Templat tugas akhir S1

advertisement
MANFAAT KAMPUNG KONSERVASI TUMBUHAN OBAT
KELUARGA (TOGA) GUNUNG LEUTIK, DESA BENTENG
CIAMPEA BOGOR
RAHILA JUNIKA TANJUNGSARI
DEPARTEMEN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA
FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2014
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Manfaat Kampung
Konservasi Tumbuhan Obat Keluarga (TOGA) Gunung Leutik, Desa Benteng
Ciampea Bogor adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing
dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun.
Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun
tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan
dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut
Pertanian Bogor.
Bogor, Agustus 2014
Rahila Junika Tanjungsari
NIM E34100076
ABSTRAK
RAHILA JUNIKA TANJUNGSARI. Manfaat Kampung Konservasi Tumbuhan
Obat Keluarga (TOGA) Gunung Leutik, Desa Benteng Ciampea Bogor.
Dibimbing oleh ERVIZAL A.M. ZUHUD dan ELLYN K. DAMAYANTI.
Revitalisasi konservasi untuk kemandirian kesehatan dapat dicapai dengan
pembentukkan kampung konservasi contohnya Kampung Konservasi TOGA
Gunung Leutik. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi manfaat Kampung
Konservasi TOGA Gunung Leutik, berupa pemanfaatan tumbuhan obat,
dampaknya terhadap kesehatan dan ekonomi masyarakat. Metode pengumpulan
data menggunakan wawancara open-ended, studi literatur, dan observasi lapang.
Hasil menunjukkan terdapat 152 jenis tumbuhan obat dari 57 famili yang
dimanfaatkan, dengan famili tumbuhan obat yang paling banyak digunakan adalah
Zingiberaceae dan Asteraceae. Hasil perhitungan Index of Cultural Significance
(ICS) menunjukkan jenis yang pemanfaatannya tertinggi, yaitu jahe merah
(Zingiber officinale), temulawak (Curcuma xantorrizha), dadap (Erythrina
lithosperma), sambiloto (Andrographis paniculata), suji (Dracaena angustifolia),
sirih (Piper betle), sembung (Blumea balsamifera), kencur (Kaempferia galanga),
lempuyang (Zingiber aromaticum), dan kunyit (Curcuma domestica).
Pencanganan Kampung Konservasi Gunung Leutik memberikan dampak positif
bagi kesehatan dan ekonomi masyarakat.
Kata kunci: kampung konservasi TOGA, pemanfaatan, tumbuhan obat.
ABSTRACT
RAHILA JUNIKA TANJUNGSARI. Benefit of Family Medicinal Plant (TOGA)
Conservation Kampoong of Gunung Leutik, Benteng Village Ciampea Bogor.
Supervised by ERVIZAL A.M. ZUHUD dan ELLYN K. DAMAYANTI.
Conservation revitalization for health endurance can be achieved by
establishing a conservation village such as Kampung Konservasi TOGA Gunung
Leutik. The purposes of this research are to identify the benefit of Kampung
Konservasi TOGA Gunung Leutik in the form medicinal plants utilization, and
the impacts of its existence to local people’s health and economy. Methods used
in this research was open-ended interview, literature study, and observation. The
result shows that there are 152 medicinal plant species from 57 families that are
utilized by the local people and most of them are from Zingiberaceae and
Asteraceae families. Index of Cultural Significance (ICS) calculation shows the
most utilized plants are ginger (Zingiber officinale), temulawak (Curcuma
xantorrizha), dadap (Erythrina lithosperma), sambiloto (Andrographis
paniculata), suji (Dracaena angustifolia), sirih (Piper betle), sembung (Blumea
balsamifera), kencur (Kaempferia galanga), lempuyang (Zingiber aromaticum),
and kunyit (Curcuma domestica). Benefits of these medicinal plants are for spices
and daily disease treatment. The existence of Kampung Konservasi Gunung
Leutik gives positive impacts for local people health and economy.
Keywords: TOGA conservation kampoong, medicinal plant, utilization
MANFAAT KAMPUNG KONSERVASI TUMBUHAN OBAT
KELUARGA (TOGA) GUNUNG LEUTIK, DESA BENTENG
CIAMPEA BOGOR
RAHILA JUNIKA TANJUNGSARI
Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Kehutanan
pada
Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata
DEPARTEMEN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA
FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2014
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas
segala anugerah dan karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan.
Topik yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan pada bulan Maret - Juli
2014 ini adalah manfaat kampung konservasi, dengan judul Manfaat Kampung
Konservasi Tumbuhan Obat Keluarga (TOGA) Gunung Leutik, Desa Benteng
Ciampea Bogor.
Terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak Prof Dr Ir Ervizal A. M.
Zuhud, MS dan Ibu Ellyn K. Damayanti, SHut, MSi, PhDAgr selaku pembimbing.
Di samping itu, penghargaan penulis sampaikan kepada Ibu Sekaryati, Bapak
Bukhari, masyarakat Kampung Gunung Leutik, petugas kelurahan Desa Benteng,
dan petugas Puskesmas Ciampea yang telah membantu selama pengumpulan data.
Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada ayahahnda Bapak Yanto Pahroji,
ibunda Upit Sarimanah, adik Habib Salman Giffari dan Kania Kamaratih Cantika,
serta seluruh keluarga, dosen, staf DKSHE, sahabat Nepenthes rafflesiana 47,
Kelompok Pemerhati Flora, teman-teman Fast Track 47 atas segala doa dan kasih
sayangnya.
Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.
Bogor, Agustus 2014
Rahila Junika Tanjungsari
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
vii
DAFTAR GAMBAR
vii
DAFTAR LAMPIRAN
vii
PENDAHULUAN
1
Latar Belakang
1
Tujuan Penelitian
2
Manfaat Penelitian
2
METODE
2
Lokasi dan Waktu Penelitian
2
Alat dan Bahan
2
Prosedur Pengumpulan Data
2
Jenis Data yang Dikumpulkan
3
Metode Pengumpulan Data
3
Analisis Data
4
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kondisi Umum Lokasi Penelitian
8
8
Karakteristik Informan
10
Pemanfaatan Tumbuhan Obat
12
Manfaat Kampung Konservasi TOGA
20
SIMPULAN DAN SARAN
24
Simpulan
24
Saran
24
DAFTAR PUSTAKA
24
LAMPIRAN
27
DAFTAR TABEL
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Data primer yang dikumpulkan dalam penelitian
Kriteria dan nilai kepentingan penggunaan
Kriteria dan nilai intensitas penggunaaan
Kriteria dan nilai ekslusivitas penggunaan
Persentase penduduk berdasarkan etnis
Jenis famili tumbuhan obat yang banyak digunakan
Cara pengolahan tumbuhan obat
Jenis tumbuhan yang memiliki nilai ICS tertinggi
Jenis penyakit yang diderita masyarakat
3
7
7
8
9
13
16
18
23
DAFTAR GAMBAR
1
2
3
4
5
6
7
Struktur umur informan
Jumlah tumbuhan obat berdasarkan tingkat pendidikan
Sumber pengetahuan informan
Habitus tumbuhan obat yang digunakan
Kondisi penyebaran tumbuhan obat
Jahe merah (Zingiber officinale) dan temulawak (Curcuma xantorrizha)
Dadap (Erythrina lithosperma) dan sambiloto (Andrographis paniculata)
11
11
12
14
17
19
20
DAFTAR LAMPIRAN
1 Rekapitulasi tumbuhan obat beserta karakteristiknya
2 Index kepentingan budaya setiap jenis tumbuhan obat
3 Ramuan tumbuhan obat yang digunakan informan
27
36
56
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tumbuhan obat dapat dimanfaatkan sebagai alternatif pengobatan oleh
masyarakat, karena mahalnya dan sulitnya akses untuk mendapatkan obat-obatan
modern. Akses terhadap obat-obatan dan pengobatan modern hanya dapat diakses
oleh kalangan masyarakat yang mampu. World Health Organization (WHO)
menduga bahwa mayoritas masyarakat di kebanyakan negara non-industri masih
mengandalkan bentuk pengobatan tradisional untuk menjaga kesehatan sehari-hari.
Masyarakat diberbagai Negara sekitar 80-90% termasuk dalam kategori ini.
Tumbuhan obat dan produk obat dari hewan, merupakan bentuk dari materi
pengobatan tradisional (Bodeker 2000). Upaya pengobatan tradisional dengan
obat-obat tradisional merupakan salah satu bentuk peran serta masyarakat dan
sekaligus merupakan teknologi tepat guna yang potensial untuk menunjang
pembangunan kesehatan.
Masyarakat perkampungan di negara berkembang, mayoritas bergantung
pada biodiversitas sebagai mata pencaharian, memenuhi kebutuhan nutrisi dan
kesehatan mereka. Perubahan lahan hutan menjadi pertanian, dalam jangka
pendek mempertinggi kondisi nutrisi atau konsumsi dari beberapa orang, namun
menyebabkan hilangnya tanaman obat penting dan dapat memunculkan penyakit
akibat ketidakseimbangan ekosistem (Bodeker 2005). Gerakan revitalisasi
digambarkan dalam pengetahuan pengobatan tradisional untuk dikembangkan
secara terintegrasi dalam proyek perawatan kesehatan modern dan tradisional.
Program konservasi dan holtikultura muncul sebagai komponen vital dalam
revitalisasi tradisi kesehatan atau pengobatan lokal. Pengetahuan tradisional dapat
menjadi poin untuk memulai yang fundamental dalam straregi konservasi
(Bodeker 2000). Gerakan revitalisasi ini dapat dilakukan dengan pembentukkan
kampung konservasi.
Salah satu contoh kampung konservasi yang telah dibentuk adalah
Kampung Konservasi Tumbuhan Obat Keluarga (TOGA) Gunung Leutik yang
terletak di Desa Benteng Ciampea Bogor. Kampung ini berada di sekitar kampus
IPB Darmaga yang merupakan kampung percontohan pemanfatan TOGA. Adanya
TOGA memudahkan masyarakat mendapatkan sumber obat-obatan untuk
menyembuhkan penyakit dengan cepat dan tepat. Hal ini dikarenakan TOGA
dapat dengan mudah ditemukan di sekitar lingkungan tempat tinggal dan tepat
pengobatannya, karena TOGA memiliki khasiat dalam mengobati penyakit.
Potensi yang dimiliki oleh Kampung Konservasi TOGA Gunung Leutik yaitu,
sebanyak 216 spesies tumbuhan obat dari 70 famili (Rosmiati 2010). Jenis-jenis
tumbuhan obat tersebut beberapa sudah dimanfaatkan oleh masyarakat dalam
mengobati penyakit. Mengingat pentingnya manfaat TOGA untuk masyarakat
maka perlu adanya pengembangan Kampung Konservasi TOGA Gunung Leutik
sebagai strategi konservasi jenis tumbuhan obat agar dapat dilakukan pemanfaatan
secara berkelanjutan dan masyarakat dapat mandiri dalam aspek kesehatan.
Pengembangan jenis-jenis komersil tumbuhan obat yang digunakan sebagai
ramuan atau bahan baku obat juga dapat dikembangkan untuk peningkatan
ekonomi masyarakat. Penelitian mengenai pemanfaatan tumbuhan obat dan
2
dampaknya terhadap kesehatan, identifikasi manfaat pembentukan kampung
konservasi, serta karakteristik tumbuhan obat berdasarkan kepentingan budaya,
penyebaran di alam, status dan sifat pemanfaatannya perlu dilakukan.
Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi manfaat Kampung Konservasi
TOGA Gunung Leutik, berupa pemanfaatan tumbuhan obat berdasarkan
kepentingan budaya, penyebaran di alam, status dan sifat pemanfaatan,
dampaknya terhadap kesehatan dan ekonomi masyarakat.
Manfaat Penelitian
Data, informasi, dan hasil dari penelitian ini diharapkan menjadi referensi
bagi masyarakat lain mengenai jenis-jenis tumbuhan obat yang dapat
dimanfaatkan untuk keperluan sehari-hari dan jenis-jenis tumbuhan obat yang
komersial untuk dijual. Selain itu, hasil dari penelitian ini dapat menjadi acuan
bagi pemerintah untuk melakukan pemberdayaan masyarakat yang mandiri
kesehatan sekaligus masyarakat dapat secara langsung ikut mengkonservasi jenisjenis tumbuhan obat agar dapat dilakukan pemanfaatan secara berkelanjutan.
METODE
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Kampung Konservasi TOGA Gunung Leutik,
Desa Benteng, Kecamatan Ciampea Kabupaten Bogor, Jawa Barat pada bulan
Maret – April 2014. Pengolahan dan analisis data dilaksanakan selama 2 bulan
yaitu, pada Juni – Juli 2014.
Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat tulis,
kamera, kalkulator, panduan wawancara, label, dan tumbuhan obat yang ada di
sekitar Kampung Konservasi TOGA Gunung Leutik.
Prosedur Pengumpulan Data
Peneltian ini meliputi studi literatur, wawancara dengan masyarakat untuk
mengetahui pemanfaatan tumbuhan obat dan bentuk pengolahannya, dan survei
lapangan untuk melihat kondisi di lapangan tumbuhan obat yang dimanfaatkan.
3
Jenis Data yang Dikumpulkan
Tabel 1 Data primer yang dikumpulkan dalam penelitian
No
Jenis Data
1.
Kondisi umum
2.
Karakteristik
Informan
3.
Pemanfaatan
tumbuhan obat
Uraian
Sumber Data
1. Sejarah pembentukkan
kampung konservasi
TOGA
2. Manfaat pembentukkan
Kampung Konservasi
TOGA Gunung Leutik
1. Umur
2. Jenis Kelamin
3. Pekerjaan
4. Pendidikan
5. Etnis
1. Sumber pengetahuan
2. Tumbuhan yang
dimanfaatkan
3. Bagian yang
dimanfaatkan
4. Kondisi tumbuhan yang
dimanfaatkan
5. Cara memperoleh
6. Cara pemanfaatan/
peramuan
7. Manfaat selain menjadi
tumbuhan obat
8. Sifat Pemanfaatan
tumbuhan obat
9. Pengobatan pasien
Metode
Masyarakat
Kampung
Gunung
Leutik,
Pegawai
Balai Desa
Masyarakat
Kampung
Gunung
Leutik
Wawancara, studi
literatur
(arsip
Desa Benteng).
Masyarakat
Kampung
Gunung
Leutik
Wawancara dan
observasi lapang
Wawancara
Metode Pengumpulan Data
Metode yang digunakan untuk
adalah:
pengumpulan data dalam penelitian ini
Studi Literatur
Metode ini digunakan untuk mencari dan mengkaji informasi tentang
pengembangan TOGA dan pemanfaatannya dari berbagai literatur, seperti skripsi,
tesis, disertasi, jurnal nasional dan internasional mengenai etnobotani dan
tumbuhan obat. Literatur digunakan sebagai referensi, acuan, dan tambahan
informasi untuk melengkapi data yang diperoleh.
Wawancara
Wawancara dilakukan kepada masyarakat dan kader yang berada di
Kampung Konservasi TOGA Gunung Leutik tentang pemanfaatan TOGA dan
manfaat yang dirasakan dengan dicanangkannya Kampung Konservasi TOGA
Gunung Leutik. Wawancara dilakukan dengan menggunakan panduan wawancara
semi terstruktur dengan metode open-ended secara mendalam. Teknik penarikan
4
contoh menggunakan metode snowball. Metode ini dilakukan dengan menentukan
informan kunci (key person) yang secara langsung memanfaatkan tumbuhan obat
keluarga (TOGA) dan menjadi kader di Kampung Konservasi TOGA Gunung
Leutik. Selanjutnya, informan kunci menyarankan orang berikutnya yang
dianggap memiliki pengetahuan dan menggunakan tumbuhan obat untuk
dijadikan informan. Informan selanjutnya berdasarkan rekomendasi dari informan
sebelumnya. Wawancara dihentikan ketika data dan informasi yang didapatkan
sudah jenuh dan tidak ada lagi penambahan informasi.
Observasi Lapang
Metode observasi lapang dilakukan untuk memverifikasi jenis-jenis
tumbuhan obat yang dimanfaatkan di Kampung Konservasi TOGA Gunung
Leutik. Observasi ini dilakukan dengan cara mengamati tumbuhan obat yang
dimanfaatkan baik dari habitat, cara budidaya dan cara pemanfaatan.
Analisis Data
Hubungan antara Lamanya Menempuh Pendidikan dengan Pengetahuan
Tumbuhan Obat
Metode korelasi Spearman Rank (rho) digunakan untuk mencari hubungan
antara lamanya menempuh pendidikan dengan pengetahuan tumbuhan obat.
Rumus korelasi Spearman Rank (rho) adalah sebagai berikut:
6𝛴𝑑 2
𝑟𝑠 = 1 −
𝑛 (𝑛2 − 1)
Keterangan:
𝑟𝑠 = Nilai korelasi Spearman Rank
d2 = Selisih setiap pasangan Rank
n = Jumlah pasangan rank untuk Spearman (5 <n <30)
Hipotesis yang digunakan adalah sebagai berikut:
H1 : Terdapat hubungan antara lamanya informan menempuh pendidikan dengan
pengetahuan informan mengenai tumbuhan obat.
H0 : Tidak terdapat hubungan antara lamanya informan menempuh pendidikan
dengan pengetahuan informan mengenai tumbuhan obat.
Selang kepercayaan yang digunakan adalah 95% sehingga tingkat
signifikansi 0.05. Jika r hitung > r tabel maka terima H1 dan jika r hitung < r tabel
maka terima H0. Nilai r menunjukkan tingkat hubungan atau korelasi. Apabila r
bernilai 0, maka tidak ada korelasi. Jika r bernilai 1.00 atau -1.00 maka terdapat
korelasi sempurna atau hubungan antar variabel tinggi (Supranto 2009).
Sumber Pengetahuan
Pengetahuan masyarakat mengenai pemanfaatan tumbuhan obat didapatkan
dari berbagai sumber. Sumber pengetahuan tersebut dapat berasal dari turun
temurun, media cetak, media elektronik, orang lain, penyuluhan, dan lain
5
sebagainya. Persentase sumber pengetahuan dapat dihitung dengan menggunakan
rumus:
% Sumber Pengetahuan=
Σsn
×100%
Σbn
Keterangan:
Sn = jumlah spesies tumbuhan obat yang diketahui melalui sumber pengetahuan
tertentu
bn = jumlah total seluruh spesies tumbuhan obat
Karakteristik Tumbuhan Obat
Spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan dikelompokkan berdasarkan
famili. Famili tumbuhan obat dapat dihitung dengan menggunakan rumus:
% famili =
Σfn
×100%
Σbn
Keterangan:
fn = jumlah spesies tumbuhan obat yang termasuk dalam famili tertentu
bn = jumlah total seluruh spesies tumbuhan obat
Spesies-spesies tumbuhan obat di Kampung Gunung Leutik, Desa Benteng
dapat dikelompokkan 7 (tujuh) macam habitus, yaitu bambu, terna, herba, Iiana,
perdu, pohon, dan semak (Zuhud et al. 2011). Persentase habitus dapat dihitung
dengan menggunakan rumus:
Σhn
% Habitus =
×100%
Σbn
Keterangan:
hn = jumlah spesies tumbuhan obat yang termasuk dalam habitus tertentu
bn = jumlah total seluruh habitus tumbuhan obat
Bagian Tumbuhan yang Digunakan
Bagian yang digunakan dari tumbuhan obat di Kampung Konservasi
TOGA Gunung Leutik terbagi menjadi, akar, rimpang, umbi, umbi lapis, daun,
bunga, buah, kulit buah, kulit batang, batang kayu, herba, minyak atau biji.
