SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP) Pentingnya Imunisasi Lengkap DISUSUN OLEH : KELOMPOK K Refni Oktaviani 2441312109 Memel Meiyuni 2441312140 Septri Annisa Azmi 2441312122 Serina Lia Oktaviani 2441312128 Nadya Arista Widya Fatin 2441312130 Nurul Qamaria 2441312145 Miftahul Rahmi 2441312127 Sri Visco 2441312125 Mustika Putri 2441312117 Pembimbing Akademik Mohd. Jamil, S.Kp, M. Biomed Pembimbing Klinik Ns. Rita Syurianti, M.Kep PROGRAM STUDI PROFESI NERS KEPERAWATAN FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS ANDALAS PADANG 2025 SATUAN ACARA PENYULUHAN Pokok Bahasan : Imunisasi pada bayi dan balita Sub Pokok Bahasan : Pentingnya imunisasi lengkap pada bayi dan balita Sasaran : Ibu hamil, ibu yang memiliki bayi dan balita Hari/Tanggal : Selasa/ 04 Maret 2025 Waktu : 10.00 - selesai Tempat : Musholla Kubung A. Latar Belakang Imunisasi merupakan salah satu upaya kesehatan masyarakat yang terbukti efektif dalam mencegah berbagai penyakit menular, terutama pada anak usia bayi dan balita. Imunisasi bekerja dengan cara membentuk sistem kekebalan tubuh sehingga mampu melawan berbagai penyakit infeksi yang berbahaya. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan telah menetapkan Program Imunisasi Nasional guna memastikan setiap anak mendapatkan imunisasi dasar lengkap sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Imunisasi dasar yang diberikan kepada bayi dan balita meliputi imunisasi Hepatitis B, BCG, Polio, DPT-HB-Hib, Campak, dan Rubella. Namun, meskipun manfaat imunisasi sangat besar, cakupan imunisasi dasar lengkap di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan. Menurut data Kementerian Kesehatan RI, dalam beberapa tahun terakhir cakupan imunisasi dasar lengkap mengalami penurunan, terutama akibat pandemi COVID-19 yang menghambat layanan kesehatan, serta kurangnya pemahaman masyarakat tentang pentingnya imunisasi. Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan tahun 2023, sekitar 1,5 juta balita di Indonesia tidak mendapatkan imunisasi dasar lengkap. Angka ini menunjukkan adanya kesenjangan dalam cakupan imunisasi yang perlu segera diatasi untuk mencegah kejadian luar biasa (KLB) penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin (PD3I). Berdasarkan data dari Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022, cakupan imunisasi dasar lengkap nasional mencapai 79,5 persen, turun dari angka 84,2 persen pada tahun 2019 sebelum pandemi. Beberapa provinsi dengan cakupan imunisasi yang rendah di antaranya adalah Papua, Papua Barat, dan Nusa Tenggara Timur dengan cakupan di bawah 60 persen. Sementara itu, daerah perkotaan dengan akses layanan kesehatan yang baik cenderung memiliki cakupan yang lebih tinggi dibandingkan dengan daerah terpencil. Rendahnya cakupan imunisasi di Indonesia disebabkan oleh berbagai faktor. Banyak orang tua yang belum memahami pentingnya imunisasi dan masih mempercayai mitos atau hoaks yang beredar di masyarakat. Selain itu, beberapa daerah terpencil memiliki keterbatasan fasilitas kesehatan dan tenaga medis, sehingga distribusi vaksin menjadi tidak merata. Ketakutan terhadap efek samping imunisasi juga menjadi kendala, meskipun efek samping yang umum terjadi hanya berupa demam ringan dan nyeri