Uploaded by common.user151669

Pengaruh Insentif PPh 21 DTP terhadap Beban Pajak & Kepuasan Wajib Pajak

advertisement
Nama : Andi Nurhidaya Syam
NIM
: 90400123013
Kelas : Akuntansi D
Analisis Pengaruh Insentif PPh 21 Ditanggung Pemerintah (DTP) terhadap Beban
Pajak Karyawan dan Kepuasan Wajib Pajak Orang Pribadi
Penelitian ini menguraikan perbedaan pengaruh tiga metode perhitungan PPh 21 (nett,
gross, gross-up) terhadap beban pajak perusahaan dan karyawan. Metode gross meningkatkan
potongan dari gaji karyawan sehingga menambah beban individu, sedangkan metode nett
menambah beban perusahaan tanpa menurunkan laba kena pajak. Sebaliknya, metode grossup dinilai lebih efisien karena memungkinkan biaya pajak diperlakukan sebagai beban yang
dapat mengurangi pajak badan, sekaligus menjaga penghasilan karyawan tetap utuh. Konsep
ini memiliki relevansi langsung dengan insentif PPh 21 Ditanggung Pemerintah (DTP) yang
juga mengalihkan beban pajak individu agar kesejahteraan mereka tetap terjaga (Fridayanti &
Widoretno, 2025). Metode gross-up dan skema DTP sama-sama menunjukkan bahwa
intervensi kebijakan dapat mengurangi beban pajak orang pribadi sekaligus mendukung
efisiensi perusahaan.
Artikel ini mengembangkan model spreadsheet berbasis Tarif Efektif Rata-rata (TER)
untuk mempermudah perhitungan PPh 21. Sistem ini menyederhanakan proses penghitungan
pajak bulanan dari Januari hingga November, serta memberikan penyesuaian tarif lebih tinggi
bagi wajib pajak yang tidak memiliki NPWP. Model spreadsheet ini juga mampu mendukung
metode gross-up, yang mirip dengan pola DTP di mana beban pajak karyawan dialihkan.
Dengan penerapan teknologi ini, perusahaan dapat memastikan penghitungan lebih akurat dan
sesuai regulasi baru (Simanihuruk, 2024). Penerapan spreadsheet menjadi sarana efektif untuk
memastikan insentif PPh 21 DTP berjalan optimal dalam mengurangi beban pajak individu.
Penelitian ini menyoroti perubahan tarif efektif pasca berlakunya UU HPP dan PP
58/2023 yang berpengaruh pada kewajiban pajak individu. Hasil menunjukkan wajib pajak
sering kali menghadapi perbedaan perhitungan sehingga muncul kewajiban membayar sisa
pajak tahunan atau menerima kompensasi atas kelebihan potongan. Kondisi ini dapat
menimbulkan kebingungan administrasi dan potensi ketidakpatuhan jika tidak ada sosialisasi
yang memadai. Insentif DTP berfungsi menekan beban tambahan tersebut, sehingga
penghasilan bersih individu tetap lebih stabil (Andjeliartini & Setyadi, 2024). DTP berperan
sebagai instrumen kebijakan yang mampu meminimalkan dampak ketidakpastian peraturan
baru terhadap pajak pribadi.
Penelitian ini membandingkan perhitungan PPh 21 dengan aturan lama PER16/PJ/2016 dan aturan baru PP 58/2023 serta PMK 168/2023. Hasilnya menunjukkan bahwa
pada periode Januari–November, pajak terutang lebih kecil menggunakan aturan baru,
sedangkan pada Desember lebih besar. Walaupun demikian, total pajak setahun yang dipotong
relatif sama. Jika dikaitkan dengan insentif DTP, maka perbedaan distribusi beban antar periode
dapat diatasi karena pemerintah menanggung sebagian pajak (Sumali & Lim, 2024). Insentif
DTP membantu menjaga konsistensi beban pajak orang pribadi di tengah transisi regulasi.
Artikel ini mengkaji kepatuhan KPU Kota Tomohon dalam menghitung dan
melaporkan PPh 21. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perhitungan PPh 21 telah dilakukan,
namun pelaporan masih belum sesuai ketentuan karena hanya dilakukan tahunan, tanpa laporan
bulanan maupun triwulanan. Ketidakpatuhan ini dapat menimbulkan potensi masalah
administrasi dan sanksi perpajakan. Jika pemerintah memberikan insentif DTP, efektivitasnya
tetap akan terganggu jika aspek pelaporan tidak dijalankan dengan benar (Kaindeh et al., 2025).
