A. 1 Outline Isi Fact Finding Pelestarian kesenian tradisional merupakan bagian penting dari upaya menjaga warisan budaya yang sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 11, khususnya target 11.4 yang menekankan penguatan upaya untuk Latar melindungi dan menjaga warisan budaya dan alam dunia. Urgensi pelestarian tersebut terlihat dari kondisi warisan budaya di berbagai wilayah dunia. UNESCO mencatat satu bahasa daerah di dunia punah setiap dua minggu akibat terputusnya Belakang rantai penuturan antargenerasi. Sebagai digital native yang tumbuh dengan akses penuh ke media sosial, Gen Z bisa menjadi peran utama dalam penyebaran informasi budaya. Metode penyampaian materi dalam sebuah konten juga memiliki peran yang sangat besar karena menentukan persepsi dan pesan apa yang ingin disampaikan kepada penonton melalui konten tersebut. Artinya, masalah yang muncul bukan hanya dari sikap Gen Z yang acuh terhadap budaya sendiri, tetapi juga bagaimana budaya itu dapat dikemas dengan kreativitas dan dipublikasikan melalui kanal yang tepat. Dalam konteks kebudayaan bangsa Indonesia, keberagaman budaya yang besar menghadapi tantangan keberlanjutan di tengah perubahan pola kehidupan masyarakat. Indonesia memiliki 1.331 suku bangsa, dengan Suku Sunda sebagai salah satu kelompok etnis terbesar, yaitu 15,5% dari total populasi nasional. Badan Pusat Statistik (2023) mencatat 30% masyarakat Jawa Barat sudah tidak lagi memakai bahasa daerahnya dalam kehidupan sehari-hari dan bahasa Sunda telah kehilangan sekitar 2 juta penutur hanya dalam satu dekade (2010–2020). Eksistensi bahasa Sunda menghadapi tantangan di tengah perkembangan zaman. Penelitian oleh Trianto (2025) menunjukkan bahwa masyarakat milenial di Bandung cenderung lebih memilih bahasa Indonesia dan bahasa internasional dalam komunikasi digital, sehingga pelestarian bahasa Sunda di kalangan generasi muda perlu mendapat perhatian. Hal ini menjadi ancaman bagi eksistensi dan identitas kepemilikan kebudayaan Indonesia. Langkah ini sangat berpotensi efektif dilakukan di Jawa Barat, sebagai provinsi dengan populasi Gen Z terbesar di Indonesia yaitu 12,84 juta jiwa atau 25,22% dari total penduduknya. Di tingkat Kota Bandung, 24,31% penduduk berada pada rentang usia 15–29 tahun dan terdapat 59 perguruan tinggi aktif, sehingga kota ini memiliki basis mahasiswa muda yang potensial untuk dijangkau. Namun kenyataannya, potensi ini belum termanfaatkan, contoh nyatanya adalah Taman Budaya Jawa Barat, dikelola oleh Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat di bawah Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat sejak 1991 dan dilengkapi Wisma Seni sejak 2003 serta rutin menggelar program "Festival Kreasi Pagelaran Seni Budaya" tiap pekan sepanjang 2026. Taman Budaya Jawa Barat berada di lokasi yang sangat strategis untuk menjangkau generasi muda. Namun, survei mandiri terhadap 106 mahasiswa Gen Z Kota Bandung menemukan 31,1% responden sama sekali tidak tahu Taman Budaya Jawa Barat itu ada. Bahkan 86,8% baru tahu soal "Festival Kreasi Pagelaran Seni Budaya" saat mengisi survei ini, dan 87,7% (93 dari 106) mengaku tidak pernah terpapar konten apapun dari akun media sosial resmi pengelola. Ketiga temuan ini konsisten menunjukkan exposure gap. Menurut Survei Penetrasi Internet dan Perilaku Pengguna Internet, Gen Z umumnya hanya butuh 3 detik pertama