pada area suntikan. Pandemi COVID-19 juga menyebabkan terganggunya layanan kesehatan preventif, termasuk imunisasi dasar bagi balita. Dampak dari ketidaklengkapan imunisasi sangat serius. Anak yang tidak mendapatkan imunisasi berisiko lebih tinggi terkena penyakit seperti campak, polio, dan difteri yang dapat menyebabkan komplikasi serius hingga kematian. Selain itu, jika cakupan imunisasi rendah, maka kekebalan kelompok (herd immunity) tidak terbentuk dengan baik, sehingga penyakit yang seharusnya dapat dicegah masih dapat menyebar di masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan upaya peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya imunisasi lengkap pada balita. Penyuluhan ini bertujuan untuk memberikan edukasi kepada para orang tua dan pengasuh anak agar memahami manfaat imunisasi, menghilangkan ketakutan terhadap vaksin, serta mendorong mereka untuk memastikan anak-anak mereka mendapatkan imunisasi sesuai jadwal. Dengan cakupan imunisasi yang optimal, diharapkan angka kejadian penyakit menular dapat ditekan, dan kesehatan bayi dan balita di Indonesia semakin terjaga. Kemudian dari hasil wawancara kader imunisasi dan ibu yang memiliki bayi dan balita di RW 05 sulit terlaksana secara menyeluruh karena berbagai alasan seperti orang tua yang takut anak menjadi sakit setelah imunisasi, suami yang melarang, dan kesibukan orang tua yang tidak bisa mengantarkan anaknya. B. TUJUAN 1. Tujuan Umum Setelah dilakukan penyuluhan tentang pentingnya imunisasi lengkap pada bayi dan balita, diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan Ibu hamil, ibu yang memiliki bayi dan balita di wilayah RW 05 Kelurahan Limau Manis. 2. Tujuan Khusus a. Mampu mengetahui pengertian imunisasi b. Mampu mengetahui tujuan dan manfaat imunisasi c. Mampu mengetahui jenis dan efek samping imunisasi d. Mampu mengetahui jadwal pemberian imunisasi dasar lengkap C. MEDIA Ppt + infokus Leaflet D. METODE Ceramah Tanya Jawab E. MATERI Materi yang disampaikan pada peserta antara lain : 1. Pengertian imunisasi 2. Tujuan imunisasi 3. Manfaat imunisasi 4. Jenis imunisasi dasar lengkap 5. Jadwal pemberian imunisasi dasar lengkap F. PENJABARAN TUGAS 1. Penyaji : Memberikan materi penyuluhan 2. Moderator : Mengatur jalannya acara penyuluhan 3. Fasilitator : Memfasilitasi jalannya penyuluhan 4. Observer : Mengobservasi susunan acara dan job description agar penyuluhan berlangsung lancar 5. Pembimbing : Memberikan bimbingan kepada mahasiswa sehingga acara penyuluhan berlangsung lancar G. PENGORGANISASIAN 1. Moderator : Serina Lia Oktaviani, S.Kep 2. Penyaji : Nadya Arista Widya F, S.Kep 3. Observer : Memel Meiyuni, S.Kep 4. Fasilitator : Refni Oktaviani, S.Kep Septri Annisa Azmi, S.Kep Nurul Qamaria, S.Kep Miftahul Rahmi, S.Kep Mustika Putri, S.Kep 5. Dokumentator : Sri Visco, S.Kep 6. Setting Tempat Media Peserta Keterangan: :Moderator :Pemateri :Fasilitator :Peserta :Observer :Dokumentator H. KEGIATAN PENYULUHAN Tahap Waktu Kegiatan Penyuluhan Kegiatan Peserta Pembukaan 5 menit - Memberi salam kepada Mendengarkan peserta Penanggung Jawab Moderator pembukaan yang - Memperkenalkan diri disampaikan oleh - Menyampaikan tujuan moderator - Melakukan kontrak waktu Pelaksanaan 20 menit Penyampaian materi oleh