Keberhasilan insentif PPh 21 DTP sangat tergantung pada disiplin administrasi pelaporan oleh
lembaga atau perusahaan.
Penelitian ini secara khusus mengkaji insentif PPh 21 yang diberikan di masa pandemi
Covid-19. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan take home pay wajib pajak, yang
pada gilirannya meningkatkan kepatuhan dalam memenuhi kewajiban pajak. Dengan adanya
insentif, beban finansial pekerja menjadi lebih ringan sehingga kepercayaan terhadap kebijakan
pajak meningkat. Kondisi ini mencerminkan tujuan utama insentif DTP untuk menjaga daya
beli masyarakat di masa sulit (Rahmawati et al., 2023). Insentif PPh 21 DTP terbukti efektif
meningkatkan kepatuhan sekaligus mengurangi beban pajak orang pribadi.
Studi ini menyoroti dampak perubahan tarif PPh 21 tahun 2024 pada perusahaan IT PT.
UMS. Hasilnya menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada jumlah pajak yang dipotong
dari penghasilan karyawan, yang dapat memengaruhi kesejahteraan mereka. Perusahaan
dituntut untuk mengevaluasi strategi manajemen pajak agar tetap efisien dan tidak merugikan
karyawan. Jika insentif DTP diterapkan, maka sebagian besar beban tersebut dapat ditanggung
pemerintah, sehingga karyawan tidak mengalami penurunan pendapatan bersih (Arief et al.,
2024). Insentif PPh 21 DTP memberikan perlindungan terhadap kesejahteraan karyawan di
sektor industri yang terdampak perubahan tarif.
Penelitian ini menekankan penggunaan TER bulanan dan harian pada Januari–
November serta tarif progresif pada Desember sesuai PP 58/2023. Implementasi perhitungan
melalui aplikasi ebupot 21/26 membuat perusahaan langsung terhubung dengan server DJP.
Namun, keterbatasan kapasitas staf dan kurangnya pengalaman teknis sering menimbulkan
kekhawatiran. Jika beban pajak dialihkan kepada pemerintah melalui insentif DTP, karyawan
tetap dapat menerima penghasilan bersih yang layak walaupun administrasi teknis perusahaan
belum optimal (Sesuai et al., 2024). Efektivitas insentif DTP sangat dipengaruhi oleh kesiapan
perusahaan dalam mengelola sistem digital perpajakan.
Artikel ini menjelaskan detail kategori subjek dan objek PPh 21 serta memberikan
ilustrasi perhitungan kasus nyata pada karyawan tetap. Pemahaman mendalam terhadap
ketentuan pajak memungkinkan individu menghitung dengan benar dan memenuhi kewajiban
sesuai aturan. Hal ini penting agar manfaat kebijakan, termasuk insentif DTP, benar-benar
sampai pada pihak yang berhak. Dengan edukasi yang memadai, wajib pajak juga dapat
menghindari kesalahan perhitungan yang berpotensi merugikan (Sihombing et al., 2023).
Edukasi pajak adalah fondasi penting untuk mendukung efektivitas insentif PPh 21 DTP dalam
menurunkan beban pajak orang pribadi.
Penelitian ini menemukan bahwa PT ASP telah patuh dalam menghitung, menyetor,
dan melaporkan PPh 21 sesuai regulasi. Kepatuhan ini menjadi contoh penting karena
memastikan karyawan memperoleh perlindungan dan manfaat penuh dari sistem perpajakan.
Jika insentif DTP diterapkan, kepatuhan semacam ini menjamin karyawan benar-benar
menerima take home pay tanpa dipotong pajak tambahan. Dengan demikian, sinergi antara
kebijakan pemerintah dan disiplin perusahaan akan semakin kuat (Putri & Sucahyati, 2024).
Insentif PPh 21 DTP hanya dapat berjalan optimal jika kepatuhan administrasi perusahaan
terjaga.
