Uploaded by User112543

Materi Rekonstruktivisme

advertisement
Filsafat Rekonstruksionisme
Filsafat Rekonstruksionisme merupakan kelanjutan dari filsafat Progresifisme ,aliran
Rekonstruksionisme berusahan untuk mengubah tata susunan lama menjadi tata susunan baru
ke arah yang lebih modern , aliran filsafat ini pada prinsipnya sepaham dengan aliran dengan
aliran perenialisme yaitu menurut Muhammad Noor Syam (1985:340) .kedua aliran tersebut
memandang bahwa keadaan sekarang merupakan zaman yang mempunyai kebudayaan yang
terganggu oleh kehancuran ,kebingungan dan kesimpangsiuran , walaupun mempunyai prinsip
yang sama , cara yang digunakan oleh kedua prinsip ini berbeda , jika aliran perennialisme
memiliki penyelesaian masalah dengan mengembalikan kebudayaan lama yang dianggap cocok
atau ideal dengan kehidupan .
Aliran rekonstruksionisme ini juga merupakan aliran dalam filsafat pendidikan yang berawal dari
adanya krisis kebudayaan modern yang dipelopori oleh tokoh bernama George Count dan Harold
pada tahun 1930-an. Aliran rekonstruksionisme merupakan aliran yang berusaha merombak tata
susunan lama dalam pendidikan dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang bercorak
modern.
Dasar pemikiran aliran rekonstruksionisme tidak terlepas dari pemikiran-pemikiran pada aliran
perenialisme dan progresifisme. Aliran rekonstruksionisme muncul sebagai reaksi dari adanya
pemahaman dalam aliran perenialisme maupun aliran progresivisme, sehingga keduanya tidak
dapat dipisahkan, karena upaya aliran rekonstruksionisme dalam mengembangkan pendidikan
diawali oleh keprihatinan para rekonstruksionis terhadap kehidupan manusia modern atau
dengan kata lain menyebutkan adanya krisis kebudayaan modern. Aliran rekonstruksionisme
merupakan salah satu aliran yang menganggap telah terjadi kegagalan dalam pendidikan dunia
modern (progresif).
Aliran rekonstruksionisme memiliki cara yang berbeda dengan perenialisme yaitu dengan
berupaya merombak tata susunan kebudyaan lama dan membangun tata susunan hidup
kebudayaan yang bercorak modern, serta berupaya untuk membuat kesepakatan bersama
bagaimana mengatur tata kehidupan manusia dan juga mengatur tata kehidupan dilingkungannya
menjadi lebih baik lagi.
Karena itu dalam proses dan lembaga pendidikan dalam aliran filsafat
rekonstruksionisme merasa perlu merubah tata susunan lama atau kebudayaan lama dan
membangun tata susunan baru untuk pendidikan dan lembaga pendidikan dan untuk hal itu
perlulah di bangun hubungan kerja sama antara umat manusia ,demi generasi sekarang dan
generasi yang akan datang . Aliran filsafat ini juga meyakini usaha penyelamatan dunia
merupakan tugas seluruh umat manusia , sehingga dengan pembinaan yang tepat dalam dunia
pendidikan dan pembinaan kembali daya intelektual dan spritual ,membina kembali manusia
dengan nilai dan norma yang benar , sehingga terbentuklah dunia baru merupakan hal yang
diyakinkan akan menyelamatkan dunia .
Rekonstruktivisme menganggap jika sekolah adalah agen perubahan, yang tidak hanya
mentransfer ilmu tapi juga mengajarkan nilai nilai dalam kehidupan dan membangun kembali
atau merekonstruksi kan nilai nilai tersebut seoptimal mungkin sehingga timbulah cara berpikir
yang lebih efektif dan cara kerja yang lebih efektif sehingga menjadikan dunia yang lebih baik
dar masa sebelumnnya bahkan mungkin jadi yang lebih baik di masa sekarang .
Latar Belakang Kemunculan Aliran Filsafat Rekonstruksionisme
Jauh pada tahun 1930-an, dunia mengalami krisis yang sangat hebat, yaitu krisis ekonomi yang
tidak hentinya terus merongrong perekonomian dunia. Sistem ekonomi kapitalis telah
meningkatkan sikap egosentris masyarakat dunia. Masa krisis dunia bukan hanya terjadi pada era
modern seperti saat ini, yang tengah gencarnya menghantui setiap penjuru dunia. Tidak ubahnya
dengan sebuah politik, dalam ekonomi kapitalis tidak lagi mengenal siapa teman sejati dan siapa
musuh yang sejati. Sistem kapitalis telah menumbuhkan sikap kesombongan negara-negara yang
merasa memiliki sistem perekonomian di atas atau yang disebut dengan negara-negara maju.