untuk memutuskan sebuah konten layak ditonton sampai habis atau tidak. Dengan skala potensi sebesar itu, kondisi akun TikTok resmi Taman Budaya Jawa Barat justru jauh dari kata optimal. Berdasarkan hasil pencarian akun ini tercatat baru memiliki 1 pengikut dan belum pernah mengunggah konten apa pun. Jadi, kanal yang sebenarnya paling potensial untuk menjangkau Gen Z ini justru belum dimanfaatkan sama sekali. Berdasarkan wawancara dengan Santi Gantini, S.Sos., Jafung Pamong Budaya Ahli Pertama UPTD PKDJB/Taman Budaya Jawa Barat, beliau menyebutkan bahwa keterlibatan Gen Z yang datang murni atas minat sendiri masih sangat minim. Akar masalahnya ada di media sosial Taman Budaya Jawa Barat yang masih mengandalkan konten tanpa story telling menarik dan ditambah akun TikTok yang belum dikemas dengan maksimal akibat keterbatasan ide-ide kreatif dan anggaran operasional lembaga. 2 Analisis Situasi Fungsi PR di sini adalah merancang strategi komunikasi digital berbasis video pendek yang berfokus pada platform yang relevan dan umum dengan keseharian Gen Z (TikTok dan Instagram) dengan tujuan meningkatkan keterpaparan serta kesadaran Gen Z secara terukur. Hal ini dapat diimplementasikan melalui ide konten video pendek yang dekat dan relevan dengan keseharian mereka. Data Situasi Sitasi A. Situasi Umum 1. SDGs nomor 11 target 11.4 perlindungan warisan budaya United Nations. (n.d.). Goal 11: Make cities and human Pelestarian warisan budaya merupakan isu global yang ditegaskan melalui SDGs nomor 11 target 11.4 dan alam dunia. settlements inclusive, safe, resilient and sustainable. Department mengenai perlindungan warisan budaya dan alam dunia. UNESCO mencatat satu bahasa di dunia punah setiap of Economic and Social Affairs Sustainable Development. https: dua minggu akibat terputusnya rantai penuturan antargenerasi. Di Jawa Barat, BPS mencatat 30% masyarakat 2. UNESCO mencatat satu bahasa punah setiap dua minggu //sdgs.un.org/goals/goal11 sudah tidak lagi menggunakan bahasa daerah dalam komunikasi sehari-hari. Data tersebut menunjukkan bahwa akibat terputusnya rantai penuturan antargenerasi. permasalahan pelestarian budaya tidak hanya terletak pada keberadaan budaya, tetapi juga pada keberlanjutan UNESCO. (2024, 21 Februari). Multilingual education: A bet to pewarisan dan penggunaannya oleh generasi muda. 3. BPS mencatat 30% masyarakat sudah tidak lagi preserve indigenous languages and justice. https://www.unesco. menggunakan bahasa daerah dalam komunikasi sehari-hari. org/en/articles/multilingual-education-bet-preserve-indigenousGen Z menjadi kelompok penting karena memiliki akses yang kuat terhadap ruang digital. Data APJII yang languages-and-justice dikutip Diskominfo Jawa Barat menunjukkan penetrasi internet Gen Z mencapai 89,02%, dengan mayoritas 4. APJII yang dikutip dari Diskominfo Jabar menunjukan pengguna menghabiskan 4–6 jam per hari secara online. Kota Bandung juga memiliki audiens muda yang penetrasi internet Gen Z mencapai 89,02% (4-6 jam perhari). Alhamidi, R. (2023, 4 Maret). Sentilan pakar ke pemerintah di besar, dengan 24,31% populasinya berusia 15–29 tahun dan 59 perguruan tinggi aktif. Besarnya akses terhadap tengah ancaman memudarnya Bahasa Sunda. detikJabar. https: ruang digital menunjukkan adanya peluang bagi Taman Budaya Jawa Barat untuk menjangkau generasi muda 5. Kota Bandung memiliki audience muda dengan presentase //www.detik.com/jabar/budaya/d-6600190/sentilan-pakar-kesekaligus menumbuhkan minat terhadap budaya lokal melalui media yang dekat dengan keseharian mereka. 