action

advertisement
Pertemuan 8 & 9
Indeks Harga Saham
dan Corporate Action
Rita Tri Yusnita, SE., MM.
Indeks Harga Saham
 Indeks saham adalah harga saham yang dinyatakan dalam
angka indeks
 Indeks saham digunakan untuk tujuan analisis dan
menghindari dampak negatif dari penggunaan harga
saham dalam rupiah
 Corporate Action yang dilakukan perusahaan dapat
merusak analisis apabila menggunakan harga saham dalam
rupiah tanpa dikoreksi terlebih dahulu
 Dengan menggunakan indeks saham dapat dihindari
kesalahan analisis walaupun tanpa koreksi
Jenis Indeks Harga Saham
 Setiap Bursa Efek akan menetapkan angka basis
indeks yang berbeda
 Ada yang dimulai dengan basis 100, 500, atau
1.000.
 3 Kelompok Jenis Indeks:
1. Indeks Harga Saham Individu
2. Indeks Harga Saham Parsial
3. Indeks Harga Saham Gabungan
Indeks Harga Saham Individu
Indeks Harga Saham Individu
 Ketika pertama kali saham dicatatkan di Bursa Efek, yaitu
pada pagi hari sebelum perdagangan di bursa dimulai,
saham tersebut sudah mempunyai harga, yaitu harga yang
dibayar oleh investor di pasar perdana, disebut sebagai
Harga Perdana.
 Investor yang membeli saham di pasar perdana dan
kemudian menjual sahamnya di bursa efek pasti ingin
mengetahui persentase kenaikannya.
 Harga Perdana digunakan sebagai nilai dasar (unit base
value) dalam menghitung indeks harga saham
 Jika terjadi corporate action (split, pembagian saham bonus,
dividen saham) maka nilai dasar harus disesuaikan.
Indeks Harga Saham Individu
 Penghitungan Indeks Harga Saham Individu:
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑆𝑎ℎ𝑎𝑚 𝐵𝑒𝑟𝑒𝑑𝑎𝑟 𝑥 𝐻𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑃𝑎𝑠𝑎𝑟
𝐼𝐻𝑆𝐼 =
𝑥 100
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑆𝑎ℎ𝑎𝑚 𝐵𝑒𝑟𝑒𝑑𝑎𝑟 𝑥 𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝐷𝑎𝑠𝑎𝑟
 Atau
𝐻𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑃𝑎𝑠𝑎𝑟 𝑝𝑒𝑟 𝑈𝑛𝑖𝑡
𝐼𝐻𝑆𝐼 =
𝑥 100
𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝐷𝑎𝑠𝑎𝑟 𝑝𝑒𝑟 𝑈𝑛𝑖𝑡
 Sebelum transaksi pertama terjadi di bursa efek, saham tersebut
diberi indeks harga = 100 sebagai angka dasar.
 Ketika jam perdagangan mulai berlangsung (dari 10.00 s/d 16.00)
sudah pasti puluhan kali harga terbentuk dalam transaksi hari
tersebut.
 Dari sekian banyak harga yang terbentuk lalu dibagi menjadi 3
(tiga), yaitu harga terendah, harga tertinggi, dan harga
penutupan.
 Ketiga jenis harga tersebut tertera dalam Daftar Informasi
Perdagangan Efek Harian (DIPEH) yang diterbitkan oleh bursa.
 Indeks harga harian dihitung berdasarkan harga pasar penutupan
(closing price).
Contoh:
 Pada tanggal 27/8/1990 saham GGRM dicatat di Bursa Efek sebagai berikut:
 Jumlah saham sebanyak 481.022.000 unit saham
 Harga Perdana Rp 10.250
 Nilai nominal Rp 1.000
 Pada periode berikutnya, harga pasar saham GGRM berubah setiap hari.
