USULAN PENELITIAN DESAIN LANSKAP KAWASAN CANDI BAHAL I SEBAGAI UPAYA PELESTARIAN DAN PENGUATAN FUNGSI WISATA BUDAYA TERANG DAMARINGRAT DEPARTEMEN ARSITEKTUR LANSKAP FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2026 ABSTRAK TERANG DAMARINGRAT. Desain Lanskap Kawasan Candi Bahal I sebagai Upaya Pelestarian dan Penguatan Fungsi Wisata Budaya. Dibimbing oleh ANDI GUNAWAN bersama SHOLIHIN NAFAR. Candi Bahal I merupakan bagian dari kompleks percandian Padang Lawas di Kabupaten Padang Lawas Utara, Provinsi Sumatera Utara, dan merupakan salah satu situs warisan budaya Hindu–Buddha yang penting. Namun, kawasan di sekitar candi tersebut belum dikelola secara optimal, sehingga mengakibatkan keterbatasan fasilitas, rendahnya aksesibilitas, serta belum berkembangnya potensi wisata budaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan desain lanskap kawasan Candi Bahal I yang layak dan menarik secara visual, guna mendukung pelestarian warisan budaya serta memperkuat perannya sebagai destinasi wisata budaya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif berbasis proses perancangan lanskap yang meliputi observasi tapak, inventarisasi data, analisis, sintesis, dan pengembangan desain. Analisis mencakup aspek fisik, biofisik, sosialbudaya, dan regulasi kawasan. Hasil penelitian berupa rekomendasi desain lanskap yang mengintegrasikan pendekatan lanskap budaya dan prinsip ekologi melalui pengaturan zonasi, sirkulasi, penataan vegetasi, serta penyediaan fasilitas pendukung. Desain yang diusulkan diharapkan dapat meningkatkan kualitas lingkungan, menjaga nilai sejarah dan budaya, serta meningkatkan pengalaman pengunjung sekaligus mendorong pengelolaan kawasan Candi Bahal I yang berkelanjutan. Kata kunci: cagar budaya, desain lanskap ekologis, fasilitas kawasan, pariwisata budaya, pelestarian budaya. i ABSTRACT TERANG DAMARINGRAT. Landscape Design Bahal I Temple Area as an Effort to Preserve and Strengthen Cultural Tourism Functions. Supervised by ANDI GUNAWAN alongside with SHOLIHIN NAFAR. Bahal I Temple is part of the Padang Lawas temple complex in North Padang Lawas Regency, North Sumatra, and represents an important Hindu– Buddhist cultural heritage site. However, the surrounding area has not been optimally managed, resulting in limited facilities, low accessibility, and underdeveloped cultural tourism potential. This study aims to develop a feasible and visually engaging landscape design for the Candi Bahal I area that supports cultural heritage preservation and strengthens its role as a cultural tourism destination. The research employs a qualitative descriptive method based on a landscape design process, including site observation, data inventory, analysis, synthesis, and design development. The analysis encompasses physical, biophysical, socio-cultural, and regulatory aspects of the site. The study results in landscape design recommendations that integrate cultural landscape approaches and ecological principles through zoning, circulation, vegetation planning, and supporting facilities. The proposed design is expected to improve environmental quality, preserve historical and cultural values, and enhance visitor experience while promoting sustainable management of the Candi Bahal I heritage area. Keywords: cultural heritage, cultural preservation, cultural tourism, ecological landscape design, site facilities. ii Judul Skripsi : Desain Lanskap Kawasan Candi Bahal I sebagai Upaya Pelestarian dan Penguatan Fungsi Wisata Budaya Nama : Terang Damaringrat NIM : A4401221010 Disetujui oleh Pembimbing 1: Dr. Ir. Andi Gunawan, M.Agr.Sc. __________________ Pembimbing 2: Sholihin Nafar S.P., M.Si., M.G.E.S. __________________ Diketahui oleh Plt Ketua Departemen Arsitektur Lanskap: Rosyi Damayanti Twinsari Manningtyas S.P., M.Si., Ph.D. _________________ NIP 198801092020122003 iii PRAKATA Puji syukur penulis sampaikan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat sehingga usulan penelitian yang mengusung topik desain lanskap dengan judul “Desain Lanskap Kawasan Candi Bahal I sebagai Upaya Pelestarian dan Penguatan Fungsi Wisata Budaya” ini berhasil diselesaikan dengan baik. Terima kasih yang sebesar-besarnya diucapkan oleh penulis kepada dosen pembimbing, Dr. Ir. Andi Gunawan, M.Agr.Sc. dan Sholihin Nafar S.P., M.Si., M.G.E.S. yang telah membimbing dan banyak memberi saran terhadap usulan penelitian ini. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada pembimbing akademik, dan moderator seminar proposal. Di samping itu, penghargaan penulis sampaikan kepada pihak Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah II dan Pemerintah Kabupaten Padang LawasUtara yang telah menyarankan untuk lokasi penelitian ini, serta membantu dalam proses pengumpulan data. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada ayah, ibu, serta seluruh keluarga lain yang terkait yang telah memberikan dukungan, doa, dan bantuan lainnya yang sangat bermanfaat untuk penelitian ini kedepannya. Semoga karya ilmiah ini bermanfaat bagi pihak yang membutuhkan dan bagi kemajuan ilmu pengetahuan. Bogor, Maret 2026 Terang Damaringrat iv `DAFTAR ISI DAFTAR TABEL vi DAFTAR GAMBAR vi DAFTAR LAMPIRAN vi I 1 1 2 3 3 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Tujuan 1.3 Manfaat 1.4 Kerangka Pikir II TINJAUAN PUSTAKA 5 2.1 Cagar Budaya 5 2.2 Peran dan Penerapan Desain Lanskap pada Kawasan Cagar Budaya 6 2.3 Desain Ekologis dalam Kawasan Warisan Budaya 6 2.4 Desain Lanskap Berbasis Konservasi dan Wisata Budaya 8 III METODE. 3.1 Waktu dan Tempat 3.2 Alat dan Bahan 3.3 Prosedur Kerja 3.4 Batasan Penelitian 9 9 10 12 17 IV RENCANA ANGGARAN BIAYA 18 DAFTAR PUSTAKA 19 LAMPIRAN 21 v DAFTAR TABEL 1 2 3 4 Rencana jadwal penelitian Data alat dan bahan Kelompok jenis, bentuk, dan sumber data penelitian Rencana anggaran biaya penelitian 10 11 13 18 DAFTAR GAMBAR 1 2 3 Kerangka pikir penelitian Lokasi tapak penelitian Kondisi kawasan Candi Bahal I 4 9 10 DAFTAR LAMPIRAN 1 2 Lampiran 1 Daftar pertanyaan wawancara penelitian Lampiran 2 Kuesioner penelitian vi 21 26 1 I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Peninggalan budaya memiliki peran yang sangat penting dalam menjamin keberlanjutan kehidupan masyarakat pada masa kini dan masa depan. Upaya pelestarian yang didukung dengan akses dan edukasi terhadap warisan budaya menjadi faktor yang penting dalam menjaga keberlangsungan nilai, identitas, dan kebudayaan suatu masyarakat (IFLA 2017). Dalam konteks kawasan cagar budaya, pelestarian tidak hanya dimaknai sebagai upaya mempertahankan objek fisik, tetapi juga sebagai proses menjaga keterkaitan antar ruang, aktivitas budaya dan keagamaan, serta keberlanjutan kawasan cagar budaya. Oleh karena itu, pendekatan pelestarian kawasan perlu dilakukan secara menyeluruh dengan mempertimbangkan aspek budaya, sosial, dan lingkungan secara merata. Candi Bahal I terletak di Desa Bahal, Kecamatan Portibi, Kabupaten Padang Lawas Utara, Provinsi Sumatera Utara. Secara geografis berlokasikan di antara koordinat 1°24'28.19" LU – 1°24'35.79" LU dan 99°43'34.36" BT – 99°43'41.39" BT. Candi ini merupakan bagian dari kompleks percandian di kawasan Padang Lawas Utara yang merupakan peninggalan budaya Hindu–Buddha pada masa pengaruh Sriwijaya. Selain itu, Candi Bahal I merupakan salah satu bangunan candi yang telah mengalami proses purna pugar. Secara arsitektural, Candi Bahal I terdiri atas lima bangunan, yaitu satu candi utama dan empat candi perwara (Susetyo 2010). Penelitian terbaru menunjukkan bahwa meskipun Candi Bahal I memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata budaya dan sejarah, situs ini mulai tertinggal dibandingkan dengan destinasi lain karena minimnya fasilitas pendukung seperti akses, pusat informasi, dan sarana publik, serta rendahnya partisipasi masyarakat dalam pengelolaan pariwisata dan lemahnya strategi promosi (Hasibuan 2025). Sebagai bagian dari lanskap budaya Padang Lawas, Candi Bahal I memiliki potensi signifikan untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata budaya berbasis sejarah dan arkeologi. Kawasan percandian Padang Lawas tercatat sebagai salah satu konsentrasi tinggalan Hindu–Buddha penting di Sumatera Utara yang memiliki nilai historis dan arkeologis tinggi dalam jaringan peradaban Sriwijaya (Kemendikbudristek 2022). Namun demikian, optimalisasi fungsi wisata kawasan ini masih belum sebanding dengan nilai pentingnya. Data Badan Pusat Statistik (2023) menunjukkan bahwa distribusi kunjungan wisata budaya di Indonesia masih terpusat pada beberapa destinasi unggulan, sementara banyak situs cagar budaya di daerah belum berkembang secara maksimal. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara potensi sejarah yang tinggi dengan pengelolaan dan perancangan kawasan yang belum terintegrasi secara optimal, sehingga diperlukan pendekatan perancangan lanskap yang mampu memperkuat fungsi pelestarian sekaligus mendukung pengembangan wisata budaya secara berkelanjutan. Sebagian besar kawasan cagar budaya tidak hanya terdiri atas objek utama berupa bangunan bersejarah, tetapi juga mencakup area di sekitarnya yang berfungsi sebagai ruang penunjang. Area ini umumnya berperan sebagai zona penyangga dan ruang transisi yang menghubungkan antara ruang sakral dengan ruang publik. Selain itu, ruang-ruang pendukung tersebut memfasilitasi pergerakan 2 pengunjung, aktivitas edukasi, serta fungsi pengelolaan kawasan, sekaligus menjaga keteraturan aktivitas agar tidak mengganggu nilai situs budaya. Gumelar dan Rully (2022) menjelaskan bahwa isu pelestarian cagar budaya di Indonesia mulai berkembang dan mendapat perhatian sejak sekitar tahun 1990, terutama dalam konteks penataan ruang wilayah yang mengatur kewenangan pengembangan serta pelestarian situs-situs dan peninggalan sejarah. Salah satu langkah krusial dalam pelestarian suatu cagar budaya adalah melalui pelestarian area kawasan di sekitar cagar budaya tersebut. Kawasan sekitar tidak hanya berfungsi sebagai ruang penyangga fisik, tetapi juga sebagai ruang yang memiliki keterkaitan sosial, budaya, dan aktivitas masyarakat. Tran dan Truong (2025) menekankan bahwa pendekatan desain lanskap berbasis pelestarian cagar budaya perlu mengintegrasikan perlindungan nilai sejarah dengan aktivitas komunitas lokal, sehingga kawasan heritage tetap hidup dan relevan. Melalui pendekatan ini, desain lanskap diarahkan untuk menjaga karakter budaya kawasan sekaligus mendukung keberlanjutan fungsi sosial dan keterlibatan masyarakat dalam upaya pelestarian. Selain itu, pendekatan ekologis juga memiliki peran yang sangat penting dalam pelestarian kawasan cagar budaya. Penerapan prinsip ekologi dalam desain lanskap tidak hanya berfungsi untuk mempertahankan fungsi ekologis kawasan, tetapi juga untuk memperkuat ketahanan kawasan terhadap perubahan lingkungan serta mengintegrasikan nilai keanekaragaman hayati dengan nilai sejarah dan budaya kawasan Candi Bahal I secara berkelanjutan. Pendekatan ekologis dalam pelestarian cagar budaya memandang warisan budaya bukan semata-mata sebagai artefak fisik, melainkan sebagai bagian dari sistem sosial–ekologis yang saling terkait antara manusia, lingkungan, dan nilai budaya. Dalam konteks social– ecological sustainability, lanskap budaya terbentuk melalui proses sosial dan ekologis yang berkembang sepanjang waktu serta mencerminkan hubungan timbal balik antara masyarakat dan lingkungan alamnya, sehingga upaya menjaga integritas ekologis menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pelestarian kawasan itu sendiri (Schmitz & Herrero-Jáuregui 2021). Oleh karena itu, perancangan lanskap kawasan Candi Bahal I perlu dilakukan sebagai bagian dari upaya pelestarian cagar budaya secara menyeluruh. Penelitian ini difokuskan pada penyusunan rekomendasi desain lanskap kawasan yang tidak hanya memperhatikan aspek estetika, tetapi juga mempertimbangkan keberlanjutan nilai sejarah, budaya, dan lingkungan. Pendekatan lanskap budaya yang dipadukan dengan prinsip ekologis dipandang penting agar kawasan Candi Bahal I dapat berfungsi secara optimal sebagai kawasan cagar budaya yang tetap terjaga, mudah diakses, dan berkelanjutan. Tran dan Truong (2025) menyatakan bahwa pelestarian kawasan heritage akan lebih efektif apabila perencanaan lanskap mampu mengintegrasikan perlindungan nilai sejarah dengan fungsi sosial dan lingkungan. Dengan demikian, pendekatan tersebut diharapkan dapat menjadi dasar dalam pengembangan konsep desain lanskap kawasan Candi Bahal I. 1.2 Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk mendesain lanskap yang berbasis pelestarian dan penguatan fungsi cagar budaya pada kawasan Candi Bahal I, Kabupaten Padang Lawas Utara, dengan tujuan khusus sebagai berikut: 3 1. menganalisis dan sintesis terkait potensi serta kendala kawasan Candi Bahal I yang ditinjau dari aspek fisik, biofisik, sosial budaya, dan kebijakan/aturan terkait cagar budaya 2. merumuskan konsep dan karakter desain lanskap kawasan yang mendukung pelestarian nilai sejarah dan budaya Candi Bahal I sekaligus memperkuat fungsi kawasan sebagai ruang budaya dan wisata 3. menyusun desain lanskap untuk kawasan Candi Bahal I yang mengintegrasikan pendekatan lanskap budaya dan prinsip ekologis sebagai upaya pelestarian kawasan cagar budaya secara berkelanjutan. 1.3 Manfaat Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai panduan terhadap pembelajaran mengenai keilmuan dalam bidang arsitektur lanskap, khususnya terkait desain lanskap kawasan cagar budaya budaya. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi acuan dalam pengelolaan lahan kawasan cagar budaya melalui pendekatan desain lanskap pelestarian cagar budaya yang berkelanjutan, sehingga kawasan Candi Bahal I tidak hanya terlindungi nilai sejarah dan budayanya, tetapi juga mampu dikelola secara ekologis, fungsional, dan adaptif terhadap kebutuhan lingkungan serta masyarakat sekitarnya. 1.4 Kerangka Pikir Candi Bahal I yang terletak di Desa Bahal, Kecamatan Portibi, Kabupaten Padang Lawas Utara, Provinsi Sumatera Utara merupakan bagian dari kompleks percandian di kawasan Padang Lawas Utara yang menjadi peninggalan budaya Hindu–Buddha pada masa pengaruh Kerajaan Sriwijaya. Namun, dibandingkan dengan kawasan cagar budaya lainnya, Candi Bahal I masih cukup tertinggal, salah satunya disebabkan oleh kurang optimalnya pengelolaan kawasan di sekitarnya. Kondisi tersebut ditunjukkan oleh keterbatasan fasilitas pendukung dan utilitas kawasan, seperti aksesibilitas, pusat informasi, serta sarana publik yang belum memadai. Oleh karena itu adanya perancangan ulang kawasan Candi Bahal I ini perlu dilakukan, demi meningkatkan keberlanjutan nilai sejarah, budaya dan lingkungan pada situs cagar budaya ini. Perancangan ulang kawasan Candi Bahal I dilakukan melalui pendekatan desain lanskap yang memandang kawasan cagar budaya sebagai kawasan yang memiliki keterkaitan antara budaya dan lingkungan. Proses perancangan diawali dengan kegiatan observasi dan analisis menyeluruh terhadap kondisi kawasan yang mencakup aspek fisik, biofisik, sosial budaya, serta kebijakan dan legalitas terkait cagar budaya. Hasil analisis tersebut kemudian disintesiskan untuk merumuskan konsep pengembangan kawasan yang berfokus pada pelestarian nilai sejarah dan budaya, peningkatan fungsi kawasan, serta perbaikan kualitas lingkungan. Konsep ini selanjutnya diterapkan dalam desain lanskap kawasan Candi Bahal I sebagai upaya mendukung keberlanjutan kawasan cagar budaya (Gambar 1). 