Uploaded by common.user94636

Kelompok 1 Tema 10

advertisement
MAKALAH
GEREJA KATOLIK DAN KEGIATANNYA
Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pendidikan Agama Katolik
Dosen Pengampu :
Dr. Fransisca Valeria Sunartini
Disusun oleh:
Kelompok 1
1.
Anjelica Amandasari
20304241014
Pendididkan Biologi
2.
Yohana Fadela Kurniawati 20312241006
Pendidikan IPA
3.
Rotua Hasiholan
20301241043
Pendidikan MTK
4.
Yustina Hilda Yuntari
20301244012
Pendidikan MTK
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2020
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan
rahmat, karunia, serta berkat yang melimpah dariNya kami dapat menyelesaikan
makalah tentang Gereja dan Kegiatan Gereja ini dengan baik meskipun banyak
kekurangan didalamnya.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan kita mengenai ajaran sosial gereja, dan juga bagaimana
memaknai gereja dan kegiatan gereja. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di
dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu,
kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami
buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran
yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang
membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri
maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat
kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang
membangun demi perbaikan di masa depan.
Yogyakarta, Oktober 2020
1
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR……………………………………………………………….1
DAFTAR ISI............................................................................................................... 2
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.................................................................................... …………..3
1.2 Tujuan Penulisan................................................................................................... 4
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Sejarah Gereja........................................................................................................5
2.2 Perjalanan Hidup Gereja…………………………………………………………8
2.3 Arti dan Makna Gereja……………………………………………….…………..9
2.4 Gereja Yang Hidup………………………………………………………………22
2.5 Syahadat Panjang-singkat..................................................................................... 44
2.6 Keanggotaan Gereja……………………………………………………………...46
2.7 Tugas Gereja......................................................................................................... 54
2.8 Kaul........................................................................................................................84
2.10 Gereja Dalam Perjalanan……………………………………………………….92
BAB III PENUTUP
3.1 Simpulan.......................................................................................... …………….94
3.2 Saran……………………………………………………………………………..95
3.2 Daftar Pustaka.................................................................................. ……………96
2
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Agama Katolik merupakan salah satu agama yang cukup terkenal di
dunia. Agama Katolik merupakan agama yang bersifat universal/menyeluruh.
Karena secara etimologi, kata “Katolik” sebenarnya bermakna “universal atau
keseluruhan atau umum” (dari ajektiva bahasa Yunani (katholikus) ) yang
menggambarkan sifat gereja yang didirikan oleh Yesus Kristus.Maka,dapat
disimpulkan
bahwa
agama
Katolik
adalah
agama
yang
bersifat
universal/menyeluruh/terbuka untuk siapapun yang ingin menganutnya dan
mengetahuinya serta mendalaminya.
Sesuai dengan petunjuk sejarah, Yesus Kristus adalah pembawa agama
Kristen. Ia berasal dari Nazaret.Ia lahir kurang lebih pada tahun ke 4 sebelum
masehi,tetapi sebagian ada yang berpendapat antara tahun ke 7-5 sebelum
masehi, ketika berumur 27 tahun, Ia mulai mengajar di Galilea dan kemudian
meluas di kalangan penduduk Palestina. Ia dipercayai membawa kabar gembira
tentang penebusan dosa manusia sambil memperlihatkan banyak mukjizat.
Untuk kelanjutan ajaran yang dibawanya Ia mengangkat 12 orang rasul. Satu
tahun sebelum Ia meninggal dunia di kayu salib pada 7 april 30 M. Ketika
berusia lebih kurang 30-31 tahun, Yesus telah membentuk gereja di Yerusalem,
yaitu ketika menunjuk Petrus, salah seorang muridnya dari ke-12 murid,
sebagai kepala gereja.
Selain Petrus, Paulus adalah seorang rasul yang mempunyai peran besar
dalam penyiaran agama Katolik.Ia berasal dari Tarsus di Sisilia, tetapi juga
orang Yahudi sebagaimana halnya Petrus. Pada mulanya,ia menjadi penentang
agama Kristen. Pada tahun 36 M ia pergi ke Damaskus untuk mencari orangorang Kristen untuk disiksanya. Tetapi di depan pintu gerbang kota tersebut,
konon Yesus menampakkan diri padanya sehingga ia jatuh pingsan. Setelah
3
siuman, ia lantas bertaubat dan kemudian dibaptiskan. Dalam sejarah hidupnya
disebutkan bahwa ia menyiarkan agama Kristen karena mendapat wahyu dari
Tuhan, sekalipun ia bukan murid Yesus dan belum pernah berjumpa dengan
Yesus.
Penyebaran agama Katolik sudah dimulai sejak kedatangan Portugis di
Indonesia yang dilakukan oleh beberapa misionaris pada abad ke-16 dan abad
ke-17 di bagian timur seperti di Maluku dan Flores, NTT. Agama katolik baru
memasuki tanah Jawa pada masa pemerintahan Herman Willem Daendels di
Batavia awal abad-19 dengan didirikan gereja pertama di sana pada tahun 1807
dan disertai dengan diakuinya oleh Vatikan.
Dalam makalah ini, kami akan membahas beberapa hal yang berkaitan
dengan Gereja Katholik, mulai dari Sejarah Gereja, Perjalanan Hidup Gereja ,
Arti dan Makna Gereja, Gereja Yang Hidup,Syahadat Panjang-singkat, Tugas
Gereja, Ciri Gereja,Perbedaan Gereja Katolik-Kristen,Kaul Gereja Dalam
Perjalanan
2. Tujuan
1. Mahasiswa mengetahui arti dan makna dari Gereja
2. Mahasiswa memahami seluk-beluk Gereja Katolik
3. Mahasiswa mampu menerapkan tugas Gereja di kehidupan sehari-hari
4
BAB II
PEMBAHASAN
1) SEJARAH GEREJA
Gereja dimulai 50 hari sesudah kebangkitan Yesus (sekitar tahun 30-34
Masehi). Yesus sudah berjanji bahwa Dia akan mendirikan gerejaNya (Matius
16:18), dan dengan datangnya Roh Kudus pada hari Pentakosta (Kisah 2:1-4),
Gereja (“kumpulan yang dipanggil keluar”) secara resmi dimulai.
Gereja Mula-Mula
Periode gereja mula-mula dimulai sejak dimulainya pelayanan rasul
Petrus, Paulus dan lain-lainnya dalam memberitakan kisah Yesus hingga
bertobatnya Kaisar Konstantinus I, kurang lebih tahun 33 hingga 325. Pada
periode ini gereja dan orang-orang Kristen mengalami penganiayaan,
terutama penganiayaan fisik, namun bapak-bapak gereja mulai menulis
tulisan-tulisan Kristen yang pertama dan ajaran-ajaran yang menyeleweng
yang bermunculan diatasi. Tidak lama setelah Pentakosta, pintu gereja terbuka
kepada orang-orang bukan Yahudi. Rasul Petrus berkhotbah kepada rumah
tangga Kornelius yang bukanlah orang Yahudi dan mereka juga menerima
Roh Kudus. Rasul Paulus (mantan penganiaya gereja) memberitakan Injil di
seluruh dunia Greko-Romawi, sampai ke Roma sendiri dan bahkan mungkin
sampai ke Spanyol. Pada tahun 70, tahun di mana Yerusalem dihancurkan,
kitab-kitab Perjanjian Baru telah lengkap dan beredar di antara gereja-gereja.
Untuk 240 tahun berikutnya, orang-orang Kristen dianiaya oleh Roma, kadang
secara acak, kadang atas perintah pemerintah. Pada abad kedua dan ketiga,
kepemimpinan gereja mejadi makin hierakis seiring dengan peningkatan
jumlah. Beberapa ajaran sesat diungkapkan dan ditolak pada zaman ini, dan
kanon Perjanjian Baru disepakati. Penganiayaan terus meningkat.
Gereja di bawah Kekaisaran Romawi
5
Periode ini dimulai sejak pertobatan Kaisar Konstantinus I dan
menjadikan Kristen sebagai agama resmi Romawi, hingga dimulainya Abad
Pertengahan, yaitu ketika Kaisar Romawi terakhir, Romulus Agustus
dijatuhkan, kira-kira tahun 313 hingga 476. Pada periode ini Kepausan mulai
berkembang, orang-orang Kristen tidak dianiaya sekejam dulu lagi, agama
dan politik mulai bercampur jadi satu, dan Alkitab bahasa Latin yang memuat
Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dikanonisasi.
Gereja pada Abad Pertengahan
Periode ini dimulai sejak berakhirnya kekuasaan Kaisar Romawi Barat
hingga dimahkotainya Charlemagne menjadi Kaisar Eropa Barat, kira-kira
tahun 476 hingga hari Natal tahun 800. Pada periode ini gereja, terutama
Kepausan, mengalami kemunduran moral. Para Paus dipaksa untuk terlibat
lebih dalam lagi dalam politik, yang seringkali kotor, dan harus mengimbangi
keinginan Kekaisaran Romawi Timur dan pemerintahan bangsa barbar di
Barat. Meskipun kebanyakan orang Kristen pada periode ini bermukim di
Asia Minor, namun penyebaran Injil terus dilakukan ke berbagai pelosok
Eropa yang akan memengaruhi sejarah Abad Pertengahan. Selama Abad
Pertengahan di Eropah, Gereja Katolik Roma terus memegang kekuasaan,
dengan Paus sebagai pemegang kekuasaan atas semua jenjang kehidupan dan
hidup seperti raja. Korupsi dan ketamakan dalam kepemimpinan gereja adalah
hal yang umum. Dari tahun 1095 sampai 1204 para Paus mendukung
serangkaian perang salib yang berdarah dan mahal dalam usaha untuk
mengusir kaum kaum Muslimin dan membebaskan Yerusalem.
Gereja pada awal mula Eropa
Periode ini dimulai sejak penahbisan Karel Agung sebagai Kaisar Eropa
Barat hingga kejatuhan Kekaisaran Romawi Timur dengan direbutnya
Konstantinopel oleh bangsa Turki (1453) dan Reformasi Protestan, kira-kira
tahun 800 hingga 1500. Pada mulanya, hampir seluruh Eropa Barat di bawah
kekuasaan Kaisar Kristen, Karel Agung. Misionaris-misionaris mulai dikirim
ke Eropa Timur dan Rusia, biarawan-biarawan mulai membuat perubahan dari
6
dasar setelah melihat keadaan gereja yang memburuk, dan Perang Salib
dengan bangsa Asia dimulai, namun universitas mulai dibuka sehingga tidak
hanya para rahib namun rakyat biasa juga dapat membaca dan menulis. Selain
itu terjadi perpisahan antara gereja Katolik Barat di Eropa Barat dan gereja
Ortodoks Timur di Asia Kecil.
Reformasi Protestan di Eropa
Periode ini diwarnai oleh tokoh-tokoh yang membawa pembaruan
dalam gereja Katolik Roma, kira-kira tahun 1517 hingga 1600. Tokoh-tokoh
Reformasi seperti Martin Luther, Yohanes Calvin, John Knox, pada akhirnya
mengakhiri dominasi para uskup dan biarawan dalam mempelajari Alkitab.
Reformasi Protestan menyebabkan Kontra-Reformasi dan reformasi lainnya
di Eropa Barat, sementara penemuan benua Amerika menyebabkan kaum
Protestan yang dianiaya di Eropa, terutama Inggris, melarikan diri ke Amerika
dan memulai negara baru yang berlandaskan kekristenan. Dalam waktu
seratus tahun, terjadi lebih banyak peristiwa-peristiwa penting dari abad-abad
sebelumnya, dan seluruh Eropa Barat terancam perang saudara. Di Inggris,
Perancis, Spanyol, Swiss, Skotlandia, pertentangan antara bangsawan dan
penguasa Kristen dan Katolik menyebabkan pertumpahan darah.
Gereja pada Abad Penjelajahan dan Abad Penerangan
Sejak abad ke-17, penjelajah-penjelajah dari Eropa menjelajahi seluruh
dunia dan pada saat yang bersamaan membawa iman mereka ke seluruh dunia.
Terkadang penduduk asli yang mereka datangi dipaksa menerima iman
mereka di bawah ancaman senapan, namun mayoritas pertobatan yang terjadi
di luar Eropa adalah berkat jasa-jasa para misionaris tak bernama baik Kristen
maupun Katolik, yang tinggal dan mengajar masyarakat setempat.
Gereja Modern
Saat ini Gereja Katolik Roma dan Gereja Ortodoks Timur telah
mengambil langkah-langkah untuk memperbaiki hubungan mereka yang
rusak, sebagaimana dilakukan pula oleh Katolik dan Lutheran. Gereja injili
berdiri sendiri dan berakar kuat dalam teologia Reformed. Gereja juga
7
menyaksikan bangkitnya Pentakostalisme, gerakan Karismatik, oikumenisme
dan berbagai ajaran sesat. Saat ini ada banyak gereja, namun hanya satu injil.
Itu adalah “mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orangorang kudus.” (Yudas 3). Mari kita dengan hati-hati mempertahankan iman
itu dan meneruskannya tanpa mengubahnya. Dan kiranya Tuhan terus
memenuhi janjiNya untuk membangun gerejaNya.
2) PERJALANAN HIDUP GEREJA
Gereja bukanlah “kerangka” karya Roh Kudus, melainkan boleh disebut
“hasil” karya Roh itu, yang hanya dapat dimengerti dalam kerangka dan proses
karya keselamatan Allah. Sejarah Gereja sudah mulai dengan Perjanjian Lama,
ketika Tuhan mengumpulkan umat Israel dan membuatnya menjadi bangsaNya yang terpilih. Langkah yang lebih jelas ke arah pembentukan Gereja adalah
kedatangan Yesus dan penampilan-Nya di tengah-tengah bangsa Israel.
Banyak orang menerima pewartaan-Nya dan menjadi pengikut-Nya.
Banyak pula menolak-Nya mentah-mentah. Kendati demikian, terbentuklah
suatu kelompok khusus di sekitar Yesus. Inti kelompok itu mereka yang di
kemudian hari “menjadi saksi-Nya bagi umat itu” (Kis 13:32), yaitu kelompok
para rasul. Secara khusus mereka dididik dan digembleng oleh Yesus, dan
Petrus diangkat menjadi pemimpin mereka (Mat 16:18; Luk 22:32; Yoh 21:1517). Itu tidak berarti bahwa Petrus dan para rasul mengambil alih tugas dan
perutusan Yesus.
Dengan jelas Yesus berjanji, “Aku akan datang kembali” (Yoh 14:3.28).
Dan “sesudah Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah dan menerima Roh
Kudus, maka Ia mengutus Roh itu” ke dalam Gereja (Kis 2:33), sebagai tanda
kehadiran-Nya di tengah-tengah mereka. Maka bukan hanya hubungan historis
yang mengikat Gereja kepada Yesus, melainkan terutama kehadiran Tuhan
yang mulia yang membuatnya bersatu-padu dengan Kristus, sehingga Paulus
menyebut Gereja “tubuh Kristus” (Rm 12:5; 1Kor 12:13.27; Ef 1:23; 4:12).
Gereja itu berkembang dalam peredaran zaman. Banyak dosa melekat padanya,
8
tetapi dalam kelemahan dan perjuangan itu Gereja tetap ditopang oleh Roh
Kudus yang telah diberikan kepadanya. Roh itu pula yang membantu secara
khusus mereka yang diberi tugas mempersatukan umat. Seluruh kehidupan
Gereja, pewartaan, perayaan dan pelayanannya, digerakkan dan didorong oleh
Roh yang sama. Struktur-struktur organisasi Gereja tidak menjamin kegiatan
dan kelestariannya, tetapi di dalam struktur-struktur itu karya Allah
terwujudkan dan dilaksanakan, biarpun dalam bentuk yang sangat kurang
sempurna. Itulah yang dimaksudkan dengan kepercayaan akan Gereja, yaitu
keyakinan bahwa Allah berkarya dalam kekurangan dan keterbatasan kegiatan
sekelompok manusia, yang terbentuk dalam sejarah Allah dengan manusia,
khususnya sejak Yesus Kristus hidup dan berkarya.
Namun karya Allah tidak terbatas pada Gereja, dan Kerajaan Allah tidak
sama dengan Gereja. Kerajaan Allah dimaksudkan untuk seluruh dunia,
khususnya untuk manusia yang melarat dan miskin, dan Gereja dipanggil untuk
menjadi pewartanya. Di dalam Gereja panggilan Allah disuarakan lagi.
Persekutuan umat merupakan awal dan dasar kesatuan seluruh umat manusia.
Tujuan dan sasaran karya keselamatan Allah bukan Gereja melainkan dunia.
Gereja hanyalah “tanda dan sarana” (LG 1). Semua itu bersama-sama ditambah
dengan banyak unsur lain, membentuk yang disebut misteri Gereja.
Kepercayaan akan Gereja adalah iman akan misteri itu, yang sekaligus
tersembunyi dan tampak dalam tanda.
3) ARTI DAN MAKNA GEREJA
a. Arti Gereja
Kata “Gereja” yang berasal dari kata igreja dibawa ke Indonesia oleh
para misionaris Portugis. Kata tersebut adalah ejaan Portugis untuk kata
Latin ecclesia, yang ternyata berasal dari bahasa Yunani, ekklesia. Kata
Yunani itu sebetulnya berarti ‘kumpulan’ atau ‘pertemuan’, ‘rapat’. Namun
Gereja atau ekklesia bukan sembarang kumpulan, melainkan kelompok
orang yang sangat khusus. Untuk menonjolkan kekhususan itu dipakailah
kata asing itu. Kadang-kadang dipakai kata “jemaat” atau “umat”. Itu tepat
9
juga. Tetapi perlu diingat bahwa jemaat ini sangat istimewa. Maka
barangkali lebih baik memakai kata “Gereja” saja, yakni ekklesia. Kata
Yunani itu berasal dari kata yang berarti ‘memanggil’. Gereja adalah umat
yang dipanggil Tuhan. Itulah arti sesungguhnya kata “Gereja”.
b. Pegertian Gereja dalam Kitab Suci dan Ajaran Gereja
Pemahaman tentang arti dan makna Gereja dalam hidup sehari-hari
a.
Gereja adalah gedung, Gereja adalah rumah Allah, tempat beribadat, misa,
atau merayakan ekaristi Umat Katolik atau Umat kristiani pada umumnya.
b.
Gereja adalah ibadat; Gereja adalah lembaga rohani yang menyalurkan
kebutuhan manusia dalam relasinya dengan Allah lewat ibadat-ibadat.
Atau, Gereja adalah lembaga yang mengatur dan menyelenggarakan ibadatibadat. Gereja adalah persekutuan Umat yang beribadat.
c.
Gereja adalah ajaran; Gereja
mempertahankan
adalah
lembaga
untuk
dan mempropagandakan seperangkat ajaran yang
biasanya dirangkum dalam sebuah buku yang disebut Katekismus. Untuk
bisa menjadi anggota Gereja, calon harus mengetahui
ajaran/doktrin/dogma.
Menjadi
anggota
Gereja
sejumlah
berarti menerima
sejumlah “kebenaran”.
d.
Gereja adalah organisasi/lembagasejagat/internasional; Gereja adalah
organisasi dengan pemimpin tertinggi di Roma dengan cabang-cabangnya
sampai ke pelosok- pelosok seantero jagat. Garis komando dan koordinasi
diatur dengan rapi dan teliti. Ada pimpinan; Paus, Uskup-Uskup, PastorPastor, Biarawan dan Umat.
e.
Gereja adalah Umat pilihan; Gereja
adalah
kumpulan
orang
yang
dipilih dan dikhususkan Allah untuk diselamatkan. Tanpa menjadi anggota
Gereja maka tidak akan diselamatkan masuk surga.
f.
Gereja
adalah
badan
sosial;
Gereja
adalah
Lembaga
yang
menyelenggarakan sekolah- sekolah, rumah sakit-rumah sakit dan macammacam usaha untuk menolong orang miskin.
10
Kata “Gereja” bukanlah semacam batasan atau definisi. Ekklesia adalah
kata yang biasa saja pada zaman para rasul. Dari cara memakainya,
kelihatan bagaimana jemaat perdana memahami diri dan merumuskan
karya keselamatan Tuhan di antara mereka. Kadang-kadang mereka berkata
“Gereja Allah” atau juga “jemaat Allah” (lih. 1Kor 10:32; 11:22; 15:9; dst.),
yang kiranya sesuai dengan cara berbicara orang Yahudi (lih. Ul 23:1.2;
Hak 20:2; dst.). Maksud sebutan itu dapat menjadi jelas dari 1Kor 11:1722. Di situ Paulus berbicara mengenai jemaat yang berkumpul untuk
perayaan Ekaristi. Mereka menjadi “jemaat” atau “Gereja” karena iman
mereka akan Yesus Kristus, khususnya akan wafat dan kebangkitan-Nya.
Gereja adalah “jemaat Allah yang dikuduskan dalam Kristus Yesus” (1Kor
1:2). Maka sebetulnya ada tiga “nama” yang dipakai untuk Gereja dalam
Perjanjian Baru: “Umat Allah”, “Tubuh Kristus”, dan “bait Roh Kudus”.
Ketiga-tiganya berkaitan satu sama lain.

Gereja: Umat Allah
Kata Umat Allah merupakan istilah dari Perjanjian Lama (dalam
Perjanjian Baru dipakai terutama dalam kutipan dari PL). Yang paling
menonjol dalam sebutan ini ialah bahwa Gereja itu umat terpilih Allah (lih.
1Ptr 2:9). Oleh Konsili Vatikan II (LG 9) sebutan “Umat Allah” amat
dipentingkan, khususnya untuk menekankan bahwa Gereja bukanlah
pertama-tama suatu organisasi manusiawi melainkan perwujudan karya
Allah yang konkret. Tekanan ada pada pilihan dan kasih Allah. Sebelum
berbicara mengenai kelompok atau “tingkat” di dalam Gereja, perlu
disadari lebih dahulu bahwa Gereja adalah kelompok dinamis, yang keluar
dari sejarah Allah dengan manusia.
Memang kata “umat Allah” sedikit “kabur”, tetapi kata ini dipakai agar
Gereja tidak dilihat secara yuridis dan organisatoris melulu. Gereja muncul
dan tumbuh dari sejarah keselamatan, yang sudah dimulai dengan panggilan
Abraham. Dengan demikian Konsili juga mau menekankan bahwa Gereja
“mengalami dirinya sungguh erat berhubungan dengan umat manusia serta
11
sejarahnya” (GS 1). Sekaligus jelas pula bahwa Gereja itu majemuk: “Dari
bangsa Yahudi maupun kaum kafir Allah memanggil suatu bangsa, yang
bersatu-padu bukan menurut daging, melainkan dalam Roh” (LG 9).
Konsili Vatikan II melihat Gereja dalam rangka sejarah keselamatan, tetapi
tidak berarti bahwa Gereja hanyalah lanjutan bangsa Israel saja.
Kedatangan Kristus memberikan arti yang baru kepada umat Allah.
Dalam Perjanjian Lama Tuhan bersabda, “Jika kamu sungguh-sungguh
mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu
akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa” (Kel
19:5). Hubungan ini sering dirumuskan secara singkat oleh para nabi begini:
“Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku” (Yer
7:23; 11:4; 24:7; 30:22; 31:1.33; 32:38; lih. juga Yes 51:15-16; Yeh 37:27;
Bar 2:35). Kata-kata itu diulangi lagi dalam Perjanjian Baru, “Kita adalah
bait dari Allah yang hidup, menurut firman Allah ini: Aku akan diam
bersama-sama dengan mereka dan hidup di tengah-tengah mereka, dan Aku
akan menjadi Allah mereka, dan mereka akan menjadi umat-Ku” (2Kor
6:16; lih. Ibr 8:10; Why 21:3). Menurut kesadaran Perjanjian Baru, hal itu
justru terlaksana dalam Kristus. Dia adalah “Imanuel, yang berarti: Allah
beserta kita” (Mat 1:23), “sebab dalam Dia-lah berdiam secara jasmaniah
seluruh kepenuhan ke-Allah-an” (Kol 2:9). Yohanes menjelaskan hal itu
lebih lanjut: “Demikianlah kita ketahui, bahwa kita di dalam Allah dan
Allah di dalam kita: kita telah diperbolehkan mengambil bagian dalam RohNya” (1Yoh 4:13).
Dari pengalaman Roh, kita mengetahui bahwa Allah ada di dalam diri
kita. Sejarah keselamatan, yang dimulai dengan panggilan Abraham,
berjalan terus dan mencapai puncaknya dalam wafat dan kebangkitan
Kristus serta pengutusan Roh Kudus. Maka Gereja bukan hanya lanjutan
umat Allah yang lama, tetapi terutama kepenuhannya, karena sejarah
keselamatan Allah berjalan terus dan Allah memberikan diri dengan
12
semakin sempurna (bdk. 1Kor 15:28). Oleh: karena itu, dengan sebutan
“umat Allah” belum terungkap seluruh kekayaan hidup rohani Gereja.

