Uploaded by common.user152018

CHAMPTRI Tata kelola & Regulasi STRATEGI PENGUATAN ISPO MELALUI ADAPTASI DATABASE RSPO UNTUK TRANS

advertisement
AUDITHINK BAK 15
POLITEKNIK KEUANGAN NEGARA STAN
“STRATEGI PENGUATAN ISPO MELALUI ADAPTASI
DATABASE RSPO UNTUK TRANSPARANSI DAN
AKUNTABILITAS INDUSTRI SAWIT NASIONAL”
TATA KELOLA & REGULASI
Disusun Oleh:
Maulia Putri Adisti
M.Nurfirdi Arba’ Putra
Maura Z Maulidia
IPB University
Bogor
2025
PENDAHULUAN
“Tidak satu pun permasalahan utama yang dihadapi umat manusia akan
terselesaikan tanpa akses informasi” - Christophe Deloire.
Pernyataan tersebut mengartikan bahwa tranparansi adalah sebuah media
yang sangat penting untuk menyelesaikan masalah yang ada dalam kehidupan.
Permasalahan global yang sedang marak terjadi saat ini yaitu terkait masalah
lingkungan, dimana penegakan dan antisipasinya belum maksimal termasuk di
Indonesia. Sebagai negara yang mempunyai lingkungan hijau yang sangat
melimpah, tentu isu lingkungan harus memiliki perhatian khusus. Salah satu
permasalahannya yakni terkait dengan perkebunan sawit. Menurut Outlook Kelapa
Sawit yang dipublikasikan oleh Kementerian Pertanian, menyampaikan bahwa
Indonesia merupakan produsen kelapa sawit terbesar di dunia dengan luas areal
sebesar 16,83 juta hektar. Produsen atau perusahaan kelapa sawit tersebut tidak
terlebih dari yang namanya sertifikasi seperti Indonesian Sustainable Palm Oil
(ISPO) dan juga Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).
Berdasarkan definisinya, ISPO merupakan kebijakan pemerintah Indonesia
yang dibentuk melalui Peraturan Presiden No. 44 Tahun 2020, sedangkan RSPO
merupakan inisiatif multi-pihak global yang berdiri sejak 2004 dan bersifat sukarela.
Perbedaan mendasar antara keduanya terletak pada orientasi dan kewenangan,
ISPO berfungsi sebagai instrumen regulasi nasional, sehingga seluruh perusahaan
sawit yang beroperasi di Indonesia wajib mengikuti standar ini. Walaupun demikian,
investigasi lapangan mendapati bahwa ekspansi kelapa sawit di sejumlah wilayah
seperti Papua dan Kalimantan Tengah, seringkali melanggar standar keberlanjutan
meskipun sudah memiliki klaim kepatuhan terhadap ISPO (Mongabay Indonesia &
Kaoem Talapak. 2023).
Salah satu hal yang melatarbelakangi hal tersebut yaitu publikasi terhadap
hasil audit ISPO masih dianggap sebagai data internal perusahaan dan untuk
kepentingan pemerintah saja. Grievance Independent milik ISPO tidak terbuka
layaknya RSPO yang memiliki sistem pengaduan yang dapat diakses oleh publik.
Bagi pelapor, mereka akan mudah memantau layaknya sistem yang dapat
berkomunikasi dua arah. ISPO perlu mulai mengimplementasikan sistem
Grievance Independent agar sertifikasi ISPO tidak hanya berlaku sebagai label
hijau saja, tetapi benar-benar mempertanggungjawabkan terkait dampak dan
kelestarian alamnya.
PEMBAHASAN
Analisis sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO)
Sistem audit ISPO menganut tujuh komponen penilaian yang harus
dipenuhi oleh perusahaan yang akan diberikan sertifikasi serta oleh petani kecil di
masa depan, yaitu: 1) Kepatuhan terhadap izin usaha yang sah, 2) Pelaksanaan
pengelolaan perkebunan berdasarkan Good Agricultural Practices (GAP), 3)
Melindungi hutan primer dan lahan gambut, 4) Melaksanakan dan memantau
pengelolaan
lingkungan
(misalnya,
melindungi
keanekaragaman
hayati,
pengelolaan limbah, dan pencegahan serta mitigasi kebakaran), 5) Menunjukkan
tanggung jawab terhadap karyawan, dan 6) Berkontribusi pada pemberdayaan
sosial dan ekonomi masyarakat, 7) Komitmen terhadap perbaikan berkelanjutan
dalam produksi minyak sawit yang berkelanjutan (Hidayat dkk, 2018).
