Pengaruh Iklim terhadap Insidens Malaria di Provinsi

advertisement
HASIL PENELITIAN
Pengaruh Iklim terhadap Insidens Malaria di Provinsi
Lampung
Apriliana
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati, Bandar Lampung
Dokter Internsip RSK. Bhakti Wara, Pangkalpinang, Indonesia
ABSTRAK
Malaria merupakan penyakit demam karena infeksi parasit yang ditularkan oleh nyamuk Anopheles betina. Di Indonesia insidens malaria menurun
dari tahun 2010 – 2011, namun di Provinsi Lampung justru meningkat. Faktor lingkungan, khususnya iklim sangat berpengaruh pada sebaran
dan kejadiannya, yang mungkin sekali juga terjadi di Provinsi Lampung. Penelitian ini menggunakan analisis regresi linear untuk mengetahui
faktor iklim dominan yang mempengaruhi insidens malaria. Data insidens malaria per bulan selama 3 tahun (2010 – 2012) diambil dari Dinas
Kesehatan Provinsi Lampung, sedangkan data iklim (curah hujan, hari hujan, temperatur udara, kelembapan udara, arah, dan kecepatan angin)
didapatkan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Pada musim hujan periode bulan Januari – April, unsur iklim yang
berpengaruh terhadap insidens malaria adalah arah dan kecepatan angin bulan Januari, Februari, dan April. Pada musim kemarau periode
bulan Mei – Oktober, temperatur udara dan kelembapan udara merupakan faktor dominan yang berpengaruh terhadap insidens malaria.
Meningkatnya temperatur sebesar 1oC akan menurunkan insidens malaria sebesar 0,096‰ [koefisien regresi (β) = -0,096; p = 0,025]. Sebaliknya
meningkatnya 1 poin kelembapan akan meningkatkan sebanyak 0,009‰ [(β) = 0,009; p = 0,017]. Pada musim hujan periode bulan November
– Desember, unsur iklim yang berpengaruh terhadap insidens malaria adalah arah dan kecepatan angin bulan Desember. Dapat disimpulkan
bahwa terdapat perbedaan unsur iklim yang berpengaruh terhadap insidens malaria pada setiap musim di Provinsi Lampung.
Kata kunci: Angin, hujan, kelembapan, malaria, temperatur
ABSTRACT
Malaria is a fever diseases cause of parasite infected by female Anopheles mosquito. Malaria incidence in Indonesia from 2010 to 2011had
decreased, while in Lampung Province showed an increasing pattern. The environment factors, especially climate are very influential to its
spreading and incidence, and it is also possible in Lampung Province. The data on malaria incidence per month for 3 years (2010 – 2012) were
taken from the Health Department of the Lampung Province, while climate data (rain fall, rain days, temperature, humidity, wind direction and
wind velocity) were obtained from the Meteorology, Climatology, and Geophysics Agency (BMKG). Linear regression was used to determine the
dominant factors related to the malaria incidence. In January until April rainy season period, climate factors that influenced malaria incidence
are wind direction and wind velocity in January, February, and April. In May until October dry season period, temperature and air humidity are
the dominant factors on malaria incidence. The increase of 1oC of air temperature will reduce the malaria incidence by 0,096‰ [regression
coefficient (β) = -0,096; p = 0,025]. While the increase of one point of air humidity will increase the malaria incidence by 0,009‰ [(β) = 0,009; p =
0,017]. In November until December rainy season period, climate factors that influence malaria incidence are wind direction and wind velocity
in December. This research concludes that the influence of climate on malaria incidence in Lampung Province is different in every season.
