MAKALAH KAPITA SELEKTA HEMATOLOGI (Genetik Keganasan Hematologik (AML, CML, ALL, CLL)) Dosen Pembimbing : Ibu Yaumil Fachni Tandjungbulu, S.ST, MKes Di Susun Oleh : Magfirah Indah PO714203252014 4E RPL Makassar PRODI D4 TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS JURUSAN TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS POLTEKKES KEMENKES MAKASSAR i KATA PENGANTAR Tidak ada kalimat yang pantas penulis ucapkan kecuali rasa terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa atas selesainya Makalah yang berjudul “Genetik Keganasan Hematologik (AML, CML, ALL, CLL)” Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Yaumil Fachni Tandjungbulu, S.ST, MKes selaku dosen pengampu mata kuliah Kapita Selekta Hematologi yang telah memberikan arahan, bimbingan dan tema materi pokok bahasan yang akan didiskusikan. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang sudah memberikan dukungan, kritik, dan saran kepada kami sehingga makalah ini dapat terselesaikan. Penulis menyadari makalah ini masih banyak kekurangan baik dari segi penulisan maupun penyampaian materi. Dengan menyadari hal tersebut maka penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk perbaikan selanjutnya. Penulis berharap makalah ini dapat berguna dan bermanfaat dalam menambah wawasan dan pengetahuan bagi berbagai pihak. Atas perhatiannya, penulis mengucapkan terima kasih. Makassar, 09 September 2025 Penulis ii DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ........................................................................................................ ii DAFTAR ISI ..................................................................................................................... iii BAB I .................................................................................................................................. 4 PENDAHULUAN ............................................................................................................. 4 A. Latar Belakang ..................................................................................................... 4 B. Rumusan Masalah ............................................................................................... 5 C. Tujuan ................................................................................................................... 5 D. Manfaaat ............................................................................................................... 6 BAB II ................................................................................................................................ 7 PEMBAHASAN ................................................................................................................ 7 A. Tinjauan Teori ...................................................................................................... 7 1. Leukemia .......................................................................................................... 7 2. Klasifikasi Leukemia ..................................................................................... 14 BAB III............................................................................................................................. 19 PENUTUP ........................................................................................................................ 19 DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................................... 