Mendengarkan penyaji serta menggali dan memberi pengetahuan/pengalaman umpan balik audien mengenai: terhadap materi 1. Pengertian imunisasi Penyaji yang disampaikan 2. Tujuan imunisasi 3. Manfaat imunisasi 4. Jenis imunisasi dasar lengkap 5. Jadwal pemberian imunisasi dasar lengkap Evaluasi 5 menit Evaluasi hasil melalui Tanya jawab - Mengajukan Moderator, pertanyaan fasilitator, mengenai observer materi yang belum dipahami - Menjawab pertanyaan yang telah diajukan. Penutup 5 menit - Menyampaikan Mendengarkan Moderator, kesimpulan dan membalas fasilitator - Mengucapkan salam terimakasih atas partisipasi peserta - Memberikan salam penutup - Membagikan leaflet I. EVALUASI 1. Evaluasi Struktural a. Peserta hadir di Musholla Kubung b. Penyelenggaraan penyuluhan dilakukan oleh mahasiswa praktik profesi ners Unand bekerja sama dengan Pembimbing Akademik, Pembimbing Klinik, dan Kepala RW, Kepala RT serta Kader RW 05 Kelurahan Limau Manis 2. Evaluasi Proses a. Peserta mendengarkan dengan baik terhadap materi yang disampaikan oleh penyaji. b. Peserta tidak meninggalkan tempat selama penyuluhan berlangsung. c. Peserta terlihat aktif dalam kegiatan penyuluhan. d. Moderator, penyuluh, fasilitator, observer dan peserta mampu menjalankan fungsinya dan perannya dengan baik. 3. Evaluasi Hasil a. Perserta mampu menjawab 4/5 pertanyaan 3/5 Peserta mampu menjelaskan kembali pengertian imunisasi Peserta mampu menjelaskan kembali tujuan dan 4/6 manfaat imunisasi Peserta mampu menjelaskan kembali jenis dan efek samping 4/6 imunisasi dasar lengkap Peserta mampu menjelaskan kembali jadwal 4/6 imunisasi dasar lengkap Lampiran Materi Penyuluhan IMUNISASI PADA BAYI DAN BALITA A. Pengertian Imnuisasi Imunisasi merupakan usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak dengan memasukkan vaksin kedalam tubuh. Agar tubuh membuat zat anti untuk merangsang pembentukan zat anti yang dimasukkan kedalam tubuh melalui suntikan (misalnya vaksin BCG, DPT dan campak) dan melalui mulut (misalnya vaksin polio). ( Maryanti Dwi. 2021) B. Tujuan Imunisasi Program imunisasi bertujuan untuk memberikan kekebalan pada bayi agar dapat mencegah penyakit dan kematian bayi serta anak yang disebabkan oleh penyakit yang sering berjangkit (Proverawati, 2017). Selain itu, tujuan pemberian imunisasi adalah diharapkan anak menjadi kebal terhadap penyakit sehingga dapat menurunkan angka morbiditas dan mortalitas serta dapat mengurangi kecacatan akibat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (Alimul, 2019) C. Manfaat Imunisasi Imunisasi lengkap sangat penting untuk melindungi balita dari berbagai penyakit serius yang dapat menyebabkan komplikasi berat, kecacatan, atau bahkan kematian. Berikut adalah beberapa alasan utama mengapa imunisasi lengkap diperlukan: ( Maryanti Dwi. 2021) 1. Mencegah Penyakit Berbahaya Imunisasi melindungi balita dari penyakit seperti difteri, pertusis (batuk rejan), tetanus, polio, campak, rubella, pneumonia, meningitis, dan hepatitis. Penyakitpenyakit ini bisa berakibat fatal jika tidak dicegah sejak dini. 2. Meningkatkan Kekebalan Tubuh Dengan vaksin, tubuh bayi membentuk sistem kekebalan yang lebih kuat terhadap virus dan bakteri berbahaya. Ini membantu mengurangi risiko infeksi dan mempercepat pemulihan jika terpapar penyakit. 