Persentase bagian yang digunakan dapat dihitung dengan menggunakan rumus:
% ji=
Σ (ji1 +ji2 + ji3 +ji4 +…+jin )
×100%
Σi
Keterangan:
j = jumlah bagian dari tumbuhan obat yang digunakan sebagai obat
i = jumlah total seluruh bagian tumbuhan yang digunakan sebagai obat
Catatan: Satu spesies tumbuhan obat memungkinkan beberapa bagiannya
digunakan sebagai obat.
Cara Pengolahan Tumbuhan Obat
Pemanfaatan tumbuhan obat di Kampung Konservasi TOGA Gunung
Leutik di klasifikasikan ke dalam berbagai cara pengolahan. Persentase cara
pengolahan tumbuhan obat dapat dihitung dengan menggunakan rumus:
6
% Cara pengolahan=
Σi
×100%
Σj
Keterangan:
i = jumlah spesies tumbuhan obat yang digunakan dengan cara pengolahan
tertentu
j = jumlah total seluruh cara pengolahan tumbuhan obat
Catatan: Satu spesies tumbuhan obat memungkinkan untuk digunakan dengan
beberapa cara pengolahan
Kondisi Penyebaran Tumbuhan dan Status Tumbuhan Obat di Alam
Tumbuhan obat di Kampung Konservasi TOGA Gunung Leutik menyebar
pada beberapa tipe habitat yang ada di kampung tersebut. Kondisi penyebaran
tumbuhan dianalisis menggunakan persentasi sebagai berikut:
% Kondisi penyebaran tumbuhan=
ΣKpn
×100%
ΣKP
Keterangan
Kpn = Jumlah spesies tumbuhan obat yang menyebar pada habitat tertentu
KP
= Jumlah total seluruh habitat tumbuhan obat
Catatan: Satu spesies tumbuhan obat memungkinkan untuk tumbuh di beberapa
tipe habitat.
Status tumbuhan obat di alam terdiri dari kategori liar, semidomestika dan
domestika. Kategori liar artinya tumbuhan tumbuh alami secara liar. Kategori
semidomestika artinya tumbuhan sebagian dibudidayakan dan sebagian masih ada
dalam kondisi liar. Kategori domestika artinya tumbuhan hanya ada dalam kondisi
budidaya. Status tumbuhan obat di alam dianalisis dengan menggunakan rumus
sebagai berikut:
% Status di alam=
ΣSan
×100%
ΣSa
Keterangan:
San
= jumlah spesies tumbuhan obat yang termasuk kategori status di alam
tertentu.
Sa
= jumlah total seluruh spesies tumbuhan obat.
Sifat Pemanfaatan
Sifat pemanfaatan tumbuhan oleh masyarakat dibagi menjadi tiga kategori,
yaitu subsisten, komersial, subsisten-komersial. Kategori subsisten artinya
masyarakat memanfaatkan jenis tumbuhan sesuai kebutuhan untuk dikonsumsi
sendiri. Kategori komersial artinya masyarakat telah memanfaatkan jenis
tumbuhan untuk mendapat keuntungan finansial. Kategori subsisten-komersial
artinya masyarakat memanfaatkan tumbuhan obat untuk memenuhi kebutuhannya
sendiri dan mendapat keuntungan finansial. Sifat pemanfaatan dari tumbuhan
dianalisis dengan menggunakan persentasi dibawah ini:
% Sifat pemanfaatan=
ΣSPen
×100%
ΣPe
7
Keterangan:
Spen
= jumlah spesies tumbuhan obat yang termasuk dalam kategori sifat
pemanfaatan tertentu
SPe
= jumlah total seluruh spesies tumbuhan obat
Index Kepentingan Budaya (Index of Cultural Significance)
Menurut Turner (1988) yang dimodifikasi oleh Purwanto (2002) dalam
Kartikawati (2004) Index Kepentingan Budaya dapat dikategorikan menjadi:
a. Kepentingan Penggunaan (Quality of use)
Index ini berdasarkan variasi dari berbagai sifat penggunaan jenis tumbuhan
dengan menggunakan skor.
Tabel 2 Kriteria dan nilai kepentingan penggunaan
Nilai
5
4
3
2
1
Kriteria
Bahan makanan pokok.
Bahan makanan sekunder (akar, batang, buah, umbi, daun, bunga,
minuman) dan material pokok (kayu untuk konstruksi, kayu bakar, serat
untuk tali temali, kerajianan tangan, teknologi sederhana).
Penggunanan lainnya yang berkaitan dengan makanan (perasa, pemanis,
pembungkus, pakan, stimulant, dll), material sekunder (penyamak,
pengawet, pewangi, pewarna, getah, kosmetik, dll) dan obat-obatan.
Ritual, mitologi, rekreasi/tanaman hias.
Tumbuhan yang dikenal namun tidak digunakan secara khusus atau
dianggap istimewa dalam hal apapun.
b. Intensitas Penggunaan (Intensity of use)
Penilaian berdasarkan pengaruh penggunaan jenis tumbuhan dalam
kehidupan sehari-hari dalam suatu masyarakat.
Nilai
5
4
3
2
1
Tabel 3 Kriteria dan nilai intensitas penggunaaan
Kriteria
Intensitas tinggi (very high intensity) : sangat berpengaruh terhadap pola
hidup harian atau tahunan; tumbuhan seringkali dengan sengaja
dipelihara melalui modifikasi habitat; meramu atau perdagangan produk
tumbuhan sebagai kegiatan budaya primer.
Intensitas penggunaan cukup tinggi (moderately high use intensity);
sering dicari/digunakan dan seringkali mempengaruhi kegiatan budaya
harian dan atau perdagangan.
Intensitas penggunaan menengah (medium use intensity); secara teratur
dicari; terkadang mempengaruhi pola hidup harian atau musiman;
meramu dan atau perladangan merupakan kegiatan budaya yang relatif
sering dilakukan.
Intensitas penggunaan rendah (low use intensity); terkadang digunakan;
dampak terhadap pola hidup harian atau musiman rendah.
Intensitas penggunaan minimal (minimal use intensity); jarang digunakan
dan dampak terhadap pola hidup harian atau musiman dapat diabaikan.
8
c. Eksklusivitas Penggunaan (Exclusivity of use)
Penilaian tergantung dari tingkat jenis tumbuhan tersebut lebih disenangi
daripada jenis tumbuhan lain.
Nilai
2
1
0.5
Tabel 4 Kriteria dan nilai ekslusivitas penggunaan
Kriteria
Jenis tumbuhan yang paling dipilih dalam peran budaya tertentu.
Salah satu dari banyak jenis tumbuhan yang dipilih dengan eksklusivitas
rata-rata (digunakan untuk sebagian besar penggunaan).
Sumber sekunder dengan eksklusivitas rendah dalam peran budaya
tertentu.
Index Kepentingan Budaya dihitung dengan menggunakan rumus:
ICS=(q 1 + i1 +e1 )1 + (q 2 + i2 +e2 )2 +…+(q n + in +en )n
Keterangan :
ICS : Index Kepentingan Budaya (Index of Cultural Significance)
q
: Nilai Kualitas
i
: Nilai Intensitas
e
: Nilai Eksklusivitas
Nilai ICS kemudian dikelompokkan menjadi tiga selang nilai dan diberi skor
berdasarkan kepentingan budayanya, yaitu:
Skor 3: nilai ICS 138 – 206 termasuk kategori tumbuhan yang sangat penting
dalam budaya tertentu.
Skor 2: nilai ICS 69 – 137 termasuk kategori tumbuhan yang penting dalam
budaya tertentu.
Skor 1: nilai ICS 3 – 68 termasuk kategori tumbuhan yang kurang penting dalam
budaya tertentu.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kondisi Umum Lokasi Penelitian
Administrasi dan Demografi
Kampung Gunung Leutik berada di Desa Benteng Kecamatan Ciampea
Kabupaten Bogor. Desa Benteng merupakan salah satu desa yang termasuk ke
dalam desa lingkar kampus IPB. Luas Desa Benteng adalah 248.5 ha dengan
berbagai penggunaan lahan, seperti pemukiman, persawahan, kuburan,
pekarangan, taman, perkantoran, dan prasarana umum lainnya. Desa Benteng
terbagi menjadi tujuh RW, yang mana Kampung Gunung Leutik termasuk RW 5.
Desa Benteng berbatasan dengan:
Sebelah utara
: Desa Ranca Bungur, Kecamatan Ranca Bungur
Sebelah selatan
: Desa Bojong Rangkas dan Cibanteng, Kecamatan
Ciampea
9
Sebelah timur
: Kampus IPB, Kecamatan Dramaga
Sebelah barat
: Desa Ciampea, Kecamatan Ciampea
Jumlah penduduk Desa Benteng menurut data terakhir pada Mei 2014
adalah 12 062 jiwa dengan laki-laki 5 627 jiwa dan perempuan 6 345 jiwa dengan
jumlah kepala keluarga (KK) sebanyak 2 782 KK. Sebanyak 20% masyarakat
Desa Benteng berada di Kampung Gunung Leutik. Jumlah penduduk Kampung
Gunung Leutik adalah 2 545 jiwa, dengan laki-laki sejumlah 1 350 jiwa,
perempuan 1 195 jiwa, dan 673 KK. Mata pencaharian penduduk Desa Benteng
terdiri dari petani, buruh, Pegawai Negeri Sipil (PNS), pedagang, pembantu
rumah tangga, dan pensiunan. Penduduk Desa Benteng sebagian besar merupakan
warga lokal (92%), tetapi terdapat juga warga pendatang sebanyak 8%. Sebagian
besar etnis yang tinggal di Desa Benteng adalah Sunda (Tabel 5). Agama yang
dianut oleh masyarakat Desa Benteng sebagian besar adalah Islam (84%), tetapi
ada juga yang menganut agama lain, seperti Kristen (5%), Katholik (5%), Hindu
(1%), Budha (2%) dan Konghuchu (3%).
Sunda
Jawa
Betawi
Melayu
Minang
Etnis Lain
Total
Tabel 5 Persentase penduduk berdasarkan etnis
Etnis
Persentase (%)
92.4
2.8
2.2
2.0
0.1
0.6
100
Sumber: Data Desa Benteng
Sejarah Kampung Konservasi TOGA Gunung Leutik
Kampung Konservasi Tumbuhan Obat Keluarga (TOGA) Gunung Leutik
diawali dengan dibentuknya Kelompok TOGA pada tahun 2010. Tahap awal,
yaitu warga dan mahasiswa IPB melakukan pendataan setiap tumbuhan obat yang
ada di setiap rumah warga di Kampung Gunung Leutik. Selanjutnya, warga dan
pihak dari IPB melakuan Diskusi Kelompok Terfokus/ Focussed Grup Discussion
(FGD) mengenai tumbuhan obat yang ada di setiap rumah, manfaat yang
diketahui masyarakat, sampai cara pengolahan tumbuhan obat. Beberapa orang
dari Kampung Gunung Leutik mengikuti pelatihan di Fakultas Kehutanan yang
diadakan oleh Bagian Konservasi Keanekaragaman Tumbuhan (BKKT)
Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (DKSHE), Fakultas
Kehutanan IPB. Pelatihan tersebut membahas mengenai konservasi TOGA dan
pengenalan jenis-jenis TOGA. Pelatihan tersebut diikuti juga oleh peserta dari
Kampung Carangpulang, Kampung Cangkrang, dan Kampung Pabuaran Sawah.
Desa di mana kampung-kampung tersebut berada termasuk ke dalam desa lingkar
kampus. Total peserta adalah 40 peserta yang mana masing-masing kampung
diwakili oleh 10 peserta (Zuhud 2009).
Setelah pelatihan, selanjutnya dibentuk Kelompok TOGA Bina Sehat
Lestari dengan ketua pertama Bapak RM. Yusuf, sekretaris Bapak Dedi Sukardi,
Bendahara Bapak Keji, dan pengelola Ibu Sekaryati. Kelompok tersebut dibina
oleh BKKT-DKSHE Fakultas Kehutanan IPB. Menurut Zuhud et al. (2011)
10
pemilihan kader TOGA didasarkan pada minat responden terhadap TOGA.
Setelah itu kelompok secara mandiri melakukan sosialisasi secara lebih
menyeluruh mengenai tumbuhan obat ke masyarakat. Pembentukkan Kelompok
TOGA Bina Sehat Lestari diikuti dengan dibangunnya kebun TOGA. Kebun
TOGA merupakan kebun yang berisi koleksi berbagai tumbuhan obat.
Kelompok TOGA Bina Sehat Lestari juga diberi pelatihan pengolahan
tumbuhan obat, seperti jahe merah instan, temulawak instan, dan lain sebagainya.
Program TOGA memberikan bahan dan peralatan kepada tiap kelompok kader
TOGA, berupa peralatan sederhana dalam pembuatan produk tumbuhan obat
skala rumah tangga/home industry, yang diharapkan mampu menunjang ekonomi
masyarakat (Zuhud et al. 2011). Produksi pertama, yaitu pembuatan bandrek yang
dijual di warung-warung dan akhirnya dapat menambah penghasilan Ibu Sekaryati.
Setelah ide yang digagas Ibu Sekaryati, masyarakat lainnya ikut membuat produk.
Publikasi tentang Kampung Konservasi TOGA Gunung Leutik dilakukan oleh
BKKT, berupa pembuatan dan penayangan short movie dan cuplikan wawancara
yang bekerjasama dengan beberapa stasiun televisi swasta dan penerbitan artikel
di majalah dan media massa nasional. Setelah itu kelompok TOGA digabung
dengan Posdaya Benteng Harapan. Posdaya tersebut memiliki program Observasi
Study Tour. Melalui tayangan di televisi, penerbitan artikel di media massa dan
adanya program dari Posdaya, Kampung Konservasi TOGA Gunung Leutik
berkembang dan dikenal berbagai pihak. Orang banyak berdatangan dari luar kota
ke Kampung Gunung Leutik, karena kampung ini memiliki keunggulan tumbuhan
obat. Program tersebut merupakan ajang promosi dan melakukan pembibitan,
sehingga menambah koleksi tumbuhan menjadi 170 jenis. Jenis yang ditanam
merupakan jenis-jenis tumbuhan lokal. Survei dilakukan ke lokasi-lokasi yang
memiliki potensi tumbuhan obat di sekitar Kampung Gunung Leutik untuk
mengidentifikasi tumbuhan obat dan selanjutnya diambil dan dibudidayakan di
kebun TOGA. Salah satu hal penting dalam pengembangan program TOGA
adalah pemahaman dalam pembudidayaan tumbuhan obat. Budidaya TOGA
dibutuhkan untuk menunjang keberlanjutan pemanfaatan TOGA (Zuhud et al.
2011).
Kelompok TOGA Bina Sehat Lestari ini telah mendapatkan penghargaan,
berupa piagam perak dan bantuan dari Dikti untuk pembangunan kebun TOGA.
Produk-produk yang dihasilkan oleh masyarakat ada yang sudah memiliki prestasi
di tingkat Internasional, yaitu di Singapura pada tahun 2013. Saat ini, salah satu
produk unggulan dari Gunung Leutik akan diproduksi dalam skala besar yang
bekerja sama dengan Agrisocio.
Karakteristik Informan
Jenis Kelamin dan Struktur Umur Informan
Jumlah informan yang diwawancarai adalah 22 orang. Sebagian besar
informan adalah etnis Sunda, yaitu 82% dan 18% sisanya berasal dari Etnis Jawa
dan Minang. Komposisi jenis kelamin informan, yaitu 16 orang perempuan dan 6
orang laki-laki. Di Kampung Konservasi TOGA Gunung Leutik kecenderungan
pengetahuan dan penggunaan tumbuhan obat dimiliki oleh perempuan, karena
sebagai ibu rumah tangga, perempuan sering menggunakan tumbuhan obat untuk
11
Jumlah (orang)
kepentingan keluarganya. Selain itu, Kelompok TOGA yang ada di Kampung
Konservasi TOGA Gunung Leutik mayoritas anggotanya merupakan perempuan.
Keikutsertaan di kelompok TOGA memberikan pengetahuan yang lebih tentang
pemanfaatan tumbuhan obat.
Informan mayoritas berumur antara 20 - 60 tahun (Gambar 1). Selang
umur tersebut termasuk selang umur produktif. Menurut Badan Pusat Statistik
(BPS) Indonesia (2014) karakteristik penduduk selang umur produktif adalah
pada selang umur 15-64 tahun.
14
15
10
6
5
1
1
60-70
>80
0
20-40
40-60
Selang Kelas Umur
Gambar 1 Struktur umur informan
100
80
60
40
20
0
90
47
16 15 10
28 27
21 21 21
32 27 27
15
35 32
49
26
13
25
18 8
Jahri
Tebe
Nur
Juariah
Yani
Hafifah
Sani
Nuraeni
Hesti
Nana
Neni
Dina
Wati
Imas
Yeti
Sekaryati
Cicih
Syamsuar
Bukhari
Dedi
Hadi
Nugrahaeni
Jumlah TO
Tingkat Pendidikan Informan dan Pengetahuan Tumbuhan Obat
Tingkat pendidikan informan yang diwawancarai cukup beragam. Sebagian
besar tingkat pendidikan informan adalah Sekolah Dasar (SD), yaitu sebanyak
45%. Tingkat pendidikan lainnya, yaitu SMA/SMK 23%, SMP 18%, Diploma 5%,
Sarjana 5%, dan tidak bersekolah 5%. Uji korelasi Spearman-rank dilakukan
untuk mengetahui hubungan antara lamanya menempuh pendidikan dengan
pengetahuan mengenai tumbuhan obat. Berdasarkan perhitungan korelasi
Spearman-rank diperoleh hasil nilai r hitung = 0.054 dan r tabel = 0.428, sehingga
terima H0. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara tingkat
pendidikan yang ditunjukkan oleh lamanya menempuh pendidikan dengan
pengetahuan mengenai jenis tumbuhan obat. Nilai r atau rho menunjukkan tingkat
kereratan hubungan antar variabel. Nilai r = 0.054 menunjukkan bahwa tingkat
hubungan antara tingkat pendidikan dengan pengetahuan mengenai tumbuhan
obat sangat rendah.
Tidak
Bersekolah
SD
SMP
SMA/SMK D3S1
Tingkat Pendidikan
Gambar 2 Jumlah tumbuhan obat berdasarkan tingkat pendidikan
12
Berdasarkan Gambar 2, dapat terlihat bahwa pengetahuan tumbuhan obat
yang dimiliki oleh informan dari berbagai tingkat pendidikan cukup beragam.