Gereja: Tubuh Kristus
Sebutan yang lebih khas Kristiani adalah Tubuh Kristus. Paulus
menjelaskan maksud kiasan itu:
“Sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak – segala
anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh – demikian pula
Kristus. Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi maupun
orang Yunani, baik budak maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi
satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh” (1Kor 12:12-13).
Dengan gambaran “tubuh”, Paulus mau mengungkapkan kesatuan
jemaat, kendatipun ada aneka karunia dan pelayanan (lih. ay. 7). Gereja itu
satu. Ia menegaskan, bahwa “mata tidak dapat berkata kepada tangan. Aku
tidak membutuhkan engkau. Dan kepala tidak dapat berkata kepada kaki:
Aku tidak membutuhkan engkau” (ay, 21). Sebab “tubuh tidak terdiri dari
satu anggota, tetapi atas banyak anggota” (ay. 14). Maka ditarik
kesimpulan: “Kamu semua adalah tubuh Kristus dan masing-masing adalah
anggotanya” (ay. 27). Hal yang sama dikatakan dalam surat kepada umat di
Roma (12:4-5).
Tetapi dalam surat kepada umat Kolose dan Efesus gagasan ini
dikembangkan lebih lanjut. Dalam Ef 1:23 dikatakan bahwa “jemaat adalah
tubuh Kristus, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dari segala
sesuatu” (bdk. Kol 1:18.24). Di sini yang dimaksudkan bukanlah kesatuan
antara para anggota jemaat, melainkan kesatuan jemaat dengan Kristus.
Oleh karena itu Kristus juga disebut “kepala” Gereja (lih. Ef 1:22; 4:15;
5:23; Kol 1:18). Hal itu jelas dari Ef 4:16:
“Kristus adalah Kepala. Dari pada-Nyalah seluruh tubuh – yang rapi
tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai
dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota – menerima pertumbuhannya dan
membangun dirinya dalam kasih”.
13
Dari satu pihak dipertahankan gagasan Paulus mengenai kesatuan
dalam jemaat, yang “diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya”.
Tetapi dari pihak lain dengan jelas dikatakan bahwa jemaat itu “menerima
pertumbuhannya” dari Kristus, yang adalah Kepala. Di sini pun masih
dipergunakan bahasa kiasan, tetapi bukan sebagai perbandingan saja.
Dengan gambaran tubuh mau dinyatakan kesatuan hidup antara Gereja dan
Kristus. Gereja hidup dari Kristus, dan dipenuhi oleh daya ilahi-Nya (lih.
Kol 2:10).
Perlu diperhatikan bahwa teks-teks Kitab Suci mengenai Tubuh Kristus
berbicara mengenai Kristus yang mulia. Tuhan yang mulia “dengan
mengaruniakan Roh-Nya secara gaib membentuk orang beriman menjadi
Tubuh-Nya” (LG 6). “Dialah damai-sejahtera kita” (Ef 2:14), Dia yang
dalam Injil Yohanes telah bersabda: “Apabila Aku ditinggikan dari bumi,
Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku” (Yoh 12:32).
Dalam arti sesungguhnya, proses pembentukan Tubuh baru mulai
dengan peninggian Yesus, yakni dengan wafat dan kebangkitan-Nya.
Tetapi itu tidak berarti bahwa sabda dan karya Yesus sebelumnya tidak ada
sangkut-pautnya dengan pembentukan Gereja. Memang tidak dapat
ditentukan suatu hari atau tanggal Yesus mendirikan Gereja. Tidak ada
“Hari Proklamasi Gereja”. Gereja berakar dalam seluruh sejarah
keselamatan Tuhan, dan terbentuk secara bertahap. Dalam proses
pembentukan itu wafat dan kebangkitan Kristus, beserta pengutusan Roh
Kudus,
merupakan
peristiwa-peristiwa
yang
paling
menentukan.
Sebelumnya sudah ada kejadian yang amat berarti, misalnya panggilan
kedua belas rasul dan pengangkatan Petrus menjadi pemimpin mereka.
Peristiwa terakhir itu dalam Injil Matius dihubungkan secara khusus dengan
pembentukan Gereja: “Engkaulah Petrus dan di atas batu karang ini Aku
akan mendirikan Gereja-Ku” (Mat 16:18). Namun banyak orang
14
berpendapat bahwa sabda Yesus ini pun tidak berasal dari situasi sebelum
kebangkitan-Nya.
Pertama-tama harus dikatakan bahwa sabda Yesus ini hanya terdapat
dalam Injil Matius saja, Dan pada umumnya diterima bahwa Matius
menggabungkannya pada teks yang sudah terdapat pada Markus.
Kemungkinan besar Markus pun dengan sengaja menempatkan pengakuan
Petrus ini (Mrk 8:29 = Mat 16:16) di tengah-tengah Injilnya. Dengan
demikian pengakuan iman akan Yesus dikembangkan secara bertahap:
Petrus dahulu (8:29), “Engkau adalah Mesias”, dan kemudian kepala
pasukan di bawah salib (15:39), “Sungguh, orang ini adalah Anak Allah”.
Cukup mengherankan bahwa sesudah pengakuan Petrus yang begitu jelas,
di kemudian hari para rasul, termasuk Petrus sendiri, masih begitu bingung
dan seolah-olah sama sekali tidak mengetahui siapa Yesus sebenarnya.
Mungkin hal itu mau ditutup oleh Markus dengan larangan Yesus “supaya
jangan memberitahukan kepada siapa pun tentang Dia” (Mrk 8:30). Tetapi
larangan ini juga mengherankan, bahkan membingungkan. Sebab baru saja
Yesus bertanya kepada mereka “Siapakah Aku ini?” Seandainya Yesus
tidak mau dikenal orang, mengapa Ia bertanya mengenai diri-Nya?
Mungkin semua ini rumusan Markus yang memindahkan pengakuan Petrus
dari situasi sesudah kebangkitan ke dalam peristiwa Kaisarea Filipi.
Kendatipun penugasan Petrus dikaitkan secara langsung dengan Gereja,
yang sesungguhnya dibicarakan bukanlah Gereja melainkan Petrus dan
peranannya. Maka akhirnya memang tidak ada satu peristiwa atau kisah pun
yang secara khusus menceriterakan bagaimana Yesus mendirikan Gereja.
Gereja berkembang dalam sejarah keselamatan Allah. Oleh karena itu
Gereja sekarang masih tetap pada perjalanan menuju kepenuhan rencana
Allah itu. Gereja bukan tujuan, melainkan sarana dan jalan yang mengarah
kepada tujuan itu.
15

Gereja: Bait Roh Kudus
Gambaran Gereja yang paling penting barangkali Gereja sebagai Bait
Roh Kudus. Paulus berkata, “Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah Bait
Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” (1Kor 3:16; lih. 2Kor
6:16; Ef 2:21). Bait Allah berarti tempat pertemuan dengan Allah, dan
menurut ajaran Perjanjian Baru itu adalah Kristus (lih. Yoh 2:21; Rm 3:25).
“Karena oleh Dia, dalam satu Roh, kita beroleh jalan masuk kepada Bapa”
(Ef 2:18; lih. 3:12). Di dalam Gereja orang diajak mengambil bagian dalam
kehidupan Allah Tritunggal sendiri. Gereja itu Bait Allah bukan secara
statis, melainkan dengan berpartisipasi dalam dinamika kehidupan Allah
sendiri. Maka Konsili Vatikan II juga mendorong umat beriman agar
dengan perayaan liturgi setiap hari membangun diri “menjadi bait suci
dalam Tuhan, menjadi kediaman Allah dalam Roh, sampai mencapai
kedewasaan penuh sesuai dengan kepenuhan Kristus” (SC 2).
Gereja itu Bait Allah yang hidup dan berkembang. Gereja “dibangun di
atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu
penjuru. Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi
Bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Dia kamu juga turut
dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh” (Ef 2:20-22).
Jelas sekali bahwa semua gambaran tidak cukup untuk merumuskan jati diri
Gereja dengan tepat. Namun “melalui pelbagai gambaran” kita berusaha
“menangkap makna Gereja yang mendalam” (LG 6). Oleh karena itu Gereja
tidak hanya memakai gambaran yang diambil dari Kitab Suci. Usaha
memahami makna Gereja yang terdalam dijalankan terus. Khususnya oleh
Konsili Vatikan II Gereja dimengerti dengan gambaran yang lain, yakni
sebagai misteri, sakramen, dan communion.

Gereja: Misteri dan Sakramen
Dalam masa yang lampau, khususnya oleh Konsili Vatikan I dan juga
masih dalam ensiklik Paus Pius XII, Mystici Corporis (1943), Gereja dilihat
terutama sebagai organisasi dan lembaga yang didirikan oleh Kristus. Di
16
dalam pandangan itu diberikan tempat yang amat penting kepada hierarki,
paus, uskup dan imam, sebagai pengganti Kristus yang harus meneruskan
tugas-Nya di dunia ini. Konsili Vatikan II tidak mau menonjolkan segi
institusional Gereja ini, kendatipun juga tidak menyangkalnya. Konsili
Vatikan II, khususnya dalam konstitusi Lumen Gentium, lebih menonjolkan
misteri Gereja, sebagai tempat pertemuan antara Allah dan manusia. Kata
“misteri” ini tidak bisa dilepaskan dari kata “sakramen”. Dan kedua kata ini
bersama menunjukkan inti-pokok kehidupan Gereja.
Kata “misteri” berasal dari bahasa Yunani mysterion, dan sebetulnya
sulit diterjemahkan, sebab dalam Perjanjian Lama berbahasa Yunani
(Septuaginta) kata itu dipakai sebagai terjemahan untuk dua kata yang
berbeda, yakni kata Ibrani sod dan kata Aram raz. Yang pertama berarti
‘dewan penasihat Tuhan’ (Yer 3:18; lih, juga Ayb 15:8) yang
mengungkapkan “keakraban Tuhan bagi yang takut kepada-Nya” (Mzm
25:14). Maka kata “misteri” tidak pertama-tama berarti sesuatu yang
tersembunyi, melainkan suatu rahasia yang dibuka bagi sahabat karib. Sama
halnya dengan kata Aram raz, arti pokoknya ialah ‘rencana kerja’, yang juga
hanya
diberitahukan
kepada
orang-orang
kepercayaan
(lih.
Dan
2:22.28.47). Akhirnya ada kata mysterion sendiri, yang dalam bahasa
Yunani profan menyatakan bahwa sesuatu “sulit ditangkap”. Maka dalam
Kitab Suci kata itu dipakai untuk hal-hal yang hanya diketahui oleh Allah
sendiri (lih. Keb 2:22). Tetapi Tuhan “tidak akan menyembunyikan rahasiarahasia itu bagimu” (Keb 6:22; lih, Sir 4:18). Inti-pokok kata “misteri”
dalam Kitab Suci ialah rencana Allah yang diwahyukan kepada manusia.
Tekanan tidak ada pada ketersembunyian, melainkan pada pewahyuan.
Hanyalah perlu disadari bahwa Tuhan memberikan pewahyuan-Nya kepada
orang terpilih, kepada sahabat karib.
Sebetulnya kata Yunani mysterion sama dengan kata Latin
sacramentum. Dalam Kitab Suci kedua-duanya dipakai untuk rencana
keselamatan Allah yang disingkapkan kepada manusia. Sebetulnya kedua
17
kata itu sama artinya, hanya lain bahasanya. Tetapi dalam perkembangan
teologi kata “misteri” dipakai terutama untuk menunjuk pada segi ilahi (dan
tersembunyi) rencana dan karya Allah, sedangkan kata “sakramen” lebih
menunjuk pada aspek insani (dan tampak). Maka kedua kata itu, yang
sebetulnya sama artinya, dalam praktik menonjolkan aspek-aspek yang lain.
Gereja disebut “misteri” karena hidup ilahinya, yang masih tersembunyi
dan hanya dimengerti dalam iman; tetapi juga disebut “sakramen”, karena
misteri Allah itu justru menjadi tampak di dalam Gereja. Oleh karena itu
misteri dan sakramen kait-mengait: Kalau misteri tidak sedikit tampak (dan
menjadi sakramen), maka tidak diketahui bahwa ada misteri; tetapi kalau
sakramen sudah seluruhnya terang-benderang, bukan tanda kenyataan ilahi
(“misteri”) lagi. Maka dengan tepat Konsili Vatikan II berkata, “Gereja
adalah – dalam Kristus – bagaikan sakramen, yakni tanda dan sarana
persatuan mesra dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia” (LG 1).
Gereja itu misteri dan sakramen sekaligus. “Adapun serikat yang
dilengkapi dengan jabatan hierarkis dan Tubuh mistik Kristus, kelompok
yang tampak dan persekutuan rohani, Gereja di dunia dan Gereja yang
diperkaya dengan karunia-karunia surgawi, janganlah dipandang sebagai
dua hal; melainkan semua itu merupakan satu kenyataan yang kompleks,
dan terwujudkan karena perpaduan unsur manusiawi dan ilahi” (LG 8). Dari
satu pihak Gereja adalah “kelompok yang tampak”, “dilengkapi dengan
jabatan hierarkis”, karena hidup “di dunia”; ini semua disebut “unsur
manusiawi” dan ditunjukkan dengan kata sakramen. Tetapi sekaligus
Gereja itu bermakna ”ilahi”, karena merupakan “Tubuh mistik Kristus” dan
adalah “persekutuan rohani”, “yang diperkaya dengan karunia-karunia
surgawi”; itulah sebabnya disebut misteri. Tetapi misteri dan sakramen
“janganlah dipandang sebagai dua hal”.
Misteri dan sakramen adalah dua aspek dari satu kenyataan, yang
sekaligus ilahi dan insani, yang disebut “Gereja”. Gereja adalah “sakramen
yang kelihatan, yang menandakan kesatuan yang menyelamatkan itu” (LG
18
9; lih. 48), “sakramen keselamatan bagi semua orang, yang menampilkan
dan sekaligus mewujudkan misteri cinta kasih Allah terhadap manusia” (GS
45). Gereja tidak hanya menunjuk kepada keselamatan Allah sebagai suatu
kenyataan di luar dirinya. Karya Allah, oleh Roh, sudah terwujudkan di
dalam Gereja. Dari pihak lain “Gereja baru akan mencapai kepenuhannya
dalam kemuliaan di surga”. Namun “pembaruan, janji yang didambakan,
telah mulai dalam Kristus, digerakkan dengan perutusan Roh Kudus, dan
karena Roh itu berlangsung terus di dalam Gereja” (LG 48).

Gereja: Communio
Ajaran Konsili Vatikan II ini ditegaskan kembali oleh sinode luar-biasa
para uskup pada tahun 1985. Para uskup sekaligus mengemukakan suatu
rumus pemahaman Gereja yang baru, yang dilihat sebagai pokok ajaran
Vatikan II, yakni paham communio atau persekutuan. Kata itu, yang
merupakan terjemahan Latin dari kata Yunani koinonia, harus dimengerti
dengan latar belakang Kitab Suci. Sinode mengkhususkan artinya sebagai
“hubungan atau persekutuan (communio) dengan Allah melalui Yesus
Kristus dalam sakramen-sakramen”. Ditonjolkan juga sifat sakramen dan
misteri, namun diartikan secara dinamis sebagai hubungan atau
persekutuan. Sinode menegaskan bahwa paham communio tidak dapat
dimengerti secara organisasi saja. Dari pihak lain, paham communio juga
mendasari “komunikasi” di antara para anggota Gereja sendiri. Oleh karena
itu kesatuan communio ini berarti keanekaragaman para anggotanya dan
keanekaragaman dalam cara berkomunikasi, sebab “Roh Kudus, yang
tinggal di hati umat beriman, dan memenuhi serta membimbing seluruh
Gereja, menciptakan persekutuan umat beriman yang mengagumkan itu.
Dialah yang membagi-bagikan aneka rahmat dan pelayanan, serta
memperkaya Gereja Yesus Kristus dengan pelbagai anugerah” (UR 2).
Begitu juga struktur organisatoris Gereja, khususnya kepemimpinan
Petrus merupakan “asas dan dasar kesatuan iman serta persekutuan yang
tetap dan kelihatan” (LG 18). Dalam arti yang sesungguhnya communio
19
atau persekutuan Gereja adalah hasil karya Roh di dalam umat beriman (lih.
LG 4). Itulah sebabnya communio Gereja tidak pernah dapat diterangkan
secara organisatoris atau sosiologis saja. Memang di dalamnya ada unsur
organisatoris dan komunikasi antara manusia, sebagai sifat insani
kehidupan Gereja. Ada dua hal yang perlu diperhatikan secara khusus:
komunikasi di dalam Gereja Katolik antara Gereja setempat dan Gereja
sedunia; serta komunikasi keluar Gereja Katolik, dalam hubungan dengan
Gereja-Gereja Kristen yang lain.
Khususnya mengenai kedua masalah ini, communio Gereja-gereja
setempat dengan pusat Gereja universal di Roma, serta communio dengan
Gereja-gereja bukan-Katolik, pada 22 Mei 1992 Kongregasi untuk Ajaran
Iman mengirim surat kepada para uskup Gereja Katolik. Di dalamnya
ditegaskan kedua segi communio: hubungan vertikal dengan Allah dan
horizontal antara manusia. Dalam persekutuan yang terakhir perlu
diperhatikan segi institusional-hierarkis. Dengan kata lain, dalam hal
communio perlu diingat sifat sakramental Gereja, yang mempersatukan
unsur ilahi dengan struktur insani. Menekankan satu aspek secara berlebihlebihan akan merugikan aspek yang lain.
Gereja janganlah dilihat dalam dirinya sendiri saja. Dengan paham
communio Gereja juga dilihat dalam hubungannya dengan orang Kristen
yang lain, bahkan dengan seluruh umat manusia. Gereja tidak tertutup
dalam dirinya sendiri. Memang Gereja mempunyai banyak sifat yang
khusus dan tampil sebagai agama Kristen atau bahkan sebagai agama
Katolik. Namun kalau Gereja memahami diri dalam kerangka seluruh
sejarah keselamatan, juga sebagai agama harus memperhatikan hubungan
dengan kelompok keagamaan yang lain. Sebagai agama Gereja
mewujudkan diri secara historis dalam rangka sosio-kebudayaan tertentu,
dan ada bahaya bahwa Gereja terikat oleh unsur-unsur kebudayaan itu. Oleh
karena itu amat penting, dengan communio dan komunikasi dipertahankan
20
keterbukaan Gereja terhadap hal-hal yang baru, juga terhadap pemahaman
diri yang baru.