20 iii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Leukemia merupakan suatu keganasan dalam penyakit yang menyerang hematologi yang ditandai dengan penggantian elemen sumsum tulang normal oleh sel darah abnormal atau sel leukemik. Hal ini disebabkan oleh proliferasi tidak terkontrol dari klon sel darah immatur yang berasal dari sel induk hematopoietik. Sel leukemik tersebut juga ditemukan dalam darah perifer dan sering menginvasi jaringan retikuloendotelial seperti limpa, hati dan kelenjar limfe. Leukemia diklasifikasikan berdasarkan tipe sel, baik menurut maturitas sel maupun turunan sel. Berdasarkan maturitas sel, leukemia dibedakan atas akut dan kronik. Jika sel ganas tersebut sebagian besar immatur (blast) maka leukemia diklasifikasikan akut, sedangkan jika yang dominan adalah sel matur maka diklasifikasikan sebagai leukemia kronik. Berdasarkan data statistik Global Cancer Observatory (Globocan) dari World Health Organization (WHO) tahun 2020, terdapat 474.519 kasus baru leukemia di dunia dengan jumlah kematian sebanyak 311.594 kasus. Dalam lima tahun terakhir, prevalensi leukemia di dunia sebesar 17,20 per 100.000 populasi setiap tahunnya. Leukemia merupakan salah satu jenis kanker yang paling banyak diderita oleh orang Indonesia, terbukti dengan data statistik dari WHO tahun 2020 yang menyebutkan bahwa leukemia merupakan jenis kanker dengan jumlah kasus terbanyak urutan ke-9 dari 35 jenis kanker yang ada di Indonesia dengan prevalensi sebesar 14.979 kasus dan menempati urutan ke-6 jenis kanker dengan jumlah kematian terbanyak setelah kanker paru-paru, kanker payudara, kanker serviks, kanker hati, dan kanker nasofaring. Diperkirakan kematian leukemia di Indonesia telah merenggut 11.530 jiwa setiap tahunnya (WHO, 2020). Menurut Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS), pada tahun 2015 Provinsi Lampung menempati urutan ke-10 jumlah kasus rawat inap leukemia terbanyak dengan jumlah sebesar 214 kasus (Kemenkes RI, 2016). Riset yang dilakukan di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek tahun 2019-2020 menyebutkan bahwa terdapat 32 pasien leukemia dengan penderita terbanyak adalah jenis leukemia Acute Mieloblastik Leukemia (AML). 4 Leukemia terjadi karena adanya perubahan pada struktur DNA somatik sehingga mengganggu aktifitas apoptosis. Perubahan tersebut terjadi karena adanya beberapa pengaruh dari berbagai macam faktor, meliputi faktor internal (genetik) dan eksternal (pengaruh radiasi atau paparan substansi karsinogen). Pada umumnya, penderita leukemia mengalami berbagai kondisi patologis dalam proses pembentukan eritrosit dan trombosit, sebagai akibat sumsum tulang yang gagal memproduksi sel mieloid yang matur. Produksi sel darah putih abnormal secara berlebihan pun dapat menyebabkan penimbunan dalam sumsum tulang dan mengakibatkan minimnya ruang yang tersisa bagi sel-sel darah lain untuk berkembang. Hal ini menyebabkan penurunan kadar hemoglobin, hematokrit, sel darah merah, dan trombosit, serta terjadi peningkatan jumlah sel darah putih. Sampai saat ini banyak sekali penelitian penelitian luar negeri yang membahas mengenai leukemia namun penyebab leukemia belum ditemukan secara pasti. Dengan banyaknya jumlah penderita dan peningkatan kasus leukemia yang terjadi setiap tahunnya, maka diperlukan penelitian mengenai faktor risiko terjadinya leukemia pada anak yang nantinya bisa digunakan dalam melakukan pencegahan leukemia. B. Rumusan Masalah 1. Apa Yang Dimaksud Dengan Genetik Keganasan Hematologik? 2. Apa Yang Dimaksud Dengan AML? 3. Apa Yang Dimaksud Dengan CML? 4. Apa Yang Dimaksud Dengan ALL? 5. Apa Yang Dimaksud Dengan CLL? C. Tujuan 1. Untuk Mengetahui Apa Yang Dimaksud Dengan Genetik Keganasan Hematologik 2. Untuk Mengetahui Apa Yang Dimaksud Dengan AML 3. Untuk Mengetahui Apa Yang Dimaksud Dengan CML 4. Untuk Mengetahui Apa Yang Dimaksud Dengan ALL 5. Untuk Mengetahui Apa Yang Dimaksud Dengan CLL 5 D. Manfaaat Diharapkan makalah ini dapat menambah wawasan masyarakat terhadap Genetik Keganasan Hematologik (AML, CML, ALL, CLL) dan dapat memberikan informasi kepada pembaca dan meningkatkan kesadaran mengenai faktor risiko leukemia. 