MAKALAH GEREJA KATOLIK DAN KEGIATANNYA Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pendidikan Agama Katolik Dosen Pengampu : Dr. Fransisca Valeria Sunartini Disusun oleh: Kelompok 1 1. Anjelica Amandasari 20304241014 Pendididkan Biologi 2. Yohana Fadela Kurniawati 20312241006 Pendidikan IPA 3. Rotua Hasiholan 20301241043 Pendidikan MTK 4. Yustina Hilda Yuntari 20301244012 Pendidikan MTK FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2020 KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta berkat yang melimpah dariNya kami dapat menyelesaikan makalah tentang Gereja dan Kegiatan Gereja ini dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya. Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai ajaran sosial gereja, dan juga bagaimana memaknai gereja dan kegiatan gereja. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun. Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di masa depan. Yogyakarta, Oktober 2020 1 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR……………………………………………………………….1 DAFTAR ISI............................................................................................................... 2 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang.................................................................................... …………..3 1.2 Tujuan Penulisan................................................................................................... 4 BAB II PEMBAHASAN 2.1 Sejarah Gereja........................................................................................................5 2.2 Perjalanan Hidup Gereja…………………………………………………………8 2.3 Arti dan Makna Gereja……………………………………………….…………..9 2.4 Gereja Yang Hidup………………………………………………………………22 2.5 Syahadat Panjang-singkat..................................................................................... 44 2.6 Keanggotaan Gereja……………………………………………………………...46 2.7 Tugas Gereja......................................................................................................... 54 2.8 Kaul........................................................................................................................84 2.10 Gereja Dalam Perjalanan……………………………………………………….92 BAB III PENUTUP 3.1 Simpulan.......................................................................................... …………….94 3.2 Saran……………………………………………………………………………..95 3.2 Daftar Pustaka.................................................................................. ……………96 2 BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Agama Katolik merupakan salah satu agama yang cukup terkenal di dunia. Agama Katolik merupakan agama yang bersifat universal/menyeluruh. Karena secara etimologi, kata “Katolik” sebenarnya bermakna “universal atau keseluruhan atau umum” (dari ajektiva bahasa Yunani (katholikus) ) yang menggambarkan sifat gereja yang didirikan oleh Yesus Kristus.Maka,dapat disimpulkan bahwa agama Katolik adalah agama yang bersifat universal/menyeluruh/terbuka untuk siapapun yang ingin menganutnya dan mengetahuinya serta mendalaminya. Sesuai dengan petunjuk sejarah, Yesus Kristus adalah pembawa agama Kristen. Ia berasal dari Nazaret.Ia lahir kurang lebih pada tahun ke 4 sebelum masehi,tetapi sebagian ada yang berpendapat antara tahun ke 7-5 sebelum masehi, ketika berumur 27 tahun, Ia mulai mengajar di Galilea dan kemudian meluas di kalangan penduduk Palestina. Ia dipercayai membawa kabar gembira tentang penebusan dosa manusia sambil memperlihatkan banyak mukjizat. Untuk kelanjutan ajaran yang dibawanya Ia mengangkat 12 orang rasul. Satu tahun sebelum Ia meninggal dunia di kayu salib pada 7 april 30 M. Ketika berusia lebih kurang 30-31 tahun, Yesus telah membentuk gereja di Yerusalem, yaitu ketika menunjuk Petrus, salah seorang muridnya dari ke-12 murid, sebagai kepala gereja. Selain Petrus, Paulus adalah seorang rasul yang mempunyai peran besar dalam penyiaran agama Katolik.Ia berasal dari Tarsus di Sisilia, tetapi juga orang Yahudi sebagaimana halnya Petrus. Pada mulanya,ia menjadi penentang agama Kristen. Pada tahun 36 M ia pergi ke Damaskus untuk mencari orangorang Kristen untuk disiksanya. Tetapi di depan pintu gerbang kota tersebut, konon Yesus menampakkan diri padanya sehingga ia jatuh pingsan. Setelah 3 siuman, ia lantas bertaubat dan kemudian dibaptiskan. Dalam sejarah hidupnya disebutkan bahwa ia menyiarkan agama Kristen karena mendapat wahyu dari Tuhan, sekalipun ia bukan murid Yesus dan belum pernah berjumpa dengan Yesus. Penyebaran agama Katolik sudah dimulai sejak kedatangan Portugis di Indonesia yang dilakukan oleh beberapa misionaris pada abad ke-16 dan abad ke-17 di bagian timur seperti di Maluku dan Flores, NTT. Agama katolik baru memasuki tanah Jawa pada masa pemerintahan Herman Willem Daendels di Batavia awal abad-19 dengan didirikan gereja pertama di sana pada tahun 1807 dan disertai dengan diakuinya oleh Vatikan. Dalam makalah ini, kami akan membahas beberapa hal yang berkaitan dengan Gereja Katholik, mulai dari Sejarah Gereja, Perjalanan Hidup Gereja , Arti dan Makna Gereja, Gereja Yang Hidup,Syahadat Panjang-singkat, Tugas Gereja, Ciri Gereja,Perbedaan Gereja Katolik-Kristen,Kaul Gereja Dalam Perjalanan 2. Tujuan 1. Mahasiswa mengetahui arti dan makna dari Gereja 2. Mahasiswa memahami seluk-beluk Gereja Katolik 3. Mahasiswa mampu menerapkan tugas Gereja di kehidupan sehari-hari 4 BAB II PEMBAHASAN 1) SEJARAH GEREJA Gereja dimulai 50 hari sesudah kebangkitan Yesus (sekitar tahun 30-34 Masehi). Yesus sudah berjanji bahwa Dia akan mendirikan gerejaNya (Matius 16:18), dan dengan datangnya Roh Kudus pada hari Pentakosta (Kisah 2:1-4), Gereja (“kumpulan yang dipanggil keluar”) secara resmi dimulai. Gereja Mula-Mula Periode gereja mula-mula dimulai sejak dimulainya pelayanan rasul Petrus, Paulus dan lain-lainnya dalam memberitakan kisah Yesus hingga bertobatnya Kaisar Konstantinus I, kurang lebih tahun 33 hingga 325. Pada periode ini gereja dan orang-orang Kristen mengalami penganiayaan, terutama penganiayaan fisik, namun bapak-bapak gereja mulai menulis tulisan-tulisan Kristen yang pertama dan ajaran-ajaran yang menyeleweng yang bermunculan diatasi. Tidak lama setelah Pentakosta, pintu gereja terbuka kepada orang-orang bukan Yahudi. Rasul Petrus berkhotbah kepada rumah tangga Kornelius yang bukanlah orang Yahudi dan mereka juga menerima Roh Kudus. Rasul Paulus (mantan penganiaya gereja) memberitakan Injil di seluruh dunia Greko-Romawi, sampai ke Roma sendiri dan bahkan mungkin sampai ke Spanyol. Pada tahun 70, tahun di mana Yerusalem dihancurkan, kitab-kitab Perjanjian Baru telah lengkap dan beredar di antara gereja-gereja. Untuk 240 tahun berikutnya, orang-orang Kristen dianiaya oleh Roma, kadang secara acak, kadang atas perintah pemerintah. Pada abad kedua dan ketiga, kepemimpinan gereja mejadi makin hierakis seiring dengan peningkatan jumlah. Beberapa ajaran sesat diungkapkan dan ditolak pada zaman ini, dan kanon Perjanjian Baru disepakati. Penganiayaan terus meningkat. Gereja di bawah Kekaisaran Romawi 5 Periode ini dimulai sejak pertobatan Kaisar Konstantinus I dan menjadikan Kristen sebagai agama resmi Romawi, hingga dimulainya Abad Pertengahan, yaitu ketika Kaisar Romawi terakhir, Romulus Agustus dijatuhkan, kira-kira tahun 313 hingga 476. Pada periode ini Kepausan mulai berkembang, orang-orang Kristen tidak dianiaya sekejam dulu lagi, agama dan politik mulai bercampur jadi satu, dan Alkitab bahasa Latin yang memuat Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dikanonisasi. Gereja pada Abad Pertengahan Periode ini dimulai sejak berakhirnya kekuasaan Kaisar Romawi Barat hingga dimahkotainya Charlemagne menjadi Kaisar Eropa Barat, kira-kira tahun 476 hingga hari Natal tahun 800. Pada periode ini gereja, terutama Kepausan, mengalami kemunduran moral. Para Paus dipaksa untuk terlibat lebih dalam lagi dalam politik, yang seringkali kotor, dan harus mengimbangi keinginan Kekaisaran Romawi Timur dan pemerintahan bangsa barbar di Barat. Meskipun kebanyakan orang Kristen pada periode ini bermukim di Asia Minor, namun penyebaran Injil terus dilakukan ke berbagai pelosok Eropa yang akan memengaruhi sejarah Abad Pertengahan. Selama Abad Pertengahan di Eropah, Gereja Katolik Roma terus memegang kekuasaan, dengan Paus sebagai pemegang kekuasaan atas semua jenjang kehidupan dan hidup seperti raja. Korupsi dan ketamakan dalam kepemimpinan gereja adalah hal yang umum. Dari tahun 1095 sampai 1204 para Paus mendukung serangkaian perang salib yang berdarah dan mahal dalam usaha untuk mengusir kaum kaum Muslimin dan membebaskan Yerusalem. Gereja pada awal mula Eropa Periode ini dimulai sejak penahbisan Karel Agung sebagai Kaisar Eropa Barat hingga kejatuhan Kekaisaran Romawi Timur dengan direbutnya Konstantinopel oleh bangsa Turki (1453) dan Reformasi Protestan, kira-kira tahun 800 hingga 1500. Pada mulanya, hampir seluruh Eropa Barat di bawah kekuasaan Kaisar Kristen, Karel Agung. Misionaris-misionaris mulai dikirim ke Eropa Timur dan Rusia, biarawan-biarawan mulai membuat perubahan dari 6 dasar setelah melihat keadaan gereja yang memburuk, dan Perang Salib dengan bangsa Asia dimulai, namun universitas mulai dibuka sehingga tidak hanya para rahib namun rakyat biasa juga dapat membaca dan menulis. Selain itu terjadi perpisahan antara gereja Katolik Barat di Eropa Barat dan gereja Ortodoks Timur di Asia Kecil. Reformasi Protestan di Eropa Periode ini diwarnai oleh tokoh-tokoh yang membawa pembaruan dalam gereja Katolik Roma, kira-kira tahun 1517 hingga 1600. Tokoh-tokoh Reformasi seperti Martin Luther, Yohanes Calvin, John Knox, pada akhirnya mengakhiri dominasi para uskup dan biarawan dalam mempelajari Alkitab. Reformasi Protestan menyebabkan Kontra-Reformasi dan reformasi lainnya di Eropa Barat, sementara penemuan benua Amerika menyebabkan kaum Protestan yang dianiaya di Eropa, terutama Inggris, melarikan diri ke Amerika dan memulai negara baru yang berlandaskan kekristenan. Dalam waktu seratus tahun, terjadi lebih banyak peristiwa-peristiwa penting dari abad-abad sebelumnya, dan seluruh Eropa Barat terancam perang saudara. Di Inggris, Perancis, Spanyol, Swiss, Skotlandia, pertentangan antara bangsawan dan penguasa Kristen dan Katolik menyebabkan pertumpahan darah. Gereja pada Abad Penjelajahan dan Abad Penerangan Sejak abad ke-17, penjelajah-penjelajah dari Eropa menjelajahi seluruh dunia dan pada saat yang bersamaan membawa iman mereka ke seluruh dunia. Terkadang penduduk asli yang mereka datangi dipaksa menerima iman mereka di bawah ancaman senapan, namun mayoritas pertobatan yang terjadi di luar Eropa adalah berkat jasa-jasa para misionaris tak bernama baik Kristen maupun Katolik, yang tinggal dan mengajar masyarakat setempat. Gereja Modern Saat ini Gereja Katolik Roma dan Gereja Ortodoks Timur telah mengambil langkah-langkah untuk memperbaiki hubungan mereka yang rusak, sebagaimana dilakukan pula oleh Katolik dan Lutheran. Gereja injili berdiri sendiri dan berakar kuat dalam teologia Reformed. Gereja juga 7 menyaksikan bangkitnya Pentakostalisme, gerakan Karismatik, oikumenisme dan berbagai ajaran sesat. Saat ini ada banyak gereja, namun hanya satu injil. Itu adalah “mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orangorang kudus.” (Yudas 3). Mari kita dengan hati-hati mempertahankan iman itu dan meneruskannya tanpa mengubahnya. Dan kiranya Tuhan terus memenuhi janjiNya untuk membangun gerejaNya. 2) PERJALANAN HIDUP GEREJA Gereja bukanlah “kerangka” karya Roh Kudus, melainkan boleh disebut “hasil” karya Roh itu, yang hanya dapat dimengerti dalam kerangka dan proses karya keselamatan Allah. Sejarah Gereja sudah mulai dengan Perjanjian Lama, ketika Tuhan mengumpulkan umat Israel dan membuatnya menjadi bangsaNya yang terpilih. Langkah yang lebih jelas ke arah pembentukan Gereja adalah kedatangan Yesus dan penampilan-Nya di tengah-tengah bangsa Israel. Banyak orang menerima pewartaan-Nya dan menjadi pengikut-Nya. Banyak pula menolak-Nya mentah-mentah. Kendati demikian, terbentuklah suatu kelompok khusus di sekitar Yesus. Inti kelompok itu mereka yang di kemudian hari “menjadi saksi-Nya bagi umat itu” (Kis 13:32), yaitu kelompok para rasul. Secara khusus mereka dididik dan digembleng oleh Yesus, dan Petrus diangkat menjadi pemimpin mereka (Mat 16:18; Luk 22:32; Yoh 21:1517). Itu tidak berarti bahwa Petrus dan para rasul mengambil alih tugas dan perutusan Yesus. Dengan jelas Yesus berjanji, “Aku akan datang kembali” (Yoh 14:3.28). Dan “sesudah Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah dan menerima Roh Kudus, maka Ia mengutus Roh itu” ke dalam Gereja (Kis 2:33), sebagai tanda kehadiran-Nya di tengah-tengah mereka. Maka bukan hanya hubungan historis yang mengikat Gereja kepada Yesus, melainkan terutama kehadiran Tuhan yang mulia yang membuatnya bersatu-padu dengan Kristus, sehingga Paulus menyebut Gereja “tubuh Kristus” (Rm 12:5; 1Kor 12:13.27; Ef 1:23; 4:12). Gereja itu berkembang dalam peredaran zaman. Banyak dosa melekat padanya, 8 tetapi dalam kelemahan dan perjuangan itu Gereja tetap ditopang oleh Roh Kudus yang telah diberikan kepadanya. Roh itu pula yang membantu secara khusus mereka yang diberi tugas mempersatukan umat. Seluruh kehidupan Gereja, pewartaan, perayaan dan pelayanannya, digerakkan dan didorong oleh Roh yang sama. Struktur-struktur organisasi Gereja tidak menjamin kegiatan dan kelestariannya, tetapi di dalam struktur-struktur itu karya Allah terwujudkan dan dilaksanakan, biarpun dalam bentuk yang sangat kurang sempurna. Itulah yang dimaksudkan dengan kepercayaan akan Gereja, yaitu keyakinan bahwa Allah berkarya dalam kekurangan dan keterbatasan kegiatan sekelompok manusia, yang terbentuk dalam sejarah Allah dengan manusia, khususnya sejak Yesus Kristus hidup dan berkarya. Namun karya Allah tidak terbatas pada Gereja, dan Kerajaan Allah tidak sama dengan Gereja. Kerajaan Allah dimaksudkan untuk seluruh dunia, khususnya untuk manusia yang melarat dan miskin, dan Gereja dipanggil untuk menjadi pewartanya. Di dalam Gereja panggilan Allah disuarakan lagi. Persekutuan umat merupakan awal dan dasar kesatuan seluruh umat manusia. Tujuan dan sasaran karya keselamatan Allah bukan Gereja melainkan dunia. Gereja hanyalah “tanda dan sarana” (LG 1). Semua itu bersama-sama ditambah dengan banyak unsur lain, membentuk yang disebut misteri Gereja. Kepercayaan akan Gereja adalah iman akan misteri itu, yang sekaligus tersembunyi dan tampak dalam tanda. 3) ARTI DAN MAKNA GEREJA a. Arti Gereja Kata “Gereja” yang berasal dari kata igreja dibawa ke Indonesia oleh para misionaris Portugis. Kata tersebut adalah ejaan Portugis untuk kata Latin ecclesia, yang ternyata berasal dari bahasa Yunani, ekklesia. Kata Yunani itu sebetulnya berarti ‘kumpulan’ atau ‘pertemuan’, ‘rapat’. Namun Gereja atau ekklesia bukan sembarang kumpulan, melainkan kelompok orang yang sangat khusus. Untuk menonjolkan kekhususan itu dipakailah kata asing itu. Kadang-kadang dipakai kata “jemaat” atau “umat”. Itu tepat 9 juga. Tetapi perlu diingat bahwa jemaat ini sangat istimewa. Maka barangkali lebih baik memakai kata “Gereja” saja, yakni ekklesia. Kata Yunani itu berasal dari kata yang berarti ‘memanggil’. Gereja adalah umat yang dipanggil Tuhan. Itulah arti sesungguhnya kata “Gereja”. b. Pegertian Gereja dalam Kitab Suci dan Ajaran Gereja Pemahaman tentang arti dan makna Gereja dalam hidup sehari-hari a. Gereja adalah gedung, Gereja adalah rumah Allah, tempat beribadat, misa, atau merayakan ekaristi Umat Katolik atau Umat kristiani pada umumnya. b. Gereja adalah ibadat; Gereja adalah lembaga rohani yang menyalurkan kebutuhan manusia dalam relasinya dengan Allah lewat ibadat-ibadat. Atau, Gereja adalah lembaga yang mengatur dan menyelenggarakan ibadatibadat. Gereja adalah persekutuan Umat yang beribadat. c. Gereja adalah ajaran; Gereja mempertahankan adalah lembaga untuk dan mempropagandakan seperangkat ajaran yang biasanya dirangkum dalam sebuah buku yang disebut Katekismus. Untuk bisa menjadi anggota Gereja, calon harus mengetahui ajaran/doktrin/dogma. Menjadi anggota Gereja sejumlah berarti menerima sejumlah “kebenaran”. d. Gereja adalah organisasi/lembagasejagat/internasional; Gereja adalah organisasi dengan pemimpin tertinggi di Roma dengan cabang-cabangnya sampai ke pelosok- pelosok seantero jagat. Garis komando dan koordinasi diatur dengan rapi dan teliti. Ada pimpinan; Paus, Uskup-Uskup, PastorPastor, Biarawan dan Umat. e. Gereja adalah Umat pilihan; Gereja adalah kumpulan orang yang dipilih dan dikhususkan Allah untuk diselamatkan. Tanpa menjadi anggota Gereja maka tidak akan diselamatkan masuk surga. f. Gereja adalah badan sosial; Gereja adalah Lembaga yang menyelenggarakan sekolah- sekolah, rumah sakit-rumah sakit dan macammacam usaha untuk menolong orang miskin. 10 Kata “Gereja” bukanlah semacam batasan atau definisi. Ekklesia adalah kata yang biasa saja pada zaman para rasul. Dari cara memakainya, kelihatan bagaimana jemaat perdana memahami diri dan merumuskan karya keselamatan Tuhan di antara mereka. Kadang-kadang mereka berkata “Gereja Allah” atau juga “jemaat Allah” (lih. 1Kor 10:32; 11:22; 15:9; dst.), yang kiranya sesuai dengan cara berbicara orang Yahudi (lih. Ul 23:1.2; Hak 20:2; dst.). Maksud sebutan itu dapat menjadi jelas dari 1Kor 11:1722. Di situ Paulus berbicara mengenai jemaat yang berkumpul untuk perayaan Ekaristi. Mereka menjadi “jemaat” atau “Gereja” karena iman mereka akan Yesus Kristus, khususnya akan wafat dan kebangkitan-Nya. Gereja adalah “jemaat Allah yang dikuduskan dalam Kristus Yesus” (1Kor 1:2). Maka sebetulnya ada tiga “nama” yang dipakai untuk Gereja dalam Perjanjian Baru: “Umat Allah”, “Tubuh Kristus”, dan “bait Roh Kudus”. Ketiga-tiganya berkaitan satu sama lain. Gereja: Umat Allah Kata Umat Allah merupakan istilah dari Perjanjian Lama (dalam Perjanjian Baru dipakai terutama dalam kutipan dari PL). Yang paling menonjol dalam sebutan ini ialah bahwa Gereja itu umat terpilih Allah (lih. 1Ptr 2:9). Oleh Konsili Vatikan II (LG 9) sebutan “Umat Allah” amat dipentingkan, khususnya untuk menekankan bahwa Gereja bukanlah pertama-tama suatu organisasi manusiawi melainkan perwujudan karya Allah yang konkret. Tekanan ada pada pilihan dan kasih Allah. Sebelum berbicara mengenai kelompok atau “tingkat” di dalam Gereja, perlu disadari lebih dahulu bahwa Gereja adalah kelompok dinamis, yang keluar dari sejarah Allah dengan manusia. Memang kata “umat Allah” sedikit “kabur”, tetapi kata ini dipakai agar Gereja tidak dilihat secara yuridis dan organisatoris melulu. Gereja muncul dan tumbuh dari sejarah keselamatan, yang sudah dimulai dengan panggilan Abraham. Dengan demikian Konsili juga mau menekankan bahwa Gereja “mengalami dirinya sungguh erat berhubungan dengan umat manusia serta 11 sejarahnya” (GS 1). Sekaligus jelas pula bahwa Gereja itu majemuk: “Dari bangsa Yahudi maupun kaum kafir Allah memanggil suatu bangsa, yang bersatu-padu bukan menurut daging, melainkan dalam Roh” (LG 9). Konsili Vatikan II melihat Gereja dalam rangka sejarah keselamatan, tetapi tidak berarti bahwa Gereja hanyalah lanjutan bangsa Israel saja. Kedatangan Kristus memberikan arti yang baru kepada umat Allah. Dalam Perjanjian Lama Tuhan bersabda, “Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa” (Kel 19:5). Hubungan ini sering dirumuskan secara singkat oleh para nabi begini: “Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku” (Yer 7:23; 11:4; 24:7; 30:22; 31:1.33; 32:38; lih. juga Yes 51:15-16; Yeh 37:27; Bar 2:35). Kata-kata itu diulangi lagi dalam Perjanjian Baru, “Kita adalah bait dari Allah yang hidup, menurut firman Allah ini: Aku akan diam bersama-sama dengan mereka dan hidup di tengah-tengah mereka, dan Aku akan menjadi Allah mereka, dan mereka akan menjadi umat-Ku” (2Kor 6:16; lih. Ibr 8:10; Why 21:3). Menurut kesadaran Perjanjian Baru, hal itu justru terlaksana dalam Kristus. Dia adalah “Imanuel, yang berarti: Allah beserta kita” (Mat 1:23), “sebab dalam Dia-lah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allah-an” (Kol 2:9). Yohanes menjelaskan hal itu lebih lanjut: “Demikianlah kita ketahui, bahwa kita di dalam Allah dan Allah di dalam kita: kita telah diperbolehkan mengambil bagian dalam RohNya” (1Yoh 4:13). Dari pengalaman Roh, kita mengetahui bahwa Allah ada di dalam diri kita. Sejarah keselamatan, yang dimulai dengan panggilan Abraham, berjalan terus dan mencapai puncaknya dalam wafat dan kebangkitan Kristus serta pengutusan Roh Kudus. Maka Gereja bukan hanya lanjutan umat Allah yang lama, tetapi terutama kepenuhannya, karena sejarah keselamatan Allah berjalan terus dan Allah memberikan diri dengan 12 semakin sempurna (bdk. 1Kor 15:28). Oleh: karena itu, dengan sebutan “umat Allah” belum terungkap seluruh kekayaan hidup rohani Gereja. Gereja: Tubuh Kristus Sebutan yang lebih khas Kristiani adalah Tubuh Kristus. Paulus menjelaskan maksud kiasan itu: “Sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak – segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh – demikian pula Kristus. Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi maupun orang Yunani, baik budak maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh” (1Kor 12:12-13). Dengan gambaran “tubuh”, Paulus mau mengungkapkan kesatuan jemaat, kendatipun ada aneka karunia dan pelayanan (lih. ay. 7). Gereja itu satu. Ia menegaskan, bahwa “mata tidak dapat berkata kepada tangan. Aku tidak membutuhkan engkau. Dan kepala tidak dapat berkata kepada kaki: Aku tidak membutuhkan engkau” (ay, 21). Sebab “tubuh tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota” (ay. 14). Maka ditarik kesimpulan: “Kamu semua adalah tubuh Kristus dan masing-masing adalah anggotanya” (ay. 27). Hal yang sama dikatakan dalam surat kepada umat di Roma (12:4-5). Tetapi dalam surat kepada umat Kolose dan Efesus gagasan ini dikembangkan lebih lanjut. Dalam Ef 1:23 dikatakan bahwa “jemaat adalah tubuh Kristus, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dari segala sesuatu” (bdk. Kol 1:18.24). Di sini yang dimaksudkan bukanlah kesatuan antara para anggota jemaat, melainkan kesatuan jemaat dengan Kristus. Oleh karena itu Kristus juga disebut “kepala” Gereja (lih. Ef 1:22; 4:15; 5:23; Kol 1:18). Hal itu jelas dari Ef 4:16: “Kristus adalah Kepala. Dari pada-Nyalah seluruh tubuh – yang rapi tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota – menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih”. 