4 Candi Bahal I di Desa Bahal, Kecamatan Portibi, Kabupaten Padang Lawas Utara, Provinsi Sumatera Utara Kawasan Cagar Budaya Peninggalan Hindu-Budha Masa Sriwijaya Peninggalan Fasilitas Pendukung dan Utilitas Kawasan Pelestarian serta Penguatan Fungsi Nilai Sejarah dan Perbaikan Kualitas Lingkungan Desain Ekologis Perancangan Kawasan Candi Bahal I Aspek Fisik Aspek Visual dan Estetika Analisis Kondisi Tapak Candi Bahal 1 Aspek Sosial dan Legalitas Aspek Sejarah dan Budaya Aspek Biofisik dan Lingkungan Analisis Aspek Kesejarahan (nilai sejarah dan arkeologis situs) Perumusan Konsep Pengembangan Kawasan DesainLanskap Kawasan Candi Bahal I sebagai Upaya Pelestarian dan Penguatan Fungsi Wisata Budaya Gambar 1 Kerangka pikir penelitian 5 II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Cagar Budaya Definisi Cultural Heritage (Cagar Budaya) Istilah culture berasal dari bahasa Latin cultura yang bermakna pengolahan dan perawatan, dengan akar kata colere yang berarti mengolah tanah, menetap, melindungi, memelihara, serta menghormati dan memuja. Pada mulanya, cultura merujuk pada praktik pengelolaan lahan dan metode kompleks dalam mengatur keberagaman tanaman yang kini dikenal sebagai pertanian. Meskipun pertanian berperan penting dalam mendorong tumbuhnya peradaban, aktivitas tersebut tetap dipahami sebagai bagian dari fenomena budaya. Sementara itu, istilah heritage berasal dari bahasa Latin hereditas yang merujuk pada sesuatu yang diwariskan dari masa lalu, sarat makna, dan mengandung nilai bagi generasi selanjutnya. Oleh karena itu, cultural heritage tidak dapat dipahami hanya sebagai gabungan makna budaya dan warisan, melainkan mencerminkan adat istiadat, praktik, tempat, ekspresi artistik, serta cara hidup yang dikembangkan oleh suatu komunitas dan diwariskan dari generasi ke generasi. Konsep ini juga mencakup sekumpulan sumber daya dari masa lalu yang diidentifikasi oleh masyarakat sebagai refleksi nilai, kepercayaan, pengetahuan, dan tradisi yang terus berkembang seiring perubahan konteks dan persepsi sosial (Francioni 2023). Menurut Stephenson (2023), cultural heritage adalah harta abadi yang mencakup unsur fisik dan non-fisik yang mencerminkan identitas suatu masyarakat. Pelestarian elemen-elemen tersebut penting untuk menjaga keberagaman budaya, memperkuat rasa keterikatan sosial serta meneruskan pengetahuan sejarah kepada generasi yang akan datang. Cultural heritage mencakup monumen, kelompok bangunan, dan situs, yang memiliki nilai luar biasa dari sudut pandang sejarah, seni, atau ilmu pengetahuan. Warisan budaya tersebut merupakan hasil karya manusia atau gabungan antara karya manusia dan alam, termasuk situs arkeologis, yang perlu dilindungi dan dilestarikan bagi generasi sekarang dan mendatang (UNESCO 1972). Prinsip, Regulasi dan Kebijakan Cagar Budaya Pelestarian cagar budaya didasarkan pada penilaian nilai penting (heritage significance), yakni warisan budaya hanya dilestarikan jika memiliki nilai keberlanjutan bagi masyarakat. Prinsip utamanya adalah menjaga keaslian dan keutuhan bentuk serta fungsi warisan, dengan melakukan intervensi seminimal mungkin agar tidak merusak karakter sejarahnya. Konsep internasional seperti Konvensi Burra Charter, ICOMOS (1979) atau Pedoman Nara (1994) menekankan pentingnya keaslian material dan hubungan historis. Selain itu, pelestarian harus melibatkan dokumentasi lengkap dan partisipasi komunitas setempat. Di tingkat internasional, Konvensi Warisan Dunia UNESCO (1972) mengamanatkan setiap Negara Pihak untuk mengidentifikasi, melindungi, dan mengelola warisan budaya dan alam demi generasi mendatang. Di Indonesia, kerangka hukum utama adalah UU No.11/2010 tentang Cagar Budaya dan peraturan pelaksanaannya (contohnya PP No.66/2015), yang mengatur registrasi inventaris cagar budaya serta sanksi bagi pelanggar. Kebijakan kelembagaan 6 melibatkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Balai Pelestarian Cagar Budaya I dan II di tingkat daerah. Prinsip kebijakan ini menekankan perlunya inventarisasi, pemugaran berbasis penelitian, dan penguatan pengelolaan lintas sektor agar situs terlindungi. 2.2 Peran dan Penerapan Desain Lanskap pada Kawasan Cagar Budaya Desain lanskap merupakan proses perencanaan dan perancangan ruang luar yang mempertimbangkan aspek ekologis, sosial, budaya, dan estetika (Booth 1983). Dalam konteks kawasan cagar budaya, desain lanskap berperan menjaga konteks visual dan spasial situs agar tetap sesuai dengan nilai historisnya. UNESCO (2011) menegaskan bahwa pengelolaan warisan budaya harus mengintegrasikan perlindungan lanskap sekitar karena perubahan lingkungan dapat memengaruhi nilai dan makna situs. Oleh karena itu, penataan vegetasi, jalur sirkulasi, ruang terbuka, serta fasilitas pendukung harus dirancang dengan mempertimbangkan integritas visual dan historis kawasan. Perancangan lanskap pada kawasan bersejarah harus mempertimbangkan kesatuan visual, skala, proporsi, dan hubungan spasial antara elemen baru dengan struktur bersejarah yang telah ada. Simonds dan Starke (2006) menekankan bahwa desain lanskap harus memperkuat karakter tapak (sense of place) serta merespons kondisi alami dan budaya yang membentuk identitas ruang tersebut. Dalam konteks kawasan candi, prinsip harmoni visual menjadi penting agar elemen tambahan seperti jalur pedestrian, signage, maupun fasilitas pendukung lainnya tidak mendominasi atau menutup struktur utama candi. Selain itu, pengaturan view corridor dan vista visual perlu diperhatikan untuk menjaga pengalaman ruang yang sakral dan monumental. UNESCO (2011) dalam konsep Historic Urban Landscape menegaskan bahwa konteks visual dan hubungan spasial merupakan bagian dari nilai warisan yang harus dilindungi. Oleh karena itu, desain lanskap pada kawasan Candi Bahal I harus mempertahankan orientasi visual terhadap bangunan candi, menghindari elemen vertikal yang mengganggu siluet candi, serta menggunakan vegetasi lokal yang tidak menutupi struktur utama. 2.3 Desain Ekologis dalam Kawasan Warisan Budaya Konsep dan Prinsip Desain Ekologis Desain ekologis merupakan pendekatan perancangan yang berupaya mengintegrasikan sistem alam ke dalam proses desain sehingga tercipta hubungan yang harmonis antara manusia dan lingkungan. Van der Ryn dan Cowan (2007) menjelaskan bahwa desain ekologis bertujuan menciptakan sistem yang berkelanjutan dengan memanfaatkan proses alami sebagai bagian dari solusi desain. Prinsip ini mencakup pemanfaatan kondisi iklim lokal, penggunaan vegetasi asli, pengelolaan air berbasis siklus alami, serta pengurangan intervensi buatan yang berlebihan. Dalam konteks lanskap budaya, pendekatan ekologis tidak dapat dipisahkan dari dimensi sosial. Schmitz dan Herrero-Jáuregui (2021) menjelaskan bahwa lanskap budaya merupakan sistem sosial-ekologis yang terbentuk dari interaksi jangka panjang antara manusia dan lingkungan. Oleh karena itu, keberlanjutan 7 lanskap budaya tidak hanya ditentukan oleh aspek fisik-ekologis, tetapi juga oleh praktik sosial dan pengetahuan tradisional yang melekat di dalamnya. Lebih lanjut, integrasi sumber daya budaya dan ekologis dalam perencanaan lanskap dapat menghasilkan model pengembangan yang lebih resilien dan adaptif. Desain yang menggabungkan nilai historis dengan fungsi ekologis terbukti mampu memperkuat identitas ruang sekaligus menjaga kualitas lingkungan secara berkelanjutan (You et al. 2025). Hal ini relevan untuk kawasan Candi Bahal I yang berada pada lanskap terbuka Padang Lawas, di mana kondisi ekologis tapak harus dipertimbangkan bersamaan dengan nilai arkeologisnya. Integrasi Prinsip Ekologi dalam Kawasan Bersejarah Integrasi prinsip ekologis dalam kawasan cagar budaya bertujuan menjaga keseimbangan antara pelestarian nilai sejarah dan keberlanjutan lingkungan. UNESCO (2015) menyatakan bahwa pengelolaan warisan budaya harus selaras dengan prinsip pembangunan berkelanjutan, termasuk perlindungan sumber daya alam dan pengurangan dampak lingkungan. Dalam praktiknya, integrasi ini dapat dilakukan melalui penataan vegetasi lokal sebagai peneduh dan pengendali erosi, perencanaan sistem drainase alami untuk mengurangi genangan air di sekitar struktur candi, serta pengelolaan ruang terbuka yang mempertahankan karakter lanskap asli. Bi dan Nasir (2024) menunjukkan bahwa pengintegrasian elemen budaya, termasuk warisan takbenda, ke dalam desain lanskap dapat memperkuat identitas kawasan sekaligus meningkatkan keberlanjutan sosial dan ekologis. Analisis Daya Dukung Lingkungan Daya dukung lingkungan (carrying capacity) merupakan konsep yang digunakan untuk menentukan batas kemampuan suatu kawasan dalam menampung aktivitas tanpa menimbulkan kerusakan fisik maupun penurunan kualitas pengalaman pengunjung. Cifuentes (1992) menjelaskan bahwa daya dukung wisata mempertimbangkan aspek fisik, ekologis, sosial, dan manajerial dalam menentukan jumlah maksimum pengunjung yang dapat diterima suatu kawasan. Dalam konteks wisata budaya pada kawasan candi, analisis daya dukung menjadi penting untuk mencegah kepadatan berlebih yang berpotensi merusak struktur bangunan, mempercepat degradasi tanah, serta menurunkan kenyamanan pengunjung. Oleh karena itu, perhitungan daya dukung termasuk dalam aspek biofisik dan lingkungan karena berkaitan langsung dengan kapasitas ruang, kondisi tapak, serta keberlanjutan fungsi kawasan. Penerapan analisis ini dalam penelitian Candi Bahal I akan memperkuat dasar perancangan lanskap berbasis konservasi dan pengelolaan wisata berkelanjutan. 