Uploaded by serinalia8

SAP Imunisasi Lengkap: Pentingnya untuk Bayi & Balita

advertisement
SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)
Pentingnya Imunisasi Lengkap
DISUSUN OLEH :
KELOMPOK K
Refni Oktaviani
2441312109
Memel Meiyuni
2441312140
Septri Annisa Azmi
2441312122
Serina Lia Oktaviani
2441312128
Nadya Arista Widya Fatin 2441312130
Nurul Qamaria
2441312145
Miftahul Rahmi
2441312127
Sri Visco
2441312125
Mustika Putri
2441312117
Pembimbing Akademik
Mohd. Jamil, S.Kp, M. Biomed
Pembimbing Klinik
Ns. Rita Syurianti, M.Kep
PROGRAM STUDI PROFESI NERS KEPERAWATAN
FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2025
SATUAN ACARA PENYULUHAN
Pokok Bahasan
: Imunisasi pada bayi dan balita
Sub Pokok Bahasan
: Pentingnya imunisasi lengkap pada bayi dan balita
Sasaran
: Ibu hamil, ibu yang memiliki bayi dan balita
Hari/Tanggal
: Selasa/ 04 Maret 2025
Waktu
: 10.00 - selesai
Tempat
: Musholla Kubung
A. Latar Belakang
Imunisasi merupakan salah satu upaya kesehatan masyarakat yang terbukti
efektif dalam mencegah berbagai penyakit menular, terutama pada anak usia
bayi dan balita. Imunisasi bekerja dengan cara membentuk sistem kekebalan
tubuh sehingga mampu melawan berbagai penyakit infeksi yang berbahaya.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan telah menetapkan
Program Imunisasi Nasional guna memastikan setiap anak mendapatkan
imunisasi dasar lengkap sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Imunisasi
dasar yang diberikan kepada bayi dan balita meliputi imunisasi Hepatitis B,
BCG, Polio, DPT-HB-Hib, Campak, dan Rubella.
Namun, meskipun manfaat imunisasi sangat besar, cakupan imunisasi
dasar lengkap di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan. Menurut
data Kementerian Kesehatan RI, dalam beberapa tahun terakhir cakupan
imunisasi dasar lengkap mengalami penurunan, terutama akibat pandemi
COVID-19 yang menghambat layanan kesehatan, serta kurangnya pemahaman
masyarakat tentang pentingnya imunisasi. Berdasarkan laporan Kementerian
Kesehatan tahun 2023, sekitar 1,5 juta balita di Indonesia tidak mendapatkan
imunisasi dasar lengkap. Angka ini menunjukkan adanya kesenjangan dalam
cakupan imunisasi yang perlu segera diatasi untuk mencegah kejadian luar
biasa (KLB) penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin (PD3I).
Berdasarkan data dari Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022,
cakupan imunisasi dasar lengkap nasional mencapai 79,5 persen, turun dari
angka 84,2 persen pada tahun 2019 sebelum pandemi. Beberapa provinsi
dengan cakupan imunisasi yang rendah di antaranya adalah Papua, Papua
