Jurnal Ilmu Manajemen Dan Pendidikan Vol. 02 No. 01 Edisi April - Juni 2025 Hal.565-572 Journal homepage: https://jurnal.kopusindo.com/index.php/jimp/index E-ISSN : 3062-7788 Published by: ITTC INDONESIA Konsep Dasar Pengukuran Dan Skala Dalam Penelitian Manajemen Pendidikan: Kajian Pustaka Prihaten Maskhuliaha, Nazwa Bunga Alzira Rimosanb, Indah Maimanahc, Dzulfiana Prawatid, Nadia Rahmadanie, dan Muflikah Min Khoiratun Nisaf 1 Fakultas Tarbiyah, Institut Agama Islam Negeri Fattahul Muluk, Papua, [email protected] 2 Fakultas Tarbiyah, Institut Agama Islam Negeri Fattahul Muluk, Papua, [email protected] 3 Fakultas Tarbiyah, Institut Agama Islam Negeri Fattahul Muluk, Papua, [email protected] 4 Fakultas Tarbiyah, Institut Agama Islam Negeri Fattahul Muluk, Papua, [email protected] 5 Fakultas Tarbiyah, Institut Agama Islam Negeri Fattahul Muluk, Papua, [email protected] 6 Fakultas Tarbiyah, Institut Agama Islam Negeri Fattahul Muluk, Papua, [email protected] Abstrak Penelitian ini membahas konsep dasar pengukuran dan skala dalam konteks manajemen pendidikan. Tujuannya adalah untuk membantu mahasiswa memahami pentingnya menggunakan pengukuran yang valid dan reliabel dalam penelitian. Dengan menggunakan metode studi pustaka, artikel ini mengulas proses pengukuran yang meliputi tahapan konseptualisasi dan operasionalisasi, serta beberapa prinsip penting seperti kepekaan, validitas, dan reliabilitas. Pembahasan juga mencakup objek yang bisa diukur, jenis-jenis skala (nominal, ordinal, interval, dan rasio), serta bentuk skala yang sering dipakai, seperti skala Likert dan skala Guttman. Kesimpulan nya, pemahaman yang baik tentang pengukuran dan skala sangat dibutuhkan agar pengambilan keputusan dalam manajemen pendidikan bisa didasarkan pada data yang kuat. Harapannya, tulisan ini bisa menjadi panduan awal bagi mahasiswa atau peneliti pemula dalam menyusun instrumen penelitian yang tepat dan efektif. Kata Kunci: Pengukuran, Skala, Manajemen Pendidikan Abstract This research discusses the basic concepts of measurement and scales in the context of educational management. The aim is to help students understand the importance of using valid and reliable measurements in research. Using the literature study method, this article reviews the measurement process which includes the conceptualization and operationalization stages, as well as several important principles such as sensitivity, validity, and reliability. The discussion also covers objects that can be measured, types of scales (nominal, ordinal, interval, and ratio), and forms of scales that are often used, such as Likert scales and Guttman scales. In conclusion, a good understanding of measurement and scales is needed so that decision-making in education management can be based on strong data. Hopefully, this paper can serve as an initial guide for students or novice researchers in developing appropriate and effective research instruments. Keywords: Measurement, Scale, Education Management This work is licensed under Creative Commons Attribution License 4.0 CC-BY International license PENDAHULUAN Proses belajar meneliti di bidang “Manajemen Pendidikan”, kami menyadari bahwa penelitian bukan hanya sekadar kegiatan mengumpulkan data, akan tetapi juga membutuhkan pemahaman yang kuat terhadap konsep dasar, termasuk tentang bagaimana suatu variabel diukur dan dianalisis. Dalam bidang ini, penelitian sering kali digunakan untuk menilai kualitas kepemimpinan kepala sekolah, efektivitas pengelolaan kurikulum, tingkat kepuasan guru, hingga efisiensi sistem administrasi. Semua hal ini membutuhkan data yang benar-benar valid dan terukur agar hasil penelitian itu bisa digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan yang akurat. Namun dalam praktiknya, kami dan mungkin banyak mahasiswa sering menghadapi kebingungan dalam menentukan jenis skala pengukuran mana yang sesuai dengan karakteristik variabel penelitian. Misalnya, masih ditemukan keraguan dalam memilih apakah variabel tingkat kepuasan guru sebaiknya diukur menggunakan skala nominal atau ordinal, serta bagaimana membedakan antara data interval dan rasio. Situasi ini menunjukkan bahwa pemahaman yang mendalam mengenai pengukuran dan skala sangat diperlukan dalam konteks penelitian manajemen pendidikan. Buku Statistik Deskriptif dijelaskan bahwa Muhammad mengartikan skala pengukuran sebagai pendekatan dalam menetapkan tingkatan variabel berdasarkan karakteristik datanya. Dalam proses pengukuran, angka diberikan pada objek atau fenomena agar dapat mencerminkan tingkat karakteristik tertentu yang dimilikinya. Jurnal Ilmu Manajemen Dan Pendidikan Vol.02 No. 01 April-Juni 2025 565 Jurnal Ilmu Manajemen Dan Pendidikan Vol. 02 No. 01 Edisi April - Juni 2025 Hal.565-572 Journal homepage: https://jurnal.kopusindo.com/index.php/jimp/index E-ISSN : 3062-7788 Published by: ITTC INDONESIA Skala ini dibagi menjadi empat jenis, antara lain skala nominal, ordinal, interval dan rasio, yang di mana masingmasing jenis skala ini memiliki peran penting dalam menentukan teknik analisis yang sesuai.