Konsep Diri Dalam Human relations

advertisement
MODUL PERKULIAHAN
Human Relations
Memahami Konsep Dasar Human Relations
Fakultas
Program
Tatap
Studi
Muka
Fakultas Ilmu
Hubungan
Komunikasi
Masyarakat
04
Kode MK
Disusun Oleh
DC 170-1
Amin Shabana, M.Si
Abstract
Kompetensi
Memberikan pemahaman tentang Konsep Dasar Human Relations
Mahasiswa mengetahui
pemahaman yang
mendasar terkait Human
Relations
Konsep Diri Dalam Human relations
Ternyata kita tidak hanya menanggapi orang lain; kita juga mempersepsi diri kita.
Diri kita bukan lagi persona penanggap tetapi persona stimuli sekaligus.
Menurut Charles Horton Cooley, kita bisa menjadi subjek dan objek persepsi
sekaligus dengan membayangkan diri kita sebagai orang lain dalam benak kita.
Cooley menyebut gejala ini looking glass self (diri cermin) seakan-akan kita menaruh
cermin di depan kita. Pertama, kita membayangkan bagaimana kita tampak pada
orang lain; kita melihat sekilas diri kita seperti dalam cermin. Misalnya kita merasa
wajah kita jelek. Kedua, kita membayangkan bagaimana orang lain menilai
penampilan kita. Kita pikir mereka menganggap kita tidak menarik. Ketiga, kita
mengalami perasaan bangga atau kecewa; orang mungkin merasa sedih atau malu
(Vander Zanden, 1975: 79).
Dengan mengamati diri kita, sampailah kita pada gambaran dan penilaian diri kita.
Ini disebut konsep diri. Walaupun konsep diri merupakan tema utama psikologi
Humanistik yang muncul belakangan ini, pembicaraan tentang konsep diri dapat
dilacak sampai William James. James membedakan antara “The I” diri yang sadar
dan aktif dan “The Me” diri yang menjadi objek renungan kita. Pada psikologi sosial
yang berorientasi pada sosiologi, konsep diri dikembangkan oleh Charles Horton
cooley (1864 – 1929), George herbert Mead (1863 – 1931) dan memuncak pada
aliran interaksi simbolis yang tokoh terkemukanya adalah Herbert Blumer. Di
kalangan Psikologi sosial yang berorientasi pada psikologi, konsep diri tenggelam
ketika Behaviorisme berkuasa. Pada tahun 1943, gordon E. Allport menghidupkan
kembali konsep diri. Pada teori motivasi Abraham Maslow (1967, 1970) dan Carl
Rogers (1970) konsep diri muncul sebagai tema utama Psikologi Humanistik.
William D. Brooks mendefinisikan konsep diri sebagai “those physical, social and
psycological perceptions of ourselves that we have derived from experiences and
our interactions of ourselves that we have derived from experiences and our
interaction with others” (1974: 40). Jadi konsep diri adalah pandangan dan perasaan
kita tentang diri kita. Persepsi tentang diri ini boleh bersifat psikologi sosial dan fisis
2016
2
Human Relation
Amin Shabana, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
secara teoritis dan eksperimental tersebut.
Teori Self Disclosure dalam Human Relations
Pencetus teori ini adalah Joseph Luft. Sering disebut teori “Johari Window” atau
Jendela Johari. Para pakar psikologi kepribadian menganggap bahwa model teoritis
yang dia ciptakan merupakan dasar untuk menjelaskan dan memahami interaksi
antarpribadi secara manusiawi. Garis besar model teoritis Jendela Johari dapat
dilihat dalam gambar berikut ini.
Saya Tahu
Saya Tidak Tahu
Orang Lain Tahu
1. TERBUKA
2. BUTA
Orang Lain Tidak Tahu
3. TERSEMBUNYI
4. TIDAK KENAL
Jendela Johari terdiri dari 4 bingkai. Masing-masing bingkai berfungsi menjelaskan
bagaimana tiap individu bisa memahami diri sendiri maka dia bisa mengendalikan
sikap dan tingkah lakunya di saat berhubungan dengan orang lain.
1. Bingkai
1,
menunjukkan
orang
yang
terbuka
terhadap
orang
lain.
Keterbukaan itu disebabkan dua pihak (saya dan orang lain) sama-sama
mengetahui informasi, perilaku, sikap, perasaan, keinginan, motivasi,
gagasan, dan lain-lain. Johari menyebutnya “bidang terbuka”, suatu bingkai
yang paling ideal dalam hubungan dan komunikasi antar pribadi.