3. Mencegah Wabah Penyakit Imunisasi bukan hanya melindungi individu tetapi juga membantu mencegah penyebaran penyakit dalam masyarakat. Jika cakupan imunisasi tinggi, risiko wabah penyakit menular akan berkurang (kekebalan kelompok/herd immunity). 4. Menurunkan Angka Kematian Bayi dan Balita WHO melaporkan bahwa imunisasi menyelamatkan jutaan nyawa setiap tahun dengan mencegah penyakit yang berpotensi fatal. Anak-anak yang tidak mendapatkan imunisasi berisiko lebih tinggi mengalami kematian akibat infeksi yang sebenarnya bisa dicegah. 5. Efektif dan Aman Vaksin yang diberikan sudah melalui penelitian dan uji klinis ketat oleh WHO dan otoritas kesehatan sebelum digunakan. Efek samping biasanya ringan dan jauh lebih kecil dibandingkan risiko terkena penyakit yang dicegah. 6. Menghemat Biaya Pengobatan Pencegahan melalui imunisasi jauh lebih murah dibandingkan biaya pengobatan jika anak terkena penyakit serius. Selain itu, imunisasi juga mencegah dampak ekonomi akibat kehilangan produktivitas orang tua yang harus merawat anak sakit. D. Jenis Imunisasi Dasar Lengkap (Proverawati, 2017) 1. BCG Imunisasi BCG merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit TBC yang berat sebab terjadinya penyakit TBC yang primer atau yang ringan dapat terjadi walaupun sudah dilakukan imunisasi BCG.TBC yang berat contohnya adalah TBC pada selaput otak, TBC milier pada seluruh lapangan paru, atau TBC tulang.Vaksin BCG merupakan vaksin yang mengandung kuman TBC yang telah dilemahkan. Frekuensi pemberian imunisasi BCG adalah 1 dosis sejak lahir sebelum umur 3 bulan.Vaksin BCG diberikan melalui intradermal/intracutan. Efek samping pemberian imunisasi BCG adalah terjadinya ulkus pada daerah suntikan, limfadenitis regionalis, dan reaksi panas. a. Reaksi : Bengkak, kemerahan pada lokasi suntikan dan timbul bekas luka b. Pengobatan : Dibiarkan saja sampai 7 hari kering 2. Hepatitis B Imunisasi hepatitis B merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit hepatitis B. kandungan vaksin ini adalah HbsAg dalam bentuk cair.Frekuensi pemberian imunisasi hepatitis B adalah 3 dosis.Imunisasi hepatitis ini diberikan melalui intramuscular. a. Reaksi : Nyeri pada daerah suntikan dan timbul kemerahan danbiasanya tidak diserta dengan demam b. Pengobatan 3. : Kompres dingin pada area suntik Polio Imunisasi polio merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit poliomyelitis yang dapat menyebabkan kelumpuhan pada anak. Kandungan vaksin ini adalah virus yang dilemahkan. Frekuensi pemberian imunisasi polio adalah 4 dosis. Imunisasi polio diberikan melalui oral. Belum ditemukan adanya efek samping imunisasi polio. 4. Pentabio Saat ini program pemerintah terbaru terkait pemberian imunisai adalah penggunakaan vaksin kombinasi yang dikenal sebagai Vaksin Pentavalen.Vaksin ini merupakan gabungan vaksin DPT-HB ditambah Hib.Sebelumnya kombinasi ini hanya terdiri dari DPT dan HB (kita kenal sebagai DPT Combo). Sesuai dengan kandungan vaksinnya, vaksin Pentavalen mencegah berberapa jenis penyakit, antara lain Difteri, batuk rejan atau batuk 100 hari, tetanus, hepatitis B, serta radang otak (meningitis) dan radang paru (pneumonia) yang disebabkan oleh kuman Hib (Haemophylus influenzae