Tugas Kelompok “Etika” Disusun Untuk Memenuhi Tugas Kelompok

advertisement
Tugas Kelompok “Etika”
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Kelompok,
Mata Kuliah
: Filsafat dan Etika Komunikasi
Dosen Pengampu : Drs. Arief S. Safrianto, MM.
Disusun Oleh Kelompok I:
Alisa Octavia Simamora
/ 442 0811 0047
Asri Martiana
/ 442 0811 0078
Benedicta Raymona Dewani
/ 442 0811 0052
Fanny Tirtabudi
/ 442 0811 0086
Leana Arieka
/ 442 0811 0060
Naftalia Dongoran
/ 442 0811 0043
Nunuk Rahmawati
/ 442 0811 0059
Nurul Pristiani
/ 442 0811 0002
Nurzayanti Chairunnisa
/ 442 0811 0053
Sri Martini
/ 442 0811 0061
Yulianti Fajar Wulandari
/ 442 0811 0039
FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI / PUBLIC RELATIONS 13 MENTENG
UNIVERSITAS MERCU BUANA
JAKARTA
2009
1
ETIKA
I.
DEFINISI ETIKA
Etika adalah salah satu cabang dari Ilmu Filsafat yang bertitik tolak dari masalah nilai
(value) dan moral manusia yang berkenaan dengan tindakan manusia. Secara etimologis, kata
etika berasal dari bahasa Yunani, yakni ethos yang artinya cara bertindak, adat, tempat tinggal,
kebiasaan. Sedangkan kata moral berasal dari bahasa Latin, yakni mos yang berarti sama
dengan etika. Istilah etika dipakai oleh Aristoteles (384 – 322 SM) untuk menunjukkan
pengertian tentang filsafat moral.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 1993), etika adalah ilmu mengenai apa
yang baik dan buruk dan tentang hak dan kewajiban (ahlak). Dalam KBBI dibedakan pula
antara etika, etik dan etiket. Etik adalah kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan ahlak
(nilai benar dan salah yang dianut masyarakat/golongan), misalnya kode etik dokter, dll. Etiket
adalah tatacara (adat, sopan santun, dll.) di masyarakat dalam memelihara hubungan yang baik
sesama manusia. Etiket juga dikenal sebagai label atau penamaan sesuatu yang dituliskan
pada secarik kertas dan dilekatkan pada benda (botol, kaleng, dll.). Dari ketiganya, yang
berhubungan erat dengan nilai dan moral adalah etika dan etik. Etika sering disebut sebagai
filsafat moral, sedangkan etik tidak berkaitan dengan moral.
Secara filosofis, etika merupakan bagian dari ilmu filsafat yang mempelajari berbagai
nilai (value) yang diarahkan pada perbuatan manusia, khususnya yang berkaitan dengan
kebaikan dan keburukan dari hasil tindakannya. Dalam berbuat baik, manusia memerlukan
pertimbangan yang bersifat rasional. Pertimbangan rasional artinya mempertimbangkan
berbagai kemungkinan untuk berbuat baik atau melakukan tindakan secara jernih, tanpa
dilandasi dengan sikap emosional yang berlebihan. Mempelajari etika harus dilandasi dengan
pendekatan rasional dan kritis, agar etika itu dapat diterapkan pada tindakan keseharian
seseorang.
Etika sebagai filsafat moral berarti melakukan perenungan secara mendalam mengenai
berbagai ajaran moral (kebaikan) secara kritis. Namun harus dibedakan antara etika dan moral.
Etika mempelajari berbagai ajaran moral secara kritis dan logis. Sedangkan moral adalah
nasihat-nasihat
yang
berupa
ajaran-ajaran
pada
adat
istiadat
suatu
masyarakat/golongan/agama. Moral bersifat aplikatif mengenai tindakan manusia yang baik dan
buruk.
2
Pokok bahasan yang sangat khusus pada etika adalah sikap kritis manusia dalam
menerapkan ajaran-ajaran moral terhadap perilaku manusia yang bertanggung jawab. Ajaranajaran tersebut sangat menentukan bagaimana moral manusia itu “dibina” baik melalui
pendidikan formal maupun non formal.
II.
ETIKA NORMATIF DAN ETIKA TERAPAN
Dalam perkembangannya etika terbagi atas etika deskriptif, etika normatif dan
metaetika.
