pengaruh komunikasi budaya perusahaan terhadap perilaku

advertisement
Ida Rapida Djachrab, Pengaruh Komunikasi Budaya Perusahaan...
111
PENGARUH KOMUNIKASI BUDAYA PERUSAHAAN
TERHADAP PERILAKU KARYAWAN
(Studi Korelasional Mengenai Pengaruh Pesan, Media Dan Bentuk Komunikasi Budaya Perusahaan
Terhadap Perilaku Karyawan Ma’soem Group)
Ida Rapida Djachrab
Yayasan Pendidikan Al Ma’Soem
[email protected]
ABSTRAK
Untuk memberi pandangan yang sama bagi sumber daya manusia dalam
perusahaan, perlu ada aturan, pandangan, maupun sikap dalam bentuk budaya
perusahaan. Budaya menjadi pedoman dan pengikat karyawan dalam bersikap dan
berperilaku khas yang menjadi pembeda dengan perusahaan lain. Melalui budaya
perusahaan karyawan yang awalnya mempunyai latar belakang pendidikan dan
pengalaman yang berbeda “diikat” menjadi satu kesatuan agar mempunyai arah yang
sama dalam pencapaian tujuan organisasi serta mempunyai kekuatan dalam
menghadapi persaingan. Perusahaan dengan budaya yang tertanam kuat akan memiliki
karyawan yang mempunyai sikap dan perilaku positif diantaranya mempunyai motivasi
dan berkomitmen tinggi. Untuk menjaga kelangsungan budaya perusahaan perlu upaya
menjaga dan melestarikannya. Merealisasikan dan menjaga kelanggengan budaya
perusahaan dalam bentuk pengetahuan, sikap, dan perilaku positif karyawan
memerlukan proses komunikasi yang terencana dan berkesinambungan. Komunikasi
budaya perusahaan yang berhasil erat kaitannya diantaranya dengan perilaku karyawan
yang mendukung ke arah pencapaian tujuan perusahaan. Budaya yang kuat dan sesuai
dengan visi dan misi perusahaan mendorong pada peningkatan kinerja perusahaan.
Agar budaya perusahaan menjadi sebuah komitmen bagi karyawan perusahaan perlu
melakukan pewarisan budaya dari generasi ke generasi melalui kegiatan komunikasi.
Mengkomunikasikan budaya perusahaan kepada karyawan diharapkan karyawan
mengetahui, memahami dan melaksanakan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Kata kunci: budaya perusahaan, komunikasi, perilaku karyawan
ABSTRACT
To give the same view for the human resources within the company, there needs to be
rules, views, and attitudes in the form of corporate culture. Cultural guiding and binding
employees in attitude and behavior is typical that made the difference with other
companies. Through the corporate culture of employees who initially have the educational
background and different experience "tied" into a single unit in order to have the same
direction in achieving the organization's objectives and have strength in the face of
competition. Companies with a culture that is firmly planted will have employees who
have a positive attitude and behavior among motivated and committed. To maintain the
continuity of the corporate culture necessary efforts to maintain and preserve it. Realize
and maintain the continuity of the corporate culture in the form of knowledge, attitudes,
and positive employee behaviors require communication processes planned and
sustainable. Successful communication corporate culture is closely related to employee
behavior including support towards the achievement of corporate objectives. Strong
culture and in accordance with the vision and mission of the company lead to increased
performance of the company. Corporate culture in order to be a commitment for
employees Integration needs to do a cultural inheritance from generation to generation
112
Copetition, Volume VI, Nomor 2, November 2015, 111 - 121
through communication activities. Communicating the corporate culture to employees
expected employees know, understand and implement the values contained therein.
Keywords: culture, enterprise, communication.
1. LATAR BELAKANG MASALAH
Untuk memberi pandangan yang sama bagi
sumber daya manusia dalam perusahaan, perlu
ada aturan, pandangan, maupun sikap dalam
bentuk budaya perusahaan. Budaya inilah yang
menjadikan pedoman dan pengikat karyawan
dalam bersikap dan berperilaku khas yang
menjadi pembeda dengan perusahaan lain.
Melalui budaya perusahaan karyawan yang
awalnya mempunyai latar belakang pendidikan
dan pengalaman yang berbeda “diikat” menjadi
satu kesatuan agar mempunyai arah yang
sama dalam pencapaian tujuan organisasi serta
mempunyai kekuatan dalam menghadapi
persaingan.
Begitu juga dengan kegiatan usaha di
lingkungan
Ma’soem Group mempunyai
keunikan tersendiri. Pada saat pelaku bisnis
sejenis di kota-kota lain Indonesia menjerit
karena terjadinya berbagai krisis, kegiatan
usaha Ma’soem Group tenang-tenang saja.
Tidak mengherankan jika kemudian banyak
bank melirik Usaha Ma’soem sebagai lokasi
potensial untuk mengucurkan pinjaman.
Ma’soem Group selalu berupaya meningkatkan kualitas layanan melalui penentuan
strategi pengelolaan untuk dapat mempengaruhi dan membuktikan kepada masyarakat
tentang keistimewaan produk maupun layanan
yang diberikan sehingga mampu tetap unggul
dalam persaingan. Pengelolaan usaha tidak
akan terlepas dari pelaksanaan strategi, yaitu
suatu pendekatan untuk menggunakan segala
sumber daya yang tersedia di dalam kendala
iklim kompetitif untuk mencapai sasaran yang
telah ditetapkan. Rhenald Kasali (2000: 35)
mengemukakan bahwa “strategi menyangkut
hal-hal yang berkaitan dengan mampu atau
tidaknya perusahaan menghadapi tekanan
yang muncul dari dalam maupun dari luar”.