13 Dari satu pihak dipertahankan gagasan Paulus mengenai kesatuan dalam jemaat, yang “diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya”. Tetapi dari pihak lain dengan jelas dikatakan bahwa jemaat itu “menerima pertumbuhannya” dari Kristus, yang adalah Kepala. Di sini pun masih dipergunakan bahasa kiasan, tetapi bukan sebagai perbandingan saja. Dengan gambaran tubuh mau dinyatakan kesatuan hidup antara Gereja dan Kristus. Gereja hidup dari Kristus, dan dipenuhi oleh daya ilahi-Nya (lih. Kol 2:10). Perlu diperhatikan bahwa teks-teks Kitab Suci mengenai Tubuh Kristus berbicara mengenai Kristus yang mulia. Tuhan yang mulia “dengan mengaruniakan Roh-Nya secara gaib membentuk orang beriman menjadi Tubuh-Nya” (LG 6). “Dialah damai-sejahtera kita” (Ef 2:14), Dia yang dalam Injil Yohanes telah bersabda: “Apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku” (Yoh 12:32). Dalam arti sesungguhnya, proses pembentukan Tubuh baru mulai dengan peninggian Yesus, yakni dengan wafat dan kebangkitan-Nya. Tetapi itu tidak berarti bahwa sabda dan karya Yesus sebelumnya tidak ada sangkut-pautnya dengan pembentukan Gereja. Memang tidak dapat ditentukan suatu hari atau tanggal Yesus mendirikan Gereja. Tidak ada “Hari Proklamasi Gereja”. Gereja berakar dalam seluruh sejarah keselamatan Tuhan, dan terbentuk secara bertahap. Dalam proses pembentukan itu wafat dan kebangkitan Kristus, beserta pengutusan Roh Kudus, merupakan peristiwa-peristiwa yang paling menentukan. Sebelumnya sudah ada kejadian yang amat berarti, misalnya panggilan kedua belas rasul dan pengangkatan Petrus menjadi pemimpin mereka. Peristiwa terakhir itu dalam Injil Matius dihubungkan secara khusus dengan pembentukan Gereja: “Engkaulah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku” (Mat 16:18). Namun banyak orang 14 berpendapat bahwa sabda Yesus ini pun tidak berasal dari situasi sebelum kebangkitan-Nya. Pertama-tama harus dikatakan bahwa sabda Yesus ini hanya terdapat dalam Injil Matius saja, Dan pada umumnya diterima bahwa Matius menggabungkannya pada teks yang sudah terdapat pada Markus. Kemungkinan besar Markus pun dengan sengaja menempatkan pengakuan Petrus ini (Mrk 8:29 = Mat 16:16) di tengah-tengah Injilnya. Dengan demikian pengakuan iman akan Yesus dikembangkan secara bertahap: Petrus dahulu (8:29), “Engkau adalah Mesias”, dan kemudian kepala pasukan di bawah salib (15:39), “Sungguh, orang ini adalah Anak Allah”. Cukup mengherankan bahwa sesudah pengakuan Petrus yang begitu jelas, di kemudian hari para rasul, termasuk Petrus sendiri, masih begitu bingung dan seolah-olah sama sekali tidak mengetahui siapa Yesus sebenarnya. Mungkin hal itu mau ditutup oleh Markus dengan larangan Yesus “supaya jangan memberitahukan kepada siapa pun tentang Dia” (Mrk 8:30). Tetapi larangan ini juga mengherankan, bahkan membingungkan. Sebab baru saja Yesus bertanya kepada mereka “Siapakah Aku ini?” Seandainya Yesus tidak mau dikenal orang, mengapa Ia bertanya mengenai diri-Nya? Mungkin semua ini rumusan Markus yang memindahkan pengakuan Petrus dari situasi sesudah kebangkitan ke dalam peristiwa Kaisarea Filipi. Kendatipun penugasan Petrus dikaitkan secara langsung dengan Gereja, yang sesungguhnya dibicarakan bukanlah Gereja melainkan Petrus dan peranannya. Maka akhirnya memang tidak ada satu peristiwa atau kisah pun yang secara khusus menceriterakan bagaimana Yesus mendirikan Gereja. Gereja berkembang dalam sejarah keselamatan Allah. Oleh karena itu Gereja sekarang masih tetap pada perjalanan menuju kepenuhan rencana Allah itu. Gereja bukan tujuan, melainkan sarana dan jalan yang mengarah kepada tujuan itu. 15 Gereja: Bait Roh Kudus Gambaran Gereja yang paling penting barangkali Gereja sebagai Bait Roh Kudus. Paulus berkata, “Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah Bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” (1Kor 3:16; lih. 2Kor 6:16; Ef 2:21). Bait Allah berarti tempat pertemuan dengan Allah, dan menurut ajaran Perjanjian Baru itu adalah Kristus (lih. Yoh 2:21; Rm 3:25). “Karena oleh Dia, dalam satu Roh, kita beroleh jalan masuk kepada Bapa” (Ef 2:18; lih. 3:12). Di dalam Gereja orang diajak mengambil bagian dalam kehidupan Allah Tritunggal sendiri. Gereja itu Bait Allah bukan secara statis, melainkan dengan berpartisipasi dalam dinamika kehidupan Allah sendiri. Maka Konsili Vatikan II juga mendorong umat beriman agar dengan perayaan liturgi setiap hari membangun diri “menjadi bait suci dalam Tuhan, menjadi kediaman Allah dalam Roh, sampai mencapai kedewasaan penuh sesuai dengan kepenuhan Kristus” (SC 2). Gereja itu Bait Allah yang hidup dan berkembang. Gereja “dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi Bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh” (Ef 2:20-22). Jelas sekali bahwa semua gambaran tidak cukup untuk merumuskan jati diri Gereja dengan tepat. Namun “melalui pelbagai gambaran” kita berusaha “menangkap makna Gereja yang mendalam” (LG 6). Oleh karena itu Gereja tidak hanya memakai gambaran yang diambil dari Kitab Suci. Usaha memahami makna Gereja yang terdalam dijalankan terus. Khususnya oleh Konsili Vatikan II Gereja dimengerti dengan gambaran yang lain, yakni sebagai misteri, sakramen, dan communion. Gereja: Misteri dan Sakramen Dalam masa yang lampau, khususnya oleh Konsili Vatikan I dan juga masih dalam ensiklik Paus Pius XII, Mystici Corporis (1943), Gereja dilihat terutama sebagai organisasi dan lembaga yang didirikan oleh Kristus. Di 16 dalam pandangan itu diberikan tempat yang amat penting kepada hierarki, paus, uskup dan imam, sebagai pengganti Kristus yang harus meneruskan tugas-Nya di dunia ini. Konsili Vatikan II tidak mau menonjolkan segi institusional Gereja ini, kendatipun juga tidak menyangkalnya. Konsili Vatikan II, khususnya dalam konstitusi Lumen Gentium, lebih menonjolkan misteri Gereja, sebagai tempat pertemuan antara Allah dan manusia. Kata “misteri” ini tidak bisa dilepaskan dari kata “sakramen”. Dan kedua kata ini bersama menunjukkan inti-pokok kehidupan Gereja. Kata “misteri” berasal dari bahasa Yunani mysterion, dan sebetulnya sulit diterjemahkan, sebab dalam Perjanjian Lama berbahasa Yunani (Septuaginta) kata itu dipakai sebagai terjemahan untuk dua kata yang berbeda, yakni kata Ibrani sod dan kata Aram raz. Yang pertama berarti ‘dewan penasihat Tuhan’ (Yer 3:18; lih, juga Ayb 15:8) yang mengungkapkan “keakraban Tuhan bagi yang takut kepada-Nya” (Mzm 25:14). Maka kata “misteri” tidak pertama-tama berarti sesuatu yang tersembunyi, melainkan suatu rahasia yang dibuka bagi sahabat karib. Sama halnya dengan kata Aram raz, arti pokoknya ialah ‘rencana kerja’, yang juga hanya diberitahukan kepada orang-orang kepercayaan (lih. Dan 2:22.28.47). Akhirnya ada kata mysterion sendiri, yang dalam bahasa Yunani profan menyatakan bahwa sesuatu “sulit ditangkap”. Maka dalam Kitab Suci kata itu dipakai untuk hal-hal yang hanya diketahui oleh Allah sendiri (lih. Keb 2:22). Tetapi Tuhan “tidak akan menyembunyikan rahasiarahasia itu bagimu” (Keb 6:22; lih, Sir 4:18). Inti-pokok kata “misteri” dalam Kitab Suci ialah rencana Allah yang diwahyukan kepada manusia. Tekanan tidak ada pada ketersembunyian, melainkan pada pewahyuan. Hanyalah perlu disadari bahwa Tuhan memberikan pewahyuan-Nya kepada orang terpilih, kepada sahabat karib. Sebetulnya kata Yunani mysterion sama dengan kata Latin sacramentum. Dalam Kitab Suci kedua-duanya dipakai untuk rencana keselamatan Allah yang disingkapkan kepada manusia. Sebetulnya kedua 17 kata itu sama artinya, hanya lain bahasanya. Tetapi dalam perkembangan teologi kata “misteri” dipakai terutama untuk menunjuk pada segi ilahi (dan tersembunyi) rencana dan karya Allah, sedangkan kata “sakramen” lebih menunjuk pada aspek insani (dan tampak). Maka kedua kata itu, yang sebetulnya sama artinya, dalam praktik menonjolkan aspek-aspek yang lain. Gereja disebut “misteri” karena hidup ilahinya, yang masih tersembunyi dan hanya dimengerti dalam iman; tetapi juga disebut “sakramen”, karena misteri Allah itu justru menjadi tampak di dalam Gereja. Oleh karena itu misteri dan sakramen kait-mengait: Kalau misteri tidak sedikit tampak (dan menjadi sakramen), maka tidak diketahui bahwa ada misteri; tetapi kalau sakramen sudah seluruhnya terang-benderang, bukan tanda kenyataan ilahi (“misteri”) lagi. Maka dengan tepat Konsili Vatikan II berkata, “Gereja adalah – dalam Kristus – bagaikan sakramen, yakni tanda dan sarana persatuan mesra dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia” (LG 1). Gereja itu misteri dan sakramen sekaligus. “Adapun serikat yang dilengkapi dengan jabatan hierarkis dan Tubuh mistik Kristus, kelompok yang tampak dan persekutuan rohani, Gereja di dunia dan Gereja yang diperkaya dengan karunia-karunia surgawi, janganlah dipandang sebagai dua hal; melainkan semua itu merupakan satu kenyataan yang kompleks, dan terwujudkan karena perpaduan unsur manusiawi dan ilahi” (LG 8). Dari satu pihak Gereja adalah “kelompok yang tampak”, “dilengkapi dengan jabatan hierarkis”, karena hidup “di dunia”; ini semua disebut “unsur manusiawi” dan ditunjukkan dengan kata sakramen. Tetapi sekaligus Gereja itu bermakna ”ilahi”, karena merupakan “Tubuh mistik Kristus” dan adalah “persekutuan rohani”, “yang diperkaya dengan karunia-karunia surgawi”; itulah sebabnya disebut misteri. Tetapi misteri dan sakramen “janganlah dipandang sebagai dua hal”. Misteri dan sakramen adalah dua aspek dari satu kenyataan, yang sekaligus ilahi dan insani, yang disebut “Gereja”. Gereja adalah “sakramen yang kelihatan, yang menandakan kesatuan yang menyelamatkan itu” (LG 18 9; lih. 48), “sakramen keselamatan bagi semua orang, yang menampilkan dan sekaligus mewujudkan misteri cinta kasih Allah terhadap manusia” (GS 45). Gereja tidak hanya menunjuk kepada keselamatan Allah sebagai suatu kenyataan di luar dirinya. Karya Allah, oleh Roh, sudah terwujudkan di dalam Gereja. Dari pihak lain “Gereja baru akan mencapai kepenuhannya dalam kemuliaan di surga”. Namun “pembaruan, janji yang didambakan, telah mulai dalam Kristus, digerakkan dengan perutusan Roh Kudus, dan karena Roh itu berlangsung terus di dalam Gereja” (LG 48). Gereja: Communio Ajaran Konsili Vatikan II ini ditegaskan kembali oleh sinode luar-biasa para uskup pada tahun 1985. Para uskup sekaligus mengemukakan suatu rumus pemahaman Gereja yang baru, yang dilihat sebagai pokok ajaran Vatikan II, yakni paham communio atau persekutuan. Kata itu, yang merupakan terjemahan Latin dari kata Yunani koinonia, harus dimengerti dengan latar belakang Kitab Suci. Sinode mengkhususkan artinya sebagai “hubungan atau persekutuan (communio) dengan Allah melalui Yesus Kristus dalam sakramen-sakramen”. Ditonjolkan juga sifat sakramen dan misteri, namun diartikan secara dinamis sebagai hubungan atau persekutuan. Sinode menegaskan bahwa paham communio tidak dapat dimengerti secara organisasi saja. Dari pihak lain, paham communio juga mendasari “komunikasi” di antara para anggota Gereja sendiri. Oleh karena itu kesatuan communio ini berarti keanekaragaman para anggotanya dan keanekaragaman dalam cara berkomunikasi, sebab “Roh Kudus, yang tinggal di hati umat beriman, dan memenuhi serta membimbing seluruh Gereja, menciptakan persekutuan umat beriman yang mengagumkan itu. Dialah yang membagi-bagikan aneka rahmat dan pelayanan, serta memperkaya Gereja Yesus Kristus dengan pelbagai anugerah” (UR 2). Begitu juga struktur organisatoris Gereja, khususnya kepemimpinan Petrus merupakan “asas dan dasar kesatuan iman serta persekutuan yang tetap dan kelihatan” (LG 18). Dalam arti yang sesungguhnya communio 19 atau persekutuan Gereja adalah hasil karya Roh di dalam umat beriman (lih. LG 4). Itulah sebabnya communio Gereja tidak pernah dapat diterangkan secara organisatoris atau sosiologis saja. Memang di dalamnya ada unsur organisatoris dan komunikasi antara manusia, sebagai sifat insani kehidupan Gereja. Ada dua hal yang perlu diperhatikan secara khusus: komunikasi di dalam Gereja Katolik antara Gereja setempat dan Gereja sedunia; serta komunikasi keluar Gereja Katolik, dalam hubungan dengan Gereja-Gereja Kristen yang lain. Khususnya mengenai kedua masalah ini, communio Gereja-gereja setempat dengan pusat Gereja universal di Roma, serta communio dengan Gereja-gereja bukan-Katolik, pada 22 Mei 1992 Kongregasi untuk Ajaran Iman mengirim surat kepada para uskup Gereja Katolik. Di dalamnya ditegaskan kedua segi communio: hubungan vertikal dengan Allah dan horizontal antara manusia. Dalam persekutuan yang terakhir perlu diperhatikan segi institusional-hierarkis. Dengan kata lain, dalam hal communio perlu diingat sifat sakramental Gereja, yang mempersatukan unsur ilahi dengan struktur insani. Menekankan satu aspek secara berlebihlebihan akan merugikan aspek yang lain. Gereja janganlah dilihat dalam dirinya sendiri saja. Dengan paham communio Gereja juga dilihat dalam hubungannya dengan orang Kristen yang lain, bahkan dengan seluruh umat manusia. Gereja tidak tertutup dalam dirinya sendiri. Memang Gereja mempunyai banyak sifat yang khusus dan tampil sebagai agama Kristen atau bahkan sebagai agama Katolik. Namun kalau Gereja memahami diri dalam kerangka seluruh sejarah keselamatan, juga sebagai agama harus memperhatikan hubungan dengan kelompok keagamaan yang lain. Sebagai agama Gereja mewujudkan diri secara historis dalam rangka sosio-kebudayaan tertentu, dan ada bahaya bahwa Gereja terikat oleh unsur-unsur kebudayaan itu. Oleh karena itu amat penting, dengan communio dan komunikasi dipertahankan 20 keterbukaan Gereja terhadap hal-hal yang baru, juga terhadap pemahaman diri yang baru. Gereja: Persekutuan Para Kudus Dalam syahadat pendek Gereja juga disebut “persekutuan para kudus”, communio sanctorum. Ternyata sebutan itu baru pada akhir abad ke-4, di Gereja Barat dimasukkan ke dalam syahadat pendek itu. Maksud serta artinya tidak seluruhnya jelas, sebab kata Latin communio sanctorum tidak hanya dapat berarti “persekutuan-para kudus”, tetapi juga sebagai “partisipasi dalam hal-hal yang kudus”. Namun kedua arti ini tidak bertentangan satu sama lain, sebab partisipasi bersama dalam harta keselamatan (yang disebut “hal-hal yang kudus”), terutama dalam Ekaristi (lih. 1Kor 10:16), merupakan akar persekutuan antara orang beriman (yaitu “para kudus” menurut istilah yang lazim dalam Kitab Suci) yang juga dinyatakan dalam perhatian untuk saudara dalam iman (lih. Rm 15:26; 2Kor 8:4; Ibr 13:16). Gereja pertama-tama suatu “persekutuan dalam iman” (Flm 6), “persekutuan dengan Yesus Kristus” (1Kor 1:9; lih. 1Yoh 1:3), “persekutuan Roh” (Flp 2:1; lih. 2Kor 13:13). Komunikasi iman mengakibatkan suatu persekutuan rohani antara orang beriman sebagai anggota satu Tubuh Kristus dan membuat mereka menjadi sehati-sejiwa (lih. 1Yoh 1:7). Dengan demikian, “persekutuan para kudus” dapat berarti Gereja dari segala zaman. Lebih khusus lagi dibedakan antara Gereja yang berjuang di dunia ini, Gereja yang menderita khususnya dalam api pencucian, dan akhirnya Gereja yang mulia dalam kemuliaan surgawi (misteri ini secara khusus dirayakan oleh Gereja setiap tanggal 1 dan 2 November). Dengan rumus “persekutuan para kudus” dari semula mau ditegaskan bahwa kesatuan atau persekutuan di dalam Gereja bukanlah sesuatu yang lahiriah atau sosial saja. Sumber kesatuan Gereja yang sesungguhnya ialah Roh Kudus, yang mempersatukan semua oleh rahmat-Nya. Selalu ditekankan bahwa kesatuan lahiriah menampakkan dan mewujudkan kesatuan dalam Roh itu. Kesatuan 21 organisatoris bukanlah penjamin kehidupan Gereja. Sebaliknya segala komunikasi dan kegiatan Gereja berasal dari Roh yang menggerakkannya dari dalam. Maka “persekutuan para kudus” akhirnya tidak lain daripada rumusan lain bagi Gereja sebagai Umat Allah, Tubuh Kristus dan Bait Roh Kudus. “Dengan berpegang teguh kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala” (Ef 4:15). 4) GEREJA YANG HIDUP a. Sifat-sifat atau ciri-ciri gereja Jati diri Gereja, sifat-sifatnya, yang kadang-kadang juga disebut “ciri-ciri Gereja” dirumuskan dengan banyak kata. Sebetulnya ciri tidak tepat sama dengan sifat, dan perbedaan itu pernah amat dipentingkan dalam sejarah Gereja. Dalam hal ini perlu diperhatikan bahwa Gereja itu sekaligus ilahi dan insani, berasal dari Yesus dan berkembang dalam sejarah. Sifat atau ciri Gereja beserta artinya lambat laun menjadi jelas bagi Gereja sendiri. Keempat sifat itu memang kait-mengait, tetapi tidak merupakan rumus yang siap pakai. Gereja memahaminya dengan merefleksikan dirinya sendiri serta karya Roh di dalam dirinya. Sifat-sifat atau ciri-ciri Gereja: Ef 5:27 telah melukiskan Gereja sebagai “yang kudus” dan kiranya gagasan itu diambil alih dari Perjanjian Lama (Kel 19; Ul 7:6; 26:19; dll.). Perjanjian Lama kaum beriman juga disebut “orang kudus” (1Mak 10:39.44; Keb 18:19), dan kebiasaan itu pun diteruskan dalam Perjanjian Baru. Sejak abad pertama (Ignatius dari Antiokhia) sebutan “Gereja yang kudus” menjadi umum. Seperti dalam 1Ptr 2:9 begitu juga dalam tradisi selanjutnya (mis. Yustinus) “bangsa yang kudus” selalu dihubungkan dengan “bangsa terpilih” serta “umat kepunyaan Allah”. Maka tidak mengherankan bahwa dalam syahadat Gereja disebut “kudus”. Kata “Katolik” tidak terdapat dalam Kitab Suci, tetapi sudah dipakai oleh Ignatius dari Antiokhia untuk menunjukkan sifat universal (semesta) Gereja yang tersebar di seluruh dunia. Sejak abad ke-2 kata “Katolik”, dalam arti universal, mulai dilawankan dengan aneka sekte dan bidaah (ajaran salah) yang bermunculan pada 22 zaman itu. Kata “Katolik” tetap berarti “umum”, universal, tetapi dipakai untuk menunjuk pada Gereja yang “benar”, dilawankan dengan bidaah-bidaah itu. “Katolik” adalah kata yang baru dan sebelum tahun 380 tidak dipakai dalam syahadat. Dalam Perjanjian Baru sudah jelas terungkap gagasan, bahwa “dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi maupun orang Yunani, baik budak maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh” (1Kor 12:13). “Semua adalah satu dalam Kristus Yesus” (Gal 3:28). Bapa-bapa Gereja juga sering berbicara mengenai kesatuan Gereja, yang berakar dalam kesatuan Allah Tritunggal sendiri. Lumen Gentium mengutip St. Siprianus, “Gereja tampak sebagai umat yang disatukan berdasarkan kesatuan Bapa dan Putra dan Roh Kudus” (LG 4). Kesatuan malah dilihat sebagai sifat Gereja yang paling penting, karena mewujudkan cinta persaudaraan. Karena itu, kesatuan juga menjadi tanda Gereja yang benar, yang tidak terdapat pada sekte-sekte yang memisahkan diri dari Gereja yang satu itu. Khususnya sesudah thn 381, ketika rumus “Gereja yang satu, kudus Katolik dan apostolik” dimasukkan dalam syahadat, kesatuan pun dilihat sebagai ciri pengenal Gereja. Aneka segi kesatuan ditonjolkan oleh para Bapa Gereja guna menampilkan keluhuran Gereja. Sama halnya dengan kata “apostolik”, Kesadaran bahwa Gereja berasal dari zaman para rasul dan tetap mau berpegang teguh pada iman apostolik, sudah diungkapkan sejak abad ke-2. Pewartaan Gereja dilihat sebagai penerusan sabda Yesus, melalui para rasul, dan sering ditonjolkan hubungan turun-temurun antara para rasul dan Gereja selanjutnya. Gereja mulai dengan para rasul dan tetap mempunyai iman yang sama. Maka “apostolik” atau rasuli, tidak hanya berarti dari (zaman) para rasul, tetapi juga sesuai dengan pewartaan dan ajaran para rasul. Sudah sejak zaman Ignatius dari Antiokhia sifat ini dilihat sebagai tanda Gereja yang benar, Itulah artinya dalam syahadat panjang. Kelihatan bahwa sifat-sifat Gereja, terutama kesatuan, kekatolikan dan keapostolikan, semakin berkembang menjadi “ciri-ciri” Gereja, yakni tanda pengenal Gereja yang benar. Khususnya pada zaman Reformasi masalah sifat atau ciri Gereja mendapat banyak perhatian (karena timbul lagi pertanyaan mengenai Gereja yang 23 benar). Sifat dan ciri sebetulnya tidak tepat sama. Sebab ciri dapat dilihat dan dikenal, sedang sifat mungkin tersembunyi, khususnya bagi orang yang tidak atau belum percaya. Oleh karena itu orang Protestan pada zaman Reformasi mengemukakan pewartaan Injil dan sakramen-sakramen sebagai ciri-ciri Gereja yang benar. Mengenai hal itu timbullah pertengkaran yang hebat pada zaman itu. Hampir semua pihak sependapat bahwa empat sifat tradisional Gereja sulit dapat dipakai sebagai tanda pengenal Gereja yang benar, sebab selalu harus diterangkan apa yang dimaksud dengan “Gereja yang satu”, melihat segala perpecahan dan pertengkaran di dalam Gereja. Begitu juga dengan kesucian Gereja, yang “merangkum pendosa-pendosa dalam pangkuannya sendiri” (LG 8); atau dengan kekatolikan Gereja, yang semakin terbatas pada kelompok-kelompok tertentu; sedang keapostolikan Gereja menjadi tanda-tanya besar bagi semua yang melihat perkembangan ajaran Gereja sebagai penyelewengan. Tambah lagi, belum dijelaskan mengapa sifat dan ciri Gereja dibatasi pada empat itu saja. Banyak sifat (dan ciri) lain dapat disebut: dipanggil dan dikasihi Allah, tampak, mempunyai struktur organisatoris, ibadat khusus, dll. Tetapi masalah pokok sejak Reformasi ialah hubungan antara keempat sifat itu, satu, kudus, Katolik dan apostolik, dan ciri-ciri atau sifat yang kelihatan. Di sini muncul lagi soal Gereja sebagai “misteri” dan Gereja sebagai “sakramen”. Kedua aspek itu berkaitan (bahkan sebetulnya kedua kata itu mempunyai arti yang sama), namun juga tidak tepat sama. Harus dibedakan antara yang kelihatan dan yang tak kelihatan sebagai unsur insani dan ilahi. Hal itu berlaku juga untuk sifat dan ciri Gereja. Dilihat dari sudut misteri, kesatuan Gereja itu pertama-tama kesatuan iman; dan kesuciannya ialah kekudusan rahmat; kekatolikannya berarti keterbukaan yang seluas kehendak penyelamatan Allah dan keapostolikan mengungkapkan inti pokok iman bahwa Gereja adalah kumpulan orang beriman, yang dipersatukan oleh kesaksian iman para rasul. Kalau Gereja dilihat sebagai sakramen, adakah keempat sifat itu lalu langsung menjadi “ciri” yang kelihatan? Bagaimana Gereja menampilkan diri sebagai Gereja Kristus? Kesatuan iman harus tampak secara lahiriah dan kekudusan rahmat harus dinyatakan dalam ibadat dan kelakuan; kekatolikan Gereja harus mendapat bentuk yang nyata 24 dalam dialog dengan Gereja-gereja dan agama-agama yang lain dan keapostolikannya harus dapat memperlihatkan hubungan dengan Gereja para Rasul. 