(Saniah, 2022). Selain itu, kami juga memahami bahwa sebelum data itu dianalisis, kami harus memastikan bahwa alat yang kami gunakan untuk mengumpulkan data, seperti angket atau lembar observasi ini benar-benar bisa dipercaya. Di dalam sebuah buku dijelaskan bahwa terdapat 2 aspek krusial yang perlu dipertimbangkan, yakni validitas dan reliabilitas. Di mana validitas itu berkaitan dengan apakah alat tersebut benar-benar mengukur apa yang kita ukur, sedangkan reliabilitas itu menyangkut konsistensi hasilnya jika digunakan lebih dari sekali. (Retnawari, 2016). Pentingnya penggunaan metode ilmiah yang tepat dalam penelitian juga sebagaimana diatur dalam Permendikbud Nomor 3 Tahun 2020 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi, (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 2020) disebutkan bahwa penelitian harus dilakukan secara sistematis dan dapat dipertanggungjawabkan, termasuk dalam penggunaan metode dan instrumen yang benar. Hal ini menunjukkan bahwasanya dengan memahami konsep dasar pengukuran dan skala bukan hanya hal teknis, akan tetapi juga bagian dari tanggung jawab ilmiah sebagai calon peneliti di bidang manajemen pendidikan. Berangkat dari permasalahan yang telah dipaparkan, kami berinisiatif untuk merumuskan kajian pustaka ini sebagai upaya memperdalam pemahaman mengenai konsep dasar pengukuran dan skala dalam penelitian manajemen pendidikan. Adapun tujuan penulisan artikel ini ditujukan untuk menggali pemahaman yang lebih dalam mengenai prinsip-prinsip dasar pengukuran serta jenis-jenis skala dan bentuk skala yang sering digunakan dalam penelitian manajemen pendidikan, dengan harapan dapat membantu seorang mahasiswa dalam menyusun instrumen dan menganalisis data dengan lebih tepat. METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah studi kepustakaan, yakni dengan mengkaji literatur berupa buku, jurnal akademik, artikel ilmiah, dan dokumen otoritatif yang membahas mengenai konsep dasar pengukuran dan skala dalam penelitian manajemen pendidikan. Sumber-sumber tersebut dipilih karena isinya dianggap relevan dan mendukung pembahasan yang ingin dikaji dalam tulisan ini. HASIL DAN PEMBAHASAN Konsep Dasar Pengukuran Measurement atau pengukuran adalah aktivitas yang bertujuan mengidentifikasi kualitas suatu hal dalam bentuk angka. Sebagai metode yang berbasis angka, pengukuran digunakan sebagai instrumen dalam kegiatan penilaian. Pengukuran merupakan bagian penting dalam metode ilmiah karena memungkikan pengumpulan data yang dapat dianalisis secara sistematis. Pengukuran adalah penggunaan angka-angka pada ciri-ciri sosial dan/atau psikologis nominal dari individu dan/atau kelompok menurut aturan tertentu yangn menghubungkan angka-angka tersebut dengan ciri-ciri disebutkan secara simbolik. Aturan-aturan untuk memberikan angka kepada berbagai objek untuk merepresentasikan atributnya dikenal sebagai pengukuran. (Hertina et al., 2024) Penelitian biasanya diawali dengan pemilihan topik yang masih bersifat umum, lalu difokuskan menjadi rumusan masalah atau pertanyaan penelitian yang lebih spesifik. Setelah itu, peneliti menyusun hipotesis sebagai jawaban sementara atas masalah tersebut. Sebelum hipotesis diuji, terdapat dua tahap pelaksanaan: pertama, mendefinisikan secara jelas variabel-variabel yang terdapat dalam hipotesis; kedua, menentukan metode atau teknik yang akan digunakan untuk mengukur variabel-variabel tersebut. Kedua langkah ini merupakan bagian dari proses pengukuran dalam penelitian. Proses pengukuran dalam penelitian bersifat deduktif, dimulai dari suatu konstruk, konsep, atau gagasan teoretis yang kemudian diterjemahkan ke dalam alat ukur agar dapat diamati secara empiris. Tahapan utama dalam proses ini mencakup konseptualisasi, yaitu penjabaran makna konsep, dan operasionalisasi, yaitu penentuan cara untuk mengukur konsep tersebut dalam