Shading Device dan double skin facade

advertisement
BAB 2
LANDASAN TEORI
2.1
Tinjauan Umum
2.1.1
Pengertian Hotel
Menurut SK Menteri Parpostel Nomor: KM 34/HK103/MPPT 1987,
hotel adalah salah satu jenis akomodasi yang mempergunakan sebagian atau
keseluruhan bagian untuk jasa pelayanan penginapan, penyedia makanan dan
minuman serta jasa lainnya bagi masyarakat umum yang dikelola secara
komersial serta memenuhi persyaratan yang ditetapkan di dalam keputusan
pemerintah.
Menurut the American Hotel and Motel Association (AHMA)
sebagaimana dikutif oleh Steadmon dan Kasavana : Hotel dapat didefinisikan
sebagai sebuah bangunan yang dikelola secara komersial dengan memberikan
fasilitas penginapan untuk umum dengan fasilitas pelayanan sebagai berikut:
pelayanan makan dan minum, pelayanan kamar, pelayanaan barang bawaan,
pencucian pakaian dan dapat menggunakan fasilitas/perabotan dan menikmati
hiasan-hiasan yang ada didalamnya.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa hotel adalah:
a. Menggunakan bangunan fisik.
b. Menyediakan jasa penginapan, makanan dan minuman serta jasa lainnya
c. Diperuntukkan bagi umum
d. Dikelola secara komersial
2.1.2
Klasifikasi Hotel
 Dari segi lamanya tamu hotel tinggal :
o Transit hotel : merupakan hotel dengan lama tinggal tamu rata-rata
semalam.
 Dari segi jumlah kamar (kapasitas) :
15
16
o Medium hotel : merupakan hotel dengan jumlah kamar yang besar
(minimum 300 kamar). Hotel ini biasanya dibangun di daerah dengan
angka kunjungan yang tinggi.
 Dari segi lokasi hotel
Jenis Hotel, dapat dilihat dari lokasi dimana hotel tersebut dibangun,
diantaranya:
o
City hotel : merupakan hotel yang terletak di kota-kota besar terutama
ibu kota. Hotel yang biasanya dihuni oleh para pelaku yang
memanfaatkan fasilitas dan pelayanan yang disediakan oleh hotel
tersebut. Umumnya terletak di pusat kota.
Berikut adalah tabel pembagian hotel menurut Keputusan Direktur Jendral
Pariwisata (1988) berdasarkan fasilitas dan jumlah kamar hotel.
Tabel 2.1 Pengelompokan Hotel Berdasarkan Kelas Bintang
Jenis
*****
****
***
**
*
*Kamar Tidur
*Suite
Min.100
4 kamar
Min. 50
3 kamar
Min. 30
2 Kamar
Min, 20
1 kamar
Min. 15
-
Luas Kamar
20-28m2
18-28m2
18-26m2
18-24m2
*Ruang makan
*Restoran & bar
Min. 2
Min. 1
Min. 2
Min. 1
Min. 2
Min. 1
Min. 2
Min. 1
Function room
Min. 1 dan
pre
function
room
Min. 1
dan pre
function
room
Min. 1 dan
pre function
room
-
-
Kolam
Renang dan
dianjurkan
ditambah
dengan 2
sarana lain
Kolam
Renang dan
dianjurkan
ditambah
dengan 2
sarana lain
Min. 1
sarana
Fasilitas
Rekreasi &
olahraga
Kolam
Kolam
Renang dan
Renang
dianjurkan
dan
ditambah
ditambah
dengan 2
dengan 2
sarana
sarana lain
lain
1820m2
Min. 1
*tdk
wajib
Ruang yang
Min. 3
Min. 3
Min. 1
Min. 1
Min. 1
disewakan
ruangan
ruangan
ruangan
ruangan
ruang
Lounge
Wajib
Wajib
Wajib
Taman
Wajib
Wajib
Wajib
Wajib
Wajib
Sumber : Keputusan Direktur Jendral Pariwisata (1988)
17
Tabel 2.2. Klasifikasi Hotel Berdasarkan Kelas Bintang
Klasifikasi Bintang
Persyaratan
- Jumlah kamar standar, minimum 15 kamar
Hotel bintang 1
- Kamar mandi di dalam
- Luas kamar standar, minimum 20 m2
- Jumlah kamar standar, minimum 20 kamar
- Kamar suite minimum 1 kamar
Hotel bintang 2
- Kamar mandi di dalam
- Luas kamar standar, minimum 22 m2
- Luas kamar suite, minimum 44 m2
- Jumlah kamar standar, minimum 30 kamar
- Kamar suite minimum 2 kamar
Hotel bintang 3
- Kamar mandi di dalam
- Luas kamar standar, minimum 24 m2
- Luas kamar suite, minimum 48 m2
- Jumlah kamar standar, minimum 50 kamar
- Kamar suite minimum 3 kamar
Hotel bintang 4
- Kamar mandi di dalam
- Luas kamar standar, minimum 24 m2
- Luas kamar suite, minimum 48 m2
- Jumlah kamar standar, minimum 100 kamar
- Kamar suite minimum 4 kamar
Hotel bintang 5
- Kamar mandi di dalam
- Luas kamar standar, minimum 26 m2
- Luas kamar suite, minimum 52 m2
Sumber : Akomodasi Perhotelan (2008)
Hotel tidak lepas dari aktifitas penghuni didalamnya, karekter
pengunjung sebuah hotel akan menunjukkan dan menentukan kegiatan dalam
sebuah hotel, dalam karya ilmiah ini pengunjung dengan karakter pebisnis dan
wisatawan merupakan sasaran utama perancangan.
