,KAA \J BPAD SUL-SEL .07 VI S t l l N U N U M I IS II I S ANTI MONOPOLI [ M a.j •I S t ll H U II U M I IS N IS AN T-l MONOPOLI ' AHMAD YANI & GUNAW..N WIDJAJA 1 1 \ \\\\\\ \I\\\\\ \I\111 \I\I\ I • O 2 2 0 1 2 0 0 5 0 4 • ITEM ro NO. CCLAS!r-ltctlSJ manaJemen PT RajaGrafindo Persada JAKARTA (. � I ' I Perpustakaan Nasional: katalog dalam terbitan ( KDT) WIJA YA, Gunawan Seri hukum bisnis: Anti mpnopoli/Gunawan Widjaja, Ahmad Yani.-Ed. 1., Cet. 3.-Jakarta:'PT RajaGrafindo Persada, 2002. t x, 164 him.; 21 cm (Seri Hukum Bisnis) Bibliografi: him. 89 ISBN 979-421-743-3 • ,, • l. Monopoli-Aspek hukum II. Yani, Ahmad III. Seri Hak cipta 1999, pada penulis Dilarang mengutip.sebagian atau·seluruh-isi buk u m1 dengan cara apa,pun, termasuk deng'an ·cara penggunaan meSiI]�(otokopi� ,tanp'aiizin sah dari penerbit • • • -""1'" • A • • -., Cetakan pertama, Nove��er �999 Cetakan kedua, Novrmt>er �000 Cetakan ketiga,-Me. '2tia2 · , (��.. · I.·' 99.0609 RAJ Gunawan Widjaja •&•Ahnia·d' 'Yani , I 1MONOPOLI SERI HUKUM RISNIS: ANTI . . Hak penerbitan pada PT R'ajaGrafindo Persada, Jakarta ' Desain Cover oleh Yoehan Dicetak di Fajar Interpratama Offset PT RajaGrafindo Persada JI. Pelepah Hijau IV TN I. No. 14-15 Kelapa Gading Permai Jakarta 14240 Tel/Fax 4520951-4529409 [email protected] E-mail Http //www.rajawalipers.tom' '_' r ' , . , I ,' • � f. I. Judul. 343.072 V KATA PENGANTAR I' I l I I I 1J , Pertama-tama penulis panjatkan Puji Syukur kehadapan Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmatNyalah Buku Seri Hukum Bisnis Hukum tentang Anti Monopoli ini dapat diselesaikan pada waktunya. Buku Seri Hukum Bisinis-Hukum tentangAnti Monopoli ini, sesuai dengan judulnya merupakan rangkaian Buku Seri Hukum Bisnis, yang akan diterbitkan secara bertahap. Buku Seri Hukum Bisnis dan khususnya Hukum tentaf)gAnti Monopoli ini diharapkan dapat mengisi kekosongan pustaka buku-buku hukum bisnis sekarang ini. Buku ini tidak hanya.•ditujukan pada para' mahasiswa yang ingin mendalami hukum-hukum tentang kegiatan ekonomi, dengan kekhususan dalam kegiatan anti trust dan anti monopoli, melainkan juga bagi para pengaja'r yang 'memerlukan bahan bacaan khusus dalam bidang anti monopoli, serta kalangan pra�tisi hukum dan pelaku usaha ekonomi yang memerlukan pemahaman lebih lanjut mengenai berbagai aspek-aspek yuridis dari kegiatan usaha yang dilakukan oleh mereka. Dengan ditetapkan dan diundangkannya Undang-undang No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat berarti telah menambah lagi satu perbendaharaan Undang­ undang yang sudah cukup lama ditunggu-tunggu oleh kalangan usahawan, maupun mereka yang ingin menjalankan kegiatan usahanya di negara Republik Indonesia tercinta ini. Undang-undang yang baru VI Seri /-lulwm /Ji.mis: Anti Mo11ojJoli akan herlaku satu tahun kemudian, atau dalam milenium ketiga ini, diharapkan tidak hanya akan menjadi un.dang-undang di atas kertas saja, melainkan diharapkan akan dapat turut meningkatkan peran serta Indonesia dalam menyukseskan program World Trade Organization (WTO) yang telah disepakati dan dicanangkan secara universal di awal tahun 2000 nanti. S�tu hal yang juga perlu disadari adalah bahwa Unclang-unclang tersebut nantinya jangan hanya dapat dimanfaatkan oleh golongan yang secara ekonomis "lebih kuat" atau "superior", melainkan diharapkan dapat berperan sebagai penyeimbang lajunya "konglomerasi" dan makin "berjayanya kegiatan asing" di Indonesia. Tentunya Undang-undang inipun tidak dih'arapkan untuk berjalan sendiri, melainkan juga 'harus ,di"harmonisasikan" dengan ·berbagai aturan clan ketentuan ·peraturan perundang-unaangan ·lainnya yang berlaku saat ini, sehingga dapat tercapai, sir;rgi ya�g ,maksimal bagi terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur bagi seluruh rakyat Indonesia. Akhir.kata, kami, para penulis, berharap agar buku ini dapat menjadi sumbangan yang berharga bagi khazanah clan perkembangan kegiatan dunia usaha dan kepastian hukum di negara kita tercinta ini. Jakarta, 8 Juli 1999 1 ,. , l o Gunawan Widjaja & Ahmad Yani VII l :, l DAFTAR·JSJ r • 1 I I If { I I I j' ll I ,· ) I/ • I{ ,· A KATA PENGANTAR_ · ,t ' , I ' BAB I PENDAHULUAN BABII BERBAGAIPENGERTIAN T ENTANG MONOPOLI DAN1PERSAINGAN,USAHATIDAK'SEHAT,1' 17 19 PEJUANJIAN-PEJUANJIAN YANG DIIARANG 21 - 'Pengertian Perjanjian - Perjanjian yang Dilarang 21 23 KEGIATAN-KEGIATAN YANG DILARANG - Perbuatan 'Huku'm Sepihak I f i II l I - Kegiatan yang Dilarang 31 31 31 ' BABIV 11 - Pelaku Usaha - Konsumen - Pr6duk Harang dan Jasa ' - Pengertian Monopoli 1 • - Proses Monopolisasi ' - Praktek Monopoli dari 'Persaingan Usa�a Tidak Sehat - Berbagai larangan 1 BAB III 11 I I 12 12 12 14 �Ill Seri Hukum Bi.'illis: Anti Mo11upoli BAB V BAB VI POSISI DOMINAN DAN HUBUNGAN TERAFILIASI 37 KOMISI PENGAWAS PE�S��JJ� ,P.�� (Iµ>PU) 53 53 54 57 59 - Penguasaan Pangsa Pasar Secara Dominan 37 - Posisi Dominan 37 - Kepemilikan Terafiliasi 38 - Kegiatan yang DiJarang Bagi Mereka yang Memiliki Posisi Dominan 39 -. Kepengurusan Terafiliasi 40 - Kegiatan Penggabungan, Peleburan dan Pengambilalihan 41 - Merger, Konsolidasi dan Akuisisi 42 ·• • � - Merger, Konsolidasi dan Akuisisi Menµrui /i 1;· J �· Ketentuan Undang-Undang No,; · � ya1h�? A��?1, . 44 tentang Perseroan Terbatas . 47 - The Clayton,Act - Penilaia.n·atas Proses -Penggabungan; Peleburan 51 dan Pengambilalihan . , , , 1,. - 1 - Gambaran Umum , , ,, , · . - Tugas dan Wewenang �rJl 1J(jl)(, ,; ,' . ,, , - Ta� ,�a�� fi<r.n�,ng�naq 1�eFk�rf. 9A�P. �fll. - Alat-alat Bukti 1 •f ) I 1 ,l BAB VII SANKSI-SANKSI ( - Pengantai: , .1 . , - Macam-macam Sanksi ��- , , , •l _. ,Bi,��r��. n r��F· R�P.f1� , ,,·d 1(ll.jf11'1n 1 BAB VIII CONTOH-CONTOH KASUS ( qn1;,''I - Berhubungan de gan Sherman Act j . . > , .• � ClaY,tof\ Act - Berhubungan dengan ,.,lg"< , Ill fl 'Jl.11.ll:),1 - Yang Berhubungan oec7g�� �q��nson ��tIJlan Act j: I,. ' 78 Daf!ar /Ji BAB IX IX PENUTUP 83 DAFfAR PUSTAKA 89 LAMPIRAN 91 ♦ PENDAHULUAN · Dunia usaha merupakan suatu dunia yang boleh dikatakan tidak dapat, be�diri sendiri. .�a�yak aspek dar,i berbagai macam qunia l�jnnya turut terlibat baik.langsung maupun tidak langsung dengan dunia usaha ini. Ket�rkaitan tersebut kadangkala tidak. memberikan prioritas atas I . l.; usaha, yang pada akhirnya membuat dunia usaha harus tunduk dunia I , ' ' I I dan mengikuti rarubu-rambu, yang ada dan seringkali bahkan mengutamakan dunia usaha sehingga mengabaikan aturan-aturan' yang telah . . ada., I J ·.Negara rnemang,tidak'dapat betjalan dan maju tanpa adanya dunia usaha yang perkembang secara pesat dan efisien. Namun efisiensi bukanlah suatu perkataan yang sederhana dan muluk.1 Banyak makna terkandung didalamnya. )Makna-mak'na tersehut tidak lain adalah penjabaran dari herbagai macam rainhu-ramhu, haik yang terhentuk sebagai suatu aturan main perundang-undangan maupun hanya dalam bentuk-bentuk 1'kode etik"." "Pesatnya perkembangan dunia usaha adakalanya tidak diimhangi ' ' I I I I • dengan "penciptaari" ranibu-rambu' pengawas.1 Dunia usaha yang berkembang terlalu pesat sehingga meninggalkan rambu-rambu yang ada jelas tidak akan' menguntungkan pada akhirnya. Seri H1d•1t111 Uis11is: A11ti .lf<mojJoli 2 Pada tanggal 5 Maret 1999 oleh Pemcrintah Rcpuhlik Indonesia,, sctelah melalui scrangkaian perdehatan yang cukup sengit di Dew,m Pcrwakilan Rakyat, akhirnya mengeluarkan suatu perntunm pcrundang­ undangan tentang Larangan Praktek Monopoli dan Pcrsaingan Usaha Tidak Sehat, dalam suatu Und,ing-undang, yaitu Unclang-uncla ng No. 5 tahun 1999. 1 Meskipun Undang-undang No. 5 tahun 1999 ini masih baru, dan hanya.,akan efektif berlaku pacla tanggal 5 Maret 2000, monopoli telah memherikan suatu kesan makna bagi masyarakat luas, yang secara "konotatif' tidak baik dan merugikan kepentingan orang banyak. Banyaknya persepsi yang ada, tidak hanya di kalangan masyarakat awam, melainkan juga di kalangan dunia usaha telah memhuat makna m0nopoli1kadang kala b�rgese1;,dari p,engertiannya s.emula. / Jika kita menyebut 1 kdta ,,:mo'ndpoli'' terb'aykrig 'dalam benak'kita I adanya seseorang' 'atau' sekeloriip'ok' drang yang' menguasa·i s�at'u' 1 1 nidang terterltu·secata mutlak tahp a ineninerikari kesempatan kepada orang' lain1 un't�k il<ut din.oil bagianYDen�ari memohop 6li suatu bidang, befarti terbuka 'kesempatah' untlik1 lmeHge'ruk' 1keuntu'ngaJ 1 yang sebesar-besarnya 8agi1·�epe'ntingan' Rantdng I se'n'd'iri. J'l)j' 'sln'i monopoli diartikan sebagai kekuasaan untuk menentukan harg( kualitas dan ·kuantitas suatu produ� yang,9itawarkan kepada ma,syarakat. Masyarakatitidak'pernah diberi kesempatan untuk menentu�an pilihan, baik mengenai harga; mutu,,,dan1jumlah. Kalau,1mau silahkan ,'J dan kalau tidak mau tidak .ada pil,i,ban dain.1 Hal ,tersebut di atas telah menimbulkan citra yang kurang baik yang dikaitk�n .dengan keserakahan pihak1tertentu fang memonopoli, suatu ,hidang.•,Juga menimbµlkan ketidaksenangan banyak orang di mana�mana. Mereka yang menentang. adanya praktek monopoli biasanya. termasuk1 orang kehanvakap1 dan 1 1 i•'I, ,, , ,1 ·tr/ !111}1 /J' •f '11f')' ;11' 1' (/ 1 •• 1 I 1 senngkali posisi mereka . a engan ticlak adanya lemah, yang iaentik II • • f', 1 r'I .'•• ', 1 1'1 1.·[),,r, ,·,, I IJ kekuasaan yang mere�a m1ltk1. 1 I I l 1 1 1 ii II 1 ,1 • , • • • 11 Jika b½rbicara mengenai monopoH,, kita tidak ldapat melepas Pe111111daa11 Kc1l'ajiba11 Pe111bayara11 lllcmg 3 perhatian kita dcngan gejala herkcmbangnya konglomerasi yang hanyak menimhulkan reaksi dari kalangan masyarnkat dan para ahli. Pendapat mereka pun tidak selamanya sama. Apalagi pendapat itu dilandasi adanya keinginan untuk mempertahankan kepentingan, yaitu posisi dan kedudukan yang telah diperoleh. Dalih dan argu­ mentasi pun meluncur dari mulut mereka dengan memherikan dalih dan aksioma. Pemhenaran dilakukan untuk memperkuatnya menjadi teori. Kekuasaan digunakan untuk melegitimasinya. Suara sumbang mengenai monopoli memang banyak terdengar. Adanya kelompok tertentu yang memonopoli suatu bidang atau produk·tertentu mulai menjangkiti dan mewabah di Indonesia. Sebagai bentuk penguasaan pangsa pasar atas produk tertentu, monopoJi bukan saja dapat menarik keuntungan sebesar-besarnya tetapi dapat mengganggu sistem dan mekanisme perekonomian yang sedang betjalan sebagai akibat distrosi ekonomi yang ditaburkannya 1 seiring dengan semakin besarnya penguasaan atas pangsa pasar clan produk tertentu. Sebuah atau beberapa perusahaan yang memonopoli produk tertentu dapat menentukan harga suatu produk sesuka hatinya, karena mekanisme pasar sudah tidak berjalan Iagi. Apalagi produk yang dimonopoli itu merupakan kebu tuhan primer. Dapat dipastikan mereka akan mengeruk keuntungan yang sebesar-besarnya. Masya­ rakat tidak ada pilihan lain kecuali membell produk monopoli itu., 1 1 Monopoli dapat terjadi dalam setiap sistem ekonoml. Dalam sistem ekonomi kapitalisme dan liberallsme, dengan instrumen adanya kebebasan pasar, kebebasan keluar masuk tanpa restriksi, serta infor­ masi dan bentuk pasarnya yang atomistik monopolistik telah melahlr­ kan monopoli sebagai anak kandungnya., Adanya persaingan tersebut mengakibatkan lahirnya perusahaan-perusahaan yang secara nalurlah lngin mengalahkan pesaing-pesaingnya agar menjadi yang paling besar, paling hebat, dan paling kaya. -t Seri Huh11111 /Ji.m is: A111;•,\, /0110Jmli ,, Dalam sistem ekonomi sosialisme clan komunisme, monopoli j uga terjadi 1 dengan hen tuk .yang khas . Dengan nilai instrumental pcrencanaan ekonomi yang- sentralistik mekanistik clan pemilikan faktor p roduksi secara kolektif, segalanya dimonopoli -negara clan cliatur dari pusat. / ' 1 ; Sedangkan, di Indonesia dengah sistein el<onomi Pancasila, kita · , · , r, • ,l r I mencoba menghilariglfan · ciri-ciri 11egatif yang .te'rkandung dalam sistem liberalisme d�n"-�b!i�Usmg:,ciri!ciri nJgatlf seperti free fight Ii' heralism, yang 1merrihenarkah. eksploitasi t�rhadap ,manu�iai �tatisme di mana ·negara.'beserta aparatur . ekrn; omi · negara bers_i fat dominan serta mendesak·dan ,meminimumkan potensi 1dan· daya kreasi unit ekonomi di luar sektor negara; dan pemusatan ekonorri· p�da salah satu kelompok dalam bentuk monopoli- yang merugikan'masyarakat. i , I 1 ,1 J ,, • 1 1 , • , , , , , , 1 Dalam pasal '33 . Undang-Undarig dasar)945 dapat kita lihat ciri­ ciri positir' yang 'kita 'tapai · dan pertahankan dalam �is tern hendak · ' , , 1 ,• � 11 1n , perekonomian kita. Perekonorriian disusun sebagai usaha bersa ma atas asas kekeluargaan. Cabang produksi yang penting bagi nega ra dan ·mengenai hajat hidup orang ·banyak dikuasai oleh negara serta bumi dan air beserta kekayaan alam yang terkandung di dalamnya digunakan sebesar-nesarnya untuk kemakmuran rakyat. Jadi seca ra implisit, UUD 1945 juga •�engakui .adanya bentuk monopoli berupa penguasaan sektor-sektor _yang menguasai hajat hidup orang banyak. Ini terealisasi ·daii penguasaan yang dilaku kan 6leh badan u saha milik negar,a, _atas, bidang tertentu ., ¥isalnya PLN me?guasai listrik, Pertamina Il}emonopoli minya� dan gas bumi, PT Kereta Api menguasai perkeretaapian, dan seqagainya. I ' I Sebagai suatu kenyataan kita memang tidak dapat menghindar­ kan diri dari praktek monopoli yang. sekarang ada di sekitar kita. Monopoli sudah · merupakan suatu konsekuensi, logis atas pemilihan sistem-sistem ekonomi yang ada. Kemunculannya pun dapat terjadi dalam berbagai bentuk dan cara. Pc11wulam1 Keu ajlba11 Pembc�1'arc111 f 1ta11g 5 la dapat te1;acli karena memang dikehcndaki oleh hukum, sehingga timhullah apa yang disehut sehagai monopo(v �v law. UUD 1945 pasal 33 juga membenarkan adanya monopoli jenis ini, yaitu dengan memheri monopoli hagi negara untuk menguasai humi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya serta cabang-cabang produksi yang menguasai hajat hidup orang banyak. 1 Dengan demikian menurut UUD 1945, sektor yang menguasai hajat hidup orang hanyak seperti perlistrikan, air minum, kereta api clan sektor-sektor lain yang karena sifatnya yang memheri pelayanan untuk masyarakat dilegitimasi untuk dimonopoli dan tidak diharam­ kan. Sayangnya masih banyak pihak yang menyalahartikan maksud mulia yang dikandung UUD 1945 kita, seperti asas kekeluargaan ditafsirkan sebagai "keluarga" sendiri. Sehingga sering kita lihat pada suatu instansi atau perusahaan hanya kerabat mereka saja yang dilibatkan. Pemberian hak-hak istimewa dan eksklusif atas penemuan baru, bai k, yang berasal dari hak cip�, hak paten, merk dagang, dan lain-lain juga merupakan bentuk monopoli yang dikakui oleh undang-undang. Kedua adalah monopoly by nature, yaitu monopoli yang lahir dan tumbuh secara alamiah karena didukung oleh iklim dan lingkungan yang cocok. Kita dapat melihat bentuk monopoli seperti ini yaitu tum­ buhnya perusahaan-perusahaan yang karena memiliki keunggulan dan kekuatan tertentu dapat menjadi raksasa bisnis yang menguasai seluruh pangsa pasar yang ada. Mereka menjadi besar karena memiliki sifat­ sifat yang cocok dengan tempat di mana mereka tumbuh. Selain itu karena berasal dan didukung bibit yang unggul serta memiliki faktor-faktor yang dominan. / 1 , Bentuk monopoli yang ketiga adalah monopoly by license. Monopoli ini diperoleh melalui lisensi dengan menggunakan meka­ nisme kekuasaan. Monopoli jenis inilah yang sering menimbulkan distorsi ekonomi karena kehadirannya mengganggu keseimbangan 6 Seri Hui.mm Bi.m is: Anti .\/011upuli (equilibrium) pasar yang seclang herjalan clttn hergcser kearah yang diingini oleh pihak yang memiliki monopoli tcrschut. , Dalam praktcknya monopoli akan menguasai pangsa pasar secara mutlak sehingga pihak-pihak lain ticlak memilil<i kesem pata n untu k herperan se1ta. Dengan herlakunya hukum alam survival of the fittest monopoli akan selalu ada dan muncul. Kita tidak dapat m enghilangkannya dan hanya dapat mengeliminir pengaruhnya. Di sisi lain adanya perusahaan-perusahaan. yang besar juga mempunyai e fek yang positif terhadap pertumbuhan ekonomi dan pembangunan. Yang harus kita lakukan adalah bagairrtana mengatur yang besar i ni agar tidak berbuat semena-mena dan main caplok sana sini. , Adanya Undang-undang tentang Larangan dan Praktek Monopoli clan Persaingan Usaha Tidak Sehat merupakan rambu-rambu dan batasan · dalam mengakses "kue" pembangunan sehingga si besar tidak dengan seenaknya mengamb.i l bagian si kecil. Batas-batas yang jelas akan merupakan pagar agar salah satu pihak melihat pihak lain bukan sebagai saingan tapi sebagai mitra untuk beketja sama . ., .Sebelumnya usaha-usaha kearah i tu sudah dilakukan pemerintah. Misalnya menganj urkan sistem Bapak Angkat. Perusahaan-perusahaan yang besar dianjurkan untuk menjadi "bapak" dan mendidik anak­ anaknya agar menjadi besar dan berguna bagi nusa dan bangsa. Konsep ini tampaknya cukup ideal bila semua pihak terpanggil untuk menjadi seorang bapak. Namun sayangnya tidak semua perusahaan yang besar mau menjadi bapak dan mengasuh seorang anak untuk diasuh. Jika sudah menjadi bapak banyak juga yang belum benar­ henar m enjadi seorang bapa k yang baik ka rena mereka m as i h mengharapkan sesuatu dari anak-anaknya. , Selanju tnya pemerintah juga pernah menganjurkan agar peru­ sahaan konglomerat mengalihkan sebagian kecil sahamnya kepada koperasi. Maksudnya juga agar jurang antara yang besar dan yang kecil tidak terlalu jauh dan si kecil tidak terlalu dikucilkan. Pe111111daa11 Kewajibc111 Pe111b{�1•ara11 l r1a11g 7 Semua di atas tampaknya kurang efektif karena lehih hersifat anjtiran dan harapan., Padahal pembagian clan pemerataan kue pemhangunan adalah hal ya ng mendesak untuk cl ilaksanakan. Pada langkah herikutnya pemerintah, mengeluarkan Undang-Undang No. 9 Tahun 1995 ten tang Usaha Kecil. � 1Sehagai hahan perhan_d ingan kita dapat menimha pengalaman dari negara-negara lain. Sebagian dari mereka mengantisipasi praktek monopoli ini dengan mengeluarkan Undang-undang yang diharapkan dapat mencegah m onopoli. Amerika Serikat m isal n ya telah mengeluarkan The Sherman Antitrust Act, 1890, The Clayton Antitrust Act, 1914, Robinson Patman Act, 1936, Celler-Kefauver Act, 1950 dan The Federal Trade Comission Act, 1914. Di Jerman telah ada Undang-undang tentang Unfair Competition sejak tahun 1909. Di � Philipina, ada satu chapter khusus ten tang Frauds in Commerce & Trade pada Penal Code nya yang direvisi pada tahun 1930, dengan Act Nomor 3815. 1 Tidak dapat dipungkiri bahwa selama beberapa dekade bela­ kangan ini, negara kita telah mencatat banyak kemajuan yang cukup berarti dalam pembangunan ekonomi . Semua itu tidak terlepas dari dorongan dan pengaruh berbagai kebijakan ekonomi dan hukum yang dikeluarkan. Tetapi pertumbuhan ekonomi yang tinggi saja tidak cukup. Perlu ada pemerataan hasil-hasil pembangunan ekonomi yang telah diperoleh tersebut agar tidak tetjadi ketimpangan dan kepin­ cangan serta kecemburuan sosial di dalam masyarakat. Antara penguasa dan pengusaha dapat melahirkan hubungan yang merugikan masya­ rakat banyak dan menimbulkan kecenderungan monopolistik karena pengusaha diberi berbagai fasilitas oleh penguasa. Pengusaha yang dekat dengan penguasa akan mendapatkan berbagai kemudahan yang berlebihan sehingga berdampak pada kesenjangan sosial yang pada gilirannya memunculkan konglomerasi dan sekelompok kecil pengusaha kuat yang tidak didukung oleh semangat kewirausaha­ wan sejati. H Seri Hukum /Ji.mis: A11ti Mu11uj1oli Di sinilah peran hukum dapat climunculkan untuk menghil ang. kan distorsi ekonomi sehagai akih,it persaingan usaha tidak seha t. Dengan demikian kita dapat mencermati clan menata kebali clunia usaha di Indonesia agar dapat tumbuh serta berkemhang secara sehat dan benar, sehingga dapat menghindarkan pemusatan kekuat�n .ekopQm i pada perorangan clan kelompok tertentu clan pada akhirnya ter�ipta iklim persaingan usaha yang sehat. ·. Hal-ha! tersebut di atas dapat m erupakan alasan mengap a Undang-undang Larangan Praktek Monop_q li dan Persaingan Usaha Tidak Sehat perlu ada. Undang-undang tersebut dimaksudkan_ untuk menegakkan aturan hukum dan memberikan perlindungan yang sama bagi setiap pelaku usaha sehingga memberikan jaminan kepastian hukum untuk Iebih mendorong percepatan pembangunan ekonomi dalam u paya meningkatkan kesejahteraan umum, serta sebagai implementasi dari semangat dan jiwa Undang-Undang Dasar 1945. Lahirnya Undang-undang ten tang Larangan Praktek Monopoli clan Persaingan Usaha Tidak Sehat ini telah melahirkan berbagai macam perdebatan seru di kalangan dunia usaha mengenai pelaksanaan Undang-undang ini, dengan berbagai macam penafsirannya. Memang bukanlah suatu peketjaan yang mudah untuk melaku­ kan "social engineering" terhadap suatu hal yang ''barn" bagi masyarakat pada umumnya dan "dunia usaha" pada khususnya. Masa saiu tahun yang diberikan oleh pembuat Undang-undang oleh beberapa pihak masih dirasakan tidak cukup untuk "menciptakan kesadaran" akan eksisterisi dan (mungkin) "penibahan kultur",' baik dalam melaksana­ kan kegiatan usahanya bagi kalangan dunia usaha, maupun dalam rangka "social awareness" masyarakat luas. , Buku ini boleh dikatakan merupakan rangkuman dari berbagai tulisan lepas penulis yang pernah dimuat di Business News dari tahun 1993 hingga tahun 1999 yang berhubungan dan berkaitan dengan masalah monopoli. Pembahasan mengenai Hukum tentang ,· Pe11111ulam1 Keu•ctjiban Pe111bayara11 l 1ta11g 9 :1 rangan Praktek Mon � poli ini·akan dilakukan ,clengan mengacu pada okok-pokok materi 1 ng diatur dalam Undang-undang No. 5 tahun 999 tentang Laranga)1 Praktek Monopolt dan Persaingan Usaha Tidak 1 , ehat. I .. _, � P�mbahasyri dalam buku ini diawali dengan memperkenalkan stilah rnonopoli dan persaingan usaha tidak sehat, dengan segala )engertian dan definisinya yang diakui secara um urn, , maupun yang :elah digariskan dalam Undang-undang. Sampai seberapa jauh suatu �e�da�n d�P,�i - ' d i�nggap . te,ah rp encapai tingk,at monopoli atau ·' berpotensi" untuk mencip�kan suatu P,ersaingan usaha tidak sehat. I ,, 11 I ' I ' , , ' I I, I ' • , t Pembah�san selanjutnya akan ·diikqti dengan analisis mengenai berbagai macam . perjanjian dan kegiatan yang dilarang dalam Undang­ undang. Mengapa perjanjian dan/. ataq · kegiatan tersebut dilarang oleh Undang-undang. Apa yang dasarjdan titik tolak dari pelarangan tersebut. Ap� yang akan dapat terjadi jika larangan tersebut tidak dijalankan s�bagai mana'mestinya. .. Set_elah itu akan disinggung berbagai hal yang berhubungan dengan "posisi dominan". Apa yang dimaksud dengan posisi dominan. Baga_i mana akibatnya jika suatu posisi dominan telah terbentuk. Me ngapa hal tersebut dianggap d�at berpotensi menciptakan monopoli dan- persaingan usaha tidak sehat. Langkah-langkah apa yang .dapat dilakukali untuk mencegah terjadinya posisi dominan tersebut. Setelah itu, dalam buku ini juga akan dibahas hal-hal yang berhubungan dengan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), yang diatur secara khusus dalam Bab VI yang terdiri dari 8 pasal mulai dari pasal 30 sampai dengan pasal 37. Di sini akan kita lihat KPPU sebagai suatu komisi independen yang khusus dibentuk untuk mengawasi jalannya pelaksanaan Undang-undang, dengan segala peran , tugas, wewenang dan tanggung jawab tersendi�i, termasuk ju ga kewenangan untuk menangani berbagai perselisihan yang ( Seri f-111lm111 /Us11is: Allli "101 10/Jo/i lO timbul sch uhungan dengan pelaksanaan Undang-undang tersehut•. Pcmhahasan juga akan dilanjutkan dengan uraian mengenai penye­ lesaian perselisihan yang tidak dapat cliselesaikan secara tuntas secara musyawarah maupun melalui KPPU. Pada akhir uraian buku ini akan clibahas sanks-sanksi' yang dapat dikenakan oleh Undang-undang terhaclap setiap pelanggar keteniuan Undang-undang ini. Dalam Buku ini penulis coba sampaikan secara singkat berbagai macam kasus yang pernah ada clan telah diputuskan oleh Peradilan di Amerika Serikat 'yang berhubungan dengan masalah monopoli dan persaingan usaha tidak sehat.' Pembahasan' ini sedikit• banyak juga dihubuhgkan ·dengan keterituan · p·erundang-undangan yang'berlaku di negara Amerika •Serikat1 -' khususnya ,Sherman Act, Clayton Act, Robinson-Patman Act dan Federal Trade-Commission (FTC) Act) . I ' I I o l I I ♦ ._ I )• ,I '1' t ( li J f ' ; f \ • _, Sebag�i tambahan pe�lu disampaikan di sini bahwa penyebutan Undang-undang dalam Buku ini berarti penyebutan Undang-undang No. 5 tahun 1999 tentang, Larangan ,Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha .Yidak Sehat, kecuali disebutkan secara·berbeda. · If I f' 1 " � ,. I ♦ I1 BERBAGAI PENGERTIAN TENTANG MONOPOLI' DAN PERSAINGAN USAHA · TIDAK