4184 - UPT Perpustakaan Universitas Ngudi Waluyo

advertisement
PENGARUH SENAM VITALISASI OTAK TERHADAP KEMAMPUAN KOGNITIF
LANSIA DI UNIT REHABILITASI SOSIAL WENING WARDOYO UNGARAN
*Desilia Puspita
**Eko Susilo,S.kep.,Ns.,M.Kep ***Faridah Aini, S.Kep., Ns., M.Kep.,Sp.KMB
Program Studi Keperawatan STIKES Ngudi Waluyo Ungaran
ABSTRAK
Penuaan mengakibatkan terjadinya perubahan anatomi dan biokimia disusunan saraf
pusat,perubahan tersebut mengakibatkan penurunan kognitif. Potensi kerja otak dapat
dimaksimalkan dengan meningkatkan kebugaran secara umum dan memberi stimulus secara
terus menerus dan terarah salah satunya dengan senam vitalisasi otak. Tujuan penelitian ini
menganalisis pengaruh senam vitalisasi otak terhadap kemampuan kognitif lansia.
Desain penelitian ini Quasi Experimental Design dengan desain eksperimen Non
Equivalent Control Group Design. Jumlah popolasi 92 dengan sampel 38 responden yang
dibagi dalam kelompok kontrol dan perlakuan. Pengambilan sample dengan purposive
sampling dan alat pengumplan data dengan kuesioner. Analisa penelitian menggunakan uji t
test Independendan t test dependent.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa skor rata- rata setelah intervensi pada kelompok
kontrol dan perlakuan adalah 17,26 dan 20,05. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan nilai
p-value sebesar 0,018 < α (0,05), sehingga dapat disimpulkan ada pengaruh senam vitalisasi
otak terhadap kemampuan kognitif lansia. Senam vitalisasi otak dapat digunakan sebagai
terapi untuk meningkatkan kemampuan kognitif dan mencegah gangguan kognitif.
Kata kunci
Kepustakaan
: Senam vitalisasiotak, kemampuan kognitif, Lansia
: 33 (2004-2012)
ABSTRACT
Aging results anatomical and biochemical changes in the central nervous system. The changes
result cognitive decline. The potential of the brain can be maximized by increasing general fitness and
giving stimulation continuously and purposefully such as gymnastic brain vitalization. The purpose of
this study was to analyze the influence of brain vitalization gymnastic toward the cognitive ability of
Elderlies.
This was a quasy-experimental design with non equivalent control group design. The
population in this study was 92 with the samples of 38 respondents divided into control and treatment
groups. The data sampling used purposive sampling technique and the data instrument used the
MMSE questionnaires. The data analysis used Independent t test and dependent t test.
The results of this study indicated that the average scores after the intervention in the control
and treatment groups were 17.26 and 20.05. Based on the results, the p-value of 0.018 < α ( 0.05 ),
can be concluded that there was an influence of the gymnastic toward cognitive abilities of elderlies.
Brain Virtualization Gymnastics can be used as a therapy to improve cognitive abilities and prevent
cognitive impairment.
Keywords
: Brain Virtualization Gymnastic, Cognitive Abilities, Elderlies
Bibliographies : 34 (2004-2012)
Pengaruh Senam Vitalisasi Otak Terhadap Kemampuan Kognitif Lansia
di Unit Rehabilitasi Sosial Wening Wardoyo Ungaran
1
PENDAHULUAN
Menua merupakan proses yang terus
menerus
berlanjut
secara
alamiah
Permasalahan yang sering dihadapi lansia
seiring dengan berjalannya waktu, akan terjadi
penurunan berbagai fungsi organ tubuh.
Penurunan fungsi ini disebabkan karena
berkurangnya jumlah sel secara anatomis
serta berkurangnya aktivitas, asupan nutrisi
yang kurang, polusi dan radikal bebas, hal
tersebut mengakibatkan semua organ pada
proses menua akan mengalami perubahan
struktural dan fisiologis, begitu juga otak
(Bandiyah, 2009). Otak akan mengalami
perubahan fungsi kognitif yaitu kesulitan di
dalam mengingat kembali, berkurangnya
kemampuan di dalam mengambil keputusan
dan bertindak lebih lamban. (Sarwono, 2010).
Kondisi yang dihadapi lansia merupakan
Penurunan kemampuan memori atau daya
ingat (demensia). Demensia akan menjadi
krisis kesehatan terbesar di abad ini yang
jumlah
penderitanya
terus
bertambah.
Berdasarkan sejumlah hasil penelitian di
peroleh data bahwa demensia sering kali
terjadi pada usia lanjut yang telah berumur
kurang lebih 60 tahun. Demensia tersebut
dapat di bagi menjadi dua kategori, yaitu: 1)
Demensia senilis, 2) Demensia pra senilis.
