PENGENALAN DAN PENGUKURAN POTENSI DIRI PIM IV_FIX

advertisement
MODUL PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
KEPEMIMPINAN TINGKAT IV
Lembaga Administrasi Negara - Republik Indonesia
2008
Hak Cipta © Pada : Lembaga Administrasi Negara
Edisi Tahun 2008
LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA
REPUBLIK INDONESIA
Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia
Jl. Veteran No. 10 Jakarta 10110
Telp. (62 21) 3868201, Fax. (62 21) 3800188
Pengenalan Dan Pengukuran Potensi Diri
Jakarta – LAN – 2008
91 hlm: 15 x 21 cm
ISBN: 979 – 8619 – 38 – 2
SAMBUTAN
Undang-undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Perubahan atas
Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok
Kepegawaian menegaskan bahwa dalam rangka usaha mencapai
tujuan nasional, diperlukan Pegawai Negeri Sipil yang
berkemampuan melaksanakan tugas secara profesional. Untuk
mewujudkan profesionalisme PNS ini, mutlak diperlukan
peningkatan kompetensi, khususnya kompetensi kepemimpinan
bagi para pejabat dan calon pejabat Struktural Eselon IV baik di
lingkungan pemerintah pusat maupun daerah. Sebagai pejabat
struktural yang berada pada posisi paling depan atau ujung tombak,
pejabat struktural eselon IV memainkan peran yang sangat penting
karena bertanggung jawab dalam mensukseskan pelaksanaan
kegiatan-kegiatan secara langsung, sehingga buah karyanya dapat
dirasakan secara langsung oleh masyarakat.
Untuk mempercepat upaya peningkatan kompetensi tersebut,
Lembaga Administrasi Negara (LAN) telah menetapkan kebijakan
desentralisasi dalam penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan
Kepemimpinan (Diklatpim) Tingkat IV. Dengan kebijakan ini,
jumlah penyelenggaraan Diklatpim Tingkat IV dapat lebih
ditingkatkan sehingga kebutuhan akan pejabat struktural eselon IV
yang profesional dapat terpenuhi. Agar penyelenggaraan Diklatpim
Tingkat IV menghasilkan alumni dengan kualitas yang sama,
walaupun diselenggarakan dan diproses oleh Lembaga Pendidikan
dan Pelatihan (Diklat) yang berbeda, maka LAN menerapkan
kebijakan standarisasi program Diklatpim Tingkat IV. Proses
iii
iv
standarisasi meliputi keseluruhan aspek penyelenggaraan Diklat,
mulai dari aspek kurikulum yang meliputi rumusan kompetensi, mata
Diklat dan strukturnya, metode dan skenario pembelajaran sampai
pada pengadministrasian penyelenggaranya. Dengan proses
standarisasi ini, maka kualitas penyelenggaraan dan alumni dapat
lebih terjamin.
Salah satu unsur penyelenggaraan Diklatpim Tingkat IV yang
mengalami proses standarisasi adalah modul untuk para peserta
(participants’ book). Disadari sejak modul-modul tersebut
diterbitkan, lingkungan strategis khususnya kebijakan-kebijakan
nasional pemerintah juga terus berkembang secara dinamis. Di
samping itu, konsep dan teori yang mendasari substansi modul juga
mengalami perkembangan. Kedua hal inilah yang menuntut
diperlukannya penyempurnaan secara menyeluruh terhadap modulmodul Diklatpim Tingkat IV ini.
Oleh karena itu, saya menyambut baik penerbitan modul-modul yang
telah mengalami penyempurnaan ini, dan mengharapkan agar peserta
Diklatpim Tingkat IV dapat memanfaatkannya secara optimal,
bahkan dapat menggali kedalaman substansinya di antara sesama
peserta dan para Widyaiswara dalam berbagai kegiatan pembelajaran
selama Diklat berlangsung. Semoga modul hasil perbaikan ini dapat
dipergunakan sebaik-baiknya.
Kepada Dra. Hj. Wahyu Suprapti, MM dan Ir. Hj. Sri Ratna, MM
selaku penulis serta seluruh anggota Tim yang telah berpartisipasi,
kami ucapkan terima kasih atas kesungguhan dan dedikasinya.
Jakarta,
Juli 2008
KEPALA
LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA
REPUBLIK INDONESIA
SUNARNO
KATA PENGANTAR
Sejalan dengan upaya mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang
profesional melalui jalur pendidikan dan pelatihan (Diklat),
pembinaan Diklat khususnya Diklat Kepemimpinan (Diklatpim)
Tingkat IV ke arah Diklat berbasis kompetensi, terus dilakukan
sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang diatur dalam Peraturan
Pemerintah Nomor 101 Tahun 2000 Tentang Pendidikan dan
Pelatihan Jabatan Pegawai Negeri Sipil. Salah satu upaya pembinaan
yang telah ditempuh adalah melalui penerbitan modul Diklat.
Kehadiran modul Diklatpim Tingkat IV ini memiliki nilai strategis
karena menjadi acuan dalam proses pembelajaran, sehingga
kebijakan
pembinaan
Diklat
yang
berupa
standarisasi
penyelenggaraan Diklat dapat diwujudkan. Oleh karena itu, modul ini
dapat membantu widyaiswara atau fasilitator Diklat dalam mendisain
pengajaran yang akan disampaikan kepada peserta Diklat; membantu
pengelola dan penyelenggara Diklat dalam penyelenggaraan Diklat;
dan membantu peserta Diklat dalam mengikuti proses pembelajaran.
Untuk maksud inilah maka dilakukan penyempurnaan terhadap
keseluruhan modul Diklat Kepemimpinan Tingkat IV yang meliputi
substansi dan format.
Disadari bahwa perkembangan lingkungan strategis berlangsung
lebih cepat khususnya terhadap dinamika peraturan perundangan
yang diterbitkan dalam rangka perbaikan sistem penyelenggaraan
pemerintahan negara, maka kualitas modul terutama kesesuaian isi
dengan kebijakan yang berkembang perlu terus dipantau dan
disesuaikan manakala terdapat hal-hal yang sudah tidak relevan lagi.
Sehubungan dengan hal ini, modul ini dapat pula dipandang sebagai
bahan minimal Diklat, dalam artian bahwa setelah substansinya
disesuaikan dengan perkembangan yang ada, maka dapat
dikembangkan selama relevan dengan hasil belajar yang akan dicapai
dalam modul ini. Oleh karena itu, kami harapkan bahwa dalam
rangka menjaga kualitas modul ini, peranan widyaiswara termasuk
v
vi
peserta Diklat juga dibutuhkan. Kongkritnya, widyaiswara dapat
melakukan penyesuaian dan pengembangan terhadap isi modul,
sedangkan peserta Diklat dapat memperluas bacaan yang relevan
dengan modul ini, sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung
dinamis, interaktif dan aktual.
Selamat memanfaatkan modul Diklat Kepemimpinan Tingkat IV ini.
Semoga melalui modul ini, kompetensi kepemimpinan bagi peserta
Diklat Kepemimpinan Tingkat IV dapat tercapai.
Jakarta,
DAFTAR ISI
SAMBUTAN .............................................................................
iii
KATA PENGANTAR................................................................
v
DAFTAR ISI ..............................................................................
vii
BAB I
Juli 2008
DEPUTI BIDANG PEMBINAAN
PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
APARATUR
PENDAHULUAN .....................................................
1
A. Latar Belakang.....................................................
1
B. Deskripsi Singkat.................................................
3
C. Hasil Belajar ........................................................
3
D. Indikator Hasil Belajar ........................................
3
E. Materi Pokok .......................................................
4
F. Manfaat................................................................
4
NOORSYAMSA DJUMARA
BAB II
KONSEP PENGENALAN DAN PENGUKURAN
POTENSI DIRI ..........................................................
5
A. Pengertian ............................................................
5
B. Tujuan dan Manfaat Pengenalan dan
Pengukuran Potensi Diri......................................
9
C. Metode Pengukuran Potensi Diri.........................
11
D. Latihan.................................................................
12
E. Rangkuman..........................................................
13
vii
viii
BAB III PENGUKURAN POTENSI DIRI..............................
14
A. Apa yang dimaksudkan dengan
KONSEP DIRI ....................................................
14
B. Pengukuran Potensi Diri ......................................
16
C. Pengukuran Ambisi .............................................
42
D. Latihan .................................................................
47
E. Rangkuman ..........................................................
48
BAB IV RANCANGAN PENGEMBANGAN
POTENSI DIRI ..........................................................
49
A. Hambatan-hambatan
Pengembangan Potensi Diri.................................
49
B. Teknik Pengembangan Potensi Diri ....................
57
C. Membuat Rancangan Pengembangan
Potensi Diri ..........................................................
60
D Latihan .................................................................
64
E
Rangkuman ..........................................................
64
PENUTUP..................................................................
65
A. Simpulan ..............................................................
65
B. Tindak Lanjut.......................................................
66
DAFTAR PUSTAKA.................................................................
67
LEMBAR KERJA ......................................................................
69
BAB V
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Tidak ada seorangpun yang tidak ingin mencapai ’sukses’
dalam hidupnya. Namun, meraih kesuksesan jelas bukanlah
perkara gampang. Ketika kita berusaha untuk meraih apa yang
kita inginkan, banyak tantangan yang harus dihadapi. Ada
kalanya seseorang begitu tegar, tetapi tidak sedikit juga yang
patah semangat bahkan menyerah karena merasa tidak sanggup
menghadapi tantangan yang ada di depannya.
Banyak orang merasa gagal, tidak berdaya dan tidak bisa
meraih sukses dalam hidupnya. “Saya sudah bekerja dengan
sangat keras, tapi hidup saya tidak ada perbaikan apapun,
sementara orang lain hidupnya begitu mudah”. “Jenjang
karier di kantor saya tidak jelas, orang yang mendapatkan
posisi yang baik belum tentu orang yang tepat”. “Karier saya
dari dulu tidak berubah, karena atasan saya tidak suka dengan
saya”. Memamg saya tidak mampu, diri ini bodoh, makanya
saya tidak pernah berhasil”. Yah, sudah nasib saya begini,
pendidikan saya rendah, orang tua saya orang biasa-biasa
saja, jadi pantas saja kalau saya tidak berhasil”. Demikianlah
antara lain keluhan sebagian orang yang merasa hidupnya
gagal, tidak sukses dan merasakan dirinya tidak berarti.
Bahkan keluhan itu tidak hanya sekedar keluhan hati, tapi
1
2
Pengenalan dan Pengukuran Potensi Diri
sudah menjadi obrolan seru di sudut-sudut kantor bahkan
menjadi keyakinan yang mengakar dalam diri.
Kita sering ragu akan kemampuan diri sendiri untuk membuat
perubahan. Jangankan membuat perubahan untuk lingkungan,
membuat perubahan di dalam hidup kita sendiri pun kita
merasa tidak mampu. Kita merasa terperangkap dalam segala
keterbatasan. Kita sering lupa, bahwa kita adalah makhluk
paling sempurna di muka bumi ini. Di dalam diri kita ada
kemampuan, ada kekuatan dan kekuasaan tak terbatas
(Anthony Robbins, penulis Inner Strength dan Unlimited
Power).
Lalu, mengapa ada orang yang kerja keras namun hidupnya
tetap saja susah dan orang yang kerjanya santai tapi hidupnya
berkelimpahan dan sukses. Banyak faktor yang menyebabkan
hal ini. Salah satu penyebabnya adalah karena seseorang
bekerja tidak sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Itulah
pentingnya seseorang mengenal dan mengukur potensi dirinya.
Begitu juga dengan pejabat eselon IV, agar dapat
mengembangkan potensi diri dan stafnya, perlu dibekali
dengan kompetensi tentang pengenalan dan pengukuran
potensi diri.
Modul Diklatpim Tingkat IV
B.
3
Deskripsi Singkat
Mata pendidikan dan pelatihan ini menjelaskan pengertian,
manfaat dan pengembangan potensi pribadi, teknik-teknik
pengukuran serta arah pengembangan potensi diri.
C.
Hasil Belajar
Setelah membaca modul Pengenalan dan Pengukuran Potensi
Diri ini peserta mampu memahami, menjelaskan dan
menerapkan potensi diri dan stafnya menuju pribadi sukses.
D.
Indikator Hasil Belajar
Indikator-indikator hasil belajar adalah :
Peserta mampu memahami dan menjelaskan konsep
pengenalan dan pengukuran potensi diri secara baik dan
benar
Peserta mampu memahami dan menjelaskan cara/teknik
pengenalan dan pengukuran potensi diri secara baik dan
benar
Peserta mampu memahami dan menjelaskan pengembangan
potensi diri dengan baik dan benar.
4
E.
Pengenalan dan Pengukuran Potensi Diri
Materi Pokok
Materi pokok yang dibahas dalam modul Pengenalan dan
Pengukuran Potensi Diri adalah :
1.
Konsep Pengenalan dan Pengukuran Potensi Diri:
a. Pengertian Pengenalan dan Pengukuran Potensi
Diri;
b. Tujuan dan Manfaat Pengenalan Pengukuran
Potensi Diri;
c. Metode Pengukuran Potensi Diri.
2.
Pengenalan dan Pengukuran Potensi Diri:
a. Apa yang dimaksud Konsep Diri;
b. Pengukuran Potensi Diri:
1). Tipologi Diri;
3.
F.
2). Kepercayaan Diri;
3). Ambisi.
Rancangan Pengembangan Potensi Diri:
a. Hambatan-hambatan Pengembangan Potensi Diri;
b. Teknik Pengembangan Potensi Diri;
c. Rancangan Pengembangan Potensi Diri dan
Aktualisasi Diri.
Manfaat
Berbekal hasil-hasil belajar pada modul Pengenalan dan
Pengukuran Potensi Diri, peserta diharapkan mampu
menerapkan potensi yang ada dalam dirinya guna peningkatan
kinerja instansinya.
BAB II
KONSEP PENGENALAN DAN
PENGUKURAN POTENSI DIRI
Setelah membaca Bab ini, peserta Diklat diharapkan
mampu menjelaskan konsep pengenalan dan
pengukuran potensi diri.
A.
Pengertian
1.
