68 BAB IV GAMBARAN WILAYAH DAN KEHIDUPAN SUKU

advertisement
68
BAB IV
GAMBARAN WILAYAH DAN KEHIDUPAN SUKU MAKASSAR
4.1 Gambaran Wilayah dan Penduduk Kabupaten Gowa dan Kabupaten
Takalar
Pemilihan objek penelitian di Kabupaten Gowa dan Kabupaten
Takalar didasarkan fakta empiris, bahwa kedua Kabupaten tersebut memiliki
tradisi lokal yang masih bertahan dibandingkan dengan wilayah Kabupaten
lain yang berada di Provinsi Sulawesi Selatan. Tradisi yang masih bertahan
tersebut dapat ditemui di Desa Bukrung-bukrung, Kecamatan Pattalassang
Kabupaten Gowa dan di Desa Pallalakang, Kecamatan Galesong, Kabupaten
Takalar dengan penggunaan bahasa penutur asli masyarakat Makassar yang
bernilai religius tinggi dalam tatanan bergama, khususnya bagi pemeluk
agama Islam di kedua Kabupaten tersebut.
4.1.1
Kabupaten Gowa
4.1.1.1 Sejarah Kabupaten Gowa
Sebelum Kerajaan Gowa terbentuk, terdapat sembilan Negeri atau Daerah
yang masing-masing dikepalai oleh seorang penguasa yang merupakan Raja
Kecil. Dengan kata lain, Gowa purba terdiri atas sembilan kasuwiang
(kasuwiyang salapang) mungkin pula lebih yang dikepalai oleh seorang penguasa
sebagai Raja Kecil. Setelah pemerintahan Karaeng Katangka, maka sembilan
Kerajaan Kecil bergabung dalam bentuk pemerintahan federasi yang diketuai oleh
Paccalaya. Negeri ini ialah Tombolo, Lakiung, Samata, Parang-parang, Data,
68
69
Agang Jekne, Bisei, Kalling, dan Sero. Pada suatu waktu Paccallayya bersama
Raja-Raja Kecil masygul karena tidak mempunyai raja, sehingga mereka
mengadakan perundingan dan sepakat memohon kepada dewata agar menurunkan
seorang wakilnya untuk memerintah Gowa (Gowa Dalam Angka, Badan Statistik
Pemprov Sul-Sel, 2011)
Peristiwa ini terjadi tahun 1320 dengan diangkatnya Tumanurung menjadi
Raja Gowa. Kedudukan sembilan Raja Kecil mengalami perubahan kedaulatan di
daerahnya masing-masing. Daerah Gowa berada di bawah pemerintahan
Tumanurung Bainea selaku Raja Gowa Pertama yang bergelar Karaeng Sombaya
Ri Gowa.
Masa
pemerintahan
Tumanurunga
berlangsung
tahun
1320-1345.
Diriwayatkan, Tumanurunga kawin dengan Karaeng Bayo, yaitu seorang
pendatang yang tidak diketahui asal usulnya, hanya dikatakan berasal dari arah
selatan bersama temannya Lakipadada. Dari hasil perkawinan tersebut lahirlah
Tumassalangga Baraya yang nantinya menggantikan ibunya menjadi raja Gowa
kedua (1345-1370). Menjelang abad XVI, pada masa pemerintahan Raja Gowa
VI, Tunatangka Lopi, membagi wilayahnya menjadi dua bagian untuk dua
putranya, yaitu Batara Gowa dan Karaeng Loe Ri Sero. Batara Gowa melanjutkan
kekuasaan ayahnya yang meninggal dunia. Wilayahnya meliputi: (1) Paccelekang;
(2) Patalassang; (3) Bontomanai Ilau; (4) Bontomanai Iraya; (5) Tombolo; dan (6)
Mangasa
(http://northmelanesian.blogspot.com/2012/08/
kerajaan-gowa.html).
sejarah-singkat-
70
4.1.1.2 Masa Kerajaan
Pada tahun 1320 Kerajaan Gowa terwujud atas persetujuan kelompok
kaum yang disebut Kasuwiyang-Kasuwiyang dan merupakan kerajaan kecil yang
terdiri atas sembilan Kasuwiyang, yaitu Kasuwiyang Tombolo, Lakiyung, Samata,
Parang-parang,
Data,
Agang
Jekne,
Bisei,
Kalling,
dan
Sero.
Sumber:http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Gowa
Pada masa kerajaan, banyak peristiwa penting yang dapat dibanggakan
dan mengandung citra nasional. Masa Pemerintahan I Daeng Matanre Karaeng
Imannuntungi Karaeng Tumapakrisik Kallonna berhasil memperluas Kerajaan
Gowa melalui perang dengan menaklukkan Garassi, Kalling, Parigi, Siang
(Pangkajekne), Sidenreng, Lempangang, Mandalle dan lain-lain kerajaan kecil,
sehingga Kerajaan Gowa meliputi hampir seluruh dataran Sulawesi Selatan.
Di masa kepemimpinan Karaeng Tumapakrisik Kallonna tersebutlah
Daeng Pamatte sebagai Tumailalang dan merangkap sebagai Syahbandar. Ia
berhasil menciptakan aksara lontarak Makassar yang terdiri atas delapan belas
huruf yang disebut Lontarak Turiolo (Sumber:http://id.wikipedia.org/wiki
/Kesultanan_Gowa).
Pada tahun 1051 H atau tahun 1605 M, Dato Ribandang menyebarkan
agama Islam di Kerajaan Gowa dan pada 9 Jumadil Awal tahun 1051 H atau 20
September 1605 Raja I Mangerangi Daeng Manrabia menyatakan masuk agama
Islam dan mendapat gelar Sultan Alauddin. Kemudian, Raja Tallo I Mallingkaang
Daeng Nyonri Karaeng Katangka juga memeluk agama Islam dengan gelar Sultan
71
Awwalul Islam dan beliaulah yang mempermaklumkan shalat Jum‟at untuk
pertama kalinya.
Raja I Mallombasi Daeng Mattawang Karaeng Bontomangape Muhammad
Bakir, Sultan Hasanuddin Raja Gowa XVI dengan gelar Ayam Jantan dari Timur,
memproklamirkan Kerajaan Gowa sebagai kerajaan maritim yang memiliki
armada perang yang tangguh dan terkuat di Kawasan Indonesia Timur. Tahun
1653 – 1670, kebebasan berdagang di laut lepas tetap menjadi garis kebijaksanaan
Gowa di bawah pemerintahan Sultan Hasanuddin. Hal ini mendapat tantangan
dari Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang menimbulkan konflik dan
perseteruan dan mencapai puncaknya saat Sultan Hasanuddin menyerang posisi
Belanda di Buton http://irwan- cahyadi.blogspot.com
Akibat peperangan yang terus menerus antara Kerajaan Gowa dengan
VOC mengakibatkan kerugian dari kedua belah pihak. Sultan Hasanuddin melalui
pertimbangan kearifan dan kemanusiaan guna menghindari banyaknya kerugian
dan pengorbanan rakyat, maka dengan hati yang berat menerima permintaan
damai VOC. Pada 18 November 1667 dibuat perjanjian yang dikenal dengan
Perjanjian Bungaya (Cappaya ri Bungaya). Perjanjian ini tidak berjalan langgeng
karena pada 9 Maret 1668, pihak Kerajaan Gowa merasa dirugikan. Raja Gowa
kembali dengan heroiknya mengangkat senjata melawan Belanda yang berakhir
dengan jatuhnya Benteng Somba Opu secara terhormat. Peristiwa ini mengakar
dalam kenangan setiap patriot Indonesia yang berjuang gigih membela tanah
airnya.
72
Sultan Hasanuddin bersumpah tidak mau bekerja sama dengan Belanda
dan pada 1 Juni 1669 meletakkan jabatan sebagai Raja Gowa XVI setelah hampir
16 tahun melawan penjajah. Pada Kamis, 12 Juni 1670 Sultan Hasanuddin
mangkat dalam usia 36 tahun. Berkat perjuangan dan jasa-jasanya terhadap
bangsa dan negara, maka dengan Surat Keputusan Presiden RI Nomor
087/TK/Tahun 1973, 16 Nopember 1973, Sultan Hasanuddin dianugerahi
penghargaan
sebagai
Pahlawan
Nasional
http://northmelanesian.
blogspot.com/2012/08/sejarah-singkat-kerajaan-gowa.html.
4.1.1.3 Masa Kemerdekaan
Pada tahun 1950 berdasarkan Undang-Undang nomor 44 tahun 1950
daerah Gowa terbentuk sebagai daerah Swapraja dari 30 daerah Swapraja lainnya
dan membentuk 13 daerah Indonesia bagian Timur. Sejarah pemerintahan daerah
Gowa berkembang sesuai dengan sistem pemerintahan negara. Setelah Indonesia
Timur bubar dan negara berubah menjadi sistem Pemerintahan Parlemen
berdasarkan Undang-Undang Dasar Sementara (UUDS) tahun 1950 dan Undangundang Darurat Nomor 2 Tahun 1957, maka daerah Makassar bubar.
Pada 17 Januari 1957 ditetapkan berdirinya kembali daerah Gowa dalam
wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan ditetapkan sebagai daerah
Tingkat II. Selanjutnya, dengan berlakunya Undang-undang nomor 1 tahun 1957
tentang Pemerintahan Daerah untuk seluruh wilayah Indonesia, maka 18 Januari
1957 dibentuk daerah-daerah tingkat II (Gowa Dalam Angka, Badan Statistik
Pemprov Sul-Sel, 2011).
73
Berdasarkan Undang-Undang nomor 29 tahun 1957 sebagai penjabaran
Undang-Undang nomor 1 tahun 1957 mencabut Undang-Undang Darurat no. 2
tahun 1957 dan menegaskan Gowa sebagai Daerah Tingkat II yang berhak
mengurus rumah tangganya sendiri. Untuk operasionalnya dikeluarkanlah Surat
Keputusan Menteri Dalam Negeri nomor U.P/7/2/24, 6 Pebruari 1957 yang
mengangkat Andi Ijo Karaeng Lalolang sebagai Kepala Daerah yang memimpin
12 (dua belas) daerah bawahan distrik yang dibagi dalam 4 (empat) lingkungan
kerja pemerintahan yang disebut koordinator, masing-masing adalah sebagai
berikut.
1) Koordinator Gowa Utara, meliputi: Distrik Mangasa, Tombolo, Pattallassang,
Borongloe, Manuju dan Borisallo. Koordinatornya berkedudukan di
Sungguminasa.
2) Koordinator Gowa Timur, meliputi: Distrik Parigi, Inklusif Malino Kota dan
Tombolopao. Koordinatonya berkedudukan di Malino.
3) Koordinator Gowa Selatan, meliputi: Distrik Limbung dan Bontonompo.
Koordinatornya berkedudukan di Limbung.
4) Koordinator Gowa Tenggara, meliputi: Distrik Malakaji, koordinatornya
berkedudukan di Malakaji.
Pada tahun 1960 berdasarkan kebijaksanaan Pemerintah Pusat di seluruh
Wilayah Republik Indonesia diadakan Reorganisasi Distrik menjadi Kecamatan.
Kabupaten Daerah Tingkat II Gowa yang terdiri atas 12 Distrik diubah menjadi 8
Kecamatan masing-masing:
1) Kecamatan Tamalate dari Distrik Mangasa dan Tombolo.
74
2) Kecamatan Panakkukang dari Distrik Pattallassang.
3) Kecamatan Bajeng dari Distrik Limbung.
4) Kecamatan Pallangga dari Distrik Limbung.
5) Kecamatan Bontonompo dari Distrik Bontonompo
6) Kecamatan Tinggimoncong dari Distrik Parigi dan Tombolopao
7) Kecamatan Tompobulu dari Distrik Malakaji.
8) Kecamatan Bontomarannu dari Distrik Borongloe, Manuju dan Borisallo.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah nomor 51 tahun 1971 tentang perluasan
Kotamadya Ujung Pandang sebagai Ibukota Provinsi, Pemerintah Kabupaten
Daerah Tingkat II Gowa menyerahkan 2 (dua) Kecamatan yang ada di
wilayahnya, yaitu: Kecamatan Panakkukang dan sebagian Kecamatan Tamalate
dan Desa Barombong Kecamatan Pallangga (seluruhnya 10 Desa) kepada
Pemerintah Kotamadya Ujung Pandang. Terjadinya penyerahan sebagian wilayah
tersebut, mengakibatkan samarnya jejak sejarah Gowa di masa lampau, terutama
yang berkaitan dengan aspek kelautan pada daerah Barombong dan sekitarnya.
Hal ini mengingat, Gowa justru pernah menjadi Kerajaan Maritim yang pernah
jaya di Indoneia Bagian Timur, bahkan sampai ke Asia Tenggara.
4.1.1.4 Letak Geografis Kabupaten Gowa
Kabupaten Gowa terletak di bagian selatan Provinsi Sulawesi Selatan
dengan luas wilayah 1.883,33 Km², atau setara dengan 3,01 % dari luas Provinsi
Sulawesi Selatan. Keadaan geografisnya digolongkan ke dalam daerah berdimensi
dua, yaitu: terdiri atas dataran tinggi seluas 80,17% yang meliputi Kecamatan
Parangloe,
Manuju,
Tinggimoncong,
Tombolo
Pao,
Parigi,
Bungaya,
75
Bontolempangan, Tompobulu, dan Kecamatan Biringbulu. Dataran rendah seluas
19,83 % yang terdiri atas Sembilan Kecamatan, yaitu: Kecamatan Bontonompo,
Bontonompo Selatan, Bajeng, Bajeng Barat, Pallangga, Barombong, Somba Opu
dan Pattallassang. Wilayah administrasi Kabupaten Gowa tahun 2009 terdiri atas
18 Kecamatan, 122 Desa, dan 45 Kelurahan yang berbatasan dengan delapan
Kabupaten/Kota, yaitu: sebelah Utara berbatasan dengan Kota Makassar, Maros,
dan Kabupaten Bone; sebelah Timur dengan Kabupaten Sinjai, Bulukumba, dan
Bantaeng; sebelah Selatan dengan Kabupaten Takalar, dan Jeneponto, dan di
sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Takalar dan Kota Makassar.
Kabupaten yang berada pada bagian selatan Provinsi Sulawesi Selatan ini
berbatasan dengan tujuh kabupaten/kota lain, yaitu: sebelah Utara berbatasan
dengan Kota Makassar dan Kabupaten Maros. Di sebelah Timur berbatasan
dengan Kabupaten Sinjai, Bulukumba, dan Bantaeng. Di sebelah Selatan
berbatasan dengan Kabupaten Takalar dan Jeneponto sedangkan di bagian Barat
berbatasan dengan Kota Makassar dan Takalar (Lembaga Swadaya Masyarakat
Suara Gowa, 2011)
Wilayah Kabupaten Gowa sebagian besar berupa dataran tinggi berbukitbukit, yaitu sekitar 72,26% yang meliputi sembilan kecamatan, yakni: Kecamatan
Parangloe,
Manuju,
Tinggimoncong,
Tombolo
Pao,
Parigi,
Bungaya,
Bontolempangan, Tompobulu dan Biringbulu. Selebihnya 27,74% berupa dataran
rendah dengan topografi tanah yang datar meliputi 9 Kecamatan, yakni:
Kecamatan Somba Opu, Bontomarannu, Pattallassang, Pallangga, Barombong,
Bajeng, Bajeng Barat, Bontonompo, dan Bontonompo Selatan.
76
Secara
Administrasi,
wilayah
Kabupaten
Gowa
beribukota
di
Sungguminasa yang terbagi menjadi delapan belas Kecamatan dan 167
Desa/Kelurahan (Gambar 1). Kecamatan Tinggimoncong merupakan kecamatan
terluas, yaitu 275.63 km2 atau 14.64 %, sedangkan Kecamatan Barombong adalah
yang terkecil, yakni 20.67 km2.
Dari luas Kabupaten Gowa, 35,30% mempunyai kemiringan tanah di atas
40 derajat, yaitu di wilayah Kecamatan Parangloe, Tinggimoncong, Bungaya,
Bontolempangan, dan Tompobulu. Dengan bentuk topografi wilayah yang
sebagian besar berupa dataran tinggi, wilayah Kabupaten Gowa dilalui oleh 15
sungai besar dan kecil yang potensial sebagai sumber tenaga listrik dan untuk
pengairan. Salah satu di antaranya sungai terbesar di Sulawesi Selatan adalah
sungai Jeneberang dengan luas 881 Km2 dan panjang 90 Km.
Di atas aliran sungai Jeneberang oleh Pemerintah Kabupaten Gowa
bekerjasama dengan Pemerintah Jepang, dibangun proyek multifungsi DAM BiliBili dengan luas + 2.415 Km2 yang dapat menyediakan air irigasi seluas + 24.600
Ha, komsumsi air bersih (PAM) untuk masyarakat Kabupaten Gowa dan
Makassar sebanyak 35.000.000 m3 dan untuk pembangkit tenaga listrik tenaga air
yang berkekuatan 16,30 Mega Watt.
77
Gambar 4.1. Peta Administrasi Kabupaten Gowa
4.1.1.5 4.1.1.3 Kependudukan
Jumlah penduduk Kabupaten Gowa tahun 2009 adalah 695.697 jiwa, Lakilaki berjumlah 344.740 jiwa dan perempuan 350.957 jiwa. Dari jumlah penduduk
tersebut 99,18% adalah pemeluk agama Islam.
Berdasarkan data BPS Kabupaten Gowa, jumlah penduduk Kabupaten
tahun 2012 adalah 670.465 jiwa, yang tersebar di 18 Kecamatan dengan jumlah
penduduk terbesar, yakni Kecamatan Sombaopu dengan penduduk 133,784 jiwa,
dan terkecil di Kecamatan Parigi dengan penduduk 13,441 jiwa. Kepadatan
penduduk di Kabupaten Gowa tahun 2012 adalah 356/km2. Angka kepadatan
penduduk tersebut bervariasi pada setiap Kecamatan yang ada. Penduduk yang
terpadat terdapat di Kecamatan Sombaopu dengan luas wilayah 28,09 km2 dihuni
oleh 133,784 jiwa penduduk, memiliki kepadatan 4,763 jiwa/km2 (Tabel di atas).
Kecamatan yang memiliki kepadatan penduduk rendah adalah Kecamatan
78
Parangloe, yaitu 77 jiwa/km2. Angka tersebut berada jauh di bawah kepadatan
penduduk Kabupaten Gowa secara keseluruhan.
Sebagian besar penduduk di Kabupaten Gowa bekerja di sektor pertanian
(43,23%), baik yang berjenis kelamin laki-laki (41,12%) mapun yang perempuan
(47,24%). Hal ini menunjukkan bahwa sektor pertanian di Kabupaten Gowa
masih merupakan roda penggerak ekonomi utama.(Gowa Dalam Angka, 2011)
Kabupaten Gowa memiliki potensi unggulan di sektor pertanian terutama
tanaman
pangan
dan
perkebunan.
Sektor
pertambangan
berupa
tanah
urug/timbunan, jenis batuan, pasir dan batu, serta pasir kwarsa. Sektor pariwisata
yang telah berkembang dan berlangsung saat ini adalah wisata alam (seperti
Malino yang memiliki nilai investasi dan konstribusi terhadap PAD Kabupaten
Gowa.
4.1.2
Kabupaten Takalar
4.1.2.1 Sejarah
Kabupaten Takalar hari jadinya 10 Pebruari 1960. Proses pembentukannya
melalui perjuangan yang panjang. Sebelumnya, Takalar sebagai Onder afdeling
yang tergabung dengan daerah Swatantra Makassar bersama-sama dengan Onder
afdeling Makassar, Gowa, Maros, Pangkajene Kepulauan, dan Jeneponto.
Onder afdeling Takalar, membawahi beberapa district (adat gemen chap),
yaitu: District Polombangkeng, District Galesong, District Topejawa, District
Takalar, District Laikang, District Sanrobone. Setiap District diperintah oleh
seorang Kepala Pemerintahan yang bergelar Karaeng, kecuali District Topejawa
79
diperintah oleh Kepala Pemerintahan yang bergelar Lo‟mo (Team Info Takalar dan
Yayasan Al-Muttahid, 2007)
Upaya memperjuangkan terbentuknya Kabupaten Takalar, dilakukan
bersama antara pemerintah, politisi dan tokoh masyarakat Takalar. Melalui
kesepakatan antara ketiga komponen ini, disepakati dua pendekatan/cara yang
ditempuh untuk mencapai cita-cita perjuangan terbentuknya Kabupaten Takalar,
yaitu:
1) Melalui Lembaga Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Swatantra Makassar.
Perjuangan melalui legislatif ini, dipercayakan sepenuhnya kepada empat
orang anggota DPRD utusan Takalar, masing-masing: H. Dewakang Dg. Tiro,
Daradda Dg. Ngambe, Abu Dg. Mattola, dan Abd. Mannan Dg. Liwang.
2) Melalui pengiriman delegasi dari unsur pemerintah bersama tokoh
masyarakat. Mereka menghadap Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan di
Makassar menyampaikan aspirasi, agar harapan terbentuknya Kabupaten
Takalar segera terwujud. Mereka yang menghadap Gubernur Sulawesi adalah
H. Makkaraeng Dg. Manjarungi, Bostan Dg. Mamajja, H. Mappa Dg. Temba,
H. Achmad Dahlan Dg. Sibali, Nurung Dg. Tombong, Sirajuddin Dg. Bundu,
dan beberapa tokoh masyarakat lainnya.
Upaya ini dilakukan tidak hanya sekali jalan. Titik terang sebagai tanda
keberhasilan perjuangan tersebut sudah mulai tampak, namun belum mencapai
hasil yang maksimal. Dengan keluarnya Undang-Undang RI nomor 2 tahun 1957
(LN No. 2 Tahun 1957), maka terbentuklah Kabupaten Jeneponto-Takalar dengan
80
Ibukotanya Jeneponto. Sebagai Bupati Kepala Daerah yang pertama adalah H.
Mannyingarri Dg. Sarrang dan Abd. Mannan Dg. Liwang sebagai ketua DPRD.
4.1.2.2 Letak Geografis Kabupaten Takalar
Kabupaten Takalar berada antara 5.3 - 5.33 derajat Lintang Selatan dan
119.22-118.39 derajat Bujur Timur. Kabupaten Takalar dengan ibukota
Pattalasang terletak 29 km ke arah selatan dari Kota Makassar ibukota Provinsi
Sulawesi Selatan. Luas wilayah Kabupaten Takalar sekitar 566,51 km2 dan 240,88
km2 di antaranya merupakan wilayah pesisir dengan panjang garis pantai sekitar
74 km (Buku Putih Sanitasi Kabupaten Takalar, Prov Sul-Sel, 2013). Batas
wilayah Kabupaten Takalar sebagai berikut:
1) Bagian Utara Kabupaten Takalar berbatasan dengan Kota Makassar dan
Kabupaten Gowa,
2) Bagian Timur berbatasan dengan Kabupaten Jeneponto dan Gowa,
3) Bagian Selatan dibatasi oleh Laut Flores,
4) Bagian Barat dibatasi oleh Selat Makassar.
Wilayah Kabupaten Takalar terdiri atas sembilan Kecamatan masingmasing: Kecamatan Manggarabombang, Kecamatan Mappakasunggu, Kecamatan
Polombangkeng Selatan, Kecamatan Polombangkeng Utara, Kecamatan Galesong
Selatan, Kecamatan Galesong Utara, Kecamatan Pattalassang Kecamatan
Galesong, dan Kecamatan Sanrobone.
Topologi wilayah Kabupaten Takalar terdiri atas daerah pantai, daratan
dan perbukitan. Bagian barat adalah pantai dan dataran rendah dengan kemiringan
0-3 derajat. Ketinggian ruang bervariasi antara 0-25, derajat, dengan batuan
81
penyusun geomorfologi dataran didominasi pantai, batu gemping, terumbu dan
tula serta beberapa tempat batuan lelehan basal.
Kabupaten Takalar beriklim tropis dengan dua musim, yaitu: musim hujan
dan musim kemarau. Musim hujan biasa terjadi antara Oktober sampai Maret.
Rata-rata curah hujan bulanan pada musim hujan berkisar antara 122,7 mm hingga
653,6 mm dengan curah tertinggi rata-rata 27,9 C (Oktober) dan terendah 26,5 C
(Januari – Februari). Temperatur udara terendah rata-rata 22,2 hingga 20,4 C pada
bulan Februari-Agustus dan tertinggi 30,5 hingga 33,9 C pada bulan September Januari.
Berdasarkan letak geografisnya, Kabupaten Takalar dapat dibagi menjadi
3 (tiga) bagian yaitu sebagai berikut.
1) Kabupaten Takalar bagian Timur (meliputi wilayah Palombangkeng Utara dan
Palombangkeng Selatan) adalah sebagian dataran rendah yang cukup subur
dan sebagian merupakan daerah bukit-bukit (Gunung Bawakaraeng). Wilayah
ini merupakan daerah yang cocok untuk pertanian dan perkebunan.
2) Kabupaten Takalar bagian Tengah (wilayah Pattalassang; ibukota Takalar)
merupakan dataran rendah dengan tanah relatif subur sehingga cocok untuk
pertanian, perkebunan dan pertambakan.
3) Kabupaten Takalar bagian Barat (meliputi Mangarabombang, Galesong Utara,
Galesong Selatan, Galesong Kota, Mappakasunggu
dan Sanrobone)
merupakan dataran rendah yang cukup subur untuk pertanian dan perkebunan,
sebagian merupakan daerah pesisir pantai yang cocok untuk pertambakan dan
82
perikanan laut. Potensi ikan terbang, telur ikan terbang, dan rumput laut di
wilayah ini diduga potensial untuk dikembangkan.
Potensi sumber daya alam Kabupaten Takalar meliputi: perikanan laut,
pertanian, perkebunan dan peternakan. Luas areal budidaya ikan tahun 2006
sekitar 4.856 ha, budidaya tambak dengan luas 4.343 ha yang tersebar di hampir
setiap Kecamatan Produksi ikan laut di Kabupaten Takalar tahun 2006 mencapai
26.776 ton. Selain itu, Kabupaten Takalar dikenal sebagai penghasil ikan terbang
dan rumput laut. Dalam Program Gerbang Emas Kabupaten Takalar potensial
dijadikan sebagai pusat inkubator pengembangan rumput laut (Takalar dalam
angka, 2013).
Kabupaten Takalar adalah salah satu dari wilayah penyanggah kota
Makassar. Kota Makassar adalah ibu kota sekaligus pusat ekonomi Sulawesi
Selatan dan kawasan Indonesia Timur. Wilayah penyanggah bagi Kabupaten
Takalar dapat bernilai positif secara ekonomis, jika Kabupaten Takalar dapat
mengantisipasi dengan baik kejenuhan perkembangan kegiatan industri Kota
Makassar, yaitu dengan menyediakan lahan alternatif pembangunan kawasan
industri yang representatif, kondusif, dan strategis.
Sebagian dari wilayah Kabupaten Takalar merupakan daerah pesisir
pantai, yaitu sepanjang 74 km meliputi: Kecamatan Mangarabombang,
Mappakasunggu, Sanrobengi, Galesong Selatan, Kecamatan Galesong Kota dan
Galesong Utara. Sebagai wilayah pesisir yang juga telah difasilitasi dengan
pelabuhan walaupun masih pelabuhan sederhana, maka Kabupaten Takalar
memiliki akses perdagangan regional, nasional bahkan internasional. Keunggulan
83
geografis ini menjadikan Takalar sebagai alternatif terbaik untuk investasi atau
penanaman modal.
Dengan fasilitas pelabuhan yang ada, Takalar memiliki potensi akses
regional maupun nasional sebagai pintu masuk untuk kegiatan industri dan
perdagangan di kawasan Indonesia Timur setelah Makassar mengalami
kejenuhan. Demikian pula, Takalar memiliki sarana dan prasarana transportasi
darat, seperti: akses jalan menuju kota Makassar, jarak yang relatif tidak jauh dari
pelabuhan Soekarno-Hatta Makassar, jalan beraspal dan sarana transportasi laut
yang memadai berupa pelabuhan atau dermaga, Takalar siap menunjang aktivitas
berdagangan dalam taraf internasional.
Gambar 4.2. Peta Administrasi Kabupaten Takalar
84
4.1.2.3 Kependudukan
Penduduk Kabupaten Takalar berdasarkan hasil Penghitungan Dana
Alokasi Umum 2012 (DAU2012) berjumlah 275.034 jiwa yang tersebar di 9
kecamatan,
dengan
jumlah
penduduk
terbesar
berada
di
Kecamatan
Polombangkeng Utara, yakni 46.748 jiwa (Takalar Dalam Angka, 2013).
Rasio jumlah penduduk perempuan lebih banyak dari penduduk laki-laki
perkabupaten, yakni 132.325 jiwa laki-laki dan 142.709 jiwa perempuan. Dengan
angka rasio jenis kelamin 92,72 (93), dapat diartikan bahwa setiap 100 orang
perempuan terdapat 93 orang laki-laki.
Kepadatan penduduk di Kabupaten Takalar tahun 2012 mencapai 485
jiwa/km2. Kecamatan dengan kepadatan penduduk tertinggi berada di Kecamatan
Galesong Utara, dengan kepadatan mencapai 2.428 jiwa/km2, dan Kecamatan
dengan kepadatan penduduk terendah berada di Kecamatan Polombangkeng Utara
dengan kepadatan 220 jiwa/km2.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kabupaten Takalar, jumlah
penduduk Kabupaten pada tahun 2012 adalah 275.034 jiwa, yang tersebar di 9
Kecamatan dengan jumlah penduduk terbesar yakni Kecamatan Polombangkeng
Utara dengan penduduk 46.748 jiwa, dan terkecil di Kecamatan Sanrobone
dengan penduduk 13,543 jiwa. Kepadatan penduduk di Kabupaten Takalar tahun
2012 adalah 485 /km2. Angka kepadatan penduduk tersebut bervariasi pada setiap
Kecamatan yang ada. Daerah yang terpadat adalah di Kecamatan Galesong Utara
dengan luas wilayah 15,11 km2 dihuni oleh 36.691 jiwa penduduk, memiliki
kepadatan 2.428 jiwa/km2 (Tabel di atas). Kecamatan yang memiliki kepadatan
85
penduduk rendah adalah Kecamatan Polombangkeng Utara, yaitu 220 jiwa/km2.
Angka tersebut berada jauh di bawah kepadatan penduduk Kabupaten Takalar
secara keseluruhan.
Salah satu Kabupaten di Sulawesi Selatan yang menjadikan sektor
perikanan sebagai sektor andalan bagi pertumbuhan ekonomi masyarakatnya
adalah Kabupaten Takalar. Mata pencaharian penduduknya sebagian besar
sebagai nelayan dan sebagai petani yang aktifitasnya dilakukan baik secara paruh
waktu maupun penuh waktu.
Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa pengusahaan sektor
perikanan di Kabupaten Takalar didominasi oleh perikanan laut dan tambak yang
ada di pesisir. Kecamatan yang masayarakatnya menjadi nelayan adalah
kecamatan Mangarabombang, Mappakasunggu, Sanrobone, Galesong Selatan,
Galesong, dan Galesong Utara (Takalar Dalam Angka, 2013).
4.2 Gambaran Kehidupan Suku Makassar
Dalam konteks keberagaman suku dan budaya, setiap wilayah provinsi di
Indonesia memiliki ciri khas suku dan kebudayaan masing-masing. Salah satunya
adalah Sulawesi Selatan yang merupakan provinsi di Indonesia yang terletak di
bagian Selatan pulau Sulawesi, Kota Makassar sebagai ibukota. Secara umum,
terdapat empat suku bangsa di provinsi Sulawesi Selatan, yakni: Suku Bugis,
Makassar, Mandar, dan Toraja. Dalam lingkup Kota Makassar, Suku Bugis dan
Makassar lebih dominan kuantitasnya jika dibandingkan dengan Suku Mandar
dan Toraja.
86
Suku Makassar terdiri atas beberapa sub suku yang tersebar luas di Selatan
pulau Sulawesi. Tersebar dari kota Makassar, kabupaten Gowa, Takalar,
Je‟neponto, Bantaeng, Bulukumba, Selayar, Maros, dan Pangkep. Sub suku itu
seperti: suku Makassar Lakiung, Turatea (Suku Je‟neponto dan Bantaeng), Suku
Konjo (Bulukumba dan Sebagian Maros), dan Suku Selayar. Sub suku ini
memiliki dialek bahasa yang berbeda-beda, tetapi masih dalam rumpun bahasa
Makassar. Diperkirakan jumlah populasi orang suku Makassar sekitar 1,8 juta
jiwa (bangsabugis.blogspot.com: asal mula suku makassar).
4.2.1
Suku Makassar dan Maritim
Secara khusus, suku bangsa Makassar menempati daerah Kabupaten
Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Pangkajene, Maros, Gowa, dan selayar. Suku
Makassar adalah nama Melayu untuk etnis yang mendiami pesisir Selatan pulau
Sulawesi. Lidah Makassar menyebutnya Mangkasarak berarti "Mereka yang
Bersifat Terbuka." Etnis Makassar adalah etnis yang berjiwa penakluk namun
demokratis dalam memerintah, gemar berperang dan jaya di laut. Abad ke-14-17,
dengan simbol Kerajaan Gowa, berhasil membentuk satu wilayah kerajaan yang
luas dengan kekuatan armada laut yang besar dan membentuk imperium
bernafaskan Islam, mulai dari keseluruhan pulau Sulawesi, kalimantan bagian
Timur, NTT, NTB, Maluku, Brunei, Papua, dan Australia bagian Utara. Mereka
menjalin Traktat dengan Bali, Kerjasama Malaka dan Banten dan seluruh kerajaan
lainnya dalam lingkup Nusantara maupun Internasional (khususnya Portugis).