tipe b). Vaksin pentavalen merupakan gabungan dari 5 jenis vaksin dalam satu sediaan. Kelima vaksin tersebut meliputi : a. Difteri –> Kuman yang menyebabkan penyakit difteri, menyerang salura pernapasan, menimbulkan lapisan putih di tenggorokan dengan efek dapat menyumbat saluran nafas, dan toksinnya dapat mengganggu kerja jantung. b. Pertusis –> kuman penyebab penyakit batuk rejan atau batuk 100 hari dengan ciri khas batuk beruntung c. Tetanus –> kuman penyebab penyakit tetanus, yaitu kekakuan seluruh tubuh termasuk otot pernapasan sehingga menyebabka kematian akibat gagal nafas d. Hepatitis B –> virus penyabab peradangan pada hati dimana keadaan kronis dapat menyebabkan kerusakan hati (sirosis hepatis) dan kanker hati (hepatoma) e. Haemophilus influenza tipe B –> kuman penyebab radang paru- paru (pneumonia) dan radang otak (meningitis) terbanyak pada anak-anak Vaksin Pentavalen diberikan saat anak berusia 2, 3 dan 4 bulan. Kemudian dilanjutkan ketika anak berusia 1,5 tahun, yang kita kenal sebagai imunisasi booster (lanjutan). Sebagaimana imunisasi lainnya, Imunisasi Pentavalen bisa didapatkan secara gratis di semua Posyandu, Puskesmas atau fasilitas kesehatan pemerintah lainnya. Reaksi : Demam ringan, pembengkakan dan nyeri di tempat suntikan selama 1-2 hari Pengobatan 5. : Kompres dingin pada area suntik, dan obat penurun panas DPT Imunisasi DPT (Difteri, Pertusis, Tetanus) merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit difteri, pertusis dan tetanus.Vaksin DPT ini merupakan vaksin yang mengandung racun kuman difteri yang telah dihilangkan sifat racunnya, namun masih dapat merangsang pembentukan zat anti (toksoid). Frekuensi pemberian imuisasi DPT adalah 3 dosis.Pemberian pertama zat anti terbentuk masih sangat sedikit (tahap pengenalan) terhadap vaksin dan mengaktifkan organ-organ tubuh membuat zat anti.Pada pemberian kedua dan ketiga terbentuk zat anti yang cukup.Imunisasi DPT diberikan melalui intramuscular. Pemberian DPT dapat berefek samping ringan ataupun berat.Efek ringan misalnya terjadi pembengkakan, nyeri pada tempat penyuntikan, dan demam.Efek berat misalnya terjadi menangis hebat, kesakitan kurang lebih empat jam, kesadaran menurun, terjadi kejang, encephalopathy, dan syok. Reaksi dan penanganan sama dengan imunisasi pentabio. 6. Campak Imunisasi campak merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit campak pada anak karena termasuk penyakit menular.Kandungan vaksin ini adalah virus yang dilema hkan.Frekuensi pemberian imunisasi campak adalah 1 dosis.Imunisasi campak diberikan melalui subkutan.Imunisasi ini memiliki efek samping seperti terjadinya ruam pada tempat suntikan dan panas (Alimul, 2019). a. Reaksi : Biasanya tidak terdapat reaksi. Mungkin terjadidemam ringan dan sedikit bercak merah pada pipidi bawah telinga pada hari ke 7-8 setelah penyuntikan, atau pembengkakan pada tempatpenyuntikan b. Pengobatan : Kompres dingin pada area suntik, dan obat penurun panas E. Jadwal Imunisasi Lengkap Pada Balita (Proverawati, 2017) 1. BCG Imunisasi BCG diberikan pada umur sebelum 3 bulan. namun dianjurkan pemberian imunisasi BCG pada umur antara 0-12 bulan. Dosis 0,05 ml untuk bayi kurang dari 1 tahun dan 0,1 ml untuk anak (>1 tahun). Imunisasi BCG ulangan tidak dianjurkan. Vaksin BCG tidak dapat mencegah infeksi tuberculosis, namun dapat mencegah komplikasinya. Apabila BCG diberikan pada umur lebih dari 3 bulan, sebaiknya dilakukan uji tuberkulin terlebih dahulu. Vaksin BCG diberikan apabila uji tuberkulin negatif. 