Barat, dan Nusa Tenggara Timur dengan cakupan di bawah 60 persen.
Sementara itu, daerah perkotaan dengan akses layanan kesehatan yang baik
cenderung memiliki cakupan yang lebih tinggi dibandingkan dengan daerah
terpencil.
Rendahnya cakupan imunisasi di Indonesia disebabkan oleh berbagai
faktor. Banyak orang tua yang belum memahami pentingnya imunisasi dan
masih mempercayai mitos atau hoaks yang beredar di masyarakat. Selain itu,
beberapa daerah terpencil memiliki keterbatasan fasilitas kesehatan dan tenaga
medis, sehingga distribusi vaksin menjadi tidak merata. Ketakutan terhadap
efek samping imunisasi juga menjadi kendala, meskipun efek samping yang
umum terjadi hanya berupa demam ringan dan nyeri pada area suntikan.
Pandemi COVID-19 juga menyebabkan terganggunya layanan kesehatan
preventif, termasuk imunisasi dasar bagi balita.
Dampak dari ketidaklengkapan imunisasi sangat serius. Anak yang tidak
mendapatkan imunisasi berisiko lebih tinggi terkena penyakit seperti campak,
polio, dan difteri yang dapat menyebabkan komplikasi serius hingga kematian.
Selain itu, jika cakupan imunisasi rendah, maka kekebalan kelompok (herd
immunity) tidak terbentuk dengan baik, sehingga penyakit yang seharusnya
dapat dicegah masih dapat menyebar di masyarakat.
Oleh karena itu, diperlukan upaya peningkatan kesadaran masyarakat
tentang pentingnya imunisasi lengkap pada balita. Penyuluhan ini bertujuan
untuk memberikan edukasi kepada para orang tua dan pengasuh anak agar
memahami manfaat imunisasi, menghilangkan ketakutan terhadap vaksin,
serta mendorong mereka untuk memastikan anak-anak mereka mendapatkan
imunisasi sesuai jadwal. Dengan cakupan imunisasi yang optimal, diharapkan
angka kejadian penyakit menular dapat ditekan, dan kesehatan bayi dan balita
di Indonesia semakin terjaga.
Kemudian dari hasil wawancara kader imunisasi dan ibu yang memiliki
bayi dan balita di RW 05 sulit terlaksana secara menyeluruh karena berbagai
alasan seperti orang tua yang takut anak menjadi sakit setelah imunisasi,
suami yang melarang, dan kesibukan orang tua yang tidak bisa mengantarkan
anaknya.
B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Setelah dilakukan penyuluhan tentang pentingnya imunisasi lengkap pada
bayi dan balita, diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan Ibu hamil,
ibu yang memiliki bayi dan balita di wilayah RW 05 Kelurahan Limau
Manis.
2. Tujuan Khusus
a. Mampu mengetahui pengertian imunisasi
b. Mampu mengetahui tujuan dan manfaat imunisasi
c. Mampu mengetahui jenis dan efek samping imunisasi
d. Mampu mengetahui jadwal pemberian imunisasi dasar lengkap
C. MEDIA