Tingkat pendidikan yang tinggi tidak menghasilkan pengetahuan mengenai
tumbuhan obat tinggi pula, begitu pun sebaliknya. Hal tersebut telah diperkuat
oleh hasil uji korelasi Spearman Rank di atas.
Sumber Pengetahuan
Pengetahuan masyarakat Kampung Konservasi TOGA Gunung Leutik
berasal dari berbagai sumber. Berdasarkan hasil wawancara, sebagian besar
sumber pengetahuan mengenai pemanfaatan tumbuhan obat berasal dari orang tua
yang diwariskan secara turun temurun, yaitu sebanyak 55%. Hal tersebut
menunjukkan bahwa pewarisan pengetahuan lokal mengenai pemanfaatan
tumbuhan obat secara turun temurun masih terjaga di Kampung Konservasi
TOGA Gunung Leutik. Menurut Purwanto (tahun tidak diketahui) sistem
pengetahuan lokal demikian umumnya dipelajari secara in-situ dari generasi ke
generasi. Pengetahuan lokal diajarkan oleh orang tua sejak dini mulai dari anakanak hingga mampu mengadopsi dengan sendirinya perkembangan yang ada
disekelilingnya. Distribusi pengetahuan berbeda antara laki-laki dan perempuan.
Terdapat sejumlah faktor dalam masyarakat yang mempengaruhi distribusi
pengetahuan diantara individu-individu, salah satu faktor sosial yang umum
adalah gender. Persentase sumber pengetahuan informan disajikan pada Gambar
3:
media elektronik
1%
penyuluhan
15%
media
cetak
12%
orang
17%
turun
temurun
55%
Gambar 3 Sumber pengetahuan informan
Pemanfaatan Tumbuhan Obat
Karakteristik Tumbuhan Obat yang Digunakan
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan, jenis tumbuhan obat yang
digunakan di Kampung Konservasi TOGA Gunung Leutik sebanyak 152 jenis
dari 57 Famili. Penggunaan jenis tumbuhan obat sebagai alternatif pengobatan
masyarakat cenderung meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2010 setelah
pencanangan kampung Gunung Leutik sebagai kampung konservasi TOGA.
Penelitian yang dilakukan oleh Rosmiati (2010) mengungkapkan bahwa jenis
13
tumbuhan obat yang digunakan di Kampung Gunung Leutik adalah 47 jenis dari
23 famili. Hal tersebut menunjukkan bahwa pencanangan Kampung Gunung
Leutik sebagai kampung konservasi TOGA memberikan manfaat, berupa
peningkatan pemahaman dan pengetahuan mengenai jenis-jenis tumbuhan obat
yang dapat digunakan di sekitar Kampung Gunung Leutik yang sebelumnya tidak
pernah dimanfaatkan dan pembudidayaan jenis-jenis tumbuhan yang bermanfaat
sebagai obat lainnya. Persentase lima besar famili tumbuhan obat yang banyak
digunakan tersaji pada Tabel 6.
Tabel 6 Famili tumbuhan obat yang banyak digunakan
No
1
2
3
4
5
Famili
Zingiberaceae
Asteraceae
Fabaceae
Poaceae
Euphorbiaceae
Jumlah TO
15
14
8
7
6
Persentase
9.9
9.2
5.3
4.6
3.9
Berdasarkan Tabel 6, famili tumbuhan obat yang banyak digunakan adalah
dari famili Zingiberaceae. Famili Zingiberaceae banyak digunakan informan,
karena selain berkhasiat sebagai obat, jenis-jenis dari famili Zingiberaceae banyak
digunakan sebagai bumbu masak. Laurence (1964) menyatakan bahwa akar
tumbuhan famili Zingiberaceae dapat digunakan sebagai ekstrak rasa, sebagai
bumbu, untuk minyak wangi yang digunakan dalam parfum, dan untuk
ornamental, atau tumbuhan hias. Famili Zingiberaceae umumnya memiliki khasiat
untuk mengobati demam, anorexia, permasalahan peredaran darah, perut
kembung, diabetes, rematik pembengkakan hati dan semua indikasi mengenai
permasalahan saluran pernafasan, seperti asma dan batuk (Remadevi et al. 2004).
Menurut informan, famili Zingiberaceae bermanfaat sebagai bumbu masak dan
mengobati berbagai penyakit seperti, menghangatkan tubuh, penyakit saluran
pernafasan, perawatan sehabis melahirkan, perawatan tubuh, pegal-pegal, masuk
angin, kembung, meriang, sakit kepala, penyakit saluran pencernaan, kanker,
asam urat, flu, luka memar, keseleo, jantung, tumor, cacingan, liver, dan jantung.
Famili tumbuhan obat lainnya yang digunakan oleh informan, yaitu famili
Asteraceae. Menurut Fahmi et al. (tahun tidak diketahui) famili Asteraceae
memiliki banyak manfaat, yaitu sebagai tanaman obat, tanaman hias dan sebagai
sayuran. Manfaat tumbuhan obat dari famili Asteraceae berdasarkan wawancara
informan adalah untuk mengobati batu ginjal, kencing batu, bisul, diabetes,
demam, jantung, meningkatkan stamina, maag, perawatan sehabis melahirkan,
keputihan, muntah darah, luka, pelangsing, penumbuh rambut, struk, dan kanker.
Menurut ilmu kemotaksonomi, tumbuhan dalam suku yang sama
mengandung senyawa dengan kerangka struktur kimia sama, sehingga berpotensi
memiliki aktivitas biologis yang sama (Tringali 2001 dalam Syukur et al. 2011).
Beberapa tumbuhan dari famili Fabaceae bermanfaat sebagai obat. Menurut
infoman, manfaat tumbuhan obat dari famili Fabaceae adalah mengobati ambeien,
disentri, cacingan, diabetes, pengencer darah, gatal-gatal, mata, panas dalam,
sariawan, usus buntu, pelangsing, meredakan demam, dan batuk. Syukur et al.
(2011) menyatakan bahwa sebagian besar tanaman Fabaceae mengandung
14
senyawa flavonoid yang efektif menghambat peroksidasi asam linoleat dan
mencegah pembentukan anion superoksida.
Famili Poaceae memiliki manfaat sebagai penghasil pakan ternak, bahan
kertas, makanan, bangunan, minyak atsiri, gula, dan obat tradisional (Solikin
2004). Umumnya, informan menggunakan tumbuhan dari Famili Poaceae untuk
mengobati batuk, liver, panas dalam, pegal-pegal, meningkatkan stamina, rematik,
obat luar, radang sendi, asam urat. Beberapa jenis tumbuhan dari famili Poaceae
juga memiliki manfaat sebagai bumbu masak.
Famili tumbuhan obat lainnya yang banyak digunakan informan adalah
famili Euphorbiaceae. Menurut informan, manfaat tumbuhan obat dari famili
Euphorbiaceae, yaitu untuk mengobati kembung, sakit gigi, menambah nafsu
makan, demam, maag, luka, meningkatkan daya tahan tubuh, patah tulang, pegalpegal, keseleo, dan pelancar ASI. Pemanfaatan Euporbiaceae yang telah dilakukan
antara lain, sebagai bahan biodiesel dan bahan obat tradisional (Suryawan et al.
2013). Djawarningsih (2007) diacu dalam Suryawan et al. (2013) menyatakan
terdapat 148 jenis tumbuhan yang berpotensi sebagai obat tradisional dari suku
Euporbiaceae.
Karakteristik tumbuhan obat lainnya adalah habitus. Habitus tumbuhan
merupakan bentuk perawakan tumbuhan. Jenis-jenis habitus tumbuhan obat yang
ada di Kampung Konservasi TOGA Gunung Leutik terdiri dari pohon, perdu,
herba, semak, liana, dan bambu. Berikut merupakan habitus tumbuhan obat yang
digunakan:
40.0
33.6
Persentase
30.0
23.7
20.4
20.0
18.4
10.0
2.6
1.3
Liana
Bambu
0.0
Herba
Pohon
Semak
Perdu
Gambar 4 Habitus tumbuhan obat yang digunakan
Pada Gambar 4, terlihat bahwa habitus tumbuhan yang paling banyak
digunakan di Kampung Konservasi TOGA Gunung Leutik adalah herba (33.6%).
Jenis tumbuhan yang paling banyak digunakan yang memiliki habitus herba
adalah jahe merah (Zingiber officinale). Habitus herba tidak membutuhkan ruang
yang luas untuk ditanam, selain itu habitus herba membutuhkan perlakuan dan
perawatan yang mudah.
Habitus tumbuhan obat yang paling banyak digunakan selain herba adalah
pohon (23.7%). Pohon memiliki fungsi ganda, yaitu sebagai tumbuhan obat dan
potensial untuk diambil kayunya. Pohon dengan habitus lainnya merupakan satu
kesatuan bentuk hidup tumbuhan yang saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan
(Damayanti 1999). Liana, tumbuhan memanjat dan tumbuhan bawah memerlukan
pohon sebagai penaungnya. Habitus pohon menjadi pemanfaatan cukup banyak,
karena banyaknya bagian dari pohon yang bisa dimanfaatkan, seperti buah, daun,
akar, batang dan biji.
15
Bagian Tumbuhan Obat yang Digunakan
Tumbuhan pada umumnya terdiri dari bagian akar, daun, batang, bunga,
buah, dan biji. Terdapat jenis-jenis tumbuhan obat yang hanya beberapa bagian
tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai obat tetapi adapula jenis-jenis
tumbuhan obat yang keseluruhan bagian tumbuhan dapat dimanfaatkan sebagai
obat, yaitu akar, batang, daun. Bagian tumbuhan yang dimanfaatkan oleh
informan dikelompokkan ke dalam daun (46.4%), batang (14.4%), buah (12.4%),
rimpang (6.2%), bunga (3.8%), kulit batang (3.8%), akar (2.9%), herba (2.4%),
biji (2.4%), getah (1.9%), umbi (1.4%), umbi lapis (1.0%), kulit buah (0.5%), dan
rebung (0.5%).
Bagian tumbuhan obat yang paling banyak digunakan adalah daun
sebanyak 46.2%. Daun merupakan tempat pengolahan makanan yang berfungsi
sebagai obat, mudah diperoleh, mudah dibuat atau diramu sebagai obat
dibandingkan dengan bagian-bagian tumbuhan yang lainnya (Hamzari 2008).
Daun merupakan salah satu bagian penting dari suatu tumbuhan, karena proses
fotosintesis terjadi pada bagian daun sehingga unsur hara yang menjadi khasiat
obat banyak terdapat pada bagian daun. Contoh tumbuhan obat yang
dimanfaatkan daunnya sebagai obat di Kampung Konservasi TOGA Gunung
Leutik adalah sembung, dadap, saga manis, dan lain sebagainya.
Cara Pengolahan dan Pemakaian Tumbuhan Obat
Tumbuhan obat yang akan dikonsumsi atau digunakan terlebih dahulu
diolah dengan berbagai cara, agar ekstrak atau bahan aktif keluar dan efektif
digunakan. Pengolahan tumbuhan obat dikelompokkan menjadi pengolahan
dengan cara direbus, ditumbuk, diremas, tanpa pengolahan, dibuat teh (daun
dikeringkan lalu disangrai), dicampur masakan atau minuman, disayur atau
ditumis, diseduh, dan diasap.
Pengolahan dengan cara direbus artinya tumbuhan obat direbus dalam air
sampai mendidih lalu dikonsumsi air rebusannya. Sedangkan pengolahan dengan
cara disayur atau dimasak artinya tumbuhan obat dibuat sayur atau ditumis.
Pengolahan dengan cara ditumbuk artinya tumbuhan obat ditumbuk dengan
menggunakan alat agar tumbuhan obat menjadi halus dan mudah digunakan.
Sedangkan pengolahan dengan cara diremas artinya tumbuhan obat diremas
menggunakan tangan sampai hancur. Pengolahan tumbuhan obat dengan cara
dibuat teh artinya tumbuhan dikeringkan terlebih dahulu. Proses pengeringan
dapat dilakukan dengan cara dijemur atau dioven, kemudian disangrai. Setelah
kering, tumbuhan obat kemudian diseduh. Sedangkan pengolahan obat dengan
cara diseduh artinya tumbuhan obat dalam kondisi segar langsung diseduh dengan
menggunakan air hangat.
Pengolahan tumbuhan obat yang dilakukan oleh informan paling banyak
dengan menggunakan cara direbus (48.1%). Pengolahan dengan cara direbus
umum digunakan, karena pengolahan tersebut mudah dilakukan. Umumnya
tumbuhan obat langsung direbus dalam kondisi segar dan langsung dikonsumsi.
Terdapat beberapa tumbuhan obat dalam bentuk sediaan kering (simplisia) untuk
digunakan dalam jangka waktu relatif lama. Pengeringan merupakan salah satu
cara untuk menurunkan kadar air bahan sampai ketingkat yang diinginkan
(Hernani dan Marwati 2012). Proses pengeringan dapat mencegah timbulnya
16
bakteri dan jamur pada sediaan, karena kadar air pada tumbuhan telah berkurang.
Persentase cara pengolahan disajikan pada Tabel 7:
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Tabel 7 Cara pengolahan tumbuhan obat
Cara pengolahan
Direbus
Ditumbuk
Diremas
Tanpa Pengolahan
Dibuat teh
Dicampur makanan atau minuman
Dimasak
Diseduh
Diasap
Persentase
48.1
21.1
10.8
9.2
3.2
2.2
2.2
2.2
1.1
Tumbuhan obat dikonsumsi dengan berbagai cara pemakaian. Sebanyak
49.7% tumbuhan obat yang telah diolah dikonsumsi dengan cara diminum.
Umumnya tumbuhan obat yang diolah dengan cara direbus cara pemakaiannya
dengan meminum air hasil rebusan. Cara pemakaian lainnya, yaitu dengan cara
ditempelkan dan dioles, masing-masing sebanyak 18.1% dan 5.3%. Pemakaian
dengan cara ditempelkan dan dioleskan dilakukan untuk mengobati luka luar atau
penyakit kulit. Selanjutnya, cara pemakaian tumbuhan obat dengan dimakan dan
dimakan langsung, yaitu sebanyak 9.4% dan 8.2%. Tumbuhan obat yang
dikonsumsi dengan cara dimakan diolah terlebih dahulu, sedangkan dikonsumsi
dengan cara dimakan langsung sebagai lalapan tanpa ada pengolahan terlebih
dahulu. Pemakaian dengan cara diteteskan sebanyak 4.0%. Pemakaian tumbuhan
obat dengan cara diteteskan dilakukan untuk mengobati sakit mata. Cara
pemakaian lainnya, yaitu sebanyak 5.3%. Pengolahan dan pemakaian tumbuhan
obat tergantung dari bagian tumbuhan obat yang digunakan dan jenis penyakit
yang diderita. Daun merupakan bagian tumbuhan obat yang paling mudah diolah
dan dipakai.
Kondisi Penyebaran Tumbuhan Obat dan Status Tumbuhan Obat di Alam
Tumbuhan obat yang dimanfaatkan oleh masyarakat di Kampung
Konservasi TOGA Gunung Leutik tersebar pada beberapa tipologi habitat yang
dapat dikelompokan menjadi pekarangan, sawah, kebun, pinggir jalan, dan hutan.
Penyebaran suatu tumbuhan tergantung dari status tumbuhan di alam.
Tumbuhan obat menyebar paling banyak di pekarangan rumah, yaitu
sebesar 47%. Di pekarangan rumah, biasanya terdapat jenis-jenis tumbuhan
berbunga, pohon peneduh, dan TOGA. Hal tersebut menunjukkan bahwa
informan Kampung Konservasi TOGA Gunung Leutik memanfaatkan lahan yang
berada di sekitar tempat tinggal untuk memenuhi kebutuhan terhadap tumbuhan
obat. Tumbuhan obat sebagai bahan tumbuhan yang ditanam atau tumbuh sendiri
di pekarangan mudah diperoleh sehingga menghemat biaya dan tenaga. Menurut
Zuhud (2009) umumnya tumbuhan obat yang terdapat di lahan pekarangan
ditanam, karena kesadaran pentingnya apotek hidup di pekarangan rumah.
Kondisi penyebaran tumbuhan obat disajikan pada Gambar 5:
17
kebun
16%
pinggir
jalan
9% hutan
7%
sawah
21%
pekarangan
47%
Gambar 5 Kondisi penyebaran tumbuhan obat
Status di alam adalah sifat tumbuhan yang tumbuh pada habitat tertentu,
baik itu liar, semidomestika, dan domestika. Sebagian besar tumbuhan obat yang
ada di Kampung Konservasi TOGA Gunung Leutik merupakan tanaman obat
yang telah dibudidayakan. Sebanyak 56.6% tumbuhan obat adalah domestik,
artinya tumbuhan tersebut sudah banyak dibudidayakan masyarakat. Contoh jenis
tanaman obat yang telah dibudidayakan masyarakat adalah jenis jahe merah
(Zingiber officinale). Budidaya merupakan salah satu hal penting untuk menjaga
kelestarian dan keberlangsungan manfaat dari suatu spesies (Zuhud 2009).
Menurut Zuhud (2009), masyarakat Kampung Gunung Leutik membudidayakan
tumbuhan obat yang banyak digunakan dalam kehidupan sehari hari.
Tumbuhan obat yang termasuk kategori semidomestika, yaitu sebesar
24.3%, artinya tumbuhan tersebut dapat hidup secara liar atau budidaya. Contoh
jenis tumbuhan obat yang termasuk kategori semidomestika adalah jenis
sambiloto (Andographis paniculata). Sambiloto tumbuh liar di tempat terbuka,
seperti dikebun, tepi sungai, tanah kosong yang agak lembab atau di pekarangan
(Dalimartha 1999). Sambiloto banyak dimanfaatkan informan di Kampung
Konservasi
TOGA
Gunung
Leutik,
sehingga
beberapa
warga
membudidayakannya. Disamping itu, informan juga masih menggunakan
tumbuhan obat yang termasuk kategori liar, yaitu sebesar 19.1%.
Status tumbuhan obat di alam memiliki kaitan atau hubungan dengan
kondisi penyebaran tumbuhan. Tumbuhan obat liar umumnya menyebar di manamana dan tumbuh secara alami. Penyebaran tumbuhan obat liar di Kampung
Konservasi TOGA Gunung Leutik, yaitu di kebun, pinggir jalan, hutan,
pekarangan dan sawah. Tumbuhan obat domestik umumnya menyebar pada
habitat tertentu, misalnya di pekarangan dan kebun. Tumbuhan obat
semidomestika, kondisi penyebarannya lebih luas dibanding tumbuhan obat
domestik. Tumbuhan obat semidomestika dapat menyebar di pekarangan, kebun,
sawah, hutan, dan pinggir jalan.