Manajemen Ma’soem Group semakin
menyadari pentingnya peran budaya perusahaan. Dahulu budaya perusahaan hanya dipandang sebagai salah satu pelengkap agar
menjadi pembeda dengan perusahaan lain.
Tapi pandangan tersebut sekarang sudah
bergeser dimana budaya perusahaan dipan-
dang sebagai salah satu alat yang dapat direkayasa sedemikian rupa menjadi upaya strategi
pencapaian tujuan perusahaan. Budaya melakukan sejumlah fungsi untuk mengatasi
permasalahan para karyawan untuk beradaptasi baik dengan lingkungan internal maupun
eksternal.
Budaya Ma’soem Group banyak diilhami
dari kebiasaan sehari-hari dari Bapak H.
Ma’soem (alm). Selanjutnya kebiasaan ini oleh
pihak manajemen dijadikan suatu pola dan
asumsi-asumsi dasar yang digali, dikembangkan dan diterapkan dalam lingkungan perusahaan. Dengan pemahaman tersebut, budaya
perusahaan mempunyai peranan sebagai sarana untuk menentukan arah perusahaan, mengarahkan apa yang patut dan tidak patut
dikerjakan, bagaimana mengalokasi sumber
daya organisasional. Hal tersebut tercermin
dalam nilai-nilai fundamental organisasi.
Selain itu budaya perusahaan dapat memberikan kesadaran beridentitas para anggota
untuk menyerap visi, misi dan menjadi bagian
integral dari perusahaan. Ma’soem Group
melalui penetapan visi: Selalu Berusaha
Menjadi yang Terbaik dan misi: Mencari Ridho
Allah SWT memiliki nilai-nilai budaya yang
dapat menunjang visi dan misi tersebut. Guna
pencapaian visi dan misi diperlukan dukungan
dari seluruh karyawan dengan berperilaku
sesuai budaya yang dianut.
Perusahaan dengan budaya yang tertanam
kuat akan memiliki karyawan yang mempunyai
sikap dan perilaku positif diantaranya mempunyai motivasi dan berkomitmen tinggi, seperti:
rela berkorban demi kemajuan organisasi,
bersedia memberikan perhatian yang besar
pada perkembangan organisasi dan memiliki
tekad yang kuat untuk menjaga eksistensi
organisasi. Untuk menjaga kelangsungan
budaya perusahaan perlu upaya menjaga dan
melestarikannya sehingga budaya tersebut
tetap terjaga dan tertanam dalam diri setiap
karyawan.
Merealisasikan dan menjaga
kelanggengan budaya perusahaan dalam
bentuk pengetahuan, sikap, dan perilaku positif
karyawan memerlukan proses komunikasi yang
112
Ida Rapida Djachrab, Pengaruh Komunikasi Budaya Perusahaan...
terencana dan berkesinambungan. Komunikasi
budaya perusahaan yang berhasil erat
kaitannya diantaranya dengan perilaku karyawan yang mendukung ke arah pencapaian
tujuan perusahaan.
Mengingat persaingan usaha semakin
meningkat diperlukan terobosan-terobosan
untuk mengungguli usaha sejenis. Memenangkan kompetisi bisnis memerlukan terobosan dan strategi yang berbeda agar bisa
menarik calon konsumen dan menjaga
hubungan baik dengan pelanggan. Pengaruh
yang dirasakan oleh Ma’soem Group terutama
pada pengorganisasian rencana atau strategi
perusahaan
menghadapi
era
kompetitif
diantaranya menetapkan budaya perusahaan
sebagai prioritas dan modal utama perusahaan.
Budaya perusahaan berpengaruh terhadap
kelangsungan perusahaan. Budaya yang kuat
dan sesuai dengan visi dan misi perusahaan
mendorong
pada peningkatan kinerja
perusahaan.
Agar budaya perusahaan menjadi sebuah
komitmen bagi karyawan perlu dilakukan
pewarisan budaya dari generasi ke generasi
melalui kegiatan komunikasi. Mengkomunikasikan budaya perusahaan kepada karyawan
diharapkan karyawan mengetahui, memahami
dan melaksanakan nilai-nilai yang terkandung
di dalamnya.
2. METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian ini
adalah Explanatory Survey Method, yaitu
metode penelitian survei yang bertujuan
menguji hipotesis. Penelitian melibatkan empat
variabel, yang terdiri dari tiga variabel bebas
dan satu variabel terikat. Variabel bebas adalah
pesan, media, dan bentuk komunikasi
sedangkan variabel terikat adalah perilaku
karyawan.
1. Pesan
Pesan (message) adalah ide atau gagasan
yang akan disampaikan kepada karyawan
sebagai komunikan, yang penyampaiannya
diubah menjadi lambang-lambang atau
simbol-simbol. Dalam penelitian ini yang
menjadi pesan adalah budaya perusahaan
Ma’soem Group
2. Media
Media
merupakan
saluran
untuk
menyampaikan pesan budaya komunikasi
atau saluran dimana karyawan mendapat
113
informasi mengenai budaya perusahaan,
baik melalui media yang sifatnya elektronik,
cetak, maupun tatap muka
3. Bentuk
Bentuk komunikasi dalam hal ini dititikberatkan kedalam jumlah orang, bagaimana
situasi penyampaian pesan budaya perusahaan kepada karyawan. Apakah penyampaiannya dalam lingkup jumlah terbatas,
antara atasan dengan bawahan yang
melibatkan hanya dua orang seperti dalam
dialog atau konseling. Atau penyampaian
budaya perusahaan biasanya dilakukan
dalam jumlah lebih dari dua orang.