Apriliana. Influence of Climate on Malaria Incidence in Lampung Province
Keywords: Humidity, malaria, rain, temperature, wind
PENDAHULUAN
Malaria merupakan salah satu re-emerging
diseases di banyak negara, yaitu penyakit yang
pernah turun lalu meningkat kembali, dengan
penderita mencapai 300 – 500 juta orang dan
kasus kematian mencapai kurang lebih 1 juta
orang setiap tahun termasuk anak – anak.1
World
Health
Organization
(WHO)
mengestimasi setengah populasi di dunia
berisiko terkena infeksi malaria. Pada tahun
2012, malaria terdapat secara merata di 104
negara dan wilayah teritorial, yang menjurus
kepada daerah endemik malaria. Di tahun
2010, terdapat sekitar 219 juta kasus malaria di
seluruh dunia, dengan estimasi peningkatan
insidens global sebesar 17% antara tahun
2000 dan 2010. Kematian akibat malaria di
tahun 2010 mencapai 660.000 orang dan
86% di antaranya adalah balita, di mana
sebagian besar terjadi di negara – negara di
Afrika. Angka ini tidak berbeda jauh dengan
angka kejadian ataupun angka kematian
(case fatality rate, CFR) di tahun 2011; WHO
Telah dipresentasikan pada Research Paper and Poster Competition 2nd Indonesia International (bio)Medical Students’ Congress (INAMSC) 2014 di Universitas Indonesia, Jakarta, Indonesia
Alamat Korespondensi
464
email: [email protected]
CDK-254/ vol. 44 no. 7 th. 2017
HASIL PENELITIAN
mengestimasi akan terjadi peningkatan angka
insidens kasus malaria sebesar 274 juta kasus
dan bertambahnya angka kematian menjadi
1,1 juta orang.2,3
Data Kemenkes RI menunjukkan API di
Indonesia dari tahun 2010 – 2011 turun dari
1,95 per 1000 penduduk menjadi 1,75 per
1000 penduduk. Namun, di Provinsi Lampung
justru meningkat; dari tahun 2010 – 2011,
API meningkat dari 0,32 per 1000 penduduk
menjadi 0,46 per 1000 penduduk. Situasi
malaria berdasarkan angka malaria klinis
atau annual malaria incidence (AMI) per 1000
penduduk di Provinsi Lampung tahun 2007 –
2009 berturut – turut adalah 7,27‰, 6,48‰,
dan 5,33‰.4-6
Pada tahun 2008, dilakukan mass blood survey
(MBS) untuk menentukan parasite rate (PR)
di 14 provinsi (Sumatera Barat, Kepulauan
Riau, Bengkulu, Riau, Sumatera Selatan,
Lampung, Jambi, Bangka Belitung, Nusa
Tenggara Barat, Maluku Utara, Papua Barat,
Papua, Maluku, Nusa Tenggara Timur) yang
menjadi wilayah kegiatan The Global Fund to
Fight AIDS, Tuberculosis and Malaria (GF ATM).
Pada MBS dilakukan pemeriksaan sediaan
darah mikroskopik dan rapid diagnostic test
(RDT). Hasil MBS menunjukkan bahwa Provinsi
Lampung masuk dalam 10 besar kasus positif
tertinggi, yaitu sebanyak 15.644 orang.4
Lampung merupakan pintu gerbang
Pulau Sumatera, memiliki posisi geografis
berdekatan dengan DKI Jakarta yang menjadi
pusat perekonomian negara.7 Sebagian besar
daerah di Provinsi Lampung berdekatan
dengan pantai, sehingga dimanfaatkan untuk
tambak ikan ataupun udang. Banyaknya
habitat perkembangbiakan larva Anopheles
ini menjadi pemicu pesatnya perkembangan
Anopheles serta
meningkatkan
risiko
penularan malaria di Provinsi Lampung.
Selain itu, dengan makin terbukanya jalan
keluar masuk Provinsi Lampung, perlu
adanya pengendalian penyakit ini agar tidak
menjadi sumber penularan ke daerah lain di
Indonesia, terutama Pulau Jawa, dan juga agar
produktivitas Lampung tetap terjaga.6,7
Perubahan
iklim
berpengaruh
terhadap kesehatan dan juga terhadap
perkembangbiakan vektor penyakit seperti
nyamuk Anopheles, Aedes, dan lainnya,
sehingga berpotensi meningkatkan kejadian
CDK-254/ vol. 44 no. 7 th. 2017
berbagai penyakit yang ditularkan melalui
nyamuk (seperti malaria dan demam
berdarah dengue). Pengaruh perubahan iklim
tersebut ikut mengancam usaha pencapaian
Target Pembangunan Milenium (Millennium
Development Goals – MDGs), yang salah satunya
Gambar 1. Grafik pengaruh curah hujan terhadap insidens malaria di provinsi Lampung tahun 2010-2012