Diri
Apakah diri itu? William James (dalam bukunya
Principles of Psychology, 1890 seperti dikemukakan
dalam Sarwono, 1997) mengemukakan ada dua jenis diri
yaitu “Diri” dan “Aku”. Diri adalah sebagai “diri public”
(public self atau me) dan “diri pribadi” atau “aku” (private
self atau I). Diri sebagaimana dipersepsikan oleh orang
lain atau diri sebagai objek (objective self), sedangkan aku
adalah inti dari diri aktif, mengamati, berpikir dan
berkehendak (subjective self). Akan tetapi, teori James
yang menggunakan dua diri ini, menurut Sarwono sulit
dikembangkan lebih lanjut, karena baik dalam praktik
maupun dalam penelitian-penelitian sulit dibedakan antara
kedua diri ini. Oleh karena itu, dalam pandangan
Sarwono, teori - teori yang timbul kemudian
menggunakan salah satu konsep itu saja yaitu diri (self)
dan ego (aku) atau menggabungkan kedua konsep itu
5
6
Pengenalan dan Pengukuran Potensi Diri
dalam satu konsep yang lebih menyeluruh yaitu
kepribadian.
Antara self dan ego memang banyak diperbincangkan,
karena sesungguhnya sangat sukar dibedakan. Solomon E
Asch misalnya berpendapat bahwa secara fenomenal
keduanya adalah identik tetapi secara fungsional
keduanya tidak sama. Pandangan ahli mengatakan bahwa
selain ego lebih luas daripada self, juga lebih bersifat
hakikat, lebih inti daripada pribadi manusia sedangkan
self adalah lebih sebagai perwujudan fungsional ego.
Karena, baik self maupun ego, keduanya dapat
dikembangkan, maka dalam modul ini yang dimaksudkan
dengan diri adalah kedua-duanya atau secara menyeluruh
yang ada pada diri dan kepribadian.
2.
Potensi
Berbicara tentang potensi dalam bahan ajar ini yang
dimaksudkan adalah potensi yang ada di dalam diri
kepribadian manusia. Dalam hal ini tentu tidak akan lepas
kaitannya dengan hakekat manusia itu sendiri. Hakekat
manusia tersebut adalah: (1) sebagai makhluk Tuhan
yang bertaqwa; (2) sebagai makhluk sosial; dan (3)
sebagai makhluk yang memiliki potensi yang dapat
dikembangkan. Apakah yang dimaksud dengan potensi?
Menurut kamus umum Bahasa Indonesia yang dimaksud
dengan potensi adalah “kemampuan-kemampuan dan
kualitas-kualitas yang dimiliki oleh seseorang namun
Modul Diklatpim Tingkat IV
7
belum dipergunakan secara maksimal.” Potensi tersebut
merupakan salah satu pembeda antara individu yang satu
dengan individu yang lain. Adapun potensi tersebut dapat
diklasifikasikan sebagai berikut:
Kemampuan dasar seperti tingkat intelegensia,
kemampuan abstraksi, logika dan daya tangkap.
Sikap kerja seperti ketekunan, ketelitian, tempo kerja
dan daya tahan terhadap stress.
Kepribadian
yaitu
pola
menyeluruh
semua
kemampuan, perbuatan serta kebiasaan seseorang baik
yang jasmaniah, mental, rohani, emosional maupun
sosial yang semuanya telah ditata dalam cara khas di
bawah aneka pengaruh dari luar. Pola ini terwujud
dalam bentuk tingkah laku dalam usahanya menjadi
manusia sebagaimana yang telah dikehendaki (St Poul
Society, The Challenge of Your Personality). Beberapa
contoh kepribadian adalah keikhlasan, ketulusan,
kelincahan, kecerdasan emosi dan lain sebagainya.
Sedangkan menurut Prof. DR. Buchari Zainun, MPA
yang disebut dengan potensi adalah “daya”. Daya
tersebut dapat bersifat positif yang berupa kekuatan
(power) dan bersifat negatif atau
kelemahan
(weaknesses). Beberapa contoh potensi manusia
tersebut antara lain kejujuran, ketegasan, kesucian,
keimanan,
kesetiaan,
kerapian,
kematangan,
kedewasaan, kecerdikan, kebijakan, kecerdasan,
kebenaran, keramah tamahan dan lain sebagainya.
8
Pengenalan dan Pengukuran Potensi Diri
3.
Pengenalan dan Pengukuran Potensi Diri
Pengenalan berasal dari kata kenal atau tahu. Pengenalan
dalam bahan ajar ini adalah tahu apa potensi yang
dimiliki, karena kalau kita tidak tahu apa potensi yang kita
miliki bagaimana mungkin kita akan mengembangkannya.
Sedangkan pengukuran (measurement) adalah:
Kegiatan pengumpulan data dengan menggunakan alat
ukur atau instrumen agar kita mengetahui apa potensi
yang kita miliki.
Pemberian angka kepada suatu atribut tertentu yang
dimiliki oleh orang, obyek tertentu menurut
aturan/tolak ukur atau karakteristik tertentu.
Karakteristik Pengukuran adalah penggunaan angka
atau skala tertentu dan menggunakan suatu aturan atau
formula tertentu.
Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut di atas, dapat
disimpulkan bahwa Pengenalan dan Pengukuran Potensi
Diri adalah upaya-upaya
yang dilakukan untuk
mengetahui kemampuan, kekuatan dan daya yang ada
pada diri dengan menggunakan cara, metode dan alat ukur
atau instrumen tertentu dengan aturan/tolok ukur atau
karakteristik tertentu. Dengan mengetahui potensi-potensi
yang ada pada diri, maka diri yang bersangkutan akan
dapat mengetahui potensi yang harus dikembangkan dan
potensi mana yang harus dihilangkan dari diri.
9
Modul Diklatpim Tingkat IV
B.
Tujuan
dan
Manfaat
Pengenalan
dan
Pengukuran Potensi Diri
Pengembangan diri harus diawali dengan pengenalan diri
Potensi diri merupakan suatu misteri bagi manusia. Oleh
karena itu pengenalan dan pengukuran potensi diri tersebut
adalah untuk mengungkap misteri yang ada dalam diri. Dengan
mengenal dan mengukur potensi diri antara lain akan
memberikan gambaran kepribadian seseorang, gambaran
kecenderungan seseorang dalam berperilaku. Kecenderungan kecenderungan ini bukan harga mati, tapi dapat berubah.
“Kecenderungan” bukan merupakan “kepastian”. Dalam
pengembangan potensi diri, pengukuran
potensi diri
dimaksudkan untuk mengetahui sejauhmanakah potensipotensi yang dimiliki oleh seorang individu, baik yang
diperoleh melalui introspeksi diri maupun melalui feed back
dari orang lain serta tes psikologis. Dengan mengetahui potensi
diri, maka diharapkan seseorang dapat memaksimalkan potensi
- potensi positif (kekuatan-kekuatan) yang dimiliki dan
meminimalkan kelemahan-kelemahan yang ada.
Lalu apakah manfaat pengembangan potensi diri? Manfaat
pengembangan potensi adalah untuk mengembangkan nature
dan nurture secara tepat. Nature adalah kepribadian manusia
yang terbentuk dari bawaan/lahir/bakat. Sedangkan nurture
adalah kepribadian manusia yang terbentuk karena pengaruh
lingkungan. Dengan demikian pengembangan potensi diri
10
Pengenalan dan Pengukuran Potensi Diri
Modul Diklatpim Tingkat IV
berarti berusaha mengembangkan kepribadian yang berasal
dari dalam/bakat dan dikembangkan setelah berinteraksi
dengan lingkungan dimana seseorang berada. Pengembangan
potensi diri ini adalah berusaha memaksimalkan potensipotensi positif yang ada dan meminimalisasi kelemahankelemahan yang ada pada dirinya. Dengan
demikian
seseorang mampu berperilaku sesuai dengan peran yang
sedang dimainkannya baik sebagai makhluk pribadi, makhluk
sosial maupun makhluk Tuhan yang bertaqwa.
Selain itu, beberapa tujuan dan manfaat yang akan diperoleh
baik sebagai individu maupun instansi yang bersangkutan,
sebagai berikut:
1.
Bagi Individu :
Memberi gambaran tentang kekuatan dan
kelemahan atau kelebihan dan kekurangan yang ada
pada diri.
Mengetahui kemampuan yang masih perlu
ditingkatkan. Dengan mengetahui kekuatan dan
kelemahan akan diketahui mana potensi yang akan
ditingkatkan dan mana yang harus dihilangkan atau
paling tidak diminimalisasi.
Mengetahui bidang kerja yang sesuai dengan
kemampuan yang dimiliki. Dengan mengetahui
potensi akan diketahui bidang pekerjaan yang tepat
bagi diri. Dengan bekerja pada bidang yang sesuai
11
dengan potensi, seseorang yang bekerja tidak akan
merasa terpaksa.
2. Bagi Instansi/Perusahaan:
Memberi gambaran yang jelas tentang kemampuan
seseorang /karyawan
Sebagai referensi untuk penempatan SDM
Sebagai referensi dalam human resource planning
dan career planning.
C.
Metode Pengukuran Potensi Diri
Agar hasil pengukuran mendekati kenyataan yang sebenarnya,
maka hendaknya menggunakan metode-metode ilmiah. Yang
dimaksudkan dengan metode ilmiah adalah “suatu cara kerja
yang mengikuti prosedur ilmiah untuk memperoleh data atau
informasi yang diperlukan suatu ilmu pengetahuan”. (Efendi
dan Praja, 1993). Adapun suatu metode ilmiah, antara lain
mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1.
2.
3.
Obyektif, artinya dapat memberikan data atau informasi
yang benar sesuai
dengan keadaan obyek yang
sesungguhnya;
Adekuat (Adequate) artinya memadai sesuai dengan
masalah dan tujuannya;
Reliable, artinya dapat dipercaya, memberikan informasi
yang tepat;
12
Pengenalan dan Pengukuran Potensi Diri
4.
5.
6.
Modul Diklatpim Tingkat IV
Tuliskan dengan bahasa sendiri apa yang dimaksud dengan
potensi diri?
Tuliskan
potensi-potensi diri anda yang sangat
berpengaruh dalam menunjang karier anda.
Langkah-langkah apakah yang bisa anda lakukan dalam
pengukuran potensi diri anda.
Valid artinya dapat dipercaya (sahih) sesuai dengan
obyeknya (kenyataan);
Sistematis artinya memberi data/informasi yang tersusun
baik sehingga memudahkan penarikan kesimpulan;
Akurat (accurate) artinya memberikan data/informasi
dengan teliti.
Dalam pengukuran potensi diri ada beberapa metode antara
lain:
13
E.
Rangkuman
Pengenalan dan pengukuran potensi diri sangat diperlukan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Self Assesment atau Introspeksi Diri;
Feedback;
Eksperimental;
Non – Eksperimental;
Tes Psikologis (tes kecerdasan, tes kepribadian, tes
kepemimpinan, tes kreativitas dan lainnya);
Non Tes (Observasi, Wawancara, Focus Group
Discussion, On the Job Training dan lain-lain).
Dalam modul ini, akan digunakan beberapa metode, antara lain
adalah self assessment (introspeksi diri, feed back dan tes).
D.
Latihan
Latihan dalam materi ini lebih menitik beratkan pada
pendekatan partisipatif dengan langkah-langkah sebagai
berikut :
bagi seorang pimpinan. Untuk itu pemahaman tentang potensi
dirinya sangat dianjurkan. Pengukuran potensi diri tersebut
dapat dilakukan melalui diri sendiri (introspeksi diri), malalui
feed back dari orang lain serta tes-tes psikologis.
Modul Diklatpim Tingkat IV
BAB III
PENGUKURAN POTENSI DIRI
Setelah selesai membaca Bab ini, peserta Diklat
diharapkan mampu melakukan pengukuran potensi diri
dengan baik dan benar
Sebelum membahas dan mempraktikkan metode pengukuran potensi
diri serta merancang pengembangannya terlebih dahulu akan dibahas
mengenai konsep diri. Apa yang dimaksudkan dengan konsep,
komponen konsep diri dan bagaimana meningkatkan konsep diri.
A.
Apa yang dimaksudkan dengan
DIRI?
KONSEP
terbentuk melalui pengalaman dan interaksi dengan lingkungan
dan mendapat pengaruh dari orang-orang yang dianggap
penting. Konsep diri merupakan sistem operasi komputer
mental yang mengendalikan apa yang kita pikirkan, ucapkan,
lakukan dan rasakan. Tanpa ada upaya sadar dari pihak kita
untuk mengubah konsep diri maka kita akan terus berpikir,
berucap dan bertindak dan merasa sama seperti yang kita
jalani selama ini.
Konsep diri terdiri dari 3 (tiga) komponen yang saling
mempengaruhi satu dengan lainnya yaitu diri ideal (self ideal),
citra diri (self image) dan harga diri (self esteem). Apa yang
dimaksud dengan masing-masing komponen, akan diuraikan
secara singkat dibawah ini.
1.
Kita sering mendengar orang menyebut citra diri (self image),
harga diri (self esteem) dan kepercayaan diri (self confidence).
Kita sering bingung apa bedanya? Samakah dengan konsep
diri? Dalam bab ini kita akan membahas mengenai konsep
diri secara lebih gamblang. Mengapa? Menurut Adi W
Gunawan, konsep diri adalah kunci pembuka harta karun
potensi. Konsep diri merupakan pondasi utama keberhasilan
dalam proses pembelajaran menuju sukses. Setiap upaya yang
dilakukan untuk meningkatkan kemampuan diri, prestasi dan
kompetensi di bidang apapun hanya akan dapat dilakukan
dengan meningkatkan Konsep Diri seseorang. Lalu, apa yang
dimaksudkan dengan konsep diri? Konsep Diri adalah
persepsi (pandangan) seseorang terhadap dirinya yang
14
15
2.
Diri Ideal (self ideal); adalah sosok individu yang kita
ingin menjadi dimasa depan. Setiap orang mempunyai diri
ideal baik disadari atau tidak. Ada yang menetapkan
secara sadar diri idealnya, tapi ada yang tidak sadar bahwa
dia tidak menetapkan diri idealnya. Dengan tidak
menetapkan diri ideal sebenarnya dia juga membuat
keputusan untuk tidak menjadi siapa-siapa. Diri ideal
menentukan sebagian arah hidup seseorang.
Citra Diri (Self Image); adalah cara anda melihat diri anda
sendiri dan berpikir mengenai diri anda sekarang (saat
ini). Citra diri sering disebut cermin diri. Kita akan
bertindak sesuai dengan apa yang kita lihat di dalam diri.
Kalau kita melihat diri kita sukses dan percaya diri, kita
16
Pengenalan dan Pengukuran Potensi Diri
3.
17
Modul Diklatpim Tingkat IV
akan bertindak layaknya orang sukses dan percaya diri.
Sebaliknya apabila melihat orang yang gagal dan tidak
mampu, maka kita akan bertindak seperti cermin diri.