Ppt + infokus

Leaflet
D. METODE

Ceramah

Tanya Jawab
E. MATERI
Materi yang disampaikan pada peserta antara lain :
1. Pengertian imunisasi
2. Tujuan imunisasi
3. Manfaat imunisasi
4. Jenis imunisasi dasar lengkap
5. Jadwal pemberian imunisasi dasar lengkap
F. PENJABARAN TUGAS
1. Penyaji
: Memberikan materi penyuluhan
2. Moderator
: Mengatur jalannya acara penyuluhan
3. Fasilitator
: Memfasilitasi jalannya penyuluhan
4. Observer
: Mengobservasi susunan acara dan job description agar
penyuluhan berlangsung lancar
5. Pembimbing : Memberikan bimbingan kepada mahasiswa sehingga acara
penyuluhan berlangsung lancar
G. PENGORGANISASIAN
1. Moderator
: Serina Lia Oktaviani, S.Kep
2. Penyaji
: Nadya Arista Widya F, S.Kep
3. Observer
: Memel Meiyuni, S.Kep
4. Fasilitator
: Refni Oktaviani, S.Kep
Septri Annisa Azmi, S.Kep
Nurul Qamaria, S.Kep
Miftahul Rahmi, S.Kep
Mustika Putri, S.Kep
5. Dokumentator : Sri Visco, S.Kep
6. Setting Tempat
Media
Peserta
Keterangan:
:Moderator
:Pemateri
:Fasilitator
:Peserta
:Observer
:Dokumentator
H. KEGIATAN PENYULUHAN
Tahap
Waktu
Kegiatan Penyuluhan
Kegiatan Peserta
Pembukaan
5 menit
- Memberi salam kepada
Mendengarkan
peserta
Penanggung
Jawab
Moderator
pembukaan yang
- Memperkenalkan diri
disampaikan oleh
- Menyampaikan tujuan
moderator
- Melakukan kontrak
waktu
Pelaksanaan
20 menit Penyampaian materi oleh
Mendengarkan
penyaji serta menggali
dan memberi
pengetahuan/pengalaman
umpan balik
audien mengenai:
terhadap materi
1. Pengertian imunisasi
Penyaji
yang disampaikan
2. Tujuan imunisasi
3. Manfaat imunisasi
4. Jenis imunisasi dasar
lengkap
5. Jadwal pemberian
imunisasi dasar
lengkap
Evaluasi
5 menit
Evaluasi hasil melalui
Tanya jawab
- Mengajukan
Moderator,
pertanyaan
fasilitator,
mengenai
observer
materi yang
belum
dipahami
- Menjawab
pertanyaan
yang telah
diajukan.
Penutup
5 menit
- Menyampaikan
Mendengarkan
Moderator,
kesimpulan
dan membalas
fasilitator
- Mengucapkan
salam
terimakasih atas
partisipasi peserta
- Memberikan salam
penutup
- Membagikan leaflet
I. EVALUASI
1. Evaluasi Struktural
a. Peserta hadir di Musholla Kubung
b. Penyelenggaraan penyuluhan dilakukan oleh mahasiswa praktik profesi
ners Unand bekerja sama dengan Pembimbing Akademik, Pembimbing
Klinik, dan Kepala RW, Kepala RT serta Kader RW 05 Kelurahan Limau
Manis
2. Evaluasi Proses
a. Peserta mendengarkan dengan baik terhadap materi yang disampaikan oleh
penyaji.
b. Peserta tidak meninggalkan tempat selama penyuluhan berlangsung.
c. Peserta terlihat aktif dalam kegiatan penyuluhan.
d. Moderator, penyuluh, fasilitator, observer dan peserta mampu menjalankan
fungsinya dan perannya dengan baik.
3. Evaluasi Hasil
a. Perserta mampu menjawab 4/5 pertanyaan