1. Gereja Yang Satu Konsili Vatikan II menyatakan bahwa “Pola dan prinsip terluhur misteri kesatuan Gereja ialah kesatuan Allah yang Tunggal dalam tiga Pribadi, Bapa, Putra, dan Roh Kudus” (UR 2). Tetapi bagaimana kesatuan ilahi itu diwujudkan secara insani, merupakan suatu pertanyaan yang amat besar. Ternyata yang dilihat adalah perpecahan dan perpisahan di dalam Gereja. Memang “Allah telah berkenan menghimpun orang-orang yang beriman akan Kristus menjadi Umat Allah (lih. 1Ptr 2:5-10) dan membuat mereka menjadi satu Tubuh (lih. 1Kor 12:12)” (AA 18). Tetapi bagaimana rencana Allah itu dilaksanakan oleh manusia Kristen? Dikatakan, bahwa “tata-susunan sosial Gereja yang tampak melambangkan kesatuannya dalam Kristus” (GS 44). Tetapi justru struktur sosial itu sekaligus juga membedakan (dan memisahkan) Gereja yang satu dari yang lain. Dengan demikian, umat Kristen kelihatan terpecah-belah, justru karena struktur-struktur yang mau menyatakan kesatuan masing-masing kelompok. Namun “hampir semua, kendati melalui aneka cara, mencita-citakan satu Gereja Allah yang kelihatan, yang sungguh bersifat universal, dan diutus ke seluruh dunia” (UR 1). Sebab “kesatuan yang sejak semula dianugerahkan oleh Kristus kepada Gereja-Nya, memang diimani akan tetap ditemukan dalam Gereja Katolik”, namun sekaligus “kita berharap bahwa kesatuan itu dari hari ke hari bertambah erat sampai kepenuhan zaman” (UR 4). Dari satu pihak diimani bahwa Kristus akan tetap mempersatukan Gereja, tetapi dari pihak lain disadari pula bahwa perwujudan konkret harus berkembang dan disempurnakan terus-menerus. Oleh karena itu kesatuan iman mendorong semua orang Kristen supaya mencari “persekutuan” (communio) dengan semua saudara dalam iman, biarpun bentuk organisasinya mungkin masih jauh dari kesatuan sempurna. Pusat Gereja bukan organisasinya sendiri, melainkan Injil Yesus Kristus, yang diwartakan, dirayakan dan dilaksanakan dalam hidup sehari-hari. 25 Kesatuan tidak sama dengan keseragaman. Lebih tepat bila kesatuan Gereja dimengerti sebagai “Bhineka Tunggal Ika”, baik di dalam Gereja Katolik sendiri maupun dalam persekutuan ekumenis, sebab kesatuan Gereja bukanlah semacam kekompakan organisasi atau kerukunan sosial. Kesatuan Gereja itu pertama-tama kesatuan iman, yang mungkin diungkapkan dengan cara yang berbeda-beda. Oleh karena itu kesatuan lahiriah bukanlah keseragaman dan kesamaan, melainkan persekutuan dalam persaudaraan, saling meneguhkan dan melengkapi dalam penghayatan iman. Dan karena kekayaan iman serta keanekaan kebudayaan, maka kesatuan yang nyata berarti keaneka-ragaman baik dalam pengungkapan iman yang liturgis dan kateketis, maupun dalam perwujudan persekutuan dalam organisasi ataupun dalam penampilan dalam masyarakat. Ini tidak hanya secara sosial-organisatoris, tetapi juga dalam perkembangan dan perubahan sejarah. Gereja dari zaman dahulu belum tentu sama bentuknya dengan persekutuan orang beriman sekarang, tetapi tetap ada kesatuan iman. Justru dalam keanekaragaman ungkapan iman umat perlu bertanya, manakah iman yang satu itu. Sebab tidak jarang yang mengkhususkan dan memisahkan adalah hal-hal yang sama sekali bukan pokok dan tidak menyangkut inti iman, melainkan merupakan warisan dari situasi dan kejadian historis yang sudah lama tidak penting lagi. Kepercayaan akan kesatuan Gereja kiranya malah menuntut bahwa lebih diperhatikan kesatuan iman dalam perbedaan pengungkapan, daripada kekhususan rumus yang membedakan jemaat yang satu dari yang lain. Bukan rumusan tepat yang mempersatukan, melainkan penghayatan iman bersama. Sebelum proses pemersatuan di antara Gereja-gereja dapat mulai; perlu disingkirkan dahulu segala bentuk diskriminasi – antara pria dan wanita, antara kaya dan miskin, antara hitam dan putih – di kalangan masing-masing Gereja sendiri. Yang penting bukan kesatuan lahiriah yang tidak jarang merupakan kesatuan semu, melainkan kesadaran akan kesatuan iman karena rahmat Injil. 26 Lebih khusus lagi dapat dikatakan, bahwa Kristus “mengangkat Santo Petrus menjadi ketua para rasul lainnya, supaya Episkopat (kalangan para uskup) sendiri tetap satu dan tak berbagi. Di dalam diri Petrus Ia menetapkan asas dan dasar kesatuan iman serta persekutuan yang tetap dan kelihatan” (LG 18). Kesatuan itu tidak boleh dilihat pertama-tama pada tahap internasional atau mondial. Tidak hanya paus, tetapi “masing-masing uskup menjadi asas dan dasar yang kelihatan dari kesatuan dalam Gerejanya sendiri” (LG 23). Kesatuan Gereja pertama-tama harus diwujudkan dalam persekutuan konkret antara orang beriman yang hidup bersama dalam satu negara atau daerah yang sama. Tuntutan zaman dan tantangan masyarakat merupakan dorongan kuat menggalang kesatuan iman dalam menghadapi tugas bersama. Kesatuan Gereja, dalam bentuk persekutuan (communio) terarah kepada kesatuan yang jauh melampaui batas-batas Gereja dan terarah kepada kesatuan semua orang yang “berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni” (2Tim 2:22). 2. Gereja yang Kudus Kekudusan Gereja dibicarakan panjang lebar oleh Konsili Vatikan II dalam bab V konstitusi Lumen Gentium. Bab yang berjudul “Panggilan umum untuk kesucian dalam Gereja” mulai dengan “Kita mengimani bahwa Gereja tidak dapat kehilangan kesuciannya. Sebab Kristus, Putra Allah, yang bersama dengan Bapa dan Roh dipuji bahwa ‘hanya Dialah kudus’, mengasihi Gereja sebagai mempelai-Nya” (LG 39). Gereja itu kudus, karena Kristus membuatnya kudus. Kekudusan itu juga “terungkapkan dengan aneka cara pada masing-masing orang”. Kekudusan Gereja bukanlah suatu sifat yang seragam, yang sama bentuknya untuk semua, melainkan semua mengambil bagian dalam satu kesucian Gereja, yang berasal dari Kristus, yang mengikutsertakan Gereja dalam gerakan-Nya kepada Bapa oleh Roh Kudus. Pada taraf misteri ilahi Gereja sudah suci: “Di dunia ini Gereja sudah ditandai oleh kesucian yang 27 sesungguhnya, meskipun tidak sempurna” (LG 48). Ketidaksempurnaan ini menyangkut pelaksanaan insani, sama seperti kesatuannya. Dalam hal kesucian pun yang pokok bukanlah bentuk pelaksanaannya, melainkan sikap dasarnya. “Suci” sebetulnya berarti “yang dikhususkan bagi Tuhan“. Jadi, pertama-tama “suci” menyangkut seluruh bidang sakral atau keagamaan. Yang suci bukan hanya tempat, waktu, barang yang dikhususkan bagi Tuhan, atau orang. Malahan sebenarnya harus dikatakan bahwa “yang Kudus” adalah Tuhan sendiri (lih. mis. 2Raj 19:22; Yes 1:4; 5:19.24; 10:17.20; 12:6; Yeh 38:23; dst.). Semua yang lain, barang maupun orang, disebut “kudus”‘ karena termasuk lingkup kehidupan Tuhan (lih. mis. Kel 19:23; 2Taw 3:8; Yeh 44:19). “Kudus” bukan pertama-tama kategori moral yang menyangkut kelakuan manusia, melainkan kategori teologal (ilahi), yang menentukan hubungan dengan Allah. Ini tidak berarti bahwa kelakuan moral tidak penting. Apa yang dikhususkan bagi Tuhan, harus “sempurna” (kata Ibrani tamim sebetulnya berarti “utuh”; lih. Kel 12:5; Im 1:3; 3:5; juga Rm 6:19.22; 12:1; dst.), dan kesempurnaan manusia tentu terdapat dalam taraf moral kehidupannya. Maka tidak mengherankan Tuhan bersabda, “Hendaklah kamu kudus, sebab kuduslah Aku, Yahwe, Allahmu” (Im 19:2; lih. 11:44.45; 20:7.26; 21:8). Yesus juga berkata, “Hendaklah kamu sempurna sebagaimana Bapamu di surga sempurna adanya” (Mat 5:48). Ini tentu merupakan tuntutan yang mengatasi kemampuan manusia. Perjanjian Baru melihat proses pengudusan manusia sebagai “pengudusan oleh Roh” (1Ptr 1:2; lih. 2Tes 2:13), “dikuduskan karena terpanggil” (Rm 1:7). Secara simbolis dikatakan: “kamu telah memperoleh urapan dari Yang kudus” (1Yoh 2:20), yakni dari Roh Allah sendiri (bdk. Kis 10:38). Dari pihak manusia kesucian hanya berarti tanggapan atas karya Allah itu, terutama dengan sikap iman dan pengharapan (lih. 1Tim 2:15). Sikap itu dinyatakan dalam segala perbuatan dan kegiatan kehidupan yang serba biasa. Kesucian bukan soal bentuk kehidupan, melainkan sikap yang dinyatakan dalam hidup sehari-hari. 28 Oleh karena itu, Lumen Gentium menarik kesimpulan bahwa “Gereja itu suci, dan sekaligus harus selalu dibersihkan, serta terus-menerus menjalankan pertobatan dan pembaruan” (LG 8). Justru karena kedosaannya itu Gereja tidak terbedakan dari semua orang lain, kendatipun “dikuduskan bagi Tuhan”: “Persekutuan Gereja mengalami diri sungguh erat berhubungan dengan umat manusia serta sejarahnya” (GS 1). Kesucian Gereja adalah kesucian perjuangan, terus-menerus. 3. Gereja yang Katolik Kata “Katolik” adalah kata yang sulit. Secara harfiah dengan kata itu dinyatakan bahwa Gereja berkembang “di seluruh dunia”. Memang benar, Gereja tersebar ke mana-mana, namun tidak benar bahwa tidak ada tempat yang tidak ada Gereja. Banyak daerah dan negara tidak mengenal Gereja. St. Ignatius dari Antiokhia, yang untuk pertama kalinya memakai kata ini, berkata, “Di mana ada uskup, di situ ada jemaat, seperti di mana ada Kristus Yesus, di situ ada Gereja Katolik“. Yang dimaksudkan ialah dalam perayaan Ekaristi, yang dipimpin oleh uskup, hadir bukan hanya jemaat setempat tetapi juga seluruh Gereja. Jadi, gagasan pokok bukanlah bahwa Gereja telah tersebar ke seluruh dunia, melainkan bahwa dalam setiap jemaat setempat hadirlah Gereja seluruhnya. “Gereja Katolik yang satu dan tunggal berada dalam Gereja-gereja setempat dan terhimpun daripadanya” (LG 23). Gereja selalu “lengkap”, penuh. Tidak ada Gereja setengah-setengah atau sebagian. Gereja setempat, entah keuskupan ataupun paroki, bukanlah “cabang” Gereja universal. Setiap Gereja setempat, bahkan setiap perkumpulan orang beriman yang sah, merupakan seluruh Gereja. Gereja tidak dapat dipotong-potong menjadi “Gereja-Gereja bagian”. Kata “Katolik” selanjutnya juga dipakai untuk menyebut Gereja yang benar, Gereja universal yang dilawankan dengan sekte-sekte. Dengan demikian kata “Katolik” mendapat arti yang lain: “Gereja disebut Katolik, karena tersebar di seluruh muka bumi dan juga karena mengajarkan secara menyeluruh dan lengkap segala ajaran iman tertuju kepada semua manusia, yang mau 29 disembuhkan secara menyeluruh pula” (St. Sirilus dari Yerusalem). Sejak itu kata “Katolik” tidak hanya mempunyai arti geografis, tersebar ke seluruh dunia, tetapi juga “menyeluruh”, dalam arti “lengkap”, berkaitan dengan ajarannya, serta “terbuka” dalam arti tertuju kepada siapa saja. Pada abad ke-5 masih ditambahkan bahwa Gereja tidak hanya untuk segala bangsa, tetapi juga untuk segala zaman. Pada zaman Reformasi kata “Katolik” muncul lagi untuk menunjuk pada Gereja yang tersebar ke mana-mana, dibedakan dengan Gereja-gereja Protestan, yang (pada waktu itu) masih terbatas pada daerah Eropa tertentu. Sejak itu dengan kata “Katolik” secara khusus dimaksudkan umat Kristen yang mengakui paus sebagai pemimpin Gereja universal, tetapi dalam syahadat kata “Katolik” masih mempunyai arti asli “universal” atau “umum”. Ternyata universal pun mempunyai dua arti, yang kuantitatif dan kualitatif. Mengenai “Sifat umum dan Katolik Umat Allah yang satu” Konsili Vatikan II berkata: “Satu Umat Allah itu hidup di tengah segala bangsa di dunia, karena memperoleh warganya dari semua bangsa. Semua orang beriman, yang tersebar di seluruh dunia, dalam Roh Kudus berhubungan dengan yang lain. Gereja memajukan dan menampung segala kemampuan, kekayaan dan adat-istiadat bangsa-bangsa sejauh itu baik; dengan menampung juga memurnikan, menguatkan serta mengangkatnya. Gereja yang Katolik secara tepat-guna dan tiada hentinya berusaha merangkum segenap umat manusia beserta segala harta-kekayaannya di bawah Kristus Kepala, dalam kesatuan Roh-Nya” (LG 13). Di satu pihak dikatakan bahwa Umat Allah “hidup di tengah segala bangsa” serta “memperoleh warganya dari semua bangsa”. Ini segi kuantitatif atau geografis. Di pihak lain juga dikatakan bahwa “Gereja memajukan dan menampung segala kemampuan, kekayaan, dan adat-istiadat bangsa-bangsa”. Inilah segi kualitatifnya, yakni tidak ada sesuatu pun yang tidak diterima oleh Gereja. Kedua aspek itu dirangkum dalam kalimat terakhir “merangkum segenap umat manusia beserta segala harta-kekayaannya“. Itu terjadi “di bawah 30 Kristus Kepala, dalam kesatuan Roh-Nya”. Yang terakhir ini aspek yang paling pokok. Gereja disebut “Katolik”, karena dengan perantaraannya Roh Kudus hadir di seluruh dunia. Yang hadir di mana-mana serta mengangkat segala kekayaan umat manusia sebetulnya bukan Gereja melainkan Roh yang berkarya dalam dan melalui Gereja. Konsili Vatikan II tidak lagi memusatkan perhatiannya pada Gereja sebagai sekelompok manusia yang terbatas, melainkan kepada Gereja sebagai sakramen Roh Kristus. “Kekatolikan” Gereja berarti bahwa pengaruh dan daya-pengudus Roh tidak terbatas pada para anggota Gereja saja, melainkan juga terarah kepada seluruh dunia. Dengan sifat “Katolik” dimaksudkan bahwa Gereja mampu mengatasi keterbatasannya sendiri karena Roh yang berkarya di dalamnya. Yang pokok bukanlah bahwa Gereja merangkum atau menerima segala sesuatu, melainkan bahwa ia dapat menjiwai seluruh dunia dengan semangatnya. Oleh karena itu, yang “Katolik” bukan hanya Gereja universal, melainkan juga setiap anggotanya, sebab di dalam setiap jemaat hadirlah seluruh Gereja. “Gereja Kristus sungguh hadir dalam semua jemaat beriman setempat yang sah, yang dalam Perjanjian Baru disebut Gereja. Gereja-gereja itu, di tempatnya masing-masing, dengan sepenuhnya merupakan Umat baru yang dipanggil oleh Allah dalam Roh Kudus. Dalam jemaat-jemaat itu, meskipun sering hanya kecil dan miskin, atau tinggal tersebar, hiduplah Kristus; dan berkat kekuatan-Nya terhimpunlah di situ Gereja yang satu, kudus, Katolik, dan apostolik” (LG 26). Oleh karena itu, setiap anggota jemaat harus menjadi penyiar semangat Kristus. Seperti dalam hal kesatuan, begitu juga kekatolikan terlaksana melalui persekutuan, komunikasi di dalam jemaat sendiri dan di antara para jemaat, baik yang kecil maupun yang besar. Bahkan dapat dikatakan bahwa kekatolikan berarti bahwa Gereja mampu disebarkan ke seluruh dunia tanpa kehilangan jati dirinya. Di mana-mana dan dalam bentuk yang berbeda-beda, terwujudkan satu Gereja Kristus. Kekatolikan berarti keterbukaan dan keberanian membuka diri senantiasa bagi bentuk kehidupan yang baru dan berbeda. 31 Oleh karena itu, harus dikatakan bahwa kesatuan dan kekatolikan Gereja kait-mengait. Kesatuan berbicara mengenai hubungan antara para anggota dan antara jemaat-jemaat, menjadi satu Gereja dalam persekutuan (communio). Kesatuan menyangkut hubungan luar atau lahir. Sebaliknya kekatolikan mengenai hubungan batin, hubungan jemaat atau anggota yang satu dengan yang lain “dalam Roh”: dalam segalanya berkarya Roh yang sama. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kekatolikan itu “misteri” kesatuan, atau sebaliknya kesatuan adalah “sakramen” yang menampakkan kekatolikan. Maka kesatuan, yang sebagai “kekompakan” senantiasa menjurus ke arah ketertutupan, harus selalu diimbangi oleh kekatolikan, yang menjamin keterbukaan Gereja. Justru di sini kelihatan bahwa Gereja itu “Bhineka Tunggal Ika”, bukan hanya de facto (memang demikian), tetapi de iure (karena kesatuan dalam keanekaan dijamin oleh Roh Kudus). Tidak hanya dalam banyak jemaat, tetapi juga dalam banyak rumus iman dan dalam aneka bentuk perayaan liturgis diungkapkan satu iman, karena diinspirasikan oleh Roh Kudus. Justru kesatuan iman itu berarti bahwa keanekaan ekspresi harus mendukung dan menunjang kesatuan penghayatan. Karena Gereja itu sekaligus insani dan ilahi, sudah semestinya kesatuannya tidak hanya menyatakan diri secara manusiawi sebagai organisasi dan institusi, tetapi benar-benar memperlihatkan inspirasi Roh Allah. Oleh karena itu kesatuan Gereja hanya dapat kentara sebagai kesatuan Gereja, kalau diimbangi oleh kekatolikannya. 4. Gereja yang Apostolik Sifat “apostolik” atau rasuli berarti bahwa Gereja berasal dari para rasul dan tetap berpegang teguh pada kesaksian iman mereka itu. Kesadaran bahwa Gereja “dibangun atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru”, sudah ada sedari zaman Gereja perdana sendiri (Ef 2:20; bdk. Why 21:14), tetapi sebagai sifat khusus keapostolikan baru disebut akhir abad ke-4. Semakin ditegaskan bahwa norma kebenaran adalah iman 32 sebagaimana dirumuskan oleh para rasul. Namun dengan demikian belum jelas bagaimana Gereja sekarang berhubungan dengan Gereja para rasul. Gereja Protestan berkeyakinan bahwa hubungan itu terdapat dalam Kitab Suci, khususnya Perjanjian Baru, sebagai rumusan tertulis iman itu. Sebaliknya Gereja Katolik, yang lebih mementingkan pewartaan lisan, memusatkan perhatian pada hubungan historis, turun-temurun, antara para rasul dan para pengganti mereka, yaitu para uskup. Perlu diperhatikan bahwa dalam Perjanjian Baru kata “rasul” tidak hanya dipakai untuk ke-12 rasul yang namanya disebut dalam Injil (lih. Mat 10:1-4 dsj.). Hubungan historis itu tidak boleh dilihat sebagai semacam “estafet”, yang di dalamnya ajaran yang benar bagaikan sebuah tongkat dari rasul-rasul tertentu diteruskan sampai kepada para uskup sekarang. Yang disebut “apostolik” bukanlah para uskup, melainkan Gereja. Hubungan historis itu pertama-tama menyangkut seluruh Gereja dalam segala bidang dan pelayanannya. Sifat apostolik berarti bahwa Gereja sekarang mengaku diri sama dengan Gereja perdana, yakni Gereja para rasul. Hubungan historis itu janganlah dilihat sebagai penggantian orang, melainkan sebagai kelangsungan iman dan pengakuan. Sifat apostolik tidak berarti bahwa Gereja hanya mengulang-ulangi apa yang sejak dahulu kala sudah diajarkan dan dilakukan di dalam Gereja. Keapostolikannya berarti bahwa dalam perkembangan hidup, tergerak oleh Roh Kudus, Gereja senantiasa berpegang pada Gereja para rasul sebagai norma imannya. Bukan mengulangi, tetapi merumuskan dan mengungkapkan kembali apa yang menjadi inti hidup iman. Karena seluruh Gereja bersifat apostolik, maka seluruh Gereja dan setiap anggotanya, perlu mengetahui apa yang menjadi dasar hidupnya, “siap sedia pada segala waktu untuk memberi pertanggungjawaban kepada tiap-tiap orang yang memintanya, tentang pengharapan yang ada padanya” (1Ptr 3:15). Sifat apostolik (yang betul-betul dihayati secara nyata) harus mencegah Gereja dari segala rutinisme yang bersifat ikut-ikutan. Keapostolikan berarti 33 bahwa seluruh Gereja dan setiap anggotanya tidak hanya bertanggung jawab atas ajaran Gereja, tetapi juga atas pelayanannya. Dalam hidup yang nyata Gereja harus terus-menerus membuktikan diri sebagai Gereja Yesus Kristus, yang tidak hanya digerakkan oleh Roh Kudus tetapi juga “rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya” (Ef 4:16). Seperti semua sifat yang lain, begitu juga keapostolikan Gereja tidak pernah “selesai”, tetapi selalu merupakan tuntutan dan tantangan. Gereja, yang oleh Kristus dikehendaki satu, mengembangkan kudus, dan Katolik menemukan dan apostolik, kembali senantiasa kesatuan, harus kekatolikan, keapostolikan, dan terutama kekudusannya. Sifat-sifat Gereja diimani, berarti harus dihayati, oleh Gereja seluruhnya dan oleh masing-masing anggotanya. b. Penampilan Gereja Sekarang 1. Gereja Lokal dan Gereja Universal Masalah Gereja lokal – Gereja universal secara khusus dibahas oleh Konsili Vatikan II dalam LG 23, yang berjudul “Uskup setempat dan Gereja universal”. Konsili mengajarkan: “Masing-masing uskup merupakan asas dan dasar kelihatan dari kesatuan dalam Gerejanya sendiri, yang terbentuk menurut citra Gereja semesta (universal). Gereja Katolik yang satu dan tunggal berada dalam Gereja-gereja setempat itu dan terhimpun dari padanya.” Di sini terungkap sifat Katolik Gereja: “Gereja Katolik yang satu dan tunggal” sama di mana-mana tetapi dalam bentuk yang berbeda-beda. Dalam masing-masing Gereja setempat – bagaimanapun juga bentuk khususnya – hadirlah satu Gereja Kristus, Gereja semesta atau universal. Maka, dilihat dari Gereja setempat juga dapat dikatakan bahwa Gereja setempat itu “terbentuk menurut citra Gereja semesta”. Itu tidak berarti bahwa sudah ada Gereja universal dahulu, yang kemudian menjadi “model” Gereja setempat, sebab Gereja universal “terhimpun dari” Gereja-gereja setempat. Di sini juga muncul sifat kesatuan. Sebab Gereja-gereja setempat, yang di dalamnya 34 terwujud Gereja Kristus, bersama-sama membentuk “persekutuan” (communio) dan itulah Gereja semesta. Secara manusiawi Gereja universal adalah persekutuan Gereja-gereja setempat. Tetapi secara ilahi, sebagai Gereja Kristus, Gereja universal “berada dalam Gereja-Gereja setempat itu”. Gereja itu sekaligus misteri rahmat Allah yang tak-kelihatan, dan sakramen atau tanda dan sarana, yang membuat rahmat ilahi itu menjadi nyata bagi manusia. Gereja universal sesungguhnya bukan hanya kumpulan Gereja-Gereja setempat. Karena sifat misterinya, Gereja universal sudah hadir dan terlaksana dalam setiap umat setempat. Oleh karena itu, bila semua Gereja setempat ber-communio, tidak terjadi banyak Gereja Kristus, melainkan “Gereja Katolik yang satu dan tunggal terhimpun dari padanya”. Namun Gereja universal itu bukan hanya misteri yang takkelihatan, melainkan menjadi nyata dalam Gereja semesta, yang tampak dalam communio Gereja-gereja setempat. Dan karena sifat tampak dan manusiawi itu, maka Gereja semesta mempunyai bentuk sendiri, dengan paus sebagai kepala. Tetapi janganlah Gereja semesta itu dilihat sebagai Gereja yang “sesungguhnya”, sedangkan Gereja setempat hanyalah cabang saja. “Gereja Kristus sungguh hadir dalam semua jemaat beriman setempat yang sah” (LG 26). Sifat “universal” terjamin oleh persekutuan antara Gerejagereja. Dengan berintegrasi ke dalam persekutuan Gereja-gereja, masingmasing Gereja setempat merealisasikan diri sebagai kumpulan orang beriman, di mana “sungguh hadir dan berkaryalah Gereja Kristus yang satu, kudus, Katolik, dan apostolik” (CD 11). 