2. Bingkai 2, adalah bidang buta. “Orang Buta” merupakan orang yang tidak
mengetahui banyak hal tentang dirinya sendiri namun orang lain mengetahui
banyak hal tentang dia.
3. Bingkai 3, disebut “bidang tersembunyi” yang menunjukkan keadaan bahwa
pelbagai hal diketahui diri sendiri namun tidak diketahui orang lain.
4. Bingkai 4, disebut “bidang tidak dikenal” yang menunjukkan keadaan bahwa
pelbagai hal tidak diketahui diri sendiri dan orang lain.
Model Jendela Johari dibangun berdasarkan 8 asumsi yang berhubungan dengan
perilaku manusia. Asumsi-asumsi itu menjadi landasan berpikir para kaum
humanistik.
2016
3
Human Relation
Amin Shabana, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
1. Asumsi pertama, pendekatan terhadap perilaku manusia harus dilakukan
secara holistik. Artinya kalau kita hendak menganalisa perilaku manusia maka
analisis itu harus menyeluruh sesuai konteks dan jangan terpenggal-penggal.
2. Asumsi kedua, apa yang dialami seseorang atau sekelompok orang
hendaklah dipahami melalui persepsi dan perasaan tertentu meskipun
pandangan itu subjektif.
3. Asumsi ketiga, perilaku manusia lebih sering emosional bukan rasional.
Pendekatan humanistik terhadap perilaku sangat menekankan betapa
pentingnya hubungan antara faktor emosi dengan perilaku.
4. Asumsi keempat, setiap individu atau sekelompok orang sering tidak
menyadari bahwa tindakan-tindakannya dapat menggambarkan perilaku
individu atau kelompok tersebut. Oleh karena itu, para pakar aliran humanistik
sering mengemukakan pendapat mereka bahwa setiap individu atau
kelompok
perlu
meningkatkan
kesadaran
sehingga
mereka
dapat
mempengaruhi dan dipengaruhi orang lain.
Hubungan Human Relations dengan Prestasi Kerja
Kepuasan kerja akan mendorong karyawan untuk berprestasi lebih baik. Prestasi
yang lebih baik akan menimbulkan imbalan ekonomi dan psikologis yang lebih tinggi.
Apabila imbalan tersebut dipandang pantas dan adil maka timbul kepuasan yang
lebih besar karena karyawan merasa bahwa mereka menerima imbalan sesuai
dengan prestasinya. Sebaliknya apabila imbalan dipandang tidak sesuai dengan
tingkat prestasi maka cenderung timbul ketidakpastian. Menurut Robbins (2001:179)
menyatakan bahwa “ Kepuasan kerja sebagai suatu sikap umum seorang individu
terhadap
pekerjaannya”.
Menurut
Handoko
(2000:193)
menyatakan
bahwa
kepuasan kerja (job satisfaction) adalah keadaan emosional yang menyenangkan
atau tidak menyenangkan dengan mana karyawan memandang pekerjaan mereka.
Pendapat tersebut dapat dipahami bahwa karyawan harus ditempatkan pada
pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan dan latar belakang ketrampilannya.
Menurut Davis (2002:105) menyatakan bahwa “ kepuasan kerja merupakan
seperangkat perasaan pegawai tentang menyenangkan atau tidak menyenangkan
pekerjaan mereka”.
2016
4
Human Relation
Amin Shabana, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Jadi kepuasan kerja mengandung arti yang sangat penting, baik dari sisi pekerja
maupun perusahaan serta bagi masyarakat secara umum. Oleh karena itu maka
menciptakan keadaan yang bernilai positif dalam lingkungan kerja suatu perusahaan
mutlak merupakan kewajiban dari setiap jajaran pimpinan perusahaan yang
bersangkutan. Menurut Herzberg (2000:107) mengembangkan teori kepuasan yang
disebut teori dua faktor yaitu faktor yang tidak merasa puas (dissatisfier) dan faktor
orang yang merasa puas (sasstisfier) artinya ketidak puasan dan kepuasan bukan
merupakan variabel yang kontinyu. Penelitian awal Herzberg menghasilkan dua
kesimpulan khusus mengenai teori tersebut yaitu:
1. Kondisi ekstrinsik, keadaan pekerjaan (job confext) yang menghasilakn
ketidak puasan dikalangan karyawan jika kondisi tersebut tidak ada, jika
kondisi tersebut ada maka tidak perlu memotivasi karyawan.
