Uploaded by fikriaditya341

Acara Pembuktian Hukum Mendel

advertisement
PEMBUKTIAN HUKUM MENDEL
LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI MEDIK
Oleh:
Fikri Aditya Dwitama
2011050021
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK D4
PURWOKERTO
2021
1
I.
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Ciri yang paling nyata dari kehidupan adalah kemampuan organisme untuk
mereproduksi jenisnya. Sejenis menghasilkan sejenis, organisme menurunkan
organisme yang sama. Suatu keturunan akan lebih menyerupai orangtuanya daripada
individu lain yang spesiesnya sama, tapi hubungannya lebih jauh. Perpindahan sifat
dari suatu generasi ke generasi selanjutnya dinamakan penurunan sifat yang dikenal
dengan istilah hereditas. Selain itu, adapun variasi: keturunan yang memiliki
penampilan yang sedikit berbeda dari orangtuanya atau saudara sekandungnya.
Mekanisme hereditas dan variasi menjadi perhatian seiring abad ke-20 (Mehler
1996).
Definisi hereditas sebagai transmisi genetik dari orang tua pada
keturunannya merupakan penyederhanaan yang berlebih karena sesungguhnya yang
diwariskan oleh anak dari orangtuanya adalah satu set alel dari masing-masing orang
tua serta mitokondria yang terletak di luar nukleus (inti sel), kode genetik inilah yang
memproduksi protein kemudian berinteraksi dengan lingkungan untuk membentuk
karakter fenotif (Meilinda, 2017).
Istilah hereditas akan mengenalkan terminologi Gen dan Alel sebagai
ekspresi alternatif yang terkait sifat. Setiap individu
memiliki sepasang alel yang khas dan terkait dengan tetuanya. Pasangan alel ini
dinamakan genotif apabila individu memiliki pasangan alel yang sama, maka
individu tersebut bergenotipe homozigot dan jika berbeda maka disebut heterozigot
(Campbell, 1999).
1.2. Rumusan Masalah
a) Apa yang dimaksud dengan hukum mendel ?
b) Apa yang dimaksud dengan persilangan monohybrid ?
c) Apa yang dimaksud dengan persilangan dihibrid ?
1.3. Tujuan Praktikum
a) Mahasiswa dapat mengetahui apa yang dimaksud dengan hukum mendel.
b) Mahasiswa dapat menjelaskan apa yang dimaksud dengan persilangan
monohybrid.
2
c) Mahasiswa dapat mengetahui tentang apa yang dimaksud dengan persilangan
dihibrid.
3
II. DASAR TEORI
Genetika merupakan salah satu bidang ilmu yang sejak dahulu sudah menarik
perhatian manusia. Genetika adalah ilmu yang mempelajari cara sifat diwariskan karena
dengan genetika dapat diketahui cara transfer gen atau informasi biologi dari satu sel ke
sel yang lain atau dari satu generasi ke generasi berikutnya. Salah satu tokoh genetika yang
terkenal adalah Mendel. Beliau merupakan salah satu tokoh yang menemukan hukum
Mendel I atau sering dikenal sebagai hukum segregasi. Hukum ini menyatakan bahwa
dalam
pembentukan
sel
gamet
pasangan
alel
akan
memisah
secara
bebas.
Kemudian gen akan berpasangan kembali pada waktu fertilisasi sehingga setiap
individu akan diploid ( Widianti, 2014 ).
Eksperimen
yang
dilakukan
Mendel
adalah
menyilangkan
tanaman
–
tanaman ercis dengan satu sifat beda ( monohibrida ), dua sifat beda ( dihibrida ),tiga sifat
beda ( trihibrida ) dan seterusnya. Percobaan persilangan yang dilakukan oleh Mendel
sangat sederhana, yaitu menggunakan tanaman kapri dengan satu sifat beda. Persilangan
ini disebut dengan persilangan monohybrid. Tanaman keturunan generasi pertama ( filial 1
atau F1 ) mempunyai sifat yang seragam menyerupai salah satu induknya. Kemudian
tanaman – tanaman
F1 tesebut disilangkan satu dengan lainnya ( F1 x F1 ). Pada
keturunan generasi ke dua( F2 ), kedua sifat induk muncul kembali. Mendel beranggapan
bahwa sifat yang tidak muncul pada tanaman F 1 itu sebenarnya ada di dalam tanaman
tersebut,tetapi tidak terekspresikan atau tidak nampak, sehingga ia kemudian menarik
kesimpulan bahwa sifat tertentu dapat menutup sifat lainnya. Sifat ini di sebut sifat
dominan. Sifat yang tertutup oleh sifat dominan tersebut disebut dengan sifatresesif
(Henuhili, 2002 ).