Dari kesepuluh jurnal, terlihat bahwa kebijakan insentif PPh 21 Ditanggung Pemerintah
(DTP) memiliki dampak yang konsisten dalam mengurangi beban pajak orang pribadi,
menjaga stabilitas penghasilan bersih, dan meningkatkan kepatuhan pajak. Studi-studi
menunjukkan bahwa tanpa intervensi insentif, perubahan regulasi, penerapan tarif baru,
maupun kendala administrasi dapat menambah beban wajib pajak individu. Dengan adanya
insentif DTP, beban tersebut beralih kepada pemerintah sehingga karyawan tetap mendapatkan
take home pay penuh, yang pada gilirannya memperkuat daya beli masyarakat. Namun,
keberhasilan insentif ini juga sangat ditentukan oleh kepatuhan administrasi perusahaan,
kesiapan sistem digital, serta edukasi kepada wajib pajak agar dapat memahami aturan dengan
benar. Secara keseluruhan, insentif PPh 21 DTP tidak hanya meringankan beban individu,
tetapi juga berfungsi sebagai instrumen kebijakan fiskal untuk menjaga kesejahteraan
masyarakat dan keberlangsungan ekonomi nasional.
DAFTAR PUSTAKA
Andjeliartini, N. I., & Setyadi, B. (2024). Analisis Perubahan PPh 21 Pasca UU HPP dan PP
58/2023 untuk Wajib Pajak Pribadi. Jurnal Neraca: Jurnal Pendidikan Dan Ilmu
Ekonomi Akuntansi, 8(2), 149–162. https://doi.org/10.31851/neraca.v8i2.16591
Arief, D. R., Mardiani, I., Zuhdi, A., Pahala, I., & Wahono, P. (2024). Studi Komparasi :
Perbandingan Penghitungan Pph 21 Sebelum Dan Sesudah Penerapan Tarif Pph 21
Terbaru Pada PT. UMS. Jurnal Maneksi, 13(3), 725–733.
Fridayanti, D., & Widoretno, A. A. (2025). Analisis implementasi perencanaan pajak pph 21
terhadap beban pajak penghasilan badan. 4(2), 153–169.
Kaindeh, G. D., Kalangi, L., & Budiarso, N. S. (2025). Analisis perhitungan dan pelaporan
Pajak Penghasilan (PPh) pasal 21 pada Komisi Pemilihan Umum Kota Tomohon. Riset
Akuntansi Dan Portofolio Investasi, 3(1), 118–124. https://doi.org/10.58784/rapi.279
Putri, A. D. A. S., & Sucahyati, D. (2024). Implementasi Kepatuhan Wajib Pajak melalui
Penyetoran dan Pelaporan Pajak Penghasilan Pasal 21. Jurnal Pendidikan Tambusai,
8(58), 32673–32682.
Rahmawati, U., Hartono, H. R. P., & ... (2023). Analysis of Implementation of Income Tax
Incentives (PPh) Article 21 on the Level of Taxpayer Compliance at the Office of Tax
Services, Counseling and …. … Journal of Business …, 2(7), 721–742.
https://journal.formosapublisher.org/index.php/ijbae/article/view/5299%0Ahttps://journa
l.formosapublisher.org/index.php/ijbae/article/download/5299/5286
Sesuai, T. E. R., Nomor, P. P., Santioso, L., & Salim, A. (2024). Perhitungan Pph 21
Menggunakan Tarif Efektif Rata-Rata. 2(3), 754–765.
Sihombing, A. Y., Murti, G. T., Deska, A. R., & Divayanti, S. (2023). Analysis of Income
Tax (PPh) Article 21 Calculation: A Case Study of Income Tax Withholding on
Permanent Employees Income. Amnesty Jurnal Riset Perpajakan, 6(02), 157–160.
https://journal.unismuh.ac.id/index.php/jrp-amnesty
Simanihuruk, T. (2024). Model Spreadsheet Perhitungan PPh 21 Karyawan Tetap Menurut
Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2023. Jurnal Publikasi Pengabdian Kepada
Masyarakat, 4(1), 7–12.
Sumali, C., & Lim, S. A. (2024). Analisis Pajak Penghasilan Pasal 21 Sebelum dan Sesudah
Penerapan Tarif Efektif Rata-Rata. BIP’s JURNAL BISNIS PERSPEKTIF, 16(2), 119–
136. https://doi.org/10.37477/bip.v16i2.638
Download