4. Perilaku
Perilaku karyawan merupakan umpan balik
atau respon terhadap lingkungannya. Perilaku karyawan bisa diamati, namun
demikian perilaku bisa merupakan cerminan
sikap seseorang bisa juga merupakan
sebuah manipulasi karena adanya dorongan
tertentu.
Keempat variabel tersebut kemudian
dijabarkan dalam bentuk operasionalisasi
variabel sebagai berikut:
Tabel 1 Operasionalisasi Variabel Penelitian
No.
1.
Variabel
Pesan
Komunikasi
(X1)
Sub
Variabel
Struktur
Gaya
Appeals
Elektronik
Cetak
Tatap muka
2.
Media
Komunikasi
(X2)
Indikator
Tersirat-tersurat
Pola urutan argumentasi
Pola objektivitas
Perulangan
Kemudahdimengertian
Perbendaharaan kata
Rasional-emosional
Fear appeals
Reward appeals
SMS Centre
Website
Radio
Penempelan tulisan yang
berisi slogan di tempattempat tertentu
Buletin
Leaflet/selebaran
Buku atau pedoman khusus
Ritual/Seremoni
Ritual/seremoni
yang
dijalankan pimpinan dalam
kegiatan perusahaan
Ritual/seremoni yang berkaitan
dengan tugas pimpinan
Ritual/seremoni
yang
dilakukan yang tidak terkait
langsung dengan pekerjaan
Ritual/seremoni
organisasi
yang
mengikutsertakan
seluruh karyawan dalam
kegiatan perusahaan
Cerita yang sama dan selalu
diulang kepada karyawan
114
No.
3.
4.
Copetition, Volume VI, Nomor 2, November 2015, 111 - 121
Variabel
Bentuk
Komunikasi
(X3)
Perilaku
Karyawan
(Y)
Sub
Variabel
Antar
Persona
(2 orang)
Kelompok
(lebih dari 2
orang)
Indikator
No.
3. Sosialitas
Aturan atau tata cara
yang berlaku
Senda Gurau yang
sering digunakan dan
menjadi ciri khas
Privasi yang dimiliki
karyawan
4. Enkulturasi
Budaya
perusahaan
disosialisaikan kepada
karyawan baru
Budaya
perusahaan
disosialisasikan secara
berkesinambungan
Pimpinan memberikan
contoh
Karyawan
menginterpretasikan
ucapan pimpinan
Dialog
Konseling
Variabel
Sub
Variabel
Indikator
Pencapaian
target
pekerjaan
Kualitas pekerjaan yang
diselesaikan
Inovatif dalam bekerja
Keberanian melakukan
inisiatif
Memiliki ide-ide kreatif
Membentuk image positif
Improvisasi
dalam
bekerja
3. POPULASI DAN SAMPEL
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh
karyawan Ma’soem Group yang berstatus
sebagai karyawan tetap. Populasi dibatasi
untuk karyawan golongan I, II, III, IV, dan V.
Penentuan
jumlah
sampel
minimum
menggunakan rumus Slovin (Setiawan, 2007:
6). Perhitungan ini digunakan karena sudah
diketahui jumlah karyawan Ma’soem Group
sebanyak 706 orang. Formula perhitungan
jumlah sampel sebagai berikut :
Diskusi
Rapat
Seminar
Pelatihan
Peringatan rutin tahunan
1. Artefak
Mengetahui logo dan
warna khas Ma’soem
Group
Mengetahui arti/makna
logo dan warna khas
Ma’soem Group
Mengetahui fungsi dan
manfaat
pakaian
seragam
Mengetahui
unit-unit
usaha yang ada di
bawah
naungan
Ma’soem Group
Mengetahui
bentukbentuk penghargaan dan
sanksi yang berlaku
Mengetahui
istilah/
jargon-jargon
yang
sering digunakan di
lingkungan
Ma’soem
Group
Mengetahui
kisah
sejarah yang berkaitan
dengan Ma’soem Group
Mengetahui
kisah
kepahlawanan
yang
terjadi
di
sekitar
Ma’soem Geoup
2. Nilai
Kejujuran dalam bekerja
Sifat ulet dalam bekerja
Loyalitas
terhadap
perusahaan
Tingkat
kehadiran
bekerja
Keahlian kerja yang
dimiliki
Pengembangan
diri
untuk lebih maju
Hubungan dengan rekan
kerja dan atasan
Tanggung
jawab
terhadap pekerjaan
Kerja sama tim
n=
N
2
Ne +1
Dengan menggunakan rumus Slovin diperoleh jumlah sampel sebanyak 88 orang
Rancangan sampling menggunakan sampling
berstrata proporsional.
4. SUMBER
DATA
DAN
CARA
PENGUMPULANNYA
Sumber data primer adalah karyawan
Ma’soem Group yang sudah berstatus sebagai
karyawan tetap dan termasuk dalam level
menengah dan bawah (Gaji golongan I, II, III,
IV, V). Data sekunder melalui studi pustaka
baik yang bersifat teoritis dari berbagai literatur,
maupun catatan-catatan, laporan-laporan, serta
dokumen
yang
berhubungan
dengan
permasalahan yang diteliti
Data primer diperoleh melalui berbagai
pertanyaan yang dituangkan dalam bentuk
kuesioner. Skala pengukuran menggunakan
skala Likert dengan data ordinal dimana setiap
pertanyaan diranking dengan jawaban : sangat
setuju (5), setuju (4), ragu-ragu (3), tidak setuju
(2), dan sangat tidak setuju (1). Apabila
pernyataannya bersifat negatif, maka penilaian
menjadi sebaliknya yaitu sangat setuju (1),
setuju (2), ragu-ragu (3), tidak setuju (4), dan
114
Ida Rapida Djachrab, Pengaruh Komunikasi Budaya Perusahaan...