18
Berikut adalah tabel karakter kegiatan pengunjung hotel dari buku Hotel
Planning and Design :
Tabel 2.3 Karakter pengunjung hotel
Jenis
Pengunjung
Grup
Perseorangan
Karakter
Pengunjung
Single atau
double
 Menginap 2-4
malam
75% pria dan
25 % wanita
 Harga tidak
dipermasalahk
an
Single
 Menginap 1-2
malam
85% pria dan
15% wanita
 Sangat
memperhitung
kan biaya
Tujuan
Konvensi dan
konverensi
Perkumpulan
profesional
Rapat
pelatihan dan
perdagangan
 Kerjasama
bisnis
 Perdagangan
 Konvensi
dan
konverensi
Tipe Kamar
King, twin,
double-double
Kamar mandi
yang memiliki
area ganti
pakaian
Terdapat
Area kerja
yang baik
 King
 Kamar
mandi
standar
dengan
shower
 Terdapat
area kerja
Sumber : Hotel Planning and Design
2.1.3 Pembagian Area Hotel
Secara prinsip, aktivitas dalam hotel dibagi menjadi 4 area, yaitu:
 Area Privat, merupakan area yang bersifat khusus dan digunakan untuk
kegiatan pribadi dimana hanya orang tertentu yang dapat masuk ke dalam dan
dengan izin dari pihak yang menggunakannya/memilikinya, seperti kamar
tidur tamu, kantor pengelola, dll.
 Area semi publik, merupakan area penghubung antara area publik dan area
privat, yang dimiliki bersama oleh sejumlah orang dengan kepentingan yang
sama, seperti lobby, restoran, function room, dll.
 Area publik, merupakan area yang terbuka secara umum, dimana semua
orang dapat mengakses dan menggunakan area tersebut, seperti taman, area
parkir, pedestrian, dll.
 Area servis, merupakan area berupa fasilitas toilet, mekanikal dan area khusus
karyawan.
19
Secara fungsional perancangan sebuah hotel terdapat 2 faktor utama
didalamnya yaitu pembagian antara 2 area penting Front of the house dan
Back of the house dimana akan dijelaskan sebagai berikut :
1. Front of the house adalah area karyawan yang berhadapan langsung
dengan tamu. Ruangan yang termasuk dalam area front of the house adalah:
a. Front desk & Concierge
b. Area reservasi dan kasir
c. Room service
d. Area lift
e. Retail
f. Restoran
g. Function room
2. Back of the house adalah area karyawan yang berada di area servis dan
terpisah dengan area tamu. Ruangan yang termasuk dalam area back of the
house adalah:
a. Dapur dan gudang
b. Area bongkar muat (receiving area)
c. Area pegawai
d. Laundry dan housekeeping
e. Mekanikal dan elektrikal
2.1.4
Hotel Bintang 4
Berdasarkan Keputusan Menteri Parpostel nomor KM.37/PW/MPPT-86
Hotel bintang 4 memiliki persyaratan dan klasifikasi sebagai berikut :
Tabel 2.4 Syarat minimal Hotel bintang 4
Fasilitas
Kamar tidur
Keterangan
 Minimum 50 kamar standar luas 24 m²/ kamar.
 Minimum 3 kamar suite dengan luas 48 m²/ kamar.
 Tinggi minimum 2.6 m tiap lantai.
 Dilengkapi dengan pengatur suhu kamar di dalam
bedroom
Dinning room
 Mempunyai minimum 2 buah dinning room, salah
satunya berupa coffee shop
20
 Bila tidak berdampingan dengan lobby, maka harus
dilengkapi dengan kamar mandi/WC sendiri.
 Apabila
Bar
berupa
ruang
tertutup
maka
harus
dilengkapi ac
 Lebar ruang kerja bartender setidaknya 1 meter
Ruang Fungsional
 Minimum terdapat 1 buah pintu masuk yang terpisah
dari lobby dengan kapasitas minimum 2.5 kali
jumlah kamar.
 Dilengkapi dengan toilet apabila tidak satu lantai
dengan lobby.
 Terdapat pre function room.
 Mempunyai luas minimal 100 m².
Lobby
 Dilengkapi dengan lounge.
 Terdapat dua toilet umum untuk pria dan tiga toilet
umum untuk wanita dengan perlengkapannya lebar
koridor minimum 1,6 m.
 Minimum terdapat drugstore, bank, money
Drug store
changer, biro perjalanan, air line agent, souvenir
shop, perkantoran, butik dan salon.
 Tersedia poliklinik
 Tersedia paramedis
Sarana
rekreasi
dan  Minimum satu buah dengan pilihan: tenis, bowling,
golf, fitnes, sauna, billiard, jogging, diskotik, taman
olahraga
bermain anak
 Terdapat kolam renang dewasa yang terpisah
dengan kolam renang anak
 Terdapat diskotik/night club dengan AC dan toilet
Utilitas penunjang
 Terdapat transportasi vertikal (lift).
 Dilengkapi dengan instalasi air panas/ dingin pada
kamar mandi kamar hotel.
 Dilengkapi dengan telepon lokal dan interlokal.
 Dilengkapi sentral video/TV, radio, paging,
carcall.
Sumber : Panduan Perancangan Bangunan Komersial (2008)
21
Kesimpulan tinjauan umum dalam klasifikasi proyek hotel ini yaitu :
Tabel 2.5. Klasifikasi Proyek Hotel Bintang 4 Puri Indah Jakarta Barat
DAFTAR KLASIFIKASI
PENJELASAN
Berdasarkan Kelas
Hotel bintang empat (****)
Berdasarkan Ukuran
Hotel Sedang/Medium hotel
Berdasarkan Lokasi
City Hotel
Berdasarkan Area
Urban Hotel
Berdasarkan maksud kunjungan tamu Berlibur dan Berbinis
2.2
Studi Banding
Kesimpulan Studi Banding (Terlampir)
Jakarta Novotel Mangga Dua, Red Top Hotel, dan Grand Tropic Hotel.
Kesimpulan :
 Hotel terletak dekat dengan pusat kota dan berdetakan dengan pusat bisnis
seperti perkantoran dan pusat belanja, sehingga mudah dalam pencapaian
dan mendukung pelaku wisatawan.