Kesombongan-kesombongan itu antara lain adalah kesombongan sikap dari sebuah negara yang
notabene dianggap sebagai polisi dunia yaitu Amerika Serikat. Amerika merasa sanggup hidup
dengan perekonomian sendiri, hingga akhirnya defisit perdagangan Amerika mulai terasa sejak
menjadi elemen penting ekonomi dunia pada awal abad ke-17. Antara tahun 1990 sampai tahun
2000 defisit perdagangan Amerika dari 100 miliar naik menjadi 450 miliar.[4] Krisis yang terjadi
di Amerika tersebut secara otomatis juga telah menjadi krisis bagi dunia. Sedangkan krisis yang
terjadi pada tahun 1930-an pada saat itu juga merupakan sebuah krisis ekonomi dunia yang
menyebabkan terjadinya depresi dunia sehingga menyebabkan lumpuhnya bangsa-bangsa
kapitalis secara ekonomi. Adanya krisis ini akhirnya berdampak pula kepada pendidikan. Krisis
inilah yang melatarbelakangi munculnya aliran rekonstruksionisme yang bertujuan untuk dapat
berusaha merombak tata susunan lama dalam pendidikan dan membangun tata susunan hidup
kebudayaan yang bercorak modern.
Penerapan Aliran Filsafat Rekonstruksionisme dalam Dunia Pendidikan
Aliran Rekonstruksionisme berfokus pada masyarakat , para penganut aliran ini percaya
kurikulum harus berdampak besar dalam kehidupan manusia menjadi metode perubahan dan
reformasi sosial dalam kehidupan masyarakat . Kontruksionisme menekankan pada pemecahan
masalah dan berpikir kritis dan mementingkan pemikiran ke arah masa depan , kaum
rekonstruksionisme juga menganggap diharuskan adanya pendidikan dengan unsur unsur
pembelajaran global yang berkaitan dengan masalah global sebagai alat untuk mengurangi
konflik di dunia
Ada lima tujuan untuk pendidikan dalam aliran filsafat Rekonstruksionisme menurut Ornstein
dan Huskins dalam bukunya Curriculum Tahun 2004 adalah :
(1) untuk memeriksa warisan budaya masyarakat dan peradaban lainnya,
(2) menghadapi masalah kontroversial dan membahasnya,
(3) didedikasikan untuk membawa perubahan dalam masyarakat ,
(4) memeriksa masa depan dan kemungkinan realitas masa depan,
(5) partisipasi siswa dan guru dalam interkulturalisme. Walaupun tujuan-tujuan ini bagus,
mereka juga tidak realistis. Rekonstruksionis sering dipandang sebagai idealis karena teorinya
didasarkan pada masyarakat utopis (Ornstein & Hunkins, 2004, Bab 4).
Pemikiran aliran filsafat rekonstruksionisme dalam bidang Pendidikan
Dalam filsafat pendidikan, aliran rekonstruksionisme merupakan suatu aliran yang berusaha
merombak tata susunan lama dengan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang bercorak
modern. Aliran rekonstruksionisme pada prinsipnya sepaham dengan aliran perenialisme, yaitu
berawal dari krisis kebudayaan modern. Menurut Muhammad Noor Syam, kedua aliran tersebut
memandang bahwa keadaan sekarang merupakan zaman yang mempunyai kebudayaan yang
terganggu oleh kehancuran, kebingungan dan kesimpangsiuran. Meskipun demikan, prinsip yang
dimiliki oleh aliran ini tidaklah sama dengan prinsip yang dipegang oleh aliran filsafat
perenialisme. Keduanya mempunyai visi dan cara yang berbeda dalam pemecahan yang akan
ditempuh untuk mengembalikan kebudayaan yang serasi dalam kehidupan.
a. Pandangan Ontologis
Aliran rekonstruksionisme memandang bahwa realita itu bersivat universal, realita itu ada
dimana-mana dan sama disetiap tempat. Menurut Muhammad Noor Syam, untuk mengerti
realita, kita tidak hanya harus melihat sesuatu yang konkrit tetapi juga sesuatu yang khusus,
karena realita yang kita ketahui dan hadapi tidak terlepas dari suatu sistem, selain substansi yang
dipunyai dari tiap sesuatu tersebut. Sebagai substansi, tiap realita itu selalu bergerak dan
berkembang dari potensialitas menuju aktualitas, sehingga gerakan tersebut mencakup tujuan
dan terarah, guna mencapai tujuannya masing-masing dengan caranya sendiri, karena tiap realita
memiliki perspektif tersendiri.
b. Pandangan Epistimologis
Kajian epistimologis, aliran ini lebih merujuk kepada pendapat aliran pragmatism dan
perenialisme.Menurut aliran ini, untuk memahami realita memerlukan suatu asas tahu.