Harga Diri (Self Esteem); merupakan komponen yang
bersifat emosional dan merupakan komponen paling
penting dalam menentukan sikap dan kepribadian kita,
merupakan kunci mencapai keberhasilan hidup. Harga diri
akan menentukan semangat, antusiasme dan motivasi diri.
Harga diri menentukan prestasi dan keberhasilan diri.
Harga diri berbanding lurus dengan citra diri. Jika citra
diri baik, maka harga diri akan tinggi dan begitu pula
sebaliknya.
1.
Pengukuran Individual
Pernahkah anda merenungkan hakekat kehidupan anda?
Pernahkah anda merenungkan potensi-potensi diri anda.
Apabila hal ini anda lakukan sebenarnya anda sedang
melakukan pengukuran terhadap diri anda sendiri,
khususnya yang berkaitan dengan potensi diri anda.
Teknik ini sangat efektif apabila anda memperhatikan
kata hati anda. Sebab andalah yang paling mengetahui
tentang diri anda sendiri.
Berikut in anda diminta untuk merenungkan diri anda
sendiri dan merenungkan potensi-potensi yang ada pada
diri anda sendiri seperti yang tertuang dibawah ini.
Itulah ketiga komponen yang saling mempengaruhi konsep diri
seseorang.
Lembar Pengukuran Individual*
B.
Pengukuran Potensi Diri
Tahap pertama dalam pengembangan potensi diri adalah
mengenal diri sendiri. Oleh karena itu mengenal diri sendiri
perlu mendapat prioritas utama. Salah satu cara untuk
mengenal diri sendiri adalah melalui teknik pengukuran
potensi diri. Sebagaimana sudah dijelaskan dalam bab II,
banyak metode untuk pengukuran potensi diri, namun disini
akan digunakan beberapa metode pengukuran, antara lain
dapat dilakukan melalui introspeksi diri, feed back orang lain
serta pengisian instrumen tes kepribadian. Berikut ini akan
dibahas satu persatu teknik tersebut.
No.
Kriteria
Potensi
1.
Kemampuan dasar
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
2.
Sikap Kerja
1.
2.
18
Pengenalan dan Pengukuran Potensi Diri
No.
Kriteria
Kepribadian
19
Potensi
3.
4.
5.
6.
7.
8.
3.
Modul Diklatpim Tingkat IV
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
2.
Pengukuran melalui Feed Back Orang Lain
“Feed back” adalah komunikasi yang ditujukan kepada
seseorang (atau suatu kelompok) yang akan memberikan
informasi kepada orang atau kelompok yang
bersangkutan, bagaimana kesan yang ditimbulkan pada
orang lain dengan tingkah laku yang ditunjukkannya
(bahan ajar motivasi berprestasi).
“Feed beck” itu membantu seseorang untuk menelaah dan
memperbaiki tingkah lakunya dan dengan demikian ia
akan lebih mudah mencapai hal-hal yang diinginkannya.
Selanjutnya dalam bahan ajar ini akan dibahas tentang
hal-hal yang berkaitan dengan feed back sebagai berikut:
a.
Untuk bahan latihan seperti tertuang dalam lembar kerja 1.
Dalam pengisian lembar kerja ini hendaknya anda telah
melakukan kegiatan renungan diri melalui materi.
Pembinaan perilaku kepemimpinan di alam terbuka (out
door)
Kecerdasan emosi
Kesehatan mental
Hal ini disebabkan dalam materi-materi tersebut anda dipandu
untuk lebih mengenal diri anda sendiri melalui proses
pembelajaran yang telah dirancang dengan baik.
Feed back yang langsung dan tidak langsung
Ada dua macam respon dalam kita berhubungan
dengan orang lain yang biasanya digunakan untuk
menilai dirinya. Bila orang-orang bergaul, bagaimana
formalnyapun pergaulan atau hubungan mereka toh
seringkali mereka memberi petunjuk-petunjuk halus
tentang perasaan mereka mengenai orang-orang yang
dihadapi, ini dapat kita namakan feed back tidak
langsung.
Sedangkan feed back yang langsung, terdiri dari
pernyataan-pernyataan verbal yang secara khusus
20
Pengenalan dan Pengukuran Potensi Diri
melukiskan
bagaimana persepsi
orang lain,
bagaimana reaksi yang satu terhadap yang lain.
Hal yang menarik pada feed back yang tidak
langsung adalah bahwa biasanya sifat halus, samarsamar, suatu senyuman dapat merupakan kebiasaan
dalam
pergaulan,
tetapi
senyuman
dapat
menyampaikan keakraban dan pujian dengan apa
yang dilihatnya, tetapi mungkin pula itu merupakan
petunjuk bahwa orang tersebut takut menjadi akrab
dengan orang lain.
Masalah feed back yang halus dan samar-samar ini
dirumitkan lagi oleh kenyataan bahwa orang
cenderung untuk melihat hal-hal yang ingin
dilihatnya dan cenderung untuk sangat sensitive
terhadap petunjuk-petunjuk dalam lingkungan yang
menegaskan
dugaan-dugaannya. Bila seseorang
menduga bahwa orang lain akan sulit menerima
dirinya, maka ia cenderung menafsirkan senyuman
orang lain sebagai tingkah laku konvensional belaka.
Dan bila orang lain agak diam maka ini akan mudah
sekali ditafsirkan sebagai tanda bahwa orang lain itu
menolak dirinya, tidak bersedia menerima dirinya.
Feed back yang tidak langsung ini tidak
memungkinkan penafsiran yang tegas. Seringkali
terjadi bahwa ada hal-hal tertentu pada orang lain
Modul Diklatpim Tingkat IV
21
yang tidak kita terima atau benarkan, namun setelah
mengetahui mengapa orang itu demikian atau orang
itu berkesempatan untuk memberikan penjelasan
kepada kita, maka tanggapan kita tentang dirinya
berubah. Yang juga sering terjadi adalah bahwa feed
back yang kita terima justeru memberikan informasi
tentang si pemberi feed back itu sendiri.
Karena sifatnya yang samar-samar maka feedback
yang tidak langsung tidak begitu berguna bagi yang
menerimanya, bahkan feedback itu dapat merusak
tujuan-tujuan evaluasi diri. Orang menerima
feedback yang demikian harus menarik kesimpulan
dari petunjuk-petunjuk yang kurang jelas tanpa
mempunyai kesempatan untuk menjajaginya lebih
jauh, sehingga ia tidak dapat mengetahui makna yang
sebenarnya ataupun alasan yang mendasarinya.
Feed back yang langsung jauh lebih bermanfaat
untuk evaluasi dirinya. Namun feedback yang
langsung ini juga dapat tak berguna bila ia tidak
merupakan penilaian atau reaksi yang jujur. Salah
satu sebab mengapa tak ada kejujuran dalam hal ini
terletak pada keharusan-keharusan tata krama
pergaulan yang tidak membenarkan seorang
mengecam orang lain secara terbuka. Akibatnya
antara lain adalah bahwa kita kurang percaya bahwa
orang lain akan jujur terhadap kita. Oleh karena itu
22
Pengenalan dan Pengukuran Potensi Diri
agak sulit diyakinkan bila orang lain mengatakan
bahwa ia menerima
diri kita setelah kita
mengungkapkan aspek-aspek dirinya yang negatif.
Karena larangan tata krama tadi maka feedback yang
negatif (biasanya kecaman) seringkali disertai emosi
yang kuat di pihak penerima. Banyak orang yang
hanya akan secara terbuka mengecam orang lain bila
ia dalam keadaan marah. Akibatnya adalah bahwa
kita menjadi terbiasa untuk bersifat defensif
(membela diri) atau membalas, sebagai respon
terhadap kecaman yang kita asosiasikan dengan
ancaman. Karena kita emosional dalam menyambut
kecaman kita cenderung untuk menanggapinya
sebagai penolakan terhadap seluruh diri kita, dan
karena itu kecaman itu adalah sesuatu yang harus
kita tangkis atau kita ingkari dengan cara apapun.
Feedback yang tidak langsung sekalipun tidak
banyak berguna namun tetap memainkan peranan
yang penting dalam penentuan identitas diri.
Respon-respon orang lain terhadap tingkah laku kita
yang seringkali juga bersifat non verbal, mungkin
mengandung informasi yang tak mungkin mereka
nyatakan secara lebih langsung. Namun hal itu saja
belum cukup, bagi sementara orang mereka lebih
suka menerima feedback yang terus terang saja.
Modul Diklatpim Tingkat IV
b.
23
Feed back yang evaluatif dan deskriptif
Terlebih dahulu akan dibicarakan tentang feedback
yang evaluatif, yaitu komunikasi yang mengandung
informasi berupa suatu penilaian tentang diri si
penerima feedback. Feedback yang evaluatif adalah
petunjuk-petunjuk dalam pergaulan yang dapat
digunakan untuk evaluasi dan reevaluasi diri. Bagi
banyak orang feedback yang evaluatif dapat
mempunyai fungsi yang bermanfaat.
Melalui pengungkapan diri dan feedback yang
kemudian diperolehnya mereka dapat menguji
dugaan-dugaan mereka tentang sampai seberapa
jauh orang lain menerima dan menyukai diri mereka.
Hasilnya dapat meningkatkan harga diri mereka.
Feedback yang evaluatif memungkinkan orang untuk
mempunyai dan memelihara gambaran yang realistis
tentang kemampuan-kemampuan dan kelemahankelemahannya. Dan terakhir, feedback yang evaluatif
merupakan dasar bagi perbaikan diri. Bila kita tidak
mengetahui tentang kelemahan-kelemahan kita maka
kita tidak akan tergerak untuk mengatasinya, jadi
tidak akan tergerak untuk mengembangkan diri.
Tidak semua orang merasa penting atau perlu untuk
memperbaiki diri. Orang-orang yang mempunyai
harga diri yang lemah pada umumnya terutama
menginginkan untuk diyakinkan. Mereka cenderung
24
Pengenalan dan Pengukuran Potensi Diri
Modul Diklatpim Tingkat IV
untuk mencari dalam respon-respon orang lain
terhadap dirinya, petunjuk-petunjuk tentang apakah
orang yang dihadapi itu memuji atau mencela
dirinya, menerima atau menolak dirinya. Orangorang yang “narsistis” mencari pujian, pengaguman
dan tepuk tangan dari orang lain dalam usaha mereka
yang tak henti-hentinya untuk menghilangkan
keragu-raguan tentang dirinya sebagai manusia.
memperhatikan
unsur-unsur
evaluatif
pada
sambutan-sambutan orang lain terhadap dirinya,
pujian atau kecaman, penerimaan atau penolakan.
Kurangnya feedback deskriptif yang bermanfaat
untuk sebagian bersumber pada kesulitan untuk
meramalkan apakah orang yang akan menerima
feedback itu juga akan menerimanya seadanya
ataukah nanti tetap akan mengusuti unsur-unsur
evaluatif di dalamnya. Terlalu sering terjadi bahwa
orang-orang yang ingin dapat memanfaatkan
feedback memperolehnya, karena orang yang akan
dapat membantu
mereka dengan memberikan
feedback itu, telah mengalami sesuatu yang tidak
menyenangkan dengan orang lain, dimana orangorang lain itu hanya mencari unsur-unsur evaluatif
dalam feedback yang diberikan.
Oleh karena itu akan lebih bijaksana dan lebih
bermanfaat apabila feedback yang diberikan berupa
feedback yang deskriptif. Feedback yang deskriptif
lebih banyak mendeskripsikan atau menguraikan
bagaimana reaksi si pengirim atau tingkah laku si
penerima, impact tingkah laku si penerima pada diri
si pengirim oleh tingkah laku atau tindakan si
penerima.
c.
Ada orang yang tidak memperhatikan unsur-unsur
evaluatif tadi tetapi mereka mengarahkan
perhatiannya kepada petunjuk-petunjuk yang
deskriptif yang dapat membantu mereka untuk
mengetahui siapa mereka, mereka tidak begitu
mementingkan apakah orang lain dapat menerima
mereka atau tidak.
Bila orang mempunyai rasa harga diri yang lemah
maka orang tersebut akan cenderung untuk terutama
25
Feed back yang bermanfaat
Apabila kita ingin membantu orang lain untuk lebih
mengenal dan selanjutnya mengembangkan dirinya,
maka perlu hal-hal yang telah diuraikan di atas
untuk menjadi bahan pertimbangan.
Apa yang kita ketahui tentang orang yang menjadi
penerima feedback serta hubungan pribadi antara dia
dan diri kita tentu sedikit banyak memberi pegangan,
cara yang bagaimana yang akan ditempuh.
Persyaratan yang mutlak adalah bahwa feedback itu
26
Pengenalan dan Pengukuran Potensi Diri
Modul Diklatpim Tingkat IV
diberikan menurut keadaan yang sebenarnya (jujur)
jadi jangan hasil karangan.
Secara umum ada beberapa kriteria yang dapat
diperhatikan, agar feedback yang dimaksud sebagai
bahan pengembangan diri seseorang itu merupakan
sasarannya, jadi bermanfaat bagi penerima.
Mike Wood Cock dan Dave Francis memberikan
saran-saran dalam memberikan feedback sebagai
berikut:
Feedback yang bermanfaat sifatnya itu lebih
banyak deskriptif (menguraikan) dari pada
menilai. Ia hanya melukiskan reaksi pengirim
dengan demikian si penerima bebas untuk
menggunakan atau tidak menggunakannya.
Dengan menghindarkan berbicara untuk menilai,
maka ini juga akan mengurangi kemungkinan
bahwa si penerima akan memberikan respon
yang defensif.
Sifat khusus dan tidak umum. Adalah akan
kurang bermanfaat bila orang mengatakan
kepada kita bahwa “sikap kita terlalu mau
menguasai”. Akan lebih besar manfaatnya
sebagai feedback, bila orang itu mengatakan:
“tadi waktu kita membicarakan apa yang
sebaiknya dilakukan anda tidak mendengar apa
yang dikatakan orang-orang lain”, dan saya
27
merasa bahwa tadi itu saya terpaksa untuk
menerima apa saja yang anda katakan, jika
tidak, ada kemungkinan anda menyerang saya.
Feedback yang bermanfaat memperhitungkan
kebutuhan-kebutuhan si penerima maupun si
pemberi feedback. Feedback dapat merusak bila
ia hanya memenuhi kebutuhan atau keinginan si
pemberi dan tidak memperhatikan kebutuhan si
penerima.