praktik penelitian. Langkah pertama dalam pengukuran adalah melakukan konseptualisasi terhadap seluruh konsep dan variabel yang terkandung dalam hipotesis penelitian (conceptualization). Konseptualisasi berarti menyusun batasanbatasan konsep dalam bentuk penjelasan teoretis yang sistematis. Penjelasan konsep secara teoritis atau pada level yang abstrak dikenal sebagai definisi konseptual. Agar efektif, definisi harus disampaikan secara gamblang, tegas, dan tanpa kerancuan makna,(Arifin, 2014, hlm. 23) sebagai contoh definisi kepuasan kerja guru menurut studi Damayanti dan Ismiyati, di mana kepuasan kerja guru dipandang sebagai kondisi emosional yang positif yang dapat mempengaruhi kualitas kinerja mereka di sekolah. (Sari et al., 2024) Setelah peneliti merumuskan definisi konseptual, langkah selanjutnya adalah pelaksanaan operasionalisasi, meliputi saat peneliti mengembangkan definisi operasional dari konsep yang telah dipilih. Operasional diartikan sebagai makna suatu konsep melalui cara, prosedur, atau alat ukur tertentu yang dapat diterapkan secara empiris. Operasionalisasi ini diperlukan karena teori bersifat abstrak dan terdiri atas sejumlah asumsi, definisi, serta relasi Jurnal Ilmu Manajemen Dan Pendidikan Vol.02 No. 01 April-Juni 2025 566 Jurnal Ilmu Manajemen Dan Pendidikan Vol. 02 No. 01 Edisi April - Juni 2025 Hal.565-572 Journal homepage: https://jurnal.kopusindo.com/index.php/jimp/index E-ISSN : 3062-7788 Published by: ITTC INDONESIA antarvariabel yang belum dapat diobservasi secara langsung. Untuk itu, peneliti perlu menyusun prosedur konkret agar konsep tersebut dapat diukur secara empiris. Singkatnya, ukuran empiris menggambarkan pendekatan konkret yang diambil peneliti untuk mengukur suatu variabel, termasuk perangkat atau indikator yang dipakai untuk mengenali konsep tersebut di dunia nyata. Contohnya, O. D. Duncan merumuskan definisi operasional status sosial dengan menghubungkannya pada variabel seperti income (penghasilan) dan prestige (prestise). Demi memungkinkan observasi terhadap konsep tersebut secara empiris, Duncan menciptakan alat ukur berbentuk indeks yang terdiri dari beberapa komponen, yaitu pendidikan, penghasilan, dan prestise profesi. Indeks ini dimanfaatkan untuk menilai posisi sosial-ekonomi seseorang dan level prestise nya. Meski begitu, hasil dari pengukuran ini hanya dapat diterapkan pada populasi pria. Prinsip-Prinsip Dasar Pengukuran Pengukuran merupakan proses sistematis untuk mengkuantifikan atribut atau variabel penelitian dengan menggunakan instrumen dan terstandarisasi. Dalam konteks manajemen pendidikan, pengukuran memegang peran krusial karena berkaitan dengan penilaian kinerja, efektivitas program, dan kualitas pembelajaran. Adapun prinsip-prinsip dasar pengukuran sebagai berikut: (Kruglov & Succi, 2023, hlm. 5-6). 1. Kepekaan, yaitu kemampuan untuk mengukur variabilitas respons secara akurat. 2. Keabsahan, adalah kemampuan instrumen untuk mengukur apa yang ingin diukur. 3. Keandalan atau disebut reliabilitas yang mencerminkan tingkat dimana instrumen atau skala pengukuran dengan metode yang serupa diterapkan secara konsisten pada situasi dan subjek yang identik. Namun demikian, penerapan prinsip pengukuran dalam praktik manajemen pendidikan seringkali menghadapi kendala seperti keterbatasan sumber daya, bias persepsi responden, atau ketidaksesuaian instrumen dengan konteks lokal. Oleh karena itu, peneliti perlu melakukan validasi kontekstual terhadap alat ukur yang digunakan. Objek Pengukuran dalam Penelitian Manajemen Pendidikan Objek pengukuran dalam penelitian manajemen pendidikan mencakup beragam aspek yang menjadi pusat perhatian dalam menganalisis efektivitas dan efisiensi pengelolaan pendidikan pada tingkat kelembagaan maupun individual. Pengukuran ini dilakukan untuk menilai ketercapaian tujuan pendidikan, baik dari sisi proses manajerial maupun hasil keluaran pendidikan. Objek utama yang sering dijadikan fokus meliputi efektivitas kepemimpinan kepala sekolah, sistem perencanaan dan pelaksanaan program, pengelolaan kurikulum, strategi pengembangan tenaga pendidik dan kependidikan, serta manajemen keuangan dan sarana prasarana. (Suryana & Indriani, 2021). Selain itu, aspek lain yang juga sering dijadikan objek pengukuran adalah pengelolaan hubungan sekolah dengan masyarakat (public relations), budaya organisasi, serta mekanisme pengendalian mutu dari dalam institusi pendidikan. (Kurniawan, 2022). Kebijakan pendidikan