Maksudnya, kita tidak mungkin memahami realita ini tanpa melalui proses pengalaman dan
hubungan dengan realita terlebih dahulu melalui penemuan ilmu pengetahuan. Karenanya, baik
indera maupun rasio sama-sama berfungsi membentuk pengetahuan yang sesungguhya. Aliran
ini juga berpendapat bahwa dasar dari suatu kebenaran dapat dibuktikan dengan self-efidence,
yakni bukti yang ada pada diri sendiri, realita dan eksistensinya. Dengan kata lain pengetahuan
yang benar buktinya ada di dalam pengetahuan ilmu itu sendiri. Sebagai ilustrasi, adanya Tuhan
tidak perlu dibuktikan dengan bukti-bukti lain atas eksistensi Tuhan. Pedoman aliran ini berasal
dari ajaran Aristoteles yang membicarakan dua hal pokok, yakni pikiran (ratio) dan bukti
(efidence) yang menggunakan jalan silogisme. Silogisme menunjukkan hubungan logis antara
premis mayor, premis minor, dan kesimpulan (conclusion), yang memakai cara pengambilan
kesimpulan deduktif dan induktif. c. Pandangan Aksiologis Dalam proses interaksi sesama
manusia diperlukan nilai-nilai. Begitu juga dalam hubungan manusia dengan alam semesta,
prosesnya tidak mungkin dilakukan dengan sikap netral. Dalam hal ini, manusia sadar ataupun
tidak sadar telah melakukan proses penilaian, yang merupakan kecenderungan manusia.
Tokoh-tokoh Aliran Rekonstruksionisme
Rekonstruksionisme dipelopori oleh George Count dan Harold Rugg pada tahun 1930, yang
memiliki keinginan yaitu ingin membangun masyarakat yang baru, masyarakat yang pantas dan
adil. Beberapa tokoh dalam aliran ini antara lain adalah Caroline Pratt, George Count, Harold
Rugg.
George Counts adalah seorang tokoh aliran rekonstruksionisme yang memulai masuk sekolah
pascasarjana di University of Chicago pada tahun 1913. Pada saat ini Sekolah Pendidikan
dipengaruhi oleh John Dewey dan Francis W. Parker. Pendidik bertekad untuk mengembangkan
suatu rencana bagi ilmu pendidikan. Charles Hubbard Judd adalah salah satu pemimpin rencana
ini. George Counts adalah murid Charles Hubbard Judd. George Counts selesai doktor di bidang
pendidikan pada tahun 1916 dan juga belajar sosiologi di bawah Albion W. Small.
Pengalamannya dalam sosiologi membuatnya berkonsentrasi pada dimensi sosiologis penelitian
pendidikan.
Hasil karya George Counts berupa tulisannya tentang "Prinsip Pendidikan" dengan J. Crosby
Chapman. Itu adalah gambaran filosofis, psikologis, dan metodologis American Pendidikan
(Gutek, 250). Prinsip-prinsip Pendidikan tahun 1924 disukai filsafat John Dewey. Dalam Counts
tahun 1920-an bersama dalam gerakan-anak berpusat dalam pendidikan progresif. Selain itu,
George Counts juga menulis "Berani Build Sekolah Sosial Orde Baru?" yang merupakan pamflet
yang terdiri dari tiga makalah yang dibaca pada bulan Februari 1932 di pertemuan pendidikan
nasional. Satu kertas dibaca sebelum Progressive Education Association di Baltimore, lain kertas
sebelum sebuah divisi dari Departemen pengawasan di Washington, dan kertas lain sebelum
Dewan Nasional Pendidikan di Washington. Judul dari tiga makalah adalah: Dare Jadilah
Pendidikan Progresif Progressive; Pendidikan Melalui indoktrinasi, dan Kebebasan, Budaya,
Sosial Perencanaan, dan Kepemimpinan. George Counts ingin para guru untuk memimpin
masyarakat bukannya mengikuti masyarakat. Para guru adalah pemimpin dan harus membuat
kebijakan yang bisa memutuskan antara tujuan dan nilai-nilai yang saling bertentangan. Guru
harus peduli dengan urusan sekolah, tetapi juga harus peduli dengan masalah-masalah
kontroversial ekonomi, politik, dan moralitas.