3/5 Peserta mampu menjelaskan kembali pengertian imunisasi

Peserta mampu menjelaskan kembali tujuan dan 4/6 manfaat imunisasi

Peserta mampu menjelaskan kembali jenis dan efek samping 4/6
imunisasi dasar lengkap

Peserta mampu menjelaskan kembali jadwal 4/6 imunisasi dasar
lengkap
Lampiran
Materi Penyuluhan
IMUNISASI PADA BAYI DAN BALITA
A. Pengertian Imnuisasi
Imunisasi merupakan usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak dengan
memasukkan vaksin kedalam tubuh. Agar tubuh membuat zat anti untuk merangsang
pembentukan zat anti yang dimasukkan kedalam tubuh melalui suntikan (misalnya vaksin
BCG, DPT dan campak) dan melalui mulut (misalnya vaksin polio). ( Maryanti Dwi.
2021)
B. Tujuan Imunisasi
Program imunisasi bertujuan untuk memberikan kekebalan pada bayi agar dapat
mencegah penyakit dan kematian bayi serta anak yang disebabkan oleh penyakit yang
sering berjangkit (Proverawati, 2017). Selain itu, tujuan pemberian imunisasi adalah
diharapkan anak menjadi kebal terhadap penyakit sehingga dapat menurunkan angka
morbiditas dan mortalitas serta dapat mengurangi kecacatan akibat penyakit yang dapat
dicegah dengan imunisasi (Alimul, 2019)
C. Manfaat Imunisasi
Imunisasi lengkap sangat penting untuk melindungi balita dari berbagai penyakit
serius yang dapat menyebabkan komplikasi berat, kecacatan, atau bahkan kematian.
Berikut adalah beberapa alasan utama mengapa imunisasi lengkap diperlukan: ( Maryanti
Dwi. 2021)
1.
Mencegah Penyakit Berbahaya
Imunisasi melindungi balita dari penyakit seperti difteri, pertusis (batuk rejan),
tetanus, polio, campak, rubella, pneumonia, meningitis, dan hepatitis. Penyakitpenyakit ini bisa berakibat fatal jika tidak dicegah sejak dini.
2. Meningkatkan Kekebalan Tubuh
Dengan vaksin, tubuh bayi membentuk sistem kekebalan yang lebih kuat terhadap
virus dan bakteri berbahaya. Ini membantu mengurangi risiko infeksi dan
mempercepat pemulihan jika terpapar penyakit.
3. Mencegah Wabah Penyakit
Imunisasi bukan hanya melindungi individu tetapi juga membantu mencegah
penyebaran penyakit dalam masyarakat. Jika cakupan imunisasi tinggi, risiko
wabah penyakit menular akan berkurang (kekebalan kelompok/herd immunity).
4. Menurunkan Angka Kematian Bayi dan Balita
WHO melaporkan bahwa imunisasi menyelamatkan jutaan nyawa setiap tahun
dengan mencegah penyakit yang berpotensi fatal. Anak-anak yang tidak
mendapatkan imunisasi berisiko lebih tinggi mengalami kematian akibat infeksi
yang sebenarnya bisa dicegah.
5. Efektif dan Aman
Vaksin yang diberikan sudah melalui penelitian dan uji klinis ketat oleh WHO dan
otoritas kesehatan sebelum digunakan. Efek samping biasanya ringan dan jauh lebih
kecil dibandingkan risiko terkena penyakit yang dicegah.
6. Menghemat Biaya Pengobatan
Pencegahan melalui imunisasi jauh lebih murah dibandingkan biaya pengobatan
jika anak terkena penyakit serius. Selain itu, imunisasi juga mencegah dampak
ekonomi akibat kehilangan produktivitas orang tua yang harus merawat anak sakit.
D. Jenis Imunisasi Dasar Lengkap
(Proverawati, 2017)
1.
BCG
Imunisasi BCG merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya
penyakit TBC yang berat sebab terjadinya penyakit TBC yang primer atau yang
ringan dapat terjadi walaupun sudah dilakukan imunisasi BCG.TBC yang berat
contohnya adalah TBC pada selaput otak, TBC milier pada seluruh lapangan paru,
atau TBC tulang.Vaksin BCG merupakan vaksin yang mengandung kuman TBC
yang telah dilemahkan.
Frekuensi pemberian imunisasi BCG adalah 1 dosis sejak lahir sebelum umur 3
bulan.Vaksin BCG diberikan melalui intradermal/intracutan. Efek samping
pemberian imunisasi BCG adalah terjadinya ulkus pada daerah suntikan,
limfadenitis regionalis, dan reaksi panas.
a.
Reaksi
: Bengkak, kemerahan pada lokasi suntikan dan timbul bekas
luka
b.
Pengobatan
: Dibiarkan saja sampai 7 hari kering
2. Hepatitis B
Imunisasi hepatitis B merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah
terjadinya penyakit hepatitis B. kandungan vaksin ini adalah HbsAg dalam bentuk
cair.Frekuensi pemberian imunisasi hepatitis B adalah 3 dosis.Imunisasi hepatitis
ini diberikan melalui intramuscular.
a. Reaksi