Gambar 2. Grafik pengaruh hari hujan terhadap insidens malaria di provinsi Lampung tahun 2010-2012
Gambar 3. Grafik pengaruh temperatur udara terhadap insidens malaria di provinsi Lampung tahun 20102012
Gambar 4. Grafik pengaruh kelembaban udara terhadap insidens malaria di provinsi Lampung tahun 20102012
465
HASIL PENELITIAN
adalah menghentikan penyebaran dan
mengurangi kejadian insidens malaria, dilihat
dari indikator menurunnya angka kesakitan
dan angka kematian akibat malaria. Kemenkes
RI membagi pencapaian target eliminasi
malaria ke dalam 4 tahap berdasarkan wilayah
teritorial, dan Provinsi Lampung yang berada
di wilayah Pulau Sumatera, bersama NTB,
Kalimantan, dan Sulawesi termasuk target
eliminasi tahap 3 yang ditargetkan tercapai
di tahun 2020.4,8,9 Musim pancaroba atau
peralihan dari musim panas ke musim hujan,
dianggap berbahaya karena memungkinkan
nyamuk menyebar ke wilayah – wilayah baru,
seperti yang terjadi di tahun El Nino 1997
ketika nyamuk berpindah ke dataran tinggi di
Papua; naiknya temperatur udara mengubah
pola – pola vegetasi, sehingga serangga
seperti nyamuk akan mampu bertahan di
wilayah – wilayah yang sebelumnya terlalu
dingin untuk perkembangbiakan nyamuk.8
Perubahan iklim ini ditengarai sebagai
penyebab meningkatnya populasi nyamuk
dan penyebarannya ke wilayah – wilayah
baru di Provinsi Lampung, sehingga menjadi
salah satu faktor kejadian malaria yang terus
meningkat.8
METODE
Desain penelitian ini berupa studi ekoepidemiologi, merupakan penelitian analitik
observasional tanpa perlakuan menggunakan
pendekatan studi kohort retrospektif.10
Penelitian dilakukan di Provinsi Lampung,
pada 23 Desember 2013 sampai dengan
30 Januari 2014. Populasi penelitian berupa
Variabel
kecepatan angin, sehingga hasil analisis
arah dan kecepatan angin terhadap insidens
malaria pada penelitian ini adalah berdasarkan
analisis peneliti dengan membuat pemetaan
data arah angin datang dan kecepatan angin
dari BMKG Stasiun Meteorologi Masgar secara
manual.
Data yang digunakan merupakan data
sekunder. Data insidens malaria per bulan
di Provinsi Lampung tahun 2010 – 2012
didapatkan dari Dinas Kesehatan Provinsi
Lampung. Data iklim per bulan yang meliputi
data curah hujan, hari hujan, temperatur
udara, kelembapan udara, kecepatan dan arah
angin di Provinsi Lampung tahun 2010 – 2012
didapatkan dari BMKG (Badan Meteorologi
Klimatologi dan Geofisika) Stasiun Klimatologi
Masgar Lampung. Penelitian ini hanya
berdasarkan data dari institusi – institusi
pemerintah tersebut. Seluruh analisis statistik
menggunakan program SPSS 20.0.
HASIL PENELITIAN
Seluruh data yang dianalisis berjumlah 252
data, yang terdistribusi pada musim hujan
periode bulan Januari – April sebanyak 84
data (33,33%), musim kemarau periode bulan
Mei – Oktober sebanyak 126 data (50,00%),
dan musim hujan periode bulan November –
Desember sebanyak 42 data(16,67%).
Analisis pengaruh arah dan kecepatan
angin terhadap insidens malaria dilakukan
berdasarkan pemetaan data arah dan
kecepatan angin di Provinsi Lampung secara
manual menggunakan peta yang dibuat
dengan program Photoshop. Arah angin
pada penelitian ini diukur menggunakan alat
Azimuth yang mengukur arah angin datang.
Arah angin ini merupakan arah angin yang
diukur dari ketinggian 10 m di atas permukaan
daratan tempat pengukuran atau 71 m di
atas permukaan laut. Penyebaran malaria
dapat terjadi pada ketinggian tersebut karena
nyamuk Anopheles dapat bertahan sampai
ketinggian 2000 m di atas permukaan laut.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
pengaruh unsur iklim terhadap insidens
malaria di Provinsi Lampung.
Musim Hujan Curah Hujan
(Jan-Apr)
Hari Hujan
data insidens malaria, data curah hujan,
hari hujan, temperatur udara, kelembapan
udara, kecepatan dan arah angin di Provinsi
Lampung Tahun 2010 – 2012. Pengambilan
sampel menggunakan non-random sampling,
sehingga sampel untuk penelitian ini adalah
total populasi.