Tokoh kedua dalam aliran rekonstruksionisme adalah Caroline Pratt. Caroline Pratt dilahirkan di
Lound, Nottinghamshire, 23 Juni 1962, dan meninggal di Peterborough, Cambridgeshire 4
September 2004. Dia adalah salah satu dari 14 elite performance riders di Inggris, akan tetapi dia
terbunuh pada suatu kompetisi di Burghley Horse Trials pada 4 September 2004. Dia merancang
unit blok yang menjadi bahan dasar di sekolah-sekolah di seluruh Amerika Serikat. Blok unit
standarnya adalah bentuk yang sama seperti blok dari Froebel Hadiah keempat berdasarkan
proporsi 1:2:4. Blok lainnya berasal dari blok standar, beberapa orang lain yang lebih kecil dan
lebih besar seperti yang dijelaskan oleh Froebel dalam Pendidikan Manusia 1826. Unit blok
harus kokoh dan akurat dipotong sehingga anak-anak dapat melakukan sebuah penciptaan,
pemecahkan masalah, dan tantangan sendiri. Caroline Pratt merupakan seorang guru muda yang
inovatif. Caroline Pratt mengungkapkan ide-ide dari Friedrich Froebel tentang sesuatu yang
dapat memberikan anak-anak kesempatan untuk mewakili dunia mereka.
Selanjutnya, tokoh aliran rekonstruksionisme yang ketiga adalah Harold Rugg. Dia adalah
seorang guru, insinyur, sejarawan, ahli teori pendidikan, dan mahasiswa psikologi dan sosiologi.
Harold Rugg (1886-1960) adalah salah satu pendidik yang paling serbaguna yang terkait dengan
gerakan pendidikan progresif. Harold Rugg Ordway, anak Edward dan Merion Abbie (Davidson)
Rugg, lahir di Fitchburg, Massachusetts, pada tanggal 17 Januari 1886. Ayahnya adalah seorang
tukang kayu. Harold Rugg Ordway memiliki banyak pengalaman kerja, karena dia adalah
seseorang yang sangat gigih dalam hidupnya. Di Dartmouth dia menerima gelar B.S. gelar pada
tahun 1908 dan gelar sarjana di bidang teknik sipil pada 1909. Pada tahun 1911 ia memasuki
Universitas Illinois, tempat ia mengajar teknik dan melakukan pekerjaan lulusan di bidang
pendidikan dan sosiologi di bawah arahan William C. Bagley. Pada tanggal 4 September 1912,
Rugg menikah Bertha Miller, mereka mengadopsi dua anak. Rugg menikah sampai tiga kali,
tetapi dua perkawinannya berakhir dengan perceraian. Rugg menyelesaikan Ph.D. program pada
tahun 1915 dan pada musim gugur tahun itu pindah ke Universitas Chicago, tempat ia mengajar
dan melakukan penelitian di bidang statistik administrasi dan pendidikan di bawah Charles H.
Judd.
Banyak ide-ide novel Rugg's tentang pengembangan kurikulum yang diterapkan di seri sosialnya
14-volume studi buku, diterbitkan dengan judul umum "Nya Mengubah Manusia dan
Masyarakat" antara 1929 dan 1940. Upaya Rugg untuk memberikan pernyataan yang akurat
tentang kekuatan dan kelemahan masyarakat Amerika dalam buku pelajaran membawakan
tingkat ketenaran yang jarang diduplikasi di kalangan akademisi. Meskipun buku hangat diterima
dan banyak dibaca ketika mereka pertama kali muncul, sering dianggap subversif di beberapa
kalangan konservatif dan sebagai hasilnya akhirnya dijatuhkan oleh sebagian besar kabupaten
sekolah yang menggunakannya. Kontroversi atas buku Rugg menyebabkan salah satu kasus
stormiest dan paling sensasional sensor buku teks dalam sejarah pendidikan Amerika. Hal ini
masih merupakan studi kasus yang sangat instruktif. Ruug juga menjabat sebagai psikolog
pendidikan di Sekolah Lincoln eksperimental. Pada tahun 1934 ia membantu mengorganisasi
The Frontier Sosial, sebuah jurnal sangat dihargai untuk analisis sosial dan pendidikan dari sudut
pandang liberal. Ia juga melayani selama lebih dari satu dekade sebagai editor studi sosial Senior
Scholastic dan selama 11 tahun sebagai editor Journal of Psikologi Pendidikan. Pada berbagai
waktu dalam karirnya ia adalah seorang konsultan pendidikan atau dosen tamu di Timur Tengah,
Timur Jauh, Eropa Barat, Afrika Selatan, Australia, dan Selandia Baru. Selain itu, ia datang
untuk secara umum diakui sebagai delegasi tidak resmi dari American Progresif Asosiasi
Pendidikan untuk Pendidikan Baru internasional Fellowship
Prinsip-Prinsip Pemikiran dalam Aliran Rekonstruksionisme
1. Masyarakat dunia sedang dalam kondisi krisis
Krisis dunia yang sedang dialami saat ini antara lain persoalan-persoalan tentang kependudukan,
sumber daya alam yang terbatas, kesenjangan global dalam distribusi (penyebaran) kekayaan,
prolefirasi nuklir, rasisme, nasionalisme sempit, dan pengunaan teknologi yang ‘sembrono’ dan
tidak bertanggung jawab. Jika praktik-praktik yang ada sekarang tidak dibalik (diubah secara
mendasar), maka peradaban yang kita kenal ini akan mengalami kehancuran jika tidak dikoreksi
sesegera mungkin.
