Uploaded by User93952

CRITICAL BOOK REPORT K3

advertisement
CRITICAL BOOK REPORT
Keselamatan kerja dan tata letak bengkel
Ir.Firdaus, M.Kes.
D
i
s
u
s
u
n
Oleh :
Nama : YABEST GIFTRAIL PURBA
Nim
: 5203121017
FAKULTAS TEKNIK
PENDIDIKAN TEKNIK MESIN
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2020
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan saya
rahmat kesehatan dan kesempatan. Sehingga saya bisa menyusun atau menyelesaikan tugas CBR
(Critical Book Report). Penulisan ini saya sajikan secara ringkas dan sederhana sesuai dengan
kemampuan yang saya miliki, dan tugas ini disususun dalam rangka memenuhi tugas CBR pada
mata kuliah Keselamatan Kerja dan tata letak bengkel(K3).
Dalam penyusunan tugas ini banyak kesalahan dan kekurangan, oleh karena itu kritik
yang membangun dari semua pihak sangat saya harapkan demi kesempurnaan tugas ini, dan
Dalam kesempatan ini saya mengucapkan terimakasih kepada pihak- pihak yang telah membantu
dan memberikan bimbinganya kepada saya untuk menyelesaikan tugas CBR ini hingga selesai.
Kabanjahe,9 Desember 2020
YABEST GIFTAIL PURBA
DAFTAR ISI
KATA PENGHANTAR .......................................................................................
DAFTAR ISI............. ............................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang .....................................................................................
1.2 Tujuan .................................................................................................
1.3 Manfaat ...............................................................................................
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Identitas Buku.....................................................................................
2.2 Ringkasan isi buku...............................................................................
2.3 Perbandingan Antara kedua buku......................................................
2.4 Kelebihan ............................................................................................. .
2.5 Kelemahan ........................................................................................... .
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan ........................................................................................
3.2 Saran ...................................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Dalam Critical Book Report ini mahasiwa dituntut untuk mengkritisi sebuah buku yang
terkakreditasi, dan meringkas menjadi satu kesatuan yang utuh sehingga dapat dipahami oleh
mahasiswa yang melakukan Critical book report ini, termasuk didalamnya mengerti akan
kelemahan dan keunggulan dari jurnal yang akan dikritisi dengan membandingkannya dengan
jurnal yang sejenis.
Pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) adalah salah satu bentuk upaya untuk
menciptakan tempat kerja yang aman, sehat, bebas dari pencemaran lingkungan, sehingga dapat
mengurangi dan atau bebas dari kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang pada akhirnya
dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja.Kecelakaan kerja tidak saja menimbulkan
korban jiwa maupun kerugian materi bagi pekerja dan pengusaha, tetapi juga dapat mengganggu
proses produksi secara menyeluruh, merusak lingkungan yang pada akhirnya akan berdampak
pada masyarakat luas. Kecelakaan Kerja adalah sesuatu yang tidak terduga dan tidak diharapkan
yang dapat mengakibatkan kerugian harta benda, korban jiwa / luka / cacat maupun pencemaran.
Tujuan Penulisan Cbr
 Untuk memenuhi tugas mata kuliah K3
 Untuk mengulas isi setiap materi yang dibahas dalam sebuah buku
 Mencari dan mengetahui informasi yang ada dalam jurnal yang dikritikalisasi
 Melatih diri untuk berfikir kritis dalam mencari informasi yang di berikan oleh setiap materi
yang ada dalam sebuah buku
 Membandingkan isi jurnal pada implikasinya terhadap pada kehidupan nyata
Manfaat Penulisan Cbr
 Agar pembaca maupun penulis tanggap terhadap hal-hal penting yang ada didalam buku ini
 Untuk memahami tentang Kesehatan dan keselamatan kerja yang ada dalam jurnal ini
 Untuk menambah pengetahuan tentang bagaimana kesehatan dan keselamatan kerja
 Melatih Kemampuan penulis dalam mengkritikalisasi sebuah buku dan memandingkannya
dengan buku yang lain
Identitas Buku
Judul Buku: Kesehatan dan Keselamatan Lingkungan Kerja
Pengarang: Indah Rachmatiah Siti Salami
Penerbit: Gadjah Mada University Press
Tahun Terbit: 2015
ISBN: 978-979-420-978-3
Tebal: xxv + 369 Halaman
BAB II
RINGKASAN MATERI PER-BAB
GAS BERACUN
A.Gas Beracun
Di antara gas beracun terpenting dalam higiene perusahaan dan kesehatan kerja adalah
asam sianida, asam sulfida,karbonmonoksida (CO) serta derivat – derivatnya.Selain itu, gas
seperti ozon dan CO2 kadang- kadang dapat menyebabkan terjadinya keracunan pula. Selain itu
terdapat aneka racun gas yang khas untuk suatu proses produksi tertentu sehingga terhadapnya
dituntut kewaspadaan yang tinggi.
