Uploaded by terangdamaringrat

Desain Lanskap Kawasan Candi Bahal I

advertisement
USULAN PENELITIAN
DESAIN LANSKAP KAWASAN CANDI BAHAL I SEBAGAI
UPAYA PELESTARIAN DAN PENGUATAN FUNGSI
WISATA BUDAYA
TERANG DAMARINGRAT
DEPARTEMEN ARSITEKTUR LANSKAP
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2026
ABSTRAK
TERANG DAMARINGRAT. Desain Lanskap Kawasan Candi Bahal I
sebagai Upaya Pelestarian dan Penguatan Fungsi Wisata Budaya. Dibimbing oleh
ANDI GUNAWAN bersama SHOLIHIN NAFAR.
Candi Bahal I merupakan bagian dari kompleks percandian Padang Lawas
di Kabupaten Padang Lawas Utara, Provinsi Sumatera Utara, dan merupakan salah
satu situs warisan budaya Hindu–Buddha yang penting. Namun, kawasan di sekitar
candi tersebut belum dikelola secara optimal, sehingga mengakibatkan keterbatasan
fasilitas, rendahnya aksesibilitas, serta belum berkembangnya potensi wisata
budaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan desain lanskap kawasan
Candi Bahal I yang layak dan menarik secara visual, guna mendukung pelestarian
warisan budaya serta memperkuat perannya sebagai destinasi wisata budaya.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif berbasis proses
perancangan lanskap yang meliputi observasi tapak, inventarisasi data, analisis,
sintesis, dan pengembangan desain. Analisis mencakup aspek fisik, biofisik, sosialbudaya, dan regulasi kawasan. Hasil penelitian berupa rekomendasi desain lanskap
yang mengintegrasikan pendekatan lanskap budaya dan prinsip ekologi melalui
pengaturan zonasi, sirkulasi, penataan vegetasi, serta penyediaan fasilitas
pendukung. Desain yang diusulkan diharapkan dapat meningkatkan kualitas
lingkungan, menjaga nilai sejarah dan budaya, serta meningkatkan pengalaman
pengunjung sekaligus mendorong pengelolaan kawasan Candi Bahal I yang
berkelanjutan.
Kata kunci: cagar budaya, desain lanskap ekologis, fasilitas kawasan, pariwisata
budaya, pelestarian budaya.
i
ABSTRACT
TERANG DAMARINGRAT. Landscape Design Bahal I Temple Area as an
Effort to Preserve and Strengthen Cultural Tourism Functions. Supervised by
ANDI GUNAWAN alongside with SHOLIHIN NAFAR.
Bahal I Temple is part of the Padang Lawas temple complex in North
Padang Lawas Regency, North Sumatra, and represents an important Hindu–
Buddhist cultural heritage site. However, the surrounding area has not been
optimally managed, resulting in limited facilities, low accessibility, and
underdeveloped cultural tourism potential. This study aims to develop a feasible
and visually engaging landscape design for the Candi Bahal I area that supports
cultural heritage preservation and strengthens its role as a cultural tourism
destination. The research employs a qualitative descriptive method based on a
landscape design process, including site observation, data inventory, analysis,
synthesis, and design development. The analysis encompasses physical, biophysical,
socio-cultural, and regulatory aspects of the site. The study results in landscape
design recommendations that integrate cultural landscape approaches and
ecological principles through zoning, circulation, vegetation planning, and
supporting facilities. The proposed design is expected to improve environmental
quality, preserve historical and cultural values, and enhance visitor experience
while promoting sustainable management of the Candi Bahal I heritage area.
Keywords: cultural heritage, cultural preservation, cultural tourism, ecological
landscape design, site facilities.
ii
Judul Skripsi : Desain Lanskap Kawasan Candi Bahal I sebagai Upaya
Pelestarian dan Penguatan Fungsi Wisata Budaya
Nama
: Terang Damaringrat
NIM
: A4401221010
Disetujui oleh
Pembimbing 1:
Dr. Ir. Andi Gunawan, M.Agr.Sc.
__________________
Pembimbing 2:
Sholihin Nafar S.P., M.Si., M.G.E.S.
__________________
Diketahui oleh
Plt Ketua Departemen Arsitektur Lanskap:
Rosyi Damayanti Twinsari Manningtyas S.P., M.Si., Ph.D. _________________
NIP 198801092020122003
iii
PRAKATA
Puji syukur penulis sampaikan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala
rahmat sehingga usulan penelitian yang mengusung topik desain lanskap dengan
judul “Desain Lanskap Kawasan Candi Bahal I sebagai Upaya Pelestarian dan
Penguatan Fungsi Wisata Budaya” ini berhasil diselesaikan dengan baik.
Terima kasih yang sebesar-besarnya diucapkan oleh penulis kepada dosen
pembimbing, Dr. Ir. Andi Gunawan, M.Agr.Sc. dan Sholihin Nafar S.P., M.Si.,
M.G.E.S. yang telah membimbing dan banyak memberi saran terhadap usulan
penelitian ini. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada pembimbing
akademik, dan moderator seminar proposal. Di samping itu, penghargaan penulis
sampaikan kepada pihak Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah II dan Pemerintah
Kabupaten Padang LawasUtara yang telah menyarankan untuk lokasi penelitian ini,
serta membantu dalam proses pengumpulan data. Ucapan terima kasih juga
disampaikan kepada ayah, ibu, serta seluruh keluarga lain yang terkait yang telah
memberikan dukungan, doa, dan bantuan lainnya yang sangat bermanfaat untuk
penelitian ini kedepannya.
Semoga karya ilmiah ini bermanfaat bagi pihak yang membutuhkan dan bagi
kemajuan ilmu pengetahuan.
Bogor, Maret 2026
Terang Damaringrat
iv
`DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
vi
DAFTAR GAMBAR
vi
DAFTAR LAMPIRAN
vi
I
1
1
2
3
3
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
1.2
Tujuan
1.3
Manfaat
1.4
Kerangka Pikir
II TINJAUAN PUSTAKA
5
2.1
Cagar Budaya
5
2.2
Peran dan Penerapan Desain Lanskap pada Kawasan Cagar Budaya 6
2.3
Desain Ekologis dalam Kawasan Warisan Budaya
6
2.4
Desain Lanskap Berbasis Konservasi dan Wisata Budaya
8
III METODE.
3.1
Waktu dan Tempat
3.2
Alat dan Bahan
3.3
Prosedur Kerja
3.4
Batasan Penelitian
9
9
10
12
17
IV RENCANA ANGGARAN BIAYA
18
DAFTAR PUSTAKA
19
LAMPIRAN
21
v
DAFTAR TABEL
1
2
3
4
Rencana jadwal penelitian
Data alat dan bahan
Kelompok jenis, bentuk, dan sumber data penelitian
Rencana anggaran biaya penelitian
10
11
13
18
DAFTAR GAMBAR
1
2
3
Kerangka pikir penelitian
Lokasi tapak penelitian
Kondisi kawasan Candi Bahal I
4
9
10
DAFTAR LAMPIRAN
1
2
Lampiran 1 Daftar pertanyaan wawancara penelitian
Lampiran 2 Kuesioner penelitian
vi
21
26
1
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Peninggalan budaya memiliki peran yang sangat penting dalam menjamin
keberlanjutan kehidupan masyarakat pada masa kini dan masa depan. Upaya
pelestarian yang didukung dengan akses dan edukasi terhadap warisan budaya
menjadi faktor yang penting dalam menjaga keberlangsungan nilai, identitas, dan
kebudayaan suatu masyarakat (IFLA 2017). Dalam konteks kawasan cagar budaya,
pelestarian tidak hanya dimaknai sebagai upaya mempertahankan objek fisik, tetapi
juga sebagai proses menjaga keterkaitan antar ruang, aktivitas budaya dan
keagamaan, serta keberlanjutan kawasan cagar budaya. Oleh karena itu, pendekatan
pelestarian
kawasan
perlu
dilakukan
secara
menyeluruh
dengan
mempertimbangkan aspek budaya, sosial, dan lingkungan secara merata.
Candi Bahal I terletak di Desa Bahal, Kecamatan Portibi, Kabupaten Padang
Lawas Utara, Provinsi Sumatera Utara. Secara geografis berlokasikan di antara
koordinat 1°24'28.19" LU – 1°24'35.79" LU dan 99°43'34.36" BT – 99°43'41.39"
BT. Candi ini merupakan bagian dari kompleks percandian di kawasan Padang
Lawas Utara yang merupakan peninggalan budaya Hindu–Buddha pada masa
pengaruh Sriwijaya. Selain itu, Candi Bahal I merupakan salah satu bangunan candi
yang telah mengalami proses purna pugar. Secara arsitektural, Candi Bahal I terdiri
atas lima bangunan, yaitu satu candi utama dan empat candi perwara (Susetyo
2010). Penelitian terbaru menunjukkan bahwa meskipun Candi Bahal I memiliki
potensi besar sebagai destinasi wisata budaya dan sejarah, situs ini mulai tertinggal
dibandingkan dengan destinasi lain karena minimnya fasilitas pendukung seperti
akses, pusat informasi, dan sarana publik, serta rendahnya partisipasi masyarakat
dalam pengelolaan pariwisata dan lemahnya strategi promosi (Hasibuan 2025).