Sekitar 56,8% lansia mengalami demensia
dalam bentuk demensia Alzheimer (4% di
alami lansia yang telah berusia 75 tahun, 16 %
pada usia 85 tahun, dan 32% pada usia 90
tahun) sampai saat ini di perkirakan kurang
lebih 30 juta penduduk dunia mengalami
demensia dengan berbagai sebab (Santoso,
2002.
Gangguan kognitif pada lansia dapat
mengakibatkan lansia mengalami gangguan
dalam melakukan aktivitas sehari-hari (makan,
minum, berpakaian, BAB/BAK, dan lain
sebagainya), adanya perubahan emosi dan
tingkah laku. Lansia dengan gangguan kognitif
akan mengalami ketergantungan di dalam
menjalankan semua aktivitasnya karena dia
dibantu oleh orang lain, oleh karena itu perlu
adanya metode-metode yang dapat digunakan
untuk meningkatkan kemampuan kognitif
dengan cara meningkatkan stimulasi otak
(Bandiyah, 2009).
2
Lumbantobing (2006) mengatakan bahwa
untuk mengidentifikasi gangguan kognitif
maupun tingkat kognitif yang terjadi pada
lansia maka dapat di gunakan kuesioner MiniMental State Examination (MMSE). Tes
MMSE terdiri dari 11 item pertanyaan yang
terdiri dari orientasi, registrasi, Attensi dan
kalkulasi, mengingat kembali, serta bahasa.
Hasil ukur dalam penelitian ini kemudian
dikategorikan menjadi normal dengan skor 2430, ringan dengan skor 19-23, sedang dengan
skor 11-18, berat dengan skor 0-10.
Salah satu cara mencegah kemunduran
kognitif yaitu melakukan gerakan atau latihan
fisik. Secara umum, terdapat dua macam
latihan yang dapat meningkatkan potensi kerja
otak yakni meningkatkan kebugaran secara
umum dan melakukan senam otak ( senam
vitalisasi otak).
Senam vitalisasi otak adalah sebuah
produk latihan kebugaran fisik yang
mengkhususkan
diri
pada
upaya
mempertahankan kebugaran otak manusia dan
mencegah penurunan kognitif. Latihan ini
merupakan penyelarasan fungsi gerak,
pernafasan, pusat berpikir (memori, imajinasi)
(Markam, 2005)
Gerakan-gerakan pada senam vitalisasi
otak dapat memberikan stimulus pada otak
yang dapat meningkatkan kemampuan kognitif
(kewaspadaan,
konsentrasi,
kecepatan,
persepsi, belajar, memori, pemecahan masalah
dan kreativitas), menyelaraskan kemampuan
braktivitas dan berpikir pada saat yang
bersamaan, meningkatkan keseimbangan dan
harmonisasi antara kontrol emosi dan logika,
mengoptimalkan fungsi kinerja panca indera,
menjaga kelenturan dan. meningkatkan daya
ingat (Markam 2005).
Banyak manfaat yang dapat diperoleh
dengan senam otak apabila dilakukan dengan
rutin dan cara yang tepat. Dengan senam
gejala pikun pada lansia dapat dikurangi
sehingga lansia menjadi lebih produktif. Oleh
sebab itu, senam otak bisa menjadi salah satu
alternatif untuk membantu mengoptimalkan
fungsi otak lansia (Supardjiman, 2005)
Berdasarkan Hasil studi pendahuluan
yang dilaksanakan peneliti di Unit Rehabilitasi
Sosial Wening Wardoyo Ungaran, di peroleh
data bahwa jumlah Lansia yang ada di Unit
Pengaruh Senam Vitalisasi Otak Terhadap Kemampuan Kognitif Lansia
di Unit Rehabilitasi Sosial Wening Wardoyo Ungaran
Rehabilitasi Sosial Wening Wardoyo Ungaran
sebanyak 92 orang. Pihak Unit Rehabilitasi
Sosial Wening Wardoyo mengatakan bahwa
sebagian besar lansia di Unit Rehabilitasi
Sosial Wening Wardoyo Ungaran mengalami
penurunan kognitif. Peneliti mengajukan
kuesioner Mini-Mental State Examination
(MMSE) untuk mengukur tingkat kognitif
dengan mengambil 10 lansia secara acak
didapatkan 5 lansia (50%) mengalami
gangguan kognitif tingkat berat, 2 lansia (20%)
berada pada tingkat sedang, 2 lansia (20%)
berada pada tingkat ringan, dan 1 lansia (10%)
tidak ada gangguan kognitif.
Melihat fenomena di atas maka peneliti
tertarik untuk melakukan penelitian mengenai
Pengaruh Senam Vitalisasi Otak terhadap
kemampuan kognitif Lansia
Rehabilitasi Wening Wardoyo.
di
Unit
METODOLOGI PENELITIAN
Desain penelitian yang digunakan dalam
penelitian ini adalah Quasy Eksperimental
Design. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui apakah intervensi yang berupa
Senam Vitalisasi Otak dapat berpengaruh
terhadap kemampuan kognitif
atau tidak
menggunakan rancangan non equivalent
(pretest dan posttest) control group desain.