Kerajaan ini juga menghadapi perang yang dahsyat dengan Belanda hingga
kejatuhannya akibat adu domba Belanda terhadap kerajaan taklukannya.
87
Dalam perkembangannya, Suku bangsa Bugis-Makassar mempunyai
kehidupan yang akrab dengan perahu dan laut. Hal tersebut dapat diketahui
dengan adanya kisah-kisah pelaut Bugis-Makassar yang gagah berani, tidak hanya
menghiasi buku bahari Indonesia, tetapi mampu berlayar hingga ke Semenanjung
Malaka, Brunei Darussalam, Philipina, Australia Utara, Kanada, bahkan sampai
ke Mexico. Paeni (1984:131) mengatakan sebagai berikut:
“… Armada-armada Bugis Makassar sejak beraad-abad yang lalu sampai
sekarang dengan setia mengarungi Nusantara, meramaikan jalur-jalur
perdagangan dan pelayaran antar pulau di negeri ini. Data-data demografis
yang ada juga memperlihatkan bukti yang kuat atas kehadiran mereka
sampai ke segala penjuru tanah air, bahkan di bandar-bandar pelabuhan dan
pusat-pusat-pusat nelayan tidak sulit menemukan perkampungan Bugis
Makassar, baik yang masih utuh ke Bugis-Makassarannya maupun yang
telah berasimilasi dengan penduduk setempat….”
Pelaut-pelaut Bugis-Makassar di masa lalu memiliki keahlian kebaharian
dan mempunyai reputasi sebagai pedagang sukses dan jujur, berkepribadian dan
berperilaku baik, pemimpin yang baik, dan senang berpetualang. Setelah
kemerdekaan para pelaut Bugis-Makassar dengan semangat kebahariannya
mengembara ke daerah-daerah bagian Barat dan Timur, demikian halnya ke
Selatan dan Utara. Mereka bukan hanya memperkaya pengetahuan ruang perairan
dan Kepulauan Nusantara dengan kota-kota pantainya, tetapi juga memperluas
hubungan sosial melalui transaksi bisnis dengan para pedagang, terutama
pedagang antarpulau, di setiap tempat tujuan.
88
4.2.2
Bahasa dan Sastra Suku Makassar
Bahasa Makassar, juga disebut sebagai bahasa Makassar atau Mangkasara'
adalah bahasa yang dituturkan oleh suku Makassar, penduduk Sulawesi Selatan.
Bahasa ini dimasukkan ke dalam suatu rumpun bahasa Makassar yang merupakan
bagian dari rumpun bahasa Sulawesi Selatan dalam cabang Melayu-Polinesia dari
rumpun bahasa Austronesia. Dari segi bahasa, bahasa Makassar sudah banyak
berubah karena terpengaruh bahasa-bahasa lain, seperti bahasa Bugis dan bahasa
Melayu.
Penutur bahasa Makassar yang asli dapat ditemukan di daerah Gowa
bagian Selatan, tepatnya di kaki Gunung Lompobattang. Di desa Lompobattang
ini, keaslian bahasa Makassar masih terjamin karena belum terkontaminasi oleh
perkembangan bahasa modern maupun bahasa-bahasa suku yang lain. Selain itu,
penutur bahasa Makassar murni bisa ditemukan di daerah Gowa (Sungguminasa,
Lembang Bu`ne, Malino dan Malakaji), Takalar, Jeneponto (Bontosunggu, Tolo
dan Rumbia), Bantaeng (Dampang), dan Bulukumba (Tanete).
Bahasa ini mempunyai abjadnya sendiri, yang disebut Lontara. Namun
sekarang banyak juga ditulis menggunakan huruf Latin. Huruf Lontarak berasal
dari huruf Brahmi kuno dari India. Seperti banyak turunan dari huruf ini, masingmasing konsonan mengandung huruf hidup "a" yang tidak ditandai. Huruf-huruf
hidup lainnya diberikan tanda baca di atas, di bawah, atau di sebelah kiri atau
kanan dari setiap konsonan.
Kesusastraan Makassar sudah ada sejak berabad-abad lamanya, utamanya
dalam naskah-naskah kesusastraan lontarak. Naskah-naskah kuno yang ditulis di
89
daun lontarak, kini sulit didapatkan. Naskah kuno yang ada kini, hanya yang
tertulis di atas kertas maupun lidi ijuk (kallang). Buku terpenting dalam
kesusastraan suku Makassar adalah buku sure‟ galigo, suatu himpunan besar dari
mitologi yang bagi kebanyakan orang mempunyai nilai yang keramat. Ada juga
himpunan kesusastraan yang isinya sebagai pedoman dan tata kelakuan untuk
setiap individu, seperti himpunan amanat dari nenek moyang (paseng), himpunan
undang-undang, keputusan dan peraturan pemimpin adat (rappang). Kemudian,
himpunan kesusasteraan yang mengandung sejarah, seperti: silsilah raja-raja
(attoriolog) dan cerita mengenai para pahlawan yang dibubuhi cerita legenda
(pau-pau), serta banyak lagi yang berisi syair, nyanyian, dan teka-teki.
4.2.3
Sistem dan Nilai Sosial Suku Makassar
Sistem sosial masyarakat etnis Makassar adalah dikenal adanya
penggolongan / strata sosial yang menggolongkan masyarakat ke dalam tiga
golongan utama yang masing-masing di dalamnya terbagi lagi menjadi beberapa
jenis. Penggolongan tersebut, yaitu: golongan Karaeng, To Maradeka, dan
Ata/Budak/Hamba Sahaya. Selain itu, Masyarakat etnis Makassar juga sejak
dahulu mengenal adanya aturan tata hidup yang berkenaan dengan sistem
pemerintahan, sistem kemasyarakatan, dan sistem kepercayaan, yang mereka
sebut sebagai pangadakang. Dalam hal kepercayaan, masyarakat etnis Makassar
percaya kepada satu Dewa yang tunggal. Dewa yang tunggal itu disebut dengan
istilah Turei Akrana (kehendak yang tinggi).
Dalam sistem sosial, dikenal adanya hubungan kekerabatan dalam
masyarakat, seperti: Sipa‟anakang/sianakang, Sipamanakang, Sikalu-kaluki, serta
90
Sambori. Kesemua kekerabatan yang disebut di atas terjalin erat antar satu dengan
yang lain. Mereka merasa senasib dan sepenanggungan. Oleh karena itu, jika
seorang membutuhkan yang lain, bantuan dan harapannya akan terpenuhi, bahkan
mereka bersedia untuk segalanya. Sirik na pacce juga merupakan prinsip hidup
bagi suku Makassar. Sirik dipergunakan untuk membela kehormatan terhadap
orang-orang yang mau memperkosa harga dirinya, sedangkan pacce dipakai untuk
membantu sesama anggota masyarakat yang berada dalam penderitaan. Sering di
dengar ungkapan suku Makassar berbunyi Punna tena siriknu, paccenu seng
paknia (kalau tidak ada siri‟mu paccelah yang kau pegang teguh). Apabila sirikna
pacce sebagai pandangan hidup tidak dimiliki seseorang, akan dapat berakibat
orang tersebut bertingkah laku melebihi tingkah laku binatang karena tidak
memiliki unsur kepedulian sosial, dan hanya mau menang sendiri.
Di daerah Sulawesi Selatan perasaan kekeluargaan menonjol. Hal ini
mungkin didasarkan oleh anggapan bahwa masyarakat Sulawesi Selatan berasal
dari satu rumpun. Raja-raja di Sulawesi Selatan telah saling terikat dalam
perkawinan, sehingga ikatan hubungan kekeluargaan semakin erat. Menurut Sure‟
Lagaligo (catatan surat Lagaligo dari Luwu) bahwa keturunan raja berasal dari
Batara Guru yang kemudian beranak cucu. Keturunan Barata Guru tersebar ke
daerah lain. Oleh karena itu, perasaan kekeluargaan tumbuh dan mengakar secara
menyeluruh di kalangan raja di Sulawesi Selatan karena mereka merasa memiliki
akar yang sama.
91
Untuk nilai sosial, sebagian besar suku Makassar yang tinggal di daerah
pedesaan masih memegang teguh norma-norma yang keramat dan sifatnya sakral
yang biasa disebut panngaderreng. Sistem adat ini terbagi menjadi 5 unsur:
1.
Ade/Ada, terbagi menjadi dua. Ade akkalabinengeng/Ada akkalabine, unsur
ini mengenai hal ikhwal perkawinan serta hubungan kekerabatan dan sopan
santun dalam pergaulan antarkerabat dan Ade tana/ada tana, unsur ini
mengenai hal ikhwal bernegara dan memerintah suatu negara berwujud
hukum negara, hukum antarnegara, serta etika dan pembinaan insan politik.
2.
Bicara, adalah konsep yang bersangkut paut dengan paradilan atau kurang
lebih sama dengan hukum acara serta hak-hak dan kewajiban seseorang yang
mengajukan kasusnya ke pengadilan.
3.
Rapang, berarti contoh, perumpamaan, kias, atau anologi. Unsur ini menjaga
kepastian dari suatu hukum tak tertulis, dalam masa lampau sampai sekarang.
Selain itu, rapang juga berisi pandangan-pandangan keramat untuk mencegah
tindakan-tindakan yang bersifat gangguan terhadap hak milik, serta ancaman
terhadap warga negara.
4.
Wari, adalah unsur yang mengklasifikasikan segala benda, peristiwa, dan
aktivitas dalam kehidupan bermasyarakat. Misalnya, untuk memelihara tata
susunan dan tata penempatan benda di kehidupan bermasyarakat, untuk
memelihara jalur keturunan yang mewujudkan pelapisan sosial, untuk
memelihara hubungan kekerabatan antara raja suatu negara dengan raja
negara lain.
92
5.
Sarak, unsur yang mengandung pranata-pranata dan hukum Islam, serta unsur
yang melengkapi keempat unsur lainnya.
4.2.4
Sistem Kekerabatan
1) Pernikahan
Pernikahan suku Bugis-Makassar adalah salah satu cara untuk
melanjutkan
keturunan
berdasarkan
cinta
kasih.
Selanjutnya,
pernikahan juga memperat hubungan antar keluarga, antar suku,
bahkan antar bangsa. Dengan hubungan pernikahan dapat membuat
suatu ikatan yang disebut massedi siri/sekre sirik berarti bersatu dalam
mendukung dan mempertahankan kehormatan keluarga. Pernikahan
ideal yakni terjadi apabila mereka mendapat jodoh dalam lingkup
keluarganya
sendiri
seperti:
(a)
siala
massappisiseng/siassala
Samposikali yakni pernikahan antarsepupu sekali; dan (b) siala
massappokadua/siassala
antarsepupu
kedua
kali,
sampopinruang
c)
siala
yakni
pernikahan
massappokatellu/siassala
sampopintallung yakni pernikahan antara sepupu ketiga kali
2) Pembatasan jodoh
Dalam masyarakat Bugis dikenal adanya pelapisan sosial
golongan. Terjadi pembatasan jodoh dalam hubungan pernikahan.
Pada zaman lampau anak keturunan bangsawan dilarang berhubungan
dengan orang biasa. Jika dilanggar, maka pasangan ini dikenakan
hukuman riladung, artinya pelanggar dikenakan hukuman berat, yaitu
keduanya akan ditenggelamkan ke dalam air (Mattulada 1997:55).
93
4.2.5
Agama Islam di Sulawesi Selatan
Pengaruh agama dalam sastra dapat dilihat bagaimana peran dan fungsi
sastra terhadap masyarakat. Fungsi sastra dalam masyarakat masih lebih wajar dan
langsung terbuka untuk penelitian ilmiah. Hubungan antara fungsi estetik dengan
fungsi lain (agama, sosial) dalam variasi dan keragamannya dapat diamati dari
dekat dengan dominan tidaknya fungsi estetik; demikian pula kemungkinan
perbedaan fungsi untuk golongan kemasyarakatan tertentu. Fungsi-fungsi estetik
yang menonjol itu perlu dikaji pada bentuk dan isinya, misalnya pemakaian kata
atau kalimat yang berhubungan dengan agama Islam dan yang berkaitan dengan
isi ajaran Islam atau yang berhubungan dengan Nabi Muhammad, para
sahabatnya, serta pejuang Islam. Fungsi seperti itu, merupakan kekayaan sastra
lisan yang besar manfaatnya bagi masyarakat sekarang. Dalam sastra lisan,
terungkap kreativitas berbahasa Bangsa Indonesia. Di dalam sastra, masyarakat
Indonesia terdahulu berusaha mewujudkan hakikat mengenai dirinya sendiri,
sehingga sampai saat ini ciptaan itu tetap mempunyai nilai dan fungsi bagi
masyarakat Indonesia modern (Teeuw, 1984:9-10)
Pengaruh Islam terhadap sastra lisan Makassar, berkembang seirama
dengan perkembangan masyarakat Makassar yang mayoritas muslim. Pada
umumnya, Islam berkembang di Sulawesi Selatan dengan damai, sebab budaya
juga di tingkat yang bersifat unik dan khas. Pada tahun 1511, Portugis datang dan
menyerang Malaka. Setelah kejatuhan Malaka, arus niaga di pulau Jawa menurun.
Pusat perdagangan Nusantara berpindah ke Makassar di bawah pemerintahan
kembar Gowa-Tallo.
94
Sebelum agama Islam masuk ke Tana Luwuk, masyarakat mulanya
menganut Animisme. Pada tahun 1593 (abad ke-16) Kerajaan Luwuk merupakan
kerajaan pertama di Sulawesi Selatan yang menganut agama Islam. Agama Islam
dibawa ke Tana Luwuk oleh Dato Sulaiman, Dato ri Bandang, dan Dato ri Tiro
yang berasal dari Aceh. Dato Sulaeman (Patimang) menyebarkan agama lebih
menekankan pada pengetahuan tauhid, Dato ri Bandang pada pengetahuan syariah
dan Dato ri Tiro pada pengetahuan tasawuf. Dato Patimang menyebarkan agama
Islam di Wajo, Dato ri Bandang di Gowa Tallo, dan Dato ri Tiro di Bulukumba.
Awal Masjid Di Luwu. Dato Sulaeman, Dato ri Bandang dan Dato ri Tiro,
ketiganya bersama masyarakat setempat membangun sebuah masjid di desa Tana
Rigella. Masjid Jami di Palopo, dibangun oleh Pong Mante tahun 1604 M.
Katangka, adalah awal Masjid di Gowa. Sulawesi Selatan merupakan salah satu
lambang sejarah pengaruh Islam di nusantara. Konon masjid Katangka yang
terletak di Kabupaten Gowa merupakan tonggak sejarah penyebaran Islam di
Sulawesi Selatan. Barzanji adalah nama suatu kampung, sudah menjadi kelaziman
bahwa Barazanji diartikan membaca sejarah atau riwayat kelahiran Nabi
Muhammad SAW.
Di Sulawesi Selatan, sumber kisah maulid yang dibaca ialah kitab berjudul
“Majmuu‟at Mauluud Sharf Al Anam“ yang lebih terkenal sebagai kitab
Barazanji. Zikir Maulid dalam kehidupan sosial masyarakat Islam Sulawesi
Selatan dapat dijumpai sepanjang hidup mereka, mulai dari kelahiran (haqiqah),
peralihan dari masa kanak-kanak ke masa remaja (sunatan), perkawianan,
meninggal dunia. Dapat pula dilihat, pada saat yang akan menunaikan ibadah haji,
95
tamat mengaji, tamat di Perguruan Tinggi, usahanya berhasil, membeli mobil
baru, mobil bekas, mendirikan rumah dan lain sebagainya (Teng, 2014).
Sesuai dengan telaah historis tersebut, sejarah Islam mempengaruhi tradisi
lisan di Makassar, Sulawesi Selatan. Bahkan, dalam setiap bentuk sastra lisan
Makassar, tampak adanya kata-kata dan istilah yang berasal dari ayat suci al
Quran. Nilai universal Islam adalah sifat moral yang ditandai dengan pembedaan
yang baik dan yang buruk. Nilai yang mempertentangkan yang baik dan buruk ini
umumnya muncul dalam tema-tema sastra (Tuloli, 1994:87). Berbudaya, berseni
dan bersastra dengan azas Islam dapat diinterpretasikan sebagai suatu wujud
beribadah kepada Allah SWT. Dalam bab tersendiri, Bayyati (2014:111)
menyebut bahwa sastra yang diciptakan karena Allah guna kepentingan hidup
manusia tersebut pada dasarnya diturunkan melalui bentuk tawasul atau perantara
oleh para Nabi. Sebab, Nabi dan keluarganya yang mulia menjadi tempat
bertawassul para nabi kepada Allah ta‟ala. Dalam setiap kesulitan yang dialami
para Nabi, washi, wali shalawatullah „alaihim, begitu pula kaumnya, mereka akan
langsung bertawasul kepada Muhammad dan keluarga Muhammad shalawatullah
wa salamuhu‟alaihi wa „alaihim agar terbebas dari marabahaya. Mereka akan
berdoa demi kedudukan agung serta kemuliaan mereka di sisi Allah tabaraka wa
ta‟ala. Dengan demikian, nilai-nilai universal agama Islam di Makassar menjadi
patokan atau tema utama karya sastra pengaruh Islam sendiri. Jadi, sastra
diciptakan karena Allah Subhanawataalah, untuk kepentingan manusia yang
terarah kepada kesejahteraan dan kebahagiaan hidup manusia di dunia dan akhirat
(Ahmad, 1981:3).
96
Ciri-ciri konsep sastra Islam yang menonjol adalah masalah akhlak, moral,
etika, dan hidup kemanusiaan (Ahmad, 2003:7). Sastra lisan pada umumnya
mengandung aspek-aspek moral dan akhlak. Kemunculannya bisa dikaji dalam
penokohannya, ide dan temanya, serta ungkapan-ungkapan yang bernilai ajaran
Islam. Dalam “puisi Melayu tradisional” terdapat puisi berbentuk dzikir, yang
berisi puji-pujian kepada Allah dan Nabi, pantun berisi ajaran dan mantra serta
doa (Tuloli, 1984:91). Dari hasil penelitian di Afrika, Ben-Annos memberikan
beberapa ciri sastra yang berhubungan dengan agama. Ciri-ciri itu adalah: (1)
isinya berkaitan dengan agama, yaitu Ketuhanan dan ajaran (syariat); (2)
penceritanya ahli agama; (3) dilakukan dalam upacara agama. Hal ini sama
dengan pendapat Ben-Annos (dalam Finnegan, 1978:167-170) bahwa makna
sastra lisan harus dilihat dari konteks budayanya. Maknanya bisa dirujuk pada
tempat dan situasi pengucapannya.
Uraian di atas dijadikan pijakan makna dan kehadiran unsur Islam dalam
teks mantra melalui: (1) ciri-ciri konvensional baik yang ada hubungannya dengan
konvensi bahasa maupun konvensi sastra (tata sastra), yang muncul dari setiap
karya (korpus) dan sastra. Hal ini dapat dilihat dari isi ajaran Islam atau yang
berhubungan dengan Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam (SAW), para
sahabatnya, serta pejuang Islam; (2) menghubungkannya dengan latar belakang
sosial, budaya, termasuk pendapat tokoh-tokoh adat; dan (3) penggunaan karya
sastra itu dalam berbagai peristiwa (upacara) yang bernuansa Islam.
97
Dalam hal kepercayaan, masyarakat Suku Makassar pada zaman dahulu
menganut kepercayaan animisme, yaitu Turei Akrana (kehendak yang tinggi).
Orang Makassar percaya kepada dewa yang disebut Dewata Seuwae (dewa yang
tunggal) atau Turei Akrana (kehendak yang tinggi). Orang Makassar purba
percaya adanya dewa yang bertakhta di tempat-tempat tertentu, seperti
kepercayaan mereka tentang dewa yang berdiam di Gunung Latimojong. Dewa
tersebut mereka sebut dengan Dewata Mattanrue. Dihikayatkan bahwa dewa
tersebut kawin dengan Enyikliktimok, kemudian melahirkan Patotoe. Dewa
Patotoe kawin dengan Palingo dan melahirkan Batara Guru. Batara Guru
dipercaya oleh sebagian masyarakat Sulawesi Selatan sebagai Dewa Penjelajah,
yang telah menjelajahi seluruh kawasan Asia dan bermarkas di puncak Himalaya.
Kira-kira satu abad SM, Batara Guru menuju ke Cerekang Malili dan membawa
empat kasta. Keempat kasta tersebut adalah: kasta Puang, kasta Pampawa Opu,
kasta Attana Lang, dan kasta orang kebanyakan. Setelah itu, masuklah agama
Islam ke dalam komunitas masyarakat Makassar. Mayoritas orang Makassar
memeluk agama Islam. Pada agama Islam masuk ke Sulawesi Selatan awal ke-17,
ajaran agama Islam mudah diterima oleh masyarakat. Sejak dahulu mereka telah
percaya pada dewa tunggal. Proses penyebaran Islam dipercepat dengan adanya
kontak terus menerus antara masyarakat setempat dengan para pedagang melayu
Islam yang telah menetap di Makassar.
Ahmad M. (2003:80) menyebutkan bahwa menurut teori
yang
dikembangkan oleh Noordyn, proses Islamisasi di Sulawesi Selatan tidak jauh
berbeda dengan daerah-daerah lainnya di Indonesia, yaitu melalui tiga tahap.
98
Pertama, kedatangan Islam, kedua penerimaan Islam dan ketiga penyebarannya
lebih lanjut. Pendapat yang senada dikemukakan oleh H.J. de Graaf. Namun, ia
lebih menekankan pada pelaku Islamisasi di Asia Tenggara yang analisisnya
didasarkan pada buku-buku Melayu. Graaf berpendapat bahwa Islam didakwakan
di Asia Tenggara melalui tiga metode yaitu: oleh para pedagang muslim dalam
proses perdagangan yang damai, para dai dan orang suci (wali) yang datang dari
India atau Arab yang sengaja bertujuan mengislamkan orang-orang kafir dan
meningkatkan pengetahuan mereka yang telah beriman. Terakhir dengan
kekerasan dan memaklumkan perang terhadap negara-negara penyembah berhala.
Sejak mereka memeluk Islam, segala bentuk kepercayaan agama purba
mereka pun ditinggalkan. Agama Islam telah hadir di kalangan masyarakat orang
Makassar sejak berabad-abad yang lalu. Mereka adalah penganut Islam yang kuat.
Agama Islam menjadi agama rakyat bagi suku Makassar sehingga beberapa tradisi
adat, budaya, dan kehidupan sehari-hari suku Makassar banyak dipengaruhi oleh
tradisi dan budaya yang mengandung unsur Islami.
Pada abad ke-20, karena banyak gerakan pemurnian ajaran Islam seperti
Muhammadiyah, maka ada kecondongan untuk menganggap banyak bagian dari
panngaderreng sebagai syirik, tindakan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam,
karena itu sebaiknya ditinggalkan. Islam di Sulawesi Selatan telah mengalami
proses pemurnian. Sekitar 90% penduduk Sulawesi Selatan adalah pemeluk
agama Islam, sedangkan hanya 10% memeluk agama Kristen Protestan atau
Katolik, Hindu, Budha. Umat Kristen Katolik, dan Hindu umumnya terdiri atas
pendatang yang berasal dari Maluku, Minahasa, Bali, dan Toraja. Mereka ini
99
tinggal di kota-kota terutama di Makassar. Kegiatan da'wah Islam dilakukan oleh
organisasi Islam yang aktif seperti Muhammadiyah, Daruddakwah wal Irsjad,
partai-partai politik Islam dan Ikatan Mesjid dan Mushalla dengan Pusat Islamnya
di Makassar.
4.2.6
Mata Pencaharian
Masyarakat Bugis dan Makassar pada umumnya adalah petani seperti
penduduk dari daerah-daerah lain di Indonesia. Mereka menanam padi bergiliran
dengan palawija di sawah. Teknik bercocok tanamnya juga seperti di tempattempat lain di Indonesia masih berisfat tradiosonal berdasarkan cara-cara intensif
dengan tenaga manusia. Di berbagai tempat di pegunungan, di pedalaman dan
tempat-tempat terpencil lainnya di Sulawesi Selatan, banyak penduduk masih
melakukan bercocok tanam dengan teknik peladangan (Takalar Dalam Angka,
2013).
Mereka yang tinggal di desa daerah pantai, mencari ikan merupakan mata
pencarian hidup yang penting. Orang Bugis dan Makassar menangkap ikan
dengan perahu-perahu layar sampai jauh di laut. Orang Bugis dan Makassar
terkenal sebagai suku-bangsa pelaut di Indonesia yang telah mengembangkan
suatu kebudayaan maritim sejak beberapa abad lamanya. Perahu-perahu layar
mereka dari tipe penisi dan lambo telah mengarungi perairan Nusantara sampai ke
Srilangka dan Filipina untuk berdagang. Kebudayaan maritim dari orang BugisMakassar tidak hanya mengembangkan perahu-perahu layar dan kepandaian
berlayar yang cukup tinggi, tetapi juga meninggalkan suatu hukum niaga dalam
pelayaran, yang disebut Ade' Allopi-loping Bicaranna Pabbalu'e dan yang tertulis
100
pada lontar oleh Amanna gappa dalam abad ke-17. Bakat berlayar yang telah ada
pada orang Bugis dan Makassar, akibat dari kebudayaan maritim abad-abad yang
telah lampau. Sebelum Perang Dunia II, daerah Sulawesi Selatan merupakan
daerah surplus bahan makanan. Daerah ini mengirim beras dan jagung ke tempattempat lain di Indonesia. Kerajinan rumah-tangga yang khas dari Sulawesi Selatan
adalah tenunan sarung sutera dari Mandar dan Wajo serta tenunan sarung
Samarinda dari Bulukumba.
101
BAB V
STRUKTUR TEKS MANTRA TULEMBANG DAN TUPAKBIRING
Struktur teks mantra berbeda dengan struktur sastra lisan yang lain, karena
di dalam mantra memuat unsur daya magis, gaib, dan pesona (Anwar, 2005: 213).
Menurut Hehahia dan Farlin (2008:274), mantra kebanyakan diucapkan dengan
menggunakan pengulangan-pengulangan bunyi yang diyakini menumbuhkan
kekuatan magis. Oleh karena itu, mantra sering dianggap atau disamakan dengan
doa. Terlepas dari itu, secara struktural teks, seperti yang sudah dijelaskan
sebelumnya bahwa mantra mempunyai pola bebas dan terikat. Lebih lanjut,
Hartarta (2009) menyatakan secara garis besar struktur di dalam tubuh mantra
menjadi tiga unsur, yaitu: awal/purwa, tengah/madya, dan akhir/wasana.
5.1. Struktur Teks Mantra Tulembang
5.1.1. Komposisi Naratif Teks Mantra Tulembang
Struktur teks mantra Tulembang memiliki keunikan dalam komposisi
naratif teks. Komposisi naratif teks mantra Tulembang memuat unsur daya magis.
Unsur magis tersebut terletak pada kekuatan salam pembuka, batang tubuh, dan
penutup. Berikut rincian analisis mantra Tulembang.
1) Mantra Appasuki Pakjeko (Pemasangan Bajak)
Mantra Appasuki Pakjeko „pemasangan bajak‟ merupakan mantra yang
digunakan masyarakat petani tradisional suku Makassar untuk memulai bertani
dengan cara memasang bajak. Secara struktural teks dibagi menjadi tiga bagian,
yakni pembuka, batang tubuh, dan penutup. Berikut rincian bagian tersebut.
101
102
Kau jekne Nabbi Hillere Nabbinnu
Tulungngak na nunngammaseang
Na nupappala doangngangak ri Allah Taalah (1)
„Engkau air Nabi Khaidir Nabimu
Tolong aku agar tumbuh rasa kasihanmu
Agar engkau mendoakan aku pada Allah Taalah‟
Larik di atas tercantum sebagai pembuka dalam Mantra Appasuki Pakjeko
„pemasangan bajak‟. Pembuka tersebut terdiri atas tiga larik yang berisi
permohonan atau permintaan izin. Larik pertama terdiri atas empat kata, larik
kedua terdiri atas tiga kata. Larik ketiga kembali ada empat kata. Tiga larik
tersebut menjadi larik pembuka karena masih dalam satu rangkaian antar larik.
Secara struktur teks, kalimat di atas dikatakan sebagai pembuka karena seperti
yang diungkapkan Hartarta (2009) bahwa teks di atas memuat unsur salam
sebagai bentuk pengakuan, tunduk, takluk, dan perlindungan kepada Allah.
Komponen baris pertama mantra dimulai dengan Kau jekne Nabbi Hillere
Nabbinnu „engkau air Nabi Khaidir Nabimu‟. Larik ini memuat unsur sugesti,
yang menunjukkan bahwa Nabi Khaidir yang menjaga air. Mantra dilanjutkan
dengan kalimat Tulungngak na nunngammaseang „tolong aku agar tumbuh rasa
kasihanmu‟ yang menyatakan tujuan, yakni memohon kepada Nabi Khaidir untuk
mendoakan kepada Tuhan agar keinginan dikabulkan. Kalimat ketiga merupakan
penekanan dari pembuka mantra, yaitu Na nuppappalak doangnganga ri Allah
Taalah „agar engkau mendoakan aku pada Allah Taalah‟. Maksudnya, agar Nabi
Khaidir turut membantu mendoakan kepada Allah agar apa yang diinginkan
dikabulkan Allah.
103
Jika dilihat dari segi bahasa, selain sebagai komponen salam, mantra
pembuka memuat unsur nama sasaran, niat, tujuan, dan menggunakan
pengulangan kata. Pengulangan kata nabbi yang membentuk irama (bunyi)
menunjukkan unsur kekuatan magis. Selain itu, mantra pembuka ditutup dengan
menggunakan kata ri Allah Taalah, yang artinya Allah. Hal tersebut menunjukkan
bahwa pembaca mantra percaya bahwa permohonan tidak lepas dari peran Sang
Maha Kuasa (Allah).
Secara struktural, bagian pembuka diucapkan untuk memberikan sugesti
agar permohonan yang diinginkan dapat terkabul dengan tidak mengesampingkan
peran Tuhan melalui orang-orang pilihan (Nabi Khaidir) yang dianggap sebagai
penjaga alam. Secara bahasa, mantra pembuka menggunakan pengulangan kata
yang menguatkan atau memberi kepercayaan kepada mantra yang diucapkan.
Selain itu, mantra pembuka di atas menggunakan kata-kata perumpamaan yang
dapat menimbulkan suasana aneh dan gaib, seperti penggunaan nama khusus,
yaitu Nabi Khaidir. Nama Nabi tersebut dapat menciptakan efek magis.
Penggunaan nama Nabi juga memiliki makna sebagai orang yang diyakini mampu
memberi pertolongan terhadap si pembaca mantra.
Pasibuntullangak dallekku
Sarea buku magassing
Amboyai dallek hallalakku
Ri tompokna linoa (2)
„Pertemukan aku dengan rezekiku
Beri aku kesehatan yang baik
Dalam mencari rezekiku yang halal
Di atas bumi‟
104
Batang tubuh dalam mantra berjudul Appasuki Pakjeko „pemasangan
bajak‟ terdiri atas empat larik dengan susunan larik “1, 2; 1, 2, 3; 1, 2, 3; 1, 2”.
Baris pertama dan kedua terdiri atas dua kata dan tiga kata, sementara baris ketiga
dan keempat dibalik menjadi tiga dan dua kata. Jika dilihat secara struktur teks,
larik pertama dan kedua menunjukkan kalimat perintah. Hal tersebut dibuktikan
dengan enklitik “ku”. Enklitik “ku” yang melekat pada kata dallekku dan dallek
hallalakku sebagai posesif persona pertama
digunakan sebagai penekanan
perintah dan dibuat perulangan pada kalimat ketiga untuk menambah unsur magis
dalam mantra. Larik ketiga menunjukkan tujuan pembaca mantra.
Selain tujuan, batang tubuh mantra memuat komponen harapan, yakni
pengharapan agar didoakan Nabi Khaidir untuk diberi keselamatan oleh Allah dan
mendapatkan rezeki yang halal. Tidak lupa dalam setiap mantra kebanyakan
memuat komponen sugesti, yang memuat unsur-unsur mitologi (Hartarta, 2009).
Hal ini terbukti dengan menggunakan kata Pasibuntullangak dallekku
„pertemukan aku dengan rezekiku dan Sarea buku magassing „beri aku kesehatan
yang baik‟.
Barakka Lailaha Illallah
Barakka Anna Muhammadarrasulullah (3)
„Barakka Lailaha Illallah.
Barakka Anna Muhammadarrasulullah‟
Penutup dalam mantra Appasuki Pakjeko „pemasangan bajak‟ hanya terdiri
dua larik, yakni ungkapan penutup doa. Mantra tersebut diadopsi dari doa
masyarakat muslim karena larik dua terakhir tersebut merupakan bahasa Arab,
bukan bahasa Makassar. Dua larik tersebut tetap menggunakan pengulangan kata
105
Barakka, untuk menambah kekuatan magis dari mantra. Hal ini menunjukkan
bahwa segala usaha dan upaya yang dilakukan oleh pembaca mantra diserahkan
sepenuhnya kepada kekuasaan Allah. Kata Lailaha Illallah berarti tidak ada
Tuhan selain Allah dan kata Muhammadarrasulullah berarti Nabi Muhammad
Sallallahu Alaihi Wasallam.
Aku/petani sebagai tokoh utama dalam Appasuki Pakjeko memohon
kepada Nabi Khaidir agar didoakan. Nabi Khaidir sebagai tokoh fiktif
memohonkan kepada Allah supaya rezeki aku/petani dimudahkan. Demikian pula,
Nabi Khaidir mendoakan agar aku/petani diberikan kesehatan yang prima dalam
beraktivitas di sawah mencari rezeki.
