Uploaded by pc.elrista

Relai Diferensial (ANSI 87): Konsep dan Cara Kerja

advertisement
RELAI
Relai merupakan suatu alat yang dirancang untuk merasakan dan mendeteksi adanya
suatu kondisi abnormal pada sistem tenaga listrik. Ketika terjadi gangguan relai akan mengirim
sinyal kepada PMT/CB agar memisahkan antara bagian yang terkena gangguan dan tidak
terkena gangguan. Relai umumnya memiliki tiga komponen utama, yaitu sensing atau
pengukuran, processing atau pengambilan keputusan, serta komponen penggerak atau keluaran
yang mengirimkan perintah ke circuit breaker.
RELAI DIFFERENSIAL (ANSI 87)
Relai Differensial adalah relai proteksi yang bekerja dengan membandingkan arus
listrik yang masuk dan arus yang keluar dari suatu zona proteksi. Relai differensial dapat
diterapkan di seluruh bagian sistem tenaga listrik, seperti generator, motor, bus, transformator,
saluran transmisi, kapasitor dan gabungan dari berbagai alat tersebut. Proteksi differensial
sering dipilih menjadi proteksi primer karena sifatnya yang selektif dan andal dalam
membedakan mana gangguan yang terdapat di zona yang diproteksi (internal) dan di luar zona
proteksi (eksternal).
CARA KERJA RELAI DIFFERENSIAL
Secara sederhana, cara kerja relai differensial dapat dijelaskan dengan membandingkan
arus yang masuk dan keluar dari zona yang diproteksi. Jika arus masuk dan arus keluar
seimbang, tidak ada gangguan internal. Jika terdapat selisih arus yang besar, kemungkinan
terjadi gangguan di dalam zona proteksi. Di kondisi normal dan gangguan eksternal, relai
differensial tidak akan memerintahkan CB untuk trip.
β–ͺ
KONDISI NORMAL ATAU TERJADI GANGGUAN EKSTERNAL
𝐼𝑆1
𝐼𝑆2
𝐼𝑑 ≈ 0
𝐼𝑆1
𝐼𝑆2
Gambar x. Diagram cara kerja relai differensial kondisi normal dan gangguan eksternal
Di dalam suatu zona yang diproteksi (misal transformator) akan diapit oleh dua CT.
Kedua CT ini akan mengirimkan arus sekunder (𝐼𝑆1 dan 𝐼𝑆2 ) ke rangkaian relai untuk
dibandingkan arusnya. Dalam kondisi normal ataupun terjadi gangguan di luar zona proteksi,
maka arus sekunder dari kedua CT yang masuk ke rangkaian relai besarnya hampir sama
sehingga arus diferensial (arus yang masuk ke relai) nilainya akan mendekati nol (𝐼𝑑 ≈ 0)
karena arus sekunder di kedua CT saling meniadakan. Ketika arus yang masuk ke relai
differensial nilainya sangat kecil atau di bawah nilai pickup maka relai tidak akan bekerja.
β–ͺ
KONDISI TERJADI GANGGUAN INTERNAL
𝐼𝑑 ≈ 𝐼𝐹1 + 𝐼𝐹2
𝐼𝑆1
𝐼𝑆2
Gambar x. Diagram cara kerja relai differensial ketika terjadi gangguan internal
Ketika kondisi terjadi gangguan internal, arus dari kedua sisi zona akan masuk ke arah
zona proteksi. Karena arus mengarah ke dalam zona gangguan, arus sekunder CT tidak lagi
saling meniadakan karena polaritasnya berbeda. Sebaliknya, arus tersebut menghasilkan arus
diferensial (𝐼𝑑 ) yang besar. Jika arus gangguan dari sisi pertama adalah 𝐼𝐹1 dan dari sisi kedua
adalah 𝐼𝐹2 , maka arus diferensial di sisi sekunder CT adalah
𝐼𝑑 ≈ 𝐼S1 + 𝐼S2
Arus diferensial yang besar menyebabkan relai bekerja dan mengirimkan perintah trip kepada
circuit breaker.