Belum ada indikator yang menentukan jarak
yang dapat dicapai nyamuk berdasarkan
R
R2
Persamaan Garis
p
-
-
-
0,797
-
-
-
0,451
Temperatur Udara
-
-
-
0,064
Kelembaban Udara
-
-
-
0,766
-
-
-
0,137
-
-
-
0,894
Temperatur Udara
0,525
0,276
Y=3,073-0,096T ± 0,0803
0,025
Kelembaban Udara
0,553
0,306
Y=-0,241+0,009RH ± 0,0786
0,017
-
-
-
0,413
Musim Panas Curah Hujan
(Mei-Okt)
Hari Hujan
Musim Hujan Curah Hujan
(Nov-Des)
Hari Hujan
-
-
-
0,413
Temperatur Udara
-
-
-
0,168
Kelembaban Udara
-
-
-
0,552
Tabel. Tabel hasil uji korelasi dan analisis regresi linier sederhana variabel curah hujan, hari hujan, temperatur
udara, dan kelembaban udara terhadap insidens malaria di provinsi Lampung
466
Grafik pada Gambar 1 memperlihatkan
pengaruh curah hujan terhadap insidens
Malaria di Provinsi Lampung tahun 2010 –
2012. Jumlah minimum curah hujan yang
terjadi selama 2010 – 2012 sebesar 0 mm3
dan maksimum sebesar 439 mm3. Terlihat
bahwa pola peningkatan ataupun penurunan
curah hujan tidak secara signifikan diikuti oleh
perubahan insidens malaria.
Grafik pada Gambar 2 memperlihatkan
pengaruh hari hujan terhadap insidens
malaria di Provinsi Lampung tahun 2010
– 2012. Jumlah minimum hari hujan yang
terjadi selama 2010 – 2012 sebanyak 1 hari
dan maksimum sebanyak 31 hari. Terlihat
bahwa pola perbedaan hari hujan tidak secara
signifikan diikuti perbedaan insidens malaria.
Grafik pada Gambar 3 memperlihatkan
pengaruh temperatur udara terhadap
insidens malaria di Provinsi Lampung tahun
2010 – 2012. Kisaran temperatur udara
selama 2010 – 2012 antara 26,00 – 28,80oC.
Terlihat insidens malaria berbanding terbalik
dengan temperatur udara, pada beberapa
titik peningkatan insidens malaria berkaitan
dengan penurunan temperatur udara dan
sebaliknya.
Grafik pada Gambar 4 memperlihatkan
pengaruh kelembapan udara terhadap
insidens malaria di Provinsi Lampung tahun
2010 – 2012. Kisaran kelembapan udara
selama 2010 – 2012 antara 69 – 87%. Terlihat
insidens malaria berbanding lurus dengan
kelembapan udara, pada beberapa titik
pola peningkatan insidens malaria berkaitan
dengan peningkatan kelembapan udara,
CDK-254/ vol. 44 no. 7 th. 2017
HASIL PENELITIAN
dan pada pola penurunan insidens malaria
berkaitan dengan penurunan kelembapan
udara.
Tabel memperlihatkan hasil analisis data yang
menunjukkan adanya perbedaan unsur iklim
yang berpengaruh terhadap insidens malaria
di masing – masing musim.
Gambar 5 memperlihatkan prakiraan
pengaruh arah dan kecepatan angin rata
– rata terhadap insidens malaria di Provinsi
Lampung pada musim hujan periode bulan
Januari – April. Angin yang berpengaruh
terhadap insidens malaria adalah angin di
bulan Januari, Februari, dan April. Di bulan
Januari, angin datang dari arah 293o dengan
kecepatan 8 mil/jam, melewati wilayah Way
Kanan ke arah Pesawaran. Pada bulan Januari
ini rata – rata insidens Malaria di Pesawaran
lebih tinggi dari Way Kanan. Di bulan Februari,
angin datang dari arah 272o dengan kecepatan
7 mil/jam, melewati Lampung Barat ke arah
Pesawaran. Di bulan April, angin datang
dari arah 288o dengan kecepatan 5 mil/jam,
melewati Lampung Barat ke arah Pesawaran.
Pada bulan Februari dan April ini rata – rata
insidens malaria di Pesawaran lebih tinggi dari
Lampung Barat.
Gambar 6 memperlihatkan prakiraan
pengaruh arah dan kecepatan angin rata
– rata terhadap insidens malaria di Provinsi
Lampung pada musim kemarau periode
bulan Mei – Oktober. Angin yang berpengaruh
terhadap insidens malaria adalah angin di
bulan Desember, angin datang dari arah
271o dengan kecepatan 5 mil/jam, melewati
wilayah Lampung Barat ke arah Pesawaran.