: Nyeri pada daerah suntikan dan timbul kemerahan
danbiasanya tidak diserta dengan demam
b. Pengobatan
3.
: Kompres dingin pada area suntik
Polio
Imunisasi polio merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya
penyakit poliomyelitis yang dapat menyebabkan kelumpuhan pada anak.
Kandungan vaksin ini adalah virus yang dilemahkan. Frekuensi pemberian
imunisasi polio adalah 4 dosis. Imunisasi polio diberikan melalui oral. Belum
ditemukan adanya efek samping imunisasi polio.
4.
Pentabio
Saat ini program pemerintah terbaru terkait pemberian imunisai adalah
penggunakaan vaksin kombinasi yang dikenal sebagai Vaksin Pentavalen.Vaksin
ini merupakan gabungan vaksin DPT-HB ditambah Hib.Sebelumnya kombinasi ini
hanya terdiri dari DPT dan HB (kita kenal sebagai DPT Combo). Sesuai dengan
kandungan vaksinnya, vaksin Pentavalen mencegah berberapa jenis penyakit, antara
lain Difteri, batuk rejan atau batuk 100 hari, tetanus, hepatitis B, serta radang otak
(meningitis) dan radang paru (pneumonia) yang disebabkan oleh kuman Hib
(Haemophylus influenzae tipe b). Vaksin pentavalen merupakan gabungan dari 5
jenis vaksin dalam satu sediaan. Kelima vaksin tersebut meliputi :
a.
Difteri –> Kuman yang menyebabkan penyakit difteri, menyerang salura
pernapasan, menimbulkan lapisan putih di tenggorokan dengan efek dapat
menyumbat saluran nafas, dan toksinnya dapat mengganggu kerja jantung.
b.
Pertusis –> kuman penyebab penyakit batuk rejan atau batuk 100 hari
dengan ciri khas batuk beruntung
c.
Tetanus –> kuman penyebab penyakit tetanus, yaitu kekakuan seluruh tubuh
termasuk otot pernapasan sehingga menyebabka kematian akibat gagal nafas
d.
Hepatitis B –> virus penyabab peradangan pada hati dimana keadaan
kronis dapat menyebabkan kerusakan hati (sirosis hepatis) dan kanker hati
(hepatoma)
e.
Haemophilus influenza tipe B –> kuman penyebab radang paru- paru
(pneumonia) dan radang otak (meningitis) terbanyak pada anak-anak
Vaksin Pentavalen diberikan saat anak berusia 2, 3 dan 4 bulan. Kemudian
dilanjutkan ketika anak berusia 1,5 tahun, yang kita kenal sebagai imunisasi
booster (lanjutan). Sebagaimana imunisasi lainnya, Imunisasi Pentavalen
bisa didapatkan secara gratis di semua Posyandu, Puskesmas atau fasilitas
kesehatan pemerintah lainnya.
 Reaksi
: Demam ringan, pembengkakan dan nyeri di tempat
suntikan selama 1-2 hari
 Pengobatan
5.
: Kompres dingin pada area suntik, dan obat penurun panas
DPT
Imunisasi DPT (Difteri, Pertusis, Tetanus) merupakan imunisasi yang
digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit difteri, pertusis dan tetanus.Vaksin
DPT ini merupakan vaksin yang mengandung racun kuman difteri yang telah
dihilangkan sifat racunnya, namun masih dapat merangsang pembentukan zat anti
(toksoid). Frekuensi pemberian imuisasi DPT adalah 3 dosis.Pemberian pertama
zat anti terbentuk masih sangat sedikit (tahap pengenalan) terhadap vaksin dan
mengaktifkan organ-organ tubuh membuat zat anti.Pada pemberian kedua dan ketiga
terbentuk zat anti yang cukup.Imunisasi DPT diberikan melalui intramuscular.
Pemberian DPT dapat berefek samping ringan ataupun berat.Efek ringan misalnya
terjadi pembengkakan, nyeri pada tempat penyuntikan, dan demam.Efek berat
misalnya terjadi menangis hebat, kesakitan kurang lebih empat jam, kesadaran
menurun, terjadi kejang, encephalopathy, dan syok. Reaksi dan penanganan sama
dengan imunisasi pentabio.
6.
Campak
Imunisasi campak merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya
penyakit campak pada anak karena termasuk penyakit menular.Kandungan vaksin ini
adalah virus yang dilema hkan.Frekuensi pemberian imunisasi campak adalah 1
dosis.Imunisasi campak diberikan melalui subkutan.Imunisasi ini memiliki efek
samping seperti terjadinya ruam pada tempat suntikan dan panas (Alimul, 2019).
a. Reaksi
: Biasanya tidak terdapat reaksi. Mungkin terjadidemam ringan
dan sedikit bercak merah pada pipidi bawah telinga pada hari ke 7-8 setelah
penyuntikan, atau pembengkakan pada tempatpenyuntikan
b. Pengobatan : Kompres dingin pada area suntik, dan obat penurun panas
E. Jadwal Imunisasi Lengkap Pada Balita
(Proverawati, 2017)
1.
BCG