Jumlah populasi adalah 92 orang dan
didapatkan sampel 38 orang.
HASIL PENELITIAN
Analisis Univariat
Kemampuan Kognitif Lansia Sebelum Diberikan Senam Vitalisasi Otak pada Kelompok Perlakuan
dan Kontrol
Tabel 1.
Distribusi Frekuensi Berdasarkan Kemampuan Kognitif Lansia Sebelum Diberikan Senam
Vitalisasi Otak pada Kelompok Perlakuan dan Kontrol di Unit Rehabilitasi Sosial Wening
Wardoyo Ungaran Kabupaten Semarang, 2015
Kemampuan Kognitif
Kelompok Perlakuan
Kelompok Kontrol
Frekuensi Persentase (%) Frekuensi
Persentase (%)
Gangguan Berat
0
0,0
0
0,0
Gangguan Sedang
11
57,9
13
68,4
Gangguan Ringan
8
42,1
6
31,6
Normal
0
0,0
0
0,0
Jumlah
19
100,0
19
100,0
Berdasarkan Tabel 1 dapat diketahui
bahwa sebelum diberikan senam vitalisasi
otak, pada kelompok perlakuan sebagian besar
lansia mengalami gangguan kognitif tingkat
sedang sejumlah 11 lansia (57,9%). Sedangkan
pada kelompok kontrol, sebagian besar lansia
juga mengalami gangguan kognitif tingkat
sedang, sejumlah 13 lansia (68,4%).
Kemampuan Kognitif Lansia Sesudah Diberikan Senam Vitalisasi Otak pada Kelompok Perlakuan
dan Kontrol
Tabel 2.
Distribusi Frekuensi Berdasarkan Kemampuan Kognitif Lansia Sesudah Diberikan Senam
Vitalisasi Otak pada Kelompok Perlakuan dan Kontrol di Unit Rehabilitasi Sosial Wening
Wardoyo Ungaran Kabupaten Semarang, 2015
Kelompok Perlakuan
Kelompok Kontrol
Kemampuan Kognitif
Frekuensi Persentase (%) Frekuensi
Persentase (%)
Gangguan Berat
0
0,0
0
0,0
Gangguan Sedang
7
36,8
12
63,2
Gangguan Ringan
10
52,6
6
31,6
Normal
2
10,5
1
5,3
Jumlah
19
100,0
19
100,0
Pengaruh Senam Vitalisasi Otak Terhadap Kemampuan Kognitif Lansia
di Unit Rehabilitasi Sosial Wening Wardoyo Ungaran
3
Berdasarkan Tabel 2 dapat diketahui
bahwa sesudah diberikan senam vitalisasi otak
pada kelompok perlakuan sebagian besar
lansia sudah mengalami gangguan kognitif
tingkat ringan sejumlah 10 lansia (52,6%).
Sedangkan pada kelompok kontrol yang tidak
diberikan senam, sebagian besar lansia masih
mengalami gangguan kognitif tingkat sedang,
sejumlah 12 lansia (63,2%).
Analisis Bivariat
Perbedaan Kemampuan Kognitif Lansia Sebelum dan Sesudah Diberikan Senam Vitalisasi pada
Kelompok Perlakuan
Tabel 3.
Perbedaan Kemampuan Kognitif Lansia Sebelum dan Sesudah Diberikan Senam Vitalisasi pada
Kelompok Perlakuan di Unit Rehabilitasi Sosial Wening Wardoyo Ungaran Kabupaten
Semarang, 2015
Variabel
Perlakuan
n
Mean
SD
t
p-value
Kemampuan Kognitif
Sebelum
19
17,11
3,510
-6,296
0,000
Sesudah
19
20,05
3,223
Berdasarkan Tabel 3, dapat diketahui
bahwa pada kelompok perlakuan, rata-rata
skor kemampuan kognitif lansia sebelum
diberikan senam vitalisasi otak sebesar 17,11,
kemudian meningkat menjadi 20,05 sesudah
diberikan senam vitalisasi otak.
Berdasarkan uji t dependen, didapatkan
nilai t hitung sebesar -6,296 dengan p-value
sebesar 0,000. Terlihat bahwa p-value 0,000<
(0,05), ini menunjukkan bahwa ada perbedaan
yang signifikan kemampuan kognitif lansia
sebelum dan sesudah diberikan senam
vitalisasi otak pada kelompok perlakuan di
Unit Rehabilitasi Sosial Wening Wardoyo
Ungaran Kabupaten Semarang.
Perbedaan Kemampuan Kognitif Lansia Sebelum dan Sesudah Penelitian pada Kelompok Kontrol
Tabel 4.