Tujuh komponen yang dianut oleh ISPO tersebut, berdasarkan kriteria dan
peraturan lebih rinci yang dikumpulkan dari peraturan kelapa sawit yang ada di lima
Kementerian berbeda; Kementerian Pertanian, Lingkungan Hidup dan Kehutanan,
Kementerian Agraria dan Tata Ruang, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi,
serta Kementerian Kesehatan. Dalam prinsipnya, ISPO mengikuti Peraturan
Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2020 tentang
Penyelenggaraan Sertifikasi Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia.
Adapun proses dalam mendapatkan sertifikasi ISPO tersebut terdiri dari beberapa
tahapan (Tabel 1).
Tabel 1. Proses sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO)
No
Tahap
Kegiatan
Keterangan
Pemohon
mengajukan
11.
.
Permohonan
permohonan
sertifikasi kepada
lembaga sertifikasi
terakreditasi.
Formulir permohonan
diisi, data umum
organisasi disampaikan.
Lembaga
sertifikasi
melakukan
22.
Audit Kecukupan
pemeriksaan
dokumen dan
kesiapan
Memastikan dokumen
legalitas, manajemen, dan
persyaratan terpenuhi.
organisasi sebelum
audit lapangan.
Verifikasi ke
lapangan untuk
33.
Audit Lapangan
Tahap 1
Audit lapangan harus
menilai kesesuaian dilakukan dalam jangka
pelaksanaan
waktu paling lama 3
terhadap standar
bulan sejak perjanjian.
ISPO.
Hasil audit
dianalisis dan
44.
Evaluasi dan
diputuskan apakah
Keputusan Sertifikasi
organisasi layak
mendapat
sertifikat.
Sertifikat ISPO
55. Sertifikasi/Penerbitan
diterbitkan kepada
organisasi jika
lolos audit.
Organisasi yang “lulus”
memenuhi semua
persyaratan akan
diterbitkan sertifikat
ISPO.
Sertifikat menjadi bukti
bahwa organisasi telah
mematuhi standar ISPO.
Audit berkala
66.
Survei/Audit
Pengawasan
untuk memastikan Memastikan kontinuitas
organisasi tetap
kepatuhan dan perbaikan
memenuhi standar
berkelanjutan.
setelah sertifikasi.
Organisasi
mengikuti audit
77.
Audit
Ulang/Resertifikasi
ulang setelah masa
Merupakan tahap
berlaku sertifikat
pembaruan sertifikasi
habis atau bila
agar tetap valid.
terjadi perubahan
signifikan.
Sumber: https://mutuhijau.com/layanan/ispo/informasi-proses
Komparasi antara ISPO dan RSPO
Pada dasarnya, ISPO hadir sebagai inisiatif tandingan pemerintah
Indonesia terhadap RSPO (Hidayat dkk, 2018). Namun, sayangnya pemerintah
belum menerapkan poin poin lanjutan yang akan membantu menaikkan
kesejahteraan pekebun dan ekonomi sawit. Penelitian akan perbandingan antara
RSPO, ISPO dan MSPO menunjukkan bahwa ISPO mendapatkan nilai terendah.
Berdasarkan aspek pelabelan, tingkat kepercayaan, perlakuan adil bagi petani kecil,
kredit petani kecil, akses pasar petani dan penyelesaian konflik (Wulandari, A. dan
Nasution M, 2021).