2. Kondisi Instrinsik, isi pekerjaan (job contact) yang apabila ada dalam
pekerjaan tersebut akan menggerakkan tingkat motivasi yang kuat, yang
dapat menghasilkan prestasi kerja yang baik. Jika kondisi tersebut tidak ada
maka tidak akan menimbulakn rasa ketidak puasan yang berlebihan.
Faktor-faktor dalam Hubungan antar Manusia
1.
Faktor yang mendasari interaksi social Interaksi sosial melibatkan individu
secara fisik maupun psikologis. Faktor utama dalam proses internalisasi
antara lain:
a. Imitasi adalah keadaan seseorang yang mengikuti sesuatu di luar dirinya/
meniru. Hal yang perlu diperhatikan sebelum meniru adalah mempunyai
minat dan perhatian yang besar, sikap menjunjung tinggi, pandangan meniru
akan memperoleh penghargaan sosial yang tinggi.
b. Sugesti adalah proses individu menerima cara pandang orang lain tanpa
kritik
lebih
dulu.
Syarat
untuk
mempermudah
sugesti
adalah:
(1) Hambatan berpikir, akibat rangsangan emosi proses sugesti diterima
secara
langsung.
(2) Pikiran terpecah-pecah/disasosiasi, mengalami pemikiran yang terpecah2016
5
Human Relation
Amin Shabana, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
pecah.
(3) Otoritas/prestise, menerima pandangan dari seseorang yang memiliki
prestise sosial tinggi.
(4)
Mayoritas,
menerima
pandangan
dari
kelompok
mayoritas.
(5) Kepercayaan penuh, penerimaan pandangan tanpa pertimbangan lebih
lanjut.
c. Identifikasi adalah proses yangberlangsung secara sadar, irasional,
berdasar perasaan, dan berkembang bahwa identifikasi berguna untuk
melengkapi sistem norma-norma yang ada. Menurut Sigmund Freud
“identifikasi”
merupakan
cara
belajar
norma
dari
orang
tuanya.
d. Simpati adalah perasaan tertarik individu terhadap orang lain yang timbul
atas dasar penilaian perasaan.
2.
Faktor yang menentukan interaksi social
Cara seseorang melakukan interaksi sosial dengan menggunakan komunikasi
antar individu atau komunikasi interpersonal. Faktor-faktor yang dapat
menumbuhkan
hubungan
personal
yang
baik
antara
lain:
a. Rasa percaya. Secara ilmiah “percaya” didefinisikan mangandalkan
perilaku orang untuk mencapai tujuan yang dikehendaki, yang
pencapaiannya tidak pasti dan dalam situasi yang penuh resiko.
Keuntungan rasa percaya kepada orang lain adalah meningkatkan
komunikasi interpersonal dan mengurangi hambatan interpersonal.
Sejak tahap pertama dalam hubugan interpersonal sampai tahap akhir,
“percaya” menentukan efektifitas komunikasi. Bila klien sudah percaya
kepada kita. Hal ini akan membuka saluran komunikasi, memperjelas
pengiriman dan penerimaan informasi, serta memperluas peluang
komunikan untuk mencapai maksudnya. Hilangnya kepercayaan
kepada orang lain akan menghambat perkembangan hubungan
intrapersonal yang akrab.
2016
6
Human Relation
Amin Shabana, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Faktor yang menumbuhkan rasa percaya:
1) Menerima: kemampuan berhubungan dengan orang lain tanpa menilai dan
berusaha mengendalikan. Menerima adalah sikap yang melihat orang lain sebagai
manusia, sebagai individu yang patut dihargai. Menerima berarti tidak menilai pribadi
orang berdasarkan prilakunya yang tidak kita senangi. Betapapun jeleknya
prilakunya menurut presepsi kita, kita tetap berkomnukasi dengan dia sebagai
personal,
bukan
sebagai
objek.
2) Empati: memahami orang lain yang tidak mempunyai arti emosional bagi kita.
Berempati artinya membayangkan diri kita pada kejadian yang menimpa orang lain.
3) Kejujuran: menyebabkan prilaku kita dapat diduga (predictable). Ini akan
mendorong orang lain untuk percaya pada kita.
b. Sikap suportif.