Perbedaan Kemampuan Kognitif Lansia Sebelum dan Sesudah Penelitian pada Kelompok
Kontrol di Unit Rehabilitasi Sosial Wening Wardoyo Ungaran Kabupaten Semarang, 2015
Variabel
Perlakuan
n
Mean
SD
t
p-value
Kemampuan Kognitif
Sebelum
19
17,00
3,109
-0,925
0,367
Sesudah
19
17,26
3,679
Berdasarkan Tabel 4, dapat diketahui
bahwa pada kelompok kontrol yang tidak
diberikan senam, rata-rata skor kemampuan
kognitif lansia sebelum penelitian sebesar
17,00, kemudian berubah menjadi 17,26
sesudah penelitian.
Berdasarkan uji t dependen, didapatkan
nilai t hitung sebesar -0,925 dengan p-value
sebesar 0,367. Terlihat bahwa p-value 0,367>
(0,05), ini menunjukkan bahwa tidak ada
perbedaan yang signifikan kemampuan
kognitif lansia sebelum dan sesudah penelitian
pada kelompok kontrol di Unit Rehabilitasi
Sosial Wening Wardoyo Ungaran Kabupaten
Semarang.
Pengaruh Senam Vitalisasi Otak Terhadap Kemampuan Kognitif pada Lansia
Tabel 5.
Perbedaan Kemampuan Kognitif Lansia Sesudah Diberikan Senam Vitalisasi Otak antara
Kelompok Perlakuan dengan Kelompok Kontrol di Unit Rehabilitasi Sosial Wening Wardoyo
Ungaran Kabupaten Semarang
Variabel
Kelompok
n
Mean
SD
t
p-value
Kemampuan Kognitif
Perlakuan
19
20,05
3,223
2,486
0,018
Kontrol
19
17,26
3,679
4
Pengaruh Senam Vitalisasi Otak Terhadap Kemampuan Kognitif Lansia
di Unit Rehabilitasi Sosial Wening Wardoyo Ungaran
Berdasarkan Tabel 5, diketahui bahwa ratarata skor kemampuan kognitif lansia sesudah
diberikan senam vitalisasi otak pada kelompok
perlakuan sebesar 20,05, sedangkan pada
kelompok kontrol yang tidak diberikan senam
sebesar 17,26.
Berdasarkan uji t independen, didapatkan
nilai t hitung =2,486 dengan p-value sebesar
0,018. Oleh karena p-value 0,018< (0,05), maka
dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan yang
signifikan kemampuan kognitif lansia sesudah
diberikan senam vitalisasi otak antara kelompok
perlakuan dengan kelompok kontrol di Unit
Rehabilitasi Sosial Wening Wardoyo Ungaran
Kabupaten Semarang. Ini juga menunjukkan
bahwa terdapat pengaruh yang signifikan senam
vitalisasi otak terhadap kemampuan kognitif
lansia di Unit Rehabilitasi Sosial Wening
Wardoyo Ungaran Kabupaten Semarang.
PEMBAHASAN
Gambaran Kognitif Lansia Sebelum Diberikan
Senam Vitalisasi Otak Pada Kelompok
Perlakuan Dan Kontrol Di Unit Rehabilitasi
Sosial Wening Wardoyo Ungaran Kabupaten
Semarang
Sesuai data yang didapatkan dari responden
gangguan kognitif yang dialami yaitu gangguan
kognitif sedang dan gangguan kognitif ringan.
Berdasarkan hasil kuesioner pretest pada
kelompok perlakuan didapatkan nilai terendah
pada item pertanyaan nomor 10 ,11 dan 4, yaitu
sebagian besar lansia kesulitan dalam menulis
(tulisan kalimat lengkap) dan kesulitan dalam
menyalin gambar serta kesulitan dalam aspek
perhatian dan kalkulasi yaitu pengurangan dari
angka 100 dikurangi 7 sampai 5 tingkat (100),
sebagian besar lansia cenderung hanya mampu
menghitung pengurangan satu tingkat sampai dua
tingkat ke bawah yaitu dari 100, kemudian
pengurangan 7 angka menjadi 93, 86, dan
selanjutnya lansia mengalami kesulitan untuk
melanjutkan menghitung. Hasil pretest pada
kelompok kontrol didapatkan nilai terendah pada
item pertanyaan nomor 10 dan 11 yaitu menulis
kalimat (tulisan kalimat lengkap) dan kesulitan
menyalin gambar sama seperti kelompok
perlakuan. Hal ini terjadi karena lansia sudah
mengalami penuaan, termasuk kemunduran dalam
fungsi otak. Sesuai dengan pernyataan Pudjiastuti
(2002) dalam Festi (2010) bahwa menurunnya
kemampuan kognitif lansia dikarenakan susunan
saraf pusat pada lansia mengalami perubahan
morfologis dan biokimia. Menurut Kumala (2003)
Kognitif adalah proses pekerjaan pikiran yang
dengannya kita akan menjadi waspada akan objek
pikiran atau persepsi mencakup semua aspek,
pengamatan, pemikiran, dan ingatan. Sehingga
gangguan kognitif merupakan respon maladaptive
yang ditandai oleh daya ingat terganggu,
disorientasi, salah persepsi, penurunan rentang
perhatian dan kesulitan bepikir logis. Gangguan
kognitif erat kaitannya dengan fungsi otak, karena
kemampuan pasien untuk berpikir akan
dipengaruhi oleh keadaan otak.