6 BAB II PEMBAHASAN A. Tinjauan Teori 1. Leukemia a) Definisi Leukemia merupakan penyakit keganasan sel darah yang berasal dari sumsum tulang/ Biasanya ditandai oleh proliferasi sel-sel darah putih abnormal (sel blast) yang berlebihan dengan manifestasinya yang menyebabkan terdesaknya sel darah yang normal sehingga mengakibatkan fungsinya terganggu. Sel - sel imatur ini tidak dengan sengaja menyerang dan menghancurkan sel darah normal atau jaringan vaskuler. Penghancuran sel terjadi melalui infiltrasi dan kompresi yang terjadi kemudian pada unsur metabolic. Pada leukemia terjadi produksi sel darah putih yang abnormal, bersifat ganas trombositopenia dan bentuk hingga yang kematian. tidak beraturan Keganasan dari menyebabkan limfosit ini menyebabkan kegagalan produksi sel darah merahdi sumsum tulang belakang. Perjalanan penyakit yang sangat cepat, kondisi yang memperparah kondisi tubuhdan berdampak kematian disebut dengan Leukemia Akut. 7 Leukemia adalah suatu tipe dari kanker yang berasal dari kata Yunani leukos-putih, haima-darah. Leukemia adalah kanker yang mulai dari sel sel darah. Penyakit ini terjadi ketika sel darah memiliki sifat kanker yaitu membelah tidak terkontrol dan menggangu pembelahan sel darah normal. Leukemia adalah jenis penyakit kanker yang menyerang sel darah putih yang diproduksi oleh sumsum tulang (bone marrow). Leukemia Limfoblastik Akut (LLA) adalah penyakit keganasan dalam darah ditandai adanya diferensiasi yang menghambat limfoid progenitor sel B dan sel T di sumsum tulang belakang, extramedullary, dan darah. Sel abnormal yang diproduksi secara terus-menerus menyebabkan penekanan pada unsur sumsum normal. b) Etiologi Penyebab dari penyakit leukemia tidak diketahui secara pasti. Faktor yang diduga mempengaruhi frekuensi terjadinya leukemia yaitu : 1) Radiasi berdasarkan laporan riset menunjukkan bahwa. Para pegawai radiologi berisiko untuk terkena leukemia. Pasien yang menerima radioterapi berisiko terkena leukemia. Leukemia ditemukan pada korban hidup kejadian bom atom Hiroshima dan Nagasaki di Jepang. 2) Faktor Leukemogenik terdapat beberapa zat kimia yang dapat mempengaruhi frekuensi leukemia. Racun lingkungan seperti benzena paparan pada tingkat-tingkat yang tinggi dari benzena pada tempat kerja dapat menyebabkan leukemia. 3) Obat untuk kemoterapi, pasien-pasien kanker yang dirawat dengan obat obat melawan kanker tertentu adakalanya dikemudian hari mengembangkan leukemia. Contohnya, obat - obat yang dikenal sebagaiagen alkylating dihubungkan dengan pengembangan leukemia bertahun tahun kemudian. 4) Pengidap sindrom down memiliki risiko terkena leukemia akut 20 kali lebih tinggi dibandingkan orang normal. Kelainan genetik lainnya, seperti fanconi anemia,, bloom syndrome, ataxia telangiectasia, shwachman syndrome, dan neurofibromatosis juga dapat meningkatkan kemungkinan terkena AML. 8 5) Beberapa virus yang berhubungan dengan leukemia antara lain retrovirus, feline leukemia virus, dan HTLV-1. c) Patofisiologi Pada keadaan normal, sel darah putih berfungsi sebagai pertahanan kita terhadap infeksi. Sel ini secara normal berkembang sesuai dengan perintah, dapat dikontrol sesuai dengan kebutuhan tubuh kita. Leukemia dapat meningkatkan produksi sel darah putih pada sumsum tulang yang lebih dari normal. Sel darah putih terlihat berbeda dengan sel darah normal dan tidak berfungsi seperti biasanya. Sel leukemia memblok produksi sel darah putih yang normal, merusak kemampuan tubuh terhadap infeksi. Sel leukemia juga