18
Index Kepentingan Budaya (Index of Cultural Significance)
Index of Cultural Significance (ICS) atau Index Kepentingan Budaya
merupakan suatu analisis etnobotani kuantitatif yang menunjukkan kepentingan
tiap-tiap jenis tumbuhan berguna berdasarkan pada keperluan masyarakat
(Munawaroh et al. 2011). Angka hasil perhitungan ICS menunjukkan tingkat
kepentingan setiap jenis tumbuhan berguna oleh masyarakat. Nilai ICS didasarkan
atas pemberian nilai atau skor pada kualitas, intensitas, dan ekslusifitas dari jenisjenis tumbuhan yang dimanfaatkan. Perhitungan ICS bertujuan untuk mengetahui
jenis tumbuhan yang paling penting bagi kehidupan masyarakat (Ajiningrum
2011). Hasil perhitungan 10 nilai ICS tertinggi dari jenis tumbuhan obat disajikan
pada Tabel 8 berikut:
Tabel 8 Jenis tumbuhan yang memiliki nilai ICS tertinggi
No Spesies
Nama ilmiah
Keterangan
Nilai Skor
1
2
Penting
Jahe merah Zingiber officinale
117
2
2
Penting
Temulawak Curcuma xanthorrizha
87
3
Erythrina lithosperma
2
Penting
Dadap
82.5
4
Andrographis
paniculata
2
Penting
Sambiloto
78
5
Dracaena angustifolia
2
Penting
Suji
76.5
6
Piper betle
2
Penting
Sirih
75
7
Blumea balsamifera
2
Penting
Sembung
72
8
Kaempferia
galanga
1
Kurang
Penting
Kencur
61.5
9
1
Kurang Penting
Lempuyang Zingiber aromaticum
61.5
10 Kunyit
Curcuma domestica
1
Kurang Penting
58.5
Berdasarkan hasil perhitungan ICS diperoleh jenis-jenis yang memiliki nilai
ICS tertinggi (Tabel 8). Menurut Turner (1988) semakin banyak kegunaan suatu
tumbuhan, maka semakin besar nilai kepentingan tumbuhan tersebut. Penelitian
yang dilakukan oleh Rosmiati (2010) dari 20 responden yang diwawancarai,
menyatakan bahwa spesies tumbuhan obat yang sering dimanfaatkan oleh
masyarakat Kampung Gunung Leutik adalah jahe merah, kunyit, sirih, dadap, dan
sembung.
Jenis yang memiliki nilai ICS tertinggi, yaitu jenis jahe merah (Zingiber
officinale) yang termasuk ke dalam famili Zingiberaceae dengan nilai ICS sebesar
117 (Tabel 8). Berdasarkan nilai ICS tersebut dapat dikategorikan bahwa jahe
merah memiliki peranan penting dalam budaya masyarakat khususnya informan.
Budaya disini memiliki arti pola keseharian masyarakat. Jahe merah memiliki
kualitas sebagai tumbuhan obat yang berkhasiat untuk mengobati berbagai
penyakit, seperti masuk angin, asam urat, batuk, kanker, menghangatkan badan,
meredakan pegal-pegal, migrain, vertigo, meriang, batuk, dan menambah stamina,
serta digunakan sebagai bumbu masak. Intensitas penggunaan jahe merah oleh
informan termasuk kategori sering digunakan dan tumbuhan sudah dibudidayakan.
Ekslusivitas atau tingkat kesukaan menunjukkan bahwa jenis jahe merah paling
disukai dalam mengobati berbagai penyakit daripada jenis-jenis lainnya. Jenis
lainnya yang memiliki ekslusivitas tinggi atau paling disukai untuk mengobati
sakit kepala, demam, meriang, masuk angin adalah jenis bawang merah (Allium
cepa).
19
Jenis kedua yang memiliki nilai ICS tertinggi adalah jenis temulawak
(Curcuma xantorrizha), yaitu sebesar 87. Jenis ini banyak dimanfaatkan oleh
masyarakat terutama sebagai obat penyakit liver. Intensitas penggunaan
temulawak, yaitu sering digunakan dan ekslusivitas atau tingkat kesukaan
tumbuhan paling disukai. Temulawak banyak digunakan sebagai obat, baik dalam
bentuk tunggal maupun campuran, yaitu sebagai hepatoprotektor, anti-inflamasi,
antikanker, antidiabetes, antimikroba, antihiperlipidemia, dan pencegah kolera
(Hwang 2006).
Gambar 6 Jahe merah (Zingiber officinale) dan temulawak (Curcuma
xantorrizha)
Jenis tumbuhan obat lainnya yang memiliki nilai ICS tertinggi lainnya, yaitu,
dadap (Erythrina lithosperma) yang termasuk ke dalam famili Fabaceae dengan
nilai ICS sebesar 82.5 yang termasuk pada kategori tumbuhan obat penting.
Kualitas penggunaan dadap adalah sebagai tumbuhan obat. Informan
memanfaatkan dadap (Erythrina lithosperma) untuk mengobati panas dalam, sakit
dada, batuk, dan demam. Menurut Heyne (1987a) daun dadap yang ditumbuk
dapat diminum sebagai obat pendarahan sehabis melahirkan. Intensitas
penggunaan dadap untuk mengobati penyakit oleh informan tergolong sering.
Ekslusifitas dadap sebagai obat penurun panas termasuk paling disukai. Sehingga
dadap merupakan salah satu tumbuhan obat penting bagi informan.
Sambiloto (Andrographis paniculata) termasuk ke dalam famili
Acanthaceae memiliki nilai ICS sebesar 78 yang termasuk dalam kategori
tumbuhan obat penting. Sambiloto memiliki khasiat menyembuhkan penyakit
gula, typus, demam, serta penawar racun gigitan ular (Heyne 1987b). Kualitas
penggunaan sambiloto, yaitu sebagai tumbuhan obat untuk mengobati berbagai
penyakit. Informan memanfaatkan daun sambiloto sebagai obat diabetes, radang
telinga, sakit gigi, paru-paru, batuk dan penyakit kulit. Intensitas penggunaan
sambiloto oleh informan tergolong sering dengan ekslusivitas paling disukai.
Suji (Dracaena angustifolia) termasuk ke dalam famili Liliaceae memiliki
nilai ICS sebesar 76.5 yang termasuk dalam kategori tumbuhan obat penting.
Kualitas penggunaan suji oleh infoman adalah sebagai obat dan pewarna
makanan. Suji merupakan pewarna alami makanan berwarna hijau. Suji
dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai obat untuk meredakan panas dada, panas
dalam, batuk, demam, peluruh dahak, dan penyakit paru-paru. Intensitas
20
penggunaan suji oleh informan tergolong sering. Ekslusivitas atau tingkat
kesukaan penggunaan suji, yaitu paling dipilih atau disukai oleh informan.
Sirih (Piper betle) termasuk ke dalam famili Piperaceae memiliki nilai ICS
sebesar 75 yang termasuk dalam kategori tumbuhan obat penting. Sirih memiliki
banyak khasiat sebagai obat untuk mengobati masalah mulut, membersihkan luka,
keputihan, batuk, sakit gigi, mimisan (Heyne 1987a). Sirih banyak digunakan oleh
wanita untuk mengobati penyakit khusus wanita, seperti keputihan. Sirih juga
memiliki manfaat untuk mengobati mimisan, perawatan sehabis melahirkan, bau
mulut, menghilangkan biang keringat, sakit gigi, dan menghilangkan bau badan.
Intensitas penggunaan sirih oleh informan tergolong sering dengan ekslusifitas
paling disukai. Tumbuhan obat lainnya yang paling disukai oleh infoman untuk
menghilangkan bau badan adalah beluntas (Pluchea indica).
Sembung (Blumea balsamifera) termasuk ke dalam famili Asteraceae
memiliki nilai ICS sebesar 72 yang termasuk dalam kategori tumbuhan obat
penting. Sembung dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mengobati penyakit
jantung, menstabilkan tubuh, meningkatkan stamina, perawatan sehabis
melahirkan, pegal-pegal, dan membersihkan darah. Menurut Dalimartha (1999)
daun sembung memiliki manfaat meredakan persendian yang sakit sehabis
melahirkan, masalah persendian, demam, kembung, sariawan, kencing manis, dan
nyeri haid. Masyarakat memanfaatkan daun sembung sebagian besar untuk
perawatan sehabis melahirkan dan mengobati pegal-pegal. Intensitas penggunaan
sembung oleh informan tergolong sering dengan ekslusivitas paling dipilih atau
disukai.
Gambar 7 Dadap (Erythrina lithosperma) dan sambiloto (Andrographis
paniculata)
Manfaat Kampung Konservasi TOGA
Manfaat Peningkatan Pengetahuan dan Sosial Budaya
Kampung Konservasi TOGA Gunung Leutik selama pencanangannya
memberikan manfaat peningkatan pengetahuan bagi informan. Berdasarkan hasil
wawancara yang dilakukan, informan mendapatkan tambahan pengetahuan
21
mengenai jenis-jenis tumbuhan obat yang sebelumnya tidak diketahui manfaatnya.
Telah dibahas sebelumnya bahwa penggunaan jenis tumbuhan obat meningkat
setelah dicanangkannya Kampung Konservasi TOGA. Peningkatan pengetahuan
terhadap jenis-jenis tumbuhan obat dapat mengurangi penggunaan obat
konvensional, karena tumbuhan obat dapat digunakan sebagai alternatif
pengobatan terhadap berbagai macam penyakit. Bertambahnya pengetahuan
menghasilkan lebih banyak jenis tumbuhan obat yang dapat digunakan sebagai
alternatif jika jenis tumbuhan obat tertentu tidak ditemukan atau tidak tersedia.
Pencanangan Kampung Konservasi TOGA di Kampung Gunung Leutik
memberikan manfaat sosial budaya masyarakat, khususnya untuk para informan.
Manfaat sosial yang diperoleh, yaitu peningkatan interaksi sosial masyarakat
khususnya yang tergabung dalam kelompok TOGA. Selain interaksi sesama kader
TOGA, saling membantu antar kader TOGA dan masyarakat lainnya juga dapat
meningkatkan interaksi sosial. Pencanangan Kampung Konservasi TOGA
Gunung Leutik diharapkan mampu mempertahankan budaya pengetahuan
tumbuhan obat yang diwariskan secara turun temurun.
Manfaat Kesehatan
Menurut Damayanti et al. (2009) pembangunan kesehatan berbasis
sumberdaya domestik memungkinkan tercapainya masyarakat mandiri kesehatan.
Masyarakat mandiri kesehatan artinya masyarakat dapat memenuhi sendiri
kebutuhannya untuk menyehatkan diri, keluarga dan kelompok terdekatnya
dengan memanfaatkan sumberdaya alam yang ada di sekitarnya (Damayanti et al.
2009).
Kesesuaian dan kecocokan bahan baku ramuan tradisional untuk mengobati
suatu penyakit memang didasarkan pada pengalaman turun temurun. Selama ini
obat tradisional dianggap cukup manjur untuk mengobati berbagai macam
penyakit. Selain itu, metode farmakologi modern senantiasa berhasil
mengungkapkan adanya dasar-dasar ilmiah dibalik resep-resep ramuan tradisional.
Ramuan tradisional yang digunakan oleh informan dapat dilihat pada Lampiran 3.
Umumnya informan memanfaatkan tumbuhan obat untuk kepentingan
kesehatan, baik perawatan sehari-hari atau pengobatan ketika sakit. Pengetahuan
membuat ramuan dari tumbuhan obat diperoleh informan dari berbagai sumber.
Ramuan yang dibuat oleh informan sudah dirasakan khasiatnya walaupun belum
ada uji klinis. Ramuan obat digunakan untuk mengobati penyakit ringan maupun
penyakit berat. Berdasarkan hasil wawancara terdapat 40 ramuan yang digunakan
oleh informan untuk mengobati 31 jenis penyakit (Lampiran 3). Penyakit ringan
yang dapat disembuhkan dengan ramuan yang ada, yaitu sakit gigi, asam urat,
batuk, diare, keseleo, luka, meriang, panas dalam, meriang, pegal-pegal,
pelangsing, penyakit kulit, perawatan sehabis melahirkan, pusing, demam, sakit
perut, sakit pinggang, sariawan, pengencer darah, dan penghilang bau badan.
Sedangkan, penyakit berat yang dapat disembuhkan dengan ramuan yang ada,
yaitu darah tinggi, jantung koroner, kurang darah, liver, paru-paru, peluruh
kencing, radang usus, usus buntu (Lampiran 3).
Pemanfaatan tumbuhan obat di Kampung Konservasi TOGA Gunung
Leutik diolah dari satu jenis atau berbagai jenis tumbuhan obat dalam bentuk
ramuan tumbuhan obat. Jenis-jenis tumbuhan obat yang digunakan dalam ramuan,
yaitu sebanyak 54 jenis tumbuhan obat. Jenis tumbuhan obat yang digunakan
22
dalam ramuan tersebut yang termasuk kategori penting menurut perhitungan ICS
adalah jahe merah, temulawak, dadap, sambiloto, sirih, sembung, dan suji.
Contoh ramuan tumbuhan obat yang digunakan oleh informan untuk
mengobati diare terdiri dari 5 helai daun jambu biji yang direbus dengan sekitar 3
gelas air, lalu air sisa rebusannya sebanyak 1 gelas diminum. Contoh ramuan
tumbuhan obat lainnya yang digunakan oleh informan, yaitu ramuan bandotan
untuk mengobati penyakit maag. Ramuan bandotan terdiri dari segenggam
bandotan direbus kemudian diminum airnya. Contoh ramuan tersebut sama
dengan yang dilakukan oleh masyarakat di di Kampung Babakan-Cengal Desa
Cikaracak Kecamatan Leuwiliang, Bogor (Aristantia 2012). Ramuan-ramuan
untuk mengobati penyakit-penyakit ringan tersebut umum diketahui oleh
masyarakat. Pemakaian obat tradisional tidak menimbulkan efek samping yang
tidak diinginkan, seperti pada obat modern. Hal ini dikarenakan didalam tanaman
atau bahan alam masih terkandung senyawa kimia pendukung lainnya yang
memberikan efek sinergitas terhadap senyawa-senyawa lain dalam bahan,
dibandingkan dengan obat modern yang hanya mengandung komponen tunggal
(Hernani dan Marwati 2012).
Manfaat Ekonomi
Berdasarkan hasil wawancara, sebagian besar informan memiliki mata
pencaharian sebagai ibu rumah tangga, yaitu sebanyak 67.8%. Mata pencaharian
lainnya, yaitu PNS sebanyak 9.2%, pedagang sebanyak 4.6%, petani sebanyak
4.6%, penjahit sebanyak 4.6%, supir sebanyak 4.6%, dan tidak bekerja sebanyak
4.6%. Ibu rumah tangga lebih banyak memanfatakan tumbuhan obat. Hal tersebut
dikarenakan ibu rumah tangga memanfaatkan tumbuhan dan tanaman obat untuk
kepentingan keluarganya. Tumbuhan obat digunakan oleh ibu rumah tangga
sebagai alternatif pengobatan yang mudah dan murah.
Sebagian besar sifat pemanfaatan tumbuhan obat oleh informan di Kampung
Konservasi TOGA Gunung Leutik adalah subsisten, yaitu sebesar 90.1%. Hal
tersebut menunjukkan bahwa informan memanfaatkan tumbuhan obat untuk
memenuhi kebutuhan sehari-hari secara mandiri tanpa harus membeli obat
konvensional atau berobat ke dokter. Sifat pemanfaatan tumbuhan obat secara
komersial adalah 1.3% dan secara subsisten-komersial adalah sebanyak 8.6%.
Informan menjual jenis tumbuhan obat bukan sebagai penghasilan utama, tetapi
sebagai penghasilan tambahan.
Informan memperoleh tumbuhan obat dengan berbagai cara, yaitu dengan
menanam sebanyak 36.4%, membeli sebanyak 18.2%, meminta sebanyak 15.7%
dan mengambil sebanyak 29.7%. Informan banyak menanam tumbuhan obat baik
di pekarangan atau di kebun yang dimilikinya. Informan lebih mudah memperoleh
tumbuhan obat yang sering dimanfaatkan apabila menanam sendiri. Cara
memperoleh lainnya, yaitu dengan mengambil sendiri dari alam khusus untuk
tumbuhan kategori liar. Hal tersebut menunjukkan masyarakat khususnya
informan lebih bergantung kepada sumber daya tumbuhan obat yang ada di
sekitarnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hal ini dapat menghemat biaya
untuk berobat maupun membeli obat-obatan konvensional.
Penggunaan tumbuhan obat oleh informan, merupakan manfaat ekonomi
yang secara tidak langsung didapatkan oleh mereka. Data yang diperoleh dari
23
Puskesmas Ciampea menunjukkan bahwa terdapat 10 besar penyakit yang biasa
diderita oleh masyarakat (Tabel 9).
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Tabel 9 Jenis penyakit yang diderita masyarakat (2013)
Kisaran Biaya Pengobatan (Rp)
Nama Penyakit
Diare
4 419
ISPA
15 829
Dermatitis
10 703
Gangguan lain pada kulit
12 048
Varicela
75 174
Influenza
10 550
Abses
4 123
Konjungtivitis
3 456
Karies gigi
1 544
Penyakit pulpa
3 553
Berdasarkan Tabel 9, penyakit yang paling sering diderita oleh masyarakat
adalah penyakit diare. Penyakit diare, ISPA, gangguan pada kulit, dermatitis,
penyakit gigi (karies gigi dan penyakit pulpa) dapat diobati dengan ramuan
tumbuhan obat yang digunakan oleh informan. Sehingga, informan dapat
menghemat biaya pengobatan untuk satu kali pengobatan untuk penyakit diare
sebanyak Rp4 419, ISPA sebanyak Rp15 829, gangguan pada kulit sebanyak
Rp12 048, dermatisis sebanyak Rp10 703, penyakit gigi (karies gigi dan penyakit
pulpa) sebanyak Rp5 097 (Tabel 9). Kisaran biaya diperoleh dari harga obat yang
biasa digunakan untuk mengobati penyakit tersebut yang di jual di pasaran.
Untuk penyakit berat, misalnya penyakit jantung koroner, liver, dan darah
tinggi, informan mengeluarkan biaya setiap kali berobat atau check up berkisar
antara Rp35 000 - Rp50 000. Ibu Yeti yang menderita penyakit jantung koroner,
awalnya check up setiap minggu. Setelah menggunakan ramuan tumbuhan obat,
check up menjadi satu bulan sekali, sehingga dapat menghemat biaya untuk
berobat sebanyak Rp150 000/bulan. Bapak Jahri yang menderita penyakit liver,
jantung koroner, dan hipertensi harus setiap bulan chek up ke dokter. Setelah
menggunakan ramuan tumbuhan obat, Bapak Jahri dapat menghemat sebanyak
Rp50 000/bulan. Penyakit hipertensi yang diderita Ibu Nana mengharuskannya
untuk check up setiap 3 bulan sekali dengan biaya sekali check up Rp35 000.
Setelah mengkonsumsi ramuan tumbuhan obat Ibu Nana tidak perlu check up lagi,
sehingga dapat menghemat uang sebesar Rp35 000/3 bulan.