24,31% (populasinya 15-29 tahun dan dengan 59 perguruan pemerintah-di-tengah-ancaman-memudarnya-bahasa-sunda Peluang tersebut terlihat dari tren konten berbahasa Sunda yang dikemas ringan dan diminati Gen Z di TikTok, tinggi aktif). menunjukkan bahwa minat terhadap budaya lokal dapat tumbuh ketika disampaikan melalui konten yang Wafa, I. (2025, 13 November). Orang Indonesia habiskan 44 relevan. TikTok menjadi platform yang potensial karena Indonesia merupakan pengguna TikTok kedua 6. Indonesia merupakan pengguna platform TikTok terbesar jam per bulan main TikTok pada 2025. GoodStats Data. https: terbanyak di dunia dengan 108 juta pengguna aktif, sementara 32,3% Gen Z menjadikannya platform yang kedua di dunia dengan 108 juta pengguna aktif. //data.goodstats.id/statistic/orang-indonesia-habiskan-44-jampaling sering diakses. Dengan karakter Gen Z yang membutuhkan sekitar 3 detik pertama untuk menentukan per-bulan-main-tiktok-pada-2025-GGb0C kelayakan konten dan lebih responsif terhadap video autentik serta bercerita, data tersebut menunjukkan bahwa 7. 32,2% Gen Z menjadikannya platform yang paling sering akses digital yang tinggi perlu diikuti strategi konten yang singkat, relevan, autentik, dan storytelling agar diakses. Badan Pusat Statistik Kota Bandung. (2026, 27 Februari). Kota budaya lokal tidak hanya dikenal, tetapi juga lebih dekat dengan generasi muda. Bandung dalam angka 2026. BPS Kota Bandung. https://bandungkota.bps.go. Namun, pada kenyataannya, tingginya akses Gen Z terhadap ruang digital belum tentu sejalan dengan minat id/id/publication/2026/02/27/96f9bc1a83d1cdb6357f54f2/kotamereka terhadap konten budaya lokal. Konten budaya yang disajikan dengan cara yang kurang menarik, terlalu bandung-dalam-angka-2026.html formal, atau tidak sesuai dengan karakter konsumsi media Gen Z dapat membuat budaya lokal kurang mendapat perhatian. Hal ini menunjukkan bahwa tantangan Taman Budaya Jawa Barat bukan hanya bagaimana Kemp, S. (2025, 12 Maret). Essential TikTok stats. menjangkau Gen Z melalui media digital, tetapi juga bagaimana mengemas budaya lokal menjadi konten yang DataReportal. https://datareportal.com/essential-tiktok-stats menarik, relevan, dan sesuai dengan kebiasaan mereka dalam mengonsumsi media. B. Situasi Organisasi. 1. Taman Budaya Jawa Barat merupakan ruang ekspresi seni Diskominfo Bandung. (2024, 24 Januari). Taman Budaya Jawa Taman Budaya Jawa Barat dikelola oleh Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat sejak 1991 dan rutin dengan view keren di kota Bandung. Barat, ruang ekspresi dengan view keren di Kota Bandung. menggelar program "Festival Kreasi Pagelaran Seni Budaya" tiap pekan selama 2026, namun efektivitas Portal Jabar. https://www.jabarprov.go.id/berita/taman-budayapublikasi digital TBJB masih terbatas terutama pada platform TikTok. Per 29 Juli 2026, akun TikTok resmi 2. Jumlah pengikut pada platform TikTok akun Taman Budaya jawa-barat-ruang-ekspresi-dengan-view-keren-di-kota-bandungdari Taman Budaya Jawa Barat baru memiliki 1 pengikut dan belum pernah memposting konten apapun. Jawa Barat adalah 1 pengikut 12146 Capaian ini berbanding terbalik dengan lembaga sejenis, seperti TikTok Museum