 Memiliki rata-rata jumlah 314 kamar
 Bentuk massa bangunan umumnya persegi panjang atau memanjang dan
tanpa adanya balkon.
 Orientasi bangunan dominan menghadap arah view terbaik atau disesuaikan
dengan orientasi lingkungan dan tapak.
 Bentuk dan fasad bangunan disesuaikan dengan arah terhadap matahari.
 Rata-rata minimal terdapat 3 jenis kamar : standart, superior, dan suite.
 Sasaran utamanya adalah pebisnis dan wisatawan (lokal dan mancanegara).
 Fasilitas disesuaikan dengan perimbangan harga, luas site, kebutuhan standar
pengguna, dan sebagai daya tarik pengunjung.
 Sesuai standar bangunan tinggi terdapat lift dan tangga darurat
 Harga hotel dengan kelas bintang yang sama, relatif memiliki harga yang
tidak jauh berbeda.
22
Kesimpulan Studi Banding
Kantor Kementrian Pekerjaan Umum dan Hotel Rivera (Terlampir)
Dari studi literatur dan studi banding pada proyek sejenis, maka dapat diambil
sebuah kesimpulan informasi yang dapat digunakan untuk perancangan hotel
bintang 4 ini, hal tersebut antara lain :
 Fasilitas yang cukup diperlukan pada hotel di daerah perkotaan adalah ruang
meeting, berdasarkan hasil studi banding kebutuhan ruang meeting cukup
intensif digunakan.
 Penggunaan shading device dan double skin facade pada dinding maupun
jendela saat ini cukup efektif dimanfaatkan pada bangunan, sebagai
pereduksi radiasi matahari yang masuk ke dalam ruangan.
 Salah satu upaya penghematan energi listrik dapat dilakukan dengan
penggunaan memanfaatkan reflektor dan pemanfaatan lampu listrik berdaya
watt rendah pada gedung Kementrian Pekerjaan Umum.
2.3
Tinjauan Khusus
2.3.1 Environmentally Sustainable, Healthy, and Liveable Human Settlement
Topik besar dalam perancangan tugas akhir ini yaitu Sustainable Human
Settlements Development yang berarti pembangunan pemukiman manusia
yang berkelanjutan. Terdapat 11 pembagian pada topik besar, dimana salah
satu topik kecil yang di pilih oleh penulis yaitu Environmentally sustainable,
healthy and liveable human settlements. Dalam rangka mempromosikan
lingkungan yang berkelanjutan yang mendukung tempat tinggal yang memadai
untuk pemukiman manusia yang berkelanjutan bagi generasi sekarang dan
masa depan. Pada perkembangan kehidupan saat ini dimana perubahan sikap
dan pola konsumsi pada energi dalam desain bangunan dan lingkungan.
Bangunan yang berkelanjutan dapat di capai dengan pemanfaatan energi yang
inovatif, efisien, dan baik yang diperlukan untuk mengurangi dampak negatif
terhadap lingkungan. Kontribusi dan tingkat penggunakan manusia terhadap
energi yang terus-meneurs meningkat, apabila tidak di tanggapi dengan
perancangan bangunan yang berkelanjutan dapat menimbulkan kerusakan pada
lingkungan.
23
2.3.2
Sustainable Building
Sustainable building adalah bangunan yang dirancang, dibangun dan
dioperasikan dengan sekecil mungkin dampaknya terhadap lingkungan, atau
memberi dampak positif terhadap lingkungan, seraya meningkatkan kesehatan,
kesejahteraan
dan
kualitas
hidup
penghuni/pemakainya.
(Lighthouse
Sustainable Building Centre;2005).
Definisi Sustainable building yang muncul pertama kali di tahun 1987,
pada the UN Brundtland Report, menyebutkan definsi resminya adalah
‘mempertemukan kebutuhan generasi saat ini terhadap kemampuan generasi
mendatang dalam memenuhi kebutuhannya. Forum yang ‘mendeklarasikan’
definisi ini adalah suatu forum dimana dialog publik diadakan dan selanjutnya
semakin aktif dan penting dikemudian hari.
Terdapat empat asas dalam pembangunan berkelanjutan menurut Frick
(2007, p.125), yang dua diantaranya masuk dalam tinjauan yang digunakan
dalam karya ilmiah ini antara lain :
1.
Asas 1 : menggunakan bahan baku alam yang tidak lebih cepat daripada
alam mampu membentuk penggantinya. Prinsi-prinsipnya antara lain :
 Meminimalkan penggunaan bahan baku
 Mengutamakan penggunaan bahan yang dapat diperbaharui dan dapat
digunakan kembali.
 Meningkatkan efisiensi – efisiensi akan penggunaan energi, dan
penggunaan energi yang lebih sedikit.
2.
Asas 2 : menciptakan sistem yang menggunakan sebanyak mungkin energi
terbarukan, prinsip-prinsipnya antara lain :
 Menggunakan energi surya.
 Menggunakan energi dalam tahap banyak yang kecil dan bukan dalam
tahap besar yang sedikit.
 Meminimalkan pemborosan
Tapak di Puri Indah yang merupakan lokasi dengan iklim tropis, iklim
tropis dengan arsitektur tropisnya yang merupakan suatu karya arsitektur yang
mampu
mengantisipasi
problematik
yang
ditimbulkan
iklim
tropis
(T.H.Karyono, 2007). Iklim tropis adalah iklim dimana panas merupakan
24
masalah yang dominan pada hampir keseluruhan waktu dengan suhu rata-rata
per tahunnya tidak kurang dari 20°C (Koenigsberger, 1975:3).
Berikut adalah aplikasi rancangan arsitektur pada iklim tropis yang
dilandasi konsep desain berkelanjutan (Tri Harso Karyono, 2007):
1.
Meminimalkan perolehan panas matahari
 Menghalangi radiasi matahari langsung pada dinding-dinding
transparan melalui penerapan solar shading.