sangat tidak setuju (5). Mengingat rancangan
uji hipotesis yang akan digunakan adalah
analisis statistik dengan model analisis jalur
(Path Analysis) yang mengisyaratkan adanya
data minimal bersifat interval, sedangkan data
yang ada bersifat ordinal, maka terlebih dahulu
akan ditransformasikan menjadi data interval
melalui “Method of successive Intervals”
5. KERANGKA
PEMIKIRAN
DAN
RANCANGAN UJI HIPOTESIS
Penelitian dimaksudkan untuk mengetahui
sejauhmana pengaruh komunikasi budaya
perusahaan terhadap perilaku karyawan. Untuk
menganalisis hubungan kausal yang bentuk
modelnya regresi harus dibuat sebuah
paradigma yang menggambarkan hubungan
kausal antara variabel bebas dan variabel
terikat yang disebut dengan Path Diagram.
Bilangan yang menyatakan besarnya disebut
Path Coefficient. Oleh karena itu rencana uji
hipotesis yang digunakan adalah Path Analysis
dengan gambar sebagai berikut:
Korelasi
115
: X1 dengan X2, X2 dengan X3, dan X1
dengan X3
: Parameter struktural, menunjukkan
hubungan antara variabel x1, x2, dan
x3
: Parameter struktural, menunjukkan
besarnya pengaruh X1 terhadap Y
: Parameter struktural, menunjukkan
besarnya pengaruh X2 terhadap Y
: Parameter struktural, menunjukkan
besarnya pengaruh X3 terhadap Y
: Parameter struktural, menunjukkan
besarnya pengaruh variabel lain
terhadap Y
rx1x2x3
Pyx1
Pyx2
Pyx3
Py
Berdasarkan kerangka pemikiran, maka
dirumuskan hipotesis sebagai berikut :
1. Terdapat pengaruh pesan komunikasi (X1)
terhadap perilaku karyawan (Y)
2. Terdapat pengaruh media komunikasi (X2)
terhadap perilaku karyawan (Y)
3. Terdapat pengaruh bentuk komunikasi (X3)
terhadap perilaku karyawan (Y)
4. Terdapat pengaruh pesan, media, dan
bentuk komunikasi (X1, X2, dan X3) secara
bersama-sama terhadap perilaku karyawa n
(Y)
5. Terdapat hubungan antara pesan (X1)
dengan media (X2)
6. Terdapat hubungan antara media (X2)
dengan bentuk (X3)
7. Terdapat hubungan antara pesan (X1)
dengan bentuk (X3)
6. UJI VALIDITAS DAN REALIBILITAS
Uji validitas dilakuan dengan
mencari
terlebih harga korelasi antara bagian-bagian
dengan menggunakan rumus korelasi Product
Moment Pearson:
Gambar 1
Skema Paradigma Penelitian
Diagram Jalur yang menyatakan hubungan
kausal dari X1, X2, X3 ke Y
Keterangan :
X1, X2, dan X3
Y
Hubungan kausal
: Variabel eksogenus (variabel bebas)
X1 (pesan komunikasi), X2 (media
komunikasi), X3 (bentuk komunikasi)
: Variabel endogenus (variabel terikat)
Y (perilaku karyawan)
: Variabel residu sebagai kumpulan
variabel lain di luar X1, X2, dan X3
yang mungkin berpengaruh terhadap
Y
: X1 dengan Y, X2 dengan Y, dan X3
dengan Y, dan X1, X2, X3 dengan Y
r=
{n
x
n ( XY)
( x) } n
X
Y
Y
Y
Uji reliabilitas menggunakan Uji Belah Dua
(Split Half Test) dengan memperhatikan jumlah
skor item bernomor ganjil dan genap. Hasil
perhitungan kedua jumlah skor
dicari
korelasinya lalu digunakan untuk memperoleh
koefisien keandalan melalui rumus Spearman
Brown :
2(rb)
rtotal =
1 + rb
116
Copetition, Volume VI, Nomor 2, November 2015, 111 - 121
7. UJI HIPOTESIS
Uji hipotesis menggunakan analisis jalur
(path analysis), karena itu data variabel
penelitian yang berskala ordinal ditransformasikan terlebih dahulu menjadi skala interval
dengan menggunakan method of successive
intervals (MSI.
melakukan penarikan kesimpulan tentang
pengaruh
pesan,
media,
dan
bentuk
komunikasi budaya perusahaan terhadap
perilaku karyawan, perlu dilakukan pengujian
hipotesis untuk membuktikan secara statistik
ada tidaknya pengaruh signifikan dari variabel
independent terhadap variabel dependent.