Gas beracun merupakan gas kimia yang berupaya menyebabkan kesankeracunan apabila
gas tersebut masuk melalui paru-paru. Kesan
keracunan boleh dilihat dalam jangka masa singkat (juga dikenali sebagai kesanmendadak atau
akut). Setelah memasuki badan, gas beracun mendatangkankesan sama ada iritan (menyebabkan
kecederaan sel-sel di tapak kemasukan),anestetik (menyebabkan kesan hilang kesedaran),
kelemasan (mengalihkanoksigen sehingga mangsa tidak memperolehi oksigen mencukupi)
dankecederaan organ tertentu.
B.Asam Sianida
Asam sianida (HCN) atau di sebut pula asam biru di gunakan untuk fumigasi tikus dan
untuk sintesa bahan –bahan kimia.Persenyawaan lain yaitu nitroprussida dipergunakan untuk
membuat bahan-bahan kimia secara sintetis terapi kepada penderita di lakukan seperlunya sesuai
dengan tingkat berat nya keracunan ,tetapi selalu lebih penting adalah pencegahan ,yaitu di
upayakannya kadar HCN dalam ruang kerja agar tidak melampaui NAB-nya.
Sebagian besar sianida sangat beracun. Anion sianida adalah inhibitor enzim sitokrom c
oksidase (disebut juga aa3) pada kompleks keempat rantai transpor elektron (ditemukan pada
membran mitokondria pada sel eukariotik). Sianida akan menempel ke besi dalam protein ini.
Ikatan sianida dengan enzim ini akan mencegah transpor elektron darisitokrom c ke oksigen.
Akibatnya, rantai transpor elektron terganggu, artinya sel tidak dapat lagi memproduksi (secara
aerobik) ATP untuk energi beraktivitas. Jaringan yang sangat mengandalkan respirasi aerobik,
seperti sistem saraf pusat dan jantung, akan sangat terpengaruh.
C. Asam Sulfida
Asam sulfida (H2S), garam sulfida, merkaptans, dan karbon sulfida adalah senyawasenyawa yang mengandung sulfur.Karbondisulfida adalah zat pelarut terutama untuk industri
rayon,karbondisulfida merusak susunan saraf pusat dan perifer,serta juga sistem hemopoitis.
Pengaruh asam sulfida dalam bentuk gas sangat tergantung dari kadarnya dalam udara.
Hidrogen sulfida, H2S, adalah gas yang tidak berwarna, beracun, mudah terbakar dan
berbau seperti telur busuk. Gas ini dapat timbul dari aktivitas biologis ketika bakteri mengurai
bahan organik dalam keadaan tanpa oksigen (aktivitas anaerobik), seperti dirawa, dan saluran
pembuangan kotoran. Gas ini juga muncul pada gas yang timbul dari aktivitas gunung
berapi dan gas alam.
D. Karbonmonoksida
Karbonmonoksida (CO) adalah hasil pembakaran tidak sempurna bahan karbon atau
bahan-bahan yang mengandung karbon. saluran gas ke rumah yang sebentar saja terbuka dapat
menyebabkan pencemaran berat kamar dan pada ruang kecil kadar gas cukup tinggi hanya dalam
beberapa menit saja.
Karbon dioksida (rumus kimia: CO2) atau zat asam arang adalah sejenis senyawa
kimia yang terdiri dari dua atom oksigen yang terikat secara kovalen dengan sebuah
atom karbon. Ia berbentuk gas pada keadaan temperatur dan tekanan standar dan hadir diatmosfer
bumi. Rata-rata konsentrasi karbon dioksida di atmosfer bumi kira-kira
387 ppm berdasarkan volume walaupun jumlah ini bisa bervariasi tergantung pada lokasi dan
waktu. Karbon dioksida adalah gas rumah kaca yang penting karena ia menyerap
gelombang inframerah dengan kuat.