Pada persilangan monohybrid , karakter-karakter genetik diatur oleh unit faktor
yang berpasangan yang terdapat dalam tiap individu. Individu diploid menerima satu faktor
dari
masing-masing orang tua. Karena unit factor ituberpasangan, maka ada tiga
kemungkinan kombinasi pasangan, yaitu keduanya sifat
dominan,
keduanya
sifat
resesif atau satu dominan satu resesif. Setiap individu yang diploid memiliki salah
satu dari kemungkinan kombinasi tersebut.Selama pembentukan gamet, pasangan unit
faktor akan memisah, atau mengalami segregasi dan akan diteruskan ke gamet-gamet
secara bebas yang kemudian akan diteruskan ke keturunannya (Henuhili, 2002).’
Mendel melakukan persilangan monohibrid atau persilangan satu sifat beda,
dengantujuan mengetahui pola pewarisan sifat dari induk kepada generasi berikutnya.
4
Persilangan ini untuk membuktikan hukum Mendel I yang menyatakan bahwa pasangan
alel pada proses pembentukkan sel gamet dapat memisah secara bebas. Hukum Mendel I
disebut juga dengan hukum segregasi. Persilangan monohibrid yang menghasilkan
keturunan dengan perbandingan F2, yaitu 1 : 2 : 1 merupakan bukti berlakunya hukum
Mendel I yang dikenal dengan nama Hukum Pemisahan Gen yang Sealel (The Law of
Segregation of Allelic Genes). Persilangan dihibrid adalah persilangan antara individu
untuk 2 gen yang berbeda. Eksperimen Mendel dengan bentuk biji dan warna ercis adalah
sebuah contoh dari persilangan dihibrid. Metode Punnett kuadrat menentukan rasio
fenotipe dan genotipenya. Metode ini pada dasarnya sama dengan persilangan monohibrid.
Perbedaan utamanya ialah masing-masing gamet sekarang memiliki 1 alel dengan 1 atau 2
gen yang berbeda (Eri Kustiani, 2016).
Dalam hukum Mendel II atau dikenal dengan The Law of Independent assortmen
of genes atau
Hukum Pengelompokan Gen Secara Bebas dinyatakan bahwa selama
pembentukan gamet, gen-gen sealel akan memisah secara bebas dan mengelompok dengan
gen lain yang bukan alelnya. Pembuktian hukum inidipakai pada dihibrid atau polihibrid,
yaitu persilangan dari 2 individu yang memiliki
satu
atau lebih
karakter
yang
berbeda. Persilangan dihibrid akan menghasilkan keturunan F2 dengan perbandingan
9:3:3:1 (Campbell, 2010).
5
III. ALAT, BAHAN DAN METODE
3.1. Alat
1. Gunting
2. Wadah kecil
3. Selotip
3.2. Bahan
1. 4 Macam warna kancing model genetika masing-masing 200 buah
2. 4 Buah kantong plastik
3.3. Metode Kerja
Metode kerja yang dilakukan pada praktikum kali ini, antara lain :
1. Persilangan Monohibrid
a. Dimisalkan jika kita mengawinkan dua tanaman Erchis bunga merah,
heterosigot (Mm), sebagai keturunan F1 dari perkawinan Erchis bunga
merah (MM) dengan putih (mm).
b. Dipilih dua (2) macam warna kancing model genetika :
1) Kancing merah sebagai model gen merah (M, dominan).
2) Kancing putih sebagai model gen putih (m, pasangan resesifnya).
c. Disiapkan gamet-gamet jantan dan gamet-gamet betina, yang terdiri dari gen
M (kancing merah) dan gen m (kancing putih) yang sama banyak, masingmasing 25.