Pengujian hipotesis dilakukan dalam dua tahap,
yaitu :
1. Analisis pengaruh secara keseluruhan
a. Bentuk hipotesis statistik uji
Ho : Pyx1 = Pyx2 = Pyx3 = 0
Tidak ada pengaruh dari variabel pesan,
media, dan bentuk komunikasi budaya
perusahaan terhadap perilaku karyawan
Ho : Pyx1
0
Ada pengaruh paling sedikit satu variabel
independent baik variabel pesan, media
maupun bentuk komunikasi budaya
perusahaan terhadap perilaku karyawan
b. Statisitik uji
Untuk mengetahui adanya penolakan
atau penerimaan terhadap hipotesis nol,
maka peneliti menggunakan statistik uji F
dengan rumus sebagai berikut:
8. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh
data sebagai berikut:
1. Pengaruh pesan komunikasi terhadap
perilaku karyawan
r=0,872, path coefficient= 0,179, t1=2,49
2. Pengaruh media komunikasi terhadap
perilaku kayawan
r=0,934, path coefficient= 0,644, t1=9,07
3. Pengaruh bentuk komunikasi terhadap
perilaku karyawan
r=0.808, path coefficient= 0,178, t1=3,18
Gambaran hasil penelitian ini berarti sesuai
dengan hipotesis yang dibuat bahwa terdapat
pengaruh antara komunikasi budaya perusahaan dengan perilaku karyawan. Dengan
demikian dapat digambarkan secara lengkap
koefisien jalur sebagai berikut :
F=
=
0,
17
F=
2
k (1 – R Yx1x2x3)
(88 – 2 – 1) (0,902)
9
2 (1 – 0,902)
=
0,
17
8
Berdasarkan hasil perhitungan diketahui
Fhitung > Ftabel, maka dapat ditarik
kesimpulan bahwa ada pengaruh minimal
satu variabel independent baik variabel
pesan, media, maupun bentuk komunikasi
budaya perusahaan terhadap perilaku
karyawan. Hasil pengujian dengan tabel F
juga dapat disimpulkan bahwa terdapat
pengaruh secara bersama-sama dari pesan,
media, dan bentuk komunikasi budaya
perusahaan terhadap perilaku karyawan.
2. Analisis pengaruh secara parsial
Pengujian pengaruh secara parsial
diperlukan untuk mengetahui apakah
variabel independent (pesan, media, dan
bentuk
komunikasi)
secara
parsial
memberikan pengaruh terhadap perilaku
karyawan.
a. Bentuk hipotesis statistik uji
X1 = Pesan komunikasi
X2 = Media komunikasi
X3 = Bentuk komunikasi
Y = Perilaku karyawan
Diagram jalur dituliskan dalam
persamaan matematis sebagai berikut:
(n – k – 1) (R2Yx1x2x3)
bentuk
Y = 0,179 X1 + 0,644 X2 + 0,178 X3 + 0,098
9. ANALISIS
PENGARUH
SECARA
KESELURUHAN DAN INDIVIDUAL
Mengingat data yang digunakan dalam
analisis adalah data sampel, maka sebelum
116
Ida Rapida Djachrab, Pengaruh Komunikasi Budaya Perusahaan...
Ho(x1) : Pyx1 0
Tidak ada pengaruh signifikan dari
variabel pesan komunikasi
terhadap
perilaku karyawan
Ho(x1) : Pyx1 > 0
Ada pengaruh positif dan signifikan dari
variabel pesan komunikasi terhadap
perilaku karyawan
Ho(x2) : Pyx2 0
Tidak ada pengaruh signifikan dari
variabel media komunikasi terhadap
perilaku karyawan
Ho(x2) : Pyx2 > 0
Ada pengaruh positif dan signifikan dari
variabel media komunikasi terhadap
perilaku karyawan
Ho(x3) : Pyx3 0
Tidak ada pengaruh signifikan dari
variabel bentuk komunikasi terhadap
perilaku karyawan
Ho(x3) : Pyx3 > 0
Ada pengaruh positif dan signifikan dari
variabel bentuk komunikasi terhadap
perilaku karyawan
b. Statistik uji
Untuk pengujian hipotesis secara parsial
digunakan uji statistik t dengan rumus:
t =
(1
Pyx
Ry(x1, x2, … xk)C
1
Uji
pengaruh
variabel
pesan
komunikasi budaya perusahaan (X1)
terhadap perilaku karyawan (Y)
Berdasarkan hasil perhitungan
sebelumnya
diketahui
nilai-nilai
berikut:
Pyx1
= 0,179
C11
= 4,469
R²yx1x2x3 = 0,902
K
=2
Sehingga diperoleh thitung = 2,49
Uji
pengaruh
variabel
media
komunikasi budaya perusahaan (X2)
terhadap perilaku karyawan (Y)
Berdasarkan hasil perhitungan
sebelumnya
diketahui
nilai-nilai
berikut:
Pyx2
= 0,644
117
C22
= 4,353
R²yx1x2x3 = 0,902
K
= 2
Sehingga thitung = 9,07
Uji
pengaruh
variabel
bentuk
komunikasi budaya perusahaan (X3)
terhadap perilaku karyawan
Berdasarkan hasil perhitungan
sebelumnya
diketahui
nilai-nilai
berikut:
Pyx3
= 0,178
C33
= 2,731
R²yx1x2x3 = 0,902
K
=2
Sehingga thitung = 3,18
Untuk mengetahui apakah hipotesis uji Ho
ditolak atau diterima, maka nilai thitung
dibandingkan dengan nilai ttabel dengan tingkat
signifikansi 0,05 dan derajat kebebasan n-k-1
atau 85. Aturan penerimaan dan penolakan
adalah:
Tolak hipotesis uji Ho, jika
: thitung > ttabel
Terima hipotesis uji Ho, jika : thitung ttabel
Dari tabel t diperoleh nilai 1,671. Dengan
membandingkan thitung dan ttabel diketahui
bahwa :
thitung X1 > ttabel
atau 2,49 > 1,671
thitung X2 > ttabel atau 9,07 > 1,671
thitung X3 > ttabel atau 3,18 > 1,671
Dengan demikian dapat diambil kesimpulan
bahwa ada pengaruh signifikan dari variabel
pesan, media dan bentuk komunikasi budaya
perusahaan secara parsial terhadap variabel
perilaku karyawan. Untuk lebih jelasnya daerah
penolakan dan penerimaan hipotesis nol
ditunjukkan pada gambar berikut:
Gambar 1.