Feedback itu diarahkan pada tingkah laku si
penerima yang perlu diubahnya. Bila feedback
itu hanya mengingatkan kepada kekurangan kekurangan dirinya yang diluar kekuasaannya
untuk merubah, maka ini akan meningkatkan
frustrasinya.
Hendaknya memberikan feedback itu hanya bila
dikehendaki oleh yang bersangkutan dan jangan
feedback itu dipaksakan kepadanya. Feedback
yang paling bermanfaat adalah bila si penerima
sendiri bertanya sehingga apa yang ditanyakan
itu dapat dijawab oleh yang telah mengamatamati si penerima.
Usahakanlah agar feedback itu diberikan pada
waktu yang tepat. Pada umumnya feedback itu
akan bermanfaat bila diberikan sesegera
mungkin setelah terjadi tingkah laku yang
diamati itu. (ini tentu tergantung pula dari
kesediaan si penerima untuk mendengarkannya
28
Pengenalan dan Pengukuran Potensi Diri
atau bila ada dorongan dari orang lain dan
sebagainya).
Feedback itu hendaknya dicheck pada
sipengirim. Umpamanya si penerima dapat
mengatakan feedback itu dengan kalimatkalimat atau susunan kata-kata yang lain agar ia
dapat memastikan bahwa komunikasi terjadi
secara jelas.
Juga hendaknya feedback itu di check pada
orang-orang lain dalam kelompok. Dalam suatu
kelompok yang tengah menjalani suatu training
terutama si pengirim maupun si penerima
feedback dapat mencari penegasan apakah
feedback itu hanya berdasarkan kesan yang
diperoleh orang satu ataukah memang hal itu
juga telah dilihat oleh yang lain-lain.
3. Tes Kepribadian
Pengenalan diri akan membantu individu melihat
kemampuan-kemampuan yang ada pada dirinya, melihat
hal-hal yang telah berkembang dengan hal-hal yang masih
perlu dikembangkan. Salah satu instrumen untuk
pengenalan diri adalah melalui “tes kepribadian”. Dalam
bahan ajar ini anda akan dipandu untuk melakukan tes
kepribadian anda khususnya dalam hal:
Tipologi Diri
Kepercayaan pada diri sendiri
Pengukuran ambisi
Modul Diklatpim Tingkat IV
29
Sebelum membaca dan membahas mengenai tipologi diri
ini, Anda akan dipandu oleh widyaiswara untuk mengisi
lembar kerja 2 terlebih dahulu.
Berikut ini akan dibahas satu persatu hasil interpretasi diri
Anda:
a.
Tipologi Diri
Manusia itu adalah makhluk Tuhan yang paling unik.
Tidak ada manusia yang persis sama, walaupun
mereka terlahir kembar sekalipun. Namun kalau kita
amati lebih cermat, manusia pada dasarnya dapat
digolongkan pada beberapa tipe. Coba anda
bayangkan sejenak, saudara-saudara anda, teman dan
sahabat anda, orang-orang yang anda temui dalam
pergaulan sehari-hari baik di lingkungan keluarga,
lingkungan kerja dan masyarakat. Mereka ada yang
mudah bersahabat, pendiam, keras kepala, pemarah,
pendendam, penyabar, humoris, santai, perfeksionis,
penggembira, optimis, pesimis, percaya diri, rendah
diri, acuh tak acuh dan sebagainya. Ternyata bahwa
mereka memiliki suatu pola kepribadian tertentu.
Banyak teori yang menjelaskan mengenai hal ini.
Salah satu teori akan dibahas dalam modul ini, yaitu
teori yang dikemukakan oleh Hippocrates dan
Galenus, yang mengatakan bahwa manusia bisa
dibagi menjadi empat golongan menurut keadaan zat
30
Pengenalan dan Pengukuran Potensi Diri
cair yang ada dalam tubuhnya. Teori ini sudah cukup
populer, lebih sederhana dan mudah dimengerti
orang awam. Adapun kecenderungan ke empat
golongan kepribadian tersebut adalah:
1). Sanguinis Populer (Ekstrovet, Membicara,
Optimis )
a). Kekuatan
Emosi
Sanguinis
Populer.
Kepribadian yang menarik, suka bicara,
menghidupkan pesta, rasa humor yang hebat,
ingatan kuat untuk warna, secara fisik
memukau pendengar, emosional dan
demonstratif, antusias dan ekspresif, periang
dan penuh semangat, penuh rasa ingin tahu,
baik di panggung, lugu dan polos, hidup di
masa sekarang, mudah diubah, berhati tulus,
selalu kekanak-kanakan.
b). Kekuatan Sanguinis (Populer di pekerjaan,
sukarelawan untuk tugas), memikirkan
kegiatan baru, tampak hebat di permukaan,
kreatif dan inovatif, punya energi dan
antusiasme, mulai dengan cara cemerlang,
mengilhami orang lain untuk ikut,
mempesona orang lain untuk pekerja.
c). Kekuatan Sanguinis (populer sebagai teman),
mudah berteman, mencintai orang, suka
dipuji, tampak menyenangkan.
Modul Diklatpim Tingkat IV
31
2). Kepribadian Koleris Kuat ( Ekstrovet, Pelaku,
Optimis )
a). Kekuatan Emosi Koleris Kuat. Berbakat
pemimpin, dinamis dan aktif, sangat
memerlukan perubahan, harus memperbaiki
kesalahan, berkesan kuat dan tegas, tidak
emosional bertindak, tidak mudah patah
semangat, bebas dan mandiri, memancarkan
keyakinan, bisa menjalankan apa saja.
b). Kekuatan Koleris Kuat Sebagai Orang Tua.
Memberikan
kepemimpinan
kuat,
menetapkan tujuan, memotivasi keluarga
atau kelompok, tahu jawaban yang benar,
mengorganisasi rumah tangga.
c). Kekuatan Koleris kuat di pekerjaan,
berorientasi
target,
melihat
seluruh
gambaran, terorganisasi dengan
baik,
mencari pemecahan praktis, bergerak cepat
untuk bertindak, mendelegasikan pekerjaan,
menekankan pada hasil, membuat target,
merangsang kegiatan, berkembang karena
saingan.
d). Kekuatan Koleris Kuat sebagai teman, tidak
terlalu perlu teman, mau bekerja untuk
kegiatan,
mau
memimpin
dan
mengorganisasi, biasanya selalu benar,
unggul dalam keadaan darurat.
32
Pengenalan dan Pengukuran Potensi Diri
3). Kepribadian Melankolis Sempurna (Introvet,
Pemikir, Pesimis)
a). Kekuatan Emosi Melankolis Sempurna.
Mendalam dan penuh pikiran, analitis, serius
dan tekun, cenderung jenius, berbakat dan
kreatif, artistik atau musikal, filosofis dan
puitis, menghargai keindahan, perasa
terhadap orang lain, suka berkorban, penuh
kesadaran, idealis.
b). Melankolis Sempurna Sebagai Orang Tua.
Menetapkan standar tinggi, ingin segalanya
dilakukan dengan benar, menjaga rumah
selalu rapi, merapikan barang anak-anak,
mengorbankan keinginan sendiri untuk yang
lain, mendorong intelegensi dan bakat.
c). Kekuatan
Melankolis
Sempurna
di
pekerjaan. Berorientasi jadwal, perfeksionis,
standar tinggi, sadar perincian, gigih dan
cermat, tertib dan terorganisasi, teratur dan
rapi, ekonomis, melihat masalah, mendapat
pemecahan kreatif, perlu menyelesaikan apa
yang dimulai, suka diagram, grafik, bagan
dan daftar.
d). Kekuatan Melankolis Sempurna sebagai
teman. Hati-hati dalam berteman, puas
tinggal di latar belakang, menghindari
perhatian, setia dan berbakti, mau
Modul Diklatpim Tingkat IV
33
mendengarkan keluhan, bisa memecahkan
masalah orang lain.
4). Kepribadian Phlegmatis Damai (Introvet,
Pengamat, Pesimis)
a). Kekuatan
Emosi Phlegmatis Damai.
Kepribadian rendah hati, mudah bergaul
dan santai, diam, tenang dan mampu, sabar,
baik keseimbangannya, hidup konsisten,
tenang tetapi cerdas, simpatik dan baik hati,
menyembunyikan emosi, bahagia menerima
kehidupan, serba guna.
b). Kekuatan Phlegmatis Damai sebagai Orang
Tua. Menjadi orang tua yang baik,
menyediakan waktu bagi anak-anak, tidak
tergesa-gesa, bisa mengambil yang baik dari
yang buruk, tidak mudah marah.
c). Kekuatan Phlegmatis damai di Pekerjaan.
Cakap dan mantap, damai dan mudah
sepakat, punya kemampuan administratif,
menjadi penengah masalah, menghindari
konflik, baik di bawah tekanan, menemukan
cara yang mudah.
d). Kekuatan Phlegmatis damai sebagai teman.
Mudah diajak bergaul, menyenangkan, tidak
suka menyinggung, pendengar yang baik,
selera humor yang menggigit, suka
34
Pengenalan dan Pengukuran Potensi Diri
mengawasi orang, punya banyak teman,
punya belas kasihan dan perhatian.
b.
Kepercayaan Pada Diri Sendiri
Setelah mengisi lembar kerja 3, sekarang Anda telah
mengetahui kecenderungan Anda dalam tingkat
kepercayaan diri. Hasil analisis menunjukkan
kecenderungan tingkat kepercayaan diri anda sebagai
berikut:
Sangat kuat
Kepercayaan diri bukanlah persoalan bagi anda. Anda jarang
khawatir, apakah akan membuat kesan yang baik pada orang
lain atau tidak. Anda tak punya keraguan ataupun rendah diri.
Kuat
Dibandingkan orang lain dan kelompok umur anda, tingkat
kepercayaan diri yang anda miliki adalah baik. Anda tidak
khawatir mengenai kesan yang anda timbulkan pada orang lain.
Anda jarang ragu dan tidak punya rasa rendah diri.
Rata-rata sampai kuat
Tingkat kepercayaan diri anda berada dalam batas yang normal,
cenderung agak kuat.
Modul Diklatpim Tingkat IV
35
Rata-rata sampai lemah
Tingkat kepercayaan diri anda berada dalam batas normal,
cenderung agak lemah. Anda cenderung merasa ragu, kuatir
tentang kesan yang anda timbulkan pada orang lain dan
mempunyai perasaan rendah diri.
Lemah
Kepercayaan diri menjadi persoalan bagi anda. Anda sering
khawatir tentang kesan yang anda timbulkan pada orang lain.
Sebaiknya anda mendekati persoalan hidup dengan rasa yang
lebih percaya diri dan tidak bersikap emosional.
Kepercayaan-diri adalah efek dari bagaimana kita merasa,
meyakini dan mengetahui. Orang yang punya kepercayaan diri
rendah atau kehilangan kepercayaan diri memiliki perasaan
negatif terhadap dirinya, memiliki keyakinan lemah terhadap
kemampuan dirinya dan punya pengetahuan yang kurang
akurat terhadap kapasitas yang dimilikinya.
Sebaliknya, orang yang kepercayaan diri bagus, mereka
memiliki perasaan positif terhadap dirinya, punya keyakinan
yang kuat atas dirinya dan punya pengetahuan akurat terhadap
kemampuan yang dimiliki. Orang yang punya kepercayaan diri
bagus bukanlah orang yang hanya merasa mampu (tetapi
sebetulnya tidak mampu) melainkan adalah orang yang
mengetahui bahwa dirinya mampu berdasarkan pengalaman dan
perhitungannya.
36
Pengenalan dan Pengukuran Potensi Diri
Buat kita yang punya masalah seputar rendahnya kepercayaandiri atau merasa telah kehilangan kepercayaan diri, mungkin
langkah-langkah di bawah ini bisa dijadikan proses latihan:
Modul Diklatpim Tingkat IV
motivatif. Ini hanya syarat awal dan tidak cukup untuk
membangun kepercayaan diri.
2). Memperjuangkan keinginan yang positif
1). Menciptakan definisi diri positif.
Steve Chandler mengatakan, “Cara terbaik untuk
mengubah sistem keyakinanmu adalah mengubah
definisi dirimu.” Bagaimana menciptakan definisi diri
positif. Di antara cara yang bisa kita lakukan adalah:
Membuat kesimpulan yang positif tentang diri
sendiri/membuat opini yang positif tentang diri sendiri.
Positif di sini artinya yang bisa mendorong atau yang
bisa membangun, bukan yang merusak atau yang
menghancurkan.
Belajar melihat bagian-bagian positif/kelebihan/
kekuatan yang kita miliki.
Membuka dialog dengan diri sendiri tentang hal-hal
positif yang bisa kita lakukan, dari mulai yang paling
kecil dan dari mulai yang bisa kita lakukan hari ini.
Selain itu, yang perlu dilakukan adalah menghentikan
opini diri negatif yang muncul, seperti misalnya saya
tidak punya kelebihan apa-apa, hidup saya tidak
berharga, hanya beban masyarakat, dan seterusnya.
Setelah kita menghentikan, tugas kita adalah
menggantinya dengan yang positif, konstruktif dan
Merumuskan program/agenda perbaikan diri. Ini bisa
berbentuk misalnya memiliki target baru yang hendak
kita wujudkan atau merumuskan langkah-langkah
positif yang hendak kita lakukan. Entah itu besar atau
kecil, intinya harus ada perubahan atau peningkatan ke
arah yang lebih positif. Semakin banyak hal-hal positif
(target, tujuan atau keinginan) yang sanggup kita
wujudkan, semakin kuatlah kepercayaan diri kita. Pada
akhirnya kita hanya akan menjadi lebih baik dengan
cara melakukan sesuatu yang baik buat kita.
3). Mengatasi masalah secara positif
Memberikan bukti kepada diri sendiri bahwa kita ternyata
berhasil mengatasi masalah yang menimpa kita. Semakin
banyak masalah yang sanggup kita selesaikan, semakin
kuatlah kepercayaan diri kita. Lama kelamaan kita
menjadi orang yang tidak mudah minder ketika
menghadapi masalah. Karena itu ada yang mengingatkan,
begitu kita sudah terbiasa menggunakan jurus pasrah atau
kalah, ini nanti akan menjadi kebiasaan yang membuat
kita seringkali bermasalah.