2. Gereja Katolik dan Gereja-Gereja Kristen Lain Konsili Vatikan II membedakan antara mereka yang “sepenuhnya dimasukkan ke dalam serikat Gereja” (LG 14) dan orang beriman lain yang berhubungan dengan Gereja Katolik (LG 15). Yang pertama adalah mereka yang mempunyai Roh Kristus, menerima baik seluruh tata-susunan Gereja serta semua upaya keselamatan yang diadakan di dalamnya, dan dalam 35 himpunannya yang kelihatan digabungkan dengan Kristus yang membimbing Gereja melalui Imam Agung (paus) dan para uskup. Gabungan dengan himpunan Katolik kemudian dirinci dengan ikatanikatan, yakni pengakuan iman, sakramen-sakramen, kepemimpinan gerejawi, serta persekutuan (communio). Mereka yang hanya “berhubungan”, tidak dimasukkan dengan sepenuhnya, karena “tidak mengakui iman seutuhnya atau tidak memelihara kesatuan persekutuan di bawah Pengganti Petrus”. Jadi kekurangan di sini terletak dalam “ikatan-ikatan” yang menggabungkan dengan Gereja: Atau pengakuan iman tidak utuh atau persekutuan tidak lengkap, khususnya berhubungan dengan kepemimpinan Gereja. Mengenai sakramen-sakramen dikatakan: “Banyak ditandai oleh baptis yang menghubungkan mereka dengan Kristus, bahkan mengakui dan menerima sakramen-sakramen lainnya; banyak pula yang mempunyai uskup-uskup dan merayakan Ekaristi suci”. Mengenai unsur yang paling pokok, yakni “mempunyai Roh Kristus” (lih. Rm 8:9), dikatakan: “ada suatu hubungan sejati dalam Roh Kudus, yang memang dengan daya pengudus-Nya juga berkarya di antara mereka dengan melimpahkan anugerah-anugerah serta rahmat-rahmat-Nya”. Akhirnya perbedaan menyangkut pertama-tama ikatan lahiriah itu. Perlu diperhatikan bahwa Konsili memang berbicara mengenai “serikat” atau organisasi Gereja. Konsili tidak berbicara mengenai iman, tetapi mengenai pengungkapan iman atau agama. Keduanya memang tidak dapat dipisahpisahkan yang satu dari yang lain. Pengungkapan yang berbeda berhubungan dengan penghayatan yang berlain-lainan. Memang ada perbedaan antara Protestan dan Katolik, yang secara skematis dapat dirumuskan sebagai berikut: 36 KATOLIK KRISTEN PROTESTAN Tekanan pada sakramen Tekanan pada sabda Agama kontemplasi (membayangkan) Agama iman (mendengarkan) Mementingkan kurban (kultis) Berpusat pada kotbah (profetis) Perasaan, kesenian, kehangatan sangat Pengetahuan, ketegasan dan ilmu yang lebih Dipentingkan dipentingkan. Hubungan dengan Gereja menentukan Hubungan dengan Kristus, menentukan hubungan dengan Kristus hubungan dengan Gereja Gereja secara hakiki bersifat hierarkis Segala pelayanan Gerejawi adalah ciptaan manusia Kitab Suci dibaca dan dipahami dibawah Setiap orang membaca dan mengartikan Kitab Pimpinan hierarki Suci sendiri Perbedaan ini sebenarnya lebih menyangkut penghayatan, bahkan perasaan, daripada ajaran atau rumusan iman. Memang tetap ada perbedaan pendapat mengenai kedudukan dan peranan hierarki (paus, uskup, dan imam), rahmat (pembenaran) dan ibadat (khususnya penghormatan santo-santa, teristimewa Bunda Maria). Pada umumnya protestantisme merasa kurang enak dengan segala-sesuatu yang mau menjadi pengantara antara manusia dan Allah. Namun diakui pula bahwa dalam hal-hal itu secara prinsipial tidak ada yang memisahkan. Perbedaan menyangkut sikap dasar, yang sulit dapat dirumuskan. Barangkali perbedaan itu paling tepat dirumuskan dengan kata “Katolik” dan “Protestan” sendiri. Katolik berarti “menyeluruh”. Pada umumnya orang Katolik lebih mementingkan keseluruhan tradisi Gereja. Memang diakui bahwa ada banyak kesalahan dan dosa di dalam sejarah Gereja, tetapi juga ada banyak hal yang baik dan bagus. Roh Kuduslah yang menjamin kehidupan Gereja seluruhnya, kendatipun manusia lemah dan cenderung kepada dosa. Sebaliknya Protestan berasal dari kata “protes” (bukan terhadap Gereja atau paus, tetapi terhadap kaisar zaman itu), dan jarang ada 37 protes yang sifatnya “menyeluruh”. Ternyata orang Protestan tampaknya memang cenderung memusatkan perhatiannya pada aspek-aspek tertentu dalam kehidupan Gereja, baik yang positif maupun yang negatif. Dengan menekankan yang terakhir itu perbedaan dengan Gereja Katolik menonjol. Yang lebih penting daripada perbedaan itu ialah kesatuan antara semua orang Kristen. Konsili Vatikan II tidak hanya menegaskan bahwa “Roh membangkitkan pada semua murid Kristus keinginan dan kegiatan, supaya dipersatukan dalam satu kawanan dengan satu Gembala” (LG 15), tetapi juga merumuskan dasar teologis untuk kesatuan itu. Dalam LG 8 dikatakan: “Kristus, satu-satunya Pengantara, di dunia ini telah membentuk Gereja-Nya yang kudus, yakni persekutuan iman, harapan dan kasih, sebagai himpunan yang kelihatan dan tak henti-hentinya memeliharanya, supaya melalui Gereja Ia melimpahkan kebenaran dan rahmat kepada semua orang … Itulah satu-satunya Gereja Kristus, yang dalam syahadat kita akui sebagai Gereja yang satu, kudus, Katolik dan apostolik. Gereja itu, yang di dunia ini disusun dan diatur sebagai serikat (societas), berada dalam (subsistit in) Gereja Katolik, yang dipimpin oleh pengganti Petrus dan para uskup dalam persekutuan dengannya, walaupun di luar persekutuan itu pun terdapat banyak unsur pengudusan dan kebenaran, yang merupakan kurnia-kurnia khas Gereja Kristus, dan mendorong ke arah kesatuan Katolik.” Teks yang singkat dan padat ini tidak begitu mudah dipahami dengan tepat. Pertama-tama dikatakan bahwa Gereja dari satu pihak adalah “persekutuan iman, harapan dan kasih”, tetapi sekaligus juga merupakan suatu “himpunan yang kelihatan”, yang kemudian disebut “serikat” (societas) atau organisasi. Kedua aspek ini tidak bisa dipisahkan. Gereja adalah sekaligus misteri dan sakramen. Mengenai Gereja, yang sekaligus kelihatan dan tak-kelihatan itu, selanjutnya dinyatakan bahwa “berada dalam Gereja Katolik”. Dengan rumusan itu mau dikatakan bahwa dari satu pihak Gereja Katolik sungguh-sungguh Gereja Kristus, tetapi dari pihak lain bahwa Gereja Kristus tidak identik atau tepat sama 38 dengan Gereja Katolik: “di luar persekutuan (Katolik) itu pun terdapat banyak unsur pengudusan dan kebenaran”. Perlu diperhatikan bahwa kata “berada dalam” (Latin: subsistit in) dipilih dengan seksama. Pius XII (ensiklik Humani Generis, 12 Agustus 1950) masih mengajarkan: “Tubuh mistik Kristus dan Gereja Katolik adalah satu dan sama”. Maka rumus Lumen Gentium yang pertama (skema I) juga masih mengatakan, bahwa “hanya Gereja Roma-Katolik selayaknya (iure) disebut Gereja”. Dalam skema II belum ada banyak perubahan: “Gereja Kristus, yang di dunia ini disusun dan diatur sebagai serikat, adalah (est) Gereja Katolik, yang diatur (directa) oleh Imam Agung di Roma (Romanus Pontifex) dan para uskup dalam persekutuan dengannya”. Tetapi dengan skema III terjadi perubahan besar: 1.”Imam Agung di Roma” diubah menjadi “pengganti Petrus” (pimpinan tidak tergantung pada Roma, tetapi pada Petrus); 2. “diatur” menjadi “dipimpin” (paus tidak menentukan segala-galanya, tetapi mengarahkan); dan terutama 3. “adalah (est)” diubah menjadi “berada dalam (subsistit in)”. Perubahan semua ini diterima dalam rumusan terakhir “Lumen Gentium”. Panitia perumus menerangkan bahwa dipilih kata-kata itu “supaya lebih sesuai dengan pernyataan tentang unsur-unsur gerejawi yang sungguh ada di luar Gereja Katolik”. Konsili mau mengatakan bahwa Gereja Kristus tidak terbatas pada Gereja Katolik saja. Bagaimana Gereja Kristus “berada dalam” Gereja Katolik tidak diterangkan oleh Konsili. Gereja Kristus memang ada dan menampakkan diri, tetapi “kegerejaan” atau bentuk gerejawinya tidak identik sama dengan Gereja Katolik. Yang lain juga Gereja Kristus, tetapi dalam bentuk yang lain. Paling-paling dikatakan bahwa dalam Gereja Katolik Gereja Kristus terwujudkan dengan selengkaplengkapnya. Di dunia ini misteri Gereja tidak pernah tampak sepenuhnya. Oleh karena itu, bentuk Gereja yang tampak tidak pernah dapat diidentifikasikan dengan Gereja sendiri. Itu tidak berarti bahwa bentuk gerejawi tidak penting. Sebaliknya dalam bentuk yang konkret itu misteri Gereja menjadi kenyataan hidup bagi manusia, dan melalui bentuk yang manusiawi dimungkinkan komunikasi dan 39 persekutuan dalam iman. Hanya dalam bentuk kehidupan yang konkret mungkinlah komunikasi dengan Gereja para rasul, baik dalam pewartaan maupun dalam perayaan (liturgi), dan terutama dalam pelayanan kepada dunia. Apa yang dikatakan mengenai Gereja lokal berlaku juga untuk Gereja Katolik dalam hubungannya dengan jemaat-jemaat bukan Katolik: Gereja lokal itu seluruhnya Gereja, tetapi bukan seluruh Gereja. Sebagaimana Gereja lokal hanya dapat menjadi Gereja dalam arti penuh, bila berkomunikasi dengan jemaat-jemaat yang lain, begitu juga dalam hubungan ekumenis semua Gereja hanya dapat hidup dalam persekutuan dengan Gereja-gereja yang lain. Persekutuan atau communio tidak hanya mutlak perlu untuk kesatuan Gereja, tetapi juga untuk kekatolikannya. Gereja yang sudah tidak berhubungan dengan yang lain bukan Gereja Kristus lagi. Usaha untuk mempertemukan Gereja-gereja Kristen dalam satu communio disebut gerakan ekumenis. Kata Konsili Vatikan II, “Yang dimaksudkan dengan gerakan ekumenis ialah kegiatan-kegiatan dan usaha-usaha yang diadakan dan ditujukan untuk mendukung kesatuan umat Kristen” (UR 4). Sebagai contoh disebutkan, pertama-tama, usaha saling menghormati dan menghindari segala sesuatu yang kurang sesuai; kemudian juga mengadakan pertemuan-pertemuan dan dialog, khususnya di antara para pakar; selanjutnya, segala macam kerja sama dalam arti yang luas; dan akhirnya, segala usaha untuk memperbarui diri dan mengubah kekurangan-kekurangan dalam Gerejanya sendiri. Yang dicitacitakan bukanlah supaya semua melebur dalam satu kesatuan yang kabur dan tanpa sifat-sifat Kristiani yang jelas. Sebaliknya, diharapkan bahwa masingmasing Gereja semakin menyadari akar-akarnya dalam iman Kristen dan juga kekhasannya sendiri dalam mengungkapkan dan mewujudkan iman bersama itu. Dengan demikian, sekaligus diharapkan mereka menghormati saudara-saudara seiman yang menghayati iman itu dalam bentuk yang berbeda. 3. Gereja Katolik dan Agama-Agama Lain Dalam LG 8 antara lain dikatakan bahwa Kristus “melalui Gereja mau melimpahkan kebenaran dan rahmat kepada semua orang”. Gereja bukan 40 kelompok tertutup, melainkan “tanda dan sarana kesatuan seluruh umat manusia” (LG 1). Oleh karena itu dikatakan bahwa “Gereja, dengan mewartakan Injil, mengundang mereka yang mendengarnya kepada iman dan pengakuan iman, menyiapkan mereka menerima baptis, membebaskan mereka dari perbudakan kesesatan, dan menyaturagakan mereka ke dalam Kristus” (LG 17). Rumusan semacam itu tidak disenangi oleh banyak orang dewasa ini, bukan hanya oleh mereka yang melihat rumus ini sebagai rencana “kristenisasi”. Di antara orang Kristen sendiri ada banyak yang merasa bahwa rumus ini tidak cocok dengan pernyataan Konsili sendiri, bahwa “mereka yang dengan tulus hati mencari Allah, dan berkat pengaruh rahmat berusaha melaksanakan kehendak-Nya dengan perbuatan nyata, dapat memperoleh keselamatan kekal” (LG 16). Di luar Gereja Katolik tidak hanya “terdapat banyak unsur pengudusan dan kebenaran” (LG 8), tetapi di luar lingkungan Kristen ada “pengaruh rahmat”, sehingga orang bukan-Kristen juga “dapat memperoleh keselamatan kekal”. Lalu untuk apa “Gereja terus-menerus mengutus pewarta-pewarta” ke seluruh dunia? (LG 17). Gereja senantiasa yakin bahwa “Allah menghendaki semua orang diselamatkan” (1Tim 2:4), tetapi baru pada akhir Konsili Vatikan II disadari bahwa itu terjadi “dengan cara yang hanya diketahui oleh Allah” (GS 22; AG 7). Keselamatan umat manusia tidak tergantung pada Gereja. Gereja tidak mewartakan Injil untuk menyelamatkan orang. Hanya Tuhan dapat menyelamatkan, dan manusia harus menerima keselamatan itu dalam iman. Gereja mewartakan Injil karena tidak dapat diam mengenai segala sesuatu yang telah dilihat dan didengar olehnya (bdk. Kis 4:20). Pewartaan Injil tidak pernah dimaksudkan sebagai indoktrinasi. Yang pokok bukanlah pewartaan itu sendiri, melainkan isi-nya, “Keselamatan tidak ada di dalam siapapun selain di dalam Kristus; maka di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia untuk memperoleh keselamatan” (Kis 4: 12). Yang menjadi soal ialah keyakinan iman bahwa “Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus” (1 Tim 2:5), atau dengan kata Yesus sendiri: “Tidak ada seorang pun 41 yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh 14:6). Kata-kata itu secara konkret-praktis selalu diartikan oleh Gereja sebagai perintah mewartakan Kristus secara mutlak: “Jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka” (Mat 28:19). Oleh karena itu pula Paulus bertanya: “Bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada-Nya, jika mereka tidak mendengar tentang Dia? Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana orang dapat memberitakan-Nya, jika tidak diutus? Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus” (Rm 10:14-15:17). Itu dikatakan Paulus dalam situasi zaman itu, berhadapan dengan orang kafir Yunani. Sekarang Konsili Vatikan II mengajarkan bahwa “mereka yang belum menerima Injil, dengan berbagai alasan diarahkan kepada umat Allah …. Sebab apa pun yang baik dan benar, yang terdapat pada mereka, oleh Gereja dipandang sebagai persiapan Injil, dan sebagai kurnia Dia yang menerangi setiap orang, supaya akhirnya memperoleh kehidupan” (LG 16). Dengan demikian tidak disangkal perlunya pewartaan. Pewartaan perlu bukan hanya karena orang “ditipu oleh si Jahat, jatuh ke dalam pikiran yang sesat dan mengubah kebenaran Allah menjadi dusta” (LG 16), melainkan lebih-lebih “untuk menghantar mereka kepada iman, kebebasan dan damai Kristus, sehingga bagi mereka terbukalah jalan yang bebas dan teguh, untuk ikut serta sepenuhnya dalam misteri Kristus” (AG 5). Apa yang dikerjakan Tuhan dalam hati orang harus dikembangkan terusmenerus. Untuk itu perlu pewartaan, teladan hidup, sakramen-sakramen, serta upaya-upaya rahmat lainnya, sebagaimana dikatakan dalam konstitusi Dei Verbum mengenai proses komunikasi iman dalam Gereja sendiri: “dalam ajaran, hidup serta ibadatnya Gereja melestarikan serta meneruskan kepada semua keturunan dirinya seluruhnya, imannya seutuhnya” (DV 8). 42 Hal itu juga berlaku bagi mereka yang “dengan berbagai alasan diarahkan kepada umat Allah” (LG 16). Karena di sini tidak ada persekutuan penuh, komunikasi iman tidak terjadi secara persekutuan, melainkan dalam bentuk dialog. Panitia Teologis Internasional pada tahun 1988 mengatakan, dialog dengan agama-agama lain merupakan bagian integral hidup Kristiani. Tukar pendapat, studi, kerja sama, dan dialog membantu pemahaman yang lebih baik mengenai agama lain tetapi juga mengembangkan hidup keagamaan sendiri. Oleh karena itu Konsili mengajarkan, bahwa “pelaksanaan kegiatan misioner yang tepat dan teratur menuntut, supaya para pewarta Injil disiapkan untuk berdialog dengan agama-agama serta kebudayaan-kebudayaan bukan Kristen” (AG 34; 11; 41; NA 2). Mengenai dialog itu sendiri Konsili Vatikan II mengajarkan, “Melalui caracara itu (yakni melalui penyelidikan bebas, pengajaran dan pendidikan, komunikasi dan dialog) manusia menjelaskan kepada sesamanya kebenaran yang telah ditemukannya – atau yang ia rasa telah menemukannya – sehingga saling membantu dalam mencari kebenaran” (DH 3; lih. GS 43). Maka “melalui pergaulan dengan sesama, dengan saling berjasa, melalui dialog dengan sesama saudara, manusia berkembang dalam segala bakat-pembawaannya, dan mampu menanggapi panggilannya” (GS 25). Dasar dialog adalah kesadaran bahwa rahmat Allah berkarya dalam setiap manusia, juga dalam mereka yang tidak mengakui diri orang Kristen, yakni “semua orang yang mengakui Allah dan dalam tradisi-tradisi mereka melestarikan unsur-unsur religius dan manusiawi”. Mengenai hubungan dengan orang itu Konsili berkata, “Yang kami harapkan ialah, semoga dialog yang terbuka mengajak kita sekalian, untuk dengan setia menyambut dorongandorongan Roh, serta mematuhinya dengan gembira” (GS 92). Dialog mendekati hubungan antara umat beriman dan umat beragama dari bawah, dari hubungan antara umat yang berbeda-beda agama. Namun di dalam dialog itu semua sama-sama berusaha menghayati apa yang paling dalam, yang menggerakkan dan memunculkan agama. Diakui bahwa tidak ada satu agama 43 pun, termasuk agama Kristen, yang dengan sepenuhnya dapat menanggapi tawaran rahmat Allah itu (lih. GS 62). Dari pihak lain keterbatasan itu juga tidak menghalangi suatu pengalaman iman yang sungguh-sungguh dan religius. Maka dialog antarumat beragama bukanlah konfrontasi antara ajaran-ajaran keagamaan yang berbeda-beda, melainkan dialog hidup atau “temu hati”, yang semakin terbuka untuk sapaan Allah. Ini tidak berarti bahwa dialog sebenarnya hanyalah alasan untuk masuk ke dalam diri sendiri. Dialog sendiri sudah terarah kepada perwujudan Kerajaan Allah dalam keadilan, damai dan keselarasan, yang semuanya merupakan nilai-nilai kemasyarakatan. Tetapi yang paling pokok adalah “temu hati” itu sendiri. Di situ orang tidak mengaburkan atau “menyembunyikan” pendapat dan keyakinan pribadi, namun dapat mengemukakannya penuh hormat terhadap pandangan dan karena itu tanpa memaksakan pendapatnya sendiri kepada orang lain. 5) SYAHADAT PANJANG-SINGKAT Syahadat Panjang Aku percaya Syahadat Pendek akan Bapa yang pencipta langit satu Allah, Aku percaya akan Allah, mahakuasa, Bapa yang Maha Kuasa, pencipta dan bumi, langit dan bumi. dan segala sesuatu yang kelihatan Dan akan Yesus Kristus, PuteraNya dan tak kelihatan; yang tunggal, Tuhan kita. dan akan satu Tuhan Yesus Kristus, Putra Allah yang Yang dikandung dari Roh Kudus, tunggal. dilahirkan oleh perawan Maria. Ia lahir dari Bapa sebelum segala Yang menderita sengsara, dalam abad, pemerintahan Allah dari Terang dari Allah Ia benar dilahirkan, dari Pontius Pilatus, Allah, disalibkan, wafat dan dimakamkan. Terang, Allah bukan Yang turun ketempat penantian, benar. pada hari ketiga bangkit dari antara dijadikan, orang mati. Yang naik ke surga, 44 sehakikat dengan Bapa; duduk disebelah kanan Allah Bapa segala sesuatu dijadikan oleh-Nya. yang Maha Kuasa. Ia turun dari surga untuk kita manusia Dari situ Ia akan datang mengadili dan untuk keselamatan kita. orang hidup dan mati. Ia dikandung dari Roh Kudus, Aku percaya akan Roh Kudus, Dilahirkan oleh Perawan Maria, dan Gereja Katholik yang Kudus, menjadi manusia. Persekutuan para Kudus, Ia pun disalibkan untuk kita, waktu pengampunan dosa, Pontius Pilatus; kebangkitan badan, kehidupan kekal. Ia menderita sampai wafat dan Amin dimakamkan. Pada hari ketiga Ia bangkit menurut Kitab Suci. Ia naik ke surga, duduk di sisi Bapa. Ia akan kembali dengan mulia, mengadili orang yang hidup dan yang mati; kerajaan-Nya takkan berakhir. aku percaya akan Roh Kudus, Ia Tuhan yang menghidupkan; Ia berasal dari Bapa dan Putra, yang serta disembah Bapa dan dan Putra, dimuliakan; Ia bersabda dengan perantaraan para nabi. aku yang percaya satu, akan kudus, Gereja katolik dan apostolik. aku mengakui satu pembaptisan 45 akan penghapusan dosa. aku menantikan kebangkitan orang mati dan hidup di akhirat. amin. 6) KEANGGOTAAN GEREJA 1. Hierarki Gereja Gereja adalah persekutuan yang semua anggotanya sungguh-sungguh sederajat martabatnya, sederajat pula kegiatan umum dalam membangun Tubuh Kristus (LG 31). Ada fungsi khusus dalam Gereja yang diemban oleh hierarki, ada corak hidup khusus yang dijalani oleh biarawan-biarawati, ada fungsi dan corak hidup keduniaan yang menjadi medan khas para awam. Tetapi yang pokok adalah iman yang sama akan Allah dalam Kristus oleh Roh Kudus. Yang umum lebih penting daripada yang khusus. Berturut-turut akan dibicarakan tentang hierarki, lalu tentang hidup bakti dan awam. Gereja yang satu, kudus, Katolik, dan apostolik “di dunia ini disusun dan diatur sebagai serikat”, lebih khusus lagi sebagai suatu “serikat yang dilengkapi dengan jabatan hierarkis” (LG 8). Menurut ajaran resmi Gereja struktur hierarkis termasuk hakikat kehidupannya juga. Maka Konsili mengajarkan bahwa “atas penetapan ilahi para uskup menggantikan para rasul sebagai gembala Gereja” (LG 20). “Konsili suci ini mengajarkan dan menyatakan, bahwa Yesus Kristus, Gembala kekal, telah mendirikan Gereja kudus, dengan mengutus para rasul seperti Ia sendiri diutus oleh Bapa (lih. Yoh 20:21). Para pengganti mereka, yakni para uskup, dikehendaki-Nya menjadi gembala dalam Gereja-Nya hingga akhir zaman” (LG 18). Struktur hierarkis bukanlah sesuatu yang ditambahkan atau dikembangkan dalam sejarah Gereja saja. Menurut ajaran Konsili Vatikan II struktur itu dikehendaki Tuhan dan akhirnya berasal dari Tuhan Yesus sendiri. Tidak semua 46 orang Kristen dapat menerima ajaran Katolik ini. Ternyata struktur hierarkis Gereja merupakan kendala paling besar bagi kesatuan jemaat-jemaat Kristen. Pertanyaan yang paling pokok ialah, di mana dalam Kitab Suci dikatakan bahwa Yesus mendirikan hierarki sebagaimana terdapat di dalam Gereja sekarang? Struktur hierarkis Gereja sekarang terdiri dari dewan para uskup dengan paus sebagai kepalanya, dan para imam serta diakon sebagai pembantu para uskup. Dalam Kitab Suci belum ada struktur kepemimpinan yang terdiri dari uskup, imam, dan diakon. Peranan Petrus di antara para rasul tidak sama dengan kuasa dan kedudukan paus sekarang ini. 2. Prinsip Hierarki Maka pernyataan “atas penetapan ilahi para uskup menggantikan para rasul” harus dimengerti dengan baik. Yang dimaksudkan ialah bahwa dari hidup dan kegiatan Yesus timbullah kelompok orang yang kemudian berkembang menjadi Gereja, seperti yang dikenal sekarang. Proses perkembangan pokok itu terjadi dalam Gereja perdana atau Gereja para rasul, yakni Gereja yang mengarang Kitab Suci Perjanjian Baru. Jadi, dalam kurun waktu antara kebangkitan Yesus dan kemartiran St. Ignatius dari Antiokhia pada awal abad kedua, secara prinsip terbentuklah hierarki Gereja sebagaimana dikenal dalam Gereja sekarang. 