FAAL KERJA DAN ORGONOMI
A.FAAL KERJA
Ilmu faal yang di khususkan untuk manusia yang bekerja di sebut ilmu faal kerja atau
fisiologi kerja. Secara fisiologis, bekerja adalah hasil kerja sama dalam koordinasi yang sebaik –
baik nya dari sraf pusat dan perifer ,panca dria(mata,telinga,peraba,perasa,dan lain –lain),serta
otot dan rangka(kedua yang terakhir ini adalah pelaku utama perbuatan).Bekerja mungkin di
kelompokan menjadi kerja otak (mental) dan kerja otot(fisik),dalam kerja faal,perhtian utama di
fokuskan kepada kerja fisik atau otot.
Tujuan dan bidang kajian ini adalah untuk perancangan sistem kerja yang dapat
meminimasi Faal Kerja, yaitu bidang kajian ergonomi yang meneliti energi manusia yang
dikeluarkan dalam suatu pekerjaan. konsumsi energi yang dikeluarkan saat bekerja. Secara faal,
bekerja adalah hasil kerjasama dalam koordinasi yang sebaikbaiknya dari dria (mata, telinga,
peraba, perasa dan lain-lain), otak dan susunan saraf-saraf di pusat dan perifer, serta otot-otot.
Selanjutnya untuk petukaran zat yang diperlukan dan harus dibuang masih diperlukan peredaran
darah ked an dari otot-otot. Dalam hal ini, jantung, paru-paru. hati, usus, dan lain-lainnya
menunjang kelancaran proses pekerjaan.
Pembagian kerja adalah suatu sistem pengaturan pekerjaan atau bisa disebut juga sebagai
pembagian kerja. Secara umum jenis kerja dibedakan menjadi dua bagian yaitu kerja fisik dan
kerja mental.
a. Kerja fisik
Pengeluaran energi relatif lebih banyak, dibandingkan kerja mental membutuhkan
usaha dan energi yang cukup besar dan kerja fisik dibedakan atau dibagi menjadi dua macam,
yaitu:
1). Kerja statis
• Tidak menghasilkan gerak
• Kontraksi otot bersifat isometris
• Kelelahan lebih cepat terjadi
2). Kerja dinamis
• Menghasilkan gerak
• Kontraksi otot bersifat isotonos
• Kontraksi otot bersifat ritmis
• Kelelahan relatif lebih lama terjadi
b. Kerja mental
Pengeluaran energi relatif sedikit dan kerja pun relatif lebih ringan dibandingkan
dengan kerja fisik yang membutuhkan energi lebih besar dan cukup sulit untuk mngukur
kelelahannya. Hasil kerja manusia dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain:
1. Faktor-faktor dari individu, meliputi sikap, fisik,motivasi, jenis kelamin, pendidikan
keterampilan, pengalaman, dan sebagainya.
2. Fakto-faktor situasional, meliputi lingkungan fisik, mesin, peralatan, metode kerja,
dan sebagainya.
B. ERGONOMI
Kata ergonomi berasal dari bahasa yunani; ergon (kerja) dan nomos (peraturan,
hukuman). Ergonomis adalah penerapan ilmu-ilmu manusia bersama-sama dengan ilmu teknik
dan teknologi untuk mencapai penyesuian satu sama lain secara optimal dari manusia terhadap
pekerjaan nya yang manfat daripadanya di ukur dengan efisiensi dan kesejahteraan kerja.
Pembahasan:
a.