1. Etika Deskriptif
Etika deskriptif memberikan gambaran tingkah laku moral dalam arti luas, seperti
norma dan aturan yang berbeda dalam suatu masyarakat atau individu yang berada
dalam kebudayaan tertentu atau yang berada dalam kurun atau periode tertentu. Norma
dan aturan tersebut ditaati oleh individu atau masyarakat yang berasal dari kebudayaan
atau kelompok tertentu. Ajaran tersebut lazim diajarkan para pemuka masyarakat dari
kebudayaan atau kelompok tersebut.
Contoh:
Masyarakat Jawa mengajarkan tatakrama terhadap orang yang lebih tua dengan
menghormatinya, bahkan dengan sapaan yang halus sebagai ajaran yang harus
diterima. Bila tidak dilakukakan, masyarakat menganggapnya aneh atau bukan orang
Jawa.
2. Etika Normatif
Etika normatif mempelajari studi atau kasus yang berkaitan dengan masalah
moral. Etika normatif mengkaji rumusan secara rasional mengenai prinsip-prinsip etis
dan bertanggung jawab yang dapat digunakan oleh manusia. Dalam etika normatif yang
paling menonjol adalah penilaian mengenai norma-norma. Penilaian ini sangat
menentukan perilaku manusia yang baik dan buruk.
Etika normatif terbagi atas dua kajian yakni etika yang bersifat umum dan
khusus. Etika normatif umum mengkaji norma etis/moral, hak dan kewajiban, dan hati
nurani. Sedangkan etika normatif khusus menerapkan prinsip-prinsip etis yang umum
pada perilaku manusia yang khusus, misalnya etika keluarga, etika profesi (etika
kedokteran, etika perbankan, etika bisnis, dll.), etika politik, dll.
3
3. Metaetika
Metaetika adalah kajian etika yang membahas tentang ucapan-ucapan ataupun
kaidah-kaidah bahasa aspek moralitas, khususnya berkaitan dengan bahasa etis
(bahasa yang digunakan dalam bidang moral). Kebahasaan seseorang dapat
menimbulkan penilaian etis terhadap ucapan mengenai yang baik, buruk dan kaidah
logika.
Contoh:
Bahasa iklan yang berlebihan dan menyesatkan, seperti pada tayangan iklan obat yang
menganjurkan meminum obat tersebut agar sembuh dan sehat kembali. Ketika orang
mulai mengkritik iklan tersebut, maka dimunculkanlah ucapan etis: “jika sakit berlanjut,
hubungi dokter”. Ucapan etis tersebut seolah dihadirkan oleh sekelompok produsen
untuk disampaikan kepada masyarakat agar lebih bijak dalam meminum obat tersebut.
4. Etika Terapan
Etika terapan adalah studi etika yang menitikberatkan pada aspek aplikatif atas
dasar teori etika atau norma yang ada. Etika terapan muncul karena perkembangan
pesat etika dan kemajuan ilmu lainnya. Etika terapan bersifat praktis karena
memperlihatkan sisi kegunaan dari penerapan teori dan norma etika pada perilaku
manusia.
Contoh:
Etika terapan yang menyoroti permasalahan iklim dan lingkungan menghasilkan kajian
mengenai etika lingkungan hidup.
a) Pengertian Etika Profesi
Etika profesi adalah etika yang berkaitan dengan profesi manusia atau etika
yang diterapkan dalam dunia kerja manusia. Di dalam dunia kerjanya, manusia
membutuhkan pegangan, berbagai pertimbangan moral dan sikap yang bijak. Secara
khusus, etika profesi membahas masalah etis yang berkaitan dengan profesi tertentu.
Misalnya, etika dokter (kedokteran), etika pustakawan (perpustakaan), etika humas
(kehumasan), dll.
Profesi berasal dari bahasa Latin: professues yang berarti suatu kegiatan
manusia atau pekerjaan manusia yang dikaitkan dengan sumpah suci. Pengertian lain
mengartikan sebagai perbuatan seseorang yang dilakukan untuk memperoleh nilai
komersial. Ada pula yang mengartikan etika profesi sebagai komunitas moral yaitu
4
adanya cita-cita dan nilai bersama yang dimiliki seseorang ketika ia berada dan
bersama-sama dengan teman sejawat dalam dunia kerjanya.
Seorang profesional dituntut memiliki keahlian yang diperolehnya secara formal
melalui pendidikan tinggi. Perolehan keahlian secara formal sangat penting ketika
seorang profesional bersumpah atas dasar profesi tertentu, seperti dokter, pengacara,
dll. Dengan profesinya tersebut, seorang profesional berhadapan dengan pemakai
jasanya. Sehingga ia mendapatkan kompensasi atau pembayaran atas jasa yang
diberikannya. Hubungan antara pemberi jasa (profesional) dan penerima jasa terkait
dengan kontrak atau perjanjian yang disepakati bersama. Dalam hubungan ini terdapat
beberapa aspek moral dan pertimbangan-pertimbangan etis yang menjadi dasar
menjaga kepercayaan diantara keduanya.