Hasil Perhitungan Dengan Kurva Uji
Statistik Satu Pihak Kanan Pengujian
Pengaruh
118
Copetition, Volume VI, Nomor 2, November 2015, 111 - 121
Pengaruh tidak langsung variabel
bentuk komunikasi (X3) terhadap perilaku
karyawan (Y) melalui variabel pesan
komunikasi (X1) adalah:
Y
X3 X1
Y = (PYX3)(rX3X2X1)
(PYX1) X 100%
Y = (0,178)(0,902)
(0,179) X 100%
Y = 2,87%
Total pengaruh dari bentuk komunikasi
(X3) terhadap perilaku karyawan (Y)
adalah = 3,17% + 2,87% = 6,04%
Tingkat keeratan koefisien korelasi dari
pesan, media, dan bentuk komunikasi budaya
perusahaan terhadap perilaku karyawan
berdasarkan hasil perhitungan diperoleh data
sebagai berikut:
3. Analisis pengaruh langsung dan tidak
langsung
Analisis ini digunakan untuk mengetahui
pengaruh langsung dan tidak langsung dari
variabel independent pesan, media, dan
bentuk komunikasi terhadap perilakku
karyawan sebagai berikut:
a. Variabel pesan komunikasi (X1)
Pengaruh langsung pesan komunikasi
(X1) terhadap perilaku karyawan (Y)
Y
X1
Y = (PYX1)(PYX1) × 100%
Y = (0,179)(0,179) × 100%
Y = 3,20%
Pengaruh tidak langsung variabel
pesan komunikasi (X1) terhadap perilaku
karyawan (Y) melalui variabel media
komunikasi (X2) adalah:
Y
X1 X2
Y = (PYX1)
(rX3X2X1)
(PYX2) × 100%
Y = (0,179)(0,902)
(0,644) × 100%
Y = 10,40%
Total pengaruh dari pesan komunikasi
terhadap perilaku karyawan adalah =
3,20% + 10,40% = 13,60%
Koefisien Korelasi Variabel X dan Y
Pesan (X1)
Pesan
(X1)
1,000
Media
(X2)
0.864
Bentuk
(X3)
0,772
Perilaku
(Y)
0.872
Media (X2)
0,864
1,000
0,765
0,934
Bentuk (X3)
0,772
0,765
1,000
0,808
Perilaku (Y)
0,872
0,934
0,808
1,000
Matrik korelasi
Sumber : Hasil olahan SPSS 17.0
b. Variabel media komunikasi (X2)
Pengaruh langsung media komunikasi
(X2) terhadap perilaku karyawan (Y)
Y
X2
Y = (PYX2)(PYX2) × 100%
Y = (0,644)(0,644) × 100%
Y = 41,47%
Pengaruh tidak langsung variabel
media komunikasi (X2) terhadap perilaku
karyawan (Y) melalui variabel bentuk
komunikasi (X3) adalah:
Y
X2
X3 Y = (PYX2)(rX3X2X1)
(PYX3) × 100%
Y = (0,644)(0,902)
(0,178) × 100%
Y = 10,34%
Total pengaruh dari media komunikasi
(X2) terhadap perilaku karyawan (Y)
adalah = 41,47% + 10,34% = 51,81%
Ini artinya adalah:
1. Koefisien korelasi pesan komunikasi (X1)
terhadap perilaku karyawan (Y) sebesar r =
0,872. Ini berarti terdapat hubungan yang
sangat kuat karena korelasi r hampir
mendekati angka 1, artinya terjadi hubungan
yang linier positif, semakin besar variabel
pesan komunikasi (X1) maka akan semakin
besar nilai perilaku karyawan (Y).
2. Koefisien korelasi antara media komunikasi
(X2) dengan perilaku karyawan yaitu r =
0,934. Artinya terdapat hubungan yang
sangat kuat karena nili r hampir mendekati
angka 1. Artinya terjadi hubungan linier
positif, semakin besar nilai variabel media
komunikasi (X2), maka akan semakin besar
nilai perilaku karyawan (Y)
3. Koefisien korelasi antara bentuk komunikasi
(X3) dengan perilaku karyawan (Y) yaitu r =
0,808. Artinya terdapat hubungan yang
sangat kuat karena nili r hampir mendekati
angka 1. Artinya terjadi hubungan linier
positif, semakin besar nilai variabel bentuk
komunikasi (X3), maka akan semakin besar
nilai perilaku karyawan (Y)
c. Variabel bentuk komunikasi (X3)
Pengaruh
langsung
bentuk
komunikasi (X3) terhadap perilaku
karyawan (Y)
Y
X3
Y = (PYX3)(PYX3) X 100%
Y = (0,178)(0,178) X 100%
Y = 3,17%
118
Ida Rapida Djachrab, Pengaruh Komunikasi Budaya Perusahaan...
Pengaruh bersama pesan (X1), media (X2),
dan bentuk komunikasi (X3) terhadap Perilaku
karyawan (Y) melalui perhitungan koefisien
determinasi, diperoleh besarnya pengaruh
pesan (X1), media (X2), dan bentuk komunikasi
(X3) secara bersama-sama terhadap perilaku
karyawan (Y) sebesar 90,2%, Sedangkan
pengaruh dari variabel-variabel lain yang tidak
termasuk dalam model sebesar 9,8%. Nilai
yang diperoleh dari
pengaruh
secara
bersamaan ini menurut perhitungan statistik
menunjukkan signifikan dan bermakna artinya
pesan, media, dan bentuk komunikasi
berpengaruh secara positif terhadap perilaku
karyawan.