dapat merusak produksi sel darah lain pada sumsum tulang termasuk sel darah merah, dimana sel tersebut berfungsi untuk menyuplai oksigen pada jaringan. Leukemia terjadi jika proses pematangan dari sitem sel menjadi sel darah putih mengalami gangguan dan menghasilkan perubahan ke arah keganasan. Perubahan yang terjadi sering kali melibatkan penyusunan kembali bagian dari kromosom. Penyusunan kromosom menganggu pengendalian normal dari pembelahan sel, sehingga sel yang membelah tidak dapat terkendali dan menjadi ganas. Pada akhirnya sel ini menguasai sumsum tulang dan menggantikan tempat dari sel-sel yang menghasilkan 9 sel-sel darah normal. Kanker bisa menyusup ke dalam organ lainnya, termasuk hati, limpa, kelenjar, ginjal dan otak. Leukemia adalah jenis gangguan pada sistem hematopoitek yang terkait dengan sumsum tulang dan pembuluh limfe ditandai dengan tidak terkendalinya proliferasi dari leukemia dan prosedurnya. Sejumlah besar sel pertama menggumpal pada tempat asalnya (granulosit dalam sumsum tulang limfosit di dalam limfenodi) dan menyebar ke organ hematopoetik dan berlanjut keorgan yang lebih besar (splenomegaly, hepatomegaly). Proliferasi dari satu jenis sel sering mengganggu produksi normal sel hematopetik lainnya dan mengarah ke pengembangan / pembelahan sel yang cepat dan ke sitopenia. Adanya proliferasi sel blast, produksi eritrosit dan platelet terganggu sehingga akan menimbulkan anemia dan trombositopenia, sistem retikuloendotelial akan terpengaruh dan menyebabkan gangguan system pertahanan tubuh dan mudah mengalami infeksi, manifestasi akan tanpak pada gambar gagalnya bone marrow dan infiltrasi organ, sistem saraf pusat. Gangguan pada nutrisi dan metabolism, depresi sumsum tulang yang akan berdampak pada penurunan leukosit, eritrosit, factor pembekuan dan peningkatan tekanan jaringan, dan adanya infiltrasi pada eksra medular akan berakibat terjadinya pembesaran hati, linfe, dan nyeri persendian. Istilah HL-A(Human n Leucocyte Lotus-A) antigen terhadap jaringan telah ditetapkan (WHO). Sistem HL-Aindividu ini diturunkan menurut hokumgenetik, sehingga adanya peranan faktor ras dan keluarga dalam etiologi leukemia tidak dapat diabaikan. Proses meliputi : normalnya tulang marrow diganti dengan tumor yang malignan, imaturnya sel blast. Leukemia disebabkan oleh perubahan struktural dalam DNA somatik. Perubahan struktural tersebut terjadi karena adanya sel onkogen yang mengalami aktivasi atau inaktivasi sel surpresing onkogen sehingga mengganggu program kematian sel (apoptosis). Perubahan struktur DNA ini dapat terjadi secara spontan, namun paparan radiasi atau karsinogen, faktor genetik, kondisi lingkungan, faktor imun manusia, dan perilaku 10 buruk seperti merokok juga dapat mempengaruhi mutasi DNA somatik dalam tubuh d) Epidemiologi Pada tahun 2020, angka kejadian leukemia di dunia sebesar 474.519 kasus dengan jumlah kematian sebanyak 311.594 jiwa (WHO, 2020). Kasus ini diprediksi akan terus meningkat setiap tahunnya karena rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan sejak dini (Efendi, 2016). Dalam 5 tahun terakhir, prevalensi leukemia di dunia sebesar 1.340.506 kasus dengan persentase tertinggi berada di Asia (47,8%), diikuti oleh Eropa (21,8%), Amerika Utara (15,5%), Amerika Latin dan Karibia (8,1%), serta Afrika (5,5%) (WHO, 2020). Berdasarkan data statistik dari World Health Organization (WHO), leukemia menjadi salah satu jenis kanker terbanyak di Indonesia urutan ke-9 dari 35 jenis kanker yang ada dengan prevalensi sebesar 14.979 kasus dan menempati urutan ke-6 jenis kanker dengan jumlah kematian terbanyak setelah kanker paru-paru, kanker payudara, kanker serviks, kanker hati, dan kanker nasofaring. Pada