2) Mantra Aklesero Ase (Menurunkan Bibit)
Mantra Aklesero Ase „menurunkan bibit‟ dibacakan oleh petani tradisional
suku Makassar ketika bercocok tanam. Mantra tersebut dapat diuraikan secara
struktural teks sebagai berikut.
Oh yaccing
Napanaungko Nabbi
Napatimboko malaekak
Malaekak patanna pakrasangang
Awalli patanna buluk
Naalleko Nabbi
Natambaiko malaekak
Barakka Lailaha Illallah
Barakka Anna Muhammadarrasulullah
Oh padi
Engkau diturunkan Nabi
Engkau ditumbuhkan Malaikat
Malaikat yang punya kampung
Wali yang punya gunung
Engkau diambil Nabi
Di tambahkan oleh Malaikat
Barakka Lailaha Illallah
Barakka Anna Muhammadarrasulullah
106
Oh yaccing
Napanaungko Nabbi
Napatimboko malaekak (1)
„Oh padi
Engkau diturunkan Nabi
Engkau ditumbuhkan Malaikat‟
Secara struktural, teks mantra di atas terdiri atas tiga larik. Ketiganya
terdiri atas dua kata. Mantra pembuka diawali oleh kata sapaan kepada padi: Oh
yaccing, kata “yaccing” dalam masyarakat petani tradisional suku Makassar
diartikan padi. Kata “padi” digunakan sebagai penanda untuk memulai bercocok
tanam. Pembuka dari mantra ini juga mengunakan nonsense, yakni kata seruan
“Oh”. Secara leksikal tidak mempunyai arti, tetapi dalam mantra ini ada
penekanan dan harapan berupa kata sapaan. Seperti mantra sebelumnya, mantra
pembuka Aklesero Ase „menurunkan bibit‟ menggunakan kata-kata arkais sebagai
bentuk suasana menciptakan suasana magis. Ada nama yaccing „padi‟, Nabbi
„Nabi‟, dan malaekak „malaikat‟. Dari sudut bahasa pun, mantra ini menggunakan
pengulangan enklitik “ko” yang melekat pada kata napanaungko dan napatimboko
sebagai persona kedua yang berarti engkau.
Batang tubuh dalam mantra Aklesero Ase „menurunkan bibit‟ terdiri atas
empat larik, seperti pada larik berikut.
Malaekak patanna pakrasangang
Awalli patanna buluk
Naalleko Nabbi
Natambaiko malaekak (2)
„Malaikat yang punya kampung
Wali yang punya gunung
Engkau diambil Nabi
Di tambahkan oleh Malaikat‟
107
Batang tubuh mantra di atas memiliki rangkaian jumlah kata yang berbeda.
Ada yang terdiri atas tiga kata, yakni baris pertama dan kedua, baris ketiga dan
keempat terdiri atas dua kata. Jumlah kata tersebut didominasi oleh pengulangan
kata Nabbi dan malaekak. Pengulangan kata tersebut merupakan pertimbangan
bunyi agar menciptakan suasana magis dari mantra. Hal ini karena dalam tradisi
sastra lisan, terutama mantra penekanannya pada bunyi. Jika terdapat banyak
pengulangan, maka akan menguatkan suasana gaib.
Alasan pengulangan karena penekanan dari larik pembuka sebelumnya.
Jika dikaitkan dengan hubungan antarkalimat, batang tubuh mantra merupakan
larik penyajian pikiran dari pembaca mantra. Hubungan larik antara pembuka dan
batang tubuh adalah sebab akibat. Pembuka menyajikan unsur asal muasal dan
batang tubuh sebagai penjelasan dari pembuka, sehingga larik batang tubuh
merupakan larik pernyataan.
Selain itu, batang tubuh mantra memuat komponen atau unsur sugesti,
tujuan, nama sasaran, visualisasi dan simbol. Gaya bahasa, mantra ini merupakan
paralelisme, yakni larik yang memiliki rangkaian maksud yang sama dari awal
sampai akhir.
Penutup dalam mantra Aklesero Ase „menurunkan bibit‟ sama dengan
penutup mantra Appasuki Pakjeko „pemasangan bajak‟, yakni hanya terdiri atas
dua larik yang mengungkapkan doa. Mantra tersebut menggunakan bahasa Arab.
Larik ini digunakan untuk menambah kekuatan magis dari mantra. Hal tersebut
dapat terlihat dalam teks berikut.
108
Barakka Lailaha Illallah
Barakka Anna Muhammadarrasulullah (3)
„Barakka Lailaha Illallah.
Barakka Anna Muhammadarrasulullah‟
3) Mantra Akbine (Memilah Benih)
Mantra Akbine merupakan mantra ketiga yang digunakan petani
tradisional suku Makassar. Mantra ini diartikan sebagai mantra ketika mau
menanam padi. Tujuan mantra ini adalah memohon keberkahan dan keselamatan
dalam bercocok tanam. Mantra ini terdiri atas empat belas larik, yang terbagi
menjadi tiga bagian, yakni: pembuka, batang tubuh, dan penutup. Hal ini terlihat
dalam uraian berikut.
Mantra ini dibuka dengan larik Bismillahirrahmanirrahim „dengan
menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang‟. Hal ini
menunjukkan bentuk ikhtiar bahwa segala usaha yang dilakukan pembaca mantra
sepenuhnya diserahkan pada Yang Maha Kuasa (Allah). Larik ini menyebutkan
nama „Allah‟, yang artinya Sang Pencipta. Kata ini diserap oleh masyarakat petani
tradisional suku Makassar sebagai mantra dan digunakan sebagai pengharapan
atau permohonan.
Batang tubuh mantra Akbine tertuang dalam teks berikut.
Tallasak kulamung
Tallasak kulamungang
Tallasak nilamungi
Sikontu ummakna nabbita
Anak cucunna Adam
I raya – I lau
I timboro – I wara
Battu ngaseng mako mae
Angkatekneangi
Angkarannuangi
Sabak Allah Taalah siagang nabbi Muhammad (2)
109
„Bibit hidup kutanam
Bibit hidup kutanami
Bibit hidup kutanamkan di tanah
Semua ummat Nabi Muhammad
Anak cucunya Nabi Adam
Di timur – di barat
Di selatan – di utara
Datanglah semua di sawah ini
Membahagiakan
Menyenangi
Karena Allah bersama Nabi Muhammad‟
Batang tubuh mantra Akbine terdiri atas sebelas larik. Struktur teks, tiga
larik di batang tubuh terjadi pengulangan bunyi. Pengulangan penyajian pikiran
tersebut menunjukkan penekanan maksud dan tujuan mantra. Penyajian pikiran di
larik ketiga pada batang tubuh menegaskan bahwa larik pertama dan kedua, bibit
hidup jika di tanam di tanah.
Jika dilihat hubungan antarlarik batang tubuh antara larik pertama sampai
ketiga, empat sampai delapan, sekilas tidak ada kesinambungan dalam
menyampaikan pikiran. Namun, jika dicermati antara kelompok larik satu sampai
tiga, empat sampai delapan ada korelasi makna. Larik satu sampai tiga dalam
batang tubuh merupakan pernyataan inti dan larik empat sampai delapan
merupakan larik penjelasan. Larik-larik tersebut merupakan kalimat penyampaian
berita, yang artinya kalimat penyampaian suatu keinginan atau pengharapan. Hal
ini ditunjukkan dengan menyebut nama, seperti: Nabi Muhammad, Nabi Adam,
Timur, Barat, Selatan, dan Utara, Allah. Penyebutan nama-nama tersebut
diharapkan memberikan keselamatan dan keberkahan atas tanaman yang ditanam.
Dari sudut gaya bahasa, mantra ini adalah simploke. Menurut Nurhayati
(2013) gaya bahasa ini merupakan jenis repetisi yang menggabungkan antara
110
anafora dan epistrofa seperti kata: Tallasak kulamung/ Tallasak kulamungang/
Tallasak nilamungi.
Penutup dalam mantra Akbine sama seperti mantra pertama dan kedua,
yakni hanya terdiri dua larik yang mengungkapkan doa. Mantra penutup
menggunakan bahasa Arab. Larik ini digunakan untuk menambah kekuatan magis
dari mantra. Hal tersebut dapat terlihat dalam teks berikut.
Barakka Lailaha Illallah
Barakka Anna Muhammadarrasulullah (3)
„Barakka Lailaha Illallah.
Barakka Anna Muhammadarrasulullah‟
4) Mantra Pammula Annanang Ase (Permulaan Menanam Padi)
Mantra Pammula Annanang Ase „permulaan menanam padi‟ merupakan
mantra keempat yang digunakan oleh petani tradisional suku Makassar. Mantra ini
diartikan sebagai mantra permulaan menanam padi. Tujuan mantra ini adalah
memohon keselamatan dalam bercocok tanam. Mantra ini terdiri atas delapan
larik, yang terbagi menjadi tiga bagian, yakni: pembuka, batang tubuh, dan
penutup. Hal ini terlihat dalam uraian berikut.
Yukkung, yakkung, yaccing (1)
“Ya Allah, Hambamu dan Padiku ini”.
Kupasicinik mako anne yaccing
Anrong tumallasukkannu
Mangge tumappajarinu
Nakammiko patampulo malaekak
Sicinikki ritallu bulanga (2)
„Aku mempertemukan engkau padi
Bunda yang melahirkanmu
Ayah yang membuatmu
111
Engkau dijaga empat puluh malaikat
Sampai jumpa tiga bulan mendatang‟
“Hambamu memohon Padimu ini, Maha Agung yang melahirkan Padi ini, Maha
Kuasa yang membuatmu ini, Ya Allah jagalah padiku ini dengan empat puluh
Malaikat, hingga panen datang pada tiga bulan mendatang.” Tokoh utama adalah
petani memohon agar Allah memberkahi padinya/yaccing yang ditanam di tanah
persawahan. Petani mengandaikan dirinya sebagai ayah menanam bibit padi dan
tanah sebagai ibu melahirkan padi yang berisi bulir padi. Petani meyakini dengan
pertolongan Allah dan empat puluh maikatnya bibit padinya sehat dan cepat
pertumbuhannya.
Barakka Lailaha Illallah
Barakka Anna Muhammadarrasulullah (3)
“Semoga barokah dan Allah meridhoi”.
Pembuka mantra Pammula Annanang Ase „permulaan menanam padi‟
terdiri atas satu baris dan satu kalimat. Hal ini terlihat dalam teks berikut.
Yukkung, yakkung, yaccing (1)
„Engkau, aku, padi‟
Pembuka mantra di atas terdiri atas tiga kata, yakni
menunjukkan
keberadaan “engkau”, “aku”, “padi”. Kata tersebut menyajikan kata sapaan dan
penyajian pikiran yang berisi penegasan kekuatan mantra. Larik tersebut berisi
informasi bahwa jika ingin menanam padi, ada tiga unsur yang perlu diperhatikan,
yakni pemilik padi, yang menanam, dan padi. Larik ini merupakan metonimi,
yakni menggunakan bahasa kiasan dengan menggunakan nama atau ciri orang
untuk menyebutkan hal yang bertautan dengannya. Selain itu, secara struktural
menggunakan komponen nama sasaran sebagai penguat mantra atau menambah
unsur magis dalam pengucapan.
Batang tubuh mantra Pammula Annanang Ase „permulaan menanam padi‟
terdiri atas lima larik yang tidak beraturan. Hal ini terlihat dalam teks berikut:
112
Kupasicinik mako anne yaccing
Anrong tumallasukkannu
Mangge tumappajarinu
Nakammiko patampulo malaekak
Sicinikkik ri tallu bulanga (2)
„Aku mempertemukan Engkau padi
Bunda yang melahirkanmu
Ayah yang membuatmu
Engkau dijaga empat puluh malaikat
Sampai jumpa tiga bulan mendatang‟
Batang tubuh mantra di atas merupakan larik yang digolongkan dalam
unsur sugesti. Terlihat dalam larik Nakammiko patampulo malaekak „engkau
dijaga empat puluh malaikat‟. Secara denotasi kalimat tersebut tidak akan terjadi
dalam kondisi sebenarnya. Namun, ungkapan tersebut diyakini oleh masyarakat
petani tradisional suku Makassar bahwa padi-padi mereka dijaga oleh empat
puluh malaikat. Mantra dilanjutkan dengan kalimat Sicinikkik ri tallu bulanga
„sampai jumpa tiga bulan mendatang‟ yang menyatakan tujuan bahwa tanaman
yang ditanam akan dapat dipanen tiga bulan mendatang. Hal ini karena secara
konvensional jika menanam padi, akan dapat dipanen tiga bulan mendatang.
Penutup mantra Pammula Annanang Ase „permulaan menanam padi‟ sama
dengan mantra-mantra Tulembang sebelumnya. Mantra ini ditutup dengan nama
Allah dan Nabi Muhammad dengan harapan padinya tumbuh atas lindungan
kedua nama tersebut. Hal ini terlihat dalam teks berikut.
Barakka Lailaha Illallah
Barakka Anna Muhammadarrasulullah (3)
„Barakka Lailaha Illallah.
Barakka Anna Muhammadarrasulullah‟
113
5) Mantra Annanang Ase (Menanam Padi)
Mantra Annanang Ase merupakan mantra pada saat proses menanam padi.
Mantra ini berisi sebelas larik, terdiri atas pembuka, batang tubuh, dan penutup.
Hal tersebut terlihat dalam teks berikut.
Oh yaccingku nakutanangko ri jekne
Kupatimboko ri butta (1)
“Padiku yang kutanam dalam air, dan kusemaikan ke dalam tanah”
Bintoeng palliserannu
Bulang papa kaciknongnu
Alloa pangnyappuruknu
Nairik-irikko anging
Anging battu ri Makka
Nakarenai anging battu ri Madina
Ritallung bulang kisicinik (2)
Bintang isi padimu
Bulan menjadi kejernihanmu
Matahari menyinarimu
Angin sepoi-sepoi menggoyangmu
Angin datang dari Mekkah
Dipermainkan anging dari Medinah
Tiga bulan mendatang kita bertemu
Barakka Lailaha Illallah
Barakka Anna Muhammadarrasulullah (3)
“Semoga Alllah memberkahi dan dirodhio nya”.
Larik pembuka dalam Annanang Ase „menanam padi‟ terdiri atas dua
baris. Seperti mantra pembuka sebelumnya, mantra pembuka juga terdiri atas
“engkau”, dan “padi”. Kata-kata tersebut menyajikan kata sapaan dan penyajian
pikiran yang berisi penegasan akan kekuatan mantra. Larik ini merupakan
metonimi, yakni menggunakan bahasa kiasan dengan menggunakan nama atau
ciri orang untuk menyebutkan hal yang bertautan dengannya.
114
Batang tubuh mantra Annanang Ase „menanam padi‟ berisi tujuh larik.
Larik mantra dimulai dengan larik Bintoeng palliserannu, Bulang papa
kaciknongnu, Alloa pangnyappuruknu, Nairik-irikko anging, Anging battu ri
Makka, Nakarenai anging battu ri Madina, dan Ritallung bulang kisicini. Baris
pertama, petani mengharapkan bulir padinya seperti biji-biji bintang di langit.
Baris kedua, sinar bulan menyinari bibit padi agar bulir padi jernih. Baris ketiga,
sinar matahari membantu mengeringkan batang bibit padi agar proses penyerapan
berlangsung dengan baik. Baris keempat dan kelima, hembusaan angin dari tanah
suci Mekkah dan Medinah mempercepat pertumbuhan bibit padi. Baris keenam,
dilanjutkan dengan Ritallung bulang kisicini yang berisi pengharapan bahwa tiga
bulan ke depan padi siap dipanen. Dengan kata lain, baris pertama sampai enam
dalam batang tubuh memuat unsur sugesti.
Penutup dalam mantra Annanang Ase „menanam padi‟ sama dengan
mantra-mantra Tulembang sebelumnya. Penutup menggunakan bahasa Arab
dengan memuat unsur doa secara islami. Hal ini terlihat dalam teks berikut.
Barakka Lailaha Illallah
Barakka Anna Muhammadarrasulullah (3)
„Barakka Lailaha Illallah.
Barakka Anna Muhammadarrasulullah‟
6) Mantra Rappo Ase (Bulir Padi)
Mantra Rappo Ase „bulir Padi‟ merupakan mantra ketika proses
memasukkan padi ke lahan atau tanah. Mantra ini berisi sembilan larik. Seperti
mantra sebelumnya, mantra ini memuat tiga struktur, yakni pembuka, batang
tubuh, dan penutup. Hal ini terlihat dalam teks berikut:
115
Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatu (1)
„Assalama Alaikum Warahmatullahi Wabarakatu‟
Battungasengmako mae sumanga asengku
I timboro - I wara
I raya - I lau
I rawa – I rate
Narurunga malaikak pakdoangnganna
Awalli passombalinna (2)
Datanglah semua semangat padiku
Di Selatan – di Utara
Di Timur – di Barat
Di atas – di bawah
Doa para malaikat menyertaimu
Wali menjagamu
Barakka Lailaha Illallah
Barakka Anna Muhammadarrasulullah
“Semoga Allah memberi barakah dan diridhoi Nabi Muhammad.”
Pembuka mantra Rappo Ase „bulir padi‟ hanya ada satu larik, yakni
Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatu. Larik pembuka berupa salam
yakni larik sapaan, yang digunakan untuk memulai sesuatu yang baik. Kata salam
berisi pengharapan agar tujuan dapat tercapai.
Batang tubuh mantra Rappo Ase „bulir padi‟ berisi enam larik. Batang
tubuh berisi larik sugesti. Mantra yang terucap menggunakan larik metonimi,
yakni menggunakan bahasa kiasan dengan menggunakan nama atau ciri orang
atau suatu barang untuk menyebutkan hal yang bertautan dengannya, seperti
Selatan, Utara, Timur, Barat, atas, bawah, malaikat, dan wali. Hal ini terlihat
dalam teks berikut.
Battungasengmako mae sumanga asengku
I timboro – I wara
I raya - I lau
116
I rawa – I rate
Narurunga malaikak pakdoangnganna
Awalli passombalinna (2)
„Datanglah semua semangat padiku
Di selatan – di Utara
Di timur – di Barat
Di atas – di bawah
Doa para malaikat menyertaimu
Wali menjagamu‟
Penutup yang digunakan dalam mantra Rappo Ase „bulir padi‟ sama
dengan mantra-mantra Tulembang sebelumnya, yakni berisi dua kalimat. Antara
penutup yang selalu digunakan adalah bahasa Arab dengan memuat unsur doa
secara Islami. Hal ini terlihat dalam teks berikut.
Barakka Lailaha Illallah
Barakka Anna Muhammadarrasulullah (3)
„Barakka Lailaha Illallah.
Barakka Anna Muhammadarrasulullah‟
7) Mantra Appa Sulapa Nikutanang (Empat Arah Ditanya)
Mantra Appa Sulapa Nikutanang „empat arah ditanya‟ sebagai mantra
pamungkas yang dibaca oleh pemantra. Mantra ini berisi delapan belas larik.
Mantra ini termasuk mantra terpanjang dari mantra-mantra Tulembang
sebelumnya.
Sebagai pembuka, mantra ini ada dua kalimat, yang terlihat dalam teks
berikut.
Oh yaccingku nia aseng jako ilalang
Tenamo tumaboyanu (1)
“Padiku yang ada di semua alam, akau hendak mencarimu”
117
Dua kalimat mantra di atas dikatakan pembuka karena dua kalimat
tersebut merupakan kalimat tanya. Kalimat tanya mengindikasikan adanya
masalah yang ingin disampaikan pemantra. Kalimat tanya dibuat di awal
mengindikasikan pengharapan jawaban dari yang ditanya. Dimunculkan
pengulangan kata tanya ini untuk menambah unsur magis dalam pengucapan
mantra, mengingat mantra ini adalah mantra pamungkas dalam proses bercocok
tanam (bertani).
Kalimat pembuka di atas kemudian dilanjut kalimat yang secara struktural
sebagai batang tubuh, yakni sebagai berikut.
Iraya kalauko mae
Ilauka anraikko mae
Timboroka warakko mae
Waraka timborokko mae
Irateya naungko mae
Irawayya naikko mae
Kusalayya kusabbu
Kariolo mako battu
Naku panaimako anne yaccing
Ridulang-dulang pallunu
Ripallakka bulaengnu
Lao-lao pole
Tanairikmako anging
Tanararangko allo (2)
„Yang di Timur silahkan datang ke Barat
Yang di Barat silahkan datang ke Timur
Yang di Selatan silahkan datang ke Utara
Yang di Utara silahkan datang di Selatan
Yang di atas silahkan turun ke bawah
Yang di bawah silahkan naik ke atas
Yang tidak sempat kusebut
Karena Engkau datang mendahului
Aku turunkan Engkau padi
Di atas nampang tempat masakmu
Di atas peraduan emasmu
Pergi-pergi lagi
Engkau tidak disertai angin
Engkau juga tidak disinari matahari‟
118
“Jika pergi ke timur aku akan hendak ke barat, jika ke barat akupun hendak ke
timur. Jika pergi ke selatan aku akan hendak ke utara, jika ke utara akupun hendak
ke selatan. Jika naik ke atas aku akan hendak ke bawah, jika hendak turun ke
bawah aku naik ke atas. Aku tidak ingin menyebut kesalahan, sebab Padilah yang
datang mendahuluiku, Padilah yang datang kepadaku telah kuletakkan di atas
nampang tempat istirahatmu, di atas dulang emasmu, di atas semua rezekiku,
namun padiku kutempatkan engkau di atas plafon/tempat tertinggi dalam rumahku
dan tidak ada angin yang bermain bersamamu, dan tidak juga disinari matahari
maka istirahatlah.”
Larik batang tubuh di atas terdiri atas empat belas larik. Larik-larik yang
disampaikan digolongkan dalam ungkapan sugesti karena memuat seruan.
Kalimat batang tubuh ini terdiri atas larik berita. Larik ini diindikasikan berisi
sanjungan dan biasanya menandakan harapan dan keinginan serta kerelaan atas
apa yang terjadi.
Batang tubuh lebih banyak memuat pengulangan-pengulangan bunyi, yang
menjadi ciri mantra. Jika dilihat, terdapat pengulangan kata mae yang diulang
enam kali, dan partikel ma- serta enklitik -ko „engkau‟. Hal ini menimbulkan
bunyi yang berirama, dan beriringan.
Seperti mantra-mantra Tulembang sebelumnya, mantra Appa Sulapa
Nikutanang „empat arah ditanya‟, ditutup dengan dua kalimat seperti sahadat,
sebagai bentuk pengakuan kepada Allah dan Nabi Muhammad bahwa segala
keberkahan dan kemakmuran adalah kehendak yang Maha Kuasa. Hal ini terlihat
dalam teks berikut:
Barakka Lailaha Illallah
Barakka Anna Muhammadarrasulullah (3)
„Barakka Lailaha Illallah.
Barakka Anna Muhammadarrasulullah‟
119
Berdasarkan seluruh analisis struktur teks dalam mantra Tulembang
ditemukan bahwa komponen pembangun unsur mantra meliputi komponen
pembuka yang memuat unsur pengakuan dan permohonan perlindungan Allah
penguasa alam semesta. Ada niat atau keinginan yang hendak dicapai.
Penggunaan nama-nama penting dalam mantra, seperti: Nabi Khaidir, Allah,
Muhammad, yaccing „padi‟, Nabi-nabi, wali, malaikat, arah mata angin, bintang
matahari dan bulan. Komponen sugesti didominasi sentuhan mitologi, seperti
Narurungang malaikak pakdoangnganna „doa para malaikat menyertaimu‟ dan
lain-lain. Komponen visualisasi dan simbol Nairik-irikko anging „angin sepoisepoi menggoyangmu‟, Nakammiko patampulo malaekak „engkau dijaga empat
puluh malaikat‟.
5.1.2. Satuan Wacana Naratif Teks Mantra Tulembang
Wacana naratif merupakan rangkaian tuturan yang menekankan unsur
melalui penonjolan unsur cerita penting, seperti: unsur waktu, pelaku, dan
peristiwa dengan maksud memperluas pengetahuan pesapa (Djajasudarma, 1994).
Kekuatan wacana ini terletak pada urutan cerita berdasarkan waktu dan cara-cara
bercerita yang diatur melalui plot. Wacana narasi dapat dibedakan menjadi narasi
ekspositoris dan sugestif. Narasi eksporitoris merupakan jenis narasi yang
bertujuan memberikan informasi kepada pembaca agar pengetahuannya
bertambah luas. Narasi sugestif merupakan jenis narasi yang disusun sedemikian
rupa untuk menyampaikan sebuah makna kepada para pembaca, sehingga mampu
menimbulkan daya khayal para pembaca (Rani dkk., 2006). Menurut Maknun
120
(2012), wacana naratif teks mantra paling tidak memuat unsur medan wacana,
pelibat wacana, dan sarana wacana.
1) Mantra Appasuki Pakjeko (Pemasangan Bajak)
Mantra Appasuki Pakjeko secara wacana naratif menceritakan permohonan
bantuan kepada Nabi Khaidir untuk berkenan mendoakan kepada Allah agar
pemasangan bajak direstui dan dipertemukan dengan rezeki yang halal, serta
diberi kesehatan. Wacana narasi mantra ini berbentuk narasi sugestif, yakni
memberikan makna kekuatan dan kesehatan serta keselamatan bagi pembaca
mantra.
Medan wacana dalam mantra ini adalah penyampaian permohonan seperti
doa yang diujarkan pada saat pemasangan bajak di sawah. Suasana pada saat
penuturan mantra penuh khusuk dan hening, menggambarkan tingkat kepasrahan
dan pengharapan yang tinggi pada Allah. Waktu pembacaan mantra dilakukan
berdasarkan musim.
Pelibat wacana dalam mantra ini adalah para petani yang mau membajak
sawah. Mantra ini ditujukan kepada Nabi Khaidir, air, dan Allah, serta Nabi
Muhammad SAW. Sarana wacana yang disampaikan berupa monolog. Dikatakan
monolog seperti pernyataan Maknun (2012), bahwa penyampaian mantra
berwujud
monolog,
pembaca
mantra
hanya
sebagai
penyapa,
pesapa
berkedudukan implisit (tidak tampak) sehingga tidak terjadi interaksi.
Penggunaan bahasa dalam mantra cenderung analogis dengan penekanan
sentuhan mitologi, serta bersifat lebih bebas dalam hal suku kata, baris, ataupun
121
persajakan. Seperti dikatakan Jalil dan Elmustian (2002:49) bahwa mantra lebih
bebas, sehingga hampir tidak ada suatu bentuk apapun.
2) Mantra Aklesero Ase (Menurunkan Bibit)
Mantra Aklesero Ase secara wacana naratif diujarkan pada saat
menurunkan bibit padi ke tanah. Mantra ini merupakan jenis komponen sasaran.
Nama yang menjadi sasaran adalah yaccing „padi‟. Wacana narasi mantra ini
berbentuk narasi sugestif, yakni mantra ini sebuah pengharapan agar padi yang
ditanam menjadi subur dan tumbuh dengan baik. Suasana yang terbangun ketika
pembacaan mantra sakral dan khusuk.
Pelibat wacana dalam mantra adalah para petani yang mau membajak
sawah. Mantra ini ditujukan kepada padi, Nabi, malaikat, wali dan Allah, serta
Nabi Muhammad SAW. Sarana wacana yang disampaikan berupa monolog.
Penggunaan bahasa dalam mantra ini cenderung analogis dengan penekanan
sentuhan mitologi serta bersifat lebih bebas dalam hal suku kata, baris, ataupun
persajakan.
3) Mantra Akbine (Mencabut Benih)
Mantra Akbine secara wacana naratif diucapkan pada saat mencabut bibit
padi. Suasana yang terbangun dalam pengucapan mantra dalam keadaan sakral
dan khusuk. Mantra ini merupakan permohonan kepada Nabi Muhammad dan
anak cucu Adam untuk memberikan safaat ketika bercocok tanam. Wacana narasi
mantra ini berbentuk narasi sugestif, yakni mantra ini adalah permohonan agar
diberi keberkahan, kebahagiaan dan kesenangan karena Allah bersama Nabi
Muhammad. Pelibat wacana dalam mantra ini adalah para petani yang menanam
122
padi. Mantra ini ditujukan kepada padi, Nabi Muhammad, arah mata angin, dan
Allah SWT. Sarana wacana yang disampaikan berupa monolog. Penggunaan
bahasa analogis dengan penekanan sentuhan mitologi.
4) Mantra Pammula Annanang Ase (Menanam Bibit Padi)
Mantra Pammula Annanang Ase dibaca pada permulaan menanam bibit
padi. Mantra ini mengungkapkan tiga hal, yakni: Tuhan, petani, dan padi. Padi
dipertemukan dengan Tuhan melalui petani. Padi dilahirkan bunda, dibuat ayah
dan dijaga empat puluh malaikat. Pengharapan bahwa tiga bulan mendatang padi
dapat dipanen dengan hasil yang baik.
Mantra ini dibacakan dalam suasana sakral dan khusuk dan dibaca oleh
seorang pinati/pawang atau pemuka masyarakat dan didengarkan secara khidmat
oleh para petani di sawah. Penyampaian mantra ini bersifat monolog dan dialog.
Monolog karena pendengar mantra berperan implisit. Dialog karena menimbulkan
respon interaksi secara batin bagi pembaca dan sesuatu yang dianggap ada.
Terbukti, dengan penyebutan: yukkung, yakkung, yaccing „engkau, aku, padi‟.
Penyampaiannya berupa dialog antara petani, Tuhan, dengan padi. Dialog lain
adalah pengucapan Na kammiko patampulo malaekak/ Sicinikki ritallu bulanga
„engkau dijaga empat puluh malaikat‟/ „sampai jumpa tiga bulan mendatang‟.
5) Mantra Annanang Ase (Permulaan Menanam Padi)
Mantra Annanang Ase merupakan mantra pada saat prosesi menanam
benih. Mantra ini mengungkapkan padi akan ditanam di tanah, diisi oleh bintang,
dijernihkan oleh bulan, dan disinari matahari. Padi tertiup angin yang datang dari
Mekkah dan Medinah dan dinanti tiga bulan mendatang dan digunakan metafora
123
dengan sentuhan mitologi. Hal ini terbukti dengan penggunaan simbol bintang,
bulan, dan matahari, serta angin sebagai sarana menumbuhkan dan menyuburkan
benih. Kekuatan mantra ini terletak pada penutup dengan pengucapan doa kepada
Allah dan Nabi Muhammad.
Penyampaian mantra tergolong monolog dan dialog. Monolog karena yang
diajak komunikasi implisit dan dialog karena ada interaksi batin bagi pembaca dan
sesuatu yang dianggap ada. Hal ini dibuktikan dengan penggunaan pronomina
persona pertama dan kedua ko „engkau‟, nu „mu‟, dan ku „aku‟. Suasana
pembacaan dalam kondisi khidmat dan sakral untuk menambah unsur magis
dalam mantra.
6) Mantra Rappo Ase (Bulir Padi)
Mantra Rappo Ase merupakan mantra untuk menyugesti isi padi agar
berkembang dengan sempurna. Mantra ini diawali oleh salam, untuk
mendatangkan semangat dalam padi dari segala penjuru mata angin dan disertai
doa para malaikat. Mantra ini ditujukan kepada Allah, padi, malaikat, wali dan
Nabi Muhammad sebagai penutup mantra. Pelibat wacana juga orang yang
dianggap tetuah adat/penati sebagai pembaca mantra dan petani sebagai pesapa.
Penyampaian bahasa secara monolog dan dialog, serta penggunaan bahasa secara
metaforis dengan sentuhan mitologi dan religi.
7) Mantra Appa Sulapa Nikutanang (Empat Arah Ditanya)
Mantra Appa Sulapa Nikutanang merupakan mantra menanyakan empat
arah mata angin agar menurunkan keberkahan kepada padi yang dipanen.
Diungkapkan bahwa penyapa (pembaca mantra) meminta kepada seluruh penjuru
124
mata angin untuk mendatangi padi dan menanyakan padi tentang kerelaan untuk
dipanen. Hal ini disebutkan dalam teks Tenamo tumaboyanu „apa engkau tak ada
yang mencarimu‟. Mantra ini ditujukan kepada padi dan ditutup dengan doa
kepada Allah dan Nabi Muhammad.
Penyampaian mantra berbentuk monolog dan dialog. Monolog karena
pesapa hadir secara implisit, dialog karena menggunakan kalimat tanya.
Penggunaan bahasa tetap secara metaforis dengan sentuhan mitologi dan religi.
5.1.3 Karakteristik Kesatuan Teks Mantra Tulembang
Pembahasan karakterisrik kesatuan didasarkan pada permainan bunyi
(rima), permainan kata, paralelisme, majas, dan simbol. Rima merupakan
permainan unsur bunyi. Bentuk rima yang sering muncul ialah aliterasi, asonansi,
dan rima akhir. Aliterasi adalah repetisi bunyi awal pada kata-kata yang berbeda,
biasanya berupa konsonan (Badrun, 2014).
1) Mantra Appasuki Pakjeko
Pembahasan karakteristik kesatuan mantra Appasuki Pakjeko dimulai dari
permainan bunyi (rima). Analisis rima dengan beberapa contoh yang ditandai
huruf tebal, seperti terlihat dalam teks berikut.
Kau jekne Nabbi Hillere Nabbinu (1)
Tulungngak na nunngammaseang (2)
Nanu pappala doangngangak RiAllah Taalah (3)
....
„Engkau air Nabi Khaidir Nabimu (1)
Tolong aku agar tumbuh rasa kasihanmu (2)
Agar Engkau mendoakan aku pada Allah (3)
....
125
Bentuk yang ditebalkan dalam mantra Appasuki Pakjeko di atas terdapat
repetisi dan paraleisme semantis. Pada larik pertama terdapat kesamaan kata
Nabbi „Nabi‟ dan Nabbinnu „Nabimu‟. Larik kedua paralelisme verbal pada kata
Tulungngak „tolong aku‟ dan nunngammaseang „rasa kasihmu‟ dan nupappala
doangngangak „mendoakan aku‟.