Berikut adalah data harga penutupan harian:
 12/12/1990
Rp 6.200
 23/12/1991
Rp 5.000
 29/12/1992
Rp 3.050
 23/12/1993
Rp 8.400
 28/12/1994
Rp 13.125
 28/12/1995
Rp 24.100
 Pada tanggal 3/6/1996 dilakukan split dari nominal Rp 1.000 menjadi Rp 500,
dan pembagian saham bonus sebanyak 962.044.000 unit saham. Harga
pasar saham adalah Rp 24.100 per 28 Desember 1995
 Data closing price
 Tanggal 27/12/1996 Rp 10.200
 Tanggal 30/12/1997 Rp 8.250
 Tanggal 30/12/2000 Rp 13.000
 Diminta:
1. Hitunglah nilai dasar per unit sebelum tindakan split dan pembagian
saham bonus
2. Hitunglah nilai dasar per unit sesudah tindakan split dan pembagian
saham bonus
3. Hitunglah Indeks saham GGRM pada tanggal closing price di atas!
 Jawab:
1. Nilai dasar sebelum split dan pembagian saham bonus adalah Rp
10.250 ( merupakan harga perdana)
2. Jumlah saham yang beredar bertambah pada tanggal 3/6/1996
karena:
Split sebanyak
481.022.000 unit
Saham Bonus
962.044.000 unit
Total Tambahan
1.443.066.000 unit
Jumlah Saham Awal
481.022.000 unit
Total Saham Setelah Split/SB
1.924.088.000 unit
(4 kali dari jumlah awal  4 x 481.022.000 unit)
Jadi nilai dasar turun menjadi
= ¼ x 10.250 = Rp 2.562,50
Jawaban No. 3
 Indeks harga saham sebelum split dan pembagian saham bonus
 12/12/1990 = (6.200 : 10.250) x 100 = 60,48
 23/12/1991 = (5.000 : 10.250) x 100 = 48,78
 29/12/1992 = (3.050 : 10.250) x 100 = 29,76
 23/12/1993 = (8.400 : 10.250) x 100 = 81,95
 28/12/1004 = (13.125 : 10.250) x 100 = 128,05
 28/12/1995 = (24.100 : 10.250) x 100 = 235,12
 Indeks harga saham sesudah split dan pembagian saham bonus
 27/12/1996 = (10.200 : 2.562,5) x 100 = 398,05
 30/12/1997 = (8.250 : 2.562,5) x 100 = 321,95
 30/12/2000 = (13.000 : 2.562,5) x 100 = 507,32
Manfaat Indeks
 Sesudah split dan pembagian saham bonus, harga saham dalam rupiah
turun dari Rp 24.100,- menjadi Rp 10.200, Rp 8.250, dan Rp 13.000,- sehingga
investor nampak menderita kerugian.
 Sebenarnya, investor mendapatkan keuntungan yang besar karena jumlah
saham yang diterima lebih banyak 3 kali lipat, sesuai dengan kenaikan
jumlah saham.
 Dari contoh tersebut nampak bahwa:
 1 saham lama dengan harga pasar Rp 24.100 (28 Des 1995), mendapatkan 3
unit saham baru yang berasal dari 1 unit hasil split dan 2 unit saham bonus. Jadi
jumlah saham yang dimiliki investor menjadi 4 unit saham dengan harga pasar
Rp 10.200 atau total Rp 40.800,-.
 Keuntungan investor dari adanya split dan pembagian saham bonus adalah Rp
40.800 – Rp 24.100,- = Rp 16.700,- atau 69,3%.
 Jadi salah besar jika membandingkan Rp 24.100 dengan Rp 10.200 karena
hasilnya akan negatif atau investor merugi.
Manfaat Indeks
 Oleh karena itu, jangan gunakan harga dalam rupiah, tetapi
gunakanlah indeks harga saham untuk mengetahui untung rugi
atas tindakan corporate action tersebut.
 Indeks harga saham akan meningkat tajam setelah split / saham
bonus dan kenaikan tersebut menguntungkan investor.
 Penghitungan return saham dengan cara membandingkan harga
saham sekarang dengan harga saham masa lalu dapat
dibenarkan jika dalam kurun waktu tersebut tidak terjadi corporate
action, atau harga sebelum corporate action disesuaikan terlebih
dahulu.
Manfaat Indeks
 Jika terjadi corporate action, maka ada dua cara yang
dapat ditempuh untuk menghitung return saham, yaitu:
1. Membandingkan indeks harga saham individu
2. Membandingkan harga saham setelah disesuaikan
Membandingkan Harga Saham
Setelah Disesuaikan
 Harga Saham sebelum Corporate Action (28/12/1995) = Rp 24.100
 Kenaikan Jumlah Saham setelah corporate action adalah 3 unit dari semula 1
unit, sehingga menjadi 4 unit.