Ergonomi adalah ”Ilmu” atau pendekatan multidisipliner yang bertujuan
mengoptimalkan sistem manusia-pekerjaannya, sehingga tercapai alat, cara dan
lingkungan kerja yang sehat, aman, nyaman, dan efisien (Manuaba, A, 1981).
b. Ergonomi adalah ilmu, seni, dan penerapan teknologi untuk menyerasikan atau
menyeimbangkan antara segala fasilitas yang digunakan baik dalam beraktifitas maupun
istirahat dengan kemampuan dan keterbatasan manusia baik fisik maupun mental
sehingga kualitas hidup secara keseluruhan menjadi lebih baik (Tarwaka. dkk, 2004).
c. Ergonomi adalah ilmu tentang manusia dalam usaha untuk meningkatkan kenyamanan di
lingkungan kerja (Nurmianto, 1996).
d. Ergonomi adalah ilmu serta penerapannya yang berusaha untuk menyerasikan pekerjaan
dan lingkungan terhadap orang atau sebaliknya dengan tujuan tercapainya produktifitas
dan efisiensi yang setinggi-tingginya melalui pemanfaatan manusia seoptimal-optimalnya
(Suma’mur, 1987).
e. Ergonomi adalah praktek dalam mendesain peralatan dan rincian pekerjaan sesuai dengan
kapabilitas pekerja dengan tujuan untuk mencegah cidera pada pekerja. (OSHA, 2000).
Konsep ergonomi adalah berdasarkan kesadaran, keterbatasan kemampuan, dan
kapabilitas manusia. Sehingga dalam usaha untuk mencegah cidera, meningkatkan produktivitas,
efisiensi dan kenyamanan dibutuhkan penyerasian antara lingkungan kerja, pekerjaan dan
manusia yang terlibat dengan pekerjaan tersebut.
A. SEJARAH ERGONOMI
Ergonomi mulai dicetuskan pada tahun 1949, akan tetapi aktivitas yang berkenaan
dengannya telah bermunculan puluhan tahun sebelumnya. Beberapa kejadian penting
diilustrasikan sebagai berikut:



C.T. Thackrah, England, Trackrah adalah seorang dokter dari Inggris/England yang
meneruskan pekerjaan dari seorang Italia bernama Ramazzini, dalam serangkaian
kegiatan yang berhubungan dengan lingkungan kerja yang tidak nyaman yang
dirasakan oleh para operator di tempat kerjanya. Ia mengamati postur tubuh pada saat
bekerja sebagai bagian dari masalah kesehatan. Pada saat itu Trackrah mengamati
seorang penjahit yang bekerja dengan posisi dan dimensi kursi-meja yang kurang
sesuai secara antropometri, serta pencahayaan yang tidak ergonomis sehingga
mengakibatkan menbungkuknya badan dan iritasi indera penglihatan.
F.W. Taylor, U.S.A. Frederick W. Taylor adalah seorang insinyur Amerika yang
menerapkan metoda ilmiah untuk menentukan cara yang terbaik dalam melakukan
suatu pekerjaan.
F.B. Gilbreth, U.S.A. Gilbreth juga mengamati dan mengoptimasi metoda kerja,
dalam hal ini lebih mendetail dalam Analisa Gerakan dibandingkan dengan Taylor.
Dalam bukunya Motion Study yang diterbitkan pada tahun 1911 ia menunjukkan
bagaimana postur membungkuk dapat diatasi dengan mendesain suatu sistem meja
yang dapat diatur turun-naik (adjustable).
B. PERKEMBANGAN ERGONOMI
Ergonomi telah menjadi bagian dari perkembangan budaya manusia sejak 4000 tahun
yang lalu (Dan Mac Leod, 1995). Perkembangan ilmu ergonomi dimulai saat manusia
merancang benda-benda sederhana, seperti batu untuk membantu tangan dalam melakukan
pekerjaannya, sampai dilakukannya perbaikan atau perubahan pada alat bantu tersebut untuk
memudahkan penggunanya.
Perkembangan ergonomi modern dimulai kurang lebih seratus tahun yang lalu pada saat
Taylor (1880-an) dan Gilberth (1890-an) secara terpisah melakukan studi tentang waktu dan
gerakan. Penggunaan ergonomi secara nyata dimulai pada Perang Dunia I untuk
mengoptimasikan interaksi antara produk dengan manusia. Pada tahun 1924 sampai 1930
Hawthorne Works of Wertern Electric (Amerika) melakukan suatu percobaan tentang ergonomi
yang selanjutnya dikenal dengan “Hawthorne Effects” (Efek Hawthorne).