di Indonesia kerap didasarkan pada delapan pilar Standar Nasional Pendidikan (SNP), seperti standar isi, proses pembelajaran, lulusan, pendidik dan tenaga kependidikan, fasilitas, manajemen, pembiayaan, dan sistem evaluasi pendidikan. (Syafi’I et al., 2023). Standar-standar ini menjadi tolak ukur untuk menilai kualitas dan performa institusi pendidikan secara menyeluruh. Sebagai contoh, standar pengelolaan digunakan untuk mengukur efektivitas perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan sekolah sebagai refleksi kapasitas manajerial yang dimiliki. (Kurniawan, 2022). Sementara itu, kepuasan peserta didik, keterlibatan orang tua, serta kinerja guru dan staf sekolah juga menjadi objek yang penting, karena secara langsung mempengaruhi pencapaian visi, misi, dan tujuan lembaga pendidikan. (Haris, 2022). Objek pengukuran dalam penelitian manajemen pendidikan tidak hanya terbatas pada hasil akhir seperti nilai atau akreditasi. Misalnya, pengukuran terhadap ketersediaan sarana-prasarana dan keterlibatan orang tua menjadi faktor krusial dalam menunjang kesuksesan jalannya pendidikan. Dengan demikian, identifikasi objek pengukuran yang tepat menjadi langkah awal yang krusial dalam proses evaluasi dan perbaikan bersama lembaga pendidikan berkelanjutan. Pengertian dan Jenis Skala Pengukuran Skala pengukuran merupakan proses menetapkan tingkat pada variabel sesuai tipe data yang dikandungnya, yang kemudian digunakan sebagai acuan dalam menentukan hasil penelitian. (Hertina et al., 2024, hlm. 67). Maka Skala pengukuran merupakan acuan untuk menetapkan besar kecilnya interval pada satuan alat ukur. Dengan demikian, penggunaan skala ini memungkinkan alat ukur menghasilkan data yang bersifat kuantitatif. (Sugiyono, 2022, hlm. 92). Begitu data kuantitatif dalam bentuk angka diperoleh dari proses pengukuran, langkah berikutnya adalah memilih metode analisis statistik yang tepat. (Janna, t.t., hlm. 3-4). Pengukuran data secara umum dilakukan melalui empat skala utama, yaitu nominal, ordinal, interval, dan rasio. Statistik mengkategorikan data Jurnal Ilmu Manajemen Dan Pendidikan Vol.02 No. 01 April-Juni 2025 567 Jurnal Ilmu Manajemen Dan Pendidikan Vol. 02 No. 01 Edisi April - Juni 2025 Hal.565-572 Journal homepage: https://jurnal.kopusindo.com/index.php/jimp/index E-ISSN : 3062-7788 Published by: ITTC INDONESIA skala nominal dan ordinal sebagai tipe data non-metrik atau analisis non-parametrik. Berikut penjelasan dari keempat macam skala, yaitu: (Danuri & Maisaroh, 2019, hlm. 114) 1. Skala Nominal Skala nominal mengklasifikasikan fenomena atau kejadian ke dalam beberapa kategori atau kelas yang berbeda. Unsur-unsur dalam satu kategori diasumsikan memiliki atribut atau ciri khas yang serupa. Kategori dalam skala nominal saling terpisah dan masing-masing memiliki nama sebagai pembeda antar kejadian. Tidak ada hierarki dalam kategori nominal, sehingga satu kategori tidak dianggap lebih unggul atau lebih rendah dari yang lain. (Nursalam, 2014, hlm. 21) Skala nominal ini adalah tingkat pengukuran paling sederhana yang didasarkan kesamaan atau perbedaan karakteristik tertentu. (Hertina et al., 2024, hlm. 67). Jenis skala ini juga diidentifikasi sebagai data klasifikasi atau data atributif. Skala nominal umumnya digunakan dalam kategori seperti warna, gender, atau pilihan jawaban sederhana seperti ya dan tidak. Dalam skala nominal, data dibedakan berdasarkan ciri atau sifat yang melekat secara fisik. Misalnya, data gender biasanya diklasifikasikan ke dalam dua kelompok: laki-laki dan perempuan, sedangkan warna bisa berupa merah, hijau, atau putih. Penggunaan angka dalam skala nominal, misalnya 1 bagi laki-laki dan 2 bagi perempuan, bersifat simbolik dan tidak menunjukkan besaran nilai apa pun. Pemberian angka tersebut semata-mata berfungsi sebagai label atau penanda kategori. Oleh karena itu, angka-angka pada skala nominal tidak dapat dikenakan operasi matematika, misalnya 1 + 2 tidak berarti 3. Penelitian yang menggunakan skala nominal pada dasarnya bukan merupakan proses pengukuran dalam arti mengukur besaran, melainkan lebih mengarah pada proses klasifikasi, pemberian nama kategori, serta perhitungan frekuensi dari objek yang sedang dikaji. Data yang dihasilkan dari skala nominal bersifat diskrit karena hanya menunjukkan kategori tanpa menyiratkan adanya urutan atau tingkatan. Dengan demikian, skala nominal berfungsi untuk membedakan satu jenis data dengan jenis data lainnya, tanpa