Persoalan-persoalan tadi, menurut kalangan rekonstruksionis, berjalan seiring dengan tantangan
totalitarianisme modern, (yakni) hilangnya nilai-nilai kemanusiaan dalam masyarakat luas dan
meningkatnya ‘kedunguan’ fungsional penduduk dunia. Persoalan-persoalan yang dihadapi
dunia sudah sedemikian beratnya sehingga tidak bisa lagi diabaikan.
2. Jika pendidikan formal adalah bagian tidak terpisahkan dari solusi sosial dalam krisis dunia
sekarang, maka ia harus secara aktif mengajarkan perubahan sosial.
Pendidikan harus memunculkan kesadaran peserta didik akan persoalan-persoalan sosial dan
mendorong mereka untuk secara aktif memberiakan solusi. Kesadaran sosial kiranya dapat
ditumbuhkan jika peserta didik dibuat berani untuk mempertanyakan status quo dan untuk
mengkaji isu-isu kontroversial dalam agama, masyarakat, ekonomi, politik dan pendidikan.
Kajian dan diskusi kritis akan membantu peserta didik melihat ketidakadilan dan ketidakfungsian
beberapa aspek sistem sekarang ini dan akan membantu mereka mengembangkan alternatifalternatif bagi kebijaksanaan konvensional.
3. Pendidikan formal dapat menjadi agen utama dalam rekonstruksi tatanan sosial.
Sekolah-sekolah yang mereflesikan nilai-nilai sosial dominan, tutur rekonstruksionis, hanya akan
mengalihkan penyakit-penyakit politik, sosial, dan ekonomi yang sekarang mendera umat
manusia. Sekolah dapat dan harus mengubah secara mendasar peran tradisionalnya dan menjadi
sumber inovasi sosial. Tugas mengubah peran pendidikan amatlah urgen, karena kenyataan
bahwa manusia sekarang mempunyai kemampuan memusnahkan diri.
Kritik-kritik rekonstruksi sosial menandakan bahwa Brameld dan kolega-koleganya memberikan
kepercayaan yang sangat besar terhadap kekuatan guru dan pendidik lainnya untuk bertindak
sebagai intrumen utama perubahan sosial. Komentar kalangan rekonstruksionis bahwa satusatunya alternatif bagi rekonstruksi sosial adalah kekacauan global dan kemusnahan menyeluruh
peradaban dunia. Dari perspektif mereka, pendidikan dapat menjadi instrumen untuk
mengaburkan tuntutan mendesak transformasi sosial dan kemudian merintangi perubahan, atau
instrumen untuk membentuk kenyakinan masyarakat dan mengarahkan peralihannya ke masa
depan.
4. Solusi efektif satu-satunya persoalan-persoalan dunia kita adalah penciptaan tatanan sosial
yang menjagat.
Mengingat persoalan-persoalannya bersifat mendunia, maka solusinyapun harus demikian.
Kerjasama menyeluruh dari semua bangsa adalah satu-satunya harapan bagi penduduk dunia
yang berkembang terus yang menghuni dunia dengan segala keterbatasan sumber daya alamnya.
Era teknologi telah memunculkan saling ketergantungan dunia, di samping juga kemajuankemajuan di bidang sains. Di sisi lain, kita sedang didera kesenjangan budaya dalam beradaptasi
dengan tatanan dunia baru. Kita sedang berupaya hidup di ruang angkasa dengan sebuah sistem
nilai dan mentalis politik yang dianut di era kuda dan andong.
Download