Segala bentuk pelayanan harus mempunyai aspek pro bono publico (segala
bentuk pelayanan untuk kebaikan umum). Untuk kebaikan umum mempunyai aspek
ganda, yakni:

Aspek pro lucro, yaitu demi keuntungan maka pelayanan itu diberikan kepada
klien (komersial).

Aspek pro bono, yaitu demi kebaikan si klien maka pelayanan diberikan si
profesional tidak semata-mata karena pembayaran. Aspek ini memunculkan
profesi luhur seperti tenaga medis, tenaga pengajar, rohaniwan, dll.
Etika profesi berhubungan erat dengan kode etik profesi. Kode etik profesi merupakan
akibat hadirnya etika profesi. Kode etik profesi merupakan aturan atau norma yang
diberlakukan pada profesi tertentu. Didalam norma tersebut terdapat beberapa
persyaratan yang bersifat etis dan harus ditaati oleh pemilik profesi. Misalnya kode etik
dokter, kode etik pustakawan, dll. Kode etik tertua dimunculkan oleh Hippocrates, bapak
Ilmu Kedokteran di abad ke-5 SM yang terkenal dengan “Sumpah Hippocrates”.
Refleksi muncul pada kode etik profesi, dan itu berarti kode etik profesi dapat
diubah atau diperbaharui sesuai dengan perkembangan yang ada. Perubahan kode etik
tidak mengurangi nilai etis atau nilai moral yang telah ada, tetapi justru memberi nilai
tambah bagi kode etik profesi itu sendiri. Pelanggaran terhadap kode etik akan
mendapat sanksi dari kelompoknya. Tujuan sanksi adalah untuk menyadarkan betapa
pentingnya tanggung jawab moral ditegakkan di dalam dunia kerjanya.
5
b) Etika Profesi sebagai Ilmu Praktis dan Ilmu Terapan
Etika profesi sebagai ilmu praktis memiliki sifat mementingkan tujuan perbuatan
dan kegunaannya, baik kegunaan secara pragmatis maupun secara utilitaristis dan
deontologis. Secara pragmatis, berarti melihat kegunaan itu memiliki makna bagi
seorang profesional melalui tindakan yang positif berupa pelayanan kepada klien.
Secara utilitaristis akan sangat bermanfaat bila menghasilkan perbuatan yang baik.
Contoh:
Seorang arsitek mendapatkan kebahagiaan apabila desainnya dipakai oleh klien dan
memberikan kepuasan pada klien tersebut juga orang sekitarnya atas desain rumahnya.
Sedangkan secara deontologis, kegunaan itu akan dinilai baik bila disertai
kehendak yang baik. Kegunaan ini tidak hanya memiliki unsur kehendak tetapi juga
kewajiban yang telah menjadi tanggung jawabnya.
Contoh:
Pelayanan Rumah Sakit X akan dinilai baik dan berguna bagi masyarakat umum, bila
para tenaga medisnya memiliki kehendak baik dalam bertugas.
c) Metode atau Pendekatan Etika Profesi
Dalam mempelajari etika profesi, metode yang dipakai adalah metode kritis
refleksif, dialogis. Metode ini dipakai oleh seorang profesional dalam menilai perilaku
kerja terhadap bidang pekerjaan tertentu. Orang perlu merenungkan secara kritis dan
mendialogkan apa yang telah dikerjakannya baik saat itu maupun yang akan datang.
Metode ini bertujuan agar seorang profesional dapat bekerja dengan sebaik mungkin
sehingga tercapai tujuan yang diinginkan.
d) Peran Etika Profesi dalam Ilmu-ilmu Lainnya
Etika profesi dapat diberlakukan pada:
1) Individu-individu yang memiliki kewajiban-kewajiban tertentu seperti
dokter kepada pasiennya.
2) Kelompok-kelompok tertentu yang memiliki profesi tertentu seperti
asosiasi jurnalis kepada masyarakat pembacanya.
Peran etika profesi adalah:
1) Sebagai
“kompas”
moral
atau
penunjuk
jalan
bagi
profesional
berdasarkan nilai-nilai etisnya, hati nurani, kebebasan-tanggung jawab,
6
kejujuran, kepercayaan, hak-kewajiban dalam bentuk pelayanan kepada
klien.
2) Sebagai “penjamin” kepercayaan masyarakat (klien) terhadap pelayanan
yang diberikan oleh si profesional.