Imunisasi BCG diberikan pada umur sebelum 3 bulan. namun dianjurkan
pemberian imunisasi BCG pada umur antara 0-12 bulan.

Dosis 0,05 ml untuk bayi kurang dari 1 tahun dan 0,1 ml untuk anak (>1 tahun).

Imunisasi BCG ulangan tidak dianjurkan.

Vaksin BCG tidak dapat mencegah infeksi tuberculosis, namun
dapat
mencegah komplikasinya.

Apabila BCG diberikan pada umur lebih dari 3 bulan, sebaiknya dilakukan uji
tuberkulin terlebih dahulu. Vaksin BCG diberikan apabila uji tuberkulin negatif.
2.
HB (Hepatitis B)
a.
Imunisasi hepatitis B-1 diberikan sedini mungkin (dalam waktu 12 jam) setelah
lahir.
b.
Imunisasi hepatitis B-2 diberikan setelah 1 bulan (4 minggu) dari imunisasi
hepatitis B-1 yaitu saat bayi berumur 1 bulan. Untuk mendapatkan respon imun
optimal, interval imunisasi hepatitis B- 2 dengan hepatitis B-3 minimal 2 bulan,
terbaik 5 bulan. Maka imunisasi hepatitis B-3 diberikan pada umur 3-6 bulan.
c.
Apabila sampai dengan usia 5 tahun anak belum pernah memperoleh imunisasi
hepatitis B, maka secepatnya diberikan imunisasi hepatitis B dengan jadwal 3 kali
pemberian.
3.
Hib (Haemophylus influenzae tipe b)
a.
Imunisasi hepatitis B-2 diberikan setelah 1 bulan (4 minggu) dari imunisasi
hepatitis B-1 yaitu saat bayi berumur 1 bulan. Untuk mendapatkan respon imun
optimal, interval imunisasi hepatitis B- 2 dengan hepatitis B-3 minimal 2 bulan,
terbaik 5 bulan. Maka imunisasi hepatitis B-3 diberikan pada umur 3-6 bulan.
b.
Kemudian dilanjutkan ketika anak berusia 1,5 tahun, yang kita kenal sebagai
imunisasi booster (lanjutan).
c.
Apabila sampai dengan usia 5 tahun anak belum pernah memperoleh imunisasi
hepatitis B, maka secepatnya diberikan imunisasi hepatitis B dengan jadwal 3
kali pemberian.
4.
Polio
a.
Terdapat 2 kemasan vaksin polio yang berisi virus polio -1, 2, dan
3. (1.OPV, hidup dilemahkan, tetes, oral.; 2.IPV, in-aktif, suntikan).
b.
Polio-0 diberikan saat bayi lahir sesuai pedoman PPI sebagai tambahan untuk
mendapatkan cakupan imunisasi yang tinggi.
c.
Untuk imunisasi dasar (polio-2, 3, 4) diberikan pada umur 2,4, dan 6 bulan,
interval antara dua imunisasi tidak kurang dari 4 minggu.
d.
OPV diberikan 2 tetes per-oral. IPV dalam kemasan 0,5 ml, intramuscular.
Vaksin IPV dapat diberikan tersendiri atau dalam kemasan kombinasi
(DPT/IPV)
5.
DPT(Difteri, Pertusis, Tetanus)
a.
Imunisasi DPT primer diberikan 3 kali sejak umur 2 bulan (DPT tidak boleh
diberikan sebelum umur 6 minggu) dengan interval 48 minggu. Interval terbaik diberikan 8 minggu, jadi DPT-1 diberikan pada umur
2 bulan, DPT-2 pada umur 4 bulan dan DPT- 3 pada umur 6 bulan.
b.
Dosis DPT adalah 0,5 ml, intramuskular, baik untuk imunisasi dasar maupun
ulangan.
c.
Vaksin DPT dapat diberikan secara kombinasi dengan vaksin lain yaitu
DPT/Hepatitis B dan DPT/IPV.
6.
Campak
Vaksin campak rutin dianjurkan diberikan dalam satu dosis 0,5 ml secara subkutan
dalam, pada umur 9 bulan. (IDAI, 2018).
DAFTAR PUSTAKA
Maulana, A. (2020). Peran Imunisasi dalam Mencegah Penyakit pada Anak. Jurnal
Kesehatan Masyarakat, 15(1), 23-30.
Hidayat, A. Aziz Alimul.2019.Pengantar Ilmu Kesehatan Anak.Jakarta: Salemba Medika.
IDAI. 2018. Pedoman Imunisasi Di Indonesia. Jakarta: Satgas Imunisasi.
Marimbi,Hanum. 2020. Tumbuh Kembang, Status Gizi, dan Imunisasi Dasar Pada Balita.
Yogyakarta:Nuha Medika.
Maryanti Dwi.2021. Buku Ajar Neonatus Bayi dan Balita. Cilacap: Trans Info Media
Proverawati, Atikah. 2017. Imunisasi dan Vaksinasi. Yogyakarta:Nuha Offset.
Download