Selain manfaat ekonomi berupa penghematan biaya berobat, pencanangan
kampung konservasi TOGA di Kampung Gunung Leutik merupakan sarana
promosi bagi masyarakat. Masyarakat dari berbagai daerah banyak yang datang
dan ingin membawa oleh-oleh, berupa produk obat yang diproduksi masyarakat.
Sebanyak 32% informan mendapatkan keuntungan ekonomi dari hasil penjualan
tumbuhan obat. Jenis produk yang dijual oleh informan, berupa tumbuhan segar,
simplisia, dan ramuan/ produk tumbuhan obat, seperti jahe merah instan,
temulawak instan, dan berbagai macam teh tumbuhan obat. Pendapatan yang
diperoleh informan setiap bulannya pada tahun 2011-2012 sekitar Rp100 000 -
24
Rp800 000. Tetapi pendapatan tersebut tidak menentu, tergantung banyaknya
pesanan dan konsumen yang datang untuk membeli produk tumbuhan obat.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Penelitian ini telah dapat mengidentifikasi manfaat kampung konservasi
TOGA Gunung Leutik bagi masyarakat Desa Benteng, khususnya para informan.
Manfaat tersebut adalah:
1. Tumbuhan obat yang penting dan mempengaruhi budaya keseharian
masyarakat khususnya para informan, yaitu jahe merah (Zingiber officinale),
temulawak (Curcuma xantorrizha), dadap (Erythrina lithosperma), sambiloto
(Andrographis paniculata), suji (Dracaena angustifolia), sirih (Piper betle),
dan sembung (Blumea balsamifera). Spesies tumbuhan obat tersebut dapat
menjadi spesies unggulan yang menjadi prioritas untuk dikembangkan.
2. Keberadaan pekarangan sebagai apotek hidup merupakan hal yang penting
bagi masyarakat khususnya informan. Pekarangan dapat digunakan sebagai
tempat untuk pembudidayaan tumbuhan obat.
3. Sifat pemanfaatan tumbuhan di Kampung Konservasi TOGA Gunung Leutik
paling tinggi adalah subsisten. Hal tersebut menunjukkan bahwa informan
telah mandiri kesehatan dengan memanfaatkan sumberdaya tumbuhan obat di
sekitar tempat tinggalnya.
4. Pemanfaatan tumbuhan obat oleh informan memberikan tambahan pendapatan
dan mengurangi biaya pengeluaran untuk berobat.
Saran
Saran yang dapat diberikan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk dapat mengakomodasi lebih banyaknya pemanfaatan tumbuhan obat,
perlu adanya lanjutan penelitian serupa dengan menggunakan metode
penarikan contoh selain metode snowball. Contohnya dengan menggunakan
teknik penarikan contoh stratified ramdom sampling ataupun metode wealth
ranking yang ditujukan kepada masyarakat desa secara umum.
2. Perlu ada kajian lebih lanjut tentang prioritas konservasi terutama bagi jenisjenis tumbuhan obat yang Index of Cultural Significance-nya paling tinggi.
3. Perlu adanya konservasi dan pengembangan serta promosi kembali mengenai
TOGA dan Kampung Konservasi TOGA Gunung Leutik, agar masyarakat
luas mengetahui dan memanfaatkan tumbuhan obat.
DAFTAR PUSTAKA
[BPS] Badan Pusat Statistik. 2009. Karakteristik penduduk. Tersedia pada
http://www.datastatistik.com/. Diunduh pada 7 juli 2014.
25
Ajiningrum PS. 2011. Valuasi potensi keanekaragaman jenis hasil hutan nonkayu
(HHNK) masyarakat lokal Dayak Lundayeh dan Uma’lung di Kabupaten
Malinau Kalimantan Timur [tesis]. Depok (ID): Universitas Indonesia.
Aristantia T. 2012. Kajian pemanfaatan tumbuhan obat keluarga di Kampung
Babakan-Cengal Desa Karacak Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor
[skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Bodeker G. 2000. Indigenous Medical Knowledge: The Law and Politics of
Protection. Oxford Intellectual Property Research Centre Seminar. 2000
Januari 25; Oxford, Inggris, Inggris (GB): Oxford University.
Bodeker G. 2005. Medicinal Plant Biodiversity & Local Healthcare: Sustainable
Use & Livelihood Development. Paper. Division of Health Sciences &
Institute for International Development, University of Oxford & Dept of
Epidemiology, Mailman School of Public Health, Columbia University.
Dalimartha S. 1999. Atlas tumbuhan obat Indonesia Jilid 1. Jakarta (ID): Trubus
Agriwidya.
Dalimartha S. 2003a. Atlas tumbuhan obat Indonesia Jilid 2. Jakarta (ID): Trubus
Agriwidya.
Damayanti EK. 1999. Kajian Tumbuhan Obat Berdasarkan Kelompok Penyakit
Penting pada Berbagai Etnis Di Indonesia [skripsi]. Bogor (ID): Institut
Pertanian Bogor.
Damayanti EK, Zuhud EAM, Sangat HM, Permanasari T. 2009. Pemanfaatan
dokumentasi pengetahuan lokal tumbuhan obat untuk mewujudkan
masyarakat mandiri kesehatan. Seminar Nasional Etnobotani IV; 2009 Mei 18.
Cibinong, Indonesia. Cibinong (ID): LIPI.
Fahmi, Haryani TS, Ismanto. _______. Inventarisasi familia Asteraceae di Kebun
Raya Bogor. Paper. Universitas Pakuan.
Hamzari. 2008. Identifikasi tanaman obat-obatan yang dimanfaatkan oleh
masyarakat sekitar hutan Tabo-tabo. Jurnal hutan dan Masyarakat Vol. 3:
2(111-234).
Hernani, Marwati T. 2012. Teknologi pascapanen tanaman obat. Bogor (ID):
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian.
Heyne K. 1987a. Tumbuhan Berguna Indonesia I. Jakarta (ID): Balai Litbang
Departemen Kehutanan.
Heyne K. 1987a. Tumbuhan Berguna Indonesia III. Jakarta (ID): Balai Litbang
Departemen Kehutanan.
Hwang, J.K. 2006. Xanthorrizol; A New Bioactive Natural Compound. Seoul
(KR): Universty of Yonsei.
Kartikawati SM. 2004. Pemanfaatan sumberdaya tumbuhan oleh masyarakat
Dayak Meratus di kawasan hutan Pegunungan Meratus, Kabupaten Hulu
Sungai Tengah [tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Laurence J, Bacharach M. 1964. Analytical Toxicology. Philadelphia (US): CRC
Press.
Munawaroh E, Saparita R, Purwanto Y. 2011. Ketergantungan masyarakat pada
hasil hutan non kayu di Malinau, Kalimantan Timur: suatu analisis etnobotani
dan implikasinya bagi konservasi hutan. Berk. Penel. Hayati Edisi Khusus.
7A:51-58
26
Purwanto Y._________. Etnobotani: ilmu interdisipliner, metodologi, aplikasinya
dalam pengembangan sumberdaya tumbuhan. Bogor (ID): Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia (LIPI).
Ramadevi R. Surendran E, Ravindran PN. 2004. Ginger : The Genus Zingiber.
editor: Ravindran PN dan Babu KN. Florida (US): CRC Press.
Rosmiati S. 2010. Pengembangan tumbuhan obat keluarga melalui peran serta
masyarakat (studi kasus di Kampung Gunung Leutik Desa Benteng,
Kecamatan Ciampea Bogor [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Suryawan A, Kinho J, Mayasari A. 2013. Struktur dan sebaran jenis-jenis suku
Euphorbiaceae di Cagar Alam Tangkoko, Bitung, Sulawesi Utara. Info BPK
Manado. 3(2):89-102.
Solikin. 2004. Jenis-jenis tumbuhan suku Poaceae di Kebun Raya Purwodadi.
Biodiversitas. 5(1):23-27.
Supranto J. 2009. Statistik Teori dan Aplikasi Jilid 2. Jakarta (ID): Erlangga.
Syukur R, Alam G, Mufidah, Rahim A, Tayeb R. 2011. Aktivitas antiradikal
bebas beberapa ekstrak tanaman famili Fabaceae. JST Kesehatan. 1(1)61-67.
Turner NJ. 1988. The importance of a rose: evaluating the cultural significance of
plants in Thompson and Lillooet Interior Salish. Journal of American
Antrophology. 90(2):272-290.
Zuhud EAM. 2009. Revitalisasi konservasi tumbuhan obat keluarga (TOGA)
guna meningkatkan kesehatan dan ekonomi keluarga mandiri di desa contoh
lingkar kampus IPB Darmaga Bogor. Laporan Akhir Penelitian Penelitian
strategis Unggulan. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Zuhud EAM, Hikmat A, Siswoyo, Sandra E, Kartikasari R. 2011. Revitalisasi
konservasi tumbuhan obat keluarga (TOGA) guna meningkatkan kesehatan
dan ekonomi keluarga mandiri di desa contoh lingkar kampus IPB Darmaga
Bogor. Jurnal llmu Pertanian Indonesia. 16(2):71-80.
Lampiran 1 Rekapitulasi tumbuhan obat beserta karakteristiknya
No
Nama Lokal
Nama Ilmiah
Famili
Habitus
1 Alang-alang
Imperata cylindrica
Poaceae
Herba
2 Alpukat
Persea americana
Lauraceae
3 Antanan/pegagan
4 Anting-anting
Centella asiatica
Acalypha australis
Pohon
Apiaceae
Euphorbiaceae
Herba
Semak
Sawah, kebun
Pekarangan, sawah
Liar
Liar
Kebun
Domestik
Direbus
Direbus, dibuat
teh
Direbus
Dicampur
makanan atau
minuman
Hutan, kebun
Domestik
Diseduh
Kebun
Domestik
Kebun
Pekarangan, sawah, kebun,
pinggir jalan
Kebun
Semidomestik
Direbus
Tanpa
pengolahan
Liar
Domestik
Direbus
Ditumbuk
Kebun
Kebun
Kebun
Sawah
Pekarangan, kebun
Pekarangan
Pekarangan, pinggir jalan,
sawah
Domestik
Domestik
Domestik
Domestik
Domestik
Semidomestik
Direbus
Ditumbuk
Ditumbuk
Dimasak
Direbus, diseduh
Direbus
Domestik
Direbus
Arenga pinnata
Arecaceae
Tamarindus indica
Fabaceae
7 Bambu kuning
Bambusa vulgaris
Poaceae
Pohon
Pohon
Bambu
8 Bambu tali
Gigantochloa apus
Ageratum
conyzoides
Zingiber purpureum
Eleutherine
americana
Allium cepa
Allium sativum
Amaranthus tricolor
Averrhoa carambola
Averrhoa bilimbi
Poaceae
Bambu
Asteraceae
Zingiberaceae
Herba
Herba
Iridaceae
Liliaceae
Liliaceae
Amaranthaceae
Oxalidaceae
Oxalidaceae
Herba
Herba
Herba
Herba
Pohon
Pohon
Pluchea indica
Asteraceae
Perdu
Bawang dayak
Bawang merah
Bawang putih
Bayam
Belimbing manis
Belimbing wuluh
17 Beluntas
Cara pengolahan
Ditumbuk,
direbus
Liar
5 Aren
11
12
13
14
15
16
Status di Alam
Sawah, kebun
Kebun, pinggir jalan,
pekarangan
6 Asem jawa
9 Bandotan
10 Bangle
Kondisi penyebaran
Domestik
27
28
Lampiran 1 Rekapitulasi tumbuhan obat beserta karakteristiknya (lanjutan)
No
Nama Lokal
Nama Ilmiah
Famili
Habitus
Maoutia
dipversifolia
Anredera cordifolia
Kondisi penyebaran
Status di Alam
Cara pengolahan
Direbus
Direbus, diremas
Ditumbuk,
direbus
Urticaceae
Basellaceae
Semak
Liana
Pinggir jalan
Pekarangan, kebun
Liar
Semidomestik
Tinospora crispa
Hibiscus rosasinensis
Clitoria ternatea
Menispermaceae
Liana
Pekarangan, kebun
Semidomestik
Malvaceae
Fabaceae
Perdu
Semak
Pekarangan
Pekarangan
Semidomestik
Semidomestik
Piperaceae
Solanaceae
Solanaceae
Liana
Perdu
Semak
Kebun, pekarangan
Kebun
Pekarangan, kebun
Domestik
Domestik
Domestik
Selaginellaceae
Semak
Kebun, hutan
Liar
Ditumbuk
Araceae
Herba
Kebun
Liar
Diasap
Myrtaceae
Menispermaceae
Solanaceae
Sterculiaceae
Pohon
Perdu
Herba
Pohon
Kebun
Kebun, hutan, pekarangan
Sawah, kebun, pekarangan
Pekarangan
Domestik
Semidomestik
Liar
Domestik
Direbus
Diremas
Direbus
Ditumbuk
32 Dadap
Piper retrofractum
Capsicum annum
Capsicum frutescens
Selaginella
doederleinii
Homalomena
latifrons
Syzygium
aromaticum
Cyclea barbata
Physalis minima
Theobroma cacao
Erythrina
lithosperma
Direbus
Diremas
Direbus,
ditumbuk
Ditumbuk
Ditumbuk
Fabaceae
Pohon
Kebun, pekarangan
Domestik
33 Dandang gendis
34 Daun dewa
Clinacanthus nutans
Gynura procumbens
Acanthaceae
Asteraceae
Herba
Kebun
Sawah, pekarangan
Liar
Semidomestik
Diremas, direbus
Dikeringkan,
direbus
Direbus
18 Beubeunteuran
19 Binahong
20 Brotowali
21 Bunga sepatu
22 Bunga teleng
23 Cabe jawa
24 Cabe merah
25 Cabe rawit
26 Cakar ayam
27 Cariang merah
28
29
30
31
Cengkeh
Cincau pohon
Ciplukan
Coklat / kakao
Lampiran 1 Rekapitulasi tumbuhan obat beserta karakteristiknya (lanjutan)
No
Nama Lokal
Nama Ilmiah
Famili
Habitus
35 Daun mangkok
Nothopanax
scutellarium
Araliaceae
Perdu
Kebun, pekarangan
Domestik
36 Daun sendok
Plantago major
Plantaginaceae
Herba
Sawah, kebun, pinggir jalan
Liar
37
38
39
40
Punica sp.