Kemampuan kognitif lansia di Unit
Rehabilitasi Sosial Wening Wardoyo Ungaran
Kabupaten Semarang memiliki nilai skor sebelum
perlakuan yang di kategorikan mengalami
gangguan kognitif, baik kelompok perlakuan
maupun kelompok kontrol. Berkurangnya
aktivitas, asupan nutrisi yang kurang, polusi dan
radikal bebas dapat mengakibatkan semua organ
pada proses menua akan mengalami perubahan
struktural dan fisiologis. Hasil wawancara 20
lansia dari 38 lansia mengatakan jarang
melakukan aktivitas dan beberapa lansia tidak
nafsu makan sehingga nutrisi lansia kurang
tercukupi. Aktivitas merupakan salah satu faktor
penyebab dari gangguan kemampuan kognitif ini.
Hal tersebut sesuai dengan teori markam
(2005),
aktivitas
yang
kurang
dapat
mengakibatkan otak akan melisut, percabangan
juluran sel saraf akan rusak dan mengersang. Hal
ini mengakibatkan
penurunan kemampuan
kognitif.
Gambaran Kemampuan Kognitif Lansia
Sesudah Melakukan Senam Vitalisasi Otak
pada Kelompok Perlakuan dan Kontrol di Unit
Rehabilitasi Sosial Wening Wardoyo Ungaran
Kabupaten Semarang
Berdasarkan
hasil kuesioner posttest
kelompok perlakuan didapatkan nilai terendah
masih pada item pertanyaan nomor 10 dan 11,
tetapi ada peningkatan pada item pertanyaan
nomor 4 (atensi dan kalkulasi), dimana lansia ada
peningkatan dalam kalkulasi pengurangan dari
angka 100 dikurangi 7 sampai 5 tingkat (100),
lansia mampu menghitung pengurangan satu
tingkat sampai empat tingkat kebawah yaitu dari
100, kemudian pengurangan 7 angka menjadi 93,
86 dan 79. Pada kelompok kontrol berdasarkan
hasil kuesioner didapatkan nilai terendah masih
pada item pertanyaan nomor 10 dan 11 yaitu
lansia masih kesulitan dalam merangkai kalimat
lengkap dan menyalin gambar.
Salah satu faktor yang mempengaruhi
kemampuan kognitif pada lansia adalah
senam/olahraga. Senam yang dapat dilakukan
untuk meningkatkan kemampuan kognitif lansia
salah satunya adalah senam vitalisasi otak
(Markam, 2005). Senam vitalilisasi otak adalah
sebuah produk latihan kebugaran fisik yang
Pengaruh Senam Vitalisasi Otak Terhadap Kemampuan Kognitif Lansia
di Unit Rehabilitasi Sosial Wening Wardoyo Ungaran
5
mengkhususkan diri pada upaya, mempertahankan
kebugaran otak manusia. Latihan ini merupakan
penyelarasan fungsi gerak, pernapasan dan pusat
berfikir (memori dan imajinasi). Gerakan-gerakan
yang dilakukan dalam senam vitalisasi otak
meransang kerjasama antar belahan otak. Fungsi
semua bagian dan serebelum akan meningkat dan
kemudian akan di ikuti dengan bertambahnya
aliran darah ke otak (Markam, 2005).
Lansia yang mengalami gangguan kognitif
pada kelompok intervensi di berikan perlakuan
yaitu melakukan senam vitalisasi otak selama 30
menit setiap latihan dan di lakukan 1 kali sehari
selama 1 minggu di aula Unit Rehabilitasi Sosial
Wening Wardoyo Ungaran Kabupaten Semarang.
Gerakan-gerakan pada senam vitalisasi otak dapat
memberikan stimulus pada otak yang dapat
meningkatkan
kemampuan
kognitif
(kewaspadaan, konsentrasi, kecepatan, persepsi,
belajar, memori, pemecahan masalah dan
kreatifitas),
menyelaraskan
kemampuan
beraktivitas dan berfikir pada saat yang
bersamaan, meningkatkan keseimbangan dan
harmonisasi antara kontrol emosi dan logika,
mengoptimalkan fungsi kinerja panca indra,
menjaga kelenturan dan keseimbangan tubuh.
Hasil wawancara didapatkan bahwa lansia
banyak yang kurang melakukan aktivitas saat
mereka memasuki usia lanjut dan dulunya banyak
yang bekerja berat seperti pembantu rumah
tangga, buruh dan pedagang. Menurut Sidiarto
(2007), pekerjaan dapat mempercepat proses
menua yaitu pada pekerja keras, penuaan akan
mengakibatkan
susunan saraf
mengalami
perubahan anatomi dan atropi yang progresif pada
serabut saraf lansia. Lansia mengalami penurunan
koordinasi dan kemampuan dalam melakukan
aktivitas sehari-hari. Penuaan menyebabkan
penurunan persepsi sensori dan respon motorik
pada susunan saraf pusat dan penurunan reseptor
proprioseptif, hal ini terjadi karena susunan saraf
pusat pada lansia mengalami perubahan
morfologis dan biokimia, perubahan tersebut
mengakibatkan penurunan fungsi kognitif.