Gambar 1. Tabel Hasil Penilaian Rantai Pasok RSPO, ISPO, dan MSPO
Sumber: “Comparison of Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO),
Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), and Malaysian S`ustainable Palm Oil
(MSPO)”, 2021
Dari tabel tersebut kita bisa melihat bahwa ISPO mempunyai total nilai
paling kecil dibandingkan dengan RSPO dan MSPO dalam indikator sistem rantai
pasok yang memuat pelabelan dan tingkat kepercayaan. RSPO mendapatkan 4 poin
di seluruh indikator tersebut karena sistemnya sangat jelas dan dapat kita lihat
melalui situs resmi milik RSPO.
Bahan baku yang digunakan oleh RSPO apabila
tercampur dengan yang non bersertifikasi akan diberi label “RSPO Mixed”. Dengan
begitu, RSPO menunjukkan kejelasan terkait produk yang dihasilkannya. ISPO
mendapatkan nilai terendah dalam pelabelan produk dan bahan baku yang
digunakan karena, tidak ada informasi kejelasan mengenai pelabelan hanya saja
tersertifikasi ISPO. Dengan begitu, ISPO juga mendapatkan nilai terendah dalam
tingkat kepercayaan. Dalam sebuah penelitian ditemukan bahwa pada akhirnya
perbedaan signifikan antara RSPO dan ISPO merupakan dimasukkannya arahan
mengenai praktik bisnis dan manajemen perkebunan yang memerlukan komitmen
terhadap transparansi yang bukan merupakan prinsip eksplisit ISPO (Rival, A Dkk.
2016).
Tiga poin yang ada dalam tabel tersebut mempunyai nilai yang sangat
penting bagi lembaga yang mendukung akan keberlanjutan. Melihat kondisi ISPO
seperti yang ada di tabel, seharusnya sudah ada perubahan yang bisa mengatasi
kondisi ISPO agar mempunyai sistem yang lebih baik. Seperti yang kita tahu ISPO
adalah sebagai tumpuan utama negara agar mempunyai ekosistem kebun sawit yang
baik di negara Indonesia sebagaimana yang sudah ditetapkan melalui Peraturan
Presiden No 44 Tahun 2020 tentang fokus pada perkebunan sawit saja yang
mendapatkan tindak lanjut menjadi Peraturan Presiden
No 16 Tahun 2025 tentang
perluasan yang mencakup perkebunan,industri hilir kelapa sawit dan usaha
bioenergi kelapa sawit.
Sistem rantai pasok yang tidak transparan tersebut terbukti dengan berbagai
kasus yang ada di Indonesia contohnya untuk sistem rantai pasok dan pelabelan
yang terjadi di Indonesia adalah masuknya minyak sawit dari perkebunan ilegal ke
dalam rantai pasok brand besar dan hal tersebut menyebabkan pelanggaran bagi
brand besar yang sudah berkomitmen untuk “anti deforestasi” contohnya ‘nestle’
dan ‘Unilever’. Menurut web the straitmites pada tahun 2019, telah teridentifikasi
pedagang minyak sawit yang berbasis di Asia, Golden Agri Resources (GAR) dan
Musim Mas Group membeli minyak dari dua pabrik yang mengambil buah sawit
dari perkebunan kecil milik pribadi di pulau sumatera. Perkebunan tersebut berada
di lingkungan konservasi dalam Suaka Margasatwa Singkil yang harus dilindungi
dan berada di lingkungan konservasi prioritas tinggi habitat satwa liar kritis bahkan
mempunyai julukan ibu kota orang utan dunia. Dua pabrik tersebut merupakan
pemasok brand besar seperti ‘nestle’ ataupun ‘Unilever’, baik secara langsung
maupun tidak langsung, sehingga bisa merusak citra brand besar yang sudah
membangun branding terkait mendukung keberlanjutan.
Kasus tersebut disebabkan kurangnya sistem transparansi rantai pasok
yang ada di Indonesia belum sepenuhnya terdeteksi oleh ISPO, karena ISPO yang
bertanggungjawab untuk memfasilitasi agar setiap petani sawit terdata dan bisa
terlaksana dengan sistem keberlanjutan. Namun masih banyak sekali petani kecil
yang belum dapat diakses eksistensinya sehingga menyebabkan seorang pemasok
dari petani kecil yang berdiri secara pribadi tidak bisa dilacak ataupun di track.