Sebagai bagian dari lanskap budaya Padang Lawas, Candi Bahal I memiliki
potensi signifikan untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata budaya berbasis
sejarah dan arkeologi. Kawasan percandian Padang Lawas tercatat sebagai salah
satu konsentrasi tinggalan Hindu–Buddha penting di Sumatera Utara yang memiliki
nilai historis dan arkeologis tinggi dalam jaringan peradaban Sriwijaya
(Kemendikbudristek 2022). Namun demikian, optimalisasi fungsi wisata kawasan
ini masih belum sebanding dengan nilai pentingnya. Data Badan Pusat Statistik
(2023) menunjukkan bahwa distribusi kunjungan wisata budaya di Indonesia masih
terpusat pada beberapa destinasi unggulan, sementara banyak situs cagar budaya di
daerah belum berkembang secara maksimal. Kondisi ini menunjukkan adanya
kesenjangan antara potensi sejarah yang tinggi dengan pengelolaan dan
perancangan kawasan yang belum terintegrasi secara optimal, sehingga diperlukan
pendekatan perancangan lanskap yang mampu memperkuat fungsi pelestarian
sekaligus mendukung pengembangan wisata budaya secara berkelanjutan.
Sebagian besar kawasan cagar budaya tidak hanya terdiri atas objek utama
berupa bangunan bersejarah, tetapi juga mencakup area di sekitarnya yang
berfungsi sebagai ruang penunjang. Area ini umumnya berperan sebagai zona
penyangga dan ruang transisi yang menghubungkan antara ruang sakral dengan
ruang publik. Selain itu, ruang-ruang pendukung tersebut memfasilitasi pergerakan
2
pengunjung, aktivitas edukasi, serta fungsi pengelolaan kawasan, sekaligus
menjaga keteraturan aktivitas agar tidak mengganggu nilai situs budaya. Gumelar
dan Rully (2022) menjelaskan bahwa isu pelestarian cagar budaya di Indonesia
mulai berkembang dan mendapat perhatian sejak sekitar tahun 1990, terutama
dalam konteks penataan ruang wilayah yang mengatur kewenangan pengembangan
serta pelestarian situs-situs dan peninggalan sejarah.
Salah satu langkah krusial dalam pelestarian suatu cagar budaya adalah
melalui pelestarian area kawasan di sekitar cagar budaya tersebut. Kawasan sekitar
tidak hanya berfungsi sebagai ruang penyangga fisik, tetapi juga sebagai ruang yang
memiliki keterkaitan sosial, budaya, dan aktivitas masyarakat. Tran dan Truong
(2025) menekankan bahwa pendekatan desain lanskap berbasis pelestarian cagar
budaya perlu mengintegrasikan perlindungan nilai sejarah dengan aktivitas
komunitas lokal, sehingga kawasan heritage tetap hidup dan relevan. Melalui
pendekatan ini, desain lanskap diarahkan untuk menjaga karakter budaya kawasan
sekaligus mendukung keberlanjutan fungsi sosial dan keterlibatan masyarakat
dalam upaya pelestarian.
Selain itu, pendekatan ekologis juga memiliki peran yang sangat penting
dalam pelestarian kawasan cagar budaya. Penerapan prinsip ekologi dalam desain
lanskap tidak hanya berfungsi untuk mempertahankan fungsi ekologis kawasan,
tetapi juga untuk memperkuat ketahanan kawasan terhadap perubahan lingkungan
serta mengintegrasikan nilai keanekaragaman hayati dengan nilai sejarah dan
budaya kawasan Candi Bahal I secara berkelanjutan. Pendekatan ekologis dalam
pelestarian cagar budaya memandang warisan budaya bukan semata-mata sebagai
artefak fisik, melainkan sebagai bagian dari sistem sosial–ekologis yang saling
terkait antara manusia, lingkungan, dan nilai budaya. Dalam konteks social–
ecological sustainability, lanskap budaya terbentuk melalui proses sosial dan
ekologis yang berkembang sepanjang waktu serta mencerminkan hubungan timbal
balik antara masyarakat dan lingkungan alamnya, sehingga upaya menjaga
integritas ekologis menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pelestarian kawasan
itu sendiri (Schmitz & Herrero-Jáuregui 2021).
Oleh karena itu, perancangan lanskap kawasan Candi Bahal I perlu dilakukan
sebagai bagian dari upaya pelestarian cagar budaya secara menyeluruh. Penelitian
ini difokuskan pada penyusunan rekomendasi desain lanskap kawasan yang tidak
hanya memperhatikan aspek estetika, tetapi juga mempertimbangkan keberlanjutan
nilai sejarah, budaya, dan lingkungan. Pendekatan lanskap budaya yang dipadukan
dengan prinsip ekologis dipandang penting agar kawasan Candi Bahal I dapat
berfungsi secara optimal sebagai kawasan cagar budaya yang tetap terjaga, mudah
diakses, dan berkelanjutan. Tran dan Truong (2025) menyatakan bahwa pelestarian
kawasan heritage akan lebih efektif apabila perencanaan lanskap mampu
mengintegrasikan perlindungan nilai sejarah dengan fungsi sosial dan lingkungan.
Dengan demikian, pendekatan tersebut diharapkan dapat menjadi dasar dalam
pengembangan konsep desain lanskap kawasan Candi Bahal I.
1.2 Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mendesain lanskap yang berbasis pelestarian
dan penguatan fungsi cagar budaya pada kawasan Candi Bahal I, Kabupaten
Padang Lawas Utara, dengan tujuan khusus sebagai berikut:
3
1. menganalisis dan sintesis terkait potensi serta kendala kawasan Candi
Bahal I yang ditinjau dari aspek fisik, biofisik, sosial budaya, dan
kebijakan/aturan terkait cagar budaya
2. merumuskan konsep dan karakter desain lanskap kawasan yang
mendukung pelestarian nilai sejarah dan budaya Candi Bahal I sekaligus
memperkuat fungsi kawasan sebagai ruang budaya dan wisata
3. menyusun desain lanskap untuk kawasan Candi Bahal I yang
mengintegrasikan pendekatan lanskap budaya dan prinsip ekologis
sebagai upaya pelestarian kawasan cagar budaya secara berkelanjutan.
1.3 Manfaat
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai panduan terhadap
pembelajaran mengenai keilmuan dalam bidang arsitektur lanskap, khususnya terkait
desain lanskap kawasan cagar budaya budaya. Hasil penelitian ini juga diharapkan
dapat menjadi acuan dalam pengelolaan lahan kawasan cagar budaya melalui
pendekatan desain lanskap pelestarian cagar budaya yang berkelanjutan, sehingga
kawasan Candi Bahal I tidak hanya terlindungi nilai sejarah dan budayanya, tetapi
juga mampu dikelola secara ekologis, fungsional, dan adaptif terhadap kebutuhan
lingkungan serta masyarakat sekitarnya.
1.4 Kerangka Pikir
Candi Bahal I yang terletak di Desa Bahal, Kecamatan Portibi, Kabupaten
Padang Lawas Utara, Provinsi Sumatera Utara merupakan bagian dari kompleks
percandian di kawasan Padang Lawas Utara yang menjadi peninggalan budaya
Hindu–Buddha pada masa pengaruh Kerajaan Sriwijaya. Namun, dibandingkan
dengan kawasan cagar budaya lainnya, Candi Bahal I masih cukup tertinggal, salah
satunya disebabkan oleh kurang optimalnya pengelolaan kawasan di sekitarnya.
Kondisi tersebut ditunjukkan oleh keterbatasan fasilitas pendukung dan utilitas
kawasan, seperti aksesibilitas, pusat informasi, serta sarana publik yang belum
memadai. Oleh karena itu adanya perancangan ulang kawasan Candi Bahal I ini
perlu dilakukan, demi meningkatkan keberlanjutan nilai sejarah, budaya dan
lingkungan pada situs cagar budaya ini.
Perancangan ulang kawasan Candi Bahal I dilakukan melalui pendekatan
desain lanskap yang memandang kawasan cagar budaya sebagai kawasan yang
memiliki keterkaitan antara budaya dan lingkungan. Proses perancangan diawali
dengan kegiatan observasi dan analisis menyeluruh terhadap kondisi kawasan yang
mencakup aspek fisik, biofisik, sosial budaya, serta kebijakan dan legalitas terkait
cagar budaya. Hasil analisis tersebut kemudian disintesiskan untuk merumuskan
konsep pengembangan kawasan yang berfokus pada pelestarian nilai sejarah dan
budaya, peningkatan fungsi kawasan, serta perbaikan kualitas lingkungan. Konsep
ini selanjutnya diterapkan dalam desain lanskap kawasan Candi Bahal I sebagai
upaya mendukung keberlanjutan kawasan cagar budaya (Gambar 1).