Pada kelompok kontrol di Unit Rehabilitasi
Sosial Wening Wardoyo Ungaran Kabupaten
Semarang didapatkan rata-rata skor pretest adalah
17,00 dan skor posttest adalah 17,26, terlihat ada
peningkatan skor rata-rata pada kelompok kontrol
dimana ada perbaikan kemampuan kognitif
lansia. Hal ini bisa disebabkan karena lansia di
panti juga memiliki beberapa kegiatan seperti
kegiatan keagamaan, senam, kegiatan harian
lainnya dan memperoleh makanan yang sudah
disesuikan dengan standar gizi yang didapat dari
panti. Makanan yang banyak mengandung asam
6
amino dapat meningkatkan kinerja terbaik dari
milyaran sel otak.
Hal ini didukung dengan penelitian yang
dilakukan oleh (Agustia, 2012) tentang hubungan
gaya hidup dengan fungsi kognitif pada lansia.
Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan
yang signifikan dengan p-value= 0,000< ɑ (0,05).
Gaya hidup yang diteliti adalah makanan dan
minuman yang dikosumsi, kebiasaan merokok,
olahraga dan aktivitas fisik serta kebutuhan
istirahat dan tidur.
Pengaruh senam vitalisasi otak terhadap
kemampuan kognitif pada lansia dengan
gangguan kognitif di Unit Rehabilitasi Sosial
Wening Wardoyo Ungaran Kabupaten
Semarang
Rata-rata skor kemampuan kognitif lansia
kelompok intervensi di Unit Rehabilitasi sosial
Wening Wardoyo Ungaran Kabupaten Semarang
setelah diberikan senam vitalisasi otak sebesar
20,05. Sedangkan rata-rata skor kemampuan
kognitif pada lansia kelompok kontrol Unit
Rehabilitasi sosial Wening Wardoyo Ungaran
Kabupaten Semarang setelah perlakuan sebesar
17,26. Ini menunjukan bahwa setelah pemberian
senam vitalisasi otak, skor kemampuan kognitif
pada lansia kelompok perlakuan mengalami
peningkatan dibandingkan dengan kelompok
kontrol yang tidak diberikan perlakuan.
Hasil uji t independent di dapatkan bahwa p
value sebesar 0,018 < (ɑ=0,05), maka dapat
disimpulkan bahwa ada pengaruh yang signifikan
pemberian senam vitalisasi otak terhadap
kemampuan kognitif lansia di Unit Rehabilitasi
sosial Wening Wardoyo Ungaran Kabupaten
Semarang .
Penelitian yang dilakukan oleh peneliti
dengan cara pemberian senam vitalisasi otak pada
lansia selama 30 menit dalam setiap senam selama
satu minggu di Unit Rehabilitasi sosial Wening
Wardoyo Ungaran Kabupaten Semarang setelah 1
minggu,
kelompok
perlakuan
mengalami
penurunan skor gangguan kognitif. Ada beberapa
skor kemampuan kognitif pada lansia antara lain
sebelum dan setelah diberikan senam vitalisasi
otak di Unit Rehabilitasi sosial Wening Wardoyo
Ungaran Kabupaten Semarang .
Memasuki usia tua banyak mengalami
kemunduran misalnya kemunduran fisik yang
ditandai dengan kulit menjadi keriput karena
berkurangnya bantalan lemak, rambut memutih,
pendengaran berkurang, penglihatan memburuk,
gigi mulai ompong, aktivitas menjadi lambat,
nafsu makan berkurang dan kondisi tubuh yang
lain juga mengalami kemunduran (Padila, 2013).
Proses penuaan
menimbulkan beberapa
perubahan, meliputi perubahan fisik, mental,
Pengaruh Senam Vitalisasi Otak Terhadap Kemampuan Kognitif Lansia
di Unit Rehabilitasi Sosial Wening Wardoyo Ungaran
spiritual, psikososial dan kemampuan kognitif
mulai menurun.
Pada usia lanjut banyak permasalahan yang
muncul salah satunya gangguan kognitif yang
disebabkan karena penuruna sel otak. Hal ini
dapat disebabkan karena menurunnya aktivitas
pada lansia, nutrisi yang kurang serta depresi
yang di alami. Ada beberapa hal yang dapat kita
lakukan untuk mengurangi gangguan kognitif
lansia. Salah satunya adalah dengan melakukan
kegiatan senam vitalisasi otak selama 30 menit
selama seminggu yang sangat efektif untuk
membantu meningkatkan kemapuan kognitif
lansia.