37
38
Pengenalan dan Pengukuran Potensi Diri
Modul Diklatpim Tingkat IV
39
4). Memiliki dasar keputusan yang positif
Kalau dibaca dari praktik hidup secara keseluruhan,
memang tidak ada orang yang selalu yakin atas
kemampuannya dalam menghadapi masalah atau dalam
mewujudkan keinginan. Orang yang sekelas Mahatma
Gandhi saja sempat goyah ketika tiba-tiba realitas berubah
secara tak terduga-duga. Tapi, Gandhi punya cara yang
bisa kita tiru: “Ketika saya putus asa maka saya selalu
ingat bahwa sepanjang sejarah, jalan yang ditempuh
dengan kebenaran dan cinta selalu menang”. Ada
beberapa tirani dan pembunuhan yang sepintas sepertinya
menang tetapi akhirnya kalah. Pikirkan ucapan saya ini,
“SELALU”. Artinya, kepercayaan Gandhi tumbuh lagi
setelah mengingat bahwa langkahnya sudah dilandasi oleh
prinsip-prinsip yang benar.
5). Memiliki model/teladan yang positif
Yang penting lagi adalah menemukan orang lain yang
bisa kita contoh dari sisi kepercayaan dirinya. Ini memang
menuntut kita untuk sering-sering membuka mata melihat
orang lain yang lebih bagus dari kita lalu menjadikannya
sebagai pelajaran. Saking pentingnya peranan orang lain
ini, ada yang mengatakan bahwa kita bisa memperbaiki
diri dari dua hal yaitu pengalaman pribadi (life
experiencing) dan duplicating (mencontoh dan
mempelajari orang lain).
Banyak ahli menilai, percaya diri merupakan faktor penting
yang menimbulkan perbedaan besar antara sukses dan gagal.
Karenanya, tidak sedikit pula yang memberikan
pandangannya mengenai teknik-teknik membangkitkan rasa
percaya diri.
Selain langkah-langkah yang dikemukakan oleh Steve
Chandler di atas, Richard Denny dalam bukunya Sukses
Memotivasi (Sumber: http://pembelajaran.blogspot.com/)
juga mengemukakan lima langkah yang diperlukan untuk
membangun kepercayaan diri dan yang pada gilirannya
membangun motivasi diri dari dalam, yaitu :
1). Hindari mencari-cari alasan
Begitu banyak orang mengurungkan niat mereka dengan
mengajukan alasan yang tidak masuk akal dan
samasekali salah. Seperti Saya tidak bisa, Saya tidak
mampu sebab pendidikan saya belum memadai, Saya
sudah terlalu tua, Saya masih terlalu muda.
Siapapun dapat mencari alasan bagi hampir segalanya,
maka dalam membangun kepercayaan diri, jangan
sekali-kali membuat alasan. Hal itu mungkin sangat
menyenangkan dan menentramkan hati, tetapi alasanalasan hanya akan menghambat seseorang dari
pencapaian sasaran. Ingatlah bahwa otak Anda adalah
kawasan penyimpanan -- apa yang Anda masukkan pada
gilirannya akan keluar lagi, jadi gantilah penyisipan halhal negatif dengan hal-hal positif.
40
Pengenalan dan Pengukuran Potensi Diri
2). Gunakan Daya Imajinasi
Otak dengan kapasitasnya yang tidak terbatas dapat
membantu Anda dengan tanpa batasan mencapai ambisi
hidup jika Anda memberinya kesempatan. Biarkan dia
menggambarkan diri Anda sebagai pribadi yang Anda
inginkan. Dengan jelas menggambarkan apapun wujud
yang Anda inginkan. Semakin Anda memikirkan itu
semua semakin besar kepastian akan suatu hasil yang
positif. Jika Anda terus menerus membiarkan pikiran
Anda dipenuhi dengan bermacam-macam pemikiran
mengenai penyakit dan kesehatan yang buruk, Anda
hampir pasti akan mengalami penyakit yang Anda
pikirkan. JIka Anda terus menerus memikirkan hasil
negatif tentang pergaulan atau karier bisnis, pemikiran
itu pada gilirannya akan mengakar dalam diri Anda.
Maka dalam proses membangun kepercayaan diri
dengan menggunakan proses kesan daya imajinasi otak,
pentinglah untuk menjadi yakin bahwa apa yang sedang
Anda pikirkan dan lihat dengan jelas adalah hal yang
positif. Hal yang positif itu harus memungkinkan kesan
positif pada diri Anda dan peningkatannya, serta
pemikiran positif itu harus mengarah ke sasaran Anda,
cita-cita dan kebahagiaan dalam hidup.
Modul Diklatpim Tingkat IV
41
3). Jangan Takut Gagal
Kegagalan telah menghalangi begitu banyak orang
sehingga mereka mundur sebelum mencoba, berbuat
atau meraih keberhasilan sebab mereka tidak mampu
menerima terminologi dimana ada kemungkinan untuk
gagal. Sebagian orang benar-benar tidak pernah
mencoba sesuatupun sebab rasa takut gagal ini telah
menguasai otak mereka selama bertahun-tahun. Setiap
hari mereka memikirkan kegagalan ini sehingga mereka
tidak pernah sungguh-sungguh melakukan sesuatu dan
pada akhirnya mereka tidak percaya diri dan penuh
keraguan.
4). Penampilan Membentuk Kepercayaan Diri
Penampilan luar memang bukan segalanya. Kadangkadang perlu untuk membelanjakan uang demi
penampilan luar yang menarik, karena dengan
penampilan luar yang menarik memberi kesempatan
yang ada dalam diri Anda untuk merasa baik. Tetapi
haruslah tetap bersikap realistis. Sebagian orang
bersikap berlebihan dalam penampilan mereka dan pada
akhirnya semua itu hanya demi kepuasan ego mereka.
5). Susunlah Catatan Mengenai Sukses Yang Diperoleh
Setiap orang pernah mencapai sukses dalam hidupnya.
Cara mengumpulkan catatan sukses masa lalu sangat
sederhana. Pikirkan balik sukses Anda yang paling awal
yang mungkin terjadi pada masa sekolah ketika
42
Pengenalan dan Pengukuran Potensi Diri
memenangkan lomba balap kelereng atau balap karung.
Mungkin juga berawal dari ucapan selamat ketika
memenangkan lomba menggambar atau melukis. Ini bisa
dilakukan secara lisan pada suatu audio kaset atau buku
catatan. Anda bisa melihat kembali catatan dan
memperbaharui aset paling berharga Anda dengan
kenangan akan sukses tersebut.
C.
43
Modul Diklatpim Tingkat IV
akibat yang merusak dan bukannya
menguntungkan pada efisien anda.
akibat
yang
Rata-rata Kuat:
Tingkat ambisi anda berada dalam batas normal dan cenderung
berkembang agak kuat.
Rata-rata lemah
Pengukuran Ambisi
Setelah Anda selesai mengisi lembar kerja 4 mengenai
pengukuran tingkat ambisi, cermatilah hasil analisis di bawah
ini yang menunjukkan kecenderungan tingkat ambisi anda,
sebagai berikut:
Tingkat ambisi anda berada dalam batas normal, cenderung
berkembang agak lemah. Sikap anda dalam menilai tingkat
keberhasilan anda berada dalam batas lebih tenang sampai
pada masa bodoh.
Anda tidak cenderung untuk
memperlihatkan keinginan yang kuat untuk mencapai hasil.
Sangat kuat
Lemah
Anda sangat ambisius. Anda berusaha meningkatkan rasa
berharga anda melalui hasil yang anda capai. Di masa depan
berusahalah mengurangi keinginan untuk mencapai hasil yang
berlebih-lebihan, karena ambisi yang terlalu besar dapat
mempengaruhi hasil yang dicapai secara negatif dan bukannya
secara positif.
Tingkat keberhasilan anda memainkan peranan yang kecil
dalam hidup anda. Anda tidak ingin memperoleh pengakuan
melalui keberhasilan yang luar biasa. Ambisi anda yang
kurang berkembang dapat membuat atasan anda membuat
pendapat yang negatif mengenai diri anda.
Kuat
Anda mempunyai orientasi untuk mencapai hasil dan ingin
memperoleh pengakuan melalui hasil yang anda capai. Perlu
anda ketahui bahwa ambisi yang terlalu besar mempunyai
Berbicara mengenai ambisi, umumnya orang Indonesia alergi,
karena ambisi dalam bahasa Indonesia memiliki konotasi
negatif. Seorang ditanya ambisinya, dalam 5 tahun mendatang,
dia menjawab. “Boro-boro ambisi, bu, bisa makan dan
menyekolahkan anak saja sudah sangat bagus” jawabnya.
Seorang lainnya yang ditanya sambil tertawa-tawa dan
44
Pengenalan dan Pengukuran Potensi Diri
berusaha menghindar menjawab pertanyaaan dengan
mengatakan “saya tak punya ambisi Bu, saya kan orang kecil
yang tidak bisa apa-apa”. Mengapa demikian? Apa yang salah
dengan ambisi? Apa yang dimaksudkan dengan ambisi? Di
bawah ini akan diuraikan secara singkat mengenai apa,
mengapa dan bagaimana mengelola ambisi yang sehat.
Menurut The Webster’s Dictionary, definisi “ambition” atau
"ambisi' adalah:
A goal or objective that somebody is trying to achieve
(Arah atau tujuan tertentu yang seseorang sedang coba
capai)
A desire for success: a strong feeling of wanting to be
successful in life and achieve great thing (Keinginan yang
kuat untuk memperoleh kesuksesan dalam hidup dan
mencapai hal-hal besar /baik yang diinginkan)
Desire for exertion or activity; energy: (Keinginan yang
kuat untuk melakukan aktivitas tertentu, semisal: Ambisi
untuk diet, mendaki Himalaya, atau kembali kuliah )
An eager or strong desire to achieve something, such as
fame or power.(Keinginan atau hasrat yang kuat untuk
mencapai tingkat kemashuran dan kekuasaan tertentu)
Jadi berdasarkan definisi di atas, jika kita punya keinginankeinginan yang masih berupa ide-ide yang mengawang-awang
di kepala, berarti kita baru memiliki impian-impian. Tetapi
jika kita melakukan perencanaan yang terstruktur atas impianimpian itu serta sedang berjalan memfokuskan energi dan
Modul Diklatpim Tingkat IV
45
pikiran kita untuk mencapainya, berarti kita sudah memiliki
ambisi
Tetapi jika keinginan-keinginan atau impian-impian itu sudah
mendominasi pikiran, sudah membuat tingkat emosional
meluap, sudah menguasai pikiran tanpa terkendalikan sampai
kadang-kadang kita gugup memikirkannya, bahkan kadang
dengan pengejaran membabi buta, itu bukan ambisi, tapi itu
berarti kita sudah terobsesi dengan keinginan-keinginan atau
impian-impian itu. Pada tahap itu kita sudah memiliki obsesi.
Jadi kita tidak perlu takut untuk memiliki ambisi apalagi takut
dengan kata “ambisi”, dan hati-hati menggunakan kata
“obsesi”. Salah-salah anda malah memperlihatkan sisi gelap
psikopat anda.
Agar kiat memiliki ambisi yang sehat kita perlu “Mengelola
Ambisi” kita. Mengapa perlu di kelola? Karena manusia butuh
ambisi untuk mengubah hidupnya menjadi lebih baik. Ambisi
mempengaruhi sikap mental positif pada diri seseorang, yang
dapat mencetus semangatnya menuju ke tangga kesuksesan.
Bagi para pekerja, ambisi jelas diperlukan demi kemajuan
kariernya. Seperti halnya bensin dalam mesin mobil, ambisi
bagaikan bahan bakar yang dapat melesatkan kemajuan.
Ambisi adalah sumber kekuatan. Begitu dahsyatnya, ambisi
dapat mengubah kesengsaraan, kegagalan dan kekalahan
menjadi kebahagiaan, kesuksesan, dan keberhasilan. Pada
46
Pengenalan dan Pengukuran Potensi Diri
Modul Diklatpim Tingkat IV
dasarnya, ambisi memang bagus, selama dapat dikendalikan
dengan baik. Jika tidak, Anda akan menjadi seorang yang
ambisius. Patut dicatat, ambisius memiliki arti yang berbeda
dengan ambisi.
Umumnya, mereka yang ambisius memiliki minat dan
keinginan yang menggebu-gebu pada suatu bidang. Dan
biasanya mereka berperilaku egois dan menghalalkan segala
cara demi mencapai keinginannya. Lalu bagaimana cara
menumbuhkan sekaligus mengendalikan ambisi? Di bawah ini
dikemukakan beberapa cara menumbuhkan dan sekaligus
mengendalikan ambisi, sebagai berikut:
1). Miliki tujuan yang jelas, dan mengaculah pada tujuan
tersebut dengan kemauan yang tinggi.
2). Tentukan kapan Anda dapat bekerja untuk merealisasikan
tujuan Anda. Kemudian bertindaklah dengan penuh
optimisme dan singkirkan sikap pesimisme.
3). Jika gagal, pelajari penyebabnya. Jangan mengubah
tujuan hanya karena gagal.
4). Bekerja samalah dengan orang-orang yang dapat
membantu Anda. Jangan meluangkan waktu tanpa berbuat
sesuatu.
5). Eksploitasi gagasan Anda untuk merumuskan tujuan yang
jelas. Dalam hal ini, sugesti dalam diri juga memberi
kekuatan yang luar biasa dalam menumbuhkan ambisi.
47
6). Selalu berpikir positif. Ambisi yang positif menjauhkan
Anda dari rasa takut, iri hati, ragu-ragu, dendam, dan
benci. (Tabloid Nova).
D.
Latihan
1. Untuk pemahaman yang lebih baik mengenai materi dalam
Bab III di atas, cobalah anda renungkan konsep diri anda.
Kemudian tuliskanlah secara lengkap pendapat tentang diri
anda.
2. Lakukanlah self-assesment (tulislah perilaku-perilaku ingin
anda hilangkan atau paling tidak diminimalisasi) tuliskan
sebanyak-banyaknya yang anda temukan. Kemudian
setelah itu coba renungkan dan tuliskan mengenai penilaian
orang lain mengenai potensi diri anda.
3. Setelah anda mengetahui tipologi diri, tingkat kepercayaan
dan tingkat ambisi anda, tuliskanlah upaya-upaya atau tip
yang akan anda lakukan dalam rangka meningkatkan
kualitas diri, tingkat kepercayaan dan pengelolaan ambisi
anda.
48
E.
Pengenalan dan Pengukuran Potensi Diri
BAB IV
RANCANGAN PENGEMBANGAN
POTENSI DIRI
Rangkuman
1.
Konsep Diri adalah persepsi (pandangan) seseorang
terhadap dirinya, yang terbentuk melalui pengalaman dan
interaksi dengan lingkungan dan mendapat pengaruh dari
orang-orang
yang dianggap penting. Konsep diri
merupakan sistem operasi komputer mental yang
mengendalikan apa yang kita pikirkan, ucapkan, lakukan
dan rasakan. Konsep diri terdiri dari 3 (tiga) komponen
yang saling mempengaruhi satu dengan lainnya yaitu diri
ideal (self ideal), citra diri (self image) dan harga diri
(self esteem). Konsep diri ini akan sangat mempengaruhi
pengembangan diri seseorang.