Berdasarkan
gasil
pengujian
hipotesis terbukti bahwa pesan, media, dan
bentuk komunikasi secara bersama-sama
memberikan pengaruh yang signifikan terhadap
perilaku karyawan dan pengaruh tersebut
sangat kuat karena mencapai 90,2%
KESIMPULAN
1. Pewarisan budaya perusahaan melalui
sosialisasi
dan
internalisasi
kepada
karyawan lebih banyak dilakukan dengan
kegiatan-kegiatan yang sifatnya ritual atau
seremoni seperti melalui acara Haul, Milad,
Peringatan
Nuzulul
Qur’an,
Malam
Musafahah,
Pembagian
Penghargaan
“Super Peduli” dan “Langka Tapi Positif“ dan
sejenisnya. Sedangkan pewarisan budaya
perusahaan melalui kegiatan yang sifatnya
lebih fokus seperti pelatihan atau seminar
masih sangat jarang dilakukan. Melalui
kegiatan-kegiatan yang sifatnya ritual
karyawan mengetahu tata cara dan nilainilai yang dianut perusahaan.
2. Walaupun belum ada program formal dalam
bentuk pelatihan atau seminar untuk
mensosialisasikan budaya perusahaan,
namun melalui berbagai acara ritual dan
seremoni yang secara berkala diadakan
menjadikan Ma’soem Group sebagai salah
satu perusahaan dengan budaya yang
tertanam kuat. Hal ini bisa dilihat dari
tumbuh dan berkembangnya unit-unit usaha
yang berada di bawah naungan Ma’soem
Group. Perkembangan perusahaan ke arah
yang lebih baik ini dikarenakan karyawan
mempunyai sikap dan perilaku positif
diantaranya mempunyai integritas yang
tinggi seperti jujur, disiplin, penuh tanggung
jawab dan loyalitas yang tinggi. Sejak masa
119
perintisan Bapak H. Ma’soem (alm) sudah
terbiasa menjalankan usahanya dengan
berbekal kejujuran dan kerja keras dengan
berpegang pada ajaran agama. Hal tersebut
ditularkan
kepada
penerus
dan
karyawannya sehingga menjadi bagian dari
kehidupan sehari-hari.
3. Media Komunikasi
4. Terdapat beberapa indikator dari variabel
media komunikasi yang dinilai masih lemah
dan perlu diupayakan untuk penanganannya, yaitu :
a. Penyebaran informasi melalui website
Dewasa ini pemanfaatan dunia maya
merupakan hal yang tidak bisa dikesampingkan. Melalui dunia maya hambatan
akan waktu dan tempat bisa dikikis, karena setiap orang kapanpun dan dimanapun bisa mendapatkan informasi yang
dibutuhkan. Demikian juga budaya perusahaan bisa disebarkan kepada seluruh
komunitas dengan memanfaatkan website. Selain karyawan, masyarakat luas
bisa mengetahui secara langsung berbagai hal mengenai Ma’soem Group tanpa
perlu datang ke lokasi. Di website bisa
ditampilkan berbagai fitur yang berkaitan
dengan Ma’soem Group. Karyawan yang
ingin mengetahui mengenai Ma’soem
Group secara lengkap bisa membacanya
di internet begitu juga dengan masyarakat luas. Konsekuensi dari hal tersebut
harus ada petugas khusus yang selalu
meng”update” data sehingga informasi
yang ada selalu “up to date”.
b. Elektronik
Pimpinan tertinggi Ma’soem Group kadang diundang stasiun radio ataupun TV
untuk tampil dalam acara-acara tertentu
yang umumnya seputar bisnis yang
digelutinya. sudah menjadi tradisi di
lingkungan Ma’soem Group bila pimpinan
akan tampil di media elektronik ada informasi kepada karyawan untuk menyimak
acara tersebut. Informasi ini disampaikan
melalui SMS centre. Namun berdasarkan
hasil penelitian ternyata hanya sebagian
kecil karyawan yang memperoleh tambahan pengetahuan mengenai budaya
perusahaan dari hal tersebut. Mengingat
sudah besarnya Ma’soem Group tidak
ada salahnya bila dipikirkan untuk memiliki stasiun radio sendiri dengan program
120
Copetition, Volume VI, Nomor 2, November 2015, 111 - 121
bincang-bincang dengan sesama karyawan
ataupun pada saat melakukan dialog
dengan atasan. Pengkomunikasian budaya
perusahaan hampir tidak pernah dilakukan
secara formal kecuali oleh pimpinan
Ma’soem Group pada upacara puncak
peringatan milad. Sudah seyogyanya pihak
manajemen
mencanangkan
pewarisan
budaya perusahaan melalui berbagai
kegiatan resmi melalui berbagai pelatihan,
ataupun pada saat “on the job training”
karyawan baru
5. Perilaku Karyawan
a. Arti atau makna logo dan warna yang
menjadi ciri khas Ma’soem Group
b. Umumnya karyawan hanya mengetahui
bentuk logo dan warna saja. Sedangkan
makna yang terkandung dibalik itu tidak
tahu. Hal ini terkait erat dengan belum
adanya komunikasi secara formal
mengenai artefak yang dimiliki Ma’soem
Group.
c. Bila muncul masalah pelik dalam
pekerjaan, karyawan menunggu sampai
perusahaan menanganinya
d. Hal ini menunjukkan masih adanya ketergantungan karyawan kepada atasan
dalam menyelesaikan suatu masalah
yang timbul dalam pekerjaannya. Karyawan belum mempunyai keberanian dan
inisiatif untuk menangani hal tersebut.
e. Karyawan bisa menyelesaikan pekerjaan
karena dibimbing dan diawasi atasan.
f. Hampir senada dengan butir b, sebagian
karyawan bisa menyelesaikan karyawan
karena dibimbing dan diawasi atasan.