Gereja: Persekutuan Para Kudus
Dalam syahadat pendek Gereja juga disebut “persekutuan para kudus”,
communio sanctorum. Ternyata sebutan itu baru pada akhir abad ke-4, di
Gereja Barat dimasukkan ke dalam syahadat pendek itu. Maksud serta
artinya tidak seluruhnya jelas, sebab kata Latin communio sanctorum tidak
hanya dapat berarti “persekutuan-para kudus”, tetapi juga sebagai
“partisipasi dalam hal-hal yang kudus”. Namun kedua arti ini tidak
bertentangan satu sama lain, sebab partisipasi bersama dalam harta
keselamatan (yang disebut “hal-hal yang kudus”), terutama dalam Ekaristi
(lih. 1Kor 10:16), merupakan akar persekutuan antara orang beriman (yaitu
“para kudus” menurut istilah yang lazim dalam Kitab Suci) yang juga
dinyatakan dalam perhatian untuk saudara dalam iman (lih. Rm 15:26; 2Kor
8:4; Ibr 13:16). Gereja pertama-tama suatu “persekutuan dalam iman” (Flm
6), “persekutuan dengan Yesus Kristus” (1Kor 1:9; lih. 1Yoh 1:3),
“persekutuan Roh” (Flp 2:1; lih. 2Kor 13:13). Komunikasi iman
mengakibatkan suatu persekutuan rohani antara orang beriman sebagai
anggota satu Tubuh Kristus dan membuat mereka menjadi sehati-sejiwa
(lih. 1Yoh 1:7). Dengan demikian, “persekutuan para kudus” dapat berarti
Gereja dari segala zaman.
Lebih khusus lagi dibedakan antara Gereja yang berjuang di dunia ini,
Gereja yang menderita khususnya dalam api pencucian, dan akhirnya
Gereja yang mulia dalam kemuliaan surgawi (misteri ini secara khusus
dirayakan oleh Gereja setiap tanggal 1 dan 2 November). Dengan rumus
“persekutuan para kudus” dari semula mau ditegaskan bahwa kesatuan atau
persekutuan di dalam Gereja bukanlah sesuatu yang lahiriah atau sosial saja.
Sumber kesatuan Gereja yang sesungguhnya ialah Roh Kudus, yang
mempersatukan semua oleh rahmat-Nya. Selalu ditekankan bahwa kesatuan
lahiriah menampakkan dan mewujudkan kesatuan dalam Roh itu. Kesatuan
21
organisatoris bukanlah penjamin kehidupan Gereja. Sebaliknya segala
komunikasi dan kegiatan Gereja berasal dari Roh yang menggerakkannya
dari dalam. Maka “persekutuan para kudus” akhirnya tidak lain daripada
rumusan lain bagi Gereja sebagai Umat Allah, Tubuh Kristus dan Bait Roh
Kudus. “Dengan berpegang teguh kepada kebenaran di dalam kasih kita
bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala”
(Ef 4:15).
4) GEREJA YANG HIDUP
a. Sifat-sifat atau ciri-ciri gereja
Jati diri Gereja, sifat-sifatnya, yang kadang-kadang juga disebut “ciri-ciri
Gereja” dirumuskan dengan banyak kata. Sebetulnya ciri tidak tepat sama dengan
sifat, dan perbedaan itu pernah amat dipentingkan dalam sejarah Gereja. Dalam hal
ini perlu diperhatikan bahwa Gereja itu sekaligus ilahi dan insani, berasal dari Yesus
dan berkembang dalam sejarah. Sifat atau ciri Gereja beserta artinya lambat laun
menjadi jelas bagi Gereja sendiri. Keempat sifat itu memang kait-mengait, tetapi tidak
merupakan rumus yang siap pakai. Gereja memahaminya dengan merefleksikan
dirinya sendiri serta karya Roh di dalam dirinya.
Sifat-sifat atau ciri-ciri Gereja: Ef 5:27 telah melukiskan Gereja sebagai “yang
kudus” dan kiranya gagasan itu diambil alih dari Perjanjian Lama (Kel 19; Ul 7:6;
26:19; dll.). Perjanjian Lama kaum beriman juga disebut “orang kudus” (1Mak
10:39.44; Keb 18:19), dan kebiasaan itu pun diteruskan dalam Perjanjian Baru. Sejak
abad pertama (Ignatius dari Antiokhia) sebutan “Gereja yang kudus” menjadi umum.
Seperti dalam 1Ptr 2:9 begitu juga dalam tradisi selanjutnya (mis. Yustinus) “bangsa
yang kudus” selalu dihubungkan dengan “bangsa terpilih” serta “umat kepunyaan
Allah”. Maka tidak mengherankan bahwa dalam syahadat Gereja disebut “kudus”.
Kata “Katolik” tidak terdapat dalam Kitab Suci, tetapi sudah dipakai oleh
Ignatius dari Antiokhia untuk menunjukkan sifat universal (semesta) Gereja yang
tersebar di seluruh dunia. Sejak abad ke-2 kata “Katolik”, dalam arti universal, mulai
dilawankan dengan aneka sekte dan bidaah (ajaran salah) yang bermunculan pada
22
zaman itu. Kata “Katolik” tetap berarti “umum”, universal, tetapi dipakai untuk
menunjuk pada Gereja yang “benar”, dilawankan dengan bidaah-bidaah itu.
“Katolik” adalah kata yang baru dan sebelum tahun 380 tidak dipakai dalam syahadat.
Dalam Perjanjian Baru sudah jelas terungkap gagasan, bahwa “dalam satu Roh
kita semua, baik orang Yahudi maupun orang Yunani, baik budak maupun orang
merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu
Roh” (1Kor 12:13). “Semua adalah satu dalam Kristus Yesus” (Gal 3:28). Bapa-bapa
Gereja juga sering berbicara mengenai kesatuan Gereja, yang berakar dalam kesatuan
Allah Tritunggal sendiri. Lumen Gentium mengutip St. Siprianus, “Gereja tampak
sebagai umat yang disatukan berdasarkan kesatuan Bapa dan Putra dan Roh Kudus”
(LG 4). Kesatuan malah dilihat sebagai sifat Gereja yang paling penting, karena
mewujudkan cinta persaudaraan. Karena itu, kesatuan juga menjadi tanda Gereja
yang benar, yang tidak terdapat pada sekte-sekte yang memisahkan diri dari Gereja
yang satu itu. Khususnya sesudah thn 381, ketika rumus “Gereja yang satu, kudus
Katolik dan apostolik” dimasukkan dalam syahadat, kesatuan pun dilihat sebagai ciri
pengenal Gereja. Aneka segi kesatuan ditonjolkan oleh para Bapa Gereja guna
menampilkan keluhuran Gereja.
Sama halnya dengan kata “apostolik”, Kesadaran bahwa Gereja berasal dari
zaman para rasul dan tetap mau berpegang teguh pada iman apostolik, sudah
diungkapkan sejak abad ke-2. Pewartaan Gereja dilihat sebagai penerusan sabda
Yesus, melalui para rasul, dan sering ditonjolkan hubungan turun-temurun antara para
rasul dan Gereja selanjutnya. Gereja mulai dengan para rasul dan tetap mempunyai
iman yang sama. Maka “apostolik” atau rasuli, tidak hanya berarti dari (zaman) para
rasul, tetapi juga sesuai dengan pewartaan dan ajaran para rasul. Sudah sejak zaman
Ignatius dari Antiokhia sifat ini dilihat sebagai tanda Gereja yang benar, Itulah artinya
dalam syahadat panjang.
Kelihatan bahwa sifat-sifat Gereja, terutama kesatuan, kekatolikan dan
keapostolikan, semakin berkembang menjadi “ciri-ciri” Gereja, yakni tanda pengenal
Gereja yang benar. Khususnya pada zaman Reformasi masalah sifat atau ciri Gereja
mendapat banyak perhatian (karena timbul lagi pertanyaan mengenai Gereja yang
23
benar). Sifat dan ciri sebetulnya tidak tepat sama. Sebab ciri dapat dilihat dan dikenal,
sedang sifat mungkin tersembunyi, khususnya bagi orang yang tidak atau belum
percaya. Oleh karena itu orang Protestan pada zaman Reformasi mengemukakan
pewartaan Injil dan sakramen-sakramen sebagai ciri-ciri Gereja yang benar.
Mengenai hal itu timbullah pertengkaran yang hebat pada zaman itu. Hampir semua
pihak sependapat bahwa empat sifat tradisional Gereja sulit dapat dipakai sebagai
tanda pengenal Gereja yang benar, sebab selalu harus diterangkan apa yang dimaksud
dengan “Gereja yang satu”, melihat segala perpecahan dan pertengkaran di dalam
Gereja. Begitu juga dengan kesucian Gereja, yang “merangkum pendosa-pendosa
dalam pangkuannya sendiri” (LG 8); atau dengan kekatolikan Gereja, yang semakin
terbatas pada kelompok-kelompok tertentu; sedang keapostolikan Gereja menjadi
tanda-tanya besar bagi semua yang melihat perkembangan ajaran Gereja sebagai
penyelewengan. Tambah lagi, belum dijelaskan mengapa sifat dan ciri Gereja dibatasi
pada empat itu saja. Banyak sifat (dan ciri) lain dapat disebut: dipanggil dan dikasihi
Allah, tampak, mempunyai struktur organisatoris, ibadat khusus, dll. Tetapi masalah
pokok sejak Reformasi ialah hubungan antara keempat sifat itu, satu, kudus, Katolik
dan apostolik, dan ciri-ciri atau sifat yang kelihatan. Di sini muncul lagi soal Gereja
sebagai “misteri” dan Gereja sebagai “sakramen”. Kedua aspek itu berkaitan (bahkan
sebetulnya kedua kata itu mempunyai arti yang sama), namun juga tidak tepat sama.
Harus dibedakan antara yang kelihatan dan yang tak kelihatan sebagai unsur insani
dan ilahi. Hal itu berlaku juga untuk sifat dan ciri Gereja. Dilihat dari sudut misteri,
kesatuan Gereja itu pertama-tama kesatuan iman; dan kesuciannya ialah kekudusan
rahmat; kekatolikannya berarti keterbukaan yang seluas kehendak penyelamatan
Allah dan keapostolikan mengungkapkan inti pokok iman bahwa Gereja adalah
kumpulan orang beriman, yang dipersatukan oleh kesaksian iman para rasul. Kalau
Gereja dilihat sebagai sakramen, adakah keempat sifat itu lalu langsung menjadi
“ciri” yang kelihatan? Bagaimana Gereja menampilkan diri sebagai Gereja Kristus?
Kesatuan iman harus tampak secara lahiriah dan kekudusan rahmat harus dinyatakan
dalam ibadat dan kelakuan; kekatolikan Gereja harus mendapat bentuk yang nyata
24
dalam dialog dengan Gereja-gereja dan agama-agama yang lain dan keapostolikannya
harus dapat memperlihatkan hubungan dengan Gereja para Rasul.
1. Gereja Yang Satu
Konsili Vatikan II menyatakan bahwa “Pola dan prinsip terluhur misteri
kesatuan Gereja ialah kesatuan Allah yang Tunggal dalam tiga Pribadi, Bapa,
Putra, dan Roh Kudus” (UR 2). Tetapi bagaimana kesatuan ilahi itu diwujudkan
secara insani, merupakan suatu pertanyaan yang amat besar. Ternyata yang
dilihat adalah perpecahan dan perpisahan di dalam Gereja.
Memang “Allah telah berkenan menghimpun orang-orang yang beriman
akan Kristus menjadi Umat Allah (lih. 1Ptr 2:5-10) dan membuat mereka
menjadi satu Tubuh (lih. 1Kor 12:12)” (AA 18). Tetapi bagaimana rencana
Allah itu dilaksanakan oleh manusia Kristen? Dikatakan, bahwa “tata-susunan
sosial Gereja yang tampak melambangkan kesatuannya dalam Kristus” (GS
44). Tetapi justru struktur sosial itu sekaligus juga membedakan (dan
memisahkan) Gereja yang satu dari yang lain. Dengan demikian, umat Kristen
kelihatan terpecah-belah, justru karena struktur-struktur yang mau menyatakan
kesatuan masing-masing kelompok.
Namun “hampir semua, kendati melalui aneka cara, mencita-citakan satu
Gereja Allah yang kelihatan, yang sungguh bersifat universal, dan diutus ke
seluruh dunia” (UR 1). Sebab “kesatuan yang sejak semula dianugerahkan oleh
Kristus kepada Gereja-Nya, memang diimani akan tetap ditemukan dalam
Gereja Katolik”, namun sekaligus “kita berharap bahwa kesatuan itu dari hari
ke hari bertambah erat sampai kepenuhan zaman” (UR 4). Dari satu pihak
diimani bahwa Kristus akan tetap mempersatukan Gereja, tetapi dari pihak lain
disadari pula bahwa perwujudan konkret harus berkembang dan disempurnakan
terus-menerus. Oleh karena itu kesatuan iman mendorong semua orang Kristen
supaya mencari “persekutuan” (communio) dengan semua saudara dalam iman,
biarpun bentuk organisasinya mungkin masih jauh dari kesatuan sempurna.
Pusat Gereja bukan organisasinya sendiri, melainkan Injil Yesus Kristus, yang
diwartakan, dirayakan dan dilaksanakan dalam hidup sehari-hari.
25
Kesatuan tidak sama dengan keseragaman. Lebih tepat bila kesatuan
Gereja dimengerti sebagai “Bhineka Tunggal Ika”, baik di dalam Gereja
Katolik sendiri maupun dalam persekutuan ekumenis, sebab kesatuan Gereja
bukanlah semacam kekompakan organisasi atau kerukunan sosial. Kesatuan
Gereja itu pertama-tama kesatuan iman, yang mungkin diungkapkan dengan
cara yang berbeda-beda. Oleh karena itu kesatuan lahiriah bukanlah
keseragaman dan kesamaan, melainkan persekutuan dalam persaudaraan,
saling meneguhkan dan melengkapi dalam penghayatan iman. Dan karena
kekayaan iman serta keanekaan kebudayaan, maka kesatuan yang nyata berarti
keaneka-ragaman baik dalam pengungkapan iman yang liturgis dan kateketis,
maupun dalam perwujudan persekutuan dalam organisasi ataupun dalam
penampilan dalam masyarakat. Ini tidak hanya secara sosial-organisatoris,
tetapi juga dalam perkembangan dan perubahan sejarah.
Gereja dari zaman dahulu belum tentu sama bentuknya dengan persekutuan
orang beriman sekarang, tetapi tetap ada kesatuan iman. Justru dalam
keanekaragaman ungkapan iman umat perlu bertanya, manakah iman yang satu
itu. Sebab tidak jarang yang mengkhususkan dan memisahkan adalah hal-hal
yang sama sekali bukan pokok dan tidak menyangkut inti iman, melainkan
merupakan warisan dari situasi dan kejadian historis yang sudah lama tidak
penting lagi. Kepercayaan akan kesatuan Gereja kiranya malah menuntut
bahwa lebih diperhatikan kesatuan iman dalam perbedaan pengungkapan,
daripada kekhususan rumus yang membedakan jemaat yang satu dari yang lain.
Bukan rumusan tepat yang mempersatukan, melainkan penghayatan iman
bersama. Sebelum proses pemersatuan di antara Gereja-gereja dapat mulai;
perlu disingkirkan dahulu segala bentuk diskriminasi – antara pria dan wanita,
antara kaya dan miskin, antara hitam dan putih – di kalangan masing-masing
Gereja sendiri. Yang penting bukan kesatuan lahiriah yang tidak jarang
merupakan kesatuan semu, melainkan kesadaran akan kesatuan iman karena
rahmat Injil.
26
Lebih khusus lagi dapat dikatakan, bahwa Kristus “mengangkat Santo
Petrus menjadi ketua para rasul lainnya, supaya Episkopat (kalangan para
uskup) sendiri tetap satu dan tak berbagi. Di dalam diri Petrus Ia menetapkan
asas dan dasar kesatuan iman serta persekutuan yang tetap dan kelihatan” (LG
18). Kesatuan itu tidak boleh dilihat pertama-tama pada tahap internasional atau
mondial. Tidak hanya paus, tetapi “masing-masing uskup menjadi asas dan
dasar yang kelihatan dari kesatuan dalam Gerejanya sendiri” (LG 23).
Kesatuan Gereja pertama-tama harus diwujudkan dalam persekutuan
konkret antara orang beriman yang hidup bersama dalam satu negara atau
daerah yang sama. Tuntutan zaman dan tantangan masyarakat merupakan
dorongan kuat menggalang kesatuan iman dalam menghadapi tugas bersama.
Kesatuan Gereja, dalam bentuk persekutuan (communio) terarah kepada
kesatuan yang jauh melampaui batas-batas Gereja dan terarah kepada kesatuan
semua orang yang “berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni” (2Tim
2:22).
2. Gereja yang Kudus
Kekudusan Gereja dibicarakan panjang lebar oleh Konsili Vatikan II dalam
bab V konstitusi Lumen Gentium. Bab yang berjudul “Panggilan umum untuk
kesucian dalam Gereja” mulai dengan “Kita mengimani bahwa Gereja tidak
dapat kehilangan kesuciannya. Sebab Kristus, Putra Allah, yang bersama
dengan Bapa dan Roh dipuji bahwa ‘hanya Dialah kudus’, mengasihi Gereja
sebagai mempelai-Nya” (LG 39). Gereja itu kudus, karena Kristus membuatnya
kudus.
Kekudusan itu juga “terungkapkan dengan aneka cara pada masing-masing
orang”. Kekudusan Gereja bukanlah suatu sifat yang seragam, yang sama
bentuknya untuk semua, melainkan semua mengambil bagian dalam satu
kesucian Gereja, yang berasal dari Kristus, yang mengikutsertakan Gereja
dalam gerakan-Nya kepada Bapa oleh Roh Kudus. Pada taraf misteri ilahi
Gereja sudah suci: “Di dunia ini Gereja sudah ditandai oleh kesucian yang
27
sesungguhnya, meskipun tidak sempurna” (LG 48). Ketidaksempurnaan ini
menyangkut pelaksanaan insani, sama seperti kesatuannya.
Dalam hal kesucian pun yang pokok bukanlah bentuk pelaksanaannya,
melainkan sikap dasarnya. “Suci” sebetulnya berarti “yang dikhususkan bagi
Tuhan“. Jadi, pertama-tama “suci” menyangkut seluruh bidang sakral atau
keagamaan. Yang suci bukan hanya tempat, waktu, barang yang dikhususkan
bagi Tuhan, atau orang. Malahan sebenarnya harus dikatakan bahwa “yang
Kudus” adalah Tuhan sendiri (lih. mis. 2Raj 19:22; Yes 1:4; 5:19.24; 10:17.20;
12:6; Yeh 38:23; dst.). Semua yang lain, barang maupun orang, disebut
“kudus”‘ karena termasuk lingkup kehidupan Tuhan (lih. mis. Kel 19:23; 2Taw
3:8; Yeh 44:19).
“Kudus” bukan pertama-tama kategori moral yang menyangkut kelakuan
manusia, melainkan kategori teologal (ilahi), yang menentukan hubungan
dengan Allah. Ini tidak berarti bahwa kelakuan moral tidak penting. Apa yang
dikhususkan bagi Tuhan, harus “sempurna” (kata Ibrani tamim sebetulnya
berarti “utuh”; lih. Kel 12:5; Im 1:3; 3:5; juga Rm 6:19.22; 12:1; dst.), dan
kesempurnaan manusia tentu terdapat dalam taraf moral kehidupannya. Maka
tidak mengherankan Tuhan bersabda, “Hendaklah kamu kudus, sebab kuduslah
Aku, Yahwe, Allahmu” (Im 19:2; lih. 11:44.45; 20:7.26; 21:8). Yesus juga
berkata, “Hendaklah kamu sempurna sebagaimana Bapamu di surga sempurna
adanya” (Mat 5:48). Ini tentu merupakan tuntutan yang mengatasi kemampuan
manusia.
Perjanjian Baru melihat proses pengudusan manusia sebagai “pengudusan
oleh Roh” (1Ptr 1:2; lih. 2Tes 2:13), “dikuduskan karena terpanggil” (Rm 1:7).
Secara simbolis dikatakan: “kamu telah memperoleh urapan dari Yang kudus”
(1Yoh 2:20), yakni dari Roh Allah sendiri (bdk. Kis 10:38). Dari pihak manusia
kesucian hanya berarti tanggapan atas karya Allah itu, terutama dengan sikap
iman dan pengharapan (lih. 1Tim 2:15). Sikap itu dinyatakan dalam segala
perbuatan dan kegiatan kehidupan yang serba biasa. Kesucian bukan soal
bentuk kehidupan, melainkan sikap yang dinyatakan dalam hidup sehari-hari.
28
Oleh karena itu, Lumen Gentium menarik kesimpulan bahwa “Gereja itu
suci, dan sekaligus harus selalu dibersihkan, serta terus-menerus menjalankan
pertobatan dan pembaruan” (LG 8). Justru karena kedosaannya itu Gereja tidak
terbedakan dari semua orang lain, kendatipun “dikuduskan bagi Tuhan”:
“Persekutuan Gereja mengalami diri sungguh erat berhubungan dengan umat
manusia serta sejarahnya” (GS 1). Kesucian Gereja adalah kesucian perjuangan,
terus-menerus.
3. Gereja yang Katolik
Kata “Katolik” adalah kata yang sulit. Secara harfiah dengan kata itu
dinyatakan bahwa Gereja berkembang “di seluruh dunia”. Memang benar,
Gereja tersebar ke mana-mana, namun tidak benar bahwa tidak ada tempat yang
tidak ada Gereja. Banyak daerah dan negara tidak mengenal Gereja. St. Ignatius
dari Antiokhia, yang untuk pertama kalinya memakai kata ini, berkata, “Di
mana ada uskup, di situ ada jemaat, seperti di mana ada Kristus Yesus, di situ
ada Gereja Katolik“. Yang dimaksudkan ialah dalam perayaan Ekaristi, yang
dipimpin oleh uskup, hadir bukan hanya jemaat setempat tetapi juga seluruh
Gereja. Jadi, gagasan pokok bukanlah bahwa Gereja telah tersebar ke seluruh
dunia, melainkan bahwa dalam setiap jemaat setempat hadirlah Gereja
seluruhnya. “Gereja Katolik yang satu dan tunggal berada dalam Gereja-gereja
setempat dan terhimpun daripadanya” (LG 23).
Gereja selalu “lengkap”, penuh. Tidak ada Gereja setengah-setengah atau
sebagian. Gereja setempat, entah keuskupan ataupun paroki, bukanlah
“cabang” Gereja universal. Setiap Gereja setempat, bahkan setiap perkumpulan
orang beriman yang sah, merupakan seluruh Gereja. Gereja tidak dapat
dipotong-potong menjadi “Gereja-Gereja bagian”.
Kata “Katolik” selanjutnya juga dipakai untuk menyebut Gereja yang
benar, Gereja universal yang dilawankan dengan sekte-sekte. Dengan demikian
kata “Katolik” mendapat arti yang lain: “Gereja disebut Katolik, karena tersebar
di seluruh muka bumi dan juga karena mengajarkan secara menyeluruh dan
lengkap segala ajaran iman tertuju kepada semua manusia, yang mau
29
disembuhkan secara menyeluruh pula” (St. Sirilus dari Yerusalem). Sejak itu
kata “Katolik” tidak hanya mempunyai arti geografis, tersebar ke seluruh dunia,
tetapi juga “menyeluruh”, dalam arti “lengkap”, berkaitan dengan ajarannya,
serta “terbuka” dalam arti tertuju kepada siapa saja. Pada abad ke-5 masih
ditambahkan bahwa Gereja tidak hanya untuk segala bangsa, tetapi juga untuk
segala zaman.
Pada zaman Reformasi kata “Katolik” muncul lagi untuk menunjuk pada
Gereja yang tersebar ke mana-mana, dibedakan dengan Gereja-gereja
Protestan, yang (pada waktu itu) masih terbatas pada daerah Eropa tertentu.
Sejak itu dengan kata “Katolik” secara khusus dimaksudkan umat Kristen yang
mengakui paus sebagai pemimpin Gereja universal, tetapi dalam syahadat kata
“Katolik” masih mempunyai arti asli “universal” atau “umum”. Ternyata
universal pun mempunyai dua arti, yang kuantitatif dan kualitatif. Mengenai
“Sifat umum dan Katolik Umat Allah yang satu” Konsili Vatikan II berkata:
“Satu Umat Allah itu hidup di tengah segala bangsa di dunia, karena
memperoleh warganya dari semua bangsa. Semua orang beriman, yang tersebar
di seluruh dunia, dalam Roh Kudus berhubungan dengan yang lain. Gereja
memajukan dan menampung segala kemampuan, kekayaan dan adat-istiadat
bangsa-bangsa sejauh itu baik; dengan menampung juga memurnikan,
menguatkan serta mengangkatnya. Gereja yang Katolik secara tepat-guna dan
tiada hentinya berusaha merangkum segenap umat manusia beserta segala
harta-kekayaannya di bawah Kristus Kepala, dalam kesatuan Roh-Nya” (LG
13).
Di satu pihak dikatakan bahwa Umat Allah “hidup di tengah segala bangsa”
serta “memperoleh warganya dari semua bangsa”. Ini segi kuantitatif atau
geografis. Di pihak lain juga dikatakan bahwa “Gereja memajukan dan
menampung segala kemampuan, kekayaan, dan adat-istiadat bangsa-bangsa”.
Inilah segi kualitatifnya, yakni tidak ada sesuatu pun yang tidak diterima oleh
Gereja. Kedua aspek itu dirangkum dalam kalimat terakhir “merangkum
segenap umat manusia beserta segala harta-kekayaannya“. Itu terjadi “di bawah
30
Kristus Kepala, dalam kesatuan Roh-Nya”. Yang terakhir ini aspek yang paling
pokok. Gereja disebut “Katolik”, karena dengan perantaraannya Roh Kudus
hadir di seluruh dunia. Yang hadir di mana-mana serta mengangkat segala
kekayaan umat manusia sebetulnya bukan Gereja melainkan Roh yang berkarya
dalam dan melalui Gereja.
Konsili Vatikan II tidak lagi memusatkan perhatiannya pada Gereja sebagai
sekelompok manusia yang terbatas, melainkan kepada Gereja sebagai sakramen
Roh Kristus. “Kekatolikan” Gereja berarti bahwa pengaruh dan daya-pengudus
Roh tidak terbatas pada para anggota Gereja saja, melainkan juga terarah
kepada seluruh dunia. Dengan sifat “Katolik” dimaksudkan bahwa Gereja
mampu mengatasi keterbatasannya sendiri karena Roh yang berkarya di
dalamnya. Yang pokok bukanlah bahwa Gereja merangkum atau menerima
segala sesuatu, melainkan bahwa ia dapat menjiwai seluruh dunia dengan
semangatnya. Oleh karena itu, yang “Katolik” bukan hanya Gereja universal,
melainkan juga setiap anggotanya, sebab di dalam setiap jemaat hadirlah
seluruh Gereja.
“Gereja Kristus sungguh hadir dalam semua jemaat beriman setempat yang
sah, yang dalam Perjanjian Baru disebut Gereja. Gereja-gereja itu, di tempatnya
masing-masing, dengan sepenuhnya merupakan Umat baru yang dipanggil oleh
Allah dalam Roh Kudus. Dalam jemaat-jemaat itu, meskipun sering hanya kecil
dan miskin, atau tinggal tersebar, hiduplah Kristus; dan berkat kekuatan-Nya
terhimpunlah di situ Gereja yang satu, kudus, Katolik, dan apostolik” (LG 26).
Oleh karena itu, setiap anggota jemaat harus menjadi penyiar semangat
Kristus. Seperti dalam hal kesatuan, begitu juga kekatolikan terlaksana melalui
persekutuan, komunikasi di dalam jemaat sendiri dan di antara para jemaat, baik
yang kecil maupun yang besar. Bahkan dapat dikatakan bahwa kekatolikan
berarti bahwa Gereja mampu disebarkan ke seluruh dunia tanpa kehilangan jati
dirinya. Di mana-mana dan dalam bentuk yang berbeda-beda, terwujudkan satu
Gereja Kristus. Kekatolikan berarti keterbukaan dan keberanian membuka diri
senantiasa bagi bentuk kehidupan yang baru dan berbeda.
31
Oleh karena itu, harus dikatakan bahwa kesatuan dan kekatolikan Gereja
kait-mengait. Kesatuan berbicara mengenai hubungan antara para anggota dan
antara jemaat-jemaat, menjadi satu Gereja dalam persekutuan (communio).
Kesatuan menyangkut hubungan luar atau lahir. Sebaliknya kekatolikan
mengenai hubungan batin, hubungan jemaat atau anggota yang satu dengan
yang lain “dalam Roh”: dalam segalanya berkarya Roh yang sama. Dengan
demikian dapat dikatakan bahwa kekatolikan itu “misteri” kesatuan, atau
sebaliknya kesatuan adalah “sakramen” yang menampakkan kekatolikan. Maka
kesatuan, yang sebagai “kekompakan” senantiasa menjurus ke arah
ketertutupan, harus selalu diimbangi oleh kekatolikan, yang menjamin
keterbukaan Gereja.
Justru di sini kelihatan bahwa Gereja itu “Bhineka Tunggal Ika”, bukan
hanya de facto (memang demikian), tetapi de iure (karena kesatuan dalam
keanekaan dijamin oleh Roh Kudus). Tidak hanya dalam banyak jemaat, tetapi
juga dalam banyak rumus iman dan dalam aneka bentuk perayaan liturgis
diungkapkan satu iman, karena diinspirasikan oleh Roh Kudus. Justru kesatuan
iman itu berarti bahwa keanekaan ekspresi harus mendukung dan menunjang
kesatuan penghayatan. Karena Gereja itu sekaligus insani dan ilahi, sudah
semestinya kesatuannya tidak hanya menyatakan diri secara manusiawi sebagai