Tekstil Jakarta yang telah memiliki 1.518 pengikut. Artinya, kanal yang sebenarnya paling potensial untuk menjangkau Gen Z ini justru 3. Jumlah pengikut pada platform TikTok akun Museum Panayitsa, A. L., & Al Falah, P. (2024). Dampak aplikasi Tiktok belum dimanfaatkan sama sekali. Tekstil Jakarta adalah 1.518 pengikut terhadap kebudayaan Indonesia. Filosofi: Publikasi Ilmu Komunikasi, Desain, Seni Budaya, 2(1), 75–88. https://doi. Berdasarkan hasil wawancara dengan Santi Gantini, S.Sos., Jafung Pamong Budaya Ahli Pertama UPTD org/10.62383/filosofi.v2i1.468 PKDJB/Taman Budaya Jawa Barat, belum optimalnya tata kelola media sosial ini berakar pada keterbatasan Taman Budaya Jawa Barat [@tamanbudayajawabarat]. (n.d.). internal lembaga, yaitu minimnya SDM kreatif serta keterbatasan anggaran operasional. Hal ini berdampak Profil [Profil TikTok]. TikTok. Diakses pada 2 Oktober 2026, langsung pada gaya komunikasi TBJB yang masih bersifat satu arah dan mengandalkan poster visual yang kaku dari https://www.tiktok.com/@tamanbudayajawabarat tanpa sentuhan storytelling maupun strategi yang relevan bagi audiens muda terkhusus Gen Z. Akibat dari kanal digital yang belum berjalan secara serius, partisipasi publik khususnya Gen Z yang hadir murni atas Museum Tekstil Jakarta [@museum_tekstiljkt]. (n.d.). Profil minat pribadi masih sangat minim. Meskipun pada pembukaan Festival Kreasi jumlah penonton sempat [Profil TikTok]. TikTok. Diakses pada 2 Oktober 2026, dari mencapai 600 orang, kemudian angka tersebut menurun drastis pada pekan-pekan berikutnya. Saat ini, audiens https://www.tiktok.com/@museum_tekstiljkt didominasi oleh pelajar SMP/SMA yang hadir melalui undangan sekolah serta warga lokal Dago Pojok yang mendaftar on-site, bukan hasil dari jangkauan komunikasi digital yang persuasif. C. Situasi Publik. Kota Bandung memiliki potensi audiens muda yang besar, dengan 24,31% penduduknya berada pada rentang usia 15–29 tahun serta didukung oleh keberadaan 59 perguruan tinggi yang aktif beroperasi. Meski demikian, survei mandiri yang dilakukan terhadap 106 mahasiswa generasi Z di Kota Bandung mengungkapkan bahwa 31,1% responden sama sekali tidak mengetahui keberadaan Taman Budaya Jawa Barat. Selain itu, sebanyak 86,8% responden baru mengetahui adanya program "Festival Kreasi Pagelaran Seni Budaya" pada saat mereka mengisi survei tersebut. Lebih lanjut, 87,7% responden (93 dari 106 orang) menyatakan tidak pernah terpapar konten apa pun dari akun media sosial resmi pengelola. 3 B. 4 Problem Statement Planning Goals & Objective 2. Dari 106 mahasiswa Gen Z, sebanyak 31,1% tidak mengetahui keberadaan Taman Budaya Jawa Barat. Badan Pusat Statistik Kota Bandung. (2026, 27 Februari). Kota Bandung dalam angka 2026. BPS Kota Bandung. https: //bandungkota.bps.go. id/id/publication/2026/02/27/96f9bc1a83d1cdb6357f54f2/kotabandung-dalam-angka-2026.html 3. Sebanyak 86,8% responden baru mengetahui program Festival Kreasi Pagelaran Seni Budaya saat mengisi survei. Kemp, S. (2025, 12 Maret). Essential TikTok stats. DataReportal. https://datareportal.com/essential-tiktok-stats Ketiga temuan tersebut secara konsisten menunjukkan adanya exposure gap atau kesenjangan keterpaparan 4. Sebanyak 87,7% (93 dari 106) responden tidak pernah Wafa, I. (2025, 13 November). Orang Indonesia habiskan 44 informasi. Taman Budaya Jawa Barat belum menjadi bagian dari