menunjukkan perbedaan dalam hal besar kecil, tinggi rendah, atau nilai kuantitatif lainnya. (Nursalam, 2014, hlm. 21-22) 2. Skala Ordinal Data dengan skala ordinal yaitu data mengenai objek yang didapat melalui cara klasifikasi atau kategorisasi yang bersifat berjenjang (memiliki tingkatan). Skala ordinal memiliki kekuatan arti dalam urutannya yang berbeda dengan skala nominal dan dianggap memiliki tingkatan yang lebih tinggi dari data nominal (skala nominal). Angka-angka yang digunakan pada skala ordinal bukan nilai absolut namun hanya menentukan posisi dalam suatu urutan yang seri. Dan angka-angka tersebut tidak diberlakukan oprasi matematika (operasi pengurangan, penjumlahan, perkalian, dan pembagian). Angka-angka pada skala ordinal menunjukkan perbedaan tingkat dan tidak bisa diukur jarak antara tingkatan. Angka-angka pada skala ordinal juga tidak bisa dilakukan perhitungan rata-rata (mean) dan standar deviasi (standard deviation), namun dapat dilakukan uji statistik non-parametrik. Sehingga bisa dikatakan bahwa skala ordinal mencakup ciri yang ada pada skala nominal. (Hertina et al., 2024, hlm. 68-69). Skala ordinal berlandaskan pada asumsi bahwa nilai variabel bisa diurutkan menurut tingkat atribut atau ciriciri yang dimiliki oleh objek yang diamati. Apabila tingkat atau jumlah suatu atribut dapat teramati dengan jelas, maka skala ordinal dapat digunakan dalam pengukuran. Melalui skala ini, data dikelompokkan dalam bentuk urutan atau ranking, yang mencerminkan posisi relatif tiap kategori. Angka yang diberikan pada masing-masing taraf variabel berfungsi sebagai simbol yang merepresentasikan kelompok-kelompok terpisah namun memiliki urutan tertentu. Penerapan skala ordinal dalam praktiknya dapat diterapkan pada jenjang pendidikan maupun hierarki jabatan. Untuk tingkat pendidikan, jenjang seperti SD, SMP, SMA, dan Sarjana dapat diurutkan menurut levelnya. Dalam skala ordinal, angka menunjukkan posisi relatif objek, bukan ukuran sebenarnya. Sebagai ilustrasi, jenjang SD diberi angka 1, SMP angka 2, SMA angka 3, dan Sarjana angka 4. Skala ordinal juga bisa diterapkan pada ukuran, misalnya angka 1 menunjukkan kecil, 2 sedang, dan 3 besar. Data yang diukur menggunakan skala ordinal dikenal sebagai data ordinal, yaitu data yang memiliki peringkat namun tidak menunjukkan kesamaan jarak antara nilai satu dan lainnya. Dengan kata lain, skala ordinal menunjukkan adanya perbedaan antar data berdasarkan tingkat atau urutan tertentu, seperti besar–kecil, tinggi– rendah, atau baik–buruk. Skala ini tidak hanya membedakan jenis data, tetapi juga menggambarkan posisi relatif antar kategori berdasarkan atribut yang diukur. 3. Skala Interval Melalui skala interval, dapat diukur sejauh mana karakteristik individu terhadap suatu variabel ditentukan. Karena menggunakan satuan yang konsisten, skala interval mampu menunjukkan selisih antar angka yang memiliki jarak seragam. Skala interval mengukur objek dengan memberikan nilai angka berdasarkan langkah sistematis, sehingga perbedaan angka yang seragam merepresentasikan perbedaan atribut yang konsisten. Jurnal Ilmu Manajemen Dan Pendidikan Vol.02 No. 01 April-Juni 2025 568 Jurnal Ilmu Manajemen Dan Pendidikan Vol. 02 No. 01 Edisi April - Juni 2025 Hal.565-572 Journal homepage: https://jurnal.kopusindo.com/index.php/jimp/index E-ISSN : 3062-7788 Published by: ITTC INDONESIA Skala interval merupakan sistem pemberian angka terhadap sekumpulan objek yang tidak hanya memiliki karakteristik skala ordinal, tetapi juga dilengkapi dengan sifat tambahan berupa kesetaraan jarak antar satuan. Dalam skala ini, setiap selisih angka menunjukkan jarak yang sama atas karakteristik atau atribut dari objek yang sedang diukur. Salah satu karakteristik utama skala interval adalah memiliki tingkatan atau jarak antar nilai yang setara, namun tidak disertai dengan titik nol mutlak. Artinya, skala ini tidak harus dimulai dari angka nol. Contohnya, tingkat kepuasan bisa diukur menggunakan skala dari 1 sampai 10 tanpa dimulai dari angka nol. Karakteristik skala interval sering diasosiasikan dengan skala sikap dalam studi sosial, sehingga keduanya dianggap setara. Data interval adalah hasil dari pengukuran berskala interval, dengan representasi berupa angka bulat. Operasi matematis seperti tambah dan kurang bisa digunakan pada data interval karena nilai-nilainya bersifat kuantitatif. Namun, skala ini tidak menggunakan nol sebagai titik awal yang benar-benar menunjukkan ketiadaan. 