Lansium domesticum
Durio zibethinus
Basella rubra
Punicaceae
Meliaceae
Bombacaceae
Basellaceae
Pohon
Pohon
Pohon
Herba
Domestik
Domestik
Domestik
Domestik
Cannaceae
Herba
Semidomestik
Malvaceae
Portulacaceae
Semak
Semak
Kebun, sawah
Sawah
Semidomestik
Liar
Direbus
Direbus
44 Handeuleum
Canna edulis
Abelmoschus
manihot
Portulaca oleracea
Graptophyllum
pictum
Pekarangan, kebun
Pekarangan
Kebun
Kebun
Sawah, kebun, pinggir
jalan, hutan
Cara pengolahan
Direbus,
dimasak
Ditumbuk,
diseduh
Tanpa
pengolahan
Direbus
Diremas
Ditumbuk
Tanpa
pengolahan
Acanthaceae
Perdu
Domestik
Direbus
45 Harendong
Melastoma affine
Melastomataceae
Semak
Sawah, kebun, pekarangan
Hutan, pinggir jalan,
pekarangan
Liar
46 Hareuga
Bidens pilosa
Asteraceae
Semak
Sawah, pekarangan
Liar
47 Jahe merah
48 Jamblang
Zingiber officinale
Syzygium cumini
Zingiberaceae
Myrtaceae
Herba
Pohon
Domestik
Domestik
49 Jambu biji
50 Jarak pagar
Psidium guajava
Jatropha curcas
Myrtaceae
Euphorbiaceae
Pohon
Perdu
Kebun
Pekarangan, kebun
Pekarangan, sawah, kebun,
pinggir jalan
Pekarangan, kebun
Direbus
Tanpa
pengolahan
Ditumbuk,
direbus
Direbus
Domestik
Semidomestik
Diremas, direbus
Diasap, diremas
Delima
Duku
Durian
Gandola ungu
41 Ganyong putih
42 Gedi
43 Gelang
Kondisi penyebaran
Status di Alam
29
30
Lampiran 1 Rekapitulasi tumbuhan obat beserta karakteristiknya (lanjutan)
No
Nama Lokal
51 Jawer kotok
52
53
54
55
Jengkol
Jeruk bali
Jeruk nipis
Johar
Nama Ilmiah
Solenostemon
scutellarioides
Archidendron
jiringa
Citrus maxima
Citrus aurantifolia
Cassia siamea
Habitus
Kondisi penyebaran
Status di Alam
Cara pengolahan
Lamiaceae
Herba
Kebun, sawah, pekarangan
Semidomestik
Diremas, direbus
Fabaceae
Rutaceae
Rutaceae
Fabaceae
Pohon
Pohon
Perdu
Pohon
Kebun
Pekarangan
Pekarangan, kebun
Pekarangan,
Domestik
Domestik
Domestik
Domestik
Famili
56 Jonghe
Emilia sonchifolia
Asteraceae
Herba
Sawah
Liar
57 Jotang
Asteraceae
Semak
Sawah
Liar
Rubiaceae
Apocynaceae
Perdu
Pohon
Kebun, pekarangan
Pekarangan
Domestik
Domestik
Direbus, diremas
Direbus
Zingiberaceae
Piperaceae
Semak
Semak
Sawah, pekarangan
Kebun, pekarangan
Domestik
Semidomestik
Direbus
Direbus
Euphorbiaceae
Asteraceae
Perdu
Herba
Kebun, pekarangan, sawah
Sawah, kebun
Semidomestik
Liar
Direbus, dimasak
Ditumbuk
64 Kayu manis
65 Kecubung
Acmella paniculata
Gardenia
jasminoides
Plumeria rubra
Amomum
compactum
Piper sarmentosum
Sauropus
androgynus
Tridax procumbens
Cinnamomum
burmannii
Datura metel
Direbus
Direbus, diremas
Diperas
Ditumbuk
Tanpa
pengolahan
Tanpa
pengolahan
Lauraceae
Salanaceae
Pohon
Herba
Kebun
Pekarangan
Domestik
Domestik
66 Kedondong
67 Kedondong laut
68 Keji beling
Spondias dulcis
Anacardiaceae
Polyscias fruticosa
Araliaceae
Strobilanthes crispus Acanthaceae
Pohon
Perdu
Semak
Kebun
Kebun, pekarangan
Pekarangan, kebun
Domestik
Domestik
Domestik
Dimasak
Ditumbuk
Tanpa
pengolahan
Direbus
Direbus
58 Kaca piring
59 Kamboja
60 Kapulaga
61 Karuk
62 Katuk
63 Katumpangan
Lampiran 1 Rekapitulasi tumbuhan obat beserta karakteristiknya (lanjutan)
No
Nama Lokal
Nama Ilmiah
Famili
Habitus
Kondisi penyebaran
Status di Alam
Cara pengolahan
Tanpa
pengolahan
Dimasak
Ditumbuk,
direbus
Tanpa
pengolahan
Ditumbuk
Ditumbuk
Tanpa
pengolahan
69 Kelapa
70 Kemangi
Cocos nucifera
Ocimum sanctum
Arecaceae
Lamiaceae
Pohon
Semak
Kebun
Pekarangan
Domestik
Domestik
71 Kencur
Kaempferia galanga
Zingiberaceae
Semak
Sawah, kebun
Semidomestik
72 Kenikir
73 Ketepeng
74 Ki encok
Cosmos caudatus
Cassia alata
Plumbago zeylanica
Asteraceae
Fabaceae
Plumbaginaceae
Perdu
Perdu
Perdu
Kebun, pekarangan
Sawah, kebun, pekarangan
Kebun, pekarangan
Domestik
Domestik
Domestik
75 Ki korejat
Laurentia longiflora
Hemigraphis
colorata
Campanulaceae
Herba
Pinggir jalan
Liar
Acanthaceae
Semak
Sawah
Liar
Valerianaceae
Herba
Domestik
Portulacaceae
Herba
Kebun
Sawah, pekarangan, pinggir
jalan
Semidomestik
Dimasak, direbus
Zingiberaceae
Rubiaceae
Herba
Pohon
Hutan
Hutan, kebun,
Domestik
Semidomestik
81 Kumis kucing
Valeriana officinalis
Talinum
paniculatum
Curcuma
purpurascens
Coffea arabica
Orthosiphon
aristatus
Ditumbuk
Direbus,
ditumbuk
Lamiaceae
Herba
Kebun, pekarangan
Domestik
82 Kunyit
83 Kunyit putih
Curcuma domestica
Curcuma zedoaria
Zingiberaceae
Zingiberaceae
Herba
Herba
Sawah, kebun, pekarangan
Pekarangan
Domestik
Domestik
Ditumbuk
Ditumbuk
Dibuat teh,
direbus
Dicampur
masakan atau
minuman,
ditumbuk
Direbus
76 Ki remek daging
77 Ki saat
78 Kolesom
79 Koneng tinggang
80 Kopi
31
32
Lampiran 1 Rekapitulasi tumbuhan obat beserta karakteristiknya (lanjutan)
No
Nama Lokal
Nama Ilmiah
Famili
Kondisi penyebaran
Habitus
Semak Kebun, pekarangan
84 Lada
Piper alba
Piperaceae
Semak
85 Lada hitam
Piper nigrum
Piperaceae
Pohon Pekarangan
86 Lame/ pulai
Alstonia scholaris
Apocynaceae
Pohon Pekarangan
87 Lempeni
Ardisia elliptica
Myrsinaceae
Status di Alam
Cara pengolahan
Domestik
Domestik
Domestik
Domestik
Zingiberaceae
Herba
Kebun, sawah, hutan
Liar
Alpinia galanga
Leucas
lavandulifolia
Zingiberaceae
Herba
Sawah
Domestik
Lamiaceae
Herba
Dimana-mana
Liar
Solanaceae
Asphodelaceae
Perdu
Herba
Pekarangan
Pekarangan, kebun
Semidomestik
Domestik
Thymelaeaceae
Perdu
Pekarangan,
Domestik
Direbus
Meliaceae
Pohon
Dipinggir jalan
Domestik
Direbus
95 Manggis
Solanum nigrum
Aloe vera
Phaleria
macrocarpa
Swietenia
macrophylla
Garcinia
mangostana
Ditumbuk
Direbus
Direbus
Direbus
Ditumbuk,
dikeringkan
Ditumbuk,
direbus, dimasak
Ditumbuk,
direbus
Tanpa
pengolahan
Direbus
Clusiaceae
Pohon
Kebun, pekarangan
Domestik
96 Marasi
Curculigo latifolia
Amaryllidaceae
Semak
Hutan, gunung, pinggir kali
Liar
Morinda citrifolia
Phyllanthus niruri
Cucumis sativus
Azadirachta indica
Rubiaceae
Euphorbiaceae
Cucurbitaceae
Meliaceae
Pohon
Herba
Herba
Pohon
Kebun, hutan, pekarangan
Pinggir jalan, sawah
Sawah
Kebun,
Semidomestik
Liar
Domestik
Semidomestik
Direbus
Dicampur
makanan atau
minuman
Ditumbuk,
direbus
Direbus
Ditumbuk
Ditumbuk
88 Lempuyang
89 Lengkuas
90 Leng-lengan
91 Leunca
92 Lidah buaya
93 Mahkota dewa
94 Mahoni
97
98
99
100
Mengkudu
Meniran
Mentimun
Mimba
Zingiber
aromaticum
Lampiran 1 Rekapitulasi tumbuhan obat beserta karakteristiknya (lanjutan)
No Nama Lokal
101 Murbei
Nama Ilmiah
Morus alba
Famili
Moraceae
Habitus
Perdu
102 Nanas kerang
Rhoeo discolor
Artocarpus
heterophyllus
Commelinaceae
Status di Alam
Liar
Cara pengolahan
Diremas
Semak
Kondisi penyebaran
Pekarangan
Sawah, kebun, pinggir
jalan, pekarangan
Domestik
Direbus
Moraceae
Pohon
Pekarangan
Domestik
Costus spiralis
Oryza sativa
Myristica fragrans
Pandanus
amaryllifolius
Pedilanthus pringlei
Carica papaya
Carica Sp
Leucaena
leucocephala
Zingiberaceae
Poaceae
Myristicaceae
Herba
Herba
Pohon
Semidomestik
Domestik
Domestik
Pandanaceae
Euphorbiaceae
Caricaceae
Caricaceae
Perdu
Semak
Perdu
Perdu
Hutan, kebun
Sawah
Kebun
Sawah, kebun, pinggir
jalan, pekarangan
Kebun, pekarangan
Kebun, sawah, pekarangan
Kebun, sawah
Fabaceae
Pohon
Pekarangan
Semidomestik
Musaceae
Musaceae
Musaceae
Perdu
Perdu
Perdu
Kebun
Kebun
Kebun
Domestik
Domestik
Domestik
115 Rambutan
Musa paradisiaca
Musa sp
Musa brachycarpa
Nephelium
lappaceum
Direbus
Tanpa
pengolahan
Ditumbuk
Direbus
Dimasak,
ditumbuk
Ditumbuk
Direbus
Dimasak, direbus
Tanpa
pengolahan
Tanpa
pengolahan,
direbus
Dimasak
Direbus
Sapindaceae
Pohon
Domestik
Diremas
116 Rosela
117 Ruku-ruku
Hibiscus sabdariffa
Ocimum sanctum
Malvaceae
Lamiaceae
Semak
Semak
Pinggir jalan
Sawah, kebun, pinggir
jalan, pekarangan
Kebun,
Domestik
Domestik
Direbus
Dibuat teh
103 Nangka
104 Pacing
105 Padi
106 Pala
107
108
109
110
Pandan wangi
Patah tulang
Pepaya
Pepaya gandul
111 Petai china
112 Pisang
113 Pisang asem
114 Pisang batu
Domestik
Domestik
Semidomestik
Semidomestik
33
34
Lampiran 1 Rekapitulasi tumbuhan obat beserta karakteristiknya (lanjutan)
No
Nama Lokal
Nama Ilmiah
Famili
Habitus
Hedyotis corymbosa
Abrus precatorius
Syzygium
polyanthum
Andrographis
paniculata
Gynura procumbens
Melicope glabra
Caesalpinia sappan
Ocimum basilicum
Rubiaceae
Fabaceae
Herba
Liana
Sawah, hutan,
Kebun, pekarangan
Liar
Semidomestik
Cara pengolahan
Ditumbuk,
direbus
Diremas, diseduh
Myrtaceae
Pohon
Pinggir jalan, pekarangan
Semidomestik
Direbus
Acanthaceae
Asteraceae
Rutaceae
Caesalpiniaceae
Lamiaceae
Herba
Herba
Semak
Pohon
Semak
Sawah, pekarangan
Pekarangan, kebun
Hutan, pekarangan
Kebun
Kebun
Semidomestik
Domestik
Semidomestik
Domestik
Domestik
Direbus, diremas
Direbus
Direbus
Direbus
Direbus
Paederia foetida
Rubiaceae
Herba
Sawah, kebun
Semidomestik
Asteraceae
Perdu
Pinggir jalan, pekarangan
Semidomestik
Verbenaceae
Perdu
Pekarangan
Semidomestik
Araceae
Herba
Kebun
Liar
130 Sereh
131 Sereh wangi
Blumea balsamifera
Clerodendrum
serratum
Alocasia
macrorrhiza
Cymbopogon
citratus
Cymbopogon nardus
Direbus
Dibuat teh,
direbus
Poaceae
Poaceae
Semak
Semak
Domestik
Domestik
132
133
134
135
Sida rhombifolia
Manihot utilissima
Piper betle
Piper crocatum
Malvaceae
Euphorbiaceae
Piperaceae
Piperaceae
Semak
Perdu
Herba
Herba
Kebun, pekarangan, sawah
Kebun
Sawah, kebun, pinggir
jalan, hutan
Sawah, kebun
Pekarangan, kebun
Pekarangan, kebun
Ditumbuk
Tanpa
pengolahan
Ditumbuk,
dimasak
Direbus
Liar
Semidomestik
Domestik
Domestik
Diremas, direbus
Direbus, diremas
Diremas, direbus
Direbus
118 Rumput mutiara
119 Saga manis
120 Salam
121
122
123
124
125
Sambiloto
Sambung nyawa
Sampang
Secang
Selasih
Sembukan /
126 kahitutan
127 Sembung
128 Senggugu
129 Sente
Sidagori
Singkong
Sirih
Sirih merah
Kondisi penyebaran
Status di Alam
Lampiran 1 Rekapitulasi tumbuhan obat beserta karakteristiknya (lanjutan)
No
Nama Lokal
Nama Ilmiah
Famili
Habitus
136 Sirsak
Annona muricata
Annonaceae
Pohon
Kondisi penyebaran
Hutan, sawah, kebun,
pekarangan
137 Sosor bebek
138 Stevia
Crassulaceae
Asteraceae
Semak
Semak
Kebun,pekarangan
Kebun
Domestik
Domestik
Liliaceae
Perdu
Pekarangan, kebun
Semidomestik
Diremas, direbus
140 Sukun
Kalanchoe pinnata
Stevia rebaudiana
Dracaena
angustifolia
Artocarpus
communis
Cara pengolahan
Direbus, dibuat
teh
Ditumbuk,
direbus
Dibuat teh
Moraceae
Pohon
Semidomestik
141 Takokak
Solanum torvum
Solanaceae
Perdu
Direbus
Tanpa
pengolahan
142 Tapak liman
Elephantopus scaber
Asteraceae
Herba
Hutan, kebun
Pinggir jalan, sawah,
pekarangan
Sawah, kebun, pekarangan,
pinggir jalan
Poaceae
Asteraceae
Zingiberaceae
Semak
Herba
Herba
Kebun
Pinggir jalan
Pekarangan
Domestik
Liar
Domestik
Zingiberaceae
Zingiberaceae
Herba
Herba
Pekarangan
Domestik
Domestik
139 Suji
Status di Alam
Semidomestik
Semidomestik
Liar
146 Temu kunci
147 Temu mangga
Sasaccharum
officinarum
Sonchus arvensis
Curcuma aeruginosa
Gastrochilus
panduratum
Curcuma mangga
148 Temu putih
149 Temulawak
Zingiberaceae
Zingiberaceae
Zingiberaceae
Zingiberaceae
Herba
Herba
Hutan, kebun, pekarangan
Hutan, sawah,kebun
Semidomestik
Domestik
150 Tespong
Oenanthe javanica
Apiaceae
Herba
Sawah
Domestik
143 Tebu
144 Tempuyung
145 Temu ireng
Direbus
Dicampur
masakan atau
minuman
Direbus
Direbus
Dimasak
Direbus
Ditumbuk,
direbus
Direbus
Tanpa
pengolahan
35
36
Lampiran 1 Rekapitulasi tumbuhan obat beserta karakteristiknya (lanjutan)
No
Nama Lokal
Nama Ilmiah
Famili
Habitus
151 Timbul/ keluwih
152 Urang-aring
Artocarpus
communis
Eclipta alba
Moraceae
Asteraceae
Pohon
Herba
Kondisi penyebaran
Pekarangan
Sawah, kebun,
Status di Alam
Cara pengolahan
Domestik
Liar
Direbus
Diremas
Lampiran 2 Index kepentingan budaya setiap jenis tumbuhan obat
No
Nama Lokal
1
Alang-alang
2
Alpukat
3
Anting-anting
4
Aren
5
Asem jawa
Manfaat
Q
I
E
ICS
Sakit kepala, demam, meriang, masuk angin
Penyakit saluran pembuangan/ susah kencing, ambeyen
Pegal-pegal, sakit pinggang
Panas dalam
Obat Penyakit peredaran darah (darah tinggi, kurang darah, dl)
Obat penyakit ginjal
Obat penyakit saluran pembuangan/ susah kencing, ambeyen
Obat Pegal-pegal, sakit pinggang
Buah
3
3
3
3
3
3
3
3
4
2
1
3 0.5
3
2
3
1
1
1
3
2
3
1
2
2
3
1
Obat Pegal-pegal, sakit pinggang
3 2
0.5
3
Pemanis alami
Sakit kepala, demam, meriang, masuk angin
Bumbu masak
3 3
3 2
3 4
1
1
2
9
6
24
6
4.5
18
9
3
18
9
12
12
Total
ICS
Skor
Ket
37.5
1
Kurang
Penting
54
1
Kurang
Penting
3
1
9
1
30
1
Kurang
Penting
Kurang
Penting
Kurang
Penting
Lampiran 2 Index kepentingan budaya setiap jenis tumbuhan obat (lanjutan)
No
Nama lokal
6
Bambu kuning
7
Bambu tali
8
Bandotan
9
Bangle
10
Bawang dayak
11
Bawang merah
12
Bawang putih
13
Bayam
14
Belimbing manis
Manfaat
Penyakit kuning, liver, hepatitis
Penyakit saluran pernafasan (asma, batuk)
Bahan bangunan
Penyakit kulit (panu, kadas kurap)
Pengobatan luka luar dan luka dalam
Masalah perut (sakit perut, diare, kembung, maag)
Perawatan persalinan, pelancar ASI
Ritual
Penyakit jantung
Penyakit diabetes
Sakit kepala, demam, meriang, masuk angin
Bumbu masak
Penyakit peredaran darah (darah tinggi, darah rendah, dll)
Penyakit jantung
Asam urat dan rematik
Bumbu masak
Perawatan persalinan, pelancar ASI
Sayuran
Melancarkan darah
Penyakit peredaran darah (darah tinggi, darah rendah, dll)
Buah
Q
I
E
ICS
3
3
4
3
3
3
3
2
3
3
3
3
3
3
3
3
3
4
3
3
4
3
2
3
2
2
4
2
3
2
1
4
4
1
3
3
4
2
4
1
1
3
0.5
0.5
1
0.5
1
2
1
1
0.5
0.5
2
2
1
1
1
2
0.5
1
0.5
1
1
4.5
3
12
3
6
24
6
6
3
1.5
24
24
3
9
9
24
3
16
1.5
3
12
Total
ICS
Skor
4.5
1
15
1
33
1
Kurang
Penting
12
1
Kurang
Penting
4.5
1
Kurang
Penting
48
1
Kurang
Penting
45
1
Kurang
Penting
20.5
1
Kurang
Penting
15
1
Kurang
Penting
ket
Kurang
Penting
Kurang
Penting
37
38
Lampiran 2 Index kepentingan budaya setiap jenis tumbuhan obat (lanjutan)
No
Nama Lokal
15
Belimbing wuluh
16
Beluntas
17
Beubeunteuran
18
Binahong
19
Brotowali
20
Bunga sepatu
21
Bunga teleng
22
Cabe jawa
Manfaat
Q
I
E
ICS
Penyakit peredaran darah (darah tinggi, darah rendah, dll)
Sayuran
Penyakit khusus wanita
Perawatan tubuh, muka, kulit, pelangsing, menghilangkan bau
badan
Sayuran
3 4
3 2
3 4
2
1
2
24
6
24
3 4
4 3
2
0.5
24
6
Perawatan persalinan, pelancar ASI
Sakit kepala, demam, meriang, masuk angin
Penyakit tulang, sendi, otot
Pengobatan luka luar dan luka dalam
Penyakit khusus wanita
Penyakit diabetes
Penyakit kulit (panu, kadas kurap)
Perawatan persalinan, pelancar ASI
Penyakit saluran pencernaan
Penyakit saluran pernafasan (asma, batuk)
Panas dalam
Tanaman hias
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
2
1
1
1
2
2
0.5
0.5
0.5
0.5
0.5
0.5
1
6
6
6
24
24
3
3
3
1.5
3
4.5
6
2
2
2
4
4
2
2
2
1
2
3
3
Penyakit mata
3 2
1
6
Penyakit peredaran darah (darah tinggi, darah rendah, dll)
3 2
0.5
3
Total
ICS
Skor
Ket
30
1
Kurang
Penting
54
1
Kurang
Penting
6
1
Kurang
Penting
36
1
Kurang
Penting
33
1
Kurang
Penting
15
1
Kurang
Penting
6
1
3
1
Kurang
Penting
Kurang
Penting
Lampiran 2 Index kepentingan budaya setiap jenis tumbuhan obat (lanjutan)
No
Nama Lokal
23
Cariang merah
24
Cabe merah
25
Cabe rawit
26
Cakar ayam
27
Cengkeh
28
Cincau pohon
29
Ciplukan
30
Coklat
Manfaat
Q
I
E
ICS
Masalah perut (sakit perut, diare, kembung, maag)
Masalah perut (sakit perut, diare, kembung, maag)
Bumbu masak
Penyakit saluran pembuangan/ susah kencing, ambeyen
Sakit kepala, demam, meriang, masuk angin
Bumbu masak
3
3
3
3
3
4
2
2
4
3
3
4
0.5
0.5
1
1
0.5
1
3
3
12
9
4.5
16
Penyakit saluran pembuangan/ susah kencing, ambeyen
3 2
0.5
3
Penghangat badan
Sakit kepala, demam, meriang, masuk angin
Panas dalam
Penyakit saluran pencernaan
Penyakit ginjal
Penyakit saluran pembuangan/ susah kencing, ambeyen
Penyakit saluran pernafasan (asma, batuk)
Pegal-pegal, sakit pinggang
Mengempiskan bisul
Buah
3
3
3
3
3
3
3
3
3
4
1
1
1
1
1
1
0.5
2
1
1
9
6
9
6
6
9
3
18
9
12
3
2
3
2
2
3
2
3
3
3
Total
ICS
Skor
3
1
15
1
29.5
1
3
1
9
1
21
1
Kurang
Penting
36
1
Kurang
Penting
21
1
Kurang
Penting
Ket.