SEHAT '' ' PELAKU USAHA Jika kita berbicara dalam konteks tentang larangan praktek monopoli,, maka hai perdiria:· 'yang ��nja?i. p�r�atian a<la�ah · siap � pelaku dalam dunia usaha ·yang kita\ soroti: Undang-undang' ' , l ' �enerj�mahkan P?fa pelaku d�lam dl,!ni� usana tersebut sebagai ':pelaku usaha". Parl pelaku usaha ini' per definisi yang diberikan adalah. "set�ap o,r,�ng p�rseorangan atq� b�da[! usahq, bai� yang , I ! � • ,• 1 '\ \ \\ I • \' • ' ' I ' ' berben�uk badan h�kurri ' atau bu�an badan �itk,um yang d(dirikan 1 dan berkedudukan atau melakukan kegiatan dala'm , wil((lyah hukum negara Repub/ik Indonesia, baik sendiri' maupun bersama­ sama melalui perjanjian, menyelengg�rakan .berbaga{ kegiatan_ usaha dalam bidang ekonomi" . Pengertian yang ' d iberikan tersebut boleh dibilang cukup luas. hingga mencakup segala jenis dan bentuk badan . usaha,• dengan tidak memp�rhatikan _sifat badar:i ,hukumnya, sepanj�ng gelaku ,usaha tersebut menjalaQkan kegiatannya dalam bidang ekonomi·di dalam wilayah.hukum Negara Republik Indonesia. Asas teri{oria/ menjadi . dasar da�i Undang-undang ini. 12 Seri f-fuk11111 /Ji.mis: Anti ,\/0110JJoli KONSUMEN Hal kedua yang perlu clisamakan persepsinya clalam konteks pembahasa n huku aclalah konsumen, Men u rut Unclang-undang, , konsumen adalah setiap pen1akai dan 4tau pengguna barang dan ataujasa baik untuk kepentingan diri sendiri maupun untuk kepen tingan pihak 1 /ain . Dalam hal irli Undang-undang hanya menekankan pada sifat penggunaan dan pemakaian barang dan atau jasa tersebut, ,dengan tidak membedakan urituk kepentingan siapa barang dan atau jasa tersebut dipakai atau dipergunakan. PRO DUK BARANG DAN JASA Setelah pelaku usaha dan konsumen, hal ketiga adalah yang be rhubungan dengan jenis produk yang dicakup dalam Undang­ undang ini. Undang-undang membedakan produk ke dalam barang dan/ atau jasa. Yang dimaksud dengan�"Ba�ang adalah setiap benda, ,, baik berwujud maupun tidak berwujitd, baik bergerak 1naupun , ' tidak bergerak, yang dapat diperdagangkan, dipakai, dipergunakdn atau dimanfaatkan oleh korisumen a tau pelaku usaha dan Jasa adalah setiap layanan yang perbentu,� pe�erjaan atau preslasi yang dfperaagangkan da/a,jz masyarakat untuk dimanfaatkan oleh konsumen atau pelaku usaha 11 ! Dalam buku ini barang dan/ atau jasa secara b�r�ama-�ama akan . penul�s sebut dengan istilah' produk, kecuali ditegaskan lain. ' , ' I I ' 1 PENGERTIAN MONOPOLI Dalam Undang-undang yang terdiri dari 1 1 Bab dan 53 pasal ini,' Monopoli didefinisikan sebagai suatu bentuk penguasaan atas produksi dan atau pemasaran barang dan atau ·atas penggunaan jasa tertentu oleh satu pelaku atau satu kelompok pe/aku usaha: Dalam Black's Law Dictionary, Monopoli diartikan sebagai a privilege or peculiar advantage vested in one or more persons or companies, Berbagai Pe11gerlia11 te11ta11g Mu11opoli U consisting in tbe exclusive r(C?,hl (or jJower) to can)' on a partic11/ar business or trade, manufacture a particular article, or control the sale of tbe whole supp�y of a particular commodizv. Berbech1 dari definisi yang diberikan dalam Undang-undang yang secarn langsung menunjuk pada penguasaan pasar, dalam Black's Law Dictiona1y penekanan lebih diberikan pada adanya suatu "hak istimewt (privilege) yang menghapuskan persaingan bebas , yang tentu pada akhirnya juga akan menciptakan penguasaan pasar. Selanjutnya dalam Black's Law Dictionary dikatakan "Monopoly as prohibited by Section 2 ofthe Sherman Antitrust Act, has two elements: J. possesion of monopoly power in relevant market; 2. willful acquisition or maintenance of that power". Dalam hal ini jelas bahwa Monopoli yang dilarang oleh Section 2 dari Sherman Act adalah monopoli yang bertujuan untuk menghilang­ kan kemampuan untuk melakukan persaingan, dan atau untuk tetap mempertahankannya. Hal ini memberikan konsekwensi dimungki�kan dan diper­ kenankannya monopoli yang terjadi secara alamiah, tanpa adanya kehendak dari pelaku usaha tersebut untuk melakukan monopoli. Section 2 dari Sherman Act memang lebih menekankan pada proses terjadinya monopolisasi dan bukan pada monopoli yang ada. Ada beberapa argumen yang dapat dikemukakan sehubungan dengan proses terjadinya monopoli secara alamiah. Hal-hal tersebut antara lain meliputi hal-hal berikut di bawah ini: 1. monopoli terjadi sebagai akibat dari suatu "superior skilf', yang salah satunya dapat terwujud dari pemherian hak paten secara eksklusif oleh negara, herdasarkan pada peraturan perundang­ undangan yang berlaku kepada. pelaku usaha tertentu atas hasil riset dan pengembangan atas teknologi tertentu. Selain itu ada juga yang dikenal dengan istilah "trade secret", yang meskipun Serl l1ul•u111 /JI.m is: t\11/i Mu11ojJoli 14 ticlak mcm pcroleh eksklusifltas 1 'pengakuan" olch ncgara, namun dengan teknologi "rahasia"nya mampu membuat suatu produk superior. monopoli terjadi karena pe· mberian negara. Di Indonesia hal ini sangat jelas dapat dilihat dari pclaksanaan ketentuan pasal 33 ayat (2) clan pasal 33 ayat (3) Unda'.ng-undang Dasar 1945 yang dikutip kembali dalam pasal 51 Uridang-undang ini. monopoli merupakari' suatu . "historical accident". Dikatakan 2. 3. / I I sehagai "historical accident" oleh karena monopoli tersebu t terjadi karena tidak sengaja, , clan? berlangsung karena p roses alamiah , yang ditentukan .o,l eh befbagai ,faktpr terkait dimana monopoli tersebut t�rjadi. �alf1m hal ip i _ P�.n.il�ian r:n,e ngenai 1 , pasar bersangkutan yang memu ngkinkan terjadinya monopoli menjadi'" sangat relevan. PROSES MONOPGLI SASI Seperti telah dikatakan di atas, bahwa yang terpenting dari S ection 21 Sherman A'.ct adalah 'proses tetjaclinya monopolisasi, clan buka n monopoli yang telah ada. Untuk menilai. berlangsurignya suatu proses monopolisasi; ·sehingga dapat terjaai suatu· bentuk : monopoli yang di!arang ada beherapa hal yang perlu d iperhatikan: Penentuan me. ngena\ p�sar tiersahgkutan (the relevant market); : I 1. ' . ,. ' i I 2. Penilaian terhadap kea_da?n pasar d,aq,jumlah p�la�u usaha; 3. Ada tidaknya "kehend�k" l;l[)tuk ' mGlakukaf)1 monopol i ,oleh pelaku usaha tertentu ters�but. Penentuan mengenai pasar bersangkutan Pengertian mengenai pasar yang bersangkutan menjadi ·sangat pcnting artinya dalani mehent'u�an ada 'tidakny a· mb11 o polisa s i , 1 meskipun penentuan dari pasar bersangku tan bersifat sanga t relatif. I Dalam Undang-undang, pasar hersangku'tari d idefiriisikan sebagai pasar 1 I ' I 1 ' Berbagai l'e11gertla11 te11ta11g J/0110/JO/i 15 va11({ berkaitan denganJangkauan atr;1u daerab pemasaran lertentu ofeh pelaku usaha atas barang dan atauJasa yang sama atau sejenis a tau substitusi dari barang dan atau J�sa tersebut. Untuk menentukan relevansi atau kedudukan dari suatu pasar bersangkutan pada umumnya orang mencoha untuk mendekatinya melalui pendekatan sensitifitas prod uk tersebut dalam wilayah pemasaran produk yang sudah herjalan. Salah satu yang dapat dipakai adalah pendekatan "elasticity of demand". Dari pendekatan tersebut dapat diket,a hu i sam pai seherapa jau h sensitifitas suatu produk terhad�p perubahan harga, yang d inyatakan dengan persentase perubahan kebutuhan atau persentase perubahan harga. Mes k i p u n tidak sederhana, u n t u k menilai relevansi dan keterkaitannya dengan produk konpetitor diperkenalkan konsep "cross elasticity demand'' (CED) antara kedua produk yang saling dikaitkan. Nilai CED diperoleh da�i nilai persentase perubahan kebutuhan dari satu produ k dibagi dengan nilai persentase perubahan harga dari produk lainnya yang sedang dibandingkan. Jika nilai CED-nya negatif berarti kedua produk tersebut dalam pasar tersebut saling melengkapi. Dan jika nilai CED-nya positif dengan angka yang relatif besar, maka be rarti kedua produ k tersebu t merupakan produk yang saling berkompetisi dalam pasar yang ada. Adakalanya penentuan pasar bersangkutan tidak dapat diterap­ kan secara "an sich" . Berbaga i perti mbanga n, khususnya yang berhubungan dengan "karakteristik" pasar yang berbeda satu dengan yang lainnya juga sangat mempengaruhi. Oleh karena itu dikenal pula istilah, penentuan pasar geografis yang relevan untuk menilai kompetisi produk yang ada dalam pasar tersebut. Berbagai hal yang dapat dianggap cukup relevan dan berpengaruh adalah: 1. Struktur pasar adalah keadaan pasaryang memberikarz petunjuk tentang aspek-aspek yang memilikipengaruh penting terhadap 16 Seri Hulm111 Ws11is: Anti .\/011opoli perilaku usaba da11 ki11e1ja pasar, a11tara /ai11 }11111/ab jJenjua/ dan pembeli, ha111bata11 masuk dan keluar pasa,� keragaman produk, sistem distribus,: dan penguasaan pangsa pasar. 2 . Perilaku pasar adalah tindakan yang dilakukan oleh pelaku usaha dalam kapasitasnya sebagai- pemasok atau pe,nbeli barang dan atau Jasa untuk mencapai t11juan perusabaan, antar� lain pencapaian Laba, pertumbuba11 aset, target penju­ alan, dan metode persaingan yang digunaka n. 3 . Pangsa pasar adalah persentase nilaijual atau beli barang ·atau Jasa tertentu yang dikuasai oleb pelaku usaba pada pasar ber­ sangkutan dalam tahun kalender tertentu. 4. Harga pasar adalah harga yang dibayar dalam transaksi barang dan atau Jasa sesuai kesepakatan antara para pibak di pasar bersangkutan. Jadi jelasJah bahwa sebenarnya penentuan mengenai suatu pasar bersangkutan merupakan hal yang sangat 1 relatif sifatnya. Penilaian terbadap keadaan pasar dan jumlah pelaku usaba Untuk dapat menilai apakah telah tetjadi pelanggaran terhadap ketentuan monopoli menurut Section 2 Sherman Act, harus diketahui secara pasti apakah pelaku usaha tersebu t memilfki kekuas·aan monopoli di pasar bersangkutan tersebut. Memang tidak mudah untuk melukiskan adanya kekuasaan monopoli ·tersebut, namun sebagai gambaran yang sederhana, secara u mum dapat dikatakan bahwa pelaku usaha dianggap telah menguasai pasar secara monopoli jika ia mempunyai pangsa pasar lebih dari 75% (tujuh puluh Hrna persen). Undang-undang dalam rumusan pasal 4 ayat (2)-nya juga secara tegas menyatakan bahwa Pelaku usaha patut diduga atau dianggap secara bersama-sama melakukan penguasaan produksi dan atau pemasaran barang dan ataujasa, jika 2 (dua) atau 3 (tiga) pelaku usaba atau kelompok pelaku usaba menguasai lebib dari 75% (tujuh pulub lima persen) pangsa pasar satujenis barang atauJasa tertentu. I llerbagai l'e11gertla11 te11ta11g ,1/omJJJO!i Kehe11dak 1111tuk JJ1elakukan lllonopoli Tidak ada suatu larangan bagi individu maupun hadan hukum yang menjalankan usaha untuk mengembangkan usahanya menjacli hesar, walau demikian hendaknya pengembangan usaha tersehut harus diikuti dengan cara-cara yang layak dan benar. Pada dasarnya naluri dunia usaha memiliki "general intent" untuk menjadi besar dan cenderung monopolistik. Pada pasar bersangkutan yang suda h jenu h , kehendak u n t u k menjadi besar terkadang dilaksanakan dengan cara-cara yang tidak wajar dan tidak sehat. Hal ini jelas tidak dikehendaki oleh dunia usaha pada umumnya. Jika kita kembali pada makna yang terkandung dalam Section 2 Sherman Act, dimana penekanan diberikan pada proses tetjadinya monopoli, maka jelas penggunaan cara-cara yang dapat menyebabkan tetjadinya persaingan usaha yang tidak sehat jelas merupakan suatu pelanggaran terhadap ketentuan monopoli. PRAKTEK MONOPOLI DAN PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT Selain definisi dari Monopoli, dalam Undang-undang juga diberikan pengertian dari praktek monopoli, yaitu suatu pemusatan kekuatan ekonomi oleh satu atau lebih pelaku usaha yang mengakibatkan dikuasainya produksi dan atau pemasaran atas barang dan atau jasa tertentu sehingga menimbulkan persaingan usaha tidak sehat dan dapat merugikan kepentingan umum. Dari definisi yang diberikan di atas dapat kita ketahui bahwa pada dasarnya ada 4 hal penting yang dapat kita kemukakan tentang praktek monopoli ini yaitu: 1. adanya pemusatan kekuatan ekonomi; 2. pemusatan kekuatan tersebut berada pada satu atau lebih pelaku usaha ekonomi ; rn Seri H11Jw111 /Ji.m is: Anti /\/011opuli 3. pemusatan kekuata n c k nomi.·terschut menimhu lkan pcrsaingan usaha tidak sehat; dan 4. pemusatan kekuatan ekonomi tersebut mcrugikan 1 kepentingan umum. Selanju tnya yang dimak's ud clengan "Pem usatah kekuatan ekonomi adalah penguasaan ly ang -nyata atas suatu pasar bersangkutan oleb· satu atau1 lepih( pelaku ·usaha sehingga dapat menentukan harga barang dan atau jasa''. ; dan "Persaingan usaha tidak sebat adalah persaihgan ·antar pelaku usaba dala m menjalankan kegiatan produksi, dan atau pemasaran barang dan ataujasa yang dilakukan,dengan carq ·tidakjujur atau melawan. hukum atau menghambat persaingan usaha". , Satu hal yang cukup tn' eriarik dari Undang-undang ini adalah b�hwa 11 1 _;elama suatu pemtisafan 'k1 eku atiri 'ei<o�omi ,' d' d ak r mehyet/ bkan tetjadinya persaingan usaha tidak sehat (sebagaimana didefinisikan) , maka hal itu tidak dapat dikatakan telah terjadi suatu praktek m ono­ poli, yang mefa'nggar·aciu! berten'fang·a n ciengan rundang-undang ini, meskipun monopoli itu sendiri secara nyata-nyata telah terj a d i (dalam pe�t� k, p�ngua�a�r, ·g�o��kstdan/r a tau g�l)}�Sar�r b_a ra ng l d�p/ atau.jas,a tert�ntH� - J�9i jel 1�1 ah\h,a��a 111onopo1i itu sendif� .tidak dilara�g 1 ya�g dila�aryg .a d.a l�!) praktek 1monopol; 1 d�n persainga.n usaha tidak sehat. 1 . Dari pengertian yang·diberikan di atas jelas 'dapat kita lihat bahwa salah satu prasyarat pokok dapat dikatakan 'telah terjadi suatu1 p'e mu­ satan kekuatan ekonomi adalah telah terjadinya penguasaan nyata dari suat� pasar ��rs?ngkutan, sehingga ,qarga dari baran_g , a tau jasa yang diperdagangkan tidak lagi mengik uti hukum eko,n,o m,i I mengenai permintaan dan penjualan, melain kan semata-mata d itentukan oleh satu atau lebih pelaku ekonomi yang menguasai pasar tersebut. I ,I I I j I I 4 f f llerbagal l'e11gc:rtla11 te11ta11g Mo110Jx.J/I 19 BERBAGAI LARANGAN Untuk mcncegah te1iadinya persaingan usaha tlclak sehat, yang menjurus ke arah terj ad inya monopoli, Undang-undang melarang d ilakukan tindakan-tindakan 11 tertentu oleh para pelaku usaha. Secara garis besar tindakan-tindakan tersebut dapat digolongkan ke dalam dua macam kategori. Pertama adalah tindakan yang dilakuk an dalam rangka kerja sama" dengao sesama pelaku usaha -.. ekonomi, sebagaimana diatur dalam: • 11 11 1. 2. 3. 4. 5. 6. Pasal 4 dal�m bentuk Oligopoli (dalam Black's Law Dictionary Oli­ gopoly diartikan sebaeai econor,zic condition where only a few companies sell substantially similar or standardized products); Pasal 5 sampai dengan rasai 8 dalam bentuk Penetapan harga secara bersama; Pasal 9 dalam bentuk Pembagian wilaya,h secara bersama; Pasal 10 dalam bentuk kerja sama Pemboikotan; Pasal 11 dalam rangka pembentukan Kartel (menurut Black's Law Dictionary Cartel is a combination ofproducer. ofany product joined together to control its production, sale and price, o as to obtain a monopoly and restrict competition in any particular industry or commodity); Pasal 12 untuk Trust, dimana Trust adalah an as ociation or or­ ganization ofpersons or corporations having the intention and power, or the tendency, to create monopoly, control production, interfere with thefree course oftrade or tran :portation, or tofix and regulate the supply and the price of commoditie (Black' Law Dictiona1y); 7. Pasal 1 3 dalam bentuk Oligopsoni; 8. Pasal 14 dalam rangka Integrasi vertikal; 9. Pasal 15 dalam bentuk Perjanjian tertutup; 10. Pa al 16 dalam bentuk Perjanjian dengan pihak di luar negeri. 20 Seri Hukum Bisllis: Anti Moll(I/Jdll Dan kedua dalam hcntuk tindakan atai.1 perhuatan hukum yang clil,a kukan o��h pelaku usaha ,9an, at,au kelompok pel�ku,usaha;tersehut t�npa· rnelibatkan p�laku us,�ha .a tau kelrn:npok pela�� usaha lainnya• . ya11g, clalam Unclang-undang ini qihagi .k� dalarn: 1·. Monopoli, yang ' diatur dalam pasal 17; 2. Monopsoni, yang dia't dr dalam pasal 18 (memirut Black's Law Dictionary Mo110psdny is conaition, ·of ihe ,'narliet in tohich there is but one buyerfor a partic'ular commodity); 3. Penguasaan pasar, yang'aiatur dalairi pasal' 19--sampai pasal 21; 4. Persekongkolan, yang diatu� dalam pasal 22 sampai pasal 24. 1 ' � ' • ·c/ 'ti f ' '• ' � I I I ' I ' l Pembagial) yang demikiap sejalan dengan f1tUran main yang juga ditetapkan dalam Sherman Act yang dikeluarkan -�hun 1890, dimana ketentuan Seksi 1 Sherman Act berhubungan la9gsung dengan. .perjanjian, persekutuan rtlauplin ·pe�sekongkolari (yarig melibatkan. dua atau lebih pelaku usaha) yang menyebabkan hambatan dalam perdagangan (restraint.in, trade); dan Seksi 2 Sherman Act yang l ebih menekankan pada kegiatan individual masing-masing pelaku usaha. Meskipun demikian kedua -seksi tersebut secara bersam a-sama melakukan pengawasan atas berbagaL "kegiatan" yang ·bermaksud untuk melakukan "kontrol" atas suatu. pasar tertentu maupun yang bertuju��: untuk mengurangi ,q1aupun menghilangkan kompetisi dalam pasar tersebut. • 1 I I • I • J II -• J • 0 ♦ 21 PERJ�JIAN-PERJANJIAN YANG DILARANG PENGERTIAN PERJANJIAN Dalam Undang-undang, perjanjian didefinisir�an sebagai suatu perbuatan satu atau lebih pelaku 'usahti untuk · mengikatkan diri terhadap satu atau lebih pelaku usaha lain dengan nama apapun, baik tertu/is maupun tidak tertulis. Jika kita bandingkan definisi yang diberikan dalam . Undang-undang dengan ketentuan pasal 1313 Kitab Undang-undang Huktim Perdata, yang merumuskan petjanjian sebagai suatu perbuatan dengqn mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih; maka dapat kita lihat bahwa pada prinsipnya secara esensi tidak ada suatu perbedaan yang berarti, hanya saja dalam Undang-undang definisi yang diberikan telah secara tegas menyebutkan pelaku usaha sehagai subyek hukumnya, yaitu setiap orang perseorangan atau badan I I I I j usaha, baikyang berbentuk badan hukum atau bukan badan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wilayah hukum negara Republik Indonesia, baik sendiri maupun bersama-sama melalui perjanjian, menyelenggarakan berbagai kegiatan usaha dalam bidang ekdnomi. 22 Seri H11k11111 Bi.mis: Anti Monopoli Jika kita kemhali pada azas-�zas umum clari hukum perdata, pasal 1338 ayat (1) Kitah Undang-uDdang Huku m Perclata secara tegas menyatakan hahwa pada prinsipnya semua perjanjian yang dibuat secara sah mengika! para rpjhak, ya11g, membuatnya, dan berlaku sebagai undang-unaang. bagt ,nereka. D�n sehagai konsekuensi1. ' � nya perjanj ian yang telah disepakati oleh 1 keclua belah pihak tidak dapat ditarik kemhali oleh salah satu pihak dalam perjanjian tersebut, kecuali penarikan atau pencahutan tersehut juga disepakati secara hersama pleh para pihak. Para p ihak yang hersepakat h a rus menghormati apa yang telah mereka sepakati, dan wajib menjalan­ kan atau memenuhinya sesuai dengan kesepakatan yang telah dicapai. \ Sahnya perjanjian Meskipun di atas dikatakan bah\Va:' petjanjian mengikit para.·p ihak yang . me�p,uat�y� l���a�p. s. ��tu 1 µndang�uq��pg, n_a mu,\ tidak semua perja9jian ya�g t�la� di�u��\ s�h.: dernh- l;lvkµ�: ��tentuap_ P.� al 1320 K,itab Unqfi�g-yndang\ �u��fQ ., ��rqat,a. m�nsyaratkan . dipenuhinya e�pa� �y�r�t u r t,u � �ahnya. �1 µ�t� .p �tjanji�� :'. 1 . adanya kesepakatan.bebas;�arj,para:pihak:yang betjanji; , 2. adanya kecakapari 1 untuk hertindak dari parn pihak yang berja nji; 3 . adariya sesuatu obyek yang dfpei-janjikan; 4 . ·bah�a_perjaryj iari \ers���� a_dalap s�su'i�u di'rier\�n����n, �aik 6Ieh' ketentuan, peiktVr� ri {p�rugd�nluhdirig�n y'ahg bedaku J . ' •I ' I ) I fl j, f I ) J , I ,, ' I I• I I " "J .. :1 : '. . termasuk keh1asaan dan kapatutan nukum, sena kesustlaan dan k�t�rtib, a'n• um' J. ,m 'y�nib�·lakWb���· · s �it� �aai t�rt�Htu p�ai. w aktu , ' ' / i' , • , \ · 8 ,, i ,, t , , . , , · , r i r<1, , 11 , , . ' mana perianjian ters' e but clibliat dan/ a tau' ailal<sanakap' . \,. ' ' I I ' lI \ \ I I I \'\ I, \ ' l � \ I \I ' ' • I , 1 , Dpa per�ya\��an . (Py�'µ\lll � Aa� ke,d�1 �). s�9?,gaim�na\ters�_b u t di �.tas dalar11 �lr:n� Hukum .�is���t d�pgap sya\a t 11 py,ektjf, .�arena 1 hal ,te�sebyt ber:ryu�y�gqn �aqgsµ ,p de�g�R su,hxek, hukum kedua yang melakukan perhuata� �,u �µµ1 perj,� � j;an .ters � R � t- Ter�adap pelanggaran atas syarat subyektif ini, 'Kitab Undang-undang Hukurn rani I I ,' , ' I : i 1 I r. I l'e1ja1l}ia11-J,e1jmtj/a11 ya11g Di/ara11.� 23 Perdata mcmherikan kcmungkinan hagi pihak y,mg tidak mcmcnuhi syarat tcrsebut. untuk •meminta pembatalan dari .perjanjian yang tclah dihuatnya (pasal 1322 1 pasal 11327,..pasal 1328 ayat (1), pasal 133 11 ayat (l) , pasal· 133 '1 ayat · (2) •Ki tab Un dang-u ndang Hukum Perdata). Pembatal�n· tersebuti harus 'dimintakan dengan - alasan tidak terpenuhi­ nya1 satu atau . lebih syarat sub'yektif. Dalam hal pembatalan tidak dim in ta, maka perjanjian demi hukum tetap ,mengikat para pihak yang membuatnya. I f • II • l I l Selanjutnya dua persyaratan terakhin(ketiga dan keempat)· lebih terkait dengan' obyek:dari perjanjian tersebut; yang dalam ilmu hukum lebih d ikenal dengan syarat obyektif. Syarat obyektif ini, menurut ketentuan pa�al 1335 Kitab Undang-u_ndang Hukum ·Perdata, jika dilanggar aka,n .demi 1 huk�,m memb�t�lkan perjanjian yang dibuat, dengan: penger.t ian bahwa perjanjian tersebut tidak pernah ada seja_k semulai 1 I� IW i� 1)'1 J I; .11· �·, Denga'.n demi'kian jelas bahwa meskipun kebeoasan untuk berkontrak diberikan kepada setiap subyek hukum, namun ada ba­ tasan, aturan dan norma-norma ter.tentu yang harus diikuti. Pelarangan yang. ditentukan dalam Undang-undang merupa_k an salah satu dari sekian banyak contoh yang dapat d ikemukakan. Larangan yang di­ berikan . Undang-undang merupakan larangan atas obyek perj�njian, · sehingga setiap petjanjian ,yang dilakukan oleh subyek hukum pelaku usaha yang memuat ketentuan-ketentuan yang dilarang adalah batal demi bukum, dan tidak memiliki kekuatan meng*at sama sekali bagi para pihak yang betjanji. I ' PERJANJIAN YANG DILARANG l,. :r Pada uraian di atas telah disinggung, bahwa untuk mencegah tetjadinya m9noppli dan/ atau persaingan usaha tidak sehat, Undang­ undang melarang pelaku usaha untuk membuat perjanjian tertentu dengan pelaku usaha lainnya. Larangan tersebut merupakan larangan 24 Seri H11l·11111 Bisuis: A11/i MonojJoli terhadap keahsahan ohyek petjanjian, Dengan demikian herarti setiap petjanjian yang dihuat dengan obyek perjanjian herupa hal-hal yang dilarang oleh Undang-undang adalah hatal 'demi h u k u m , dan karenanya tidak dapat dilaksanakan oleh para pelaku usaha yang menjad i suhyek petjanjian tersehut. Dalam Undang-undang' obyek perjanjia n yang dilarang untuk dihuat antara pelaku usaha den·gan pelaku u saha lain adalah sehagai berikut: 1. secara bersama-sama melakukan penguasaan produksi dan ata u pemasaran barang dan jasa yang dapat·mengakibatkan , terjadi­ nya praktek monopoli dan atau persaingan, usaha tidak s eha t (pasal 4 ayat (1)) ; Tolok ukur yang dijadikan parameter' oleh'Undang-undang u ntu k menentukan apakah pelaku tisaha patut: diduga • atau dianggap secara bersama-sama melakukan penguasaan prbduksi dan atau pemasaran barang dan atau jasa apabila 2 atau 3 pelaku usaha a tau kelompok pelaku u�aha meng�asai lebih dar� , 75_% pangsa pasar sat� jenis barang a�u.jasa tertentu. 2. 3. 4. 5. menetapkan harga tertentu atas:suatu barangidan atau jasa yang harus dibayar oleh ,,k_o nsumen, atau pelanggan pada pasar bersangkutan yang,sama (pasal 5 ayat ·('l)), id engan pengecualian: a: pcrjanjian•yang dibuat dalam suatu usaha ipatungari; atau b. -p·erjanjian yang d1dasarka1;· u'ndang;unclang yang berlaku (pasal 5 ayat (2)j. · · · · · , · · '· · ' I perjanjian yang mengakibatkan pembeli,'ya11g,sa,t� harus _m embayar dengan harga yang berbeda dari haVga' yang dibayar oleh pembeli lain untuk barang �ian jasa yang sama (pasal 6) ; ' atau ' I 1\ariis' . 1r ; '11 i : I� , , i menetapkan harga dtbawah pasar, yang dapat mengakibatkan tetjadinya persaingan usaha tldak sehat (pasal 7)'; . I perjanjian yang memuat persyaratan haHwa penerima harang dan a tau jasa tidak akan menf ual atau 1 mem�sok ke'mbali' bararig dan a tau jasa yang telah dit'erirrianya tersehui; dengan harga yang leb ih I I Pc1ja1,jia11-perja11jia11 yang Di/orang 25 rcndah daripada harga yang telah diperjanjikan sehingga clapat mcngakihatkan terjadinya persaingan ust1ha tidak sehat (pasal 8); 6. 7. 8. 