radar informasi mahasiswa generasi Z di Kota terpapar konten dari media sosial resmi Taman Budaya Jawa jam per bulan main TikTok pada 2025. GoodStats Data. https: Bandung, padahal dari segi lokasi maupun segmen usia, kelompok ini merupakan target yang paling potensial Barat. //data.goodstats.id/statistic/orang-indonesia-habiskan-44-jambagi lembaga tersebut. Target publik mahasiswa Gen Z Kota Bandung dapat dicirikan sebagai kelompok yang per-bulan-main-tiktok-pada-2025-GGb0C bersifat pasif-reseptif dan bukan aktif-resisten terhadap seni budaya, di mana ketiadaan exposure informasi 5. Data tersebut menunjukkan adanya exposure gap atau menjadi faktor utama penghambat, bukan ketiadaan minat. Kesenjangan yang terjadi lebih tepat dipahami kesenjangan keterpaparan informasi. sebagai persoalan pada saluran dan strategi diseminasi informasi, bukan pada relevansi Taman Budaya Jawa Barat itu sendiri di mata generasi muda, sehingga langkah perbaikan yang paling relevan adalah memperkuat pendekatan komunikasi dan pemanfaatan kanal digital, bukan mengubah substansi program yang sudah ada. Pemanfaatan platform digital Taman Budaya Jawa Barat (TBJB) yang belum optimal mengakibatkan informasi dan program kegiatan seni belum dapat menjangkau mahasiswa Gen Z di Kota Bandung secara maksimal. Goals Objective Menciptakan strategi komunikasi yang adaptif dan relevan dengan target audiens sehingga dapat meningkatkan S: Meningkatkan awareness mahasiswa Gen Z Kota Bandung (usia 17-23 tahun) megenai pengetahuan umum tentang TBJB, awareness dan engagement yang signifikan. membangun engagement, viewers, dan followers pada akun Tiktok, serta memperluas penyebaran informasi mengenai kegiatan TBJB melalui platform TikTok. M: Meningkatkan awareness sebanyak 15% dari jumlah total Gen Z Kota Bandung sebanyak 657.583 orang (bdg.data 2024), mendapatkan 10.000 viewers dan 500 - 1.000 akun dari jumlah awal 1 followers pada akun TikTok, serta mendapatkan target minimal 1.000 Gen Z Kota Bandung untuk berkunjung atau berpartisipasi dalam kegiatan TBJB. A: Target dapat dicapai melalui survei dengan media polling di TikTok yang dikemas secara fun tentang pengetahuan umum TBJB dan rutin mengunggah konten TikTok melalui strategi promosi yang adaptif mengikuti tren yang sedang berkembang di kalangan Gen Z. R: Strategi ini berfokus pada platform TikTok karena menyesuaikan dengan platform yang sering digunakan oleh kalangan Gen Z. T: Seluruh rangkaian kegiatan seperti produksi konten, peningkatan engagement, viewers, dan followers, penyebaran survei, hingga target kunjungan diselesaikan dalam kurun waktu 2 bulan. 5 Key Messages Key Messages & Key Publics C. 6 1. 24,31% penduduk Kota Bandung berusia 15–29 tahun, dengan 59 perguruan tinggi yang aktif beroperasi. Key Publics Communicating Ide Konten Video No Scene 1 Judul: "Taman Budaya Jawa Barat, Ruang Mengekspresi kan Seni" Scene 2 Scene 3 Adegan Taman Budaya Jawa Barat : "Kenali Budayanya, Temukan Ceritanya, Lanjutkan Warisannya" #TBJBerbagiCerita Primer Sekunder Persona Mahasiswa Gen Orang tua Zahira Shafa Aulia, biasa dipanggil Shafa, 18 tahun, mahasiswi Program Studi Televisi dan Film, Fakultas Ilmu Komunikasi, Z Kota Bandung mahasiswa Universitas Padjadjaran. Ia merupakan pengguna aktif TikTok, platform yang paling sering diakses Gen Z di Indonesia (32,3%) (17-23 tahun) Gen Z Kota (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia [APJII], 2026, dikutip dalam GoodStats Data, 2026). Ia kerap mengikuti yang aktif Bandung (40maupun membuat pertunjukan kabaret di Dago Tea House, sehingga memiliki ketertarikan pada seni pertunjukan. Namun, ia menggunakan 58 tahun) yang sama sekali tidak mengetahui keberadaan Taman Budaya Jawa Barat (TBJB) "hasil survei mandiri kelompok, 2026". TikTok dan aktif Kondisi Shafa mewakili 31,1% dari 106 responden survei mandiri yang tidak mengetahui keberadaan TBJB. Hal ini sejalan menjadi target menggunakan dengan akun TikTok TBJB yang berdasarkan pemantauan langsung per 29 Juli 2026, hanya memiliki satu pengikut dan belum utama sosial media mengunggah konten apa pun. Dengan demikian, TBJB luput dari perhatian Shafa bukan karena ketidakpedulian terhadap seni peningkatan seperti pertunjukan, melainkan karena TBJB belum menjangkaunya melalui kanal yang ia gunakan sehari-hari. awareness serta TikTok, engagement Facebook, dan terhadap Taman Instagram, Budaya Jawa serta berperan Barat dan agenda mendorong pertunjukannya. anak mereka mengenal dan menghadiri agenda pertunjukan Taman Budaya Jawa Barat. Dialog Camera Movement Durasi Opening Kota Bandung. Menyorot Voiceover (VO): Wide shot → slow panning kiri-kanan untuk bangunan Gedung Sate, jalanan, kendaraan, "Dari sejuknya pegunungan sampai riuknya perkotaan, Jawa memperkenalkan kota. Bisa diselingi tilt up mahasiswa yang lalu-lalang. Barat selalu punya cara untuk bikin siapa pun jatuh cinta. Tempat Gedung Sate. di mana tradisi berakar kuat, dan anak mudanya terus bertumbuh merayakan karya." 00:00-00:20 (20 detik) Cut dan transisi. Shoot 5 anak muda, Alya, Raka, Naya, Dimas, Salsa yang sedang berkumpul dan membahas soal rencana liburan bersama. Medium shot → tracking shot mengikuti mereka mulai berlari. 00:21- 01.11 (50 detik) Wide tracking shot dari depan/samping, lalu side shot ketika mereka berjalan. 01:12-01:27 (15 detik) Salsa: GUYS HAYU MAINN, DAGOO!! YUK DAGOO Raka: HAYUUU Naya: kela kela, tapi kamana nyaa? Salsa: Eh kemarin teh aku nemu konten di tiktok, ada tempat pertunjukan budaya. kaya ga familiar gitu (sambil nunjukin konten) Dimas: IHH maenya teu apal? ieu mah Dago Tea House, tapi ayeuna mah ngaranna ganti jadi Taman Budaya Jawa Barat, aku sering pisan kaditu, seruuuu pisannn, ke situ aja weh Raka: Ah itu mah kamu wehh seneng pertunjukan daerah Dimas: ah teu kitu oge, hayu kaditu weh, seru aslinaa Alya: Yaudah sok ke sana aja Mereka pergi ke Taman Budaya Jawa Barat Sound "Oh Yeah - Steve Lacy" semakin memuncak. bersama-sama. . Scene 4 Mereka tiba di Taman Budaya Jawa Barat, Naya: "Ini kah?" terdiam, menatap satu sama lain dengan rasa penuh penasaran. Menyorot bangunan depan Taman Budaya Jawa Barat. Scene 5 Close-up ekspresi penasaran Scene 6 Scene 7 Raka: "ke sini nihh?" sambil menatap yang lainnya dan ditanggapi oleh Dimas "Udah ah ayoo masuk, seruuu!! aku jamin". Medium shot + shot/reverse shot antar karakter. Pintu TBJB dibuka. Mereka masuk. Musik berubah menjadi intro lagu daerah "Manuk Dadali". Tracking shot dari belakang mengikuti mereka masuk Mereka bertemu pemandu (Pak Ujang). Pak Pemandu tersenyum kepada mereka dan berkata "Selamat datang Front shot tour guide → panning Ujang berdiri di depan, kemudian di Taman Budaya Jawa Barat" dengan sopan. memperlihatkan ruang di belakangnya. menyambut mereka. 