Nampaknya perlu menanamkan kepercayaan pada karyawan untuk lebih percaya
diri dalam bekerja sehingga melalui
pengarahan awal karyawan selanjutnya
bisa mengerjakan sendiri sampai tuntas
akan tugasnya.
acara yang sesuai dengan nilai-nulai
budaya Ma’soem Group.
c. Belum memiliki buku khusus tentang
Budaya Perusahaan
Bila kita perhatikan, Ma’soem Group
terma-suk salah satu perusahaan dengan kategori budaya perusahaan yang
kuat. Hal ini bisa dilihat dari semakin
berkembangnya usaha yang ditangani,
seperti semakin bertambahnya jumlah
SPBU, Apotik dan Medical Centre, serta
cabang-cabang dari Bank Al Ma’soem
Syariah. Namun demikian ternyata sampai saat ini Ma’soem Group belum memiliki buku khusus mengenai budaya perusahaan yang bisa dijadikan pedoman
karyawan dalam bersikap dan berperilaku. Perlu pemikiran untuk menerbitkan
buku pedoman atau semacam “buku
saktinya” Ma’soem Group yang menjadi
petunjuk seluruh karyawan dalam bersikap dan bertindak.
d. Sosialisasi budaya perusahaan pada
saat awal karyawan bergabung dengan
Ma’soem Group
Bagian SDM yang bertanggung jawab
terhadap pengadaan karyawan nampaknya harus memiliki program yang berkaitan dengan sosialisasi dan internaslisai
budaya Ma’soem Group pada saat awal
karyawan bergabung. Hal ini untuk
menanamkan sejak dini mengenai kebiasaan dan nilai-nilai Ma’soem Group
sehingga tidak mengalami culture shock.
e. Program khusus yang berkesinambungan penyampaian budaya perusahaan
kepada karyawan
Sosialisasi dan internalisasi budaya
perusahaan tidak hanya berlaku bagi
karyawan baru saja, tapi juga untuk
karyawan lama
sehingga mereka
disegarkan dan diingatkan kembali akan
nilai-nilai yang dianut perusahaan. Selain
itu bagi karyawan lama penyegaran ini
diperlukan agar mereka pun bisa
melakukan sosialisasi dan internalisasi
kepada “yuniornya” atau bisa dijadikan
teladan oleh karyawan lain.
4. Bentuk Komunikasi
Terkait dengan pembahasan sebelumnya
pada umumnya karyawan memperoleh
informasi budaya perusahaan secara
informal atau tidak resmi misal melalui
REKOMENDASI
1. Membukukan budaya Ma’soem Group yang
meliputi aspek artefak maupun nilai-nilai
yang dianut sehingga karyawan mempunyai
pegangan dalam bekerja baik menyangkut
sikap maupun tindakan
2. Walaupun tidak disadari pewarisan budaya
perusahaan sudah terjadi dengan sendirinya
melalui berbagai kegiatan yang sifatnya
seremoni atau ritual seperti haul, milad,
120
Ida Rapida Djachrab, Pengaruh Komunikasi Budaya Perusahaan...
malam muhasabah, dan sebagainya. Untuk
itu kegiatan seperti ini perlu dipertahankan
karena merupakan salah satu penyebab
kuatnya budaya Ma’soem Group
3. Membuat program khusus yang berkesinambungan di luar saran nomor 2 yang
berkaitan dengan upaya Mengkomunikasikan budaya perusahaan secara formal
melalui program pelatihan yang berkesinambungan sehingga terjadi pewarisan
budaya perusahaan baik melalui sosialisasi
maupun internalisasi bagi karyawan baru
maupun karyawan lama. Budaya yang
terjaga dan terpelihara menjadikan komitmen yang timbul akan semakin kuat.
Komitment yang kuat akan menjadikan
budaya perusahaan yang kuat, budaya yang
kuat menjadikan personil yang terlibat di
dalamnya menjadi solid karena sense of
belonging terhadap perusahaan tinggi.
4. Perusahaan
harus
selalu
mengikuti
perkembangan jaman, khususnya dalam
bidang informasi dan teknologi. Dewasa ini
pemanfaatan teknologi informasi sudah
merupakan
kebutuhan
yang
mutlak.
121
Nampaknya sudah tidak bisa ditawar lagi
pemanfaatan dunia maya harus dilakukan.
Ma’soem Group harus mempunyai petugas
khusus untuk memanfaatkan jejaring sosial
di dunia maya. Sarana ini bisa digunakan
selain untuk menyampaikan keberadaan
Ma’soem
Group
juga
untuk
mengkomunikasikan budaya perusahaan
kepada karyawan. Manfaat dunia maya
dapat menembus keterbatasan ruang dan
waktu sehingga kapan saja dan dimana saja
karyawan bisa mengakses informasi
Ma’soem Group. Namun tentu saja harus
dibuat aturan kepada karyawan dalam
memanfaatkan dunia maya ini.
5. Pemanfaatan layanan sort message service
atau SMS harus lebih dioptimalkan untuk
menyebarluaskan artefak dan nilai-nilai
perusahaan, mengingat selama ini lebih
banyak digunakan untuk menyebarkan
informasi yang berkaitan dengan berita
keluarga (sakit atau meninggal), ataupun
berbagai kegiatan yang diikuti siswa.
Download