 Orientasi bangunan utara-selatan, untuk meminimalkan permukaan
bangunan yang terkena radiasi matahari dari sisi timur dan barat.
 Warna dan tekstur dinding luar bangunan
2.
Organisasi ruang
 Penempatan ruang servis pada sisi barat, karena dinding ruang di
bagian barat akan mendapatkan radiasi matahari siang dan sore yang
sangat tinggi sehingga dapat membuat ruang di dalamnya menjadi
panas.
3.
Hindari radiasi matahari memasuki bangunan atau mengenai bidang kaca,
melalui penempatan bukaan berupa jendela terhadap arah datang sinar
matahari.
4.
Memanfaatkan radiasi matahari tidak langsung untuk menerangi ruang
dalam bangunan.
 Memaksimalkan cahaya langit sebagai sumber pencahayaan alami di
dalam bangunan.
5.
Rancangan ruang luar
 Pembayangan radiasi matahari oleh vegetasi sekitar bangunan.
 Meminimalkan penggunaan material keras (beton, aspal) untuk menutup
permukaan halaman, taman atau parkir.
Menurut Lippsmeier (1994), ciri-ciri daerah beriklim tropis basah diantaranya
adalah:
 Radiasi
dan
panas
matahari
tinggi
yakni
berkisar
1500-2500
kwh/m2/tahun.
 Sebagian radiasi matahari dipantulkan dan sebagian disebarkan oleh
selimut awan, meski demikian radiasi matahari yang mencapai permukaan
25
bumi berdampak pada kenaikan suhu udara.
 Terjadi fluktuasi perbedaan temperatur udara harian dan tahunan. Rata-rata
temperatur maksimum tahunan adalah 30,5°C. Temperatur rata-rata
tahunan untuk malam hari berkisar 21°C27°C sedangkan selama siang hari
berkisar 27°C-32°C.
Dari data literatur tersebut, maka pada perancangan hotel ini akan diterapkan
beberapa hal diantaranya :
1.
Menggunakan shading device pada jendela atau fasade bangunan untuk
mengurangi sinar radiasi matahari.
2.
Posisi pada tapak yang memanjang mengakibatkan bagian memanjang
akan banyak mengenai pancaran radiasi matahari yang banyak dan besar
maka mengoptimalkan posisi gubahan massa terhadap tapak.
3.
Menggunakan warna dan tekstur bangunan luar yang tidak banyak
menyerap radiasi matahari sehingga tidak menyebabkan suhu ruang
menjadi panas.
4.
Mengoptimalkan masuknya cahaya langit bukan cahaya langsung
matahari.
5.
Mengatur perletakan ruang, dimana area ruang utama lebih di
prioritaskan untuk menghindari posisi yang terkena simar matahari
secara langsung pada sisi barat, dengan menempatkan area servis pada
sisi bangunan yang menghadap bagian timur-barat.
6.
Memaksimalkan vegetasi untuk sekitar tapak, selain memperoleh
pembayangan pada sisi bangunan juga menyaring udara dari luar tapak
ke dalam gedung.
Perancangan hotel memperhatikan kriteria hemat energi yang dimana
merupakan bagian dari Arsitektur hijau. Menurut Tri Harso Karyono (2010),
arsitektur hijau merupakan suatu rancangan lingkungan binaan, kawasan, dan
bangunan yang komprehensif. Rancangan harus memenuhi kriteria hemat
dalam menggunakan energi dan sumber daya alam, minim menimbulkan
dampak negatif, serta mampu meningkatkan kualitas hidup manusia.
26
Menurut Brenda dan RobertVale dalam buku Green Architecture Design
for A Sustainable, prinsip dari green architecture atau arsitektur hijau adalah
a.
Hemat Energi / conserving energy
Meminimalkan penggunaan bahan bakar atau energi listrik dalam
pengoperasian bangunan.
b.
Memperhatikan kondisi iklim / working with climate
Dalam perancangan bangunan perlu pertimbangan berdasarkan iklim yang
berlaku dilokasi tapak.
c.
Minimizing new resources
Merancang bangunan dengan mengoptimalkan kebutuhan sumber daya
alam yang baru atau dengan penggunaan material bangunan yang tidak
berbahaya bagi lingkungan, ekosistem, dan sumber daya alam.
d.
Respect for site
Bangunan yang akan dibangun sebaiknya tidak merusak kondisi tapak
aslinya, dan tidak merusak lingkungan sekitar yang ada.
e.
Respect for user
Dalam merancang sebuah bangunan sebaiknya memperhatikan pengguna
bangunan agar semua kebutuhan penggunan dapat terpenuhi.
f.
Holism / menetapkan prinsip green architecture
Prinsip-prinsip green architecture dapat digunakan berdasarkan dari
kebutuhan bangunan.
2.3.3 Efisiensi Energi
Menurut Taylor dalam bukunya Handbook of Energy Efficiency and
Renewable Energy (2007) menyatakan bahwa penggunaan energi dari
bangunan di dominasi oleh pengaruh iklim karena panas yang diperoleh dari
konduksi langsung dari sumber panas atau infiltrasi/ekfiltrasi udara melalui
permukaan bangunan mencapai 50-80% dari energi yang dikonsumsi.
Hemat energi berlandaskan pada pemikiran meminimalkan penggunaan
energi tanpa membatasi atau merubah fungsi bangunan, kenyamanan maupun
produktivitas penghuninya. Arsitektur hemat energi berdasarkan pada prinsip
konservasi energi (sumber yang tidak terbarukan) yang menciptakan istilah
forms follows energy (Sumber: Energy-efficient Architecture, Paradigma dan
Manifestasi Arsitektur Hijau, Jimmy Priatman, 2002).
27
Desain hemat energi diartikan sebagai perancangan bangunan untuk
meminimalkan penggunaan energi tanpa membatasi fungsi bangunan maupun
kenyamanan atau produktivitas penghuninya. “Designing building to minimize
the usage of energy without constraining the building function nor the
comfort of productivity of occupants..” (Hawkes Dean, 2002).