 Harga Saham setelah Disesuaikan = ¼ x Rp 24.100 = Rp 6.025 (Sebelum C/A)
 Harga Saham sekarang (27/12/1996)
 Return = (10.200 : 6.025) – 1 = 69,3%
= Rp 10.200 (Setelah C/A)
Indeks Harga Saham Parsial
Indeks Harga Saham Parsial
 Indeks Harga Saham Parsial adalah Indeks Harga Saham yang
terdiri dari beberapa jenis saham
 Setiap pihak dapat menciptakan Indeks Harga Saham Parsial untuk
kepentingan sendiri
 Jika Indeks Harga Saham Parsial tersebut ternyata baik digunakan
sebagai pedoman oleh investor, maka indeks tersebut akan laris
diperdagangkan.
 Misalnya:
 Indeks Nikkei 225, adalah indeks dari 225 jenis saham di Jepang
 Indeks S&P 100, indeks gabungan dari 100 jenis saham di
Amerika Serikat
 Indeks Harga Saham Parsial tersebut lebih laku daripada IHSG
Menghitung Indeks Harga Saham Parsial
 𝐼𝑛𝑑𝑒𝑘𝑠 𝑆𝑎ℎ𝑎𝑚 100 =
100(𝑘𝑎𝑝𝑖𝑡𝑎𝑙𝑖𝑠𝑎𝑠𝑖 𝑝𝑎𝑠𝑎𝑟)
1
100(𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝐷𝑎𝑠𝑎𝑟)
1
𝑥 100
 Dimana:
 Indeks 100 = jumlah kapitalisasi pasar dari 100 emiten dibagi nilai dasar
dari 100 emiten, kemudian dikalikan dengan 100 sebagai angka dasar
 Kapitalisasi Saham = jumlah saham beredar x harga pasar per unit saham
 Total Nilai Dasar = jumlah saham beredar x nilai dasar per unit saham
 Indeks 100 berarti indeks dari 100 jenis saham
No.
Emiten
Jumlah
Saham
(jutaan)
Harga
Pasar per
Unit
Nilai Dasar
per Unit
Kapitalisasi
Pasar
(jutaan)
Nilai Dasar
(jutaan)
1
2
3
4
5
6 = 3x4
7 = 3x5
1.
AAA
100
500
200
50.000
20.000
2.
BBBB
200
600
100
120.000
20.000
3.
CCC
125
800
400
100.000
50.000
.....
......
......
......
......
.....
.....
......
......
......
......
.....
50
2.000
500
100.000
25.000
1.500.000
500.000
100.
ZZZZ
𝐼𝑛𝑑𝑒𝑘𝑠 𝑆𝑎ℎ𝑎𝑚 100 =
𝐼𝑛𝑑𝑒𝑘𝑠 𝑆𝑎ℎ𝑎𝑚 100 =
100
1 (𝑘𝑎𝑝𝑖𝑡𝑎𝑙𝑖𝑠𝑎𝑠𝑖 𝑝𝑎𝑠𝑎𝑟)
100
1 (𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝐷𝑎𝑠𝑎𝑟)
𝑥 100
1.500.000
𝑥 100 = 300 𝑝𝑜𝑖𝑛
500.000
 Di Indonesia (BEI), indeks harga saham parsial dijumpai dalam indeks
LQ45, yaitu indeks saham gabungan dari 45 jenis saham terpilih.
 Jenis saham terpilih harus memenuhi syarat yang ditetapkan Bursa.
 LQ45 disesuaikan setiap 6 bulan sekali
 Perkembangan Indeks LQ45 setiap akhir periode 1997 - 2003
Tahun
Indeks LQ45
1997
83,59
1998
89,44
1999
142,88
2000
80,65
2001
80,06
2002
91,98
2003
151,90
Indeks Harga Saham Gabungan
Indeks Harga Saham Gabungan
 IHSG (Composite Stock Price Indeks = CSPI) merupakan indeks
gabungan dari seluruh jenis saham yang tercatat di Bursa Efek.
 IHSG diterbitkan oleh Bursa Efek
 Penghitungan IHSG sama dengan menghitung Indeks Harga
Saham Parsial, yang berbeda hanya jumlah emitennya saja.