2.
Sebelum melakukan pengembangan potensi diri, perlu
dilakukan Pengukuran terlebih dahulu. Pengukuran
dilakukan dengan menggunakan metode self assessment
(introspeksi), feed back dan tes psikologis. Potensi yang
akan diukur dengan menggunakan tes phsikologis adalah
tipologi (sanguinis, melankolis, kloris, plegmatis), tingkat
kepercayaan diri dan ambisi.
Setelah selesai membaca Bab ini, peserta Diklat
diharapkan mampu menjelaskan pengembangan potensi
diri
dengan baik dan benar
Setelah kita melakukan pengukuran dengan menggunakan beberapa
metode untuk mengetahui dan mengenal potensi-potensi yang kita
punyai, maka langkah berikutnya adalah merancang pengembangan
potensi diri. Namun sebelum itu, terlebih dahulu kita akan melihat
beberapa hal yang dapat menjadi penghambat dalam pengembangan
diri tersebut.
A.
Hambatan–hambatan Pengembangan Potensi
Diri
Kalau kita amati sekeliling kita, kita akan menemukan ada
orang – orang yang “berhasil” (sukses) dalam hidupnya dan
bahkan hidupnya penuh kelimpahan walaupun bekerjanya
tidak sekeras orang lain. Namun ada orang yang bekerja sangat
keras, siang dan malam namun hidupnya tetap saja susah. Ada
juga orang yang lahir dari keluarga miskin dimana orang
tuanya tidak punya apa-apa tapi anaknya hidup sukses. Namun
ada juga sebaliknya dari keluarga yang sukses namun hidupnya
berantakan. Ada juga seorang yang berpendidikan pas-pasan
49
50
Pengenalan dan Pengukuran Potensi Diri
bahkan dapat dikatakan tidak berpendidikan (formal) namun
hidupnya sukses. Sebaliknya seorang doktor lulusan sekolah
ternama di luar negeri, ternyata hidupnya pas-pasan saja.
Mengapa demikian …? Ini bukan sebuah pertanyaan yang
mudah untuk dijawab. Banyak sekali faktor yang saling terkait
yang menentukan arah dan keberhasilan atau kesuksesan hidup
seorang manusia. Namun demikian, walaupun banyak faktor
yang mempengaruhi keberhasilan hidup seseorang, menurut
Adi W Gunawan ada satu faktor kunci yang ternyata menjadi
fondasi keberhasilan seseorang dalam bidang apa saja yang
diinginkannya yaitu Pola Pikir. Ternyata pola pikir orangorang yang sukses berbeda dengan pola pikir orang yang biasabiasa saja. Dikatakannya bahwa pada orang - orang yang biasa
saja, mereka memiliki mitos dan kepercayaan yang
menghambat dan menyesatkan seperti antara lain adalah
bahwa keberhasilan seseorang itu ditentukan oleh:
1.
2.
Keturunan; orang - orang biasa akan mengatakan: “Saya
berasal dari keluarga biasa-biasa saja Pak”. “Saya
keturunan orang miskin, jadi wajar saja kalau saya
miskin”. Ini tidak benar. Lihat di sekeliling Anda,
temukan contoh bahwa orang yang tadinya miskin
sekarang menjadi sangat kaya. Contoh nyata adalah
“Souchiro Honda, tadinya mantan “kacung” dan akhirnya
jadi bos dan pendiri Honda Motor Company.
Pendidikan; yang dimaksudkan disini adalah pendidikan
formal dengan sederet gelar akademis. Bukan berarti
bahwa pendidikan akademis tidak perlu. Pendidikan
Modul Diklatpim Tingkat IV
3.
4.
51
formal tetap penting, tapi selain itu pendidikan dalam
kehidupan ini ada banyak caranya dan pendekatannya,
misalnya pendidikan non formal (dalam keluarga) dan
pendidikan in formal (melalui kursus, seminar, workshop,
pelatihan, konsultasi, magang dan sebagainya) serta
pengalaman hidup itu sendiri merupakan pendidikan kalau
kita bisa mengambil hikmahnya. Penulis juga meyakini
bahwa “belajar sepanjang hayat”, itu mutlak. Tapi yang
dimaksudkan kebanyakan orang bahwa pendidikan disini
adalah pendidikan ‘formal’. Kalau tidak memiliki sederet
gelar akademis, kita tidak akan sukses. Padahal ada
banyak contoh orang yang tidak memiliki gelar akademis
justeru memiliki anak buah dengan gelar S-1, S-2 dan S-3
dengan IP di atas 3 dari perguruan tinggi terkenal.
Hoki/Keberuntungan; bahwa hoki atau keberuntungan
tidak akan menghampiri seseorang tanpa ada usaha dan
upaya yang dilakukan oleh yang bersangkutan.
Hoki/keberuntungan akan datang pada orang-orang yang
menyediakan atau menciptakan kondisi-kondisi tertentu
yang sesuai dengan potensi, yang dapat menyiapkan
kondisi yang dibutuhkan untuk tumbuh dan
berkembangnya potensi sukses seseorang.
Nasib atau takdir; jika kita meyakini bahwa nasib sudah
ditentukan oleh Tuhan, maka akan ada kecenderungan
pada diri kita, “untuk apa bekerja keras toh nasib orang
sudah ditentukan dari sononya” Buat apa kita berusaha,
jika nasib kita sudah jelek yah jelek saja. Tidak usah
bekerja, tidak usah sekolah, tidak usah belajar dan tidak
52
Pengenalan dan Pengukuran Potensi Diri
5.
6.
7.
usah berupaya, toh nasib kita sudah ditentukan. Ada
kecenderungan orang yang menganut paham ini untuk
melempar tanggung jawab. Padahal banyak sekali contoh
orang yang berhasil karena dia percaya bahwa nasib itu
dapat diubah tergantung dari upaya yang dilakukannya.
Shio/Zodiak; hal ini juga sering dijadikan mitos oleh
sebagian orang. Ada yang percaya orang dengan shio
tertentu memiliki sifat –sifat tertentu yang akan dijadikan
pegangan dan akan membawa pada keberhasilan. Padahal
ini hanya mitos, karena ternyata orang yang sukses dan
berhasil bukan monopoli shio/zodiak tertentu saja. Tidak
yakin ? Coba saja lakukan survey kecil-kecilan dan anda
akan mendapati bahwa orang-orang sukses bukan
monopoli shio/zodiak tertentu saja.
Jenis kelamin; kita sering mendengar pernyataan yang
menyesatkan “pria lebih punya peluang untuk sukses.
Sudah kodratnya pria lebih unggul daripada wanita”.
“Wanita itu surga nunut, neraka katut”. Ini pandangan
yang merendahkan wanita. Ada lagi dari pihak wanita itu
sendiri yang mengatakan: “saya ini kan perempuan, mana
bisa sukses?” Padahal ada banyak sekali contoh dimana
wanita juga jauh lebih unggul dari pria.
Sukses hanya untuk orang-orang tertentu; orang yang
meyakini hal ini sebenarnya adalah orang yang tidak
bertanggung jawab atas kehidupan yang telah
dikaruniakan Allah Yang Maha Adil, Allah yang Maha
Kasih. Kita diciptakan untuk berusaha dan tidak putus asa
atas karuniaNYA.
Modul Diklatpim Tingkat IV
53
8.
Hari lahir/jam Lahir; ada yang percaya bahwa lahir pada
hari-hari tertentu dan jam-jam tertentu akan membawa
keberuntungan dan sebaliknya pada hari-hari tertentu dan
jam-jam tertentu akan membawa kesialan atau nasibnya
akan selalu dirundung kedukaan dan kesulitan.
9. Usia;
ini
biasa
digunakan
untuk
menutupi
ketidakmampuan, kebodohan, rasa malas, rasa percaya
diri yang kurang dan sebagainya. Dia akan mengatakan
“saya sudah terlalu tua untuk melakukan …….”, tapi ada
juga sebaliknya : “saya terlalu muda untuk melakukan
……..”. padahal ada banyak contoh orang yang berhasil
padahal usianya sudah tidak terbilang muda lagi seperti
hanya Kolonel Harland Sanders pendiri KFC.
10. Tidak punya modal; orang sering enggan untuk berusaha
karena tidak punya uang untuk modal. Padahal uang
bukanlah hal yang terpenting untuk berusaha. Modal
utama sebenarnya adalah diri kita yaitu kemampuan
berpikir kitalah modal utamanya seperti konsep diri, nilai
hidup dan kepercayaan diri.
11. Kesehatan atau fisik tidak menunjang; banyak sekali
contoh orang yang berhasil dan sukses dalam hidup ini
padahal yang bersangkutan cacat secara fisik.
Itulah beberapa contoh pola pikir yang menghambat dan
menyesatkan serta menjadi mitos bagi sebagian orang dalam
menggapai kesuksesan. Sudah saatnya kita melepas belenggu
mental tersebut dan berpikir bebas untuk menggapai
keberhasilan dan kesuksesan dalam hidup yang singkat ini.
54
Pengenalan dan Pengukuran Potensi Diri
Selain pola pikir tersebut di atas, pengembangan potensi diri
seseorang juga sangat tergantung pribadi yang bersangkutan
dan lingkungan dia berada. Berikut ini akan disampaikan
beberapa hambatan dalam pengembangan potensi diri:
a. Hambatan yang berasal dari lingkungan
Lingkungan merupakan salah satu faktor penghambat
dalam pengembangan potensi diri. Hambatan-hambatan ini
antara lain disebabkan sistem pendidikan yang dianut,
lingkungan kerja, tanggapan atau kebiasaan
dalam
lingkungan kebudayaan misalnya adanya pembagian peran
suami dan isteri yang lebih merugikan isteri;
b. Hambatan yang berasal dari individu sendiri
Penghambat yang cukup besar adalah pada diri sendiri,
misalnya sikap berprasangka, tidak memiliki tujuan yang
jelas, keengganan mengenal dirinya sendiri. Hal lain adalah
tidak mau menerima umpan balik, kurang mau mengambil
resiko, takut situasi baru, sikap acuh tak acuh, selalu
mencari kambing hitam dan sebagainya.
Menurut Mike Woodcook dan Dave Francis, hambatanhambatan pengembangan potensi diri tersebut adalah sebagai
berikut:
a. Ketidakmampuan mengatur diri
Ciri-ciri orang yang tidak mampu mengatur diri antara lain
melalaikan kesehatan fisik, bekerja melebihi jam kerja,
Modul Diklatpim Tingkat IV
55
hidup secara tidak teratur, menghindari pemahaman diri,
mencoba mengatasi perasaan sendiri, tidak menerima suatu
kegagalan, selalu mencari persetujuan, merasa diri lemah
dan sebagainya;
b. Nilai pribadi yang tidak jelas
Nilai merupakan pilihan yang diambil mengenai apa yang
penting dan berharga. Ciri-ciri orang yang kurang memiliki
nilai pribadi yang jelas antara lain tidak memasalahkan
nilai, tidak peduli terhadap bukti yang berlawanan dengan
nilai, bertindak berbeda dari nilai yang dianut, tidak
menyatakan pandangan sendiri, mengambil sikap pasif
terhadap
kehidupan.
Menghindari
umpan
balik,
menghindari tanggung jawab;
c. Tujuan pribadi yang tidak jelas
Tujuan pribadi adalah aturan yang berkaitan dengan citacita pribadinya. Beberapa contoh dalam hal ini adalah tidak
mempunyai tujuan pribadi, cenderung mengubah arah,
tidak mengukur kemampuan, menghindari resiko, tidak
punya keseimbangan pribadi, tidak mempunyai tujuan jelas
dan lain-lain;
d. Pribadi yang kerdil
Cirri-ciri pribadi yang kerdil antara lain adalah
menghindari tanggung jawab untuk belajar, menghindari
tantangan, tidak menguji diri, mengabaikan perkembangan
profesinya, menyembunyikan perasaannya, melalaikan
introspeksinya, menghindari umpan balik, tidak menguji
diri dan tidak menyadari hal yang mempengaruhi dirinya
dan lain-lain;
56
Pengenalan dan Pengukuran Potensi Diri
e. Kemampuan yang tidak memadai untuk memecahkan
masalah
Beberapa cirinya antara lain mempunyai masalah yang
tidak terselesaikan, menggunakan teknik yang kurang tepat,
pendekatan yang tidak sistematis, tidak menunjukkan siapa
yang punya masalah dan lain-lain;
f. Kreativitas rendah
Beberapa cirinya antara lain menghindari resiko, tidak
belajar dari kesalahan, puas dengan kedudukan yang ada,
tidak menggunakan kecemasan yang berlebihan, cenderung
tidak menyelesaikan tugas, tidak yakin akan kemampuan
sendiri;
g. Wibawa rendah
Ditandai dengan ciri-ciri merasa kurang dihargai, kurang
bisa mengungkapkan pendapat, citra diri rendah, tidak
mampu mengatur diri sendiri dan tidak mampu mengatur
orang lain, tidak memberi kesan pada orang lain;
h. Kemampuan pemahaman manajerial rendah
Ciri-ciri perilaku ini antara lain kurang menganalisis
kemampuan sendiri, mengikuti saja gaya kepemimpinan
yang sudah umum, menciptakan suasana kerja yang negatif,
memainkan peran manipulasi dan lain sebagainya;
i. Kemampuan menyelia rendah
Beberapa cirinya adalah lalai memberikan pandangan
positif terhadap kerja karyawan, membiarkan hasil kerja
jelek, kurang memberikan delegasi, membiarkan karyawan
kerja tanpa pengawasan, kurang menyadari tekanan yang
mempengaruhi perasaan sendiri dan lain-lain;
Modul Diklatpim Tingkat IV
57
j. Kemampuan latih rendah
Ciri-cirinya antara lain tidak memandang penting aspek
pelatihan suatu tugas, tidak tahu kebutuhan orang lain, tidak
memberikan tugas yang memberikan tantangan, kurang
memperhatikan potensi orang lain dan lain sebagainya;
k. Kemampuan membina tim rendah.
B.
Teknik Pengembangan Potensi Diri
Sebelum kita merancang mau dibawa kemana hidup kita,
untuk apa kita hidup, apa tujuan hidup kita, terlebih dahulu
akan dibahas apa dan siapa yang termasuk orang sukses???.