Selain itu, Pada tahun 2023 antara news mempublikasikan bahwa menurut
direktorat jenderal perkebunan, Kementan Prayudi Syamsuri menyebutkan dari 6,7
juta hektar kebun sawit
namun yang dipublikasikan oleh “Data ISPO Indonesia
For Publish” oleh Kementerian Pertanian, dinyatakan ada 60 ribu Ha yang sudah
terverifikasi oleh ISPO dari pekebun kecil yang ada di berbagai daerah dengan
rentang periode waktu Mei - Agustus 2024. Dalam rentang waktu kurang lebih satu
tahun hanya tersertifikasi sekitar 0,9% persen untuk data petani sawit.
Banyak sekali contoh perusahaan perusahaan besar dari luar negeri yang
pernah membatalkan kerja samanya terkait kerja sama produk sawit dengan
indonesia seperti Unilever, Kraft, dan Burger King. Nestlé dan Procter & Gamble
keduanya dikonfirmasi melakukan investigasi dan menghentikan pasokan dari
pemasok yang terkait dengan isu sawit yang tidak berkelanjutan di Indonesia karena
mereka menganggap sawit Indonesia tidak berkelanjutan. Hal tersebut dilandasi
peningkatan kesadaran lingkungan di negara maju dengan bertujuan untuk menjaga
lingkungan. Dengan demikian, dapat terlihat bagaimana lemahnya ISPO sehingga
belum bisa memenuhi standar global. Bahkan, Duta Besar Uni Eropa, Vincent
Guerend menyatakan bahwa ISPO yang hanya diterapkan oleh 15% produsen
minyak sawit indonesia tidak memenuhi standar global.” ISPO harus memikirkan
bahwa dari pernyataan tersebut menunjukan bahwa kepercayaan ISPO di mata
nasional itu lemah.
Pembuatan situs web ISPO.COM
Sebagai bentuk inisiatif dari Sustainable Palm Oil (SPO), ISPO memiliki
tujuan meningkatkan penghidupan dan lingkungan yang lebih baik. Sebagai upaya
perwujudan tujuan tersebut ISPO dapat melakukan berbagai komponen strategis.
Salah satunya ialah membentuk platform nasional dan provinsi untuk memastikan
transparansi dan untuk mempromosikan sawit berkelanjutan (Rival, A Dkk. 2016).
Pembuatan platform yang berisi data base terkait semua hal yang dikerjakan oleh
lembaga mulai dari yang sudah di sertifikasi, alur pelayanan, bahkan sampai
pengenalan biografi lembaga itu sendiri akan membuat banyak pihak merasa
terbantu, karena segala informasi tersampaikan dengan transparansi sehingga
kepercayaan publik terhadap ISPO meningkat.
Pembuatan sebuah website untuk menjadi akses basis data ISPO terkait
sertifikasi dan transparansi nama perusahaan yang berkomitmen kepada
keberlanjutan di Indonesia untuk petani sawit baik besar maupun kecil. Website
tersebut bernama sesuai dengan lembaga agar tidak sulit untuk di-bramding
kembali yaitu, “ISPO.COM” yang dimana di dalam website tersebut juga harus ada
beberapa fitur yang memadai agar transparansi dapat dilaksanakan.
Pertama yaitu pengenalan terkait lembaga ISPO sebagai sebuah profil dari
basis data tersebut yang dimana akan memperkenalkan ISPO ini dikelola oleh siapa.
Setelah fitur profil yang menunjukan latar belakang ISPO dalam situs web
ISPO.COM juga harus ada penjelasan terkait mekanisme audit yang dilaksanakan
oleh ISPO untuk para petani sawit, disini tercantum standar audit yang digunakan,
dan juga lembaga yang melakukan kerja sama bersama ISPO untuk menjadi auditor
nantinya. Fitur - fitur ini berfungsi sebagai pengenalan terlebih dahulu terkait
lembaga ISPO dan kredibilitas ISPO kepada orang awam di bidang sertifikasi
kebun sawit.