 IHSG dihitung setiap hari, atau bahkan setiap detik selama jam
perdagangan sesuai dengan kebutuhan
contoh
No.
Emiten
Jumlah Saham
(jutaan)
Harga
Pasar per
Unit
Nilai Dasar
per Unit
Kapitalisasi
Pasar
(jutaan)
Nilai
Dasar
(jutaan)
1
2
3
4
5
6 = 3x4
7 = 3x5
1.
AAA
100
500
200
50.000
20.000
2.
BBBB
200
600
100
120.000
20.000
3.
CCC
125
800
400
100.000
50.000
.....
......
......
......
......
.....
.....
......
......
......
......
.....
332. ZZZZ
500
1.000
500
500.000
150.000
4.500.000
900.000
𝐼𝐻𝑆𝐺 =
𝐼𝐻𝑆𝐺 =
100
1 (𝑘𝑎𝑝𝑖𝑡𝑎𝑙𝑖𝑠𝑎𝑠𝑖 𝑝𝑎𝑠𝑎𝑟)
100
1 (𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝐷𝑎𝑠𝑎𝑟)
𝑥 100
4.500.000
𝑥 100 = 500 𝑝𝑜𝑖𝑛
900.000
 Naiknya IHSG tidak berarti seluruh jenis saham mengalami
kenaikan harga, tetapi hanya sebagian yang mengalami
kenaikan, sementara sebagian lain bisa jadi mengalami
penurunan
 Demikian pula, Turunnya IHSG tidak berarti seluruh jenis saham
mengalami penurunan, namun sebagian saham mengalami
penurunan dan sebagian lagi bisa jadi mengalami kenaikan
harga.
 Jika suatu jenis saham naik harganya dan IHSG juga naik, maka
berarti saham tersebut berkorelasi positif dengan kenaikan IHSG
 Jika suatu saham naik harganya tetapi IHSG turun, atau, Jika
suatu saham turun harganya tetapi IHSG naik, maka saham
tersebut berkorelasi negatif dengan IHSG.
Corporate Action
Corporate Action
 Corporate Action adalah tindakan perusahaan untuk melakukan:
1. Panggilan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)
2. Pengeluaran saham baru melalui right issue
3. Pengeluaran saham baru melalui warrant
4. Pengeluaran saham baru melalui convertible bonds
5. Menambah jumlah saham melalui split
6. Menambah jumlah saham melalui saham bonus
7. Menambah jumlah saham melalui dividen saham
Penerbitan Right Issue
 Setelah melakukan penawaran umum, jika masih memerlukan tambahan
modal, maka perusahaan dapat melakukan right issue
 Saham baru tersebut ditawarkan terlebih dahulu kepada para
pemegang saham yang sudah ada, sebelum ditawarkan ke masyarakat
umum
 Pengeluaran saham baru melalui right issue akan meningkatkan modal
disetor, meningkatkan ekuitas, dan menambah jumlah saham beredar,
tetapi akan menurunkan harga saham di pasar.
 Penurunan disebabkan karena harga pelaksanaan (strike price atau
exercise price) selalu lebih rendah drpd harga pasar saat penerbitan
right issue
 Namun right issue tidak selalu menurunkan indeks harga saham, kadangkadang indeks juga naik, tergantung pada reaksi pasar apakah bersifat
positif atau negatif.
Contoh:
 Suatu emiten mempunyai modal disetor 100 juta saham @
nominal Rp 500 = Rp 50.000.000.000,- dan agio saham sebesar Rp
30 Miliar. Dengan nilai harga perdana Rp 800,-.
 Emiten tersebut mengeluarkan saham baru sebanyak 200 juta
saham @ nominal Rp 500 dengan harga pelaksanaan (strike
price) Rp 1.000,-.
 Harga pasar sebelum right issue adalah Rp 1.600,- dan indeks
harga sebelum right issue adalah 200,00.
 Setelah right issue, berapakah indeks harga saham teoritis?