III.
Kaidah atau Norma Etika
Berikut adalah kaidah atau norma etika/moral yang lazim dimunculkan pada etika
normatif, yakni:
1. Hati Nurani
Hati nurani adalah penghayatan tentang yang baik dan yang buruk yang berkaitan
dengan tindakan nyata atau perilaku konkret manusia. Hati nurani dikendalikan oleh
kesadaran manusia (akal budi). Kesadaran membuat manusia mampu mempertimbangkan
tentang mana yang baik dan buruk baginya. Kesadaran itu merupakan kemampuan manusia
untuk merefleksikan perbuatannya. Hati nurani terbagi atas dua bagian:
a. Hati nurani retrospektif, yakni hati nurani yang menilai perilaku kita di masa lalu.
b. Hati nurani prospektif, yakni hati nurani yang merencanakan perbuatan yang akan
kita lakukan di masa datang.
2. Kebebasan dan Tanggung Jawab
Kebebasan adalah salah satu unsur yang sangat hakiki dan manusiawi yang dimiliki
oleh manusia. Manusia adalah mahluk sosial yang berarti manusia hidup bersama dan
berinteraksi dengan manusia lainnya. Maka kebebasan yang dimiliki manusia bukanlah
kesewenangan, melainkan kebebasan yang secara hakiki terbatas oleh kenyataan sebagai
anggota masyarakat. Dengan pembatasan yang ada, maka kebebasan yang dimiliki harus
diisi dengan sikap dan tindakan yang tepat. Penentuan sikap dan tindakan yang tepat ini
adalah bentuk tanggung jawab individu. Terdapat hubungan yang erat antara kebebasan
dengan tanggung jawab. Keputusan dan tindakan yang diambil seseorang harus dapat
dipertanggungjawabkan oleh diri sendiri.
3. Nilai dan Norma
Nilai adalah suatu perangkat untuk melakukan penilaian tentang sesuatu. Dalam
penilaian itu memunculkan hasil penilaian dari penilaian tersebut. Hasil penilaian dapat
berupa positif maupun negatif. Positif dalam artian memuaskan, menguntungkan,
menyenangkan, dll. Sedangkan negatif dapat berarti tidak memuaskan, namun dapat juga
berarti kesalahan.
7
Setiap penilaian terhadap sesuatu selalu berkaitan dengan kaidah atau norma atau
aturan yang mendasarinya. Norma selalu mempunyai kriteria untuk dipenuhi seseorang
dalam menilai sesuatu. Norma sering dianggap sebagai tolok ukur untuk menilai sesuatu.
Misalnya, norma benda, norma hukum, norma etiket, norma moral. Dari norma-norma yang
ada, norma moral dianggap paling tinggi, karena memberikan kita berbagai pertimbangan
secara rasional tentang apa yang menjadi tolok ukur ketika seseorang melakukan perbuatan
tertentu. Oleh karena itu pertimbangan yang bersifat rasional sangat menentukan kualitas
atau mutu dari tindakan seseorang.
4. Hak dan Kewajiban
Hak adalah elemen yang sangat manusiawi dimiliki oleh manusia. Hak merupakan klaim
yang dibuat oleh orang atau kelompok yang satu terhadap yang lain atau terhadap
masyarakat. Dengan mempunyai hak, orang dapat menuntut bahwa orang lain akan
memenuhi dan menghormati hak itu. Bermacam jenis hak dapat memperjelas tentang hak
yang berkaitan dengan moral.
a. Hak legal, adalah hak yang didasarkan atas hukum dalam salah satu bentuk
yang dimunculkan melalui UU, peraturan, dokumen resmi. Hak legal berfungsi
dalam sistem hukum dan didasari oleh prinsip hukum.
b. Hak khusus dan hak umum. Hak khusus adalah hak yang dimiliki oleh seseorang
atau beberapa orang. Hak tersebut timbul karena ada relasi khusus antata
beberapa orang atau karena fungsi khusus yang dimiliki seseorang kepada
orang lain. Misalnya orang tua mempunyai hak bahwa anaknya akan patuh
kepadanya. Sedangkan hak umum adalah hak yang diberikan kepada seseorang
karena ia adalah manusia, atau disebut juga Hak Asasi Manusia, misalnya hak
untuk hidup.
c. Hak individual dan hak sosial. Hak individual adalah hak yang dimiliki oleh
individu terhadap negara atau suatu masyarakat. Hak individual dapat berupa
kebebasan berpendapat, hak berserikat, hak beragama, dll. Hak individual
sebenarnya memperjuangkan hak hati nurani masing-masing individu. Apabila
hak individual diarahkan pada anggota masyarakat atau suatu kelompok kan
memunculkan hak yang sifatnya sosial. Jadi hak sosial adalah hak yang
diperoleh seseorang ketika ia sebagai anggota masyarakat berinteraksi dengan
anggota masyarakat lainnya. Contoh hak sosial adalah hak atas pelayanan
kesehatan, hak atas pendidikan, dll.