Larik pertama, kata Nabbi berada di urutan ketiga dan Nabbinnu pada
urutan kelima suku kata pertama. Rima kalimat pertama ini merupakan rima tidak
sempurna dan rima dalam. Tidak sempurna karena kata-kata tidak sama dan
dalam karena dalam satu larik. Selain itu, rima ini berupa aliterasi, yakni berupa
perulangan bunyi konsonan tunggal „n‟ dan geminasi „bb‟.
Mantra Appasuki Pakjeko secara keseluruahn menggunakan diksi denotasi
seperti pada larik pertama menggunakan kata jekne „air‟, diawali kata kau
„engkau‟ dan selanjutnya diikuti kata nabbi. Kata Tulungngak „tolong aku‟,
RiAllah Taalah „Allah‟, dan sebagainya.
Bentuk dalam mantra Appasuki Pakjeko terjadi pada larik keempat dan
larik keenam seperti pada teks berikut:
...
Pasibungtullangak dallekku (4)
...
Amboyai dallek hallalakku (6)
....
„...
Pertemukan aku dengan rezekiku (4)
...
Dalam mencari rezekiku yang halal (6)
....‟
126
Paralelisme bentuk dari contoh larik di atas merupakan paralelisme
berselang, yakni paralelisme yang sudah diselingi kalimat lain. Struktur yang
tampak adalah paralelisme berselang berupa kata. Kata tersebut adalah dallekku
dan kata dallek. Selain paralelisme berselang juga terdapat paralelisme dua kata
atau frasa yang berulang, seperti larik kesembilan dan kesepuluh berikut.
Barakka Lailaha Illallah (9)
Barakka Anna Muhammadarrasulullah (10)
Majas yang tertera dalam mantra ini adalah majas metonimia. Menurut
Moeliono (dalam Badrun, 2014), majas metonimia adalah majas yang
menggunakan pemakaian nama ciri atau nama hal yang ditautkan dengan orang,
barang, atau hal lain dengan penggantinya. Seperti tertera dalam contoh kalimat
berikut.
Kau jekne Nabbi Hillere Nabbinnu (1)
Tulungngak na nunngammaseang (2)
„Engkau air Nabi Khaidir Nabimu
Tolong aku dan tumbuh rasa kasihanmu‟
Mantra di atas dikatakan majas metonimia karena menggunakan kata jekne „air‟
dihubungkan dengan Nabi Khaidir dan „air‟ diminta sebuah pertolongan dan belas
kasihan. Simbol yang tampak dalam mantra ini terletak pada kata jekne „air‟. Air
disimbolkan sebagai perantara doa kepada Allah agar dipertemukan dengan rezeki
dan diberi kesehatan. Pemakaian simbol tersebut berkaitan dengan tema mantra,
yakni untuk menanam padi. Air adalah sumber kehidupan dan air yang mampu
menyuburkan tanaman.
127
2) Mantra Aklesero Ase
Permainan bunyi (rima), dalam mantra Aklesero Ase dengan ditandai
dengan huruf tebal, seperti: Napanaungko Nabbi „engkau diturunkan Nabi‟.
Cetakan tebal dalam contoh ini terdapat pasangan bunyi yang mirip. Pasangan
tersebut tidak berupa larik karena susunan pada mantra ini rata-rata dua kata (larik
pendek). Hal ini tampak pada prefiks Na untuk Napanaungko dan Na untuk
Nabbi. Rima pada kalimat tersebut terdapat pada awal kata. Hal ini ada juga pada
larik keenam Naalleko Nabbi „engkau diambil Nabi‟. Rima yang muncul pada
mantra ini tergolong rima tidak sempurna karena kata-kata tidak sama dan dalam
karena dalam satu larik.
Diksi (permainan kata) di dalam mantra Aklesero Ase secara keseluruhan
menggunakan diksi denotasi seperti pada kalimat pertama menggunakan kata
yaccing „padi‟, nabbi „nabi‟, malaekak „malaikat‟, pakrasangang „kampung‟, dan
buluk „gunung‟, dan sebagainya. Paralelisme dalam mantra Aklesero Ase terjadi
pada larik kedua dan ketiga seperti pada teks berikut.
Oh yaccing (1)
Napanaungko Nabbi (2)
Napatimboko malaekak (3)
„Oh padi
Engkau diturunkan Nabi
Engkau ditumbuhkan Malaikat‟
Paralelisme larik di atas merupakan paralelisme bentuk. Struktur terbentuk
dari gramatikal yang hampir sama.
Larik tersebut terlihat tidak sama, tetapi
secara esensi sama sebagai larik penjelas. Larik bercetak tebal tersebut merupakan
kalimat berita, subjek kedua larik implisit. Kedua larik menekankan larik pertama
128
yakni padi. Selain paralelisme struktur, juga terdapat paralelisme dua kata atau
frasa yang berulang, seperti pada contoh larik kedelapan dan sembilan berikut.
Barakka Lailaha Illallah (8)
Barakka Anna Muhammadarrasulullah (9)
Majas yang tertera dalam mantra di atas adalah majas metonimia. Mantra
ini menggunakan pemakaian nama ciri atau nama hal yang ditautkan dengan
orang, barang, atau hal lain dengan penggantinya, seperti terlihat dalam contoh
larik pertama dan dua di atas. Namun demikian, terdapat juga majas metafora,
seperti kalimat Malaekak patanna pakrasangang „malaikat yang punya
kampung‟. Metafora ini penggambaran penegasan kalimat sebelumnya yakni
Napatimboko malaekak „engkau ditumbuhkan malaikat‟. Dianalogikan bahwa
padi telah ditumbuhkan malaikat karena malaikat yang memiliki kampung
tersebut, sehingga dipercaya oleh masyarakat petani tradisional suku Makassar
bahwa tidak perlu ragu kalau padi nantinya tumbuh dengan sempurna karena
dijaga malaikat.
Simbol yang tampak dalam mantra ini terlihat dalam kalimat berikut.
Malaekak patanna pakrasangang (4)
Awalli patanna buluk (5)
„Malaikat yang punya kampung
Wali yang punya gunung‟
Simbol yang tampak bahwa malaikat punya kampung tersebut dan Wali
yang mempunyai Gunung. Secara harfiah hal tersebut tidak mungkin terjadi.
Pemebentukan simbol dalam mantra ini bertujuan sebagai ucapan penguat
sehingga membentuk unsur magis atau gaib.
129
3) Mantra Akbine
Permainan bunyi (rima), di dalam mantra Akbine dalam satu larik tidak
tersurat dengan jelas. Hal ini karena larik yang terbangun rata-rata hanya dua kata.
Namun, ada rima pada larik kelima yang berbunyi Sikontu ummakna nabbita
„semua ummat nabi Muhammad‟. Namun, pasangan bunyi tersebut kurang
menonjol atau tidak terlihat dominan karena bunyi tersebut satu rangkaian kata
yang umum yakni ummat Nabi Muhammad. Artinya, mantra ini tidak
menonjolkan rima, sehingga rima ini berjenis rima tidak sempurna.
Diksi (permainan kata) mantra Akbine menggunakan denotasi seperti pada
kalimat pertama menggunakan kata Iraya „timur, dan nabbita „nabi Muhammad‟.
Penggunaan diksi denotasi dimungkinkan sebagai upaya mempermudah pembaca
mantra untuk memaknai dan meyakini mantra yang diucapkan.
Paralelisme dalam mantra Akbine terjadi pada contoh larik 2, 3 dan 4 pada
teks berikut.
Tallasak kulamung (2)
Tallasak kulamungang (3)
Tallasak nilamungi (4)
„Bibit hidup kutanam (2)
Bibit hidup kutanami (3)
Bibit hidup kutanam‟ (4)
Paralelisme larik di atas merupakan paralelisme struktur. Struktur terbentuk
dari gramatikal yang sama Tallasak kulamung, Tallasak kulamungang, Tallasak
nilamungi. Selain itu, juga merupakan paralelisme dengan perulangan frasa
dengan posisi yang sama, contoh angkateangi, angkarannuangi.
130
Majas yang tertera dalam mantra ini adalah majas metonimia. Mantra ini
memakai nama ciri atau nama hal yang ditautkan dengan orang, barang, atau hal
lain dengan penggantinya, seperti larik Sikontu ummakna nabbita „semua ummat
Nabi Muhammad‟. Kata nabbita digunakan sebagai pengganti nama nabi
Muhammad, yang pada larik kedua belas diperjelas dengan ungkapan Sabak
Allah Taalah siagang nabbi Muhammad „karena Allah bersama Nabi
Muhammad‟.
Tanda dapat berupa ikonis yang tampak dalam kata Tallasak „bibit hidup‟
yang merupakan tanda ikonis bermakna benih kehidupan. Larik Sabak Allah
Taalah siagang nabbi Muhammad „karena Allah bersama Nabi Muhammad‟ juga
merupakan indeksikal, yang dimaknai bahwa segala urusan dimudahkan jika
mendekatkan diri kepada Nabi Muhammad karena Nabi Muhammad dekat dengan
Allah. Allah disimbolkan sebagai penguasa alam semesta. Artinya, jika mau
mendekatkan diri kepada Allah dan Nabi Muhammad, akan mendapat pertolongan
dan memberikan kebahagiaan dan kesenangan serta kesuburan pada sawah yang
ditanami padi.
4) Mantra Pammula Annanang Ase
Permainan bunyi (rima) mantra Pammula Annanang Ase terlihat pada larik
pertama, yakni yukkung, yakkung, yaccing „engkau, aku, padi‟. Permainan bunyi
yang dilakukan adalah pengucapan bunyi ng dengan diiringi vokal u dan i.
Namun, tidak ditemukan dalam kalimat lain. Tampak pada mantra ini permainan
bunyi tidak menonjol. Rima yang tampak adalah rima dalam tetapi tidak
sempurna karena pengucapan bunyi tidak sama persis.
131
Diksi (permainan kata) mantra Pammula Annanang Ase rata-rata
menggunakan denotasi. Penggunaan diksi denotasi dimungkinkan sebagai upaya
mempermudah pembaca mantra untuk memaknai dan meyakini mantra yang
diucapkan, contohnya Yukkung „engkau‟, Yakking „aku‟, Yaccing „padi‟.
Paralelisme dengan perulangan dalam mantra Pammula Annanang Ase
terjadi pada contoh kalimat 1 pada teks berikut.
Yukkung, yakkung, yaccing (1)
Kupasicini mako anne yaccing (2)
„Engkau, Aku, Padi (1)
Aku mempertemukan Engkau padi‟ (2)
Paralelisme larik di atas merupakan paralelisme perulangan satu kata pada
posisi yang sama. Struktur terbentuk dari gramatikal yang sama. Selain itu,
terdapat paralelisme struktur, seperti pada larik 3 dan 4 berikut:
Anrong tumallasukkannu (3)
Mangge tumappajarinu (4)
„Bunda yang melahirkanmu (3)
Ayah yang membuatmu‟ (4)
Paralelisme dalam larik 3 dan 4 merupakan paralelisme semantis. Secara
gramatikal tidak sama, namun kedua frasa tersebut mempunyai makna yang sama.
Contohnya: anrong „bunda‟ dan mangge „ayah‟, tumallasukkannu „melahirkan‟,
tumappajarinu ‘membuatmu‟.
Majas yang tertera dalam mantra ini adalah majas metonimia. Mantra ini
memakai nama ciri atau nama hal yang ditautkan dengan orang, barang, atau hal
lain dengan penggantinya, seperti morfem yukkung, yakkung, yaccing „engkau,
aku, padi‟. Morfem yakkung „aku‟ dalam ungkapan tidak disebutkan sampai akhir
132
mantra itu siapa. Namun, jika mengacu pada larik Kupasicinik mako anne yaccing
„aku mempertemukan engkau padi‟. Jadi, „aku‟ merupakan Sang Pencipta yang
memberikan rahmat atas hasil bumi. Ketiga bentuk sapaan tersebut digunakan
sebagai pengganti nama karena pemali menyebut nama yang dikeramatkan.
Simbol dalam mantra ini menggunakan kata Anrong „bunda‟ dan Mangge
„ayah‟. Bunda disimbolkan sebagai kelahiran dan yang melahirkan, sebagai
simbol kesuburan. Ayah disimbolkan sebagai pembuat, sebagai pemberi jalan
untuk menjadikan kelahiran. Selain itu, kata malaekak „malaikat‟ dianalogikan
sebagai penjaga.
5) Mantra Annanang Ase
Permainan bunyi (rima) mantra Annanang Ase menggunakan rima akhir.
Dalam setiap akhir kalimat diakhiri oleh sukukata nu dan ah. Dalam mantra ini
rima juga ditemukan dalam bentuk aliterasi ng didahului vokal u dan a. Hal ini
terlihat dalam kalimat Ritallung bulang kisicinik „tiga bulan mendatang kita
bertemu‟. Pada larik ini terjadi proses asimilasi yaitu Ritallum bulang kisicinik.
Diksi (permainan kata) mantra Annanang Ase menggunakan denotasi.
Penggunaan diksi denotasi dimungkinkan sebagai upaya mempermudah pembaca
mantra untuk memaknai dan meyakini mantra yang diucapkan.
Paralelisme dengan perulangan dalam mantra Annanang Ase terjadi pada
contoh kalimat 3 sampai 5 berikut.
Bintoeng pakliserannu (3)
Bulang pappa kaciknongnu (4)
Alloa pangnyappuruknu (5)
133
„Bintang bulir padimu (3)
Bulan menjadi kejernihanmu (4)
Matahari menyinarimu‟ (5)
Paralelisme dalam larik 3, 4, dan 5 merupakan paralelisme bentuk
palliserannu
„bulir
pangnyappuruknu
padi‟,
pappa
kaciknongnu
„menjadi
kejernihanmu‟,
„menyinarimu‟. Paralellisme semantik bintoeng „bintang‟,
bulang „bulan‟, allo „matahari‟. Secara gramatikal sama, dan kedua larik tersebut
mempunyai makna yang sama dan memperjelas larik sebelumnya. Selain itu,
secara gramatikal juga tersurat prefiks “pa-“ pada kata seperti pakliserannu/ papa
kaciknongnu/ pangnyappuruknu.
Majas yang tertera dalam mantra ini adalah majas metafora. Hal ini terlihat
dalam contoh frasa Bulang papa kaciknongnu „bulan yang menjadikan benih padi
putih/bening‟
merupakan
metafora
dari
perwujudan
bentuk.
Bintoeng
pakliserannu bintang jika dilihat dari kejauhan bentuknya seperti padi, putih, dan
bening. Oleh karena itu, bintoeng/bintang menjadi simbol dalam mantra ini.
6) Mantra Rappo Ase
Di dalam Mantra Rappo Ase menggunakan rima asonansi, contohnya I
rawa – I rate „di atas – di bawah‟. Asonansi berupa vokal „I‟ dan dilanjutkan
konsonan „r‟. Diksi mantra Rappo Ase menggunakan denotasi. Penggunaan diksi
denotasi dimungkinkan sebagai upaya mempermudah pembaca mantra untuk
memaknai dan meyakini mantra yang diucapkan.
Paralelisme dengan perulangan dalam mantra Annanang Ase terjadi pada
contoh kalimat 3 sampai 5 berikut:
134
I timboro – I wara (3)
I raya - I lau (4)
I rawa – I rate (5)
„Di selatan – di Utara (3)
Di timur – di Barat (4)
Di atas – di bawah (5)
Paralelisme dalam kalimat 3, 4, dan 5 merupakan paralelisme semantik.
Larik-larik tersebut memperlihatkan totalitas dari seluruh arah. Secara gramatikal
tidak sama, namun kedua kalimat tersebut mempunyai makna yang sama dan
memperjelas larik sebelumnya.
Majas yang tertera dalam mantra ini adalah majas metonimia. Mantra ini
menggunakan pemakaian nama ciri atau nama hal yang ditautkan dengan orang,
barang, atau hal lain dengan penggantinya, seperti kata I timboro – I wara „di
selatan – di utara‟. Larik tersebut metafora dari arah mata angin yang dipercayai
sebagai pembawa keberkahan kepada padi. Angin mampu membawa oksigen dan
dapat membuat padi tumbuh subur.
Simbol di dalam mantra ini menggunakan kata malaekak „malaikat‟ dan
Awalli „Wali‟, yang diumpamakan sebagai sosok yang dekat dengan Allah. Kedua
nama orang suci ini diharapkan memberi bantuan atas permohonan yang telah
dibacakan melalui mantra Rappo Ase.
7) Mantra Appa Sulapa Nikutanang
Permainan bunyi (rima) mantra Appa Sulapa Nikutanang menggunakan
rima aliterasi, contohnya Oh yaccingku nia aseng jako ilalang „Oh padi apakah
Engkau ada semua di dalam‟. Aliterasi berupa konsonan ng dengan didahului
135
vokal i, e, dan a. Selain itu, aliterasi k dalam Warakka timborokko mae „kalau di
Utara silahkan datang di Selatan‟
Diksi mantra Rappo Ase menggunakan denotasi. Penggunaan diksi
konotasi hanya pada kata kusalayya kusabbu „kesalahan yang tidak sempat
kusebut‟. Hal ini dimaknai sesuatu yang jahat sehingga tidak pantas untuk
disebutkan namanya. Pemanfaatan kata dalam mantra ini cenderung lugas untuk
mempermudah pemahaman penyapa dan pesapa.
Paralelisme bentuk di dalam mantra Annanang Ase terjadi pada contoh
larik 15 sampai 16 berikut.
Tanairikmako anging (15)
Tanararangko allo (16)
„Engkau tidak ditiup angin‟ (15)
„Engkau tidak disinari matahari‟ (16)
Paralelisme di atas merupakan perulangan frasa. Perulangan pada larik 16
merupakan perumpamaan sebagai penjelasan pada larik 15. Pengulangan tersebut
sebagai paralelisme bentuk. Secara gramatikal tidak sama, namun kedua kalimat
tersebut mempunyai makna yang sama dan saling menjelaskan.
Majas di dalam mantra ini adalah majas perumpamaan dengan
menggunakan kata I raya kalaukko mae „kalau di timur silahkan datang ke barat‟/
I Laukka anraikko mae „kalau di Barat silahkan datang ke timur‟/ Timboroka
warakko mae „kalau di selatan silahkan datang ke utara‟/ Warakka timborokko
mae „kalau di utara silahkan datang ke selatan‟. Ada gaya bahasa antitesis, yakni
melakukan pertentangan kelompok kata yang berlawanan maksudnya. Simbol
yang digunakan di dalam mantra ini adalah padi, yang disimbolkan sebagai
136
penghantar keberkahan. Padi disimbolkan sebagai makhluk bernyawa yang dapat
diajak bicara.
5.2. Struktur Teks Mantra Tupakbiring
5.2.1. Komposisi Naratif Teks Mantra Tupakbiring
Mantra Tupakbiring bagi masyarakat suku Makassar, khususnya
masyarakat nelayan tradisonal menurut Maknun (2012), merupakan mantra
keselamatan dan harapan. Tujuan pengucapan mantra adalah agar terhindar dari
marabahaya dan memperoleh rezeki yang berlimpah. Mantra Tupakbiring
dilakukan bertahap mulai dari menaiki perahu sampai berlayar di laut. Berikut
beberapa mantra utama Tupakbiring yang sering diucapkan para nelayan.
1) Mantra Pappalakku (Permohonanku)
Mantra Pappalakku „permohonanku‟ merupakan mantra yang digunakan
oleh masyarakat nelayan tradisional suku Makassar untuk mulai menaiki perahu.
Secara struktural teks dibagi menjadi tiga bagian, yakni: pembuka, batang tubuh,
dan penutup. Berikut rincian bagian tersebut.
Oh yamming palakkangak
Na nupabatuangak
Dallekk hallalakku battu ri Allah Taalah (1)
“Ya Allah aku memohon kepada-Mu, berikanlah rezeki halal bagiku yang
Engkau ridhai."
Mantra pembuka terdiri atas tiga larik dengan kata yang bervariasi dari
masing-masing larik. Mantra pembuka diawali oleh kata yamming dan diakhiri
oleh kata Allah Taalah. Penyebutan yamming merupakan kepercayaan masyarakat
untuk menyugesti dirinya sendiri (bayangan si pembaca mantra). Kata dallekk
137
„rezeki‟ merupakan pengharapan yang diinginkan. Kata Allah Taalah merupakan
wujud kepasrahan bahwa semua kuasa ada di tangan Tuhan Yang Maha Kuasa.
Mantra ini secara struktural menggunakan komponen nama mantra untuk
mengawali, dengan menggunakan nama yamming. Komponen lain adalah niat dan
sugesti.
Batang tubuh mantra Pappalakku „permohonanku‟ terdiri atas delapan
kalimat, dengan diawali oleh larik perintah kata Oh. Kata Oh atau kata seru tidak
ada maknanya tetapi dalam mantra kata tersebut merupakan penekanan untuk
menambah suasana magis pembaca mantra. Hal ini terlihat dalam teks berikut.
Oh yamming pabattuangma
Na nupakangkangngimma tippa-tippa dallekku
Kunyik-kunyik - eja-eja – tekne-tekne, minnyak-minnyak
Na kutippa todong angkarannuangi angkatekneangi
O yamming kiokkangngak dallekku
I raya – I lau – I timborok – I wara – I rate – I rawa
Na kualle kupantama ri “Ha” lompoku
Ri gaddonna Allah Taalah (2)
Oh yamming sampaikanlah
Dan berikanlah secepatnya rezekiku dalam genggamanku
Kuning-kuning-merah-merah-manis-manis-minyak-minyak
Agar cepat juga kurasakan manisnya rezeki itu
Oh yamming panggilkan rezekiku
Di Timur – di Barat – di Selatan – di Utara – di atas – di bawah
Lalu kuambil kumasukkan ke peti uangku yang paling besar
Di kamarnya Allah Taalah
Secara struktural, batang tubuh mantra ini menggunakan simbol-simbol,
seperti: larik kunyik-kunyik - eja-eja – tekne-tekne, minnyak-minnyak. Larik
tersebut menunjukkan simbol telur ikan terbang. Ikan ini banyak tersebar di
wilayah Makassar dan diyakini memiliki komoditi dan harga yang tinggi. Secara
138
struktural pula, batang tubuh ini menggunakan pengulangan bunyi, seperti:
yamming, dan Allah Taalah.
Penutup mantra Pappalakku „permohonanku‟ terdiri atas dua kalimat,
seperti terlihat dalam teks berikut.
Tenapa ri Allah Taalah
Natena todong rinakke (3)
„Nanti tidak ada pada Allah Taalah
Barulah Tidak ada juga padaku‟
Mantra di atas dikatakan penutup mantra Pappalakku „permohonanku‟
karena dianggap pamungkas dari doa mantra ini. Tertulis tenapa dan na tena serta
kata ri (ri Allah...) dan ri nakke. Artinya, secara struktural menggunakan kata
yang mirip secara bunyi. Dua larik ini sebagai penegasan dari larik-larik
sebelumnya bahwa semua permohonan atas kehendak Allah Taalah dan manusia
tidak mempunya daya apapun.
2) Mantra Dallekku (Rezekiku)
Mantra Dallekku „rezekiku‟ merupakan mantra ketika proses akan melaut.
Mantra ini diucapkan seperti mantra sebelumnya, yaitu berisi pengharapan agar
dimudahkan rezeki. Mantra ini terdiri atas sepuluh larik, yang terbagi menjadi dua
larik bersambung yang disebut kalimat majemuk dan tampak sebagai dua klausa,
seperti: bebas/independent close seperti esappi tamparanga, Na esak todong
dallekku, Taenapa rammang ri langika, Na taena todong dallekku. Hal ini dapat
dilihat teks lengkap sebagai berikut.
Oh yamming (1) esappi tamparanga
Na esak todong dallekku
Taenapa rammang ri langika
Na taena todong dallekku
139
Labbusukpi bintoengnga
Na labbusuk todong dallekku ri Allah Taalah
Tumbangpi bobokaraeng
Na tumbang todong dallekku
Runtungpi lompobattang
Na runtung todong dallekku (2) Battu ri Allah Taalah (3)
Oh yamming nanti surut laut
Baru surut juga rezekiku
Nanti tidak ada awan di langit
Baru tidak ada juga rezekiku
Nanti habis bintang di langit
Baru habis juga rezekiku dari Allah Taalah
Nanti tumbang gunung Bawakaraeng
Barulah tumbang juga rezekiku
Nanti runtuh gunung Lompobattang
Barulah runtuh juga rezekiku dari Allah Taalah
Pembuka mantra Dallekku „rezekiku‟ diawali oleh ungkapan oh yamming.
Ungkapan sebagai penyemangat pembaca mantra. Sebenarnya, mantra ini tidak
menggunakan pembuka seperti mantra sebelumnya. Terlihat dari struktur mantra
yang mempunyai susunan larik yang sama sampai akhir mantra. Namun, pembuka
mantra ini adalah Oh yamming karena larik selanjutnya tidak menggunakan
ungkapan itu lagi.
Batang tubuh mantra Dallekku „rezekiku‟ terdiri atas seluruh larik mantra
yang diucapkan karena memiliki susunan hampir sama. Mantra ini juga terdiri
atas larik-larik yang bersambung sampai akhir. Hal ini terlihat dalam teks berikut.
... esappi tamparanga
Na esak todong dallekku
Taenapa rammang ri langika
Na taena todong dallekku
Labbusukpi bintoengnga
Na labbusuk todong dallekku ri Allah Taalah
Tumbangpi bobokaraeng
Na tumbang todong dallekku
Runtungpi lompobattang
Na runtung todong dallekku Battu ri Allah Taalah
140
„... nanti kering laut
Barulah kering juga rezekiku
Nanti tidak ada awan di langit
Baru tidak ada juga rezekiku
Nanti habis bintang di langit
Barulah habis juga rezekiku dari Allah Taalah
Nanti runtuh gunung Bawakaraeng
Barulah runtuh juga rezekiku
Nanti runtuh gunung Lompobattang
Barulah runtuh juga rezekiku dari Allah Taalah‟
Batang tubuh mantra di atas menggunakan analogi sebagai simbol gunung
Bawakaraeng dan gunung Lompobattang. Artinya, di area manapun para nelayan
melaut asalkan menyebut kedua nama gunung tersebut banyak mendatangkan
rezeki.
Sebenarnya, mantra Dallekku „rezekiku‟ tidak menggunakan penutup jika
dilihat secara keseluruhan bacaan mantra. Namun, jika dicermati penutup mantra
ini terletak pada kata baku Allah Taalah. Kata baku ini menyimbolkan sebagai zat
pemberi rezeki dan tidak ada kuasa manusia pun atas rezeki tersebut selain Allah.
3) Mantra Songka Bala (Tolak Bala)
Mantra Songka Bala merupakan mantra yang diucap ketika perahu berada
di laut. Mantra ini diucapkan untuk pengharapan agar dilindungi dan diberi
keselamatan dengan diibaratkan perahu yang dinaiki, kuat seperti kapal Nabi Nuh.
Mantra ini berisi empat belas kalimat. Dua larik pembuka, sembilan larik inti, dan
tiga larik penutup, berikut rinciannya.
Pembuka dalam Songka Bala seperti yang disebutkan sebelumnya terdiri
atas dua larik, seperti tertera dalam teks berikut.
Eh.., Imanrembassang
Dongkokanna nabbi Nuhung (1)
141
“Wahai Imanrembassang, bahtera yang digunakan Nabi Nuh.”
Larik di atas sebagai pembuka karena dianggap mewakili isi yang ingin
disampaikan dalam mantra bahwa perahu yang dinaiki dapat selamat dan kokoh
seperti perahu Nabi Nuh. Bagian pembuka menekankan bunyi Eh kata
seru/interjection untuk menambah kekuatan magis dalam pengucapan. Selain itu,
pembuka mantra ini menggunakan nama sebagai penanda, yakni penggunaan
nama Imanrembassang (nama perahu Nabi Nuh) dan nabbi Nuhung „Nabi Nuh‟.
Batang tubuh mantra Songka Bala ini terdiri atas empat belas larik. Mantra
ini menggunakan konjungsi “na” dihampir semua larik. Hal ini memperindah
bunyi dan lebih menekankan agar permohonan dikabulkan. Berikut teks dalam
mantra tersebut.
Eh.., Imanrembassang
Assengnga na kuassengtongko
Cinikka na kuciniktongko
Jangjangak na kujangjang tongko
Katutuiya na kukatutui tongko
Ngaiya na kungai tongko
Na nuboyanga dallekku
Na nusongka sikamma bala nantattabayya
Inakke sibatu biseang (2)
Eh Imanrembassang
Perahu yang digunakan Nabi Nuh
Eh Imanrembassang
Kenalilah diriku agar kumengenali juga dirimu
Lihatlah diriku agar kudapat juga melihatmu
Pandanglah diriku agar kudapat juga memandangmu
Sayangilah diriku agar kudapat juga menyayangimu
Sukailah diriku agar kusukai juga dirimu
Dan carikanlah rezekiku
Dan lindungilah dari segala marah bahaya yang akan datang
Diriku dan semua bagian perahuku
142
Penutup mantra Songka Bala ini terdiri atas tiga larik. Larik-larik ini
dikatakan
penutup
karena
merupakan
larik
penjelasan
dari
larik-larik
sebelumnya. Hal ini terlihat dalam teks berikut.
Na punna ta nupakamma kanangku
Ka pallakko ri Muhammad Rasullullah
Ka inakke minne Muhammad (3)
“Ya Allah ridhailah semua apa yang hamba tuturkan pada-Mu, Engkau yang
memberikan kami jalan lurus kepada Muhammad sebagai Rasul, dan hambamu
sebagai pengikutnya.”
Larik-larik di atas sebagai penutup karena menggunakan konjungsi
bersyarat Na punna yang artinya „kalau‟ dan menggunakan nama orang suci yakni
Muhammad Rasulullah, yang digunakan sebagai penekanan dalam mantra ini
supaya doa terkabul.
4) Mantra Loloanna Sombalakku (Tali Layarku)
Mantra Loloanna Sombalakku „tali layarku‟ merupakan mantra yang
diucapkan ketika berada di laut. Mantra ini terdiri atas delapan larik, yang terbagi
menjadi dua larik kelompok besar yang berkesinambungan.
Secara struktural, mantra ini tidak ada larik pembukanya. Semua
merupakan isi atau batang tubuh mantra. Mantra ini diawali oleh larik Tepokpi
anne terak-terasakku „nanti patah tulang keringku‟ dan disambung oleh larik Na
tepok todong lekok gulingku „baru patah juga daun kemudiku‟. Larik tersebut
menjelaskan maksud pengharapan keselamatan. Hal ini karena larik selanjutnya
mengungkapkan hal yang sama, yakni larik Na polongpi bonggangku „nanti patah
pahaku‟, disambung oleh larik keempat Na polong todong bongga gulingku „baru
patah batang kemudiku‟. Larik tersebut membuktikan bukan larik pembuka,
143
karena sama-sama menggunakan istilah „kemudi‟ baik di larik kedua maupun
keempat.
Berdasarkan pembacaan teks, bagian pembuka mantra ini seluruhnya
memuat isi pengharapan. Semua larik menggunakan bahasa metafora. Mantra ini
juga memakai ungkapan yang berhubungan satu larik dengan larik lainnya.
Leksikon-leksikon yang digunakan dalam hampir sama, misalnya tepokpi… na
tepok todong/ polongpi… napolong todong/ tappukpi… natakpuk todong. Hal ini
tampak seperti tertera dalam teks berikut.
Tepokpi anne terak-teraksakku
Na tepok todong lekok gulingku
Polongpi bonggangku
Na polong todong bongga gulingku
Tepokpi paling-palingku
Na tepok todong bauku
Tappukpi nyawaku
Na tappu todong loloanna sombalakku
Nanti patah tulang keringku
Baru patah juga daun kemudiku
Nanti patah pahaku
Baru patah pula batang kemudiku
Nanti patah lenganku
Baru patah juga tiang layarku
Nanti putus nyawaku
Baru putus juga tali layarku
Mantra di atas mulai awal sampai larik ketujuh menggunakan partikel (-pi)
Tepokpi „nanti patah‟. Selain itu, pada setiap larik terdapat ungkapan yang
berhubungan satu dengan yang lainnya. Hal ini menunjukkan mantra tersebut
keseluruhan berupa isi.
Meskipun mantra Loloanna Sombalakku „tali layarku‟ terlihat keseluruhan
berupa isi, namun jika dicermati, penutup dari mantra ini adalah larik terakhir,
144
yakni Na tappu todong loloanna sombalakku „baru putus juga tali layarku‟. Hal
ini terlihat pada dua kata terakhir yang mengungkapkan judul mantra ini, yaitu
loloanna sombalakku. Dua kata tersebut merupakan ikonik dari maksud mantra
yang diucapkan, yakni pengharapan bahwa perahu yang digunakan tidak
mengalami musibah dan selamat sampai ke daratan.
5) Mantra Gosse (Rumput Laut)
Mantra Gosse „rumput laut‟ merupakan mantra untuk mendapatkan hasil
tangkapan dalam melaut. Gosse diartikan sebagai rumput laut karena potensi
sumber daya laut di wilayah Makassar sebagian besar adalah rumput laut. Mantra
ini terdiri atas tiga belas larik, yang terbagi menjadi: pembuka, batang tubuh, dan
penutup.
Pembuka mantra Gosse ada tiga larik, seperti yang tertera dalam teks
berikut.
Assalama Alaikum
Ikau gosse Irapang jintu arengnu
Ri Allah Taalah
„Assalama Alaikum, wahai rumput laut Irapang yang diciptakan Allah ta‟ala.”