Secara umum, ukuran sukses seseorang sering dilihat hanya
dari aspek jabatan, harta dan penampilan lahiriah semata.
Pemahaman ini dapat berdampak negatif seperti egois, terlalu
berorientasi pada materi, melebarnya jurang kaya dan miskin
serta menipisnya kesadaran untuk selalu memperhatikan
kondisi orang lain. Masyarakat kini telah menjadi individualis,
kehilangan solidaritas dan kepedulian. Untuk itulah perlu
digali, dikembangkan dan disosialisasikan “konsep baru”
tentang sukses hidup yang memadukan antara kebahagiaan
hidup secara pribadi dengan kemampuan menebar kebahagiaan
kepada pihak lain dimana semua itu dilandasi oleh nilai-nilai
spiritual yang agung. SUKSES Merupakan Suatu Perjalanan.
Kesuksesan adalah suatu perjalanan yang menciptakan nilai
tambah untuk diri sendiri dan masyarakat sekitar dalam rangka
menuju kehidupan bahagia di alam setelah dunia. Seperti kapal
58
Pengenalan dan Pengukuran Potensi Diri
yang berlabuh di pelabuhan memang aman, namun bukan itu
tujuan dibuatnya kapal … Mengacu pada hal tersebut, maka
ada yang menyatakan bahwa sukses itu mencakup beberapa
hal berikut:
1.
Pemimpin yang adil dan bijaksana
2.
Keimanan yang kokoh
3.
Bermanfaat buat orang lain
4.
Keluarga yang bahagia
5.
Anak-anak yang berhasil
6.
Tubuh yang sehat
7.
Bisnis atau karier yang berhasil
8.
Hubungan antar manusia yang baik
9.
Pertumbuhan dan perkembangan pribadi
10. Manajemen keuangan yang sukses
11. Berporos pada jalan dakwah
12. Hidup yang dinikmati
13. Mampu berbagi dengan orang lain.
Itulah hal-hal yang menjadi cakupan sukses seseorang. Dengan
mengemukakan hal tersebut di atas dimaksudkan agar dapat
menginspirasi saudara untuk menentukan tujuan hidup anda
sendiri.
Selanjutnya akan dikemukakan beberapa aspek yang perlu
diperhatikan dalam pengembangan diri menuju sukses. Bukan
hanya aspek fisik saja yang memerlukan gizi, namun dalam
pengembangan potensi diri juga memerlukan gizi. Istilah ini
Modul Diklatpim Tingkat IV
59
dicetuskan oleh La Rose. Adapun gizi pengembangan potensi
diri tersebut antara lain:
a. Bergaul dengan orang yang bukan satu profesi dalam artian
berbeda profesi. Dengan demikian akan memperoleh
peluang-peluang dan tantangan.
b. Pilihlah teman yang diajak berdiskusi dan tidak mudah
tersinggung serta mau memberikan umpan balik yang
sesuai dengan realita.
c. Bersikap dan berpikir positif tentang sesama.
d. Biasakan mengucapkan terima kasih.
e. Biasakan mengatakan hal-hal yang menghargai orang lain.
f. Biasakan berbicara efektif.
g. (La Rose, Citra Pribadi yg Berkualitas, Pustaka Kartini
Jakarta, 1997).
Selain hal-hal tersebut di atas kiranya setiap pribadi selalu
melaksanakan koreksi diri dan merenungkan hakekat diri.
Sebelum melaksanakan aktualisasi diri, tentunya anda perlu
membuat rencana pengembangan potensi diri anda. Langkahlangkah yang disarankan adalah sebagai berikut:
a.
b.
c.
d.
Menentukan sasaran yang jelas.
Menentukan cara menilai keberhasilan.
Mensyukuri kemajuan walaupun hanya sedikit.
Berani mengambil resiko. Setiap perubahan pasti
mengandung resiko, baik resiko berhasil maupun resiko
gagal.
60
Pengenalan dan Pengukuran Potensi Diri
e. Perkembangan diatur oleh diri anda sendiri. Anda akan
berkembang atau tidak tergantung pada diri anda sendiri.
Orang boleh memberikan saran, tetapi keputusan tetap
ditangan anda.
f. Memanfaatkan setiap kesempatan yang ada.
g. Terbuka untuk belajar dari siapa saja dalam kontek untuk
mengembangkan potensi diri.
h. Belajar dari kesalahan dan selalu bersikap realistis.
i. Jangan hanya berbicara, tetapi kerjakan yang anda ucapkan.
(Woodcook and Francis D, Organization Development Through Team Building,
Alderson; Bower. 1981 New York, Halsted, 1981)
C.
Membuat Rancangan Pengembangan Potensi
Diri
Sebelum saudara menulis rancangan pengembangan potensi
diri, coba tutup mata anda dan bayangkan sepuluh tahun ke
depan anda menjadi seperti apa? Visualisasikan dalam pikiran
anda seperti apa yang anda inginkan diri anda tiga tahun, lima
tahun dan sepuluh tahun ke depan. Setelah bisa digambarkan
dalam pikiran, maka sekarang anda sudah bisa mulai menulis
rancangan pengembangan diri anda.
Adapun langkah-langkah yang perlu anda lakukan adalah
sebagai berikut:
1.
Tuliskanlah gambaran yang anda inginkan dalam
bidang-bidang:
a. Keluarga;
Modul Diklatpim Tingkat IV
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
61
Agama – spiritual;
Bisnis dan karier;
Materi dan Finansial;
Pengembangan diri;
Kehidupan Sosial dan masyarakat;
Hobby, petualangan dan wisata;
Dan bidang lainnya.
Di tiap aspek ini, kembangkan jelas apa yang Anda mau
capai. Apa yang mungkin, bagaimana yang Anda citacitakan dalam aspek-aspek ini. Jelaskan sebaik-baiknya
seperti apa itu dan bagaimana rasanya ketika Anda
mencapai cita-cita di tiap bidang itu. Tuliskan seakan
akan itu telah terjadi sekarang. Inilah gambaran masa
depan Anda. Bila Anda mampu menjelaskan masa depan
yang Anda harapkan, pada setiap bidang yang penting
tersebut, maka visi itu menjadi bagian dalam kehidupan
Anda. Visi yang jelas itu membantu Anda menetapkan
arah, memberikan motivasi, energi, motivasi, tujuan, dan
arah. Hidup ini diisi oleh berbagai kesempatan, dan
setiap kesempatan tidak akan terlewat begitu saja.
Banyak orang yang tidak seimbang hidupnya.
Tujuannya cuma uang, uang dan uang, dan dia harus
membayarnya dengan sakit kronis, perkawinan
berantakan, tidak punya teman, tanpa pengembangan
pribadi dan hobi. Semua bisnis dan bisnis dan
bisnis. Oleh sebab itu, dengan menetapkan dan
mengejar rencana pribadi yang seimbang itu, Anda akan
62
Pengenalan dan Pengukuran Potensi Diri
meningkatkan energi, motivasi, dan perasaan puas.
Semua bersinergi pada keberhasilan hidup Anda.
Dengan kata lain, kebahagiaan Anda. Itulah pilihan
Anda.
Sebelum anda menetapkan tujuan anda, perlu diketahui
terlebih dahulu syarat - syarat yang harus dipenuhi
sebagai berikut:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
2.
Tertulis, karena kalau tidak tertulis namanya anganangan;
SMART (Spesific, measurable, achievable,
realistic, trackable/ dapat dilacak);
Seimbang, karena hidup seimbang adalah hidup
yang baik. Jangan hanya mengejar uang tetapi
mengabaikan aspek lainnya;
Alasan emosional; bila bersifat emosional jauh
lebih kuat dibandingkan dengan alasan yang logis.
Semakin kuat emosi yang ada akan semakin tinggi
motivasi untuk mencapainya;
Batas waktu; supaya jelas kapan akan kita capai;
Diingat setiap hari; karena akan berfungsi sebagai
program yang mendorong semangat dan motivasi.
Untuk mencapai tujuan tersebut, tuliskan potensi atau
perilaku Saudara yang ingin anda hilangkan dan upaya
apa yang akan dilakukan untuk menghilangkan perilaku
atau potensi yang tidak diinginkan tersebut.
Modul Diklatpim Tingkat IV
3.
4.
5.
6.
63
Tuliskan pula potensi yang ingin Saudara kembangkan
(aspek pengetahuan, sikap perilaku atau ketrampilan)
Tentukan langkah-langkah kegiatan serta waktu
pencapaiannya
Tentukan bagaimana cara mencapainya
Tentukan tolok ukur menilai keberhasilannya.
Dibawah ini diberikan contoh lembar
pengembangan potensi diri sebagai berikut:
1. Tujuan saya dalam bidang:
a. Keluarga;
b. Agama – spiritual;
c. Bisnis dan karier;
d. Materi dan Finansial;
e. Pengembangan diri;
f. Kehidupan Sosial dan masyarakat;
g. Hobby, petualangan dan wisata.
2. Perilaku yang ingin saya hilangkan:
a. ……
b. …….
c. …….
3. Potensi yang ingin saya kembangkan:
a. ……
b. …….
c. …….
rancangan
64
Pengenalan dan Pengukuran Potensi Diri
4. Cara yang akan saya lakukan untuk menghilangkan
perilaku yang tidak saya inginkan dan mengembangkan
potensi yang saya inginkan.
5. Waktu.
BAB V
PENUTUP
A. Simpulan
D.
Latihan
1. Sebagaimana sudah dipandu di atas, cobalah langkah langkah di atas. Mulailah dengan membayangkan seperti
apa Anda tiga tahun, lima tahun atau sepuluh tahun ke
depan.
2. Tuliskan perilaku yang anda ingin hilangkan dan tuliskan
pula potensi yang anda akan kembangkan, termasuk
bagaimana caranya dan kapan akan dilakukan.
E.
Rangkuman
Dalam rangka pengembangan potensi diri tidak semudah
dibayangkan. Ada banyak hambatan baik dari diri maupun
lingkungan. Dan yang paling menghambat biasanya ada dalam
diri. Oleh karena itu, yang pertama harus disingkirkan adalah
terutama hambatan-hambatan yang ada dalam diri.
Kemudian untuk dapat mengembangkan potensi diri, perlu
diperjelas dalam pikiran seperti apa kita ingin menjadi di
waktu yang akan datang. Dan hal ini harus dibuat secara
tertulis, karena kalau tidak ditulis sama saja dengan anganangan bukan tujuan.
Kesuksesan dan keberhasilan dalam hidup adalah dambaan
semua orang. Namun hal tersebut, jelas bukanlah perkara
gampang. Banyak faktor yang menyebabkan. Salah satu
diantaranya adalah kurangnya pemahaman seseorang akan
potensi yang dimiliki. Padahal di dalam diri manusia yang
merupakan makhluk Tuhan yang sempurna terdapat kekuatan
dan kekuasaan tanpa batas, kata Anthony Robbins (penulis buku
Inner Strength dan Unlimited Power). Oleh karena itu, sangat
penting bagi kita untuk mengenal dan mengukur potensi yang
kita miliki untuk selanjutnya yang positif dapat dikembangkan
dan yang negatif dihilangkan.
Pengenalan dan Pengukuran Potensi Diri ini dapat dilakukan
dengan beberapa metode, teknik atau cara yang dapat
dipertanggung jawabkan. Dalam modul ini menggunakan Self
Assesment (Introspeksi Diri), Feed back dari orang lain serta tes
psikologis. Adapun tes yang dilakukan adalah tes untuk
mengetahui tipologi diri, tingkat kepercayaan diri dan ambisi
peserta.
Setelah diketahuinya potensi yang dimiliki, baik positif maupun
negatif, selanjutnya dibuat rancangan pengembangan diri yaitu
dengan meminimalisir potensi negatif dan memaksimalkan
65
66
Pengenalan dan Pengukuran Potensi Diri
potensi positif dengan menggunakan cara –cara tertentu. Namun
sebelum membuat rancangan pengembangan potensi diri dalam
modul ini juga dibahas faktor-faktor apa saja yang dapat
menghambat pengembangan potensi diri tersebut
serta
dikemukakan juga mengenai tujuan atau kriteria/ciri seseorang
yang berhasil atau sukses di dalam hidupnya. Hal ini diharapkan
dapat menginspirasi peserta dalam menetapkan tujuan hidupnya.
B. Tindak Lanjut
Pengenalan dan pengukuran potensi diri tidaklah sekedar untuk
diketahui atau dihafal saja. Hal ini baru akan bermanfaat apabila
diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan
keluarga, lingkungan kerja dan lingkungan yang lebih luas.
Akhirnya mari kita renungkan kata bijak dibawah ini:
Burung merak disanjung dan dipuji
Karena Keindahan bulu-bulunya
Bila mata menatap ujung kaki
Ia sendiri malu karena melihat bentuknya
Ini berarti bahwa setiap manusia punya potensi baik potensi
potensi positif maupun negatif, namun potensi fisik burung
merak tidak dapat diubah.
DAFTAR PUSTAKA
Adi W Gunawan. & Arisandi Setyono. (2005). Manage Your
Mind For Success. Jakarta: PT Elex Media
Komputindo.
Ary Ginanjar Agustian. (2001). Emotional Spiritual Quotient.
Jakarta: Arga.
Anthony Robbins. (2006). Bangunkan Kuasa Raksasa di
Dalam Diri. Batam, Indonesia : Karisma Publishing
Group.
Alex Sobur. Psikologi Umu. (2003). Bandung: Pustaka Setia.
Buchori Zainun, MPA, Prof. DR. (1994). Manajemen Sumber
Daya Manusia. Jakarta: CV. Haji Mas Agung.
Dus B. Simanjuntak, SH. dan Dra I.L. Pasaribu. Pengantar
Psikologi Perkembangan. Bandung : Tarsito.
Francis D. and Young, D. (1989). Improving Work Groups, A.
Practical Manual for Team Building. San Diego:
CA. University Associates
Harseno; Introspeksi, Penerbit, Anonim.
Jane Balvack & Jan Slater. (1996). Membuka Potensi Karier,
Seni Pengembangan Diri dan Karier. Jakarta:
PPM.
67
68
Pengenalan dan Pengukuran Potensi Diri
Jhon Robert Power. (1999). Bahan Diklat Pengembangan
Potensi Diri. Jakarta.
Juni Pranoto, Drs, MPd. (1999). Manajemen Waktu. Jakarta:
Modul SPAMA - LAN RI.
Lembar Kerja 1
Nama
Unit Organisasi
Potensi
No.
Positif ( + )
La Rose. (1996). Menggali Potensi Diri, Citra Pribadi
Berkualitas. Jakarta: Pustka Kartini.