organisasi dan institusi, tetapi benar-benar memperlihatkan inspirasi Roh Allah.
Oleh karena itu kesatuan Gereja hanya dapat kentara sebagai kesatuan Gereja,
kalau diimbangi oleh kekatolikannya.
4. Gereja yang Apostolik
Sifat “apostolik” atau rasuli berarti bahwa Gereja berasal dari para rasul
dan tetap berpegang teguh pada kesaksian iman mereka itu. Kesadaran bahwa
Gereja “dibangun atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus
sebagai batu penjuru”, sudah ada sedari zaman Gereja perdana sendiri (Ef 2:20;
bdk. Why 21:14), tetapi sebagai sifat khusus keapostolikan baru disebut akhir
abad ke-4. Semakin ditegaskan bahwa norma kebenaran adalah iman
32
sebagaimana dirumuskan oleh para rasul. Namun dengan demikian belum jelas
bagaimana Gereja sekarang berhubungan dengan Gereja para rasul.
Gereja Protestan berkeyakinan bahwa hubungan itu terdapat dalam Kitab
Suci, khususnya Perjanjian Baru, sebagai rumusan tertulis iman itu. Sebaliknya
Gereja Katolik, yang lebih mementingkan pewartaan lisan, memusatkan
perhatian pada hubungan historis, turun-temurun, antara para rasul dan para
pengganti mereka, yaitu para uskup. Perlu diperhatikan bahwa dalam Perjanjian
Baru kata “rasul” tidak hanya dipakai untuk ke-12 rasul yang namanya disebut
dalam Injil (lih. Mat 10:1-4 dsj.).
Hubungan historis itu tidak boleh dilihat sebagai semacam “estafet”, yang
di dalamnya ajaran yang benar bagaikan sebuah tongkat dari rasul-rasul tertentu
diteruskan sampai kepada para uskup sekarang. Yang disebut “apostolik”
bukanlah para uskup, melainkan Gereja. Hubungan historis itu pertama-tama
menyangkut seluruh Gereja dalam segala bidang dan pelayanannya. Sifat
apostolik berarti bahwa Gereja sekarang mengaku diri sama dengan Gereja
perdana, yakni Gereja para rasul. Hubungan historis itu janganlah dilihat
sebagai penggantian orang, melainkan sebagai kelangsungan iman dan
pengakuan.
Sifat apostolik tidak berarti bahwa Gereja hanya mengulang-ulangi apa
yang sejak dahulu kala sudah diajarkan dan dilakukan di dalam Gereja.
Keapostolikannya berarti bahwa dalam perkembangan hidup, tergerak oleh Roh
Kudus, Gereja senantiasa berpegang pada Gereja para rasul sebagai norma
imannya. Bukan mengulangi, tetapi merumuskan dan mengungkapkan kembali
apa yang menjadi inti hidup iman. Karena seluruh Gereja bersifat apostolik,
maka seluruh Gereja dan setiap anggotanya, perlu mengetahui apa yang
menjadi dasar hidupnya, “siap sedia pada segala waktu untuk memberi
pertanggungjawaban kepada tiap-tiap orang yang memintanya, tentang
pengharapan yang ada padanya” (1Ptr 3:15).
Sifat apostolik (yang betul-betul dihayati secara nyata) harus mencegah
Gereja dari segala rutinisme yang bersifat ikut-ikutan. Keapostolikan berarti
33
bahwa seluruh Gereja dan setiap anggotanya tidak hanya bertanggung jawab
atas ajaran Gereja, tetapi juga atas pelayanannya. Dalam hidup yang nyata
Gereja harus terus-menerus membuktikan diri sebagai Gereja Yesus Kristus,
yang tidak hanya digerakkan oleh Roh Kudus tetapi juga “rapih tersusun dan
diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya” (Ef 4:16). Seperti semua
sifat yang lain, begitu juga keapostolikan Gereja tidak pernah “selesai”, tetapi
selalu merupakan tuntutan dan tantangan. Gereja, yang oleh Kristus
dikehendaki
satu,
mengembangkan
kudus,
dan
Katolik
menemukan
dan
apostolik,
kembali
senantiasa
kesatuan,
harus
kekatolikan,
keapostolikan, dan terutama kekudusannya. Sifat-sifat Gereja diimani, berarti
harus dihayati, oleh Gereja seluruhnya dan oleh masing-masing anggotanya.
b. Penampilan Gereja Sekarang
1. Gereja Lokal dan Gereja Universal
Masalah Gereja lokal – Gereja universal secara khusus dibahas oleh
Konsili Vatikan II dalam LG 23, yang berjudul “Uskup setempat dan Gereja
universal”. Konsili mengajarkan:
“Masing-masing uskup merupakan asas dan dasar kelihatan dari kesatuan
dalam Gerejanya sendiri, yang terbentuk menurut citra Gereja semesta
(universal). Gereja Katolik yang satu dan tunggal berada dalam Gereja-gereja
setempat itu dan terhimpun dari padanya.”
Di sini terungkap sifat Katolik Gereja: “Gereja Katolik yang satu dan
tunggal” sama di mana-mana tetapi dalam bentuk yang berbeda-beda. Dalam
masing-masing Gereja setempat – bagaimanapun juga bentuk khususnya –
hadirlah satu Gereja Kristus, Gereja semesta atau universal. Maka, dilihat dari
Gereja setempat juga dapat dikatakan bahwa Gereja setempat itu “terbentuk
menurut citra Gereja semesta”. Itu tidak berarti bahwa sudah ada Gereja
universal dahulu, yang kemudian menjadi “model” Gereja setempat, sebab
Gereja universal “terhimpun dari” Gereja-gereja setempat. Di sini juga
muncul sifat kesatuan. Sebab Gereja-gereja setempat, yang di dalamnya
34
terwujud
Gereja
Kristus,
bersama-sama
membentuk
“persekutuan”
(communio) dan itulah Gereja semesta.
Secara manusiawi Gereja universal adalah persekutuan Gereja-gereja
setempat. Tetapi secara ilahi, sebagai Gereja Kristus, Gereja universal “berada
dalam Gereja-Gereja setempat itu”. Gereja itu sekaligus misteri rahmat Allah
yang tak-kelihatan, dan sakramen atau tanda dan sarana, yang membuat
rahmat ilahi itu menjadi nyata bagi manusia. Gereja universal sesungguhnya
bukan hanya kumpulan Gereja-Gereja setempat. Karena sifat misterinya,
Gereja universal sudah hadir dan terlaksana dalam setiap umat setempat. Oleh
karena itu, bila semua Gereja setempat ber-communio, tidak terjadi banyak
Gereja Kristus, melainkan “Gereja Katolik yang satu dan tunggal terhimpun
dari padanya”. Namun Gereja universal itu bukan hanya misteri yang takkelihatan, melainkan menjadi nyata dalam Gereja semesta, yang tampak
dalam communio Gereja-gereja setempat. Dan karena sifat tampak dan
manusiawi itu, maka Gereja semesta mempunyai bentuk sendiri, dengan paus
sebagai kepala. Tetapi janganlah Gereja semesta itu dilihat sebagai Gereja
yang “sesungguhnya”, sedangkan Gereja setempat hanyalah cabang saja.
“Gereja Kristus sungguh hadir dalam semua jemaat beriman setempat yang
sah” (LG 26). Sifat “universal” terjamin oleh persekutuan antara Gerejagereja. Dengan berintegrasi ke dalam persekutuan Gereja-gereja, masingmasing Gereja setempat merealisasikan diri sebagai kumpulan orang beriman,
di mana “sungguh hadir dan berkaryalah Gereja Kristus yang satu, kudus,
Katolik, dan apostolik” (CD 11).
2. Gereja Katolik dan Gereja-Gereja Kristen Lain
Konsili Vatikan II membedakan antara mereka yang “sepenuhnya
dimasukkan ke dalam serikat Gereja” (LG 14) dan orang beriman lain yang
berhubungan dengan Gereja Katolik (LG 15). Yang pertama adalah mereka
yang mempunyai Roh Kristus, menerima baik seluruh tata-susunan Gereja
serta semua upaya keselamatan yang diadakan di dalamnya, dan dalam
35
himpunannya yang kelihatan digabungkan dengan Kristus yang membimbing
Gereja melalui Imam Agung (paus) dan para uskup.
Gabungan dengan himpunan Katolik kemudian dirinci dengan ikatanikatan, yakni pengakuan iman, sakramen-sakramen, kepemimpinan gerejawi,
serta persekutuan (communio).
Mereka
yang
hanya
“berhubungan”,
tidak
dimasukkan
dengan
sepenuhnya, karena “tidak mengakui iman seutuhnya atau tidak memelihara
kesatuan persekutuan di bawah Pengganti Petrus”. Jadi kekurangan di sini
terletak dalam “ikatan-ikatan” yang menggabungkan dengan Gereja: Atau
pengakuan iman tidak utuh atau persekutuan tidak lengkap, khususnya
berhubungan dengan kepemimpinan Gereja. Mengenai sakramen-sakramen
dikatakan: “Banyak ditandai oleh baptis yang menghubungkan mereka
dengan Kristus, bahkan mengakui dan menerima sakramen-sakramen lainnya;
banyak pula yang mempunyai uskup-uskup dan merayakan Ekaristi suci”.
Mengenai unsur yang paling pokok, yakni “mempunyai Roh Kristus” (lih. Rm
8:9), dikatakan: “ada suatu hubungan sejati dalam Roh Kudus, yang memang
dengan daya pengudus-Nya juga berkarya di antara mereka dengan
melimpahkan anugerah-anugerah serta rahmat-rahmat-Nya”.
Akhirnya perbedaan menyangkut pertama-tama ikatan lahiriah itu. Perlu
diperhatikan bahwa Konsili memang berbicara mengenai “serikat” atau
organisasi Gereja. Konsili tidak berbicara mengenai iman, tetapi mengenai
pengungkapan iman atau agama. Keduanya memang tidak dapat dipisahpisahkan yang satu dari yang lain. Pengungkapan yang berbeda berhubungan
dengan penghayatan yang berlain-lainan. Memang ada perbedaan antara
Protestan dan Katolik, yang secara skematis dapat dirumuskan sebagai
berikut:
36
KATOLIK
KRISTEN PROTESTAN
Tekanan pada sakramen
Tekanan pada sabda
Agama kontemplasi (membayangkan)
Agama iman (mendengarkan)
Mementingkan kurban (kultis)
Berpusat pada kotbah (profetis)
Perasaan, kesenian, kehangatan sangat
Pengetahuan, ketegasan dan ilmu yang lebih
Dipentingkan
dipentingkan.
Hubungan dengan Gereja menentukan
Hubungan dengan Kristus, menentukan
hubungan dengan Kristus
hubungan dengan Gereja
Gereja secara hakiki bersifat hierarkis
Segala pelayanan Gerejawi adalah ciptaan
manusia
Kitab Suci dibaca dan dipahami dibawah
Setiap orang membaca dan mengartikan Kitab
Pimpinan hierarki
Suci sendiri
Perbedaan ini sebenarnya lebih menyangkut penghayatan, bahkan perasaan,
daripada ajaran atau rumusan iman. Memang tetap ada perbedaan pendapat
mengenai kedudukan dan peranan hierarki (paus, uskup, dan imam), rahmat
(pembenaran) dan ibadat (khususnya penghormatan santo-santa, teristimewa
Bunda Maria). Pada umumnya protestantisme merasa kurang enak dengan
segala-sesuatu yang mau menjadi pengantara antara manusia dan Allah. Namun
diakui pula bahwa dalam hal-hal itu secara prinsipial tidak ada yang memisahkan.
Perbedaan menyangkut sikap dasar, yang sulit dapat dirumuskan. Barangkali
perbedaan itu paling tepat dirumuskan dengan kata “Katolik” dan “Protestan”
sendiri. Katolik berarti “menyeluruh”. Pada umumnya orang Katolik lebih
mementingkan keseluruhan tradisi Gereja.
Memang diakui bahwa ada banyak kesalahan dan dosa di dalam sejarah
Gereja, tetapi juga ada banyak hal yang baik dan bagus. Roh Kuduslah yang
menjamin kehidupan Gereja seluruhnya, kendatipun manusia lemah dan
cenderung kepada dosa. Sebaliknya Protestan berasal dari kata “protes” (bukan
terhadap Gereja atau paus, tetapi terhadap kaisar zaman itu), dan jarang ada
37
protes yang sifatnya “menyeluruh”. Ternyata orang Protestan tampaknya
memang cenderung memusatkan perhatiannya pada aspek-aspek tertentu dalam
kehidupan Gereja, baik yang positif maupun yang negatif. Dengan menekankan
yang terakhir itu perbedaan dengan Gereja Katolik menonjol.
Yang lebih penting daripada perbedaan itu ialah kesatuan antara semua
orang Kristen. Konsili Vatikan II tidak hanya menegaskan bahwa “Roh
membangkitkan pada semua murid Kristus keinginan dan kegiatan, supaya
dipersatukan dalam satu kawanan dengan satu Gembala” (LG 15), tetapi juga
merumuskan dasar teologis untuk kesatuan itu. Dalam LG 8 dikatakan:
“Kristus, satu-satunya Pengantara, di dunia ini telah membentuk Gereja-Nya
yang kudus, yakni persekutuan iman, harapan dan kasih, sebagai himpunan yang
kelihatan dan tak henti-hentinya memeliharanya, supaya melalui Gereja Ia
melimpahkan kebenaran dan rahmat kepada semua orang … Itulah satu-satunya
Gereja Kristus, yang dalam syahadat kita akui sebagai Gereja yang satu, kudus,
Katolik dan apostolik. Gereja itu, yang di dunia ini disusun dan diatur sebagai
serikat (societas), berada dalam (subsistit in) Gereja Katolik, yang dipimpin oleh
pengganti Petrus dan para uskup dalam persekutuan dengannya, walaupun di luar
persekutuan itu pun terdapat banyak unsur pengudusan dan kebenaran, yang
merupakan kurnia-kurnia khas Gereja Kristus, dan mendorong ke arah kesatuan
Katolik.”
Teks yang singkat dan padat ini tidak begitu mudah dipahami dengan tepat.
Pertama-tama dikatakan bahwa Gereja dari satu pihak adalah “persekutuan iman,
harapan dan kasih”, tetapi sekaligus juga merupakan suatu “himpunan yang
kelihatan”, yang kemudian disebut “serikat” (societas) atau organisasi. Kedua
aspek ini tidak bisa dipisahkan. Gereja adalah sekaligus misteri dan sakramen.
Mengenai Gereja, yang sekaligus kelihatan dan tak-kelihatan itu, selanjutnya
dinyatakan bahwa “berada dalam Gereja Katolik”. Dengan rumusan itu mau
dikatakan bahwa dari satu pihak Gereja Katolik sungguh-sungguh Gereja
Kristus, tetapi dari pihak lain bahwa Gereja Kristus tidak identik atau tepat sama
38
dengan Gereja Katolik: “di luar persekutuan (Katolik) itu pun terdapat banyak
unsur pengudusan dan kebenaran”.
Perlu diperhatikan bahwa kata “berada dalam” (Latin: subsistit in) dipilih
dengan seksama. Pius XII (ensiklik Humani Generis, 12 Agustus 1950) masih
mengajarkan: “Tubuh mistik Kristus dan Gereja Katolik adalah satu dan sama”.
Maka rumus Lumen Gentium yang pertama (skema I) juga masih mengatakan,
bahwa “hanya Gereja Roma-Katolik selayaknya (iure) disebut Gereja”. Dalam
skema II belum ada banyak perubahan: “Gereja Kristus, yang di dunia ini disusun
dan diatur sebagai serikat, adalah (est) Gereja Katolik, yang diatur (directa) oleh
Imam Agung di Roma (Romanus Pontifex) dan para uskup dalam persekutuan
dengannya”. Tetapi dengan skema III terjadi perubahan besar: 1.”Imam Agung
di Roma” diubah menjadi “pengganti Petrus” (pimpinan tidak tergantung pada
Roma, tetapi pada Petrus); 2. “diatur” menjadi “dipimpin” (paus tidak
menentukan segala-galanya, tetapi mengarahkan); dan terutama 3. “adalah (est)”
diubah menjadi “berada dalam (subsistit in)”. Perubahan semua ini diterima
dalam rumusan terakhir “Lumen Gentium”. Panitia perumus menerangkan
bahwa dipilih kata-kata itu “supaya lebih sesuai dengan pernyataan tentang
unsur-unsur gerejawi yang sungguh ada di luar Gereja Katolik”. Konsili mau
mengatakan bahwa Gereja Kristus tidak terbatas pada Gereja Katolik saja.
Bagaimana Gereja Kristus “berada dalam” Gereja Katolik tidak diterangkan oleh
Konsili. Gereja Kristus memang ada dan menampakkan diri, tetapi “kegerejaan”
atau bentuk gerejawinya tidak identik sama dengan Gereja Katolik. Yang lain
juga Gereja Kristus, tetapi dalam bentuk yang lain. Paling-paling dikatakan
bahwa dalam Gereja Katolik Gereja Kristus terwujudkan dengan selengkaplengkapnya.
Di dunia ini misteri Gereja tidak pernah tampak sepenuhnya. Oleh karena
itu, bentuk Gereja yang tampak tidak pernah dapat diidentifikasikan dengan
Gereja sendiri. Itu tidak berarti bahwa bentuk gerejawi tidak penting. Sebaliknya
dalam bentuk yang konkret itu misteri Gereja menjadi kenyataan hidup bagi
manusia, dan melalui bentuk yang manusiawi dimungkinkan komunikasi dan
39
persekutuan dalam iman. Hanya dalam bentuk kehidupan yang konkret
mungkinlah komunikasi dengan Gereja para rasul, baik dalam pewartaan maupun
dalam perayaan (liturgi), dan terutama dalam pelayanan kepada dunia.
Apa yang dikatakan mengenai Gereja lokal berlaku juga untuk Gereja
Katolik dalam hubungannya dengan jemaat-jemaat bukan Katolik: Gereja lokal
itu seluruhnya Gereja, tetapi bukan seluruh Gereja. Sebagaimana Gereja lokal
hanya dapat menjadi Gereja dalam arti penuh, bila berkomunikasi dengan
jemaat-jemaat yang lain, begitu juga dalam hubungan ekumenis semua Gereja
hanya dapat hidup dalam persekutuan dengan Gereja-gereja yang lain.
Persekutuan atau communio tidak hanya mutlak perlu untuk kesatuan Gereja,
tetapi juga untuk kekatolikannya. Gereja yang sudah tidak berhubungan dengan
yang lain bukan Gereja Kristus lagi.
Usaha untuk mempertemukan Gereja-gereja Kristen dalam satu communio
disebut gerakan ekumenis. Kata Konsili Vatikan II, “Yang dimaksudkan dengan
gerakan ekumenis ialah kegiatan-kegiatan dan usaha-usaha yang diadakan dan
ditujukan untuk mendukung kesatuan umat Kristen” (UR 4). Sebagai contoh
disebutkan, pertama-tama, usaha saling menghormati dan menghindari segala
sesuatu yang kurang sesuai; kemudian juga mengadakan pertemuan-pertemuan
dan dialog, khususnya di antara para pakar; selanjutnya, segala macam kerja
sama dalam arti yang luas; dan akhirnya, segala usaha untuk memperbarui diri
dan mengubah kekurangan-kekurangan dalam Gerejanya sendiri. Yang dicitacitakan bukanlah supaya semua melebur dalam satu kesatuan yang kabur dan
tanpa sifat-sifat Kristiani yang jelas. Sebaliknya, diharapkan bahwa masingmasing Gereja semakin menyadari akar-akarnya dalam iman Kristen dan juga
kekhasannya sendiri dalam mengungkapkan dan mewujudkan iman bersama itu.
Dengan demikian, sekaligus diharapkan mereka menghormati saudara-saudara
seiman yang menghayati iman itu dalam bentuk yang berbeda.
3.
Gereja Katolik dan Agama-Agama Lain
Dalam LG 8 antara lain dikatakan bahwa Kristus “melalui Gereja mau
melimpahkan kebenaran dan rahmat kepada semua orang”. Gereja bukan
40
kelompok tertutup, melainkan “tanda dan sarana kesatuan seluruh umat manusia”
(LG 1). Oleh karena itu dikatakan bahwa “Gereja, dengan mewartakan Injil,
mengundang mereka yang mendengarnya kepada iman dan pengakuan iman,
menyiapkan mereka menerima baptis, membebaskan mereka dari perbudakan
kesesatan, dan menyaturagakan mereka ke dalam Kristus” (LG 17). Rumusan
semacam itu tidak disenangi oleh banyak orang dewasa ini, bukan hanya oleh
mereka yang melihat rumus ini sebagai rencana “kristenisasi”.
Di antara orang Kristen sendiri ada banyak yang merasa bahwa rumus ini
tidak cocok dengan pernyataan Konsili sendiri, bahwa “mereka yang dengan
tulus hati mencari Allah, dan berkat pengaruh rahmat berusaha melaksanakan
kehendak-Nya dengan perbuatan nyata, dapat memperoleh keselamatan kekal”
(LG 16). Di luar Gereja Katolik tidak hanya “terdapat banyak unsur pengudusan
dan kebenaran” (LG 8), tetapi di luar lingkungan Kristen ada “pengaruh rahmat”,
sehingga orang bukan-Kristen juga “dapat memperoleh keselamatan kekal”. Lalu
untuk apa “Gereja terus-menerus mengutus pewarta-pewarta” ke seluruh dunia?
(LG 17). Gereja senantiasa yakin bahwa “Allah menghendaki semua orang
diselamatkan” (1Tim 2:4), tetapi baru pada akhir Konsili Vatikan II disadari
bahwa itu terjadi “dengan cara yang hanya diketahui oleh Allah” (GS 22; AG 7).
Keselamatan umat manusia tidak tergantung pada Gereja.
Gereja tidak mewartakan Injil untuk menyelamatkan orang. Hanya Tuhan
dapat menyelamatkan, dan manusia harus menerima keselamatan itu dalam iman.
Gereja mewartakan Injil karena tidak dapat diam mengenai segala sesuatu yang
telah dilihat dan didengar olehnya (bdk. Kis 4:20). Pewartaan Injil tidak pernah
dimaksudkan sebagai indoktrinasi. Yang pokok bukanlah pewartaan itu sendiri,
melainkan isi-nya, “Keselamatan tidak ada di dalam siapapun selain di dalam
Kristus; maka di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan
kepada manusia untuk memperoleh keselamatan” (Kis 4: 12).
Yang menjadi soal ialah keyakinan iman bahwa “Allah itu esa dan esa pula
Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus
Yesus” (1 Tim 2:5), atau dengan kata Yesus sendiri: “Tidak ada seorang pun
41
yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh 14:6). Kata-kata itu
secara konkret-praktis selalu diartikan oleh Gereja sebagai perintah mewartakan
Kristus secara mutlak: “Jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah
mereka” (Mat 28:19). Oleh karena itu pula Paulus bertanya:
“Bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya
kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada-Nya, jika mereka tidak
mendengar tentang Dia? Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak
ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana orang dapat memberitakan-Nya,
jika tidak diutus? Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh
firman Kristus” (Rm 10:14-15:17).
Itu dikatakan Paulus dalam situasi zaman itu, berhadapan dengan orang kafir
Yunani. Sekarang Konsili Vatikan II mengajarkan bahwa “mereka yang belum
menerima Injil, dengan berbagai alasan diarahkan kepada umat Allah …. Sebab
apa pun yang baik dan benar, yang terdapat pada mereka, oleh Gereja dipandang
sebagai persiapan Injil, dan sebagai kurnia Dia yang menerangi setiap orang,
supaya akhirnya memperoleh kehidupan” (LG 16). Dengan demikian tidak
disangkal perlunya pewartaan. Pewartaan perlu bukan hanya karena orang
“ditipu oleh si Jahat, jatuh ke dalam pikiran yang sesat dan mengubah kebenaran
Allah menjadi dusta” (LG 16), melainkan lebih-lebih “untuk menghantar mereka
kepada iman, kebebasan dan damai Kristus, sehingga bagi mereka terbukalah
jalan yang bebas dan teguh, untuk ikut serta sepenuhnya dalam misteri Kristus”
(AG 5).
Apa yang dikerjakan Tuhan dalam hati orang harus dikembangkan terusmenerus. Untuk itu perlu pewartaan, teladan hidup, sakramen-sakramen, serta
upaya-upaya rahmat lainnya, sebagaimana dikatakan dalam konstitusi Dei
Verbum mengenai proses komunikasi iman dalam Gereja sendiri: “dalam ajaran,
hidup serta ibadatnya Gereja melestarikan serta meneruskan kepada semua
keturunan dirinya seluruhnya, imannya seutuhnya” (DV 8).
42
Hal itu juga berlaku bagi mereka yang “dengan berbagai alasan diarahkan
kepada umat Allah” (LG 16). Karena di sini tidak ada persekutuan penuh,
komunikasi iman tidak terjadi secara persekutuan, melainkan dalam bentuk
dialog. Panitia Teologis Internasional pada tahun 1988 mengatakan, dialog
dengan agama-agama lain merupakan bagian integral hidup Kristiani. Tukar
pendapat, studi, kerja sama, dan dialog membantu pemahaman yang lebih baik
mengenai agama lain tetapi juga mengembangkan hidup keagamaan sendiri.
Oleh karena itu Konsili mengajarkan, bahwa “pelaksanaan kegiatan misioner
yang tepat dan teratur menuntut, supaya para pewarta Injil disiapkan untuk
berdialog dengan agama-agama serta kebudayaan-kebudayaan bukan Kristen”
(AG 34; 11; 41; NA 2).
Mengenai dialog itu sendiri Konsili Vatikan II mengajarkan, “Melalui caracara itu (yakni melalui penyelidikan bebas, pengajaran dan pendidikan,
komunikasi dan dialog) manusia menjelaskan kepada sesamanya kebenaran yang
telah ditemukannya – atau yang ia rasa telah menemukannya – sehingga saling
membantu dalam mencari kebenaran” (DH 3; lih. GS 43). Maka “melalui
pergaulan dengan sesama, dengan saling berjasa, melalui dialog dengan sesama
saudara, manusia berkembang dalam segala bakat-pembawaannya, dan mampu
menanggapi panggilannya” (GS 25).
Dasar dialog adalah kesadaran bahwa rahmat Allah berkarya dalam setiap
manusia, juga dalam mereka yang tidak mengakui diri orang Kristen, yakni
“semua orang yang mengakui Allah dan dalam tradisi-tradisi mereka
melestarikan unsur-unsur religius dan manusiawi”. Mengenai hubungan dengan
orang itu Konsili berkata, “Yang kami harapkan ialah, semoga dialog yang
terbuka mengajak kita sekalian, untuk dengan setia menyambut dorongandorongan Roh, serta mematuhinya dengan gembira” (GS 92).
Dialog mendekati hubungan antara umat beriman dan umat beragama dari
bawah, dari hubungan antara umat yang berbeda-beda agama. Namun di dalam
dialog itu semua sama-sama berusaha menghayati apa yang paling dalam, yang
menggerakkan dan memunculkan agama. Diakui bahwa tidak ada satu agama
43
pun, termasuk agama Kristen, yang dengan sepenuhnya dapat menanggapi
tawaran rahmat Allah itu (lih. GS 62). Dari pihak lain keterbatasan itu juga tidak
menghalangi suatu pengalaman iman yang sungguh-sungguh dan religius.
Maka dialog antarumat beragama bukanlah konfrontasi antara ajaran-ajaran
keagamaan yang berbeda-beda, melainkan dialog hidup atau “temu hati”, yang
semakin terbuka untuk sapaan Allah. Ini tidak berarti bahwa dialog sebenarnya
hanyalah alasan untuk masuk ke dalam diri sendiri. Dialog sendiri sudah terarah
kepada perwujudan Kerajaan Allah dalam keadilan, damai dan keselarasan, yang
semuanya merupakan nilai-nilai kemasyarakatan. Tetapi yang paling pokok
adalah “temu hati” itu sendiri. Di situ orang tidak mengaburkan atau
“menyembunyikan”
pendapat
dan
keyakinan
pribadi,
namun
dapat
mengemukakannya penuh hormat terhadap pandangan dan karena itu tanpa
memaksakan pendapatnya sendiri kepada orang lain.
5) SYAHADAT PANJANG-SINGKAT
Syahadat Panjang
Aku
percaya
Syahadat Pendek
akan
Bapa
yang
pencipta
langit
satu
Allah, Aku percaya akan Allah,
mahakuasa, Bapa yang Maha Kuasa, pencipta
dan
bumi, langit dan bumi.
dan segala sesuatu yang kelihatan Dan akan Yesus Kristus, PuteraNya
dan
tak
kelihatan; yang tunggal, Tuhan kita.
dan akan satu Tuhan Yesus Kristus,
Putra
Allah
yang
Yang dikandung dari Roh Kudus,
tunggal. dilahirkan oleh perawan Maria.
Ia lahir dari Bapa sebelum segala Yang menderita sengsara, dalam
abad,
pemerintahan
Allah
dari