KURVA KARAKTERISTIK RELAI DIFFERENTIAL
Gambar x. Karakteristik Relai Differensial
Karakteristik differential relai menunjukkan hubungan antara arus diferensial (𝐼𝑑 ) dan
arus restraint (πΌπ‘Ÿ ). Pada kurva karakteristik, sumbu vertikal menunjukkan arus diferensial
sedangkan sumbu horizontal menunjukkan arus restraint. Kurva ini menunjukkan batas daerah
di mana relai mulai bekerja. Daerah di bawah kurva karakteristik disebut daerah tidak bekerja
atau restraint region sedangkan daerah di atas kurva karakteristik disebut daerah kerja atau
operating region. Terdapat beberapa besaran yang ada pada kurva karakteristik relai
differensial, yaitu
β–ͺ
ARUS DIFFERENSIAL (𝐼𝑑 )
Arus diferensial adalah selisih antara arus sekunder CT pada kedua sisi daerah yang
dilindungi. Rumus arus diferensial adalah
𝐼𝑑 = |𝐼𝑆1 − 𝐼𝑆2 |
𝐼𝑑 = arus diferensial atau arus operasi relai
𝐼𝑆1 = arus sekunder CT sisi pertama
𝐼𝑆2 = arus sekunder CT sisi kedua
β–ͺ
ARUS SET (𝐼𝑠𝑒𝑑 )
𝐼𝑠𝑒𝑑 adalah nilai minimum arus diferensial agar relai mulai dapat bekerja. Rumus arus
setting yaitu
𝐼𝑠𝑒𝑑 = %π‘†π‘™π‘œπ‘π‘’1 × πΌπ‘Ÿ
β–ͺ
ARUS RESTRAINT (πΌπ‘Ÿ )
Arus restraint atau arus penahan adalah rata-rata arus yang mengalir dari kedua sisi
transformator. Arus restraint berfungsi menahan relai agar tidak bekerja secara salah,
terutama saat terjadi arus besar akibat gangguan eksternal. Arus restrain yang besar
membuat batas operasi relai menjadi lebih tinggi sehingga relai tidak mudah mengalami
salah operasi. Rumus arus penahan adalah:
πΌπ‘Ÿ =
𝐼𝑆1 + 𝐼𝑆2
2
πΌπ‘Ÿ = arus restraint atau penaha
𝐼𝑆1 = arus sekunder CT sisi pertama
𝐼𝑆2 = arus sekunder CT sisi kedua
β–ͺ
SLOPE
Slope adalah kemiringan karakteristik operasi relai diferensial yang membatasi daerah Trip
dan No Trip. Grafik karakteristik relai umumnya memiliki dua bagian. Slope 1 lebih rendah
sehingga relai lebih sensitif terhadap gangguan internal. Slope 2 lebih tinggi sehingga relai
lebih stabil terhadap gangguan eksternal dan saturasi CT. Semakin tinggi nilai slope, arus
differensial yang diperlukan untuk relai bekerja semakin tinggi. Jika slope terlalu rendah
maka dapat mengakibatkan relai salah trip. Jika slope terlalu tinggi dapat mnyebbakan relai
kurang sensitif. Untuk karakteristik dua slope, rumusnya adalah
β–ͺ
%π‘†π‘™π‘œπ‘π‘’ 1 =
𝐼𝑑
× 100%
πΌπ‘Ÿ
%π‘†π‘™π‘œπ‘π‘’ 2 =
2𝐼𝑑
× 100%
πΌπ‘Ÿ
ERROR MISMATCH
Error mismatch adalah persentase ketidaksesuaian antara rasio atau nilai CT ideal dan CT
yang terpasang.
Gambar x. Karakteristik relai differensial persentase
Gambar x. adalah contoh kurva karakteristik relai differensial yang disimplifikasi.
Diketahui bahwa jika garis berada di zona atas maka relai akan trip. Aspek-aspek seperti ULTC
(Under Load Tap Changer), CT Error, Rasio Mismatch dan Margin harus berada di bawah slop
agar tidak terjadi kesalahan operasi oleh relai. Aspek-aspek ini bukanlah gangguan internal,
tetapi sifat alami sistem yang mana dapat menyebabkan false-positive jika tidak diperhatikan
ke kalkulasi arus set atau pickup relai.
FEEDER MANAGEMENT
Feeder management relay masuk ke kategori multifunction relay yang berfungsi
memantau besaran listrik feeder. Data dari feeder tersebut diproses oleh relay untuk mendeteksi
adanya kondisi abnormal dan dapat memerintahkan CB untuk trip. Agar feeder management
berfungsi dengan baik, maka diperlukan alat untuk mengujinya. Salah satu alat untuk
melakukan pengujian tersebut adalah Vebko AMT 205, yaitu relay tester yang menghasilkan
sinyal arus dan tegangan terukur untuk mensimulasikan kondisi operasi atau gangguan pada
relay, kemudian mengamati respons pickup, waktu operasi, dan kontak trip relay melalui
metode secondary injection.
(a)
(b)
Gambar x. Gambar alat (a) feeder management relay (b) Vebko AMT 205
TUGAS RUMAH
1. Jelaskan pengertian relai dan sebutkan tiga komponen utama relai!
2. Apa yang dimaksud relai 87 dan jelaskan fungsinya!
3. Mengapa relai 87 lebih sering dipilih menjadi proteksi primer?
4. Jelaskan cara kerja relai differensial serta gambarkan skema diagramnya menggunakan
ballpoint!
5. Apa yang dimaksud gangguan internal dan gangguan eksternal?
6. Jelaskan mengapa ketika terjadi gangguan (misal short) di luar zona proteksi relai
differensial, relai tidak akan trip!
7. Jelaskan apa perbedaan Iset dengan Ipickup
8. Jelaskan perbedaan fungsi Slope 1 dan Slope 2 pada karakteristik relai diferensial!
9. Apa yang dimaksud dengan feeder management relay dan apa fungsinya?
10. Jelaskan apa yang dimaksud dengan Vebko AMT 205 dan metode secondary injection
yang digunakannya!
Download