9. perjanjian yang hertujuan untuk memhagi wilayah pemasaran atau alokasi pasar terhadap suatu baning dan atau jasa tertentu, sehingga dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat (pasal 9) ; Petjanjian ini dapat bersifat vertikal dan horisontal. Perjanjian ini dilarang karena pelaku usaha meniadakan atau mengurangi persaingan dengan cara membagi wilayah pasar a tau alokasi pasar. Wilayah pemasaran dapat berarti wilayah Repuhlik Indonesia atau bagian wilayah Negara Republik Indonesia misalnya kabu­ paten, provinsi, atau wilayah regional lainnya. Membagi wilayah pemasaran atau alokasi pasar berarti membagi wilayah untuk memperoleh atau rnemasok barang, jasa, atau barang dan jasa, menetapkan siapa saja dapat memperoleh atau memasok barang, jasa atau barang dan jasa. petjanjian yang dapat menghalangi pelaku usaha lain .u ntuk melakukan usaha yang sama, baik untuk tujuan pasar dalam negeri maupun pasar luar negeri (pasal 10 ayat (1)) ; petjanjian untuk menolak menjual setiap barang dan atau jasa dari pelaku usaha lain, yang mengakibatkan: a. kerugian atau dapat diduga menerbitkan kerugian bagi pelaku usaha lain; atau b. pembatasan bagi pelaku usaha lain dalam menjual atau membeli setiap barang dan atau jasa dari pasar bersangkutan (pasal 10 ayat (2)) ; perjanjian yang bermaksud mem pengaru h i harga dengan mengatur produksj dan atau pemasaran suatu barang dan atau jasa, yang dapat mengakibatkao tetjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat (pasal 11) ; • I 26 .'><!ri H11b1111 /Ji. 11is: Anti ,\lu11ojJvli 10. pc�anjian untuk melakukan kcrj,1 sama clengan memhen tuk gahungan perusahaan atau perseroan yang lehih hesar, dengan tctap mcnjaga dan mempertahanka n kelangsungan hid u p masing-masing perusahaan atau pcrscroan anggotanya, yang bertujuan untuk mengontrol procluksi clan atau pemasaran atas harang dan atau jasa, sehingga dapat mengakibatkan t_e rjadinya praktek monopoliI dan a tau persaingan tidak sehat (pasal 12) ; I • 1 1 . perjanjian yang bertujuan �ntuk �ecara bersama-sama menguasai pembelian atau penerim�a� pasokan qarang dan atau jasa tertentu, agar dapat mengendalik�n .�arga atas barang dan atau jasa tenentu tersebut dalam pasar yang.ber�angkutan, yang dapat mengakihatkan· tetja�inya praktek monopol! dan·atau persaingan usaha tidak sehat (pasal 13 ayat (1)) ;, Pelaku usaha patut diduga atau dianggap secara bersama-sama meguasai pembelian dan atau penerimaan,pasokan apabila 2 atau 3 pelaku usaha atau kelompok pelaku usaha menguasai lebih dari 75% pangsa pasar satu jenis·barang atau jasa t�ry:entu. 12. petjanjian yang bertujuan untuk- menguasai sejumlah produk yang termasuk dalam rangkaian produksi barang atau jasa tertentu, yang mana setiap rang�ai�n produksi merup��an hasil pengolahan atau proses lanjutan, baik dal�,m satu rangkaian langsung m�upun tidak persaingan langsung, yang dapat mengakibatkan tetjadinya usaha ' I ' tidak sehat dan atau merugikan masyarakat (pasal 14) ; Yang ,d imak�ud d�ngan m�ng �a��!, produ.�si sej�mlah produk yang termasuk dalam rangkaian.prqduksi atau Y,ang lazim disebut , dengan integrasi vertikal adalah penguasaan serangkaian proses ' I roduksi atas barang tertentu mulai dari hulu sampai hilir atau proses yang berlanjut atas suatu layanan 'jasa tertenru olefi pelaku usaha , tertentu. Praktek integrasi vertikal meskjpun dapat menghasil­ kan barang atau jasa clengan Harga murah, tetapi dapat menim• 1 bulkan persaingan usaKa tidak sehat yang ·me1�usak sendi-sendi perekonomian masyarakat. Praktek seperti ini dilarang sepanjang I ' 1 I l'e1jc11ijimt-/Je1jd1,jiwt .1·a11g /Jilttra11g , 27 menimhulkan persaingan usaha · ticlak schat clan atau mcrugikari masyarakat. I 13. perjanjian, )�ang niemuat p�rsyaratan balnv� ' bihak yang menerima harang d,in' at'a u jasa hanya t1ka'n m'emasok 'atau 'tidak memasbk i 1 k'e mhali' barari� clan a tau f�sa 'teri eo'u t kepacla pihak tertentu darl atau pad� suatu tempat iertentu '(pasal 15 ayat (l)) ; . 1I Pengertial), rryemas'o k'disini terfl)as,u k m,enyediak�n p�sokan, b�ik I I I ' ' ,. ' ' ' ,, barangI maupun jasa, dalam kegiatan jual beli, sewa menyewa,' I I I J I) ' I . '' ; I ,I l I ' I J sewa peli, dan sewa guna usaha (leasing) : ' ,, I \ J I • •, ' ' ! '\ I \) \ ' I I ) } ' 1I ' • f \ ' 11 , ' 14. p,�rjaqi,i�� l yapK �eIJ:}yat persyar�tan bahwa_pihak yang menerima ��,rapg 9�� a�au jasa ren�11n.1 ,h�r�s b�rsedia, untuk mer1b�li 9a�ang dan �tau 'j a_sa lain dari p'elaku usaha pemasok (Pa�al 15,ayat (?,) ); 15. perjanjfan mengenai pemb.e rian harga atau potongan harga tertentu , atas barang ·dan a tau ;jasa, yang memuat, persyaratan bahwa· pelaku usaha ya_ng ·menerima barang dan atau jasa dari pelaku usaha pemasok : a. ·narus bersedia membeli barang dan atau jasa lain dari pelaku usaha pemasok ; atau b. tidak akan membeli· barang 'dan atau jasa yang sama atau sejenis dari pelaku usaha lain .yang menjadi pesaing dari pelaku usaha ,pemasok (pasal 15 ayat (3)) . 16. perj anj ian , dengan pihak 'lain di luar negeri yang memuat ketentuan yang dapat mengakibatkan ,terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sebat (pasal 16) . Jika kita simak seluruh pelarangar:i yang diberikan tersebut di atas, dapat kita farik suatu k�simpulan bahwa,· kecuali untuk jenis-jenis petjanjian tertentu (sebagaimana diatur dalam pasal 5, pasal 6, pasal 10, pasal 15 Undang-uridang), pada prin�ipnya obyek yang dilarang , bukanlah suatu obyek I arangan y�ng bersifat mutl�k _dan tidak dap�� , ditawar-tawar kem nali. Suatu persyaratan ".Yang dapat meng-akibatkan I ' ' I ) 28 Seri Hul•wn Bi.m is: A11ti ,\lu11opuli te1jadi11ya praktek monopoli dan/ atau persaingan usaha tidak sehat '' merupakan syarat pokok hatalnya perjanjian tersebut. 1 Selama ticlak dapat dihuktikan bahwa suatu, perjanjian de�ga� 1 ob,yek perjanjian sehagaimana disehutkan di aw,s , ,telah meng�.k.i. �atkan terjadin ya praktek monopoli dan persaingan, usaha tidak sehat,., maka perjanjian tersebut sah demi hukum. Dengan.demikian, maka berarti, setiap petjanjian yang dihuat oleh satu pelaku usaha dengan pelaku usaha lain, yang mengatur hal-hal tersehut diI 'ki�s,. s'eiain' ya�g· diatur dalam pasal 5, pasal 6, pasal 10, pasal 1) Undang-uridang (detjgan melepaskan perkataan "yang dapat mengakibatkatz tery�dinyapraktek ni'onopoli dan/ atau persaingan usaha •tidak sehat'') adalah· petjanjian dengan anca man syarat batal, dan bukan perjanjfan ' yang batal ·demi hukum. Dengan terpenuhinya"�yarat t�rs' e o�t[ ' maka perja'.njian m em i l i ki konsekuensi batal demi hukum, dalam arti kata bahwa jika telah dihatalkan (oleh Pengadilan), , maka, perjanjian harus dianggap tidak pernah ada sejak awal: , Sedangkan:bagi ·ketentuan yang diatur dalam pasal 5 (tentang penetapan harga), pasal, 6 (diskriminasi harga), pasal 10 (pemboikotan), pasal 15 (petjanjian tertutup), yang ·memang jelas merupakan suatu perjanjian. -yang menciptakan , persaingan usaha tidak sehat, sudah sewajranya jika petjanjian tersebu� diaanggap batal demi hukum, yang berarti juga dia��ap,fi�ak , perryah ada sejak awal. • • I j • • I ' , I I ' ,, I 1 Secara prosedural, dikenal,, d ua tebri,dalam hukum, a nti monopoli. Pertama, teori yang melararignya secara an sich, 'tanpa,melihat apakah ada ekses negatifnya. Beberapa bentlik.kartel, monopoli dan1persaingan tidak fair, harus dianggap dengan sendirinya b.ertentangan dengan hukum. Titik beratnya adalah• unsur Jormal ,darL perbuatan tersebut. Teori ini dikenal �enga�.teori pe�s� . .Kedua, teori.yang melarang kartel dan monopoli jika dapat dibuktikan' ada efek negatifnya yang dikenal ·, ' l ., , . dan bentuk dengan nama teori rule . of reasori. Pra'ktekI monopoli I •I I , ,, ' ' I I I t persaingan tidak fair lainnya baru dianggap bertentangan dengan hukum jika akibatnya dapat merugikan p_esaing d�n/a_t�u k�nsumen. Titik heratnya adalah unsur material dari perhuatannya. Dalam teori yang , I ,, I . 1 ' I I • Pe1ja11Jia11-J,e1JwUla11 yang Dilara11g 29 kedua ini clipakai metode "keseimhangan " dalam salah satu cara aplikasi nya dengan melihat kecenderungan apakah kartel tersebut ben�r-benar menghancu rkan per,s aingan pasar atau sehali knya 9ahkan dapat memac� hukum pasar tentang "supply dan demand". Monopsoni, yang merupakan istilah untuk monopoli dalam pembelian dalam kenyataannya dapat menjelma dalam berbagai derivatif sampai beberapa strata yang membawa "dosa" masing-masing dalam setiap strata. 1 Pada strata. p1ertama; sesuai dengan teori Jarangan pe,rse, beberapa perusahaan berkonspirasi membentuk suatu sindikat kartel bisnis yang tidak diperq0,Jehkan perqturan perundang-undangan. Perkembangan selanjutnya akan berkembang menjadi "dosa" di I - -l II I ' ' ' strata kedua, m isalnya sinsf i k�.t perusahaan membeJi saham perusa�a:in X secara rnon9pso�i yang j�ga tida,k dibenarkan oleh peraturan perundang-undangan. Selanj_u tnya, terjadi kesalahan pada strata ketiga, kalau rl)isaJnya prodyk yang p�h.asilkan perusahaan X sejenis dengan perusahaaq pem9-eli y�ng ber,iki1 9at semakin dominannya pangsa pasar terhadap produk yang sejenis tersebut. Ini akan berkembang menjadi monopoli pe�jualan. I • I I D9sa strata keempat timbul jika monopoli itu terjadi terhadap jenis produ k yang terkait, erat dengan policy pemerintah tentang proteksi barang dalam negeri . Misalnya berkaitan dengan industri o�omotif. D 1ngan 1 �q�nya r,nonopoli dan penyatuan produseQ mobil maka harga mobil akan melambu ng tinggi berlipat ganda ji ka { I dibandingkan dengan negara asal mobil tersebut diproduksi. Dan terakhir di strata kelima monopoli, akan memberi ekses cerhadap perekonomian secara mikro maupun makro. Dengan keku­ atan e�onominya mereka dapat mernpengaruhi jalannya pemerintahan dan mengatur segala seluk belt* .dan sendi pemerintahan. Karena mereka sangat besar, maka para penguasa dapat diatur sesuai kepentingan mereka. l alam li1cra1ur, tn< inopnli dilamng karena Ill 'nganclung h ·hernpa fck n g�nif :111g mcrngik:m :11Har;1 la in: 1 ;1. l al<iha1 tlclak acla nya Tc1iadi p ·ningkat;- 111 har�a su:nu produk s haga I kompctisi dan p -- rsaing:m yang h 'has. Harga yang 1 ingHi ini pacla gilirannya ak;m mcny ·babkan inllasi yang mc.:ni�ikan masym·a kat 1 luas. b. Adanya kcunt ungan (profit) ell mas kcwajarnn yang normal. Pclaku usalrn ctkan sccnaknya menc1 ,iplrnn harga untuk mcn,perolch kcunt ungan yang schcsar-bcsarn}'il karcna konsumcn tidak ada pililrnn lain clan tcrpaksa mcrnbcli procluk tcrsehut. c. Terjadi eksploitasi tcrhadap konsLfmcn ka'rcna tidak ada nya hak pilih konsumen atas, produk. Produscn akan scenaknya mene­ tapkan kualitas suatu produk tanpa dikaitkan dcngan biaya yang clikcluarkan. Eksploitasi ini ju'ga ,/ka� menimpa ka1yawan clan hu ruh yang bekerja pacla produscn , terscbut' dengan rncnctapkan gaji dan upah yang sewemmg-weri,mg thhpa memperhatikan kctcntuan yang berlaku. d. Terjadi ketidakekonom isa n dan keti clakefisicnan ya ng akan dihebankan kepada konstimen dalam· mcnghasilkan suatu p roduk karena perusahaan monbpoli 'c enderung idak hcroperasi pada average cost yang minimum. e. Adanya enuy harrier di mana· perusahaan lain. tidak clapat masuk . ( r,,, .11aan, 1 1 monopo r, I'I terseh ut karcna ke da,1 am b1dang usa t,1a perusa penguasaan p�rngsa pasarhya yang hesar. Perusahaan-pen.isahaan kecil tidak diheri kcsempatan untuk tumhuh l'>erkembang dan akan menemui ajalnya satu persatu. f. Pendapatan menjadi tidak merata karena sumher churn dan mod al a ka n tersedot ke dalam pcrusahaan monopoll. Masyara k a t hanyak harus berbagi clengan hanyak ora,ig bagian yang sangat kecil, sementara perusahaan monopoli dengan sedikit orang akan menikmati hagian yang lehih hesar. 1 ♦ 31 KEGIATAN-KEGIATAN YANG DIIARANG PERBUATAN · HUKUM SEPIHAK Berbeda dengan istilah "perjanjian". yang dipergunakan, dalam Undang-undang, tidak dapat kita temukan suatu deflnisi mengenai ''kegiatan". Namun demikian jika tafsirkan secara "a' contrario" terhadap definisi perjanjian yang diberik�n dalam Undang-undang, maka dapat dikatakan bahwa pacla dasarnya yang dimaksud dengan "kegiatan" • • I • tersehut adala� tindakan atau perbuatan hukum "sepipak" yang dilakukan oleh satu pelaku usaha atau kelompok pelaku usaha tanpa adanya kete'rkaitan hubungan (hukum) secara langsung clengan pelaku usaha atau kelompok usaha lainnya. I I I I ' KEGIATAN YANG DILARANG UndaQg-undang memperikan satu bab khusu� yang mengatur Kegiatan yang dilarang, yaitu dalam Bab N yang te�diri dari 8 pasal.Jika kita tinjku karakteristik dari kegiatan yang dilarang tersebu.t, maka ' I kegiatan yang dilarang tersehut dapat kita golongkan ke clalam 4 kegiatan yaitu: 1. 2. Monopoli, yang diatur dalam pasal 1-7; Monopsoni, yang diatur dalam pasal 18; 32 Seri H11ku111 Bi.m is: Anti Mo11opoli 3. Pcnguasaan pasar, yang diatur dalam pasal 19 sampai clengan pasa l 21; dan 4. Persekongkolan, yang diatur dalam pasal 22 sampai clengan pasa l 24. Secara lengkapnya kegiatan-kegiatan yang dilarang tersehut dapat dijabarkan sebagai berikut: 1 . kegiatan yang dilakukan oleh pelaku usaha yang bertujuan untuk memperoleh penguasaan atas produksi dan atau pemasaran barang dan atau jasa yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat; Parameter yang dijadikan t�l �� ukur,9�eh l[rdang-,u�dang untuk menyatakan bahwa pelaku usaha diduga atau dianggap melaku­ kan pengnasaan atas produksi dan 1 atau pemasaran bara ng atau ,, jasa yang sama adalah: a. barang dan 'at'a u jasa yang b'� rsangl<utan bel u m ad a ., . · : 'substansi�ya; · ( b. mengakibat½fr pelak� µsfha \1iq1 (pel.a�� u�ah� yang mem­ punyai kemampua!) _bersaing yang signjfikan dalam pasar 1 • .I I I / I I II 1 yang bersangkutan) tidak dapat masuk ke dalarn persaingan . sama; atau usaha barang dan atau jasa yang . ' I" c. satu pelaku atau satu kelompok pelaku usaha menguasai lebih dari 50% Oima puluh persen) .pangs� pasar satu jenis barang atau jasa tertentu. 2 . k egiatan untuk' menguasai penertmaan' pasokan atau menjadi pembeli 'tunggal acis·barang dan 1 atau jasa d'alam piskr bersang­ 1 kutan yang dapat mengakioatkan·te'rja'diny� pt�ktek monop�li dan atau persaingan' yang tidak ·sehat/Tolok ukurnya adalah apabila satu pelaku usaha atau satu kelompk pelaku usaha menguasai lebih dari 50% pangsa pasar satu,jenis barang atau jasa terte'ntu. I I • \ ... I p ' ' . I I I It ,, Kegiata11-kegiata11 yang Di/arang 3. 33 s.4tu at�u l�bih,kegia.taniy,J�g dilakµkan, haik oleh satu pelaku usah a .&endil:i,.. ll)aUp\Jn , bersama-sa rpf1 .clenga n p,elaku , us a ha lainnya, yang he�uju an. Ul)tuk: a. , • 1 I menolak clan atau _mengtt alangi pel aku usaha tertentu untuk Il) �l�k�kan . �,eglata,n , u��h� :yang sama 1 Pt!da •pasa� ber sangkµ tan depg a ri1 .�ar a , y�ngi .tiq ak ��ja r - a t a u 1 �.enga n a l asan ,nox1-1�kq noIJ1i,i;i:n.isal rw,� karena perhedaan :suku•, ras, status �Ps.iaJ: d.4n t�.iQ:l �j_n ; at.a l). , • ;, f 1 · k orisum:enr:at a ul lp-elangg a ri 1 p'e l a ku us a ha t , b. I n:iengha l a f gi pesaingnya untuk tidak mel akuka n usa ha dengan' pelaku I ' ) U &t!n a , p �� a,i r.i gnY,�: i t.\l;r atsiµ,., 7 C. ' rJ 1 .membatasi perec;iaran dan' atau penjualan bararig dan atau jas'a 11 , pada lpa sar' bersangkuta n: a tau ,1 • • I , • cl.' ;iriel�kukkn :pt�ki�k diskririfrn asi terhadaPi pelaku usaha • .·, 1 · ,r tertentu; , i1 . • , (yang ' h·a ati a k hirri�J ' d�P, a't 'ihengaki batk�n 'terj�oi�ya praktek 1 ·1 r , ,h S· . 1 .l ,,I Jr (') (t �1 IJ '. , r , .' ' 'J ' , I , �?r9B�h .q��/��� p.��sa��?an �s��a .�1�ak ���.a:�;, 1 ·, 1 1 1 , ' , if. i, I J ' .· • I, 4. r 1)1 �,IH1� u �-�� ,P.�PffS?,�a9, ,��r��g 1 �A.��Y jf1Si3, de,� g�n ,�.ra , J11 elai ,k��e�JY.�I � gi. a�.�Jn en�m�P��gl harg�,Y.�rg. s�ng�t WN,d�h deng1q Il)���yµl pq,�u � iTT1 e�y �ry gk\r� a� � Wq1,Pil� ma (k,a� ,y,s_�h� , pes� ing­ d i PY� I � I R'l� a � l ,�<;����&.��'� n r S,�h�.q gg�; ,9�PlH 9'1�r g a� i�a��a.n ��r­ J�d!qr� p,ra �M�k ffi9TT9.PO.l!, Hf19'-�WY, pet�S�i�ga�. usah� \ida � s���t; 5. · mehiku.½an : k ecura ngan dalam,,menetapk,� n ,biaya :·produk� i dan 'biaya ,la!� n ya yang menjadi ibagi an dari, komponen harga barang .da_n. atau.jasa u ntuk memperoleh biaya faktor pro duksi yang lebih renda h dari seharusnya yang dapat mengakib atkan terjadinya persaingan usaha t idak sehat; •• 0 1 6., iJ '; I I • I l. ' I , ,_ I j I I p1e}�k��tJP.·.Pyrs ek,o ryg�pla11 cP�ngan 1 p i hak1 ,l�in untuk ·me9gatur 4fn. , a1tfuj mer en tu � �n p�fl)epang .- t�nper 1 sehingga dap at. meng, ak ib atka n terjad i nya pe rsai ngan .usaha ��dak seha.t ; I 3� Seri H11Jm111 Bi.m is: A11ti .l/u110/}uli melakukan pcrsekongkolan dengan pihak lain untu k menclapat­ kan informasi kegiatan usaha pesaingnya yang cl iklasifikasik an sehagai rahasia perusahaan sehingga mengakihatkan terjadi­ nya persaingan usaha tidak schat; 8. melakukan persekongkolan dengan pihak lain untuk menghambat produksi dan atau pemasaran harang dan•atau jasa pelaku usaha pesai ngnya dengan maksud agar barang dan atau jasa yang ditawarkan atau dipasok di pasar bersangkutan menjadi ber­ kurang haik dari kualitas, maupun ketepatan waktu yang diper­ syaratkan. Jika kita simak jenis-jenis kegiatan yang- dilarang seperti diuraikan di atas dapat kita lihat bahwa kegiatan yang disebutkan dalam angka 1 sampai dengan angka 5 memang murni dilakukan oleh satu pelaku usaha atau kelompok pelaku' . usaha untuk menciptakan suasan a persaingan usaha yang tidak sehat. 7 Khusus U!)tuk angka 6 sarppai de.n�a� a �g�a 8 kegiatan yang dilara'ng dilakukan terwujud dalar:n bentu� perse�ongkolan atau ketja sama dengan pihak lain, yang secara Iangsung merugikan kepentingan dari pelaku usaha atau kelompok pelaku usaha lainnya dan secara tidak langsung mengakibatkan 'terjadinya praktek persaingan usaha yang tidak sehat, 'yang d�pat mengarah ke monopoli. Hal ini sejalan dengan defiriisi yang diberikan dalam Undang-undang, dimana dikata­ kan bahwa Persekongkolan atau konspirasi usaha dalam Undang-undang ini didefinisikan sebagai suatu bentuk kerjasama yang dilakukan o/eh pelaku usaha dengan pelak'u usaha lain dengan maksud untuk menguasai pasar bersangkutan bagi kepentingan pe/aku usaha yang bersekongko/. Sebagaimana halnya' dengan perjanjian yang dilarang, untuk ' kegiatan yang dilarang inipun pehekanan �as'i� 1 sangat diberikan 1 kepada adanya pem enuhan syarat "akah mengakibatkan terjadinya I I monopo/i danlatau persaingan usaha tidak sehat". Kegiatn11-l.1cglata,1 ya11g /Ji/ara11g 35 Khusus u n t u k kcgiatan yang hcrh uhungan clengan per­ sckongkolan, Section 2 dari Sherman Act mensyaratkan perlunya pemhuktian telah terjaclinya persekongkolan antara pelaku usaha dengan pihak lain disamping hahwa persekongkolan tersebut telah menyehahkan te1iadinya monopoli dan/ atau persaingan usaha tidak sehat. ♦ 37 POSISI DOMINAN DAN HUBUNGAN TERAFILIASI PENGUASAAN PANGSA PASAR SECARA DOMI NAN Seperti telah disinggung di atas dalam pembahasan mengenai pasar yang bersangkutan bahwa ketentuan dalam pasal 4 ayat (2) Undang-undang secara.tegas telah menyatakan bahwa pelaku usaha atau kelompok pelaku usaha tertentu yang menguasai lebih dari 75% (tujuh puluh lima persen) pangsa pasar satu jenis barang atau jasa tertentu patut diduga atau dianggap secara bersama-sama telah melakukan p�nguasaan produksi dan atau pemasaran ba�ng dan atau jasa tersebut. POSISI DOM I NAN Yang dimaksud dengan Posisi Dominan dalam Undang-undang adalah keadaan dimana pelaku usaha tidak mempunyai pesaing 11 yang berarti di pasar bersangkutan dalam kaitan dengan pangsa pasaryang dikuasai, atau pelaku usaha mempunyai posisi tertinggi diantara pesaingnya di pasar bersangkutan dalam kaitan dengan ke1r1ampuan keuangan, kemampuan akses pada pasokan atau penjualan, serta kemampuan untuk .menyesuaikan pasokan atau permintaan,barang atau Jasa tertentu". Dari definisi yang diberikan tersebu t, meskipun tidak dikorelasikan secara langsung, dapat kita lihat dan katakan bahwa suatu posisi dominan cenderung dimiliki oleh pelaku Seri l111lm111 /Us11is: r\11/i ,1/otw/)()/i -�� usaha yang sccara fisik'' telah mcngu�tsai pa ngsa pasar scrnra clom inan. Ta npa adanya penguasaan pasar rang dominan tidak mungkin pelak u usaha tertentu atau kelompok peb,ku usaha tcrtentu dapat memiJik i posisi dominan atas pelako usaha at.au kc!orr�pok pelaku usaha lain yang menjadi saingannya. 11 . Selanjutnya dalam Undang-u ndang clikatakan lebih jauh bahwa suatu pelaku usaha atau kelompok pelaku usaha dianggap sebagai memiliki posisi dom inan jika: satu pelaku usaha atau satu kelompok pelaku usaha menguasa i 50% (lima pulub persen) atau lebib pangsa pasar satu jenis barang atau jasa tertentu; atau r b. 'dua 'atau tiga pelaku usaha �tau kelompdk pelaku usiiha menguasa{ 75% (tujuh pullfp �im,,,a persen), atau lebih pangsa pasar satu Jen is barang ata11:jas(!, te.rtentu. a. � I t • I' t , \ Jadi sehenarnya posisi 'aominari merriang didefinisikan un tuk mencerminkan siapa sehenarhya'"penguasa pasar" dari suatu produ k . tertentu . Apakah pasar masih cukup heterogen, dengan penguasaan berimbang oleh dua atau tiga pel�ku usaha a·tau keiompok pelaku usana, atau pasar sudah cenderung homogen de'ng'a n produk dari pelaku usaha atau kelompok pelaku usaha tertentu. I KEPEMILIKAN TERAFILIASI Pada uraian di atas, jika kita· perhatil<an secara seksama, Undangundang secara jelas menyebutkan · adanya kelom pok pelaku u saha selain dari penyebutan identitas pelaku usaha itu' sendiri. Ini berarti Undang-undang mengakui' akan adanya suatu 'htiliungan an tar (grup) pelaku usaha yang saling terafiliasi yang berkaitan satu dengan yang lainnya, yang melakukan kegiatan proouksi 'terhadap produ k berupa barang dan/ atau jasa sejenis dan dipasarkan melalui pasar bersangkutan yang sama. Diversifikasi produk yang dikenal dalam ilmu ekonomi • I l'osisi IJ0111i11a11 rim, H11b1111ga11 Temfiliasl 39 ( pcm�1sa ran) guna rncm perluas pangsa pasar clari kclom pok peh,ku usaha tertcntu tam pak nya juga tclah clipcrhatikan clalam Unclang­ u ndang ini. Untuk mencegah makin tertumpuknya penguasaan procluk atau pemasaran pada kelompok usaha tertent,u yang cenderung dom inan dan merusak sistem persaingan usaha sehat yang ada clalam masya­ rakat, pasal 27 Undang-undang melarang pelaku usaha untu k memiliki saham mayoritas pada beberapa perusahaan sejenis yang melakukan kegiatan u sat)a dalam bidang yang sama pada pasar bersangkutan yang sama, a tau mendirikan beberapa perusahaan yang memiliki kegiatan usaha yang sama pada pasar bersangkutan yang sama, jika kepemilikan tersebut mengakibatkan : a. satu pelaku usaha atau satu kelompok pelaku usaha menguasai lebih dari 50% (lima puluh persen) pangsa pasar satu jenis barang atau jasa tertentu; b. dua atau tiga pelaku usaha atau kelompok pelaku usaha menguasai lebih dari 75% (tujuh puluh lima persen) pangsa pasar satu jenis barang atau jasa tertentu. KEGIATAN YANG DILARANG BAG I MEREKA YANG MEMILIKI POSISI DOM INAN Undang-undang tidak hanya melarang pelaku usaha tertentu untuk melakukan perjanjian dan/ atau kegaiatan usaha tertentu sebagai­ mana yang telah dibahas dalam Bab IV tersebut di atas, melainkan juga melarang pihak-pihak tertentu yang memiliki po isi dominan untuk, baik secara langsu ng maupun tidak langsung untuk: a. menetapkan syarat-syarat perdagangan tertentu yang bertujuan untuk mencegah dan atau menghalangi konsumen memperoleh harang dan atau jasa yang bersaing, baik dari segi harga maupun kualitas; atau o Seri H11k11111 /JI.mis: Anti Mu11opuli h. mcmhatasi pasar dan pcngemhangan teknologi atas prod uk yang dihasilkannya; atau c. menghamhat pelaku usaha lain yang berpotensi menjadi pesaing untuk mcmasuki pasar bersangkutan. Ketcntuan ini seirama d e.ngan ·a tu ran yang dimainkan oleh Sectio n 2 Sherman Act, yang menekankan· pada proses mpnopolisasi tersebut dan tidak merhbe'ratkan hanya pada' adanya· m onopol i . f I Undang-undang 'secara tegas rriengal u i adanya posisi aom i n a n tertentu dengan penguasaan pasar yang cendening bersifat monopoli, yang telah 'tetjadi sebagai'akibat seleksi alamian, ma�pun' berdasarkan alasan-alasan yang telah diuraikari 'clalam'Bab·II di atas. ·walau demikian posisi dominan yang telah dimiliki tersebut tidak boleh diperguna­ �an untuk menghambat baik. pengemba.ngan teknologi, m aupun mendistorsi pasar dengan,.