Terang
dari
Allah
Ia
benar
dilahirkan,
dari
Pontius
Pilatus,
Allah, disalibkan, wafat dan dimakamkan.
Terang,
Allah
bukan
Yang turun ketempat penantian,
benar. pada hari ketiga bangkit dari antara
dijadikan, orang mati. Yang naik ke surga,
44
sehakikat
dengan
Bapa; duduk disebelah kanan Allah Bapa
segala sesuatu dijadikan oleh-Nya. yang Maha Kuasa.
Ia turun dari surga untuk kita manusia Dari situ Ia akan datang mengadili
dan
untuk
keselamatan
kita. orang hidup dan mati.
Ia dikandung dari Roh Kudus, Aku percaya akan Roh Kudus,
Dilahirkan oleh Perawan Maria, dan Gereja Katholik yang Kudus,
menjadi
manusia. Persekutuan para Kudus,
Ia pun disalibkan untuk kita, waktu pengampunan dosa,
Pontius
Pilatus; kebangkitan badan, kehidupan kekal.
Ia menderita sampai wafat dan Amin
dimakamkan.
Pada hari ketiga Ia bangkit menurut
Kitab
Suci.
Ia naik ke surga, duduk di sisi Bapa.
Ia akan kembali dengan mulia,
mengadili orang yang hidup dan yang
mati;
kerajaan-Nya
takkan
berakhir.
aku percaya akan Roh Kudus,
Ia
Tuhan
yang
menghidupkan;
Ia berasal dari Bapa dan Putra,
yang
serta
disembah
Bapa
dan
dan
Putra,
dimuliakan;
Ia bersabda dengan perantaraan para
nabi.
aku
yang
percaya
satu,
akan
kudus,
Gereja
katolik
dan
apostolik.
aku mengakui satu pembaptisan
45
akan
penghapusan
dosa.
aku menantikan kebangkitan orang
mati
dan
hidup
di
akhirat.
amin.
6) KEANGGOTAAN GEREJA
1. Hierarki Gereja
Gereja adalah persekutuan yang semua anggotanya sungguh-sungguh sederajat
martabatnya, sederajat pula kegiatan umum dalam membangun Tubuh Kristus (LG
31). Ada fungsi khusus dalam Gereja yang diemban oleh hierarki, ada corak hidup
khusus yang dijalani oleh biarawan-biarawati, ada fungsi dan corak hidup
keduniaan yang menjadi medan khas para awam. Tetapi yang pokok adalah iman
yang sama akan Allah dalam Kristus oleh Roh Kudus. Yang umum lebih penting
daripada yang khusus. Berturut-turut akan dibicarakan tentang hierarki, lalu
tentang hidup bakti dan awam.
Gereja yang satu, kudus, Katolik, dan apostolik “di dunia ini disusun dan diatur
sebagai serikat”, lebih khusus lagi sebagai suatu “serikat yang dilengkapi dengan
jabatan hierarkis” (LG 8). Menurut ajaran resmi Gereja struktur hierarkis termasuk
hakikat kehidupannya juga. Maka Konsili mengajarkan bahwa “atas penetapan
ilahi para uskup menggantikan para rasul sebagai gembala Gereja” (LG 20).
“Konsili suci ini mengajarkan dan menyatakan, bahwa Yesus Kristus, Gembala
kekal, telah mendirikan Gereja kudus, dengan mengutus para rasul seperti Ia
sendiri diutus oleh Bapa (lih. Yoh 20:21). Para pengganti mereka, yakni para
uskup, dikehendaki-Nya menjadi gembala dalam Gereja-Nya hingga akhir zaman”
(LG 18).
Struktur hierarkis bukanlah sesuatu yang ditambahkan atau dikembangkan
dalam sejarah Gereja saja. Menurut ajaran Konsili Vatikan II struktur itu
dikehendaki Tuhan dan akhirnya berasal dari Tuhan Yesus sendiri. Tidak semua
46
orang Kristen dapat menerima ajaran Katolik ini. Ternyata struktur hierarkis
Gereja merupakan kendala paling besar bagi kesatuan jemaat-jemaat Kristen.
Pertanyaan yang paling pokok ialah, di mana dalam Kitab Suci dikatakan bahwa
Yesus mendirikan hierarki sebagaimana terdapat di dalam Gereja sekarang?
Struktur hierarkis Gereja sekarang terdiri dari dewan para uskup dengan paus
sebagai kepalanya, dan para imam serta diakon sebagai pembantu para uskup.
Dalam Kitab Suci belum ada struktur kepemimpinan yang terdiri dari uskup,
imam, dan diakon. Peranan Petrus di antara para rasul tidak sama dengan kuasa
dan kedudukan paus sekarang ini.
2. Prinsip Hierarki
Maka pernyataan “atas penetapan ilahi para uskup menggantikan para rasul”
harus dimengerti dengan baik. Yang dimaksudkan ialah bahwa dari hidup dan
kegiatan Yesus timbullah kelompok orang yang kemudian berkembang menjadi
Gereja, seperti yang dikenal sekarang. Proses perkembangan pokok itu terjadi
dalam Gereja perdana atau Gereja para rasul, yakni Gereja yang mengarang Kitab
Suci Perjanjian Baru. Jadi, dalam kurun waktu antara kebangkitan Yesus dan
kemartiran St. Ignatius dari Antiokhia pada awal abad kedua, secara prinsip
terbentuklah hierarki Gereja sebagaimana dikenal dalam Gereja sekarang.
3. Struktur Kepemimpinan (Hierarki) dalam Gereja :
1. Dewan Para Uskup dengan Paus sebagai Kepalanya
Para uskup adalah pengganti para rasul. Tugas dari dewan para uskup adalah
menggantikan dewan para rasul dan yang memimpin Gereja adalan dewan para
uskup. Ketika Kristus mengangkat dua belas rasul, Ia membentuk mereka menjadi
semacam dewan atau badan yang tetap. Sebagai ketua dewan, diangkatNya Petrus
yang dipilih dari antara mereka.
Sama seperti Santo Petrus dan para rasul lainnya yang atas penetapan Tuhan
merupakan satu dewan para rasul, demikian pula Paus, pengganti Petrus, bersama
para uskup, pengganti rasul, merupakan suatu himpunan yang serupa.
47
2. Paus
Konsili Vatikan II menegaskan: “Adapun dewan atau badan para uskup
hanyalah berwibawa, bila bersatu dengan imam agung di Roma, pengganti Petrus,
sebagai kepalanya dan selama kekuasaan primatnya terhadap semua baik para
gembala maupun kaum beriman, tetap berlaku seutuhnya.” Sebab Imam Agung di
Roma berdasarkan tugasnya, yakni sebagai wakil Kristus dan gembala Gereja
semesta, mempunyai kuasa penuh, tertinggi dan universal terhadap Gereja dan
kuasa itu selalu dapat dijalankan dengan bebas. Kristus mengangkat Santo Petrus
menjadi pemimpin para rasul.Paus, pengganti Petrus, adalah pemimpin para
uskup.
3. Uskup
Konsili Vatikan II merumuskan dengan jelas: “Masing-masing uskup menjadi
asas dan dasar kelihatan bagi kesatuan dalam Gerejanya”. Tugas pokok uskup
adalah mempersatukan dan mempertemukan umat. Tugas pemersatu itu dibagi
menjadi tiga khusus yakni: tugas pewartaan, perayaan dan pelayanan. Tugas utama
para uskup adalah pewartaan Injil. Uskup yaitu memimpin umat dalam kalangan
pastoral keuskupan.
4. Pembantu Uskup: Imam dan Diakon
Para Imam adalah wakil uskup disetiap jemaat setempat. Tugas konkret para
imam adalah pewartaan, perayaan dan pelayanan umat. Para imam ditahbiskan
untuk mewartakan Injil dan menggembalakan umat beriman.
Imam merupakan “penolong dan organ para uskup” (Lumen Gentium 28)
Didalam Gereja Katolik ada imam diosesan (sebutan yang sering dipakai imam
praja) dan imam religius (ordo atau kongregasi). Imam diosesan adalah imam
keuskupan yang terikat dengan salah satu keuskupan tertentu dan tidak termasuk
ordo atau kongregasi tertentu. Imam religius (misalnya SJ, MSF, OFM, dsb)
adalah imam yang tidak terikat dengan keuskupan tertentu, melainkan lebih terikat
pada aturan ordo atau kongregasinya.
Para Diakon; tingkat hierarki yang lebih rendah terdapat para diakon yang
ditumpangi tangan bukan untuk imamat, melainkan untuk pelayanan. Diakon
48
adalah pembantu Uskup dan Imam dalam pelayanan terhadap umat beriman.
Mereka ditahbiskan untuk mengambil bagian dalam imamat jabatan. Karena
tahbisannya ini, maka seorang diakon masuk dalam kalangan hirarki. Di Gereja
Katolik ada 2 macam Diakon, yaitu: 1) mereka yang dipersiapkan untuk menerima
tahbisan Imam. 2) mereka yang menjadi Diakon untuk seumur hidupnya tanpa
menjadi Imam.
Catatan: “Kardinal”
Kardinal bukan jabaran hirarkis dan tidak termasuk struktur hirarkis. Kardinal
adalah penasehat Paus dan membantu Paus dalam tugas reksa harian seluruh
Gereja. Mereka membentuk suatu dewan Kardinal. Jumlah dewan yang berhak
memilih Paus dibatasi 120 orang yang di bawah usia 80 tahun. Seorang Kardinal
dipilih oleh Paus secara bebas. Kardinal adalah merupakan gelar kehormatan. Kata
“kardinal” berasal dari kata Latin”cardo” yang berarti “engsel”, dimana seorang
Kardinal dipilih menjadi asisten-asisten kunci dan penasehat dalam berbagai
urusan gereja. Kardinal dapat dipilih dari kalangan Imam ataupun Uskup. Di
Indonesia telah ada 2 orang Kardinal, yaitu Yustinus Kardinal Darmojuwono Pr
(alm.) dan Julius Kardinal Darmaatmaja SJ.
4. Fungsi Khusus Hierarki
Fungsi khusus hirarki adalah:
a. Menjalankan tugas gerejani yakni tugas-tugas yang secara langsung dan
eskplisit menyangkut kehidupan beriman Gereja seperti melayani
sakramen-sakramen, mengajar agama dan sebagainya.
b. Menjalankan tugas kepemimpinan dalam komunikasi iman. Hirarki
mempersatukan umat dalam iman dengan petunjuk, nasihat dan teladan.
5. Corak Kepemimpinan dalam Gereja
a. Kepemimpinan dalam Gereja merupakan suatu panggilan
khusus, dimana campur tangan Tuhan merupakan unsur yang
dominan. Oleh sebab itu, kepemimpinan dalam Gereja tidak
diangkat oleh manusia berdasarkan suatu bakat, kecakapan atau
49
prestasi tertentu. Kepemimpinan dalam Gereja tidak diperoleh
oleh kekuatan manusia sendiri. “Bukan kamu yang memilih
Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu.” Kepemimpinan dalam
masyarakat dapat diperjuangkan oleh manusia, tetapi di dalam
Gereja tidaklah demikian.
b. Kepemimpinan dalam Gereja bersifat mengabdi dan melayani
dalam arti semurni-murninya, walaupun ia sungguh mempunyai
wewenang yang berasal dari Kristus sendiri. Kepemimpinan
gerejani adalah kepemimpinan untuk melayani, bukan untuk
dilayani. Kepemimpinan untuk menjadi orang yang terakhir
bukan yang pertama. Kepemimpinan untuk mencuci kaki
sesama saudara.
c. Kepemimpinan hierarki berasal dari Tuhan, maka tidak dapat
dihapus oleh manusia.
6. Keanggotaan Gereja dalam persekutuan Umat
Gereja sebagai Persekutuan Umat Allah untuk membangun Kerajaan Allah di
bumi ini. Semua anggota memiliki martabat yang sama, namun berbeda dari segi
fungsinya.Berikut adalah macam-macam golongan dalam Gereja :
1. Golongan Hierarki
Hierarki
adalah
orang-orang
yang
ditahbiskan
untuk
tugas
kegembalaan.Mereka menjadi pemimpin dan pemersatu umat, sebagai tanda
efektif dan nyata dari otoritas Kristus sebagai kepala umat. Tugas-tugas hierarki
adalah sebagai berikut:
a. Menjalankan tugas kepemimpinan dalam komunikasi iman. Hierarki
mempersatukan umat dalam iman, tidak hanya dengan petunjuk,
nasehat dan teladan tetapi juga dengan kewibawaan dan kekuasaan
kudus.
b. Menjalankan tugas-tugas gerejani, seperti merayakan sakramen,
mewartakan sabda dan sebagainya.
50
Hierarki Gereja Katolik dimulai dari :
1) Paus. “Konsili Suci mengajarkan, bahwa atas penetapan ilahi, para uskup
menggantikan para rasul sebagai gembala Gereja” (Lumen Gentium 20).
Lumen Gentium adalah Konstitusi Dogmatis Konsili Vatikan II tentang
Gereja.
2) Uskup yaitu memimpin umat dalam kalangan pastoral keuskupan.
Tugasnya
adalah
tugas
mengajar,
tugas
menguduskan,
tugas
menggembalakan umat.
3) Imammerupakan “penolong dan organ para uskup” (Lumen Gentium 28)
Didalam Gereja Katolik ada imam diosesan (sebutan yang sering dipakai
imam praja) dan imam religius (ordo atau kongregasi).
a. Imam diosesan adalah imam keuskupan yang terikat dengan
salah satu keuskupan tertentu dan tidak termasuk ordo atau
kongregasi tertentu.
b. Imam religius (misalnya SJ, MSF, OFM, dsb) adalah imam yang
tidak terikat dengan keuskupan tertentu, melainkan lebih terikat
pada aturan ordo atau kongregasinya.
4) Diakon adalah pembantu Uskup dan Imam dalam pelayanan terhadap
umat beriman. Mereka ditahbiskan untuk mengambil bagian dalam
imamat jabatan. Karena tahbisannya ini, maka seorang diakon masuk
dalam kalangan hirarki. Di Gereja Katolik ada 2 macam Diakon, yaitu :
a.
mereka yang dipersiapkan untuk menerima tahbisan Imam
b.
mereka yang menjadi Diakon untuk seumur hidupnya tanpa
menjadi Imam
5) Kardinal adalah merupakan gelar kehormatan. Kata “kardinal” berasal
dari kata Latin”cardo” yang berarti “engsel”, dimana seorang Kardinal
dipilih menjadi asisten-asisten kunci dan penasehat dalam berbagai
urusan gereja. Kardinal dapat dipilih dari kalangan Imam ataupun Uskup.
Di Indonesia telah ada 2 orang Kardinal, yaitu Yustinus Kardinal
Darmojuwono Pr (alm.) dan Julius Kardinal Darmaatmaja SJ.
51
2. Biarawan-Biarawati
Seorang biarawan/biarawati adalah anggota umat yang dengan mengucapkan
kaul kemiskinan, ketaatan dan keperawanan ingin selalu bersatu dengan Kristus
dan menerima pola nasib hidup Yesus Kristus secara radikal dan dengan demikian
mereka menjadi tanda nyata dari hidup dalam Kerajaan Allah kelak.Kaul-kaul
adalah sesuatu yang khas dalam kehidupan membiara. Dengan menghayati kaulkaul kebiaraan itu, para biarawan/biarawati menjadi tanda :
a. Yang mengingatkan kita bahwa kekayaan, kekuasaan dan hidup keluarga
walaupun sangat bernilai, tetapi tidak absolut dan abadi, maka kita tidak boleh
mendewa-dewakannya.
b. Yang mengarahkan kita pada Kerajaan Allah dalam kepenuhannya kelak.
Para suster biasanya bekerja di bidang pendidikan (formal dan nonformal),
kesehatan, dan pelayanan sosial di lingkungan gereja atau masyarakat umum
seperti suster-suster CB, SSPS, JMJ, SMSJ, SND, PRR, dsb). Ada juga pada
beberapa tarekat religius biarawati yang mengkhususkan kepada pelayanan
religius melalui doa (dalam gereja Katolik dikenal dengan biara suster
kontemplatif) seperti suster-suster Ordo Karmel Tak Berkasut (OCD) dan Suster
SSPS Adorasi Abadi.
Seperti halnya pastor, biarawati tidak menikah karena telah mengucapkan atau
mendeklarasikan 3 kaul yakni kaul kemurnian, kaul ketaatan, dan kaul kemiskinan
dalam suatu komunitas religius
3. Kaum Awam
Kaum awam adalah semua orang beriman Kristen yang tidak termasuk dalam
golongan tertahbis dan biarawan-biarawati.Mereka adalah orang-orang yang
dengan pembaptisan menjadi anggota Gereja dan dengan caranya sendiri
mengambil bagian dalam tugas Kristus sebagai imam, nabi dan raja.
Bagi kaum awam, ciri keduniaan adalah khas dan khusus.Mereka mengemban
kerasulan dalam tata dunia, baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat, entah
sebagai ayah-ibu, sebagai petani, pedagang, camat, polisi dan sebagainya.
52
Spiritualitas kaum awam dapat diartikan sebagai cara seorang awam menjawab
panggilan Allah dalam tugasnya sehari-hari di tengah dunia nyata dewasa ini.
Kaum Awam dapat di definisikan secara :
a.
Definisi teologis : Awam adalah warga negara yang tidak ditahbiskan. jadi
awam meliputi biarawan seperti suster dan bruder yang tidak menerima
tahbisan suci.
b.
Definisi tipologis : Awam adalah warga gereja yang tidak ditahbiskan dan
juga bukan biarawan biarawati.
Peranan Awam :
a.
Kerasulan Internal : Kerasulan membangun jemaat yang diperankan oleh
jajaran hirarki walaupun awam dituntut pula untuk mengambil bagian
didalamnya.
b.
Kerasulan eksternal : Kerasulan dalam tata dunia yang lebih diperani oleh para
awam.
Bagi kaum awam, perutusan Gereja Katolik bukan saja dibidang liturgi dan
pewartaan, tetapi juga dibidang pengembalaan. Misalnya sebagai:
a. Pengurus Dewan Paroki Tugasnyaadalah memikirkan, merencanakan,
memutuskan dan mempertanggung-jawabkan hal-hal yang bermanfaat
bagi kehidupan dan karya paroki. Misalnya kegiatan pewartaan sabda, perayaan
liturgi dan membangun masyarakat.
b. Pengurus Wilayah atau Stasi Tugasnya adalah mengkoordinasi kegiatan antar
lingkungan yang berada didalam wilayah Dewan Parokinya.
c. Pengurus Lingkungan Tugasnya adalah menampung dan menyalurkan
masalah-masalah yang ada di lingkungan kepada Dewan Paroki atau Pastor
Parokinya. Juga mengadakan pendataan dalam lingkungan atau kelompok dan
mengadakan pertemuanbersama dengan Pengurus Kelompok.L
d. Pengurus Kelompok Tugasnya adalah menjadi tumpuan utama dan pertama
untuk mengembangkan kehidupan umat Katolik. Merekalah yang melakukan
berbagai program lingkungan dalam rangka pembinaan umat.
53
Dengan beragamnya anggota serta perannya diharapkan tidak saling
menguasai, melecehkan atau menjatuhkan satu sama lain, namun saling
melengkapi serta membantu agar tujuan untuk mewartakan kabar baik dapat
tercapai dan semua orang dapat hidup selamat dan bahagia.
7) TUGAS GEREJA
A. Tugas Mewartakan
1.
Dasar Gereja sebagai Pewarta Sabda
Dalam diri Yesus dari Nazaret, Sabda Allah tampak secara konkret
manusiawi.Penampakan itu merupakan puncak seluruh sejarah pewahyuan
Sabda Allah. Tetapi oleh karena Sabda itu sudah menjelmakan diri dalam sejarah
dan tidak bisa tinggal dalam sejarah untuk selamanya, maka untuk
mempertahankan hasilnya bagi semua orang, Sabda itu harus menciptakan
bentuk-bentuk lain, yang di dalamnya Ia bisa hadir dan berbicara.
Semua bentuk baru yang muncul sesudahnya, pada hakikatnya berbeda
dengan Sabda asli tetapi berasal darinya dan mengandung dayanya. Sabda-sabda
itu merupakan gema Sabda Yesus Kristus.
Sama seperti sebelum penjelmaan, begitu juga sesudahnya Sabda Allah tampak
sebagai tanda manusiawi. Kendati begitu, Sabda sesudah penjelmaan lain
daripada Sabda sebelumnya. Sebelum Kristus, Sabda Allah terutama diwarnai
oleh janji, sedangkan sesudah penjelmaan ada juga sifat janji namun yang lebih
menonjol adalah sifat kesaksian. Janji yang telah terpenuhi oleh Yesus Kristus
harus disaksikan sampai pemenuhannya dalam Kerajaan Bapa. Dalam kesaksian
itu, Kristus, Sabda sejati hadir di dalam sejarah manusia sebagai sarana
penyelamatan.
Bentuk baru Sabda itu adalah Gereja. Kristus, Sabda Allah, menciptakan
Gereja. Lewat Gereja Ia bisa hadir dan berbicara dalam sejarah manusia. Di pihak
54
lain, Gereja pada hakikatnya tidak lain daripada jawaban atas panggilan Yesus
Kristus, Sabda Allah. Seluruh hidup dan keberadaannya merupakan jawaban.
Maka sesungguhnya bisa dikatakan Gereja seluruhnya merupakan Sabda. Di
dalamnya Sabda Allah yang abadi bergema. Karena itu dapat dikatakan bahwa
Gereja seluruhnya merupakan pewartaan dan kesaksian tentang Yesus Kristus,
Sabda, dan Wahyu Allah.
Jadi, Gereja adalah Sabda. Dalam pengertian ini semua eklesiologi yang
menggambarkan Gereja sebagai “pewarta” mempunyai dasar yang wajar, kalau
pewartaan dimengerti dalam arti luas yang menyangkut seluruh hidup Gereja.
2. Bentuk-Bentuk Sabda Allah dalam Gereja
a. Pewartaan Para Rasul sebagai Daya yang Membangun Gereja
Dasar eksistensi Gereja adalah Yesus Kristus sebagai Sabda Allah
yang menyelamatkan. Tetapi secara empiris-historis Gereja dibangun oleh para
rasul dalam kuasa Roh Kudus. Mereka mendirikan Gereja menurut kehendak
Allah berdasarkan peristiwa penyelamatan dalam diri Yesus Kristus. Karena itu
mereka juga disebut dasar Gereja. Sabda yang disampaikan kepada mereka
supaya diteruskan dalam pewartaan ialah bagian asasi karya pendirian Gereja.
Memang dalam arti tertentu Gereja sebagai hasil karya penyelamatan
Kristus telah ada sebelum para rasul. Bahkan mereka sendiri adalah Gereja.
Tetapi mereka mempunyai peranan fundamental dalam proses pengembangan
Gereja yang pada intinya sudah ada sebelumnya. Hubungan mereka dengan
Yesus Kristus dan dengan Gereja menyebabkan pewartaan/sabda para rasul
menjadi sangat fundamental bagi pembangunan Gereja. Yesus Kristus itu sabda
sejati. Gereja merupakan gema sabda itu dalam rupa-rupa bentuk. Salah satu
bentuk yang paling fundamental dari antaranya adalah sabda rasul yang
mengembangkan dan membangun Gereja. Bentuk historis Kristus-Sabda
sebagai dasar Gereja adalah sabda rasul-rasul. Bahkan kita mengenal Kristus,
Sang Sabda, hanya melalui kesaksian – kesaksian mereka.
55
Sabda para rasul itu bukan sekedar memberi keterangan, melainkan
berdaya guna karena Kristus sendiri hadir dan bekerja di dalamnya. Sabda itu
merupakan sabda Allah dalam sabda manusia dan tetap melaksanakan apa yang
diungkapkan. Hal ini dimungkinkan, karena sama seperti seorang nabi, seorang
rasul pun hidup dalam suatu panggilan khusus dan diberi kuasa khusus
mewartakan Sabda Allah secara berwenang. Berdasarkan panggilan khusus ini,
Roh Kudus menjamin kebenaran dan daya guna pewartaan rasul-rasul. Dengan
demikian, menjadi pewarta resmi tidak berarti bisa menguasai Sabda melainkan
menempatkan Sabda sebagai tuan atasnya. Sabda tetap berkuasa atas pewarta,
dan pewarta tidak bisa lebih daripada menjadi pelayan Sabda. Bahkan seluruh
eksistensinya dituntut oleh tugas pewartaan.
Sebagai dasar Gereja, sabda rasul-rasul membawa suatu konsekuensi
lain lagi. Sabda rasul harus dipertahankan Gereja sebagai norma dan sumber
hidup. Hal ini hendaknya dilihat dalam kerangka perkembangan jabatan
gerejawi di dalam fungsinya mempertahankan ajaran yang benar. Soal ini
muncul karena de facto, pewartaan Gereja sesudah rasul-rasul bercorak lain dari
pewartaan para rasul. Pewartaan otoritatif dari kesaksian para rasul ditafsirkan
dan disaksikan kembali oleh Gereja sekarang, tetapi daya guna Sabda Allah
dalam pewartaan Gereja tidak kurang daripada dalam pewartaan para rasul.
Daya guna itu dijamin oleh Roh Kudus yang hidup di dalam Gereja dan yang
tetap sama.
b. Sabda dalam Kitab Suci sebagai Kesaksian Normatif
Proses pembentukan Kitab Suci Perjanjian Baru itu berlangsung selama
zaman apostolik. Di mana-mana muncul tulisan-tulisan yang berisikan
pewartaan mengenai Yesus Kristus, Tuhan kita, Sabda Allah yang mempribadi.
Tulisan-tulisan itu dikumpulkan Gereja dalam suatu proses yang agak lama dan
dijadikan kanon Kitab Suci yang melengkapi Kitab Suci Perjanjian Lama yang
sudah sejak semula dihargai Gereja sebagai Sabda Allah.
Dengan demikian, wahyu Allah melalui Yesus Kristus sungguh selesai
dengan kematian rasul terakhir, meskipun sebagian kitab-kitab Perjanjian Baru
56
menurut kanon, barangkali baru ditulis setelah kematian rasul terakhir. Namun
Gereja yakin, tulisan-tulisan itu berisikan pewartaan para rasul yang asli. Gereja
bisa mengetahuinya karena kesadaran iman yang tetap hidup di dalamnya yang
juga berasal dari pewartaan para rasul.
3. Magisterium atau Wewenang Mengajar
Dari satu pihak Konsili Vatikan II mengajarkan bahwa “Kristus, Nabi
Agung, menunaikan tugas kenabian-Nya bukan saja melalui hierarki yang
mengajar atas nama dan dengan kewibawaan-Nya, melainkan juga melalui para
awam” (LG 35). Dari pihak lain dikatakan, bahwa “di bawah bimbingan
wewenang mengajar (magisterium), yang dipatuhi dengan setia, umat Allah
berpegang teguh kepada iman” (LG 12). Umat Allah hanya dapat menjalankan
tugas kenabiannya dalam kepatuhan kepada pimpinan Gereja. Begitu juga Roh
Kudus “di kalangan umat dari segala lapisan membagi-bagikan rahmat-rahmat
istimewa”. Tetapi “keputusan tentang tulennya karisma-karisma itu, begitu pula
tentang pengamalannya secara teratur, termasuk wewenang mereka yang
bertugas memimpin dalam Gereja” (LG 12). Dalam bidang pewartaan dan
berhubungan dengan rahmat khusus kelihatan adanya suatu ketegangan antara
umat Allah dan para pemimpinnya, khususnya karena soal “wewenang”, Maka
perlu diingat kembali bahwa tugas hierarki adalah “tugas pemersatu”.
“Wewenang mengajar” tidak berarti bahwa dalam pewartaan hanya hierarkilah yang aktif, sedang yang lain tinggal menerima dengan pasif saja. Juga dalam
hal pewartaan, hierarki bertugas menjaga dan memajukan kesatuan serta
komunikasi di dalam umat Allah. Maka, “hendaklah para gembala hierarkis
mengakui dan memajukan martabat serta tanggung jawab kaum awam dalam
Gereja. Hendaklah nasihat mereka yang bijaksana dimanfaatkan dengan suka
hati” (LG 37). Menjaga kesatuan iman dan ajaran tidak berarti indoktrinasi,
melainkan konsultasi. Iman tidak sama dengan ajaran. Karena itu mengajar
tidak sama dengan mewartakan.
57
Oleh karena itu Konsili Vatikan II memulai uraiannya mengenai tugas
pengajaran hierarki dengan pernyataan bahwa “di antara tugas-tugas utama para
uskup pewartaan Injil-lah yang terpenting” (LG 25). Dalam kerangka itu
mereka juga “pengajar otentik (yang mengemban kewibawaan Kristus), yang
mewartakan kepada umat iman yang harus dipercayai dan diterapkan pada
perilaku manusia”. Dalam tugas itu mereka adalah “saksi kebenaran ilahi dan
Katolik”. Dan “kalau mereka dalam ajaran otentik tentang perkara iman dan
kesusilaan sepakat bahwa suatu ajaran tertentu harus diterima secara definitif,
mereka memaklumkan ajaran Kristus tanpa dapat sesat“.
Tidak segala ajaran hierarki mempunyai jaminan kebenaran itu. “Ciri
tidak dapat sesat itu, yang atas kehendak Penebus ilahi dimiliki Gereja-Nya
dalam menetapkan ajaran tentang iman atau kesusilaan, ada pada Imam Agung
di Roma, kepala Dewan para Uskup, bila selaku gembala dan guru tertinggi
segenap umat beriman, menetapkan ajaran tentang iman atau kesusilaan dengan
tindakan definitif. Sifat tidak dapat sesat itu ada pula pada badan para uskup,
bila mereka melaksanakan wewenang tertinggi untuk mengajar bersama
dengan Pengganti Petrus”. Jadi, ada empat syarat:
Ajaran itu harus menyangkut iman dan kesusilaan;