Selain fitur yang memperkenalkan ISPO harus ada juga transparansi di
dalam database tersebut karena transparansi adalah urgensi yang akan diselesaikan
oleh website ISPO.COM. Fitur yang ada dalam website tersebut adalah fitur “Basis
Data Sertifikasi”. Fitur tersebut akan berisikan perusahaan ataupun petani sawit
yang sudah diberikan sertifikasi oleh ISPO agar mengatasi transparansi rantai pasok,
selain itu juga harus ada data jelas sertifikasi lahan yang telah diaudit untuk seluruh
perusahaan ataupun petani beroperasi di bidang sawit, untuk memudahkan track di
setiap daerah ISPO juga harus membuat basis data sertifikasi ini per daerah mulai
dari Provinsi ke tingkat kota hingga tingkat kecamatan karena Indonesia
mempunyai berbagai daerah dan ditambahkan kontak bagi yang sudah disertifikasi
agar lebih mudah ntuk memastikan apabila ada suatu masalah.
Sebuah basis data website ada satu hal yang sangat penting yaitu sebagai
pelayanan, maka dari itu fitur yang ada dalam website basis data tersebut adalah
fitur permintaan untuk sertifikasi, contact person dan FAQ sebagai sarana
komunikasi 2 arah. Fitur tersebut sangat penting karena apabila tidak disediakan
akan banyak kebingungan dari perusahaan ataupun petani apabila jika tidak
disediakan ruang untuk bertanya. Bagian permintaan sertifikasi, akan langsung
masuk ke dalam sistem ISPO dan nanti apabila sudah memenuhi standar yang
sesuai dengan standar ISPO maka akan langsung dilaksanakan audit sertifikasi.
Seperti yang ada dalam kutipan yang di sampaikan oleh Internasional Trade Centre
(ITC) dan dikutip oleh jurnal Effectiveness of Self-Regulating Sustainability
Standards for the Palm Oil Industry oleh Etsuyo Michida yang mengatakan
Transparency of sustainability is needed for any product, in both agriculture and
industry (ITC, 2021).
Yang berarti tranpsransi keberlanjutan diperlukan untuk
setiap produk, baik di bidang pertanian maupun industri.
Gambar 2. Contoh Laman Utama Situs Web RSPO
Sumber : https://rspo.org/id/
Sebuah upaya basis data yang mirip sudah dilakukan oleh RSPO dan hal
tersebut membuat RSPO lebih dipercayai terkait kredibilitas sertifikasinya karena
mereka apabila mau tracking rantai pasok dan transparansi hasil audit dilaksanakan.
PENUTUP
Baik ISPO maupun RSPO pada dasarnya memiliki tujuan yang sama, yaitu
memastikan industri kelapa sawit dijalankan dengan cara yang ramah lingkungan
dan bertanggung jawab. Perbedaan yang ada ISPO lahir dari kebijakan pemerintah
Indonesia dan sifatnya wajib bagi semua pelaku usaha di dalam negeri, sedangkan
RSPO merupakan kesepakatan internasional yang bersifat sukarela dan lebih
ditujukan untuk memenuhi tuntutan pasar global. Jika dilihat dari sisi arah
kebijakan, keterbukaan data, dan pengaruh di pasar, RSPO dikenal lebih transparan
karena hasil auditnya bisa diakses publik dan diawasi oleh lembaga independen,
sementara ISPO masih perlu memperbaiki sistem pelaporan agar lebih terbuka dan
dipercaya. Walaupun begitu, ISPO punya kelebihan tersendiri karena memiliki
dasar hukum yang kuat dan menjangkau semua pelaku, termasuk petani kecil yang
sering terpinggirkan dari sertifikasi global.
Agar ISPO dapat meraih kepercayaan publik baik secara nasional maupun
internasional ISPO harus memaksimalkan terkait transparansi yang ada dalam
sistem mereka. Transparansi adalah sebuah metode agar memperkuat kredibilitas
dan akuntabilitas kepada khalayak publik. Maka dari itu, salah satu upaya untuk
mencapai hal tersebut dengan pembuatan media basis data yang dapat diakses oleh
semua orang akan menjadi solusi yang konkret agar semua informasi dan
transparansi data khususnya rantai pasok,pelabelan dan sertifikasi tercapai ke
semua orang.