Macam
Ʃ Gamet
Ʃ Gamet
Ʃ Kejadian
Gamet
(Pada Stamen)
(Pada Putik)
perkawinan
Gen M
20
20
20
20
40
40
(kancing merah
Gen m
(kancing putih)
Jumlah
40
Ket : Pada stamen akan dihasilkan ribuan serbuksari (gamet jantan). Gamet
yang dibentuk mengandung gen M dan gen m = 1 : 1. Demikian pula pada
putih dapat dihasil banyak ovum, dengan gen M dan m 1 : 1.
d. Dimasukan ke dalam kantung 1 (sebagai stamen) dan kantong 2 (sebagai
putik), masing-masing 20 gamet M dan gamet m.
6
e. Lakukan penyilangan secara acak (dengan mata terpejam) gamet-gamet dari
kedua kantung. Catat hasil penyilangannya pada table tabulasi data. Lakukan
terus sampai semua gamet habis disilangkan.
f. Diulangilah penyilangan ini paling tidak dua kali (kita dapatkan 80 kejadian
perkawinan). Semakin banyak kejadian perkawinan kita dapatkan, semakin
jelas hasilnya.
2. Perkawinan Dihibrid
a. Dimisalkan kita mengawinkan dua tanaman Erchis bunga merah, biji bukat
heterosigotik (MmBb), sebagai keturunan F1 dari perkawinan Erchis merah,
bulat (MMBB) dengan putih keriput (mmbb). Gen M dan B dominan
terhadap alel pasangannya (m dan b).
b. Dipilih empat (4) macam warna kancing model genetika :
1) Gen M = kancing merah
2) Gen m = kancing putih
3) Gen B = kancing hitam
4) Gen b = kancing kuning
c. Disiapkan gamet-gamet jantan (pada stamen) di gamet-gamet betina (pada
putik). Macam gamet dibentuk pada kedua orang kelamin : MB ; Mb ; mB ;
mb.
d. Dibuatlah rangkaian gamet sbb: MB, Mb, Mb dan mb dengan kancing model
gen yang telah disiapkan. Masing-masing terdiri dari gen M (kancing merah)
dan gen m (kancing putih) yang sama banyak, masing-masing 25.
Macam
Ʃ Gamet (Pada
Ʃ Gamet (Pada
Ʃ Kejadian
Gamet
Stamen)
Putik)
Perkawinan
MB : Kancing
12
12
12
12
12
12
12
12
Merah – hitam
Mb : Kancing
Merah –
kuning
mB : Kancing
putih – hitam
Mb : Kancing
putih – kuning
7
Jumlah gamet
48
48
48
Ket : Jumlah total gamet dapat diubah, dengan kelipatan 16, misal : 32, 48,
64, 80, 96, dst.
e. Dilakukan penyilangan secara acak gamet-gamet dari kedua kantung (stamen
dan putik). Dicatat hasil penyilangannya pada table tabulasi data. Lakukan
terus sampai semua gamet habis disilangkan,
f. Diulangilah penyilangan ini paling tidak dua kali (kita dapatkan 96 kejadian
perkawinan). Semakin banyak kejadian perkawinan kita dapatkan, semakin
jelas hasilnya.
8
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
4.1.1 Persilangan Monohibrid
Genotip Muncul
Penyilangan 1
KK (Kuning – kuning)
11
Kk (Kuning – hijau)
16
kk (Hijau – hijau)
13
Jumlah
40
Ratio Fenotif = Kuning : Hijau
27
:
13
2,1
:
1
4.1.2 Persilangan Dihibrid
Genotip Muncul
Penyilangan 1
MMKK
1
MMKk
6
MMkk
2
MmKk
4
Mmkk
7
mmKK
3
mmKk
2
Mmkk
5
9
mmkk
2
Rasio fenotif merah : kuning, merah : hijau, putih : kuning, putih: hijau
11
:
14
:
5
:
2
5,5
:
7
:
2,5
:
1
4.1.2 Pembahasan
Hukum Mendel adalah hukum mengenai pewarisan sifat pada organisme
yang dijabarkan oleh Gregor Johann Mendel dalam karyanya 'Percobaan mengenai
Persilangan Tanaman'. Hukum ini terdiri dari dua bagian:Hukum pemisahan
(segregation) dari Mendel, juga dikenal sebagai Hukum Pertama Mendel, dan
Hukum berpasangan secara bebas (independent assortment) dari Mendel, juga
dikenal sebagai Hukum Kedua Mendel.