Larik-larik di atas sebagai pembuka mantra karena memuat unsur larik
sapaan, yakni Assalama Alaikum. Salam merupakan simbol pembuka dalam setiap
kegiatan bagi umat Islam. Setelah itu diperjelas dengan larik Ikau gosse Irapang
jintu arengnu „engkau rumput laut Irapang itu namamu‟ sebagai maksud
pengucapan mantra.
Batang tubuh mantra Gosse ada sembilan larik seperti yang terlihat dalam
teks berikut.
145
Nabbi pahara nabbinu
Inakke iyukkung arengku
Ri Allah Taalah
Nabbi Muhammad nabbiku
Na battu ulunnajako antu
Nabbi Adam ajjari batu
Na labbi Uk pammantangngannajako
Antu nabbi Hawa ajjari gosse
Na alleko Ali
Nabi pemelihara rumput laut nabimu
Aku bernama yukkung
Dari Allah Taalah
Nabi Muhammad nabiku
Engkau berasal dari kepala
Itu Nabi Adam menjadi batu
Hanya lebih rambutnya saja
Itu nabi Hawa menjadi rumput laut
Engkau diambil oleh Ali
Larik-larik di atas dikatakan sebagai batang tubuh karena saling berkaitan
dan satu rangkaian. Mantra tersebut mengutarakan kata Nabbi „Nabi‟ berkali-kali.
Bagian, batang tubuh lebih banyak mengungkapkan metonimi, yakni bahasa
kiasan dengan memakai nama atau ciri orang untuk menyebutkan hal yang
bertautan dengannya.
Jika dilihat secara utuh, mantra Gosse tidak terlihat adanya kalimat
penutup mantra. Namun, jika dicermati terlihat penggunaan ungkapan sebagai
penutup mantra, yakni Na pabarakkako Nabbi Muhammad „diberkati oleh Nabi
Muhammad‟. Ungkapan ini sebagai penutup karena dikaitkan dengan kalimat
pembuka dan penggunaan kata Allah. Dalam ajaran Islam, penyebutan Allah
dalam pengucapan doa sering diiringi oleh mengucap Nabi Muhammad.
146
6) Mantra Bunoanna Jukuka (Pengawetan Ikan)
Mantra Bunoanna Jukuka terdiri atas tiga belas larik. Mantra ini
merupakan mantra memohon keberkahan atas hasil laut yang diperoleh. Mantra
ini terdiri atas tiga susunan, yakni: pembuka, batang tubuh, dan penutup.
Pembuka mantra Bunoanna Jukuka sama seperti mantra Gosse, yakni
menggunakan salam sebagai awal ucapan mantra. Salam tersebut disambung oleh
ucapan yang mengandung unsur sugesti dan berisi penyampaian maksud, seperti
terlihat dalam teks berikut.
Assalama Alaikum
Iyakking jintu areng tojeng-tojengmu
Ri Allah Taallah nuing karaengnu (1)
„Assalamu Alaikum, Iyakking adalah namumu, Allah ta‟ala adalah Tuhanku.
Larik-larik di atas sebagai pembuka karena dimulai salam dan menggunakan kata
Iyakking sebagai penekanan maksud dan kata Allah sebagai simbol Sang Maha
Penguasa Rezeki.
Batang tubuh mantra Bunoanna Jukuka terdiri atas delapan kalimat dengan
leksikon teks yang tidak tetap (tidak beraturan). Hal ini terlihat dalam teks berikut.
Nabbi Sulaimana nabbinu
Inakke iyukkung ampatinroko
Nuttinromo naung ri katoang majannannu
Rikasorok malannyinnu
Ritappere matangkasaknu
Nukamma todong tinrona bunting berua
Lebbak junnuko – lebbak satinjaiko
Nuktambung nukbumbung (2)
Nabi Sulaiman nabimu
Akulah iyukkung menidurkanmu
Tidurlah saja di tempayan ketenanganmu
Di kasur empukmu
Di tikar bersihmu
147
Seperti juga tidurnya pengantin baru
Telah mandi junub – dan telah bersih
Bertumpuk dan menggunung
Larik-larik di atas menjadi batang tubuh karena berisi tujuan pengharapan
dari rezeki yang diperoleh. Bagian ini banyak menggunakan kata metonimi,
seperti Nabbi Sulaimana „Nabi Sulaiman‟, I yukkung, ri kasoro‟ „kasur‟, dan ri
tappere „tikar‟. Hal ini menunjukkan bahwa mantra ini dikuatkan oleh unsurunsur nama dan analogi-analogi religi.
Penutup mantra Bunoanna Jukuka hanya ada dua larik terakhir. Mantra
penutup menggunakan analogi gunung Lompabattang dan gunung Bawakaraeang
sebagai penguat mantra. Komponen visualisasi dan simbol digunakan sebagai
pengharapan agar hasil lautnya berlimpah. Hal ini terlihat pada teks berikut.
Kamma todong pattambunnu Lompobattang
Nukbumbung kamma todong pabbumbunnu Bobokareang
“Bertumpuk seperti gunung Lompobattang yang tinggi, juga bagai gunung
Bawakaraeang.”
7) Mantra Appasuluki Kodia (Mengeluarkan yang Jahat)
Mantra Appasuluki Kodia „mengeluarkan yang jahat‟ berjumlah sembilan
belas larik, yang terbagi menjadi dua larik pembuka, lima belas larik batang
tubuh, dan dua larik penutup. Mantra ini memiliki jumlah larik paling banyak
dibandingkan dengan mantra Tupakbiring sebelumnya. Mantra ini dianggap
mantra pamungkas dari mantra-mantra Tupakbiring sebelumnya karena isinya
mewakili semua mantra sebelumnya. Hal ini dapat dianalisis melalui uraian
komposisi naratif berikut.
Bismillahirrahmanirrahim
148
Kuniakkanngi Abubakara – Umara – Usman – Ali (1)
„Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, disamping niatku
kepada para sahabat Nabi, Abubakar – Umar – Usman – Ali‟
Larik di atas sebagai pembuka karena memuat unsur salam pembuka
berupa kata Basmalah lalu disusul oleh kalimat berita Kuniakkanngi Abubakara –
Umara – Usman – Ali „kuniatkan Abubakar – Umar – Usman – Ali‟. Larik-larik
ini digunakan sebagai komponen niat agar seluruh keinginan dapat terkabul dan
agar hal-hal yang jahat menghindar dari perahu yang ditumpangi. Jadi, mantra
pembuka menggunakan simbol agama sebagai tujuan agar pengharapan dapat
tercapai.
Batang tubuh mantra Appasuluki Kodia „mengeluarkan yang jahat‟ terdiri
atas limabelas kalimat. Hal ini terlihat dalam teks berikut.
Ammenteng ri sulapak
Appakna biseangku
Anjagai panraka
Ampantamaki bajika
Appasuluki kodia
Pattantanna Rasulullah
Punna nia tausalah atekakna anlaloi
Taenami tallasana nakana Allah Taalah
Ruhu Ilapi anmmenteng ripoccina biseangku
Angjagai panraka
Ampamtamai bajika
Appasuluki kodia
Punna nia tausalah atekakna angkira-kirai biseangku
Labboro kamma tongi ceklaya
Nasabak Allah Taalah
Berdiri di empat bagian penting
Dalam perahuku
Menjaga yang rusak
Memasukkan yang baik
Mengeluarkan yang jahat
Pelindungnya Rasulullah
Kalau ada orang salah niatnya yang melewati
149
Telah hilang hidupnya menurut Allah Taalah
Ruh Ilahi berdiri di pusat perahuku
Menjaga yang akan rusak
Memasukkan yang baik
Mengeluarkan yang jahat
Kalau ada orang salah niatnya membidik perahuku
Mencairlah seperti juga garam terkena air
Sebab Allah Taalah
Beberapa larik di atas secara komponen memuat unsur niat, yakni niat agar
hal baik masuk dan hal jahat pergi dari perahu. Terbukti dari kalimat Punna nia
tausalah atekakna anlaloi „kalau ada orang salah niatnya yang melewati‟.
Maksudnya, mantra ini berniat mengusir hal yang jahat yang mungkin mendatangi
perahu.
Komponen lain dalam batang tubuh adalah komponen sugesti. Komponen
ini didominasi oleh mitologi, seperti Ammenteng ri sulapa‟ „berdiri di empat
bagian penting‟, artinya alam memiliki empat penjuru arah mata angin yang
diharapkan menjaga perahu mereka ketika di tengah laut. Contoh mitologi lainnya
adalah Ruhu Ilapi anmmenteng ri poccikna biseangku „Ruh Ilahi berdiri di pusat
perahuku‟. Maksudnya, segala pertolongan dan kekuatan selalu dalam
perlindungan dan milik Allah semata. Mantra ini juga memuat komponen
visualisasi dan simbol, seperti pada teks punna nia tausalah atekakna angkirakirai biseangku/ Labboro kamma tongi ceklaya „kalau ada orang salah niatnya
membidik perahuku/ mencairlah seperti juga garam‟. Larik ini menvisualisasikan
bahwa jika ada gangguan jahat mendatangi perahu mereka, akan lebur dan hilang
seperti larutnya garam karena air.
Penutup mantra ada dua kalimat, seperti terlihat dalam teks berikut:
150
Barakkah Lailaha Illallah
Barakkah Anna Muhammadarrasulullah (3)
„Barakkah Lailaha Illallah, Barakkah Anna Muhammadarrasulullah‟
Dua larik di atas sebagai penutup karena memuat unsur penutup, yakni
berupa larik akhir. Dikatakan larik akhir karena mengadopsi dari simbol agama
Islam bahwa untuk menutup kegiatan dilakukan dengan mengucap syukur atau
permohonan kepada Allah dan Nabi Muhammad.
Berdasarkan
keseluruhan
analisis
komposisi
naratif
teks
mantra
Tupakbiring, ditemukan bahwa mantra ini memiliki komponen-komponen, di
antaranya: salam pembuka, niat, sugesti, harapan, visualisasi, simbol, serta
penutup. Namun, dari ketujuh mantra tidak semua menggunakan simbol agama
Islam sebagai pembuka, seperti mantra pappalakku, Dallekku, Songka Bala,
Loloanna Sombalakku, tetapi menggunakan nama bayangan si pembaca mantra.
Ada tiga yang menggunakan simbol yakni mantra Gosse, Bunoanna Junuka, dan
Appasuluki Kodia.
Dari ketujuh mantra tersebut kebanyakan menggunakan komponen sugesti
dan visualisasi simbol sebagai penguatan unsur magis dan gaib dalam mantra.
Gaya bahasa lebih banyak menggunakan analogi (metaforis) dalam penyampaian
dan pengulangan bunyi.
Perbandingan komposisi naratif antara mantra Tulembang dengan
Tupakbiring ditemukan persamaan, antara lain: secara unsur pembangun
komponen menggunakan salam pembuka melalui salam kepada Allah dan
penyebutan bayangan si pembaca mantra (yukkung, yakkung, yaccing untuk
mantra Tulembang dan yamming untuk Tupakbiring).
Persamaan lainnya,
151
keduanya mempunyai judul mantra. Secara isi, komponen sugesti didominasi oleh
sentuhan mitologi Nabi, arah mata angin, bulan bintang matahari. Perbedaannya,
yakni mantra Tupakbiring menggunakan mitologi gunung di dalam mantranya
dan itu disebut di dua mantra dari tujuh mantra yang ada.
5.2.2. Satuan Wacana Naratif Teks Mantra Tupakbiring
Satuan wacana naratif teks mantra Tupakbiring, seperti juga mantra
Tulembang menekankan unsur waktu, pelaku, dan peristiwa. Kekuatan wacana ini
terletak pada urutan cerita berdasarkan waktu dan cara-cara bercerita yang diatur
melalui plot.
1) Mantra Pappalakku (Permohonanku)
Mantra Pappalakku digunakan oleh para nelayan tradisional suku
Makassar, ketika turun ke laut. Mantra ini mengungkapkan permohonan kepada
Allah agar diberi rezeki yang halal, yaitu telur ikan terbang. Mantra ini diawali
oleh ungkapan yamming, yang menggambarkan bayangan si pembaca mantra.
Permohonan disampaikan kepada yamming agar dapat merasakan manisnya rezeki
yang halal dari Allah.
Penyampaian mantra ini secara monolog dan dialog. Monolog karena
pesapa implisit dan dialog karena ada nama sasaran yang jadi pengungkapan
mantra. Penggunaan bahasa analogis dengan sentuhan mitologi. Mantra ini
ditujukan kepada yamming dan Allah SWT.
152
2) Mantra Dallekku (Rezekiku)
Mantra Dallekku merupakan mantra yang diucapkan pada saat berlayar
atau melakukan pelayaran. Mantra ini mengungkapkan pengharapan kepada
yamming, agar diberi rezeki yang berlimpah. Pengharapan agar laut tidak kering,
ada awan, bintang, gunung Bawakaraeng dan Lompobattang tidak runtuh
sehingga rezeki yang diperoleh juga tidak kering atau hilang.
Penyampaian mantra berupa monolog dan dialog. Monolog karena tidak
ada objek konkret yang diajak bicara (implisit) dan dialog karena ada komunikasi
secara batiniah antara penyapa dan pesapa. Hal ini dibuktikan adanya komponen
nama sasaran yamming dan kata seruan Oh. Penggunaan bahasa tetap secara
analogis dengan sentuhan mitologi dan religi. Mantra ini ditujukan kepada
yamming, awan, bintang, gunung Bawakaraeng dan Lompobattang, serta Allah
Taalah.
3) Mantra Songka Bala (Tolak Bala)
Mantra Songka Bala merupakan mantra yang diucapkan pada saat akan
berlayar atau melakukan pelayaran. Mantra ini mengungkapkan permohonan
kepada Imanrembassang, sebutan nama untuk kapal Nabi Nuh. Mantra ini
merupakan permohonan perlindungan agar diberi kekuatan dan keselamatan
dalam melaut. Pengharapan bahwa Imanrembassang mengenali diri pembaca
mantra, menyayangi, dan memandangi, menyukai, agar terlindungi dari
marabahaya. Mantra ini juga menyampaikan ancaman bahwa jika tidak memenuhi
kata-kata pembaca mantra, sama artinya tega kepada Nabi Muhammad. Inilah
153
kekuatan mantra Songka Bala. Pernyataan tersebut mampu memberikan unsur
magis bagi pembaca mantra.
Penyampaian mantra berupa monolog dan dialog. Monolog karena tidak
ada objek konkret yang diajak bicara (implisit) dan dialog karena ada komunikasi
secara batiniah antara penyapa dan pesapa. Hal ini dibuktikan adanya komponen
nama sasaran dan kata sapaan. Penggunaan bahasa secara analogis dengan
sentuhan mitologi dan religi. Mantra ini ditujukan kepada Imanrembassang dan
Nabi Muhammad.
4) Mantra Loloanna Sombalakku (Tali Layarku)
Mantra Loloanna Sombalakku dibacakan pada saat akan berlayar. Mantra
ini
digunakan
sebagai
permohonan
keselamatan
baik
perahu
maupun
penggunanya. Mantra ini seperti bentuk pantun karena menggunakan persamaan
bunyi (rima). Wacana narasi berbentuk sugestif dan disampaikan secara monolog
karena penyampaian tidak mengajak interaksi dengan pesapa. Penggunaan bahasa
secara metaforis dan bersifat terikat.
5) Mantra Gosse (Rumput Laut)
Mantra Gosse merupakan mantra yang dibacakan pada saat mencari
rumput laut. Mantra ini diawali oleh salam dan dilanjut pernyataan memanggil
rumput laut bahwa rumput laut ciptaan Allah dan dipelihara Nabi. Lalu rumput
laut diibaratkan uk „rambut‟ berasal dari kepala, Nabi Hawa, diambil Ali, dan
diberkahi Nabi Muhammad.
Berdasarkan ungkapan tersebut mantra ditujukan kepada rumput laut,
yukkung, Allah, Nabi Adam, Hawa, dan Ali, serta Nabi Muhammad. Suasana
154
sakral dan khidmat. Pelibat wacana adalah orang yang ditetuakan/pinati. Sarana
wacana berupa monolog dan dialog. Monolog karena pesapa implisit dan dialog
karena ada interaksi komunikasi batiniah antara penyapa dan pesapa. Penggunaan
bahasa bersifat metaforis dengan sentuhan mitologi dan religi.
6) Mantra Bunoanna Jukuka (Pengawetan Ikan)
Mantra Bunoanna Jukuka merupakan mantra yang diucapkan pada saat
menangkap ikan terbang. Mantra ini mengungkapkan hubungan Iyakking dan
iyukkung yang diibaratkan hubungan pasangan pengantin yang diciptakan Allah
dan umat Nabi Sulaiman.
Pelibat wacana ini adalah para nelayan yang menangkap ikan terbang.
Mantra ini ditujukan kepada Iyakking, Iyukkung, Allah, Nabi Sulaiman, gunung
Bawakaraeang dan Lompobattang. Sarana wacana berupa monolog dan dialog.
Monolog karena pesapa berbentuk abstrak dan dialog karena ada salam pembuka
dan menggunakan kata sapaan. Penggunaan bahasa bersifat metaforis dengan
sentuhan mitologi.
7) Mantra Appasuluki Kodia (Mengeluarkan yang Jahat)
Mantra Appasuluki Kodia merupakan mantra yang dibaca pada saat
berlayar atau melaut. Mantra ini menceritakan permohonan dan berhadap
mendapatkan safaat dari empat sahabat Nabi (Abubakar – Umar – Usman – Ali),
yang sebelumnya diawali dengan Basmalah. Empat sahabat tadi dianalogikan
dengan berdiri di empat penjuru perahu agar menjaga perahu
tidak rusak,
didatangi kebaikan dan dihindarkan dari kejahatan. Dengan pengharapan, jika ada
155
hal jahat dapat larut seperti garam dan ditutup Barakkah Lailaha Illallah/
Barakkah Anna Muhammadarrasulullah.
Mantra ini ditujukan kepada Abubakar – Umar – Usman – Ali, Rasulullah,
Allah, perahu. Sarana wacana berupa monolog. Penggunaan bahasa terlihat
analogis (metaforis) dengan sentuhan mitologi dan religi. Wacana ini bersifat
bebas dalam suku kata, baris, ataupun persajakan.
5.2.3. Karakteristik Kesatuan Teks Mantra Tupakbiring
Pembahasan karakteristik kesatuan teks mantra Tupakbiring sama dengan
pembahasan mantra Tulembang. Karakteristik kesatuan dianalisis melalui rima,
diksi, paralelisme, majas, serta simbol. Hal ini dilakukan untuk mengetahui
perbandingan
karakteristik
kesatuan
antara
mantra
Tulembang
dengan
Tupakbiring
1) Mantra Pappalakku
Permainan bunyi (rima) mantra Pappalakku diambil beberapa contoh
dengan ditandai oleh huruf tebal. Pasangan bunyi tidak berupa kalimat karena
susunan mantra ini pada umumnya dua kata (larik pendek). Hal ini tampak pada
larik Naku tippa todong angkarannuangi angkate„neangi „agar cepat juga
kurasakan manisnya rezeki itu‟. Di dalam larik tersebut terdapat rima dengan
bunyi kata ng yang didahului oleh vokal o untuk todong dan ng untuk
angkarannuangi didahului oleh vokal a dan diakhiri oleh vokal i, serta ng untuk
angkatekneangi didahului oleh vokal a dan diakhiri oleh vokal i biasanya objek
mengacu pada rezeki. Rima pada larik tersebut beriringan dan terdapat pada kata
ke-3 sampai 5. Rima juga tampak pada larik-larik yang menggunakan preposisi I
156
raya – I lau – I timborok – I yara – I rate – I rawa „di Timur – di Barat – di
Selatan – di Utara – di atas – di bawah‟. Rima ini menggunakan permainan bunyi
i di awal kata. Rima-rima tersebut tergolong rima tidak sempurna karena kata-kata
tidak sama dan rima dalam karena dalam satu larik.
Mantra Pappalakku menggunakan diksi denotasi seperti pada kata dallek
„rezeki‟. Namun, ada beberapa makna konotasi seperti pada kata yamming. Kata
ini tidak ada makna harfiah, namun kata ini merupakan bayangan dari pembaca
mantra sebagai sugesti bagi penyapa dan pesapa. Hal ini didukung juga oleh larik
kunyik-kunyik - eja-eja – tekne-tekne, minnyak-minnyak „kuning-kuning..-merahmerah..-manis-manis..-minyak-minyak‟. Larik ini dimaknai sebagai telur ikan
terbang yang memiliki nilai ekonomis tinggi bagi masyarakat nelayan tradisional
suku Makassar. Hal ini menunjukkan bahwa mantra ini mengombinasikan antara
diksi denotasi dengan konotasi untuk penekanan agar mantra memiliki nilai magis
bagi penyapa dan pesapa.
Paralelisme dalam mantra Pappalakku tergolong paralelisme berselang.
Hal ini dibuktikan dalam teks berikut.
Oh yamming palakkangak (1)
Na nupabatuanga (2)
Dallek hallalakku battu ri Allah Taalah (3)
Oh yamming pabattuangma (4)
„Oh yamming mohonkanlah (1)
Dan sampaikanlah (2)
Rezeki halalku dari Allah Taalah (3)
Oh yamming sampaikanlah‟ (4)
157
Paralelisme larik di atas merupakan paralelisme berselang karena diselingi
dengan larik lain. Larik tersebut menggunakan kata Oh yamming di larik pertama
dan diulang di larik keempat. Hal ini juga didukung oleh larik berikutnya.
Na kutippa todong angkarannuangi angkatekneangi (7)
O yamming kiokkangnga dallekku (8)
I raya – I lau – I timborok – I yara – I rate – I rawa (9)
Na kualle kupantamak ri “Ha” lompoku (10)
„Agar cepat juga kurasakan manisnya rezeki itu
Oh yamming panggilkan rezekiku
Di Timur – di Barat – di Selatan – di Utara – di atas – di bawah
Lalu kumasukkan ke lubuk hatiku yang paling dalam/ peti yang besar‟
Berdasarkan analisis di atas, paralelisme di dalam mantra ini diselingi oleh
2 larik lain. Hal ini tampak, seperti dalam teks berikut.
Na nupabatuangak (2)
Dallek hallalakku battu ri Allah Taalah (3)
Oh yamming pabattuangma (4)
Na nupakangkangngimma tippa-tippa dallekku (5)
„Dan sampaikanlah
Rezeki halalku dari Allah Taalah
Oh yamming sampaikanlah
Dan berikanlah secepatnya rezekiku dalam genggamanku‟
Majas yang tertera dalam mantra ini adalah majas metonimia. Mantra ini
menggunakan nama ciri atau nama hal yang ditautkan dengan orang, barang, atau
hal lain dengan penggantinya, seperti penggunaan kata yamming. Kata ini tidak
punya arti, tetapi punya nilai magis bagi masyarakat suku Makassar, khususnya
bagi nelayan tradisional.
Simbol dalam mantra ini menggunakan kiasan berupa telur ikan terbang
yang dianalogikan sebagai kunyik-kunyik - eja-eja – tekne-tekne, minnyakminnyak
„kuning-kuning-merah-merah-manis-manis-minyak-minyak‟.
Simbol
158
tersebut dimunculkan karena faktor lingkungan. Kebanyakan hasil laut di wilayah
tersebut adalah ikan terbang yang bernilai ekonomis tinggi dan sebagai simbol
kemakmuran. Pembentukan simbol dalam mantra ini sebagai ucapan penguat
sehingga membentuk unsur magis atau gaib.
2) Mantra Dallekku
Permainan bunyi (rima) mantra Dallekku sama seperti mantra Pappalakku,
yakni didominasi konsonan ng. Hal ini tampak pada larik Tumbangpi
bobokaraeng/ Natumbang todong dallekku „Nanti runtuh gunung Bawakaraeng/
Barulah runtuh juga rezekiku‟. Rima dalam mantra ini cenderung aliterasi, yakni
permainan bunyi konsonan. Hal ini didukung oleh larik Oh yamming esappi
tamparanga „Oh yamming nanti kering laut‟.
Mantra Dallekku menggunakan diksi denotasi seperti kata Dallek „rezeki‟,
Rampang „awan‟, bintoengnga „bintang‟, bobokaraeang „gunung Bawakaraeang‟,
dan lompobattang „gunung Lompobattang‟. Namun, tetap ada makna konotasi
seperti pada kata yamming. Kata ini tidak ada makna harfiah, namun kata ini
merupakan bayangan dari pembaca mantra sebagai sugesti bagi penyapa dan
pesapa. Hal ini menunjukkan bahwa mantra ini mengombinasikan antara diksi
denotasi dengan konotasi untuk penekanan agar mantra memiliki nilai magis bagi
penyapa dan pesapa.
Paralelisme dalam mantra Dallekku tergolong paralelisme berselang. Hal
ini dibuktikan dalam teks berikut.
Oh yamming esappi tamparanga (1)
Naesa todong dallekku (2)
Taenapa rammang rilangika (3)
Nataena todong dallekku (4)
159
Labbusu‟pi bintoengnga (5)
Na labbusu’ todong dallekku ri Allah Taalah (6)
Tumbangpi bobokaraeng (7)
Natumbang todong dallekku (8)
Runtungpi lompobattang (9)
Naruntung todong dallekku Battu ri Allah Taalah (10)
„Oh yamming nanti kering laut (1)
Barulah kering juga rezekiku (2)
Nanti tidak ada awan di langit (3)
Baru tidak ada juga rezekiku (4)
Nanti habis bintang di langit (5)
Barulah habis juga rezekiku dari Allah Taalah (6)
Nanti runtuh gunung Bawakaraeng (7)
Barulah runtuh juga rezekiku (8)
Nanti runtuh gunung Lompobattang (9)
Barulah runtuh juga rezekiku dari Allah Taalah‟ (10)
Paralelisme kalimat di atas merupakan paralelisme berselang karena
diselingi oleh kalimat lain. Kalimat tersebut menggunakan konjugasi na di larik
kedua dan diulang di larik keempat sampai kesepuluh. Berdasarkan analisis,
paralelisme di dalam mantra ini merupakan penekanan atau analogi dengan
paralelisme berselang.
Majas yang tertera dalam mantra ini adalah majas metonimia. Mantra ini
menggunakan pemakaian nama ciri atau nama hal yang ditautkan dengan orang,
barang, atau hal lain dengan penggantinya, seperti penggunaan kata yamming.
Kata ini tidak punya arti, tetapi punya nilai magis bagi masyarakat suku Makassar,
khususnya bagi nelayan tradisional. Selain itu, digunakan majas perumpamaan
dengan menggunakan kata „nanti‟ dan dilanjut oleh kata „baru‟
Simbol dalam mantra ini menggunakan ikonis „gumpalan awan‟,
„kerumunan bintang‟, „membumbung gunung Bawakaraeng‟, dan „membumbung
gunung Lompobattang‟. Hal ini dianalogikan sebagai rezeki. Simbol tersebut juga
160
mempunyai arti penting bagi masyarakat nelayan karena berkaitan dengan
wilayah teritorial hasil laut yang dicari. Pembentukan simbol dalam mantra ini
sebagai sugesti sehingga membentuk unsur magis atau gaib.
3) Mantra Songka Bala
Permainan bunyi perulangan kata mantra Songka Bala sama seperti mantra
Pappalakku dan Dallekku, yakni didominasi oleh konsonan ng. Hal ini tampak
pada kalimat Assengngak na kuassengtongko „kenalilah diriku agar kumengenali
juga dirimu‟ dan Jangjangak na kujangjang tongko „pandanglah diriku agar
kudapat juga memandangmu‟. Jadi, rima dalam mantra ini, yakni permainan bunyi
konsonan.
Mantra Songka Bala menggunakan diksi denotasi seperti kata Dallek
„rezeki‟, Dongkokanna „perahu‟, Muhammad. Namun, tetap ada makna konotasi
seperti pada kata Imanrembassang. Kata ini berasal dari kata dasar rembasak
„terobos‟, manrembassang memiliki sifat selalu menerobos sehingga dikatakan
sebagai „Sang Penerobos‟. Namun demikian, kata Imanrembassang ini
disimbolkan dengan perahu Nabi Nuh sebagai sugesti bagi penyapa dan pesapa.
Hal ini menunjukkan bahwa mantra ini mengombinasikan antara diksi denotasi
dengan konotasi untuk penekanan agar mantra memiliki nilai magis bagi penyapa
dan pesapa.
Paralelisme dalam mantra Songka Bala tergolong paralelisme berselang.
Hal ini dibuktikan dalam teks berikut.
Eh Imanrembassang (1)
Dongkokanna nabbi Nuhung (2)
Eh Imanrembassang (3)
161
„Eh Imanrembassang (1)
Perahu yang digunakan Nabi Nuh (2)
Eh Imanrembassang (3)
Paralelisme kutipan larik di atas merupakan paralelisme berselang karena
diselingi oleh larik lain. Larik tersebut menggunakan gramatikal yang sama dan
menggunakan kata seru eh di kalimat 1 dan diulang di kalimat 3.
Berdasarkan analisis, paralelisme di dalam mantra ini merupakan mantra
paralelisme berselang. Namun demikian, mantra ini juga menggunakan
paralelisme struktur dan paralelisme perulangan kata. Hal ini tampak pada teks
berikut.
Na nuboyangak dallekku (9)
Na nusongka sikamma bala nantattabayya (10)
„Dan carikanlah rezekiku (9)
Dan lindungilah dari segala marah bahaya yang akan datang‟ (10)
Paralelisme struktur kalimat di atas hampir sama secara makna.
Penekanan larik di atas bukan pada teks, tetapi pada makna yang tersirat.
Dikatakan paralelisme perulangan karena di atas ada pengulangan konjungsi na
„dan‟.
Majas di dalam mantra ini adalah majas metonimia. Mantra ini
menggunakan pemakaian nama ciri atau nama hal yang ditautkan dengan orang,
barang,
atau hal
lain dengan
penggantinya,
seperti
penggunaan kata
Imanrembassang. Kata ini punya arti sebagai „penerobos‟ dan punya nilai magis
bagi masyarakat suku Makassar, khususnya bagi nelayan tradisional. Kata ini
merupakan simbol kekuatan dan keselamatan, serta kekokohan perahu. Nama
tersebut diambil dari perahu yang dipercaya punya Nabi Nuh.
162
Simbol dalam mantra ini menggunakan ikonis „Muhammad‟sebagai orang
disayangi oleh Allah dan Imanrembassang sebagai kekuatan sang penerobos.
Simbol tersebut mempunyai arti penting bagi masyarakat nelayan karena
berkaitan dengan keselamatan dan Muhammad sebagai nama Nabi yang
ditugaskan oleh Allah sebagai juru selamat.
4) Mantra Loloanna Sombalakku
Permainan bunyi (rima) mantra Loloanna Sombalakku sama seperti
pantun. Hal tersebut terlihat jumlah suku kata tiap baris tetap dalam pola
persajakan tiap baitnya. Hal ini terlihat dalam teks berikut.
Tepokpi anne terak-terasakku (1)
Natepok todong lekok gulingku (2)
Napolongpa bonggangku (3)
Napolong todong bongga gulingku (4)
Natepok todong baukku (5)
Tepokpi paling-palingku (6)
Tappukpi nyawaku (7)
Natappuk todong loloanna sombalakku (8)
„Nanti patah tulang keringku (1)
Baru patah juga daun kemudiku (2)
Nanti patah pahaku (3)
Baru patah pula batang kemudiku (4)
Nanti patah lenganku (5)
Baru patah juga tiang layarku (6)
Nanti putus nyawaku (7)
Baru putus juga tali layarku (8)
Rima di dalam mantra di atas selain berbentuk pantun, juga diselingi oleh
sebuah kata kiasan dan dipenuhi oleh perulangan. Munculnya kiasan membuat
bunyi menjadi teratur dan menjadikan hubungan antar pasangan kata mengalami
pemadatan. Hal ini tidak terlihat di dalam mantra-mantra sebelumnya.
163
Mantra Loloanna Sombalakku menggunakan diksi denotasi. Hal ini
menunjukkan bahwa mantra ini mempunyai penekanan dalam hal nilai magis bagi
penyapa dan pesapa. Misalnya, Tepokpi paling-palingku „nanti patah lenganku‟/
Natepok todong baukku „baru patah juga tiang layarku‟ / Tappukpi nyawaku „nanti
putus nyawaku‟ /Natappu todong loloanna sombalakku „baru putus juga tali
layarku‟.
Paralelisme dalam mantra Loloanna Sombalakku tergolong paralelisme
struktur dan perulangan frasa. Hal ini terlihat dalam teks di atas, bahwa tiap
kalimat mempunyai struktur gramatikal yang sama, baik sebagian maupun
keseluruhan. Dikatakan paralelisme perulangan karena terdapat perulangan kata
dan frasa pada posisi yang sama.
Majas di dalam mantra ini adalah majas metafora dan perumpamaan.
Mantra ini menggunakan metafora untuk konkretisasi makna larik sebelumnya,
seperti halnya pantun. Majas mantra ini menggunakan partikel ‟-pi„ „nanti‟ dan di
larik berikutnya menggunakan konjungsi „na-„ „baru‟. Simbol di dalam mantra ini
menggunakan analogi, seperti: „tulang keringku‟ diumpamakan „daun kemudi‟,
„pahaku‟ diumpamakan „batang kemudi‟, dan seterusnya.
5) Mantra Gosse
Permainan bunyi (rima) mantra Gosse didominasi oleh kata nabbi. Hal ini
tampak pada kalimat Nabbi pahara nabbinu „Nabi pemelihara rumput laut
Nabimu‟ dan Nabbi Muhammad nabbiku „Nabi Muhammad Nabiku‟. Rima
dalam mantra ini merupakan rima akhir dan rima dalam. Rima akhir karena
164
mantra ini menggunakan suku kata terakhir yang mempunyai bunyi sama. Rima
dalam karena terdapat persamaan bunyi dalam satu larik (kalimat).