�ar.a J1erppaya, untuk mencegah pers a ingan dengan mengeliminir munculnya pelaku usaha baru.,"�pirit" yang diemban dalam Section 2 Sherman ;\ct, :yang bertujuan untuk meningkatkan persaingan secaral sehat dan jujur, dalam dunia usaha I telah I I II ' j / l dilanggar oleh para pelaku usaha yang mei:nil!ki . p��isi1 dorpinan tersebu t. I , I I (1 1 1 l 1 •, 1 1 I 1 ) KEPENGURUSAN TERAFILIAS,I, akuisisi- yang ,cender u ng Selain melarang terjadinya ,prakt�k ' I• mencipta�an. posisi dominan -�i masa deP,a'-\,) s,el.a njµtnya untuk lebih mernperkokoh/ mcmp�(kµat maksud 9P.Q i tujµm1 ,dari pembentukan Undang-undang ini untuk rnef\c�ga�. at�� OJelat�ng tetjadi�Y,a mono­ poli dan/ atau persaingan �saha, fidR� se\1at, 1 c;l,alam,Undqng-undang inl juga dilarang terjadinya· bentuk-bcntuk huhungan �epengu rusan ter'a ftliasi yang melarang sescoi·ang untu'k ·memiliki 'jabata�' rahgkap, I . Il l ' ' dengan pengertian seseorang yang telah menduduki jaoatan sebagal Dircksi a ta u Komisaris dari. suatu peru'sahaah ,' pacla wak t u yang I, bersa maan dilarang untuk merangkap menjadi Direksi atau' Ko1nisaris ' I I I I 1 j Posisi Do111i11011 da11 H11/m11ga11 Tcrafiliasi pada peru sahaan lain, apahila pcrusahaan-pcrusahaan tcrsehut: a. hcrada dalam pasar hersangkutan yang sama; atau h. memiliki keterkaitan yang erat dalam bidang dan a tau jcnis usaha; Tolok ukur rdng diberikan Undang-undang untuk menentukan apakah perusahaan-perusahaan memiliki keterkaitan yang erat apabila perusahaan-perusa haan tersebu t saling mendukung atau berhubungan Iangsung dalam proses produksi, pemasaran, atau produksi dan pemasaran; atau c. secara bersama-sama dapat menguasai pangsa pasar barang dan atau jasa tertentu, yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoJi dan atau persaingan usaha tidak sehat. KEGIATAN PENGGABUNGAN, PELEBURAN DAN ' ' . PENGAMBILALI HAN Jika pada pembahasan mengenai Kepemilikan terafi/iasi telah disinggung sepintas mengenai Iarangan yang dikenakan pada pelaku usaha terten tu untuk memiliki saham mayoritas pada beberapa perusahaan sejenis yang melakukan kegiatan usaha daJam bidang yang sama pada pasar bersangkutan yang sama, atau mendirikan beberapa perusahaan yang memiliki kegiatan usaha yang sama pada pasar bersangkutan yang sama, jika kepemilikan tersebut mengakibatkan: a. satu pelaku usaha atau satu kelompok peJaku usaha menguasai lebih dari 50% (lima'puluh persen) pangsa pasar satu jenis barang atau jasa tertentu; b. dua atau tiga pelaku usaha atau kelompok peJaku usaha menguasai lebih dari 75% (tujuh puluh lima persen) pangsa pasar satu jenis barang atau jasa tertentu. Larangan tersebut tidak berhenti hanya sampai sampai di sjtu, melainkan juga kegiatan dari pelaku usaha untuk: 1. melakukan penggabungan atau peleburan badan usaha yang Seri Hulu1111 Bi.mis: A11ti il/u110/)()/i · cla pat mengakihatka n tcrjadi nya pra k tck mono poli clan , ata u pcrsaingan usaha ticlak schat; 2. lain melaku kan pengamhilali han sahamf ' perusahaan a pahil a . ll ,. 1 1 tindakan tersehut dapat men'g a k1batkan t'crjac inya p r�aktck monopoli dan atau persaingan �sah� tidiik sehat; dilarang oleh Undang-unclang. ' Selan ju tnya sebagai tind�kan "atv(!-l" , q nclapg-un clang telah menciptakan suatu hadan ind�pend�n. ya �g . cl ina�akan Kom isi (KPPU) - (urai�n mengenai Pe ngawas Persaingan Usaha Komis i \ t I f f � ( \ Pe'n gawas Persa ingan Usaha · i, ryi ,'a ka� �arr,ii , berik�ri d_a l.� m Bab selanjutnya). Salah satu tugas dari KPPU ini adalah melakukan "review" I I ' ' ' A ii I ,' ' • I I\ , atas penggabungan atau pelebur�n badan usaha, atau pengambilalihan saham. Pelaku usaha yang melakukan .penggabµngan, peleburan atau pengambilalihan, yang mehg�ki6�tkan n ilai �set dan atau nilai penjualannya melebihi jumlah tertentu , diwajinkan untLk menyam­ paikan pemberitahuan mengenai tetjadinya· hal tersebut kepada t<PPU, selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari terhitung• sejak tanggal penggabungan; peleburan ·atau pengambilalihan tersebut dilaksana­ kan. M ERGER, KONSOLIDASI .DAN AKU , ' , . ISISI ' Merger, konsolidasi dan akuis!si merupakan istilah . hukum dan • ,. , I t ,, ekonomi yang sangat dekat dan berkonotasi aengan Perseroan Terbatas, " ! meskipun tidak seluruhnya dem ikian. Berikut di bawah 'ihi akan di bahas secara sekilas "legal terms" dan definisi/ pengertian dari merger, konsolidasi dan akuisisi. MERGER DAN KONSOLIDASI Merger menurut definisi yang diberikan oleh Encyclop�dia 'qf Bank· ing and Finance adalah : Pusisi Du111i11m1 dan HHb1111ga11 Terafi/iasi -d ··a combi11atio11 of two or more corporatio11s, u bere tbe dominant unit absorbs tbe passit e unit tbeformer continuing operations, usual�l' under the same 11ame '. Yang dihedakan dari konsolidasi di mana : ''in a consolidation two units combine and are succeeded �Y a new corporation usual�y with new title." Sedangkan menurut Black's Law Dictionary Merger adalah thefu ­ sion or absorbtion of one thing or right into another. Yang dala m Hukum perusahaan diartikan dengan: .. "an amalgamation of two corporations pursuant to statu­ toryprovision in which one ofthe corporation survives and the other disappears. The absorption of one company by another, the former losing its legal identity, and the latter retaining its own name and identity and acquiring assets, liabilities, franchises and powers offorme,�- and absorbed company ceasing to exist as separate business entity." Selanjutnya dijelaskan lagi bahwa it diffe rsfrom a consolidation, wherein all the corporations terminate their existence and become parties to a new one. Dari pengertian yang diberikan pada rumusan di atas, jelas bagi kita bahwa Merger merupakan suatu ben tuk penggabu11gan dua badan usaha, di mana badan usaha yang satu bubar secara hukum, dan yang lainnya tetap exist/ ada dengan nama yang sama. Walaupun demikian seluruh asset, hak dan kewajiban dari badan hukum yang bubar tersebut tidaklah menjadi hilang sama sekali, melainkan diabsorp atau dengan kata lain diambil alih oleh perusahaan yang masih tetap ada tersebut. Pengertian merger tersebut jelas berbeda dari pengenian konsolidasi dimana, ke dua perusahaan yang bergabung tersebut bubar demi hukum, dan sebagai gantinya didirikan suatu perusahaan baru dengan nama yang baru meskipun mereka secara finansial H Seri H11��1m1 /Jisnis: Allli M nm/mli mcngambil alih asset, hak dan k wajib·m dari kcdua pcrus<th,tan yang hubar tersehut. Jadi konsolidasi m 'tl1pakan pelaburan clari clua 'l':m dan hukum menjadi satu hadan hukunr ba1l1, Akuisisi Akuisisi oleh Encyclopedic'\ of Ba,nking and Finance di. clefinis i­ kan sebagai a generic term for the taking over of one company by another, dan dalam Black's La� Dictionary diartikan sehaga i the act of becoming the owner ofcertain property; tbe act lyi lvhlch one acquzres or purchases tbe property in dnything. ·o a)a·m pengertian Huku m perusahaan secara umum dapat diterjemahkan sebagai pengambil­ alihan suatu perusahaan oleh perusahaan ·tainnya: Jika kita perhatian kon'sep daii- pe·ngertian ya'i1g diberikan di atas, jelas hahwa, haik penggabuhgari (merger) rriaupu n pelebu ran (konsolidasi) melibatkan qua atau · lebih perseroan terbatas s ebagai suatu badan hukum. Sedangkan pada·pengambflalihan (akuisisi), tidak diberikan suatu batasan dari perusahaan yang mengambilalih maupun yang diambilalih. Yang jelas jikt\ ki,tf1 qerbica� ��cara konsisten dalam konteks perseroan terbatas pada umvmny�, rpa�a.pengambilalihan akan melibatkan perseroan terbatas sebagai perusahaan yang diambilalih, dengan tidak menutup kem ung�inan bahwa perusahaan yang mengambilalih adalah ju.ga suatu perseroan terbatas. , I 1 1 ( MERGER, KONSOLIDASI DAN AKUISISI M ENU RUT KETENTUJ:'N UND�NG-UNQANG �O. 1. TA��N 1 995 TENTANG PERSEROAN TERBATAS. r ' ' r Meskipun secara prinsip dikatakan bahwa1 1pelaku usaha bukan­ lah hanya terdiri dari perseroan terbatas belaka, namun tidak dapat dipungkiri bahwa pelak u -pelaku usahtl yang "besar",adalah perseroan­ perseroan terbatas. Dan oleh karena Undang-undang secara resmi juga mengatur berbagai hal yang herkaitan dengan masalah peng- Posisi Do111i11a11 da11 H11b1111gm1 Terafiliasi 45 gahungan, pelehurnn dan penhgamhilalihan, maka tidak ada kurang­ nya jika pada uraian buku ini juga dibahas beberapa haJ yang ber­ hubungan dengan penggabungan, peleburan dan pengambilalihan yang diatur dalam Undang-undang No. 1 tahun 1995 tentang Perseroan Terhatas tanggal 7 Maret 1995. Ketentuan mengenai penggabungan (merger), peleburan (konsolidasi) dan pengambila/ihan (akuisisl) dalam Undang-undang Perseroan Terbatas diatur secara khusus dalam Bab VII daripasal 102 sampai dengan pasal 109 Undang-undang Perseroan Terhatas, dengan sub-judul "Penggabungan, peleburan dan pengambilalihan ". SejaJan dengan ketentuan yang diberikan dalam pasal 109 Undang-undang Perseroan Terbatas, pada tanggal 24 Februari 1998 telah dikeluarkan oleh Pemerintah peraturan pelaksanaan mengenai penggabungan, peleburan dan pengambilalihan daJam Peraturan Pemerintah No. 27 tahun 1998 tentang Penggabungan, Peleburan dan Pengambila/ihan Perseroan Terbatas. Undang-undang Perseroan Terbatas Seperti telah dikatakan di atas hal-hal yang berhubungan dengan penggabungan, peleburan clan pengambilalihan perseroan terbatas diatur dalam Undang-undang Perseroan Terbatas Bab VII, pasal 102 sampai dengan pasal 109. Jika kita baca rumusan yang ada pada pasal­ pasal tersebut, dapat kita lihat bahwa ketentuan mengenai merger dan konsolidasi diatur dalam 6 pasal, clan ketentuan mengenai akuisisi diatur dalam 4 pasal. Dari ke enam pasal yang mengatur mengenai merger dan konsolidasi tersebut, hanya satu pasal yang secara esensial mengatur mengenai (akibat dari) merger dan konsolidasi, yaitu pada ketentuan pasal )07. Ketentuan pasal 107 ayat (1) secara tegas menyebutkan bahwa: "Dalam hat terjadi penggabungan atau pe/eburan, maka perseroan yang menggabungkan diri atau me/eburkan diri menjadi ➔ 6 S<!/'i H11lm111 /Ji.m is: r\ntl ' il 1011opofi bubar". Ayat (2 )-nya selanjutnya ·mcnentukan hah\va pem huhara n termaksud dalam ayat (1) di atas dapat clilakt.1k ai1 dengan atau ta1tpa men_gadakan likuidasi terlehih dahulu. Pembuharan p'erseroan tanpa likuidasi tersehur hanya dapat dilakul<an, clengan keterltuan'jika: aktiua dan pasiua dari perseroan yang digabungkan atau yang meteburkan diri, be'ralih karena h1ikum kepada perseroan basil penggabungan atau pefeburan , dan 2. pemegang saham perseroan ya'ng digabungkan atau yang meleburkan diri menjadi periiegang saham perseroan basil penggabungan atau pelebu,ran (ayat (3)). 1. Dalam empat,pasal, yang mengatur mengenai akuisisi dapat kita lihat bahwa Undang-undang Perseroan Terbatas ini hanya_ n,engatur mengenai akuisisi sab�m. Dalam ketentuan pasal 103 �yat U) s ecara tegas dinyatakf1n pengak_u an }Jnd��- g�•�,n qang Perseroan Terbatas terhadap keberadaan akuisisi perseroan terbatas oleh setiap subyek hukum lainnya selain perseroan terbatas itu sendiri, termasuk yang dilakukan oleh orang-perorangan ljual beli perusahaan). Berbagai Kepentingan yang Harus Diperhatikan Satu-satunya pasal dalam Bab VII Undang-un0ang Perseroan Terbatas yang memperhatikan kepentingan pihak ketiga dalam.hal . . akan dilakukannya merger, konsqlida,si,. � aupu� �kuisisi pe�se(oan terbatas adalah ke�entuan dalam pasal 104 ayat (1), yang secara tegas menyata­ kan bahwa: Perbuatan hukum penggabungan, pelep�ran. dan peng­ ambilalihan perseroan harus mempertimbangkan: a. kepentingan perseroan, peinegang saham minoritas dan karyawan perseroan; dan masyarakat dan p ersaingan sebat dalam b. kepentingan . ' melakukan usaba. !'<Js/si /)(J111i1w11 da11 H11b1111ga11 Tcrt{(iliasi � Peraturan Pe111eri11tah No. 27 tahwl 1998 Hal senacla sehagaimana dischu tkan cli atas juga cli,ttur dalam Peraturan Pemerintah No. 27 tahun 1998. Ketentuan mengenai rerlunya perhatian terhadap kepcntingan masyarakat clan persa ingan sehat dalam menjalankan usaha kemhali cliulang dalam keten tuan Pasal 4 ayat (1) h uruf b Peraturan Pemerintah No. 27 tahun 1998 tersehut di mana dikatakan bahwa penggabungan, peleburan dan pengamhilalihan hanya dapat dilakukan dengan memperhatikan kepentingan masyarakat dan persaingan sehat dalam melakukan usaha. THE CLAYTON ACT Penggabungan, peleburan dan pengambilalihan, jika dilihat dari efek atau akibatnya, yang menghasilkan suatu sinergi ketja pelaku usaha yang lebih kuat dan efisien, memang cenderung melahirkan penguasaan pasar secara monopoli yang dapat menghilangkan persaingan usaha yang sehat. Ketentuan yang melarang tejadinya penggabungan, pele­ buran dan pengambilalihan ini tidak akan kita temui dalam Sherman Act, melainkan dalam Clayton Act. Sejalan dengan jiwa Sherman Act, dalam Clayton Act-pun yang d i tekan kan adalah proses monopolinya, yang akan mengakibat­ kan berkurangnya tingkat kompetisi sesama pelaku usaha. Dengan demikian selama proses penggabungan, peleburan maupun pengam­ bilalihan tersebut dianggap tidak mengurangi "competitiveness" dari d unia usaha, maka hal tersebut tidak dilarang. Dalam Clayton Act, maksud dari pelaku usaha untuk melakukan tindakan penggabungan, peleburan maupun pengambilalihan harus telah diberitahukan kepada Federal Trade Commission (FTC) 30 (tiga puluh) hari sebelum tanggal pelaksanaannya. Pemberitahuan di muka ini diperlukan sebagai bahan evaluasi dan pertimbangan oleh FTC dan Departemen Kehakiman untuk menentang atau menerima rencana penggabungan, peleburan atau pengambilalihan tersebut. Seri l--l11l•11m Bi.mi.: Allli ,1 /wtoJmli 8 Mac�m-macam Peng�abungan Berda arkan pada ifat nya pen ,gahu nga n (merger) dapat digolongkan ke dalam: a. Merger konglomcrat (Conglomerate 1Werger), dimana perusahaan ­ perusahaan yang bergabung bu kctnlah pelaku usaha kompetitor, pelaku u aha konsumen, atau pemasok, yan satu terhadap yang lain nya, seperti halnya dalam merger horisontal dan merge r vertikal. Tipe merger konglomerat ini dibedakan lagi dalam jenis­ jenis: I. Tipe Perluasan Geografis (Goegraphic extension), yang dipakai guna memperluas pangsa pasar; 2. Tipe Perluasan Prociuk (Product extension) yang dilakukan antara sesama produsen dari barang-barang yang mirip-atau hampir sejenis, tetapi yang bukan kompetitor; 3. Tipe Konglomerat Murni (Pure Conglomerate Merger), yang merupakan merger dari ctua perusahaan, dimana perusahaan­ perusahaan yang bergabung tersebu t tidak memiliki pangsa pasar yang hampir sejenis, ataupun secara fungsional tidak rnemiliki hubungan ekonomis, seperti kedua tipe d i atas. b. Merger dalam suatu grup, yang d ibedakan dalam : tipe Down stream Merger, di mana induk perusahaan Merg·e r dan masuk ke dalam anak perusahaan; dan kebalikannya tipe Up stream Merger, di mana anak perusahaan melebur ke dalam induk perusahaan­ nya. c. Merger horisontal, yang terjadi antar kompetitor; dan Merger vertikal a'ntara pemasok dengan konsumen atau pelanggannya, atau pabrikan dengan d istributornya. d. Merger segitiga (Triangular Merger), yang merupakan merger antara dua perusahaan, dimana asset, hak dan kewaj iban dari salah satu perusahaan ya ng huhar tersebut, dialihka n pada anak perusahaan dari perusahaan yang tetap eksis tersehut . l'osisi J)o111/11m1 dtm H11bu11ga11 Tera.fl/las/ 9 ,Hacam-macam Bentuk Akuisisi Dalam praktcknya, aku isisi ini dttpat mengamhil bentuk-he ntuk sehagai herikut : a. Akuisisi horisontal yang dilakukan oleh suatu perusahaan terhadap kor1peti tornya ; dan akuisisi vertikal yang biqsanya dilakukan terhadap pemasok, konsumen, langganan, atau distributor dari ·perusa haan yang mengakuisisi. b. ,A kuisi�i internal yang dilakukan antar perusahaan yang tergahung dalam sacu grup; dan,akuisisi eksternal ·yang dilakukan oleh suatu perusahaan terhadap perusahaan lainnya yang bukan satu grup. Dalam bentuknya tersebu t, akuisisi, berbeda dengan merger, tidak mengenal hentuk yang non fungsional, seperti pada bentuk Pure Conglomera, e Merger, kecuali yang dilakukan dalam bentuk akuisisi internal antar grup. Pada umumnya akuisisi dilakukan oleh suatu perusahaan' ternadap 'perusahaan lain yang menunjang bidang usaha dari perusahaan yang mengakuisisi tersebut, baik yang dilakukan ;ecara horisontal maupun ve1tikal. Dalam beberapa ha!, ini harus mereka lakukan agar : pada akuisisi horisontal, akan dapat memperbesar pangsa pasar dengari mengurangi tingkat kompetisi ; dan pada akuisisi secara vertikal, mereka tidak akan keh ilangan pemasok, konsumen, atau jistributor yang akan memasarkan produk yang mereka hasilkan. V:iuisisi Saham Akuisisi saham merupakan salah satu bentuk akuisisi yang paling 1mum ditemui dalam hampir seti�p kegiatan akuisisi. Akuisisi tersebut iapat dilakukan baik dengan cara: l .. I .. I • membeli seluruh maupun sebagian sah�-saham yang telah dikeluarkan oleh perseroan; maupun dengan atau tanpa melakukan penyetoran atas sebagian maupun seluruh saham yang belum dan akan dikeluarkan perseroan; Seri Hul•11111 /Jis11is: A11ti ,1/01l()j)(J/,' 10 yang mcngakihatkan pengwtsaan rnayoritas,atas saham pcrscroan olch pcrusahaan yang nielakukan akusisi tersehu t, yang tc,� tunya juga akan mcmhawa ke arah penguasa,111 manajemen dan jalannya perseroan. J Ketentuan pasal 103 Uncfang-u nclcmg Perseroan Terhatas mengisyaratkan hahwa akuisisi hanya mungkin dilal<sanakan, jika hal tersehu t memang dikehenclaki oleh ke clua helah pihak, haik itu perusahaan yang akan melakukan akuisisf maupun perseroan \'ang akan diakuisisi. Pernyataan kehendak atau kesepakatan dari Re dua hclah pihak tersehut . .. harus dibuktikan dengan persetujuan dai-i Badan atau Organ tertinggi dalam masing-masing perusahaan clan atau perseroan. Dalam hal yang melakukan akuisisi adalah ·suatu perseroan terhatas j uga, maka p�rsetujuan tersebut harus ternyata dari Ra pat Um urn Pemegang ?aham I l I .' dari masing-masing pe1:seroan, haik yang mengakuisisi .maupun yang diak.u isisi. Selanjutnya . pleh karena sifat dari akuisisi. demikian yang herasal dari kesepakatan kedua belah pihak, m aka akuisisi yang de�ikian seripgkali disebuf denganfriend(y'acquisition/ take over yang , dibedakan dari hostile take over. I • t I ' j , }, • l ' Akuisisi asset Di samping akuisisi saham, praktek juga mengenal akuisisi atas asset. Akuisisi asset secara sederhana dapat dikatakan merupakan: 1. jual heli (asset) antara pihak yang melakukan akuisisi �sset (sebagai pihak pemheli) dengan pihak yang diak uisisi assetnya (sehagai pihak penjual), jika akuisisi dilakukan dengan pembayaran uang tunai. Dalam ha! ini segala formalitas yang harus dipenuhi untuk suatu jual heli harus diberlakukan, termasuk jual beli atas Hak atas Tanah yang harus dilakukan di hadapan Pejabat Pemhua t Akta Tanah; 2. perjanjian tukar menukar antara asset yang diakuisisi d engan suatu kehendaan lain milik dari 'p ihak yang melakukan akuisisi, jika akuisisi tidak dilakukan d engan secara tunai. Dan j i ka kebendaan yang dipertukarkan dengan asset merupaka n sahamI l 'oslsl IJ0111/11r111 (/(111 /111/J1111!(a11 Terajl/las/ 51 saham, maka akuisisi tcrschut dikcnal clcngan rn1ma a ·etsforshare exchange, clcngan akihat hukum hahwa pcrscroan yang cliakuisisi tcrschut menjadi pcmcgang saham clari pcrscroan yang mcng­ akuisisi. Dari ·keclua macam akuisisi, yaitu akuisisi saham dan akuisisi asset yang clikcnal, Clayton Act tid ak melarang dilakukannya akui isi asset mengingat bahwa akuisisi tersehut tidak menyebabkan terjaclinya akumulasi kekuatan yang menyebahkan herkurangnya tingkat kompetisi yang ada. PENILAIAN ATAS PROSES PENGGABUNGAN, PELEBU RAN DAN PENGAMBILALI HAN Telah dikatakan di awal tulisan ini bahwa pada prinsipnya yang dilarang adalah penggabungan, pelehuran d an pengambilalihan yang dapat mengurangi tingkat kompetisi, yang secara kuantitatif dijabarkan tjengan penguasaan pasar secara dominan oleh satu atau lebih pelaku usaha atau kelompok pelaku usaha sebagaimana diuraikan di atas. Untuk dapat menentukan apakah suatu penggahungan, peleburan dan/ atau pengamhilalihan dapat mengarah kepada tetjadinya monopoli dan/ atau persaingan usaha tidak sehat ada dua parameter dasar sebagai acuan penil aian yang dapat dipakai, yaitu: 1. penentuan mengent\i pasar bersangkutan; 2. penilaian terhadap tingkat kompetisi pasar bersangkutan yang ada. Penentuan Mengenai Pasar Bersangkutan Pada garis besarnya penentuan mengenai pasar bersangkutan yang d iuraikan dalam Bab II buku ini dapat dipergunakan. Namun demikian, untuk memperoleh gambaran yang jelas dari pasar yang bersangkutan, selain hal tersebut yang diuraikan dalam Bab II di atas, ada bebcrapa hal yang perlu diperhatikan: a. karakteristik khusus dari masing-masing produk; Seri Hukum Bi.m is: Anti Mo11opoli 52 fasilifas pengadaan produ k yang spesifik ' dari masing-masing h. produk; 1 c. harga dari masing-masing produk yang herlaku di masyarakat; ct. sensitifitas ·dari masing-masing produk terhadap perubahan harga 'di masyarakat; e. adanya vendor�vendor atau pemaso�-pemasok khusus bagi masingmasing produk; f. pengakuan atas masing-masing produk tersebut oleh masyarakat luas pengguna atau pemakai produk tersebut. ' I ,,; Penilaian Tingkat Konip,etisi ' -· i Ad� 5 h�l, yang pe�lu d iP.�f��ti ��i:i 1Pt!-��m rneI�.k��apr p�nilaian terhad�p ti�gka.t k�m�e:�.s i seQ�gai. a�ibat d�� p�nggabung� , pele�_uran gan,a�u,peng�m.b ilalihan.: 1. ada·�idaknya elimin�i dal_a m1 p�rs?iIJgaq:s��arfi l�1_1gs�ng; 2. kemungkinan terjadinya •praktek persainga'n , tidak sehat oleh perusahan(-perusahaan) hasq penggabimgan, peleburan dan pengambilalihan; 3. potensi masuknya kompetitor baru dalam pasar bersangku'ta n; . ' ' I 4 . tendensi atau potensi untuk terulangnya' proses penggabungan, peleburan dan atau pengambilalihan cHeh' ·pelaku-p'elaku usaha lainnya; 5 . tren dari pasar bersangkutan. Meskipun hasil penilaian yang dilakukan dengari menggunakan parameteryang ada telah·menunjukkan tidak adanya potensi dari suatu penggabungan, peleburan dan atau pengambilalihan 1 menjadi mono­ poli, namun jika kemudian fakta. menunjukkan sebaliknya, maka de m i hukum, penggabungan, peleburan dan atau pengambilalihan tersebut dapat ditinjau kembali dengan segala akibat,hukumnya. Ini pen ting agar para pelaku usaha tetap berusaha,daJ�m jalur-jalur hu�um dan aturan main serta kode etik yang telah ditetapkan. 1 1 • , ✓- I • ♦ 53 KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA GAMBARAN UMUM Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) adalah suatu lembaga yang khusus dibentuk oleh dan berdasarkan Undang-undang untuk mengawasi jalannya Undang-undang. KPPU merupakan lembaga independ�n yang terlepas dari pengaruh dan kekuasaan Pemerintah serta pihak lainnya. KPPU bertanggung jawab langsung kepada Presiden, selak u Kepala Negara. KPPU terdiri dari seorang Ketua merangkap anggota, seorang Wakil Ketua merangkap anggota, dan sekurang­ kurangnya 7 orang anggota lainnya. Ketua dan Wal<il Ketua Komisi dipilih dari dan oleh anggota komisi. Para anggota KPPU ini diangkat dan Perwakilan d i be rhentikan oleh Presiden atas persetujuan Dewan • I Rakyat. Masa jabatan anggota ·KPPU hanya 2 periode, dengan masingm asing periode selama 5 tahun. Apabila karena berakhirnya masa jabatan akan tetjadi kekosongan dalam keanggotaan Komisi, maka masa jabatan anggota baru dapat d i perpanjang sampa pengangkatan anggota baru . Untuk menjadi anggota KPPU harus dipenu hi p�rsyaratan sebagai berikut: a. Warga Negara Republik Indonesia, berusia sekurang-kurangnya 30 (tiga puluh) tahun dan setingg i-tingginya 60 (enam puluh) tahun pada saat pengangkatan; Seri /-·lld1 11111 /Jis11is: Anti ,1/0110/}()/i Sctia kepacla Panasila clan Unclang-U n clang Dasar 1945; heriman dan henaqwa kcpada Tu han Yang Maha Esa; C. d. jujur, ac!H clan berkelakuan ha_ik; e. hertempat tinggal di'wilayah' Negara R�puhlik Indonesia; f. herpengalaman dalam hidang .usaha atau .m empunyai pengetahuan dan keahlian di hidang hukum dan atau ekonomi; g. tidak pernah dipidana karena melakukan kejahatan herat atau karena melakukan pelanggaran kesusilaan; h . tidak pernah dinyatakan pailit oleh pengadilan; I. tidak terafiliasi dengan suatu badan usaha, yaitu sejak yang hersangkutan menjadi anggota KPPU tidak ·riienjadi:' . 