4. Skala Rasio Skala rasio dianggap sebagai bentuk pengukuran paling canggih karena memiliki karakteristik unik yang tidak terdapat pada jenis skala lainnya. Skala rasio memperlihatkan level atribut suatu variabel dengan cara membandingkan nilai-nilainya secara langsung. Seperti halnya skala interval, skala rasio juga memiliki kesetaraan jarak antara nilai-nilainya. Namun, skala rasio memiliki keunggulan tambahan karena mencakup seluruh ciri skala interval sekaligus menambahkan satu sifat penting, yaitu adanya titik nol absolut. Artinya, skala ini tidak hanya menunjukkan perbedaan dan jarak antar nilai, tetapi juga memberikan informasi tentang nilai absolut dari objek yang diukur, (Nursalam, 2014, hlm. 22-24) yang dapat dilakukan operasi matematis (penjumlahan, pengurangan, pembagian, dan perkalian). Data dengan skala rasio ini terdiri dari rasio kontinyu dan rasio diskrit. Pengolahan data statistik untuk data kuantitatif berskala rasio dapat menggunakan uji statistik parametrik. (Hertina et al., 2024, hlm. 70). Sebagai ilustrasi, data seperti massa tubuh, tinggi seseorang, dan data serupa lainnya termasuk dalam kategori ini. (Nursalam, 2014, hlm. 24). Bentuk-Bentuk Skala Pengukuran dalam Manajemen Pendidikan Terdapat empat jenis bentuk skala pengukuran dalam penelitian manajemen pendidikan yang digunakan untuk mengumpulkan dan menganalisis data. Setiap skala memiliki karakteristik dan tujuan yang berbeda-beda, sehingga pemilihan nya sangat penting untuk memastikan akurasi dan relevansi hasil penelitian, berikut penjelasan terkait bentuk-bentuk skala pengukuran. (Sugiyono, 2022, hlm. 93-97). 1. Skala Likert Skala Likert dimanfaatkan untuk menilai sikap, opini, dan persepsi baik individu maupun kelompok terhadap fenomena sosial tertentu. Peneliti mengidentifikasi fenomena sosial tertentu sebagai variabel utama yang menjadi fokus penelitian. Skala Likert memungkinkan variabel yang diteliti dipecah menjadi beberapa indikator yang lebih spesifik. Item instrumen pengukuran, baik berupa pertanyaan Respons terhadap item skala Likert mencerminkan tingkatan sikap yang berbeda-beda, dari sangat mendukung hingga sangat menolak, yang ditampilkan dalam bentuk pilihan kata atau pernyataan, yaitu sebagai berikut: a. b. c. d. e. Sangat Setuju Setuju Ragu-Ragu Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju a. b. c. d. Selalu Sering Kadang-Kadang Tidak Pernah a. b. c. d. Sangat Positif Positif Negatif Sangat Negatif a. b. c. d. Sangat Baik Baik Tidak Baik Sangat Tidak Baik Proses analisis kuantitatif memungkinkan respons tersebut dapat dikonversi menjadi nilai skor untuk memudahkan pemrosesan data dan interpretasi hasil. Pemberian skor ini memungkinkan peneliti untuk mengkuantifikasi analisis respon dari partisipan, sehingga dapat dilakukan statistik yang lebih mendalam. Adapun pemberian skor pada skala Likert mengikuti kategori yang ditampilkan pada Tabel 1 berikut: No. Tabel 1. Kategori Skor Penilaian pada Skala Likert Pernyataan Jurnal Ilmu Manajemen Dan Pendidikan Vol.02 No. 01 April-Juni 2025 Skor 569 Jurnal Ilmu Manajemen Dan Pendidikan Vol. 02 No. 01 Edisi April - Juni 2025 Hal.565-572 Journal homepage: https://jurnal.kopusindo.com/index.php/jimp/index E-ISSN : 3062-7788 Published by: ITTC INDONESIA a. Setuju/selalu/sangat positif diberi skor 5 b. Setuju/sering/positif diberi skor 4 c. Ragu-ragu/kadang-kadang/netral diberi skor 3 d. Tidak setuju/hampir tidak pernah/negatif diberi skor 2 e. Sangat tidak setuju/tidak pernah diberi skor 1 2. Skala Guttman Skala ini dirancang untuk memberikan respons mutlak, seperti pilihan biner “ya atau tidak”, “benar atau salah”, dan sebagainya. Data yang dihasilkan tergolong data interval atau rasio yang bersifat dikotomis karena hanya memiliki dua opsi jawaban. Tidak seperti skala Likert yang memungkinkan variasi respons, skala Guttman membatasi jawaban hanya pada dua kategori: “setuju” dan “tidak setuju”. Peneliti biasanya menggunakan skala Guttman saat menginginkan jawaban yang tegas atas isu atau pertanyaan tertentu. Sebagai contoh, dalam konteks manajemen pendidikan, skala ini dapat diterapkan untuk mengidentifikasi apakah seorang guru pernah mengikuti pelatihan kepemimpinan atau memahami kebijakan pendidikan tertentu. 