4
Candi Bahal I di Desa Bahal, Kecamatan Portibi, Kabupaten
Padang Lawas Utara, Provinsi Sumatera Utara
Kawasan Cagar Budaya Peninggalan
Hindu-Budha Masa Sriwijaya
Peninggalan Fasilitas Pendukung dan
Utilitas Kawasan
Pelestarian serta Penguatan Fungsi Nilai
Sejarah dan Perbaikan Kualitas Lingkungan
Desain Ekologis
Perancangan Kawasan Candi Bahal I
Aspek Fisik
Aspek Visual
dan Estetika
Analisis Kondisi Tapak Candi Bahal 1
Aspek Sosial
dan Legalitas
Aspek Sejarah
dan Budaya
Aspek Biofisik
dan Lingkungan
Analisis Aspek Kesejarahan
(nilai sejarah dan arkeologis situs)
Perumusan Konsep Pengembangan Kawasan
DesainLanskap Kawasan Candi Bahal I sebagai Upaya
Pelestarian dan Penguatan Fungsi Wisata Budaya
Gambar 1 Kerangka pikir penelitian
5
II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Cagar Budaya
Definisi Cultural Heritage (Cagar Budaya)
Istilah culture berasal dari bahasa Latin cultura yang bermakna pengolahan
dan perawatan, dengan akar kata colere yang berarti mengolah tanah, menetap,
melindungi, memelihara, serta menghormati dan memuja. Pada mulanya, cultura
merujuk pada praktik pengelolaan lahan dan metode kompleks dalam mengatur
keberagaman tanaman yang kini dikenal sebagai pertanian. Meskipun pertanian
berperan penting dalam mendorong tumbuhnya peradaban, aktivitas tersebut tetap
dipahami sebagai bagian dari fenomena budaya. Sementara itu, istilah heritage
berasal dari bahasa Latin hereditas yang merujuk pada sesuatu yang diwariskan dari
masa lalu, sarat makna, dan mengandung nilai bagi generasi selanjutnya. Oleh
karena itu, cultural heritage tidak dapat dipahami hanya sebagai gabungan makna
budaya dan warisan, melainkan mencerminkan adat istiadat, praktik, tempat,
ekspresi artistik, serta cara hidup yang dikembangkan oleh suatu komunitas dan
diwariskan dari generasi ke generasi. Konsep ini juga mencakup sekumpulan
sumber daya dari masa lalu yang diidentifikasi oleh masyarakat sebagai refleksi
nilai, kepercayaan, pengetahuan, dan tradisi yang terus berkembang seiring
perubahan konteks dan persepsi sosial (Francioni 2023).
Menurut Stephenson (2023), cultural heritage adalah harta abadi yang
mencakup unsur fisik dan non-fisik yang mencerminkan identitas suatu masyarakat.
Pelestarian elemen-elemen tersebut penting untuk menjaga keberagaman budaya,
memperkuat rasa keterikatan sosial serta meneruskan pengetahuan sejarah kepada
generasi yang akan datang. Cultural heritage mencakup monumen, kelompok
bangunan, dan situs, yang memiliki nilai luar biasa dari sudut pandang sejarah, seni,
atau ilmu pengetahuan. Warisan budaya tersebut merupakan hasil karya manusia
atau gabungan antara karya manusia dan alam, termasuk situs arkeologis, yang
perlu dilindungi dan dilestarikan bagi generasi sekarang dan mendatang (UNESCO
1972).
Prinsip, Regulasi dan Kebijakan Cagar Budaya
Pelestarian cagar budaya didasarkan pada penilaian nilai penting (heritage
significance), yakni warisan budaya hanya dilestarikan jika memiliki nilai
keberlanjutan bagi masyarakat. Prinsip utamanya adalah menjaga keaslian dan
keutuhan bentuk serta fungsi warisan, dengan melakukan intervensi seminimal
mungkin agar tidak merusak karakter sejarahnya. Konsep internasional seperti
Konvensi Burra Charter, ICOMOS (1979) atau Pedoman Nara (1994) menekankan
pentingnya keaslian material dan hubungan historis. Selain itu, pelestarian harus
melibatkan dokumentasi lengkap dan partisipasi komunitas setempat.
Di tingkat internasional, Konvensi Warisan Dunia UNESCO (1972)
mengamanatkan setiap Negara Pihak untuk mengidentifikasi, melindungi, dan
mengelola warisan budaya dan alam demi generasi mendatang. Di Indonesia,
kerangka hukum utama adalah UU No.11/2010 tentang Cagar Budaya dan
peraturan pelaksanaannya (contohnya PP No.66/2015), yang mengatur registrasi
inventaris cagar budaya serta sanksi bagi pelanggar. Kebijakan kelembagaan
6
melibatkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Balai Pelestarian Cagar
Budaya I dan II di tingkat daerah. Prinsip kebijakan ini menekankan perlunya
inventarisasi, pemugaran berbasis penelitian, dan penguatan pengelolaan lintas
sektor agar situs terlindungi.
2.2 Peran dan Penerapan Desain Lanskap pada Kawasan Cagar Budaya
Desain lanskap merupakan proses perencanaan dan perancangan ruang luar
yang mempertimbangkan aspek ekologis, sosial, budaya, dan estetika (Booth 1983).
Dalam konteks kawasan cagar budaya, desain lanskap berperan menjaga konteks
visual dan spasial situs agar tetap sesuai dengan nilai historisnya. UNESCO (2011)
menegaskan bahwa pengelolaan warisan budaya harus mengintegrasikan
perlindungan lanskap sekitar karena perubahan lingkungan dapat memengaruhi
nilai dan makna situs. Oleh karena itu, penataan vegetasi, jalur sirkulasi, ruang
terbuka, serta fasilitas pendukung harus dirancang dengan mempertimbangkan
integritas visual dan historis kawasan.
Perancangan lanskap pada kawasan bersejarah harus mempertimbangkan
kesatuan visual, skala, proporsi, dan hubungan spasial antara elemen baru dengan
struktur bersejarah yang telah ada. Simonds dan Starke (2006) menekankan bahwa
desain lanskap harus memperkuat karakter tapak (sense of place) serta merespons
kondisi alami dan budaya yang membentuk identitas ruang tersebut. Dalam konteks
kawasan candi, prinsip harmoni visual menjadi penting agar elemen tambahan
seperti jalur pedestrian, signage, maupun fasilitas pendukung lainnya tidak
mendominasi atau menutup struktur utama candi.
Selain itu, pengaturan view corridor dan vista visual perlu diperhatikan untuk
menjaga pengalaman ruang yang sakral dan monumental. UNESCO (2011) dalam
konsep Historic Urban Landscape menegaskan bahwa konteks visual dan
hubungan spasial merupakan bagian dari nilai warisan yang harus dilindungi. Oleh
karena itu, desain lanskap pada kawasan Candi Bahal I harus mempertahankan
orientasi visual terhadap bangunan candi, menghindari elemen vertikal yang
mengganggu siluet candi, serta menggunakan vegetasi lokal yang tidak menutupi
struktur utama.
2.3 Desain Ekologis dalam Kawasan Warisan Budaya
Konsep dan Prinsip Desain Ekologis
Desain ekologis merupakan pendekatan perancangan yang berupaya
mengintegrasikan sistem alam ke dalam proses desain sehingga tercipta hubungan
yang harmonis antara manusia dan lingkungan. Van der Ryn dan Cowan (2007)
menjelaskan bahwa desain ekologis bertujuan menciptakan sistem yang
berkelanjutan dengan memanfaatkan proses alami sebagai bagian dari solusi desain.
Prinsip ini mencakup pemanfaatan kondisi iklim lokal, penggunaan vegetasi asli,
pengelolaan air berbasis siklus alami, serta pengurangan intervensi buatan yang
berlebihan.
Dalam konteks lanskap budaya, pendekatan ekologis tidak dapat dipisahkan
dari dimensi sosial. Schmitz dan Herrero-Jáuregui (2021) menjelaskan bahwa
lanskap budaya merupakan sistem sosial-ekologis yang terbentuk dari interaksi
jangka panjang antara manusia dan lingkungan. Oleh karena itu, keberlanjutan
7
lanskap budaya tidak hanya ditentukan oleh aspek fisik-ekologis, tetapi juga oleh
praktik sosial dan pengetahuan tradisional yang melekat di dalamnya.
Lebih lanjut, integrasi sumber daya budaya dan ekologis dalam perencanaan
lanskap dapat menghasilkan model pengembangan yang lebih resilien dan adaptif.
Desain yang menggabungkan nilai historis dengan fungsi ekologis terbukti mampu
memperkuat identitas ruang sekaligus menjaga kualitas lingkungan secara
berkelanjutan (You et al. 2025). Hal ini relevan untuk kawasan Candi Bahal I yang
berada pada lanskap terbuka Padang Lawas, di mana kondisi ekologis tapak harus
dipertimbangkan bersamaan dengan nilai arkeologisnya.
Integrasi Prinsip Ekologi dalam Kawasan Bersejarah
Integrasi prinsip ekologis dalam kawasan cagar budaya bertujuan menjaga
keseimbangan antara pelestarian nilai sejarah dan keberlanjutan lingkungan.
UNESCO (2015) menyatakan bahwa pengelolaan warisan budaya harus selaras
dengan prinsip pembangunan berkelanjutan, termasuk perlindungan sumber daya
alam dan pengurangan dampak lingkungan.
Dalam praktiknya, integrasi ini dapat dilakukan melalui penataan vegetasi
lokal sebagai peneduh dan pengendali erosi, perencanaan sistem drainase alami
untuk mengurangi genangan air di sekitar struktur candi, serta pengelolaan ruang
terbuka yang mempertahankan karakter lanskap asli. Bi dan Nasir (2024)
menunjukkan bahwa pengintegrasian elemen budaya, termasuk warisan takbenda,
ke dalam desain lanskap dapat memperkuat identitas kawasan sekaligus
meningkatkan keberlanjutan sosial dan ekologis.
Analisis Daya Dukung Lingkungan
Daya dukung lingkungan (carrying capacity) merupakan konsep yang
digunakan untuk menentukan batas kemampuan suatu kawasan dalam menampung
aktivitas tanpa menimbulkan kerusakan fisik maupun penurunan kualitas
pengalaman pengunjung. Cifuentes (1992) menjelaskan bahwa daya dukung wisata
mempertimbangkan aspek fisik, ekologis, sosial, dan manajerial dalam menentukan
jumlah maksimum pengunjung yang dapat diterima suatu kawasan.