3. Struktur Kepemimpinan (Hierarki) dalam Gereja : 1. Dewan Para Uskup dengan Paus sebagai Kepalanya Para uskup adalah pengganti para rasul. Tugas dari dewan para uskup adalah menggantikan dewan para rasul dan yang memimpin Gereja adalan dewan para uskup. Ketika Kristus mengangkat dua belas rasul, Ia membentuk mereka menjadi semacam dewan atau badan yang tetap. Sebagai ketua dewan, diangkatNya Petrus yang dipilih dari antara mereka. Sama seperti Santo Petrus dan para rasul lainnya yang atas penetapan Tuhan merupakan satu dewan para rasul, demikian pula Paus, pengganti Petrus, bersama para uskup, pengganti rasul, merupakan suatu himpunan yang serupa. 47 2. Paus Konsili Vatikan II menegaskan: “Adapun dewan atau badan para uskup hanyalah berwibawa, bila bersatu dengan imam agung di Roma, pengganti Petrus, sebagai kepalanya dan selama kekuasaan primatnya terhadap semua baik para gembala maupun kaum beriman, tetap berlaku seutuhnya.” Sebab Imam Agung di Roma berdasarkan tugasnya, yakni sebagai wakil Kristus dan gembala Gereja semesta, mempunyai kuasa penuh, tertinggi dan universal terhadap Gereja dan kuasa itu selalu dapat dijalankan dengan bebas. Kristus mengangkat Santo Petrus menjadi pemimpin para rasul.Paus, pengganti Petrus, adalah pemimpin para uskup. 3. Uskup Konsili Vatikan II merumuskan dengan jelas: “Masing-masing uskup menjadi asas dan dasar kelihatan bagi kesatuan dalam Gerejanya”. Tugas pokok uskup adalah mempersatukan dan mempertemukan umat. Tugas pemersatu itu dibagi menjadi tiga khusus yakni: tugas pewartaan, perayaan dan pelayanan. Tugas utama para uskup adalah pewartaan Injil. Uskup yaitu memimpin umat dalam kalangan pastoral keuskupan. 4. Pembantu Uskup: Imam dan Diakon Para Imam adalah wakil uskup disetiap jemaat setempat. Tugas konkret para imam adalah pewartaan, perayaan dan pelayanan umat. Para imam ditahbiskan untuk mewartakan Injil dan menggembalakan umat beriman. Imam merupakan “penolong dan organ para uskup” (Lumen Gentium 28) Didalam Gereja Katolik ada imam diosesan (sebutan yang sering dipakai imam praja) dan imam religius (ordo atau kongregasi). Imam diosesan adalah imam keuskupan yang terikat dengan salah satu keuskupan tertentu dan tidak termasuk ordo atau kongregasi tertentu. Imam religius (misalnya SJ, MSF, OFM, dsb) adalah imam yang tidak terikat dengan keuskupan tertentu, melainkan lebih terikat pada aturan ordo atau kongregasinya. Para Diakon; tingkat hierarki yang lebih rendah terdapat para diakon yang ditumpangi tangan bukan untuk imamat, melainkan untuk pelayanan. Diakon 48 adalah pembantu Uskup dan Imam dalam pelayanan terhadap umat beriman. Mereka ditahbiskan untuk mengambil bagian dalam imamat jabatan. Karena tahbisannya ini, maka seorang diakon masuk dalam kalangan hirarki. Di Gereja Katolik ada 2 macam Diakon, yaitu: 1) mereka yang dipersiapkan untuk menerima tahbisan Imam. 2) mereka yang menjadi Diakon untuk seumur hidupnya tanpa menjadi Imam. Catatan: “Kardinal” Kardinal bukan jabaran hirarkis dan tidak termasuk struktur hirarkis. Kardinal adalah penasehat Paus dan membantu Paus dalam tugas reksa harian seluruh Gereja. Mereka membentuk suatu dewan Kardinal. Jumlah dewan yang berhak memilih Paus dibatasi 120 orang yang di bawah usia 80 tahun. Seorang Kardinal dipilih oleh Paus secara bebas. Kardinal adalah merupakan gelar kehormatan. Kata “kardinal” berasal dari kata Latin”cardo” yang berarti “engsel”, dimana seorang Kardinal dipilih menjadi asisten-asisten kunci dan penasehat dalam berbagai urusan gereja. Kardinal dapat dipilih dari kalangan Imam ataupun Uskup. Di Indonesia telah ada 2 orang Kardinal, yaitu Yustinus Kardinal Darmojuwono Pr (alm.) dan Julius Kardinal Darmaatmaja SJ. 4. Fungsi Khusus Hierarki Fungsi khusus hirarki adalah: a. Menjalankan tugas gerejani yakni tugas-tugas yang secara langsung dan eskplisit menyangkut kehidupan beriman Gereja seperti melayani sakramen-sakramen, mengajar agama dan sebagainya. b. Menjalankan tugas kepemimpinan dalam komunikasi iman. Hirarki mempersatukan umat dalam iman dengan petunjuk, nasihat dan teladan. 5. Corak Kepemimpinan dalam Gereja a. Kepemimpinan dalam Gereja merupakan suatu panggilan khusus, dimana campur tangan Tuhan merupakan unsur yang dominan. Oleh sebab itu, kepemimpinan dalam Gereja tidak diangkat oleh manusia berdasarkan suatu bakat, kecakapan atau 49 prestasi tertentu. Kepemimpinan dalam Gereja tidak diperoleh oleh kekuatan manusia sendiri. “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu.” Kepemimpinan dalam masyarakat dapat diperjuangkan oleh manusia, tetapi di dalam Gereja tidaklah demikian. b. Kepemimpinan dalam Gereja bersifat mengabdi dan melayani dalam arti semurni-murninya, walaupun ia sungguh mempunyai wewenang yang berasal dari Kristus sendiri. Kepemimpinan gerejani adalah kepemimpinan untuk melayani, bukan untuk dilayani. Kepemimpinan untuk menjadi orang yang terakhir bukan yang pertama. Kepemimpinan untuk mencuci kaki sesama saudara. c. Kepemimpinan hierarki berasal dari Tuhan, maka tidak dapat dihapus oleh manusia. 6. Keanggotaan Gereja dalam persekutuan Umat Gereja sebagai Persekutuan Umat Allah untuk membangun Kerajaan Allah di bumi ini. Semua anggota memiliki martabat yang sama, namun berbeda dari segi fungsinya.Berikut adalah macam-macam golongan dalam Gereja : 1. Golongan Hierarki Hierarki adalah orang-orang yang ditahbiskan untuk tugas kegembalaan.Mereka menjadi pemimpin dan pemersatu umat, sebagai tanda efektif dan nyata dari otoritas Kristus sebagai kepala umat. Tugas-tugas hierarki adalah sebagai berikut: a. Menjalankan tugas kepemimpinan dalam komunikasi iman. Hierarki mempersatukan umat dalam iman, tidak hanya dengan petunjuk, nasehat dan teladan tetapi juga dengan kewibawaan dan kekuasaan kudus. b. Menjalankan tugas-tugas gerejani, seperti merayakan sakramen, mewartakan sabda dan sebagainya. 50 Hierarki Gereja Katolik dimulai dari : 1) Paus. “Konsili Suci mengajarkan, bahwa atas penetapan ilahi, para uskup menggantikan para rasul sebagai gembala Gereja” (Lumen Gentium 20). Lumen Gentium adalah Konstitusi Dogmatis Konsili Vatikan II tentang Gereja. 2) Uskup yaitu memimpin umat dalam kalangan pastoral keuskupan. Tugasnya adalah tugas mengajar, tugas menguduskan, tugas menggembalakan umat. 3) Imammerupakan “penolong dan organ para uskup” (Lumen Gentium 28) Didalam Gereja Katolik ada imam diosesan (sebutan yang sering dipakai imam praja) dan imam religius (ordo atau kongregasi). a. Imam diosesan adalah imam keuskupan yang terikat dengan salah satu keuskupan tertentu dan tidak termasuk ordo atau kongregasi tertentu. b. Imam religius (misalnya SJ, MSF, OFM, dsb) adalah imam yang tidak terikat dengan keuskupan tertentu, melainkan lebih terikat pada aturan ordo atau kongregasinya. 4) Diakon adalah pembantu Uskup dan Imam dalam pelayanan terhadap umat beriman. Mereka ditahbiskan untuk mengambil bagian dalam imamat jabatan. Karena tahbisannya ini, maka seorang diakon masuk dalam kalangan hirarki. Di Gereja Katolik ada 2 macam Diakon, yaitu : a. mereka yang dipersiapkan untuk menerima tahbisan Imam b. mereka yang menjadi Diakon untuk seumur hidupnya tanpa menjadi Imam 5) Kardinal adalah merupakan gelar kehormatan. Kata “kardinal” berasal dari kata Latin”cardo” yang berarti “engsel”, dimana seorang Kardinal dipilih menjadi asisten-asisten kunci dan penasehat dalam berbagai urusan gereja. Kardinal dapat dipilih dari kalangan Imam ataupun Uskup. Di Indonesia telah ada 2 orang Kardinal, yaitu Yustinus Kardinal Darmojuwono Pr (alm.) dan Julius Kardinal Darmaatmaja SJ. 51 2. Biarawan-Biarawati Seorang biarawan/biarawati adalah anggota umat yang dengan mengucapkan kaul kemiskinan, ketaatan dan keperawanan ingin selalu bersatu dengan Kristus dan menerima pola nasib hidup Yesus Kristus secara radikal dan dengan demikian mereka menjadi tanda nyata dari hidup dalam Kerajaan Allah kelak.Kaul-kaul adalah sesuatu yang khas dalam kehidupan membiara. Dengan menghayati kaulkaul kebiaraan itu, para biarawan/biarawati menjadi tanda : a. Yang mengingatkan kita bahwa kekayaan, kekuasaan dan hidup keluarga walaupun sangat bernilai, tetapi tidak absolut dan abadi, maka kita tidak boleh mendewa-dewakannya. b. Yang mengarahkan kita pada Kerajaan Allah dalam kepenuhannya kelak. Para suster biasanya bekerja di bidang pendidikan (formal dan nonformal), kesehatan, dan pelayanan sosial di lingkungan gereja atau masyarakat umum seperti suster-suster CB, SSPS, JMJ, SMSJ, SND, PRR, dsb). Ada juga pada beberapa tarekat religius biarawati yang mengkhususkan kepada pelayanan religius melalui doa (dalam gereja Katolik dikenal dengan biara suster kontemplatif) seperti suster-suster Ordo Karmel Tak Berkasut (OCD) dan Suster SSPS Adorasi Abadi. Seperti halnya pastor, biarawati tidak menikah karena telah mengucapkan atau mendeklarasikan 3 kaul yakni kaul kemurnian, kaul ketaatan, dan kaul kemiskinan dalam suatu komunitas religius 3. Kaum Awam Kaum awam adalah semua orang beriman Kristen yang tidak termasuk dalam golongan tertahbis dan biarawan-biarawati.Mereka adalah orang-orang yang dengan pembaptisan menjadi anggota Gereja dan dengan caranya sendiri mengambil bagian dalam tugas Kristus sebagai imam, nabi dan raja. Bagi kaum awam, ciri keduniaan adalah khas dan khusus.Mereka mengemban kerasulan dalam tata dunia, baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat, entah sebagai ayah-ibu, sebagai petani, pedagang, camat, polisi dan sebagainya. 52 Spiritualitas kaum awam dapat diartikan sebagai cara seorang awam menjawab panggilan Allah dalam tugasnya sehari-hari di tengah dunia nyata dewasa ini. Kaum Awam dapat di definisikan secara : a. Definisi teologis : Awam adalah warga negara yang tidak ditahbiskan. jadi awam meliputi biarawan seperti suster dan bruder yang tidak menerima tahbisan suci. b. Definisi tipologis : Awam adalah warga gereja yang tidak ditahbiskan dan juga bukan biarawan biarawati. Peranan Awam : a. Kerasulan Internal : Kerasulan membangun jemaat yang diperankan oleh jajaran hirarki walaupun awam dituntut pula untuk mengambil bagian didalamnya. b. Kerasulan eksternal : Kerasulan dalam tata dunia yang lebih diperani oleh para awam. Bagi kaum awam, perutusan Gereja Katolik bukan saja dibidang liturgi dan pewartaan, tetapi juga dibidang pengembalaan. Misalnya sebagai: a. Pengurus Dewan Paroki Tugasnyaadalah memikirkan, merencanakan, memutuskan dan mempertanggung-jawabkan hal-hal yang bermanfaat bagi kehidupan dan karya paroki. Misalnya kegiatan pewartaan sabda, perayaan liturgi dan membangun masyarakat. b. Pengurus Wilayah atau Stasi Tugasnya adalah mengkoordinasi kegiatan antar lingkungan yang berada didalam wilayah Dewan Parokinya. c. Pengurus Lingkungan Tugasnya adalah menampung dan menyalurkan masalah-masalah yang ada di lingkungan kepada Dewan Paroki atau Pastor Parokinya. Juga mengadakan pendataan dalam lingkungan atau kelompok dan mengadakan pertemuanbersama dengan Pengurus Kelompok.L d. Pengurus Kelompok Tugasnya adalah menjadi tumpuan utama dan pertama untuk mengembangkan kehidupan umat Katolik. Merekalah yang melakukan berbagai program lingkungan dalam rangka pembinaan umat. 53 Dengan beragamnya anggota serta perannya diharapkan tidak saling menguasai, melecehkan atau menjatuhkan satu sama lain, namun saling melengkapi serta membantu agar tujuan untuk mewartakan kabar baik dapat tercapai dan semua orang dapat hidup selamat dan bahagia. 7) TUGAS GEREJA A. Tugas Mewartakan 1. Dasar Gereja sebagai Pewarta Sabda Dalam diri Yesus dari Nazaret, Sabda Allah tampak secara konkret manusiawi.Penampakan itu merupakan puncak seluruh sejarah pewahyuan Sabda Allah. Tetapi oleh karena Sabda itu sudah menjelmakan diri dalam sejarah dan tidak bisa tinggal dalam sejarah untuk selamanya, maka untuk mempertahankan hasilnya bagi semua orang, Sabda itu harus menciptakan bentuk-bentuk lain, yang di dalamnya Ia bisa hadir dan berbicara. Semua bentuk baru yang muncul sesudahnya, pada hakikatnya berbeda dengan Sabda asli tetapi berasal darinya dan mengandung dayanya. Sabda-sabda itu merupakan gema Sabda Yesus Kristus. Sama seperti sebelum penjelmaan, begitu juga sesudahnya Sabda Allah tampak sebagai tanda manusiawi. Kendati begitu, Sabda sesudah penjelmaan lain daripada Sabda sebelumnya. Sebelum Kristus, Sabda Allah terutama diwarnai oleh janji, sedangkan sesudah penjelmaan ada juga sifat janji namun yang lebih menonjol adalah sifat kesaksian. Janji yang telah terpenuhi oleh Yesus Kristus harus disaksikan sampai pemenuhannya dalam Kerajaan Bapa. Dalam kesaksian itu, Kristus, Sabda sejati hadir di dalam sejarah manusia sebagai sarana penyelamatan. Bentuk baru Sabda itu adalah Gereja. Kristus, Sabda Allah, menciptakan Gereja. Lewat Gereja Ia bisa hadir dan berbicara dalam sejarah manusia. Di pihak 54 lain, Gereja pada hakikatnya tidak lain daripada jawaban atas panggilan Yesus Kristus, Sabda Allah. Seluruh hidup dan keberadaannya merupakan jawaban. Maka sesungguhnya bisa dikatakan Gereja seluruhnya merupakan Sabda. Di dalamnya Sabda Allah yang abadi bergema. Karena itu dapat dikatakan bahwa Gereja seluruhnya merupakan pewartaan dan kesaksian tentang Yesus Kristus, Sabda, dan Wahyu Allah. Jadi, Gereja adalah Sabda. Dalam pengertian ini semua eklesiologi yang menggambarkan Gereja sebagai “pewarta” mempunyai dasar yang wajar, kalau pewartaan dimengerti dalam arti luas yang menyangkut seluruh hidup Gereja. 2. Bentuk-Bentuk Sabda Allah dalam Gereja a. Pewartaan Para Rasul sebagai Daya yang Membangun Gereja Dasar eksistensi Gereja adalah Yesus Kristus sebagai Sabda Allah yang menyelamatkan. Tetapi secara empiris-historis Gereja dibangun oleh para rasul dalam kuasa Roh Kudus. Mereka mendirikan Gereja menurut kehendak Allah berdasarkan peristiwa penyelamatan dalam diri Yesus Kristus. Karena itu mereka juga disebut dasar Gereja. Sabda yang disampaikan kepada mereka supaya diteruskan dalam pewartaan ialah bagian asasi karya pendirian Gereja. Memang dalam arti tertentu Gereja sebagai hasil karya penyelamatan Kristus telah ada sebelum para rasul. Bahkan mereka sendiri adalah Gereja. Tetapi mereka mempunyai peranan fundamental dalam proses pengembangan Gereja yang pada intinya sudah ada sebelumnya. Hubungan mereka dengan Yesus Kristus dan dengan Gereja menyebabkan pewartaan/sabda para rasul menjadi sangat fundamental bagi pembangunan Gereja. Yesus Kristus itu sabda sejati. Gereja merupakan gema sabda itu dalam rupa-rupa bentuk. Salah satu bentuk yang paling fundamental dari antaranya adalah sabda rasul yang mengembangkan dan membangun Gereja. Bentuk historis Kristus-Sabda sebagai dasar Gereja adalah sabda rasul-rasul. Bahkan kita mengenal Kristus, Sang Sabda, hanya melalui kesaksian – kesaksian mereka. 55 Sabda para rasul itu bukan sekedar memberi keterangan, melainkan berdaya guna karena Kristus sendiri hadir dan bekerja di dalamnya. Sabda itu merupakan sabda Allah dalam sabda manusia dan tetap melaksanakan apa yang diungkapkan. Hal ini dimungkinkan, karena sama seperti seorang nabi, seorang rasul pun hidup dalam suatu panggilan khusus dan diberi kuasa khusus mewartakan Sabda Allah secara berwenang. Berdasarkan panggilan khusus ini, Roh Kudus menjamin kebenaran dan daya guna pewartaan rasul-rasul. Dengan demikian, menjadi pewarta resmi tidak berarti bisa menguasai Sabda melainkan menempatkan Sabda sebagai tuan atasnya. Sabda tetap berkuasa atas pewarta, dan pewarta tidak bisa lebih daripada menjadi pelayan Sabda. Bahkan seluruh eksistensinya dituntut oleh tugas pewartaan. Sebagai dasar Gereja, sabda rasul-rasul membawa suatu konsekuensi lain lagi. Sabda rasul harus dipertahankan Gereja sebagai norma dan sumber hidup. Hal ini hendaknya dilihat dalam kerangka perkembangan jabatan gerejawi di dalam fungsinya mempertahankan ajaran yang benar. Soal ini muncul karena de facto, pewartaan Gereja sesudah rasul-rasul bercorak lain dari pewartaan para rasul. Pewartaan otoritatif dari kesaksian para rasul ditafsirkan dan disaksikan kembali oleh Gereja sekarang, tetapi daya guna Sabda Allah dalam pewartaan Gereja tidak kurang daripada dalam pewartaan para rasul. Daya guna itu dijamin oleh Roh Kudus yang hidup di dalam Gereja dan yang tetap sama. b. Sabda dalam Kitab Suci sebagai Kesaksian Normatif Proses pembentukan Kitab Suci Perjanjian Baru itu berlangsung selama zaman apostolik. Di mana-mana muncul tulisan-tulisan yang berisikan pewartaan mengenai Yesus Kristus, Tuhan kita, Sabda Allah yang mempribadi. Tulisan-tulisan itu dikumpulkan Gereja dalam suatu proses yang agak lama dan dijadikan kanon Kitab Suci yang melengkapi Kitab Suci Perjanjian Lama yang sudah sejak semula dihargai Gereja sebagai Sabda Allah. Dengan demikian, wahyu Allah melalui Yesus Kristus sungguh selesai dengan kematian rasul terakhir, meskipun sebagian kitab-kitab Perjanjian Baru 56 menurut kanon, barangkali baru ditulis setelah kematian rasul terakhir. Namun Gereja yakin, tulisan-tulisan itu berisikan pewartaan para rasul yang asli. Gereja bisa mengetahuinya karena kesadaran iman yang tetap hidup di dalamnya yang juga berasal dari pewartaan para rasul. 3. Magisterium atau Wewenang Mengajar Dari satu pihak Konsili Vatikan II mengajarkan bahwa “Kristus, Nabi Agung, menunaikan tugas kenabian-Nya bukan saja melalui hierarki yang mengajar atas nama dan dengan kewibawaan-Nya, melainkan juga melalui para awam” (LG 35). Dari pihak lain dikatakan, bahwa “di bawah bimbingan wewenang mengajar (magisterium), yang dipatuhi dengan setia, umat Allah berpegang teguh kepada iman” (LG 12). Umat Allah hanya dapat menjalankan tugas kenabiannya dalam kepatuhan kepada pimpinan Gereja. Begitu juga Roh Kudus “di kalangan umat dari segala lapisan membagi-bagikan rahmat-rahmat istimewa”. Tetapi “keputusan tentang tulennya karisma-karisma itu, begitu pula tentang pengamalannya secara teratur, termasuk wewenang mereka yang bertugas memimpin dalam Gereja” (LG 12). Dalam bidang pewartaan dan berhubungan dengan rahmat khusus kelihatan adanya suatu ketegangan antara umat Allah dan para pemimpinnya, khususnya karena soal “wewenang”, Maka perlu diingat kembali bahwa tugas hierarki adalah “tugas pemersatu”. “Wewenang mengajar” tidak berarti bahwa dalam pewartaan hanya hierarkilah yang aktif, sedang yang lain tinggal menerima dengan pasif saja. Juga dalam hal pewartaan, hierarki bertugas menjaga dan memajukan kesatuan serta komunikasi di dalam umat Allah. Maka, “hendaklah para gembala hierarkis mengakui dan memajukan martabat serta tanggung jawab kaum awam dalam Gereja. Hendaklah nasihat mereka yang bijaksana dimanfaatkan dengan suka hati” (LG 37). Menjaga kesatuan iman dan ajaran tidak berarti indoktrinasi, melainkan konsultasi. Iman tidak sama dengan ajaran. Karena itu mengajar tidak sama dengan mewartakan. 57 Oleh karena itu Konsili Vatikan II memulai uraiannya mengenai tugas pengajaran hierarki dengan pernyataan bahwa “di antara tugas-tugas utama para uskup pewartaan Injil-lah yang terpenting” (LG 25). Dalam kerangka itu mereka juga “pengajar otentik (yang mengemban kewibawaan Kristus), yang mewartakan kepada umat iman yang harus dipercayai dan diterapkan pada perilaku manusia”. Dalam tugas itu mereka adalah “saksi kebenaran ilahi dan Katolik”. Dan “kalau mereka dalam ajaran otentik tentang perkara iman dan kesusilaan sepakat bahwa suatu ajaran tertentu harus diterima secara definitif, mereka memaklumkan ajaran Kristus tanpa dapat sesat“. Tidak segala ajaran hierarki mempunyai jaminan kebenaran itu. “Ciri tidak dapat sesat itu, yang atas kehendak Penebus ilahi dimiliki Gereja-Nya dalam menetapkan ajaran tentang iman atau kesusilaan, ada pada Imam Agung di Roma, kepala Dewan para Uskup, bila selaku gembala dan guru tertinggi segenap umat beriman, menetapkan ajaran tentang iman atau kesusilaan dengan tindakan definitif. Sifat tidak dapat sesat itu ada pula pada badan para uskup, bila mereka melaksanakan wewenang tertinggi untuk mengajar bersama dengan Pengganti Petrus”. Jadi, ada empat syarat: Ajaran itu harus menyangkut iman dan kesusilaan; Harus bersifat “ajaran otentik”, artinya jelas dikemukakan dengan kewibawaan Kristus; Dinyatakan dengan tegas atau definitif (tidak bisa diganggu-gugat); Disepakati bersama. Yang terakhir ini secara khusus menyangkut pernyataan para uskup sebagai dewan. Kalau paus bertindak sebagai ketua dewan, ia tidak membutuhkan persetujuan eksplisit dari dewan. Namun ia “harus menggunakan upaya-upaya yang serasi”. Kharisma ketidaksesatan itu bukanlah sesuatu yang baru. Wewenang mengajar termasuk tugas kepemimpinan hierarki. Agar hierarki benar-benar dapat menjalankan tugas itu sedemikian rupa sehingga “seluruh 58 kaum beriman tidak dapat sesat dalam iman” (LG 12), harus ada jaminan bahwa hierarki memimpin umat dengan baik. Ini tidak berarti bahwa hierarki tidak pernah salah, tetapi dengan empat syarat yang telah disebut, umat Allah dengan tenang dan aman dapat mempercayakan diri kepada hierarki sebagai guru iman. Iman akan Gereja berarti juga iman akan pimpinan Gereja, berarti pula kepercayaan akan ajaran Gereja, yang “harus dihormati oleh semua sebagai saksi kebenaran ilahi dan Katolik” (LG 25). Maka juga dikatakan, dengan mengutip St. Agustinus, bahwa kepastian iman itu tampak “melalui perasaan iman segenap umat, bila dari para uskup hingga para awam mereka secara keseluruhan menyatakan kesepakatan tentang perkara-perkara iman dan kesusilaan” (LG 12) 4. Pola-pola Pewartaan a. Teologi Tugas wewenang mengajar Gereja ialah “menafsirkan secara otentik sabda Allah yang tertulis dan diturunkan” (DV 10), artinya sabda Allah yang disampaikan dalam Kitab Suci dan Tradisi. Ciri khas hierarki dalam hal mengajar ialah melaksanakannya “secara otentik”, yaitu dengan wewenang atau atas nama Kristus. Tetapi yang “menafsirkan sabda Allah yang tertulis dan diturunkan” bukan hanya hierarki. “Para awam dengan tekun berusaha makin mendalami arti kebenaran yang diwahyukan” juga (LG 35). “Bahkan dihimbau, agar lebih banyak kaum awam menerima pendidikan yang memadai dalam ilmu-ilmu gerejawi. Dan hendaknya mereka diberi kebebasan yang sewajarnya untuk mengadakan penyelidikan, mengembangkan pemikiran serta mengutarakan pandangan”. Sebab “lainlah khazanah iman atau kebenarankebenaran iman sendiri, lain lagi cara mengungkapkannya” (GS 62). Dan “pada setiap bangsa ditumbuhkan kemampuan untuk mengungkapkan warta tentang Kristus dengan caranya sendiri” (GS 44). Secara khusus dan ilmiah, teologi “menyelidiki dalam terang iman segala kebenaran yang tersimpan dalam rahasia Kristus” (DV 24). Tugas teologi ialah “mengadakan penelitian-penelitian lebih mendalam di pelbagai 59 bidang, sehingga tercapailah pengertian yang makin mendalam tentang perwahyuan kudus, makin terbukalah pusaka kebijaksanaan Kristiani, warisan para leluhur, makin berkembanglah dialog dengan saudara-saudara terpisah dan dengan umat beragama lain, dan juga masalah-persoalan yang timbul dari kemajuan ilmu-pengetahuan mendapat jawabannya” (GE 11). Walaupun para pemimpin Gereja didorong menekuni teologi sebagai usaha ilmiah memahami sabda Allah, namun teologi bukanlah tugas dan fungsi hierarki ataupun kegiatan gerejawi. Setiap orang beriman diajak merefleksikan imannya secara metodis dan bertanggung jawab. Oleh sebab itu, bisa terjadi pertentangan atau bahkan konflik antara rumusan iman yang dikemukakan oleh pimpinan dan perumusan yang berasal dari refleksi teologis. Kongregasi untuk Ajaran Iman memberikan instruksi mengenai hal itu pada bulan Juni 1990. Di dalamnya dikatakan, bahwa tugas para ahli teologi ialah “secara khusus mencari pemahaman lebih mendalam mengenai sabda Allah yang terdapat dalam Kitab Suci dan diteruskan dalam Tradisi hidup Gereja. Tugas ini dilakukan dalam kerjasama dengan wewenang mengajar, yang dibebani tanggung jawab pemeliharaan khazanah iman”. Kerjasama itu secara khusus ditegaskan dalam instruksi itu, dan ditandaskan bahwa teologi berperan khusus dalam rangka komunikasi iman. Tetapi teologi berupa ilmu dan oleh karena itu harus memperhatikan tuntutan ilmiah yang umum. Namun ditegaskan pula bahwa kebebasan teologi janganlah menjadi penghalang kesatuan iman dan kesatuan Gereja. Khususnya mengenai mereka yang diberi tugas mengajar teologi, instruksi menegaskan kembali ketetapan KHK kan. 812, “Mereka yang memberikan kuliah-kuliah teologi dalam lembaga perguruan tinggi manapun, haruslah mempunyai mandat dari otoritas gerejawi yang berwewenang”. Mereka bukan hanya ahli teologi, melainkan juga petugas gerejawi. Tugas hierarki dan tugas teologi memang berbeda. Hierarki mempunyai tugas struktural dalam Gereja, yang pokoknya tugas kepemimpinan demi kesatuan Gereja. Dalam kerangka itu hierarki mempunyai tugas khusus 60 pengajaran dan perumusan iman. Yang pokok ialah tugas pemersatu; perumusan iman adalah sarana. Sebaliknya tugas pokok teologi ialah merumuskan iman sesuai dengan situasi kehidupan Gereja dan tuntutan zaman. Sebab “di setiap kawasan sosio-budaya yang luas didoronglah refleksi teologis, untuk – dalam terang Tradisi Gereja semesta – meneliti secara baru peristiwaperistiwa maupun amanat sabda yang telah diwahyukan oleh Allah, dicantumkan dalam Kitab Suci, dan diuraikan oleh para Bapa serta Wewenang Mengajar Gereja” (AG 22). Yang secara resmi diajarkan di dalam Gereja, khususnya oleh pimpinan Gereja universal, perlu dirumuskan kembali sesuai dengan situasi dan kondisi Gereja setempat. Tugas itu ditanggung terutama oleh para ahli teologi. Wewenang mereka tidak diperoleh dari kedudukan sebagai pimpinan Gereja, tetapi dari keahlian ilmiah. Maka teologi merumuskan iman dari bawah, itulah tugasnya yang utama, sedangkan hierarki merumuskan iman dari atas dalam rangka tugas kepemimpinan. 