Kurang
Penting
Kurang
Penting
Kurang
Penting
Kurang
Penting
Kurang
Penting
39
40
Lampiran 2 Index kepentingan budaya setiap jenis tumbuhan obat (lanjutan)
No
Q
I
E
ICS
Total
ICS
Skor
Ket
Sakit kepala, demam, meriang, masuk angin
Penyakit saluran pernafasan (asma, batuk)
Panas dalam
3
3
3
3
3
4
5
4
0.5
2
2
2
4.5
24
30
24
82.5
2
Penting
Penyakit diabetes
3
2 0.5
Penyakit jantung
Meningkatkan nafsu makan dan daya tahan tubuh
Penyakit khusus wanita
Perawatan tubuh, muka, kulit, pelangsing, menghilangkan bau
badan
Meningkatkan nafsu makan dan daya tahan tubuh
Sayuran
Penyakit tulang, sendi, otot
Pengobatan luka luar dan luka dalam
Perawatan persalinan, pelancar ASI
3 3
3 2
3 3
0.5
0.5
1
4.5
3
9
3
3
4
3
3
3
4
2
4
3
2
2
2
1
1
1
1
0.5
24
6
16
9
6
3
Perawatan persalinan, pelancar ASI
Penyakit kuning, liver, hepatitis
Pegal-pegal, sakit pinggang
Bahan bangunan
Mengempiskan bisul
Buah
3
3
3
4
3
4
2
3
2
1
3
3
1
1
0.5
0.5
1
1
6
9
3
2
9
12
Nama Lokal
Manfaat
Penyakit jantung
31
Dadap
32
Dandang gendis
33
Daun dewa
34
Daun mangkok
35
Daun sendok/
sendokan
36
Delima
37
Duku
38
Durian
3
1.5
1
Kurang
Penting
Kurang
Penting
7.5
1
55
1
Kurang
Penting
18
1
Kurang
Penting
6
1
Kurang
Penting
14
1
Kurang
Penting
21
1
Kurang
Penting
Lampiran 2 Index kepentingan budaya setiap jenis tumbuhan obat (lanjutan)
No
Nama Lokal
39
Gandola ungu
40
Ganyong putih
41
Gedi
42
Gelang
43
Handeuleum
44
45
Harendong
Hareuga
46
Jahe merah
47
Jamblang
Manfaat
Penyakit mata
Sakit pinggang, makanan
Makanan sekunder
Sakit kepala, demam, meriang, masuk angin
Penyakit ginjal
Sakit kepala, demam, meriang, masuk angin
Sakit kepala, demam, meriang, masuk angin
Penyakit saluran pembuangan/ susah kencing, ambeyen
Penyakit jantung
Sakit kepala, demam, meriang, masuk angin
Penyakit peredaran darah (darah tinggi, darah rendah, dll)
Sakit kepala, demam, meriang, masuk angin
Penyakit tulang, sendi, otot
Pengobatan luka luar dan luka dalam
Penyakit saluran pencernaan
Penyakit saluran pernafasan (asma, batuk)
Pegal-pegal, sakit pinggang
Meningkatkan nafsu makan dan daya tahan tubuh
Asam urat dan rematik
Bumbu masak
Penyakit diabetes
Q
I
E
ICS
3
3
4
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
2
2
2
2
2
2
2
2
3
2
1
5
2
2
2
4
2
2
3
4
2
0.5
0.5
0.5
0.5
0.5
0.5
0.5
0.5
0.5
0.5
1
2
1
0.5
1
2
1
1
1
2
0.5
3
3
4
3
3
3
3
3
4.5
3
3
30
6
3
6
24
6
6
9
24
3
Total
ICS
3
Skor
Ket
1
K. Penting
7
1
K. Penting
6
1
K.Penting
3
1
K. Penting
6
1
K. Penting
4.5
3
1
1
K. Penting
K. Penting
117
2
Penting
3
1
K. Penting
41
42
Lampiran 2 Index kepentingan budaya setiap jenis tumbuhan obat (lanjutan)
No
Nama Lokal
48
Jambu biji
49
Jarak pagar
50
Jawer kotok
51
Jengkol
52
Jeruk bali
53
Jeruk nipis
54
Johar
55
Jonghe
Manfaat
Masalah perut (sakit perut, diare, kembung, maag)
Buah
Sakit kepala, demam, meriang, masuk angin
Penyakit gigi dan mulut
Masalah perut (sakit perut, diare, kembung, maag)
Penyakit peredaran darah (darah tinggi, darah rendah, dll)
Penyakit khusus wanita
Pengobatan luka luar dan luka dalam
Perawatan persalinan, pelancar ASI
Penyakit peredaran darah (darah tinggi, darah rendah, dll)
Penyakit diabetes
Sayuran
Sakit kepala, demam, meriang, masuk angin
Pegal-pegal, sakit pinggang
Buah
Sakit kepala, demam, meriang, masuk angin
Penyakit saluran pernafasan (asma, batuk)
Bumbu masak
Q
I
E
ICS
3
4
3
3
3
3
3
3
3
3
3
4
3
3
4
3
3
3
5
3
3
3
2
2
3
2
4
1
4
3
3
2
3
3
4
3
2
1
1
2
1
0.5
1
1
2
0.5
2
1
1
0.5
1
1
2
1
30
12
9
18
6
3
9
6
24
1.5
24
12
9
3
12
9
24
9
Penyakit saluran pembuangan/ susah kencing, ambeyen
3 2
0.5
3
Penyakit khusus wanita
3 2
1
6
Total
ICS
Skor
Ket
42
1
Kurang
Penting
33
1
Kurang
Penting
42
1
Kurang
Penting
37.5
1
Kurang
Penting
24
1
Kurang
Penting
42
1
Kurang
Penting
3
1
6
1
Kurang
Penting
Kurang
Penting
Lampiran 2 Index kepentingan budaya setiap jenis tumbuhan obat (lanjutan)
No
Nama Lokal
56
Jotang
57
Kaca piring
58
Kamboja
59
Kapulaga
60
Karuk
61
Katuk
62
Katumpangan
63
Kayu manis
64
Kecubung
65
Kedondong
66
Kedondong laut
Manfaat
Q
I
E
Penyakit khusus wanita
Penyakit ginjal
Sakit kepala, demam, meriang, masuk angin
Panas dalam
Penyakit kuning, liver, hepatitis
Penyakit gigi dan mulut
Penyakit saluran pernafasan (asma, batuk)
Perawatan persalinan, pelancar ASI
3
3
3
3
3
3
3
3
2
2
3
3
2
2
2
2
1
1
1
1
0.5
0.5
0.5
0.5
6
6
9
9
3
3
3
3
Penyakit saluran pernafasan (asma, batuk)
3 4
2
24
Perawatan persalinan, pelancar ASI
3 4
2
24
Mengempiskan bisul
3 2
0.5
3
Bumbu masak
3 2
1
6
Penyakit tulang, sendi, otot
Penyakit peredaran darah (darah tinggi, darah rendah, dll)
Buah
Penyakit khusus wanita
Perawatan tubuh, muka, kulit, pelangsing, menghilangkan bau
badan
3
3
4
3
0.5
0.5
1
2
3
1.5
12
24
2
1
3
4
3 3
1
ICS
9
Total
ICS
Skor
Ket
6
1
Kurang
Penting
24
1
Kurang
Penting
6
1
Kurang
Penting
6
1
Kurang
Penting
24
1
24
1
3
1
6
1
3
1
13.5
1
33
1
Kurang
Penting
Kurang
Penting
Kurang
Penting
Kurang
Penting
Kurang
Penting
Kurang
Penting
Kurang
Penting
43
44
Lampiran 2 Index kepentingan budaya setiap jenis tumbuhan obat (lanjutan)
No
Nama Lokal
67
Keji beling
68
Kelapa
69
Kemangi
70
Kencur
71
Kenikir
72
Ketepeng
73
Ki encok
Manfaat
Q
I
E
ICS
Penyakit ginjal
Penyakit saluran pembuangan/ susah kencing, ambeyen
Penyakit peredaran darah (darah tinggi, darah rendah, dll)
Sakit kepala, demam, meriang, masuk angin
Penawar racun
Penyakit ginjal
Perawatan tubuh, muka, kulit, pelangsing, menghilangkan bau
badan
Bumbu masak
Penyakit peredaran darah (darah tinggi, darah rendah, dll)
Sakit kepala, demam, meriang, masuk angin
Pengobatan luka luar dan luka dalam
Perawatan persalinan, pelancar ASI
Penghangat badan
Masalah perut (sakit perut, diare, kembung, maag)
Bumbu masak
Penyakit jantung
Sayuran
3
3
3
3
3
3
3
3
1
2
4
2
2
1
0.5
0.5
1
0.5
18
8
1.5
3
12
3
3
4
3
3
3
3
3
3
3
3
4
3
3
1
2
2
3
4
2
4
4
3
1
1
0.5
0.5
1
1
2
1
1
2
1
9
9
1.5
3
6
9
24
6
12
24
12
Penyakit kulit (panu, kadas kurap)
Penyakit tulang, sendi, otot
Pegal-pegal, sakit pinggang
3 4
3 4
3 2
2
2
0.5
24
24
3
Total
ICS
Skor
Ket
27
1
Kurang
Penting
19.5
1
Kurang
Penting
18
1
Kurang
Penting
61.5
1
Kurang
Penting
36
1
Kurang
Penting
24
1
27
1
Kurang
Penting
Kurang
Penting
Lampiran 2 Index kepentingan budaya setiap jenis tumbuhan obat (lanjutan)
No
Nama Lokal
74
Ki korejat
75
Ki remek daging
76
Ki saat
77
Kolesom
78
Koneng tinggang
79
Kopi
80
Kumis kucing
Manfaat
Penyakit mata
Penyakit tulang, sendi, otot
Penyakit mata
Penyakit peredaran darah (darah tinggi, darah rendah, dll)
Pengobatan luka luar dan luka dalam
Penyakit saluran pembuangan/ susah kencing, ambeyen
Penyakit khusus wanita
Penyakit tulang, sendi, otot
Penyakit saluran pembuangan/ susah kencing, ambeyen
Penyakit saluran pencernaan
Perawatan persalinan, pelancar ASI
Meningkatkan nafsu makan dan daya tahan tubuh
Sayuran
Perawatan persalinan, pelancar ASI
Sakit kepala, demam, meriang, masuk angin
Minuman
Penyakit ginjal
Penyakit khusus wanita
Penyakit saluran pembuangan/ susah kencing, ambeyen
Meningkatkan nafsu makan dan daya tahan tubuh
Q
I
E
ICS
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
4
3
2
2
1
2
2
2
2
2
5
3
3
3
2
2
0.5
0.5
1
0.5
0.5
1
0.5
1
0.5
1
1
18
12
3
1.5
6
3
3
6
3
15
4.5
9
12
3
3
4
3
3
3
3
2
2
3
3
2
4
2
1
0.5
1
2
0.5
2
1
6
3
12
18
3
24
6
Total
ICS
Skor
18
1
15
1
13.5
1
Kurang
Penting
49.5
1
Kurang
Penting
6
1
Kurang
Penting
15
1
Kurang
Penting
51
1
Kurang
Penting
Ket
Kurang
Penting
Kurang
Penting
45
46
Lampiran 2 Index kepentingan budaya setiap jenis tumbuhan obat (lanjutan)
No
81
Nama Lokal
Kunyit
82
Kunyit putih
83
Lada
84
Lada hitam
85
Lame/ pulai
Manfaat
Q
I
E
ICS
Penyakit peredaran darah (darah tinggi, darah rendah, dll)
Penyakit khusus wanita
Sakit kepala, demam, meriang, masuk angin
Penyakit kuning, liver, hepatitis
Perawatan persalinan, pelancar ASI
Perawatan tubuh, muka, kulit, pelangsing, menghilangkan bau
badan
Masalah perut (sakit perut, diare, kembung, maag)
Meningkatkan nafsu makan dan daya tahan tubuh
Kanker
Pegal-pegal, sakit pinggang
Penyakit khusus wanita
Cacingan
Penyakit peredaran darah (darah tinggi, darah rendah, dll)
Jantung
Perawatan sehabis melahirkan
Bumbu masak
3
3
3
3
3
1
2
3
3
2
1
1
1
1
1
3
6
9
9
6
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
2
2
2
2
2
2
2
2
2
1
1
2
1
0.5
0.5
1
0.5
1
0.5
1
9
9
12
6
3
3
6
3
6
3
6
Menghangatkan badan
Pegal-pegal, sakit pinggang
Penyakit gigi dan mulut
3 3
3 2
3 2
1
0.5
0.5
9
3
3
Total
ICS
Skor
Ket
63
1
Kurang
Penting
18
1
Kurang
Penting
18
1
Kurang
Penting
9
1
6
1
Kurang
Penting
Kurang
Penting
Lampiran 2 Index kepentingan budaya setiap jenis tumbuhan obat (lanjutan)
No
Nama Lokal
86
Lempeni
87
Lempuyang
88
Lengkuas
89
Leng-lengan
90
Leunca
91
Lidah buaya
92
Mahkota dewa
93
Mahoni
Manfaat
Q
I
E
ICS
Perawatan tubuh, muka, kulit, pelangsing, menghilangkan bau
badan
Sayuran
Penyakit peredaran darah (darah tinggi, darah rendah, dll)
Penyakit saluran pencernaan
Penyakit diabetes
Masalah perut (sakit perut, diare, kembung, maag)
Meningkatkan nafsu makan dan daya tahan tubuh
Perawatan persalinan, pelancar ASI
Penyakit kulit (panu, kadas kurap)
Penyakit peredaran darah (darah tinggi, darah rendah, dll)
Perawatan persalinan, pelancar ASI
Bumbu masak
3
4
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
2
2
1
3
3
2
2
4
3
1
2
3
0.5
0.5
0.5
1
1
1
2
2
2
0.5
1
1
3
8
1.5
9
9
6
12
24
18
1.5
6
9
Sakit kepala, demam, meriang, masuk angin
3
2
0.5
3
Penyakit saluran pernafasan (asma, batuk)
Sayuran
Sakit kepala, demam, meriang, masuk angin
Tanaman hias
Penyakit kuning, liver, hepatitis
Penyakit kulit (panu, kadas kurap)
3
4
3
2
3
3
2
2
2
2
3
2
0.5
1
0.5
1
1
0.5
3
8
3
4
9
3
Penyakit kuning, liver, hepatitis
3 3
1
9
Total
ICS
Skor
Ket
7
1
Kurang
Penting
61.5
2
Penting
34.5
1
Kurang
Penting
3
1
11
1
7
1
Kurang
Penting
11
1
Kurang
Penting
9
1
Kurang
Penting
Kurang
Penting
Kurang
Penting
47
48
Lampiran 2 Index kepentingan budaya setiap jenis tumbuhan obat (lanjutan)
No
Nama Lokal
94
Manggis
95
Marasi
96
Mengkudu
97
Meniran
98
Mentimun
99
Mimba
100
Murbei
101
Nanas kerang
Manfaat
Q
I
E
ICS
Penyakit kuning, liver, hepatitis
Penyakit diabetes
Penyakit jantung
Penyakit tulang, sendi, otot
Buah
Penyakit diabetes
Pemanis alami
Pengobatan luka luar dan luka dalam
Pegal-pegal, sakit pinggang
Meningkatkan nafsu makan dan daya tahan tubuh
Perawatan tubuh, muka, kulit, pelangsing, menghilangkan bau
badan
Penyakit peredaran darah (darah tinggi, darah rendah, dll)
Sayuran
3
3
3
3
4
3
4
3
3
3
3
2
3
2
3
1
2
2
2
3
1
1
1
0.5
1
0.5
0.5
0.5
0.5
0.5
9
6
9
3
12
1.5
4
3
3
4
Penyakit kulit (panu, kadas kurap)
Sakit kepala, demam, meriang, masuk angin
Buah
Penyakit peredaran darah (darah tinggi, darah rendah, dll)
Penyakit saluran pernafasan (asma, batuk)
Minuman
3
3
4
3
3
4
3 3
3 2
4 3
2
2
3
1
2
3
1
1
1
9
6
12
0.5
0.5
1
0.5
1
1
3
3
12
1.5
6
12
Total
ICS
Skor
Ket
39
1
Kurang
Penting
5.5
1
Kurang
Penting
6
1
Kurang
Penting
13
1
Kurang
Penting
18
1
3
1
15
1
Kurang
Penting
19.5
1
Kurang
Penting
Kurang
Penting
Kurang
Penting
Lampiran 2 Index kepentingan budaya setiap jenis tumbuhan obat (lanjutan)
No
Nama Lokal
102
Nangka
103
Pacing
104
Padi
105
Pala
106
Pandan wangi
107
Patah tulang
108
Pegagan
Manfaat
Penyakit kuning, liver, hepatitis
Sayuran
Buah
Kontrasepsi
Penyakit mata
Makanan pokok
Keseleo
Meningkatkan nafsu makan dan daya tahan tubuh
Penyakit peredaran darah (darah tinggi, darah rendah, dll)
Bumbu masak
Perawatan tubuh, muka, kulit, pelangsing, menghilangkan bau
badan
Bumbu masak
Penyakit kulit (panu, kadas kurap)
Penyakit tulang, sendi, otot
Meningkatkan nafsu makan, stamina dan daya tahan tubuh
Penyakit tulang, sendi, otot
Pegal-pegal, sakit pinggang
Penyakit khusus wanita
Q
I
E
ICS
3
4
4
3
3
5
3
3
3
3
3
2
3
1
4
5
3
2
2
2
0.5
1
1
1
2
2
1
0.5
1
1
4
8
12
3
24
50
9
3
6
6
3
3
3
3
3
3
3
3
4
3
2
2
2
2
2
2
1
1
0.5
1
0.5
0.5
1
0.5
12
9
3
6
3
3
6
3
Total
ICS
Skor
Ket
24
1
Kurang
Penting
27
1
Kurang
Penting
59
1
Kurang
Penting
15
1
Kurang
Penting
21
1
Kurang
Penting
9
1
Kurang
Penting
15
1
Kurang
Penting
49
50
Lampiran 2 Index kepentingan budaya setiap jenis tumbuhan obat (lanjutan)
No
Nama Lokal
109
Pepaya
110
Pepaya gandul
111
Petai china
112
Pisang
113
Pisang asem
114
Pisang batu
115
Rambutan
Manfaat
Q
I
E
ICS
Penyakit saluran pencernaan
Penyakit ginjal
Buah
Sayuran
Penyakit saluran pernafasan (asma, batuk)
Penyakit peredaran darah (darah tinggi, darah rendah, dll)
Sakit kepala, demam, meriang, masuk angin
Pegal-pegal, sakit pinggang
3
3
4
4
3
3
3
3
4
2
2
2
2
1
3
2
2
1
1
0.5
1
1
2
0.5
24
6
8
4
6
3
18
3
Cacingan
3
2
1
6
Penyakit saluran pencernaan
Penyakit peredaran darah (darah tinggi, darah rendah, dll)
Buah
Masalah perut (sakit perut, diare, kembung, maag)
Buah
Penyakit saluran pernafasan (asma, batuk)
Buah
Sakit kepala, demam, meriang, masuk angin
Buah
3
3
4
3
4
3
4
3
4
5
1
2
2
2
2
2
2
2
2
0.5
1
0.5
1
0.5
1
0.5
1
30
1.5
8
3
8
3
8
3
8