Harus bersifat “ajaran otentik”, artinya jelas dikemukakan dengan
kewibawaan Kristus;

Dinyatakan dengan tegas atau definitif (tidak bisa diganggu-gugat);

Disepakati bersama.

Yang terakhir ini secara khusus menyangkut pernyataan para uskup
sebagai dewan.
Kalau paus bertindak sebagai ketua dewan, ia tidak membutuhkan
persetujuan eksplisit dari dewan. Namun ia “harus menggunakan upaya-upaya
yang serasi”. Kharisma ketidaksesatan itu bukanlah sesuatu yang baru.
Wewenang mengajar termasuk tugas kepemimpinan hierarki. Agar hierarki
benar-benar dapat menjalankan tugas itu sedemikian rupa sehingga “seluruh
58
kaum beriman tidak dapat sesat dalam iman” (LG 12), harus ada jaminan bahwa
hierarki memimpin umat dengan baik. Ini tidak berarti bahwa hierarki tidak
pernah salah, tetapi dengan empat syarat yang telah disebut, umat Allah dengan
tenang dan aman dapat mempercayakan diri kepada hierarki sebagai guru iman.
Iman akan Gereja berarti juga iman akan pimpinan Gereja, berarti pula
kepercayaan akan ajaran Gereja, yang “harus dihormati oleh semua sebagai
saksi kebenaran ilahi dan Katolik” (LG 25). Maka juga dikatakan, dengan
mengutip St. Agustinus, bahwa kepastian iman itu tampak “melalui perasaan
iman segenap umat, bila dari para uskup hingga para awam mereka secara
keseluruhan menyatakan kesepakatan tentang perkara-perkara iman dan
kesusilaan” (LG 12)
4. Pola-pola Pewartaan
a. Teologi
Tugas wewenang mengajar Gereja ialah “menafsirkan secara otentik
sabda Allah yang tertulis dan diturunkan” (DV 10), artinya sabda Allah yang
disampaikan dalam Kitab Suci dan Tradisi. Ciri khas hierarki dalam hal
mengajar ialah melaksanakannya “secara otentik”, yaitu dengan wewenang
atau atas nama Kristus. Tetapi yang “menafsirkan sabda Allah yang tertulis dan
diturunkan” bukan hanya hierarki. “Para awam dengan tekun berusaha makin
mendalami arti kebenaran yang diwahyukan” juga (LG 35). “Bahkan dihimbau,
agar lebih banyak kaum awam menerima pendidikan yang memadai dalam
ilmu-ilmu gerejawi. Dan hendaknya mereka diberi kebebasan yang sewajarnya
untuk
mengadakan
penyelidikan,
mengembangkan
pemikiran
serta
mengutarakan pandangan”. Sebab “lainlah khazanah iman atau kebenarankebenaran iman sendiri, lain lagi cara mengungkapkannya” (GS 62). Dan “pada
setiap bangsa ditumbuhkan kemampuan untuk mengungkapkan warta tentang
Kristus dengan caranya sendiri” (GS 44).
Secara khusus dan ilmiah, teologi “menyelidiki dalam terang iman
segala kebenaran yang tersimpan dalam rahasia Kristus” (DV 24). Tugas
teologi ialah “mengadakan penelitian-penelitian lebih mendalam di pelbagai
59
bidang, sehingga tercapailah pengertian yang makin mendalam tentang
perwahyuan kudus, makin terbukalah pusaka kebijaksanaan Kristiani, warisan
para leluhur, makin berkembanglah dialog dengan saudara-saudara terpisah dan
dengan umat beragama lain, dan juga masalah-persoalan yang timbul dari
kemajuan ilmu-pengetahuan mendapat jawabannya” (GE 11). Walaupun para
pemimpin Gereja didorong menekuni teologi sebagai usaha ilmiah memahami
sabda Allah, namun teologi bukanlah tugas dan fungsi hierarki ataupun
kegiatan gerejawi. Setiap orang beriman diajak merefleksikan imannya secara
metodis dan bertanggung jawab. Oleh sebab itu, bisa terjadi pertentangan atau
bahkan konflik antara rumusan iman yang dikemukakan oleh pimpinan dan
perumusan yang berasal dari refleksi teologis.
Kongregasi untuk Ajaran Iman memberikan instruksi mengenai hal itu
pada bulan Juni 1990. Di dalamnya dikatakan, bahwa tugas para ahli teologi
ialah “secara khusus mencari pemahaman lebih mendalam mengenai sabda
Allah yang terdapat dalam Kitab Suci dan diteruskan dalam Tradisi hidup
Gereja. Tugas ini dilakukan dalam kerjasama dengan wewenang mengajar,
yang dibebani tanggung jawab pemeliharaan khazanah iman”. Kerjasama itu
secara khusus ditegaskan dalam instruksi itu, dan ditandaskan bahwa teologi
berperan khusus dalam rangka komunikasi iman. Tetapi teologi berupa ilmu
dan oleh karena itu harus memperhatikan tuntutan ilmiah yang umum. Namun
ditegaskan pula bahwa kebebasan teologi janganlah menjadi penghalang
kesatuan iman dan kesatuan Gereja. Khususnya mengenai mereka yang diberi
tugas mengajar teologi, instruksi menegaskan kembali ketetapan KHK kan.
812, “Mereka yang memberikan kuliah-kuliah teologi dalam lembaga
perguruan tinggi manapun, haruslah mempunyai mandat dari otoritas gerejawi
yang berwewenang”. Mereka bukan hanya ahli teologi, melainkan juga petugas
gerejawi.
Tugas hierarki dan tugas teologi memang berbeda. Hierarki mempunyai
tugas struktural dalam Gereja, yang pokoknya tugas kepemimpinan demi
kesatuan Gereja. Dalam kerangka itu hierarki mempunyai tugas khusus
60
pengajaran dan perumusan iman. Yang pokok ialah tugas pemersatu;
perumusan iman adalah sarana. Sebaliknya tugas pokok teologi ialah
merumuskan iman sesuai dengan situasi kehidupan Gereja dan tuntutan zaman.
Sebab “di setiap kawasan sosio-budaya yang luas didoronglah refleksi teologis,
untuk – dalam terang Tradisi Gereja semesta – meneliti secara baru peristiwaperistiwa maupun amanat sabda yang telah diwahyukan oleh Allah,
dicantumkan dalam Kitab Suci, dan diuraikan oleh para Bapa serta Wewenang
Mengajar Gereja” (AG 22).
Yang secara resmi diajarkan di dalam Gereja, khususnya oleh pimpinan
Gereja universal, perlu dirumuskan kembali sesuai dengan situasi dan kondisi
Gereja setempat. Tugas itu ditanggung terutama oleh para ahli teologi.
Wewenang mereka tidak diperoleh dari kedudukan sebagai pimpinan Gereja,
tetapi dari keahlian ilmiah. Maka teologi merumuskan iman dari bawah, itulah
tugasnya yang utama, sedangkan hierarki merumuskan iman dari atas dalam
rangka tugas kepemimpinan.
5. Pewarta Sabda
Tugas pewartaan seperti yang juga dialami para nabi dan Kristus
sendiri tidaklah ringan. Tugas membangun umat Kristen menuntut keterlibatan
seluruh eksistensi diri pewarta. Sebagai pewarta Yesus, ia harus mengambil
bagian dalam nasib Yesus. “Kami senantiasa membawa kematian Yesus di
dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh
kami” (2Kor 4:10). Jadi dituntut adanya penyesuaian eksistensial antara
pewarta dan Dia yang diwartakan. Dalam penyesuaian itu, Kristus, Sabda Allah
dimaklumkan dengan perkataan dan seluruh kehidupan pewarta. Oleh sebab itu
menjadi pewarta merupakan suatu panggilan. Itu berarti bahwa seorang pewarta
dituntut dekat dengan Dia yang diwartakannya; nasib Yang diwartakan akan
menjadi nasibnya; penderitaan menjadi bagian hidupnya; ia diutus dan
“diserahkan” kepada umat yang mendengar pewartaannya dan harus memiliki
komitmen utuh kepada umat. Tetapi siapakah pewarta itu?
61
Pewartaan itu tugas dan panggilan setiap orang yang percaya kepada
Kristus. Secara khusus tugas ini dipercayakan kepada mereka yang termasuk
golongan imam atau para biarawan-biarawati yang dengan status hidup mereka
mau memberi kesaksian tentang kebenaran Injil. Lebih khusus lagi harus
disebut “barisan para katekis, baik pria maupun wanita, yang dijiwai semangat
merasul dan dengan banyak jerih payah memberi bantuan istimewa dan yang
sungguh perlu demi penyebarluasan iman Gereja” (AG 17). Para katekis itu
biasanya berstatus awam, tetapi dengan tugas pewartaan resmi mereka
menjalankan fungsi pewartaan yang secara khusus dipercayakan kepada imam.
Oleh karena itu Konsili juga menganjurkan supaya kepada mereka “diberikan
perutusan gerejawi yang resmi, dalam suatu ibadat liturgis yang dirayakan di
muka umum” (AG 17). Untuk itu mereka juga harus diberi pendidikan yang
memadai.
6. Alat-Alat Komunikasi
Dalam pewartaan dewasa ini alat-alat komunikasi mempunyai
tempat yang istimewa. Alat-alat komunikasi, seperti media cetak, film, radio,
televisi, internet, dan sebagainya, oleh Konsili Vatikan II diakui sebagai
penemuan teknologi modern “yang membuka peluang-peluang baru untuk
menyalurkan dengan lancar segala macam berita, gagasan, dan pedoman” (IM
1). Oleh karena itu Konsili juga menganjurkan agar alat-alat komunikasi
“dimanfaatkan secara efektif dalam aneka macam karya kerasulan” (IM 13),
khususnya dalam tugas pewartaan. Inilah cara komunikasi yang dewasa ini
lazim dipakai dalam segala macam usaha propaganda, indoktrinasi, dan
penyebaran informasi. Janganlah Gereja menjadi asing terhadap dunia
komunikasi ini, melainkan mengambil manfaat perkembangan teknik demi
pewartaan Injil dan kesaksian iman. Sekaligus Gereja ingin membimbing orang
supaya bersikap kritis dan dewasa terhadap pengaruh dan kuasa media massa.
Penyiaran berita harus sesuai dengan kebenaran. Pengaruh propaganda dan
indoktrinasi tidak boleh menyangkal atau menghalang-halangi tanggung jawab
dan kebebasan berpikir. Pedoman-pedoman yang disiarkan hendaknya benar-
62
benar membantu orang dan tidak hanya memaksakan kehendak mereka yang
berkuasa atas alat-alat komunikasi. Alat-alat ini mempunyai pengaruh luar
biasa besarnya atas pembentukan pendapat umum. Maka Gereja mengajak
semua orang ikut berjaga supaya alat-alat komunikasi jangan menyelewengkan
pandangan masyarakat dari kebenaran prinsip-prinsip moral. Sebaiknya
hendaknya melalui alat-alat komunikasi kebenaran dari Allah semakin
diketahui oleh banyak orang dan menjadi pegangan hidup dalam pembangunan
masyarakat.
B. Tugas Pengudusan dalam Perayaan
Konsili Vatikan II menyebut Gereja “persekutuan iman, harapan dan
cinta” (LG 8), “persekutuan persaudaraan orang yang menerima Yesus dengan
iman dan cinta kasih” (GS 32). Maka sesungguhnya “Roh Kuduslah yang
menciptakan persekutuan umat beriman dengan menghimpun mereka dalam
Kristus, sebagai prinsip kesatuan Gereja” (UR 2), sebab oleh Roh Kudus “kasih
Allah dicurahkan ke dalam hati kita” (Rm 5:5). Tetapi Konsili juga
mengajarkan bahwa Gereja dibentuk “karena perpaduan unsur manusiawi dan
ilahi” (LG 8). Kesatuan Gereja bukan hanya karya Roh Kudus, tetapi juga hasil
komunikasi antarmanusia, khususnya perwujudan komunikasi iman di antara
para anggota Gereja. Komunikasi ini terjadi terutama dalam perayaan iman.
Maka dikatakan bahwa “penampilan Gereja yang istimewa terdapat dalam
keikutsertaan penuh dan aktif seluruh umat kudus Allah dalam perayaan liturgi”
(SC 41). Dan Gereja sendiri disebut “persekutuan keimaman” (LG 11),
khususnya “persekutuan di sekitar altar” (LG 26).
Komunikasi iman mengandaikan pengungkapan iman sebagai sarana
komunikasi, Pengungkapan iman bukan hanya meliputi perayaan liturgi atau
ibadah. Segala pernyataan iman yang khusus dan eksplisit, termasuk perumusan
dan pengajaran iman, merupakan pengungkapan iman. Maka pengungkapan
iman ini harus dibedakan dari perwujudan iman. Kedua-duanya adalah
penghayatan iman. Yang disebut “pengungkapan” iman ialah segala pernyataan
63
iman dalam bentuk yang khusus dan eksplisit, terutama dalam bentuk
pewartaan atau pengajaran dan perayaan Gereja. Yang disebut “perwujudan”
iman ialah segala perkataan dan tindakan yang memang dijiwai oleh semangat
iman, namun tidak secara khusus dan jelas memperlihatkan sikap iman itu. Di
situ iman memang dihayati, tetapi tidak menjadi kentara, karena bentuk
penghayatan iman merupakan kegiatan dan pergaulan yang “biasa”, yang
“umum”, yang tidak memperlihatkan kekhususan iman Kristen dan Katolik.
Sebaliknya dalam bidang pewartaan dan perayaan, iman Kristen dinyatakan
secara khusus dan jelas. Maka kegiatan gerejawi ini disebut “pengungkapan
iman”. Karena iman berarti hubungan dengan Allah, bidang pengungkapan
iman itu juga disebut bidang “sakral”, yang dikhususkan bagi Allah. Di dalam
bidang pengungkapan iman biasanya masih dibedakan antara bidang pewartaan
yang telah dibahas dan bidang perayaan yang akan diuraikan sekarang. Bidang
itu adalah bidang doa dan kebaktian.
1. Doa di dalam Gereja dan Doa Gereja
Perlu dibedakan antara doa pribadi dan doa bersama. Yang
pertama dapat disebut “doa di dalam Gereja”, sedangkan yang kedua
adalah “doa Gereja”. Dikatakan bahwa doa tidak sama dengan
mendaraskan rumus-rumus hafalan melainkan pertama-tama dan
terutama pernyataan iman di hadapan Allah. Doa berarti mengarahkan
hati kepada Tuhan. Maka doa tidak membutuhkan banyak kata, dan
tidak terikat pada waktu dan tempat tertentu, tidak menuntut sikap
badan atau gerak-gerik yang khusus. Yang berdoa adalah hati, bukan
badan. Maka yang berdoa sebetulnya juga bukan manusia, melainkan
Roh Allah sendiri (lih. Rm 8:26). Itu berlaku untuk doa pada umumnya,
dan juga untuk doa di dalam Gereja. Tetapi untuk doa Gereja sebagai
doa bersama, perlu sedikit keseragaman demi kesatuan doa dan
pengungkapan iman.
64
Doa Gereja merupakan doa resmi atau “liturgi”, yang dapat
disebut “kebaktian” (sebab kata Yunani leitourgia berarti “kerja bakti”)
atau lebih baik “ibadat resmi Gereja”. Yang pokok bukan sifat “resmi”
atau kebersamaan, melainkan kesatuan Gereja dengan Kristus dalam
doa. Dengan demikian, liturgi adalah “karya Kristus Imam Agung, serta
Tubuh-Nya, yaitu Gereja”. Oleh karena itu liturgi tidak hanya
merupakan “kegiatan suci yang sangat istimewa”, tetapi juga wahana
utama untuk menghantar umat Kristen ke dalam persatuan pribadi
dengan Kristus (SC 7). Memang, “liturgi suci tidak mencakup seluruh
kegiatan Gereja” (SC 9), tetapi dalam kerangka doa Gereja, liturgi
merupakan pengantar utama ke dalam misteri Kristus, sebab dalam
liturgi orang berdoa bersama Kristus, mengambil bagian dalam
penyerahan Kristus kepada Bapa-Nya.
Liturgi tidak hanya menawarkan aneka bentuk dan rumus doa,
tetapi mau menjadi tempat orang merasakan dan menghayati
komunikasi dengan Bapa, bersama Putra, dalam Roh Kudus. Inti pokok
doa adalah kesatuan pribadi dengan Putra dalam penyerahan-Nya
kepada Bapa. Itulah sebabnya Gereja selalu berdoa “dengan perantaraan
Tuhan kami Yesus Kristus”. Itu tidak mungkin tanpa Roh Kudus. Maka
doa Kristen adalah suatu gerakan dinamis: dalam Roh, bersama Kristus,
menghadap Bapa.
Liturgi “bukanlah seluruh kegiatan Gereja”. Liturgi selalu harus
berhubungan dengan Kitab Suci, sebagai kesaksian pokok mengenai
Allah dan karya penyelamatan-Nya, dengan ajaran Gereja dan terutama
dengan kehidupan jemaat. Liturgi termasuk pengungkapan iman. Iman
berarti hubungan dengan Allah. Maka pokok liturgi adalah
pengungkapan hubungan dengan Allah, dengan tekanan pada
kehormatan dan kemuliaan Allah. Oleh karena itu liturgi pertama-tama
merupakan pujian Tuhan. Tetapi kemuliaan Allah tidak pernah lepas
dari segi lain iman, yaitu pengudusan manusia, sehingga liturgi selalu
65
mempunyai dua segi itu: kemuliaan Allah dan pengudusan manusia.
Liturgi itu pertemuan keselamatan dengan Allah, dalam Kristus, oleh
Roh Kudus. Maka doa “Bapa kami”, yakni doa Yesus kepada Bapa-Nya
tetap merupakan suri-teladan segala doa liturgis. Tetapi struktur pokok
liturgi terdapat dalam Ekaristi, sebagaimana akan diuraikan di bawah
ini.
Liturgi bukan hanya pengulangan doa Yesus atau lanjutan
ibadah Yahudi. Liturgi berkembang dalam sejarah, dan seharusnya tetap
berkembang, sesuai dengan kekhasan unsur-unsur perayaan dalam
kebudayaan Gereja setempat, sebab walaupun kebersamaan bukan inti
pokok liturgi, melainkan kebersamaan merupakan unsur penting juga,
dan penghayatan iman bersama tidak mungkin tanpa pengungkapan
yang sesuai. Dalam hal ini ajaran Konsili Vatikan II jelas sekali:
“Umat beriman janganlah menghadiri misteri iman sebagai
orang luar atau penonton yang bisu, melainkan sedemikian rupa
sehingga melalui upacara dan doa-doa mereka memahami misteri itu
dengan baik, dan ikut-serta penuh khidmat dan secara aktif. Hendaknya
mereka dengan rela hati menerima pelajaran dari sabda Allah,
disegarkan oleh santapan Tubuh Tuhan, dan bersyukur kepada Allah”
(SC 48).
Dalam Konstitusi mengenai Liturgi, Konsili Vatikan II tidak
hanya berbicara mengenai doa dan perayaan kebaktian, tetapi juga
menyinggung masalah “musik liturgi” dan “kesenian religius dan
perlengkapan ibadat”, karena “Gereja selalu berusaha memanfaatkan
kesenian, supaya segala sesuatu yang berhubungan dengan ibadat suci
sungguh layak, indah dan permai, agar supaya dapat menjadi tanda dan
lambang kenyataan surgawi” (SC 122). Semua itu tidak termasuk pokok
liturgi, tetapi mendukung dan menyemarakkan. Hal itu tidak hanya
menyangkut gambar dan patung serta gedung gereja sendiri. Gerakgerik dan bahasa, pakaian dan musik mendapat perhatian khusus. Dalam
66
hal ini Gereja mengharapkan perpaduan antara tradisi dan inspirasi
kreatif yang baru, khususnya yang bersumber pada cita-cita inkulturasi.
Berhubung dengan hal ini tumbuh di dalam Gereja kebiasaan
memakai warna-warna tertentu dalam perayaan liturgi, khususnya
dalam Ekaristi. Putih. dipakai untuk semua hari besar, kecuali
Pentekosta. Pada hari itu merah adalah warna liturgis sebagai lambang
cinta kasih ilahi; maka merah juga dipakai untuk pesta para martir,
termasuk Yesus sendiri pada Jumat Suci (Agung) dan Minggu Palma.
Untuk para santo dan santa yang lain: putih. Untuk masa persiapan,
yakni masa Adven dan Prapaska, warna ungu. Warna itu tidak begitu
cerah dan gembira, maka cocok untuk masa renungan dan mati-raga
karena dosa-dosa kita. Hitam lebih muram lagi; karena itu cocok untuk
doa bagi arwah-arwah. Tetapi kalau mau tidak terlalu menonjolkan
kedukaan, boleh memakai ungu juga. Untuk semua perayaan lain, yang
tidak termasuk yang disebut di atas, dipakai warna hijau.
Liturgi bukan tontonan, melainkan perayaan. Melalui perayaan
itu sebagai pengungkapan iman Gereja, orang mengambil bagian dalam
misteri yang dirayakan. Tentu saja bukan hanya dengan partisipasi
lahiriah. Yang pokok adalah hati yang ikut menghayati apa yang
diungkapkan dalam doa. Tetapi kekhasan doa Gereja ini merupakan
sifat resminya, sebab justru karena itu Kristus bersatu-padu dengan
umat yang berdoa. Dengan bentuk yang resmi doa umat menjadi doa
seluruh Gereja yang, sebagai Mempelai Kristus, berdoa bersama Sang
Penyelamat, sekaligus tetap merupakan doa pribadi setiap anggota
jemaat. Liturgi baru menjadi doa dalam arti penuh, bila semua yang
hadir secara pribadi dapat bertemu dengan Tuhan dalam doa bersama
itu. Kalau demikian terjadi apa yang dikatakan Tuhan “di mana dua atau
tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah
mereka” (Mat 18:20). Atau dengan rumusan Konsili Vatikan II, “Di
dalam jemaat-jemaat, meskipun sering hanya kecil dan miskin, atau
67
tinggal
tersebar,
hiduplah
Kristus;
dan
berkat
kekuatan-Nya
terhimpunlah Gereja yang satu, kudus, Katolik dan apostolik” (LG 26).
Karena kehadiran Kristus, liturgi membuat jemaat setempat menjadi
Gereja dalam arti yang penuh, sebab di dalamnya setiap orang didorong
ke arah kesatuan pribadi dengan Kristus dan bersama-sama mereka
membentuk Gereja Kristus. Dengan demikian setiap “paroki dalam arti
tertentu menghadirkan Gereja semesta” (SC 42).
2. Sakramen
1) Asal Usul Sakramen
Sejak awal hidup Gereja terdapat ritus-ritus. Ritus-ritus tersebut
dianggap sebagai salah satu bentuk pelaksanaan hidup Gereja, dan dipandang
penting dan mutlak perlu untuk hidup Gereja. Ritus-ritus awal itu antara lain
ritus pembaptisan dan pemecahan roti atau Ekaristi. Sebagian besar unsur ritus
itu diambil dari kelompok agama lain, khususnya agama Yahudi. Tetapi untuk
kita tidak begitu penting, apa yang diambil alih dan apa yang diciptakan baru
oleh Gereja perdana. Yang penting ialah arti dan isi ritus-ritus itu, yang isinya
ternyata bersifat khas Kristiani sejak permulaan.
Kekhasan itu terletak pada keyakinan Gereja bahwa ritus-ritus itu
membuat sesuatu yang sama sekali baru dalam dunia. Dalam praktik
pembaptisan misalnya, Gereja mengambil alih ritus yang sudah lama dikenal di
luar Gereja. Yang baru adalah, melalui ritus yang secara lahiriah sudah populer
itu Gereja mengambil bagian dalam karya keselamatan Yesus Kristus melalui
wafat dan kebangkitan-Nya dari alam maut.
Demikian halnya dengan praktik Ekaristi. Benar bahwa perjamuanperjamuan religius terdapat di dalam banyak agama. Tetapi praktik tersebut
sudah diambil alih oleh Gereja perdana untuk suatu maksud dan isi tertentu.
Dengan merayakan Ekaristi, Gereja perdana ingin memberitakan kematian
Tuhan sampai kedatangan-Nya kembali, “Setiap kali kamu makan roti ini dan
68
minum dari piala ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang”
(1Kor 11:26).
Kalau kita menyelidiki sumber-sumber kita, yaitu Kitab Suci, jelas
sekali bahwa Gereja perdana sadar akan perbuatan Allah yang unik dan “satu
kali untuk selama-lamanya” sebagai pemenuhan janji dan perbuatan itu
dikerjakan Allah secara historis dan kelihatan “pada zaman akhir ini”, dalam
diri Yesus dari Nazaret, seorang manusia historis.
Perbuatan Allah itu adalah perbutan keselamatan yang harus diimani,
diwartakan, dan dilaksanakan antara lain melalui upacara-upacara tertentu.
Allah dalam karya keselamatan itu antara lain menciptakan Gereja. Gereja
sebagai hasil karya keselamatan Allah harus menghayati dan melanjutkannya
sampai akhir zaman. Allah Abraham, Ishak, dan Yakub, Allah dan Bapa Tuhan
kita Yesus Kristus telah melaksanakan keselamatan umat manusia dan dunia
seluruhnya dalam salib dan kebangkitan Putra-Nya yang tunggal itu sedemikian
rupa, sehingga sekarang Gereja sekaligus merupakan hasil dan sakramen
keselamatan.
Karya keselamatan dengan seluruh dimensi historisnya, baik
menyangkut
janji,
pelaksanaan
dalam
diri
Yesus
dan
pemenuhan
eskatologisnya hadir di dalam Gereja sebagai hidup dan inti Gereja. Gereja,
sebagai hasil karya penyelamatan yang melaksanakan hakikatnya itu dan
menunaikan amanat dan tugasnya sebagai alat keselamatan dengan cara
penghayatan hidup yang diberikan oleh Allah, akan juga menyampaikan hidup
baru itu kepada dunia yang belum percaya kepada Kristus. Tugas tersebut
terlaksana antara lain dalam perbuatan-perbuatan yang kemudian disebut
sakramen-sakramen.
Jadi, secara ringkas dapat dikatakan bahwa isi dan arti Gereja, yaitu
rahasia penyelamatan Allah yang terlaksana dalam Yesus dari Nazaret, mesti
dilaksanakan di dalam Gereja itu sendiri antara lain melalui ritus-ritus. Ritus
atau upacara itu merupakan sarana yang dengannya rahasia penyelamatan Allah
69
disampaikan kepada manusia sepanjang sejarah dan selanjutnya dikenal
sebagai sakramen.
2) Arti dan Makna Sakramen
Dalam uraian tentang kata “misteri”, dinyatakan bahwa rahasia
keselamatan Allah ditampakkan Allah melalui peristiwa-peristiwa konkret di
dalam dunia ini. Secara fundamental rahasia itu dinyatakan di dalam seluruh
ciptaan melalui penciptaan dan secara paling sempurna dan lengkap di dalam
peristiwa Yesus Kristus, yang dipratandai oleh sejarah Israel dan diteruskan
melalui sejarah Gereja.
Gereja seluruhnya merupakan satu bagian dalam penampakan rahasia
Allah di dalam dunia dan sejarah. Dengan kata lain, Gereja merupakan tanda.
Di dalamnya rahasia keselamatan Allah menjadi nyata. Seturut seluruh struktur
wahyu Allah, bahwa rahasia yang tersembunyi di dalam Allah ditampakkan di
dalam dunia dan sejarah yang seolah-olah menjadi transparan terhadap rahasia
Allah itu, sakramen bisa didefinisikan sebagai peristiwa konkret duniawi yang
menandai, menampakkan, dan melaksanakan atau menyampaikan keselamatan
Allah atau dengan lebih tepat Allah yang menyelamatkan. Dewasa ini tanda
sakramental itu biasanya dijelaskan dengan menggunakan gagasan lambang
atau simbol. Manusia merupakan roh yang membadan, sebab itu segala ekspresi
roh manusiawi terjadi melalui badan. Nilai-nilai yang luhur atau yang paling
rohani pun harus kita ungkapkan melalui badan, supaya nilai atau perasaan itu
bisa disampaikan kepada orang lain. Pokoknya adalah suatu hukum manusiawi
bahwa kita berkomunikasi melalui badan. Melalui tanda-tanda badaniah
terungkaplah sesuatu yang lebih dalam daripada perbuatan-perbuatan konkret
yaitu jiwa dan sikap rohani kita.
Kebenaran ini berlaku juga untuk komunikasi Allah dengan kita.
Karena itu Allah menjadi manusia dalam diri Yesus dari Nazaret untuk
menyampaikan cinta-Nya kepada kita secara konkret. Dan karena itu pula ada
Gereja sebagai persekutuan persaudaraan yang konkret dan di dalamnya
70
terdapatlah ritus-ritus sakramen. Dalam sakramen, rahmat (cinta Allah)
disampaikan secara konkret melalui tanda-tanda badaniah kepada kita.
Dalam perbuatan manusiawi, kita mengalami cinta ilahi. Dengan
sengaja, di sini dibicarakan mengenai “perbuatan manusia” dan tidak mengenai
benda material yang di dalamnya kita mengalami rahmat yang menguduskan,
karena tanda sakramen sesungguhnya aksi/perbuatan. Yang terpenting ialah apa
yang kita buat di antara manusia di dalam umat beriman, karena perbuatan
manusiawi itu melambangkan perbuatan Allah terhadap kita; perbuatan Allah
itu sungguh terlaksana sementara manusia atau umat beraksi.
Penjelasan yang bersifat antropologis ini mempunyai konsekuensi
praktis. Karena sakramen-sakramen itu perbuatan manusiawi/gerejawi yang
melambangkan atau lebih baik melaksanakan secara simbolis suatu tindakan
Allah terhadap kita, maka ritus-ritus sakramen harus dilaksanakan secara
sungguh-sunguh penuh, sehingga bisa dirasakan. Maksudnya, dalam
pembaptisan air harus dirasakan, dalam pengurapan orang sakit minyak juga
harus dirasakan, dan dalam Ekaristi hosti jangan begitu tipis hingga tidak
dirasakan apa-apa.
Dalam hal ini juga penting disadari bahwa perbuatan manusia konkret
itu baru mendapat identitasnya sebagai sakramen Kristiani melalui perkataan
yang diucapkan. Perbuatan penuangan air atau pembasuhan masih terbuka
artinya. Baru melalui formula “Aku membaptis engkau atas nama Bapa,Putra,
dan Roh Kudus”, hubungan perbuatan itu dengan peristiwa keselamatan yang
dilaksanakan Allah Tritunggal menjadi nyata. Sebab itu perbuatan dan
perkataan bersama-sama membentuk tanda, lambang melaluinya Allah
mendekati dan menyelamatkan kita secara konkret badaniah.
C. Tugas Melayani
Gereja adalah persekutuan orang beriman, komunikasi iman. Dalam
proses komunikasi iman itu dibedakan dua macam: pengajaran dan perayaan.
Yang satu komunikasi dengan kata-kata, baik dalam katekese yang biasa
71
maupun dalam pengajaran pimpinan Gereja yang resmi; yang lain komunikasi
iman dalam ibadat bersama. Yang pokok bukanlah rumusan iman atau
kebaktian, melainkan penghayatan dan pengamalan iman. Bahkan Gereja
“wajib mengakui iman di muka orang-orang” (LG 11), sebab “berkat iman kita
menerima pengertian tentang makna hidup kita yang fana” (LG 48). “Iman
menyinari segala sesuatu dengan cahaya yang baru, dan memaparkan rencana
ilahi tentang seluruh panggilan manusia” (GS 11).
Oleh karena itu, pengungkapan iman saja tidak cukup. Gereja sendiri
bukan tujuan; “tujuannya adalah Kerajaan Allah, yang oleh Allah sendiri telah
dimulai di dunia” (LG 9). “Oleh karena itu, berdasarkan Injil yang dipercayakan
kepadanya, Gereja mewartakan hak-hak manusia dan mengakui serta
menjunjung tinggi dinamisme zaman sekarang” (GS 41). “Manusialah, dalam
kesatuan dan keutuhannya, beserta jiwa maupun raganya, dengan hati serta
nuraninya, dengan budi dan kehendaknya” adalah paras segala kegiatan Gereja
(GS 3).
Yesus pernah bersabda: “Sabat untuk manusia, dan bukan manusia
untuk Sabat” (Mrk 2:27). Berpedoman pada sabda Yesus itu kiranya dapat
dikatakan bukan manusia untuk Gereja, dengan segala ajaran dan ibadatnya,
melainkan Gereja untuk manusia. “Sementara Gereja membantu dunia dan
menerima banyak dari dunia, yang dimaksudkannya hanyalah ini: supaya
datanglah Kerajaan Allah dan terwujudlah keselamatan segenap bangsa
manusia” (GS 45). Gereja dipanggil supaya melayani manusia, seluruh umat
manusia.
1. Bersama-sama Mencari Arah Hidup
Yang oleh Konsili Vatikan II dimaksud dengan “manusia” adalah
“segenap keluarga manusia beserta kenyataan semesta yang menjadi
lingkungan hidupnya; dunia yang mementaskan sejarah umat manusia, dan
ditandai oleh jerih-payahnya, kekalahan serta kejayaannya; dunia, yang
menurut iman umat Kristen diciptakan dan dilestarikan oleh cinta kasih Sang
72
Pencipta; dunia, yang memang berada dalam perbudakan dosa, tetapi telah
dibebaskan oleh Kristus yang disalibkan dan bangkit” (GS 2). Yang
dimaksudkan ialah manusia yang konkret, yang berbeda-beda dan berubahubah, yang berkembang dalam sejarah dan mempunyai kekhasannya menurut
daerah dan tempat tinggalnya. Bagi manusia ini tidak ada suatu “resep hidup”
yang umum. Semua harus berjuang menemukan jalannya sendiri. Yang umum
hanyalah Tuhan yang menyertai semua dengan rencana kasih-Nya sejak
semula.
Manusia tidak tenggelam dalam sejarah dunia. Ia memang tidak
mempunyai peta untuk meniti jalan hidupnya, tetapi ia dapat melihat ke kanan
dan ke kiri, ke belakang dan ke muka; manusia mempunyai kemampuan
berefleksi, memikirkan kembali situasinya di dunia. Terutama ia dapat
melihatnya dari sudut pandangan Allah sendiri, dalam iman. Oleh karena itu
manusia dituntut agar senantiasa mengamat-amati situasi penuh perhatian,