Jawaban
 Penghitungan Agio Saham:
• Strike Price
Rp 1.000
• Nominal Saham
Rp
500
• Agio per Saham
Rp
500
 Total Saham baru 200 juta unit, sehingga agio =
Rp 100 miliar
 Agio Awal
Rp
 Total Agio
Rp 130 miliar
30 miliar
Jawaban .... (lanjutan)
Harga Saham Teoritis
 Jumlah saham lama sebanyak 100 juta unit dan jumlah saham baru
adalah 200 juta unit, sehingga satu saham lama menerima dua saham
baru, atau ditulis dengan notasi Right 1 : 2
 Sementara harga saham lama di pasar adalah Rp 1.600,- dan strike
prie adalah Rp 1.000,- sehingga harga teoritis dapat dihitung dengan
rumus berikut:
(𝑆1 𝑥𝐻1 ) + (𝑆2 𝑥𝐻2 )
𝐻𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑆𝑎ℎ𝑎𝑚 𝑇𝑒𝑜𝑟𝑖𝑡𝑖𝑠 =
𝑆1 + 𝑆2
=
(1𝑥1.600)+(2𝑥1.000)
1+2
=
(1𝑥1.600)+(2𝑥1.000)
1+2
= 1.200
 Keterangan:
 H1 = Harga Saham sebelum bukti right diperdagangkan
 H2 = Harga Saham pelaksanaan (strike price)
 S1 = saham lama
 S2 = saham baru
 Jika harga saham di pasar sama dengan harga teoritisnya,
yaitu Rp 1.200,- berarti pemegang saham lama tidak
menderita kerugian
 Jika harga saham di pasar di atas Rp 1.200, berarti pemegang
saham lama memperoleh keuntungan
 Jika harga saham di pasar di bawah Rp 1.200, berarti
pemegang saham lama menderita kerugian
Pada awalnya pemegang saham lama memiliki 1 saham
Rp 1.600
Penukaran 2 right dengan 2 saham baru = 2 x Rp 1.000,-
Rp 2.000
Total nilai 3 unit saham
Rp 3.600
Jika Harga Pasar = Rp 1.200
Harga pasar 3 saham = 3 x Rp 1.200
Rp 3.600
Total nilai 3 unit saham
Rp 3.600
Keuntungan (kerugian) pemegang saham lama
0
Jika Harga Pasar = Rp 1.300
Harga pasar 3 saham = 3 x Rp 1.300
Rp 3.900
Total nilai 3 unit saham
Rp 3.600
Keuntungan (kerugian) pemegang saham lama
Rp
300
Jika Harga Pasar = Rp 1.100
Harga pasar 3 saham = 3 x Rp 1.100
Rp 3.300
Total nilai 3 unit saham
Rp 3.600
Keuntungan (kerugian) pemegang saham lama
(Rp 300)
Harga Teoritis Bukti Right
Harga pasar teoritis setelah right issue
Rp 1.200
Strike Price
Rp 1.000
Harga Teoritis dua bukti right
Rp
200
Indeks Harga Saham Setelah Right Issue
Nilai Dasar Awal, 100 juta unit saham
Rp 80 miliar
Nilai tambahan baru, 200 juta unit saham
Rp 200 miliar
Total nilai dasar, 300 juta unit saham
Rp 280 miliar
Nilai dasar setelah right issue / unit = 280 miliar
=
Rp 933,33
=
128,57
300 juta
Jadi indeks harga saham teoritis adalah
Rp 1.200
Rp 933,33
Kapitalisasi pasar 300 juta unit saham @ Rp 1.200
Rp 360 miliar
Total nilai dasar 300 juta unit saham
Rp 280 miliar
Indeks harga saham = (360/280) x 100
128,57
Penerbitan Warrant
 Warrant sangat mirip dengan right issue, yaitu pemegang saham
lama berhak untuk membeli saham baru pada harga tertentu dan
pada waktu tertentu.
 Hak tersebut diberikan kepada para pemegang saham lama secara
cuma-cuma, hanya saja pada waktu akan ditukarkan dengan
saham baru harus membayar sejumlah harga yang sudah
ditetapkan ketika warrant diterbitkan.
 Harga tebusan/harga pelaksanaan (strike price) besarnya lebih
tinggi drpd harga pasar pada saat warrant diterbitkan, misalnya 2
atau 3 kali harga pasar.
 Maksud dari waktu tertentu adalah rentang waktu antara saat mulai
dapat ditukarkan dengan saat terakhir jatuh tempo (kadaluarsa).
Masa jatuh tempo minimal di atas 6 bulan, yang berarti dapat 5
tahun atau 10 tahun.