3. Semantic Differensial Jenis skala pengukuran yang dikenal dengan nama Semantic Differential dikembangkan oleh Osgood. Skala ini juga digunakan untuk mengukur sikap, namun tidak disajikan dalam bentuk pilihan ganda atau checklist. Instrumen skala ini disusun dalam bentuk garis kontinum, di mana jawaban dengan nilai “sangat positif” ditempatkan di salah satu ujung garis (biasanya sebelah kanan), sedangkan jawaban “sangat negatif” berada di ujung lainnya (biasanya sebelah kiri), atau sebaliknya tergantung desain instrumen. Data yang diperoleh dari skala Semantic Differential tergolong sebagai data interval. Umumnya, skala ini digunakan untuk mengukur sikap atau karakteristik tertentu yang dimiliki oleh individu. Contoh instrumen penilaian terhadap gaya kepemimpinan kepala sekolah ditampilkan pada Tabel 2, menggunakan skala Semantic Differential. Tabel 2, Skala Semantic Differential untuk menilai Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah Beri Nilai Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah Anda Bersahabat 5 ④ 3 2 1 Tidak bersahabat Tepat janji 5 4 ③ 2 1 Lupa janji Bersaudara 5 4 3 2 ① memusuhi Memberi pujian ⑤ 4 3 2 1 Mencela mempercayai 5 4 ③ 2 1 mendominasi Hasil dari skala ini, memberikan fleksibilitas kepada responden untuk menilai berdasarkan spektrum respons yang berkisar dari positif ke negatif. Respons yang dipilih sangat bergantung pada sudut pandang pribadi responden terhadap objek penilaian. Jika seorang responden memilih angka 5, hal tersebut menunjukkan bahwa persepsi nya terhadap pemimpin bersifat sangat positif. Sebaliknya, jika memberikan nilai 3, maka menunjukkan sikap netral. Sementara itu, pemberian nilai 1 mencerminkan persepsi yang sangat negatif terhadap pemimpin tersebut. 4. Rating Scale Rating scale dikenal sebagai sistem penilaian yang berbentuk hierarki dan dirancang secara sistematis. Data dari skala ini mungkin tidak terlalu detail, namun tetap berguna dalam menggambarkan kondisi suatu program atau seseorang. Instrumen ini relatif mudah digunakan untuk menggambarkan suatu penampilan, khususnya dalam konteks individu yang sedang menjalankan tugas, dengan menunjukkan seberapa sering karakteristik atau sifatsifat tertentu muncul selama proses pelaksanaan tugas tersebut. Penafsiran skala bertingkat memerlukan kehati-hatian, mengingat datanya bersifat umum dan kejujuran responden tidak selalu dapat dijamin. Menurut Bergman dan Siegel, terdapat sejumlah faktor yang dapat memengaruhi ketidakjujuran atau ketidakakuratan dalam jawaban responden, antara lain: (a) hubungan Jurnal Ilmu Manajemen Dan Pendidikan Vol.02 No. 01 April-Juni 2025 570 Jurnal Ilmu Manajemen Dan Pendidikan Vol. 02 No. 01 Edisi April - Juni 2025 Hal.565-572 Journal homepage: https://jurnal.kopusindo.com/index.php/jimp/index E-ISSN : 3062-7788 Published by: ITTC INDONESIA persahabatan yang memengaruhi objektivitas, (b) kecenderungan menebak dengan cepat, (c) pengambilan keputusan secara terburu-buru, (d) respons berdasarkan kesan pertama, (e) pengaruh dari tampilan instrumen itu sendiri, (f) prasangka pribadi, (g) halo effect yang menyebabkan penilaian tidak netral, (h) kesalahan dalam pengambilan nilai rata-rata, serta (i) sikap terlalu murah hati dalam memberikan penilaian. Saat menyusun skala, penting untuk menentukan variabel yang tepat. Pertanyaan yang diajukan sebaiknya menyangkut aspek-aspek yang benar-benar dapat dilihat atau diamati oleh responden. Sebagai ilustrasi, guru mungkin tidak mampu menjawab pertanyaan tentang waktu datang dan pulang kepala sekolah jika ia sendiri tiba terlambat dan pulang sebelum kepala sekolah. (Arikunto, 2013, hlm. 200-201) SIMPULAN Pengukuran merupakan kegiatan menetapkan angka pada suatu objek atau peristiwa sesuai dengan ketentuan tertentu untuk menggambarkan sifat atau kualitas atributnya. Dalam penelitian, pengukuran bersifat kuantitatif dan menjadi dasar metode ilmiah. Proses ini melibatkan dua tahap: pertama, konseptualisasi, yang memberikan definisi teoritis pada konsep atau variabel, seperti kepuasan kerja guru yang didefinisikan sebagai kondisi emosional positif yang memengaruhi kinerja. Kedua, operasionalisasi, yang menyusun definisi operasional berupa prosedur atau instrumen pengukuran, contohnya mengukur status sosial melalui penghasilan dan prestise. Ada tiga prinsip utama dalam pengukuran: kepekaan, yang merupakan kemampuan mengukur variabilitas respons secara akurat; keabsahan (validitas), yang mengharuskan instrumen untuk mengukur apa yang dimaksud; dan keandalan (reliabilitas), yang mencerminkan konsistensi hasil pengukuran jika diulang dalam kondisi yang sama. Objek pengukuran dalam penelitian manajemen pendidikan mencakup berbagai