Arsitektur Hemat energi menurut, Tri Harso Karyono (2007), adalah:
Kondisi dimana energi dikonsumsi secara hemat (minimal), tanpa harus
mengorbankan kenyamanan fisik manusia.
Perancangan sebuah bangunan yang hemat energi merupakan salah satu
aspek dalam mewujudkan arsitektur berkelanjutan, menurut Ken Yeang (2006)
“Ecological design, is bioclimatic design, design with the climate of the
locality, and low energy design.” yang menekankan perancangan pasif yang
berbasis pada integrasi kondisi ekologi setempat, iklim makro dan mikro,
kondisi tapak, program bangunan, konsep desain dan sistem yang tanggap pada
iklim, penggunan energi yang rendah.
Perancangan suatu bangunan yang sadar energi, menurut Ken Yeang
dalam bukunya. The Green Skyscraper (Yeang, 2000), menyatakan
bahwa terdapat beberapa parameter yang menjadi konsep dasar desain sadar
energi, yaitu:
1. Kenyamanan Thermal
Bagaimana bangunan dapat mengontrol perolehan sinar matahari
sesuai dengan kebutuhannya. Bangunan yang berada pada iklim dingin
harus mampu menerima radiasi matahari yang cukup untuk pemanasan,
sedangkan bangunan yang berada pada iklim panas, harus mampu
mencegah radiasi matahari secukupnya untuk pendinginan.
2. Kenyamanan Visual
Membahas mengenai bagaimana bangunan dapat mengontrol
perolehan cahaya matahari (penerangan) sesuai dengan kebutuhannya.
3. Kontrol Lingkungan Pasif
Dilakukan untuk mencapai kenyamanan thermal maupun visual
dengan memanfaatkan seluruh potensi iklim setempat yang dikontrol
dengan elemen – elemen bangunan (atap, dinding, lantai, pintu, jendela,
aksesoris, lansekap) yang dirancang tanpa menggunakan energi (listrik).
4. Kontrol Lingkungan Aktif
28
Dilakukan untuk mencapai kenyamanan thermal dan visual dengan
memanfaatkan potensi iklim yang ada dan dirancang dengan bantuan
teknologi maupun instrumen yang menggunakan energi (listrik).
5. Kontrol Lingkungan Hibrid
Dilakukan untuk mencapai kenyamanan thermal maupun visual
dengan kombinasi pasif dan aktif untuk memperoleh kinerja bangunan yang
maksimal.
2.3.4 Shading Device
Menurut Dubois (1997), shading device adalah sebuah perangkat untuk
mengurangi perolehan panas matahari yang berhubungan dengan penggunaan
energi pada sistem pemanas, pendingin, dan pencahayaan untuk mencapai
kenyamanan visual dan thermal.
2.3.4.1 Sun Shading
Menurut Lechner (2001), Sun shading merupakan salah satu elemen,
strategi, dan cara untuk mencapai kenyamanan thermal didalam bangunan
dengan melakukan pembayangan pada fasad bangunan.
 Perlindungan terhadap cahaya matahari
Intensitas cahaya matahari umumnya memberikan cahaya yang
berlebihan pada ruangan, untuk menghindarinya di perlukan penghalang
sinar matahari langsung, antara lain dengan penyediaan selasar disamping
bangunan, pembuatan atap tritisan atau pemberian sirip pada jendela.
Prinsip perlindungan terhadap cahaya matahari langsung adalah dengan
tujuan untuk penyaringan cahaya atau penciptaan pembayangan.
Gambar 2.1 Sun shading
Sumber : google image search
29
Perlindungan tetap terhadap pembukaan dinding dapat dicapai dengan
penonjolan atap yang cukup luas atau dengan sirip tetap yang horisontal,
tegak, atau keduanya. Dengan ukuran tertentu sirip menghindari sinar panas
matahari yang masuk dari pembukaan dinding.
Gambar 2.2 Jenis-jenis sun shading
Sumber : google image search
Jenis-Jenis Sun shading yang umum digunakan antara lain :
Gambar 2.3 Horizontal sun shading
Sumber : google image search
Horizontal device provide shade based on the altitude angle of the sun.
Most commonly seen in the form of overhangs, they are particulary effective
for shading north and south building elevation. Horizontal devices let in lowangle sunlight and block high-angle sunlight; their effectiveness varies
seasonally with the changing solar altitude (Olgyay, NJ, 1957.)
Bentuk horisontal memberikan pembayangan berdasarkan suduk
matahari. Paling sering berbentuk overhang. Bentuk horisontal paling efektif
untuk membayangi bagian utara dan selatan pada tampak bangunan. Bentuk
horisontal memasukkan sinar matahari pada sudut rendah dan menghalau sinar
30
pada sudut matahari yang tinggi. Tingkat keefektifannya bergantung pada
perubahan ketinggian matahari (Olgyay, NJ, 1957).
Gambar 2.4 Vertical sun shading
Sumber : google image search
Vertical devices provide shade based on the bearing angle of the sun.
Their effectiveness varies diurnally, as the sun moves around the horizon.
Vertical devices have the ability to block low-angle sun, and consequently they
are often used o openings facing east or west. Blocking low-angle sun also
block views, and since the sun bearing changes about 15 degrees per hour, a
substansial amount of view may be blocked. Adjustable vertical devices can be
responsive to the changes in sun angle (Olgyay, NJ, 1957.)
Bentuk vertikal memberikan pembayangan pada sudut matahari yang
besar. Efektivitas hariannya bervariasi, saat matahari bergerak sekitar
cakrawala. Bentuk vertikal memiliki kemampuan untuk menghalau sudut
matahari yang rendah dan sering digunakan pada sisi bagian timur dan barat.