Hasil percobaan ini memberikan konsep baru tentang motivasi ditempat kerja dan
menunjukan hubungan fisik dan langsung antara manusia dan mesin. Kemajuan ergonomi
semakin terasa setelah Perang Dunia II dengan adanya bukti nyata bahwa penggunaan peralatan
yang sesuai dapat meningkatkan kemauan manusia untuk bekerja lebih efektif. Hal tersebut
banyak dilakukan pada perusahaan-perusahaan senjata perang.
C. APLIKASI / PENERAPAN ERGONOMI
Terdapat beberapa aplikasi / penerapan dalam pelaksanaan ilmu ergonomi. Aplikasi / penerapan
tersebut antara lain:
a. Posisi Kerja
Terdiri dari posisi duduk dan posisi berdiri, posisi duduk dimana kaki tidak terbebani
dengan berat tubuh dan posisi stabil selama bekerja. Sedangkan posisi berdiri dimana posisi
tulang belakang vertikal dan berat badan tertumpu secara seimbang pada dua kaki.
b. Proses Kerja
Para pekerja dapat menjangkau peralatan kerja sesuai dengan posisi waktu bekerja dan
sesuai dengan ukuran anthropometrinya. Harus dibedakan ukuran anthropometri barat dan timur.
c. Tata Letak Tempat Kerja
Display harus jelas terlihat pada waktu melakukan aktivitas kerja. Sedangkan simbol
yang berlaku secara internasional lebih banyak digunakan daripada kata-kata.
d. Mengangkat beban
Bermacam-macam cara dalam mengangkat beban yakni, dengan kepala, bahu, tangan,
punggung dsbnya. Beban yang terlalu berat dapat menimbulkan cedera tulang punggung,
jaringan
otot dan persendian akibat gerakan yang berlebihan.
D. METODE ERGONOMI
Terdapat beberapa metode dalam pelaksanaan ilmu ergonomi. Metode-metode tersebut antara
lain:
a. Diagnosis, dapat dilakukan melalui wawancara dengan pekerja, inspeksi tempat kerja
penilaian fisik pekerja, uji pencahayaan, ergonomic checklist dan pengukuran lingkungan kerja
lainnya. Variasinya akan sangat luas mulai dari yang sederhana sampai kompleks.
b. Treatment, pemecahan masalah ergonomi akan tergantung data dasar pada saat diagnosis.
Kadang sangat sederhana seperti merubah posisi mebel, letak pencahayaan atau jendela yang
sesuai. Membeli furniture sesuai dengan demensi fisik pekerja.
KECELAKAAN KERJA
A.Penyebab Kecelakaan Kerja
Kecelakaan tidak terjadi kebetulan, melainkan ada sebab nya.Oleh karena ada penybab
nya, sebab kecelakaan harus di teliti dan di temukan, agar untuk selanjutnya dengan tindakan
korektif yang ditujukan. Ada dua golongan penyebab kecelakaan kerja: golongan pertama adalah
faktor meknis dan lingkungan, yang meliputi segala sesuatu selain faktor manusia.Golongan
kedua adalah faktor manusia itu sendiri yang merupakan penyebab kecelakaan.
B.Kecendrungan Untuk Celaka
Adalah kenyataan bahwa pekerja tertentu cenderung untuk mengalami kecelakaan
(accident prone).kecelakaan bertubi-tubi terjadi pada yang bersangkutan.Di sini jelas betapa
pentingnya faktor manusia selaku indvidu pada terjadinya peristiwa kecelakaan yang termasuk
kecelakaan di tempat kerja.
C.Kerugian Oleh Karena Kecelakaan
Korban kecelakaan kerja mengeluh dan menderita,sedangkan sesama pekerja ikut
bersedih dan berduka cita,dengan terjadinya luka ataupun kelainan maka pekerja yang
bersangkutan menjadi sakit.Ganggun terhadap pekerja demikian adalah suatu kerugian besar
bagi pekerja dan juga keleuarganya serta juga perusahaan tempat ia bekerja.
a. Pengertian Kecelakaan Kerja
Kecelakaan didefinisikan sebagai suatu kejadian yang tak terduga, semula tidak
dikehendaki yang mengacaukan proses yang telah diatur dari suatu aktivitas dan dapat
menimbulkan kerugian baik bagi manusia dan atau harta benda, Sedangkan kecelakaan kerja
adalah kejadian yang tak terduga dan tidak diharapkan dan tidak terencana yang
mengakibatkan luka, sakit, kerugian baik pada manusia, barang maupun lingkungan.