8 2.4 Desain Lanskap Berbasis Konservasi dan Wisata Budaya Wisata Budaya sebagai Fungsi Penguatan Kawasan Wisata budaya merupakan bentuk pariwisata yang berorientasi pada pengalaman terhadap warisan budaya, sejarah, seni, dan tradisi masyarakat lokal (UNWTO 2018). Dalam kawasan cagar budaya, fungsi wisata harus dirancang secara hati-hati agar tidak bertentangan dengan prinsip pelestarian. Rahmat (2021) menekankan bahwa pemanfaatan cagar budaya melalui pariwisata seharusnya mendukung pelestarian, bukan sekadar eksploitasi ekonomi. Pendekatan pariwisata berkelanjutan mengintegrasikan perlindungan warisan, peningkatan kualitas lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat lokal sebagai satu kesatuan sistem. Pada Pada kawasan Candi Bahal I, penguatan fungsi wisata budaya dapat dilakukan melalui penyediaan ruang interpretasi, jalur edukatif, serta fasilitas pendukung yang terintegrasi dengan konsep lanskap budaya. Pendekatan ini memungkinkan pengunjung memahami nilai sejarah dan makna simbolik candi tanpa mengganggu integritas fisik situs. Strategi Pengembangan Lanskap Wisata Budaya Strategi pengembangan lanskap pada kawasan cagar budaya perlu diarahkan pada penguatan identitas tempat, pengaturan zonasi, serta pengendalian intensitas aktivitas. Martínez Yáñez (2012) menekankan bahwa pengembangan wisata budaya sebaiknya tidak berorientasi pada peningkatan jumlah pengunjung semata, melainkan pada mutu pengalaman dan pemerataan manfaatnya. Beberapa strategi yang disarankan antara lain: (a) menghormati daya dukung (carrying capacity) dengan membatasi jumlah wisatawan agar tidak merusak kondisi fisik maupun suasana situs; (b) mengatur sirkulasi pengunjung melalui penataan jalur terbuka dan tertutup guna menghindari benturan dengan fungsi asli, seperti area ritual; (c) mengangkat nilai warisan takbenda melalui penguatan narasi lokal, penyelenggaraan festival budaya, serta interpretasi yang memperkaya pengalaman wisata sekaligus mendukung pelestarian; dan (d) melibatkan masyarakat setempat secara aktif dalam pengelolaan serta promosi destinasi. UNESCO (1972) menegaskan bahwa warisan budaya harus dilindungi dan dilestarikan bagi generasi sekarang dan mendatang, sehingga setiap bentuk pengembangan harus mempertimbangkan keberlanjutan jangka panjang. Dalam konteks perancangan, strategi tersebut mencakup pengaturan sirkulasi yang jelas untuk menghindari konflik ruang, pembatasan pembangunan elemen non-kontekstual, serta penyediaan ruang terbuka yang mendukung aktivitas wisata secara terkendali. Pendekatan ini memungkinkan terciptanya keseimbangan antara pelestarian nilai sejarah dan pengembangan potensi wisata budaya secara berkelanjutan. 9 III METODE. 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan di tapak sekitar Candi Bahal I di Desa Bahal, Kecamatan Portibi, Kabupaten Padang Lawas Utara, Provinsi Sumatera Utara, berlokasikan di antara koordinat 1°24'28.19" LU – 1°24'35.79" LU dan 99°43'34.36" BT – 99°43'41.39" BT. Kawasan Candi Bahal I berbatasan dengan perkebunan kelapa sawit dan permukiman warga di bagian Utara; Jalur akses menuju Candi Pulo di bagian Selatan; Sungai Barumun di bagian Barat; Lahan pertanian dan perkebunan kelapa sawit di bagian Timur (Gambar 2). Tapak penelitian yang dimiliki serta saat ini dikelola oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah II dan Pemerintah Kabupaten Padang Lawas ini memiliki luasan sebesar 17,332 m2 (dengan zona inti seluas 2,871 m2) atau yang setara dengan ≈ 1,73 Ha. Gambar 2 Lokasi tapak penelitian (Sumber: Google Earth). Kawasan Candi Bahal I telah memiliki sejumlah fasilitas pendukung, seperti area akses, ruang terbuka, dan sarana penunjang dasar lainnya (Gambar 3). Namun demikian, perencanaan, kualitas, dan pengelolaannya masih belum terintegrasi secara optimal sehingga belum sepenuhnya mampu menjamin ketahanan kawasan terhadap tekanan aktivitas pengunjung maupun perubahan lingkungan. 10 Gambar 3 Kondisi kawasan Candi Bahal I ([a] area sekitar zona inti; [b] fasilitas pendukung kawasan; [c] zona enterance kawasan) (Sumber: Dokumentasi penelitian arkeologi Balai Pelestaria Kebudayaan II) Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Januari 2026 dan diharapkan selesai pada bulan Juni 2026. Pelaksanaan akan diawali dengan kegiatan persiapan dan penyusunan proposal, survei dan inventarisasi data, analisis dan sintesis, pengembangan konsep, rencana pengembangan, penyusunan laporan, dan diakhiri dengan seminar hasil dan sidang. Daftar kegiatan penelitian secara rinci dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1 Rencana jadwal penelitian No. Kegiatan 1. Persiapan dan proposal 2. 3. Survei dan inventarisasi data Analisis dan sintesis 4. Pengembangan konsep 5. Rencana pengembangan 6. Penyusunan laporan 7. Seminar hasil dan sidang Jan Feb 2026 Mar Apr Mei Jun 3.2 Alat dan Bahan Penelitian ini menggunakan berbagai alat dan bahan yang menunjang kegiatan pengumpulan data primer dan sekunder, analisis tapak, serta perancangan desain kawasan Candi Bahal 1. Peralatan lapangan seperti alat ukur, perangkat penentu koordinat, dan media dokumentasi digunakan untuk mengidentifikasi ukuran fisik tapak, posisi lokasi, serta kondisi eksisting kawasan. Selanjutnya, perangkat lunak digunakan dalam proses pengolahan dan analisis data spasial, penyusunan gambar kerja dua dimensi, pemodelan tiga dimensi, serta visualisasi desain kawasan. Bahan penelitian meliputi peta dasar dan citra satelit sebagai dasar analisis tapak, data cagar budaya dan dokumen sejarah sebagai landasan pelestarian, regulasi perencanaan sebagai acuan legalitas, serta kerangka acuan kerja (design brief) sebagai pedoman perumusan konsep dan desain kawasan wisata budaya. Rincian untuk alat dan bahan penelitian dapat dilihat pada Tabel 2. 11 Tabel 2 Data alat dan bahan Unit Alat Perangkat Meteran Laser dan Keras Roll (hardware) Smartphone/kamera Drone GPS(Global Positioning System) Laptop/komputer Tablet Alat Gambar Perangkat Lunak (software) Alat Tulis Google Earth Pro AutoCAD ArcGIS/Arcgis Pro/Qgis SketchUp Bahan Fungsi Mengidentifikasi ukuran fisik tapak penelitian dan komponen-komponen di dalam kawasan Mengambil dokumentasi lapang Dokumentasi dan pemetaan tapak Menentukan posisi dan koordinat tapak penelitian Pengolahan data, perancangan desain, pengolahan dokumentasi laporan, dan penyusunan laporan Mencatat data survei dan menggambarkan konsep desain secara digital Menggambarkan konsep desain Mencatat data survei Analisis tapak dan lingkungan sekitar menggunakan citra satelit Pembuatan gambar kerja dua dimensi, peta dasar, dan gambar teknis Pengolahan, analisis, dan pemetaan data spasial tapak dan kawasan Membuat model 3D dari desain untuk diterapkan pada tapak Procreate Pembuatan sketsa awal dan penggambaran konsep desain secara digital Adobe Pengolahan dan penyempurnaan desain tapak Photoshop/Figma 2D untuk kebutuhan visualisasi Enscape/D5 Visualisasi dan perenderan 3D desain kawasan secara realistik Mengidentifikasi ukuran fisik tapak ARuler penelitian dan komponen-komponen di dalam kawasan secara digital Pengolahan, pengelompokan, dan analisis Microsoft Excel data kuantitatif penelitian Microsoft Word Penulisan dan penyusunan laporan penelitian secara sistematis Peta dasar dan Sebagai base map untuk melakukann citra satelit analisis dan perancangan tapak Data klimatologi Menjadi data sekunder inventarisasi Data cagar budaya dan Menjadi dasar pemahaman nilai sejarah, dokumen sejarah budaya, dan prinsip pelestarian kawasan Regulasi dan dokumen Menjadi acuan legalitas dan batasan dalam perencanaan perancangan kawasan Kerangka Acuan Menjadi arahan perumusan konsep dan Kerja desain kawasan. 