La Rose. (1998). Pengembangan Pesona Pribadi. Jakarta:
Pustaka Kartini.
:
:
Perilaku Negatif yang ingin Saya
hilangkan ( - )
1.
2.
3.
Mike Wood Cook dan Dave Prancis. (1982). Manajer Tanpa
Hambatan. Jakarta: PT. Gramedia.
Mike Wood Cook. (1979). Team Development Manual,
Aldershot Gover.
Mike Wood Cook dan Dave Prancis. (1979). Organizational
Development
Through
Team
Building.
Aldershot.
Robert
Benfani, PHd.. (1996). Memahami
Kepemimpinan Anda. Jakarta: LPPM.
Gaya
(…………………..)
Stephen R Covey. (1994). Tujuh Kebiasaan Manusia yang
Sangat Efektif. Jakarta: Binarupa Aksara.
Wahyu Suprapti. Manajemen Stress. (1999). Jakarta: Modul
SPAMA – LAN RI.
69
70
Pengenalan dan Pengukuran Potensi Diri
Lembar Kerja 2
Apakah Tipe Anda?
Petunjuk Pengisian :
Bacalah secara seksama pernyataan berikut ini. Berilah tanda (√)
pada setiap pernyataan yang ada sesuai dengan kondisi diri anda.
Ingatlah bahwa tidak ada yang benar dan salah. Oleh karena itu
jawablah secara jujur agar mencapai tingkat validitas yang tinggi.
Untuk itu pilih skor penilaian dibawah ini yang mendekati diri Anda:
Kurang
Agak mendekati
Mendekati
Sangat mendekati
=
=
=
=
1
2
3
4
Pernyataan :
NO
Pernyataan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
Saya cenderung/lebih suka :
Penuh semangat
Berjiwa penolong
Berfikir analitis
Mudah menyesuaikan
Selera humor tinggi
Pembujuk ( nasihat )
Pekerja keras
Tenang dan damai
Penghibur
Percaya diri
Penuh pengorbanan
Takluk pada orang lain
Alternatif Pilihan Nilai
1
2
3
4
Modul Diklatpim Tingkat IV
NO
Pernyataan
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.
34.
35.
36.
37.
38.
39.
40.
41.
42.
43.
44.
45.
Pengambil hati orang lain
Bertekad untuk menang
Menghargai perasaan orang
Terkontrol
Penghibur
Cerdik dan efektif
Penuh pengertian
Sabar
Penuh gairah hidup
Mandiri
Sensitif
Pasrah pada keadaan
Ingin berkuasa
Berjiwa pemimpin
Terencana dengan baik
Penuh toleransi
Berpikir praktis
Yakin dan percaya diri
Terencana
Pendiam
Optimis
Jujur apa adanya
Pengatur dan penguasa
Bisa menerima apa adanya
Membuat ceria orang
Pribadi yang dominan
Bisa diandalkan
Tidak inisiatif
Menyenangkan
Berani mengambil resiko
Pekerja keras
Perasa
Ceria, periang
71
Alternatif Pilihan Nilai
1
2
3
4
72
Pengenalan dan Pengukuran Potensi Diri
NO
Pernyataan
46.
47.
48.
49.
50.
51.
52.
53.
54.
55.
56.
57.
58.
59.
60.
61.
62.
63.
64.
65.
66.
67.
68.
69.
70.
71.
72.
73.
74.
75.
76.
77.
78.
Intelektual
Konsisten
Penuh Inspirasi
Mandiri, tidak tergantung
Ideal, sempurna
Sederhana
Emosi tidak terkendali
Suka mengkritik
Intensif, introspektif
Pandai bicara
Menyukai keramaian
Hiperaktif
Berjiwa seni
Penengah
Senang bicara
Keras kepala
Cepat tanggap
Penuh toleransi
Penuh semangat
Berjiwa pemimpin
Setia
Pendengar yang baik
Pusat perhatian
Ingin menguasai
Terencana semuanya
Mudah puas hati
Populer, terkenal
Pekerja keras
Berusaha jadi yang terbaik
Supel dalam bergaul
Kepribadiannya hidup
Pantang menyerah
Konsisten
Alternatif Pilihan Nilai
1
2
3
4
Modul Diklatpim Tingkat IV
NO
Pernyataan
79.
80.
81.
82.
83.
84.
85.
86.
87.
88.
89.
90.
91.
92.
93.
94.
95.
96.
97.
98.
99.
100.
101.
102.
103.
104.
105.
106.
107.
108.
109.
110.
111.
Stabil
Suka pamer
Suka memerintah
Pemalu
Tertutup
Tidak disiplin
Tidak simpatik, cuek
Sulit memaafkan
Tidak semangat
Senang bicara
Pemberontak
Mudah tersinggung
Suka menyendiri
Pelupa
Terbuka, blak-blakan
Cerewet
Gelisah
Banyak bicara
Tidak sabar
Kurang percaya diri
Plin-plan
“Moody”
Tertutup
Perfeksionis
Apatis
Tidak konsisten
Keras kepala
Terlalu eksklusif
Lambat
Selalu ingin diterima
Sombong
Pesimis
Biasa saja
73
Alternatif Pilihan Nilai
1
2
3
4
74
Pengenalan dan Pengukuran Potensi Diri
NO
Pernyataan
112.
113.
114.
115.
116.
117.
118.
119.
120.
121.
122.
123.
124.
125.
126.
127.
128.
129.
130.
131.
132.
133.
134.
135.
136.
137.
138.
139.
Kekanak-kanakan
Sering berdebat
Tidak mau tersaingi
Tidak punya pendirian
Sederhana
Mogok dalam hal negative
Tingkah laku negatif
Egois
Senang dipuji
Agresif
Menyendiri
Selalu resah
Senang bicara
Suka menyinggung
Terlalu sensitif
Mudah menyerah
Tidak terorganisasi
Mudah menyerah
Suka mendominasi
Merasa tertekan
Pesimis
Tidak konsisten
Tidak sabar
Tertutup
Tidak teratur
Suka mempengaruhi
Ingin dihargai
Malas bicara
75
Modul Diklatpim Tingkat IV
Lembar kerja 3
Alternatif Pilihan Nilai
1
2
3
4
KEPERCAYAAN PADA DIRI SENDIRI
Petunjuk Pengisian:
1. Bacalah tiga puluh dua kalimat ini dengan teliti. Sesudah
membaca setiap kalimat tandailah angka dalam lembar
jawaban yang menunjukkan berapa sering persoalan itu
terdapat dalam pikiran anda.
2. Jawablah secara spontan dan biarkan sejauh mungkin diri
anda dikendalikan emosi.
3. Anda melakukan tes ini untuk anda sendiri dan hanya anda
saja yang tahu hasilnya. Oleh karena itu lakukan tes ini
dengan jujur, karena anda tentu tak akan ingin berdusta pada
diri anda sendiri bukan?
4. Adapun skor penilaian adalah:
Tidak pernah
Jarang
Kadang-kadang
Sering
Sangat sering
=
=
=
=
=
0
1
2
3
4
76
No.
Pengenalan dan Pengukuran Potensi Diri
Pernyataan
0
Penilaian
1 2 3
No.
4
77
Modul Diklatpim Tingkat IV
Pernyataan
0
12.
Saya ingin mempunyai kepercayaan
diri sendiri lebih besar
13.
Saya merasa bahwa pekerjaan saya
terlalu banyak tuntutan
Saya ingin tahu cara supaya orang
lebih sering menyetujui saya
14.
Saya terlalu rendah hati
3.
Saya kuatir tentang masa depan
15.
Saya suka dipuji
4.
Banyak orang tidak menyukai saya
16.
5.
Saya
kurang
bersemangat
dan
berinisiatif dibandingkan
dengan
orang lain
Menurut saya kebanyakan orang tak
punya hak untuk menyatakan pendapat
tentang diri saya
17.
Saya tak punya seseorang yang dapat
diajak membicarakan soal-soal pribadi
18.
Orang terlalu mengharapkan diri saya
19.
Orang tak cukup
pekerjaan saya
20.
Saya mudah bingung
21.
Banyak tugas yang saya kerjakan
secara bersamaan
Saya rasa kebanyakan
mengerti diri saya
22.
Saya ingin belajar bagaimana belajar
yang baik dengan orang lain
Saya tak merasa
lingkungan saya
23.
Saya sering
berlebihan
1.
2.
Saya menginginkan orang lain lebih
banyak memberikan dorongan kepada
saya
6.
Saya heran apakah pikiran saya normal
7.
Saya takut mentertawakan diri saya
sendiri
8.
Orang lain lebih cakap dari saya
9.
Saya takut berbicara
asing
10.
11.
dengan orang
merasa
memperhatikan
orang
aman
kuatir
tak
dalam
yang
Penilaian
1 2 3
4
78
No.
Pengenalan dan Pengukuran Potensi Diri
Pernyataan
0
24.
25.
26.
27.
28.
29.
Penilaian
1 2 3
Lembar kerja 4
4
Saya tak senang bila saya masuk
ruangan sudah ada beberapa orang
Saya
merasa
orang-orang
membicarakan saya di belakang saya
Saya tidak merasa bertentangan dengan
lingkungan saya
Saya
merasa bahwa orang lain
mendapatkan segalanya lebih mudah
dari saya
Saya takut sesuatu yang tak baik terjadi
pada diri saya
Saya memikirkan cara orang lain
bersikap pada diri saya
BERAPA BESAR AMBISI ANDA
Bacalah kedua puluh lima pernyataan ini dengan hati-hati. Anda
dapat menanggapi tiap-tiap pernyataan dengan “benar”, “salah” atau
“benar sebahagian”. Tandailah dengan check mart (√) untuk pilihan
anda. Tak ada tanggapan yang benar atau salah dalam tes ini, karena
yang penting adalah pendapat anda secara spontan. Jika sesuatu
pernyataan tidak langsung mengenai anda, cobalah dalam imajinasi
anda untuk mendapatkan diri anda dalam situasi tersebut.
No.
Pernyataan
Tanggapan
Benar
30.
Saya ingin lebih mudah bergaul
1.
31.
Dalam berdiskusi saya hanya berbicara
jika saya yakin saya menang
2.
Saya memikirkan apa yang diharapkan
masyarakat dari diri saya
3.
32.
79
Modul Diklatpim Tingkat IV
Jumlah skor
4.
5.
Saya iri kalau orang yang tak
lebih pandai dari saya menjadi
lebih berhasil.
Sangat penting bagi saya supaya
orang
lain
menghargai
keberhasilan saya.
Saya akan melihat acara TV,
walaupun tak menarik, jika saja
saya dapat manfaat darinya.
Saya berusaha mengembangkan
bakat-bakat yang lemah melalui
latihan.
Saya selalu menentukan sendiri
sasaran yang akan saya capai.
Benar
sebagian
salah
80
No.
Pengenalan dan Pengukuran Potensi Diri
Pernyataan
Tanggapan
Benar
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
Saya
merasa
memecahkan
persoalan yang sulit amat
merangsang.
Saya sering bekerja dalam waktu
senggang saya.
Saya ingin mengetahui cara
untuk memperbaiki hasil yang
saya capai.
Di sekolah saya tak pernah puas
dengan hasil yang saya capai.
Saya bukan seseorang yang
dapat menerima kesalahan.
Saya suka membandingkan hasil
yang saya capai dengan hasil
yang dicapai orang lain.
Saya tidak senang dengan setiap
kegiatan yang sedikit mendapat
penghargaan.
Saya sangat memperhatikan
kritik.
Saya
tak
puas
dengan
pengetahuan dan kemampuan
saya.
Saya ingin yang paling hebat di
kantor
Saya menganggap orang-orang
yang tak mencapai apa-apa
kurang
berharga
bagi
masyarakat.
Saya
senang
permainan
kelompok, karena saya selalu
berusaha untuk menang.
Benar
sebagian
81
Modul Diklatpim Tingkat IV
No.
Pernyataan
salah
Tanggapan
Benar
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
Karier lebih penting bagi saya
dibandingkan dengan hal-hal
lain.
Saya lebih menyukai pekerjaan
yang tidak begitu terjamin, tetapi
punya prospek promosi baik,
dibandingkan dengan pekerjaan
yang terjamin tapi tidak punya
prospek promosi/berkembang.
Saya suka menjadi pemimpin
kelompok.
Saya secara spontan menyukai
orang yang berhasil
dalam
hidupnya.
Saya ingin bekerja lebih baik
dari orang tua saya.
Jika saya seorang olah - ragawan
saya tidak mau ikut kompetisi di
mana dari permulaan sudah
dapat dipastikan bahwa saya
akan keluar paling buntut.
Jika saya kepala bagian/bidang,
saya
akan berusaha bekerja
lebih baik dari staf saya dalam
setiap hal.
Saya hanya puas dengan diri
saya bila saya mencapai yang
baik dalam pekerjaan saya.
Benar
sebagian
salah
82
Pengenalan dan Pengukuran Potensi Diri
Lembar kerja 5
Lembar Rancangan Pengembangan Potensi Diri
Nama
Jabatan
Tujuan yang ingin dicapai
Bidang .........
Bidang ........
Bidang ........
Bidang .....................
No.
SASARAN
(SMART)
:
:
:
Factor
penghambat
Waktu
(….s.d…..l)
Yang Membuat Rancangan
)
83
Formulir Umpan Balik
Agar materi dan penampilan modul Pengenalan dan Pengukuran
Potensi Diri lebih baik, kami mengharapkan umpan balik dari anda
atas hal-hal sebagai berikut :
1.
Bagaimana tanggapan anda terhadap modul ini?
Dangkal
Tidak
Berbobot
Meyakinkan
berbobot
1
2
3
4
2.
Saran-saran apakah yang anda ajukan?
a.
…………………………………………………………
…………………
b.
…………………………………………………………
…………………
c.
…………………………………………………………
…………………
d.
…………………………………………………………
…………………
3.
Bahan bacaan apa saja yang anda sarankan?
a.
…………………………………………………………
…………………
b.
…………………………………………………………
…………………
c.
…………………………………………………………
…………………
d.
…………………………………………………………
…………………
Langkahlangkah
pencapaian
Saya katakan berhasil mengembangkan potensi ………….diri saya
apabila memenuhi kriteria sebagai berikut:
..........
..........
..........
................
.....................
(
Modul Diklatpim Tingkat IV
Nama
Alamat :
Harap dikirimkan ke:
Direktorat Pembinaan Diklat Aparatur
Lembaga Administrasi Negara R.I.
Jl. Veteran No. 10 Jakarta.
Download