8
d. Hak positif dan hak negatif. Hak positif akan terjadi bila seseorang berhak atas
tindakan orang lain kepada orang itu. Misalnya orang yang tertabrak sepeda
motor sehingga terjatuh dijalan berhak atas pertolongan orang lain. Hak negatif
terjadi apabila seseorang bebas mendapatkan atau melakukan sesuatu.
Misalnya ketika seseorang mendapatkan hak untuk berbicara di depan kelas
atau mendapatkan pendidikan tinggi di luar negeri, dll. Dalam hak negatif
terkandung maksud bahwa pihak lain atau orang lain tidak boleh menghalangi
keinginan orang tersebut.
e. Hak moral, adalah hak seseorang yang didasari atas prinsip atau peraturan etis
dan oleh karenanya hak moral berada dalam sistem moral. Sistem moral adalah
sistem yang memiliki beberapa elemen atau kaidah moral (hati nurani,
kebebasan, tanggung jawab, hak dan kewajiban) dan kaidah itu saling terjalin
sedemikian rupa dan hasil sistem itu terwujud dalam tindakan dan perilaku baik
atau berilaku buruk manusia. Contohnya, seorang dosen yang berhak menuntut
mahasiswanya berlaku jujur dalam ujian.
Sedangkan kewajiban seseorang bergantung pada hak-hak yang diperolehnya. Setiap
kewajiban yang harus dilakukan seseorang tidak selalu sama dengan orang lain.
Semuanya bergantung pada bagaimana hak itu diperoleh. Misalnya, hak individual
seseorang akan pendidikan tinggi, maka ia juga diwajibkan untuk melakukan
kewajibannya yaitu membayar SPP secara tepat waktu. Kewajiban terbagi dalam dua
hal, yakni:
a. Kewajiban sempurna, adalah kewajiban yang berkaitan dengan hak orang lain,
karena terdapat unsur keadilan.
b. Kewajiban tidak sempurna, adalah kewajiban yang tidak ada unsur keadilannya,
karena ia tidak terkait dengan hak orang lain.
IV. PENTINGNYA ETIKA DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI DAN KEHIDUPAN
ILMIAH
Beberapa alasan mengapa perlunya etika saat ini:
1. Pandangan moral yang beraneka ragam yang berasal dari berbagai suku, kelompok,
daerah dan agama yang berbeda dan yang hidup berdamp8ingan dalam suatu masyarakat
dan negara.
9
2. Modernisasi dan kemajuan teknologi membawa perubahan besar dalam struktur
masyarakat yang akibatnya dapat bertentangan dengan pandangan-pandangan moral
tradisional.
3. Munculnya berbagai ideologi yang menawarkan diri sebagai penuntun kehidupan manusia
dengan masing-masing ajarannya tentang kehidupan manusia.
Etika dapat membangkitkan kembali semangat hidup agar manusia dapat menjadi manusia
yang baik dan bijaksana melalui eksistensi dan profesinya.
Dalam bidang keilmuan, etika sangat penting karena pokok perhatiannya pada problem
dan proses kerja keilmuan, sehingga memunculkan studi etika keilmuan. Etika keilmuan
menyoroti aspek bagaimana peran seorang mahasiswa, ilmuwan dalam kegiatannya. Tanggung
jawab mereka dipertaruhkan dalam proses kegiatan ilmiahnya. Pokok perhatian lain dalam etika
keilmuan adalah masalah bebas nilai. Bebas nilai adalah suatu posisi atau keadaan dimana
seseorang ilmuwan memiliki hak berupa kebebasannya untuk melakukan penelitian ilmiahnya.
Mereka bebas meneliti apa saja sesuai dengan keinginan atau tujuan penelitiannya. Kebalikan
bebas nilai adalah tidak bebas nilai, yakni adanya hambatan dari luar seperti norma agama,
norma hukum, norma budaya yang muncul dalam proses penelitiannya. Norma-norma tersebut
semacam “pagar” yang merintangi kebebasan seorang peneliti atas dasar tujuan dan
kepentingan norma tersebut. Misalnya, pada kasus penelitian kloning untuk manusia.
10
Download