Pada bulan Desember ini rata – rata insidens
malaria di Pesawaran lebih tinggi dari
Lampung Barat.
Gambar 5. Prakiraan pengaruh arah dan kecepatan angin rata –rata terhadap insidens malaria di provinsi
Lampung musim hujan periode bulan Januari - April
Gambar 6. Prakiraan pengaruh arah dan kecepatan angin rata –rata terhadap insidens malaria di provinsi
Lampung musim kemarau periode bulan Mei - Oktober
Gambar 7 memperlihatkan prakiraan
pengaruh arah dan kecepatan angin rata
– rata terhadap insidens malaria di Provinsi
Lampung musim hujan periode bulan
November – Desember. Angin pada musim
panas periode bulan Mei – Oktober ini tidak
berpengaruh terhadap insidens malaria di
Provinsi Lampung.
DISKUSI
Uji statistik menunjukkan tidak ada korelasi
antara curah hujan dan insidens malaria (p >
0,05), baik di musim hujan maupun musim
kemarau.
CDK-254/ vol. 44 no. 7 th. 2017
Gambar 7. Prakiraan pengaruh arah dan kecepatan angin rata –rata terhadap insidens malaria di provinsi
Lampung musim hujan periode bulan November - Desember
467
HASIL PENELITIAN
Hasil penelitian ini serupa dengan simpulan
Zhang bahwa curah hujan tidak dapat
menjadi faktor prediksi insidens malaria di
Yongchen (p <0,05). Hal ini dapat terjadi
karena hubungan nonlinear yang kompleks
antara curah hujan dan insidens malaria. Curah
hujan yang moderat dapat menyebabkan
genangan air dan meningkatkan kelembapan,
sehingga
mendukung
pertumbuhan
dan perkembangbiakan nyamuk, namun
curah hujan berlebih justru dapat merusak
tempat perkembangbiakan nyamuk dan
menghilangkan telur – telurnya.11 Penelitian
serupa oleh Marwiyah di Kabupaten
Banjarnegara mendapatkan hasil tidak adanya
hubungan antara curah hujan dan kejadian
Malaria di Kabupaten Banjarnegara.12
Namun, penelitian ini tidak sejalan dengan
hasil penelitian Arsin yang menyatakan
terdapat korelasi kuat antara curah hujan dan
kasus malaria klinis.13 Penelitian Yudhastuti di
daerah berbatasan (Kabupaten Tulungagung
dengan Kabupaten Trenggalek) juga
mendapatkan ada hubungan antara curah
hujan dan insidens malaria.14 Perbedaan hasil
penelitian ini dapat disebabkan oleh adanya
perbedaan metode dan periode waktunya.
Hujan menaikkan kelembapan nisbi udara
dan menambah tempat perkembangbiakan
nyamuk, sehingga dapat meningkatkan
insidens malaria. Terdapat hubungan
langsung antara hujan dan perkembangan
larva nyamuk menjadi bentuk dewasa.
Genangan air akibat curah hujan yang lebat
akan menyediakan tempat perkembangbiakan
stadium telur, jentik, dan kepompong nyamuk
Anopheles. Namun, besar kecilnya pengaruh
hujan tergantung jenis hujan, derasnya hujan,
banyaknya hujan, jumlah hari hujan, jenis
vektor, dan jenis tempat perindukan/ keadaan
fisik daerah.14-16 Variabilitas curah hujan di
Indonesia sangat kompleks dan merupakan
bagian chaotic dari variabilitas monsun. Hujan
di Indonesia dipengaruhi oleh ENSO yang
besar kecilnya beragam dari satu tempat
ke tempat yang lain. Pengaruh itu sangat
besar pada daerah yang memiliki pola hujan
monsun, seperti sebagian besar wilayah di
Provinsi Lampung ini.17
Sifat khas Tropospheric Biennial Oscillation
(TBO) curah hujan yang merupakan bagian
dari sistem interaksi pasangan (couple) lautandaratan-atmosfer di daerah monsun, yaitu
468
menaikkan curah hujan di satu musim panas
dan menurunkan curah hujan di musim
panas berikutnya, dapat diamati pada data
penelitian curah hujan di musim panas tahun
2010, 2011, dan 2012.17
Hasil statistik menunjukkan tidak ada korelasi
antara hari hujan dan insidens malaria (p
>0,05), baik di musim hujan maupun musim
kemarau. Hasil penelitian ini sejalan dengan
penelitian Marwiyah yang menyatakan tidak
ada hubungan antara hari hujan dan kejadian
malaria di Kecamatan Banjarmangu.12 Namun
penelitian di Accra, Afrika, menyatakan
terdapat hubungan positif antara hari hujan
dan insidens malaria. Perbedaan hasil analisis
dapat disebabkan oleh adanya perbedaan
metode analisis yang digunakan. Hubungan
signifikan di Accra ini juga terjadi karena
adanya hujan dalam kurun waktu yang lama
walaupun dengan jumlah curah hujan yang
sedikit, sehingga menimbulkan banyak
genangan air yang dapat menjadi tempat
perkembangbiakan nyamuk. 18
Di Provinsi Lampung, hari hujan tidak memiliki
korelasi terhadap insidens malaria karena
jumlah hari hujan yang moderat dan pola
hujan yang mengikuti pola hujan monsunal.