Sikap yang mengurangi sikap melindungi diri (defensif) dalam komunikasi
yang terjadi dalam interaksi sosial. Orang yang bersikap defensif bila ia tidak
menerima, tidak jujur dan tidak empatis. Dengan sikap defensif komunikasi
interpersonal akan gagal, karena orang defensif akan lebih banyak
melindungi diri dari ancaman yang ditanggapinya dalam situasi komunikasi
ketimbang memahami perasaan orang lain. Jack R. Gibb mengemukakan
enam perilaku yang menimbulkan sikap sportif. Iklim defensif meliputi:
1) Evaluasi dan deskripsi. Evaluasi adalah penilaian terhadap orang lain,
memuji atau mengecam. Deskripsi adalah penyampaian perasaan atau
persepsi tanpa melakukan penilaian.
2) Kontrol dan orientasi masalah. Perilaku kontrol artinya berusaha mengubah
orang lain, mengendalikan, mengubah sikap, pendapat dan tindakannya.
Orientasi masalah adalah mengkomunikasikan keinginan untuk bekerjasama
mencari pemecahan masalah.
2016
7
Human Relation
Amin Shabana, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
3) Strategi dan spontanitas. Strategi adalah penggunaan tujuan atau
manipulasi untuk mempengaruhi orang lain. Spontanitas artinya sikap jujur.
4) Netralitas dan Empati. Netralitas adalah sikap impersonal, memperlakukan
orang lain sebagai objek. Empati artinya memperlakukan orang lain
sebagaimana
mestinya.
5) Superioritas dan persamaan. Superioritas artinya seseorang lebih tinggi
karena
status,
kekuasaan,
kemampuan,
intelektual,
kekayaan
atau
kecantikan. Persamaan adalah sikap memperlakukan seseorang secara
horisontal
dan
demokratis.
6) Kepastian dan Profesionalisme. Individu yang memiliki kepastian bersifat
dogmatis, egois, dan melihat pendapatnya merupakan kebenaran yang
mutlak. Profesionalisme adalah kesediaan meninjau kembali pendapat orang
lain.
b. Sikap terbuka dan sikap tertutup.
1 Menilai pesan secara objektif, dengan menggunakan data-data dan
keajegan
logika.
Menilai
pesan
berdasarka
motif
pribadi
2 Membedakan dengan mudah, melihat nuansa. Berpikir simlisis,
artiya berpikir hitam dan putih tanpa nuansa
3 Berorientasi pada isi. Bersandar lebih banyak pada sumber daripada
isi pesan
4 Mencari informasi pada berbagai sumber. Mencari informasi tentang
kepercayaan orang lain dari sumbernya sendiri, bukan dari sumber
kepercayaan orang lain
5 Lebih bersifat profesional dan bersedia mengubah kepercayaan
2016
8
Human Relation
Amin Shabana, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
6 Mencari pengertian pesan yang tidak sesuai dengan rangkaian
kepercayaan. Menolak, mengabaikan, mendistorsi, dan menolak pesan
yang tidak konsisten dengan system kepercayaan
Teknik-Teknik Hubungan Antar Manusia
Teknik hubungan antar manusia terbagi dalam :
1. Tindakan sosial
Menurut Max Weber, tindakan sosial adalah tindakan seorang individu yang dapat
mempengaruhi individu lain dalam masyarakat. Tindakan sosial dibedakan menjadi :
a. Tindakan rasional instrumental : tindakan yang memperhitungkan kesesuaian
antara cara dan tujuan atau antara efisiensi dengan efektifitas.
b. Tindakan rasional berprestasi nilai : tindakan yang berkaitan dengan nilai dasar
dalam masyarakat.
c. Tindakan tradisional : tindakan yang dilakukan berdasarkan pertimbangan adat
istiadat atau kebiasaan.
d. Tindakan afektif : tindakan yang dilakukan seseorang atau kelompok berdasarkan
perasaan atau emosi.
2. Kontak sosial
Kontak sosial adalah hubungan antara satu pihak dengan pihak lain yang
merupakan terjadinya awal interaksi sosial. Kontak sosial dibedakan :
(a) Cara pihak yang berkomunikasi: baik langsung maupun tidak langsung.
(b) Cara terjadinya: kontak primer maupun kontak sekunder.
3. Komunikasi sosial
Proses komunikasi terjadi saat kontak sosial berlangsung. Secara harfiah
komunikasi merupakan hubungan atau pergaulan dengan orang lain.