sanggup belajar dari pengalaman dan mampu menanggulangi situasi-situasi
baru, bijaksana dan luwes dalam pemikirannya, bertanggung jawab dalam
menilai dan, bila perlu mengubah kegiatannya. Singkatnya, orang tidak hanya
harus berani, tetapi juga mampu mencari jalan hidupnya. Dalam hal ini mau
tidak-mau, sebagai manusia modern ia harus saling menolong dan saling
melengkapi. Oleh karena yakin bahwa pegangan utama ialah iman, maka justru
dalam perjuangan bersama ini Gereja menemukan medan pelayanannya, yaitu
melayani sesama dalam mencari kehendak Tuhan dan arah hidupnya.
a. Sikap Dasar: Melayani, bukan Dilayani
Apakah sumbangan umat Kristen bagi masyarakat yang majemuk
dan pluralistik ini? Bagaimana mungkin dapat berlangsung perjuangan bersama
bagi manusia yang berbeda imannya? Sumbangannya ialah sikap hidupnya dan
alasan-alasan yang dapat dikemukakan untuknya, berdasarkan pikiran yang
sehat dan komunikasi yang meyakinkan. Semua orang menghadapi kenyataan
hidup yang sama, dan masing-masing bertanggung jawab atas sikap yang
73
diambilnya. Tetapi komunikasi yang wajar dapat menjadi sumber inspirasi
dalam usaha bersama. Semua mencari kesejahteraan dan kebahagiaan bersama.
Mengenai tujuan masyarakat, kebanyakan orang memang sepaham.
Yang menjadi pertanyaan sekarang ialah bagaimana menempuh jalan ke situ,
dan kebanyakan orang enggan berpikir mengenai jalannya, bahkan cenderung
mengambil jalan pintas. Masyarakat tidak hanya sekadar ingin hidup makmursejahtera, tetapi setuju mengenai perlindungan hidup, mengenai perkembangan
dan pendidikan angkatan muda, mengenai kemajuan ilmu dan teknik, mengenai
hubungan baik dan ketertiban hidup bersama dan mengenai banyak hal yang
lain.
Sedangkan mengenai tindakan konkret yang harus diambil tidak
hanya ada perbedaan pendapat, tetapi kebanyakan orang diam saja dan
menunggu sampai orang lain mengambil inisiatif. Banyak umat Kristen, yang
tahu mengenai kewajiban untuk saling tolong-menolong dengan saling
menanggung beban (lih. Gal 6:2), ikut menunggu sampai ada yang memulai
atau datang perintah dari atas.
Bagaimana iman menjadi pendorong atau bantuan untuk bertindak?
Tidak dengan cara membuat tugas mencari jalan menjadi lebih ringan. Sebab
“iman membimbing akal budi manusia ke arah cara-cara memecahkan soal
yang sepenuhnya manusiawi” (GS 11). Dalam cara berpikir, orang Kristen
sama dengan yang lain. Tetapi dalam hal kelakuan dan tindakan umat Kristen
yakin, bahwa “barangsiapa mengikuti Kristus, manusia sempurna, akan
menjadi manusia yang lebih utuh” (GS 41). Iman bukan soal pengetahuan atau
pandangan, melainkan soal sikap dan kesetiaan. Orang Kristen sering juga tidak
menyumbang pada kesejahteraan bersama, karena belum dengan sepenuhnya
menjadi pengikut Kristus. Orang hanya menjadi sungguh Kristiani dengan
mengikuti jejak Kristus.
74
Salah satu sikap Kristus yang amat mencolok adalah penolakanNya terhadap feodalisme atau masyarakat yang bertingkat-tingkat dengan
membedakan golongan orang. Yesus bersabda:
“Kamu
tahu
bahwa
pemerintah-pemerintah
para
bangsa
memerintah rakyat mereka dengan tangan besi dan pembesar-pembesar
menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka, dan ingin disebut pelindung.
Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara
kamu-hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin terkemuka di
antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu. Aku ada di tengah-tengah kamu
sebagai pelayan” (Mat 20:25-28 dsj.).
Yesus mengenal struktur masyarakat feodal. Adanya kelas-kelas
dan tingkat-tingkat itu, biasa dalam masyarakat. Tetapi, kata-Nya, tidaklah
demikian di antara kamu. Kamu harus lain. Sikap yang Kuajarkan kepadamu
adalah sikap melayani. Yesus tidak pernah menganggap orang lain lebih rendah
daripada diri-Nya, Ia mengetahui bahwa sebetulnya Ia tidak sama dengan yang
lain. Ia berkata, “Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, katamu itu tepat, sebab
memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi, jikalau Aku membasuh kakimu, Aku
yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kaki”
(Yoh 13:13-14). “Karena Anak Manusia datang bukan untuk dilayani,
melainkan untuk melayani” (Mrk 10, 45). Itulah sikap yang diharapkan Yesus
dari murid-murid-Nya. “Janganlah kamu disebut rabi (guru), sebab hanya satu
gurumu dan kamu semua adalah saudara” (Mat 23:8).
Gereja tidak lebih pintar, sehingga harus menggurui orang lain.
Semua adalah saudara, dan harus saling membantu dalam mencari jalan dan
arah hidup. Paulus berkata, “Tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak
ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena
kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus” (Gal 3:28). Maksudnya,
Kristus telah menghapus perbedaan suku dan ras, perbedaan tingkat sosial atau
kelas, dan juga pria dan wanita sama saja di hadapan Tuhan.
75
Membedakan orang dan golongan tidak cocok dengan semangat
Yesus. Iman (dapat) mempengaruhi pandangan orang, karena memberi
pandangan baru terhadap keluhuran pribadi manusia, terhadap kesamaan dan
persaudaraan semua orang, dan terhadap sikap pelayanan. Dalam pandangan
Kristen melayani tidak merendahkan, melainkan mengangkat orang karena
membuatnya sama dengan Kristus, Tuhan dan Guru.
b. Tanggung Jawab
Dasar pengabdian Gereja adalah imannya akan Kristus.
Barangsiapa menyatakan diri murid Kristus, “ia wajib hidup sama seperti
Kristus telah hidup” (1Yoh 2:6). Kristus yang “mengambil rupa seorang
hamba” (Flp 2:7), tidak ada artinya, kalau para murid-Nya mengambil rupa
penguasa. Pelayanan berarti mengikuti jejak Kristus. “Seorang murid tidak
lebih daripada gurunya” (Mat 10:24). Perwujudan iman Kristiani adalah
pelayanan, maka iman Kristiani tidak pernah menjadi alasan untuk merasa diri
lebih baik daripada orang lain. Sebaliknya, “barangsiapa meninggikan dirinya,
akan direndahkan” (Mat 23:12 dsj.).
Iman Kristen adalah rahmat Tuhan, dan oleh karena itu bukanlah
barang yang harus dibanggakan. Paulus berkata, “Apakah yang engkau punyai,
yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya,
mengapakah
engkau
memegahkan
diri,
seolah-olah
engkau
tidak
menerimanya?” (1Kor 4:7). Dan Yesus berkata: “Apabila kamu telah
melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu
berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya
melakukan apa yang harus kami lakukan” (Luk 17:10). Pelayanan Kristiani
yang termasuk sikap pokok para pengikut Kristus bukan sesuatu yang sangat
istimewa.
Namun itu tidak berarti bahwa orang Kristen adalah orang bodoh
saja, yang hanya menjalankan tugas yang kebetulan jatuh pada mereka. Konsili
Vatikan II menyatakan “Menyimpanglah dari kebenaran, mereka yang mengira
76
bahwa boleh melalaikan tugas kewajiban di dunia (karena kita mencari dunia
yang akan datang), dan tidak mengindahkan, bahwa justru karena iman sendiri
kita lebih terikat untuk menjalankan tugas-tugas itu, menurut panggilan
masing-masing” (GS 43). Sebab, “manusia, yang diciptakan menurut citra
Allah, diberi titah supaya menaklukkan bumi dalam keadilan dan kesucian”
(GS 34).
Dalam usaha pembangunan itu perlu diperhatikan, bahwa
“keadilan yang lebih sempurna, persaudaraan yang lebih luas, cara hidup sosial
yang lebih manusiawi, semua itu lebih berharga daripada kemajuan di bidang
teknologi” (GS 35). Maka justru dalam bidang pembangunan tampillah
kebutuhan akan pelayanan, sebab “hubungan persaudaraan antara manusia
hanya akan tercapai dalam kebersamaan pribadi dengan sikap saling
menghormati” (GS 23). Oleh karena itu Gereja menegaskan supaya “setiap
orang memandang sesamanya, tanpa kecuali, sebagai ‘dirinya yang lain’ dan
mementingkan perihidup mereka beserta upaya-upaya yang mereka butuhkan
supaya hidup secara layak” (GS 27).
Konsili memakai kata “mementingkan”, mengindahkan, dan
bukan mengurusi. Maksudnya, orang yang satu harus memberi kesempatan
hidup kepada orang lain, mengakui haknya, baik pribadi maupun sosial,
membiarkan orang lain hidup dengan caranya sendiri, mengakui kebebasan dan
kemerdekaannya. Tetapi itu tidak sama dengan sikap acuh tak-acuh. Orang
Kristen tidak hanya bertanggung jawab terhadap Allah dan Putra-Nya Yesus
Kristus, tetapi juga terhadap orang lain itu, dengan menjadi sesamanya (bdk.
Luk 10:25-37).
Tanggung jawab selalu bersifat pribadi, dan itu kewajiban orang
perorangan. Yang mempunyai tanggung jawab bukan lembaga, juga bukan
masyarakat dan negara, melainkan orang-orang yang mengarahkannya. Bahkan
setiap orang mempunyai tanggung jawab untuk masyarakat sebagai
anggotanya.
Tentu
saja,
masing-masing
menurut
kedudukan
dan
kemampuannya: ”Yang kepadanya diberi banyak, dari padanya akan banyak
77
dituntut; dan kepada siapa banyak dipercayakan, dari padanya akan dituntut
lebih banyak lagi” (Luk 12:48). Tetapi semua ikut bertanggung jawab bersama.
Maka tanggung jawab itu tidak pertama-tama bersifat materiil, sebab tidak
semua orang mampu mengusahakan dan menjamin kesejahteraan materi.
Tetapi setiap orang bertanggung jawab atas kehormatan bagi pribadi manusia.
Dalam usaha pelayanan janganlah yang lain menjadi objek belas
kasihan. Pelayanan berarti kerjasama, di dalamnya semua orang merupakan
subjek yang ikut bertanggung jawab. Yang pokok adalah harkat, martabat,
harga diri, bukan kemajuan dan bantuan sosial-ekonomis, yang hanyalah
sarana. Tentu sarana-sarana juga penting, dan tidak bisa dilewatkan begitu saja,
namun yang pokok ialah sikap pelayanan itu sendiri. Orang Kristen dituntut
supaya mengembangkan sikap pelayanan, sebagai intisari sikap Kristus, bukan
hanya dalam orang yang melayani, melainkan juga dalam dia yang dilayani,
membantu orang supaya menyadari dan menghayati, bahwa kemerdekaan itu
kesempatan melayani seorang akan yang lain (lih. Gal 5: 13). Saling melayani,
sebagai prinsip dasar kehidupan bersama dalam masyarakat itu tidak gampang.
Gereja dipanggil menjadi pelopor pelayanan, hadir pada orang lain sebagai
sesamanya. Itulah hidup Kristus, itulah panggilan Gereja.
c. Ciri-Ciri Pelayanan Gereja
Yesus menyuruh para murid-Nya selalu bersikap sebagai “yang paling
rendah dari semua dan sebagai pelayan dari semua” (Mrk 9:35). Ia sendiri
memberikan teladan, serta menerangkan bahwa demikianlah kehendak Bapa
(lih. Yoh 4:34). Pelayanan Gereja pun mempunyai dasar dalam ketaatan kepada
Bapa. Firman Tuhan yang pertama dan utama berbunyi: “Kasihilah Tuhan,
Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan
segenap akal budimu” (Mat 12:37 dsj.). Sikap iman yang radikal itu dinyatakan
dalam pelayanan kepada sesama, sebab hukum yang kedua, yakni cinta kepada
sesama, oleh Yesus disebut sama dengan yang pertama. Oleh karena itu
pelayanan Kristiani tidak berdasarkan belaskasihan atau ketaatan kepada
pemerintah, melainkan berdasarkan hormat terhadap Allah Pencipta, yang
78
membuat manusia sesuai dengan citra-Nya sendiri. Ciri pelayanan yang
pertama ialah ciri religiusnya.
Ciri yang kedua ialah kesetiaan kepada Kristus sebagai Tuhan dan
Guru: “Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, jika kamu berbuah banyak
dan dengan demikian tampil sebagai murid-murid-Ku” (Yoh 15:8). Dengan
sikap pelayanan Kristus, Gereja menyatakan diri sebagai murid Kristus. Ciri
religius pelayanan secara konkret ialah ciri Kristiani, dan menimba
kekuatannya dari suri-teladan Kristus. Demikianlah, pelayanan mulai di dalam
Gereja sendiri, yang dalam Kristus merupakan satu tubuh dengan banyak
anggota, yang saling membutuhkan dan melayani (lih. 1Kor 12:31).
Ciri ketiga ialah mengambil bagian dalam sengsara dan penderitaan
Kristus, yang tetap senasib dengan semua orang yang menderita. “Segala
sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling
hina ini, kamu lakukan untuk Aku” (Mat 25:40 dsj.). Kristus itu saudara semua
orang, khususnya mereka yang malang dan miskin. Maka pelayanan Gereja
tertuju terutama kepada mereka yang paling membutuhkan perhatian dan
pelayanan. Ketika Yesus berbicara mengenai penderitaan-Nya, yang akan
dialami di Yerusalem, Petrus tidak mau menerima itu. Lalu Yesus menjawab,
“Enyahlah iblis. Engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah,
melainkan apa yang dipikirkan manusia” (Mat 16:23). Dengan sepenuh hati
Gereja akan melibatkan diri dalam segala usaha yang ingin membebaskan
manusia dari kemiskinan dan penderitaan. Dengan demikian Gereja tidak
pernah akan menyangkal bahwa penderitaan, dan terutama orang yang
menderita mempunyai
nilai tinggi, biarpun secara ekonomis tidak
menguntungkan bagi masyarakat. Pelayanan Gereja kadang-kadang memang
“tidak berguna”, selain mengungkapkan penghargaan terhadap pribadi orang.
Masih ada ciri keempat dan yang mungkin paling penting, yakni
kerendahan hati. Gereja tidak (boleh) membanggakan pelayanannya, bahkan
seringkali harus mengakui dirinya sebagai “hamba tidak berguna” (Luk 17:10).
Kerendahan hati ini pun bukan sesuatu yang amat istimewa atau tanda kesucian,
79
melainkan sikap realistis yang mengakui keterbatasan segala usaha manusia,
termasuk pelayanan Gereja. Dalam pelayanannya Gereja tidak memainkan
peranan Tuhan, dan juga tidak berusaha memperbaiki “kekurangankekurangan” yang ada dalam ciptaan. Pelayanan Gereja ialah menerima dunia
dan manusia seadanya, dan berusaha menghayati sikap Kristus di hadapan
sesama.
2. Gereja dan Masyarakat
Tugas atau sikap pelayanan pertama-tama menyangkut orang Kristen
perorangan. Sikap Kristus, yang diakui oleh Gereja sebagai dasar
kehidupannya, itu sikap pribadi yang pertama-tama merupakan tuntutan
pribadi. Namun demikian, Gereja juga suatu lembaga keagamaan yang
mempunyai tempat dan peranannya dalam masyarakat, sehingga sebagai
keseluruhan, Gereja juga dituntut memperlihatkan sikap pelayanan Kristus. Hal
itu terjadi bila Gereja secara publik tampil di tengah-tengah masyarakat. Dan
penampilan itu terjadi dalam dua bentuk, yaitu sebagai perwujudan iman dan
sebagai pengungkapan iman.
a.
Kegiatan Sosial Gereja
Perwujudan iman, dalam bentuk kegiatan sosial Gereja, berarti
partisipasi
kelompok-kelompok
atau
organisasi
Katolik
dalam
usaha
pembangunan dan perkembangan masyarakat, misalnya dalam sekolah-sekolah
serta karya kesehatan Katolik, dan dalam segala macam perkumpulan yang
mempunyai tujuan kebudayaan atau sosial-ekonomis dan politik, yang sifatnya
“umum”. Pelayanan Gereja di sana berarti bahwa sikap pelayanan Kristus
dipraktikkan dan ditanamkan dalam kehidupan masyarakat yang umum.
Kegiatan-kegiatan itu, kendatipun kadang-kadang dinilai sebagai usaha
“kristenisasi”, sebenarnya tidak mempunyai apa-apa yang khas Kristiani, selain
semangat pengabdiannya.
Banyak orang dan organisasi lain sering memperlihatkan sikap
pelayanan yang mungkin lebih meyakinkan. Tetapi, kalau organisasi-organisasi
dan kegiatan Katolik itu benar-benar digerakkan oleh semangat Kristus, mau
80
tidak-mau di situ akan ada sikap pelayanan yang ingin membantu dan menemani
sesama dalam usaha bersama membangun masyarakat. Pada dasarnya kegiatan
sosial itu tidak berbeda dengan usaha-usaha individual dalam mewujudnyatakan
sikap pelayanan Kristus, maka tolok ukurnya bukanlah simbol-simbol atau rumus
yang khas Katolik atau Kristiani, melainkan semangat Kristus dengan ciri-ciri
khasnya yang telah disebut di atas.
Fungsi
kenabian
Gereja,
yang
dengan
jelas
dan
tegas
mengemukakan pandangan dan prinsip-prinsip Katolik mengenai hidup sosial,
pertama-tama juga dijalankan oleh instansi atau organisasi sosial yang “biasa”.
Memang ajaran sosial Gereja dirumuskan oleh pimpinan Gereja, dalam ensiklikensiklik para paus dan dalam ajaran Konsili. Tetapi itu prinsip-prinsip umum
yang jarang menyentuh situasi yang konkret. Padahal justru dalam situasi konkret
yang bersifat pluralistis, orang sering kehilangan pegangan yang nyata.
Masyarakat majemuk yang tidak mengikat diri pada satu pandangan
tertentu, sering kali tidak menawarkan suatu pandangan hidup sama sekali. Nilainilai sosial yang mau dihayati bersama, sering tidak jelas, atau mungkin juga
dirumuskan dan ditafsirkan secara berbeda-beda. Dalam situasi seperti itu
Gereja, yang dididik bukan hanya oleh sabda ilahi melainkan juga oleh tradisi
pemahaman yang lama, sungguh memberikan sumbangan yang berarti.
Ajaran sosial Gereja bukanlah ajaran mengenai prinsip-prinsip
kehidupan bersama di dalam Gereja saja, tetapi di dalam masyarakat. Prinsipprinsip itu tidak hanya mau menolong orang Katolik saja dalam menghadapi
masalah-masalah sosial, tetapi dimaksudkan untuk seluruh masyarakat. Ajaran
sosial Gereja adalah pandangan Gereja mengenai masyarakat, yang oleh orang
Katolik sendiri harus dibawa ke dalam masyarakat. Di situ tugas pelayanan
dilaksanakan dalam bentuk partisipasi dalam tukar pikiran di dalam masyarakat.
Tentu saja diskusi itu dapat diadakan pada segala tingkat dan lapisan masyarakat,
tetapi kiranya yang bertanggung jawab terutama kaum cendekiawan, yang oleh
pendidikan mereka lebih mampu merumuskan pandangan Gereja.
81
Bagaimanapun juga, sikap pelayanan tidak terikat pada tingkat
pendidikan atau keahlian. Diharapkan bahwa seluruh Gereja mengambil bagian
dalam usaha bersama merefleksikan dan menjelaskan prinsip-prinsip dasar
kehidupan masyarakat. Justru di tempat pluralisme tidak hanya menyangkut
keyakinan agama, tetapi juga prinsip-prinsip etis dan politik, di situ perlu
keterbukaan dalam dialog bersama. Tentu saja Gereja dan agama pada umumnya,
tidak dapat menjamin keakhlakan masyarakat, tetapi dalam dialog bersama
Gereja mempunyai sumbangan yang tidak boleh disembunyikan. Kesaksian
hidup dan kesaksian pandangan, merupakan pelayanan yang amat berguna bagi
sesama. Berbuat baik saja belum cukup. Kita harus mampu “memberi
pertanggungjawaban kepada tiap-tiap orang yang memintanya tentang
pengharapan yang ada pada kita” (1Ptr 3:15)
b. Sikap Kritis
Pelayanan tidak hanya berarti mendukung, tetapi juga berani
memberikan tanggapan yang kritis. Pertama-tama Gereja harus kritis terhadap
dirinya sendiri dan tidak memutlakkan agama. Gereja bukanlah Kerajaan Allah,
dan pandangan Gereja bukan wahyu. Gereja hanya dapat menyampaikan
pandangannya mengenai manusia dan masyarakat dalam ketaatan kepada sabda
Allah, yang senantiasa harus direnungkan, dan mengakui bahwa “semua
berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah” (Rm 3:23). Bahkan, “jika kita
berkata, bahwa tidak mempunyai dosa, maka kita menipu diri sendiri dan
kebenaran tidak ada di dalam kita” (1Yoh 1:8). Gereja sendiri tidak sempurna,
pewartaan serta pandangannya juga banyak kekurangannya. Dengan rendah
hati Gereja boleh menyampaikan pandangannya sambil mendengarkan orang
lain, sebab dunia berkembang dan masalah sosial berubah. Ajaran sosial dari
200 tahun yang lalu, pasti tidak menjawab lagi persoalan zaman sekarang.
Ajaran sosial yang sudah membeku bukan merupakan sumbangan
lagi. Di dalam arus tradisi, dan diterangi oleh firman Allah, Gereja dengan jujur
dan terbuka harus ikut berpikir dan mencari jalan keluar dari masalah-masalah
baru yang sekarang menyibukkan masyarakat manusia.
82
Tetapi yang membeku bukan hanya ajaran Gereja. Banyak
pandangan dan ajaran yang dahulu dianggap luhur dan mulia, sudah berubah
menjadi ideologi yang mati dan tidak berguna lagi. Pandangan-pandangan itu,
lebih-lebih kalau telah menjadi kedok untuk ambisi kelompok atau pribadi,
perlu dibongkar dan dibuka kepalsuannya. Namun justru dalam memberikan
kritik, Gereja janganlah melupakan tugas pelayanannya.
Melawan ideologi dengan ideologi tidak ada gunanya. Kalau
dimutlakkan, agama juga dapat menjadi ideologi dan alat politik melulu. Justru
sikap pelayanan harus menjaga Gereja supaya tetap mempertahankan sifat
keagamaannya sebagai komunikasi iman. Sebagai lembaga keagamaan di
dalam masyarakat, secara tidak langsung ada bahaya bahwa Gereja mengikuti
arus masyarakat saja, sehingga tidak lagi dapat mewartakan Injil serta memberi
kesaksian mengenai imannya sendiri.
Supaya tetap setia kepada Kristus dan sikap pelayanan-Nya, Gereja
harus terus-menerus merenungkan dasar-dasar iman, dan tidak terlampau
percaya pada ajaran serta organisasinya sendiri. Juga sebagai organisasi, Gereja
harus tampil di dalam masyarakat sebagai pewarta sikap dan pandangan Kristus
dan bukan mewartakan pandangannya sendiri. “Bukan diri kami yang kami
beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hamba,
karena kehendak Yesus” (2Kor 4:5). Gereja tidak meneruskan ajaran baku yang
sudah membeku, melainkan atas dasar iman dan sikap pelayanan, senantiasa
ikut mencari jalan hidup, bersama dengan orang lain.
3. Gereja dan Kaum Miskin
Di dunia ini ada banyak orang miskin atau lebih tepat dimiskinkan.
Khususnya Asia sangat diwarnai oleh kemiskinan struktural ini. Kehadiran
Gereja hendaknya mempunyai makna bagi belahan dunia yang dicengkam oleh
kemiskinan ini. Gereja dan pelayanannya harus membawa “kabar baik” bagi
kaum miskin.
83
Yesus bersabda, bahwa Ia diurapi Allah dengan Roh Kudus “untuk
menyampaikan kabar gembira kepada orang-orang miskin” (Luk 4:18).
Selanjutnya pewartaan Injil kepada orang miskin memang disebut di antara
tanda-tanda kedatangan Kerajaan Allah, di samping penyembuhan orang sakit
dan pembangkitan orang mati (Luk 7:22). Kalau Yesus berkata kepada orang
miskin: “Berbahagialah, hai kamu yang miskin” (Luk 6:20), Ia tidak memuji
kemiskinan. Mereka tidak disebut bahagia karena miskin, tetapi karena
kemiskinan segera akan diambil dari mereka. Itu terjadi dengan pewartaan Injil,
bukan dengan sedekah, tetapi dengan memberikan semangat hidup yang baru,
sebab “Injil adalah kekuatan Allah” (Rm 1:16).
Dalam sabda Yesus kerajaan Allah hadir dan berkarya. Kaum miskin
diajak menyadari kekuatan Allah di antara mereka. Segala sesuatu yang
dikerjakan Yesus, tujuannya supaya orang sadar bahwa kekuatan Allah ada di
dalam mereka. Itulah maksud mukjizat-mukjizat yang dilakukan-Nya: “Jika
Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah
sudah datang kepadamu” (Luk 11:20).
Yesus tidak membuat mukjizat supaya membuat semua orang miskin
menjadi kaya. Mukjizat-Nya mau memperlihatkan kepada mereka, bahwa
Allah hadir dan menyertai mereka; bahwa perjuangan mereka didukung dan
diperkuat oleh Allah; bahwa ada masa depan bagi mereka. Mukjizat Yesus pada
dasarnya tanda kasih Allah bagi mereka.
Pelayanan Gereja pertama-tama harus merupakan tanda kasih Allah
bagi manusia. Kerajaan Allah bukan obat penenang, bukan candu. Kerajaan
Allah berarti perjuangan, kerja berat. “Jangan mengira bahwa Aku datang untuk
membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai,
melainkan pedang” (Mat 10:34). Yesus memang membawa damai, tetapi bukan
damai yang murahan, dengan diam dan menerima segala-galanya. Damai Yesus
diperjuangkan, dan sering menimbulkan perlawanan. Yesus juga tidak datang
hendak mendirikan suatu organisasi keagamaan, melainkan memberi inspirasi
84
dan semangat. Gereja diharapkan dapat melakukan hal yang sama. Gereja
dituntut supaya tidak menjadi himpunan saleh, tetapi persekutuan iman sebagai
sumber inspirasi dan kekuatan.
Percaya kepada Yesus berarti ikut serta dengan gerakan Yesus,
khususnya dalam sikap-Nya terhadap kaum miskin. Yesus tidak sekadar teori,
melainkan praksis hidup. Gerakan yang telah dimulai oleh Yesus berjalan terus,
oleh Roh-Nya, di dalam Gereja. Janganlah Gereja menjadi organisasi
kemasyarakatan yang kekuatannya terletak dalam sistem organisasi dan dasar
finansial-ekonomisnya. Kekuatan Gereja adalah Roh, yang memberikan
semangat iman kepada manusia. Oleh karena itu Gereja pantas bertanya pada
dirinya sendiri: Apa dasar dan tujuan segala kegiatan sosial dan karya amal
kita? Apa hubungannya dengan perayaan dan pengakuan iman kita? Bagaimana
kita berusaha memberi semangat dan kepercayaan diri kepada orang?
Gereja
hanyalah
sarana,
bukan
tujuan.
Terutama
dalam
pelayanannya, janganlah Gereja menjadi tujuannya sendiri. Tujuan Gereja
adalah “persatuan mesra dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia”
(LG 1).
4. Gereja dan Negara Republik Indonesia
Mungkin sampai sekarang Gereja Indonesia masih dianggap asing atau
“Barat” oleh banyak kalangan di Indonesia ini. Itu disebabkan antara lain
karena Gereja datang di negeri ini bersama dengan kolonialisme Barat dan
cukup lama hidup dalam pola pietisme dan tradisi Gereja Barat abad lampau.
Mungkin juga untuk banyak orang Gereja Indonesia masih kurang utuh terlibat
dalam perjuangan bangsa. Oleh sebab itu ada baiknya disinggung sepintas kilas
mengenai hubungan antara Gereja dan Negara kita.
Dasar hubungan antara dua pihak adalah saling pengakuan sesuai
kedudukan masing-masing. Gereja Katolik mengakui otonomi setiap negara di
bidang hidup kemasyarakatan demi kesejahteraan rakyat seluruhnya. Otonomi
itu pada hakikatnya bersumber pada rakyat, yang berhak dan bertanggung
85
jawab dan karena itu wajib menata dan mengatur peri hidupnya sendiri sebagai
perorangan maupun masyarakat. Otonomi itu berarti, bahwa negara – seperti
nilai-nilai dunia lainnya – mempunyai arti, diselenggarakan serta berkembang
menurut hukum-hukumnya sendiri, yang tidak dapat disamakan dengan kaidahkaidah keagamaan.
Sambil tetap dan tegas mengakui serta menghormati otonomi negara
mengenai hidup kemasyarakatan, Gereja Katolik menyadari panggilannya dan
ingin mempunyai keleluasaan demi kesejahteraan semua dan masing-masing
warga masyarakat, dan demi keselamatan manusia secara sempurna, melayani
kebutuhan mereka, terutama yang bersifat rohani, tetapi juga yang bersifat
jasmani demi perkembangan kepribadian mereka secara menyeluruh. Dalam
hal ini Gereja tidak mengharapkan kebebasan melebihi atau kurang dari yang
berdasar UUD 1945 dijamin oleh negara.
Dalam negara Pancasila, agama-agama dan negara mempunyai fungsi
serta menunaikan peranannya masing-masing. Keduanya menjalankan fungsi
itu dalam perspektif tujuan mereka masing-masing dan dari sudut pandangan
yang berbeda-beda. Perbedaan tugas dalam situasi konkret akan semakin jelas,
sementara Gereja dan negara hidup bersama dan bekerja sama dengan erat.
Karena negara maupun Gereja ada demi kepentingan masyarakat yang sama,
maka harus hidup dalam suasana kerja sama.
“Dalam bidang masing-masing, negara dan Gereja tidak tergantung satu
sama lainnya, melainkan mengatur diri sendiri. Tetapi kedua-duanya melayani
dalam aspek-aspek yang berbeda-beda panggilan perorangan maupun sosial
orang-orang yang sama. Pelayanan itu akan dapat diberikan dengan lebih
efektif demi kesejahteraan mereka semua, jika negara dan Gereja meningkatkan
kerjasama yang menguntungkan, dengan mengingat keadaan zaman dan
daerah. Sebab manusia tidak terbatas pada lingkup dunia ini, melainkan dalam
peredaran sejarah umat manusia ia mengamalkan sepenuhnya panggilan akan
hidup abadi” (GS 76).
86
Demikianlah, pada instansi-instansi negara dan Gereja perlu ada sikap
dialog, guna mengembangkan sikap saling mengerti dan menghormati serta
kerukunan. Pembangunan manusia seutuhnya harus merupakan pusat perhatian
negara maupun Gereja. Namun pembangunan ini dikerjakan dalam perspektif
dan dimensi yang berbeda, yaitu: negara memperhatikannya terutama dari segi
kesejahteraan di dunia ini pada tingkat nasional, sedangkan Gereja terutama
memperhatikan kebahagiaan manusia yang bertemu dan bersatu dengan
Tuhannya dalam umat-Nya di dunia ini dan akhirnya secara langsung di akhirat.
Hubungan Gereja dengan negara tidak melulu, bahkan tidak terutama
berlangsung di tingkat institusional atau kelembagaan, tetapi juga dalam
bekerja sama dengan semua golongan masyarakat dan dengan pemerintah,
demi kesejahteraan seluruh bangsa.
Semua warga negara berhak ikut serta menentukan hidup kenegaraan.
Dalam hal ini Gereja sejalan dengan haluan yang ditentukan oleh MPR, yaitu
untuk semakin meratakan partisipasi rakyat dalam mengusahakan maupun
menikmati pembangunan, dengan kata lain “merakyatkan negara”. Maka bagi
Gereja sebagai persekutuan iman dalam negara demokrasi seperti Indonesia ini,
mitra utama dalam dialog ialah rakyat yang bernegara. Namun dalam dialog itu
peranan pemimpin negara dan pemimpin Gereja sangat menentukan.
Gereja memperjuangkan masyarakat “partisipatoris”, yaitu “suatu
partisipasi aktif para warga masyarakat, secara perorangan maupun bersamasama dalam kehidupan dan pemerintahan negara mereka” (GS 73), supaya
mereka dapat ”bertanggungjawab” terhadap politik negara. Suatu pluralisme
dalam pandangan para warga negara mengenai usulan politis (GS 76; OA 46)
dianggap wajar, apalagi bila seluruh masyarakat ikut serta dalam kepentingan
negaranya. Bahkan, perbedaan pendapat mengenai hal-hal politik itu di dalam
kalangan umat Katolik sendiri dipandang sebagai pantas pula.
Dalam rangka hubungan antara Gereja Katolik dan Negara Republik
Indonesia, beberapa bidang pantas diberi perhatian khusus:
87