Hasil statistik menunjukkan korelasi kuat
antara temperatur udara dan insidens malaria
(R = 0,525; p =0,025) di musim panas periode
bulan Mei – Oktober, peningkatan temperatur
udara sebesar 1oC, dapat memprediksi
terjadinya penurunan insidens malaria
sebesar 0,096‰. Hasil penelitian ini serupa
dengan penelitian Zhang bahwa temperatur
merupakan faktor dominan yang dapat
memprediksi insidens malaria di Yongchen.11
Penelitian ini juga sejalan dengan pendapat
Arsin yang menyatakan terdapat korelasi
antara temperatur udara dengan kasus
malaria klinis,13 dan penelitian Yudhastuti yang
mendapatkan hubungan antara temperatur
udara dan insidens malaria.14 Penelitian Bi juga
menyatakan bahwa temperatur minimum
rata – rata memberi pengaruh paling besar
dibandingkan dengan unsur iklim lainnya (p
<0,0001; R2 = 0,467) di Shuchen, dan analisis
per musim memberikan hasil bahwa insidens
malaria pada musim gugur tidak jauh berbeda
dengan di musim panas, namun sangat
berbeda dengan di musim dingin dan musim
semi.19
Temperatur rata-rata optimum untuk
perkembangan nyamuk adalah 25 – 27OC,
sedangkan temperatur optimum untuk
perkembangan parasit dalam nyamuk adalah
sekitar 20 – 30OC. Makin tinggi temperatur
(sampai batas tertentu) makin pendek masa
inkubasi ekstrinsik (sporogoni) dan sebaliknya
makin rendah temperatur makin panjang
masa inkubasi ekstrinsik.16,20 Kecepatan
perkembangan
nyamuk
tergantung
kecepatan metabolisme yang sebagian besar
diatur oleh temperatur seperti lamanya masa
pra-dewasa, kecepatan pencernaan darah
yang dihisap, pematangan indung telur,
dan frekuensi mengambil makanan atau
menggigit.14 Toleransi terhadap temperatur
tergantung masing – masing spesies
nyamuk, yang pada umumnya tidak akan
mampu bertahan bila temperatur lingkungan
meninggi 5 – 6OC di atas temperatur normal.20
Uji statistik menunjukkan adanya korelasi
kuat antara kelembapan udara dan insidens
malaria (R = 0,553; p =0,017) di musim panas
periode bulan Mei – Oktober, peningkatan 1
poin kelembapan udara, dapat memprediksi
peningkatan insidens malaria sebesar 0,009‰.
Hasil ini serupa dengan hasil penelitian Zhang
yang menyatakan bahwa kelembapan udara
merupakan faktor dominan yang dapat
memprediksi insidens malaria di Yongchen.11
Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian
Yudhastuti yang mendapatkan hubungan
antara kelembapan dan insidens malaria.14
Namun, Arsin menyatakan tidak terdapat
korelasi antara kelembapan udara dan kasus
malaria klinis.13 Perbedaan hasil analisis ini
dapat disebabkan oleh perbedaan metode
analisis.
Kelembapan udara menjadi faktor yang
mengatur lama hidup dan aktivitas nyamuk.
Pada kelembapan rendah (<60%), umur
nyamuk akan menjadi pendek sehingga tidak
cukup untuk siklus pertumbuhan parasit di
dalam tubuh nyamuk. Tingkat kelembapan
60% merupakan batas paling rendah yang
memungkinkan hidup nyamuk. Pada
kelembapan lebih tinggi nyamuk menjadi
lebih aktif dan lebih sering menggigit,
sehingga meningkatkan penularan malaria.