Dalam konteks wisata budaya pada kawasan candi, analisis daya dukung
menjadi penting untuk mencegah kepadatan berlebih yang berpotensi merusak
struktur bangunan, mempercepat degradasi tanah, serta menurunkan kenyamanan
pengunjung. Oleh karena itu, perhitungan daya dukung termasuk dalam aspek
biofisik dan lingkungan karena berkaitan langsung dengan kapasitas ruang, kondisi
tapak, serta keberlanjutan fungsi kawasan. Penerapan analisis ini dalam penelitian
Candi Bahal I akan memperkuat dasar perancangan lanskap berbasis konservasi dan
pengelolaan wisata berkelanjutan.
8
2.4 Desain Lanskap Berbasis Konservasi dan Wisata Budaya
Wisata Budaya sebagai Fungsi Penguatan Kawasan
Wisata budaya merupakan bentuk pariwisata yang berorientasi pada
pengalaman terhadap warisan budaya, sejarah, seni, dan tradisi masyarakat lokal
(UNWTO 2018). Dalam kawasan cagar budaya, fungsi wisata harus dirancang
secara hati-hati agar tidak bertentangan dengan prinsip pelestarian. Rahmat (2021)
menekankan bahwa pemanfaatan cagar budaya melalui pariwisata seharusnya
mendukung pelestarian, bukan sekadar eksploitasi ekonomi. Pendekatan
pariwisata berkelanjutan mengintegrasikan perlindungan warisan, peningkatan
kualitas lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat lokal sebagai satu kesatuan
sistem.
Pada Pada kawasan Candi Bahal I, penguatan fungsi wisata budaya dapat
dilakukan melalui penyediaan ruang interpretasi, jalur edukatif, serta fasilitas
pendukung yang terintegrasi dengan konsep lanskap budaya. Pendekatan ini
memungkinkan pengunjung memahami nilai sejarah dan makna simbolik candi
tanpa mengganggu integritas fisik situs.
Strategi Pengembangan Lanskap Wisata Budaya
Strategi pengembangan lanskap pada kawasan cagar budaya perlu diarahkan
pada penguatan identitas tempat, pengaturan zonasi, serta pengendalian intensitas
aktivitas. Martínez Yáñez (2012) menekankan bahwa pengembangan wisata
budaya sebaiknya tidak berorientasi pada peningkatan jumlah pengunjung semata,
melainkan pada mutu pengalaman dan pemerataan manfaatnya. Beberapa strategi
yang disarankan antara lain: (a) menghormati daya dukung (carrying capacity)
dengan membatasi jumlah wisatawan agar tidak merusak kondisi fisik maupun
suasana situs; (b) mengatur sirkulasi pengunjung melalui penataan jalur terbuka dan
tertutup guna menghindari benturan dengan fungsi asli, seperti area ritual; (c)
mengangkat nilai warisan takbenda melalui penguatan narasi lokal,
penyelenggaraan festival budaya, serta interpretasi yang memperkaya pengalaman
wisata sekaligus mendukung pelestarian; dan (d) melibatkan masyarakat setempat
secara aktif dalam pengelolaan serta promosi destinasi. UNESCO (1972)
menegaskan bahwa warisan budaya harus dilindungi dan dilestarikan bagi generasi
sekarang dan mendatang, sehingga setiap bentuk pengembangan harus
mempertimbangkan keberlanjutan jangka panjang.
Dalam konteks perancangan, strategi tersebut mencakup pengaturan sirkulasi
yang jelas untuk menghindari konflik ruang, pembatasan pembangunan elemen
non-kontekstual, serta penyediaan ruang terbuka yang mendukung aktivitas wisata
secara terkendali. Pendekatan ini memungkinkan terciptanya keseimbangan antara
pelestarian nilai sejarah dan pengembangan potensi wisata budaya secara
berkelanjutan.
9
III
METODE.
3.1 Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan di tapak sekitar Candi Bahal I di Desa Bahal,
Kecamatan Portibi, Kabupaten Padang Lawas Utara, Provinsi Sumatera Utara,
berlokasikan di antara koordinat 1°24'28.19" LU – 1°24'35.79" LU dan
99°43'34.36" BT – 99°43'41.39" BT. Kawasan Candi Bahal I berbatasan dengan
perkebunan kelapa sawit dan permukiman warga di bagian Utara; Jalur akses
menuju Candi Pulo di bagian Selatan; Sungai Barumun di bagian Barat; Lahan
pertanian dan perkebunan kelapa sawit di bagian Timur (Gambar 2). Tapak
penelitian yang dimiliki serta saat ini dikelola oleh Balai Pelestarian Kebudayaan
Wilayah II dan Pemerintah Kabupaten Padang Lawas ini memiliki luasan sebesar
17,332 m2 (dengan zona inti seluas 2,871 m2) atau yang setara dengan ≈ 1,73 Ha.
Gambar 2 Lokasi tapak penelitian (Sumber: Google Earth).
Kawasan Candi Bahal I telah memiliki sejumlah fasilitas pendukung, seperti
area akses, ruang terbuka, dan sarana penunjang dasar lainnya (Gambar 3). Namun
demikian, perencanaan, kualitas, dan pengelolaannya masih belum terintegrasi
secara optimal sehingga belum sepenuhnya mampu menjamin ketahanan kawasan
terhadap tekanan aktivitas pengunjung maupun perubahan lingkungan.
10
Gambar 3 Kondisi kawasan Candi Bahal I ([a] area sekitar zona inti; [b] fasilitas
pendukung kawasan; [c] zona enterance kawasan)
(Sumber: Dokumentasi penelitian arkeologi Balai Pelestaria Kebudayaan II)
Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Januari 2026 dan diharapkan selesai
pada bulan Juni 2026. Pelaksanaan akan diawali dengan kegiatan persiapan dan
penyusunan proposal, survei dan inventarisasi data, analisis dan sintesis,
pengembangan konsep, rencana pengembangan, penyusunan laporan, dan diakhiri
dengan seminar hasil dan sidang. Daftar kegiatan penelitian secara rinci dapat
dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1 Rencana jadwal penelitian
No.
Kegiatan
1.
Persiapan dan proposal
2.
3.
Survei dan inventarisasi
data
Analisis dan sintesis
4.
Pengembangan konsep
5.
Rencana pengembangan
6.
Penyusunan laporan
7.
Seminar hasil dan sidang
Jan
Feb
2026
Mar Apr
Mei
Jun
3.2 Alat dan Bahan
Penelitian ini menggunakan berbagai alat dan bahan yang menunjang
kegiatan pengumpulan data primer dan sekunder, analisis tapak, serta perancangan
desain kawasan Candi Bahal 1. Peralatan lapangan seperti alat ukur, perangkat
penentu koordinat, dan media dokumentasi digunakan untuk mengidentifikasi
ukuran fisik tapak, posisi lokasi, serta kondisi eksisting kawasan. Selanjutnya,
perangkat lunak digunakan dalam proses pengolahan dan analisis data spasial,
penyusunan gambar kerja dua dimensi, pemodelan tiga dimensi, serta visualisasi
desain kawasan. Bahan penelitian meliputi peta dasar dan citra satelit sebagai dasar
analisis tapak, data cagar budaya dan dokumen sejarah sebagai landasan pelestarian,
regulasi perencanaan sebagai acuan legalitas, serta kerangka acuan kerja (design
brief) sebagai pedoman perumusan konsep dan desain kawasan wisata budaya.
Rincian untuk alat dan bahan penelitian dapat dilihat pada Tabel 2.
11
Tabel 2 Data alat dan bahan
Unit
Alat
Perangkat
Meteran Laser dan
Keras
Roll
(hardware)
Smartphone/kamera
Drone
GPS(Global
Positioning System)
Laptop/komputer
Tablet
Alat Gambar
Perangkat
Lunak
(software)
Alat Tulis
Google Earth Pro
AutoCAD
ArcGIS/Arcgis
Pro/Qgis
SketchUp
Bahan
Fungsi
Mengidentifikasi ukuran fisik tapak
penelitian dan komponen-komponen di
dalam kawasan
Mengambil dokumentasi lapang
Dokumentasi dan pemetaan tapak
Menentukan posisi dan koordinat tapak
penelitian
Pengolahan data, perancangan desain,
pengolahan dokumentasi laporan, dan
penyusunan laporan
Mencatat data survei dan menggambarkan
konsep desain secara digital
Menggambarkan konsep desain
Mencatat data survei
Analisis tapak dan lingkungan sekitar
menggunakan citra satelit
Pembuatan gambar kerja dua dimensi, peta
dasar, dan gambar teknis
Pengolahan, analisis, dan pemetaan data
spasial tapak dan kawasan
Membuat model 3D dari desain untuk
diterapkan pada tapak
Procreate
Pembuatan sketsa awal dan penggambaran
konsep desain secara digital
Adobe
Pengolahan dan penyempurnaan desain tapak
Photoshop/Figma
2D untuk kebutuhan visualisasi
Enscape/D5
Visualisasi dan perenderan 3D desain
kawasan secara realistik
Mengidentifikasi ukuran fisik tapak
ARuler
penelitian dan komponen-komponen di
dalam kawasan secara digital
Pengolahan, pengelompokan, dan analisis
Microsoft Excel
data kuantitatif penelitian
Microsoft Word
Penulisan dan penyusunan laporan
penelitian secara sistematis
Peta dasar dan
Sebagai base map untuk melakukann
citra satelit
analisis dan perancangan tapak
Data klimatologi
Menjadi data sekunder inventarisasi
Data cagar budaya dan Menjadi dasar pemahaman nilai sejarah,
dokumen sejarah
budaya, dan prinsip pelestarian kawasan
Regulasi dan dokumen Menjadi acuan legalitas dan batasan dalam
perencanaan
perancangan kawasan
Kerangka Acuan
Menjadi arahan perumusan konsep dan
Kerja
desain kawasan.