aspek, termasuk efektivitas kepemimpinan kepala sekolah, pengelolaan kurikulum, kinerja guru, dan manajemen keuangan. Di samping itu, proses pengukuran juga bisa merujuk pada delapan Standar Nasional Pendidikan (SNP), termasuk standar proses, manajemen, dan evaluasi. Terdapat empat jenis skala pengukuran: skala nominal, yang merupakan kategorisasi tanpa tingkatan seperti jenis kelamin; skala ordinal, yang memiliki urutan berjenjang seperti tingkat pendidikan; skala interval, ditandai dengan jarak yang konsisten antar nilai, namun tidak memiliki titik nol absolut; dan skala rasio, menggunakan nol absolut sebagai dasar dan mendukung berbagai perhitungan matematis. Skala Likert merupakan salah satu bentuk skala penelitian yang mengukur sikap melalui gradasi tingkat persetujuan, skala Guttman dengan jawaban dikotomi, skala semantic differential yang membentuk kontinum antara dua kutub berlawanan, serta rating scale yang mengukur frekuensi atau intensitas. Pemahaman tentang konsep pengukuran dan skala sangat penting untuk memastikan data yang valid dan reliabel, memilih teknik analisis statistik yang tepat, dan mendukung pengambilan keputusan berbasis bukti dalam manajemen pendidikan. Contoh aplikasi mencakup mengukur kepuasan guru dengan skala interval, mengkategorikan jenis kelamin responden dengan skala nominal, dan menilai efektivitas program menggunakan skala Likert. Dengan demikian, tulisan ini tidak hanya menjelaskan teori, tetapi juga memberikan pijakan awal bagi mahasiswa atau peneliti untuk menyusun instrumen yang valid dan relevan dengan kebutuhan riset manajemen pendidikan.. UCAPAN TERIMAKASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah memberikan dukungan selama penyusunan artikel ini, khususnya dalam bentuk masukan akademik dan referensi yang relevan. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada pengelola jurnal atas kesempatan publikasi yang diberikan. Semoga artikel ini dapat memberikan kontribusi ilmiah bagi pengembangan penelitian di bidang manajemen pendidikan. DAFTAR PUSTAKA Arifin, M. H. (2014). Pengantar Statistik Sosial. Universitas Terbuka, h. 23, dari https://core.ac.uk/outputs/198233667/?utm_source=pdf&utm_medium=banner&utm_campaign=pdf-decoration-v1 Arikunto, S. (2013). Prosedur Penellitian: Suatu Pendekatan Praktis. (Jakarta: Rineka Cipta), h.200-201 Danuri & Maisaroh, S. (2019), Metode penelitian pendidikan. Yogyakarta: Samudra Biru. Haris, E. I. (2022). Manajemen berbasis sekolah dan mutu pelayanan pendidikan, Jurnal Ilmiah Administrasi Publik, 8(1). https://doi.org/10.26858/jiap.v8i1.29542. Hertina, D., Sulasmi., & Taufik, M. Z., dkk. (2024) Buku Ajar Metode Penelitian Bisnis. Jambi: Sonpedia Publishing Indonesia, h. 66 Janna, N. M. Variabel dan Skala Pengukuran Statistik, h. 3-4 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. (2020). Permendikbud Nomor 3 Tahun 2020 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi. Jakarta: Kemdikbud. Kruglov, A., &Succi, G. (2023). Developing sustainable and energy-efficient software system. Swiss: Springer Switzerland AG, h. 5-6 Kurniawan, A. (2022). Kepemimpinan kepala sekolah dalam maningkatkan mutu pendidikan, Jurnal Kependidikan, 10(2). https://doi.org/10.24127/jk.v10i2.1786. Jurnal Ilmu Manajemen Dan Pendidikan Vol.02 No. 01 April-Juni 2025 571 Jurnal Ilmu Manajemen Dan Pendidikan Vol. 02 No. 01 Edisi April - Juni 2025 Hal.565-572 Journal homepage: https://jurnal.kopusindo.com/index.php/jimp/index E-ISSN : 3062-7788 Published by: ITTC INDONESIA Nursalam. (2014). STATISTIK DAN PENGUKURAN UNTUK GURU DAN DOSEN Teori dan Aplikasi dalam Bidang Pendidikan. Makassar: Alauddin University Press. Retnawati, H. (2016). Statistik untuk penelitian pendidikan. Yogyakarta: Parama Publishing. Saniah, L. (2022). Statistik Deskriptif. Bandung: Alfabeta. Sari, R., Fauzan, A., & Bedi, F. (2024). Faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja guru. JIWP: Jurnal Ilmiah Wawasan Pendidikan, 10(18). https://doi.org/10.5281/zenodo.13983581. Sugiyono. (2022) Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta. Suryana, R. R., & Indriani, A. (2021). Manajemen Pendidikan: Teori dan Aplikasi di Sekolah. Yogyakarta: Deepublish. Syafi’I, A., Bahar, B., Shobicah, S., & Muharam, A. (2023). Pengukuran indeks mutu pendidikan berbasis standar nasional, Jurnal Multidisiplin Indonesia, 2(7). https://doi.org/10.58344/jmi.v2i7.332. Jurnal Ilmu Manajemen Dan Pendidikan Vol.02 No. 01 April-Juni 2025 572