Warrant
 Pemegang saham lama tidak akan menukarkan waran
dengan saham baru selama harga pasar masih dibawah strike
price, tapi akan menukarkan jika harga pasar saham sudah
berada di atas strike price (bahkan bisa menunggu sampai
kenaikan harga pasar saham jauh lebih besar, sepanjang
belum jatuh tempo).
 Proses penghitungan penyesuaian indeks harga saham atau
penyesuaian harga saham sebelum pelaksanaan penukaran
sama seperti untuk right issue. Hanya saja waran penyesuaian
dilakukan setiap periode penukaran.
Penerbitan Convertible Bonds
 Seperti halnya right issue dan warrant, convertible bonds juga
dapat mengubah jumlah modal disetor, agio saham ekuitas,
dan jumlah saham beredar.
 Cara penghitungan penyesuaian indeks harga saham dan
penyesuaian harga saham pada saat penukaran convertible
bonds dengan saham baru sama seperti penghitungan right
issue.
 Pelunasan Obligasi dapat dilakukan dengan 2 cara:
 Pelunasan secara tunai
 Dikonversi dengan saham pada perbandingan tertentu
Ilustrasi Obligasi dikonversi dengan Saham
 Misal obligasi senilai Rp 1.000.000 dapat ditukar dengan 400 saham
biasa. Ini berarti harga saham biasa dihargai Rp 2.500, ( Rp 1.000.000 :
400 lembar saham), yaitu harga pasar pada saat convertible bonds
diterbitkan.
 Apabila pada saat pelunasan harga pasar saham masih di bawah
Rp 2.500,- , pemegang obligasi memilih pelunasan tunai.
 Apabila pada saat pelunasan harga pasar saham di atas Rp 2.500,maka pemegang saham memilih penukaran dengan saham baru.
 Sebagai contoh, misal harga pasar saham Rp 3.000,- maka
keuntungan yang diperoleh = 400 x (Rp 3.000 – Rp 2.500) = Rp 200.000
 Paritas konversi = 400 x Rp 3.000 = Rp 1.200.000
Tindakan Split
 Split (pemecahan) saham dilakukan dengan beberapa alasan,
tergantung pada tujuan split apakah untuk memperbanyak jumlah
saham (Split-up) atau memperkecil jumlah saham (split down).
 Jika harga saham di pasar dianggap terlalu tinggi dibandingkan
dengan harga-harga saham lainnya, maka dapat dilakukan split-up.
Tindakan split up akan meningkatkan jumlah saham beredar dan
menurunkan harga saham di pasar sehingga terjangkau oleh para
investor. Akan tetapi, split up juga dapat membuat likuiditas
perdagangan meningkat dan pada gilirannya dapat meningkatkan
image saham perusahaan sebagai saham yang likuid
diperdagangkan.
 Split down adalah tindakan menurunkan jumlah saham yang beredar
untuk meningkatkan harga saham di pasar dan image saham
perusahaan meningkat.
Split-Up
 Split 1:2 berarti satu saham lama ditarik dari peredaran dan diganti
dengan 2 saham baru tetapi nominal saham baru itu lebh kecil, yaitu
½ dari nominal sebelumnya.
 Tindakan split-up hanya akan menaikkan jumlah saham dan
menurunkan nominal saham, tetapi tidak mengubah total modal
disetor dan total ekuitas.
 Harga pasar saham setelah split-up akan turun secara teoritis
menjadi ½ harga pasar semula, tetapi harga pasar riil dapat di atas
ataupun di bawah harga teoritis.
 Indeks harga saham secara teoritis tidak akan berubah, tetapi indeks
harga pasar riil dapat berubah.
Contoh:
 Perseroan GGRM melakukan split pada bulan April 1996 dengan cara
menarik 1 saham lama nominal Rp 1.000,- dan menggantinya dengan
2 saham baru nominal @ Rp 500.
 Harga pasar sebelum split-up adalah Rp 24.100 dan harga perdana
adalah Rp 10.250 dengan jumlah saham beredar 481.022.000 unit
saham.
 Berapa harga pasar dan indeks harga saham sesudah split-up?
 Apakah indeks harga pasar akan berubah?