12
3.3 Prosedur Kerja
Pendekatan prosedur penelitian ini mengikuti kerangka teori perencanaan dan
desain lanskap yang dikemukakan oleh Gold (1980) dalam Recreation and
Planning and Design. Kerangka tersebut terdiri atas empat tahap, yaitu tahap
persiapan, tahap inventarisasi, tahap analisis dan sintesis, dan tahap desain. Tahapan
ini digunakan sebagai acuan dalam perancangan lanskap kawasan cagar budaya.
Metode penelitian yang digunakan bersifat kualitatif dengan analisis deskriptif
untuk mengkaji kondisi tapak, nilai kesejarahan, serta potensi pengembangan
lanskap yang mendukung upaya pelestarian kawasan.
Persiapan
Tahap persiapan penelitian merupakan tahap awal sebelum pelaksanaan
survei lapangan. Pada tahap ini dilakukan penentuan lokasi penelitian, yaitu
kawasan Candi Bahal I. Penentuan batas tapak dilakukan untuk memperjelas ruang
lingkup perancangan, meliputi area inti candi dan kawasan pendukung di sekitarnya
yang berpotensi dikembangkan sebagai ruang penunjang pelestarian dan wisata
budaya. Selain itu, dilakukan pengumpulan informasi awal secara umum mengenai
kondisi kawasan, baik dari aspek sejarah, fisik, lingkungan, maupun regulasi yang
berlaku pada kawasan cagar budaya. Tahap ini juga mencakup penyusunan proposal
penelitian, pengajuan surat izin penelitian, serta persiapan alat dan bahan yang
dibutuhkan untuk kegiatan survei lapangan dan pengolahan data, seperti peta dasar,
alat dokumentasi, serta perangkat pengolah data. Tahap persiapan ini bertujuan agar
proses penelitian dan perancangan dapat berjalan secara terarah dan sesuai dengan
tujuan pelestarian kawasan Candi Bahal I.
Inventarisasi
Tahap inventarisasi dan analisis dalam penelitian ini mengacu pada tahapan
perencanaan lanskap menurut Gold (1980), yang menekankan pentingnya
pemahaman menyeluruh terhadap kondisi tapak sebagai dasar pengembangan
kawasan wisata. Tahap inventarisasi dilakukan melalui pengumpulan data dari
aspek fisik, visual dan estetika, sejarah dan budaya, sosial dan legalitas, serta
biofisik dan lingkungan kawasan Candi Bahal I melalui survei lapangan, studi
pustaka, serta komunikasi dengan pihak pengelola cagar budaya. Pengumpulan data
melalui komunikasi tersebut dilakukan dengan metode wawancara semi-terstruktur
kepada pihak pengelola dan pemangku kepentingan terkait guna memperoleh
informasi mengenai kondisi pengelolaan, permasalahan kawasan, serta kebutuhan
pengembangan. Selain itu, kuesioner sederhana juga dapat digunakan untuk
mengetahui persepsi pengunjung terhadap kenyamanan, aksesibilitas, dan fasilitas
kawasan. Data yang dikumpulkan meliputi kondisi topografi, sistem drainase, jenis
tanah, vegetasi eksisting, aksesibilitas, pola sirkulasi, serta batas kawasan. Dalam
konteks cagar budaya, inventarisasi juga mencakup pemahaman terhadap nilai
sejarah situs, aktivitas pengunjung, serta keterkaitan ruang antara bangunan candi
dan lanskap sekitarnya. Rincian inventarisasi dapat dilihat pada Tabel 3.
13
Tabel 3 Kelompok jenis, bentuk, dan sumber data penelitian
Kelompok Data
Jenis Data
Bentuk Data
Sumber Data
Aspek Fisik
Lokasi dan batas Data peta dan
Survei lapangan
tapak
data deskripsi
dan data sekunder
Topografi dan
Data peta dan
Survei lapangan
kemiringan
data deskripsi
dan data sekunder
Fasilitas dan
Data peta dan
Survei lapangan
utilitas eksisting
data deskripsi
dan data sekunder
Hidrologi dan
Data peta dan
Survei lapangan
drainase
data deskripsi
dan data sekunder
Aksesibilitas dan Data peta dan
Survei lapangan,
sirkulasi
data deskripsi
wawancara dan
data sekunder
Aspek Visual dan Kualitas visual
Data peta, data
Survei lapangan
Estetika
kawasan
deskripsi, dan
foto
Aspek Sejarah,
Nilai kesejarahan Data deskripsi
Studi pustaka dan
Budaya dan
kawasan
dokumen resmi
Sosial
Fungsi dan
Data deskripsi
Studi pustaka dan
makna budaya
wawancara
situs
Aspek Sosial dan Presepsi dan
Data tabelaris
Wawancara dan
Legalitas
preferensi
dan deskripsi
kuesioner
pengunjung
Karakteristik
Data deskripsi
Survei lapangan
dan aktivitas
pengunjung
Status hukum
Dokumen resmi
Studi pustaka dan
Kawasan
dan data
dokumen
(cagar budaya)
deskripsi
pemerintah
Batas
Data peta dan
Badan Pelestarian
administrasi dan
data deskripsi
Cagar Budaya II
rencana zonasi
Status tapak
Dokumen resmi
RTRW Kabupaten
dan data
Padang Lawas
deskripsi
Utara
Kesesuaian tata
Data peta dan
Dokumen
ruang
dokumen
RTRW/RDTR,
(RTRW/RDTR)
peraturan
Bappeda
Aspek Biofisik
Vegetasi
Data peta, data
Survei lapangan
dan Lingkungan
eksisting
deskripsi, dan
foto
Kondisi
Data deskripsi
Survei lapangan
lingkungan tapak
dan data sekunder
Pengumpulan data primer dilakukan melalui kegiatan survei lapangan,
wawancara, serta penyebaran kuesioner. Proses inventarisasi didukung dengan
penggunaan beberapa alat, seperti meteran untuk pengukuran, kamera untuk
14
dokumentasi, GPS untuk pencatatan titik lokasi, serta laptop atau komputer dan
perlengkapan gambar maupun alat tulis untuk pencatatan dan pengolahan data.
Wawancara dilakukan dengan mengajukan pertanyaan kepada pihak-pihak yang
berkaitan dengan kawasan serta masyarakat sekitar guna memperoleh informasi
mengenai aspek sosial, budaya, dan potensi wisata tapak (Lampiran 1). Selain itu,
kuesioner disebarkan kepada pengunjung untuk mengetahui karakteristik, persepsi,
serta preferensi mereka terhadap kawasan (Lampiran 2). Teknik pengambilan
sampel dalam wawancara menggunakan purposive sampling dan kuesioner
menggunakan random sampling yang dilakukan dengan memilih responden yang
dianggap paling relevan dengan topik dan isu penelitian (Patton 2002). Menurut
Guest, Bunce, dan Johnson (2006) sebenarnya tema utama dalam penelitian
kualitatif umumnya telah tercapai pada kisaran 12–20 wawancara. Tetapi penelitian
ini akan mengambil sebanyak 30 jumlah responden agar data menyebar normal dan
dapat mewakili seluruh populasi.
Responden akan dikelompokkan ke dalam tiga kategori yang dimana jumlah
responden tiap kategorinya tidak merata, yaitu pihak Balai Pelestarian Kebudayaan
Wilayah II sebanyak 5 responden, masyarakat sekitar sebanyak 10 responden, dan
pengunjung kawasan sebanyak 15 responden. Hal ini didasari dengan penjelasan
oleh Marshall (1996) bahwa key informants dalam penelitian kualitatif umumnya
tidak memerlukan jumlah besar karena fokus pada kedalaman data. Sementara itu,
jumlah responden dari kelompok masyarakat dan pengunjung disesuaikan dengan
kebutuhan variasi perspektif dan prinsip kejenuhan data (data saturation). Kegiatan
wawancara akan dilakukan dengan pihak Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah II
sebagai responden key informants serta masyarakat sekitar, dan kuesioner akan
disebarkan kepada pengunjung kawasan Candi.
Data hasil inventarisasi aspek fisik tapak dianalisis untuk mengidentifikasi
potensi, permasalahan, dan kendala pengembangan kawasan. Analisis ini bertujuan
untuk menilai kesesuaian lahan serta menentukan arah pengembangan yang tetap
mendukung pelestarian nilai sejarah dan budaya. Sesuai dengan pendekatan Gold
(1980) dalam perencanaan lanskap wisata, hasil analisis kemudian disintesiskan
menjadi arahan pengembangan ruang, pembagian zonasi, serta sistem sirkulasi
yang terstruktur. Sintesis ini menjadi dasar dalam perumusan konsep desain lanskap
kawasan Candi Bahal I agar dapat berfungsi sebagai kawasan pelestarian sekaligus
mendukung kegiatan wisata budaya secara berkelanjutan.
Analisis dan Sintesis
Tahap analisis dan sintesis merupakan tahapan pengolahan data hasil
inventarisasi untuk merumuskan dasar perancangan lanskap kawasan Candi Bahal
I. Pada tahap proposal ini, analisis direncanakan untuk dilakukan secara deskriptifkualitatif dengan dukungan analisis kuantitatif sederhana pada aspek daya dukung
kawasan. Analisis bertujuan mengidentifikasi potensi, permasalahan, serta kendala
pengembangan kawasan cagar budaya, sedangkan sintesis dilakukan untuk
merumuskan arahan pengembangan ruang dan konsep desain yang mendukung
pelestarian serta penguatan fungsi wisata budaya. Analisis dilakukan berdasarkan
beberapa aspek utama, yaitu aspek fisik, aspek biofisik dan lingkungan, aspek
visual dan estetika, serta aspek sejarah dan budaya.
Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan
pendekatan deskriptif kuantitatif dan deskriptif kualitatif. Data yang diperoleh
15
melalui kuesioner diolah menggunakan analisis statistik deskriptif dengan teknik
tabulasi frekuensi dan persentase untuk mengetahui kecenderungan jawaban
responden terhadap kondisi serta rencana pengembangan kawasan. Hasil tersebut
kemudian disajikan dalam bentuk tabel dan diagram untuk mempermudah
interpretasi. Sementara itu, data hasil wawancara dianalisis secara deskriptif
kualitatif melalui proses reduksi data, pengelompokan berdasarkan tema, serta
penarikan kesimpulan untuk mengidentifikasi isu utama, kebutuhan, dan potensi
kawasan. Seluruh hasil analisis tersebut selanjutnya disintesiskan sebagai dasar
dalam perumusan konsep dan rencana pengembangan kawasan.
a. Analisis Aspek Fisik
Analisis aspek fisik direncanakan untuk mengidentifikasi karakteristik tapak
yang memengaruhi pengembangan desain lanskap, meliputi topografi, aksesibilitas,
batas kawasan, pola sirkulasi, serta kondisi ruang eksisting. Analisis ini bertujuan
untuk mengetahui kesesuaian ruang terhadap fungsi pelestarian dan wisata budaya.
Menurut Booth (1983) dalam Basic Elements of Landscape Architectural
Design, pemahaman kondisi fisik tapak merupakan dasar dalam menentukan
organisasi ruang dan sistem sirkulasi kawasan. Hasil analisis fisik akan digunakan
untuk menentukan zonasi awal, jalur pengunjung, serta ruang penyangga (buffer
zone) kawasan cagar budaya.
b. Analisis Aspek Biofisik dan Lingkungan
Analisis biofisik dan lingkungan mencakup kondisi vegetasi eksisting, jenis
tanah, sistem drainase, iklim mikro, serta potensi dampak aktivitas pengunjung
terhadap kelestarian kawasan. Analisis ini bertujuan memastikan bahwa
pengembangan desain tidak menimbulkan tekanan berlebih terhadap situs cagar
budaya. Dalam konteks pelestarian kawasan budaya, pengelolaan lingkungan
menjadi bagian penting untuk menjaga keberlanjutan lanskap (UNESCO 2011).
Oleh karena itu, analisis ini akan mengkaji hubungan antara aktivitas wisata dan
daya tahan lingkungan tapak.
Sebagai bagian dari aspek biofisik dan lingkungan, akan dilakukan analisis
daya dukung wisata (carrying capacity) untuk menentukan jumlah maksimum
pengunjung yang dapat ditampung tanpa mengganggu kelestarian kawasan. Konsep
daya dukung wisata mengacu pada definisi UNWTO (World Tourism
Organization), yaitu batas maksimum penggunaan suatu kawasan wisata tanpa
menyebabkan kerusakan lingkungan dan penurunan kualitas pengalaman
pengunjung (UNWTO 2004). Perhitungan daya dukung fisik direncanakan
menggunakan rumus yang mengacu pada koncep carrying capacity pariwisata
menurut World Tourism Organization (2004):
πΏπ‘’π‘Žπ‘  π‘Žπ‘Ÿπ‘’π‘Ž π‘’π‘“π‘’π‘˜π‘‘π‘–π‘“ (π‘š2 )
π·π‘Žπ‘¦π‘Ž π‘‘π‘’π‘˜π‘’π‘›π‘” =
π‘†π‘‘π‘Žπ‘›π‘‘π‘Žπ‘Ÿ π‘˜π‘’π‘π‘’π‘‘π‘’β„Žπ‘Žπ‘› π‘Ÿπ‘’π‘Žπ‘›π‘” (π‘š2 /π‘œπ‘Ÿπ‘Žπ‘›π‘”)
Standar kebutuhan ruang dapat mengacu pada Boullón (1985) dalam konsep
perencanaan ruang wisata, yang menyebutkan kebutuhan ruang wisatawan berkisar
4–10 m²/orang tergantung jenis aktivitas.
c. Analisis Aspek visual dan Estetika
Analisis visual dan estetika direncanakan untuk mengidentifikasi kualitas
pandangan (view), titik fokus (focal point), koridor visual, serta hubungan antara
16
bangunan candi dan lanskap sekitarnya. Analisis ini bertujuan menjaga keterbacaan
visual candi sebagai elemen utama kawasan. Menurut Simonds & Starke (2006)
dalam Landscape Architecture: A Manual of Environmental Planning and Design,
analisis visual penting untuk mempertahankan karakter ruang serta memperkuat
identitas kawasan melalui komposisi lanskap yang tepat. Hasil analisis visual akan
menjadi dasar dalam penataan vegetasi, ruang terbuka, serta pengendalian elemen
yang berpotensi mengganggu tampilan candi.
d. Analisis Aspek Sejarah dan Budaya
Analisis aspek sejarah dan budaya dilakukan untuk memahami nilai historis,
makna simbolik, serta regulasi yang mengatur pelestarian Candi Bahal I sebagai
bagian dari kompleks percandian Padang Lawas. Analisis ini mencakup identifikasi
zona inti, zona penyangga, serta batasan intervensi desain yang diperbolehkan.
Mengacu pada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 tentang
Cagar Budaya, pengembangan kawasan cagar budaya harus memperhatikan prinsip
pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan secara berkelanjutan. Hasil analisis
ini akan menjadi batasan utama dalam menentukan tingkat intervensi desain agar
tidak merusak nilai autentisitas situs.
e. Analisis Aspek Sosial dan Legalitas
Analisis aspek sosial dilakukan untuk memahami karakteristik masyarakat,
pola interaksi sosial, persepsi terhadap kawasan, serta potensi dan konflik yang
mungkin muncul akibat pengembangan. Kajian sosial dalam perencanaan kawasan
penting dilakukan karena ruang tidak hanya dipahami sebagai entitas fisik, tetapi
juga sebagai ruang sosial yang diproduksi dan dipengaruhi oleh aktivitas
masyarakat (Lefebvre 1991). Selain itu, partisipasi dan persepsi masyarakat
menjadi faktor kunci dalam keberhasilan perencanaan kawasan, terutama pada
kawasan yang memiliki nilai budaya dan sejarah (Carmona et al. 2010). Analisis
aspek sosial dalam penelitian ini dilakukan melalui wawancara mendalam kepada
masyarakat sekitar dan penyebaran kuesioner kepada pengunjung untuk
mengidentifikasi kebutuhan, preferensi, serta tingkat penerimaan terhadap rencana
pengembangan kawasan.
Analisis aspek legalitas dilakukan untuk memastikan bahwa rencana
pengembangan kawasan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku, khususnya terkait pelestarian cagar budaya dan penataan ruang. Kawasan
percandian sebagai bagian dari warisan budaya dilindungi oleh Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, yang mengatur
perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatannya. Selain itu, perencanaan
kawasan juga harus mengacu pada ketentuan dalam Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang yang mengatur
kesesuaian pemanfaatan ruang dengan rencana tata ruang wilayah. Oleh karena itu,
analisis legalitas dalam penelitian ini dilakukan melalui telaah dokumen peraturan
perundang-undangan, dokumen tata ruang, serta kebijakan teknis terkait
pengelolaan kawasan.
f. Sintesis
Tahap sintesis merupakan proses pengintegrasian seluruh hasil analisis aspek
fisik, biofisik dan lingkungan, visual dan estetika, serta sejarah dan budaya untuk
merumuskan arahan pengembangan kawasan Candi Bahal I. Pada tahap ini, potensi
17
dan permasalahan yang telah diidentifikasi sebelumnya dikaitkan satu sama lain
guna menghasilkan solusi perancangan yang komprehensif dan kontekstual.
Sintesis dilakukan dengan mempertimbangkan keseimbangan antara kebutuhan
pelestarian nilai sejarah dengan pengembangan fungsi wisata budaya secara
berkelanjutan. Hasil sintesis direncanakan berupa arahan zonasi kawasan yang
mencakup pembagian zona inti, zona penyangga, dan zona pelayanan, pengaturan
sistem sirkulasi pengunjung yang terkendali, penataan vegetasi yang mendukung
kualitas visual serta perlindungan situs, serta penempatan fasilitas pendukung yang
tidak mengganggu keaslian kawasan. Selain itu, hasil analisis daya dukung kawasan
akan diintegrasikan dalam penentuan kapasitas kunjungan dan pengaturan ruang
agar tekanan terhadap situs tetap berada dalam batas yang aman. Tahap sintesis ini
menjadi dasar dalam penyusunan konsep desain lanskap yang responsif terhadap
kondisi tapak sekaligus mendukung prinsip pelestarian dan keberlanjutan kawasan
Candi Bahal I.