1. anggota D�wan �omisaris atau Pe�gawas, atau qireksi suatu perusahaan; 2. anggota pengurus atau badan pemeriksa suatu koperasi; 3 . p ihak yang memberikan l ayanan jasa kepada suatu perusahaan; 4. pemilik saham mayoritas suatu perusahaan. b. 1 l,(eanggotaan k�misi qerhenti karen�- menif}gg�l , dunia, meng­ undyrkan diri atas permintaan sendifi, b�rte�pa� tinggal di luar wilayah Negara Republik Indonesia, sakit jasmani dan rohani terus menerus yang dinya�kan dengan surat _k eterangan dqkter ya�g berwenang, berakhirnya masa jabatan keanggotan komisi, dan diberhentikan yang antara lain karena tidak lagi memenuhi persyaratan m engenai keanggotaan ·KPPU sehagaimana disebutkan di atas. , I I TUGAS DAN WEWENANG KPPU Tugas dan wewenang KPPU ,,diatur dalam ketentuan pasal 35 clan pasal 36 Und�ng-undang. Dalam rurnusan pasal 35 dikatakan bahwa tugas Komisi meliputi: Komisi Pe11gawas Persai11ga11 Usaha 55 a. melakukan penilaian terhadap perjanjian yang dapat meng­ akibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat; h. melakukan penilaian terhadap kegiatan usaha dan atau tindakan pelaku usaha yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak; c. melakukan penilaian terhadap ada atau tidak adanya penyalah­ gunaan posisi -dominan yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopo1i dan atau persaingan usaha tidak sehat, termasuk didalamnya rumusan ketentuan pasal 29 ayat (1) yang secara tidak langsung memberikan "tugas" kepada Komisi untuk memantau terjadinya penggabungan atau peleburan badan usaha, atau pengambilalihan saham suatu perusahaan, yang patut diduga akan mengakibatkan tetjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat; d. mengambil tindakan sesuai dengan wewenangnya; e. memberikan saran dan pertimbangan terhadap Komisi kebijakan Pemerintah yang berkaitan dengan praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat; f. menyusun pedoman dan atau publikasi yang berkaitan dengan Undang-undang ini; g . memberikan laporan secara berkala atas hasil ketja Komisi kepada Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat. Jika kita baca tugas yang diberikan dalam huruf a,b, dan c dapat kita katakan bahwa pelaksanaan dari tugas tersebut di atas terkait erat dengan tata cara penanganan perkara yang harus diikuti oleh KPPU. Selain rumusa n ketentuan pasal 29 ayat (1) yang mewajibkan diberikannya laporan oleh "pelaku usaha" kepada KPPU dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak dilakukannya penggabungan a tau peleburan badan usaha, atau pengambilalihan saham perusahaan, maka boleh dikatakan bahwa tugas penilaian oleh KPPU baru dapat 56 Seri Hukum Bi.m is: Anti ,ito11opoli 1 dilaks anakan setelah adanya pelaporan, menurur ketcntuan mengenai tata cara penanganan perkarc1. Selanjutnya sehagai tindak lanjut dari tugas yang diherikan dalam huruf d, dalam pasal 36 �ijah�rkan wewenang Koinisi sehagai herikut : menerima laporan dari . masyarakat dan , atau .dari , pelaku usaha tentang dugaan tetjadinya pra�tek monopoli dan a�u persaingan · · usaha tidak sehat; b. melakukan p�nelitian tentang dugaan adanya kegiatan. usaha da n t'' i a�� t.i.ndakan p�l�ku u�a,h a 1 yan� dap�t m�ng�kib� ��a� ��tjadinya .P ���te�, monop,9Ji 9an a�u,_ per.��ing�� usah� �idak,seqat; . c. melakukan , penyelidi_k a(J. d�n atau p�meriksaan terhad?P .kasus d_µgaan1 pr�k�e� mo11opoli1 da� 1 atau, pe_rs.aingan-usaha t�dak sehat · ;yang -dihipor�an ,olet:i mqsyarakat. atau . .oleh, , pelak� , .µ saha atau yang ditemukan oleh Komisi sebagai hasil dari. pen�li,ti�nnya; d. menyimpulkan,hasi.l,peny�J�di,ka11 ,d an atau p�111erjks3?1n . �entang ,�d¥ a�u tidak adany� praktek monopqlt dan at�u.p�rsaingan usaha J tidak sehat; . I' e. memanggil pelaku usaha yang q�dµg0; t�l� meJa�u�!1· P.el�nggaran terh�dap keteq��a9 unpan�-� �dan1� ini; : f. memanggil dan menghadirkan saksi, sa�si ahli,1 ��n1setiap orang yang dianggap mengetahui pelanggaran terhadap keteptuan IJ Ji ' ' • undang-undang ini; . ,, g. meminta bantuan penyidik untuk menghadirkan pel�ku u saha, .dimaR�ud huruf e s ebagaimana saksi, saksi �hli, 'atau �etiap orahg ' . ' ' • ' ' ' I ' ' I . I dan ,h urufl, yang tidal< bersedia memenuhi panggilan Koniisi; I I I I Peqgertiaf), pen�idik,, di si�� apaJap penyid/� se��gaima na dimak· supkan1 d�lam U.ndang-u _n1d�ijg_ N9111 or 8 1/lh,u nJ?Sl, y�itu. �ejabat polisi ,neg�ra Republik Indonesia �ta �_, peja�af Be&a�a.i negeri s ipil tert�ntu yang diberi wewena11g khusus oleh µ99ang-undang untu k melakukan p�nyidjkan. a. I f t • j \ I j t jI , J j , t , I J Ij 11 t II 1 1 • \ • I ,. I • I I « ., I )I . , , I I J ' I f IJ J • I I I I I • Komisi Pe11gau 1as Persai11ga11 f �'ia/Ja 57 h. m e m i n ta keterangan da ri instansi Pef}1erintah dalam kaitannya dengan penyelidikan dan atau pemeriksaan terhadap pelaku usaha yang melanggar ketentuan undang-undang ini; 1. m endapatkan, meneliti, dan atau menilai surat, dokumen, atau alat liukti lain guna penyelidikan dan atau pemeriksaan; J. memutuskan dan menetapkan ada atau tidak adanya kerugian piha k pelaku usaha lain atau masyarakat; k. memberitahukan putusan Komisi kepada pelaku usaha yang diduga .melakukan praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat; I. m enjatuhkan sanksi berupa tindakan administratif kepada pelaku usaha yang melanggar ketentuan Undang-undang ini. Berdasarkan rum usan yang diberikan tersebut di atas dapat kita l ihat bahwa pada prinsipnya tugas dan wewenang Komisi merupakan satu kesatuan kegiatan yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang I l lainnya. Dan kedua ha! ini terkait secara langsung maupun tidak langsung dengan tata cara penangan perkara sebagaimana akan diuraikan pada I uraian berikut d i bawah ini. TATA CARA PENANGANAN PERKARA OLEH KPPU Tata cara penanganan perka�a diatur dalarn Bap VII mulai dari I I pa al 38 sampai dengan pasal 46 . Dari rumusan kctentuan pa al 38 dapat kita ketahu i bahwa tidak hanya pihak yang dirugikan saja, sebagai akibat dari terjadinya pelanggarar) terhadap Uodang-undang ini, yang dapat mclaporkan sepira tertulis kepada KPPU dengan keterangan yang lengkap dan jelas tentang telah terjadinya Relanggaran s�rta ke�gian yang ditimbulkan, dengan menyertakan identitas pelapor, melainkan juga setiap orang yang mengetahui telah terjadi atau patut diduga telah tetjadi pelanggaran terhadap Undang-undang ini dapat melaporkan secara tertulis kepada KPPU dengan keterangan yang jelas tentang telah terjadinya pelanggaran, dengan menyertakan identitas pelapor. Sampai �8 Seri Hukum Bi.mis: Anli Monopuli sejauh ini jelas hahwa pelanggaran yang clilakukan atas Undang-unclang ini hukanlah delik yang hersifat aduan (oleh pihak yang clirugikan). Sehagai "kelengkapan" hagi KPPU, Undang-undang juga memberikan kewenangan pada KPPU untuk dapat melakukan pemeriksaan langsung terhadap pelaku usaha, apahila ada dugaan tetjadi pelanggaran U ndang­ undang ini walaupun tanpa adanya laporan. ' Pemeriksaan oleh KPPU Pasal 39 ayat (1) Undang-undang mewajibkan KPPU u n tuk, berdasarkan laporan yang telah disampaikan tersebut, melakukan pemeriksaan pendahuluan . Dari hasil pemeriksaan pendahuluan tersebut, dalam jangka waktu selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak KPPU menerima laporan tersebut, KPPU wajib menetapkan perlu atau tidaknya dilakukan pemeriksaan lanjutan. Jika KPPU menetapkan perlunya untuk dilakukan pemeriksaa n lanjutan, maka dalam pemeriksaan lanjutan tersebut, KPPU wajib melakukan pemeriksaan terhadap pelaku usaha yang dilaporkan. Selanjutnya jika diperlukan oleh KPPU, dalam rangka pemeriksaan lanjutan, Undang-undang memberikan hak kepada KPPU untuk mendengar keterangan saksi, saksi ahli, dan atau pihak lainnya yang relevan. Sebagai jaminan atas diri pelapor, KPPU wajib merahasiakan identitas pelapor, terutama pelapor yang 'bukan pelaku usaha yang dirugikan. Demikian juga sebaliknya sebagai jaminan bagi pelaku usaha yang diperiksa, KPPU juga diwajibkan untuk menjaga kerahasiaan atas segala informasi yang diperoleh KPPU dari pelaku usaha yang dikategorikan sebagai rahasia perusahaan. Pelaku usaha dan atau pihak lain yang diperiksa wajib men yerahkan alat bukti yang diperlukan dalam penyelidikan dan atau pemeri ksaan. Pelaku u. saha dilarang menolak diperiksa, menolak membe ri kan informasi yang diperlukan dalam periyelidikan dan atau peme riks aan, Komisi Pe11gawas Persai11ga11 Usaba 59 atau menghambat proses penyelidikan dan atau pemeriksaan . Jika pelaku usaha melaku kan pelanggaran terh adap keten tua n tersebut, maka KPPU wajib menyerahkan hal tersebut kepada penyidik untuk dilakukan penyidikan sesuai dengan ketentuan yang herlaku. Yang diserahkan oleh Komisi kepada penyidik untuk dilakukan penyidikan tidak hanya perbuatan atau tindak pidana di atas yaitu m enolak diperiksa dan memberikan informasi , serta menghambat proses penyelidikan dan atau pemeriksaan ; tetapi juga termasuk pokok perkara yang sedang diselidiki dan diperiksa oleh komisi. Selanjutnya KPPU d iwajibkan menyelesaikan pemeriksaan lanjutan selambat-lambatnya 60 (enam puluh) hari sejak dilaku kan pemeriksaan lanjutan. Jika diperlukan jangka waktu pemeriksaan lanjutan dapat diperpanjang untuk jangka waktu paling lama 30 (tiga pulu h) hari. Setelah itu KPPU wajib memutuskan telah terjadi atau tidak terjadi pelanggaran terhadap undang-u ndang ini selambat­ lambatnya 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak selesainya pemeriksaan Janju tan. Keputusan ini dilakukan dalam · suatu sidang Majelis yang beranggotakan sekurang-kurangya 3 (tiga) orang anggota komisi. ALAT-ALAT BUKTI a. b. c. d. e. Alat-alat bukti pemeriksaan KPPU berupa: keterangan saksi; keterangan ahli; surat dan atau dokumen; petunjuk; . keterangan pelaku usaha. Putusan KPPU Putusan KPPU harus dibacakan dalam suatu sidang yang dinyata­ kan terhuka untuk umum dan segera diberitahukan kepada pelaku 60 Seri H1d•11111 /Ji.mis: A11(i -.\lu11opuli usaha. Pelaku usaha yang menerima pemheritahuan , ter·�cbut dapat mengajukan keberatan atas putusan KPPU. I Keberatan alas Putusan KPPU'dan Pelaksanaan Putusan KPPU Pelaku usaha yang tidak mengajukan keher�tari a'tas putusa n p'e �lieritaKPPU, dalam jangka waktu 14 (empat helas) hari 1 setelah . ' huan dianggap 'telah menerima putusan KPPU, dan ·µu' tusaf r KPPU 1 tersebut akan 'berlaku sebagai 'ptftusan 1pada tihgkaf akhir ·(ftnal) dan mempunyai•kekuafun hukum yang:tetap.r Dan·sebagai 'konsekuens\inya p�t.usan . �.e�sebut;ihersjfat ek�ekutori � J, dengaq1 :pengertian ._bahwa putusan 1 t�r��but p�pat· ,d imintc\kar:i, Rela�sanaan p�netapa!)- eksekusi kepad� Pengadilan Neger � . S�Janj�tnya Un.d�ng-µ,Qdang menent.ukan �ahwa daJam jangka :wa,ktu 30 (tiga puluh), l)a�i ,terhi�µng sejak 1 pela�u usa9a JTICOerima P,emberitaru�n p�r,usan �r:U,1 pelaku usaha ·Wajib melaksanakan pµt9san t�rnequt d�n ..m�nyar:np�kan, I�poran, p�I�ksa­ n�annya kepada �PU. J��a pµtusan, ters�bµtr 1tida.� ,pjja, lan ��I1 ·P.l e,h p�laku usaha ,dal�m ja�g�? 1w�kt.u Y.a_ng t�Iah pitent�kan .m a�� �P.U menyerahk�n putu�an .t�r�ehµt kepac;I_a. peny � dik unt�k.dilakuka n penyidikan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undang yang berlaku. Putusan KPPU tersebut berlaku sebagai b_ukti-perm, u laan yang cukup bagi penyidik untuk melakukan penyidikan. • J I ( ' , I 1. • ,. Keberatan atas Putusan KPPU Pelaku usaha yang tidak menerima, putusan KPRU ,dapat ,meng-. ajukan keberatan kepada Pengadilan Negeri selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari setelah pemberitahuao: 1putusan tersebut diterima. Pengadilan Negeri harus memeriksa keheratan yang diajukan oleh pelaku usaha dalam waktu 14 (empat belas) hari sejal<' diterimanya kebe�atan tersebut, da,n harus, me�he�ik4 � ��itu�an d�la p .�aktu 30 (tiga pu_luh) hari sej�k di f11.ul,ainya P,emer*sqa � ke�7r�tan ters � but. Selanjutnya jika terdapat keheratan atas putusan Pengadilan Negeri, Komisi Pe11ga1vas Persai11ga11 lfsaba 61 maka pihak yang berkeheratan terhadap putusan yang dijatuhkan oleh Pengadilan Negeri , dapat mengajukan Kasasi kepada Mahkamah Agung dalam waktu 14 (empat helas) hari terhitung sejak putusan dijatuhkan. Mahkamah Agung harus memherikan putusan dalam waktu 30 (tiga puluh) hari sejak permohonan kasasi diterima. Berikut di bawah ini kami sajikan tabel waktu penanganan dan penyelesaian perkara oleh KPPU dalam kaitannya dengan lembaga peradilan yang ada: A B C D E F PASAL DESKRIPSI (URAIAN) POINTER 39(1 ) 43( 1) 43(2) 43(3 ) 43(4 ) 44 (1) Pemeriksaan penclahuluan Pemeriksaan lanjutan Perpanjan�n waktu pemeriksaan lanjutan Pulusan ada liclaknya pelanwran Penyampaian putusan Pelaksanaan putusan A + 30 8 + 60 C + 30 0 + 30 G II 44(2) 45( 1 ) 45(2) Pengajuan keher.nan ke PN Pemeriksaan keheratan Putusan atas keheracan Ttngkal PN J K 4 5(3 ) 4 5(4) A 30 60 30 30 E 30 Suh total hari Tingkal KPPU 180 E G + 14 I I + 14 Tingkat Kasasi Suh IOtal hari TOTAL I IARI 14 14 30 58 Suh IOtal hari Kasasl ke Mahkamah AJ;!ung Putusan Kasasl oleh MA HARi I + 30 K + 14 14 30 44 282 ♦ 63 SANKSI-SANKS I PENGANTAR Sebagai sala�. satu 1perat�ran 1 p�,rynda,ng-u_ndangan yang dihuat u ntuk meciptakan ''social engineering" bagi masyarakat dunia usaha pada umum nya, dan para pelaku usa�a pada khususnya, Undangu ndang No. 5J tahun 1999 inipun dilengkapi dengan berbagai macam I ' I I aturan mengenai sa11ksi-�anksi yang dapat dikenakan �agi mereka yang melanggar ketentuan Undang-undang. , • I Sep�rti telah d.i sebytkan di a\Yal uraian buku , ini bahwa yang dilarang dalam Undang-undang inL adalah.prakt�� monopoli yang me­ musatkan kekuatan ekonomi pada satu atau lebih pelaku usaha yang mengaki�atkan �li�uasainya p'roduksi d�n atau, pemasaran atas harang dan atau jasa tert�ntu �ehingga papat fl}�rimqulkan kegiatan persaingan usaha yang tidak sehat, yang dilakukan dengan cara tidak jujur atau melawan hukum. Kegiatan-kegiatan yang secara langsung ma'upun tidak langsung akan menghambat persalngan usaha ini pada akhirnya akan merugikan kepentingan masyarakat umum secara keseluruhan. Sebagai "cambuk" dan untuk menjamin efektivitas dari pelaksanaan dan peme­ nuhan kewajiban oleh pihak-pihak yang terkait dalam Undang-undang ini, Undang-undang memberikan sanksi bagi para pelanggarnya. 64 Seri H11!•11111 /Jis11L r\11/i ,\10110/mli MACAM-MACAM SAN KSI YANG DAPAT DI KENAKAN Sanksi yang diherikan dalam Undang-u nch1ng sccara �ri: dapat diherdakan kc dalam : tindakan admin istrat1f (pasal 4 7 ayal (2)); I. sanksi pidana pokok (pasaJ 48) ; dan 2. sanksi pidana tamhahan (pasal 49). 3. Tindakan Administralif Tindakan administratif yang dapat d iamhil menurut ketencuan Undang-undang adalah sehagai berikut: a. penetapan pemhatalan perjanjian yang dilarang oleh Undang undang, sebagaimana yang diatur dalam ketentuan pasal 4 sampai de ngan pasal •i31,• ·pasai 1 1 5' tlah 1 pasal 16�Uhdarig-undang schagai · , · , '· . , berikut: " ,• · . ' '/ 1 . · , ·1 . 2. -3. , �. f peqan'j ian' untuki mehguasii ' p ropuksi 'aan ,atau pemasaran barang dan jasa· yang'aapat men'�akibat1cih 'te9adinya praktck �· 1 1 ,, , r , , r ,· , 1 , 1 9 ·monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat; ) petjanjian yang menetapkan harga atas suatu barang dan a tau 1asa ·y�ng·hirus dibayar ol�h·kdnsumen;atau pelanggan pa pasar bersangkutari yang s'ama; , . . 1 J , I · . I 1 ,I • yarig satu ha perjanjian· yang mengakibatkJn p'emheli ' 1' , d ( 1 1 ., ,. ,. - 1 ' '1 11 • I membayar d �pRan harga y�ng o�rbe�a dar har�a yang haru dipayar oleh pembeli lain uqtuk ba,ang dan atau jasa yang • •I I• I I • 1 sama; n 4 . . , P, rrjanji � � r ,�ng ,m�� bµ f t �uatu .p�n�,�p- h,a rga d i ba ,, pasar yang dapat IT)� gakipatkan terjadinria,persaingan u 1 • 5: t!Q�k ts'�h at, ·. 11 ,. , 1 •1 petjanji�n yang memuat gersyaratao bahwa penerima bardll dan a tau jasa tid�k ��n menjual , a tau . me masok ken1baU &111ksi-sa11ksi 65 harang dan atau jasa yang telah diterimanya, dengan harga yang lebih rern;iah, daripada harga yang telah diperjanjikan sehingga dapat mengakibatkan terjadinya persaingan usaha tidak• sehat; 6. petjanjian yang bertujuan untuk membagi wilayah pemasaran atau alokasi pasar terhadap barang dan atau jasa sehingga dapat mengakibatkan ;te{jadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat; 7. 8. 9. petjanjian yang hertujuan untuk menghalangi pelaku usaha lain untuk .m elakukan usaha ,y,ang , sama,r baik untuk tujuan pas,a r dal,am negeri maupun pasar luar negeri; petjanjian '.dengan 1maksud •Untuk menolak menjua1 setiap barang dan atau jasa dari pelaku usaha lain sehingga perbuatan tersebut1 a., merugikan atau dapat diduga merugikan pelaku usaha lain; atau b. membatas i pelaku usaha lain dalam menjual atau membeli setiap. barang dan atau jasa dari pasar ber­ $angkutan; petjanjian·dengan tujuan untuk ,mempengaruhi harga dengan mengatur produksi dan a�u pemasaran suatu barang dan atau jasa 1 yang dapat f9Cngakibatkan tetjad.inya praktek monopoli dan atau p�rsainga n usaha tidak sehat; I 10. perjanjian �erja SaJlla, u n t u k membentuk gabungan perusahaan atau perseroan yang lebih besar, dengan tetap menjaga dan mem�e�haq�an kelangsungan hidup masing­ masing perJsahaa'n a tau p erseroan anggotanya, yang bertujuan untuk mengontrol produksi dan atau pemasaran I • I atas barang dan atau jasa dapat mengakibatkan , sehingga ' I I i " dan atau• persaingan tidak sehat; terjadinya praktek monopoli I I • 6l • ri H11k11m Bi.m is: Anti ,\ 101 10/)oli 1 1 . perjanjian yang hcrtujuan u nt u k scec1 ra hcnrn ma-sam-1 mengua ai pemhelian atau penerimaan pasok,m agar clarxn mengendalikan harga atas harang chm atau jasa dalam pasar yang hersangkutan, yang dapat mengakihatkan tcrjadin}cl praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat; 12. perjanjian yang me muat persyaratan bahwa pihak yang menerima barang dan atau jasa hanya akan memasok atau tidak memasok kemhali barang dan atau jasa tersebut kepada pihak tertentu dan atau pada tempat tertentu; 13. perjanjian yang memuat persyaratan bahwa pihak yang menerima barang dan atau jasa tertentu harus bersedia membeli barang dan atau jasa lain dari pelaku usaha pemasok; 14. perjanjian yang memberikan harga atau potongan harga tertentu atas barang dan atau jasa, dengan syarat bahwa pelaku usaha yang menerima barang dan atau jasa dari pelaku usaha pemasok : a. harus bersedia membeli barang dan atau jasa lai n dari pelaku usaha pemasok; atau h. tidak akan membeli barang dan atau jasa yang sama atau sejenis dari pelaku usaha lain yang menjadi pesaing dari pelaku usaha pemasok; 15. perjanjian yang dibuat dengan pihak lain di luar negeri yang memuat ketentuan yang dapat mengakibatka n terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat; dan/ atau b. perintah kepada pelaku usaha untuk menghentikan pembuataJ1 atau pelaksanaary perjanjian yang menyebabkan terjadinya integrasi vertikal yang antara lain dilaksanakan dengan pem ba ta l a 11 petjanjian, pengaJihan sebagian perusahaan kepada pelaku usatu lain, atau perubahan bentuk rangkaian produksinya yan g dilaran� oleh ketentuan pasal 14 Undang•undang; dan/ atau Sa11/..'sl-sa11ksl 67 c. perintah kepacla pelaku usaha untuk mcnghentikan kegiatan yang terhukti menimhulkan praktek monopoll dan atau menye­ babkan persaingan usaha tidak sehat dan atau merugikan masyarakat, berupa tindakan tertentu dan bukan kegiatan usaha pelaku usaha secara keseluruhan; dan/ atau d. perintah kepada pelaku usaha untuk menghentikan penyalah­ gunaan posisi dominan; dan/ atau e. penetapan pembatalan atas penggahungan atau peleburan badan usaha dan pengambilalihan saham sebagaimana diatur dalam ketentuan pasal 28 Undang-undang; dan/ atau f. pembayaran ganti rugi kepada pelaku usaha dan kepada pihak lain yang dirugikan; dan/ atau g. pengenaan denda serendah-rendahnya Rp. 1 . 000.000.000,00 (satu milyar rupiah) dan setinggi-tingginya Rp. 2 5 .000.000.000,00 (dua puluh lima milyar rupiah). Sanksi Pidana Selain sanksi administratif khusus untuk perbuatan-perbuatan h u k u m tertentu yang melanggar ketentuan Undang-undang juga dikenakan sanksi pidana pokok menurut ketentuan Undang-undang sebagai berikut: a. pelanggaran-pelanggaran terhadap ketentuan pasal 4 mengenai penguasaan produksi , pasal 9 mengenai pembagian wilayah, pasal 10 yang bertujuan untuk menghalangi kegiatan usaha dari pelaku usaha lain, pasal 1 1 mengenai pengaturan produksi, pasal 12 mengenai pembentukan kartel usaha, pasal 13 mengenai pengu­ asaan pasokan secara bersama-sama oleh pelaku usaha, pasal 14 tentang integrasi vertikal, pasal 16 tentang perjanjian internasional yang dilarang, pasal 17 ten tang kegiatan monopoli, pasal 18 ten tang monopsoni, pasal 19 mengenai kegiatan penguasaan pasar, pasal 2 5 mengenai posisi dominan, pasal 27 ten tang kepemilikan saham ('8 S<.'l'I J-111{•11111 B/s11is: Anti Monopoli mayorirns j cltrn f)asal 28 te n ta ng penggahungan,, pclchuran d· pengamhi l aliha n• saham, diancam 'p iclarnt dcnda scrcnclah1·rendahnya Rp. 25.000.000'. 000,00 (dua pt1luh 1lirna mily,u rn ptih dan sctinggi-tingginya Rp: · 100.000,000.000,00 (scrtttus milr.1r ru­ piah), atau pidantt kurungan penggttnti denda selama-lama nya (� n am) bulart ,1 h. Pelanggaran tcrhadap kctcntuan pasal 5 tenta ng pcnetapa n harg.i secara hcrsam a , pasal 6 tentarJg ij)erhe�laan ,harga jual, p asal , tentang penetap�n, harga,.d ,i bawal11 harga P,asa�, pasal .� .t en rang pcncntuan batas .a t.au. patokaf"\ 1 harga . . .tertentu,. pasal •l5 ten rang perjanjian tertutup, ,dcngan pihak k<-'til!tl, nasal 2Q ten. , , ,, 1 ,, i r �:ri 'iJ Ii • r,. tang. pcnjualan . , 1 rugi, pasal 21 tentang pcrlakuan kc�u�hq?iry>d.�]�!R l1_iar� �nxiuksi, pasa! 22 S�!11 �a.i 1cn �f � p,as�I, f1/) ��,n�, �f:i��Q,n��?I��.', �� n pasaJ 26 tentang 1ahatan rangkap cttancam p1dana denda sercndahi rllb,iah)'&an setinggircndahnya Rp. · s:606.obd:odo,do (linid �ilya ,d 1 1 ·1 1 · 1 ' 1 ' 1 I ' 1 ' '(1 . I tingginya Rp. 25.000.000.000,00 (dua puluh 'lima inilyar rupiah) , atau pidana ku rungan pcngganti denda selama-lamanya S (lima) bulan. c. Pelanggaran terhadap ketenruan ·pasal :4'1 mengenai pemeriksaan terhadap pelaku usaha diancam pidana' denda serendah-rendah­ nya Rp. 1.000.000.000,00 (satw milyar•�piah). dan' setinggi-tinggi­ nya Rp. 5.000.000.000,00 (Jima milyar rupiah), iatau ,pidana kurungan,penggantj ,3 (tiga) qulan . i Iamanva • ,1 , denda,selarna 1 , I /1, t , I• 1 1 1f 1 1 I Sanksi Pida1,a Jambahan . \• • ! '. I . p Di lu.a r sank5i pidana 'o' kok'yang dik'e nakan 'dalam •pasal 48 aya.: (1) sampai dengan ayat (3) Uhdang-undang 'tersebut di atas-ketehcuan pasal 49 Undang-undang menetapkan sanksi pidana tamhahan deng­ menunjuk pada ketentuan •pasal 10 Kitah• Undang-unda'ng Huku Pidana, ·terhadap pidana yang1 dijah1hkan hcrdasa'rkan kete'n tuan pas 48 dapat dijatuhkan pidana tamhahan hciupa: 1 I , Sa11hsi-sa11ksi 69 a. ' penhahtHan i izin1 u·saha; 1 atau . b. lar-a'�gan I kepada' pela�ti 'u saha yang telah terhukti' melakukan pelanggaran terhadap undang-undang ini uhtuk 'menuduki jabatan ' Dire�si atau -i<omisa'ris ·sekurang-ku rnngnya 2 (dua) 1 tahun dan selama-la'manya ;5 (lima) tahun; atau · penghentian kegiatan atau tindakan tertentu yang· meriyebabkan timbulnya ·k'erugian1 padaipihak -lairi: . c. - R�rzgeq1,al(q,!J·P.�r;ge�ualfqn, . . ··selain pengecukHa'n' ya'.ng1 secara·khusus diatur dalam pasal 5 ayat (2) · mengenai·perietapan' ·harga\ecara 'bers;mi,' ·Onoang:undang juga me'ngecualil<ari beberapa 'fiar�edkdt ini rurri berlak'u nya·undang-undang - � I ' ·' . mt: ' .. ' ' a. .. , I ' ; , :. . . . . . . , perbuatan dan atau perjanjian yang bertuj�tJ.n IT} el aksanaka n . : peraturan perundang-undangan yang berlaku; atau b. petjanjian yang berkaitan dengan hak atas kekayaan intelektual seperti lisensi, paten, merek dagang, hak cipta, desain produk industri, rangkaian elektronik terpadu, dan rahasia dagang, serta petjanjian yang berkaitan dengan waralaba; atau c. perjanjian penetapan standar teknis produk barang dan atau jasa tidak mengekang, dan atau menghalangi persaingan; atau d. perjanjian dalam rangka keagenan yang isinya tidak memuat ketentuan untuk memasok kembali barnng dan atau jasa dengan harga yang leb1h rendah daripada harga yang telah diperjanjikan; atau e. perjanjian keriasama penelitian untuk peningkatan atau perbaikan standar hidup masyarakat luas; atau f. perjanjian internasional yang telah diratifikasi oleh Pemerintah Republik Indonesia; atau 70 g. Seri H11k11111 Bi.mis: A11li Mo11opoli perjanj ia n d� n atau perhuatan yang hertujuan untuk eks.po� yang tidak m engganggu kehu tuhan dan atau pasokan pasar dalam �egeri ; a,tau , h. ' , pelaku usaha yang tergolong dalam Usaha ,Kecil sebaga! m -ana dimaksud Undang-undang Nomor 9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil; atau . ) 1. kegiatan usaha koperasi- ,yang secara khusus bertuju an u ntu k melayani anggotanya. Melayani anggota di sini maksudnya adalah meinberi pelayanan hanya k�pada anggotanr.a 1dan. bukan kepa�a masyarakat umum untuk pe11gadaan �e��tuhan pokok, kepµ�uhan .s.arana produksi termasuk , kred,i t: �.a n ba.lJan �a. � u, ,��tta pelayarian untuk me­ masarkan dan mendistribusikan hasil produksi anggota yang tidak mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat. ♦ 71 CONTOH-CONTOH KASUS • • I " • J Jika _dari uraian Bab' 2 hingga Bab 8 telah dibahas berbagai teQri dan pendekatan yang dipakai; inaka berik�t di bawah ini kami sajikan beberapa -contoh' kasus yang· kiranya dapat. m·enjadi perhatian bagi para peinbaca sekaliah. I BERHUBUNGAN DENGAN SHERMAN ACT j • I I I Tindakan Predator William Inglis & Sons Baking Co. v. IIT Continental B aking Co. (1982) Duduk persoalan: Inglis dan Continental adalah pedagang roti bakeri yang menjual barang dagangannya ke grosir-grosir dan supermarket-supermarket, dengan merek yang oerbeda. Inglis menjual bakeri dengan merek ;'Su�� beam", sedangkan Cont�nental menjual bakeri dengan · merek 'Won­ der". Selain itu ternyata Inglis juga menjuali roti untuk segmen pasar yang lebih ti nggi derigan merek "Wonder Bread". Inglis menggugat Con­ tinental dengan alasan bahwa dengan menjual roti untuk parigsa pasar y�ng lebih rendah dengan merek yang mirip. Continental telah rnelang­ gar ketentuan Seksi 2 Sherman Act, dengan meJakukan tindakan/ strategi Seri Hukum Bisnis: Anti ,1 /0110/>0/i 72 penjualan "predator" yang hermaksud mcnyingkirkan Inglis dari usaha perdagangan roti. Jadi apakah telah tetjadi suatu tindakan pred�tor dalam hal ini ? Pengadilan menilai bahwa suatu tindakan dapai dikatakan preda­ tor, jika tindakan tersebut memang dilakuk�n dengan tujuan untuk menghilangkan kompetisi. Dalam kasus ini Pengadilan selanjutnya meninjau bahwa untuk dapat dikatakan telah melanggar ketentuan Seksi 2 Sherman Act, selain terbukti adanya suatu tindakan predator yang bermaksud untuk menghilangkan kompetisi•atau dengan kata lain untuk melakukan kontrol, maka tindakan tersebut harus memiliki ke­ mungkinan berhasil yang akan membawa a� ibat q�ruk bagi dunia usaha. 