Menghalau sudut matahari rendah berarti menghalau pandangan keluar, hal ini
dikarenakan pergerakan setiap 15 derajat per jam sehingga dapat menutupi
pemandangan keluar, Tingkat keefektifannya bergantung pada perubahan
ketinggian matahari (Olgyay, NJ, 1957).
2.3.5 Double Skin Facade
Penggunaan Double Skin Facade pertama kali digunakan dan diuji di
Swiss oleh arsitek Le Corbusier di awal abad ke 20. Ide pertamanya adalah
(dinding penetral) yang meliputi penyisipan pemanasan / pendinginan antara
lapisan kaca. Sistem ini diperkenalkan dalam bukunya Villa Schwob (La
31
Chaux-de-Fonds, Swiss, 1916), dan uji coba untuk beberapa proyek lain,
termasuk Liga Bangsa-bangsa (1927), Centrosoyuz
bangunan (Moskow,
1928-1933), dan Cité du Refuge ( Paris , 1930). Insinyur Amerika yang belajar
sistem informasi pada tahun 1930 ini mengatakan bahwa proyek-proyek
tersebut akan menggunakan lebih banyak energi daripada sistem udara
konvensional, tetapi Harvey Bryan kemudian menyempurnakan ide Le
Corbusier terkait dengan sinar matahari.
Fasad ganda atau Double Skin Fasade berperan sebagai sitem pendingin
bangunan, menurut Claessens dan DeHerde (Poirazis, 2004) "Double Skin
Fasade adalah tambahan selubung bangunan yang dipasang pada bagian fasad,
berupa tambahan fasad dan biasanya bersifat transparan. Ruang yang terdapat
di antara kulit kedua dan fasad asli adalah sebuah zona penyangga yang
berfungsi untuk melindungi bangunan. Ruang ini juga berfungsi sebagai buffer
untuk pelindung dari panas yang dipancarkan oleh radiasi matahari, dan
tergantung pada orientasi dari fasade”.
Kragh, (2000) menggambarkan Double Skin Facade sebagai "sebuah
sistem yang terdiri dari lapisan eksternal, adanya rongga ventilasi dan lapisan
internal. Penangkal surya diposisikan dalam rongga ventilasi. Lapisan
eksternal dan internal dapat menjadi kaca tunggal atau kaca ganda, kedalaman
rongga dan jenis ventilasi tergantung pada kondisi lingkungan, kinerja
selubung yang diinginkan dan desain keseluruhan bangunan termasuk sistem
lingkungan.
Saelens, (2002) menjelaskan Double Skin Facade, adalah fasad ganda
konstruksi selubung bangunan, yang terdiri dari dua permukaan transparan
dipisahkan oleh rongga, yang digunakan sebagai saluran udara.
Berkaitan dengan sistem energi, Double skin Facade (DSF) memiliki
peran dalam mengurangi kebutuhan pendinginan ruang selama musim panas,
mengurangi kebutuhan pemanasan selama musim dingin (pada negara-negara
di Eropa), dan mengurangi beban pendinginan/pemanasan yang memuncak, di
samping itu fungsi pencahayaan juga tetap dipertimbangkan, memungkinkan
cahaya alami untuk dapat masuk ke dalam ruangan sebagai pengganti cahaya
buatan (Poirazis, 2004).
Ruang udara antara lapisan kaca berfungsi sebagai isolasi terhadap suhu
ekstrem, angin, dan suara. Perangkat shading terletak antara dua kulit. Semua
32
elemen dapat diatur secara berbeda dan kombinasi dari membran padat dan
kaku".
Terdapat 3 jenis sistem dasar dari double skin facade yaitu :
1.
Buffer system
Sistem ini merupakan isolasi dan diciptakan untuk mempertahankan
cahaya matahari ke dalam bangunan sambil meningkatkan isolasi dan sifat
suara dari sistem dinding. Menggunakan dua lapisan kaca tunggal berjarak
250-900 mm terpisah, disegel dan memungkinkan udara segar ke dalam
gedung melalui cara-cara terkontrol
atau box type windows yang
memotong melalui kulit ganda secara keseluruhan. Perangkat shading
dapat dimasukkan dalam rongga. Contoh modern dari jenis ini adalah
Occidental Chemical / Hooker Bangunan di Air Terjun Niagara, New
York. Gedung ini memungkinkan asupan udara segar di dasar rongga
udara dan exhausts di bagian atas.
Gambar 2.5 Buffer System
Sumber: Terri Meyer Boake, The Tectonics of the Double Skin
2.
Extract air system
Satu dari lapisan double skin facade ditempatkan pada interior
sebuah fasade utama. Ruang udara antara dua lapisan kaca menjadi bagian
dari sistem HVAC. Udara yang terkandung dalam sistem ini menggunakan
sistem HVAC. Pada sistem ini udara segar dipasok secara mekanis.
Perangkat shading sering dipasang di rongga. Rongga kaca bekisar sekitar
150 mm sampai 900 mm dan merupakan fungsi dari ruang yang diperlukan
untuk mengakses rongga untuk membersihkan. Sistem ini digunakan
ketika ventilasi alami tidak memungkinkan terjadi (misalnya di lokasi
dengan suara tinggi, angin atau asap).
33
Gambar 2.6 Extract Air System
Sumber: Terri Meyer Boake, The Tectonics of the Double Skin
3.
Twin face system
Sistem ini terdiri dari dinding tirai konvensional atau sistem dinding
termal di dalam kaca tunggal kulit bangunan. Sistem ini harus memiliki
ruang interior minimal 500 sampai 600 mm untuk memungkinkan
pembersihan. Sistem ini berbeda dari Buffer System dan Extract Air System
dengan memasukkan udara dari bukaan di kulit untuk memungkinkan
ventilasi alami.