Desain
Tahap desain merupakan lanjutan dari proses inventarisasi, analisis, dan
sintesis yang mengacu pada tahapan perencanaan lanskap menurut Gold. Setelah
dilakukan evaluasi dan penilaian kesesuaian tapak, hasil analisis aspek fisik,
biofisik dan lingkungan, visual, serta sejarah dan budaya kawasan Cagar Budaya
Candi Bahal I diterjemahkan ke dalam konsep pengembangan yang terarah. Tahap
ini meliputi perumusan konsep ruang, zonasi kawasan, sistem sirkulasi, serta
penentuan fasilitas pendukung yang sesuai dengan karakter wisata budaya. Konsep
tersebut kemudian dituangkan dalam rencana tapak (site plan) yang
menggambarkan hubungan fungsi ruang dan pengaturan kapasitas kawasan
berdasarkan hasil analisis daya dukung, sehingga rancangan tetap mendukung
pelestarian dan keberlanjutan kawasan. Sejalan dengan itu, Simonds dan Starke
(2006) menekankan bahwa desain lanskap kawasan bersejarah harus
memperhatikan keterpaduan antara pelestarian nilai budaya, kenyamanan
pengunjung, serta keberlanjutan lingkungan. Konsep desain pada penelitian ini
disusun melalui pembagian ruang kawasan yang terdiri dari zona inti cagar budaya,
zona penyangga, dan zona pendukung. Pengaturan jalur pergerakan pengunjung,
penataan vegetasi yang mendukung pelestarian dan penguatan fungsi, serta
peningkatan tampilan estetika kawasan yang tetap menjaga nilai sejarah dan makna
budaya. Tahap ini lalu dikembangkan hingga preliminary design dan master plan
berbentuk design development sebagai pedoman desain lanskap kawasan.
3.4 Batasan Penelitian
Penelitian ini dibatasi pada penyusunan desain lanskap kawasan Cagar
Budaya Candi Bahal I berdasarkan kondisi eksisting tapak. Lingkup penelitian
mencakup inventarisasi dan analisis kondisi fisik, visual, serta nilai sejarah kawasan,
yang kemudian diterjemahkan ke dalam konsep dan rancangan desain kawasan
hingga tingkat master plan dan gambar teknis dasar. Luaran penelitian berupa peta
dasar yang memuat hasil inventarisasi serta analisis–sintesis, dilanjutkan dengan
perumusan konsep dan rencana pengembangan. Luaran juga mencakup
pengembangan tata ruang beserta keterhubungannya, rencana desain, gambar
tampak dan potongan, perspektif dan ilustrasi 3D, animasi 3D, hingga penyusunan
Detail Engineering Design dan planting plan. Perancangan difokuskan pada upaya
18
pelestarian nilai sejarah dan budaya candi, penguatan fungsi kawasan melalui
penataan ruang dan fasilitas pendukung, serta pengelolaan ruang sekitar candi.
Penelitian ini tidak mencakup tahap pelaksanaan konstruksi maupun evaluasi pasca
pembangunan.
IV
RENCANA ANGGARAN BIAYA
Anggaran biaya yang dibutuhkan untuk menjalankan penelitian ini adalah
sebesar Rp22.038.000 (dua puluh dua juta tiga puluh delapan ribu rupiah).
Anggaran ini mencakup biaya kegiatan persiapan, observasi, hingga pekerjaan
akhir. Satuan harga menggunakan dasar Satuan Biaya IPB (SBI) tahun 2023.
Rincian rencana anggaran biaya tercantum pada Tabel 4.
Tabel 4 Rencana anggaran biaya penelitian
No
Kegiatan
Vol Satuan
1.
2.
3.
Persiapan
a. Pencetakan proposal
b. ATK dan perlengkapan
survei
c. Sewa drone +Jasa
Observasi Lapang
a. Tiket pesawat Jakarta-Medan
(pulang pergi)
b. Transportasi (pulang-pergi
Medan-Padang Lawas)
c. Sewa Mobil+Driver+BBM
d. Penginapan
e. Konsumsi
f. Ongkos harian
g. Cinderamata responden
h. Tiket masuk Candi Bahal I
Pekerjaan Akhir
a. Pencetakan laporan akhir
Total
Harga
Satuan
(Rp)
Jumlah
(Rp)
300.000
100.000
1
5
Paket
Eks
300.000
20.000
1
Hektar
7.000.000 7.000.000
1
Tiket
3.808.000 3.808.000
1
Paket
1.400.000 1.400.000
4
3
6
6
5
4
Hari
Malam
Hari
Hari
Paket
Tiket
1.411.000
350.000
100.000
41.000
100.000
10.000
5.644.000
1.400.000
600.000
246.000
500.000
40.000
5
Eks
200.000
1.000.000
22.038.000
Catatan: Satuan harga yang digunakan didasarkan atas Satuan Biaya IPB (SBI) Tahun 2023
19
DAFTAR PUSTAKA
Badan Pusat Statistik. 2023. Statistik pariwisata Indonesia 2023. Jakarta (ID): Badan
Pusat Statistik.
Bi H, Nasir NBM. 2024. Research on rural landscape design from the perspective of
intangible cultural heritage. Int J Educ Humanit. 14(2):45–52.
doi:10.54097/ieh.v14i2.24245
Booth NK. 1983. Basic elements of landscape architectural design. Illinois (IL):
Waveland Press.
Boullón R. 1985. Planificación del espacio turístico. México: Trillas.
Carmona, M., Heath, T., Oc, T., & Tiesdell, S. 2010. Public places, urban spaces:
The dimensions of urban design (2nd ed.). Architectural Press.
Cifuentes M. 1992. Determining visitor carrying capacity in protected areas.
Turrialba (CR): CATIE.
Francioni F. 2008. The human dimension of international cultural heritage law: an
introduction. Eur J Int Law. 19(1):1–9. doi:10.1093/ejil/chn001.
Gold SM. 1980. Recreation planning and design. New York (US): McGraw-Hill.
Guest G, Bunce A, Johnson L. 2006. How many interviews are enough? An
experiment with data saturation and variability. Field Methods. 18(1):59–82.
doi:10.1177/1525822X05279903.
Gumelar GK, Rully R. 2022. Evaluasi kebijakan pelestarian zonasi dan cagar budaya
di Kawasan Dataran Tinggi Dieng. J Tek Sipil Arsit. 27(1):1–10.
Hasibuan M. 2025. Mengungkap potensi pariwisata Candi Bahal: antara warisan
budaya dan tantangan pengembangan. J Ilmu Pariwisata Kebudayaan. 11(1).
International Federation of Library Associations and Institutions. 2023. Preserving
cultural heritage. Den Haag (NL): IFLA.
International Council on Monuments and Sites. 1994. The Nara document on
authenticity. Paris (FR): ICOMOS.
Kemendikbudristek. 2022. Data pokok kebudayaan: kawasan percandian Padang
Lawas. Jakarta (ID): Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan
Teknologi. Available from: https://dapobud.kemdikbud.go.id
Lefebvre H. 1991. The production of space. Oxford (UK): Blackwell Publishing.
Marshall MN. 1996. Sampling for qualitative research. Fam Pract. 13(6):522–525.
doi:10.1093/fampra/13.6.522.
Martinez V. 2012. New strategies for cultural tourism planning: quality and creativity
as tools for development. Paris (FR): ICOMOS 17th General Assembly.
Patton MQ. 2002. Qualitative research and evaluation methods. 3rd ed. Thousand
Oaks (US): Sage Publications.
20
Rahmat K. 2021. Pelestarian budaya melalui pemanfaatan pariwisata berkelanjutan.
J Pariwisata Terapan. 5(2):123–134. doi:10.22146/jpt.58505
Republik Indonesia. 2007. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun
2007 tentang Penataan Ruang. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2007 Nomor 68.
Republik Indonesia. 2010. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun
2010 tentang Cagar Budaya. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010
Nomor 130.
Schmitz MF, Herrero-Jauregui C. 2021. Cultural landscape preservation and socialecological sustainability. Sustainability. 13(5):2593. doi:10.3390/su13052593
Simonds JO, Starke BW. 2006. Landscape architecture: a manual of site planning
and design. New York (US): McGraw-Hill.
Suseto S. 2010. Keberlanjutan Padang Lawas, Sumatera Utara: tinjauan gaya seni
bangun, seni arca dan latar keagamaan [tesis]. Depok (ID): Universitas
Indonesia.
Stephenson L. 2023. Cultural heritage: its significance and preserving. Anthropology.
11:321. doi:10.35248/2332-0915.23.11.321.
Tran VS. 2025. Community landscape design from the perspective of architectural
heritage conservation: a case study in Hoi An, Quang Nam. J Resilient Urban
Sustain Des.
UNESCO. 1972. Convention concerning the protection of the world cultural and
natural heritage. Paris (FR): UNESCO.
UNESCO. 2011. Recommendation on the historic urban landscape. Paris (FR):
UNESCO.
UNESCO. 2015. Policy for the integration of a sustainable development perspective
into the processes of the World Heritage Convention. Paris (FR): UNESCO.
UNWTO. 2004. Indicators of sustainable development for tourism destinations: a
guidebook. Madrid (ES): World Tourism Organization.
UNWTO. 2018. Tourism and culture synergies. Madrid (ES): World Tourism
Organization.
Van der Ryn S, Cowan S. 2007. Ecological design. 10th anniversary ed. Washington
(US): Island Press.
World Tourism Organization. (2004). Indicators of sustainable development for
tourism destinations: A guidebook. Madrid, Spain: World Tourism
Organization.
You L, Liu M, Ji T, Wu X, Li Y. 2025. Design reflections on the integrated
development of rural cultural and ecological resources in China. Humanit Soc
Sci Commun. 12:1294. doi:10.1057/s41599-025-03233-8
21
LAMPIRAN
Lampiran 1 Daftar pertanyaan wawancara penelitian
PERTANYAAN WAWANCARA “DESAIN LANSKAP
KAWASAN CANDI BAHAL I SEBAGAI UPAYA
PELESTARIAN DAN PENGUATAN FUNGSI WISATA
BUDAYA”
Perkenalkan, nama saya Terang Damaringrat. Saya adalah mahasiswa
semester 8 (Tingkat akhir) jurusan Arsitektur Lanskap yang saat ini sedang
melakukan penelitian untuk tugas akhir saya dengan judul “Desain Lanskap
Kawasan Candi Bahal I sebagai Upaya Pelestarian dan Penguatan Fungsi
Wisata Budaya”. Data wawancara ini akan digunakan sebagai bahan dari tugas
akhir saya (skripsi). Data serta jawaban dari Bapak/Ibu/Saudara/I akan dipastikan
kerahasiaannya dan data ini tidak akan dipublikasikan. Atas perhatiannya, Saya
ucapkan terima kasih.