01:28-01:33 (5 detik) 01:34-01:44 (10 detik) 01:45-02.00 (15 detik) 02:01-02:06 (5 detik) Scene 8 Pemandu mulai membawa mereka berkeliling sambil menjelaskan. Lewat ruang pertunjukan, kostum, alat musik, properti, dokumentasi. Pemandu : "Di Taman Budaya Jawa Barat, kalian nggak cuma bisa menyaksikan pertunjukan. Kalian juga bisa melihat lebih dekat proses dan berbagai hal yang ada di baliknya.” Tracking shot mengikuti rombongan berjalan. Sisipkan close-up detail benda. 02:07-02:30 (23 detik) Scene 9 Mereka melihat seniman sedang latihan. Salah satu anak muda berhenti karena tertarik. Pemandu: "Di setiap pertunjukan, ada orang-orang yang menjaga Side shot anak muda melihat latihan → slow cerita dan tradisi ini tetap hidup." zoom ke performer. 02:31-02:51 (20 detik) Scene 10 Potongan cepat: tangan memainkan alat musik, kain/kostum, gerakan tari, ekspresi performer, anak muda mencoba mengikuti gerakan Musik daerah + ambience pertunjukan. Kombinasi zoom, medium shot, side shot, dan panning. 02:52-03:02 (10 detik) Scene 11 Alya, Raka, Naya, Dimas, dan Salsa berdiri Alya berbisik: "Wah keren euyy, ternyata ada ya pertunjukan sehebat ini di Jawa Barat". di ruang pertunjukan. Mereka melihat panggung. Musik pertunjukan. Performance mulai. Visual dibuat paling cinematic. Cut cepat kembali ke wajah anak-anak Voiceover (VO): "Mungkin bukan budaya nya yang jauh..." muda yang menikmati pertunjukan. Over-the-shoulder / side shot → wide shot panggung. 03:03-03:08 (5 detik) Wide shot → tracking/panning mengikuti performer → close-up ekspresi. 03:09-03:24 (15 detik) Medium/front shot. 03:25-03:29 (4 detik) Voiceover (VO): "Tapi...kita yang belum pernah benar-benar hadir di sekitarnya". Slow zoom in. 03:30-03:34 (4 detik) "Taman Budaya Jawa Barat" Static 03:35-03:38 (3 detik) Scene 12 Scene 13 Scene 14 Scene 15 7 Front shot → tilt up dari mereka menuju signage/gedung TBJB. Close-up salah satu anak muda tersenyum/terkesan. Black screen → logo dan tulisan "Taman Budaya Jawa Barat". Timeline Dalam 2 Minggu (Pertama) Bulan 1 Persiapan dalam take konten video - Menentukan ide dan konsep video - Menentukan target audiens yang sesuai - Membuat script, hook, dan alur video - Melakukan riset informasi sebanyak mungkin - Mencari talent untuk shoot konten - Menentukan lokasi untuk shoot konten - Membagi tugas Educational Day 1 Day 2 (Sound Cinta Kita) Video edukasi singkat "Masa sih Dago Tea House mengenai budaya Sunda terdengar sampai Belanda?" (Video penjelasan sejarah Dago Tea House) Entertainment Promotional Day 3 Day 4 Day 5 Day 6 Day 7 Interview informal yang berlatar "Pass the Phone: Anak Budaya (Sound The Smiths) Dance AADC (Dimana "Do you understand the belakang candaan sunda dan Edition" (Aku mau kasih hp P1 "Are you going to TBJB?" Malumu) words that are coming out of menargetkan mahasiswa Gen Z ini ke orang yang...) P2 "What?" Background ganti-ganti di area my mouth?" Bandung "Street Interview P1 "Are you going to TBJB?" TBJB Shoot pertunjukan di TBJB Culture Quiz" P2 "TBJB?" sambil pemeran lari-lari (Shoot suasana TBJB) Day 8 Day 9 Day 10 Day 11 Day 12 Day 13 Day 14 "HAH?!?!?!, Anklung ada Sol (Sound Bandung) "Gen Z Reacts to TBJB" "TBJB Starter Pack" First time The coolest GenZ goes to Upside down, boy you turn me Konten "place to go to Mi Sa Si-nya?" "Apa sih yang Memperlihatkan potongan video ke TBJB? Here's your starter