Total
ICS
Skor
Ket
42
1
Kurang
Penting
30
1
Kurang
Penting
6
1
Kurang
Penting
39.5
1
Kurang
Penting
11
1
Kurang
Penting
11
1
Kurang
Penting
11
1
Kurang
Penting
Lampiran 2 Index kepentingan budaya setiap jenis tumbuhan obat (lanjutan)
No
Nama Lokal
116
Rosela
117
Ruku-ruku
118
Rumput mutiara
119
Saga manis
120
Salam
121
Sambiloto
Manfaat
Penawar racun
Sariawan
Perawatan tubuh, muka, kulit, pelangsing, menghilangkan bau
badan
Penyakit peredaran darah (darah tinggi, darah rendah, dll)
Minuman
Perawatan tubuh, muka, kulit, pelangsing, menghilangkan bau
badan
Bumbu masak
Perawatan tubuh, muka, kulit, pelangsing, menghilangkan bau
badan
Meningkatkan nafsu makan dan daya tahan tubuh
Penyakit gigi dan mulut
Penyakit saluran pernafasan (asma, batuk)
Penyakit tulang, sendi, otot
Penyakit peredaran darah (darah tinggi, darah rendah, dll)
Penyakit saluran pernafasan (asma, batuk)
Penyakit peredaran darah (darah tinggi, darah rendah, dll)
Radang telinga
Perawatan persalinan, pelancar ASI
Penyakit gigi dan mulut
Penyakit diabetes
Penyakit kulit (panu, kadas kurap)
Q
I
3 3
3 3
E
1
1
ICS
Skor
Ket
43.5
1
Kurang
Penting
7
1
Kurang
Penting
4.5
1
Kurang
Penting
30
1
Kurang
Penting
18
1
Kurang
Penting
78
2
Penting
9
9
3 3
3 3
4 3
0.5
1
1
4.5
9
12
3 3
3 2
0.5
0.5
4
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
0.5
0.5
1
2
1
2
1
1
2
1
2
0.5
1
1.5
3
6
24
6
12
9
3
24
6
24
3
9
1
2
2
4
2
2
3
1
4
2
4
2
3
Total
ICS
51
52
Lampiran 2 Index kepentingan budaya setiap jenis tumbuhan obat (lanjutan)
No
Nama Lokal
122
Sambung nyawa
123
Sampang
124
Secang
125
Selasih
126
Sembukan/kahitutan
127
Sembung
128
Senggugu
129
Manfaat
Q
I
E
ICS
Penyakit peredaran darah (darah tinggi, darah rendah, dll)
Sakit kepala, demam, meriang, masuk angin
Sakit kepala, demam, meriang, masuk angin
Pegal-pegal, sakit pinggang
3
3
3
3
1
2
2
4
0.5
0.5
0.5
2
1.5
3
3
24
Pewarna makanan/ minuman
3 2
2
12
Sakit kepala, demam, meriang, masuk angin
3 2
0.5
3
Masalah perut (sakit perut, diare, kembung, maag)
Penyakit jantung
Perawatan persalinan, pelancar ASI
Meningkatkan nafsu makan dan daya tahan tubuh
Pegal-pegal, sakit pinggang
Penyakit tulang, sendi, otot
Pegal-pegal, sakit pinggang
Penyakit peredaran darah (darah tinggi, darah rendah, dll)
3
3
3
3
3
3
3
3
2
4
3
2
3
2
2
1
0.5
2
2
2
2
1
1
0.5
3
24
18
12
18
6
6
1.5
Sente
Penyakit saluran pernafasan (asma, batuk)
3
2 1
130
Sereh
Penyakit peredaran darah (darah tinggi, darah rendah, dll)
Asam urat dan rematik
3 1
3 5
131
Sereh wangi
Pegal-pegal, sakit pinggang
3
0.5
2
2 1
6
1.5
30
6
Total
ICS
Skor
Ket
4.5
1
Kurang
Penting
27
1
Kurang
Penting
12
1
3
1
4
1
72
2
Penting
13.5
1
Kurang
Penting
6
1
31.5
1
6
1
Kurang
Penting
Kurang
Penting
Kurang
Penting
Kurang
Penting
Kurang
Penting
Kurang
Penting
Lampiran 2 Index kepentingan budaya setiap jenis tumbuhan obat (lanjutan)
No
Nama Lokal
132
Sidagori
133
Singkong
134
Sirih
135
Sirih merah
136
Sirsak
137
Sosor bebek
Manfaat
Q
I
E
Penyakit peredaran darah (darah tinggi, darah rendah, dll)
Asam urat dan rematik
Penyakit tulang, sendi, otot
Sakit kepala, demam, meriang, masuk angin
Pengobatan luka luar dan luka dalam
Penyakit saluran pembuangan/ susah kencing, ambeyen
Makanan sekunder
Sakit kepala, demam, meriang, masuk angin
Penyakit gigi dan mulut
Perawatan tubuh, muka, kulit, pelangsing, menghilangkan bau
badan
Penyakit khusus wanita
Penyakit saluran pernafasan (asma, batuk)
Perawatan persalinan, pelancar ASI
3
3
3
3
3
3
4
3
3
1
3
3
2
3
2
3
2
3
1
2
2
0.5
1
1
1
0.5
1
3
18
18
3
9
6
12
3
9
3
3
3
3
4
4
3
2
2
2
1
1
24
24
9
6
Penyakit saluran pernafasan (asma, batuk)
3
2 0.5
Kanker
Penyakit saluran pembuangan/ susah kencing, ambeyen
Pegal-pegal, sakit pinggang
Penyakit peredaran darah (darah tinggi, darah rendah, dll)
Sakit kepala, demam, meriang, masuk angin
Penyakit diabetes
4
3
3
3
3
3
3
2
2
2
2
1
2
0.5
2
2
0.5
0.5
ICS
3
24
3
12
12
3
1.5
Total
ICS
Skor
Ket
39
1
Kurang
Penting
30
1
Kurang
Penting
75
2
Penting
3
Kurang
Penting
1
51
1
Kurang
Penting
4.5
1
Kurang
Penting
53
54
Lampiran 2 Index kepentingan budaya setiap jenis tumbuhan obat (lanjutan)
No
138
Nama Lokal
Stevia
139
Suji
140
Sukun
141
Takokak
142
Tapak liman
143
Tempuyung
144
Tebu
145
Temu ireng
146
Temu kunci
Manfaat
Q
I
Penyakit diabetes
3
2 0.5
Penyakit saluran pernafasan (asma, batuk)
Sakit kepala, demam, meriang, masuk angin
Panas dalam
Penyakit jantung
Pewarna makanan/ minuman
Penyakit saluran pembuangan/ susah kencing, ambeyen
Penyakit peredaran darah (darah tinggi, darah rendah, dll)
Penyakit peredaran darah (darah tinggi, darah rendah, dll)
Penyakit mata
Penyakit diabetes
Sayuran
Perawatan tubuh, muka, kulit, pelangsing, menghilangkan bau
badan
Penyakit ginjal
Penyakit saluran pembuangan/ susah kencing, ambeyen
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
4
4
3
4
3
2
2
1
1
3
3
3
Pemanis alami
4
5 2
Penyakit jantung
Pegal-pegal, sakit pinggang
Perawatan persalinan, pelancar ASI
Penyakit khusus wanita
3
3
3
3
4
2
2
2
3 2
3 4
3 2
E
2
2
2
0.5
1
0.5
1
1
2
1
1
0.5
1
1
1
1
1
0.5
ICS
Total
ICS
Skor
Ket
2
1
Kurang
Penting
76.5
2
Penting
6
1
Kurang
Penting
42
1
Kurang
Penting
3
1
18
1
3
24
18
24
4.5
6
3
3
3
18
9
12
3
12
6
40
12
6
6
3
40
1
18
1
9
1
Kurang
Penting
Kurang
Penting
Kurang
Penting
Kurang
Penting
Kurang
Penting
Lampiran 2 Index kepentingan budaya setiap jenis tumbuhan obat (lanjutan)
No
Nama Lokal
Manfaat
Q
I
E
ICS
147
Temu mangga
Perawatan tubuh, muka, kulit, pelangsing, menghilangkan bau
badan
3 3
0.5
4.5
148
Temu putih
Penyakit jantung
3
3
0.5
4.5
3 4
2
24
149
Temulawak
Meningkatkan nafsu makan dan daya tahan tubuh
Perawatan tubuh, muka, kulit, pelangsing, menghilangkan bau
badan
Pegal-pegal, sakit pinggang
Penyakit kuning, liver, hepatitis
Masalah perut (sakit perut, diare, kembung, maag)
150
Tespong
Penyakit peredaran darah (darah tinggi, darah rendah, dll)
3
2 0.5
3
151 Timbul/ keluwih
Penyakit kuning, liver, hepatitis
3
3 0.5
4.5
152
Perawatan tubuh, muka, kulit, pelangsing, menghilangkan bau
badan
3 2
Urang-aring
3
4 0.5
3 3
3 4
3 4
Skor
4.5
1
4.5
1
87
2
Penting
4.5
1
3
1
Kurang
Penting
Kurang
Penting
Kurang
Penting
Ket
Kurang
Penting
Kurang
Penting
6
1
2
2
0.5
Total
ICS
9
24
24
3
3
1
55
56
Lampiran 3 Ramuan tumbuhan obat yang digunakan informan
No
Nama
Jenis Penyakit
Gula darah/
diabetes
1
Sekaryati
Usus buntu
Sakit gigi
Luka luar dan
dalam
2 Cicih
3 TB Saefudin
Penyakit kulit
Penghilang bau
badan
Liver
4
Radang usus
Dina
Jenis TO
Dandang gendis
Sambiloto
Cincau
Keji beling
Sambung nyawa
Dadap
Saga manis
Rumput mutiara
Kunyit
Sambiloto
Binahong
Ketepeng
Beluntas
Temulawak
Suji
Saga manis
Cara pengolahan
Dosis
Direbus, diminum airnya
Hasil
Pengobatan
1 genggam
Direbus, diminum airnya
Dihaluskan, diambil airnya diteteskan ke
gigi yang sakit
Sembuh
4 helai
Sembuh
Diremas, ditempelkan ke tubuh yang sakit
Diremas, dioleskan ke tubuh yang terkena
penyakit
5 helai
Sembuh
1 genggam
Sembuh
Direbus, dimakan sebagai lalap
Dihaluskan, diminum airnya
Dihaluskan, diminum airnya 1 gelas 3x
sehari
10 helai
3 ruas
10 helai
1 genggam
Sembuh
Sembuh
Sembuh
Lampiran 4 Ramuan tumbuhan obat yang digunakan informan (lanjutan)
No
5
Nama
Wati
Jenis Penyakit
Asma
Sariawan
Diare
Peluruh kencing
Pegal-pegal
6
Imas
Pelangsing
7 Nur
8
Syamsuar
Demam
Sakit pinggang
Sakit perut
9
Juariah
Meriang
Kurang darah
Jenis TO
Karuk
Saga manis
Jambu biji
Kumis kucing
Ciplukan
Sembung
Dadap
Meniran
Sidagori
Dadap
Alpukat
Sirsak
Kumis kucing
Alang-alang
Kunyit
Lempuyang
Jambu biji
Sampang
Jeruk Bali
Kunyit
Lempuyang
Kencur
Jawer kotok
Cara pengolahan
Dihaluskan, dibalurkan ke dada
Dihaluskan, ditempelkan ke bibir
Dikonsumsi langsung, direbus atau diseduh
Dosis
5 helai
3 helai
5 helai
Direbus, diminum airnya
1 genggam
1 genggam
Direbus, diminum airnya
1 genggam
1 genggam
1 genggam
Direbus, diminum airnya
1 genggam
Diremas, ditempelkan
3 helai
7 helai
7 helai
Direbus, diminum airnya
1 genggam
7 akar
2 ruas
Dihaluskan lalu diseduh air hangat, diminum
1 ruas
3 helai
1 genggam
Ditumbuk, diremas agar airnya keluar, diminum
1 genggam
1 ruas
1 ruas
Dihaluskan, ditumbuk
1 ruas
3 helai
Hasil
Pengobatan
Sembuh
Sembuh
Sembuh
Sembuh
Sembuh
Sembuh
Sembuh
Sembuh
Sembuh
Sembuh
Sembuh
57
58
Lampiran 5 Ramuan tumbuhan obat yang digunakan informan (lanjutan)
No
Nama
Jenis penyakit
Darah tinggi
9
Juariah
Asam urat
Usus buntu
Maag
10
Yani
Pegal-pegal
Pegal-pegal
11
Hafifah
Keseleo
Maag
Jenis TO
Sirsak
Belimbing
wuluh
Jahe merah
Ciplukan
Kunyit
Jawer kotok
Bandotan
Jeruk bali
Sampang
Jawer kotok
Sembung
Bandotan
Ciplukan
Sirih
Sirsak
Kumis kucing
Kencur
Padi
Ki urat
Bandotan
Cara Pengolahan
Dosis
Hasil
Pengobatan
20 helai
Direbus, diminum airnya
Dihaluskan, ditempelkan
Direbus, diminum airnya
Direbus, diminum airnya
Direbus, diminum airnya
Direbus, diminum airnya
Ditumbuk, ditempelkan
Direbus, diminum airnya
Sembuh
10 helai
2 ruas
1 genggam
1 ruas
Segenggam
1 genggam
2 helai
2 helai
1 genggam
1 genggam
3 herba
3 herba
1 genggam
1 genggam
1 genggam
3 ruas
1/2 genggam
2 helai
1 genggam
Sembuh
Sembuh
Sembuh
Sembuh
Sembuh
Sembuh
Sembuh
Lampiran 6 Ramuan tumbuhan obat yang digunakan informan (lanjutan)
No
12
Jenis Penyakit
Jahri
Liver, jantung, darah
tinggi
Asam urat
Maag
Pusing
13
Sani
Batuk
Jantung koroner
14
Yeti
Panas dalam
15
Nuraeni
Batuk
Jenis TO
Mahoni
Duku
Manggis
Alang-alang
Ciplukan
Mahkota dewa
Harendong
Sidagori
Bandotan
Kunyit
Kencur
Gula merah
Jahe
Gula merah
Sembung
Temu hitam
Temu putih
Daun dewa
Saga manis
Kaca piring
Jahe merah
Cara Pengolahan
Direbus, diminum 2 kali sehari
Direbus, diminum airnya
Direbus, diminum airnya
Direbus, diminum airnya
Ditumbuk, diminum airnya
Direbus, diminum 2x sehari
Dihaluskan, diminum airnya
Direbus, diminum airnya
Dosis
3 jari
3 jari
3 jari
3 batang
7 helai
3 iris
7 helai
1 genggam
1 genggam
1 ruas
1 ruas
1/2 butir
3 ruas
1/2 butir
4 helai
2 ruas
2 ruas
4 helai
1 genggam
1 genggam
3 ruas
Hasil
Pengobatan
Sembuh
Sembuh
Sembuh
Sembuh
Sembuh
Sembuh
Sembuh
59
60
Lampiran 7 Ramuan tumbuhan obat yang digunakan informan (lanjutan)
No
Jenis Penyakit
Pegal-pegal
16
Hesti
Liver
Peluruh kencing
17 Nugrahaeni Masuk angin
18 Hadi
Pengencer darah
19 Bukhari
Masuk angin
20
Nana
Keseleo
Darah tinggi
21
Neni
Pegal-pegal
Asma
22
Dedi
Sukardi
Batu ginjal
Jenis TO
Alang-alang
Ciplukan
Pepaya gandul
Sampang
Jawer kotok
Kamboja
Keji beling
Kumis kucing
Alpukat
Kunyit
Jengkol
Jahe
Ki urat
Sidagori
Alpukat
Ciplukan
Sidagori
Alang-alang
Tapak liman
Karuk
Keji beling
Kumis kucing
Cara Pengolahan
Direbus, diminum airnya
Direbus, diminum airnya
Direbus, diminum airnya
Diparut, diminum airnya
Direbus, diminum airnya
Direbus
Ditumbuk, ditempelkan
Direbus, diminum airnya
Direbus, diminum airnya
Dihaluskan, dibalurkan ke dada
Direbus, diminum airnya
Dosis
1 genggam
1 genggam
1 genggam
1 genggam
5 helai
3 jari
7 helai
1 genggam
1 genggam
3 ruas
10 lembar
3 ruas
5 helai
5 helai
1 genggam
1 genggam
1 genggam
1 genggam
1 genggam
5 helai
5 helai
1 genggam
Hasil
Pengobatan
Sembuh
Sembuh
Sembuh
Sembuh
Sembuh
Sembuh
Sembuh
Sembuh
Sembuh
-
61
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Majalengka pada tanggal 12 Juni 1992. Penulis
merupakan putri pertama dari tiga bersaudara pasangan Bapak Yanto Pahroji,
AMd dan Ibu Upit Sarimanah, AMd. Pendidikan formal ditempuh di SD Negeri 1
Sukasari, SMP Negeri 2 Cikijing, dan SMA Negeri 2 Majalengka. Tahun 2010
penulis diterima sebagai mahasiswa Institut Pertanian Bogor melalui jalur USMI
(Undangan Seleksi Masuk IPB) dan tahun 2011 penulis tercatat sebagai
mahasiswa Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas
Kehutanan IPB. Selama menempuh pendidikan di IPB, penulis aktif sebagai
pengurus dalam Himpunan Mahasiswa Konservasi Sumberdaya Hutan dan
Ekowisata (Himakova) dan Kelompok Pemerhati Flora (KPF) Rafflesia periode
2011 – 2012 dan 2012 – 2013.
Kegiatan-kegiatan yang pernah penulis ikuti selama menjadi mahasiswa IPB
diantaranya adalah Magang Mandiri Fakultas Kehutanan IPB di Taman Nasional
Way Kambas, Lampung (2012), Praktik Pengenalan Ekosistem Hutan (P2EH) di
Cagar Alam Leuweung Sancang – Cagar Alam dan Taman Wisata Alam
Kamojang (2012), Eksplorasi Fauna, Flora, dan Ekowisata Indonesia
(RAFFLESIA) di Cagar Alam Bojonglarang Jayanti, Jawa Barat (2013), Praktik
Pengelolaan Hutan (P2H) di Hutan Pendidikan Gunung Walat, Taman Nasional
Gunung Halimun-Salak, dan KPH Cianjur (2013), serta Praktik Kerja Lapang
Profesi (PKLP) di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (2014). Sebagai salah
satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan, penulis melaksanakan
penelitian di Kabupaten Bogor dengan judul “Manfaat Kampung Konservasi
Tumbuhan Obat Keluarga Gunung Leutik Ciampea, Bogor” dibawah bimbingan
Prof Dr Ir Ervizal A.M. Zuhud, MS dan Ellyn K. Damayanti, SHut, MSi, PhDAgr.
Download