12 3.3 Prosedur Kerja Pendekatan prosedur penelitian ini mengikuti kerangka teori perencanaan dan desain lanskap yang dikemukakan oleh Gold (1980) dalam Recreation and Planning and Design. Kerangka tersebut terdiri atas empat tahap, yaitu tahap persiapan, tahap inventarisasi, tahap analisis dan sintesis, dan tahap desain. Tahapan ini digunakan sebagai acuan dalam perancangan lanskap kawasan cagar budaya. Metode penelitian yang digunakan bersifat kualitatif dengan analisis deskriptif untuk mengkaji kondisi tapak, nilai kesejarahan, serta potensi pengembangan lanskap yang mendukung upaya pelestarian kawasan. Persiapan Tahap persiapan penelitian merupakan tahap awal sebelum pelaksanaan survei lapangan. Pada tahap ini dilakukan penentuan lokasi penelitian, yaitu kawasan Candi Bahal I. Penentuan batas tapak dilakukan untuk memperjelas ruang lingkup perancangan, meliputi area inti candi dan kawasan pendukung di sekitarnya yang berpotensi dikembangkan sebagai ruang penunjang pelestarian dan wisata budaya. Selain itu, dilakukan pengumpulan informasi awal secara umum mengenai kondisi kawasan, baik dari aspek sejarah, fisik, lingkungan, maupun regulasi yang berlaku pada kawasan cagar budaya. Tahap ini juga mencakup penyusunan proposal penelitian, pengajuan surat izin penelitian, serta persiapan alat dan bahan yang dibutuhkan untuk kegiatan survei lapangan dan pengolahan data, seperti peta dasar, alat dokumentasi, serta perangkat pengolah data. Tahap persiapan ini bertujuan agar proses penelitian dan perancangan dapat berjalan secara terarah dan sesuai dengan tujuan pelestarian kawasan Candi Bahal I. Inventarisasi Tahap inventarisasi dan analisis dalam penelitian ini mengacu pada tahapan perencanaan lanskap menurut Gold (1980), yang menekankan pentingnya pemahaman menyeluruh terhadap kondisi tapak sebagai dasar pengembangan kawasan wisata. Tahap inventarisasi dilakukan melalui pengumpulan data dari aspek fisik, visual dan estetika, sejarah dan budaya, sosial dan legalitas, serta biofisik dan lingkungan kawasan Candi Bahal I melalui survei lapangan, studi pustaka, serta komunikasi dengan pihak pengelola cagar budaya. Pengumpulan data melalui komunikasi tersebut dilakukan dengan metode wawancara semi-terstruktur kepada pihak pengelola dan pemangku kepentingan terkait guna memperoleh informasi mengenai kondisi pengelolaan, permasalahan kawasan, serta kebutuhan pengembangan. Selain itu, kuesioner sederhana juga dapat digunakan untuk mengetahui persepsi pengunjung terhadap kenyamanan, aksesibilitas, dan fasilitas kawasan. Data yang dikumpulkan meliputi kondisi topografi, sistem drainase, jenis tanah, vegetasi eksisting, aksesibilitas, pola sirkulasi, serta batas kawasan. Dalam konteks cagar budaya, inventarisasi juga mencakup pemahaman terhadap nilai sejarah situs, aktivitas pengunjung, serta keterkaitan ruang antara bangunan candi dan lanskap sekitarnya. Rincian inventarisasi dapat dilihat pada Tabel 3. 13 Tabel 3 Kelompok jenis, bentuk, dan sumber data penelitian Kelompok Data Jenis Data Bentuk Data Sumber Data Aspek Fisik Lokasi dan batas Data peta dan Survei lapangan tapak data deskripsi dan data sekunder Topografi dan Data peta dan Survei lapangan kemiringan data deskripsi dan data sekunder Fasilitas dan Data peta dan Survei lapangan utilitas eksisting data deskripsi dan data sekunder Hidrologi dan Data peta dan Survei lapangan drainase data deskripsi dan data sekunder Aksesibilitas dan Data peta dan Survei lapangan, sirkulasi data deskripsi wawancara dan data sekunder Aspek Visual dan Kualitas visual Data peta, data Survei lapangan Estetika kawasan deskripsi, dan foto Aspek Sejarah, Nilai kesejarahan Data deskripsi Studi pustaka dan Budaya dan kawasan dokumen resmi Sosial Fungsi dan Data deskripsi Studi pustaka dan makna budaya wawancara situs Aspek Sosial dan Presepsi dan Data tabelaris Wawancara dan Legalitas preferensi dan deskripsi kuesioner pengunjung Karakteristik Data deskripsi Survei lapangan dan aktivitas pengunjung Status hukum Dokumen resmi Studi pustaka dan Kawasan dan data dokumen (cagar budaya) deskripsi pemerintah Batas Data peta dan Badan Pelestarian administrasi dan data deskripsi Cagar Budaya II rencana zonasi Status tapak Dokumen resmi RTRW Kabupaten dan data Padang Lawas deskripsi Utara Kesesuaian tata Data peta dan Dokumen ruang dokumen RTRW/RDTR, (RTRW/RDTR) peraturan Bappeda Aspek Biofisik Vegetasi Data peta, data Survei lapangan dan Lingkungan eksisting deskripsi, dan foto Kondisi Data deskripsi Survei lapangan lingkungan tapak dan data sekunder Pengumpulan data primer dilakukan melalui kegiatan survei lapangan, wawancara, serta penyebaran kuesioner. Proses inventarisasi didukung dengan penggunaan beberapa alat, seperti meteran untuk pengukuran, kamera untuk 14 dokumentasi, GPS untuk pencatatan titik lokasi, serta laptop atau komputer dan perlengkapan gambar maupun alat tulis untuk pencatatan dan pengolahan data. Wawancara dilakukan dengan mengajukan pertanyaan kepada pihak-pihak yang berkaitan dengan kawasan serta masyarakat sekitar guna memperoleh informasi mengenai aspek sosial, budaya, dan potensi wisata tapak (Lampiran 1). Selain itu, kuesioner disebarkan kepada pengunjung untuk mengetahui karakteristik, persepsi, serta preferensi mereka terhadap kawasan (Lampiran 2). Teknik pengambilan sampel dalam wawancara menggunakan purposive sampling dan kuesioner menggunakan random sampling yang dilakukan dengan memilih responden yang dianggap paling relevan dengan topik dan isu penelitian (Patton 2002). Menurut Guest, Bunce, dan Johnson (2006) sebenarnya tema utama dalam penelitian kualitatif umumnya telah tercapai pada kisaran 12–20 wawancara. Tetapi penelitian ini akan mengambil sebanyak 30 jumlah responden agar data menyebar normal dan dapat mewakili seluruh populasi. Responden akan dikelompokkan ke dalam tiga kategori yang dimana jumlah responden tiap kategorinya tidak merata, yaitu pihak Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah II sebanyak 5 responden, masyarakat sekitar sebanyak 10 responden, dan pengunjung kawasan sebanyak 15 responden. Hal ini didasari dengan penjelasan oleh Marshall (1996) bahwa key informants dalam penelitian kualitatif umumnya tidak memerlukan jumlah besar karena fokus pada kedalaman data. Sementara itu, jumlah responden dari kelompok masyarakat dan pengunjung disesuaikan dengan kebutuhan variasi perspektif dan prinsip kejenuhan data (data saturation). Kegiatan wawancara akan dilakukan dengan pihak Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah II sebagai responden key informants serta masyarakat sekitar, dan kuesioner akan disebarkan kepada pengunjung kawasan Candi. Data hasil inventarisasi aspek fisik tapak dianalisis untuk mengidentifikasi potensi, permasalahan, dan kendala pengembangan kawasan. Analisis ini bertujuan untuk menilai kesesuaian lahan serta menentukan arah pengembangan yang tetap mendukung pelestarian nilai sejarah dan budaya. Sesuai dengan pendekatan Gold (1980) dalam perencanaan lanskap wisata, hasil analisis kemudian disintesiskan menjadi arahan pengembangan ruang, pembagian zonasi, serta sistem sirkulasi yang terstruktur. Sintesis ini menjadi dasar dalam perumusan konsep desain lanskap kawasan Candi Bahal I agar dapat berfungsi sebagai kawasan pelestarian sekaligus mendukung kegiatan wisata budaya secara berkelanjutan. Analisis dan Sintesis Tahap analisis dan sintesis merupakan tahapan pengolahan data hasil inventarisasi untuk merumuskan dasar perancangan lanskap kawasan Candi Bahal I. Pada tahap proposal ini, analisis direncanakan untuk dilakukan secara deskriptifkualitatif dengan dukungan analisis kuantitatif sederhana pada aspek daya dukung kawasan. Analisis bertujuan mengidentifikasi potensi, permasalahan, serta kendala pengembangan kawasan cagar budaya, sedangkan sintesis dilakukan untuk merumuskan arahan pengembangan ruang dan konsep desain yang mendukung pelestarian serta penguatan fungsi wisata budaya. Analisis dilakukan berdasarkan beberapa aspek utama, yaitu aspek fisik, aspek biofisik dan lingkungan, aspek visual dan estetika, serta aspek sejarah dan budaya. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dan deskriptif kualitatif. Data yang diperoleh 15 melalui kuesioner diolah menggunakan analisis statistik deskriptif dengan teknik tabulasi frekuensi dan persentase untuk mengetahui kecenderungan jawaban responden terhadap kondisi serta rencana pengembangan kawasan. Hasil tersebut kemudian disajikan dalam bentuk tabel dan diagram untuk mempermudah interpretasi. Sementara itu, data hasil wawancara dianalisis secara deskriptif kualitatif melalui proses reduksi data, pengelompokan berdasarkan tema, serta penarikan kesimpulan untuk mengidentifikasi isu utama, kebutuhan, dan potensi kawasan. Seluruh hasil analisis tersebut selanjutnya disintesiskan sebagai dasar dalam perumusan konsep dan rencana pengembangan kawasan. a. Analisis Aspek Fisik Analisis aspek fisik direncanakan untuk mengidentifikasi karakteristik tapak yang memengaruhi pengembangan desain lanskap, meliputi topografi, aksesibilitas, batas kawasan, pola sirkulasi, serta kondisi ruang eksisting. Analisis ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian ruang terhadap fungsi pelestarian dan wisata budaya. Menurut Booth (1983) dalam Basic Elements of Landscape Architectural Design, pemahaman kondisi fisik tapak merupakan dasar dalam menentukan organisasi ruang dan sistem sirkulasi kawasan. Hasil analisis fisik akan digunakan untuk menentukan zonasi awal, jalur pengunjung, serta ruang penyangga (buffer zone) kawasan cagar budaya. b. Analisis Aspek Biofisik dan Lingkungan Analisis biofisik dan lingkungan mencakup kondisi vegetasi eksisting, jenis tanah, sistem drainase, iklim mikro, serta potensi dampak aktivitas pengunjung terhadap kelestarian kawasan. Analisis ini bertujuan memastikan bahwa pengembangan desain tidak menimbulkan tekanan berlebih terhadap situs cagar budaya. Dalam konteks pelestarian kawasan budaya, pengelolaan lingkungan menjadi bagian penting untuk menjaga keberlanjutan lanskap (UNESCO 2011). Oleh karena itu, analisis ini akan mengkaji hubungan antara aktivitas wisata dan daya tahan lingkungan tapak. Sebagai bagian dari aspek biofisik dan lingkungan, akan dilakukan analisis daya dukung wisata (carrying capacity) untuk menentukan jumlah maksimum pengunjung yang dapat ditampung tanpa mengganggu kelestarian kawasan. Konsep daya dukung wisata mengacu pada definisi UNWTO (World Tourism Organization), yaitu batas maksimum penggunaan suatu kawasan wisata tanpa menyebabkan kerusakan lingkungan dan penurunan kualitas pengalaman pengunjung (UNWTO 2004). Perhitungan daya dukung fisik direncanakan menggunakan rumus yang mengacu pada koncep carrying capacity pariwisata menurut World Tourism Organization (2004): πΏπ’ππ ππππ πππππ‘ππ (π2 ) π·ππ¦π ππ’ππ’ππ = ππ‘πππππ ππππ’π‘π’βππ ππ’πππ (π2 /πππππ) Standar kebutuhan ruang dapat mengacu pada Boullón (1985) dalam konsep perencanaan ruang wisata, yang menyebutkan kebutuhan ruang wisatawan berkisar 4–10 m²/orang tergantung jenis aktivitas. c. Analisis Aspek visual dan Estetika Analisis visual dan estetika direncanakan untuk mengidentifikasi kualitas pandangan (view), titik fokus (focal point), koridor visual, serta hubungan antara 16 bangunan candi dan lanskap sekitarnya. Analisis ini bertujuan menjaga keterbacaan visual candi sebagai elemen utama kawasan. Menurut Simonds & Starke (2006) dalam Landscape Architecture: A Manual of Environmental Planning and Design, analisis visual penting untuk mempertahankan karakter ruang serta memperkuat identitas kawasan melalui komposisi lanskap yang tepat. Hasil analisis visual akan menjadi dasar dalam penataan vegetasi, ruang terbuka, serta pengendalian elemen yang berpotensi mengganggu tampilan candi. d. Analisis Aspek Sejarah dan Budaya Analisis aspek sejarah dan budaya dilakukan untuk memahami nilai historis, makna simbolik, serta regulasi yang mengatur pelestarian Candi Bahal I sebagai bagian dari kompleks percandian Padang Lawas. Analisis ini mencakup identifikasi zona inti, zona penyangga, serta batasan intervensi desain yang diperbolehkan. Mengacu pada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, pengembangan kawasan cagar budaya harus memperhatikan prinsip pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan secara berkelanjutan. Hasil analisis ini akan menjadi batasan utama dalam menentukan tingkat intervensi desain agar tidak merusak nilai autentisitas situs. e. Analisis Aspek Sosial dan Legalitas Analisis aspek sosial dilakukan untuk memahami karakteristik masyarakat, pola interaksi sosial, persepsi terhadap kawasan, serta potensi dan konflik yang mungkin muncul akibat pengembangan. Kajian sosial dalam perencanaan kawasan penting dilakukan karena ruang tidak hanya dipahami sebagai entitas fisik, tetapi juga sebagai ruang sosial yang diproduksi dan dipengaruhi oleh aktivitas masyarakat (Lefebvre 1991). Selain itu, partisipasi dan persepsi masyarakat menjadi faktor kunci dalam keberhasilan perencanaan kawasan, terutama pada kawasan yang memiliki nilai budaya dan sejarah (Carmona et al. 2010). Analisis aspek sosial dalam penelitian ini dilakukan melalui wawancara mendalam kepada masyarakat sekitar dan penyebaran kuesioner kepada pengunjung untuk mengidentifikasi kebutuhan, preferensi, serta tingkat penerimaan terhadap rencana pengembangan kawasan. Analisis aspek legalitas dilakukan untuk memastikan bahwa rencana pengembangan kawasan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, khususnya terkait pelestarian cagar budaya dan penataan ruang. Kawasan percandian sebagai bagian dari warisan budaya dilindungi oleh Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, yang mengatur perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatannya. Selain itu, perencanaan kawasan juga harus mengacu pada ketentuan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang yang mengatur kesesuaian pemanfaatan ruang dengan rencana tata ruang wilayah. Oleh karena itu, analisis legalitas dalam penelitian ini dilakukan melalui telaah dokumen peraturan perundang-undangan, dokumen tata ruang, serta kebijakan teknis terkait pengelolaan kawasan. f. Sintesis Tahap sintesis merupakan proses pengintegrasian seluruh hasil analisis aspek fisik, biofisik dan lingkungan, visual dan estetika, serta sejarah dan budaya untuk merumuskan arahan pengembangan kawasan Candi Bahal I. Pada tahap ini, potensi 17 dan permasalahan yang telah diidentifikasi sebelumnya dikaitkan satu sama lain guna menghasilkan solusi perancangan yang komprehensif dan kontekstual. Sintesis dilakukan dengan mempertimbangkan keseimbangan antara kebutuhan pelestarian nilai sejarah dengan pengembangan fungsi wisata budaya secara berkelanjutan. Hasil sintesis direncanakan berupa arahan zonasi kawasan yang mencakup pembagian zona inti, zona penyangga, dan zona pelayanan, pengaturan sistem sirkulasi pengunjung yang