Mantra Gosse didominasi oleh diksi majas, yakni pemakaian kata melebihi
makna harfiah yang lazim, seperti kata yukkung „Tuhan‟, batu „batu‟. Kata
yukkung tidak ada makna harfiah, tetapi hanya sebagai bayangan bagi pembaca
mantra untuk sugesti. Kata ulu „kepala‟ dimaknai bukan sebagai makna harfiah
tetapi mengarah kepada asal tumbuh dari rumput laut. Kepala dianalogikan
sebagai tempat tertinggi karena berkaitan dengan nilai.
Paralelisme dalam mantra Gosse tergolong paralelisme berselang dan
perulangan. Hal ini dibuktikan dalam teks berikut.
Ri Allah Taalah (3)
Nabbi pahara nabbinu (4)
Inakke iyukkung arengku (5)
Ri Allah Taalah (6)
„Dari Allah Taalah (3)
Nabi pemelihara rumput laut nabimu (4)
Aku bernama yukkung (5)
Dari Allah Taalah‟ (6)
Paralelisme mantra di atas merupakan paralelisme berselang karena
diselingi oleh dua kalimat lain. Kalimat tersebut menggunakan gramatikal yang
sama dan menggunakan preposisi/kata depan ri- pada kalimat 1 dan diulang pada
kalimat 3. Dikatakan perulangan karena menggunakan frasa yang sama.
Berdasarkan analisis, paralelisme di dalam mantra ini merupakan mantra
paralelisme berselang dan perulangan. Namun, mantra ini juga tampak
paralelisme struktur dan perulangan. Hal ini terlihat pada teks berikut.
Nabbi Muhammad nabbiku (7)
Nabattu ulunnajako antu (8)
165
Nabbi Adam ajjari batu (9)
Nalabbi uk pammantangngannajako (10)
Antu nabbi Hawa ajjari gosse (11)
„Nabi Muhammad Nabiku (7)
Engkau berasal dari kepala (8)
Nabi Adam menjadi batu (9)
Hanya lebih rambutnya saja (10)
Itu nabi Hawa menjadi rumput laut‟ (11)
Paralelisme struktur mantra di atas sama secara makna. Penekanan larik
bukan pada teks tetapi pada makna yang tersirat. Dikatakan paralelisme
perulangan karena di atas ada pengulangan kata nabbi „Nabi‟.
Majas di dalam mantra ini adalah majas metonimia. Mantra ini memakai
nama ciri atau nama hal yang ditautkan dengan orang, barang, atau hal lain
dengan penggantinya, penggunaan kata yukkung. Kata ini digunakan sebagai
sapaan kepada yang dikeramatkan dan punya nilai magis bagi masyarakat suku
Makassar, khususnya bagi nelayan tradisional. Kata ini merupakan simbol
bayangan pembaca mantra. Contoh lain kata ‟labbi uk najako „lebih rambutnya
saja‟. Kata ini menegaskan pada ciri „rumput laut‟.
Simbol di dalam mantra ini menggunakan ikonis irapang, yukkung, ulu
„kepala‟, dan batu „batu‟. Simbol tersebut mempunyai arti penting bagi
masyarakat nelayan karena berkaitan dengan rumput laut yang segar dan bernilai
ekonomis tinggi.
6) Mantra Bunoanna Jukuka
Permainan bunyi (rima) mantra Bunoanna Jukuka merupakan rima alterasi
karena didominasi oleh konsonan ng. Hal ini tampak pada kalimat Iyakking jintu
areng tojeng-tojengnu „iyakking itu nama sesungguhmu‟. Tergolong juga rima
166
akhir karena setiap kalimat menggunakan vokal u pada akhir katanya. Jadi, rima
dalam mantra ini adalah rima akhir dan rima alterasi.
Mantra Bunoanna Jukuka didominasi oleh diksi majasi, yakni pemakaian
kata melebihi makna harfiah yang lazim, dan diksi konotasi. Misalnya, kata
iyakking, iyukkung, ampatinroko „menidurkanmu‟, dan Rikasoro‟ malannyinnu „di
kasur empukmu‟, dan sebagainya. Kata-kata tersebut tidak ada makna harfiah atau
makna sebenarnya tetapi sebagai penekanan sugesti.
Paralelisme dalam mantra Gosse tergolong paralelisme berselang, struktur,
dan perulangan. Hal ini dibuktikan dalam teks berikut.
Nuttinromo naung ri katoang majannannu (6)
Ri kasorok malannyinnu (7)
Ri tapperek matangkasa‟nu (8)
Nukamma todong tinrona bunting berua (9)
Tidurlah saja ditempayan ketenanganmu (6)
Di kasur empukmu (7)
Di tikar bersihmu (8)
Seperti tidurnya pengantin baru (9)‟
Paralelisme mantra di atas merupakan paralelisme berselang karena
diselingi oleh dua kalimat lain, yang diwakili kata Nuttinromo dan Nukamma.
Larik tersebut menggunakan gramatikal yang sama dan menggunakan suku kata
Nu di larik 6 dan diulang di larik 9. Dikatakan perulangan karena menggunakan
frasa yang sama. Namun, tampak paralelisme bentuk, seperti larik baris 7 dan 8
yang menggunakan kata ri kasorok lalu dilanjut kata ri tapperek pada kalimat
selanjutnya. Paralelisme bentuk karena kalimat di atas hampir sama secara makna.
Penekanan kalimat di atas bukan pada teks, tetapi pada makna yang tersirat.
167
Majas yang tertera dalam mantra ini adalah majas metonimia dan metafora.
Mantra ini menggunakan majas metonimia karena memakai nama ciri atau nama
hal yang ditautkan dengan orang, barang, atau hal lain dengan penggantinya,
seperti penggunaan kata iyakking dan yukkung. Secara leksikal kata ini tidak
mempunyai arti, tetapi secara pragmatis sebagai sapaan. Kedua kata di atas punya
nilai magis bagi masyarakat nelayan tradisional suku Makassar, khususnya bagi
nelayan. Kata ini merupakan simbol bayangan pembaca mantra. Majas metafora
terlihat sebagai perbandingan, misalnya nukamma todong tinronu bunting berua
kalimat ini merupakan rayuan atau bujukan kepada ikan terbang agar mereka
datang dengan tenang. Dengan kata lain, semakin banyak ikan terbang yang
datang semakin banyak rezeki. Simbol dalam mantra ini menggunakan ikonis
iyakking, yukkung, Lompobattang „gunung Lompobattang, dan Bobokareang
„gunung Bawakareang‟. Simbol tersebut mempunyai arti penting bagi masyarakat
nelayan karena kemana pun nelayan mencari ikan, asal menyebut nama gunung
Bawakaraeng dan Lompobattanng pasti mendapatkan hasil yang memadai.
7) Mantra Appasuluki Kodia
Permainan bunyi (rima) mantra Appasuluki Kodia lebih banyak
menggunakan rima asonansi karena didominasi oleh vokal a. Hal ini tampak pada
kalimat:
Anjagai panraka (5)
Ampantamaki bajika (6)
Appasuluki kodia (7)
„Menjaga yang rusak (5)
Memasukkan yang baik (6)
Mengeluarkan yang jahat‟ (7)
168
Asonansi dalam mantra ini lebih didominasi oleh persamaan bunyi di awal
dan di akhir. Asonansi dalam mantra ini menimbulkan efek halus. Hal ini sesuai
dengan pernyataan Badrun (2014), bahwa asonansi lebih memberikan efek halus
dari pada aliterasi. Hal ini berkaitan dengan lambang rasa dan selera pembaca
mantra. Mengingat mantra ini adalah mantra pamungkas, maka rima yang
dibangun terlihat berat karena menggunakan vokal a. Ditegaskan Badrun (2014)
bahwa vokal a menggambarkan perasaan gundah, sedih, dan murung. Jika
dikaitkan dengan mantra ini terlihat mantra ini merupakan upaya pengusiran hal
jahat yang akan mendatangi para nelayan yang sedang melaut. Hal ini karena
mantra ini diucapkan ketika sudah berada di laut (saat pelayaran).
Mantra Bunoanna Jukuka didominasi oleh diksi denotasi. Hal ini
menunjukkan bahwa mantra ini mempunyai penekanan dalam hal nilai magis bagi
penyapa dan pesapa. Diksi dalam mantra ini lebih lugas seperti yang disampaikan
Badrun (2014) bahwa sastra lisan cenderung prosesnya lebih cepat dan tidak
berulang.
Paralelisme dalam mantra Bunoanna Jukuka tergolong paralelisme bentuk.
Hal ini dibuktikan dalam teks berikut.
Anjagai panraka (5)
Ampantamaki bajika (6)
Appasuluki kodia (7)
„Menjaga yang rusak (5)
Memasukkan yang baik (6)
Mengeluarkan yang jahat‟ (7)
Paralelisme mantra di atas merupakan paralelisme bentuk karena larik
hampir sama secara makna, misalnya an jaga i, amp antama i, appa suluk i.
169
Penekanan larik bukan pada teks, tetapi lebih pada makna yang tersirat. Hal ini
juga didukung oleh larik kedelapan dan sembilan berikut.
Pattantanna Rasulullah (8)
Punna nia tausalah atekakna anlaloi (9)
„Pelindungnya Rasulullah (8)
„Kalau ada orang salah niatnya, lewat begitu saja‟ (9)
Majas di dalam mantra ini adalah majas metonimia dan metafora. Mantra
ini menggunakan majas metonimia karena memakai nama ciri atau nama hal yang
ditautkan dengan orang, barang, atau hal lain dengan penggantinya. Hal ini
terlihat dalam penggunaan kata Kuniakkanngi Abubakara – Umara – Usman – Ali
„Kuniatkan Abubakar – Umar – Usman – Ali‟. Kata ini punya nilai magis bagi
masyarakat suku Makassar, khususnya bagi nelayan tradisional, mengingat
masyarakat sebagian besar muslim dan mempercayai kesaktian empat sahabat
Nabi Muhammad. Empat sahabat tersebut merupakan pilar sebagai simbol
kekuatan perjuangan Nabi Muhammad dalam berdakwa menyebarkan agama
Islam. Mantra tersebut diucapkan untuk menegaskan bahwa dalam melaut agar
diberi kekuatan dan keselamatan sampai pulang dengan selamat.
Simbol dalam mantra ini menggunakan ikonis, seperti: mantra-mantra
Tupakbiring, yamming, dan iyukkung sebelumnya. Simbol tersebut mempunyai
arti penting bagi masyarakat nelayan karena berkaitan dengan permohonan
keselamatan, kekuatan, dan kemakmuran bagi masyarakat setempat.
Kajian terhadap struktur teks mantra Tulembang dan Tupakbiring,
dianalisis dapat menggunakan komposisi naratif teks, satuan wacana naratif teks,
dan karakteristik kesatuan teks. Komposisi naratif terbangun dari struktur teks
170
yang terdiri atas pembuka, batang tubuh, dan penutup. Satuan wacana naratif teks
terbangun dari rangkaian tuturan yang menekankan unsur melalui penonjolan
tokoh dan unsur penting, seperti: unsur waktu, pelaku, dan peristiwa dengan
maksud memperluas pengetahuan pesapa. Kekuatan wacana ini terletak pada
urutan cerita berdasarkan waktu dan cara-cara bercerita yang diatur melalui plot.
Karakteristik kesatuan teks terbangun dari permainan bunyi, permainan kata,
paralelisme, dan majas, serta simbol yang muncul.
Komposisi naratif mantra Tulembang mempunyai susunan pembuka,
batang tubuh, dan penutup. Mantra ini didominasi oleh komponen salam
pembuka, nama sasaran, sugesti, visualisasi, dan simbol. Salam pembuka berupa
salam kepada Allah dan Nabi Muhammad yang merupakan unsur pengakuan dan
permohonan perlindungan Allah penguasa semesta, dan harapan yang ingin
dicapai. Nama sasaran digunakan dengan tujuan tercapai keinginan sekaligus
menambah kekuatan magis mantra. Komponen sugesti menjadi daya magis agar
penyapa dan pesapa lebih meyakini bahwa mantra yang diucapkan ada unsur gaib
dan aneh. Komponen visualisasi dan simbol digunakan untuk meyakinkan pesapa
dan sebagai interaksi batiniah agar mantra mempunya daya magis. Penggunaan
bahasa didominasi oleh analogis (metafora) dengan sentuhan mitologi dan religi.
Wacana naratif, mantra Tulembang didominasi oleh wacana sugestif dengan
suasana sakral dan khidmat sebagai sarana berupa percakapan monolog dan
dialog. Sifat mantra cenderung lebih bebas dalam suku kata, baris, maupun
persajakan.
171
Karakteristik kesatuan teks mantra Tulembang didominasi oleh rima tidak
sempurna dan dalam, serta rima alterasi. Mantra ini didominasi oleh konsonan ng
dalam setiap kalimatnya. Pada mantra tertentu menggunakan rima asonansi.
Artinya, mantra Tulembang memperhatikan aspek bunyi dengan pasangan suku
kata yang sama dan cenderung didominasi oleh vokal a dan u yang memberikan
efek perlambangan pengharapan yang tinggi. Diksi yang menonjol berbentuk
denotasi. Paralelisme yang terbangun berupan paralelisme bentuk dan semantis.
Majas yang terbentuk didominasi oleh majas metonimia. Simbol yang menonjol
adalah nama Nabi, arah mata angin, dan bulan bintang.
Komposisi mantra Tupakbiring tidak mempunyai salam pembuka dan
penutup secara Islami. Kekuatan mantra terletak pada muatan isi (makna).
Komponen yang sering muncul hampir sama dengan mantra Tulembang, yakni
komponen nama sasaran, sugesti, dan visualisasi dan simbol. Namun, penekanan
dalam mantra ini adalah komponen nama sasaran dan tujuan. Penggunaan bahasa
berupa metaforis (analogis) dengan sentuhan mitologi. Wacana naratif mantra
Tupakbiring didominasi oleh wacana sugestif dengan suasana sakral dan khidmat.
Sarana wacana lebih banyak dialog. Sifat mantra lebih terikat dalam hal suku kata,
baris, maupun persajakan.
Karakteristik kesatuan teks mantra Tupakbiring didominasi oleh rima tidak
sempurna dan dalam, serta rima alterasi. Mantra ini didominasi oleh konsonan ng
dalam setiap kalimatnya. Pada mantra tertentu menggunakan rima asonansi.
Mantra Tupakbiring memperhatikan aspek bunyi dengan pasangan suku kata yang
sama dan didominasi oleh vokal u yang memberikan efek berat, yang berarti
172
pelambangan rasa gundah atau pengharapan yang tinggi. Diksi yang menonjol
berbentuk denotasi dan majasi. Paralelisme berupa paralelisme berselang dan
struktur. Majas yang terbentuk didominasi oleh majas metonimia, metafora, dan
perumpamaan. Namun, mantra ini lugas karena tiap larik tergolong larik pendek.
Simbol yang menonjol adalah nama Nabi, nama bayangan, gunung, serta arah
mata angin.
173
BAB VI
FUNGSI DAN VARIASI TEKS MANTRA TULEMBANG DAN
TUPAKBIRING
Fungsi dalam sastra lisan bergantung pada kondisi, sikap, dan pandangan
masyarakat setempat. Hal ini dipengaruhi oleh tingkat intelektual masyarakat
(Badrun, 2014). Secara teoretis, fungsi mantra seperti yang dikembangkan oleh
Bascom (http//www.jstor.org/stable/536411/accessed :20/07/2011), yakni sebagai
bentuk hiburan; alat pengesahan pranata-pranata atau lembaga-lembaga
kebudayaan; alat pendidikan anak; dan alat pemaksa dan pengawas agar normanorma masyarakat selalu dipatuhi oleh anggota kolektifnya. Dalam konteks
mantra Tulembang dan Tupakbiring, fungsi mantra terbagi menjadi fungsi teologi,
sosial, dan budaya.
Variasi teks dikatakan sebagai proses penciptaan. Menurut Badrun (2014),
dalam sastra lisan, khususnya mantra bergantung pada kebiasaan masyarakat
pemilik tradisi. Secara teoritis, proses penciptaan mengandung unsur hafalan, pola
rima, dan formulaik. Dikatakan hafalan karena mantra diturunkan dengan syarat
tertentu dan pola rima karena mantra penekanan pada permainan bunyi. Dikatakan
formulaik karena mantra diberikan dengan pembiasaan diri untuk mendengar.
6.1. Fungsi Teologi
6.1.1 Fungsi Teologi Teks Mantra Tulembang
Mantra Tulembang ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
Pembacaan mantra ini disakralkan dengan menggunakan perhitungan bulan atau
173
174
disebut bilang appak-appak/pitika. Para petani tradisional suku Makassar
memadukan perhitungan bilang appak-appak/pitika dan nama-nama bulan Islam,
misalnya Muharram, Shafar, Rabi‟al Awwal. Robi‟uts Tsani/Akhir, Jumadil
Ula/Awwal, Jumadil Akhir, Rojab, Sya‟ban, Romadhon, Syawwal, Dzulqo‟dah,
dan Dzulhijjah.
Para petani tradisional suku Makassar melakukan upacara ritual dan
pembacaan mantra-mantra mempunyai aturan-aturan, mekanisme dan proses yang
telah ditentukan secara adat yang harus dipatuhi. Pelanggaran ketentuan akan
merusak kosmologi kehidupan para petani tradisional di Pattallassang, Kabupaten
Gowa. Hal ini disebabkan oleh adanya pandangan kosmologi bahwa perilaku
keseharian adalah bagian dari ritual yang tidak terpisahkan dengan upacara ritual
yang dilakukan dalam setiap fase bertani. Siklus aktivitas petani tradisional suku
Makassar tidak mengenal keterputusan ritual, tetapi merupakan suatu rangkaian
ritual yang berkesinambungan dan totalitas. Artinya, upacara ritual dilakukan
dalam waktu-waktu tertentu sesuai dengan ketetapan adat, tetapi pada dasarnya
dimensi filosofisnya mewarnai keseluruhan perilaku dan aktivitas masyarakat
dalam kehidupan sehari-hari.
Gambar 6.1 Melihat hari baik dengan menggunakan Pitika yang dipercayai oleh
para petani dan para nelayan
175
Gambar 6.1 di atas digunakan oleh masyarakat Bugis-Makassar baik
petani maupun nelayan dalam melihat waktu yang baik dan buruk. Bulan bagi
kehidupan masyarakat Bugis-Makassar bukan hanya sekedar dihayati sebagai ratu
malam yang memberikan cahaya terang dalam kegelapan, tetapi dipandang pula
sebagai pedoman yang sangat bermanfaat dalam proses kegiatan atau aktivitas
hidup. Menurut petani Baso Daeng Sila bahwa konsepsi peredaran bulan
masyarakat Bugis-Makassar mengikuti kalender Islam. Satu tahun dibagi ke
dalam 12 bulan. Dalam setiap bulan ada hari-hari tertentu yang dianggap naas atau
tidak baik untuk melakukan segala bentuk kegiatan. Hari-hari naas tersebut adalah
sebagai berikut: (1) hari keduapuluh delapan pada bulan Muharram, (2) hari
kesepuluh pada bulan Safar, (3) hari kesepuluh pada bulan Rabiul Awal, (4) hari
keempat pada bulan Rabiul Akhir, (5) hari kedua pada bulan Jumadil Awal, (6)
hari keduapuluh pada bulan Jumadil Akhir, (7) hari keduabelas pada bulan Rajab,
(8) hari keduapuluh sembilan pada bulan Sa'ban, (9) hari keduapuluh tujuh pada
bulan Ramadhan, (10) hari keduapuluh delapan pada bulan Zulkaidah, dan (11)
Hari kedelapan terbitnya bulan Zulhijjah.
Dalam pergeseran bulan dalam setahun, leluhur orang Bugis-Makassar
mengenal pula pengetahuan tentang pergeseran haluan kepala naga dalam setiap
bulan. Dalam pada itu naga adalah binatang hayal yang dianggap sakral dan
dipercaya selalu berubah haluan 4 kali dalam satu bulan. Berkenaan dengan itu,
pantang bagi siapapun juga untuk berhadapan dengan kepala naga pada waktu
melakukan segala bentuk kegiatan dalam hidupnya.
176
Sehubungan dengan arah kepala naga, leluhur orang Bugis-Makassar tidak
menjelaskannya lebih lanjut, akan tetapi ada arah-arah tertentu bagi orang BugisMakassar yang menjadi pedoman untuk melakukan kegiatan hidup sehari-hari.
Pada bulan Muharram, Safar, dan Rabi'ul Awal arah yang dijadikan pedoman
adalah barat daya. Pada bulan Rabi'ul Akhir. Ju-madil Awal, dan Jumadil Akhir
adalah tenggara. Pada bulan Rajab, Sya'ban, dan Ramadhan adalah timur laut.
Sedangkan pada bulan Syawal, Zulkaidah, dan Zulhijjah arah yang tepat untuk
memulai kegiatan adalah barat laut (Hamid, 1989:32-33).
Apabila larangan dan aturan yang ada dalam konsepsi budaya BugisMakassar dilanggar secara tidak sengaja atau karena tidak tahu, maka secara
bersama-sama segenap warga harus melakukan upacara tolak bala. Dengan
demikian, peredaran bulan itu berbagai pantangan dan tabu harus dihindari oleh
masyarakat, agar kehidupan mereka berjalan baik.
1) Mantra Appasuki Pakjeko
Fungsi teologi terlihat dalam mantra Appasuki Pakjeko „pemasangan
bajak‟. Hal ini karena di dalamnya berisi puji-pujian kepada Allah dan Nabi.
Secara harfiah, mantra diyakini mempunyai kekuatan sebagai sarana komunikasi
dengan sang Maha Pencipta dan bermanfaat untuk tujuan pembacaannya. Hal ini
memberikan fungsi secara umum, yaitu alat berkomunikasi dengan sang Maha
Pencipta melalui Nabi Khaidir. Hal ini terbukti pada teks Na nupappala
doangngangak ri Allah Taalah „agar Engkau mendoakan aku pada Allah Taalah‟.
Fungsi teologi juga muncul secara tersirat di dalam mantra ini, yang
diyakini mempunyai kekuatan sebagai sarana komunikasi dengan sang Maha
177
Pencipta dan bermanfaat untuk tujuan permohonan kesuburan dan kesehatan. Hal
ini terlihat dalam teks berikut:
Pasibungtullangak dallekku (4)
Sarea buku magassing (5)
„Pertemukan aku dengan rezekiku (4)
Beri aku kesehatan yang baik‟ (5)
Ungkapan mantra di atas mempunyai fungsi sebagai media permohonan
kepada Allah untuk memudahkan rezeki. Tidak ada kuasa satupun yang mampu
memberikan rezeki kecuali Allah. Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan mantra
dipengaruhi oleh pemikiran tentang ketuhanan. Kepercayaan adanya kekuasaan
yang melebih kemampuan manusia menjadi pondasi menciptakan mantra ini.
Kenyataan ini menunjukkan bahwa cara berpikir masyarakat setempat
lebih rasional. Artinya, untuk mencapai sesuatu bergantung pada Allah melalui
cara bertawasul. Sastra yang diciptakan karena Allah untuk kepentingan hidup.
Manusia pada dasarnya diturunkan melalui bentuk tawasul atau perantara oleh
para Nabi. Nabi dan keluarganya yang mulia menjadi tempat bertawasul para nabi
kepada Allah ta‟ala. Dalam setiap kesulitan yang dialami para Nabi, washi, wali
shalawatullah „alaihim, dan kaumnya, akan langsung bertawasul kepada
Muhammad dan keluarga Muhammad shalawatullah wa salamuhu‟alaihi wa
„alaihim agar terbebas dari marabahaya. Mereka akan berdoa demi kedudukan
agung serta kemuliaan mereka di sisi Allah tabaraka wa ta‟ala. Hadist riwayat
Ibnu Sunni dalam „Amal al-Yaum wa al-Lailah dan dihasankan oleh al-Albani
dalam ash-Shahîhah yang berbunyi:
178
Wahai Dzat Yang Maha Hidup Kekal, Wahai Dzat Yang terusmenerus mengurus makhluk-Nya, dengan rahmat-Mu aku memohon
pertolongan, perbaikilah semua urusanku dan janganlah Engkau serahkan
aku kepada diriku walaupun hanya sekejap mata”. (Hadits ini dikeluarkan
oleh Ibnu Sunni dalam „Amal al-Yaum wa al-Lailah dan dihasankan oleh
al-Albani dalam ash-Shahîhah)
Memiliki fungsi teologi Islam yang kuat dalam benak masyarakat. Kondisi
demikian menambah keyakinan masyarakat dalam pengucapan mantra, sehingga
menimbulkan unsur magis di dalamnya.
Variasi teks secara teologi dalam mantra ini terlihat dalam penutup mantra
dengan menggunakan pujian kepada Allah dan Nabi Muhammad „Barakka
Lailaha Illallah, Barakka Anna Muhammadarrasulullah‟. Selain itu, digunakan
pengulangan bunyi Nabbi seperti dalam kalimat Kau jekne Nabbi Hillere
Nabbinnu „engkau air Nabi Khaidir Nabimu‟.
Mantra Appasuki Pakjeko „pemasangan bajak‟ dapat pula berfungsi
sebagai teologi seperti larik-larik berikut.
Kau jekne Nabbi Hillere Nabbinnu (1)
Tulungngak nanu ngammaseang (2)
Nanu pappala doangngangak Ri Allah Taalah (3)
Pasibungtullangak dallekku (4)
Sarea buku magassing (5)
Amboyai dallek hallalakku (6)
„Engkau air Nabi Khaidir Nabimu (1)
Tolong aku agar tumbuh rasa kasihanmu (2)
Agar Engkau mendoakan aku pada Allah (3)
Pertemukan aku dengan rezekiku (4)
Beri aku kesehatan yang baik (5)
Dalam mencari rezekiku yang halal‟ (6)
Fungsi teologi pada mantra di atas dapat dilihat dari kata-kata yang dicetak
tebal. Penyapa (punggawa) memohon kepada air yang dijaga Nabi Khaidir untuk
mau memberikan belas kasihan dan mendoakan kepada Allah agar dipertemukan
179
rezeki, dijaga kesehatannya agar dapat mencari rezeki yang halal. Istilah halal
menunjukkan tingkat religiusitas perilaku. Artinya, agar rezeki mendapat
keberkahan dari Allah, maka diperintahkan untuk mencari rezeki yang halal.
Variasi teks secara fungsi teologi terlihat pada kata ri Allah Taalah. Kata
Allah pada larik tersebut mengimplikasikan betapa pentingnya dan besarnya
kekuasaan yang dimiliki Allah SWT, sehingga setiap permohonan dan usaha para
petani selalu dikembalikan kepadaAllah. Larik selanjutnya, menggunakan kata
Lailaha Illallah. Penyebutan yang berbeda hanya merupakan permainan bunyi
(pola rima) untuk memperindah pengucapan.
2) Mantra Aklessoro Ase
Fungsi teologi mantra Aklessoro Ase „menurunkan bibit‟ terletak pada
larik penutup, seperti terlihat dalam teks berikut:
Barakka Lailaha Illallah (8)
Barakka Anna Muhammadarrasulullah (9)
Larik di atas menunjukkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap aspek
ketuhanan. Hal ini karena berisi puji-pujian kepada Allah dan Nabi. Ini
menunjukkan bahwa masyarakat Pattallassang memiliki religiusitas yang tinggi,
terutama pembaca mantra yakin bahwa kekuatan terbesar hanya milik Allah dan
permohonan terkabul jika mengikutkan atau melibatkan Allah dan Nabi dalam
setiap aktivitasnya. Hal ini terlihat dalam teks berikut.
Malaekak patanna pakrasangang (4)
Awalli patanna buluk (5)
Na alleko nabbi (6)
Na tambaiko Malaekak (7)
180
Malaikat yang punya kampung (4)
Wali yang punya gunung (5)
Engkau diambil Nabi (6)
Ditambahkan oleh Malaikat (7)
Ungkapan Mantra memperlihatkan nama-nama suci yang akan menjaga
dan mendoakan daerah persawahan pembaca mantra. Petani meyakini bahwa bibit
padinya tumbuh dan cepat berkembang atas doa Nabi, Malaikat, dan Wali.
Dengan kata lain, Kepercayaan datangnya kekuatan gaib dari nama-nama suci
tersebut membuat petani lebih meyakini kemampuan mantra ini. Hal ini
membuktikan bahwa mantra ini memiliki fungsi teologi Islam yang kuat dalam
benak masyarakat. Kondisi demikian menambah keyakinan masyarakat dalam
pengucapan mantra, sehingga menimbulkan unsur magis di dalamnya. Mantra
tersebut menunjukkan adanya hubungan antara Tuhan dengan alam semesta dan
manusia. Selain itu, mantra ini memuat hubungan dengan utusan Allah sebagai
perantara manusia, meliputi: Malaikat, Nabi/Rasul, dan Wali.
Variasi teks dalam mantra ini tergolong pewarisan karena diturunkan
dengan syarat tertentu. Selain itu, mantra ini menggunakan pengulangan bunyi
Nabbi „Nabi‟ pada larik dua dan diulang pada larik enam dan secara implisit pada
penutup mantra.
Mantra Aklessoro Ase „menurunkan bibit‟ berfungsi teologi terlihat dalam
setiap larik. Larik-larik tersebut menyebutkan bahwa padi diturunkan melalui
Nabi, ditumbuhkan malaikat, dijaga malaikat dan wali. Pada suatu saat akan
diambil oleh Nabi dan ditambahkan oleh malaikat seperti dalam larik Awalli
patanna buluk ‟wali yang punya gunung‟/ Naalleko Nabbi ‟engkau diambil Nabi‟/
Natambaiko malaekak ‟ditambahkan oleh Malaikat‟. Pernyataan ini dimaksudkan
181
penyapa agar kesuburan dan keselamatan mendapat safaat dan wasilah dari orangorang yang dekat dengan Tuhan. Hal ini dikuatkan oleh adanya upacara ritual
pada saat menurunkan bibit padi karena religiusitas masyarakat petani tradisional
tinggi. Upacara ritual dilakukan secara sakral dan khidmat yang menunjukkan
keseriusan masyarakat untuk mendapatkan hasil bumi yang berkah.
Proses upacara ritual menanam padi dimulai dari menyiapkan umba-umba
atau kelepon dan leko rappo atau daun sirih serta rappo atau buah pinang.
Kelepon dipercaya oleh para petani tradisional suku Makassar akan membawa
keberuntungan dengan melihat latar pembuatannya yang muncul dipermukaan air
apabila sudah masak. Daun sirih dan buah pinang dipercaya sebagai penolak bala
oleh para petani tradisional di Pattallassang, Kabupaten Gowa.
Variasi teks dari fungsi teologi mengandung unsur pola rima dan
formulaik. Permainan bunyi ditunjukkan dengan penyebutan Nabi tiga kali,
malaikat dua kali, dan tidak lupa menyebutkan Allah SWT serta Nabi Muhammad
SAW. Penyebutan yang berulang tersebut dimaksudkan sebagai penekanan agar
mantra mengandung kekuatan magis.
3) Mantra Akbine
Fungsi teologi terlihat dalam mantra Akbine „memilah bibit‟. Salam
pembuka, terlihat dalam teks Bismillahirrahmanirrahim. Ucapan Basmallah
mengandung arti pengakuan antar seorang hamba dengan Tuhannya.
Larik di atas jelas menunjukkan tingkat kepercayaan masyarakat kepada
aspek ketuhanan. Ini menunjukkan bahwa masyarakat, terutama pembaca mantra
yakin bahwa kekuatan terbesar hanya milik Allah dan permohonan terkabul jika
182
melibatkan Allah di dalamnya. Pemanggilan nama Allah sebagai bentuk
perwujudan keimanan masyarakat. Secara tersirat diyakini mempunyai kekuatan
sebagai sarana komunikasi dengan Sang Maha Pencipta dan bermanfaat untuk
tujuan permohonan kebahagiaan, kesenangan, dan hadir di dalam sawah yang
ditanami. Hal ini terlihat dalam teks berikut.
Battu ngaseng mako mae (9)
Angkatekneangi (10)
Angkarannuangi (11)
Sabak Allah Taalah siagang nabbi Muhammad (12)
„Datanglah semua di sawah ini (9)
Membahagiakan (10)
Menyenangi (11)
Karena Allah Taalah bersama Nabi Muhammad‟ (12)
Ungkapan mantra mempunyai fungsi sama dengan mantra pertama dan
kedua, sebagai permohonan kepada Allah untuk kesuburan tanah dan
kesempurnaan bibit yang ditanam. Kepercayaan adanya kekuasaan melebihi
kemampuan manusia menjadi pondasi dalam menciptakan mantra ini. Kondisi
demikian menambah keyakinan masyarakat dalam pengucapan mantra, sehingga
menimbulkan unsur magis di dalamnya.
Variasi teks dalam mantra ini tergolong pewarisan. Selain itu, mantra ini
menggunakan pengulangan bunyi Tallasak „bibit hidup‟ diulang berurutan tiga
kali yakni kalimat dua, tiga, dan empat yang tetapi mempunyai makna yang sama.
Hal
ini
terlihat
dalam
larik
Angkatekneangi
„membahagiakan‟
dan
Angkarannuangi „menyenangi‟. Selain itu, mantra ini menggunakan penutup
dengan pujian kepada Allah dan Nabi Muhammad.
Mantra Akbine „memilah bibit‟ berfungsi teologi. Hal ini dapat dilihat
dalam teks berikut.
183
Sikontu ummakna nabbita (5)
Anak cucunna Adam (6)
...
Battu ngaseng mako mae (9)
...
Sabak Allah Taalah siagang nabbi Muhammad (12)
„Semua ummat nabi Muhammad (5)
Anak cucunya nabi Adam (6)
...
Datanglah semua di sawah ini (9)
...