Jawaban:
Jumlah saham sesudah split-up
= 2 x 481.022.000 = 962.044.000
Harga pasar teoritis
= ½ x Rp 24.100
= Rp 12.050
Indeks harga sebelum split-up
= (24.100/10.250) x 100 =
235,12
Nilai dasar setelah split-up
= ½ x 10.250
= 5.125
Indeks pasar teoritis sesudah split-up
= (12.050/5.125) x 100 = 235,12
 Secara teoritis indeks harga pasar tidak akan berubah sesudah split-up,
yaitu tetap pada posisi 235,12 poin.
 Akan tetapi, indeks harga pasar ini akan berubah apabila harga pasar riil
tidak sama dengan harga pasar teoritisnya.
 Jika harga pasar riil lebih besar daripada harga pasar teoritis, maka indeks
harga sesudah split akan naik
 Jika harga pasar riil lebih kecil daripada harga pasar teoritis, maka indeks
harga sesudah split akan turun.
Split-Down
 Split-down atau reverse split adalah tindakan menurunkan jumlah
saham beredar.
 Tujuan reverse split adalah untuk meningkatkan harga saham di
pasar agar image perusahaan meningkat.
 Split-down dilakukan dengan menarik kembali sejumlah saham
yang beredar dan diganti dengan satu saham baru yang
nominalnya lebih tinggi, tetapi tidak mengubah total modal disetor
dan total ekuitas.
 Split 5 : 1 artinya 5 saham lama diganti dengan satu saham baru.
Contoh:
 Perseroan ABC melakukan split-down pada ulan Mei 1996
dengan cara menarik 5 saham lama nominal Rp 100 dan
menggantinya dengan 1 saham baru nominal @ Rp 500.
 Harga pasar sebelum split-down adalah Rp 100 dan harga
perdana adalah Rp 1.000 dengan jumlah saham beredar
200.000.000 unit saham.
 Berapa harga pasar dan indeks harga saham sesudah splitdown?
 Apakah indeks harga pasar akan berubah?
Jawaban:
Jumlah saham beredar menurun drastis menjadi 200 juta/5 =
40 juta
Harga pasar teoritis meningkat menjadi
= 5 x Rp 100
Rp 500
Indeks harga sebelum split-down
= (100/1.000)x100 = 10 poin
Nilai dasar sesudah split-down
= 5 x 1.000
Indeks harga sesudah split-down
= (500/5.000)x100 = 10 poin
=
= 5.000
Indeks harga pasar secara teoritis tidak berubah setelah split-down,
sementara indeks harga pasar riil berubah apabila harga pasar riil
berbeda dengan harga pasar teoritis.
Penerbitan Saham Bonus
 Saham bonus adalah saham yang berasal dari kapitalisasi agio saham.
 Agio saham adalah selisih antara harga jual saham dan harga nominal saham.
 Saham Bonus (SB) diberikan kepada pemegang saham lama secara gratis.
 SB 1 : 2, artinya setiap 1 (satu) saham lama mendapatkan 2 unit saham
tambahan dengan nominal yang sama.
 Penerbitan SB akan mengakibatkan modal disetor bertambah dan agio saham
berkurang, tetapi tidak mengubah total ekuitas.
 Modal disetor bertambah karena jumlah saham bertambah, yaitu berasal dari
kapitalisasi agio.
 Karena jumlah saham bertambah, maka laba per lembar saham akan
berkurang dan akan berdampak turunnya harga saham di pasar.
 Indeks harga saham secara teoritis tidak berubah, sementara indeks harga
pasar riil akan berubah jika harga pasar riil berbeda dengan harga pasar
teoritis
Contoh
 Perseroan GGRM mengeluarkan saham bonus pada bulan Juni 1996
dengan perbandingan SB 1 : 1, yang berarti satu saham lama
memperoleh satu saham bonus nominal Rp 500,-.
 Harga pasar sebelum SB adalah Rp 10.200 dan nilai dasar adalah Rp
5.125 dengan jumlah saham beredar 962.044.000 unit saham.
 Berapa harga pasar dan indeks harga saham sesudah SB?
 Apakah indeks harga pasar akan berubah?