Hal ini didukung dengan penelitian yang
dilakukan oleh (hidayah, 2012) tentang
”Perbedaaan kemampuan kognitif lansia sebelum
dan sesudah melakukan senam otak di desa
nyatnyono kecamatan ungaran barat kabupaten
semarang”. Dari hasil terdapat perbedaan fungsi
kognitif yang signifikan antara sebelum dan
sesudah pelaksanaan intervensi senam otak serta
ada perbedaan antara kelompok perlakuan dan
kelompok kontrol sesudah melakukan senam otak.
Senam dilakukan 1x sehari dan dalam 1 minggu.
Adapun gerakan yang diberikan meliputi empat
gerakan pokok yaitu gerakan menyebrangi garis
tengah
(midline
movement),
gerakan
meregangkan otot( lenghtening activity), gerakan
meningkatkan energi (energy exercises) dan
penguatan sikap (deepening attitudes). Hal ini
diperkuat oleh penelitian yang dilakukan oleh (
Heri, 2013) mengenai hubungan aktivitas fisik
dengan fungsi kognitif pada lansia di desa
tanjungan kecamatan Kemilagi kabupaten
mojokerto.
Pemeliharaan dan peningkatan derajat sehat
merupakan bagian dari upaya pencegahan, yang
terdiri dari upaya pencegahan kepada faktor
lingkungan dan upaya pencegahan langsung
kepada faktor manusianya. Olahraga merupakan
bagian dari upaya pencegahan langsung terhadap
faktor
manusia,
dan merupakan
upaya
pemeliharaan dan pencegahan yang terpenting,
termurah dan paling fungsional (fisiologis)
(Giriwijoyo dan Sidik, 2013).
Secara neurologi, pemeliharaan otak.
Pemeliharaan otak secara structural merupakan
suplai darah, oksigen, dan energi yang cukup
keotak sehingga diharapkan struktur otak akan
terpelihara. Sedangkan pemeliharaan fungsional
otak sebenarnya dapat dilakukan dengan berbagai
proses belajar, diantaranya belajar gerak, belajar
mengingat, belajar merasakan, dan lain-lain.
Gerakan-gerakan yang dilakukan dalam senam
vitalisasi otak merangsang kerjasama antara
belahan otak. Fungsi semua bagian dan serebelum
akan meningkat yang kemudian akan diikuti
dengan bertambahnya aliran darah keotak.
gerakan yang dilakukan dalam senam ini juga
lambat sehingga tidak membebani kerja jantung
dan dapat disesuaikan dengan pernapasan.
Dengan napas yang lebih dalam, maka oksigen
akan terserap lebih banyak dan akan memperbaiki
fungsi otak (Markam, 2005).
Gerakan-gerakan pada senam vitalisasi otak
dapat memberikan stimulus yang meningkatkan
kemampuan kognitif (kewaspadaan, konsentrasi,
kecepatan, persepsi, belajar, memori, pemecahan
masalah,
dan
kreativitas),
menyelaraskan
kemampuan beraktivitas dan berpikir pada saat
yang bersamaan, meningkatkan keseimbangan
dan harmonisasi antara kontrol emosi dan logika,
mengoptimalkan fungsi kinerja panca indera,
menjaga kelenturan dan keseimbangan tubuh.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah
dilakukan maka dapat diambil kesimpulan bahwa
ada pengaruh senam vitalisasi otak terhadap
kemampuan kognitif lansia dengan nilai p-value
sebesar 0,018 <α (0,05) dimana kemampuan
kognitif sebelum intervensi pada kelompok
perlakuan: 11 responden (57,9%) gangguan
kognitif sedang, 8 responden (42,1%) gangguan
kognitif ringan. Setelah intervensi pada kelompok
perlakuan meningkat menjadi 7 responden
(56,8%) gangguan kognitif sedang, 10 responden
(52,6%) gangguan kognitif ringan, 2 responden
(10,5%) normal. Diharapkan senam vitalisasi
otak dapat membantu dalam meningkatkan
kemampuan kognitif dan dapat dijadikan sebagai
kegiatan rutin di Unit Rehabilitasi Sosial Wening
Wardoyo.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Arikunto. (2006).Metodologi Penelitian
Suatu Pendekatan Praktek edisi 5. Jakarta:
Renika Cipta
[2] Agustia, Shafrina. 2012. Hubungan Gaya
Hidup Dengan Fungsi Kognitif pada Lansia.
Riau: Universitas Riau
[3] Azizah,
Lilik
Ma’rifatul.
(2011).
Keperawatan Lanjut Usia. Yogyakarta :
Graha Ilmu.
[4] Bandiyah, S. (2009). Lanjut Usia dan
Keperawatan Gerontik. Yogyakarta : Nuha
Medika.
[5] Darmojo, Boedhi R & Martono. (2004).
Kriteria Ilmu Kesehatan Usia Lanjut.