Karena Allah bersama Nabi Muhammad‟ (12)
Kata-kata yang bercetak tebal pada kutipan di atas berfungsi teologi.
Mantra mengandung doa seluruh umat Nabi Muhammad serta anak cucu Adam
dari segala penjuru agar sawah yang digarap memberikan keberkahan.
Penggunaan atau penyebutan Nabi Muhammad berfungsi sebagai safaat karena
dikatakan oleh penyapa bahwa Allah bersama Nabi Muhammad. Hal ini dikuatkan
dengan adanya upacara ritual pada saat menurunkan bibit padi sebagai tradisi
petani tradisional.
Variasi teks dari sudut teologi mengandung unsur pola rima dan
formulaik. Permainan bunyi ditunjukkan dengan penyebutan ummakna nabbita
„ummat Nabi Muhammad‟ dan Anak cucunna Adam „Anak cucunya Adam‟.
Penggunaan anak dan cucunya Adam ditujukan kepada seluruh umat manusia di
dunia bukan hanya umat Nabi Muhammad. Hal ini merupakan penguatan dari
permintaan. Formulaik tecermin dalam kata nabbita yang dimaksudkan sebagai
Nabi Muhammad secara implisit. Hal ini menunjukkan kebiasaan diri dalam
penyebutan. Penyebutan tersebut dimaksudkan sebagai permainan bunyi sekaligus
penekanan agar mantra mengandung kekuatan gaib.
184
4) Mantra Pammula Annanang Ase
Fungsi teologi terlihat dalam mantra Pammula Annanang Ase „permulaan
menanam padi‟ pada kalimat penutup seperti mantra sebelumnya. Kalimat
tersebut berisi puji-pujian kepada Allah dan Nabi. Hal ini menunjukkan tingkat
kepercayaan masyarakat kepada aspek ketuhanan. Masyarakat terutama pembaca
mantra yakin bahwa kekuatan terbesar hanya milik Allah dan permohonan
terkabul jika melibatkan Allah di dalamnya. Pemanggilan nama Allah sebagai
bentuk keimanan masyarakat. Secara tersirat diyakini mempunyai kekuatan
sebagai sarana komunikasi dengan sang Maha Pencipta dan bermanfaat untuk
permohonan kebahagiaan dan kesenangan. Tuhan diharapkan hadir di dalam
sawah yang ditanami. Hal ini terlihat dalam teks berikut.
„Anrong tumallasukannu (3)
Mangge tu mappakjarinu (4)
Nakammiko patampulo Malaekak‟ (5)
„Bunda yang melahirkanmu (3)
Ayah yang membuatmu (4)
Engkau dijaga empat puluh Malaekat‟ (5)
Ungkapan tersebut memperlihatkan permohon kepada Allah agar
kesuburan tanah dan kesempurnaan bibit diberkahi. Bibit padi ditanam dengan
harapan tumbuh dan berkembang serta dalam tiga bulan dapat dipanen. Selain itu,
anrong/bunda sebagai tanah yang melahirkan dan mangge/ayah sebagai petani
menanam bibit dan menghasikan bulir padi yang subur karena dijaga oleh empat
puluh malaikat.
Variasi teks dalam mantra di atas juga terlihat mengandung unsur
pewarisan. Mantra ini menggunakan variasi pengulangan bunyi yang artinya sama
185
tetapi secara pengucapan berbeda, seperti dalam kata yakkung „aku‟ dan
kupasicinik „aku mempertemukan‟. Makna teks ini adalah Zat yang menguasai
padi. Selain itu, mantra ini menggunakan penutup dengan pujian kepada Allah dan
Nabi
Muhammad
Barakka
Lailaha
Illallah,
Barakka
Anna
Muhammadarrasulullah.
Mantra Pammula Annanang Ase „permulaan menanam padi‟ tersurat dan
tersirat sebagai fungsi teologi. Hal ini dapat dilihat dalam teks berikut ini.
Kupasicini mako anne yaccing (2)
Anrong tumallasukkannu (3)
Mangge tumappajarinu (4)
Nakammiko patampulo malaekak (5)
„Aku mempertemukan Engkau padi (2)
Bunda yang melahirkanmu (3)
Ayah yang membuatmu (4)
Engkau dijaga empat puluh malaikat‟ (5)
Larik-larik mantra di atas dimaksudkan penyapa agar dalam menanam
benih ada keberkahan di dalamnya. Bibit tanaman padi yang ditabur akan dijaga
oleh para malaikat. Masyarakat petani tradisional suku Makassar mempercayai
bahwa padi yang ditanam merupakan ciptaan Allah dan akan selalu dijaga oleh
para malaikat.
Variasi teks dari sudut teologi mengandung unsur pola rima dan
formulaik. Permainan bunyi ditunjukkan dengan penyebutan Kupasicinik „aku
mempertemukan‟. Aku dimaksudkan sebagai Allah, Sang maha Pencipta. Hal ini
diperkuat dengan penyebutan kalimat yang lain dalam mantra ini, yakni Lailaha
Illallah yang artinya tidak ada Tuhan selain Allah. Formulaik tercermin dalam
kata malaekak yang dimaksudkan sebagai malaikat yang kadang-kadang
diucapkan malaekat.
186
5) Mantra Annanang Ase
Fungsi teologi dalam mantra Annanang Ase „menanam padi‟ tersurat pada
kalimat penutup seperti mantra sebelumnya. Larik tersebut berisi puji-pujian
kepada
Allah
dan
Nabi,
Muhammadarrasulullah.
Barakka
Lailaha
Illallah,
Barakka
Anna
Larik ini menunjukkan kepercayaan masyarakat
terhadap aspek ketuhanan. Petani meyakini Allah Taalah dan Nabi Muhammad
mempunyai kekuatan magis untuk membantu dalam menanam bibit padi. Petani
tradisional mempunyai keyakinan bahwa pengucapan mantra akan menimbulkan
unsur magis.
Variasi teks dalam mantra ini berupa pengulangan bunyi yang berlawanan,
tetapi artinya tetap subjek (S). Hal ini tampak pada kalimat Nairik-irikko anging
„angin sepoi-sepoi menggoyangmu‟, yang berlawanan posisi dengan larik
selanjutnya yang berada di awal kalimat Anging battu ri Makka „angin datang
dari Mekkah‟. Selanjutnya, anging ditaruh di tengah kalimat Nakarenai anging
battu ri Madinah „dipermainkan angin dari Medinah‟. Selain itu, mantra ini
menggunakan penutup dengan pujian kepada Allah dan Nabi Muhammad
Barakka Lailaha Illallah, Barakka Anna Muhammadarrasulullah.
Mantra Annanang Ase „menanam padi‟ berfungsi sebagai teologi karena
dalam kalimat Kupatimboko ributta „aku tumbuhkan Engkau ditanah‟ yang
dimaksud penyapa bahwa „Aku‟ adalah Allah yang menumbuhkan padi dari
tanah. Diperkuat dengan peran „bintang‟, „bulan‟, „matahari‟, sebagai perantara
Allah dalam menjalankan perintah-Nya. Dengan kata lain, sang penyapa
menanam bibit padi di tanah untuk meminta keberkahan agar padi yang ditanam
187
tumbuh dengan baik. Para petani tradisional suku Makassar patuh pada tradisi
leluhurnya sehingga mereka biasanya membuat sesajian sebelum menanam padi.
Hal ini diperkuat oleh adanya sesajian umba-umba atau kelepon, leko rappo atau
daun sirih, serta rappo atau buah pinang. Dimaksudkan sebagai keberuntungan
dan penolak bala.
Variasi teks dari sudut fungsi teologi mengandung unsur pola rima dan
formulaik. Permainan bunyi ditunjukkan dengan penyebutan Kupatimboko „aku
tumbuhkan engkau‟. Aku dimaksudkan sebagai Allah, Sang maha Pencipta. Hal
ini diperkuat oleh penyebutan larik yang lain dalam mantra ini, yakni Lailaha
Illallah yang artinya tidak ada Tuhan selain Allah. Formulaik tercermin dalam
kata makka dan Madinah yang dimaksudkan sebagai jalur yang dilewati
keberkahan.
6) Mantra Rappo Ase
Fungsi teologi dalam mantra Rappo Ase „bulir padi‟ terletak pada kalimat
salam pembuka. Kalimat ini menggunakan kalimat Assalamu Alaikum
Warahmatullahi Wabarakatu. Salam ini merupakan bentuk teologi ketuhanan
bagi umat Islam. Salam menjadi simbol pengharapan keselamatan bagi pengucap
maupun pendengar. Hal ini dikuatkan oleh larik Awalli passombalinna „Wali
menjagamu‟. Wali dianggap sebagai wasilah sehingga secara teologi berfungsi
sebagai perlindungan atau mengharap keselamatan. Kondisi demikian menambah
keyakinan masyarakat dalam pengucapan mantra, sehingga menimbulkan unsur
magis di dalamnya. Fungsi teologi juga terlihat dalam kalimat penutup, yakni
188
berisi pujian kepada Allah dan Nabi Muhammad, seperti pada kedua larik terakhir
yang berbunyi „Barakka Lailaha Illallah/Barakka Anna Muhammadarrasulullah‟.
Variasi teks dalam mantra ini menggunakan salam dalam bahasa Arab
sebagai pengakuan keyakinan kepada Allah. Bagian penutup berisi pujian kepada
Allah dan Nabi Muhammad. Hal ini sebagai hafalan teks karena salam tersebut
merupakan tuturan yang disampaikan secara turun-temurun.
Fungsi mantra Rappo Ase „bulir padi‟ sebagai fungsi teologi dapat dilihat
dalam kalimat salam pembuka yang menggunakan kata Assalamu Alaikum
Warahmatullahi Wabarakatu. Kata ini dimaksudkan penyapa sebagai bentuk kata
sapaan untuk mendapatkan keselamatan pada bulir padi. Hal ini diperkuat oleh
kalimat Narurunga malaekak pakdoangnganna „doa para malaikat menyertaimu‟
dan Awalli passombalinna „Wali menjagamu‟. Penyapa mengucapkan kalimat
tersebut dimaksudkan sebagai kekuatan magis dari mantra berupa doa bahwa bulir
padi akan disertai malaikat dan dijaga oleh Wali Allah.
Variasi teks dari sudut fungsi teologi mengandung unsur pola rima dan
formulaik. Permainan bunyi ditunjukkan dengan penyebutan salam secara Islami.
Hal ini diperkuat oleh penyebutan kalimat yang lain, yakni Lailaha Illallah yang
artinya tidak ada Tuhan selain Allah. Formulaik tecermin dalam kata salam,
malaikat, dan Wali yang dipercayai membawa wasilah atau mempunyai hubungan
erat dengan Allah.
7) Mantra Appa Sulapa Nikutanang
Fungsi teologi dalam mantra Appa Sulapa Nikutanang „empat arah
ditanya‟ tampak pada larik penutup seperti mantra sebelumnya. Larik tersebut
189
berisi puji-pujian kepada Allah dan Nabi. Larik ini juga menunjukkan
kepercayaan masyarakat pada aspek ketuhanan. Hal ini diyakini karena
mempunyai kekuatan sebagai sarana komunikasi dengan sang Maha Pencipta dan
bermanfaat
untuk
permohonan
kebahagiaan
dan
kesenangan.
Pemantra
mengharap Tuhan dapat membantu agar padi tumbuh dengan baik. Kepercayaan
adanya kekuasaan melebihi kemampuan manusia menjadi pondasi dalam
menciptakan mantra ini. Kondisi demikian menambah keyakinan masyarakat
dalam pengucapan mantra, sehingga menimbulkan unsur magis di dalamnya.
Fungsi teologi mantra ini sebagai pengakuan dan perlindungan. Variasi teks
secara teologi dalam mantra ini adalah menggunakan bagian penutup untuk
melakukan pujian kepada Allah dan Nabi Muhammad.
Secara keseluruhan, fungsi teologi mantra Tulembang sebagai pengakuan
serta perlindungan kepada Sang Maha Kuasa. Fungsi tersebut diekspresikan
dalam sarana komunikasi dengan Sang Maha Pencipta. Kondisi demikian
menambah
keyakinan
masyarakat
dalam
pengucapan
mantra,
sehingga
menimbulkan unsur magis di dalamnya.
Variasi teks secara teologi yang menonjol dari keseluruhan mantra
Tulembang adalah adanya penutup berupa pujian kepada Allah SWT dan Nabi
Muhammad
SAW,
yaitu
„Barakka
Lailaha
Illallah/
Baraka
Anna
Muhammadarrasulullah‟. Penutup teks mantra ini dimaksudkan untuk berserah
diri sepenuhnya kepada Allah dan Nabi Muhammad. Hal ini juga merupakan
penyerahan diri kepada Allah Taalah sebagai penguasa tunggal terhadap seluruh
kehidupan di bumi beserta isinya. Variasi teks didominasi oleh unsur pola rima
190
dan formulaik. Selain kedua unsur tersebut, unsur doktrinasi Islam mewarnai
mantra ini. Doktrinasi terbentuk dari formulaik ketuhanan pembuat mantra,
sehingga unsur ini sudah melekat di benak pembaca dan tidak perlu diingat-ingat
lagi pada saat pengucapan.
Fungsi mantra Appa Sulapa Nikutanang „empat arah ditanya‟ sebagai
fungsi teologi dapat dilihat dalam kalimat tanya Tenamo tumaboyanu „apa Engkau
tak ada yang mencarimu‟. Penggunaan kalimat tanya dimaksudkan penyapa
adanya sesuatu hal yang belum terselesaikan dan hal ini mengganggu penyapa
sehingga diungkapkan dalam pertanyaan. Menurut Badrun (2014), penggunaan
kalimat tanya dimaksudkan sebagai hal yang belum dijelaskan. Namun tergolong
suasana monolog dan akan dijawab sendiri oleh si penyapa. Fungsi teologi yang
muncul adalah hubungan Tuhan yang berada di atas dan hambanya yang berada di
bawah seperti larik „I rateya naungko mae „kalau diatas silahkan turun kebawah‟
I rawayya naikko mae „kalau di bawah silahkan naik keatas‟. Perenungan bahwa
dalam hidup harus selalu melangkah dalam kebaikan dan menghindari kejahatan
(keburukan) sehingga kehidupan yang dijalani menjadi berkah. Larik ini juga
menunjukkan adanya hubungan manusia, Allah dan para petani dalam meyakini
keberadan Allah SWT. Variasi teks secara teologi mengandung unsur pola rima
dan formulaik seperti mantra-mantra sebelumnya. Variasi larik ini berfungsi
sebagai permainan bunyi dan tersurat sebagai kebiasaan masyarakat setempat.
6.1.2. Fungsi Teologis Teks Mantra Tupakbiring
Analisis fungsi teologi teks mantra Tupakbiring mempunyai kesamaan
dengan mantra Tulembang. Pembacaan mantra ini disakralkan, namun
191
menggunakan perhitungan hari, bulan, dan musim tergantung kebutuhan mantra.
Ketika akan turun melaut, para nelayan tradisional suku Makassar percaya melihat
hari baik untuk turun melaut. Patorani asli adalah nelayan tradisional suku
Makassar pemburu ikan terbang yang gagah berani melawan ombak besar dan
badai di laut dan tidak memakai perahunya selain musim berburu atau menangkap
ikan terbang pada bulan April - Juni. Pada saat mempersiapkan perahu, nelayan
tradisional suku Makassar mempersiapkan (apparuru) peralatan menangkap ikan
selama enam hari.
Fungsi mantra Tupakbiring hampir sama dengan fungsi mantra
Tulembang. Fungsi teologi teks mantra Tupakbiring lebih didominasi oleh fungsi
teologi Islam karena mayoritas masyarakat nelayan tradisional suku Makassar
memeluk agama Islam. Fungsi teologi dibahas dalam kajian ini karena religiusitas
masyarakat
petani
tradisional
suku
Makassar
cukup
tinggi
sehingga
mempengaruhi pemikiran dan perilaku, terutama mantra.
1) Mantra Pappalakku
Fungsi teologi mantra Pappalakku „permohonanku‟ terlihat lugas karena
menggunakan nama Allah Taalah di dalamnya. Hal ini terlihat dalam teks berikut.
Rigaddonna Allah Taalah (11)
Natenapa ri Allah Taalah (12)
Natena todong rinakke (13)
„Di kamarnya Allah Taalah (11)
Nanti tidak ada pada Allah Taalah (12)
Barulah Tidak ada juga padaku‟ (13)
Larik-larik tersebut di atas menunjukkan kekuatan fungsi teologi pencipta
mantra. Secara implisit ucapan diyakini mempunyai kekuatan sebagai sarana
192
komunikasi dengan sang Maha Pencipta. Artinya, tidak ada kuasa manusia kecuali
kuasa Sang Maha Pencipta. Rezeki yang diperoleh mutlak dari Allah SWT.
Teologi lain adalah pengucapan kata yamming yang berfungsi sebagai wasilah
atau perantara kepada Tuhan. Hal ini menunjukkan bahwa doa akan terkabul jika
ada perantara sesuatu yang dekat dengan Tuhan. Hal ini membuktikan bahwa
mantra ini memiliki fungsi teologi yang kuat dalam benak masyarakat. Kondisi
demikian menambah keyakinan masyarakat dalam pengucapan mantra, sehingga
menimbulkan unsur magis di dalamnya.
Variasi teks secara teologi dalam mantra ini terlihat dalam banyaknya
pengucapan Allah dalam teks. Ada tiga pengucapan, namun mantra ini tidak ada
pengucapan salam pada pembuka. Bagian penutup tidak menggunakan pujian
kepada Allah dan Nabi Muhammad seperti mantra Tulembang. Hal ini
menunjukkan unsur hafalan, pola rima, dan formulaik.
Fungsi mantra Pappalakku „permohonanku‟ sebagai fungsi teologi dapat
dilihat dalam kalimat Dallek hallalakku battu ri Allah Taalah „rezeki halalku dari
Allah Taalah‟. Kalimat ini dimaksudkan oleh penyapa bahwa rezeki semua datang
dari Allah. Manusia tidak kuasa atas hal itu. Hal ini diperkuat dengan kalimat
Rigaddonna Allah Taalah „di kamar Allah Taalah‟. Dimaksudkan bahwa rezeki
hanya milik Allah. Fungsi religius diaplikasikan dengan membuat Balla-balla
(tempat bertelutnya ikan terbang) dan Pakkaja (penangkap ikan terbang dan
tempat bertelur ikan terbang). Ketika Balla-balla dan Pakkaja dibuat, nelayan
tradisional suku Makassar menyiapkan sesajen berupa kelepon (umba-umba), kue
lapis (kue lapisi), daun sirih (lekok), dan buah pinang (rappo). Hal ini
193
dimaksudkan agar mendapatkan rezeki yang berlimpah dan diberi keselamatan
dan dijauhkan dari marabahaya.
Variasi teks dari sudut teologi mengandung unsur pola rima dan
formulaik. Permainan bunyi ditunjukkan oleh penyebutan yamming. Penyebutan
yang dilakukan oleh penyapa tidak mengandung arti secara harfiah, namun
dipercaya sebagai bayangan penyapa untuk memberikan kekuatan magis pada
mantra. Selain itu, penyebutan nama Allah sebanyak tiga kali sebagai penekanan
agar doa yang disampaikan dikabulkan.
2) Mantra Dallekku
Fungsi teologi dalam mantra Dallekku „rezekiku‟ terlihat lugas karena
menggunakan nama Allah Taalah di dalamnya. Hal ini dibuktikan dengan kalimat
berikut.
„Lakbusukpi bintoengnga (5)
Na labbusuk todong dallekku ri Allah Taala (6)
Tumbangpi bobokaraeng (7)
Natumbang todong dallekku Battu ri Allah Taalah‟ (8)
„Nanti habis bintang di langit (5)
Baru habis juga rezekiku dari Allah Taalah (6)
Nanti tumbang gunung Bawakaraeng (7)
Baru tumbang juga rezekiku dari Allah Taalah‟ (8)
Larik-larik di atas secara implisit mempunyai fungsi pengakuan. Artinya,
tidak ada kuasa manusia kecuali kuasa Sang Maha Pencipta. Rezeki yang
diperoleh mutlak dari Allah SWT. Hal ini membuktikan bahwa mantra ini
memiliki fungsi teologi Islam yang kuat dalam benak masyarakat. Kondisi
demikian menambah keyakinan masyarakat dalam pengucapan mantra, sehingga
menimbulkan unsur magis di dalamnya.
194
Variasi teks secara teologi dalam mantra ini terlihat dalam pengucapan
Allah Taallah dalam teks. Ada dua pengucapan, namun di dalam mantra ini tidak
ada pengucapan salam pada pembuka dan penutup pujian kepada Allah dan Nabi
Muhammad seperti mantra Tulembang. Variasi teks mantra ini berupa pola rima
dan formulaik.
Fungsi mantra Dallekku „rezekiku‟ sebagai fungsi teologi dapat dilihat
dalam kalimat Labbusukpi bintoengnga/ Na labbusuk todong dallekku ri Allah
Taala „nanti habis bintang di langit/ Barulah habis juga rezkiku dari Allah
Taalah‟. Hal ini dimaksudkan penyapa sebagai perlambang rasa dan pengakuan
kepada Allah bahwa rezeki semua datangnya dari Allah. Perlambang rasa juga
diucapkan pada kalimat penutup Runtungpi lompobattang/ Naruntung todong
dallekku battu ri Allah Taalah „nanti runtuh gunung Lompobattang/ Barulah
runtuh juga rezekiku dari Allah Taalah. Perlambang rasa dimaksudkan sebagai
penguatan religiusitas mantra karena lambang yang disebutkan berkenaan dengan
lokasi rezeki yang dicari.
Variasi teks secara teologi mengandung unsur pola rima dan formulaik.
Permainan bunyi ditunjukkan dengan penyebutan yamming. Formulaik dibuktikan
dengan penyebutan nama gunung, bintang, awan sebagai unsur kebiasaan diri.
3) Mantra Songka Bala
Fungsi teologi dalam mantra Songka Bala „tolak bala‟ terlihat pada
kalimat Kapallakko ri Muhammad Rasullullah „engkau tega kepada Muhammad
Rasullullah‟/ Kainakke minne Muhammad „dan akulah ini Muhammad‟. Larik
tersebut menunjukkan fungsi perlindungan agar dihindarkan dari marabahaya.
195
Larik „akulah Muhammad‟ menunjukkan fungsi kepercayaan bahwa yang
melindungi dari marabahaya jika mendapat safaat dari Rasulullah adalah
Rasulullah sebagai pembawa peringatan. Hal ini membuktikan bahwa mantra ini
memiliki fungsi teologi Islam yang kuat dalam benak masyarakat suku Makassar.
Kondisi demikian menambah keyakinan masyarakat dalam pengucapan mantra,
sehingga menimbulkan unsur magis di dalamnya.
Variasi teks secara teologi dalam mantra ini mengandung unsur pola rima.
Hal ini terlihat pada teks berikut.
Assengnga naku assengtongko (4)
Cinikka na kuciniktongko (5)
Jangjangak na kujangjang tongko (6)
Katutuiya na kukatutui tongko (7)
Ngaiya na kungai tongko (8)
„Kenalilah diriku agar kumengenali juga dirimu (4)
Lihatlah diriku agar kudapat juga melihatmu (5)
Pandanglah diriku agar kudapat juga memandangmu (6)
Sayangilah diriku agar kudapat juga menyayangimu (7)
Sukailah diriku agar kusukai juga dirimu‟ (8)
Larik-larik mantra di atas menunjukkan pola rima yang hampir sama
dalam pengucapan. Variasi teks tersebut merupakan penekanan atas permohonan
keselamatan kepada Tuhan melalui simbol perahu Nabi Nuh.
Fungsi mantra Songka Bala „tolak bala‟ sebagai fungsi teologi dapat
dilihat dalam kalimat Eh Imanrembassang. Hal ini dimaksudkan penyapa sebagai
perlambangan rasa perahu milik Nabi Nuh, yang dipercayai kokoh dan mampu
menampung banyak muatan. Hal ini berfungsi sebagai alat yang mampu
memberikan keselamatan dalam menghadapi ombak atau marabahaya lainnya
ketika di laut. Pernyataan Nabi Nuh dalam mantra ini sebagai sarana teologi
196
tentang kepahaman Islam. Berdasarkan sejarah, Nabi Nuh menghadapi banjir
bandang dan perahu yang dibuat dan ditumpangi selamat dari banjir tersebut.
Variasi teks secara teologi mengandung unsur pola rima dan formulaik.
Permainan bunyi dan formulaik ditunjukkan dengan penyebutan nama perahu
Nabi Nuh (Imanrembassang) dan Nabi Muhammad SAW.
4) Mantra Loloanna Sombalakku
Fungsi teologi dalam mantra Loloanna Sombalakku „tali layarku‟ terlihat
secara implisit melalui mantra yang terucap.
„Tepokpi anne terak-teraksakku/
Natepok todong lekok gulingku/
Napolongpa bonggangku/
Napolong todong bongga gulingku/
Tepokpi paling-palingku/
Natepo todong baukku/
Tappuppi nyawaku/
Natappu todong loloanna sombalakku
„Nanti patah tulang keringku/
Baru patah juga daun kemudiku/
Nanti patah pahaku/ Baru patah juga batang kemudiku/
Nanti patah lenganku/ Baru patah juga tiang layarku/
Nanti putus nyawaku/
Baru putus pula tali layarku”.
Dalam larik-larik mantra di atas menggunakan peribaratan kekuatan
perahu seperti kekuatan anggota tubuh. Peribaratan ini menunjukkan bahwa
kekuatan perahu sama pentingnya dengan si nelayan (pengguna perahu). Secara
teologi, ada antara manusia dengan penciptanya. Peribaratan tersebut dianalogikan
sebagai bagian perahu yang tersusun seperti anggota tubuh. Dengan demikian,
bagian penyusun perahu saling melengkapi seperti anggota tubuh yang sama
197
pentingnya. Secara teologi sebagai fungsi pengharapan. Variasi teks secara teologi
dalam mantra di atas jika dilihat dari kalimat, merupakan varisi teks yang memuat
unsur pola rima. Pola rima tersurat seperti pola pantun.
Mantra Loloanna Sombalakku „tali layarku‟ sebagai fungsi teologi dapat
dilihat dalam teks Tepokpi anne terak-terasakku/ Natepok todong leko gulingku
„patah tulang keringku/ baru patah juga daun kemudiku‟. Hal ini dimaksudkan
penyapa sebagai peribaratan bahwa kekuatan kapal seperti halnya kekuatan
anggota tubuh manusia ciptaan Allah. Peribaratan ini menunjukkan bahwa
kekuatan kapal sama pentingnya dengan si nelayan (pengguna kapal). Hal ini
menunjukkan, baik perahu maupun penggunanya memiliki posisi yang sama
pentingnya dalam hal keselamatan. Secara teologi, para sawi mengisi perahu
dengan berbagai alat tangkap ikan terbang, sesajian (papparappo), beras, kopi,
gula, dan air tawar. Sorongang berisi bawang merah, bawang putih, laksa, jahe,
pala, kayu manis, kalomping dan gambir. Isi sorongang ini bermanfaat sebagai
obat karena akan melaut berhari-hari. Khusus papparappo berisi daun sirih
(lekok), buah pinang (rappo), telur ayam kampung, dan Lilin merah (tai bani).
Para nelayan tradisional suku Makassar akan singgah di pulau Sanro Bengi untuk
menurunkan sesajian, diletakkan pada ombak yang turun naik dekat pulau
tersebut. Selain itu, pelepasan para nelayan tradisional suku Makassar oleh para
keluarga dengan lambaian tangan diiringi oleh doa bagi keberkahan dan
keselamatan.
Variasi teks secara teologi mengandung unsur pola rima dan formulaik.
Permainan bunyi dan formulaik ditunjukkan dengan pembacaan mantra seperti
198
pantun dan formulaik karena ada penyebutan anggota tubuh dihubungkan dengan
kompnen perahu sebagai hal yang sudah menjadi kebiasaan diri (dipahami) bagi
nelayan tradisional suku Makassar.
5) Mantra Gosse
Fungsi teologi dalam mantra Gosse „rumput laut‟ terlihat pada larik
pertama, dua, dan tiga seperti berikut.
„Assalamu Alaikum
Ikau gosse Irapang jintu arengnu
Ri Allah Taalah‟
„Assalamu Alaikum
Engkau rumput laut irapang itu namamu
Ri Allah Taalah‟.
Larik mantra di atas menunjukkan fungsi perlindungan agar dihindarkan
dari marabahaya. Larik „Ri Allah Taalah‟ juga menunjukkan fungsi kepercayaan
bahwa yang melindungi dari marabahaya adalah Allah Subhana Wataala, Dalam
Islam diajarkan bahwa Allah akan menolong ummatnya yang selalu mengingatNya. Hal ini membuktikan bahwa mantra memiliki fungsi teologi Islam yang kuat
dalam benak masyarakat. Kondisi demikian menambah keyakinan masyarakat
dalam pengucapan mantra, sehingga menimbulkan unsur magis di dalamnya.
Variasi teks secara teologi dalam mantra ini terlihat pada teks berikut.
„Inakke iyukkung arengku
Ri Allah Taalah
Nabbi Muhammad nabbiku‟
„Aku bernama yukkung
Dari Allah Taalah
Nabi Muhammad Nabiku‟
199
Larik-larik mantra di atas menunjukkan bahwa yukkung berasal dari Allah
Taalah dan segala perilaku dan tindakan sehari-hari sebagai nelayan selalu
mengingat Sang Pencipta. Nelayan pun percaya bahwa Nabi Muhammad SAW
sebagai utusan Allah. Variasi teks mantra ini merupakan penekanan atas
permohonan keselamatan kepada Tuhan, mengambil gosse „rumput laut‟ melalui
tangan „Ali‟ sahabat Rasulullah. Sisa rambut Nabi Hawa menjadi rumput laut dan
nelayan tradisional suku Makassar mempercayai hal tersebut.
Mantra Gosse „rumput laut‟ berfungsi teologi yang dapat dilihat dari
adanya salam pembuka dalam mantra. Selain itu, mencantumkan nama Allah di
dalamnya. Hal ini dimaksudkan sebagai bentuk permohonan kepada Sang
Pencipta agar diberi keberkahan, keselamatan, dan dihindarkan dari marabahaya
karena kondisi laut tidak dapat ditebak. Secara teologi, para sawi (nelayan
tradisional suku Makassar) menggunakan perhitungan hari. Nelayan tradisional
suku Makassar percaya pada hari baik untuk turun melaut. Menurut perhitungan,
bilang appa-appa adalah malam pertama (Sipattang) dan malam kedua (Ruang
Bangngi) munculnya bulan dalam kehidupan. Hal ini baik untuk melaut dan
menangkap ikan terbang (torani). Para nelayan tradisional suku Makassar juga
percaya pada perhitungan menurut pitika yaitu hari baik. Nelayan tradisional suku
Makassar melihat hari yang baik berpatokan pada nama hari dan menghitung
bulan secara tradisional. Jika hari Jumat jatuh pada angka lima malam bulan
shafar, maka bulan angka berikutnya adalah lima belas dan dua lima dikatakan
siempoangngi, artinya apa yang direncanakan Allah akan merestui.
200
Variasi teks secara teologi mengandung unsur pola rima dan formulaik.
Permainan bunyi dan formulaik ditunjukkan oleh pembacaan salam pembuka
secara Islami, serta menggunakan nama Nabi Muhammad yang disebut tiga kali,
Adam, Hawa, Ali, dan Allah SWT disebut dua kali.
6) Mantra Bunoanna Jukuka
Fungsi teologi dalam mantra Bunoanna Jukuka „pengawetan ikan‟ terlihat
pada kalimat salam pembuka Assalamu Alaikum yang mengandung maksud
memohon keselamatan bagi yang mengucapkan mantra dan pesapa. Fungsi
teologi ini diperkuat oleh kalimat Ri Allah Taallah nuing karaengnu „dari Allah
Taalah menjadi Tuhanmu‟. Maksudnya, bahwa Allah satu-satunya Tuhan yang
patut disembah. Tidak ada yang memiliki sesuatu di bumi kecuali kepunyaan
Allah SWT. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat nelayan tradisional suku
Makassar percaya adanya ketuhanan yang esa dan hanya Allah yang dapat
mengabulkan setiap permohonan. Dengan kata lain, kalimat di atas menunjukkan
fungsi perlindungan bagi penyapa (punggawa) dan pesapa (sawi).
Variasi teks secara teologi dalam mantra ini mengandung unsur pola rima.
Hal ini terlihat pada teks berikut.
Iyakking jintu areng tojeng-tojengmu (2)
Ri Allah Taalah nuing karaengnu (3)
Nabbi Sulaimana nabbinu (4)
Inakke iyukkung ampatinroko (5)
Ri Allah Taalah (6)
„Iyakking itu nama sesungguhmu (2)
Dari Allah Taalah menjadi Tuhanmu (3)
Nabi Sulaiman nabimu (4)
Akulah iyukkung menidurkanmu (5)
Ri Allah Taalah (6)
201
Rangkaian larik mantra di atas menunjukkan variasi teks secara teologi.
Hal ini terlihat pengulangan atau permainan bunyi yang menyebut nama Allah.
Hal ini dimaksudkan bahwa larik enam sebagai penegasan bahwa Allah penentu
segala. Dikuatkan dengan mencantumkan nama Nabi Sulaiman sebagai penekanan
bahwa rezeki atau kekayaan semua dari Allah. Jika mantra ini diucapkan,
diharapkan mendapat kekayaan yang berlimpah seperti Nabi Sulaiman. Variasi
teks ini berdasarkan formulaik bukan hafalan karena setiap kata yang tertuang
berdasarkan pemahaman kepada ketuhanan dan pembiasaan diri untuk mendengar
dan membaca.
Mantra Bunoanna Jukuka „pengawetan ikan‟ berfungsi teologi yang dapat
dilihat dari adanya salam pembuka dalam mantra sama seperti mantra Gosse.