TBJB (sound : Aint in LA) inside out Bandung" berupa slide dan (Belajar bermain alat musik menginspirasi Yura Yunita pertunjukan yang ada di TBJB pack (Transisi ke outfit kebaya salah satu nya ada TBJB Anklung melalui konten video) untuk melestarikan budaya kreatif di TBJB) (soft selling) diiringi dengan Sunda?" lagu Bandung - Yura Yunita (Video Yura Yunita menjelaskan alasan mengapa ia melestarikan budaya Sunda) Dalam 2 Minggu (Pertama) Bulan 2 Persiapan dalam take konten video - Finalisasi talent untuk take konten - Camera Checking - Finalisasi script dan shot list - Survei lokasi untuk take konten - Menentukan titik pengambilan video - Mempersiapkan kostum dan properti yang dibutuhkan selama pengambilan konten Educational Entertainment Day 1 Day 2 Day 3 Day 4 Day 5 "Mitos atau Fakta kalau "Tell me something i don't POV : nemu tempat date baru "My first month as anak rantau "We're walking hand in hand tembang berkaitan dengan hal- know?" (Membahas bahan sama pacar biar ngedate ga gitu ke bandung sering bolak balik in TBJB" hal gaib?!?!?!" dasar gendang yang gitu aja (bisa sambil belajar TBJB (recap)" (Menjelaskan mengenai fakta berasal dari kulit) tentang budaya) tersebut) Promotional Day 6 (Sound Training Season) "You should know I need someone to take me to TBJB" Background disekitar TBJB Day 7 The Man Who Can't be Moved "Ga bisa move on dari pertunjukan TBJB" Day 8 "Kalian kira wayang golek cuma boneka kayu? Think again" (membahas proses pembuatan sampai sejarah tentang wayang golek) D. 8 Day 9 Day 10 "Jaipong lore drop because "TBJB Expectation VS Reality" y'all NEED to know this!" ("Taman Budaya? pasti serius, (Menjelaskan asal usul sepi, dan cuma buat orang tua" jaipong, pengaruh cut ke footage TBJB yang kesenian lain, makna dan ternyata punya pertunjukan dan nilai budaya sampai tokoh suasana yang lebih asik) penting) Day 11 Day 12 Day 13 "Gua ketika weekend bangun Jedag-jedug 9AM at "Everytime she moves on, she pagi dan langsung siap siap Universitas Padjajaran, 10AM says" (TBJB Edition) secepatet kilat buat ke TBJB at TBJB karena tiketnya cepet banget abis" (gerakan di video dipercepat) Day 14 "Taman Budaya Jawa Barat, Ruang Mengekspresikan seni" Evaluating Output 1. Peningkatan followers dari 1 menjadi 500-1.000 akun 2. Mendapatkan minimal 10.000 viewers pada setiap video konten 3. Terjadinya peningkatan pada engagement (like, komentar, share, partisipasi polling), dan peningkatan jumlah pengunjung dari tahun sebelumnya. Outcome 1. Munculnya ketertarikan Gen Z terhadap budaya lokal yang terlihat dari komentar, like, dan share pada konten TBJB 2. Terjadinya perubahan persepsi Gen Z terhadap TBJB bergeser dari tempat yang "kuno" menjadi ruang budaya yang menarik dan relevan untuk anak muda 3. Gen Z aktif berinteraksi dengan konten TBJB. Evaluation 1. Meningkatnya awareness mahasiswa Gen Z di Kota Bandung sebanyak 15% 2. Tingkat keterpaparan informasi diperkirakan menghasilkan engagement yang terukur melalui pertumbuhan based by platform digital, yakni penambahan 500– 1.000 pengikut (followers) baru pada akun resmi. 3. Target kampanye sudah fokus dan realistis. Penentuan indikator yang jelas seperti kenaikan awareness 15%, 10.000 views per video, tambahan 500–1.000 pengikut, serta target 1.000 kunjungan mahasiswa dalam dua bulan membuat arah eksekusi media digital lebih terukur dan mudah dievaluasi.