Kerugian-kerugian yang disebabkan oleh kecelakaan dapat berupa banyak hal yang mana
telah dikelompokkan menjadi 5, yaitu :

Kerusakan




Kekacauan organisasi
Keluhan, kesakitan dan kesedihan
Kelainan dan cacat
Kematian
b. faktor-faktor penyebab kecelakaan kerja :
 Tempat Kerja
Tempat kerja harus memenuhi syarat-syarat keselamatan kerja, seperti ukuran ruangan
tempat kerja, penerangan, ventilasi udara, suhu tempat kerja, lantai dan kebersihan
luangan, kelistrikan ruang, pewarnaan, gudang dan lain sebagainya.Jika tempat kerja
tidak memenuhi persyaratan yang telah ditentukan, maka kecelakaan kerja sangat
mungkin terjadi.
 Kondisi Peralatan
Mesin-mesin dan peralatan kerja pada dasarnya mengandung bahaya dan menjadi
sumber terjadinya kecelakaan kerja. Misalnya karena mesin atau peralatan yang
berputar, bergerak, bergesekan, bergerak bolak-balik, belt atau sabuk yang berjalan, roda
gigi yang bergerak, transmisi serta peralatan lainnya. Oleh karena itu, mesin dan
perlatan yang potensial menyebabkan kecelakaan kerja harus diberi pelindung agar tidak
membahayakan operator atau manusia.
 Bahan-bahan dan peralatan yang bergerak
Pemindahan barang-barang yang berat atau yang berbahaya (mudah meledak, pelumas,
dan lainnya) dari satu tempat ke tempat yang lain sangat memungkinkan terjadi
kecelakaan kerja. Untuk menghindari kecelakaan kerja tersebut, perlu dilakukan
pemikiran dan perhitungan yang matang, baik metode memindahkannya, alat yang
digunakan, jalur yang akan di lalui, siapa yang bisa memindahkan dan lain sebagainya.
Untuk bahan dan peralatan yang berat diperlukan alat bantu seperti forklift. Orang yang
akan mengoperasikan alat bantu ini harus mengerti benar cara menggunakan forklift,
karena jika tidak, kemungkinan akan timbul kesalahan dan mengancam keselamatan
lingkungan maupun tenaga kerja lainnya.
BAB III
PEMBAHASAN
KELEBIHAN BUKU
Sangat detail menjelaskan tentang teori Gas Beracun Fall Kerja Dan Ergonomi Kecelakaan
Kerja. Bahasa yang digunakan sangat mudah dimengerti bagi para pembaca.
KEKURANGAN BUKU
Hanya sedikit memberikan aplikasi (contoh) untuk mempermudah mejelaskan yang diberikan
dalam buku ini. Tidak memuat gambar pendukung, sehingga si pembaca mudah bosan untuk
membaca buku ini. Dan sampulnya kurang menarik.
PENUTUP
1. KESIMPULAN
Higiene spesialis dalam ilmu higiene beserta prakteknya yang liangkup dedikasinya
adalah mengenali, mengukur dan melakukan penilaian terhadap faktor penyebab gangguan
kesehatan atau penyakit dalam lingkungan kerja dan perusahaan
Tujuan hygiene adalah sebagai alat untuk mencapai derajat kesehatan tenaga kerja seoptimal
mungkin (dalam hal tertentu mungkin setinggi-tingginya, seandainya kondisi yang di perlukan
cukup memadai), pada pekerja/ buruh, petani, nelayan pegawai negeri, pengusaha, manajer atau
pekerja bebas di semua sektor kegiatan ekonomi dan non-ekonomi formal, informal dan non –
formal dengan demikian di maksudkan untuk tujuan menyejahterakan tenaga kerja.
2. SARAN
Dengan menerapkan higiene perusahaan kesehatan tenaga kerja/pekerja dapat
dilindungi dan masyarakat sekitar suatu perusahaan terhindar dari bahaya faktor
lingkungan yang mungkin terjadi di akibatkan oleh beroperasinya suatu perusahaan.
Download