DAFTAR PUSTAKA
Cramb, R., & McCarthy, J. F. (2020). The Oil Palm Complex: Smallholders,
Agribusiness and the State in Indonesia and Malaysia.
Choiruzzad, S. A. B., Tyson, A., & Varkkey, H. (2021). The ambiguities of
Indonesian Sustainable Palm Oil certification: Internal incoherence, governance
rescaling and state transformation. Asia Europe Journal, 19(2), 189–208.
https://doi.org/10.1007/s10308-020-00593-0
Hidayat, N. K., Offermans, A., & Glasbergen, P. (2018). Sustainable palm oil as a
public responsibility? On the governance capacity of Indonesian Standard for
Sustainable Palm Oil (ISPO). Agriculture and Human Values, 35(1), 223–
242. https://doi.org/10.1007/s10460-017-9816-6
Mongabay Indonesia, & Kaoem Telapak. (2023). Di antara janji kesejahteraan dan
dampak sosial lingkungan: Sebuah penelusuran jurnalistik mengenai industri sawit
di Indonesia. Mongabay/ Kaoem Telapak.
Reuters. (2024, November 11). Nestlé, P&G investigate palm oil sourcing after
green group’s Indonesia deforestation report. Reuters. Retrieved from
https://www.reuters.com/business/environment/nestle-pg-investigate-palm-oilsourcing-after-green-groups-indonesia-deforestation-report/
Hadi, S., Bakce, D., Muwardi, D., Yusri, J., & Septya, F. (2023). Strategi percepatan
sertifikasi ISPO di perkebunan kelapa sawit swadaya. Analisis Kebijakan Pertanian,
21(1), 21–42. https://doi.org/10.21082/akp.v21n1.2023.21-42
Kementerian Kehutanan. (2025, Maret 21). Hutan dan deforestasi Indonesia tahun
2024 [Siaran pers]. Diakses dari https://www.kehutanan.go.id/news/article-10
Kementerian Pertanian Republik Indonesia. (2024, Agustus). Data sertifikasi
ISPO Indonesia update triwulan II tahun 2024 [Dataset]. Direktorat Jenderal
Perkebunan, Kementerian Pertanian RI.
Pemerintah Republik Indonesia. (2020). Peraturan Presiden Republik Indonesia
Nomor 44 Tahun 2020 tentang Sistem Sertifikasi Perkebunan Kelapa Sawit
Berkelanjutan Indonesia. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2020
Nomor 75.
Pemerintah Republik Indonesia. (2025). Peraturan Presiden Republik Indonesia
Nomor 16 Tahun 2025 tentang Pengelolaan Dana Perkebunan Kelapa Sawit.
Diakses
dari
https://perpajakan.ddtc.co.id/id/sumber-hukum/peraturanpusat/peraturan-presiden-16-tahun-2025
Suryaningsih, A., Kristanti, D., & Nugroho, T. B. (2023). Expansion of Oil Palm
Plantations and Social Change: Case Study of Pelalawan District, Riau. Journal of
Social Science, 4(1), 45–56. https://doi.org/10.46799/jss.v4i1.513
Stockholm Environment Institute. (2024, October 10). Indonesian palm oil exports
and deforestation. SEI. https://www.sei.org/features/indonesian-palm-oil-exportsand-deforestation/
Stockholm Environment Institute (SEI) & Trase. (2023). Indonesian palm oil
exports and deforestation. https://www.sei.org/features/indonesian-palm-oilexports-and-deforestation
United Nations Development Programme (UNDP) Indonesia. (2023). The SECOUNDP journey for sustainable palm oil in Indonesia: Building strong shared
visions
of
success
[Impact
brief].
UNDP
Indonesia.
https://www.undp.org/indonesia/publications/sustainable-palm-oil-spo-initiative
Wulandari, A., & Nasution, M. A. (2021). Perbandingan Roundtable on Sustainable
Palm Oil (RSPO), Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), dan Malaysian
Sustainable Palm Oil (MSPO). Jurnal Penelitian Kelapa Sawit, 29(1), 35–48.
Download