Persilangan monohibrid adalah persilangan antara dua individu yang
mempunyai satu sifat beda, yaitu parental yang memiliki sifat fenotif kuning (KK)
dengan parental yanag memiliki sifat fenotif hijau (mm), dimana sifat kuning
dominan terhadap sifat hijau. ada percobaan kali ini untuk membuktikan bunyi dari
hukum Mendel 1 kami melakukan percobaan dengan satu sifat beda yaitu kuning
dan hijau. Dimana warna kuning merupakan warna yang dominan sedangkan warna
biru merupakan warna yang resesif. Setelah dilakukan percobaan, didapat
perbandingan fenotifnya yaitu merah : biru = 2,1 : 1, dari hasil ratio fenotif tersebut
di dapat bahwa hasil tersebut tidaklah sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh
Mendel, dan hal tersebut merupakan penyimpangan dari hukum Mendel 1 yang
ratio fenotifnya 3:1. Penyimpangan tersebut hanyalah penyimpangan semu yang
dikarenakan adanya pengaruh dominansi suatu sifat, pada hal ini adalah warna
kuning. Warna kuning merupakan warna yang dominan, sehingga bila ditemukan
pemasangan merah-biru pada pengambilan, otomatis individu tersebut disebut
berwarna kuning karena dominansinya. Berbeda dengan warna hijau, warna hijau
hanya muncul jika pemasangan yang diambil adalah hijau - hijau. Oleh karena itu,
kesempatan warna hijau untuk muncul sangatlah sedikit. Dan apabila pasangan
kuning - hijau muncul paling banyak maka otomatis warna kuninglah yang paling
10
banyak muncul, hal inilah yang menyebabkan dihasilkannya ratio fenotif kuning :
hijau = 2,1 : 1.
Persilangan dihibrid adalah persilangan antara dua individu sejenis yang
melibatkan dua sifat beda. Pada persilangan dihibrid yang dilakukan terjadi hal
yang sama dengan persilangan monohybrid, yaitu terjadinya penyimpangan dari
hukum mendel, ini karena ratio fenotif yang dihasilkan adalah 5,5 : 7 : 2,5 : 1 ,
sedangakan hukum Mendel II mempunyai ratio fenotif 9 : 3 : 3 : 1. penyimpangan
ini adalah penyimpangan yang semu dan jarang terjadi. Penyimpangan ini mungkin
dikarenakan adanya sifat-sifat menurun yang dipengaruhi oleh dua atau lebih
pasangan alela yang penampakkannya saling mempengaruhi (berinteraksi).
Tergantung pada macam interaksi ini, perbandingan fenotif itu berubah dalam
berbagai bentuk, walaupun prinsip dasar dari cara pewarisan sifat-sifat menurun
adalah tetap sama. Keganjilan ini bukanlah disebabkan oleh penyimpangan hukum
Mendel II tetapi hanyalah karena adanya dua pasang alela yang semuanya
mempengaruhi bagian sama dari suatu organisme.
11
V.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan, dapat diambil kesimpulan
sebagai berikut:
 Hukum Mendel adalah hukum mengenai pewarisan sifat pada organisme yang
dijabarkan oleh Gregor Johann Mendel dalam karyanya 'Percobaan mengenai
Persilangan Tanaman'.
 Persilangan monohibrid adalah persilangan antara dua individu yang mempunyai
satu sifat beda.
 Persilangan dihibrid adalah persilangan antara dua individu sejenis yang
melibatkan dua sifat beda.
12
DAFTAR PUSTAKA
Barmawi, Maimun. 2007. Pola Segregasi dan Heritabilitas Sifat Ketahanan Kedelai
terhadap Cowpea Mild Mottle Virus Populasi Willis MLG2521. Jurnal HPI Tropica
ISSN 1411-7525 (7) 1 : 48 – 52.
Campbell, Reece. 2010. Biologi. Jakarta: Erlangga.Elrod & Stansfield. 2002. Schaum’s
Outline Teori dan Soal-Soal Genetika. Jakarta: Erlangga.
Henuhili, Victoria dan Suratsih. 2002. Genetika. Yogyakarta : UNY.
Suryo. 1990. Genetika Strata I. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Weish, James dan Johanis P. Mogea. 1991. Dasar-Dasar Genetika dan PemuliaanTanaman.
Jakarta: Erlangga.
Widianti, Tuti & Noor Aini. 2014. Buku Ajar Genetika. Semarang : FMIPA Unnes.
13
LAMPIRAN
14
Download