Jawaban:
Jumlah saham beredar meningkat menjadi 2 x 962.044.000 = 1.924.088.000
Indeks harga pasar sebelum SB
= (10.200/5.125)x100 = 199,02 poin
Nilai dasar turun menjadi
= ½ x 5.125
= 2.562,5
Harga pasar teoritis
= ½ x 10.200
= 5.100
Indeks harga teoritis sesudah SB
= (5.100/2.562,5)x100 = 199,02
Walaupun harga pasar berubah sesudah SB, tetapi indeks harga pasar
teoritis sesudah SB tidak berubah
Indeks harga pasar akan berubah jika harga pasar riil berbeda dengan
harga pasar teoritis
Penerbitan Dividen Saham
 Dividen saham berasal dari kapitalisasi laba ditahan.
 Dividen saham memiliki nominal yang sama dengan saham yang
ada, tetapi dikonversi dengan harga pasar dan harga konversi
minimum sama dengan harga nominalnya apabila harga pasar
berada di bawah nilai nominal.
 Penerbitan dividen saham akan menaikkan jumlah saham dan
modal disetor, tetapi total ekuitas tidak berubah.
 Dividen saham merupakan pengganti atas tidak dibagikannya
dividen tunai, dengan alasan perusahaan membutuhkan dana
tunai untuk perluasan pabrik atau ekpansi pasar.
 Dividen saham merupakan cermin bahwa perusahaan sedang
mengalami pertumbuhan.
Contoh:
 Perusahaan X memiliki modal disetor 100 juta saham dengan nominal
Rp 1.000. Saldo laba ditahan adalah Rp 25 miliar dan agio saham
adalah Rp 500 miliar.
 Harga pasar sebelum penerbitan dividen saham adalah Rp 2.250
dan nilai dasar Rp 1.500.
 Perusahaan ini sedang merencanakan membagi dividen saham (DS)
sebanyak 10 juta saham nominal @ Rp 1.000.
 DS 10 : 1 berarti 10 saham lama berhak menerima 1 deviden saham.
 Berapa harga pasar dan indeks pasar sesudah DS?
 Apakah indeks pasar dapat berubah?
Jawaban:
 Dana untuk dividen saham = 10 juta @ Rp 2.250 = Rp 22,5 miliar
diambil dari saldo laba ditahan.
 Maka Saldo laba ditahan sebesar Rp 25 miliar – Rp 22,5 miliar = Rp 2,5
miliar
 Perhitungan agio:
 Dana untuk dividen saham
= Rp
22,5 miliar
 Modal disetor dari dividen saham = 10 juta @Rp 1.000
= Rp
10,0 miliar
Rp
12,5 miliar
 Tambahan agio saham
 Agio Awal
 Total Agio
= Rp 500
miliar
Rp 512,5 miliar
 Penghitungan modal disetor:
 Modal disetor Awal, 100 juta saham @ Rp 1.000
= Rp 100 miliar
 Modal disetor dari dividen saham, 10 juta saham
= Rp
 Total modal disetor, 110 juta saham @Rp 1.000
= Rp 110 miliar
10 miliar
Karena dividen saham dikonversi sama dengan harga pasar, maka
harga pasar teoritis setelah DS tidak akan berubah, walaupun
menggunakan rumus:
(𝑆1 𝑥𝐻1 ) + (𝑆2 𝑥𝐻2 )
𝐻𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑃𝑎𝑠𝑎𝑟 𝑆𝑎ℎ𝑎𝑚 𝑇𝑒𝑜𝑟𝑖𝑡𝑖𝑠 =
𝑆1 + 𝑆2
=
(10𝑥2.250)+(1𝑥2.250)
10+1
= 2.250
 Indeks harga saham sebelum DS
= (2.250/1.500) x 100 = 150
 Nilai Dasar sesudah DS:
 Total Nilai Dasar = 100 juta saham @ Rp 1.500
= Rp 150,0 miliar
 Dividen Saham =
= Rp
10 juta saham @ Rp 2.250
 Total nilai dasar
22,5 miliar
= Rp 172,5 miliar
Nilai dasar per unit sesudah DS = 172,5/11 = 1.568,18
Kapitalisasi pasar sesudah DS
= 110 juta x Rp 2.250
= Rp 247,5 M
Indeks harga teoritis sesudah DS
= (247,5/172,5) x 100
= 143,48 atau
Indeks harga teoritis sesudah DS
= (2.250/1.568,18) x 100 = 143,48
Indeks harga saham riil sesudah DS dapat berbeda dengan indeks harga
teoritis jika harga pasar riil berbeda dengan harga pasar teoritis.
TERIMA KASIH
Download