5. Pewarta Sabda Tugas pewartaan seperti yang juga dialami para nabi dan Kristus sendiri tidaklah ringan. Tugas membangun umat Kristen menuntut keterlibatan seluruh eksistensi diri pewarta. Sebagai pewarta Yesus, ia harus mengambil bagian dalam nasib Yesus. “Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami” (2Kor 4:10). Jadi dituntut adanya penyesuaian eksistensial antara pewarta dan Dia yang diwartakan. Dalam penyesuaian itu, Kristus, Sabda Allah dimaklumkan dengan perkataan dan seluruh kehidupan pewarta. Oleh sebab itu menjadi pewarta merupakan suatu panggilan. Itu berarti bahwa seorang pewarta dituntut dekat dengan Dia yang diwartakannya; nasib Yang diwartakan akan menjadi nasibnya; penderitaan menjadi bagian hidupnya; ia diutus dan “diserahkan” kepada umat yang mendengar pewartaannya dan harus memiliki komitmen utuh kepada umat. Tetapi siapakah pewarta itu? 61 Pewartaan itu tugas dan panggilan setiap orang yang percaya kepada Kristus. Secara khusus tugas ini dipercayakan kepada mereka yang termasuk golongan imam atau para biarawan-biarawati yang dengan status hidup mereka mau memberi kesaksian tentang kebenaran Injil. Lebih khusus lagi harus disebut “barisan para katekis, baik pria maupun wanita, yang dijiwai semangat merasul dan dengan banyak jerih payah memberi bantuan istimewa dan yang sungguh perlu demi penyebarluasan iman Gereja” (AG 17). Para katekis itu biasanya berstatus awam, tetapi dengan tugas pewartaan resmi mereka menjalankan fungsi pewartaan yang secara khusus dipercayakan kepada imam. Oleh karena itu Konsili juga menganjurkan supaya kepada mereka “diberikan perutusan gerejawi yang resmi, dalam suatu ibadat liturgis yang dirayakan di muka umum” (AG 17). Untuk itu mereka juga harus diberi pendidikan yang memadai. 6. Alat-Alat Komunikasi Dalam pewartaan dewasa ini alat-alat komunikasi mempunyai tempat yang istimewa. Alat-alat komunikasi, seperti media cetak, film, radio, televisi, internet, dan sebagainya, oleh Konsili Vatikan II diakui sebagai penemuan teknologi modern “yang membuka peluang-peluang baru untuk menyalurkan dengan lancar segala macam berita, gagasan, dan pedoman” (IM 1). Oleh karena itu Konsili juga menganjurkan agar alat-alat komunikasi “dimanfaatkan secara efektif dalam aneka macam karya kerasulan” (IM 13), khususnya dalam tugas pewartaan. Inilah cara komunikasi yang dewasa ini lazim dipakai dalam segala macam usaha propaganda, indoktrinasi, dan penyebaran informasi. Janganlah Gereja menjadi asing terhadap dunia komunikasi ini, melainkan mengambil manfaat perkembangan teknik demi pewartaan Injil dan kesaksian iman. Sekaligus Gereja ingin membimbing orang supaya bersikap kritis dan dewasa terhadap pengaruh dan kuasa media massa. Penyiaran berita harus sesuai dengan kebenaran. Pengaruh propaganda dan indoktrinasi tidak boleh menyangkal atau menghalang-halangi tanggung jawab dan kebebasan berpikir. Pedoman-pedoman yang disiarkan hendaknya benar- 62 benar membantu orang dan tidak hanya memaksakan kehendak mereka yang berkuasa atas alat-alat komunikasi. Alat-alat ini mempunyai pengaruh luar biasa besarnya atas pembentukan pendapat umum. Maka Gereja mengajak semua orang ikut berjaga supaya alat-alat komunikasi jangan menyelewengkan pandangan masyarakat dari kebenaran prinsip-prinsip moral. Sebaiknya hendaknya melalui alat-alat komunikasi kebenaran dari Allah semakin diketahui oleh banyak orang dan menjadi pegangan hidup dalam pembangunan masyarakat. B. Tugas Pengudusan dalam Perayaan Konsili Vatikan II menyebut Gereja “persekutuan iman, harapan dan cinta” (LG 8), “persekutuan persaudaraan orang yang menerima Yesus dengan iman dan cinta kasih” (GS 32). Maka sesungguhnya “Roh Kuduslah yang menciptakan persekutuan umat beriman dengan menghimpun mereka dalam Kristus, sebagai prinsip kesatuan Gereja” (UR 2), sebab oleh Roh Kudus “kasih Allah dicurahkan ke dalam hati kita” (Rm 5:5). Tetapi Konsili juga mengajarkan bahwa Gereja dibentuk “karena perpaduan unsur manusiawi dan ilahi” (LG 8). Kesatuan Gereja bukan hanya karya Roh Kudus, tetapi juga hasil komunikasi antarmanusia, khususnya perwujudan komunikasi iman di antara para anggota Gereja. Komunikasi ini terjadi terutama dalam perayaan iman. Maka dikatakan bahwa “penampilan Gereja yang istimewa terdapat dalam keikutsertaan penuh dan aktif seluruh umat kudus Allah dalam perayaan liturgi” (SC 41). Dan Gereja sendiri disebut “persekutuan keimaman” (LG 11), khususnya “persekutuan di sekitar altar” (LG 26). Komunikasi iman mengandaikan pengungkapan iman sebagai sarana komunikasi, Pengungkapan iman bukan hanya meliputi perayaan liturgi atau ibadah. Segala pernyataan iman yang khusus dan eksplisit, termasuk perumusan dan pengajaran iman, merupakan pengungkapan iman. Maka pengungkapan iman ini harus dibedakan dari perwujudan iman. Kedua-duanya adalah penghayatan iman. Yang disebut “pengungkapan” iman ialah segala pernyataan 63 iman dalam bentuk yang khusus dan eksplisit, terutama dalam bentuk pewartaan atau pengajaran dan perayaan Gereja. Yang disebut “perwujudan” iman ialah segala perkataan dan tindakan yang memang dijiwai oleh semangat iman, namun tidak secara khusus dan jelas memperlihatkan sikap iman itu. Di situ iman memang dihayati, tetapi tidak menjadi kentara, karena bentuk penghayatan iman merupakan kegiatan dan pergaulan yang “biasa”, yang “umum”, yang tidak memperlihatkan kekhususan iman Kristen dan Katolik. Sebaliknya dalam bidang pewartaan dan perayaan, iman Kristen dinyatakan secara khusus dan jelas. Maka kegiatan gerejawi ini disebut “pengungkapan iman”. Karena iman berarti hubungan dengan Allah, bidang pengungkapan iman itu juga disebut bidang “sakral”, yang dikhususkan bagi Allah. Di dalam bidang pengungkapan iman biasanya masih dibedakan antara bidang pewartaan yang telah dibahas dan bidang perayaan yang akan diuraikan sekarang. Bidang itu adalah bidang doa dan kebaktian. 1. Doa di dalam Gereja dan Doa Gereja Perlu dibedakan antara doa pribadi dan doa bersama. Yang pertama dapat disebut “doa di dalam Gereja”, sedangkan yang kedua adalah “doa Gereja”. Dikatakan bahwa doa tidak sama dengan mendaraskan rumus-rumus hafalan melainkan pertama-tama dan terutama pernyataan iman di hadapan Allah. Doa berarti mengarahkan hati kepada Tuhan. Maka doa tidak membutuhkan banyak kata, dan tidak terikat pada waktu dan tempat tertentu, tidak menuntut sikap badan atau gerak-gerik yang khusus. Yang berdoa adalah hati, bukan badan. Maka yang berdoa sebetulnya juga bukan manusia, melainkan Roh Allah sendiri (lih. Rm 8:26). Itu berlaku untuk doa pada umumnya, dan juga untuk doa di dalam Gereja. Tetapi untuk doa Gereja sebagai doa bersama, perlu sedikit keseragaman demi kesatuan doa dan pengungkapan iman. 64 Doa Gereja merupakan doa resmi atau “liturgi”, yang dapat disebut “kebaktian” (sebab kata Yunani leitourgia berarti “kerja bakti”) atau lebih baik “ibadat resmi Gereja”. Yang pokok bukan sifat “resmi” atau kebersamaan, melainkan kesatuan Gereja dengan Kristus dalam doa. Dengan demikian, liturgi adalah “karya Kristus Imam Agung, serta Tubuh-Nya, yaitu Gereja”. Oleh karena itu liturgi tidak hanya merupakan “kegiatan suci yang sangat istimewa”, tetapi juga wahana utama untuk menghantar umat Kristen ke dalam persatuan pribadi dengan Kristus (SC 7). Memang, “liturgi suci tidak mencakup seluruh kegiatan Gereja” (SC 9), tetapi dalam kerangka doa Gereja, liturgi merupakan pengantar utama ke dalam misteri Kristus, sebab dalam liturgi orang berdoa bersama Kristus, mengambil bagian dalam penyerahan Kristus kepada Bapa-Nya. Liturgi tidak hanya menawarkan aneka bentuk dan rumus doa, tetapi mau menjadi tempat orang merasakan dan menghayati komunikasi dengan Bapa, bersama Putra, dalam Roh Kudus. Inti pokok doa adalah kesatuan pribadi dengan Putra dalam penyerahan-Nya kepada Bapa. Itulah sebabnya Gereja selalu berdoa “dengan perantaraan Tuhan kami Yesus Kristus”. Itu tidak mungkin tanpa Roh Kudus. Maka doa Kristen adalah suatu gerakan dinamis: dalam Roh, bersama Kristus, menghadap Bapa. Liturgi “bukanlah seluruh kegiatan Gereja”. Liturgi selalu harus berhubungan dengan Kitab Suci, sebagai kesaksian pokok mengenai Allah dan karya penyelamatan-Nya, dengan ajaran Gereja dan terutama dengan kehidupan jemaat. Liturgi termasuk pengungkapan iman. Iman berarti hubungan dengan Allah. Maka pokok liturgi adalah pengungkapan hubungan dengan Allah, dengan tekanan pada kehormatan dan kemuliaan Allah. Oleh karena itu liturgi pertama-tama merupakan pujian Tuhan. Tetapi kemuliaan Allah tidak pernah lepas dari segi lain iman, yaitu pengudusan manusia, sehingga liturgi selalu 65 mempunyai dua segi itu: kemuliaan Allah dan pengudusan manusia. Liturgi itu pertemuan keselamatan dengan Allah, dalam Kristus, oleh Roh Kudus. Maka doa “Bapa kami”, yakni doa Yesus kepada Bapa-Nya tetap merupakan suri-teladan segala doa liturgis. Tetapi struktur pokok liturgi terdapat dalam Ekaristi, sebagaimana akan diuraikan di bawah ini. Liturgi bukan hanya pengulangan doa Yesus atau lanjutan ibadah Yahudi. Liturgi berkembang dalam sejarah, dan seharusnya tetap berkembang, sesuai dengan kekhasan unsur-unsur perayaan dalam kebudayaan Gereja setempat, sebab walaupun kebersamaan bukan inti pokok liturgi, melainkan kebersamaan merupakan unsur penting juga, dan penghayatan iman bersama tidak mungkin tanpa pengungkapan yang sesuai. Dalam hal ini ajaran Konsili Vatikan II jelas sekali: “Umat beriman janganlah menghadiri misteri iman sebagai orang luar atau penonton yang bisu, melainkan sedemikian rupa sehingga melalui upacara dan doa-doa mereka memahami misteri itu dengan baik, dan ikut-serta penuh khidmat dan secara aktif. Hendaknya mereka dengan rela hati menerima pelajaran dari sabda Allah, disegarkan oleh santapan Tubuh Tuhan, dan bersyukur kepada Allah” (SC 48). Dalam Konstitusi mengenai Liturgi, Konsili Vatikan II tidak hanya berbicara mengenai doa dan perayaan kebaktian, tetapi juga menyinggung masalah “musik liturgi” dan “kesenian religius dan perlengkapan ibadat”, karena “Gereja selalu berusaha memanfaatkan kesenian, supaya segala sesuatu yang berhubungan dengan ibadat suci sungguh layak, indah dan permai, agar supaya dapat menjadi tanda dan lambang kenyataan surgawi” (SC 122). Semua itu tidak termasuk pokok liturgi, tetapi mendukung dan menyemarakkan. Hal itu tidak hanya menyangkut gambar dan patung serta gedung gereja sendiri. Gerakgerik dan bahasa, pakaian dan musik mendapat perhatian khusus. Dalam 66 hal ini Gereja mengharapkan perpaduan antara tradisi dan inspirasi kreatif yang baru, khususnya yang bersumber pada cita-cita inkulturasi. Berhubung dengan hal ini tumbuh di dalam Gereja kebiasaan memakai warna-warna tertentu dalam perayaan liturgi, khususnya dalam Ekaristi. Putih. dipakai untuk semua hari besar, kecuali Pentekosta. Pada hari itu merah adalah warna liturgis sebagai lambang cinta kasih ilahi; maka merah juga dipakai untuk pesta para martir, termasuk Yesus sendiri pada Jumat Suci (Agung) dan Minggu Palma. Untuk para santo dan santa yang lain: putih. Untuk masa persiapan, yakni masa Adven dan Prapaska, warna ungu. Warna itu tidak begitu cerah dan gembira, maka cocok untuk masa renungan dan mati-raga karena dosa-dosa kita. Hitam lebih muram lagi; karena itu cocok untuk doa bagi arwah-arwah. Tetapi kalau mau tidak terlalu menonjolkan kedukaan, boleh memakai ungu juga. Untuk semua perayaan lain, yang tidak termasuk yang disebut di atas, dipakai warna hijau. Liturgi bukan tontonan, melainkan perayaan. Melalui perayaan itu sebagai pengungkapan iman Gereja, orang mengambil bagian dalam misteri yang dirayakan. Tentu saja bukan hanya dengan partisipasi lahiriah. Yang pokok adalah hati yang ikut menghayati apa yang diungkapkan dalam doa. Tetapi kekhasan doa Gereja ini merupakan sifat resminya, sebab justru karena itu Kristus bersatu-padu dengan umat yang berdoa. Dengan bentuk yang resmi doa umat menjadi doa seluruh Gereja yang, sebagai Mempelai Kristus, berdoa bersama Sang Penyelamat, sekaligus tetap merupakan doa pribadi setiap anggota jemaat. Liturgi baru menjadi doa dalam arti penuh, bila semua yang hadir secara pribadi dapat bertemu dengan Tuhan dalam doa bersama itu. Kalau demikian terjadi apa yang dikatakan Tuhan “di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (Mat 18:20). Atau dengan rumusan Konsili Vatikan II, “Di dalam jemaat-jemaat, meskipun sering hanya kecil dan miskin, atau 67 tinggal tersebar, hiduplah Kristus; dan berkat kekuatan-Nya terhimpunlah Gereja yang satu, kudus, Katolik dan apostolik” (LG 26). Karena kehadiran Kristus, liturgi membuat jemaat setempat menjadi Gereja dalam arti yang penuh, sebab di dalamnya setiap orang didorong ke arah kesatuan pribadi dengan Kristus dan bersama-sama mereka membentuk Gereja Kristus. Dengan demikian setiap “paroki dalam arti tertentu menghadirkan Gereja semesta” (SC 42). 2. Sakramen 1) Asal Usul Sakramen Sejak awal hidup Gereja terdapat ritus-ritus. Ritus-ritus tersebut dianggap sebagai salah satu bentuk pelaksanaan hidup Gereja, dan dipandang penting dan mutlak perlu untuk hidup Gereja. Ritus-ritus awal itu antara lain ritus pembaptisan dan pemecahan roti atau Ekaristi. Sebagian besar unsur ritus itu diambil dari kelompok agama lain, khususnya agama Yahudi. Tetapi untuk kita tidak begitu penting, apa yang diambil alih dan apa yang diciptakan baru oleh Gereja perdana. Yang penting ialah arti dan isi ritus-ritus itu, yang isinya ternyata bersifat khas Kristiani sejak permulaan. Kekhasan itu terletak pada keyakinan Gereja bahwa ritus-ritus itu membuat sesuatu yang sama sekali baru dalam dunia. Dalam praktik pembaptisan misalnya, Gereja mengambil alih ritus yang sudah lama dikenal di luar Gereja. Yang baru adalah, melalui ritus yang secara lahiriah sudah populer itu Gereja mengambil bagian dalam karya keselamatan Yesus Kristus melalui wafat dan kebangkitan-Nya dari alam maut. Demikian halnya dengan praktik Ekaristi. Benar bahwa perjamuanperjamuan religius terdapat di dalam banyak agama. Tetapi praktik tersebut sudah diambil alih oleh Gereja perdana untuk suatu maksud dan isi tertentu. Dengan merayakan Ekaristi, Gereja perdana ingin memberitakan kematian Tuhan sampai kedatangan-Nya kembali, “Setiap kali kamu makan roti ini dan 68 minum dari piala ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang” (1Kor 11:26). Kalau kita menyelidiki sumber-sumber kita, yaitu Kitab Suci, jelas sekali bahwa Gereja perdana sadar akan perbuatan Allah yang unik dan “satu kali untuk selama-lamanya” sebagai pemenuhan janji dan perbuatan itu dikerjakan Allah secara historis dan kelihatan “pada zaman akhir ini”, dalam diri Yesus dari Nazaret, seorang manusia historis. Perbuatan Allah itu adalah perbutan keselamatan yang harus diimani, diwartakan, dan dilaksanakan antara lain melalui upacara-upacara tertentu. Allah dalam karya keselamatan itu antara lain menciptakan Gereja. Gereja sebagai hasil karya keselamatan Allah harus menghayati dan melanjutkannya sampai akhir zaman. Allah Abraham, Ishak, dan Yakub, Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus telah melaksanakan keselamatan umat manusia dan dunia seluruhnya dalam salib dan kebangkitan Putra-Nya yang tunggal itu sedemikian rupa, sehingga sekarang Gereja sekaligus merupakan hasil dan sakramen keselamatan. Karya keselamatan dengan seluruh dimensi historisnya, baik menyangkut janji, pelaksanaan dalam diri Yesus dan pemenuhan eskatologisnya hadir di dalam Gereja sebagai hidup dan inti Gereja. Gereja, sebagai hasil karya penyelamatan yang melaksanakan hakikatnya itu dan menunaikan amanat dan tugasnya sebagai alat keselamatan dengan cara penghayatan hidup yang diberikan oleh Allah, akan juga menyampaikan hidup baru itu kepada dunia yang belum percaya kepada Kristus. Tugas tersebut terlaksana antara lain dalam perbuatan-perbuatan yang kemudian disebut sakramen-sakramen. Jadi, secara ringkas dapat dikatakan bahwa isi dan arti Gereja, yaitu rahasia penyelamatan Allah yang terlaksana dalam Yesus dari Nazaret, mesti dilaksanakan di dalam Gereja itu sendiri antara lain melalui ritus-ritus. Ritus atau upacara itu merupakan sarana yang dengannya rahasia penyelamatan Allah 69 disampaikan kepada manusia sepanjang sejarah dan selanjutnya dikenal sebagai sakramen. 2) Arti dan Makna Sakramen Dalam uraian tentang kata “misteri”, dinyatakan bahwa rahasia keselamatan Allah ditampakkan Allah melalui peristiwa-peristiwa konkret di dalam dunia ini. Secara fundamental rahasia itu dinyatakan di dalam seluruh ciptaan melalui penciptaan dan secara paling sempurna dan lengkap di dalam peristiwa Yesus Kristus, yang dipratandai oleh sejarah Israel dan diteruskan melalui sejarah Gereja. Gereja seluruhnya merupakan satu bagian dalam penampakan rahasia Allah di dalam dunia dan sejarah. Dengan kata lain, Gereja merupakan tanda. Di dalamnya rahasia keselamatan Allah menjadi nyata. Seturut seluruh struktur wahyu Allah, bahwa rahasia yang tersembunyi di dalam Allah ditampakkan di dalam dunia dan sejarah yang seolah-olah menjadi transparan terhadap rahasia Allah itu, sakramen bisa didefinisikan sebagai peristiwa konkret duniawi yang menandai, menampakkan, dan melaksanakan atau menyampaikan keselamatan Allah atau dengan lebih tepat Allah yang menyelamatkan. Dewasa ini tanda sakramental itu biasanya dijelaskan dengan menggunakan gagasan lambang atau simbol. Manusia merupakan roh yang membadan, sebab itu segala ekspresi roh manusiawi terjadi melalui badan. Nilai-nilai yang luhur atau yang paling rohani pun harus kita ungkapkan melalui badan, supaya nilai atau perasaan itu bisa disampaikan kepada orang lain. Pokoknya adalah suatu hukum manusiawi bahwa kita berkomunikasi melalui badan. Melalui tanda-tanda badaniah terungkaplah sesuatu yang lebih dalam daripada perbuatan-perbuatan konkret yaitu jiwa dan sikap rohani kita. Kebenaran ini berlaku juga untuk komunikasi Allah dengan kita. Karena itu Allah menjadi manusia dalam diri Yesus dari Nazaret untuk menyampaikan cinta-Nya kepada kita secara konkret. Dan karena itu pula ada Gereja sebagai persekutuan persaudaraan yang konkret dan di dalamnya 70 terdapatlah ritus-ritus sakramen. Dalam sakramen, rahmat (cinta Allah) disampaikan secara konkret melalui tanda-tanda badaniah kepada kita. Dalam perbuatan manusiawi, kita mengalami cinta ilahi. Dengan sengaja, di sini dibicarakan mengenai “perbuatan manusia” dan tidak mengenai benda material yang di dalamnya kita mengalami rahmat yang menguduskan, karena tanda sakramen sesungguhnya aksi/perbuatan. Yang terpenting ialah apa yang kita buat di antara manusia di dalam umat beriman, karena perbuatan manusiawi itu melambangkan perbuatan Allah terhadap kita; perbuatan Allah itu sungguh terlaksana sementara manusia atau umat beraksi. Penjelasan yang bersifat antropologis ini mempunyai konsekuensi praktis. Karena sakramen-sakramen itu perbuatan manusiawi/gerejawi yang melambangkan atau lebih baik melaksanakan secara simbolis suatu tindakan Allah terhadap kita, maka ritus-ritus sakramen harus dilaksanakan secara sungguh-sunguh penuh, sehingga bisa dirasakan. Maksudnya, dalam pembaptisan air harus dirasakan, dalam pengurapan orang sakit minyak juga harus dirasakan, dan dalam Ekaristi hosti jangan begitu tipis hingga tidak dirasakan apa-apa. Dalam hal ini juga penting disadari bahwa perbuatan manusia konkret itu baru mendapat identitasnya sebagai sakramen Kristiani melalui perkataan yang diucapkan. Perbuatan penuangan air atau pembasuhan masih terbuka artinya. Baru melalui formula “Aku membaptis engkau atas nama Bapa,Putra, dan Roh Kudus”, hubungan perbuatan itu dengan peristiwa keselamatan yang dilaksanakan Allah Tritunggal menjadi nyata. Sebab itu perbuatan dan perkataan bersama-sama membentuk tanda, lambang melaluinya Allah mendekati dan menyelamatkan kita secara konkret badaniah. C. Tugas Melayani Gereja adalah persekutuan orang beriman, komunikasi iman. Dalam proses komunikasi iman itu dibedakan dua macam: pengajaran dan perayaan. Yang satu komunikasi dengan kata-kata, baik dalam katekese yang biasa 71 maupun dalam pengajaran pimpinan Gereja yang resmi; yang lain komunikasi iman dalam ibadat bersama. Yang pokok bukanlah rumusan iman atau kebaktian, melainkan penghayatan dan pengamalan iman. Bahkan Gereja “wajib mengakui iman di muka orang-orang” (LG 11), sebab “berkat iman kita menerima pengertian tentang makna hidup kita yang fana” (LG 48). “Iman menyinari segala sesuatu dengan cahaya yang baru, dan memaparkan rencana ilahi tentang seluruh panggilan manusia” (GS 11). Oleh karena itu, pengungkapan iman saja tidak cukup. Gereja sendiri bukan tujuan; “tujuannya adalah Kerajaan Allah, yang oleh Allah sendiri telah dimulai di dunia” (LG 9). “Oleh karena itu, berdasarkan Injil yang dipercayakan kepadanya, Gereja mewartakan hak-hak manusia dan mengakui serta menjunjung tinggi dinamisme zaman sekarang” (GS 41). “Manusialah, dalam kesatuan dan keutuhannya, beserta jiwa maupun raganya, dengan hati serta nuraninya, dengan budi dan kehendaknya” adalah paras segala kegiatan Gereja (GS 3). Yesus pernah bersabda: “Sabat untuk manusia, dan bukan manusia untuk Sabat” (Mrk 2:27). Berpedoman pada sabda Yesus itu kiranya dapat dikatakan bukan manusia untuk Gereja, dengan segala ajaran dan ibadatnya, melainkan Gereja untuk manusia. “Sementara Gereja membantu dunia dan menerima banyak dari dunia, yang dimaksudkannya hanyalah ini: supaya datanglah Kerajaan Allah dan terwujudlah keselamatan segenap bangsa manusia” (GS 45). Gereja dipanggil supaya melayani manusia, seluruh umat manusia. 