1 t I ·' • • , ' • ' • • , • '\ : I?.ari fakta .y�ng menunjq �ka9 bahw,a . rn�rp�ng_ten_1ya_ta beberapa pr:qduk �ontin�ntal dijual di .b.��a� �a�g�,.namm;i, pari.hasil pengamatan dan perhitungan disimpulkan bahwa tetjadinya1 haJ Jerse�ut bu_k anlah dengan tujuan predator, namun semata-mata untuk menutupi kerugian lebih jauh dari kegia�. us��� Con�iq ntaL pU_� aJ perip;r n Dpr�a l�bih , _ tinggi adalah tidak mungkin·, namun tidak memproduksi bakeri tersebut akan berakibat tutupnya usaha Continental,, yangi"berarti kerugi<!11 akan. ser:nakip besar. 1 • f ' Jadi yang terpenting di sini adalah bagaimana membuktikan,dan meyakinkan dengan baik. Pasarya_ng Bersangkutan IJ I j Telex Corp. v. Interp.atio�4\l B.usµi��s Machines� Corp. (197;5) , Buduk persoalan: Mac�ines Corp. ·, �elex �orp. menggugat International Businiss I ' I I I Il . . I ' ' I atas' alat(IBM),dengan tuduhan bahwa telah IBM melakukan mon6poli 0 1 af�t.perip:� eral yang dapat digabungka� ke CPlf p�ng dila tingkat perI ta.ma.memutuskan bahwa yang termasuk dalam �asar yang bersangkutan , I , ,, . j ' f I I I n ,, I ' I Co11tob-co11tob Kasus 73 adalah alat-alat peripheraL yang kompatihel dengan CPU yang dihasilkan oleh lBM. rNamun .putus,a n tersebut dit9lak pada 1 tingkat lebih tinggi. 1 alat-alat data prosesing · Pe'i:lu �il<etahui bahw'a industri pengadaan 1 1 1 terdit�i dat�i CPU d�1n alat-alat penunjarig lainnya yang dap'at dihubu'ngan dengan' CPU l�tsehu'.t. ·Termasllk d,i dala�nya kdmponeri-kdmpdnen )/ penyimpanah fnformasi 1 s�perti driv� pita mag�etik, alat pehgHubung I lainnya (a tau dise�ut· dengan alat-alat peripheral) . 1 I 1 • (I t • JI • f : • • J I I ' ' ,. ) • I . . I • J ' I J ' • ' fengadilan tirigk�t pertama menentuka9 pasar yang bersangr kutan sebagai'segala mac'am alat-alat p'e' ripheral yang kompatibel dengan I CPU yang diHasilkan )bleh IBM. IBM mengajukan sanggahan bahwa yang harus dimasukkah sebagai 'pasar yang' bersangkutan adalah seluruh tidak hanya telJ)a� pada yang �ompatibel al��-fl �t P,, f�P,?���� 7 dengan �Pl! IBM saja. •• fI . . ' ' I 1' , .. .� i l '> ', , ' .' ' ;. I f I , •. ( . ll ' f ' , , I ' . ', ' ' � , . q.�� . Salah .sat,u I hal yang menjadi ,per.hatian ·utama da�i pengadilan .tingkat ge�ma1adalah·adanya komitmen. dari Telex untuk m,emasok hanya alat:-a lat; p�ripheral yaqg kompatibel dengan �is tern IBM, walau­ pun ternyata , bahwa, biaya. l:m tu k melakukan peny.esuaian atau pe·m bu�tan alat-alflt. peripheral .yang• tida_k, kompa�ibel dengan IBM tidakl�h besar.,Ini bernrti bahwa Telex senqirilah yang telah memi.Jtuskan untuk tetap hanya memproduksi alat-�latlp�ripheral yang, kompatibel deng�n ,�i,s t,e n:i IBM, pan iidak xang lai�nya: Fa�� t�rakhir inilah ya�g k1emud,ian . �. iang�1.� s�bagai alasan .P�k9k pada putusa� -tingkat akhir bahwa telah tidak terj?di ' monopoli. alat-alat . . peripheral oleh IBM. , United States v. United Shoe Machinery Corp. (1953) Duduk persdalan': United Shoe Machine1y Corp. (USMC) adalah suatu perusahaan yang dibentuk dari hasil penggabungan perusahaan-perusahaan kecil. Dari hasil p,e ngg�bung�9 te_rseb�t, USMC n�enguasai leb\h dari 75% kebutuhan mesin perpbuat sepatu. USMC merjadi satu-satunya pabrikan " I -� Seri H11ku111 Bis11is: A11ti Mono/JOii y,111g dapat menawarkan suatu rangkaian mesin-mesin pemhuac sepatu clcngan riset dan pengemhangan (R&D) yang extensif. USMC hanya mcnyewakan (lease) mesin, clan tidak menjualnya. Sewa tersehut diherikan untu k jangka waktu 10 tahun dengan pemherian laya0an puma jual yang gratis. USMC menghendaki para penyewanya u ntuk menjalankan mesin tersehut pada kapasitas penuh jika memungkinkan. Pem.e rintah Amerika Serikat selanjutnya menggugat USMC denga n tuduhan telah melakukan monopoli atas pasar mesin pembuat sepatu . Pertanyaannya adalah apakah telah terjadi pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana diatur dalam Seksi 2 Sherman Act. Berdasarkan dua hal pokok berikut di bawah ini: bahwa secara nyata USMC memang telah menguasai lebih dari 75% pangsa pasar mesin-mesin pembuat sepatu, dengan segala m acam fasilitas yang diberikan olehnya. Selain itu USMC juga mempu nyai kapasitas untuk menciptakan sesuatu yang lebih dari yang lainnya. Untuk menghadirkan suatu pesaing usaha yang dapat berkom­ petisi USMC boleh dikatakan sangat sulit, kalau tidak dikataka� tidak mungkin . Banyak sumber daya yang harus digali dan dihasilkan serta diberdayakan sebelum pada akhirnya suatu pelaku usaha dapat bersaing dengan USMC; 2. Sistem penyewaan yang diberlakukan dan bukan penjualan telah melahirkan jaringan ketja-sama yang sangat solid, yang secara tidak langsung juga mengurangi tingkat kompetisi; Pengadilan memutuskan telah tetjadi monopoli oleh USMC. 1. MCI Communications Corp. v. American Telephone & Tele­ graph Co., (1983) Duduk persoalan: Sebelum 1969, AT&T memiliki hak monopoli yang sah atas telekomunikasi. AT&T menyediakan, selain jasa komunikasi lokal dan Co11tob-contob Kas11s 75 pemhicaraan jarak jauh hiasa (reguler), tiga macam pembicaraan jarak jauh lainnya, yaitu: point �o point yang menghubungkan dua tempat secarn langsung, foreign exchange service (FX) yang memungkinkan pem_akai untuk memanggil atau menerima panggilan dari luar kota seolah-seolah panggilan lokal, dan common control switching arrange­ ments (CCSA) yang menghubungan berbagai lokasi yang jauh dengan suatu jalur pribadi. Di tahun 1969,:FCC yang yang mengatur pelayanan telepon jarak jauh memberikan izin kepada MCI untuk memberikan pelayanan telepon jarak jauh antara Chicago dan St. Louis melalui transmisi gelombang mikro. Hal ini menyebabkan membanjirnya permintaan serupa, hingga pada tahun 1971 oleh F�C dikeluarkan aturan bagi mereka yang ingin turut ·serta berkompetisi dalam penyediaan jasa telepon jarak jauh. Putusan ini tidak jelas. MCI menganggap bahwa putusan tersebut memungkinkan MCI untu k mengoperasikan juga jasa pelayanan FX dan CCSA, dan selanjutnya meminta kepada AT&T untuk memberikan izin kepada MCI, dengan pembayaran tertentu, untµk menghubungkan jaringan MCI dengan fasilitas distribusi lokal milik AT&T, untuk melaksanakan pelayanan FX dan CCSA tersebut, Qamun demikian AT&T tidak menyetujuinya. I MSC kemudian menghubungi FCC dan selanjutnya memperoleh perintah pengadilan yang mewajibkan AT&T untuk memberikan jaringan interconnection lokal. AT&T kemudian mengajukan banding. Pada tanggal 15 April 1974 Pengadilan Distrik menyatakan tidak berwenang untuk mem4tuskan hal tersebut mengingat bahwa hal tersebut masih belum diputuskan oleh FCC. Selanjutnya AT&T meskipun telah diindikasikan bahwa FCC akan segera mengeluarkan putusannya, AT &T memutuskan hubungan ke pelanggan MCI. MCI menggugat AT&T. telah melanggar Seksi 2 dari Sherman Act. Hakim pada tingka� pertama memutuskan untuk kemenangan dan ganti rugi bagi MCI, yang dikuatkan oleh putusan lebih tinggi. Pada tingkat Mahkamah Agung hanya sebagian yang dikuatkan. 76 Seri Hulmm Bis11is: Anti Mo11oj)o/i AT&T mengajukan bantahan .hahwa hak monopoli ,yang dim l k­ nya adalah' hak khusus yang diberikan oleh 1ECC. Namun ,demikian pada tingkat terakhir dengan• pertimbangan ha wa Undang-undang Komunikasi 1934 t dak secara tegas . memberikan ak m onopol kepada AT&T, dan karenanya maka ketentuan Seksi · 2 S erman Act tetap berlaku bagi,AT&T. Se anjutnya dengan fakta bahwai i i h i i h h l a. adanya monopo i dalam pasar yang bersangkutan; h. keinginan dari AT&r•untuk tetap'- m enipertahankahnya; · 1 maka 'AT&T dinyatakan kelen., t uan 'S�ksi 'i Sherman, tela melanggar . , . • . . .' I , , , Ket. l ' I h 1 C�YTO'N 'ACT BERHUBUNGAN DENGAN . . ' ' Pe,tJgambilali�an Sa�am I • FTC,v. Procter & Gamble Co. (19,�7) • II" Duduk persoalan: . ' .. ' , I • .' . • J I I �&G. rp���amb l1 ,sa . �· qpr�x C ,e.1?i�c1! .�.�fPRf?Yi·i Pada -�aat pengambi a han dilakukan C or9x {DffUR,�.kanl "TTl:�rket,j \e.ader'. ' dari industri pemutih, dengan pangsa pasar sebes r 48,8 persen. Selain Clorox masih terdapat lag j perusahaan besar, yang bers'ama-sama dengan 0:lorox menguasai 8 0 persen· pangsa pasar. Sisanya dikuasai o e ·produsen-produsen· la rinya ' yang berjum ah 1 kurang ebih 200 perusahaan. P&G tid k memprdduksi pemut h, namuh·deinikia'n P&G menguas� 54,4 'p ets·e n dar iridustri kenias'an sa'.buh paaa urhtfrnriya . i alih l h ha li l a i ,I 1 l h i a i r I l l ' i ' i 'J . ' I f '. f \ . F,TC ��nganggap d.e�gaf\ ke_ry:if�P��rl. �an, as��t y1�n9 q�mikian . besar dari P,&G pan posisi d9minan Clorox dalan;i pasaran pemutih akan .. I ' ' I) l!J I JI J r , II I • J meng il ngkan kesempatan b'agi P&G untuk muncu sebagai kom petitorbaru dalam ·pasar. Selain itu peng nihi alinan C orox bleh' P&'G secara tidak larigsung akan' menurunkan 1 harga jual ·pemtitih' yang diproduksi ole ' Clorox, yang berarti akan mengu'rarigi tingkat ·ko·m petisi pasar . h l a a h l l Co111ob-co111ob Kasus 77 FTC kemudian memerin.tab,dilakukannya divestasi oleh1 P&G. Putµs.an mana kemudian 'd ikuatkan pada tingkat Mahkamah �gung, meskipun pa:da tingkat f��adilan. Jinggi; putusan tersebut dibatalkan. Pertanyaari pokok yang harus dijawab·d i sini adalah apakah dengan i pen'ga�Hifalihk'N {ersebu't akan berakiba't 'berkurangnya kompetisi'? ' Pengadilan berpendap�t �ah�a memang sebelum pengambilaliha n dilakuka'n· 'tel�h 'aci'iJ 1stiatu 'berituk' 1 blfgopoli da'ri · pasai-an pemutih. , Pengambilaiinan· · 'Clorox oleh 'P&G tidak akan banyak berpengaruh tern�9a·p ' pa�afad-1 peinutih, n��un.: yal}g telas pengam bilali han tei-seQu t· s'.ebira 'tidak' #ngsung tJfah menutup kemu ngkinan atau pe­ ' fuangh'agi masuknya'P�G'se,ti�g�1 pesaing' usaha baru d�lam dunia usaha r pemutlh\yang p�rartfm' d iufup 'kemungkinaf bagi munculny� pesaing •, i '• u·s�ha oaru dalam ' iridustri pe_mutih tersebut '(barriers to entry). I �. • \I •. " . 1 .,, • : , • 1• • . • • I • •. t ' , • , -� f I I I I �e�g���ilal�pa� �ft F�rd Mot�r Co. v/United States ' (1972) I I I Duduk ,pe�s9alapl: i Ford ,merigambilalih asset d�ri Autolite Company's divisi Autolite Spark iPlug.' Sebelum pengambilalihan dilakukan; ada tiga perusahaan besar.penghasil "sparR1 plug"; dua diantaranya independeriyaitu Autolite dan Champion,' sedang satu fagi·dimiliki oleh Gerieral Motors. Segmen pasar dari "spark plug" ini lebih ditujukan sebagai "replacement mar­ ket", yang berarti sebagai salah sat.u bentuk a,ternatif penggantian suku cadang asli yang relatiflebih mahal. Pengambilalihan Autolite oleh Ford dianggap sebagai "foreclosed" (penutupan· peluang) bagi Ford untuk masu� sebagai p�saing b.aru tjal�m industri "spark plug". ' ' ' I • . Pengadilan tingkat pertama memutuskan Ford , bersalah tel�h melanggar Seksi 7 dari Clayton Act dan mewajibkan Foid'untuk menjual kembali (divest) 1 ·divisi ter'sebut. Selain itu. Ford dilarang untuk memproduksi1 "spark1plug" selama sepuluh tahun, Ford juga diwajibkan 78 Seri Hulwm Bi.m is: A11ti Mo110/Jo/i untuk memheli sekurangnnya setengah dari kehutuhan tahunan "spark plug"nya dari divisi yang dijual kemhali tersehut, selama lima tahun, dan Ford dilarang untuk mempergunakan nama dagangnya sendiri dalam penjualan "spark plug" selama lima tahun. Ford mengaju kan handing ke tingkat yang lehih tinggi, namun tetap tidak dikahulkan oleh Mahkamah Agung. Yang ·perlu diperhatikan di sini adalah putusao pada tingkat awal yang menjatuhkan p utusan demi.kian herat bagi Ford . Menurut pengadilan, putusan tersebut diperlukan agar para pesaing usaha dalam industri "spark plug" dapat lehih mengembangkan diri, sehingga meereka dapat menjadi pesaing usaha yang "independen" sebelum . ada akhirn ya Ford mem ulai produksi "spark plug" atas namanya sendiri. Namun.putusan tersebut pada beberapa sis'i tidak dikukuhkan oleh pengadilan yang lebih tinggi, dengan al�san bahwa biarpun Ford dipaksa untuk melepaskan bagiannya dalam rangka pengambilalihan tersebut, Ford tetap memiliki kemampuan untuk melakukan "internal expansion" yang secara tidak langsung juga akan .berakibat pada berkurangnya tingkat kompetisi dalam usaha "spark plug", selain itu hal tersebut juga berarti telah menutup peluang Ford untuk turut berkompetisi dalam pasaran "spark plug". Jadi yang sebenarnya patut diwaspadai adalah pengembangan industri "spark plug" lebih lanju t oleh Ford, yang dikhawatirkan akan mengurangi tingkat kompetisi, dengan kemungkinan keberhasilan yang sangat besar untuk itu. BERHUBUNGAN DENGAN ROBINSON-PATMAN ACT Diskriminasi oleh Pihak Penjual Falls City Industries, Inc., v. Vanco Beverages, Inc., (1983) Duduk porsoalan: Vanco Beverages, Inc adalah distributor besar (wholesale) . dari produk bir yang dihasilkan/ diproduksi oleh Falls City Industries, Inc. ku,11 llism:�.- Anti .\1011opoli eli sekurangnnyd setengah dari keh u tu han tahunan "spari � divisi yang dijual kembali tersehu t, se la·m a li ma tahu arang untuk mempergunakan nama dagangn ya sendin alan "spark plug" selama lima tahu n. Ford mengajukan jngkat yang lebih tinggi, namun tetap tida k dikabulkan ah Agung. rlu diperhatikan di sini adalah putusan pada tingkat al\� ·u hkan putusan demf kian berat bagi Ford. Me n u ru1 Ju tusan tersebu t diperlukan agar para pesaing u sa� i "spark plug" dapat lebih mengembangkan diri, sehin� it menjadi pesaing usaha yang "independen" sebelum a Ford memulai produ ksi "spark pl_ug" atas naman)i :1. putusan tersebut pada beberapa sisi tidak dikukuhkan , n yang lebih cinggi, dengan aiasan bahwa biarpun Fora melepaskan bagiannya dalam rangka pengambilalihan :etap memiliki kemampuan untuk melakukan "interrul ,g secara tidak langsu ng j uga akan berakibat paru ngka t kompetisi dalam usaha "spark plug", selain i� � berarci telah m enutup peluang Ford untuk tunn !am pasaran "spark plug". Jadi yang sebenarnya patut pengembangan industri "spark plug" lebih lanjut ol� cirkan akan mengurangi tingkat kompetisi, dengan rhasilan yang sangat besar untuk itu. DENGAN ROBINSON-PATMAN ACT ihak Penjual , Inc, v. Vanco Beverages, Inc., (1983) , dalah distributor hesar (wholesale) daf1 di fi uksi oleh Falls City Industries, Jnc Co11tob-co11toh Ka.ms 79 Vanco adalah distrihutor sat u-satu nya (tunggal) di wilayah Vandendurgh County, Indiana, yang meliputi kota Evansville and Qeherapa daerah pinggirannya. Daerah pinggiran Ev-ansville lainnya terletak di Henderson County, Ke'nt ucky, yang distribusinya dijalankan oleh Dawson Springs, Inc. Salah satu kompetitor dari Falls City menaikkan harga penjualan bir sejenis di Indiana, namun tidak untuk wilayah Kentucky. Falls City kem udian mengik u tinya. Sebagai akibat kenaikan harga tersebut Dawson ·Springs mendapatkan nilai pembelian yang lebih rendah dari Vanco. Dawson· Spring kemudian meneruskan "keuntungan" tersebut kepada retailernya. Hal ini membuat reailer Dawson Spring untuk wilayah Kentucky lebih dapat ber�ompetisi dibandingkan dengan para retailer .Yanco di indiana. Hal ini secara tidak langsung membuat para konsumen di Evansville kemudian hijrah dan beralih untuk membeli bir tersebut ke Kentucky. Atas fakta tersebut Vanco kemudian menggugat Falls City telah melakukan diskriminasi harga, namun Falls City mengajukan bantahan dengan alasan bahwa harga yang lebih rendah di Kentucky adalah untuk memenuhi tingkat kompetisi pasar di Kentucky. Pengadilan Distrik menolak alasan tersebut _dalm mewajibkan Falls City untuk membayar ganti rugi kepada Vanco. Pengadilan Tinggi juga memutuskan haI yang sama, tetapi tidak oleh Mahkamah Agung. Pada permulaannya ketentuan Seksi 2b Robinson-Patman Act mensyaratkan adanya lebih dari sekadar bukti bahwa penentuan harga yang lebih rendah tersebut rriemang dilakukan oleh pesaing usahanya untuk mempengaruhi konsumen, dan oleh karena itu maka untuk berkompetisi ia juga perlu melaku kan hal yang sama seperti yang diseb utkan bahwa : "Harga yang rendah tersebut dibuat ...... dengan itikacl baik untuk bersaing dengan harga pesaing usahanya yang lebih rendah . " Ini berarti pihak tergugat asa l (Falls City) harus dapat membuktikan bahwa harga yang lebih rendah tersebut terjadi dengan '· 80 Seri Hukum Bis11is: Anti ,\fu11opoli "itikad haik" untuk melakukan persaingan dengan pesaihg usahanya. Jadi permasalahannya terletak pada _ada tidaknya iti�ad baik. Vanco selanjutnya herargumen hahwa keberadaan dis�rirninas i harga dalam suatu wilayah pasar yang sangat dekat / m en yatu menunjukkan adanya suatu bentuk kolusi yang. , tidak sesuai' . dengan jiwa . ,, ,., 1 I itikad baik. Dalam hal •yang demikian, perlu. diperhatikafl: p�h}Va sebenar(1ya meskipun kolusi Iebih d�.kat ke arah pelanggaran, t,erhadap. �herman Act yang memungkinkan pei:nheriaq gaqtL ,rugi, ji,k.a,r1�mang,terbukti penentuan, harga di . Indiana yang,.l.eqil) . .tingg� tetjadi kar�na k9lusi; adanya kol.u si j,uga reJevan ,d engan. tun tu tan! Vanco berdasark.a n Robinson-Patman Ac! ini,. j ika ternyata · kolµsi tersebtJt 1YaI}g 'm enye­ babkan FaJls City m�mberjkan harga lebih reµdah . d � Kentucky. Jika Falls City menurunkan harganya denganf itikad ba'.ik u n tu k melakukan kompetisi yang. wajar,, 1 rpaka ia .tic;lak mela�ggar Robinson­ Patman Act. Pengadilan Tinggi secara· t'egas me'nyebutkan• a'danya dua 'faktor I ' · · ' untuk rrienolak argurilen dari'· Falls City: J?iskrim!nas_i ha�ga terseput diciptak�r. dengan m�naikkan rarga dan bukan dengan penurunpn harga,. da_n 2. Falls City d ianggap menaikkan harga untu . , k memp e roleh keuntungai:i yang lebih tinggi. Di�takan ba�wa tidak ada "su�t�, ketentuan pun d�lam, S�ks·i 2b �obinson-Patman Act yapg m.e��ji9 ��p pe�juaJ untpk. rrenururykan har9anya untu � bersaing, se�ali1knya ket��tt_1�� 9al�m Seksi 2q te�sebut mew,ajibkan tergugat . u ntuk hanya membuktikan bahwa penu runa n harga tersebut dilaku�an deqgan,I i ikad baik untuk menyesu ' I a i kan d�9gan penentuan l')arga, y�n& ren,drh y�n� dit.�i�p�a oleh, �ompetitornya. Penjual tida� diwaHbk�� , untuk �ef} unjukkan bµ hwa 1. 1 '1 I ( iJ I I Cu11tob-co11toh Ka.ms 81 perhe9aa9 harga, ters�hut 1 te,rj,� di,se,hagai akibat dari penurunan harga dan, h,uka�. �enaikan., Renjual 'diwajihkan un.tuk 1 menentuk�n , sendiri apakah suatµ perb��aan:harga memang d,iperlukan oleh pa(a pembeli/ konsufl)en. Selariju'tnya Pengadilan Ti'ngg(juga · menekanlfan bahwa persaihg­ an dim a�sud1 lenih hersifat pef' situasi dan' bukan secara· umum, ;dan 1 oleh: karerianya 'tidak 1 mencerminkan' 1strukt�r 'penefapan 'narga '.yang herlaku ) urrt'u' iri untuk I ril'��ihgkatldn 1 kompetis1 °dengan. pelaku. usaha ' ' '· 1 sai�gannya.11° I ·1 ,J ' "Jb ,,, ;,_ 1 1 · '1· ' ' • ; ' :. 1 J P�9� 1ting���t ¥?���a�.�gH�g ���a.�ktJf ?ahwa S�}{si.�b Ro�inson­ Patman Ac t secara khusus inemungkin��q diq�ri�nnya perurun�n harga kepada setiap pembeli, siapa saja, tanpa kecuali, sepanjang hal tersebut )inenipakan' ' pelaksanaan ·dari ·i tikad b�tk' un tuk' mela'.kukan korhp�tisi�Jadi'yarig·di telfankah ai 'si�i:adalah1adanya s�atu upaya untuk menciptakan kompeds1; 'iidakdiperdu'likan apakah kompetisi t�rsebu t gibua�. un tu,k - s ,uatu : wilayah, terten tu, ataupun un tu�; kepentingan su�tll (kelas) kqnsumen ,tersendifi. iJiskrimt'nasi oleh Pembeli 1 • • • Great Atlantic & Pacific Tea Co., Inc., v. Federal Trade Comm.is, 1 J sion (1979) f: I f ' I I � ' t I ) Duduk ,p�rsq{ilan: & Pacific Tea Co: Inc (A�P) merupakan perusahaan Great Atlahtic ' yang b'ergerak aalam kegi�tan'di stribusi'. A' da dua perusahaan besaryaitu Borden dan ' B'o wman yang secara 'be'rsama-sama bersaing untuk m�n'dapat�an A&P sebagai 'pembeli 1 utarri� clad barang-barang yang mereka hasilkin. 'FTC 'rileneinu�ah fakta ·bahwa telah terjadi suatu bentuk diskriminasi harga, dimana Borden telah menurunkan harga penawarannya kepada A&P di bawah harga penawaran sebelumnya. Perlu dike t ahui bahwa, a t as dasar hubungan baik, A&P telah .. _. • I H2 Stri H11klfm Ui.mis: A11/i Jfo110J>oli mcmhcritahukan Borden hahwa jika ia (Borden) tid,1k dapar men, ajukan penawaran yang lehih haik untuk daerah Chicago, maka ia akan kchilangan hisnisnya dengan,. A&P. Sampai sejavh itu A&P tidak memherikan lehih hanyak informasi lagi tentang penawaran �Jn diherikan oleh Bowman kepada AP&P. Berdasarkan info tersehut, maka Borden selanjutnya mengajukan penawaran kedua unt_uk memenuhi persyaratan kompetisi. Menurut FT�, A&P seharusnya mengetahui hahwa ia menerima keuntungan ·dengan diskr!minasi harga tersebut. Untuk itu maka FTC mengajukan gugatan terhadap A&P, berikut tuntutan ganti rugi terhadap pelanggaran oleh A&P atas ketentuan Seksi 2f Robinson-Patman Act yang dengan secara sadar menerima diskriminasi harga dari Borden. Putusan komisi (FTC), Pengadilan ti�gkat pertama dan Pengadilan Tinggi mengabulkan turytutan FTC, meskipu� pada tingkat Mahkamah Agung hal tersebut direvisi untuk kemenangan A&P. A&P beragumen bahwa ia tidak dapat' dimintakan pertan·ggung jawabannnya atas penurunan harga penawaran oleh Borden, jika Borden memiliki alasan yang sah untuk meningkatkan kompetisi. Sedangkan menurut FTC sifat persaingan ter�ebut harus dilihat dari sudut pandang pembeli. Dalam tingkat Mahkamah Agung, yang disorot adalah bahwa temyata untuk melakukan penawaran kedua tersebut tidak telah tetjadi kolusi antara Borden clan AP&P. Menurut Mahkamah Agung penurunan harga tersebut memang diperlukan oleh �orden untµk memenang­ kan kompetisi dengan Bowman, dan oleh karena , itu A&P selaku pembeli tidak melanggar ketent,uan Seksi 2f Ropinson-P_atman Act Satu hal yang pasti ·adalah bahwa Bqrdep dengan • itikad baik telah melakukan hal itu untuk memperoleh tingkat kompetisi ycmg lebih baik. J ' I I ♦ 83 PENUTUP Monopoli ses·ungguhnya mempunyai daya tarik tersendiri. Sebagai suatu fenomena sosial, ekonomi dan hukum, monopoli memiliki berbagai karakteristik yang unik. ,Keinginan untuk selalu inenjadi yang "ter... " merupakan "nature" dari umat manusia, walau demikian hasrat tersebut harus diatur dan di"kontrol" sedemikian rupa sehingga pada akhirnya tidak merugikan kepentingan masyarakat umum. Kebebasan dalam berus�ha yang tidak ditangani dengan baik akan mengakibatkan tetjadinya praktek persaingan curang dan tidak sehat antara dan sesama para pelaku usaha. Praktek persaingan tidak sehat ini akan dapat menjurus ke arah hilangnya kompetitor dalam berusaha, yang menuju ke arah monopoli yang merugikan kepentingan rakyat banyak. Seperti dapat kita baca dari rumusan pasal 3 Undang-undang ini, Undang-undang ini memang khusus dibuat dengan tujuan untuk: a. b. menjaga kepentingan umum dan meningkatkan efisiensi ekonomi nasional sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat; mewujudkan iklim usaha yang kondusif melalui pengaturan persaingan usaha yang sehat sehingga menjam in adanya kepastian 84 Seri /-111fo1111 Bi.m is: Anti .l/011upuli kesempatan herusaha yang safl) a hag i pelaku usaha hesar, pelaku usaha menengah clan pelal<u usa.ha kecil; c . mencegah praktek monopoli clan atau persaingan usaha ticlak sehat yang ditimhulkan oleh pelakµ t1saha; clan d. terciptanya efektivitas dan efisiensi clalam kegiatan usaha. Berbagai larangan yang dicantumkan dalam Undang-undang No. 5 tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, haik dalam bentuk perjanjian dua a tau lehih pihak, maupun dalam kerangka tindakan hukum sepihak yang dilakukan oleh para pelaku ekonomi, semua itu secara tegas memang ditujukan untuk mencegah terjadin ya persaingan usaha tidak sehat yan g membawa ke arah pemusatan k�kuatan ekonomi oleh satu atau lebih pelaku ekonomL, Terlepas'. ·dari berbagai macam · istilah dan akibat monopoli yarig terjadi, baik dalatn berituk rnonopoli·murni, oligopoli, penguasaan barang, atau jasa, dari hulu 1 ke hilir (integrasi vertikal), penguasaan barang atau: jasa11tertentu ·:ber.ikut barang\atau jasa substitusinya� karl:el maupuntrust, semuanya memang berbuntut ke arah �ilangnr,a �ese�pa�n b�f}Jsf�� gagi pel��u,, u,s �ha 1 tert�ntu, 1 mau�u, n hilang�ya kesemp,atar:i ��sya�ak�t l��s. untu� me,-nili� ,dan merdapatkan yang t,e(?ai� . . . ,< , Jika kita baca·ketentuanlmengerfai·0byek perjanjian dan �egiatan yang dilarang o�eli hlndang-undang, jelas bahwa :rumusan yang diberikan bersifat sangat umum , namun secara prinsip yan g ditekanka perjanjian tersebut yang n adalah proses dari pelaksanaan I I men'i mbulkan praktek monopoli clan p,ersaingan usaha tidak sehat, baik yang terbentuk secara langsung maupun tidak langs ung. Peratutan-peraturan pela�sariaan'dari l!Jndang-undang-ini yang leb ih terfokus dan mendetail 1 aRan sangat diperluka n agar Undang-undang ini nantinya akan dapat efektif dalam pelaksanaannya. r 1 • ' J ,, • ) I /i i f ' I, '; ' I ,' ) ' ' / i I j 1{ I ' • ' "' ' • ' '1 t 1• , � Pe1111tup 85 Poslsi dominan·, hubu'ngan terafiliasi, serta kegiatan-kegiata.n usaha berupa penggabungari,; pele�uran dan •pepgambilalihan juga turut menjadi perhatian Undang-unda�g. Dari pembahasan dapar 'kita Ii hat bahwa penggabungan,1peleburan maupun pengambilalihan yang bersifat horisontal dan vertikal memang cenderung,menciptakan,penyempitan k0mpetisi1di dalam 1pasar; yang,pada,sisi koosumen akan mengurangi pilihan mer�ka guna melakukan h.ukt!,mpenawaran dan pe.rmintaan, guna menciptakan perekonomian yang sehat dan baik. �alam·Merger:dan akuisisiJhorisontal, ·djmana �ua,perusahaan yang sejenis . yang. saling:berkomp�tisi, ·yapg' semula berada di. bawa� kekuasaan!yang berbeda; ·kernudian berubah 111�njadi satu perusahaan pada . mergecdan �onsoli9asi,' ataupun dua perusahaan yang berada di bawah·pengontrolan .dari suatu grup yang sama -pada akuisisi, jelas a�an mengurangi,kompetisi_, prod.ukry;mg ada. dalam;p�ar.,., Ha HQ,i, jika·tetjadi secara.tenrs mep�rus,' pa�a akhirnya akan { nenciptak.an suatu keada:an, dimana_,pasar ·.