4. Teori hubungan antar manusia
Manusia adalah makhluk sosial, artinya manusia hanya akan menjadi apa dan siapa
bergantung ia bergaul dengan siapa. Manusia tidak bisa hidup sendirian, sebab jika
hanya sendirian ia tidak "menjadi" manusia. Dalam pergaulan hidup, manusia
menduduki fungsi yang bermacam-macam. Di satu sisi ia menjadi anak buah, tetapi
2016
9
Human Relation
Amin Shabana, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
di sisi lain ia adalah pemimpin. Di satu sisi ia adalah ayah atau ibu, tetapi di sisi lain
ia adalah anak. Di satu sisi ia adalah kakak, tetapi di sisi lain ia adalah adik.
Demikian juga dalam posisi guru dan murid, kawan dan lawan, buruh dan majikan,
besar dan kecil, mantu dan mertua dan seterusnya.
Ada tiga teori yang dapat membantu menerangkan model dan kualitas hubungan
antar manusia:
a. Teori transaksi (model pertukaran sosial)
HAM berlangsung mengikuti kaidah transaksional, yaitu yaitu apakah masing masing merasa memperoleh keuntungan dalam transaksinya atau malah merugi.
Jika merasa memperoleh keuntungan maka hubungan itu pasti mulus, tetapi jika
merasa rugi maka hubungan itu akan terganggu, putus, atau bahkan berubah
menjadi permusuhan.
b. Teori peran
Pergaulan sosial sudah ada skenario yang disusun oleh masyarakat yang mengatur
apa dan bagaimana peran tiap orang dalam pergaulannya. Dalam skenario itu sudah
“tertulis” seorang Presiden harus bagaimana, seorang gubernur harus bagaimana,
seorang guru harus bagaimana, murid harus bagaimana. Demikian juga sudah
tertulis peran apa yang harus dilakukan oleh suami, isteri, ayah, ibu, anak, mantu,
mertua dan seterusnya. Menurut teori ini, jika seseorang mematuhi skenario, maka
hidupnya akan harmoni, tetapi jika menyalahi skenario, maka ia akan dicemooh oleh
penonton dan ditegur sutradara. Dalam hal ini masyarakatlah sebagi penonton dan
sekaligus sutradara kehidupan.
c. Teori permainan
Klasifikasi manusia terbagi menjadi tiga yaitu anak-anak, dewasa dan orang tua.
Masing-masing individu mempunyai sifat yang khas. Anak-anak itu manja, tidak
mengerti tanggung jawab. Sedangkan orang dewasa, ia lugas dan sadar akan
tanggungjawabnya. Adapun orang tua, ia lebih dapat memahami dan memaklumi
kesalahan orang lain. Tidak ada orang yang merasa aneh melihat anak kecil
menangis terguling-guling ketika minta eskrim tidak dipenuhi, tetapi orang akan
heran jika ada orang tua yang masih kekanak-kanakan. Suasana rumah tangga juga
2016
10
Human Relation
Amin Shabana, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
ditentukan oleh bagaimana kesesuaian orang dewasa dan orang tua dengan sikap
dan perilaku yang semestinya ditunjukkan. Jika tidak maka suasana pasti runyam.
Demikian juga hubungan antara pusat dan daerah, antara atasan dan bawahan.
Aparat Pemerintah mestilah bersikap dewasa, Presiden dan Ketua MPR mestilah
jadi orang tua.
2016
11
Human Relation
Amin Shabana, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
DAFTAR PUSTAKA
Effendi, Onong Uchana. 2000. Ilmu Teori & Filsafat Komunikasi, PT Citra Aditya
Bakti, Bandung
Wibowo, Felicia Dewi, 2006. Analisis Pengaruh Peran Kepemimpinan dan
Pengembangan Karir Terhadap Komitmen Organisasi dalam Meningkatkan Kinerja
Karyawan, Tesis, Program Magister Manajemen, Universitas Diponegoro, Surakarta
Prabowo,Ovisetya, 2008. Analisis Pengaruh Human Relation, Kondisi Fisik
Lingkungan Kerja dan Leadership Terhadap Etos Kerja Karyawan Kantor
Pendapatan Daerah di Pati, skripsi, Program Strata 1 Manajemen, Universitas
Muhammadiyah, Surakarta
Cianni, Mary, dan Donna Wnuck, 1997, Individual Growth and Team Enhancement:
Moving Toward a New Model of Career Development, Academy of Management
excecutive, Vol 11, No.1, 1997
Davis, Keith, 1962, Human Relations at Work, Mc. Graw-Hill Book Company, Ltd.,
Tokyo.
Sumber website :
2016
12
Human Relation
Amin Shabana, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Download