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia
Pengaruh Senam Vitalisasi Otak Terhadap Kemampuan Kognitif Lansia
di Unit Rehabilitasi Sosial Wening Wardoyo Ungaran
7
[6] Darmojo &Martono, H.(2010). Demografi
dan Epidemiologi Populasi Lanjut Usia.
Edisi ke-4. Jakarta: Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia.
[20] Masykur & Fathani. (2008). Mathematical
Intelligence Cara cerdas Melatih Otak
dan Menanggulangi Kesulitan Belajar.
Yogyakarta: Ar-ruzz Media.
[7] Dennison, E. (2008). Buku Panduan Lengkap
Brain Gym (senam otak). Jakarta: Grasindo.
[21] National Collaborating Centre for Mental
Heatlh. 2007. Dementia, The British
Psychological Society and Gaskell, pp. 134143
[8] Dinkes Provinsi Jateng. (2009). Prfil Jawa
Tengah. Diakses pada tanggal 25 Oktober
2013
dari:
http//www.dinkesjatengprov.go.id/dokumen/
profil/2009/profil_2009br. Pdf
[9] Gelder, B. M. et al .(2004). Physical activity
in relation to cognitif decline in elderly men.
Neurology; 63:2316-2321
[10] Gitahafas. (2011). Kesehatan Otak Retrieved
from http://www.health.detik. com. [diakses
padatanggal30 Oktober 2012].
[11] Giriwijoyo, Santosa., dan Sidik, Dikdik
Zafar. (2013). Ilmu Kesehatan Olahraga.
Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
[12] Hemberg
DM.
(2006).
Strategi
Meningkatkan Memori, dan Kreativitas. Alih
Bahasa : Sumarjinah, jakarta: PT Prestasi
Pustakaraya
[13] Hidayah,
Nurul
(2012).
Perbedaan
Kemampuan Kognitif Lansia Sebelum dan
Sesudah Melakukan Senam Otak di Desa
Nyatnyono Kecamatan Ungaran Barat
Kabupaten Semarang.
[14] Indriana, Yaniar. (2012). Gerontologi dan
Progreria. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
[15] Kumala, Budi. (2003). Prinsip-prinsip
Kognitif Pembelajaran Multimedia: Peran
Modality dan
Contiguity. Jakarta: PT.
Prestasi Pustakaraya
[16] Lumbantobing. (2006). Kecerdasan Pada
Usia Lanjut dan Demensia. Jakarta: Balai
Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia.
[17] Lisnaini. (2012). Senam Vitalisasi Otak
Dapat Meningkatkan Kemampuan Kognitif
Dewasa
Muda.
Jakarta:
Fisioterapi
Universitas Kristen Indonesia
[18] Markam, Soemarmo. (2005). Latihan
Vitalisasi Otak. Jakarta: PT. Grasindo.
[19] Markam, Soemarmo. (2009). Dasar-dasar
Neuropsikologi Klinis. Jakarta: Sagung Seto
8
[22] Notoatmodjo, S. (2010). Metodologi
Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
[23] Nugroho, Wahjudi. (2008). Keperawatan
Gerontik & Geriatrik. Jakarta : EGC.
[24] Padila. (2013). Buku Ajar Keperawatan
Gerontik. Yogyakarta : Nuha Medika.
[25] Sarwono S. (2010). Pengantar Psikologi
Umum, ed.1. Jakarta: Rajawali Pers
[26] Sidiarto LD. Kusumoputro S. (2005).
Memori Anda Setelah Usia 50. Jakarta:
Universitas Indonesia
[27] Sidiarto LD. Kusumoputro S. (2006). Kiat
Panjang Umur dengan Gerakan dan Latihan
Otak. Jakarta: Universitas Indonesia
[28] Sulianti. (2010). Pemanfaatan Moment 17
Agustus Sebagai Sarana Latihan Olahraga
Rekreasi Terapeutik Untuk Lansia. Available
from
URL:
http://www.koni.or.id/files/documents/journa
l/2
[29] Sugiyono. (2013). Metode Penelitian
Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung:
Alfabeta.
[30] Supardjiman, K. (2005). Senam Otak Untuk
Lansia. Jakarta: EGC.
[31] Tilarso. (2007). Latihan Fisik dan Usia Tua.
Jakarta: Majalah Cermin Dunia Kedokteran
[32] Tucker, J.S. (2006). Affective and
Behavioural Responses to health related
social control. Healt psychology. 25(6): 715722
[33] Yatim, F. (2004). Pikun (Demensia),
Penyakit Alzeimer, Dan Sejenisnya. Jakarta:
Populer Obor.
[34] Rachmah, L. A. (2009). Pendidikan Jasmani
dan Prestasi Akademik. Tinjauan Neurosains.
Jurnal Pendidikan Jasmani Indonesia
Pengaruh Senam Vitalisasi Otak Terhadap Kemampuan Kognitif Lansia
di Unit Rehabilitasi Sosial Wening Wardoyo Ungaran
Download