�an,y:ai dikuasi oleh pr,odusen tertentu ,dengan h�k mon·op.o li. D�mikian juga _ dalam merger -konsolidas.i. dan akuisisi vertikal,• -d engan me�guasai .indus.t,ri�d��i \�ul� ke hilir, .suat4 grµp perµsahaan, dapa� 1meng0.ot.r0Jidan rneogusai harga btlrang pr�uksi d�lam Jodustri merek�,· 1Y?_ng. tidak ihanya akan ·mematikan usaha komp.�titor1 mereka, ,melain�an_ juga, 1akt\rr ��nciptakan kes.enjangan .dal�rn dunia _usaha.1 Ha,I ,ini ·p:ada akbirnya ·pun akan melahirkan monopoli padaibidang,indust_riJ tertentu.. ,. Indepenclensi ;dafam p'elaksanaan: tJndang-undang int'juga mehjadi f perhadan�· yang · terwujud: dafah -� erribentu kan' Komisi P�ngawas Persaingan'0saha: (KPPU)1 KPPU ini.,diharapkan dapat berdiii secara indepen'den,'ciarl terlepas cia�i'penganih'clan kekuasaan Pemerintah! 1 • 1 'Menurut ruinusan yang diberikan oalaili pasal 3'0 Undang-undang, 1 KPPU jelas me'rupakari suatu-lemoaga·ihclepenaen yang khusus .dibent'u k sehagai'pelal<sariaan aad'Undang!un'dang. Dikat'akan indepenclen , 'oleh Raren'a leiribaga ini berairi :sendir( ddn terlepas �ari pengaruh· dan ' ' I I I ' . 'I ,,-, I ' ' I . �() Seri /111�:11111 /Jimls: \111/ Mo11oj)()// 1 k ku a sa�n Pcnwrinrnh clan pihak lain, Jika ,kita kaji lehlh lanjut posisi . dari KPPU, yrtng herrnnggung jawab langsung kupach1 Prcsiclen scJak u K 'Pttla Neg�1'a, yang nota 'bc11c juga mcrupakan Kepala Pcm e rin ­ tahan, maka "i nde1 'rtdcnsi" yang 'd iht1ra1ikan dcngan "lcpas dari pengaruh dan ·kekllasaan Pcmcrintah" akan. sangat 1 berga n t u n g sepenuhnya kepada diri Presiclen, untuk dapat mencmpatkan posisi­ nya sccarn benar sehagai Kepala Pemerintahan clan Kepala Negara Republik Indonesia. Undang-undang "menelorkan" sanksi-sanksi terhadap pelanggaran jalannya/ pelaksanaan Undang-undang. Sanksi-sanksi yang diberikan dalam Undang-undang ini tidak akan banyak·artinya, dan hanya akan menjadi "macan kertas" saja jika tidak diiringi dengan kecepatan dan ketepatan pelaksanaan sanksi tersebut ,oleh aparat yang berwenang. Ketentuan Undang-undang yang secara tegas rnenyebutkan dan melim­ pahkan setiap penyelesaian perselisihan yang tidak dapat diselesaikan, baik secara musyawarah maupun melalui Komisi Pengawas Persaingan Usaha atau melalui Pengadilan Negeri, dengan pemberian time-frame yang jelas dapat dianggap sebagai suatu awal. yang baik. Diputusnya jenjang peradilan banding dalam penyelesaian sengketa rnelaJu i jalur pengadilan dapat menjadi suatu acungan jempol tambahan bagi pemhuat Undang-undang. Waiau pun demikian pelaksanaan di'lapangan akan menjadi bukti akan efektifnya · pelaksanaan Undang-undang ini. Seperti juga telah diuraikan dan dirangkum dalam buku i ni bahwa masih banyak hal yang perlu ditambah dan disempurn�kan dalam Undang­ undang ini melalui peraturan pelaksanaannya. Hendaknya jurisprudensi akan turut aktif membangun stelsel hukum yang lebih baik guna menciptakan konsistensi dan kepastian hukum pagi banyak pihak. 1 Sebagai akhir uraian dala.m rangkaian pembahasan Undang-undang N9. 5 tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat ini, dapat disampaikan bahwa para pernbuat Undang­ undang ini meny�dari betul, tidaklah mudah untuk "mensosialisasika n11 Undang-undang ini. Dan untuk itu telah disebutkan dalam Undang. Pe1111t11p 87 undang tersehut juga hahwa Undang-undang ini haru akan diherlaku­ kan satu tahun kemudian terhitung sejak Undang-undang ini diundang­ kan. Selanjutnya sehagai manifestasi dari pasal 33 ayat (2) dan pasal 33 ayat (3) Undang-undang Dasar 1945, dalam pasal 51 Undang-undang tidak lup� aij,abadfan kembali ·- . ·. , ? l:• · . • "Monopoli dan atau pemusatan kegiatan yang berkaitan dengan produksi dan atau pemasaran barang dan atau jasa yang menguasai hajat hidup orang banyak serta cabang-cabang produksi yang penting bagi negara diatur dengah undang-undang dan diselenggarakan oleh Badan Usa�a Mi/ik Negara dan atau badan atau lembaga yang dibentuk atau ditunjuk oleh Pemerintah". 89 I DAffXR·PtJSTAit�? ' ( ·d (' I ; r f ; ,: J l • 1 • (1 I II q l ' I 11 I �t: . lI ') I Ill/ ( J ✓. ., ) I 1 1. ) I R- ( J/ , ' II ' ' IJ , fl ,I ,I) ) 'J I It I r t r , 1 . :n 1 . Ji .1 1 H { 'P l 1 l Black,•�H. �ncy1 &l,nRb'�ll,. 6lack1s'.taw,DictiO.I:lacy. 6th Jed, We st P µblish. :, . ,, ,, , 1 ing Co, St. Paul-Minn - USA,l-199P, ·, r. , , i 1J i �lackbµJn,, ,ohn:r.t �aym�r:i, Elli◊tjl, :clan Malin, ,Ma:litin ,H; Ib e ,Legal Envi.rootm e_nt o.f�usiness, 2.rtd ed;'Ri.cl)�rd O h:wir;-I llioiois �. USA, 1985. I · , , , r2 1 . , . .• ·1 ; ' ) , ,,. . , ) , _1 , 1 • • I i . I .1 1 1 � • 11 Busin ess News No. 54501;tanggal1�7 Agustus: 1993 ,,,Rµang: Hukum, , ht1Ia111a� 7:�, Perl md �11�an �ons�m e �,. P�fan� n.:Pef11 e,rint��' , MoDopoli' d�ri �ti.Trust · \ l I ) Busin ess N ews No. 5565 tanggal 3 Juni 1994, Ruang Hukum, hal.� an 7.-8, ¥ergef; Aku · sis� \dan Anti Monopqlt. . . . , , . , J I - . • J:, ,• ' l' ' • l ' .\ )f I (' ' I ' � i) ' (,( 1 J I ' ' ,. ' • · I /I 'I� Business News No. 5694;taQggal,7 -AQ�i l 1995,-·Ru�ng Hukuni, halaman k ete ntuan Undang, Kosolidasi dan Akuis i i menurut 7-8,. t. Merge I � ' J., ) unoang Perseroan No. '1 tahun 1995 . 1 , · ,, r ,. p ••; 1 1 . 1 . ' 'J J � ·, ·, r i r • ·'l , , . ' , r1 u: ,; ;\• Busmess News No, 6298 tanggal,?p ����l 1�99,,�� arg �ukurn, Iamah 7-8, larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidal< Sehat. f i l 'I J l ' 1 <,' ' 1 1 (1 1 � 1 1 ' ', 'J 11 1 11 1 1 1 . 1 ,. , :' 11,1 " ) fl J - R·, 1 , ' R�an', · g, Hukum, hala m�� Business Ne�s N6. 630¼ ta��hl 3b. Apri1 1999, ' f., ( 7-8, Petjanjian yang dilarang dalam Undang-u ridang No. 5 tahun ij • ; 1999! 1 1 1 , 1 1 r ' ! 1 1 J , -, ) �f 1 l 1 J 1 1 1 I) • ,, • Business News No. 6310 tanggal 14 Mei 1999, Ruang Hukum, halama n 7-8, Kegiatan yang dilarang dalam Undang-undang No. 5 tahun 1999. Bush, ss N 'WS No. ), I ; t l l lf �al 2H M ·I 1 9< < , lhwn g l f u k u m , hal;1n1an ·B, Komlsl P 'llH IWll� I Ct'S1tl1 1g11n l suha. 1 Busin 'SS N 'WS No. 6. l t n nggn l 1 J u n i 1 999, ha lamH n 8, T·t n pa l em·1lrnm:tn, l l n lan�-u n la11H P 'rsaingan Usaha his: 1 C >Un t 'rpro­ lu ·t lv '! B\lsln "SS N '\\IS No. . 2 ranAAal 11 Juni' 1 999, Rirnn� l lukum , ha lam�,n 7-8, San ksl t 'rhada 1 1 'langgaran atas Undang-unclang tenrang I 11rangnn Prakt ·k M ono I oll clan J > rsalngan Usaha Tlda k S hat. h1ady 1 Mllnlr, Hukum Blsnls D·\l,un T --ori clan Prakt k, Duku ,Kcd ua, PT itra A lil)'a Baktl, Bandung,1 1994. P 111tu ra n P m rintah Nomor 27 tahun 1998 tentang Perrggabungan, P l b11,-a11, dan Pengambllallban Perseroan Terbatas. R s1.k wski, Mark E, Busin ss Law, Prin ·iplcs, Cases and Policy, 2nd I, · tt, F r ·sman und Com1 any ,i Illinois - USA, 1989. I • Sub k t i , R clan Tj ltr soecloblo, R. Kitab, U,ndang-undang Hukuni Da.gan� dan Undang-undang Kep'ailitdn, Pradnya Paran1 i ta, Jakarta, 1991. uh ·kti, R chn Tjitrosocdohio, R. Kitab , Undang-undang Huktlln Perdata, Pmdnya Paramita,i]ak:u-rn , 1985: ' I I ' Undang-undang No. 1 tahun 1�95 tcntang Pcrs_eroan Te�),ltas . Undang-undang No. tahun 1999 te r)tang Larangan Praktek Monopoli I I/ ( 1 I I ' I dan Persalngan Usaha T,ld.a K Sehat. Yanl, Ahmad, "Monopoli dan UQ P rlinpungan.Usah,1 Ke�il/M n ngah" 13isnis Indonesia, 3 1 Oktobcr 1991 . Yani, Ahmad, U1 aya M r dam Monop Ii" Pelita, 12 Maret 1992. 11 LAM PI RAN 93 LAMPl· RAN I I • ' � \ � ' ARANGAN PRAKTEK MONOPOLI D� PERSAINGAN USM« TIDAK : SEHAT,,. (Undang•undang Rcpublik Indonesia Nomor 5 Tahun 1999 tanggal 5 Maret 1999) �ENG� -��r rul � YANG � EsA '\I .• • PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ,1 J • t' , .Mcnimhang : hahwa pcmhangunan hidang 1ekpnpn�i) a�1us dii4�r.1h an k e pada �envuj�pnY.t� 3. kesejahteman mkyat herdasark�in Pancasila dan t.Jndang-undang Dasar ,1945; I h. ' C. ' '' \ ' ' I ' ) ' I, hahw.1 d e n1tl,kmsi d�lla�1_ ;hi�ang �kon�n1i me1).g he �da�i adan t:1 . kese �npatan ,. yang sama bagi setiap warga n egara untuk be rpartisipasi di dalam proses produ ksi dan pemasaran banmg dan atau jasa, �alam iklim usaha yang ,sehat, 1 1 efektlf, da�· efisi e rr sehinAAa· dapltt 1n endorong pe rtumhul1'a n eko;1 ·o mi dan t i I I I •• I • I ,, I ' ,, he kerjanya ekonomi pasar yang wajar; II I ' I I 1 berusa11a I .�I Indonesia berada - dalam .situasi hahwa setiap omng l(vanu it fl I ' I I ' ,,, I It hams I II ' I I yang s e hat dan waja(, ,sehingga tidak menimbulkan adanya pe rsaingan I I j I ' . . I 1 1 - ., ' I \ I J 1 'f pemusatan kekuatan ekonomi pada pelaku usaha tertentu, denga� tidak terlepas 1 , • • I' • I ' I r , I , , . 'J f ( r , l ciarl kesepakatan yang t e lah dila ksanakan oleh N�gara Repuhlik lndonesia te rhadap petjanjlan-pe rjanjlan lnternasional; I \ I \ t ¢ d. II ' I I hahwa untuk mew•u'judka'n ' sebagi1lmana yang· dimaksud dalam humf a, ht1ruf b, ! dan l1uruf c, attlS usul'inlsiatif De\Van 'Plrivakilan Raky,,t J)erlti disusun Undang­ undang tentang L1rangan Praktek' MOOOJ)Oli' &1h Persaingan Usaha' Tidak · 1 ' Sehat; ' I I Mengingat: Pasal 5 ayat (t); pasal 21 ayat (1),· pasal 27 ayat (2), dan pasnl 33 Undang-undang Dasar 1945; /11111/1/ra11 127 ;LAMPIRAN 1 11 �ENGG�,U��AN, ���E�UJ.MN, Q�.�E�GAMBI LµI� · · · ::. ������9�:t:E��ri� ; ; (Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27 Tahon 1998 tanggal 24,Februari 1998) I. J " , � . ' PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA : Menimhang I bahwa dalam rangka· pembinaan :dan pengemhanga·n usaha agar -mampu a. menghadapi aros · globalisasi •di hidang,ekonomi,,perlu diciptakan iklim usaha yang s.�hat ,dan efisien; b. bahwa untuk menciptakan· iklim usaha yang sehat dan efisien antara' lain dapat ditempuh dengaM nelakukan penggabungan,,peleburan , atau pengambilalihan Per�roan Terba�; .. c. bahwa penggabungan, peleouran, dan pengambil· alihan· Perseroan Terbatas harus tetap· memperhatikan kepentingan perseroan, pemegang saham1 pihak ketiga, karyawan perseroan, dan masyarakat; d. bahwa berdasarkan penimbangan sebagaimana 1 tersebut daJam butir a, b clan c serta sebagai pelaksanaan Undang-undang Nomor 1 tahu n 1995 tentang Perseroan Terbatas, perlu ditetapkan Peraturan Pemerintah tentang Penggab�ngan,-�eleburan <lap ,P�n�mbilalih�n P�rseroan Terbacas. Mengingat: I 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-undang Dasar 1945; 2. Undan'g-uridang Nomor 1 tah'un 1995·tentang · Perseroan ·Terbatas (Lembaran Negara Tahun 1995 Nomor 13, Tambahan'Lembaran Negara Nomor 3587). 146 Seri H11k11111 /Jis11is: Allli .l/u11upoli LAMPIRAN III KUTIPAN DARI THE SHERMAN ACT YANG RELEVAN SECTION 1 Trust, dan lain-lain, dalam kaitannya dengan transakJI perdagangan yang dilarang; denda. Every contract, comhination in the form of trust or otherwise, or conspiracy, in restraint of trade or commerce among the several States, or with foreign nations, is declared to he illegal. Every person who shall make any con trnct or engage,in any comhimition or conspiracy declared hy section I to 7 of th_is title to he illegal shaJI he deemed guilty of a felony, and, on conviction thereof, shall he punished hy fine not exceeding one million dollars if a corporation, or any other person, one. hundred thousand dollars, or by imprisonment not exceeding three years,. or hoth said punishment, in the discretion of the coun. (Te,jemaban bebasnya) Setiap perjanjian, pers�kutuan dalam bentuk trust atau yang /ainnya, a/au persekongkolan (konspirasi), untuk menghambat kegiatan perdagangan (trade) atau pemiagaan (commerce) dalam Negara-negara bag/an di Amerika Serikat, atau dengan negara asing, dinyatakan sebagaiperbuatan melawan hukum. Setiap pihak yang membual perjanjian atau terlibat dalam persekutuan a/au persekongkolan sebagaimana ditentukan dalam Seksi 1 sampdi dengan Seksi 7 dari Bab ini sebagai perbuatan melawan bukum harus dianggap bersalah melakukan kejahatan, dan dihukum dengan denda setinggi-tingginya satu juta Dollar Amerika jika dilakukan oleh suatu perseroan, atau jika dilakukan o/eb orang perorangan, sebesar seratus ribu Dollar Amerika, atau dengan kurungan badan selama-lamanya 3 tahun, atau keduanya, menurut perlimbangan Pengadllan. SECTION 2 Monopoli transaksi perdagangan; denda. Every person who shall monopolil.e, or attempt to monopilil.e, or combined or conpire with any other person or persons, to monopolii'.e any part of the trade or commerce among the several States, or with foreign nations, shall he deemed guilty of a felony, and, on convistion thereof, or, if any other person, one hundred thousand dollars, or by imprisonment not exceeding three years, or both said punishments, in discretion of the coun. Lampira11 14 7 rTe1jemaba11 behasnya) ,'e/iap pibak yang m elakukan mouopoli atau bermaksud uuluk 111elak11ka 11 111011opoli, atau be1:'iek1111� ,ata�t bersekongkof. de11ga11 pibak /ai1111ya, 1111tuk melakukan monopoli alas setiap bagian dari kegiatan perdaga11ga11 atau pen1iagaa11 diantara 11egara-11egara Bagian di Amerika Serikat, atau de11ga11 negara asing, barus dianggap bersalab melakukan kejabatan, dan dihukum dengan denda seti11ggi-ti11ggi11ya satu juta bolla_r Amerika jika dilak11kq11 oleb s11at11 perseroan, ataujika dilaku�an oleb ot-angperorangqn, sera1t1s ribupollar Amerika, atau dengan kunmgan badan selama-lama,�)'a 3 ta/nm, atau kedua,�ya, me1111rlll pertimbangan Pengadilan. 1 8 Seri Hlfi•,1111 Bi.mis: Anti Monopoli IAMPIRAN IV KUTIPAN DARI THE CLAYfON' ACT YANG RELEVAN SECTION 3 Penjualan dan lain-lain, atas per]dnjian uniuk tidak menggunakan _"barang" yang dib�i/kat� oleh pelaku usaba la'in yang menjadi kompetitor pelµku usaha iertentu. I • ' . l , 1 1 ' • t ' ll hall be unlawful for any person engaged in commerce, in the ·course of such commerce, to lease or make a sale or contract for sale of goods, wares, merchandise, machinery, supplies, or other commodities, whether patented or unpatented, for use, consumption, or resale within the United States or any Territory thereof or the District of Columbia or any insular possession or other place under the jurisdiction of United States, or ftX a price charged thereof, or discount from, or rebate upon, such pri c, on the condition, agreement, or understanding that the lessee or purchaser thcr of shall not use or deal in the goods, wares, merchandise, machinery, supplies, or other commodities of the lessor or seller, where the effect of such lease, sale, or contract for sale or such condition, agreement or understanding may be to subtantially lessen competition or tend to create a monopoly in any line of commerce. (Jc,jcmaban bebasnya) Pcrbuata11 ben'kuJ dibawab ini dikatakan merupakan suatu perbuatan melawan bulmm jika setiap pihak yang melaksanakan kegiatan dibidang pemiagaan, dalam menjalankan usahanya tersebut, baik menyewakan (lease) atau menjual, atau me11gikatka11 diri dalam suatu perjanjian untuk menjual suatu kebendaan (goods), bartmg-barang (wares), barang dagangan (merchandise), mesin-mesin, pasoka11-pasoka11 atau komoditi lainnya, baik yang dilindungi dengan hak paten atau tidak, untuk d,pergunakan (use), dipakai (consume) atau dijual kembali dalam Negara Amen'ka Serikat atau setiap bagian daripadanya ataz4 Distr1k .Kolombia a/au seliap pulau yang berhubungan (,llau tempat-tempat lain yrmg masih berada dalam Jurisdiksi Amerika Serikal, atau menetapkan sualu ha,ga tertenlu, atau memberikan diskonto1 atau rabat alas harga, deugan syaral, per;/anj/an, atau kelentuan babwa pihak penyewa (lessee) atau pembeli tersebut tidak akan mempergunakan atau melakukan hubungan dagang alas kebendaan, bara11g-bara11g, barang dagangan) mesin, pasokan, atau komodlti /aitmya yang fam/Jira11 149 berasa/ dari pi/Jal.� pcsai11g 1,1saba yang me11yewakq11 (l��g,r) a/au pe11j11a/, Jika pe11yewaa11, pc11j11al911 atatt 1 /��1jqnjia11 un� { tk m,e11)11al, ,af�t(1 ,syqra1, atau pe1ja11jia11 atau kete11111an l�rsc,b{tl a�g11 seca'ia si�bslq11s�al mer1gurangi tfngkat komP.r�isi atqt,t, bert1/}(ta,1i u�!IU�/JlCll�iptakpn molJ�JJol( da�q,n, sallt, atau /�bib bidang usqha, pemiagaau. , , • ii • ' j SECTION � �ugqt�n.ya�g dqpflt d,im�juk,"" n qf�� P,ih,ak ya�g ,"dirugikan"; j 1 jumlab dan �•ffca_m ��nti rug'y�ng 1ap"°t,4it��ftft. .. , Any person who shall he injured in his business or property by reason of anything forbidden in the antitrust laws may sue' therefor in any district court of the United States in the district in which the defendant resides or is found or has as agent, withou� respect �q the amount itrcontroyersy, and shall threefold the damages by him sustained;·and the cost of suit, incluoing a reasonably attorney's fee.... • • 1 \ \' 1 0 I t 1 I f \ ' l'l 1 1 t '' • '; t f 0 ' \ ' • 1 • 1 ,. ... , ' I • f (Terjemahan be_basnya) Setiap pihak yang usaha atau miliknya dirugikan,sebagai akibat pelangg,aran ketentuan antitrust berhak untuk menuntut, •pada· setiap 'Pengdailan Distrik di Amerika Serikat dimana pihak tergugat tersebut berk'ediaman atau dimana pihak tergugat memiliki agen, tanpa memp�rh'atikan besarnyajumlab kerugian yang dit'untut,· untuk segala biaya peradilan/ termasuk biaya pengacara .. :. SECTION 7 Pengambilali�attt ,s�ban, suatu perseroan terbatas oleb perseroa,, (erbatas lainnya. No corporation engaged in commerce shall acquire, directly or indirectly,'the whole or any p'a rt of the stoc� or 'other 'sha;e 'capital.,and nd corporation subject 'to the jurisdiction of the'Fe'dreal Trad2 Commi�'sion' 'shall acquire the whole or any part of the assets of ahoth'er corporation engaged also in commerce, where in any line of commerce in any section of the cou'ntry, the effect'os such acquisition may be substantially to lessen competition, or to tend to create a monopoly. No corporation shall acquire, directly or indirectly, the whole or t\ny part of the stock or other share capital and no �orporation subject to the jurisdiction of the Federal Trade Commission shall acquire ,the whole or any part of the assets of one or more corporations engaged in commerce, where in a·ny line of commerce in any section the country, the effect of such acquisition, of such stocks or assets, or of the use of such stock by the voting or granting of proxies or otherwise, may be substantially to lessen competition, or to tend to create a monopoly. of t 10 Seri Hukmn Bi.mis: A11ti Mo110/Jo/i This sectfon shall not apply to corporations plirchasing such stock solely for investment and not llsing the same hy voting or otherwise to hring ;1hout, or in attempting to hring ahollt, the suhstantial lessening of competition. Nor shall anything contained in this section' prvent a · ct)rporation engaged in cornme tee from causing the formation of suhsidiary corporations for the actual carrying on of their �mmediate lawful husiness, or the natu ral and legitimate hranches or extensions thereof, or from owning· ana holding all ·or part ·of' the stock of such suhsidiary corporations, when the effect of su�h 'formation is. not to suhstantfally lessen com pe­ tition. (fe1jemaban bebasnya) Tidak ada suatu pe,:seroanpun yang melaku�an kegiaiarJ di bidang pemiagaan, diperbolebkan untuk, baik secara /angsung maupun tidak langsung, mengambilalih selurub maupun sebagian sabam dari perseroan lain, demikia_n . juga tidak ada suatu perseroanpun tanpa kewenangan dari Federal Trade Com­ mission (FTC) berhak untuk mengam�;lalih ,selurub maupun sebagian dari kekayaan (assets) perseroan lain yang juga me/akukan kegiatan di bidang perni�gaan, yang menjalan�an kegiatan. usabany(l, di negara bagian manapun dinegara ini,jika penga,rtbila/iban leT$ebui secm:a substansial mengurangi tingkat kompetisi atau bertujuan untuki men.ciptakan monopoli dalam satu atau lebib bidang usaha pemiagaan. Tidiik ada suatu perseroanpun yang me/akukan kegiatan di bidang perniagaan, diperbolehkan untuk, baik secara langsung maupun tidak langsung, mengambilaHh seluruh mdupun ,sebagian saham dari perseroan ,, lain, de1J1ikian juga tidak ada suatu perseroanpun tanpa kewenangan,dari Federal Trade Com, mission (FTC) berbak untuk megambilalih selur1:':b maupun _sebag�·an dari kekayaan (assets) p�rseroan lain Y,ang juga melakukat1 kegiatan di bidang pemiagaan, yang menjalankan k<!8iatan usabanya, di negara bagian manapuri dinegara ini, jika pengambila/iban saham ,nqupun ke�(lyaan tersebut, atau penggunaan bak-hak atas saham atau pemberian kuasa untuk bertindak selaku pemegang saham atas perusahaan tersebut a(au bak-hak lainnya yang peltifsanaannya secara substansia/ akan mengurangi tingkat kompetisi atau bertujuan untuk menciptakan monopoli da/am satu atau lebib bidang usaha pemiagaan. Ketentuan dalam Seksi ini tidak ber/akz� bagiperseroan yang membeli sabam dengan tujuan hanya sebagai investasi be/4ka dan tidak mempergunakan bak· haknya sebagai pemegang saham, ataupun imtuk melakukan liudaka n yang, l I � f ' ' ' f • ,J , f I ' Lt1 111JJ/ra11 I) I s«m·a sohs1t,1 11sial mc1(c,:11ra11gi tlugl!al komJJells/. KC'le11/11 t111 lersehlll juga 11�/ak mC'>t,�11ra11,q i bali persero'an, yang melak11l�a11 keglaltlll 11saba dalah 1 JJcr11lagaa11, 1111t11li mc>ullrlkan anal? pcrusab'aan 11111ul? 111elafo1kc111 i�eglata11 11saba11. 1·a yang /,cnnr. atau 1111t11l? membe11111k caba11g-caba11g, ma11p1111 da/a,11 ra11gka per/11asa11 usnbtmya, ata11p1111 1111111k memllikl ata11 J11e11g11asa/ ' se/11r11h ma11p1111 sebagia11 sa/Ja m anak pcr11sabaa1111ya, selama bal-bal tersebut did/as lidak secara .