Selain itu, mencantumkan nama Allah di dalamnya dan Nabi Sulaiman sebagai
simbol kekayaan dan kemuliaan. Hal ini dimaksudkan sebagai permohonan
kepada Sang Pencipta agar diberi keberkahan, keselamatan, dan dihindarkan dari
marabahaya seperti Ri Allah Taalah nuing karaengnu/Nabbi Sulaimana nabbinu.
Variasi teks secara teologi mengandung unsur pola rima dan formulaik.
Permainan bunyi dan formulaik ditunjukkan dengan pembacaan salam pembuka
secara Islami, serta menggunakan nama Allah SWT yang disebut dua kali.
7) Mantra Appasuluki Kodia
Fungsi teologi dalam mantra Appasuluki Kodia „mengeluarkan yang jahat‟
terlihat pada salam pembuka Bismillahirrahmanirrahim, yang mengandung
maksud fungsi pengakuan kepada Tuhan. Kata Basmallah tersebut seperti
pembacaan di dalam Al-Quran bahwa dimulai dengan membaca Basmallah.
202
Fungsi teologi ini diperkuat oleh kalimat selanjutnya, yakni Kuniakkanngi
Abubakara – Umara – Usman – Ali „Kuniatkan Abubakar – Umar – Usman –
Ali‟, yang mengandung maksud bahwa jika ingin doa dikabulkan oleh Allah,
maka harus berwasilah kepada orang-orang yang dekat dengan Allah atau
manusia pilihan Allah. Hal ini menunjukkan tingkat ketauhidan bagi masyarakat
nelayan tradisional suku Makassar. Kepercayaan kepada Tuhan menjadi landasan
dalam menjalani hidup terutama dalam mencari rezeki.
Mantra ini juga menyebut nama Nabi Muhammad di dalamnya, seperti
pada kalimat Pattantanna Rasulullah „pelindungnya Rasulullah. Maksudnya,
Rasulullah sebagai pembawa safaat, penyampai berita atau peringatan. Jika
berpedoman pada Allah dan Rasulullah, maka perahu yang ditumpangi akan
selamat. Untuk itu, mantra ini ditutup dengan pujian kepada Allah dan Rasulullah
sebagai bentuk apresiasi kepada Tuhan keagungan dan permohonan keselamatan
bagi nelayan tradisional suku Makassar yang melaut.
Variasi teks secara teologi dalam mantra ini mengandung unsur pola rima.
Terlihat pada teks yang menyebutkan nama Allah sebanyak empat kali, Nabi
Muhammad dua kali, serta para Sahabat Nabi. Hal ini dimaksudkan bahwa
keselamatan hanya milik Allah dan mantra dapat memiliki kekuatan magis apabila
mencantumkan Nabi Muhammad dan para Sahabat.
Mantra Appasuluki Kodia „mengeluarkan yang jahat‟ berfungsi teologi
dapat dilihat dari adanya salam pembuka dalam mantra menggunakan
Bismillahirrahmanirrahim. Hal ini dimaksudkan penyapa agar perahu yang
ditumpangi tidak retak dan dijaga oleh hal baik dan terhindar dari hal jahat. Selain
203
itu, mencantumkan nama Allah di dalamnya sebagai penolong. Hal ini
dimaksudkan sebagai permohonan kepada Sang Pencipta agar diberi keselamatan
sampai kembali ke darat.
Variasi teks secara religius mengandung unsur pola rima dan formulaik.
Permainan bunyi dan formulaik ditunjukkan dengan pembacaan salam pembuka
seperti dalam bacaan Al-Quran, serta menggunakan nama Allah SWT yang
disebut tiga kali, menyebut para sahabat Nabi, dan Nabi Muhammad sebagai
wasilah dan safaat. Larik menggunakan nama sahabat Nabi dan Rasulullah seperti
Kuniatkangi Abubakara –Umara –Usman –Ali/ Pattanna Rasullah.
6.2. Fungsi Sosial dan Fungsi Budaya
6.2.1. Fungsi Sosial dan Fungsi Budaya Mantra Tulembang
Fungsi sosial mantra di dalam suatu masyarakat adat sebagai pengendali
norma sosial dan fungsi proyeksi angan-angan suatu kolektif (Badrun, 2014).
Namun demikian, fungsi sosial bergantung kepada sikap dan pandangan
masayarakat pemiliknya, seperti halnya mantra Tulembang. Mantra ini diucapkan
oleh para petani tradisional suku Makassar dengan melakukan upacara ritual.
Mantra-mantra tersebut secara sosial mempunyai aturan, mekanisme dan
proses yang telah ditentukan secara adat yang harus dipatuhi dan tidak boleh
dilanggar. Pelanggaran ketentuan itu merusak kosmologi kehidupan para petani
tradisional di Pattallassang, Kabupaten Gowa. Hal ini disebabkan karena adanya
pandangan kosmologi bahwa perilaku keseharian adalah bagian dari ritual yang
tidak terpisahkan dari upacara ritual yang dilakukan dalam setiap aktivitas bertani.
Siklus aktivitas petani tradisional suku Makassar tidak mengenal keterputusan
204
ritual, tetapi merupakan suatu rangkaian ritual yang berkesinambungan dan
totalitas. Artinya, upacara ritual memang dilakukan dalam waktu-waktu tertentu
sesuai dengan ketetapan adat. Akan tetapi, pada dasarnya dimensi filosofisnya
mewarnai keseluruhan perilaku dan aktivitas masyarakat dalam kehidupan seharihari.
Fungsi budaya yang tertuang dalam teks mantra Tulembang sebagai fungsi
pengesahan kebudayaan atau alat pengesahan pranata-pranata dan lembagalembaga kebudayaan. Artinya, fungsi ini sebagai kegiatan rutin yang dilakukan
pada kesempatan atau waktu tertentu.
1) Mantra Appasuki Pakjeko
Mantra Appasuki Pakjeko „pemasangan bajak‟ berfungsi sosial dapat
dilihat di dalam larik Amboyai dalle hallalakku „dalam mencari rezekiku yang
halal‟. Maksudnya, penyapa sebagai pengendali norma sosial dan masyarakat
diharuskan mencari rezeki dengan jalan yang halal agar hidupnya mendapat
berkah. Larik kedua menunjukkan arti Tulungak na nunngamaseang‟tolong aku
agar tumbuh rasa kasihanmu‟ dapat dimaknai bahwa masyarakat harus bersifat
saling menolong satu sama lain (gotong royong). Selain itu, teks mantra ini berisi
permohonan kepada Allah melalui Nabi Khaidir agar selalu menumbuhkan rasa
belas kasihan untuk membantu orang yang membutuhkan pertolongan.
Mantra Appasuki Pakjeko „pemasangan bajak‟ berfungsi pengesahan
kebudayaan. Hal ini tercermin dari kata jekne „air‟. Air dianggap masyarakat
sebagai simbol kehidupan. Air dipercaya mampu memberi rezeki. Dengan air
masyarakat mampu menanam padi. Selain itu, mantra ini diucapkan pada saat
205
membajak sawah. Secara budaya, para petani tradisional suku Makassar masih
membajak sawah dengan menggunakan kerbau (PakjekoTedong). Pada dasarnya
para petani tradisional suku Makassar membajak sawah secara tradisional yang
merupakan budaya turun temurun untuk mengolah sawah, sejak zaman nenek
moyang mereka. Hal itu juga yang mendasari pandangan masyarakat untuk tidak
beralih dari pakjeko ke mesin traktor. Petani tradisional masih menggunakan bajak
sawah secara tradisional dengan kerbau karena hasil kerjanya juga lebih baik
daripada hasil dari traktor. Hal ini disebabkan bagian samping dari sawah sudah
tidak dapat dijangkau oleh mata kail traktor untuk membongkar tanah, sedangkan
membajak sawah secara tradisional masih dapat dijangkaunya.
2) Mantra Aklessoro Ase
Mantra Aklessoro Ase „menurunkan bibit‟ berfungsi sosial sebagai
proyeksi harapan. Fungsi tersebut merupakan perlindungan supaya bibit padi
nantinya dapat tumbuh tanpa gangguan. Hal ini terlihat dalam contoh kalimat
berikut.
Oh yaccing (1)
Napanaungko Nabbi (2)
Napatimboko malaekak (3)
Malaekak patanna pakrasangang (4)
„Oh padi (1)
Engkau diturunkan Nabi (2)
Engkau ditumbuhkan Malaikat (3)
Malaikat yang punya kampung‟ (4)
Larik tersebut difungsikan oleh penyapa sebagai perekat interaksi
masyarakat pemiliknya agar sama-sama menjaga padi yang ditanami. Nama-nama
suci, seperti Nabbi, Malaekak, Awalli berfungsi sebagai simbol yang bermakna
206
mediator atau perantara agar permohonan pemantra dikabulkan. Petani tradisional
suku Makassar berharap agar padinya tumbuh dengan baik dan hasil panennya
tidak ada diganggu hama atau marabahaya yang lain.
Mantra Aklessoro Ase „menurunkan bibit‟ juga berfungsi sebagai
pengesahan kebudayaan. Hal ini tercermin dari kata yaccing „padi‟. Mantra
Aklessoro Ase ini diucapkan pada saat pemilihan benih atau menurunkan bibit
padi. Secara pengesahan budaya, masyarakat diajak untuk memilih dan
menurunkan bibit unggul dan diharapkan hasilnya juga bernas.
Pengesahan budaya juga dikuatkan oleh kalimat Napanaungko Nabbi/
Napatimboko malaekak/ Malaekak patanna pakrasangang „engkau diturunkan
Nabi/ engkau ditumbuhkan Malaikat/ Malaikat yang punya kampung‟. Larik-larik
tersebut ingin mengesahkan bahwa padi bibit unggul dipercayai diturunkan oleh
Nabi dan ditumbuhkan oleh malaikat karena kampung dijaga oleh malaikat.
Artinya, secara pengesahan budaya ingin menyampaikan bahwa memilih bibit
padi tidak boleh sembarangan, harus melalui serangkaian upacara ritual dengan
menyiapkan umba-umba atau kelepon, leko rappo atau daun sirih, dan rappo atau
buah pinang. Kelepon dipercaya oleh para petani tradisional suku Makassar
membawa keberuntungan dengan melihat latar pembuatannya yang muncul di
permukaan air bila sudah masak.
3) Mantra Akbine
Mantra Akbine „memilah bibit‟ berfungsi sosial dikatakan sebagai proyeksi
harapan. Fungsi tersebut merupakan proyeksi angan-angan suatu kolektif
perlindungan supaya bibit padi dapat tumbuh tanpa gangguan. Fungsi pengendali
207
norma sosial, yakni mengharapkan dukungan dari seluruh komunitas masyarakat
agraris mengingat keseluruhan proses penanaman padi tergantung dari sistem
gotong royong. Hal ini terlihat dalam contoh kalimat berikut.
Sikontu ummakna nabbita (5)
Anak cucunna Adam (6)
I raya – I lau (7)
I timboro – I wara (8)
Battu ngaseng mako mae (9)
Angkatekneangi (10)
Angkarannuangi (11)
„Semua ummat nabi Muhammad (5)
Anak cucunya nabi Adam (6)
Di timur – di barat (7)
Di selatan – di utara (8)
Datanglah semua di sawah ini (9)
Membahagiakan (10)
Menyenangi‟ (11)
Larik mantra di atas difungsikan oleh penyapa sebagai perekat interaksi
masyarakat pemiliknya agar sama-sama mendoakan padi yang ditanami. Di
Dalam mantra ini, tersurat larik mengundang orang datang dari segala arah untuk
membahagiakan dan menyenangi tanah persawahannya. Orang-orang diundang
untuk membantu menanam benih padi dengan perasaan senang dan bahagia.
Petani tradisional suku Makassar berdoa agar padinya diberi bulir padi yang
penuh, tidak puso dan disenangi oleh masyarakat sekitarnya karena itu merupakan
berkah.
Mantra Akbine „memilah bibit‟ berfungsi pengesahan kebudayaan. Hal ini
tercermin dari kata Tallasak „bibit hidup‟. Mantra Akbine ini diucapkan pada saat
menabur benih padi. Secara pengesahan budaya, masyarakat diajak untuk
menabur benih yang dipercayai benih hidup yang mampu memberikan kehidupan.
208
Hal ini diperkuat oleh kalimat Battu ngaseng mako mae „datanglah semua di
sawah ini‟ menunjukkan bahwa si penyapa memohon
umat manusia turut
mendoakan padi yang ditanam memberikan keberkahan sehingga mampu
membahagiakan dan menyenangkan.
4) Mantra Pammula Annanang Ase
Mantra Pammula Annanang Ase „permulaan menanam padi‟ berfungsi
sosial. Fungsi tersebut merupakan proyeksi pengharapan suatu kolektif
dimaksudkan penyapa sebagai proses kelahiran manusia. Fungsi pengendali
norma sosial, yakni mengharapkan bersama-sama bersedia untuk merawat dan
memelihara benih padi sampai panen nanti. Hal ini terlihat dalam teks berikut.
Kupasicini mako anne yaccing (2)
Anrong tumallasukkannu (3)
Mangge tumappajarinu (4)
Nakammiko patampulo malaekak (5)
Sicinikki ritallung bulanga (6)
„Aku mempertemukan Engkau padi (2)
Bunda yang melahirkanmu (3)
Ayah yang membuatmu (4)
Engkau dijaga empat puluh malaikat (5)
Sampai jumpa tiga bulan mendatang‟ (6)
Larik mantra di atas difungsikan oleh penyapa bahwa manusia yang
menanam benih padi diibaratkan hubungan ayah dan ibu sehingga dapat
menumbuhkan padi yang bernas dan berguna bagi orang banyak. Dengan kata
lain, kerjasama antara ayah dengan ibu dapat mendatangkan rezeki untuk keluarga
dan masyarakat sekitarnya. Hal ini menunjukkan bahwa penciptaan padi melalui
proses interaksi sosial.
209
Mantra Pammula Annanang Ase „permulaan menanam padi‟ berfungsi
sebagai pengesahan kebudayaan. Hal ini tercermin dari kata yukkung, yakkung,
yaccing „engkau, Aku, Padi‟. Ketiga elemen tersebut dipercayai masyarakat
sebagai pembangun unsur keberhasilan dalam permulaan menanam padi.
Disimbolkan, ada kata anrong „bunda‟ dan mangge „ayah‟ yang melahirkan dan
membuat ibarat kelahiran manusia. Namun, tidak lupa peran Allah di dalamnya,
sehingga di akhir mantra diucapkan Barakka Lailaha Illallah, Barakka anna
Muhammadarrasulullah.
5) Mantra Annanang Ase
Mantra Annanang Ase „menanam padi‟ berfungsi sosial dimaksudkan oleh
penyapa bahwa menanam padi membutuhkan dukungan semua pihak agar
berjalan baik tanpa halangan, misalnya Oh yaccing nakutanangko rijekne „oh
padiku aku tanam engkau di tanah‟/ kupatimboko ri butta „aku tumbuhkan engkau
di tanah‟. Larik tersebut menunjukkan bahwa pada musim tanam, masyarakat tani
bersatu untuk mendatangkan air dengan cara membuat irigasi dan membantu
menanam padi. Petani tradisional mengutamakan bekerja secara gotong royong.
Fungsi pengendali norma sosial, yakni diharapkan bersama-sama mematuhi
anggota kolektifnya. Hal ini menunjukkan bahwa penciptaan padi melalui proses
interaksi sosial yang selalu mengingatkan masyarakat untuk tidak melupakan
untuk berdoa kepada Allah SWT.
Mantra Annanang Ase „menanam padi‟ berfungsi pengesahan kebudayaan.
Hal ini tercermin dari kata rijekne „di air‟ dan ributta „di tanah‟ sebagi
pelambangan kesuburan dan unsur kehidupan. Hal ini dikuatkan oleh kalimat Oh
210
yaccingku nakutanangko rijekne „Oh padiku aku tanam Engkau dalam air‟.
Penyapa memberitahukan bahwa padi siap ditanam dan air diharapkan
memberikan kesuburan padi yang ditanam. Fungsi tersebut didukung oleh upacara
ritual daun sirih serta rappo atau buah pinang sebagai simbol tolak bala.
6) Mantra Rappo Ase
Mantra Rappo Ase „bulir padi‟ berfungsi sebagai proyeksi harapan. Fungsi
tersebut merupakan proyeksi angan-angan suatu kolektif dimaksudkan penyapa
sebagai proses permohonan agar proses pemeliharaan padi seterusnya
mendapatkan perlindungan sehingga hasil panen berisi penuh tanpa ada yang
puso. Hal tersebut disebabkan adanya perlindungan malaikat dan terlihat dalam
larik Narurungang malaekak pakdoangnganna „doa para malaikat menyertaimu‟
dan Awalli passombalinna „wali menjagamu‟.
Larik di atas juga sebagai pengendali norma sosial, yakni mengharapkan
masyarakat bersedia berdoa untuk merawat dan memelihara benih padi sampai
panen nanti dan selalu mengingatkan masyarakat untuk selalu tidak melupakan
berdoa kepada Sang Pencipta. Petani meyakini keagungan Tuhan sehingga
permohonan dan usaha pertaniannya senantiasa mendapat berkah.
Mantra Rappo Ase „bulir padi‟ berfungsi sebagai pengesahan kebudayaan.
Hal ini tercermin dari kalimat Battungasengmako mae sumanga asengku
„datanglah semua semangat padiku‟. Hal ini dimaksudkan oleh penyapa untuk
memberikan semangat bagi penanam padi agar tidak lelah dalam menanam. Ini
dikuatkan oleh kalimat Narurungang malaekak
pakdoangnganna „doa para
211
malaikat menyertaimu‟, difungsikan agar petani tradisional suku Makassar yang
menanam padi memiliki kekuatan dan semangat yang tinggi.
7) Mantra Appa Sulapa Nikutanang
Mantra Appa Sulapa Nikutanang „empat arah ditanya‟ berfungsi sosial,
dimaksudkan penyapa sebagai proses kondisi seluruh bulir padi terisi dan
mendapatkan hasil panen yang maksimal. Hal tersebut terlihat di dalam salam
pembuka dan kalimat Oh yaccingku nia aseng jako ilalang „oh padi apakah
Engkau ada semua di dalam‟. Mantra ini juga berfungsi sebagai pengendali norma
sosial, yakni mengharapkan empat penjuru mata angin disimbolkan sebagai
kebersamaan (gotong royong). Kebersamaan menjaga padi yang ditanam agar
tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.
Mantra Appa Sulapa Nikutanang „empat arah ditanya‟ berfungsi sebagai
pengesahan kebudayaan. Dalam mantra ini tercermin dari larik Oh yaccingku nia
aseng jako ilalang „oh padi apakah Engkau ada semua di dalam‟. Petani
mengharapkan padi berisi penuh tanpa ada yang puso. Hal ini dimaksudkan
penyapa untuk memberikan mengesahkan kepada petani tradisional suku
Makassar bahwa padi sudah tumbuh dan siap dipanen. Petani memberi sesajen
agar roh-roh jahat tidak mendekati padi yang sudah ditanam.
6.2.2. Fungsi Sosial dan Fungsi Budaya Teks Mantra Tupakbiring
Fungsi sosial mantra Tupakbiring sama seperti mantra Tulembang.
Mantra-mantra tersebut secara sosial mempunyai aturan, mekanisme, dan proses
yang telah ditentukan secara adat yang harus dipatuhi. Pelanggaran ketentuan itu
akan merusak kosmologi kehidupan
para nelayan tradisional suku Makassar
212
penangkap ikan terbang (patorani) di Pallaklakang, Galesong, Kabupaten Takalar.
Artinya, upacara ritual dilakukan dalam waktu-waktu tertentu sesuai dengan
ketetapan adat, tetapi pada dasarnya dimensi filosofisnya mewarnai keseluruhan
perilaku dan aktivitas masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Fungsi budaya yang tertuang dalam teks mantra Tupakbiring terlihat
sebagai fungsi pengesahan kebudayaan atau alat pengesahan pranata-pranata dan
lembaga-lembaga kebudayaan. Artinya, fungsi ini sebagai kegiatan rutin yang
dilakukan pada kesempatan atau waktu tertentu.
1) Mantra Pappalakku
Mantra Pappalakku „permohonanku‟ berfungsi proyeksi harapan. Fungsi
tersebut merupakan proyeksi angan-angan suatu kolektif, dimaksudkan penyapa
agar datang rezeki. Hal ini diibaratkan seperti telur ikan terbang. Pemohon
berharap supaya didekatkan kepada sumber rezeki, meski berada di wilayah laut.
Rezeki halal yang dimohonkan hanya pada Allah. Hal ini terlihat dari kata
yamming, yang dimaksudkan agar nelayan tradisional suku Makassar bersamasama memohon agar secepatnya diberikan rezeki serta berharap supaya
didekatkan kepada sumber rezeki meski berada di laut.
Mantra Pappalakku „permohonanku‟ berfungsi pengesahan kebudayaan.
Hal ini tercermin dari kata yamming. Larik dalam mantra ini mencerminkan
yamming
sebagai
perantara
Oh
yamming
palakkangak
„oh
yamming
mohonkanlah‟/ Na nupabattuangak „dan sampaikanlah‟ Dallek hallalakku battu ri
Allah Taalah „rezeki halalku dari Allah Taalah‟. Kata yamming tidak memiliki arti
secara harfiah, tetapi perwujudan kepercayaan terhadap adanya kekuatan kosmik
213
yang menguasai alam semesta. Secara pengesahan budaya, penyapa mengesahkan
bahwa dengan membaca nama tersebut mampu memberikan bantuan untuk
memanggil dan memohon mempercepat rezeki dengan cara menyampaikan
kepada Allah.
2) Mantra Dallekku
Mantra Dallekku „rezekiku‟ berfungsi sebagai proyeksi harapan. Fungsi
tersebut merupakan proyeksi angan-angan suatu kolektif, dimaksudkan penyapa
mengharapkan datangnya rezeki. Hal ini diibaratkan seperti telur ikan terbang.
Permohon berharap supaya didekatkan kepada sumber rezeki, meski berada di
laut. Rezeki halal yang dimohonkan hanya pada Allah. Hal ini terlihat dari kata
yamming, yang dimaksudkan bahwa para nelayan tradisional suku Makassar
bersama-sama memohon agar secepatnya diberikan rezeki.
Mantra Dallekku „rezekiku‟ berfungsi sebagai pengesahan kebudayaan.
Hal ini tercermin dari penggunaan kata yamming dalam mantra ini. Kata tersebut
dianggap sebagai perwujudan kepercayaan terhadap adanya kekuatan kosmik
yang menguasai alam semesta. Secara pengesahan budaya, kata tersebut
diucapkan oleh penyapa untuk mengesahkan pembawa rezeki untuk masyarakat
nelayan tradisional suku Makassar. Selain itu, kekuatan alam disahkan agar
dipercayai akan memberikan bantuan rezeki. Artinya, segala yang diciptakan
Allah mempunyai unsur kekuatan kosmik. Hal ini terlihat dalam larik dalam
mantra Labbusukpi bintoengnga „nanti habis bintang di langit‟/ Na labbusuk
todong dallekku ri Allah Taaala „barulah habis juga rezekiku dari Allah Taalah‟.
214
Hal ini mengesahkan bahwa tidak ada kekuatan lain yang mampu memberikan
rezeki kecuali kekuatan Allah Taalah.
3) Mantra Songka Bala
Mantra Songka Bala „tolak bala‟ berfungsi sosial yang merupakan
pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat selalu dipatuhi oleh
anggota kolektifnya. Artinya, fungsi ini dimaksudkan agar seluruh masyarakat
nelayan mematuhi aturan, mekanisme, dan proses yang telah ditentukan secara
adat yang harus dipatuhi. Hal ini terlihat dari kalimat Na nusongka sikamma bala
nantattabayya „dan lindungilah dari segala marabahaya yang akan datang‟. Larik
tersebut dikaitkan dengan kalimat Napunna tanu pakamma kanangku/ Kapallakko
ri Muhammad Rasullullah „kalau engkau tidak memenuhi kata-kataku/ engkau
tega kepada Muhammad Rasullullah‟. Larik ini sebagai penekanan agar
masyarakat nelayan tradisional suku Makassar mematuhi aturan yang sudah
ditentukan dalam konteks sosial masyarakat.
Selain itu, terdapat fungsi proyeksi harapan yakni merupakan proyeksi
angan-angan suatu kolektif, dimaksudkan penyapa mengharapkan datangnya
rezeki. Hal ini diibaratkan dengan Imanrembassang, yakni simbol kapal Nabi
Nuh, yang dipercayai kuat dan tahan dari segala marabahaya. Penyapa
memberikan penekanan melalui upacara adat yang diikuti oleh seluruh lapisan
masyarakat nelayan tradisional suku Makassar setempat. Adanya upacara
mempersiapkan peralatan menangkap ikan (annisi biseang), mengecet perahu
(akparada), mengambil daun kelapa angngalle lekok kaluku), dan lain-lain yang
berhubungan dengan ritual akan melaut.
215
Fungsi budaya mantra Songka Bala „tolak bala‟ sama seperti mantra
Tupakbiring sebelumnya, yakni sebagai perwujudan kepercayaan terhadap adanya
kekuatan kosmik yang menguasai alam semesta. Hal ini terlihat dari penggunaan
kata Imanrembassang (perahu Nabi Nuh). Penyapa ingin mengesahkan bahwa
membaca kata tersebut untuk menghindari segala pengaruh roh jahat dan
marabahaya. Fungsi kata tersebut untuk mengenali dan menyayangi para nelayan
tradisional suku Makassar, jika tidak maka dianggap tega terhadap Nabi
Muhammad. Hal ini ditegaskan oleh larik Kainakke minne Muhammad „dan
akulah ini Muhammad‟. Kalimat ini merupakan penegasan budaya bahwa
masyarakat nelayan tradisional suku Makassar mempercayai adanya Nabi
Muhammad sebagai tuntunan dalam mencari rezeki di laut.
4) Mantra Loloanna Sombalakku
Mantra Loloanna Sombalakku „tali layarku‟ berfungsi sebagai proyeksi
harapan, yakni mengharapkan keselamatan baik perahu maupun penggunanya.
Penggunaan istilah anggota tubuh yang dikaitkan dengan elemen perahu menjadi
simbol kebersamaan, bahwa jika satu sakit, maka yang lain juga akan merasakan
hal yang sama.
Fungsi pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat selalu
dipatuhi oleh anggota kolektifnya. Artinya, fungsi ini dimaksudkan agar seluruh
masyarakat nelayan mematuhi aturan, mekanisme, dan proses yang telah
ditentukan secara adat yang harus dipatuhi. Hal ini dilakukan agar tidak merusak
kosmologi kehidupan para nelayan tradisional suku Makassar.
216
Fungsi budaya mantra Loloanna Sombalakku „tali layarku‟ sebagai
pengesahan budaya. Penyapa ingin mengesahkan bahwa pengguna dan perahu itu
satu jiwa yang tidak terpisah. Jika tubuh patah, maka patah juga daun kemudi
perahu Tepokpi anne terak-terasakku „nanti patah tulang keringku‟ / Natepok
todong lekok gulingku „baru patah juga daun kemudiku‟. Hal ini menunjukkan
bahwa ketika melaut perlu adanya fisik dan psikologi yang tangguh. Untuk itu,
sebelum melaut perlu dilakukan upacara ritual adat setempat agar diberi
keselamatan dan rezeki yang berlimpah. Sebelumnya, para nelayan melakukan
upacara accinik allo baji „melihat hari baik‟ dan kapan waktu menarik biseahg
„menarik perahu‟. Selain itu, memberikan sesajen berupa dua ekor atau sepasang
ayam kampung yang disembelih di pusat perahu yang masih berada di darat.
Darahnya ditumpahkan di pusat perahu yang tutupnya dibuka, sehingga darahnya
turun membasahi pasir di pantai. Semua anak buah perahu lalu membawa dua
ekor ayam tersebut mengelilingi perahu sambil mengeluskan keperahu dan diikuti
tampong tawarak. Tampong tawarak terdiri atas satu butir telur ayam kampung,
satu biji kelapa setengah tua, satu kilo gula merah, satu tempat dupa berisi serabut
dan kulit kelapa, kemenyan, dan satu genggam beras.
5) Mantra Gosse
Mantra Gosse „rumput laut‟ berfungsi sebagai proyeksi harapan. Fungsi ini
dilihat dari harapan agar hasil rumput laut berlimpah. Penggunaan kata gosse
Irapang „ rumput laut Irapang‟ dimasudkan penyapa agar masyarakat nelayan
tradisional suku Makassar bersama-sama mendoakan dan dapat menikmati hasil
laut bersama-sama juga.
217
Fungsi budaya mantra Gosse „rumput laut‟ sebagai pengesahan budaya
bahwa terdapat perwujudan kepercayaan terhadap adanya kekuatan kosmik yang
menguasai alam semesta. Hal ini terlihat dari penggunaan kata yukkung. Penyapa
ingin mengesahkan bahwa membaca kata tersebut akan memberikan banyak
rezeki berupa rumput laut yang dinamai Irapang dan dijaga oleh Nabi Pahara.
Larik kelima mempertegas Inakke iyukkung arrengku ri Allah Taalah „yukkung
namaku dari Allah Taalah‟. Sebelum mengambil rumput laut, mantra Gosse
dibaca oleh nelayan pembaca mantra dan didahului memberi sesajen kepada
penjaga Gosse. Sesajen itu terdiri atas daun sirih, telur ayam kampung, beras
segenggam yang diambil dari tempat beras di rumah. Marayya Icidda Daeng
Ngalle diberi sesajen agar memudahkan urusan di laut. Batu yang tampak di
sekitar pengambilan rumput laut diibaratkan sisa kepala dari Nabi Adam,
sedangkan rumput laut diibaratkan sisa rambut dari Nabi Hawa. Ali mengambilmu
dan diberkahi oleh Nabi Muhammad. Kemudian, nelayan menyelam untuk
mengambil rumput laut yang akan digunakan menghias balla-balla dan pakkaja
tempat bertelunya tuing-tuing/ ikan terbang.
6) Mantra Bunoanna Jukuka
Mantra Bunoanna Jukuka „pengawetan ikan‟ berfungsi sebagai proyeksi
harapan. Fungsi proyeksi harapan dilihat dari harapan agar mengharapkan hasil
laut berlimpah dan diibaratkan kekayaan dimiliki Nabi Sulaiman. Para sawi
mempercayai bahwa kekayaan laut adalah harta yang dimiliki Nabi Sulaiman,
sehingga mendatangkan keberkahan. Selain itu, fungsi sosial dimaksudkan agar
seluruh masyarakat nelayan mematuhi aturan, mekanisme, dan proses yang telah
218
ditentukan secara adat yang harus dipatuhi. Hal ini dilakukan agar tidak merusak
kosmologi kehidupan para nelayan tradisional suku Makassar. Para sawi
diharapkan turut menjaga hasil laut dan tidak merusaknya, dengan diibaratkan
hasil laut seperti isteri yang harus dijaga dan dipelihara.
Fungsi budaya mantra Bunoanna Jukuka „pengawetan ikan‟ sebagai
pengesahan budaya bahwa terdapat perwujudan kepercayaan terhadap adanya
kekuatan kosmik yang menguasai alam semesta. Hal ini terlihat dari penggunaan
kata Iyakking. Penyapa ingin mengesahkan bahwa membaca kata tersebut akan
memberikan rezeki berlimpah. Pengawetan ikan dimulai dari mengambil satu ekor
ikan terbang dari balla-balla ataupun pakkaja yang masih hidup. Ikan terbang
tersebut dipilih yang gemuk dan besar perutnya. Selanjutnya, ikan ini kepalanya
harus mengarah ke pembaca mantra, lalu dipegang dan dibuka mulutnya untuk
ditiupkan mantra bunoanna jukuka. Iyakking nama ikan terbang diibaratkan dapat
terbang seperti Nabi Sulaiman, sedangkan iyukkung nama nelayan pengguna
mantra patorani. Baik yukkung maupun yakking diciptakan oleh Allah dan
dipertemukan di laut. Yukkung menempatkan yakking di tempat ikan yang layak.
Mantra ini bermanfaat agar ikan terbang yang diawetkan tidak cepat busuk.
7) Mantra Appasuluki Kodia
Mantra Appasuluki Kodia „mengeluarkan yang jahat‟ berfungsi sosial,
dimaksudkan agar seluruh masyarakat nelayan mematuhi aturan, mekanisme, dan
proses yang telah ditentukan secara adat yang harus dipatuhi. Hal ini dilakukan
agar tidak merusak kosmologi kehidupan para nelayan tradisional suku Makassar.
Kata appasuluki kodia dimaknai sebagai upaya mengusir hal jahat yang merusak
kosmologis kehidupan. Untuk itu, penyapa (punggawa) menekankan secara
219
tersirat agar seluruh masyarakat nelayan tradisional suku Makassar mematuhi
norma yang sudah disepakati dengan cara menjaga semua aspek sosial yang ada di
masyarakat pemiliknya.
Fungsi budaya mantra Appasuluki Kodia „mengeluarkan yang jahat‟
sebagai pengesahan budaya bahwa terdapat perwujudan kepercayaan terhadap
adanya kekuatan kosmik yang menguasai alam semesta. Hal ini terlihat dari
penggunaan larik Kuniakkanngi Abubakara – Umara – Usman – Ali „kuniatkan
Abubakar – Umar – Usman – Ali‟ untuk melindungi perahu dan semua bagian
perahu. Penyapa ingin mengesahkan bahwa membaca larik tersebut akan dijaga
perahu yang ditumpangi, tidak rusak, terjaga dari hal baik dan terhindar dari roh
jahat. Andai ada roh jahat yang mengganggu, maka diibaratkan akan melebur
seperti garam di air berkat bantuan Allah Taalah.
Download