2. HB (Hepatitis B) a. Imunisasi hepatitis B-1 diberikan sedini mungkin (dalam waktu 12 jam) setelah lahir. b. Imunisasi hepatitis B-2 diberikan setelah 1 bulan (4 minggu) dari imunisasi hepatitis B-1 yaitu saat bayi berumur 1 bulan. Untuk mendapatkan respon imun optimal, interval imunisasi hepatitis B- 2 dengan hepatitis B-3 minimal 2 bulan, terbaik 5 bulan. Maka imunisasi hepatitis B-3 diberikan pada umur 3-6 bulan. c. Apabila sampai dengan usia 5 tahun anak belum pernah memperoleh imunisasi hepatitis B, maka secepatnya diberikan imunisasi hepatitis B dengan jadwal 3 kali pemberian. 3. Hib (Haemophylus influenzae tipe b) a. Imunisasi hepatitis B-2 diberikan setelah 1 bulan (4 minggu) dari imunisasi hepatitis B-1 yaitu saat bayi berumur 1 bulan. Untuk mendapatkan respon imun optimal, interval imunisasi hepatitis B- 2 dengan hepatitis B-3 minimal 2 bulan, terbaik 5 bulan. Maka imunisasi hepatitis B-3 diberikan pada umur 3-6 bulan. b. Kemudian dilanjutkan ketika anak berusia 1,5 tahun, yang kita kenal sebagai imunisasi booster (lanjutan). c. Apabila sampai dengan usia 5 tahun anak belum pernah memperoleh imunisasi hepatitis B, maka secepatnya diberikan imunisasi hepatitis B dengan jadwal 3 kali pemberian. 4. Polio a. Terdapat 2 kemasan vaksin polio yang berisi virus polio -1, 2, dan 3. (1.OPV, hidup dilemahkan, tetes, oral.; 2.IPV, in-aktif, suntikan). b. Polio-0 diberikan saat bayi lahir sesuai pedoman PPI sebagai tambahan untuk mendapatkan cakupan imunisasi yang tinggi. c. Untuk imunisasi dasar (polio-2, 3, 4) diberikan pada umur 2,4, dan 6 bulan, interval antara dua imunisasi tidak kurang dari 4 minggu. d. OPV diberikan 2 tetes per-oral. IPV dalam kemasan 0,5 ml, intramuscular. Vaksin IPV dapat diberikan tersendiri atau dalam kemasan kombinasi (DPT/IPV) 5. DPT(Difteri, Pertusis, Tetanus) a. Imunisasi DPT primer diberikan 3 kali sejak umur 2 bulan (DPT tidak boleh diberikan sebelum umur 6 minggu) dengan interval 48 minggu. Interval terbaik diberikan 8 minggu, jadi DPT-1 diberikan pada umur 2 bulan, DPT-2 pada umur 4 bulan dan DPT- 3 pada umur 6 bulan. b. Dosis DPT adalah 0,5 ml, intramuskular, baik untuk imunisasi dasar maupun ulangan. c. Vaksin DPT dapat diberikan secara kombinasi dengan vaksin lain yaitu DPT/Hepatitis B dan DPT/IPV. 6. Campak Vaksin campak rutin dianjurkan diberikan dalam satu dosis 0,5 ml secara subkutan dalam, pada umur 9 bulan. (IDAI, 2018). DAFTAR PUSTAKA Maulana, A. (2020). Peran Imunisasi dalam Mencegah Penyakit pada Anak. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 15(1), 23-30. Hidayat, A. Aziz Alimul.2019.Pengantar Ilmu Kesehatan Anak.Jakarta: Salemba Medika. IDAI. 2018. Pedoman Imunisasi Di Indonesia. Jakarta: Satgas Imunisasi. Marimbi,Hanum. 2020. Tumbuh Kembang, Status Gizi, dan Imunisasi Dasar Pada Balita. Yogyakarta:Nuha Medika. Maryanti Dwi.2021. Buku Ajar Neonatus Bayi dan Balita. Cilacap: Trans Info Media Proverawati, Atikah. 2017. Imunisasi dan Vaksinasi. Yogyakarta:Nuha Offset.