tahun 2020, leukemia di Indonesia telah merenggut 11.530 jiwa dengan prevalensi 5 tahun terakhir sebesar 41.701 kasus (WHO, 2020). Sedangkan menurut Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS), pada tahun 2015 Provinsi Lampung menempati urutan ke-10 jumlah kasus rawat inap leukemia terbanyak dengan jumlah sebesar 214 kasus. e) Gejala Klinis 1) Anemia Penderita leukemia akan merasakan gejala kelelahan, pucat, dan takipnea. Hal ini disebabkan karena jumlah eritrosit dalam tubuh lebih rendah dari normal, sehingga asupan oksigen juga berkurang, akibatnya penderita akan mengalami sesak napas saat tubuh mengkompensasi kebutuhan oksigen. 2) Hemoragi 11 Apabila trombosit tidak diproduksi dengan wajar karena dominasi oleh leukosit, maka penderita akan mengalami pendarahan yang biasanya muncul di jaringan kulit. 3) Terserang Infeksi Leukosit berfungsi sebagai sistem pertahanan tubuh terhadap infeksi. Namun, pada penderita leukemia leukosit yang terbentuk tidak berfungsi dengan baik karena terbentuk dari sel mieloid yang imatur. Hal ini menyebabkan tubuh penderita akan lebih rentan terkena infeksi bakteri/virus meskipun jumlah leukositnya tinggi. 4) Nyeri Tulang dan Sendi Rasa nyeri ini dapat disebabkan oleh tekanan pada sumsum tulang yang disebabkan oleh proliferasi leukosit yang mengganas. 5) Nyeri Perut Sel leukemik yang berkumpul di ginjal, hati, dan empedu menyebabkan pembengkakan yang dapat menimbulkan rasa nyeri pada perut. 5) Pembesaran Kelenjar Limpa Pada penderita leukemia, sel leukemik akan terkumpul di kelenjar ini sehingga dapat menyebabkan kelenjar limpa di bawah lengan, leher, dada, dan bagian tubuh lainnya membengkak. 6) Dispnea Apabila penderita mengalami gejala sesak dan nyeri dada, maka harus segera mendapatkan pertolongan medis 12 f) Diagnosa Menurut Kementerian Kesehatan RI Direktorat Jenderal PP & PL Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular tahun 2011, berikut proses diagnosis leukemia: g) Penatalaksanaan dan Pengobatan Penatalaksanaan leukemia biasanya diawali dari gejala yang timbul seperti infeksi, pendarahan, dan anemia. Secara umum penatalaksanaan dan pengobatan leukemia dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu: 1) Kemoterapi atau intrathecal chemotherapy (suntikan langsung ke tulang belakang) 2) Terapi radiasi (metode yang jarang digunakan) 3) Transplantasi sumsum tulang (bone marrow) 4) Pemberian obat tablet dan injeksi 13 5) Transfusi eritrosit (PRC) atau trombosit (TC) 2. Klasifikasi Leukemia Leukemia dapat dibedakan menurut prognosis penyakitnya, yaitu leukemia akut dan leukemia kronis. Perjalanan penyakit leukemia kronis lebih lambat dan memiliki harapan hidup lebih lama, hingga lebih dari 1 tahun, bahkan ada yang mencapai 5 tahun. Sedangkan leukemia akut ditandai dengan prognosis penyakit yang sangat cepat, memburuk, dan mematikan. Berdasarkan maturitas sel, leukemia juga dibagi menjadi akut dan kronis. Jika mayoritas sel kanker tersebut terdiri dari sel imatur (belum matang) maka leukemia di klasifikasikan akut, jika mayoritas sel kanker tersebut adalah sel matur (sudah matang) maka di klasifikasikan sebagai leukemia kronis. Leukemia akut dibagi lagi menjadi Acute Mieloblastik Leukemia (AML) dan Acute Limfoblastik Leukemia (ALL). Sedangkan leukemia kronis dapat dibagi menjadi Chronic Myeloid Leukemia (CML) dan Chronic Limfositik Leukemia (CLL). Perbedaan Karakteristik Leukemia Akut dan Kronis. 