Dalam usaha pembangunan; Gereja melihat peranannya yang khas
dalam usaha membangun mentalitas sehat, memberi motivasi yang
tepat, kuat serta mengena, membina sikap dedikasi dan kesungguhan,
menyumbangkan etika pembangunan serta memupuk sikap optimis.
Oleh karena itu pimpinan Gereja mengharapkan seluruh umat beriman
mau melibatkan diri dan bersikap kritis konstruktif, dengan jujur
menilai tujuan dan sasaran pembangunan maupun upaya-upaya dan
cara-cara melaksanakannya.

Gereja merasa wajib memperjuangkan dan menegakkan martabat
manusia sebagai pribadi yang bernilai di hadapan Allah. Sikap dan
peranan Gereja berdasarkan motivasi manusiawi dan Kristiani sematamata. Oleh karena itu Gereja merasa prihatin atas pelanggaran hak-hak
dasar dan hukum, atas kemiskinan dan keterbelakangan yang masih
diderita oleh banyak warga negara. Bila demi pengembangan dan
perlindungan nilai-nilai kemanusiaan, Gereja berperanan kritis, ia
menghindari bertindak konfrontatif dan menggunakan jalur-jalur yang
tersedia dan berusaha sendiri memberi kesaksian.

Pimpinan Gereja mengharapkan supaya para ahli dan tokoh masyarakat
yang beragama Katolik mau berpartisipasi dalam pembangunan sesuai
dengan keahlian dan panggilan masing-masing. Dalam hal ini mereka
hendaknya dijiwai oleh semangat Injil dan memberi teladan kejujuran
dan keadilan yang pantas dicontoh oleh generasi penerus.

Sesuai dengan perutusan Yesus Kristus sendiri yang diteruskan-Nya,
Gereja merasa solider dengan kaum miskin. Ia membantu semua yang
kurang mampu tanpa membedakan agama mereka, kalau mereka mau
memanfaatkan bantuan ini untuk melangkah keluar dari lingkaran setan
yang mengurung mereka.

Gereja mendukung sepenuhnya usaha pemerintah memupuk rasa
toleransi dan kerukunan antarumat beragama.
88

Gereja mendukung segala usaha berswadaya, merangsang inisiatif
dalam segala bidang hidup kemasyarakatan, budaya, dan bernegara.
Dengan demikian, potensi, bakat, dan keterlibatan para warga negara
dikembangkan sesuai dengan tujuan Negara Indonesia seperti
dirumuskan dalam Pembukaan UUD 1945. Oleh karena itu, Gereja
memegang prinsip subsidiaritas, agar apa saja yang dapat dilaksanakan
oleh para warga negara sendiri atau oleh kelompok/satuan/organisasi
pada tingkat yang lebih rendah, jangan diambil alih oleh pihak yang
lebih tinggi kedudukannya. Dengan demikian, bahaya etatisme dalam
segala bidang dapat dicegah.
8) KAUL
Kaul adalah janji sukarela kepada Allah, untuk melaksanakan suatu
tindakan yang lebih sempurna.Kaul merupakan dasar hidup membiara yang
disahkan oleh Gereja, di mana para anggota yang terhimpun dalam suatu
komunitas religius memutuskan untuk memperjuangkan kesempurnaan lewat
sarana-sarana ketiga kaul religius, yakni kaul kemiskinan, kemurnian, dan
ketaatan, yang diamalkan sesuai dengan peraturan.
Pengertian kaul menurut Katekismus Gereja Katolik (KHK) adalah :
1. KGK 2102 :“Kaul, yakni janji kepada Allah yang dibuat dengan tekad
bulat dan bebas mengenai sesuatu yang mungkin dan lebih baik, harus
dipenuhi demi keutamaan agama” (CIC, can. 1191 ? 1). Kaul adalah
satu tindakan penyerahan diri, yang dengannya warga, Kristen
menyerahkan diri kepada Allah atau menjanjikan satu perbuatan baik
kepada-Nya. Dengan memenuhi kaulnya, ia mempersembahkan
kepada Allah, apa yang telah ia janjikan atau ikrarkan. Santo Paulus
misalnya, sebagaimana disampaikan Kisah para Rasul, sangat
memperhatikan supaya memenuhi kaulnya (Bdk. Kis 18:18; 21:2324).
2. KGK 2103 : Kaul-kaul untuk hidup seturut nasihat-nasihat Injil,
dijunjung tinggi Gereja (Bdk. CIC, can. 654): “Maka Bunda Gereja
89
bergembira, bahwa dalam pangkuannya terdapat banyak pria dan
wanita, yang mengikuti dari dekat dan memperlihatkan lebih jelas
pengosongan diri Sang Penyelamat, dengan menerima kemiskinan
dalam kebebasan anak-anak Allah Serta mengingkari keinginaan
keinginan mereka sendiri. Mereka itulah, yang demi Allah tunduk
kepada seorang manusia dalam mengejar kesempurnaan melampaui
apa yang diwajibkan, untuk lebih menyerupai Kristus yang taat” (LG
42). Dalam situasi tertentu Gereja dapat memberikan dispensasi dari
kaul & janji karena alasan-alasan” yang wajar (Bdk. CIC, cann. 692;
1196-1197).
Selanjutnya, jika seseorang membuat janji/ nazar/ kaul pribadi namun
kemudian bermaksud untuk membatalkannya, maka hal ini dimungkinkan,
mengingat dapat saja seseorang membuat janji kepada Tuhan tanpa
berkonsultasi dengan seorang pembimbing rohani (spiritual director). Nazar/
kaul pribadi ini dapat berupa janji untuk hidup selibat sepanjang hidup, janji
untuk menjadi misionaris, ataupun berdoa rosario setiap hari seumur hidup, dst.
Mengingat bahwa ada kalanya seseorang yang telah membuat kaul/ nazar,
namun kemudian ingin dilepaskan dari nazar tersebut, maka hal ini diatur dalam
Kitab Hukum Kanonik (KHK/ CIC 1983):
1. KHK 1196 : Selain Paus, yang dapat memberikan dispensasi atas
kaul privat karena alasan yang wajar, asalkan tidak melanggar hak
yang telah diperoleh orang lain, ialah :
a. Ordinaris wilayah dan pastor paroki sejauh menyangkut
semua bawahan mereka sendiri dan juga para pendatang;
b. Pemimpin tarekat religius atau serikat hidup kerasulan, jika
mereka itu bersifat klerikal bertingkat kepausan, sejauh
menyangkut anggota-anggota, para novis serta orang-orang
yang siang-malam tinggal dalam rumah tarekat atau serikat
itu;
90
c. Mereka yang diberi delegasi kuasa memberikan dispensasi
oleh Takhta Apostolik atau oleh Ordinaris wilayah.
2. KHK 1197 Karya yang dijanjikan dalam kaul privat dapat diganti
oleh orangnya sendiri dengan sesuatu yang baik yang lebih besar atau
yang sama; tetapi hanya dapat diganti dengan sesuatu yang baik yang
lebih kecil oleh orang yang berkuasa untuk memberi dispensasi,
menurut norma Kanon 1196.
Berikut 3 kaul yang menjadi dasar hidup membiara yang disahkan oleh Gereja :
1. Kaul Kemiskinan
Kaul kemiskinan adalah pelepasan sukarela hak atas milik atau penggunaan milik
tersebut dengan maksud untuk menyenangkan Allah.Semua harta milik dan
barang-barang menjadi milik Kongregasi, atau tarekat. Manusia tidak lagi
memiliki hak atas apa saja yang diberikan kepadanya, entah barang entah uang.
Semua derma dan hadiah, yang barangkali diberikan kepadanya sebagai ungkapan
terima kasih atau ungkapan lain apa pun, menjadi hak Kongregasi. Keutamaan
Kemiskinan adalah keutamaan injili yang mendorong hati untuk melepaskan diri
dari barang-barang fana; karena kaulnya, biarawan/wati terikat oleh kewajiban itu.
2. Kaul Kemurnian
Kaul kemurnian mewajibkan manusia lepas perkawinan dan menghindari segala
sesuatu yang dilarang oleh perintah keenam dan kesembilan.Setiap kesalahan
melawan keutamaan kemurnian juga merupakan pelanggaran terhadap kaul
kemurnian sebab di sini tidak ada perbedaan antara kaul kemurnian dan keutamaan
kemurnian, tidak seperti dalam kaul kemiskinan dan kaul ketaatan.
3. Kaul Ketaatan
Kaul Ketaatan lebih tinggi daripada dua kaul yang pertama. Sebab, kaul ketaatan
adalah suatu kurban, dan ia lebih penting karena ia membangun dan menjiwai
tubuh religius. Dengan kaul ketaatan biarawan/wati berjanji pada Allah untuk taat
kepada para pimpinan yang sah dalam segala sesuatu yang mereka perintahkan
demi peraturan.Kaul ketaatan membuat biarawan/wati bergantung kepada
pimpinan atas dasar peraturan-peraturan sepanjang hayatnya dan dalam segala
91
urusannya.Keutamaan ketaatan lebih luas daripada kaul ketaatan; keutamaan ini
mencakup
ketentuan
dan
peraturan,
dan
bahkan
nasihat-nasihat
para
pimpinan.Memenuhi perintah dengan tulus dan sempurna – ini disebut ketaatan
kehendak kalau kehendak mendorong budi untuk tunduk kepada nasihat
pimpinan.Sehubungan dengan ini, untuk menunjang ketaatan.
Dari ketiga kaul itu juga berlaku bagi imam biarawan, misalnya : CM, CDD,
SJ, SVD, OMI, MSF, OCarm, CICM, OFM Cap, dan sebagainya. Kita perlu
memahami bahwa imam-imam projo (pr), dioses, bukanlah imam-imam
biarawan.Tiga kaul yang menjadi dasar kehidupan seorang biarawan-biarawati
merupakan cara mewujudkan iman yang radikal sesuai nasihat Injil. Gereja
berkeyakinan bahwa tiga hal itulah yang menjadi inti dari nasihat Injil yang
diwartakan Yesus.
9) GEREJA DALAM PERJALANAN
Gereja bukan Kerajaan Allah, melainkan menuju Kerajaan Allah. Gereja masih
dalam perjalanan. Penyadaran akan aspek historis Gereja ini perlu supaya kita bisa
lebih bersifat terbuka dan rendah hati. Dalam perjalanan ini, Gereja masih mengalami
jatuh bangun dan berjuang bersama semua manusia yang berkehendak baik
membangun Kerajaan Allah itu. Gereja belumlah sempurna. Maka, “Gereja baru akan
mencapai kepenuhannya dalam kemuliaan di surga” (LG 48). Sekarang ini “kita
diselamatkan dalam pengharapan” (Rm 8:24). Oleh karena itu dalam syahadat panjang
dikatakan: “Aku menantikan kebangkitan orang mati, dan hidup di akhirat”.
“Menantikan” tidak berarti bahwa kita masih ragu-ragu. Rumus dalam syahadat pendek
menjelaskan hal itu.
Aku percaya akan
Roh Kudus,
Gereja Katolik yang kudus,
persekutuan para kudus,
92
pengampunan dosa,
kebangkitan badan,
kehidupan kekal.
Iman akan Roh Kudus, akan Gereja dan akan akhirat dijadikan satu. Dasar
pengharapan kita bukanlah keinginan khayal, melainkan karya Roh dalam Gereja, dan
kesadaran bahwa apa yang ada sekarang masih bersifat sementara: “Sekarang kita
melihat suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan
muka” (1Kor 13:12), dan iman bahwa “Allah, yang membangkitkan Tuhan, akan
membangkitkan kita juga” (1Kor 6:14; lih. 2Kor 4:14; Rm 8:11).
Karya keselamatan Allah berjalan terus, sampai kepada kepenuhannya. Mulai
dengan wafat dan kebangkitan Kristus, kemudian perutusan Roh Kudus, pembentukan
Gereja, dan akhirnya “kebangkitan orang mati dan hidup di akhirat”. Allah tidak
mengingkari janji. “Dia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan
menggenapinya” (1Tes 5:24). Menantikan hidup di akhirat tidak lain dari “menantikan
penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia, dan penyataan kemuliaan Allah
yang mahabesar dan Juru Selamat kita Yesus Kristus” (Tit 2:13). Menantikan akhirat
berarti mengharapkan kepenuhan karya penyelamatan.
93
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
1. Arti dan makna dari Gereja adalah Kata “Gereja” yang berasal dari
kata igreja dibawa ke Indonesia oleh para misionaris Portugis. Kata
tersebut adalah ejaan Portugis untuk kata Latin ecclesia, yang
ternyata berasal dari bahasa Yunani, ekklesia. Kata Yunani itu
sebetulnya berarti ‘kumpulan’ atau ‘pertemuan’, ‘rapat’. Namun
Gereja atau ekklesia bukan sembarang kumpulan, melainkan
kelompok orang yang sangat khusus. Untuk menonjolkan
kekhususan itu dipakailah kata asing itu. Kadang-kadang dipakai
kata “jemaat” atau “umat”. Itu tepat juga. Tetapi perlu diingat
bahwa jemaat ini sangat istimewa. Maka barangkali lebih baik
memakai kata “Gereja” saja, yakni ekklesia. Kata Yunani itu
berasal dari kata yang berarti ‘memanggil’. Gereja adalah umat
yang dipanggil Tuhan. Itulah arti sesungguhnya kata “Gereja”.
2. Sejarah Gereja Katolik adalah Gereja dimulai 50 hari sesudah
kebangkitan Yesus (sekitar tahun 30-34 Masehi). Yesus sudah
berjanji bahwa Dia akan mendirikan gerejaNya (Matius 16:18), dan
dengan datangnya Roh Kudus pada hari Pentakosta (Kisah 2:1-4),
Gereja (“kumpulan yang dipanggil keluar”) secara resmi dimulai.
3. Tugas Gereja yang dapat diterapkan di kehidupan sehari-hari adalah
mewartakan sabda Tuhan secara berani , melayani sesame bukan
dilayani , menguduskan diri .
94
B. SARAN
1.
Sebaiknya menambah wawasan dan pengaitan materi dengan
yang ada di kitab suci
2.
Menambah referensi agar memiliki banyak pandangan tentang
gereja dan kegiatan yang ada digereja .
3.
Memantaskan diri untuk bersama-sama membangun gereja
didunia ini dengan dimulai dengan membangun gereja dalam hati
kita terlebih dahulu .
95
DAFTAR PUSTAKA
Andi.2020. Gereja yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik. Diunduh dari
https://aendydasaint.com/2020/04/05/gereja-yang-satu-kudus-katolik-danapostolik/ pada tanggal 16 Oktober 2020 Pukul 14.30
Gunardi, Andy. 2020. Gereja yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik. Diunduh dari
https://binus.ac.id/character-building/2020/05/gereja-yang-satu-kudus-danapostolik-dalam-gereja-katolik/ pada tanggal 16 Oktober 2020 Pukul 14.35
http://katekesekatolik.blogspot.com/2013/10/sekilas-tentang-syahadat.html
Diakses
pada tanggal 17 Oktober 2020 Pukul 10.23 WIB
https://pakristenrobert.wordpress.com/sejarah-asal-usul-gereja-dan-penyebarannya/
Diakses pada tanggal 17 Oktober 2020 Pukul 11.42 WIB
https://parokiserpong-monika.org/23-serba-serbi/serba-serbi/2249-hierarki-gereja
Diakses pada tanggal 17 Oktober 2020 Pukul 09.30
http://pendalamanimankatolik.com/gereja-katolik-dan-kegiatannya1/
Oktober 2020 pukul 15.44 WIB
96
Diakses pada
18
Download