Nyamuk cenderung mencari tempat lembap
dan basah di luar rumah sebagai tempat
hinggap istirahat pada siang hari.14,15,16,20
Kecepatan angin di wilayah penelitian hampir
CDK-254/ vol. 44 no. 7 th. 2017
HASIL PENELITIAN
sebagian besar menghambat penerbangan
nyamuk. Hal ini dapat mengakibatkan nyamuk
tidak dapat bebas terbang ke daerah lain
yang berlawanan dengan arah angin, namun
nyamuk secara pasif dapat ikut terbang
mengikuti arah angin. Secara teoritis, nyamuk
bisa terbang sampai 2 – 3 km, namun dengan
pengaruh angin, jarak terbang nyamuk
bisa mencapai 40 km. Menurut Depkes RI,
kecepatan angin yang dapat menghambat
penerbangan nyamuk adalah 11 – 14 meter/
detik atau 25 – 31 mil/jam, sedangkan
menurut skala Beufort kecepatan angin
sebesar 5,5 – 32,7 mil/jam merupakan jenis
angin kencang yang dapat menghambat
penerbangan nyamuk. Kecepatan dan arah
angin dapat mempengaruhi jarak terbang
nyamuk dan ikut menentukan jumlah kontak
antara nyamuk dan manusia.14,15,16,21
Di Provinsi Lampung, arah angin rata-rata
per musim mengikuti pergerakan angin
muson barat dan angin muson timur. Pada
musim hujan periode bulan Januari – April
dan periode bulan November – Desember
arah angin rata – rata datang dari arah Barat
– Barat Daya mengikuti pergerakan angin
Muson Barat, sedangkan pada musim panas
periode bulan Mei – Oktober arah angin
rata – rata datang dari arah Tenggara –
Selatan mengikuti pergerakan angin muson
Timur. Hasil pemetaan arah angin datang
menyatakan angin yang berpengaruh
terhadap insidens malaria adalah angin pada
musim hujan periode Januari – April, yaitu di
bulan Januari, Februari, dan April, serta angin
pada musim hujan periode bulan November
dan Desember, yaitu di bulan Desember.
Sedangkan angin pada musim panas periode
bulan Mei – Oktober tidak berpengaruh
terhadap insidens malaria di Provinsi
Lampung ini.
Musim hujan bulan Januari, angin datang
dengan kecepatan 8 mil/jam, melewati
wilayah Way Kanan ke arah Pesawaran. Pada
bulan Januari ini rata – rata insidens malaria
di Pesawaran lebih tinggi dari Way Kanan.
Di bulan Februari, angin datang dengan
kecepatan 7 mil/jam, melewati Lampung
Barat ke arah Pesawaran. Di bulan April,
angin datang dengan kecepatan 5 mil/jam,
melewati Lampung Barat ke arah Pesawaran.
Pada bulan Februari dan April ini rata – rata
insidens malaria di Pesawaran lebih tinggi
dari Lampung Barat. Musim hujan bulan
Desember, angin datang dengan kecepatan
5 mil/jam, melewati wilayah Lampung Barat
ke arah Pesawaran. Pada bulan Desember
ini rata – rata insidens malaria di Pesawaran
lebih tinggi dari Lampung Barat. Analisis ini
menunjukkan bahwa arah dan kecepatan
angin mendukung penyebaran malaria di
musim hujan, yang terjadi di bulan Januari,
Februari, April, dan Desember.
Yudhastuti menyatakan bahwa kecepatan
angin di wilayah penelitian tidak menghambat
penerbangan nyamuk, yang dapat disebabkan
oleh faktor topografi dan letak geografis yang
turut mempengaruhi kondisi angin di suatu
wilayah.14 Penelitian serupa oleh Omonijo di
Negara Bagian Ondo, Nigeria, mendapatkan
bahwa peningkatan kecepatan angin sebesar
1 m·s-1 dapat menyebabkan meningkatnya
insidens malaria per bulan sebesar 164 – 171%
baik di daerah savana maupun wilayah hutan
hujan.22
SIMPULAN
Pada setiap musim terdapat perbedaan unsur
iklim yang berpengaruh terhadap insidens
malaria di Provinsi Lampung. Di musim hujan,
unsur iklim yang berpengaruh terhadap
insidens malaria adalah arah dan kecepatan
angin sedangkan di musim kemarau, unsur
iklim yang berpengaruh adalah temperatur
dan kelembapan udara.