1) Acute Mieloblastik Leukemia (AML) Hal yang menjadi ciri utama AML adalah adanya diferensiasi dari stem sel mieloid atau monositik. Gejala klinis pada penderita AML muncul secara tibatiba karena disebabkan oleh infiltrasi sumsum tulang oleh sel leukemik serta kegagalan proses hematopoiesis. Tanpa proses hematopoietis normal, pasien berisiko terkena komplikasi anemia, infeksi karena neutropenia, serta perdarahan karena trombositopenia yang mengancam jiwa. Leukemia ini paling sering terjadi pada anak-anak atau remaja dewasa. Morfologi yang 14 terkait dengan AML ini adalah keberadaan mieloblast yang berukuran besar dari normalnya di darah tepi serta sering mengandung granula azurofilik. Eosinofil sering meningkat, dan persentase monosit biasanya menurun. (Gambar Sel Mieloblas dalam Apusan Darah Tepi) 2) Acute Limfoblastik Leukemia (ALL) Penyebab ALL adalah mutasi sel prekursor limfoid yang berasal dari sumsum tulang pada tahap pematangan tertentu. Sel-sel leukemik ini terusmenerus terakumulasi di sumsum tulang dan menyebabkan sel-sel lain sulit untuk berkembang. Hal ini mengakibatkan anemia, trombositopenia, dan neutropenia, serta meningkatnya leukosit khususnya limfoblas di jaringan seperti hati, limpa, getah bening, meninges, dan gonad. Seperti jenis leukemia akut lainnya, anemia dan trombositopenia terlihat jelas saat dilakukan diagnosis. Di apusan darah dan sumsum tulang akan banyak ditemui limfoblas serta pada 10% kasus ALL biasanya ditemukan limfoblas dengan granula azurofilik kasar. Berdasarkan morfologi dan perkembangan sel, ALL dibagi menjadi dua subtipe yaitu: leukemia limfoblastik B dan leukemia limfoblastik T. Subtipe sel-B diidentifikasi dengan menemukan penanda permukaan sel pada sel-sel blast leukemia yang sama dengan yang berkembang pada limfosit B normal. Subtipe sel-T diidentifikasi dengan menemukan marker permukaan sel pada sel-sel blast 15 leukemia yang sama dengan yang berkembang pada limfosit T normal (Gambar (a) Limfoblas Sel B (b) Limfoblas Sel T di Apusan Darah Tepi) 3) Chronic Myeloid Leukemia (CML) Nama lain dari penyakit ini adalah leukemia granulositik kronis dan mielositik kronis leukemia CML adalah gangguan proliferasi hematopoietik yang berkaitan dengan kelainan gen tertentu serta mempunyai ciri yang sangat khas pada apusan darah.Kelainan gen yang dimaksud adalah translokasi materi genetik antara kromosom 9 dan kromosom 22 (T9:22). Mutasi gen ini disebut Kromosom Philadelphia, atau Ph1. Translokasi ini mengarah pada pembentukan gen hibrida yang disebut BCR-ABL. Mutasi gen fusi ini mempengaruhi pematangan dan diferensiasi sel hematopoietik sehingga terjadilah leukemia. Apusan darah tepi menunjukkan adanya leukositosis berat dengan seluruh spektrum perkembangan sel mieloid. Anemia normositik ringan, atau mokromik dengan sel darah merah berinti (nRBC) adalah temuan umum. Eosinofil dan basofil juga meningkat jumlahnya. Dalam fase kronis (fase awal), dapat terjadi trombositosis. Seiring perkembangan penyakit, anemia akan semakin memburuk, dan terjadi trombositopenia serta banyak sel-sel muda terlihat pada apusan darah tepi. Adanya leukositosis ditandai dengan 16 beberapa neutrofil yang belum matang dan peningkatan basofil (Gambar Sel blast neutrofil dalam Apusan Darah Tepi) 4) Chronic Limfositik Leukemia (CLL) Leukemia limfositik kronis (CLL) disebabkan oleh proliferasi klonal dari limfosit B. Penyakit ini biasanya diderita oleh lansia dengan usia lebih dari 50 tahun. Limfosit kecil yang abnormal mulai menumpuk di limpa, kelenjar getah bening, dan sumsum tulang, saat 10 jumlahnya semakin tinggi limfosit ini akan keluar dan beredar kedarah tepi. Pada apusan darah tepi menunjukkan limfosit kecil yang abnormal serta beberapa limfoblas. Limfosit ini menunjukkan homogenitas dengan kromatin yang menggumpal dan kadang kadang nukleus agak menjorok ke dalam. Sel noda/ smudge cells terdapat dalam apusan darah tepi dan divisualisasikan sebagai potongan kromatin limfosit yang memercik ke seluruh