1. Bersama-sama Mencari Arah Hidup Yang oleh Konsili Vatikan II dimaksud dengan “manusia” adalah “segenap keluarga manusia beserta kenyataan semesta yang menjadi lingkungan hidupnya; dunia yang mementaskan sejarah umat manusia, dan ditandai oleh jerih-payahnya, kekalahan serta kejayaannya; dunia, yang menurut iman umat Kristen diciptakan dan dilestarikan oleh cinta kasih Sang 72 Pencipta; dunia, yang memang berada dalam perbudakan dosa, tetapi telah dibebaskan oleh Kristus yang disalibkan dan bangkit” (GS 2). Yang dimaksudkan ialah manusia yang konkret, yang berbeda-beda dan berubahubah, yang berkembang dalam sejarah dan mempunyai kekhasannya menurut daerah dan tempat tinggalnya. Bagi manusia ini tidak ada suatu “resep hidup” yang umum. Semua harus berjuang menemukan jalannya sendiri. Yang umum hanyalah Tuhan yang menyertai semua dengan rencana kasih-Nya sejak semula. Manusia tidak tenggelam dalam sejarah dunia. Ia memang tidak mempunyai peta untuk meniti jalan hidupnya, tetapi ia dapat melihat ke kanan dan ke kiri, ke belakang dan ke muka; manusia mempunyai kemampuan berefleksi, memikirkan kembali situasinya di dunia. Terutama ia dapat melihatnya dari sudut pandangan Allah sendiri, dalam iman. Oleh karena itu manusia dituntut agar senantiasa mengamat-amati situasi penuh perhatian, sanggup belajar dari pengalaman dan mampu menanggulangi situasi-situasi baru, bijaksana dan luwes dalam pemikirannya, bertanggung jawab dalam menilai dan, bila perlu mengubah kegiatannya. Singkatnya, orang tidak hanya harus berani, tetapi juga mampu mencari jalan hidupnya. Dalam hal ini mau tidak-mau, sebagai manusia modern ia harus saling menolong dan saling melengkapi. Oleh karena yakin bahwa pegangan utama ialah iman, maka justru dalam perjuangan bersama ini Gereja menemukan medan pelayanannya, yaitu melayani sesama dalam mencari kehendak Tuhan dan arah hidupnya. a. Sikap Dasar: Melayani, bukan Dilayani Apakah sumbangan umat Kristen bagi masyarakat yang majemuk dan pluralistik ini? Bagaimana mungkin dapat berlangsung perjuangan bersama bagi manusia yang berbeda imannya? Sumbangannya ialah sikap hidupnya dan alasan-alasan yang dapat dikemukakan untuknya, berdasarkan pikiran yang sehat dan komunikasi yang meyakinkan. Semua orang menghadapi kenyataan hidup yang sama, dan masing-masing bertanggung jawab atas sikap yang 73 diambilnya. Tetapi komunikasi yang wajar dapat menjadi sumber inspirasi dalam usaha bersama. Semua mencari kesejahteraan dan kebahagiaan bersama. Mengenai tujuan masyarakat, kebanyakan orang memang sepaham. Yang menjadi pertanyaan sekarang ialah bagaimana menempuh jalan ke situ, dan kebanyakan orang enggan berpikir mengenai jalannya, bahkan cenderung mengambil jalan pintas. Masyarakat tidak hanya sekadar ingin hidup makmursejahtera, tetapi setuju mengenai perlindungan hidup, mengenai perkembangan dan pendidikan angkatan muda, mengenai kemajuan ilmu dan teknik, mengenai hubungan baik dan ketertiban hidup bersama dan mengenai banyak hal yang lain. Sedangkan mengenai tindakan konkret yang harus diambil tidak hanya ada perbedaan pendapat, tetapi kebanyakan orang diam saja dan menunggu sampai orang lain mengambil inisiatif. Banyak umat Kristen, yang tahu mengenai kewajiban untuk saling tolong-menolong dengan saling menanggung beban (lih. Gal 6:2), ikut menunggu sampai ada yang memulai atau datang perintah dari atas. Bagaimana iman menjadi pendorong atau bantuan untuk bertindak? Tidak dengan cara membuat tugas mencari jalan menjadi lebih ringan. Sebab “iman membimbing akal budi manusia ke arah cara-cara memecahkan soal yang sepenuhnya manusiawi” (GS 11). Dalam cara berpikir, orang Kristen sama dengan yang lain. Tetapi dalam hal kelakuan dan tindakan umat Kristen yakin, bahwa “barangsiapa mengikuti Kristus, manusia sempurna, akan menjadi manusia yang lebih utuh” (GS 41). Iman bukan soal pengetahuan atau pandangan, melainkan soal sikap dan kesetiaan. Orang Kristen sering juga tidak menyumbang pada kesejahteraan bersama, karena belum dengan sepenuhnya menjadi pengikut Kristus. Orang hanya menjadi sungguh Kristiani dengan mengikuti jejak Kristus. 74 Salah satu sikap Kristus yang amat mencolok adalah penolakanNya terhadap feodalisme atau masyarakat yang bertingkat-tingkat dengan membedakan golongan orang. Yesus bersabda: “Kamu tahu bahwa pemerintah-pemerintah para bangsa memerintah rakyat mereka dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka, dan ingin disebut pelindung. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu-hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu. Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai pelayan” (Mat 20:25-28 dsj.). Yesus mengenal struktur masyarakat feodal. Adanya kelas-kelas dan tingkat-tingkat itu, biasa dalam masyarakat. Tetapi, kata-Nya, tidaklah demikian di antara kamu. Kamu harus lain. Sikap yang Kuajarkan kepadamu adalah sikap melayani. Yesus tidak pernah menganggap orang lain lebih rendah daripada diri-Nya, Ia mengetahui bahwa sebetulnya Ia tidak sama dengan yang lain. Ia berkata, “Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi, jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kaki” (Yoh 13:13-14). “Karena Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani” (Mrk 10, 45). Itulah sikap yang diharapkan Yesus dari murid-murid-Nya. “Janganlah kamu disebut rabi (guru), sebab hanya satu gurumu dan kamu semua adalah saudara” (Mat 23:8). Gereja tidak lebih pintar, sehingga harus menggurui orang lain. Semua adalah saudara, dan harus saling membantu dalam mencari jalan dan arah hidup. Paulus berkata, “Tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus” (Gal 3:28). Maksudnya, Kristus telah menghapus perbedaan suku dan ras, perbedaan tingkat sosial atau kelas, dan juga pria dan wanita sama saja di hadapan Tuhan. 75 Membedakan orang dan golongan tidak cocok dengan semangat Yesus. Iman (dapat) mempengaruhi pandangan orang, karena memberi pandangan baru terhadap keluhuran pribadi manusia, terhadap kesamaan dan persaudaraan semua orang, dan terhadap sikap pelayanan. Dalam pandangan Kristen melayani tidak merendahkan, melainkan mengangkat orang karena membuatnya sama dengan Kristus, Tuhan dan Guru. b. Tanggung Jawab Dasar pengabdian Gereja adalah imannya akan Kristus. Barangsiapa menyatakan diri murid Kristus, “ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup” (1Yoh 2:6). Kristus yang “mengambil rupa seorang hamba” (Flp 2:7), tidak ada artinya, kalau para murid-Nya mengambil rupa penguasa. Pelayanan berarti mengikuti jejak Kristus. “Seorang murid tidak lebih daripada gurunya” (Mat 10:24). Perwujudan iman Kristiani adalah pelayanan, maka iman Kristiani tidak pernah menjadi alasan untuk merasa diri lebih baik daripada orang lain. Sebaliknya, “barangsiapa meninggikan dirinya, akan direndahkan” (Mat 23:12 dsj.). Iman Kristen adalah rahmat Tuhan, dan oleh karena itu bukanlah barang yang harus dibanggakan. Paulus berkata, “Apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?” (1Kor 4:7). Dan Yesus berkata: “Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan” (Luk 17:10). Pelayanan Kristiani yang termasuk sikap pokok para pengikut Kristus bukan sesuatu yang sangat istimewa. Namun itu tidak berarti bahwa orang Kristen adalah orang bodoh saja, yang hanya menjalankan tugas yang kebetulan jatuh pada mereka. Konsili Vatikan II menyatakan “Menyimpanglah dari kebenaran, mereka yang mengira 76 bahwa boleh melalaikan tugas kewajiban di dunia (karena kita mencari dunia yang akan datang), dan tidak mengindahkan, bahwa justru karena iman sendiri kita lebih terikat untuk menjalankan tugas-tugas itu, menurut panggilan masing-masing” (GS 43). Sebab, “manusia, yang diciptakan menurut citra Allah, diberi titah supaya menaklukkan bumi dalam keadilan dan kesucian” (GS 34). Dalam usaha pembangunan itu perlu diperhatikan, bahwa “keadilan yang lebih sempurna, persaudaraan yang lebih luas, cara hidup sosial yang lebih manusiawi, semua itu lebih berharga daripada kemajuan di bidang teknologi” (GS 35). Maka justru dalam bidang pembangunan tampillah kebutuhan akan pelayanan, sebab “hubungan persaudaraan antara manusia hanya akan tercapai dalam kebersamaan pribadi dengan sikap saling menghormati” (GS 23). Oleh karena itu Gereja menegaskan supaya “setiap orang memandang sesamanya, tanpa kecuali, sebagai ‘dirinya yang lain’ dan mementingkan perihidup mereka beserta upaya-upaya yang mereka butuhkan supaya hidup secara layak” (GS 27). Konsili memakai kata “mementingkan”, mengindahkan, dan bukan mengurusi. Maksudnya, orang yang satu harus memberi kesempatan hidup kepada orang lain, mengakui haknya, baik pribadi maupun sosial, membiarkan orang lain hidup dengan caranya sendiri, mengakui kebebasan dan kemerdekaannya. Tetapi itu tidak sama dengan sikap acuh tak-acuh. Orang Kristen tidak hanya bertanggung jawab terhadap Allah dan Putra-Nya Yesus Kristus, tetapi juga terhadap orang lain itu, dengan menjadi sesamanya (bdk. Luk 10:25-37). Tanggung jawab selalu bersifat pribadi, dan itu kewajiban orang perorangan. Yang mempunyai tanggung jawab bukan lembaga, juga bukan masyarakat dan negara, melainkan orang-orang yang mengarahkannya. Bahkan setiap orang mempunyai tanggung jawab untuk masyarakat sebagai anggotanya. Tentu saja, masing-masing menurut kedudukan dan kemampuannya: ”Yang kepadanya diberi banyak, dari padanya akan banyak 77 dituntut; dan kepada siapa banyak dipercayakan, dari padanya akan dituntut lebih banyak lagi” (Luk 12:48). Tetapi semua ikut bertanggung jawab bersama. Maka tanggung jawab itu tidak pertama-tama bersifat materiil, sebab tidak semua orang mampu mengusahakan dan menjamin kesejahteraan materi. Tetapi setiap orang bertanggung jawab atas kehormatan bagi pribadi manusia. Dalam usaha pelayanan janganlah yang lain menjadi objek belas kasihan. Pelayanan berarti kerjasama, di dalamnya semua orang merupakan subjek yang ikut bertanggung jawab. Yang pokok adalah harkat, martabat, harga diri, bukan kemajuan dan bantuan sosial-ekonomis, yang hanyalah sarana. Tentu sarana-sarana juga penting, dan tidak bisa dilewatkan begitu saja, namun yang pokok ialah sikap pelayanan itu sendiri. Orang Kristen dituntut supaya mengembangkan sikap pelayanan, sebagai intisari sikap Kristus, bukan hanya dalam orang yang melayani, melainkan juga dalam dia yang dilayani, membantu orang supaya menyadari dan menghayati, bahwa kemerdekaan itu kesempatan melayani seorang akan yang lain (lih. Gal 5: 13). Saling melayani, sebagai prinsip dasar kehidupan bersama dalam masyarakat itu tidak gampang. Gereja dipanggil menjadi pelopor pelayanan, hadir pada orang lain sebagai sesamanya. Itulah hidup Kristus, itulah panggilan Gereja. c. Ciri-Ciri Pelayanan Gereja Yesus menyuruh para murid-Nya selalu bersikap sebagai “yang paling rendah dari semua dan sebagai pelayan dari semua” (Mrk 9:35). Ia sendiri memberikan teladan, serta menerangkan bahwa demikianlah kehendak Bapa (lih. Yoh 4:34). Pelayanan Gereja pun mempunyai dasar dalam ketaatan kepada Bapa. Firman Tuhan yang pertama dan utama berbunyi: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu” (Mat 12:37 dsj.). Sikap iman yang radikal itu dinyatakan dalam pelayanan kepada sesama, sebab hukum yang kedua, yakni cinta kepada sesama, oleh Yesus disebut sama dengan yang pertama. Oleh karena itu pelayanan Kristiani tidak berdasarkan belaskasihan atau ketaatan kepada pemerintah, melainkan berdasarkan hormat terhadap Allah Pencipta, yang 78 membuat manusia sesuai dengan citra-Nya sendiri. Ciri pelayanan yang pertama ialah ciri religiusnya. Ciri yang kedua ialah kesetiaan kepada Kristus sebagai Tuhan dan Guru: “Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian tampil sebagai murid-murid-Ku” (Yoh 15:8). Dengan sikap pelayanan Kristus, Gereja menyatakan diri sebagai murid Kristus. Ciri religius pelayanan secara konkret ialah ciri Kristiani, dan menimba kekuatannya dari suri-teladan Kristus. Demikianlah, pelayanan mulai di dalam Gereja sendiri, yang dalam Kristus merupakan satu tubuh dengan banyak anggota, yang saling membutuhkan dan melayani (lih. 1Kor 12:31). Ciri ketiga ialah mengambil bagian dalam sengsara dan penderitaan Kristus, yang tetap senasib dengan semua orang yang menderita. “Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu lakukan untuk Aku” (Mat 25:40 dsj.). Kristus itu saudara semua orang, khususnya mereka yang malang dan miskin. Maka pelayanan Gereja tertuju terutama kepada mereka yang paling membutuhkan perhatian dan pelayanan. Ketika Yesus berbicara mengenai penderitaan-Nya, yang akan dialami di Yerusalem, Petrus tidak mau menerima itu. Lalu Yesus menjawab, “Enyahlah iblis. Engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia” (Mat 16:23). Dengan sepenuh hati Gereja akan melibatkan diri dalam segala usaha yang ingin membebaskan manusia dari kemiskinan dan penderitaan. Dengan demikian Gereja tidak pernah akan menyangkal bahwa penderitaan, dan terutama orang yang menderita mempunyai nilai tinggi, biarpun secara ekonomis tidak menguntungkan bagi masyarakat. Pelayanan Gereja kadang-kadang memang “tidak berguna”, selain mengungkapkan penghargaan terhadap pribadi orang. Masih ada ciri keempat dan yang mungkin paling penting, yakni kerendahan hati. Gereja tidak (boleh) membanggakan pelayanannya, bahkan seringkali harus mengakui dirinya sebagai “hamba tidak berguna” (Luk 17:10). Kerendahan hati ini pun bukan sesuatu yang amat istimewa atau tanda kesucian, 79 melainkan sikap realistis yang mengakui keterbatasan segala usaha manusia, termasuk pelayanan Gereja. Dalam pelayanannya Gereja tidak memainkan peranan Tuhan, dan juga tidak berusaha memperbaiki “kekurangankekurangan” yang ada dalam ciptaan. Pelayanan Gereja ialah menerima dunia dan manusia seadanya, dan berusaha menghayati sikap Kristus di hadapan sesama. 2. Gereja dan Masyarakat Tugas atau sikap pelayanan pertama-tama menyangkut orang Kristen perorangan. Sikap Kristus, yang diakui oleh Gereja sebagai dasar kehidupannya, itu sikap pribadi yang pertama-tama merupakan tuntutan pribadi. Namun demikian, Gereja juga suatu lembaga keagamaan yang mempunyai tempat dan peranannya dalam masyarakat, sehingga sebagai keseluruhan, Gereja juga dituntut memperlihatkan sikap pelayanan Kristus. Hal itu terjadi bila Gereja secara publik tampil di tengah-tengah masyarakat. Dan penampilan itu terjadi dalam dua bentuk, yaitu sebagai perwujudan iman dan sebagai pengungkapan iman. a. Kegiatan Sosial Gereja Perwujudan iman, dalam bentuk kegiatan sosial Gereja, berarti partisipasi kelompok-kelompok atau organisasi Katolik dalam usaha pembangunan dan perkembangan masyarakat, misalnya dalam sekolah-sekolah serta karya kesehatan Katolik, dan dalam segala macam perkumpulan yang mempunyai tujuan kebudayaan atau sosial-ekonomis dan politik, yang sifatnya “umum”. Pelayanan Gereja di sana berarti bahwa sikap pelayanan Kristus dipraktikkan dan ditanamkan dalam kehidupan masyarakat yang umum. Kegiatan-kegiatan itu, kendatipun kadang-kadang dinilai sebagai usaha “kristenisasi”, sebenarnya tidak mempunyai apa-apa yang khas Kristiani, selain semangat pengabdiannya. Banyak orang dan organisasi lain sering memperlihatkan sikap pelayanan yang mungkin lebih meyakinkan. Tetapi, kalau organisasi-organisasi dan kegiatan Katolik itu benar-benar digerakkan oleh semangat Kristus, mau 80 tidak-mau di situ akan ada sikap pelayanan yang ingin membantu dan menemani sesama dalam usaha bersama membangun masyarakat. Pada dasarnya kegiatan sosial itu tidak berbeda dengan usaha-usaha individual dalam mewujudnyatakan sikap pelayanan Kristus, maka tolok ukurnya bukanlah simbol-simbol atau rumus yang khas Katolik atau Kristiani, melainkan semangat Kristus dengan ciri-ciri khasnya yang telah disebut di atas. Fungsi kenabian Gereja, yang dengan jelas dan tegas mengemukakan pandangan dan prinsip-prinsip Katolik mengenai hidup sosial, pertama-tama juga dijalankan oleh instansi atau organisasi sosial yang “biasa”. Memang ajaran sosial Gereja dirumuskan oleh pimpinan Gereja, dalam ensiklikensiklik para paus dan dalam ajaran Konsili. Tetapi itu prinsip-prinsip umum yang jarang menyentuh situasi yang konkret. Padahal justru dalam situasi konkret yang bersifat pluralistis, orang sering kehilangan pegangan yang nyata. Masyarakat majemuk yang tidak mengikat diri pada satu pandangan tertentu, sering kali tidak menawarkan suatu pandangan hidup sama sekali. Nilainilai sosial yang mau dihayati bersama, sering tidak jelas, atau mungkin juga dirumuskan dan ditafsirkan secara berbeda-beda. Dalam situasi seperti itu Gereja, yang dididik bukan hanya oleh sabda ilahi melainkan juga oleh tradisi pemahaman yang lama, sungguh memberikan sumbangan yang berarti. Ajaran sosial Gereja bukanlah ajaran mengenai prinsip-prinsip kehidupan bersama di dalam Gereja saja, tetapi di dalam masyarakat. Prinsipprinsip itu tidak hanya mau menolong orang Katolik saja dalam menghadapi masalah-masalah sosial, tetapi dimaksudkan untuk seluruh masyarakat. Ajaran sosial Gereja adalah pandangan Gereja mengenai masyarakat, yang oleh orang Katolik sendiri harus dibawa ke dalam masyarakat. Di situ tugas pelayanan dilaksanakan dalam bentuk partisipasi dalam tukar pikiran di dalam masyarakat. Tentu saja diskusi itu dapat diadakan pada segala tingkat dan lapisan masyarakat, tetapi kiranya yang bertanggung jawab terutama kaum cendekiawan, yang oleh pendidikan mereka lebih mampu merumuskan pandangan Gereja. 81 Bagaimanapun juga, sikap pelayanan tidak terikat pada tingkat pendidikan atau keahlian. Diharapkan bahwa seluruh Gereja mengambil bagian dalam usaha bersama merefleksikan dan menjelaskan prinsip-prinsip dasar kehidupan masyarakat. Justru di tempat pluralisme tidak hanya menyangkut keyakinan agama, tetapi juga prinsip-prinsip etis dan politik, di situ perlu keterbukaan dalam dialog bersama. Tentu saja Gereja dan agama pada umumnya, tidak dapat menjamin keakhlakan masyarakat, tetapi dalam dialog bersama Gereja mempunyai sumbangan yang tidak boleh disembunyikan. Kesaksian hidup dan kesaksian pandangan, merupakan pelayanan yang amat berguna bagi sesama. Berbuat baik saja belum cukup. Kita harus mampu “memberi pertanggungjawaban kepada tiap-tiap orang yang memintanya tentang pengharapan yang ada pada kita” (1Ptr 3:15) b. Sikap Kritis Pelayanan tidak hanya berarti mendukung, tetapi juga berani memberikan tanggapan yang kritis. Pertama-tama Gereja harus kritis terhadap dirinya sendiri dan tidak memutlakkan agama. Gereja bukanlah Kerajaan Allah, dan pandangan Gereja bukan wahyu. Gereja hanya dapat menyampaikan pandangannya mengenai manusia dan masyarakat dalam ketaatan kepada sabda Allah, yang senantiasa harus direnungkan, dan mengakui bahwa “semua berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah” (Rm 3:23). Bahkan, “jika kita berkata, bahwa tidak mempunyai dosa, maka kita menipu diri sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita” (1Yoh 1:8). Gereja sendiri tidak sempurna, pewartaan serta pandangannya juga banyak kekurangannya. Dengan rendah hati Gereja boleh menyampaikan pandangannya sambil mendengarkan orang lain, sebab dunia berkembang dan masalah sosial berubah. Ajaran sosial dari 200 tahun yang lalu, pasti tidak menjawab lagi persoalan zaman sekarang. Ajaran sosial yang sudah membeku bukan merupakan sumbangan lagi. Di dalam arus tradisi, dan diterangi oleh firman Allah, Gereja dengan jujur dan terbuka harus ikut berpikir dan mencari jalan keluar dari masalah-masalah baru yang sekarang menyibukkan masyarakat manusia. 