DAFTAR PUSTAKA
1. Departemen Kesehatan, Ditjen PP&PL. Informasi pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan. Jakarta: Departemen Kesehatan; 2008
2. Kendall AE. U.S. response to the global threat of malaria: Basic facts in congressional research service [Internet]. 2012;1–2. Available from: https://fas.org/sgp/crs/
misc/R41645.pdf
3. World Health Organization. World malaria report 2012. Switzerland: WHO Press; 2012.
4. Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI. Epidemiologi malaria di Indonesia. Bul Jendela Data dan Informasi Kesehatan Triwulan I; 2011 .p. 7 – 22.
5. Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI. Profil kesehatan Indonesia 2012. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2013 .p. 100 – 2.
6. Suwito. Bioekologi spesies Anopheles di Lampung Selatan dan Pesawaran: Keragaman, karakteristik habitat, kepadatan, perilaku dan distribusi spasial. Bogor: IPB;
2010.
7. BPS Provinsi Lampung. Buku saku provinsi Lampung 2013. Lampung: BPS Provinsi Lampung; 2013.
8. Moediarta R, Stalker P. Sisi lain perubahan iklim. Jakarta: UNDP Indonesia; 2007 .p. 2,5 – 7,10,20.
9. Kusriastuti R. Handbook toward malaria elimination. Jakarta: Directorate of VBDC Directorate General of DC and EH Ministry of Health Republic Indonesia; 2011 .p.
11.
10. Sastroasmoro, Sudigdo. Dasar – dasar metodologi penelitian klinis. 4th ed. Jakarta: Sagung Seto; 2011 .p. 105 – 10.
11. Zhang Y, Liu QY, Luan RS, Liu XB, Zhou GC, Jiang JY, et al. Spatial-temporal analysis of malaria and the effect of environmental factors on its incidence in Yongcheng,
China, 2006–2010. BMC Public Health 2012;12:544.
12. Marwiyah W. Analisa hubungan curah hujan dengan kejadian malaria tahun 2001-2010 di Kecamatan Banjarmangu Kabupaten Banjarnegara [Skripsi]. Semarang:
FKM UNDIP; 2011.
13. Arsin AA, Karim SA. Pola spasial kasus malaria dengan aplikasi sistem informasi geografis (Sig) di Kabupaten Halmahera Tengah 2008. J Masy Epidemiol Indon.
2012;1(2):84 – 9.
14. Yudhastuti R. Gambaran faktor lingkungan daerah endemis malaria di daerah berbatasan Kabupaten Tulungagung dengan Kabupaten Trenggalek. J Kesehatan
Lingkungan 2008;4(2):9 – 20.
15. Saputra E. Pengaruh lingkungan terhadap nyamuk Anopheles pada proses transmisi malaria. J Urip Santoso 2011.
16. Irawati. Analisis faktor kejadian relaps pada penderita malaria di Kecamatan Juli Kabupaten Bireuen Tahun 2009. Sumatera Utara: USU; 2011.
17. Visa J. Fenomena atmosfer yang mempengaruhi hujan di wilayah Equator (Padang dan Pontianak). Prosiding Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan dan
Penerapan MIPA. ISBN: 978-970-99314-2-9. Yogyakarta: UNY; 2007.
CDK-254/ vol. 44 no. 7 th. 2017
469
HASIL PENELITIAN
18. Relationship between rainfall variability and incidence of malaria in Accra. Canada: International Development Research Centre (IDRC); 2012.
19. Bi P, Tong S, Donald K, Parton KA, Ni J. Climate variability and malaria, Shuchen County, China, 1980 – 1991. Public Health Reports 2003;118: 65 – 72.
20. Jamaludin A. Pengaruh jenis insektisida terhadap kerentanan vektor nyamuk Anopheles spp di Kota Batam tahun 2010. Sumatera Utara: USU; 2010.
21. Direktorat Jenderal P2PL. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 374/MENKES/PER/III/2010 tentang pengendalian vektor. Jakarta: Kementerian
Kesehatan RI; 2010 .p. 10,16,47 – 8.
22. Omonijo AG, Matzarakis A, Oguntoke O, Adeofun CO. Influence of weather and climate on malaria occurrence based on human-biometeorological methods in
Ondo State, Nigeria. J Environ Sci Engineering 2011;5:1215 – 28.
470
CDK-254/ vol. 44 no. 7 th. 2017
Download