perifer. Karena limfosit rapuh, sel noda ini juga mungkin timbul dalam proses pembuatan SAD di mana sitoplasma terganggu dan untaian kromatin nuklir tergores melintasi apusan dalam bentuk noda amorf. Seiring perkembangan penyakit, masa limfosit menumpuk di sumsum tulang sehingga tejadi splenomegali dan limfadenopati serta terjadi anemia, trombositopenia, dan neutropenia karena kegagalan fungsi sumsum tulang. Fungsi kekebalan yang berubah dari limfosit dapat menyebabkan komplikasi anemia hemolitik autoimun pada 10- 30%, munculnya sferosit dan nRBC pada apusan perifer pasien CLL merupakan indikator awal dari proses hemolitik autoimun. 17 (Gambar Smudge cells dalam Apusan Darah Tepi) 18 BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN Leukemia merupakan keganasan hematologi yang ditandai dengan proliferasi tidak terkendali dari sel darah putih abnormal akibat kelainan genetik, mutasi DNA, atau translokasi kromosom. Berdasarkan maturitas dan asal sel, leukemia dibagi menjadi akut (AML, ALL) dan kronis (CML, CLL). • AML ditandai dengan proliferasi mieloblas imatur yang cepat dan sering menimbulkan anemia, perdarahan, serta infeksi. • ALL muncul akibat mutasi sel prekursor limfoid yang menyebabkan akumulasi limfoblas abnormal, paling sering pada anak-anak. • CML berhubungan erat dengan translokasi kromosom Philadelphia (BCRABL) yang memicu proliferasi mieloid berlebihan. • CLL ditandai dengan proliferasi limfosit B abnormal yang terutama menyerang usia lanjut. Secara umum, leukemia menimbulkan manifestasi klinis berupa anemia, infeksi berulang, perdarahan, splenomegali, dan gangguan sistem imun. Penatalaksanaan dapat dilakukan melalui kemoterapi, transplantasi sumsum tulang, terapi target molekuler, transfusi darah, serta perawatan suportif. Pengetahuan mengenai aspek genetik sangat penting untuk diagnosis, prognosis, serta pemilihan terapi yang tepat. B. SARAN 1) Bagi masyarakat, penting untuk meningkatkan kesadaran terhadap gejala awal leukemia serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin guna mencegah keterlambatan diagnosis. 2) Untuk tenaga kesehatan, diharapkan terus mengembangkan kemampuan diagnostik berbasis molekuler dan genetik, agar terapi dapat lebih tepat sasaran. 3) Untuk institusi pendidikan, diharapkan makalah ini dapat menjadi sumber pembelajaran tambahan dalam memahami peran genetik pada keganasan hematologik. 19 DAFTAR PUSTAKA Deswita, S. K., Kep, M., Apriyanti, N. S. K. A. N., Oktaghina, M. K. N., & Adab, P. (2023). Leukimia Pada Anak: Kemoterapi & Kelelahan (Fatigue). Penerbit Adab. Gusty, R. P., & Kp, S. Terapi Pijat Lembut Memperbaiki Kelelahan Pada Pasien Leukemia. Penerbit Adab. Kementerian Kesehatan RI Direktorat Jendera; PP & PL Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular. Pedoman Penemuan Dini Kanker Pada Anak. 2011. Available from: https://p2ptm.kemkes.go.id/uploads/2016/10/Pedoman- Penemuan-Dini-Kanker-Pada Anak.pdf Rama, A. P. Faktor Risiko Leukemia Pada Anak Di Rsup Dr. Mohammad Hoesin Palembang. Sulistiyowati, A., & Ulfah, A. Z. (2023). Potensi Radiasi Medan Magnet Extremely Low Frequency (Elf) Terhadap Penyakit Leukemia. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, 9(13), 123-131. Sukron, S. K., Ns, M., Amelia, A., Winaldha, C. R., Kep, A. M., Sari, I., & SiT, S. PENDEKATAN SPIRITUAL PADA PASIEN KANKER DARAH STADIUM AKHIR. World Health Organization, 2020, World and Indonesia Number of new cases in 2020, Source: The Global Cancer Observatory Wahyuni, M. (2023). Perbandingan Jumlah Trombosit Pasien Leukemia Sebelum Dan Sesudah Transfusi Trombosit Konsentrat (Tc) Di Rsud Dr. H. Abdul Moeloek Tahun 2021-2022 (Doctoral Dissertation, Poltekkes Kemenkestanjungkarang). 20