terkendali, penataan vegetasi yang mendukung kualitas visual serta perlindungan situs, serta penempatan fasilitas pendukung yang tidak mengganggu keaslian kawasan. Selain itu, hasil analisis daya dukung kawasan akan diintegrasikan dalam penentuan kapasitas kunjungan dan pengaturan ruang agar tekanan terhadap situs tetap berada dalam batas yang aman. Tahap sintesis ini menjadi dasar dalam penyusunan konsep desain lanskap yang responsif terhadap kondisi tapak sekaligus mendukung prinsip pelestarian dan keberlanjutan kawasan Candi Bahal I. Desain Tahap desain merupakan lanjutan dari proses inventarisasi, analisis, dan sintesis yang mengacu pada tahapan perencanaan lanskap menurut Gold. Setelah dilakukan evaluasi dan penilaian kesesuaian tapak, hasil analisis aspek fisik, biofisik dan lingkungan, visual, serta sejarah dan budaya kawasan Cagar Budaya Candi Bahal I diterjemahkan ke dalam konsep pengembangan yang terarah. Tahap ini meliputi perumusan konsep ruang, zonasi kawasan, sistem sirkulasi, serta penentuan fasilitas pendukung yang sesuai dengan karakter wisata budaya. Konsep tersebut kemudian dituangkan dalam rencana tapak (site plan) yang menggambarkan hubungan fungsi ruang dan pengaturan kapasitas kawasan berdasarkan hasil analisis daya dukung, sehingga rancangan tetap mendukung pelestarian dan keberlanjutan kawasan. Sejalan dengan itu, Simonds dan Starke (2006) menekankan bahwa desain lanskap kawasan bersejarah harus memperhatikan keterpaduan antara pelestarian nilai budaya, kenyamanan pengunjung, serta keberlanjutan lingkungan. Konsep desain pada penelitian ini disusun melalui pembagian ruang kawasan yang terdiri dari zona inti cagar budaya, zona penyangga, dan zona pendukung. Pengaturan jalur pergerakan pengunjung, penataan vegetasi yang mendukung pelestarian dan penguatan fungsi, serta peningkatan tampilan estetika kawasan yang tetap menjaga nilai sejarah dan makna budaya. Tahap ini lalu dikembangkan hingga preliminary design dan master plan berbentuk design development sebagai pedoman desain lanskap kawasan. 3.4 Batasan Penelitian Penelitian ini dibatasi pada penyusunan desain lanskap kawasan Cagar Budaya Candi Bahal I berdasarkan kondisi eksisting tapak. Lingkup penelitian mencakup inventarisasi dan analisis kondisi fisik, visual, serta nilai sejarah kawasan, yang kemudian diterjemahkan ke dalam konsep dan rancangan desain kawasan hingga tingkat master plan dan gambar teknis dasar. Luaran penelitian berupa peta dasar yang memuat hasil inventarisasi serta analisis–sintesis, dilanjutkan dengan perumusan konsep dan rencana pengembangan. Luaran juga mencakup pengembangan tata ruang beserta keterhubungannya, rencana desain, gambar tampak dan potongan, perspektif dan ilustrasi 3D, animasi 3D, hingga penyusunan Detail Engineering Design dan planting plan. Perancangan difokuskan pada upaya 18 pelestarian nilai sejarah dan budaya candi, penguatan fungsi kawasan melalui penataan ruang dan fasilitas pendukung, serta pengelolaan ruang sekitar candi. Penelitian ini tidak mencakup tahap pelaksanaan konstruksi maupun evaluasi pasca pembangunan. IV RENCANA ANGGARAN BIAYA Anggaran biaya yang dibutuhkan untuk menjalankan penelitian ini adalah sebesar Rp22.038.000 (dua puluh dua juta tiga puluh delapan ribu rupiah). Anggaran ini mencakup biaya kegiatan persiapan, observasi, hingga pekerjaan akhir. Satuan harga menggunakan dasar Satuan Biaya IPB (SBI) tahun 2023. Rincian rencana anggaran biaya tercantum pada Tabel 4. Tabel 4 Rencana anggaran biaya penelitian No Kegiatan Vol Satuan 1. 2. 3. Persiapan a. Pencetakan proposal b. ATK dan perlengkapan survei c. Sewa drone +Jasa Observasi Lapang a. Tiket pesawat Jakarta-Medan (pulang pergi) b. Transportasi (pulang-pergi Medan-Padang Lawas) c. Sewa Mobil+Driver+BBM d. Penginapan e. Konsumsi f. Ongkos harian g. Cinderamata responden h. Tiket masuk Candi Bahal I Pekerjaan Akhir a. Pencetakan laporan akhir Total Harga Satuan (Rp) Jumlah (Rp) 300.000 100.000 1 5 Paket Eks 300.000 20.000 1 Hektar 7.000.000 7.000.000 1 Tiket 3.808.000 3.808.000 1 Paket 1.400.000 1.400.000 4 3 6 6 5 4 Hari Malam Hari Hari Paket Tiket 1.411.000 350.000 100.000 41.000 100.000 10.000 5.644.000 1.400.000 600.000 246.000 500.000 40.000 5 Eks 200.000 1.000.000 22.038.000 Catatan: Satuan harga yang digunakan didasarkan atas Satuan Biaya IPB (SBI) Tahun 2023 19 DAFTAR PUSTAKA Badan Pusat Statistik. 2023. Statistik pariwisata Indonesia 2023. Jakarta (ID): Badan Pusat Statistik. Bi H, Nasir NBM. 2024. Research on rural landscape design from the perspective of intangible cultural heritage. Int J Educ Humanit. 14(2):45–52. doi:10.54097/ieh.v14i2.24245 Booth NK. 1983. Basic elements of landscape architectural design. Illinois (IL): Waveland Press. Boullón R. 1985. Planificación del espacio turístico. México: Trillas. Carmona, M., Heath, T., Oc, T., & Tiesdell, S. 2010. Public places, urban spaces: The dimensions of urban design (2nd ed.). Architectural Press. Cifuentes M. 1992. Determining visitor carrying capacity in protected areas. Turrialba (CR): CATIE. Francioni F. 2008. The human dimension of international cultural heritage law: an introduction. Eur J Int Law. 19(1):1–9. doi:10.1093/ejil/chn001. Gold SM. 1980. Recreation planning and design. New York (US): McGraw-Hill. Guest G, Bunce A, Johnson L. 2006. How many interviews are enough? An experiment with data saturation and variability. Field Methods. 18(1):59–82. doi:10.1177/1525822X05279903. Gumelar GK, Rully R. 2022. Evaluasi kebijakan pelestarian zonasi dan cagar budaya di Kawasan Dataran Tinggi Dieng. J Tek Sipil Arsit. 27(1):1–10. Hasibuan M. 2025. Mengungkap potensi pariwisata Candi Bahal: antara warisan budaya dan tantangan pengembangan. J Ilmu Pariwisata Kebudayaan. 11(1). International Federation of Library Associations and Institutions. 2023. Preserving cultural heritage. Den Haag (NL): IFLA. International Council on Monuments and Sites. 1994. The Nara document on authenticity. Paris (FR): ICOMOS. Kemendikbudristek. 2022. Data pokok kebudayaan: kawasan percandian Padang Lawas. Jakarta (ID): Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Available from: https://dapobud.kemdikbud.go.id Lefebvre H. 1991. The production of space. Oxford (UK): Blackwell Publishing. Marshall MN. 1996. Sampling for qualitative research. Fam Pract. 13(6):522–525. doi:10.1093/fampra/13.6.522. Martinez V. 2012. New strategies for cultural tourism planning: quality and creativity as tools for development. Paris (FR): ICOMOS 17th General Assembly. Patton MQ. 2002. Qualitative research and evaluation methods. 3rd ed. Thousand Oaks (US): Sage Publications. 20 Rahmat K. 2021. Pelestarian budaya melalui pemanfaatan pariwisata berkelanjutan. J Pariwisata Terapan. 5(2):123–134. doi:10.22146/jpt.58505 Republik Indonesia. 2007. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68. Republik Indonesia. 2010. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 130. Schmitz MF, Herrero-Jauregui C. 2021. Cultural landscape preservation and socialecological sustainability. Sustainability. 13(5):2593. doi:10.3390/su13052593 Simonds JO, Starke BW. 2006. Landscape architecture: a manual of site planning and design. New York (US): McGraw-Hill. Suseto S. 2010. Keberlanjutan Padang Lawas, Sumatera Utara: tinjauan gaya seni bangun, seni arca dan latar keagamaan [tesis]. Depok (ID): Universitas Indonesia. Stephenson L. 2023. Cultural heritage: its significance and preserving. Anthropology. 11:321. doi:10.35248/2332-0915.23.11.321. Tran VS. 2025. Community landscape design from the perspective of architectural heritage conservation: a case study in Hoi An, Quang Nam. J Resilient Urban Sustain Des. UNESCO. 1972. Convention concerning the protection of the world cultural and natural heritage. Paris (FR): UNESCO. UNESCO. 2011. Recommendation on the historic urban landscape. Paris (FR): UNESCO. UNESCO. 