�ubstanslal me11g11ra11gl tit1gkat kompetisl. SECTION 8 Ketentuan larangan Jabatan ganda �agi atiggota Dlreksi. No person m the same time shall he a director in any two or more corporations, any one of which has capital, surplus, and undivided profits aggregating morge than one million dollars, engaged in whole or in part in commerce, other than hanks, hanking associations, trust companies, and common carriers subject to the Act to regulate commerce approved February the fourth, eighteen h�ndred and eighty seven, if such corporations are or shall have heen therefore, by vitue of their business and location or operation, competitors, so that the elimination of competitjon by agree­ ment between them would constitute a violation of any of the provisions of any of the antitrust laws. The eligibility of a director under the foregoing provision shall he determined by the agreegate amount of the capital, surplus, and undivided profits, �elusive of dividends declared but not unpaid to stockholders, at the end of the ftscal year of said cqrporation next preceding the election of directors, and when a director has been elected in accordance with the provisions of this Act it shall be lawful for him .to continue as s uch for one ye:tr thereafter. ([erjemaban bebasnya) Tidak ada seorangpun yang diperkenankan unluk menjabat sebagai anggota Direksi dari dua atau lebib perseroan, jika salab saltl perseroa11 tersebw memiliki modal, cadang'an, dan laba ditaban yang leblb dan· satu juta Dollar Amerlka, yang me/akukan kegialan usabanya, baik selurubn:ya u1.aupun sebagian dalam keglatan perniagaan, selain bank, asoslasi perbankan, perusabaa11 trusty, dan lain-/ai11nya yang diperkenankan o/eb Undang­ u11da11g tangga/ 4 Februari 1887, jika perseroan-perseroan tersebut, yang berdasarkan pada kegiatan usabanya dan lokasi atau pelaksai1aau jalann_ya perusabaan, pesaing,�ya, mengadakan suatu perja11jia11 yang berllljuau untuk mengurangi tlngkal persaingan yang menun,t ketenluan antitrust mer11paka11 suatu pelanggaran. Keabsaban anggota Direksl berkenaan barus dile11111kan 1 -2 Seri H11k11111 Bi.m is: Anti Jfo11opoli hcrdasarha11 pada jumlab modal, cadanga11 da11 /a ha ditaban, tidak termasttk dl't'ide11 yang le/ab dise11u·u; untuk dibagika,1 1101111111 be/um dibayarka11 kepada pcmegmtq . abam, pada akbir ta bun pajak dari perseroan tersebut sebelum pe11ga11gkata11 di/angsungkan, da,�jikti a11ggota Dir:eksi tersebut te{ah diangkat da,, 111e11jabat sebagai anggota Direksiyang dilakukan dengah tidak bertentangan/ se.w ai de11ga11 ketentua,z Und(lng-undang ini, maka yang , bersangkutan d1j,erke11a11ka,1 untuk me,ifabat selama-lama,�ya_,satu ta�tm.k.emudian sebelum pada akbimya ia diganlikan menurnt ketentua,z Undang-undang ini. I I I I l I ' I f 1 I 'I ,, I ' I I II ( 1' 1 I'• I I :1 ·. I ,, . I 'I t. /. JI I I , ' .· ' ill ' I !,' . f I ,r I ( . ,' I • • ) I ,, . . .' } I' ) ,. 1 I r• ' ', N • I ' 0 :,• • . (I jI · 11 ' I I J ., JJ l , I ' ' ' l I ' • I ' • t l ' l ' /,a11ijJil'at1 \\' \ , ,, 1 53 LAMPIRAN ,v, ) ' I 11 SECTiqN °'5 J!r��tek,p�r,saingan usaha tidak sehat; \pe·ncegahan yang dilakuka,i dalam/ berdasarkan pernyataan Komisi Declaration of unlawfulness; power to prohibit unfair practices. a. 1. Unfair methods of competition in or affecting commerce, and unfair or decep­ tive acts or practices in or affecting commerce, are declared unlawful!.... Penalty for violation of order, injunctions and other appropriate equitahle re­ lief. b. Any person, partnership, or corporation who violates an order of the Commis­ sion to cease and desist after it has become final, and while such order is in effect, shall forfeit and pay to the United States a civil penalty of not more than five thousand dollars for each violation, which shall accrue to the United States and may be .recovered in a civil action brought hy the Attorney Genernl of the United States. Each separate violation of such an ord�r shall be a separate of­ fense, except that in the case of a violation through continuing failure or ne­ glect to obey a final order of the Commissicn each day of continuance of such failure or neglect shall be deemed a separate offense. (ferjemahan bebasnya) Pemyataan mengenai hal-hal yang berlawanan dengan hukum; kewe11a11ga11 untuk melarang dilaksanakannya persangian usaba tidak sebat. a. 1. Persaingan usaha lidak seh4t dalam, atau yang mempengaruhi kegiatan usaha pemiagaan, dan perbuatan atau praktek tidak sebat a tau tidak wajar (deceptive) dalam, alau yang mempengaruhi kegiatan usaba perniagaan ada/ab bertentangan dengan bukum .... Denda akan dikenakan alas setia pelanggaran lerhadap perintab, kep11111sa11, ·dan lain-lain penetapan yang patut. b. Setiap orang, kemilraan, atau perseroa11 yang melanggar perintab Komis,; yang telab berkekuatan hukum tetap, untuk me11ghe11tika11 kegiata1111ya t 54 Seri Hukum Bi.'illis: Anti Mo11opoli (ceasea11ddesisl), dide11daseti11p,gi-lh1,(Ni11ya lima ribu DollarAmerika 1111/trk liap pela11ggara11, yang wajib dibayarkan kepada Negara, berikut denda yang dapat ditagib da11 ditu111111 dalam/ berdasarka11 .mall, perkara perdata oleb Kejaksaaa11 Umum Amerika ' Serikal. Setiap pelanggaran terhadap periutab Komisi aka11 membawa akibat hukum sebagai sualll perkara tersendiri, de11ga11 kete11tua11 kbusus bahwa setiap hari pengabaian a/au pelanggaran yang berkelanjutan dalam memenuhi perintah Komis/ yang le/ah berkekuatan hukum tetap, harus. dianggap sebagai suatu perkara tersendiri. la111/1/ra11 V i5 LAMPIRAN VI KUTIPAN DARI THE ROBINSON-PATMAN ACT YANG RELEVAN SECTION 2 Diskriminasi barga, pemberla11 jasa, atau fasilitas. a. Price; selection of customers. It shall be unlawful for any person engaged in commer�e, in the course of such com merce, either directly or indirectly, to discrim inate in price between different purchases of commodities of like grade and quality, where either or any of the purchasers involved in such discrimination are in commerce, where such commodities are soled for use, consumption, or resale within the United States or any Ter�itory thereof or the District �f Columhia or any insular possession or other place under the jurisdiction of the Uni ted St�tes, and where the effect of s·u ch discrimination may be substantially to lessen' competi­ tion or tend to create a monopoly in any line of commerce, or to injure, destroy, or prevent competition with any person who either grants or know­ ingly receives the benefit of such discrimination, or with customers of either of them: Provided, that noting herein contained shall prvent differentials which make only due allowance for differences i n the cost of manufacture, sale, or delivery resulting from the differing n:iethods or quantities in which such commodities are to such purchasers sold or �elivered: Provided, however, That the Federal Trade Commission may, after due investigation and hearing to all i nteres'ted parties , foe and establish quantity limits, and revise the same as it finds necessary as to particular commodities or classes of commoditie·s , where it finds that available purchasers in greater quatities are so few as to re nder differen�ials on account thereof unjustly discriminatory or promotive of monopoly in any line of commerce; and the foregoing shall then not he cons trued to permit differentials bas�d on differences in quantities greate r than those so fixed and established: And provided further, That noting herein contained shall prevent persons engaged in selling goods, wares, or merchan­ dise in commerce from selecting their own customers in bona fide transactions and not in restraint of trade: And provided further, That noting herein contained shall prevent price changes from time to time where in response to changing conditions affecting the market for or the market-ability of the gcx)ds concerned, such as hut not limited to actual or imminent deterioration of 1 �6 Seri Hulmm Bi.m is: Allli Mo11opoli perishable goods, obsolescence of seas.o nal goods, dist ress sales under court process, or sales in good faith in discontinuance of business in the goods concerned. I, (fe,jemaba11 bebas11J1a) a. Harga; penenluan konswnen. · •· , 1• , Setiap pihakyang 111e/akukan kegiaian usaha d(,bi�angp�rn,i�gaan, selama menjalankan kegialannya tersebut, tidak diperkenankan untuk, baik secara /angst.mg maupun ' lid�k. l�ngsung, diskriminasi ih'ti,k �' - �l�kuk�n . . ·1 • barga un,tuk pembeli Yflng b�rb�da. �!� l?r�oditas /arig sa"!a jenis dan masing-masing pembeli yangI , ,terlibat dalam 'diskriminasi mutunya, jika , l , , I' , I ' , • J l I �' tersrbut berger�k dalq,f!t. �e�ialf;ln �aha P�171fqg�a.n, terkadap _komoditi yang dijualI untt<k dipergu'}tlkan, dipakµi qtqu dijup{, ; kemba,fi da(am N,egara 1 • � 1 I • tJ 1 1 , 1 , , , Serikat atau setiap bagzan daripadanya atau Distrik Kolombia Amerika , t f � • I. f 1 ,, • ' 1 J J ' (; ,. I ' atau setiqp Pl!lait yang berhuburigan a�a.u tenipai-i�mpa.t lain yang masib berdda daia,JJj�risdiksi AfnerjkJ Senk'at,• dinui� diskririli11a5ttersebut dapat • ' ; J , • I • I III I secara substansial mengurangi tingkat kpmpetis( qtau pertujuqn ,untuk I t • ' ' • I , ' menciptakan monopoli dalam ·satu ata_u _lebih bidang ?L5a�a perniagaan, ti dengan pihak atau merugikan, merusak, ·atau, 1 mencegah kompetisi lain f I • ' ,, I' I , l 1 I J yang memberikan atau mengetdhui telah menerima keurztung an... dari . • 'I I .1 ,, I t f' diskrintinasi tersebut, atau .konsume!l dari mereka; f?engan: ketentuan, bahwa ketent'uan ini tidakf ,mengitra�gi p�n�ntt /1� hargci��arg� yang berbeda 1l t ,l J J I J yang terJadi4 sebagaf akibat biaya produksi, penjualan maupun � t I • \ , pengangkutan yang berbeaa karena metode �an jum(ab yang berbeda; 'J I uI I If , ' DenganI ketentuan bahwa, bicir bagaimqnapun, FTC berhak, berdasarkan / • , , ' • I ( ·, • pada basil investigasi darz setelah· m�nd(!ngar. pihak-pihak yang berkepentingdn, n:enentukan dan merz�t�pkan s�a(�jumlah tertentu, dan mernbab�ya sekadarI ha! tersebill perlu tiniuk Jet1is• ' ,komoditi maupz�n kelas • f I t • I 'd J komoditi terte��u, _berdasarkan fakta ba?wa,para petrfb�li untuk jum/ah (komoditi) yang besar adalah demlkiiin ' keiilnya sehingga tidak mtmgkin untuk memberikan perbedaan ba�ga yang ·,�dak me�garah pada diskriminasi dan kecenderungan rho,,.opoli, dan se/Jnjutnya ha/ tersebul seharusnya tidak dianggap sebagai pemberi{ln izin untuk menent11ka11 pemhedaan harga berddsarkan pada perbedaan aalam suatu}um/ah ya11g I ) lebih besar dariyang telah ditentukan dan diletapkan; Dan dengan kete11h1a11 lebih lanjut bahwa, ke�entuan ini tidak_menghalangi p1hak manapzm yang berusaha dalam kegiatan penjualan kembendaan, barang-barang, atau I (\! ' I I I I ) ' j I i 1 I ' .;, I I I ( I 1 • 4 •I I I "I I' 157 barailg dagangan u,·11uk me11entukan se11diri ko11s11111e111�1 1a dalam tiap-liap Jenis transaksi da11 b11ka11 dala,n beli'tuk bambatan pei·daga11ga11: Dan de11ga11 kete11tua11 lebib /a11J111, bahwa ketentuan ini tidak dilarang te1jadi11ya pe!7 1b�ha�! �Jar�� dari wa�llf �e,W��IU/f,�a�fi fkiqat flar,i P,rr,ubaha,J 1 , kondisiyang mempengan,hipasaralas kebendaa11 ter;seb,ut, te�rr1as11k letapi tidak terbatas 'pada kerlisalian dar( bdrdn[ibar�11g�Va11g mltciah' rusak, i usdng11_ya 1 iit'odel alas' bafanlbafari milsim1an; p'e,(ir1ala11 ia'ng ,�Hangklll dalam perkara peradilan, atau penjualan dengan ilik'ad baik se/J11bimga11 . I dengd� 'terputusrz,va kegiatan 'usah�· dtas �ebendaan tersebiii. r J b. lampil'a11 I ,' • • • II 1 , 1 f ' 'j , , Burden 9f reb�ttirg p�imaTfacie case of 9.iscri.m i,n atio_n .,. 1 • • , Upon proof being' made, at any hearing. on a complafnt under this section, that - there has been discrimination in price: of services or·facilities· furnished, the burden of rebutting the prima-facie case thus made by showing justification shall be upon the person charged with a violation of\ this.section, and unless I '' � I '•.. '· "i \ ' j ustification shaH be affirmatively shown, the . Commission is authorized to is.sue an cider terminating' th'e discriminatio� : 1Provi'dect,' however; Tiiat noting herein contained shall prevent a seller rebutting the prin1a-fa'cie case ihus n1ade by showiqg that his ·ldwer,price or the fu'rnisning of services or facilities'to any purchaser dr purchasers•was made'in good faith to meet 'ari equally low price of ·a competitor, or the services or facilities fumished·by a competitor. 11 (I'erjemahan bebasnya) b. • ( ,\ I BebanP,�buktian unt� memba.ntah/ menyqngka/ kasusyangjelas_ (pn'ma1 /acie).da/am diskriminasi Sele/ah pembuklian dilakukan o/eh pihakpenggugal menurot ketentuan Seksi inf bahwa telah lerjddi diskrim inasi aias harga titaujdsa a/aufasill1asya11g diberikan, beban pembuktian u11tuk membantab suatu kasusyangjelasbams di/akukan dengan menunjukkan pem benara11 dari dilakukannya tindakan tersebut oleh pihak yang patut diduga .t.elah m,ela/.::ukan pela !lg1• 1, ( I I 1\ J garan alas Seksi ini, dan kecua/i dapal dibuktikan dengan jelas, Komisi • ' berhak 'untuk mengeluarkan perintah un"tuk me;i'gb'entikan diskriminasi tersebut: Dengan ketentuan bahwa; ketenltian lersebut tidaklah n1e11u1up 1 1 � ki!'m ungkinah bagi penjtia/ uniuk m emb'antah kasus lersebut dengan mdiiunjukkan oahr_va harga yang renaah tersebul a/au pe1i1beriai1Jasa atau fasilitas 'k ep'ada pembeli tertentu dilak11ka1i • dei1ga11 ilikad baik' untuk 1 • 1 58 Seri Huhum Bi.m is: Anti Mo110/)oli hcnm·1 1g de11ga11 barga re11dab yang diberikan oleb pesaing usaba11ya aJau Jasa ataufasilitas yang diberika11 Juga oleb pesai11g usabanya. c. Parment or acceptance of commission, hrokerage, or other compensati�m. It shall he unlawful for any person engaged in com me�ce, in the course of such commerce, to pay 01; grant, or the receive or accpet, anything of value as a commission, hrokerage, or other compensation, or any allowan�e of discount in lieu thereof, except for services rendered in connection with the sale or purchase of goods, wares, or merchandise, either to the other party to such t_ransaction or to an agent, representative, or other intermediary therein where such intermediary is acting in fact for or in hehalf, or is subject to the direct or indirect control, of any party to such transaction other than the person by whom such compensation is so granted or paid. (ferjemahan bebasnya) c. Pembayaran atau penerimaan komisi, uangjasa sebagai perantara, atau kompensasi lainnya. Setiap pihak yang melakukan kegiatan usaba dalam bidang pemiagaan, dalam menjalankan kegiatannya tidakperkenankan untuk mem�ayar atau memberikan, atau menerima uang dalam jumlah berapapun juga dalam bentuk komisi, uang jasa, atau kompensasi lainnya, atau pemberian diskonoto, kecua/i untuk jasa yang diberikan dalam kaitannya dengan penjua/an atau pembelian kebendaan, barang-barang, · atau barang dagangan, baik kepada lawan pihak dalam transaksi atau kepada agemzya, perwakilan, atau pihak ketiga lainnya yang menjadi perantara, atau yang berada dalam penga_ruh langsung maupun tidak langsung dari lawan pibak dalam transaksi selain pihak yang memberikan atau membayarkan kompensasi tersebut. d. Payment for services or facilities for process'ing or sale. It shall be unlawful for any person engaged in comm�rce to pay or contract for the payment of anything of value to or for the benefit of a customer of such person in the course of such commerce as compensation or in consideration for any services or facilities furnished by or through such customer in connec­ tion with the processing, handling, sale, or offering for sale of any products of \ I la111pira11 1 59 co mmodities· manufact u red, sold, or offered for sale h}' such person, unless such payment of consicler-d tion is availahle on pn�portionally equal terms to all other customers competing in the distrihu tion os such prod ucts or com m<xl i ­ ties. (fetjemaba11 bebas11ya) d. Pembayaran untukjasa dan fasilitas untuk pr.oses atau penjualan Setiap pibak _vang melakukan kegiatan usaba dalam bidang penziagaan, dalam menjalankan kegiatannya tidak perkenankan untuk membayar atau be,janji unt11k membay�r uang dalam}um/ah berapapunjuga kepada atau untuk keuntungan dari konsumen da/am kegiatan pemiagaan tersebut, Sf!bagai kompedsasi atqu dalam bentuk imbaldn �tasjdsa a�aufasi/itasyang diberikan kepada konsumen tersebu't dalam kaitannya dengan proses, penanganan, penjualan, atau penawaran untuk menjual-produk atau komoditas yang diproduksi, dijual, ditawarkan untuk diju.al o/eh pihak tersebut, ·ke�'!-ali·pemb'fiyaran' terseliut diberikan secara pro�ata dan seimbang dringan konsumen lainnya yang bersaing dalam mendistribusikan produk atau komoditi tersebut. I I \ t \1 ' I t • I I e. Furnishing services or facilities for processing, handling, etc. It sh�I ·� unl�wful for any person· td discriminate in fa�or 'of one purchaser against anot�er purchase� or P,u rcha�ers of a commodity bought fo� resale, with or without pr0<;essing, ,by contracting to furnish or furnishing, or by cqn'tributing to the furni,�hing of, any se rvices. of facilities cbnnected ·with the such corrimcidity so purchas� processing, handling, sale; or offering fo� salJ of J f , � t ,e f I upo� terms not accorded to a.II p�r��asers on P,ropp�ion�lly equal terms. I ' � ', 1 ' 1 , f 1 t. 1 >• ' I r A 1 1 J • 11 1 t J ' , l � fl! ff J l f • l (I'erjemah�n bebasnya) e. Pemberianjasa atau/asilitas untuk proses, penanganan, dansebagait�ya. Setiap pihak di/arang untuk melakukan diskriminasi untuk keuntungan salah satu pembeli terhadap para pembeli lainnya, atas suatu komoditi yang akan dijual kembali, dengan atau tanpa proses, dengan suatu janji untuk memberikan, atau dengan' memberikan, atau' dengan turut serta ' , memberiktin jasa atau fasilitas yang berhubungan dengan proses, penanga,nan; penjualan, atau tarvaran untuk me,i}ual komodilas tersebut Seri Hukmn Bi.m is: A11li Mo110/)o/i 1 60 yang kemudia11 dibeli, denga11 .9,arat-�1 1arat yang tidak berlaku ·secara ·� proporsio11al untuk semua pembe'li. Knowingly inducing or receiving discriminatory price. It shall he unlawful for any person engaged in commerce, in the course of such commerce, knowingly to induce or receive a discrimination in price which in prohibited by this section. f. (I'erjemaba'n bebasriya) hat;ta. f Menye_babkan te1jddinya atau menerima.diskriminasi .· . · . ,l,, . Setiap P,ihak yang mglakufean �egfatan �aha dal<1n:t. bjdang pem iagaan, me_nye�abkan fe,jadinya atau menerimp diskri,:ninqsz hf:lrga yang li.(larang dalam Seksi ini. I , I S�CTION 3 Diskriminasj tfal�m penibeT!�n, pQtongqn bqrga, �isk�n, .atau biaya jasa periklanan; penjualan dengan barga lebib rendab pada wilayab tertentu� j,�lties. · · It shall be unlawful for any person engage� in commerce, in the course of such com­ merce, to be a pany to, or assist in, �my .transaction of sale, or ,contract to sell,, :which discriminates to his kno'!Vledge against competet�tors of the,purchaser, in that, any of such at the 1time available charge discou nt, rebate, allowance, or advertising' service • • ' I· I ' ' ·I transacti9n to said competitors in respect of a sale of goods of like grade, quality, and l quantity; to sell,. or contract to sell, goods in any'part of the United �tates at prices i lower than those exacted by said person elsewhere in the Ul)ited States for the purpose of destroying com peti5io�, or elim'inati�g a competitor in sue� part of the United States; or, to sell, or contract to sell, ·goods at unreasonably low prices ·for the p urpose of destroying competition or eliminating a competitor. Any person violating any of the provisions of this section shall, upon con�ction thereof; be fined not more than five thousand dollars, or imprisoned not more than one year, or both. I I , . ' I • I . t I • I • t • ' I I ,I • • I • ' (" . 1 , '• I J ' ' , • j _, l l I j ' I 1 I ' I ! ' - f • (Terjemahan bebasnya) Setiap pihak yang melakukan kegial�n usaha dalam bidang fei-ni�gaan, ·dalam in.enjalankan kegiatannya tidak p'erkenank'an untuR 'menjadi pihak; atau mem.bantu dalam suaiu transaksipenjualan: atauperjanjian u�tuk me,ijual, yang La111pira11 161 diketabui 111e111berlakuka11 diskrim i11asi tcrbadap pcsaing 11saba dari pibak pembeli, dalam be11t11k diskonto, rabat, twy·a11ga11, atau pemberianjasa perik/ana1 1 bagi pembeli di alas diskonto, rabat, llmja11ga11 atau jasa periklanan yang diberlakukan pada pesaing usaba laimzya tersebut untuk penjualan kebendaan ya11gje11is da11 mullmya sama, pada saat transaksi di/aksanakan; meryual atau be1ja11ji 1111111/..� me,y·ua/ kebendaan tersebut di wilayah dari Amerika Serikat dengan barga yang /ebih rendah dari yang diberikan oleh pihak penjual tersebut untuk wilayab-wilayah laimzya di Amerika Serikat dengan tujuan untuk merusak persaingan, atau menghilangkannya dalam wilayah negara Amerika Serikat; atau menjual atau be,janji untuk menjual kebendaan padq harga yang rendah dan tidak m asuk akal dengan tu.Juan untuk m erusak persaingan, atau mengbilangkannya. Setiap pihak yang melanggar ketentuan Seksi i_n i, atas pelanggaran tersebut dihukum dengan denda setinggi-tingginya lima ribu Dollar Amerika atau kurungan setinggi-tingginya satu tahun atau keduanya. RIWAYAT HIDUP GUNAWAN WIDJAJA, SH, lahir �ii Med�n ta,nggal 12 Mei 1969. Masuk pada Fakultas Hukum Uni'ver­ sitas Indonesia tahun 1986. Lulus pada tahun 1990 dengan --program spesialisasi "Hukum Tentang Kegiatan Ekonomi". Sejak lulus sampai sekarang � ii��:.:' :· /:t t,,)J\f\1 {; telah bekerja pada berbagai grup perusahaan besar. Pernah menjabat sebagai Head of Legal pada TIGARAKSA SATRIA GROUP dan saat ini menjabat sebagai Assistant General Manager Corporate and Legal - TIRTAMAS GROUP. Aktif menulis pada Ruang Hukum "Buletin Business News" sejak bulan Mei 1993 sampai se­ karang. Selain itu juga pernah menulis pada berbagai majalah, antara lain di Majalah Prospek. Saat ini juga menjadi staf pengajar tidak tetap pada Universitas INDONUSA EsaUnggul di Jakarta, serta aktif mem­ berikan ceramah pada berbagai sem_i nar. i AHMAD YANI, SH, Ak., lahir di Petaling (Bangka) tanggal I Januari 1966 adalah alumnus Fakultas Hukum Universitas Indonesia Tahun 1991 dengan program spesialisasi Hukum Tentang Kegiatan Ekonomi. Tahun 1993 meraih gelar akuntan dari ------ Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) dengan nomor register akuntan negara Nomor D-1_1394. Saat ini bekerja sebagai auditor pada Departemen Keuangan Republik Indonesia. Pernah menjadi Finance Manager pada sebuah perusahaan property, auditor pada Kantor Akuntan Puhlik dan . menjacli konsultan pada beberapa perusahaan. Disamping aktif menulis cli' berhagai media massa, heliau juga m engasuh "Ruang Ekspor Impor" sejak tahun 1997 di Bulletin Business News dan mengajar pada lemhaga pendidikan dan perguruan tinggi swasta ali Jakarta antara lain Universitas Kristen Indonesia (UKI), STIE Jayakarta, STIE Jagakarsa dan · GINSI. Saat ini beliau juga men­ jahat sehagai Ketua Yayasan "Widya Dharma" yang bergerak dalam clan pengembangan sumber bidang pend'dikan, konsultasi, oenelitian ' . . ; 1 1 n �- J i 1 ·1 1 • . " 1,'i • ' f 1 ✓ I 11 1 • mapusta. aaya , 1 f . .. . , .•j I .4 � l . • ' " I I � 1 I ,. I ,, t . ,: I J I. 1 I ,, I I. , , ,, . ., . . l ,, ' f _; I I • .1 ,1 j 1. ( .', ' .. d, I I .1,1 ' I I J ,1 ' ' I I ii I I j )' . /. ' '• II ' ,· ,\ . tI I ' I . I ' I I , I, I I .' I i ' ' ' , 1 1 , , ul I • ' <' J I I I L, . r: v l ' l : 1, l /\ I ,, ' I ( . 1 1 , , f' 'I J I I l I 1 l ,'' ( I • ' ,. II I ' I f / .: ) I : : I � i' ) ( .;nunr ' I1�1 1 1 ., II I J I •' , I ' I I ) .J . ., . ' I ) ,I r If I I 'r I • I 1 II ' I I IJ \ 1 ANTI MONOPOLI ! Dengan d itetapkan. dan _dfundangkannya U ndan·g -Undang No.5 Tahun 1 999 tentang l�rangan praktek monopoli dan pe"rsaingan us a h a t i d a k s e h a t b e ra rti te l a h m e n a m ba h l a g i satu ;;--: perb e n daharaan U ndang - U n da n g yan g yan g sudah cukup )':.;._. ... �. lama ditunggu;.tunggu oleh kalangan �sahawan, maupun mereka ,��t::- · · . . yan g i n g i n menjalanka n keg iata n usaha n ya d i I ndonesia. �\ . Undang-Undang yang baru · ini, dengan demikian diharapkan in:'.-­ · . dapat m e njadi rambu-rambu dan batasari d a l a m keg iatan ! �,, ekonomi. Sehingga berbagai jenis monopoli yang menimbulkan .: berbagai distorsi ekonorni dapat dihindari. ,.-;i � H u ku m te n ta n g · a ,nti monopo l i d i ra n c a n g u ntu k m e n g i si . . kekosongari buku;.buku hukum bisnis. B u ku i n i d i m a ksudkan tid�k hanya bagi ·para mqhasi_swa yang i ngin mendalami nukum tentanl) Bf!li trust can- anti monqpoli . Melainka n juga bagi para pengajar yang me·m erlukan bahan bacaan khusus dalam bidang anti monopoli;- serta kalangan praktisi hukum dan pelaku usaha ekonomi yang memerlukan pemahaman Jebih l a njut mengenai , •-. . :: -• · . berbagai aspek yuridis darr kegiatan usaha yang 'dilakukan. , • . -r- 1; . ·� · ' · . --- Mahas isw_a Faku ltas Hukum dan- Eko.ncim • :· ���-- r ;;� �?ran pemb aca : ,\•.. t�1� � a k u e k o n o m· i , p ra kti s i . h u k .u m· d a n p e m b a c a u m u n 1 -• ·, :�','l'�:,.•f!>t•.·,;.: ;·>;', t. I. ... • ._ • {-;j,•.' \ r " �I ,f I> .! � f: ',.,.A�;r; ' t • • \ff, - I ' •!(� , I .::.· 'ti, I / I I __.., PE