Nama: ______________________________
Domisili: ____________________________
Umur: ______________________________
Jenis kelamin:
β–‘ Laki-laki β–‘ Perempuan
Jenis pertanyan: β–‘ Tipe 1
β–‘ Tipe 2
Catatan: Pertanyaan Tipe 1 akan diberikan untuk responden pihak BPCB II dan pertanyaan Tipe 2
kepada Masyarakat sekitar
Pendidikan terakhir:
a. SD
b. SMP
c. SMA/SMK
d. Sarjana/Sederajat
e. Pasca sarjana
f. Lainnya:___________
Pekerjaan:
a. Pelajar/Mahasiswa
b. PNS
c. TNI/POLRI
d. Wiraswasta
e. Lainnya:___________
22
TIPE 1
1. Apakah terdapat kendala dalam pengelolaan kawasan Candi Bahal I
saat ini?
____________________________________________________________
____________________________________________________________
____________________________________________________________
____________________________________________________________
____________________________________________________________
2. Bagaimana sistem zonasi atau pembagian ruang yang diterapkan saat
ini di kawasan candi?
____________________________________________________________
____________________________________________________________
____________________________________________________________
____________________________________________________________
____________________________________________________________
3. Apakah terdapat batasan tertentu dalam pengembangan fasilitas di
sekitar kawasan cagar budaya?
____________________________________________________________
____________________________________________________________
____________________________________________________________
____________________________________________________________
____________________________________________________________
23
4. Fasilitas kawasan apa yang masih perlu ditingkatkan untuk
mendukung fungsi wisata budaya tanpa mengganggu nilai sejarah?
____________________________________________________________
____________________________________________________________
____________________________________________________________
____________________________________________________________
____________________________________________________________
5. Bagaimana keterlibatan masyarakat sekitar dalam pengelolaan dan
pelestarian kawasan saat ini?
____________________________________________________________
____________________________________________________________
____________________________________________________________
____________________________________________________________
____________________________________________________________
6. Apakah terdapat rencana pengembangan kawasan dalam beberapa
tahun ke depan?
____________________________________________________________
____________________________________________________________
____________________________________________________________
____________________________________________________________
____________________________________________________________
24
TIPE 2
1. Sejauh mana masyarakat terlibat dalam aktivitas di kawasan Candi
Bahal I?
____________________________________________________________
____________________________________________________________
____________________________________________________________
____________________________________________________________
____________________________________________________________
2. Menurut Bapak/Ibu, apa manfaat keberadaan Candi Bahal I bagi
masyarakat sekitar?
____________________________________________________________
____________________________________________________________
____________________________________________________________
____________________________________________________________
____________________________________________________________
3. Apakah ada kendala atau dampak tertentu yang dirasakan masyarakat
dari aktivitas wisata di kawasan tersebut?
____________________________________________________________
____________________________________________________________
____________________________________________________________
____________________________________________________________
____________________________________________________________
25
4. Bagaimana pendapat Bapak/Ibu mengenai kondisi fasilitas dan
lingkungan kawasan saat ini?
____________________________________________________________
____________________________________________________________
____________________________________________________________
____________________________________________________________
____________________________________________________________
5. Apakah masyarakat memiliki harapan
pengembangan kawasan candi ke depan?
atau
usulan
terkait
____________________________________________________________
____________________________________________________________
____________________________________________________________
____________________________________________________________
____________________________________________________________
6. Menurut Bapak/Ibu, bagaimana cara agar kawasan Candi Bahal I
tetap terjaga dan tetap memberi manfaat bagi masyarakat?
____________________________________________________________
____________________________________________________________
____________________________________________________________
____________________________________________________________
____________________________________________________________
26
Lampiran 2 Kuesioner penelitian
KUESIONER PENELITIAN “DESAIN LANSKAP KAWASAN
CANDI BAHAL I SEBAGAI UPAYA PELESTARIAN DAN
PENGUATAN FUNGSI WISATA BUDAYA”
Perkenalkan, nama saya Terang Damaringrat. Saya adalah mahasiswa
semester 8 (Tingkat akhir) jurusan Arsitektur Lanskap yang saat ini sedang
melakukan penelitian untuk tugas akhir saya dengan judul “Desain Lanskap
Kawasan Candi Bahal I sebagai Upaya Pelestarian dan Penguatan Fungsi
Wisata Budaya”. Data kuesioner ini akan digunakan sebagai bahan dari tugas akhir
saya (skripsi), oleh karena itu saya memohon kepada Bapak/Ibu/Saudara/I untuk
dapat membantu saya mengisi dengan lengkap dan teliti kuesioner ini. Data serta
jawaban dari Bapak/Ibu/Saudara/I akan dipastikan kerahasiaannya dan data ini
tidak akan dipublikasikan. Atas perhatiannya, Saya ucapkan terima kasih.
Nama: ______________________________
Domisili: ____________________________
Umur: ______________________________
Jenis kelamin:
β–‘ Laki-laki β–‘ Perempuan
Pendidikan terakhir:
a. SD
b. SMP
c. SMA/SMK
d. Sarjana/Sederajat
e. Pasca sarjana
f. Lainnya:___________
Pekerjaan:
a. Pelajar/Mahasiswa
b. PNS
c. TNI/POLRI
d. Wiraswasta
e. Lainnya:___________
Penghasilan per bulan:
a. < Rp3 000 000
b. Rp 3 000 000 – Rp 10 000 000
c. Rp 10 000 000 – Rp 20 000 000
d. > Rp 20 000 000
27
Karakteristik Penggunaan Kawasan
1. Alasan anda mengunjungi tempat ini?
a. Rekreasi/wisata
b. Penelitian
c. Kerja
d. Ibadah
e. Belajar budaya
f. Lainnya__________________________________
2. Sudah berapa kali anda mengunjungi tempat ini?
a. 1 kali
b. 2 – 5 kali
c. 5 – 10 kali
d. >10 kali
3. Kapan biasanya anda mengunjungi kawasan ini?
a. Senin – jumat (hari kerja)
b. Sabtu – minggu (hari libur)
4. Pada saat apa biasanya and amengunjungi kawasan ini?
a. Pagi hari
b. Siang hari
c. Sore hari
d. Malam hari
5. Berapa lama waktu yang anda habiskan di kawasan ini?
a. <1 jam
b. 1 – 3 jam
c. >3 jam
Persepsi terhadap Kondisi Eksisting Kawasan
1. Bagaimana kondisi Kawasan Candi saat ini menurut Anda?
a. Sangat terawat
b. Terawat
c. Cukup terawat
d. Kurang terawat
e. Tidak terawat
2. Bagaimana kondisi fasilitas umum (toilet, parkir, papan informasi)?
a. Sangat memadai
b. Memadai
c. Cukup memadai
d. Kurang memadai
e. Tidak memadai
28
3. Bagaimana tingkat kenyamanan kawasan untuk dikunjungi?
a. Sangat nyaman
b. Nyaman
c. Cukup nyaman
d. Kurang nyaman
e. Tidak nyaman
4. Bagaimana kondisi kebersihan kawasan?
a. Sangat bersih
b. Bersih
c. Cukup bersih
d. Kurang bersih
e. Tidak bersih
5. Apakah harga tiket masuk Kawasan cukup terjangkau?
a. Sangat terjangkau
b. Terjangkau
c. Cukup terjangkau
d. Kurang terjangkau
e. Tidak terjangkau
Persepsi terhadap Pengembangan
1. Apakah kawasan sekitar Candi perlu dikembangkan lebih lanjut?
a. Sangat perlu
b. Perlu
c. Lumayan perlu
d. Tidak terlalu perlu
e. Tidak perlu
2. Apakah pengembangan kawasan sebaiknya tetap menjaga keaslian budaya?
a. Sangat perlu
b. Perlu
c. Lumayan perlu
d. Tidak terlalu perlu
e. Tidak perlu
3. Apakah pengembangan kawasan dapat meningkatkan ekonomi masyarakat
sekitar?
a. Sangat berpotensi
b. Cukup berpotensi
c. Lumayan berpotensi
d. Kurang berpotensi
e. Tidak berpotensi
29
4. Apakah akses menuju kawasan sudah memadai?
a. Sangat berpotensi
b. Cukup berpotensi
c. Lumayan berpotensi
d. Kurang berpotensi
e. Tidak berpotensi
Preferensi Pengembangan
1. Konsep pengembangan yang paling sesuai menurut Anda adalah:
a. Wisata edukasi sejarah
b. Wisata budaya
c. Wisata religi
d. Ekowisata
e. Gabungan beberapa konsep
2. Fasilitas yang paling dibutuhkan di kawasan adalah:
a. Pusat informasi budaya
b. Area istirahat/duduk
c. Jalur pedestrian yang tertata
d. Area UMKM
e. Ruang kegiatan budaya
f. Lainnya__________________________________
3. Elemen yang perlu diperkuat dalam pengembangan kawasan adalah:
a. Identitas budaya
b. Penataan lanskap dan vegetasi
c. Aksesibilitas dan sirkulasi
d. Fasilitas pendukung wisata
f. Lainnya__________________________________
Saran terhadap Pengembangan
Saran lain untuk pengembangan kawasan (jika ada):
____________________________________________________________
____________________________________________________________
____________________________________________________________
Download