2015. Policy for the integration of a sustainable development perspective into the processes of the World Heritage Convention. Paris (FR): UNESCO. UNWTO. 2004. Indicators of sustainable development for tourism destinations: a guidebook. Madrid (ES): World Tourism Organization. UNWTO. 2018. Tourism and culture synergies. Madrid (ES): World Tourism Organization. Van der Ryn S, Cowan S. 2007. Ecological design. 10th anniversary ed. Washington (US): Island Press. World Tourism Organization. (2004). Indicators of sustainable development for tourism destinations: A guidebook. Madrid, Spain: World Tourism Organization. You L, Liu M, Ji T, Wu X, Li Y. 2025. Design reflections on the integrated development of rural cultural and ecological resources in China. Humanit Soc Sci Commun. 12:1294. doi:10.1057/s41599-025-03233-8 21 LAMPIRAN Lampiran 1 Daftar pertanyaan wawancara penelitian PERTANYAAN WAWANCARA “DESAIN LANSKAP KAWASAN CANDI BAHAL I SEBAGAI UPAYA PELESTARIAN DAN PENGUATAN FUNGSI WISATA BUDAYA” Perkenalkan, nama saya Terang Damaringrat. Saya adalah mahasiswa semester 8 (Tingkat akhir) jurusan Arsitektur Lanskap yang saat ini sedang melakukan penelitian untuk tugas akhir saya dengan judul “Desain Lanskap Kawasan Candi Bahal I sebagai Upaya Pelestarian dan Penguatan Fungsi Wisata Budaya”. Data wawancara ini akan digunakan sebagai bahan dari tugas akhir saya (skripsi). Data serta jawaban dari Bapak/Ibu/Saudara/I akan dipastikan kerahasiaannya dan data ini tidak akan dipublikasikan. Atas perhatiannya, Saya ucapkan terima kasih. Nama: ______________________________ Domisili: ____________________________ Umur: ______________________________ Jenis kelamin: β‘ Laki-laki β‘ Perempuan Jenis pertanyan: β‘ Tipe 1 β‘ Tipe 2 Catatan: Pertanyaan Tipe 1 akan diberikan untuk responden pihak BPCB II dan pertanyaan Tipe 2 kepada Masyarakat sekitar Pendidikan terakhir: a. SD b. SMP c. SMA/SMK d. Sarjana/Sederajat e. Pasca sarjana f. Lainnya:___________ Pekerjaan: a. Pelajar/Mahasiswa b. PNS c. TNI/POLRI d. Wiraswasta e. Lainnya:___________ 22 TIPE 1 1. Apakah terdapat kendala dalam pengelolaan kawasan Candi Bahal I saat ini? ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ 2. Bagaimana sistem zonasi atau pembagian ruang yang diterapkan saat ini di kawasan candi? ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ 3. Apakah terdapat batasan tertentu dalam pengembangan fasilitas di sekitar kawasan cagar budaya? ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ 23 4. Fasilitas kawasan apa yang masih perlu ditingkatkan untuk mendukung fungsi wisata budaya tanpa mengganggu nilai sejarah? ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ 5. Bagaimana keterlibatan masyarakat sekitar dalam pengelolaan dan pelestarian kawasan saat ini? ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ 6. Apakah terdapat rencana pengembangan kawasan dalam beberapa tahun ke depan? ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ 24 TIPE 2 1. Sejauh mana masyarakat terlibat dalam aktivitas di kawasan Candi Bahal I? ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ 2. Menurut Bapak/Ibu, apa manfaat keberadaan Candi Bahal I bagi masyarakat sekitar? ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ 3. Apakah ada kendala atau dampak tertentu yang dirasakan masyarakat dari aktivitas wisata di kawasan tersebut? ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ 25 4. Bagaimana pendapat Bapak/Ibu mengenai kondisi fasilitas dan lingkungan kawasan saat ini? ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ 5. Apakah masyarakat memiliki harapan pengembangan kawasan candi ke depan? atau usulan terkait ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ 6. Menurut Bapak/Ibu, bagaimana cara agar kawasan Candi Bahal I tetap terjaga dan tetap memberi manfaat bagi masyarakat? ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ 26 Lampiran 2 Kuesioner penelitian KUESIONER PENELITIAN “DESAIN LANSKAP KAWASAN CANDI BAHAL I SEBAGAI UPAYA PELESTARIAN DAN PENGUATAN FUNGSI WISATA BUDAYA” Perkenalkan, nama saya Terang Damaringrat. Saya adalah mahasiswa semester 8 (Tingkat akhir) jurusan Arsitektur Lanskap yang saat ini sedang melakukan penelitian untuk tugas akhir saya dengan judul “Desain Lanskap Kawasan Candi Bahal I sebagai Upaya Pelestarian dan Penguatan Fungsi Wisata Budaya”. Data kuesioner ini akan digunakan sebagai bahan dari tugas akhir saya (skripsi), oleh karena itu saya memohon kepada Bapak/Ibu/Saudara/I untuk dapat membantu saya mengisi dengan lengkap dan teliti kuesioner ini. Data serta jawaban dari Bapak/Ibu/Saudara/I akan dipastikan kerahasiaannya dan data ini tidak akan dipublikasikan. Atas perhatiannya, Saya ucapkan terima kasih. Nama: ______________________________ Domisili: ____________________________ Umur: ______________________________ Jenis kelamin: β‘ Laki-laki β‘ Perempuan Pendidikan terakhir: a. SD b. SMP c. SMA/SMK d. Sarjana/Sederajat e. Pasca sarjana f. Lainnya:___________ Pekerjaan: a. Pelajar/Mahasiswa b. PNS c. TNI/POLRI d. Wiraswasta e. Lainnya:___________ Penghasilan per bulan: a. < Rp3 000 000 b. Rp 3 000 000 – Rp 10 000 000 c. Rp 10 000 000 – Rp 20 000 000 d. > Rp 20 000 000 27 Karakteristik Penggunaan Kawasan 1. Alasan anda mengunjungi tempat ini? a. Rekreasi/wisata b. Penelitian c. Kerja d. Ibadah e. Belajar budaya f. Lainnya__________________________________ 2. Sudah berapa kali anda mengunjungi tempat ini? a. 1 kali b. 2 – 5 kali c. 5 – 10 kali d. >10 kali 3. Kapan biasanya anda mengunjungi kawasan ini? a. Senin – jumat (hari kerja) b. Sabtu – minggu (hari libur) 4. Pada saat apa biasanya and amengunjungi kawasan ini? a. Pagi hari b. Siang hari c. Sore hari d. Malam hari 5. Berapa lama waktu yang anda habiskan di kawasan ini? a. <1 jam b. 1 – 3 jam c. >3 jam Persepsi terhadap Kondisi Eksisting Kawasan 1. Bagaimana kondisi Kawasan Candi saat ini menurut Anda? a. Sangat terawat b. Terawat c. Cukup terawat d. Kurang terawat e. Tidak terawat 2. Bagaimana kondisi fasilitas umum (toilet, parkir, papan informasi)? a. Sangat memadai b. Memadai c. Cukup memadai d. Kurang memadai e. Tidak memadai 28 3. Bagaimana tingkat kenyamanan kawasan untuk dikunjungi? a. Sangat nyaman b. Nyaman c. Cukup nyaman d. Kurang nyaman e. Tidak nyaman 4. Bagaimana kondisi kebersihan kawasan? a. Sangat bersih b. Bersih c. Cukup bersih d. Kurang bersih e. Tidak bersih 5. Apakah harga tiket masuk Kawasan cukup terjangkau? a. Sangat terjangkau b. Terjangkau c. Cukup terjangkau d. Kurang terjangkau e. Tidak terjangkau Persepsi terhadap Pengembangan 1. Apakah kawasan sekitar Candi perlu dikembangkan lebih lanjut? a. Sangat perlu b. Perlu c. Lumayan perlu d. Tidak terlalu perlu e. Tidak perlu 2. Apakah pengembangan kawasan sebaiknya tetap menjaga keaslian budaya? a. Sangat perlu b. Perlu c. Lumayan perlu d. Tidak terlalu perlu e. Tidak perlu 3. Apakah pengembangan kawasan dapat meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar? a. Sangat berpotensi b. Cukup berpotensi c. Lumayan berpotensi d. Kurang berpotensi e. Tidak berpotensi 29 4. Apakah akses menuju kawasan sudah memadai? a. Sangat berpotensi b. Cukup berpotensi c. Lumayan berpotensi d. Kurang berpotensi e. Tidak berpotensi Preferensi Pengembangan 1. Konsep pengembangan yang paling sesuai menurut Anda adalah: a. Wisata edukasi sejarah b. Wisata budaya c. Wisata religi d. Ekowisata e. Gabungan beberapa konsep 2. Fasilitas yang paling dibutuhkan di kawasan adalah: a. Pusat informasi budaya b. Area istirahat/duduk c. Jalur pedestrian yang tertata d. Area UMKM e. Ruang kegiatan budaya f. Lainnya__________________________________ 3. Elemen yang perlu diperkuat dalam pengembangan kawasan adalah: a. Identitas budaya b. Penataan lanskap dan vegetasi c. Aksesibilitas dan sirkulasi d. Fasilitas pendukung wisata f. Lainnya__________________________________ Saran terhadap Pengembangan Saran lain untuk pengembangan kawasan (jika ada): ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________