82 Tetapi yang membeku bukan hanya ajaran Gereja. Banyak pandangan dan ajaran yang dahulu dianggap luhur dan mulia, sudah berubah menjadi ideologi yang mati dan tidak berguna lagi. Pandangan-pandangan itu, lebih-lebih kalau telah menjadi kedok untuk ambisi kelompok atau pribadi, perlu dibongkar dan dibuka kepalsuannya. Namun justru dalam memberikan kritik, Gereja janganlah melupakan tugas pelayanannya. Melawan ideologi dengan ideologi tidak ada gunanya. Kalau dimutlakkan, agama juga dapat menjadi ideologi dan alat politik melulu. Justru sikap pelayanan harus menjaga Gereja supaya tetap mempertahankan sifat keagamaannya sebagai komunikasi iman. Sebagai lembaga keagamaan di dalam masyarakat, secara tidak langsung ada bahaya bahwa Gereja mengikuti arus masyarakat saja, sehingga tidak lagi dapat mewartakan Injil serta memberi kesaksian mengenai imannya sendiri. Supaya tetap setia kepada Kristus dan sikap pelayanan-Nya, Gereja harus terus-menerus merenungkan dasar-dasar iman, dan tidak terlampau percaya pada ajaran serta organisasinya sendiri. Juga sebagai organisasi, Gereja harus tampil di dalam masyarakat sebagai pewarta sikap dan pandangan Kristus dan bukan mewartakan pandangannya sendiri. “Bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hamba, karena kehendak Yesus” (2Kor 4:5). Gereja tidak meneruskan ajaran baku yang sudah membeku, melainkan atas dasar iman dan sikap pelayanan, senantiasa ikut mencari jalan hidup, bersama dengan orang lain. 3. Gereja dan Kaum Miskin Di dunia ini ada banyak orang miskin atau lebih tepat dimiskinkan. Khususnya Asia sangat diwarnai oleh kemiskinan struktural ini. Kehadiran Gereja hendaknya mempunyai makna bagi belahan dunia yang dicengkam oleh kemiskinan ini. Gereja dan pelayanannya harus membawa “kabar baik” bagi kaum miskin. 83 Yesus bersabda, bahwa Ia diurapi Allah dengan Roh Kudus “untuk menyampaikan kabar gembira kepada orang-orang miskin” (Luk 4:18). Selanjutnya pewartaan Injil kepada orang miskin memang disebut di antara tanda-tanda kedatangan Kerajaan Allah, di samping penyembuhan orang sakit dan pembangkitan orang mati (Luk 7:22). Kalau Yesus berkata kepada orang miskin: “Berbahagialah, hai kamu yang miskin” (Luk 6:20), Ia tidak memuji kemiskinan. Mereka tidak disebut bahagia karena miskin, tetapi karena kemiskinan segera akan diambil dari mereka. Itu terjadi dengan pewartaan Injil, bukan dengan sedekah, tetapi dengan memberikan semangat hidup yang baru, sebab “Injil adalah kekuatan Allah” (Rm 1:16). Dalam sabda Yesus kerajaan Allah hadir dan berkarya. Kaum miskin diajak menyadari kekuatan Allah di antara mereka. Segala sesuatu yang dikerjakan Yesus, tujuannya supaya orang sadar bahwa kekuatan Allah ada di dalam mereka. Itulah maksud mukjizat-mukjizat yang dilakukan-Nya: “Jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu” (Luk 11:20). Yesus tidak membuat mukjizat supaya membuat semua orang miskin menjadi kaya. Mukjizat-Nya mau memperlihatkan kepada mereka, bahwa Allah hadir dan menyertai mereka; bahwa perjuangan mereka didukung dan diperkuat oleh Allah; bahwa ada masa depan bagi mereka. Mukjizat Yesus pada dasarnya tanda kasih Allah bagi mereka. Pelayanan Gereja pertama-tama harus merupakan tanda kasih Allah bagi manusia. Kerajaan Allah bukan obat penenang, bukan candu. Kerajaan Allah berarti perjuangan, kerja berat. “Jangan mengira bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang” (Mat 10:34). Yesus memang membawa damai, tetapi bukan damai yang murahan, dengan diam dan menerima segala-galanya. Damai Yesus diperjuangkan, dan sering menimbulkan perlawanan. Yesus juga tidak datang hendak mendirikan suatu organisasi keagamaan, melainkan memberi inspirasi 84 dan semangat. Gereja diharapkan dapat melakukan hal yang sama. Gereja dituntut supaya tidak menjadi himpunan saleh, tetapi persekutuan iman sebagai sumber inspirasi dan kekuatan. Percaya kepada Yesus berarti ikut serta dengan gerakan Yesus, khususnya dalam sikap-Nya terhadap kaum miskin. Yesus tidak sekadar teori, melainkan praksis hidup. Gerakan yang telah dimulai oleh Yesus berjalan terus, oleh Roh-Nya, di dalam Gereja. Janganlah Gereja menjadi organisasi kemasyarakatan yang kekuatannya terletak dalam sistem organisasi dan dasar finansial-ekonomisnya. Kekuatan Gereja adalah Roh, yang memberikan semangat iman kepada manusia. Oleh karena itu Gereja pantas bertanya pada dirinya sendiri: Apa dasar dan tujuan segala kegiatan sosial dan karya amal kita? Apa hubungannya dengan perayaan dan pengakuan iman kita? Bagaimana kita berusaha memberi semangat dan kepercayaan diri kepada orang? Gereja hanyalah sarana, bukan tujuan. Terutama dalam pelayanannya, janganlah Gereja menjadi tujuannya sendiri. Tujuan Gereja adalah “persatuan mesra dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia” (LG 1). 4. Gereja dan Negara Republik Indonesia Mungkin sampai sekarang Gereja Indonesia masih dianggap asing atau “Barat” oleh banyak kalangan di Indonesia ini. Itu disebabkan antara lain karena Gereja datang di negeri ini bersama dengan kolonialisme Barat dan cukup lama hidup dalam pola pietisme dan tradisi Gereja Barat abad lampau. Mungkin juga untuk banyak orang Gereja Indonesia masih kurang utuh terlibat dalam perjuangan bangsa. Oleh sebab itu ada baiknya disinggung sepintas kilas mengenai hubungan antara Gereja dan Negara kita. Dasar hubungan antara dua pihak adalah saling pengakuan sesuai kedudukan masing-masing. Gereja Katolik mengakui otonomi setiap negara di bidang hidup kemasyarakatan demi kesejahteraan rakyat seluruhnya. Otonomi itu pada hakikatnya bersumber pada rakyat, yang berhak dan bertanggung 85 jawab dan karena itu wajib menata dan mengatur peri hidupnya sendiri sebagai perorangan maupun masyarakat. Otonomi itu berarti, bahwa negara – seperti nilai-nilai dunia lainnya – mempunyai arti, diselenggarakan serta berkembang menurut hukum-hukumnya sendiri, yang tidak dapat disamakan dengan kaidahkaidah keagamaan. Sambil tetap dan tegas mengakui serta menghormati otonomi negara mengenai hidup kemasyarakatan, Gereja Katolik menyadari panggilannya dan ingin mempunyai keleluasaan demi kesejahteraan semua dan masing-masing warga masyarakat, dan demi keselamatan manusia secara sempurna, melayani kebutuhan mereka, terutama yang bersifat rohani, tetapi juga yang bersifat jasmani demi perkembangan kepribadian mereka secara menyeluruh. Dalam hal ini Gereja tidak mengharapkan kebebasan melebihi atau kurang dari yang berdasar UUD 1945 dijamin oleh negara. Dalam negara Pancasila, agama-agama dan negara mempunyai fungsi serta menunaikan peranannya masing-masing. Keduanya menjalankan fungsi itu dalam perspektif tujuan mereka masing-masing dan dari sudut pandangan yang berbeda-beda. Perbedaan tugas dalam situasi konkret akan semakin jelas, sementara Gereja dan negara hidup bersama dan bekerja sama dengan erat. Karena negara maupun Gereja ada demi kepentingan masyarakat yang sama, maka harus hidup dalam suasana kerja sama. “Dalam bidang masing-masing, negara dan Gereja tidak tergantung satu sama lainnya, melainkan mengatur diri sendiri. Tetapi kedua-duanya melayani dalam aspek-aspek yang berbeda-beda panggilan perorangan maupun sosial orang-orang yang sama. Pelayanan itu akan dapat diberikan dengan lebih efektif demi kesejahteraan mereka semua, jika negara dan Gereja meningkatkan kerjasama yang menguntungkan, dengan mengingat keadaan zaman dan daerah. Sebab manusia tidak terbatas pada lingkup dunia ini, melainkan dalam peredaran sejarah umat manusia ia mengamalkan sepenuhnya panggilan akan hidup abadi” (GS 76). 86 Demikianlah, pada instansi-instansi negara dan Gereja perlu ada sikap dialog, guna mengembangkan sikap saling mengerti dan menghormati serta kerukunan. Pembangunan manusia seutuhnya harus merupakan pusat perhatian negara maupun Gereja. Namun pembangunan ini dikerjakan dalam perspektif dan dimensi yang berbeda, yaitu: negara memperhatikannya terutama dari segi kesejahteraan di dunia ini pada tingkat nasional, sedangkan Gereja terutama memperhatikan kebahagiaan manusia yang bertemu dan bersatu dengan Tuhannya dalam umat-Nya di dunia ini dan akhirnya secara langsung di akhirat. Hubungan Gereja dengan negara tidak melulu, bahkan tidak terutama berlangsung di tingkat institusional atau kelembagaan, tetapi juga dalam bekerja sama dengan semua golongan masyarakat dan dengan pemerintah, demi kesejahteraan seluruh bangsa. Semua warga negara berhak ikut serta menentukan hidup kenegaraan. Dalam hal ini Gereja sejalan dengan haluan yang ditentukan oleh MPR, yaitu untuk semakin meratakan partisipasi rakyat dalam mengusahakan maupun menikmati pembangunan, dengan kata lain “merakyatkan negara”. Maka bagi Gereja sebagai persekutuan iman dalam negara demokrasi seperti Indonesia ini, mitra utama dalam dialog ialah rakyat yang bernegara. Namun dalam dialog itu peranan pemimpin negara dan pemimpin Gereja sangat menentukan. Gereja memperjuangkan masyarakat “partisipatoris”, yaitu “suatu partisipasi aktif para warga masyarakat, secara perorangan maupun bersamasama dalam kehidupan dan pemerintahan negara mereka” (GS 73), supaya mereka dapat ”bertanggungjawab” terhadap politik negara. Suatu pluralisme dalam pandangan para warga negara mengenai usulan politis (GS 76; OA 46) dianggap wajar, apalagi bila seluruh masyarakat ikut serta dalam kepentingan negaranya. Bahkan, perbedaan pendapat mengenai hal-hal politik itu di dalam kalangan umat Katolik sendiri dipandang sebagai pantas pula. Dalam rangka hubungan antara Gereja Katolik dan Negara Republik Indonesia, beberapa bidang pantas diberi perhatian khusus: 87 Dalam usaha pembangunan; Gereja melihat peranannya yang khas dalam usaha membangun mentalitas sehat, memberi motivasi yang tepat, kuat serta mengena, membina sikap dedikasi dan kesungguhan, menyumbangkan etika pembangunan serta memupuk sikap optimis. Oleh karena itu pimpinan Gereja mengharapkan seluruh umat beriman mau melibatkan diri dan bersikap kritis konstruktif, dengan jujur menilai tujuan dan sasaran pembangunan maupun upaya-upaya dan cara-cara melaksanakannya. Gereja merasa wajib memperjuangkan dan menegakkan martabat manusia sebagai pribadi yang bernilai di hadapan Allah. Sikap dan peranan Gereja berdasarkan motivasi manusiawi dan Kristiani sematamata. Oleh karena itu Gereja merasa prihatin atas pelanggaran hak-hak dasar dan hukum, atas kemiskinan dan keterbelakangan yang masih diderita oleh banyak warga negara. Bila demi pengembangan dan perlindungan nilai-nilai kemanusiaan, Gereja berperanan kritis, ia menghindari bertindak konfrontatif dan menggunakan jalur-jalur yang tersedia dan berusaha sendiri memberi kesaksian. Pimpinan Gereja mengharapkan supaya para ahli dan tokoh masyarakat yang beragama Katolik mau berpartisipasi dalam pembangunan sesuai dengan keahlian dan panggilan masing-masing. Dalam hal ini mereka hendaknya dijiwai oleh semangat Injil dan memberi teladan kejujuran dan keadilan yang pantas dicontoh oleh generasi penerus. Sesuai dengan perutusan Yesus Kristus sendiri yang diteruskan-Nya, Gereja merasa solider dengan kaum miskin. Ia membantu semua yang kurang mampu tanpa membedakan agama mereka, kalau mereka mau memanfaatkan bantuan ini untuk melangkah keluar dari lingkaran setan yang mengurung mereka. Gereja mendukung sepenuhnya usaha pemerintah memupuk rasa toleransi dan kerukunan antarumat beragama. 88 Gereja mendukung segala usaha berswadaya, merangsang inisiatif dalam segala bidang hidup kemasyarakatan, budaya, dan bernegara. Dengan demikian, potensi, bakat, dan keterlibatan para warga negara dikembangkan sesuai dengan tujuan Negara Indonesia seperti dirumuskan dalam Pembukaan UUD 1945. Oleh karena itu, Gereja memegang prinsip subsidiaritas, agar apa saja yang dapat dilaksanakan oleh para warga negara sendiri atau oleh kelompok/satuan/organisasi pada tingkat yang lebih rendah, jangan diambil alih oleh pihak yang lebih tinggi kedudukannya. Dengan demikian, bahaya etatisme dalam segala bidang dapat dicegah. 8) KAUL Kaul adalah janji sukarela kepada Allah, untuk melaksanakan suatu tindakan yang lebih sempurna.Kaul merupakan dasar hidup membiara yang disahkan oleh Gereja, di mana para anggota yang terhimpun dalam suatu komunitas religius memutuskan untuk memperjuangkan kesempurnaan lewat sarana-sarana ketiga kaul religius, yakni kaul kemiskinan, kemurnian, dan ketaatan, yang diamalkan sesuai dengan peraturan. Pengertian kaul menurut Katekismus Gereja Katolik (KHK) adalah : 1. KGK 2102 :“Kaul, yakni janji kepada Allah yang dibuat dengan tekad bulat dan bebas mengenai sesuatu yang mungkin dan lebih baik, harus dipenuhi demi keutamaan agama” (CIC, can. 1191 ? 1). Kaul adalah satu tindakan penyerahan diri, yang dengannya warga, Kristen menyerahkan diri kepada Allah atau menjanjikan satu perbuatan baik kepada-Nya. Dengan memenuhi kaulnya, ia mempersembahkan kepada Allah, apa yang telah ia janjikan atau ikrarkan. Santo Paulus misalnya, sebagaimana disampaikan Kisah para Rasul, sangat memperhatikan supaya memenuhi kaulnya (Bdk. Kis 18:18; 21:2324). 2. KGK 2103 : Kaul-kaul untuk hidup seturut nasihat-nasihat Injil, dijunjung tinggi Gereja (Bdk. CIC, can. 654): “Maka Bunda Gereja 89 bergembira, bahwa dalam pangkuannya terdapat banyak pria dan wanita, yang mengikuti dari dekat dan memperlihatkan lebih jelas pengosongan diri Sang Penyelamat, dengan menerima kemiskinan dalam kebebasan anak-anak Allah Serta mengingkari keinginaan keinginan mereka sendiri. Mereka itulah, yang demi Allah tunduk kepada seorang manusia dalam mengejar kesempurnaan melampaui apa yang diwajibkan, untuk lebih menyerupai Kristus yang taat” (LG 42). Dalam situasi tertentu Gereja dapat memberikan dispensasi dari kaul & janji karena alasan-alasan” yang wajar (Bdk. CIC, cann. 692; 1196-1197). Selanjutnya, jika seseorang membuat janji/ nazar/ kaul pribadi namun kemudian bermaksud untuk membatalkannya, maka hal ini dimungkinkan, mengingat dapat saja seseorang membuat janji kepada Tuhan tanpa berkonsultasi dengan seorang pembimbing rohani (spiritual director). Nazar/ kaul pribadi ini dapat berupa janji untuk hidup selibat sepanjang hidup, janji untuk menjadi misionaris, ataupun berdoa rosario setiap hari seumur hidup, dst. Mengingat bahwa ada kalanya seseorang yang telah membuat kaul/ nazar, namun kemudian ingin dilepaskan dari nazar tersebut, maka hal ini diatur dalam Kitab Hukum Kanonik (KHK/ CIC 1983): 1. KHK 1196 : Selain Paus, yang dapat memberikan dispensasi atas kaul privat karena alasan yang wajar, asalkan tidak melanggar hak yang telah diperoleh orang lain, ialah : a. Ordinaris wilayah dan pastor paroki sejauh menyangkut semua bawahan mereka sendiri dan juga para pendatang; b. Pemimpin tarekat religius atau serikat hidup kerasulan, jika mereka itu bersifat klerikal bertingkat kepausan, sejauh menyangkut anggota-anggota, para novis serta orang-orang yang siang-malam tinggal dalam rumah tarekat atau serikat itu; 90 c. Mereka yang diberi delegasi kuasa memberikan dispensasi oleh Takhta Apostolik atau oleh Ordinaris wilayah. 2. KHK 1197 Karya yang dijanjikan dalam kaul privat dapat diganti oleh orangnya sendiri dengan sesuatu yang baik yang lebih besar atau yang sama; tetapi hanya dapat diganti dengan sesuatu yang baik yang lebih kecil oleh orang yang berkuasa untuk memberi dispensasi, menurut norma Kanon 1196. Berikut 3 kaul yang menjadi dasar hidup membiara yang disahkan oleh Gereja : 1. Kaul Kemiskinan Kaul kemiskinan adalah pelepasan sukarela hak atas milik atau penggunaan milik tersebut dengan maksud untuk menyenangkan Allah.Semua harta milik dan barang-barang menjadi milik Kongregasi, atau tarekat. Manusia tidak lagi memiliki hak atas apa saja yang diberikan kepadanya, entah barang entah uang. Semua derma dan hadiah, yang barangkali diberikan kepadanya sebagai ungkapan terima kasih atau ungkapan lain apa pun, menjadi hak Kongregasi. Keutamaan Kemiskinan adalah keutamaan injili yang mendorong hati untuk melepaskan diri dari barang-barang fana; karena kaulnya, biarawan/wati terikat oleh kewajiban itu. 2. Kaul Kemurnian Kaul kemurnian mewajibkan manusia lepas perkawinan dan menghindari segala sesuatu yang dilarang oleh perintah keenam dan kesembilan.Setiap kesalahan melawan keutamaan kemurnian juga merupakan pelanggaran terhadap kaul kemurnian sebab di sini tidak ada perbedaan antara kaul kemurnian dan keutamaan kemurnian, tidak seperti dalam kaul kemiskinan dan kaul ketaatan. 3. Kaul Ketaatan Kaul Ketaatan lebih tinggi daripada dua kaul yang pertama. Sebab, kaul ketaatan adalah suatu kurban, dan ia lebih penting karena ia membangun dan menjiwai tubuh religius. Dengan kaul ketaatan biarawan/wati berjanji pada Allah untuk taat kepada para pimpinan yang sah dalam segala sesuatu yang mereka perintahkan demi peraturan.Kaul ketaatan membuat biarawan/wati bergantung kepada pimpinan atas dasar peraturan-peraturan sepanjang hayatnya dan dalam segala 91 urusannya.Keutamaan ketaatan lebih luas daripada kaul ketaatan; keutamaan ini mencakup ketentuan dan peraturan, dan bahkan nasihat-nasihat para pimpinan.Memenuhi perintah dengan tulus dan sempurna – ini disebut ketaatan kehendak kalau kehendak mendorong budi untuk tunduk kepada nasihat pimpinan.Sehubungan dengan ini, untuk menunjang ketaatan. Dari ketiga kaul itu juga berlaku bagi imam biarawan, misalnya : CM, CDD, SJ, SVD, OMI, MSF, OCarm, CICM, OFM Cap, dan sebagainya. Kita perlu memahami bahwa imam-imam projo (pr), dioses, bukanlah imam-imam biarawan.Tiga kaul yang menjadi dasar kehidupan seorang biarawan-biarawati merupakan cara mewujudkan iman yang radikal sesuai nasihat Injil. Gereja berkeyakinan bahwa tiga hal itulah yang menjadi inti dari nasihat Injil yang diwartakan Yesus. 9) GEREJA DALAM PERJALANAN Gereja bukan Kerajaan Allah, melainkan menuju Kerajaan Allah. Gereja masih dalam perjalanan. Penyadaran akan aspek historis Gereja ini perlu supaya kita bisa lebih bersifat terbuka dan rendah hati. Dalam perjalanan ini, Gereja masih mengalami jatuh bangun dan berjuang bersama semua manusia yang berkehendak baik membangun Kerajaan Allah itu. Gereja belumlah sempurna. Maka, “Gereja baru akan mencapai kepenuhannya dalam kemuliaan di surga” (LG 48). Sekarang ini “kita diselamatkan dalam pengharapan” (Rm 8:24). Oleh karena itu dalam syahadat panjang dikatakan: “Aku menantikan kebangkitan orang mati, dan hidup di akhirat”. “Menantikan” tidak berarti bahwa kita masih ragu-ragu. Rumus dalam syahadat pendek menjelaskan hal itu. Aku percaya akan Roh Kudus, Gereja Katolik yang kudus, persekutuan para kudus, 92 pengampunan dosa, kebangkitan badan, kehidupan kekal. Iman akan Roh Kudus, akan Gereja dan akan akhirat dijadikan satu. Dasar pengharapan kita bukanlah keinginan khayal, melainkan karya Roh dalam Gereja, dan kesadaran bahwa apa yang ada sekarang masih bersifat sementara: “Sekarang kita melihat suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka” (1Kor 13:12), dan iman bahwa “Allah, yang membangkitkan Tuhan, akan membangkitkan kita juga” (1Kor 6:14; lih. 2Kor 4:14; Rm 8:11). Karya keselamatan Allah berjalan terus, sampai kepada kepenuhannya. Mulai dengan wafat dan kebangkitan Kristus, kemudian perutusan Roh Kudus, pembentukan Gereja, dan akhirnya “kebangkitan orang mati dan hidup di akhirat”. Allah tidak mengingkari janji. “Dia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya” (1Tes 5:24). Menantikan hidup di akhirat tidak lain dari “menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia, dan penyataan kemuliaan Allah yang mahabesar dan Juru Selamat kita Yesus Kristus” (Tit 2:13). Menantikan akhirat berarti mengharapkan kepenuhan karya penyelamatan. 93 BAB III PENUTUP A. Simpulan 1. Arti dan makna dari Gereja adalah Kata “Gereja” yang berasal dari kata igreja dibawa ke Indonesia oleh para misionaris Portugis. Kata tersebut adalah ejaan Portugis untuk kata Latin ecclesia, yang ternyata berasal dari bahasa Yunani, ekklesia. Kata Yunani itu sebetulnya berarti ‘kumpulan’ atau ‘pertemuan’, ‘rapat’. Namun Gereja atau ekklesia bukan sembarang kumpulan, melainkan kelompok orang yang sangat khusus. Untuk menonjolkan kekhususan itu dipakailah kata asing itu. Kadang-kadang dipakai kata “jemaat” atau “umat”. Itu tepat juga. Tetapi perlu diingat bahwa jemaat ini sangat istimewa. Maka barangkali lebih baik memakai kata “Gereja” saja, yakni ekklesia. Kata Yunani itu berasal dari kata yang berarti ‘memanggil’. Gereja adalah umat yang dipanggil Tuhan. Itulah arti sesungguhnya kata “Gereja”. 2. Sejarah Gereja Katolik adalah Gereja dimulai 50 hari sesudah kebangkitan Yesus (sekitar tahun 30-34 Masehi). Yesus sudah berjanji bahwa Dia akan mendirikan gerejaNya (Matius 16:18), dan dengan datangnya Roh Kudus pada hari Pentakosta (Kisah 2:1-4), Gereja (“kumpulan yang dipanggil keluar”) secara resmi dimulai. 3. Tugas Gereja yang dapat diterapkan di kehidupan sehari-hari adalah mewartakan sabda Tuhan secara berani , melayani sesame bukan dilayani , menguduskan diri . 94 B. SARAN 1. Sebaiknya menambah wawasan dan pengaitan materi dengan yang ada di kitab suci 2. Menambah referensi agar memiliki banyak pandangan tentang gereja dan kegiatan yang ada digereja . 3. Memantaskan diri untuk bersama-sama membangun gereja didunia ini dengan dimulai dengan membangun gereja dalam hati kita terlebih dahulu . 95 DAFTAR PUSTAKA Andi.2020. Gereja yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik. Diunduh dari https://aendydasaint.com/2020/04/05/gereja-yang-satu-kudus-katolik-danapostolik/ pada tanggal 16 Oktober 2020 Pukul 14.30 Gunardi, Andy. 2020. Gereja yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik. Diunduh dari https://binus.ac.id/character-building/2020/05/gereja-yang-satu-kudus-danapostolik-dalam-gereja-katolik/ pada tanggal 16 Oktober 2020 Pukul 14.35 http://katekesekatolik.blogspot.com/2013/10/sekilas-tentang-syahadat.html Diakses pada tanggal 17 Oktober 2020 Pukul 10.23 WIB https://pakristenrobert.wordpress.com/sejarah-asal-usul-gereja-dan-penyebarannya/ Diakses pada tanggal 17 Oktober 2020 Pukul 11.42 WIB https://parokiserpong-monika.org/23-serba-serbi/serba-serbi/2249-hierarki-gereja Diakses pada tanggal 17 Oktober 2020 Pukul 09.30 http://pendalamanimankatolik.com/gereja-katolik-dan-kegiatannya1/ Oktober 2020 pukul 15.44 WIB 96 Diakses pada 18