Kulit kaca pada bagian luar berfungsi untuk menghalau /
memperlambat angin dalam gedung bertingkat tinggi dan memungkinkan
bukaan interior untuk akses udara segar tanpa kebisingan. Jendela pada
fasade interior dapat dibuka. Penggunaan jendela dapat digunakan untuk
malam hari sebagai pendinginan ruangan dengan demikian mengurangi
beban pendinginan sistem HVAC bangunan. Untuk kontrol suara, bukaan
di kulit luar dapat ditempatkan jauh dari jendela pada fasad interior.
Contoh penggunaan sistem ini pada menara di Jerman RWE yang
melambangkan sebuah bangunan Twin Face System.
34
Gambar 2.7 Twin Face System
Sumber: Terri Meyer Boake, The Tectonics of the Double Skin
Gambar berikut menunjukkan mekanisme pergerakan aliran udara dan
pengaruh radiasi matahari pada sistem Double Skin Facade.
Gambar 2.8 Twin Face System
(Sumber: Cheol-Soo Park, 2003)
Sistem fasad ganda terdiri dari kaca eksterior ganda, sebuah kaca interior,
rongga dengan inlet aliran udara dikontrol / outlet, dan Louver berputar
terkendali dalam rongga. Pengembangan model fisik dan matematis untuk
sistem ini membutuhkan suatu penelitian dari proses transportasi panas dalam
geometri sebagai berikut :
1.
Radiasi matahari langsung, difusi, dan refleksi
2.
Radiasi gelombang panjang antara permukaan
3.
Perpindahan panas konvektif
4.
Gerakan udara melalui inlet / outlet dan rongga
35
Berikut ini adalah contoh penggunaan double skin facade yang cukup berhasil
pada gedung Capital Gate di Abu Dhabi.
Gambar 2.9 Double Facade System
(Sumber: Terri Meyer Boake, 2012)
Penelitian yang dilakukan oleh Terri Meyer Boake (2012), menunjukkan
bahwa penggunaan sistem double facade di hotel pada gambar 2.7 diatas dapat
menurunkan suhu di dalam ruangan, suhu luar sebesar 460C saat masuk ke
dalam ruangan berkurang menjadi 230C. Jarak antara double skin dengan
dinding kaca cukup besar sehingga memungkinkan akses untuk perawatan dan
pembersihan.
Beberapa fungsi fasad ganda yaitu (Knaack, 2007):
 Pemisah ruang dalam dan ruang luar
 Memasukkan cahaya sekaligus melindungi dari panas matahari di saat yang
sama
 Sebagai akses view ke dalam dan ke luar bangunan
 Sebagai isolator terhadap panas, dingin, dan kebisingan
 Bisa menyerap, mendorong, atau membelokkan angin
 Sebagai sirkulasi udara
 Perlindungan dari hujan
 Menangani kelembaban dari dalam dan luar bangunan

Keuntungan Penggunaan Double Skin Facade
Menurut Hariz Poirazia (2004) penggunaan double skin facade memiliki
kelebihan dan kekurangan diantaranya :
Kelebihan penggunaan double skin facade :
36
1.
Biaya lebih murah, dibandingkan dengan solusi yang ditawarkan dengan
penggunaan electrochromic, panel Thermochromicatau photochromic.
Walaupun penggunaan panel-panel tersebut sangat menjanjikan namum
panel-panel tersebut sangat mahal. Sebaliknya penggunaan double skin
façade dapat memperoleh kualitas yang bervariasi tergantung dari
koordinat dan komponen-komponen lainnya.
2.
Insulasi Akustik, berdasarkan jurnal-jurnal dari berbagai penulis, insulasi
akustik adalah salah satu alasan penting mengapa konsep double skin
façade digunakan. Penggunaan selubung bangunan atau secondary skin
ini, dapat mengurangi kebisingan didalam bangunan dengan dan juga dari
luar bangunan ke dalam bangunan sebagai contoh kebisingan yang
dihasilkan dari kemacetan jalanan. Jager, (2003) menyatakan untuk
insulasi suara dengan penggunaan jarak minimal 100 mm.
3.
Insulasi Thermal: banyak penulis mengklaim bahwa sistem selubung
bangunan menawarkan insulasi thermal yang baik untuk musim dingin dan
musim panas.
o
Selama Musim Dingin, kulit luar tambahan memberikan kenaikan
kualitas insulasi dengan mengurangi pelepasan panas pada bangunan.
Stec and Paassen “Controlled Double Façades and HVAC” pada
tahun 2000, menuliskan tentang kemampuan aspek pre-heating pada
double skin façade. “Angka paling tinggi dari effiseiensi pemulihan
panas ditemukan pada rongga yang lebih tipis. Rongga yang tipis
memiliki kepadatan udara yang lebih tinggi di dalamnya oleh karena
itu pada rongga yang tipis terdapat koefisien transfer panas yang lebih
tinggi”. Thus, “saat musim dingin, rongga yang tipis lebih berguna
karena rongga yang tipis tersebut dapat mengatur aliran udara di
dalamnya lebuh baik untuk effiensi pemanasan melalui ventilasi
udara”.
o
Saat Musim Panas, udara panas didalam rongga dapat di buang bila
rongga tersebut berventilasi (secara natural ataupun mekanik). Untuk
ventilasi yang tepat dari rongga udara, sangat penting untuk
mengkombinasikan antara tipe panel dengan tipe shading sehingga
tidak tercipta panas pada rongga dan bagian dalam bangunan.
37
4.
Ventilasi pada malam hari, pada saat hari-hari di musim panas, saat
panas dilar bangunan lebih dari 26o C ada kemungkinan untuk suhu ruang
di dalam bangunan menjadi berlebihan. Pada kasus ini, selubung bangunan
dapat menyimpan suhu yang lebih rendah dengan menggunakan ventilasi
alami. Dikutip dari Lee, dkk (2002) “Selubung bangunan di desian untuk
memungkinkan ventilasi pada malam hari, dengan alasan keamanan dan
proteksi dari hujan sebagai keuntungan utama”
5.
Penghematan Energi dan mengurangi dampak pada lingkungan,
Prinsipnya selubung bangunan dapat menghemat energi juga di desain
dengan tepat. Dikutip dari Oesterle, dkk.,(2001) “sebuah angka yang
signifikan bisa diperoleh hanya bila selubung bangunan mengadakan
ventilasi pada jendela atau dimana penggunaan natural dimanfaatkan.
Dengan menghindarkan penggunaan sistem udara mekanik pasokan listrik
untuk udara dapat dikurangi.
6.
Proteksi yang lebih baik untuk pembayangan dan Perlengkapan
Penerangan, oleh karena pembayangan dan perlengkapan penerangan
diletakan di bagian dalam dari rongga selubung bangunan, sehingga
terhindar dari angin dan juga hujan.
7.
Reduksi dari tekanan angin, pada high rise bulding selubung bangunan
bisa berfungsi untuk mereduksi tekanan angin.
8.
Transparancy – Desain arstiektural, Lee, dkk., (2002) menyatakan “
double skin façade adalah sebuah phenomena yang terjadi di arsitektur
Eropa didorong oleh gairah dari estetika untuk kaca sebagai keseluruhan
fasad”
9.
Ventilasi Natural, salah satu keuntungan dari penggunaan selubung
bangunan
adalah
dengan
pengaplikasian
selubung
bangunan
memungkinkan ventilasi alami terjadi.
10. Kenyaman thermal, Pada saat musim dingin udara dalam bangunan akan
terasa lebih hangat karena udara hangat terisolasi didalam bangunan,
sedangkan pada musim panas selubung berfungsi sebagai pengahalan sinar
matahari langusng sehingga bangunan tidak menyerap panas sinar
matahari.
38
Tabel 2.6 Keuntungan penerapan Double Skin Facade
Sumber: Hariz Poirazia (2004)

Kerugian Penggunaan Double Skin Facade
1. Harga Konstruksi lebih mahal, dibandingkan dengan penggunaan fasade
yang konvensional. Dikutip dari Oesterle, dkk,. (2001) “ Tak seorangpun
yang dapat membantah bahwa penggunaan kulit kedua pada bangunan akan
lebih murah dari pada penggunaan kulit bangunan single: konstruksi dari
lapisan terluar dan jarak antara kedua kulit akan membuat bentuk awal
menjadi lebih baik.
2. Mengurangi area bangunan, pada bangunan kantor dimana tataguna lahan
harus dimaksimalkan, penggunaan selubung bangunan akan mengurangi
space tersebut untuk instalasi kulit bangunan itu sendiri, sehingga luasan
area di dalamnya menjadi berkurang.
3. Maintenance dan biaya operasional, jika dibandingkan dengan bangunan
yang hanya menggunakan lapisan single pada bangunan, mudah di lihat
bahwa penggunaan selubung bangunan lebih membutuhkan uang lebih
banyak dalam hal konstruksi, pembersihan, operasi, inspeksi servis dan juga
maintenance.
4. Permasalahan Overheat, seperti telah dijelaskan diatas, jika kulit bangunan
tidak di desain secara tepat maka sangat memungkinkan udara pada rongga
39
akan memanaskan ruangan dalam bangunan. Jager (2003) menyatakan
bahwa, untuk menghindari overheat panel harus paling sedikit berjarak 200
mm.
5. Kenaikan kepadatan aliran udara di dalam rongga, seringkali pada
bangunan bertingkat tinggi. Berbagai kemungkinan tekanan udara alami
terjadi melalui rongga bangunan.
6. Peningkatan Berat Struktur, Penambahan kulit bangunan tentu saja akan
menambah berat pada struktur bangunan sehingga mempengaruhi biaya
struktur.
Tabel 2.7 kerugian penerapan Double Skin Facade
Sumber: Hariz Poirazia (2004)
Kesimpulan Tinjauan Khusus :
1. Proses perancangan perlu memperhatikan faktor iklim, pada perancangan
ini berada pada iklim tropis.
2. Iklim tropis dimana radiasi matahari yang tinggi mempengaruhi
penggunaan energi pada bangunan.
3. Penghematan dan penggunaan energi yang efisien perlu diperhatikan
dalam bangunan.
4. Penggunaan selubung bangunan dan penangkal radiasi surya matahari
dapat menggunakan sun shading dan double skin facade.
5. Penggunaan sun shading akan diperuntukkan pada area yang tidak terlalu
banyak terkena radiasi surya, sedangkan penggunaan double skin facade
difungsikan pada bagian fasad yang banyak terkena paparan radiasi surya.
40
2.4 Kerangka Berpikir
PEMILIHAN TOPIK:
Environmentally, Sustainable, Healthy, and Liveable Human Settlement
Prinsip dasar
sustainable
architecture
dalam
bangunan
dengan
pertimbangan
penghematan
energi.
LATAR BELAKANG PROYEK
Hotel sebagai sarana tempat
penginapan sementara untuk
wisatawan.
MAKSUD dan TUJUAN
Perencanaan dan Perancangan Hotel di kawasan CBD
Puri Indah sebagai sarana akomodasi penunjang
kegiatan wisatawan
Sustainable design
Hotel
Sistematika
pereduksian
radiasi
matahari
yang di
kembangkan
melalui
desain
shading
device dan
double skin
facade
Shading Device dan
double skin facade
PERMASALAHAN
Pemanfaatan energi yang tidak
berkelanjutan dengan pemakaian energi
yang besar pada bangunan.
Permasalahan radiasi matahari yang
menyebabkan besarnya suhu ruang.
ANALISA
Menganalisa permasalahan dan mencari solusi
untuk menjawab permasalahan yang kemudian
akan diterapkan pada proses perancangan
KONSEP PERANCANGAN
Kesimpulan hasil dari analisa
terhadap data yang didapatkan dan
dianalisa
SKEMATIK DESAIN
PERANCANGAN
Studi hotel
yang ada
di Jakarta
Data fisik,
studi
literature,
lokasi tapak,
analisa
dengan
software
Download